Pembagian 100 Sampel Hand Sanitizer Sampai Social Distancing


Pembagian 100 Sampel Hand Sanitizer Sampai Social Distancing. Seperti yang sudah saya tulis pada pos berjudul Mengurai Makna Karantina Diri Sendiri dan Liburan, virus Corona telah menjadi kosakata baru masyarakat global. Virus yang oleh World Health Organization (WHO) dinamai Covid-19 telah menjadi pandemi. Artinya, virus Corona telah menjadi wabah global dan harus disikapi dengan serius, lekas, dan bijak. Di Indonesia telah diberlakukan lockdown pada sejumlah lokasi seperti kantor, kampus, dan daerah wisata. Tentu lockdown tidak akan berhasil jika masyarakat tidak melakukan social distancing. Di Kabupaten Ende, telah keluar Surat Edaran dari Bupati Ende agar sekolah-sekolah dan kampus di-lockdown. Selama empat belas hari terhitung sejak tanggal 23 Maret 2020 sampai 4 April 2020, kegiatan belajar mengajar bisa dilakukan secara daring, atau para murid dan mahasiswa diberikan tugas-tugas.

Baca Juga: Merawat Budaya Bersama Uniflor Sebagai Mediator Budaya 

Betapa cepatnya penyebaran virus Corona, serta antisipasi yang harus dilakukan masyarakat, menyebabkan dua benda berikut kemudian menjadi langka. Yang pertama: masker. Yang ke-dua: hand sanitizer. Terakhir, saya sempat membeli hand sanitizer sebanyak dua botol besar pada agennya. Terima kasih, Nijho, telah mengantar hand sanitizer tersebut ke rumah. Setelah itu, hand sanitizer seperti ditelan bumi. Ludes. Menyikapi kelangkaan tersebut, Dosen Pengampu Mata Kuliah Fisika Lingkungan Prodi Pendidikan Fisika pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Flores (Uniflor) Bapak Yulius Dala Ngapa, S.Si., M.Si. berinisiatif melakukan penelitian bersama mahasiswa Semester 6 untuk membuat hand sanitizer dan disinfektan.

Seperti apa ceritanya?

Baca yuk ...

Sebuah Penelitian


Hari itu Rabu, 11 Maret 2020, saya hendak pulang ke rumah setelah sebelumnya batal meliput kegiatan kuliah tamu di Prodi Manajemen akibat pemateri tidak boleh datang ke Kota Ende akibat, secara gamblang, virus Corona. Melewati Kantor Kemahasiswaan, mata saya menumbuk stoples berisi kudapan kuping gajah. Ooooh, tidak mungkin kudapan itu saya lewatkan. Di situ ada Rossa, Pak Yulius, dan Oncu Emmi. Sesaat sebelum tangan saya masuk ke dalam stoples, Pak Yulius berkata: Kak, tangannya dibersihkan dulu dong pakai hand sanitizer. Saya membalas: oh ya, saya bawa kok hand sanitizer. Pak Yulius mengangkat botol kecil tanpa label dan bilang: ini hand sanitizer yang tadi dibuat sendiri sama mahasiswa. Saya syok. Mahasiswa Uniflor membikin hand sanitizer sendiri? Ah, yang benar!

Menyikapi kelangkaan hand sanitizer di pasaran, hari itu Pak Yulius mengajak mahasiswa yang diampunya dalam Mata Kuliah Fisika Lingkungan, untuk membikin sendiri hand sanitizer dan disinfektan. Bahan-bahan yang digunakan bisa ditemui di sekitar. Untuk hand sanitizer, bahan-bahan yang dibutuhkan adalah alkohol 95%, lidah buaya, dan essential oil. Untuk disinfektan, bahan-bahan yang dibutuhkan hanyalah air dan cairan pemutih. You name it; Byclean atau So Klin Pemutih. Menurut saya, hal seperti ini harus diinformasikan pada khayalak. Ibarat wartawan kelas kakap, menurut saya ini berita Straight sekaligus Hard. Kalau dalam dunia Stand Up Comedy, berita ini punya premis dan punchline yang 'mematikan'. Makanya, meskipun hari itu batal menulis berita kuliah tamu, saya memutuskan menulis berita tentang kegiatan Pak Yulius dan mahasiswanya.


Keesokan harinya pihak Yayasan Perguruan Tinggi Flores (Yapertif) memutuskan, Pak Yulius dan mahasiswanya membuat hand sanitizer dan disinfektan. Dalam hal ini, Prodi Pendidikan Fisika bekerjasama dengan Prodi Agroteknologi pada Fakultas Pertanian. Pembuatan hand sanitizer dan disinfektan dilakukan di Laboratorium Fakultas Pertanian dan dimulai sejak siang hingga malam hari. Dari kegiatan itu diperoleh 100 botol sampel hand sanitizer dan cukup banyak disinfektan. Dan pada Jum'at, 20 Maret 2020, pukul 09.00 Wita, 100 sampel hand sanitizer itu kemudian dibagikan kepada masyarakat Kota Ende yang sedang mengurus berkas di Kantor Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Ende. Masyarakat yang berada di kantor tersebut sangat antusias menerima botol-botol berisi hand sanitizer.



Setelah itu kegiatan dilanjutkan di lobby Gedung Rektorat yaitu penyerahan bantuan hand sanitizer dan disinfektan kepada Lurah dari Kelurahan Paupire tempat Uniflor bernaung, serta penyemprotan disinfektan di semua ruangan kantor pada tiga kampus Uniflor.


Ketua Yapertif Bapak Dr. Laurentius D. Gadi Djou, Akt. kepada wartawan yang meliput kegiatan tersebut mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan wujud dari kepedulian Uniflor terhadap situasi genting yang terjadi saat ini. Selain itu kegiatan ini juga merupakan gerakan moral. Artinya, masyarakat harus tahu bahwa kita dapat membikin sendiri hand sanitizer dan disinfektan. Pengobatan merupakan tugas pemerintah, tetapi pencegahan dapat dilakukan oleh masyarakat. Ini merupakan langkah awal di mana pemerintah dari tingkat RW, RT, hingga kelurahan dan desa, dapat berembug dan secara bersama-sama membikinnya untuk kepentingan bersama. Tentu, Uniflor juga dapat membantu apabila dihubungi dan/atau dikoordinasikan. Menurut beliau, masyarakat jangan bersikap masa bodoh. Apapun himbauan dan keputusan oleh pemerintah, harus diikuti, termasuk social distancing.

Dirumahkan, Bukan Diliburkan


Akhirnya Uniflor pun di-lockdown. Tetapi memang sedikit sulit untuk me-lockdown lokasi pendidikan. Kebijakan yang dilakukan oleh pihak Rektorat Uniflor adalah dengan merumahkan mahasiswa di mana kegiatan belajar-mengajar dapat terus dilakukan melalui daring. Ada banyak aplikasi yang bisa mengakomodir kegiatan tersebut seperti Google Classroom dan Edmodo. Ada juga SPADA yang waktu itu dikeluarkan oleh Belmawa Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia (Kemenristekdikti). Saya tidak tahu apakah SPADA juga bisa digunakan untuk mengajar jarak jauh atau a la daring karena cakupan SPADA lebih luas dan sekarang Kemenristekdikti sudah menjadi Kemenristek saja. Kalau kalian tahu lebih dalam soal SPADA, komen di bawah. Hehe.

Bagi tenaga pendidik dan kependidikan alias dosen dan karyawan Uniflor diberlakukan social distancing. Kami tidak dirumahkan secara utuh selama empat belas hari terhitung sejak tanggal 23 Maret 2020 sampai 4 April 2020, melainkan diberikan jadwal piket. Misalnya saya sendiri mendapat jatah piket setiap Hari Senin dan Hari Kamis selama dua minggu ke depan, jadi hanya empat hari kerja saja. Tidak dirumahkan secara utuh karena, seperti yang saya tulis di atas, memang sedikit sulit untuk skala sebuah universitas. Karena, dosen juga harus mengurus berkas-berkas mereka terkait ini itu di kantor-kantor dan/atau dilayani oleh pegawai kan. Jadi, kalau dibilang Uniflor di-lockdown, memang di-lockdown penuh untuk mahasiswa, sedangkan dosen dan karyawan wajib melakukan social distancing melalui aturan-aturan yang telah ditetapkan. 

Saya pikir kebijakan ini sangat baik sekali. Dengan aturan piket satu orang per ruangan setiap harinya jelas mendukung upaya social distancing tersebut. Meskipun tidak 100% tetapi kegiatan pelayanan masih bisa terlaksana.

UPDATE: 24 MARET 2020

Segenap dosen dan karyawan Uniflor melakukan work from home.

Mencuci Tangan


Pohon Tua, rumah saya, memang hanya dihuni oleh empat orang, tetapi selalu banyak orang di rumah. Selain Mamatua, saya, Indra, dan Thika, juga ada Mama Sia, Mama Len, Meli, dan Yoan. Yoan, si bocah SD itu yang paling sering kena sasaran kami semua hahaha. Karena, dia kan sering banget masuk keluar Pohon Tua. Setiap masuk rumah sebelum menyentuh apa-apa, dia wajib pergi ke kamar mandi untuk mencuci tangannya dengan sabun. Sampai-sampai dia protes: apa eee, tiap kali datang saya harus pergi cuci tangan ni kah?

Dasar bocah. Haha. Tapi itu wajib dia lakukan. Meskipun mengomel ini itu, Yoan tetap pergi ke kamar mandi untuk mencuci tangan.

Bukannya paranoid, tetapi saya memang harus memberlakukan banyak hal terhadap para penghuni Pohon Tua. Thika dan Meli adalah dua penghuni yang paling sering keluar rumah karena tugas mereka memang berbelanja ini itu. Mereka sudah mempersiapkan masker, kaca mata, dan hand sanitizer setiap kali keluar rumah. Setiap kali pulang, tujuan mereka paling pertama adalah kamar mandi. Setelah itu barulah kami berinteraksi seperti biasa. Tetapi karena Pohon Tua ini besar, tanpa sengaja jarak kami selalu lebih dari satu meter. Kecuali, saat kami harus mengurus Mamatua. Hehe. Tapi kalau dipikir-pikir, asyik juga. Ada kebiasaan baru yang keren ... dan semoga kebiasaan baik ini terus kami lakukan: rajin mencuci tangan!

Baca Juga: Seni Lukis dan Seni Kata di Kedai Kampung Endeisme

Dalam agama Islam, kebiasaan membersihkan diri ini sebenarnya sudah dilakukan oleh umat Muslim. Shalat lima waktu sama dengan ber-wudu sebanyak lima kali. Wudu dilakukan dengan membersihkan bagian-bagian tertentu yang telah ditetapkan. Bagi teman-teman non-Muslim, mungkin kalian tidak tahu bahwa kegiatan wudu pertama kali adalah membasuh kedua tangan masing-masing tiga kali. Tentu bagi yang tayamum cerita beda karena tayamum tidak menggunakan air. Bukannya wudu itu tanpa sabun? Benar! Tanpa sabun! Hanya saja, banyak orang yang selalu mandi terlebih dahulu sebelum ber-wudu lalu melaksanakan shalat. Kalau mandi pasti pakai sabun kan? Hehe. Dulu saya selalu melihat kakak ipar saya, (almh.) Mbak Ati, selalu mandi terlebih dahulu sebelum ber-wudu dan shalat. Perlu kita coba. Setiap pulang ke rumah, mandi saja sekalian ketimbang mencuci tangan saja. Hehe.

Semoga pos ini bermanfaat bagi kalian semua. Mari, jaga diri kita. Mari, berusaha sambil berdo'a. Insha Allah selalu dilindungi oleh Tuhan. Semoga Tuhan menjaga niat, upaya, dan do'a kita untuk terhindar dari virus Corona.

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

Seni Lukis dan Seni Kata di Kedai Kampung Endeisme


Seni Lukis dan Seni Kata di Kedai Kampung Endeisme. Beberapa waktu lalu saya menerima undangan untuk berkunjung ke sebuah kedai yang baru dibuka, berikut peta lokasinya. Nama kedai tersebut adalah Kedai Kampung Endeisme. Undangan dari Tika Abdul Aziz itu saya keep sambil mencari waktu untuk pergi ke sana. Maklum, masih banyak pekerjaan yang menuntut harus diselesaikan dan tentu juga menghabiskan begitu banyak waktu. Selasa, 10 Maret 2020, barulah saya pergi ke Kedai Kampung Endeisme bareng Violin Kerong, Oedin, Cahyadi, dan Al. Rencananya sih bakal bikin konten Youtube si Oedin, tetapi malah jadinya untuk konten Youtube saya sendiri. Hahaha. Video kunjungan kami ke Kedai Kampung Endeisme bisa kalian lihat di bawah ini:


Baca Juga: Ngobrol-Ngobrol Santai Tema Konten Youtube Milik Oe Din

Seperti apa Kedai Kampung Endeisme dan seluk-beluknya bisa kalian tonton pada video di atas. Tapi bukan berarti saya tidak menulisnya hahaha. Kalau begitu, marilah kita tengok Kedai Kampung Endeisme.

