Menghargai Perbedaan dalam The Help

Diambil dari sini.

Sudah Sabtu lagi. Saatnya me-review. Semoga filem yang saya review ini bisa jadi referensi bagi kalian mengisi weekend. Bagi yang sedang berkebun, jangan lupa manfaatkan weekend untuk merawat tanamannya. Ngomong sama diri sendiri. Filem ini bukan filem baru, tentu saja, yang dirilis tahun 2011 silam. 

Baca Juga :

Dari judul dan gambar pada awal pos kalian pasti sudah tahu filem apakah gerangan? Yess, filem ini berjudul The Help. Diangkat dari novel yang ditulis oleh Kathryn Stockett, The Help adalah filem drama sejarah Amerika Serikat yang disutradarai oleh Tate Taylor dan diproduseri oleh Chris Columbus, Michael Barnathan dan Brunson Green (jadi ingat dokter Green di ER haha). Wikipedia menjelaskan: The Help dibintangi oleh Viola Davis, Emma Stone, Octavia Spencer, Jessica Chastain, Bryce Dallas Howard dan Allison Janney.

Apakah yang akan kalian lakukan ketika melihat ketidakadilan terjadi di depan mata? Ketidakadilan itu seperti; penindasan dan kesewenang-wenangan (a la Iwan Fals) serta pelanggaran HAM.

Apakah kalian akan diam saja?
Apakah kalian akan berontak?
Atau ... apakah kalian akan berontak melalui cara paling elegan yaitu melalui tulisan?

The Help, dengan seting tahun 1963, bercerita tentang kebrutalan para majikan terhadap asisten rumah tangga mereka yang didominasi oleh orang Afrika. Para majikan ini adalah Hilly Holbrook (Bryce Dallas Howard) si pemimpin kelompok sosialita dengan ibu Mrs. Walters (Sissy Spacek), ada juga Elizabeth Leefolt (Ahna O'Reilly), dan tentu saja si tokoh penulis Eugenia "Skeeter" Phelan (Emma Stone). Skeeter selalu merasa tidak nyaman berada di dekat teman-temannya dalam pertemuan-pertemua sosialita mereka karena Elizabeth apalagi si Hilly selalu bersikap rasis terhadap para asisten rumah tangga.

Rasisnya itu diantaranya adalah tidak memperbolehkan asisten rumah tangga memakai kamar mandi yang sama dengan kamar mandi mereka, apalagi sampai memakai kamar mandi tamu. Padahal kan kita tahu bahwa nature calling itu tidak dapat ditahan. Lagipula semua kamar mandi berfungsi sama kan? Tidak peduli siapa pun yang menggunakannya asalkan selalu dibersihkan setelah dipakai.

Adalah Aibileen Clark (Viola Davis) seorang pelayan Afrika-Amerika yang bekerja pada Elizabeth, serta temannya yang bernama Minny Jackson (Octavia Spencer) yang bekerja pada Hilly. Aibileen sangat dekat dengan anak Elizabeth yang berama Mae Mobley sedangkan Minny sangat terkenal dengan pie buatannya yang lezat pada setiap pertemuan para sosialita itu.

Suatu kali, badai mengerikan terjadi dan Minny menolak untuk pergi keluar menggunakan toilet bantuan. Nature calling sudah tidak dapat ditahan, maka dia memakai toilet tamu. Oleh karena itu Hilly memecat Minny, yang kemudian digantikan oleh Yule May (Aunjanue Ellis). Minny kemudian bekerja di rumah Celia (Jessica Chastain), isteri Johnny Foote (Mike Vogel). Johnny adalah mantan kekasih Hilly. Celia ini punya masalah tidak percaya diri atau apalah gara-gara keguguran dan merasa Johnny tidak mencintainya sepenuh hati. Masalah-masalah rumah tangga semacam itulah. Tapi Minny yang polos dan baik hati mampu menjadi 'teman' Celia yang selalu mendengarkan keluh kesahnya.

