Arsip Kategori: fiksi

Cerita Tentang Obat Paten Dan Obat Generik

 PATEN DAN STANDAR


Cerita Tentang Obat Paten Dan Obat Generik



Ruangan kasir rumah sakit itu terlihat sempit, mungkin tidak sampai 1 x 2 meter. Seperti loket untuk membeli karcis bioskop atau tiket kereta di stasiun. Kaca dengan lubang kecil berbentuk mulut gua menjadi satu-satunya celah untuk berkomunikasi dengan penghuni ruang sempit itu.


Seorang perempuan berusia sekitar 20 tahun sedang duduk di balik loket, menunduk, entah mengerjakan apa. Tak terlalu terlihat dari tempatku berdiri sebab terhalang penyekat tak tembus pandang.


"Permisi, Sus." Aku menyapanya dengan panggilan yang biasa dan umum ditujukan untuk pekerja rumah sakit yang perempuan selain dokter. 


Suster itu sedikit kaget, menoleh ke arahku. 


"Eh--Iya, Pak. Ada yang bisa saya bantu?," katanya dengan gerakan sopan dan senyum khas sesuai standar pelayanan pelayan garis depan.


"Saya mau tanya, tentang tagihan sementara hingga saat ini untuk perawatan istri saya."


"Oh, baik. Siapa nama pasiennya, Pak?"


"Namanya sebut saja Melati."


"Ok. Ditunggu sebentar ya, Pak." 


Suster loket itu beranjak ke ruangan dalam, menuju meja komputer. Aku duduk di ruang tunggu itu sambil memandang sekeliling. Sepi, hanya ada beberapa orang saja di ruang tunggu yang dilengkapi pendingin ruangan ini. Rapih dan bersih juga. Lantai dan perabotannya terlihat rutin dibersihkan. Yah, lumayanlah untuk ukuran rumah sakit kecil seperti ini.


Tak beberapa lama, kepala suster loket itu muncul di balik jendela kaca. "Pak, ini tagihannya atas nama sebut saja Melati." katanya sambil menyodorkan selembar kertas print out tagihan.


Aku menghampiri loket dan kuambil kertas kecil yang bertuliskan angka-angka itu. 


"Whaatt!!?." Jumlahnya gede banget! Untuk ukuranku yang hanya tukang ojek, jumlah segitu bisa menguras tabungan hasil ojek selama 5 bulan,! kataku dalam hati. 


Masalahnya, aku gak sempet nabung. Penghasilan ojek hanya cukup untuk keperluan sehari-hari. Boro-boro untuk menabung atau membayar premi asuransi kesehatan.


Setelah berhasil menenangkan pikiran, kutatap suster yang diam saja melihat kekagetanku.


"Yang bikin mahal apa ya, Sus?," tanyaku penasaran.


"Oh, kalo dilihat dari daftarnya, yang bikin harga tinggi itu obat-obatan, saya juga kaget lihat harga obatnya yang mahal," kata Suster loket sambil memandangku, ada empati di sinar matanya.


"Maksudnya gimana, Sus?," kejarku yang benar-benar tidak dapat mencerna kata-kata suster muda ini.


"Sebaiknya, bapak tanya saja ke ruang perawatan kamar, biar lebih jelas. Kalo saya hanya kasir pak, hanya tahu jumlah tagihan," hindar suster muda ini. Sekilas sempat kubaca nama di bajunya.


Aku mengangguk, "Ok baik, saya akan tanya ke sana. Terima kasih ya, Sus."


"Sama-sama, Pak."


Aku berlalu dari bagian kasir, langsung menuju lantai dua tempat istriku di rawat. Ada Ruang Perawat di sana.


****


Ruangan para perawat jaga terletak di sudut gang tempat lalu lalang pasien/pengunjung. Di situ ada  4 orang perawat yang sedang duduk, berkutat dengan entah apa. 


"Permisi, Sus." Aku menyapa mereka. Keempatnya kompak mendongak, ada juga yang kaget sambil menyembunyikan ponselnya. 


Bruder, perawat yang laki-laki menyahut, "Ya, pak. Ada yang bisa dibantu?."


"Begini mas, tadi saya dari bagian kasir, menanyakan tagihan sementara untuk perawatan istri saya." Aku diam sejenak. Bruder dan tiga orang suster juga diam menyimak.


"Tagihannya ternyata lumayan besar, padahal istri saya baru masuk jam 11 siang kemaren, sampai hari ini jam 2 siang, hanya satu  hari lebih dikit, atau 26 jam saja."


Mereka masih diam tak menanggapi.


"Menurut kasir yang bikin mahal adalah tagihan obat-obatan, benarkah demikian?." Aku sengaja menekannya di bagian kata "obat-obatan" seperti yang disampaikan oleh kasir muda tadi.


"Oh, kalo boleh tau, pasien pake jaminan apa pak?," tanya si mas Bruder.


"Saya bayar mandiri, kartu BPJS saya gak bisa digunakan," kataku lemah.


"Oh gitu ya, Pak. Memang obat-obatan untuk pasien yang bayar mandiri, diberikan  yang bagus dan paten yang bikin cepat sembuh, jadinya mahal, sama dengan pasien peserta asuransi," Bruder itu menjelaskan dengan ringan. 


Penjelasan yang ringan itu terasa berat bagiku. Aku hanya terbengong-bengong mendengar itu. 


"Kalo ada pasien yang pake BPJS, dikasih obat yang sama?," tanyaku penasaran.


"Oh enggak pak, harga obat disesuaikan dengan tarif di BPJS, biasanya lebih murah." jawab si Bruder dengan entengnya.


"Berarti dikasih obat yang gak paten?."


"Iya, obatnya yang standar, obat generik."


Aku tambah pusing. Obat standar? Obat Generik? Obat paten? untuk orang sakit?.


Aku ngeloyor pergi sambil mengucapkan terima kasih. Setelah menghubungi sana-sini terkumpul dana sumbangan dari keluarga. Akhirnya diputuskan membawa pulang istriku yang belum sembuh benar. Di rawat di rumah. Sambil mencari celah untuk mendapatkan kartu sakti guna berobat gratis.


Beruntung punya kawan-kawan yang hebat-hebat, mereka mau membantu. Semoga berhasil.


****


Inget tetanggaku yang seorang kontraktor, pernah bilang saat nge-cor jalan perumaan. Cor yang mahal kualitas campuran dan obatnya lebih paten. Jadi kering lebih cepat dan awet puluhan tahun.


Beda dengan Cor-an yang murah, kering lebih lama, dan gampang hancur. 


Omaygat!



_________________
Penulis: Yous Asdiyanto Siddik 
Selasa, 11 Februari 2020


Cerita Tentang Obat Paten Dan Obat Generik


*Catatan editor mengenai Obat Paten dan Obat Generik*

Obat generik adalah obat-obatan yang sudah habis masa patennya. Oleh sebab itulah jenis obat generik dapat di produksi oleh hampir seluruh perusahaan farmasi yang ada tanpa harus membayar royalti. 


Obat generik dapat dijual dengan harga yang jauh lebih murah karena ada dua faktor yang mempengaruhi hal tersebut, yakni karena memproduksi obat generik tidak membutuhkan biaya untuk riset atau penelitian (RND) serta tidak membutuhkan biaya untuk pematenan obat atau membayar royalti kepada pemilik atau pemegang hak paten. 


Obat generik sendiri ada 2 jenis. Yakni obat generik bermerk dan obat generik berlogo


Obat Generik Berlogo (OGB)

OGB atau obat generik berlogo adalah obat yang diberi nama sesuai dengan kandungan zat aktif yang dikandung. Sebagai contoh obat antibiotik seperti amoksisilin. Pada obat generik berlogo atau OGB, maka nama pada kemasannya adalah Amoksisilin tanpa ada nama lain di bagian belakang nama obat tersebut.


Obat Generik Bermerk

Sedangkan obat generik bermerk adalah obat generik yang dinamai sesuai dengan keinginan dari produsen farmasi yang memproduksinya. Contohnya pada obat antibiotik seperti amoksisilin di atas tadi. Misalnya sebuah perusahaan BP memproduksi obat tersebut, maka nama pada obat tersebut akan menjadi Amoksisilin BP pada kemasannya.


Obat generik bermerk lebih mahal karena menggunakan kemasan yang lebih baik sesuai dengan keinginan produsennya. Perbedaan lainnya dengan OGB juga pada beberapa zat tambahan serta zat pelarut yang digunakan pada racikan obat tersebut. Pada sebagian jenis obat generik bermerk, biasanya akan ditambahkan zat yang akan mengurangi aroma yang kurang sedap dari obat.



Pengertian Obat Paten

Berbeda dengan obat generik, obat paten adalah obat baru yang diproduksi serta dipasarkan oleh sebuah perusahaan farmasi yang sudah memiliki hak paten terhadap produksi obat baru tersebut. 


Hal tersebut tentu saja dilakukan menurut serangkaian uji klinis yang telah dilakukan oleh pihak perusahaan farmasi tersebut. Tentunya disesuaikan dengan aturan-aturan yang telah ditetapkan secara internasional. Sehingga obat yang telah diberikan hak paten tersebut tidak dapat diproduksi hingga dipasarkan oleh berbagai perusahaan farmasi lainnya tanpa seizin perusahaan farmasi yang memiliki hak paten. 


Izin produksi ataupun pemasaran akan diberikan kepada perusahaan farmasi lain dengan pembayaran royalti, besaran biaya royalti inilah yang membuat harga obat tersebut menjadi mahal.


Masa berlaku hak paten di Indonesia adalah 20 tahun. Dan saat masa hak paten tersebut habis, maka pihak perusahaan farmasi pemilik paten tersebut tidak dapat memperpanjangnya kembali. 