Kedai Kampung Endeisme


Kedai Kampung Endeisme digagas oleh Adar dan Tika Abdul Aziz. Apakah saya mengenal keduanya? Iya dooong. Kenal sama Adar waktu dia bersama tim B13 Pu'urere mengikuti Lomba Mural Triwarna Soccer Festival 2019. B13 Pu'urere kemudian meraih Juara 1 lomba tersebut dengan tema mural Sindu dan Wati. Adar ini sejatinya seniman multi-talent. Dia juga yang menggambar peta Pulau Flores di Kafe Hola. Sedangkan Tika Abdul Aziz kenalnya lewat media sosial Facebook di mana saya sangat terpukau dengan kalimat-kalimat yang diposnya di media sosialnya Mark itu. Saya jadi ingat sama Aan Mansyur. Tika, dan dia lelaki bukan perempuan, dikenal lewat @petikata. Mungkinkah nama Tika diambil dari (pe)tika(ta)? Entah hahaha. Belum pernah ketemu langsung orangnya sih. Nanti deh kalau ketemu bakal saya tanya-tanya.

Anyhoo, Adar dan Tika menggagas Kedai Kampung Endeisme setelah melihat lahan/kios milik paman Adar yang terbengkelai di daerah Potu. Ketika mengantongi ijin memanfaatkan tempat itu, mereka berdua kemudian mulai mendesain kedainya. Tentu mereka dibantu oleh keluarga dan teman-teman. Menurut tuturan Adar, tujuan mereka membangun Kedai Kampung Endeisme bukan sekadar untuk tempat nongkrong biasa melainkan sebagai tempat merawat akal, tempat berdiskusi, juga tempat mereka turut membangun ekonomi kreatif bersama ibu-ibu masyarakat sekitar kedai. Merawat akal, ini menarik, seperti saya menyebut Universitas Flores (Uniflor) yang senantiasa merawat budaya.

Bicara Endeisme, sebenarnya Endeisme sendiri sudah lama ada, merupakan clothing line milik Adar dan Tika. Selain kaos, mereka juga memproduksi totebag. Uniknya mereka melukis sendiri kaos dan totebag tersebut. Setiap barang diproduksi spesial sehingga tidak ada yang sama antara pembeli satu dengan pembeli lainnya. Asyiiiik. Nanti saya juga mau ah pesan kaos di Endeisme. Kalau kalian tertarik juga, silahkan dipesan ke mereka. Kunjungi saja Kedai Kampung Endeisme, berdiskusi dengan pemiliknya, memesan kaos atau tas, sekaligus merawat akal.

Menu Bercitarasa 'Kampung'


Apa saja yang ditawarkan di Kedai Kampung Endeisme? Kedai selalu identik dengan kopi. Jelas, menu utama mereka ya kopi sebagai teman nongkrong dan mengobrol. Kopinya merupakan kopi Ende yang dibeli di Pasar Wolowona dan melewati proses manual: disangrai sendiri di dapur rumahan, dengan sedikit campuran jahe. Takaran jahenya ... rahasia dapur lah. Hehe. Kopi bercitarasa seperti inilah yang saya sebut cita rasa kampung yang ngangenin. Cita rasa yang membangkitkan memori rasa. Cara seduh kopinya pun manual a la rumahan, menggunakan sendok sebagai penakar kopi dan gula. Saat ini belum banyak varian kopi yang disediakan di Kedai Kampung Endeisme. Iya, namanya juga kedai baru, masih banyak yang harus dilengkapi.

Selain kopi, juga ada aneka minuman panas dan dingin seperti teh, cokelat, kopi susu, dan lain sebagainya. Sedangkan makanan, ada aneka mi + telur khas warkop. Tetapi di situ juga ada stoples berisi kripik. Kripik inilah yang dititip oleh ibu-ibu masyarakat setempat. Makanya tidak salah jika saya menulis Adar dan Tika turut membangun ekonomi kreatif. Semoga dalam kunjungan berikutnya, saya boleh melihat lebih banyak stoples jajanan milik ibu-ibu sekitar kedai. Insha Allah.

Ada hal yang juga perlu saya tulis terkait kopi ini. Adar dan Tika juga berencana memproduksi Kopi Endeisme yang dijual ke luar. Ke luar maksudnya adalah kopi tersebut tidak saja menjadi konsumsi kedai tetapi juga dikemas dengan menarik, diberi label, lantas dipasarkan ke masyarakat umum (ke luar Kabupaten Ende). Kalau begini saya jadi ingat sama Kopi Detusoko oleh RMC Detusoko yang dipelopori oleh Nando Watu, juga Virgil Coffee yang dimiliki oleh Karolus Naga. Saya percaya setiap kopi, terutama yang sudah diolah/disangrai, punya cita rasanya masing-masing. Tidak ada yang paling enak atau yang tidak enak. Ingat, makanan dan minuman itu hanya punya dua rasa. Pertama: enak. Kedua: enak sekali. That's all.

Konsep DIY


Soal Kedai Kampung Endeisme yang berkonsep DIY sudah saya ulas pada pos berjudul Barang-Barang DIY Kece di Kedai Kampung Endeisme. Meja, bangku, tulisan-tulisan, sampai aneka asesoris dibikin sendiri oleh Adar dan Tika. Kalau kalian ingin tahu lebih banyak tentang konsep DIY di kedai tersebut, silahkan klik tautan di atas. Yang jelas konsep DIY Kedai Kampung Endeisme merupakan cikal bakal judul pos ini. Seni lukis dan seni kata ... byuuuuh ... mantap. Oh ya, foto-fotonya pun bisa kalian di pos yang satu itu. Komplit.

No Wi-Fi


Zaman sekarang hampir semua kafe atau kedai menyediakan Wi-Fi. Padahal kan kita ke kafe karena pengen menikmati makanan dan minumannya serta bersantai bersama teman-teman, keluarga, juga kekasih uhuuuk. Sejatinya ke kafe itu untuk menciptakan waktu berkualitas melalui obrolan dan/atau diskusi. Bergesernya kafe yang kemudian menjadi tempat kerja, itu sah-sah saja. Tetapi kalau ke kafe untuk bekerja dan mencari Wi-Fi, jujur di Pohon Tua juga bisa. Bahkan Wi-Fi di Pohon Tua itu kencangnya supa amazing. Makanya ketika Adar berkata bahwa di Kedai Kampung Endeisme tidak tersedia Wi-Fi, itu saya acungi jempol! Makanya sore itu kami semua saling berinteraksi satu sama lain, mengobrol, haha hihi, mengumpulkan footage konten, dan lain sebagainya.


Saya akui, muncul rasa kagum ketika berada di Kedai Kampung Endeisme dan mengobrol bersama Adar. Mereka adalah anak muda yang menjawab tuntutan zaman. Zaman sekarang masih berharap menjadi ASN atau pegawai kantoran, sah-sah saja, tetapi itu bukan satu-satunya jalan hidup. Seperti isi buku-buku self improvement yang saya baca, manusia harus mengenal kelebihan dan kekurangannya, mengenal siapa dirinya, tahu cara menggali potensi dirinya, mampu menangkap peluang yang ada, mampu memanfaatkan sumber daya, untuk mencapai sukses. Itu yang saya lihat sudah dilakukan oleh Adar dan Tika. Ya, saya kagum pada mereka, pada kegigihan mereka, pada semangat mereka, pada kepedulian mereka.

Baca Juga: Merawat Budaya Bersama Uniflor Sebagai Mediator Budaya

Bagaimana tidak gigih? Kedai Kampung Endeisme tidak terletak di pusat kota. Letaknya di Potu, Jalan Woloare A, memang bukan lokasi pusat Kota Ende, tetapi tempat itu cukup ramai karena Jalan Woloare A sendiri merupakan jalan alternatif menuju Woloare. Tapi mereka gigih, tidak patah semangat untuk melaksanakan niat membuka kedai. Mari doakan agar mereka tidak patah semangat. Doakan agar kedai mereka menjadi besar a.k.a. ramai dikunjungi. Doakan agar semua rencana mereka terwujud. Karena, mereka adalah anak muda tangguh yang membuka sendiri lapangan pekerjaan di kota kita tercinta.

Bagaimana dengan kalian? Sudahkah kalian berkunjung ke Kedai Kampung Endeisme? Bagi tahu yuk di komen!

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

Ngobrol-Ngobrol Santai Tema Konten Youtube Milik Oe Din


Ngobrol-Ngobrol Santai Tema Konten Youtube Milik Oe Din. Namanya Oedin, asal Barai, Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur. Kenal Oedin sudah lama. Kemudian menjadi akrab karena kami sama-sama tergabung dalam komunitas bernama Relawan Bung Karno Ende dan Exotic NTT Community. Oedin sudah lama jadi Youtuber karena renjananya memang di dunia videografi dan fotografi. Saya akui, dia adalah pekerja keras, pantang menyerah, selalu mau belajar hal-hal baru, serta tidak pelit. Apa pun yang bisa dia bantu, pasti dibantu, salah satunya membagi aplikasi-aplikasi sunting video pada teman-teman, termasuk saya. Kami sering terlibat dalam diskusi-diskusi seru hingga larut malam, terutama tentang dunia videografi, fotografi, pariwisata dan ekonomi kreatif.

Baca Juga: Merawat Budaya Bersama Uniflor Sebagai Mediator Budaya

Kalau kalian mengintip channel Youtube-nya, Oe Din, ada banyak video tentang Kabupaten Ende. Tetapi beberapa video terbarunya mulai dibikinkan tema khusus. Ini menarik karena tema khusus itu, sepanjang pantauan saya, ada dua. Yang pertama: Ngobrol-Ngobrol Santai. Yang kedua: Makan e, Kita. Tentu video-video lainnya masih rajin diunggah oleh Oedin. Seperti apa Ngobrol-Ngobrol Santai itu? Marilah dibaca sampai selesai.

Ngobrol-Ngobrol Santai


Saya suka menonton video Ngobrol-Ngobrol Santai a la Oedin. Karena, dasarnya saya sendiri juga suka mengobrol dan pernah membawakan program Ngobras (Ngobrol Asyik dan Seru) di Radio Gomezone. Iya, dulu waktu masih siaran di radio swasta itu. Ngobras selalu punya topik asyik untuk diobrolkan dengan sangat seru oleh para radio jockey-nya. Saya, Iwan Aditya, dan tambahan seorang lagi yaitu Yoyok Purnomo. Topik-topik yang pernah dibawakan di Ngobras itu antara lain Kita dan Pancasila, Etika Berinternet, dan 10 Cara Asyik Merayakan Tahun Baru. Sedangkan kalau Ngobrol-Ngobrol Santai a la Oedin, temanya tergantung bintang tamu yang diajak mengobrol. Di situ tugas Oe Din adalah mengorek sebanyak-banyaknya informasi dari si bintang tamu. Ngobrol-Ngobrol Santai berarti mengobrol dengan santai, gaya bebas, selama tidak melanggar Sara Wijayanto SARA. Menulis Sara jadi ingat #DMS. Hahaha.

Anyhoo, mari kita lanjutkan.

Set Studio


Ngobrol-Ngobrol Santai tentu dilakukan di studio dan/atau indoor. Memang tidak wajib harus indoor tetapi saat ini masih dilakukan indoor. Karena Oedin belum punya studio khusus untuk konten Youtube yang satu ini, dan karena Pohon Tua (nama rumah saya) cukup luas dan cukup instagenic, maka Pohon Tua di-set menjadi studio Ngobrol-Ngobrol Santai. Ada bidang Pohon Tua yang ditempel bingkai berisi aneka hasil sketsa Violin Kerong. Ada sudut Pohon Tua yang bagus dijadikan lokasi mengobrol. Mana-mana suka. Soalnya dinding Pohon Tua kan punya banyak warna. Haha. Saat ini saya sedang pengen menempel peta buta Pulau Flores di salah satu dindingnya. Supaya bisa digunakan oleh siapa pun, termasuk Oe Din.

