Arsip Kategori: Do It Your Self

Keranjang Serbaguna Merah Cantik Pesanan Mama Emmi


Keranjang Serbaguna Merah Cantik Pesanan Mama Emmi. Ketemu lagi di #RabuDIY. Harinya kita berkreasi sepuas-puasnya. Kali ini saya mau bercerita tentang produk Do It Yourself (DIY) berbentuk keranjang. Hyess, lihat gambar di atas. Keranjang tersebut dipesan oleh Mama Emmi Gadi Djou saat saya masih sangat rajin dan produktif mendaur ulang sampah. Hehe. Kalian pasti tidak menyangkan bahwa keranjang merah cantik di atas berbahan koran dan kardus kan? Perihal pita, sebenarnya tidak saya pakaikan pita. Tetapi ketika mata saya menangkap pita emas di dos pita, diaplikasikan pada keranjang ini, ternyata hasilnya bagus. Trada ... jadi deh si keranjang merah cantik.

Baca Juga: Bunga Dinding

Bagaimana tata cara membikin keranjang tersebut? Mudah. Kalian bisa membaca pos berjudul Bakets ini. Apabila kalian masih kesulitan juga, boleh request di komen untuk saya membikin tutorialnya baik tulisan maupun video. Ehem. Artinya ... saya bakal kembali rajin ber-DIY-ria nih? Sepertinya begitu. Hehe. Karena, ketika sisa keranjang warna hijau dipakai Meli untuk mengisi segala macam barang (roti, mentega, keju, stoples sosis, dan lain sebagainya) di atas meja makan, kelihatannya juga cantik. Kecantikan yang sama juga saya lihat saat berkunjung ke rumah Mama Emmi. Dua keranjang merah itu bertengger manis di atas meja makan.

Dalam waktu dekat, teman-teman beragama Katolik akan merayakan Paskah. Saya berniat menjual telur paskah hiasan. Otomatis sudah mulai mempersiapkan bahan-bahannya terutama telur! Haha. Selain telur, saya juga bakal menjual lilin berbentuk telur. Warna-warni. Semoga saat percobaan nanti tidak mengalami kegagalan yang berarti *dicibir dinosaurus*. Sedangkan teman-teman beragama Islam juga bakal memasuki Bulan Ramadhan. Eng ing eng ... siapa pun yang membutuhkan keranjang anyaman untuk berbagai keperluan, boleh pesan di saya.

Jualaaaaan!

Ember. Jualan di blog sendiri bukan dosa. Haha. 

Baca Juga: Ruang Tamu DIY

Terus, apa inti pos ini? Tidak ada. Haha. Cuma mau pamer pada kalian tentang keranjang cantik di atas, sekaligus jualan. Bagi teman-teman beragama Katolik, selain telur, keranjang juga bisa dipesan sebagai wadah telur Paskah hias. Tetapi tentunya ini berlaku untuk teman-teman yang ada di Kota Ende dan sekitarnya saja, ya.

Semoga bermanfaat dan semoga ... tertarik! Haha.



Cheers.

Barang-Barang DIY Kece di Kedai Kampung Endeisme


Barang-Barang DIY Kece di Kedai Kampung Endeisme. Adalah pilihan tepat ketika pada awal tahun 2019 saya mengubah tema #RabuLima menjadi #RabuDIY. Mengubah tema harian blog gampang-gampang susah. Saya harus mandi kembang, bertapa, melakukan perjalanan ke Barat mencari kitab suci, menimbang ini itu terlebih dahulu, barulah mengambil keputusan. Bagi kalian yang bingung soal tema harian di blog ini, nonton video berikut:


Mengapa saya menulis adalah pilihan tepat ketika pada awal tahun 2019 saya mengubah tema #RabuLima menjadi #RabuDIY? Pertama: dunia Do It Yourself (DIY) adalah dunia kreativitas tanpa batas. Kedua: saya sendiri punya renjana di dunia DIY dan pernah meraup keuntungan Jutaan Rupiah hanya bermodalkan sampah seperti koran, majalah, botol plastik, kardus, hingga kaleng. Terbukti, tema #RabuDIY masih bertahan hingga saat ini. And I love it so much. Come on, guys, begitu banyak barang bernilai ekonomi lebih tinggi dari barang (dasar) yang sudah ingin dibuang ke tempat sampah. Yang dibutuhkan hanyalah percikan kreativitas.

