Arsip Kategori: Filem

Inilah Bukti Bahwa Takut Tidak Butuh Penampakan Setan


Inilah Bukti Bahwa Takut Tidak Butuh Penampakan Setan. Hola! Kalian masih #DiRumahSaja? Sama dong. Sudah melakukan apa saja saat #DiRumahSaja? Kalau saya sih ... banyak! Mulai dari work from home di mana membikin berita, membikin video testimoni mahasiswa, hingga promosi kampus dilakukan tanpa harus mandi terlebih dahulu. Haha. Pssstttt, work from home bisa menghemat parfum! Selain itu, berkebun mini menjadi salah satu kegiatan harian yang menyenangkan. Sembari menunggu tanaman lain bertumbuh-kembang dan dapat dipanen, kemarin kami sudah memanen sayur kanggung, dimasak bersama tauge bikinan sendiri. Tauge itu dibikin oleh Melly yang super excited sama urusan kebun ha ha ha. Sebagai anak dacin, dia menunjukkan keseriusannya pada perkembangan dan pertumbuhan setiap tanaman.

Baca Juga: The Mentalist

Hari ini di #SabtuReview, setelah mengurus kebun, saya memutuskan untuk menulis tentang tiga filem kece yang wajib kalian nonton, terutama bagi kalian yang menggilai filem horor dan thriller. Tiga filem ini tidak melulu menampilkan penampakan hantu, setan, demit, dan sebangsanya. Iya, tiga filem ini membuktikan bahwa takut tidak butuh itu semua. Tidak percaya? Marilah disimak!

1. Don't Breathe


Hyess! Ini filem yang pernah membikin saya penasaran tingkat tinggi. Mengapa Hooq masih menggembok atau menyegel filem ini pada tahun 2019? Sedangkan filem-filem yang lebih baru sudah bisa ditonton tanpa permisi alias tidak perlu membayar sewa terlebih dulu. Jawabannya mudah. Ini filem bagus dan layak dipertahankan penggembokan atau penyegelannya. Don't Breathe merupakan filem horor thriller Amerika yang dirilis tahun 2016 dan disutradarai oleh Fede Alvarez. Filem menegangkan ini diproduseri oleh Fede Alvarez, Sam Raimi, dan Robert Tapert. Naskah filem yang ditulis oleh Fede Alvarez dan Rodo Sayagues ini dibintangi oleh Jane Levy (sebagai Rocky), Dylan Minnette (Alex), Daniel Zovatto (Money), dan Stephen Lang (sebagai Norman Nordstrom atau si veteran perang yang buta kedua matanya). Saya memang jarang mendengar atau membaca nama-nama itu tapi akting mereka tidak perlu dipertanyakan lagi. Karena belum tentu saya bisa berakting sebagus mereka. Haha.

Don't Breathe bercerita tentang Rocky, Alex, dan Money (yess, thankyou Wikipedia) yang adalah penjahat di Detroit. Pekerjaan mereka membobol rumah-rumah yang diamankan oleh perusahaan keamanan ayah si Alex dan menjual barang-barang curian tersebut. Mereka kemudian mendengar kabar bahwa ada seorang veteran perang Pasukan Khusus Angkatan Darat AS yang tinggal di lingkungan Detroit yang terabaikan (semacam lingkungan perumahan yang tidak dihuni begitu) memiliki uang 300.000 Dollar di rumahnya. Uang itu diterima si veteran sebagai penyelesaian setelah seorang perempuan muda kaya bernama Cindy Roberts yang secara tidak sengaja membunuh puterinya dalam kecelakaan mobil. Si veteran perang adalah seorang laki-laki buta karena ledakan selama perang. Ya, dialah Norman Nordstrom.

Berpikir mencuri di rumah orang yang buta: pasti mudah. Tinggal masuk, mengambil uangnya, terus kabur. Ternyata tidak semudah itu, bahkan nyawa mereka menjadi taruhannya, karena Norman Nordstrom ini 'melihat' segala sesuatunya melalui suara. Indera pendengarannya sangat terlatih. Maksud hati mencuri uang 300.000 Dollar, si Money justru duluan meregang nyawa. Keributan yang terdengar akibat upaya mereka bertiga masuk paksa ke rumah itu membikin Norman Nordstrom terbangun dan mencium aroma pembobolan. Siapapun yang masuk ke rumah itu tanpa permisi, sudah pasti tidak berniat baik bukan? Veteran perang yang buta itu ternyata punya kemampuan yang luar biasa; Rocky dan Alex kemudian harus menyelamatkan diri berhadapan dengan si jagoan yang bahkan dapat mendengar dengus nafas mereka dari jarak lumayan jauh.

Yang tidak disangka-sangka adalah ternyata di ruang bawah tanah rumah itu tersekap perempuan yang secara tidak sengaja membunuh anaknya Norman Nordstrom dalam kecelakaan. Ya, Cindy Roberts! Penemuan harta karun Cindy diketahui Rocky dan Alex saat mereka terjebak di ruangan bawah tanah.

Hiyyyy! Ngeri!

Menurut berita di CNN ini, Don't Breathe sedang dibikin sekuelnya. A-ha! Tidak sabar!

2. A Quiet Place


Jika Don't Breathe dirilis tahun 2016, maka dua tahun kemudian yaitu pada tahun 2018 A Quiet Place dirilis. A Quiet Place adalah filem drama fiksi ilmiah horor Amerika Serikat yang dirilis 3 April 2018 (Indonesia). Filem ini diperankan oleh Emily Blunt, John Krasinski, Millicent Simmonds, dan Noah Jupe. Emily Blunt yang pernah berperan dalam The Girl on the Train dan The Devil Wears Prada ini merupakan isteri dari John Krasinski, baik di dalam A Quiet Place maupun di dalam kehidupan nyata. Asyik ya suami-isteri main filem bareng. Skenarionya ditulis sendiri oleh John Krasinski bersama dan berdasarkan cerita oleh Bryan Woods dan Scott Beck.

Para kritikus mengatakan bahwa ini filem yang cerdas yang sangat mengerikan dan menakutkan.

Alkisah keluarga Abbott selamat dari invasi alien di bumi. Lee Abbott (John Krasinski) dan Evelyn Abbott (Emily Blunt) hidup bersama tiga orang anak yaitu Regan Abbott (Milicent Simmonds), Marcus Abbott (Noah Jupe), dan Beau Abbott (Cade Woodward). Sejak awal berjalan sudah digambarkan kondisi Evelyn yang sedang hamil tua.

Mari mulai dari keluarga Abbott. John, seorang ayah yang sangat dapat diandalkan dan bertanggungjawab pada keluarga, punya ruang kerja bawah tanah tempat monitor-monitor dan radio-radio disimpan. Mencari tahu segala sesuatu tentang invasi alien ini serta kekuatan dan (belum diketahui) kelemahannya. Dia juga membikin alat bantu dengar untuk puterinya yang bernama Regan. Evelyn, seorang ibu yang juga sangat bertanggungjawab pada keluarganya, yang bekerja sangat tenang dalam senyap, dan sedang hamil tua. Regan, puteri satu-satunya usia sekitar 14 (empat belas) tahun yang tuna rungu. Marcus, adik si Regan, usia sekitar 8 (delapan) tahun. Dan Beau yang masih berusia sekitar 5 (lima) tahun.

Cerita bermula ketika keluarga Abbott berada di suatu pusat perbelanjaan yang terlantar. Mereka mencari barang-barang yang bisa digunakan untuk kelangsungan hidup. John mencari barang-barang yang salah satunya untuk membikin alat bantu dengar untuk Regan. Di pusat perbelanjaan itu Beau tertarik dengan pesawat mainan. John menjelaskan pada Beau bahwa mainan itu berbahaya dan baterainya kemudian dilepas. Saat hendak pulang ke rumah, Regan mengambil pesawat mainan dan baterainya, menyerahkan kepada Beau. Dalam perjalanan pulang, saat sedang berjalan di atas pasir yang ditabur sebagai poros jalan mereka di luar rumah itu, Beau membunyikan pesawat mainannya.

Ya, sampai di sini, tamatlah riwayat Beau diserang alien.

Life must go on. 

Sampai suatu hari John pergi memancing bersama Marcus, Regan ngambek karena tidak diijinkan ikut lantas kabur dari rumah menuju jembatan tempat Beau diserang alien, dan tinggal si Evelyn sendiri. Ya, saat seperti itulah Evelyn mengalami kontraksi dan air ketubannya pecah. Yang bikin parah adalah Evelyn tidak sengaja menginjak paku yang terangkat gara-gara tersangkut buntelan kain pakaian yang hendak dibawa Evelyn ke luar ruang bawah tanah. Jeritannya meski tidak terlalu kuat, merupakan 'undangan' untuk para alien.

Dan ... ribut berarti mati.

Selama 90 (sembilan puluh) menit ketegangan benar-benar tersaji sempurna di dalam A Quiet Place. Bagaimana Evelyn berjuang melahirkan sendiri di bak mandi, bagaimana Marcus harus melakukan plan B yaitu menyalakan petasan sebagai pengalihan terhadap alien yang sedang berada di dalam rumah, bagaimana Regan sama sekali have no idea bahwa alat bantu dengarnya itu merupakan senjata ampuh melawan alien, bagaimana John yang sangat diandalkan itu kemudian mati, bagaimana, bagaimana, dan bagaimana yang lain. Kalian yang belum nonton, harus nonton. Hehehe.

3. Exorcism of Emily Rose


Inilah pertempuran antara ilmu pengetahuan dan agama; dari sudut pandang mana orang melihat seseorang yang kerasukan dan/atau bertingkah aneh. The Exorcism of Emily Rose adalah sebuah film horor supranatural Amerika Serikat yang dirilis pada tahun 2005. Filem ini digarap oleh Scott Derrickson dengan pemeran Laura Linney (sebagai Erin Christine Bruner), Tom Wilkinson sebagai (Padri Richard Moore), Campbell Scott (sebagai Ethan Thomas), dan tentu saja Jennifer Carpenter (sebagai Emily Rose). The Exorcism of Emily Rose diangkat dari kisah nyata seorang perempuan asal Jerman Barat yang bernama Anneliese Michel. Anneliese Michel lahir di Leiblfing, Bavaria, Jerman barat pada 12 september 1952. Ketika lulus SMA di pindah ke kota untuk kuliah dan menetap di (semacam) asrama.

Meskipun The Exorcism of Emily Rose diadaptasi dari kisah nyata kehidupan Anneliese Michel namun pada versi filem tentu tidak sepanjang kisah aslinya. Dan saya menulis berdasarkan filem yang sudah saya tonton berkali-kali itu. Tentu pada versi filem ada hal-hal yang tidak ikut masuk ke dalam frame karena perhitungan durasi.

Fast forward, Emily Rose lulus SMA dengan hasil yang memuaskan, dia sangat bahagia dan terlihat sangat sehat. Dia kemudian mulai kuliah dan tidur di (semacam) asrama. Di situlah dia mulai mengalami gangguan. Sedangkan pada kisah aslinya, Anneliese Michel dikatakan mulai menjauhi benda-benda religi (agama Katolik) dan dukun yang melihatnya mengakui bahwa Anneliese Michel memang kerasukan roh jahat. Atas permintaan keluarga kepada petinggi agama Katolik, maka Emily Rose dipertemukan dengan dua Pater (Padri) yang salah satunya bernama Richard Moore. Pater Moore mulai melakukan pengusiran setan terhadap Emily Rose. Selain itu Emily Rose juga ditangani secara medis. Para dokter mengklaim bahwa Emily Rose mengidap epilepsi. Dia juga dikatakan mengalami gangguan jiwa. Dan penanganan medis jangka panjang menggunakan obat anti-psikotik ternyata ... tidak berhasil.

Kepada Pater Moore, Emily Rose mengaku dia dirasuki oleh Judas Iscariot, Adolf Hitler, Nero, Cain, Fleischmann, hingga yang paling kuat yaitu Lucifer. Proses pengusiran setan dilakukan selama sepuluh bulan, sebanyak 67 kali. Di dalam filem, pengusiran setan terakhir itu yang paling parah karena Pater Moore dan kawannya harus berhadapan dengan Lucifer. Kandang kuda menjadi tempat terakhir di mana pengusiran setan dilakukan, menggambarkan kengerian demi kengerian saat Emily Rose berbicara dengan bahasa-bahasa lain, ular-ular bermunculan, dan lain sebagainya, tanpa menunjukkan batang hidung setan atau roh jahat itu sendiri. Ugh ... bergidik sekali saya meskipun sudah menontonnya berkali-kali.


Bisa membayangkan kengeriannya?

Hiiiiiy!

Don't Breathe, A Quiet Place, dan The Exorcism of Emily Rose adalah tiga filem yang membangun tensi menegangkan tanpa harus menunjukkan penampakan setan itu sendiri. Tidak ada pocong dan tante kunti (hahaha), tidak ada genderuwo, tidak ada sosok menakutkan bergigi taring berdarah, tidak ada pula badut lucu tetapi pembunuh berdarah dingin. Total, ketiga filem itu, hanya pada A Quiet Place saja kita bisa melihat satu atau dua kali penampakan alien ... tapi itu alien, bukan setan. Filem seperti ini yang saya sebut dengan kengerian tersembunyi itu jauh lebih mengerikan.

