Pesanan Barang DIY yang Berkembang Biak dan Senada


Pesanan Barang DIY yang Berkembang Biak dan Senada. Suatu kali Ibu Ayu Sulaeman, cucuk pemilik Rumah Makan Bangkalan yang kesohor se-Flores, yang juga punya rumah makan sendiri serta dikenal sebagai dosen Fakultas Hukum, memesan keranjang berbahan koran bekas yang bisa dipakai untuk menyimpan berbagai barang. Boleh dibilang ini adalah pesanan keranjang pertama. Untuk warnanya pun saya belum memakai cat minyak melainkan setiap pipa koran/kertas tersebut dibungkus menggunakan kertas kado. Masih ingat pos berjudul Kertas-Kertas Kado Menarik dan Lucu Pendukung Proyek DIY? Selain memproduksi tempat tisu, salah satu barang lainnya adalah keranjang pesanan Ibu Ayu tersebut.

Baca Juga: Mangkuk Serbaguna Berbahan Celana Jin Bekas

Saya tidak menyangka keranjang tersebut diletakkan di meja rias di kamarnya. Ausam sekali hahaha. Bangga gitu. Menjadi semakin bangga dan semakin makan puji (istilah Orang Ende nih) ketika Ibu Ayu memesan lebih banyak barang DIY/daur ulang yang menjadi teman setia keranjang pertama tadi dan semuanya bernuansa hijau. Mulai dari tempat tisu yang gambarnya bisa kalian lihat di awal pos, organizer sisir dan peniti, sampai keranjang mini untuk menyimpan arloji/jam tangan. Ini dia penampakannya ketika semuanya sudah menghuni meja rias:


Keren gitu melihatnya ya.

Ternyata membikin pesanan yang berkembang biak dan senada warnanya ini pernah menjadi rutinitas yang membikin saya lupa waktu. Asyik juga kalau kertas kado pada satu barang, kemudian warnanya dipadukan dengan cat-minyak pada barang lainnya. Hijau-hijau menggoda begitu hehe. Tantangannya ada pada cat-minyak yang warnanya harus dicampur dengan warna lain untuk menghasilkan satu warna pilihan. Misalnya hijau tua dicampur putih atau hitam.

Dari pesanan Ibu Ayu ini, dan karena hebatnya media sosial membagi ragam informasi yang kita pos, datanglah pesanan lain dari Kaprodi dan Sekprodi Akuntansi di Fakultas Ekonomi. Hasilnya bisa kalian lihat di bawah ini:



Seperti yang kalian lihat, ada pesanan keranjang besar serbaguna dan desk-organizer. Desk-organizer ini sebenarnya mau diletakkan di meja rias juga. Ceritanya Ibu Dewi dan Ibu Aini memesan desk-organizer yang bisa untuk menyimpan sisir dan segala barang lainnya, tapi yang ada juga tempat untuk menyimpan/menusuk pentul. Saya sih tinggal bikin sesuai permintaan ibu berdua hehe. Dan Alhamdulillah hasilnya memuaskan. Ibu Dewi suka warna hijau, Ibu Aini suka warna merah.

Belum berhenti sampai di situ, suatu kali Ibu Ina juga memesan beberapa barang dengan, harus, kertas kado yang sama. Jangan berbeda satu pun! Keranjang ulir (sayangnya keranjang ulir tidak ada di gambar di bawah ini), tempat tisu, dan desk-organizer. Ini saja, saya kok berat banget mau menukarnya dengan Rupiah karena cantik hahahaha.


Terima kasih, semuanya, sudah memesan barang-barang daur ulang ini di saya hehehe. Semoga akan tetap terus memberi manfaat! Amin.

Baca Juga: Ruang Tamu DIY

Saya sendiri masih pengen bisa membikin rangkaian barang-barang DIY yang bisa diletakkan di kamar antara lain keranjang besar, keranjang kecil, desk-organizer, wall-organizer, yang semuanya satu warna. Apa daya, kesibukan yang menggempur tidak bisa ditoleransi seperti tahun-tahun lalu. Bisa memenuhi janji untuk tetap meng-update blog saja sudah syukur bukan main, terutama karena saya memang pengen bisa menulis setiap hari, untuk blogwalking ... hiks. Jadi dalam sehari itu, setelah pulang kantor langsung menulis blog, setelah itu langsung membuka lembar kerja baik itu yang di Word maupun Sony Vegas, sampai malam hari.