Baca Juga: Membikin Pajangan Cantik Berbahan Beras dan Kulit Kerang

Kemarin sore saya dan teman-teman; Violin, Oedin, Cahyadi, Al, pergi ke sebuah kedai bernama Kedai Kampung Endeisme. Cerita lengkap tentang kedai ini bakal saya pos di Hari Senin. Videonya sendiri bakal saya pos Jum'at besok di Youtube. Hari ini saya hanya mau bercerita pada kalian, bahwa di sebuah kedai mungil yang lokasinya pun tidak di pusat Kota Ende, kalian akan menemukan begitu banyak barang-barang bernilai seni tinggi dan spot-spot instagenic untuk keperluan foto yang bakal dipos di Instagram. Awal waktu diundang ke sana oleh pemiliknya, ekspetasi saya biasa-biasa saja. Ternyata saya salah! Memalukan sekali saya ini hahaha.

Barang-barang DIY ada di Kedai Kampung Endeisme akan berbicara melalui foto-foto di bawah ini.


Dari depan sudah terlihat dengan sangat jelas bahwa Kedai Kampung Endeisme memang berkonsep #DIY. Mulai dari papan namanya sampai bangku-bangku berbahan ember bekas cat.


Selain bangku-bangku berbahan ember bekas cat, dan kayu-kayu bekas, juga ada bangku yang satu ini, yang dialas dengan karung goni. Apa nama karung ini di daerah kalian? Kalau kami sih menyebutnya karung goni hahaha. Karung goni jangan disepelekan loh, saat ini karung goni dimanfaatkan sebagai bahan dasar kerajinan tangan seperti membikin kantung unik, tali goni buat hiasan jar, dan lain sebagainya.


Rak kayu dicat hitam yang diisi buku-buku sampai pernak-pernik. Sumpah, saya penasaran sama isi botol kaca itu. Yang jelas itu bukan beras warna-warni seperti yang pernah saya bikin. Herannya, saya lupa bertanya. Nantilah kalau ke sana lagi bakal saya tanya apa isinya.


Tulisan-tulisan menarik di dinding, gambar-gambar, dan totebag. Salah satu pemiliknya itu punya blog petikata. Tapi kalau dia lebih sering bermain dengan kata-kata di Facebook. Keren-keren lah.


Mandala yang satu ini juga dibikin/dilukis sendiri. Memang benar ya kalau orang seni yang membuka kafe, semua pernak-pernik dan hiasan dinding bisa dibikin sendiri. Menghemat ongkos.


Kece kan? Jelas! 

Baca Juga: Tempat Cincin DIY Untuk Pernikahan Sahabat Saya Deasy Daulika

Berkunjung ke Kedai Kampung Endeisme tidak saja memuaskan mata tetapi juga membikin jiwa DIY saya memberontak. Bertanya-tanya, kapan saya bakal kembali ke dunia DIY. Cahyadi sendiri pernah menyarankan saya untuk membikin konten video tentang dunia DIY saya seperti bagaimana cara saya membikin keranjang, tempat tisu, desk-organizer, wall-organizer, hiasan dinding, tas berbahan celana jin bekas, sofa celana jin, kaktus batu, berkreasi dengan semen, sampai pohon Natal menggunakan pipa kertas! Byuuuuuh *garuk-garuk kepala*. Mau sih, tapi waktu belum mengijinkan. 

Semoga pos ini bermanfaat untuk kalian semua. Yuk berkreasi sebanyak-banyaknya. Jangan biarkan ide-ide kreatif kalian menguap begitu saja.

#RabuDIY



Cheers.

Desk-Organizer Nuansa Biru Cantik Untuk Yohana Gabriela


Desk-Organizer Nuansa Biru Cantik Untuk Yohana Gabriela. Sumpah, menulis ini saya merindukan masa-masa produktif mendaur ulang sampah dulu. Rumah dipenuhi sama tumpukan koran, tumpukan majalah lama, kardus-kardus bekas, nampan berisi kaleng cat aneka warna, kuas aneka ukuran, kertas-kertas kado cantik, botol plastik aneka ukuran, gelas plastik dan gelas kertas/karton, kaleng bekas susu, gunting, cutter, alat tulis dan penggaris, hot glue gun, lem kayu (Webber), kotak pita dan pentul, sampai jepit pakaian! Whuaaaah. Gilaaaa! Tempat kerja mendaur ulang pun berpindah dari ruang keluarga ke ruang makan. Dan bukan barang baru jika tangan saya dipenuhi cat warna-warni karena proses mengecat keranjang, misalnya.

Baca Juga: Ruang Tamu DIY

Waktu sedang panas-panasnya, pesanan menumpuk, saya banyak sekali menerima pesanan tempat tisu dan desk-organizer. Ada buku khusus pesanan! Hehe. Setelah dua item itu, item lainnya yang juga banyak dipesan adalah keranjang dan keranjang ulir. Mungkin pada masa itu otak saya berkembang sangat pesat, haha, karena ide-ide bermunculan simpang-siur, minta ditangkap. Khusus untuk desk-organizer saya selalu berusaha agar tidak ada yang bentuknya sama. Supaya setiap orang merasa bahwa desk-organizer itu memang untuk dirinya, ciri khas dirinya, yang dia minta saat memesan. Terutama bila warna yang mereka pesan untuk desk-organizer tersebut sesuai.

