Arsip Kategori: fiksi

LIDAH

LIDAH fiksi depresi

“Waaahhhh.... ibu kelihatan cantik sekali... lebih muda 10 tahun, deh.... gaunnya cocok banget... coba lihat belakangnya... tuh.. perfecto, bu... gak nyesel kalo ibu ambil yang ini...” Puji Nanik kepada seorang wanita paruh baya berdandan menor di depannya. Perempuan yang jauh dari langsing itu melenggak lenggok di ruang ganti dengan sebuah terusan mahal yang sedikit nge-press di badan gemuknya. Sambil sesekali membelakangi cermin besar di ruangan itu.

“Aaah, masa sih? Agak ngepass tapi Mbak...” Ucapnya kurang yakin.

“ Ibu habis makan malam kan?” Tanya Nanik tak kehabisan akal.

“ Iyyaa... sih...” Jawab si perempuan.

“Lha... itu, jadi agak kelihatan nge-pass...” Ujar Nanik. “Pesta nya kapan, Bu??” selidiknya lagi.

“Minggu depan sih...” Jawab si Ibu.

“Nnnahhh, masih punya 5 hari bu, mulai besok ibu diet saja, gak usah makan malam. Baju nya bagus  sekali, lho.Kelihatan eksklusif, mewah dan berkelas. Sayang kalo nanti di pesta ada yang pakai... padahal ibu sudah oke sekali dengan gaun ini... mmm gini deh, spesial nih, saya kasih diskon 10% deh, gimana..?” Nanik berusaha meyakinkan.

“Aduh,gimana ya.... budgetnya kan gak segitu, nanti saya gak bisa beli sepatu dan tas nya dong...” Jawab perempuan itu.

Mata Nanik terbelalak, “Ooooh, kalau begitu sekalian aja deh, nanti saya carikan tas dan wedges yang cocok buat gaun ini... saya kasih diskon 15%, gimana...? Mmmm, ada tas tangan limited edition nih dari merk Prada.... Cuma ada 200 pcs di dunia, bener lho. Di Indonesia cuma butik kita yang punya.Wedges-nya dari Burgundy.....bla....bla.....” 

Nanik menggamit lengan perempuan yang menjadi sasaran nya untuk mendapat bonus mingguannya pekan ini. Lumayan buat tambahan bayar kartu kredit yang sudah jatuh tempo 2 hari lalu. Dengan mengerahkan keahliannya merayu dan membujuk customer yang datang di butik tempatnya bekerja.

Malam itu sebelum closing, transaksi di tutup dengan pembayaran kartu kredit perempuan paruh baya yang membeli gaun pesta yang kurang pas dengan ukuran tubuhnya, tas tangan KW 1 dari produk kenamaan dunia yang di bandrol dengan harga original, serta sepasang wedges yang sama sekali tak disarankan di pakai perempuan setengah uzur dengan penyakit rematik di kakinya. 

Tapi semua itu bukan urusan wanita tenaga marketing sebuah butik yang membuka gerai di Mall ternama, yang harga sewanya berharga 1 buah rumah kelas menengah. Yang jelas, bonus mingguan yang menjadi haknya sudah terbayang di depan mata, tak peduli dengan cara yang tidak mulia, pokoknya barang sudah berpindah tangan. Itu saja.

Nanik, wanita seksi 29 tahun, yang bekerja di sebuah butik mewah itu membuka pintu rumah, ia menghempaskan tubuhnya di sofa empuk ruang tamu. Matanya terpejam pelan, penat melanda, kepalanya seperti berputar, terbayang betapa kacaunya kondisi keuangan keluarganya. Sejak sang suami di PHK 2 tahun yang lalu, dan mereka bercerai karena tak kuat menanggung cobaan hidup, Nanik memutuskan untuk bekerja. 

Sebelumnya, ia sempat menjadi sales force beberapa buah produk, dari alat-alat rumah tangga, kosmetik, peralatan senam, aksesoris, bahkan sandal buatan lokal. Pengalaman pertamanya menjadi seorang tenaga sales door to door, unforgettable-lah. Masih lekat benar dalam ingatanya bagaimana sikap orang-orang yang didatanginya. Ada yang menolak secara halus, ada yang buru-buru masuk ke dalam rumah melihat kedatangannya dari kejauhan, ada yang membanting pintu, sampai ada yang pura-pura baik, menyuruhnya masuk ke dalam rumah, lalu berusaha melakukan perbuatan tak senonoh padanya. 

Nanik jadi pandai sekali memainkan lisannya untuk berbohong. Bahkan hampir tanpa rasa bersalah, bahwa kebohongannya itu berakibat buruk pada orang lain

Ah, namun semuanya menjadikan Nanik piawai dalam hal membujuk orang, di samping karena belajar dari pengalaman, dalam setiap kesempatan, perusahaan tempat ia bekerja selalu membekali para salesnya itu dengan segudang teori bagaimana cara orang agar terpikat dan membeli barang yang ditawarkan. 

Dan hasilnya, Nanik hampir selalu sukses membujuk para pengunjung untuk membeli barang di toko. Namun, dari proses yang ia jalani, ada satu perubahan yang sebenarnya sangat tidak terpuji, Nanik jadi pandai sekali memainkan lisannya untuk berbohong. Bahkan hampir tanpa rasa bersalah, bahwa kebohongannya itu berakibat buruk pada orang lain. 

Tapi ia tak peduli,yang penting, jualannya laku. Ia dan keluarganya bisa makan. Sekarang ia harus menanggung hidup seorang anak buah pernikahannya dengan mantan suami, 2 orang adik dan seorang ibu yang kebutuhannya tak pernah ada habisnya. 

