Cerita Dari Festival Literasi Nagekeo 2019 di Kota Mbay


Cerita Dari Festival Literasi Nagekeo 2019 di Kota Mbay. Dua minggu yang lalu saya menerima pesan WA dari seseorang yang nomornya belum tersimpan di telepon genggam. Sumpah, mau bertanya: ini siapa(?) saya sungkan, kuatir dibilang sombong. Lagi pula profile picture-nya bukan foto diri melainkan gambar Bunda Maria yang kemudian diganti dengan gambar Yesus. So I have no idea who is he/she. Isi pesan WA itu adalah lampiran draf kegiatan Festival Literasi Nagekeo 2019. Sampai orang itu mengiriman revisi draf kegiatan dimaksud pun saya masih sungkan bertanya, lantas hanya bisa mengucapkan terima kasih serta janji bakal hadir pada malam Minggu.

Baca Juga: Semua Anak Indonesia Harus Menonton Upin Ipin (Bahagian 2)

Apa itu Festival Literasi Nagekeo 2019? Kenapa pula saya berjanji untuk hadir saat malam Minggu? Kalian kepo kah? Hahaha. Kalau kepo, hyuk dibaca sampai selesai!

Hari Literasi Internasional


Mari pukul mundur ke tahun 1965. Sumber Wikipedia menjelaskan bahwa Hari Literasi Internasional (International Literacy Day/ILD) atau Hari Aksara Internasional/Sedunia atau Hari Melek Huruf Internasional, yang diperingati setiap tanggal 8 September, merupakan hari yang diumumkan oleh UNESCO pada 17 November 1965 sebagai peringatan untuk menjaga pentingnya melek huruf bagi setiap manusia, komunitas, dan masyarakat. Setiap tahun, UNESCO mengingatkan komunitas internasional untuk selalu dalam kegiatan belajar. Hari Melek Huruf Internasional ini diperingati oleh seluruh negara di dunia.

Nagekeo, Kabupaten Literasi.

Sedangkan dari Kompas, begini informasi yang saya peroleh: Melansir dari situs resmi UNESCO, tahun 2019 ini UNESCO akan memberikan penghargaan kepada program dan individu yang berjasa terkait literasi di seluruh dunia dalam tema "Literasi dan Multilinguaisme". Sejak tahun 1967, UNESCO telah memberikan rekognisi dan bantuan bagi lebih dari 490 proyek dan program di bidang literasi yang dijalankan baik oleh pemerintah, Organisasi Non-Pemerintah (LSM), maupun individu di seluruh dunia.

Tahun ini, UNESCO International Literacy Prizes terbagi menjadi dua jenis penghargaan yang akan diberikan kepada lima penerima, yakni: UNESCO King Sejong Literacy Prize, dimana penghargan ini diberikan untuk dua pemenang dengan program yang berfokus pada pengembangan dan pengunaan pendidikan dan pelatihan literasi bahasa ibu. UNESCO Confucius Prize for Literacy, penghargaan tersebut terbentuk pada 2005 atas dukungan Pemerintah Cina. Penghargaan ini diberikan kepada tiga pemenang dengan program yang mempromosikan literasi orang dewasa terutama yang berada di daerah pedesaan dan untuk remaja putus sekolah utamanya kaum perempuan Masing-masing pemenang akan mendapatkan medali, piagam penghargaan dan uang sejumlah 20.000 dolar Amerika Serikat.

Nge-blog merupakan salah satu cara berliterasi.

Jadi kita sepemahaman ya, bahwa Hari Literasi Internasional diperingati setiap tanggal 8 September. Kita juga harus sepemahaman bahwa, also from Wikipedia, bahwa Literasi adalah istilah umum yang merujuk kepada seperangkat kemampuan dan keterampilan individu dalam membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian tertentu yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga, literasi tidak bisa dilepaskan dari kemampuan berbahasa. Sedangkan, menurut data dari Literasi Digital keluaran Internetsehat, secara umum yang dimaksud dengan literasi digital adalah kemampuan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi (TIK), untuk menemukan, mengevaluasi, memanfaatkan, membuat dan mengkomunikasikan konten/informasi, dengan kecakapan kognitif maupun teknikal. 

