#PDL Piknik Setiap Minggu



#PDL adalah Pernah DiLakukan. Pos #PDL merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

***

Tahun 2013 merupakan tahun tersibuk bagi saya karena setiap hari Minggu saya harus, wajib, pergi piknik. Lokasi piknik adalah desa-desa yang berada di Kecamatan Maurole tempat tenda-tenda pengungsi berdiri. Mereka adalah pengungsi dari Pulau Palu'e, sebuah pulau sekaligus gunung berapi aktif bernama Rokatenda. Meskipun secara administratif Pulau Palu'e merupakan bagian dari Kabupaten Sikka namun letak geografisnya lebih dekat dengan Kabupaten Ende; tepat di depan pantai Kecamatan Maurole.

Baca Juga: #PDL Sheena dan Bananaque

Menggalang bantuan dan mengantarkannya langsung ke lokasi pengungsian memang bukan perkara mudah namun semua dilakoni dengan riang-gembira bersama Flobamora Community (Komunitas Blogger NTT). Setiap Minggu pagi membelah jalanan trans-Flores ke arah Timur lalu ke Utara, pergi-pulang sejumlah 180 sampai 200-an kilometer (terutaman ketika kami menemukan desa terjauh yaitu Desa Aewora), kehujanan sepanjang jalan, menabrak-melindas ular yang menyeberang, hingga malam-malam pukul 22.00 Wita baru kembali dari Kecamatan Maurole dengan kondisi jalan luar biasa horor, karena harus selesaikan pendataan pengungsi tambahan, semua merupakan berkah ... bagi saya. Setidaknya saya tidak nganga di depan laptop hanya bermain game saja atau ketiduran di depan televisi (waktu itu masih nonton televisi) haha.

Rasti adalah anak pengungsi favorit saya. Pertama kali bertemu kondisinya kayak baru keluar dari lumpur. Saya bilang pada Rasti dan anak-anak pengungsi lain yang ada di Desa Aewora itu: Minggu depan Ibu datang, sudah harus mandi bersih, sudah pulang dari Gereja ya! Berikut-berikutnya setiap Minggu dia sudah mandi bersih dan menunggu kami datang ... ada sekotak Ultramilk yang diharapkannya. Busyeeettt ingat masa itu jadi berkaca-kaca mata saya hahaha. Lebih sedih lagi ketika suatu kali datang SMS ke telepon genggam jadul saya dengan isi: IBU, KAMI BERAS HABIS.


Sumpah, menulis ini saya jadi kangen sama Rasti! Sudah hampir lima tahun, apa kabarnya dia ya sekarang. Jadi pengen pergi ke sana lagi, dari desa ke desa ...


Saya dan komunitas kami berhenti pergi ke Kecamatan Maurole setelah semua dana bantuan diserahkan. Setiap hari Minggu kami menyewa satu pick up untuk mengangkut paket-paket sembako dan kebutuhan wanita yang sudah di-packing dalam kresek sejumlah kepala keluarga yang terdata dengan sangat lengkap.

Jadi, kalau mau dirunut, pertama kali terjadi letusan Gunung Rokatenda itu, kami hanya mengumpulkan dana sejumlah Rp 1.750.000 saja. Kami belikan apa saja yang sekiranya dibutuhkan terutama sembako. Setelah itu, pergerakan ini meluas menjadi #1MugBerasUntukRokatenda. Ini gagasan saya gara-gara kesal melihat orang beraksi seribu lilin (di Monas) untuk korban anak NTT yang tewas dalam suatu peristiwa di Jogjakarta. Bukannya saya tidak peduli pada nyawa manusia, tapi yang sudah meninggal alangkah baiknya didoakan, yang masih hidup alangkah baiknya diperhatikan kebutuhannya bukan? Sambil tiduran siang saya tidak menyangkan hashtag itu kemudian viral se-Indonesia bahkan hingga ke mahasiswa asal NTT di Australia yang mengumpulkan bantuan hingga 60juta.

Berikutnya, hanya melalui media sosial saja bantuan yang terkumpul mencapai ratusan juta. Kami memutuskan untuk tidak memberikan sumbangan berupa uang, melainkan kebutuhan dasar dan kebutuhan lanjutan dari para pengungsi. Cara pertama adalah mendata setiap desa ada berapa kepala keluarga, berapa perempuan, berapa anak-anak, dan berapa manula. Setelah itu setiap malam minggu kami bergelut dengan beras, minyak, gula, sampai keperluan kebersihan dan pembalut! Rumah saya jadi beraroma deterjen. Hahhaha. Sumpah! Setiap dos sudah berisi tas kresek yang berisi beras sejumlah kepala keluarga, di luar dos ditulis Desa Niranusa sampai Desa Aewora.

Baca Juga: #PDL Menjadi Hakim Anggota

Selain itu, kami juga menyumbang kebutuhan lain seperti:

1. Benang bakal tenun ikat.
2. Bibit sayur dan cabe.
3. Bahan membuat pukat (untuk melaut).
4. Pakaian (bekas).
5. Kompor, penggorengan, panci, tikar, hingga ceret dan selimut.

Dan tentu saja, untuk stress healing kami punya Oskar Kappa yang adalah pengasuh Sekami Gereja Kathedral Ende, yang punya segala cara untuk menghibur anak-anak pengungsi dengan beragam permainan edukatif. Jadwal saya berubah hampir selama setahun: setiap Jum'at atau Sabtu pagi ke toko grosir milik sahabat saya Peny Kamadjaja untuk membeli semua kebutuhan, dan setiap malam Minggu bergulat dengan pengepakan.


Masih banyak kisah tentang para pengungsi yang ingin saya ceritakan tetapi tentu tidak cukup satu pos saja. Saya sedih, kawan. Sangat sedih. Sampai kemudian kisah ini diterima sebagai salah satu kisah inspiratif untuk Linamassa 3, saya tahu bahwa kita semua dapat melakukan perubahan yang baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Tidak perlu harus menadah tangan ke pemerintah, tapi secara mandiri melalui sebuah komunitas blogger pun bisa. Kami bisa, kenapa kalian tidak bisa? Harus bisa juga dooonk *ditimpuk*. Tapi setiap orang pasti punya caranya masing-masing. Komunitas kami selalu punya slogan: lewat langkah kecil yang kita bisa lakukan.

Yang paling tidak terlupakan sampai menulis ini pun saya menangis (hari itu pun demikian sepanjang jalan saya menangis) adalah setiap kali selesai membagikan bantuan dan kami hendak pamit, mereka menatap kami terharu dan berkata: Semoga Tuhan selalu melimpahkan kebaikan untuk kalian semua, selalu hati-hati di jalan karena perjalanannya jauh, semoga kita bisa ketemu lagi. Saya dan salah seorang anggota Komunitas Blogger NTT yang saya bonceng waktu itu menangis sepanjang jalan sampai kami tiba di sebuah rumah makan langganan untuk mengisi perut yang keroncongan.

Oia, selain mengantar bantuan, kami juga mendekati SMA di Kecamatan Maurole untuk seminar tentang blog dan internet.


Pernah, saya pernah melakukannya, piknik setiap hari Minggu di lokasi pengungsian, menanti segelas kopi yang ditawarkan oleh Mama Muna si koordinator pengungsi, dan menolak ikan dari pengungsi karena mereka lebih membutuhkan.

Baca Juga: #PDL Menulis Tentang Toleransi

Akan ke sana lagi ... apa kabar Rasti?



Cheers.

Natal Bersama di Uniflor


Seperti yang sudah pernah saya tulis bahwa setiap kali kembali dari liburan hari raya baik Idul Fitri maupun Natal, Uniflor punya kebiasaan unik. The one and only. Alias hanya terjadi di Uniflor. Kebiasaan apakah itu? 

Baca Juga: Sarasehan di SMPN Satap Koawena

Setiap kali kembali dari liburan, setiap karyawan wajib membawa sekotak kudapan khas hari raya. Karena kita baru saja selesai merayakan Hari Raya Natal maka teman-teman yang beragama Katollik dan Protestan wajib membawa sekotak kudapan. Sekotak atau sestoples bukan berarti benar-benar sekotak, karena ada teman yang membawa lebih dari sekotak. Jadinya ... berlimpah cake dan kukis! Yipieeee. Ini namanya pesta kue hahaha.

