Pesan Misterius Si Lembing Hitam

Capung Raja Maling
Foto Capung Raja Maling - gembelmotret.blogspot.com 
Dari cerita nenek menjelang tidur, aku percaya kakek bisa berkomunikasi dengan segala jenis hewan rawa, dari buaya yang besar sampai kutu air yang tak tampak. Selain bapak, kakek adalah lelaki idola kedua dalam dunia kecilku.

Kakekku seorang petani sederhana yang serba bisa. Kadang ia memberiku sawo matang sepulang dari ladang, itu yang membuatku suka menginap di rumahnya walau sederhana, ada saja yang kakek bawa sepulang dari sawah ladang. Sore kemarin ia membawa cukup banyak ikan air tawar yang ia tangkap di rawa dekat sawahnya.

"Mengapa kakek menangkap ikan nek?" Tanyaku setelah kami usai makan malam bersama.
"Kamu ingat capung besar yang masuk ke rumah kemarin siang?" balas nenek.
"Ya, dia membuatku kaget karena terbang berputar-putar dalam rumah, dan cicak-cicak selalu mengejarnya saat ia hinggap sehingga dia terbang lagi dan lagi".

"Capung itu mencari kakek, dia bercerita tentang anak-anaknya yang ketakutan dengan ikan-ikan besar yang memakan anak capung yang belum bisa terbang" kata nenek.

"Kamu tahu kan anak-anak capung yang kecil itu hidupnya di bawah air, sampai dia besar bisa terbang?" sambung nenek memberi penjelasan padaku yang heran bagaimana bisa ikan-ikan di air dapat memakan capung yang terbang.

***

Kenangan itu datang begitu saja saat beberapa ekor lembing menempel dekat asbak rokokku. Seorang teman pernah berkelakar bahwa lembing adalah kunang-kunang yang dikutuk. Saya menyukai lelucon satirnya itu.

Kembali tersadar saat hidung mencium bau sangit khas binatang kecil ini mengisi malam sepi di pertengahan bulan Juli yang dingin. 

Mungkin angin malam yang membawa lembing ini jauh masuk ke pemukiman hingga ke rumah. Jarak sawah terdekat paling tidak 1-2 kilometer jauhnya di sekitaran Kampung Kelapa Tiga, Kebalen Kecamatan Babelan Bekasi. 

Namun yang penting saat ini bukan nalar dan logika mengapa lembing-lembing ini bisa sampai ke hadapanku, tetapi kemungkinan bahwa mereka sengaja datang membawa pesan, tapi pesan apa yang mereka bawa? 

***

Lembing hitam ini adalah momok yang dibenci oleh para petani. Baunya yang menyengat tidak kalah mengganggu dengan efek gatal dan perih jika racunnya terkena kulit. Mereka akan terbang ke pemukiman saat bulan purnama bersinar terang. Seperti laron, mereka akan mendatangi sumber-sumber penerangan.

Lembing ini datang tidak sendirian, di lantai juga merayap beberapa, sebagian lagi berterbangan mengelilingi lampu di teras depan rumah.

"Pesan apa yang kamu bawa, hai makhluk kecil yang keberadaannya dikeluhkan?".

Sebentar dulu, ia memang makhluk kecil jika dibandingkan dengan manusia. Tapi kalau dibandingkan makhluk lain semacam kutu air atau virus jelas ia adalah makhluk yang besar. Jadi, menyebutnya sebagai makhluk kecil sebenarnya tidak relevan.

Mengenai keberadaanya yang dikeluhkan juga masih relatif, kita manusia menerapkan sudut pandang dan standar untung rugi jika berhadapan dengan makhluk lain. Makhluk semacam lembing yang tidak memiliki nilai intrinsik yang menguntungkan secara ekonomi apalagi telah terbukti merugikan para petani pastinya akan dikeluhkan.

hama lembing di lantai rumah

Lembing tadi masih diam seperti pura-pura mati. Atau memang sudah mati? Apa yang bisa disampaikan oleh lembing yang mati? Apakah udara di Babelan ini sudah sangat beracun hingga lembing saja sudah tidak bisa hidup?

***

Suatu ketika saat aku sedang asik memanjat pohon sawo di kebun tiba-tiba kakek menyuruhku turun dari pohon. Aku segera turun dan berpikir akan mendapat marah karena memanjat pohon sawo yang tidak terlalu besar itu.

"Ayo kita pulang" kata kakek, lalu pergi. Aku mengangguk dan mengikuti langkahnya dengan lega karena ternyata ia tidak memarahiku. Namun kehadiran kakek di kebun masih membuatku heran.

"Biasanya kakek pulang setelah adzan ashar, mengapa sekarang masih siang sudah pulang?" tanyaku dalam hati. 

Kami berjalan beriringan melalui jalan setapak di antara rimbun pohon penghujan yang membatasi kebun. Saat sampai rumah aku langsung membantu nenek yang sedang mengangkat jemuran, tidak lama setelahnya hujan gerimis mengguyur, kemudian semakin lama hujan semakin deras. Cuaca cepat sekali berubah, barusan tadi panas terik, sekarang berganti hujan deras. 

"Alam dan segenap isinya ini semua berkomunikasi, namun tidak dengan bahasa yang kamu pahami. Kadang perubahannya walau sedikit saja sudah menjelaskan, tinggal pintar-pintar kita menerjemahkan bahasa alam ini" suara kakek terngiang. 

***
Kebalen, Babelan 
Jumat, 19 Juli 2019. 
Kajeng Keliwon Uwudan

Yang Terdampar dan Yang Menyambungkan


Yang Terdampar dan Yang Menyambungkan

Konon tersebutlah sebuah kerajaan yang adil makmur, kerajaan itu sedang dirundung duka karena putri kerajaan terserang penyakit kulit menular. Sekian banyak tabib tidak ada yang dapat menyembuhkan putri cantik kesayangan negeri.

Tak tega menyaksikan putrinya terkurung karena penyakit, dengan berat hati sang raja dan ratu melepas putrinya ke tanah pengasingan dengan bekal keris pusaka kerajaan dan berbagai benda pusaka sebagai bukti identitas sang putri.

Sang putri dengan senang menukar karantina istana dengan kebebasan meski jauh, ia juga tidak ingin penyakitnya menular kepada kerabat istana dan rakyat negerinya.

