Sering Diabaikan Namun Proses Kreatif Harus Kita Nikmati


Sering Diabaikan Namun Proses Kreatif Harus Kita Nikmati. Saya, kalian, mereka, mungkin sering fokus pada hasil akhir namun melupakan proses menuju hasil. Belakangan, saya sering menulis proses ini dengan proses kreatif. Menulis tentang proses kreatif, saya jadi ingat tentang perjalanan. Betapa gila-gilaannya saya tancap gas setiap kali ke luar kota karena pengen segera tiba di kota tujuan. Bahkan sering terlambat ngerem dan masuk lubang. Suatu kali, saya dan Deni Wolo sama-sama berangkat ke Kota Mbay untuk menyaksikan Festival Kuliner Nakeng Lebu (daging domba) di Desa Nggolonio, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo. Deni tidak bisa tancap gas karena memang tidak mau dan tidak terbiasa. Mengikuti ritme perjalanan Deni, saya justru lebih menikmati perjalanan luar kota tersebut. Banyak yang bisa saya perhatikan, lebih detil, dan saya sadar bahwa menikmati perjalanan ya yang seperti ini.


Setiap hari saya melakukan dan/atau melewati proses kreatif seperti menulis konten blog, menyunting foto, membikin cover atau feature picture konten blog di Canva, sampai menulis novel. Kadang membikin produk #DIY. Dalam dunia pekerjaan pun demikian, karena untuk menghasilkan satu berita saya harus menulis berita, menggali fakta (agar faktual), hingga menyunting foto pelengkap berita. Dan ketika terjun dalam dunia Exotic NTT Community, saya sadar, proses kreatif itu lebih rajin terjadi baik dilakukan oleh saya maupun oleh teman-teman.


Suatu kali saya menyaksikan proses kreatif yang dilakukan oleh Oedin, videografer sekaligus tukang sunting video Exotic NTT Community. Waktu itu Oedin membikin konten untuk channel Youtube-nya. Kontennya berupa wawancara Oedin dengan salah seorang anggota Exotic NTT Community yang juga dikenal sebagai E.thical Young Entrepreneur Ende 2019 dan mahasiswi Fakultas Teknologi Informasi Universitas Flores (Uniflor). Namanya Natalia Mudamakin. Wawancara dan/atau proses kreatifnya dilakukan di ruang tamu Pohon Tua (rumah saya). Jujur, saya sangat menikmati proses kreatif itu berjalan terutama bagaimana cara Oedin menggali informasi dari narasumbernya. Jelas saya melihat, Oedin berusaha bisa memperoleh footage sebaik-baiknya untuk mempermudahkannya menyunting video tersebut.

Lain lagi cerita saat kami harus pergi ke beberapa tempat berbeda untuk syuting footage bekal video para Exoter (sebutan untuk anggota Exotic NTT Community).

Watu Zaja, Bukit Marsel


Di lokasi ini proses kreatif berlangsung meriah karena diikuti oleh lebih banyak Exoter. Saya, David, Oedin, Arand, Violin, dan Thika. Kami dibantu pula oleh Om Alan dari RCM. Proses kreatif berkaitan dengan kesabaran. Karena ada enam Exoter yang harus dibikin/syuting footage-nya masing-masing, tentu harus mengantri kan. Di sinilah saya menikmati proses kreatif itu. Sebagai videografer, Oedin mengarahkan satu per satu Exoter untuk bergaya sesuai renjananya masing-masing.


Saya, misalnya, footage-nya adalah membaca. Sebagai subyek, saya harus bisa lebih sabar bertahan pada satu aksi/gaya sampai Oedin benar-benar puas. Sumpah, suka sekali sama proses kreatif yang dilakukan oleh Exoter. Sungguh, saya banyak belajar untuk jauh lebih sadar dan memerhatikan detil yang sering terlewatkan. Contohnya, saya bisa lebih leluasa mengeksplor Watu Zaja ketika menunggu giliran disyuting.

