5 Kegiatan Pertama di 2019



Baru kemarin bikin resolusi untuk tahun 2019, sekarang sudah ngepos tentang salah satu resolusi itu haha. Rajinnya ngegas bener. Memang! Anyhoo, mohon maaf apabila Rabu kemarin tidak sempat pos apa-apa, saya agak syibuk bersama dinosaurus di Isla Nubar. Dan saya yakin, teman-teman juga pasti masih sibuk dengan kegiatan mengisi liburan bersama keluarga dan/atau sendirian. Lihat! Hari-hari liburan akan berakhir!

Baca Juga: 5 Dari 2018 dan Akan 2019

Mengawali tahun 2019, saya sudah melakukan beberapa hal dari resolusi diantaranya tetap nge-blog dan memulai Stone Project.

Mari kita mulai tentang lima kegiatan pertama di tahun 2019.

*tiup terompet*

1. T-Jounal


Si Mak Bowgel, Ewafebri, adalah mata airnya haha. Saya menyukai semua pos di blog-nya tentang Bullet Journal. Tapi sayang, saya belum bisa membikin Bullet Journal, jadi saya hanya melanjutkan apa yang sudah saya lakukan yaitu menulis jurnal di buku.



Karena buku atau agenda saya sudah pada penuh, maka saya memilih memakai binder kuning bekas zaman kuliah dulu. Lumayan, isinya bisa dibongkar-pasang. 

Memulai T-Journal saat tahun baru itu bikin gemas karena toko-toko ATK masih pada tutup sehingga belum sempat membeli stabilo. Huhu. Tidak cantik. Eh, belum cantik. Nanti lah dipercantik haha. Tengkyu Evva.

2. Stone Project


Stone Project merupakan salah satu resolusi 2019. Saya memulainya dengan mengumpulkan bebatuan dari Pantai Penggajawa. Pergi ke Pantai Penggajawa bareng sahabat saya yang bekerja di Jakarta dan sedang liburan di Ende, Hilda, dan tentu bersama Thika dan Meli.



Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. Sekalian #KakiKereta, jalan-jalan, menghirup udara liburan yang di ambang usai.



Rencananya memang mengupulkan, tetapi karena cuaca sedang rintik manja dan kita tidak mungkin turun ke pantai (karena semakin lama maka rintik berubah menjadi hujan), jadi mending membeli saja di seorang Mama yang sedang menunggui batu jualannya. Setengah plastik merah besar diharga 25K.

3. Mamatua Project


Yang satu ini memang tidak ada di resolusi 2019. Mamatua Project adalah proyek saya dan Thika yaitu memotret Mamatua setiap harinya. Hyess, kami telah mengumpulkan tiga foto haha. 

4. Craft


Lucu juga, baru awal tahun sudah mulai nge-craft. Nge-craft yang satu ini asyik sih.

Baca Juga: 5 Blogger Kocak

Jadi, ceritanya si Hilda meminta bantuan saya untuk menjadi MC ultah anaknya; Ezra. Sekalian saya diminta membantu mendekorasi rumahnya buat lokasi acara ultah ini.

Sudah lama saya pamit dari dunia per-MC-an, bahkan ada yang gemas karena saya menolak semua permintaan MC untuk acara nikah dan ultah anak-anak. Tapi, saya tidak bisa menolak permintaan Hilda, kawan. Itu tidak mungkin. Dan, menjadi MC ultah anak-anak sama dengan kerja super keras agar acaranya menjadi ramai dan meriah. Salah satu upaya saya adalah menyiapkan kado-kado mungil yang bakal dikasih ke anak/tamu yang berani maju untuk permainan dan bernyanyi.


Nge-craft-nya adalah membikin tas kertas mini untuk mengisinya dengan kudapan khas anak-anak. 

5. MC


Nah, ini dia yang saya lakukan sore tadi. Kegiatan yang membikin baju saya basah keringat haha. Menjadi MC ultah anak-anak, betul, adalah kerja super keras. Bagaimana anak-anak harus turut berpartisipasi agar acaranya meriah. Ternyata bakat memang tidak bisa luntur begitu saja *muka sombong* sekian lama mundur dari panggung MC, saya ternyata tidak kehilangan aura *tsaaaah*. Masih bisa membikin acara ramai, meriah, dan penuh tawa. 



Ini sih nge-MC sekalian reuni sama teman-teman masa SMU dulu haha. 


