Setelah Upin Ipin yang Mengedukasi Terbitlah Larva

Screenshoot dari videonya di Youtube.

Setelah Upin Ipin yang Mengedukasi Terbitlah Larva. Menulis ini dalam kondisi sedang sangat bersemangat setelah hampir dua bulan terakhir prolog tidur saya berganti-ganti antara Upin Ipin dan Larvadan epilog tidur saya disusupi perasaan tidak rela meninggalkan ranjang diiringi hidung kembang-kempis dan iler tumpah-ruah. Helooooooo, are you okay, Teh? Hehe. Saya masih rajin menonton video lainnya dari channel Brightside, TED, Kirsten Dirksen, Insider, 5 Minutes Crafts, dan lain sebagainya termasuk tentang tiny house, tapi pesona filem kartun/animasi memang masih menguasai sisi lain diri saya. Tsaaaaah. Sisi lain yang masih pengen dimanja dan disayang-sayang sama Abang *ditabok dinosaurus*. Waktu SMA saya tergila-gila sama Doraemon sampai dikata-katain sama Kakak Didi Pharmantara: cewek terlambat puber. Huhuhu. Apa salah dan dosa hambaaaaa.

Baca Juga: KKN di Desa Penari yang Menggemparkan Dunia Maya

Masih banyak orang yang menyangka filem kartun identik dengan bocah saja. Salah, bung. Bahkan ada filem kartun yang justru tidak boleh ditonton sama bocah, dan saya pernah menontonnya di Youtube, hanya saja lupa judulnya. Pokoknya yang tidak seberapa komersil lah. Oke, balik lagi ke Upin Ipin dan Larva. Upin Ipin jelas kalian sudah tahu kan ya. Manapula pernah saya tulis dua kali di blog dengan pos berjudul Semua Anak Indonesia Harus Menonton Upin Ipin (Bahagian 1) dan pos berjudul Semua Anak Indonesia Harus Menonton Upin Ipin (Bahagian 2). Silahkan dibaca! Karena semua Orang Indonesia wajib tahu alasan saya menulis dua pos tentang Upin Ipin tersebut.

Hari ini saya mau membahas tentang Larva. Beberapa hal memang saya ketahui tentang filem kartun yang satu ini tapi alhamdulillah Wikipedia menyediakan informasinya.

Cekidot!

Tentang Larva


Larva adalah serial televisi komedi yang dulunya tayang di RCTI. Iya, saya juga tahu Larva dari stasiun televisi tersebut, waktu masih menonton televisi, kan sudah lamaaaa sekali say goodbye sama televisi. Serial komedi animasi komputer ini dibikin oleh Tuba Entertainment yang bermarkas di Seoul, Korea Selatan. Untung bukan bermarkas di Pyongyang, Korea Utara, bisa-bisa kisahnya tentang Larva yang setiap hari bertugas di pangkalan militer dan pangkalan nuklir. Haha. Kenapa judulnya sampai Larva, ya karena dua karakter utamanya adalah dua larva berbeda warna dan bentuk. Satunya berwarna kuning dan sedikit lebih besar, satunya berwarna merah imut mirip potongan sosis. Sosis adalah makanan kegemaran mereka berdua, selain ... errr ... semua sisa makanan yang bisa ditemukan di sekitar.

Setiap episode Larva hanya berdurasi satu sampai dua menit saja sehingga tidak membosankan penonton. Hebatnya lagi, filem kartun ini seperti Tom and Jerry, tanpa percakapan sama sekali, kecuali jika Yellow terpesona akan sesuatu maka satu kata yang diucapkan adalah WOW dengan nada rendah dan super berat. Meskipun tanpa percakapan, alurnya tetap mudah dan ringan untuk dipahami dengan pesan-pesan moral yang jelas alias tidak bertele-tele.

Karakter Larva


Ini yang seru. Di dalam Larva, dengan kehidupan kaum minoritas itu *ngikik*, ada banyak karakter yang ditampilkan selain karakter utama. Dan karakter-karakter ini jelas-jelas ... bikin saya geleng-geleng kepala, betapa cerdasnya orang-orang yang membikin Larva. Pun mereka tidak repot memikirkan nama. Nama setiap karakter melekat erat dengan warna maupun bentuknya.

Marilah kita kenalan sama karakter-karakternya.

1. Yellow

Larva kuning yang bentuknya sedikit lebih besar dengan dua lobang hidung yang juga besar sehingga bisa menghasilkan gelembung apabila menghirup sabun cair (nonton episode ini saya sampai terbanting dari kasur). Dia sering kehilangan kontrol atas dirinya sendiri apabila melihat makanan. Kalau saya lihat sih, Yellow dan Red memang sama-sama kehilangan kontrol apabila melihat makanan, mereka lupa diri, lupa segalanya, lupa persahabatan. Terakhir, baru menyesal. Haha.

2. Red

Bentuknya macam sosis atau potongan sosis. Si Red ini wataknya keras dan tidak sabaran. Sama seperti Yellow, keduanya iseng bin usil dan selalu dalam kasus perebutan makanan. Bagaimana Yellow dan Red kemudian selalu bersama, ada kisahnya dalam Once Upon a Time, dimana dikisahkan keduanya bertemu saat 'menetas' hehehe. Persahabatan keduanya kemudian berlanjut sampai dewasa. Oh ya, karena tidak punya kaki, Yellow dan Red berjalan menggunakan perut, namanya juga larva, dan melakukan segala sesuatunya menggunakan lidah. Inilah yang disebut the power of tongue.

3. Violet

Dalam episode berjudul Violet, kita akan melihat cacing raksasa misterius yang selalu bersemunyi di dalam tanah dan muncul pada saat-saat tertentu. Kekuatannya ada pada giginya yang taring dan tajam serta suara raungannya yang garang. Tetapi, suatu kali ketika gigi si pemilik rumah terlempar keluar dan menancap di gusi Violet, suaranya jadi ngik-ngik alias tidak garang lagi, dan itu sukses membikin saya ngakak tidak karuan.

4. Pink

Pink adalah satu-satunya larva betina dalam serial Larva, dan kalau boleh ditulis, dia adalah larva ketiga. Selain itu sudah tidak ada lagi larva lainnya. Dalam beberapa episode, saya melihat Pink ini lebih suka sama Yellow ketimbang Red. Mereka kemudian jadian. Meskipun Pink dan Yellow sudah jadian, jadiannya gara-gara Pink yang rendah diri karena kentutnya sendiri sadar bahwa kentut Yellow jauh lebih dahsyat, tetap saja Red berusaha menyusup agar Pink mau menerimnya. Hehe. Sungguh persaingan dalam ranah asmara ini terjadi di mana-mana.

5. Black

Black adalah kumbang perkasa yang garang. Kebiasaan Black cuma satu: meninju kepompong sebagai samsak. Meskipun perkasa dan garang, dalam episode tertentu, kompak saja para kaum minoritas ini.

6. Rainbow

Siput ini namanya Rainbow. Saya lebih suka kalau dia keluar dari cangkang karena tubuhnya mirip manusia serta bergerak jauh lebih cepat. Rainbow pernah melempar cairan hijau pada Yellow dan Red, gara-gara dua larva itu iseng mem-bully-nya, dan kedua larva itu menjadi lamban seperti Rainbow. Hehe.

7. Prism

Bunglon yang paling suka mengincar Yellow dan Red. 

8. Rat

Ini tikus yang juga sama kayak Prism, sukanya mengejar Yellow dan Red untuk dijadikan makanan tapi tentu selalu gagal.

9. Stik Insect

Ini dia karakter yang terlihat paling rapuh tapi juga punya peranan penting dalam dunia Larva.

10. Baby Coco

Tunas (cokelat / hijau) yang tegas dan baik sama Yellow dan Red.

Itu karakter-karakter yang ada di Wikipedia. Pada saat menonton Larva dari berbagai musim, masih ada karakter-karakter lainnya seperti si anjing penunggu rumah yang entah siapa namanya, katak yang selalu mengincar Yellow dan Red untuk dijadiin makanan, burung peliharaan di dalam rumah yang ganas sama Yellow dan Red, dua burung lainnya sahabat Rat, kutu kelapa, dan lain sebagainya. Sayang, situs resmi Larva ini sedang down saat saya berusaha mencari informasi lebih banyak tentang Larva, jadi tidak bisa diakses. Ya sudahlah. Hehe.

Mari kita lanjut.

Hidup Harus Dinikmati dan Dirayakan


Seperti yang sudah saya tulis, bahkan filem kartun pun mengajarkan penontonnya banyak hal. Ada hikmah, pesan, pelajaran, yang disampaikan di setiap episodenya. Pelajaran paling utama yang saya tangkap dari Larva adalah hidup harus dinikmati dan dirayakan bahkan oleh perkara-perkara sepele. Bagi kaum minoritas yang tertindas, dua larva gokil juga teman-temannya, menjalani hari itu mau apa lai. Nikmati. Rayakan. Hari ini mau ngapain? Hari ini dapat makan atau tidak? Hari ini dikejar sama Rat atau tidak? Bagi mereka, bangun pagi keesokan hari dengan kondisi masih bernafas pun merupakan berkah. Ketemu makanan sisa yang dibuang merupakan surga yang dinanti. Oleh karena itu mereka sangat menikmati hidup dan selalu berupaya merayakannya. Tapi karena gokil dan berpikir dengan arus-pendek, maka seringnya dua larva itu ketiban sial.

Tentu, pelajaran yang berikutnya adalah tentang persahabatan yang kata Sindentosca: bagai kepompong. Yellow dan Red memulai persahabatan mereka sejak mengenal dunia, susah senang selalu bersama, isengnya pun kompak, kadang Yellow dan Red sama-sama saling iseng bin usil satu sama lain, berbagi makanan meskipun lebih sering khilaf (makanannya diembat sendiri), saling memanfaatkan tapi juga saling memaafkan, sampai urusan asmara dimana Pink mencintai Yellow sedangkan Red mencintai Pink. Sampai demam tinggi itu Red gara-gara kasih tak sampai. Haha. Persahabatan ini juga terjalin dengan kaum minoritas lain penghuni rumah dan penghuni selokan (saat di New York).