Aigela: Check Point Tiga Kabupaten


Ini dia perjalanan gila-gilaan. Bayangkan saja, untuk dua footage Exoter kami harus pergi jauh-jauh ke Aigela sejarak sekitar 60 kilometer dari Kota Ende. Proses kreatif yang saya nikmati tidak saja ketika Oedin mengambil footage Yoyok dan Cahyadi. Lebih dari itu! Selain kehujanan, takut sama petir yang sahut-sahutan, saya disuguhi pemandangan seorang lelaki sedang melaksanakan shalat Dzuhur.



Subhanallah. Saya benar-benar jatuh cinta dengan lelaki di dalam foto. Sayangnya, karena hujan saya tidak sempat berkenalan dengannya, karena kami kemudian ngetem di lapak berbeda. Mungkin kalian bakal bertanya, memangnya saya berani berkenalan dengannya? Berani donk! Untuk lelaki seperti itu, saya pasti berani. Sekadar mengajaknya mengobrol, berteman, haha hihi, kenapa tidak? Di sini saya menjadi semakin percaya bahwa setiap perjalanan mempunyai ceritanya sendiri-sendiri. Alhamdulillah saya diberikan pemandangan indah begitu oleh Allah SWT.

Pelabuhan Ende, Samba, Simpang Lima


Proses yang satu ini juga sangat saya nikmati. Waktu itu kami terpisah di mana saya, Yoyok, Violin, dan Natalia pergi ke Pelabuhan Ende untuk syuting footage-nya Nata. Sedangkan Arand, Tri, dan Man, pergi ke Barai menjemput Oedin untuk kemudian bergabung dengan kami di pelabuhan. Jujur, sudah beberapa bulan saya tidak mengumpulkan footage, apalagi mengarahkan subyek video. Tapi saat Nata mulai menari, sesuai renjananya, saya jadi lebih bersemangat mengarahkannya. Setelah saya, gantian Yoyok yang merekam aksi-aksi Nata, sampai kemudian rombongan dari Barai tiba di Pelabuhan Ende.

⇜⇝

Jadi, jelas ... bagi kalian yang sering mengabaikan proses kreatif, coba deh mulai memerhatikannya. Bandingkan saat kalian tidak menikmatinya atau menganggapnya sebagai angin lalu, dengan saat kalian menikmatinya dengan sungguh.

Baca Juga: Sebuah Seni Untuk Melepaskan Sesuatu Yang Bukan Milik Kita

Bakal banyak banyak yang kita perhatikan dari sekitar ketika kita menikmati suatu proses, termasuk proses kreatif. Bakal banyak yang kita pelajari dari sekitar ketika kita menikmati suatu proses, termasuk proses kreatif. Detil-detil yang sering terlewatkan, bakal menjadi suatu cerita tersendiri ketika kita menikmati proses kreatif. Ayo, berhenti terburu-buru, mari nikmati!

#KamisLegit



Cheers.

Sering Diabaikan Namun Proses Kreatif Harus Kita Nikmati


Sering Diabaikan Namun Proses Kreatif Harus Kita Nikmati. Saya, kalian, mereka, mungkin sering fokus pada hasil akhir namun melupakan proses menuju hasil. Belakangan, saya sering menulis proses ini dengan proses kreatif. Menulis tentang proses kreatif, saya jadi ingat tentang perjalanan. Betapa gila-gilaannya saya tancap gas setiap kali ke luar kota karena pengen segera tiba di kota tujuan. Bahkan sering terlambat ngerem dan masuk lubang. Suatu kali, saya dan Deni Wolo sama-sama berangkat ke Kota Mbay untuk menyaksikan Festival Kuliner Nakeng Lebu (daging domba) di Desa Nggolonio, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo. Deni tidak bisa tancap gas karena memang tidak mau dan tidak terbiasa. Mengikuti ritme perjalanan Deni, saya justru lebih menikmati perjalanan luar kota tersebut. Banyak yang bisa saya perhatikan, lebih detil, dan saya sadar bahwa menikmati perjalanan ya yang seperti ini.