Melihat betapa rasisnya teman-temannya, Skeeter yang punya kemarahan terhadap ibunya karena dulu pernah memecat Constantine tanpa alasan yang jelas, mulai mendekati Aibileen untuk menjadi narasumber bukunya. Tidak hanya Aibileen, mereka juga mengajak para asisten dan pekerja lainnya untuk berbagi cerita atas sikap para majikan yang semena-mena itu. Pertemuan rahasia di rumah Aibileen yang awalnya hanya dua orang, kemudian berkembang menjadi belasan orang. Perasaan Skeeter semacam terkoyak mendengar cerita mereka. Manapula Yule kemudian dituduh mencuri cincin milik Hilly.

Murka Minny pada Hilly terbalaskan melalui sepiring pie. Dengan wajah manis yang dibuat-buat Minny mengantar pie itu untuk Hilly yang langsung dicoba di depan rumah. Lantas, Hilly bertanya, "Apa ini?" karena rasanya tidak seperti pie yang biasa dibikin Minny, dan Minny menjawab, "My shit." Kira-kira seperti itu lah. Hahaha. Minny ... kau awesome! Dan cerita itu terangkum di dalam buku yang ditulis Skeeter yang berjudul The Help.

The Help laku keras dan semua orang terbahak-bahak setiap kali membaca kisah pie-shit itu. Dengan diam-diam, hasil penjualan The Help diberikan Skeeter pada para narasumbernya termasuk Aibileen dan Minny. 

Kemudian The Help sampai di tangan Hilly. Awalnya dia biasa-biasa saja dengan buku itu sampai kemudian tiba pada kisah pie-shit. Maka histerislah Hilly. Sumpah, sampai adegan ini saya tertawa terbahak-bahak dan berkata, "Pembalasan Minny sangat manis, semanis pie-shit, eh se-shit pie-shit."

Kalau kalian ingin tahu selengkapnya, silahkan nonton sendiri filem The Help. Ada kok di Hooq. Saya sendiri juga nonton di Hooq.

Apa yang saya peroleh setelah menonton The Help?

Selain "Pembalasan Minny sangat manis, semanis pie-shit, eh se-shit pie-shit." itu? Cekidot.

Bahwa, Hak Asasi Manusia merupakan hak terhakiki yang tidak boleh dilanggar oleh siapapun termasuk majikan sendiri. Jangankan majikan yang membayar upah karena suatu pekerjaan, Presiden pun tidak boleh melanggar HAM ini. Salah satu cara menjaga HAM orang lain adalah dengan tidak berpikiran dan bersikap rasis seperti yang dilakukan, paling ekstrim, oleh Hilly. Perbedaan warna kulit bukan alasan untuk bersikap seperti itu.

Bahwa, tidak semua orang di dalam satu kelompok punya pemikiran yang sama. Seperti Skeeter yang berbeda dari Elizabeth dan Hilly, misalnya. Dia sangat-sangat tidak suka sikap, terutama, Hilly yang sangat merendahkan dan penuh penghinaan terhadap para asisten rumah tangga. Sama juga dalam kehidupan kita sehari-hari. Nurani, pada akhirnya, selalu menang. Janganlah kita menyamakan orang hanya karena mereka berasal dari kelompok yang sama ... siapa tahu mereka sebenarnya 'berbeda'.

Bahwa, menulis merupakan cara paling elegan untuk segala hal; berbagi cerita positif, mengungkap kebobrokan, menintakan sejarah. Agar kita tidak lupa pada kejadian masa lampau yang bisa jadi pelajaran untuk kehidupan masa sekarang. Kira-kira seperti itu menurut saya.

Bagaimana dengan kalian? Apabila sudah pernah menontonnya, apa pendapat kalian tentang filem The Help? Yang jelas, teruslah menulis. Kita bisa tahu tentang The Help dari sebuah buku yang DITULIS. Teruslah menulis.

Happy weekend!



Cheers.

Spy dan Melissa McCharthy yang Menginspirasi


Sudah weekend lagi, artinya kembali pada kegiatan mengulas filem, buku, dan musik. Baca pos yang satu ini agar tahu bahwa kalau kalian mencari filem, buku, dan musik baru di blog ini, kalian akan menemukan kegagalan. Jadi, kalau tidak baru berarti filem, buku, dan musik di blog ini syarat makna? Tidak juga. Filem, buku, dan musik yang di-review merupakan pilihan atas suka-sukanya penulis sekaligus pemilik blog.

