Arsip Kategori: Covid-19

Panen Sorgum Untuk Pertama Kalinya Sungguh Bikin Happy


Panen Sorgum Untuk Pertama Kalinya Sungguh Bikin Happy. Hola! Ketemu lagi di Hari Senin. Harinya saya bertugas alias piket di kantor. Iya, sejak minggu kemarin, saya kebagian piket di kantor setiap Senin dan Selasa, tetapi karena peraturan piket baru diberitahu pada Selasa dan saya membaca pesan itu Selasa siang, jadinya baru minggu ini saya memulai piket. Urusan piket ini sebenarnya sudah diberlakukan pada masa awal #DiRumahSaja di mana saya kebagian jaga kandang setiap Senin dan Rabu, tetapi sempat terhenti sejak keluarnya surat edaran kedua perpanjangan masa #DiRumahSaja, dan ketika surat edaran ketiga perpanjangan masa #DiRumahSaja kembali dikeluarkan, piket pun kembali diberlakukan. Senang? Tentu!

Baca Juga: Belajar Blog Sambil Donasi di Kelas Blogging Online

Saya sudah pernah menulis bahwa selama berada di rumah (saja) banyak kegiatan yang telah dilakukan. Salah satunya adalah berkebun mini di beranda belakang Pohon Tua. Nah, hari Minggu kemarin ada sesuatu yang bikin saya happy. Akhirnya saya memanen sorgum yang tumbuh di petak tanah sisa 1 x 1 meter itu! Sebagai orang yang belum akrab dengan sorgum, saya harus bertanya terlebih dulu pada Cahyadi tentang kondisi sorgum, apakah sudah boleh dipanen atau belum? Ternyata kata Cahyadi, sorgum itu sudah boleh dipanen. Ayolah! Eits, tapi sebelumnya, Minggu pagi sekitar jam sepuluh kami berangkat ke kebun sorgum milik Cahyadi di daerah Woloare untuk mengambil tanah sekarung. Tanah ini bakal saya tanami anakan ubi tatas yang sudah mulai bertunas dari beberapa ubi tatas yang saya tanam sekitar dua minggu lalu. Selain membawa tanah sekarung, saya juga membawa pulang satu polybag anakan cabe dan satu polybag anakan cabe rawit.

Cerita tentang kebun sorgum milik Cahyadi dan panen sorgum di beranda belakang Pohon Tua silahkan kalian nonton pada video berikut:



Sebenarnya, apa sih sorgum itu?

Menurut Wikipedia, Sorgum (Sorghum spp.) adalah tanaman serbaguna yang dapat digunakan sebagai sumber pangan, pakan ternak dan bahan baku industri. Sebagai bahan pangan, sorgum berada pada urutan ke-5 setelah gandum, jagung, padi, dan jelai. Sorgum merupakan makanan pokok penting di Asia Selatan dan Afrika sub-sahara. Sorgum juga mengandung serat tidak larut air atau serat kasar dan serat pangan, masing-masing sebesar 6,5% - 7,9% dan 1,1% - 1,23%. Kandungan proteinpun seimbang dengan jagung sebesar 10,11% sedangkan jagung 11,02%. Begitu pula dengan kandungan patinya sebesar 80,42% sedangkan kandungan pada jagung 79,95%. Hanya saja, yang membuat tepung sorgum sedikit peminat adalah karena tidak adanya gluten seperti pada tepung terigu. Masyarakat indonesia sudah tenggelam dalam nikmatnya elasitisitas terigu, karena tingginya gluten, dan inilah yang membuat adonan mie, dan roti menjadi elastis.

Terlalu banyak makan dari bahan pangan ber-gluten tidaklah terlalu baik untuk kesehatan, karena dapat menyebabkan celiac desease. Ini merupakan salah satu titik tolak bahwa alternatif tepung yang sehat dapat dikonsumsi adalah tepung sorgum. Selain itu Sorgum dikenal memiliki manfaat yang lebih baik daripada tepung terigu karena gluten free serta memiliki angka glikemik index yang rendah sehingga turut mendukung tren gerakan konsumen gluten free diet seperti di negara-negara maju.

Ceritanya sampai Cahyadi berkebun sorgum dan merembet ke saya adalah pada suatu hari, saya lupa tahun berapa (2017, 2018, atau 2019?), Cahyadi mengantar tamu yang hendak pergi ke Dusun Likotuden, Desa Kawalelo, Kecamatan Demon Pagong, Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Ada apa di sana? Ada Mama Sorgum Indonesia yaitu Maria Loretha. Dari perjalanan itu Cahyadi membawakan saya kue sorgum dan butir-butir sorgum siap pakai. Dari situlah Cahyadi mulai kepikiran untuk ikut menanam sorgum, melihat manfaatnya yang sangat baik bagi kehidupan umat manusia. Pada tahun 2019 Cahyadi kembali pergi ke sana dan membawakan saya sebungkus bubuk sorgum; bubuk ini dapat dicampur air panas untuk diminum, boleh dicampur gula, boleh tidak dicampur gula, mana-mana suka.

Sampai sorgum kemudian tumbuh di petak tanah sisa 1 x 1 meter di beranda melakang Pohon Tua, silahkan baca pos berjudul Membikin Kebun Mini di Beranda Belakang Pohon Tua. Kalian akan tahu bahwa sorgum merupakan tanaman yang tidak sombong dan tidak repot untuk tumbuh. Dia bisa tumbuh di mana saja selama ada sinar matahari dan air. Saya sudah membuktikannya, saya sudah memanennya!







Setelah dipanen sorgum harus dijemur terlebih dahulu, kemudian digiling/ditumbuk untuk memisahkan isi dan kulit, baru deh diolah untuk dikonsumsi. Karena mesin penggiling sorgum tidak ada di Kota Ende (kabarnya ada di Kecamatan Detusoko, di tempatnya Nando Watu yang sudah terlebih dahulu menanam sorgum), kayaknya saya bakal menumbuknya menggunakan lesung kayu. Sama seperti menumbuk kopi yang sudah disangrai! Hehe. Kayaknya kegiatan menumbuk sorgum bakal seru dan bakal jadi pengalaman bagi kami serumah.


