5 Kegiatan Kece Menyongsong Dies Natalis 39 Uniflor


5 Kegiatan Kece Menyongsong Dies Natalis 39 Uniflor. Hyess! Tanggal 19 Juli merupakan tanggal keramat karena merupakan tanggal kelahiran Universitas Flores (Uniflor) tercinta. Bukan saja karena saya meraih gelar Sarjana Hukum dari universitas pertama di Pulau Flores ini, tetapi juga karena saya bekerja di tempat ini tepatnya di UPT Publikasi dan Dokumentasi. Mencintai Uniflor sudah default. Sejak tahun 2011 sampai sekarang saya masih bertahan di UPT yang sama alias belum pernah dipindah. Haha. Kadang saya bertanya-tanya kenapa belum dipindah juga(?). Mungkin karena saya belum diijinkan mengacau di unit lain *diketawain dinosaurus*.

Baca Juga: 5 Lokasi Terdekat Untuk Berwisata Sekitar Kota Ende

19 Juli 2019 Uniflor akan mencapai usia 39. Bayangkan! 39 tahun! Kalau manusia, itu mungkin sudah menikah dan dikaruniai dua anak super lutjuuuu. Akan ada perayaan besar-besaran saat ulang tahun ke-40 nanti. Tapi itu nanti, sekarang saya mau cerita-cerita tentang kegiatan ulang tahun ke-39 dulu ya. Seru-seru loh!

Perlu diketahui, ada dua panitia yang menyelenggarakan aneka lomba menyongsong ulang tahun Uniflor ke-39. Yang pertama: panitia besar yang terdiri dari dosen dan karyawan. Yang kedua: Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Uniflor yang juga selenggarakan berbagai lomba. Jadi, bisa kalian bayangkan betapa ramainya kampus kami di hari-hari terakhir ini. Meskipun masih ada prodi yang menyelenggarakan UAS tapi keseruan dan kehebohannya tetap saja ... wajib!

Apa saja sih kegiatan kece menyongsong dies natalis ini? Cekidot!

1. Jalan Sehat


Jalan sehat sudah dilakukan sejak Sabtu, 6 Juli 2019. Jalan sehat ini diikuti oleh segenap civitas akademika Uniflor termasuk siswa-siswi SMK yang praktek. Ramai dan sangat seru! Dimulai dari Kilometer Nol di Lapangan Pancasila, berakhir di Lapangan Futsal - Kampus III - Uniflor. Ada kacang ijo dan kudapan yang disiapkan oleh panitia. Dan serunya kami berjoged gembira dipimpin Kakak Shinta Degor.



Kakak Shinta (sepatu kuning), seng ada lawan! Hehe.

2. Lomba Futsal


Lomba futsal sudah dimulai usai upacara pembukaan. Upacara pembukaan ini dilaksanakan di Lapangan Futsal dan Pembinanya adalah Rektor Uniflor Bapak Dr. Simon Sira Padji, M.A.


Serunya lomba futsal ini terlebih dahulu dimulai oleh tim puteri. Bisa dibayangkan kan teman-teman yang sebelumnya sama sekali tidak pernah terjun di dunia futsal kemudian harus mewakili fakultasnya untuk bermain futsal?



Seru dan kocaaaaak.

3. Lomba Voli


Ini nih yang saya syukaaa haha. Apalagi kalau nonton tim putera bermain. Karena kan di dalam satu tim itu harus ada satu dosen dan/atau satu karyawan yang turut masuk dalam tim selain mahasiswa. Coba kalian bayangkan, mahasiswa yang biasanya sudah solid satu tim itu, dikurangi satu atau dua anggota untuk digantikan oleh dosen dan/atau karyawan.


Tapi asyik ya. Kali ini saya tidak mengikuti lomba futsal dan lomba voli. Serahkan pada yang lebih jago saja, ya adik-adik mahasiswa. Karena, kalau dulu sistem lombanya itu per kampus, sekarang per prodi. Sehingga kami-kami yang bekerja di unit-unit dibagi ke setiap prodi. Saya kebagian di Prodi Pendidikan Matematika (ProMat). Otomatis karena mahasiswa dilibatkan jadi kan asyik ... mereka lebih jago bermain voli dan futsal. Sumpah, mereka kompak dan tangguh-tangguh!

4. Lomba Debat


Yang satu ini lomba yang melibatkan perwakilan mahasiswa dari 16 (enambelas) program studi. Asyik sekali meliput lomba yang satu ini. Gemas juga sama pendapat-pendapat mereka saat debat antara pro dan kontra akan tema yang diundi.


Gemas karena kalau tidak sesuai dengan pendapat saya pribadi hahahaha. Saya pikir, anak hukum harusnya bisa menang karena kan banyak regulasi yang mengatur tentang tema-tema tersebut. Yang penting, melalui lomba debat ini jelas akan terasah pola berpikir, menganalisa, dan bagaimana menyampaikan pendapat dalam sebuah debat.

5. Lomba Vlog


Ini dia lomba kece yang diselenggarakan oleh Fakultas Teknologi Informasi (FTI) Uniflor, karena sebelumnya diumumkan bahwa setiap prodi/fakultas harus selenggarakan lomba masing-masing. Tapi kemudian kemudi agak berubah tetapi FTI telah menyusun segala sesuatunya sehingga lomba ini tetap dilaksanakan.


Semoga banyak yang ikutan ya. Sebagai wujud dari FTI sebagai fakultas yang bergerak di dunia teknologi informasi serta sebagai wujud kecintaan peserta terhadap dunia pariwisata di NTT. Kalau bukan kita, siapa lagi?

⇜⇝

Lima kegiata kece di atas belum mewakili semua kegiatan yang diselenggarakan dalam rangka ulang tahun Uniflor yang ke-39, apalagi kegiatan-kegiatan yang mulai disusun dalam rangka Panca Windu (40 tahun). Masih banyak yang lainnya, seperti futsal putera, lomba paduan suara, lomba karya tulis ilmiah, lomba pop singing, dan seterusnya. Harapan saya sebagai bagian dari Uniflor adalah kegiatan-kegiatan ini akan semakin mempererat rasa persaudaraan dan kekeluargaan yang memang sudah ada dan semakin pekat di Uniflor. Kami semua bersaudara.

Baca Juga: 5 Keistimewaan Canva

Saya sendiri memang tidak seberapa aktif dalam berbagai lomba, kecuali menjadi penonton aktif yang teriak-teriak meskipun sedang radang tenggorokan, karena juga sibuk dengan berbagai kegiatan menjelang Kuliah Kerja Nyata (KKN). Sebagai panitia KKN di bagian publikasi dan dokumentasi pun harus ke sana sini meliput kegiatan pertemuan dengan DPL, misalnya, hingga nanti peliputan saat mahasiswa KKN berangkat ke lokasi KKN.

Cukup letih kan? Hahahha.

Bagaimana dengan di tempat kalian, kawan? Bagi tahu yuk di komen!



Cheers.

Berburu Spot Foto Instagenic di Dapur Jadul di Raba


Saya sudah pernah menulis, bisa dicari di blog travel ini, tentang Ibu Kota Kabupaten Ende yaitu Kota Ende yang dikelilingi oleh gunung dan pantai. Ibarat asam di gunung, garam di laut, bertemu di mangkuk bernama Kota Ende. Alhamdulillah salah satu lokasi pantai di daerah Raba, sekitar sepuluh kilometer arah Barat Kota Ende, kemudian dimanfaatkan oleh pengurus dan pengelola Ponpes Panti Asuhan Wali Sanga, Kakak Nona Eka, sebagai tempat pelesir bernama Dapur Jadul.

Baca Juga: Seorang Kapten Kebanggaan yang Gugur Saat Bertugas

Dapur Jadul dibikin dengan konsep: tempat makan, tempat bersantai, dan tempat berburu foto. Seperti yang sudah sering saya bilang, suasana merupakan komoditi utama yang dijual, setidaknya demikian penilaian saya terhadap Dapur Jadul. Siapa sih yang tidak senang bersantai sekeluarga di tepi pantai, bisa main di pasir, makan-makan, bahkan bisa sambil tiduran karena disediakan pula beanbag. Karena, makanan bisa kita temukan di mana saja, termasuk di dalam Kota Ende yang dijamuri kafe kekinian, tapi suasana ... itu perkara lain.