Baca Juga: Eko Poceratu Nyong Maluku Yang Mendunia Melalui Puisi

Semoga tiga filem di atas, meskipun bukan filem terbaru, dapat menjadi rekomendasi filem untuk kalian tonton saat berada di rumah sebagai upaya untuk memutus penyebaran Covid-19. Siapa tahu setelah menontonnya, kalian bakal menulis sendiri review-nya. Saya pribadi kalau ditanya apakah masih ingin menonton ketiga filem itu, ya jelas! Filem bagus harus ditonton berulang-ulang. Hahaha. Apalagi di Kota Ende belum ada bioskop kan *tertunduk lesu*. Tapi yang pasti, kalau kalian mengalami kengerian atau ketakutan, jangan pernah salahkan saya!

#SabtuReview



Cheers.






The Passion of the Christ Filem Lama Yang Masih Menggetarkan

Credits: Wikipedia.

The Passion of the Christ Filem Lama Yang Masih Menggetarkan. Meskipun beragama Islam, saya tidak pernah membeda-bedakan karya seni baik musik maupun filem. Bagi saya karya seni adalah baik untuk dinikmati. Lahir dan besar di lingkungan mayoritas beragama Katolik justru membikin khasanah berpikir menjadi kaya. Karena di sini, toleransi antar umat beragamanya sangat tinggi. Tahun 2008 saat sedang berada di Jakarta, dan untuk pertama kalinya saya menonton sebuah filem berjudul The Passion of the Christ. Waktu itu filem ini ditayangkan di televisi pada Hari Jum'at yang oleh Umat Nasrani dikenang sebagai Jum'at Agung. Di rumah Kak Yon Wangu Wesio kami beramai-ramai menonton filem ini. Sumpah, saya sampai menangis meskipun sudah sering mendengar cerita dan pernah menonton filem tentang penyiksaan dan penderitaan yang dialami oleh Yesus Kristus hingga akhirnya beliau wafat.

Baca Juga: Eko Poceratu Nyong Maluku Yang Mendunia Melalui Puisi

The Passion of the Christ seperti menggambarkan secara nyata apa yang ada di benak saya tentang kejadian masa itu (dari apa yang saya dengar, bukan dari filem sebelumnya yang pernah saya tonton). Segalanya dipersiapkan dengan baik hingga filem ini sulit dilupakan setiap kali menjelang Hari Raya Paskah. Tidak heran jika filem ini kemudian mendapat tiga nominasi di Academy Awards ke-77.

Seperti apa filem ini?

Marilah kita cari tahu.

The Passion of the Christ


Bersumber dari Wikipedia, The Passion of the Christ merupakan filem drama epik buatan Amerika Serikat. Filem ini disutradarai oleh Mel Gibson. Lelaki ini memang hebat. The Patriot yang diproduksi tahun 2000 saja masih saya ingat sampai saat ini. The Passion of the Christ dibintangi oleh Jim Caviezel yang berperan sebagai Yesus Kristus. Menggambarkan penderitaan Yesus Kristus yang utamanya berdasarkan pada Injil Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes. Filem ini juga mengacu pada praktik keimanan seperti Jum'at Dukacita beserta karya tulis devosional yang lain, contohnya penampakan-penampakan terkenal Maria yang dikaitkan dengan Beata Anna Katharina Emmerick.

The Passion of the Christ secara khusus menceritakan dua belas jam terakhir kehidupan Yesus di dunia, dimulai dengan Penderitaan di Taman Getsemani, insomnia dan kedukaan Santa Perawan Maria, serta berakhir dengan suatu penggambaran singkat kebangkitan Yesus. Kilas balik sosok Yesus sebagai seorang anak kecil dan sebagai seorang pemuda dengan Maria ibu-Nya, memberikan Khotbah di Bukit, mengajar Kedua Belas Rasul, dan saat Perjamuan Terakhir, merupakan beberapa penggambaran yang paling penting. Pengambilan gambar filem ini dilakukan di Italia, semua percakapan menggunakan bahasa Aram, Ibrani vernakular, dan Latin, beserta dengan sub judul.

The Passion of the Christ telah menjadi kontroversi dan mendapat berbagai ulasan beragam hingga yang positif, dengan beberapa kritikus mengklaim bahwa kekerasan ekstrem dalam filem ini "mengaburkan pesannya". Filem ini mengalami kesuksesan besar, memperoleh pendapatan kotor sebesar $612 juta selama penayangannya di bioskop. The Passion of the Christ menjadi filem keagamaan dengan pendapatan kotor tertinggi dan filem bukan berbahasa Inggris dengan pendapatan kotor tertinggi sepanjang sejarah. Filem ini juga mendapat tiga nominasi di Academy Awards ke-77.

Menurut Mel Gibson, sumber bahan utama untuk The Passion of the Christ adalah kisah sengsara Kristus dalam keempat Injil kanonik. Filem ini mencakup peristiwa pengadilan Yesus di istana Herodes, yang hanya ditemukan dalam Injil Lukas. Banyak perkataan Yesus dalam filem ini yang tidak bersumber langsung pada Injil dan merupakan bagian dari suatu narasi Kristen yang lebih luas. Filem ini juga bersumber dari bagian Perjanjian Baru yang lain. Kalimat yang diucapkan oleh Yesus dalam filem ini, "Aku menjadikan segala sesuatu baru," dapat ditemukan dalam Kitab Wahyu.

Masih Menggetarkan


Meskipun filem lama, tapi The Passion of the Christ masih menggetarkan siapa pun yang pernah dan sedang menontonnya. Kenapa? Karena segala sesuatunya dipersiapkan dengan baik oleh Mel Gibson dan penulis lainnya bernama Benedict Fitzgerald. Sebelum menulis apalagi memproduksi filem ini, mereka membaca banyak laporan mengenai Kisah Sengsara Kristus sebagai inspirasi, termasuk tulisan-tulisan devosional dari para mistikus Katolik Roma. Salah satu sumber utama yaitu Dukacita Sengsara Tuhan Kita Yesus Kristus yang berisi visiun-visiun (penglihatan) dari stigmatis bernama Anna Katharina Emmerick (1774–1824) yang adalah seorang biarawati Jerman, sebagaimana ditulis oleh penyair bernama Clemens Brentano. Pembacaan dengan cermat atas buku Emmerick tersebut menunjukkan tingkat ketergantungan yang tinggi filem ini padanya.

Saya tidak bisa menggambarkan seperti apa filem ini sehingga masih menggetarkan siapapun yang pernah dan sedang menontonnya. Yang jelas filem ini begitu dahsyat dan luar biasa bagi saya. Karya seni yang gemilang dari Mel Gibson dan kawan-kawan. Bagaimana mereka mempersiapkan set lokasi pada waktu itu, pakaian yang dikenakan pada waktu itu, sandalnya (bahkan Yudas tidak memakai alas kaki saat mengkhianati Yesus Kristus / menerima uang), musik latarnya, dan lain sebagainya. Menggetarkan sekali saat terakhir Yesus Kristus disalib. 


Baca Juga: Jangan Suka Nyablak Karena Bicara Itu Ternyata Ada Seninya

Yang jelas, menonton filem The Passion of the Christ ini tetap bisa dipahami meskipun tidak ada terjemahan. Soalnya bahasa yang digunakan bukan bahasa Inggris. Bagi kalian, terutama teman-teman yang beragama Katolik yang belum menonton filem ini, ayo nonton. Ini karya jenius. Karya seni yang luar biasa. Filem ini, menurut saya, bahkan masih akan terus ditonton hingga puluhan tahun lagi!

#SabtuReview



Cheers.

Corona Membikin Saya Teringat Sama Filem-Filem Ini


Corona Membikin Saya Teringat Sama Filem-Filem Ini. Begitu lekas waktu berlalu, buka-tutup mata, eh sudah weekend. Dan sebagai pejuang liburan saya sangat menyayangkan tanggal merah yang jatuh pada hari minggu. Sedih maksimal. Pasti kalian juga berpikir begitu kaaaaan. Ayolah. Akui saja. Supaya saya tidak merasa sendiri. Haha. Semoga akhir minggu kalian menyenangkan. Kalau kalian belum punya rencana ke mana-mana alias akhir minggu di rumah saja karena himbauan social distancing, serta banyak lokasi yang di-lockdown, berkunjung ke blog ini adalah pilihan tepat *kedip-kedip*. Karena setiap Sabtu selalu ada hal-hal menarik yang saya tulis mulai dari buku, filem, musik, tokoh, video favorit di Youtube, hingga ... apa saja deh. 


Adalah hal yang perlu saya garisbawahi bahwa virus Corona yang oleh WHO dinamai Covid-19 memang telah memakan banyak korban. Kita doakan agar saudara-saudara kita yang terinfeksi dapat pulih dan semoga kita semua terhindar dari virus yang satu ini. Jangan lupa untuk selalu memakai masker dan mencuci tangan. Virus Corona ini membikin saya teringat pada filem-filem (juga serial) yang pernah ditonton. Bagaimana virus mampu menghancurkan dunia dalam filem, itu saya anggap tidak mungkin. Tetapi ketika Corona menyebar di seluruh dunia dan dinyatakan menjadi pandemi, saya was-was. Dus, teringat filem-filem tersebut.

Perlu saya jelaskan bahwa tulisan ini bukan berarti saya tidak punya simpati dan empati terhadap saudara-saudara yang telah terinfeksi dan/atau telah menjadi korban (nyawa melayang), tetapi menulis ini karena saya sadar bahwa apa yang terjadi di filem bisa saja terjadi di dunia nyata. Kalian pasti tahu kisah tragis Titanic. Si Penulis novel yaitu Morgan Robertson tidak pernah tahu bahwa kisah fiksi dalam novelnya yang berjudul The Wreck Of The Titan atau Futility benar terjadi empat belas tahun kemudian pada tragedi mengenaskan kapal Titanic. 

Mari mulai dari The Walking Dead. Serial terseru sepanjang sejarah. Buat pengagum Game of Thrones jangan marah, ya. Haha. The Walking Dead diangkat dari komik yang dibikin oleh Robert Kirkman. Rick Grimes yang diperankan oleh Andrew Lincoln merupakan tokoh sentral pengambil keputusan dalam serial ini. Rick Grimes muncul pada versi komik tahun 2003 dalam episode berjudul Issue #1, versi serial televisi tahun 2010 dalam episode Days Gone Bye, dan dalam Fear the Walking Dead tahun 2018 episode What's Your Story?. Rick Grimes kemudian dinyatakan mati pada versi serialnya dalam episode berjudul What Comes After di tahun 2018. Dirilis oleh Looper, dikatakan bahwa Melalui 193 edisi komik asli dan tidak kurang dari tiga seri televisi yang dibuat di dunia pasca-apokaliptik oleh Robert Kirkman, para penyintas tidak benar-benar tahu apa yang menyebabkan orang-orang menjadi zombie. Mereka hanya tahu bahwa penyebarannya adalah melalui gigitan. Kau tergigit. Kau jadi zombie. Bahkan kemudian sumber maut bukan saja zombie melainkan sesama manusia alias sesama penyintas. Di Twitter (via ComicBook.com), Kirkman mengonfirmasi bahwa itu adalah alien. Itu adalah spora luar angkasa. Sampai season berapa baru kalian tahu bahwa penyebab kehancuran dunia itu adalah spora luar angkasa? Sesaat setelah dirilis Kirkman atau jauh setelahnya ... seperti saya?

Jika kalian menganggap zombie yang ditemui dalam The Walking Dead sangat menakutkan, maka kalian akan terkejut ketika menonton World War Z yang diperankan oleh kekasih saya Brad Pitt. Zombie di filem ini jauh lebih agresif dan hitungan terjangkit virusnya dan proses menjadi zombie pun sangat lekas! Tolong koreksi di papan komentar kalau saya salah, dikabarkan virus di dalam World War Z merupakan virus/wabah rabies. World War Z diangkat dari novel berjudul sama yang ditulis oleh Max Brooks. Ada hal yang unik dari filem ini. Kalau filem lain menceritakan bagaimana manusia berusaha meneliti dan/atau mencaritahu vaksin pembunuh virus, maka dalam World War Z justru virus harus harus disuntikkan pada tubuh manusia sehat agar tidak terdeteksi sebagai 'daging segar' oleh zombie. Mau tidak mau harus begitu. Hal itu ditemukan Gerry Lane, yang diperankan Brad Pitt, saat melihat gerombolan zombie melewati begitu saja manusia yang terlihat normal alias bukan zombie. How? Why? Dan jawabannya ternyata manusia itu ... sakit.

