WARKOP DKI REBORN JANGKRIK BOSS! PART 2 : KOMEDI LUGAS YANG SUKSES MELEDAKKAN TAWA

Hari Jum’at sore (1/9) seusai merayakan Hari Raya Idul Adha 1438 H, kami sekeluarga ditambah adik perempuan dan dua keponakan saya menonton film Warkop DKI Reborn Part 2 di Studio 5 Cinemaxx Orange County Cikarang. Beruntung saya sudah memesan tiket lewat online sehingga kami tak perlu antri panjang. Apalagi saat kami memasuki gedung bioskop para penonton sudah penuh hingga tempat duduk tak jauh di depan layar.

Sebagai tontonan dengan jumlah penonton terbanyak bahkan di hari perdana penayangannya saat bagian pertamanya tampil tahun lalu, Warkop DKI Reborn memang memiliki “daya betot” kuat bagi para penontonnya. Pada bagian kedua kali ini, penonton terlihat antusias untuk menyaksikan aksi kocak Kasino (Vino.G.Bastian), Dono (Abimana Arysatya), Indro (Tora Sudiro) memerankan trio lawak legendaris pada zamannya dengan sentuhan “kekinian” itu.

Adegan dibuka dengan potongan adegan dari episode pertama Warkop DKI Reborn. Sekedar untuk mengembalikan memori penonton pada keterkaitan cerita di episode kedua nanti. Di bagian ini, trio Dono, Kasino dan Indro ditemani Sophie (Hannah Al Rashid), rekan kerja mereka dari CHIPS cabang Prancis tiba di negeri Jiran Malaysia untuk mencari Harta Karun. Mereka mencari jejak perempuan bergaun merah yang tertukar tasnya saat pengambilan bagasi di bandara Kuala Lumpur. Lewat petunjuk dari barang yang ada di tas, mereka mendapat petunjuk hingga ke Perpustakaan Pusat Malaysia kemudian ke Laboratorium Ar Ran Universitas Malaysia.

Trio DKI plus Sophie akhirnya berjumpa dengan pemilik tas mereka yang tertukar, Nadia (Nur Fazura). Dengan mempertimbangkan latar belakang profesi Nadia sebagai peneliti, Mereka kemudian mengajak Nadia untuk bersama-sama mencari Harta Karun dengan perjanjian hasilnya akan dibagi dua. Nadia setuju dan siap ikut bersama Trio DKI plus Sophie. Petualangan seru dan kocak merekapun terjadi saat mereka mendarat lalu menjelajahi di pulau seram, sepi dan tak berpenghuni.

Terus terang, sebelum menonton film ini sempat terbersit rasa cemas, apakah kelucuan yang diumbar habis pada episode perdana Warkop Reborn , bisa jauh lebih bagus dari sebelumnya. Ternyata kekhawatiran saya tak beralasan. Pada episode kedua ini ternyata menyajikan kelucuan yang lebih maksimal. Derai tawa penonton terdengar riuh sepanjang film berlangsung. Pemain Trio DKI (Vino, Abimana, Tora) berhasil mengocok perut dengan aksi-aksi mereka yang menghebohkan.

Diawali dari adegan di Toko Serba KW di Malaysia, pembicaraan dengan penjaga perpustakaan bersuara membahana, hasil eksprimen aneh di laboratorum Arran hingga petualangan kocak Trio DKI di Pulau seram dengan adegan-adegan seru serta sentuhan kreatifitas humor yang pas dan “gila”.

Salut buat Anggy Umbara beserta dua penulis skrip, Bene Dion Rajagukguk dan Andi Awwe Wijaya yang berhasil membuat “kerusuhan” tawa di bioskop. Penataan kamera ala vintage oleh Yunus Pasolang serta iringan musik gubahan Andhika Triyadi semakin “memperkaya” gemuruh film fenomenal ini.

Chemistry yang terjalin antara Vino, Abimana dan Tora juga terlihat semakin kompak dan padu. Di bagian kedua ini, mereka mampu memainkan karakter yang mumpuni serta berinteraksi aktif dengan lawan main masing-masing. Kerinduan pada trio legendaris Dono, Kasino dan Indro sungguh bisa terobati dengan akting mereka yang natural. Dukungan pemain lain seperti Indro Warkop, Babe Cabita, Hannah Al Rashid, Nur Fazura dan Nora Danish semakin menyemarakkan suasana.