Sesederhana itu *ngikik*

Baca Juga:

Kali ini saya mengajak kalian menonton sebuah filem lama berjudul Spy yang dirilis di Indonesia pada 20 Mei 2015. Sudah lama juga saya tonton tapi baru di-review sekarang. Spy berkisah tentang agen-agen CIA terbaik bersama para analis mereka. Agen bekerja di lapangan, analis bekerja di ruang bawah tanah yang digambarkan jorok karena ada saja tikus piknik dan kelelawar terbang. 

Adalah Bradley Fine (Jude Law) seorang agen CIA ganteng dan sangat diandalkan. Dalam pekerjaannya, Bradley mempunyai 'mata dan telinga' yaitu agen CIA lain yang ditugaskan menjadi analis bernama Susan Cooper (Melissa McCharty). Suatu saat Bradley secara tidak sengaja membunuh penjual senjata yaitu Tihomir Boyanov (Raad Rawi) gara-gara bersin yang tidak dapat ditahan lagi. Ebusyet! Jadi ingat filem Inferno yang diangkat dari novel Dan Brown yang gara-gara dekuk burung tembakan si assasin meleset. 

Akibat kematian Tihomir, Bradley tidak sempat mengambil koper berisi bom nuklir yang diincar CIA karena suara tembakan memicu datangnya orang-orang Tihomir. Dari bukti yang ada, Bradley pun pergi ke rumah anaknya Tihomir Boyanov yang bernama Rayna Boyanov (Rose Byrne). Di sana lah kemudian Bradley 'digambarkan' dibunuh oleh Rayna. Kematian Bradley disaksikan oleh Susan (melalui kamera kontak lens yang dipakai Bradley). Kematian Bradley meninggalkan kesedihan yang mendalam. Susan kan jatuh cinta sama Fine. Susan hanya bisa mengenang Bradley melalui kalung mainan yang diberikan Bradley pada makan malam mereka sebelumnya.

Lantas, siapa yang akan meneruskan pekerjaan memburu koper bertuah itu setelah Bradley tewas? Adalah Rick Ford (Jason Statham), agen CIA bertemperamen emosional, pengen banget bisa menyelesaikan kasus ini. Alih-alih memilih agen lapangan, Susan lah yang dipilih untuk, bukan menyelesaikan, menjadi mata-mata dan menginformasikan semua temuan di lapangan pada analis lain bernama Nancy B. Artingstall (Miranda Hart). Dan kekocakan pun terus mewarnai filem ini sampai akhir.

Susan, dengan obsesi membalaskan dendam atas kematian Bradley yang dicintainya, kemudian keluar dari jalur. Dia tidak saja menjadi mata-mata tapi melibatkan dirinya di dalam kasus tersebut. Jelas dia melanggar aturan karena tugas utamanya hanya menjadi mata-mata dengan tampilan emak-emak beranak lima dan emak-emak gendut pecinta kucing. Haha. Perbuatan Susan ini membikin Nancy kelimpungan. 

Tapi pada akhirnya Susan berhasil menyelamatkan nyawa Rayna dan berhasil mengikuti Rayna untuk mengetahui perihal keberadaan koper bertuah, hingga orang-orang yang akan membeli koper bertuah tersebut. Terjadi begitu banyak aksi tembak-tembakan, kejar-kejaran, dan kocak-konyol, yang pasti bikin kalian ngakak. Belum lagi tingkah Aldo (Peter Serafinowicz) yang tergila-gila pada Susan. Belum lagi tingkah Nancy yang absurd. Belum lagi tingkah Ford yang terlalu percaya diri dan temperamental. Belum lagi pada akhirnya Susan tahu bahwa ternyata Bradley masih hidup dan memalsukan kematiannya demi menyelesaikan kasus tersebut.

A-ha!

Kalian bisa membaca sinopsis lengkapnya di sini.

Ada beberapa catatan setelah menonton filem ini, di luar kekocakannya.

