Kalau Tahu 5-Minutes Crafts Harus Tahu TheSoul Publishing

Kalau Tahu 5-Minutes Crafts Harus Tahu TheSoul Publishing. Do It Yourself (DIY). Dunia DIY pasti berhubungan dengan dunia craft dan life hack. Craft adalah kerajinan tangan. Life hack adalah tips sederhana tapi jitu untuk mengatasi masalah dalam keseharian umat manusia. Contoh craft adalah menyulam, membatik, menenun, membikin hiasan dinding berbahan keping CD, membikin pot bunga berbahan botol plastik, membikin keset dari handuk bekas, membikin dompet berbahan bungkus plastik (minuman) sasetan, hingga membikin bunga dari tali rafia dan tas kresek. Contoh life hack adalah memanfaatkan kaleng bekas minuman untuk merontokkan bulir jagung dari tongkol jagungnya, menggunakan lipatan kertas untuk membuka tutup botol kaca, memanfaatkan daun pepaya untuk mengusir nyamuk, hingga membersihkan barang berkarat dengan cara merendamnya dalam cairan berkola.

Baca Juga: Membikin Sendiri Lilin Berbentuk Telur Untuk Paskah

Saya, kalian, mereka, pasti setidaknya satu kali dalam hidup pernah menonton tentang dunia DIY yang berhubungan dengan craft dan life hack ini. Tidak bisa dipungkiri bahwa 5-Minutes Crafts merupakan salah satu tayangan yang paling banyak mengulas tentang dunia DIY, craft, life hack. Kalau di-Indonesia-kan menjadi Kerajinan Tangan 5 Menit, meskipun untuk membikinnya membutuhkan waktu lebih dari lima menit. Saya mulai menonton video-video 5-Minutes Crafts dari media sosial Instagram, kemudian berlanjut ke Youtube. Awal mula mengetahui tentang 5-Minutes Crafts saat saya mulai terobsesi dengan dunia DIY. Waktu itu saya terus memperbarui pengetahuan tentang membikin sesuatu terutama berbahan barang bekas. Tak cukup sampai di situ, 5-Minutes Crafts kemudian punya sub-sub seperti Girly, Man, Kids, dan lain sebagainya.

Tapi tahukah kalian siapa dan/atau apa yang berada di balik tayangan-tayangan 5-Minutes Crafts? Sekarang ... saatnya kalian tahu.

TheSoul Publishing


5-Minutes Crafts tidak terlepas dari perusahaan bernama TheSoul Publishing. Penulisannya memang begitu, The dan Soul tidak dipisah. Dirilis dari situsnya, TheSoul Publishing adalah studio digital independen yang menghasilkan konten asli yang menyenangkan, informatif, dan menginspirasi audiens global. TheSoul Publishing merupakan salah satu perusahaan media online paling produktif dan populer di dunia dan menjangkau ratusan juta pengikut di Facebook dan pelanggan Youtube. Tim kreatif TheSoul Publishing berbasis global memberikan konten yang menarik untuk semua umur dalam delapan belas bahasa yang berbeda, didistribusikan melalui jaringan lintas platform yang digerakkan oleh media sosial.

Mulai dari hack yang praktis hingga proyek kerajinan yang cerdas, dari kiat kecantikan yang memusingkan hingga teka-teki yang memusingkan otak. Portofolio merek media TheSoul Publishing menekankan hal-hal positif, praktis, dan murni menghibur. Saluran TheSoul Publishing yang paling banyak ditonton adalah, tentu saja, 5-Minute Crafts. 5-Minute Crafts adalah merek dan/atau brand digital DIY nomor satu di dunia dan menempati peringkat di antara Top-5 dari semua Saluran YouTube. Makanya tidak salah saya menulis judul: Kalau Tahu 5-Minutes Crafts Harus Tahu TheSoul Publishing. Karena, 5-Minutes Crafts ini benar-benar jawara.

Selain 5-Minutes Crafts, TheSoul Publishing juga memproduksi konten/saluran lain seperti Bright Side, 7-Second Riddles, Actually Happened, 123 Go!, Avocado Couple, Frankenfood, Slick Slime Sam dam Doodland. Makanya tidak heran ketika melihat logo Bright Side, saya langsung teringat sama 5-Minutes Crafts ... bohlam! Dan sumpah, baru hari ini saya mengetahui koneksi antara keduanya. Mereka sama-sama diproduksi oleh TheSoul Publishing. Oalah ... hahaha.

Ide, Tim, dan Kerja Keras


Menonton video-video milik TheSoul Publishing di Youtube saya percaya bahwa di belakang layar ada banyak tim yang bekerja keras. Tim ini pasti dibagi berdasarkan salurannya masing-masing. Bahkan satu saluran, menurut saya, bisa terdiri dari banyak tim. Misalnya 5-Minutes Crafts yang terbagi dalam Girly, Man, Kids, pasti punya tim-nya masing-masing. Setiap tim pasti mempunyai orang-orang yang dijuluki tim kreatif. Ideas Team. Merekalah yang harus memutar otak untuk setiap kontennya, merekalah yang harus bekerja keras mewujudkan ide tersebut, merekalah yang harus pandai mengatur kanal kategori.

Kanal kategori?

Iya, itu bahasa yang saya gunakan.

Karena, dari setiap video 5-Minutes Crafts yang saya nonton, ada beberapa video yang sama, yang pernah tayang pada video lainnya. Kanal kategori ini penting sehingga mereka cukup membikin satu dua video baru untuk kategori yang sama, dan bisa menambahkan video-video yang sudah ada, asal kategorinya sama. Tapi bukan berarti mereka asal comot, ada kerja keras di situ. Memilah video, menyambungnya, menyunting ini itu, bukan perkara mudah, terutama untuk video berdurasi sampai puluhan menit.