Untuk urusan properti, jangan kuatir! Di rumah saya banyak properti yang bisa digunakan. Hiasan meja unik-unik, dan lain sebagainya. Tetapi bisa juga properti dibawa pula oleh bintang tamu yang diwawancara. Tinggal mengaturnya agar terlihat artistik.

Violin Kerong dan Natalia Mudamakin


Dua orang yang pernah diwawancara dalam Ngobrol-Ngobrol Santai adalah Violin Kerong dan Natalia Mudamakin. Hwah, saya suka sekali. Violin Kerong adalah dosen Prodi Arsitektur pada Fakultas Teknik Universitas Flores (Uniflor) yang punya bakat kece yaitu sketsa wajah. Ya, betul sekali. Sketsa-sketsanya dititipkan di Pohon Tua dan menjadi galeri mini keren di ruang tamu. Tiga sketsa terakhir yang dia antar ke rumah itu Chester (alm.) dan Jack Sparrow (Johnny Depp). Selain mengsketsa wajah, Violin juga sangat mahir membikin kerajinan tangan seperti tempat tisu, tempat cincin pernikahan, gelang, kalung, gantungan kunci, bahkan boneka-boneka lucu ine berbaju zawo-zambu berbahan kain flanel.



Natalia Mudamakin sendiri merupakan mahasiswi Fakultas Teknologi Informasi Uniflor. Kenal dia juga sudah dari duluuuuu banget. Soalnya dia kan anak tetangga. Hehe. Natalia merupakan wirausahawati muda yang mendirikan brand Palapa Rasa dengan motivasi kuat untuk menyediakan tempat bagi anak muda Ende untuk bekerja dan berdaya. Palapa Rasa merupakan brand snack buah organik khas pertama di Kabupaten Ende yang mengangkat cita rasa kuliner khas Flores. Natalia dengan brand Palapa Rasa meraih Juara 3 Ethical Entrepreneur Ende. Waktu Ngobrol-Ngobrol Santai itu kami mengatur brand milik Natalia termasuk penghargaan yang diterimanya sebagai properti.



Oh ya, Oedin juga sudah Ngobrol-Ngobrol Santai bareng saya. Footage sudah terkumpul dan sedang dalam tahap sunting. Asyiiiikkkk.

Rencananya bakal banyak Orang Ende yang diwawancarai sama Oedin seperti Rikyn Radja, Denis Parera, Om Benny Laka, dan lain-lainnya. Supaya apa? Menunjukkan pada banyak orang bahwa Kabupaten Ende ini kaya akan orang-orang kreatif dan berprestasi. Saya bangga ketika video-video tersebut menuai komentar positif dari para penontonnya.

Konten Berkualitas


Saya pernah menulis pos berjudul Membikin Konten Youtube Memang Harus Tekun dan Ulet dan memang, kalau tidak tekun dan ulet susah jadi Youtuber. Selain itu, yang perlu diperhatikan adalah kontennya itu sendiri. Dimulai dari judul yang tidak click bait, hingga isi konten yang seharusnya berfaedah dan menghibur. Para penonton video-video di Youtube tentu tahu bahwa begitu banyak video yang judulnya click bait, kontennya hasil copy paste sana-sini dan digabung-gabung, sampai ada konten yang benar-benar terkesan maksa demi memburu Rupiah. Ngobrol-Ngobrol Santai a la Oedin merupakan konten berkualitas dan sangat saya rekomendasikan pada kalian. Bukan iklan, bukan sulap, bukan sihir, kalian harus percaya bahwa Ngobrol-Ngobrol Santai memang wajib ditonton!


Menulis Ngobrol-Ngobrol Santai a la Oedin ini mengingatkan saya pada konten Youtube milik sendiri. Sejak tahun 2007 mendaftar di Youtube, baru sekarang mau mulai serius. Lucu juga. Hahaha. Ke mana saja saya selama ini. Video yang ada malah kebanyakan meng-cover lagu-lagu saja. Kalau kalian penasaran, silahkan intip channel Youtube saya. Salah satu videonya yang di bawah ini:



Sama halnya dengan blog ini yang punya tema harian, saat ini saya juga membikin tema untuk channel tersebut, antara lain Blogging, Podcas(t)uteh, dan BlogPacker. Masih pengen bikin tema tentang un-bungkusin makanan yang dijual online, ngikut Pak Jaf. Tapi ... nanti deh. Susah juga soalnya. Hahaha. Ribet di proses sunting! Doakan saja semoga saya tetap semangat membikin konten untuk dipublikasikan di Youtube. Ide bertebaran, tenaga tidak bisa dipaksakan. Maklum, sudah uzur.

Baca Juga: Menulislah Dengan Baik Meskipun Tidak Selalu Harus Benar

Semoga pos ini bermanfaat bagi kalian. Setidaknya ada informasi bagus yang bisa kalian peroleh dengan berkunjung ke blog ini. Hehe. Dan bagi kalian para Youtuber, tetap semangat! Tetap memberikan video-video bermanfaat, konten berkualitas, untuk para penonton baik subscriber maupun penonton random. Yang jelas, harus pertahankan orisinalitas, kembangkan ide-ide kreatif, merekam video dengan baik, menyunting dengan baik, insha Allah videonya juga baik, menarik, dan menyenangkan.

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

Merawat Budaya Bersama Uniflor Sebagai Mediator Budaya


Merawat Budaya Bersama Uniflor Sebagai Mediator Budaya. Visi Universitas Flores (Uniflor) adalah menjadi mediator budaya. Artinya, sebagai rahim persemaian calon cendekia, Uniflor tidak hanya fokus pada dunia akademik yang mengutamakan Tri Dharma Perguruan Tinggi tetapi juga pada budaya/adat/tradisi. Semua orang tentu tahu bahwa kebudayaan adalah hasil cipta, rasa dan karsa manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya yang kompleks yang mencangkup pengetahuan, keyakinan, seni, hukum adat dan setiap kecakapan, dan kebiasaan. Salah satu kegiatan yang berkaitan dengan kebudayaan dan adat yang dilakukan setiap tahun oleh Uniflor adalah Pati Ka Embu Kajo di Tubu Nabe Uniflor. Memberi makan leluhur ini dipimpin oleh empat Mosalaki Godo Wutu Onekore Hendrikus Peso, Daniel Juma, Johanes D. Bosco Wajo, Yakobus Djae (April 2019), dan dilakukan secara bersama-sama dengan para petinggi Uniflor.

Baca Juga: Jangan Biarkan Anak-Anak Kecanduan Telepon Genggam

Foto-foto kegiatan Pati Ka Embu Kajo di Tubu Nabe dapat dilihat berikut ini:



Pada Kamis, 27 Februari 2020, dilaksanakan kegiatan pelantikan 83 (delapan puluh tiga) pejabat struktural se-lingkup Uniflor. Ada yang berbeda dari kegiatan tersebut. Selain setiap orang (dosen, karyawan, dan pendamping pejabat yang dilantik) diwajibkan memakai pakaian adat (dari daerah mana pun), juga ada ritual meminum moke dan penyerahan sirih kepada pejabat yang dilantik. Melihat proses meminum moke, maka mungkin kata yang lebih tepat adalah mencicip moke. Kegiatan tersebut unik, menurut saya, karena semakin menunjukkan Uniflor sebagai mediator budaya yang merawat budaya.

Ulasan lengkapnya, silahkan baca sampai selesai. Haha.

Panggung Dengan Miniatur Rumah Adat


Panggung Auditorium H. J. Gadi Djou di Kampus I Uniflor disulap sedemikian rupa sehingga nuansa adatnya lebih kental terasa. Biasanya backdrop panggung berupa baliho dengan tambahan ornamen daerah tertentu. Tetapi pada kegiatan dimaksud, sebuah miniatur rumah adat berdiri gagah di tengah panggung. Di dalam miniatur rumah adat tanpa dinding itu diletakkan dua kursi sebagai tempat rehat Ketua Yapertif dan Rektor Uniflor saat jeda pelantikan.


Jujur, saya suka sekali melihat panggungnya. Tetapi hari itu saya tidak sempat foto-foto di situ karena lelah. Byuuuh. Haha. Iya, lari sana-sini mengabadikan momen dan mengumpulkan footage berita memang menyedot cukup banyak enerji. Kaki saya sakit, gengs. Harus segera pulang untuk merawat diri *dicibirin dinosaurus*.

Mencicip Moke dan Menerima Sirih


Moke merupakan minuman adat. Sejatinya begitu. Saat keluarga kami menyambangi makam nenek moyang di Desa Faipanda pun, kakak lelaki saya wajib mencicipnya walaupun seujung lidah (seharusnya meminum satu sloki yang diserahkan oleh tua keluarga). Sampai moke kemudian berkonotasi buruk adalah karena oknum-oknum tertentu yang meminumnya sekehendak hati sehingga berakibat pada hilangnya kontrol diri. Keributan bisa dipicu oleh oknum-oknum mabuk ini. Konon, kalau sudah berlebihan menegak moke, keberanian bakal meledak-ledak, bawaannya selalu benar dalam berkata, dan lain sebagainya.

Bapak Willy Lanamana mencicip moke usai pelantikan.

Setiap pejabat struktural, usai dilantik, khusus laki-laki diberikan moke dalam wadah cangkir/gelas tempurung. Khusus perempuan diberikan satu sirih. Saya termasuk orang yang sampai saat ini belum bisa mengunyah sirih-pinang-kapur. Sekali mencoba, langsung mabuk/pusing, belum mencoba lagi. Suatu saat saya harus bisa mengunyah sirih-pinang-kapur. Insha Allah.

Pakaian Adat dan Uniflor


Pati Ka Embu Kajo, dan kegiatan pelantikan pejabat struktural kemarin, hanya sebagian kecil contoh dari Uniflor sebagai mediator budaya yang tentunya turut merawat budaya. Setiap minggu kami, dosen dan karyawan Uniflor, selalu berhubungan dengan budaya. Setiap Hari Selasa, kami wajib memakai sarung tenun ikat Kabupaten Ende dengan atasan berwarna putih. Sedangkan setiap Hari Kamis, kami wajib mengaplikasikan kain daerah dari daerah mana pun di Indonesia dengan pakaian yang dikenakan. Rata-rata memakai tenun ikat, satu dua memakai batik. Ada yang melilitkan tenun ikat berbentuk selendang di pinggang, ada yang dijadikan syal, ada juga yang menjadikan sarung tenun ikat sebagai rok, dan lain sebagainya.

Dalam kegiatan-kegiata besar seperti wisuda, upacara 17an, hingga pelantikan-pelantikan, segenap civitas akademika Uniflor wajib memakai pakaian adat.


Baca Juga: Mampukah Rembi Menggantikan Peran Tas Belanjaan Plastik?

Uniflor adalah mediator budaya yang tentunya merawat budaya agar generasi selanjutnya tetap tahu jati diri mereka. Tetapi siapa pun dapat merawat budaya. Caranya, Teh? Banyak sih. Dengan memakai pakaian adat saat ke pesta-pesta, menulis tentang kekayaan budaya kita, membikin video ini itu yang berkaitan dengan budaya/adat/tradisi, sampai melakukan penelitian dan membukukannya. Yang jelas, di Kabupaten Ende, salah satu budaya yang terus dirawat oleh semua kalangan adalah tarian gawi. Hehe. Anyhoo riset kecil-kecilan saya soal gawi dan/atau naro ini belum selesai. Belum bisa saya tulis secara lengkap. Belum bisa dipublis. Nanti deh.

Semoga bermanfaat ;)

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

Empat Band SMAK Regina Pacis Bajawa Layak Jadi Juara


Empat Band SMAK Regina Pacis Bajawa Layak Jadi Juara. Sejak kecil saya sudah terbiasa dengan dunia band. Jemiri Band, nama band keluarga kami. Gila kan? Bapa (alm.) lebih suka beli perangkat band dan soundsystem ketimbang beli tanah! Hahaha. Keluarga kami memang kocak sejak zaman prakambrium. Anyhoo, jadwal Jemiri Band nge-jam itu setiap Sabtu malam. Karena waktu itu saya masih SD, masih suka main tanah, tidak pernah eksis bersama Jemiri Band. Kalau Jemiri Band nge-jam, saya cuma bisa menonton Om Hans Boleng di lead guitar, Om Yolis Fernandez di bass, Om Takari di keyboard, Nanu Pharmantara di rythm, dan Toto Pharmantara (alm.) di drum beraksi. Apabila ada jadwal tampil maka nge-jam bisa setiap malam. Gara-gara Toto Pharmantara, saya berlatih otodidak menabuh drum sampai bisa. Jadi, saya bernyanyi sendiri, nabuh drum sendiri.