Dari pintu masuk, pengunjung langsung disambut sama petugas parkir yang kadang membantu pengunjung memarkir kendaraan roda dua. Kalau roda empat, silahkan parkir di area roda empat lah. Setelah itu pengunjung disambut dua atau tiga petugas lagi yang mengenakan kain kotak-kotak, baik perempuan maupun laki-laki. Mereka ini yang bakal menyerahkan menu dan form pesanan. Dibawa saja dulu, nanti kalau sudah menentukan menu, boleh memanggil petugas yang lalu-lalang di sekitar. Jangan lupa menulis nama dan nomor meja. Meja-mejanya juga ada yang berbahan peti kayu/palet. Asyiklah!

Pusat Dapur Jadul, bagian dapur, terletak di sisi Timur, cukup luas, dengan bagian depan yang ditata apik pun menjadi spot foto seperti ranjang dengan aneka bunga, vespa jadul (seperti foto di atas), baliho besar yang keseluruhannya bergambar Bung Karno, latar kain-kain dengan pigura (kebesaran ini piguranya haha), hingga ornamen-ornamen unik.

Yang paling menarik, saya yakin ini magnet terbesar karena pertama di Kota Ende, adalah disediakannya motor ATV dengan track sepanjang pantai.  Ada dua motor ATV yang disediakan tapi tetap saja saya tidak kebagian. Antriannya panjang, woih. Semua orang harus 'menaikinya' dan mungkin mengendarai ATV merupakan cita-cita yang dibawa saar keluar rumah menuju Dapur Jadul. Saya harus ke sana lagi lah biar punya foto kekinian dengan motor ATV hahaha.

Karena saya sudah menulis tentang Dapur Jadul, lengkap pakai bonus kedipan mata, di blog travel, kalian bisa langsung membacanya di sana.

Baca Juga: PBSI Belajar Nge-blog

Yang jelas, Dapur Jadul yang terletak di pinggir Pantai Raba juga di pinggir Jalan Ende - Nangapanda (sekitar sepuluh kilometer ke arah Barat dari Kota Ende) itu sangat mempesona. Dapur Jadul memadukan atraksi wisata alam (pantai) dan wisata buatan (aneka spot foto instagenic). Tidak dikenakan biasa masuk, boleh membawa makanan dari luar, tapi tetap harus ada pesanan makanan ke dapurnya Dapur Jadul. Asyik kan?

Hyuk main ke sini :)




Cheers.

Horeday #3: Pharmantara Big Family and Happy Eid Raya


Hari ketiga HOREDAY: Kisah-Kisah Saat Horeday. Saya memang mengkhususkan seminggu ini untuk bercerita hari-hari liburan seru, tak selamanya tentang Hari Raya Idul Fitri itu sendiri, yang saya alami baik bersama keluarga maupun bersama teman-teman. Kisah lainnya bisa kalian baca (di bawah ini):


⇜⇝

Idul Fitri. Hari yang ditunggu-tunggu oleh umat Muslim. Hari kemenangan setelah sebulan penuh, terutama laki-laki, menjalankan puasa mengalahkan segala hawa nafsu. Hari yang mempertemukan semua anggota keluarga Pharmantara! Asyik! Hehe. Seperti yang sudah sering saya tulis, kami memang tinggal di Kota Ende yang kecil, tapi masing-masing punya kesibukan dan aktivitas harian/rutin. Otomatis tidak setiap hari kami bisa berkumpul haha hihi. Selain piknik setiap dua minggu sekali, Idul Fitri merupakan momen yang mempertemukan kami semua. Sayangnya Idul Fitri tahun ini keluarga Abang Nanu Pharmantara liburan ke Kota Kupang. Yah ... kurang ramai karena tidak ada Syiva haha.

Idul Fitri dimulai dengan sakit gigi. Ya, salah satu geraham atas gigi saya itu bermasalah. Pertama, berlubang. Kedua, sejak kepentok sikat gigi, jadi sering eror. Tapi meskipun malam sebelum Idul Fitri saya hanya tidur satu jam, pergi ke Lapangan Pancasila untuk Shalat Eid itu tetap dijalani. Alasannya? Ketimbang berusaha tidur dengan gigi nyut-nyutan, lebih baik tetap shalat dengan gigi nyut-nyutan. Setidaknya khusyuk selama sekitar sepuluh menit itu jauh lebih baik. Menurut saya. Haha. Gigi ini sungguh terlalu.

Sebagian dari kami, usai Shalat Eid.

Usai Shalat Eid kami mulai saling mencari-cari anggota lainnya untuk sama-sama berangkat ke pemakaman umum di Jalan Perwira. Sudah menjadi rutinitas setiap kali Idul Fitri; shalat ↠ ke makam Bapa, Kakak Toto, dan Wawan ↠ pulang ke Pohon Tua ↠ sungkem dan makan bersama ↠ pergi ke rumah Paman dan Bibi. 

Empat penghuni utama Pohon Tua.

Meskipun gigi sedang nyut-nyutan saya tetap menikmati makanan khas Idul Fitri yang kali ini agak berbeda. Tidak ada opor dan ketupat! Haha. Kami menyiapkan nasi, sup ayam, ayam tomat, sayur tumis, kering tempe, kerupuk, dan sambal. Betul-betul di luar kebiasaan. Memang sengajaaaa. Hal yang sama juga terjadi dengan beberapa kudapan; dua kudapan adalah kudapan tradisional.


Encim and The Gank, assshiaaap, yang memang hebring dan heboh ini membikin Pohon Tua yang biasanya sepi menjadi supeerrrrr ramai! Mengobrol, haha hihi, makan minum, saling ejek, tingkah para cucu, sampai yang pedekate *uhuk*, pokoknya momen itu selalu bikin kangen. Keluarga besar ini memang kocak, terutama saat sungkeman ke Mamatua. Banyak kali itu wejangan dan doa-doa serta tiupan-tiupan ke ubun-ubun *LOL!*. 

Shalat, sudah.
Nyekar, sudah.
Sungkeman, sudah.
Makan-makan, sudah.
Saatnya silaturahmi ke rumah Paman Bibi!

Di rumah Bibi Hawa dan anaknya Rudi Pua Ndawa (dan Aynun).

Kalian lihat tawa saya yang lebar itu? Itu palsu. Karena sesungguhnya gigi saya sedang berada di puncak tertinggi rasa sakit.

Mengunjungi rumah Paman dan Bibi diteruskan ke rumah orangtua anggota keluarga baru, yaitu orangtuanya Titin (isterinya Angga). Luar biasa di rumah orang para cucu membikin acara sendiri yang super heboh sampai semacam terjadi ledakan bom nuklir di rumah itu hahahahaha. Sumpah, saya hanya bisa tertawa sambil menahan sakit gigi. Sakit gigi yang luar biasa ini mengantar saya tidur di sofa ruang tamu rumah calon mertuanya Kakak Nani Pharmantara. Qiiqiqiqi. Sampai tuan rumah cukup repot pula melihat saya. Ah ... penuh cerita Idul Fitri kali ini.

Pulang ke Pohon Tua, setelah menegak salah satu pain killer, saya tepar sampai malam hari. Alhamdulillah Kakak Didi Pharmantara mau berlama-lama di Pohon Tua untuk menemani tamu. Katanya saya kerjain dia hahaha. Maklum lah, ketimbang saya memaksakan diri duduk bersama tamu dengan kondisi begini? 

Clue, salah seorang tamu: traveler of the century! Haha.

Keajaiban terjadi ketika Stanis datang ke rumah dan menyarankan Kataflam bubuk sekaligus dua sachet. Ini namanya kebetulan yang manis. Karena ... saya punya dua orang tamu, traveler, yang baru tiba dari Moni. Nah, mereka bakal menginap semalam di Ende (Stanis menyiapkan rumahnya, dan terima kasih banget untuk itu). Ketika mereka tiba, saya baru selesai menegak Kataflam bubuk itu (dicampur air donk) ... dan efeknya cukup cepat! Nyeri hilang. Sekitar pukul 21.00 Wita akhirnya saya dan Stanis menjemput sang tamu dan mengantar mereka beristirahat di rumah Stanis. Tentang tamu-tamu ini, nantikan kisahnya besok!