Betapa beruntungnya saya, kalian, mereka, karena tahu tentang 5-Minutes Crafts dan saluran lain milik TheSoul Publishing. Apa saja yang sudah saya pelajari dari 5-Minutes Crafts? Hwah, banyak sekali, gengs. Menjadikan BH sebagai masker, membikin tas berbahan keping CD, membikin kursi/bangku dari rak telur, membikin makanan raksasa, nge-prank teman dengan makanan palsu, bagaimana caranya agar kemping jadi lebih menyenangkan, betapa menyenangkannya berkebun itu, memanfaatkan lem bakar untuk berbagai keperluan hidup, hingga menggunakan sendok untuk menggambar alis mata. Haha. Macam-macam ide kreatif mereka. Ada yang bisa kita tiru, ada yang tidak. Tergantung tingkat kesulitan masing-masing.

Baca Juga: Tiga Desk Organizer Mini Ini Benar-Benar Menggemaskan

Bagaimana dengan kalian, kawan? Pernahkan kalian membikin apa-apa yang kalian nonton dari 5 Minutes Crafts? Yang jelas, segala sesuatu yang beraroma DIY selalu menarik perhatian saya. Kami pernah membakar ayam di api unggun menggunakan aluminium foil. Haha. Gara-gara 5-Minutes Crafts itu! Ya ya ya sudah dulu ... nanti tidak selesai-selesai ceritanya. Yang jelas, hari ini kita semua tahu sesuatu di balik nama besar 5-Minutes Crafts. Mari ... ber-DIY-ria!

#RabuDIY



Cheers.

Membikin Sendiri Lilin Berbentuk Telur Untuk Paskah


Membikin Sendiri Lilin Berbentuk Telur Untuk Paskah. Setiap menjelang Hari Raya Paskah, ada teman-teman yang menjual lilin Paskah dalam kemasan gelas mini di mana bagian luar gelas dicetak tulisan Paskah begitu. Sudah lama saya juga pengen bikin lilin semacam itu tapi bentuknya beda. Berbentuk telur! Kita semua tentu tahu bahwa Paskah identik dengan telur. Easter Egg. Keinginan yang lama terpendam itu baru bisa dilaksanakan Selasa kemarin. Maklum #DiRumahSaja harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Banyak yang mengeluh di rumah saja bikin mati gaya. Ah, siapa bilang? Hehe. Bagi saya, di rumah saja berarti bisa melakukan banyak hal, termasuk membenahi belakang rumah bekal berkebun! 

Baca Juga: Tiga Desk Organizer Mini Ini Benar-Benar Menggemaskan

Tapi hari ini saya belum bercerita tentang belakang rumah yang proyek DIY-nya sudah sudah dimulai itu. Hari ini saya akan menghadirkan cara membikin lilin berbentuk telur yang sebenarnya sangat mudah. Mari tengok bahan-bahannya:

1. Lilin.
2. Cangkang telur.
3. Crayon jika ingin lilinnya berwarna.
4. Suntikan (bekas tinta printer).

Untuk proses membikinnya, bisa kalian tengok pada video di bawah ini:


Selalu ada cerita menarik dari pengalaman pertama. Sama juga, kemarin itu untuk percobaan pertama, saya rasa cukup sukses menghasilkan lilin-lilin berbentuk telur. Kemarin itu bikinnya memang belum pakai crayon (untuk warna). Kami malah mencoba memakai pewarna makanan! Haha. Mana bisa. Yang ada di pewarna lari ke tempat lain si lilin lari ke tempat lain. Mereka tidak bisa kawin *ngakak*.

Bagaimana ... jika kalian masih #DiRumahSaja, yuk dicoba.

#RabuDIY



Cheers.

Tiga Desk Organizer Mini Ini Benar-Benar Menggemaskan


Tiga Desk Organizer Mini Ini Benar-Benar Menggemaskan. Pada akhirnya, setelah mahasiswa Uniflor dirumahkan, giliran dosen dan karyawan Uniflor dirumahkan. Dirumahkan tidak sama dengan liburan. Artinya, mahasiswa tetap belajar, dosen tetap mengajar, dan karyawan tetap bekerja. Tapi semua dilakukan dari rumah. Study from home. Work from home. Kurangi aktivitas di luar rumah.


Apabila ada pekerjaan yang wajib dikerjakan oleh dosen dan karyawan antara tanggal 23 Maret 2020 sampai 4 April 2020, bersifat mendesak dan atas perintah atasan, maka dosen dan karyawan Uniflor harus mengikuti perintah pekerjaan tersebut. Sesuai dengan situasi yang terjadi, di rumah saja, salah satunya, bisa lebih cepat memutus rantai penyebaran virus Corona.


Dua minggu di rumah saja, bukan liburan, tentu bisa menimbulkan kebosanan. Sebenarnya banyak hal yang bisa dilakukan selama masa 'karantina diri sendiri' ini. Berkebun di kebun mini merupakan salah satunya. Yang paling asyik tentu menonton drama Korea, filem-filem terkini, serta membaca buku. Siapa tahu ada buku di lemari buku kalian yang pembungkus plastiknya masih utuh. Perlu dibuka! Bacalah! Mengisi waktu luang ini. Ada pula pekerjaan lain yang bisa dilakukan seperti membersihkan kulkas, membersihkan kamar mandi, menata ulang kamar, menata ulang ruang tamu, dan lain sebagainya. Eits, bagi pecinta kerajinan tangan, tentu di rumah saja memberi begitu banyak waktu untuk berkreasi sepuas-puasnya.