Berperahu dan ditemani beberapa pengawal setia kerajaan dan keluarganya akhirnya sang putri dengan berat hati pergi meninggalkan negaranya menyusuri sungai dan kemudian menetap di pinggir hutan di mana mereka terdampar. "Orang terdampar", begitulah kemudian mereka menamakan diri dan tempat tinggal mereka sekarang.

Suatu saat kala sang putri mencuci di tepi danau, tanpa disadari datang seekor kerbau albino yang menjilat kulitnya. Awalnya ia merasa terganggu dan mencoba mengusir si kerbau, tapi menyadari penyakit kulitnya berangsur sembuh dan hilang dalam sekejap ia kemudian memerintahkan pengawalnya berhenti mengusir kerbau itu.

Bersyukur atas kesembuhannya, sang putri memerintahkan para pengawalnya untuk tidak mengganggu kerbau albino (kerbau bulan/kerbau bule). "Aku minta mulai saat ini jangan menyembelih kerbau bule, karena dia adalah kiriman dewata untuk menyembuhkanku".


***

Singkat cerita, serombongan pemburu bermalam di hutan karena tidak berani pulang. pangeran kerajaan yang ikut dalam rombongan berburu hilang, ia terlalu asik memburu binantang buruan hingga terpisah dari rombongan. 

"Kita tidak boleh pulang sebelum pangeran ditemukan. Jika sampai akhir hayat tidak ditemukan, biar kita semua terkubur di sini," ucap salah satu dari pemburu itu. Menyadari hukuman yang menanti jika mereka pulang tanpa pangeran, tidak ada seorang pun dari rombongan itu yang berani menyanggah kata-kata itu.

Tersesat dalam gelap hutan bukan hal yang menakutkan bagi pangeran namun ia juga tidak ingin dirinya celaka dari sergapan binatang buas. Tidak lama si pangeran memanjat pohon besar yang ia temui dan berniat istirahat di sana. Dari ketinggian di atas pohon ia melihat ada beberapa nyala cahaya di kejauhan, ia perhatikan dan yakin itu bukan halusinasi dan tipuan mambang hutan. Ya itu cahaya lampu dari rumah penduduk.

Berharap dapat tempat istirahat yang lebih layak akhirnya sang pangeran memutuskan untuk mendatangi sumber cahaya yang ia lihat. Tibalah ia di rumah sumber cahaya yang tidak lain adalah rumah sang putri.

Tidak mudah bagi sang pangeran untuk masuk ke rumah itu, para pengawal sang putri mempertaruhkan nyawanya demi menjaga keselamatan putri dari raja yang mereka hormati.

"Aku hanya ingin istirahat, mengapa tidak boleh? Sekarang pertemukan aku dengan siapapun yang memiliki kewenangan untuk memberiku izin beristirahat di sini".

Rasa heran pangeran belum habis saat ia terpaksa melawan para pengawal sang putri yang tetap mengusir dirinya.

Lelah karena berburu dan tersesat membuat sang pangeran tidak ingin berlama-lama, ia mengungkap identitasnya dan menyampaikan maksud hanya ingin menumpang beristirahat.

Sang pangeran telah curiga sejak awal, jika rumah itu dihuni warga biasa mengapa ia tidak diizinkan memasukinya padahal ia sudah meminta izin sebaik-baiknya. Dan mengapa ada pengawal-pengawal yang sulit ia taklukkan, kalaupun prajurit pastinya mereka prajurit pilihan yang pilih tanding.

Kecurigaan itu justru mengundang rasa penasaran dan memancing emosi jiwa mudanya sehingga terjadi pertarungan yang menambah lelah dirinya.


***

Sang putri sudah sejak awal memperhatikan keributan di halaman rumah tinggalnya, namun ia memilih untuk diam memperhatikan, karena baru kali ini ada tamu yang ia tidak kenal dan berhasil memaksa para pengawalnya mencabut pedang.

Mengetahui tamunya adalah salah satu putra kerajaan tetangga ia kemudian memerintahkan pengawalnya agar mengizinkan pangeran masuk menemuinya.

Setelah meminum hidangan yang dipersilahkan si pangeran bertanya sesopan mungkin sambil menahan gejolak rasa penasaran dalam hatinya.

"Boleh aku tahu siapakah pemilik rumah yang sudah berbaik hati memperbolehkan aku yang tersesat ini masuk dan menghidangkan minuman herbal hangat penghilang lelah ini?".

Sang pangeran akhirnya tidak dapat menahan diri untuk membalas tatapan tajam dari balik kerudung. Dari cara duduk, jenis kain selendang atau kerudung penutup wajah dan jenis kain sarung yang dikenakan lawan bicaranya sang pangeran tahu yang ia hadapi adalah seorang perempuan bangsawan.

Tergagap sang pangeran tidak menduga lawan bicaranya menjawab pertanyaan dengan menyodorkan senjata pusaka yang berbalut sulaman panji bendera khas kerajaan. Sadarlah ia sedang berhadapan dengan salah satu keluarga inti kerajaan yang termasyur karena memiliki raja yang adil dan bijaksana.

Tanpa panjang basa-basi ia kemudian mengungkapkan maksud untuk bisa menumpang beristirahat dan akan segera kembali mencari rombongannya pada esok pagi.

Lawan bicaranya hanya mengangguk lalu memanggil pengawal yang berjaga di pintu untuk mengiringi pangeran ke luar.

Singkat cerita sang pangeran mendapat jamuan makan dan tempat istirahat setelah membersihkan diri dan berganti pakaian yang cukup layak untuk dirinya. Lelah membuatnya cepat tertidur malam itu.

Saat pagi hari ia segera ia berpamitan untuk kembali mencari rombongannya. Tapi apa daya, tuan rumah telah menyiapkan sarapan dan kali ini putri sendiri yang menemaninya makan pagi.

Perkenalannya dengan putri yang terdampar itu membuat pangeran meminta ayahnya melamar sang putri. Niat ini ia sampaikan sepulangnya berburu bersama rombongan.

Sang raja menyambut gembira permintaan anaknya ini akan mempererat hubungan dua kerajaan, tapi ia juga khawatir jika keinginan putranya tersebut ditolak oleh pihak kerajaan tetangga, maka akan meretakkan hubungan antar dua kerajaan.

"Maksud baik tidak selamanya diterima baik anakku, temui kembali putri pujaan hatimu dan sampaikan maksudmu, jika ia menerimanya maka mudah-mudahan semua dilancarkan." 