⇜⇝

Keluarga kami, Pharmantara beserta  keluarga lain akibat dari kawin-mawin yaitu keluarga Abdullah (suami Kakak Nani Pharmantara) memang selalu heboh dan kocak di setiap kesempatan. Bukan berarti kami tidak mengalami susah dan sulitnya hidup. Kami mengalaminya juga, termasuk berantem dan saling diam! Tapi darah yang kental ini tidak dapat encer hanya karena berantem kan ya. Dan saya bahagia memiliki mereka semua dalam hidup ini. Love them all.




Cheers.

5 Youtuber Ende

Gambar Youtube diambil dari Wikipedia.

Youtube sudah jadi 'mainannya' semua orang. Zaman dulu kami yang di Ende sini masih pikir-pikir buat main agak lama di Youtube, sekadar menonton video pun, karena akses internet yang terbatas dan mahalnya bukan kerja main. Zaman sekarang, jangankan sekadar menonton video, mengunggah video pun lancar jaya kayak bis Ende - Larantuka. Huray lah. Meskipun kalian bakal bilang mahal, tapi paket internet dari Telkomsel terbilang murah untuk kami, seratus ribu bisa dapat 12GB, dan bisa dipakai sebulan. Paket internet dari IndiHome pun cukup murah karena dengan tiga ratus lima puluh ribu bisa dapat 10Mbps, bisa dipakai sebulan buat orang serumah ditambah satu dua tetangga.

Baca Juga: 5 Menu Breakfast

Balik lagi ke Youtube.

Gara-gara sering main di Youtube, melihat penambahan satu dua subscriber yang merangkak perlahan, saya jadi suka juga menonton video-video yang diunggah oleh Orang Ende. Videonya macam-macam. Ada video musik, ada video live suatu kegiatan, ada video drama, dan lain sebagainya. Pada akhirnya ada lima Youtuber Ende yang jadi favorit saya. I mean, saya jadi sering menonton video-video mereka. Saya pikir tidak ada salahnya berbagi tentang Youtuber Ende ini dengan kalian. Siapa tahu kalian terhibur sembari mengisi waktu puasa.

Cekidot!

1. Martozzo Hann


Mister Hann yang mengaku handsome ini masih keponakan saya. Kami sering kerja bareng terutama proyek-proyek video dokumenter begitu. Subscribers-nya sudah mencapai 4.820! It's awesome. Channel-nya pun sudah di-monetize. Suatu malam kami berdua mengobrol tentang video-video di Youtube dan saya bertanya tentang pemasukan yang dia peroleh dari channel-nya itu. Angka yang dia sebutkan cukup fantastis. Menurut saya, angka itu fantastis. Saya mengakui Tozzo, demikian saya biasa memanggilnya, terutama kehebatannya menyunting video dengan hasil ciamik. Bagi kalian yang penasaran, silahkan cek channel-nya. Banyak video musik di sana. Jadi, sekalian lihat videonya sekalian mendengar lagu-lagu kami Orang Ende.

2. Ihsan Dato


Om Ihsan, demikian saya memanggilnya, meskipun usia kami tidak terpaut jauh. Om Ihsan, sama seperti saya, adalah pegawai Yayasan Perguruan Tinggi Flores yang menaungi Universitas Flores. Bedanya saya adalah anggota UPT Publikasi dan Humas sedangkan Om Ihsan adalah KTU Fakultas Teknologi Informasi. Subscribers-nya saat ini mencapai 1.578! Video-video di channel Youtube milik Om Ihsan banyak bercerita tentang Ende. Jadi, kalau kalian ingin melihat lebih dekat tentang Ende, silahkan berkunjung ke sana. Mulai dari Ende sebagai Kota Seribu Masjid, Penjemputan Romo, Permainan Anak-Anak, Tarian khas Ende, sampai tempat membeli takjil saat Ramadhan. Menurut saya channel Youtube Om Ihsan ini paket komplit.

3. Komsos Keuskupan Agung Ende


Ini dia salah satu channel favorit saya. Mau mencari drama/filem pendek tentang kehidupan, refleksi, terutama tentang Agama Katolik? Silahkan kunjungi channel yang satu ini. Subscribers-nya sudah mencapai 3.666! Selain drama/filem pendek yang diunggah di sana, ada pula kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan Gereja, Sekami, OMK, dan lain sebagainya. Ini channel tidak hanya bagus banget untuk kawan sekalian yang beragama Katolik, tapi juga saya yang beragama Islam, karena drama/filem pendeknya itu menyentuh kehidupan umum manusia. Silahkan dicek ya channel-nya.

4. Luis Thomas Ire


Siapa sih yang tidak kenal Luis Thoma Ire dengan Fiorola Band-nya? Saya pernah menulis tentangnya di pos Putera-Puteri Matahari Dari Timur Negeri. Uis demikian saya memanggilnya, merupakan musisi terjenius dari Kabupaten Ende yang pernah saya kenal. Musik-musiknya, lagu-lagu ciptaannya, super keren. Video musiknya, walaupun ada yang sederhana, tapi sangat mendukung musik/lagu ciptaannya. Terberkatilan kami Orang Ende punya seorang Uis, meskipun darah yang mengalir di dalam tubuhnya adalah darah Manggarai, hehe. Channel Youtube-nya yang punya 574 subscribers itu tidak saja berisi video musik lagu ciptaan sendiri, tetapi juga lagu-lagu yang di-cover. Setiap kali mendengar lagu-lagunya, perasaan saya jadi adeeeeem. Demikian.

5. SUC Endenesia


Saya sendiri yang membikin akun Youtube-nya. Saya juga mengidolakannya. Channel ini masih sangat baru. Subscribers-nya pun baru 10! Tapi saya suka, ha ha ha. Karena di channel ini lah saya dan kalian semua dapat menonton video para komika dan calon komika Ende (dan sekitarnya) ber-stand up comedy. Di channel ini lah kita semua bisa melihat video yang memang lucu, separuh lucu, atau bahkan tidak lucu sama sekali. Tapi, proses yang ditempuh itu yang patut diacungi jempol. Makanya, kalian juga bisa melihat proses para komika melalui video open mic, atau para calon komika melalui video lomba. I love it.


Itu dia lima Youtuber Ende favorit saya. Kalian sendiri, punyakah Youtuber favorit asal kota kalian sendiri? Kalau punya, bagi tahu donk ... siapa tahu saya bisa main ke sana dan menontonnya. Semoga rekomendasi lima Youtuber Ende ini dapat menghibur kalian dan bisa kalian jadikan hiburan sembari mengisi waktu puasa. Semoga.

Selamat melanjutkan puasa!



Cheers.

SUCEndenesia #1


Kenapa saya hitam seperti ini? Karena saya biar Orang Sabu tapi saya darahnya blasteran. Sombong sedikit, blasteran. Hasil kawin silang antara bunga desa cantik mempesona dari Pulau Raijua dengan seorang pejantan hitam keriting tidak tahu malu dari Nangaroro. Mungkin waktu saya punya bapa ketemu saya punya mama, ajak saya punya mama nikah tuh dengan satu tujuan supaya bisa merubah keturunan. Tapi sayang sekali di eskperimen pertamanya dia harus pasrah bahwa dia gagal karena hasilnya seperti ini. Tapi saya akui saya punya bapa itu orangnya semangat. Dia berjuang dalam segala hal, dia tidak pernah putus asa. Setelah saya, dia berjuang tiga kali lagi, eksperimen tiga kali lagi. Dan syukurlah akhirnya dia sadar bahwa dia tidak akan pernah bisa buat keturuanan yang baru. Tiga ke bawah itu tambah hancur ..."

Baca Juga: Buruh Migran

Itu sepenggal ocehan Hendra, Juara III Lomba Stand Up Comedy Endenesia #1, yang diselenggarakan Sabtu 4 Mei 2019, berlokasi di Miau Miau Cafe - Ende. Ya, seperti yang sudah kalian baca di pos Lomba SUC Endenesia. Kegiatan yang berawal dari kelompok kecil; Udo Petuz, Andi Ginta, dan saya, akhirnya terlaksana. Dari sepuluh calon komika yang mendaftar, satu mengundurkan diri, setelah diganti lagi dengan pendaftar baru, dua lagi mengundurkan diri. Menjelang lomba, satu peserta tidak datang. Lomba berjalan dengan delapan peserta yang dengan penuh tekad dan semangat ingin menunjukkan kemampuan mereka memancing tawa para penonton. Bagi saya pribadi, lebih baik memancing ikan ketimbang memancing tawa penonton. Susahnya minta ampun. Makanya saya tidak ikut-ikutan melucu hahaha.