Setiap hari saya melakukan dan/atau melewati proses kreatif seperti menulis konten blog, menyunting foto, membikin cover atau feature picture konten blog di Canva, sampai menulis novel. Kadang membikin produk #DIY. Dalam dunia pekerjaan pun demikian, karena untuk menghasilkan satu berita saya harus menulis berita, menggali fakta (agar faktual), hingga menyunting foto pelengkap berita. Dan ketika terjun dalam dunia Exotic NTT Community, saya sadar, proses kreatif itu lebih rajin terjadi baik dilakukan oleh saya maupun oleh teman-teman.


Suatu kali saya menyaksikan proses kreatif yang dilakukan oleh Oedin, videografer sekaligus tukang sunting video Exotic NTT Community. Waktu itu Oedin membikin konten untuk channel Youtube-nya. Kontennya berupa wawancara Oedin dengan salah seorang anggota Exotic NTT Community yang juga dikenal sebagai E.thical Young Entrepreneur Ende 2019 dan mahasiswi Fakultas Teknologi Informasi Universitas Flores (Uniflor). Namanya Natalia Mudamakin. Wawancara dan/atau proses kreatifnya dilakukan di ruang tamu Pohon Tua (rumah saya). Jujur, saya sangat menikmati proses kreatif itu berjalan terutama bagaimana cara Oedin menggali informasi dari narasumbernya. Jelas saya melihat, Oedin berusaha bisa memperoleh footage sebaik-baiknya untuk mempermudahkannya menyunting video tersebut.

Lain lagi cerita saat kami harus pergi ke beberapa tempat berbeda untuk syuting footage bekal video para Exoter (sebutan untuk anggota Exotic NTT Community).

Watu Zaja, Bukit Marsel


Di lokasi ini proses kreatif berlangsung meriah karena diikuti oleh lebih banyak Exoter. Saya, David, Oedin, Arand, Violin, dan Thika. Kami dibantu pula oleh Om Alan dari RCM. Proses kreatif berkaitan dengan kesabaran. Karena ada enam Exoter yang harus dibikin/syuting footage-nya masing-masing, tentu harus mengantri kan. Di sinilah saya menikmati proses kreatif itu. Sebagai videografer, Oedin mengarahkan satu per satu Exoter untuk bergaya sesuai renjananya masing-masing.


Saya, misalnya, footage-nya adalah membaca. Sebagai subyek, saya harus bisa lebih sabar bertahan pada satu aksi/gaya sampai Oedin benar-benar puas. Sumpah, suka sekali sama proses kreatif yang dilakukan oleh Exoter. Sungguh, saya banyak belajar untuk jauh lebih sadar dan memerhatikan detil yang sering terlewatkan. Contohnya, saya bisa lebih leluasa mengeksplor Watu Zaja ketika menunggu giliran disyuting.

Aigela: Check Point Tiga Kabupaten


Ini dia perjalanan gila-gilaan. Bayangkan saja, untuk dua footage Exoter kami harus pergi jauh-jauh ke Aigela sejarak sekitar 60 kilometer dari Kota Ende. Proses kreatif yang saya nikmati tidak saja ketika Oedin mengambil footage Yoyok dan Cahyadi. Lebih dari itu! Selain kehujanan, takut sama petir yang sahut-sahutan, saya disuguhi pemandangan seorang lelaki sedang melaksanakan shalat Dzuhur.



Subhanallah. Saya benar-benar jatuh cinta dengan lelaki di dalam foto. Sayangnya, karena hujan saya tidak sempat berkenalan dengannya, karena kami kemudian ngetem di lapak berbeda. Mungkin kalian bakal bertanya, memangnya saya berani berkenalan dengannya? Berani donk! Untuk lelaki seperti itu, saya pasti berani. Sekadar mengajaknya mengobrol, berteman, haha hihi, kenapa tidak? Di sini saya menjadi semakin percaya bahwa setiap perjalanan mempunyai ceritanya sendiri-sendiri. Alhamdulillah saya diberikan pemandangan indah begitu oleh Allah SWT.