Dan pelajaran terakhir dari Larva, menurut saya, adalah hukum rimba. Yang lemah mengalah pada yang kuat. Meskipun, pada beberapa episode hukum rimba tidak berlaku, karena siapa sih yang mau terus-terusan ditindas? Balasannya adalah keisengan kedua larva tersebut.

Baca Juga: Karya Mereka Terlalu Eksklusif Untuk Tayang di Televisi

Bagaimana dengan kalian, kawan? Masihkah kalian menonton filem kartun/animasi? Apa saja filemnya? Yuk bagi tahu, siapa tahu bakal jadi referensi untuk saya hahaha. Yang jelas, setiap hari saya diisi dengan Upin Ipin dan Larva. Pertanyaannya sekarang, bukankah kalau terus ditonton, selesai juga itu semua episode dari setiap season? Bahkan Larva yang tidak sepanjang Upin Ipin season-nya? Ya nonton ulang doooonk hehehe. Karena sering menonton ulang ini makanya saya mulai hafal satu per satu kisahnya, baik Upin Ipin maupun Larva. Apakah saya kurang kerjaan? Justru karena terlalu banyak pekerjaan sehingga butuh hiburan, terutama sebagai pengantar tidur malam. Haha.

Selamat menikmati weekend!

#SabtuReview



Cheers.

Ketika Keberadaanmu Sadis Ditolak Oleh Kaum Sendiri

Gambar diambil dari: Wikipedia.

Ketika Keberadaanmu Sadis Ditolak Oleh Kaum Sendiri. Kalimat itu belum selesai. Kelanjutannya terungkap tidak melalui satu dua kata melainkan satu pos utuh! Penasaran kan? Makanya, dibaca sampai selesai #SabtuReview kali ini, ya! Hehe.

Baca Juga: Segudang Tanda Tanya Setelah Menonton Shutter Island

#SabtuReview kali ini masih datang dari lini filem. Buku, mana buku? Ada memang buku yang saya baca demi beberapa urusan pekerjaan tapi bukunya berjudul Tindak Pidana Terhadap Kehormatan Pengertian dan Penerapannya, Pidana Penghinaan adalah Pembatasan Kemerdekaan Berpendapat yang Inkonstitusional, Tindak Pidana Pers (Penyerangan Terhadap Kepentingan Hukum yang Dilindungi dengan Mempublikasikan Tulisan), dan Kamus Hukum. Kalian pasti bakal ngelempari saya pakai bakiak kalau sampai me-review buku-buku tersebut. Haha. Kecuali ada yang me-request khusus, Insha Allah saya review *ngikik*.

Jadi, filem apa yang saya bahas? Yuk simak!

Missing Link


Missing Link, dirilis tahun 2019 tepatnya bulan April, merupakan filem jenis animasi stop-motion yang ditulis dan disutradarai oleh Chris Butler dan diproduseri oleh Laika bekerja sama dengan Annapurna Pictures. Pengisi suaranya antara lain Hugh Jackman, Zoe Saldana, Emma Thompson, Stephen Fry, David Walliams, Timothy Olyphant, Matt Lucas, Amrita Acharia, dan Zach Alifianakis. Ya, itu yang tertulis di Wikipedia.

Setelah dirilis, filem ini mendapat banyak tanggapan positif dari para kritikus yang memuji tentang set filem yang dibuat dengan indah dan suasana yang menyenangkan dan santai.

The Missing Link


Filem ini dibuka dengan adegan pencari makhluk mitos bernama Sir Lionel Frost sedang berada di atas sampan bersama asistennya yaitu Mr. Lint untuk menemukan dan mengabadikan monster monster sejenis loch ness. Dan mereka gagal. Kamera yang telah memotret si mosnter hancur bersama sampan yang berkeping-keping di laut, dihancurkan oleh si monster. Mr. Lint mengundurkan diri sebagai asisten Sir Lionel Frost karena tidak ingin hidupnya berakhir terlalu cepat. Pada saat itulah Sir Lionel Frost membaca surat dari seseorang yang mengabarkan tentang keberadaan makhluk yang disebut Sasquatch.

Demi bisa bergabung dengan komunitas orang-orang hebat yang dipimpin oleh Lord Piggot-Dunceby, Sir Lionel Frost akan membuktikan bahwa Sasquatch ini betul ada. Dan dia memulai perjalanannya untuk mencari si makhluk mitos.

Awalnya saya berpikir pencarian si makhluk ini yang bakal lama ... ternyata. Cepat saja perjalanan Sir Lionel Frost ke Pasific Northwest, menemukan Sasquatch di hutan, terkejut karena Sasquatch ini ternyata bisa bicara! Tidak hanya itu, Sasquatch juga yang mengirimkan surat itu kepada Sir Lionel Frost. Kemudian Sasquatch diberi nama Link, senada sama nama asisten lamanya Sir Lionel Frost yang bernama Lint.

Dari cerita Link, bisa disimpulkan dia adalah the real missing link dari kerabat jauhnya yang hidup di Himalaya. Kerabat jauh si Link ini adalah yeti, makhluk mitos yang dikejar banyak orang juga. Sayangnya Sir Lionel Frost tidak tahu bahwa untuk menghalangi maksud dan tujuannya, Lord Piggot-Dunceby menyewa pembunuh bayaran yaitu Stenk. Sadis ya haha. Setuju membantu Link, perjalanan pun dimulai dengan pertama-tama mencuri peta lokasi Shangri-La di kediaman Adelina Fortnight yang adalah mantan pacarnya Sir Lionel Frost. Ndilalah Adelina pun ikut dalam perjalanan ke Himalaya.

Perjuangan demi perjuangan menghindari Stenk, hubungan Frost - Link yang kemudian menjadi lebih baik setelah diintervensi Adelina, serta sulitnya medan yang ditempuh, membawa mereka ke lembah Shangri-La. Mereka memang menemukan Kuil Yeti yang terhubung dengan dataran di sebelahnya melalui jembatan es. Link alias Susan (iya dia memilih nama ini dalam obrolan bersama Sir Lionel Frost di kapan) sangat bahagia. Tapi ...

Link, Sadis Ditolak Oleh Kaum Sendiri


Ratu dengan wajah bengis itu ternyata menolak keberadaan Link dan menjebloskan mereka bertiga ke penjara bawah tanah. Sementara itu ketika mereka berhasil meloloskan diri, malah terjebak di tengah jembatan karena di hadapan mereka telah menunggu Lord Piggot-Dunceby beserta asistennya dan Stenk. Nyawa jadi taruhan. Tapi pada akhirnya jembatan rubuh, Lord Piggot-Dunceby jatuh bersama runtuhan jembatan, Stenk berusaha menyelamatkan diri tetapi tetap saja menyusul Lord Piggot-Dunceby. Sir Lionel Frost, Link, dan Adelina pun selamat.

Keluarga Bukan Hanya Darah


Filem ini mengajarkan pada saya banyak hal. Salah satunya adalah keluarga bukan hanya darah. Buktinya, si Sasquatch yaitu Link yang masih kerabatnya yeti saja ditolak oleh Ratu Yeti. Padahal mereka masih satu lingkaran! Sedangkan Sir Lionel Frost dan Adelina yang tidak punya hubungan apa-apa dengan Link kemudian menjadi 'keluarga'nya si tautan yang hilang ini. Menulis ini saya jadi ingat meme yang sering muncul di time line Facebook: Kalau kau miskin, kau dijauhi - Kalau kau kaya, kau punya banyak saudara. Alias, banyak yang bakal mengakuimu sebagai saudara. Haha. Masa iya? Iya juga kali ya. Dan percaya tidak percaya hal-hal semacam ini terjadi pula dalam kehidupan kita dan/atau orang-orang di sekitar kita.

Saya tidak saja punya banyak teman tapi juga punya banyak saudara karena teman-teman adalah saudara. Apakah mereka harus kaya raya baru diakui sebagai saudara? Tidak lah. Cuma orang-orang lemah saja yang begitu. Haha. Siapapun kalian, kalau berteman dengan saya, ya sudah saya anggap saudara sendiri. Susah senang kita bersama.

Pelajaran lain yang saya petik dari filem Missing Link adalah tentang perjuangan. Hasil tidak pernah mengkhianati perjuangan. Dalam filem ini, Link memang tidak berhasil berkumpul dan tinggal bersama kerabat jauhnya itu, tetapi dia akhirnya hidup bebas dan bahagia bersama Sir Lionel Frost dalam petualangan-petualangan mereka mencari makhluk mitos. Itulah hasil yang dicapai: bebas dan bahagia.

Membikin Missing Link


Baru-baru ini saya menonton di Youtube tentang proses membikin filem animasi stop-motion yang ternyata asyik sekali! Lebih asyik lagi, video dari channel-nya Insider itu mengulik proses membikin filem Missing Link!



Aaaah ternyata begitu toh proses bikin animasi stop-motion.

⇜⇝

Bagaimana, kawan? Seru kan? Membaca review-nya seru. Menonton proses membikin animasi stop-motion juga seru. Melihat setiap divisi dengan pekerjaan kreatifnya masing-masing itu membikin saya lupa waktu. Nontonnya pun berulang-ulang. Bagaimana mereka mengubah set demi set itu, pergerakannya, pengisian suara (dubbing), sampai membikin banyak wajah dengan ekspresi berbeda, sungguh luar biasa. Kita bisa menyaksikan hasil akhirnya dalam filem Missing Link.

Baca Juga: The Willis Clan

Missing Link mungkin bakal mengingatkan kalian pada Shaun The Ship. Hehe. Yang jelas, selamat menikmati weekend.



Cheers.

Segudang Tanda Tanya Setelah Menonton Shutter Island


Segudang Tanda Tanya Setelah Menonton Shutter Island. Ini adalah salah satu draf pos blog yang sangat lama tidak dipublikasikan. Sepertinya saya lupa. Haha. Tidak ada satupun tulisan draf ini yang saya perbaiki. Alkisah, saya menonton Shutter Island sebelum menonton Searching, tapi kemudian saya memutuskan untuk terlebih dahulu me-review dan mempublikasikan Searching. So ... here we go ... a very late post!