Baca Juga: Seni Lukis dan Seni Kata di Kedai Kampung Endeisme

Bagaimana, kawan? Ternyata tidak sulit kan memperoleh bahan pangan pengganti nasi? Jujur, gara-gara Covid-19 pun saya kepikiran menanam bahan pangan yang bisa dimakan sebagai pengganti nasi. Bahan pangan itu antara lain ubi tatas dan kentang. Ubi tatas sudah selesai disemai; dari dua sampai tiga biji ubi tatas yang saya tanam, menghasilkan belasan anakan yang ditanam di polybag terpisah setiap anakannya. Mungkin yang paling sulit itu kentang, karena sudah dua kali percobaan ini masih belum membuahkan hasil, hanya saja kentang yang waktu tanamnya bersama-sama ubi tatas saya bongkar dari polybag dan ternyata ... muncul tunas-tunas keciiiil banget dari mata kentang. Makanya kentang itu langsung saya potong dan tanam dengan bagian tunas ngintip dari balik tanah. Semoga tumbuh juga. Setidaknya ubi tatas dan kentang bisa bikin kenyang. Ha ha ha.

Semoga bermanfaat!

Mari berkebun!

#SeninCerita
#Ceritatuteh



Cheers.

Katanya Saat Wabah Covid-19 Urusan Pernikahan Lebih Lancar

Pada pernikahan Aram dan Mila.

Katanya Saat Wabah Covid-19 Urusan Pernikahan Lebih Lancar. Sejak himbauan jarak sosial yang kemudian menjadi jarak fisik diberlakukan, pesta pernikahan menjadi sorotan masyarakat. Ya, terhitung sejak jarak sosial diberlakukan, ada satu pesta pernikahan di Kota Ende digelar sangat meriah layaknya pesta pernikahan pada hari-hari normal. Ribuan orang berkumpul untuk merayakan pernikahan pasangan tersebut. Saya pikir, karena masih awal, tidak terlalu menjadi masalah, meskipun ada status Facebook satu dua orang yang menyayangkan pesta tersebut. Saya sendiri memposisikan diri sebagai si empu pesta. Rencana yang sudah disusun sejak tahun 2019 kemudian batal begitu saja kan ... sayang. Hehe. Untungnya waktu pesta tersebut berlangsung, dengan sangat meriah, Kabupaten Ende (bahkan mungkin Provinsi NTT) masih berstatus zona (sangat) hijau. Kalau sekarang sih saya belum tahu pasti ... setelah video viral pengakuan seorang lelaki tentang dirinya yang positif Covid-19 tapi tidak merasakan apa-apa di tubuhnya.

Baca Juga: Sering Diabaikan Namun Proses Kreatif Harus Kita Nikmati

Fast forward, langsung pada menikah di saat wabah Covid-19 yang katanya urusannya lebih lancar. Benarkah demikian? Dari begitu banyak status WA dan status Facebook, saya melihat satu dua tulisan tentang: nikah sudah sekarang, pangkas biaya pesta.

Wow. Hahaha.

Wajar saja ketika ada yang menulis seperti itu, terutama Orang Ende, karena memang demikian adanya. Dalam adat Suku Ende, perihal pesta ini sudah dimulai sejak Buku Pelulu ketika pihak calon pengantin laki-laki datang melamar calon pengantin perempuan. Aneka kudapan disiapkan oleh masing-masing pihak. Berdasarkan adat Suku Ende, sebelum pihak calon pengantin laki-laki datang ke rumah pihak calon pengantin perempuan, pihak calon pengantin laki-laki ini sudah menyiapkan aneka kudapan yang disuguhkan untuk keluarga dan tetangga yang datang. Keluarga dan tetangga ini nantinya bersama-sama keluarga inti berbondong-bondong pergi ke rumah pihak calon pengantin perempuan. Di rumah calon pengantin perempuan pun, keluarga dan tetangga yang menunggu kedatangan pihak pengantin laki-laki beserta keluarga dan tetangganya, juga disuguhi aneka kudapan. Bagi saya, meskipun skalanya kecil, ini pun disebut pesta. Defenisi pesta menurut saya pribadi adalah ketika di situ ada banyak orang, makanan, dan musik.

Itu baru Buku Pelulu-nya, belum lagi kegiatan menjelang pernikahan, serta drama-drama yang terjadi. Ugh, biaya itu pasti ada.

Pernikahan dan pesta ibarat dua sisi mata uang koin. Yang satu tidak bisa jalan sendiri tanpa yang lain. Kalau ada yang tidak sependapat dengan saya dan contoh Buku Pelulu di atas belum sepenuhnya dipahami, ini ada contoh lain. Dalam pernikahan agama Islam, misalnya, setelah ijab kabul alias Islamic marriage contract, tentu pihak keluarga tetap menyiapkan kudapan dan makanan usai ijab kabul kan? Itu namanya pesta juga, meskipun skalanya juga kecil, karena ijab kabul biasanya hanya dihadiri oleh orang-orang penting saja seperti Penghulu, Saksi, Orangtua, dan keluarga serta tetangga terdekat. Jadi, saya akan tetap menulis pernikahan dan pesta itu ibarat dua sisi mata uang koin. Sampai di sini kita sependapat dulu, ya. Jangan protes lagi. Hahaha *pemaksaan*.

Ketika ada yang menulis menikah di saat wabah Covid-19 memangkas biaya pesta dan urusan lebih lancar, saya pikir-pikir dulu. Bukaaaaan, bukan karena saya mau menikah, ha ha ha. Jadi begini ... menikah, dalam kondisi apa pun, tetap mengeluarkan biaya. Besar atau kecil biaya, tergantung, tetapi besar atau kecilnya biaya pun tidak seberapa jauh bedanya. Tetap ada biaya yang dikeluarkan. Biaya yang paling pasti adalah mengurus perijinan menikah. Mulai dari menyiapkan dokumen, menggandakan dokumen, pas foto, dan biaya lain-lainnya. Biaya berikutnya adalah pakaian. Kita boleh saja bersikap masa bodoh tetapi penghormatan dan penghargaan pada diri sendiri itu penting. Menikah, insha Allah, terjadi satu kali seumur hidup. Oleh karena itu, berilah penghormatan dan penghargaan pada diri sendiri dengan memakai pakaian yang baik; pakaian pengantin. Biaya berikutnya adalah kamar pengantin yang perlu dihias. Biaya berikutnya, ini penting, berhubungan dengan konsumsi. Mau paling sederhana pun, seperti hanya menyiapkan kopi - teh - kudapan, tetap ada biayanya. Tetap ada. 

Biaya yang tidak dikeluarkan saat melangsungkan pernikahan saat wabah Covid-19 hanya biaya pesta (besar) dengan undangan ribuan orang. Pesta itu memang memakan cukup banyak biaya selain konsumsi. Mencetak undangan butuh biaya, juga perlu memikirkan biaya gedung dan dekorasi. Tapiiii ada kok orang yang melangsungkan pesta pernikahan usai ijab kabul (pagi hari), dilanjutkan dengan ramah-tamah sederhana, dan bubar menjelang Shalat Dzuhur. Biaya? Tetap ada! Haha.