1. Sepatu Susan Cooper

Dalam salah satu scene terjadi kejar-kejaran antara Susan Cooper dengan penembak salah seorang bodyguard Rayna yang setelah berhasil dikejar Susan, ketahuan ternyata agen CIA juga (yang kemudian dibunuh pula oleh penembak siluman - guess who? Yess, Bradley). Di scene itu, Susan memakai jas hitam dan sepatu heels. Tetapi pada aksi kejar-kejaran itu, salah satu scene menampilkan Susan bermanuver dengan motor matic, mengenakan sepatu flat.

Hal-hal semacam ini sering terjadi dalam filem-filem keluaran Hollywood sekalipun dan akan saya ulas di lain kesempatan. Misalnya pada satu scene si tokoh tidak memakai kalung tapi pada scene yang sama mendadak sudah ada kalung di leher si tokoh. Atau mendadak terjadi kebocoran the other cameraman muncul di scene.

2. Bawel Cerdas

Susan adalah agen yang cerdas dan punya nilai baik dalam ujian-ujian masuk menjadi agen CIA. Di dalam Spy, Susan adalah agen paling bawel yang pernah ada, yang menjadi lengkap dengan absurd-nya Nancy. Selalu ada saja yang dia komentari dan selalu bisa berkelit setiap hendak ketangkap basah, terutama ketangkap basah oleh Rayna. Celetukan-celetukannya pun cerdas dan selalu bikin ngakak.

3. Sahabat itu Saling Melengkapi

Kalian akan menangkap nilai persahabatan antara Susan dan Nancy. Susan yang cerdas harus tabah menghadapi Nancy yang absurd. Dan mereka saling melengkapi meskipun Nancy itu memang keterlaluan absurd-nya.

4. Jangan Menilai Orang dari Luarnya Saja

Yess! Don't judge a book by its cover. Jangan menilai Susan dari penampilan luarnya saja; gendut dan bekerja di dalam ruangan sebagai analis alias 'mata dan telinga' agen lapangan. Pada akhirnya lewat filem Spy kita kembali diajarkan tentang hal ini; bahwa Susan yang dianggap 'tidak mampu' membuktikan bahwa dirinya sangat mumpuni. Manapula bila bekerja dalam tim.

Berikutnya, mari simak Melissa McCharty yang menginspirasi.

Ini catatan pribadi saya tentang Melissa McCharty. Melalui Spy kalian bakal tahu orang-orang yang big size belum tentu lambat. Kalian pasti pernah mendengar julukan 'si gendut lincah' atau 'bocah lincah' yang ditujukan untuk para big size yang tidak kesulitan bergerak itu. Tahun 2015 Melissa McCharty memang masih terlihat sangat sangat sangat besar! Tapi di filem Spy kalian akan melihat betapa orang yang besar itu sangat sangat sangat lincah! Yang lincah tidak saja gerak-geriknya tetapi juga mulutnya. Hehe.

Dan pada tahun 2016 kalian akan terkejut mengetahui bawa si big size berhasil mengurangi berat badannya seperti yang terlihat pada gambar berikut:


Melissaaaa ... aaa ... ke mana kah lemak-lemak itu berada sekarang? You nailed it! Ini jelas sangat menginspirasi kan? Mungkin orang-orang berpikir kesuksesannya di dunia per-filem-an dengan tubuh super bongsor akan membuat dia bertahan dengan kondisi itu. Karena, big size adalah ciri khasnya. Tapi dia keluar dari ciri khas itu. Hehe. Yang saya harapkan untuk filem-filem berikut dia akan tetap menjadi tokoh filem bermulut lincah! 

Wah, lumayan panjang juga review hari ini. Semoga kalian yang belum menontonnya terhibur (apabila memutuskan untuk menonton), dan bagi yang sudah menonton, silahkan ditonton ulang!

Informasi yang saya peroleh, Melissa McCharty juga sudah memulai blog-nya sendiri.

Selamat berakhir minggu!


Cheers.