A Very Late Post


Selamat Sabtu. Setelah minggu kemarin nafas ngos-ngosan dengan menonton Searching, hari ini #SabtuReview kembali membahas tentang filem. Jangan pernah berharap kalian akan menemukan review filem teranyar di sini, hehe. Maklum, di Kota Ende masih belum dibangun bioskop baru. Baru? Memangnya dulu pernah ada bioskop? Ada donk, meskipun bukan sekelas 21 atau XXI, dan banyakan filem-filemnya Roma Irama dan Warkop DKI pada zaman itu, tapi yang jelas di kota kecil ini pernah berdiri sebuah bioskop.

Baca Juga: Nostalgia Alanis

Seharusnya minggu lalu filem ini sudah di-review, but you know if it's too late, that the missing girl could be dead. Shutter Island bisa menunggu. Haha. Gaya banget menulis ini. Seolah-olah diri saya adalah Detektif Rosemary Vick. Let's talk about Shutter Island.

About Shutter Island


Shutter Island diperankan oleh empat pemeran utama. Leonardo Di Caprio (sebagai Edward "Teddy" Daniels), Mark Ruffalo (sebagai Chuck Aule), Ben Kingsley (sebagai dr John Cawley), dan Michelle Williams (sebagai Dolores Chanal). Filem yang dirilis tahun 2010 ini masuk dalam kategori neo-noir psychological thriller yang disutradarai oleh Martin Scrosese dan ditulis oleh Laeta Kalogridis berdasarkan novel Dennis Lehane yang terbit tahun 2003. Ya, tentu itu kata Wikipedia. Yang bukan kata Wikipedia adalah filem ini sukses membikin saya merasa gatal yang luar biasa karena warisan tanda tanya setelah melahapnya. Ini filem 'berat', menurut saya.

Overview


Shutter Island dibuka dengan adegan perjalanan laut Edward Daniels alias Teddy, seorang U.S. Marshals, dengan teman kerjanya yaitu Chuck Aule. Mereka dalam perjalanan menuju Rumah Sakit Ashecliffe, khusus merawat orang-orang sakit jiwa, di Shutter Island. Mereka akan menginvestigasi hilangnya seorang pasien bernama Rachel Solando yang telah menenggelamkan tiga anaknya. Petunjuk dari kamar rawat Rachel hanya sebuah kertas bertulis: The Law of 4: Who is 67? Dan investigasi pun berlanjut.

Dalam perjalanan investigasi yang penuh teka-teki itu, serta kilasan mimpi Teddy tentang isterinya,  dan betapa gemasnya penonton karena berpikir Teddy dan Chuck bakal terjebak di pulau itu dan pasti dibunuh oleh para dokter yang kuatir kedok mereka terbongkar, karena sedang badai (tidak ada kapal yang beroperasi), penonton kemudian diberitahu bahwa sebenarnya Teddy adalah pasien Ashecliffe yang bernama Andrew Laedis. Chuck, teman kerjanya, ternyata dokter yang selama ini menanganinya yaitu dokter Sheehan. Twist plot.

Di awal, plot berjalan dan penonton mempercayai bahwa Teddy dan Chuck beneran U.S. Marshals, dan mereka benar sedang menginvestigasi hilangnya Rachel Solando. Namun, twist membikin penonton ternganga bahwa Teddy adalah Andrew sedangkan Chuck adalah dokter Sheehan. Andrew mengalami skizofrenia. Andrew dibiarkan bermain dalam khayalannya sendiri, bahwa dirinya bernama Teddy dan seorang U.S. Marshals, dan berulang kali percobaan ini dilakukan untuk tahu sampai di mana batasan penyakit itu. Apakah Andrew akan di-lobotomy doleh dokter Cawley atau tidak.

Siapa Sebenarnya Dia?


Teddy atau Andrew? Sebagian orang percaya dia adalah Teddy yang memang tidak dapat sembuh. Tapi sebagian lagi percaya dia adalah Andrew yang memilih untuk di-lobotomy ketimbang harus hidup bersama kenangan buruk keluarganya. Ya, isteri Andrew yaitu Dolores, mengalami gangguan kejiwaan. Faktanya, Dolores menenggelamkan tiga anak mereka di sungai di belakang rumah. Andrew memilih untuk mengakhiri nyawa Dolores. Trauma itu yang membikinnya 'sakit'.

Di akhir cerita, setelah para dokter merasa upaya yang terus-terusan dilakukan terhadap Andrew tidak berhasil, justru dokter Sheehan merasa ada yang aneh dengan ucapan Andrew. "Mana yang lebih buruk? Hidup sebagai monster, atau mati sebagai manusia (yang baik)?". Lantas pergi ke arah dokter Cawley yang telah menunggunya. Dokter Sheehan bingung, lantas memanggilnya dengan "Teddy?".

Hidup Adalah Anugerah


Menulis sub judul ini bikin merinding. Hidup adalah anugerah Tuhan pada kita, umat manusia, tetapi melanjutkan hidup atau tidak, adalah pilihan ... karena itu banyak orang yang memutuskan untuk mengakhiri hidup mereka. Mengakhiri di sini tidak selamanya mati, melainkan menjadi seperti Teddy atau si Andrew di atas. Dari pada dibayang-bayangi masa lalu ... lebih baik lobotomy.

Baca Juga: Pariwisata Nusantara

Begitulah ...

Bagi kalian yang sudah menonton filem ini, minta tanggapannya donk, saya memang sudah membaca banyak tanggapan orang tentang filem ini, tetapi masih saja belum puas hahaha. Saya masih terbawa pada naluri saya yang mengatakan bahwa dia adalah Andrew.



Cheers.

Segudang Tanda Tanya Setelah Menonton Shutter Island


Segudang Tanda Tanya Setelah Menonton Shutter Island. Ini adalah salah satu draf pos blog yang sangat lama tidak dipublikasikan. Sepertinya saya lupa. Haha. Tidak ada satupun tulisan draf ini yang saya perbaiki. Alkisah, saya menonton Shutter Island sebelum menonton Searching, tapi kemudian saya memutuskan untuk terlebih dahulu me-review dan mempublikasikan Searching. So ... here we go ... a very late post!

A Very Late Post


Selamat Sabtu. Setelah minggu kemarin nafas ngos-ngosan dengan menonton Searching, hari ini #SabtuReview kembali membahas tentang filem. Jangan pernah berharap kalian akan menemukan review filem teranyar di sini, hehe. Maklum, di Kota Ende masih belum dibangun bioskop baru. Baru? Memangnya dulu pernah ada bioskop? Ada donk, meskipun bukan sekelas 21 atau XXI, dan banyakan filem-filemnya Roma Irama dan Warkop DKI pada zaman itu, tapi yang jelas di kota kecil ini pernah berdiri sebuah bioskop.

Baca Juga: Nostalgia Alanis

Seharusnya minggu lalu filem ini sudah di-review, but you know if it's too late, that the missing girl could be dead. Shutter Island bisa menunggu. Haha. Gaya banget menulis ini. Seolah-olah diri saya adalah Detektif Rosemary Vick. Let's talk about Shutter Island.

About Shutter Island


Shutter Island diperankan oleh empat pemeran utama. Leonardo Di Caprio (sebagai Edward "Teddy" Daniels), Mark Ruffalo (sebagai Chuck Aule), Ben Kingsley (sebagai dr John Cawley), dan Michelle Williams (sebagai Dolores Chanal). Filem yang dirilis tahun 2010 ini masuk dalam kategori neo-noir psychological thriller yang disutradarai oleh Martin Scrosese dan ditulis oleh Laeta Kalogridis berdasarkan novel Dennis Lehane yang terbit tahun 2003. Ya, tentu itu kata Wikipedia. Yang bukan kata Wikipedia adalah filem ini sukses membikin saya merasa gatal yang luar biasa karena warisan tanda tanya setelah melahapnya. Ini filem 'berat', menurut saya.

Overview


Shutter Island dibuka dengan adegan perjalanan laut Edward Daniels alias Teddy, seorang U.S. Marshals, dengan teman kerjanya yaitu Chuck Aule. Mereka dalam perjalanan menuju Rumah Sakit Ashecliffe, khusus merawat orang-orang sakit jiwa, di Shutter Island. Mereka akan menginvestigasi hilangnya seorang pasien bernama Rachel Solando yang telah menenggelamkan tiga anaknya. Petunjuk dari kamar rawat Rachel hanya sebuah kertas bertulis: The Law of 4: Who is 67? Dan investigasi pun berlanjut.

Dalam perjalanan investigasi yang penuh teka-teki itu, serta kilasan mimpi Teddy tentang isterinya,  dan betapa gemasnya penonton karena berpikir Teddy dan Chuck bakal terjebak di pulau itu dan pasti dibunuh oleh para dokter yang kuatir kedok mereka terbongkar, karena sedang badai (tidak ada kapal yang beroperasi), penonton kemudian diberitahu bahwa sebenarnya Teddy adalah pasien Ashecliffe yang bernama Andrew Laedis. Chuck, teman kerjanya, ternyata dokter yang selama ini menanganinya yaitu dokter Sheehan. Twist plot.

Di awal, plot berjalan dan penonton mempercayai bahwa Teddy dan Chuck beneran U.S. Marshals, dan mereka benar sedang menginvestigasi hilangnya Rachel Solando. Namun, twist membikin penonton ternganga bahwa Teddy adalah Andrew sedangkan Chuck adalah dokter Sheehan. Andrew mengalami skizofrenia. Andrew dibiarkan bermain dalam khayalannya sendiri, bahwa dirinya bernama Teddy dan seorang U.S. Marshals, dan berulang kali percobaan ini dilakukan untuk tahu sampai di mana batasan penyakit itu. Apakah Andrew akan di-lobotomy doleh dokter Cawley atau tidak.

Siapa Sebenarnya Dia?


Teddy atau Andrew? Sebagian orang percaya dia adalah Teddy yang memang tidak dapat sembuh. Tapi sebagian lagi percaya dia adalah Andrew yang memilih untuk di-lobotomy ketimbang harus hidup bersama kenangan buruk keluarganya. Ya, isteri Andrew yaitu Dolores, mengalami gangguan kejiwaan. Faktanya, Dolores menenggelamkan tiga anak mereka di sungai di belakang rumah. Andrew memilih untuk mengakhiri nyawa Dolores. Trauma itu yang membikinnya 'sakit'.

