Arsip Kategori: #CeritaTuteh

Bertumbuh dan Berkembang Bersama Universitas Flores


Bertumbuh dan Berkembang Bersama Universitas Flores. 19 Juli 1980 merupakan tanggal lahirnya Universitas Flores (Uniflor). Founding father-nya, H. J. Gadi Djou, Drs.Ekon. yang karib kami sapa Opa Ema, berjuang begitu keras dan gigih agar pendidikan kaum muda di Pulau Flores tetap berjalan dan berlanjut saat Universitas Nusa Cendana (Undana) Cabang Ende ditutup atas regulasi pada saat itu. Dari buku Sang Visioner, dan tulisan-tulisan dari isteri Opa Ema yaitu Oma Mia Gadi Djou dalam buku-buku seri Cerita-Bercerita, saya pribadi patut mengucapkan terima kasih atas perjuangan Opa Ema mendirikan, membangun, dan mengembangkan Uniflor. Beliaulah sejatinya seorang visioner. Apa yang menjadi visi (dan misi) beliau saat itu, kini telah terwujud. Lulusan Uniflor terserap ke masyarakat: guru/pendidik, ASN, wakil rakyat, wirausahawan, advokat, petani, penyiar radio, kontraktor, orang-orang yang bekerja di belakang layar televisi, dan lain-lain yang tidak dapat saya mention satu per satu.

Baca Juga: #PDL 38 Tahun Uniflor dan Cerita Bersamanya

19 Juli 2020, Uniflor merayakan panca windu-nya. Di usia matang ini, eksistensi Uniflor dalam kancah dunia pendidikan di Indonesia sangat diperhitungkan. Mahasiswanya tidak saja datang dari Pulau Flores, tetapi juga dari Pulau Sumba, Pulau Adonara, Pulau Alor, Pulau Solor, Pulau Lembata, dan sekitarnya. Mahasiswanya bahkan datang dari daerah 3T melalui beasiswa afirmasi; anak Papua, hingga anak Malang yang orangtuanya tinggal di perbatasan Indonesia dan Malaysia. Uniflor telah membuktikan visi-nya sebagai universitas unggul dan sebagai mediator budaya. Bagi saya, Uniflor telah menyatukan begitu banyak budaya menjadi satu budaya yaitu budaya Uniflor. Budaya Uniflor yang tetap memegang teguh budaya masing-masing individu tanpa mendiskreditkan yang lain; menyatukan semua perbedaan budaya tradisional itu bersama budaya moderen.

Saya memang tidak tumbuh bersama Uniflor, di mana Uniflor lahir ketika usia saya menginjak 7 (tujuh) bulan. Tapi saya tumbuh bersama Uniflor sejak tahun 2011 dan berkembang hingga saat ini, dan insha Allah seterusnya. Bertumbuh bersama Uniflor tidak pernah terlintas dalam benak saya sebelumnya, mengingat kebiasaan sering jenuh dengan satu pekerjaan. Nampaknya kali ini memang beda; situasi dunia kerja yang penuh rasa kekerabatan. Kali ini memang beda; saya menemukan renjana pada pekerkaan ini. Ketika menemukan renjana pada pekerjaan, semua orang pasti lebur bersamanya. Saya sudah melalui 4 (empat) kali pindah ruangan, 4 (empat) kali ganti Pimpinan UPT Publikasi dan Humas Uniflor, 5 (lima) kali ganti Kepala Tata Usaha, rekan kerja yang datang-pergi lantas meninggalkan saya dan Kakak Rossa berdua. Bekerja di satu bidang selama 9 (sembilan) tahun ternyata tidak semerta-merta bikin kenyang pengalaman, karena semakin banyak hal/ilmu baru yang saya pelajari, hingga akhirnya ditempatkan sebagai Kabag Dokumentasi dan Publikasi di UPT Publikasi dan Humas Uniflor.

Saya berkembang bersama Uniflor. Ya, itu benar. Melihat Uniflor dari tahun 2011 sampai dengan sekarang, rasanya ingin menitikkan air mata. Dosen-dosennya rata-rata Magister dan kini telah lebih banyak Doktor (dan yang sedang kuliah S3). Semua ruang kuliahnya dilengkapi komputer dan LCD termasuk ruangan micro-teaching, free Wi-Fi di mana-mana bahkan di kantin, perpustakaannya (perpustakaan utama, perpustakaan fakultas, dan perpustakaan program studi) menyediakan koleksi buku yang lengkap, klinik kesehatan dengan seorang dokter dan dua bidan, kampus ministry, fasilitas pusat komputer, fasilitas olah raga, ragam UKM yang mana prestasinya hingga ke tingkat provinsi dan nasional. Mahasiswa Uniflor juga melakukan penelitian membikin hand sanitizer dan disinfektan bersama dosennya. Tentu, mahasiswa Uniflor juga diberikan beasiswa untuk kategori-kategori tertentu antara lain mahasiswa berprestasi hingga mahasiswa kurang mampu.

Pada masa pandemi Covid-19, Uniflor bertindak sebagai orangtua yang sangat peduli pada anak-anaknya. Mahasiswa diberikan berbagai bantuan:
1. Pembagian sembako.
2. Pembagian pulsa data untuk e-learning
3. Pemotongan biaya registrasi.
4. Pembayaran SKS boleh dikredit.
5. Pemotongan biaya KKN.
dan bantuan-bantuan lainnya.
Oh ya, masih dalam masa pandemi Covid-19, Uniflor baru saja melaksanakan wisuda online pada tanggal 18 Juli 2020.

Baca Juga: Merawat Budaya Bersama Uniflor Sebagai Mediator Budaya

Di usianya yang ke-40, tidak ada yang bisa saya berikan kepada Uniflor selain ucapan dan do'a. Semoga Uniflor tetap menjadi universitas unggul, terpercaya, dan terdepan. Semoga Uniflor tetap menjadi mediator budaya. Semoga Uniflor tetap menjadi rumah bagi banyak orang; suka duka kita hadapi dan lewati bersama. Eits, tapi dalam hal lomba antar unit, kita tidak bisa bersama, hahahaha, masing-masing unit pasti berupaya untuk menang. Saya pernah membaca tulisan: usia sangat berarti bagi sepotong keju. Harapan saya: demikian pula Uniflor.

40 and still counting ...

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

Sebenarnya Istilah New Normal Bukan Sesuatu Yang New

Design on Canva.

Sebenarnya Istilah New Normal Bukan Sesuatu Yang New. Halo kalian semua; bos-bos pembaca BlogPacker. Kita masih bertemu melalui kata dalam suasana yang masih sama; masih dipeluk oleh pandemi Covid-19. Tidak ada seorang pun dari kita yang pernah membayangkan kengerian ini sebelumnya. Bahwa dunia ini bisa kacau juga akibat Covid-19. Saya pribadi hanya pernah membayangkan dunia ini kacau karena perang yang terjadi antara negara yang satu dengan negara yang lain akibat perebutan kekuasaan suatu negara, hingga saingan teknologi mutakhir dalam urusan senjata. Kekacauan akibat Covid-19? Uh lala. Mana saya, kalian, mereka, bisa membayangkannya sebelumnya? Urusan mengingat filem bertema pandemi atau zombie, itu lain perkara. 

Baca Juga: Piknik Encim and The Gank di Tengah Pandemi Covid-19

Pada akhirnya kita tidak bisa terus-terusan work from home, kita tidak bisa selamanya berada di dalam rumah terkait kehidupan diri sendiri dan orang lain. Oleh karena itu diberlakukan sesuatu yang disebut new normal. Kehidupan baru yang mengharuskan manusia sebagai makhluk berakal untuk beradaptasi. Kehidupan new normal yang kita jalani sekarang adalah protokol kesehatan masa pandemi Covid-19 yaitu memakai masker, menjaga jarak dengan orang lain, mencuci tangan dengan sabun minimal dua puluh detik dan/atau membersihkan tangan menggunakan hand sanitizer sebelum menyentuh wajah (mata, hidung, mulut), rajin menyemprot disinfektan pada benda-benda mati yang sering tersentuh berjamaah antara lain gagang pintu dan meja.

New normal bagi para pekerja kantoran misalnya kalau sakit flu sebaiknya diam di rumah, apabila satu ruangan kantor terlalu banyak orang boleh dijadwalkan piket untuk menjaga jarak aman, apabila pekerjaan bisa dilakukan dan diselesaikan dari rumah sebaiknya dilakukan dan diselesaikan di rumah, dan lain sebagainya. Saya rasa sama juga new normal ini dengan mereka-mereka yang pekerjaannya tidak di satu ruangan (kantor) alias di luar rumah. 