Filem-Filem Bertema Pendidikan


Serius, saat menulis judul pos ini, saya sama sekali tidak ingin kalian berpikir tentang sinetron-sinetron Indonesia (tidak semua, memang - mungkin) yang bertema pendidikan dengan anak sekolah berpakaian kurang pantas seperti rok di atas lutut dan wajah menor kayak Anabelle versi filem. Atau anak sekolah yang di pikirannya cuma urusan cinta dan perebutan mahkota puteri dari pangeran sekolah. Filem-filem bertema pendidikan di sini tentu kualitasnya jauh di atas dari sinetron-sinetron picisan di teve. 

Tunggu dulu ... ada yang marah kalau saya menulis itu sinetron picisan? Ha ha ha.

Baca Juga:
Perang Urat Syaraf Antar Lelaki dalam The Daughter 
Jeff Dunham dan Puppet-nya 
Sisi Lain Dunia Gulat dalam Dangal

Kenapa saya menulis tentang filem-filem bertema pendidikan? Karena ... ehem ... baru selesai diyudisium ini, jadi masih hangat-hangatnya *tsaaah*

Menulis tentang filem-filem bertema pendidikan, yang paling pertama terlintas di benak saya adalah Laskar Pelangi. Filem bertema pendidikan yang diangkat dari novel karya Andrea Hirata. Laskar Pelangi ini mengingatkan saya pada Universitas Flores; meskipun jauh dari Ibu Kota Republik Indonesia tetapi punya 'kekuatan' yang luar biasa. Bahwa tidak selamanya yang berada di kampung itu bakal kalah sama yang berada di kota. Bahwa tidak selamanya anak kampung itu kampungan. Am I right?

Setelah Laskar Pelangi, otak saya menuju ke sebuah filem berjudul 3 Idiots. Filem India yang satu ini punya kekuatan luar biasa pada tiga 'idiot'nya. Kalau Laskar Pelangi menyorot bocah SD maka 3 Idiots menyorot kehidupan kampus mahasiswa dan tentu kehidupan di asrama mereka. 3 Idiots adalah filem cerdas yang sangat layak tonton! Saya jamin kalian tidak bakal menyesal meskipun itu filem lama.

Ada satu filem (kita menyebutnya filem Barat, right?) berjudul Freedom Writers. Ini filem sampai membikin saya merinding saking kerennya. Sedikit bocoran, ini filem lama tentang seorang guru yang berhadapan dengan para murid beda RAS. Mereka membawa-bawa perkelahian antar geng di luaran sampai ke dalam kelas. Bagaimana seorang guru perempun berusaha mengajarkan kepada anak-anak itu bahwa pendidikan sangat penting dan hentikan permusuhan adalah sesuatu yang sangat luar biasa. Menurut saya.

Beralih ke Thailand, sebuah filem Teacher's Diary juga layak ditonton berkaitan dengan filem bertema pendidikan. Tidak saja bercerita tentang perjuangan guru dan murid di sekolah apung di 'ujung dunia' Thailand sana, tapi juga tentang kisah cinta yang begitu kuat oleh seorang guru laki-laki terhadap guru perempuan hanya karena membaca buku harian si guru perempuan. Kalau belum nonton, saya rekomendasikan kalian untuk menontonnya karena visualnya sangat memukau.

Dan terakhir (dari saya) kembali ke Indonesia. Sebuah filem yang berlatar Papua yang berjudul Denias (Senandung di Atas Awan). Filem ini bercerita tentang seorang bocah laki-laki bernama Denias yang berusaha agar dia memperoleh pendidikan yang layak. Gosh ... agak gemas ketika melihat anak kota menyia-nyiakan kesempatan belajar sedangkan anak seperti Denias berusaha agar bisa memperoleh pendidikan yang layak. 

Filem-filem yang saya sebutkan di atas tentu hanya seiprit dari begitu banyaknya filem bertema pendidikan (dan berkualitas) baik dari Indonesia maupun dari negara lainnya. Bagaimana dengan kalian? Filem bertema pendidikan apa yang sudah kalian tonton?


Cheers.

Perang Urat Syaraf Antar Lelaki dalam The Daughter

Gambar diambil dari sini.

Lebih baik menerima kenyataan yang pahit ketimbang tertawa dalam manisnya kebohongan.