Robert Neville yang diperankan oleh Will Smith menjadi penyintas dalam filem I am Legend. Filem ini benar-benar menjadi legenda dan membikin semua orang bersenandung lagu Three Little Birds dari seorang legenda dunia musik bernama Bob Marley. Saya pernah menulisnya, bersama filem lain dalam pos berjudul 5 Filem Zombie Favorit. Dalam I am Legend, virus penyebab kehancuran dunia bersumber dari obat penyembuh kanker. Manusia yang terinfeksi virus ini disebut Darkseeker karena mereka hanya takut terhadap cahaya baik itu cahaya matahari dan cahaya lampu berkekuatan besar. Dan perubahan yang terjadi tidak membuat mereka terlihat seperti zombie tetapi menjadi makhluk haus darah yang berkulit super pucat, botak (semuanya rontok kali ya), dan punya menu favorit: daging. Jika zombie umumnya boleh dibilang agak bego o'on begitu, Darkseeker ini cerdas dan mampu membaui keberadaan daging segar. Oleh karena itu Robert selalu pulang ke tempat persembunyiannya lebih dini sebelum matahari terbenam.

Kalau The Walking Dead diangkat dari komik, World War Z diangkat dari novel, maka filem yang satu ini diangkat dari game. Judulnya Resident Evil. Inilah filem dengan ending tak terduga. Saya menontonnya sejak masih dalam bentuk permainan Play Station, dimainkan sama Indra Pharmantara. Kemudian mulailah permainan ini di-filem-kan. Mila Jovovich (konsisten sekali) berperan sebagai pemeran utamanya, Alice. Cerita dengan alur cukup ribet ini bakal memuaskan kalian para pecinta zombie. Saran saya, nontonlah semua seri Resident Evil mulai dari Resident Evil hingga Resident Evil The Final Chapter. Lantas, apa virus yang menyebabkan kehancuran dunia itu? Menurut situs Resident Evil CAPCOM, virus ini adalah versi t-virus. Virus mempercepat metabolisme inang, memberikan kekuatan, kecepatan, dan kemampuan regeneratif yang tinggi.

Dalam filem 28 Days Later, virus yang menyerang berasal dari eksperimen ilmiah beberapa ekor simpanse dan zombie-nya bisa mati dalam jangka waktu 28 hari. Virus kemarahan. Seperti The Walking Dead, tokoh utamanya Jim yang diperankan oleh Cillian Murphy juga tersadar dari koma, melihat situasi kota yang sepi, dan kemudian tahu bahwa dia tidak sesepi itu karena ada zombie di sana. Virusnya bernama Rage, penyakit fiksi dalam film ini dan dalam filem 28 Weeks Later. Ini adalah virus ganas yang ditularkan melalui darah yang mengirimkan inangnya ke dalam kemarahan yang sangat tidak terkendali.

Masih banyak filem bertema virus dan kehancuran dunia oleh virus tersebut. Seperti The Warm Bodies, yang lebih 'lembut' karena zombie-nya dapat 'kembali' seperti manusia. Ada juga filem Virus, based on true story in India, dengan virus bernama nipah. Jangan lupa filem Train to Bussan pun menceritakan hal yang mirip. Zombie is the best. Hahahaha. Tapi tentu, jika dikaitkan dengan virus Corona maka filem berjudul Contagion menjadi juaranya. Filem ini menceritakan tentang Beth Emhoff yang diperankan oleh Gwyneth Paltrow yang baru pulang dari Hongkong ke Amerika Serikat. Balik ke Amerika dia terserang flu dan ternyata flu itu diakibatkan oleh virus mematikan campuran genetik virus kelelawar dan babi. Ngeri sekali ya. Lebih ngeri karena vaksinnya dibikin dalam jumlah terbatas alias tidak semua orang bisa mendapatkannya. Konon, menurut cerita teman-teman, filem Contagion ini kembali diburu. Banyak yang penasaran!

Baca Juga: Marilah Kita Merinding Disko Bersama Diary Misteri Sara

Filem-filem di atas hanyalah sebagian kecil dari filem-filem bertema virus dan akibatnya pada dunia ini. Masih banyak filem lainnya, dan kalau kalian punya rekomendasinya bisa tulis di komen. Kita tidak pernah menyangka filem-filem itu, baik fiksi maupun diangkat dari kisah nyata, bisa saja terjadi. Dulu orang-orang bikin filem futuristik, sekarang hampir semuanya kita raih alias kita jalani dalam kehidupan sehari-hari. Terkait dengan virus Corona, lagi-lagi yang bisa kita lakukan adalah social distancing, jaga jarak satu meter dari orang lain, ingat memakai masker, mencuci tangan sebelum menyentuh mata, hidung, dan mulut, serta minum vitamin. Daya tahan tubuh juga harus baik ya, gengs.

Selamat berakhir minggu!



Cheers.

Knives Out Bukan Sekadar Filem Drama Misteri Sederhana

Credits: GQ.

Knives Out Bukan Sekadar Filem Drama Misteri Sederhana. Sudah lama tidak menonton aksi Daniel Craig, begitu melihat sosoknya dalam Knives Out, saya langsung bersorak gembira. Satu-satunya aksi Daniel Craig dalam James Bond yang saya nonton di bioskop hanyalah Skyfall. Waktu itu nontonnya di XXI Kota Kasablanka. Aksi lainnya saya nonton di laptop. Kangen sama sosok Daniel Craig yang kharismatik. Haha *dikeplak dinosaurus*. Kehadirannya dalam Knives Out sebagai Detektif Benoit Blanc berpikiran tajam sungguh tepat. Tidak bisa saya bayangkan jika yang berperan sebagai detektif Benoit Blanc adalah Tom Cruise. Tapi kalau Jack Sparrow, eh, Johnny Depp, boleh lah. Anyhoo, apabila ada dari kalian yang pernah atau sudah menonton Knives Out, pasti kalian setuju kalau filem ini memang bukan sekadar drama misteri sederhana.

Baca Juga: Universe-nya Gerard Butler Itu Bernama Has Fallen

Overall, Knives Out ber-genre misteri/thriller dengan sedikit bumbu komedi, dirilis di Indonesia pada tanggal 10 Desember 2019. Filem berdurasi dua jam sepuluh menit ini disutradarai oleh Rian Johnson. Boleh dibilang Knives Out bertabur bintang. Selain Daniel Craig, kalian bisa melihat wajah-wajah lama antara lain Jamie Lee Curtis, Michael Shannon, Chris Evans, Don Johnson, Ana de Armas Toni Collette, Lakeith Stanfield, Katherine Langford, Jaeden Martell, dan Christopher Plummer. Ngelihat Jamie Lee Curtis, dalam hati saya cuma bisa bilang: orang ini awet muda. Haha. Segitunyaaaaaa.

Marilah kita cek seperti apa ketidaksederhanaan Knives Out.

1/4 Durasi Pertama


Di awal filem penonton disuguhkan kematian seorang lelaki, penulis novel misteri, bernama Harlan Thrombey (Christopher Plummer). Harlan ditemukan meninggal dunia oleh asisten rumah tangga bernama Fran (Edi Patterson) dalam posisi tidur di sofa ruang kerjanya. Berdasarkan posisi  dan kondisi saat ditemukan, diketahui bahwa Harlan bunuh diri dengan menyayat sendiri lehernya menggunakan pisau. Tetapi hal ini kemudian menjadi aneh karena malam sebelumnya Harlan dan keluarga besarnya (ibu, anak, menantu, cucu) baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke-85. Everything was looks so good. Adalah di luar nalar seorang yang bahagia memutuskan untuk bunuh diri. Mungkin ada, tapi secara umum dan logika, itu tidak masuk akal.

Maka, dua polisi setempat yaitu Letnan Detektif Elliot (Lakeith Stanfield) dan Trooper Wagner (Noah Segan) melakukan interogasi dan investigasi di kediaman Harlan, sekitar satu minggu setelah kematiannya. Kediamannya ini semacam kastil pribadi yang terletak di tengah hutan begitu. Orang kaya mah bebas mau rumahnya kayak apa dan letaknya di mana. Haha. Elliot dan Trooper dibantu oleh investigator profesional yaitu Detektif Benoit Blanc (Daniel Craig). Adalah suatu misteri ketika Benoit mengatakan bahwa kehadirannya di rumah itu karena dia disewa oleh seseorang. Artinya ada orang yang berpendapat bahwa kematian Harlan bukanlah bunuh diri melainkan dibunuh.

1/4 durasi pertama penonton disuguhkan dengan potongan-potongan investigasi antara Elliot, Trooper, dan Benoit, dengan anak-anak, menantu-menantu, cucu-cucu. Setiap orang yang diinvestigasi menceritakan alibi mereka masing-masing pada malam perayaan ulang tahun Harlan (a little flashback). Oleh karena itu saat investigasi itu penonton juga bakal tahu tentang ibu Harlan. Menurut saya, potongan-potongan investigasi ini merupakan cara sutradara untuk memperkenalkan dengan lugas semua tokoh di dalam Knives Out. Nama, status, pekerjaan, hingga ambisi masing-masing. Mari kita berkenalan dengan mereka.

Harlan Thrombey, sudah kalian ketahui, lelaki kaya raya yang meninggal konon karena bunuh diri. Linda Drysdale-Thrombey (Jamie Lee Curtis), anak Harlan yang digambarkan tegas serta punya rasa percaya diri yang kuat. Suami Linda bernama Richard Drysdale (Don Johnson). Anak Linda bernama Ransom Drysdale (Chris Evans) - hyup Captain America. Hehe. Walter "Walt" Thrombey (Michael Shannon) si anak 'gagal' yang beristerikan Donna (Riki Lindhome) dan punya seorang anak lelaki ABG bernama Jacob Thrombey (Jaeden Martell). Joni Thrombey (Toni Collette) adalah menantu Harlan dari anak Harlan yang bernama Neil Thrombey (tidak ada di dalam filem karena diceritakan sudah meninggal); tapi apakah dia masih boleh memakai marga Thrombey? Ah, sudahlah. Joni punya anak perempuan bernama Meg Thrombey (Katherine Langford). Great Nana Thrombey (K Callan) adalah ibu Harlan. Satu-satunya pemeran yang tidak punya hubungan darah dengan Harlan di dalam rumah itu adalah Fran dan Marta Cabrera (Ana de Armas) yang adalah perawat pribadi Harlan.

Kenapa poin ini saya beri judul 1/4 durasi pertama? Karena pada 1/4 durasi pertama penonton yang tidak sabar bakal langsung kecewa karena sudah ketahuan siapa yang menyebabkan Harlan meninggal dunia. Jadi, Harlan tidak bunuh diri? Hyess. Dia dibunuh. Pertanyaannya ... oleh siapa? Kalian akan merasakan ketegangan twist-plot ketika menontonnya dengan sungguh. Oleh karena itu Knives Out bukanlah sekadar filem drama misteri sederhana.

Plot yang Mengarahkan


Siapa pun yang menonton Knives Out pasti tahu bahwa sutradara memang sengaja mengarahkan segalanya pada Marta, si perawat pribadi, karena memang seperti itulah kisahnya. Marta salah menyuntik obat pada Harlan pada malam usai perayaan ulang tahun, dia tersadar tetapi terlambat menyelamatkan serta Harlan pun tidak mau diselamatkan. Harlan tahu dalam sepuluh menit dia bakal mati, lantas dia menyusun skenario agar Marta tidak dipenjarakan. Upaya penyelamatan Marta. Maklum, Harlan kan penulis novel misteri. Segalanya berjalan dengan mulus, bahwa Harlan bunuh diri, sampai satu minggu kemudian investigasi dilakukan. Marta harus berhadapan dengan Benoit yang berpikiran super tajam.

Nampaknya terlalu sederhana jika perkara ini beres begitu saja. Marta memang menyembunyikan rahasia obat yang disuntiknya itu, serta apa saja yang diperintahkan oleh Harlan agar dirinya tidak menjadi tersangka. Tetapi sosok misterius yang meminta Benoit ikut campur harus digali lebih dalam. Inilah hebatnya Rian Johnson mengaduk emosi penonton. Oh jadi si Fran. Eh? Bukan Fran? Loh ... kenapa jadinya begini?

Marta semakin tidak berdaya ketika ternyata Harlan mewariskan semua harta kepadanya. Dia semakin terseret arus permainan Ransom, cucu Harlan, yang sejak awal jarang dipertontonkan. Mempercayai Ransom adalah tindakan yang keliru, tetapi tidak ada yang bisa dilakukan Marta. Hingga akhirnya, ketika Marta nyaris membocorkan obat yang salah disuntiknya pada Harlan di hadapan keluarga besar Thrombey, Benoit membatalkan niatnya tersebut. Menurut Benoit, ibarat donat, perkara ini tidak ada lubangnya. Dan di menit-menit terakhir dia menemukan lubang tersebut. Ya, Ransom adalah biang dari segalanya. Meskipun sejak lepas dari 1/4 durasi pertama penonton bertanya-tanya ... karena semua orang bisa jadi tersangka. Dan penonton harus menahan hafas pada 1/4 durasi terakhir. Seperti bermain gasing.