Nanik sadar betul, bila ia keluar dari pekerjaannya, 2 adiknya tak bisa lagi meneruskan sekolah, dan anaknya? Ah, sekecil itu tapi banyak betul keinginannya. Lalu sang Ibu, yang bolak-balik ke dokter karena nyeri pinggang dan diabetes yang kerap kambuh tak kenal situasi.

***

“Bunda, nanti Evan beli-in mobil remote yang kayak Riyan ya... yang gede, ada lampunya.” Celoteh anak semata wayangnya di meja makan ketika mereka sarapan. 

“Iya sayang, nanti Bunda belikan,” ucap Nanik semanis mungkin sambil mengoleskan roti dengan selai.

“Teh, tas Prada yang oren di butik, udah laku belum? Aku masih pengen nih,” rajuk Tami adiknya.

“Kayaknya udah Neng, soalnya kemarin waktu stock taking udah ga ada,” Jawab Nanik santai.

“Iiiih, gantian napa, masak teh Tami mulu sih, kemaren kan dia udah ganti laptop. Sekarang aku dong,” Kilah si bungsu, Euis.

“Emang kamu mau tas juga?” Tanya Nanik.

“ Engga teh, Euis pengen jam tangan, yang kayak di pake Jessica di televisi.”

“iya deh, nanti ya,” jawab Nanik.

“Ihh, kapan teh, minggu depan, Euis kan ulang tahun, buat kado Euis aja atuh.”

Nanik tertawa renyah,’Oh iya, boleh deh kalo begitu.”

“Nik, uwa Hamid mau sunatan si Arif, anak si Hasan. Emak disuruh pulang kampung hari Jumat.” Emaknya muncul dari dapur.

“Oh jadi Mak? Emak mau pulang sama siapa? Nanik ga bisa anter, soalnya kalo akhir pekan, butik rame Mak, mana tanggal muda lagi,” kawab Nanik sambil meneguk kopi terakhirnya di cangkir.

“Ga papa Emak pulang sendiri, kan naik bis cuma sekali, nanti di terminal, si Ujang ditelepon aja suruh jemput Emak. Tapi anter Mak sampe terminal bis ya,Nik.”

“Oke deh Mak,” jawab Nanik sambil beranjak meninggalkan meja makan.

Dalam mobil Nanik memutar otak, bagaimana ia bisa menyediakan uang begitu banyak dalam waktu sesingkat ini. Gajiannya masih jauh dari pelupuk mata, bonusnya... aha, kartu kreditnya mungkin harus menunggu sampai bulan depan. Cicilan mobil... cicilan rumah... cicilan motor Tami... ahh... 

mawar hitam gugur fiksi depresi

Lalu, sudah berapa kah uang butik yang ia tidak setor ke pemiliknya karena habis ia pakai? Nanik juga bingung, bagaimana ia selalu tak mampu menolak keinginan anak dan kedua adiknya, meskipun permintaan mereka tidaklah penting. Bahkan, seringnya menjadi suatu kemubaziran belaka? Lalu darimana ia bisa membayar semua tagihan yang rata-rata sudah tertunggak dalam bilangan bulan.?

Mobil Nanik, hampir menabrak avanza di depannya, adduuuhh, that's close, hatinya berdebar lebih keras. Perlahan keringat dingin mengalir dari dahinya dalam mobilnya yang ber AC. Tangannya seolah menegang.

“Kamu tak pernah mengajarkan hidup sederhana dalam keluargamu, itu sebabnya mereka menjadi sangat konsumtif sekali, mereka semakin menjadi beban buat hidupmu.” 

Sebuah suara seakan bergema dalam mobil. Nanik melemparkan pandangan ke sekeliling mobil, hanya ada dia seorang di sini, lalu siapa yang bicara barusan ? Suaranya jelas sekali terdengar.

“Ssssiiappa?” tanya Nanik pucat.

“Eh ini aku, lidah mu yang berbicara.” jawab suara itu

Nanik menyapu seluruh pandangannya ke seluruh mobil. Benaar tak ada siapa-siapa. Setengah ngebut Nanik memacu mobil ke butik. Sampai di parkiran, Nanik bergegas. Langkahnya setengah berlari. Tak dihiraukannya ucapan salam dari sekuriti dan pegawai Mall seperti biasa. Keringat dingin membasahi tangannya yang terasa lebih dingin.

“ Pagi, Mba Nanik...” Suara Selvi di balik meja resepsionis.

Nanik terkesiap, ia segera sadar. Ia sudah sampai di butik. Diperbaikinya tatanan rambutnya. Lalu sekilas ia melihat di kaca toko, make-up sudah harus diperbaiki. “ Pagi Selvi.” jawabnya sambil tetap berjalan menuju ruangannya.

“Mbak,tadi Ibu Jocelyn pesan, kalau Mba Nanik sudah datang, di suruh menghubungi beliau. Terus juga ada telepon dari Bank BHG tentang kartu kredit Mbak.” Lanjut Selvi.

“Ooh..iya, nanti saya hubungi mereka. Maaf, soalnya tadi HP saya silence, tak baik kalau terima telpon sambil setir mobil,berbahaya.” Ucapnya datar dan dengan senyum tentunya. Selvi mengangguk dan ikut tersenyum.

“Mbaak... maaf...” dari dalam ruang ganti, Amel, muncul.

“Ya, ada apa Mel?” Tanya Nanik tenang.

“Bonus  saya pekan lalu bisa diambil sekarang ga? Saya butuh sekali Mbak, bapak saya mau melanjutkan operasinya lagi. Uangnya masih kurang Mbak.”

Ya, seharusnya bonus Amel dan dua karyawan lainnya itu sudah ia bayarkan,” Oke, begini, sekarang kan kamis, nanti akhir pekan biasanya toko ramai Mel, besok juga ada barang baru yang masuk dari bu Jocelyn, barusan saya disuruh menghubungi beliau. 

