Drama Musikal MAMMA MIA, Pertunjukan Nostalgia Grup Legendaris ABBA


Dahulu saya mendengarkan lagu Westlife yang berjudul I Have A Dream di radio-radio dengan senang hati. Kala itu artis remaja Indonesia tenar, Sherina pun berkesempatan untuk berdua dengan Boy Band asal Inggris. Sejak saat itu, saya familiar lagu tersebut. Teman-teman sekolah pun banyak yang bersenandung bahkan mengidolakan Westlife. Salah satunya Tina, perawakannya tinggi dan besar tidak lantas membuatnya menyukai hal-hal sport ataupun extreme, malah mengidolakan Westlife. Beruntung saya bisa mendapatkan pinjaman kaset dan seluruh lirik lagunya dengan sangat lengkap. Sampai-sampai saya mendapatkan informasi lagu terbarunya pun dari Tina.

I Have A Dream ternyata bukanlah lagu asli dari Westlife, melainkan telah dinyanyikan oleh ABBA. Saya pun baru menyadari setelah beberapa tahun kemudian. Setelah perbendaharaan terhadap musik berkembang sangat jauh semenjak mendengarkan radio ternama di Pekalongan. Karena radio di Pemalang, Kota kelahiran, tidak memiliki kualitas yang mumpuni pada saat itu.


Ternyata ABBA memiliki banyak single yang hits pada masanya dan telah beberapa kali di daur ulang oleh musisi dari berbagai negara lain. Lagu Dancing Queen adalah lagu kedua yang banyak dinyanyikan di tempat-tempat karaoke setelah saya bekerja di Jakarta. Mungkin, generasi 70 atau 80-an yang sangat menyukai lagunya karena menyaksikan secara langsung di televisi dan mendengarkan di radio.

Senandung lagu I have a dream dan Dancing Queen sangatlah menggembirakan. Lirik yang mudah dihafalkan dan dinyanyikan secara bersama-sama dengan teman, sahabat atau bahkan keluarga besar. Mungkin angkatan Ayah sayalah yang bisa mengenang masa-masa remajanya dengan lagu tersebut. Namun, karena di daur ulang tersebut, lagu ini menjadi legend dan akan dikenang sampai anak cucu nantinya.

NOSTALGIA


Siapa sangka beberapa tahun lalu, Mamma Mia, salah satu single ABBA pun diangkat ke layar lebar dengan konsep yang sangat unik dan lucu. Beberapa tahun belakangan, Mamma Mia diangkat menjadi sebuah Drama Musikal yang telah di tonton di puluhan negara, ditonton lebih dari 60 juta penonton dan dipentaskan melalui 60 produksi dalam 16 bahasa yang berbeda.

Selama ini saya menyaksikan drama musikal dengan beragam bahasa terutama bahasa Inggris. Namun, ternyata Mamma Mia ini telah mengadopsi ke 16 bahasa berbeda seperti Korea, Latin, Perancis dan lainnya. Saya sangat respect dengan seluruh artis pemeran dalam drama musikal yang tidak hanya mengandalkan acting namun juga mengeluarkan suara emasnya. Can you imagine?

Dan, kejutannya adalah MAMMA MIA akan melakukan pertunjukannnya di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki pada 28 Agustus – 9 September 2018. Wow, saya pun terkesima dengan pertunjukan level international yang diadakan di TIM. Pasalnya, setahu saya, TIM memiliki Teater Jakarta yang kapasitasnya 1200 penonton dengan sound system dan teknologi yang canggih. Hal inilah yang membuat Teater Jakarta menjadi tempat pertunjukan taraf International sekelas Mamma Mia ini. Nick Grace dan tim sebelumnya telah melakukan survey terlebih dahulu, sebelum memutuskan venue ini.

Pak Denny, selaku Direktur SGE pun merasakan kegembiraan dan kebanggaannya tersendiri karena dapat menyelenggarakan pertunjukan yang spektakuler dan dapat menyatukan generasi old dengan generasi zaman now. Apalagi didukung oleh ticketing partner, book my show yang menjangkau keseluruh lapisan masyarakat sehingga bisa menonton bersama-sama selama beberapa hari.