Ah, jadi gak sabar mau nonton episode berikutnya!

 

Film “Surat Kecil Untuk Tuhan” : Meretas Takdir dan Keniscayaan Cinta

Sebelum menonton film “Surat Kecil Untuk Tuhan” (SKUT) bersama keluarga kecil saya di Studio-1 Cinemaxx Mall Lippo Cikarang, Rabu sore (28/6), saya sempat didera kebingungan apakah ini film kelanjutan dari film sebelumnya yang berjudul persis sama dan dirilis pada tahun 2011 yang disutradarai oleh Harris Nizam, dan dibintangi oleh Alek Komang, Dinda Hauw, Esa Sigit, Ranty Purnamasari?. Tercatat film SKUK versi 2011 ini mampu mendulang sukses dalam meraih jumlah penonton, sekitar 700 ribu penonton.

Ternyata setelah menyimak film SKUK versi 2017 secara utuh, tidak ada relevansinya sama sekali dengan film berjudul yang sama dan dirilis 6 tahun silam yang ceritanya berkisah tentang seorang anak gadis yang menderita kanker dan menulis surat untuk Tuhan. Walau alur kisahnya juga tentang ketangguhan anak-anak dalam menghadapi takdirnya yang tak mudah. Kedua film berjudul sama dan dirilis pada tahun berbeda ini, sama sekali tidak ada hubungannya.

Film SKUK kisahnya diawali tentang romantika kelam dan pilu yang dihadapi oleh 2 kakak beradik cilik yatim piatu Anton (Bima Azriel) dan Angel (Izzati Khanza). Keduanya terjebak dalam sindikat kejam yang dipimpin oleh Pak Rudi (Lukman Sardi) yang memanfaatkan anak-anak terlantar untuk menjadi pengemis jalanan. Pada usia yang masih kecil, Anton bersama bocah-bocah lainnya diperbudak menjadi mesin uang untuk Pak Rudi tanpa kenal waktu. Masa kecil nan indah hanyalah mimpi belaka. Anton bertekad menjaga sang adik dengan baik hingga maut memisahkan mereka.

Peristiwa kecelakaan yang menimpa Angel merubah segalanya. Ketika ia tengah koma di rumah sakit, sang kakak terpaksa meninggalkannya karena diminta Pak Rudi mengikuti orang tua angkat yang akan mengadopsinya.  15 tahun kemudian, Angel dewasa (diperankan oleh Bunga Citra Lestari) yang hidup bahagia dengan keluarga yang mengadopsinya di Sydney Australia berkenalan dan menjalin hubungan dengan dokter muda spesialis jantung yang tampan, Martin (Joe Taslim). Angel masih diliputi bayang-bayang sang kakak Anton. Ia bertekad pulang kembali ke Jakarta dan menguak misteri itu : mencari sang kakak tercinta, hidup atau mati.

Martin tak kuasa untuk menahan kehendak kuat sang kekasih, Angel. Dibantu oleh kawan masa kecilnya, Ningsih (Aura Kasih) dan sang suami Asep (Rifnu Wikana) serta Letnan Joko (Ben Joshua), Angel yang juga berprofesi sebagai Pengacara ini berusaha menguak tabir hilangnya sang kakak kesayangannya. Tak diduga dari hasil penyelidikan secara intensif, Angel menemukan hal yang sangat mengejutkan dan membuatnya nyaris tak percaya atas apa yang sudah terjadi.

Pada film berdurasi 107 menit ini, Bunga Citra Lestari (BCL) dan Joe Taslim beradu peran dengan apik dan natural. Keduanya menunjukkan kelasnya sebagai artis profesional yang secara ekspresif dan dramatis tampil sebagai sosok adik yang mencari keberadaan sang kakak tercinta. Sementara itu, meski lekat citranya sebagai bintang laga, Joe Taslim mampu mengimbangi akting BCL pada adegan-adegan bernuansa melankolis. Tampaknya, pengalaman Joe sebelumnya yang berperan di film drama “La Tahzan” (2013) saat bermain bersama Atikah Hasiloan sangat membantu menghayati perannya sebagai Martin.

