Panen Sorgum Untuk Pertama Kalinya Sungguh Bikin Happy


Panen Sorgum Untuk Pertama Kalinya Sungguh Bikin Happy. Hola! Ketemu lagi di Hari Senin. Harinya saya bertugas alias piket di kantor. Iya, sejak minggu kemarin, saya kebagian piket di kantor setiap Senin dan Selasa, tetapi karena peraturan piket baru diberitahu pada Selasa dan saya membaca pesan itu Selasa siang, jadinya baru minggu ini saya memulai piket. Urusan piket ini sebenarnya sudah diberlakukan pada masa awal #DiRumahSaja di mana saya kebagian jaga kandang setiap Senin dan Rabu, tetapi sempat terhenti sejak keluarnya surat edaran kedua perpanjangan masa #DiRumahSaja, dan ketika surat edaran ketiga perpanjangan masa #DiRumahSaja kembali dikeluarkan, piket pun kembali diberlakukan. Senang? Tentu!

Baca Juga: Belajar Blog Sambil Donasi di Kelas Blogging Online

Saya sudah pernah menulis bahwa selama berada di rumah (saja) banyak kegiatan yang telah dilakukan. Salah satunya adalah berkebun mini di beranda belakang Pohon Tua. Nah, hari Minggu kemarin ada sesuatu yang bikin saya happy. Akhirnya saya memanen sorgum yang tumbuh di petak tanah sisa 1 x 1 meter itu! Sebagai orang yang belum akrab dengan sorgum, saya harus bertanya terlebih dulu pada Cahyadi tentang kondisi sorgum, apakah sudah boleh dipanen atau belum? Ternyata kata Cahyadi, sorgum itu sudah boleh dipanen. Ayolah! Eits, tapi sebelumnya, Minggu pagi sekitar jam sepuluh kami berangkat ke kebun sorgum milik Cahyadi di daerah Woloare untuk mengambil tanah sekarung. Tanah ini bakal saya tanami anakan ubi tatas yang sudah mulai bertunas dari beberapa ubi tatas yang saya tanam sekitar dua minggu lalu. Selain membawa tanah sekarung, saya juga membawa pulang satu polybag anakan cabe dan satu polybag anakan cabe rawit.

Cerita tentang kebun sorgum milik Cahyadi dan panen sorgum di beranda belakang Pohon Tua silahkan kalian nonton pada video berikut:



Sebenarnya, apa sih sorgum itu?

Menurut Wikipedia, Sorgum (Sorghum spp.) adalah tanaman serbaguna yang dapat digunakan sebagai sumber pangan, pakan ternak dan bahan baku industri. Sebagai bahan pangan, sorgum berada pada urutan ke-5 setelah gandum, jagung, padi, dan jelai. Sorgum merupakan makanan pokok penting di Asia Selatan dan Afrika sub-sahara. Sorgum juga mengandung serat tidak larut air atau serat kasar dan serat pangan, masing-masing sebesar 6,5% - 7,9% dan 1,1% - 1,23%. Kandungan proteinpun seimbang dengan jagung sebesar 10,11% sedangkan jagung 11,02%. Begitu pula dengan kandungan patinya sebesar 80,42% sedangkan kandungan pada jagung 79,95%. Hanya saja, yang membuat tepung sorgum sedikit peminat adalah karena tidak adanya gluten seperti pada tepung terigu. Masyarakat indonesia sudah tenggelam dalam nikmatnya elasitisitas terigu, karena tingginya gluten, dan inilah yang membuat adonan mie, dan roti menjadi elastis.

Terlalu banyak makan dari bahan pangan ber-gluten tidaklah terlalu baik untuk kesehatan, karena dapat menyebabkan celiac desease. Ini merupakan salah satu titik tolak bahwa alternatif tepung yang sehat dapat dikonsumsi adalah tepung sorgum. Selain itu Sorgum dikenal memiliki manfaat yang lebih baik daripada tepung terigu karena gluten free serta memiliki angka glikemik index yang rendah sehingga turut mendukung tren gerakan konsumen gluten free diet seperti di negara-negara maju.

