Arsip Kategori: fiksi

Di Antara Union Busting dan Solidaritas Pekerja (Bagian 5)

CERITA HALU 6

Kisah ini adalah kisah sambungan dari: Di Antara Union Busting dan Solidaritas Pekerja (Bagian 4) 


demo buruh Di Antara Union Busting dan Solidaritas Pekerja


Lastri terkejut bukan main melihat Fatur tiba-tiba ada di depannya. Tangannya masih memegang alat make up seperti biasanya yang ia lakukan jika sedang tak ada pekerjaan.


"Presdir ada?" tanya Fatur, agak geli melihat Lastri yang gelagapan. Memang sudah terkenal di kalangan karyawan jika Lastri sang sekretaris Presiden Direktur ini suka berdandan. Selalu terlihat cantik.


"A--ada ...." jawab Lastri agak gugup. "Mereka sudah menunggu Pak Fatur dari tadi, lho," lanjutnya setelah menenangkan diri.


"Mereka? Mereka siapa?," malah gantian Fatur yang heran.


"Presdir dan para direktur. Lalu ada beberapa orang lagi yang katanya dari serikat FSPGB. Dan ada dua orang tamu yang sepertinya mereka pejabat. Mereka semua menunggu, lho!."


Fatur cuman bengong.


"Lah, kok malah bengong sih, Pak! Buruan masuk aja langsung!" seru Lastri sambil tersenyum, giliran dia yang geli melihat roman muka Fatur yang terbengong-bengong.


"Oh! O--oke! Makasih Lastri." Agak gugup Fatur menjawabnya,  lalu ia langsung menuju pintu ruangan Presdir dan tanpa mengetuk langsung membukanya.


Begitu pintu terbuka, keheranan Fatur malah bertambah. Ia tak sempat berkata apa-apa. Hanya bisa melihat sekeliling ruangan. 


Ada meja besar berbentuk bundar di situ. Nampak presdir, Pak Kurniawan dan jajaran manajemen lain berkumpul di satu sisi. Di sisi lainnya yang membuat ia terkejut, karena ada bung Iqbasevic berdiri paling depan. Di sisi kanan kirinya duduk mendampingi orang-orang yang ia kenal sekali. Itu yang dibilang Lastri tamu pejabat tadi, yang tak lain adalah bung Obiwinanikeke dan bung Nyuysamzchy. Keduanya anggota senator.


Di belakang mereka ia mengenali sebagai para perangkat FSPGB yang sering berdiskusi perihal kasusnya.


Namun, suasana di situ malah mencekam. Presdir dan jajaran manajemen terlihat pucat. Sementara bung Iqbasevic menatap presdir dengan tajam. Wajahnya menegang, terlhat jelas dari guratan urat di sekitar pelipisnya.


Salah seorang perangkat FSPGB memberikan isyarat padanya untuk mendekat dan menaruh telunjuk di mulutnya. Fatur paham isyarat itu. Ia berjalan mendekat ke rombongan serikat tanpa berkata apapun.


"Saya ulangi!" Seru bang Iqbasevic dengan suara khasnya yang menggelegar.


"Kalian ini membuat peraturan sendiri! Seenaknya saja mempermainkan nasib orang! Pengecut dan cemen sekali! Saya tanya, mana ada aturan PHK sebrengsek itu? Siapa yang berpikir cara-cara kotor seperti itu?? Hahh!?"


Ruangan itu hening. Pak Kurniawan tampak semakin pucat. Butiran keringat tampak muncul di dahinya.


Presdir pun hanya termangu. Tak menjawab juga. Wajahnya menghadap ke atas, entah mengharapkan apa.


Yang santai hanya kedua senator. Mereka berdua kenal betul dengan dedengkot FSPGB ini. Tapi mereka juga memasang tampang angker. Fatur belum pernah melihat tampang keduanya semarah itu.


BRAAK!!


Hampir semua orang di ruangan itu terlompat kaget mendengar meja yang di pukul oleh Iqbasevic dengan keras. Fatur sendiri jantungnya sedetik terhenti yang membuat tubuhnya kesemutan.


"Jawab! Jangan cuman beraninya dengan buruh kecil! Bangsat kalian!" pekik Iqbasevic dengan suara bariton yang menggelegar.


Fatur melihat betapa wajah-wajah management semakin pias. Bahkan dilihatnya Ranto memegang perut dan pantat belakangnya. Mungkin mules dan ingin buang air. Hati Ranto tersenyum. 'Rasakan kau!' pikirnya.


Nyuysamzchy yang berada di samping Iqbasevic ikut berkata, "Kalian ini gagu semua atau bagaimana? Dari tadi ditanya malah planga-plongo! Gentle saja, jawab dengan jujur!,"" katanya lugas.


Mereka masih tak menjawab. Kurniawan mulai menggaruk belakang telinganya yang tak gatal. Narsih masih memilin ujung bajunya hingga koyak tak berbentuk.


"Sialan kalian! Ok! Kalau begitu, saya kasih waktu tiga puluh menit untuk memikirkan hal ini. Dan kalian harus punya alasan yang kongkrit! Jika tidak, saya bawa kasus ini ke ranah PIDANA! Biar kalian semua dipenjara!" Tegas suara Iqbasevic.


"Wah, Pidana?? Keren nih! Tapi gimana caranya?" pikir Fatur dalam hati. Ia menengok ke arah kedua senator yang mengangguk-angguk dengan pasti.  Ia jadi yakin jika para pengacara di serikatnya pasti punya cara dan celah untuk itu, apapun pasalnya.


Kemudian Iqbasenovic mengajak rombongan serikat keluar ruangan. Termasuk Fatur yang mengikuti paling belakang. Sekilas ia melihat presdir mengeluarkan saputangan dan mengelap wajahnya yang berkeringat.


Tiba di luar, Fatur dikejutkan oleh lautan manusia yang sudah berada di depan pabrik. Nampak bendera besar FSPGB dikibarkan dengan gagah. Terlihat juga banyak bendera serikat lain di situ. Semua orang menyambut yang keluar dari pabrik dengan yel yel gegap gempita.


"Hidup Buruuuuhhh!"

"Hidup Pekerja!"


Dan berbagai yel-yel yang bersahut-sahutan. Ramai sekali. Fatur melihat berkeliling, dan ia melihat lautan manusia itu tak terbatas. Ke mana matanya memandang, hanya manusia yang ia lihat. Luar biasa! Pikirnya.


Fatur jadi terharu. Ia tahu, bahwa mereka datang untuk dirinya. Solidaritas yang digaungkan selama ini ternyata dipraktekkan dengan patuh. Matanya berkaca-kaca, saat hampir semua kawan buruh memeluknya, bersalaman dengan hangat dan ikhlas. 


"Semangat, bung!" teriak Ozonolic, salah seorang orator ulung di FSPGB. "Kami semua bersama anda!"


"Hidup Fatur!!" teriaknya lagi yang disambut teriakan membahana dari segala penjuru.


"Hiduuup!"


"Hidup buruh!"


"Hiduuup!"


"Hidup  pekerja yang melawan!!"


"Hiduuup!"


Mata Fatur semakin basah. Ia sangat tersanjung dengan perlakuan mereka semua. Tak menyangka sama sekali.


Lalu di lihatnya Iqbasevic menaiki podium di mobil komando yang memang sudah diatur sedemikian rupa agar menghadap persis pintu masuk pabrik.


"Hidup buruuuh!" teriaknya memulai dengan suara khasnya yang membangkitkan semangat. Tangan kirinya mengepal ke atas.


"Hiduuup!" Jawaban membahana kembali terdengar, kali ini lebih keras. Ribuan tangan kiri meninju udara dengan semangat.


Tiga kali Iqbasevic berteriak. Tiga kali juga gema membahana terdengar. Sejenak, matahari terlihat bersembunyi di kumpulan awan. Sehingga teriakan-teriakan itu lebih terdengar bergemuruh.


Setelah semua diam. Hening. Iqbasevic melanjutkan. 


"Kawan-kawan buruh sekalian. Kita disini bukan hanya untuk bung Fatur! Tapi untuk keadilan! Perusahaan ini sangat jelas terindikasi melakukan union busting! Pemberangusan serikat pekerja!"


"Huuuuuuuu!" Teriak semua massa yang ada.


"Dan perusahaan ini telah melakukan PHK dengan cara biadab! Cara yang tak seharusnya dilakukan oleh bangsa sendiri! Mereka yang melakukan itu tak lebih hanya penjilat-penjilat kotor di perusahaan!."


Kali ini terdengar teriakan 'huuuu' yang panjang.


"Dan jika cara-cara biadab ini berhasil mereka terapkan pada saudara Fatur. Maka semua perusahaan di negara ini akan menerapkan cara biadab yang sama terhadap buruhnya!."


"Maka akan lahir penjilat-penjilat baru dari buruh yang takut melawan! Yang pengecut! Takut miskin! Tak peduli akan ketidak adilan! Tak peduli jika ada perlakuan sewenang-wenang! Banyak buruh yang hanya jadi pecundang! Bahkan tak peduli lagi dengan harga dirinya!."


"Maka jangan aneh, jika nanti ada kawan-kawan buruh yang mau saja meminum air kencing dari atasannya sendiri! Asal mereka tak di-PHK, mereka bersedia meminum air kotor itu!.  Itu maunya manajemen perusahaan ini! Sialan!"


"Huuuu!! Sialaaaaannnn!" sahut seluruh massa yang ada.


"Dan brengseknya, itu dilakukan oleh orang-orang bangsa sendiri!. Dasar penghianat!!. Jika begini kita diam atau lawan??" 


"Lawaaan!!"


"Diam atau lawan??"


"Lawaaan!!"


"Yang mau melawan angkat tangan kirinya!"


Ribuan tinju kembali mengepal ke udara.


"Hidup Buruuh!!" teriak Iqbasevic sepenuh hati.


"Hiduuuuup!!!"


Yel-yel terdengar kembali bersahut-sahutan. Mereka bertepuk tangan dengan gelora semangat yang menyala-nyala.


Namun tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara helikopter yang entah kapan sudah ada di udara. Banyak sekali. Suara teriakan tadi berganti dengan gemuruh suara baling-baling yang memekakkan telinga.


"Atas nama undang-undang Protokol kesehatan, anda semua kami bubarkan!." Terdengar suara dari salah satu helikopter yang mempunyai pengeras suara.


"Satu ... Dua ... Tiga ... Tembaak!!"


DHUARRR! DHUERRR! DHOORR!


Tanpa menunggu lagi, lusinan granat dilemparkan ke arah massa. Granat berisi gas air mata. Massa berhamburan! Berlarian ke sana ke mari.


Suasana bergelora namun tertib tadi berubah menjadi kepanikan luar biasa. Semua orang menyelamatkan diri masing-masing dari serangan gas yang memerihkan mata itu. Semua kalang kabut. Teriakan panik massa perempuan terdengar di mana-mana.


Brutal! 


Fatur sendiri mencoba ikut menghindar. Sekilas ia sempat melihat ke arah pabrik. Nampak rombongan manajemen perusahaan berkumpul di depan lobby. Ia melihat si presdir tersenyum-senyum puas. Beda sekali sikapnya dengan terakhir kali ia lihat di ruangan tadi.