Jenis obat yang masa patennya telah habis tersebut dapat diproduksi kembali oleh perusahaan farmasi lain dalam bentuk obat generik bermerk atau obat generik berlogo.





MOGOK NASIONAL

MOGOK NASIONAL BURUH


Ada sebuah kerajaan di sebelah utara kepulauan Madagaskar. Saat ini, sedang ada gonjang-ganjing di kerajaan itu, penyebabnya adalah buruh-buruhnya sedang gelisah karena akan melakukan mogok nasional.


Di sebuah tempat tersembunyi yang terhalang oleh pohon-pohon raksasa peninggalan jaman purba, berdiskusilah para pimpinan buruh. Pimpinan dari berbagai serikat buruh kerajaan. Tempat yang merupakan sebuah ruangan lumayan besar, dan puluhan orang sedang berkumpul di dalamnya.


"Kita harus secepatnya melakukan mogok nasional ini!" seru Ngadiroen, seorang pimpinan Serikat Buruh Elektronik.


"Setuju!"


"Sepakat!"


"Ayo! Gak pake lama"


Berbagai tanggapan dari orang-orang yang hadir.


"Bagaimana cara mogoknya?" tanya Soemirjand, ia adalah salah seorang pimpinan Serikat Buruh Kain Kulit Kayu, terkenal pemberani.


"Stop Produksi! Kita penuhi jalan-jalan!" teriak Kertoelontoe, pemuda yang hampir membakar dirinya di alun-alun kerajaan saat demo PP69 beberapa tahun yang lalu.


"Betul! Sweeping semua pabrik, keluarkan seluruh buruhnya!." Seorang wanita bernama Juliet dengan semangat berteriak sambil mengacungkan tangan kirinya yang penuh gelang emas mulai dari pergelangan hingga siku.


Ngadiroen mengangkat kedua tangannya, meminta hadirin tenang. Kemudian ia berkata, "Mogok dengan cara itu sudah sering kita lakukan, hanya pertama kali yang berhasil, ke sininya kita dibubarin paksa, babak belur dihajar ponggawa kerajaan, belum lagi ancaman preman-preman bayaran dari tuan modal, ada ide lain?."


Hening sesaat.


"Kita coba lagi, asal kita kompak, semua buruh stop mesin produksi, kemaren-kemaren kita gak kompak, makanya gampang dibubarin!," sahut Kertoelontoe dengan semangat.


"Jika tetap dibubarkan paksa oleh ponggawa dan preman bagaimana?."


"Kita lawan!."


"Lawan bagaimana?."


"Ya, kita lawan sampai titik darah penghabisan! Pantang mundur sebelum menang! seperti slogan kita!." teriak Gendoer berapi-api, seorang pimpinan buruh Otomokar.


"Kalo kita di hajar?."


"Hajar balik!."


Ngadiroen menggeleng-gelengkan kepalanya. Wajahnya berkerut sedih. 


"Jika yang melawan itu aku atau kalian yang ada di sini, aku yakin, kita semua akan berani, tapi beranikah buruh-buruh itu?  Buruh-buruh perempuan? Buruh yang baru kawin? Buruh yang punya cicilan pedati baru? Buruh yang biasa hidup di ruangan berpendingin? Buruh yang istrinya baru melahirkan?."


Ruangan itu hening. Orang-orang yang hadir saling berpandangan.


MOGOK NASIONAL BURUH


"Mereka, buruh-buruh anggota kita harus berani! Lagipula mereka gak akan melakukan kekerasan terhadap buruh perempuan!," sanggah Juliet dengan yakin.


"Siapa bilang mereka gak akan berani menyakiti buruh perempuan? Ingat aksi demo di pabrik obat di ujung kerajaaan? Para ponggawa biadab itu menyemprotkan air merica ke mata buruh-buruh perempuan yang sedang duduk mogok di sana!," sahut Ngadiroen berapi-api.


Juliet terdiam, ia ingat kejadian itu beberapa waktu lalu, karena ia termasuk yang ikut disemprot matanya dengan merica. Pedihnya seperti baru ia rasakan sekarang, tak sadar tangannya menyeka matanya yang tiba-tiba berair.


Ruangan itu kembali hening. Semua orang diam, sibuk dengan pikirannya masing-masing.


Beberapa saat kemudian Soemirjand bersuara, "Lalu bagaimana baiknya?."


Ngadiroen mengambil sebatang rokok bako yang dilintingnya sendiri, membakarnya, lalu mengisapnya dalam-dalam, kemudian ia hembuskan asapnya perlahan. Semua mata memperhatikan asap itu menari-nari di ruangan, lalu memudar, dan akhirnya hilang meninggalkan bau khas tembakau murahan.


"Begini, sebaiknya ki..."


"Maaf, boleh saya bicara?." 


Seseorang memotong pembicaraan Ngadiroen. Semua orang menoleh ke salah satu sudut ruangan, di mana seorang pemuda kurus, dengan lengan penuh tatto hingga lehernya, berdiri dengan mata yang seperti mengantuk.


Ngadiroen mengangkat dagunya memberi isyarat agar pemuda itu bicara.


"Saya Abutalas, pimpinan Serikat Buruh Kirim-Kirim," katanya memperkenalkan diri. Ia diam sejenak sambil memperhatikan semua orang yang memandangnya dengan tatapan aneh.


"Sebelumnya saya tanya dulu, mogok yang dimaksud itu apakah mogok kerja?," tanyanya entah pada siapa.


"Iya!," beberapa orang menyahut kompak. Ngadiroen mengangguk.


"Apakah mogok kerja harus selalu datang ke pabrik?," tanya lagi Abutalas.


Tak ada yang menjawab. Ada yang menggeleng, ada yang mengangguk. Abutalas tersenyum.


"Jika mogok nasional adalah gak kerja bareng-bareng seluruh buruh di seluruh kerajaan, terus ngapain pergi ke pabrik? Di rumah saja, seperti yang saya instruksikan ke anggota serikat Kirim-Kirim yang jutaan jumlahnya."


Hadirin memandangnya sambil melongo. Abutalas tak peduli tatapan orang-orang, ia melanjutkan.


"Saya instruksikan mereka, jika instruksi Mogok Nasional muncul, gak usah berangkat ke pabrik, diam di rumah, di kontrakan-kontrakan, di kost-kost-an, ngapain buang tenaga berantem dengan preman? baku hantam dengan ponggawa kerajaan yang peralatannya lebih komplit?," papar Abutalas menggebu-gebu.


Para hadirin masih tak bersuara, beberapa mulai mengangguk -angguk.


"Lahhhh! Bilang aja kau takut!," teriak Gendoer meremehkan.


Abutalas menatap Gendoer dengan tajam. Rahangnya bergetar. 


"Gak ada kamus takut dalam hidup saya! Kau kira siapa yang menghancurkan sarang preman kalau bukan anggota serikat kami saat pendopo buruh luluh lantak diserbu mereka? Kau kira siapa yang menjadi martir menahan gelombang pasukan ponggawa agar buruh-buruh lain termasuk anggotamu, dan pabrikmu selamat dari amukan mereka? Saya dan anggota saya! Dan di mana kalian saat itu?? Saat anggota saya mampus dipukuli oleh aparat dan preman? Sampai beberapa orang sekarat hampir mati! Hah!?." 


Gendoer terdiam. Abutalas masih bergetar badannya karena emosi yang diluapkannya barusan. Tak terima dibilang takut. Ngadiroen masih menghisap bakonya, memperhatikan kelanjutannya.


MOGOK NASIONAL BURUH


"Itulah yang saya maksud. Ngapain mengorbankan anggota untuk berperang dengan mereka? Jika masih ada cara yang cukup efektif untuk melakukan mogok kerja. Toh, sama saja. Mesin-mesin berhenti meraung. Kain akan tetap menjadi kain. Pabrik sepi seperti gedung mati. Kecil kemungkinan resiko anggota kita bentrok dengan mereka." 


Semakin banyak yang mengangguk-angguk. Mereka memandang Abutalas dengan kagum. Tak ada lagi tatapan aneh.


"Dan kita sebagai pimpinan yang ambil resiko itu! Kita undang pihak kerajaan untuk diskusi. Jika tak mau, lanjutkan mogok itu. Dan kali ini, gak usah tanggung-tanggung, kita mogok hingga tuntutan kita mereka kabulkan!," kata Abutalas dengan semangat makin menjadi-jadi.


Beberapa orang bertepuk tangan sambil bersorak sorai, setuju dengan usulnya. Kemudian suasana kembali hening, Abutalas tak lagi berbicara, ia sudah kembali ke sudutnya. Semua mata kini memandang Ngadiroen yang tiba-tiba dianggap sebagai pimpinan di situ.


Ngadiroen merenung.  Tak semudah itu pikirnya. Lalu kembali mengisap bako murahnya dalam-dalam. Lama sekali. Kemudian menghembuskan asapnya ke atas. Ke langit-langit, tempat para Langitan berada.


*********


END


Note:

Republik Madagaskar, adalah sebuah negara pulau di Samudra Hindia, lepas pesisir timur Afrika. Pulau Madagaskar adalah pulau terbesar keempat di dunia. Selain pulau utama, beberapa pulau kecil di sekitarnya juga menjadi klaim republik ini, yaitu Pulau Juan de Nova, Pulau Europa, Kepulauan Glorioso, Pulau Tromelin Island, dan Bassas da India. Dan cerita di atas gak ada hubungannya sama sekali dengan pulau-pulau itu. Kesamaan nama dan tempat hanya khayalan ane karena mabok kebanyakan ngopi. Piss!