Libur telah usai hari ini. Besok, semua dosen dan karyawan Universitas Flores akan mengikuti apel pagi di Auditorium H. J. Gadi Djou, sambil merayakan Natal Bersama. Seperti apa keseruannya ... nantinya Senin :) haha.

Baca Juga: 5 Peserta Favorit Kelas Blogging

Bagaimana dengan kalian, kawan? Kegiatan apa yang telah dilakukan di awal tahun 2019 ini? Bagi tahu doooonk.

Semangat!


Cheers.

Penjurian Lomba Kandang Natal



Sabtu, bertepatan dengan Hari Ibu tanggal 22 Desember 2018, telah dilaksanakan penjurian Lomba Kandang Natal. Awalnya kami mengira jurinya adalah Oma Mia Gadi Djou dan anggota Arisan Widow-wati seperti Lomba Pohon Natal (tahun 2017) dimana kami keluar sebagai juaranya. Ternyata jurinya bapak-bapak. Haha. Mari yuk. Yuk mari.

Baca Juga: Mengetik 10 Jari Itu Biasa

Begitu melihat tim juri mendekati ruangan UPT Publikasi dan Humas, saya langsung rapikan jilbab, bedakan, pasang bulu mata, tebalkan blush on *halaaaah*. Sebelum juri bertanya, saya langsung menjelaskan tentang Kandang Natal ini.



Selamat siang, Bapak ... *berdehem*

Sesuai persyaratan lomba yaitu membikin Kandang Natal minimalis dan dari bahan yang ada, maka kami berusaha untuk bisa memenuhi persyaratan tersebut. Konsepnya minimalis ... *sambil mikir, benarkah ini minimalis?*



Persyaratan yang kedua yaitu dari bahan yang ada, maka kami membikin semua ini dari bahan yang ada atau mendaur ulang barang bekas. Kardus, karton, koran, kalender, stik es krim, bekas wadah deodorant, sampai serbuk *sambil menunjuk boneka Bunda Maria, Yosef, gembala, domba, dan lain sebagainya*




Bapak bisa lihat, ini Pohon Natal yang kami bikin tahun lalu, terbuat dari koran yang dianyam *menunjuk Pohon Natal legendaris*



Yang baru hanya cat, karena cat tidak bisa didaur ulang *entah mereka mendengarkan atau tidak*

Salah seorang juri bertanya: temanya apa?

*Amaaak, ini temanya apa ya? Ah jawab saja* Ini temanya kelahiran Yesus Kristus *asli ngasal level galaksi*. Karena di Israel pada masa itu tidak ada bambu, jadi kami berinisiatif membikin gua.

HA HA HA HA.

HA HA HA HA.

Saya yakin semua yang ada di ruangan, alias rombongan para juri termasuk Pak Super Boss, pasti pengen menampar bibir saya. Maafkan, kadang bibir saya kalau berbicara tidak permisi dulu sama otak. Pak Super Boss cuma bisa senyum-senyum.

Baca Juga: 2019 Tetap Nge-Blog

Ya! Selesai sudah penjuriannya. Mereka memerhatikan ini itu, mencatat ini itu, mengangguk-angguk sambil bernyanyi trilili lili lili lili ...

Biasanya pengumuman juara akan dilakukan setelah liburan, usai Upacara Bendera, dalam kegiatan menikmati kudapan bersama. Berharap jadi juara? Pasti doooonk. Setiap orang yang ikut lomba, menurut saya, sedikitnya di dalam hati mereka pasti ingin menjadi juara. Tapi kalau pun tidak juara, tidak mengapa, yang penting sudah berpartisipasi, turut meramaikan. Janganlah sampai gara-gara tidak juara kemudian manyun dan tidak mau ikutan lomba-lomba berikutnya. Bocah dinosaurus banget itu mah.



Usai penjurian, kami masih asyik-asyikan di ruangan, karaokean malahan. Terus, para panitia EGDMC berkumpul untuk kegiatan pembubaran panitia. Sepulangnya saya ke rumah, langsung rebah di lantai saya masih harus membikin stik keju pesanan bumil Irma Pello. Sebenarnya tahun ini tidak menerima pesanan stik keju tetapi demi sahabat yang sedang ngidam stik keju, baiklah ... mari kita membikinnya.

Sudah selesai? Bisa leyeh-leyeh? Tidaaaak! Malamnya saya masih harus mengikuti acara keluarga di rumah Abang Nanu Pharmantara. Ada hantaran balik dari pihak perempuan untuk keponakan saya setelah acara Buku Pelulu itu. 