Jadi, kalau bisa saya simpulkan, kegiatan literasi adalah kegiatan membaca, menggali informasi, mengelola/mengolah informasi, serta menyebarkan kembali informasi tersebut. Salah satunya dengan nge-blog. Salah duanya dengan mendongeng. Sala(h)tiga-nya di Pulau Jawa. Hehe.

Hari Literasi Nagekeo 2019


Kabupaten Nagekeo, dengan Ibu Kota bernama Kota Mbay, merupakan kabupaten yang sedang sangat getol membangun diantaranya membangun di ranah literasi. Bupati Nagekeo, Bapak Don, saat meresmikan Rumah Baca Sao Moko Modhe berkata bahwa awalnya beliau kurang perhatian dengan urusan literasi ini, sampai kemudian beliau mengunjungi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia di Salemba - Jakarta, beliau menjadi sangat paham pentingnya literasi untuk pembangunan. Artinya, mencerdaskan masyarakat tidak hanya berkonsentrasi pada pendidikan akademik saja, tetapi harus diimbuh dengan berliterasi yang diperoleh/dilakukan di luar bangku sekolah/kuliah.

Oleh karena itu, kesimpulan saya, sampailah pada titik Kabupaten Nagekeo kemudian menggelar kegiatan akbar Festival Literasi Nagekeo 2019 selama empat hari, dimulai Jum'at (27 September 2019) sampai dengan Senin (30 September 2019. Dan saya, menyesuaikan dengan waktu kerja, baru bisa dan hanya bisa hadir pada malam Minggu (Sabtu, 28 September 2019).


Meskipun tiba di Kota Mbay pukul 12.00-an Wita, tapi saya baru bisa menuju Lapangan Berdikari, tempat kegiatan ini digelar, pukul 20.30 Wita. Alasannya karena masih menunggu keponakan saya, si Iwan. Tiba di depan Lapangan Berdikari, kendaraan baik roda empat maupun roda dua penuh di sisi kanan dan kiri jalan. Sementara itu dari panggung di dalam lapangan terdengar bunyi-bunyian dari alat musik tradisional, ada sekelompok penari sedang pentas. Bergegaslah kami berlima: saya, Iwan, Reni (isterinya Iwan), Andika dan Rayhan (anaknya mereka berdua).


Suasana di dalam Lapangan Berdikari mengingatkan saya pada Pameran Pembangunan yang dulu rajin banget dilaksanakan di Stadion Marilonga, Kota Ende. Itu, saat saya masih SD lah. Ada panggung hiburan/pentas seni sekaligus panggung perlombaan, ada stan-stan dari berbagai kecamatan di Kabupaten Nagekeo juga stan dari kabupaten lainnya termasuk Kabupaten Ende, ada banyak pedagang mainan anak-anak dan balon hias, ada pula warung-warung dadakan dengan menu khusus daging domba, dan lain sebagainya. Pada stan-stan itu juga ada yang memamerkan sekaligus menjual tenun ikat khas Kabupaten Nagekeo baik lembaran besar maupun selendang mini/syal serta hasil kerajinan tangan lainnya.

Banyak Hal Menarik dan Tidak Terduga


Sangat tidak terduga karena saya bertemu mereka. Siapakah mereka?

Penggemar


Penggemar nih ye! Haha. Sampai disenyum-senyumin sama Iwan dan Reni. Kami memulai senang-senang malam itu dengan berkeliling stan yang ada di tepi Lapangan Berdikari. Saat kami tiba di stan Pariwisata Nagekeo, mendadak seorang ibu yang juga berdiri di situ meminta foto bareng saya.



Terima kasih, ibu, sudah mau foto bareng saya. Siapa pun ibu, saya tidak bermaksud apa-apa menulis penggemar, hanya bercanda. Hehe.

