Ruang Tamu Pohon Tua Kini Punya Galeri Mini Sketsa VK


Ruang Tamu Pohon Tua Kini Punya Galeri Mini Sketsa VK. Menulis VK rasanya seperti menulis CK, atau LV. Perasaan itu tidak salah, karena VK merupakan salah seorang artist yang sudah lama malang-melintang di dunia sketsa. VK, Violin Kerong. Saya pernah menulisnya di pos berjudul Violin Kerong Seorang Pelukis Sketsa Wajah Terbaik. Silahkan dibaca. Menulis VK sebagai pelukis sketsa terbaik bukan karena dia pernah mensketsa wajah saya gratis, haha, tapi karena ketika mendengar ceritanya berproses menghasilkan suatu sketsa, itu luar biasa. Hei ... ternyata bukan hanya make up artist saja yang membutuhkan beragam kuas, seorang sketch artist pun demikian adanya. Bahkan pelukis sketsa mempunya lebih banyak pensil alis ketimbang make up artist.

Baca Juga: Taman DIY di SMPSK Kota Goa di Kecamatan Boawae

Suatu hari Viol, atau lebih sering disapa Cio, bertanya tempat atau lokasi yang bisa dipakai untuk memajang hasil sketsanya. Kalian mungkin bertanya, bukankah Viol bisa memajang semua hasil sketsa itu di rumahnya sendiri? Ada kisah yang belum kalian ketahui, tentang kebakaran yang menghanguskan rumahnya, termasuk galeri mini miliknya. Trauma itu pasti. Tapi alhamdulillah Viol bangkit dan terus berkarya menghasilkan sketsa-sketsa terbaik. Dan sketsa wajah saya adalah sketsa pertama yang dia bikin setelah bangkit. Kalau tidak salah sih begitu. Hahahah.

Back to that question. Maka saya menawarkan ruang tamu Pohon Tua sebagai galeri mininya. Banyak dinding yang masih kosong dan bisa dimanfaatkan untuk memajang hasil sketsa Viol. Why not kan? Maka pada suatu sore muncullah Viol membawa sketsa-sketsa yang kebanyakan masih subyek wajahnya sendiri. Saya meminta bantuan Eda Tuke, suaminya Mamasia, untuk memasang paku-paku lantas memajang sketsa-sketsa itu.


Terakhir, yang saya tahu, selain pesanan sketsa wajah Mamanya Ross, teman kantor, untuk ultah Mamanya itu, Viol membikin sketsa Harley Quinn. Margot Robbie. Hwah! Betapa senangnya saya melihat itu. Artinya, my baby love Joker juga harus ada donk. Aduhai, tidak sabar. Haha. Mungkin setelah Joker, bolehlah Viol mengsketsa Lucifer dari filem Constantine, si Peter Stomare! Gila lu, Teh.

Yang jelas saya bangga bisa mengenal seorang Viol yang penuh talenta. Oh ya, in case you didn't know, Viol merupakan dosen pada Prodi Arsitektur sehingga jelas nyeni kan ya dia. Dia juga dikenal sebagai penyanyi alto pada Spiritus Sanctus Choir yang kesohor itu. Viol juga dikenal sebagai orang yang begitu banyak menghasilkan kerajinan tangan. Lebih banyak dari saya! Bahkan, kerajinan tangannya itu kelasnya pro banget dibandingkan saya. Haha. Tempat tisu, aneka boneka gemesin (nanti saya ngepos soal boneka-boneka ini juga), bingkai, dan lain sebagainya. Bukan cuma Viol, kakaknya juga jago! Keluarga mereka memang keluarga nyeni.

Tadi di atas sudah tulis 'terakhir' ya haha, ya sudah ... semoga bermanfaat dan siapa tahu kalian mau disketsa juga. Per person 250K only.

#RabuDIY



Cheers.

Taman DIY di SMPSK Kota Goa di Kecamatan Boawae


Taman DIY di SMPSK Kota Goa di Kecamatan Boawae. Seperti yang sudah saya ceritakan pada pos Senin kemarin di #CeritaTuteh dan #SeninCerita, saya dikejutkan oleh banyak hal dari sebuah kecamatan di Kabupaten Nagekeo, yaitu Kecamatan Boawae. Mulai dari talenta di bidang tarik suara dan bidang seni lainnya oleh para murid SMP dan SMA, kafe ketje bernama R-Musth yang wajib kalian cobain menu-menunya, sampai sebuah Sekolah Menengah Pertama Swasta Katolik bernama Kota Goa. Ya, di SMPSK Kota Goa tempat kegiatan seminar dan workshop (knowledge service) dilaksanakan oleh Prodi Sastra Inggris pada Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Flores (Uniflor) dalam kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat bertajuk English Week, kemudian saya menemukan kejutan lain yaitu taman dengan barang-barang Do It Yourself (DIY).

Baca Juga: Konsep DIY Dari Brand-Brand Baru Wirausahawan Muda Ende

SMPSK Kota Goa terletak di Kilometer 1 Jalan Raya Boawae - Soa (baca: So'a). Bangunan sekolahnya memang sama dengan bangunan sekolah pada umumnya. Ada gedung-gedung, ruang perpustakaan, kamar mandi yang bersih, kantin, semacam pondok bersantai, hingga taman. Sekolah ini nyeni banget, menurut saya pribadi, karena hampir setiap dinding diberi mural dan/atau tulisan penyemangat, motivasi, dan inspirasi kepada para murid, dengan warna-warna ceria. Meskipun tidak bertanya langsung, tapi saya secara pribadi menganalisa bahwa sekolah ini adalah sekolah unggulan. Lihat saja, 7 November 2019 kemarin, mereka baru saja melaksanakan kegiatan Kota Goa Expo 2019 dengan mata acara pagelaran seni, pameran, dan bazaar.


Tjakep kan?

Analisa saya itu tidak saja karena melihat bangunan sekolah yang nyeni dan warna-warni saja, atau karena sekolah ini menerapkan full-day, tetapi perilaku murid-muridnya yang sangat santun terhadap tamu dan/atau orang yang lebih tua. Melihat saya mondar-mandir, terus ke kamar mandi, mereka menegur dengan sopan santun kelas tinggi, bahkan ada yang mencium tangan. Saya jadi ingat SMPK Frateran Ndao di Ende. Saya pernah menulis tentang sekolah itu dengan judul pos The Power of Cium Tangan. Silahkan dibaca juga. Perilaku murid yang baik, sopan santun, tidak terlepas dari sistem pendidikan yang diterapkan baik akademik maupun non-akademik yang termasuk di dalamnya tentang pendidikan karakter.

Yang menarik dari SMPSK Kota Goa, sesuai dengan tema pos hari ini, adalah konsep tamannya. Taman berada di area bangian tengah dikelilingi oleh gedung-gedung (termasuk kantin dan pondon santai atau serbaguna). Di tepi-tepi taman tumbuh pohon yang entah apa namanya, menaungi bangku-bangku taman di bawahnya. Di sekolah ini, taman dimanfaatkan pula oleh para guru untuk kegiatan belajar-mengajar outdoor alias di luar ruangan. Meskipun judulnya outdoor, tapi keseriusan murid menerima transferan ilmu pengetahuan dari guru hukumnya fardhu'ain!

Kembali ke taman. 

Saya tidak menulis panjang lebar pos hari ini. Cukuplah kalian melihat foto-foto berikut ini:



Taman ini digunakan untuk belajar outdoor juga oleh penghuni sekolah:


Andaikan bisa, saya mau lah kembali ke masa SMP dan bersekolah di sini. Hahaha. Eh tapi SMP saya dulu di SMP Negeri 2 Ende termasuk sekolah unggul loh.