Ceritanya sampai Cahyadi berkebun sorgum dan merembet ke saya adalah pada suatu hari, saya lupa tahun berapa (2017, 2018, atau 2019?), Cahyadi mengantar tamu yang hendak pergi ke Dusun Likotuden, Desa Kawalelo, Kecamatan Demon Pagong, Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Ada apa di sana? Ada Mama Sorgum Indonesia yaitu Maria Loretha. Dari perjalanan itu Cahyadi membawakan saya kue sorgum dan butir-butir sorgum siap pakai. Dari situlah Cahyadi mulai kepikiran untuk ikut menanam sorgum, melihat manfaatnya yang sangat baik bagi kehidupan umat manusia. Pada tahun 2019 Cahyadi kembali pergi ke sana dan membawakan saya sebungkus bubuk sorgum; bubuk ini dapat dicampur air panas untuk diminum, boleh dicampur gula, boleh tidak dicampur gula, mana-mana suka.

Sampai sorgum kemudian tumbuh di petak tanah sisa 1 x 1 meter di beranda melakang Pohon Tua, silahkan baca pos berjudul Membikin Kebun Mini di Beranda Belakang Pohon Tua. Kalian akan tahu bahwa sorgum merupakan tanaman yang tidak sombong dan tidak repot untuk tumbuh. Dia bisa tumbuh di mana saja selama ada sinar matahari dan air. Saya sudah membuktikannya, saya sudah memanennya!







Setelah dipanen sorgum harus dijemur terlebih dahulu, kemudian digiling/ditumbuk untuk memisahkan isi dan kulit, baru deh diolah untuk dikonsumsi. Karena mesin penggiling sorgum tidak ada di Kota Ende (kabarnya ada di Kecamatan Detusoko, di tempatnya Nando Watu yang sudah terlebih dahulu menanam sorgum), kayaknya saya bakal menumbuknya menggunakan lesung kayu. Sama seperti menumbuk kopi yang sudah disangrai! Hehe. Kayaknya kegiatan menumbuk sorgum bakal seru dan bakal jadi pengalaman bagi kami serumah.


Baca Juga: Seni Lukis dan Seni Kata di Kedai Kampung Endeisme

Bagaimana, kawan? Ternyata tidak sulit kan memperoleh bahan pangan pengganti nasi? Jujur, gara-gara Covid-19 pun saya kepikiran menanam bahan pangan yang bisa dimakan sebagai pengganti nasi. Bahan pangan itu antara lain ubi tatas dan kentang. Ubi tatas sudah selesai disemai; dari dua sampai tiga biji ubi tatas yang saya tanam, menghasilkan belasan anakan yang ditanam di polybag terpisah setiap anakannya. Mungkin yang paling sulit itu kentang, karena sudah dua kali percobaan ini masih belum membuahkan hasil, hanya saja kentang yang waktu tanamnya bersama-sama ubi tatas saya bongkar dari polybag dan ternyata ... muncul tunas-tunas keciiiil banget dari mata kentang. Makanya kentang itu langsung saya potong dan tanam dengan bagian tunas ngintip dari balik tanah. Semoga tumbuh juga. Setidaknya ubi tatas dan kentang bisa bikin kenyang. Ha ha ha.

Semoga bermanfaat!

Mari berkebun!

#SeninCerita
#Ceritatuteh



Cheers.

Panen Sorgum Untuk Pertama Kalinya Sungguh Bikin Happy


Panen Sorgum Untuk Pertama Kalinya Sungguh Bikin Happy. Hola! Ketemu lagi di Hari Senin. Harinya saya bertugas alias piket di kantor. Iya, sejak minggu kemarin, saya kebagian piket di kantor setiap Senin dan Selasa, tetapi karena peraturan piket baru diberitahu pada Selasa dan saya membaca pesan itu Selasa siang, jadinya baru minggu ini saya memulai piket. Urusan piket ini sebenarnya sudah diberlakukan pada masa awal #DiRumahSaja di mana saya kebagian jaga kandang setiap Senin dan Rabu, tetapi sempat terhenti sejak keluarnya surat edaran kedua perpanjangan masa #DiRumahSaja, dan ketika surat edaran ketiga perpanjangan masa #DiRumahSaja kembali dikeluarkan, piket pun kembali diberlakukan. Senang? Tentu!

