#EndeBisa Menggebrak SMKN 1 Ende



Akhir tahun 2018 saya bertemu teman dosen yang sekarang sedang melanjutkan pendidikan S3 di Malang yaitu Mukhlis A. Mukhtar di ... di rumah saya donk. Hehe. Ceritanya, Mukhlis sedang liburan di kampung halaman. Seperti biasa, kami mendiskusikan banyak hal. Mengenang masa-masa lampau saat begitu addicted to community and aktivisme sosial. Rasanya senang karena sejak belia *bueeeeh belia* kami sudah punya banyak cerita bekal hari menjelang uzur; bekal diceritakan ke anak-cucu. Dudududu. Saya dengan Komunitas Blogger NTT dan macam-macam lainnya, dia dengan Relawan Bung Karno Ende.

Baca Juga: Yellow Cakes Blast

Hangout bareng Mukhlis itu menghasilkan satu ide untuk membikin kegiatan #EndeBisa. Idenya dari Mukhlis, saya sih tim hore pom-pom saja. Kami berpikir, sumber daya yang ada, khususnya sumber daya manusia, sudah selayaknya dimanfaatkan untuk memberdayakan orang lain. Kami sudah terlalu lama tidur ... tidur panjang yang bikin perasaan meronta-ronta (bahasa saya ngeri-ngeri sedap haha). #EndeBisa punya banyak goals yaitu #EndeBelajarLiterasiDigital, #EndeBebasSampah, dan #EndeSocMed4SocGood. Next bakal dikembangkan dengan #EndeBerwirausaha.

Pertemuan kedua, teteup di rumah saya, sudah tambah personel seperti Abang Umar Hamdan dari Komunitas ACIL (Anak Cinta Lingkungan) dan Trash Hero, serta Ketua Komunitas Blogger NTT Cahyadi. Banyak yang dibahas dan tentu saja kita bertekad untuk memulai kegiatan di awal 2019. Malam itu juga, Abang Umar terjangkit virus blog hahaha. Saya mengajarinya membikin blog di Blogger. Voila, Abang Umar siap menulis tentang kegiatan Komunitas ACIL dan Trash Hero-nya. Oia, tentu saja e-poster ini sudah dibikin.


Setelah pertemuan kedua, saya pikir kegiatannya masih lama. Paling pertengahan Januari 2019. Ternyata waktu berjalan begitu lekas. Jum'at, 4 Januari 2019, saya menerima pesan WA dari Mukhlis. Ternyata kunjungannya ke SMKN 1 Ende menghasilkan mendadak dangdut haha. Menghasilkan keputusan bahwa #EndeBisa harus terealisasi Sabtu di sekolah tersebut. Wah, okay. Kebut kerjakan materi dari ICT Watch (creative common) dengan sedikit sentuhan ulang tanpa melepas logo ICT Watch, dan bersiap untuk jalan pagi bersama di kampus (tidur harus sesegera mungkin agar bisa duluan bangun dari si ayam).

Iwan Aditya, sahabat saya itu mengirim pesan ingin ikutan, serta beberapa yang lain, ya ayooo.

Foto bareng Kepsek SMKN 1 Ende di depan aula.

Pergi ke SMKN 1 Ende saya berpikir tentang aula atau laboratorium yang kecil. Ternyata saya salah. Ketika bertemu kepala sekolah dan diajak ke aula. Saya syok melihat begitu banyaknya murid yang duduk lesehan di aula itu. Ini di luar ekspektasi saya. Bukan sekali dua saya ke sekolah-sekolah untuk melatih blog atau seminar lainnya, tapi kali ini jumlahnya melebihi kemampuan saya menghitung. Haha. Lebay ... leday dah.

Bismillah.


#EndeBisa Goes to School perdana hari ini di SMKN 1 Ende menuai sukses. Sejumlah 1.300an murid dan guru memenuhi Aula SMKN 1 Ende menyimak materi-materi yang disajikan oleh pemateri dengan sentuhan lelucon segar, dipandu MC Iwan Aditya, serta ditemani Koordinator Relawan Bung Karno Ende Mukhlis A. Mukhtar.

Iwan, lulusan SMKN 1 Ende, yang pernah jadi partner setia siaran saya, dan sekarang bekerja di Swisscontact.

1. Pengantar tentang Relawan Bung Karno Ende oleh David Mossar


Memberikan motivasi tentang kegiatan aktivisme sosial seperti Relawan Bung Karno Ende, serta bagaimana lulusan SMKN 1 bisa menjadi entrepreneur dan/atau technopreneur.

David, fotografer kondang Kota Ende yang telah lama bergabung dengan Relawan Bung Karno Ende. Dia juga berkecimpung di dunia desain grafis.

2. Tuteh Pharmantara (Travel Blogger Ende) tentang Literasi Digital


Materi creative common dari ICT Watch tentang literasi digital dengan 3 kerangka utamanya yaitu: Proteksi, Hak-Hak, dan Pemberdayaan.


3. Ihsan Dato (SocMed4SocGood Ende) tentang Etika Informasi


Bermedia sosial itu harus memerhatikan etikanya, dengan jargon: Piki Ne Ote, Timba Ne Ate (pikir dengan otak, pertimbangkan dengan hati) sebelum mempos sesuatu di media sosial.

Ihsan Dato, KTU Fakultas Teknologi Informasi Universitas Flores serta penggiat #SocMed4SocGood Ende dan Lopo Cerdas.

4. Umar Hamdan (ACIL Ende) tentang Pengelolaan Sampah


Betapa hancurnya bumi karena sampah plastik, bagaimana mengatasinya, bagaimana mengelolanya. Abang Umar juga membawa serta barang-barang hasil daur ulang. Keren lah Abang.


Saya suka waktu Abang Umar menunjuk ke meja depan dimana begitu banyak botol minum berdiri. "Nah, kalian bawalah air minum dari rumah ketimbang membeli terus air minum kemasan botol dan gelas. Kalian lihat di depan, kami membawa sendiri air minum sebagai upaya sederhana mengurangi sampah botol plastik." Saya ngakak. Saya punya sembilan botol minum loh, dua botol minum selalu ada di jok sepeda motor untuk jaga-jaga agar tidak perlu membeli air minum kemasan. Keren kan haha *ngakak sendiri*.

Sesi tanya-jawab yang dipandu Iwan pun berlangsung seru, pertanyaan-pertanyaan dari murid begitu kritis, rasa keingintahuan mereka begitu besar. Sayang, waktu menyebabkan banyak murid yang hendak bertanya harus ditahan. Next time, ya. Saya paling suka sama si ganteng yang bertanya yang berdiri di samping saya ini; cara bicaranya sangat terstruktur dan berwibawa. Dia memenangkan hadiah pulsa Rp 50K. Saya bilang, "Kalau kamu nyaleg, saya pilih deh hahaha."


#EndeBisa (perdana) ini merupakan gebrakan dan upaya yang luar biasa dari Relawan Bung Karno Ende untuk Ende yang lebih baik. Berikutnya #EndeBisa akan berkembang dengan satu item #EndeBerwirausaha.

Sampai jumpa di sekolah dan kampus berikutnya.

Informasi lebih lengkap silahkan hubungi:

Mukhlis (085234543731)
Cahyadi (085238422726)
Aran Gunawan (081333310539)

#EndeBisa
#EndeKrearivitas
#EndeBelajarLiterasiDigital
#EndeBebasSampah
#EndeSocMed4SocGood
#EndeBerwirausaha


Saya trenyuh mendengar kisah Bapak Kepsek yang pernah memarahi tetangga sekitar sekolah yang membuang sampah di got depan sekolah. Padahal, got tersebut baru saja dibersihkan oleh para murid SMKN 1 Ende. Bagaimana menyadarkan masyarakat bahwa got bukan tempat sampah? Kapan masyarakat sadar untuk memilah jenis sampah - yangmana sampah plastik dapat mereka jual ke Komunitas ACIL? Susah memang, karena bicara soal masyarakat artinya bicara soal banyak orang dan banyak komentar ini itu. Jangan sampai kalau sudah kena banjir parah baru mulai panik dan menyalahkan diri sendiri: kenapa saya buang sampah di got dan di sembarang tempat ya ...

Gara-gara #EndeBisa perdana di SMKN 1 Ende, beberapa sekolah mengirimkan pesan meminta kami juga melakukan kegiatan serupa di sekolah mereka. Itu pasti, karena memang itu tujuannya: sekolah dan kampus. Ende pasti bisa lebih maju. Insha Allah.

***

Relawan Bung Karno Ende


Relawan Bung Karno Ende merupakan kelompok relawan (nirlaba) yang awalnya berkonsentrasi pada kondisi Taman Renungan Bung Karno Ende yang semakin memprhatinkan. Akan tetapi kondisi taman bukan tanggungjawab Relawan Bung Karno Ende semata kan, harus ada partisipasi/perhatian dari semua pihak. Lewat penjualan pin dan gantungan kunci kami sudah membelikan sapu-sapu, gerobak sampah, membuat tempat sampah, memperbaiki trotoar depan taman yang rusak, rompi untuk tukang sapu, dan lain sebagainya. Selanjutnya ... tanggungjawab kita bersama. 


Tapi apa yang dilakukan oleh Relawan Bung Karno Ende tak hanya itu. Bermitra/dibantu oleh Ibu Tirto dari Danone, lebih banyak lagi yang telah dilakukan seperti menyediakan meja-bangku untuk SDI Ratenggoji yang jarak tempuh dan kondisi jalannya sangat jauh dan tidak mulus, membantu bayi-bayi yang mengalami gangguan kesehatan, membantu para mama yang berjualan papalele (jualan kaki lima di pasar-pasar) dengan sumbangan payung, menyumbang mantel untuk anak-anak Komunita ACIL, dan lain sebagainya. Termasuk membantu pembangunan rumah-rumah adat. 

