Horeday #5: Piknik Encim and The Gank di Pantai Aeba’i


Hari kedua Idul Fitri masih diiringi lagu-lagu sendu dari email gigi yang rusak hingga ke pusat syarafnya (kata dokter Bambang setelah saya pergi ke tempat prakteknya di samping Apotik Gatsu). Kataflam serbuk yang dicampur air itu hanya mampu bertahan sekitar enam hingga tujuh jam. Setelah itu pilihan hanya dua: berusaha tidur dengan gigi yang konser non-stop atau kembali makan dan menegak pain killer itu lagi. Sumpah, apabila kalian mengalami sakit gigi, segeralah ke dokter dan mengobatinya. Waktu itu tempat-tempat praktek dokter gigi masih pada libur sehingga saya harus menunggu. Sangat menyiksa dan membosankan karena Idul Fitri tahun ini pun saya memilih untuk berdiam diri di rumah, tidak ke rumah teman-teman, apalagi traveling.

Hari kedua Idul Fitri. Duduk di sofa setelah makan bubur dan menegak Kataflam berharap keajaiban datang. Saya juga sedang menunggu pesan WA dari Stanis karena hari kedua Idul Fitri kita punya jadwal mengantar Harry dan Rojer ke pangkalan mobil travel. Mereka hendak bertolak ke Kota Bajawa. Tepatnya, kembali ke Manulalu, penginapan kece milik Jane Kambey dan suaminya yang letaknya berdekatan dengan Kampung Adat Bena. Lantas, mendadak pesan masuk di WAG Encim and The Gank. Ajakan piknik dari Kakak Nani Pharmantara! Ikan bakal dibakar sudah tersedia. Hwah. Saya tidak bisa menolak kalau piknik. Ajakan berubah menjadi ajakan. Saya lantas mengajak Stanis, Harry, dan Rojer untuk piknik bersama sambil, nanti, mencari mobil travel arah Kota Bajawa.

Tim Pemakaran. Hahaha.

Segera, Thika dan Enu meracik sambal, menyiapkan kotak-kotak berisi kudapan, dan mengeluarkan beberapa botol Coca Cola dari kulkas. Tak lupa baliho bekas bakal alas duduk. Pick up milik pacarnya Kiki, Solihin, tiba. Barang-barang dimuat duluan. Kloter pertama berangkat duluan ke Pantai Aeba'i. Dua puluh menit kemudian Thika dan Enu berangkat. Hampir satu jam kemudian baru lah saya berangkat setelah dijemput Stanis, Harry, dan Rojer. Saya sampaikan pada Harry bahwa 6 Juni merupakan hari ulangtahunnya Indah Abdullah yang saat ini masih duduk di bangku SMA (SMAK Syuradikara).

Feliz Cumpleaños


Maaf kalau salah. Intinya ya happy birthday. Begitu kami berempat tiba di pantai yang sudah ramai itu, termasuk Ka'e Dul dan Solihin yang sedang bakar ikan, langsung saja kami menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun untuk Indah. Hwah, Rojer dan Harry lantas lanjut menyanyikannya dalam bahasa Spanyol. O-le! Haha. Betapa senangnya Indah. Kapan lagi coba ... untung dia video-kan, kalau tidak ... bisa-bisa dia minta Harry dan Rojer mengulangnya itu *ngakak tebanting*.

Cieee yang ultah (pegang piring) happy tuh!

Selamat ulang tahun ya, Indah. Semoga cita-citanya menyusul Kak Ical (jadi Polwan, bukan Polki, haha) tercapai, Amin. Yang penting latihan fisiknya pelan-pelan dari sekarang *petuah nih*.

Lepet dan Ikan Bakar


Menu utama piknik kali ini adalah ikan bakar. Teman menu utama ada beberapa sih seperti lepet (semacam ketupat), nasi, dan pisang bakar. Ada juga ubi bakar tetapi si ubi datangnya setelah Harry dan Rojer bertolak ke Kota Bajawa. Mungkin pisang bakar dan ikan bakar merupakan perpaduan yang baru pertama kali dirasakan Harry dan Rojer. Mungkin. Namanya juga bergabung dengan keluarga kocak, ya harus siap-siap kocak juga, termasuk lidah. Hehe.

Mari makan!

Usai makan kami mengobrol tentang banyak hal. Didominasi tentang Kabupaten Ende. Salah satunya adalah tentang legenda cinta antara Gunung Ia, Gunung Meja, dan Gunung Wongge. Kenapa jadi bercerita tentang legenda itu, ya karena Harry bertanya tentang perbukitan di samping Gunung Meja (berpuncak datar). Itu Gunung Ia, masih aktif, dan menurut legenda, Ia adalah perempuan yang terus menangis karena leher kekasihnya yang bernama Meja ditebas oleh Wongge. Sayangnya dari Pantai Aeba'i tidak kelihatan Gunung Wonggenya.

"Jadi ... kepala Meja terpelanting ke arah Timur dan jadilah Pulau Koa, dan parang yang dipakai Wongge dibuang ke arah Barat dan jadilah Pulau Ende."