Karena banyak bahan baku kerajinan tangan yang tertinggal di kantor seperti koran dan kardus, tentu saya belum bisa membikin tutorial baru membikin desk organizer atau keranjang koran. Makanya hari ini saya hanya ingin berbagi foto tiga desk organizer mini yang benar-benar menggemaskan dan saya tidak tahu di mana kah mereka sekarang. Haha. Sudah diberikan kepada orang lain hanya saja saya lupa kepada siapa. Semoga bermanfaat bagi mereka yang menerimanya.

Ada tiga desk organizer mini yang saya bikin disela-sela membikin barang lainnya. Ini dia penampakannya:




Mini memang, tapi punya kekuatan yang cukup untuk menampung barang-barang modal kerja. Seperti yang kalian lihat di atas.

Baca Juga: Monotuteh

Mumpung di rumah saja, kalian juga bisa coba membikinnya karena bahan-bahannya tidak perlu banyak banget:

1. Kotak susu atau gulungan tisu.
2. Kardus untuk alas.
3. Pembungkus (kertas majalah juga boleh).

Silahkan berkreasi sepuas-puasnya, gengs!

#RabuDIY



Cheers.

Keranjang Serbaguna Merah Cantik Pesanan Mama Emmi


Keranjang Serbaguna Merah Cantik Pesanan Mama Emmi. Ketemu lagi di #RabuDIY. Harinya kita berkreasi sepuas-puasnya. Kali ini saya mau bercerita tentang produk Do It Yourself (DIY) berbentuk keranjang. Hyess, lihat gambar di atas. Keranjang tersebut dipesan oleh Mama Emmi Gadi Djou saat saya masih sangat rajin dan produktif mendaur ulang sampah. Hehe. Kalian pasti tidak menyangkan bahwa keranjang merah cantik di atas berbahan koran dan kardus kan? Perihal pita, sebenarnya tidak saya pakaikan pita. Tetapi ketika mata saya menangkap pita emas di dos pita, diaplikasikan pada keranjang ini, ternyata hasilnya bagus. Trada ... jadi deh si keranjang merah cantik.

Baca Juga: Bunga Dinding

Bagaimana tata cara membikin keranjang tersebut? Mudah. Kalian bisa membaca pos berjudul Bakets ini. Apabila kalian masih kesulitan juga, boleh request di komen untuk saya membikin tutorialnya baik tulisan maupun video. Ehem. Artinya ... saya bakal kembali rajin ber-DIY-ria nih? Sepertinya begitu. Hehe. Karena, ketika sisa keranjang warna hijau dipakai Meli untuk mengisi segala macam barang (roti, mentega, keju, stoples sosis, dan lain sebagainya) di atas meja makan, kelihatannya juga cantik. Kecantikan yang sama juga saya lihat saat berkunjung ke rumah Mama Emmi. Dua keranjang merah itu bertengger manis di atas meja makan.

Dalam waktu dekat, teman-teman beragama Katolik akan merayakan Paskah. Saya berniat menjual telur paskah hiasan. Otomatis sudah mulai mempersiapkan bahan-bahannya terutama telur! Haha. Selain telur, saya juga bakal menjual lilin berbentuk telur. Warna-warni. Semoga saat percobaan nanti tidak mengalami kegagalan yang berarti *dicibir dinosaurus*. Sedangkan teman-teman beragama Islam juga bakal memasuki Bulan Ramadhan. Eng ing eng ... siapa pun yang membutuhkan keranjang anyaman untuk berbagai keperluan, boleh pesan di saya.

Jualaaaaan!

Ember. Jualan di blog sendiri bukan dosa. Haha. 

Baca Juga: Ruang Tamu DIY

Terus, apa inti pos ini? Tidak ada. Haha. Cuma mau pamer pada kalian tentang keranjang cantik di atas, sekaligus jualan. Bagi teman-teman beragama Katolik, selain telur, keranjang juga bisa dipesan sebagai wadah telur Paskah hias. Tetapi tentunya ini berlaku untuk teman-teman yang ada di Kota Ende dan sekitarnya saja, ya.

Semoga bermanfaat dan semoga ... tertarik! Haha.



Cheers.

Barang-Barang DIY Kece di Kedai Kampung Endeisme


Barang-Barang DIY Kece di Kedai Kampung Endeisme. Adalah pilihan tepat ketika pada awal tahun 2019 saya mengubah tema #RabuLima menjadi #RabuDIY. Mengubah tema harian blog gampang-gampang susah. Saya harus mandi kembang, bertapa, melakukan perjalanan ke Barat mencari kitab suci, menimbang ini itu terlebih dahulu, barulah mengambil keputusan. Bagi kalian yang bingung soal tema harian di blog ini, nonton video berikut:


Mengapa saya menulis adalah pilihan tepat ketika pada awal tahun 2019 saya mengubah tema #RabuLima menjadi #RabuDIY? Pertama: dunia Do It Yourself (DIY) adalah dunia kreativitas tanpa batas. Kedua: saya sendiri punya renjana di dunia DIY dan pernah meraup keuntungan Jutaan Rupiah hanya bermodalkan sampah seperti koran, majalah, botol plastik, kardus, hingga kaleng. Terbukti, tema #RabuDIY masih bertahan hingga saat ini. And I love it so much. Come on, guys, begitu banyak barang bernilai ekonomi lebih tinggi dari barang (dasar) yang sudah ingin dibuang ke tempat sampah. Yang dibutuhkan hanyalah percikan kreativitas.