Mer Mola Neu


Ini keren. Tidak terduga, bisa bertemu Mer Mola Neu. Mer Mola Neu adalah young (woman) entrepreneur asal Kabupaten Nagekeo, Pulau Flores, Provinsi NTT, dengan brand Sehelai & Renjana. Produknya banyak, antara lain tas berbahan tenun ikat, buku/notes dengan cover bergaya kedaerahan dari beberapa daerah di Pulau Flores, gantungan kunci, stiker, bahkan ada pula kripik. Stan mereka sangat menarik dengan baliho warna kuning bertulis Sehelai & Renjana. Tapi, dari semua produknya, saya paling demen sama buku/notes tersebut.


Sebagai Presiden Negara Kuning, sudah lama saya memesan buku / notes bersampul kuning dengan empat kosa kata bahasa daerah Nagekeo ini. Sudah dikirim ke Ende dan saya tinggal mengambil (dan bayar) di tempat drop. Tapi saya lupa alias kelupaan terus! Sampai-sampai saya memarahi diri sendiri yang terlalu sering lupa. Saat keliling stan di Festival Literasi Nagekeo 2019, bertemulah saya dengan stan milik anak muda kreatif ini. Meskipun Insha Allah saya akan kembali ke Kabupaten Nagekeo (Kota Mbay) untuk beberapa urusan, tapi saya tidak mau kehilangan kesempatan lagi untuk memiliki buku ini. Harus beli! Dibanderol Rp 40K sudah dapat tambahan satu gantungan kunci. Aye!

Tidak mungkin pula melewatkan kesempatan untuk berfoto bersamanya. Adalah kebanggaan bagi saya pribadi bisa bertemu dengan orang-orang muda hebat yang kreatif dan terus berkarya, menemukan inovasi-inovasi baru dengan menyertakan budaya dan kearifan lokal. Dari mereka pula budaya kita tetap lestari. Keren benar Mer dan Wilfrid ini. Tasnya juga keren, Mer *muka memelas, hahaha*.

Kalau kalian tanya, apa yang paling memuaskan saya sebagai si tukang jalan, jelas human interest-nya. Karena dari penduduk lokal kita pun BERLITERASI (membaca, mencari informasi, mengolah informasi, dan membagi informasi). Informasi yang kadang tidak terlampir di buku pariwisata paketan. Sama juga, kalau kalian membaca blog saya, seperti itulah informasi yang kalian dapat *sombong sikit sekalian promosi*. Jangan lupa kalian bertanya dengan nada sinis, emang penting saya ngegas dari Ende ke Mbay untuk bersileweran di Festival Literasi Nagekeo 2019? Tidak penting untuk kalian, tidak penting untuk saya. Tapi ... bermakna dan menambah khasanah hidup saya pribadi. Sesuatu yang tidak bisa ditukar dengan Rupiah (kecuali Euro boleh lah) hahaha.

Abang Umar Hamdan dan Abang Iskandar Awang Usman


Waktu saya melihat pos Abang Umar Hamdan di Facebook bahwa dia sedang berada di lokasi Festival Literasi Nagekeo 2019, siang-siang begitu, pengen ngegas dari Towak ke Lapangan Berdikari, tapi masih pengen menikmati obrolan bersama keponakan. Janji ketemu malam saja sekalian.



Kami anak kembar yang kalau sedang berdiskusi macam orang sedang berantem. Sering pula kami bentrok. Tapi kami tidak pernah musuhan. Hahaha. Dewasa sekali dua orang ini kan? Oh ya, Abang Umar Hamdan bersama tim dari Anak Cinta Lingkungan (ACIL) tergabung dalam Forum Giat Literasi Kabupaten Ende (FGL). FGL digandeng oleh Perpusda Ende untuk bersama-sama mengisi stand mereka. Oleh karena itu tidak heran stan ini termasuk yang paling ramai terutama saat Kakak Ev dari Rumah Baca Sukacita berdongeng. Uh wow sekali. Sayang saya tidak sempat mengabadikan aksi Kakak Ev mendongeng.