Baca Juga: Jangan Biarkan Anak-Anak Kecanduan Telepon Genggam

Tapi Bapa saya memang keren. Keren karena tidak membeli tanah bekal warisan anak cucu melainkan membeli perangkat band, termasuk keyboard yang selalu mengiringi saya bernyanyi. Satu lagu yang Bapa ciptakan dan sering saya nyanyikan berjudul Hompila Hompimpa. Yea, love him to the moon and back.


Tahun 2005 saya bergabung bersama Cendaga Band sebagai vokalis yang kemudian turut menciptakan lagu-lagu untuk band tersebut. Kami pernah tampil beberapa kali di Lapangan Pancasila Ende, lapangan serbaguna di Jalan Gatot Soebroto Ende, dan event-event yang diselenggarakan oleh pihak-pihak tertentu antara lain Malam Nostalgia di Lapangan Akper Ende. Lagu-lagu yang dibawakan waktu itu random alias bermacam genre. Pop, ska, reggae, blues, rock, rock'n'roll, bahkan dangdut. Sebut saja Come On Eileen dari Save Ferris, Call Me When You're Sober dari Evanescence, Terlalu Manis-nya Slank, Lelaki Buaya Darat dari Ratu, Terajana oleh Rhoma Irama, bahkan Ingin Marah Silahkah oleh Is Haryanto. Kami punya banyak buku yang disebut song bank.

Kesimpulannya saya harus bisa menyanyikan semua jenis lagu yang ditawarkan oleh setiap personil Cendaga Band dan/atau daftar lagu yang diminta oleh pemberi order. Menyenangkan sekali bergabung sama band karena punya teman-teman yang sudah seperti saudara sendiri. Cendaga Band waktu itu digawangi oleh Noel Fernandez (guitarist - melody), Thamrin a.k.a. bu Tham (guitarist - rhythm), Handri Baru (bassist), Alimin (drummer), dan Chonz Odja (keyboardist). Oh ya, tidak lupa saya sebagai vokalis. Untuk event tertentu ada beberapa vokalis tambahan. Cendaga Band kemudian bubar karena pemilik perangkat band dan soundsystem pindah kota. Entah, saya kurang tahu pasti informasi dari manajer kami waktu itu: Om Husni. Karena saya sendiri juga sibuk bekerja kantoran dan siaran di Radio Gomezone FM.

Setelah Cendaga Band bubar, saya dan Noel Fernandez masih sering ngumpul di rumah dan membikin begitu banyak lagu. Proyek kami itu kemudian bermuara pada nama Notes (Noel and Tuteh Sideproject). Notes bahkan telah mengeluarkan satu album. Haha. Kalian pasti tidak percaya kan kalau Notes punya album? Percaya deh. Album itu laku. Tetapi memang tidak diproduksi banyak. Setidaknya banyak teman dari luar daerah yang juga membelinya *kedip-kedip*. Karena lagu-lagu itu memang berbahasa Indonesia dan nge-pop.

Cukup nostalgianya.

Sekarang mari kita lanjut pada SMAK Regina Pacis yang berlokasi di Kota Bajawa, Ibu Kota Kabupaten Ngada. Sekolah keren dengan band-band keren. Tentu juga tentang festival band yang membikin saya bernostalgia di awal pos ini.

Festival Band Pelajar oleh Endemic


Adalah sekelompok anak muda Kota Ende membentuk komunitas bernama Ende Music Community (Endemic). Endemic kemudian menggelar Festival Band Pelajar 2020. Kegiatan berlangsung selama dua hari: Jum'at dan Sabtu, 21 dan 22 Februari 2020, berlokasi di Aula STIPAR Ende di Jalan Gatot Soebroto. Dalam festival ini, ada tiga lagu wajib yaitu Indonesia Tanah Air Beta, Gebyar-Gebyar, dan Bendera. Sedangkan lagu pilihannya adalah sebagai berikut:

Kau yang Terindah - Java Jive.
Belahan Jiwa - Kla Project.
Jalanmu Bukan Jalanku - Andra & The Backbone.
Selayang Pandang - Gugun Blues Shelter.
Film Favorit - Sheila on 7.
Eternal Love - Michael Learns To Rock.
Hotel California - Eagles.
Breakeven - The Script.
Hysteria - The Muse.
Three Little Birds - Bob Marley.

Skala festival ini adalah se-Pulau Flores. Jumlah peserta sebanyak sembilan yang berasal dari tiga kabupaten yaitu Kabupaten Ende, Kabupaten Ngada, dan Kabupaten Nagekeo.

Peserta dari Kabupaten Ende berasal dari dua sekolah: dua band dari SMAK Syuradikara Ende yang menurunkan dua band. Correct me if I'm wrong, nama dua band itu Syuradikara 1 dan Syuradikara 2. Satu band dari SMA Negeri 1 Ende yaitu The Seven Brothers.

Peserta dari Kabupaten Nagekeo berasal dari satu sekolah yaitu SMAK St. Fransiskus Xaverius Boawae. Nama band-nya Smafix.

Peserta dari Kabupaten Ngada berasal dari satu sekolah, SMAK Regina Pacis Bajawa, tapi menurunkan empat band sekaligus yaitu Unidade, Bumble Bee, The Project, dan Queen of Piece.

Festival yang diselenggarakan oleh Endemic ini seperti oase yang dirindukan para musafir. Terakhir festival band pelajar itu berlangsung di Lapangan SMAK Syuradikara Ende di mana saya turut menjadi juri. Diminta sama seniman Ende: Om Benny Laka. Kalau ada Orang Ende yang tidak tahu Om Benny Laka, sungguh terlalu, dan bisa dipastikan kehidupannya hanya berkutat di bawah tempurung. Haha. Ketika diminta untuk turut menjadi juri dalam festival oleh Endemic ini, saya mengiyakan sambil membayangkan seperti apa penampilan band-band yang akan berkompetisi. Paling begitu-begitu saja: bermusik di zona aman dan nyaman. Ekspetasi saya runtuh seketika saat peserta pertama tampil. Mereka dari SMAK Regina Pacis Bajawa; Queen of Piece.

Bukan Sekadar Band SMA


Dua peserta pertama berasal dari SMAK Regina Pacis Bajawa. Penampilan keduanya sudah bikin saya merinding. Manapula salah satu band itu, Bumble Bee dengan vokalis cewek, memainkan lagu pilihan dari The Muse, Hysteria. Setelah mereka, masih diselingi dengan peserta dari Ende, kembali ke Bajawa, Boawae, dan Ende. Pokoknya sembilan peserta berusaha tampil dengan sebaik-baiknya. Tetapi kemudian saya menjadi sadar bahwa ada yang jomplang antara empat band asal SMAK Regina Pacis Bajawa dengan band-band lainnya. Mereka terlalu bagus untuk band sekolah. Apanya yang bagus, Teh? Pasti kalian bertanya-tanya.

1. Skill dan Teknik


Secara keseluruhan, masing-masing personil empat band itu punya skill yang mumpuni, baik kemampuan teknis maupun feel (rasa). Teknik mereka setiap kali over tempo pun bikin kagum. Kalau kalian sering makan karipap atau Orang Ende biasa menyebutnya pastel, isian pastel ini sangat terasa/lengkap. Fill-nya sangat terdengar. Itulah yang saya dapat simpulkan ketika empat band dari SMAK Regina Pacis Bajawa ini tampil di panggung. Hal yang sama juga bisa dilihat dari teknik mic-ing. Improvisasinya pas, tidak berlebihan. Di luar dari itu, sesekali terdengar tabuhan drum keteteran, itu pasti. Tapi secara keseluruhan, mereka supa amazing.

2. Percaya Diri


Percaya diri memang mampu mengalahkan segalanya. Baru kali ini saya melihat vokalis yang menatap penonton dan juri dengan tatapan yang menunjukkan saya-percaya-diri tingkat tinggi. Vokalisnya tidak menoleh kanan kiri, tidak grogi (biasanya orang grogi di atas panggung itu mulai merapikan rambut, gulung ujung baju, dan lain sebagainya), tetap fokus pada apa yang harus disajikan kepada penonton. Percaya diri ini kemudian menjadikan aksi panggung mereka sangat menarik dan memukau. Jingkrak di panggung pun dijabanin tanpa ragu sedikit pun. Percayalah, ketika tampil dengan penuh percaya diri, siapa pun dapat memberikan yang terbaik. 

3. Kostum


Banyak orang bilang: yang penting skill, teknik, atau musikalitasnya. Kostum mah urusan ke-sekian. Itu pandangan yang keliru, kawan. Kostum merupakan ciri khas. Kostum pun dapat menimbulkan atau mendongkrak percaya diri. Empat band dari SMAK Regina Pacis Bajawa ini tampil dengan kostum kekinian. Misalnya pemain alat musik memakai jas, vokalisnya (kebetulan cewek) memakai jumpsuit putih berbunga merah. Pokoknya, menurut saya, penampilan mereka a la anak band kekinian banget lah. Top.

Yang Lain Juga Bagus


Band lain yang tampil juga bagus. Tetapi memang tetap terlihat dan terdengar jomplangnya dengan band dari SMAK Regina Pacis Bajawa. Saya pikir semua orang yang menonton malam itu juga setuju. Artinya, band-band yang belum beruntung menjadi juara harus lebih giat berlatih dan tampil sebanyak-banyaknya mewakili sekolah mengingat jangka waktu di SMA hanya tiga tahun. Jam terbang itu juga punya peranan yang penting. Menurut teman-teman kerja saya, band-band dari SMAK Regina Pacis Bajawa memang terbiasa tampil di acara-acara atau pesta-pesta. Artinya, band sekolah di sana memang diberi ruang gerak untuk menunjukkan kemampuan mereka sekaligus mereka memperoleh pengalaman atau jam terbang di dunia panggung. Ada sih band yang tidak pernah latihan tahu-tahu tampil, tapi itu personilnya kalau dicampur terdiri atas Ariel, Andra, Yuke, Thomas, dan lainnya. Hahaha. Byuuuuh.


Enam Band Lolos ke Babak Final


Malam babak penyisihan, setelah diskusi dan penghitungan nilai, maka terjaring enam band melaju ke babak final. Empat band berasal dari SMAK Regina Pacis Bajawa, satu band dari SMAK St. Fransiskus Xaverius Boawae, dan satu band dari SMA Negeri 1 Ende. Menjadi obyektif memang tidak bisa menyenangkan apalagi membahagiakan semua orang. Obyektif cenderung menyakitkan dan mengecewakan. Tetapi percayalah, obyektif membikin kita bisa tidur pulas. Hehe. Nada protes memang belum sampai ke telinga saya, tapi saya yakin nada protes itu pasti ada. Terutama, yang meragukan kemampuan saya menjuri dan menilai.

Lantas, siapakah yang menjadi juaranya?

Mari kita lihat.

Juara I - Unidade dari SMAK Regina Pacis Bajawa.
Juara II - Queen of Piece dari SMAK Regina Pacis Bajawa.
Juara III - Bumble Bee dari SMAK Regina Pacis Bajawa.
Juara Harapan I - The Project dari SMAK Regina Pacis Bajawa.
Juara Harapan II - Smafix dari SMAK St. Fransiskus Xaverius Boawae.
Juara Harapan III - The Seven Brothers dari SMA Negeri 1 Ende.


Sesuai dengan judul pos ini, empat band dari dari SMAK Regina Pacis Bajawa memang layak jadi juara. Mereka memenuhi semua kriteria yang ditetapkan untuk penjurian. Termasuk, best player pun banyak disabet oleh mereka. Bermusik itu, menurut saya pribadi, adalah tentang kenikmatan rasa. Feel dan fill imbang. Skill dan soul imbang. Kalau semuanya imbang, sudah pasti harmoni. Kalau harmoni tercipta, maka mereka memang nyaman sekali dalam bermusik. 