Tapi saya janji pada Bang Day, Kakak Ella Fitria, Nassirullah Sitam, Ummu, dan kawan blogger lain yang masih sering ke sini ... I will kunjung balik. Hehe. 



Cheers.

Andaikan Ada Seorang Saja Thomas Dambo di Kota Ende

Andaikan Ada Seorang Saja Thomas Dambo di Kota Ende. Saya sudah sering bercerita tentang Kirsten Dirksen dengan video-video amazing-nya di Youtube. Bahkan pos #SelasaTekno kemarin pun masih dari video milik Kirsten Dirksen. Wanita yang telah menikah dengan tiga orang anak ini selalu menawarkan konsep-konsep rumah mini dari berbagai belahan dunia. Kalau kemarin kita bertemu di #SelasaTekno maka hari ini kita kembali ke dunia kreasi, dunia daur ulang, dunia DIY, dan life hacks di #RabuDIY!

Baca Juga: Kertas-Kertas Kado Menarik dan Lucu Pendukung Proyek DIY

Video unggahan Kirsten Dirksen tidak semata-mata tentang rumah mini, rumah unik, rumah mobil, rumah bongkar-pasang, dan rumah lainnya. Suatu malam saya menonton salah satu video unggahan Kirsten Dirksen yang begitu memukau. Sampai tiga kali saya menontonnya!

Thomas Dambo, Si Seniman Daur Ulang


Kalian pasti pernah melihat di televisi atau di internet patung-patung kayu raksasa yang dibangun di tengah hutan. Contohnya seperti berikut ini:


Seniman yang berada dibaliknya bernama Thomas Dambo. Dia adalah sebagai seniman yang berasal dan tinggal di Copenhagen, Denmark. Bersama dua orang teman/kru, dia membikin proyek yang indah dan menyenangkan terbuat dari sampah atau barang daur ulang. Barang-barang ini mereka temukan di sekitar kota: tempat pembuangan sampah umum atau tempat sampah pinggir jalan. Mengumpulkan sampah pun unik: pakai gerobak besi dengan boks kayu yang dipasang ke sepeda. Thomas Dambo tidak pakai mobil meskipun pasti bisa membelinya dengan mudah. Mengantar barang daur ulang pesanan pun dilakukan memakai gerobak, kadang ditarik kalau barangnya terlalu besar. Hwah. Ausam lah.

Dengan melakukan ini Thomas Dambo berharap dapat menginspirasi orang untuk bersenang-senang dan menganggap sampah sebagai sumber daya. Untuk itu dia punya bengkel kerja yang super besar dan halaman luas tempat dia bisa memamerkan pula hasil karya lainnya.


Thomas Dambo membuat apa saja dari proyek desain kecil seperti furnitur dan desain interior hingga proyek seni kecil dan besar, sering melibatkan lingkungannya dan orang-orang di sekitarnya. Kalian bisa melihat proyek-proyeknya di situs utama, atau bisa juga di berbagai media sosial seperti Youtube, Facebook, Instagram, dan Twitter.

Kreatif, Unik, Menyenangkan


Orang kreatif memang selalu bisa berpikir out of the box dan hasilnya mencengangkan. Kalau sudah mencengangkan pasti menyenangkan. Pada video yang saya tonton, dengan mudahnya Thomas Dambo mengubah peti kayu menjadi rangka sofa/kursi. Dengan mudahnya dia menjelaskan bahwa jenis plastik yang ini bisa dipakai sebagai bulu patung burung karena fleksibel. Tapi tentu tidak mudah juga untuk mendorong gerobaknya baik memuat sampah maupun memuat hasil daur ulang atau hasil karyanya.