_________________
Penulis: Yous Asdiyanto Siddik 
Sabtu, 22 Februari 2020


Jangkrik Yang Malang, Kalajengking Yang Kejam

 Jangkrik Yang Malang Kalajengking Yang Kejam


Jangkrik VS Kalajengking


Hari yang aneh. Sebentar hujan, sebentar panas. Bosan menunggu handphone yang sedang bisu, akhirnya nongkrong di pelataran ruko lagi.

Pas ada jangkrik yang sedang berkelahi dengan kalajengking. Sepertinya si jangkrik ini pemberani, padahal dia hanya bisa menyeruduk. Sedangkan kalajengking punya capit tajam dan sengatan ekor belakang yang berbisa. 

Seru juga melihatnya. Si jangkrik pantang mundur, sibuk berloncatan ke sana ke mari, menghindari capitan dan sengatan si kalajengking. Sesekali ia berhasil menyeruduk mengenai tubuh kalajengking yang tebal.

Kalajengking hanya tersenyum sinis. "Cuman segitu doang kemampuanmu,?" mungkin begitu yang ada di pikiran Kalajengking. 

Setelah berkali-kali ia mencapit, menyengat, tetapi tidak kena-kena, akhirnya kesal juga. Segera ia menggunakan strategi ampuh. Capitnya ia turunkan, ekor sengatnya ia sembunyikan. Seakan tak bersenjata, dia hanya berdiam, menunggu serudukan si Jangkrik.

Jangkrik, yang melihat kesempatan itu, langsung mengambil tindakan, dengan kuda-kuda yang kuat, ia melompat sambil menyeruduk dengan tenaga penuh. Yang tempo hari berhasil membuat raja jangkrik tak berdaya saat melawannya.

Huupp!
Krekkk!
Buk!

Tubuh si Jangkrik melayang lalu jatih ke tanah. Tubuhnya terbelah dua. Sebagian hangus tersengat racun.


Jangkrik yang malang, Kalajengking yang kejam.


"Huh! Curang! Ya jelas saja dia menang, senjatanya banyak! Capit, sengat! Curang!," kata orang yang ikut menonton di sebelahku.

"Yaelah! Jangkriknya aja yang gak tau diri! Gak punya senjata maen lawan kalajengking! Ya mati konyol, kan?" kata orang di sebelahnya.

Ramai orang-orang berbincang perkelahian yang tak seimbang itu. Sementara si Kalajengking berjalan menuju lubangnya dengan gagah, dada dibusungkan, bangga dengan kemenangannya. Aku hanya tertegun, melihat tubuh jangkrik terbelah dua. 

Pikirku, seandainya saja si Jangkrik dipinjami capit atau sengat, tetap tak akan mampu melawan kalajengking yang semasa hidupnya memang terlatih menggunakan senjata di tubuhnya itu.

Hanya saja, jika si Kalajengking punya rasa kebinatangan, melihat Jangkrik yang bukan lawan sepadan, pasti ia hanya menggunakan ekornya untuk mengibaskan Jangkrik agar pergi jauh-jauh sebagai peringatan.

Atau jika terdesak, ia bisa menggunakan capitnya untuk memotong kaki Jangkrik sebagai pelajaran agar tak melawannya lagi.

Tapi memang dasar binatang. Ia malah memilih untuk membunuhnya. Sadis.

Orang-orang yang tadi berkerumun, bubar sendiri-sendiri bergumam tak jelas. Beberapa orang tertawa terbahak-bahak melihat Jangkrik yang tewas mengenaskan. Mereka pikir Jangkrik itu sombong, berani melawan Kalajengking. "Rasakan akibatnya, biar kapok," mungkin begitu pikir mereka.

Geram dengan kejadian barusan. Aku memutuskan mlipir saja. Mumpung matahari sedang terang. Berpanas-panasan mandi matahari, agar virus sialan terbakar tanpa perlu vaksin.

Sadis.

_________________
Penulis: Yous Asdiyanto Siddik 
Selasa, 8 Desember 2020

Keluh Kesah Sepulang Ziarah


"Sebel deh." 

Indira sejenak berpaling dari gawainya. Memandang sebentar ke arah suara dua meter di sebelahnya. Lalu kembali asyik dengan layar 10 centinya. 

"Ngapa, Lu?," tanyanya ngasal dengan mata tetap memandang layar gawainya. 

"Gue abis dari kuburan, ziarah makam mbari ngomel-ngomelin laki gue," sahut suara di sebelahnya itu. 

Indira ngakak. Tubuhnya berputar 90° menghadap perempuan di sebelahnya. 

"Kuburan diomelin, sarap lu, ya? Kurang piknik?." 

Perempuan itu mendengus sambil merengutkan bibirnya. Diraihnya segelas es teh milik Indira, lalu menenggaknya sampai tandas. 

"Orang gila bisa aus juga, yak?," Goda Indira. 

"Stress nih gue. Dia enak-enakan di tanah. Gak mikirin anak 4 tinggalannye dia. Sue!," ucapnya penuh kekesalan. Matanya terlihat berkaca-kaca. 

"Elu kan stress-an dari dulu, May. Kalo lu kagak stress malah gue nyang heran," Indira tersenyum memandang sahabatnya itu. 

"Hape gue cuman satu, anak 4 daring semua. Gue ngisi pulsa 100 ribu dua minggu doang, In." 

"Ehh, Malih, lu pan kagak sendirian. Lu tau gak, ada janda dhuafa di kampung sebelah, anak 2 daring kagak punya hape. Tiap kelar nyuci ama nggosok di rumah majikannya, dia ke rumah guru masing-masing anak. Pulang maghrib, sambil bawa fotokopian soal dan materi belajar. Pagi anaknya yang anterin ke gurunya. Gue liat dia kagak stress-stress amat kek elo," tutur Indira santai. 

Tangis si perempuan pecah. Sesenggukan sambil menelungkupkan wajahnya di pangkuan Indira. 

"Gue kesel In. Dia mati masih muda. Anak masih kecil-kecil, gak ninggalin tabungan malah ninggalin utang. Mana ibu ama adek-adeknya serakah. Gue suruh jual rumah, duitnya suruh dipake buat usaha," katanya sesunggukan.

"Kalo rumah satu-satunya ntu kejual, gue ama anak-anak gue mau tinggal di mana? Lagian rumah jelek gitu emang laku banyak apah?. Mau usaha apah lagian zaman susah kayak gini?," sambungnya masih dalam pangkuan Indira.

Indira beku. Bersahabat 10 tahun buatnya cukup memahami gimana kondisi rumah tangga sahabatnya ini. Terlebih saat sang suami sahabatnya wafat 2 tahun lalu, kehidupan mereka tidak menjadi lebih baik. 

Indira tau, sahabatnya ini perempuan kuat luar biasa, dia tak butuh banyak nasehat, cukup didengarkan saja keluh kesahnya, isak tangisnya, bila sudah reda, buatnya cukup lega, dia akan tenang kembali. Begitu biasanya. 

Perempuan itu mengangkat wajahnya. 

"Daster lu bau, In..!." 
"Tuh kaann..."

Indira mlengos. "Iyalahhh, gue kan belom mandi, abis ngedeprok bawah puun mangga tadi siang. Makan nasi padang bareng ama emak-emak di gang. Salah lu sendiri main nemplok ajah," 

Mereka berdua tertawa ceria. 

"Kadang gue suka berpikir kalo laki gue itu kok egois dari idup ampe mati tetep aje egois. Maunya enak sendiri. Dari dia idup segala urusan anak ampe rumah gue yang ngurus. Dia pulang kerja maen hape, kelayapan ama temen-temennya. Sabtu minggu jalan-jalan ama adek en emaknya. Gajian dia ngasih ngepas doang. Kurang malahan sampe gue kudu prihatin, bantu ngajar TPA ama les di rumah. "

"Anehnya, pas mati dia kagak punya tabungan. Yang ada malah utang kartu kreditnya numpuk dan cicilan utang koperasi kantor. Udehlah gue jadi janda dikejar-kejar debt kolektor. Dia kan enak aje tidur di tanah noh. Ampe jual motor gue buat nyambung idup," ungkap perempuan itu, datar tanpa ekspresi. Indira tahu persis kisah yang tak pernah jemu diulang dan diulang lagi oleh sahabatnya itu. 

"Tapi kadang gue kasian juga ama dia, dia gak bisa ngeliat dunia lagi, yaa In. Gelap aje di bawah tanah. Gak liat si Dinda anak gue dapet penghargaan siswa terbaik, gak bisa liat Rian keren banget jadi gitaris band SMP tempat dia sekolah. Padahal almarhum yang pengen banget anaknya ada yang jadi musisi," ungkapnya lagi sambil menerawang, terlihat senyum samar di wajah pias perempuan itu. 

"May..." sapa Indira sambil menghela nafas. 

"Laki lu gak cuman tidur-tiduran doang di dalem tanah. Dia lagi nunggu hari saat dia akan dibangkitkan di hadapan Allah nanti. Dia akan ditanya sama Allah, tentang anak-anaknya, gimana dia mendidiknya. 

Dia akan ditanya tentang elu, istrinya, gimana dia memperlakukannya. Siapa yang tau, kalo saat ini, di dalam tanah itu dia sedang merasakan penderitaan jauh lebih susah daripada yang elu rasakan sekarang?." 

Perempuan itu terpana, menatap Indira seolah baru mendengar kata-kata mengejutkan yang tak pernah ia dengar sebelumnya. 