Baca Juga: Membikin Pajangan Cantik Berbahan Beras dan Kulit Kerang

Kemarin sore saya dan teman-teman; Violin, Oedin, Cahyadi, Al, pergi ke sebuah kedai bernama Kedai Kampung Endeisme. Cerita lengkap tentang kedai ini bakal saya pos di Hari Senin. Videonya sendiri bakal saya pos Jum'at besok di Youtube. Hari ini saya hanya mau bercerita pada kalian, bahwa di sebuah kedai mungil yang lokasinya pun tidak di pusat Kota Ende, kalian akan menemukan begitu banyak barang-barang bernilai seni tinggi dan spot-spot instagenic untuk keperluan foto yang bakal dipos di Instagram. Awal waktu diundang ke sana oleh pemiliknya, ekspetasi saya biasa-biasa saja. Ternyata saya salah! Memalukan sekali saya ini hahaha.

Barang-barang DIY ada di Kedai Kampung Endeisme akan berbicara melalui foto-foto di bawah ini.


Dari depan sudah terlihat dengan sangat jelas bahwa Kedai Kampung Endeisme memang berkonsep #DIY. Mulai dari papan namanya sampai bangku-bangku berbahan ember bekas cat.


Selain bangku-bangku berbahan ember bekas cat, dan kayu-kayu bekas, juga ada bangku yang satu ini, yang dialas dengan karung goni. Apa nama karung ini di daerah kalian? Kalau kami sih menyebutnya karung goni hahaha. Karung goni jangan disepelekan loh, saat ini karung goni dimanfaatkan sebagai bahan dasar kerajinan tangan seperti membikin kantung unik, tali goni buat hiasan jar, dan lain sebagainya.


Rak kayu dicat hitam yang diisi buku-buku sampai pernak-pernik. Sumpah, saya penasaran sama isi botol kaca itu. Yang jelas itu bukan beras warna-warni seperti yang pernah saya bikin. Herannya, saya lupa bertanya. Nantilah kalau ke sana lagi bakal saya tanya apa isinya.


Tulisan-tulisan menarik di dinding, gambar-gambar, dan totebag. Salah satu pemiliknya itu punya blog petikata. Tapi kalau dia lebih sering bermain dengan kata-kata di Facebook. Keren-keren lah.


Mandala yang satu ini juga dibikin/dilukis sendiri. Memang benar ya kalau orang seni yang membuka kafe, semua pernak-pernik dan hiasan dinding bisa dibikin sendiri. Menghemat ongkos.


Kece kan? Jelas! 

Baca Juga: Tempat Cincin DIY Untuk Pernikahan Sahabat Saya Deasy Daulika

Berkunjung ke Kedai Kampung Endeisme tidak saja memuaskan mata tetapi juga membikin jiwa DIY saya memberontak. Bertanya-tanya, kapan saya bakal kembali ke dunia DIY. Cahyadi sendiri pernah menyarankan saya untuk membikin konten video tentang dunia DIY saya seperti bagaimana cara saya membikin keranjang, tempat tisu, desk-organizer, wall-organizer, hiasan dinding, tas berbahan celana jin bekas, sofa celana jin, kaktus batu, berkreasi dengan semen, sampai pohon Natal menggunakan pipa kertas! Byuuuuuh *garuk-garuk kepala*. Mau sih, tapi waktu belum mengijinkan. 

Semoga pos ini bermanfaat untuk kalian semua. Yuk berkreasi sebanyak-banyaknya. Jangan biarkan ide-ide kreatif kalian menguap begitu saja.

#RabuDIY



Cheers.

Desk-Organizer Nuansa Biru Cantik Untuk Yohana Gabriela


Desk-Organizer Nuansa Biru Cantik Untuk Yohana Gabriela. Sumpah, menulis ini saya merindukan masa-masa produktif mendaur ulang sampah dulu. Rumah dipenuhi sama tumpukan koran, tumpukan majalah lama, kardus-kardus bekas, nampan berisi kaleng cat aneka warna, kuas aneka ukuran, kertas-kertas kado cantik, botol plastik aneka ukuran, gelas plastik dan gelas kertas/karton, kaleng bekas susu, gunting, cutter, alat tulis dan penggaris, hot glue gun, lem kayu (Webber), kotak pita dan pentul, sampai jepit pakaian! Whuaaaah. Gilaaaa! Tempat kerja mendaur ulang pun berpindah dari ruang keluarga ke ruang makan. Dan bukan barang baru jika tangan saya dipenuhi cat warna-warni karena proses mengecat keranjang, misalnya.

Baca Juga: Ruang Tamu DIY

Waktu sedang panas-panasnya, pesanan menumpuk, saya banyak sekali menerima pesanan tempat tisu dan desk-organizer. Ada buku khusus pesanan! Hehe. Setelah dua item itu, item lainnya yang juga banyak dipesan adalah keranjang dan keranjang ulir. Mungkin pada masa itu otak saya berkembang sangat pesat, haha, karena ide-ide bermunculan simpang-siur, minta ditangkap. Khusus untuk desk-organizer saya selalu berusaha agar tidak ada yang bentuknya sama. Supaya setiap orang merasa bahwa desk-organizer itu memang untuk dirinya, ciri khas dirinya, yang dia minta saat memesan. Terutama bila warna yang mereka pesan untuk desk-organizer tersebut sesuai.

