Inilah Akibat Paling Fatal Dari Perkara Yang Dianggap Remeh


Inilah Akibat Paling Fatal Dari Perkara yang Dianggap Remeh. Joker merupakan filem terakhir yang saya tonton di tahun 2019 sebelum situs penyedia filem andalan saya, indoxxi, diblokir pemerintah. Seperti yang dilansir oleh Tekno Kompas dengan penulis Kevin Rizky Pratama, Menteri Kominfo, Johnny G. Plate, mengatakan telah memblokir situs streaming ilegal sebanyak lebih dari 1.000! Sebagai manusia yang pernah mempelajari sedikit ilmu hukum, situs penyedia filem (tentunya ilegal) memang mengabaikan dan melanggar HaKI yang dijunjung tinggi dalam dunia industri diantaranya industri musik dan filem. Tetapi sebagai manusia yang tinggal di Kota Ende, kota kecil tanpa bioskop, saya tentu membutuhkan situs penyedia filem tersebut. Tindakan pemerintah sudah benar, tetapi akibatnya ... saya dan dinosaurus harus gigit laptop.

Baca Juga: Kalau Begitu Marilah Kita Coba Mendaki Tangga Yang Benar

Kembali pada filem Joker. Filem terakhir yang saya tonton di tahun 2019. Filem yang membikin otak saya memikirkan begitu banyak perkara, termasuk perkara yang dianggap paling remeh: bercanda yang menjebak. I can feel his pain

Joker


Wikipedia menginfokan: Joker adalah film cerita seru psikologis Amerika Serikat tahun 2019 yang disutradarai oleh Todd Phillips dan diproduseri oleh Todd Philips, Bradley Cooper, dan Emma Tillinger Koskoff. Joker ditayangkan secara perdana di Festival Film Venesia pada tanggal 31 Agustus 2019 serta ditayangkan di Amerika Serikat pada 4 Oktober 2019 dan Indonesia dua hari sebelumnya. Joker adalah film laga hidup pertama Batman yang mendapatkan klasifikasi R dari Motion Picture Association of America karena kekerasan berdarah yang kuat, perilaku mengganggu, bahasa dan gambar seksual singkat.

Joker, dari DC Comics, diperankan oleh Joaquin Phoenix, Robert De Niro, Zazie Beetz, Frances Conroy. Termasuk box office karena biaya produksi hanya $55-70 juta saja tetapi pendapatan sementara mencapai $1,023 miliar. Kita harus sepemahaman dulu tentang box office ya.

Idntimes menulis: dahulu, istilah Box Office digunakan untuk pemutaran film yang sistem menontonnya mengedarkan box-box kepada penonton sebagai donasi atas pemutaran film tersebut. Karena pada saat itu belum ada pembelian tiket film lewat loket atau bahkan online seperti sekarang ini. Namun, saat ini istilah box office bergeser kepada film yang mendapatkan penghasilan melebihi biaya produksinya dan penghasilan itu berhasil didapatkan hanya dalam waktu tayang beberapa hari atau minggu pertama saja. Hampir mirip sebenarnya dengan pengertian saat zaman dulu, karena semakin film disukai maka penonton dari film tersebut semakin banyak.

Joaquin Phoenix, Jared Leto, Heath Ledger


Hadirnya Joaquin Phoenix sebagai Joker membikin saya mengingat dua aktor Joker lainnya yaitu Jared Leto dan Heath Ledger. Jared Leto memerankan Joker dalam filem Suicide Squad sedangkan Heath Ledger memerankan Joker dalam filem The Dark Knight. Joker a la Suicide Squad terkesan 'kekanak-kanakan' sesuai dengan warna filem tersebut. Berbeda dengan Joker dalam The Dark Knight yang dalam. Tapi, menjadi tidak bijak jika membandingkan akting ketiganya. Joaquin Phoenix, Jared Leto, dan Heath Ledger, masing-masing punya pesona tersendiri saat memerankan Joker. Kalau ditanya, Joker mana yang punya kelebihan natural? Menurut saya si Joaquin Phoenix, karena bekas luka di bawah hidungnya itu se-su-a-tu.

Jangan Pernah Menjebak Seseorang


Berbeda dari orang lain yang mungkin pernah me-review Joker, saya lebih memilih me-review filem psikologis ini dari sudut pandang lain, salah satunya penjebakan. Kita tahu Arthur Fleck, seorang laki-laki dewasa, masih harus tinggal bersama ibunya, Penny Fleck, karena si ibu sakit. Kebutuhan hidup sehari-hari dipenuhi oleh Arthur dengan bekerja sebagai badut penghibur. Hidup yang keras seakan-akan menjadi lebih bengis terhadap seorang Arthur. Dia akrab dengan kesialan (demi kesialan). Tidak cukup sampai di situ, keinginannya menjadi seorang Komika kandas karena sesungguhnya dia sama sekali tidak berbakat.

Ada tiga karakter yang menghancurkan Arthur hingga ke titik paling rendah.

1. Penny Fleck


Penny Fleck, what should I say about this woman? Dia sakit. Dialah salah satu sumber malapetaka dalam hidup Arthur. Gara-gara Penny, Arthur percaya Thomas Wayne adalah ayah kandungnya. Sadar atau tidak sadar, Penny menghancurkan Arthur dengan caranya sendiri. Mengekang kehidupan dewasa Arthur (karena harus mengurus si ibu), dan menipu Arthur dengan kepalsuan bahwa si Joker adalah putera kandung Thomas Wayne. Mungkin Penny menganggap itu hal yang remeh. Sudah, kau pergi saja ke Thomas Wayne, itu Bapakmu! Tetapi apa yang dilakukan Penny, melalui surat yang dibaca Arthur, lebih menyakitkan dari sayatan sembilu. Faktanya Arthur bukanlah putera kandung Thomas Wayne. Pengakuan Thomas Wayne mengantar Arthur pada kekelaman yang lebih dalam.

Ketika Arthur menekan bantal ke wajah Penny ... saya merasakan sesuatu pelepasan yang luar biasa.

2. Randall


Arthur tidak saja dibohongi oleh Penny; bahwa dirinya putera kandung Thomas Wayne, tetapi juga dijebak oleh teman kerjanya sendiri yaitu (si setengah-botak) Randall.

Randall adalah salah satu sumber malapetaka dalam hidup Arthur, selanjutnya, di dalam Joker. Awalnya saya berpikir Randall adalah sahabat terbaik di tempat kerja yang punya rasa simpati tinggi terhadap kondisi Arthur yang sering dikerjai orang-orang saat sedang bekerja sebagai badut. Tetapi, pikiran saya berubah ketika adegan Randall menyerahkan sebuah pistol pada Arthur. What the f*ck! Ketika kau tahu temanmu seperti itu, kau sengaja memberikannya sebuah pistol? Kota Gotham sedang kacau, saat bekerja pun Arthur sering diisengin-dihina-diolok, secara psikologis Arthur tidak sedang baik-baik saja, dan kau memberinya sebuah pistol?

Why don't you shoot yourself!?

Mungkin bagi Randall, menjebak Arthur adalah perkara remeh. Jebak dia. Biarkan dia melakukan kesalahan. Cuci tangan saat dia melakukan kesalahan. Tertawalah saat dia dipecat. Biarkan dia mencari pekerjaan lain, atau biarkan dia terpuruk bersama kehidupannya yang kelam.

Tidak semudah itu ...

Apa yang dilakukan Randall berakibat sangat fatal. Makanya saya menulis judul Inilah Akibat Paling Fatal Dari Perkara Yang Dianggap Remeh. Karena, sebuah pistol memicu kekacauan besar dalam hidup Arthur yang tidak baik-baik saja itu. Randall sengaja melakukannya. Pistol itu menjadi semacam 'kemampuan' tambahan Arthur. Rasa percaya dirinya meningkat ketika pistol ada bersamanya. Dan pistol ini pula yang dipakai Arthur untuk menembaki Murray Fraklin. Live show!

3. Murray Franklin


Ini dia sosok yang juga paling saya benci dari Joker. Murray Franklin digambarkan sebagai presenter paling kesohor di Kota Gotham. Murray merupakan idola Arthur. Bahkan Arthur pernah menyempatkan diri untuk menonton show si Murray. Bagi Murray, Arthur hanyalah remah roti yang remeh. Seorang penggemar yang datang di acaranya, yang menjadi cameo acaranya, yang kemudian dia tertawakan saat rekaman stand up comedy Arthur hinggap di kupingnya. Tapi manuver itu terjadi, Murray mengundang Arthur datang ke acaranya sebagai bintang tamu! Arthur datang sebagai Joker, memakai riasan badut, dengan setelan jas lengkap, tak lupa pistol yang diberikan Randall pun turut bersamanya. Tidak ada seorang pun yang menyangka bahwa pistol itu pula yang kemudian digunakan Arthur untuk menembaki Murray.

Benar-benar pembalasan (dendam) yang sempurna.

Pernahkah Kita Melakukannya?


Pertanyaan ini mungkin remeh tapi tidak menjebak. Ini pertanyaan serius. Pernahkah kita berada di posisi Penny Fleck, Randall, atau Murray Franklin? Pernahkah kita, secara sengaja maupun tidak sengaja, menjebak teman sendiri? Pernahkah kita berpikir tentang perbuatan kita pada seseorang dapat berakibat fatal? Pertanyaan itu menjadikan Joker tidak saja sebagai filem yang syarat kekerasan berdarah yang kuat serta perilaku mengganggu, tetapi juga refleksi terhadap diri setiap orang yang menontonnya. Manusia, tentu tidak terlepas dari tindakan yang dilakukan oleh Penny Fleck, Randall, maupun Murray Franklin.

Baca Juga: Double Ending

Bagaimana menurut kalian, kawan? Saya yakin sebagian besar dari kalian sudah menonton Joker dan punya pendapat sendiri tentang filem ini. Pendapat saya, sudah tertulis dengan jelas di atas. Bahwa, apa yang kita anggap remeh dapat berakibat fatal (dilakukan oleh orang lain). Contoh paling nyata adalah ketika kalian menganggap remeh alaram yang meraung-raung, akibatnya kalian bisa saja ketinggalan pesawat.

Semoga bermanfaat.

#SabtuReview



Cheers.