Tidak hanya patung, masih banyak lagi hasil karya Thomas Dambo yang sudah dibagi dalam kategori antara lain: Happy Wall, Hidden Giants, Interior Design, Plastic Sculptures, Scenography, Sculptures, Street Art, Trollhunt, dan lain sebagainya.

Saya suka Happy Wall. Dinding panjang itu diisi dengan kotak-kotak kecil dengan warna bebeda yang bisa dimainkan dengan membentuk huruf/kata tertentu. Coba kalian lihat gambar di bawah ini:



Kalian bisa lihat, sepanjang dindingnya itu dipasangi engsel pintu. Warna dasar utama dinding ini adalah hitam. Warna-warna lain, bisa bergradasi atau lebih daru satu warna, merupakan warna yang akan membentuk huruf atau emoticon saat engselnya dibalik. Lebih jelasnya pada gambar kedua yang ada tiga perempuan itu hahaha. Ini ... bagaimana seorang Thomas Dambo berpikir memanfaatkan engsel untuk Happy Wall ... bikin otak kita minder.

Karya lain Thomas bisa kalian lihat berikut ini:




Andaikan ada seorang saja Thomas Dambo di Kota Ende, dalam sekejap mata dia sudah bisa bikin wajah kota ini menjadi lebih berwarna, mengurangi sampah, dan bisa bikin proyek besar bersama suatu komunitas/masyarakat. Bisa  jadi akan dibangun kampung bernama Kampung Thomas Dambo. Haha. Saya membayangkan Happy Wall itu dipasang di lokasi wisata baik wisata alam maupun biasa buatan. Amboi, siapa sih yang tidak mau foto-foto dengan latar Happy Wall yang tertulis nama kita? Ide ini menarik ... lebih menarik lagi kalau ada yang bisa mewujudkannya di Kota Ende *digampar dinosaurus*.

Baca Juga: Cara Membikin Wadah Berbahan Semen dan Kaktus Batu

Bagaimana, kawan? Kece-badai semua kan hasil karya seniman daur ulang yang satu ini? Betul-betul nyeni dan tidak setengah-setengah. Sampai punya bengkel yang luasnya seperti lapangan bola begitu! Haha. Betul-betul, ya ... kalau boleh saya ulangi. Thomas Dambo bikin otak saya jadi MINDER!



Cheers.

Bunga Dinding


Hola! Ketemu lagi di #RabuDIY. Harinya kita berkreasi sepuas-puasnya. Hehe. #RabuDIY kali ini akan membahas tentang bunga hiasan dinding. Saya sering melihat bunga hiasan dinding atau bunga dinding ini di rumah orang-orang; keluarga, tetangga, teman. Bunganya menempel pada rangka dan biasanya sepasang. Rangka bunga dinding ini ada yang berbahan kayu tetapi kebanyakan berbahan plastik, sama seperti bahan bunga itu sendiri. Ya, plastik memang ada di mana-mana.

Baca Juga: Baskets

Suatu kali, saat sedang menganyam keranjang-keranjang pesanan, saya dikirimi gambar oleh Mila Wolo. Gambar itu adalah gambar bunga hiasan dinding dengan rangka terbuat dari kayu. Dia bertanya apakah saya bisa membikinnya? Saya menyanggupi tapi dengan satu syarat: tidak sama persis dengan gambar yang dia kirimkan. Gambar itu kira-kira seperti di bawah ini yang saya ambil dari Ali Express:


Awalnya saya memikirkan kayu sebagai bahan rangkanya karena besi tidak lah mungkin. Tapi demi memperoleh kayu-kayu itu saya harus pergi ke bengkel kayu untuk meminta atau membeli kayu-kayu bekas berukuran panjang dua puluh sampai tiga puluh senti meter dengan lebar sekitar lima senti meter. Putar otak ke kanan ke kiri, dibantu dinosaurus yang jungkir balik sampai giginya rontok, nonton ragam video tentang proyek-proyek DIY di Youtube, maka ... TRING! Muncul ide itu. 

Mari simak ... bagaimana membikin si bunga dinding ini.