Baca Juga: Belajar Blog Sambil Donasi di Kelas Blogging Online

Saya sudah pernah menulis bahwa selama berada di rumah (saja) banyak kegiatan yang telah dilakukan. Salah satunya adalah berkebun mini di beranda belakang Pohon Tua. Nah, hari Minggu kemarin ada sesuatu yang bikin saya happy. Akhirnya saya memanen sorgum yang tumbuh di petak tanah sisa 1 x 1 meter itu! Sebagai orang yang belum akrab dengan sorgum, saya harus bertanya terlebih dulu pada Cahyadi tentang kondisi sorgum, apakah sudah boleh dipanen atau belum? Ternyata kata Cahyadi, sorgum itu sudah boleh dipanen. Ayolah! Eits, tapi sebelumnya, Minggu pagi sekitar jam sepuluh kami berangkat ke kebun sorgum milik Cahyadi di daerah Woloare untuk mengambil tanah sekarung. Tanah ini bakal saya tanami anakan ubi tatas yang sudah mulai bertunas dari beberapa ubi tatas yang saya tanam sekitar dua minggu lalu. Selain membawa tanah sekarung, saya juga membawa pulang satu polybag anakan cabe dan satu polybag anakan cabe rawit.

Cerita tentang kebun sorgum milik Cahyadi dan panen sorgum di beranda belakang Pohon Tua silahkan kalian nonton pada video berikut:



Sebenarnya, apa sih sorgum itu?

Menurut Wikipedia, Sorgum (Sorghum spp.) adalah tanaman serbaguna yang dapat digunakan sebagai sumber pangan, pakan ternak dan bahan baku industri. Sebagai bahan pangan, sorgum berada pada urutan ke-5 setelah gandum, jagung, padi, dan jelai. Sorgum merupakan makanan pokok penting di Asia Selatan dan Afrika sub-sahara. Sorgum juga mengandung serat tidak larut air atau serat kasar dan serat pangan, masing-masing sebesar 6,5% - 7,9% dan 1,1% - 1,23%. Kandungan proteinpun seimbang dengan jagung sebesar 10,11% sedangkan jagung 11,02%. Begitu pula dengan kandungan patinya sebesar 80,42% sedangkan kandungan pada jagung 79,95%. Hanya saja, yang membuat tepung sorgum sedikit peminat adalah karena tidak adanya gluten seperti pada tepung terigu. Masyarakat indonesia sudah tenggelam dalam nikmatnya elasitisitas terigu, karena tingginya gluten, dan inilah yang membuat adonan mie, dan roti menjadi elastis.

Terlalu banyak makan dari bahan pangan ber-gluten tidaklah terlalu baik untuk kesehatan, karena dapat menyebabkan celiac desease. Ini merupakan salah satu titik tolak bahwa alternatif tepung yang sehat dapat dikonsumsi adalah tepung sorgum. Selain itu Sorgum dikenal memiliki manfaat yang lebih baik daripada tepung terigu karena gluten free serta memiliki angka glikemik index yang rendah sehingga turut mendukung tren gerakan konsumen gluten free diet seperti di negara-negara maju.

Ceritanya sampai Cahyadi berkebun sorgum dan merembet ke saya adalah pada suatu hari, saya lupa tahun berapa (2017, 2018, atau 2019?), Cahyadi mengantar tamu yang hendak pergi ke Dusun Likotuden, Desa Kawalelo, Kecamatan Demon Pagong, Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Ada apa di sana? Ada Mama Sorgum Indonesia yaitu Maria Loretha. Dari perjalanan itu Cahyadi membawakan saya kue sorgum dan butir-butir sorgum siap pakai. Dari situlah Cahyadi mulai kepikiran untuk ikut menanam sorgum, melihat manfaatnya yang sangat baik bagi kehidupan umat manusia. Pada tahun 2019 Cahyadi kembali pergi ke sana dan membawakan saya sebungkus bubuk sorgum; bubuk ini dapat dicampur air panas untuk diminum, boleh dicampur gula, boleh tidak dicampur gula, mana-mana suka.