Bonusnya dibayar hari Senin saja ya? Sekalian 2 pekan, jadi tambah banyak kan? Bagaimana?” bujuk Nanik, persis seperti layaknya ia lakukan kepada pengunjung toko. Dilihatnya senyum Amel mengembang. Ya, rayuannya berhasil. Dengan senyum lebar Nanik meninggalkan ruang depan.

sedih fiksi depresi

Di dalam ruangan stok, Nanik terdiam. Bu Jocelyn bukan menyuruhnya menghubungi untuk membicarakan re-stok barang, tapi hampir dipastikan beliau menanyakan uang setoran butik yang sudah hampir 1 bulan tak ia bayarkan. Jumlahnya hampir 56 juta rupiah, termasuk bonus 3 karyawan butik. Dalam brankas toko masih ada 15-an juta lagi. 

Lalu HP-nya yang sudah 2 hari dimatikan, menghindari telepon dari bank menagih tunggakan kartu kreditnya, cicilan rumah yang sudah 4 bulan diabaikan. Mobil yang tinggal menunggu waktu diambil paksa oleh debt kolektor dari kantor leasing. Kembali suasana mencekam seperti dalam mobil pagi tadi.

“Apa yang hendak kau katakan kepada pemilik butik, Nanik? Mengatakan bahwa pengunjung sepi seperti yang sudah-sudah? Agaknya kamu harus mencari alasan yang lain,karena Jocelyn sedikit mulai curiga kepadamu.”

Aaahh, suara itu lagi... Nanik berputar mengelilingi ruangan, hanya ada sekumpulan pakaian-pakaian bisu di sana. Lalu matanya mengarah kepada tumpukan tas di sudut ruangannya, merekakah yang bicara.?

“Bukan Nanik, ini aku yang bicara,” kata suara itu lagi.

Nanik meremas rambutnya, setengah berlari ia menuju toilet. Alangkah terkejutnya ia ketika melihat bayangan wajahnya di cermin, sebuah lidah keluar dari mulutnya, menjulur keluar lebih panjang dari seharusnya. Lidah itu hampir menutupi seluruh wajah cantiknya yang dihiasi make-up tebal mempertegas kecantikannya.

Nanik berusaha menarik lidah itu. Tangannya menggapai-gapai ke semua arah. Lehernya tercekat. Suaranya mengerang parau. Tidak... Nanik tak mau seperti ini. Lalu berkelebatan bayangan Evan yang sedang riang bermain helikopter dengan remote control seharga 1,5 jt. Euis yang berlenggak lenggok dengan jeans mahal seharga 800 ribu, Tami yang melangkah ceria dengan tas Gucci seharga 4 jt. 

Lalu ia mendengar teriakan seorang ibu separuh baya yang jatuh dari lantai dua sebuah ruang pesta karena wedges-nya patah saat akan menuruni tangga, bajunya koyak di bagian perut. Dan perlahan terdengar suara rintih seorang wanita pengusaha warteg yang terluka bakar akibat regulator gas yang dibelinya dari Nanik tidak sebagus yang dipromosikannya.

Aahhh, Nanik akhirnya dapat memegang lidahnya... dicengkeramnya lidah itu... matanya liar mencari-cari... ah, itu dia... ia berlari ke sudut kotak rias, diambilnya sebuah gunting, lalu, kress.... 

Nanik memotong lidah itu dengan gunting. Ia tertawa puas.... darah mengucur deras dari mulutnya, ia berteriak.... aahhh.... dan berlari keluar toilet... keluar toko... tak dipedulikannya lagi teriakan Amel dan Selvi memanggil-manggil namanya.

Nanik berlari dan berlari.. lalu dilihatnya sebuah sungai, airnya jernih, banyak terlihat ikan yang berenang kian kemari di sana.... ahh, tiba-tiba Nanik merasa ingin menjadi seperti ikan. Ditatapnya sungai yang berair jernih di hadapannya, lalu Nanik pun melompat... ia ingin berenang bersama ikan-ikan itu.

Headline surat kabar sore. ”Seorang wanita muda pekerja butik ternama tewas setelah melompat dari lantai 4 sebuah Mall di Jakarta. Wanita itu ditemukan tewas dengan lidah yang terpotong.”


~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Penulis: Sri Suharni Maks


Saat Penglihatan ALLAH Saja Yang Menjadi Andalan

SAAT PENGLIHATAN ALLAH SAJA YANG JADI ANDALAN

 Saat Penglihatan ALLAH Saja Yang Menjadi Andalan

"Bu, anti saya amanatkan untuk jadi penanggung jawab di bagian penjualan baju-baju bekas layak pakai ,ya?" Ketua panitia Baksos itu menyerahkan map berisi catatan data barang kepadaku." 

"Kok saya lagi?" tanyaku.

"Iyalah, anti kan kemarin sukses tuh... dapat dana banyak dari jualan baju bekas?" desaknya.

"Anti kan biasa dagang..." lanjutnya.

"Iya deh, gak usah pake muji kali...." Jawabku akhirnya. Teman di sebelahku menggamit pundakku

"Emang enak jadi tukang loak lagi..." godanya.

Aku tersenyum kecil, "Insya Allah."

"Gak papa lagi, bu... penggemarnya kan banyaak...." Tambah rekanku lagi.

Aku hanya tenggelam dalam susunan data-data barang. Mulai hari itu, hari-hariku disibukkan dengan acara menyortir barang yang masuk, mengelompokkannya sesuai peruntukannya, dan melakukan taksiran harga yang pantas.

Tiba pada hari H. Aku sudah siap di tempat dengan tumpukan-tumpukan pakaian yang akan di jual. Dibantu tiga orang rekan. Seperti dugaan awal, tempat ku ini jadi tempat favorit untuk dikunjungi oleh sebagian besar warga, terutama ibu-ibu dan anak-anak penduduk sekitar Tempat Pembuangan Akhir sampah Bantar Gebang Bekasi, yang notabene dekat dengan komplek tempat tinggalku sekarang. Mereka ada yang mulai memilih-milih baju yang akan mereka beli.