Mari, tepuk tangan yang meriah untuk Rian Johnson. Kenapa? Karena saya sampai tidak bisa menceritakan lebih banyak saking terlalu banyaknya detail di dalamnya. Termasuk identitas keluarga Marta yang masih menjadi imigran gelap. Byuuuuh.

Game of Thrones


Apakah saya saja yang memikirkannya atau kalian juga? Knives Out mengingatkan saya pada serial Game of Thrones. Mungkinkan Rian Johnson sengaja mengajak penonton bernalar dan menganalisa tentang perebutan kekuasaan yang dalam hal ini adalah kekayaan Harlan? Dari mana saya bisa mengambil kesimpulan seperti itu?

1. Kursi Berlatar Pisau-Pisau


Pada kursi tempat detektif melakukan interogasi, terdapat latar bulatan besar dengan pisau-pisau (buanyak!). Kalian tentu masih ingat dengan singgasana maut dari Game of Thrones bukan?

Credits: Deadline.

Lihat gambar di atas. Singgasana maut. Hehe.

2. Setiap Orang Punya Kepentingan


Ini sangat jelas terlihat sejak awal Knives Out dimulai. Linda tentu menginginkan harta Harlan. Walter menginginkan usaha penerbitan Harlan dan sayangnya pada malam perayaan ulang tahun Harlan justru memecat Walter. Joni melakukan penggelapan biaya sekolah Meg dan dia langsung dikonfrontir oleh Harlan. Richard harus berhati-hati karena Harlan mengetahui perselingkuhannya. Ransom juga termasuk orang yang terkejut ketika tahu Harlan mewariskan semua hartanya pada Marta. Dan lain sebagainya. Setiap orang punya kepentingan dan berusaha agar Harlan mau bermurah hati pada mereka. Sama juga, kita menemukannya di Game of Thrones. Semua orang ingin duduk di singgasana maut itu.

3. Game of Thrones Dalam Dua Jam Sepuluh Menit


Kalau boleh, saya menulisnya begitu. Berapa banyak intrik di dalam Game of Thrones? Kita mungkin harus meminjam jari tangan orang lain untuk menghitungnya. Berapa banyak season? Berapa panjang durasinya? Kalian hitung sendiri. Tetapi Game of Thrones menyingkat semuanya hanya dalam dua jam sepuluh menit. It's a wow.

Anyhoo ...

Anyhoo ...

Jangan emosi dulu. Saya tidak membandingkan Knives Out dengan Game of Thrones. Jadi, bagi pecinta Knives Out maupun Game of Thrones jangan marah-marah, ya. Haha.


Setelah menonton Knives Out sebanyak dua kali, baru saya bisa menulis review yang cukup panjang ini. Artinya saya sungguh niat. Haha. Sebagai penikmat filem, terutama filem misteri, Knives Out merupakan filem misteri terbaik yang pernah saya tonton, saking kuatnya! Apanya yang kuat? Plot, karakter, twist-plot yang masuk akal, dialog, dan lain sebagainya. Ibarat makanan, Knives Out berporsi besar, lambung penuh, tidak tersisa sedikit pun ruang untuk angin bertengger. Rian Johnson memainkan detail dengan sangat sempurna. Detail yang tidak saya duga pada 1/4 durasi awal filem ini. Sekali lagi, mari kita tepuk tangan untuk sang sutradara!

Baca Juga: Fiersa Besari Memang Jagoannya Merangkai Kata-Kata

Bagi kalian yang akhir minggunya di rumah saja, dan belum menonton Knives Out, silahkan dicari filemnya dan buktikan apa yang sudah saya tulis di sini. Tapi, apabila pendapat kita berbeda, jangan saling menghujat, ya. Silahkan sampaikan pendapat kalian tentang filem ini di blog sendiri, maupun di komentar di bawah. Yang jelas, saya jamin kalian tidak akan merasa rugi atau membuang-buang waktu dengan menonton Knives Out. Ini filem super bagus!

Have a great weekend, guys!

#SabtuReview



Cheers.

Universe-nya Gerard Butler Itu Bernama “Has Fallen”


Universe-nya Gerard Butler Itu Bernama "Has Fallen". Pertama tahu Gerard Butler dari sebuah filem berjudul Law Abiding Citizen. Filem itu betul-betul sedap, menurut saya, karena menghadirkan pembalasan dendam seorang laki-laki atas kematian isteri dan anaknya. Dia tidak hanya membalas dendam pada si penjahat tetapi juga pada para aparat penegak hukum yang telah bertindak tidak adil padanya. Hebatnya lagi dia membaca buku hukum, kalau di Indonesia setingkat Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, termasuk semua amandemennya. Kalau itu masih belum hebat, dia hafal dan/atau mengingat semua isi buku hukum tersebut. Dalam dunia nyata, menghafal isi sebuah buku setingkat novel bukanlah perkara sulit. Tetapi jika buku itu adalah buku hukum, pasti sulit. 

Baca Juga: Kalau Kalian Pemberani Coba Nonton Nerorrist by Nessie

Terlepas dari Law Abiding Citizen nan sedap, Gerard Butler juga dikenal lewat filem-filem lain. Tiga diantaranya merupakan fransais dari Has Fallen atau Fallen.

Tahun 2013, sepanjang dua jam kita betul-betul larut dalam kisah Olympus Has Fallen. Gedung Putih yang dikodekan dengan nama Olympus, hancur berkeping-keping karena ulah kelompok teroris dari Korea Utara. Serangan bertubi-tubi datang dari darat dan udara, jutaan peluru ditembakkan, hampir tanpa jeda untuk memberi efek kejut yang luar biasa kepada penonton. Kalau penonton sampai menahan nafas dan ngos-ngosan, filemnya sukses. Haha. Anyhoo, Olympus Has Fallen menceritakan tentang Mike Banning (Gerard Butler) yang keluar dari Secret Service gara-gara merasa bersalah atas kematian Margaret Asher (Ashley Judd), isteri Presiden Amerika Serikat Benjamin Asher (Aaron Eckhart). Pada saat Gedung Putih diserang, Mike Banning terpaksa harus 'kembali' untuk menyelamatkan Benjamin Asher dari bunker tempat si Presiden disekap bersama pejabat-pejabat penting lainnya. Pengalaman menonton Olympus Has Fallen terulang saat menonton No Escape di tahun 2015, serangan tanpa jeda, menahan nafas, dan memaki.

Olympus Has Fallen tentu bakal bikin siapa saja mengingat filem White House Down. Selain ceritanya sama, dirilis pada tahun yang sama pula! Bedanya, White House Down punya Presiden berkulit hitam bernama James Sawyer (Jamie Foxx) yang diselamatin sama anggota baru Special Agent bernama John Cale (Channing Tatum), dan kehancuran Gedung Putih dikarenakan ulah 'orang dalam' yang justru adalah Kepala Special Agent yang hendak pensiun yaitu Martin Walker (James Wood). White House Down masih diisi lagi dengan kisah anak perempuan John Cale yaitu Emily Cale (Joey King) yang saat itu sedang mengikuti tur Gedung Putih. Yang jelas, karena tidak disekap, Presiden di dalam White House Down punya usaha untuk ikut menyelamatkan keadaan bersama John Cale.

Kembali ke Has Fallen.

Olympus Has Fallen meraup keuntungan berlipat ganda dan disebut sebagai filem box office karena biaya pembuatan filem hanya 70 Juta Dollar sedangkan keuntungannya mencapai 170,3 Juta Dollar. Fantastis. Itulah sebabnya saya selalu suka menonton filem-filem yang menjadi box office. Penasaran, pengen tahu sehebat apa jalan cerita, sutradara, dan para pemerannya sampai-sampai bisa menjadi box office. Oh ya, kalian sudah tahu kan alasan sebuah filem disebut filem box office? Sebuah filem disebut box office apabila keuntungan yang diraup berlipat ganda dari biaya pembuatan filemnya hanya beberapa hari saja.

Tiga tahun setelahnya, tepatnya tahun 2016, London Has Fallen dirilis. Awal menonton London Has Fallen pikir saya sih bakal biasa saja karena sudah punya pengalaman menahan nafas saat menonton Olympus Has Fallen. Ternyata saya salah. Karena apa? Karena kedahsyatan efek kejut yang disajikan pada setiap menitnya. Tembakan peluru, ledakan bom, kejar-kejaran di darat dan di udara, sampai meninggalnya tokoh yang tidak sentral tapi penting yaitu Direktur Secret Service Lynne Jacobs (Angela Bassett) saat helikopter yang mereka tumpangi untuk menyelamatkan diri jatuh ditembak. Kematian Perdana Menteri Inggris membikin semua pemimpin negara dunia datang melayat, setidaknya kita melihat beberapanya, meninggal karena bom di jembatan, ditembaki rudal di kapal pribadi, bom di puncak menara, dan lain sebagainya. London lumpuh dalam waktu tidak sampai satu jam. Semua aparat pengamanan disusupi teroris. Semua. Kalian bisa bayangkan kelumpuhan yang dialami? Uh wow sekali menurut saya.

Dan tentu saja, London Has Fallen lagi-lagi menjadi box office. Dengan biaya hanya 60 Juta Dollar (lebih sedikit dari Olympus Has Fallen), dan meraup keuntungan 205,8 Juta Dollar. 

Lagi-lagi tiga tahun setelahnya, yaitu tahun 2019, Angel Has Fallen dirilis. Apakah Angel Has Fallen mampu menjadi box office? Tentu saja. Biaya pembuatannya hanya 40 Juta Dollar dengan keuntungan 147,5 Juta Dollar. Bedanya di dalam Angel Has Fallen, Presidennya adalah Allan Trumbull (Morgan Freeman) yang pada dua filem sebelumnya menjadi juru bicara. Kalau boleh saya bilang sisi manusiawi seorang pahlawan lebih ditonjolkan di dalam filem ini. Mau tahu? Mari simak.

Mike Banning tidak kuasa melawan apalagi memerintah trauma fisik yang dideritanya untuk berhenti. Stop, saya masih pengen jadi pengawal presiden nih! Pada akhirnya seorang 'pahlawan' harus pensiun juga. Ini yang rasa-rasanya tidak saya temui dalam filem misi-tidak-mungkin yang 'pahlawan'nya selalu fine-fine saja. Haha. Mike Banning diposisikan lebih manusiawi: sebagai manusia dia juga merasakan trauma fisik yang luar biasa dan fokus yang mendadak nge-blur. Oleh karena itu dia memang ingin mengundurkan diri. Tetapi lagi-lagi negara api teroris menyerang. Dibuka dengan waktu bersantai Presiden di sebuah sungai: memancing. Serangan ini jauh lebih dahsyat karena menggunakan teknologi super canggih yaitu ribuan drone. Lepaskan drone-nya, cari mangsanya, tembak-mati. Sayangnya, Mike Banning harus menjadi korban. Dia justru menjadi tersangka utama yang dicurigai berniat membunuh Presiden Allan Trumbull. 

Benarkah? 

Tentu saja tidak. Ada bumbu persahabatan, kepentingan, dan pengkhianatan di dalam Angel Has Fallen. Ketiga bumbu itu yang menyebabkan Mike Banning menjadi buronan, harus pandai mencari tempat aman dari kejaran orang-orang, dan lain sebagainya usaha dia untuk mengembalikan nama baiknya. Jadi ingat waktu Tony Stark terdampar di sebuah kota. Hehe. Satu-satunya benang merah dari filem ini adalah Mike Banning harus bertemu Allan Trumbull saat si Presiden sudah siuman agar tahu jalan cerita yang sebenarnya. Bahwa bukan Mike Banning yang berniat membunuh si Presiden. Itu memang terjadi di akhir cerita. Saya bahkan harus memutar ulang beberapa kali untuk melihat muslihat ruangan jadi-jadian yang menyembunyikan Presiden Allan Trumbull di gedung sebelah rumah sakit itu. Deg-degan sekali.

Kalian deg-degan juga? Kalau begitu toss. Kita sama. Haha.

Baca Juga: Fiersa Besari Memang Jagoannya Merangkai Kata-Kata

Melihat fransais Has Fallen yang kerap dirilis setiap tiga tahun sekali, saya jadi bertanya-tanya apakah tahun 2022 bakal ada filem ke-empat? Indonesia Has Fallen, misalnya, dengan cerita Presiden Amerika Serikat berlibur ke Indonesia terus diserang teroris lagi, terus chaos. Lebih seru lagi kalau lokasi penyerangan itu adalah Kabupaten Ende saat si Presiden sedang mengunjungi Danau Kelimutu. Pasti legit. Andaaaaai. Haha. Berandai-andai kan boleh. Uih, itu saya yakin bakal jadi box office hanya dalam satu hari. Bioskop penuh. Terutama bioskop di Indonesia. Tapi yang jelas pemerannya harus tetap Gerard Butler, karena Has Fallen bakal jadi Has Falling kalau pemerannya diganti *ngakak guling-guling*.