Baiklah, demikian pos hari ini, semoga bermanfaat. Siapa tahu kalian juga pengen bikin taman dengan bangku serta angsa-angsa putih bermaterial ban bekas? Siapa tahu kan?

#RabuDIY



Cheers.

Upin Ipin Adalah Serial Kartun Dengan Produk DIY Terbanyak


Upin Ipin Adalah Serial Kartun Dengan Produk DIY Terbanyak. Kalian pasti sering menonton Upin Ipin. Serial yang diproduksi oleh Les' Copaque di Malaysia. Upin Ipin adalah filem kartun yang dibikin oleh Mohd. Nizam Abdul Razak, Mohd Safwan Abdul Karim, dan Usamah Zaid. Mereka bertiga adalah pemilik rumah produksi Les' Copaque *tunjuk atas* setelah bertemu dengan mantan pedagang minyak dan gas yaitu H. Burhanuddin Radzi dan isterinya yang bernama Hj. Ainon Ariff. Serial ini dirilis pada 14 September 2007 di Malaysia dan disiarkan di TV9. Upin Ipin sudah ditayangkan di tiga negara yaitu Malaysia, Indonesia, dan Turki. Mungkin negara lainnya juga? Kasih tahu di komen kalau ada informasi baru.

Baca Juga: Konsep DIY Dari Brand-Brand Baru Wirausahawan Muda Ende

Apabila kalian sering menonton Upin Ipin, jeli, dan punya hasrat di dunia DIY, tentu akan sangat mudah menemukan produk-produk DIY dalam serial tersebut.

Apa?

Jadi hari ini tidak ada tutorial atau apa pun itu?

Ya, hari ini marilah kita tengok produk DIY yang saya maksudkan.

1. Pot Kaktus Untuk Mei Mei


Pada episode berjudul Untuk Prestasi merupakan episode ngiklan tentang produk susu SGM. Episode ini dibagi menjadi tiga bahagian. Pada bahagian dua kalian akan melihat adegan dimana Upin dan Ipin bertemu Mei Mei yang begitu ceria membawa pot berisi kaktus cantik. Kemudian muncul si Mail yang sedang bersepeda dengan kecepatan super tinggi. Ternyata Mail lagi balapan sama Ehsan (yang membonceng Fizi). Melihat itu Upin, Ipin, dan Mei Mei kocar-kacir menyelamatkan diri. Mereka memang tidak tertabrak sepeda Mail tapi Mei Mei tersandung batu, terjatuh, pot kaktus melayang ke udara, dan pecah.

Ngambek? Jelas! Nangis lah si Mei Mei. Tapi Upin Ipin yang saat itu sedang menyedot susu SGM kotak pun punya ide. Mereka beramai-ramai balik ke rumah. Saat itulah saya tersenyum senang. Upin Ipin kemudian membikin pot untuk kaktus milik Mei Mei dari kotak kemasan susu kotak tersebut. Betapa senangnya Mei Mei. Selain itu mereka juga membikin tempat alat tulis dan lain sebagainya. Tentu korban utama adalah cat minyak milik Kak Ross. Hehe.

2. Sepeda Gandeng


Kasihan juga menonton Upin Ipin karena mereka seringnya tidak bisa seperi teman-temannya. Seperti episode Basikal Baru. Mereka hanya bisa lari-larian menemani teman-teman yang mengayuh sepeda. Sampai kemudian Tuk Dalang ber-DIY-ria dengan menggabungkan dua sepeda bekas miliknya yang sudah super puruk menjadi sepeda gandeng. TDR 3000. Tuk Dalang Ranggi 3000. Haha, jadi ingat sapu terbangnya Harry Potter.

3. Roda Roda


Di Kabupaten Ende, anak-anak dulu sering banget main ban bekas yang dilajukan menggunakan sepotong kayu. Selain itu juga ada tutupan ember plastik yang dikasih kayu sebagai kemudinya. Apa nama mainan ini? Roda-roda? Atau dorong roda? Ah, entahlah. Yang jelas pada beberapa episode nampak Upin Ipin memainkan roda-roda ini, yang terbuat dari tutupan ember plastik ukuran sedang dipasangi kayu. Roda-roda ini pernah dipinjam Jarjit, tapi karena anak itu memang begitu itu, dia kesandung batu sehingga mainan itu pun rusak. Roda-roda ini jelas tidak dibeli di toko melainkan dibikin sendiri alias hasil DIY.

4. Layang-Layang


Ah suka sekali saya menonon episode ini. Seperti sedang mengalami sendiri. Siapa sih yang tidak tahu layang-layang? Bahkan urusan percintaan pun sering pakai istilah layang-layang. Jangan jadikan adinda layangan duhai kakanda, tarik ulur tanpa memikirkan perasaan adinda. Haha. Lagi-lagi TDR 3000 eh, lagi-lagi Tuk Dalang menjadi si pembikin layang-layang. Banyak macamnya pun. Ada yang sederhana seperti yang sering dibikin juga sama anak-anak kompleks sini, bermodalkan plastik, lidi, benang, dan benang gelas untuk mengudarakan si layang-layang. Sumpah, ngeri juga melihat mereka membikin benang gelas dengan tujuan memutuskan benang layang-layang lawan.

Layang-layang yang dibikin sama Tuk Dalang itu bagus-bagus, bahkan menginspirasi.

5. Perahu Kertas


Apa yang kita lakukan apabila tidak bisa membeli suatu benda? Ya bikin sendiri lah. Tapi, kadang, suatu benda itu memang tidak dijual di mana pun sehingga untuk memainkannya harus bikin sendiri terlebih dahulu. Salah satunya yang saya temui di Upin Ipin adalah perahu kertas. Hebatnya yang membikin Upin Ipin, mainan sesederhana pun dibikin jadi luar biasa melalui daya imajinasi tokoh di dalam Upin Ipin. Tontonlah, kalian pasti akan tahu.

⇜⇝

Baca Juga: Komunitas ACIL dan Konsistensinya Mendaur Ulang Sampah

Kalian pasti tidak menyangka bukan bahwa pos hari ini melirik tentang produk DIY yang terlihat saat menonton Upin Ipin. Itu belum semua loh. Masih ada lagi seperti papan yang dipakai sebagai penggantti raket saat bermain bulu tangkis. Itu kan kami bangeeeettt dulu waktu masih ana lo'o (anak kecil) haha. Papan pengganti raket, potongan tongkol jagung ditusuk bulu ayam (dicabut dari ayamnya Nene Sisi dulu) pengganti kok (shuttlecock). Bahagia itu memang sederhana Hehe.

Bagaimana menurut kalian, kawan?



Cheers.

Upin Ipin Adalah Serial Kartun Dengan Produk DIY Terbanyak


Upin Ipin Adalah Serial Kartun Dengan Produk DIY Terbanyak. Kalian pasti sering menonton Upin Ipin. Serial yang diproduksi oleh Les' Copaque di Malaysia. Upin Ipin adalah filem kartun yang dibikin oleh Mohd. Nizam Abdul Razak, Mohd Safwan Abdul Karim, dan Usamah Zaid. Mereka bertiga adalah pemilik rumah produksi Les' Copaque *tunjuk atas* setelah bertemu dengan mantan pedagang minyak dan gas yaitu H. Burhanuddin Radzi dan isterinya yang bernama Hj. Ainon Ariff. Serial ini dirilis pada 14 September 2007 di Malaysia dan disiarkan di TV9. Upin Ipin sudah ditayangkan di tiga negara yaitu Malaysia, Indonesia, dan Turki. Mungkin negara lainnya juga? Kasih tahu di komen kalau ada informasi baru.