Di akhir cerita, setelah para dokter merasa upaya yang terus-terusan dilakukan terhadap Andrew tidak berhasil, justru dokter Sheehan merasa ada yang aneh dengan ucapan Andrew. "Mana yang lebih buruk? Hidup sebagai monster, atau mati sebagai manusia (yang baik)?". Lantas pergi ke arah dokter Cawley yang telah menunggunya. Dokter Sheehan bingung, lantas memanggilnya dengan "Teddy?".

Hidup Adalah Anugerah


Menulis sub judul ini bikin merinding. Hidup adalah anugerah Tuhan pada kita, umat manusia, tetapi melanjutkan hidup atau tidak, adalah pilihan ... karena itu banyak orang yang memutuskan untuk mengakhiri hidup mereka. Mengakhiri di sini tidak selamanya mati, melainkan menjadi seperti Teddy atau si Andrew di atas. Dari pada dibayang-bayangi masa lalu ... lebih baik lobotomy.

Baca Juga: Pariwisata Nusantara

Begitulah ...

Bagi kalian yang sudah menonton filem ini, minta tanggapannya donk, saya memang sudah membaca banyak tanggapan orang tentang filem ini, tetapi masih saja belum puas hahaha. Saya masih terbawa pada naluri saya yang mengatakan bahwa dia adalah Andrew.



Cheers.

Special Victims Unit


Kenapa saya sangat menyukai serial kriminal? Karena dari serial kriminal saya jadi paham tentang sistem peradilan antara Eropa Kontinental dan Anglo Saxon. Indonesia menganut sistem Eropa Kontinental, ditambah dengan sistem hukum adat dan hukum agama (Syariat Islam). Penerapan sistem hukum tergantung kepada kasus atau sengketa yang dihadapi oleh masyarakat, sehingga tidak semua kasus atau sengketa baik pidana maupun perdata diselesaikan berdasarkan KUHP, KUHPerdata, dan undang-undang khusus yang mengatur. Misalnya, sengketa batas-batas tanah di perkampungan bisa saja diselesaikan menggunakan hukum adat. Atau, sengketa warisan bisa saja diselesaikan menggunakan KUHPerdata, Hukum Waris Islam, maupun Hukum Adat.

Baca Juga: Pariwisata Nusantara

Sayang ya, kali ini saya tidak membahas tentang ilmu akademik yang dipelajari di bangku kuliah itu.  Dan memang hampir tidak pernah saya membahas masalah hukum hahaha. #SabtuReview, mari kembali membahas serial kriminal. Salah satu yang saya sukai yaitu Law and Order. Bagi kalian yang pernah atau bahkan sering menonton serial ini pasti tahu betul pembukaannya yang unik itu. Salah satunya pembukaannya seperti kalimat berikut ini:

Dalam sistem peradilan pidana, pelanggaran seksual dianggap sangat keji, di Kota New York, Detektif yang berdedikasi yang menyelidiki kejahatan keji ini adalah anggota pasukan elit, dikenal sebagai Unit Korban Khusus.

Inilah kisah mereka.



Law and Order, siapa yang belum pernah menontonnya? Saya pikir serial ini termasuk serial kriminal paling lama bertahan di industri serial televisi. Dua anak Law and Order yang paling sering saya tonton adalah Special Victim Unit (SVU) dan Criminal Intent. Ya benar, pembukaan di atas merupakan pembukaan SVU (Unit Korban Khusus). Baru-baru ini, setelah tahu akhir dari Castle yang mengenaskan dan mengecewakan itu, saya membongkar dua serial yaitu Constantine dan SVU. Belum ada perkembangan season dari Constantine dan para iblis selain jangan pernah menghadapi iblis dengan perut kosong. Haha. Tapi saya terkejut melihat SVU. Season 20! Are you kidding me? SVU bisa jadi serial kriminal sepanjang masa! Ditinggal nonton televisi sekian tahun, sudah Season 20 saja.

Mari kita simak seperti apa SVU dari Law and Order ini.

SVU


Dulu saya tidak ngeh kalau SVU dan Criminal Intent merupakan anak dari Law and Order karena yang saya tahu ya sudah itu Law and Order! Lama-kelamaan melihat adanya spesifikasi kasus yang ditangani oleh para polisi ini. Lebih lengkap tentang SVU silahkan baca informasi dari Wikipedia. SVU juga dibikin oleh Dick Wolf dan di'serahkan' kepada NBC untuk disiarkan. Sejak pertama disiarkan September 1999 sampai tahun 2018, sudah ada dua puluh season yang bisa kita nikmati. Angka dua puluh ini tidak main-main ya. The Mentalist saja hanya punya tujuh season dan Castle punya sembilan season.


Sejak awal menonton sampai sekarang, anggota SVU mengalami bongkar pasang, dan berakhir pada mereka-mereka ini juga. Elliot Stabler (diperankan oleh Christopher Meloni) hanya bertahan sampai Season 12, padahal saya suka juga sama perannya. Berikut, mereka-mereka yang masih bertahan di Season 20: Mariska Hargitay (sebagai Olivia Benson), Kelli Gidish (sebagai Amanda Rollins), Ice-T (sebagai Odafin Tutuola), Peter Scanavino (sebagai Dominick Carisi Jr.), dan Philip Winchester (sebagai Peter Stone). Peter Stone adalah jaksa.

Kejahatan Seksual dan Kejahatan Terhadap Anak


Meskipun SVU dideskripsikan sebagai tim yang mengurusi kejahatan seksual, tapi sepanjang saya menontonnya tidak selamanya hanya kejahatan seksual. Ya, karena episode-episodenya banyak bercerita tentang kejahatan seksual, kejahatan terhadap anak, pun termasuk kejahatan seksual terhadap anak. Ada kisah seorang ibu yang tega membunuh suami dan dua anaknya karena berpikir dengan membunuh maka dia membebaskan mereka dari kehidupan dunia yang kejam ini. Ibu macam apaaaaaaa yang tega macam begitu.

Mengikuti Perkembangan Zaman


Menariknya, SVU yang dimulai tahun 1999 hingga Season 20 pada tahun 2018, selalu mengikuti perkembangan zaman. Iya laaaah! Tapi tetap ya, yang namanya polisi dengan kegiatan investigasi dan interogasi, notes a la polisi itu tetap ada, meskipun mereka sudah pakai tablet misalnya. Kalau dulu gawainya masih yang biasa saja, sekarang sudah pakai Android dan/atau iOS. Keren lah! Perkembangan zaman ini juga diikuti dengan perkembangan karir. Olivia Benson, misalnya, Season 1 sampai Season 15 dia dikenal sebagai detektif, Season 15 sampai Season 17 sebagai Sersan, sedangkan Season 17 sampai Season 20 dikenal sebagai Letnan.

Pembuka Yang Sama


Ini yang juga saya suka dari SVU dan anak Law and Order lainnya. Pembuka yang sama. Mulai dari deskripsi singkat, musik, hingga slide foto-foto yang ditampilkan. Sama! Ibarat makanan, cita rasa serial kriminal yang satu ini tidak berubah sedikit pun. Meskipun pengembangan skenarionya lumayan mengejutkan dengan twist plot di sana sini.

Selalu Punya Kisah Seru


Menonton serial ini, meskipun tidak mengikuti tapi menonton semua season-nya, cukup menjadi patokan penilaian bahwa serial ini selalu punya kisah seru. Bedanya di Season 20, setiap episodenya itu unik karena selalu ada twist plot dan kisah-kisah yang tidak biasa. Ambil contoh Episode 1 Season 20 yang berjudul: Man Up. Bagaimana susahnya pekerjaan tim SVU ketika bocah yang mengalami sexually assaulted (pelecehan secara seksual) oleh ayah kandugnya menolak bekerja sama. Si bocah terlalu takut mengakui sehingga ketika kasus ini sampai di pengadilan pun si pelaku kejahatan diputuskan bebas. Semua orang yang membantunya memang kecewa, tapi si bocah kemudian menembaki teman-teman satu sekolahnya. Totally brutal.

Si bocah di tangkap, kasus berlanjut pada Episode 2: Man Down, ketika si bocah sudah berada di dalam penjara. Detektif kembali bekerja dan akhirnya si ayah ditahan.

Bagaimana Dick Wolf begitu jago meracik cerita sehingga penonton mengelus dada dan memaki, itu luar biasa. Ya siapa sih yang tidak kesal pada si bocah? Dia korban pelecehan seksual (disodomi paksa oleh ayah kandungnya) hanya karena ketidakmampuannya menembaki seekor kelinci saat keluarga itu pergi berburu! Tapi dia bersikap melindungi si ayah karena ketakutan yang luar biasa terhadap pemimpin keluarga yang otoriter itu. Duh, ini benar-benar pelajaran bagi orangtua ya. Karena, biasanya penjahat itu bisa datang dari keluarga kita sendiri; orangtua, paman, bibi, kakak, sepupu, dan lainnya.


Jadi demikian SVU yang tetap mempertahankan ciri khasnya tetapi selalu mengikuti perkembangan zaman. Termasuk, perkembangan bodi Olivia Benson yang semakin mekar dan diceritakan dia selalu ngos-ngosan alias tidak bisa mengejar penjahat sehingga harus punya program khusus untuk olahraga/diet. Wah, bagus kan ya. Realita hahaha.

Baca Juga: The Kings

Bagaimana dengan kalian, kawan? Kalau pengen mengisi waktu puasa, boleh juga menonton serial kriminal yang satu ini. Adegan ranjang nyaris tidak ada, kalaupun ada tidak vulgar dan tidaklah sampai seperti Game of Thrones. Haha. Selamat menikmati akhir pekan, kawan.




Cheers.

Searching


Sebenarnya saya sudah sangat ingin menulis tentang Shutter Island, sebuah filem thriller yang diperankan oleh Leonardo Di Caprio, Mark Ruffalo, dan Ben Kingsley. Rasa gatal untuk menulisnya sampai tidak tertahankan dan meninggalkan ruam ganas. Namun, setelah menonton Searching, yang menurut saya juga sebuah filem thriller, saya pikir Shutter Island bisa menunggu dan kembali masuk dalam bucket list's review. Sementara Searching tidak bisa menunggu. Karena, jika terlambat, the missing girl could be dead.

Baca Juga: Nostalgia Alanis

Menggaruk demi memuaskan rasa gatal akan Shutter Island ... nanti. Sekarang mari kita simak seperti apa rupa Searching ini.