Para pemeran pendukung juga tak kalah memukau menampilkan kemampuan akting terbaiknya. Bima Azriel dan Izzati Khanza, dua artis cilik pemeran Anton dan Angel layak diberikan apresiasi dengan menyajikan parade akting nan cemerlang. Demikian pula Lukman Sardi yang tampil prima sebagai Pak Rudi yang dingin, kejam dan licik.

Sebagai sutradara, tak urung, Fajar Bustomi terasa menanggung beban berat menampilkan film SKUT setelah pada 2016, tiga film Komedi yang diproduseri oleh Falcon Pictures meraup untung besar sebagai film Box Office Indonesia (Comic 8, My Stupid Boss dan Warkop DKI-Reborn). Namun, didukung oleh skenario yang ditulis apik oleh Upi Avianto berdasarkan novel karya Agnes Davonar ini, saya meyakini, film SKUK yang bergenre drama mampu meraih sukses.

Dari sisi sinematografi, Yudi Datau begitu piawai menyajikan gambar-gambar indah dan impresif didukung oleh penataan musik dari Khikmawan Santosa dan Mogammad Ikhsan Sungka. Mereka mampu memberikan “nyawa” pada film ini, mulai dari kerasnya kehidupan anak-anak jalanan di ibukota hingga keindahan monumental kota Sydney di Australia. Yang paling meninggalkan kesan mendalam buat saya adalah lagu-lagu anak seperti “Nina Bobo”, “Ambilkan Bulan” dan “Bintang Kecil” ikut hadir di film ini dengan aransemen baru dan sangat memikat.

Salut dan sukses untuk film Surat Kecil Untuk Tuhan.. 

 

FILM MULTIVERSE : THE 13TH STEP : TENTANG DUNIA LAIN DAN MISTERI YANG MENYERTAINYA

Hari Rabu sore (24/5) saya bersama sejumlah rekan-rekan blogger Bekasi mendapat kesempatan berharga menonton film Multiverse:The 13th Step di XXI Mega Bekasi.  Senang sekali bisa berjumpa kembali dengan mbak Mira Sahid, mbak Irma Senja, mbak Winda Krisnadafela, mbak Susi, mbak Lidya Fitrian dan tentu saja mbak Driana”Simbok Venus” yang mengajak kami semua berkumpul dalam moment tersebut.

Pukul 16.45 kami serentak memasuki studio 9 XXI Mega Bekasi. Adegan film Multiverse dibuka dengan awal yang menegangkan. Tentang sosok Diana (Olivia Jensen) yang mengalami halusinasi mengerikan di rumah yang ditinggalinya. Bayangan-bayangan bernuansa mistis membuatnya ketakutan. Kejadian tersebut bermuara pada hilangnya Diana secara misterius di gudang rumah. Sang ayah (Ari Wibowo) dan ibu (Olga Lidya) panik dan mencari si putri bungsu yang tiba-tiba raib seakan ditelan bumi,

Beberapa tahun berselang, rumah yang dulu ditempati oleh keluarga Diana, akhirnya dihuni oleh keluarga Farel (Rendy Kjaernett). Dalam beberapa saat kemudian, Farel mengalami sejumlah kejadian aneh. Dia bahkan dapat berkomunikasi dengan sosok misterius bernama Nadia (juga diperankan oleh Olivia Jensen) melalui telepon genggamnya.  Bersama kawan-kawan barunya di SMA, Farel berusaha menguak jejak misteri di rumah yang baru dihuninya itu. Dan mereka menemukan sesuatu yang sangat mengejutkan!

Patut diapresiasi ide mengangkat “dunia lain” yang oleh sebagian besar orang masih dianggap sebagai mitos lewat film yang diproduseri oleh Amarta Pictures ini. Menyajikan film bergenre horor-fantasi memang sebuah tantangan tersendiri, tidak hanya dari sisi cerita namun juga kemampuan memainkan karakter para pemainnya.