I Hope


Harapan saya, Endemic maupun komunitas lain dapat menggelar festival-festival serupa. Karena, masyarakat di Timur Indonesia itu selain terkenal eksotis juga punya kemampuan bermusik yang mumpuni. Bakat kaula muda di dunia musik harus ada wadahnya. Salah satunya dengan festival band pelajar. Hidup ini harus adil. Menurut saya. Kita tidak bisa fokus pada satu lini saja, misalnya literasi saja. Tetapi juga harus memerhatikan lini lainnya seperti musik, wisata, sampai kuliner. Itu baru namanya hidup yang seimbang (banyak menulis kata imbang di sini ya hahaha).

Baca Juga: Membikin Konten Youtube Memang Harus Tekun dan Ulet

Menulis ini bukan berarti saya mengabaikan band lainnya. Tidak. Seperti yang saya tulis di atas bahwa band lainnya juga bagus. Tetapi harus bisa belajar dan termotivasi dari kehebatan band lain. Di atas langit masih ada langit. Bukan begitu? Begitu bukan? Hehe. Kalau kalah saat masih SMA, siapa tahu kelak kalau sudah kuliah, bisa mewakili kampus mengikuti festival band kampus. Pokoknya harus tetap menjaga semangat dan terus menumbuhkan rasa percaya diri. Segala sesuatunya bisa diraih asal dilakukan dengan kemantapan hati. Ambil contoh: dulu saya ragu kekuatan pikiran dan sugesti mampu membikin saya lebih menikmati hidup. Ternyata kekuatan pikiran dan sugesti mampu membikin saya lebih menikmati hidup, salah satunya dengan tidak terlalu memikirkan kadar gula dalam darah. Haha haha haha *dikeplak dinosaurus*.

Terima kasih Om Benny Laka. Terima kasih Anggy Wonasoba. Terima kasih Endemic.

Sudah ah ...

Selamat Senin!

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

Empat Band SMAK Regina Pacis Bajawa Layak Jadi Juara


Empat Band SMAK Regina Pacis Bajawa Layak Jadi Juara. Sejak kecil saya sudah terbiasa dengan dunia band. Jemiri Band, nama band keluarga kami. Gila kan? Bapa (alm.) lebih suka beli perangkat band dan soundsystem ketimbang beli tanah! Hahaha. Keluarga kami memang kocak sejak zaman prakambrium. Anyhoo, jadwal Jemiri Band nge-jam itu setiap Sabtu malam. Karena waktu itu saya masih SD, masih suka main tanah, tidak pernah eksis bersama Jemiri Band. Kalau Jemiri Band nge-jam, saya cuma bisa menonton Om Hans Boleng di lead guitar, Om Yolis Fernandez di bass, Om Takari di keyboard, Nanu Pharmantara di rythm, dan Toto Pharmantara (alm.) di drum beraksi. Apabila ada jadwal tampil maka nge-jam bisa setiap malam. Gara-gara Toto Pharmantara, saya berlatih otodidak menabuh drum sampai bisa. Jadi, saya bernyanyi sendiri, nabuh drum sendiri.

Baca Juga: Jangan Biarkan Anak-Anak Kecanduan Telepon Genggam

Tapi Bapa saya memang keren. Keren karena tidak membeli tanah bekal warisan anak cucu melainkan membeli perangkat band, termasuk keyboard yang selalu mengiringi saya bernyanyi. Satu lagu yang Bapa ciptakan dan sering saya nyanyikan berjudul Hompila Hompimpa. Yea, love him to the moon and back.


Tahun 2005 saya bergabung bersama Cendaga Band sebagai vokalis yang kemudian turut menciptakan lagu-lagu untuk band tersebut. Kami pernah tampil beberapa kali di Lapangan Pancasila Ende, lapangan serbaguna di Jalan Gatot Soebroto Ende, dan event-event yang diselenggarakan oleh pihak-pihak tertentu antara lain Malam Nostalgia di Lapangan Akper Ende. Lagu-lagu yang dibawakan waktu itu random alias bermacam genre. Pop, ska, reggae, blues, rock, rock'n'roll, bahkan dangdut. Sebut saja Come On Eileen dari Save Ferris, Call Me When You're Sober dari Evanescence, Terlalu Manis-nya Slank, Lelaki Buaya Darat dari Ratu, Terajana oleh Rhoma Irama, bahkan Ingin Marah Silahkah oleh Is Haryanto. Kami punya banyak buku yang disebut song bank.

Kesimpulannya saya harus bisa menyanyikan semua jenis lagu yang ditawarkan oleh setiap personil Cendaga Band dan/atau daftar lagu yang diminta oleh pemberi order. Menyenangkan sekali bergabung sama band karena punya teman-teman yang sudah seperti saudara sendiri. Cendaga Band waktu itu digawangi oleh Noel Fernandez (guitarist - melody), Thamrin a.k.a. bu Tham (guitarist - rhythm), Handri Baru (bassist), Alimin (drummer), dan Chonz Odja (keyboardist). Oh ya, tidak lupa saya sebagai vokalis. Untuk event tertentu ada beberapa vokalis tambahan. Cendaga Band kemudian bubar karena pemilik perangkat band dan soundsystem pindah kota. Entah, saya kurang tahu pasti informasi dari manajer kami waktu itu: Om Husni. Karena saya sendiri juga sibuk bekerja kantoran dan siaran di Radio Gomezone FM.

Setelah Cendaga Band bubar, saya dan Noel Fernandez masih sering ngumpul di rumah dan membikin begitu banyak lagu. Proyek kami itu kemudian bermuara pada nama Notes (Noel and Tuteh Sideproject). Notes bahkan telah mengeluarkan satu album. Haha. Kalian pasti tidak percaya kan kalau Notes punya album? Percaya deh. Album itu laku. Tetapi memang tidak diproduksi banyak. Setidaknya banyak teman dari luar daerah yang juga membelinya *kedip-kedip*. Karena lagu-lagu itu memang berbahasa Indonesia dan nge-pop.

Cukup nostalgianya.

Sekarang mari kita lanjut pada SMAK Regina Pacis yang berlokasi di Kota Bajawa, Ibu Kota Kabupaten Ngada. Sekolah keren dengan band-band keren. Tentu juga tentang festival band yang membikin saya bernostalgia di awal pos ini.

Festival Band Pelajar oleh Endemic


Adalah sekelompok anak muda Kota Ende membentuk komunitas bernama Ende Music Community (Endemic). Endemic kemudian menggelar Festival Band Pelajar 2020. Kegiatan berlangsung selama dua hari: Jum'at dan Sabtu, 21 dan 22 Februari 2020, berlokasi di Aula STIPAR Ende di Jalan Gatot Soebroto. Dalam festival ini, ada tiga lagu wajib yaitu Indonesia Tanah Air Beta, Gebyar-Gebyar, dan Bendera. Sedangkan lagu pilihannya adalah sebagai berikut:

Kau yang Terindah - Java Jive.
Belahan Jiwa - Kla Project.
Jalanmu Bukan Jalanku - Andra & The Backbone.
Selayang Pandang - Gugun Blues Shelter.
Film Favorit - Sheila on 7.
Eternal Love - Michael Learns To Rock.
Hotel California - Eagles.
Breakeven - The Script.
Hysteria - The Muse.
Three Little Birds - Bob Marley.

Skala festival ini adalah se-Pulau Flores. Jumlah peserta sebanyak sembilan yang berasal dari tiga kabupaten yaitu Kabupaten Ende, Kabupaten Ngada, dan Kabupaten Nagekeo.

Peserta dari Kabupaten Ende berasal dari dua sekolah: dua band dari SMAK Syuradikara Ende yang menurunkan dua band. Correct me if I'm wrong, nama dua band itu Syuradikara 1 dan Syuradikara 2. Satu band dari SMA Negeri 1 Ende yaitu The Seven Brothers. Dan satu band dari SMK Yos Sudarso Ende.

Peserta dari Kabupaten Nagekeo berasal dari satu sekolah yaitu SMAK St. Fransiskus Xaverius Boawae. Nama band-nya Smafix.

Peserta dari Kabupaten Ngada berasal dari satu sekolah, SMAK Regina Pacis Bajawa, tapi menurunkan empat band sekaligus yaitu Unidade, Bumble Bee, The Project, dan Queen of Piece.

Festival yang diselenggarakan oleh Endemic ini seperti oase yang dirindukan para musafir. Terakhir festival band pelajar itu berlangsung di Lapangan SMAK Syuradikara Ende di mana saya turut menjadi juri. Diminta sama seniman Ende: Om Benny Laka. Kalau ada Orang Ende yang tidak tahu Om Benny Laka, sungguh terlalu, dan bisa dipastikan kehidupannya hanya berkutat di bawah tempurung. Haha. Ketika diminta untuk turut menjadi juri dalam festival oleh Endemic ini, saya mengiyakan sambil membayangkan seperti apa penampilan band-band yang akan berkompetisi. Paling begitu-begitu saja: bermusik di zona aman dan nyaman. Ekspetasi saya runtuh seketika saat peserta pertama tampil. Mereka dari SMAK Regina Pacis Bajawa; Queen of Piece.

Bukan Sekadar Band SMA


Dua peserta pertama berasal dari SMAK Regina Pacis Bajawa. Penampilan keduanya sudah bikin saya merinding. Manapula salah satu band itu, Bumble Bee dengan vokalis cewek, memainkan lagu pilihan dari The Muse, Hysteria. Setelah mereka, masih diselingi dengan peserta dari Ende, kembali ke Bajawa, Boawae, dan Ende. Pokoknya sembilan peserta berusaha tampil dengan sebaik-baiknya. Tetapi kemudian saya menjadi sadar bahwa ada yang jomplang antara empat band asal SMAK Regina Pacis Bajawa dengan band-band lainnya. Mereka terlalu bagus untuk band sekolah. Apanya yang bagus, Teh? Pasti kalian bertanya-tanya.

1. Skill dan Teknik


Secara keseluruhan, masing-masing personil empat band itu punya skill yang mumpuni, baik kemampuan teknis maupun feel (rasa). Teknik mereka setiap kali over tempo pun bikin kagum. Kalau kalian sering makan karipap atau Orang Ende biasa menyebutnya pastel, isian pastel ini sangat terasa/lengkap. Fill-nya sangat terdengar. Itulah yang saya dapat simpulkan ketika empat band dari SMAK Regina Pacis Bajawa ini tampil di panggung. Hal yang sama juga bisa dilihat dari teknik mic-ing. Improvisasinya pas, tidak berlebihan. Di luar dari itu, sesekali terdengar tabuhan drum keteteran, itu pasti. Tapi secara keseluruhan, mereka supa amazing.

2. Percaya Diri


Percaya diri memang mampu mengalahkan segalanya. Baru kali ini saya melihat vokalis yang menatap penonton dan juri dengan tatapan yang menunjukkan saya-percaya-diri tingkat tinggi. Vokalisnya tidak menoleh kanan kiri, tidak grogi (biasanya orang grogi di atas panggung itu mulai merapikan rambut, gulung ujung baju, dan lain sebagainya), tetap fokus pada apa yang harus disajikan kepada penonton. Percaya diri ini kemudian menjadikan aksi panggung mereka sangat menarik dan memukau. Jingkrak di panggung pun dijabanin tanpa ragu sedikit pun. Percayalah, ketika tampil dengan penuh percaya diri, siapa pun dapat memberikan yang terbaik. 

3. Kostum


Banyak orang bilang: yang penting skill, teknik, atau musikalitasnya. Kostum mah urusan ke-sekian. Itu pandangan yang keliru, kawan. Kostum merupakan ciri khas. Kostum pun dapat menimbulkan atau mendongkrak percaya diri. Empat band dari SMAK Regina Pacis Bajawa ini tampil dengan kostum kekinian. Misalnya pemain alat musik memakai jas, vokalisnya (kebetulan cewek) memakai jumpsuit putih berbunga merah. Pokoknya, menurut saya, penampilan mereka a la anak band kekinian banget lah. Top.

Yang Lain Juga Bagus


Band lain yang tampil juga bagus. Tetapi memang tetap terlihat dan terdengar jomplangnya dengan band dari SMAK Regina Pacis Bajawa. Saya pikir semua orang yang menonton malam itu juga setuju. Artinya, band-band yang belum beruntung menjadi juara harus lebih giat berlatih dan tampil sebanyak-banyaknya mewakili sekolah mengingat jangka waktu di SMA hanya tiga tahun. Jam terbang itu juga punya peranan yang penting. Menurut teman-teman kerja saya, band-band dari SMAK Regina Pacis Bajawa memang terbiasa tampil di acara-acara atau pesta-pesta. Artinya, band sekolah di sana memang diberi ruang gerak untuk menunjukkan kemampuan mereka sekaligus mereka memperoleh pengalaman atau jam terbang di dunia panggung. Ada sih band yang tidak pernah latihan tahu-tahu tampil, tapi itu personilnya kalau dicampur terdiri atas Ariel, Andra, Yuke, Thomas, dan lainnya. Hahaha. Byuuuuh.


