FILM PIRATES OF CARIBBEAN 5 : AKSI BALAS DENDAM KAPTEN SALAZAR DAN ULAH SI BAJAK LAUT SABLENG

Jack Sparrow, si bajak laut sableng yang selalu beruntung nasibnya itu kembali beraksi. Ya, enam tahun silam pasca film Pirates of the Caribbean: On Stranger Tides rilis, episode petualangan Jack Sparrow kali ini memang mengundang perhatian khalayak penonton, terutama para penggemar fanatiknya.  Saya yang sudah mengikuti perjalanan sejak episode awal Pirates of the Caribbean: The Curse of the Black Pearl (Verbinski, 2003) tentu memiliki ekspektasi tersendiri, terutama apakah episode kali ini dapat mengobati kekecewaan saya pada episode 6 tahun lalu.  Duet sutradara Joachim Rønning dan Espen Sandberg (Kon-Tiki, 2012) yang mengarahkan film Pirates of the Caribbean: Salazar’s Revenge kali ini setidaknya cukup membuat hati yang bahagia.

Film ini diawali dengan adegan heboh pertemuan pertama kali ketiga tokoh utama : Jack Sparrow (Johny Deep), Henry Turner (Brandon Thwaites) dan Carina Smyth (Kaya Scodelario).  Henry mencari Jack untuk meminta bantuannya menemukan Trisula Poseidon yang mampu merontokkan kutukan terhadap ayahnya, Will Turner (Orlando Bloom) disaat yang sama Henry juga memperingatkan Jack akan ancaman hantu Captain Salazar (Javier Bardem) yang akan memburunya untuk menuntaskan dendam. Sementara itu Carina, yang jago dalam soal astronomi membantu mereka menemukan jejak Trisula Poseidon yang terkubur di dasar samudera melalui peta navigasi bintang berupa catatan harian sang ayah.

Melalui naskah cerita yang ditulis oleh Jeff Nathanson (Tower Heist, 2011), adegan demi adegan film ini mengalir lancar dengan gaya yang khas : romantisme yang membuai, humor yang mampu meledakkan tawa, juga adegan aksi yang spektakuler.  Saya seperti merasakan kembali aura ketika rangkaian episode film ini dirilis pertama kali 14 tahun silam. Dari sisi sinematografis, film ini menampilkan adegan-adegan pertempuran laut yang seru dan memikat dibantu dengan tata suara nan megah serta efek spesial yang menakjubkan.

Johny Deep sebagai sang kapten bajak laut, kembali menampilkan “kelas”-nya dengan menyajikan karakter Jack Sparrow yang bergaya edan, berani, menjengkelkan dan nekad.  Chemistry yang dibangunnya bersama Kaya Scodelario dan Brandon Thwaites berjalan apik dan natural. Sementara itu Javier Bardem juga dengan gemilang menampilkan sosok antagonis Kapten Salazar yang kejam dan dibalut dendam kesumat pada Jack, sang kapten kapal Black Pearl ini.

Yang cukup membetot perhatian juga adalah, pada film ini digambarkan sosok Jack Sparrow muda yang berhasil mengalahkan kapten Salazar dan menjadi bagian integral dari keseluruhan cerita. Kehadiran Will Turner (Orlando Bloom) dan isterinya Elizabeth Swann (Keira Knightley) juga ikut membangkitkan nostalgia penonton setia film ini pada keempat episode sebelumnya.

 

FILM WONDER WOMAN : KISAH WANITA PERKASA DARI THEMYSCIRA

Semua memang berawal dari sebuah kota mungil yang terletak di sebuah pulau terpencil yang ditutupi kabut bernama Themyscira. Disanalah Diana (Gal Gadot), putri Ratu Hippolyta (Connie Nielsen) hidup bersama dengan penuh kedamaian bersama seluruh rakyatnya. Sang bibi, Jendral Antiope (Robin Wright), menggembleng sang keponakan dengan kemampuan bela diri agar Diana dapat melindungi diri dan tampil sebagai sosok yang tangguh penuh percaya diri.