Urusan Firebender Ini Remeh Tapi Cukup Menyita Perhatian

Credits: GNFI

Urusan Firebender Ini Remeh Tapi Cukup Menyita Perhatian. Sudah saya tulis pada pos-pos sebelumnya bahwa saya termasuk orang yang paling suka menonton video-video di Youtube. Apa pasal? Ya, karena video-video di Youtube itu menghibur dan menginspirasi, tergantung video dan/atau kanal mana yang kalian tonton. Kanal-kanal yang paling sering saya tonton adalah kanal milik Kirsten Dirksen dengan video tentang rumah-rumah unik seperti tiny house, 5 Minutes Craft, Insider, TED, Brightside, Living Big in a Tiny House, The Voice Global, hingga video-video yang teka'e alias nyangkut alias video yang direkomendasikan waktu saya menonton video dari kanal-kanal tersebut di atas. Menontonnya bisa berjam-jam, tapi bukan pada saat hendak tidur. Karena, saat hendak tidur, saya punya video andalan tersendiri.

Baca Juga: Akan Me-review Tiga Buku Nutrisi Otak dan Makanan Jiwa

Proses menuju alam mimpi saya memang cukup sulit. Insomnia. Iya. Kadang saya harus menegak obat untuk bisa berdamai dengan kantuk. Oleh karena itu saya butuh prolog tidur yang menyenangkan. Dan prolog tidur yang menyenangkan itu saya temui pada filem kartun Upin Ipin. Terhibur, iya. Ngakak, iya. Tambah ilmu, juga iya. Setelah Upin-Ipin, terbitlah Larva dengan dua karakter larva crazy Yellow dan Red. Kedua filem kartun/animasi yang sudah saya tonton sejak dahulu kala itu memang dibatasi oleh season dan episode, tapi belum pernah rasa bosan muncul meskipun menonton semua season dan semua episode berulang-ulang! Bagaimana yaaaa ... can't descibe by words pokoknya. Bahagia lah karena saat terjaga, tahu-tahu, eh, sudah pagi.

Tidak pernah saya sangka, kemudian, menemukan prolog lainnya. Avatar! Avatar, The Legend of Aang, The Last Airbender. Menonton Avatar memang bisa membikin saya berdamai dengan rasa kantuk sekaligus membikin saya digerogoti pertanyaan demi pertanyaan. Prolog tidur yang satu ini memang menyenangkan, membikin saya berdamai dengan rasa kantuk, lantas tertidur pulas, tetapi juga membikin saya harus mencari tahu tentang sesuatu yang mungkin dianggap remeh oleh kalian, dia, mereka. It's about firebender.

Marilah kita cek ...

Aang, The Last Airbender


Tentang Avatar sudah dijelaskan secara singkat pada setiap opening episodenya. Dahulu kala, di semesta raya berdiri empat bangsa besar yaitu Water Tribe (Suku Air), Earth Kingdom (Kerajaan Bumi), Fire Nation (Negara Api), dan Air Nomads (Pengembara Udara). Dari setiap bangsa tersebut, dikenal istilah bender atau pengendali, yaitu orang-orang yang mampu mengendalikan elemen lambang masing-masing bangsa. Waterbender, earthbender, firebender, dan airbender. Tapi, tidak semua penduduk bisa menjadi bender. Artinya, menjadi bender itu karena alasan gift atau karunia dan/atau berkat latihan (khusus Negara Api). Lihat saja Katara dan Sokka yang berasal dari Suku Air Selatan. Katara dikenal sebagai waterbender yang kemudian menjadi master-nya waterbender, sedangkan Sokka tidak.

Apabila menjadi bender adalah karunia dan juga berkat latihan, maka Avatar adalah manusia dengan karunia paling tinggi karena ditakdirkan (harus) bisa menguasai keempat elemen tersebut. Kalau boleh saya tulis, Avatar adalah katrol yang mengendalikan semua elemen agar semesta raya tidak timpang. Karena, sebagai manusia fana tentu selalu ada rasa ingin menguasai. Dalam hal ini menguasai bangsa lainnya. Terbukti pada Negara Api yang menghancurkan begitu banyak bangsa, bahkan bangsa Pengembara Udara habis tidak tersisa, kecuali Aang.

Bagaimana caranya tahu bahwa si manusia tersebut adalah Avatar?

Avatar itu bereinkarnasi. Apabila Avatar meninggal dunia, maka dia pasti akan bereinkarnasi pada manusia lainnya. Caranya untuk tahu bahwa manusia itu adalah Avatar adalah dengan menyuruhkan memilih mainan! Sederhana bukan? Saat kecil, Aang disuruh memilih empat mainan dari ribuan mainan yang ditawarkan. Aang memilih seruling kura-kura dari tanah liat (melambangkan air), baling-baling yang digerakkan dengan benang (melambangkan udara), babi-monyet dari kayu (melambangkan tanah), dan genderang tangan dari kayu (melambangkan api). Kehidupan Aang di kuil berubah setelah rahasia dirinya adalah Avatar terkuak. Anak berusia dua belas tahun itu tidak kuat dengan berbagai tekanan, salah satunya harus belajar tiga elemen lainnya di Kuil Udara Timur, lalu memutuskan untuk melarikan diri dari kuil bersama bison terbang bernama Appa. Dalam pelariannya, Aang dan Appa diserang badai, dalam 'kondisi Avatar', Aang kemudian menyelimuti dirinya dan Appa dalam gelembung udara yang kemudian menjadi es selama seratus tahun, sampai kemudian ditemukan oleh kakak-beradik Sokka dan Katara.

Itulah mengapa Aang menjadi the last airbender, pengendali udara terakhir, karena dia sedang membeku saat bangsa Pengembara Udara dihancurkan tanpa sisa oleh Negara Api.

Ketika ditemukan itu seharusnya Aang sudah berusia seratus dua belas tahun, tetapi karena pengawetan es, dia tetap menjadi anak berusia dua belas tahun yang masih suka bermain-main. Dari situlah perjalanan Aang, Katara, Sokka, bersama Appa, bermula. Perjalanan untuk mencari guru bender tiga elemen lain yang dipercaya bisa mengajari Aang. Sampai kemudian teman perjalanan mereka bertambah yaitu si lemur terbang bernama Momo, dan pengendali tanah (buta) yang luar biasa kuat sekaligus anak bangsawan yaitu Toph Beifong.

Enaknya Menjadi Firebender


Bender dari tiga bangsa yaitu waterbender, earthbender, dan airbender diperoleh melalui karunia. Tidak semua penduduk setiap bangsa otomatis menjadi bender. Toph adalah earthbender hebat tetapi orangtuanya tidak. Katara adalah waterbender hebat tetapi Sokka tidak. Pertanyaan tentang firebender ini baru muncul setelah saya menonton ulang; menjadikan Avatar prolog tidur. Mari kita lihat pada opening-nya.

Opening episode Avatar selalu sama: Avatar terakhir, yang menghilang itu, sedang mengendalikan empat elemen. Api muncul begitu saja dari tangannya. Ya selain karena Avatar terakhir itu memang berasal dari Negara Api, apalagi ...?

Airbender mengendalikan udara karena udara selalu ada kapan pun dan di mana pun. Makanya pengendali udara termasuk paling kuat dan kerajaannya dihancurkan Negara Api tanpa ampun sehingga di semesta ini tersisa Aang. Satu-satunya pengendali udara. The last airbender. Waterbender hanya bisa mengendalikan air apabila di sekitarnya ada air. Terakhir, Waterbender Master bisa mengendalikan darah dalam tubuh manusia yang adalah cairan pula. Earthbender, bumi, jauh lebih sulit. Tanpa tanah atau unsur tanah, misalnya batu bara, ya dia do nothing. Kecuali Bumi, si Raja, yang bisa mengendalikan tanah dengan pikirannya. Itu pun sulit juga kalau dikurung di penjara yang semuanya terbuat dari besi.

Bagaimana dengan firebender? Ini yang menarik!

Firebender, menurut saya, paling enak. Tanpa api, dia bisa mengeluarkan api dari dalam tubuhnya sendiri. Enak bener! Dan ini tidak adil! Bayangkan, ketika pengendali lain butuh media: udara, air, tanah, firebender cukup jentik jari, maka jadilah api. Makanya, tidak heran Negara Api menyerang. Karena mereka kuat.

Urusan firebender yang remeh ini saya pertanyaan di Facebook. Syukurnya saya memperoleh penjelasan dari salah seorang teman Facebook, Gusty Mbao: api yang seakan tercipta begitu saja itu diperoleh dari Chi dan ada hubungannya dgn avatar pertama (Wan), kura-kura Singa, dan Dark & Light Soul of The Avatar.

Dari situs ini saya peroleh penjelasan lengkapnya, jujur saya pakai Google Translate, tidak ada yang saya ubah satu pun hahaha.

Selama era Raava, orang-orang menerima unsur api dari kura-kura singa api yang merupakan penjaga kota mereka, yang akan memberi mereka kekuatan dengan pembengkokan energi. Mereka dapat memintanya kapan pun mereka pergi ke Spirit Wilds dan mengembalikannya ketika mereka kembali. Namun, Wan mencuri kekuatan untuk memperbaiki hidupnya dan teman-temannya yang miskin, tetapi ditangkap dan dibuang. Dia diizinkan untuk menjaga kekuatan api untuk melindungi dirinya sendiri dan akhirnya berteman dengan arwah. Dengan demikian, dia berhasil mengasah keterampilannya dengan mempelajari cara yang tepat untuk membungkuk dari naga yang hidup di Spirit Wilds. Dia mengembangkan gayanya sedemikian rupa sehingga apinya menjadi perpanjangan dari tubuhnya, bukan hanya alat untuk perlindungan seperti yang dirasakan orang lain. Yang lain mengetahui tentang keselamatannya dan juga berangkat ke Roh Liar dengan kekuatan api, tidak lagi ingin hidup dalam kondisi buruk yang mereka miliki di kota.