About Searching 


Searching adalah filem (drama) thriller yang diperankan oleh tiga pemeran utama yaitu John Cho sebagai David Kim, Michelle La sebagai Margot Kim, dan Debra Messing sebagai detektif Rosemary Vick. Filem yang dirilis komersil pada Agustus 2018 ini disutradarai oleh Aneesh Chaganty. Konon, filem ber-budget 1 Juta Dollar ini meraup keuntungan berlipat ganda yaitu 75,5 Juta Dollar. It's a wow! Keadaan itu yang menjadikan Searching salah satu box office yang patut diperhitungkan pada tahun 2018. Sekadar informasi bahwa sebuah filem dikatakan box office apabila keuntungan yang diraup melebihi biaya produksi.

Overview


Semoga ini tidak dianggap spoiler hahaha. 

Kisah Searching dibangun dari kehidupan rumah tangga David Kim, saat isterinya yaitu Pam masih hidup, bersama puteri mereka yang bernama Margot. Hampir semua momen kehidupan keluarga David Kim disimpan dalam bentuk foto dan video. Mulai dari saat Margot mulai duduk di bangku sekolah dari tahun ke tahun, Margot mulai mengenal alat musik piano dan membantu Pam memasak, saat David memperkenalkan Pokemon pada Margot, hingga Pam terserang kanker dan dirawat di rumah sakit dan meninggal dunia. Kesemuanya itu disimpan di sebuah komputer jadul yang masih memakai Widows XP. Ya, siapa pun yang pernah memakai Windows XP pasti kenal betul background dan bentuknya. Mulai dari user komputer itu hanya David seorang, hingga ditambah dua user lainnya yaitu Pam dan Margot. 



Setelah Pam meninggal, praktis David hanya tinggal bersama Kim, sesekali mengontak saudaranya yang bernama Peter Kim (diperankan oleh Joseph Lee). Kronologisnya adalah Margot telah masuk SMA dan masih kursus piano, life must go on, sementara David yang berusaha menjadi ayah yang baik bagi Margot masih 'hidup' bersama kenangannya tentang Pam melalui foto dan video keluarga mereka.

Suatu hari, selepas menghubungi Margot melalui FaceTime saat Margot sedang belajar kelompok di rumah salah seorang temannya, mengingatkan Margot akan sampah yang belum dibuang, David kehilangan kontak dengan Margot. Dia bingung, ke mana kah anaknya itu? Semua pesan chat tidak dibalas. Dihubungi di FaceTime pun tidak diterima. Nalurinya mengatakan ada yang salah, tapi dia masih menahan diri untuk tidak melaporkan pada pihak yang berwajib. Sampai 24 jam kemudian, David pun melaporkan kepada pihak kepolisian San Jose, California, tentang orang hilang. Dia kemudian menerima telepon dari seorang perempuan yaitu detektif Rosemary Vick. Si detektif meminta semua data Margot pada David demi menemukan puteri semata wayang David-Pam itu.


Siapa sangka ... jawabannya justru ada pada MacBook milik Margot yang ditinggal di rumah.

It's About Technology


Searching benar-benar filem tentang teknologi masa kini yang sehari-hari bersentuhan dengan umat manusia, dengan kita. Filem ini 90% didominasi oleh layar komputer tempat David berinteraksi dengan Margot, Peter, detektif Vick, hingga orang-orang yang disangkakan punya kaitan dengan hilangnya Margot. Saat David membuka MacBook milik Margot pun, saya langsung teringat pada tata cara pemulihan password. Untungnya e-mail yang digunakan Margot untuk mengembalikan akunnya bila melupakan password adalah e-mail milik Pam. Tentunya David tahu persis password e-mail milik Pam itu.


Dari situ, David mulai mengeksplor isi MacBook tersebut. Memasuki akun-akun media sosial milik Margot seperti Facebook, Instagram, Tumblr, hingga layanan video YouCast. Saat David mencoba daring di YouCast, dia ditonton oleh sebuah akun yaitu fish_n_chips yang langsung luring seketika. Ternyata, semua video di YouCast dapat disimpan. Gara-gara itu David jadi tahu bahwa Margot pun menyimpan semua video YouCast-nya.


Sementara itu, di e-mail, David menerima tawaran dari MemorialOne, sebuah situs yang menawarkan untuk menyiarkan pemakaman dalam bentuk video dan foto dari orang yang meninggal tersebut. Setelah akhirnya orang yang mengaku telah membunuh Margot bunuh diri, David mengunggah semua video dan foto Margot ke YouCast.

Ah, filem ini benar-benar tentang teknologi hahaha.

So Many Suspect


Sejak awal Margot hilang, terlalu banyak tersangka yang memenuhi benak penonton. Mulai dari teman-teman Margot yang ternyata begitu itu, teman lelaki yang bikin David meradang, adik David si Peter yang saya curigai sengaja membunuh Margot karena kuatir 'hubungan asmara' mereka terbongkar dan ternyata oh nooooo, hingga Hannah alias fish_n_chips yang ternyata akun palsu. 

Twist Plot


Ini yang sungguh ausam dari Searching. Twist plot! Hadir di akhir cerita, twist plot Searching sungguh tak terduga. Lahir dari wajah Hannah si fish_n_chips di YouCast yang ternyata sama dengan wajah ambassador MemorialOne. Oh, ampun, sampai di sini saya berpikir Hannah lah yang membunuh Margot. Bersemangat, David menghubungi kepolisian untuk melapor temuannya pada detektif Vick. Ternyata detektif Vick hanyalah seorang volunteer yang mengajukan dirinya untuk turut menangani kasus hilangnya Margot.

Trada ...

Ah ... tidak semudah itu menebak, kawan. It's not just about detektif Vick.


Pada akhirnya saya harus angkat topi untuk Aneesh Chaganty dan Sev Ohanian yang menulis filem ini. Otak mereka canggih betul. Dan apabila kalian bingung menentukan akhir cerita ini hanya berdasarkan review ini, artinya saya berhasil membikin kalian bingung sebingung saya sendiri saat menontonnya haha. 

Bila kalian mencari filem yang bisa membikin akhir minggu menjadi rada gimanaaa gitu, tonton Searching sekarang juga!


Cheers.

Double Ending


Bagi para penikmat filem, menonton filem merupakan proses otak turut bekerja untuk terlebih dahulu menyelesaikan kisah dari filem yang ditonton. Menebak. Itu kata sederhananya. Selama kita belum menonton trailer dan membaca review-nya terlebih dahulu. Menonton Fight Club, misalnya, otak saya bekerja keras menebak akhir filem tersebut, yang kemudian ditampar twist ending yang bikin melongo. Atau, saat saya menonton The Sixth Sense, sama rasanya saat ditampar dari twist ending Fight Club. Ah, ya, sama dengan menit-menit pertama menonton Split.

Baca Juga: Relikui Kematian #2

Kadang-kadang kita bakal bilang: tuuuuh kaaaan benar kah tebakan saya, ketika tebakan kita sama dengan adegan berikutnya dan/atau akhir filem yang bersangkutan. Pernahkah tebakan kalian diamini oleh akhir sebuah filem? Saya pernah. Tapi seringnya gagal. Haha. Saat menonton Train to Bussan dan Ia am Legend, misalnya, tebakan saya tentang pemeran utama yang selalu selamat alias tidak mati ... salah total. Duh, stigma pemeran utama selalu selamat nampaknya memang harus dihapuskan dari otak saya.

Filem-filem twist ending memang harus diakui super keren. Angkat jempol. Benar-benar menguras otak saat menontonnya dan membikin melongo pada ending-nya.

Tapi ... bagaimana perasaan kita ketika tahu bahwa filem favorit kita ternyata double ending? Lantas muncul pertanyaan, kenapa filem yang ditonton sebelumnya (bioskop) berbeda ending dengan yang ditonton ulang lewat DVD? Atau, bagaimana bisa filem yang sama, yang disedot gratisan tapi beda waktu dan sumber penyedotan, kemudian berbeda ending?

Double Ending


Double ending di sini dimaksudkan untuk filem-filem yang ternyata punya alternatif lain sebagai penutup cerita. Pertama kali tahu soal ini dari sebuah perdebatan panjang bersama teman sekolah saya Penny Kamadjaja. Penny bercerita tentang akhir sebuah filem yang dia tonton di bioskop. Jelas saya membantah karena akhir dari filem yang sama, yang saya tonton di DVD, berbeda dari yang dia ceritakan. Perdebatan panjang tidak dapat dihindari. Kami nyaris menggunakan ilmu silat demi membela harga diri. 

Ternyata, kami sama-sama benar.

Memang Ada!


Double ending memang ada. Alternatif yang sengaja disediakan oleh pembuat filemnya. Alternatif ini umumnya hanya satu (jadi ada dua jenis ending saja) tapi kadang-kadang tiga. Kenapa ada double ending ini tidak terlepas dari penonton-responden. Semacam uji coba dari sebuah filem. Tanggapan responden inilah yang menjadi acuan apakah ending perlu diubah atau tidak. Asyik banget kalau begitu jadi responden ya haha.

Baca Juga: Survival Movies

Kali ini saya hanya akan membahas satu filem yang pernah saya tonton, yang punya double ending atau punya lebih dari satu alternatif ending. Filem itu berjudul I am Legend.

Mari kita cek.

I am Legend


Pertama menonton I am Legend yang diperankan oleh Will Smith ini jelas bukan di bioskop. Karena kalau kalian membaca pos Mereview Filem (dan Buku), sudah dijelaskan mengapa saya sering me-review filem lama. Pertama kali menonton I am Legend itu sekitar tahun 2009 atau 2011. Kemudian, tahun 2018 kemarin saya mengulas tentang filem-filem bertema zombie pada pos 5 Filem Zombie Favorit. I am Legend termasuk di dalamnya, meskipun musuh Robert Neville (Will Smith) tidak disebut zombie melainkan Darkseeker. Bedanya? Darkseeker ini makhluk yang cerdas sedangkan otak zombie itu sudah gagal total.

Pada pos itu kalian bakal membaca review saya tentang kematian Robert Neville di akhir cerita. 