Natal bersama tahun-tahun sebelumnya, dilaksanakan di Lapangan Futsal Kampus III.

Kemarin Kamis, 4 Januari 2019, Natal Bersama dimulai dengan upacara di Auditorium H. J. Gadi Djou. Upacara sambil menghirup aroma kue ... mana tahan. Mari yuk foto-foto dulu sama Bapak-Bapak Satpam yang senantiasa menjaga keamanan kampus I, II, dan III, di Uniflor.


Upacara dipimpin oleh Bunda Emmy Sero dengan pembina Bapak Lori Gadi Djou. Dihadiri pula oleh jajaran Rektor, Dekan, serta kepala Lembaga/UPT se-lingkup Uniflor.


Usai upacara, saatnya menikmati kudapan yang sudah disediakan. Sayang, saya telat memotret aneka kudapan dan minuman di atas meja hahaha. Tak apalah ya, yang jelas bisa merampok kue-kue ini buat dibawa pulang *wajah tak berdosa*. Sebenarnya bukan merampok. Ini dibawakan sama Mami Yulita Londa (Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum), tetapi karena beliau datangnya terlambat dan acara menuju usai, jadi kantong kreseknya diserahkan ke saya sebagai pegawai paling baik.


Dilanjutkan dengan hang out sambil errr menunggu waktunya cabut pulang ke rumah haha.



Natal Bersama, maupun Idul Fitri Bersama (Halalbi Halal), di Uniflor merupakan wujud dari nilai kekeluargaan dan kekompakan yang tinggi di universitas pertama di Pulau Flores ini. Kami diajarkan bahwa keluarga bukan saja berasal dari garis darah, bukan saja tetangga yang disebut sebagai keluarga terdekat. Teman kantor termasuk Dosen, Bapak-Bapak Satpam, para Penjaga Malam, bahkan tetangga sekitaran kampus, merupakan suatu komunitas yang wajib dijaga dan dipelihara. Tidak memandang pangkat, agama, golongan, suku, kebersamaan ini wajib dipertahankan sebagai ciri khas Uniflor pada khususnya dan Orang NTT pada umumnya.

Baca Juga: Studio JP Photography

Saya sering berpikir begini, kawan:

Jika kita tidak bisa hidup bertetangga dan bertoleransi, lebih baik enyah saja, toh artinya tidak bisa pula hidup berdampingan dengan alam raya yang notabene berbeda pula dari kita (udara, tumbuhan, binatang). Bukankah perbedaan yang membuat kita kaya? Urusan iman, biar menjadi urusan pribadi (individu) dengan Tuhannya masing-masing. Urusan iman bukanlah gosip artis yang musti diumbar-umbar di media mana pun. 

Terakhir, salam ... dari saya perampok cake dan kukis. Hahaha. 



Cheers.

#EndeBisa Menggebrak SMKN 1 Ende



Akhir tahun 2018 saya bertemu teman dosen yang sekarang sedang melanjutkan pendidikan S3 di Malang yaitu Mukhlis A. Mukhtar di ... di rumah saya donk. Hehe. Ceritanya, Mukhlis sedang liburan di kampung halaman. Seperti biasa, kami mendiskusikan banyak hal. Mengenang masa-masa lampau saat begitu addicted to community and aktivisme sosial. Rasanya senang karena sejak belia *bueeeeh belia* kami sudah punya banyak cerita bekal hari menjelang uzur; bekal diceritakan ke anak-cucu. Dudududu. Saya dengan Komunitas Blogger NTT dan macam-macam lainnya, dia dengan Relawan Bung Karno Ende.

Baca Juga: Yellow Cakes Blast

Hangout bareng Mukhlis itu menghasilkan satu ide untuk membikin kegiatan #EndeBisa. Idenya dari Mukhlis, saya sih tim hore pom-pom saja. Kami berpikir, sumber daya yang ada, khususnya sumber daya manusia, sudah selayaknya dimanfaatkan untuk memberdayakan orang lain. Kami sudah terlalu lama tidur ... tidur panjang yang bikin perasaan meronta-ronta (bahasa saya ngeri-ngeri sedap haha). #EndeBisa punya banyak goals yaitu #EndeBelajarLiterasiDigital, #EndeBebasSampah, dan #EndeSocMed4SocGood. Next bakal dikembangkan dengan #EndeBerwirausaha.

Pertemuan kedua, teteup di rumah saya, sudah tambah personel seperti Abang Umar Hamdan dari Komunitas ACIL (Anak Cinta Lingkungan) dan Trash Hero, serta Ketua Komunitas Blogger NTT Cahyadi. Banyak yang dibahas dan tentu saja kita bertekad untuk memulai kegiatan di awal 2019. Malam itu juga, Abang Umar terjangkit virus blog hahaha. Saya mengajarinya membikin blog di Blogger. Voila, Abang Umar siap menulis tentang kegiatan Komunitas ACIL dan Trash Hero-nya. Oia, tentu saja e-poster ini sudah dibikin.


Setelah pertemuan kedua, saya pikir kegiatannya masih lama. Paling pertengahan Januari 2019. Ternyata waktu berjalan begitu lekas. Jum'at, 4 Januari 2019, saya menerima pesan WA dari Mukhlis. Ternyata kunjungannya ke SMKN 1 Ende menghasilkan mendadak dangdut haha. Menghasilkan keputusan bahwa #EndeBisa harus terealisasi Sabtu di sekolah tersebut. Wah, okay. Kebut kerjakan materi dari ICT Watch (creative common) dengan sedikit sentuhan ulang tanpa melepas logo ICT Watch, dan bersiap untuk jalan pagi bersama di kampus (tidur harus sesegera mungkin agar bisa duluan bangun dari si ayam).

Iwan Aditya, sahabat saya itu mengirim pesan ingin ikutan, serta beberapa yang lain, ya ayooo.

Foto bareng Kepsek SMKN 1 Ende di depan aula.

Pergi ke SMKN 1 Ende saya berpikir tentang aula atau laboratorium yang kecil. Ternyata saya salah. Ketika bertemu kepala sekolah dan diajak ke aula. Saya syok melihat begitu banyaknya murid yang duduk lesehan di aula itu. Ini di luar ekspektasi saya. Bukan sekali dua saya ke sekolah-sekolah untuk melatih blog atau seminar lainnya, tapi kali ini jumlahnya melebihi kemampuan saya menghitung. Haha. Lebay ... leday dah.

Bismillah.


#EndeBisa Goes to School perdana hari ini di SMKN 1 Ende menuai sukses. Sejumlah 1.300an murid dan guru memenuhi Aula SMKN 1 Ende menyimak materi-materi yang disajikan oleh pemateri dengan sentuhan lelucon segar, dipandu MC Iwan Aditya, serta ditemani Koordinator Relawan Bung Karno Ende Mukhlis A. Mukhtar.

Iwan, lulusan SMKN 1 Ende, yang pernah jadi partner setia siaran saya, dan sekarang bekerja di Swisscontact.

1. Pengantar tentang Relawan Bung Karno Ende oleh David Mossar


Memberikan motivasi tentang kegiatan aktivisme sosial seperti Relawan Bung Karno Ende, serta bagaimana lulusan SMKN 1 bisa menjadi entrepreneur dan/atau technopreneur.

David, fotografer kondang Kota Ende yang telah lama bergabung dengan Relawan Bung Karno Ende. Dia juga berkecimpung di dunia desain grafis.

2. Tuteh Pharmantara (Travel Blogger Ende) tentang Literasi Digital


Materi creative common dari ICT Watch tentang literasi digital dengan 3 kerangka utamanya yaitu: Proteksi, Hak-Hak, dan Pemberdayaan.


3. Ihsan Dato (SocMed4SocGood Ende) tentang Etika Informasi


Bermedia sosial itu harus memerhatikan etikanya, dengan jargon: Piki Ne Ote, Timba Ne Ate (pikir dengan otak, pertimbangkan dengan hati) sebelum mempos sesuatu di media sosial.

Ihsan Dato, KTU Fakultas Teknologi Informasi Universitas Flores serta penggiat #SocMed4SocGood Ende dan Lopo Cerdas.