Kalimat itu yang terlintas di benak saya ketika selesai menonton filem berjudul The Daughter. Apa yang terlintas di benak saya tentu berbeda dengan yang terlintas di benak penonton lain, karena secara garis besar mungkin penonton lain akan berkata, "Biarkan rahasia kelam masa lalu terkubur bersama kebahagiaan hidup yang sedang dikecap." Mungkin, bukan pasti, kalau kalian punya pendapat sendiri, silahkan nonton dan tulislah review filem ini.

Baca Juga:

Filem The Daughter yang dikerjakan ulang dari karya Henrik Ibsen berjudul The Wild Duck diperankan oleh Geoffrey Rush sebagai Henry (kalau tidak kenal Rush pasti kenal Hector Barbossa dalam Pirates of the Caribbean yang meninggal pada sekuel Dead Man Tell No Tales), Sam Neil sebagai Walter, Ewen Leslie sebagai Oliver, Paul Schneider sebagai Christian, Odessa Young sebagai Hedvig, Wilson More sebagai Adam, Miranda Otto sebagai Charlotte (kalau tidak kenal Otto pasti tau Eowyn dalam The Lord of the Rings), Anna Torv sebagai Anna.

Cerita The Daughter bermula ketika Christian pulang ke desanya karena hendak menghadiri pernikahan antara ayahnya yaitu Henry dengan (mantan) pembantu si ayah yang bernama Anna. Ada satu hal yang perlu diketahui di sini bahwa ibu si Christian telah meninggal dunia dan Christian menyalahkan ulah Henry atas kematian ibunya karena Christian menganggap Henry itu playboy alias suka main mata sama pembantu mereka. Itu yang menyebabkan hubungan ayah-anak ini tidak harmonis. Manapula Christian punya masalah rumah tangganya sendiri.

Saat pulang ke desa itu, di mini market, Christian bertemu dengan Oliver dan istrinya yang bernama Charlotte. Euforia Oliver bertemu kawan lama berakhir pada makan malam di rumah Oliver bersama keluarganya termasuk ayah Oliver yang bernama Walter. Dari pertemuan itu Christian kagum pada kehidupan Oliver yang sudah punya anak gadis bernama Hedvig.

Dari awal filem sudah dibangun betapa dekatnya hubungan ayah-anak antara Oliver dengan Hedvig sehingga emosi penonton ikut larut di dalamnya. Betapa sayangnya Oliver pada puteri semata wayangnya itu dan betapa bahagianya keluarga kecil mereka (bersama Walter yang memilih tinggal di sebuah van tua di dekat rumah Oliver). Alur berikutnya campur-aduk antara kehidupan remaja si Hedvig dengan teman cowoknya yang bernama Adam, dunia sekolah Hedvig, dan pekarangan tempat Walter merawat hewan-hewan sekarat yangmana Hedvig juga turut ambil bagian merawat hewan-hewan tersebut. Di dalam penangkaran sederhana itu Walter juga menyimpan senapan berburunya.

Singkat kata singkat cerita (kayak lagunya Bang Jamal Mirdad), Christian jadi sering bertemu Oliver dan keluarganya, dan malah mereka pergi piknik bareng. Gara-gara piknik bareng ini lah cerita tentang Henry bergaung keras sampai pada perempuan yang pernah bekerja padanya. Dan salah satu perempuan itu adalah Charlotte. Christian terkesiap karena selama ini tidak mengetahui tentang Charlotte. Dia mulai mengorek informasi ini. Charlotte merasa tidak nyaman atas kehadiran Christian, manapula Christian menawarkan untuk mengantar Oliver wawancara kerja.

Hasil korek-mengorek informasi ini, Christian mengetahui bahwa Charlotte pernah menjalin asmara dengan Henry saat bekerja di rumah Henry. Christian juga tahu bahwa Hedvig bukanlah anak Oliver, melainkan anak si Henry.

DHUAAARRRR!