Menulis tentang new normal, menurut saya pribadi, new normal bukanlah sesuatu yang new bagi umat manusia. Sejak lahir sampai sekarang kita mengalami begitu banyak new normal. Saya hanyalah orang awam yang coba melihat new normal dari kaca mata ... kaca mata awam juga ... tentu saja.

Ambil waktu dari saat Mama berhenti memberikan ASI karena sudah saatnya. Itulah new normal bagi umat manusia. Belajar meminum susu dan air dari botol (dot) bahkan gelas. Ho ho ho. Sudah paham sekarang? Saat manusia bisa berjalan, itu new normal yang lain dari tahapan kehidupannya. Bagi anak-anak dalam masa sekolah/pendidikan, hampir setiap tahun ada anak yang beradaptasi dengan new normal yang merupakan kehidupan/dunia sekolah. Sebelumnya bangun tidur boleh kapan saja, setelah sekolah bangun tidur harus lebih awal agar bisa mempersiapkan diri dan berbagai keperluan untuk sekolah. Sumpah, saat saya mulai bersekolah di TK, rasanya malas sekali membiasakan diri untuk bangun lebih awal. Huhuhu.

Bagi mereka yang menikah, kehidupan pernikahan merupakan new normal yang harus dihadapi dan dijalani hingga maut memisahkan, insha Allah. Yang sebelumnya hanya memikirkan diri sendiri, setelah menikah harus memikirkan dan mengurus rumah tangga (suami/isteri, dan anak). Yang biasanya makan di warung karena masih single, pada akhirnya demi penghematan dan kebersamaan dengan keluarga, harus memasak.

Kita juga harus sadar bahwa dunia digital/internet telah mengubah kita dan mau tidak mau memaksa kita menjalani new normal. Buku diary 'bermutasi' pada blog. Bekerja bisa dari mana saja selama ada koneksi internet. Surat tidak perlu berperangko jika dikirim melalui e-mail. Tugas-tugas siswa/mahasiswa dapat dikumpulkan melalui e-mail, WA, maupun blog. Dulunya melepas rindu bisa melalui telepon, sekarang video call saja! Rindunya lunas tuntas! Bahkan menonton video-video di Youtube merupakan new normal bagi saya setelah saya menjalani new normal yang lain yaitu tidak menonton televisi selama bertahun-tahun! Iya, new normal adalah kebiasaan baru yang kita jalani dalam hidup ini. Sesuatu yang dulunya dianggap bukan kebiasaan kemudian menjadi kebiasaan akibat daya dorong dari hal-hal lain.

Baca Juga: Panen Sorgum Untuk Pertama Kalinya Sungguh Bikin Happy

Covid-19 memang telah mengubah kehidupan umat manusia di dunia ini. Tidak pandang bulu. Entah kapan akan berakhir, itu yang kita belum tahu, oleh karena itu untuk menghadapi kehidupan kita sendiri haruslah kita beradaptasi dengan new normal ini. Itu menurut saya. Bagaimana menurut kalian? Yang jelas, salah satu new normal bagi saya saat ini selain mengikuti protokol kesehatan adalah berkebun hahaha. Covid-19, kita hanya bisa berupaya untuk menghindarinya ... 

Semoga bermanfaat.

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

Piknik Encim and The Gank di Tengah Pandemi Covid-19


Piknik Encim and The Gank di Tengah Pandemi Covid-19. Halo semua! Sudah lama, lama, lama sekali kalian tidak bertemu tulisan baru di blog ini. So sorry, keasyikan sama Horeday jadi lupa ngasih semacam notifikasi pada kalian. Hehe. Yang jelas, saya ingin mengucapkan Selamat Merayakan Idul Fitri bagi teman-teman yang merayakannya, meskipun sudah lewat jauh, dan semoga puasanya pada Bulan Ramadan kemarin betul-betul membersihkan hati dan pikiran saya, kalian, mereka. Insha Allah. Amin.


Baca Juga: Membagi Masker dan Tetap Menjaga Protokol Kesehatan

Sebenarnya sejak tahun lalu saya sudah berencana untuk close house (lawannya open house kan ya, haha). Rencananya Idul Fitri tahun 2020 ini saya bakal mengajak semua penghuni Pohon Tua termasuk Mamasia dan Mamalen untuk pelesir ke Riung. Kalau Riung terlalu jauh, menginap di hotel di Kota Ende pun boleh lah. Intinya kami tidak membikin kue, tidak memasak masakan khas Idul Fitri, serta tidak menerima tamu. Ndilalah, Covid-19 mewujudkan rencana itu *ngakak*. Kami memang tidak ke mana-mana alias #DiRumahSaja sekaligus tidak menerima tamu. Apakah dengan demikian pengeluaran terpangkas? Terpangkas sedikit, karena kami tetap membikin kudapan dan memasak meskipun jumlahnya sangat sedikit. Sesuai jumlah penghuni Pohon Tua dan anggota keluarga besar Pharmantara dan Abdullah Achmad (the only one kakak ipar laki-laki).


Hari kedua Idul Fitri saya pergi (untuk kedua kali) bersilaturahmi ke rumah Abang Nanu Pharmantara bersama Kakak Nani Pharmantara dan suaminya Ka'e Dul. Dari situ tercetus ide untuk piknik keesokan harinya. Selasa! Amboiiii rencana mendadak ini ... apakah terlaksana? Jelas! Melalui WAG Encim and The Gank, semua orang kebagian bekal bawaan. Piknik kali ini agak berbeda karena kami juga membawa tenda. Oh ya, bagi kalian yang penasaran dengan keseruan piknik Encim and The Gank ini, silahkan  nonton video berikut:


Sudah nonton videonya? 

Seru kan?


Nah, pasti ada yang bertanya mengapa kami 'berani-beraninya' piknik di tengah pandemi Covid-19 ini? Pasti kalian betul-betul emosi dengan keluarga kami kan? Hehe. Tidak apa-apa, setiap orang berhak untuk marah pada masa seperti sekarang ini. Inilah yang saya tulis pada deskripsi video tersebut:

Setelah sekian lama akhirnya keluarga besar kami, Keluarga Pharmantara dan Keluarga Abdullah Achmad, memutuskan untuk piknik. Kali ini pikniknya di Kali Nangaba. Meskipun piknik, kami tetap berusaha menjaga protokol kesehatan ya, gengs. Jangan marah atau menyalahkan keluarga kami karena piknik di tengah pandemi Covid-19. Yang perlu diketahui adalah bahwa Kali Nangaba itu panjaaaaang, dan area kering di sekitarnya sangat luas, sehingga jarak antara keluarga kami dengan orang lain lebih dari 10 meter. Tentu kami juga tidak ingin hal-hal buruk menimpa ... Insha Allah. Amin.

Tentu kami semua mengikuti protokol kesehatan yang dianjurkan. Semua kendaraan yang dipakai baik sepeda motor maupun mobil disemprot dengan disinfektan terlebih dahulu. Semua orang, sebelum berangkat, wajib mencuci tangan dengan sabun minimal dua puluh detik dan wajib memakai masker. Di Kali Nangaba (kami jarang menyebut sungai), jarak antara rombongan kami dengan orang-orang lainnya lebih dari sepuluh meter, bahkan lebiiiiiih lagi. Setiap orang tentu tidak mau terinfeksi Covid-19 bukan? 


Saya berharap kalian juga demikian ... masih bisa menikmati kebersamaan dengan keluarga di tengah pandemi Covid-19. Amin.

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

Satu Minggu Yang Diam dan Senyap di Blog dan Youtube


Satu Minggu Yang Diam dan Senyap di Blog dan Youtube. Minggu kemarin saya sama sekali tidak menulis blog dan hanya satu kali mengunggah video di Youtube. Benar-benar satu minggu yang diam dan senyap. Tetapi tentu saya ada alasannya. Meskipun diam dan senyap di blog dan Youtube, dalam kehidupan nyata justru sebaliknya. Terlalu banyak hal yang dilakukan sehingga untuk menengok blog pun sulit. Fokus, fokus, fokus. Kalau fokus terpecah, maka hari ini saya belum tentu bisa menulis blog. Haha. Tapi tentu saya

Baca Juga: Membagi Masker dan Tetap Menjaga Protokol Kesehatan

Di Kota Ende selain marak berita tentang satu orang yang dinyatakan positif Covid-19, warga juga dikejutkan dengan berita penyiraman air keras terhadap seorang perempuan bernama Adi Nona hingga meninggal dunia (karena cairan tersebut katanya memasuki jalan nafas). Berita ini sungguh membikin perasaan saya hancur. Bagaimana mungkin ada orang setega itu terhadap orang lainnya? Di bulan suci Ramadan pula! Dan yang lebih sadis adalah netizen yang kemudian memosting foto jenazah bersangkutan saat masih di IGD. Ini kan nganu ... pengen marah-marah jadinya.