Suatu kali, teman kerja saya Yohana Gabriela memesan desk-organizer bernuansa biru. Saya bertanya: mau yang di-cat atau yang dibungkus kertas kado? Dia minta yang kertas kado dengan ukuran normal. Artinya tidak sebesar desk-organizer pesanan Enchyz Monteiro. Tapi harus bisa memuat alat tulis, gunting, hekter, lem, dan barang-barang kantor/pekerjaan lainnya. Maka otak saya mulai bekerja. Pertama: memikirkan dan/atau merancang bentuk kasarnya terlebih dahulu. Setelah itu mulai membikin rangka-rangka hingga mengetes kesesuaian bentuk pada alas/dasar desk-organizer bersangkutan. Saatnya membungkus semua rangka dan alas/dasar dengan kertas kado. Sumpah, saya suka banget sama kertas kadonya. Warnanya biru lembuuuut dengan karakter kartun begitu. 

Jadinya seperti pada gambar berikut ini (kalau bagian cover kurang terlihat):


Cantik kan ya?

Oh ya, setelah semua rangka terpasang pada alas/dasar, saya pikir-pikir bakal lebih bagus kalau diikat pita putih. Kebetulan stok yang selalu ada itu pita warna putih dan biru. Ugh wow, jadinya malah tambah cantik dan perasaan tak rela menyerahkan desk-organizer ini muncul. Haha. Desk-organizer ini saya jual seharga Rp 25.000 (Dua Puluh Lima Ribu Rupiah) saja. Oh ya, biasanya untuk menampilkan bentuk utuh atau fungsi dari sebuah karya seperti desk-organizer maka saya selalu menempatkan barang-barang yang sesuai peruntukkannya seperti alat tulis, mistar, gunting, hekter, isolasi, bahkan uang. Itu semacam properti pendukung hehehe.

Baca Juga: Baskets

Desk-organizer semacam ini memang sederhana dan mudah dibikin. Barang-barang dasar untuk membikinnya pun tidak susah dicari. Yang susah itu merancang bentuknya hahaha, karena memang pengen tidak ada yang sama antara pesanan yang satu dengan pesanan lainnya.

Semoga pos ini bermanfaat. Siapa tahu setelah membaca ini kalian pengen bikin juga. Ayuklah dibikin. Tunjukkan ke saya hasilnya *ngikik*.

#RabuDIY



Cheers.

Membikin Pot Pembibitan Menggunakan Botol Plastik Bekas


Membikin Pot Pembibitan Menggunakan Botol Plastik Bekas. Sampah lagi, sampah lagi, plastik lagi, plastik lagi. Saya tidak akan pernah bosan menulis tentang sampah plastik. Saya juga tidak akan pernah berhenti berusaha agar sampah plastik ini bisa dikreasikan agar punya nilai tambah. Salah satu sampah plastik yang paling sering kita temui sehari-hari adalah bekas kemasan minuman baik bentuk gelas maupun bentuk botol. Di musim hujan, sampah plastik yang terbawa arus air sungguh menyesakkan got, jalan, dan perasaan. Setidaknya kami sekeluarga sudah mengurangi sampah plastik terutama botol, dengan cara selalu membawa tumblr. Khusus saya pribadi, membawa tiga botol yaitu dua tumblr dan satu termos kopi susu.

Baca Juga: Ini Dia Produk Do It Yourself Pertama yang Saya Bikin

Banyak produk Do It Yourself (DIY) yang bisa kalian bikin dengan memanfaatkan botol plastik bekas. Salah satunya membikin pot pembibitan! Saya pernah melakukannya, membibit daun sop di botol plastik bekas. Tidak percaya? Ini dia buktinya:


Memanfaatkan botol plastik bekas untuk pot pembibitan bisa dilakukan dengan langsung menanam seperti gambar kedua atau gambar jejeran botol plastik pembibitan daun sop di atas. Bisa juga dengan cara seperti pada gambar pertama di pos ini. Botol plastiknya dibelah, bagian atas dibalik menutup bagian bawah (bagian dasar), terus pada tutupan dibikin lubang tali sekaligus diisi tanah dan bibit. Nantinya tidak perlu rutin disiram, karena air bakal terserap melalui tali tersebut. Sebagai pemanis, botolnya bisa dicat warna-warni.