"Udah. Makanya lu jangan ziarah kubur cuman buat ngomel-ngomelin dia. Diketawain kuntilanak lu ntar. Doain dia. Maafkan seluruh kesalahan-kesalahannya, ajak anak-anak lu doain bapaknya. Moga Allah ampunin dia. Dia butuh banget doa kalian semua, May. Ikhlasin aja napah. Apan kata lu, dia laki yang nyusahin doang," papar Indira. 

"Iya, yaa In. Lagian, gegara dia mati, anak-anak gue banyak yang ngasih duit. Apalagi kalo bulan puasa, Lebaran ama pas Muharam. Banyak banget yang ngasih duit, baju ama sembako," kata si perempuan. 

"Tauk, ahh!." 

Indira bangun dan bergegas meninggalkan perempuan itu, masuk ke dalam rumah. 

"Lah, lu mau ke mana, In?."

"Mandi!."



Penulis Sri Suharni Maks

Ning

~ Ning ~


"Apa kamu gak sayang sama anakmu ini Ning?. Dia butuh kamu, nduk. Ayolah sehat. Kasian, siapa yang mau menyusuinya kalo bukan kamu?." Katijah meratap kelu. Dipandanginya putri satu-satunya yang belum genap 2 pekan melahirkan anak pertama. 


Ning melahirkan putri kecilnya  dengan pertolongan bidan kampung di rumah bilik orangtuanya, Katijah dan Wariyo, sepasang suami istri miskin di Dusun Waduk Rejo, Jawa Tengah. 


Putri Ning lahir selamat, sehat tak kurang suatu apa. Tapi sejak dua hari pasca melahirkan, Ning yang awalnya baik-baik saja mendadak diserang penyakit aneh. Tubuhnya dingin seperti es. Bibirnya membiru, wajahnya pucat seperti tak ada darah yang mengalirinya. 


Ning juga sering kehilangan kesadaran. Bahkan ketika 3-4 jam sadar pun, Ning tak mampu bangun apalagi melakukan apapun. Tubuhnya kurus kering karena nyaris tak ada nutrisi yang masuk kecuali infus yang didapati Katijah dari kebaikan mantri desa yang menjadi mertua kakak laki-laki Ning.


"Mbak Kat, nanti sore Pak Dokter Wahyu mau ke sini. Mau nengok Ning," kata Mantri Supono. 
"Walah, piye yo...?," kata Katijah menggantung. 

Supono tersenyum, "Wis ojo  dipikir. Dokter' e mrene ora njaluk bayaran, Mbak," seperti paham yang akan apa yang menjadi pikiran Katijah. 


"Matur suwun sanget lho Mas Pon." Kata Katijah menundukkan wajah tak berani menatap mata Mantri Supono karena malu.


Siang tengah hari, warga dan kerabat di sekeliling rumah Ning gempar. Jam 9 pagi tadi Ning koma. Mati suri. Tubuhnya didapati dingin dan kaku, seperti tak punya tanda-tanda kehidupan. Katijah histeris. Wariyo tergugu sambil mendekap bayi Ning di balik sarungnya. Airmata lelaki tua itu mengalir tak terbendung. 


Tetangga dekat berdatangan. Wajah mereka menyiratkan warna yang sama, kesedihan. Suara-suara yang bersahutan, mengguncangkan tubuh kaku nyaris tanpa detak nadi, sambil mengucap mantra serupa. "Ning.... bangun."


"Ayo Ning... bangun....." sebuah suara menyadarkan Ning. Dia seperti berada di sebuah ruang yang luas namun terbatasi dinding-dinding transparan yang entah mengapa sempat membuatnya sesak dalam ketakutan. 


Ning menoleh ke arah suara. Seorang perempuan yang serupa wajah dan perawakannya dengan dia. Tapi Ning tak merasa terkejut. 


Senyumnya pias. "Saya ada di mana?," tanyanya.


Perempuan yang serupa dirinya itu hanya tersenyum, sambil menarik tangan Ning. Ning merasa ia segera bangun. Lalu berjalan bersamaan dengan perempuan itu. Tidak, Ning tidak seperti berjalan. Tapi seolah melayang.


Perempuan itu mengajaknya berwisata. Ke sebuah tempat yang belum pernah Ning datangi sebelumnya. Kadang ia seolah berada di ruang hampa yang tak memiliki dimensi waktu. Lalu membelah padang rumput yang tak terlihat batasnya. Melayang di atas permukaan sungai yang tak terlihat tepiannya, tapi ia bisa melihat banyak orang yang berdiri dan beraktivitas di sepanjang sungai yang airnya jernih laksana cermin.


Ning tak tau, sudah berapa lama ia berjalan, ia tak merasakan lelah. Lalu tibalah ia di sebuah kebun yang luasnya tak terhingga. Di jalan yang membelah kebun, Ning bisa menyaksikan dengan teramat jelas, pohon-pohon di kebun itu tengah berbuah dengan lebatnya. Di depannya, atas juga kanan kirinya, tanaman-tanaman itu amat menggiurkan. Tapi Ning tak punya selera sama sekali. Ia hanya merasa kagum hingga terpana. Entahlah. 


"Tempat apa ini?," tanya Ning terpesona. Perempuan itu hanya tersenyum. Lalu menggamit bahunya. Entah mengapa tetiba ia sudah ada di sebuah pintu gerbang yang sangat tinggi. Dengan gembok emas yang sangat besar. 


Perempuan itu tersenyum ,"Aku mengantarmu hanya sampai di sini ya," ucapnya ramah.


Belum sempat Ning menjawab, perempuan itu menghilang. Tapi Ning tahu, ia menginjak ujung ibu jari kaki Ning. Terasa sakit luar biasa. Ning mengerang. Tapi ternyata hanya suara pelan dan parau yang terdengar.


Ning sadar, ibu jarinya digigit dengan keras oleh tetangganya, teman mainnya semasa kecil, Kadiman. Darah mengucur keluar dari jari kaki Ning.


Nanar Ning melihat orang-orang sekelilingnya berkumpul dalam keadaan menangis terisak. Ning heran, tak tahu apa yang terjadi. Ning melihat sang ibu sembab dan terlihat lelah. Ahh, Ning merasa bersalah. Tubuh lemahnya terasa kian dingin. 


"Jadi begini Bapak dan Ibu, saya menyarankan supaya Mbak Ning diperiksa oleh orang soleh di sini. Saya dan Pak Supono akan mengupayakan kesembuhan Ning lewat cara medis. Hanya saja kita mencoba ikhtiar dengan cara pengobatan lain yah. Semoga diberi kemudahan." Samar suara Dokter Wahyu sore itu di ruang tengah. Dokter yang sudah sepuh itu memeriksa Ning dengan seksama. Ia melihat ada sesuatu yang tak biasa terjadi dengan diri perempuan muda itu. 


Esok paginya, oleh Pak Supono, didatangkanlah Kyai Arief Hasan. Seorang tokoh agama sekaligus pemimpin pondok pesantren dari kampung sebelah. Lelaki tua dengan jenggot yang telah memutih itu memandangi Ning dengan teliti. Sesekali tangannya menyentuh kaki Ning yang pucat dan dingin. 


"Yo, mrene'o. Aku arep takon." Kyai itu menggamit ayah Ning dan mengajaknya duduk.

"Inggih, Kyai," Ayah Ning tunduk.


"Kamu punya anak perempuan berapa?, " tanya Kyai Arief. 


"Satu, Kyai. Lha Ning Meniko." Jawab Wariyo.

Kyai Arief tersenyum. "Coba diingat-ingat lagi."

Wariyo terdiam. Berfikir sejenak. Dan seolah teringat sesuatu, Ia terlonjak. 


"Ya Allah Gustiiii, inggih pak Kyai. Saya pernah punya anak perempuan. Sebelum Ning. Tapi dia keguguran waktu baru 5 bulan dalam kandungan." 


"Lha, sampeyan kubur janin anak mu di mana?."


Wariyo menunjukkan sebuah titik di belakang dapur. Lalu ia segera menangis tergugu. 


Pasca Ning melahirkan, Wariyo tak tega Ning harus mandi di sungai seperti kebanyakan penduduk kampung Tegal Rejo. Sungai itu jauhnya sekitar 100 meter dari gubuk orang tuanya. Lantas, Ia membuat "kamar mandi" darurat untuk Ning. Tepat di atas tanah yang menjadi makam janin bayi lima bulan kakak perempuan Ning. 


Kyai Arief meminta Wariyo memindahkan makam anak perempuannya itu. 


"Pindahkan ya, Yo. Biar gak sembarangan lagi njenengan. Jangan lupakan dia. Jangan sampe kamu atau istrimu tidak pernah mendoakan dia sama sekali. Dia itu anakmu juga. Dia sempat bernyawa." 


Wariyo dan Katijah menangis. Antara sedih tapi juga lega. Teka-teki "penyakit" Ning sudah diketahui penyebabnya. Mereka menyesali diri juga, mengapa sampai bisa lupa dengan keberadaan anak perempuan mereka dahulu.


Sebuah prosesi dilakukan. Makam janin itu dipindahkan. Sekaligus pemberian nama, Siti Aisyah. Dilanjutkan dengan acara kirim doa yang dilakukan keluarga dan tetangga sekitar rumah. 


Sehari berikutnya, kondisi Ning berangsur pulih. Tubuhnya mulai segar. Sudah mampu duduk untuk menyusui bayinya, Siti Khadijah. 


Suatu sore, saat Ning memangku sang bayi di teras rumah, Ning melihat sesosok anak kecil tersenyum di depannya. Ning tersenyum membalasnya. 


"Kita akan sama-sama lagi nanti ya. Baik-baik kamu di sana. Saya akan segera menyusul kamu." Ning seolah berkata-kata. 