***

Tidak ada jawaban dari sang putri, ia tahu tidak bijak menjawab pinangan itu tanpa sepengetahuan orang tuanya. Iya atau tidak bukan jawaban sederhana, sang putri sangat sadar apapun jawabannya akan menentukan masa depan dua buah kerajaan dan rakyat yang ada di dalamnya.

Sang putri kemudian menyerahkan senjata pusaka titipan ayahnya dan berpesan.

"Sampaikan maksudmu kepada ayah ibuku dan berikan senjata pusaka ini kepada mereka, jika mereka menolak senjata ini, itu artinya kita tidak ditakdirkan bersatu, tapi jika mereka menerima dengan baik maka jemput aku untuk hidup bersamamu selamanya".

Mendengar jawaban itu sang pangeran langsung berangkat menuju pusat kerajaan di mana ayah dan ibu sang putri tinggal.

"Doakan agar alam merestui perjalananku, dan saksikan bahwa 'orang yang terdampar' akan kembali dengan sambutan cinta dari semua orang yang merindukannya, karena ia yang menyambungkan dan mengantarkan aku, orang dari seberang menuju masa depan" ucap sang pangeran.

Ternyata kedatangan sang pangeran diterima dengan baik oleh orang tua sang puteri.
Raja dan permaisuri gembira mendengar kabar putri mereka telah sembuh dan menerima senjata pusaka yang pernah mereka berikan.
"Ia mempercayakan dirimu untuk mengembalikan senjata pusaka ini kepada kami, artinya ia telah menemukan orang yang ia percaya untuk melindungi dirinya" ungkap permaisuri.

"Niat baikmu kami terima, kembalilah bersama perwakikan kami untuk menjemputnya pulang, sampaikan kepada rajamu, anaknya juga adalah anak kami" ungkap sang raja memeluk sang pangeran.

Demikianlah akhirnya mereka menikah dan merekatkan hubungan dua kerajaan. Mereka menetap dan beranak pinak di tempat mereka pertama berjumpa.

Walaupun mereka tidak menjadi raja di kerajaan masing-masing, kisah hidup mereka terus direkam dalam kenangan kolektif masyarakat dari 2 kerajaan dan dituturkan sebagai warisan dalam berbagai versi cerita.

----------------
Adaptasi dari kisah hikayat Putri We Tadampali.

"Orang Terdampar" disebut Tosora'e, nama tempat itu kemudian disebut Tosora ibukota kerajaan Wajo di Sulawesi Selatan dahulu kala.

Jika Ingin Pelangi, Kau Harus Menerima Hujan

Jika Ingin Pelangi, Kau Harus Menerima Hujan
Orang memanggilku  Dean, lengkapnya Deandrea. Aku selalu takjub dengan proses terjadinya hujan. Bagaimana air pada jemuran yang terkena terik matahari berubah menjadi uap sehingga dapat terbang mengangkasa. Berkumpul dan menyatu dalam awan di langit lalu kemudian menjadi tetes air dan tercurah turun membasahi bumi kembali.

"Kalau nanti sore hujan, jangan pulang dulu sebelum aku datang menjemput kamu," ucapku sambil menatap matanya sungguh-sungguh.

Ia membalas tatapanku seperti biasa, lembut dan damai. Ia mengangguk sambil memberiku senyum tertahan, tanpa kata berbalik dan berjalan masuk ke gerbang sekolah, melewati lapangan basket lalu hilang di koridor kelas yang berjejer. 

Aku pun meninggalkan tempat itu setelah puas memandangi rambut hitam panjang kepang dua yang berjalan cepat tanpa pernah menengok. Satu-dua kali membalas sapaan dari teman-temannya yang kukenal, melewati tukang-tukang dagang dan obrolan anak-anak tongkrongan langkahku semakin menjauhi lokasi sekolahnya.


Aku suka dengan istilah "September Ceria" yang diambil dari judul lagu Vina Panduwinata, meski September sudah berlalu dan hampir setiap hari hujan datang, tapi hujan juga berarti ceria, yah Oktober, November, Desember kapan pun itu, hujan selalu berarti ceria

Ceria karena hujan adalah saat menjemput pujaan hati pulang sekolah dengan hanya berbekal payung seadanya, lalu menyusuri aspal basah bersamanya.

"Kamu tahu apa yang aku suka dari hujan?" tanyanya waktu itu.

"Suasana jadi gak panas?" jawabku.
"Bukan, kalau gak hujan pasti kamu gak menjemput aku kan?"
"Iya, kalau tidak hujan kamu kan bisa pulang bersama teman-teman kamu, gak perlu aku jemput kan?"
"Iya juga sih, tapi kenapa kalau hujan kamu menjemput aku?"
"......"
Pertanyaan yang tidak pernah aku jawab.

Ya benar, jika sedang tidak hujan, baik saat sedang sendirian atau sedang bersama teman, aku memilih mengawasinya dari jauh, menjadi secret admirer yang cukup merasa puas saat ia tahu aku ada, mengawasinya, mencoba hadir.. walau jauhEntah siapa yang memberi ide menjemputnya setiap hujan datang. 

Ada tatapan heran kala pertama, bukan tatapan marah sepertinya, ia seperti enggan menerima payungku. Atau mungkin ia ingin berbasah-basahan bersama?, kubuang kesimpulan prematur itu jauh-jauh.

"Bilang aja ojek payung" memberinya alibi agar ia tidak canggung menerima payung yang aku tawarkan.
"Maksudmu?" kudengar tanyanya di antara suara gemericik hujan.
"Ya bilang aja ojek payung langganan, kalau ada yang nanyain"
"Emang akan ada yang nanyain?"
"Kan aku bilang kalau ada yang nanyain hahaha" sambutku dengan tetap mengambil posisi di belakangnya.

Selanjutnya tidak ada lagi pertanyaan, aku hanya memantau cuaca. Jika mendung dan hujan maka aku hanya tahu untuk membawakannya payung. Apakah perlu alasan untuk hal sesederhana itu?.
_____

"Kamu lucu, basah-basahan padahal membawa payung," katamu suatu ketika sambil menerima payung yang aku sodorkan. 

Kata-katanya memecah hening saat aku tak bisa berbicara banyak, hanya mematung yang bisa aku lakukan menyadari ia sedang menatapi sekujur tubuhku yang basah dengan sedikit senyum simpul.