Urusan memperlancar segalanya pun saya pikir tidak. Justru pada saat wabah Covid-19 urusan tidak lancar-lancar amat. Kita harus menjaga jarak, memakai masker, sering mencuci tangan ... hal-hal yang tidak sering kita lakukan pada hari-hari normal. Biasanya pergi ke studio foto untuk foto pas bakal buku nikah, langsung selonong ke ruang foto, sekarang harus cuci tangan dulu di depannya. Biasanya kumpul-kumpul malam Deba sebelum hari pernikahan, pasti dilarang lah, karena saat ini pihak berwajib sangat ketat dan selalu membubarkan kerumunan. Di kompleks perumahan saya pernah itu anak-anak muda yang sedang berkumpul dibubarkan oleh polisi yang patroli. Lari tunggang-langgang lah mereka.

Kesimpulannya apa, Teh?

Baca Juga: Mengurai Makna Karantina Diri Sendiri dan Liburan

Kesimpulannya adalah: kalau ada yang bilang saat wabah Covid-19 urusan pernikahan lebih lancar, itu keliru. Saya tidak bilang salah loh ya, tapi keliru. Urusan tidak mendadak menjadi lebih lancar. Biaya tidak mendadak jauh jatuhnya. Biaya tetap ada dan perbedaannya hanya pada urusan pesta, mau pesta kecil atau pesta besar. Itu saja sih. Hehe.

Bagaimana menurut kalian?

#KamisLegit



Cheers.

Membikin Kebun Mini di Beranda Belakang Pohon Tua


Membikin Kebun Mini di Beranda Belakang Pohon Tua. Salah satu cara memutus rantai penyebaran Covid-19 bagi para pekerja kantoran adalah work from home. Sedapat mungkin pekerjaan dilakukan di rumah dan dari rumah. Namun, apabila terpaksa harus keluar rumah, maka harus dilakukan dengan mematuhi protokol perlindungan diri, yang dilakukan juga demi perlindungan orang lain, yaitu dengan memakai masker, menjaga jarak, dan tidak boleh menyentuh wajah sebelum mencuci tangan minimal dua puluh detik dan/atau membasuh tangan dengan hand sanitizer. Protokol perlindungan diri ini insha Allah selalu kami lakukan, termasuk untuk siapa saja yang masuk ke dalam Pohon Tua, rumah kami, mereka wajib membersihkan tangan dengan sabun atau hand sanitizer.


Kembali lagi pada work from home. Apakah asyik? Ya, asyik! Tidak perlu harus mandi terlebih dulu, bisa dilakukan dengan mengenakan pakaian rumah, dan seringnya dilakukan di kamar karena laptop (dan meja kerja) berada di kamar. Asyik lainnya adalah bisa mengisi waktu kosong karena durasi pekerjaan tidak memakan waktu sampai delapan jam sehari seperti kehadiran kita di kantor pada hari-hari normal. Waktu kosong itu saya manfaatkan dengan melakukan berbagai kegiatan. Salah satunya adalah berkebun (mini) di beranda belakang Pohon Tua. Kenapa saya sebut beranda, bukan halaman? Karena halaman Pohon Tua itu letaknya di samping-belakang, berdekatan dengan jalan, sedangkan bagian belakang Pohon Tua itu betul-betul seperti beranda di mana ada bekas dapur anak kos zaman dulu, bak penampung air, hingga tempat menjemur pakaian yang tanahnya dilapisi semen. Tanah yang tersisa hanya sekitar 1 x 1 meter saja (yang tidak dilapisi semen), serta di bagian pojok/sudut atas.


Berkebun bukan baru pertama kali ini saya lakukan. Dulu juga sudah saya lakukan dan telah membuahkan hasil yang dinikmati oleh banyak orang. Tanaman daun sop sudah dibagi-bagi kepada siapa pun yang memintanya, cabe sudah dinikmati hampir setiap hari, cocor bebek dan daun mengkudu diminta sama yang membutuhkan untuk obat, dan lidah buaya telah saya pergunakan untuk dikonsumsi sebagai penurun kadar gula dalam darah. Selain itu lidah buaya saya oleskan pada bekas-bekas luka yang menghitam. Haha. Gini hareeee masih ada bekas luka, main di parit lu, Teh? Sayangnya waktu itu tomat tidak bisa dinikmati karena hama dari Negara Api menyerang. Sayur sawi yang mulai mekar hancur ... entah akibat perbuatan siapa. Dududud.




Tahun 2020 saya kembali membakar semangat. Hahahaha.

Berawal dari suatu hari saat saya kembali menyalakan api asmara ingin bercengkerama dengan aneka tanaman. Maka saya mengisi lima polybag dengan tanah setelah meminta bibit tanaman pada Cahyadi. Tanahnya diambil dari samping-belakang Pohon Tua. Cahyadi datang membawa bibit-bibit untuk ditanam antara lain terong, cabe, dan sawi. Tetapi dua minggu berlalu, tidak ada satu pun tanda-tanda kehidupan dari polybag tersebut. Miris. Artinya tanah itu tidak mampu menopang pertumbuhan bibit. Apa yang tidak saya ketahui adalah bahwa pada hari itu juga, selain menanam bibit terong, cabe, dan sawi, diam-diam Cahyadi pergi ke beranda belakang Pohon Tua untuk menanam sorgum dan marungge (kelor) pada sekitar 1 x 1 meter tanah sisa itu. Inilah sumber segala sumber kegilaan saya ... kemudian. Sorgum dan marungge tumbuh menjulang tanpa kami sadari! Amboiiiiii.


Bibit terong, cabe, dan sawi itu memang tidak tumbuh. Tapi saya tidak menyerah. Saya harus bisa menumbuhkan tanaman di tahun ini! Tahun pandemi Covid-19! Melihat itu, Cahyadi (mungkin) merasa kasihan, maka dia membawakan saya tujuh polybag kecil anakan tanaman. Dua anakan terong, satu anakan cabe, dan empat anakan marungge. Duh, tujuh polybag itu saya sayang-sayang seperti pacar sendiri.

Bermodal tujuh polybag dan semangat yang menggila, saya mengajak Thika Pharmantara dan Melly untuk membenahi beranda belakang. Rak pot bunga berbahan kayu yang berada di teras Pohon Tua dipindah ke beranda belakang, berdekatan dengan bak air yang sudah tidak terpakai itu. Polybag sudah disiapkan. Tanahnya? Saya pun meminta tanah pada Abang Umar Hamdan, pentolannya Anak Cinta Lingkungan (ACIL). Dapat satu karung! Horeeee. Abang Umar sampai terkekeh mendengar permintaan tanah (subur). Orang lain minta tanah berhektar-hektar, saya minta tanah sekarung buat tanaman. Ya mau bagaimana lagi? Semangat ada, bibit ada, lahan tidak ada. Tapi selama masih ada polybag dan tanah, mari lanjutkan.