Sudah ah.

Weekend ini ... selamat menikmati akhir pekan, ya. Kalau akhir pekan kalian hanya di rumah saja, cobalah menonton kembali tiga Has Fallen yang sudah saya bahas di atas. Kalau mau menonton ulang Law Abiding Citizen juga oke-oke aja *gaya Yuvi Phan* haha.

#SabtuReview



Cheers.

Universe-nya Gerard Butler Itu Bernama Has Fallen


Universe-nya Gerard Butler Itu Bernama Has Fallen. Pertama tahu Gerard Butler dari sebuah filem berjudul Law Abiding Citizen. Filem itu betul-betul sedap, menurut saya, karena menghadirkan pembalasan dendam seorang laki-laki atas kematian isteri dan anaknya. Dia tidak hanya membalas dendam pada si penjahat tetapi juga pada para aparat penegak hukum yang telah bertindak tidak adil padanya. Hebatnya lagi dia membaca buku hukum, kalau di Indonesia setingkat Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, termasuk semua amandemennya. Kalau itu masih belum hebat, dia hafal dan/atau mengingat semua isi buku hukum tersebut. Dalam dunia nyata, menghafal isi sebuah buku setingkat novel bukanlah perkara sulit. Tetapi jika buku itu adalah buku hukum, pasti sulit. 

Baca Juga: Kalau Kalian Pemberani Coba Nonton Nerorrist by Nessie

Terlepas dari Law Abiding Citizen nan sedap, Gerard Butler juga dikenal lewat filem-filem lain. Tiga diantaranya merupakan fransais dari Has Fallen atau Fallen.

Tahun 2013, sepanjang dua jam kita betul-betul larut dalam kisah Olympus Has Fallen. Gedung Putih yang dikodekan dengan nama Olympus, hancur berkeping-keping karena ulah kelompok teroris dari Korea Utara. Serangan bertubi-tubi datang dari darat dan udara, jutaan peluru ditembakkan, hampir tanpa jeda untuk memberi efek kejut yang luar biasa kepada penonton. Kalau penonton sampai menahan nafas dan ngos-ngosan, filemnya sukses. Haha. Anyhoo, Olympus Has Fallen menceritakan tentang Mike Banning (Gerard Butler) yang keluar dari Secret Service gara-gara merasa bersalah atas kematian Margaret Asher (Ashley Judd), isteri Presiden Amerika Serikat Benjamin Asher (Aaron Eckhart). Pada saat Gedung Putih diserang, Mike Banning terpaksa harus 'kembali' untuk menyelamatkan Benjamin Asher dari bunker tempat si Presiden disekap bersama pejabat-pejabat penting lainnya. Pengalaman menonton Olympus Has Fallen terulang saat menonton No Escape di tahun 2015, serangan tanpa jeda, menahan nafas, dan memaki.

Olympus Has Fallen tentu bakal bikin siapa saja mengingat filem White House Down. Selain ceritanya sama, dirilis pada tahun yang sama pula! Bedanya, White House Down punya Presiden berkulit hitam bernama James Sawyer (Jamie Foxx) yang diselamatin sama anggota baru Special Agent bernama John Cale (Channing Tatum), dan kehancuran Gedung Putih dikarenakan ulah 'orang dalam' yang justru adalah Kepala Special Agent yang hendak pensiun yaitu Martin Walker (James Wood). White House Down masih diisi lagi dengan kisah anak perempuan John Cale yaitu Emily Cale (Joey King) yang saat itu sedang mengikuti tur Gedung Putih. Yang jelas, karena tidak disekap, Presiden di dalam White House Down punya usaha untuk ikut menyelamatkan keadaan bersama John Cale.

Kembali ke Has Fallen.

Olympus Has Fallen meraup keuntungan berlipat ganda dan disebut sebagai filem box office karena biaya pembuatan filem hanya 70 Juta Dollar sedangkan keuntungannya mencapai 170,3 Juta Dollar. Fantastis. Itulah sebabnya saya selalu suka menonton filem-filem yang menjadi box office. Penasaran, pengen tahu sehebat apa jalan cerita, sutradara, dan para pemerannya sampai-sampai bisa menjadi box office. Oh ya, kalian sudah tahu kan alasan sebuah filem disebut filem box office? Sebuah filem disebut box office apabila keuntungan yang diraup berlipat ganda dari biaya pembuatan filemnya hanya beberapa hari saja.

Tiga tahun setelahnya, tepatnya tahun 2016, London Has Fallen dirilis. Awal menonton London Has Fallen pikir saya sih bakal biasa saja karena sudah punya pengalaman menahan nafas saat menonton Olympus Has Fallen. Ternyata saya salah. Karena apa? Karena kedahsyatan efek kejut yang disajikan pada setiap menitnya. Tembakan peluru, ledakan bom, kejar-kejaran di darat dan di udara, sampai meninggalnya tokoh yang tidak sentral tapi penting yaitu Direktur Secret Service Lynne Jacobs (Angela Bassett) saat helikopter yang mereka tumpangi untuk menyelamatkan diri jatuh ditembak. Kematian Perdana Menteri Inggris membikin semua pemimpin negara dunia datang melayat, setidaknya kita melihat beberapanya, meninggal karena bom di jembatan, ditembaki rudal di kapal pribadi, bom di puncak menara, dan lain sebagainya. London lumpuh dalam waktu tidak sampai satu jam. Semua aparat pengamanan disusupi teroris. Semua. Kalian bisa bayangkan kelumpuhan yang dialami? Uh wow sekali menurut saya.

Dan tentu saja, London Has Fallen lagi-lagi menjadi box office. Dengan biaya hanya 60 Juta Dollar (lebih sedikit dari Olympus Has Fallen), dan meraup keuntungan 205,8 Juta Dollar. 

Lagi-lagi tiga tahun setelahnya, yaitu tahun 2019, Angel Has Fallen dirilis. Apakah Angel Has Fallen mampu menjadi box office? Tentu saja. Biaya pembuatannya hanya 40 Juta Dollar dengan keuntungan 147,5 Juta Dollar. Bedanya di dalam Angel Has Fallen, Presidennya adalah Allan Trumbull (Morgan Freeman) yang pada dua filem sebelumnya menjadi juru bicara. Kalau boleh saya bilang sisi manusiawi seorang pahlawan lebih ditonjolkan di dalam filem ini. Mau tahu? Mari simak.

Mike Banning tidak kuasa melawan apalagi memerintah trauma fisik yang dideritanya untuk berhenti. Stop, saya masih pengen jadi pengawal presiden nih! Pada akhirnya seorang 'pahlawan' harus pensiun juga. Ini yang rasa-rasanya tidak saya temui dalam filem misi-tidak-mungkin yang 'pahlawan'nya selalu fine-fine saja. Haha. Mike Banning diposisikan lebih manusiawi: sebagai manusia dia juga merasakan trauma fisik yang luar biasa dan fokus yang mendadak nge-blur. Oleh karena itu dia memang ingin mengundurkan diri. Tetapi lagi-lagi negara api teroris menyerang. Dibuka dengan waktu bersantai Presiden di sebuah sungai: memancing. Serangan ini jauh lebih dahsyat karena menggunakan teknologi super canggih yaitu ribuan drone. Lepaskan drone-nya, cari mangsanya, tembak-mati. Sayangnya, Mike Banning harus menjadi korban. Dia justru menjadi tersangka utama yang dicurigai berniat membunuh Presiden Allan Trumbull. 

Benarkah? 

Tentu saja tidak. Ada bumbu persahabatan, kepentingan, dan pengkhianatan di dalam Angel Has Fallen. Ketiga bumbu itu yang menyebabkan Mike Banning menjadi buronan, harus pandai mencari tempat aman dari kejaran orang-orang, dan lain sebagainya usaha dia untuk mengembalikan nama baiknya. Jadi ingat waktu Tony Stark terdampar di sebuah kota. Hehe. Satu-satunya benang merah dari filem ini adalah Mike Banning harus bertemu Allan Trumbull saat si Presiden sudah siuman agar tahu jalan cerita yang sebenarnya. Bahwa bukan Mike Banning yang berniat membunuh si Presiden. Itu memang terjadi di akhir cerita. Saya bahkan harus memutar ulang beberapa kali untuk melihat muslihat ruangan jadi-jadian yang menyembunyikan Presiden Allan Trumbull di gedung sebelah rumah sakit itu. Deg-degan sekali.

Kalian deg-degan juga? Kalau begitu toss. Kita sama. Haha.

Baca Juga: Fiersa Besari Memang Jagoannya Merangkai Kata-Kata

Melihat fransais Has Fallen yang kerap dirilis setiap tiga tahun sekali, saya jadi bertanya-tanya apakah tahun 2022 bakal ada filem ke-empat? Indonesia Has Fallen, misalnya, dengan cerita Presiden Amerika Serikat berlibur ke Indonesia terus diserang teroris lagi, terus chaos. Lebih seru lagi kalau lokasi penyerangan itu adalah Kabupaten Ende saat si Presiden sedang mengunjungi Danau Kelimutu. Pasti legit. Andaaaaai. Haha. Berandai-andai kan boleh. Uih, itu saya yakin bakal jadi box office hanya dalam satu hari. Bioskop penuh. Terutama bioskop di Indonesia. Tapi yang jelas pemerannya harus tetap Gerard Butler, karena Has Fallen bakal jadi Has Falling kalau pemerannya diganti *ngakak guling-guling*.

Sudah ah.

Weekend ini ... selamat menikmati akhir pekan, ya. Kalau akhir pekan kalian hanya di rumah saja, cobalah menonton kembali tiga Has Fallen yang sudah saya bahas di atas. Kalau mau menonton ulang Law Abiding Citizen juga oke-oke aja *gaya Yuvi Phan* haha.

#SabtuReview



Cheers.

Inilah Akibat Paling Fatal Dari Perkara Yang Dianggap Remeh


Inilah Akibat Paling Fatal Dari Perkara yang Dianggap Remeh. Joker merupakan filem terakhir yang saya tonton di tahun 2019 sebelum situs penyedia filem andalan saya, indoxxi, diblokir pemerintah. Seperti yang dilansir oleh Tekno Kompas dengan penulis Kevin Rizky Pratama, Menteri Kominfo, Johnny G. Plate, mengatakan telah memblokir situs streaming ilegal sebanyak lebih dari 1.000! Sebagai manusia yang pernah mempelajari sedikit ilmu hukum, situs penyedia filem (tentunya ilegal) memang mengabaikan dan melanggar HaKI yang dijunjung tinggi dalam dunia industri diantaranya industri musik dan filem. Tetapi sebagai manusia yang tinggal di Kota Ende, kota kecil tanpa bioskop, saya tentu membutuhkan situs penyedia filem tersebut. Tindakan pemerintah sudah benar, tetapi akibatnya ... saya dan dinosaurus harus gigit laptop.

Baca Juga: Kalau Begitu Marilah Kita Coba Mendaki Tangga Yang Benar

Kembali pada filem Joker. Filem terakhir yang saya tonton di tahun 2019. Filem yang membikin otak saya memikirkan begitu banyak perkara, termasuk perkara yang dianggap paling remeh: bercanda yang menjebak. I can feel his pain

Joker


Wikipedia menginfokan: Joker adalah film cerita seru psikologis Amerika Serikat tahun 2019 yang disutradarai oleh Todd Phillips dan diproduseri oleh Todd Philips, Bradley Cooper, dan Emma Tillinger Koskoff. Joker ditayangkan secara perdana di Festival Film Venesia pada tanggal 31 Agustus 2019 serta ditayangkan di Amerika Serikat pada 4 Oktober 2019 dan Indonesia dua hari sebelumnya. Joker adalah film laga hidup pertama Batman yang mendapatkan klasifikasi R dari Motion Picture Association of America karena kekerasan berdarah yang kuat, perilaku mengganggu, bahasa dan gambar seksual singkat.

Joker, dari DC Comics, diperankan oleh Joaquin Phoenix, Robert De Niro, Zazie Beetz, Frances Conroy. Termasuk box office karena biaya produksi hanya $55-70 juta saja tetapi pendapatan sementara mencapai $1,023 miliar. Kita harus sepemahaman dulu tentang box office ya.

Idntimes menulis: dahulu, istilah Box Office digunakan untuk pemutaran film yang sistem menontonnya mengedarkan box-box kepada penonton sebagai donasi atas pemutaran film tersebut. Karena pada saat itu belum ada pembelian tiket film lewat loket atau bahkan online seperti sekarang ini. Namun, saat ini istilah box office bergeser kepada film yang mendapatkan penghasilan melebihi biaya produksinya dan penghasilan itu berhasil didapatkan hanya dalam waktu tayang beberapa hari atau minggu pertama saja. Hampir mirip sebenarnya dengan pengertian saat zaman dulu, karena semakin film disukai maka penonton dari film tersebut semakin banyak.