Pak Kurniawan terlihat bertolak pinggang dengan pongah, mulutnya tertawa. Ranto dan Narsih bertepuk tangan dengan gembira. Bahkan Narsih malah memperagakan tarian Tiktok saking senangnya.


Ia lihat juga seseorang dengan jenggot panjang melambai hingga perut. Sedang bersedekap, mulutnya menyeringai licik.


Dasar bangke! Fatur hanya bisa mengutuk dalam hati dan tak sempat memperhatikan lebih lanjut karena ia terkena asap tepat saat sebutir granat meledak di depannya. Asap langsung menyerang panca inderanya. Mata, hidung mulutnya dimasuki asap yang terpaksa ia hirup.


Di Antara Union Busting dan Solidaritas Pekerja


Sesak dadanya. Nafasnya timbul tenggelam. Fatur terjatuh, ia tersandung entah apa karena matanya tak bisa ia buka saking perihnya. Tangannya menggapai siapa saja yang lewat di depannya. Namun tak mengenai seorangpun. Semakin lama, ia semakin tak bisa bernafas. Paru-parunya terkunci. Ia megap-megap!


Lalu seseorang menepuk pundaknya. Fatur masih tak mampu sadar. Orang itu mulai mengguncang tubuhnya dengan keras.


"Mas ..! Mas ...! Bangun! Istighfar, Mas!"


Sayup ia mendengar suara itu. Suara yang sangat dikenalnya. Semangatnya kembali muncul. Sekuat tenaga ia membuka matanya. Dan pertama yang ia lihat adalah Nikita! Istri yang dicintainya! Lalu ia memperhatikan sekeliling.Ternyata Ia berada di kamarnya sendiri!


Ya ampun! Ternyata itu semua hanya mimpi!

Mimpi indah yang berakhir buruk!


Fatur mengucapkan Istighfar berkali-kali. Badannya basah oleh peluh. Nikita memeluknya dengan kasih sayang mendalam terhadap suaminya.


Fatur hanya termangu.


++++++++++


Bersambung ke: Di Antara Union Busting dan Solidaritas Pekerja (Bagian 6)

Judul asli: CERITA HALU 6. 
Penulis; Yous Asdiyanto Siddik. Minggu, 21 Maret 2021.

Disclaimer:  nama jika sama hanya kebetulan belaka, tanpa menyinggung yang bernama sama dengan di cerita, maklum namanya juga HALU.

#save_ampi #StopPHKsepihak 


Di Antara Union Busting dan Solidaritas Pekerja (Bagian 4)

CERITA HALU 5

PHK Sepihak Buruh Di Antara Union Busting dan Solidaritas Pekerja (Bagian 4)


Kisah ini adalah kisah sambungan dari: Di Antara Union Busting dan Solidaritas Pekerja (Bagian 3) 


Malam belum larut saat Fathur tiba di rumahnya. Seharian ini ia sudah menghadiri berbagai pertemuan dari beberapa komunitas. Sejak ia diskorsing, tak ada rutinitas yang menyita waktunya seperti yang biasa ia lakukan sehari-sehari sebelumnya. Namun akibat kasus yang ia alami malah banyak komunitas yang mengajaknya berdiskusi tentang seputaran kasusnya.

Pintu sudah terbuka sejak ia datang tadi. Sang Istri ternyata yang membukakan dan menunggu di depan pintu. 

Setelah memarkirkan mobil dan mengunci pintu gerbang, ia masuk rumah diiringi sang istri yang seperti biasa mencium punggung tangannya terlebih dahulu.

"Anak-anak?" tanyanya singkat.

"Baru lelap mereka, Dion tadi nungguin lho, Pah. Mo nanyain pelajaran matematika katanya. Soal dari belajar online ada yang belum ia ngerti. Udah makan?" jawab Nikita, nama istri kesayangannya.

"Iya ya, aku telat pulang, abis tadi banyak diskusi ama kawan-kawan lain." jawab Fatur, ada nada penyesalan.

"Ini bawa nasi goreng, tadi sengaja kubeli untuk makan di rumah, makan bareng yuk!" ajaknya pada sang istri yang langsung mengiyakan dan segera mempersiapkan alat makan.

"Gimana, Mas? Kasusmu ada perkembangan?" tanya Nikita saat mereka duduk berhadapan sambil makan sepiring nasi goreng.

"Yah, masih tahap negosiasi antara perangkat organisasi dan pihak manajemen."

"Oh, belum ketahuan kapan selesainya ya, Mas?'

"Belum ...." 

Lalu keduanya asyik menyantap penganan khas dari negara Indonesia itu dalam diam. Dalam pikirannya masing-masing.

"Mah, aku mau tanya sesuatu," kata Fatur setelah menelan sebiji cabe rawit yang tadi tercampur di acar.
Istrinya hanya menatapnya, namun dari gerakan alis matanya, ia mengiyakan.

"Apa pendapatmu tentang kasus ku? Dengan kasus ini, kecenderungan di-PHK besar sekali, dengan pesangon tentunya."

"Terus?"

"Ya, aku minta pendapat, aku lawan atau terima begitu saja pesangonnya?"

Istrinya berpikir sejenak.

"Lawan!" sahutnya mantap.

"Lawan?"

"Iya, lawan! Kalo bisa sampai dipekerjakan kembali! Jangan mau di-PHK begitu saja. Mereka jahat sekali, Mas! Kasus kecil masa konsekuensinya harus di-PHK?!" Istrinya menjawab menggebu-gebu.

Fatur malah terkesima dengan jawaban dan sikap istrinya. Tak ia sangka, ternyata istrinya itu punya sikap perlawanan juga. "Apa mungkin ketularan aku?' pikirnya bangga.

Fatur mengangguk-angguk puas. Semangatnya bertambah dengan dukungan belahan jiwanya itu.

"Ya, itu juga yang aku pikirkan. Soale, jika aku terima tawaran mereka tentang pesangon, aku malah khawatir dengan kawan-kawan lain."

"Khawatir kenapa?"

"Begini, kau kan tau, apa jabatanku di organisasi, baik di dalam pabrik atau di luar pabrik. Posisiku cukup signifikan. Cukup berpengaruh lah  di organisasi. Nah, jika aku saja yang sudah di posisi ini, dengan mudah mereka PHK tanpa perlawanan, bagaimana dengan kawan lain yang tak punya pengaruh?"

Nikita tak menjawab.

"Begini-begini, ada rasa sayangku terhadap organisasi. Terutama di perusahaan yang pernah aku ikut besarkan dari awal. Sayang sekali jika harus dibubarkan karena anggota-anggotanya dengan mudah di-PHK seperti aku."

"Iya juga sih, Mas. Tapi, mungkin pabrik juga gak semudah itu mem-PHK pekerja, kali Mas? Mungkin berlaku hanya pada dirimu saja. Karena mereka lihat kamu sangat aktif, Mas," kata Nikita sambil memasukkan suapan terakhir ke mulutnya.

"Dengan kondisi sekarang, apalagi dengan adanya undang-undang sialan, hal itu sangat mungkin terjadi."

"Undang-undang yang baru itu?"

"Iya, undang-undang SPOTAKER, berikut turunannya. Semakin mudah mereka ngerjainnya. Gak suka ama karyawan, tinggal cari kesalahan kecil saja, langsung eksekusi."

"Duh! Jahat banget, ya?"

"Yup! Memang jahat sekali. Makanya aku butuh dukunganmu menghadapi penjahat-penjahat itu."

Nikita memandang Fatur. Mata mereka saling bertautan. Nikita paham benar dengan perangai suaminya yang sudah belasan tahun ia dampingi.

PHK Sepihak Buruh Di Antara Union Busting dan Solidaritas Pekerja (Bagian 4)


"Aku, mendukung apapun langkah yang kamu ambil, Mas. Apa yang baik menurutmu, tentu baik untukku. Untuk keluarga kita. Lawan mereka, Mas!" Nikita menatap suaminya dengan tatapan penuh pengertian.

Mendengar kalimat itu. Fatur meraih tangan istrinya, ia kecup perlahan dengan bibirnya. 

Diperlakukan seperti itu, Nikita menggeser duduknya ke samping, dan menyandarkan kepala ke dada Fatur. Reflek, Fatur merengkuh kepala Nikita, dan mengecup lembut dahinya. Mata Fatur berkaca-kaca. Ia terharu dengan sikap istri yang sudah mengaruniai dua orang anak itu padanya.

Agak lama mereka berpelukan seperti itu. Sibuk dengan lamunan masing-masing. Namun yang jelas, jiwa mereka seperti kembali menyatu. 

"Mas." Nikita yang lebih dulu berkata.

"Hmm ...." Agak enggan Fatur menjawab, karena masih terbuai dengan perasaanya.

"Sebaiknya, kamu kabari orang tuamu, terutama ibumu. Minta pendapatnya, minta ridhonya," kata Nikita yang masih bersandar di dada Fatur.

"Sudah."

"Hah? Sudah? Kapan?" tanya Nikita sambil bangun dari sandarannya.

"Tadi sore. Dan kamu tau gak?"

"Apa? Kenapa?"

"Jawaban ibuku kurang lebih sama denganmu. Malah lebih tegas!" jawab Fatur sambil tersenyum.

"Tegas bagaimana?" Nikita semakin penasaran.

"Ibuku bilang, 'Lawan terus! Jangan sampe terima pesangon! Lawan sampai kau diterima kerja kembali! Berjuanglah hingga penghabisan!', begitu katanya."

"Wah, malah parahan ibu mertuaku ya!" 

"Hi hi ...." Fatur tertawa lirih.

Mereka berdua masih mengobrol hingga larut malam. Hingga akhirnya Fatur menyerah dengan kantuk yang menyerangnya. Dan akhirnya mereka berdua memutuskan untuk istirahat, karena esok pagi Fatur harus bertemu dengan perangkat organisasi untuk menyusun langkah berikutnya.

Fatur sempat menengok kedua anaknya yang sudah lelap. Mengecup dahi keduanya masing-masing, sebelum menyusul istrinya masuk ke peraduan.


++++++++++

Bersambung ke: Di Antara Union Busting dan Solidaritas Pekerja (Bagian 5)

Judul asli: CERITA HALU 5. 
Penulis; Yous Asdiyanto Siddik. Minggu, 21 maret 2021.

Disclaimer:  nama jika sama hanya kebetulan belaka, tanpa menyinggung yang bernama sama dengan di cerita, maklum namanya juga HALU.

#save_ampi

Di Antara Union Busting dan Solidaritas Pekerja (Bagian 3)

PHK Sepihak Di Antara Union Busting dan Solidaritas Pekerja (Bagian 3)

 CERITA HALU 3 


Kisah ini adalah kisah sambungan dari: Di Antara Union Busting dan Solidaritas Pekerja (Bagian 2) 


Ketiganya melihat layar hape, dan mendapati foto Fatur di situ. Narsih kemudian memainkan layar, menekan sana sini, menggeser atas bawah, membuka semua media sosial yang ia punya. Mulai dari Facebook, Twitter, Instagram, Tiktok, semua bergambar dan bertuliskan sama.