Cahyadi datang membawa tas berkebunnya yang berisi: aneka bibit dan dua sendok semen. Sore yang hangat itu kami menanam bibit terong, bibit cabe, bibit tomat. Ketiganya kami beli bibitnya di Toko Sabatani (yang murah, per bungkus hanya 2K saja). Lantas, Cahyadi menanam bawang putih di dua  polybag, dan bibit bengkoang di tanah sisa sebelah sudut atas. Kemudian, kami membeli lagi bibit sawi, kali ini yang dalam kemasan pabrik, agak mahalan sih harganya. Dan ... tentu saja kembali mendapat hibah sekarung tanah dari Abang Umar Hamdan. Mari, lanjut menanam.

Baca Juga: Membikin Sendiri Lilin Berbentuk Telur Untuk Paskah

Apa saja yang kami tanam? Bibit sawi, wortel, bawang merah, kentang, ubi tatas, hingga batang kangkung yang daunnya sudah dipakai memasak! Haha. Eits jangan salah ... tumbuh bagus loh kangkungnya. Saat saya menulis ini, bibit-bibit sudah tumbuh baik, dan saya sudah memindahkan terong pemberian Cahyadi ke wadah yang lebih besar karena si terong memang tumbuh besar!

 Terong dan cabe yang sudah dipindah ke polybag besar.

Terong dan cabe waktu masih di polybag kecil. 

Bengkoang yang mulai disentuh sinar matahari. 

Kangkungnya tumbuh, gengs. Padahal cuma dari batang sisa. 

Bibit sawi yang bermunculan ini bikin bahagia. 

Dan ini anakan terung dari bibit 2K, yang ternyata ... tumbuh.

Kalau yang dipanah itu, bawang putih.

Yang belum bisa saya foto karena memang belum nampak hasilnya. Hehe. Tapi, asli, saya bahagia melihat tanaman-tanaman ini tumbuh.

Berbekal pengalaman sebelum-sebelumnya, serta melihat cuaca (saat ini sering turun hujan), maka saya menerapkan pola yang berbeda untuk tanaman-tanaman yang masih mini ini. Setiap tanaman tentu membutuhkan sinar matahari untuk berfotosintesis dan membuat makanan. Tanpa cahaya matahari, susah sekali tanaman bisa tumbuh. Sinar buatan dari cahaya lampu tidak akan sama dengan sinar matahari yang alami dan gratis. Haha. Tanaman juga membutuhkan air, tetapi kalau kebanyakan air, bisa rusak pula tanaman itu. Apalagi yang basi baby begitu! Jadi, polanya adalah setiap pagi semua polybag akan dikeluarkan dari bagian beratap agar mereka terpapar sinar matahari. Kecuali kangkung yang memang kami biarkan saja di rak kayu butut itu. Setiap sore, semua polybag bakal kami simpan kembali ke bagian beratap untuk menghindari hujan di malam hari. Pola ini akan terus dilakukan sampai semua tanaman besar dan cukup kuat untuk menahan air hujan.

Capek donk? Memang! Tapi di dunia ini tidak ada pekerjaan yang tidak membikin capek. Dan percayalah, capek itu nantinya akan dibalas dengan hasil yang insha Allah baik.

Baca Juga: Tiga Desk Organizer Mini Ini Benar-Benar Menggemaskan

Gara-gara kebun mini di beranda belakang Pohon Tua saya jadi punya aktivitas yang betul-betul baru dan rutin. Setiap pagi, bergantian dengan Thika dan Melly, memindahkan polybag agar tanaman terpapar sinar matahari. Setiap dua jam sekali saya kembali ke sana untuk memercik semua polybag dengan air. Sore hari, setelah disiram air, semua polybag dimasukkan lagi ke bagian beranda yang beratap. Ini aktivitas rutin yang menyenangkan karena setiap pagi selalu ada kejutan baru dari setiap tanaman. Ada yang tumbuh besar, ada pula yang mengintip malu-malu dari tanah. Sebagai 'orangtua' tentu saya senang (bahagia lebih tepatnya) melihat pertumbuhan mereka.

Berikutnya kami akan coba menanam jahe, kunyit, dan kawan-kawan se-geng-nya.

Bagaimana dengan kalian, kawan? Di rumah saja jadi punya banyak waktu kan? Ayo berkebun. Jangan bilang kalian tidak punya lahan. Berkebun tidak selamanya harus punya lahan. Selama masih ada polybag/wadah dan tanah yang bisa diminta (tanah subur), tentu kita bisa berkebun mini. Kalau saya yang lebih suka nge-game ini bisa ... kalian juga bisa. Kebun mini mungkin tidak bisa menghidupi kita setiap hari, tetapi suatu saat dia pasti akan menjadi kebanggaan. Iya, bangga ... ketika sayur yang ada di piring itu berasal dari kebun mini sendiri.

Semoga bermanfaat!

#RabuDIY



Cheers.

Ternyata Ada Teknologi Self-Sanitizing Door Handle Loh

Credits: Yanko Design.

Ternyata Ada Teknologi Self-Sanitizing Door Handle Loh. Sampai kapan kita akan terus menulis dan/atau berbicara tentang virus Corona atau Covid-19? Sampai badai virus ini benar-benar berlalu. Atau, sampai telah ditemukan anti virusnya di mana anti virus itu mudah diperoleh masyarakat semudah memperoleh parasetamol. Kapankah badai virus ini berlalu? Itu yang tidak kita ketahui dan sulit untuk diprediksi karena tergantung pada kepatuhan masyarakat terhadap berbagai himbauan dari pemerintah. Himbauan yang dikeluarkan itu bukan untuk kepentingan pemerintah semata, tetapi juga untuk kepentingan masyarakat itu sendiri. Covid-19 tidak saja membikin pola hidup manusia berubah tetapi juga membikin manusia berinovasi.

Baca Juga: Pengalaman Menggunakan Camtasia Screen Recorder

Salah satu inovasinya bisa kalian baca pada pos berjudul Mengenal Masker Wajah Serbaguna Bernama AusAir. Salah dua inovasinya, mau saya bahas hari ini di #SelasaTekno.

Self-Sanitizing Door Handle


Seperti biasa, situs rujukan pos ini adalah Yanko Design. Seperti namanya, Self-Sanitizing Door Handle berarti pegangan pintu yang membersihkan (tangan yang memegangnya secara otomatis. Self-Sanitizing Door Handle didesain oleh Sum Ming Wong dan Kin Pong Li. Keduanya merupakan siswa di Hongkong. Mereka berdua selangkah lebih maju dalam hal mensterilkan tangan. Kalau kita masih memakai, bahkan masih berburu, hand sanitizer, maka mereka mendesain gagang pintu sanitizer. Gagang pintu dan/atau pegangan pintu itu menggunakan cahaya agar selalu disterilkan. Pada tahun 2020, ini diklasifikasikan sebagai objek pintar dan setara dengan seseorang yang mengetahui pentingnya mencuci tangan.