Pada tahun-tahun berikutnya, orang-orang belajar firebending dari naga yang pernah menghuni tanah itu. Orang pertama di era Avatar yang belajar dari naga adalah Prajurit Matahari, yang memahami hubungan antara api jiwa mereka, api naga, dan matahari. Dalam sisa-sisa peradaban besar mereka, Zuko dan Aang menemukan bahwa api merupakan energi dan kehidupan, sebuah konsep yang telah hilang bagi hampir semua api di Perang Seratus Tahun. Arti sebenarnya dari firebending dilupakan sebagai kemarahan, kemarahan dan keinginan untuk mendominasi mulai menggantikan cita-cita kehidupan dan energi, dan bagaimana mereka terhubung ke matahari. Keluarga Kerajaan mendorong ini untuk membantu dalam propaganda bahwa api dapat digunakan sebagai alat untuk menghancurkan dan bahwa Perang Seratus Tahun dibenarkan.

Firebender menarik kekuatan mereka dari matahari dan benda-benda matahari lainnya, seperti komet, serta inti api planet ini. Gerhana matahari memiliki potensi untuk sepenuhnya meniadakan kekuatan penghasut api, yang merupakan hasil dari koneksi langsung antara matahari dan firebending. Selain itu, setelah mengalahkan Katara saat matahari terbit selama Pengepungan Utara, Zuko menyatakan bahwa dia naik bersama bulan, tetapi dia naik bersama matahari, lebih jauh merujuk pentingnya matahari pada firebending. Firebender juga dikatakan mengambil daya dari energi vulkanik dan kilat.

Dia (Wan) mengembangkan gayanya sedemikian rupa sehingga apinya menjadi perpanjangan dari tubuhnya, bukan hanya alat untuk perlindungan seperti yang dirasakan orang lain.

Baca Juga: KKN di Desa Penari yang Menggemparkan Dunia Maya

Jadi, itulah sebabnya, api dapat muncul begitu saja dari tubuh firebender. Melalui latihan sehingga jurus/gaya itu dikembangkan oleh Wan sehingga api menjadi perpanjangan dari tubuhnya.

Done!

Pertanyaan saya akhirnya terjawab!

Dan akhirnya pos ini diunggah juga ha ha ha setelah menulis tentang sebuah buku keren berjudul Mendaki Tangga Yang Salah. Epilognya begini banget ya. Tidak apalah. Silahkan bagi kalian yang penasaran, tonton ulang deh The Last Airbender.



Cheers.

Setelah Upin Ipin yang Mengedukasi Terbitlah Larva

Screenshoot dari videonya di Youtube.

Setelah Upin Ipin yang Mengedukasi Terbitlah Larva. Menulis ini dalam kondisi sedang sangat bersemangat setelah hampir dua bulan terakhir prolog tidur saya berganti-ganti antara Upin Ipin dan Larvadan epilog tidur saya disusupi perasaan tidak rela meninggalkan ranjang diiringi hidung kembang-kempis dan iler tumpah-ruah. Helooooooo, are you okay, Teh? Hehe. Saya masih rajin menonton video lainnya dari channel Brightside, TED, Kirsten Dirksen, Insider, 5 Minutes Crafts, dan lain sebagainya termasuk tentang tiny house, tapi pesona filem kartun/animasi memang masih menguasai sisi lain diri saya. Tsaaaaah. Sisi lain yang masih pengen dimanja dan disayang-sayang sama Abang *ditabok dinosaurus*. Waktu SMA saya tergila-gila sama Doraemon sampai dikata-katain sama Kakak Didi Pharmantara: cewek terlambat puber. Huhuhu. Apa salah dan dosa hambaaaaa.

Baca Juga: KKN di Desa Penari yang Menggemparkan Dunia Maya

Masih banyak orang yang menyangka filem kartun identik dengan bocah saja. Salah, bung. Bahkan ada filem kartun yang justru tidak boleh ditonton sama bocah, dan saya pernah menontonnya di Youtube, hanya saja lupa judulnya. Pokoknya yang tidak seberapa komersil lah. Oke, balik lagi ke Upin Ipin dan Larva. Upin Ipin jelas kalian sudah tahu kan ya. Manapula pernah saya tulis dua kali di blog dengan pos berjudul Semua Anak Indonesia Harus Menonton Upin Ipin (Bahagian 1) dan pos berjudul Semua Anak Indonesia Harus Menonton Upin Ipin (Bahagian 2). Silahkan dibaca! Karena semua Orang Indonesia wajib tahu alasan saya menulis dua pos tentang Upin Ipin tersebut.

Hari ini saya mau membahas tentang Larva. Beberapa hal memang saya ketahui tentang filem kartun yang satu ini tapi alhamdulillah Wikipedia menyediakan informasinya.

Cekidot!

Tentang Larva


Larva adalah serial televisi komedi yang dulunya tayang di RCTI. Iya, saya juga tahu Larva dari stasiun televisi tersebut, waktu masih menonton televisi, kan sudah lamaaaa sekali say goodbye sama televisi. Serial komedi animasi komputer ini dibikin oleh Tuba Entertainment yang bermarkas di Seoul, Korea Selatan. Untung bukan bermarkas di Pyongyang, Korea Utara, bisa-bisa kisahnya tentang Larva yang setiap hari bertugas di pangkalan militer dan pangkalan nuklir. Haha. Kenapa judulnya sampai Larva, ya karena dua karakter utamanya adalah dua larva berbeda warna dan bentuk. Satunya berwarna kuning dan sedikit lebih besar, satunya berwarna merah imut mirip potongan sosis. Sosis adalah makanan kegemaran mereka berdua, selain ... errr ... semua sisa makanan yang bisa ditemukan di sekitar.

Setiap episode Larva hanya berdurasi satu sampai dua menit saja sehingga tidak membosankan penonton. Hebatnya lagi, filem kartun ini seperti Tom and Jerry, tanpa percakapan sama sekali, kecuali jika Yellow terpesona akan sesuatu maka satu kata yang diucapkan adalah WOW dengan nada rendah dan super berat. Meskipun tanpa percakapan, alurnya tetap mudah dan ringan untuk dipahami dengan pesan-pesan moral yang jelas alias tidak bertele-tele.

Karakter Larva


Ini yang seru. Di dalam Larva, dengan kehidupan kaum minoritas itu *ngikik*, ada banyak karakter yang ditampilkan selain karakter utama. Dan karakter-karakter ini jelas-jelas ... bikin saya geleng-geleng kepala, betapa cerdasnya orang-orang yang membikin Larva. Pun mereka tidak repot memikirkan nama. Nama setiap karakter melekat erat dengan warna maupun bentuknya.

Marilah kita kenalan sama karakter-karakternya.

1. Yellow

Larva kuning yang bentuknya sedikit lebih besar dengan dua lobang hidung yang juga besar sehingga bisa menghasilkan gelembung apabila menghirup sabun cair (nonton episode ini saya sampai terbanting dari kasur). Dia sering kehilangan kontrol atas dirinya sendiri apabila melihat makanan. Kalau saya lihat sih, Yellow dan Red memang sama-sama kehilangan kontrol apabila melihat makanan, mereka lupa diri, lupa segalanya, lupa persahabatan. Terakhir, baru menyesal. Haha.

2. Red

Bentuknya macam sosis atau potongan sosis. Si Red ini wataknya keras dan tidak sabaran. Sama seperti Yellow, keduanya iseng bin usil dan selalu dalam kasus perebutan makanan. Bagaimana Yellow dan Red kemudian selalu bersama, ada kisahnya dalam Once Upon a Time, dimana dikisahkan keduanya bertemu saat 'menetas' hehehe. Persahabatan keduanya kemudian berlanjut sampai dewasa. Oh ya, karena tidak punya kaki, Yellow dan Red berjalan menggunakan perut, namanya juga larva, dan melakukan segala sesuatunya menggunakan lidah. Inilah yang disebut the power of tongue.

3. Violet

Dalam episode berjudul Violet, kita akan melihat cacing raksasa misterius yang selalu bersemunyi di dalam tanah dan muncul pada saat-saat tertentu. Kekuatannya ada pada giginya yang taring dan tajam serta suara raungannya yang garang. Tetapi, suatu kali ketika gigi si pemilik rumah terlempar keluar dan menancap di gusi Violet, suaranya jadi ngik-ngik alias tidak garang lagi, dan itu sukses membikin saya ngakak tidak karuan.

4. Pink

Pink adalah satu-satunya larva betina dalam serial Larva, dan kalau boleh ditulis, dia adalah larva ketiga. Selain itu sudah tidak ada lagi larva lainnya. Dalam beberapa episode, saya melihat Pink ini lebih suka sama Yellow ketimbang Red. Mereka kemudian jadian. Meskipun Pink dan Yellow sudah jadian, jadiannya gara-gara Pink yang rendah diri karena kentutnya sendiri sadar bahwa kentut Yellow jauh lebih dahsyat, tetap saja Red berusaha menyusup agar Pink mau menerimnya. Hehe. Sungguh persaingan dalam ranah asmara ini terjadi di mana-mana.

5. Black

Black adalah kumbang perkasa yang garang. Kebiasaan Black cuma satu: meninju kepompong sebagai samsak. Meskipun perkasa dan garang, dalam episode tertentu, kompak saja para kaum minoritas ini.

6. Rainbow

Siput ini namanya Rainbow. Saya lebih suka kalau dia keluar dari cangkang karena tubuhnya mirip manusia serta bergerak jauh lebih cepat. Rainbow pernah melempar cairan hijau pada Yellow dan Red, gara-gara dua larva itu iseng mem-bully-nya, dan kedua larva itu menjadi lamban seperti Rainbow. Hehe.

7. Prism

Bunglon yang paling suka mengincar Yellow dan Red. 

8. Rat

Ini tikus yang juga sama kayak Prism, sukanya mengejar Yellow dan Red untuk dijadikan makanan tapi tentu selalu gagal.

9. Stik Insect

Ini dia karakter yang terlihat paling rapuh tapi juga punya peranan penting dalam dunia Larva.

10. Baby Coco

Tunas (cokelat / hijau) yang tegas dan baik sama Yellow dan Red.

Itu karakter-karakter yang ada di Wikipedia. Pada saat menonton Larva dari berbagai musim, masih ada karakter-karakter lainnya seperti si anjing penunggu rumah yang entah siapa namanya, katak yang selalu mengincar Yellow dan Red untuk dijadiin makanan, burung peliharaan di dalam rumah yang ganas sama Yellow dan Red, dua burung lainnya sahabat Rat, kutu kelapa, dan lain sebagainya. Sayang, situs resmi Larva ini sedang down saat saya berusaha mencari informasi lebih banyak tentang Larva, jadi tidak bisa diakses. Ya sudahlah. Hehe.