Sampai sorgum kemudian tumbuh di petak tanah sisa 1 x 1 meter di beranda melakang Pohon Tua, silahkan baca pos berjudul Membikin Kebun Mini di Beranda Belakang Pohon Tua. Kalian akan tahu bahwa sorgum merupakan tanaman yang tidak sombong dan tidak repot untuk tumbuh. Dia bisa tumbuh di mana saja selama ada sinar matahari dan air. Saya sudah membuktikannya, saya sudah memanennya!







Setelah dipanen sorgum harus dijemur terlebih dahulu, kemudian digiling/ditumbuk untuk memisahkan isi dan kulit, baru deh diolah untuk dikonsumsi. Karena mesin penggiling sorgum tidak ada di Kota Ende (kabarnya ada di Kecamatan Detusoko, di tempatnya Nando Watu yang sudah terlebih dahulu menanam sorgum), kayaknya saya bakal menumbuknya menggunakan lesung kayu. Sama seperti menumbuk kopi yang sudah disangrai! Hehe. Kayaknya kegiatan menumbuk sorgum bakal seru dan bakal jadi pengalaman bagi kami serumah.


Baca Juga: Seni Lukis dan Seni Kata di Kedai Kampung Endeisme

Bagaimana, kawan? Ternyata tidak sulit kan memperoleh bahan pangan pengganti nasi? Jujur, gara-gara Covid-19 pun saya kepikiran menanam bahan pangan yang bisa dimakan sebagai pengganti nasi. Bahan pangan itu antara lain ubi tatas dan kentang. Ubi tatas sudah selesai disemai; dari dua sampai tiga biji ubi tatas yang saya tanam, menghasilkan belasan anakan yang ditanam di polybag terpisah setiap anakannya. Mungkin yang paling sulit itu kentang, karena sudah dua kali percobaan ini masih belum membuahkan hasil, hanya saja kentang yang waktu tanamnya bersama-sama ubi tatas saya bongkar dari polybag dan ternyata ... muncul tunas-tunas keciiiil banget dari mata kentang. Makanya kentang itu langsung saya potong dan tanam dengan bagian tunas ngintip dari balik tanah. Semoga tumbuh juga. Setidaknya ubi tatas dan kentang bisa bikin kenyang. Ha ha ha.

Semoga bermanfaat!

Mari berkebun!

#SeninCerita
#Ceritatuteh



Cheers.

Suasana Kota Ende Setelah 14 Hari Saya Di Rumah Saja


Suasana Kota Ende Setelah 14 Hari Saya Di Rumah Saja. Empat belas hari telah berlalu sejak dosen, karyawan, dan mahasiswa Universitas Flores (Uniflor) dirumahkan. Iya, kami #DiRumahSaja. Taat pada aturan, dosen dan mahasiswa Uniflor melaksanakan pembelajaran menggunakan metode e-learning. Layanan yang digunakan bermacam-macam. Ada e-learning yang bisa diakses melalui situs Uniflor, ada MOODLE, Edmodo, hingga Google Classroom. Karyawan Uniflor wajib standby. Apabila sewaktu-waktu dipanggil oleh pimpinan, wajib datang ke kampus, tidak boleh beralasan sedang berada di kampung halaman. Saya sendiri benar-benar di rumah saja karena kebutuhan keluar rumah dilakukan oleh Thika Pharmantara dan Melly seperti berbelanja kebutuhan pokok hingga kebutuhan Mamatua.