Terakhir, Robert memang menemukan anti virusnya, tapi dia harus mati di dalam tempat persembunyiannya demi menyelamatkan seorang perempuan dan anak kecil yang dia percaya akan membawa anti virus itu ke tempat perlindungan.

Baru-baru ini saya menonton ulang I am Legend karena memang suka sama ceritanya. Dan pada akhir cerita saya dibikin melongo. Dalam hati saya berkata: lagi-lagi double ending. Dan teringat perdebatan panjang antara saya dan Penny pada masa lampau. Alternatif lain akhir kisah I am Legend adalah Robert Neville selamat alias tidak meninggal dunia dalam ledakan. Karena, dia mempelajari ternyata Darkseeker ini punya perasaan pula (dan tentu otaknya juga cerdas). Robert, si wanita, dan anak kecil itu pun selamat dan bersama-sama menuju tempat perlindungan.

Dari kedua ending tersebut, yang mana yang kalian suka?

Namun, sebenarnya responden tidak menyukai akhir yang bahagia, haha. Makanya dibikin akhir cerita Robert meninggal dunia.

Masih banyak filem-filem lain yang juga punya double ending. Dan mungkin kalian juga sudah menonton semua versi/alternatif ending-nya. Sebut saja filem The Butterfly Effect dan Titanic. Saya sih sudah menonton filem-filem lama tersebut, tapi belum menonton versi lain dari akhir filemnya jadi belum bisa menulisnya di sini. Kalau I am Legend sih jelas sudah saya tonton kedua versi ending-nya jadi bisa menulisnya.

Baca Juga: The Willis Clan

Well, selamat berakhir pekan, kawan. Silahkan cari ending alternatif dari filem favorit kalian!


Cheers.

Relikui Kematian #2


Bagi pecinta Harry Potter yang sampai sekarang masih tersihir oleh kisah spektakuler dari dunia sihir a la J. K. Rowling, membicarakan perkara apa pun tentang dunia sihir itu, kapan pun waktunya, tentu selalu menyenangkan. Saya, sebagai pecinta kisah Harry Potter, masih bisa mengingat banyak hal dari novel maupun filemnya. Betapa tingkah sepupu Harry, Dudley Dursley, sama mengesalkannya dengan tawa Bellatrix Lestrange, misalnya. Atau, tentang timbulnya rasa bersalah di dalam diri kita ketika tahu bahwa Profesor Snape, si 'agen ganda' itu justru patuh pada Albus Dumbledore dan sangat menyayangi Harry. Atau tentang horcrux-horcrux yang harus dihancurkan.

Baca Juga: Survival Movies

Kembali menulis tentang Harry Potter, khusus Relikui Kematian, kisah tentang tiga benda keramat ini hadir dalam seri terakhir yang berjudul Harry Potter and The Deathly Hallows. Untuk tahu tentang Tongkat Elder, silahkan baca Relikui Kematian #1. Kenapa harus membacanya? Agar kalian, yang sama sekali tidak tahu tentang Harry Potter, punya petunjuk tentang tiga benda keramat peninggalan Paverell bersaudara. Hari ini saya akan melanjutkan tentang dua benda keramat dari Relikui Kematian yang lain yaitu Batu Kebangkitan dan Jubah Gaib

Batu Kebangkitan


Batu Kebangkitan merupakan salah satu benda keramat yang diberikan Kematian kepada Cadmus Paverell. Batu Kebangkitan diwariskan oleh Albus Dumbledore kepada Harry yang diletakkan di dalam snitch pertama yang ditangkap Harry saat pertandingan Quidditch. Apakah batu ini yang menyelamatkan Harry dari kutukan Voldemort di Hutan Terlarang? Ada dua teori, seperti yang saya janjikan sebelumnya, teori pertama sudah saya tulis tapi tidak ada salahnya mengulang agar tidak tercerai-berai.

Teori Pertama: 
Harry selamat dari kutukan Voldemort di Hutan Terlarang karena Tongkat Elder setia pada pemiliknya. Tongkat Elder, meskipun fisiknya berada di tangan Voldemort, sebenarnya merupakan milik Harry dari hasil Harry melucuti si tongkat dari Draco Malfoy. Ingat kata Ollivander, tongkatlah yang memilih tuannya. Kesetiaan Tongkat Elder menyebabkan serangan itu tidak 100% meskipun Voldemort yakin percaya itulah kekuatan paling imba darinya terhadap Harry.

Teori Kedua:
Batu Kebangkitan yang berhasil dikeluarkan Harry dari snitch lah yang menyelamatkan Harry dari kutukan Voldemort di Hutan Terlarang. Albus Dumbledore tahu bahwa Harry adalah salah satu horcrux; benda yang menyimpan potongan jiwa Voldemort. Untuk bisa melumpuhkan Voldemort atau melemahkannya, semua horcrux harus dihancurkan. Termasuk Harry. Tujuan Albus Dumbledore memberikan Batu Kebangkitan kepada Harry adalah agar setelah horcrux (Harry) mati, Harry dapat bangkit untuk melawan, kembali, Voldemort.

Teori pertama dan teori kedua ini sama-sama masuk akal. Karena, dalam dunia sihir, tongkat sihir loyal/setia pada pemiliknya yang sah. Karena, Batu Kebangkitan hanya membangkitkan satu orang, dan itu Harry, bukan James, Lily, Albus Dumbledore, dan lain sebagainya. Arwah-arwah orang mati yang ditemui Harry dalam 'alam antara' itu hanya sebagai penyemangat untuk Harry kembali dan melakukan pertarungan kedua dengan Voldemort.

Baca Juga: Sel-Sel Kelabu Hercule Poirot

Setelah digunakan, batu tersebut jatuh di Hutan Terlarang dan memang tidak ada niat Harry, kemudian, untuk mencarinya. Dia tidak ingin memiliki si batu, sama juga dengan dia tidak ingin memiliki si tongkat.

Jubah Gaib


Inilah benda keramat terakhir yang diberikan oleh Kematian kepada Ignotus Paverell, si bungsu dari Paverell bersaudara. Jubah Gaib ini sejak semula jadi sudah kita ketahui diberikan oleh Albus Dumbledore kepada Harry dari wasiatnya James Potter. Berbeda dengan proses kepemilikan Tongkat Elder dan Batu Kebangkitan, Jubah Gaib merupakan satu-satunya benda yang menjadi konektor antara Harry dan Ignotus. Bahwa, Harry merupakan turunan Ignotus. Artinya, Harry dan Voldemort pun masih punya hubungan darah (jauh).

Jubah Gaib merupakan satu-satunya benda dari Relikui Kematian yang disimpan Harry. Tidak ada kisah lanjutan dari Jubah Gaib, bahkan dalam Harry Potter and The Deathly Hallows pun, Jubah Gaib hanya memainkan sedikit peran (disebut-sebut).

Harry Potter adalah Kisah Tentang Paverell dan Horcrux


Itu memang kesimpulan yang dangkal. Tapi sejak dulu, setelah selesai membaca Harry Potter and The Deathly Hallows, saya sudah berpikir demikian. Pada akhirnya, enam seri Harry Potter, tercerahkan di buku ke-tujuh. Kebaikan melawan kejahatan; Harry melawan Voldemort. Voldemort bisa kalah apabila semua horcrux-nya hancur; termasuk Harry - yang kemudian bangkit kembali. Dan ambisi Voldemort adalah menguasai Relikui Kematian warisan Paverell bersaudara; hanya satu Relikui Kematian yang sempat dipegangnya, Tongkat Elder, itu pun si tongkat justru setia kepada pemiliknya yang sah.

Horcrux


Dari tadi menulis horcrux. Apa saja kah horcrux itu?

1. Diary milik Tom Riddle.
2. Cincin Gaunt.
3. Liontin Slytherin.
4. Piala Hufflecup.
5. Diadem Ravenclaw.
6. Nagini.
7. Harry Potter.

Dan yang terakhir adalah jiwa yang masih melekat pada Voldemort sendiri.


Setelah membaca Relikui Kematian #1 dan #2, bagaimana tanggapan kalian? Siapa tahu pendapat kita berbeda tentang hal ini. Feel free to write your mind on comment!

Baca Juga: Samudera Cinta Ikan Paus

Selamat berakhir pekan, selamat bernostalgia bersama Harry Potter.


Cheers.

Relikui Kematian #1


Harry Potter memang telah lama selesai. Buku terakhir seri ini, Harry Potter and The Deathly Hallows, diterbitkan tahun 2007, sedangkan filemnya dirilis tahun 2010 (Bagian 1) dan tahun 2011 (Bagian 2). Meskipun telah selesai, kisah spektakuler dari dunia sihir a la J.K. Rowling yang pernah ditolak oleh penerbit ini masih terus menyihir kehidupan saya. Ketika prekuelnya yaitu Fantastic Beast and Where to Find Them serta Fantastic Beast The Crimes of Grindelwald dirilis, otomatis memori kita tentang Harry Potter muncul ke permukaan. Bagaimana tidak? Pernah dulu waktu masih hangat-hangatnya, saya sering sekali mengucapkan mantera-mantera dari serial tersebut seperti Stupefy.

Baca Juga: Survival Movies

Kisah utama buku ke-tujuh Harry Potter, sesuai judulnya, adalah The Deathly Hallows atau Relikui Kematian. Di dalamnya kalian akan menemukan pengembaraan tiga serangkai yaitu Harry, Ron, dan Hermione dengan misi mencari dan menghancurkan horcrux-horcrux milik Voldemort agar si penyihir terhitam dan terjahat itu melemah dan mudah dikalahkan. Misi yang tidak mudah karena Albus Dumbledore hanya menyisakan sedikit petunjuk setelah kematiannya. Selain itu, misi mereka lainnya adalah mencari tahu tentang simbol Relikui Kematian yang tergambar pada lembar demi lembar buku warisan Albus Dumbledore untuk Hermione. Buku itu berjudul The Tales of Beedle and Bard. Simbol Relikui Kematian juga dipakai oleh Xenophilius Lovegood (ayah Luna Lovegood) dalam bentuk bandulan kalung. Hermione juga melihat simbol Relikui Kematian pada makam Ignotus Peverell di Godric's Hollow.

Kisah Tiga Bersaudara Peverell


Relikui kematian adalah tiga benda keramat yang diciptakan dan diberikan oleh Kematian kepada tiga bersaudara yaitu Antioch Peverell, Cadmus Peverell, dan Ignotus Peverell. Kisah ini berada dalam buku The Tales of Beedle and Bard.