Suatu kali, teman kerja saya Yohana Gabriela memesan desk-organizer bernuansa biru. Saya bertanya: mau yang di-cat atau yang dibungkus kertas kado? Dia minta yang kertas kado dengan ukuran normal. Artinya tidak sebesar desk-organizer pesanan Enchyz Monteiro. Tapi harus bisa memuat alat tulis, gunting, hekter, lem, dan barang-barang kantor/pekerjaan lainnya. Maka otak saya mulai bekerja. Pertama: memikirkan dan/atau merancang bentuk kasarnya terlebih dahulu. Setelah itu mulai membikin rangka-rangka hingga mengetes kesesuaian bentuk pada alas/dasar desk-organizer bersangkutan. Saatnya membungkus semua rangka dan alas/dasar dengan kertas kado. Sumpah, saya suka banget sama kertas kadonya. Warnanya biru lembuuuut dengan karakter kartun begitu. 

Jadinya seperti pada gambar berikut ini (kalau bagian cover kurang terlihat):


Cantik kan ya?

Oh ya, setelah semua rangka terpasang pada alas/dasar, saya pikir-pikir bakal lebih bagus kalau diikat pita putih. Kebetulan stok yang selalu ada itu pita warna putih dan biru. Ugh wow, jadinya malah tambah cantik dan perasaan tak rela menyerahkan desk-organizer ini muncul. Haha. Desk-organizer ini saya jual seharga Rp 25.000 (Dua Puluh Lima Ribu Rupiah) saja. Oh ya, biasanya untuk menampilkan bentuk utuh atau fungsi dari sebuah karya seperti desk-organizer maka saya selalu menempatkan barang-barang yang sesuai peruntukkannya seperti alat tulis, mistar, gunting, hekter, isolasi, bahkan uang. Itu semacam properti pendukung hehehe.

Baca Juga: Baskets

Desk-organizer semacam ini memang sederhana dan mudah dibikin. Barang-barang dasar untuk membikinnya pun tidak susah dicari. Yang susah itu merancang bentuknya hahaha, karena memang pengen tidak ada yang sama antara pesanan yang satu dengan pesanan lainnya.

Semoga pos ini bermanfaat. Siapa tahu setelah membaca ini kalian pengen bikin juga. Ayuklah dibikin. Tunjukkan ke saya hasilnya *ngikik*.

#RabuDIY



Cheers.

Membikin Pot Pembibitan Menggunakan Botol Plastik Bekas


Membikin Pot Pembibitan Menggunakan Botol Plastik Bekas. Sampah lagi, sampah lagi, plastik lagi, plastik lagi. Saya tidak akan pernah bosan menulis tentang sampah plastik. Saya juga tidak akan pernah berhenti berusaha agar sampah plastik ini bisa dikreasikan agar punya nilai tambah. Salah satu sampah plastik yang paling sering kita temui sehari-hari adalah bekas kemasan minuman baik bentuk gelas maupun bentuk botol. Di musim hujan, sampah plastik yang terbawa arus air sungguh menyesakkan got, jalan, dan perasaan. Setidaknya kami sekeluarga sudah mengurangi sampah plastik terutama botol, dengan cara selalu membawa tumblr. Khusus saya pribadi, membawa tiga botol yaitu dua tumblr dan satu termos kopi susu.

Baca Juga: Ini Dia Produk Do It Yourself Pertama yang Saya Bikin

Banyak produk Do It Yourself (DIY) yang bisa kalian bikin dengan memanfaatkan botol plastik bekas. Salah satunya membikin pot pembibitan! Saya pernah melakukannya, membibit daun sop di botol plastik bekas. Tidak percaya? Ini dia buktinya:


Memanfaatkan botol plastik bekas untuk pot pembibitan bisa dilakukan dengan langsung menanam seperti gambar kedua atau gambar jejeran botol plastik pembibitan daun sop di atas. Bisa juga dengan cara seperti pada gambar pertama di pos ini. Botol plastiknya dibelah, bagian atas dibalik menutup bagian bawah (bagian dasar), terus pada tutupan dibikin lubang tali sekaligus diisi tanah dan bibit. Nantinya tidak perlu rutin disiram, karena air bakal terserap melalui tali tersebut. Sebagai pemanis, botolnya bisa dicat warna-warni.

Karena daun sop itu batangnya juga kecil-kecil, ada juga sih yang besar, maka waktu itu saya tidak perlu memindahkan lagi bibit daun sop yang sudah tumbuh ke wadah lain yang lebih besar. Karena wadah yang lebih besar saya manfaatkan untuk menanam cabe dan tomat. Cabenya sukses, tomatnya diserang hama dan hancur kehidupan si tomat sebelum dewasa. Byuuuh!

Baca Juga: Membikin Pajangan Cantik Berbahan Beras dan Kulit Kerang

Anyhoo, karena membikinnya mudah, sangat mudah malahan, maka saya tidak perlu menulis tutorialnya ya. Dengan melihatnya saja saya pikir kalian pasti sudah tahu. Yang jelas, apabila sampah plastik botol bekas ini sudah dikreasikan, usahakan jangan kalap membeli air mineral dalam kemasan botol, karena bakal 50:50 lagi. Bakal ada sampah plastik lagi. Salah satu cara paling sederhana mengurangi sampah botol plastik adalah dengan membeli tumblr. Percaya deh, membawa tumblr ke mana-mana itu keren dan juga bikin kita lebih berhemat. Hehe.

Semoga bermanfaat!

#RabuDIY



Cheers.

