Violin Kerong Seorang Pelukis Sketsa Wajah Terbaik

Sketsa oleh Violin Kerong.

Bingung mau memasukan tulisan ini di tema #SelasaTekno atau #RabuDIY. Saya memilih di #RabuDIY saja; masih berhubungan dengan membikin sendiri dan melengket erat dengan kreativitas juga. So, selamat datang di #RabuDIY, harinya kita berkreasi sepuas-puasnya. 

Baca Juga: Cara Membikin Wadah Berbahan Semen dan Kaktus Batu

Namanya Violin Kerong, sering saya panggil Cio karena ikut-ikutan teman-teman seangkatannya yang memanggilnya dengan Cio. Mungkin Cio itu dari Viol. Panggilan manja. Hehe. Saya mengenal Viol sebagai dosen Prodi Arsitektur Universitas Flores (Uniflor) yang kemudian menjadi Kaprodi Arsitektur. Perempuan pemberani ini punya segudang talenta di lini seni. Alhamdulillah, Tuhan menganugerahi begitu banyak talenta padanya. Nyanyi, bisa. Main gitar, bisa. Bikin aneka produk DIY atau kerajinan tangan, bisa. Keliling Flores kendarai sendiri sepeda motor, bisa. Melukis sketsa wajah, bisa!

Bersama Viol di depan SMAK Alvarez di Paga.

Baru-baru ini saya dikejutkan oleh pesan WA-nya. Wow. Sampai takjub. Sudah lama saya mengirimkan foto padanya untuk disketsa. Harga ... harga teman ... LOL! Gratis dink. Kebakaran yang melahap rumahnya menyebabkan dia belum membikin sketsa wajah saya dan sungguh sayang galeri mininya yang dipenuhi sketsa wajah orang-orang yang memesan atau teman-teman, ikut hangus. Ada satu hal yang patut saya contohi dari Viol yaitu semangatnya. Sketsa wajah saya, yang dikirm via WA itu, termasuk sketsa-sketsa pertama setelah musibah kebakaran di rumahnya.

Ini dia hasil utuhnya:


Wow sekali kan? Saya suka!!! Detailnya itu ... ck ck ck. Jago bener orang ini ya. Terima kasih Viol untuk sketsa wajah saya ini. Sungguh tidak sanggup saya membalasnya hahaha. Bakal saya beli pigura 10R untuk menyimpannya/menggantung di dinding rumah. Terus berkarya, kawan. Jadilah mata air. Karena, mata air akan selalu hidup meskipun aliran air dibikin mati. Luv ya!

Baca Juga: Bunga Dinding

Sekali lagi terimakasih.



Cheers.

Cara Membikin Wadah Berbahan Semen dan Kaktus Batu


Hola! Ketemu lagi di #RabuDIY. Pada seri Horeday saya sudah menulis tentang Horeday #6: Well Done! I Finished My Stone Project. Rasanya kurang afdol bila di hari khusus proyek Do It Yourself (DIY) saya tidak menulis tentang cara membikinnya haha. Jadi, mari kita simak apa saja bahan dan tata cara membikin hiasan meja kaktus batu yang masuk dalam Stone Project, salah satu resolusi saya di tahun 2019.

Baca Juga: Tempat Alat Tulis

Membikinnya memang mudah. Siapkan dulu alat dan bahan yang bakal digunakan untuk proyek DIY yang satu ini.

Alat dan Bahan


Alat dan bahan yang harus disiapkan adalah sebagai berikut.

Alat:
1. Gunting.
2. Pisau/cutter.
3. Lakban.


Bahan:
1. Semen.
2. Air secukupnya.
3. Wadah bakal proyek semen.
4. Batu pilihan.
5. Cat.
6. Tipeks bolpoin. 

Cara Membikin


Pertama-tama harus dibikin terlebih dahulu wadah berbahan semennya ya, kawan. Karena wadah itu yang bakal jadi tempat berdirinya si kaktus batu. 

Wadah semen:
Silahkan pilih dan siapkan wadah atau mal bakal wadah semen ini. Saya mengguakan tiga wadah yaitu kotak bekas teh kotak, botol plastik bekas Coca Cola yang bagian bawahnya berbentuk unik itu, dan tentu saja sarung tangan karet atau sering disebut handscoon. Kalian juga bisa menggunakan wadah seperti kain segi empat yang dicelupkan di adonan semen kemudian ditutup di gelas kertas/plastik. Tapi saya belum membikin wadah/pot yang seperti itu. Baru tiga bentuk saja seperti yang sudah ditulis di atas.

Langkah berikutnya: campurkan semen, saya memakai semen biasa yang bisa dibeli per-kilogram, dengan air secukupnya. Tanpa pasir! Karena kan kita tidak ingin membangun rumah tangga. Adonan semen ini tidak boleh terlalu encer karena bakal merusak hasilnya. Percaya lah, saya sudah mengalaminya jadi bisa menulis begitu. Haha. Setelah campuran semen dirasa oke, tidak terlalu encer, dan tidak terlalu padat. Semen sebanyak satu kilogram bisa menghasilkan enam wadah/pot loh.

Untuk kotak bekas teh kotak, setelah adonan semen dimasukkan ke kotaknya, bagian tengahnya diletakkan dua bungkus rokok yang sudah saya rekatkan (yang makan menghasilkan lubang). Karena rada susah kalau ditahan pakai batu, saya menahannya dengan lakban agar posisinya pas di tengah alias tidak miring.

Ini hasilnya yang sudah jadi.

Untuk botol plastik bekas Coca Cola, saya potong dulu setengah bagian botol plasti, lalu memakai bagian bawahnya yang diisi semen, dan untuk tengahnya saya tahan menggunakan gelas kertas atau gelas plastik. Untuk menahan gelas plastik di bagian tengah ini boleh dipakai pemberat batu atau barang lain yang bisa menstabilkan si gelas di tengah adonan semen di dalam botol.
Untuk sarung tangan karet, pertama-tama isi adonan di sarung tangan, kemudian diikat/tutup bagian atasnya. Agar hasilnya nanti si tangan dalam bentuk membuka begitu, letakkan di mangkuk kaca seukuran dan tetap ditahan dengan batu agar bentuknya bagus.