Apa alasan kami melakukan semua itu?

Senang saja hahaha. Karena jargon kami: SELAGI MUDA HARUS KREATIVE, KETIKA TUA PUNYA ARTI. Urusan uang bisa kami cari dari pekerjaan utama atau freelance, tapi urusan aktivisme sosial yang memberikan kesenangan batin yang tidak bisa dibeli dengan Rupiah ini ... harus dilakukan dengan suka rela dan ikhlas.

Terima kasih semuanya.

Mari, sama-sama berjuang.

Dan saya pun harus berjuang agar GA bisa tetap dapat tampil di blog ini ha ha ha *ngakak parah digodain dinosaurus*.



Cheers.

#EndeBisa Menggebrak SMKN 1 Ende



Akhir tahun 2018 saya bertemu teman dosen yang sekarang sedang melanjutkan pendidikan S3 di Malang yaitu Mukhlis A. Mukhtar di ... di rumah saya donk. Hehe. Ceritanya, Mukhlis sedang liburan di kampung halaman. Seperti biasa, kami mendiskusikan banyak hal. Mengenang masa-masa lampau saat begitu addicted to community and aktivisme sosial. Rasanya senang karena sejak belia *bueeeeh belia* kami sudah punya banyak cerita bekal hari menjelang uzur; bekal diceritakan ke anak-cucu. Dudududu. Saya dengan Komunitas Blogger NTT dan macam-macam lainnya, dia dengan Relawan Bung Karno Ende.

Baca Juga: Yellow Cakes Blast

Hangout bareng Mukhlis itu menghasilkan satu ide untuk membikin kegiatan #EndeBisa. Idenya dari Mukhlis, saya sih tim hore pom-pom saja. Kami berpikir, sumber daya yang ada, khususnya sumber daya manusia, sudah selayaknya dimanfaatkan untuk memberdayakan orang lain. Kami sudah terlalu lama tidur ... tidur panjang yang bikin perasaan meronta-ronta (bahasa saya ngeri-ngeri sedap haha). #EndeBisa punya banyak goals yaitu #EndeBelajarLiterasiDigital, #EndeBebasSampah, dan #EndeSocMed4SocGood. Next bakal dikembangkan dengan #EndeBerwirausaha.

Pertemuan kedua, teteup di rumah saya, sudah tambah personel seperti Abang Umar Hamdan dari Komunitas ACIL (Anak Cinta Lingkungan) dan Trash Hero, serta Ketua Komunitas Blogger NTT Cahyadi. Banyak yang dibahas dan tentu saja kita bertekad untuk memulai kegiatan di awal 2019. Malam itu juga, Abang Umar terjangkit virus blog hahaha. Saya mengajarinya membikin blog di Blogger. Voila, Abang Umar siap menulis tentang kegiatan Komunitas ACIL dan Trash Hero-nya. Oia, tentu saja e-poster ini sudah dibikin.


Setelah pertemuan kedua, saya pikir kegiatannya masih lama. Paling pertengahan Januari 2019. Ternyata waktu berjalan begitu lekas. Jum'at, 4 Januari 2019, saya menerima pesan WA dari Mukhlis. Ternyata kunjungannya ke SMKN 1 Ende menghasilkan mendadak dangdut haha. Menghasilkan keputusan bahwa #EndeBisa harus terealisasi Sabtu di sekolah tersebut. Wah, okay. Kebut kerjakan materi dari ICT Watch (creative common) dengan sedikit sentuhan ulang tanpa melepas logo ICT Watch, dan bersiap untuk jalan pagi bersama di kampus (tidur harus sesegera mungkin agar bisa duluan bangun dari si ayam).

Iwan Aditya, sahabat saya itu mengirim pesan ingin ikutan, serta beberapa yang lain, ya ayooo.

Foto bareng Kepsek SMKN 1 Ende di depan aula.

Pergi ke SMKN 1 Ende saya berpikir tentang aula atau laboratorium yang kecil. Ternyata saya salah. Ketika bertemu kepala sekolah dan diajak ke aula. Saya syok melihat begitu banyaknya murid yang duduk lesehan di aula itu. Ini di luar ekspektasi saya. Bukan sekali dua saya ke sekolah-sekolah untuk melatih blog atau seminar lainnya, tapi kali ini jumlahnya melebihi kemampuan saya menghitung. Haha. Lebay ... leday dah.

Bismillah.


#EndeBisa Goes to School perdana hari ini di SMKN 1 Ende menuai sukses. Sejumlah 1.300an murid dan guru memenuhi Aula SMKN 1 Ende menyimak materi-materi yang disajikan oleh pemateri dengan sentuhan lelucon segar, dipandu MC Iwan Aditya, serta ditemani Koordinator Relawan Bung Karno Ende Mukhlis A. Mukhtar.

Iwan, lulusan SMKN 1 Ende, yang pernah jadi partner setia siaran saya, dan sekarang bekerja di Swisscontact.

1. Pengantar tentang Relawan Bung Karno Ende oleh David Mossar


Memberikan motivasi tentang kegiatan aktivisme sosial seperti Relawan Bung Karno Ende, serta bagaimana lulusan SMKN 1 bisa menjadi entrepreneur dan/atau technopreneur.

David, fotografer kondang Kota Ende yang telah lama bergabung dengan Relawan Bung Karno Ende. Dia juga berkecimpung di dunia desain grafis.

2. Tuteh Pharmantara (Travel Blogger Ende) tentang Literasi Digital


Materi creative common dari ICT Watch tentang literasi digital dengan 3 kerangka utamanya yaitu: Proteksi, Hak-Hak, dan Pemberdayaan.


3. Ihsan Dato (SocMed4SocGood Ende) tentang Etika Informasi


Bermedia sosial itu harus memerhatikan etikanya, dengan jargon: Piki Ne Ote, Timba Ne Ate (pikir dengan otak, pertimbangkan dengan hati) sebelum mempos sesuatu di media sosial.

Ihsan Dato, KTU Fakultas Teknologi Informasi Universitas Flores serta penggiat #SocMed4SocGood Ende dan Lopo Cerdas.

4. Umar Hamdan (ACIL Ende) tentang Pengelolaan Sampah


Betapa hancurnya bumi karena sampah plastik, bagaimana mengatasinya, bagaimana mengelolanya. Abang Umar juga membawa serta barang-barang hasil daur ulang. Keren lah Abang.


Saya suka waktu Abang Umar menunjuk ke meja depan dimana begitu banyak botol minum berdiri. "Nah, kalian bawalah air minum dari rumah ketimbang membeli terus air minum kemasan botol dan gelas. Kalian lihat di depan, kami membawa sendiri air minum sebagai upaya sederhana mengurangi sampah botol plastik." Saya ngakak. Saya punya sembilan botol minum loh, dua botol minum selalu ada di jok sepeda motor untuk jaga-jaga agar tidak perlu membeli air minum kemasan. Keren kan haha *ngakak sendiri*.

Sesi tanya-jawab yang dipandu Iwan pun berlangsung seru, pertanyaan-pertanyaan dari murid begitu kritis, rasa keingintahuan mereka begitu besar. Sayang, waktu menyebabkan banyak murid yang hendak bertanya harus ditahan. Next time, ya. Saya paling suka sama si ganteng yang bertanya yang berdiri di samping saya ini; cara bicaranya sangat terstruktur dan berwibawa. Dia memenangkan hadiah pulsa Rp 50K. Saya bilang, "Kalau kamu nyaleg, saya pilih deh hahaha."


#EndeBisa (perdana) ini merupakan gebrakan dan upaya yang luar biasa dari Relawan Bung Karno Ende untuk Ende yang lebih baik. Berikutnya #EndeBisa akan berkembang dengan satu item #EndeBerwirausaha.

Sampai jumpa di sekolah dan kampus berikutnya.

Informasi lebih lengkap silahkan hubungi:

Mukhlis (085234543731)
Cahyadi (085238422726)
Aran Gunawan (081333310539)

#EndeBisa
#EndeKrearivitas
#EndeBelajarLiterasiDigital
#EndeBebasSampah
#EndeSocMed4SocGood
#EndeBerwirausaha


Saya trenyuh mendengar kisah Bapak Kepsek yang pernah memarahi tetangga sekitar sekolah yang membuang sampah di got depan sekolah. Padahal, got tersebut baru saja dibersihkan oleh para murid SMKN 1 Ende. Bagaimana menyadarkan masyarakat bahwa got bukan tempat sampah? Kapan masyarakat sadar untuk memilah jenis sampah - yangmana sampah plastik dapat mereka jual ke Komunitas ACIL? Susah memang, karena bicara soal masyarakat artinya bicara soal banyak orang dan banyak komentar ini itu. Jangan sampai kalau sudah kena banjir parah baru mulai panik dan menyalahkan diri sendiri: kenapa saya buang sampah di got dan di sembarang tempat ya ...

Gara-gara #EndeBisa perdana di SMKN 1 Ende, beberapa sekolah mengirimkan pesan meminta kami juga melakukan kegiatan serupa di sekolah mereka. Itu pasti, karena memang itu tujuannya: sekolah dan kampus. Ende pasti bisa lebih maju. Insha Allah.