Inti dari gambar itu adalah mereka semua  mendukung  Fatur! 


"Apa ini? Apa maksudnya?" tanya Kurniawan tak sabar.


"Itu lho, Pak, semua medsos dan berita online penuh dengan berita tentang pemecatan Fatur di perusahaan kita! Mereka semua mendukungnya!," jawab Narsih cemas.


"Terus?"


"Ya, itu bisa menurunkan kredibilitas perusahaan kita lho, Pak! Perusahaan ini bakalan dianggap sebagai penjahatnya!."


Kurniawan terdiam. Ranto ikut diam. Hanya si Pengacara yang senyum-senyum. Bahkan ia mulai tertawa lirih.


"Hi....hi...hi..."


"Lah, kok anda malah tertawa?," tanya Ranto penasaran. Kurniawan dan Narsih ikut memandang si Pengacara, heran.


"No ... No ... No! Gak usah cemas!" kata si Pengacara sambil menggerakkan telunjuknya kanan kiri. Persis seperti guru yang melarang muridnya bandel.


"Itu memang cara mereka. Dan pasti hanya kuat sesaat saja, paling lama seminggu. Sudah itu, hilang, berganti dengan issue lain. Sudah biasa itu!," lanjutnya santai.


Narsih tertegun, tak disangkanya berita yang ia kira bakal heboh itu ternyata hanya dipandang sebelah mata.


"Lalu, a--apa yang harus kita lakukan?," tanya Narsih agak gugup.


Sebelum Benarudinawisata menjawab, tiba-tiba interkom di mejanya berbunyi.


"Ya?" Ranto yang menjawab karena ia lebih dekat dengan alat itu.


"Pak Kurniawan diharap ke ruangan Presdir, sekarang!," jawab suara wanita di seberang. Suara Lastri, sekretaris Presiden Direktur.


"Baik!" kata Kurniawan sambil berdiri, ia tahu jika Presdir yang memanggilnya, berarti ada yang penting dan ia harus segera menemuinya. Bos tertinggi perusahaan itu tak terima penundaan!.


"Saya menghadap Presdir dulu. Kalian tunggu di sini. Narsih, sediakan makanan dan minuman ringan di sini. Kita belum selesai diskusi." 


Setelah memberikan instruksi singkat, ia segera keluar ruangan menuju ruangan Presdir yang terletak di lantai 6, lantai paling atas.


Narsih segera menyiapkan makanan dan minuman ringan seperti yang diperintahkan. Lalu ia duduk di sebelah Ranto. Ikut menunggu pak Kurniawan kembali.


Sambil menunggu, ketiganya berkutat dengan gawai masing-masing. Ranto dan Narsih membuka medsos yang mereka miliki, dan mendapati bahwa trend di media sosial masih tentang Fatur.


"Huh!" keluh Ranto, ia geram sekali melihat wajah yang ia benci itu terpampang di hapenya.


Hanya si Pengacara yang santai, ia juga memainkan gawainya. Asyik bermain Mobile Legend.

----------------


Tak lama, Kurniawan kembali masuk ruangan. Wajahnya agak kemerahan. Nampaknya sangat gusar. Bibirnya yang terkatup rapat menandakan ia menahan amarah.


Ketiga orang itu memperhatikan perubahan sikap Kurniawan. Mereka serentak berhenti memainkan hape. Bersikap menunggu.


"Sialan! Presdir ternyata monitor kondisi di medsos dan berita online!," kata Kurniawan setelah duduk kembali di kursinya.


"Dan beliau marah karena itu, dianggapnya kita tak becus mengurus masalah ini. Dia tak mau masalah sepele ini sampai ke media. Dan ia ultimatum untuk segera menyelesaikan kasus ini."


Ketiga orang di depannya masih diam. Kurniawan pun diam, tampak berpikir keras.


"Baik, begini saja. Pak Benarudin, nanti atur pertemuan dengan perangkat organisasi serikat itu. Lalu ancam mereka. Katakan bahwa perusahaan tak akan bernegosiasi untuk masalah Fatur. Dia akan tetap kita buang. Apapun caranya!," lanjut Kurniawan dengan geram.


Benarudinawisata si Pengacara mengangguk-angguk, wajahnya biasa saja. 


"Bilang mereka, percuma melawan perusahaan besar ini. Kita tetap mengeluarkan Fatur, apapun caranya dan berapapun ongkosnya! Jika ia melawan terus, kita pastikan hidupnya akan sengsara!."


Ranto dan Narsih tersenyum puas. Mereka gembira dengan instruksi itu.


"Mampus kamu Fatur! Berani-beraninya lawan kami!" gumam Ranto nyaris tak terdengar.


"Tapi, Pak. Bagaimana dengan anggota FSPGB di daerah ini? Mereka pasti akan melakukan aksi besar-besaran di depan pabrik, seperti yang biasa mereka lakukan di pabrik lain," tanya Ranto bingung.


PHK sepihak Di Antara Union Busting dan Solidaritas Pekerja (Bagian 3)


"Gak usah takut, nanti saya akan menghubungi preman kawasan sini, agar mengawal pabrik, asal ada bayaran mereka akan bergerak, juga aparat, saya bisa bayar mereka untuk menjaga pabrik." Narsih menjawab dengan senyum sumringah, senang sekali dia nampaknya.


"Ha...ha...ha.... Hal itu pasti gak akan terjadi," kata si Pengacara sambil tertawa riang.


"Kenapa, Pak? Bukankan itu pasti yang akan mereka lakukan jika aksi demo?" tanya Narsih, senyumnya meredup.


"Iya, jika pun ada aksi, tak akan sebanyak dulu. Mereka, serikat-serikat itu sudah pada lemah semua. Panggilan aksi pasti akan banyak yang mengabaikan. Sudah tak ada lagi kekompakan di antara mereka. Ha ... Ha ....!" jawab si Pengacara.


"Lah, itu di medsos? Mereka ramai berteriak akan bersolidaritas ke sini!" sanggah Narti.


"Itu cuman di medsos, kenyataannya gak akan seperti itu!" 


"Tapi mereka kan terkenal dengan satu komandonya?"


"Itu dulu! Dulu sekali! Sekarang mereka gak akan pernah satu komando lagi! Apa lagi yang memberi komandonya sekarang sudah tak bernyali lagi!"


"Kok bisa begitu? Pak Benarudin tau dari mana?" Narsih penasaran.


"Hi..hi... Saya kenal dengan para petinggi serikat itu. Mereka sekarang itu pecah, hanya ribut sendiri. Bertengkar sendiri. Saling curiga. Apalagi kita bisa kondisikan para pimpinan perangkat. Ha...ha.... Mudah sekali!"


"Betul! Betul! Betul! kata Ranto menirukan gaya Upin Ipin sambil nyengir.Tapi ia segera menghentikan cengiran saat melihat Kurniawan melotot padanya.


"Tapi mereka militan sekali, lho pak!" Narsih masih keukeuh dengan asumsinya.


"Di tingkatan bawah, anggota, mungkin iya, mereka bisa militan, agresif, bahkan bisa anarkis. Tapi itu kalo ada instruksinya. Nah, kalo instruksi gak ada? Mereka hanya bisa koar-koar saja," jawab Benarudinawisata kalem.


"Kok bisa gak ada instruksi? Bagaimana caranya? Kan Fatur anggota mereka juga?"


"Mudah sekali. Instruksi turun dari para pimpinan di cabang organisasi. Nah jika para pimpinan itu bisa kita rayu, kita iming-imingi imbalan, kita intimidasi, kalo perlu kita ancam, bisa apa mereka? Mereka pasti pada ketakutan!" 


"Betul, Pak. Lagipula adanya undang-undang yang baru yaitu UU SPOTAKER, kita bisa melakukan apapun terhadap mereka," kata Ranto ikut nimbrung.


"Benar sekali! Undang-undang baru itu memihak kita. Bahkan turunannya semakin memudahkan kita jika ingin membuang pekerja model Fatur ini, yang susah kita atur." Pengacara itu mengiyakan.


Narsih mulai manggut-manggut. Tapi ia lalu berkata, "Lalu, bagaimana dengan kawan Fatur yang lain, yang orang penting bahkan?"


"Siapa?" tanya Kurniawan menyela.


"Kabarnya, Fatur ini didukung hingga para senator, di pusat atau daerah, lho Pak!" jawab Narsih, wajahnya kembali cemas.


"Senator? Ha...ha... Jangan khawatir! Mereka tak akan bisa berbuat apa-apa. Mereka kan harus ikut regulasi di senat. Kalo mereka aneh-aneh kan sayang jabatannya itu lho! Hi hi ...!" Geli sekali si pengacara saat mengatakan itu.


"Tapi kalo mereka mengadakan sidak ke perusahaan? Kan dibolehkan?" Narsih masih penasaran.


"Gak akan berani mereka sidak! Orang-orang di pusat organisasinya juga pasti melarang itu! Bisa hilang setoran kalo sampai orang mereka hilang jabatan!"


"Oh, begitu ya, Pak?"


"Iya pasti begitu, mereka pasti berpikir buat apa susah-susah pikirin kasus Fatur? Toh, kehilangan seorang anggota tak masalah bagi mereka yang masih punya ribuan anggota lagi di seluruh negeri!"


"Tapi, kalo mereka nekad? Tetap aksi besar-besaran?" kata Narsih pelan seperti berkata pada dirinya sendiri.


"Jika itu terjadi, gampang saja, kita bisa pake aturan kesehatan, kan lagi pandemi! Hubungi saja aparat untuk mengancam mereka akan ditangkap! Pasti langsung ciut nyalinya. Ha ha ha....!" 


Kali ini mereka semua tertawa terbahak-bahak. Saking geli, Ranto hampir terjungkal dari kursinya. Hanya Kurniawan yang hanya tersenyum mendengar diskusi barusan. 


Hanya pikirannya saja yang melayang. Pikirnya, rasakan kau sekarang Fatur! Berani melawan saya, saya bikin sengsara hidupmu!


Lalu ia mulai tertawa. Semakin lama semakin keras. Matanya berkilat. Semakin lama tawanya semakin mengerikan. 


Iblis menari-nari di ruangan itu 


++++++++++


Bersambung ke: Di Antara Union Busting dan Solidaritas Pekerja (Bagian 4)

Judul asli: CERITA HALU
Penulis; Yous Asdiyanto Siddik

Disclaimer:  nama jika sama hanya kebetulan belaka, tanpa menyinggung yang bernama sama dengan di cerita, maklum namanya juga HALU.

#save_ampi

Di Antara Union Busting dan Solidaritas Pekerja (Bagian 2)

Di Antara Union Busting dan Solidaritas Pekerja


Kisah ini adalah kisah sambungan dari: Di Antara Union Busting dan Solidaritas Pekerja (Bagian 1) 


Kurniawan, sang direktur, dengan agak kikuk mempersilahkan pengacara itu duduk di depannya. Dari sikapnya, terlihat ia agak segan, karena ia tahu kepiawaian orang di depannya ini.

Sang Pengacara duduk perlahan, terlihat bersahaja dan percaya diri. Wajahnya datar saja, namun sinar matanya yang tajam menunjukkan bahwa ia adalah seorang yang pandai bersiasat.