"Nanti ya bu, toko belum buka...." kataku. Mereka semua tertawa.

"Takut gak kebagian bu entar mah..." jawab mereka.

"Nanti kalo milih-milihnya sekarang, saya hargai 50 ribu lho satunya...." goda saya lagi.

"Waah ibu, kalo segitu mah, beli yang baru lah..." jawab mereka lagi.

"Makanya nanti saja pilih-pilihnya, semua kebagian deh, Insya Allah... stok banyak nih.... denger ceramah dulu ya di sana..." kataku sambil mengarahkan mereka ke tenda utama.

Selesai ceramah dan acara inti, benar saja mereka menyerbu tempat ku membuka lapak. Beberapa jam aku seolah tenggelam dalam riuhnya masyarakat memilih-milih pakaian. Baju muslim, jilbab, kaos, baju anak-anak, dewasa, baju koko, celana panjang.

Dalam hitungan jam sudah nyaris ludes. Tentu saja lapak ini jadi incaran, baju-baju dengan kualitas antara 60-90% layak pakai dibanderol mulai 500-3000 perak saja. 

Lumayan sangat bagi yang membutuhkan, atau cuma ingin menambah koleksi saja. Alhamdulillah...

Menjelang dzuhur, tenda-tenda lain sudah bersih. Sebagian besar panitia berkumpul di tenda utama untuk berfoto-foto dan rehat.Aku masih harus merapikan sisa baju, mendata ulang stok, jumlah uang hasilnya... sambil ditemani satu dua ibu yang masih asyik mengaduk-aduk baju yang sudah terlipat, berharap dapat diskon lebih murah. Sampai akhirnya panitia memutuskan untuk memberikan baju sisa itu kepada yang mau. 

Setelah beres urusan baju dan amplop uang hasil penjualan kepada  ketua panitia, aku membersihkan tempat jualan tadi karena memang menumpang pada teras rumah penduduk. "Biarin ajah Neng. biar ibu yang nyapu."

Aku tersenyum, bukan apa-apa,si ibu yang sudah sepuh itu menyapa ku dengan sapaan "neng" sedari tadi. Lucu saja, emak tiga orang anak berusia 35 tahun masih layak kah di panggil Neng? Subhanallah sungguh menghibur.

"Ngga apa-apa bu... terima kasih yaa, maaf sudah merepotkan..." jawabku.

Selesai urusan bersih-bersih aku sudah tidak melihat kerumunan temen-teman panitia di tenda utama. Tinggal kaum lelaki yang mulai bongkar-bongkar. Aku pun pamit pulang.

Belajar Ikhlas

Belajar Ikhlas


Seminggu sesudah acara baksos itu,aku bertemu dengan salah seorang pengurus DPC di sebuah acara. "Bu kok kemarin waktu baksos di ciketing udik gak datang? Kan dekat sama rumah anti kan?" Tanyanya

Aku tertegun sejenak.... Dan ibu DPC itupun menyebutkan satu persatu nama-nama rekan panitia yang ikut serta di acara itu, bahkan termasuk orang yang aku tahu persis dia tiba belakangan, karena sempat izin ada acara, karena si rekan ikut berfoto dengan panitia yang lain. Dalam hati aku buru-buru istighfar... Rabbi... jika bukan karenaMU...

"Yah bu.. masa segede gini saya masih ga keliatan juga yah?" Jawabku akhirnya. Di timpali tawa sang ibu DPC.

Beginilah kiranya, Allah memberikan hikmah besar dalam suatu peristiwa yang aku alami. Aku tidak mengerti, mengapa kata ikhlas begitu mudah untuk diucapkan, namun begitu berat untuk di amalkan.... sungguh bukan hal yang mudah, ketika diri ini begitu bahagianya, telah berbuat sesuatu, meluruskan niat, bersikap itqon, justru menjadi orang terbuang, tak dianggap... di-underestimate-kan.... karena amalannya kecil...

Astaghfirullah...

Saya jadi teringat seorang guru TK yang tempatnya sering dijadikan sarana kita-kita untuk berkumpul. Dia harus izin pada yang punya yayasan, menyiapkan tikar.. lalu membersihkannya lagi seusai acara... namun Ia tidak pernah memegang jabatan penting, bahkan perannya sering tidak diperhitungkan.

Atau teman yang emang gak pede-an, selalu dapat tugas mengantar undangan, dan urusan antar mengantar lainnya. Yang tidak memungkinkan dia untuk dikenal oleh "Atasan"nya.

Rabbi... dari peristiwa itulah aku merasa doaku sudah di kabulkan Allah karena kasih sayang Nya. Yaa Allah... ajari aku tentang keikhlasan.

Lalu ku ambil Hp-ku, untuk sang guru TK aku mengirim pesan, "Semoga Allah selalu memberkahi ibu sekeluarga, mempermudah ibu menuntut ilmu, menjadikan profesi ibu sebagai amal sholeh yang tak putus-putus."

Dan untuk temanku si pengantar, aku menulis... "Semoga Allah selalu memberi kemudahan, mengaruniakan ibu kesehatan, memberkahi ibu dengan anak-anak yang shalih,juga semoga bisa beli motor baru buat ibu pribadi, gak joinan lagi sama suami.."

Wahai Allah....Janganlah Kau palingkan wajahMu dari kehidupanku.... tuntunlah aku selalu yaa Rabbi.... dalam usahaku membersihkan hati dan diri, agar senantiasa mengutamakan pandanganMu sahaja....