Aku pikir dia marah waktu itu, sepertinya dia perlu memikirkan beberapa saat skenario dadakan yang aku tawarkan tanpa pemberitahuan sebelumnya. Jika yang dia bayangkan kami akan satu payung berdua di tengah hujan dan disaksikan puluhan pasang mata yang berteduh saat itu... terlalu manis untuk menjadi kenyataan

Dengan cepat ia mengembangkan payung dan mulai melangkah anggun menerobos hujan yang tidak terlalu deras lagi.

Tak banyak kenangan yang tersimpan dari aksi konyol spontanitas seperti itu, situasi dan kondisi yang menentukan, waktu merupakan barang mahal. Terlambat mengambil tindakan karena terlalu lama berpikir hanya memberi angin kepada keraguan untuk mengambil alih keadaan. Lalu semua segera akan menjadi serba terlambat dan berubah menjadi prasasti penyesalan. Aku tidak akan izinkan itu terjadi, setiap detik bersamanya terlalu berharga.

Benar kata orang, hujan bukan hanya menyebabkan genangan tapi juga bisa menghadirkan kembali kenangan. Semua akan baik-baik saja asal kita tidak terlalu lama berendam dalam genangan kenangan itu 😊
Terlambat mengambil tindakan karena terlalu lama berpikir hanya memberi angin kepada keraguan untuk mengambil alih keadaan. Lalu semua segera akan menjadi serba terlambat dan berubah menjadi prasasti penyesalan. Aku tidak akan izinkan itu terjadi, setiap detik bersamanya terlalu berharga.
____________

Namaku Anandra, teman-teman memanggilku Ana. Aku tidak terlalu suka hujan tapi aku percaya hujan selalu membawa kebaikan, bukankah kita diajarkan membaca doa untuk menyambut turunnya hujan?.


Memasuki awal November hujan tidak terlalu sering, namun setelah pertengahan November hujan deras hampir setiap hari mengguyur. 


Aku selalu siap payung dan jas hujan serta kantung plastik untuk melindungi isi tas, tapi setiap kali bertemu Dean dengan payungnya aku dengan senang hati menerima payung yang ia sodorkan. Kadang ia mandi hujan, kadang juga kami berdua dalam satu payung ,walau akhirnya ia selalu basah kuyup karena mengalah untukku.


Dean yang kutahu hanya lulusan SMA dan tidak mempunyai pekerjaan tetap, banyak yang tidak ku tahu tentangnya selain kelakuannya yang aneh: selalu muncul membawa payung saat hujan
Kalau tidak hujan ia tidak tampak, tapi pernah kupergoki ia mengawasi dari jauh. Berbaur dengan geng yang sebagian besar berasal dari sekolah yang sama denganku.

"Na, tadi itu siapa yang nganterin elo?" tanya Wati memecah lamunan.
"Biasa ojek payung, ada apa yah?" jawabku mencoba tenang.
"Ojek payung khusus buat elo kali? soalnya gue lihat setelah ngantar elo dia langsung pulang kok, gak seperti ojek payung lain, lagi pula kayaknya gue kenal deh"
"Elo kenal di mana?"
Sebuah pertanyaan percuma setelah aku tak dapat menjawab rentetan pertanyaan teman sekelasku ini. Wati pasti tau aku sedang mengelak.
"Hei, udah ngelamunnya!, disambung nanti saja, tuh Bu Guru sudah masuk kelas" ujar Wati mengagetkanku.

Tidak mengherankan sebenarnya kalau Wati dan beberapa teman mengenalnya. Selain adiknya juga bersekolah di sekolah ini, beberapa teman juga berasal dari wilayah yang sama. Paling tidak rumah kami masih 1 kelurahan walau beda RW apalagi dia cukup luas pergaulannya dengan banyak orang.

Ah aku masih saja melamunkannya walau setelah beberapa mata pelajaran silih berganti.

_____________

"Ana, ngapain lo ngeliat-ngeliatin mereka Na? Itu anak-anak bandel, cuekin aja!" kata Yeni menyadari aku yang agak tertinggal.

"Ah enggak tadi kayaknya ada yang manggil, gue kira mereka" jawabku menghindar.
"Ya mungkin aja sih, mereka emang suka usil, di sekolah juga suka bikin masalah, udah yuk ah, cuekin aja" timpal Sofi sambil menarik lengan Yeni. Kami bertiga kembali berjalan bersama sambil bercerita apa saja.

"Itu di sana ada Ivan, dulu waktu SD gak nakal kayak sekarang, suka bolos dan gak pernah rangking kelas lagi" Sofi mulai bercerita.

"Kok elo tau si Ivan suka bolos? Kalian kan gak sekelas, yang sekelas sama Ivan kan Ana" tanya Yeni.
"Rumahnya Ivan kan dekat rumah gue, ibunya suka nanya-nanya kalau gue lewat depan rumahnya" jelas Sofi dengan santai.

"Oh kirain elo suka sama Ivan hehehe" ledek Yeni, aku juga ikut tersenyum.
"Dulu sih iya, sekarang sih enggak lah" jawab Sofi sambil tersenyum. Kami bertiga masih terus bercanda.

"Ivan di kelas baik-baik aja kok, nanti gue salamin deh" godaku.

"Ih Ana jangan dong, gue kan malu" jawab Sofi dengan memasang mimik muka memelas yang disengaja sehingga mengundang tawa.

Saat kami tertawa bertiga Ivan dengan sepeda motornya menghampiri kami.

"Hai Sofi, hai Yeni, hai Ana, oh iya Ana elu dapet salam dari Dean". Setelah mengucapkan itu Ivan meninggalkan kami yang bingung.

"Idih apaan sih? Gue kirain mau nawarin gue pulang bareng" ucap Sofi ketus. Yeni dan aku tertawa mendengar ucapan Sofi. Sepertinya Sofi tidak serius, karena ia kemudian tertawa juga.


"Tumben banget tuh si Ivan lewat paket negor kita-kita, biasanya nyelonong aja kayak gak kenal" ucap Yeni. 

"Terus Dean itu siapa Na?" tanya Yeni.
"Gak tau" jawabku sambil tertawa, kemudian Yeni dan Sofi juga tertawa mendapat jawaban seadanya.