Peralatan


1. Gunting.
2. Cutter.
3. Lem PVA (Webber).
4. Lem tembak (hot glue).
5. Mistar.
6. Alas kaca/keramik supaya mejanya tidak terluka.

Bahan-Bahan


Bahan-bahan untuk membikin bunga hiasan dinding ini sebagian besar merupakan barang bekas (yuk didaur ulang).

1. Botol plastik bekas air mineral.
2. Kardus.
3. Pipa kertas.
4. Cat.
5. Benang kasur.
6. Kertas HVS.

Cara Membuat


Potong botol plastik bekas air mineral dengan keutamaan bagian bawah/pantat botolnya. Ikuti bentuk bintang pada bagian itu, dan gunakan gunting untuk membentuk kelopak bunga. Ini hal yang mudah, menurut saya, hehehe. Penampakannya seperti pada gambar di bawah ini:


Jumlah bunganya tergantung kebutuhan. Silahkan dibikin sebanyak-banyaknya karena siapa tahu kalian bakal bikin banyak. Setelah selesai dengan membentuk bunga-bunga ini, langkah berikutnya adalah memberi warna. Saya menggunakan cat minyak/kayu warna merah dan pink:


Pada foto di atas, belum saya beri warna pink pada bagian garis/bintangnya. Biarkan cat mengering. Karena bahannya plastik, jelas tidak bisa menggunakan kipas angin, jadi dikeringkan secara alami dan lebih bagus lagi jika di bawah sinar matahari.

Baca Juga: Monotuteh

Urusan bunga beres, mari bikin rangkanya. Sayang waktu itu saya tidak memotret proses membikin rangka. Yang jelas saya membikin rangka berbahan karton bekas kardus yang dipotong sama ukuran. Karena karton bakal kardus yang saya gunakan itu tipis, maka dipertebal dengan menyatukan dua sampai tiga buah. Lalu dibungkus kertas HVS. Bakal 'kayu tipuan' ini di-cat cokelat, sesuai warna kayu dalam bayangan saya. Apabila cat kayu telah mengering, maka dapat dibentuk rangkanya.

Langkah terakhir adalah menempelkan bunga-bunga plastik ke rangka kayu menggunakan lem tembak. Penampakan hasil akhirnya seperti gambar berikut ini:


Gambar di atas sudah saya beri nomor:
1. Bunga plastik.
2. Rangka kayu tipuan :p.
3. Pemanis.
4. Tali.

Pemanis ini terbuat dari pipa kertas yang digulung, di-cat, dan ditempelkan. Awalnya saya tidak memikirkan soal ini, tapi dalam perjalanan pengerjaan, muncul ide-ide baru. Hehe.

Bunga dinding ini tidak saja dapat kita buat menggunakan botol plastik bekas tetapi juga berbagai bahan yang ada di rumah sesuai keinginan. Misalnya, bunga plastik dapat diganti dengan gulungan koran yang ditumpang-tinding dari besar ke kecil (bisa dua, bisa tiga, jangan lebih nanti terlalu berat). Bisa juga bunga-bunga dari koran yang membikinnya sangat mudah!

Yang menyenangkan hati adalah bunga hiasan dinding pesanan Mila ini masih tergantung manis di dinding ruang tamu rumahnya. Melihat bunga itu, ada kepuasan terhakiki. Hasil karya kita, meskipun dia memang membayar, dihargai dengan terus dipakai. Tak hanya bunga dinding itu saja, masih banyak barang hasil daur ulang yang saya bikin yang masih dipakai oleh teman-teman. 

Baca Juga: Hiasan Dinding DIY

Bagaimana, kawan? Menarik bukan? Saya yang tidak seberapa telaten ini bisa membikinnya, saya jamin kalian juga pasti bisa membikinnya. 


Cheers.

5 Hasil Daur Ulang


Hai semuaaa ... *angkat-angkat alis* hehe. Saya pernah menulis tentang Pemulung Rupiah. Bagaimana saya mendaur ulang sampah untuk menghasilkan barang bernilai ekonomis. Tapi pada pos itu saya hanya menampilkan satu gambar barang hasil daur ulang  yang saya sebut proyek Do It Yourself (DIY) Tuteh dari Rumah Daur Ulang Tuteh. Pasti banyak yang bertanya-tanya; mana hasil lainnya? Kok hanya satu yang dipos? Jangan-jangan ini hoax? Sabar, semua ada waktunya hehe.