Mari kita lanjut.

Hidup Harus Dinikmati dan Dirayakan


Seperti yang sudah saya tulis, bahkan filem kartun pun mengajarkan penontonnya banyak hal. Ada hikmah, pesan, pelajaran, yang disampaikan di setiap episodenya. Pelajaran paling utama yang saya tangkap dari Larva adalah hidup harus dinikmati dan dirayakan bahkan oleh perkara-perkara sepele. Bagi kaum minoritas yang tertindas, dua larva gokil juga teman-temannya, menjalani hari itu mau apa lai. Nikmati. Rayakan. Hari ini mau ngapain? Hari ini dapat makan atau tidak? Hari ini dikejar sama Rat atau tidak? Bagi mereka, bangun pagi keesokan hari dengan kondisi masih bernafas pun merupakan berkah. Ketemu makanan sisa yang dibuang merupakan surga yang dinanti. Oleh karena itu mereka sangat menikmati hidup dan selalu berupaya merayakannya. Tapi karena gokil dan berpikir dengan arus-pendek, maka seringnya dua larva itu ketiban sial.

Tentu, pelajaran yang berikutnya adalah tentang persahabatan yang kata Sindentosca: bagai kepompong. Yellow dan Red memulai persahabatan mereka sejak mengenal dunia, susah senang selalu bersama, isengnya pun kompak, kadang Yellow dan Red sama-sama saling iseng bin usil satu sama lain, berbagi makanan meskipun lebih sering khilaf (makanannya diembat sendiri), saling memanfaatkan tapi juga saling memaafkan, sampai urusan asmara dimana Pink mencintai Yellow sedangkan Red mencintai Pink. Sampai demam tinggi itu Red gara-gara kasih tak sampai. Haha. Persahabatan ini juga terjalin dengan kaum minoritas lain penghuni rumah dan penghuni selokan (saat di New York).

Dan pelajaran terakhir dari Larva, menurut saya, adalah hukum rimba. Yang lemah mengalah pada yang kuat. Meskipun, pada beberapa episode hukum rimba tidak berlaku, karena siapa sih yang mau terus-terusan ditindas? Balasannya adalah keisengan kedua larva tersebut.

Baca Juga: Karya Mereka Terlalu Eksklusif Untuk Tayang di Televisi

Bagaimana dengan kalian, kawan? Masihkah kalian menonton filem kartun/animasi? Apa saja filemnya? Yuk bagi tahu, siapa tahu bakal jadi referensi untuk saya hahaha. Yang jelas, setiap hari saya diisi dengan Upin Ipin dan Larva. Pertanyaannya sekarang, bukankah kalau terus ditonton, selesai juga itu semua episode dari setiap season? Bahkan Larva yang tidak sepanjang Upin Ipin season-nya? Ya nonton ulang doooonk hehehe. Karena sering menonton ulang ini makanya saya mulai hafal satu per satu kisahnya, baik Upin Ipin maupun Larva. Apakah saya kurang kerjaan? Justru karena terlalu banyak pekerjaan sehingga butuh hiburan, terutama sebagai pengantar tidur malam. Haha.

Selamat menikmati weekend!

#SabtuReview



Cheers.

Ketika Keberadaanmu Sadis Ditolak Oleh Kaum Sendiri

Gambar diambil dari: Wikipedia.

Ketika Keberadaanmu Sadis Ditolak Oleh Kaum Sendiri. Kalimat itu belum selesai. Kelanjutannya terungkap tidak melalui satu dua kata melainkan satu pos utuh! Penasaran kan? Makanya, dibaca sampai selesai #SabtuReview kali ini, ya! Hehe.

Baca Juga: Segudang Tanda Tanya Setelah Menonton Shutter Island

#SabtuReview kali ini masih datang dari lini filem. Buku, mana buku? Ada memang buku yang saya baca demi beberapa urusan pekerjaan tapi bukunya berjudul Tindak Pidana Terhadap Kehormatan Pengertian dan Penerapannya, Pidana Penghinaan adalah Pembatasan Kemerdekaan Berpendapat yang Inkonstitusional, Tindak Pidana Pers (Penyerangan Terhadap Kepentingan Hukum yang Dilindungi dengan Mempublikasikan Tulisan), dan Kamus Hukum. Kalian pasti bakal ngelempari saya pakai bakiak kalau sampai me-review buku-buku tersebut. Haha. Kecuali ada yang me-request khusus, Insha Allah saya review *ngikik*.

Jadi, filem apa yang saya bahas? Yuk simak!

Missing Link


Missing Link, dirilis tahun 2019 tepatnya bulan April, merupakan filem jenis animasi stop-motion yang ditulis dan disutradarai oleh Chris Butler dan diproduseri oleh Laika bekerja sama dengan Annapurna Pictures. Pengisi suaranya antara lain Hugh Jackman, Zoe Saldana, Emma Thompson, Stephen Fry, David Walliams, Timothy Olyphant, Matt Lucas, Amrita Acharia, dan Zach Alifianakis. Ya, itu yang tertulis di Wikipedia.

Setelah dirilis, filem ini mendapat banyak tanggapan positif dari para kritikus yang memuji tentang set filem yang dibuat dengan indah dan suasana yang menyenangkan dan santai.

The Missing Link


Filem ini dibuka dengan adegan pencari makhluk mitos bernama Sir Lionel Frost sedang berada di atas sampan bersama asistennya yaitu Mr. Lint untuk menemukan dan mengabadikan monster monster sejenis loch ness. Dan mereka gagal. Kamera yang telah memotret si mosnter hancur bersama sampan yang berkeping-keping di laut, dihancurkan oleh si monster. Mr. Lint mengundurkan diri sebagai asisten Sir Lionel Frost karena tidak ingin hidupnya berakhir terlalu cepat. Pada saat itulah Sir Lionel Frost membaca surat dari seseorang yang mengabarkan tentang keberadaan makhluk yang disebut Sasquatch.

Demi bisa bergabung dengan komunitas orang-orang hebat yang dipimpin oleh Lord Piggot-Dunceby, Sir Lionel Frost akan membuktikan bahwa Sasquatch ini betul ada. Dan dia memulai perjalanannya untuk mencari si makhluk mitos.

Awalnya saya berpikir pencarian si makhluk ini yang bakal lama ... ternyata. Cepat saja perjalanan Sir Lionel Frost ke Pasific Northwest, menemukan Sasquatch di hutan, terkejut karena Sasquatch ini ternyata bisa bicara! Tidak hanya itu, Sasquatch juga yang mengirimkan surat itu kepada Sir Lionel Frost. Kemudian Sasquatch diberi nama Link, senada sama nama asisten lamanya Sir Lionel Frost yang bernama Lint.

Dari cerita Link, bisa disimpulkan dia adalah the real missing link dari kerabat jauhnya yang hidup di Himalaya. Kerabat jauh si Link ini adalah yeti, makhluk mitos yang dikejar banyak orang juga. Sayangnya Sir Lionel Frost tidak tahu bahwa untuk menghalangi maksud dan tujuannya, Lord Piggot-Dunceby menyewa pembunuh bayaran yaitu Stenk. Sadis ya haha. Setuju membantu Link, perjalanan pun dimulai dengan pertama-tama mencuri peta lokasi Shangri-La di kediaman Adelina Fortnight yang adalah mantan pacarnya Sir Lionel Frost. Ndilalah Adelina pun ikut dalam perjalanan ke Himalaya.

Perjuangan demi perjuangan menghindari Stenk, hubungan Frost - Link yang kemudian menjadi lebih baik setelah diintervensi Adelina, serta sulitnya medan yang ditempuh, membawa mereka ke lembah Shangri-La. Mereka memang menemukan Kuil Yeti yang terhubung dengan dataran di sebelahnya melalui jembatan es. Link alias Susan (iya dia memilih nama ini dalam obrolan bersama Sir Lionel Frost di kapan) sangat bahagia. Tapi ...

Link, Sadis Ditolak Oleh Kaum Sendiri


Ratu dengan wajah bengis itu ternyata menolak keberadaan Link dan menjebloskan mereka bertiga ke penjara bawah tanah. Sementara itu ketika mereka berhasil meloloskan diri, malah terjebak di tengah jembatan karena di hadapan mereka telah menunggu Lord Piggot-Dunceby beserta asistennya dan Stenk. Nyawa jadi taruhan. Tapi pada akhirnya jembatan rubuh, Lord Piggot-Dunceby jatuh bersama runtuhan jembatan, Stenk berusaha menyelamatkan diri tetapi tetap saja menyusul Lord Piggot-Dunceby. Sir Lionel Frost, Link, dan Adelina pun selamat.

Keluarga Bukan Hanya Darah


Filem ini mengajarkan pada saya banyak hal. Salah satunya adalah keluarga bukan hanya darah. Buktinya, si Sasquatch yaitu Link yang masih kerabatnya yeti saja ditolak oleh Ratu Yeti. Padahal mereka masih satu lingkaran! Sedangkan Sir Lionel Frost dan Adelina yang tidak punya hubungan apa-apa dengan Link kemudian menjadi 'keluarga'nya si tautan yang hilang ini. Menulis ini saya jadi ingat meme yang sering muncul di time line Facebook: Kalau kau miskin, kau dijauhi - Kalau kau kaya, kau punya banyak saudara. Alias, banyak yang bakal mengakuimu sebagai saudara. Haha. Masa iya? Iya juga kali ya. Dan percaya tidak percaya hal-hal semacam ini terjadi pula dalam kehidupan kita dan/atau orang-orang di sekitar kita.

Saya tidak saja punya banyak teman tapi juga punya banyak saudara karena teman-teman adalah saudara. Apakah mereka harus kaya raya baru diakui sebagai saudara? Tidak lah. Cuma orang-orang lemah saja yang begitu. Haha. Siapapun kalian, kalau berteman dengan saya, ya sudah saya anggap saudara sendiri. Susah senang kita bersama.