Saya menulis begini di Facebook:

Arogansinya Netizen +62

Bulan Agustus 2017 Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Universitas Flores (Uniflor) menggelar kegiatan bertajuk "Secangkir Kopi bersama Abang Frans Padak Demon". Abang Frans dari VoA Indonesia di Jakarta melempar quiz/pertanyaan. Kira-kira begini pertanyaannya: lebih mudah mana, pekerjaan wartawan zaman sekarang atau zaman dulu ketika belum ada internet? Saya sebagai orang yang menjawab dengan benar mendapat hadiah dompet VoA dan satu barang lagi yang saya lupa barang apa.

Jawaban saya waktu itu: lebih mudah pekerjaan wartawan zaman dulu karena saat sekarang wartawan bersaing dengan netizen yang selalu ingin lebih dulu menyiarkan segala sesuatunya tanpa memerhatikan akurasi data dan fakta.

Sejak mengenal Internetsehat (ICT Watch) dan kalimat "Jurnalis Warga" saya tahu bahwa netizen juga berhak untuk memosting apa pun, tetapi harus tetap memerhatikan kode etik online. Sayangnya arogansi netizen +62 jauh lebih besar menguasai besarnya bentuk otak di dalam tempurung kepala.

Pasal 4 PERATURAN DEWAN PERS Nomor: 6/Peraturan-DP/V/2008 Tentang Pengesahan SURAT KEPUTUSAN DEWAN PERS Nomor: 03/SK-DP/III/2006 Tentang KODE ETIK JURNALISTIK SEBAGAI PERATURAN DEWAN PERS berbunyi sebagai berikut:

"Wartawan Indonesia tidak membuat berita bohong, fitnah, sadis, dan cabul."

Penafsirannya adalah sebagai berikut:

"Sadis berarti kejam dan tidak mengenal belas kasihan."

Tidak mengenal belas kasihan merupakan wujud dari arogan. Arogan berarti sombong, congkak, pongah, serta mempunyai perasaan superioritas yang dimanifestasikan dalam sikap suka memaksa.

Wartawan tentu mematuhi aturan yang diberlakukan untuk mereka. Tapi netizen ...?

Netizen +62 itu arogan. Meskipun tidak semua. Kenapa arogan? Karena dengan penuh rasa percaya diri memosting foto jenazah/mayat di media sosial. Salah satu media sosial itu bernama Facebook. Karena apa mereka arogan? Karena ingin menjadi yang pertama menyiarkan berita dan foto tanpa menggunakan otak yang dilindungi tempurung kepala itu. Lebih sadis, foto jenazah yang diposting bukan keluarga mereka sendiri. Padahal, meskipun keluarga, sebaiknya menghindari melakukannya karena itu merupakan bentuk tidak punya rasa hormat terhadap jenazah.

Ini baru melihat dari peraturan Dewan Pers, belum lagi peraturan lain seperti Undang-Undang Nomor 19 tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Apakah memosting foto jenazah bisa terjerat hukum? Ya, bisa. Jangankan jenazah. Sebenarnya memosting foto orang lain tanpa izin yang bersangkutan pun bisa terjerat hukum. Pihak keluarga dari si jenazah bisa melakukan penuntutan terhadap netizen yang memosting foto korban yang bersangkutan. Bisa dengan pasal perbuatan tidak menyenangkan. Siapa sih yang senang foto jenazah keluarganya diposting orang lain yang tidak ada sangkut-pautnya? Keluarga bukan, pihak berwajib juga bukan, tapi berani melakukannya.

Netizen yang berani memosting foto jenazah di media sosial itu:

TIDAK PUNYA NURANI.

Sebenarnya saya mau menulis BUTA HUKUM tapi toh zaman sekarang setiap orang bisa mengakses segala macam peraturan yang ada. Jadi lebih tepatnya tidak punya nurani karena AROGAN.

Menjadi yang pertama itu baik, tapi menjadi yang pertama tanpa memikirkan hak orang lain untuk dihormati adalah bo ...

#LifeIsGood

Tahan-tahan emosi. Postingannya jauh lebih sopan. Hehe.

Baca Juga: Panen Sorgum Untuk Pertama Kalinya Sungguh Bikin Happy

Saya harap netizen berhenti memosting foto jenazah dan/atau foto-foto bersifat sadis lainnya. Terutama foto jenazah, postinglah foto ketika beliau masih hidup dalam kondisi sehat dan penuh senyum. Biarkan semua orang mengenangnya dalam kondisi itu, bukan dalam kondisi yang buruk (setelah meninggal). Come on, kita orang-orang yang cerdas kan? I guess.

Semoga bermanfaat!

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

Membagi Masker dan Tetap Menjaga Protokol Kesehatan

Wakil Rektor Bidang Kerja Sama Dr. Ernesta Leha, S.E., M.Agb. sedang membagi masker, tetap mengikuti protokol kesehatan yaitu menjaga jarak dan mencuci tangan usai kegiatan.

Membagi Masker dan Tetap Menjaga Protokol Kesehatan. Sabtu kemarin saya meliput kegiatan yang dilakukan oleh Universitas Flores (Uniflor) dalam hal ini pihak Rektorat. Kegiatannya sangat keren yaitu membagi (ratusan) masker kepada masyarakat sekaligus mengedukasi masyarakat tentang pentingnya memakai masker. Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardikas) yang jatuh pada tanggal 2 Mei, saya pikir kegiatan ini sangat tepat dengan kondisi sekarang di mana Covid-19 sedang merajalela. Membagi sekaligus mengedukasi masyarakat tentang pentingnya memakai masker merupakan salah satu upaya penting memutus penyebaran Covid-19.

Baca Juga: Panen Sorgum Untuk Pertama Kalinya Sungguh Bikin Happy

Karena saya yang membikin beritanya, maka bolehlah saya mengkopi-tempel berita tersebut di sini. Cekidot.

PERINGATI HARDIKNAS UNIFLOR MEMBAGI RATUSAN MASKER KEPADA MASYARAKAT

Peringati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang jatuh pada tanggal 2 Mei, Universitas Flores (Uniflor) membagi ratusan masker kepada masyarakat. Dalam sambutannya sebelum pembagian masker dimulai Rektor Uniflor Dr. Simon Sira Padji, M.A. mengatakan bahwa kegiatan ini menunjukkan Uniflor peduli dengan pendidikan yang mana suasana Hardiknas pada tahun ini masih belum kondusif akibat pandemi Covid-19. Oleh karena itu selain pembagian masker juga dilakukan edukasi kepada masyarakat yang menerima masker tersebut tentang betapa pentingnya memakai masker dalam situasi sekarang. Pada masa yang akan datang Uniflor akan mengupayakan pembagian masker dalam skala yang lebih besar yaitu dengan melibatkan setiap program studi.

Sekretaris Yayasan Perguruan Tinggi Flores (Yapertif) Ana Maria Gadi Djou, S.H., M.Hum. mengucapkan terima kasih kepada Uniflor atas kegiatan ini. Lebih lanjut Ana Maria mengungkapkan bahwa murid lebih takut kepada guru ketimbang orangtua, atas pemikiran ini mudah-mudahan dapat membuat masyarakat lebih peduli, karena Covid-19 sangat berbahaya dan paling utama selain mencuci tangan adalah harus menggunakan masker.

Pembagian masker dilakukan di persimpangan Jalan Wirajaya, Jalan Melati, Jalan Uniflor, dan Jalan Prof. Dr. W. Z. Yohanes. Kegiatan pembagian masker dihadiri dan dilakukan oleh Rektor Uniflor, Wakil Rektor Bidang Akademik Uniflor Ferdinandus Lidang Witi, S.E., M.Kom., Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum dan Keuangan Uniflor Falentina Lucia Banda, S.E., M.Sc., Wakil Rektor Bidang Kerja Sama Uniflor Dr. Ernesta Leha, S.E., M.Agb., Sekretaris Eksekutif Uniflor Yohanes Laka Suku, S.T., M.T., Sekretaris Yapertif, Kepala Biro Administrasi Akademik (BAA) Uniflor Christina Gabriela, S.Sos., Kepala Biro Administrasi Umum dan Keuangan Emilia Contessa Sero, A.Md., dan dibantu sebagian dosen dan karyawan Uniflor. Selain masker untuk orang dewasa juga dibagi masker untuk anak-anak.(2teh).