4. Umar Hamdan (ACIL Ende) tentang Pengelolaan Sampah


Betapa hancurnya bumi karena sampah plastik, bagaimana mengatasinya, bagaimana mengelolanya. Abang Umar juga membawa serta barang-barang hasil daur ulang. Keren lah Abang.


Saya suka waktu Abang Umar menunjuk ke meja depan dimana begitu banyak botol minum berdiri. "Nah, kalian bawalah air minum dari rumah ketimbang membeli terus air minum kemasan botol dan gelas. Kalian lihat di depan, kami membawa sendiri air minum sebagai upaya sederhana mengurangi sampah botol plastik." Saya ngakak. Saya punya sembilan botol minum loh, dua botol minum selalu ada di jok sepeda motor untuk jaga-jaga agar tidak perlu membeli air minum kemasan. Keren kan haha *ngakak sendiri*.

Sesi tanya-jawab yang dipandu Iwan pun berlangsung seru, pertanyaan-pertanyaan dari murid begitu kritis, rasa keingintahuan mereka begitu besar. Sayang, waktu menyebabkan banyak murid yang hendak bertanya harus ditahan. Next time, ya. Saya paling suka sama si ganteng yang bertanya yang berdiri di samping saya ini; cara bicaranya sangat terstruktur dan berwibawa. Dia memenangkan hadiah pulsa Rp 50K. Saya bilang, "Kalau kamu nyaleg, saya pilih deh hahaha."


#EndeBisa (perdana) ini merupakan gebrakan dan upaya yang luar biasa dari Relawan Bung Karno Ende untuk Ende yang lebih baik. Berikutnya #EndeBisa akan berkembang dengan satu item #EndeBerwirausaha.

Sampai jumpa di sekolah dan kampus berikutnya.

Informasi lebih lengkap silahkan hubungi:

Mukhlis (085234543731)
Cahyadi (085238422726)
Aran Gunawan (081333310539)

#EndeBisa
#EndeKrearivitas
#EndeBelajarLiterasiDigital
#EndeBebasSampah
#EndeSocMed4SocGood
#EndeBerwirausaha


Saya trenyuh mendengar kisah Bapak Kepsek yang pernah memarahi tetangga sekitar sekolah yang membuang sampah di got depan sekolah. Padahal, got tersebut baru saja dibersihkan oleh para murid SMKN 1 Ende. Bagaimana menyadarkan masyarakat bahwa got bukan tempat sampah? Kapan masyarakat sadar untuk memilah jenis sampah - yangmana sampah plastik dapat mereka jual ke Komunitas ACIL? Susah memang, karena bicara soal masyarakat artinya bicara soal banyak orang dan banyak komentar ini itu. Jangan sampai kalau sudah kena banjir parah baru mulai panik dan menyalahkan diri sendiri: kenapa saya buang sampah di got dan di sembarang tempat ya ...

Gara-gara #EndeBisa perdana di SMKN 1 Ende, beberapa sekolah mengirimkan pesan meminta kami juga melakukan kegiatan serupa di sekolah mereka. Itu pasti, karena memang itu tujuannya: sekolah dan kampus. Ende pasti bisa lebih maju. Insha Allah.

***

Relawan Bung Karno Ende


Relawan Bung Karno Ende merupakan kelompok relawan (nirlaba) yang awalnya berkonsentrasi pada kondisi Taman Renungan Bung Karno Ende yang semakin memprhatinkan. Akan tetapi kondisi taman bukan tanggungjawab Relawan Bung Karno Ende semata kan, harus ada partisipasi/perhatian dari semua pihak. Lewat penjualan pin dan gantungan kunci kami sudah membelikan sapu-sapu, gerobak sampah, membuat tempat sampah, memperbaiki trotoar depan taman yang rusak, rompi untuk tukang sapu, dan lain sebagainya. Selanjutnya ... tanggungjawab kita bersama. 


Tapi apa yang dilakukan oleh Relawan Bung Karno Ende tak hanya itu. Bermitra/dibantu oleh Ibu Tirto dari Danone, lebih banyak lagi yang telah dilakukan seperti menyediakan meja-bangku untuk SDI Ratenggoji yang jarak tempuh dan kondisi jalannya sangat jauh dan tidak mulus, membantu bayi-bayi yang mengalami gangguan kesehatan, membantu para mama yang berjualan papalele (jualan kaki lima di pasar-pasar) dengan sumbangan payung, menyumbang mantel untuk anak-anak Komunita ACIL, dan lain sebagainya. Termasuk membantu pembangunan rumah-rumah adat. 

Apa alasan kami melakukan semua itu?

Senang saja hahaha. Karena jargon kami: SELAGI MUDA HARUS KREATIVE, KETIKA TUA PUNYA ARTI. Urusan uang bisa kami cari dari pekerjaan utama atau freelance, tapi urusan aktivisme sosial yang memberikan kesenangan batin yang tidak bisa dibeli dengan Rupiah ini ... harus dilakukan dengan suka rela dan ikhlas.

Terima kasih semuanya.

Mari, sama-sama berjuang.

Dan saya pun harus berjuang agar GA bisa tetap dapat tampil di blog ini ha ha ha *ngakak parah digodain dinosaurus*.



Cheers.

#EndeBisa Menggebrak SMKN 1 Ende



Akhir tahun 2018 saya bertemu teman dosen yang sekarang sedang melanjutkan pendidikan S3 di Malang yaitu Mukhlis A. Mukhtar di ... di rumah saya donk. Hehe. Ceritanya, Mukhlis sedang liburan di kampung halaman. Seperti biasa, kami mendiskusikan banyak hal. Mengenang masa-masa lampau saat begitu addicted to community and aktivisme sosial. Rasanya senang karena sejak belia *bueeeeh belia* kami sudah punya banyak cerita bekal hari menjelang uzur; bekal diceritakan ke anak-cucu. Dudududu. Saya dengan Komunitas Blogger NTT dan macam-macam lainnya, dia dengan Relawan Bung Karno Ende.

Baca Juga: Yellow Cakes Blast

Hangout bareng Mukhlis itu menghasilkan satu ide untuk membikin kegiatan #EndeBisa. Idenya dari Mukhlis, saya sih tim hore pom-pom saja. Kami berpikir, sumber daya yang ada, khususnya sumber daya manusia, sudah selayaknya dimanfaatkan untuk memberdayakan orang lain. Kami sudah terlalu lama tidur ... tidur panjang yang bikin perasaan meronta-ronta (bahasa saya ngeri-ngeri sedap haha). #EndeBisa punya banyak goals yaitu #EndeBelajarLiterasiDigital, #EndeBebasSampah, dan #EndeSocMed4SocGood. Next bakal dikembangkan dengan #EndeBerwirausaha.

Pertemuan kedua, teteup di rumah saya, sudah tambah personel seperti Abang Umar Hamdan dari Komunitas ACIL (Anak Cinta Lingkungan) dan Trash Hero, serta Ketua Komunitas Blogger NTT Cahyadi. Banyak yang dibahas dan tentu saja kita bertekad untuk memulai kegiatan di awal 2019. Malam itu juga, Abang Umar terjangkit virus blog hahaha. Saya mengajarinya membikin blog di Blogger. Voila, Abang Umar siap menulis tentang kegiatan Komunitas ACIL dan Trash Hero-nya. Oia, tentu saja e-poster ini sudah dibikin.


Setelah pertemuan kedua, saya pikir kegiatannya masih lama. Paling pertengahan Januari 2019. Ternyata waktu berjalan begitu lekas. Jum'at, 4 Januari 2019, saya menerima pesan WA dari Mukhlis. Ternyata kunjungannya ke SMKN 1 Ende menghasilkan mendadak dangdut haha. Menghasilkan keputusan bahwa #EndeBisa harus terealisasi Sabtu di sekolah tersebut. Wah, okay. Kebut kerjakan materi dari ICT Watch (creative common) dengan sedikit sentuhan ulang tanpa melepas logo ICT Watch, dan bersiap untuk jalan pagi bersama di kampus (tidur harus sesegera mungkin agar bisa duluan bangun dari si ayam).

Iwan Aditya, sahabat saya itu mengirim pesan ingin ikutan, serta beberapa yang lain, ya ayooo.

Foto bareng Kepsek SMKN 1 Ende di depan aula.