Bisa menghasilkan satu barang daur ulang bukan perkara mudah. Banyak waktu yang saya habiskan; try and error. Saya harus rajin mencoba supaya hasilnya rapi dan bagus. Kadang-kadang saya harus mengeluarkan ekstra Rupiah untuk membeli pendukung proyek DIY ini seperti gunting, anakan pisau cutter, lem Webber, isolasi, sampai hekter. Tapi tidak masalah sepanjang hasilnya kemudian memuaskan hati, daaaan tentu saja menghasilkan Rupiah. Seperti memberi umpan untuk dimakan ikan. Hahaha.

Gara-gara barang daur ulang ini, saya dikunjungi Suzan, bule asal Cheko yang konsern sama masalah sampah dan telah banyak berkegiatan di Kecamatan Detusoko.

Sekalian kunjungan dan bertanya cara membikin dan bagaimana hasil penjualannya, Suzan juga merasakan makan pisang goreng + sambal hahaha. Jadi ingat tahun baruan kemarin, Suzan nongkrong bersama keluarga kami di teras rumah.

Kali ini saya ingin berbagi dengan kalian lima barang hasil daur ulang yang sudah mengalirkan Rupiah ke dompet, qiqiqiq. Mungkin sulit bagi kalian percaya sampah-sampah itu kemudian menghasilkan uang ... tapi kalian harus percaya karena saya sudah melakukan / mengalaminya sendiri.

Mari kita simak lima barang hasil daur ulang yang sudah saya bikin:

1. Pohon Natal

Pohon Natal ini saya bikin untuk lomba pohon Natal dari barang bekas yang diselenggarakan menjelang Hari Raya Natal oleh Universitas Flores (tahun 2017); tingkat Fakultas, Lembaga, dan UPT. Waktu itu KTU UPT Publikasi dan Humas, Om Robby Waturaka, berkata bahwa kita bakal ikut lomba dan otak saya langsung tertuju pada pipa-pipa koran yang menumpuk di rumah. Tanpa menunggu lama, saya langsung pulang ke rumah untuk membikinnya.


Satu kali sudah setengah berdiri, saya melihatnya terlalu renggang, maka harus dibongkar lagi dan dianyam ulang. Tante Lili Lamury, tetangga samping rumah, menghadiahkan tulisan Merry Christmas sedangkan saya membeli bola pimpong (soalnya yang bekas tidak ada) sebagai hiasannya. Cat yang dipakai adalah stok cat dari Rumah Daur Ulang Tuteh. Hehe. Bintang-bintangnya? Dari bintang yang ada pada kardus beer Bintang yang dicat merah.



Pohon Natal ini, di kantor, masih dihias lagi. Saya juga membikin Gua tempat bayi Yesus baru dilahirkan dengan keranjang anyaman. Tiga Raja (dari Timur) dibikin dari kemasan bekas deodoran.

Dulu ngumpulin barang bekas ditanyain apa manfaatnya. Kemudian botol bekas deodoran jadi boneka. Kalau di Rusia namanya Matryoshka Dolls. Kalau di Jepang namanya Kokeshi. Kalau hasil DIY saya namanya Tutehyoshka Dolls. Qiqiqiqiq. 
Di kantor, malaikatnya bukan boneka anime Jepang milik Indra Pharmantara itu di atas, tapi bekas botol parfum mini saya yang ada malaikatnya hahaha. Alasnya dihias serbuk kayu, lantas ada boneka keramik ternak dan gembala dari Kakak Rossa Budiarti, katanya itu kiriman dari Itali (salah satu gereja di sana).

Dan kami memenangkan lomba tersebut, dengan hadiah sebesar Rp 2.000.000 hehe. Senang sekali karena bisa menang ... duitnya juga doooonk.