Para siswa terinspirasi oleh wabah SARS pada tahun 2000-an dan membayangkan bahwa pegangan pintu self-sanitizing lebih efektif daripada proses pembersihan berbasis bahan kimia yang kita gunakan saat ini. Pegangan terbuat dari tabung kaca dengan tutup aluminium di setiap ujung dan seluruh pegangan ditutupi dengan lapisan fotokatalitik bubuk yang terbuat dari mineral yang disebut titanium dioksida. Bakteri terurai melalui reaksi kimia yang diaktifkan oleh sinar UV yang bereaksi dengan lapisan tipis pada tabung gelas. Didukung oleh generator internal, pegangan mengubah energi kinetik dari gerakan pembukaan / penutupan pintu menjadi energi cahaya dan begitulah cara lampu UV selalu melakukan tugasnya. Produk pembunuh kuman ini benar-benar menghancurkan 99,8% mikroba selama tes laboratorium dan itu lebih dari apa yang dilakukan Thanos dengan batu infinity-nya.

CreditsYanko Design.

Selain menjadi pahlawan pegangan, Self-Sanitizing Door Handle memiliki estetika visual modern dan bentuk yang ramping. Lampu latar hampir membuatnya tampak seperti lampu lava! Bayangkan jika menyala hijau atau merah untuk menunjukkan apakah pegangannya aman untuk disentuh atau tidak. Para siswa dipengaruhi oleh jumlah orang yang terinfeksi dan dibunuh selama SARS dan ingin melakukan sesuatu untuk mengubah gambaran kesehatan masyarakat melalui desain inovatif. Mengingat bahwa pegangan pintu publik adalah titik panas bagi bakteri, ini bisa menjadi awal dalam membuat infrastruktur yang lebih aman untuk dunia yang lebih siap untuk menangani pandemi.

Self-Sanitizing Door Handle adalah salah satu entri pemenang untuk James Dyson Awards 2019.

Apakah Kita Membutuhkannya?


Jelas! Semua umat manusia membutuhkannya. Dengan Self-Sanitizing Door Handle ini maka setiap orang tidak perlu mencuci tangan setiap hendak memasuki rumah dan/atau ruangan karena otomatis tangan sudah dibersihkan saat memegang gagang pintu. Penggunaan hand sanitizer pun bisa ditekan. Tetapi skala prioritas belum mengijinkan kita memperolehnya. Karena, skala prioritas saat ini tentulah bagaimana tim medis di seluruh dunia, terkhusus di Indonesia, bisa memperoleh Alat Pelindung Diri (APD) atau Personal Protective Equipment. Agar mereka tidak perlu terlalu was-was setiap menangani pasien Covid-19. Berikutnya, bisa ditemukan anti virusnya atau obat yang betul-betul ampuh. Berikutnya, masyarakat terdampak Covid-19 dapat terbantu. Ya, sebagian masyarakat Indonesia harus betul-betul dibantu perekonomiannya. Tidak perlu banyak, tetapi mencukupi dan/atau bersifat menambah.


Baca Juga: Puasnya Melihat Hasil Foto dan Video Kamera Realme 5i

Bagaimana menurut kalian, kawan? Bagus kan Self-Sanitizing Door Handle ini? Karena sangat membantu aktivitas kita sehari-hari apalagi bagi siapa pun yang lupa mencuci tangan. Saya tidak berharap Self-Sanitizing Door Handle terpasang di Pohon Tua, toh pintu Pohon Tua rata-rata memakai gerendel karena menghindari pergeseran daun pintu saat gempa. Zadul kan? Hahaha. Tapi yang jelas, dalam kondisi terdesak, wabah (SARS, Covid-19) dapat menjadi daya dorong bagi manusia untuk berinovasi, dan mengubah pola hidup.

Semoga bermanfaat!

#SelasaTekno.



Cheers.

Belajar Blog Sambil Donasi di Kelas Blogging Online


Belajar Blog Sambil Donasi di Kelas Blogging Online. Hola! Minggu kemarin merupakan minggu paling tidak produktif. Tapi bohong. Hehe. Tidak produktif di blog, tapi sangat produktif di belakang rumah, bercengkerama dengan tanah, polybag, bibit, tunas, dan anakan. Pagi ini, saya sangat gembira melihat bibit sawi yang bertumbuh, mengintip dari celah tanah, mencari sesuatu yang disebut sinar (matahari). Horeee! Kekuatiran saya, bahwa mereka bakal gagal tumbuh, pun sirna. Saya pernah menanam bibit sawi, pernah melihatnya bertumbuh hingga remaja, kemudian dihancurkan oleh ... entah ... manusia atau ayam. Jahat. Kali ini tidak boleh terjadi lagi pengrusakan itu, Ferguso! Haha. Oalah ... intro-nya kepanjangan. Mari lanjut dengan Kelas Blogging Online.

Baca Juga: Mengenang Pak De yang Humoris, Murah Hati, dan Merakyat

Tahun 2018 saya bersama Om Bisot dan Kanaz membuka kelas blogging. Cerita tentang kelas blogging tersebut bisa kalian baca pada pos berjudul: 5 Alasan Membuka Kelas Blogging NTT, Angkatan II Kelas Blogging NTT, 5 Kelas Blogging, 5 Peserta Favorit Kelas Blogging#PDL BAT Dan Kelas-Kelas Blogging Yang Mereka Bangun. Alasan membangun kelas blogging adalah agar teman-teman di luar sana yang belum punya blog bisa belajar membikin dan membangun blog, serta teman-teman yang sudah punya blog bisa belajar mengelola blog dengan baik. Kami bertiga murni hanya ingin berbagi informasi dan sedikit pengetahuan. Tidak sepeser pun bayaran dipungut. Iya, berdasarkan kesenangan saja. Kelas blogging tersebut berjalan di WhatsApp Group (WAG).

Tahun 2020, kami kembali membuka kelas blogging, tapi agak berbeda.


Berbeda apanya sih?

Pertama: Kami bekerja sama dengan Sekolah Relawan.
Kedua: Kali ini berbayar!


Setiap orang yang ingin menjadi peserta Kelas Blogging Online 2020, wajib membayar biaya pendaftaran sejumlah Rp 100.000. Biaya pendaftaran langsung dikirimkan pada rekening Sekolah Relawan, lantas mengirimkan bukti transfer pada nomor WA Kanaz, dan nanti akan di-add pada WAG Kelas Blogging Online 2020.