Setelah adonan dimasukkan ke dalam wadah/mol, diamkan seharian. Misalnya dibikin hari ini, besok baru boleh dibuka. Ditaksir saja adonan sudah kering begitu. Hehe. Membuka wadah tidak sulit. Pelan-pelan saja. Paling mudah memang membuka/melepaskan wadah kotak bekas teh kotak. Tinggal cabut bungkus rokoknya, terus sobek kotaknya, tradaaaa. Yang harus hati-hati yang botol dan sarung tangan karet. Ekstra hati-hati ya, jangan sampai pecah donk hasil kerja kita.

Kaktus batu:
Ini sih paling mudah bikinnya. Setelah batu dibersihkan, yang ukurannya kita sudah tahu pasti bakal muat di wadah/pot semen, lalu di-cat. Saya memakai cat minyak dua warna: hijau tua dan hijau muda. Cat salah satu sisinya dulu, lantas keringkan. Kalau sudah kering, cat lagi sisi satunya lagi. Kalau sudah kering semuanya, tinggal dibikin bunga kaktus menggunakan tipeks.

Kaktus Batu yang Menawan


Kaktus batu ini memang menawan dan saya letakkan di ruang tamu (tiga meja) satunya lagi saya letakkan di meja ruang keluarga.




TRADAAAAA ... Mudah bukan? Dua hari membikinnya, langsung jadi seperti ini, siapa yang tidak senang? Senang lah!

Baca Juga: Travel Booth

Ayo bikin! Kalian juga pasti bisa bikin. Asalkan jangan lupa memakai masker saat mencampur adonan semen supaya kalian tidak menghirup debu semen yang bertebangan di udara haha. Waktu itu saya lupa memakai masker jadinya ya bersin-bersin tak karuan. 

Selamat berkreativitas, kawan!



Cheers.

Tempat Alat Tulis


Rabu lagi. #RabuDIY lagi. Sebelumnya, ingin bertanya tentang puasanya kawan-kawan yang menjalankan ibadah di Bulan Ramadhan ini. Semoga puasanya lancar ya, ingat, tanggal 30 Mei itu ASN sudah liburan. Artinya, yang swasta seperti saya bisa mengikuti hahaha. Artinya lagi, puasanya harus lebih semangat karena sudah menjelang akhir. Tapi sayang, liburannya nanggung. Loh, kok nanggung? Betul-betul tidak tahu bersyukur! Bukan, kawan. Begini ... liburan dimulai tanggal 30 Mei kan, mau traveling ke mana, toh Lebarannya tanggal 5 Juni (Insha Allah), ditambah beberapa hari lagi libur, terus kembali bekerja. Nanggung kan? Yang nanggung ini sebaiknya disiasati dengan ber-DIY-ria saja. Haha.

Baca Juga: Sofa Drum

Baiklah, hari ini saya mau mengajak kalian semua membikin tempat alat tulis. Sederhana. Dan mudah dibikin. Awalnya membikin tempat alat tulis ini ya tidak sengaja. Karena apa? Karena saya orang yang sebentar bisa fokus, sebentar pikiran terbagi. Bayangkan saja, lagi asyik-asyiknya menganyam keranjang berbahan koran bekas, mendadak berhenti dan membikin tempat alat tulis. Kan asyem itu.

Pos kali ini juga tidak panjang-panjang. Saya tahu kalian bosan :p secara pun foto-fotonya tidak lengkap. Hanya satu foto saja yang bisa kalian lihat di awal pos.

Bahan dan Alat:


1. Botol plastik bekas.
2. Kain (apa saja untuk membungkusnya).
3. Jarum dan benang (warna senada kain).
4. Zipper / kancing tarik.
5. Gunting.
6. Pisau cutter.
7. Lem tembak / hot glue.

Cara Membikin:


Pertama:
Botol plastik dipotong 3/4 bagian kepala (dekat tutupnya) bisa dilihat gambar yang sudah jadi di awal pos. 

Kedua:
Pasangi zipper mengelilingi. Jadi, zipper-nya duluan baru kainnya. Kalau zipper kepanjangan, bisa dipotong/gunting saja sesuai lingkar botolnya.

Ketiga:
Lilit kainnya mengelilingi botol (lihat gambar di awal pos). Untuk merapikan kain pada tutupan tempat alat tulis, gunakan kembali tutupan botolnya. Untuk merapikan kain pada badan alat tulis (bagian pantat botol) pakai lem tembak atau hot glue saja.

TRADA!

Jadi deh. Semudah itu ... memang.

Pertanyaannya adalah apakah bisa dipakai? Ya bisa, donk. Saya memakainya beberapa kali sampai kemudian diminta teman. Dikasih? Ya kan saya baik hati ... dikasih saja hehe. Bikinnya mudah begini. Kalau kalian mau mencobanya, silahkan. Bisa juga dililit/bungkus kain, bisa juga ditempeli stiker atau kancing! Iya, kancing baju itu banyak manfaatnya kalau dalam dunia DIY bahkan bisa bikin gantungan kunci. Soal gantungan kunci kancing ini nanti saya pos lah. Tapi ada juga yang membikin hiasan dinding berbentuk pohon dan gajah menggunakan kancing. Tidak percaya? Coba cari di internet hehe.

Baca Juga: Stoples Kertas

Bagaimana ... mau mencobanya? Bagi tahu yuk di komen!



Cheers.

Sofa Drum


Hola! Sudah #RabuDIY lagi nih. Harinya kita berkreasi sebebas-bebasnya. Hari ini tidak banyak yang bisa saya tulis karena memang yang bakal ditampilkan bukan hasil kreasi tangan saya sendiri. Tapi saya yakin setelah melihat foto-fotonya kalian yang juga tergila-gila sama dunia DIY, craft, dan lifehack, percaya bahwa tidak ada yang tidak mungkin *dilirik malas sama dinosaurus*. Soalnya barang DIY yang satu ini memang sulit untuk dibikin sendiri. Setidaknya kalaupun mau bikin sendiri tetap membutuhkan tenaga ahli dari bengkel. Kecualiiiii kita punya perkakasnya dan sudah terbiasa menggunakan perkakas itu. Misalnya pemotong besi.