Padat jaya.

Baca Juga: Mengetik 10 Jari Itu Biasa

Liburan sudah dimulai. Mari kita cek daftar ajakan jalan-jalan ... ke mana kita?



Cheers.

5 Ide Kandang Natal DIY



Holaaa Kamis manis :)

Senin kemarin saya ngepos soal Lomba Membikin Kandang Natal antar unit di Universitas Flores. Penilaian yang akan dilaksanakan Sabtu besok tentu membikin saya harus putar otak. Seperti apa modelnya, apa bahannya, bagaimana cara membikinnya. Tidak mudah memang. Apalagi ada kata 'minimalis' dalam persyaratan lomba. 

Baca Juga: 5 Manfaat Tidak Menonton Televisi

Gara-gara kata 'minimalis' ini, kandang gede yang sudah dibikin harus saya rombak menjadi lebih mini, minimalis, tapi tetap manis, seperti Kamis. Ini sih penampakan yang sudah jadi:


Tapi harus dirombak hehe.

Karena kemarin saya cukup lama ngeronda di Youtube dan IG demi mencari informasi tambahan untuk membikin kandang Natal ini, maka hari ini saya pengen menulis tentang ide membikin kandang Natal yang Do It Yourself (DIY). Mudah dibikin dan hanya membutuhkan sedikit percikan kreativitas.

Mari kita lihat, apa saja ide itu?

1. Koran


Kandang Natal berbahan koran ini memang tidak semudah kandang Natal berbahan kardus. Karena eh karena harus membikin pipa berbahan koran (yang dipelintir). Setelah itu bikin pola alasnya, dan mulai menganyam. Caranya kira-kira sama dengan membikin Pohon Natal yang pernah saya bikin tahun lalu. Tingkat kecermatan dan detail sangat diperlukan untuk membikin kandang Natal berbahan koran.

2. Botol Plastik


Dari yang saya lihat di Youtube, banyak juga yang membikin kandang Natal berbahan botol plastik. Bentuknya bisa macam-macam, tergantung mal yang dipakai juga. Jangan lupa, harus berani bereksperimen untuk mendapatkan hasil yang bagus. Selain botol plastik, bisa juga menggunakan gelas plastik.

3. Kayu dan Bambu


Kalau ini sih bahan yang umumnya digunakan untuk membikin kandang Natal. Biasanya untuk atap digunakan alang-alang, sedangkan untuk alas/rumput digunakan serbuk kayu yang bisa diperoleh dari bengkel kayu. 

Baca Juga: 5 Peserta Favorit Kelas Blogging

4. Piring Kertas


Salah satu video yang saya nonton adalah tutorial membikin kandang Natal menggunakan piring kertas (bundar) yang ditekuk-tekuk, dihekter, lalu membentuk gua. Prosesnya memang mudah dan bakal jadi sangat manis apabila bentuknya sempurna.

5. Kardus + Koran


Inilah bahan kandang Natal yang saya bikin seperti gambar di atas. Menggunakan kardus dan koran. Oh tentu, harus menggunakan cat juga dooonk supaya jadi tjakep hehe.

Masih banyak ide lainnya, silahkan dicari sendiri, siapa tahu kalian juga ingin membikin sendiri kandang Natal untuk diletakkan di depan atau di pojok rumah, berdekatan dengan Pohon Natalnya.

Saya tidak ingin berlama-lama menulis ini, karena harus kembali ke bengkel kerja alias ruang tamu yang sudah kacau balau begitu hahaha. Lihat saja penampakannya:


Maafkan kami, Mamasia, telah membuatmu lelaaaaah menyapu dan membersihkan semua benda-benda ini haha. Sampai tadi saat Mamasia hendak menyapu saya bilang: nanti saja lah, Mamasia, kalau sudah selesai kami bereskan. 

Baca Juga: 5 Yang Unik Dari Ende (Bagian 2)

Demikian ... semoga bermanfaat ya, kawan! Selamat berkreasi.



Cheers.

Lomba Membikin Kandang Natal



Setiap pekerjaan tentu ada suka-dukanya. Tapi pasti banyak sukanya apalagi kalau pekerjaan itu sesuai dengan passion. Orang bilang; passion-nya di situ. Yang paling saya sukai saat bekerja di Universitas Flores (Uniflor) adalah tali silaturahmi yang erat dan semangat kekeluargaannya yang sangat tinggi meskipun kami, dosen dan karyawan, beda suku dan beda agama. Senangnya saya saat mengetahui bahwa para pembesar Uniflor juga sangat menghargai dosen dan karyawannya yang kreatif.