Peserta


Delapan peserta adalah King, Bocor, Fadil, Andara, Lino, Sultan, Tulen, Hendra. Mereka berdelapan, ada yang asli Orang Ende ada yang akarnya dari kabupaten tetangga, mempunyai karakteristik masing-masing dengan tema utama tentang Ende. Ya, banyak hal yang bisa digali dari Kabupaten Ende untuk dijadikan bahan stand up comedy. Para peserta itu, ada yang tanpa harus berusaha melucu namun pandai bermain diksi dan sudah bikin penonton terpingkal-pingkal. Ada berusaha melucu namun belum menemukan passion-nya. Tapi semuanya sangat kami hargai (kami: panitia, sesama peserta, penonton). Karena ... kami sedang sama-sama belajar dunia stand up comedy.

Menariknya, beberapa peserta tidak saja ber-stand up comedy tetapi juga menampilkan aksen dan impression. Seperti Bocor dan Fadil. Aksen, tentu aksen dari dua suku yang ada yaitu Suku Ende dan Suku Lio. Sedangkan impression macam-macam mulai dari suara derit pintu sampai terguling di lantai. Yang jelas, bagi saya pribadi, delapan peserta Lomba Stand Up Comedy Endenesia #1 sungguh luar biasa. Mereka berani. Dan keberanian lah yang kelak akan mengantar manusia pada kesuksesan. Termasuk berani gagal. Hei, gagal adalah sumber kesuksesan. Percayalah.

Tema


Kami menentukan tema tentang Ende. Seperti yang sudah saya tulis di atas, banyak hal yang bisa digali dari Kabupaten Ende untuk dijadikan bahan ber-stand up comedy. Terbukti, para peserta membawa tema seperti jalanan berlubang di Kota Ende, dunia pendidikan, sampai dunia asmara. Huhuy! Jalanan berlubang ini memang paling banyak diangkat. Hehehe. Andaikan saya boleh membocorkan satu dua ide, tapi saya tidak sempat bertemu para peserta, banyak sekali yang bisa dijadikan bahan. Misalnya: Orang Ende itu kalau ada temannya sukses pasti bilang 'teman saya tuh!' tapi kalau orang yang sama gagal pasti bilang 'eeee siapa ya dia?'. Itu lelucon ... jangan baper.

Jawara


Dari delapan peserta, sejujurnya, memang mudah menentukan siapa yang menang. Karena, menurut saya pribadi, ada jarak yang agak jauh antara mereka meskipun sama-sama baru pertama kali ber-stand up comedy. Tapi saya dan Udo harus berembug cukup alot pula tentang tiga juara yang diumumkan usai lomba ini. Kami harus mempertimbangkan tema, set up hingga punch, dan lain sebagainya. Kami tidak bisa menilai dari tawa penonton saja. Karena, ada peserta yang leluconnya memang sudah akrab di suatu komunitas sehingga sudah pasti orang-orang dari komunitas tersebut terpingkal-pingkal sedangkan yang lain belum tentu. Selain itu, durasi juga cukup dipertimbangkan. Sepuluh menit adalah durasi yang ditetapkan. Artinya, bisa kurang sedikit atau lebih sedikit. Sedikit ... tidak boleh terlalu banyak.

Baca Juga:  Politik Itu Abu-Abu

Pada akhirnya saya dan Udo mengantongi tiga nama:
Juara I - Fadil.
Juara II - Sultan.
Juara III - Hendra.

Selamat kepada para juara. Jangan lupa setiap Jum'at malam kita ketemu di Miau Miau Cafe.

Terima Kasih


Lagi, saya tertampar dan malu. Seperti yang sudah saya tulis pada pos tentang lomba ini, saya tertampar dan malu karena Andi Ginta sebagai penyandang dana kegiatan ini bukanlah Orang Ende tetapi Orang Manggarai. Jadi, apa yang bisa kita lakukan? Mendukung dengan berbagai cara agar kegiatan ini terselenggara; menjadi panitia, menjadi penonton, menjadi orang yang menyebarkan informasinya. Itu bentuk-bentuk dukungan yang bisa kita lakukan.

Terima kasih Andi Ginta untuk semuanya; dana kegiatan, ini itu, sampai makan malam panitia dan peserta! Uh wow sekali ya. Saya tidak menyangka dan semakin malu dibuatnya hahaha. Saya sampai terkejut saat selama rembug juri, Andi memberikan kompensasi pada penonton yang berani maju dan ber-stand up comedy di panggung ... instan. Ada? Adaaaa! Tiga pula! Hahaha. Kocak.

Terima kasih Udo Petuz untuk semuanya; membangun Stand Up Comedy Endenesia, inisiasi awal, sampai akhirnya kegiatan ini terselenggara.

Kalau saya bilang kita bertiga hebat. Tidak. KITA BERTIGA HEBAT SEKALI. Ha ha ha. Sombong sedikit kan boleh. Mungkin karena ditempa oleh pengalaman dari banyak komunitas, mengenal banyak karakter, berusaha untuk lebih bisa mengendalikan diri, dan punya jiwa kerja dan membangun, akhirnya lomba ini dapat terselenggara. Terselenggara dari sebuah kelompok kecil beranggotakan tiga orang. Dan kita siap untuk membesarkannya ... kita sudah punya tambahan anggota delapan orang. Semakin kuat, semakin baik, asal kekuatan itu dibarengi dengan cinta kasih. Ibarat ilmu ... ilmu tanpa guru bisa jadi sesat.

Kelanjutan dari Lomba Stand Up Comedy Endenesia #1 adalah open mic setiap Jum'at malam di Miau Miau Cafe dan lomba per tiga bulan yang sudah kami canangkan untuk menggali lebih banyak potensi calon komika Kabupaten Ende dan sekitarnya. Selain itu, Andi Ginta sudah berbicara tentang lomba dari lini musik ... akustikan begitu. Uh wow sekali hehehe. Bagaimana dan seperti apa, nanti baru didiskusikan bersama. 


Demikian kawan cerita dari Lomba Stand Up Comedy Endenesia #1. Untuk sementara video-videonya masih saya unggah ke akun Youtube saya. Sampai saat ini saya belum membikin akun Youtube khusus Stand Up Comedy Endenesia hehehe, nanti ya. Kalau mau menonton, silahkan. Sederhana. Mungkin ada yang bilang lucu, ada pula yang bilang tidak lucu. Tapi kami menerima semua kritik dengan tangan terbuka. Karena hanya orang sombong saja yang tidak menerima kritikan. Tapi, lagi, harus bisa membedakan antara kritikan dan hinaan ya hahaha soalnya kritik dan hinaan dibatasi selembar kertas super tipis.

Terima kasih untuk doa dan dukungannya. Demi Ende tercinta.

Life is good. It must be.

Baca Juga: Jaga Waka Nua

Selamat menjalankan ibadah puasa untuk saya dan kalian semua yang menjalankannya. Semoga puasa kita lancar.



Cheers.

Lomba SUC Endenesia


Stand up comedy (SUC) bukan hal baru di Indonesia. Mulai dari zamannya Ernest Prakasa, Panji Pragiwaksono, Raditya Dika, Abdur, Fico, sampai Ridwan Remin dan Dana. Saya selalu suka menonton SUC. Siapa sih yang tidak suka? Satu orang di panggung bisa bikin satu Indonesia tertawa itu luar biasa. Karena, satu orang di dunia politik bikin satu Indonesia berantem itu sudah biasa. Oleh karena itu, ketika tahu bahwa salah seorang pemuda Ende begitu pandai membikin joke-joke segar dengan muatan lokal, saya pikir itu luar biasa. 

Baca Juga: Politik Itu Abu-Abu

Sudah lama saya mengenal Udo, Facebook: Udo Jee Petruz, mahasiswa Prodi Sastra Inggris Universitas Flores. Minatnya pada dunia stand up comedy didukung bakat ngelucunya yang selalu bisa menghidupkan suasana. Saya dan Iwan Aditya pernah mengundang Udo sebagai bintang tamu dalam program Tuwan Show di Radio Gomezone Flores tahun 2016 dan suasana malam itu pecah sepecah-pecahnya. Saya memang sering melempar joke dan pasti tertawa setiap kali mengudara, tapi malam itu otot perut saya kram maksimal. Baik joke dari Udo, joke dari saya, maupun joke typo bibir ciri khas Iwan. Haha.