Beberapa saat ruangan kantor itu hening, seakan terbius oleh keberadaan pengacara itu. 

"Pak ...." Ranto memecahkan keheningan ruangan, memanggil atasannya yang malah terdiam.

Kurniawan sedikit terhenyak. Namun ia segera memulihkan kesadarannya. Sikapnya menjadi biasa lagi, sebagai seorang direktur di sebuah perusahaan besar multinasional.

"Bagaimana perkembangan kasusnya, Pak? Apa hasil pertemuan kemaren dengan perangkat organisasi FSPGB?," tanyanya sopan.

"Ya, kemaren sudah saya sampaikan keberatan kita dengan sikap mereka." Pengacara itu menjawab santai.

"Lalu, bagaimana dengan somasi yang mereka berikan?."

"Ha ... Ha ... Somasi receh itu mudah saja. Kita somasi balik dengan isu pembohongan publik."

"Oh, begitu. Lalu bagaimana sikap perangkat organisasinya?. Bisakah mereka kita ajak kerjasama?."

"Sangat bisa!," jawab Pengacara itu sambil tersenyum. Kali ini senyumnya agak berbeda, ada kelicikan di sana.

"Bisa bagaimana?. Mereka kan serikat yang sangat militan!. Mana mungkin mereka bisa diajak kongkalikong dengan kita."

"Dah, itu urusan saya nanti. Yang penting adalah kondisi di dalam. Bagaimana sikap anggota mereka?. Bisakah dikondisikan?"

"Itu malah lebih gampang, Pak!," jawab Kurniawan sambil tersenyum lebar.

"Gampang bagaimana?." Pak Benarudinawisata, si Pengacara penasaran.

Kurniawan memandang  Ranto sambil mengisyaratkan dengan kepalanya agar Ranto yang berbicara.

"Begini, Pak Benarudin, kami sudah punya beberapa orang yang sudah kami brainwash, dan mempunyai pengaruh besar di kalangan karyawan. Kita bisa memanfaatkan mereka, untuk mempengaruhi anggota serikat itu," kata Ranto dengan lancar.

Benarudinawisata manggut-manggut sambil mengelus jenggotnya yang panjang hingga mencapai perut dengan tangannya yang besar-besar. 

Ranto yang memperhatikan sikap Pengacara itu dan tak berkata apapun melanjutkan.

"Kami gak begitu khawatir kondisi dalam perusahaan, yang kami khawatirkan hanya kawan-kawan mereka diluar. Serikat FSPGB ini kan salah satu serikat besar yang radikal!. Mereka militan, beberapa tahun lalu mereka sering menggempur pabrik-pabrik sekitar sini dengan massanya yang banyak." Ranto berhenti sebentar, mengambil nafas panjang, terlihat sekali ia sangat geram.

"Ha ... Ha ... Ha ...!." Pengacara itu tertawa terbahak-bahak. Saking gelinya, seluruh tubuhnya yang besar itu berguncang, jenggotnya ikut meliuk kanan kiri mengikuti guncangan tubuhnya.

Kurniawan dan Ranto yang sekarang heran dengan sikap si Pengacara. Benarudin malah semakin geli, suara tawanya semakin keras, memenuhi ruangan itu, mungkin mengalahkan suara musik ajep-ajep di diskotik.

Setelah puas tertawa, Pengacara itu kembali biasa lagi. Wajahnya kembali datar, hanya senyumnya yang berubah menjadi senyum mengejek.

"Itu dulu!. Dulu sekali. Sekarang mereka sudah gak ada apa-apanya, ha ... ha ....!" 

Kurniawan dan Ranto saling berpandangan. "Gak ada apa-apanya bagaimana?." Hampir serempak mereka berkata itu.

Pengacara itu tersenyum. Namun sebelum ia menjawab pertanyaan kompak itu, tiba-tiba pintu ruangan terbuka. Narsih tergopoh-gopoh memasuki ruangan.

"Pak, maaf Pak, ini gawat!," serunya dengan nafas tersengal. Ia menghampiri meja pak Kurniawan, di mana ketiga orang tadi berkumpul.

"Ada apa Narsih?. Panik amat?," tanya Kurniawan heran dengan sikap bawahannya yang biasa santai.

"Ini, Boss! Lihat ini!." Narsih menyodorkan hapenya ke meja pak Kurniawan.

Kurniawan, Ranto dan si Pengacara serempak melihat ke arah layar hape.

++++++++

Bersambung ke: Di Antara Union Busting dan Solidaritas Pekerja (Bagian 3)

Judul asli: CERITA HALU
Penulis; Yous Asdiyanto Siddik

Disclaimer:  nama jika sama hanya kebetulan belaka, tanpa menyinggung yang bernama sama dengan di cerita, maklum namanya juga HALU.

#save_ampi


Di Antara Union Busting dan Solidaritas Pekerja (Bagian 1)

Di Antara Union Busting dan Solidaritas Pekerja


"Sial! Anak itu semakin menjadi-jadi saja!," kata seorang pria di sebuah ruangan kantor berpendingin. Di hadapannya ada dua orang staff kepercayaannya. 

"Maklum, Pak. Dia kan aktif di luar pabrik. Lumayan terkenal, sih!," kata Ranto, salah satu staff HRD di depannya.

"Tapi, Boss pengennya serikat yang satu ini dibelenggu! Kalo perlu dihancurkan! Kemarin, Ketua mereka sudah kita habisin! Dan dia kooperatif tuh, mau nerima duit pesangon. Kenapa yang ini bebal sekali?."

Kedua orang di hadapannya hanya terdiam menunduk. Narsih, staff wanitanya sibuk memilin ujung baju kerjanya. Dia mahfum, karena kenal baik dengan Fatur, karyawan yang dimaksud oleh atasannya itu.

Fatur, yang ia tahu, punya idealisme tinggi terhadap organisasinya. Bahkan ia sering mendengar jika Fatur sering berbeda pandangan dengan kawan-kawannya di dalam pabrik, meski mereka masih satu wadah organisasi.

"Kok, kalian diam saja?. Bantu saya memecahkan masalah orang satu ini, dong!," kata pria itu lagi.

"Kita main di absensi saja, pak! Kan kemarin dia keluar pabrik dengan teman-teman serikatnya. Kita tuduh saja dia sebagai pembohong! Berbohong pada perusahaan kan termasuk dosa besar lho pak! Bisa masuk neraka!," kata Ranto menggebu-gebu.

"Hah!? Masuk neraka?." Terheran pria itu dengernya. Penulis juga ikut heran.

"Iya, Pak!. Masuk neraka!. Makanya daripada merugikan perusahaan, mending langsung saja dikeluarin surat PHK-nya!." Ranto semakin bersemangat. 

"Bagus!. Kamu benar-benar jenius!. Kita pakai saja cara itu!." Pria itu ikut semangat, matanya berbinar-binar mendengar ide cemerlang dari staffnya.

"Narsih! Langsung kamu buat surat PHKnya, panggil si Fatur, minta tanda tangan!. Kalo dia gak mau, kirim saja lewat email!." Perintah si Pria dengan gagah.

Giliran Narsih yang bingung. Neraka?. Absen?. Apa hubungannya?. Cuman karena ia hanya bawahan, ia hanya mengangguk,. " Baik, Pak. Saya bikin sekarang."

Kemudian Narsih meninggalkan ruangan itu dan segera mengerjakan tugasnya.

"Dan kamu Ranto, segera hubungin pengacara kita, bikin statement di media massa, bahwa si Fatur itu membuat berita palsu!. Bikin somasi!. Kalo perlu sebelum di kirim ke neraka, kita kirim dulu ke penjara!," dengan geram si Pria membuat instruksi.

"Dan kamu coba cari tahu, kawan-kawan pengurus serikat di pabrik, ada yang bisa kita ajak kerjasama, gak? Kalo perlu kita iming-imingi mereka dengan bonus tambahan, bagi yang mau bekerja sama dengan kita!," lanjutnya.

Ranto mengangguk, lalu dengan tergopoh-gopoh ia meninggalkan ruangan. Di luar, ia membayangkan kenaikkan jabatan jika berhasil dalam misi ini. Tak sadar, lidahnya menjulur keluar, liurnya menetes, bayangan bonus besar yang bakal ia dapatkan nanti terbayang di matanya.

--------------------

 "Tuk ... Tuk ... Tuk ...!" Ranto tergesa mengetuk pintu kantor atasannya.

"Masuk!." Terdengar suara dari dalam.

Bergegas Ranto memasuki ruangan, senyumnya mengembang, matanya berbinar-binar.

"Ada apa, To? Seneng banget nampaknya?," tanya Pria atasannya heran.

Dengan gesit, Ranto mengambil posisi duduk berhadapan dengan atasannya.

"Ternyata gampang sekali, Pak!," katanya dengan senyum yang belum hilang dari wajahnya, sehingga suaranya terdengar sengau.

"Gampang apanya?."

"Untuk mengeliminasi si Fatur itu lho!."

"Eliminasi?."

"Iya, Pak. Eliminasi!."

"Lah, emang si Fatur ikut Indonesia Idol?."

Duh! Ranto garuk-garuk kepala. Tak ia sangka, atasannya yang berperawakan seperti Ladusing di serial kartun tv itu ternyata tololnya bukan main.

"Bukan Indonesia Idol, Pak!. Di-eliminasi dari perusahaan, gitu lho!. Dikeluarkan!. Di-PHK!. Ngarti?"

"Lho, kok kamu marah-marah ke saya?." 

"Abis, bapaknya ngese—". Tak ia selesaikan ucapannya, saat melihat mata pak Ladus... Eh, atasannya melotot sangar.

"Begini, Pak." Akhirnya Ranto mulai berbicara dengan tenang.

"Ternyata, kondisi serikat di sini gak solid-solid amat, lho!."

Atasannya hanya diam, menyimak. Melihat sikap atasannya, Ranto melanjutkan.

"Para pengurus serikat yang lain, banyak yang ragu-ragu. Demikian juga anggota mereka. Mereka gamang. Lagian, rata-rata sudah pada berumur, dengan masa kerja belasan tahun. Pasti mereka akan berpikir untuk diri sendiri, dong!."

"Hmm, kamu tahu dari mana kalo pengurus yang lain gak solid?."

"Tau lah, Pak! Kan, saya banyak punya mata-mata!," kata Ranto sambil nyengir nyebelin.

"Apa mata-matamu bilang?."

"Info mereka, tempo hari saat ada rapat pengurus, dari sebelas hanya setengahnya yang hadir, itu menunjukkan tanda-tanda ke-tidak solid-an mereka."

"Ya, belum tentu! Siapa tau yang lain ada acara lain."

"Wah, Pak, sepenting-pentingnya acara mereka, jika solid, pasti mengusahakan untuk datang, tapi ini enggak, jadi bisa dipastikan mereka gak solid!."

Pria atasan Ranto itu manggut-manggut. "Kemungkinan itu masuk akal, terus apalagi infonya?"

"Lalu, jumlah anggota mereka juga tak terlalu banyak, dibandingkan seluruh karyawan yang kita punya, belum lagi Serikat Pekerja yang kita bina sendiri juga tak merespon apapun atas kasus si Fatur ini."