Kelak aku tahu Ivan ternyata memang mendapat pesan untuk menyampaikan salam kepadaku. Entah maksudnya apa tapi saat itu aku senang, tapi juga grogi menjawab pertanyaan Yeni.

_________

Bel istirahat berbunyi, aku keluar kelas bukan mau ke kantin atau lainnya, hanya ingin menghanti suasana saja agar tidak jenuh. 

"Hai Ana, salam dari Dean" ucap Ivan yang baru keluar dari ruang kelas.
"Terima kasih" jawabku.
"Elo emang udah jadian yah sama Dean?" tanya Ivan datar.
"Kalo iya emang kenapa?" jawabku memancing
"Yah gapapa sih, cuman heran ajah"
"Heran kenapa?" cecarku.
"Eh enggak deh, udah yah aku mau ke kantin dulu" jawab ivan meninggalkan aku yang kesal. 
Bagaimana tidak kesal, dia yang memulai pembicaraan lalu sekarang pergi begitu saja.

"Tumben elo ngobrol sama Ivan" tanya Wati mendekatiku.
"Elo gak apa-apa kan?" lanjutnya.
"Eh gapapa kok, gak tau, iseng aja kali" jawabku.
"Iya sih dia emang suka iseng, ayo bareng kalau mau ke kantin" ajak Wati.
"Gak deh, makasih, gue cuma mau cari angin aja kok" jawabku.
"Ok deh" jawab Wati sambil berlalu.


sunset di pantai indrayanti jogja

Hujan mulai reda, seiring kesadaran yang mulai hadir dan mengusir kenangan dalam lamunan.

"Asik bener ngelamunnya Na" sapa Mas Iwan yang kemudian duduk di dekatku.
"Hujan yang tidak terlalu deras, angin yang sejuk ini bikin lamunan kemana-mana mas." jawabku meraih gelas kopi yang sudah dingin.
"Kopi sudah dingin begitu kok diminum, ini masih hangat" Mas Iwan mengambil gelas kopiku dan menyodorkan kopi hangatnya. 

Aku terima mug putih bertuliskan "Jika Ingin Pelangi, Kau Harus Menerima Hujan" berisi kopi hangat yang menebar aroma bunga. Kesegaran mengalir mengusir suasana dingin dan menggantikan kenangan yang dingin dengan obrolan hangat kami. Mataku menangkap kilatan sisa sinar matahari senja memantul dari ombak yang berkejaran menepi di pantai. Semakin redup hingga benar-benar hilang tenggelam tanpa jejak.


Lamunan Kopi Sore Dan Mata Indah Bola Pingpong

Lamunan Kopi Sore Dan Mata Indah Bola Pingpong

Mungkin kelak orang akan paham betapa mewahnya memiliki waktu untuk diri sendiri, dan kesendirian pun tidak selamanya berarti kesepian. Seperti sore ini, saat matahari mulai dipeluk langit jingga di ufuk barat. Surya semakin tenggelam menyisakan gelap di atas langit Tarumajaya Bekasi.
Entah berapa lama kesendirian ini bisa kunikmati, rona temaram lampu yang selalu menyala kini semakin  jelas, pertanda magrib akan segera tiba.

Sengaja aku datang lebih awal dari waktu yang disepakati agar bisa menikmati suasana sore lebih pribadi. Ternyata tidak selama yang kuduga. Seorang tukang pos dengan senyum ramah mendatangiku lalu duduk berhadapan di kursi besi kafe, dibuka tasnya lalu memberikan sebuah surat , "surat dari pujangga" katanya berusaha menjelaskan. Penjelasan yang tidak berarti, karena aku malah tambah bingung mendengar penjelasannya itu. Baiklah, sebut saja pujangga yang tidak kukenal.

"Aku tak lagi menemukan ibu-ibu yang mencari kutu di kepala" ujarnya putus asa. Kemudian ia memberikan pula 2 buah kantong plastik. Tatapan matanya begitu lekat dan tampak akrab, tapi aku gagal mengenali wajah tukang pos yang jelas lebih muda dari aku ini.

Aku tak tahu musti berkata apa, senyum ramah dari wajah lelah yang putus asa itu jelas telah berhasil mengunci logika untuk sekadar bertanya, siapa pengirim semua ini?. Kemudian tukang pos itu meninggalkanku tenggelam dalam banyak pertanyaan yang menggantung. Bergegas langkahnya pergi, postur tubuhnya tegap seperti seorang olahragawan itu berjalan menjauh dan hilang di keramaian sore.

Setelah kubuka, tas plastik kresek hitam berisikan kotak-kotak nasihat dan satu plastik lagi yang transparan berisikan naskah adegan-adegan sebuah drama atau sandiwara, setidaknya demikian yang aku duga. Dan telah berkali-kali aku baca surat berisi puisi itu tanpa paham apa yang dimaksudkannya. Mungkin aku sudah terlalu tua untuk dapat memecahkan rangkaian kode-kode berbentuk kalimat sastra yang pastinya berisikan makna, entah apapun itu. 
"Atau mungkin belum saatnya" batinku, seperti mewakili suara dari surat yang misterius ini.

"....Kalau kau sudah siap, kepakkan sayapmu
Aku menunggu di balik beribu awan itu
Meski tak sempat bicara rindu pada angin 
yang mungkin bisikkan cinta hanya sampai pada daun telingamu
Tak apa!
Belum saatnya kau tahu sayang."

Aku tersenyum kecil, "Yah antara belum saatnya atau sudah kadaluarsa" batinku. Kulipat kembali surat itu dan kumasukkan ke dalam tas. Dua plastik lusuh dan misterius itu kusimpan di bawah meja kafe agar tidak mengganggu pemandangan. Matahari sudah terbenam, lampu-lampu penerang jalan yang menghias berjajar mulai menyala mewarnai kanvas kehidupan yang tidak pernah beristirahat. Di lain sisi, lampu-lampu kendaraan dan sesekali bunyi klakson melontarkan berbagai cerita yang meramaikan sepiku. Yah aku sendirian, tapi bukankah semua juga sendirian?.

Pelayan kafe mendatangiku, kupesan kopi Arabika Java Preanger untuk menemaniku menyambut malam yang masih muda.
"Masih ada waktu menikmati kesendirian sebelum Ratna datang" gumamku sambil memeriksa jam di ponsel.