Beberapa kali Udo menghubungi saya dan mengutarakan rencananya untuk menggelar acara stand up night. Acara itu bakal menghadirkan para komika asal Kota Ende dan Kota Maumere. Belum tahu perkembangan tanggapan dari komika asal kota lainnya. Tapi tentu stand up night membutuhkan waktu, tenaga, juga dana, yang lumayan besar. Ya kan? Lagi pula stand up comedy merupakan sesuatu yang masih baru di Kota Ende. Bagaimana cara menarik perhatian sponsor, itu yang harus dipikirkan, karena rata-rata sponsor selalu tertarik dengan event musik yang massa-nya ugh wow.

Lalu, suatu hari di awal April 2019 saya dihubungi Udo. Dia meminta bertemu di Miau-Miau Cafe milik Andi Ginta. Oh ya, saya pernah mengajari blog kepada mahasiswa yang memilih lokasi di kafe ini karena akses internetnya kencang. Siang itu kami membicarakan tentang rencana membikin Lomba Stand Up Comedy Endenesia yang super sederhana karena dananya hanyalah modal pribadi Andi seorang. 

Modal Pribadi


Andi Ginta, yang selain memiliki Miau-Miau Cafe juga Hotel Satar Mese, menyediakan dana pribadi untuk menggelar lomba tahap awal ini. Jumlahnya tidak banyak, tapi cukuplah untuk memulai sesuatu yang sudah seharusnya berjalan sejak lama. Saya pikir, kalau tidak sekarang, kapan lagi? Kapaaaan dunia stand up comedy ini bergerak di kota kecil kami? Apakah cuma Udo saja yang tampil di acara-acara untuk open mic? Andi sendiri meminta lomba ini diselenggarakan setiap bulan atau setiap tiga bulan. Dia bakal tetap menanggung dananya meskipun kelak, kalau sukses, sudah ada sponsor.

Saya terkesiap.

Baca Juga: Jaga Waka Nua

Andi Ginta loh, darah asli yang mengalir di tubuhnya adalah Manggarai, tetapi dia mau berbuat untuk kota ini, Kota Ende. Itu kan seperti ditampar halus bolak-balik hahaha. I'm in! Saya setuju. Apa yang harus kami pikirkan? Dana (untuk hadiah) ada, lokasi gratis di Miau-Miau Cafe, soundsystem secukupnya, juri saya dan Udo, dokumentasi si Cahyadi sudah oke untuk merekamnya menggunakan kamera saya. Bukankah sudah siap tancap gas? Maka bermodal Canva saya pun membikin e-pamflet.


Bahkan, setelah e-pamflet ini beredar di media sosial, banyak juga mau terlibat. Misalnya Armando, sahabat saya yang adalah penyiar RRI bersedia menjadi MC, dan Kiss dan Ampape Sablon pun bertanya-tanya apakah dia bisa ikut berpartisipasi dengan menyumbangkan kaos, dan Habibie dari SUC Jogja (anak Ende yang kuliah di sana) pun bersedia berpartisipasi. Lhaaaa tidak disangka kan? Dari ide dan langkah kecil kemudian, Insha Allah, menjadi besar.

Quota Yang Terpenuhi


Kami optimis meskipun hadiahnya kecil. Kalau tidak optimis ... ya tidak jalan lah. Untuk kegiatan perdana ini, dibuka slot untuk sepuluh pendaftar pertama saja. Kalau masih ada yang mau mendaftar, kami simpan untuk kegiatan berikutnya (tiga bulan berikutnya). Tidak disangka, sejak dikeluarkan e-pamflet itu, menerima banyak inbox dan pesan WA, pada akhirnya pada Jum'at, 26 April 2019, quota-nya terpenuhi. What!? Are you kidding me?

SEPULUH PENDAFTAR!
7 LAKI-LAKI, 3 PEREMPUAN.

Mata saya berkaca-kaca. Terbukti para calon komika ini membutuhkan wadah, bukan hadiah. Dan Alhamdulillah wadah itu sudah terbentuk dan tinggal diisi saja.


Menjadi juri Lomba Stand Up Comedy Endenesia, kalau boleh disebut Episode 1, membikin saya belajar untuk melucu hahaha. Kalian bisa lihat video di Youtube saya, tentang hal-hal absurd. Tapi baru tiga video saja. Selain itu saya pun harus membekali diri dengan apa-apa yang berkaitan dengan dunia stand up comedy. Misalnya apa itu premis, punchline, blue material, timming, ripping, act-out, artikulasi, sampai mic-ing. Ya, bagaimana seorang komika mampu menampilkan komedi yang lucu bagi semua orang yang menontonnya. Mama eee sa pikir mudah ternyata uzu roooo.

Satu yang saya pinta dari kalian. Bukan suara, karena saya tidak nyaleg dan Pemilu sudah berakhir. Yang saya minta hanyalah doa dan dukungan agar kegiatan ini berjalan dengan baik dan lebih berkembang ke depannya.

Baca Juga: Fair Play Flag

Salam ngakak :p



Cheers.

Pola Timbal Balik


Menulis pos ini sudah saya rencanakan jauh-jauh hari dan berusaha menulisnya dengan cermat berdasarkan penelitian dan penelaahan yang cukup matang. Kalaupun ada kekurangan, saya pikir kekurangan itu tidak masif. Saya tertarik dengan suatu pola yang berlaku dalam masyarakat. Masyarakat yang saya maksudkan di sini adalah masyarakat dari dua suku besar yang ada di Kabupaten Ende yaitu Suku Ende dan Suku Lio. Pola itu saya sebut pola timbal-balik; khususnya dalam perkara perkawinan.

Baca Juga: Manis Akustik

Bukan rahasia lagi jika kami yang hidup di Kabupaten Ende sering mendengar kalimat: ndoe, minta belis besar macam jual anak saja! Ya, kalimat itu memang menyakitkan tapi sering terucap di forum-forum tidak resmi apabila orang-orang mulai membicarakan belis. Bahkan dari MerdekaDotCom pada artikel berjudul Tradisi Belis, Budaya 'Mencekik Leher' Warga NTT dijelaskan tentang gading sebagai belis wajib di Kabupaten Flores Timur. Tapi tentu, beda kabupaten, beda pula belis-nya. Misalnya Suku Ende dan Suku Lio pantang meminta gading sebagai belis, kalau emas sih yess. Tidak bisa disama-ratakan begitu saja. Sehingga saran saya, jika ingin menulis tentang belis, pelajari terlebih dahulu suku mana yang hendak ditulis atau diulas.

Karena, bahkan, ada keluarga Suku Ende dan Suku Lio yang tidak terlalu memusingkan belis. Yang penting kelayakan, kepatutan, dan syariat atau secara agamanya dijalankan dengan baik.


Oleh karena itu, mari baca pos ini sampai selesai dengan cermat agar tidak terjadi salah tafsir. Kalau salah tafsir kan repot! Ibarat salah informasi yang kemudian disebarkan lagi dan menjadi hoax. Bisa-bisa kami, perempuan Kabupaten Ende, tidak ada yang melamar gara-gara disebut belis-nya mahal selangit.

Perpaduan Agama dan Budaya


Perkawinan di Indonesia tidak terlepas dari dua lingkup utama yaitu agama dan budaya (yang ketiga adalah peran pemerintah dalam pencatatan sipil). Perpaduan agama dan budaya dalam perkawinan ini berbeda-beda di setiap wilayah di Indonesia. Jangankan Indonesia, di Kabupaten Ende pun demikian adanya, tergantung asal suku calon pengantin perempuannya. Suku Ende atau Suku Lio. Karena saya berasal dari Suku Ende, mengikuti garis keturunan almarhum Bapa (we are patrilineal), maka saya pasti tahu tentang perkawinan adat Suku Ende. Yang namanya adat memang berat, tapi yang perlu diingat adalah kompromi dan kesepakatan kedua belah pihak. Kalau sama-sama ingin menjalankan syariat dan agar si laki-laki dan perempuan tidak melakukan hal-hal di luar aturan, segerakan perkawinan mereka dengan adat yang disertakan tapi tidak memberatkan.

Suku Ende


Suku Ende, terutama berakar pada bagian pesisir pantai Selatan hingga Pulau Ende, terakulturasi dengan agama Islam dan budaya yang dibawa oleh para pedagang/pelaut dari Bugis dan Makassar (dulu kami menyebutnya Ujung Pandang). Sehingga jarang sekali saya mendengar kata belis dari Suku Ende, melainkan mendhi belanja. Akan tetapi kata belis memang sulit dilepaskan rekatannya dari perkawinan.