Perempuan kecil itu tersenyum ceria padanya. Lalu datang menghampiri Ning dan menciumnya. 


"Aku tunggu ya," sambil melangkah pergi dengan riang.


Ning tersenyum. Sumringah.



Penulis: Sri Suharni


LIDAH

LIDAH fiksi depresi

“Waaahhhh.... ibu kelihatan cantik sekali... lebih muda 10 tahun, deh.... gaunnya cocok banget... coba lihat belakangnya... tuh.. perfecto, bu... gak nyesel kalo ibu ambil yang ini...” Puji Nanik kepada seorang wanita paruh baya berdandan menor di depannya. Perempuan yang jauh dari langsing itu melenggak lenggok di ruang ganti dengan sebuah terusan mahal yang sedikit nge-press di badan gemuknya. Sambil sesekali membelakangi cermin besar di ruangan itu.

“Aaah, masa sih? Agak ngepass tapi Mbak...” Ucapnya kurang yakin.

“ Ibu habis makan malam kan?” Tanya Nanik tak kehabisan akal.

“ Iyyaa... sih...” Jawab si perempuan.

“Lha... itu, jadi agak kelihatan nge-pass...” Ujar Nanik. “Pesta nya kapan, Bu??” selidiknya lagi.

“Minggu depan sih...” Jawab si Ibu.

“Nnnahhh, masih punya 5 hari bu, mulai besok ibu diet saja, gak usah makan malam. Baju nya bagus  sekali, lho.Kelihatan eksklusif, mewah dan berkelas. Sayang kalo nanti di pesta ada yang pakai... padahal ibu sudah oke sekali dengan gaun ini... mmm gini deh, spesial nih, saya kasih diskon 10% deh, gimana..?” Nanik berusaha meyakinkan.

“Aduh,gimana ya.... budgetnya kan gak segitu, nanti saya gak bisa beli sepatu dan tas nya dong...” Jawab perempuan itu.

Mata Nanik terbelalak, “Ooooh, kalau begitu sekalian aja deh, nanti saya carikan tas dan wedges yang cocok buat gaun ini... saya kasih diskon 15%, gimana...? Mmmm, ada tas tangan limited edition nih dari merk Prada.... Cuma ada 200 pcs di dunia, bener lho. Di Indonesia cuma butik kita yang punya.Wedges-nya dari Burgundy.....bla....bla.....” 

Nanik menggamit lengan perempuan yang menjadi sasaran nya untuk mendapat bonus mingguannya pekan ini. Lumayan buat tambahan bayar kartu kredit yang sudah jatuh tempo 2 hari lalu. Dengan mengerahkan keahliannya merayu dan membujuk customer yang datang di butik tempatnya bekerja.

Malam itu sebelum closing, transaksi di tutup dengan pembayaran kartu kredit perempuan paruh baya yang membeli gaun pesta yang kurang pas dengan ukuran tubuhnya, tas tangan KW 1 dari produk kenamaan dunia yang di bandrol dengan harga original, serta sepasang wedges yang sama sekali tak disarankan di pakai perempuan setengah uzur dengan penyakit rematik di kakinya. 

Tapi semua itu bukan urusan wanita tenaga marketing sebuah butik yang membuka gerai di Mall ternama, yang harga sewanya berharga 1 buah rumah kelas menengah. Yang jelas, bonus mingguan yang menjadi haknya sudah terbayang di depan mata, tak peduli dengan cara yang tidak mulia, pokoknya barang sudah berpindah tangan. Itu saja.

Nanik, wanita seksi 29 tahun, yang bekerja di sebuah butik mewah itu membuka pintu rumah, ia menghempaskan tubuhnya di sofa empuk ruang tamu. Matanya terpejam pelan, penat melanda, kepalanya seperti berputar, terbayang betapa kacaunya kondisi keuangan keluarganya. Sejak sang suami di PHK 2 tahun yang lalu, dan mereka bercerai karena tak kuat menanggung cobaan hidup, Nanik memutuskan untuk bekerja. 

Sebelumnya, ia sempat menjadi sales force beberapa buah produk, dari alat-alat rumah tangga, kosmetik, peralatan senam, aksesoris, bahkan sandal buatan lokal. Pengalaman pertamanya menjadi seorang tenaga sales door to door, unforgettable-lah. Masih lekat benar dalam ingatanya bagaimana sikap orang-orang yang didatanginya. Ada yang menolak secara halus, ada yang buru-buru masuk ke dalam rumah melihat kedatangannya dari kejauhan, ada yang membanting pintu, sampai ada yang pura-pura baik, menyuruhnya masuk ke dalam rumah, lalu berusaha melakukan perbuatan tak senonoh padanya. 

Nanik jadi pandai sekali memainkan lisannya untuk berbohong. Bahkan hampir tanpa rasa bersalah, bahwa kebohongannya itu berakibat buruk pada orang lain

Ah, namun semuanya menjadikan Nanik piawai dalam hal membujuk orang, di samping karena belajar dari pengalaman, dalam setiap kesempatan, perusahaan tempat ia bekerja selalu membekali para salesnya itu dengan segudang teori bagaimana cara orang agar terpikat dan membeli barang yang ditawarkan. 

Dan hasilnya, Nanik hampir selalu sukses membujuk para pengunjung untuk membeli barang di toko. Namun, dari proses yang ia jalani, ada satu perubahan yang sebenarnya sangat tidak terpuji, Nanik jadi pandai sekali memainkan lisannya untuk berbohong. Bahkan hampir tanpa rasa bersalah, bahwa kebohongannya itu berakibat buruk pada orang lain. 

Tapi ia tak peduli,yang penting, jualannya laku. Ia dan keluarganya bisa makan. Sekarang ia harus menanggung hidup seorang anak buah pernikahannya dengan mantan suami, 2 orang adik dan seorang ibu yang kebutuhannya tak pernah ada habisnya. 

Nanik sadar betul, bila ia keluar dari pekerjaannya, 2 adiknya tak bisa lagi meneruskan sekolah, dan anaknya? Ah, sekecil itu tapi banyak betul keinginannya. Lalu sang Ibu, yang bolak-balik ke dokter karena nyeri pinggang dan diabetes yang kerap kambuh tak kenal situasi.

***

“Bunda, nanti Evan beli-in mobil remote yang kayak Riyan ya... yang gede, ada lampunya.” Celoteh anak semata wayangnya di meja makan ketika mereka sarapan. 

“Iya sayang, nanti Bunda belikan,” ucap Nanik semanis mungkin sambil mengoleskan roti dengan selai.

“Teh, tas Prada yang oren di butik, udah laku belum? Aku masih pengen nih,” rajuk Tami adiknya.

“Kayaknya udah Neng, soalnya kemarin waktu stock taking udah ga ada,” Jawab Nanik santai.

“Iiiih, gantian napa, masak teh Tami mulu sih, kemaren kan dia udah ganti laptop. Sekarang aku dong,” Kilah si bungsu, Euis.

“Emang kamu mau tas juga?” Tanya Nanik.

“ Engga teh, Euis pengen jam tangan, yang kayak di pake Jessica di televisi.”

“iya deh, nanti ya,” jawab Nanik.

“Ihh, kapan teh, minggu depan, Euis kan ulang tahun, buat kado Euis aja atuh.”

Nanik tertawa renyah,’Oh iya, boleh deh kalo begitu.”

“Nik, uwa Hamid mau sunatan si Arif, anak si Hasan. Emak disuruh pulang kampung hari Jumat.” Emaknya muncul dari dapur.

“Oh jadi Mak? Emak mau pulang sama siapa? Nanik ga bisa anter, soalnya kalo akhir pekan, butik rame Mak, mana tanggal muda lagi,” kawab Nanik sambil meneguk kopi terakhirnya di cangkir.

“Ga papa Emak pulang sendiri, kan naik bis cuma sekali, nanti di terminal, si Ujang ditelepon aja suruh jemput Emak. Tapi anter Mak sampe terminal bis ya,Nik.”

“Oke deh Mak,” jawab Nanik sambil beranjak meninggalkan meja makan.

Dalam mobil Nanik memutar otak, bagaimana ia bisa menyediakan uang begitu banyak dalam waktu sesingkat ini. Gajiannya masih jauh dari pelupuk mata, bonusnya... aha, kartu kreditnya mungkin harus menunggu sampai bulan depan. Cicilan mobil... cicilan rumah... cicilan motor Tami... ahh... 

mawar hitam gugur fiksi depresi

Lalu, sudah berapa kah uang butik yang ia tidak setor ke pemiliknya karena habis ia pakai? Nanik juga bingung, bagaimana ia selalu tak mampu menolak keinginan anak dan kedua adiknya, meskipun permintaan mereka tidaklah penting. Bahkan, seringnya menjadi suatu kemubaziran belaka? Lalu darimana ia bisa membayar semua tagihan yang rata-rata sudah tertunggak dalam bilangan bulan.?

Mobil Nanik, hampir menabrak avanza di depannya, adduuuhh, that's close, hatinya berdebar lebih keras. Perlahan keringat dingin mengalir dari dahinya dalam mobilnya yang ber AC. Tangannya seolah menegang.

“Kamu tak pernah mengajarkan hidup sederhana dalam keluargamu, itu sebabnya mereka menjadi sangat konsumtif sekali, mereka semakin menjadi beban buat hidupmu.” 

Sebuah suara seakan bergema dalam mobil. Nanik melemparkan pandangan ke sekeliling mobil, hanya ada dia seorang di sini, lalu siapa yang bicara barusan ? Suaranya jelas sekali terdengar.

“Ssssiiappa?” tanya Nanik pucat.