"Memangnya, apa nama serikat pekerja si Fatur ini?"

"Bapak gimana, sih! Masa lupa!." Ranto menggerutu.

"Lah!. Mana ingat aku!. Saking banyaknya serikat pekerja aneh-aneh!. Dan kamu jangan menggerutu seperti itu!. Ingat! Aku ini Kurniawan!. Atasanmu!." Teriak Pria yang ternyata bernama Kurniawan itu, marah dia.

Ranto membenarkan sikapnya, lalu ia berkata dengan hati-hati.
"Di perusahaan kita ada dua kubu, Pak. Yang satu namanya FSPGB, tempat si Fatur bernaung. Satu lagi SPBP, gitu Pak."

"FSPGB? Apaan tuh?."

"Federasi Serikat Pekerja Gokil Banget, cukup terkenal kok, mereka kabarnya sangat militan, solidaritas tinggi, dan reaksioner. Cuman di perusahaan kita, hal itu gak terlalu pengaruh."

"Hmm... Agak aneh juga nama serikatnya ... Terus, SPBP?. Apaan lagi?."

"Serikat Pekerja Binaan Pengusaha, di kita jumlah mereka lumayan banyak lho pak, lebih banyak dari FSPGB, dan anggota mereka itu hanya anak-anak manis semua, lho!."

Kurniawan kembali manggut-manggut, puas nampaknya.

"Terus, gimana kabar lawyer kita?. Apa sarannya?." tanyanya setelah berdiam beberapa saat.

"Oh, pak Benarudinawisata? Beliau ada di luar pak, menunggu giliran ketemu bapak," jawab Ranto santai.

"Oh, ada di luar? Suruh masuk saja, kita diskusi sekarang untuk kelanjutan kasus ini," kata Kurniawan sambil memberi isyarat ke arah pintu dengan tangannya.

"Baik, Pak." Ratno dengan sigap langsung ke luar ruangan. Beberapa saat kemudian ia kembali masuk. Di belakangnya mengikuti seseorang, yang berperawakan besar seperti binaragawan Ade Rai, dengan jenggot panjang melambai mencapai perut.

Sang Pengacara!


----------


Judul asli: CERITA HALU
Penulis: Yous Asdiyanto Siddik

Disclaimer:  nama jika sama hanya kebetulan belaka, tanpa menyinggung yang bernama sama dengan di cerita, maklum namanya juga HALU.

#save_ampi


KOTA YANG ANEH DAN MENYERAMKAN

KOTA YANG ANEH DAN MENYERAMKAN

KOTA LAMTORO

Seperti yang sudah-sudah, akhir tahun ini aku mendapatkan libur panjang sehingga rencana pulang kampung bisa terlaksana. Dan mudik ini terjadi lima tahun sekali, sejak aku mulai ikut berlayar di sebuah kapal pesiar asal Finlandia.

Ini berarti kepulanganku yang ke-tiga, semenjak lima belas tahun lalu. Rindu bertemu keluarga sudah hampir tak terbendung. Aku pun hanya membawa tas ransel dan bungkusan plastik berisi cokelat Swiss untuk oleh-oleh anak-anakku.

Aku memang sengaja berjalan kaki sejak turun dari bus yang mengantarkan hingga tiba di propinsi ini. Sudah lebih dari setengah hari aku berjalan, melewati beberapa kota dan desa.

Di depan, adalah kota terakhir yang biasa  kulewati jika pulang ke rumah. Namun, setibanya di gerbang kota, pintu masuk itu dipalang oleh banyak sekali kayu, hingga nyaris tertutup rapat. Beberapa orang terlihat sigap berjaga di situ. 

Dengan perasaan heran, aku bergegas menghampiri para penjaga berpakaian dan dibekali peralatan lengkap itu, dan bertanya pada salah seorang yang juga langsung berjalan mendekat ketika melihatku datang.

"Ada apa, Kang? Kok gerbang ditutup?" tanyaku sopan.
"Iya, Mas. Emangnya Mas dari mana mau ke mana?," orang itu bertanya balik.
"Saya baru pulang berlayar, mau ke kota Lamtoro. Itu seberang kota ini," jawabku sambil menunjuk jauh ke depan.
"Oh, mau ke Lamtoro. Ini sudah seminggu jalan ke kota ini ditutup, Mas. Sedang ada wabah mematikan di dalam kota. Sebaiknya si Mas ambil jalur lain saja."
"Wah, jalur lain cuman ada dua, ya?. Yang satu harus memutar tiga gunung dulu baru tiba di Lamtoro, bisa makan waktu dua hari perjalanan!," gumamku kecewa.
Orang di depanku hanya mengangguk.
"Atau lewat kota sebelah itu?," kataku ragu. Mataku memandang ke kanan, ke arah jalan setapak yang tak jauh menuju kota persis di sebelah kota ini.
"Tapi, Mas, kota sebelah itu kan ...." tak selesai ia mengucapkan kata-katanya. Ia ikut memandang ke arah jalan setapak itu takut-takut.

Aku mengangguk maklum. Penduduk  sini semua tahu persis kota sebelah. Aku pun tahu. Sebuah kota yang aneh dan menyeramkan. Sudah bertahun-tahun tak ada yang berani melewati kota itu. Bahkan semenjak aku masih kecil.


Aku berpikir, jika aku melewati jalur gunung-gunung dan menghabiskan waktu dua hari untuk itu, berarti mengurangi jatah liburku.  Padahal rasa rindu ini sudah tak tertahan. Akhirnya aku nekad saja sambil berharap keberadaan di kota sebelah itu hanya mitos. Keberanianku pun muncul.

"Baiklah, saya lewat kota sebelah saja," kataku sambil mengangguk pasti.

Orang itu hanya memandangku dengan pucat. Mulutnya terbuka seperti hendak mengatakan sesuatu. Namun keputusanku sudah bulat, dengan melambaikan tangan aku meninggalkannya.

"Tidak apa-apa. Saya harus cepat sampai di Lamtoro, karena waktunya tak banyak, Kang." Aku memotongnya.

Dan tanpa menunggu ia mengatakan apapun, aku langsung berbalik dan berjalan ke arah setapak yang akan menuju ke kota sebelah.

Sekilas kulihat kawan-kawannya yang lain menghampirinya. Mereka saling berbisik. Entah apa yang mereka bisikkan, aku tak peduli lagi. Tujuanku sekarang hanya ingin cepat sampai menemui istri dan dua orang anakku.


KOTA SEBELAH


Gapura di jalan masuk kota ini berstruktur kuno dan tampak tak terawat termakan usia, retak-retak dan dihiasi lumut kering serta tumbuhan liar, namun terkesan ada wibawa kemewahan di situ. Mewah tapi angker. 

Jalan masuk itu lengang. Entah untuk kali keberapa aku memantapkan hati dan mulai berjalan menyusuri kota sebelah. Jantung ini berdegup kencang, menantikan keanehan apa yang bakal terjadi.

Tak seperti yang kusangka, ternyata pemandangan dalam kota ini lumayan indah. Rumah-rumah tersusun rapi di kiri kanan jalan. Gedung-gedung bertingkat pun nampak di antaranya.

Beberapa orang nampak berjalan hilir mudik. Pakaian mereka rapih. Para pria menggunakan Jas yang terkesan mahal. Dan wanitanya menggunakan pakaian sopan seperti karyawan kantoran.

Keanehan mulai terasa di sini. Mereka yang berpapasan denganku, pasti memandang ke bawah, ke arah bungkusan plastik berisi oleh-oleh cokelat Swiss yang kubawa.

Dan mereka tersenyum-senyum. Semakin banyak yang berpapasan, semakin banyak orang yang tersenyum ke arah bungkusan plastik berisi oleh-oleh cokelat Swiss. Beberapa wanita bahkan sempat tertawa lebar sambil menunjuk-nunjuk bungkusan plastik berisi oleh-oleh cokelat Swiss.

Aku heran apa yang mereka lihat dan tertawakan. Tapi aku tak ambil perduli. Kuteruskan langkahku.

Semakin ke dalam kota. Pemandangan kota semakin aneh. Jalan-jalan becek berkilat memantulkan cahaya, seperti habis terkena hujan karena banyak genangan air di sana-sini. Itu yang kukira. Tapi setelah melihat dari dekat genangan itu, ternyata genangan darah!.

Jantungku semakin berdegup kencang. Hati mulai tak karuan. Kuteruskan melangkah sambil mempererat pegangan ke bungkusan plastik berisi oleh-oleh cokelat Swiss.

Di depanku nampak dua orang setengah baya sedang bertengkar. Mereka berpakaian jas mahal. Sepertinya para petinggi. Saling tunjuk dan berbicara keras yang tak kumengerti. Tiba-tiba saja salah seorang mengambil parang dari balik jasnya, lalu menebas kepala lawannya. 

"Crasshh!"

Darah muncrat menyembur dengan liar dari ujung leher yang tak berkepala lagi. Bau amis menyebar. Perutku mual, kutahan sekuat tenaga agar tak muntah. Orang berparang itu tertawa sambil mengacungkan parangnya tinggi-tinggi ke atas. Kepala yang ditebas menggelinding ke arahku yang sedang berusaha untuk terus berjalan perlahan walau dengan kaki bergetar.

Kepala itu berhenti persis di depanku. Matanya masih melotot, bergerak berputar lalu berhenti dan langsung memandangku. Kepala itu masih hidup! Mulutnya tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. Orang berparang ikut menghampiriku, lalu juga tertawa terbahak sambil menunjuk bungkusan plastik berisi oleh-oleh cokelat Swiss yang kubawa.

Aku cepat-cepat meninggalkan tempat itu. Semakin ke jauh masuk ke dalam kota, gedung-gedung bertingkat semakin banyak. Gedung perkantoran. Yang mewah seperti istana. Orang-orang bertambah banyak. 

Sampai aku tak heran lagi, saking seringnya orang yang berpapasan denganku langsung tertawa melihat bungkusan plastik berisi oleh-oleh cokelat Swiss di tanganku.

Di persimpangan jalan, seorang anak berlari menghampiri sambil tertawa riang. Terkekeh-kekeh menunjuk ke arahku. Sebuah motor berlampu kerlap kerlip melaju kencang ke arah anak itu. 

"Brakkk!"

"Prakkk!"

Suara benturan keras sekali. Dua suara terdengar di sela raungan motor. Aku tak sempat memejamkan mata, hanya tertegun melihat tubuh si anak terlempar ke udara, lalu jatuh terbanting dengan kepala lebih dulu dan hancur berantakan. Tubuhnya masih bergerak-gerak, suara tawanya masih terdengar riang. Mulutnya masih utuh menyeringai walau bagian kepalanya hancur. Tangannya masih menunjuk ke bungkusan plastik berisi oleh-oleh cokelat Swiss. Aku mempercepat langkahku, bergegas meninggalkan lokasi itu.

Nampaknya sekarang aku tiba di pusat kota. Ada taman dengan kolam berair mancur dengan patung di atasnya. Banyak orang di situ, semua berpakaian jas mahal. Sepasang orang muda terlihat di pinggir kolam. Pria dan wanita. 