*******

Penulis: Sri Suharni Yang Berusaha Istiqomah pada 
8 Desember 2010 pukul 23:33 ·

KEPINGAN HATI DI UJUNG HARI

KEPINGAN HATI DI UJUNG HARI

Sudah seminggu aku merasakan kesibukan yang lain dari biasanya. Selain menyediakan waktu keluar pada hari-hari tertentu, ada agenda lain yang harus kusiapkan acaranya yang memang agak "penting". Aku bukan "siapa-siapa", tugasku hanya menyusun acara, mengkondisikan tempat agar layak untuk dikunjungi para undangan, menyiapkan biodata penceramah, daftar hadir, dan koordinasi-koordinasi lainnya. Alhamdulillah semua sudah siap.

Tinggal besok siap-siap bangun lebih pagi lagi. Menyiapkan sarapan pagi lebih awal, mencuci pakaian, beres-beres rumah sebelum ditinggal namun uuffsss kulihat keranjang pakaian bersih yang belum disetrika telah menanti di sudut ruang belakang, seolah menatapku untuk segera dibenahi.

Lalu selesai mencuci piring, kusiapkan "arena jihad" ku yang sebenarnya menggelar kain alas setrika. Bismillah.

Hari sudah menunjukkan pukul 22.30 wib...urusan domestik yang penuh "iklan" gangguan si kecil sudah kurampungkan, cucian baru saja kuselesaikan, plus, bongkar-bongkar kamar si sulung jadi pekerjaan tambahan, sore tadi mendadak kebocoran karena ada salah satu genteng yang pecah.... hhhh..... what a day ....kubaringkan tubuh lelahku, mengiringi kesunyian malam, ditingkahi suara gerimis, berbarengan dengan helaan nafas nyenyak tiga orang anak-anakku.

Beres-beres rumah, mandiin si kecil, bikin sarapan.Usai shalat dhuha dan berpamitan pada suami dan anak-anak aku berangkat menuju tempat acara, sampai di tempat baru ada tiga orang panitia yang datang, maklum baru jam 07.00 pagi. 

Setelah mengucapkan salam, aku bergegas menyiapkan semua perlengkapan acara. Map susunan acara, biodata penceramah, ku letakkan di meja MC. Map Daftar hadir di meja registrasi. Waahhh, mejanya belum siap rupanya... lalu kuangkat meja di sudut ruangan musholla, memberinya taplak, menaruh vas bunga.... kemudian mata ku tertumbuk pada lantai teras musholla yang kotor terkena tanah, kuambil sapu dan ku bersihkan dengan kail pel. Jam 07.30.

"Konsumsi siaap," seru rekan ku. Aku ambil dus-dus itu, ku tata dekat meja registrasi. Lima belas menit kemudian, semuanya sudah siap. Bismillah.

Sambil duduk menunggu panitia yang lain, aku membereskan tata letak pohon-pohon penghias podium, HP-ku tiba-tiba berdering dari dalam tasku di sudut ruangan. 

"Assalamualaikum". Aku duduk diam, masih dengan hp ditanganku. Salah seorang temanku bertanya, "Siapa Bu? Ada apa? Anaknya rewel?."

Aku tersenyum kecil, "Nggak, ada yang meninggal dunia, aku diminta mandi-in."

Temanku bertanya lagi, "Terus?."

Aku melihat ke sekeliling, "Semuanya sudah siap kan,? Tinggal tunggu panitia yang lain sama peserta.?"

Temanku menjawab, "Iya sih, tugas ibu udah rampung."

"Kalo gitu aku tinggal yaa? Gapapa kan?" kataku. Aku teringat kisah sahabat Abu Bakar as Shiddiq yang mendapat pahala utama. Temanku mengangguk," Oke deh, hati-hati yaa..."

Aku pamit pada ketua panitia, "Ya udah bu, naik apa? naik motor aku ajah, nih kuncinya, jangan lupa, tar kalo udah selesai balik lagi yaa." Alhamdulillah, ucapku dalam hati. Allah telah memudahkan.

Sampai ditempat,aku terkejut, lho ini kan rumah. Beberapa orang yang kukenal menyapa dan menyalami ku. Ini rumah Naya, teman sekolah anakku, Fira. Rupanya nenek buyutnya tutup usia tadi subuh. Ibu Naya menyalamiku. 
"Terima kasih ya Fir."

"Sabar yaa.," ucapku sambil cipika-cipiki.

Dari keterangannya, aku mendapat informasi, nenek buyut Naya sudah sepuh, 87 tahun, mengidap kanker tiroid stadium 4 (merinding mengingatnya), "Kata dokter udah ga ada yang bisa diperbuat, nenek udah sepuh banget." terang mama Naya. Aku hanya mengangguk-angguk saja. Aku menelepon suamiku untuk membawakan barang-barang perlengkapan jenazah yang ada di rumah. Tikar, kafan, sarung tangan, masker.

Setelah team datang, dengan segera aku dan team menyiapkan semuanya, memotong kain kafan, menyusun nya sesuai urutan dan kebutuhan, kapas  pun menyiapkan tempat mandi, setelah hampir semua siap, tiba-tiba Mama Naya mendekatiku dan membisikkan sesuatu. Aku terkejut, mengernyitkan dahi sambil menatapnya aneh. "Itu yang nyuruh bu Bidan, Fir." 

Mama Naya menunjukkan pada seorang wanita, yang sempat aku kenal, dia bidan di komplek kami. Bidan itu tersenyum. Menghampiriku yang sedang memakai masker dan sarung tangan karet. "Iya,bu. Tadi si Ibu nanya sama saya. makanya saya kasih saran gitu. katanya gak enak sama yang mandiin. Di rumah sakit juga emang gitu 'kan? terangnya. Aku bertanya,"Kalo cairan itu, sakit gak kalo kena yang luka?."

"Ya sakitlah kalo buat yang hidup," jawabnya santai.