Membikin Sendiri Rak Kue Susun Tiga Bertema Marshmello


Membikin Sendiri Rak Kue Susun Tiga Bertema Marshmello. Sekitar tahun 2017 s.d. pertengahan 2018 saya masih tekun memproduksi barang-barang daur ulang seperti desk-organizer, hiasan dinding, mangkuk, keranjang, tas, pot bunga, tempat tisu, sampai gantungan kunci. Karena judulnya daur ulang tentu saja bahan-bahannya merupakan sampah seperti koran, majalah, kardus/karton, botol plastik, kaleng susu, gelas plastik dan gelas kertas, celana jin, kotak bekas minuman, hingga sedotan. Tetapi untuk memproduksi barang-barang berkonsep #DIY (bikin sendiri) saya tidak melulu menggunakan barang bekas. Semen, misalnya. Untuk membikin pot bunga unik berbahan semen, saya tentu harus membeli semen sekitar satu sampai dua kilogram. Sementara itu untuk mewarnai keranjang anyaman berbahan pipa koran/kertas dan kardus, saya harus membeli cat minyak berkaleng-kaleng sesuai jumlah warna yang dibutuhkan.

Baca Juga: Membikin Pajangan Cantik Berbahan Beras dan Kulit Kerang

Kembali ke masa-masa produktif, saya sampai harus mencatat semua pesanan orang-orang berdasarkan timeline agar pekerjaan berdasarkan hobi tersebut tidak serampangan. Maksudnya, saya harus betul-betul bisa menepati janji waktu pengerjaan yang ditetapkan yaitu tiga sampai tujuh hari per barang. Awalnya tempat tisu baru bisa benar-benar selesai pengerjaannya sekitar tiga hari per tempat tisu. Tapi dengan semakin lihainya tangan dan jemari, sehari saya bisa memproduksi sampai lima tempat tisu. Sama halnya dengan keranjang. Awalnya bisa sampai lima hari per keranjang berukuran sedang. Lama-kelamaan sehari bisa dapat empat keranjang, bahkan sudah selesai dicat sempurna (hanya tinggal menunggu cat-nya kering).

Entah apa yang merasuki orang-orang sampai begitu sukanya mereka sama barang-barang daur ulang yang saya produksi. Bahkan ada yang memesan lebih dari satu barang. Mungkin karena barang daur ulang merupakan barang unik yang tidak dijual di toko-toko; termasuk permintaan warna dan karakter yang digunakan. Mungkin karena mereka sudah bosan dengan tempat tisu plastik yang modelnya itu-itu saja. Mungkin mereka memang ingin menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan dengan memesan barang daur ulang. Ada banyak kemungkinan. Yang jelas, hanya dari memproduksi barang daur ulang saya bisa menghasilkan jutaan Rupiah. Memanfaatkan koneksi/pertemanan untuk promosi merupakan salah satu jalan paling ampuh.

Percayalah ... saya sudah melakoninya dan menikmati hasilnya.

Suatu saat keponakan saya, Indri, memesan rak kue susun tiga bakal tempat cupcakes. Jangka waktu yang diberikan adalah satu minggu dengan biaya yang cukup fantastis sih, sesuai dengan harga barang yang sama yang dipesannya di toko online. Sampai dia memesan pada saya adalah karena barang pesanannya itu baru tiba setelah tanggal keramat/ulangtahun si pemesan cupcakes ulang tahun. Awalnya saya ragu, tapi kemudian tawaran itu saya terima juga.

Membikin rak kue susun tiga susah-susah gampang. Karena bikinnya sudah lama, dan saya tidak pernah memikirkan proses produksi, sehingga tidak banyak foto yang bisa dihasilkan dari barang yang satu itu. Yang jelas, kardus yang digunakan harus yang super tebal. Maka saya tidak meminta kardus bekas mi atau minuman gelas pada tetangga melainkan membeli kardus super besar dan super tebal di toko sembako. Untuk mengatasi kejadian salah bikin, saya membeli tiga kardus super tersebut. Lantas, kreativitas mulai didorong untuk lebih dan lebih ... ini pertama kali ... saya yakin gagal sudah pasti.

Baca Juga: Membikin Aneka Kerajinan Tangan Berbahan Kancing

Gagal? Memang. Haha. Tapi saya sudah menyiapkan bahan cadangan. Dengan sedikit sentuhan kreativitas, maka jadilah rak kue susun tersebut.


Penampakannya begitu itu ya. Jauh dari kata sempurna. Tapi itulah kemampuan saya *ngikik*. Alhamdulillah keponakan malah suka. Tanpa banyak basa-basi, karena waktu sudah sangat mepet, rak kue susun ini langsung diangkut ke rumahnya untuk diisi dengan cupcakes-cupcakes pesanan. Waktu melihat hasilnya setelah diletakkan cupcakes, kok malah bagus. Cupcakes-nya yang bagus, rak kue susunnya sih teteup begitu itu. Yang jelas itu pengalaman pertama dan terakhir membikin rak kue susun, sebelum akhirnya saya jeda memproduksi aneka barang DIY.

Bagaimana menurut ngana? Haha. Bagi tahu di papan komentar.

Semoga bermanfaat, atau setidaknya mampu memberi inspirasi pada kalian semua.

#RabuDIY



Cheers.