Baca Juga: 2019 Tetap Nge-blog

Selain itu, Uniflor selalu merayakan momen-momen tertentu antara lain:

  • Upacara memperingati hari besar nasional yang dilanjutkan dengan atraksi hiburan dan makan bersama. Kadang diwajibkan memakai pakaian adat asal daerah masing-masing.
  • Masuk kerja usai Hari Raya (Natal dan Idul Fitri) kami diwajibkan mengikuti upacara, setiap dosen dan pegawai yang merayakannya wajib membawa kudapan dan minuman. Kadang minumannya semua ditanggung sama Yapertif. Dan ini, di Kota Ende, hanya ada di Uniflor.
  • Misa dan/atau pengajian yang diakhiri dengan hiburan dan makan bersama.
  • Lomba dari cabang olah raga seperti tarik tambang, voli, tenis meja, bulu tangkis, hingga jalan sehat.
  • Lomba yang berhubungan dengan hari raya baik Hari Raya Idul Fitri maupun Hari Raya Natal; lomba vokal grup dan lomba membikin Pohon Natal.
  • Bakti sosial ke panti asuhan.
  • Dan lain sebagainya.


Ini Mam Poppy Pelupessy (kiri) memakai baju adat Pulau Sabu.


Meskipun pernah kalah, saya dan teman-teman sekelompok (pernah masuk dalam dua kelompok yaitu Kelompok Lembaga-Lembaga dan Kelompok Kampus III) juga pernah merasakan indahnya meraih juara. Diantaranya:

  • Juara Pertama dari Lomba Vocal Group Islami Tahun 2013.
  • Juara Pertama Lomba Vocal Group dalam rangka Dies Natalies Uniflor ke-36 dan Halalbi Halal Tahun 2016.
  • Juara III Lomba Vocal Group Lagu Kedaerahan tahun 2017.
  • Juara Pertama Lomba Membikin Pohon Natal Tahun 2017. 

Ini Kelompok Vokal Grup terkocak yang meraih juara pertama pada tahun 2015. Yang beragama Islam hanya saya dan Mila (dua paling kiri dari kalian).

Ini Kelompok Vokal Grup terkece (mengaku sendiri :p) tahun 2016. Yang koreografi dan kostum oleh Rikyn Radja.

Waktu ikut lomba tahun 2017 kemarin. Biarpun bukan juara pertama tapi harus tampil maksimal. Katanya. Hahaha.

Pohon Natal daur ulang yang membawa UPT Publikasi dan Humas Uniflor meraih juara pertama tahun 2017.


Dari cabang olah raga pun kami pernah meraih juara baik Juara I, Juara II, maupun Juara III. Senanglah kalau juara. Kalau tidak juara pun senang, karena sudah berpartisipasi hahaha. Benar-benar gila tampil kali ya saya ini qiqiqi.

Baca Juga: Perjalanan Rock'N'Rain

Tahun 2018 ini, adakah lomba yang diselenggarakan? Ada donk. Hehe. Macam-macam. Terutama saat Dies Natalies. Tapi Sabtu kemarin saya langsung bahagia saat membaca pesan dari Kepala BAU Universitas Flores, atau sering kami sebut Kepala Rumah Tangga Universitas Flores, di WAG. WAG khusus pegawai Yapertif (Yayasan Perguruan Tinggi Flores). Bunda Emmi Sero, demikian kami memanggil beliau, menyampaikan tentang Lomba Membikin Kandang Natal menggunakan bahan yang ada. Bahan yang ada ini adalah bahan atau barang bekas.

Yipie!

Bikin saja belum, apalagi menang, tapi kok sudah yipie!? Haha. Yipie karena senang, kawan. Otak saya sudah mulai memikirkan bentuk Kandang Natalnya nanti seperti apa. Mulai memilih barang bekas apa yang mau dipakai. Apabila tahun lalu saya membikin Kandang Natal sebagai bahan tambahan Lomba Membikin Pohon Natal berbahan kardus sampai botol Rexona, maka sekarang ... kalian ada usul/ide?

Ini botol bekas deodorant (Rexona sih kebanyakan) yang dipakai sebagai Tiga Raja dari Timur, serta orangtua bayi Yesus. Yang lengkap bisa dilihat di awal pos.