Mereka sedang bercanda nampaknya.  Lalu si wanita memasukkan tangannya ke mulut si pria. Terus ke dalam, ke arah dada. Pria itu berkelojotan kesulitan bernapas. Saat tangan wanita itu keluar, dari siku ke arah jari menjadi berlumuran darah. Nampak jantung si pria digenggam erat. Masih berdegup. 

Lalu sambil tersenyum manis, si wanita memasukkan jantung pria itu ke mulutnya sendiri, lalu mengunyahnya. Darah menetes membasahi pakaian kantornya. Pria itu tertawa gembira. 
"Canda" yang aneh, pikirku.

Seperti bisa mendengar kata dalam hatiku, tiba-tiba pasangan itu menoleh ke arahku. Langsung saja mereka tertawa terbahak-bahak sambil menunjuk bungkusan plastik berisi oleh-oleh cokelat Swiss yang kubawa.

Orang-orang di taman serempak ikut menoleh ke arahku. Dan seperti paduan suara, mereka ikut tertawa  terbahak-bahak, sambil menunjuk-nunjuk bungkusan plastik berisi oleh-oleh cokelat Swiss yang kubawa.

Saking gelinya, mereka mengeluarkan parang dan saling menebas orang di sebelahnya. Suara tawa semakin membahana dari banyak kepala yang menggelinding ke arahku. Kolam air mancur sudah berwarna merah terkena banyak cipratan darah.

Aku mempercepat langkah meninggalkan taman kota itu. Setengah berlari ke arah gerbang ke luar kota. Suara tawa seakan masih mengikuti jelas sekali. Aku menoleh ke belakang, dan kulihat kepala-kepala itu menggelinding mengikutiku dari jauh. Sialan! Dan badan yang jauh tertinggal masih saja tangan mereka menunjuk ke arah bungkusan plastik berisi oleh-oleh cokelat Swiss.

Penasaran dengan yang mereka lihat, aku menghampiri gedung terakhir di ujung jalan. Gedung yang banyak kacanya. Aku berdiri tepat di depan kaca yang paling terang dan memantulkan bayangan. Langsung terlihat diriku di kaca itu.

Dan aku terkejut bukan main. Kulihat tanganku erat menjambak rambut sebuah kepala, darah masih menetes di bagian leher. Bungkusan yang kubawa, yang kukira berisi oleh-oleh cokelat Swiss, ternyata adalah kepalaku sendiri!.


TIBA DI RUMAH 


Aku berlari sekuat tenaga meninggalkan kota aneh itu. Tanpa berhenti, hingga memasuki kotaku sendiri. Kota Lamtoro. 

Aku terus berlari menuju rumah. Tak ku indahkan tetangga yang memanggil. Hingga tiba di depan rumah. Istri dan kedua anakku sudah menunggu di situ. 

Melihatku datang. Mereka berteriak senang. Anak-anakku berlarian menghampiri. Istriku yang semakin cantik tersenyum manis. Aku tertegun, memandang mereka. Cemas. Ragu-ragu dengan penglihatan mereka terhadapku. Tapi sikap mereka tak ada yang aneh.  Anak-anak langsung mengambil kepa--- eh bungkusan plastik berisi oleh-oleh cokelat Swiss. 

Dengan riang anak-anak mulai membuka  dan sibuk mengunyah oleh-oleh lezat itu.

Tas ransel kuberikan pada istriku. Tas yang berisi uang tabungan selama lima tahun, sehingga kami bisa merayakan tahun baru bersama. Aku bersyukur walau masih bergidik mengingat pengalaman di kota sebelumnya. Kota yang aneh dan menyeramkan.

Aku dan istri berpelukan mesra. Sekilasku lirik kedua anakku, membuatku hampir pingsan saking kagetnya. Karena kedua tangan mereka berlumuran darah!

+++++

Tamat.

Selamat Tahun Baru
.....yang berlumuran darah....



Penulis: Yous Asdiyanto Siddik
Kamis, 31 Desember 2020


Cerita Tentang Obat Paten Dan Obat Generik

 PATEN DAN STANDAR


Cerita Tentang Obat Paten Dan Obat Generik



Ruangan kasir rumah sakit itu terlihat sempit, mungkin tidak sampai 1 x 2 meter. Seperti loket untuk membeli karcis bioskop atau tiket kereta di stasiun. Kaca dengan lubang kecil berbentuk mulut gua menjadi satu-satunya celah untuk berkomunikasi dengan penghuni ruang sempit itu.


Seorang perempuan berusia sekitar 20 tahun sedang duduk di balik loket, menunduk, entah mengerjakan apa. Tak terlalu terlihat dari tempatku berdiri sebab terhalang penyekat tak tembus pandang.


"Permisi, Sus." Aku menyapanya dengan panggilan yang biasa dan umum ditujukan untuk pekerja rumah sakit yang perempuan selain dokter. 


Suster itu sedikit kaget, menoleh ke arahku. 


"Eh--Iya, Pak. Ada yang bisa saya bantu?," katanya dengan gerakan sopan dan senyum khas sesuai standar pelayanan pelayan garis depan.


"Saya mau tanya, tentang tagihan sementara hingga saat ini untuk perawatan istri saya."


"Oh, baik. Siapa nama pasiennya, Pak?"


"Namanya sebut saja Melati."


"Ok. Ditunggu sebentar ya, Pak." 


Suster loket itu beranjak ke ruangan dalam, menuju meja komputer. Aku duduk di ruang tunggu itu sambil memandang sekeliling. Sepi, hanya ada beberapa orang saja di ruang tunggu yang dilengkapi pendingin ruangan ini. Rapih dan bersih juga. Lantai dan perabotannya terlihat rutin dibersihkan. Yah, lumayanlah untuk ukuran rumah sakit kecil seperti ini.


Tak beberapa lama, kepala suster loket itu muncul di balik jendela kaca. "Pak, ini tagihannya atas nama sebut saja Melati." katanya sambil menyodorkan selembar kertas print out tagihan.


Aku menghampiri loket dan kuambil kertas kecil yang bertuliskan angka-angka itu. 


"Whaatt!!?." Jumlahnya gede banget! Untuk ukuranku yang hanya tukang ojek, jumlah segitu bisa menguras tabungan hasil ojek selama 5 bulan,! kataku dalam hati. 


Masalahnya, aku gak sempet nabung. Penghasilan ojek hanya cukup untuk keperluan sehari-hari. Boro-boro untuk menabung atau membayar premi asuransi kesehatan.


Setelah berhasil menenangkan pikiran, kutatap suster yang diam saja melihat kekagetanku.


"Yang bikin mahal apa ya, Sus?," tanyaku penasaran.


"Oh, kalo dilihat dari daftarnya, yang bikin harga tinggi itu obat-obatan, saya juga kaget lihat harga obatnya yang mahal," kata Suster loket sambil memandangku, ada empati di sinar matanya.


"Maksudnya gimana, Sus?," kejarku yang benar-benar tidak dapat mencerna kata-kata suster muda ini.


"Sebaiknya, bapak tanya saja ke ruang perawatan kamar, biar lebih jelas. Kalo saya hanya kasir pak, hanya tahu jumlah tagihan," hindar suster muda ini. Sekilas sempat kubaca nama di bajunya.


Aku mengangguk, "Ok baik, saya akan tanya ke sana. Terima kasih ya, Sus."


"Sama-sama, Pak."


Aku berlalu dari bagian kasir, langsung menuju lantai dua tempat istriku di rawat. Ada Ruang Perawat di sana.


****


Ruangan para perawat jaga terletak di sudut gang tempat lalu lalang pasien/pengunjung. Di situ ada  4 orang perawat yang sedang duduk, berkutat dengan entah apa. 


"Permisi, Sus." Aku menyapa mereka. Keempatnya kompak mendongak, ada juga yang kaget sambil menyembunyikan ponselnya. 


Bruder, perawat yang laki-laki menyahut, "Ya, pak. Ada yang bisa dibantu?."


"Begini mas, tadi saya dari bagian kasir, menanyakan tagihan sementara untuk perawatan istri saya." Aku diam sejenak. Bruder dan tiga orang suster juga diam menyimak.


"Tagihannya ternyata lumayan besar, padahal istri saya baru masuk jam 11 siang kemaren, sampai hari ini jam 2 siang, hanya satu  hari lebih dikit, atau 26 jam saja."


Mereka masih diam tak menanggapi.


"Menurut kasir yang bikin mahal adalah tagihan obat-obatan, benarkah demikian?." Aku sengaja menekannya di bagian kata "obat-obatan" seperti yang disampaikan oleh kasir muda tadi.


"Oh, kalo boleh tau, pasien pake jaminan apa pak?," tanya si mas Bruder.


"Saya bayar mandiri, kartu BPJS saya gak bisa digunakan," kataku lemah.


"Oh gitu ya, Pak. Memang obat-obatan untuk pasien yang bayar mandiri, diberikan  yang bagus dan paten yang bikin cepat sembuh, jadinya mahal, sama dengan pasien peserta asuransi," Bruder itu menjelaskan dengan ringan. 


Penjelasan yang ringan itu terasa berat bagiku. Aku hanya terbengong-bengong mendengar itu. 


"Kalo ada pasien yang pake BPJS, dikasih obat yang sama?," tanyaku penasaran.


"Oh enggak pak, harga obat disesuaikan dengan tarif di BPJS, biasanya lebih murah." jawab si Bruder dengan entengnya.


"Berarti dikasih obat yang gak paten?."


"Iya, obatnya yang standar, obat generik."


Aku tambah pusing. Obat standar? Obat Generik? Obat paten? untuk orang sakit?.


Aku ngeloyor pergi sambil mengucapkan terima kasih. Setelah menghubungi sana-sini terkumpul dana sumbangan dari keluarga. Akhirnya diputuskan membawa pulang istriku yang belum sembuh benar. Di rawat di rumah. Sambil mencari celah untuk mendapatkan kartu sakti guna berobat gratis.


Beruntung punya kawan-kawan yang hebat-hebat, mereka mau membantu. Semoga berhasil.


****


Inget tetanggaku yang seorang kontraktor, pernah bilang saat nge-cor jalan perumaan. Cor yang mahal kualitas campuran dan obatnya lebih paten. Jadi kering lebih cepat dan awet puluhan tahun.


Beda dengan Cor-an yang murah, kering lebih lama, dan gampang hancur. 


Omaygat!



_________________
Penulis: Yous Asdiyanto Siddik 
Selasa, 11 Februari 2020


Cerita Tentang Obat Paten Dan Obat Generik


*Catatan editor mengenai Obat Paten dan Obat Generik*

Obat generik adalah obat-obatan yang sudah habis masa patennya. Oleh sebab itulah jenis obat generik dapat di produksi oleh hampir seluruh perusahaan farmasi yang ada tanpa harus membayar royalti. 


Obat generik dapat dijual dengan harga yang jauh lebih murah karena ada dua faktor yang mempengaruhi hal tersebut, yakni karena memproduksi obat generik tidak membutuhkan biaya untuk riset atau penelitian (RND) serta tidak membutuhkan biaya untuk pematenan obat atau membayar royalti kepada pemilik atau pemegang hak paten. 