Suatu hari, Diana menyelamatkan Steve Trevor (Chris Pine), seorang agen mata-mata sekutu pada masa Perang Dunia Pertama yang dikejar oleh pasukan Jerman. Pertempuran di pesisir pantai pun tak terelakkan antara pasukan Jerman dan prajurit wanita Amazon yang dipimpin oleh Jendral Antiope.  Pasca pertempuran, Diana memutuskan untuk ikut Steve mencari sosok Dewa Perang Ares yang dipercayainya sebagai biang kerok meletusnya pertempuran besar seperti yang diceritakan Steve. Dengan membawa pedang sakti, tali laso api dan perisai, Diana bersiap menyongsong takdirnya di dunia luar.

Diana dan Steve akhirnya tiba di kota London. Setelah itu, bersama beberapa kawan Steve, mereka berangkat ke garis depan peperangan di No Man’s Land Belgia. Steve dan kawan-kawannya, Sameer (Saïd Taghmaoui), Charlie (Ewen B remmer) dan Chief (Eugene Brave Rock), dibantu Diana bermaksud menghalau niat jahat dari Jenderal Erich Ludendorff (Danny Huston) dan sang dokter racun Isabel Maru (Elena Anaya) meramu gas berbahaya untuk membinasakan lawan mereka secara keji.

Sosok Wonder Woman sudah mencuri perhatian saya sejak hadir pertama kali pada film Batman vs Superman: Dawn of Justice (2016). Dengan wajah rupawan serta penampilan tinggi nan menawan, tak salah jika sosok Gal Gadot yang memerankan sosok perempuan perkasa Amazon ini sekejap menjadi buah bibir khususnya para penggemar layar perak.

Patty Jenkins (Monsters), yang bertindak sebagai sutradara. berhasil meramu adegan demi adegan tokoh andalan DC Comics ini dalam rangkaian kisah yang menarik. Visualisasi perang dunia pertama yang ditampilkan menurut saya, jauh lebih natural dan seru dibanding film Captain America: The First Avenger (2011).  Intensitas adegan laga dipadu efek spesial serta latar setting suasana perang era 1940-an ditampilkan dalam proporsi yang sesuai dan impresif.

Tak bisa dipungkiri Gal Gadot mampu menghayati peran dan karakternya sebagai Puteri Diana yang perkasa sekaligus nggemesin karena sikap lugunya ketika menghadapi perkembangan dunia luar yang jauh melampaui dunianya di Themyscira.  Artis asal Israel ini dengan sigap dan lincah mempertontonkan kemampuannya beradegan aksi yang berbahaya melawan musuh yang banyak dan jauh lebih kuat. Tak hanya itu, Chris Pine yang berperan sebagai Kapten Steve Trevor mampu melepas bayang-bayangnya sebagai Captain Jim Kirk di film fenomenal Star Trek dan berhasil membangun chemistry yang memikat bersama Gal Gadot. Para pemeran pendukung juga memperlihatkan kualitas akting yang prima, salah satunya sekretaris Steve yang lucu dan centil Etta Candy (Lucy Davis).

Dari sisi sinematografis dan penceritaan, film ini tak sekedar menyampaikan pesan feminisme dan pemberdayaan perempuan (women empowerment) yang kental lewat sosok Wonder Woman, namun lebih jauh lagi, film ini menyajikan sisi humanis sekaligus ironi tingkah manusia menghadapi peperangan yang oleh Puteri Diana kerapkali membingungkannya karena berfikir pragmatis bahwa penyebab peperangan tak lain dari ulah Dewa Ares. Diskusinya (sekaligus konflik) bersama Steve tentang fenomena yang dialaminya, semakin membuka mata Puteri Diana tentang apa sesungguhnya yang terjadi. Penulis skenario Allan Heinberg cukup teliti dan cermat menatanya dalam rangkaian adegan yang memukau.