Pergi ke SMKN 1 Ende saya berpikir tentang aula atau laboratorium yang kecil. Ternyata saya salah. Ketika bertemu kepala sekolah dan diajak ke aula. Saya syok melihat begitu banyaknya murid yang duduk lesehan di aula itu. Ini di luar ekspektasi saya. Bukan sekali dua saya ke sekolah-sekolah untuk melatih blog atau seminar lainnya, tapi kali ini jumlahnya melebihi kemampuan saya menghitung. Haha. Lebay ... leday dah.

Bismillah.


#EndeBisa Goes to School perdana hari ini di SMKN 1 Ende menuai sukses. Sejumlah 1.300an murid dan guru memenuhi Aula SMKN 1 Ende menyimak materi-materi yang disajikan oleh pemateri dengan sentuhan lelucon segar, dipandu MC Iwan Aditya, serta ditemani Koordinator Relawan Bung Karno Ende Mukhlis A. Mukhtar.

Iwan, lulusan SMKN 1 Ende, yang pernah jadi partner setia siaran saya, dan sekarang bekerja di Swisscontact.

1. Pengantar tentang Relawan Bung Karno Ende oleh David Mossar


Memberikan motivasi tentang kegiatan aktivisme sosial seperti Relawan Bung Karno Ende, serta bagaimana lulusan SMKN 1 bisa menjadi entrepreneur dan/atau technopreneur.

David, fotografer kondang Kota Ende yang telah lama bergabung dengan Relawan Bung Karno Ende. Dia juga berkecimpung di dunia desain grafis.

2. Tuteh Pharmantara (Travel Blogger Ende) tentang Literasi Digital


Materi creative common dari ICT Watch tentang literasi digital dengan 3 kerangka utamanya yaitu: Proteksi, Hak-Hak, dan Pemberdayaan.


3. Ihsan Dato (SocMed4SocGood Ende) tentang Etika Informasi


Bermedia sosial itu harus memerhatikan etikanya, dengan jargon: Piki Ne Ote, Timba Ne Ate (pikir dengan otak, pertimbangkan dengan hati) sebelum mempos sesuatu di media sosial.

Ihsan Dato, KTU Fakultas Teknologi Informasi Universitas Flores serta penggiat #SocMed4SocGood Ende dan Lopo Cerdas.

4. Umar Hamdan (ACIL Ende) tentang Pengelolaan Sampah


Betapa hancurnya bumi karena sampah plastik, bagaimana mengatasinya, bagaimana mengelolanya. Abang Umar juga membawa serta barang-barang hasil daur ulang. Keren lah Abang.


Saya suka waktu Abang Umar menunjuk ke meja depan dimana begitu banyak botol minum berdiri. "Nah, kalian bawalah air minum dari rumah ketimbang membeli terus air minum kemasan botol dan gelas. Kalian lihat di depan, kami membawa sendiri air minum sebagai upaya sederhana mengurangi sampah botol plastik." Saya ngakak. Saya punya sembilan botol minum loh, dua botol minum selalu ada di jok sepeda motor untuk jaga-jaga agar tidak perlu membeli air minum kemasan. Keren kan haha *ngakak sendiri*.

Sesi tanya-jawab yang dipandu Iwan pun berlangsung seru, pertanyaan-pertanyaan dari murid begitu kritis, rasa keingintahuan mereka begitu besar. Sayang, waktu menyebabkan banyak murid yang hendak bertanya harus ditahan. Next time, ya. Saya paling suka sama si ganteng yang bertanya yang berdiri di samping saya ini; cara bicaranya sangat terstruktur dan berwibawa. Dia memenangkan hadiah pulsa Rp 50K. Saya bilang, "Kalau kamu nyaleg, saya pilih deh hahaha."


#EndeBisa (perdana) ini merupakan gebrakan dan upaya yang luar biasa dari Relawan Bung Karno Ende untuk Ende yang lebih baik. Berikutnya #EndeBisa akan berkembang dengan satu item #EndeBerwirausaha.

Sampai jumpa di sekolah dan kampus berikutnya.

Informasi lebih lengkap silahkan hubungi:

Mukhlis (085234543731)
Cahyadi (085238422726)
Aran Gunawan (081333310539)

#EndeBisa
#EndeKrearivitas
#EndeBelajarLiterasiDigital
#EndeBebasSampah
#EndeSocMed4SocGood
#EndeBerwirausaha


Saya trenyuh mendengar kisah Bapak Kepsek yang pernah memarahi tetangga sekitar sekolah yang membuang sampah di got depan sekolah. Padahal, got tersebut baru saja dibersihkan oleh para murid SMKN 1 Ende. Bagaimana menyadarkan masyarakat bahwa got bukan tempat sampah? Kapan masyarakat sadar untuk memilah jenis sampah - yangmana sampah plastik dapat mereka jual ke Komunitas ACIL? Susah memang, karena bicara soal masyarakat artinya bicara soal banyak orang dan banyak komentar ini itu. Jangan sampai kalau sudah kena banjir parah baru mulai panik dan menyalahkan diri sendiri: kenapa saya buang sampah di got dan di sembarang tempat ya ...

Gara-gara #EndeBisa perdana di SMKN 1 Ende, beberapa sekolah mengirimkan pesan meminta kami juga melakukan kegiatan serupa di sekolah mereka. Itu pasti, karena memang itu tujuannya: sekolah dan kampus. Ende pasti bisa lebih maju. Insha Allah.

***

Relawan Bung Karno Ende


Relawan Bung Karno Ende merupakan kelompok relawan (nirlaba) yang awalnya berkonsentrasi pada kondisi Taman Renungan Bung Karno Ende yang semakin memprhatinkan. Akan tetapi kondisi taman bukan tanggungjawab Relawan Bung Karno Ende semata kan, harus ada partisipasi/perhatian dari semua pihak. Lewat penjualan pin dan gantungan kunci kami sudah membelikan sapu-sapu, gerobak sampah, membuat tempat sampah, memperbaiki trotoar depan taman yang rusak, rompi untuk tukang sapu, dan lain sebagainya. Selanjutnya ... tanggungjawab kita bersama. 


Tapi apa yang dilakukan oleh Relawan Bung Karno Ende tak hanya itu. Bermitra/dibantu oleh Ibu Tirto dari Danone, lebih banyak lagi yang telah dilakukan seperti menyediakan meja-bangku untuk SDI Ratenggoji yang jarak tempuh dan kondisi jalannya sangat jauh dan tidak mulus, membantu bayi-bayi yang mengalami gangguan kesehatan, membantu para mama yang berjualan papalele (jualan kaki lima di pasar-pasar) dengan sumbangan payung, menyumbang mantel untuk anak-anak Komunita ACIL, dan lain sebagainya. Termasuk membantu pembangunan rumah-rumah adat. 

Apa alasan kami melakukan semua itu?

Senang saja hahaha. Karena jargon kami: SELAGI MUDA HARUS KREATIVE, KETIKA TUA PUNYA ARTI. Urusan uang bisa kami cari dari pekerjaan utama atau freelance, tapi urusan aktivisme sosial yang memberikan kesenangan batin yang tidak bisa dibeli dengan Rupiah ini ... harus dilakukan dengan suka rela dan ikhlas.

Terima kasih semuanya.

Mari, sama-sama berjuang.

Dan saya pun harus berjuang agar GA bisa tetap dapat tampil di blog ini ha ha ha *ngakak parah digodain dinosaurus*.



Cheers.

5 Kegiatan Pertama di 2019



Baru kemarin bikin resolusi untuk tahun 2019, sekarang sudah ngepos tentang salah satu resolusi itu haha. Rajinnya ngegas bener. Memang! Anyhoo, mohon maaf apabila Rabu kemarin tidak sempat pos apa-apa, saya agak syibuk bersama dinosaurus di Isla Nubar. Dan saya yakin, teman-teman juga pasti masih sibuk dengan kegiatan mengisi liburan bersama keluarga dan/atau sendirian. Lihat! Hari-hari liburan akan berakhir!

Baca Juga: 5 Dari 2018 dan Akan 2019

Mengawali tahun 2019, saya sudah melakukan beberapa hal dari resolusi diantaranya tetap nge-blog dan memulai Stone Project.

Mari kita mulai tentang lima kegiatan pertama di tahun 2019.