Sebelumnya, Uniflor yaitu Prodi Akuntansi juga telah membagi masker kepada masyarakat terutama di daerah Pasar Wolowona, Pasar Mbongawani, dan Pasar Potulando. Sedangkan Prodi Pendidikan Fisika telah melakukan penelitian dan membikin hand sanitizer dan disinfektan serta dibagikan pula kepada masyarakat dan pihak Kelurahan Paupire tempat Uniflor berdomisili.

Baca Juga: Belajar Blog Sambil Donasi di Kelas Blogging Online

Sebagai lembaga pendidikan tinggi, Uniflor telah berupaya dan membuktikan kepeduliannya terhadap lingkungan yang sehat sebagai idealnya manusia tinggal. Tugas kita semua adalah mengikuti protokol kesehatan yang diberlakukan oleh pemerintah antara lain mencuci tangan minimal dua puluh detik sebelum menyentuh wajah (mata, hidung, dan mulut), memakai masker, menjaga jarak, dan kalau bisa membersihkan rumah dan lingkungan dengan menyemprot cairan disinfektan. Disinfektan sangat mudah dibikin. Kakak Nani Pharmantara yang pada masa pensiunnya bersama suami membuka kios sembako juga menyediakan kran dan sabun untuk cuci tangan para pembeli serta menyemprot uang yang diserahkan menggunakan cairan disinfektan (lalu dijemur) hahaha.

Semoga bermanfaat.

Mari, saling menjaga!

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

Panen Sorgum Untuk Pertama Kalinya Sungguh Bikin Happy


Panen Sorgum Untuk Pertama Kalinya Sungguh Bikin Happy. Hola! Ketemu lagi di Hari Senin. Harinya saya bertugas alias piket di kantor. Iya, sejak minggu kemarin, saya kebagian piket di kantor setiap Senin dan Selasa, tetapi karena peraturan piket baru diberitahu pada Selasa dan saya membaca pesan itu Selasa siang, jadinya baru minggu ini saya memulai piket. Urusan piket ini sebenarnya sudah diberlakukan pada masa awal #DiRumahSaja di mana saya kebagian jaga kandang setiap Senin dan Rabu, tetapi sempat terhenti sejak keluarnya surat edaran kedua perpanjangan masa #DiRumahSaja, dan ketika surat edaran ketiga perpanjangan masa #DiRumahSaja kembali dikeluarkan, piket pun kembali diberlakukan. Senang? Tentu!

Baca Juga: Belajar Blog Sambil Donasi di Kelas Blogging Online

Saya sudah pernah menulis bahwa selama berada di rumah (saja) banyak kegiatan yang telah dilakukan. Salah satunya adalah berkebun mini di beranda belakang Pohon Tua. Nah, hari Minggu kemarin ada sesuatu yang bikin saya happy. Akhirnya saya memanen sorgum yang tumbuh di petak tanah sisa 1 x 1 meter itu! Sebagai orang yang belum akrab dengan sorgum, saya harus bertanya terlebih dulu pada Cahyadi tentang kondisi sorgum, apakah sudah boleh dipanen atau belum? Ternyata kata Cahyadi, sorgum itu sudah boleh dipanen. Ayolah! Eits, tapi sebelumnya, Minggu pagi sekitar jam sepuluh kami berangkat ke kebun sorgum milik Cahyadi di daerah Woloare untuk mengambil tanah sekarung. Tanah ini bakal saya tanami anakan ubi tatas yang sudah mulai bertunas dari beberapa ubi tatas yang saya tanam sekitar dua minggu lalu. Selain membawa tanah sekarung, saya juga membawa pulang satu polybag anakan cabe dan satu polybag anakan cabe rawit.

Cerita tentang kebun sorgum milik Cahyadi dan panen sorgum di beranda belakang Pohon Tua silahkan kalian nonton pada video berikut:



Sebenarnya, apa sih sorgum itu?

Menurut Wikipedia, Sorgum (Sorghum spp.) adalah tanaman serbaguna yang dapat digunakan sebagai sumber pangan, pakan ternak dan bahan baku industri. Sebagai bahan pangan, sorgum berada pada urutan ke-5 setelah gandum, jagung, padi, dan jelai. Sorgum merupakan makanan pokok penting di Asia Selatan dan Afrika sub-sahara. Sorgum juga mengandung serat tidak larut air atau serat kasar dan serat pangan, masing-masing sebesar 6,5% - 7,9% dan 1,1% - 1,23%. Kandungan proteinpun seimbang dengan jagung sebesar 10,11% sedangkan jagung 11,02%. Begitu pula dengan kandungan patinya sebesar 80,42% sedangkan kandungan pada jagung 79,95%. Hanya saja, yang membuat tepung sorgum sedikit peminat adalah karena tidak adanya gluten seperti pada tepung terigu. Masyarakat indonesia sudah tenggelam dalam nikmatnya elasitisitas terigu, karena tingginya gluten, dan inilah yang membuat adonan mie, dan roti menjadi elastis.

Terlalu banyak makan dari bahan pangan ber-gluten tidaklah terlalu baik untuk kesehatan, karena dapat menyebabkan celiac desease. Ini merupakan salah satu titik tolak bahwa alternatif tepung yang sehat dapat dikonsumsi adalah tepung sorgum. Selain itu Sorgum dikenal memiliki manfaat yang lebih baik daripada tepung terigu karena gluten free serta memiliki angka glikemik index yang rendah sehingga turut mendukung tren gerakan konsumen gluten free diet seperti di negara-negara maju.

Ceritanya sampai Cahyadi berkebun sorgum dan merembet ke saya adalah pada suatu hari, saya lupa tahun berapa (2017, 2018, atau 2019?), Cahyadi mengantar tamu yang hendak pergi ke Dusun Likotuden, Desa Kawalelo, Kecamatan Demon Pagong, Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Ada apa di sana? Ada Mama Sorgum Indonesia yaitu Maria Loretha. Dari perjalanan itu Cahyadi membawakan saya kue sorgum dan butir-butir sorgum siap pakai. Dari situlah Cahyadi mulai kepikiran untuk ikut menanam sorgum, melihat manfaatnya yang sangat baik bagi kehidupan umat manusia. Pada tahun 2019 Cahyadi kembali pergi ke sana dan membawakan saya sebungkus bubuk sorgum; bubuk ini dapat dicampur air panas untuk diminum, boleh dicampur gula, boleh tidak dicampur gula, mana-mana suka.

Sampai sorgum kemudian tumbuh di petak tanah sisa 1 x 1 meter di beranda melakang Pohon Tua, silahkan baca pos berjudul Membikin Kebun Mini di Beranda Belakang Pohon Tua. Kalian akan tahu bahwa sorgum merupakan tanaman yang tidak sombong dan tidak repot untuk tumbuh. Dia bisa tumbuh di mana saja selama ada sinar matahari dan air. Saya sudah membuktikannya, saya sudah memanennya!







Setelah dipanen sorgum harus dijemur terlebih dahulu, kemudian digiling/ditumbuk untuk memisahkan isi dan kulit, baru deh diolah untuk dikonsumsi. Karena mesin penggiling sorgum tidak ada di Kota Ende (kabarnya ada di Kecamatan Detusoko, di tempatnya Nando Watu yang sudah terlebih dahulu menanam sorgum), kayaknya saya bakal menumbuknya menggunakan lesung kayu. Sama seperti menumbuk kopi yang sudah disangrai! Hehe. Kayaknya kegiatan menumbuk sorgum bakal seru dan bakal jadi pengalaman bagi kami serumah.


Baca Juga: Seni Lukis dan Seni Kata di Kedai Kampung Endeisme

Bagaimana, kawan? Ternyata tidak sulit kan memperoleh bahan pangan pengganti nasi? Jujur, gara-gara Covid-19 pun saya kepikiran menanam bahan pangan yang bisa dimakan sebagai pengganti nasi. Bahan pangan itu antara lain ubi tatas dan kentang. Ubi tatas sudah selesai disemai; dari dua sampai tiga biji ubi tatas yang saya tanam, menghasilkan belasan anakan yang ditanam di polybag terpisah setiap anakannya. Mungkin yang paling sulit itu kentang, karena sudah dua kali percobaan ini masih belum membuahkan hasil, hanya saja kentang yang waktu tanamnya bersama-sama ubi tatas saya bongkar dari polybag dan ternyata ... muncul tunas-tunas keciiiil banget dari mata kentang. Makanya kentang itu langsung saya potong dan tanam dengan bagian tunas ngintip dari balik tanah. Semoga tumbuh juga. Setidaknya ubi tatas dan kentang bisa bikin kenyang. Ha ha ha.

Semoga bermanfaat!

Mari berkebun!

#SeninCerita
#Ceritatuteh



Cheers.