Kalau kalian ada usul/ide, bagi tahu donk di komentar. Siapa tahu bisa sangat berguna untuk kami, tim UPT Publikasi dan Humas Uniflor, hahaha. 

Baca Juga: Sarasehan di SMPN Satap Koawena

Mari mencari ide ... itu ide jalan-jalan ke mana sih sampai dicari begini :p



Cheers.

#PDL Wreath Buat Kado Natal


#PDL adalah Pernah DiLakukan. Pos #PDL merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

***

Di Indonesia, Hari Raya Natal selalu identik dengan Pohon Natal atau Pohon Terang. Pohon Natal adalah pohon cemara yang berdiri di salah satu tempat di dalam rumah, dihiasi dengan aneka ornamen. Saya jarang melihat Pohon Natal asli di rumah saudara-saudari dari pihak Mamatua. Rata-rata Pohon Natal di rumah mereka berbahan plastik, aneka ukuran, aneka ornamen. Saya pernah mendengar teman bercerita bahwa Pohon Natal melambangkan kehidupan abadi karena pada musim salju pohon ini tetap hijau daunnya (tidak seperti pohon atau tanaman lainnya). Sama dengan daerah lainnya di Indonesia, di Kota Ende pun demikian, Pohon Natal dan Kandang Natal selalu ada di rumah-rumah saudara-saudari Umat Kristen yang merayakan Natal.

Baca Juga: #PDL Kebiasaan Menggigit Kuku yang Ternyata Bahaya

Sebenarnya ada banyak hal yang berkaitan dengan Hari Raya Natal seperti salju, Sinterklas, hingga wreath. Sinterklas masih sering saya dengar. Dulu, iri banget kalau teman saya yang bernama Nona Beci pamerin kaos kaki berisi kado dari Sinterklas. Zaman masih ana lo'o (anak kecil) hahah. Bagaimana dengan wreath? Sedikit sekali rumah-rumah di Ende memasang wreath sesaat sebelum Hari Raya Natal hingga Bulan Januari. Umumnya ya itu di atas; Pohon Natal dan Kandang Natal.

Tahun lalu Universitas Flores menggelar lomba Pohon Natal dari barang bekas. Saya sudah yakin bakal banyak yang bikin Pohon Natal berbahan botol, gelas, dan kertas. Bentuknya juga rata-rata sama. Tring! Muncul ide di kepala, ditambah hasil membaca soal crafting dan DIY, saya membikin Pohon Natal ulir seperti pada penampakan di bawah ini:



Pohon Natal dari UPT Publikasi dan Humas Uniflor itu meraih juara pertama dengan uang hadiah sejumlah 1,4K. Yuhu. Lumayan kan percikan kreativitas bisa menghasilkan uang dari lomba hahaha. Kalau dari hasil menjual kan sudah biasa, tapi dari hasil lomba itu luar biasa.

Baca Juga: #PDL Ngopi Tjakep

Pada saat itu, saya diminta oleh teman dari Fakultas Hukum untuk membikin wreath. Wah, boleh dicoba nih. Soalnya saya belum pernah pun bikin wreath. Sekalian mencoba, sekalian tambah ilmu mendaur ulang. Percobaan pertama dan percobaan kedua gagal. Saya mulai berpikir keras. Bagaimana ya caranya? Putar otak ke kiri ke kiri ke kiri kayak lagu Gemufamire, akhirnya muncul ide itu. 

1. Bikin lingkaran utama mirip pemida.
2. Bikin bulatan pengganti bunga.
3. Cat dua warna merah dan hijau.
4. Rekatkan dengan lem tembak.

Trada ... wreath pertama pun jadi. Ukurannya super besar ha ha ha.


Ukurannya sangat besar kan ya? Ha ha ha. Pitanya sendiri bukan dari saya, tapi milik teman yang di Fakultas Hukum itu. Pita itu memberikan ide lain di benak saya untuk memasang pita pada wreath berikutnya ... kalau ada yang minta dibikinkan hehe. 

Tanpa saya sadari, wreath buatan saya ini ternyata memikat perasaan banyak orang. Ternyata memang ada yang minta saya membikin wreath lagi dan lagi. Mama Emmi Gadi Djou meminta saya kalau bisa membikinkan wreath ini, juga kakak sepupu saya. Pokoknya saya ingat hari itu dalam sehari saya membikin enam wreath! Dibantu Indra dan Thika. Penampakannya bisa kalian lihat pada awal pos. Wreath yang sudah kami bikin itu kemudian menjadi kado Natal yang manis semanis saya ha ha ha. Senang rasanya melihat wreath hasil daur ulang itu dipasang di atas atau di pintu rumah. Lelah terbayarkan (bukan dengan Rupiah). Kepuasan dari hasil kerja tidak selamanya dinilai dari Rupiah.