***

Relawan Bung Karno Ende


Relawan Bung Karno Ende merupakan kelompok relawan (nirlaba) yang awalnya berkonsentrasi pada kondisi Taman Renungan Bung Karno Ende yang semakin memprhatinkan. Akan tetapi kondisi taman bukan tanggungjawab Relawan Bung Karno Ende semata kan, harus ada partisipasi/perhatian dari semua pihak. Lewat penjualan pin dan gantungan kunci kami sudah membelikan sapu-sapu, gerobak sampah, membuat tempat sampah, memperbaiki trotoar depan taman yang rusak, rompi untuk tukang sapu, dan lain sebagainya. Selanjutnya ... tanggungjawab kita bersama. 


Tapi apa yang dilakukan oleh Relawan Bung Karno Ende tak hanya itu. Bermitra/dibantu oleh Ibu Tirto dari Danone, lebih banyak lagi yang telah dilakukan seperti menyediakan meja-bangku untuk SDI Ratenggoji yang jarak tempuh dan kondisi jalannya sangat jauh dan tidak mulus, membantu bayi-bayi yang mengalami gangguan kesehatan, membantu para mama yang berjualan papalele (jualan kaki lima di pasar-pasar) dengan sumbangan payung, menyumbang mantel untuk anak-anak Komunita ACIL, dan lain sebagainya. Termasuk membantu pembangunan rumah-rumah adat. 

Apa alasan kami melakukan semua itu?

Senang saja hahaha. Karena jargon kami: SELAGI MUDA HARUS KREATIVE, KETIKA TUA PUNYA ARTI. Urusan uang bisa kami cari dari pekerjaan utama atau freelance, tapi urusan aktivisme sosial yang memberikan kesenangan batin yang tidak bisa dibeli dengan Rupiah ini ... harus dilakukan dengan suka rela dan ikhlas.

Terima kasih semuanya.

Mari, sama-sama berjuang.

Dan saya pun harus berjuang agar GA bisa tetap dapat tampil di blog ini ha ha ha *ngakak parah digodain dinosaurus*.



Cheers.

Buku Pelulu



Di Kabupaten Ende hidup dua suku besar yaitu Suku Ende dan Suku Lio. Suku Ende umumnya bermukim di daerah pesisir. Kedatangan para pelaut dari daerah luar ke daerah pesisir Ende menyebabkan terjadinya akulturasi budaya (serta agama). Sama halnya dengan Suku Lio yang umumnya bermukim di daerah pegunungan. Akulturasi terjadi dengan kebudayaan (serta agama) yang dibawa oleh Pastor-Pastor asal Portugis dari Flores bagian Timur (Kota Larantuka).

Baca Juga: Mengetik 10 Jari Itu Biasa

Dari pihak (alm.) Bapa, mbah putri saya yaitu Mbah Suma berasal dari Pamekasan - Madura, sedangkan kakek saya yaitu Kakek Pua Ndawa saya berasal dari Pulau Ende. Karena kami penganut patrillineal, otomatis kami sekeluarga Pharmantara merupakan Suku Ende yang berakar kuat dari Pulau Ende. Penting untuk diketahui: Pulau Ende bukan Pulau Flores. Pulau Ende merupakan satu kecamatan yang terletak di depan Pantai Ende.


Hal apa yang paling asyik dibahas dari Suku Ende? Banyak! Salah satunya adalah tentang pernikahannya. Minggu, 16 Desember 2018, kami sekeluarga baru saja melewati satu tahap menuju pernikahan keponakan saya yang bernama Angga dengan perempuan bernama Titin. Oleh karena itu saya ingin sekali bercerita tentang buku pelulu.

Di dalam adat masyarakat Suku Ende, baik pacaran maupun ta'aruf harus melewati tahap yang sama. Karena Angga dan Titin ini berta'aruf, maka tahapan yang telah dilewati adalah temba zaza, nai ono, dan buku pelulu.

Temba Zaza


Temba zaza atau timba rasa adalah proses ketika perwakilan pihak laki-laki mendatangi rumah perempuan untuk menyampaikan maksud. Maksud si anak laki-laki untuk menjadikan si anak perempuan sebagai istri. Apabila si anak perempuan serta keluarganya setuju, maka akan dilanjutkan dengan tahap selanjutnya yaitu nai ono dan buku pelulu.

Nai Ono


Nai ono atau masuk minta merupakan proses lamaran. Lamaran di sini, berdasarkan apa yang saya ikuti hari Minggu kemarin, dilakukan oleh kaum perempuan dari kedua belah pihak. Tentu saja kaum perempuan (sanak keluarga) dari pihak perempuan yang menunggu di rumah si perempuan. Biasanya nai ono dibarengi dengan buku pelulu.

Buku Pelulu


Buku pelulu (sekatu uwi jawa) merupakan proses pihak laki-laki yang diwakili oleh kaum perempuan mengantarkan barang-barang berupa cincin, dulang utama (kemarin kami mengisi dulang utama dengan nasi tumpeng serta lauk-pauknya), uang jajan dari calon mertua pada calon anak mantu, hingga aneka kue-kue dan buah (yang disumbangkan oleh keluarga pihak laki-laki ini). Selain uang jajan dari calon mertua pada calon anak mantu, Abang Nanu dan Mbak Wati juga memberikan sejumlah hadiah lain kepada Titin seperti sarung, baju, daleman, alas kaki, dan lain sebagainya. Dua pick up penuh dan bertumpuk dengan aneka barang hantaran.



Juru bicara saat buku pelulu adalah perempuan yang dituakan. Kemarin kami mendaulat Bibi Hawa sebagai jubir. Yang dibicarakan oleh jubir kami kepada jubir pihak perempuan adalah sebagai berikut:

  • Jangka panjang atau jangka pendek. Maksudnya adalah jarak setelah buku pelulu ke waktu pernikahan itu lama atau cepat. Kemarin kami mengutarakan maksud: jangka pendek.
  • Isi kumba isi ae nio yang disepakati bersama.
  • Dan tidak perlu adanya bhaze duza atau balik dulang. Maksudnya pihak perempuan tidak perlu mengembalikan dulang, piring, dan lain sebagainya yang menjadi wadah ragam hantaran saat nai ono dan buku pelulu itu. Meskipun adatnya biasanya ada bhaze duza tapi pihak kami berpikir kalau bhaze duza akan terlihat seperti bolak-balik saja hantaran lamaran tersebut haha. Dan disepakati pula oleh pihak perempuan, namun pihak perempuan tetap akan datang ke rumah pihak laki-laki.


Setelah itu?

Kami pun pulang dan foto-foto hahaha.

Sebagian kecil squad Pua Ndawa, Pua Djombu, dan kawin-mawinnya haha. Eh, yang ini mah yang masih muda-muda, yang tidak muda lagi enggan bergabung LOL.


Proses yang akan ditempuh dalam beberapa bulan ke depan (karena jangka pendek nih) adalah mendi belanja atau biasa disebut dengan antar belanja atau antar belis. Meskipun mendi belanja ini belum dilakukan tapi kami sekeluarga sudah melakukan rembug kecil-kecilan tentang apa saja yang akan diantarkan kepada pihak perempuan nanti seperti perlengkapan kamar, baju pengantin (yang sebenarnya sudah ditanggung oleh pihak om dari si perempuan yang disebut isi kumba isi ae nio tadi), perlengkapan lainnya, uang-uang (pihak perempuan kemarin tidak mau menerima uang air susu ibu), sapi, mahar, hingga hadiah lainnya.

Masih ada beberapa tahap yang perlu dilewati sebelum tiba pada hari H, tapi tidak saya ceritakan sekarang hehe.

Baca Juga: Pejuang Ekonomi di EGDMC

Yang juga keren dari acara-acara adat dan budaya ini adalah sodho sambu-nya atau undang-mengundangnya. Di Suku Ende apabila ada hajatan seperti nai ono dan buku pelulu, atau juga hajatan seperti khitanan dan do'a, sebelumnya kami mengundang keluarga dan tetangga (untuk nai ono dan buku pelulu khususnya perempuan) untuk turut hadir. Karena keluarga kami ini banyak, maka sodho sambu dilakukan oleh empat perempuan yaitu saya, Aida, Kak Nani Pharmantara, dan Ida. Saya dan Aida bertugas sodho sambu keluarga dari pihak Mamatua. Kak Nani dan Ida bertugas sodho sambu keluarga dari pihak (alm) Bapa.

Apabila kegiatannya mengharuskan laki-laki yang hadir maka yang bertugas sodho sambu adalah laki-laki. Tetapi karena nai ono dan buku pelulu dilakukan oleh perempuan, maka yang bertugas sodho sambu adalah perepuan.

Sodho sambu tidak bisa sembarang datang mengundang seperti: heeei, kami datang mau sampaikan nih bla bla bla. Ada syarat yang harus dipenuhi:

  • Mengenakan zawo zambu. Tapi kami boleh memakai atasan/baju lain, tidak perlu zambu.
  • Menggunakan bahasa Ende serta kata-kata khusus. Kata-kata khusus ini bisa bercampur bahasa Indonesia apabila kita tidak fasih benar.


Meskipun zawo yang saya pakai jatuh dua kali, hahaha, serta kehujanan, tapi saya menikmati kegiatan sodho sambu ini.

Sarung tenun ikat yang kami pakai itu disebut zawo. Zawo ini macam-macam jenisnya. Yang saya pakai berjenis mangga.


Saat datang ke rumah saudara, setelah kita dipersilahkan duduk, apabila tuan rumah tidak bertanya: "Miu mai zatu perlu apa nde?" (Kalian datang ada perlu apa nih?), maka kami yang harus minta pada mereka: "Miu are kami si." (Kalian tanya sudah tujuan kedatangan kami). Kalau kami sudah minta mereka bertanya, barulah mereka bertanya, dan tentu saja kami menjawab. Mana mungkin dinosaurus yang menjawab kan.