*tiup terompet*

1. T-Jounal


Si Mak Bowgel, Ewafebri, adalah mata airnya haha. Saya menyukai semua pos di blog-nya tentang Bullet Journal. Tapi sayang, saya belum bisa membikin Bullet Journal, jadi saya hanya melanjutkan apa yang sudah saya lakukan yaitu menulis jurnal di buku.



Karena buku atau agenda saya sudah pada penuh, maka saya memilih memakai binder kuning bekas zaman kuliah dulu. Lumayan, isinya bisa dibongkar-pasang. 

Memulai T-Journal saat tahun baru itu bikin gemas karena toko-toko ATK masih pada tutup sehingga belum sempat membeli stabilo. Huhu. Tidak cantik. Eh, belum cantik. Nanti lah dipercantik haha. Tengkyu Evva.

2. Stone Project


Stone Project merupakan salah satu resolusi 2019. Saya memulainya dengan mengumpulkan bebatuan dari Pantai Penggajawa. Pergi ke Pantai Penggajawa bareng sahabat saya yang bekerja di Jakarta dan sedang liburan di Ende, Hilda, dan tentu bersama Thika dan Meli.



Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. Sekalian #KakiKereta, jalan-jalan, menghirup udara liburan yang di ambang usai.



Rencananya memang mengupulkan, tetapi karena cuaca sedang rintik manja dan kita tidak mungkin turun ke pantai (karena semakin lama maka rintik berubah menjadi hujan), jadi mending membeli saja di seorang Mama yang sedang menunggui batu jualannya. Setengah plastik merah besar diharga 25K.

3. Mamatua Project


Yang satu ini memang tidak ada di resolusi 2019. Mamatua Project adalah proyek saya dan Thika yaitu memotret Mamatua setiap harinya. Hyess, kami telah mengumpulkan tiga foto haha. 

4. Craft


Lucu juga, baru awal tahun sudah mulai nge-craft. Nge-craft yang satu ini asyik sih.

Baca Juga: 5 Blogger Kocak

Jadi, ceritanya si Hilda meminta bantuan saya untuk menjadi MC ultah anaknya; Ezra. Sekalian saya diminta membantu mendekorasi rumahnya buat lokasi acara ultah ini.

Sudah lama saya pamit dari dunia per-MC-an, bahkan ada yang gemas karena saya menolak semua permintaan MC untuk acara nikah dan ultah anak-anak. Tapi, saya tidak bisa menolak permintaan Hilda, kawan. Itu tidak mungkin. Dan, menjadi MC ultah anak-anak sama dengan kerja super keras agar acaranya menjadi ramai dan meriah. Salah satu upaya saya adalah menyiapkan kado-kado mungil yang bakal dikasih ke anak/tamu yang berani maju untuk permainan dan bernyanyi.


Nge-craft-nya adalah membikin tas kertas mini untuk mengisinya dengan kudapan khas anak-anak. 

5. MC


Nah, ini dia yang saya lakukan sore tadi. Kegiatan yang membikin baju saya basah keringat haha. Menjadi MC ultah anak-anak, betul, adalah kerja super keras. Bagaimana anak-anak harus turut berpartisipasi agar acaranya meriah. Ternyata bakat memang tidak bisa luntur begitu saja *muka sombong* sekian lama mundur dari panggung MC, saya ternyata tidak kehilangan aura *tsaaaah*. Masih bisa membikin acara ramai, meriah, dan penuh tawa. 



Ini sih nge-MC sekalian reuni sama teman-teman masa SMU dulu haha. 


Libur telah usai hari ini. Besok, semua dosen dan karyawan Universitas Flores akan mengikuti apel pagi di Auditorium H. J. Gadi Djou, sambil merayakan Natal Bersama. Seperti apa keseruannya ... nantinya Senin :) haha.

Baca Juga: 5 Peserta Favorit Kelas Blogging

Bagaimana dengan kalian, kawan? Kegiatan apa yang telah dilakukan di awal tahun 2019 ini? Bagi tahu doooonk.

Semangat!


Cheers.

Yellow Cakes Blast



Sabtu, 29 Desember 2018, sekitar pukul 09.00 Wita saya sudah bangun tidur. Tumben? Memang! Saya menikmati kopi susu pagi dengan wajah masih belepotan kapuk. Baru seteguk kopi susu melewati kerongkongan, keponakan saya yang kami panggil Bunda Rara sudah muncul di rumah dengan wajah cemas. "Ncim! Minta tolong Thika temani saya antar si Rara ke UGD. Asmanya kambuh. Dia harus dinebu (nebulizer)!" Saya terkejut, kayak kena bom nuklir pagi hari, lantas bilang, "Segera ke UGD! Jangan dibiarkan! Ini pasti gara-gara dia main sama anak kucing."

Mereka pun berangkat diiringi tarian chacha dari dinosarus.

Baca Juga: Penjurian Lomba Kandang Natal

Tapi insting saya tidak membaui adanya hal-hal buruk. Iya, kadang insting saya benar, seringnya salah. Hahaha. Selepas mereka pergi, Tante Lila sudah datang ke rumah, haha hihi bareng.

Tidak perlu menunggu dinosaurus belajar menari salsa, saat saya dan Tante Lila sedang mengobrol seru, dari pintu depan terdengar suara ramai menyanyikan lagu: 

HAPPY BIRTHDAY TO YOU! HAPPY BIRTHDAY TO YOU!


AWWWWW!

Insting saya tepat. Bunda Rara, Thika, Rara, dan Mely, bergerombol jalan ke belakang rumah tempat saya sedang bersantai sambil membawa sepiring cake warna kuning. Oalaaah. Ritus ini ... eh ... tradisi ini tidak pernah punah dalam keluarga kami. Maklum, semuanya pada jago bikin cake sih. Kecuali saya. Saya ingat, Bunda Rara pernah membikin puding kuning khusus untuk saya pada ultah beberapa tahun lampau. Haha.






Sepanjang hari itu, setelah mandi yang tumben, saya tiduran di kamar sambil nonton The Mentalist (oh tentu, serial favorit ini bakal saya bahas di Sabtu). Eh, mendadak ada yang muncul di kamar sambil membawa ... cake kuning! Again!? Kali ini keponakan yang lain yang punya usaha cake and bakery juga. Namanya Indri atau lebih sering kami panggil Mbak In, beserta suaminya Hendrik, dan anak pertamanya si Syiva. Hwah. Meskipun setiap tahun pasti selalu ada cake, tapi mereka selalu punya cara-cara mengeZuDkan yang berbeda setiap tahunnya.




Belum cukup itu, mendadak Thika yang akhir-akhir ini mengeluh sakit gigi pamit hendak ke apotik. Saat saya bilang saya punya stok Menfentan, dia galau setengah mati, pokoknya dia harus pergi ke apotik! Ya sudah ... lagi pula saya pikir mungkin dia juga sedang ada keperluan lain. Mampir ke Roxy dan membeli cemilannya. Barangkali begitu.


Baca Juga: Stik Keju Legendaris

Saat sedang ramai foto-foto sama Mbak In sekeluarga, si Thika muncul lagi sama Mely sambil membawa CAKE KUNING again!!!



Excuse me, is this the yellow cakes blast's day?

Saya, Presiden Negara Kuning yang menjabat abadi, mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya untuk semua cake kuning yang telah memenuhi kulkas hingga kami harus menyingkirkan beberapa kotak makanan *ngikik*.

Saya pikir sudah selesai kejutan-kejutan ini. Mbak In sekeluarga sudah pulang, Thika dan Mely sudah santai di kamar sambil nonton Upin Ipin. Sekitar pukul 21.00 Wita, si Indra pulang kerja, mendadak dia muncul di kamar sambil senyum-senyum nista dan menyerahkan sebuah kotak.

Saya:
Apa ini?

Indra:
Hhaha kalau tidak mau, tidak apa-apa, saya bawa lagi.

Saya:
Dasar!!!!


Terimakasih Indra, meskipun bukan kuning, tapi engko masih inga Encim jo No ... *mulai sembarangan dialek Flores Timur. Terima kasih untuk selalu mendengar nasihat Encim, dan masih setia ber-#QualityTime dengan mendiskusikan banyak hal. Mulai dari pekerjaan masing-masing, sampai filem favorit.