Sayup petikan gitar lagu Now and Forever - Richard Marx terdengar, seperti menambah kekuatan bagi kenangan-kenangan itu untuk mencoba menerobos pikiranku. Ini pasti konspirasi alam, lagu itu seperti sengaja diputar untuk menemaniku menunggunya.

Berbagai kenangan-kenangan mulai hadir, beberapa yang masih melekat kuat langsung hadir lengkap dengan senyum manis dan tatapan berbinar dari mata indah bola pingpongnya. Apalah dayaku, kenangan-kenangan itu adalah bagian kecil dari masa lalu yang paling menyenangkan untuk diingat kembali dari sebagian besar kenangan yang kurang menyenangkan.

"Sudah lama?" tanyanya membubarkan lamunanku.
"Eh, yah, baru, ini kopiku saja masih penuh" jawabku gugup.
"Maksudku sudah lama melamunkan aku?" tanyamu kembali.
"Hahahahaha" hanya tawa yang keluar setelah sempat sekian detik tertegun mendengarnya menanyakan itu. 
"Kamu sendiri sudah lama duduk di situ?" tanyaku berusaha mengendalikan perasaan.
"Yah, lumayan, gak tega merusak lamunanmu hehehe" jawabnya sambil memanggil pelayan dan kemudian memesan Thai Tea untuk menggantikan teh melati kesukaannya.

Aku lebih banyak diam mendengarkan, cerita-ceritanya yang mengalir tenang tanpa henti seperti ombak Pantai Indrayanti dan sebagian besar Pantai Utara Jawa lainnya. Ceritanya mulai dari bisnis rumah makan seafood yang ia rintis, penginapan, percetakan hingga rencana-rencana ke depan lancar terucap. Semua terencana dan tertata dengan rapih. Aku menyimak, hanya memberi komentar saat ditanyakan saja.

Teringat cerita dari adiknya tentang keinginannya untuk tinggal di pantai atau danau, di mana pun yang ada unsur air. Kini impian itu sudah mewujud menjadi kenyataan, hidup memang akan sangat baik pada beberapa orang namun juga dapat sangat kejam. Untuk Anna aku tidak bisa memberikan opini tentang jalan hidupnya, lebih 20 tahun kami terpisah dan kini skenario kehidupan kembali mempertemukan kami sebagaimana adanya saat ini. 

"Suamimu mana?" tanyaku ketika ia mulai bertanya tentangku.
"Sedang bertemu suplier onderdil jetski di Ancol, kalau cepat selesai dia akan menyusul kita" jawabnya sambil menikmati Thai Tea beraroma rempah.
"Kalau begitu aku akan pulang sebelum dia sampai hahaha" sahutku cepat.
"Loh kenapa? aku sudah sering kok cerita tentang kamu, gapapa kok".
"Aku gak akan bisa menyembunyikan cemburuku kalau bertemu suamimu, hahaha".
"Ah kamu itu, biasa saja kenapa sih" ketus  tanggapannya tapi tidak ada intonasi marah. 

Lalu aku ceritakan tentang apa yang terjadi sebelum ia datang. Mengenai puisi dan 2 kantong plastik misterius dari tukang pos yang juga tak kalah misteriusnya. Aku tahu, Anna bukanlah tipe kutu buku yang gemar membaca, tapi ia cukup akrab dengan berbagai jenis bacaan dan sepanjang yang kutahu, ia lebih suka film.
"Aku suka nasihat-nasihat ini, sudah ada gambaran tentang siapa yang membuatnya?" tanyanya sambil membaca satu-persatu kertas nasihat yang tersimpan dalam kotak-kotak terbuat dari triplek sebesar tempat tisu.
"Entahlah, aku belum mau memikirkannya saat ini". Jawabanku membuatnya mengangguk dan tersenyum simpul.
"Boleh buatku saja? Kamu sepertinya tidak butuh nasihat-nasihat ini deh" ucapnya tanpa mengalihkan pandangan ke kertas-kertas yang dengan cepat ia lihat sekilas satu per satu. 
"Hmmm boleh, tapi aku masih butuh nasihat kok, bagaimana kalau kamu yang membacanya lalu nanti kalau aku butuh nasihat aku akan menghubungi kamu dan kamu membacakannya untuk aku"
"Kok terdengar seperti modus yah? hehehe, yo wis ini buat aku saja" jawabnya lirih tanpa mengalihkan pandangan.

Malam semakin larut, kopiku yang sudah mulai dingin masih enggan kutuntaskan. Aroma kopi dan semua kenangan itu masih tersimpan rapih walau sudah sekian tahun berlalu. Lagu Doping dari Garux Band yang kerap kunyanyikan di ujung gang dekat rumahnya saat kami remaja sudah berganti lagu Selamat Tinggal Masa Lalu dari Five Minutes.

"Anna aku sedang butuh nasihat" tulisku melalui aplikasi perpesanan WhatsApp.
"Kalau butuh nasihat dari kotak nasihat aku akan fotokan, kalau mau dengar suaraku aku rekam voice chat, kalau ingin ngobrol nanti saja, aku masih sibuk urus catering, ba'da zuhur saja kita ngobrol :)"
"Siap ndan :) abis zuhur aku WA lagi yah".
"Ok, ttyl*".
Sejenak kupandangi foto profil WhatsApp-nya. Anna yang ayu dan suaminya yang gagah. Aku pernah melihat wajah itu... senyum ramah itu... aku tidak akan lupa tatapan akrab si tukang pos pengantar surat misterius itu. []

---

*ttyl - talk to you later
Inspired by: belantarakoma.blogspot.com
Foto: kak-dean.blogspot.com


Kopi dingin dan hujan dini hari

Kopi dingin dan hujan dini hari

Segelas kopi menemaniku menunggu Bang Tama pulang kerja malam ini. Hujan seperti sengaja menambah gelisah mengingat jalanan Babelan yang rusak dan licin saat hujan. "Semoga bapak baik-baik saja yah nak" gumamku sambil mengelus perut yang berisi buah cinta kami.

Kalau mau diceritakan tentang hal termanis yang masih terus teringat tentang Bang Tama, mungkin itu adalah saat pertama kali aku perbolehkan Bang Tama mengantarku pulang. Iya, sudah beberapa kali dia menawarkan diri untuk mengantarku, tapi entah kenapa aku tidak mengizinkannya, hingga malam itu.