Undangan atau jawaban itu kira-kira seperti ini: "Kami mai sodho sambu mai Bapa Abang ne Mbak Wati, Hari Minggu jam empat zatu acara buku pelulu ko Angga. Ma'e kezo kue se-bha." (Kami datang menyampaikan pesan dari Bapa Abang dan Mbak Wati, Hari Minggu jam empat ada acara buku pelulu / lamarannya Angga. Jangan lupa bawa kue sepiring).

Encim dan keponakannya. Hahha.


Yang paling saya ingat ini adalah kue sepiring. Kalau kalian membaca tentang minu ae petu dari pos soal yang unik dari Ende, kalian bakal tahu bahwa adat yang melekat tidak memandang kaya atau miskin. Jadi, meskipun kakak perempuan saya, kakak ipar perempuan saya, sampai keponakan perempuan saya, punya usaha cake and bakery begitu, tapi yang namanya kue se-bha atau kue sepiring merupakan kewajiban yang tidak boleh tidak kami sampaikan. Unik ya hahaha.

Menurut saya hukum adat adalah hukum terkuat. Karena, meskipun tidak tertulis, masyarakat sangat patuh pada hukum adat ini, terutama masyarakat wilayah adat yang dalam Suku Ende disebut fai wazu ana azo. Hukum adat juga merupakan hukum yang paling fleksibel. Karena, hukum adat dapat disesuaikan dengan perkembangan zaman, tanpa menanggalkan nilai-nilai dasar adatnya.

Fleksibelnya hukum adat ini menyebabkan kami boleh bertugas untuk sodho sambu mengenakan zawo saja dan kemeja. Fleksibelnya hukum adat ini menyebabkan kami boleh mencampur bahasa Ende dengan Bahasa Indonesia apabila tidak fasih betul bahasa Ende-nya. Fleksibelnya hukum adat ini menyebabkan keluarga kami boleh menolak bazhe duza dari pihak perempuan.

Baca Juga: Kita, Orang Indonesia

Alhamdulillah kegiatan nai ono dan buku pelulu kemarin berjalan dengan sangat lancar sehingga sebelum Adzan Maghrib pun sudah selesai.

Sampai jumpa di mendi belanja! Hehe.



Cheers.

Nggela Bangkit dan Membangun Kembali


Selasa kemarin adalah hari yang sangat mulia karena diperingati sebagai Hari Kelahiran Nabi Muhammad SAW, Junjungan kita, umat Muslim, yang mulia. Adalah bahagia karena pada hari kelahiran Nabi Muhammad SAW itu saya dan teman-teman yang tergabung dalam kegiatan amal #NggelaKamiLatu akhirnya berangkat menuju Kampung Adat Nggela. Keberangkatan kami ke Kampung Adat Nggela adalah untuk mengantarkan bantuan dalam bentuk Rupiah dan barang dari dua kegiatan serupa yang digelar di Kota Surabaya dan Kota Ende. Alhamdulillah.

Baca Juga : Kami Latu Untuk Miu

Dari Ende rombongan yang terdiri dari satu pick up dan lima sepeda motor berangkat sekitar pukul 10.45 Wita dari perjanjian waktu berangkat pukul 06.00 Wita. Bayangkan pergeseran waktunya jauh beud, haha. Saya malah masih bisa menghabiskan nasi kuning dan kopi susu di pinggir jalan sambil menunggu teman lain supaya berangkatnya beriringan; saya, Violin Kerong, David Mossar, Varis Gella, Carlos, Al, Xela (yang membawa bantuan barang dari Surabaya ke Ende), dan beberapa mahasiswa Prodi Arsitektur lain yang tidak hafal namanya.

Tiba di Kampung Adat Nggela sekitar pukul 13.00 Wita. Perjalanan kurang lebih tiga jam dengan beberapa kali berhenti memang terbilang cukup cepat mengingat jalanan yang dilewati sejak dari cabang Desa Moni (ke Jopu) menuju Nggela itu tidak semulus wajah Cinta Laura dan wajah saya *dikeplak semen*.


Di Kampung Adat Nggela tersebut ada sebuah rumah yang dijadikan posko; menjadi pusat semua bantuan dikumpulkan. Begitu tiba di posko ini kami disambut bapak-bapak mosalaki salah satunya Mosalaki Pu'u (mosalaki utama) Bapak Gabriel Mane dan tokoh masyarakat setempat. Setelah mengobrol sebentar dan melihat puluhan mahasiswa Universitas Flores berkumpul di lapak pasar yang datang bersama dosen Pak Charles dan Ibu Vero, kami memutuskan untuk langsung menyerahkan semua bantuan yang sudah dibawa dari Kota Surabaya (dikirim melalui kapal laut) dan Kota Ende setelah kopi dan teh disuguhkan. Luar biasa ya, kami Orang Ende sudah menganggap kalian saudara apalagi saat kopi sudah tersaji di atas meja. 


Jangan menangis, Bapak ... saya jadi sedih:



Nggela Kami Latu bukan sekadar kiasan. Kami, hanya segelintir orang dari ribuan masyarakat Kabupaten Ende, benar-benar ada dan secara bersama-sama untuk masyarakat Nggela, yang tentu punya harapan sama bahwa musibah kebakaran yang menghanguskan kampung adat tersebut tidak mematahkan semangat masyarakatnya yang kaya akan tradisi dan budaya. Nggela harus bangkit.

Dan Nggela memang sedang bangkit serta membangun kembali. Setelah penyerahan bantuan, kami pergi ke lokasi Kampung Adat Nggela yang hanya berjarak sepuluh meter dari posko. Syaratnya hanya satu: jangan menginjak batu (Kanga) yang ada di sana. Pemandangan yang tersaji sungguh miris. Yang tersisa hanyalah kubur-kubur batu, fondasi-fondasi batu rumah-rumah adat yang menghitam, kamar mandi kecil berbahan semen, serta pohon-pohon lontar yang berdiri gagah.


Terlalap namun bertahan hidup, demikian saya menulis caption saat menggugah foto pohon lontar hangus tersebut ke Facebook. Menurut Pak Mukhlis dosen Arsitektur yang berkonsentrasi pada rumah adat, setiap kampung adat pasti tumbuh pohon lontar, yang bermanfaat sebagai penangkal petir. Akan saya ulas di lain kesempatan.



Rumah-rumah panggung memang sedang dibangun kembali. Tapi itu bukan rumah adatnya, melainkah hanyalah rumah darurat sementara. Untuk membangun kembali rumah-rumah adat, berdasarkan klan masing-masing yang membentuk Kampung Adat Nggela, dibutuhkan biaya yang tidak sedikit, waktu, dan tenaga. Belum lagi ritus-ritusnya yang tentu tidak bisa dilakukan hanya begitu saja. Rumah adat adalah simbol setiap klan yang ada di Kampung Adat Nggela seperti Sa'o (rumah) Ndoja, Sa'o Ria, Sa'o Rore Api, dan sa'o-sa'o lainnya. Rumah-rumah panggung darurat itu dibangun di bagian luar dari fondasi rumah adatnya (di bagian belakangnya).


Selain tertarik dengan pohon lontar dan rumah-rumah panggung darurat yang sedang dibangun, saya tertarik dengan salah satu fondasi rumah adat yang terbakar. Jika dibandingkan dengan fondasi rumah adat lain, fondasi yang rumah adatnya sudah habis ini jauh lebih tinggi dari yang lain. Bisa dilihat di foto berikut:



Fondasi batunya itu besar-besar. Sedangkan untuk rumah adat lainnya, fondasinya sama dengan batu-batu kecil yang mengelilinginya.

Setelah berkeliling, mengambil beberapa foto dan istirahat, saya memutuskan untuk pulang. Adalah pamali, memang, ketika ditahan oleh mosalaki supaya jangan pulang dulu karena mereka telah menyiapkan makan siang (luar biasa memang persaudaraan ini) tapi saya bersikeras untuk pulang. Saya memang harus pulang duluan, karena satu dan lain alasan yang tidak bisa ditulis di sini, meninggalkan teman-teman lain yang masih istirahat. Maaf, ya. But you all already knew that I love you ... all.

Perjalanan pulang ini sangat menarik, dan akan saya bahas di Blog Travel saja hehe. Karena begitu banyak cerita; tentang masjid dan gereja yang berdampingan di Desa Pora, tentang pasar mini tenun ikat di Desa Mbuli, tentang pemandangan memikat di Ekoleta, tentang Lepa Lio Cafe, dan masih banyak cerita lainnya. Tapiiii boleh donk ya bikin kalian iri dengan satu foto pemandangan dari Ekoleta berikut ini hehehe.


Ngiknguk kan pemandangannya?

Pada pos ini, akhirnya, saya pribadi mengucapkan banyak terima kasih untuk semua teman-teman yang telah sama-sama bergerak dalam kegiatan #NggelaKamiLatu serta mengantarkan bantuan tersebut langsung ke posko Peduli Nggela yang ada di Kampung Adat Nggela. Semoga berkah. Semoga Tuhan mendengar do'a dan upaya tulus kita semua. Nggela harus bangkit.



Cheers.

5 Yang Unik dari Ende (Bagian 2)


Setiap daerah di Indonesia pasti memiliki hal-hal unik. Keunikan ini telah ada bersama kehidupan masyarakat dan tumbuh berkembang dari zaman ke zaman. Misalnya keunikan Didong, kesenian dari Aceh yang dimulai sejak zaman Reje Linge XIII. Para seniman Didong dikenal dengan sebutan Ceh. Di dalam kesenian ini ada nilai-nilai religius, keindahan, dan kebersamaan. Peralatan yang digunakan adalah bantal dan tepukan tangan pemainnya.