Karena daun sop itu batangnya juga kecil-kecil, ada juga sih yang besar, maka waktu itu saya tidak perlu memindahkan lagi bibit daun sop yang sudah tumbuh ke wadah lain yang lebih besar. Karena wadah yang lebih besar saya manfaatkan untuk menanam cabe dan tomat. Cabenya sukses, tomatnya diserang hama dan hancur kehidupan si tomat sebelum dewasa. Byuuuh!

Baca Juga: Membikin Pajangan Cantik Berbahan Beras dan Kulit Kerang

Anyhoo, karena membikinnya mudah, sangat mudah malahan, maka saya tidak perlu menulis tutorialnya ya. Dengan melihatnya saja saya pikir kalian pasti sudah tahu. Yang jelas, apabila sampah plastik botol bekas ini sudah dikreasikan, usahakan jangan kalap membeli air mineral dalam kemasan botol, karena bakal 50:50 lagi. Bakal ada sampah plastik lagi. Salah satu cara paling sederhana mengurangi sampah botol plastik adalah dengan membeli tumblr. Percaya deh, membawa tumblr ke mana-mana itu keren dan juga bikin kita lebih berhemat. Hehe.

Semoga bermanfaat!

#RabuDIY



Cheers.

Ini Dia Produk Do It Yourself Pertama yang Saya Bikin


Ini Dia Produk Do It Yourself Pertama yang Saya Bikin. Apa nama yang tepat untuk kerajinan tangan yang satu ini? Huruf timbul kah? Atau ...? Kalau kalian tahu, tolong komen di bawah. Haha. Katakanlah namanya huruf timbul. Maka, huruf timbul ini saya bikin berbahan barang bekas yaitu karton super tebal, kardus bekas, dan kalender lama. Alat-alatnya tentu gunting, pisau cutter, dan lem. Membikinnya memang tidak lama. Saya hanya mengandalkan tulisan tangan untuk membentuk huruf-huruf tersebut. Hanya saja saya masih aneh sama huruf r-nya. Tapi tetap bisa kalian baca kan? BlogPacker. Sampai dengan menulis ini, saya masih ingin membikin lagi huruf timbul serupa. Semacam penyempurnaan. Tapi ... entah.

Baca Juga: Membikin Sendiri Rak Kue Susun Tiga Bertema Marshmello

Bagaimana dengan kalian? Pernah membikin produk DIY yang seperti ini juga? Dan ya, sekali lagi, apabila kalian tahu nama yang tepat untuk kerajinan tangan ini, mohon komen di bawah.

That's all.

Selamat berkreasi!

#RabuDIY



Cheers.

Membikin Sendiri Rak Kue Susun Tiga Bertema Marshmello


Membikin Sendiri Rak Kue Susun Tiga Bertema Marshmello. Sekitar tahun 2017 s.d. pertengahan 2018 saya masih tekun memproduksi barang-barang daur ulang seperti desk-organizer, hiasan dinding, mangkuk, keranjang, tas, pot bunga, tempat tisu, sampai gantungan kunci. Karena judulnya daur ulang tentu saja bahan-bahannya merupakan sampah seperti koran, majalah, kardus/karton, botol plastik, kaleng susu, gelas plastik dan gelas kertas, celana jin, kotak bekas minuman, hingga sedotan. Tetapi untuk memproduksi barang-barang berkonsep #DIY (bikin sendiri) saya tidak melulu menggunakan barang bekas. Semen, misalnya. Untuk membikin pot bunga unik berbahan semen, saya tentu harus membeli semen sekitar satu sampai dua kilogram. Sementara itu untuk mewarnai keranjang anyaman berbahan pipa koran/kertas dan kardus, saya harus membeli cat minyak berkaleng-kaleng sesuai jumlah warna yang dibutuhkan.

Baca Juga: Membikin Pajangan Cantik Berbahan Beras dan Kulit Kerang

Kembali ke masa-masa produktif, saya sampai harus mencatat semua pesanan orang-orang berdasarkan timeline agar pekerjaan berdasarkan hobi tersebut tidak serampangan. Maksudnya, saya harus betul-betul bisa menepati janji waktu pengerjaan yang ditetapkan yaitu tiga sampai tujuh hari per barang. Awalnya tempat tisu baru bisa benar-benar selesai pengerjaannya sekitar tiga hari per tempat tisu. Tapi dengan semakin lihainya tangan dan jemari, sehari saya bisa memproduksi sampai lima tempat tisu. Sama halnya dengan keranjang. Awalnya bisa sampai lima hari per keranjang berukuran sedang. Lama-kelamaan sehari bisa dapat empat keranjang, bahkan sudah selesai dicat sempurna (hanya tinggal menunggu cat-nya kering).