Baca Juga: Stoples Kertas

Ini dia DIY yang dulu bikin saya gila sampai-sampai semua orang kalau ngelihat drum pasti difoto dan dikirim ke saya hahaha.

Alkisah suatu hari saya harus pergi ke Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) - FKIP - Universitas Flores (Uniflor). Kenapa saya pergi ke sana? Karena akan ada visitasi dari tim asesor Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). Kamera ready. Mari berangkat! Sekitar satu menit mengendarai sepeda motor dari parkiran Gedung Rektorat ke parkiran FKIP, hehe. Begitu tiba di ruang tamu PGSD saya terbeliak. 

Really!???

Tidak mungkiiiinnn!!!!

Jadi saya bukan orang pertama yang bakal membikinnya!????

TIDAAAAAAAAAAAAAAAK!

Ini dia penampakannya:




Sofa berbahan drum itu nongkrong dengan manisnya di ruang tamu PGSD. Manapula pilihan warnanya bikin saya pengen mengangkut sofa ini pulang ke rumah: kuning (dan hitam). Amboi, begitu melihatnya, setelah syok, langsung minta teman-teman buat fotoin, haha. Untunglah mereka juga tahu kalau selama ini saya memang tergila-gila sama dunia DIY dan sering menulis status Facebook berikut foto tentang sofa drum ini.

Baca Juga: Ruang Tamu DIY

Bagaimana, kawan? Kalian suka juga kan sofa drum? Atauuuu jangan-jangan di rumah kalian sudah ada pula sofa drum ini? Bagi tahu donk di komen *kedip*.



Cheers.

Stoples Kertas


Halo semuanya! Masih semangat? Insha Allah masih dan akan terus semangat di hari ketiga puasa. Insha Allah puasanya lancar jaya, pun taraweh, tadaruz, infaq, sedekah, hingga zakat. Kalaupun ada godaan selama menjalani puasa, bisa ditepis shaaatt sheeettt shooottt, dengan cara istighfar. Itu kata Mamatua, hahaha. Kalau saya sih kadang pelototin si godaan sambil bilang, "Kau jahat!" Sebagai manusia fana yang fanga, apa lagi sih yang bisa saya lakukan selain mendoakan diri saya sendiri dan kalian semua yang menjalankan puasa, agar puasanya lancar, ikhlas, dan pahala ... eh ... kalau pahala biarkan itu urusan Allah SWT. 

Baca Juga: Ruang Tamu DIY

Kembali lagi di #RabuDIY. Harinya kita berkreasi. Saya pikir, mengisi waktu puasa dengan berkreasi itu bagus juga, biar pikiran tidak melulu ke Adzan Maghrib yang masih jauh itu. Ayo kawan, segera cek gudang atau bagian atas lemari atau kolong tempat tidur, siapa tahu masih ada simpanan majalah dan koran lama yang sudah tidak terpakai. Karena hari ini saya bakal mengajak kalian membikin sendiri stoples kertas. Memang bisa gitu kertas menjadi bahan membikin stoples? Bisa. Percaya deh.

Stoples kertas ini termasuk barang DIY yang paling mudah dibikin karena tidak membutuhkan keterampilan menganyam. Terus, apa yang dibutuhkan? Keterampilan dasar yaitu memelintir kertas menjadi pipa kertas. Yaaa meskipun membikin pipa kertas ini juga tidak mudah. Tapi kalau sudah sekali dua jadi dibikin, seterusnya bakal lebih mudah. 

Oke, mari kita mulai.

Bahan dan Alat


Bahan:
1. Kertas majalah/koran.
2. Lem (PVA) atau hot glue.
3. Cat untuk menguatkan dan mempermanis.


Alat:
1. Gunting dan/atau,
2. Pisau cutter.
3. Lidi/besi seukuran lidi.

Cara Membikin


Pertama:
Karena saya menggunakan kertas HVS yang sudah tidak berfaedah lagi, jadi kertasnya saya bagi dua seperti berikut ini. Sama juga dengan kertas bekas majalah karena ukuran kertas majalah sama lah dengan kertas HVS. Tapi kalau koran, setiap lembarnya bisa dibagi tiga atau dibagi empat. Beda hasilnya hanya pada ukuran pipa kertas. Kalau pakai koran ukurannya jauh lebih panjang.


Kedua:
Kertas yang telah dibagi dua tadi kemudian dipelintir menggunakan bantuan lidi untuk membentuk pipa kertas.




Ketiga:
Pipa kertas yang sudah jadi tadi kemudian dipipihkan pakai jari. Kalau dipipihkan dengan cara ditindih dinosaurus juga boleh. Hahaha.

Baca Juga: Tempat Surat


Keempat:
Kalau sudah dipipihkan, mulai saatnya menggulung si pipa kertas penyet tadi membentuk lingkaran seperti gambar berikut ini ...


Berapa banyak pipa kertas yang mau dipakai untuk gulungan ini? Tergantung berapa besar stoples kertas yang kalian inginkan. Tinggal memberi lem pada ujung dan ujung pipa kertas, lanjutkan menggulung hehe. Gulungan ini merupakan stoples yang belum jadi. Karena, untuk membentuk stoplesnya tinggal ditekan/tekuk seperti gambar berikut ini:



Itu cuma contoh hehehe. Aslinya saya membikin stoples kertas yang besar, baik wadah maupun tutupannya. Gambarnya bisa kalian lihat di awal pos, atau yang berikut ini:


Jadi, setelah gulungan kertas itu berdiameter kira-kita limabelas sentimeter, baru saya tekuk. Setelah ditekuk, jangan langsung dicat, tapi dibalur lem PVA terlebih dahulu baik luar maupun dalam. Setelah itu barulah di-cat. Proses yang sama juga berlaku untuk bagian tutupannya. Hanya saja, untuk membedakan, bagian tutupan dikasih tangkai berupa gulungan pipa kertas berukuran mini. Bisa dilihat pada gambar di atas.