Wow kan.

Lumayanlah masih bisa cerita-cerita disela-sela gigi yang nyut-nyutan.

Acara selanjutnya ya foto-foto donk. Soalnya jarum jam terus bergerak dan saya kuatir Harry dan Rojer ketinggalan mobil travel.

Ini dia Harry Kawanda yang saya sebut sebagai traveler of the century. Soalnya kerjanya keliling dunia teruuuuus. Huhu jadi iri.

Ini dia Rojer, teman Harry asal Chile. Sampai jumpa, Roj!

Three of us.

Saya dan Thika mengantar Harry dan Rojer ke pangkalan mobil travel. Alhamdulillah, mobilnya siap berangkat karena tinggal menunggu dua penumpang lagi. Pas mantap kan. Dadagh Harry dan Rojer. Selamat bergabung bersama keluarga Pharmantara. Ditunggu kunjungan berikutnya di Kota Ende. Sekalian tinggal di sini juga boleh. Asalkan lidah kalian dapat terbiasa dengan nasi dan garam *LOL!*. Terima kasih, ya, sudah menjadi tamu spesial keluarga kami.

Terima kasih, Harry. Candid saat bibir mencong haha.

Piknik hari itu masih berlanjut hingga sore, dimana saya tertidur cukup nyenyak di pantai, dengan kepala beralas helem milik Angga. Saatnya pulang ke rumahnya Ka'e Dul dan Kakak Nani. Loh? Iya, soalnya mau dikasih ramuan buat berkumur untuk mengurangi ngilunya gigi ini. Haha. Dan lagu-lagu sendu dari email gigi kembali terdengar. Dudududu ...

⇜⇝

Bagaimana dengan kalian, kawan? Liburannya di rumah saja atau sempat piknik/wisata bareng keluarga? Bagi tahu yuk di papan komentar. Dan nantikan saya bertamu ke blog kalian hahaha. Siapkan kudapan dan air hangat buat minum obat!



Cheers.

Encim and The Gank


Sudah tahu kan kalau saya dipanggil Encim oleh para keponakan yang lucu, imut, iseng, konyol, jadi pengen jambak satu-satu itu? Panggilan Encim ini kemudian tersebar ke mana-mana sehingga rata-rata saya dipanggil Encim alih-alih dipanggil Alanis Morissette Tuteh. Bahkan cucu-cucu pun memanggil saya dengan Oma Encim. Okay, stop it! Sounds very old I am! Dan karena saya adalah Presiden Negara Kuning dengan wilayah tak terbatas, sombong sedikit, maka jadilah sebuah kelompok bernama Encim and The Gank. Bukan nama grup musik, bukan nama girlband, bukan nama pemenang Nobel. Hanya nama sebuah kelompok kecil dari keluarga besar kami: Pharmantara yang bergabung dengan marga keluarga lain, kakak ipar saya, dari kawin-mawin.

Baca Juga: SUC Endenesia #1

Sebuah WAG kemudian dibikin dengan nama Encim and The Gank. Isinya tidak hanya saya dan para keponakan, tetapi juga Kakak Nani Pharmantara. Haha. Ini kakak perempuan saya satu-satunya kenapa pula nongol di WAG. Menariknya Encim and The Gank selalu kompak dan selalu punya ide-ide cemerlang dan rencana-rencana besar meskipun bermodal minim. Dan betapa bahagianya saya berada di tengah-tengah mereka, demikian pula yang mereka rasakan, karena kebahagiaan tidak diciptakan oleh orang lain tetapi oleh kita sendiri. Kalau kalian berteman dengan saya di WA, kalian pasti sering melihat tulisan atau foto atau video yang saya jadikan status WA. Banyakan sih tentang mereka; gank gila ini.

Encim and The Gank zaman dulu. Haha.

Sebelum Bulan Ramadhan ada saja pesan di WAG tentang piknik, piknik, dan piknik. Iya, kami semua memang ingin mengulang, seperti masa-masa dulu, piknik di pantai, piknik di kali, atau sekadar jalan-jalan ke luar kota menikmati jagung rebus. Karena, dalam seminggu pun belum tentu kami semua bertemu! Amboiiii padahal Ende sekecil ini. Maklum, semua keponakan saya punya kesibukan/pekerjaan sehingga kalau ada rencana kumpul-kumpul atau piknik begitu pasti ditanggapi dengan super antusias. Kiki, keponakan saya yang berprofesi sebagai bidan selalu meminta rencana dilempar sejak jauh hari agar dia bisa mengatur jadwal dinas.

Cieeeee segitunya demi keriuhan Encim and The Gank.

Piknik Saat Badai


Beberapa kali Encim and The Gank piknik tapi yang paling heboh itu piknik yang satu ini. Saya sudah mengunggah videonya di Youtube tentang piknik gila bin konyol ini. Tapi rencananya bakal saya hapus dulu dan disunting ulang karena ternyata musik yang saya pakai itu punya hak cipta. Ah, kenapa pula mereka menyebarkan musik-musik itu di internet!? Hihihi. Jadi bakal saya ganti musiknya dengan musik yang disediakan gratis oleh Youtube. Horeeeeee.