Apabila Didong dari Aceh terlalu jauh, maka di Ende ada satu kegiatan yang disebut minu ae petu (minum air panas). Minu ae petu dilakukan oleh pihak yang hendak menyelenggarakan hajatan seperti pernikahan dan khitanan. Untuk keperluan pernikahan, minu ae petu hanya dilakukan oleh pihak calon pengantin laki-laki; mengundang kaum kerabat, tetangga, teman-teman, untuk duduk menikmati air panas dan tentu menyumbang sejumlah uang kepada tuan rumah. Menyumbang sejumlah uang ini bukan tujuan utama minu ae petu tapi kebersamaan merangkul kaum kerabat untuk suatu perayaanlah yang utama. Minu ae petu pun bukan berarti tamu yang datang hanya disuguhi air panas, melainkan teh, kopi, kudapan, hingga makan besar.

Baca Juga : 5 Kelas Blogging

Setelah menulis 5 Yang Unik dari Ende (Bagian 1) yang juga bisa dibaca di blog yang ini, saatnya saya menulis 5 Yang Unik dari Ende (Bagian 2). Dari Bagian 1, kalian tentu tahu bahwa keunikan-keunikan ini saya kumpulkan dan tulis untuk bakal sebuah buku yang entah kapan terbitnya berjudul Endelicious. Bagi saya keunikan setiap daerah wajib diketahui oleh orang lain di luar daerah tersebut. Kalian tahu, betapa senangnya saya mendengar cerita Benny Reo, seorang sahabat yang dulu pernah bertugas di Pulau Sumba, saat dia bercerita tentang podhu, budaya mencari jodoh yang supeeeeer unik. Cerita tentang podhu tidak saya peroleh saat berada di Pulau Sumba. Intinya kira-kira seperti itu; saya juga ingin seperti itu, bisa menceritakan hal-hal unik dari daerah saya sendiri.

Sebelumnya, mari kita lihat apa saja 5 yang unik dari Ende bagian pertama:

1. Nama Unik.
2. Ende si 'Anak' Tengah. 
3. Dua Suku, Dua Bahasa.
4. Kami Penyingkat Kata.
5. Lima Menit Itu Memang Ada.

Melanjutkan keunikan Ende berikutnya ... cekidot!

1. Darat, Laut, Udara

Kabupaten Ende yang, dalam skala masyarakat di Pulau Kalimantan - misalnya disebut kecil, punya moda transportasi yang lengkap. Transportasi darat, transportasi laut, dan transportasi udara. Bahkan tahun 2003-an, Mami Yovita Atmadjaja sering saya godain karena waktu itu Banyuwangi belum punya bandara. Bandara Blimbingsari di Banyuwangi baru dibuka 29 Desember 2010. Moda transportasi darat didukung oleh jalan trans-Flores dari Labuan Bajo sampai Flores Timur yang tentu melintasi Ende sebagai 'anak' tengah. Moda transportasi laut didukung oleh Pelabuhan Bung Karno, Pelabuhan Ippi (I dan II), pelabuhan-pelabuhan lain yang mendukung bisnis dan perekonomian, serta pelabuhan rakyat. Moda transportasi udara didukung oleh Bandara H. Hasan Aroeboesman. 

Ini unik. Kabupaten sekecil ini punya prasarana transportasi darat, laut, dan udara. Komplit!

2. Gunung dan Pantai yang Tetanggaan

Bu Jokoooo ada termos es? Qiqiqi. Menulis tetanggan, saya jadi ingat iklan sirup penurun panas anak zaman baheula itu. Di Kabupaten Ende, gunung dan pantai itu tetanggaan. Terkhusus di Kota Ende, kalian bisa melihat Gunung Meja, Gunung Ia, berada di daerah tanjung, sementara di Teluk Ende kalian bisa melihat perahu-perahu nelayan berbaris. Kalau orang bilang asam di gunung garam di laut bertemu dalam satu belanga, maka di Ende yang namanya asam dan garam itu kalau mau ketemu ya ketemu saja. Haha!

Baca Juga : 5 Hasil Daur Ulang

3. Dua Lokasi Untuk Petani Batu

Di Ende ada dua lokasi petani batu yang sangat terkenal. Yang pertama adalah Pantai Penggajawa dimana para petani batu mengumpulkan batu-batu laut. Yang kedua adalah Samba dimana para petani batu menambang dan mengumpulkan batu-batu gunung. Dulu saya pernah bikin filem dokumenter tentang petani batu Samba, tapi sudah lupa disimpan di mana gegara laptop dan hard disk eror.

4. Kaya Corak Tenun Ikat

Kalian pasti tahu bahwa di Indonesia ini ada dua kain hasil kerajinan tangan yang bisa dipakai bolak-balik yaitu songket dan tenun ikat dari NTT. CMIIW alias correct me if I'm wrong. Nah, di Kabupaten Ende sendiri tenun ikat bukanlah sekadar hasil kebudayaan yang dipakai oleh laki-laki dan perempuan atau cinderamata yang diburu wisatawan. Tenun ikat merupakan lambang kebanggaan pemakainya berdasarkan corak, jenis, dan cara pembuatan. Saya pernah mengikuti lomba video dokumenter yang dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI). Video itu saya beri judul: Tenun Ikat, Karya Jenius dari Ende. Videonya masih ada tapi sayang belum saya unggah ke Youtube. Waktu itu masih pakai Ulead versi lama sehingga kualitas video tidak segarang kalau ngedit pakai Sony Movie Studio Planitum.

Kalian akan tahu bahwa tenun ikat berjenis Kembo itu harganya paling mahal karena proses pembuatannya dan bahan yang digunakan, jika dibanding tenun ikat berjenis Mangga atau Kelimara.

5. No Woman No Cry, No Jambret No Copet

Haha. Istilah ini sebenarnya berasal dari sahabat saya Ilham Himawan, sahabat yangmana kalau nongkrong kita punya aturan: tidak boleh berbicara tentang cerita yang sama. Oke, apa maksud poin nomor lima ini? Maksudnya adalah di Ende sulit ditemui adanya jambret dan copet. Kalaupun ada, sekali dua terjadi fenomena itu, langsung diciduk oleh polisi. Karena Ende ini kecil, kawan. Saya pernah kecurian laptop sekitar tahun 2013. Tapi berkat tetangga dan kecilnya Kota Ende, empat hari kemudian kami menyambangi rumah si Tina (namanya Tina emang) dan akhirnya laptop pun kembali ke tangan saya padahal si laptop sudah di tangan pembeli.

Waktu saudara saya dari Surabaya datang ke Ende, dia terheran-heran melihat kunci sepeda motor kadang dilepas di sepeda motor tanpa kuatir. Dia takut bukan main sepeda motornya dimaling. Hehe. Kemalingan sepeda motor memang bisa terjadi tapi sepuluh jari tangan bakal berlebih untuk menghitungnya.

Masih banyak yang unik lainnya dari Ende, tapi tentu tidak di pos ini. Nantikan di pos berikutnya.

Mari, kawan. Kita eksplor keunikan daerah kita masing-masing. Karena, kadang keunikan itu tidak tercetak di buku panduan wisata. Misalnya, cungkil mahatari, suatu istilah yang ... psstt ... not now. Hehehe :)

Baca Juga : 5 Tanaman Dapur di Rumah

Yuk ke Ende.



Cheers.

Kami Latu Untuk Miu


Sebelum membaca pos ini sampai selesai, silahkan baca dulu pos Nggela Kami Latu

Selasa, 6 November 2018, merupakan hari terbaik dan terberkati bagi kami semua. Teman-teman musisi di Kota Surabaya dan di Kota Ende menggelar panggung hiburan bertajuk Nggela Kami Latu. Secara harafiah Nggela Kami Latu berarti Nggela Kami Ada. Secara leksitas Nggela Kami Latu berarti kami semua, masyarakat Kota Ende yang berasal dari berbagai suku di Indonesia, selalu ada untuk masyarakat Kampung Adat Nggela yang tertimpa musibah kebakaran pada 29 Oktober 2018 yang lalu. Ada untuk membantu, ada untuk berdiri bersama, ada untuk kalian.

Kami latu untuk miu.
Kami ada untuk kalian.

Di Kota Ende, malam penggalangan dana berupa panggung hiburan diselenggarakan di area parkiran Roxy Swalayan Ende. Sejak siang pukul 14.00 Wita, Steven Allyenser yang bertanggungjawab atas perangkat band dan soundsystem milik Adi Mbuik, serta teman-teman lain, sudah bergerak di lokasi untuk memasang backdrop, panggung, dan perangkat musik serta soundsystem. Kotak-kotak amal pun, pada pukul 16.00 Wita, sudah mulai diedarkan oleh mahasiswa Prodi Arsitektur Uniflor di sekitar area parkir hingga ke jalan. Acara baru betul-betul dimulai setelah Shalat Maghrib.



Apa saja yang disajikan malam itu? Berbagai atraksi seperti musik, stand up comedy, musikalisasi puisi, rap, dan beatbox.

Selama kurang lebih 4 (empat) jam acara berlangsung, rasanya masih kurang, band-band yang mengiringi adalah Majesty Band, Clavitura Band, dan Arch Band (band anak Prodi Arsitektur Uniflor). Penyanyi-penyanyi solo antara lain Celly Pula, Angky Wa'u, Echa Adelina, Amir Piru, Andra, dan beberapa dari penonton termasuk mahasiswa PBSI Uniflor. Pembaca puisi antara lain Lely Kara, Kiki Arubone, serta dua mahasiswi PBSI Uniflor. Rap? Yoooooiiii dari Rapper Family Clan yang namanya kesohor itu. Stand up comedy dibawakan oleh salah seorang mahasiswa Prodi Arsitektur bernama samaran Bocor, qiqiqiq. Dan beatbox super kece dari seorang penonton bernama Bento.