Pola Timbal Balik dalam Adat Perkawinan Suku Ende


Menurut analisa saya, tidak seratus persen benar bila orang-orang berkata: belis sama dengan menjual anak perempuan kepada laki-laki yang meminangnya. Karena, berdasarkan pengalaman dan pengamatan pribadi terhadap urusan perkawinan ini, saya paham betul bahwa selalu ada pola timbal balik dari semua tahap menuju perkawinan. Paling akhir, saya mengamati dan mempelajari pola timbal balik dari perkawinan keponakan laki-laki yaitu Angga dengan seorang perempuan bernama Titin, dari Suku Ende. Keduanya tidak pacaran melainkan memilih melewati/melalui proses ta'aruf

1. Timbal Balik Saat Nai Ono dan Buku Pelulu

Awal mula dari perkawinan Angga dan Titin adalah ta'aruf yang dilanjutkan dengan kunjungan awal keluarga laki-laki ke rumah keluarga perempuan yang disebut temba rasa. Tahap berikut adalah nai ono dan buku peluluNai ono merupakan kegiatan maso minta (masuk minta) atau lamaran. Kegiatan nai ono ini biasanya dibarengi dengan buku pelulu. Buku pelulu (sekatu uwi jawa) juga disebut mendi bha raka merupakan proses pihak laki-laki yang diwakili mayoritas oleh kaum perempuan mengantarkan barang-barang berupa cincin, dulang utama (waktu itu kami mengisi dulang utama dengan nasi tumpeng serta lauk-pauknya), uang jajan dari calon mertua pada calon anak mantu perempuan itu, hingga aneka kue-kue dan buah (yang disumbangkan oleh keluarga pihak laki-laki ini saat berkumpul). Pada buku pelulu Angga dan Titin, selain uang jajan dari calon mertua pada calon anak mantu, kakak saya Abang Nanu dan ipar saya Mbak Wati, juga memberikan sejumlah hadiah lain kepada Titin seperti sarung, baju, daleman, alas kaki, dan lain sebagainya. Dua pick up penuh dan bertumpuk dengan aneka barang hantaran buku pelulu.

Sebagian hantaran saat buku pelulu, Desember 2018. 

Si cantik, yang dibikin sama Mbak In, kakaknya Angga. 

Kakak Nani, memasang cincin hadiah dari Abang Nanu dan Mbak Wati untuk Titin. 

Sebagian kecil cucu Pua Ndawa dan Pua Djombu.

Lalu di mana pola timbal baliknya?

Dalam adat Suku Ende perkara perkawinan ini, setelah pihak keluarga calon pengantin laki-laki mengantarkan buku pelulu seperti yang sudah saya tulis di atas, maka keluarga calon pengantin perempuan akan melakukan bazhe duza/dhuza atau balik dulang atau mengembalikan dulang-dulang yang diantar sebelumnya oleh pihak keluarga laki-laki, tentu bukan dulang kosong tetapi harus ada isinya. Bazhe duza biasanya dilakukan beberapa hari setelah buku pelulu sesuai kesepakatan kedua belah pihak, agar pihak keluarga calon pengantin laki-laki juga bersiap-siap menjamu tamu. Dalam bazhe duza, jumlah dulang yang dibalikin harus sama dengan yang diantar. Isi dulangnya boleh berbeda dari yang diantar oleh pihak keluarga calon pengantin laki-laki, boleh sama, dan umumnya terdiri atas aneka kue dan buah-buahan. Inilah pola timbal balik yang saya maksudkan.

Baca Juga: Es Gula Moke

Jadi, pihak keluarga calon pengantin perempuan tidak semata-mata menerima seratus persen hantaran dari pihak keluarga calon pengantin laki-laki. Ada timbal baliknya. Pola timbal balik ini masih ada sampai pada saat setelah perkawinan berlangsung.

2. Mendhi Belanja, Bukan Belis

Meskipun namanya mendhi belanja atau mengantar uang belanja, bukan belis, namun tetap saja masyarakat Suku Ende menyebutnya belis. Karena, apa-apa yang diantar saat mendhi belanja ini umumnya sama dengan hantaran belis. Apa saja kah yang diantar saat mendhi belanja? Ini dia, antara lain:

a. Uang belanja.
b. Uang pemuda/lingkup RT.
c. Uang air susu ibu (kemarin ditolak oleh Mamanya Titin).
d. Seekor sapi.
e. Barang-barang kebutuhan perempuan.
f. Uang isi kumba isi ae nio untuk paman-paman si calon pengantin perempuan.

Totalannya bisa mencapai 100Juta, bahkan lebih. Uang belanja ya uang bumbu dan keperluan acara perkawinan nanti, uang pemuda ya untuk pemuda-pemudi setempat lingkungan si calon pengantin perempuan, uang air susu ibu semakin ke sini telah sering ditolak oleh para ibu, sapi untuk keperluan konsumsi acara perkawinan, barang-barang kebutuhan perempuan dari A sampai Z, isi kumba isi ae nio

3. Isi Kumba Isi Ae Nio

Menarik sekali membahas ini. Karena pola timbal balik juga terjadi di sini. Pihak keluarga calon pengantin laki-laki memang juga mengantar sejumlah uang untuk isi kumba isi ae nio saat mendhi belanja, tapi jangan salah, sebenarnya itu bakal dibalikin, kadang jauh lebih besar jumlahnya, oleh para Ka'e Embu. Ka'e embu adalah om/paman dari pengantin perempuan baik dari pihak Bapak maupun pihak Ibu. Jadi, setelah perkawinan berlangsung, pihak ka'e embu ini wajib mengantarkan isi kumba isi ae nio ke rumah pengantin laki-laki. Isi kumba ditanggung oleh paman dari pihak Ibu sedangkan isi ae nio ditanggung oleh paman dari pihak Bapak si pengantin perempuan.

Isi kumba biasanya berupa perlengkapan untuk pengantin perempuan, sedangkan isi ae nio berupa perlengkapan untuk pengantin laki-laki. 

SAH!

Sebagian kecil cucu Pua Ndawa dan Pua Djombu.

Kemarin, saat setelah pernikahan Angga dan Titin, ada tiga koper (karena zaman sekarang susah mencari gentong jadi memakai koper gedeeee) yang diantar oleh pihak pengantin perempuan. Satu koper lagi untuk siapa? Untuk saudari dari Bapaknya pengantin laki-laki. Ya, dalam hal ini Kakak Nani Pharmantara yang sebelum mendhi belanja sudah mengantarkan lebih dulu jatahnya yaitu seekor sapi kepada Abang Nanu Pharmantara. Seharusnya, sebagai adik dari Abang Nanu saya juga wajib mengantar eko (ekor, hewan) tetapi karena saya belum menikah dibolehkan untuk alpa hahaha.

See ...? Semuanya memakai pola timbal-balik.

Sehingga kalau ada yang menyamaratakan belis itu mencekik dan bikin bangkrut pihak laki-laki, menurut hemat saya ... tidak ah.

Soal pola timbal balik ini masih banyak loh dalam adat Suku Ende maupun Suku Lio, seperti weta ane itu hantaranya apa, dan kalau dibalik itu apa saja barangnya, dan lain sebagainya. Nanti saya ulas ya.

Ada Bedanya


Perbedaan ini bukan dari urusan suku saja, tetapi juga dari urusan kesepakatan kedua belah pihak. Oleh karena itu kalian masih bisa membaca tulisan tentang belis yang bikin pihak laki-laki kalang-kabut memenuhinya, tapi kalian juga bisa membaca tulisan saya tentang belis/mendhi belanja yang masih terhitung masuk akal. 

Makhluk Sosial dan Keluarga


Saya selalu bilang, jika kawin nanti (apabila diijinkan oleh Allah SWT), cukup di KUA dan makan keluarga, kemudian bubar. Apa yang saya sampaikan itu ditentang oleh keluarga dan bahkan teman-teman. Saya bilang: terlalu banyak uang dihambur-hamburkan, nanti. Mereka bilang: kalau menikah (mereka tidak pakai kata kawin karena mereka bukan orang Hukum, halah, hahaha) nanti yang memikirkan ini itu bukan kau, tapi keluarga, termasuk kami!