Stoples kertas berwarna biru pada awal pos itu pesanan Enchyz, sedangkan yang warna kuning pesanan Sony. Stoples ini bisa diisi permen atau kukis yang berwadah, saya kuatir kalau langsung diisi kukis karena cat yang saya pakai waktu itu cat minyak buat kayu hahaha. Unik kan ya, stoples kertas menghiasi meja ruang tamu kita. Bisa dibikin sendiri dan ukurannya pun bisa di-custom. Perilah stoples kertas ini, saya juga bikin yang versi mini buat mengisi koin:


Stoples kertas koin ini kemudian diminta teman, dan saya kasih karena saya baik hati hahaha, dan masih dipakai sampai sekarang. Alhamdulillah. Kayaknya saya bakal bikin lagi stoples kertas ini selain menjalankan stone project. Insha Allah. Mengisi waktu puasa kan. Karena di kampus pun sudah keluar surat edaran bagi yang Muslim jam kerja selama Bulan Ramadhan dimulai pukul 08.00 s.d. 12.00 Wita saja. Waktu luangnya banyak!

Bagaimana, kawan, terinspirasi kan? Bikin yuk! Karena ... dari semua hasil proyek DIY yang saya pos di blog ini, stoples kertas yang paling mudah dibikin. 

Baca Juga: Coin Storage

Selamat berkreasi!

Salam DIY!



Cheers.

Coin Storage


Setiap hari saya, kalian, mereka, berurusan dengan uang; baik uang kertas maupun uang koin. Meskipun banyak yang lebih suka memakai kartu kredit dan/atau kartu debet, serta bertransaksi daring, namun tidak bisa dipungkiri umumnya kita selalu membawa uang kertas karena uang kertas itu ringan dan compact tersimpan di dalam dompet. Selain itu, rata-rata di Indonesia kita masih menggunakan transaksi manual alias belum semua masyarakat Indonesia, terutama para pedagang di pasar tradisional menggunakan jenis pembayaran daring. Uang kertas memang beda dengan uang koin. Ya iyalaaaah. Satu keping uang koin bukan masalah. Seratus keping uang koin ... bikin dinosaurus mendadak bisa berkotek.

Baca Juga: Travel Booth

Saya termasuk orang yang suka melihat dan menyimpan uang koin karena terinspirasi dari Paman Gober. Iya, saya punya banyak uang koin tersimpan di laci mini. Uang koin biasa didapat dari uang kembalian belanjaan. Untuk uang koin yang baru diterima, biasanya tercecer begitu saja di meja, lalu saya satukan di satu tempat, untuk kemudian disimpan di laci mini. Uang koin ini ada gunanya loh, terkhusus di akhir bulan buat beli kecap hahahaha.


Suatu hari, setelah menonton video #DIY di Youtube, saya mencoba membikin satu tempat penyimpanan (barang mini) yang gambarnya bisa kalian lihat pada awal pos.

Coin Storage


Tidak disangka barang yang saya bikin itu kemudian menjadi coin storage meskipun masih ditemani sama earphone. Sampai kemudian menjadi coin storage pun tidak sengaja. Ya karena itu tadi, uang kembalian belanja-belenji yang tercecer lantas tanpa sengaja dimasukin ke dalamnya, dan jadilah coin storage bikinan sendiri. Setelah dilihat-lihat, kok bagus ya punya coin storage seperti itu.

Bahan, Alat, dan Cara Membikin


Sayang ya, itu sudah lama saya bikin, dan waktu itu tidak terpikirkan untuk menjadikannya satu pos #RabuDIY, lha karena waktu itu kan saya sibuk ini itu, sehingga mengabaikan blog ini adalah konsekuensinya (bilang saja malas update blog, haha!). Jadi, maafkan jika tidak ada foto bahan dan proses membikinnya. Tapi saya yakin, dengan melihat foto di awal pos dan cara membikinnya, kalian pasti bisa.

Bahan dan Alat:
1. Dua botol plastik bekas air mineral.
2. Zipper.
3. Cutter.
4. Gunting.
5. Hot glue (and gun) / lem tembak.

Cara Membikin:
Pertama: potong kedua botol plastik bekas air mineral (bisa juga botol plastik bekas minuman bersoda, terutama yang bagian bawahnya bergelombang/berbunga) dengan tujuan menggunakan bagian bawah/pantat botolnya. Ukurannya bisa sama tinggi, bisa pula yang satu lebih tinggi dari yang lain (bawahan dan atasan). Waktu itu saya memotongnya sama tinggi. Oh ya, untuk ukuran botolnya sih bebas, tergantung kalian mau yang besar atau yang kecil.

Kedua: sesuaikan terlebih dahulu ukuran zipper, melingkari botol. Kalau kepanjangan yang tinggal dipotong. Kalau kependekan? Beli baru! Hehe.

Baca Juga: Bunga Dinding

Ketiga: rekatkan zipper menggunakan lem tembak. Selain menggunakan lem tembak, kalian juga bisa pakai alternatif lain yaitu menjahitnya. 

Keempat: JADI DEH.

Sangat mudah bukan? Tapi, apabila kalian ingin mempermanis coin storage tersebut, bisa kok dicat, atau ditempeli kain perca, bisa pula ditempeli pita atau mata boneka, mana-mana suka. Kalau saya sih, karena untuk dipakai sendiri ya polos-polos saja alias tembus pandang khas botol plastik air mineral. Kalau Mak Bowgel, Evvafebri, pasti bisa menempelnya dengan karakter Bowgel. Aaah iri benar saya sama kecerdasan dan kreativitasnya menciptakan tokoh imut begitu. Ciri khas!