Pelabuhan Ende, Samba, Simpang Lima


Proses yang satu ini juga sangat saya nikmati. Waktu itu kami terpisah di mana saya, Yoyok, Violin, dan Natalia pergi ke Pelabuhan Ende untuk syuting footage-nya Nata. Sedangkan Arand, Tri, dan Man, pergi ke Barai menjemput Oedin untuk kemudian bergabung dengan kami di pelabuhan. Jujur, sudah beberapa bulan saya tidak mengumpulkan footage, apalagi mengarahkan subyek video. Tapi saat Nata mulai menari, sesuai renjananya, saya jadi lebih bersemangat mengarahkannya. Setelah saya, gantian Yoyok yang merekam aksi-aksi Nata, sampai kemudian rombongan dari Barai tiba di Pelabuhan Ende.

⇜⇝

Jadi, jelas ... bagi kalian yang sering mengabaikan proses kreatif, coba deh mulai memerhatikannya. Bandingkan saat kalian tidak menikmatinya atau menganggapnya sebagai angin lalu, dengan saat kalian menikmatinya dengan sungguh.

Baca Juga: Sebuah Seni Untuk Melepaskan Sesuatu Yang Bukan Milik Kita

Bakal banyak banyak yang kita perhatikan dari sekitar ketika kita menikmati suatu proses, termasuk proses kreatif. Bakal banyak yang kita pelajari dari sekitar ketika kita menikmati suatu proses, termasuk proses kreatif. Detil-detil yang sering terlewatkan, bakal menjadi suatu cerita tersendiri ketika kita menikmati proses kreatif. Ayo, berhenti terburu-buru, mari nikmati!

#KamisLegit



Cheers.

Bergeliat Bersama Exotic NTT Community: Travel Explore Share


Bergeliat Bersama Exotic NTT Community: Travel Explore Share. Sudah sering saya tulis, emoh alias berhenti untuk bergabung sama komunitas manapun juga. Saatnya solo karir. Komunitas terakhir yang saya ikuti, termasuk founder, adalah Stand Up Comedy Endenesia. Ternyata jiwa saya memang belum bisa sepenuhnya terurai dari komunitas. Terus, kapan membina komunitas bernama rumah tangga, Teh? Ketika diajak untuk membentuk komunitas baru, saya fine-fine saja, bahkan sangat antusias. Ya, selama tujuan komunitas itu baik, dan rata-rata semua komunitas bertujuan baik, kenapa tidak? Hari ini saya mau bercerita tentang komunitas baru yang satu ini. Namanya Exotic NTT Community. Jargonnya: Travel. Explore. Share.

Baca Juga: Bertemu Banyak Kejutan Manis di Kecamatan Boawae

Mungkin ada yang bertanya-tanya mengapa saya mau bergabung bersama komunitas dengan fokus pada wisata? Bukannya saya sendiri sudah punya blog niche traveling/wisata? Kalian kepo kan? Marilah dibaca. Karena membaca adalah makanan intelektualitas. Ha ha ha ha *ditabok dinosaurus*.

House of Creative People


Suatu malam saya dihubungi David Mozzar. Konon David, Oedin, dan Arand bakal datang ke  Pohon Tua (rumah saya). Ada sesuatu yang harus dibahas. Ketika kami sedang saling tatap penuh cinta di ruang tamu, haha, tersampaikanlah maksud kedatangan mereka. Intinya: kami membentuk komunitas yang dapat mewadahi orang-orang kreatif baik orang-orang yang sedang berjuang maupun yang sebenarnya sudah expert di bidangnya masing-masing. Why not? Pikir saya. Ini bakal keren sekali. Ada satu wadah besar yang bakal menampung semuanya. Sub-sub yang bakal berada dalam wadah itu datang dari lini videografi, fotografi, mural dan sketsa, MC, media and digital issues, stand up comedy, dan lain sebagainya.