Tiket pertunjukan musikal MAMMA MIA dapat diperoleh melalui www.mammamiajkt.com. Dapatkan diskon khusus untuk early bird sampai dengan 25 % yang berlaku dari Maret sampai akhir April, bagi pemegang kartu kredit BCA mendapatkan kesempatan pertama untuk membeli dengan diskon sampai dengan 25 %. Khusus kelas Silver diskon sampai dengan 10% eksklusif untuk pemegang kartu kredit BCA (Kuota Terbatas).

Informasi Tiket dan Pertunjukan

Pertunjukan ini berdurasi 2 Jam 35 Menit (termasuk jeda 20 menit) dengan nama acara MAMMA MIA, THE SMASH HIT MUSICAL BASED ON THE SONG dari tanggal 28 Agustus – 9 September 2018 dengan 16 Kali pertunjukan di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki.

Waktu pertunjukan adalah selasa – kamis pada pukul 20.00 WIB, sabtu pada pukul 14.30 dan 19.30 serta minggu pada pukul 13.00 dan 18.30 WIB.

Sedangkan harga tiket adalah Harga presale VIP (Rp 1.987.500), Platinum (Rp 1.762.500), Gold (Rp 1.320.000) dan Silver (Rp 850.000). Harga tiket normal VIP (Rp 2.650.000), Platinum (Rp 2.350.000), Gold (Rp 1.650.000) dan Silver (Rp 850.000).

Pemesanan dapat dilakukan melalui situs www.mammamiajkt.com atau telepon 0813-2587-5388 atau langsung di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki. Social media melalui Instagram di www.instagram.com/sgelive.id .

Dibalik Layar Musikal Khatulistiwa

 

Dibalik sebuah Drama Musikal pastinya banyak sekali persiapan yang harus dilakukan. Dibalik sebuah produksi "Drama Musikal" pasti terdapat orang yang sangat berperan namun tidak akan nampak dalam layar. Lalu apa saja sisi-sisi unik dalam sebuah proses menuju sebuah pementasan terutama Drama Musikal? Kemudian, siapa saja sih yang berperan dalam menyukseskan Drama Musikal ? Dan apa saja yang perlu disiapkan? Ternyata banyak sekali pertanyaan yang timbul dalam benak kita kan tentang 2 hari pementasan Drama Musikal.

Seperti halnya Film atau Sinetron, untuk memproses satu adegan saja dibutuhkan waktu cukup banyak, apalagi satu episode sinetron atau bahkan satu film dengan durasi sekitar 120 menit, dibutuhkan banyak waktu, tenaga, pikiran, ide dan lainnya. Makanya kita wajib menghargai jerih payah tim dibalik layar dengan mengapresiasi karyanya dengan menonton secara bijak dan tidak sembarang mengupload ulang di youtube karyanya. Kalau sekilas dan cenderung promosional sih tidak masalah hehehe.

Khatulistiwa, sebuah drama Musikal yang mengangkat sejarah Bangsa Indonesia dengan kemasan yang sangat berbeda pun memiliki sisi-sisi unik pada saat proses dibalik layarnya. Saya seperti dibawa masuk dan berada dalam suasana Musikal ketika saya melihat secara langsung Behind The Scenenya. Selain perasaan senang, saya pun merasakan bagaimana seluruh pihak dalam Khatulistiwa sangat berkerja keras demi kesuksesan acara bulan November.

Dari Balik Layar


Sutradara pasti selalu dalam sebuah karya, ibarat dalam mobil, pengemudilah yang akan membawa kita sampai pada tujuan, seperti itu pula tugas seorang sutradara yang membawa pertunjukan menuju kesuksesan. Namun ternyata bukan hanya seorang sutradara saja yang berperan dalam sebuah Drama Musikal, melainkan banyak pihak yang turut mendukung dari balik layar. Sebut saja Penulis Naskah, Penata Multimedia, Penata Musik, Penata Lighting, Penata Kostum, Koreografer dan masih banyak lainnya. Dan sekarang saya sadar bahwa dibalik sebuah karya terdapat tim solid yang bekerja dengan tangan dinginnya dibalik layar.