Pelajaran lain yang saya petik dari filem Missing Link adalah tentang perjuangan. Hasil tidak pernah mengkhianati perjuangan. Dalam filem ini, Link memang tidak berhasil berkumpul dan tinggal bersama kerabat jauhnya itu, tetapi dia akhirnya hidup bebas dan bahagia bersama Sir Lionel Frost dalam petualangan-petualangan mereka mencari makhluk mitos. Itulah hasil yang dicapai: bebas dan bahagia.

Membikin Missing Link


Baru-baru ini saya menonton di Youtube tentang proses membikin filem animasi stop-motion yang ternyata asyik sekali! Lebih asyik lagi, video dari channel-nya Insider itu mengulik proses membikin filem Missing Link!



Aaaah ternyata begitu toh proses bikin animasi stop-motion.

⇜⇝

Bagaimana, kawan? Seru kan? Membaca review-nya seru. Menonton proses membikin animasi stop-motion juga seru. Melihat setiap divisi dengan pekerjaan kreatifnya masing-masing itu membikin saya lupa waktu. Nontonnya pun berulang-ulang. Bagaimana mereka mengubah set demi set itu, pergerakannya, pengisian suara (dubbing), sampai membikin banyak wajah dengan ekspresi berbeda, sungguh luar biasa. Kita bisa menyaksikan hasil akhirnya dalam filem Missing Link.

Baca Juga: The Willis Clan

Missing Link mungkin bakal mengingatkan kalian pada Shaun The Ship. Hehe. Yang jelas, selamat menikmati weekend.



Cheers.

Segudang Tanda Tanya Setelah Menonton Shutter Island


Segudang Tanda Tanya Setelah Menonton Shutter Island. Ini adalah salah satu draf pos blog yang sangat lama tidak dipublikasikan. Sepertinya saya lupa. Haha. Tidak ada satupun tulisan draf ini yang saya perbaiki. Alkisah, saya menonton Shutter Island sebelum menonton Searching, tapi kemudian saya memutuskan untuk terlebih dahulu me-review dan mempublikasikan Searching. So ... here we go ... a very late post!

A Very Late Post


Selamat Sabtu. Setelah minggu kemarin nafas ngos-ngosan dengan menonton Searching, hari ini #SabtuReview kembali membahas tentang filem. Jangan pernah berharap kalian akan menemukan review filem teranyar di sini, hehe. Maklum, di Kota Ende masih belum dibangun bioskop baru. Baru? Memangnya dulu pernah ada bioskop? Ada donk, meskipun bukan sekelas 21 atau XXI, dan banyakan filem-filemnya Roma Irama dan Warkop DKI pada zaman itu, tapi yang jelas di kota kecil ini pernah berdiri sebuah bioskop.

Baca Juga: Nostalgia Alanis

Seharusnya minggu lalu filem ini sudah di-review, but you know if it's too late, that the missing girl could be dead. Shutter Island bisa menunggu. Haha. Gaya banget menulis ini. Seolah-olah diri saya adalah Detektif Rosemary Vick. Let's talk about Shutter Island.

About Shutter Island


Shutter Island diperankan oleh empat pemeran utama. Leonardo Di Caprio (sebagai Edward "Teddy" Daniels), Mark Ruffalo (sebagai Chuck Aule), Ben Kingsley (sebagai dr John Cawley), dan Michelle Williams (sebagai Dolores Chanal). Filem yang dirilis tahun 2010 ini masuk dalam kategori neo-noir psychological thriller yang disutradarai oleh Martin Scrosese dan ditulis oleh Laeta Kalogridis berdasarkan novel Dennis Lehane yang terbit tahun 2003. Ya, tentu itu kata Wikipedia. Yang bukan kata Wikipedia adalah filem ini sukses membikin saya merasa gatal yang luar biasa karena warisan tanda tanya setelah melahapnya. Ini filem 'berat', menurut saya.

Overview


Shutter Island dibuka dengan adegan perjalanan laut Edward Daniels alias Teddy, seorang U.S. Marshals, dengan teman kerjanya yaitu Chuck Aule. Mereka dalam perjalanan menuju Rumah Sakit Ashecliffe, khusus merawat orang-orang sakit jiwa, di Shutter Island. Mereka akan menginvestigasi hilangnya seorang pasien bernama Rachel Solando yang telah menenggelamkan tiga anaknya. Petunjuk dari kamar rawat Rachel hanya sebuah kertas bertulis: The Law of 4: Who is 67? Dan investigasi pun berlanjut.

Dalam perjalanan investigasi yang penuh teka-teki itu, serta kilasan mimpi Teddy tentang isterinya,  dan betapa gemasnya penonton karena berpikir Teddy dan Chuck bakal terjebak di pulau itu dan pasti dibunuh oleh para dokter yang kuatir kedok mereka terbongkar, karena sedang badai (tidak ada kapal yang beroperasi), penonton kemudian diberitahu bahwa sebenarnya Teddy adalah pasien Ashecliffe yang bernama Andrew Laedis. Chuck, teman kerjanya, ternyata dokter yang selama ini menanganinya yaitu dokter Sheehan. Twist plot.

Di awal, plot berjalan dan penonton mempercayai bahwa Teddy dan Chuck beneran U.S. Marshals, dan mereka benar sedang menginvestigasi hilangnya Rachel Solando. Namun, twist membikin penonton ternganga bahwa Teddy adalah Andrew sedangkan Chuck adalah dokter Sheehan. Andrew mengalami skizofrenia. Andrew dibiarkan bermain dalam khayalannya sendiri, bahwa dirinya bernama Teddy dan seorang U.S. Marshals, dan berulang kali percobaan ini dilakukan untuk tahu sampai di mana batasan penyakit itu. Apakah Andrew akan di-lobotomy doleh dokter Cawley atau tidak.

Siapa Sebenarnya Dia?


Teddy atau Andrew? Sebagian orang percaya dia adalah Teddy yang memang tidak dapat sembuh. Tapi sebagian lagi percaya dia adalah Andrew yang memilih untuk di-lobotomy ketimbang harus hidup bersama kenangan buruk keluarganya. Ya, isteri Andrew yaitu Dolores, mengalami gangguan kejiwaan. Faktanya, Dolores menenggelamkan tiga anak mereka di sungai di belakang rumah. Andrew memilih untuk mengakhiri nyawa Dolores. Trauma itu yang membikinnya 'sakit'.

Di akhir cerita, setelah para dokter merasa upaya yang terus-terusan dilakukan terhadap Andrew tidak berhasil, justru dokter Sheehan merasa ada yang aneh dengan ucapan Andrew. "Mana yang lebih buruk? Hidup sebagai monster, atau mati sebagai manusia (yang baik)?". Lantas pergi ke arah dokter Cawley yang telah menunggunya. Dokter Sheehan bingung, lantas memanggilnya dengan "Teddy?".

Hidup Adalah Anugerah


Menulis sub judul ini bikin merinding. Hidup adalah anugerah Tuhan pada kita, umat manusia, tetapi melanjutkan hidup atau tidak, adalah pilihan ... karena itu banyak orang yang memutuskan untuk mengakhiri hidup mereka. Mengakhiri di sini tidak selamanya mati, melainkan menjadi seperti Teddy atau si Andrew di atas. Dari pada dibayang-bayangi masa lalu ... lebih baik lobotomy.

Baca Juga: Pariwisata Nusantara

Begitulah ...

Bagi kalian yang sudah menonton filem ini, minta tanggapannya donk, saya memang sudah membaca banyak tanggapan orang tentang filem ini, tetapi masih saja belum puas hahaha. Saya masih terbawa pada naluri saya yang mengatakan bahwa dia adalah Andrew.



Cheers.

Segudang Tanda Tanya Setelah Menonton Shutter Island


Segudang Tanda Tanya Setelah Menonton Shutter Island. Ini adalah salah satu draf pos blog yang sangat lama tidak dipublikasikan. Sepertinya saya lupa. Haha. Tidak ada satupun tulisan draf ini yang saya perbaiki. Alkisah, saya menonton Shutter Island sebelum menonton Searching, tapi kemudian saya memutuskan untuk terlebih dahulu me-review dan mempublikasikan Searching. So ... here we go ... a very late post!

A Very Late Post


Selamat Sabtu. Setelah minggu kemarin nafas ngos-ngosan dengan menonton Searching, hari ini #SabtuReview kembali membahas tentang filem. Jangan pernah berharap kalian akan menemukan review filem teranyar di sini, hehe. Maklum, di Kota Ende masih belum dibangun bioskop baru. Baru? Memangnya dulu pernah ada bioskop? Ada donk, meskipun bukan sekelas 21 atau XXI, dan banyakan filem-filemnya Roma Irama dan Warkop DKI pada zaman itu, tapi yang jelas di kota kecil ini pernah berdiri sebuah bioskop.

Baca Juga: Nostalgia Alanis

Seharusnya minggu lalu filem ini sudah di-review, but you know if it's too late, that the missing girl could be dead. Shutter Island bisa menunggu. Haha. Gaya banget menulis ini. Seolah-olah diri saya adalah Detektif Rosemary Vick. Let's talk about Shutter Island.

About Shutter Island


Shutter Island diperankan oleh empat pemeran utama. Leonardo Di Caprio (sebagai Edward "Teddy" Daniels), Mark Ruffalo (sebagai Chuck Aule), Ben Kingsley (sebagai dr John Cawley), dan Michelle Williams (sebagai Dolores Chanal). Filem yang dirilis tahun 2010 ini masuk dalam kategori neo-noir psychological thriller yang disutradarai oleh Martin Scrosese dan ditulis oleh Laeta Kalogridis berdasarkan novel Dennis Lehane yang terbit tahun 2003. Ya, tentu itu kata Wikipedia. Yang bukan kata Wikipedia adalah filem ini sukses membikin saya merasa gatal yang luar biasa karena warisan tanda tanya setelah melahapnya. Ini filem 'berat', menurut saya.

Overview


Shutter Island dibuka dengan adegan perjalanan laut Edward Daniels alias Teddy, seorang U.S. Marshals, dengan teman kerjanya yaitu Chuck Aule. Mereka dalam perjalanan menuju Rumah Sakit Ashecliffe, khusus merawat orang-orang sakit jiwa, di Shutter Island. Mereka akan menginvestigasi hilangnya seorang pasien bernama Rachel Solando yang telah menenggelamkan tiga anaknya. Petunjuk dari kamar rawat Rachel hanya sebuah kertas bertulis: The Law of 4: Who is 67? Dan investigasi pun berlanjut.