Membikin Sendiri Rak Kue Susun Tiga Bertema Marshmello


Membikin Sendiri Rak Kue Susun Tiga Bertema Marshmello. Sekitar tahun 2017 s.d. pertengahan 2018 saya masih tekun memproduksi barang-barang daur ulang seperti desk-organizer, hiasan dinding, mangkuk, keranjang, tas, pot bunga, tempat tisu, sampai gantungan kunci. Karena judulnya daur ulang tentu saja bahan-bahannya merupakan sampah seperti koran, majalah, kardus/karton, botol plastik, kaleng susu, gelas plastik dan gelas kertas, celana jin, kotak bekas minuman, hingga sedotan. Tetapi untuk memproduksi barang-barang berkonsep #DIY (bikin sendiri) saya tidak melulu menggunakan barang bekas. Semen, misalnya. Untuk membikin pot bunga unik berbahan semen, saya tentu harus membeli semen sekitar satu sampai dua kilogram. Sementara itu untuk mewarnai keranjang anyaman berbahan pipa koran/kertas dan kardus, saya harus membeli cat minyak berkaleng-kaleng sesuai jumlah warna yang dibutuhkan.

Baca Juga: Membikin Pajangan Cantik Berbahan Beras dan Kulit Kerang

Kembali ke masa-masa produktif, saya sampai harus mencatat semua pesanan orang-orang berdasarkan timeline agar pekerjaan berdasarkan hobi tersebut tidak serampangan. Maksudnya, saya harus betul-betul bisa menepati janji waktu pengerjaan yang ditetapkan yaitu tiga sampai tujuh hari per barang. Awalnya tempat tisu baru bisa benar-benar selesai pengerjaannya sekitar tiga hari per tempat tisu. Tapi dengan semakin lihainya tangan dan jemari, sehari saya bisa memproduksi sampai lima tempat tisu. Sama halnya dengan keranjang. Awalnya bisa sampai lima hari per keranjang berukuran sedang. Lama-kelamaan sehari bisa dapat empat keranjang, bahkan sudah selesai dicat sempurna (hanya tinggal menunggu cat-nya kering).

Entah apa yang merasuki orang-orang sampai begitu sukanya mereka sama barang-barang daur ulang yang saya produksi. Bahkan ada yang memesan lebih dari satu barang. Mungkin karena barang daur ulang merupakan barang unik yang tidak dijual di toko-toko; termasuk permintaan warna dan karakter yang digunakan. Mungkin karena mereka sudah bosan dengan tempat tisu plastik yang modelnya itu-itu saja. Mungkin mereka memang ingin menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan dengan memesan barang daur ulang. Ada banyak kemungkinan. Yang jelas, hanya dari memproduksi barang daur ulang saya bisa menghasilkan jutaan Rupiah. Memanfaatkan koneksi/pertemanan untuk promosi merupakan salah satu jalan paling ampuh.

Percayalah ... saya sudah melakoninya dan menikmati hasilnya.

Suatu saat keponakan saya, Indri, memesan rak kue susun tiga bakal tempat cupcakes. Jangka waktu yang diberikan adalah satu minggu dengan biaya yang cukup fantastis sih, sesuai dengan harga barang yang sama yang dipesannya di toko online. Sampai dia memesan pada saya adalah karena barang pesanannya itu baru tiba setelah tanggal keramat/ulangtahun si pemesan cupcakes ulang tahun. Awalnya saya ragu, tapi kemudian tawaran itu saya terima juga.

Membikin rak kue susun tiga susah-susah gampang. Karena bikinnya sudah lama, dan saya tidak pernah memikirkan proses produksi, sehingga tidak banyak foto yang bisa dihasilkan dari barang yang satu itu. Yang jelas, kardus yang digunakan harus yang super tebal. Maka saya tidak meminta kardus bekas mi atau minuman gelas pada tetangga melainkan membeli kardus super besar dan super tebal di toko sembako. Untuk mengatasi kejadian salah bikin, saya membeli tiga kardus super tersebut. Lantas, kreativitas mulai didorong untuk lebih dan lebih ... ini pertama kali ... saya yakin gagal sudah pasti.

Baca Juga: Membikin Aneka Kerajinan Tangan Berbahan Kancing

Gagal? Memang. Haha. Tapi saya sudah menyiapkan bahan cadangan. Dengan sedikit sentuhan kreativitas, maka jadilah rak kue susun tersebut.


Penampakannya begitu itu ya. Jauh dari kata sempurna. Tapi itulah kemampuan saya *ngikik*. Alhamdulillah keponakan malah suka. Tanpa banyak basa-basi, karena waktu sudah sangat mepet, rak kue susun ini langsung diangkut ke rumahnya untuk diisi dengan cupcakes-cupcakes pesanan. Waktu melihat hasilnya setelah diletakkan cupcakes, kok malah bagus. Cupcakes-nya yang bagus, rak kue susunnya sih teteup begitu itu. Yang jelas itu pengalaman pertama dan terakhir membikin rak kue susun, sebelum akhirnya saya jeda memproduksi aneka barang DIY.

Bagaimana menurut ngana? Haha. Bagi tahu di papan komentar.

Semoga bermanfaat, atau setidaknya mampu memberi inspirasi pada kalian semua.

#RabuDIY



Cheers.