“Film ini akan membuat kita sedikit berpikir akan keberadaan dunia selain dunia kita berada saat ini,” ujar Alfrits J Robert, sang sutradara, dalam sebuah konferensi media, seperti dikutip dari sini. Dibawah arahannya, film ini mampu membangkitkan rasa penasaran penonton dengan nuansa suspense menegangkan. Rendy Kjaernett berhasil menghidupkan sosok Farel dengan gerak tubuh dan mimik natural. Olivia Jensen yang memerankan 2 karakter sekaligus: Nadia dan Diana juga menampilkan parade akting yang lumayan menawan. Dan tentu saja, aktor lawas tampan awet muda, Ari Wibowo secara gemilang mampu menghidupkan sosok ayah Diana.

Dari sisi sinematografi, perpindahan antar adegan diatur begitu mulus dan dinamis. Meski sempat terasa agak mengganggu ketika muncul adegan aksi perkelahian di sebuah padang rumput dengan adegan sebelumnya yang kebanyakan diambil secara indoor. Penonton juga seakan dibawa rasa bingung dan penasaran yang tak terlampiaskan pada relasi antara pencairan ksatria ketigabelas dengan hilangnya Diana. Elemen ini yang sepertinya kurang tuntas dijelaskan, khususnya mulai pada pertengahan film yang diproduseri oleh Gerry Resuka dan Indra Pasaribu ini.

Menjelang film berakhir, salah satu artis pemeran film ini, Ari Wibowo berkenan hadir dan menyapa para penonton. Alhamdulillah, saya masih berkesempatan berfoto bersama artis yang mudanya masih awet ini, di salah satu sudut yang disiapkan.

Selamat dan sukses untuk film Multiverse : The 13th Step!

 

FILM “KARTINI” : TENTANG PENGABDIAN DAN MELEPAS BELENGGU TRADISI

kartini1
Bila pekan lalu saya memenuhi janji anak sulung saya menonton film FF8 (sudah saya review filmnya disini), maka hari Minggu (23/4) siang, di bioskop yang sama, namun film yang berbeda, saya memenuhi janji putri bungsu saya Alya menonton film “Kartini” di Studio 3 Cinemaxx Theatre Orange County Cikarang.

Film biopik karya sutradara Hanung Bramantyo bekerjasama dengan produser Robert Ronny memang sejak awal “menjanjikan” tontonan yang memikat lewat trailer film yang ditampilkan. Kisah fenomenal perempuan yang “harum namanya” ini mengangkat tema tentang upaya melepas belenggu tradisi wanita jawa di era 1900-an melalui pendidikan dan mengembangkan wawasan serta pergaulan lewat menulis atau membaca buku.

Kisah ini diawali dengan pergulatan batin sang Kartini kecil yang harus merelakan tidur terpisah dari sang ibunda Ngasirah (Nova Eliza) karena perbedaan strata sosial yang dimilikinya. Himpitan tradisi adat Jawa kuno yang mengharuskan perempuan saat melewati masa haid pertama harus dipingit sampai datangnya lelaki yang melamarnya untuk menjadikannya istri pertama, kedua bahkan ketiga membuat Kartini (Dian Sastrowardoyo) berontak dan berusaha melepaskan belenggu itu dengan caranya sendiri.

Sang kakak, RM.Sosrokartono (Reza Rahadian) yang bersekolah di Belanda membekali sang adik dengan buku serta literatur yang membuka wawasannya lebih luas. Perspektifnya dalam memahami kehidupan dan dunia di luar tembok pingitan berkelana jauh. “Tubuhmu boleh saja terkungkung, tapi fikiranmu harus tetap terbang sebebas-bebasnya,” ujar sang kakak Kartono sembari menyerahkan kunci lemari bukunya kepada sang adik sebelum berangkat ke negeri Kincir Angin.

Inspirasi dari sang kakak membuat Kartini bersemangat. Tidak hanya membaca, ia juga menulis artikel berbahasa Belanda bahkan salah satu diantaranya diterbitkan dalam jurnal berbahasa Belanda dengan menggunakan nama sang ayah, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat (Dedy Sutomo). Kartini kemudian menjadi penulis handal dan kerap mengirimkan tulisannya kepada majalah wanita yang terbit di Belanda, yaitu De Hollandsche Lelie.

kartini5

Kartini pun “menularkan” hobinya membaca dan menulis itu kepada kedua adiknya, Roekmini (Acha Septiarasa) dan Kardinah (Ayushita Nugraha). Ia bahkan membolehkan kedua adiknya memanggil namanya saja tanpa harus embel-embel gelar priyayi didepannya. Dengan gayanya yang santai, Kartini mendobrak tradisi feodal di “penjara” pingitan, tidak hanya dengan menulis artikel dan menulis surat kepada sahabat penanya Stella Zeehandelaar di Belanda, bahkan berani memanjat ke atas tembok keraton sambil ngemil kacang mede bersama kedua adiknya.