Joaquin Phoenix, Jared Leto, Heath Ledger


Hadirnya Joaquin Phoenix sebagai Joker membikin saya mengingat dua aktor Joker lainnya yaitu Jared Leto dan Heath Ledger. Jared Leto memerankan Joker dalam filem Suicide Squad sedangkan Heath Ledger memerankan Joker dalam filem The Dark Knight. Joker a la Suicide Squad terkesan 'kekanak-kanakan' sesuai dengan warna filem tersebut. Berbeda dengan Joker dalam The Dark Knight yang dalam. Tapi, menjadi tidak bijak jika membandingkan akting ketiganya. Joaquin Phoenix, Jared Leto, dan Heath Ledger, masing-masing punya pesona tersendiri saat memerankan Joker. Kalau ditanya, Joker mana yang punya kelebihan natural? Menurut saya si Joaquin Phoenix, karena bekas luka di bawah hidungnya itu se-su-a-tu.

Jangan Pernah Menjebak Seseorang


Berbeda dari orang lain yang mungkin pernah me-review Joker, saya lebih memilih me-review filem psikologis ini dari sudut pandang lain, salah satunya penjebakan. Kita tahu Arthur Fleck, seorang laki-laki dewasa, masih harus tinggal bersama ibunya, Penny Fleck, karena si ibu sakit. Kebutuhan hidup sehari-hari dipenuhi oleh Arthur dengan bekerja sebagai badut penghibur. Hidup yang keras seakan-akan menjadi lebih bengis terhadap seorang Arthur. Dia akrab dengan kesialan (demi kesialan). Tidak cukup sampai di situ, keinginannya menjadi seorang Komika kandas karena sesungguhnya dia sama sekali tidak berbakat.

Ada tiga karakter yang menghancurkan Arthur hingga ke titik paling rendah.

1. Penny Fleck


Penny Fleck, what should I say about this woman? Dia sakit. Dialah salah satu sumber malapetaka dalam hidup Arthur. Gara-gara Penny, Arthur percaya Thomas Wayne adalah ayah kandungnya. Sadar atau tidak sadar, Penny menghancurkan Arthur dengan caranya sendiri. Mengekang kehidupan dewasa Arthur (karena harus mengurus si ibu), dan menipu Arthur dengan kepalsuan bahwa si Joker adalah putera kandung Thomas Wayne. Mungkin Penny menganggap itu hal yang remeh. Sudah, kau pergi saja ke Thomas Wayne, itu Bapakmu! Tetapi apa yang dilakukan Penny, melalui surat yang dibaca Arthur, lebih menyakitkan dari sayatan sembilu. Faktanya Arthur bukanlah putera kandung Thomas Wayne. Pengakuan Thomas Wayne mengantar Arthur pada kekelaman yang lebih dalam.

Ketika Arthur menekan bantal ke wajah Penny ... saya merasakan sesuatu pelepasan yang luar biasa.

2. Randall


Arthur tidak saja dibohongi oleh Penny; bahwa dirinya putera kandung Thomas Wayne, tetapi juga dijebak oleh teman kerjanya sendiri yaitu (si setengah-botak) Randall.

Randall adalah salah satu sumber malapetaka dalam hidup Arthur, selanjutnya, di dalam Joker. Awalnya saya berpikir Randall adalah sahabat terbaik di tempat kerja yang punya rasa simpati tinggi terhadap kondisi Arthur yang sering dikerjai orang-orang saat sedang bekerja sebagai badut. Tetapi, pikiran saya berubah ketika adegan Randall menyerahkan sebuah pistol pada Arthur. What the f*ck! Ketika kau tahu temanmu seperti itu, kau sengaja memberikannya sebuah pistol? Kota Gotham sedang kacau, saat bekerja pun Arthur sering diisengin-dihina-diolok, secara psikologis Arthur tidak sedang baik-baik saja, dan kau memberinya sebuah pistol?

Why don't you shoot yourself!?

Mungkin bagi Randall, menjebak Arthur adalah perkara remeh. Jebak dia. Biarkan dia melakukan kesalahan. Cuci tangan saat dia melakukan kesalahan. Tertawalah saat dia dipecat. Biarkan dia mencari pekerjaan lain, atau biarkan dia terpuruk bersama kehidupannya yang kelam.

Tidak semudah itu ...

Apa yang dilakukan Randall berakibat sangat fatal. Makanya saya menulis judul Inilah Akibat Paling Fatal Dari Perkara Yang Dianggap Remeh. Karena, sebuah pistol memicu kekacauan besar dalam hidup Arthur yang tidak baik-baik saja itu. Randall sengaja melakukannya. Pistol itu menjadi semacam 'kemampuan' tambahan Arthur. Rasa percaya dirinya meningkat ketika pistol ada bersamanya. Dan pistol ini pula yang dipakai Arthur untuk menembaki Murray Fraklin. Live show!

3. Murray Franklin


Ini dia sosok yang juga paling saya benci dari Joker. Murray Franklin digambarkan sebagai presenter paling kesohor di Kota Gotham. Murray merupakan idola Arthur. Bahkan Arthur pernah menyempatkan diri untuk menonton show si Murray. Bagi Murray, Arthur hanyalah remah roti yang remeh. Seorang penggemar yang datang di acaranya, yang menjadi cameo acaranya, yang kemudian dia tertawakan saat rekaman stand up comedy Arthur hinggap di kupingnya. Tapi manuver itu terjadi, Murray mengundang Arthur datang ke acaranya sebagai bintang tamu! Arthur datang sebagai Joker, memakai riasan badut, dengan setelan jas lengkap, tak lupa pistol yang diberikan Randall pun turut bersamanya. Tidak ada seorang pun yang menyangka bahwa pistol itu pula yang kemudian digunakan Arthur untuk menembaki Murray.

Benar-benar pembalasan (dendam) yang sempurna.

Pernahkah Kita Melakukannya?


Pertanyaan ini mungkin remeh tapi tidak menjebak. Ini pertanyaan serius. Pernahkah kita berada di posisi Penny Fleck, Randall, atau Murray Franklin? Pernahkah kita, secara sengaja maupun tidak sengaja, menjebak teman sendiri? Pernahkah kita berpikir tentang perbuatan kita pada seseorang dapat berakibat fatal? Pertanyaan itu menjadikan Joker tidak saja sebagai filem yang syarat kekerasan berdarah yang kuat serta perilaku mengganggu, tetapi juga refleksi terhadap diri setiap orang yang menontonnya. Manusia, tentu tidak terlepas dari tindakan yang dilakukan oleh Penny Fleck, Randall, maupun Murray Franklin.

Baca Juga: Double Ending

Bagaimana menurut kalian, kawan? Saya yakin sebagian besar dari kalian sudah menonton Joker dan punya pendapat sendiri tentang filem ini. Pendapat saya, sudah tertulis dengan jelas di atas. Bahwa, apa yang kita anggap remeh dapat berakibat fatal (dilakukan oleh orang lain). Contoh paling nyata adalah ketika kalian menganggap remeh alaram yang meraung-raung, akibatnya kalian bisa saja ketinggalan pesawat.

Semoga bermanfaat.

#SabtuReview



Cheers.

Urusan Firebender Ini Remeh Tapi Cukup Menyita Perhatian

Credits: GNFI

Urusan Firebender Ini Remeh Tapi Cukup Menyita Perhatian. Sudah saya tulis pada pos-pos sebelumnya bahwa saya termasuk orang yang paling suka menonton video-video di Youtube. Apa pasal? Ya, karena video-video di Youtube itu menghibur dan menginspirasi, tergantung video dan/atau kanal mana yang kalian tonton. Kanal-kanal yang paling sering saya tonton adalah kanal milik Kirsten Dirksen dengan video tentang rumah-rumah unik seperti tiny house, 5 Minutes Craft, Insider, TED, Brightside, Living Big in a Tiny House, The Voice Global, hingga video-video yang teka'e alias nyangkut alias video yang direkomendasikan waktu saya menonton video dari kanal-kanal tersebut di atas. Menontonnya bisa berjam-jam, tapi bukan pada saat hendak tidur. Karena, saat hendak tidur, saya punya video andalan tersendiri.

Baca Juga: Akan Me-review Tiga Buku Nutrisi Otak dan Makanan Jiwa

Proses menuju alam mimpi saya memang cukup sulit. Insomnia. Iya. Kadang saya harus menegak obat untuk bisa berdamai dengan kantuk. Oleh karena itu saya butuh prolog tidur yang menyenangkan. Dan prolog tidur yang menyenangkan itu saya temui pada filem kartun Upin Ipin. Terhibur, iya. Ngakak, iya. Tambah ilmu, juga iya. Setelah Upin-Ipin, terbitlah Larva dengan dua karakter larva crazy Yellow dan Red. Kedua filem kartun/animasi yang sudah saya tonton sejak dahulu kala itu memang dibatasi oleh season dan episode, tapi belum pernah rasa bosan muncul meskipun menonton semua season dan semua episode berulang-ulang! Bagaimana yaaaa ... can't descibe by words pokoknya. Bahagia lah karena saat terjaga, tahu-tahu, eh, sudah pagi.

Tidak pernah saya sangka, kemudian, menemukan prolog lainnya. Avatar! Avatar, The Legend of Aang, The Last Airbender. Menonton Avatar memang bisa membikin saya berdamai dengan rasa kantuk sekaligus membikin saya digerogoti pertanyaan demi pertanyaan. Prolog tidur yang satu ini memang menyenangkan, membikin saya berdamai dengan rasa kantuk, lantas tertidur pulas, tetapi juga membikin saya harus mencari tahu tentang sesuatu yang mungkin dianggap remeh oleh kalian, dia, mereka. It's about firebender.

Marilah kita cek ...

Aang, The Last Airbender


Tentang Avatar sudah dijelaskan secara singkat pada setiap opening episodenya. Dahulu kala, di semesta raya berdiri empat bangsa besar yaitu Water Tribe (Suku Air), Earth Kingdom (Kerajaan Bumi), Fire Nation (Negara Api), dan Air Nomads (Pengembara Udara). Dari setiap bangsa tersebut, dikenal istilah bender atau pengendali, yaitu orang-orang yang mampu mengendalikan elemen lambang masing-masing bangsa. Waterbender, earthbender, firebender, dan airbender. Tapi, tidak semua penduduk bisa menjadi bender. Artinya, menjadi bender itu karena alasan gift atau karunia dan/atau berkat latihan (khusus Negara Api). Lihat saja Katara dan Sokka yang berasal dari Suku Air Selatan. Katara dikenal sebagai waterbender yang kemudian menjadi master-nya waterbender, sedangkan Sokka tidak.

Apabila menjadi bender adalah karunia dan juga berkat latihan, maka Avatar adalah manusia dengan karunia paling tinggi karena ditakdirkan (harus) bisa menguasai keempat elemen tersebut. Kalau boleh saya tulis, Avatar adalah katrol yang mengendalikan semua elemen agar semesta raya tidak timpang. Karena, sebagai manusia fana tentu selalu ada rasa ingin menguasai. Dalam hal ini menguasai bangsa lainnya. Terbukti pada Negara Api yang menghancurkan begitu banyak bangsa, bahkan bangsa Pengembara Udara habis tidak tersisa, kecuali Aang.

Bagaimana caranya tahu bahwa si manusia tersebut adalah Avatar?

Avatar itu bereinkarnasi. Apabila Avatar meninggal dunia, maka dia pasti akan bereinkarnasi pada manusia lainnya. Caranya untuk tahu bahwa manusia itu adalah Avatar adalah dengan menyuruhkan memilih mainan! Sederhana bukan? Saat kecil, Aang disuruh memilih empat mainan dari ribuan mainan yang ditawarkan. Aang memilih seruling kura-kura dari tanah liat (melambangkan air), baling-baling yang digerakkan dengan benang (melambangkan udara), babi-monyet dari kayu (melambangkan tanah), dan genderang tangan dari kayu (melambangkan api). Kehidupan Aang di kuil berubah setelah rahasia dirinya adalah Avatar terkuak. Anak berusia dua belas tahun itu tidak kuat dengan berbagai tekanan, salah satunya harus belajar tiga elemen lainnya di Kuil Udara Timur, lalu memutuskan untuk melarikan diri dari kuil bersama bison terbang bernama Appa. Dalam pelariannya, Aang dan Appa diserang badai, dalam 'kondisi Avatar', Aang kemudian menyelimuti dirinya dan Appa dalam gelembung udara yang kemudian menjadi es selama seratus tahun, sampai kemudian ditemukan oleh kakak-beradik Sokka dan Katara.

Itulah mengapa Aang menjadi the last airbender, pengendali udara terakhir, karena dia sedang membeku saat bangsa Pengembara Udara dihancurkan tanpa sisa oleh Negara Api.

Ketika ditemukan itu seharusnya Aang sudah berusia seratus dua belas tahun, tetapi karena pengawetan es, dia tetap menjadi anak berusia dua belas tahun yang masih suka bermain-main. Dari situlah perjalanan Aang, Katara, Sokka, bersama Appa, bermula. Perjalanan untuk mencari guru bender tiga elemen lain yang dipercaya bisa mengajari Aang. Sampai kemudian teman perjalanan mereka bertambah yaitu si lemur terbang bernama Momo, dan pengendali tanah (buta) yang luar biasa kuat sekaligus anak bangsawan yaitu Toph Beifong.