Enam Band Lolos ke Babak Final


Malam babak penyisihan, setelah diskusi dan penghitungan nilai, maka terjaring enam band melaju ke babak final. Empat band berasal dari SMAK Regina Pacis Bajawa, satu band dari SMAK St. Fransiskus Xaverius Boawae, dan satu band dari SMA Negeri 1 Ende. Menjadi obyektif memang tidak bisa menyenangkan apalagi membahagiakan semua orang. Obyektif cenderung menyakitkan dan mengecewakan. Tetapi percayalah, obyektif membikin kita bisa tidur pulas. Hehe. Nada protes memang belum sampai ke telinga saya, tapi saya yakin nada protes itu pasti ada. Terutama, yang meragukan kemampuan saya menjuri dan menilai.

Lantas, siapakah yang menjadi juaranya?

Mari kita lihat.

Juara I - Unidade dari SMAK Regina Pacis Bajawa.
Juara II - Queen of Piece dari SMAK Regina Pacis Bajawa.
Juara III - Bumble Bee dari SMAK Regina Pacis Bajawa.
Juara Harapan I - The Project dari SMAK Regina Pacis Bajawa.
Juara Harapan II - Smafix dari SMAK St. Fransiskus Xaverius Boawae.
Juara Harapan III - The Seven Brothers dari SMA Negeri 1 Ende.


Sesuai dengan judul pos ini, empat band dari dari SMAK Regina Pacis Bajawa memang layak jadi juara. Mereka memenuhi semua kriteria yang ditetapkan untuk penjurian. Termasuk, best player pun banyak disabet oleh mereka. Bermusik itu, menurut saya pribadi, adalah tentang kenikmatan rasa. Feel dan fill imbang. Skill dan soul imbang. Kalau semuanya imbang, sudah pasti harmoni. Kalau harmoni tercipta, maka mereka memang nyaman sekali dalam bermusik. 

I Hope


Harapan saya, Endemic maupun komunitas lain dapat menggelar festival-festival serupa. Karena, masyarakat di Timur Indonesia itu selain terkenal eksotis juga punya kemampuan bermusik yang mumpuni. Bakat kaula muda di dunia musik harus ada wadahnya. Salah satunya dengan festival band pelajar. Hidup ini harus adil. Menurut saya. Kita tidak bisa fokus pada satu lini saja, misalnya literasi saja. Tetapi juga harus memerhatikan lini lainnya seperti musik, wisata, sampai kuliner. Itu baru namanya hidup yang seimbang (banyak menulis kata imbang di sini ya hahaha).

Baca Juga: Membikin Konten Youtube Memang Harus Tekun dan Ulet

Menulis ini bukan berarti saya mengabaikan band lainnya. Tidak. Seperti yang saya tulis di atas bahwa band lainnya juga bagus. Tetapi harus bisa belajar dan termotivasi dari kehebatan band lain. Di atas langit masih ada langit. Bukan begitu? Begitu bukan? Hehe. Kalau kalah saat masih SMA, siapa tahu kelak kalau sudah kuliah, bisa mewakili kampus mengikuti festival band kampus. Pokoknya harus tetap menjaga semangat dan terus menumbuhkan rasa percaya diri. Segala sesuatunya bisa diraih asal dilakukan dengan kemantapan hati. Ambil contoh: dulu saya ragu kekuatan pikiran dan sugesti mampu membikin saya lebih menikmati hidup. Ternyata kekuatan pikiran dan sugesti mampu membikin saya lebih menikmati hidup, salah satunya dengan tidak terlalu memikirkan kadar gula dalam darah. Haha haha haha *dikeplak dinosaurus*.

Terima kasih Om Benny Laka. Terima kasih Anggy Wonasoba. Terima kasih Endemic.

Sudah ah ...

Selamat Senin!

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

Jangan Biarkan Anak-Anak Kecanduan Telepon Genggam


Jangan Biarkan Anak-Anak Kecanduan Telepon Genggam. Sudah lama, dan sudah sering, saya mengingatkan kepada semua keponakan untuk menjauhkan anak-anak mereka dari telepon genggam. Sabar dulu ... anak-anaknya keponakan. Artinya ... cucu? Iya, saya sudah punya cucu. Haha. Sudah, jangan dibahas! Tapi zaman sekarang, hiburan untuk anak-anak tidak hanya bersumber dari televisi dan majalah sekelas Bobo. Bahkan kalau boleh saya bilang sumber hiburan anak-anak justru telepon genggam: menonton kartun di Youtube dan nge-game. Tentunya telepon genggam tersebut sudah terkoneksi dengan internet. Oleh karena itu, saya menjadi biasa saja ketika melihat para bocah menonton kartun di telepon genggam. Tetapi saya menjadi sangat tidak biasa ketika melihat para bocah kecanduan telepon genggam.

Baca Juga: Membikin Konten Youtube Memang Harus Tekun dan Ulet

Di sini kita memang harus sepemahaman dulu. Bocah memegang telepon genggam, menonton kartun atau nge-game, boleh? Iya, boleh. Tapi kalau mereka kecanduan, itu tidak boleh. Saya pikir sebagai orang tua kita tidak boleh egois. Ingat zaman dulu? Kita memang bermain di luar rumah bersama teman-teman, tetapi kita juga boleh menonton televisi.

Lalu, bagaimana caranya agar anak-anak tidak kecanduan telepon genggam? Yang paling utama adalah aturan yang ketat di dalam rumah. Keponakan saya, Thika Pharmantara, memang bukan bocah lagi. Tapi mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Flores (Uniflor) itu kecanduan telepon genggam. Pagi, siang, malam, hiburan hidupnya bersumber dari telepon genggam. Tetapi kemudian saya menjadi sangat keras sehingga dipanggil Bu Renggo sama dia. Pada tahu Bu Renggo? Itu karakter ibu dalam serial zaman baheula di TVRI berjudul Kisah Serumpun Bambu. Saingan sama Bu Subangun. Ha ha ha. Pokoknya sikap apapun yang termasuk kejam dan bikin suasana tak menyenangkan bakal dibilang renggo: dasar, kelakuannya renggo banget. Renggo berubah dari nama karakter menjadi kata sifat.

Kembali ke Thika. Anak itu kemudian saya berikan tugas: membaca buku setiap hari. Jadi, selain kuliah dan memasak, Thika juga wajib membaca buku. Pada akhirnya frekuensi Thika memegang telepon genggam agak berkurang. Saya tahu, awalnya pasti sulit bagi orang-orang yang kecanduan untuk lepas dari candunya. Oleh karena itu pada hari-hari awal, saya memantau, saya bertanya sudah sampai halaman berapa, dan apa isinya. Alhamdulillah, dia bisa menceritakan bahkan dengan detail isi buku Belum Kalah yang ditulis oleh Pater Avent Saur. Kisah tentang ODGJ yang selama ini ditangani ole Pater Avent Saur dan KKI.

Dari Thika, mari bergeser ke Yoan. Yoan, bocah kelas 2 SD, adiknya Melly, anaknya Mama Len dan Om Sius. Karena setiap hari Mama Len pasti berada di rumah untuk membantu kami menjaga Mamatua, maka Yoan pun pasti ikut. Sebenarnya, sebelum Mama Len membantu kami menjaga Mamatua, Melly sudah lebih dulu bermain dan menginap di rumah kami (tetangga dekat). Dua bulan lebih saya perhatikan, setiap hari Yoan bakal ribut sama Melly perihal telepon genggam. Jadi ceritanya, setiap siang dia bakal tiduran di lantai ruang tamu yang adem itu, sambil menonton video di Youtube, dan tidak boleh ada seorang pun yang boleh mengambil telepon genggam itu darinya. Bayangkan. Haha. Awalnya saya bingung melihat tingkah bocah ini, tapi lama-lama saya paham bahwa dia sudah kecanduan telepon genggam.

Bayangkan saja bocah SD kecanduan telepon genggam. Mungkin sudah banyak bocah di dunia ini yang mengalaminya tapi yang nyata di depan mata saya ya si Yoan. Bahkan kalau disuruh, dia bersikap seakan tidak mendengar, sampai saya mengancam dengan mematikan Wi-Fi, barulah dia bergeser dan bergerak. Ugh, telepon genggam memang bikin mager kan ya *ngikik*.

Apa doooong yang harus dilakukan agar anak-anak tidak kecanduan telepon genggam? Seperti yang sudah saya tulis di atas, yang paling utama adalah aturan yang ketat di dalam rumah. Kalau untuk Thika, aturan ketat ini berjalan tanpa harus dikomando dua kali. Tapi bagaimana dengan anak-anak yang terbiasa kemauannya dipenuhi dan suka membantah orangtua? Itu sulit, karena faktor kebiasaan memang sulit diubah. Yang kedua, setelah adanya aturan yang ketat di dalam rumah, kita perlu merangsang anak-anak melakukan kegiatan lain yang bermanfaat. Ya itu tadi, kembali pada faktor kebiasaan di dalam rumah. Kegiatan bermanfaat antara lain membaca, menulis, berkebun, hingga mengobrol (tentang sekolah, tentang do and don't, tentang aturan agama, dan lain sebagainya). Yang ketiga, bikin papan tugas dengan kuadran. Bocah suka dengan hadiah, cokelat misalnya. Berikan hadiah apabila kuadran waktu tugas-dalam-rumah dikerjakan dengan baik.

Zaman dulu, waktu saya masih kecil, waktu luang harus diisi dengan kegiatan bermanfaat seperti pergi ke rumah Ustadz untuk belajar mengaji, membaca, dan menulis. Bahkan waktu masih berlangganan majalah Bobo, saya baru boleh membaca majalah yang diantar Om Tino setelah menyapu rumah dan mencuci piring. Tentu saya juga diijinkan bermain di luar rumah: bermain tanah, bermain masak-masak, bermain siput, bermain dakon, juga bermain wayang dan gundu! Pokoknya boleh bermain di luar rumah asalkan harus ingat aturan yang sudah diberlakukan. Itu namanya tanggung jawab sama diri sendiri.

Baca Juga: Menulislah Dengan Baik Meskipun Tidak Selalu Harus Benar

Well, semoga pos ini bermanfaat bagi kalian semua. Bukan hanya untuk Bapak/Ibu yang sudah dikaruniai anak, tetapi bagi semua orang karena anak adalah tanggung jawab kita bersama. Dan ingat, ini bukan menggurui tetapi berdasarkan pengalaman pribadi saja.




Cheers.

Membikin Konten Youtube Memang Harus Tekun dan Ulet


Membikin Konten Youtube Memang Harus Tekun dan Ulet. Sabtu kemarin dalam review tentang Nessie Judge dan program Nerorrist-nya yang kece itu, sedikit menginformasikan juga tentang channel Calon Sarjana yang dihapus oleh Youtube karena plagiarisme. Apa-apa yang terkait dengan HaKI memang harus menjadi perhatian kita bersama. Ajarkanlah diri kita sendiri untuk tidak memplagiat karya orang lain. Saking seriusnya urusan HaKI ini, Pemerintah Indonesia sampai mengeluarkan peraturan khusus mengenainya yaitu Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta. Fyi: pada tahun yang sama Pemerintah Indonesia juga mengeluarkan peraturan pengganti yaitu Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. 

Baca Juga: Menulislah Dengan Baik Meskipun Tidak Selalu Harus Benar

Pemerintah Indonesia memang serius mengatur negara ini dengan mengundangkan banyak aturan. Tetapi seloroh aturan dibuat untuk dilanggar nampaknya mendarah-daging dalam tubuh kita. Haha.

Membikin konten Youtube memang harus tekun dan ulet. Terutama jika saya, kalian, dan mereka, ingin menjadi Youtuber sukses dengan jutaan subscriber dan mendulang penghasilan hingga puluhan bahkan ratusan juta Rupiah setiap bulannya. Menggiurkan memang sampai iler tumpah-ruah. Tapi tidak semudah itu untuk menjadi seorang Youtuber sukses. Karena secara umum kita tahu kesuksesan diraih berkat kerja keras. Sementara itu Youtuber sukses selalu berkaitan dengan konten kreatif. Dan untuk menghasilkan konten kreatif, harus tekun dan ulet. Kalau tidak, segera berhenti berangan-angan punya penghasilan gede dari Youtube. Muter-muter saja ini bahasanya, Teh? Iya, memang begitu. Harus memutar terlebih dahulu. Hehe.