Belajar Blog Sambil Donasi di Kelas Blogging Online


Belajar Blog Sambil Donasi di Kelas Blogging Online. Hola! Minggu kemarin merupakan minggu paling tidak produktif. Tapi bohong. Hehe. Tidak produktif di blog, tapi sangat produktif di belakang rumah, bercengkerama dengan tanah, polybag, bibit, tunas, dan anakan. Pagi ini, saya sangat gembira melihat bibit sawi yang bertumbuh, mengintip dari celah tanah, mencari sesuatu yang disebut sinar (matahari). Horeee! Kekuatiran saya, bahwa mereka bakal gagal tumbuh, pun sirna. Saya pernah menanam bibit sawi, pernah melihatnya bertumbuh hingga remaja, kemudian dihancurkan oleh ... entah ... manusia atau ayam. Jahat. Kali ini tidak boleh terjadi lagi pengrusakan itu, Ferguso! Haha. Oalah ... intro-nya kepanjangan. Mari lanjut dengan Kelas Blogging Online.

Baca Juga: Mengenang Pak De yang Humoris, Murah Hati, dan Merakyat

Tahun 2018 saya bersama Om Bisot dan Kanaz membuka kelas blogging. Cerita tentang kelas blogging tersebut bisa kalian baca pada pos berjudul: 5 Alasan Membuka Kelas Blogging NTT, Angkatan II Kelas Blogging NTT, 5 Kelas Blogging, 5 Peserta Favorit Kelas Blogging#PDL BAT Dan Kelas-Kelas Blogging Yang Mereka Bangun. Alasan membangun kelas blogging adalah agar teman-teman di luar sana yang belum punya blog bisa belajar membikin dan membangun blog, serta teman-teman yang sudah punya blog bisa belajar mengelola blog dengan baik. Kami bertiga murni hanya ingin berbagi informasi dan sedikit pengetahuan. Tidak sepeser pun bayaran dipungut. Iya, berdasarkan kesenangan saja. Kelas blogging tersebut berjalan di WhatsApp Group (WAG).

Tahun 2020, kami kembali membuka kelas blogging, tapi agak berbeda.


Berbeda apanya sih?

Pertama: Kami bekerja sama dengan Sekolah Relawan.
Kedua: Kali ini berbayar!


Setiap orang yang ingin menjadi peserta Kelas Blogging Online 2020, wajib membayar biaya pendaftaran sejumlah Rp 100.000. Biaya pendaftaran langsung dikirimkan pada rekening Sekolah Relawan, lantas mengirimkan bukti transfer pada nomor WA Kanaz, dan nanti akan di-add pada WAG Kelas Blogging Online 2020.


Biaya pendaftaran yang dikirimkan pada rekening Sekolah Relawan tersebut akan dimanfaatkan untuk membantu masyarakat terdampak Covid-19. Makanya kami menulis Belajar Blog Sambil Donasi. Kapan lagi? Ya sekarang lah.

Waktu (kembali) diajak Kanaz untuk membuka kelas blogging saya langsung semangat. Karena, setiap orang punya caranya masing-masing untuk membantu. Apalagi saat kondisi seperti sekarang di mana virus Corona a.k.a. Covid-19 merajai dunia. Kami yang work from home, tentu sangat senang bisa melakukan ini, di sela-sela pekerjaan yang juga tak kalah banyak. Ini ibarat oase di padang pasir. Kerinduan untuk bercengkerama dengan lebih banyak orang (baru) meskipun hanya melalui WAG. Doakan semoga banyak pesertanya. Karena, semakin banyak peserta, semakin banyak masyarakat terdampak Covid-19 yang bisa terbantu.

Insha Allah.

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

Suasana Kota Ende Setelah 14 Hari Saya Di Rumah Saja


Suasana Kota Ende Setelah 14 Hari Saya Di Rumah Saja. Empat belas hari telah berlalu sejak dosen, karyawan, dan mahasiswa Universitas Flores (Uniflor) dirumahkan. Iya, kami #DiRumahSaja. Taat pada aturan, dosen dan mahasiswa Uniflor melaksanakan pembelajaran menggunakan metode e-learning. Layanan yang digunakan bermacam-macam. Ada e-learning yang bisa diakses melalui situs Uniflor, ada MOODLE, Edmodo, hingga Google Classroom. Karyawan Uniflor wajib standby. Apabila sewaktu-waktu dipanggil oleh pimpinan, wajib datang ke kampus, tidak boleh beralasan sedang berada di kampung halaman. Saya sendiri benar-benar di rumah saja karena kebutuhan keluar rumah dilakukan oleh Thika Pharmantara dan Melly seperti berbelanja kebutuhan pokok hingga kebutuhan Mamatua.

Baca Juga: Penjelasan Paling Masuk Akal Dari Kematian Elisa Lam

Sabtu, 4 April 2020, untuk pertama kali setelah empat belas hari saya pun pecah telur alias keluar kandang. Haha. Sabtu kemarin saya harus meliput kegiatan tahunan Uniflor setiap tanggal 4 April yaitu ritual Pati Ka Embu Kajo di Tubu Nabe. Kegiatan tersebut dilaksanakan pagi hari pukul 07.00 Wita dan berakhir pukul 08.30 Wita dengan peserta yang sangat terbatas. Mumpung sedang berada di luar rumah, usai kegiatan di kampus saya mengajak Thika jalan-jalan berkeliling Kota Ende. Penasaran juga ... saya yang #KakiKereta ini begitu lama berada di dalam Pohon Tua, apa yang terjadi dengan Kota Ende? Hahaha. Gaya banget lu, Teh. Anyhoo, ternyata Kota Ende masih lengang. Masyarakat patuh pada aturan yang ditetapkan pemerintah. Beberapa orang yang berada di jalanan adalah mereka-mereka yang memang bekerja di luar rumah. 

Berikut videonya. Cekidot!



Baca Juga: Pembagian 100 Sampel Hand Sanitizer Sampai Social Distancing

Pada video di atas, kalian bisa melihat suasana Kota Ende. Jalanan memang masih lengang. Kami mampir di lapak nasi kuning langganannya si Thika. Si Kakak penjual nasi kuning mengaku nasi kuning yang dijualnya masih laris manis serta belum sampai pada penurunan omzet harian. Entah dengan hari-hari beriktunya karena kami semua menerima surat edaran baru dari Rektor yang memperpanjang waktu #DiRumahSaja hingga tanggal 18 April 2020. Work from home memang menyenangkan juga, tapi lebih menyenangkan kerja di kantor seperti hari-hari biasa karena bisa bertatap muka dengan teman-teman dan bergibah hahaha.

Bagaimana dengan kalian, kawan? Bagi tahu yuk di komen.

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

Penjelasan Paling Masuk Akal Dari Kematian Elisa Lam


Penjelasan Paling Masuk Akal Dari Kematian Elisa Lam. Sampai sebelum kami memasang IndiHome di Pohon Tua, internet masih menjadi barang yang cukup mahal bagi saya, apalagi jika ingin menonton video di Youtube. Mengatasi masalah susah tidur, yang saat ini lumayan teratasi dengan menonton Upin Ipin dan Larva, saya sering membaca artikel-artikel aneh. Seaneh kata/kalimat pencarian di Google yaitu kejadian aneh dunia, misteri dunia yang belum terpecahkan, daerah terangker di dunia, penampakan hantu, hingga teori-teori konspirasi oleh kelompok yang kita sebut Illuminati. Kalian boleh menyebut saya aneh dan menjengkelkan. Tapi yang jelas, kalau membaca artikel teori konspirasi apa pun, jangan mudah terbawa arus apalagi mempercayainya. Itu tidak bagus bagi kesehatan akal dan mental.

Baca Juga: Pembagian 100 Sampel Hand Sanitizer Sampai Social Distancing

Salah satu pencarian aneh di Google itu mempertemukan saya dengan Cecil Hotel, sebuah hotel yang disebut angker, berhantu, dan sering terjadi hal-hal mengerikan. Dari situlah saya tahu tentang kasus kematian seorang perempuan muda bernama Elisa Lam. Penasaran dengan kasus kematiannya, saya mengganti kata/kalimat pencarian di Google sebagai berikut: kematian Elisa Lam. Ternyata banyak situs baik Bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris yang membahas tentang perempuan tersebut. Sampai, kemudian setelah berfoya-foya dengan internet - haha, saya menemukan video yang membahas tentang misteri kematiannya. Bertahun-tahun mencari dan memperoleh informasi tentang Elisa Lam, konklusionnya hanya satu: berkaitan dengan misteri dan makhluk astral. Manapula dari rekaman CCTV di lift hotel tersebut, perilaku Elisa Lam begitu aneh. Membikin kita yang menonton ikut merasakan kengerian yang sedang dia hadapi.