 

FILM KING ARTHUR LEGEND OF THE SWORD : LEGENDA PEDANG SAKTI DAN KISAH KOLOSAL SANG PAHLAWAN

Ada begitu banyak film yang mengangkat tema Raja Arthur bersama pedang sakti Excaliburnya ini. Pada film King Arthur : Legend of the Sword, saya menyaksikan sebuah”cita rasa” yang berbeda. Pakem konvensional yang selama ini muncul dalam film-film King Arthur sebelumnya, mendapatkan sebuah sentuhan spesial dari Guy Ritchie (sutradara film The Man from U.N.C.L.E., 2015) dengan tafsir lebih “gaul”. Ya, Guy Ritchie membuat kisah mitologi Britania Raya dalam presentasi yang lebih progresif.

Dikisahkan King Arthur ( (Charlie Hunnam) yang dibesarkan di kompleks prostitusi mendadak mendapatkan perhatian besar setelah berhasil menarik pedang Excalibur yang tertancap diatas batu. Banyak pemuda sebayanya tak berhasil menarik keluar pedang fenomenal tersebut. Arthur sempat kebingungan karena selama ini yang ia tahu adalah ia dibesarkan dalam atmosfer keberingasan di sekitar lingkungan dan jalanan kota Londonium.

Uther Pendragon (Eric Bana), ayah Arthur memang memiliki ekspektasi tinggi pada sang anak yang dihanyutkannya ke sungai menjelang ajalnya tiba, saat kekuasaannya dirampas & dikhianati secara brutal oleh adik kandungnya sendiri, Vortigern (Jude Law). Ketika mengetahui kehadiran sosok Arthur, Vortigern tak tinggal diam dan berusaha menghalangi niat sang keponakan yang didukung oleh masyarakat luas untuk meraih kembali kekuasaan sang ayah.

Adegan-adegan dengan ritme cepat disertai parade efek spesial yang menawan mewarnai sepanjang film berdurasi 126 menit ini. Saya terkesan pada penggambaran karakter Arthur dari masa kecil hingga dewasa yang ditampilkan dengan peralihan dari gambar ke gambar secara memukau tanpa mengurangi esensi pesan yang disampaikan. Musik modern dengan sentuhan klasik serta humor ikut memperkaya film yang naskah ceritanya ditulis Ritchie bersama dengan Joby Harold (Awake, 2007) dan Lionel Wigram (The Man from U.N.C.L.E.) ini.

Eric Bana dan Jude Law tampil berkilau sebagai kakak beradik yang kharismatik namun salah satu dari mereka menyimpan nafsu kekuasaan yang tinggi. Pemeran Arthur, Charlie Hunnam, juga berusaha menghayati perannya dengan baik namun sayangnya saya melihat kurang optimal dan relatif kaku dalam memainkan emosinya termasuk menanggapi humor yang dilontarkan. Meskipun begitu, dengan sosok yang kekar dan tegap, Charlie memang sesuai memerankan karakter King Arthur yang fenomenal. Beruntung, para pemeran pendukung seperti Djimon Hounsou, Àstrid Bergès-Frisbey dan Aidan Gillen tampil tak mengecewakan.

Nuansa musik yang ditata oleh Hans Zimmer membuat film ini kian “bernyawa” terlebih ditambah dengan visualisasi kolosal efek 3 dimensi yang megah serta mengagumkan. Ya,film King Arthur Legend of the Sword memang salah satu pilihan film terbaik yang menghibur anda.

 

FAST & FURIOUS 8 : KEJUTAN SPEKTAKULER DAN MENEGANGKAN!

furious8Seru. Megah, Luar Biasa.
Setidaknya 3 kata itulah yang mewakili perasaan saya seusai menonton film ini di Studio 5 Bioskop Cinemaxx Orange County, Sabtu sore (15/4) bersama putra sulung saya, Rizky. Ekspektasi awal saya untuk menonton film yang tak sekedar menghibur namun juga menyajikan aksi spektakuler yang memukau seakan terjawab sudah.