Dan ya, saya bukan seorang Youtuber, karena menjadi Youtuber itu harus tekun dan ulet.

Muterrrrr lagi!

*ngikik*

Dulu, pokoknya dulu banget, saya tidak pernah memikirkan tentang konten kreatif. Ada video apa saja saya unggah ke Youtube. Makanya kalian bakal temukan video saya karaokean bareng teman-teman, video saya nge-lipsing lagunya Meghan Trainor, video saya bikin parodi, sampai video saya meng-cover beberapa lagu. Menurut saya itu bukan video atau konten kreatif, karena video itu ada berdasarkan apa yang terjadi saja. Sedangkan dalam pemahaman saya, konten kreatif yang dibikin oleh konten kreator itu haruslah berkonsep matang, diriset, digarap dengan serius, disunting dengan baik video dan audio-nya, barulah diunggah untuk dinikmati banyak orang. Dan kalau mau meroket di jagad Youtube, harus tekun dan ulet serta rajin mengungah video dalam jangka waktu tertentu.

Jangka waktu. Ini penting. Karena segala sesuatu yang berkelanjutan akan selalu diingat.

Arya Nara yang sampai saya menulis ini punya 821.000 subscriber dan sudah mengunggah 731 video! Siapa Arya Nara? Dia seorang Youtuber dengan video bertema chord gitar mudah. Saya tidak tahu jangka waktu setiap video diunggah. Tapi yang jelas, ketika ada ratusan video diunggah di channel-nya, berarti dia adalah Youtuber yang tekun dan ulet. Video-videonya sangat bermanfaat terutama bagi saya yang tidak pernah jago bermain gitar. Kunci-kunci alternatif yang ditawarkannya sungguh membikin saya senyum-senyum sendiri. Ooooh ternyata begitu. Selain menikmati sekaligus belajar dari video-video Arya Nara, saya paham juga bahwa videonya berlatar sederhana: dinding, kursi, microphone dan laptop/komputer di hadapannya yang menampilkan lirik lagu. Tentu ada dirinya yang sedang bermain gitar sambil ngasih tutorial kepada penontonnya.

Ingin membahas Nessie Judge, tapi sudah saya review Sabtu kemarin. Kita meloncat ke Yuvi Phan. Youtuber cantik ini tidak hanya membahas hal-hal beraroma melati horor tetapi juga kecantikan. Makanya hampir di semua videonya, meskipun itu video bertema horor, selalu ada penjelasan tentang merek gincu yang dipakainya. Dia cantik banget sih! Sampai saya menulis ini Yuvi Phan punya 227.000 subscriber dan 297 video yang diunggah ke Youtube. Videonya memang kreatif karena diriset, disusun, disunting, terlebih dahulu. Dia punya gaya bicara yang khas terutama dengan kalimat "oke-oke aja", dan tentunya bahasa Indonesianya yang masih belum sempurna. Kabarnya, Yuvi ini lama tinggal di luar negeri. Kalau saya salah, silahkan saya dikasihtau, ya. Siapa tahu kalian adalah penggemarnya Yuvi Phan. Jangan protes dulu lah. Haha.

Kedua Youtuber yang namanya saya tulis di atas, jika kalian menonton video-video mereka, pasti bakal bilang: gampang. Tinggal cari latar/set yang bersih, ngerekam diri sendiri, beres. Tidak semudah itu, kawan. Coba kalian pikir sendiri. Atau, coba kalian membikin sendiri video seperti yang mereka bikin ... berkelanjutan. Mungkin baru bikin tiga video sudah menyerah. Hehe. Mereka tekun dan ulet. Merekalah yang harus kita contohi. Original. Sama seperti Nessie Judge.

Membikin konten Youtube memang harus tekun dan ulet *bukan pengulangan* terutama jika kalian ingin menyajikan sesuatu yang benar-benar wow. Contohnya Diary Misteri Sara (DMS) oleh Sara Wijayanto. Sara tidak sendiri tetapi bekerja bersama kru hebat antara lain suaminya yaitu Demian Aditya, ada adiknya sendiri yaitu Wisnu Hardana. Nama kru lainnya tidak saya hafal. Saat menulis ini channel tersebut sudah punya 3,71 Juta subscriber dengan 121 video. Kalau boleh saya tulis: DMS berkonsep sangat matang. Temanya tentu berbau makhluk astral. Dalam bayangan saya, mereka tentu berdiskusi hebat tentang lokasi syuting seperti bangunan-bangunan kosong yang sudah lama diterlantarkan. Setelah itu barulah diriset dan kegiatan syuting pun dilakukan. Itupun pasti masih dilanjutkan dengan penyuntingan yang prosesnya juga memakan waktu karena mereka memakai lebih dari dua kamera. Oh ya, kenapa saya menulis berkonsep sangat matang? Karena mereka punya kru yang lengkap mulai dari lighting, beberapa videografer, hingga 'orang pintar'. Ini sempurna. Kenapa ya DMS tidak tayang di televisi?

Youtuber berikutnya yang tidak kalah tekun dan ulet tentu saja Nex Carlos! Jujur saya suka banget sama dia karena konten-kontennya berkelanjutan dengan tema kuliner! Yuhuuuu. Kalau ada dari kalian yang tidak tahu Nex Carlos, ya tidak apa-apa. Karena toh suatu hari saat sedang nongkrong di kantin kampus saya terheran-heran sama teman yang menyeletuk nama Nex Carlos dalam percakapan kami tentang Youtube. Oalah. Kamuh ngetop banget, Carlos! Hihi. Saat menulis ini Nex Carlos sudah punya 2,65 Juta subscriber dan 252 video yang diunggah ke Youtube *tepuk tangan*.

Yang ingin saya tanyakan pada kalian sekarang adalah mengapa Youtuber kreatif seperti nama-nama yang sudah saya sebutkan di atas cuma punya sedikit subscriber, bahkan belum bisa sampai belasan juta? Yang suka comot video sana sini saja bisa tembus belasan juta. Pertanyaan ini terus menggerogoti benak saya bahkan saat sebelum tidur. Apakah karena masyarakat kita memang tidak suka sama teman video mereka? Atau karena mereka belum ngetop sengetop-ngetopnya? Atau masyarakat belum menggali lebih dalam? Coba kalian jawab. Bantulah saya.

Baca Juga: Jangan Mengeluh: Hidup Memang Penuh Warna dan Cerita

Yang jelas, membikin konten Youtube memang harus tekun dan ulet. Pandai memikirkan bakal konten (kreatif), tekun bekerja mencari informasi/riset, ulet menggabungkan banyak elemen sehingga bisa menghasilkan satu video yang tidak saja menghibur tetapi juga informatif dan bermanfaat bagi siapa pun yang menonton baik subscriber atau penonton random. Rasa malas harus disingkirkan. Oleh karena itu Youtuber-Youtuber yang saya tulis di atas selalu punya jangka waktu tertentu untuk mengunggah karya mereka. Ada yang seminggu sekali, ada yang seminggu tiga kali, ada yang sebulan sekali. Pokoknya ada jangka waktu. Ada ritme. Kalau setahun sekali ... itu saya. Hahaha.

Ingat: mereka memang menyiapkan waktu khusus untuk membikin konten. Bisakah kita seperti mereka?

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

Menulislah Dengan Baik Meskipun Tidak Selalu Harus Benar


Menulislah Dengan Baik Meskipun Tidak Selalu Harus Benar. Awal tahun 2020 saya menulis status di media sosial Facebook sebagai berikut:


Intinya adalah, marilah menulis dengan baik meskipun tidak selalu harus benar. Karena, menulis dengan baik bukan berarti menulis dengan benar. Kalian bingung? Sama, saya juga. Haha. Oleh karena itu, mari baca tulisan ini sampai selesai. Perlu diingat, ini bukan menggurui siapa pun, hanya berbagi informasi saja. Seperti yang saya tulis di status Facebook tersebut, saya bukan pakar, ini hanya berdasarkan pengalaman menulis saja.

Baca Juga: Sarasehan di SMPN Satap Koawena

Saya bulan penulis yang jago menulis naskah dengan baik. Para penulis; penulis fiksi dan penulis non-fiksi, penulis artikel maupun opini, sudah pasti mahir di bidang tulis-menulis ini. Kalau ditanya memangnya saya ini penulis apa? Anggap saja saya, dan kalian, adalah penulis blog yang gemar menulis kreatif. Karena, tulisan-tulisan di blog bisa dibilang separuh opini, separuh curhatan, separuh kritik, separuh khayalan (fiksi), separuh cita-cita, separuh main gila (becanda), dan separuh fakta karena ada pos blog yang ditulis setelah riset yang cukup dalam serta dilengkapi dengan ragam literasi atau sumber yang kompeten.

Tapi pun seorang penulis masih membutuhkan penyunting. Bukan begitu? Setiap buku yang kita baca rata-rata punya penyunting; bisa seorang, bisa lebih dari seorang. Saya memang bukan penyunting perusahaan penerbitan buku atau penyunting majalah yang pasti dapat menyunting naskah dengan sangat baik. Menulis saja masih belepotan. Para penyunting itu memang sudah expert di dunia tulis-menulis sehingga kemampuannya jangan diragukan lagi. Kalau kita ragu sama kemampuan seorang penyunting, jangan lupa, kadang-kadang penyunting dapat lebih dari seorang. Penyunting menyunting penyunting. Haha. Apaan ini bahasanya kacau.

Menulis tentang penulis dan/atau penyunting ini berawal dari rasa gemas saya membaca tulisan orang lain. Kekeliruan atau kesalahan kecil dari ilmu menulis paling dasar. Guru Bahasa Indonesia tentu lebih fasih soal kepenulisan baik dasar maupun mahir (kayak belajar komputer ada tingkat dasar dan mahir hahaha). Kalau pos teman Facebook, akan saya beritahu kalau ada kata yang salah. Kalau pos blog ... biasanya saya simpan rindu ini dalam hati saja diam karena kuatir yang punya blog tersinggung lantas menurunkan seribu bala tentara untuk melempari saya dengan kapuk. 

Lantas kita kembali pada hak setiap blogger untuk menulis di blog-nya. Mau pakai EYD, mau pakai bahasa sehari-hari, mau pakai kecap dan saos tomat, ya terrrrrserah. Memang betul blogger punya hak untuk itu, tapi kalau tulisannya selalu bikin gemas, pengunjung juga jadi malas membacanya kan? Om Bisot sudah menulis panjang lebar tentang Bagaimana Membuat Tulisan Yang Enak Dibaca. Tulisan Om Bisot itu adalah ilmu yang kalau tidak kalian baca bakal rugi sendiri hehe. Kali ini saya hanya menulis tentang perkara-perkara paling dasar saja seperti preposisi dan penggunaan kurung.

Mari kita mulai dengan:

Di Mataram dan dimakan.

Kalian pernah menulis di makan? Sedih sekali hahaha *digigit dinosaurus*. Meskipun tulisan saya di blog ini bukan tulisan yang mengedepankan EYD dan banyak bercandanya tapi saya pasti menulis dimakan, bukan di makan. Itulah yang saya maksudkan menulis dengan baik. Sama juga dengan kalimat berikut ini:

Tuteh Pharmantara itu cantik,baik, rajin,,, maka nya Leonardo Di Caprio tergila2 sama dia.Itu fakta!

Membaca kalimat di atas jadinya gigi asam! Istilah Orang Ende. Hehe. Pertama: setelah tanda baca koma atau (,) harus diisi dengan spasi baru dilanjutkan dengan kata berikutnya. Kedua: tidak memakai koma-koma karena tidak ada istilah koma-koma tapi titik-titik (biasanya untuk kalimat yang menggantung). Ketiga: makanya bukan maka nya. Keempat: tergila-gila bukan tergila2 karena ini bukan SMS yang butuh penghematan huruf. Kelima: setelah tanda baca titik atau (.) harus diikuti dengan spasi baru dimulai kalimat baru dengan huruf depan kata pertama adalah huruf besar.