Obat generik sendiri ada 2 jenis. Yakni obat generik bermerk dan obat generik berlogo


Obat Generik Berlogo (OGB)

OGB atau obat generik berlogo adalah obat yang diberi nama sesuai dengan kandungan zat aktif yang dikandung. Sebagai contoh obat antibiotik seperti amoksisilin. Pada obat generik berlogo atau OGB, maka nama pada kemasannya adalah Amoksisilin tanpa ada nama lain di bagian belakang nama obat tersebut.


Obat Generik Bermerk

Sedangkan obat generik bermerk adalah obat generik yang dinamai sesuai dengan keinginan dari produsen farmasi yang memproduksinya. Contohnya pada obat antibiotik seperti amoksisilin di atas tadi. Misalnya sebuah perusahaan BP memproduksi obat tersebut, maka nama pada obat tersebut akan menjadi Amoksisilin BP pada kemasannya.


Obat generik bermerk lebih mahal karena menggunakan kemasan yang lebih baik sesuai dengan keinginan produsennya. Perbedaan lainnya dengan OGB juga pada beberapa zat tambahan serta zat pelarut yang digunakan pada racikan obat tersebut. Pada sebagian jenis obat generik bermerk, biasanya akan ditambahkan zat yang akan mengurangi aroma yang kurang sedap dari obat.



Pengertian Obat Paten

Berbeda dengan obat generik, obat paten adalah obat baru yang diproduksi serta dipasarkan oleh sebuah perusahaan farmasi yang sudah memiliki hak paten terhadap produksi obat baru tersebut. 


Hal tersebut tentu saja dilakukan menurut serangkaian uji klinis yang telah dilakukan oleh pihak perusahaan farmasi tersebut. Tentunya disesuaikan dengan aturan-aturan yang telah ditetapkan secara internasional. Sehingga obat yang telah diberikan hak paten tersebut tidak dapat diproduksi hingga dipasarkan oleh berbagai perusahaan farmasi lainnya tanpa seizin perusahaan farmasi yang memiliki hak paten. 


Izin produksi ataupun pemasaran akan diberikan kepada perusahaan farmasi lain dengan pembayaran royalti, besaran biaya royalti inilah yang membuat harga obat tersebut menjadi mahal.


Masa berlaku hak paten di Indonesia adalah 20 tahun. Dan saat masa hak paten tersebut habis, maka pihak perusahaan farmasi pemilik paten tersebut tidak dapat memperpanjangnya kembali. 


Jenis obat yang masa patennya telah habis tersebut dapat diproduksi kembali oleh perusahaan farmasi lain dalam bentuk obat generik bermerk atau obat generik berlogo.





MOGOK NASIONAL

MOGOK NASIONAL BURUH


Ada sebuah kerajaan di sebelah utara kepulauan Madagaskar. Saat ini, sedang ada gonjang-ganjing di kerajaan itu, penyebabnya adalah buruh-buruhnya sedang gelisah karena akan melakukan mogok nasional.


Di sebuah tempat tersembunyi yang terhalang oleh pohon-pohon raksasa peninggalan jaman purba, berdiskusilah para pimpinan buruh. Pimpinan dari berbagai serikat buruh kerajaan. Tempat yang merupakan sebuah ruangan lumayan besar, dan puluhan orang sedang berkumpul di dalamnya.


"Kita harus secepatnya melakukan mogok nasional ini!" seru Ngadiroen, seorang pimpinan Serikat Buruh Elektronik.


"Setuju!"


"Sepakat!"


"Ayo! Gak pake lama"


Berbagai tanggapan dari orang-orang yang hadir.


"Bagaimana cara mogoknya?" tanya Soemirjand, ia adalah salah seorang pimpinan Serikat Buruh Kain Kulit Kayu, terkenal pemberani.


"Stop Produksi! Kita penuhi jalan-jalan!" teriak Kertoelontoe, pemuda yang hampir membakar dirinya di alun-alun kerajaan saat demo PP69 beberapa tahun yang lalu.


"Betul! Sweeping semua pabrik, keluarkan seluruh buruhnya!." Seorang wanita bernama Juliet dengan semangat berteriak sambil mengacungkan tangan kirinya yang penuh gelang emas mulai dari pergelangan hingga siku.


Ngadiroen mengangkat kedua tangannya, meminta hadirin tenang. Kemudian ia berkata, "Mogok dengan cara itu sudah sering kita lakukan, hanya pertama kali yang berhasil, ke sininya kita dibubarin paksa, babak belur dihajar ponggawa kerajaan, belum lagi ancaman preman-preman bayaran dari tuan modal, ada ide lain?."


Hening sesaat.


"Kita coba lagi, asal kita kompak, semua buruh stop mesin produksi, kemaren-kemaren kita gak kompak, makanya gampang dibubarin!," sahut Kertoelontoe dengan semangat.


"Jika tetap dibubarkan paksa oleh ponggawa dan preman bagaimana?."


"Kita lawan!."


"Lawan bagaimana?."


"Ya, kita lawan sampai titik darah penghabisan! Pantang mundur sebelum menang! seperti slogan kita!." teriak Gendoer berapi-api, seorang pimpinan buruh Otomokar.


"Kalo kita di hajar?."


"Hajar balik!."


Ngadiroen menggeleng-gelengkan kepalanya. Wajahnya berkerut sedih. 


"Jika yang melawan itu aku atau kalian yang ada di sini, aku yakin, kita semua akan berani, tapi beranikah buruh-buruh itu?  Buruh-buruh perempuan? Buruh yang baru kawin? Buruh yang punya cicilan pedati baru? Buruh yang biasa hidup di ruangan berpendingin? Buruh yang istrinya baru melahirkan?."


Ruangan itu hening. Orang-orang yang hadir saling berpandangan.


MOGOK NASIONAL BURUH


"Mereka, buruh-buruh anggota kita harus berani! Lagipula mereka gak akan melakukan kekerasan terhadap buruh perempuan!," sanggah Juliet dengan yakin.


"Siapa bilang mereka gak akan berani menyakiti buruh perempuan? Ingat aksi demo di pabrik obat di ujung kerajaaan? Para ponggawa biadab itu menyemprotkan air merica ke mata buruh-buruh perempuan yang sedang duduk mogok di sana!," sahut Ngadiroen berapi-api.


Juliet terdiam, ia ingat kejadian itu beberapa waktu lalu, karena ia termasuk yang ikut disemprot matanya dengan merica. Pedihnya seperti baru ia rasakan sekarang, tak sadar tangannya menyeka matanya yang tiba-tiba berair.


Ruangan itu kembali hening. Semua orang diam, sibuk dengan pikirannya masing-masing.


Beberapa saat kemudian Soemirjand bersuara, "Lalu bagaimana baiknya?."


Ngadiroen mengambil sebatang rokok bako yang dilintingnya sendiri, membakarnya, lalu mengisapnya dalam-dalam, kemudian ia hembuskan asapnya perlahan. Semua mata memperhatikan asap itu menari-nari di ruangan, lalu memudar, dan akhirnya hilang meninggalkan bau khas tembakau murahan.


"Begini, sebaiknya ki..."


"Maaf, boleh saya bicara?." 


Seseorang memotong pembicaraan Ngadiroen. Semua orang menoleh ke salah satu sudut ruangan, di mana seorang pemuda kurus, dengan lengan penuh tatto hingga lehernya, berdiri dengan mata yang seperti mengantuk.


Ngadiroen mengangkat dagunya memberi isyarat agar pemuda itu bicara.


"Saya Abutalas, pimpinan Serikat Buruh Kirim-Kirim," katanya memperkenalkan diri. Ia diam sejenak sambil memperhatikan semua orang yang memandangnya dengan tatapan aneh.


"Sebelumnya saya tanya dulu, mogok yang dimaksud itu apakah mogok kerja?," tanyanya entah pada siapa.


"Iya!," beberapa orang menyahut kompak. Ngadiroen mengangguk.


"Apakah mogok kerja harus selalu datang ke pabrik?," tanya lagi Abutalas.


Tak ada yang menjawab. Ada yang menggeleng, ada yang mengangguk. Abutalas tersenyum.


"Jika mogok nasional adalah gak kerja bareng-bareng seluruh buruh di seluruh kerajaan, terus ngapain pergi ke pabrik? Di rumah saja, seperti yang saya instruksikan ke anggota serikat Kirim-Kirim yang jutaan jumlahnya."


Hadirin memandangnya sambil melongo. Abutalas tak peduli tatapan orang-orang, ia melanjutkan.


"Saya instruksikan mereka, jika instruksi Mogok Nasional muncul, gak usah berangkat ke pabrik, diam di rumah, di kontrakan-kontrakan, di kost-kost-an, ngapain buang tenaga berantem dengan preman? baku hantam dengan ponggawa kerajaan yang peralatannya lebih komplit?," papar Abutalas menggebu-gebu.


Para hadirin masih tak bersuara, beberapa mulai mengangguk -angguk.


"Lahhhh! Bilang aja kau takut!," teriak Gendoer meremehkan.


Abutalas menatap Gendoer dengan tajam. Rahangnya bergetar. 


"Gak ada kamus takut dalam hidup saya! Kau kira siapa yang menghancurkan sarang preman kalau bukan anggota serikat kami saat pendopo buruh luluh lantak diserbu mereka? Kau kira siapa yang menjadi martir menahan gelombang pasukan ponggawa agar buruh-buruh lain termasuk anggotamu, dan pabrikmu selamat dari amukan mereka? Saya dan anggota saya! Dan di mana kalian saat itu?? Saat anggota saya mampus dipukuli oleh aparat dan preman? Sampai beberapa orang sekarat hampir mati! Hah!?." 


Gendoer terdiam. Abutalas masih bergetar badannya karena emosi yang diluapkannya barusan. Tak terima dibilang takut. Ngadiroen masih menghisap bakonya, memperhatikan kelanjutannya.


MOGOK NASIONAL BURUH


"Itulah yang saya maksud. Ngapain mengorbankan anggota untuk berperang dengan mereka? Jika masih ada cara yang cukup efektif untuk melakukan mogok kerja. Toh, sama saja. Mesin-mesin berhenti meraung. Kain akan tetap menjadi kain. Pabrik sepi seperti gedung mati. Kecil kemungkinan resiko anggota kita bentrok dengan mereka." 


Semakin banyak yang mengangguk-angguk. Mereka memandang Abutalas dengan kagum. Tak ada lagi tatapan aneh.


"Dan kita sebagai pimpinan yang ambil resiko itu! Kita undang pihak kerajaan untuk diskusi. Jika tak mau, lanjutkan mogok itu. Dan kali ini, gak usah tanggung-tanggung, kita mogok hingga tuntutan kita mereka kabulkan!," kata Abutalas dengan semangat makin menjadi-jadi.


Beberapa orang bertepuk tangan sambil bersorak sorai, setuju dengan usulnya. Kemudian suasana kembali hening, Abutalas tak lagi berbicara, ia sudah kembali ke sudutnya. Semua mata kini memandang Ngadiroen yang tiba-tiba dianggap sebagai pimpinan di situ.