Baca Juga: Penjelasan Paling Masuk Akal Dari Kematian Elisa Lam

Sabtu, 4 April 2020, untuk pertama kali setelah empat belas hari saya pun pecah telur alias keluar kandang. Haha. Sabtu kemarin saya harus meliput kegiatan tahunan Uniflor setiap tanggal 4 April yaitu ritual Pati Ka Embu Kajo di Tubu Nabe. Kegiatan tersebut dilaksanakan pagi hari pukul 07.00 Wita dan berakhir pukul 08.30 Wita dengan peserta yang sangat terbatas. Mumpung sedang berada di luar rumah, usai kegiatan di kampus saya mengajak Thika jalan-jalan berkeliling Kota Ende. Penasaran juga ... saya yang #KakiKereta ini begitu lama berada di dalam Pohon Tua, apa yang terjadi dengan Kota Ende? Hahaha. Gaya banget lu, Teh. Anyhoo, ternyata Kota Ende masih lengang. Masyarakat patuh pada aturan yang ditetapkan pemerintah. Beberapa orang yang berada di jalanan adalah mereka-mereka yang memang bekerja di luar rumah. 

Berikut videonya. Cekidot!



Baca Juga: Pembagian 100 Sampel Hand Sanitizer Sampai Social Distancing

Pada video di atas, kalian bisa melihat suasana Kota Ende. Jalanan memang masih lengang. Kami mampir di lapak nasi kuning langganannya si Thika. Si Kakak penjual nasi kuning mengaku nasi kuning yang dijualnya masih laris manis serta belum sampai pada penurunan omzet harian. Entah dengan hari-hari beriktunya karena kami semua menerima surat edaran baru dari Rektor yang memperpanjang waktu #DiRumahSaja hingga tanggal 18 April 2020. Work from home memang menyenangkan juga, tapi lebih menyenangkan kerja di kantor seperti hari-hari biasa karena bisa bertatap muka dengan teman-teman dan bergibah hahaha.

Bagaimana dengan kalian, kawan? Bagi tahu yuk di komen.

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

5 Kegiatan Yang Saya Lakukan Saat Di Rumah Saja


5 Kegiatan Yang Saya Lakukan Saat Di Rumah Saja. Hai semua bos-bosque. Pada hari-hari aktif bekerja acapkali saya diserang insomnia, sulit bangun pagi bahkan kesiangan, diganggu sama keinginan untuk liburan atau setidaknya di rumah saja untuk leyeh-leyeh; menonton Upin Ipin dan Larva sambil tiduran di lantai ubin yang dingin. Tapi ketika dirumahkan, tidur lebih lekas, bangun cukup pagi untuk skala universe saya, melakukan banyak kegiatan, dan merindukan hari-hari aktif bekerja. Pertanyaan besarnya adalah apakah saya saja atau kalian juga mengalaminya? Semoga kalian juga mengalaminya agar saya tidak merasa sendiri. Byuuuh. Hehe. Violin Kerong pernah bilang kalau dia dilanda kebosanan tingkat tinggi. Soalnya dirumahkan tidak sama dengan liburan, mau keluar rumah pun kita diwanti-wanti sama orang rumah, manapula traveling. Sama seperti saya mewanti-wanti Thika dan Melly setiap kali mereka keluar rumah.

Baca Juga: 5 Cara Sederhana (Saya) Melindungi Diri Dari Virus Corona

Empat belas hari #DiRumahSaja berakhir minggu ini. Senin depan, jika belum ada Surat Edaran yang baru dari Rektor Uniflor tentang perubahan waktu dan/atau perpanjangan waktu dirumahkan, maka saya sudah kembali beraktivitas seperti biasa. Kembali mengikuti upacara bendera, kembali mencari berita, kembali mempublikasikan segala aktivitas yang terjadi di lingkungan Uniflor. Oleh karena itu saya ingin berbagi cerita dengan kalian semua tentang lima kegiatan yang saya lakukan selama di rumah saja.

Yuk, intip!