Membikin barang DIY yang satu ini termasuk yang paling mudah dan paling cepat. Tidak perlu  membikin pipa kertas, tidak perlu menganyam, tidak perlu kesabaran, tidak juga harus ulet! Cukup ikuti langkah-langkah di atas, sudah pasti kalian bisa membikinnya juga. Yakin deh, pasti bisa. Lha saya yang tidak telaten saja bisa, kalian pasti bisa juga doooonk.

Khusus untuk satu (maaf cuma satu) blogger perempuan, siapa yang bisa membikinnya dengan cepat dan mengirimkan foto langkah-langkah membikinnya ke nomor WA saya, bakal saya kasih dompet koin yang satu ini (tapi warna/tenun ikatnya beda ya):


Silahkan bikin, DEADLINE pengiriman foto coin storage bikinan sendiri yang dikirim ke nomor WA saya adalah Kamis 4 April 2019. Kok mepet sekali waktunya? Ya karena kan bikinnya mudah haha *aduh, sandal siapa ini nyasar di kepala saya!?*. Saya menghitung dari siapa yang mengirimkan foto terlebih dahulu hari Kamis itu ya, karena kan cuma SATU dompet koin yang saya siapkan.  Jadi, saya pra minta maaf apabila nanti balasannya adalah: sudah dimenangkan oleh si Kakak Itu. Nomor WA saya: 085239014948.

Baca Juga: Baskets

Selamat ber-DIY-ria.
Selamat berkreasi!



Cheers.

Travel Booth


Booth atau stan merupakan lokasi yang paling saya cari setiap kali menghadiri pesta pernikahan. Karena apa, saudara-saudara? Karena kalau tidak sempat foto bareng pengantinnya, dan kuatir pengantinnya lupa saya memenuhi undangan pesta pernikahannya, hasil foto di stan itu menjadi bukti terhakiki yang tidak bisa dibantah. Alasan itu mungkin terkesan terlalu dibuat-buat, padahal sebenarnya itu memang alasan yang saya buat-buat karena belum menemukan alasan lainnya *tertawa bahagia bersama dinosaurus*.

Baca Juga: Bunga Dinding

Semakin ke sini, wedding organizer dan/atau bahkan si empu acara, semakin kreatif dalam perkara membikin stan foto ini. Stan foto yang biasanya berlatar baliho bergambar si pengantin serta sanak keluarganya itu kemudian berubah lebih ceria seperti foto si Thika dan Evran di bawah ini:


Pada akhirnya pesta pernikahan, sekarang, menjadi tempat yang asyik untuk berburu stan foto dan spot-spot yang instagramable. Tidak percaya? Foto di bawah ini contohnya:



Lalu apa hubungannya stan foto dengan pos #RabuDIY kali ini? Mari simak ...

Awal Mula


Iwan Aditya, partner siaran saya yang uh wow lidahnya suka typo itu, mendadak punya gagasan brilian untuk membikin stan foto di kantor Radio Gomezone FM. Kantor itu lebih tepatnya disebut studio dua sebagai studio kerja, sedangkan studio satu adalah studio siaran. Gagasan Iwan itu: Ncim, bagaimana kalau kita bikin booth foto dari hasil menggabung gambar-gambar tempat wisata? Mata saya meliriknya ... malas ... lantas bertanya: Bikinnya pakai apa? Iwan tertawa dan membalas: Encim kan suka sama proyek-proyek DIY begitu, pasti Encim mau lah, kita bikin dari kalender-kalender lama dari kantor saya. Banyak sekali, Ncim!

A-ha! DIY! Gayung bersambut.

Baca Juga: Baskets

Fyi: saya dan Iwan memang partner siaran di Radio Gomezone FM, waktu itu, tapi kami sendiri juga punya pekerjaan tetap. Saya di Universitas Flores sedangkan Iwan di SwissContact. Di Radio Gomezone FM kami memegang Creative Show yang mengudara Senin sampai Sabtu, setiap malam, dengan mata acara berbeda seperti Focus, Review, Backpacker, hingga Tuwan Show (Tuteh Iwan Saturday Night Show) yang kocaknya tidak ketulungan.


Kembali ke gagasan si Iwan, kami akhirnya memutuskan bahwa stan itu bakal ditempel tepat di belakang meja kerja saya di studio dua. Huraaayyyy. Dan keesokan malamnya, Iwan menenteng satu kresek besar berisi kalender-kalender meja (spiral), seragam, yang tidak sempat dibagikan ke orang-orang. Ada hikmahnya juga qiqiqiq.

Proses Pembuatan


Pertama-tama kami melepaskan setiap lembar kalender dari spiralnya. Proses ini dibantu oleh Irwan. Hyess, jangan bingung, yang satunya Iwan, yang satunya lagi Irwan (dia waktu itu cuti kuliah, kuliahnya di Makassar).


Selama beberapa hari, kemudian, meja kerja saya menjadi milik mereka berdua. Semangat keduanya bikin saya menitikkan air mata. Halaaaaah hehe. Oh iya, dibalik map holder warna biru itu berdiri desk-organizer hasil #DIY saya sendiri dan mangkuk berbahan jin. Tapi soal ini dibahas lain waktu.

Setelah semua lembar kalender dilepas, proses selanjutnya adalah menggunakan lantai sebagai media terbesar untuk menyusun potongan gambar/halaman kalender. Iwan bertugas menyusun agar tidak ada gambar yang sama berurutan baik vertikal maupun horizontal, sedangkan Irwan bertugas memotong isolasi bening. Tugas saya sih cuma wara-wiri, sana-sini, tidak jelas, haha. Pompom girl lah. Hasil kerja keras ini ternyata bikin saya bahagia maksimal.

Travel Booth


Stan foto itu menjadi tempat favorit setiap kali ada tamu yang datang ke studio dua. Kan asyik bisa foto dengan latar belakang sekeren itu.


Mungkin bagi kalian, stan foto macam begini tidak ada magnetnya sama sekali, alias kalian mungkin tidak tertarik. Tapi bagi saya, Iwan, Irwan, dan para pecinta #DIY, ini adalah hasil karya yang memuaskan jiwa-raga. Kami menamainya travel-booth. Kata Iwan: cocok sekali, Ncim, kita berdua kan bawakan acara Blogpacker.