Alkisah ... ada tiga orang bersaudara berjalan jauh melalui jalanan sepi dan berkelok saat senja. Dalam perjalanannya mereka sampai di sungai yang berbahaya uuntuk diseberangi. Tapi mereka mempelajari ilmu sihir. Mereka dengan mudahnya melambaikan tongkat dan membuat sebuah jembatan. Akan tetapi sebelum mereka bisa menyeberang, jalan mereka dihalangi oleh seorang yang berkerudung. Itu adalah Kematian, dan dia merasa tertipu. Tertipu karena biasanya para pengelana akan tenggelam ke dalam sungai. Tapi kematian sungguh licik. Dia berpura-pura memberi selamat pada tiga bersaudara itu atas sihir mereka dan dan berkata bahwa masing-masing dari mereka mendapatkan hadiah karena cerdas menghindarinya.

Maka saudara yang tertua, Antioch, meminta tongkat yang lebih kuat dari tongkat lain. Lalu Kematian menciptakan tongkat buatnya dari Pohon Elder yang ada di dekat situ. 

Saudara yang kedua, Cadmus, memutuskan bahwa dia ingin menghina Kematian lebih jauh lagi dan meminta kekuatan untuk menghidupkan orang-orang yang dicintai dari kematian. Lalu Kematian mengambil sebuah batu dari pinggir sungai dan berikan itu padanya. 

Akhirnya, kematian bertanya pada saudara yang ketiga dan termuda yaitu Ignotus. Seorang pria yang sederhana. Dia meminta sesuatu yang dapat membuatnya pergi dari tempat itu tanpa diikuti oleh kematian. Dan kematian dengan sangat segan menyerahkan Jubah Gaib miliknya. 

Saudara pertama bepergian ke sebuah desa yang jauh dimana dengan Tongkat Elder di tangannya dia membunuh seorang penyihir yang bertengkar dengannya. Mabuk dengan kekuatan Tongkat Elder yang diberikan kepadanya dia membual akan kehebatannya. Tetapi di malam itu penyihir lain mencuri tongkat itu dan menggorok leher saudara itu sebagai tambahan. Dan Kematian mengambil saudara pertama itu sebagai miliknya.

Saudara kedua pulang ke rumahnya dimana dia membawa batu itu dan memutarnya tiga kali di telapak tangannya. Dia sangat senang ketika gadis yang dinikahinya yang keburu meninggal muncul di depannya. Namun sang gadis itu sedih dan dingin karena dirinya tak layak di dunia manusia. Gila karena kerinduan yang sia-sia saudara kedua membunuh dirinya agar bisa menyusul gadis itu. Dan Kematian mengambil saudara kedua itu sebagai miliknya.

Sementara saudara ketiga, bertahun-tahun kematian mencarinya namun tak bisa menemukannya. Hanya ketika ia sudah tua, saudara termuda itu memberikan jubah gaib itu pada puteranya. Dia menyambut Kematian bak teman lama dan pergi bersama Kematian dengan bahagia meninggalkan kehidupan ini.

Itulah kisah tiga bersaudara Peverell dengan Relikui Kematian.

Relikui Kematian


Ada tiga benda keramat Relikui Kematian. Jika seorang penyihir memiliki ketiganya maka akan dapat menjadi penguasa kematian. Dia dapat menjadi sangat mematikan dengan Tongkat Elder, dia dapat membangkitkan kematian dengan Batu Kebangkitan, dia pun dapat bersembunyi dari Kematian serta melindungi dua benda keramat lainnya dengan Jubah Gaib.


Siapa yang pernah memegang ketiga benda ini? Albus Dumbledore dan Harry Potter. Jubah Gaib telah menjadi milik Harry sejak lama, diserahkan oleh Albus Dumbledore atas wasiat ayah Harry yaitu James Potter. Batu Kebangkitan diwasiatkan oleh Albus Dumbledore kepada Harry, yang disembunyikan di dalam snitch wasiat tersebut. Sedangkan Tongkat Elder diperoleh Harry setelah melucuti Draco Malfoy di rumah penghuni Asrama Slytherin tersebut (kesetiaan tongkat kepada pemilik baru meskipun fisik si tongkat berada di tangan orang lain). Karena tanpa Draco sadari, dialah yang melucuti Tongkat Elder dari Albus Dumbledore sebelum Kepala Sekolah itu dibunuh oleh Profesor Snape.

Tongkat Elder


Tongkat Elder atau Elder Wand merupakan tongkat kepunyaan Albus Dumbledore. Inilah tongkat yang diminta Antioch Peverell kepada Kematian. Dalam dunia sihir, setiap penyihir mempunyai tongkat mereka masing-masing. Ada dua pembuat tongkat yaitu Ollivander dan Gregorovitch (di Bulgaria). Setelah dibunuh oleh penyihir lain, maka tongkat milik Antioch itu kemudian menjadi milik Gregorovitch. Si pembuat tongkat sihir yang bangga karena memiliki Tongkat Elder dan merasa puas karena bisa lebih populer dari Ollivander. Sayangnya tongkat sakti itu kemudian menjadi milik Gellert Grindelwald. Entah bagaimana caranya. Mungkin Grindelwald mencuri setelah membikin pingsan si Gregorovitch.

Baca Juga: Sisi Lain Dunia Gulat Dalam Dangal

Karena ... menurut penuturan Ollivander ... sebuah tongkat sihir akan menjadi pemilik sah penyihir lain jika penyihir pemilik sebelumnya dilucuti, dipingsankan, atau dibunuh. 

Gambar diambil dari sini.

Pemilik Tongkat Elder selanjutnya adalah Albus Dumbledore setelah mengalahkan Gellert Grindelwald. Lalu menjadi milik Draco tanpa dia ketahui, setelah melucuti Albus Dumbledore, sebelum Kepala Sekolah bijak itu dibunuh oleh Profesor Snape. Dan ketika Harry melucuti Draco, tongkat sakti itu kemudian menjadi milik Harry.


Demikianlah perjalanan panjang Tongkat Elder sebelum kemudian dicuri oleh Voldemort dari makam Albus Dumbledore. 

The Last Duel


Pertarungan terakhir antara Voldemort dan Harry tidak dapat terelakkan. Terutama setelah semua horcrux Voldemort dihancurkan. Fyi, horcrux adalah wadah tempat penyihir hitam menyimpan sobekan/pecahan/bagian dari jiwanya untuk mencapai keabadian. Horcrux terakhir yang dihancurkan adalah Nagini saat si ular hendak menyerang Ron dan Hermione. Adalah Neville Longbottom yang melakukannya, menggunakan Pedang Gryffindor. Voldemort membagi jiwanya menjadi delapan; tujun disimpan pada horcrux dan satu pada dirinya sendiri.

Pada pertarungan terakhir itu, Voldemort menggunakan Tongkat Elder, sedangkan Harry menggunakan tongkat milik Draco Malfoy. Namun, lagi-lagi mengingat siapa kepemilikan sah Tongkat Elder, tongkat itu tentu loyal kepada pemiliknya yang sah. Maka ... Voldemort kalah total dan Tongkat Elder, fisik si tongkat, berada di tangan si pemilik yang sah yaitu Harry. Luar biasa, sungguh, penggambaran pertarungan terakhir itu.

Menariknya tentang Tongkat Elder yang loyal pada Harry ini juga bisa terlihat pada pertarungan di Hutan Terlarang. Saat itu harusnya Harry mati lah. Diserang begitu rupa sama penyihir terjahat, terhitam, terkuat. Tapi loyalnya Tongkat Elder pada Harry tidak mampu membuat si tongkat mengikuti kehendak Voldemort. Harry hanya dibikin pingsan sesaat (rohnya bertemu Albus Dumbledore serta orang-orang mati lainnya) dan kembali bernafas. Ada juga yang menyebutkan bahwa semua itu karena perlindungan Lily Potter pada sang anak ajaib ini.

Kasihan juga si Voldemort. Dia berpikir Profesor Snape lah yang menjadi pemilik Tongkat Elder karena si profesor lah yang membunuh Albus Dumbledore. Tidak dia ketahui bahwa Draco lah yang seharusnya dia bunuh, bukan Profesor Snape, karena Draco lah yang melucuti Albus Dumbledore.

Baca Juga: Bodo Amat

Bagaimana dengan Batu Kebangkitan? Bukankah kalau Harry mati saat di Hutan Terlarang, toh dia bisa bangkit lagi? Bukankah Albus Dumbledore pasti punya tujuan tertentu memberikan Batu Kebangkitan pada Harry? Ada dua teori tentang hal ini yang akan saya tulis minggu depan. Haha. Nantikan, ya!


Tongkat Elder pada akhirnya tidak menjadi milik siapa-siapa. Karena Harry mematahkannya dan membuang ke jurang. Maka satu-satunya benda keramat Relikui Kematian yang masih berada di tangan Harry adalah Jubah Gaib. Bagaimana kisah dua benda keramat lainnya? Nanti ya, kita lanjut di pos #SabtuReview minggu depan!

Selamat berakhir pekan, selamat menonton ulang Harry Potter.



Cheers.

Relikui Kematian #1


Harry Potter memang telah lama selesai. Buku terakhir seri ini, Harry Potter and The Deathly Hallows, diterbitkan tahun 2007, sedangkan filemnya dirilis tahun 2010 (Bagian 1) dan tahun 2011 (Bagian 2). Meskipun telah selesai, kisah spektakuler dari dunia sihir a la J.K. Rowling yang pernah ditolak oleh penerbit ini masih terus menyihir kehidupan saya. Ketika prekuelnya yaitu Fantastic Beast and Where to Find Them serta Fantastic Beast The Crimes of Grindelwald dirilis, otomatis memori kita tentang Harry Potter muncul ke permukaan. Bagaimana tidak? Pernah dulu waktu masih hangat-hangatnya, saya sering sekali mengucapkan mantera-mantera dari serial tersebut seperti Stupefy.