Berdasarkan apa yang sudah saya lakukan, ini merupakan ide untuk kalian semua. Cobalah membikin wreath, dengan bahan daur ulang apa saja yang ada di sekitar, lantas jadikan itu kado Natal untuk keluarga, tetangga, dan teman-teman. Pasti mereka suka *senyum lebar*. Tutorial bisa dilihat di Youtube. Banyak.

Pernah, saya pernah begitu, dimintai tolong membikin wreath. Dari mencoba, gagal, mencoba lagi, hasilnya kurang rapi, sampai akhirnya lebih rapi. Semua karena apa? Karena percikan kreativitas *dilempar sapi*.

Baca Juga: #PDL Menjadi Hakim Anggota

Bagaimana dengan kalian? Bagi tahu donk, siapa tahu kita bisa saling belajar bikin barang daur ulang dari barang bekas yang ada di sekitar. Jangan buang dulu botol plastik di rumah kalian! Siapa tahu berguna untuk kalian, apalagi yang suka ber-DIY-ria.

Semoga bermanfaat.



Cheers.

#PDL Tas DIY Celana Jin



#PDL adalah Pernah DiLakukan. Pos #PDL merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

***

Kalau rajin main ke blog ini, kalian pasti tahu bahwa saya termasuk dinosaurus orang yang gemar mendaur ulang dengan proyek-proyek Do It Yourself (DIY) serta gemar nge-craft. Tentang barang-barang hasil daur ulang bisa kalian baca pada pos 5 Hasil Daur Ulang. Tentang keuntungan yang diperoleh dari barang hasil daur ulang bisa kalian baca pada pos Pemulung Rupiah. Bagaimana saya memanfaatkan barang bekas pun bisa dibaca di pos 5 Cara Memanfaatkan Botol Plastik Bekas. Kegiatan mendaur ulang ini, pada masa jayanya, berhasil mengalihkan saya dari Battle Realms.

Baca Juga: #PDL Menjadi Hakim Anggota

Suatu hari saat lelah menganyam keranjang, saya iseng membuka Youtube dengan kata kunci DIY atau Do It Yourself. Salah satu video yang ditampilan teratas adalah tentang membikin tas berbahan celana jin. Tapi cara membikinnya itu harus pakai mesih jahit. Ganti pencarian dengan dua kata: no sew. Voila! Satu video teratas yang ditampilkan benar-benar memikat. Dalam hati saya berkata: kalau dia bisa membikin tas tanpa dijahit, saya juga bisa! Bukankah bahan-bahannya juga saya punyai?

Eng ing eng ... satu celana jin lama yang tidak dipakai lagi karena ukurannya sangat besar, iyaaaa dulu kan saya sebesar brontosaurus, kemudian menjadi korban. Ikuti petunjuknya, mulai mengukur dan menggaris, mulai menggunting sana sini, mulai sibuk menarik kabel roll, dan panaskan pistol lem tembaknya.

Seperti yang sering saya tulis, hanya butuh sedikit percikan kreativitas.

Kreativitasnya memang hanya butuh sedikit saja, tapi lem tembaknya itu banyak banget ha ha ha. Maklum, tidak dijahit, jadi kalau mau tasnya kuat, harus diberi cukup lem. Proses mengelem juga tidak mudah karena imbuhan lem tanpa memanaskan yang sudah tertancap duluan itu bakal bikin dia tidak merekat. Dan ... TRADA, hasilnya bisa dilihat pada satu-satunya gambar di pos ini. Tas selempang berbahan (celana) jin. Tidak serapi buatan pabrik tapi memakainya adalah suatu kebanggaan tersendiri.

Baca Juga : #PDL Blog Travel

Apakah tas itu saya pakai? Iya donk. Sudah terjawab di kalimat terakhir paragraf di atas.

Apakah kuat? Iya donk. KUAT! Bahkan mampu menyimpan semua keperluan saya sehari-hari; dompet, dompet tabungan, dompet powerbank dan flashdisk, dompet minyak Varash dan botol Klorofil, satu atau dua buah buku yang selalu saya bawa, dan HP. Bahkan sering ditanya soal tas ini. Saya jawab (dengan bangga tentu saja): bikin sendiri. Hehe. tas DIY celana jin itu masih saya pakai sampai sekarang, bergantian dengan backpack, tergantung kebutuhan.