Entah apa yang merasuki orang-orang sampai begitu sukanya mereka sama barang-barang daur ulang yang saya produksi. Bahkan ada yang memesan lebih dari satu barang. Mungkin karena barang daur ulang merupakan barang unik yang tidak dijual di toko-toko; termasuk permintaan warna dan karakter yang digunakan. Mungkin karena mereka sudah bosan dengan tempat tisu plastik yang modelnya itu-itu saja. Mungkin mereka memang ingin menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan dengan memesan barang daur ulang. Ada banyak kemungkinan. Yang jelas, hanya dari memproduksi barang daur ulang saya bisa menghasilkan jutaan Rupiah. Memanfaatkan koneksi/pertemanan untuk promosi merupakan salah satu jalan paling ampuh.

Percayalah ... saya sudah melakoninya dan menikmati hasilnya.

Suatu saat keponakan saya, Indri, memesan rak kue susun tiga bakal tempat cupcakes. Jangka waktu yang diberikan adalah satu minggu dengan biaya yang cukup fantastis sih, sesuai dengan harga barang yang sama yang dipesannya di toko online. Sampai dia memesan pada saya adalah karena barang pesanannya itu baru tiba setelah tanggal keramat/ulangtahun si pemesan cupcakes ulang tahun. Awalnya saya ragu, tapi kemudian tawaran itu saya terima juga.

Membikin rak kue susun tiga susah-susah gampang. Karena bikinnya sudah lama, dan saya tidak pernah memikirkan proses produksi, sehingga tidak banyak foto yang bisa dihasilkan dari barang yang satu itu. Yang jelas, kardus yang digunakan harus yang super tebal. Maka saya tidak meminta kardus bekas mi atau minuman gelas pada tetangga melainkan membeli kardus super besar dan super tebal di toko sembako. Untuk mengatasi kejadian salah bikin, saya membeli tiga kardus super tersebut. Lantas, kreativitas mulai didorong untuk lebih dan lebih ... ini pertama kali ... saya yakin gagal sudah pasti.

Baca Juga: Membikin Aneka Kerajinan Tangan Berbahan Kancing

Gagal? Memang. Haha. Tapi saya sudah menyiapkan bahan cadangan. Dengan sedikit sentuhan kreativitas, maka jadilah rak kue susun tersebut.


Penampakannya begitu itu ya. Jauh dari kata sempurna. Tapi itulah kemampuan saya *ngikik*. Alhamdulillah keponakan malah suka. Tanpa banyak basa-basi, karena waktu sudah sangat mepet, rak kue susun ini langsung diangkut ke rumahnya untuk diisi dengan cupcakes-cupcakes pesanan. Waktu melihat hasilnya setelah diletakkan cupcakes, kok malah bagus. Cupcakes-nya yang bagus, rak kue susunnya sih teteup begitu itu. Yang jelas itu pengalaman pertama dan terakhir membikin rak kue susun, sebelum akhirnya saya jeda memproduksi aneka barang DIY.

Bagaimana menurut ngana? Haha. Bagi tahu di papan komentar.

Semoga bermanfaat, atau setidaknya mampu memberi inspirasi pada kalian semua.

#RabuDIY



Cheers.

Membikin Pajangan Cantik Berbahan Beras dan Kulit Kerang


Membikin Pajangan Cantik Berbahan Beras dan Kulit Kerang. Sabtu, 4 Januari 2020, saya dan teman-teman Rumah'97 melaksanakan niat yang sudah lama tertunda yaitu reuni. Sayangnya, dari puluhan teman yang ada di WAG alumni itu, hanya lima orang yang bisa ikutan. Saya, Hilda yang pada tanggal 6 Januari 2020 sudah kembali ke Depok, Yusti si pemilik Kafe Hola, Ryan, dan Abah Yudin. Teman-teman lain sudah kembali beraktivitas sehingga mereka belum bisa bergabung. Tidak masalah. Tujuan kami hari itu adalah Dapur Jadul (baru) yang terletak di daerah Nangaba. Menurut Kakak Nona Eka, pemiliknya, itu disebut River Beach. Dulunya, Dapur Jadul terletak di Pantai Raba, sekitar 300 meter ke arah Barat dari lokasi baru.


Apa yang paling saya sukai dari Dapur Jadul? Desainnya yang luar biasa memikat dan menghibur mata. Begitu banyak spot instagenic dipasang di sana. Selain itu, ragam asesoris warna-warni juga membikin pengunjung terpesona. Nampaknya kreativitas tanpa batas memang bermain-main di tempat ini. Salut to the max. Oh ya, waktu kami pergi ke sana, masih banyak tukang bangunan sedang bekerja. Dapur Jadul di lokasi baru ini memang belum sepenuhnya jadi. Tapi itu tidak menyurutkan niat masyarakat untuk menikmati hari besama teman, keluarga, atau kekasih *perasaan teriris-iris menulis kekasih, hahaha*. Buktinya, Dapur Jadul masih ramai dikunjungi masyarakat: tua dan muda, meskipun pembangunan masih sedang berjalan.