Dibuka dengan adegan balapan seru di Havana Cuba, film franchise ini langsung menggugah dan membetot nyali penonton dengan menyajikan suguhan aksi laga serta seakan “menjanjikan” akan ada aksi yang jauh lebih mendebarkan lagi pada menit-menit berikutnya. Dan itu terbukti.

Setelah 16 tahun sejak film franchise ini pertama kali ditayangkan, kian terasa bobot dan kualitas adegan aksi yang ditampilkan meningkat signifikan. Makin dashyat dan Gila!. Pada episode kedelapan ini (yang juga berjudul “The Fate of The Furious) diceritakan Dominic Toretto (Vin Diesel) mendadak menjadi tokoh antagonis dan bergabung dengan penjahat wanita kelas kakap yang berwajah rupawan, Chiper (Charlize Theron). Sikap Dom tersebut menimbulkan tanda tanya besar pada rekan-rekannya, seperti sang kekasih Letty (Michelle Rodriguez), Ramsey (Nathalie Emmanuel), Ludacris (Tej Parker) dan Roman (Tyresse Gibson) juga Hobbs (Dwayne Johnson).

MV5BZDEzZTk3MmItOGY4MC00ZDljLTkxMmEtMGE3MTg5OTM1MjA5XkEyXkFqcGdeQXVyMjQ1NjM4OTE@._V1_Kehadiran Mr.Nobody (Kurt Russel) dan Mr.Little Nobody (Scott Eastwood) yang mengajak rekan-rekan Dom untuk bergabung dalam operasi pencarian alat canggih EMP (electromagnetic Pulse) dan “Mata Tuhan” membuat mereka makin antusias, terlebih saat diketahui dalangnya tak lain adalah Cipher dan Dom sendiri. Kejutan muncul ketika Deckard (Jason Statham), musuh mereka di episode sebelumnya, ikut bergabung dalam misi yang sama.

Pada film berdurasi 136 menit ini, sang sutradara F. Gary Gray (The Italian Job,Straight Outta Compton) meracik ramuan drama dan laga secara proporsional. Sejak menit-menit awal, penonton telah dibuat takjub oleh adegan balapan mobil, keributan & perkelahian dalam penjara, kemudian ada bola pejal raksasa penghancur, kebut-kebutan di jalan kota New York yang melibatkan mobil super mewah serta mobil yang dikendalikan secara otomatis dari jarak jauh hingga kejar-kejaran tank, mobil bahkan kapal selam diatas kepingan es di Rusia. Semuanya ditampilkan secara megah dan spektakuler.
Trailer-Fate-of-the-Furious-HobbsSecara sinematografis. film ini menyajikan sudut pandang yang memukau dari adegan-adegan seru yang ditampilkan. Penonton seakan diajak berada dalam situasi aktual yang dihadapi para pemerannya. Saya sampai beberapa kali menahan nafas ketika menyaksikan aksi mendebarkan penuh keberanian (juga kenekadan) sepanjang film diputar. Eksekusi peralihan antar adegan berlangsung mulus. Nampaknya, atau mungkin memang begitu faktanya, Fast Furious 8 telah bertransformasi dari sekedar film tentang balapan mobil menjadi sebuah ramuan film “mata-mata” ala James Bond dan “super hero” ala “Avenger”. Angkat jempol buat kreator film ini yang senantiasa menyuguhkan “kegilaan” yang berbeda dan tidak membosankan dari setiap episode.