“Eh ini aku, lidah mu yang berbicara.” jawab suara itu

Nanik menyapu seluruh pandangannya ke seluruh mobil. Benaar tak ada siapa-siapa. Setengah ngebut Nanik memacu mobil ke butik. Sampai di parkiran, Nanik bergegas. Langkahnya setengah berlari. Tak dihiraukannya ucapan salam dari sekuriti dan pegawai Mall seperti biasa. Keringat dingin membasahi tangannya yang terasa lebih dingin.

“ Pagi, Mba Nanik...” Suara Selvi di balik meja resepsionis.

Nanik terkesiap, ia segera sadar. Ia sudah sampai di butik. Diperbaikinya tatanan rambutnya. Lalu sekilas ia melihat di kaca toko, make-up sudah harus diperbaiki. “ Pagi Selvi.” jawabnya sambil tetap berjalan menuju ruangannya.

“Mbak,tadi Ibu Jocelyn pesan, kalau Mba Nanik sudah datang, di suruh menghubungi beliau. Terus juga ada telepon dari Bank BHG tentang kartu kredit Mbak.” Lanjut Selvi.

“Ooh..iya, nanti saya hubungi mereka. Maaf, soalnya tadi HP saya silence, tak baik kalau terima telpon sambil setir mobil,berbahaya.” Ucapnya datar dan dengan senyum tentunya. Selvi mengangguk dan ikut tersenyum.

“Mbaak... maaf...” dari dalam ruang ganti, Amel, muncul.

“Ya, ada apa Mel?” Tanya Nanik tenang.

“Bonus  saya pekan lalu bisa diambil sekarang ga? Saya butuh sekali Mbak, bapak saya mau melanjutkan operasinya lagi. Uangnya masih kurang Mbak.”

Ya, seharusnya bonus Amel dan dua karyawan lainnya itu sudah ia bayarkan,” Oke, begini, sekarang kan kamis, nanti akhir pekan biasanya toko ramai Mel, besok juga ada barang baru yang masuk dari bu Jocelyn, barusan saya disuruh menghubungi beliau. 

Bonusnya dibayar hari Senin saja ya? Sekalian 2 pekan, jadi tambah banyak kan? Bagaimana?” bujuk Nanik, persis seperti layaknya ia lakukan kepada pengunjung toko. Dilihatnya senyum Amel mengembang. Ya, rayuannya berhasil. Dengan senyum lebar Nanik meninggalkan ruang depan.

sedih fiksi depresi

Di dalam ruangan stok, Nanik terdiam. Bu Jocelyn bukan menyuruhnya menghubungi untuk membicarakan re-stok barang, tapi hampir dipastikan beliau menanyakan uang setoran butik yang sudah hampir 1 bulan tak ia bayarkan. Jumlahnya hampir 56 juta rupiah, termasuk bonus 3 karyawan butik. Dalam brankas toko masih ada 15-an juta lagi. 

Lalu HP-nya yang sudah 2 hari dimatikan, menghindari telepon dari bank menagih tunggakan kartu kreditnya, cicilan rumah yang sudah 4 bulan diabaikan. Mobil yang tinggal menunggu waktu diambil paksa oleh debt kolektor dari kantor leasing. Kembali suasana mencekam seperti dalam mobil pagi tadi.

“Apa yang hendak kau katakan kepada pemilik butik, Nanik? Mengatakan bahwa pengunjung sepi seperti yang sudah-sudah? Agaknya kamu harus mencari alasan yang lain,karena Jocelyn sedikit mulai curiga kepadamu.”

Aaahh, suara itu lagi... Nanik berputar mengelilingi ruangan, hanya ada sekumpulan pakaian-pakaian bisu di sana. Lalu matanya mengarah kepada tumpukan tas di sudut ruangannya, merekakah yang bicara.?

“Bukan Nanik, ini aku yang bicara,” kata suara itu lagi.

Nanik meremas rambutnya, setengah berlari ia menuju toilet. Alangkah terkejutnya ia ketika melihat bayangan wajahnya di cermin, sebuah lidah keluar dari mulutnya, menjulur keluar lebih panjang dari seharusnya. Lidah itu hampir menutupi seluruh wajah cantiknya yang dihiasi make-up tebal mempertegas kecantikannya.

Nanik berusaha menarik lidah itu. Tangannya menggapai-gapai ke semua arah. Lehernya tercekat. Suaranya mengerang parau. Tidak... Nanik tak mau seperti ini. Lalu berkelebatan bayangan Evan yang sedang riang bermain helikopter dengan remote control seharga 1,5 jt. Euis yang berlenggak lenggok dengan jeans mahal seharga 800 ribu, Tami yang melangkah ceria dengan tas Gucci seharga 4 jt. 

Lalu ia mendengar teriakan seorang ibu separuh baya yang jatuh dari lantai dua sebuah ruang pesta karena wedges-nya patah saat akan menuruni tangga, bajunya koyak di bagian perut. Dan perlahan terdengar suara rintih seorang wanita pengusaha warteg yang terluka bakar akibat regulator gas yang dibelinya dari Nanik tidak sebagus yang dipromosikannya.

Aahhh, Nanik akhirnya dapat memegang lidahnya... dicengkeramnya lidah itu... matanya liar mencari-cari... ah, itu dia... ia berlari ke sudut kotak rias, diambilnya sebuah gunting, lalu, kress.... 

Nanik memotong lidah itu dengan gunting. Ia tertawa puas.... darah mengucur deras dari mulutnya, ia berteriak.... aahhh.... dan berlari keluar toilet... keluar toko... tak dipedulikannya lagi teriakan Amel dan Selvi memanggil-manggil namanya.

Nanik berlari dan berlari.. lalu dilihatnya sebuah sungai, airnya jernih, banyak terlihat ikan yang berenang kian kemari di sana.... ahh, tiba-tiba Nanik merasa ingin menjadi seperti ikan. Ditatapnya sungai yang berair jernih di hadapannya, lalu Nanik pun melompat... ia ingin berenang bersama ikan-ikan itu.

Headline surat kabar sore. ”Seorang wanita muda pekerja butik ternama tewas setelah melompat dari lantai 4 sebuah Mall di Jakarta. Wanita itu ditemukan tewas dengan lidah yang terpotong.”


~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Penulis: Sri Suharni Maks


Saat Penglihatan ALLAH Saja Yang Menjadi Andalan

SAAT PENGLIHATAN ALLAH SAJA YANG JADI ANDALAN

 Saat Penglihatan ALLAH Saja Yang Menjadi Andalan

"Bu, anti saya amanatkan untuk jadi penanggung jawab di bagian penjualan baju-baju bekas layak pakai ,ya?" Ketua panitia Baksos itu menyerahkan map berisi catatan data barang kepadaku." 

"Kok saya lagi?" tanyaku.

"Iyalah, anti kan kemarin sukses tuh... dapat dana banyak dari jualan baju bekas?" desaknya.

"Anti kan biasa dagang..." lanjutnya.

"Iya deh, gak usah pake muji kali...." Jawabku akhirnya. Teman di sebelahku menggamit pundakku

"Emang enak jadi tukang loak lagi..." godanya.

Aku tersenyum kecil, "Insya Allah."

"Gak papa lagi, bu... penggemarnya kan banyaak...." Tambah rekanku lagi.

Aku hanya tenggelam dalam susunan data-data barang. Mulai hari itu, hari-hariku disibukkan dengan acara menyortir barang yang masuk, mengelompokkannya sesuai peruntukannya, dan melakukan taksiran harga yang pantas.

Tiba pada hari H. Aku sudah siap di tempat dengan tumpukan-tumpukan pakaian yang akan di jual. Dibantu tiga orang rekan. Seperti dugaan awal, tempat ku ini jadi tempat favorit untuk dikunjungi oleh sebagian besar warga, terutama ibu-ibu dan anak-anak penduduk sekitar Tempat Pembuangan Akhir sampah Bantar Gebang Bekasi, yang notabene dekat dengan komplek tempat tinggalku sekarang. Mereka ada yang mulai memilih-milih baju yang akan mereka beli.

"Nanti ya bu, toko belum buka...." kataku. Mereka semua tertawa.

"Takut gak kebagian bu entar mah..." jawab mereka.

"Nanti kalo milih-milihnya sekarang, saya hargai 50 ribu lho satunya...." goda saya lagi.

"Waah ibu, kalo segitu mah, beli yang baru lah..." jawab mereka lagi.

"Makanya nanti saja pilih-pilihnya, semua kebagian deh, Insya Allah... stok banyak nih.... denger ceramah dulu ya di sana..." kataku sambil mengarahkan mereka ke tenda utama.

Selesai ceramah dan acara inti, benar saja mereka menyerbu tempat ku membuka lapak. Beberapa jam aku seolah tenggelam dalam riuhnya masyarakat memilih-milih pakaian. Baju muslim, jilbab, kaos, baju anak-anak, dewasa, baju koko, celana panjang.

Dalam hitungan jam sudah nyaris ludes. Tentu saja lapak ini jadi incaran, baju-baju dengan kualitas antara 60-90% layak pakai dibanderol mulai 500-3000 perak saja. 

Lumayan sangat bagi yang membutuhkan, atau cuma ingin menambah koleksi saja. Alhamdulillah...

Menjelang dzuhur, tenda-tenda lain sudah bersih. Sebagian besar panitia berkumpul di tenda utama untuk berfoto-foto dan rehat.Aku masih harus merapikan sisa baju, mendata ulang stok, jumlah uang hasilnya... sambil ditemani satu dua ibu yang masih asyik mengaduk-aduk baju yang sudah terlipat, berharap dapat diskon lebih murah. Sampai akhirnya panitia memutuskan untuk memberikan baju sisa itu kepada yang mau. 