Baca Juga: Konsep DIY Dari Brand-Brand Baru Wirausahawan Muda Ende

Apabila kalian sering menonton Upin Ipin, jeli, dan punya hasrat di dunia DIY, tentu akan sangat mudah menemukan produk-produk DIY dalam serial tersebut.

Apa?

Jadi hari ini tidak ada tutorial atau apa pun itu?

Ya, hari ini marilah kita tengok produk DIY yang saya maksudkan.

1. Pot Kaktus Untuk Mei Mei


Pada episode berjudul Untuk Prestasi merupakan episode ngiklan tentang produk susu SGM. Episode ini dibagi menjadi tiga bahagian. Pada bahagian dua kalian akan melihat adegan dimana Upin dan Ipin bertemu Mei Mei yang begitu ceria membawa pot berisi kaktus cantik. Kemudian muncul si Mail yang sedang bersepeda dengan kecepatan super tinggi. Ternyata Mail lagi balapan sama Ehsan (yang membonceng Fizi). Melihat itu Upin, Ipin, dan Mei Mei kocar-kacir menyelamatkan diri. Mereka memang tidak tertabrak sepeda Mail tapi Mei Mei tersandung batu, terjatuh, pot kaktus melayang ke udara, dan pecah.

Ngambek? Jelas! Nangis lah si Mei Mei. Tapi Upin Ipin yang saat itu sedang menyedot susu SGM kotak pun punya ide. Mereka beramai-ramai balik ke rumah. Saat itulah saya tersenyum senang. Upin Ipin kemudian membikin pot untuk kaktus milik Mei Mei dari kotak kemasan susu kotak tersebut. Betapa senangnya Mei Mei. Selain itu mereka juga membikin tempat alat tulis dan lain sebagainya. Tentu korban utama adalah cat minyak milik Kak Ross. Hehe.

2. Sepeda Gandeng


Kasihan juga menonton Upin Ipin karena mereka seringnya tidak bisa seperi teman-temannya. Seperti episode Basikal Baru. Mereka hanya bisa lari-larian menemani teman-teman yang mengayuh sepeda. Sampai kemudian Tuk Dalang ber-DIY-ria dengan menggabungkan dua sepeda bekas miliknya yang sudah super puruk menjadi sepeda gandeng. TDR 3000. Tuk Dalang Ranggi 3000. Haha, jadi ingat sapu terbangnya Harry Potter.

3. Roda Roda


Di Kabupaten Ende, anak-anak dulu sering banget main ban bekas yang dilajukan menggunakan sepotong kayu. Selain itu juga ada tutupan ember plastik yang dikasih kayu sebagai kemudinya. Apa nama mainan ini? Roda-roda? Atau dorong roda? Ah, entahlah. Yang jelas pada beberapa episode nampak Upin Ipin memainkan roda-roda ini, yang terbuat dari tutupan ember plastik ukuran sedang dipasangi kayu. Roda-roda ini pernah dipinjam Jarjit, tapi karena anak itu memang begitu itu, dia kesandung batu sehingga mainan itu pun rusak. Roda-roda ini jelas tidak dibeli di toko melainkan dibikin sendiri alias hasil DIY.

4. Layang-Layang


Ah suka sekali saya menonon episode ini. Seperti sedang mengalami sendiri. Siapa sih yang tidak tahu layang-layang? Bahkan urusan percintaan pun sering pakai istilah layang-layang. Jangan jadikan adinda layangan duhai kakanda, tarik ulur tanpa memikirkan perasaan adinda. Haha. Lagi-lagi TDR 3000 eh, lagi-lagi Tuk Dalang menjadi si pembikin layang-layang. Banyak macamnya pun. Ada yang sederhana seperti yang sering dibikin juga sama anak-anak kompleks sini, bermodalkan plastik, lidi, benang, dan benang gelas untuk mengudarakan si layang-layang. Sumpah, ngeri juga melihat mereka membikin benang gelas dengan tujuan memutuskan benang layang-layang lawan.

Layang-layang yang dibikin sama Tuk Dalang itu bagus-bagus, bahkan menginspirasi.

5. Perahu Kertas


Apa yang kita lakukan apabila tidak bisa membeli suatu benda? Ya bikin sendiri lah. Tapi, kadang, suatu benda itu memang tidak dijual di mana pun sehingga untuk memainkannya harus bikin sendiri terlebih dahulu. Salah satunya yang saya temui di Upin Ipin adalah perahu kertas. Hebatnya yang membikin Upin Ipin, mainan sesederhana pun dibikin jadi luar biasa melalui daya imajinasi tokoh di dalam Upin Ipin. Tontonlah, kalian pasti akan tahu.

⇜⇝

Baca Juga: Komunitas ACIL dan Konsistensinya Mendaur Ulang Sampah

Kalian pasti tidak menyangka bukan bahwa pos hari ini melirik tentang produk DIY yang terlihat saat menonton Upin Ipin. Itu belum semua loh. Masih ada lagi seperti papan yang dipakai sebagai penggantti raket saat bermain bulu tangkis. Itu kan kami bangeeeettt dulu waktu masih ana lo'o (anak kecil) haha. Papan pengganti raket, potongan tongkol jagung ditusuk bulu ayam (dicabut dari ayamnya Nene Sisi dulu) pengganti kok (shuttlecock). Bahagia itu memang sederhana Hehe.

Bagaimana menurut kalian, kawan?



Cheers.

Kegiatan Keren Uniflor Go Clean Let’s Reduce Reuse Recycle


Kegiatan Keren Uniflor Go Clean Let's Reduce Reuse Recycle. Panitia Panca Windu Uniflor 2020 sudah di-launching. Kemeriahannya bisa kalian baca pada pos berjudul Parade Budaya Membuktikan Uniflor Adalah Mediator Budaya. Rangkaian kegiatan Panca Windu Uniflor pun sudah terlaksana mulai dari sebelum panitia di-launching. Telah terlaksana beberapa kegiatan pre-event yaitu (1) Kuliah Umum bersama Pakar Hukum Tata Negara Refly Harun, S.H., M.H., LLM. dengan moderator Agus Adi Tetiro dengan tema Membangun Potensi Diri Sebagai Mediator Budaya Mengawal Ideologi Melawan Radikalisme, Pancasila Dari Ende Untuk Nusantara telah diselenggarakan pada Sabtu (26/10/2019) di Auditorium H. J. Gadi Djou. (2) Misa, Shalat Jum'at, dan ziarah, dalam rangka launching Panitia Panca Windu Uniflor, Parade Budaya, opening ceremony, dan kegiatan olah raga EGDMC 2019 yang diselenggarakan pada Jum'at (1/11/2019).

Baca Juga: Konsep DIY Dari Brand-Brand Baru Wirausahawan Muda Ende

Usai di-launching, kegiatan pertama yang akan dilakukan oleh panitia keren ini adalah bakti sosial. Bakti sosial dilaksanakan di Kecamatan Ende Tengah dengan empat titik/kelurahan yaitu Kelurahan Onekore, Kelurahan Paupire, Kelurahan Potulando, dan Kelurahan Kelimutu. Tema yang diusung adalah Go Clean, Let's Reduce Reuse Recycle. Saya mendengar masih ada penambahan untuk menjadi 5R: Reduce, Reuse, Recycle, Redesign, Reimage. Kegiatan tersebut bakal dilaksanakan pada Jum'at, 8 November 2019, bertepatan dengan program Pemerintah Daerah Ende yaitu Jum'at bersih.