Sabtu malam kemarin merupakan hari bersejarah karena pada akhirnya saya menemukan video dari channel The Chapter dengan host bernama Mike, yang membahas tuntas kematian Elisa Lam. Saya harus berterima kasih pada Yuvi Phan yang menyebut nama Jodi Arias, dan pencarian Jodi Arias mengantar saya pada The Chapter. Kalian harus menonton video Jodi Arias, perempuan tersadis, pembunuh berdarah dingin, seorang manipulator.

Anyhoo, mari kembali pada Elisa Lam.

Sebelum melanjutkan tulisan ini, saya ingin mengingatkan pada kalian bahwa tulisan ini merupakan tulisan yang sangat panjang dengan banyak penjelasan. Bersabarlah dan membacalah dengan runut. Haha *dijumroh warga*.

Elisa Lam


Dari video The Chapter tentang Elisa Lam, juga informasi lain yang saya rangkum dari intenet, diketahui Elisa Lam lahir pada tahun 1991 di Vancouver, Canada. Orangtuanya adalah imigran asal Hongkong. Di Vancouver, orangtuanya membuka sebuah restoran bernama Paul's. Elisa mempunyai seorang adik perempuan bernama Sarah dan hubungan kakak-beradik ini sangat dekat. Ketika tumbuh besar, Elisa mempunyai lingkaran pertemanan yang baik dan sangat dekat dengan keluarganya. Dia digambarkan sebagai orang muda yang supel dan banyak bicara. Buku favoritnya berjudul The Great Gatsby karya F. Scott Fitzgerald.

Pada tahun 2010 Elisa mulai nge-blog dengan judul blog Ether Fields, yang sepertinya blog tersebut memakai platform Tumblr. Saya juga punya blog di Tumblr loh, haha. Ether Fields membahas ketertarikan Elisa terhadap dunia fashion. Banyak foto-foto dirinya dengan berbagai gaya/fashion. Tetapi, pada blog itu juga ditemui banyak tulisan tentang sisi instropektif dirinya. Salah satu tulisan yang diangkat oleh The Chapter adalah sebagai berikut: 

Quotation marks:
"Loneliness is the human condition. Cultivate it. The it tunnels into you allows your soul room to grow. Never expect to ougrow loneliness. Never hope to find people who will understand ou, someone fo fill that space. And intelligent, sensitive person the exception, the very great exception. If you expect to find people who will understand you, you will grow murderous with disappointment. The best you'll ever do is to understand yourself, know what it is that you want, and not let the cattle stand in your way." - Jane Fitch (White Oleander).

Salah satu pos blog-nya, Elisa menjelaskan tentang masalah kesehatan dirinya:

Dizzy

I've been having headaches for the past two days and my vision shakes when I stand. I'm not sure if it's vertigo but definitely do not feel stable even when sitting. It also gets hard to focus at time. I can't seem to process the whole scene, almost like tunnel-vision on a hand-held camera.

If only family doctors worked on Sunday. I don't see why a few can't decide to work weekends and closer on other days of the week. Sickness doesn't take a day off and even pharmacists are available 7 days a week. Oh well, nothing I can do unless I feel like going to the hospital (no way). 

Sekitar waktu itulah Elisa didiagnosis menderita gangguan bipolar dan depresi. Situs Alodokter menjelaskan gangguan bipolar sebagai berikut: 

Gangguan bipolar adalah gangguan mental yang ditandai dengan perubahan emosi yang drastis. Seseorang yang menderita bipolar dapat merasakan gejala mania (sangat senang) dan depresif (sangat terpuruk).

Gangguan bipolar umumnya ditandai dengan perubahan emosi yang drastis, seperti:

Dari sangat bahagia menjadi sangat sedih.
Dari percaya diri menjadi pesimis.
Dari bersemangat menjadi malas beraktivitas.

Setelah lulus SMA, Elisa terdaftar di University of British Columbia. Namun saat kuliah itu masalah kesehatan mentalnya memburuk. Merujuk pada informasi dari situs Alodokter di atas, yaitu perubahan menjadi malas beraktivitas, sesuai dengan tulisan blog Elisa yang ditulis pada Januari 2012 berikut ini:

I feel I am wasting my time compared to my fellow peers. I had a repalse at the start of the term and had to drop 2 or the 3 courses I was taking. Now I am down to one course and I have missed 3 weeks of classes since my sleeping pattern is completely reversed. I'm bit defeated for I have far too much free time and no one to spend time with. I'm checking emails, bloglovin', facebook and tumblr all the time and even jumped into the twitter today. I have a short attention span and I'm avoiding writing the 3 papers I owe this course (it's two terms) I can text friends who are busy with either school or work but I have neither of these things going for me.

Elisa, berubah dari aktif menjadi pasif. Malas melakukan ini itu. Beberapa kursusnya berhenti. Dia melewatkan kelas-kelas yang harusnya dihadiri. Dia juga tidak mengerjakan makalah/tugas. Mager? Ya, begitulah. Dia lebih sering menghabiskan waktu untuk online baik di media sosial, nge-blog, maupun e-mail.

Beberapa bulan kemudian di blog-nya dia menulis:

Worries of a twenty something

I spent about two days in bed hating myself.

Pos terakhir di blog-nya pada Juli 2012:

Tumblr

I am much more activ on tumblr. This is going to stay as a reminder of what I was thinking.

Best,
L.L.

Stay On Main Hotel a.k.a. Cecil Hotel


Awal tahun 2013 Elisa mengambil keputusan untuk berhenti (sementara?) kuliah dan traveling ke California, sendirian. Selama traveling dia akan menghubungi orangtuanya beberapa kali sehari, bercerita pada mereka rencana-rencananya. Dia juga traveling ke San Diego. Pada Hotel Stay On Main di pusat kota Los Angeles, yang dulunya bernama Cecil Hotel, dia memesan kamar untuk tiga malam yaitu untuk tanggal 28 Januari 2013 sampai 31 Januari 2013. 

Seperti yang saya tulis di awal, Hotel Stay On Main a.k.a. Cecil Hotel ini disebut angker, berhantu, dan sering terjadi hal-hal mengerikan. Sejak dibangun tahun 1927, banyak terjadi hal-hal 'gelap' di sana. Pembunuh berantai Richard Ramirez dan Jack Unterweger tinggal di sana untuk waktu yang lama. Ada banyak pembunuhan menakjubkan yang terjadi di hotel ini. Pada era 50-an dan 60-an, hote; ini menjadi, semacam, hotspot bunuh diri. Bahkan yang paling baru, pada tahun 2014, pada sebuah foto jendela hotel ini ada penampakan hantu. Tampaknya sih seperti hantu, tapi entahlah. Selain foto hantu, hotel ini terletak di Skid Row. Daerah ini bukan bagian terbaik di Los Angeles. 

Di Hotel Stay On Main, Elisa berbagi kamar dengan dua orang lainnya (shared room). Tapi, teman sekamarnya komplain sama sikap dan/atau perilaku Elisa yang aneh. Oleh karena itu dia kemudian dipindahkan ke kamar sendiri supaya tidak mengganggu orang lain. Pada saat itu dia masih menghubungi orangtuanya, dan mereka bilang saat menelepon si Elisa ini baik-baik saja.

31 Januari 2013, Elisa dijadwalkan untuk check out dari hotel. Tapi ... dia tidak melakukannya. Pada hari itu juga, dia juga tidak menelpon ke rumahnya/orangtua. Ini pertama kali terjadi, dia tidak menghubungi orangtuanya, selama seluruh perjalanannya. Saat dia tidak menelepon, orangtuanya kuatir dan tidak bisa menghubunginya balik, mereka menelepon Los Angeles Police Department (LAPD). Atas laporan tersebut, pada tanggal 1 Februari 2013, polisi pergi ke Hotel Stay On Main. Orangtuanya dan Sarah turut mencari dari kamarnya hingga ke atap hotel. Hasilnya nihil. Bahkan anjing pelacak juga tidak menemukan apa-apa.

Pada saat itu orangtua Elisa tidak mengatakan atau memberitahu polisi tentang masalah kesehatan mentalnya. 

Teori Konspirasi


Pada akhirnya jasad Elisa Lam ditemukan di tangki air pada atap Hotel Stay On Main. Hal ini dipicu oleh komplain tamu hotel atas rasa, aroma, dan warna air hotel yang mendadak aneh. Ya tentu lah, ada jasad Elisa di dalam sumber air hotel! Penemuan jasad Elisa menimbulkan lebih banyak teori konspirasi.