Ngadiroen merenung.  Tak semudah itu pikirnya. Lalu kembali mengisap bako murahnya dalam-dalam. Lama sekali. Kemudian menghembuskan asapnya ke atas. Ke langit-langit, tempat para Langitan berada.


*********


END


Note:

Republik Madagaskar, adalah sebuah negara pulau di Samudra Hindia, lepas pesisir timur Afrika. Pulau Madagaskar adalah pulau terbesar keempat di dunia. Selain pulau utama, beberapa pulau kecil di sekitarnya juga menjadi klaim republik ini, yaitu Pulau Juan de Nova, Pulau Europa, Kepulauan Glorioso, Pulau Tromelin Island, dan Bassas da India. Dan cerita di atas gak ada hubungannya sama sekali dengan pulau-pulau itu. Kesamaan nama dan tempat hanya khayalan ane karena mabok kebanyakan ngopi. Piss!


_________________
Penulis: Yous Asdiyanto Siddik 
Sabtu, 22 Februari 2020


Jangkrik Yang Malang, Kalajengking Yang Kejam

 Jangkrik Yang Malang Kalajengking Yang Kejam


Jangkrik VS Kalajengking


Hari yang aneh. Sebentar hujan, sebentar panas. Bosan menunggu handphone yang sedang bisu, akhirnya nongkrong di pelataran ruko lagi.

Pas ada jangkrik yang sedang berkelahi dengan kalajengking. Sepertinya si jangkrik ini pemberani, padahal dia hanya bisa menyeruduk. Sedangkan kalajengking punya capit tajam dan sengatan ekor belakang yang berbisa. 

Seru juga melihatnya. Si jangkrik pantang mundur, sibuk berloncatan ke sana ke mari, menghindari capitan dan sengatan si kalajengking. Sesekali ia berhasil menyeruduk mengenai tubuh kalajengking yang tebal.

Kalajengking hanya tersenyum sinis. "Cuman segitu doang kemampuanmu,?" mungkin begitu yang ada di pikiran Kalajengking. 

Setelah berkali-kali ia mencapit, menyengat, tetapi tidak kena-kena, akhirnya kesal juga. Segera ia menggunakan strategi ampuh. Capitnya ia turunkan, ekor sengatnya ia sembunyikan. Seakan tak bersenjata, dia hanya berdiam, menunggu serudukan si Jangkrik.

Jangkrik, yang melihat kesempatan itu, langsung mengambil tindakan, dengan kuda-kuda yang kuat, ia melompat sambil menyeruduk dengan tenaga penuh. Yang tempo hari berhasil membuat raja jangkrik tak berdaya saat melawannya.

Huupp!
Krekkk!
Buk!

Tubuh si Jangkrik melayang lalu jatih ke tanah. Tubuhnya terbelah dua. Sebagian hangus tersengat racun.


Jangkrik yang malang, Kalajengking yang kejam.


"Huh! Curang! Ya jelas saja dia menang, senjatanya banyak! Capit, sengat! Curang!," kata orang yang ikut menonton di sebelahku.

"Yaelah! Jangkriknya aja yang gak tau diri! Gak punya senjata maen lawan kalajengking! Ya mati konyol, kan?" kata orang di sebelahnya.

Ramai orang-orang berbincang perkelahian yang tak seimbang itu. Sementara si Kalajengking berjalan menuju lubangnya dengan gagah, dada dibusungkan, bangga dengan kemenangannya. Aku hanya tertegun, melihat tubuh jangkrik terbelah dua. 

Pikirku, seandainya saja si Jangkrik dipinjami capit atau sengat, tetap tak akan mampu melawan kalajengking yang semasa hidupnya memang terlatih menggunakan senjata di tubuhnya itu.

Hanya saja, jika si Kalajengking punya rasa kebinatangan, melihat Jangkrik yang bukan lawan sepadan, pasti ia hanya menggunakan ekornya untuk mengibaskan Jangkrik agar pergi jauh-jauh sebagai peringatan.

Atau jika terdesak, ia bisa menggunakan capitnya untuk memotong kaki Jangkrik sebagai pelajaran agar tak melawannya lagi.

Tapi memang dasar binatang. Ia malah memilih untuk membunuhnya. Sadis.

Orang-orang yang tadi berkerumun, bubar sendiri-sendiri bergumam tak jelas. Beberapa orang tertawa terbahak-bahak melihat Jangkrik yang tewas mengenaskan. Mereka pikir Jangkrik itu sombong, berani melawan Kalajengking. "Rasakan akibatnya, biar kapok," mungkin begitu pikir mereka.

Geram dengan kejadian barusan. Aku memutuskan mlipir saja. Mumpung matahari sedang terang. Berpanas-panasan mandi matahari, agar virus sialan terbakar tanpa perlu vaksin.

Sadis.

_________________
Penulis: Yous Asdiyanto Siddik 
Selasa, 8 Desember 2020

Keluh Kesah Sepulang Ziarah


"Sebel deh." 

Indira sejenak berpaling dari gawainya. Memandang sebentar ke arah suara dua meter di sebelahnya. Lalu kembali asyik dengan layar 10 centinya. 

"Ngapa, Lu?," tanyanya ngasal dengan mata tetap memandang layar gawainya. 

"Gue abis dari kuburan, ziarah makam mbari ngomel-ngomelin laki gue," sahut suara di sebelahnya itu. 

Indira ngakak. Tubuhnya berputar 90° menghadap perempuan di sebelahnya. 

"Kuburan diomelin, sarap lu, ya? Kurang piknik?." 

Perempuan itu mendengus sambil merengutkan bibirnya. Diraihnya segelas es teh milik Indira, lalu menenggaknya sampai tandas. 

"Orang gila bisa aus juga, yak?," Goda Indira. 

"Stress nih gue. Dia enak-enakan di tanah. Gak mikirin anak 4 tinggalannye dia. Sue!," ucapnya penuh kekesalan. Matanya terlihat berkaca-kaca. 

"Elu kan stress-an dari dulu, May. Kalo lu kagak stress malah gue nyang heran," Indira tersenyum memandang sahabatnya itu. 

"Hape gue cuman satu, anak 4 daring semua. Gue ngisi pulsa 100 ribu dua minggu doang, In." 

"Ehh, Malih, lu pan kagak sendirian. Lu tau gak, ada janda dhuafa di kampung sebelah, anak 2 daring kagak punya hape. Tiap kelar nyuci ama nggosok di rumah majikannya, dia ke rumah guru masing-masing anak. Pulang maghrib, sambil bawa fotokopian soal dan materi belajar. Pagi anaknya yang anterin ke gurunya. Gue liat dia kagak stress-stress amat kek elo," tutur Indira santai. 

Tangis si perempuan pecah. Sesenggukan sambil menelungkupkan wajahnya di pangkuan Indira. 

"Gue kesel In. Dia mati masih muda. Anak masih kecil-kecil, gak ninggalin tabungan malah ninggalin utang. Mana ibu ama adek-adeknya serakah. Gue suruh jual rumah, duitnya suruh dipake buat usaha," katanya sesunggukan.

"Kalo rumah satu-satunya ntu kejual, gue ama anak-anak gue mau tinggal di mana? Lagian rumah jelek gitu emang laku banyak apah?. Mau usaha apah lagian zaman susah kayak gini?," sambungnya masih dalam pangkuan Indira.

Indira beku. Bersahabat 10 tahun buatnya cukup memahami gimana kondisi rumah tangga sahabatnya ini. Terlebih saat sang suami sahabatnya wafat 2 tahun lalu, kehidupan mereka tidak menjadi lebih baik. 

Indira tau, sahabatnya ini perempuan kuat luar biasa, dia tak butuh banyak nasehat, cukup didengarkan saja keluh kesahnya, isak tangisnya, bila sudah reda, buatnya cukup lega, dia akan tenang kembali. Begitu biasanya. 

Perempuan itu mengangkat wajahnya. 

"Daster lu bau, In..!." 
"Tuh kaann..."

Indira mlengos. "Iyalahhh, gue kan belom mandi, abis ngedeprok bawah puun mangga tadi siang. Makan nasi padang bareng ama emak-emak di gang. Salah lu sendiri main nemplok ajah," 

Mereka berdua tertawa ceria. 

"Kadang gue suka berpikir kalo laki gue itu kok egois dari idup ampe mati tetep aje egois. Maunya enak sendiri. Dari dia idup segala urusan anak ampe rumah gue yang ngurus. Dia pulang kerja maen hape, kelayapan ama temen-temennya. Sabtu minggu jalan-jalan ama adek en emaknya. Gajian dia ngasih ngepas doang. Kurang malahan sampe gue kudu prihatin, bantu ngajar TPA ama les di rumah. "

"Anehnya, pas mati dia kagak punya tabungan. Yang ada malah utang kartu kreditnya numpuk dan cicilan utang koperasi kantor. Udehlah gue jadi janda dikejar-kejar debt kolektor. Dia kan enak aje tidur di tanah noh. Ampe jual motor gue buat nyambung idup," ungkap perempuan itu, datar tanpa ekspresi. Indira tahu persis kisah yang tak pernah jemu diulang dan diulang lagi oleh sahabatnya itu. 

"Tapi kadang gue kasian juga ama dia, dia gak bisa ngeliat dunia lagi, yaa In. Gelap aje di bawah tanah. Gak liat si Dinda anak gue dapet penghargaan siswa terbaik, gak bisa liat Rian keren banget jadi gitaris band SMP tempat dia sekolah. Padahal almarhum yang pengen banget anaknya ada yang jadi musisi," ungkapnya lagi sambil menerawang, terlihat senyum samar di wajah pias perempuan itu. 

"May..." sapa Indira sambil menghela nafas. 

"Laki lu gak cuman tidur-tiduran doang di dalem tanah. Dia lagi nunggu hari saat dia akan dibangkitkan di hadapan Allah nanti. Dia akan ditanya sama Allah, tentang anak-anaknya, gimana dia mendidiknya. 

Dia akan ditanya tentang elu, istrinya, gimana dia memperlakukannya. Siapa yang tau, kalo saat ini, di dalam tanah itu dia sedang merasakan penderitaan jauh lebih susah daripada yang elu rasakan sekarang?." 

Perempuan itu terpana, menatap Indira seolah baru mendengar kata-kata mengejutkan yang tak pernah ia dengar sebelumnya. 

"Udah. Makanya lu jangan ziarah kubur cuman buat ngomel-ngomelin dia. Diketawain kuntilanak lu ntar. Doain dia. Maafkan seluruh kesalahan-kesalahannya, ajak anak-anak lu doain bapaknya. Moga Allah ampunin dia. Dia butuh banget doa kalian semua, May. Ikhlasin aja napah. Apan kata lu, dia laki yang nyusahin doang," papar Indira. 

"Iya, yaa In. Lagian, gegara dia mati, anak-anak gue banyak yang ngasih duit. Apalagi kalo bulan puasa, Lebaran ama pas Muharam. Banyak banget yang ngasih duit, baju ama sembako," kata si perempuan. 

"Tauk, ahh!." 

Indira bangun dan bergegas meninggalkan perempuan itu, masuk ke dalam rumah. 

"Lah, lu mau ke mana, In?."

"Mandi!."



Penulis Sri Suharni Maks