Nama yang dipilih, dan dirasa pantas, untuk komunitas tersebut adalah House of Creative People. Alasannya? Kalian tentu sudah tahu. Kami mulai merancang ini itu, termasuk orang-orang yang direkomendasikan untuk duduk pada sub-sub dimaksud. Tetapi dalam perjalanan nama itu kemudian harus diganti sesuai dengan fokus komunitas. Karena, House of Creative People itu too large. Eh, pokoknya begitulah. Sehingga diperkecil lah komunitas itu menjadi Exotic NTT Community. Sebuah komunitas dengan lokus pada wisata. Tetapi tidak menutup kemungkinan untuk bergerak di lini lainnya sesuai tujuan awal House of Creative People. Insha Allah.


Sampai di sini, kita sepemahaman ya, bahwa House of Creative People telah berganti menjadi Exotic NTT Community. Sebuah nama yang untuk menetapkannya membutuhkan waktu berjam-jam, diskusi dan debat ringan, termasuk untuk jargonnya. Travel. Explore. Share. Dan empat sub yang ditetapkan adalah Tim Kreatif, Videografi, Fotografi, dan Publikasi.

Exotic NTT Community


Exotic NTT Community baru berumur sekitar dua mingguan. Sambil menyelesaikan beberapa perkara, kami memulai geliat komunitas melalui berbagai media sosial. Youtube, IG, Twitter, dan Facebook. Tentu saja. Kami memulai dengan caption berikut ini:

Tergerak dari keinginan untuk mempromosikan lini pariwisata Provinsi Nusa Tenggara Timur, serta menggeliatnya Pemerintah Provinsi NTT dalam meningkatkan kualitas dan promosi pariwisata, sekelompok anak muda yang berbasis di Kabupaten Ende, Pulau Flores, membentuk komunitas. Komunitas tersebut bernama Exotic NTT Community. Geliat pariwisata ibarat birahi yang tak terbendung dan membutuhkan lebih banyak pelaku pariwisata, salah satunya Exotic NTT Community, dengan lokus memperkenalkan dan mempromosikannya pada dunia.

Semesta wisata NTT kaya raya. Wisata alam, wisata budaya, wisata sejarah, wisata rohani, wisata kuliner, wisata bahari, wisata buatan. Tak hanya dua ikon kesohor Danau Kelimutu dan Pulau Komodo saja, masih banyak yang harus diketahui dunia dari Provinsi NTT. Desa Nangadhero di Kabupaten Nagekeo yang terkenal dengan wisata kuliner (seafood), Neren Watotena di Pulau Adonara yang berpasir putih memesona, Bukit Wairinding di tanah Sumba, wisata religi Semana Santa di Kabupaten Flores Timur, padang sabana Gunung Mutis di Mollo Utara, hingga Alu Ndene kuliner khas Suku Ende yang legit.

Exotic NTT Community akan menghadirkan semuanya, dalam detail informasi yang dibutuhkan oleh penikmat wisata.

Ikuti Kami!

IG: @ExoticNTTCommunity
Twitter: @ExoticNTTCommunity

#ExoticNTTCommunity
#NTT
#Wisata
#Pariwisata

Selain itu kami memulai WAG yang menjadi semacam tempat diskusi untuk kegiatan-kegiatan komunitas selain di rumah saya atau di rumah member lainnya. Memangnya sudah ada kegiatannya? Iya dooonk. Mengunggah foto dan informasi ke media sosial merupakan kegiatan yang patut diapresiasi karena untuk melakukannya kami harus berdikusi panjang lebar terlebih dahulu tentang konten yang bersangkutan. Foto, tentu di luar video yang bakal tayang di Youtube.

Diskusi?

Iya.