Bakti sosial itu nanti tidak saja berwujud aksi bersih-bersih tetapi juga mengajak masyarakat untuk mengurangi, memakai ulang, dan mendaur ulang sampah terutama sampah plastik. Untuk mengurangi, panitia bekerja sama dengan Dinas Koperasi untuk memperkenalkan rembi, tas/keranjang anyaman khas Ende kepada khalayak. Rembi ini terdiri atas dua, rembi untuk belanjaan kering dan rembi untuk belanjaan basah. Rembi merupakan produk DIY yang dibikin oleh para pengrajin yang ada di Kabupaten Ende. Untuk memakai ulang, tentu barang plastik seperti tas plastik dapat dipakai ulang, terutama tas plastik yang disediakan oleh supermarket. Kita bisa membawa tas plastik sendiri apabila pergi ke supermarket untuk berbelanja. Untuk daur ulang, itu yang akan menjadi bagian saya kelak, sedang menyusun draf-nya, dalam seminar dan workshop.

Pertanyaannya sekarang, apa hubungan antara kegiatan pada Jum'at lusa dengan tema blog hari ini yaitu #RabuDIY?

Marilah saya jelaskan.

Dalam perkara 3R kita tahu satu kata yang jelas merujuk pada konsep DIY yaitu recycle. Recycle atau mendaur ulang artinya kita mengolah sampah menjadi suatu barang bernilai ekonomi lebih tinggi. Misalnya mendaur ulang koran menjadi keranjang seperti yang sudah sering saya lakukan. Kebetulan dalam kepanitiaan saya diberikan kepercayaan untuk beberapa tugas dan salah satunya adalah edukasi sampah. Sudah saya konsepkan tentang edukasi sampah ini. Tidak hanya seminar tentang sampah tetapi juga workshop. Rencana saya, setiap peserta nanti wajib membawa sampah plastik yang nantik bakal langsung dipraktekkan untuk membikin barang daur ulang saat workshop

Saya pikir penjelasan di atas sudah cukup jelas, hahaha.

Yang pasti, untuk edukasi sampah ini nanti saya bakal menggandeng Komunitas ACIL yang sudah terbukti telah mengedukasi masyarakat tentang sampah serta pengelolaannya.

Bagaimana menurut kalian, kawan?

#RabuDIY



Cheers.

Konsep DIY Dari Brand-Brand Baru Wirausahawan Muda Ende


Konsep DIY Dari Brand-Brand Baru Wirausahawan Muda Ende. Senin kemarin, bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-91, saya berkesempatan meliput kegiatan keren yang diselenggarakan atas kerjasama Pemerintah Daerah Ende, E.thical, Rikolto, Universitas Flores (Uniflor), dan RRI Ende. Kegiatan dengan spirit Hari Sumpah Pemuda ini mengusung tema Dengan Semangat Sumpah Pemuda Kita Dorong Peran Orang Muda dalam Ekonomi Berkelanjutan dari Desa untuk Ende. Berlangsung di dua lokasi: Aula Lantai II Kantor Bupati Ende dan di halaman samping Kantor Bupati Ende, kegiatan ini menjadi momen memperkenalkan wirausahawan/i muda Ende dalam berinovasi: memikirkan tema, membangun brand, membikin prototype, hingga memamerkan dan memasarkan.

Baca Juga: Ini Dia Dompet Alat Tulis Cantik Berbahan Kain Flanel

Sebelumnya, sekitar satu bulan, telah diselenggarakan kegiatan Kewirausahaan Pemuda Berkelanjutan kerja sama E.thical, Ricolto, Fakultas Pertanian dan Fakultas Teknologi Informasi Uniflor. Pesertanya berjumlah (24) dua puluh empat orang. 8 (delapan) peserta berasal dari Fakultas Teknologi Informasi Universitas Flores (Uniflor), 5 (lima) peserta berasal dari Fakultas Pertanian Uniflor, sedangkan 11 (sebelas) peserta lainnya merupakan anak muda kreatif dan berdaya juang tinggi yang berasal dari berbagai daerah di Kabupaten Ende. Satu bulan kegiatan dengan berbagai bekal ilmu tersebut telah membentuk karakter wirausaha di dalam diri mereka. Sesuatu yang menurut saya supa amazing, apabila melihat output-nya.

Pasar E.thical


Hasil penggemblengan dua puluh empat peserta tersebut kemudian digelar pada Hari Sumpah Pemuda dengan tiga mata acara yaitu Presentasi Proposal, Pasar E.thical, dan Talkshow. Presentasi Proposal dilaksanakan di Aula Lantai II Kantor Bupati Ende, dimulai pukul 13.00 Wita, dimana masing-masing peserta diberi waktu sekitar tiga hingga lima menit untuk memperkenalkan brand dan produk mereka. Pukul 16.00 Wita, kegiatan dilanjutkan dengan Pasar E.thical dan Talkshow yang disiarkan secara langsung oleh RRI Ende.


Ethical Market Day atau Pasar Ethical merupakan pasar yang memamerkan hasil karya dua puluh empat peserta Kewirausahaan Pemuda Berkelanjutan dalam sembilan belas brand, yang sebelumnya telah memperoleh ilmu dan bekal untuk berwirausaha oleh tim dari Ethical yang bekerjasama dengan Rikolto, Fakultas Pertanian dan Fakultas Teknologi Informasi Uniflor. Pada pasar itu berdiri stan-stan tempat peserta memperkenalkan usaha dan/atau brand, memamerkan produk, serta menjual produk mereka. Setiap stan dilengkapi dengan profil singkat wirausahawan/i muda tersebut serta nama serta penjelasan produk yang diproduksi. Selain itu juga hadir stan dari Lepa Lio Cafe asal Remaja Mandiri Community Detusoko.



Natalia Mudamakin, salah seorang mahasiswa Fakultas Teknologi Informasi, merupakan wirausahawati muda yang mendirikan brand Palapa Rasa dengan motivasi kuat untuk menyediakan tempat bagi anak muda Ende untuk bekerja dan berdaya. Palapa Rasa merupakan brand snack buah organik khas pertama di Kabupaten Ende yang mengangkat cita rasa kuliner khas Flores. Natalia Mudamakin dengan brand Palapa Rasa meraih Juara 3 Ethical Entrepreneur Ende.


Credits: David Mossar. 

Elok merupakan brand yang dibikin oleh alumni Uniflor dari Fakultas Bahasa dan Sastra yaitu Cahyadi, yang melihat potensi dari lahan tidur terlantar di pekarangan rumah tangga-rumah tangga di Kota Ende. Melalui Elok, Cahyadi berkomitmen untuk memberdayakan masyarakat lokal dan lahan tidur secara optimal demi terciptanya kesejahteraan masyarakat dan ketahanan pangan. Sebagai bahan makanan alternatif rendah gula, Elok yang berbahan sorgum merupakan pilihan alternatif yang terjangkau, dan merupakan pilihan tepat penderita diabetes dan bagi siapa saja yang mencari alternatif karbohidrat sehat. Cahyadi dengan brand Elok meraih Juara 2 Ethical Entrepreneur Ende.



Ine Lawo merupakan brand usaha yang dibentuk oleh Karolina Dua Oga dan mahasiswa Fakultas Teknologi Informasi Maria Yasinta Mau Rema dengan motivasi untuk mencegah punahnya keterampilan menenun. Visi Ine Lawo adalah melihat regenerasi pengrajin tenun muda di Kabupaten Ende. Fashion tenun moderen yang membangkitkan kecintaan pada budaya Ende, Ine Lawo memanfaatkan kain sisa tenun menjadi busana moderen untuk membangkitkan kembali kecintaan pada tradisi dan budaya menenun. Karolina Dua Oga dan Maria Yasinta Mau Rema dengan brand Ine Lawo meraih Juara 1 Ethical Entrepreneur Ende.