1. Elisa dihantui.
2. Elisa dikuntit sama pembunuh.
3. Elisa dijadikan tumbal hotel.

Dan lain-lain teori, terutama jika merujuk pada rekaman CCTV di lift. Jangan-jangan Elisa diajak main petak-umpet sama hantu. Jangan-jangan ada pembunuh berdarah dingin yang sedang mengincarnya. Jangan-jangan ada stalker dari daerah Skid Row yang pengen banget 'ngerjain' dia. Jangan-jangan dia justru dikerjai sama orang hotel. Byuuuuuh.

Penjelasan Paling Masuk Akal Dari Kematian Elisa Lam


Dari semua informasi yang saya peroleh selama mencaritahu tentang kematian Elisa Lam, pada akhirnya semua terjawab oleh The Chapter. Saya sangat-sangat senang saat menonton video tersebut. Bukan, bukan senang atas kematian Elisa Lam, tetapi senang karena pada akhirnya ada penjelasan paling masuk akal dari kematiannya yang selama ini masih menjadi misteri dalam benak saya pribadi. Bertahun-tahun mencari dan memperoleh informasi tentang Elisa Lam, konklusionnya hanya satu: berkaitan dengan misteri dan makhluk astral. Tapi ternyata gangguan bipolar dan depresi yang menjadi penyebab kematiannya.

Pertama:
Rekaman CCTV yang menggambarkan sebuah lift di mana Elisa Lam nampak seperti orang kebingungan, orang ketakutan, orang dengan tingkat panik tinggi, gelisah tidak karuan, meloncat masuk-keluar lift, di luar lift dia melihat ke sana-sini, masuk lift dia memencet tombol-tombol, sesungguhnya menjelaskan dengan sangat akurat bahwa pada saat itu Elisa Lam sedang mengalami dan/atau kambuh gangguan bipolar yang sangat parah. Secara perilaku, orang yang sedang mengalaminya akan melakukan perilaku beresiko, agresif, agitasi, gelisah, menyakiti diri sendiri, perilaku hiperaktif atau perilaku impulsif. Secara kognitif, orang yang sedang mengalaminya dipengaruhi oleh pikiran yang tidak diinginkan, delusi, kehilangan konsentrasi, sampai perubahan pola pikir. Secara psikologis, orang yang sedang mengalaminya pasti depresi, episode manik, hingga paranoid. Paranoid adalah gangguan mental yang diderita seseorang yang meyakini bahwa orang lain ingin membahayakan dirinya. Dikatakan sebagai bentuk gangguan bila perilaku tersebut sifatnya irasional, menetap, mengganggu, dan membuat stres. Gangguan bipolar Elisa kambuh karena tidak meminum obat.

Kedua:
Banyak pertanyaan dari pihak yang mempertahankan kemisteriusan, kehororan, kehantuan, keastralan, hingga pembunuh berantai, mengatakan bahwa bagaimana caranya Elisa Lam bisa berada di dalam tangki air hotel yang sulit dijangkau dan untuk membukanya saja butuh tenaga yang kuat? Lantas, bila dia memang masuk ke tangki air by herself, bagaimana caranya dia menutup tangki air tersebut? Mike dari The Chapter menjelaskan bahwa tidak sulit mencapai tangki air Hotel Stay On Main tersebut karena ada semacam bangunan mini di atap yaitu storage room, tepat di samping tangki air. Dari atap bangunan mini ini, siapa pun bisa menjangkau tangki air dan masuk ke dalamnya. Perihal pernyataan membuka dan menutup tangki air yang membutuhkan tenaga super kuat, bisa jadi sebenarnya saat itu posisi salah satu tangki air (ada empat tangki air di atas atap ini) sedang terbuka saat Elisa tidak sengaja (atau sengaja, who knows?) meloncat dan/atau masuk ke dalamnya, dan petugas hotel yang tidak tahu ada seorang perempuan di dalamnya datang dan menutup tangki air bersangkutan.

Dan itu, menurut saya, sangat masuk akal.


Oleh pihak berwenang, Elisa Lam dikatakan mengalami kecelakaan hingga tenggelam dan tewas. Semua yang saya tulis merupakan penjelasan yang menurut saya pribadi paling masuk akal atas kematian Elisa Lam: mengalami gangguan bipolar dan gangguan tersebut menyebabkan delusi hingga mendorongnya melakukan hal-hal di luar nalar. Terima kasih The Chapter. Meskipun sepertinya di dalam video The Chapter masih ada keragu-raguan dari penjelasannya sendiri. Dan, mungkin kalian akan mengatakan bahwa saya terlambat menulis tentang ini, tapi ini merupakan ujung dari sesuatu yang saya anggap 'masuk akal' setelah sekian tahun bertanya-tanya.

Baca Juga: Seni Lukis dan Seni Kata di Kedai Kampung Endeisme

Yang jelas, siapa pun kalian, apabila mengetahui salah satu anggota keluarga mengalami gangguan bipolar, tolonglah dia jangan diijinkan untuk melakukan perjalanan sendirian. Apa pun yang terjadi, orang sakit harus didampingi. Kalian pasti pernah bertemu orang sakit yang malas minum obat karena merasa tidak terjadi perubahan dalam dirinya meskipun telah rajin meminum obat kan? Kalian juga pasti pernah bertemu orang sakit yang berkata: lebih baik saya mati daripada hidup sengsara, kan? Orang sakit fisik saja harus didampingi, apalagi orang sakit mental. Setidaknya, ini menurut pendapat saya pribadi, orang awam.

Terima kasih sudah membaca.

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

Pembagian 100 Sampel Hand Sanitizer Sampai Social Distancing


Pembagian 100 Sampel Hand Sanitizer Sampai Social Distancing. Seperti yang sudah saya tulis pada pos berjudul Mengurai Makna Karantina Diri Sendiri dan Liburan, virus Corona telah menjadi kosakata baru masyarakat global. Virus yang oleh World Health Organization (WHO) dinamai Covid-19 telah menjadi pandemi. Artinya, virus Corona telah menjadi wabah global dan harus disikapi dengan serius, lekas, dan bijak. Di Indonesia telah diberlakukan lockdown pada sejumlah lokasi seperti kantor, kampus, dan daerah wisata. Tentu lockdown tidak akan berhasil jika masyarakat tidak melakukan social distancing. Di Kabupaten Ende, telah keluar Surat Edaran dari Bupati Ende agar sekolah-sekolah dan kampus di-lockdown. Selama empat belas hari terhitung sejak tanggal 23 Maret 2020 sampai 4 April 2020, kegiatan belajar mengajar bisa dilakukan secara daring, atau para murid dan mahasiswa diberikan tugas-tugas.

Baca Juga: Merawat Budaya Bersama Uniflor Sebagai Mediator Budaya 

Betapa cepatnya penyebaran virus Corona, serta antisipasi yang harus dilakukan masyarakat, menyebabkan dua benda berikut kemudian menjadi langka. Yang pertama: masker. Yang ke-dua: hand sanitizer. Terakhir, saya sempat membeli hand sanitizer sebanyak dua botol besar pada agennya. Terima kasih, Nijho, telah mengantar hand sanitizer tersebut ke rumah. Setelah itu, hand sanitizer seperti ditelan bumi. Ludes. Menyikapi kelangkaan tersebut, Dosen Pengampu Mata Kuliah Fisika Lingkungan Prodi Pendidikan Fisika pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Flores (Uniflor) Bapak Yulius Dala Ngapa, S.Si., M.Si. berinisiatif melakukan penelitian bersama mahasiswa Semester 6 untuk membuat hand sanitizer dan disinfektan.

Seperti apa ceritanya?

Baca yuk ...

Sebuah Penelitian


Hari itu Rabu, 11 Maret 2020, saya hendak pulang ke rumah setelah sebelumnya batal meliput kegiatan kuliah tamu di Prodi Manajemen akibat pemateri tidak boleh datang ke Kota Ende akibat, secara gamblang, virus Corona. Melewati Kantor Kemahasiswaan, mata saya menumbuk stoples berisi kudapan kuping gajah. Ooooh, tidak mungkin kudapan itu saya lewatkan. Di situ ada Rossa, Pak Yulius, dan Oncu Emmi. Sesaat sebelum tangan saya masuk ke dalam stoples, Pak Yulius berkata: Kak, tangannya dibersihkan dulu dong pakai hand sanitizer. Saya membalas: oh ya, saya bawa kok hand sanitizer. Pak Yulius mengangkat botol kecil tanpa label dan bilang: ini hand sanitizer yang tadi dibuat sendiri sama mahasiswa. Saya syok. Mahasiswa Uniflor membikin hand sanitizer sendiri? Ah, yang benar!