Setelah beres urusan baju dan amplop uang hasil penjualan kepada  ketua panitia, aku membersihkan tempat jualan tadi karena memang menumpang pada teras rumah penduduk. "Biarin ajah Neng. biar ibu yang nyapu."

Aku tersenyum, bukan apa-apa,si ibu yang sudah sepuh itu menyapa ku dengan sapaan "neng" sedari tadi. Lucu saja, emak tiga orang anak berusia 35 tahun masih layak kah di panggil Neng? Subhanallah sungguh menghibur.

"Ngga apa-apa bu... terima kasih yaa, maaf sudah merepotkan..." jawabku.

Selesai urusan bersih-bersih aku sudah tidak melihat kerumunan temen-teman panitia di tenda utama. Tinggal kaum lelaki yang mulai bongkar-bongkar. Aku pun pamit pulang.

Belajar Ikhlas

Belajar Ikhlas


Seminggu sesudah acara baksos itu,aku bertemu dengan salah seorang pengurus DPC di sebuah acara. "Bu kok kemarin waktu baksos di ciketing udik gak datang? Kan dekat sama rumah anti kan?" Tanyanya

Aku tertegun sejenak.... Dan ibu DPC itupun menyebutkan satu persatu nama-nama rekan panitia yang ikut serta di acara itu, bahkan termasuk orang yang aku tahu persis dia tiba belakangan, karena sempat izin ada acara, karena si rekan ikut berfoto dengan panitia yang lain. Dalam hati aku buru-buru istighfar... Rabbi... jika bukan karenaMU...

"Yah bu.. masa segede gini saya masih ga keliatan juga yah?" Jawabku akhirnya. Di timpali tawa sang ibu DPC.

Beginilah kiranya, Allah memberikan hikmah besar dalam suatu peristiwa yang aku alami. Aku tidak mengerti, mengapa kata ikhlas begitu mudah untuk diucapkan, namun begitu berat untuk di amalkan.... sungguh bukan hal yang mudah, ketika diri ini begitu bahagianya, telah berbuat sesuatu, meluruskan niat, bersikap itqon, justru menjadi orang terbuang, tak dianggap... di-underestimate-kan.... karena amalannya kecil...

Astaghfirullah...

Saya jadi teringat seorang guru TK yang tempatnya sering dijadikan sarana kita-kita untuk berkumpul. Dia harus izin pada yang punya yayasan, menyiapkan tikar.. lalu membersihkannya lagi seusai acara... namun Ia tidak pernah memegang jabatan penting, bahkan perannya sering tidak diperhitungkan.

Atau teman yang emang gak pede-an, selalu dapat tugas mengantar undangan, dan urusan antar mengantar lainnya. Yang tidak memungkinkan dia untuk dikenal oleh "Atasan"nya.

Rabbi... dari peristiwa itulah aku merasa doaku sudah di kabulkan Allah karena kasih sayang Nya. Yaa Allah... ajari aku tentang keikhlasan.

Lalu ku ambil Hp-ku, untuk sang guru TK aku mengirim pesan, "Semoga Allah selalu memberkahi ibu sekeluarga, mempermudah ibu menuntut ilmu, menjadikan profesi ibu sebagai amal sholeh yang tak putus-putus."

Dan untuk temanku si pengantar, aku menulis... "Semoga Allah selalu memberi kemudahan, mengaruniakan ibu kesehatan, memberkahi ibu dengan anak-anak yang shalih,juga semoga bisa beli motor baru buat ibu pribadi, gak joinan lagi sama suami.."

Wahai Allah....Janganlah Kau palingkan wajahMu dari kehidupanku.... tuntunlah aku selalu yaa Rabbi.... dalam usahaku membersihkan hati dan diri, agar senantiasa mengutamakan pandanganMu sahaja....

*******

Penulis: Sri Suharni Yang Berusaha Istiqomah pada 
8 Desember 2010 pukul 23:33 ·

KEPINGAN HATI DI UJUNG HARI

KEPINGAN HATI DI UJUNG HARI

Sudah seminggu aku merasakan kesibukan yang lain dari biasanya. Selain menyediakan waktu keluar pada hari-hari tertentu, ada agenda lain yang harus kusiapkan acaranya yang memang agak "penting". Aku bukan "siapa-siapa", tugasku hanya menyusun acara, mengkondisikan tempat agar layak untuk dikunjungi para undangan, menyiapkan biodata penceramah, daftar hadir, dan koordinasi-koordinasi lainnya. Alhamdulillah semua sudah siap.

Tinggal besok siap-siap bangun lebih pagi lagi. Menyiapkan sarapan pagi lebih awal, mencuci pakaian, beres-beres rumah sebelum ditinggal namun uuffsss kulihat keranjang pakaian bersih yang belum disetrika telah menanti di sudut ruang belakang, seolah menatapku untuk segera dibenahi.

Lalu selesai mencuci piring, kusiapkan "arena jihad" ku yang sebenarnya menggelar kain alas setrika. Bismillah.

Hari sudah menunjukkan pukul 22.30 wib...urusan domestik yang penuh "iklan" gangguan si kecil sudah kurampungkan, cucian baru saja kuselesaikan, plus, bongkar-bongkar kamar si sulung jadi pekerjaan tambahan, sore tadi mendadak kebocoran karena ada salah satu genteng yang pecah.... hhhh..... what a day ....kubaringkan tubuh lelahku, mengiringi kesunyian malam, ditingkahi suara gerimis, berbarengan dengan helaan nafas nyenyak tiga orang anak-anakku.

Beres-beres rumah, mandiin si kecil, bikin sarapan.Usai shalat dhuha dan berpamitan pada suami dan anak-anak aku berangkat menuju tempat acara, sampai di tempat baru ada tiga orang panitia yang datang, maklum baru jam 07.00 pagi. 

Setelah mengucapkan salam, aku bergegas menyiapkan semua perlengkapan acara. Map susunan acara, biodata penceramah, ku letakkan di meja MC. Map Daftar hadir di meja registrasi. Waahhh, mejanya belum siap rupanya... lalu kuangkat meja di sudut ruangan musholla, memberinya taplak, menaruh vas bunga.... kemudian mata ku tertumbuk pada lantai teras musholla yang kotor terkena tanah, kuambil sapu dan ku bersihkan dengan kail pel. Jam 07.30.

"Konsumsi siaap," seru rekan ku. Aku ambil dus-dus itu, ku tata dekat meja registrasi. Lima belas menit kemudian, semuanya sudah siap. Bismillah.

Sambil duduk menunggu panitia yang lain, aku membereskan tata letak pohon-pohon penghias podium, HP-ku tiba-tiba berdering dari dalam tasku di sudut ruangan. 

"Assalamualaikum". Aku duduk diam, masih dengan hp ditanganku. Salah seorang temanku bertanya, "Siapa Bu? Ada apa? Anaknya rewel?."

Aku tersenyum kecil, "Nggak, ada yang meninggal dunia, aku diminta mandi-in."

Temanku bertanya lagi, "Terus?."

Aku melihat ke sekeliling, "Semuanya sudah siap kan,? Tinggal tunggu panitia yang lain sama peserta.?"

Temanku menjawab, "Iya sih, tugas ibu udah rampung."

"Kalo gitu aku tinggal yaa? Gapapa kan?" kataku. Aku teringat kisah sahabat Abu Bakar as Shiddiq yang mendapat pahala utama. Temanku mengangguk," Oke deh, hati-hati yaa..."

Aku pamit pada ketua panitia, "Ya udah bu, naik apa? naik motor aku ajah, nih kuncinya, jangan lupa, tar kalo udah selesai balik lagi yaa." Alhamdulillah, ucapku dalam hati. Allah telah memudahkan.

Sampai ditempat,aku terkejut, lho ini kan rumah. Beberapa orang yang kukenal menyapa dan menyalami ku. Ini rumah Naya, teman sekolah anakku, Fira. Rupanya nenek buyutnya tutup usia tadi subuh. Ibu Naya menyalamiku. 
"Terima kasih ya Fir."

"Sabar yaa.," ucapku sambil cipika-cipiki.

Dari keterangannya, aku mendapat informasi, nenek buyut Naya sudah sepuh, 87 tahun, mengidap kanker tiroid stadium 4 (merinding mengingatnya), "Kata dokter udah ga ada yang bisa diperbuat, nenek udah sepuh banget." terang mama Naya. Aku hanya mengangguk-angguk saja. Aku menelepon suamiku untuk membawakan barang-barang perlengkapan jenazah yang ada di rumah. Tikar, kafan, sarung tangan, masker.

Setelah team datang, dengan segera aku dan team menyiapkan semuanya, memotong kain kafan, menyusun nya sesuai urutan dan kebutuhan, kapas  pun menyiapkan tempat mandi, setelah hampir semua siap, tiba-tiba Mama Naya mendekatiku dan membisikkan sesuatu. Aku terkejut, mengernyitkan dahi sambil menatapnya aneh. "Itu yang nyuruh bu Bidan, Fir." 

Mama Naya menunjukkan pada seorang wanita, yang sempat aku kenal, dia bidan di komplek kami. Bidan itu tersenyum. Menghampiriku yang sedang memakai masker dan sarung tangan karet. "Iya,bu. Tadi si Ibu nanya sama saya. makanya saya kasih saran gitu. katanya gak enak sama yang mandiin. Di rumah sakit juga emang gitu 'kan? terangnya. Aku bertanya,"Kalo cairan itu, sakit gak kalo kena yang luka?."

"Ya sakitlah kalo buat yang hidup," jawabnya santai.

"Aku sedikit melotot," Ya kalo buat yang hidup aja sakit, apalagi buat yang mati."