Ah, manusia adalah makhluk sosial yang mau tidak mau memang harus hidup bersama manusia lainnya dalam suka dan duka. 

 Rempongnya memakai sarung tenun ikat, hahaha.

Ihiiirrr ... 

Abang Nanu, Kakak Nani, Angga dan Titin, saya, Babe Didi.

Kalau kalian membaca pos 5 Yang Unik Dari Ende (Bagian 2), kalian pasti tahu soal minu ae petu. Pahami soal minu ae petu, kalian akan paham bagaimana cara pemenuhan belis atau keperluan mendhi belanja, selain dari tabungan pribadi. Karena kita, manusia, adalah makhluk sosial dan mempunyai keluarga yang tidak akan tinggal diam dalam urusan-urusan besar keluarga lainnya. Mau bilang: tidak perlu? Maka kita bakal melanggar adat-istiadat! Hahaha. Sumpah, meskipun hidup di zaman moderen dan di kota, saya tidak mau disebut melanggar atau meninggalkan adat. Karena saya, berakar dari dua adat yaitu adat Suku Ende (Bapa) dan adat Suku Lio (Mamatua).


Demikianlah pola timbal balik, pos yang sudah saya rencanakan jauh-jauh hari, tapi tentu harus melengkapi data sebelum berani mempublikasikannya. Intinya adalah belis/mendhi belanja itu adalah adat yang wajib dipenuhi, tetapi tidak boleh memberatkan, agar perkawinan dapat disegerakan. Oleh karena itu kesepakatan kedua belah pihak sangat diperlukan untuk mencapai mufakat sebelum hari perkawinan tiba. 

Baca Juga: Arekune

Bagaimana dengan daerah kalian, kawan? Yuk, share ...



Cheers.

5 Gaya Zawo Zambu


Zawo zambu (dalam penyebutan oleh Suku Ende), atau lawo lambu (dalam penyebutan Suku Lio), merupakan pakaian tradisional/adat untuk perempuan Kabupaten Ende. Zawo/lawo berarti sarung tenun ikat sedangkan zambu/lambu berarti baju yang modelnya mirip Baju Bodo. Tidak semua perempuan Kabupaten Ende memakai zawo zambu setiap harinya, atau tidak setiap hari perempuan Kabupaten Ende memakai zawo zambu. Bagi yang tinggal di daerah perkotaan, zawo zambu dipakai saat acara-acara tertentu diantaranya acara adat pernikahan, acara kedaerahan oleh pemerintah, hingga acara-acara lainnya yang mewajibkan perempuan memakai zawo zambu.

Baca Juga: 5 Komoditas TSF

Saya suka memakai zawo zambu, meskipun tidak setiap hari, karena kebanggaan saya pada pakaian tradisional ini. Berbeda dari perempuan lain yang memadukan zawo zambu dengan selop, kelom, sandal cantik, hingga high heels, saya memadukan zawo zambu dengan sepatu kets atau boot. Alasannya karena kaki saya tidak bisa berkompromi dengan sendal dan/atau sepatu perempuan. Cantik selalu menyakitkan kaki saya ha ha ha.

Hari ini saya pengen ngama (pamer) foto-foto zawo zambu yang pernah saya pakai.

1. Zawo dan Zambu Cokelat


Umumnya zambu yang dipakai itu dapat dimasukkan ke dalam zawo, atau bisa juga dikeluarkan. Yang satu ini saya memakai zawo jenis Kembo milik Kakak Niniek dan zambu cokelat.


Ya, memang, selalu ada yang aneh bin gokil kalau urusan foto itu modelnya adalah saya *ngakak guling-guling*.

2. Zawo dan Zambu Pink


Sejak ada Thika Pharmantara di rumah, saya jadi suka juga memakai pakaian berwarna pink. Padahal, saya kan Presiden Negara Kuning! Haha.


Kali ini zambu-nya tidak dimasukkan ke dalam zawo. Oh ya, jenis zawo yang saya pakai ini bernama Mangga. Ditenun khusus sama calon kakak ipar sehingga ukurannya lebih besar dari ukuran normal. Maklum ... bodi segede parabola begini. Haha.

3. No Zambu!


Agak aneh menulis ini, karena kok malah no-zambu? Iya, ceritanya saya malas memakai zambu, jadi saya memilih kemeja yang mirip-mirip sama zambu. Lagi pula, ketika telah tertutup jilbab, zambu-nya jadi kurang menonjol kan *senyum kemenangan*.


Ini fotonya bareng Reynold yang memakai pakaian adat Sumba. Saya lupa acara apa, yang jelas hari itu kami wajib mengikuti upacara bendera memakai pakaian adat asal masing-masing. Oh ya, tas yang saya pakai itu tas rajutan oleh-oleh dari sepupu saya Pater Anang Bhara yang bertugas di Equador.

4. Zambu Berekor


Haha. Rikyn Radja merupakan orang tercerdas dalam urusan memodifikasi zambu model ini. Saya pernah memakainya saat pernikahan keponakan saya si Indri, dan Minggu (24 Maret 2019) kemarin saya memakai lagi yang modelnya sama tapi beda warna:

Ini waktu nikahannya Indri. 

Ini waktu nikahnya Angga, Minggu kemarin.

Zambu seperti ini memang paling bagus jika digunakan dalam acara pernikahan karena kecetarannya. Bahkan ada pengantin yang juga memakai zambu model begini tapi pastinya berwarna putih khas pengantin perempuan.

5. Modifikasi Habis-Habisan


Lagi-lagi Rikyn Radja mengkreasikan zawo zambu menjadi seperti ini:


Selain yang satu ini, ada lagi yang dimodifikasi menjadi mirip pakaian orang Jepang, ada obi-nya. Tapi masih belum berhasil saya temukan berkas fotonya. Nanti deh hehe.


Apa pun modelnya; asli maupun modifikasi, saya selalu suka memakai zawo zambu. Zambu-nya dimasukin ke zawo atau dikeluarin, sama saja. Tetap suka. Karena memakai zawo zambu itu langka, momen saat sedang memakainya harus terus diabadikan hingga memori telepon genggam penuh dan nyaris ngambek.

Presiden Negara Kuning dan Penduduknya. Haha. 

Keluarga Besar Pua Ndawa dan Pua Djombu.

Bagaimana dengan kalian? Pasti bangga juga donk ya memakai pakaian adat/tradisional daerah masing-masing. Adat yang fleksibel dan menyesuaikan dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan kaidah/norma dasarnya.

Baca Juga: 5 Jawara Mural

Selamat Kamis, kawan ...



Cheers.

5 Gaya Zawo Zambu


Zawo zambu (dalam penyebutan oleh Suku Ende), atau lawo lambu (dalam penyebutan Suku Lio), merupakan pakaian tradisional/adat untuk perempuan Kabupaten Ende. Zawo/lawo berarti sarung tenun ikat sedangkan zambu/lambu berarti baju yang modelnya mirip Baju Bodo. Tidak semua perempuan Kabupaten Ende memakai zawo zambu setiap harinya, atau tidak setiap hari perempuan Kabupaten Ende memakai zawo zambu. Bagi yang tinggal di daerah perkotaan, zawo zambu dipakai saat acara-acara tertentu diantaranya acara adat pernikahan, acara kedaerahan oleh pemerintah, hingga acara-acara lainnya yang mewajibkan perempuan memakai zawo zambu.

Baca Juga: 5 Komoditas TSF

Saya suka memakai zawo zambu, meskipun tidak setiap hari, karena kebanggaan saya pada pakaian tradisional ini. Berbeda dari perempuan lain yang memadukan zawo zambu dengan selop, kelom, sandal cantik, hingga high heels, saya memadukan zawo zambu dengan sepatu kets atau boot. Alasannya karena kaki saya tidak bisa berkompromi dengan sendal dan/atau sepatu perempuan. Cantik selalu menyakitkan kaki saya ha ha ha.

Hari ini saya pengen ngama (pamer) foto-foto zawo zambu yang pernah saya pakai.

1. Zawo dan Zambu Cokelat


Umumnya zambu yang dipakai itu dapat dimasukkan ke dalam zawo, atau bisa juga dikeluarkan. Yang satu ini saya memakai zawo jenis Kembo milik Kakak Niniek dan zambu cokelat.


Ya, memang, selalu ada yang aneh bin gokil kalau urusan foto itu modelnya adalah saya *ngakak guling-guling*.