Dalam perjalanan investigasi yang penuh teka-teki itu, serta kilasan mimpi Teddy tentang isterinya,  dan betapa gemasnya penonton karena berpikir Teddy dan Chuck bakal terjebak di pulau itu dan pasti dibunuh oleh para dokter yang kuatir kedok mereka terbongkar, karena sedang badai (tidak ada kapal yang beroperasi), penonton kemudian diberitahu bahwa sebenarnya Teddy adalah pasien Ashecliffe yang bernama Andrew Laedis. Chuck, teman kerjanya, ternyata dokter yang selama ini menanganinya yaitu dokter Sheehan. Twist plot.

Di awal, plot berjalan dan penonton mempercayai bahwa Teddy dan Chuck beneran U.S. Marshals, dan mereka benar sedang menginvestigasi hilangnya Rachel Solando. Namun, twist membikin penonton ternganga bahwa Teddy adalah Andrew sedangkan Chuck adalah dokter Sheehan. Andrew mengalami skizofrenia. Andrew dibiarkan bermain dalam khayalannya sendiri, bahwa dirinya bernama Teddy dan seorang U.S. Marshals, dan berulang kali percobaan ini dilakukan untuk tahu sampai di mana batasan penyakit itu. Apakah Andrew akan di-lobotomy doleh dokter Cawley atau tidak.

Siapa Sebenarnya Dia?


Teddy atau Andrew? Sebagian orang percaya dia adalah Teddy yang memang tidak dapat sembuh. Tapi sebagian lagi percaya dia adalah Andrew yang memilih untuk di-lobotomy ketimbang harus hidup bersama kenangan buruk keluarganya. Ya, isteri Andrew yaitu Dolores, mengalami gangguan kejiwaan. Faktanya, Dolores menenggelamkan tiga anak mereka di sungai di belakang rumah. Andrew memilih untuk mengakhiri nyawa Dolores. Trauma itu yang membikinnya 'sakit'.

Di akhir cerita, setelah para dokter merasa upaya yang terus-terusan dilakukan terhadap Andrew tidak berhasil, justru dokter Sheehan merasa ada yang aneh dengan ucapan Andrew. "Mana yang lebih buruk? Hidup sebagai monster, atau mati sebagai manusia (yang baik)?". Lantas pergi ke arah dokter Cawley yang telah menunggunya. Dokter Sheehan bingung, lantas memanggilnya dengan "Teddy?".

Hidup Adalah Anugerah


Menulis sub judul ini bikin merinding. Hidup adalah anugerah Tuhan pada kita, umat manusia, tetapi melanjutkan hidup atau tidak, adalah pilihan ... karena itu banyak orang yang memutuskan untuk mengakhiri hidup mereka. Mengakhiri di sini tidak selamanya mati, melainkan menjadi seperti Teddy atau si Andrew di atas. Dari pada dibayang-bayangi masa lalu ... lebih baik lobotomy.

Baca Juga: Pariwisata Nusantara

Begitulah ...

Bagi kalian yang sudah menonton filem ini, minta tanggapannya donk, saya memang sudah membaca banyak tanggapan orang tentang filem ini, tetapi masih saja belum puas hahaha. Saya masih terbawa pada naluri saya yang mengatakan bahwa dia adalah Andrew.



Cheers.

Special Victims Unit


Kenapa saya sangat menyukai serial kriminal? Karena dari serial kriminal saya jadi paham tentang sistem peradilan antara Eropa Kontinental dan Anglo Saxon. Indonesia menganut sistem Eropa Kontinental, ditambah dengan sistem hukum adat dan hukum agama (Syariat Islam). Penerapan sistem hukum tergantung kepada kasus atau sengketa yang dihadapi oleh masyarakat, sehingga tidak semua kasus atau sengketa baik pidana maupun perdata diselesaikan berdasarkan KUHP, KUHPerdata, dan undang-undang khusus yang mengatur. Misalnya, sengketa batas-batas tanah di perkampungan bisa saja diselesaikan menggunakan hukum adat. Atau, sengketa warisan bisa saja diselesaikan menggunakan KUHPerdata, Hukum Waris Islam, maupun Hukum Adat.

Baca Juga: Pariwisata Nusantara

Sayang ya, kali ini saya tidak membahas tentang ilmu akademik yang dipelajari di bangku kuliah itu.  Dan memang hampir tidak pernah saya membahas masalah hukum hahaha. #SabtuReview, mari kembali membahas serial kriminal. Salah satu yang saya sukai yaitu Law and Order. Bagi kalian yang pernah atau bahkan sering menonton serial ini pasti tahu betul pembukaannya yang unik itu. Salah satunya pembukaannya seperti kalimat berikut ini:

Dalam sistem peradilan pidana, pelanggaran seksual dianggap sangat keji, di Kota New York, Detektif yang berdedikasi yang menyelidiki kejahatan keji ini adalah anggota pasukan elit, dikenal sebagai Unit Korban Khusus.

Inilah kisah mereka.



Law and Order, siapa yang belum pernah menontonnya? Saya pikir serial ini termasuk serial kriminal paling lama bertahan di industri serial televisi. Dua anak Law and Order yang paling sering saya tonton adalah Special Victim Unit (SVU) dan Criminal Intent. Ya benar, pembukaan di atas merupakan pembukaan SVU (Unit Korban Khusus). Baru-baru ini, setelah tahu akhir dari Castle yang mengenaskan dan mengecewakan itu, saya membongkar dua serial yaitu Constantine dan SVU. Belum ada perkembangan season dari Constantine dan para iblis selain jangan pernah menghadapi iblis dengan perut kosong. Haha. Tapi saya terkejut melihat SVU. Season 20! Are you kidding me? SVU bisa jadi serial kriminal sepanjang masa! Ditinggal nonton televisi sekian tahun, sudah Season 20 saja.

Mari kita simak seperti apa SVU dari Law and Order ini.

SVU


Dulu saya tidak ngeh kalau SVU dan Criminal Intent merupakan anak dari Law and Order karena yang saya tahu ya sudah itu Law and Order! Lama-kelamaan melihat adanya spesifikasi kasus yang ditangani oleh para polisi ini. Lebih lengkap tentang SVU silahkan baca informasi dari Wikipedia. SVU juga dibikin oleh Dick Wolf dan di'serahkan' kepada NBC untuk disiarkan. Sejak pertama disiarkan September 1999 sampai tahun 2018, sudah ada dua puluh season yang bisa kita nikmati. Angka dua puluh ini tidak main-main ya. The Mentalist saja hanya punya tujuh season dan Castle punya sembilan season.


Sejak awal menonton sampai sekarang, anggota SVU mengalami bongkar pasang, dan berakhir pada mereka-mereka ini juga. Elliot Stabler (diperankan oleh Christopher Meloni) hanya bertahan sampai Season 12, padahal saya suka juga sama perannya. Berikut, mereka-mereka yang masih bertahan di Season 20: Mariska Hargitay (sebagai Olivia Benson), Kelli Gidish (sebagai Amanda Rollins), Ice-T (sebagai Odafin Tutuola), Peter Scanavino (sebagai Dominick Carisi Jr.), dan Philip Winchester (sebagai Peter Stone). Peter Stone adalah jaksa.

Kejahatan Seksual dan Kejahatan Terhadap Anak


Meskipun SVU dideskripsikan sebagai tim yang mengurusi kejahatan seksual, tapi sepanjang saya menontonnya tidak selamanya hanya kejahatan seksual. Ya, karena episode-episodenya banyak bercerita tentang kejahatan seksual, kejahatan terhadap anak, pun termasuk kejahatan seksual terhadap anak. Ada kisah seorang ibu yang tega membunuh suami dan dua anaknya karena berpikir dengan membunuh maka dia membebaskan mereka dari kehidupan dunia yang kejam ini. Ibu macam apaaaaaaa yang tega macam begitu.

Mengikuti Perkembangan Zaman


Menariknya, SVU yang dimulai tahun 1999 hingga Season 20 pada tahun 2018, selalu mengikuti perkembangan zaman. Iya laaaah! Tapi tetap ya, yang namanya polisi dengan kegiatan investigasi dan interogasi, notes a la polisi itu tetap ada, meskipun mereka sudah pakai tablet misalnya. Kalau dulu gawainya masih yang biasa saja, sekarang sudah pakai Android dan/atau iOS. Keren lah! Perkembangan zaman ini juga diikuti dengan perkembangan karir. Olivia Benson, misalnya, Season 1 sampai Season 15 dia dikenal sebagai detektif, Season 15 sampai Season 17 sebagai Sersan, sedangkan Season 17 sampai Season 20 dikenal sebagai Letnan.

Pembuka Yang Sama


Ini yang juga saya suka dari SVU dan anak Law and Order lainnya. Pembuka yang sama. Mulai dari deskripsi singkat, musik, hingga slide foto-foto yang ditampilkan. Sama! Ibarat makanan, cita rasa serial kriminal yang satu ini tidak berubah sedikit pun. Meskipun pengembangan skenarionya lumayan mengejutkan dengan twist plot di sana sini.

Selalu Punya Kisah Seru


Menonton serial ini, meskipun tidak mengikuti tapi menonton semua season-nya, cukup menjadi patokan penilaian bahwa serial ini selalu punya kisah seru. Bedanya di Season 20, setiap episodenya itu unik karena selalu ada twist plot dan kisah-kisah yang tidak biasa. Ambil contoh Episode 1 Season 20 yang berjudul: Man Up. Bagaimana susahnya pekerjaan tim SVU ketika bocah yang mengalami sexually assaulted (pelecehan secara seksual) oleh ayah kandugnya menolak bekerja sama. Si bocah terlalu takut mengakui sehingga ketika kasus ini sampai di pengadilan pun si pelaku kejahatan diputuskan bebas. Semua orang yang membantunya memang kecewa, tapi si bocah kemudian menembaki teman-teman satu sekolahnya. Totally brutal.

Si bocah di tangkap, kasus berlanjut pada Episode 2: Man Down, ketika si bocah sudah berada di dalam penjara. Detektif kembali bekerja dan akhirnya si ayah ditahan.