Biaya pendaftaran yang dikirimkan pada rekening Sekolah Relawan tersebut akan dimanfaatkan untuk membantu masyarakat terdampak Covid-19. Makanya kami menulis Belajar Blog Sambil Donasi. Kapan lagi? Ya sekarang lah.

Waktu (kembali) diajak Kanaz untuk membuka kelas blogging saya langsung semangat. Karena, setiap orang punya caranya masing-masing untuk membantu. Apalagi saat kondisi seperti sekarang di mana virus Corona a.k.a. Covid-19 merajai dunia. Kami yang work from home, tentu sangat senang bisa melakukan ini, di sela-sela pekerjaan yang juga tak kalah banyak. Ini ibarat oase di padang pasir. Kerinduan untuk bercengkerama dengan lebih banyak orang (baru) meskipun hanya melalui WAG. Doakan semoga banyak pesertanya. Karena, semakin banyak peserta, semakin banyak masyarakat terdampak Covid-19 yang bisa terbantu.

Insha Allah.

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

5 Cara Sederhana (Saya) Melindungi Diri Dari Virus Corona

Credits: Canva.

5 Cara Sederhana (Saya) Melindungi Diri Dari Virus Corona. Sekitar satu atau dua bulan lalu saya tidak pernah berpikir virus Corona akan touch down di Kabupaten Ende. Maklum, menurut saya pribadi, apa-apa yang terjadi di Ibu Kota Indonesia belum tentu dapat terjadi di Kabupaten Ende yang jaraknya jauh dari pusat kehidupan negara itu. Bahkan ketika Pulau Bali mulai dikabarkan terkena imbas dari virus Corona, saya masih melenggang santai. Kabar sejumlah lokasi di beberapa kota mulai di-lockdown dan himbauan social distancing pun belum membikin saya berjaga-jaga. Sampai kemudian kabar virus Corona touch down di Kabupaten Ende, otak saya mulai bekerja keras. From Wuhan to Ende in, about, two months! Oke, ini bikin ketar-ketir tapi tidak boleh panik, apalagi sepanik orang-orang pada berita-berita yang memburu masker dan hand sanitizer.

Baca Juga: 5 Buku Self Improvement yang Wajib Kalian Baca

Pemerintah Kabupaten Ende mengeluarkan surat edaran. Rektor Uniflor pun kemudian mengeluarkan surat edaran. Mahasiswa Uniflor dirumahkan. Dosen dan karyawan Uniflor pun dirumahkan. Dan kami dihimbau untuk menaati semua yang telah diatur oleh pemerintah. Jadi, saya sendiri juga mulai menerapkan aturan ini itu baik untuk diri sendiri maupun untuk penghuni Pohon Tua (rumah kami) untuk melindungi diri. Tentu yang saya lakukan ini berdasar pada aturan dan/atau himbauan dan/atau perintah dari pemerintah.

1. Stay at Home


Stay at home atau di rumah saja menghasilkan hashtag #DiRumahSaja. Study from home yang dilakukan melalui e-learning diberlakukan pada semua peserta didik semua jenjang pendidikan di Indonesia. Ada banyak aplikasi yang bisa digunakan untuk memfasilitasi kegiatan tersebut. Tetapi, bagaimana dengan murid-murid SD dan SMP di desa-desa terpencil? Jangankan telepon genggam, ke sekolah saja ada yang memakai sandal atau bahkan tidak memakai alas kaki. Bukan tugas saya untuk memikirkannya, tetapi mau tidak mau saya memikirkannya juga. Belajar dari rumah jelas berbeda dengan belajar di rumah. Semoga guru-guru di desa-desa terpencil punya solusi untuk mengatasi hal ini. Atau, jika kalian tahu satu dua informasi tentang hal ini, silahkan komen di bawah.

Credits: Canva.

Work from home juga mudah dilakukan oleh para pekerja di kota, terutama kota besar. Internet menjadi solusi untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan dan/atau berkomunikasi dengan sesama rekan kerja dan atasan terkait tupoksi yang masih bisa dikerjakan dari rumah. Tetapi, bagaimana dengan mereka-mereka yang pekerjaannya harus di luar rumah? Petani, pedagang di pasar, pedagang keliling, dan lain sebagainya. Kemarin, Thika Pharmantara membeli bahan makanan mentah pada pedagang keliling. Saya syok. Syok karena kuatir dia keluar rumah dan berinteraksi dengan pedagang yang berkeliling Kota Ende dengan sepeda motornya itu. Syok karena bagaimana jika bahan makanan itu sudah terpapar virus Corona? Bagaimana jika Thika tidak memakai masker saat membelinya? Bagaimana jika Thika lupa mencuci tangan lantas memegang mata, hidung, dan mulut?

Oh la la ... Tapi, kami butuh makan (lauk, pauk), dan si pedagang juga butuh mencari nafkah untuk makan anak isterinya. Sungguh ini dilema.

Seperti masih belum cukup, sepagi tadi Thika dan Melly menggedor pintu kamar saya untuk bertanya: Encim mau pentol goreng? Hah!? Mau donk! Setelah menghabiskan sepiring pentol goreng, masih di tempat tidur, baru saya sadar soal ... bagaimana jika pentol gorengnya sudah terpapar virus Corona? Ha ha ha. Koplaaaaak.

Di luar dari dua kejadian di atas, yang jelas kami lebih sering menghabiskan waktu di rumah. Stay at home. Iya. 90% kegiatan kami semenjak dikeluarkan surat edaran dilakukan di dan/atau dari rumah. Serta, kami selalu menjaga jarak, karena Pohon Tua cukup luas untuk kami melakukan itu. Satu duduk di sana, satu duduk di sini, satu nangkring di atap, kami masih bisa saling berkomunikasi dan berinteraksi dengan sangat baik. 

Ingat, stay at home!

2. Social Distancing


Stay at home merujuk pada social distancing alias menjaga jarak. Tapi social distancing tidak sama dengan stay at home. Apabila saya terpaksa harus keluar rumah, maka saya harus bisa menjaga jarak setidaknya satu meter dari lawan bicara.

Credits: Canva.

Memang betul, salah satu cara menjaga jarak adalah dengan di rumah saja. Tetapi, seperti yang saya tulis di atas, bagaimana dengan mereka-mereka yang pekerjaannya harus dilakukan di luar rumah? Bagaimana dengan Thika dan Melly yang harus pergi ke mini market, pasar tradisional, atau membeli bahan makanan pada pedagang makanan keliling? Bagaimana dengan para wartawan yang harus mencari berita untuk kita? Harus menjaga jarak. Selain menjaga jarak, tentu harus memakai masker dan wajib mencuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer.