"Aku sedikit melotot," Ya kalo buat yang hidup aja sakit, apalagi buat yang mati."

Si bidan nyengir, "Ah masa sih, ibu bisa aja..." ujarnya santai. Aku ngeloyor pergi. Ku hampiri ketua team penyelenggaraan jenazah, setengah berbisik kukatakan yang terjadi. Dia terlihat bimbang. Namun mau tak mau, semua harus tetap berjalan, the show must go on.

Satu lagi tarbiyah Allah yang sangat berharga menyapaku hari ini

Satu lagi tarbiyah Allah yang sangat berharga menyapaku hari ini. Melalui "guru abadi" yang tak pernah henti memberiku pelajaran berharga. Ya Allah, berilah aku akhir "perjalanan" yang baik dalam kehidupanku... berilah kemudahan bagi ku menghadapi dahsyatnya sakaratul maut..... air mataku menitik membasuh tubuh tak bernyawa itu... Bu... maafkan kami yaa... kami telah mendzalimi ragamu, Astagfirullah, Astagfirullah, tiba-tiba kurasakan dadaku sesak oleh kepedihan.

Pukul 11.30 siang, waktu aku menginjak teras musholla. Acara sudah hampir selesai, kubiarkan baju dan jilbab yang sedari pagi kupakai masih tercium aroma bubuk cendana. Tak sempat aku menggantinya. Baru akan meletakkan tubuhku di karpet, ketua panitia dari DPC menghampiriku,"Ukhti, kok baru datang?" serangnya tegas.Aku tercekat, hampir tak bisa berkata-kata. "Mmm,habis ada perlu bu. Afwan." jawabku sekenanya. Dalam hati aku ingin berteriak.... tapi,ah... aku memutuskan untuk diam saja. 

Aku mengambil satu gelas air mineral di kardus dan aku meminumnya. Seorang teman menghampiriku, "Hei, dari mana?" Sambil mengulurkan tangan. Aku tersenyum saja menyalaminya. Lalu kulihat sesosok melintas di hadapanku. "Sori, bentar yaa..."

Aku bergegas. "Ummi....." seruku. Seorang wanita paruh baya yang kupanggil ummi itu menoleh dan tersenyum lebar kepadaku. 

"Assalamualaikum....." sapanya hangat sambil memelukku.

"waalaikumsalam. Ummi, aku mau nanya nih." Aku raih tangannya duduk di teras musholla.

"Iiiih, nih anak, serius amat sih" katanya.Namun Ia mengikuti juga.Ku ceritakan kejadian yang baru saja ku alami kepadanya.Ummi Mun, sapaannya, yang mengajariku ilmu memandikan jenazah dengan khusyuk mendengarkan keteranganku."Astagfirullah.... dibuka lagi deh buku panduannya. Ummi kan dah sering bilang, kalau badan jenazah itu lebih sensitif dari badan orang yang hidup. Anti kan dah paham, kok lupa?" nasihatnya.

"Insya Allah Ummi, tapi kami khilaf, keluarganya memberitahunya udah digituin..." belaku.
 
"Ya, yang sudah... ya sudah... lain kali jangan lagi yaa.... Istighfar lah... semoga Allah memaafkan kekhilafan kita. Semoga jadi pelajaran berharga untuk ke depannya. Udah ga usah sedih... semangat yaa."

Sampai akhir acara, tiada hal lain yang ada dalam fikiran ku, selain peristiwa tadi. Berulang kali aku mengucapkan istighfar dalam hati... terbayang tubuh yang ringkih menanggung sakit... Ya Allah ampunilah kami, berilah kelapangan jalan bagi nya, berilah ia tempat terbaik disisi Mu.

"Bu, yang di sini dah dipel?." Sebuah pertanyaan membangunkan aku dari lamunan panjang.
"Ya udah, tinggal terasnya saja," jawabku

"Cepat bu,bentar lagi ada yang mau adzan..." Ucap rekanku. Kubenahi peralatan pel, sapu dan keranjang sampah. Kardus-kardus penuh gelas air mineral, sampah pembungkus.... "Udah bu... mau sholat di sini?" tanyaku pada dua rekan yang sama-sama panitia. Memang tinggal hanya bertiga saja.

"Boleh....yuk wudhu duluan, mumpung belum ada bapak-bapak..." jawab rekanku.

**********

Kupandangi wajah balita ku yang terlelap di pangkuanku. Ku peluk ia berkali-kali, maafkan mama ya nak, setengah hari lebih tadi ia kutinggalkan bersama ayahnya, dan dua kakaknya saja. Padahal ia masih ASI. Alhamdulillah... keluargaku, terutama suamiku tak pernah keberatan dengan kesibukan sosial ku. Mereka dengan penuh mendukung. Meskipun sempat pula terlontar keluhan si kakak, kalo hari biasa, ayah yang ga ada, kalo hari libur mama yang gak ada... kita kapan jalan-jalannya? Hhmmm.

KEPINGAN HATI DI UJUNG HARI

"Bekerjalah untuk Allah... kamu gak akan pernah merasa sakit hati. Allah gak pernah mendzalimi "pegawai-Nya". Dia melihat semua, seluruh kerja kamu, dari mulai niat sampai hasil akhirnya, bahkan finishing touch-nya. Dia gak pernah lalai, gak pernah lengah sedikitpun, biarpun sampe kamu "belok" sedikit aja, meskipun dalam hati."

Ga usah mikirin kamu yang dikira datang telat, dikira gak bertanggung jawab... ingat, kamu kerja dakwah itu apa yang kamu cari... niat nya luruskan... bener-bener lurus.. kalo kamu cuma pengen di puji sama bu**** atau sama bu**** mending kamu di rumah aja. Aku gak pengen tuh punya bini ngetop. Kalo mau yang gitu mah, mending aku nikahin selebriti...." Nasehat suami ku ketika aku mencurahkan isi hati ku padanya lepas shalat isya.