Bagaimana Dick Wolf begitu jago meracik cerita sehingga penonton mengelus dada dan memaki, itu luar biasa. Ya siapa sih yang tidak kesal pada si bocah? Dia korban pelecehan seksual (disodomi paksa oleh ayah kandungnya) hanya karena ketidakmampuannya menembaki seekor kelinci saat keluarga itu pergi berburu! Tapi dia bersikap melindungi si ayah karena ketakutan yang luar biasa terhadap pemimpin keluarga yang otoriter itu. Duh, ini benar-benar pelajaran bagi orangtua ya. Karena, biasanya penjahat itu bisa datang dari keluarga kita sendiri; orangtua, paman, bibi, kakak, sepupu, dan lainnya.


Jadi demikian SVU yang tetap mempertahankan ciri khasnya tetapi selalu mengikuti perkembangan zaman. Termasuk, perkembangan bodi Olivia Benson yang semakin mekar dan diceritakan dia selalu ngos-ngosan alias tidak bisa mengejar penjahat sehingga harus punya program khusus untuk olahraga/diet. Wah, bagus kan ya. Realita hahaha.

Baca Juga: The Kings

Bagaimana dengan kalian, kawan? Kalau pengen mengisi waktu puasa, boleh juga menonton serial kriminal yang satu ini. Adegan ranjang nyaris tidak ada, kalaupun ada tidak vulgar dan tidaklah sampai seperti Game of Thrones. Haha. Selamat menikmati akhir pekan, kawan.




Cheers.

Searching


Sebenarnya saya sudah sangat ingin menulis tentang Shutter Island, sebuah filem thriller yang diperankan oleh Leonardo Di Caprio, Mark Ruffalo, dan Ben Kingsley. Rasa gatal untuk menulisnya sampai tidak tertahankan dan meninggalkan ruam ganas. Namun, setelah menonton Searching, yang menurut saya juga sebuah filem thriller, saya pikir Shutter Island bisa menunggu dan kembali masuk dalam bucket list's review. Sementara Searching tidak bisa menunggu. Karena, jika terlambat, the missing girl could be dead.

Baca Juga: Nostalgia Alanis

Menggaruk demi memuaskan rasa gatal akan Shutter Island ... nanti. Sekarang mari kita simak seperti apa rupa Searching ini.

About Searching 


Searching adalah filem (drama) thriller yang diperankan oleh tiga pemeran utama yaitu John Cho sebagai David Kim, Michelle La sebagai Margot Kim, dan Debra Messing sebagai detektif Rosemary Vick. Filem yang dirilis komersil pada Agustus 2018 ini disutradarai oleh Aneesh Chaganty. Konon, filem ber-budget 1 Juta Dollar ini meraup keuntungan berlipat ganda yaitu 75,5 Juta Dollar. It's a wow! Keadaan itu yang menjadikan Searching salah satu box office yang patut diperhitungkan pada tahun 2018. Sekadar informasi bahwa sebuah filem dikatakan box office apabila keuntungan yang diraup melebihi biaya produksi.

Overview


Semoga ini tidak dianggap spoiler hahaha. 

Kisah Searching dibangun dari kehidupan rumah tangga David Kim, saat isterinya yaitu Pam masih hidup, bersama puteri mereka yang bernama Margot. Hampir semua momen kehidupan keluarga David Kim disimpan dalam bentuk foto dan video. Mulai dari saat Margot mulai duduk di bangku sekolah dari tahun ke tahun, Margot mulai mengenal alat musik piano dan membantu Pam memasak, saat David memperkenalkan Pokemon pada Margot, hingga Pam terserang kanker dan dirawat di rumah sakit dan meninggal dunia. Kesemuanya itu disimpan di sebuah komputer jadul yang masih memakai Widows XP. Ya, siapa pun yang pernah memakai Windows XP pasti kenal betul background dan bentuknya. Mulai dari user komputer itu hanya David seorang, hingga ditambah dua user lainnya yaitu Pam dan Margot. 



Setelah Pam meninggal, praktis David hanya tinggal bersama Kim, sesekali mengontak saudaranya yang bernama Peter Kim (diperankan oleh Joseph Lee). Kronologisnya adalah Margot telah masuk SMA dan masih kursus piano, life must go on, sementara David yang berusaha menjadi ayah yang baik bagi Margot masih 'hidup' bersama kenangannya tentang Pam melalui foto dan video keluarga mereka.

Suatu hari, selepas menghubungi Margot melalui FaceTime saat Margot sedang belajar kelompok di rumah salah seorang temannya, mengingatkan Margot akan sampah yang belum dibuang, David kehilangan kontak dengan Margot. Dia bingung, ke mana kah anaknya itu? Semua pesan chat tidak dibalas. Dihubungi di FaceTime pun tidak diterima. Nalurinya mengatakan ada yang salah, tapi dia masih menahan diri untuk tidak melaporkan pada pihak yang berwajib. Sampai 24 jam kemudian, David pun melaporkan kepada pihak kepolisian San Jose, California, tentang orang hilang. Dia kemudian menerima telepon dari seorang perempuan yaitu detektif Rosemary Vick. Si detektif meminta semua data Margot pada David demi menemukan puteri semata wayang David-Pam itu.


Siapa sangka ... jawabannya justru ada pada MacBook milik Margot yang ditinggal di rumah.

It's About Technology


Searching benar-benar filem tentang teknologi masa kini yang sehari-hari bersentuhan dengan umat manusia, dengan kita. Filem ini 90% didominasi oleh layar komputer tempat David berinteraksi dengan Margot, Peter, detektif Vick, hingga orang-orang yang disangkakan punya kaitan dengan hilangnya Margot. Saat David membuka MacBook milik Margot pun, saya langsung teringat pada tata cara pemulihan password. Untungnya e-mail yang digunakan Margot untuk mengembalikan akunnya bila melupakan password adalah e-mail milik Pam. Tentunya David tahu persis password e-mail milik Pam itu.


Dari situ, David mulai mengeksplor isi MacBook tersebut. Memasuki akun-akun media sosial milik Margot seperti Facebook, Instagram, Tumblr, hingga layanan video YouCast. Saat David mencoba daring di YouCast, dia ditonton oleh sebuah akun yaitu fish_n_chips yang langsung luring seketika. Ternyata, semua video di YouCast dapat disimpan. Gara-gara itu David jadi tahu bahwa Margot pun menyimpan semua video YouCast-nya.


Sementara itu, di e-mail, David menerima tawaran dari MemorialOne, sebuah situs yang menawarkan untuk menyiarkan pemakaman dalam bentuk video dan foto dari orang yang meninggal tersebut. Setelah akhirnya orang yang mengaku telah membunuh Margot bunuh diri, David mengunggah semua video dan foto Margot ke YouCast.

Ah, filem ini benar-benar tentang teknologi hahaha.

So Many Suspect


Sejak awal Margot hilang, terlalu banyak tersangka yang memenuhi benak penonton. Mulai dari teman-teman Margot yang ternyata begitu itu, teman lelaki yang bikin David meradang, adik David si Peter yang saya curigai sengaja membunuh Margot karena kuatir 'hubungan asmara' mereka terbongkar dan ternyata oh nooooo, hingga Hannah alias fish_n_chips yang ternyata akun palsu. 

Twist Plot


Ini yang sungguh ausam dari Searching. Twist plot! Hadir di akhir cerita, twist plot Searching sungguh tak terduga. Lahir dari wajah Hannah si fish_n_chips di YouCast yang ternyata sama dengan wajah ambassador MemorialOne. Oh, ampun, sampai di sini saya berpikir Hannah lah yang membunuh Margot. Bersemangat, David menghubungi kepolisian untuk melapor temuannya pada detektif Vick. Ternyata detektif Vick hanyalah seorang volunteer yang mengajukan dirinya untuk turut menangani kasus hilangnya Margot.

Trada ...

Ah ... tidak semudah itu menebak, kawan. It's not just about detektif Vick.


Pada akhirnya saya harus angkat topi untuk Aneesh Chaganty dan Sev Ohanian yang menulis filem ini. Otak mereka canggih betul. Dan apabila kalian bingung menentukan akhir cerita ini hanya berdasarkan review ini, artinya saya berhasil membikin kalian bingung sebingung saya sendiri saat menontonnya haha. 

Bila kalian mencari filem yang bisa membikin akhir minggu menjadi rada gimanaaa gitu, tonton Searching sekarang juga!


Cheers.

Double Ending


Bagi para penikmat filem, menonton filem merupakan proses otak turut bekerja untuk terlebih dahulu menyelesaikan kisah dari filem yang ditonton. Menebak. Itu kata sederhananya. Selama kita belum menonton trailer dan membaca review-nya terlebih dahulu. Menonton Fight Club, misalnya, otak saya bekerja keras menebak akhir filem tersebut, yang kemudian ditampar twist ending yang bikin melongo. Atau, saat saya menonton The Sixth Sense, sama rasanya saat ditampar dari twist ending Fight Club. Ah, ya, sama dengan menit-menit pertama menonton Split.

Baca Juga: Relikui Kematian #2

Kadang-kadang kita bakal bilang: tuuuuh kaaaan benar kah tebakan saya, ketika tebakan kita sama dengan adegan berikutnya dan/atau akhir filem yang bersangkutan. Pernahkah tebakan kalian diamini oleh akhir sebuah filem? Saya pernah. Tapi seringnya gagal. Haha. Saat menonton Train to Bussan dan Ia am Legend, misalnya, tebakan saya tentang pemeran utama yang selalu selamat alias tidak mati ... salah total. Duh, stigma pemeran utama selalu selamat nampaknya memang harus dihapuskan dari otak saya.

Filem-filem twist ending memang harus diakui super keren. Angkat jempol. Benar-benar menguras otak saat menontonnya dan membikin melongo pada ending-nya.

Tapi ... bagaimana perasaan kita ketika tahu bahwa filem favorit kita ternyata double ending? Lantas muncul pertanyaan, kenapa filem yang ditonton sebelumnya (bioskop) berbeda ending dengan yang ditonton ulang lewat DVD? Atau, bagaimana bisa filem yang sama, yang disedot gratisan tapi beda waktu dan sumber penyedotan, kemudian berbeda ending?