Meskipun Hilda Wangu, sahabat saya yang pulang libur ke Ende karena dia bekerja di Jakarta, mengajak makan (traktir nih ceritanya) di Hari Minggu (kemarin), saya terpaksa menolak karena hari Minggu-nya kami ada acara keluarga, Aqiqah-nya Azka (cucu saya, adiknya Syiva). Dududu. Soalnya kan Kakak Nani Pharmantara sedang berada di Kupang, jadi sebagai satu-satunya tante yang ada di Kota Ende, saya tidak dapat menghindar. Hahaha. Lagian saya tidak berani dipelototin Abang Nanu Pharmantara.


Baca Juga: Buku Pelulu



Don't ask how old I am because I definitely answer; I am 17 years old plus a few years into UZUR.






Cheers.

#PDL Ini Bukan Cyber Crime



#PDL adalah Pernah DiLakukan. Pos #PDL merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

***

Tahun 2010 saya tergoda membikin blog di BlogDotCom. Judulnya Ini Bukan Cyber Crime. Kisah di dalam blog itu adalah tentang kelucuan dan kekonyolan yang terjadi di sebuah tempat berkumpulnya banyak orang bernama warnet. Bagi kalian yang pernah bekerja di warnet pun pasti tahu bahwa kalau mau haha hihi cukup nongkrong di warnet saja, pasti terhibur.

Baca Juga: #PDL Menulis Tentang Toleransi

Ratusan tahun-tahun yang indah bergelung dalam gelombang industri warnet, saya merasa jadi karyawati warnet terfavorit dan terabadi sepanjang masa. Mulai dari jaman kuda gigit DIAL UP ampe kuda lari secepat SPEEDY, saya udah di sini … di tempat ini … war-net.

W.a.r.n.e.t

Satuper satu kisah asmara terjadi di tempat ini. Mungkin karena saya ini rajin, jadi saya merangkumnya dalam dokumen Word agar mudah mengenangnya kembali. Eh, benar saja, blog yang itu sudah tidak bisa dibuka. Tak apalah, lagi pula bahasa yang saya pakai di blog itu sungguh jauh dari kesempurnaan terhakiki. Haha.

Salah satunya adalah kisah Mister Hallo.


Mister Hallo


Awalnya saya tidak begitu peduli pada si Bapak yang satu ini. Dia termasuk yang paling rajin datang ke warnet. Gejala alam yang terjadi setiap kali dia datang adalah bergetarnya seluruh bumi gara-gara suaranya kencang banget, dan membahana, padahal dia cuma sedang mengobrol sama lawan bicaranya di henpon (handphone). Gara-gara itu saya menjulukinya Mister Hallo. Jiji, teman kerja, cuma bisa ngikik kalau Mister Hallo muncul di warnet. Artinya, kesabaran kita bakal diuji. Lagi dan lagi.

Suatu hari batang hidung Mister Hallo muncul di warnet.

Mister Hallo:
Masalah itu kan sudah saya bilang nggak secepatnya bisa diurusi. Saya masih ngurus beberapa blah blah bleh.

Dia berdiri di depan meja kami (saya dan Jiji), menatap kami dengan tatapan saya-mau-ngenet-nih. Dan lewat gerakan tangan yang naujubileh, karena dia tidak mau meninggalkan obrolannya di henpon, saya menunjuk komputer Nomor 1. Dia langsung menuju ke komputer itu, lantas menjepit henpon diantara dagu dan bahu, lantas mulai mengetik. Duileeeh ... pakai headset atau handsfree kan bisa.

Tidak berapa lama berselang, tangan Mister Hallo terangkat, melambai-lambai kayak nyiur ditiup topan, tapi still sibuk berbicara di henpon. Warrrggghhh! Kalau didatangi pun dia cuma menunjuk ke layar monitor sambil pasang tampang ini-gimana-sih-ngopinya-ke-flashdisk? Lantas, dia pun selesai mengobrol di henpon. Terus dia cabut flashdisk dan datangi kami sambil bilang, "Mbak, mau nge-print!

Saya:
Nama file-nya apa, Pak?

Mister Hallo:
(Menatap ke arah saya dan Jiji. Heran. Bingung. Kening berkerut). Hmmm tadi saya simpan pakai nama apa ya? Coba saya lihat dulu ...

Saya dan Jiji mulai tidak ikhlas karena bersamaan datang pula dua mahasiswa yang hendak mencetak tugas kuliah mereka. Nampanya mereka sedang terburu-buru karena harus menyetor tugas ke dosen. Sementara itu Mister Hallo masih berkutat dengan komputer kami, mencari file yang disimpannya tadi dari komputer Nomor 1.

Saya:
Tadi simpan file-nya pakai nama apa, Pak?

Mister Hallo:
Tadi saya simpan pokoknya. Hmmm. He eh. He eh. Iya. Uuuummmm. Nama file-nya apa yaaaaa. Saya juga lupa ini file-nya. Namanya apa yaaaaa.

Ya mana saya tahu!!!!!

Saya: 
Pak, bisa ke komputer client lagi dan ngecek di sana? Kami mau ...

Lalu Mister Hallo terkejut parah, saya pikir karena sudah ketemu file-nya, eh ternyata karena henponnya berdering. Dia terus meninggalkan kami yang sedang menunggu otaknya bekerja normal mengenali file sendiri, dan menempelkan henpon ke kuping: Halloooooo Pak Candraaaaa ...

Doh, naseb!


Mister Hallo hanyalah satu dari sekian banyak tingkah konyol para pelanggan warnet yang bisa bikin otak saya cenat-cenut. Kalian juga pasti bakal kesal banget kalau mendadak datang seorang perempuan yang mengenakan pakaian super lengkap sampai sarung tangan di tengah cuaca panas menyengat lantas menyodorkan flashdisk sambil bilang, "Kak, tolong print, semuanya ada di FLEDI."

Saya langsung membayangkan Hogwarts dengan Profesor Snape sedang mengayunkan tongkat sambil bilang, "Fledi!"


Pernah, saya pernah melakukannya, menulis kisah konyol yang terjadi di warnet, dan menyimpannya dalam dokumen Word. Buat dibaca-baca lagi haha. Ternyata, ada untungnya juga menyimpan kembali tulisan dari blog itu, karena sekarang blog yang bersangkutan sudah tidak bisa diakses.

Selamat melanjutkan liburan, kawan ...


Cheers.

Natal di Ende



Rabu kali ini tidak ada tips hidup sehat haha. Mari kita nikmati saja suasana yang baik ini.

Sebelumnya saya mohon maaf apabila tidak akan mengijikan seorang pun berkomentar tentang perdebatan boleh atau tidak mengucapkan Selamat Hari Raya Natal kepada saudara/saudari yang merayakannya. Karena, di Kabupaten Ende kami tidak memikirkan hal-hal semacam itu. Yang kami tahu, semuanya bersaudara, dan sesama saudara sudah selayaknya saling menghargai perbedaan dan bertoleransi antar umat beragama yang telah hidup sejak kami lahir. Deal ya hehe.

Baca Juga: 5 Manfaat Bernyanyi

25 Desember 2018, Hari Raya Natal. Seperti yang sudah kalian ketahui, apabila sudah sering main blog ini, bahwa keluarga besar Mamatua merayakan Natal. Sejak pagi saya dan Thika Pharmantara sudah beberes rumah karena Mamasia tidak masuk kerja soalnya beliau kan juga merayakan Natal. Setelah beberes kami masih bersantai main game, haha, sampai akhirnya sadar bahwa begitu banyak rumah yang harus dikunjungi. Mengajak Mely, keponakannya Mamasia, dia mau. Ya sudah, yuk bersiap.

Baru hendak bersiap, Tante Lila Lamury sudah datang membawa sepiring kudapan khas Hari Raya Natal. Horeee. Terimakasih Tante yang baik hati. Padahal baru kemarin saya mengantar sestoples stik keju dan kue tart untuk si Tante yang terjadwal selalu mengantar puding untuk kami saat Hari Raya Idul Fitri.


Kue sagu dan kukis itu favorit lah haha. 

Perjalanan bersilaturahmi kali ini berpacu dengan cuaca. Soalnya langit mendung dan dinosaurus sedang kurang enak bodi, jadi kita harus tahu diri untuk tidak duduk berjam-jam di rumah keluarga, pun di rumah Oma Gita, adiknya Mamatua. Meskipun berpacu dengan waktu, seperti biasa by default, kita selalu makan siang di rumah Kakak Selvy Bata, anaknya (alm.) Bapa Frans Bata, adiknya Mamatua. Sudah menolak, tapi dipelototin hahah.