2. Tempat Tisu

Adalah Kak Rikyn Radja, koreografel ternama Provinsi NTT, yang mulai memesan tempat tisu. Gara-gara pesanannya itu, tempat tisu menjadi barang yang paling laris dipesan oleh orang-orang. Pernah dalam sehari saya harus membikin sepuluh tempat tisu dengan ragam karakter yang kertasnya dibeli di Roxy. Kebanjiran pesanan tempat tisu membikin saya harus meninggalkan game favorit demi mengejar waktu agar pesanan selesai dibikin tepat waktu.


Saya jadi heran, apa sih yang membikin mereka tergila-gila pada tempat tisu ini? Soalnya yang dijual di toko kan banyak dan bagus-bagus. Mungkin karena mereka suka sama karakter dari kertas yang kami beli itu hehehe dan unik juga tempat tisu berbahan koran, kardus, serta lem tembak ini.

3. Desk Organizer

Ini dia barang yang paling pertama saya bikin untuk dipakai sendiri. Lalu, mulai membikin pesanannya Kakak Shinta Degor, dan menyusul pesanan lainnya. Desk organizer yang saya bikin tidak pernah sama satu dan lainnya. Sebelum bikin, saya selalu bertanya pada pemesan: ukuran, berapa kotak, warna, sampai karakter apa.


Adalah kebahagiaan dan kebanggaan tersendiri melihat desk organizer yang sampai sekarang masih dipakai oleh teman-teman! Masih ada di meja mereka ... yuhuuu.

4. Hiasan Dinding

Saya belum kepikiran untuk bikin hiasan dinding, tapi karena Mila memesannya, maka harus putar otak untuk membikin. Bermodal pantat botol bekas air mineral dan kardus, maka jadilah hiasan dinding yang berikut ini:


Belum serapi jika kalian membelinya di toko, tapi Mila senang sekali dengan hiasan dinding ini. Ada dua buah jadi bisa digantung di samping kanan-kiri foto atau jam di dinding.
5. Dompet Koin

Satu-satunya produk yang saya bikin karena belum ada yang memesan lagi hahaha. Soalnya saya juga tidak mengecat botol plastiknya sih.


Ini bisa buat simpan koin, atau barang printilan lainnya semacam handsfree dan charger. Barang ini sudah saya berikan pada cucu saya si Syiva hehe.

Sampah dapat bermanfaat apabila kita mau sedikit lebih kreatif dan mau mencobanya. 

Dari lima barang di atas, saya tidak memasukkan item keranjang. Kenapa? Karena keranjang daur ulang itu sudah umum dibuat. Sudah tidak terhitung berapa banyak keranjang yang saya buat, bahkan pernah dipakai sebagai wadah makanan untuk lomba berbau kedaerahan begitu (saya lupa nama lombanya). Ada yang memesannya untuk tempat make up, ada pula sebagai wadah botol-botol obat. Yudith Ngga'a pernah memesannya untuk digunakan sebagai wadah hadiah bayi (baru lahir) temannya.


Atau yang satu ini, stoples permen yang dipesan Enchyz dan Sony. Saya memang tidak menyarankan stoples ini untuk makanan tanpa pembungkus karena kuatir sama cat-nya. Belum pakai cat khusus kertas soalnya.


Itu, gambar di atas, belum di-cat lagi (tiga kali lapis) makanya masih kelihatan belum rata cat-nya.
Wah, panjang juga pos ini, penuh gambar! Hehe. Tapi kalau tanpa gambar kan kurang afdol, makanya saya perbanyak gambarnya jadi tidak dibilang hoax. Semoga kalian suka sama gambar-gambarnya, kemudian ngiler, kemudian pesan pada saya bikin sendiri di rumah. Sekalian coba-coba dan menyingkirkan sampah di rumah bukan? Bahan-bahan dari semua barang daur ulang di atas pun mudah ditemui: koran, karton, kardus, botol plastik, bekas majalah, dan lain sebagainya. Sedangkan barang-barang pendukung kerja seperti gunting, cutter, berbagai lem.

Percik sedikit kreativitas ... tring tring ...

Semoga bermanfaat.


Cheers.