MV5BZDBlMzViZGYtOWRlZi00ODNkLWFhMDktODUxN2VhNjFjNTIyXkEyXkFqcGdeQXVyMjQ1NjM4OTE@._V1_Dari sisi karakter, menyaksikan Vin Diesel yang bertubuh kekar itu menangis, sungguh sebuah pengalaman berbeda. Mimik wajahnya begitu natural dan menampilkan kesedihan sekaligus kegeraman yang tertahan sangat ekspresif. Charlize Theron, juga menampilkan parade akting yang tak kalah menawan. Sebagai bandit perempuan dan hacker handal, Charlize menjelma menjadi sosok yang cerdas, dingin, licik serta berbahaya. Disisi lain, penampilan Dwayne Johnson dan Jason Statham juga cukup menggelitik dengan gaya saling sindir mereka sebagai mantan pasangan duel mematikan dalam episode sebelumnya namun kemudian dalam film ini mesti bekerjasama dalam satu tim yang solid. Tak kalah menariknya pula aksi “slenge’an” Tyresse Gibson yang kerapkali meletupkan tawa penonton disela-sela adegan menegangkan.

 

FILM JOHN WICK-2 : SANG “BABA YAGA” YANG BRUTAL DAN BERBAHAYA

jw2-1“Consider this a profesional courtesy!”

Demikian tegas John Wick (diperankan oleh Keanu Reeves) pada Cassian, sang lawan tangguh dan juga mantan koleganya sesama “hitman”, yang terduduk kaku diatas kursi kereta sembari meregang nyawa dengan belati tertancap di dada. John, lelaki yang dijuluki musuh-musuhnya sebagai “Baba Yaga” sang hantu mengerikan legenda negeri Slavia itu, berjalan tenang, keluar dari kabin kereta tanpa senyum sedikitpun. Dingin. Brutal. Taktis.

Itu adalah salah satu petikan adegan film John Wick-2 yang mengisahkan kelanjutan cerita sebelumnya yang berjudul sama dan ditayangkan 3 tahun lalu. Pada sekuel ini, John Wick kembali beraksi menghabisi musuh-musuhnya dengan cara yang cepat dan efiesien. Tembakan jitu ke arah kepala lawan menjadi ciri utama John dalam setiap pertempuran bersenjata.

Film ini diawali dengan aksi John mengambil kembali mobilnya, setelah pada film perdana, seorang anak muda putra mafia Rusia mencuri mobil sang “Baba Yaga” tersebut dari rumahnya.  Tak lama setelah itu, datang seorang mafia Italia, Santino D’Antonio (Ricardo Scamarcio) memintanya bantuan untuk menjalankan misi pembunuhan dengan mengeksekusi adik perempuannya sendiri, Gianna (Claudia Gerini), agar bisa meraih tampuk kepemimpinan bergengsi di wilayah kekuasaan mafia. John mencoba mengelak dan menyatakan telah pensiun dari dunia hitam pembunuh bayaran. Santino berdalih John memiliki utang jasa darinya. Atas nama kesepakatan masa lalu, John akhirnya setuju melaksanakan tugas tersebut. Seusai tugas dilaksanakan, kondisi justru menjadi kian runyam karena melibatkan berbagai pihak dengan beragam konspirasi pelik. Termasuk ambisi Santino yang juga ingin menghabisi nyawa sang “Baba Yaga”.

jw2-6

jw2-4

Sejak film dibuka, adrenalin penonton langsung dipacu dengan adegan laga ciamik yang dihadirkan John Wick melumpuhkan lawan-lawannya. Sebagai pemeran John, Keanu Reeves tampil memukau dan natural. Berbeda saat aksinya di serial film fenomenal “The Matrix” dulu yang terkesan flamboyan dan serius, di film ini karakter Keanu terlihat begitu kuat, tangguh dan temperamental. Berbeda dengan episode pertama, pada episode kedua ini kadar kekerasannya jauh lebih “tebal”, bertempo cepat dan sensasional. Bersiaplah menerima berbagai kejutan, kebut-kebutan mobil, aksi perkelahian mematikan jarak dekat,  termasuk cipratan-cipratan darah ke tembok yang berasal dari kepala yang tertembus peluru John.

jw2-5Tak sekedar melanjutkan bagian pertama serta menambahkan kadar kekerasannya saja, pada film kedua ini muncul karakter-karakter baru yang ikut mewarnai aksi John.  Salah satunya yang mencuri perhatian adalah sosok Ares (diperankan oleh Ruby Rose) pengawal perempuan bergaya tomboi Santino. Atau ada juga Laurence Fishburne yang memerankan sosok Bowery King. Film John Wick-2 ini seakan menjadi reuni bagi keduanya yang telah menjadi ikon fenomenal di film The Matrix.