Komunitas ini bukan dilandasi oleh keinginan untuk sekadar ikut-ikut ramai di lini pariwisata. Kami ingin lebih serius, bahkan bisa sampai detail akan sesuatu, misalnya detail ukiran pada rumah adat itu apa makna atau fisolofinya. Setiap kami juga gemar traveling dan mempunyai begitu banyak stok foto dari daerah pariwisata yang pernah dikunjungi. Oleh karena itu kami selalu melempar pertanyaan dasar: mau pos apa hari ini? See? Kami tidak asal-asalan, misalnya melihat foto bagus, langsung unggah ke media sosial. Pertanyaan dasar itu kemudian berlanjut pada sahutan: Ende, Nagekeo, TTS, Sumba, atau ...? Dari situ foto tentang daerah/kabupaten yang dipilih kemudian dilempar ke WAG. Tinggal pilih mau yang mana, diberi tanda air, dan caption disiapkan dengan, insha Allah, sebaik-baiknya.

Tidak ada yang main-main di Exotic NTT Community. Setiap orang punya perannya masing-masing dan berupaya semaksimal mungkin memberikan yang terbaik pada khalayak. Sehingga kami tidak terburu-buru, tidak ingin langsung besar, tetapi ingin melewati proses. Nikmat kan? Hehe.

Untuk saat ini kalian bisa menikmati foto dan informasi pariwisata NTT melalui akun IG, Twitter, dan Facebook. Youtube, terutama kontennya, sedang dipersiapkan, baru tampil video intro saja. Selain berlandaskan pada pengalaman traveling masing-masing member, kami juga telah membikin program kerja. Untuk program kerja, setiap sub yaitu Videografi, Fotografi, dan Publikasi, harus berkomunikasi dengan satu sub lagi yang bernama Tim Kreatif. Program kerja komunitas ini tidak melulu tentang apa yang bakal dipos di media sosial saja melainkan juga tentang mau ke mana kita dalam kaitannya memproduksi konten baru. Ah, membayangkannya saja sudah bikin saya bahagia. Haha.


Doakan, rencana-rencana ke depan, jauh lebih besar, dapat terwujud. Karena, komunitas ini sudah kami anggap sebagai investasi jangka panjang yang perlu dirawat. Semua member merupakan orang-orang hebat, kecuali saya. Saya tidak hebat, tapi biasa saja, hahaha. Dan orang-orang hebat dapat bersatu mewujudkan harapan apabila ego disingkirkan jauh-jauh. Saya pikir kalian juga setuju. Ego itu kadang mampu menghacurkan. Termasuk menghancurkan hubungan asmara. Eaaaaa. Haha.

Travel. Explore. Share.


Secara pribadi saya suka jargon yang satu ini. Sempat berpikir, kenapa dulu waktu saya membikin blog travel, tidak memakai jargon ini saja ya? Hihi. Ini jargon: singkat, padat, jelas, tersampaikan. Seperti veni, vidi, vici, dalam makna positif. Kita tahu kan veni, vidi, vici itu jargon perangnya Julius Caesar, jenderal dan konsul Romawi pada tahun 47 SM. Julius Caesar menggunakan kalimat ini dalam pesannya kepada senat Romawi menggambarkan kemenangannya atas Pharnaces II dari Pontus dalam pertempuran Zela. Tapi, waktu saya mencetus travel, explore, share, tidak ada keinginan untuk mengalahkan siapapun dalam konteks negatif dan/atau persaingan, tetapi murni hanya ingin mengalahkan rasa ingin tahu orang lain tentang pariwisata NTT.

⇜⇝

Bagi kalian semua, bos-bos tercinta yang senantiasa membaca tulisan saya di blog ini, mari dukung Exotic NTT Community. Ikuti kami di Youtube, Instagram, Twitter, Facebook.


Baca Juga: Kisah Dari Rumah Baca Sao Moko Modhe di Desa Ngegedhawe

Terakhir, mari sama-sama dukung semua pihak yang mempromosikan pariwisata NTT dengan namanya masing-masing, dengan caranya masing-masing, karena semua itu bertujuan baik. Demi NTT tercinta.

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.