Pasar Ethical dikunjungi oleh masyarakat umum Kabupaten Ende yang tertarik dengan inovasi yang dilakukan oleh para wirausahawan/i muda Ende tersebut, salah satunya yang baru saja membuka usaha kafe Sahabat Kopi. Selain Elok, Ine Lawo, dan Palapa Rasa, brand lainnya antara lain Tamiimah, FloCo., Frame Culture, Famous De Flores, Poly Deli, Pemuda Berdikari, Teka Uta, Oster, Plastic Reduce Initiative, Daur Ulang Kreatif, Rae Chili Flores, Ende Creative Millenials, Able, Ecodes, Ecocamp, dan Briona Flower.


Pada acara Talkshow yang dimoderatori oleh Kakak Rossa Domingga dengan narasumber dua diantaranya Nando Watu dan Karolus Naga, saya mendengar kalimat inspirasi yaitu 3C: Content, Colaborate, Community. Artinya seorang wirausahawan/i harus mampu menyiapkan kontennya sendiri, tapi harus mampu pula berkolaborasi dan berkomunitas. Kolaborasi sebagai daya dongkrak brand, komunitas agar brand lebih banyak dikenal (seperti efek domino). Bahkan diberikan pula contoh dari ranah Youtube oleh para Youtuber.


Sebelum Talkshow pun saya sudah paham betul bahwa berbisnis butuh 3C itu. Dan perkara 3C saya temukan pada salah satu brand baru yaitu FloCo. Dua anak muda ini yaitu Petronela Ina dan Diana Segu memilih brand bernama FloCo. sebagai brand cokelat batang organik pertama di Ende yang menggunakan 100% bahan alami. Diolah dari biji cokelat pilihan, FloCo. adalah pilihan oleh-oleh yang tepat untuk para wisatawan baik domestik maupun internasional. Tujuan mereka mendirikan FloCo. adalah memutus tengkulak dengan meningkatkan kesejahteraan petani kakao.


Yang menarik dari FloCo. justru pada kemasannya yaitu sejenis wati yang cantik dengan tutupan. Kemasan ini dibikin oleh keluarga mereka. Ini salah satu contoh kolaborasi yang baik. Satu produk, tapi ada dua keuntungan yang diperoleh oleh pembeli kelak (karena yang dipamerkan kemarin masih prototype). Saya bilang pada mereka, "Cokelat itu biasa, di mana-mana ada, dan mungkin orang juga bakal memburu cokelat ini sebagai oleh-oleh. Tapi kalau melihat dari sisi oleh-olehnya, tentu kemasannya ini yang diburu." Iya, konten mereka adalah cokelat, kolaborasi mereka dengan pihak lain adalah kemasannya. Komunitas? Mereka sudah tergabung dalam komunitas wirausahawan muda tersebut, bersama 22 peserta lainnya. Supa amazing!

Konsep DIY


Ini keutamaan yang mau dibahas. Ketika tidak ada sesuatu yang memuaskan keinginan, maka harus bisa membikinnya sendiri. Pasar E.thical mengenyangkan jiwa DIY (Do It Yourself) saya. Rata-rata hampir semuanya memang berkonsep DIY.

Elok dari Cahyadi menggunakan wati serta kantong serut untuk mengisi sorgum sebagai produk andalannya. Saya sangat menyukai kantong serut yang dijahit sendiri oleh Cahyadi, atau oleh Mamanya. Terlihat unik karena tali serutnya menggunakan bahan goni. Kemudian, Cahyadi memberikan saya satu kantong serut ini:


Ine Lawo, saya setuju mereka jawara, membikin produk DIY dari kain tenun sisa. Kalau boleh saya bilang: Ine Lawo itu 100% DIY. Kain tenun sisa ini bisa diminta di penjahit. Tapi bisa juga sih meyiapkan kain tenun khusus untuk dikreasikan ini itu. Kain tenun sisa tidak saja diaplikasikan pada pakaian, seperti celana jin sobek yang ditambal tenunan atau kemeja, tapi mereka juga membikin aneka asesoris seperti bandana, anting-anting, kalung, dan lain sebagainya. Seperti foto di bawah ini, salah satu hasil DIY-nya Ine Lawo:


Dari brand Daur Ulang Kreatif (atau Plastic Reduce Initiative, saya lupa) saya menemukan tas daur ulang seperti pada foto di bawah ini:


Bagaimana tali rafia dibikin tas seperti foto di atas, itu adalah ketekunan, keuletan, dan daya kreativitas yang luar biasa!

Masih banyak barang DIY yang saya temui kemarin di Pasar E.thical. Selain wati sebagai kemasan cokelat FloCo., ada pula tas-tas kertas DIY yang ditempeli brand/logo, yang pastinya dibikin sendiri sama para wirausahawan muda Ende tersebut. Selain itu, kalau kalian melihat foto di awal pos, itu dari Frame Culture! Dia membikin frame dan aneka asesoris yang biasa dipakai orang-orang buat menghasilkan foto yang instagenic. Frame-nya jelas dibalut kain tenun ikat.

⇜⇝

Dari semua yang ditulis di atas, saya jadi ingat sama diri sendiri, yang meraup keuntungan belipat ganda hanya dengan mendaur ulang sampah. Brand saya waktu itu Rumah Kreatif Tuteh. Aneka produk sudah saya bikin, baik karena pengen bikin, maupun karena dipesan sama pelanggan *duhaaaiii, pelanggan* hehe. Tapi karena tuntutan pekerjaan lain yang membutuhkan skala prioritas, karena saya juga punya pekerjaan utama, usaha itu tidak saya teruskan. Padahal keuntungannya supa amazing. Karena kegemaran ber-DIY-ria itulah maka setiap Rabu tema pos ini adalah DIY. Hehe.


Credits: Ihsan Dato.

Bagaimana, kawan? Suka kan sama pos kali ini? Menambah informasi sekaligus cuci mata sama foto-fotonya *kedib*, karena saya sendiri juga suka sama foto-foto yang cuma dijepret menggunakan telepon genggam tersebut. Salah satu foto memang saya minta pada David Mossar, karena saya lupa memotret stan-nya Cahyadi. Dan satu foto dijepret oleh Om Ihsan Dato.

Semoga para peserta dapat melanjutkan apa yang sudah mereka rintis pada Hari Sumpah Pemuda tersebut.

Mari kita dukung!

#RabuDIY



Cheers.

Ini Dia Dompet Alat Tulis Cantik Berbahan Kain Flanel


Ini Dia Dompet Alat Tulis Cantik Berbahan Kain Flanel. Pos hari ini di #RabuDIY cukup singkat padat dan jelas. Karena apa? Karena saya bukan saya yang membikinnya melainkan teman kerja. Jadi, saya cuma pengen ngasih tahu ke kalian bahwa dari kain flanel yang biasanya dipakai untuk mempercantik stoples dan/atau tempat tisu bisa juga langsung diaplikasikan untuk dijadikan dompet. Seperti pada foto di awal pos. 

Baca Juga: Komunitas ACIL dan Konsistensinya Mendaur Ulang Sampah

Kuning? Iyess! Waktu ditanya saya jelas meminta dompet berwarna kuning dengan nama saya tertera di salah satu sisinya. Yang membikin ini teman kerja tetapi lebih dikenal sebagai dosen FKIP, namanya Ibu Purnama. Orangnya super kreatif! Sama seperti Violin Kerong hehe. Selain membikin dompet alat tulis berbahan kain flanel, Ibu Pur juga membikin ragam dompet rajutan, yang bahannya tidak saja benang/tali tetapi juga plastik kresek. Ada beberapa dompet lain yang dibikin menggunakan plastik bekas bungkus Nescafe.

Uh wow! Kreatif sekali.

Terbukti mantan sampah tidak selamanya harus dibuang kan? Masih bisa digunakan kembali setelah didaur ulang menjadi barang bernilai ekonomi lebih tinggi. Seperti apa yang sudah dilakukan oleh banyak orang. Saya, kalian, mereka.