Apabila tidak terkendala waktu, acara malam itu bisa berlangsung sampai dini hari, tapi kami hanya punya ijin dari kepolisian hingga pukul 22.00 Wita. Mau tidak mau harus dihentikan dan kotak-kotak amal kembali disimpan. Yang pasti malam itu saya terpaksa menjadi MC padahal sudah veteran. Baaaah. Hahaha. Maaf pakai istilah veteran padahal saya bukan pensiunan tentara. Maksudnya, saya sudah lama tidak ngemsi. Sudah pensiun dini dari dunia per-MC-an. Tetapi karena Dessy dan Oston malam itu tidak bisa hadir, saya harus bisa melakukannya. 


Malam itu Nggela Kami Latu di Kota Ende menghasilkan 4.910KK sedangkan di Kota Surabaya menghasilkan sekitar 14KK. Belum termasuk sumbangan yang dikumpulkan melalui networking dan sumbangan pakaian. Totalannya nanti bakal saya bocorkan. Yang jelas lebih dari sekitar 20KK.

Alhamdulillah.

Untuk Kota Ende, itu baru dilaksanakan satu kali pada weekdays pula. Rencana bakal dilaksanakan lagi pada weekend. Semoga bisa menghasilkan lebih banyak untuk korban musibah kebakaran Kampung Adat Nggela.


Dan tentu, kami semua merupakan satu bagian dari kegiatan ini. Tapi ijinkan saya mengucapkan banyak limpah terima kasih kepada semua teman yang telah memberikan bantuan tanpa pamrih. Terima kasih manajer Roxy Swalayan Ende yang mengijinkan area parkirannya dipakai oleh kami. Terima kasih Polres Ende untuk perijinannya. Terima kasih Adi Mbuik yang menggratiskan peralatan band dan soundsystem, Bosan yang menggratiskan level-nya (panggung), Noel Fernandez yang menggratiskan mobil pick up untuk loading peralatan, Nas dan Oliver yang mengatur soundsystem. Terima kasih mahasiswa Prodi Arsitektur Uniflor yang bantuan tenaganya luar biasa! Terimakasih para musisi dan penyanyi: Majesty Band, Clavitura Band, Arch Band, Kiki Arubone, Celly Pula, Echa Adelina, Kristin, Angky Wa'u, Nely Sadipun, Amir Piru, Andra, Rapper Family Clan, Bocor, mahasiswi PBSI, Bento Beatbox, dan lain performer yang kalau tidak saya tulis bukan berarti sengaja tapi memang lupa heheh. Maklum masih pakai Pentium II ini otak saya.


Tidak lupa pula mereka-mereka yang berjuang (sejak inisiasi awal) di belakang panggung. Om Vicky Kelly dan Mami Lina Doke yang selalu siap rumahnya diributkan oleh kami; terutama Mami Lina yang selalu repot menyiapkan ini itu untuk kami; we love youuuu, Violin Kerong, Natalia Desiyanti, Oliver Bosch, Steven Allyenser, Varis Gella, David Mozzar (yang telah mendesain e-poster dan backdrop), Abang Buyung, Abang Rei, Jerro Larantukan, Om Paul Hanny Wadhi dengan video-nya yang mengiringi Lely Kara berpuisi, Yano Thedenz dengan Rapper Family Clan-nya, dan lain-lain nama yang tidak bisa saya tulis di sini satuper satu.

Mami Lina Doke, di samping kanan saya (saya berhijab pink) adalah seorang isteri (dari Om Vicky Kelly), seorang ibu, seorang perempuan hebat, seorang sahabat, yang luar biasa. Saya kagum padanya to the moon and back!


Juga terima kasih untuk mereka-mereka yang telah mengirim video dukungan seperti Gilang Ramadhan, Ivan Nestorman, Franco (Gemufamire), Lucky Reyner, Om Honing, Angelius Wake Kako, dan lain sebagainya.

Kita hebat?
Tentu, kita hebat.
#KitaHebat

Kita hebat demi Nggela. 

Kalian semua hebat. Angkat topi saya untuk kalian. Karena solidaritas adalah nama tengah kita semua.

Boleh kecup satu satu? Hihihihi.

***

Selain penggalangan dana melalui panggung hiburan, teman-teman Relawan Taman Bung Karno Ende juga menggalang dana dengan menjual gantungan kunci dan kaos. Relawan Taman Bung Karno bukan baru sekali melakukan aksi sosial diantaranya menjual pin dan gantungan kunci untuk membeli sapu, gerobak, tempat sampah untuk Taman Bung Karno Ende; membantu merenovasi SDI Ratenggoji dengan 100an meja dan kursi, membantu renovasi dan/atau pembangunan rumah adat, membantu bayi yang mengalami masalah kesehatan, dan lain sebagainya. 

Untuk Nggela, aksi yang dilakukan adalah menjual kaos dan gantungan kunci yang keuntungannya diberikan kepada korban musibah kebakaran Kampung Adat Nggela.


Bagi kalian yang mau membantu, siapapun, silahkan kirimkan kirimkan biaya kaos dan/atau gantungan kunci beserta ongkos kirim ke No rekening BRI 7886-01-000451-53-3 Atas nama Mukhlis A. Mukhtar dengan dua nomor unik terakhir 79. Lantas foto bukti pengiriman dan WA ke nomor 085239014948.

Berarti yang di luar daerah juga boleh donk? Ya tentu, boleh banget hehehe.


Banyak cara yang bisa dilakukan untuk membantu bukan?

Nggela, kami latu untuk miu.

#NggelaKamiLatu
#NggelaBangkit



Cheers.

Nggela Kami Latu


Duka yang sangat mendalam menggaruk perasaan kami semua masyarakat Kabupaten Ende, baik Suku Lio maupun Suku Ende. Nggela, kampung adat yang merupakan salah satu ikon adat dan budaya warisan nenek moyang, terbakar pada Senin (29 Oktober 2018). Kebakaran yang menghanguskan kampung adat bukan baru pertama kali terjadi di Pulau Flores. Selain Kampung Adat Nggela yang berada di wilayah administratif Kecamatan Wolojita - Kabupaten Ende, Kampung Adat Wologai yang berada di wilayah administratif Kecamatan Detusoko - Kabupaten Ende, pun pernah rata menghitam di atas tanah setelah terbakar pada Selasa (19 Oktober 2012). Baru-baru ini masih di tahun 2018 tepatnya Senin (13 Agustus 2018) Kampung Adat Gurusina, di Kecamatan Jerebu'u - Kabupaten Ngada, juga terbakar habis.


Aksi penggalangan dana pun mulai dilakukan oleh banyak pihak, baik oleh masyarakat yang berakar dari Nggela maupun masyarakat umum. Saya sendiri pernah mempublikasikan (meneruskan ke publlik dari WAG) beberapa pengumuman baik e-poster maupun teks tentang penggalangan dana ini.


Salah satu aksi penggalangan dana untuk Nggela dilakukan oleh kaum muda yang saya kenal sebagai kumpulan orang muda kreatif Ende. Mereka; musisi, fotografer, EO, dosen, videografer, hingga blogger

Baca Juga : Studio JP Photography

Adalah Luis Thomas Ire menghubungi saya untuk turut ambil bagian dalam aksi penggalangan dana untuk membantu korban terbakarnya Kampung Adat Nggela. Di Surabaya, kegiatan ini dilaksanakan oleh IMELS (Ikatan Mahasiswa Ende Lio - yang kuliah di - Surabaya). Kegiatan tersebut dilaksanakan di Warung Mbah Cokro, Jalan Prapen Nomor 22 (samping Indogrosir) Surabaya. Temanya adalah Nggela Kami Latu. Artinya: Nggela, Kami Ada. Kami latu merupakan sebuah ungkapan bahwa kami ada untuk mendukung kalian (masyarakat Nggela). Kami latu sering digaungkan saat gempa terjadi; masyarakat memukul panci, tiang, atau apapun, untuk menimbulkan bunyi-bunyian, pesan kepada penjaga Bumi bahwa di Bumi masih ada manusia yang menghuninya dan tolong hentikan goncangannya.


Berkaitan dengan kegiatan di atas, atas prakarsa Luis, di Ende pun akan dilaksanakan kegiatan serupa. Setelah pertemuan di rumah saya pada Kamis kemarin, kami pun sepakat untuk membikin kegiatan Charity Act for Nggela yang kira-kira miriplah dengan kegiatan yang digelar di Warung Mbah Cokro di Surabaya sana. Seperti musik, stand up comedy, dan musikalisasi. Baru mulai digaungkan, telah banyak teman-teman yang bersedia untuk turut ambil bagian dalam kegiatan ini. Apresiasi yang sangat luar biasa. 



Doakan agar kegiatan ini berjalan dengan sukses. Doakan agar banyak bantuan yang terkumpul untuk saudara-saudara kita korban kebakaran Kampung Adat Nggela.




Baca Juga : Belajar Literasi Digital

***

Nggela merupakan Kampung Adat yang terbakar pada Senin, 29 Oktober 2018. Sejumlah 22 rumah adat, 10 rumah penduduk, dan 1 keda (balai pertemuan) dilalap api. Dari sekian banyak rumah adat hanya satu rumah adat yaitu Sa'o Embu Laka yang hanya sedikit dilalap api dan masih terselamatkan meskipun bagian atap rusak parah. Sedangkan rumah adat lainnya diantaranya Sa'o Labo, Sa'o Ria, Sa'o Meko, Sa'o Tua, Sa'o Tau Nggo, Sa'o Rore Api, Sa'o Wewa Mesa, ludes oleh si gajo merah.