3. Mencuci Tangan


Saya sudah pernah menulis bahwa mencuci tangan merupakan kebiasaan sehari-hari yang kemudian menjadi kebiasaan 'baru'. Kebiasaan yang paling sering bergema di rumah kami. Tidak peduli siapa pun yang masuk ke rumah, orang itu harus mencuci tangan. Bagi penghuni dan/atau orang-orang yang biasa berada di Pohon Tua, setiap kali masuk rumah mereka meluncur ke kamar mandi untuk mencuci tangan. Bagi tamu, mau tidak mau kami menyodorkan hand sanitizer.

Credits: Canva.

Si bocah, Yoan, awalnya bandel banget kalau disuruh mencuci tangan, padahal dia itu paling sering masuk-keluar Pohon Tua. Entah pergi ke rumahnya sendiri, entah pergi main, entah dari mana dia. Setelah diberi pengarahan, setelah terus diomeli oleh orang se-Pohon Tua, Yona patuh. Pada akhirnya setiap kali dia masuk rumah, tanpa banyak cing-cong si bocah meluncur ke kamar mandi, mencuci tangan menggunakan sabun. Sama juga dengan saya. Setiap beberapa jam sekali, meskipun di rumah saja, tetap pergi ke kamar mandi untuk mencuci tangan, kemudian membasuh wajah.

4. Memakai Masker dan Kaca Mata


Konon masker menjadi langka. Sama halnya dengan hand sanitizer. Beruntungnya saya punya banyak selendang mini yang sering dijadikan masker dan/atau alas jilbab. Hahaha. Dan si Thika, entah bagaimana caranya, masih bisa membeli masker kain yang bisa dicuci.

Credits: Canva.

Thika dan Melly, setiap kali keluar rumah, selalu memakai kaca mata dan masker. Fungsinya adalah agar mereka punya sekian detik kesadaran untuk menyentuh mata, hidung dan mulut secara langsung dengan tangan saat sedang berada di luar rumah dan/atau saat belum mencuci tangan ketika pulang ke Pohon Tua. Dan kepada mereka berdua saya sering mengingatkan: apa pun yang terjadi, jangan menyentuh mata, hidung, dan mulut sebelum mencuci tangan, terutama jika kalian di luar rumah.

5. Membersihkan Pohon Tua


Jalur-jalur utama orang lalu-lalang di Pohon Tua menjadi perhatian khusus. Mama Sia bertugas untuk lebih rajin mengepel jalur-jalur tersebut, hahaha. Kalau sebelumnya sering banget bilang ke Mama Sia: sudah eeee Mama Sia tir usah terlalu rajin ngepel, ini rumah orang masuk keluar tiap hari. Tapi sekarang: Mama Sia eee jangan lupa ngepel.

Credits: Canva.

Kenapa begitu sih, Teh? Karena pengen saja melakukannya. Karena saya ingin setiap orang di dalam Pohon Tua punya kesadaran akan bahayanya virus Corona, betapa cepat penyebarannya, dan betapa sangat menyusahkannya ketika terpapar.


Keberadaan virus Corona mau tidak mau membikin manusia harus lebih aktif melindungi dirinya sendiri dengan cara-cara yang dianjurkan oleh pemerintah dan/atau WHO. Saya sampai berpikir bagaimana jika virus Corona adalah obat yang diminum Bumi untuk melawan virus keji dan paling bandel bernama Manusia? Haha. Setidaknya virus Corona membikin manusia yang bandel jadi lebih taat. 

Baca Juga: 5 Alasan Saya Menyebut Nuabosi Adalah Tanah Surga

Menulis ini bukan berarti saya sudah pasti kebal dari virus Corona karena kita tidak pernah tahu apa yang menunggu di depan sana. Tetapi sebagai manusia, layaklah saya berbagi pengalaman berdasarkan apa yang diperintahkan oleh pemerintah dan pengalaman di dalam Pohon Tua kepada kalian, bos-bos pembaca blog ini. Hehe. Sebagai manusia, Tuhan sudah melindungi kita dengan akal. Akal itu yang harus dimanfaatkan dalam situasi seperti sekarang ini, salah satunya adalah dengan menaati semua peraturan pemerintah, serta semua peraturan dari pimpinan/pemuka agama. Jadi, jangan pernah beralasan, ini kan kegiatan agama, Tuhan pasti melindungi kita. Iya, Tuhan melindungi kita dengan memberikan akal untuk berpikir dan mencerna, gunakanlah akal itu. Tetap berdo'a pada Tuhan, jelas! Tapi kalau dilarang berkumpul, patuhilah.

Credits: Canva.

See? Sederhana bukan melindungi diri dari virus Corona? Yang penting adalah bagaimana cara kita mengaplikasikan semua perintah/aturan pemerintah untuk kita dalam mengatasi/melindungi diri dari virus Corona. Dan, semua itu harus diimbangi dengan do'a kepada Tuhan.Di dunia ini, ikhtiar harus diimbangi dengan do'a. Kalau kita hanya melakukan salah satunya saja tanpa diimbangi dengan yang lain, entah mau jadi apa. Hehe.

Semoga bermanfaat!

#KamisLima



Cheers.

Mengurai Makna Karantina Diri Sendiri dan Liburan


Mengurai Makna Karantina Diri Sendiri dan Liburan. Virus Corona menjadi kosakata baru yang karib di kuping masyarakat global. Bermula pada 31 Desember 2019 di mana Cina menyampaikan kepada World Health Organization (WHO) tentang beberapa kasus pneumonia yang tidak biasa di Wuhan. Wuhan sendiri merupakan kota pelabuhan di Provinsi Hubei Tengah dengan jumlah penduduk 11 Juta orang. Virus itu dikatakan tidak diketahui. Seperti yang dilansir oleh Aljazeera, beberapa orang yang terinfeksi bekerja di Pasar Grosir Makanan Laut Huanan di kota itu, yang ditutup pada 1 Januari 2020. Ketika para ahli kesehatan bekerja untuk mengidentifikasi virus di tengah meningkatnya kekhawatiran atas fenomena ini, jumlah infeksi melebihi empat puluh. FYI, pneumonia adalah kondisi di mana seseorang mengalami infeksi yang terjadi pada kantung-kantung udara dalam paru-paru orang tersebut.