Ya, malam itu, malam saat langit Babelan sepertinya sedang bersekongkol dengannya. Gerimis yang tiba-tiba datang membuat satu persatu kawan seperjalananku pulang meninggalkan aku. Tanggung jawab sebagai panitia membuatku tidak bisa meninggalkan rapat-rapat penting seperti kawan yang lain. Aku rasa semua pun demikian jika tidak memiliki agenda acara yang bentrok.

"Tau gak apa yang bikin abang suka ama rapat-rapat yang kayak tadi Ros?" tanyamu membuka obrolan.
"Apaan bang?" tanyaku.
"Bisa ketemu Rosmah lah"
"Apaan? gak kedengeran bang" balasku pura-pura tidak mendengar dan ingin memastikan apa yang barusan kudengar.

"Cuma dalam rapat abang bisa ketemu eneng, rapat semalem suntuk ge ora ngapah-ngapah abang mah asal ada Rosmah ikutan rapat" jawabmu sambil tertawa.

Kemudian perjalanan menuju rumah terasa sangat cepat sekali, aku masih ingin berboncengan ketika motornya berhenti karena sudah sampai di rumahku.

"Makasih yah bang, kapan-kapan boleh dah mampir, kalo sekarang mah udah malem, gak enak ama tetangga, dah yak, assalam mualaikum" potongku cepat dan berbalik menuju ke rumah.

Hari-hari berikutnya waktu terasa berjalan lambat, kuliah seakan hanya menghitung hari, senin, selasa, rabu, kamis, alhamdulillah sudah jumat, besok aku bisa bertemu lagi dengan Bang Tama. Walaupun hampir tiap waktu luang kami selalu bertukar sapa di WhatsApp dan Facebook, namun tidak ada yang bisa menggantikan pertemuan langsung.

-----

Sabtu malam Minggu 15 April 2017, aku kembali bertemu Bang Tama dalam rapat terakhir dan persiapan gladi bersih acara milad komunitas kami yang pertama. Semua anggota berkumpul untuk berdoa bersama. Seluruh panitia hadir dalam suasana serius tapi santai, canda penuh keakraban mengisi acara tumpengan di aula gedung Karang Taruna Desa Babelan Kota malam itu.

"Tam, Rosmah bantu-bantu bagian konsumsi juga yah? Kayaknya temen-temen bakalan kerepotan nih ngurus konsumsi tamu" kudengar bang Raihan seakan meminta izin kepada Bang Tama.

"Tanya langsung orangnya dah, dia repot gak di seksi acara, tar gua bantuin juga dah ngurusin konsumsi tamu" kudengar Bang Tama menjawab cepat dan menatapku. Aku hanya tersenyum dan mengangguk tanda setuju. Kemudian Bang Raihan dan teman-teman kembali mendiskusikan tugas-tugas panitia untuk acara besok.

Entah kenapa telinga ini sekarang lebih tajam menyimak apa saja kalau menyangkut Bang Tama. Seakan-akan telinga ini punya radar yang menyala kalau mendengar nama Bang Tama disebut.

Tapi kenapa pula Bang Raihan meminta izin ke Bang Tama?, jangan-jangan semua teman sudah tahu ada hubungan khusus antara aku dan Bang Tama. Padahal kami jarang sekali bertemu, paling hanya acara-acara tertentu dan yah acara di komunitas ini, komunitas yang telah mempertemukan kami.

----

Perhelatan Milad pertama organisasi kami berjalan lancar, ratusan tamu datang dan pergi dihibur dengan alunan musik dan suara Bang Andri Goden dan kawan-kawan dari Getah Bacang, band musik Betawi yang cukup ternama di Bekasi. 

Usai acara, rasa gembira dan bangga tentu saja kami rasakan karena acara besar pertama kami telah berjalan lancar dan sukses. Namun di balik kisah sukses selalu ada kisah kerja keras, keyakinan, keringat dan juga lelah. Kami semua belajar bersama dengan gembira, saling mengisi dan saling menumbuhkan, hal yang mungkin tidak akan aku dapatkan jika aku tidak ikut berorganisasi dalam komunitas.

Namun ada kejadian yang membuat aku kesal sebenarnya. Saat acara aku melihat Bang Tama ngobrol mesra dengan Maya yang hadir di acara. Aku gak melarang Bang Tama menemui siapa saja di acara, dan aku juga gak bisa melarang Maya untuk datang, tapi aku tidak suka saja melihat Bang Tama ngobrol dengan Maya. Apakah ini yang namanya cemburu?

Aku cerita sedikit yah tentang siapa Maya? 
Maya dulu adalah teman akrab Bang Tama, aku tahu dulu Bang Tama juga sering mengantar dan menjemput ke rumah Maya di Wates Kedung Jaya. Aku tidak tahu pasti bagaimana tapi aku dengar dari teman-teman bahwa selanjutnya mereka saling menjauh. Terakhir yang aku tahu Maya sudah keluar dari komunitas dan Bang Tama sepertinya juga sudah tidak pernah lagi ke Wates menemuinya. Dari seorang teman aku mendegar hubungan mereka tidak direstui oleh orang tua Maya, mungkin faktor itu yang membuat Maya tidak pernah lagi berkumpul dengan kami dan akhirnya keluar dari komunitas. Mungkin saja sih, aku juga tidak begitu paham masalahnya.

"Dar, gua ke toilet dulu yak, ganti'in gua jaga stand konsumsi bentaran plisss" pintaku pada Asnidar.
"Ok, jangan lama-lama Mah, romannah tamu mingkinan banyak bae" jawab Asnidar.
"Gak, bentar doang ge' balik" jawabku sambil menuju Aula tempat penyimpanan persediaan konsumsi.
Aku lirik Bang Tama masih ngobrol dengan Maya, rasanya ingin cepat-cepat sampai ke Aula dan menangis sebebasnya. Entah apa yang aku pikirkan saat itu, perasaanku kacau, tapi sengaja aku mengambil jalan yang bisa dilihat Bang Tama.

Benar saja, tidak beberapa lama Bang Tama sudah menyusul. Ah, biarkan saja dia melihat aku menangis, biar dia mengerti aku tidak suka melihatnya dekat dengan Maya lagi.