1. Nge-blog


Jelas ini yang utama meskipun masih belum bisa sepenuhnya blogwalking. Kenapa utama? Karena, jangankan di rumah saja, pada hari-hari aktif pun setiap hari saya nge-blog. Enaknya punya blog bertema harian ya begini. Ada saja yang bisa ditulis. Mulai dari teknologi sampai review. Mulai dari kegiatan sehari-hari sampai dunia Do It Yourself (DIY). Mulai dari kamu sampai ke dia. Haha. Nge-blog ibarat sekolah private. Karena, nge-blog bukan asal menulis saja tetapi juga harus bisa mencari informasi dan/atau referensi akan sesuatu yang hendak ditulis. Contohnya, menulis tentang situasi Itali saat virus Corona mulai tersebar di sana, saya tidak bisa asal menulis. Syukurnya sahabat masa SMA yang kini saya panggil Suster, bertugas di Roma, bisa menjadi narasumber tentang denda yang dikenakan kepada warga yang berkeliaran di taman dan jalanan, serta drone yang dimanfaatkan oleh pihak berwenang untuk memantau warganya. Terima kasih, Suster Marta Soge!


Video di atas adalah video wawancara dari channel si Oedin tentang blogger yang bisa keliling Indonesia. Gratis! Memang tidak semua titik di Indonesia, tetapi cukup menjadi pengalaman terfantastikapharmantara bagi saya pribadi. Insha Allah dapat menjadi inspirasi bagi penontonnya. Mengantongi tiket gratis ke Jakarta, Denpasar, hingga Makassar itu luar biasa. Siapa yang mau memberi kita tiket gratis? Haha. Tapi saat ini, dikasih tiket gratis pun saya tidak mau, kecuali tiket gratisnya boleh disimpan sampai badai ini berlalu.

2. Membikin Konten Youtube


Kegiatan yang baru tiga minggu belakangan saya geluti. Kondisi di rumah saja mendukung saya melakukannya! Hehe. Karena saya punya tiga tema konten Youtube yaitu Blogging, Podcastuteh, dan BlogPacker, maka saya harus pandai-pandai memanfaatkan waktu. Jangan sampai ada celah untuk bengong karena pasti merugi.



Video di atas merupakan salah satu konten dari channel Youtube saya dari tema Blogging. Iya, ada tiga tema yang secara kontinyu dapat kalian lihat selain Blogging, dua lainnya adalah Podcastuteh dan BlogPacker. Selain tiga tema tersebut, ada juga sih video lain yang saya unggah yang bersifat situasional *halaaaah*. Hahahaha.

3. Membaca Buku


Banyak buku yang belum sempat saya baca, satu per satu mulai dikeluarkan dari lemari. Mumpung banyak waktu ini.


Salah satu buku tersebut berjudul Bicara Itu Ada Seninya. Saya sering menulis tentang para penulis yang mengajarkan banyak hal baik pada pembacanya tanpa terkesan menggurui. Tetapi sebenarnya kalau penulis itu memang menggurui ya tidak masalah sepanjang mereka punya kapabilitas untuk melakukannya. Di dalam Bicara Itu Ada Seninya, pembaca diajak untuk mengetahui alasan takut berbicara. Salah satunya karena trauma salah ucap. Saya sering mengalami salah ucap. Tapi untuk sampai pada tahap trauma, belum. Karena toh saya pribadi tidak mengalami kendalam saat berbicara di muka publik. Itu saya. Tapi pasti beda dengan orang lain yang bahkan untuk berdiri di muka publik saja bergetar seluruh tubuh. Intinya adalah harus membuang rasa takut tersebut. Itu yang diungkapkan oleh Oh Su Hyang.

4. Proyek DIY


Huray!! Alhamdulillah, selama dirumahkan saya bisa mewujudkan salah satu keinginan yang sudah lama terpendam. Cie. Haha. Pada akhirnya saya, Thika Pharmantara, dan Melly, membikin lilin berbentuk telur. Proses membikin lilin berbentuk telur ini bisa kalian lihat pada video berikut:



Awalnya mungkin terlihat sulit, tetapi setelah memulai ... ternyata mudah. Yang dibutuhkan adalah ketekunan dan keseriusan saja. Tapi jangan lupa, harus bersenang-senang pula.