Saat pergi ke sana bareng teman-teman Rumah'97 itulah saya memotret begitu banyak asesoris/pajangan di Dapur Jadul. Pernak-pernik, boneka, brojong bulat (semacam tiang bulat) dengan batu yang unik, botol-botol kaca, hingga wadah berisi beras warna-warni. A-ha! Saya ingat, dulu pernah pengen bikin beras warna-warni ini tetapi batal. Ini dia penampakan pajangan beras warna-warni dari Dapur Jadul.



Bagaimana kalau saya coba membikinnya? Bukankah saya sendiri juga punya kulit kerang dan siput yang dibawa Cahyadi dari Desa Kolipadan di Pulau Lembata?

Kali ini tidak boleh batal! Mari berkreasi!

Bahan dan Alat:
1. Beras. 
2. Pewarna.
3. Air untuk larutan pewarna.
4. Wadah untuk beras warna.
5. Kulit kerang/siput.

Pertama:
Jumlah beras tergantung keinginan/kebutuhan kalian. Bisa segenggam, bisa sekilo. Karena pewarna yang ada di rumah tinggal tiga warna: oranye, kuning, hijau, saya memisahkan beras ke dalam tiga wadah ukuran kecil. Bisa dilihat pada gambar di bawah:


Kedua:
Setiap wadah beras diisi air secukupnya untuk merendam atau mencampurnya dengan pewarna. Beri pewarna secukupnya pada masing-masing wadah beras yang telah diisi air, diaduk perlahan agar semua beras tercampur rata dengan pewarna. Silahkan lihat gambarnya:


Ketiga:
INGAT! JANGAN TERLALU LAMA! Sekitar tiga menit, saring airnya, dan beras yang sudah berubah warna itu disisihkan atau dikeringkan. Proses pengeringan bisa dengan cara alami yaitu dijemur di bawah sinar matahari. Bisa didiamkan saja semalam. Bisa juga dihadapkan di kipas angin. Dan saya menggunakan cara ketiga yaitu dihadapkan di kipas angin. Hehe. Tidak sabaran sih.


Keempat:
TRADA ... sudah jadi. Pokoknya kalau beras berwarna itu sudah kering, ya sudah jadi.


Bagaimana menjadikannya pajangan? Bisa berasnya dipisah, bisa digabungkan seperti pajangan beras berwarna yang saya lihat di Dapur Jadul. Seperti gambar berikut ini.


Maka saya bikin seperti ini:



Beras berwarna bisa diaplikasikan sendiri, bisa juga diberi pajangan tambahan. Seperti yang sudah saya tulis di atas, kebetulan saya juga punya kulit kerang dan siput yang dibawa Cahyadi dari Desa Kolipadan di Pulau Lembata. Ukurannya tidak besar, tapi lumayan kalau dibikin pajangan bersanding dengan beras berwarna. Oh ya, ini penampakan semula kulit kerang dan siput-siput itu. Terpaksa satu stoples kaca dikorbankan. Hahaha.





Selesai! Gelas piala berisi beras berwarna dan kerang serta siput itu kini telah menjadi pajangan cantik di meja-meja ruang tamu. Cantik kan? Cantik doooong, seperti yang bikin. Hehe.

Baca Juga: Membikin Aneka Kerajinan Tangan Berbahan Kancing

Bagaimana menurut kalian? Mudah sekali membikin pajangan cantik berbahan beras dan kulit kerang serta siput ini. Saya membikinnya hanya dalam waktu semalam. Tidak sampai sehari semalam! Tentu, untuk mengeringkan beras yang direndam air warna itu membutuhkan ketekunan dan keseriusan kipas angin *ngikik*. Sebenarnya, selain gelas piala, bisa juga beras berwarna ini diisi dalam wadah berupa bohlam lampu bekas. Tetapi zaman sekarang susah mencari bohlam lampu bekas, karena rata-rata lampu rumah itu umumnya sekarang berbentuk jari dan/atau spiral. Semoga nanti bisa menemukan bohlam lampu, terkhusus yang bening itu.

Semoga pos ini bermanfaat bagi kalian yang gemar berkreasi. Sampai jumpa minggu depan!

#RabuDIY



Cheers.

Gelang Berbahan Benang Wol Yang Mudah Dibikin Sendiri


Gelang Berbahan Benang Wol Yang Mudah Dibikin Sendiri. Masa kecil saya, kalau boleh mengklaim sendiri, merupakan masa kecil paling bahagia. Karena apa? Karena masa itu hanya ada telepon kabel, belum ada telepon genggam. Saya lebih banyak membaca buku dan bermain permainan tradisional bersama teman-teman dan kakak-kakak sepupu. Banyak permainan yang kami ciptakan sendiri. Betul sekali kalau orang bilang: keterbatasan mampu membikin manusia menjadi lebih kreatif. Bayangkan saja, bungkus bekas permen sugus adalah barang berharga yang bisa dijadikan duit mainan, dikumpulkan di dalam kotak mini, dan dibanggakan ke semua orang. 