Anak-anak adalah masa depan negeri ini. Sejak dini mereka sudah harus mengenal literasi itu seperti apa. Jauhkan mereka dari gadget, berikan kesempatan pada mereka menikmati dunia anak-anak yang sesungguhnya. Terima kasih teman-teman FGL Kabupaten Ende, terima kasih Perpusda Kabupaten Ende, kalian semua hebat dan bergaya!

Rossa


Di dalam WAG Alumni Smansa Ende, saya sempat bilang kalau ada teman yang sedang berada di Kota Mbay, ketemuan yuk di Lapangan Berdikari. Ndilalah saat sedang berkeliling saya dicolek seseorang. Haaaah???? Rossa!


Sahabat masa SMA. Tidak disangka ya, setelah haha hihi di WAG, malah ketemuan di Festival Literasi Nagekeo 2019.

Kegiatan Bermanfaat Yang Harus Berkelanjutan


Kita sering terbawa euforia pada suatu kegiatan, tapi kemudian kegiatan itu selesai. Tidak ada lanjutannya. Tapi saya berharap agar festival semacam ini harus terus berkelanjutan karena selama manusia berkembang biak, selama itu pula tunas-tunas muda manusia ada di muka bumi. Festival Literasi Nagekeo 2019 harus jadi entrance untuk kegiatan serupa di masa datang.

Kegiatan ini bermanfaat karena tidak saja berfokus pada dunia literasi itu sendiri tetapi banyak lini yang terlibat. Lihat saja, pada stan Kecamatan Boawae saya melihat ragam kerajinan tangan dipamerkan:



Kerajinan tangan ini salah satu dari kerajinan tangan jenis lain seperti tenun ikat, selendang, gantungan kunci tenun ikat, dan lain sebagainya. Selain itu, di dalam stan ini juga ada yang jualan minuman semacam kacang hijau dan es buah begitu.

Di atas saya sudah menulis bahwa ada para pedagang mainan anak-anak dan balon hias dan kuliner atau makanan lokal khas Kabupaten Nagekeo yang paling sering diburu yaitu daging domba. Dalam bahasa Nagekeo daging domba disebut nake lebu. Nake itu bahasa daerah untuk daging. Lebu ya domba. Ternyata sama juga dengan Orang Ende yang menyebut daging dengan nake.


Sayangnya, akibat trauma sama aroma daging domba beberapa saat lalu, saya tidak jadi makan malam di warung dadakan daging domba ini. Tapi tetaplah saya mau menyaksikan Festival Daging Domba pada Bulan November nanti!

⇜⇝

Jadi jelas, Festival Literasi Nagekeo 2019 telah mampu mengangkat dan mendukung banyak lini. Tidak hanya dunia literasi, tetapi juga menggeliatkan perekonomian masyarakat. Ada buku, ada dongeng, ada mewarnai, ada informasi tentang pengelolaan sampah dan hasilnya, ada hasil kerajinan tangan, ada yang jualan kopi Bajawa (dari Kabupaten Ngada), ada pula pedagang kaki lima, dan tentu saja warung dengan menu utama daging domba. Sekali lagi, kegiatan ini harus berkelanjutan.

Baca Juga: Pola Timbal Balik

Malam itu kami menikmati makan malam di warung ayam lalapan, berdampingan sama tempat sablonnya Raiz Muhammad. Malam itu, saya juga tidak bertemu teman-teman lain seperti Novi Azizah dan Jane Wa'u (MC-nya). Tidak masalah. Yang jelas saya sudah menyaksikan sendiri Festival Literasi Nagekeo 2019. Saya sudah bersenang-senang dan menambah ilmu. Saya sudah bertemu banyak orang dan hal-hal yang tidak terduga. Saya sudah sayang kamu. Eh, saya sudah menambah khasanah untuk diri pribadi.

Sampai jumpa di festival-festival berikutnya!

Info:
Stan - berasal dari bahasa Inggris stand, tempat pamer/menjual barang.
Renjana - passion, hasrat.

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.