2. Zawo dan Zambu Pink


Sejak ada Thika Pharmantara di rumah, saya jadi suka juga memakai pakaian berwarna pink. Padahal, saya kan Presiden Negara Kuning! Haha.


Kali ini zambu-nya tidak dimasukkan ke dalam zawo. Oh ya, jenis zawo yang saya pakai ini bernama Mangga. Ditenun khusus sama calon kakak ipar sehingga ukurannya lebih besar dari ukuran normal. Maklum ... bodi segede parabola begini. Haha.

3. No Zambu!


Agak aneh menulis ini, karena kok malah no-zambu? Iya, ceritanya saya malas memakai zambu, jadi saya memilih kemeja yang mirip-mirip sama zambu. Lagi pula, ketika telah tertutup jilbab, zambu-nya jadi kurang menonjol kan *senyum kemenangan*.


Ini fotonya bareng Reynold yang memakai pakaian adat Sumba. Saya lupa acara apa, yang jelas hari itu kami wajib mengikuti upacara bendera memakai pakaian adat asal masing-masing. Oh ya, tas yang saya pakai itu tas rajutan oleh-oleh dari sepupu saya Pater Anang Bhara yang bertugas di Equador.

4. Zambu Berekor


Haha. Rikyn Radja merupakan orang tercerdas dalam urusan memodifikasi zambu model ini. Saya pernah memakainya saat pernikahan keponakan saya si Indri, dan Minggu (24 Maret 2019) kemarin saya memakai lagi yang modelnya sama tapi beda warna:

Ini waktu nikahannya Indri. 

Ini waktu nikahnya Angga, Minggu kemarin.

Zambu seperti ini memang paling bagus jika digunakan dalam acara pernikahan karena kecetarannya. Bahkan ada pengantin yang juga memakai zambu model begini tapi pastinya berwarna putih khas pengantin perempuan.

5. Modifikasi Habis-Habisan


Lagi-lagi Rikyn Radja mengkreasikan zawo zambu menjadi seperti ini:


Selain yang satu ini, ada lagi yang dimodifikasi menjadi mirip pakaian orang Jepang, ada obi-nya. Tapi masih belum berhasil saya temukan berkas fotonya. Nanti deh hehe.


Apa pun modelnya; asli maupun modifikasi, saya selalu suka memakai zawo zambu. Zambu-nya dimasukin ke zawo atau dikeluarin, sama saja. Tetap suka. Karena memakai zawo zambu itu langka, momen saat sedang memakainya harus terus diabadikan hingga memori telepon genggam penuh dan nyaris ngambek.

Presiden Negara Kuning dan Penduduknya. Haha. 

Keluarga Besar Pua Ndawa dan Pua Djombu.

Bagaimana dengan kalian? Pasti bangga juga donk ya memakai pakaian adat/tradisional daerah masing-masing. Adat yang fleksibel dan menyesuaikan dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan kaidah/norma dasarnya.

Baca Juga: 5 Jawara Mural

Selamat Kamis, kawan ...



Cheers.

Manis Akustik


Boleh ngakak dulu?

Ha ha ha ...

Suatu malam di Stadion Marilonga, di sela-sela pertandingan sepak bola dari Triwarna Soccer Festival, kami berkumpul di ruangan media center. Di pojok ruangan yang juga dijadikan tempat penyimpanan segala barang yang berhubungan dengan event ini, berdiri gitar listrik bass, gitar listrik melodi, gitar akustik, dan sebuah gendang berdiri. Saya sendiri sering memainkan gitar akustik tersebut, melatih jari-jemari yang selalu kesulitan dengan kunci seperti F, B, dan Bm. Jangan tanya lah. Saya cuma bisa G, C, D, Dm, A, Am, E, Em *diketawain dinosaurus*.

Baca Juga: TSF 'Story

Kembali pada suatu malam di ruangan media center ...

Kebetulan malam itu si Tino Tiba, anggota Seksi Acara tetapi terkenal sebagai musisi keren Ende, duduk bersama saya. Kami menemani Rikyn Radja yang sedang makan malam. Kami sendiri sudah duluan makan. Kebetulan ada musisi ini, si Tino, saya memperdengarkan lagu 100 Times Better dari The Willis Clan. Harapannya dia bakal nemu chord termudah dari lagu itu. Eh ketemu! Jadilah saya menyanyikan lagu favorit itu sambil membayangkan bisa melakukan gerakan dance-nya, hihihi. Waktu saya nyanyikan lagu itu, Rikyn sudah selesai makan, lantas mendengungkan semacam back-vocal begitu. Seru lah.

Setelah 100 Times Better, kita nyanyiin Love Yourself dari Justin Bieber. Waaaah asyiknya. Sampai-sampai salah seorang anak pedagang asongan yang kebetulan meloi (mengintip) bertahan di meja tempat kami berkumpul. Dia sangat menikmati. Busyet, dek! Bayar sini! Haha. Kalau kalian membaca pos #PDL Default Perusuh Pengamen ini, kalian pasti tahu saya sangat suka bernyanyi meskipun suara pas-pasan nyaris sesak.

Rikyn kemudian me-request lagu Yesterday dari The Beatles. Ayok, siapa takut? Ndilalah, setelah satu kali menyanyikan Yesterday, ide-ide gila mulai bermunculan. Kami harus merekamnya. What? Saya cuma ngakak melihat Rikyn memindahkan gendang berdiri ke dekat kami. Saya semakin ngakak waktu Tino mengajak si anak pedagang asongan, sebut saja namanya Boy, memukul botol bekas UC1000 dengan batu. Koplak benar. Lebih koplak karena yang murni musisi hanyalah Tino sedangkan kami? No no no. Kehancuran terjadi saat Rikyn dengan bebasnya menepuk gendang sehingga Yesterday dari The Beatles itu terdengar seperti lagu melayu!

Ha ha ha ...

Ternyata, hasilnya asyik juga. Asyik untuk lucu-lucuan. Dan semakin lucu ketika Rikyn berkata: KEMBALI LAGI BERSAMA KAMI CABUL-CABULAN AKUSTIK.


Rikyyyyyn! Please, deh. Cabul semua donk kita. Walhasil, dengan spontanitas yang luar biasa, muncul nama MANIS AKUSTIK dari bibirnya. Terberkatilah saya bersahabat baik dengan orang-orang ini. Mereka luar biasa ... luar biasa bikin pengen jitak haha.

Ini dia hasilnya. BURAM. Ya, saudara-saudara, penerangan di ruangan itu sedang sangat manja. Sebenarnya ini lagu pertama, tapi yang pertama tidak direkam kan, hehehe.



Hasil yang buram itu memang saya sengaja tidak mempermanisnya (baca: gagal mempermanisnya) menggunakan tools pengeditan video di laptop. Saya hanya menyuntingnya menggunakan telepon genggam dengan aplikasi KineMaster gratisan. Saya pikir, mau apa lagi yang diubah? Toh kami hanya ingin bersenang-senang, hehe, tidak ada niat untuk membikin video terbaik dan terbagus sama sekali. Kalau mau bikin video terbaik dan terbagus mah, tidak bisa dadakan begini, kudu diniatin sungguh-sungguh.

Tak cukup satu lagu, kami kembali beraksi di lagu berikutnya. Gang Kelinci. Dan hasilnya pun masih, tentu saja, buram to the max


Tapi kami gembira melihat hasilnya seperti itu. Karena yang penting adalah melewatkan waktu bersama sahabat dengan melakukan hal-hal gila adalah intinya.

Baca Juga: Konsisten Nge-blog Setahun

Tidak ada obsesi apa pun dari Manis Akustik, sumpah menulis nama itu saya ngakak membahana, murni kami hanya ingin bersenang-senang di tengah kegiatan menjadi panitia TSF. Lagi pula, meskipun profesi kami berbeda-beda, kami punya kaki yang sama-sama tertanam di lini musik. Tino Tiba adalah musisi. Rikyn Radja adalah koreografer sekaligus anggota Spiritus Sanctus Choir. Saya? Aaaah saya cuma perusuh pengamen yang doyan nyanyi meskipun modal suara pas-pasan nyaris sesak. Yang penting senang-senangnya itu kan ya. Hehe.

Jangan lupa nonton video-video saya di Youtube ya, ingat subscribe, ingat like *halaaah*. Hahaha. Mohon maaf, tidak ada video yang bagus yang bisa saya tawarkan di akun Youtube saya *menunduk dalam*.



Cheers.