Semoga menjadi inspirasi ...

#RabuDIY



Cheers.

Komunitas ACIL dan Konsistensinya Mendaur Ulang Sampah


Komunitas ACIL dan Konsistensinya Mendaur Ulang Sampah. Sudah berapa lama saya mengenal komunitas bernama Anak Cinta Lingkungan (ACIL)? Sudah sangat lama. Sebenarnya maksud hati ingin turut terlibat di dalamnya tetapi kesibukan pekerjaan dan urusan ini itu memang sangat tidak bisa mentolerir. Sedih? Iya. Makanya saya memutuskan untuk solo karir, maksudnya saya tidak terlalu terlibat dalam komunitas manapun, kecuali Stand Up Comedy Endenesia. Kenapa? Karena Stand Up Comedy Endenesia merupakan komunitas dengan konsep yang benar-benar beda dari banyak komunitas yang pernah saya ikuti selama ini. Selain itu tingkat kegiatannya pun tidak terlalu padat, selain lomba setiap Jum'at ada open mic, sehingga tidak terlalu dipermasalahkan apabila saya absen, kan saya bukan komika. Hehe.

Baca Juga: Manfaatkan Celana Jin Bekas Untuk Mempercantik Sofa

Kembali ke ACIL. Karena hari ini #RabuDIY, maka tidak ada salahnya saya menulis tentang Komunitas ACIL Ende, atau ACIL (saja). Apa dan bagaimana ACIL? Silahkan dibaca sampai selesai, siapa tahu bisa membawa inspirasi bagi kalian. 

A C I L


Sudah lama tahu ACIL, tapi alangkah lebih bagus informasi tentang ACIL saya peroleh langsung dari salah seorang pengurusnya. Dari blog-nya Abang Iskandar Awang Usman, saya peroleh informasi tentang ACIL. Komunitas yang berkonsentrasi pada anak dan lingkungan ini didirikan pada Rabu, 4 Desember 2013 dengan basecamp di Jalan Adi Sucipto RT/RW 02/08, Ippi, Kelurahan Tetandara, Kecamatan Ende Selatan, Kabupaten Ende. Sayangnya tidak ditulis memang siapa-siapa pendiri dan pengurusnya. Tetapi jelas saya tahu sebagiannya, seperti Abang Umar Hamdan sang ketua, Abang Iskandar, Abang Antho, Filzha, dan lain-lain yang namanya tidak saya tulis karena kuatir salah.


Foto di atas, waktu penyerahan bantuan mantel hujan anak-anak dari Relawan Taman Bung Karno Ende kepada ACIL. Dari saya belum berhijab sampai berhijab, sudah melekat sama ACIL. Haha.


Sampai saya sudah berhijab, main ke markas ACIL, waktu itu kita dari Komunitas SOSMED Ende memang pengen berbagi, bermain, dan belajar bersama anggota ACIL yang rata-rata anak-anak usia TK sampai SMP. Kalau sudah SMA dan/atau lewat dari itu, boleh donk jadi pengasuh juga (silahkan daftar).

Mari cerita-cerita dulu tentang ACIL. Dulu saya pernah ikut kegiatan ACIL di halaman belakang rumah Wakil Bupati Ende, Bapak Djafar, di Jalan Soekarno. Dari situ saya jadi tahu bahwa ACIL yang beranggotakan anak-anak itu punya kegiatan rutin setiap hari Minggu, serta kegiatan-kegiatan lainnya. Markas mereka di Ippi itu merupakan rumah yang dihuni oleh Abang Umar Hamdan sekeluarga yang pada bagian halamannya didirikan saung kreatif. Saung ini berisi rak-rak buku, dan aneka barang kebutuhan belajar bersama. Dari situ ragam kegiatan ACIL lainnya berlangsung.


Kegiatan-kegiatan ACIL yang saya rangkum dari pandangan mata *cieee* antara lain belajar -  membaca - bermain edukatif di saung baca mereka, penanaman bibit atau pembibitan pohon dan tanaman lainnya, penghijauan, bersih-bersih sampah di titik-titik yang ditentukan, pemilahan sampah, hingga daur ulang sampah. Bukan cerita baru, kemudian, apabila Abang Umar dan kawan-kawan sebagai pengurus dan pengasuh ACIL diminta menjadi narasumber dengan materi utama sampah dan pengelolaannya. Kami pernah pula sama-sama menjadi pemateri dalam kegiatan #EndeBisa dengan goal utama #EndeKreativitas, #EndeBelajarLiterasiDigital, #EndeBebasSampah, #EndeSocMed4SocGood, #EndeBerwirausaha.


Rasanya pengen kembali ke aula SMKN 1 Ende dengan ribuan pesertanya itu. Hahaha.

ACIL dan Konsistensinya Mendaur Ulang Sampah


Komunitas yang berkonsentrasi pada masalah sampah ada banyak. Tapi yang betul-betul tuntas dengan masalah sampah ini saya baru melihatnya dalam tubuh ACIL. Mereka tidak saja memberi contoh lewat aksi bersih-bersih sampah, tetapi juga mengedukasi masyarakat, serta melaksanakan kewajiban moril untuk mendaur ulang sampah. Waktu berkunjung ke markas ACIL saya tahu bahwa proses daur ulang ini dilakukan oleh semua anggota ACIL baik anak-anak maupun pengasuh/pengurus, serta pendamping hidup mereka. Seperti isterinya Abang Umar. 

Sampah yang didaur ulang terjadi setelah proses pemilahan. Umumnya sampah plastik akan dikumpulkan dan dibersihkan agar dapat didaur ulang. Waktu berkunjung ke sana saya sempat fotoin barang-barang daur ulang yang bejibun itu tetapi saya file fotonya entah di mana. Untung saya masih bisa mendapatkan foto-foto yang dulu dipos Abang Nurdin di Facebook.




Sampah plastik, juga kertas, didaur ulang menjadi produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi dari bentuk semula. Apa saja hasil daur ulang itu? Pada gambar di atas kalian bisa melihat ada miniatur rumah adat, tempat penyimpanan file, dan tas selempang. Selain itu masih banyak produk lainnya seperti tempat sepatu gantung, dompet, keranjang, hingga tudung saji. Apa saja yang bisa didaur ulang, ditambah percikan kreativitas, maka produk daur ulang pun tercipta. Produk-produk itu pun dijual, hasilnya ditabung di tabungan ACIL, dan bakal digunakan untuk keperluan kegiatan ACIL itu sendiri. Ini kan keren.


Foto di atas, Abang Umar tidak sadar saya potret dari belakang saat kegiatan penghijauan di Pantai Anaraja. Dia memakai tas selempang daur ulang. Tas yang sama juga dia pakai saat menghadiri Festival Literasi Nagekeo 2019 di Kota Mbay Sabtu lalu. Konsisten! Mereka selalu memberi contoh, tidak hanya sekadar bicara. Si Filza juga sering banget pakai tas ini. Kan saya jadi pengen punya juga. Hahaha.


Sedangkan foto di atas, saya sedang mencoba alat pungut sampah #DIY yang dibikin oleh Abang Iskandar. Ah, mereka sangat kreatif. 

Mengurangi, Bukan Menghilangkan


Ini yang juga penting dibahas. Melalui kegiatan-kegiatannya, termasuk menjadi pemateri/pembicara dalam seminar tentang sampah, sudah jelas Abang Umar dan kawan-kawan berusaha menanamkan konsep Reuse, Reduce, Recycle atau 3R. Kalau di-Indonesiakan menjadi pakai ulang, kurangi, daur ulang. Konsep itu merupakan konsep global yang digaungkan di mana-mana. Karena, manusia sebagai penikmat semesta tidak bisa menutup satu pintu. Menutup satu pintu sama dengan menghancurkan pintu lainnya.