Another Ideas


Menulis #RabuDIY kali ini membikin ide lain muncul di benak saya. Apalagi sudah menjelang Ramadhan (dan Hari Raya Idul Fitri, hahaha). Memang ada niat untuk mengecat ulang dinding rumah. Tapi sepertinya salah satu dinding bakal saya bikin stan seperti travel booth itu deh. Gambarnya apa saja? Masih saya pikirkan soal gambar ini. Apakah bertema keluarga Pharmantara, atau bertema dunia traveling saya ... kita lihat saja nanti. Karena ini baru ide, jangan menagih janji ya, hehe.


Bagaimana, kawan, jadi kepikiran untuk membikin stan foto juga di rumah? Stan foto itu tidak selamanya harus sama dengan yang kami bikin ... .eh ... dibikin Iwan dan Irwan. Bisa juga stan fotonya berupa foto keluarga ditambah tulisan: Welcome to Pohon Tua. Pohon Tua adalah nama rumah saya. Atau tulisan: Travel Journey ditambah foto Himawan (kalau dibikin sama Himawan). Kak Rey, Kak Rohyati, Kak Iied, atau Kak Lantana pun bisa membikinnya. Kalau si Evvafebri si Mak Bowgel pasti seru karena punya banyak karakter bikinan sendiri.

Baca Juga: Monotuteh

Ber-DIY-ria memang selalu menyenangkan. Tidak peduli hasilnya rapi atau berantakan, sepanjang itu hasil karya sendiri, pasti menyenangkan dan ... puas.

Yuuuuuk dicoba :)



Cheers.

Bunga Dinding


Hola! Ketemu lagi di #RabuDIY. Harinya kita berkreasi sepuas-puasnya. Hehe. #RabuDIY kali ini akan membahas tentang bunga hiasan dinding. Saya sering melihat bunga hiasan dinding atau bunga dinding ini di rumah orang-orang; keluarga, tetangga, teman. Bunganya menempel pada rangka dan biasanya sepasang. Rangka bunga dinding ini ada yang berbahan kayu tetapi kebanyakan berbahan plastik, sama seperti bahan bunga itu sendiri. Ya, plastik memang ada di mana-mana.

Baca Juga: Baskets

Suatu kali, saat sedang menganyam keranjang-keranjang pesanan, saya dikirimi gambar oleh Mila Wolo. Gambar itu adalah gambar bunga hiasan dinding dengan rangka terbuat dari kayu. Dia bertanya apakah saya bisa membikinnya? Saya menyanggupi tapi dengan satu syarat: tidak sama persis dengan gambar yang dia kirimkan. Gambar itu kira-kira seperti di bawah ini yang saya ambil dari Ali Express:


Awalnya saya memikirkan kayu sebagai bahan rangkanya karena besi tidak lah mungkin. Tapi demi memperoleh kayu-kayu itu saya harus pergi ke bengkel kayu untuk meminta atau membeli kayu-kayu bekas berukuran panjang dua puluh sampai tiga puluh senti meter dengan lebar sekitar lima senti meter. Putar otak ke kanan ke kiri, dibantu dinosaurus yang jungkir balik sampai giginya rontok, nonton ragam video tentang proyek-proyek DIY di Youtube, maka ... TRING! Muncul ide itu. 

Mari simak ... bagaimana membikin si bunga dinding ini.

Peralatan


1. Gunting.
2. Cutter.
3. Lem PVA (Webber).
4. Lem tembak (hot glue).
5. Mistar.
6. Alas kaca/keramik supaya mejanya tidak terluka.

Bahan-Bahan


Bahan-bahan untuk membikin bunga hiasan dinding ini sebagian besar merupakan barang bekas (yuk didaur ulang).

1. Botol plastik bekas air mineral.
2. Kardus.
3. Pipa kertas.
4. Cat.
5. Benang kasur.
6. Kertas HVS.

Cara Membuat


Potong botol plastik bekas air mineral dengan keutamaan bagian bawah/pantat botolnya. Ikuti bentuk bintang pada bagian itu, dan gunakan gunting untuk membentuk kelopak bunga. Ini hal yang mudah, menurut saya, hehehe. Penampakannya seperti pada gambar di bawah ini:


Jumlah bunganya tergantung kebutuhan. Silahkan dibikin sebanyak-banyaknya karena siapa tahu kalian bakal bikin banyak. Setelah selesai dengan membentuk bunga-bunga ini, langkah berikutnya adalah memberi warna. Saya menggunakan cat minyak/kayu warna merah dan pink:


Pada foto di atas, belum saya beri warna pink pada bagian garis/bintangnya. Biarkan cat mengering. Karena bahannya plastik, jelas tidak bisa menggunakan kipas angin, jadi dikeringkan secara alami dan lebih bagus lagi jika di bawah sinar matahari.

Baca Juga: Monotuteh

Urusan bunga beres, mari bikin rangkanya. Sayang waktu itu saya tidak memotret proses membikin rangka. Yang jelas saya membikin rangka berbahan karton bekas kardus yang dipotong sama ukuran. Karena karton bakal kardus yang saya gunakan itu tipis, maka dipertebal dengan menyatukan dua sampai tiga buah. Lalu dibungkus kertas HVS. Bakal 'kayu tipuan' ini di-cat cokelat, sesuai warna kayu dalam bayangan saya. Apabila cat kayu telah mengering, maka dapat dibentuk rangkanya.

Langkah terakhir adalah menempelkan bunga-bunga plastik ke rangka kayu menggunakan lem tembak. Penampakan hasil akhirnya seperti gambar berikut ini:


Gambar di atas sudah saya beri nomor:
1. Bunga plastik.
2. Rangka kayu tipuan :p.
3. Pemanis.
4. Tali.

Pemanis ini terbuat dari pipa kertas yang digulung, di-cat, dan ditempelkan. Awalnya saya tidak memikirkan soal ini, tapi dalam perjalanan pengerjaan, muncul ide-ide baru. Hehe.