Baca Juga: Membikin Aneka Kerajinan Tangan Berbahan Kancing

Kreatifitas masa kecil sebenarnya tidak selamanya karena keterbatasan. Waktu itu kami juga ingin bisa membikin sesuatu yang bisa dipamerkan pada orang lain, terutama orang dewasa. Selain bermain masak-betulan, di mana saya pernah mencuci beras sampai sepuluh kali sehingga rasa nasinya hancur-lebur, kami juga membikin sendiri gelang berbahan benang wol.

Melihat kakak sepupu membikin satu gelang berbahan benang wol, saya pun tak mau kalah. Bahannya cuma benang wol aneka warna saja! Karena benang wol nanti bakal dipintal (tiga utas) maka diperlukan tiga warna berbeda agar gelangnya nanti terlihat cantik. Benang wol yang dijual di Kota Ende kebanyakan benang wol untuk kerajinan tangan kristik, sehingga kami harus mendobel setiap warna. Satu warna bisa tiga sampai lima utas benang. Supaya apa? Supaya gelangnya lebih besar.


Membikin gelang berbahan benang wol ini super mudah (dan murah). Setelah akhir 2017 saya membikinnya untuk Jeki, Meli, Nabil, dan Cika, akhir tahun 2019 saya membikinnya lagi untuk Thika. Busyet, ponakan saya yang satu itu juga pengen pakai gelang berbahan benang wol. Haha.


Setelah menentukan berapa utas benang per warna, semua utas kemudian diikat bagian ujungnya, lalu dipintal (dicacing tiga). Supaya mantap, minta seseorang untuk menahan bagian ujung, atau bisa juga ditahan menggunakan pemberat (buku, seterika, atau jembatan). Setelah dipintal dan dirasa cukup, ukur terlebih dahulu lingkar gelang dengan tangan orang yang hendak memakainya. Kalau sudah pas, ikat lagi ujung satunya. Trada ... jadi deh. 

Baca Juga: Kreativitas Peserta KKN-PPM Uniflor 2019 di Rumah Baca

Berbahan murah, mudah dibikin. Tunggu apa lagi? Bikin yuk gelang benang wol ini sebagai 'ikatan' di dalam keluarga. Meskipun tidak bisa dipakai terus-terusan, tetapi misalnya saat sedang traveling bareng keluarga, semua anggota keluarga memakai gelang ini, pasti seru dan membikin keluarga kalian menjadi pusat perhatian.

Selamat mencoba!

Semoga bermanfaat.

#RabuDIY



Cheers.

Membikin Aneka Kerajinan Tangan Berbahan Kancing


Membikin Aneka Kerajinan Tangan Berbahan Kancing. Do it yourself a.k.a. DIY selalu mampu membikin saya berdecak kagum. Hebatnya, itu berefek domino. Decak kagum itu berujung pada aksi membikin sendiri juga. Iya dooong. Prinsip saya, kalau orang lain bisa melakukannya, saya juga harus bisa. Kalau ternyata setelah dicoba berkali-kali gagal, artinya saya harus berhenti mencoba membikinnya. Selama ini gagalnya cuma sekali dua, selebihnya alhamdulillah sukses. Benar, hasil tidak pernah mengkhianati usaha. Kecuali usahanya setengah-setengah. Haha.

Baca Juga: Ruang Tamu Pohon Tua Kini Punya Galeri Mini Sketsa VK

Salah satu benda yang acap dipakai untuk berkreasi adalah kancing (baju). Saya melihat di internet, kancing baju dipakai untuk membikin lukisan (dahan dan ranting pohon), ada juga yang berbentuk hewan (gajah), dan lain sebagainya. Ndilalah, saya justru lebih terinspirasi ketika melihat gantungan kunci ruangannya Kakak Shinta Degor di kantor. Maka, dengan semangat 45 pergilah saya membeli aneka kancing baju di toko. Seharusnya kancing yang dipakai merupakan kancing dari baju-baju atau kemeja lama yang sudah tidak dipakai. Tetapi menurut saya tidak ada salahnya membeli saja kancingnya ketimbang menunggu baju-baju atau kemeja tersebut afkir.

Ayo siapkan!

1. Kancing baju.
2. Benang.
3. Ring gantungan kunci (kalau ada).

Caranya? Mudah. Cukup satukan kancing seperti pada gambar di bawah ini, dan jadi.