Kakak Selvy Bata. Kaka sepupu yang baik hati, yang bekerja di Dinas Pariwisata Ende.

Setelah perjalanan siang yang super panjang, malamnya pun kami masih sempat mengunjungi beberapa rumah. Melintasi Jalan Melati, ini dia pemandangan yang tersaji:


Kurang bagus ya hasil fotonya. Tak apalah. Nah, pemandangan seperti ini dapat dilihat di beberapa jalan seperti salah satunya di Jalan Garuda. Rata-rata masyarakat berlomba-lomba memasang ornamen Natal seperti Pohon Natal dan lampu-lampu sepanjang jalan. Seni sekali kalau kata Orang Ende hehehe.

Baca Juga: 5 Manfaat Berpikiran Positif

Berangkat menuju rumah Effie Rere sahabat saya, saya lebih dulu mengirim pesan WA untuk meminta secangkir kopi hitam dengan sedikit gula. Rasanya begitu enak. Dan saya yakin itu kopi yang disangrai dan digiling sendiri (olahan rumah) karena menemukan satu biji kopi ini:


Satu rumah terakhir yang kami kunjungi adalah rumah Kakak Yuni Turu, salah seorang anak perepuannya Oma Gita. Eh, di sana ketemu Abang Nanu Pharmantara dan Mbak Wati.


Yang rencananya hanya sebentar, jadi berlama-lama mengobrol ngalor-ngidul. Maklum, meskipun Kota Ende ini kecil, tapi kami bersaudara tidak mungkin kan mengobrol setiap hari karena semuanya punya kesibukan masing-masing.

Selesai sudah haha. Mari pulang.

Demikian cerita Natal kemarin. Cerita seru yang belum tentu dapat tersaji seru juga di tulisan ini. Biar kami yang merasakannya saja *senyum manis*. Bagaimana dengan kalian? Cerita yuk di papan komentar.



Cheers.

Penjurian Lomba Kandang Natal



Sabtu, bertepatan dengan Hari Ibu tanggal 22 Desember 2018, telah dilaksanakan penjurian Lomba Kandang Natal. Awalnya kami mengira jurinya adalah Oma Mia Gadi Djou dan anggota Arisan Widow-wati seperti Lomba Pohon Natal (tahun 2017) dimana kami keluar sebagai juaranya. Ternyata jurinya bapak-bapak. Haha. Mari yuk. Yuk mari.

Baca Juga: Mengetik 10 Jari Itu Biasa

Begitu melihat tim juri mendekati ruangan UPT Publikasi dan Humas, saya langsung rapikan jilbab, bedakan, pasang bulu mata, tebalkan blush on *halaaaah*. Sebelum juri bertanya, saya langsung menjelaskan tentang Kandang Natal ini.



Selamat siang, Bapak ... *berdehem*

Sesuai persyaratan lomba yaitu membikin Kandang Natal minimalis dan dari bahan yang ada, maka kami berusaha untuk bisa memenuhi persyaratan tersebut. Konsepnya minimalis ... *sambil mikir, benarkah ini minimalis?*



Persyaratan yang kedua yaitu dari bahan yang ada, maka kami membikin semua ini dari bahan yang ada atau mendaur ulang barang bekas. Kardus, karton, koran, kalender, stik es krim, bekas wadah deodorant, sampai serbuk *sambil menunjuk boneka Bunda Maria, Yosef, gembala, domba, dan lain sebagainya*




Bapak bisa lihat, ini Pohon Natal yang kami bikin tahun lalu, terbuat dari koran yang dianyam *menunjuk Pohon Natal legendaris*



Yang baru hanya cat, karena cat tidak bisa didaur ulang *entah mereka mendengarkan atau tidak*

Salah seorang juri bertanya: temanya apa?

*Amaaak, ini temanya apa ya? Ah jawab saja* Ini temanya kelahiran Yesus Kristus *asli ngasal level galaksi*. Karena di Israel pada masa itu tidak ada bambu, jadi kami berinisiatif membikin gua.

HA HA HA HA.

HA HA HA HA.

Saya yakin semua yang ada di ruangan, alias rombongan para juri termasuk Pak Super Boss, pasti pengen menampar bibir saya. Maafkan, kadang bibir saya kalau berbicara tidak permisi dulu sama otak. Pak Super Boss cuma bisa senyum-senyum.

Baca Juga: 2019 Tetap Nge-Blog

Ya! Selesai sudah penjuriannya. Mereka memerhatikan ini itu, mencatat ini itu, mengangguk-angguk sambil bernyanyi trilili lili lili lili ...

Biasanya pengumuman juara akan dilakukan setelah liburan, usai Upacara Bendera, dalam kegiatan menikmati kudapan bersama. Berharap jadi juara? Pasti doooonk. Setiap orang yang ikut lomba, menurut saya, sedikitnya di dalam hati mereka pasti ingin menjadi juara. Tapi kalau pun tidak juara, tidak mengapa, yang penting sudah berpartisipasi, turut meramaikan. Janganlah sampai gara-gara tidak juara kemudian manyun dan tidak mau ikutan lomba-lomba berikutnya. Bocah dinosaurus banget itu mah.



Usai penjurian, kami masih asyik-asyikan di ruangan, karaokean malahan. Terus, para panitia EGDMC berkumpul untuk kegiatan pembubaran panitia. Sepulangnya saya ke rumah, langsung rebah di lantai saya masih harus membikin stik keju pesanan bumil Irma Pello. Sebenarnya tahun ini tidak menerima pesanan stik keju tetapi demi sahabat yang sedang ngidam stik keju, baiklah ... mari kita membikinnya.

Sudah selesai? Bisa leyeh-leyeh? Tidaaaak! Malamnya saya masih harus mengikuti acara keluarga di rumah Abang Nanu Pharmantara. Ada hantaran balik dari pihak perempuan untuk keponakan saya setelah acara Buku Pelulu itu. 

Padat jaya.

Baca Juga: Mengetik 10 Jari Itu Biasa

Liburan sudah dimulai. Mari kita cek daftar ajakan jalan-jalan ... ke mana kita?



Cheers.

Ngelawak Bersama Mamatua

My Captain Congklak.


Sejak Mamatua pensiun pada tahun 2000, lantas terserang gejala stroke pada Mei 2009, suasana di rumah kami yang bernama Pohon Tua menjadi jauh lebih ramai oleh celetukan kocak dan tawa. Mamatua, yang kadang saya panggil Amak, selalu punya cara untuk menggoda siapapun yang datang ke rumah kami. Tapi sesungguhnya 'musuh' utama Mamatua adalah sang asisten setia dengan jam kerja Ten 2 Five yang kami panggil Mamasia (dulu kami memanggilnya Tantasia) ... lawan abadi Mamatua dalam Internasional Congklak Tournament. Lawan abadi ini tak tergantikan meskipun kini di rumah tak hanya saya dan Mamatua saja, tetapi sudah ada Indra Pharmantara dan Thika Pharmantara.

Baca Juga: Travel Writer

Kalian pasti kan bosan jika saya menulis tentang perjalanan panjang Mamatua saat menjadi guru di sebuah kampung berlumpur sehingga kalau pergi mengajar memakai sandal jepit. Kalian juga pasti bakal bosan membaca tentang perjuangan Mamatua meningkatkan intelejensia, bukan hanya anak didiknya, kaum ibu di sekitaran sekolah dengan mengajar mereka menjahit, memasak, dan mengetik (dibantu oleh alm. Bapa). Kalian pun pasti langsung menggulir tetikus kalau saya bercerita tentang betapa bangganya kami ketika Mamatua menjadi Guru Teladan saat zaman Presiden Soeharto.

Lagi pula semua tentang Mamatua, termasuk tentang bagaimana Mamatua membesarkan dan mendidik kami, tidak akan cukup diceritakan dalam satu pos blog saja.

Kalau begitu ... apa yang akan saya tulis?