Sehari sebelum pernikahan Henry dan Anna, Christian dan Oliver pergi ke luar kota. Keesokan harinya uring-uringan dia menghadiri pernikahan Henry dan Anna, manapula sang istri mengabarkan tidak bisa hadir dan lebih memilih laki-laki lain (istri si Christian tidak tahan sama sikap Christian begituuu). Pikiran Christian jadi kacau. Dia kesal sama Henry; lebih kesal lagi sama Charlotte yang menyimpan rahasia kelam ini begitu lama. Dia berpikir bagaimana bisa Charlotte hidup bahagia bersama Oliver dan Hedvig sementara si Hedvig adalah anaknya Henry?

Pesta pernikahan Henry dan Anna menjadi malapetaka untuk Charlotte karena Christian menceritakan semuanya pada Oliver. Oliver marah, tidak terima, merasa dilecehkan, dan akhirnya pergi. Padahal Charlotte berkata bahwa itu masa lalunya dan pada saat itu dia memang mencintai Henry. Oliver tetap tidak terima dan memilih untuk menginap di motel ketimbang pulang ke rumah. Sebagai ayah, Walter hanya berusaha agar Oliver menyadari bahwa masa lalu tidak bisa terulang tapi bagaimana kita bisa memperbaikinya agar masa depan menjadi lebih baik.

Hedvig, yang mengejar Oliver ke motel justru bertemu Christian. Mau tidak mau Christian menceritakan pada Hedvig rahasia itu. Hedvig syok. Mati-matian dia mencari Oliver. Bertemu Oliver di mini market, sikap Oliver yang menolaknya membuat Hedvig marah besar dan depresi. Hedvig pulang ke rumahnya, pergi mengambil senapan milik Walter, pergi ke gedung tua tempat dia dan Adam sering bermain di situ, lantas ...

DHUAAARRRR!

Walter lah orang pertama yang mendengar suara tembakan itu. Berusaha menyelamatkan nyawa si cucu, Walter berlari kencang ke gedung tua. Dan akhirnya Oliver menyadari perbuatannya. Dia hanya bisa menangis mengingat penolakannya pada Hedvig. Sangat sangat menyesal.

Singkat. Padat. Jelas. Demikian kira-kira alur ceritanya.

Saya memilih judul pos Perang Urat Syaraf Antar Lelaki dalam The Daughter. Saya pikir ini judul yang pas karena di dalam filem ini para lelaki benar-benar perang urat syaraf antara Henry dengan Christian, antara Henry dengan Walter, antara Christian dengan Oliver, antara Oliver dengan Henry. Semacam lingkaran setan para lelaki dengan titik pusat seorang gadis remaja bernama Hedvig. Charlotte? Tidak, bukan dia pusat perang urat syaraf ini, hehe.

Siapa yang paling tertekan di dalam filem ini? Christian. Itu jawab saya. Dia harus menerima kenyataan bahwa anak sahabat baiknya itu ternyata adiknya sendiri (beda ibu). Itu pahiiit hit hittttt.

Bagaimana dengan moral of the story-nya?

Bagi saya, moral of the story filem ini adalah Lebih baik menerima kenyataan yang pahit ketimbang tertawa dalam manisnya kebohongan. Hedvig telah memberikan pelajaran pada Oliver bahwa kenyataan dirinya anak si Henry adalah pahit, tapi dia lebih memilih Oliver sebagai ayahnya. Dari situ Oliver belajar bahwa kenyataan yang pahit ini jauh lebih baik ketimbang tertawa dalam manisnya kebohongan yang ditutup rapat oleh Charlotte. Pada akhirnya semua rahasia akan terbongkar dan harus diakui kisah pendek Walter dengan ibunya Oliver yang diceritakan di motel menjadi semacam remedy.

Hei, look! Other people also have their deepest secret and experience the same thing. 

The Daughter memang bukan filem yang penuh adegan baku-tembak atau adegan bekelai (bakulahi). Tapi filem ini cukup melibatkan emosi penonton terutama kekesalan pada sikap Christian. Hanya saja di sisi lain, Christian juga benar. Kan tidak lucu kalau Christian kemudian jatuh cinta pada Hedvig dan menunggu Hedvig dewasa untuk menikahinya. Itu namanya perkawinan sedarah. Haha.

Semoga weekend kalian menyenangkan ...


Cheers.