Si bidan nyengir, "Ah masa sih, ibu bisa aja..." ujarnya santai. Aku ngeloyor pergi. Ku hampiri ketua team penyelenggaraan jenazah, setengah berbisik kukatakan yang terjadi. Dia terlihat bimbang. Namun mau tak mau, semua harus tetap berjalan, the show must go on.

Satu lagi tarbiyah Allah yang sangat berharga menyapaku hari ini

Satu lagi tarbiyah Allah yang sangat berharga menyapaku hari ini. Melalui "guru abadi" yang tak pernah henti memberiku pelajaran berharga. Ya Allah, berilah aku akhir "perjalanan" yang baik dalam kehidupanku... berilah kemudahan bagi ku menghadapi dahsyatnya sakaratul maut..... air mataku menitik membasuh tubuh tak bernyawa itu... Bu... maafkan kami yaa... kami telah mendzalimi ragamu, Astagfirullah, Astagfirullah, tiba-tiba kurasakan dadaku sesak oleh kepedihan.

Pukul 11.30 siang, waktu aku menginjak teras musholla. Acara sudah hampir selesai, kubiarkan baju dan jilbab yang sedari pagi kupakai masih tercium aroma bubuk cendana. Tak sempat aku menggantinya. Baru akan meletakkan tubuhku di karpet, ketua panitia dari DPC menghampiriku,"Ukhti, kok baru datang?" serangnya tegas.Aku tercekat, hampir tak bisa berkata-kata. "Mmm,habis ada perlu bu. Afwan." jawabku sekenanya. Dalam hati aku ingin berteriak.... tapi,ah... aku memutuskan untuk diam saja. 

Aku mengambil satu gelas air mineral di kardus dan aku meminumnya. Seorang teman menghampiriku, "Hei, dari mana?" Sambil mengulurkan tangan. Aku tersenyum saja menyalaminya. Lalu kulihat sesosok melintas di hadapanku. "Sori, bentar yaa..."

Aku bergegas. "Ummi....." seruku. Seorang wanita paruh baya yang kupanggil ummi itu menoleh dan tersenyum lebar kepadaku. 

"Assalamualaikum....." sapanya hangat sambil memelukku.

"waalaikumsalam. Ummi, aku mau nanya nih." Aku raih tangannya duduk di teras musholla.

"Iiiih, nih anak, serius amat sih" katanya.Namun Ia mengikuti juga.Ku ceritakan kejadian yang baru saja ku alami kepadanya.Ummi Mun, sapaannya, yang mengajariku ilmu memandikan jenazah dengan khusyuk mendengarkan keteranganku."Astagfirullah.... dibuka lagi deh buku panduannya. Ummi kan dah sering bilang, kalau badan jenazah itu lebih sensitif dari badan orang yang hidup. Anti kan dah paham, kok lupa?" nasihatnya.

"Insya Allah Ummi, tapi kami khilaf, keluarganya memberitahunya udah digituin..." belaku.
 
"Ya, yang sudah... ya sudah... lain kali jangan lagi yaa.... Istighfar lah... semoga Allah memaafkan kekhilafan kita. Semoga jadi pelajaran berharga untuk ke depannya. Udah ga usah sedih... semangat yaa."

Sampai akhir acara, tiada hal lain yang ada dalam fikiran ku, selain peristiwa tadi. Berulang kali aku mengucapkan istighfar dalam hati... terbayang tubuh yang ringkih menanggung sakit... Ya Allah ampunilah kami, berilah kelapangan jalan bagi nya, berilah ia tempat terbaik disisi Mu.

"Bu, yang di sini dah dipel?." Sebuah pertanyaan membangunkan aku dari lamunan panjang.
"Ya udah, tinggal terasnya saja," jawabku

"Cepat bu,bentar lagi ada yang mau adzan..." Ucap rekanku. Kubenahi peralatan pel, sapu dan keranjang sampah. Kardus-kardus penuh gelas air mineral, sampah pembungkus.... "Udah bu... mau sholat di sini?" tanyaku pada dua rekan yang sama-sama panitia. Memang tinggal hanya bertiga saja.

"Boleh....yuk wudhu duluan, mumpung belum ada bapak-bapak..." jawab rekanku.

**********

Kupandangi wajah balita ku yang terlelap di pangkuanku. Ku peluk ia berkali-kali, maafkan mama ya nak, setengah hari lebih tadi ia kutinggalkan bersama ayahnya, dan dua kakaknya saja. Padahal ia masih ASI. Alhamdulillah... keluargaku, terutama suamiku tak pernah keberatan dengan kesibukan sosial ku. Mereka dengan penuh mendukung. Meskipun sempat pula terlontar keluhan si kakak, kalo hari biasa, ayah yang ga ada, kalo hari libur mama yang gak ada... kita kapan jalan-jalannya? Hhmmm.

KEPINGAN HATI DI UJUNG HARI

"Bekerjalah untuk Allah... kamu gak akan pernah merasa sakit hati. Allah gak pernah mendzalimi "pegawai-Nya". Dia melihat semua, seluruh kerja kamu, dari mulai niat sampai hasil akhirnya, bahkan finishing touch-nya. Dia gak pernah lalai, gak pernah lengah sedikitpun, biarpun sampe kamu "belok" sedikit aja, meskipun dalam hati."

Ga usah mikirin kamu yang dikira datang telat, dikira gak bertanggung jawab... ingat, kamu kerja dakwah itu apa yang kamu cari... niat nya luruskan... bener-bener lurus.. kalo kamu cuma pengen di puji sama bu**** atau sama bu**** mending kamu di rumah aja. Aku gak pengen tuh punya bini ngetop. Kalo mau yang gitu mah, mending aku nikahin selebriti...." Nasehat suami ku ketika aku mencurahkan isi hati ku padanya lepas shalat isya.

"Emang ada apa seleb yang mau sama ayah?" tanya ku mulai bisa tersenyum. Dia tertawa.

"Mengenai soal nenek buyutnya Naya, ya... kayaknya ayah cuma bisa bilang, kamu gak salah... kan kamu gak tahu kalau keluarganya kasih cairan itu, udah gak usah dipikirin... meskipun ayah juga gak mungkin nyalahin yang ngasih. Dia juga cuma mengamal kan amalan yang dia tahu kan??? Jangan bikin patah semangat mikirin hal-hal yang sudah lewat. Sekarang kamu harus lebih banyak muhasabah, menguatkan jiwa.Kalo ayah perhatikan, tantangan kamu dalam memandikan jenazah mulai keliatan nih... itu bagus buat latihan mental kan?"

Aku merenungkan ucapan suamiku... ya beliau memang benar adanya. Sejak awal tahun,"kasus" jenazah yang ku urus memang meningkat "kualitasnya", artinya Allah mentarbiyah aku dan team secara perlahan lahan. Tak terbayang olehku jika baru mulai mencoba penyelenggaraan jenazah sudah dapat yang kelas "berat" punya... Alhamdulillah... Semoga Allah tetap memberi kekuatan mengemban amanah ini.

Dan soal para atasan yang telah bersikap kurang tabayyun terhadapku... aku mulai bisa memaafkan, seperti biasa, aku punya tempat curhat yang paling netral, tidak membela, juga bisa memposisikan dirinya sebagai hakim. Meskipun lebih seringnya perlakuan seperti itu mampu menggores bahkan mengiris kepingan hati ku, namun tidak sampai memporakporandakan keyakinan ku untuk tetap istiqomah meniti jalan dakwahNya. Aku memang membutuhkan sedikit waktu, namun selebihnya aku akan bisa menyatukan kepingan hati itu di penghujung hari sebelum lelap tertidur. 

Semoga Allah tetap memberiku ketabahan, kekuatan, dengan berjuta kekurangan yang ada dalam diriku,untuk tetap bisa memberikan yang terbaik.Menjadikan diriku, waktuku, ilmu dan kemampuanku, membawa manfaat bagi orang lain. Insya Allah... dan sebelum berakhirnya hari, suara sms berbunyi, berisi pesan dari sahabat ku dari kompleks sebelah, "Ukhti, aku besok ke rumah ya... ada kan... aku mau minta tolong. Boleh ya.?" 

Dan ku tutup hari itu dengan senyum. Insya Allah Ukhti, datang aja setelah jam 9 pagi. Insya Allah aku ada di rumah....

**********

Catatan satu hari di awal tahun 1432 H
Semoga jadi awal yang indah sepanjang tahun kehidupan ku
Amiin. Insya Allah.

Oleh Suharni Yang Berusaha Istiqomah pada 8 Desember 2010 pukul 22:01 

DILEMA SURYA – Masalah idealisme, itu jadi urusan kamu dengan Tuhan

“Oke Dakota Lovers, sebagai lagu penutup, saya mau kasih kamu-kamu semua satu lagu manis dari Geisha, check it out…and good day for you all.”Surya menutup siarannya siang itu. Melepas headset, dan keluar dari studio. Harry mengacungkan jempol manisnya di balik ruang programmers. Surya membalasnya dengan senyum lebar sambil mendongakkan kepala. Di meja depan, dilihatnya Yanti yang seksi

Air Mata Bapak

Anakku, pertama kali kau mendengar suara adalah suaraku. Pertama kali kau merasakan dekapan adalah dekapanku. Maka saat kau berduka, biar aku yang pertama kali mengobatinya."Bapak kangen kamu nak. Makanya bapak datang buat jemput. Bawa dua anakmu juga." lelaki tua itu tersenyum. Namun matanya meredup. Mungkin berkendara sendirian selama 12 jam membuat ia lelah.Nina tersenyum, "Pak, Nina nunggu