Menyikapi kelangkaan hand sanitizer di pasaran, hari itu Pak Yulius mengajak mahasiswa yang diampunya dalam Mata Kuliah Fisika Lingkungan, untuk membikin sendiri hand sanitizer dan disinfektan. Bahan-bahan yang digunakan bisa ditemui di sekitar. Untuk hand sanitizer, bahan-bahan yang dibutuhkan adalah alkohol 95%, lidah buaya, dan essential oil. Untuk disinfektan, bahan-bahan yang dibutuhkan hanyalah air dan cairan pemutih. You name it; Byclean atau So Klin Pemutih. Menurut saya, hal seperti ini harus diinformasikan pada khayalak. Ibarat wartawan kelas kakap, menurut saya ini berita Straight sekaligus Hard. Kalau dalam dunia Stand Up Comedy, berita ini punya premis dan punchline yang 'mematikan'. Makanya, meskipun hari itu batal menulis berita kuliah tamu, saya memutuskan menulis berita tentang kegiatan Pak Yulius dan mahasiswanya.


Keesokan harinya pihak Yayasan Perguruan Tinggi Flores (Yapertif) memutuskan, Pak Yulius dan mahasiswanya membuat hand sanitizer dan disinfektan. Dalam hal ini, Prodi Pendidikan Fisika bekerjasama dengan Prodi Agroteknologi pada Fakultas Pertanian. Pembuatan hand sanitizer dan disinfektan dilakukan di Laboratorium Fakultas Pertanian dan dimulai sejak siang hingga malam hari. Dari kegiatan itu diperoleh 100 botol sampel hand sanitizer dan cukup banyak disinfektan. Dan pada Jum'at, 20 Maret 2020, pukul 09.00 Wita, 100 sampel hand sanitizer itu kemudian dibagikan kepada masyarakat Kota Ende yang sedang mengurus berkas di Kantor Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Ende. Masyarakat yang berada di kantor tersebut sangat antusias menerima botol-botol berisi hand sanitizer.



Setelah itu kegiatan dilanjutkan di lobby Gedung Rektorat yaitu penyerahan bantuan hand sanitizer dan disinfektan kepada Lurah dari Kelurahan Paupire tempat Uniflor bernaung, serta penyemprotan disinfektan di semua ruangan kantor pada tiga kampus Uniflor.


Ketua Yapertif Bapak Dr. Laurentius D. Gadi Djou, Akt. kepada wartawan yang meliput kegiatan tersebut mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan wujud dari kepedulian Uniflor terhadap situasi genting yang terjadi saat ini. Selain itu kegiatan ini juga merupakan gerakan moral. Artinya, masyarakat harus tahu bahwa kita dapat membikin sendiri hand sanitizer dan disinfektan. Pengobatan merupakan tugas pemerintah, tetapi pencegahan dapat dilakukan oleh masyarakat. Ini merupakan langkah awal di mana pemerintah dari tingkat RW, RT, hingga kelurahan dan desa, dapat berembug dan secara bersama-sama membikinnya untuk kepentingan bersama. Tentu, Uniflor juga dapat membantu apabila dihubungi dan/atau dikoordinasikan. Menurut beliau, masyarakat jangan bersikap masa bodoh. Apapun himbauan dan keputusan oleh pemerintah, harus diikuti, termasuk social distancing.

Dirumahkan, Bukan Diliburkan


Akhirnya Uniflor pun di-lockdown. Tetapi memang sedikit sulit untuk me-lockdown lokasi pendidikan. Kebijakan yang dilakukan oleh pihak Rektorat Uniflor adalah dengan merumahkan mahasiswa di mana kegiatan belajar-mengajar dapat terus dilakukan melalui daring. Ada banyak aplikasi yang bisa mengakomodir kegiatan tersebut seperti Google Classroom dan Edmodo. Ada juga SPADA yang waktu itu dikeluarkan oleh Belmawa Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia (Kemenristekdikti). Saya tidak tahu apakah SPADA juga bisa digunakan untuk mengajar jarak jauh atau a la daring karena cakupan SPADA lebih luas dan sekarang Kemenristekdikti sudah menjadi Kemenristek saja. Kalau kalian tahu lebih dalam soal SPADA, komen di bawah. Hehe.

Bagi tenaga pendidik dan kependidikan alias dosen dan karyawan Uniflor diberlakukan social distancing. Kami tidak dirumahkan secara utuh selama empat belas hari terhitung sejak tanggal 23 Maret 2020 sampai 4 April 2020, melainkan diberikan jadwal piket. Misalnya saya sendiri mendapat jatah piket setiap Hari Senin dan Hari Kamis selama dua minggu ke depan, jadi hanya empat hari kerja saja. Tidak dirumahkan secara utuh karena, seperti yang saya tulis di atas, memang sedikit sulit untuk skala sebuah universitas. Karena, dosen juga harus mengurus berkas-berkas mereka terkait ini itu di kantor-kantor dan/atau dilayani oleh pegawai kan. Jadi, kalau dibilang Uniflor di-lockdown, memang di-lockdown penuh untuk mahasiswa, sedangkan dosen dan karyawan wajib melakukan social distancing melalui aturan-aturan yang telah ditetapkan. 

Saya pikir kebijakan ini sangat baik sekali. Dengan aturan piket satu orang per ruangan setiap harinya jelas mendukung upaya social distancing tersebut. Meskipun tidak 100% tetapi kegiatan pelayanan masih bisa terlaksana.

UPDATE: 24 MARET 2020

Segenap dosen dan karyawan Uniflor melakukan work from home.

Mencuci Tangan


Pohon Tua, rumah saya, memang hanya dihuni oleh empat orang, tetapi selalu banyak orang di rumah. Selain Mamatua, saya, Indra, dan Thika, juga ada Mama Sia, Mama Len, Meli, dan Yoan. Yoan, si bocah SD itu yang paling sering kena sasaran kami semua hahaha. Karena, dia kan sering banget masuk keluar Pohon Tua. Setiap masuk rumah sebelum menyentuh apa-apa, dia wajib pergi ke kamar mandi untuk mencuci tangannya dengan sabun. Sampai-sampai dia protes: apa eee, tiap kali datang saya harus pergi cuci tangan ni kah?

Dasar bocah. Haha. Tapi itu wajib dia lakukan. Meskipun mengomel ini itu, Yoan tetap pergi ke kamar mandi untuk mencuci tangan.

Bukannya paranoid, tetapi saya memang harus memberlakukan banyak hal terhadap para penghuni Pohon Tua. Thika dan Meli adalah dua penghuni yang paling sering keluar rumah karena tugas mereka memang berbelanja ini itu. Mereka sudah mempersiapkan masker, kaca mata, dan hand sanitizer setiap kali keluar rumah. Setiap kali pulang, tujuan mereka paling pertama adalah kamar mandi. Setelah itu barulah kami berinteraksi seperti biasa. Tetapi karena Pohon Tua ini besar, tanpa sengaja jarak kami selalu lebih dari satu meter. Kecuali, saat kami harus mengurus Mamatua. Hehe. Tapi kalau dipikir-pikir, asyik juga. Ada kebiasaan baru yang keren ... dan semoga kebiasaan baik ini terus kami lakukan: rajin mencuci tangan!

Baca Juga: Seni Lukis dan Seni Kata di Kedai Kampung Endeisme

Dalam agama Islam, kebiasaan membersihkan diri ini sebenarnya sudah dilakukan oleh umat Muslim. Shalat lima waktu sama dengan ber-wudu sebanyak lima kali. Wudu dilakukan dengan membersihkan bagian-bagian tertentu yang telah ditetapkan. Bagi teman-teman non-Muslim, mungkin kalian tidak tahu bahwa kegiatan wudu pertama kali adalah membasuh kedua tangan masing-masing tiga kali. Tentu bagi yang tayamum cerita beda karena tayamum tidak menggunakan air. Bukannya wudu itu tanpa sabun? Benar! Tanpa sabun! Hanya saja, banyak orang yang selalu mandi terlebih dahulu sebelum ber-wudu lalu melaksanakan shalat. Kalau mandi pasti pakai sabun kan? Hehe. Dulu saya selalu melihat kakak ipar saya, (almh.) Mbak Ati, selalu mandi terlebih dahulu sebelum ber-wudu dan shalat. Perlu kita coba. Setiap pulang ke rumah, mandi saja sekalian ketimbang mencuci tangan saja. Hehe.

Semoga pos ini bermanfaat bagi kalian semua. Mari, jaga diri kita. Mari, berusaha sambil berdo'a. Insha Allah selalu dilindungi oleh Tuhan. Semoga Tuhan menjaga niat, upaya, dan do'a kita untuk terhindar dari virus Corona.

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.