Baca Juga: 5 Buku Self Improvement yang Wajib Kalian Baca

Timeline lengkap tentang virus Corona dapat kalian baca pada situs Aljazeera di atas. Yang jelas WHO secara resmi menamai penyakit akibat virus Corona dengan nama Covid-19. Virus itu mematikan karena sejauh ini telah memakan korban sekitar 5.700 orang dan menginfeksi lebih dari 152.000 orang di seluruh dunia, sebagian besar di Cina. Virus ini pun 'bertamu' ke Indonesia dan menindih tumpukan permasalahan yang dihadapi Indonesia terutama permasalahan interen yang tidak ada habis-habisnya karena politik. Menimbulkan kepanikan massal sih mungkin belum, karena sejauh yang saya amati masyarakat Kota Ende masih baik-baik saja, belum sampai pada tahap memburu masker dan hand sanitizer. Anyhoo, meskipun tidak memburu masker dan hand sanitizer namun saya sendiri memang sudah menyiapkan hand sanitizer dan senantiasa mencuci tangan.

Apa anjuran pemerintah kepada masyarakat Indonesia menyikapi permasalahan ini? Tentu masyarakat diharapkan untuk melakukan social distancing. Artinya, masyarakat diharapkan untuk mengurangi jumlah aktivitas di luar rumah, serta mengurangi interaksi dengan orang lain, karena disinyalir hal itu dianggap dapat mengurangi kontak tatap muka langsung. Karena kita tidak tahu apakah lawan bicara; teman, tetangga, tamu, terinfeksi virus Corona atau tidak. Secara, gejala seseorang terinfeksi virus Corona hampir sama dengan gejala flu/influenza. Membaca artikel tentang ini, saya berpikir tentang betapa senangnya orang-orang yang anti-social. Tanpa dihimbau pun mereka sudah melakukannya. Males ah gaul sama keleeen. Berikutnya, bagi yang keluar rumah dan kembali ke rumah wajib mencuci tangan. Membaca artikel tentang ini, saya jadi ingat bahwa banyak orang yang langsung mandi setelah pulang/tiba di rumah. Tanpa dihimbau pun aslinya mereka sudah rajin mandi, sekaligus cuci tangan.

Tidak hanya social distancing. Kita juga mendengar istilah lockdown. Social distancing dilakukan oleh masyarakat atas kesadarannya sendiri, sedangkan lockdown merupakan upaya/tindakan pemerintah untuk menutup dan/atau menonaktifkan secara paksa sejumlah lokasi. Lockdown tidak saja tindakan menutup paksa sejumlah lokasi agar tidak dikunjungi masyarakat, tetapi juga lockdown suatu negara agar tidak terjadi masuk-keluar-nya orang yang diduga membawa virus Corona. Bahkan saya mendengar kabar ASN di Provinsi NTT untuk sementara dilarang masuk-keluar provinsi. Kalau kalian punya informasi lebih lengkap tentang larangan ini, mohon koreksi dan komen di bawah.

Di kota besar seperti Jakarta, lockdown telah dilakukan, dan himbauan social distancing pun sudah mendahului lockdown tersebut. Namun yang terjadi, masyarakat justru berbondong-bondong pergi liburan karena tempat kerjanya dan/atau kampusnya di-lockdown. Padahal kita tahu bahwa lockdown tidak berfungsi apa-apa jika masyarakatnya masih beraktivitas dan/atau bersosial seperti sediakala. Oleh karena itu, jari-jari saya menjadi gatal untuk menulis pos yang satu ini. Hehe. 

Berita yang dilansir CNN mengatakan bahwa Tom Hanks dan isterinya yaitu Rita Wilson mengkarantina diri sendiri setelah keluar dari rumah sakit di Queensland, Australia, setelah menjalani isolasi selama lima hari karena positif virus Corona. Artinya ada kesadaran dari aktor senior tersebut. Kesadaran untuk mengkarantina diri sendiri. Mengkarantina diri sendiri berarti kita sendiri yang sadar dan melakukannya dengan cara lebih sering berada di dalam rumah, social distancing, menghindari keramaian, serta tidak melakukan kontak langsung dengan orang lain. Hal itu lebih mudah dilakukan terutama oleh orang-orang yang secara resmi tempat kerjanya dan/atau sekolah dan/atau kampusnya telah di-lockdown oleh pemerintah. Libur tambahan? Ya. Libur tambahan yang diwarnai perasaan was-was.

Coba kalian bayangkan apabila social distancing harus dilakukan sementara kantor dan/atau kampus tidak di-lockdown. Sulit tentu melakukannya. Itu ibarat dipaksa kawin tapi pasangannya belum disediakan oleh semesta. Eh? Haha. Ooops.

Tetapi makna social distancing apalagi lockdown kemudian disamaratakan dengan liburan. Bukannya mengkarantina diri sendiri, libur karena lockdown justru dimanfaatkan untuk the real liburan. I mean, orang-orang malah pergi berlibur ke lokasi wisata secara bersama-sama alias berbondong-bondong. Pertama, perbuatan itu menghasilkan premis logika:

a. Kantor diliburkan karena virus Corona.
b. Kampus diliburkan karena virus Corona.
c. Semua orang libur karena virus Corona.
d. Jadi, mari kita liburan ke tempat wisata.

Karena di tempat wisata tidak ada virus Corona(?).

Ke-dua, perbuatan itu jelas telah menyalahi aturan social distancing. Ke-tiga, dengan demikian orang-orang itu tidak akan pernah tahu dua dari lima ratus orang mungkin sudah terinfeksi virus Corona. Ke-empat, bikin macet dan menjadi bahan omongan. Ke-lima, seandainya terinfeksi, bakal menambah beban tugas para tenaga medis. Padahal, mencegah jauh lebih baik dari mengobati.

Baca Juga: Gitaran? Saya Selalu Memainkan Lima Lagu Favorit Ini

Makna mengkarantina diri sendiri jelas beda dengan liburan. Mengkarantina diri sendiri bisa sama dengan liburan, tapi liburan tidak sama dengan mengkarantina diri sendiri. Mengkarantina diri sendiri, di dalam rumah misalnya, dilakukan karena kantor dan/atau kampus di-lockdown pemerintah, artinya jelas libur dari segala aktivitas utama/harian. Sedangkan liburan tidak sama dengan mengkarantina diri sendiri karena liburan dilakukan bisa di rumah saja, bisa pergi ke tempat wisata, bisa ke restoran dan museum bersama keluarga. Dan pada tahun 2020, ada banyak libur panjang yang menanti. Haha haha haha. Jangan terlalu serius membaca, gengs.

Bagi kita yang ada di Kota Ende, apa yang harus dilakukan?

1. Selalu memakai masker apabila ke luar rumah.
2. Hindari keramaian.
3. Hindari kontak fisik dengan orang lain.
4. Rajin mencuci tangan.
5. Pulang ke rumah sekalian mandi lah.

Semoga pos ini bermanfaat!

#KamisLegit



Cheers.