"Emang ada apa seleb yang mau sama ayah?" tanya ku mulai bisa tersenyum. Dia tertawa.

"Mengenai soal nenek buyutnya Naya, ya... kayaknya ayah cuma bisa bilang, kamu gak salah... kan kamu gak tahu kalau keluarganya kasih cairan itu, udah gak usah dipikirin... meskipun ayah juga gak mungkin nyalahin yang ngasih. Dia juga cuma mengamal kan amalan yang dia tahu kan??? Jangan bikin patah semangat mikirin hal-hal yang sudah lewat. Sekarang kamu harus lebih banyak muhasabah, menguatkan jiwa.Kalo ayah perhatikan, tantangan kamu dalam memandikan jenazah mulai keliatan nih... itu bagus buat latihan mental kan?"

Aku merenungkan ucapan suamiku... ya beliau memang benar adanya. Sejak awal tahun,"kasus" jenazah yang ku urus memang meningkat "kualitasnya", artinya Allah mentarbiyah aku dan team secara perlahan lahan. Tak terbayang olehku jika baru mulai mencoba penyelenggaraan jenazah sudah dapat yang kelas "berat" punya... Alhamdulillah... Semoga Allah tetap memberi kekuatan mengemban amanah ini.

Dan soal para atasan yang telah bersikap kurang tabayyun terhadapku... aku mulai bisa memaafkan, seperti biasa, aku punya tempat curhat yang paling netral, tidak membela, juga bisa memposisikan dirinya sebagai hakim. Meskipun lebih seringnya perlakuan seperti itu mampu menggores bahkan mengiris kepingan hati ku, namun tidak sampai memporakporandakan keyakinan ku untuk tetap istiqomah meniti jalan dakwahNya. Aku memang membutuhkan sedikit waktu, namun selebihnya aku akan bisa menyatukan kepingan hati itu di penghujung hari sebelum lelap tertidur. 

Semoga Allah tetap memberiku ketabahan, kekuatan, dengan berjuta kekurangan yang ada dalam diriku,untuk tetap bisa memberikan yang terbaik.Menjadikan diriku, waktuku, ilmu dan kemampuanku, membawa manfaat bagi orang lain. Insya Allah... dan sebelum berakhirnya hari, suara sms berbunyi, berisi pesan dari sahabat ku dari kompleks sebelah, "Ukhti, aku besok ke rumah ya... ada kan... aku mau minta tolong. Boleh ya.?" 

Dan ku tutup hari itu dengan senyum. Insya Allah Ukhti, datang aja setelah jam 9 pagi. Insya Allah aku ada di rumah....

**********

Catatan satu hari di awal tahun 1432 H
Semoga jadi awal yang indah sepanjang tahun kehidupan ku
Amiin. Insya Allah.

Oleh Suharni Yang Berusaha Istiqomah pada 8 Desember 2010 pukul 22:01 

DILEMA SURYA – Masalah idealisme, itu jadi urusan kamu dengan Tuhan

“Oke Dakota Lovers, sebagai lagu penutup, saya mau kasih kamu-kamu semua satu lagu manis dari Geisha, check it out…and good day for you all.”Surya menutup siarannya siang itu. Melepas headset, dan keluar dari studio. Harry mengacungkan jempol manisnya di balik ruang programmers. Surya membalasnya dengan senyum lebar sambil mendongakkan kepala. Di meja depan, dilihatnya Yanti yang seksi

Air Mata Bapak

Anakku, pertama kali kau mendengar suara adalah suaraku. Pertama kali kau merasakan dekapan adalah dekapanku. Maka saat kau berduka, biar aku yang pertama kali mengobatinya."Bapak kangen kamu nak. Makanya bapak datang buat jemput. Bawa dua anakmu juga." lelaki tua itu tersenyum. Namun matanya meredup. Mungkin berkendara sendirian selama 12 jam membuat ia lelah.Nina tersenyum, "Pak, Nina nunggu

No Body Perfect

No Body Perfect Meutia.. Aku memandangmu dari jauh, dari balik cermin itu agar kau tak melihatku. mengapa kau gelisah, kau tampak merasa tertekan, seperti ada kehampaan dalam hatimu. Apa yang ingin kau raih? kau bingung .. seakan hatimu ingin menjerit.. Dan kau berkata padaku, "Aku tak tahu, sebenarnya apa yang ingin ku raih dalam hidup ini?.“ Ku mengernyitkan dahi, mengapa dia

MAK NUR

- MAK NUR - Nur tergugu. Keringat jagung mulai menitik satu per satu dari dahinya. Menderas juga di leher dan sebagian tubuh. Tangan kirinya sudah terlalu biasa membersihkan kotoran dengan merogoh lubang dubur jenazah. Hafal benar ia walau tanpa melihat di mana letaknya, bentuk kotorannya. Wajar, keras bahkan cairan semua dibersihkan tuntas. Tanpa sisa.  "Biar kain kafannya bersih dan

ANTIK

Matahari sudah hampir di atas kepala, pembeli mulai berkurang dan penjual juga sudah mulai bisa beristirahat merapikan barang dagangan sambil menunggu saat zuhur. Di salah satu sudut lorong pasar tampak tiga orang yang sedang berbincang serius. "Kami tahu abang yang layak, bang. Bukan dia," ucap Saman berapi-api. Keringat menjagung di dahi pedagang mainan Pasar Sompor itu. Diliriknya

Déjà Vu – Sebuah Cerita Amat Sangat Pendek

Pagi itu aku bangun dengan hati campur aduk jadi satu, alangkah aneh mimpiku. Seperti sebelum-sebelumnya.. aku kembali bermimpi bertemu dengan lelaki yang sama.. lelaki yang entah mengapa serasa sudah ku kenal dengan baik dan serasa begitu dekat di hatiku, di pikiranku.. Dan semua yang kualami dalam mimpi tadi malam seperti pernah kualami dahulu kala. Entah kapan dan di mana.. serta bersama

JODOHKU

Kulihat kalender... hhhmm... "Besok gue ultah, pas 30 tahun. Tapi kenapa gue belum ketemu jodoh yang pas ya?," kata gue dalam hati.