Bunga dinding ini tidak saja dapat kita buat menggunakan botol plastik bekas tetapi juga berbagai bahan yang ada di rumah sesuai keinginan. Misalnya, bunga plastik dapat diganti dengan gulungan koran yang ditumpang-tinding dari besar ke kecil (bisa dua, bisa tiga, jangan lebih nanti terlalu berat). Bisa juga bunga-bunga dari koran yang membikinnya sangat mudah!

Yang menyenangkan hati adalah bunga hiasan dinding pesanan Mila ini masih tergantung manis di dinding ruang tamu rumahnya. Melihat bunga itu, ada kepuasan terhakiki. Hasil karya kita, meskipun dia memang membayar, dihargai dengan terus dipakai. Tak hanya bunga dinding itu saja, masih banyak barang hasil daur ulang yang saya bikin yang masih dipakai oleh teman-teman. 

Baca Juga: Hiasan Dinding DIY

Bagaimana, kawan? Menarik bukan? Saya yang tidak seberapa telaten ini bisa membikinnya, saya jamin kalian juga pasti bisa membikinnya. 


Cheers.

Baskets


#RabuDIY hari ini saya mau menulis tutorial sederhana membikin basket atau keranjang berbahan barang bekas. Saya sudah sering membikinnya baik yang kotak/persegi, bundar, maupun ulir. Dan ternyata setelah fakum hampir dua tahun, saya masih belum kehilangan keahlian untuk membikinnya. Ha ha ha sumpah, menulis keahlian serasa make up artist yang bisa 'menyulap' wajah begitu.

Baca Juga: Be Art

Lantas apa saja bahan-bahannya dan bagaimana cara pembuatannya? Mari kita simak.

Bahan-Bahan dan Alat:


1. Koran/kertas yang tidak dipakai lagi.
2. Lem PVAC (saya pakai Webber).
3. Lidi/sejenisnya untuk menggulung kertas.
4. Karton dari kardus bekas.
5. Cat (bila diperlukan).
6. Gunting.
7. Cutter.

Cara Membikin:


Pertama-tama membikin pipa kertas. Silahkan, koran/kertas dipotong; dibagi dua memanjang. Sayangnya untuk proses ini saya tidak sempat memotretnya, tapi kalian pasti menangkap maksudnya kan hehe. Mana yang lebih baik, kertas koran atau kertas HVS? Sama baiknya. Hanya saja kalau koran, hasil pipanya lebih panjang sehingga saat dipakai menganyam lebih asyik. Setelah dipotong, silahkan digulung menjadi pipa menggunakan lidi/sejenisnya. Hasilnya seperti gambar di bawah ini:


Bikin sebanyak-banyaknya! Supaya proses menganyam tidak terhambat pipa kertas yang habis. Saya dulu menyiapkan sampai berkaleng-kaleng pipa kertas. Tentu, dibantu Indra hehe.

Berikutnya, siapkan karton dari kardus bekas, dibikin dua berukuran sama. Besarny keranjang akan bergantung dari besarkan karton yang disiapkan oleh kita. Kenapa harus dua? Karena keduanya bakal mengapit tiang pipa kertas bakal anyaman nanti. Hasilnya seperti gambar di bawah ini:


Berapa jumlah tiang pipa? Harus ganjil. Tapi kenapa di atas gambar kok genap? Salah satunya merupakan tiang pipa untuk memulai anyaman, makanya letaknya berdekatan sama tiang satunya lagi:


Setelah itu ditindih pakai buku-buku atau alat berat juga boleh hahaha. Supaya apa? Supaya lem-nya menempel sempurna.


Biarkan semalaman sampai kering betul, atau pokoknya dirasa sudah cukup kering/kuat, maka penampakannya seperti gambar berikut ini:



Silahkan dianyam.


Ini dia hasilnya. Kaliah bisa melihat, besarnya keranjang tergantung pada lebar/besarnya karton dari kardus. Pada gambar di atas, ada yang sudah saya cat, ada yang belum saya cat, agar orang-orang tahu bahwa keranjang tersebut murni terbuat dari koran/kertas bekas.

Baca Juga: Monotuteh

Mudah bukan? Kalau saya yang kurang telaten ini bisa membikinnya, saya jamin kalian juga pasti bisa. Cukup kemauan dan mulai dari sekarang. 

Bisnis Receh yang Lumayan


Kalau kalian sedang berpikir tentang suatu bisnis, bisnis daur ulang ini merupakan bisnis receh yang lumayan. Lumayan buat penuhi kebutuhan sehari-hari. Misalnya dalam sebulan saya bisa menghasilkan 1,5Juta. Kan lumayan bisa buat beli listrik dan keperluan lainnya huehehe. Satu keranjang ukuran sedang saya hargai 25K saja. Ukuran kecil tergantung, ada yang 10K ada yang 15K. Kalau tempat tissu, harganya bisa 35K atau lebih tergantung permintaan.

Bagaimana, tertarik juga? Hyuk coba bikin!



Cheers.

Be Art


Bego Ga'i Night merupakan konsep: duduk-duduk sambil mengobrol. Tentu mengobrol ditemani minuman seperti kopi dan teh, serta kudapan seperti lemet atau onde yang terbuat dari ubi/singkong. Itulah konsep dari Pameran Triwarna Soccer Festival yang sudah berlangsung sejak tanggal 27 Februari 2019 kemarin bertepatan dengan launching atribut Triwarna Soccer Festival. Pada pameran ini tenda-tenda besi khas pameran berdiri di depan pagar tembok Stadion Marilonga, menghadirkan hasil karya UKM dan Komunitas. Jadi di Bego Ga'i Night, masyarakat tidak hanya dapat melihat barang-barang yang dipamerkan oleh komunitas, termasuk ada Komunitas Fotografi, tapi juga dapat membeli ragam minuman dan makanan yang rasanya aduhai menggiling lidah.