Kartini terlibat konflik dengan istri kedua ayahnya, Radeng Adjeng Moerjam (Djenar Maesa Ayu), terutama ketika sang adik Kardinah akan dinikahkan oleh seorang bangsawan Jawa yang sudah beristri. Hal serupa juga terjadi kembali ketika Kartini harus menjemput “takdir”-nya dengan menerima pinangan Bupati Rembang, Raden Adipati Joyodiningrat  (Dwi Sasono) sementara disaat yang sama ia menyaksikan kepedihan hati sang kakak, Sulastri (Adinia Wirasati) pulang ke rumah mereka karena kecewa sang suami menikah lagi. Kepada sang ibu, Ngasirah (Christine Hakim), ia mengungkapkan kegalauan hatinya, juga pemberontakannya.

kartini3

Karakter Kartini begitu hidup ditampilkan oleh Dian Sastrowardoyo dalam film yang rilis pertama kali 19 April 2017, dua hari sebelum peringatan hari kelahiran tokoh kebangkitan perempuan Indonesia tersebut. Gerak tubuh dan penghayatan bintang “Ada Apa Dengan Cinta” ini disajikan secara memikat, natural termasuk ketika berdialog lancar dalam bahasa Belanda maupun Jawa, pun ketika ia mengekspresikan “pemberontakan”-nya pada adat pingitan yang mengekang kemerdekaannya . Penampilan yang tak kalah menarik adalah sosok ibu Kartini, Ngasirah yang diperankan oleh bintang kawakan Christine Hakim.  Di film ini, Christine secara gemilang menghadirkan sosok ibu yang tangguh  dan tegar melindungi sang anak, sekaligus rapuh dan ringkih menghadapi tembok tradisi yang mengungkung.

 

kartini4Harus diakui, membuat film biopik kerapkali dianggap membosankan, namun berkat kemampuan akting jajaran pemeran yang cemerlang serta “tangan dingin” sang sutradara Hanung Bramantyo, film tentang perempuan inspiratif dari Jepara ini jauh melampaui ekspektasi. Salah satu adegan yang menurut saya cukup “cerdas” dan memukau adalah ketika Kartini membaca novel dan disaat yang sama sang penulis novel itu berada disampingnya menjelaskan suasana pengadilan Belanda dimana pengacaranya adalah seorang perempuan. Sebuah terobosan imajinatif yang patut diapresiasi. Hanung pun secara konsisten menjaga ritme otensitas budaya lokal Jawa sepanjang filmnya dan memadukannya secara apik dengan ornamen masa kolonial Belanda.

kartini2

Suasana Jepara pada era tahun 1900-an nampak nyata seakan kita diajak “bertamasya” mengarungi mesin waktu ke masa itu.

Secara sinematografis, film “Kartini” menampilkan gambar-gambar indah nan mempesona, angkat jempol buat penata artistik Faozan Rizal yang sukses menyajikan atmosfer nuansa wilayah Jepara tempo doeloe. Dari sisi tata musik & suara, Andi Rianto dan Charlie Meliala berhasil membawa penonton pada suasana eksotisme dan romantisme budaya jawa masa silam.

Seusai menonton film ini, saya melihat ekspresi puas wajah putri saya, Alya yang katanya sangat terinspirasi pada film ini. Tiba-tiba saya membayangkan, ada sosok ibu Kartini tersenyum di depan sembari membaca salah satu tulisan pada suratnya pada Mevrouw Van Kol pada bulan Agustus 1901: “”…Our idea is open, as soon as we have the means, an institute for the daughter of native officials, where they will be fitted for practical life and will be taught as well the things which elevate the spirit, and ennoble the mind…”