Selain dibikin tas, celana jin yang tidak terpakai juga saya jadikan cover sofa loh. Nanti yaaa kisahnya di lain pos saja. Not now.

Bagaimana dengan kalian?

Pernah, saya pernah begitu ...


Cheers.

5 Hasil Daur Ulang


Hai semuaaa ... *angkat-angkat alis* hehe. Saya pernah menulis tentang Pemulung Rupiah. Bagaimana saya mendaur ulang sampah untuk menghasilkan barang bernilai ekonomis. Tapi pada pos itu saya hanya menampilkan satu gambar barang hasil daur ulang  yang saya sebut proyek Do It Yourself (DIY) Tuteh dari Rumah Daur Ulang Tuteh. Pasti banyak yang bertanya-tanya; mana hasil lainnya? Kok hanya satu yang dipos? Jangan-jangan ini hoax? Sabar, semua ada waktunya hehe.


Bisa menghasilkan satu barang daur ulang bukan perkara mudah. Banyak waktu yang saya habiskan; try and error. Saya harus rajin mencoba supaya hasilnya rapi dan bagus. Kadang-kadang saya harus mengeluarkan ekstra Rupiah untuk membeli pendukung proyek DIY ini seperti gunting, anakan pisau cutter, lem Webber, isolasi, sampai hekter. Tapi tidak masalah sepanjang hasilnya kemudian memuaskan hati, daaaan tentu saja menghasilkan Rupiah. Seperti memberi umpan untuk dimakan ikan. Hahaha.

Gara-gara barang daur ulang ini, saya dikunjungi Suzan, bule asal Cheko yang konsern sama masalah sampah dan telah banyak berkegiatan di Kecamatan Detusoko.

Sekalian kunjungan dan bertanya cara membikin dan bagaimana hasil penjualannya, Suzan juga merasakan makan pisang goreng + sambal hahaha. Jadi ingat tahun baruan kemarin, Suzan nongkrong bersama keluarga kami di teras rumah.

Kali ini saya ingin berbagi dengan kalian lima barang hasil daur ulang yang sudah mengalirkan Rupiah ke dompet, qiqiqiq. Mungkin sulit bagi kalian percaya sampah-sampah itu kemudian menghasilkan uang ... tapi kalian harus percaya karena saya sudah melakukan / mengalaminya sendiri.

Mari kita simak lima barang hasil daur ulang yang sudah saya bikin:

1. Pohon Natal

Pohon Natal ini saya bikin untuk lomba pohon Natal dari barang bekas yang diselenggarakan menjelang Hari Raya Natal oleh Universitas Flores (tahun 2017); tingkat Fakultas, Lembaga, dan UPT. Waktu itu KTU UPT Publikasi dan Humas, Om Robby Waturaka, berkata bahwa kita bakal ikut lomba dan otak saya langsung tertuju pada pipa-pipa koran yang menumpuk di rumah. Tanpa menunggu lama, saya langsung pulang ke rumah untuk membikinnya.


Satu kali sudah setengah berdiri, saya melihatnya terlalu renggang, maka harus dibongkar lagi dan dianyam ulang. Tante Lili Lamury, tetangga samping rumah, menghadiahkan tulisan Merry Christmas sedangkan saya membeli bola pimpong (soalnya yang bekas tidak ada) sebagai hiasannya. Cat yang dipakai adalah stok cat dari Rumah Daur Ulang Tuteh. Hehe. Bintang-bintangnya? Dari bintang yang ada pada kardus beer Bintang yang dicat merah.



Pohon Natal ini, di kantor, masih dihias lagi. Saya juga membikin Gua tempat bayi Yesus baru dilahirkan dengan keranjang anyaman. Tiga Raja (dari Timur) dibikin dari kemasan bekas deodoran.

Dulu ngumpulin barang bekas ditanyain apa manfaatnya. Kemudian botol bekas deodoran jadi boneka. Kalau di Rusia namanya Matryoshka Dolls. Kalau di Jepang namanya Kokeshi. Kalau hasil DIY saya namanya Tutehyoshka Dolls. Qiqiqiqiq. 
Di kantor, malaikatnya bukan boneka anime Jepang milik Indra Pharmantara itu di atas, tapi bekas botol parfum mini saya yang ada malaikatnya hahaha. Alasnya dihias serbuk kayu, lantas ada boneka keramik ternak dan gembala dari Kakak Rossa Budiarti, katanya itu kiriman dari Itali (salah satu gereja di sana).