Saya ingin menulis tentang suatu dokumen yang saya beri judul: Ngelawak Bersama Mamatua. Dokumen (Word) ini memuat semua status Facebook saya tentang Mamatua. Kenapa judulnya begitu? Karena memang begitu adanya isi dokumen ini.  Salah satunya tentang #QualityTime keluarga yang selalu diiringi dengan obrolan kocak. #QualityTime wif Mamatua merupakan hashtag yang selalu saya pakai setiap kali menulis status di Facebook. Saking kocaknya status-status ini, sampai-sampai banyak teman yang mengirim pesan meminta saya lebih banyak menulis tentang kejadian konyol di rumah kami. Haha.



Mengobrol bersama Mamatua saat #QualityTime itu ibarat kutu loncat. Topiknya tumpang-tindih. Seperti yang berikut ini:

Januari 2017

#QualityTime Wif Amak.

Semakin lama duduk mengobrol, maka semakin insomnia kami berdua. Sedikit lebih lama, mata saya memberat sedangkan Amak sudah sampek episode 110. Tambah lama lagi, cerita sudah sampai tahun 1960-an, masa awal Amak menjadi guru di Detukeli. Di sinilah seninya QT kami. Jika di Radio Gomezone saya adalah penyiar, maka di rumah saya adalah pendengar dengan Amak sebagai penyiar. Akhirnya saya tahu dari mana bakat ngobrol ngalor ngidul ini berakar *ngikik*.

"... Yang informasi teroris di Ende tuh omong kosong e ..."

Horor, Mak. Kan tadi barusan topiknya cokelat, mendadak teroris gini.

"... Ini celana dengan yang di atas kain sama kah? Kain Farah? Tidak e ... Hoahem ..."

See?

Betapa berwarna (kuning)nya hidup kami. Pengalihan topik tanpa jeda! Mau lawan sapu Amak? Kamu kalaaaah hahahaa.

#CintaAmak
#Pharmantara
#LifeIsGood

Catatan: sapu itu bahasa singkatnya Orang Ende. Sapu berarti saya punya. Dalam konteks kalimat di atas, sapu berarti saya punya Mama.



Mamatua paling tidak suka gelap. Tidak ada pengumuman giliran pemadaman listrik saja lilin dan korek api selalu ready stock, apalagi kalau ada pengumuman pemadaman listrik:

Agustus 2014

#QualityTime wif Mamatua sore ini. Karena saya pulang kerja sudah jam 4 sore, perut merintih lirih *kasihan naaa* akhirnya makan, ditemani Mamatua. Waktu kami lagi mengobrol, sambil saya makan, mendadak listrik padam. Sigap Mamatua dengan gaya pendekar moderen Ming Mata Empat dari serial Tiger Wong bilang begini:

"HEEETTTT! Kau mati sudah listrik! Saya sudah siap lilin dan korek api di depan mata ..."

Lantas Mamatua ketawa bahagia.
#UdahGituDoank

:D Saya kuatir Mamatua buka jurus 'Tasbih Menyabet Semesta'.


Mamasia, semoga Tuhan selalu memberikan kesehatan padanya, merupakan musuh sekaligus korban paling empuk. Mamatua bahagian sekali kalau bisa resek sama Mamasia. Lagian ... Mamasia itu kadang-kadang eror juga ha ha ha.

7 juni 2016

#QualityTime

Saya: Tidak rasa e besok sudah puasa hari ketiga!

Mamatua: Wuik, masih lama juga. Kalau tiga hari lagi Lebaran, itu baru tidak rasa.

Tanta Sia: Kalau sudah dua minggu puasa ... Aman sudah ... Sisa satu Minggu saja puasanya.

Saya & Mamatua: HAAAEEE Tanta Siaaaa, sisa dua minggu kah.

:p

Seru lah tiap hari begini mbikin sehat jiwa-raga.


Atau seperti yang satu ini:

Baca Juga: The Nun

18 April 2018

Amak, Mamatua kami yang tercinta itu, selalu bisa menimbulkan kelucuan dan kekonyolan di rumah kami yang berujung tawa terbahak-bahak. Dan sudah bukan kisah baru lagi jika Amak paling gemar menggoda Mamasia; bertanya yang aneh-aneh, bermain congklak tapi Mamasia diusahakan harus kalah terus (Amak senang ngeri lihat Mamasia pijit kepala pening karena kalah main congklak), dan sebagainya. Senang melihat semua itu. Bahagia dalam kesederhanaan yang pekat.

Salah satu hal yang paling sering bikin Amak tertawa, bahkan duduk-duduk sendiri tertawa kalau mengingatnya adalah soal pengucapan "Sabtu" dan "Limabelas" ala Mamasia. Pengucapan yang bahkan bikin Indra Pharmantara dan Thika Pharmantara juga ikutan ngakak mendengarnya. Kakak Niniek Melanie Bachtiar Sarimin dan Indri Pd Pharmantara sesekali harus dengar sendiri.

Suatu hari, Amak bilang ke saya, "Non, coba kau tanya Sia, ini hari, hari apa?"

Untuk apa, coba? Tapi saya pun bertanya dengan suara keras karena Mamasia ada di bagian belakang rumah. "Mamasia eeee ... ini hari, hari apa?"

Dengan garang Mamasia menjawab, "SEPTUUUU!"

Dan Amak terbahak-bahak. Kata Amak lagi, "Coba kau tanya tanggal berapa?"

"Tanggal berapa eeee Mamasia!????" tanya saya lagi.

Mamasia menjawab dengan luar biasa garang, "Tanggal LIMAMBLAS!"

Saya lihat Amak tertawa lebih dahsyat. Kuatir saya, bisa jatuh Amak dari kursi saking bahagianya tertawa bisa kerjain Mamasia. Lalu kata Amak, "Kalau Sabtu dia bilang Septu, kalau limabelas dia bilang limamblas. Ha ha ha ha..."

Jadi, sekarang setiap hari saya bertanya pada Mamasia, "Mamasia eee ini hari apa?"

Mamasia, "Malas jawab."

Kadang Mamasia sebelum menjawab sudah pikir lebih dulu, maka jawabnya "Sabtu" dan "Limabelas".

Kadang Mamasia keceplosan kalau saya tanya, "Mamasia, empatbelas tambah satu itu berapa e?"

Mamasia, "LIMAMBLAS."

Nah loh. Qiqiqiqiq  :D

Dan kalau bercerita sama Amak, masih juga keceplosan Septu dan Limamblas itu, yang bikin Amak ngakak dulu, baru ceritanya dilanjutkan.

Life is so that simple and funny. 

#LifeIsGood


Mamatua selalu punya korban, baik langsung maupun tidak langsung, salah satunya seperti pada kisah berikut ini:

8 juni 2018

Pharmantara sedang pakai bedak di kamarnya sambil dengar Mamatua mengobrol dengan Mamasia.

Mamatua: "Jadi ... Terus tu Sia ... Eh ... TADI SAYA CERITA APA E?" 

Thika: *bedak cemong sampai ubun-ubun*

Mamatua e, jangan dulu naik level pikunnya, katanya mau gendong cucu, kalau begini kan nanti bisa begini: "Rumi, kau mari sini." Trus Rumi (rencana nama anak gua geto) datang, "Kenapa Oma?". Mamatua lihat Rumi begini bingung-bingung, "Kau siapa!?"
*gedubraaaaakkkk*

Becanda yaaaa ini, karena #LifeIsGood 

Please fokus sama Mamatuanya, bukan Ruminya. Ha ha ha ...


Setiap orang pasti punya cerita lucu, konyol, kocak, bersama orangtua mereka. Karena sekarang Hari Ibu, setiap orang pasti punya cerita lucu, konyol, kocak, bersama Mama/Ibu/Bunda/Ine mereka. Hanya saja, banyak dari cerita-cerita itu tidak tersimpan dalam catatan. Kalau saya sih memilih menyimpannya di Facebook. Sekalian bisa menghibur teman-teman Facebook. Karena, saya kadang gagal menulis jika temanya haru-biru. 

Baca Juga: The Pirates

Kalian bisa membaca pos serupa di blog milik Pak Martin di Kakavila tentang Kebohongan Ibuku adalah Cinta Paling Tulus yang Saya Rasakan. Atau tulisan Mang Lembu tentang Hari Ibu Apa yang Sudah Kita Berikan Untuk Ibu.

Akhirnya ...

Selamat Hari Ibu!

Selamat liburan!



Cheers.