Cheers.

Mostheme From Indra Bagus


Hari Sabtu kemarin, ternyata setelah Hari Jum'at, dan ternyata sebelum Hari Minggu.

*dikeplak berjamaah*


Seriusnya, Hari Sabtu kemarin saya dihubungi seorang blogger perempuan cantik multi talenta bernama Ajeng. Lebih dikenal Ajengveran. Multi talenta karena sebagai seorang blogger dia tentu jago menulis, dia juga seorang travel blogger, dia bisa main alat musik macam gitar dan piano (atau orgen?) apalah namanya itu, dan bisa bernyanyi dengan sangat baik. Kalian sudah subscribe channel Youtube si Ajeng? Kalau belum, buruan subscribe! Jangan lupa untuk juga men-subscribe Himawan Sant, yess.

Apa pasal Ajeng menghubungi saya via WA (chat only!) itu? Ceritanya Ajeng menawarkan bantuan Iwan Indra Bagus buat masang tema di blog saya. Temanya: Most Theme yang penampakannya bisa kalian lihat di awal pos. Wah, mau lah saya! Tidak sampai 350 tahun kayak Indonesia dijajah Belanda, Indra membalas chat WA itu dan dari situ mulailah perburuan dinosaurus langka penggantian tema. Untung Indra ini baik banget, saya yang kesulitan dengan ini itu soal HTML karena kemampuan otak yang terbatas dengan RAM dan ROM 1GB, dibantu dengan senang hati.


Hasilnya ... TRA-DA ...

Akhirnya tema Most Theme-nya Bung Frangki sudah jadi wajah baru blog saya :D

Saya suka! Saya suka! Menjadi lebih rapi, lebih responsive, lebih cepat loading baik di laptop maupun gadget. Banyak hal lain yang tidak bisa saya tulis di sini, yang juga diperbaiki sama Indra. Kan luar biasa dunia blogger ini. Teknologi, indeed, mempermudah hidup umat manusia. Coba bayangkan kalau tidak ada aplikasi WA, misalnya, proses penggantian tema atau template blog ini bisa memakan waktu berbulan-bulan karena saya harus naik perahu ke rumah Ajeng, lalu ke rumah Indra, lalu balik ke rumah saya, eeeh ada yang lupa, kirim surat beserta pesan eror-nya (kalau pakai perahu kan lebih sopan secara saya penerima hibah haha) ke Indra, dibalas, terus saya balas lagi.

Guuuuubrak ... itu aneh *tunjuk kalimat terakhir di atas*

What's next?

Tetap menulis. Berusaha agar semangat menulis tetap menyala. Meskipun saking menyalanya itu semangat, banyak juga pos yang saya tulis lebih dulu dan dijadwal untuk terbit qiqiqiqi. Soalnya saya kuatir kalau terlalu lama mengendap ide menulisnya, lantas menguap. Alhamdulillah semangat menulis ini masih (terus) ada. Karena menulis merupakan salah satu cara paling elegan menyimpan sejarah. Tsaaaah.

Baiklah, sebelum saya mengakhiri pos ini, ada satu informasi penting yang harus di-share. Cekidot!

SOLIDARITAS UNTUK KAMPUNG ADAT NGGELA (NUA NGGELA)

Dua puluh dua  sa'o atau rumah adat di Nua NGGELA, sebuah kampung tua di Kecamatan Wolojita, kabupaten Ende, Flores terbakar ludes siang ini, Senin 29 Oktober 2018. Cuaca panas dan berangin menyebabkan api yang bermula dari  atap Sa'o Labo rumah adat keempat  dari arah Utara, dengan sangat cepat menyambar sa'o-sa'o di sekitarnya.

Semuanya bangunan kayu, bambu dan beratap ilalang. Hanya berselang satu setengah jam dari pukul 13.00 waktu setempat api sudah menghanguskan ke 22 sa'o beserta 1 balai pertemuan adat (Keda) dan 10 rumah warga rata dengan tanah. Saat ini tidak kurang dari 32 keluarga sangat membutuhkan solidaritas kita untuk membantu mengatasi situasi darurat.

Atas bantuan anda kami warga NUA NGGELA mengucapkan banyak terima kasih.

DONASI berupa barang dapat diantar ke Posko Ende di Dasi Guest House (Didi Dasi Muda) - Jalan Durian Ende.

DONASI berupa uang bisa ditransfer ke no.rekening bank BNI : 0759972495 Atas nama IBU FRANSISKA FILOMENA WEKI BHERI.

NARAHUBUNG:
1. IBU SERE (081353522308)
2. IBU SISKA (081337200351)
3. ANTONIA NONA (082342112116)
4. IBU ERTA PORA (08129548790)

Nggela, Kampung/Desa Adat yang baru saja hendak saya tulis untuk blog travel tentang upacara adat Joka Ju (tolak bala) setelah menulis tentang Joka Ingga, terbakar habis. Padahal Kampung Adat Nggela dengan Joka Ju-nya itu terkenal sampai ke mana-mana. Membangun rumah adat pun tidak sekedip mata. Mengembalikan trauma korba pun tidak sekedip mata. Mari berdo'a untuk saudara-saudara kita di Kampung Adat Nggela. Semoga kejadian kampung adat terbakar (seperti yang terjadi di Gurusina) pun tidak terulang kembali. Manusia hanya merencanakan, Tuhan menentukan.

Semoga.

Anyhoo, ada yang bisa ngasih tahu saya, kenapa saya tidak bisa membalas komentar kalian?


Cheers.

5 Pesan Gubernur NTT


Wisuda Sarjana Universitas Flores (Uniflor) Periode 20 Oktober 2018 berlangsung meriah dan meninggalkan kesan sangat mendalam bagi para wisudawan dan wisudawati. Selain bakal menerima ijazah nasional, memakai gedung baru setelah renovasi, memakai jubah dan toga baru (yang nanti bakal dikembalikan ke panitia), kegiatan wisuda Sabtu lalu itu dihadiri oleh Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Timur yaitu Viktor Bungtilu Laiskodat. Bahkan Rektor Uniflor Dr. Simon Sira Padji, M.A. mengatakan bahwa kehadiran Pak Viktor merupakan kehormatan tersendiri bagi beliau yang baru saja dilantik beberapa bulan lalu. Semua memang serba baru; rektor baru dan gubernur baru. Siapa tidak senang? Selain Pak Viktor, hadir juga Bupati Ende Marsel Petu dan Wakil Bupati Ende Djafar Ahmad.

Baca Juga : 5 Persiapan Wisuda

Auditorium H. J. Gadi Djou usai direnovasi. Megah ya?
Tema wisuda kali ini dari Kabupaten Sikka.

Di hadapan 838 wisudawan dan wisudawati Pak Viktor menyampaikan orasi ilmiahnya. Saya yang duduk dua baris dari depan seperti mendapat kehormatan menyaksikan betapa asyiknya beliau saat berbicara. Foto di bawah ini oleh Kakak Rossa, dari laman Facebook Humas Uniflor:


Yang menarik adalah Pak Viktor menyampaikan orasi ilmiahnya nyaris tanpa naskah. Semua yang disampaikan oleh beliau seperti obrolan antara kakak dan adik. Beliau sebagai kakak, dan kami sebagai adik. Tentu saja. Qiqiqiq. Cara orasi semacam itu membikin kantuk hilang! Asyik sekali pokoknya. Apa yang beliau sampaikan dalam orasi ilmiah itu benar-benar nyata dan menohok wisudawan dan wisudawati yang bakal menyentuh 'dunia' yang sesungguhnya dan 'berperang' dalam kancah pencarian kerja. Banyak pula wejangan dan motivasi yang membikin kami sadar bahwa NTT ini sebenarnya kaya raya.

Kita harus bangga sebagai orang NTT. Singkirkan istilah NTT; Nanti Tuhan Tolong. Singkirkaaaaan!


Ada lima pesan yang saya tangkap dari orasi ilmiah beliau. Kalian mau tahu? Harus donk hahaha apalagi anak NTT wajib tahu pesan-pesan ini.

Baca Juga : 5 Hasil Daur Ulang

1. Toleransi Hidup Beragama

Toleransi hidup beragama bukan pesan yang langsung beliau sampaikan. Tetapi melalui ragam salam dalam pembukaan orasi ilmiah, Pak Viktor menyampaikan pesan yang tersirat bahwa toleransi hidup beragama itu penting dan wajib terus dilestarikan di NTT. Dalam pembukaan tersebut beliau mengucap:

Selamat pagi.
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Shalom.
Om swastiastu.

Ada satu lagi yang saya lupa, tapi bukan namo buddhaya

Salam yang disampaikan oleh Pak Viktor ini mengingatkan saya pada salam yang disampaikan Pak Jokowi. Ini merupakan salam yang mengingatkan kita semua bahwa kita adalah masyarakat Indonesia dengan multi-agama dan wajib saling hormat-menghormati. Toleransi yang sudah hidup dan berkembang di NTT ini jangan sampai luntur apalagi rusak.

2. Menjadi Entrepreneur

Pak Viktor terkenal dengan kampanyenya (dulu) tentang pohon dan daun kelor. Pohon kelor juga dikenal sebagai miracle tree yang punya banyak manfaat dalam bidang ekonomi dan kesehatan. Kalian bisa baca ulasan lengkap tentang kelor di sini. Di NTT pohon kelor tumbuh subur dan itu yang ingin diangkat oleh Pak Viktor; pohon kelor (daun, batang, dan akarnya) dapat dijadikan komoditi yang bisa dijual ke dunia luar (luar negeri).  