Sutradara film ini , Chad Stahelski, yang juga pernah menjadi stunt double Keanu dalam  film The Matrix, mengeksplorasi peran dan karakter John sebagai daya tarik utama dengan menampilkan koreografi aksi laga yang memukau serta adegan tembak menembak yang seru dan menegangkan dengan tingkat akselerasi tinggi.  Semua diramu secara baik dan logis dalam alur kisah yang mengalir. Saya terpukau pada gaya Keanu yang dengan lincah dan tangkas mengganti senjatanya dari pistol ke senapan serbu atau sebaliknya–sesuai kebutuhan, saat menghadapi rombongan musuh didepan mata. Pun ketika aktor berusia 52 tahun ini berkelahi gesit dengan jurus beladiri gun-fu andalannya.

jw2-3Film berdurasi 122 menit ini memang menampilkan sosok jagoan yang humanis dan membumi. Ekspresi letih John Wick nampak begitu meyakinkan namun tetap penuh kewaspadaan mengantisipasi bahaya yang mengancam. Saya cukup puas menonton film dan tak sabar menanti hadirnya bagian ketiga aksi sang Jagoan“Baba Yaga”.

 

Film “Moana” : Gadis Tegar Dari Kepulauan Pasifik

flex_moana_header_ddaba7deMalam minggu terlihat begitu semarak di Bioskop Cinemaxx Orange County Cikarang. Malam itu Sabtu (26/11) dalam rangka memperingati ulang tahun anak sulung saya Rizky ke empat belas, saya bersama keluarga menonton film “Moana” di studio 2 yang dipadati penonton yang rata-rata berusia sebaya dengan kedua anak saya. Sejak melihat trailer film dan soundtracknya yang memukau, Alya sudah menunjukkan minatnya untuk menonton film animasi anyar dari Walt Disney Animation Studio ini.

Film dibuka dengan perkenalan sosok Moana masa kecil, yang mendengarkan cerita dari sang nenek tentang legenda Maui (Dwayne Johnson) , sang manusia setengah dewa yang berhasil mencuri jantung Te Fiti sang “ibu bumi”.  Maui menghadapi tantangan Te Ka monster yang juga punya hasrat untuk merebut jantung Te Fiti agar memiliki kesaktian Te Fiti mencipta dan menguasai dunia. Maui tak dapat mempertahankan jantung tersebut yang kemudian hilang di dasar samudera bersama senjata kailnya.  Akibat pencurian tersebut, pulau-pulau dibawah kekuasaan Te Fiti menjadi pulau terkutuk, termasuk pulau yang dihuni Moana dan keluarganya.

moana

Moana (suaranya diisi oleh Auli’i Cravalho) Gadis cantik di salah satu pulau di kepulauan Pasifik digambarkan sebagai sosok cerdas, berani, mandiri dan punya rasa keingintahuan yang tinggi. Oleh sang ayah yang menjadi kepala suku di kawasan tersebut, Moana memang telah disiapkan sebagai penggantinya kelak.

Terinspirasi oleh cerita sang nenek dan melihat kondisi sukunya yang mengalami masa paceklik, Moana bertekad untuk mengungkap misteri jantung Te Fiti termasuk mencari Maui agar mengembalikan jantung tersebut ke tangan pemilik aslinya. Ia berharap jika jantung itu dimiliki kembali oleh Te Fiti, kutukan akan sirna dan rakyatnya dapat hidup lebih sejahtera.