Enaknya Menjadi Firebender


Bender dari tiga bangsa yaitu waterbender, earthbender, dan airbender diperoleh melalui karunia. Tidak semua penduduk setiap bangsa otomatis menjadi bender. Toph adalah earthbender hebat tetapi orangtuanya tidak. Katara adalah waterbender hebat tetapi Sokka tidak. Pertanyaan tentang firebender ini baru muncul setelah saya menonton ulang; menjadikan Avatar prolog tidur. Mari kita lihat pada opening-nya.

Opening episode Avatar selalu sama: Avatar terakhir, yang menghilang itu, sedang mengendalikan empat elemen. Api muncul begitu saja dari tangannya. Ya selain karena Avatar terakhir itu memang berasal dari Negara Api, apalagi ...?

Airbender mengendalikan udara karena udara selalu ada kapan pun dan di mana pun. Makanya pengendali udara termasuk paling kuat dan kerajaannya dihancurkan Negara Api tanpa ampun sehingga di semesta ini tersisa Aang. Satu-satunya pengendali udara. The last airbender. Waterbender hanya bisa mengendalikan air apabila di sekitarnya ada air. Terakhir, Waterbender Master bisa mengendalikan darah dalam tubuh manusia yang adalah cairan pula. Earthbender, bumi, jauh lebih sulit. Tanpa tanah atau unsur tanah, misalnya batu bara, ya dia do nothing. Kecuali Bumi, si Raja, yang bisa mengendalikan tanah dengan pikirannya. Itu pun sulit juga kalau dikurung di penjara yang semuanya terbuat dari besi.

Bagaimana dengan firebender? Ini yang menarik!

Firebender, menurut saya, paling enak. Tanpa api, dia bisa mengeluarkan api dari dalam tubuhnya sendiri. Enak bener! Dan ini tidak adil! Bayangkan, ketika pengendali lain butuh media: udara, air, tanah, firebender cukup jentik jari, maka jadilah api. Makanya, tidak heran Negara Api menyerang. Karena mereka kuat.

Urusan firebender yang remeh ini saya pertanyaan di Facebook. Syukurnya saya memperoleh penjelasan dari salah seorang teman Facebook, Gusty Mbao: api yang seakan tercipta begitu saja itu diperoleh dari Chi dan ada hubungannya dgn avatar pertama (Wan), kura-kura Singa, dan Dark & Light Soul of The Avatar.

Dari situs ini saya peroleh penjelasan lengkapnya, jujur saya pakai Google Translate, tidak ada yang saya ubah satu pun hahaha.

Selama era Raava, orang-orang menerima unsur api dari kura-kura singa api yang merupakan penjaga kota mereka, yang akan memberi mereka kekuatan dengan pembengkokan energi. Mereka dapat memintanya kapan pun mereka pergi ke Spirit Wilds dan mengembalikannya ketika mereka kembali. Namun, Wan mencuri kekuatan untuk memperbaiki hidupnya dan teman-temannya yang miskin, tetapi ditangkap dan dibuang. Dia diizinkan untuk menjaga kekuatan api untuk melindungi dirinya sendiri dan akhirnya berteman dengan arwah. Dengan demikian, dia berhasil mengasah keterampilannya dengan mempelajari cara yang tepat untuk membungkuk dari naga yang hidup di Spirit Wilds. Dia mengembangkan gayanya sedemikian rupa sehingga apinya menjadi perpanjangan dari tubuhnya, bukan hanya alat untuk perlindungan seperti yang dirasakan orang lain. Yang lain mengetahui tentang keselamatannya dan juga berangkat ke Roh Liar dengan kekuatan api, tidak lagi ingin hidup dalam kondisi buruk yang mereka miliki di kota.

Pada tahun-tahun berikutnya, orang-orang belajar firebending dari naga yang pernah menghuni tanah itu. Orang pertama di era Avatar yang belajar dari naga adalah Prajurit Matahari, yang memahami hubungan antara api jiwa mereka, api naga, dan matahari. Dalam sisa-sisa peradaban besar mereka, Zuko dan Aang menemukan bahwa api merupakan energi dan kehidupan, sebuah konsep yang telah hilang bagi hampir semua api di Perang Seratus Tahun. Arti sebenarnya dari firebending dilupakan sebagai kemarahan, kemarahan dan keinginan untuk mendominasi mulai menggantikan cita-cita kehidupan dan energi, dan bagaimana mereka terhubung ke matahari. Keluarga Kerajaan mendorong ini untuk membantu dalam propaganda bahwa api dapat digunakan sebagai alat untuk menghancurkan dan bahwa Perang Seratus Tahun dibenarkan.

Firebender menarik kekuatan mereka dari matahari dan benda-benda matahari lainnya, seperti komet, serta inti api planet ini. Gerhana matahari memiliki potensi untuk sepenuhnya meniadakan kekuatan penghasut api, yang merupakan hasil dari koneksi langsung antara matahari dan firebending. Selain itu, setelah mengalahkan Katara saat matahari terbit selama Pengepungan Utara, Zuko menyatakan bahwa dia naik bersama bulan, tetapi dia naik bersama matahari, lebih jauh merujuk pentingnya matahari pada firebending. Firebender juga dikatakan mengambil daya dari energi vulkanik dan kilat.

Dia (Wan) mengembangkan gayanya sedemikian rupa sehingga apinya menjadi perpanjangan dari tubuhnya, bukan hanya alat untuk perlindungan seperti yang dirasakan orang lain.

Baca Juga: KKN di Desa Penari yang Menggemparkan Dunia Maya

Jadi, itulah sebabnya, api dapat muncul begitu saja dari tubuh firebender. Melalui latihan sehingga jurus/gaya itu dikembangkan oleh Wan sehingga api menjadi perpanjangan dari tubuhnya.

Done!

Pertanyaan saya akhirnya terjawab!

Dan akhirnya pos ini diunggah juga ha ha ha setelah menulis tentang sebuah buku keren berjudul Mendaki Tangga Yang Salah. Epilognya begini banget ya. Tidak apalah. Silahkan bagi kalian yang penasaran, tonton ulang deh The Last Airbender.



Cheers.

Setelah Upin Ipin yang Mengedukasi Terbitlah Larva

Screenshoot dari videonya di Youtube.

Setelah Upin Ipin yang Mengedukasi Terbitlah Larva. Menulis ini dalam kondisi sedang sangat bersemangat setelah hampir dua bulan terakhir prolog tidur saya berganti-ganti antara Upin Ipin dan Larvadan epilog tidur saya disusupi perasaan tidak rela meninggalkan ranjang diiringi hidung kembang-kempis dan iler tumpah-ruah. Helooooooo, are you okay, Teh? Hehe. Saya masih rajin menonton video lainnya dari channel Brightside, TED, Kirsten Dirksen, Insider, 5 Minutes Crafts, dan lain sebagainya termasuk tentang tiny house, tapi pesona filem kartun/animasi memang masih menguasai sisi lain diri saya. Tsaaaaah. Sisi lain yang masih pengen dimanja dan disayang-sayang sama Abang *ditabok dinosaurus*. Waktu SMA saya tergila-gila sama Doraemon sampai dikata-katain sama Kakak Didi Pharmantara: cewek terlambat puber. Huhuhu. Apa salah dan dosa hambaaaaa.

Baca Juga: KKN di Desa Penari yang Menggemparkan Dunia Maya

Masih banyak orang yang menyangka filem kartun identik dengan bocah saja. Salah, bung. Bahkan ada filem kartun yang justru tidak boleh ditonton sama bocah, dan saya pernah menontonnya di Youtube, hanya saja lupa judulnya. Pokoknya yang tidak seberapa komersil lah. Oke, balik lagi ke Upin Ipin dan Larva. Upin Ipin jelas kalian sudah tahu kan ya. Manapula pernah saya tulis dua kali di blog dengan pos berjudul Semua Anak Indonesia Harus Menonton Upin Ipin (Bahagian 1) dan pos berjudul Semua Anak Indonesia Harus Menonton Upin Ipin (Bahagian 2). Silahkan dibaca! Karena semua Orang Indonesia wajib tahu alasan saya menulis dua pos tentang Upin Ipin tersebut.

Hari ini saya mau membahas tentang Larva. Beberapa hal memang saya ketahui tentang filem kartun yang satu ini tapi alhamdulillah Wikipedia menyediakan informasinya.

Cekidot!

Tentang Larva


Larva adalah serial televisi komedi yang dulunya tayang di RCTI. Iya, saya juga tahu Larva dari stasiun televisi tersebut, waktu masih menonton televisi, kan sudah lamaaaa sekali say goodbye sama televisi. Serial komedi animasi komputer ini dibikin oleh Tuba Entertainment yang bermarkas di Seoul, Korea Selatan. Untung bukan bermarkas di Pyongyang, Korea Utara, bisa-bisa kisahnya tentang Larva yang setiap hari bertugas di pangkalan militer dan pangkalan nuklir. Haha. Kenapa judulnya sampai Larva, ya karena dua karakter utamanya adalah dua larva berbeda warna dan bentuk. Satunya berwarna kuning dan sedikit lebih besar, satunya berwarna merah imut mirip potongan sosis. Sosis adalah makanan kegemaran mereka berdua, selain ... errr ... semua sisa makanan yang bisa ditemukan di sekitar.

Setiap episode Larva hanya berdurasi satu sampai dua menit saja sehingga tidak membosankan penonton. Hebatnya lagi, filem kartun ini seperti Tom and Jerry, tanpa percakapan sama sekali, kecuali jika Yellow terpesona akan sesuatu maka satu kata yang diucapkan adalah WOW dengan nada rendah dan super berat. Meskipun tanpa percakapan, alurnya tetap mudah dan ringan untuk dipahami dengan pesan-pesan moral yang jelas alias tidak bertele-tele.

Karakter Larva


Ini yang seru. Di dalam Larva, dengan kehidupan kaum minoritas itu *ngikik*, ada banyak karakter yang ditampilkan selain karakter utama. Dan karakter-karakter ini jelas-jelas ... bikin saya geleng-geleng kepala, betapa cerdasnya orang-orang yang membikin Larva. Pun mereka tidak repot memikirkan nama. Nama setiap karakter melekat erat dengan warna maupun bentuknya.

Marilah kita kenalan sama karakter-karakternya.

1. Yellow

Larva kuning yang bentuknya sedikit lebih besar dengan dua lobang hidung yang juga besar sehingga bisa menghasilkan gelembung apabila menghirup sabun cair (nonton episode ini saya sampai terbanting dari kasur). Dia sering kehilangan kontrol atas dirinya sendiri apabila melihat makanan. Kalau saya lihat sih, Yellow dan Red memang sama-sama kehilangan kontrol apabila melihat makanan, mereka lupa diri, lupa segalanya, lupa persahabatan. Terakhir, baru menyesal. Haha.

2. Red

Bentuknya macam sosis atau potongan sosis. Si Red ini wataknya keras dan tidak sabaran. Sama seperti Yellow, keduanya iseng bin usil dan selalu dalam kasus perebutan makanan. Bagaimana Yellow dan Red kemudian selalu bersama, ada kisahnya dalam Once Upon a Time, dimana dikisahkan keduanya bertemu saat 'menetas' hehehe. Persahabatan keduanya kemudian berlanjut sampai dewasa. Oh ya, karena tidak punya kaki, Yellow dan Red berjalan menggunakan perut, namanya juga larva, dan melakukan segala sesuatunya menggunakan lidah. Inilah yang disebut the power of tongue.

3. Violet

Dalam episode berjudul Violet, kita akan melihat cacing raksasa misterius yang selalu bersemunyi di dalam tanah dan muncul pada saat-saat tertentu. Kekuatannya ada pada giginya yang taring dan tajam serta suara raungannya yang garang. Tetapi, suatu kali ketika gigi si pemilik rumah terlempar keluar dan menancap di gusi Violet, suaranya jadi ngik-ngik alias tidak garang lagi, dan itu sukses membikin saya ngakak tidak karuan.

4. Pink

Pink adalah satu-satunya larva betina dalam serial Larva, dan kalau boleh ditulis, dia adalah larva ketiga. Selain itu sudah tidak ada lagi larva lainnya. Dalam beberapa episode, saya melihat Pink ini lebih suka sama Yellow ketimbang Red. Mereka kemudian jadian. Meskipun Pink dan Yellow sudah jadian, jadiannya gara-gara Pink yang rendah diri karena kentutnya sendiri sadar bahwa kentut Yellow jauh lebih dahsyat, tetap saja Red berusaha menyusup agar Pink mau menerimnya. Hehe. Sungguh persaingan dalam ranah asmara ini terjadi di mana-mana.