"Bukan ga ada yang mau, tapi setiap wanita yang mendekat, belum ada yang bisa membuat hati gue berdesir dan jantung berdegup kencang...."

"Rud... Rudi... ntar malem nongkrong yuk,!" teriak Tony yang seketika membuyarkan lamunan gue.

"Males aah Ton… loe aja deh sana!."

"Aaahh... besok weekend ini! Ayolah… siapa tahu ketemu jodoh di sana," cibirnya.

Jam tangan menunjukkan pukul 18.00, kami pun bersiap pulang.

"Rud... buruan ya, gue tunggu di bawah!," teriak Tony.

"Seep...," jawab gue singkat.

Pretetetetet... pretetetetet... aaaahhhh, suara knalpot ini yang gue benci sebenarnya, salah satu alasan kenapa gue males pergi dengan Tony.

"Ruuddiiii... buruan ooiiii, lelet bener seeh loe Rud!," teriak Tony.

"Weew... teriakan Tony secempreng knalpot motornya," bisikku dalam hati setengah tertawa. Ga lama, duo cempreng inipun membawa gue entah ke mana... pretetetet... bbllaaarrr!

Ga berapa lama motor Tony parkir di sebuah tempat yang entah apa namanya ini... pretetetet… pretetetet.

"Ton...ini tempat apaan sih, parkirannya luas kek lapangan bola."

"Loe liat aja ntar Rud... ini tempat tongkrongan gue yang baru, parkir di sini juga gratis, yuk masuk."


kopi kafe jodohku
Foto by: Salman Faris 
"Hai Mas Tony!," sapa seorang wanita yang diapit 2 wanita keren lainnya, ketika kami membuka pintu. Weeww… hebat juga Tony, disapa wanita sekeren itu.

"Ton… bisa aje loe dikenal sama mereka?."

"Rud… pemilik café ini adalah Drupadi-nya kopi, ini yang bikin gue betah nongkrong di sini, pemiliknya anggap tamunya sebagai temen… keren, kan?."

Gue manggut-manggut dan berusaha mencari posisi duduk ga jauh dari pintu masuk supaya bisa menyapu setiap sudut bangku. Siapa tahu ada mahkluk manis yang menggetarkan hati gue dan ketemu jodoh.

"Aah siiaaallll! Kemakan omongan Tony gue," senyum kecutku dalam hati.

"Rud… udah gue order ya minumannya," suara cempreng Tony membuyarkan angan gue.

"Thanks, Ton…"

Ga berapa lama, minuman kami datang… hhhmm aroma karamel membuat lidah gue menari-nari berebut dengan ludah.

"Tony… minuman apa ini? Aromanya….beeuugggh…sekksssiiihhh!."

"Hot Crème Brulle," jawab Tony singkat.

Saking penasaran dengan aroma yang begitu menggoda, ssllruuppp... Creme Brulle yang masih hot ini gue seruput.

"Aauuww… panas," pekik gue dalam hati, sambil kipasin tangan di depan lidah… daaamnnn, malu gue. Tanpa gue sadar di ujung sana ada mahkluk manis yang sedang ngeliatin gue, makin tengsin lah gue.

"Hati-hati, Mas… masih panas," ujarnya di antara senyuman manisnya.

Beeuugghhh, baru kali ini gue ngerasa kikuk… jantung gue deg-degan, aaahh apakah ini pertanda? Tapi gue terlanjur malu... daammmnn. Sedangkan Tony, hanya bisa nahan ketawa di depan gue.

Tapi aaah sudahlah… bodo amat deh, godaan hot crème brulle ini lebih besar dibandingkan rasa malu. Karena masih penasaran, sedikit demi sedikit gue suap Hot Crème Brulle menggunakan sendok ke ujung lidah.

Hhhmm, rasa crème-nya yang lembut berpadu dengan karamel di atasnya memang memanjakan lidah. Sendok demi sendok gue nikmati walau tanpa gue sadari wanita itu sesekali mencuri pandang.

"Rud… Rudi, yang di pojok itu Rud… ngeliatin loe terus… kesempatan Rud," kata Tony.

"Hhhmm… apa sih Ton, biarin aja… lha wong dia punya mata kok," bibir gue pun terus-terusan monyong niupin Crème Brulle supaya ga terlalu panas masuk mulut. Gue beneran ga mau lepasin Crème Brulle dari lidah, gue ga rela kalau Crème Brulle ini dingin sebelum menyentuh lidah gue.

"Rud… dia ngajak senyum Rud."

"Aahh… bawel loe Ton, balesin aja senyumnya, gitu aja kok repot."

Aahh tinggal dikit lagi nih, sayang dilewatkan dan gue harus buru-buru habisin sebelum Crème Brulle ini dingin. Slrruuppp… sisa diujung gelas pun gue tenggak… glek…glek… beeuugghhh… drruuaaarr bener rasanya!.

"Ton…. mana cewek yang tadi, yang ngajak senyum gue? Ke mana dia?."

"Pertanyaan loe basi, Rud. Baru aja dia pergi."

"Aaarrrgghhhhhh... Ton! Besok malem ajak gue ke sini lagi ya? 
Gantian gue yang traktir, siapa tau ketemu sama Mba yang tadi lagi..."

____________
Narablog: Tarie
Editor: Rizky Nur Zamzamy

#Just DruIt #DruKopi