Bingung?

Mari saya jelaskan.

Plastik tidak bisa dihilangkan dalam kehidupan manusia alias manusia tidak bisa berhenti begitu saja dari yang namanya plastik. Bila itu terjadi, hutan yang menjadi korban. Itu pasti. Contoh paling sederhana saya lihat dari sumpit yang ada di rumah. Sumpit itu terbuat dari plastik dan dipakai berulang-ulang. Bayangkan bila sumpit semata-mata terbuat dari kayu. Coba kalian bayangkan sendiri. Mautak mau kita harus sepakat bahwa plastik masih memainkan peranan penting dalam kehidupan manusia, terutama masyarakat Indonesia. Sama juga dengan contoh sebuah rumah makan yang menyiapkan sarung tangan plastik kepada pelanggannya dengan alasan hemat air. Air memang hemat, sampah plastik tambah banyak.

Di Indonesia, rata-rata produk yang kita konsumsi menggunakan wadah plastik. Air galon, air minum kemasan, botol sampo, produk sasetan, produk isi ulang, taplak meja, baliho, barang rumah tangga, sampai karpeg pun berbahan plastik. Ada pula yang menggunakan kertas seperti bungkus sabun. Hal ini berbeda dari beberapa supermarket di luar negeri yang sudah menyediakan beberapa produk tanpa kemasan. Iya kah? Iya donk. Itu manfaatnya membaca. Hahaha. Jadi, pengelola supermarket menyediakan produk, misalnya minyak goreng dan/atau sampo, yang disimpan di dispenser khususnya. Pelanggan harus membawa botolnya sendiri dari rumah dan tinggal menakar sesuai kebutuhan. Asyik kan?

Jelas, plastik memang tidak bisa semerta-merta hilang dari kehidupan kita. Bayangkan saja kalau mantel hujan terbuat dari koran. Hehe. Bijaknya adalah 3R tadi. 

Mengurangi sampah plastik sudah saya lakukan. Mungkin juga sudah kalian lakukan. Ya, saya selalu membawa botol minum ke mana pun pergi karena enggan membeli air minum kemasan. Selain berhemat, saya mengurangi sumbangan sampah plastik. Bahkan membeli barang di kios pun, kalau barang itu bisa masuk ransel, saya menolak diberikan kresek oleh penjualnya. Sederhana, memang. Dan saya bahagia menjalaninya. 

Mendaur ulang sudah saya lakukan. Kalian tahu kan kalau pos #RabuDIY berawal dari kegemaran saya ber-DIY-ria. Mendaur ulang! Apa saja. Plastik termasuk di dalamnya. Pot-pot bunga, celengan, dompet receh, dan hiasan dinding merupakan beberapa barang daur ulang yang saya bikin. 



Memakai kembali produk plastik juga sudah saya lakukan. Meskipun sering menolak kresek dari para penjual, tetapi berbelanja di supermarket membikin ransel saya kepenuhan untuk diisi barang kebutuhan satu bulan. Oleh karena itu, plastik-plastik dari supermarket itu selalu kami simpan, bahkan ada kotak khusus, untuk nanti dipakai kembali. Memakai kembali barang plastik ini juga bisa dilihat dari pot bunga yang sebelumnya merupakan baskom kebutuhan dapur (yang kemudian retak/pecah).

⇜⇝

Kita semua bisa melakukannya: 3R. Asal ada kemauan. Mulai dari yang paling sederhana saja: membawa botol minum dan menolak kresek apabila barangnya bisa masuk ransel/tas yang kita pakai. Dari satu orang menjadi seratus orang ... bagus sekali ... sudah mengurangi begitu banyak sampah plastik di semesta ini. 

Baca Juga: Kreativitas Peserta KKN-PPM Uniflor 2019 di Rumah Baca

Kembali ke ACIL. Saya salut sama pengurus/pengelolanya. Bagaimana mereka konsisten mendaur ulang sampah, itu patut diacungi jempol dan diberikan apresiasi tersendiri. Apabila kalian tidak bisa mendaur ulang sendiri, kumpulkan dan serahkan sampah plastik (tapi yang sudah dibersihkan ya) kepada ACIL, agar mereka yang mendaur ulang. Apabila kalian mau mendukung ACIL, boleh juga dengan membeli produk-produk DIY hasil daur ulang yang telah mereka bikin. Kenapa tidak?

Yuk, kurangi sampah plastik!

#RabuDIY



Cheers.

Manfaatkan Celana Jin Bekas Untuk Mempercantik Sofa


Manfaatkan Celana Jin Bekas Untuk Mempercantik Sofa. Berapa banyak barang yang kita buang dalam sebulan? Sekardus? Dua kardus? Apakah celana jin termasuk di dalamnya? Oh, sayang sekali kalau begitu, karena celana jin punya begitu banyak manfaat justru setelah tidak dipakai lagi. Haha. Dinosaurus melirik malas kalau saya sudah menulis begini. Tapi kenyataannya memang demikian. Ketika celana jin masih baik atau bagus, alias masih terus kita pakai, ya fungsinya paling-paling hanya dipakai sebagai bawahan. Akan tetapi bila sudah tidak dipakai lagi, celana jin punya banyak manfaat dan paling pertama bisa jadi keset kamar mandi *ngakak guling-guling*.

Baca Juga: Andaikan Ada Seorang Saja Thomas Dambo di Kota Ende

Keset kamar mandi pun kadang tidak dibikin apa-apa terhadap celana jin tersebut. Cukup dilipat, jadi deh. Dududu. Betapa pemalasnya. Saya.

Saya pernah memanfaatkan celana jin yang tidak dipakai lagi ini untuk membikin berbagai barang dalam proyek-proyek Do It Yourself alias DIY. Tentu, semua atas bantuan video-video tutorial atau how to yang berserakan di Youtube. Tapi, jelas percikan kreativitas itu harus ada. Kalau tidak, ya percuma donk. Barang-barang yang pernah saya bikin dari celana jin itu antara lain tas selempang besar, tas selempang kecil, desk organizer, hingga mangkuk celana jin. Sudah ada pula yang saya ulas di blog ini. Silahkan cari sendiri posnya, yaaa.

Ini salah satu tas jin yang saya bikin.

Hari ini saya mau mengajak kalian melihat-lihat rumah saya, Pohon Tua, dengan seperangkat sofa kayu yang jok dan sandarannya kemudian saya selimuti, cie, cengan celana jin bekas.

Ceritanya, saat menjelang Hari Raya Idul Fitri dua tahun yang lalu, saya berencana untuk memperbaiki sofa kayu yang kainnya sudah mreyap-mreyap gara-gara digauk kekucingan kami. Sungguh, kekucingan kami itu kalau tinggal di rumah kalian pasti sudah bikin kalian depresi. Kekucingan di rumah kami selalu menyasar sofa hingga gorden untuk pemanasan kuku mereka. Haha. Tapi kami tidak pernah protes pada kekucingan karena kami sayang mereka. Dududu. Alhamdulillah kekucingan juga sayang kami, buktinya mereka betah tinggal bersama kami.

Maka, saya menghubungi Om Fals untuk memperbaiki sofa kayu tersebut tetapi kain yang digunakan adalah celana jin bekas. Adalah tugas Mamasia dan Thika Pharmantara membongkar kardus-kardus berisi celana jin yang masih saya pertahankan dalam inspeksi tahunan. Iya, seharusnya sudah dibuang, tapi bertahun-tahun, saat inspeksi barang bekas, tetap saja celana-celana jin itu dikebas, dilipat, disimpan kembali di dalam kardus. Tanpa banyak protes, seperangkat sofa kayu diangkut oleh Om Fals berikut tumpukan celana jin bekas.