5. Black

Black adalah kumbang perkasa yang garang. Kebiasaan Black cuma satu: meninju kepompong sebagai samsak. Meskipun perkasa dan garang, dalam episode tertentu, kompak saja para kaum minoritas ini.

6. Rainbow

Siput ini namanya Rainbow. Saya lebih suka kalau dia keluar dari cangkang karena tubuhnya mirip manusia serta bergerak jauh lebih cepat. Rainbow pernah melempar cairan hijau pada Yellow dan Red, gara-gara dua larva itu iseng mem-bully-nya, dan kedua larva itu menjadi lamban seperti Rainbow. Hehe.

7. Prism

Bunglon yang paling suka mengincar Yellow dan Red. 

8. Rat

Ini tikus yang juga sama kayak Prism, sukanya mengejar Yellow dan Red untuk dijadikan makanan tapi tentu selalu gagal.

9. Stik Insect

Ini dia karakter yang terlihat paling rapuh tapi juga punya peranan penting dalam dunia Larva.

10. Baby Coco

Tunas (cokelat / hijau) yang tegas dan baik sama Yellow dan Red.

Itu karakter-karakter yang ada di Wikipedia. Pada saat menonton Larva dari berbagai musim, masih ada karakter-karakter lainnya seperti si anjing penunggu rumah yang entah siapa namanya, katak yang selalu mengincar Yellow dan Red untuk dijadiin makanan, burung peliharaan di dalam rumah yang ganas sama Yellow dan Red, dua burung lainnya sahabat Rat, kutu kelapa, dan lain sebagainya. Sayang, situs resmi Larva ini sedang down saat saya berusaha mencari informasi lebih banyak tentang Larva, jadi tidak bisa diakses. Ya sudahlah. Hehe.

Mari kita lanjut.

Hidup Harus Dinikmati dan Dirayakan


Seperti yang sudah saya tulis, bahkan filem kartun pun mengajarkan penontonnya banyak hal. Ada hikmah, pesan, pelajaran, yang disampaikan di setiap episodenya. Pelajaran paling utama yang saya tangkap dari Larva adalah hidup harus dinikmati dan dirayakan bahkan oleh perkara-perkara sepele. Bagi kaum minoritas yang tertindas, dua larva gokil juga teman-temannya, menjalani hari itu mau apa lai. Nikmati. Rayakan. Hari ini mau ngapain? Hari ini dapat makan atau tidak? Hari ini dikejar sama Rat atau tidak? Bagi mereka, bangun pagi keesokan hari dengan kondisi masih bernafas pun merupakan berkah. Ketemu makanan sisa yang dibuang merupakan surga yang dinanti. Oleh karena itu mereka sangat menikmati hidup dan selalu berupaya merayakannya. Tapi karena gokil dan berpikir dengan arus-pendek, maka seringnya dua larva itu ketiban sial.

Tentu, pelajaran yang berikutnya adalah tentang persahabatan yang kata Sindentosca: bagai kepompong. Yellow dan Red memulai persahabatan mereka sejak mengenal dunia, susah senang selalu bersama, isengnya pun kompak, kadang Yellow dan Red sama-sama saling iseng bin usil satu sama lain, berbagi makanan meskipun lebih sering khilaf (makanannya diembat sendiri), saling memanfaatkan tapi juga saling memaafkan, sampai urusan asmara dimana Pink mencintai Yellow sedangkan Red mencintai Pink. Sampai demam tinggi itu Red gara-gara kasih tak sampai. Haha. Persahabatan ini juga terjalin dengan kaum minoritas lain penghuni rumah dan penghuni selokan (saat di New York).

Dan pelajaran terakhir dari Larva, menurut saya, adalah hukum rimba. Yang lemah mengalah pada yang kuat. Meskipun, pada beberapa episode hukum rimba tidak berlaku, karena siapa sih yang mau terus-terusan ditindas? Balasannya adalah keisengan kedua larva tersebut.

Baca Juga: Karya Mereka Terlalu Eksklusif Untuk Tayang di Televisi

Bagaimana dengan kalian, kawan? Masihkah kalian menonton filem kartun/animasi? Apa saja filemnya? Yuk bagi tahu, siapa tahu bakal jadi referensi untuk saya hahaha. Yang jelas, setiap hari saya diisi dengan Upin Ipin dan Larva. Pertanyaannya sekarang, bukankah kalau terus ditonton, selesai juga itu semua episode dari setiap season? Bahkan Larva yang tidak sepanjang Upin Ipin season-nya? Ya nonton ulang doooonk hehehe. Karena sering menonton ulang ini makanya saya mulai hafal satu per satu kisahnya, baik Upin Ipin maupun Larva. Apakah saya kurang kerjaan? Justru karena terlalu banyak pekerjaan sehingga butuh hiburan, terutama sebagai pengantar tidur malam. Haha.

Selamat menikmati weekend!

#SabtuReview



Cheers.

Ketika Keberadaanmu Sadis Ditolak Oleh Kaum Sendiri

Gambar diambil dari: Wikipedia.

Ketika Keberadaanmu Sadis Ditolak Oleh Kaum Sendiri. Kalimat itu belum selesai. Kelanjutannya terungkap tidak melalui satu dua kata melainkan satu pos utuh! Penasaran kan? Makanya, dibaca sampai selesai #SabtuReview kali ini, ya! Hehe.

Baca Juga: Segudang Tanda Tanya Setelah Menonton Shutter Island

#SabtuReview kali ini masih datang dari lini filem. Buku, mana buku? Ada memang buku yang saya baca demi beberapa urusan pekerjaan tapi bukunya berjudul Tindak Pidana Terhadap Kehormatan Pengertian dan Penerapannya, Pidana Penghinaan adalah Pembatasan Kemerdekaan Berpendapat yang Inkonstitusional, Tindak Pidana Pers (Penyerangan Terhadap Kepentingan Hukum yang Dilindungi dengan Mempublikasikan Tulisan), dan Kamus Hukum. Kalian pasti bakal ngelempari saya pakai bakiak kalau sampai me-review buku-buku tersebut. Haha. Kecuali ada yang me-request khusus, Insha Allah saya review *ngikik*.

Jadi, filem apa yang saya bahas? Yuk simak!

Missing Link


Missing Link, dirilis tahun 2019 tepatnya bulan April, merupakan filem jenis animasi stop-motion yang ditulis dan disutradarai oleh Chris Butler dan diproduseri oleh Laika bekerja sama dengan Annapurna Pictures. Pengisi suaranya antara lain Hugh Jackman, Zoe Saldana, Emma Thompson, Stephen Fry, David Walliams, Timothy Olyphant, Matt Lucas, Amrita Acharia, dan Zach Alifianakis. Ya, itu yang tertulis di Wikipedia.

Setelah dirilis, filem ini mendapat banyak tanggapan positif dari para kritikus yang memuji tentang set filem yang dibuat dengan indah dan suasana yang menyenangkan dan santai.

The Missing Link


Filem ini dibuka dengan adegan pencari makhluk mitos bernama Sir Lionel Frost sedang berada di atas sampan bersama asistennya yaitu Mr. Lint untuk menemukan dan mengabadikan monster monster sejenis loch ness. Dan mereka gagal. Kamera yang telah memotret si mosnter hancur bersama sampan yang berkeping-keping di laut, dihancurkan oleh si monster. Mr. Lint mengundurkan diri sebagai asisten Sir Lionel Frost karena tidak ingin hidupnya berakhir terlalu cepat. Pada saat itulah Sir Lionel Frost membaca surat dari seseorang yang mengabarkan tentang keberadaan makhluk yang disebut Sasquatch.

Demi bisa bergabung dengan komunitas orang-orang hebat yang dipimpin oleh Lord Piggot-Dunceby, Sir Lionel Frost akan membuktikan bahwa Sasquatch ini betul ada. Dan dia memulai perjalanannya untuk mencari si makhluk mitos.

Awalnya saya berpikir pencarian si makhluk ini yang bakal lama ... ternyata. Cepat saja perjalanan Sir Lionel Frost ke Pasific Northwest, menemukan Sasquatch di hutan, terkejut karena Sasquatch ini ternyata bisa bicara! Tidak hanya itu, Sasquatch juga yang mengirimkan surat itu kepada Sir Lionel Frost. Kemudian Sasquatch diberi nama Link, senada sama nama asisten lamanya Sir Lionel Frost yang bernama Lint.

Dari cerita Link, bisa disimpulkan dia adalah the real missing link dari kerabat jauhnya yang hidup di Himalaya. Kerabat jauh si Link ini adalah yeti, makhluk mitos yang dikejar banyak orang juga. Sayangnya Sir Lionel Frost tidak tahu bahwa untuk menghalangi maksud dan tujuannya, Lord Piggot-Dunceby menyewa pembunuh bayaran yaitu Stenk. Sadis ya haha. Setuju membantu Link, perjalanan pun dimulai dengan pertama-tama mencuri peta lokasi Shangri-La di kediaman Adelina Fortnight yang adalah mantan pacarnya Sir Lionel Frost. Ndilalah Adelina pun ikut dalam perjalanan ke Himalaya.

Perjuangan demi perjuangan menghindari Stenk, hubungan Frost - Link yang kemudian menjadi lebih baik setelah diintervensi Adelina, serta sulitnya medan yang ditempuh, membawa mereka ke lembah Shangri-La. Mereka memang menemukan Kuil Yeti yang terhubung dengan dataran di sebelahnya melalui jembatan es. Link alias Susan (iya dia memilih nama ini dalam obrolan bersama Sir Lionel Frost di kapan) sangat bahagia. Tapi ...

Link, Sadis Ditolak Oleh Kaum Sendiri


Ratu dengan wajah bengis itu ternyata menolak keberadaan Link dan menjebloskan mereka bertiga ke penjara bawah tanah. Sementara itu ketika mereka berhasil meloloskan diri, malah terjebak di tengah jembatan karena di hadapan mereka telah menunggu Lord Piggot-Dunceby beserta asistennya dan Stenk. Nyawa jadi taruhan. Tapi pada akhirnya jembatan rubuh, Lord Piggot-Dunceby jatuh bersama runtuhan jembatan, Stenk berusaha menyelamatkan diri tetapi tetap saja menyusul Lord Piggot-Dunceby. Sir Lionel Frost, Link, dan Adelina pun selamat.

Keluarga Bukan Hanya Darah


Filem ini mengajarkan pada saya banyak hal. Salah satunya adalah keluarga bukan hanya darah. Buktinya, si Sasquatch yaitu Link yang masih kerabatnya yeti saja ditolak oleh Ratu Yeti. Padahal mereka masih satu lingkaran! Sedangkan Sir Lionel Frost dan Adelina yang tidak punya hubungan apa-apa dengan Link kemudian menjadi 'keluarga'nya si tautan yang hilang ini. Menulis ini saya jadi ingat meme yang sering muncul di time line Facebook: Kalau kau miskin, kau dijauhi - Kalau kau kaya, kau punya banyak saudara. Alias, banyak yang bakal mengakuimu sebagai saudara. Haha. Masa iya? Iya juga kali ya. Dan percaya tidak percaya hal-hal semacam ini terjadi pula dalam kehidupan kita dan/atau orang-orang di sekitar kita.

Saya tidak saja punya banyak teman tapi juga punya banyak saudara karena teman-teman adalah saudara. Apakah mereka harus kaya raya baru diakui sebagai saudara? Tidak lah. Cuma orang-orang lemah saja yang begitu. Haha. Siapapun kalian, kalau berteman dengan saya, ya sudah saya anggap saudara sendiri. Susah senang kita bersama.

Pelajaran lain yang saya petik dari filem Missing Link adalah tentang perjuangan. Hasil tidak pernah mengkhianati perjuangan. Dalam filem ini, Link memang tidak berhasil berkumpul dan tinggal bersama kerabat jauhnya itu, tetapi dia akhirnya hidup bebas dan bahagia bersama Sir Lionel Frost dalam petualangan-petualangan mereka mencari makhluk mitos. Itulah hasil yang dicapai: bebas dan bahagia.

Membikin Missing Link


Baru-baru ini saya menonton di Youtube tentang proses membikin filem animasi stop-motion yang ternyata asyik sekali! Lebih asyik lagi, video dari channel-nya Insider itu mengulik proses membikin filem Missing Link!



Aaaah ternyata begitu toh proses bikin animasi stop-motion.

⇜⇝

Bagaimana, kawan? Seru kan? Membaca review-nya seru. Menonton proses membikin animasi stop-motion juga seru. Melihat setiap divisi dengan pekerjaan kreatifnya masing-masing itu membikin saya lupa waktu. Nontonnya pun berulang-ulang. Bagaimana mereka mengubah set demi set itu, pergerakannya, pengisian suara (dubbing), sampai membikin banyak wajah dengan ekspresi berbeda, sungguh luar biasa. Kita bisa menyaksikan hasil akhirnya dalam filem Missing Link.

Baca Juga: The Willis Clan

Missing Link mungkin bakal mengingatkan kalian pada Shaun The Ship. Hehe. Yang jelas, selamat menikmati weekend.



Cheers.