"Nah ini dia, dicari'in ke mana-mana enggak taunya ada di marih. Rosmah, dicari'in Asnidar tuh" bujuk Bang Tama.
"Oh jadi Abang ke mari cuman mau ngasih tau itu? Saya udah tau bang, bentar lagi ge' balik kalo udah tenang perasaan saya" ketusku.
"Romanah ada yang lagi purik, Abang temenin dah yak"
"Ora usah bang, bagen saya dewekan di marih, udah Abang duluan ajah tar saya nyusul"
"Ogah ah, Abang maunya di marih, nemenin eneng"
"Lah ntuh pan ada Maya di sonoh, Abang temenin Maya ajah gih" jawabku sambil pindah duduk menjauh dari Bang Tama yang duduk di sebelahku.
"Mayanya udah pulang, tadi sempet nitip salam buat Rosmah" jawab Bang Tama perlahan.
"Iya makasih, salam balik, abang ora nganterin bang? dulu kayaknya sering dah nganter jemput" jawabku sambil membersihkan air mata yang sudah mulai berhenti.
"Udah lama ora pernah lagi neng, Abang ama Maya udah temen biasa, udah yuk, nanti abang ceritain semua dah selengkap-lengkapnyah, sekarang mendingan kita ngurusin tamu aja dulu yuk" ajak Bang Tama.
"Masih ama Maya juga ora apa-apa bang saya mah, iya udah abang aja duluan, tar saya nyusul"
"Hmmm nti abang jelasin dah Mah, sekarang kita balik ke acara aja dulu, bareng ajah yuk"
"Udah Rosmah ora ngapa-ngapa, Abang duluan aja, saya belakangan"
Bang Tama akhirnya meninggalkanku sempat aku lihat dia mengangkat sekardus air mineral lalu kemudian pergi.

Aku memang pernah mendengar Bang Tama dan Maya tidak direstui oleh orang tua Maya, tapi aku masih tidak percaya Bang Tama bisa melupakan Maya secepat itu, mereka dahulu setahuku cukup akrab dan mesrah. Ah, mungkin benar, ini yang namanya rasa cemburu.

-----

Sekian waktu telah berlalu sejak acara Milad komunitas kami, kegiatan semakin banyak, aku dan Oliv dipercayakan mengelola Seksi Pendidikan, ini menarik, selain sesuai dengan jurusan kuliah, ini dapat menambah wawasan dan mengaplikasikan ilmu yang aku dapat semasa di kampus.

Hubunganku dengan Bang Tama juga semakin baik, kami sudah saling mengenal keluarga masing-masing. Bang Tama juga sudah semakin sering mampir ke rumahku.
"Bang, Seksi Pendidikan enaknya ngapain yak?" pancingku suatu waktu saat Bang Tama mampir sepulang kerja.
"Ngajar bocah SD ajah, sekalian praktek, biar kepake ituh ilmu PGSD di kampus" jawab Bang Tama bersemangat.
"Tapi di sekitar rumah susah ngumpulin bocah SD Bang, mau dikumpulin di rumah juga tempatnya sempit" kali ini aku utarakan sekalian niatku.
"Ya udah, nti abang coba kumpulin bocah deket rumah abang, kebanyakan sih masih keponakan" jawab Bang Tama seperti merencanakan sesuatu.

Aku tahu di sekeliling rumah Bang Tama memang suasana kekeluargaaannya masih kental, namun aku masih ragu soal tempat. Anak-anak pasti akan kurang leluasa kalau teras rumah Bang Tama yang digunakan untuk berkumpul dan belajar. Ah semoga ada solusi mengenai tempat belajar yang menumbuhkan dan membuat anak-anak leluasa berekspresi.

Tidak beberapa lama aku dengar kawan-kawan menggagas sebuah Taman Baca yang didirikan persis di depan rumah Bang Tama. Aku menduga ini pasti ada hubungannya dengan pembicaraan kami waktu itu. Tapi aku tidak dapat memastikannya, lagi pula itu adalah usul dari beberapa kawan yang terinspirasi dari TBM Rumah Pelangi Bekasi di Sukawangi.

Kopi dingin dan hujan dini hari

Saung itu juga hasil kerja bersama teman-teman komunitas dan warga sekitar, malu jika aku mengaggap itu adalah jawaban dari persoalan tempat belajar yang Bang Tama persembahkan kepadaku. Namun demikian bolehkah aku menamakan saung ini "Taman Baca Kita"? Iya, kita... kita semua, tapi kalau kamu mau mengartikan  kata "kita" sebagai aku dan kamu... yah aku juga tidak keberatan kok.

Dengan bantuan banyak pihak akhirnya komunitas kami memiliki sebuah saung yang salah satu fungsinya digunakan sebagai taman baca. Buku-buku dan alat-alat belajar sedikit demi sedikit mulai terkumpul, kekompakan dan solidaritas kawan-kawan semakin tampak, mimpi yang sepertinya mustahil kini sediki mulai mewujud dan membuatku harus menyambutnya dengan dedikasi dan keseriusan. Bukankah dari keterbatasan itulah lahir kreativitas? 

Aku jadi ingat potongan kalimat Tere Liye di buku – Negeri Di Ujung Tanduk [2003].
“Kau tahu, Nak, sepotong intan terbaik dihasilkan dari dua hal, yaitu, suhu dan tekanan yang tinggi di perut bumi. Semakin tinggi suhu yang diterimanya, semakin tinggi tekanan yang diperolehnya, maka jika dia bisa bertahan, tidak hancur, dia justeru berubah menjadi intan yang berkilau tiada tara. Keras. Kokoh. Mahal harganya.
“Sama halnya dengan kehidupan, seluruh kejadian menyakitkan yang kita alami, semakin dalam dan menyedihkan rasanya, jika kita bisa bertahan, tidak hancur, maka kita akan tumbuh menjadi seseorang berkarakter laksana intan. Keras. Kokoh.”
Kalimat itulah yang aku tanamkan saat melihat anak-anak yang belajar di taman baca semakin banyak. Dari pelajaran sekolah, Bahasa Inggris dan belajar komputer mulai rutin kami laksanakan. Semoga anak-anak ini kelak akan menjadi intan-intan yang bertaburan, indah menghias kampungnya, Kampung Pangkalan, Desa Kedung Pengawas Kecamatan Babelan Kabupaten Bekasi.

---------------

Sabtu, 28 April 2018 dini hari. Gerimis masih belum mau reda. Masih menunggumu pulang sambil menikmati kopi dingin. "Yah semoga bapak baik-baik saja di jalan yah nak, amiin". []