Baca Juga: Mengetik 10 Jari Itu Biasa

Kenapa saya tulis kedua, ketiga, keempat, kelima, bukan ke dua, ke tiga, ke empat, ke lima? Karena awalan ke- yang diikuti bilangan berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat seperti contoh kedua, atau kumpulan seperti contoh keduapuluh dinosaurus itu sedang main kartu di rumah Tuteh.

Dinosaurus ( diantaranya brontosaurus dan kecoaksaurus ).

Pernah menulis tanda kurung menggunakan spasi? Tanda kurung digunakan untuk mengapit tambahan atau keterangan dari sebuah kalimat atau kata. Ditulis tanpa spasi. Jadi yang baik ditulis seperti ini:

Pada hari ini mahasiswa Universitas Flores (Uniflor)

Menerangkan bahwa nama beken yang sering digaungkan adalah Uniflor. Atau:

Sarung itu dibuat menggunakan bahan alami salah satunya kembo (buah mengkudu).

Kenapa kata kembo ditulis miring? Karena kembo bukan Bahasa Indonesia. Menurut ilmu yang saya dapatkan dari Pak Yohanes Sehandi, kata dalam bahasa daerah dan bahasa Inggris ditulis miring kecuali merujuk pada judul, misalnya. Tapi, toh kadang saya sendiri juga mengabaikan tentang huruf miring pada bahasa Inggris/asing atau bahasa daerah ini.

Menulis blog tidak perlu harus menggunakan tata bahasa yang paling benar, tetapi setidaknya menulislah dengan baik.

Bagaimana dengan saya sendiri? Hahaha. Jangan ditanya, tulisan saya di blog tidak bisa dibilang benar dan enak dibaca, tapi saya sendiri harus berupaya untuk menulis dengan baik. Menulis dengan baik sesuai isi pos ini, versi saya, adalah menulis dengan memperhatikan (harusnya memerhatikan loh) kaidah paling sederhana dari dunia menulis diantaranya: yang benar dimakan bukan di makan, atau yang benar benar-benar bukan benar2, atau yang benar (menuju nirwana) bukan ( menuju nirwana ), atau yang benar di Surabaya bukan disurabaya, atau yang benar ke masjid bukan kemasjid, atau yang benar can you imagine that? bukan can you imagine that?. Untuk yang tingkat mahir, saya tidak punya kapasitas. Haha. Setidaknya tulisan itu enak dibaca. Menurut saya, bukan menurut kalian. Kalian pasti punya pendapat sendiri kan?

Lalu, bagaimana dengan gaya menulis? Gaya menulis adalah hak terhakiki setiap blogger yang alangkah baiknya jangan terlalu dikritik karena gaya menulis itu seperti manusia yang terlahir unik antara satu dengan lainnya. Gaya menulis adalah DNA masing-masing blog. Oleh karena itu saya tidak pernah bermasalah dengan gaya menulis siapa pun asalkan tetap enak dibaca alias kembali lagi pada bagaimana penempatan preposisi dan kurung tadi. Supaya jangan terlalu gemas-gemas bergembira.

Mau menulis ibuk ini cantik beud, atau kalok suatu hari nanti gua bisa ke Yerusalem, atau hellowwww emang daku pembokatnya situ?, atau aku ndak sukak kalok disuruh make up sampek muka rasanya ditindih pohon oak, terseraaaah. Hehe. Itu gaya menulis kalian! Itu DNA blog kalian! Lanjutkan!

Asal jangan menulis:

Ibuk ini cantik beud,sampek aku ter kesima.Kalok kalian ,,, ya kelen semua ...

Baca Juga: Belajar Literasi Digital

Pada akhirnya, janganlah terlalu dipikirkan apa yang saya tulis di pos ini. Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan menulis, terutama diri saya sendiri. Tapi, pada akhirnya setiap orang tentu mau memperbaiki demi kebaikan tulisannya sendiri. Dan, jangan pernah mempermasalahkan gaya menulis para blogger, karena gaya menulis adalah DNA setiap blog. Wokeh? Hehe.

Semoga berguna :D

#SeninCerita
#CeritaTuteh




Cheers.

Antara Dua Patung Pahlawan dan Kerja Logika Manusia

Credit: Flores Pos

Antara Dua Patung Pahlawan dan Kerja Logika Manusia. Sebelumnya, saya mohon maaf, tulisan ini tidak bermaksud untuk mendiskreditkan/menghina pihak mana pun. Saya juga manusia yang tidak luput dari kesalahan. Sebagai manusia, adalah wajar jika kita selalu menganalisa segala sesuatunya. Misalnya, dalam menyelesaikan suatu perkara melalui sidang pengadilan, hakim bisa saja putusan hakim sesuai betul dengan amanat undang-undang, bisa lebih berat, bisa lebih ringan, bahkan bisa juga hakim menentukan putusan hukuman penjara seumur hidup. Kenapa hakim melakukannya? Bukan karena alasan kekuasaan kehakiman saja, melainkan karena adanya pertimbangan-pertimbangan oleh hakim. Pertimbangan ini yang kemudian dianalisa.

Baca Juga: Masih Banyak Cerita Menarik Dari Kabupaten Nagekeo

Hampir dua bulan terakhir Kabupaten Ende, khususnya Kota Ende sebagai Ibu Kota-nya, heboh dengan kemunculan dua patung pahlawan daerah. Yang pertama, patung Marilonga. Yang kedua, patung Baranoeri. Marilonga dan Baranoeri adalah dua pahlawan yang sangat kami hormati. Patung Marilonga berdiri gagah di entrance dari arah Timur menuju Kota Ende, tepatnya di tengah simpang empat: Jalan Gatot Soebroto, arah Ndona, arah Woloweku, dan arah Timur/Pasar Wolowona. Sedangkan patung Baranoeri berdiri gagah di entrance dari arah Barat menuju Kota Ende, tepatnya di antara Jalan Mahoni, arah Woloare, arah Kampung Kuraro, dan arah Timur/Pom Bensin Ndao. Kedua patung tersebut kemudian dirubuhkan karena hendak dibangun patung yang baru.

Berdasarkan informasi dari Pos Kupang, Dinas PU Kabupaten Ende mengalokasikan anggaran dari Dana Alokasi Umum (DAU) tahun 2019 sebesar Rp 227.482.000 untuk membangun patung Marilonga dan Baranoeri. Sebagai kontraktor pelaksana adalah CV. Elischa Jaya dengan jangka waktu kerja selama 128 hari. Informasi lebih lengkapnya, silahkan kalian baca pada tautan Pos Kupang di atas. Termasuk keterangan dari Kadis PU yaitu Bapak Frans Lewang.

Patung Marilonga kemudian selesai dibikin, dipasang pada tempatnya semula, dan dibuka penutupnya. Patung tersebut menjadi sorotan mata masyarakat Kabupaten Ende, terutama masyarakat Kota Ende. Media sosial, khususnya Facebook, kemudian heboh dengan keberadaan patung Marilonga yang baru ini. Heboh itu bisa terjadi karena dua sebab. Pertama: sesuai ekspetasi. Kedua: jauh dari ekspetasi. Ya, sebab kedua, yaitu jauh dari ekspetasi itulah yang menyebabkan masyarakat Kabupaten Ende heboh baik di media sosial maupun secara lisan. Protes itu ditujukan pada ukuran patung, bentuknya yang berbeda dari bentuk semula, hingga pakaian yang digunakan. Menurut masyarakat, Marilonga yang sebelumnya digambarkan sangat gagah melalui patung lama, kemudian menjadi sangat begitu itu pada patung baru.

Hal yang sama juga terjadi pada patung Baranoeri.

Ada kritikan.
Ada hujatan.
Ada hinaan.

Semua berbaur menjadi satu. 

Pemerintah kemudian mencabut, istilahnya sih memang begitu, patung Marilonga (yang baru) tersebut. Sedangkan patung Baranoeri (yang baru) masih terpasang/berdiri di tempatnya.

Menarik juga mengetahui perasaan masyarakat Kabupaten Ende yang diluapkan melalui Facebook baik status-status maupun komentar pada status-status tersebut. Kenapa menarik? Saya jadi tahu pemikiran banyak orang tentang Marilonga dan Baranoeri, dan betapa cintanya masyarakat Kabupaten Ende kepada dua pahlawan daerah tersebut. Saya pikir, sangat wajar jika masyarakat berkomentar pedas tentang patung pahlawan tersebut. Karena, pahlawan merupakan idola umat.

Hanya saja, saya kemudian otak saya menjadi sedikit eror ketika membaca tulisan bernada penghinaan terhadap pekerja seninya alias senimannya. Bagi saya pribadi, seniman tidak bisa disalahkan seratus persen atas kondisi yang terjadi ini. Secara logika, kita tahu bahwa pemberi order tentunya juga mempunyai konsep dasar bentuk patungnya, pakaiannya, ukurannya, dan lain sebagainya dari patung yang diorder. Secara logika, ketika seniman mengerjakan patung tersebut, dia pun tidak bisa berlari terlalu jauh dari konsep dasar yang disodorkan oleh pemberi order, termasuk anggaran biaya. Secara logika, masyarakat juga punya hak untuk memprotes. Jadi, kalau ditanya ini salah siapa? Bukan salah siapa-siapa.

Dari semua status dan komentar di Facebook, saya sangat tertarik dengan status Gusti Adi Tetiro tentang polemik patung para pahlawan daerah ini. Setidaknya apa yang ditulis Gusti membikin saya mengacung jempol. Inilah anggota masyarakat yang baik: mengkritik dan memberi saran sekaligus. Sama seperti Gusti, saya juga berpikir demikian.

Pertama: Kajian. Ini penting. Pahlawan, seperti yang saya tulis di atas, adalah idola umat. Lebih dari itu, pahlawan daerah melekat dengan budaya dan kebiasaannya pada masa mereka hidup. Sehingga, harusnya dilakukan kajiaan/telaah terlebih dahulu tentang fisik dari para pahlawan tersebut. Caranya? Kumpulkan keluarga/turunan dari kedua pahlawan baik Marilonga maupun Baranoeri, kumpulkan pula Sejarahwan dan Budayawan yang ada di Kabupaten Ende. Diskusikan. Rembug. Debat, bila perlu. Bagaimana rupa Marilonga dan Baranoeri? Bagaimana fisik mereka? Bagaimana pakaian mereka pada masa itu? Bagaimana seharusnya mereka digambarkan/diwujudkan pada sebuah patung? Kalau tahap kajian ini sudah dilewati, barulah bisa ditentukan wujud utuhnya kelak seperti apa.

Kedua: Penganggaran. Dalam hal ini, penganggaran harus dihitung sebaik-baiknya. Bukan saja menganggarkan bahan, tetapi senimannya. Kalian juga tentu tahu, profesional bekerja tanpa sekat untuk bisa menghasilkan mahakarya. 

Ketiga: Uji Kelayakan. Ini penting. Saya pernah menulis di Facebook, ketika kita membawa bahan kain ke penjahit tentu tubuh akan diukur terlebih dahulu oleh si penjahit, diskusi model bajunya, hingga jenis kancing yang mau dipakai. Ketika bajunya sudah jadi pun kita wajib mengetesnya terlebih dahulu, siapa tahu tubuh kita saat diukur dengan saat mengambil baju tersebut sudah berubah. Lebih kurus atau lebih gemuk, misalnya. Mengenai patung ini, tentu sebelum dipajang harus diuji/dilihat dulu oleh si pemberi order, apakah sudah sesuai atau belum. Kalau belum sesuai (pesanan), wajib memprotes dan meminta seniman mengubah ini itu.

Baca Juga: Jangan Mengeluh: Hidup Memang Penuh Warna dan Cerita

Menurut saya, tiga hal utama di atas yang perlu dilakukan terutama kajian. Untuk menghasilkan sesuatu sepenting patung pahlawan, kita memang harus melakukan kajian yang sangat mendalam. Ibarat melakukan penelitian untuk skripsi, tesis, dan disertasi. Butuh daftar pustaka sebanyak-banyaknya agar tulisan kita lebih bernas.

Apa yang saya tulis ini, sekali lagi, bukan bermaksud untuk mendiskreditkan pihak mana pun. Saya cuma ingin mengajak kita semua untuk lebih sedikit bijaksana dalam bersikap. Saya juga tidak ingin patung pahlawan kebanggaan saya diwujudkan seperti itu, tetapi setidaknya masih bisa menahan diri dan jempol untuk tidak menulis dengan terlalu keras dan pedas. Kita semua manusia, punya perasaan, sakit hati bisa timbul, terutama jika tulisan kita bernada menghina.

Semoga bermanfaat.

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.