Mendengar ini, saya jadi terpukul karena dulu sempat bingung dengan rencana Pak Viktor mengembangkan dan membuka satu juta hektar untuk tanaman kelor. Dunia memang tak selebar daun kelor, dan ketika mendengar orasi ilmiah Pak Viktor, saya sadar bahwa otak saya ternyata sebesar daun kelor. Hiks.

3. Kelola Lahan Kita

Salah satu poin orasi ilmiah Pak Viktor, juga berkaitan dengan poin nomor 5 di bawah, adalah tentang mengelola lahan kita. Beliau bercerita tentang temannya yang bekerja di salah satu instansi di Kupang. Bertahun-tahun kemudian, saat mereka kembali bertemu, Pak Viktor bertanya tentang pekerjaan si teman. Si teman menjawab: masih di instansi tersebut dengan gaji yang dipatok oleh pemerintah.

Pak Viktor lantas bilang, "Itu kan, coba dulu kau tanam bawang seperti yang saya bilang, sudah kaya kau!"

Kira-kira begitulah yang dibilang beliau, kurang-lebih, tidak terlalu jauh lah. Hahaha. Langsung satu auditorium gerrrrr. Kita tahu, Pak Viktor termasuk salah seorang pengusaha sukses asal NTT. Intinya adalah jangan tunggu jadi PNS dan menua bersama ijasah, kawan.

4. Laut, Sumber Yang Kaya

NTT merupakan provinsi yang terkenal akan pantai-pantai indah nan eksotik. NTT juga termasuk salah satu dari sembilan fishing ground yang ada di Indonesia. Oleh karena itu, beliau berharap semua masyarakat NTT bersama-sama dapat memanfaatkan laut sebagai sumber yang kaya dari NTT. Selain itu, ada satu poin yang membikin saya mengangguk sampai pengen teriak: betul, Pak!

Jadi, karena NTT ini layaknya mini archipelago Indonesia, Pak Viktor ingin transportasi lautnya harus sanggup / lebih banyak untuk menghubungkan masyarakat dari satu pulau ke pulau lainnya se-lingkup NTT. Usahakan rute dari Pulau Lembata ke Maumere, misalnya, lebih banyak dari rute Maumere ke Makassar. Lalu beliau berkata kira-kira begini:

"Kalau kita, ombak naik dua meter saja sudah tidak bisa ke laut. Tapi kita ngotot dan terus membuat perahu atau kapal yang hanya bisa menghadapi ombak satu meter."

Ha ha ha. Betul, Pak! Itu filosofi yang sangat dalam. Belajar dari pengalaman adalah intinya. Artinya kemampuan diri harus ditingkatkan apabila kita tahu bahwa di luar sana kita harus berjuang lebih dan lebih. Uih, saya nyaris berdiri dan bilang: betul, Pak! Untung urung :p kalau tidak bisa diseret sama sekuriti ke Warung Damai.

5. Jangan Tunggu Jadi PNS

Berkaitan dengan nomor tiga di atas. Betul sekali yang disampaikan oleh Pak Viktor. Fakta, memang terjadi. Bahwa banyak orang yang sekolah tinggi cuma ingin menjadi PNS. Menunggu dan menunggu jadwal CPNS dibuka oleh pemerintah dan ramai-ramai mendaftar. Padahal dunia wirausaha sedang sangat digalakkan bukan? Oleh karena itu saya mendengar Pak Viktor berkata tentang seandainya tidak ada satupun lulusan Uniflor yang mendaftar jadi PNS, sukses sudah pasti.

I see ... itu keren, Pak.

Mendengar langsung orasi ilmiah dari Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat yang juga dikenal sebagai pengusaha sukses merupakan berkah. Berkah karena saya mengetahuinya bukan hanya dari tulisan melainkan omongan dari orang yang sudah mengalaminya langsung.


Semoga lima pesan Pak Viktor di atas yang sempat saya tangkap pada kegiatan wisuda Sabtu kemarin dapat menanamkan nilai-nilai wirausaha pada wisudawan dan wisudawati. Ilmu yang telah diperoleh selama kuliah niscaya dapat diaplikasikan dalam kehidupan ... selanjutnya. Insha Allah. Berdoa dan berusaha itu wajib, sukses akan diraih. Semua tentu atas ijin Allah SWT.


Pos ini juga dipenuhi foto-foto saat wisuda Sabtu kemarin. Euforia-nya masih terasa. Qiqiqiq. Euforia karena semua orang bilang saya cantik. Halaaah cantik apanya, Teh. Kan tumben, tidak setiap hari haha. Masih terbayang pukul 03.30 dijemput Akiem terus diantar ke salonnya Deth Radja, menunggu penuh sabar jatah di-makeup. Proses ini yang sangat saya nikmati meskipun keluar ke kampusnya bukan dari rumah melainkan dari salon hahaha. Berdoa sendiri saja dalam hati agar tidak mengantuk.


Well done. Terima kasih untuk semua ucapannya. Terima kasih untuk orangtua, kakak-adik, teman-teman, tetangga, yang telah mendukung selama ini. Saya masih S1 belum S2 (lirik Pak Martin) haha. Ini kuliah yang delay-nya belasan tahun karena dulu lebih suka #KakiKereta ketimbang sekolah. Terimakasih juga Om Ihsan untuk pos blog yang satu ini: Akhirnya Penyuka Kuning Menjadi Sarjana. Luar biasa bikin haru.


Doakan saya bisa meraih gelar selanjutnya karena beasiswa ke Australia itu butuh perjuangan yang lebih dan lebih *ngakak guling-guling* Ini namanya menghayal sampai mentok hahaha.


Cheers.

5 Persiapan Wisuda


Yay! Akhirnya, Insha Allah, hari yang ditunggu-tunggu tiba setelah ditunda selama sebulan. Wi-su-da. Wisuda bakal dilaksanakan Sabtu, 20 Oktober 2018 di Auditorium H. J. Gadi Djou. Di Kampus I Universitas Flores. Mumpung sekarang saatnya #KamisLima yuk kita cek apa saja sih yang harus dipersiapkan cakal wisudawan dan wisudawati? Apakah membeli permen dua bungkus juga perlu? Perlu sih, kalau kalian memang pecinta permen. Qiqiqiqi. Yang jelas jangan bawa sikat gigi dan mantan pacar.

Baca Juga : 5 Hasil Daur Ulang

Pos ini mungkin tidak akan bermanfaat bagi kalian yang berada di luar Pulau Flores, atau yang kuliah di universitas lain. Karena setiap universitas dan/atau perguruan tinggi punya peraturannya masing-masing. Saya menulis ini, khusus untuk mahasiswa/i Universitas Flores. Yuhuuuu.


Jadi, apa saja sih yang harus dipersiapkan?

Mari kita simak ...

1. Kelengkapan Berkas (Final)

Biasanya akan ada telepon/sms dari KTU Prodi tentang berkas yang belum lengkap. Hayo, bagi kalian yang berkasnya belum lengkap, segera lengkapi.

2. Gladi Bersih 

Gladi bersih wajib diikuti oleh semua calon wisudawan / wisudawati karena bakal ada penomoran kursi peserta. Saya sudah mengikutinya kemarin (Senin s.d. Rabu) di sela-sela kesibukan menjadi panitia Seksi Publikasi dan Dokumentasi Ema Gadi Djou Memorial Cup 2018. Yuhuuuu. Harus pintar bagi waktu dan dilarang keras begadang kalau tak ada perlunyaaaaaa ...

3. Jubah dan Toga

Setelah gladi bersih ada pembagian jubah dan toga. Di Universitas Flores, jubah dan toga dipinjamkan oleh pihak universitas. Jadi, silahkan mengantri saat hari pembagian tiba. Setelah itu, jangan lupa dicuci dulu yaaaa atau di-laundry saja. Ingat, pengembalian jubah dan toga juga ada batas waktunya.


4. Istirahat Yang Cukup

Ini wajib. Tidak perlu begadang kalau game-nya belum tamat. Eh ... hehe. Kenapa harus istirahat yang cukup? Karena prosesi wisuda itu lamanya ampun-ampunan. Kalau tidak cukup istirahat, bisa berabe. Bisa telat bangun. Bisa ketiduran saat prosesi. Bisa juga pingsan :D Sudah banyak kasus wisudawan / wisudawati pingsan. Meskipun panitia menyiapkan tim medis, tapi sebaiknya istirahat lah yang cukup.

5. Foto Studio

Foto studio perlu disiapkan sebelum hari wisuda. Sebelum jubah dan toga dicuci, ajak seluruh teman angkatan dari prodi untuk foto di studio. Karena, kalian akan sulit bisa foto bersama setelah prosesi wisuda selesai. Yang ada malah selfie sana sini bareng dosen, orangtua, pacar ... tercerai-berai satu angkatan itu. Foto studio bakal jadi kenangan paling manis. Ehem.

Mempersiapkan segala sesuatu untuk wisuda memang bikin perasaan deg-degan.


Luar biasa memang persiapan wisuda ini. Itu di luar baju loh hahaha. Anyway, terimakasih Kakak Rikyn Radja, koreografer ngehits NTT, yang sudah menghadiahkan saya gaun wisuda motif Sumba yang cantik *kedip-kedip hepi*. Untungnya Kakak Ully, penjahitnya, tidak lupa menjahit saking ditunda terlalu lamanya wisuda ini. Hehe.



Bagaimana dengan kalian yang sudah diwisuda? Apa saja persiapan yang kalian lakukan? Bagi tahu di komen yuk :)



Cheers.