Double Ending


Double ending di sini dimaksudkan untuk filem-filem yang ternyata punya alternatif lain sebagai penutup cerita. Pertama kali tahu soal ini dari sebuah perdebatan panjang bersama teman sekolah saya Penny Kamadjaja. Penny bercerita tentang akhir sebuah filem yang dia tonton di bioskop. Jelas saya membantah karena akhir dari filem yang sama, yang saya tonton di DVD, berbeda dari yang dia ceritakan. Perdebatan panjang tidak dapat dihindari. Kami nyaris menggunakan ilmu silat demi membela harga diri. 

Ternyata, kami sama-sama benar.

Memang Ada!


Double ending memang ada. Alternatif yang sengaja disediakan oleh pembuat filemnya. Alternatif ini umumnya hanya satu (jadi ada dua jenis ending saja) tapi kadang-kadang tiga. Kenapa ada double ending ini tidak terlepas dari penonton-responden. Semacam uji coba dari sebuah filem. Tanggapan responden inilah yang menjadi acuan apakah ending perlu diubah atau tidak. Asyik banget kalau begitu jadi responden ya haha.

Baca Juga: Survival Movies

Kali ini saya hanya akan membahas satu filem yang pernah saya tonton, yang punya double ending atau punya lebih dari satu alternatif ending. Filem itu berjudul I am Legend.

Mari kita cek.

I am Legend


Pertama menonton I am Legend yang diperankan oleh Will Smith ini jelas bukan di bioskop. Karena kalau kalian membaca pos Mereview Filem (dan Buku), sudah dijelaskan mengapa saya sering me-review filem lama. Pertama kali menonton I am Legend itu sekitar tahun 2009 atau 2011. Kemudian, tahun 2018 kemarin saya mengulas tentang filem-filem bertema zombie pada pos 5 Filem Zombie Favorit. I am Legend termasuk di dalamnya, meskipun musuh Robert Neville (Will Smith) tidak disebut zombie melainkan Darkseeker. Bedanya? Darkseeker ini makhluk yang cerdas sedangkan otak zombie itu sudah gagal total.

Pada pos itu kalian bakal membaca review saya tentang kematian Robert Neville di akhir cerita. 

Terakhir, Robert memang menemukan anti virusnya, tapi dia harus mati di dalam tempat persembunyiannya demi menyelamatkan seorang perempuan dan anak kecil yang dia percaya akan membawa anti virus itu ke tempat perlindungan.

Baru-baru ini saya menonton ulang I am Legend karena memang suka sama ceritanya. Dan pada akhir cerita saya dibikin melongo. Dalam hati saya berkata: lagi-lagi double ending. Dan teringat perdebatan panjang antara saya dan Penny pada masa lampau. Alternatif lain akhir kisah I am Legend adalah Robert Neville selamat alias tidak meninggal dunia dalam ledakan. Karena, dia mempelajari ternyata Darkseeker ini punya perasaan pula (dan tentu otaknya juga cerdas). Robert, si wanita, dan anak kecil itu pun selamat dan bersama-sama menuju tempat perlindungan.

Dari kedua ending tersebut, yang mana yang kalian suka?

Namun, sebenarnya responden tidak menyukai akhir yang bahagia, haha. Makanya dibikin akhir cerita Robert meninggal dunia.

Masih banyak filem-filem lain yang juga punya double ending. Dan mungkin kalian juga sudah menonton semua versi/alternatif ending-nya. Sebut saja filem The Butterfly Effect dan Titanic. Saya sih sudah menonton filem-filem lama tersebut, tapi belum menonton versi lain dari akhir filemnya jadi belum bisa menulisnya di sini. Kalau I am Legend sih jelas sudah saya tonton kedua versi ending-nya jadi bisa menulisnya.

Baca Juga: The Willis Clan

Well, selamat berakhir pekan, kawan. Silahkan cari ending alternatif dari filem favorit kalian!


Cheers.

Relikui Kematian #2


Bagi pecinta Harry Potter yang sampai sekarang masih tersihir oleh kisah spektakuler dari dunia sihir a la J. K. Rowling, membicarakan perkara apa pun tentang dunia sihir itu, kapan pun waktunya, tentu selalu menyenangkan. Saya, sebagai pecinta kisah Harry Potter, masih bisa mengingat banyak hal dari novel maupun filemnya. Betapa tingkah sepupu Harry, Dudley Dursley, sama mengesalkannya dengan tawa Bellatrix Lestrange, misalnya. Atau, tentang timbulnya rasa bersalah di dalam diri kita ketika tahu bahwa Profesor Snape, si 'agen ganda' itu justru patuh pada Albus Dumbledore dan sangat menyayangi Harry. Atau tentang horcrux-horcrux yang harus dihancurkan.

Baca Juga: Survival Movies

Kembali menulis tentang Harry Potter, khusus Relikui Kematian, kisah tentang tiga benda keramat ini hadir dalam seri terakhir yang berjudul Harry Potter and The Deathly Hallows. Untuk tahu tentang Tongkat Elder, silahkan baca Relikui Kematian #1. Kenapa harus membacanya? Agar kalian, yang sama sekali tidak tahu tentang Harry Potter, punya petunjuk tentang tiga benda keramat peninggalan Paverell bersaudara. Hari ini saya akan melanjutkan tentang dua benda keramat dari Relikui Kematian yang lain yaitu Batu Kebangkitan dan Jubah Gaib

Batu Kebangkitan


Batu Kebangkitan merupakan salah satu benda keramat yang diberikan Kematian kepada Cadmus Paverell. Batu Kebangkitan diwariskan oleh Albus Dumbledore kepada Harry yang diletakkan di dalam snitch pertama yang ditangkap Harry saat pertandingan Quidditch. Apakah batu ini yang menyelamatkan Harry dari kutukan Voldemort di Hutan Terlarang? Ada dua teori, seperti yang saya janjikan sebelumnya, teori pertama sudah saya tulis tapi tidak ada salahnya mengulang agar tidak tercerai-berai.

Teori Pertama: 
Harry selamat dari kutukan Voldemort di Hutan Terlarang karena Tongkat Elder setia pada pemiliknya. Tongkat Elder, meskipun fisiknya berada di tangan Voldemort, sebenarnya merupakan milik Harry dari hasil Harry melucuti si tongkat dari Draco Malfoy. Ingat kata Ollivander, tongkatlah yang memilih tuannya. Kesetiaan Tongkat Elder menyebabkan serangan itu tidak 100% meskipun Voldemort yakin percaya itulah kekuatan paling imba darinya terhadap Harry.

Teori Kedua:
Batu Kebangkitan yang berhasil dikeluarkan Harry dari snitch lah yang menyelamatkan Harry dari kutukan Voldemort di Hutan Terlarang. Albus Dumbledore tahu bahwa Harry adalah salah satu horcrux; benda yang menyimpan potongan jiwa Voldemort. Untuk bisa melumpuhkan Voldemort atau melemahkannya, semua horcrux harus dihancurkan. Termasuk Harry. Tujuan Albus Dumbledore memberikan Batu Kebangkitan kepada Harry adalah agar setelah horcrux (Harry) mati, Harry dapat bangkit untuk melawan, kembali, Voldemort.

Teori pertama dan teori kedua ini sama-sama masuk akal. Karena, dalam dunia sihir, tongkat sihir loyal/setia pada pemiliknya yang sah. Karena, Batu Kebangkitan hanya membangkitkan satu orang, dan itu Harry, bukan James, Lily, Albus Dumbledore, dan lain sebagainya. Arwah-arwah orang mati yang ditemui Harry dalam 'alam antara' itu hanya sebagai penyemangat untuk Harry kembali dan melakukan pertarungan kedua dengan Voldemort.

Baca Juga: Sel-Sel Kelabu Hercule Poirot

Setelah digunakan, batu tersebut jatuh di Hutan Terlarang dan memang tidak ada niat Harry, kemudian, untuk mencarinya. Dia tidak ingin memiliki si batu, sama juga dengan dia tidak ingin memiliki si tongkat.

Jubah Gaib


Inilah benda keramat terakhir yang diberikan oleh Kematian kepada Ignotus Paverell, si bungsu dari Paverell bersaudara. Jubah Gaib ini sejak semula jadi sudah kita ketahui diberikan oleh Albus Dumbledore kepada Harry dari wasiatnya James Potter. Berbeda dengan proses kepemilikan Tongkat Elder dan Batu Kebangkitan, Jubah Gaib merupakan satu-satunya benda yang menjadi konektor antara Harry dan Ignotus. Bahwa, Harry merupakan turunan Ignotus. Artinya, Harry dan Voldemort pun masih punya hubungan darah (jauh).

Jubah Gaib merupakan satu-satunya benda dari Relikui Kematian yang disimpan Harry. Tidak ada kisah lanjutan dari Jubah Gaib, bahkan dalam Harry Potter and The Deathly Hallows pun, Jubah Gaib hanya memainkan sedikit peran (disebut-sebut).

Harry Potter adalah Kisah Tentang Paverell dan Horcrux


Itu memang kesimpulan yang dangkal. Tapi sejak dulu, setelah selesai membaca Harry Potter and The Deathly Hallows, saya sudah berpikir demikian. Pada akhirnya, enam seri Harry Potter, tercerahkan di buku ke-tujuh. Kebaikan melawan kejahatan; Harry melawan Voldemort. Voldemort bisa kalah apabila semua horcrux-nya hancur; termasuk Harry - yang kemudian bangkit kembali. Dan ambisi Voldemort adalah menguasai Relikui Kematian warisan Paverell bersaudara; hanya satu Relikui Kematian yang sempat dipegangnya, Tongkat Elder, itu pun si tongkat justru setia kepada pemiliknya yang sah.

Horcrux


Dari tadi menulis horcrux. Apa saja kah horcrux itu?

1. Diary milik Tom Riddle.
2. Cincin Gaunt.
3. Liontin Slytherin.
4. Piala Hufflecup.
5. Diadem Ravenclaw.
6. Nagini.
7. Harry Potter.

Dan yang terakhir adalah jiwa yang masih melekat pada Voldemort sendiri.


Setelah membaca Relikui Kematian #1 dan #2, bagaimana tanggapan kalian? Siapa tahu pendapat kita berbeda tentang hal ini. Feel free to write your mind on comment!

Baca Juga: Samudera Cinta Ikan Paus

Selamat berakhir pekan, selamat bernostalgia bersama Harry Potter.


Cheers.