Tapi itu tak mudah. Sang ayah melarang putri kesayangannya itu mengarungi samudera dan melewati batas karang di pulaunya. Moana tidak menyerah. Dibimbing oleh sang nenek, ia menemukan sebuah gua raksasa dimana tersimpan perahu-perahu besar dari nenek moyangnya di masa lalu. Moana terkejut dan menyadari fakta bahwa sesungguhnya suku mereka adalah penjelajah laut yang tangguh dan berani. Sang nenek yang menemukan jantung Te Fiti lalu menyimpannya didalam kalung dan memberikannya kepada Moana. Ia harus mengembalikan jantung itu segera dengan bantuan Maui. Moana menyanggupi amanah sang nenek dan ia nekad mengarungi samudera luas sendirian tanpa sepengetahuan ayah dan bundanya.

moana-disney

Ditemani sang ayam blo’on, HeiHei, Moana memulai petualangannya. Sepanjang perjalanan ia mengingat pesan sang nenek,” Carilah Maui, jewer telinganya lalu ajak dia mengembalikan jantung Te Fiti yang sudah ia curi dan sudah mengakibatkan kutukan pada suku kita”. Setelah melalui berbagai rintangan termasuk badai dashyat dan ombak raksasa, Moana akhirnya berjumpa dengan Maui yang mendadak kehilangan kesaktian karena senjata kailnya lenyap entah kemana. Akhirnya, Maui dan Moana bahu membahu menyelesaikan misi mereka dengan beragam tantangan yang tak mudah.

102818_s3

Seperti biasa, Animasi Disney menghasilkan tampilan yang sangat memukau pada film berdurasi 103 menit ini. Gambar-gambar yang muncul begitu natural, tajam dan detail. Terbersit kebanggaan kita sebagai bangsa Indonesia karena salah satu animatornya adalah Giselda Sastrawinata yang bertindak sebagai visual development artist film ini.  Alumni  Art Center College of Design, Pasadena Amerika Serikat ini banyak terlibat dalam film animasi fenomenal seperti Shrek, Kungfu Panda, Madagascar dan lain-lain.

Pada tahun 1982, gadis yang lahir pada tahun 1982 ini memutuskan pindah ke negeri paman Sam saat kelas dua dari SMA Pelita Harapan Jakarta. Dengan sentuhan imajinatif, Griselda memberikan aksen kebudayaan Polinesia di awal part film Moana, khususnya pada tapa (semacam kain tradisional yang berisi informasi leluhur). Seperti dikutip disini, Sebelum memberikan sentuhan unsur Polinesia, Griselda dan tim melakukan riset dan observasi di kepulauan Fiji dan sekitarnya untuk mencari informasi valid peninggalan Polinesia, agar sentuhan gambar yang diberikan Griselda dan tim Disney teruji kebenarannya.

Tak hanya tata visual dan sinematografi, dari sisi audio, film ini menampilkan latar musik yang indah dan megah. Salah satunya adalah soundtrack “How Far I’ll Go” yang saya yakin kelak akan sefenomenal “Let it go” soundtrack film “Frozen”. Artis Indonesia, Maudy Ayunda, menyanyikan lagu tersebut dalam versi bahasa Indonesia dengan memikat. Film ini memang kaya musik yang mempesona dengan nuansa Hawaii yang kental.

Sebagai debut baru di dunia film, walau hanya mengisi suara, Auli’i –penyanyi Amerika kelahiran  22 November 2000 di Oahu, Hawaii–secara ekspresif berhasil menampilkan karakter Moana, remaja tegar dari pulau Motunui. Tak hanya itu, Dwayne Johnson juga berhasil menghidupkan tokoh Maui yang kuat namun terkadang galau tak percaya diri karena senjata kailnya menghilang. Dwayne juga berhasil mendendangkan lagu dengan karakter suaranya yang khas dan “macho” dalam film ini. Sutradara  Ron Clements dan John Musker (The Princess and the Frog, 2009) secara gemilang berhasil menampilkan tontonan ciamik lewat film ke 56 film animasi Disney ini.

Yuuk..tonton bersama keluarga!