Unik dan keren kan? Iya dooong, bikin sendiri ini. Barang itu, sekalipun murah, pasti bagus asalkan dibikin sendiri. Haha.

Baca Juga: Konsep DIY Dari Brand-Brand Baru Wirausahawan Muda Ende

Untuk berkreasi tidak perlu terlalu pusing memikirkan ini dan itu. Yang penting ada ide, ada kemauan, pasti ada jalan. Kalau ide hanya sekadar berputar saja di kepala, barang impian tidak bakal jadi sampai kiamat. Ide itu sama seperti niat. Kalau tidak dijalankan ya percuma. Saya yakin kalian juga bisa bikin, mudah ini kok. Siapa tahu kalian bisa membikin tidak hanya gantungan kunci super sederhana, tapi bisa juga bikin gelang, anting, kalung, atau hiasan dinding! Ayo berkreasi sepuas-puasnya.

#RabuDIY



Cheers.

Ruang Tamu Pohon Tua Kini Punya Galeri Mini Sketsa VK


Ruang Tamu Pohon Tua Kini Punya Galeri Mini Sketsa VK. Menulis VK rasanya seperti menulis CK, atau LV. Perasaan itu tidak salah, karena VK merupakan salah seorang artist yang sudah lama malang-melintang di dunia sketsa. VK, Violin Kerong. Saya pernah menulisnya di pos berjudul Violin Kerong Seorang Pelukis Sketsa Wajah Terbaik. Silahkan dibaca. Menulis VK sebagai pelukis sketsa terbaik bukan karena dia pernah mensketsa wajah saya gratis, haha, tapi karena ketika mendengar ceritanya berproses menghasilkan suatu sketsa, itu luar biasa. Hei ... ternyata bukan hanya make up artist saja yang membutuhkan beragam kuas, seorang sketch artist pun demikian adanya. Bahkan pelukis sketsa mempunya lebih banyak pensil alis ketimbang make up artist.

Baca Juga: Taman DIY di SMPSK Kota Goa di Kecamatan Boawae

Suatu hari Viol, atau lebih sering disapa Cio, bertanya tempat atau lokasi yang bisa dipakai untuk memajang hasil sketsanya. Kalian mungkin bertanya, bukankah Viol bisa memajang semua hasil sketsa itu di rumahnya sendiri? Ada kisah yang belum kalian ketahui, tentang kebakaran yang menghanguskan rumahnya, termasuk galeri mini miliknya. Trauma itu pasti. Tapi alhamdulillah Viol bangkit dan terus berkarya menghasilkan sketsa-sketsa terbaik. Dan sketsa wajah saya adalah sketsa pertama yang dia bikin setelah bangkit. Kalau tidak salah sih begitu. Hahahah.

Back to that question. Maka saya menawarkan ruang tamu Pohon Tua sebagai galeri mininya. Banyak dinding yang masih kosong dan bisa dimanfaatkan untuk memajang hasil sketsa Viol. Why not kan? Maka pada suatu sore muncullah Viol membawa sketsa-sketsa yang kebanyakan masih subyek wajahnya sendiri. Saya meminta bantuan Eda Tuke, suaminya Mamasia, untuk memasang paku-paku lantas memajang sketsa-sketsa itu.


Terakhir, yang saya tahu, selain pesanan sketsa wajah Mamanya Ross, teman kantor, untuk ultah Mamanya itu, Viol membikin sketsa Harley Quinn. Margot Robbie. Hwah! Betapa senangnya saya melihat itu. Artinya, my baby love Joker juga harus ada donk. Aduhai, tidak sabar. Haha. Mungkin setelah Joker, bolehlah Viol mengsketsa Lucifer dari filem Constantine, si Peter Stomare! Gila lu, Teh.

Yang jelas saya bangga bisa mengenal seorang Viol yang penuh talenta. Oh ya, in case you didn't know, Viol merupakan dosen pada Prodi Arsitektur sehingga jelas nyeni kan ya dia. Dia juga dikenal sebagai penyanyi alto pada Spiritus Sanctus Choir yang kesohor itu. Viol juga dikenal sebagai orang yang begitu banyak menghasilkan kerajinan tangan. Lebih banyak dari saya! Bahkan, kerajinan tangannya itu kelasnya pro banget dibandingkan saya. Haha. Tempat tisu, aneka boneka gemesin (nanti saya ngepos soal boneka-boneka ini juga), bingkai, dan lain sebagainya. Bukan cuma Viol, kakaknya juga jago! Keluarga mereka memang keluarga nyeni.

Tadi di atas sudah tulis 'terakhir' ya haha, ya sudah ... semoga bermanfaat dan siapa tahu kalian mau disketsa juga. Per person 250K only.

#RabuDIY



Cheers.