Baca Juga: Monotuteh

Salah satu komunitas yang mengisi tenda pameran adalah Komunitas Be Art. Nur Ali atau Al adalah salah seorang mahasiswa Prodi Arsitek Universitas Flores yang turut mengisi tenda Be Art ini. Sudah lama Al dikenal sebagai pembuat gelang berbahan tenun ikat. Salah satu penampakannya, yang dipesan khusus oleh Violin Kerong, seperti pada gambar berikut ini:


Penjelasan gambar di atas:

1. Sukun goreng itu, sukunnya dibawa sama Bapa Sam alias Kakak Pacar.
2. Sambalnya itu Koro Degelai dari RMC Detusoko.
3. Nah, yang dikasih panah itu gelangnya.

Hahaha ... dan gelang itu menjadi milik saya.

Be Art


Be Art ini sebenarnya merupakan komunitas yang terdiri dari banyak orang. Ada Violin Kerong, ada Nur Ali, ada saya. Violin, karena musibah kebakaran rumahnya, otomatis tidak bisa mengisi tenda Be Art. Semua hasil kerajinan tangannya dan sketsa hasil goresan tangannya hangus terbakar, termasuk sketsa wajah saya yang rencananya juga bakal dipajang di tenda Be Art. Karya-karya Violin, saya ambil dari Facebook, dapat dilihat di bawah ini:



Lalu ada Al. Al ini mahasiswanya Violin (Kaprodi Arsitektur). Karya-karyanya sangat banyak. Salah satunya bisa dilihat pada awal pos; tas bambu yang saya pakai itu. Karya-karyanya yang lain ada agenda dengan sampul terbuat dari kayu, lampu dinding, tas botol, hingga aneka gelang:




Pada malam pertama pameran saja, Al telah menjual puluhan gelang tenun ikat, ditambah yang dipesan oleh pengunjung. Anak ini memang luar biasa. Pada akhirnya dia memberikan saya sebuah buku tentang pengelolaan sampah desa. Masih saya baca beberapa lembar hehe. Nanti bakal saya ulas buku dari Rumah Intaran Bali ini.

Bagaimana dengan saya sendiri? Iya, saya juga mengisi, sekadar untuk memenuhi quota, karena saya toh sudah lama libur ber-DIY. Jadi, hasil DIY yang saya sertakan itu sebenarnya yang tersisa dari pesanan kemarin-kemarin tapi belum saya kasih ke orangnya. Sayang ya, padahal banyak yang tertarik dengan keranjang berbahan koran itu. Sampai ada yang tidak percaya bahannya koran. Makanya saya sertakan juga keranjang yang belum di-cat.


Cuma segitu, yang lainnya kan sudah diambil sama yang memesan hehehe. Beberapa hari ini saya sudah kembali membikin keranjang, tempat pinsil, dan kreasi dari semen. Cuma ya itu ... waktunya tidak bisa saya paksakan harus jadi dalam waktu dekat, karena pekerjaan utama dan pekerjaan menjadi panitia ini juga membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Tapi yang jelas, banyak yang bertanya-tanya tentang keranjang-keranjang ini. Padahal saya tidak khusus membikin keranjang saja. Kalian pasti sudah tahu, tempat tisu adalah mega proyek hahaha.

Komunitas Lain


Banyak komunitas yang mengisi tenda pameran Bego Ga'i Night. Tapi ada dua yang betul-betul saya sukai yaitu RMC Detusoko dengan Lepa Lio-nya, dan Komunitas Kopi Sokoria yang dipimpin oleh Ferdianus Rega. Salah seorang putera daerah yang kembali ke desa untuk mengangkat kopi daerahnya agar dikenal khalayak. Ada dua desa yang saat ini memasok kopi untuk komunitas ini yaitu Desa Sokoria dan Desa Demulaka. Ke depannya mereka bakal mengajak lebih banyak desa untuk bergabung.


Inilah cara kami menumbuk kopi sebelum mesin penggiling kopi masuk ke Kabupaten Ende. Pakai lesung kayu dan alu. Menumbuk kopi jangan sampai sehalus saat menggiling pakai mesin. Karena di situ letak seninya ... cieee ... hahaha. Proses seduhnya masih memakai V60.



Kopinya arabika. Yang robusta habis stok. Okay. Rasanya enak, menurut saya, ada sedikit citarasa brown sugar begitu. Menurut saya, lagi, semua yang ada di komunitas ini dikemas dengan sangat profesional. Sayangnya mereka tidak buka kafe di Kota Ende. Mungkin mereka buka kafe di Sokoria? Semoga. Supaya saya bisa mainnya agak jauh begitu kalau pengen ngopi hehehe. Abang Ferdianus Rega ini juga sangat ramah dan komunikatif. Saat mengobrol bersamanya, saya tahu inilah orang yang akan membangun desanya dan desa-desa sekitar, yang mengenal betul keunggulan desanya, dan mengangkatnya, termasuk remaja-remajanya. Dia luar biasa. Sama seperti pendapat saya tentang Nando Watu dengan RMC Detusokonya. 

Kalau di Lepa Lio, dari RMC Detusoko, ada juga proses menggiling kopi hingga pembuatannya. Selain itu berbagai olahan seperti sorgum, kacang, nanas kering, aneka kopi, hingga Koro Degelai pun tersedia di tenda pameran mereka. Jadi, kira-kira samalah dengan Komunitas Kopi Sokoria ini, bahwa ada edukasi ke pengunjung tentang kopi, jenis-jenis, cita rasa, pengolahan, sampai penyajian kepada pengunjung. Kan tumben di Kota Ende ada sedotan a la kopi Starbucks begitu. Katrok ya saya hihihi.


Kalau kalian sedang berada di Kota Ende, jangan lupa untuk mampir di Stadion Marilonga. Karena, selain ajang sepak bola yang memperebutkan Piala Bupati, juga ada Bego Ga'i Night, dan Lomba Mural. Oh ya, Lomba Mural hari kedua ini beberapa bidang/peserta sudah nampak hasilnya meskipun masih gambaran umum belum sampai pada pendetailan. Insha Allah besok saya bakal hadirkan lima peserta Lomba Mural yang hasilnya sudah mulai terlihat. I promise.



Cheers.