Saat hari raya, sofa itu belum datang ...

What!?

Ya, betul sekali, kawan. Sofa-sofa itu datang dua minggu setelah Hari Raya Idul Fitri. Ini betul-betul kocak, tapi menyenangkan, karena bikin ngakak. Saya senang, meskipun telat dari hari perjanjian, karena sofanya kemudian menjadi cantik sekali. Kalian bisa melihatnya pada gambar-gambar berikut ini:



Yang paling detail itu pada sandarannya. Untuk sandaran, Om Fals khusus memakai bagian saku celana jin denga label yang masih tertempel. Serunya lagi dikasih paku semaca paku tekan, sehingga nampak gimanaaaaa gitu.



Sofa celana jin itu kemudian mengisi ruang tamu Pohon Tua dengan cantiknya. Banyak yang memuji, dan saya cuma bisa bilang, itu dibikin sama Om Fals, meskipun ide awalnya dari saya. Toh saya juga tidak pandai bermain-main dengan dunia pertukangan hahaha. Makanya, pada pos ini pun saya tidak menulis langkah-langkah membikin sofa celana jin, karena memang tidak tahu caranya. Itu urusannya Om Fals.

Baca Juga: Mempermudah Hidup Dengan Life Hack

Jadi, kalau di rumah kalian ada banyak celana jin yang tidak terpakai lagi entah karena sesak entah karena ada yang sobek entah karena bosan, jangan dibuang. Manfaatkan untuk membikin barang-barang DIY. Kalau bingung, tinggal buka Youtube dan mencari inspirasi di sana. Kalau masih bingung juga, baca-baca pos di blog saya. Siapa tahu ada yang nyangkut di kepala.

Selamat berkreasi!

#RabuDIY



Cheers.

Kreativitas Peserta KKN-PPM Uniflor 2019 di Rumah Baca


Kreativitas Peserta KKN-PPM Uniflor 2019 di Rumah Baca. Sepertinya sudah berabad saya tidak menulis tentang dunia Do It Yourself (DIY) di #RabuDIY. Padahal, banyak yang ingin ditulis, baik hasil kreasi sendiri maupun orang lain. Maklum lah ya, padatnya jadwal liputan ditambah keasyikan kembali memainkan Virtual Villagers 5, membikin saya jadi begini. Halaaah. Haha. Sudah berjanji pada diri sendiri untuk tidak nge-game tapi tetap saja masih bisa dipengaruhi sihir game. Pekerjaan meliput sana-sini hingga ke luar kota itu memang menguras energi dan nge-game sebenarnya salah satu remedy selain nge-blog. Membela diri.

Baca Juga: Pesanan Barang DIY yang Berkembang Biak dan Senada

Waktu Jum'at kemarin meliput kegiatan di Desa Ngegedhawe, kalian bisa baca pos berjudul Kisah Dari Rumah Baca Sao Moko Modhe di Desa Ngegedhawe, saya menemukan barang-barang alias asesoris yang dibikin sendiri oleh para peserta KKN-PPM Uniflor 2019 di sana. Bahkan sambil menunggu kedatangan Bupati Nagekeo, beberapa peserta masih membikin papan tulis mini! Kreatif sekali mereka, dan itu menginspirasi saya menulis pos hari ini.

Papan Tulis Mini


Orang sering menyebutnya mini blackboard. Sudah sering saya mengimpikan papan tulis mini semacam ini. Dari hasil berselancar di dunia maya, oh tentu Youtube punya porsi terbesar, suka sekali saya melihat berbagai fungsi papan tulis mini. Selain penataan rumah yang menggunakan papan tulis mini, kafe-kafe juga sering menggunakannya untuk menulis berbagai menu yang tersedia pada hari bersangkutan. Sering nonton video tentang food truck? Hyes! Papan tulis mini sangat berguna untuk menginformasikan kepada calon pembeli tentang makanan yang ready serta harganya.

Papan tulis mini ini semacam marka yang sebenarnya tidak perlu, tetapi dibutuhkan untuk mempercantik rumah. Karena bagaimanapun orang yang datang ke rumah kita pasti sudah tahu fungsi setiap ruangan: ruang tamu, ruang makan, ruang keluarga, dapur, kamar mandi, dan lain sebagainya. Orang tidak perlu harus melihat keterangan pada papan tulis mini itu terlebih dahulu. Tetapi ada sensasi estetika yang membikin papan tulis mini mengimbuh aura positif di dalam rumah kita. Iya, itu pendapat pribadi saya. Hehe.

Di Rumah Baca Sao Moko Modhe, papan tulis mini mengisi ruang dalam tempat buku-buku tersimpan di rak. Pada hari itu pun beberapa mahasiswa masih membikin papan tulis mini ini (sudah saya tulis di atas, tetapi harus diulang, hahaha).


Melky, salah seorang mahasiswa peserta KKN-PPM Uniflor 2019, terkejut waktu saya menghampiri dan bertanya: kalau dijual, berapa harganya per buah? Mungkin dia dan teman-temannya tidak menyangka saya bakal bertanya demikian. Mungkin mereka belum melihat peluang usaha dari papan tulis mini hasil bikinan sendiri itu. Menurut Melky, saya bisa membeli papan tulis mini dengan harga sekitar Rp 25K/buah. Hwah, murah lah menurut saya. Langsung pesan sepuluh papan tulis mini yang nanti bakal dia antar ke rumah kalau sudah selesai pengerjaanya. Hurayyyy!

Aneka Hiasan Dinding


Yang juga tidak kalah menarik dari Rumah Baca Sao Moko Modhe adalah aneka hiasan dindingnya. Jelas itu semua dibikin sendiri oleh mereka. Bisa kalian lihat pada gambar di bawah ini:





Sederhana namun indah kau mencintaiku. Eh, itu lirik lagunya Anji haha. Sederhana namun indah untuk menghiasi sebuah rumah baca di pelosok. Bahkan yang tulisan Let's Read itu mengingatkan saya pada zaman dahulu kala, saat saya masih SD, membantu (alm.) Kakak Toto Pharmantara membikin logo Telkom (logo lama) menggunakan kertas hasil dari alat pelubang kertas itu. Dominasi warna biru: biru tua, biru muda, dan putih. Saya betul-betul menginspirasi saya untuk membikinnya juga nanti, sekalian bernostalgia. Seperti akan sangat keren kalau tulisan BlogPacker dibikin seperti itu. Tulisan yang diisi dengan potongan kertas. Potongan kertasnya bisa berbentuk serampangan bisa juga hasil dari kertas hasil alat pelubang kertas.

Baca Juga: Andaikan Ada Seorang Saja Thomas Dambo di Kota Ende

Yang lupua saya foto adalah gantungan hiasan pada bagian teras rumah baca ... yang terbuat dari gelas plastik bekas minuman. Nanti deh kalau sempat ke sana lagi. Insha Allah.

⇜⇝

Dunia kreativitas, dunia seni, adalah dunia tanpa batas. Selalu ada yang bisa dihasilkan oleh orang-orang kreatif meskipun dengan bahan seadanya. Bahkan dalam konsep DIY, bagaimana kita bisa memanfaatkan apa yang ada, menjadikannya barang berdaya guna lebih, bahkan bisa mendatangkan Rupiah. Jangan salah, saya sudah pernah menikmati jutaan Rupiah hanya dari barang bekas semacam kertas koran, majalah, kardus, botol plastik, gelas plastik, dan lain sebagainya. Seperti yang sudah sering saya tulis: yang dibutuhkan hanyalah percikan kreativitas.

Selamat mencoba!



Cheers.