Membikin Pajangan Cantik Berbahan Beras dan Kulit Kerang


Membikin Pajangan Cantik Berbahan Beras dan Kulit Kerang. Sabtu, 4 Januari 2020, saya dan teman-teman Rumah'97 melaksanakan niat yang sudah lama tertunda yaitu reuni. Sayangnya, dari puluhan teman yang ada di WAG alumni itu, hanya lima orang yang bisa ikutan. Saya, Hilda yang pada tanggal 6 Januari 2020 sudah kembali ke Depok, Yusti si pemilik Kafe Hola, Ryan, dan Abah Yudin. Teman-teman lain sudah kembali beraktivitas sehingga mereka belum bisa bergabung. Tidak masalah. Tujuan kami hari itu adalah Dapur Jadul (baru) yang terletak di daerah Nangaba. Menurut Kakak Nona Eka, pemiliknya, itu disebut River Beach. Dulunya, Dapur Jadul terletak di Pantai Raba, sekitar 300 meter ke arah Barat dari lokasi baru.


Apa yang paling saya sukai dari Dapur Jadul? Desainnya yang luar biasa memikat dan menghibur mata. Begitu banyak spot instagenic dipasang di sana. Selain itu, ragam asesoris warna-warni juga membikin pengunjung terpesona. Nampaknya kreativitas tanpa batas memang bermain-main di tempat ini. Salut to the max. Oh ya, waktu kami pergi ke sana, masih banyak tukang bangunan sedang bekerja. Dapur Jadul di lokasi baru ini memang belum sepenuhnya jadi. Tapi itu tidak menyurutkan niat masyarakat untuk menikmati hari besama teman, keluarga, atau kekasih *perasaan teriris-iris menulis kekasih, hahaha*. Buktinya, Dapur Jadul masih ramai dikunjungi masyarakat: tua dan muda, meskipun pembangunan masih sedang berjalan.

Saat pergi ke sana bareng teman-teman Rumah'97 itulah saya memotret begitu banyak asesoris/pajangan di Dapur Jadul. Pernak-pernik, boneka, brojong bulat (semacam tiang bulat) dengan batu yang unik, botol-botol kaca, hingga wadah berisi beras warna-warni. A-ha! Saya ingat, dulu pernah pengen bikin beras warna-warni ini tetapi batal. Ini dia penampakan pajangan beras warna-warni dari Dapur Jadul.



Bagaimana kalau saya coba membikinnya? Bukankah saya sendiri juga punya kulit kerang dan siput yang dibawa Cahyadi dari Desa Kolipadan di Pulau Lembata?

Kali ini tidak boleh batal! Mari berkreasi!

Bahan dan Alat:
1. Beras. 
2. Pewarna.
3. Air untuk larutan pewarna.
4. Wadah untuk beras warna.
5. Kulit kerang/siput.

Pertama:
Jumlah beras tergantung keinginan/kebutuhan kalian. Bisa segenggam, bisa sekilo. Karena pewarna yang ada di rumah tinggal tiga warna: oranye, kuning, hijau, saya memisahkan beras ke dalam tiga wadah ukuran kecil. Bisa dilihat pada gambar di bawah:


Kedua:
Setiap wadah beras diisi air secukupnya untuk merendam atau mencampurnya dengan pewarna. Beri pewarna secukupnya pada masing-masing wadah beras yang telah diisi air, diaduk perlahan agar semua beras tercampur rata dengan pewarna. Silahkan lihat gambarnya:


Ketiga:
INGAT! JANGAN TERLALU LAMA! Sekitar tiga menit, saring airnya, dan beras yang sudah berubah warna itu disisihkan atau dikeringkan. Proses pengeringan bisa dengan cara alami yaitu dijemur di bawah sinar matahari. Bisa didiamkan saja semalam. Bisa juga dihadapkan di kipas angin. Dan saya menggunakan cara ketiga yaitu dihadapkan di kipas angin. Hehe. Tidak sabaran sih.


Keempat:
TRADA ... sudah jadi. Pokoknya kalau beras berwarna itu sudah kering, ya sudah jadi.


Bagaimana menjadikannya pajangan? Bisa berasnya dipisah, bisa digabungkan seperti pajangan beras berwarna yang saya lihat di Dapur Jadul. Seperti gambar berikut ini.


Maka saya bikin seperti ini:



Beras berwarna bisa diaplikasikan sendiri, bisa juga diberi pajangan tambahan. Seperti yang sudah saya tulis di atas, kebetulan saya juga punya kulit kerang dan siput yang dibawa Cahyadi dari Desa Kolipadan di Pulau Lembata. Ukurannya tidak besar, tapi lumayan kalau dibikin pajangan bersanding dengan beras berwarna. Oh ya, ini penampakan semula kulit kerang dan siput-siput itu. Terpaksa satu stoples kaca dikorbankan. Hahaha.





Selesai! Gelas piala berisi beras berwarna dan kerang serta siput itu kini telah menjadi pajangan cantik di meja-meja ruang tamu. Cantik kan? Cantik doooong, seperti yang bikin. Hehe.

Baca Juga: Membikin Aneka Kerajinan Tangan Berbahan Kancing

Bagaimana menurut kalian? Mudah sekali membikin pajangan cantik berbahan beras dan kulit kerang serta siput ini. Saya membikinnya hanya dalam waktu semalam. Tidak sampai sehari semalam! Tentu, untuk mengeringkan beras yang direndam air warna itu membutuhkan ketekunan dan keseriusan kipas angin *ngikik*. Sebenarnya, selain gelas piala, bisa juga beras berwarna ini diisi dalam wadah berupa bohlam lampu bekas. Tetapi zaman sekarang susah mencari bohlam lampu bekas, karena rata-rata lampu rumah itu umumnya sekarang berbentuk jari dan/atau spiral. Semoga nanti bisa menemukan bohlam lampu, terkhusus yang bening itu.

Semoga pos ini bermanfaat bagi kalian yang gemar berkreasi. Sampai jumpa minggu depan!

#RabuDIY



Cheers.