Dan kami memenangkan lomba tersebut, dengan hadiah sebesar Rp 2.000.000 hehe. Senang sekali karena bisa menang ... duitnya juga doooonk.

2. Tempat Tisu

Adalah Kak Rikyn Radja, koreografel ternama Provinsi NTT, yang mulai memesan tempat tisu. Gara-gara pesanannya itu, tempat tisu menjadi barang yang paling laris dipesan oleh orang-orang. Pernah dalam sehari saya harus membikin sepuluh tempat tisu dengan ragam karakter yang kertasnya dibeli di Roxy. Kebanjiran pesanan tempat tisu membikin saya harus meninggalkan game favorit demi mengejar waktu agar pesanan selesai dibikin tepat waktu.


Saya jadi heran, apa sih yang membikin mereka tergila-gila pada tempat tisu ini? Soalnya yang dijual di toko kan banyak dan bagus-bagus. Mungkin karena mereka suka sama karakter dari kertas yang kami beli itu hehehe dan unik juga tempat tisu berbahan koran, kardus, serta lem tembak ini.

3. Desk Organizer

Ini dia barang yang paling pertama saya bikin untuk dipakai sendiri. Lalu, mulai membikin pesanannya Kakak Shinta Degor, dan menyusul pesanan lainnya. Desk organizer yang saya bikin tidak pernah sama satu dan lainnya. Sebelum bikin, saya selalu bertanya pada pemesan: ukuran, berapa kotak, warna, sampai karakter apa.


Adalah kebahagiaan dan kebanggaan tersendiri melihat desk organizer yang sampai sekarang masih dipakai oleh teman-teman! Masih ada di meja mereka ... yuhuuu.

4. Hiasan Dinding

Saya belum kepikiran untuk bikin hiasan dinding, tapi karena Mila memesannya, maka harus putar otak untuk membikin. Bermodal pantat botol bekas air mineral dan kardus, maka jadilah hiasan dinding yang berikut ini:


Belum serapi jika kalian membelinya di toko, tapi Mila senang sekali dengan hiasan dinding ini. Ada dua buah jadi bisa digantung di samping kanan-kiri foto atau jam di dinding.
5. Dompet Koin

Satu-satunya produk yang saya bikin karena belum ada yang memesan lagi hahaha. Soalnya saya juga tidak mengecat botol plastiknya sih.


Ini bisa buat simpan koin, atau barang printilan lainnya semacam handsfree dan charger. Barang ini sudah saya berikan pada cucu saya si Syiva hehe.

Sampah dapat bermanfaat apabila kita mau sedikit lebih kreatif dan mau mencobanya. 

Dari lima barang di atas, saya tidak memasukkan item keranjang. Kenapa? Karena keranjang daur ulang itu sudah umum dibuat. Sudah tidak terhitung berapa banyak keranjang yang saya buat, bahkan pernah dipakai sebagai wadah makanan untuk lomba berbau kedaerahan begitu (saya lupa nama lombanya). Ada yang memesannya untuk tempat make up, ada pula sebagai wadah botol-botol obat. Yudith Ngga'a pernah memesannya untuk digunakan sebagai wadah hadiah bayi (baru lahir) temannya.


Atau yang satu ini, stoples permen yang dipesan Enchyz dan Sony. Saya memang tidak menyarankan stoples ini untuk makanan tanpa pembungkus karena kuatir sama cat-nya. Belum pakai cat khusus kertas soalnya.


Itu, gambar di atas, belum di-cat lagi (tiga kali lapis) makanya masih kelihatan belum rata cat-nya.
Wah, panjang juga pos ini, penuh gambar! Hehe. Tapi kalau tanpa gambar kan kurang afdol, makanya saya perbanyak gambarnya jadi tidak dibilang hoax. Semoga kalian suka sama gambar-gambarnya, kemudian ngiler, kemudian pesan pada saya bikin sendiri di rumah. Sekalian coba-coba dan menyingkirkan sampah di rumah bukan? Bahan-bahan dari semua barang daur ulang di atas pun mudah ditemui: koran, karton, kardus, botol plastik, bekas majalah, dan lain sebagainya. Sedangkan barang-barang pendukung kerja seperti gunting, cutter, berbagai lem.

Percik sedikit kreativitas ... tring tring ...

Semoga bermanfaat.


Cheers.