Sebelumnya, piknik di Pantai Aebai juga, dalam kondisi cuaca normal.

Nah, piknik ini memang ajaib. Keluarga kami punya aturan kalau sudah niat harus diwujudnyatakan. Seperti piknik di Pantai Aebai seminggu sebelum Bulan Ramadhan itu. Kami tahu langit mendung. Kami tahu langit bahkan sudah memainkan intro manis melalui rintik-rintik. Kami tahu angin kencang bertiup tak pakai perasaan serta ombak bergulung cukup hebat menimbulkan bunyi riuh tak terkira. Tapi niat harus terlaksana. Kloter pertama berangkat ke Pantai Aebai, lokasi yang sama dengan pertimbangan banyak yang jualan tempurung bekal membakar ayam dan ikan, dengan perasaan tak menentu dan banyak membaca doa agar langit kembali cerah.

Kloter kedua tiba dengan membawa terpal. Terpal yang ... sobek. Ha ha ha ha ha ... koplak. Beruntunglah terpal berhasil didirikan atas bantuan Kakak Ipar saya Kae Dul dan calon mantunya Solihin. Tentu dibantu oleh anggota gank yang tidak banyak memberi bantuan hehe. Tempurung berhasil dibakar demi mematangkan ayam dan ikan. Hore!

Di bawah lindungan terpal sobek. Haha.

Kelurga kami memang gila. Orang itu kalau hujan-hujan memilih untuk santai di rumah, nge-blog, ngopi, ngemil, tidur-tiduran. Keluarga kami malah memilih untuk piknik dan niat membawa terpal. Ini kalau tidak gila ya ekstrim. Solihin, calonnya si Kiki, serta temannya Thika, turut menjadi korban kegilaan keluarga kami.

Buka Puasa Bersama


Sudah sejak April saya menulis rencana-rencana besar untuk Mei. Bisa dilihat pada halaman dari T-Journal berikut ini:


Ada sekitar empat Sabtu yang direncanakan untuk buka puasa dengan judul besar Bukber Pharmantara. Kebetulan kami bersaudara kandung ada empat jadi tepat. Alhamdulillah Sabtu kemarin sudah terlaksana buka puasa bersama di Pohon Tua (nama rumah Mamatua tempat saya tinggal haha). Next di rumah Abang Nanu Phamantara, Kakak Nani Pharmantara, dan Kakak Didi Pharmantara.


Foto di atas diambil saat sebagian anggota lain belum datang jadi belum lengkap dan belum ramai. Tapi tidak masalah, keriuhan tetap terjadi di Pohon Tua.

Baca Juga: Buruh Migran

Kenapa riuh? Yang pertama karena tipikal Orang Ende kalau bicara itu tidak bisa pelan dan volume harus kencang. Sehingga, ada istilah, dua orang Ende bertemu saja sudah ramai macam sekampung. Orang luar mungkin berpikir kami sedang kelahi nyatanya tidak. Memang demikianlah tipikal bicara Orang Ende. Yang kedua adalah karena darah Pharmantara umumnya memang begitu. Kalau ngomong kadang macam orang ngotot begitu padahal cuma cerita biasa ha ha ha. Makanya riuh itu pasti terjadi. Apa lagi kalau si Rara dan Syiva sudah kumpul ... ampun dijeeee.

Salah satu menu andalan kalau piknik.

Ah, bahagia. Kadang saya terkikik sendiri kalau mengingat ulah Encim and The Gank, dimana kakak-kakak saya turut terbawa arus, karena ada saja yang aneh dan konyol yang terjadi kalau kami sekeluarga besar sudah kumpul. Para keponakan saya ini kadang suka nyeletuk: besok-besok kalau Encim punya anak, bakal kita suruh-suruh, terus kalau nakal kita masukin ke kardus dan kirim ke negeri antah-berantah. Dudududuuuu ...


Beda dulu dan sekarang ... dulu para keponakan rata-rata masih kecil dan masih sekolah. Jadi kalau ngumpul topiknya pun tidak jauh dari kegiatan sekolah mereka dan satu dua urusan asmara. Sekarang kalau ngumpul topiknya bisa macam-macam asal Rara dan Syiva mainnya rada jauh dari tempat kita mengobrol. Banyak topik yang dibahas dan saya betul-betul menikmati proses curhat, tukar pendapat, dan saling menasihati bersama mereka. Dus rata-rata semua keponakan saya sudah bekerja jadi saya asyik saja kalau ditraktir sama mereka *muka polos*.

Time flies ...

Bagaimana dengan kalian, kawan? Buka puasa bareng keluarga pasti seru kan ya. Manapula keluarga besar. Semoga puasa saya, kalian, dan semua orang yang menjalankannya, lancar dan ikhlas demi hari kemenangan nanti.

Baca Juga: Jaga Waka Nua

Selamat melanjutkan puasa!



Cheers.