5. Berkebun


Dulu, saya sukses berkebun. Jangan berpikir tentang kebun dengan lahan super luas ya. Berkebun di sini artinya memanfaatkan space yang ada di rumah untuk diletakkan polybag yang sudah diisi tanah. Karena di rumah saya kesulitan mendapatkan tanah yang baik/berkualitas, saya perlu meminta tanah pada Abang Umar Hamdan si pentolan Anak Cinta Lingkungan (ACIL), serta meminta aneka bibit dari Cahyadi.


Bagian belakang rumah punya cukup space untuk berkebun haha. Selain empat tanaman sorgum yang sudah tumbuh besar dan sebentar lagi dapat dipanen, cieeee dipanen, juga ada tanaman merungge/marungge yang juga sudah bisa dipetik dan diolah atau ditumis sebagai teman nasi. Sedangkan tanaman lainnya baru saja ditanam bibitnya antara lain cabe, tomat, terung, sayur sawi, dan bengkoang. Ada dua bibit yang baru saya coba tanam yaitu kacang dan bunga matahari. Sementara besok lusa saya hendak menanam kentang dan ubi tatas. Semoga.


Asyik juga ... hehe. Di rumah saja tidak selamanya makan, tidur, pengen balik kantor, dan lain sebagainya. Di rumah saja malah memberi kesempatan saya melakukan banyak kegiatan, seperti lima kegiatan di atas.

Baca Juga: 5 Buku Self Improvement yang Wajib Kalian Baca

Bagaimana dengan kalian, kawan? Apa sajakah kegiatan yang kalian lakukan saat di rumah saja? Komen di bawah. Saya berharap pos ini bermanfaat untuk kalian semua. Setidaknya, setelah membaca ini kalian langsung pergi ke belakang rumah dan mulai menanam tanaman-tanaman yang bermanfaat. Yuk!

#KamisLima



Cheers.

Membikin Sendiri Lilin Berbentuk Telur Untuk Paskah


Membikin Sendiri Lilin Berbentuk Telur Untuk Paskah. Setiap menjelang Hari Raya Paskah, ada teman-teman yang menjual lilin Paskah dalam kemasan gelas mini di mana bagian luar gelas dicetak tulisan Paskah begitu. Sudah lama saya juga pengen bikin lilin semacam itu tapi bentuknya beda. Berbentuk telur! Kita semua tentu tahu bahwa Paskah identik dengan telur. Easter Egg. Keinginan yang lama terpendam itu baru bisa dilaksanakan Selasa kemarin. Maklum #DiRumahSaja harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Banyak yang mengeluh di rumah saja bikin mati gaya. Ah, siapa bilang? Hehe. Bagi saya, di rumah saja berarti bisa melakukan banyak hal, termasuk membenahi belakang rumah bekal berkebun! 

Baca Juga: Tiga Desk Organizer Mini Ini Benar-Benar Menggemaskan

Tapi hari ini saya belum bercerita tentang belakang rumah yang proyek DIY-nya sudah sudah dimulai itu. Hari ini saya akan menghadirkan cara membikin lilin berbentuk telur yang sebenarnya sangat mudah. Mari tengok bahan-bahannya:

1. Lilin.
2. Cangkang telur.
3. Crayon jika ingin lilinnya berwarna.
4. Suntikan (bekas tinta printer).

Untuk proses membikinnya, bisa kalian tengok pada video di bawah ini:


Selalu ada cerita menarik dari pengalaman pertama. Sama juga, kemarin itu untuk percobaan pertama, saya rasa cukup sukses menghasilkan lilin-lilin berbentuk telur. Kemarin itu bikinnya memang belum pakai crayon (untuk warna). Kami malah mencoba memakai pewarna makanan! Haha. Mana bisa. Yang ada di pewarna lari ke tempat lain si lilin lari ke tempat lain. Mereka tidak bisa kawin *ngakak*.

Bagaimana ... jika kalian masih #DiRumahSaja, yuk dicoba.

#RabuDIY



Cheers.