Baca Juga: Survival Movies

Kisah utama buku ke-tujuh Harry Potter, sesuai judulnya, adalah The Deathly Hallows atau Relikui Kematian. Di dalamnya kalian akan menemukan pengembaraan tiga serangkai yaitu Harry, Ron, dan Hermione dengan misi mencari dan menghancurkan horcrux-horcrux milik Voldemort agar si penyihir terhitam dan terjahat itu melemah dan mudah dikalahkan. Misi yang tidak mudah karena Albus Dumbledore hanya menyisakan sedikit petunjuk setelah kematiannya. Selain itu, misi mereka lainnya adalah mencari tahu tentang simbol Relikui Kematian yang tergambar pada lembar demi lembar buku warisan Albus Dumbledore untuk Hermione. Buku itu berjudul The Tales of Beedle and Bard. Simbol Relikui Kematian juga dipakai oleh Xenophilius Lovegood (ayah Luna Lovegood) dalam bentuk bandulan kalung. Hermione juga melihat simbol Relikui Kematian pada makam Ignotus Peverell di Godric's Hollow.

Kisah Tiga Bersaudara Peverell


Relikui kematian adalah tiga benda keramat yang diciptakan dan diberikan oleh Kematian kepada tiga bersaudara yaitu Antioch Peverell, Cadmus Peverell, dan Ignotus Peverell. Kisah ini berada dalam buku The Tales of Beedle and Bard.

Alkisah ... ada tiga orang bersaudara berjalan jauh melalui jalanan sepi dan berkelok saat senja. Dalam perjalanannya mereka sampai di sungai yang berbahaya uuntuk diseberangi. Tapi mereka mempelajari ilmu sihir. Mereka dengan mudahnya melambaikan tongkat dan membuat sebuah jembatan. Akan tetapi sebelum mereka bisa menyeberang, jalan mereka dihalangi oleh seorang yang berkerudung. Itu adalah Kematian, dan dia merasa tertipu. Tertipu karena biasanya para pengelana akan tenggelam ke dalam sungai. Tapi kematian sungguh licik. Dia berpura-pura memberi selamat pada tiga bersaudara itu atas sihir mereka dan dan berkata bahwa masing-masing dari mereka mendapatkan hadiah karena cerdas menghindarinya.

Maka saudara yang tertua, Antioch, meminta tongkat yang lebih kuat dari tongkat lain. Lalu Kematian menciptakan tongkat buatnya dari Pohon Elder yang ada di dekat situ. 

Saudara yang kedua, Cadmus, memutuskan bahwa dia ingin menghina Kematian lebih jauh lagi dan meminta kekuatan untuk menghidupkan orang-orang yang dicintai dari kematian. Lalu Kematian mengambil sebuah batu dari pinggir sungai dan berikan itu padanya. 

Akhirnya, kematian bertanya pada saudara yang ketiga dan termuda yaitu Ignotus. Seorang pria yang sederhana. Dia meminta sesuatu yang dapat membuatnya pergi dari tempat itu tanpa diikuti oleh kematian. Dan kematian dengan sangat segan menyerahkan Jubah Gaib miliknya. 

Saudara pertama bepergian ke sebuah desa yang jauh dimana dengan Tongkat Elder di tangannya dia membunuh seorang penyihir yang bertengkar dengannya. Mabuk dengan kekuatan Tongkat Elder yang diberikan kepadanya dia membual akan kehebatannya. Tetapi di malam itu penyihir lain mencuri tongkat itu dan menggorok leher saudara itu sebagai tambahan. Dan Kematian mengambil saudara pertama itu sebagai miliknya.

Saudara kedua pulang ke rumahnya dimana dia membawa batu itu dan memutarnya tiga kali di telapak tangannya. Dia sangat senang ketika gadis yang dinikahinya yang keburu meninggal muncul di depannya. Namun sang gadis itu sedih dan dingin karena dirinya tak layak di dunia manusia. Gila karena kerinduan yang sia-sia saudara kedua membunuh dirinya agar bisa menyusul gadis itu. Dan Kematian mengambil saudara kedua itu sebagai miliknya.

Sementara saudara ketiga, bertahun-tahun kematian mencarinya namun tak bisa menemukannya. Hanya ketika ia sudah tua, saudara termuda itu memberikan jubah gaib itu pada puteranya. Dia menyambut Kematian bak teman lama dan pergi bersama Kematian dengan bahagia meninggalkan kehidupan ini.

Itulah kisah tiga bersaudara Peverell dengan Relikui Kematian.

Relikui Kematian


Ada tiga benda keramat Relikui Kematian. Jika seorang penyihir memiliki ketiganya maka akan dapat menjadi penguasa kematian. Dia dapat menjadi sangat mematikan dengan Tongkat Elder, dia dapat membangkitkan kematian dengan Batu Kebangkitan, dia pun dapat bersembunyi dari Kematian serta melindungi dua benda keramat lainnya dengan Jubah Gaib.


Siapa yang pernah memegang ketiga benda ini? Albus Dumbledore dan Harry Potter. Jubah Gaib telah menjadi milik Harry sejak lama, diserahkan oleh Albus Dumbledore atas wasiat ayah Harry yaitu James Potter. Batu Kebangkitan diwasiatkan oleh Albus Dumbledore kepada Harry, yang disembunyikan di dalam snitch wasiat tersebut. Sedangkan Tongkat Elder diperoleh Harry setelah melucuti Draco Malfoy di rumah penghuni Asrama Slytherin tersebut (kesetiaan tongkat kepada pemilik baru meskipun fisik si tongkat berada di tangan orang lain). Karena tanpa Draco sadari, dialah yang melucuti Tongkat Elder dari Albus Dumbledore sebelum Kepala Sekolah itu dibunuh oleh Profesor Snape.

Tongkat Elder


Tongkat Elder atau Elder Wand merupakan tongkat kepunyaan Albus Dumbledore. Inilah tongkat yang diminta Antioch Peverell kepada Kematian. Dalam dunia sihir, setiap penyihir mempunyai tongkat mereka masing-masing. Ada dua pembuat tongkat yaitu Ollivander dan Gregorovitch (di Bulgaria). Setelah dibunuh oleh penyihir lain, maka tongkat milik Antioch itu kemudian menjadi milik Gregorovitch. Si pembuat tongkat sihir yang bangga karena memiliki Tongkat Elder dan merasa puas karena bisa lebih populer dari Ollivander. Sayangnya tongkat sakti itu kemudian menjadi milik Gellert Grindelwald. Entah bagaimana caranya. Mungkin Grindelwald mencuri setelah membikin pingsan si Gregorovitch.

Baca Juga: Sisi Lain Dunia Gulat Dalam Dangal

Karena ... menurut penuturan Ollivander ... sebuah tongkat sihir akan menjadi pemilik sah penyihir lain jika penyihir pemilik sebelumnya dilucuti, dipingsankan, atau dibunuh. 

Gambar diambil dari sini.

Pemilik Tongkat Elder selanjutnya adalah Albus Dumbledore setelah mengalahkan Gellert Grindelwald. Lalu menjadi milik Draco tanpa dia ketahui, setelah melucuti Albus Dumbledore, sebelum Kepala Sekolah bijak itu dibunuh oleh Profesor Snape. Dan ketika Harry melucuti Draco, tongkat sakti itu kemudian menjadi milik Harry.


Demikianlah perjalanan panjang Tongkat Elder sebelum kemudian dicuri oleh Voldemort dari makam Albus Dumbledore. 

The Last Duel


Pertarungan terakhir antara Voldemort dan Harry tidak dapat terelakkan. Terutama setelah semua horcrux Voldemort dihancurkan. Fyi, horcrux adalah wadah tempat penyihir hitam menyimpan sobekan/pecahan/bagian dari jiwanya untuk mencapai keabadian. Horcrux terakhir yang dihancurkan adalah Nagini saat si ular hendak menyerang Ron dan Hermione. Adalah Neville Longbottom yang melakukannya, menggunakan Pedang Gryffindor. Voldemort membagi jiwanya menjadi delapan; tujun disimpan pada horcrux dan satu pada dirinya sendiri.

Pada pertarungan terakhir itu, Voldemort menggunakan Tongkat Elder, sedangkan Harry menggunakan tongkat milik Draco Malfoy. Namun, lagi-lagi mengingat siapa kepemilikan sah Tongkat Elder, tongkat itu tentu loyal kepada pemiliknya yang sah. Maka ... Voldemort kalah total dan Tongkat Elder, fisik si tongkat, berada di tangan si pemilik yang sah yaitu Harry. Luar biasa, sungguh, penggambaran pertarungan terakhir itu.

Menariknya tentang Tongkat Elder yang loyal pada Harry ini juga bisa terlihat pada pertarungan di Hutan Terlarang. Saat itu harusnya Harry mati lah. Diserang begitu rupa sama penyihir terjahat, terhitam, terkuat. Tapi loyalnya Tongkat Elder pada Harry tidak mampu membuat si tongkat mengikuti kehendak Voldemort. Harry hanya dibikin pingsan sesaat (rohnya bertemu Albus Dumbledore serta orang-orang mati lainnya) dan kembali bernafas. Ada juga yang menyebutkan bahwa semua itu karena perlindungan Lily Potter pada sang anak ajaib ini.

Kasihan juga si Voldemort. Dia berpikir Profesor Snape lah yang menjadi pemilik Tongkat Elder karena si profesor lah yang membunuh Albus Dumbledore. Tidak dia ketahui bahwa Draco lah yang seharusnya dia bunuh, bukan Profesor Snape, karena Draco lah yang melucuti Albus Dumbledore.

Baca Juga: Bodo Amat

Bagaimana dengan Batu Kebangkitan? Bukankah kalau Harry mati saat di Hutan Terlarang, toh dia bisa bangkit lagi? Bukankah Albus Dumbledore pasti punya tujuan tertentu memberikan Batu Kebangkitan pada Harry? Ada dua teori tentang hal ini yang akan saya tulis minggu depan. Haha. Nantikan, ya!


Tongkat Elder pada akhirnya tidak menjadi milik siapa-siapa. Karena Harry mematahkannya dan membuang ke jurang. Maka satu-satunya benda keramat Relikui Kematian yang masih berada di tangan Harry adalah Jubah Gaib. Bagaimana kisah dua benda keramat lainnya? Nanti ya, kita lanjut di pos #SabtuReview minggu depan!

Selamat berakhir pekan, selamat menonton ulang Harry Potter.



Cheers.