Seperti menonton Vlog Raditya Dika pada saat memproduksi film terbarunya Hangout, rasanya saya diajak untuk mengenal lebih jauh teknis pelaksanaan Drama Musikal Khatulistiwa. Saya harus menyebut Raditya Dika sebagai salah satu orang yang turut andil mengenalkan saya pada urusan teknis proses produksi sebuah film. Dengan gambaran Vlog itu, saya menjadi tahu betapa panjangnya sebuah produksi film. Salut dengan Vlog Raditya Dika yang memberikan pengetahuan film dengan gayanya yang kocak dan menghibur. Behind The Scene Drama Musikal Khatulistiwa ini pun memberikan gambaran yang sama. 

Mari kita berkenalan lebih dalam dengan Tiara Josodirdjo, Melvi Tampubolon, Adjie N.A, Nataya Bagya, Ifa Fachir dan Auguste Soesastra. 


Tiara Josodirdjo merupakan pengagas Drama Musikal Khatulistiwa atau Produser Eksekutif. Tiara memiliki pengalaman selama 21 mengelar event mulai dari pernikahan, eksibisi dan perhelatan lainnya. Tiara memiliki ketertarikan untuk mengemas sebuah pertunjukan yang memuat konten lokal seperti "Kampung Anak Indonesia" dan "Bawang Merah dan Bawang Putih".

Tak jauh berbeda dengan Tiara, Melvi Tampubolon, Produser, pun memiliki kecintaan yang hampir sama. Melvi menyukai pertunjukan 'Broadway'. Berangkat dari kecintaan inilah, Melvi bercita-cita menghadirkan konsep broadway yang diangkat dari cerita-cerita Indonesia.


Adjie N.A, sosok yang sederhana, namun pemikirannya tak sederhana yang dibayangkan. Adjie memiliki pengalaman yang mumpuni dibidang pertunjukan atau film. Adjie sering menjadi sutradara pertunjukan teater dan menjadi acting coach dalam beberapa film sepeti Guru Bangsa Tjokroaminto, Cahaya dari Timur, Filosofi Kopi, Surat Cinta Dari Kartini dan lainnya.

Ifa Fachir dikenal sebagai anggota dari band Maliq and the Essential. Selain itu, Ifa terkenal sebagai Composer, Music Director dan Produser. Pernah mendengar Jatuh Hati milik Raisa? Ya, Ifa adalah orang dibalik lagiu ini. Jauh sebelum berkiprah dalam musik Indonesia, Ifa telah mengenal lebih dahulu musik-musik populer di New York, tempat Ifa belajar musik pertama kalinya. Maka tak heran apabila Ifa sangat tepat menemoati posisi Music Director pada Khatulistiwa.  


Tak lengkap sepertinya jika tidak mengenalkan bahwa dibalik bagusnya kostum pertunjukan terdapat seorang desainer handal. Auguste Soesatro, pria yang menempuh pendidikan Arsitektur di Sydney, ini membuktikan bahwa apapun background pendidikan, passion menjadi desiner pun bisa diwujudkan. Setelah dari Sydney, Auguste mempelajari mode pakaian di Paris dan New York. Bagi Auguste, dalam Khatulistiwa inilah untuk pertama kalinya memproduksi kostum pertunjukan untuk ratusan orang sekaligus.

Wah, ternyata dibalik sebuah pementasan terdapat orang-orang dengan dedikasi dan melakukan semuanya dengan passion dan hati mereka. Kalau kamu? Apa yang menjadi panggilan jiwamu?

Artis Dan Ratusan Talent


Selain orang-orang yang berperan dibalik layar, pendukung utamalah yang nantinya akan menjadi pusat perhatian pada pementasan nanti. Tak banyak yang tahu bahwa Drama Musikal selalu menyajikan cast yang banyak dari bervariasi dari usia dini sampai yang telah senior. Dan bukan hanya dalam hitungan jari, pemeran musikal kali ini mencapai angka ratusan orang. Makanya dibutuhkan waktu latihan sampai berbulan-bulan untuk menghasilkan pementasan dua hari tersebut.


Rio Dewanto adalah salah satu aktor yang mendukung Khatulistiwa kali ini. Selain itu terdapat Kelly Tandiono, Sita Nursanti, Tika Bravani, Ade Firman Hakim, Epy Kusnandar, Gabriel Harvianto, Haikal Baron dan masih banyak lainnya.

Mau tahu seperti apa suasana dibalik layar Drama Musikal Khatulistiwa. Ini dia videonya untuk kamu semua.


Jangan lupa nonton Drama Musikal Khatulistiwa pada tanggal 19-20 November 2016 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.