Arsip Kategori: #CeritaTuteh

Benarkah Hanya Ada 4 (Empat) Bulan Sepanjang Tahun 2020?

 


Benarkah Hanya Ada 4 (Empat) Bulan Sepanjang Tahun 2020? A-ha. Ouwyess baby, orang-orang menulisnya demikian. This is 2020, the year where you only meet January, February, Covid-19, and December. Akhir Desember 2019 Covid-19 datang. Januari dan Februari 2020 Covid-19 menyebar dan menyerang penjuru dunia. Dan ... blep. Lebih tepatnya ceklik. Pintu ditutup. Jangankan orang-orang yang berada di zona merah, saya yang berada di zona hijau (pernah menjadi zona merah tapi lantas kembali hijau) pun ketar-ketir setengah mampus. My God, is this end of the world? Proteksi diri lebih ketat. Bahkan kalau hand sanitizer dan disinfektan boleh diminum, sekalian saja saya minum. Kemudian, kita bertemu Desember. Bulan terakhir, bulan penuh harapan, bulan dimana secara pribadi saya ingin percaya bahwa Covid-19 benar-benar telah enyah dari muka bumi.


Baca Juga: Beli Gitar Itu Kayak Cari Calon Suami Harus Yang Nyaman


Desember datang. Semua orang bergembira. Dan Covid-19 masih ada. Ini seperti suami nge-prank isteri.


Suami: Mam, mulai bulan depan duit belanja Papa naikin seratus persen!

Isteri: *Syok*

Suami: Tapi bo'ong.

Isteri: *Pingsan* 


Awal Maret 2020 saya masih bisa bergembira bersama semua teman karyawan/i di Uniflor, terutama saat menerima SK naik jabatan menjadi Kabag Publikasi dan Dokumentasi dari UPT Publikasi dan Humas Uniflor. Kakak Rossa diangkat menjadi Kabag Humas dari  UPT Publikasi dan Humas Uniflor. Naik jabatan, naik gaji, naik pula tanggungjawab pekerjaan. Insha Allah dapat mengemban amanat yang besar tersebut. 


Actually, tidak ada yang betul-betul berbeda di tahun 2020 selain kampus sempat diliburkan selama sekitar 3 (tiga) bulan dimulai pertengahan Maret 2020. Yeeeaaayyy. Tapi dosen dan karyawan menjalankan work form home. Batal yeeeaaayyy. Karena waktu libur itu berkaitan dengan masa-masa promosi kampus, masa-masa dimana kami harus mampu menjaring sebanyaknya mahasiswa sesuai rasio jumlah dosen, maka work from home adalah real work from home. Bangun pagi-agak-kesiangan langsung menyalakan laptop, membikin video promosi program studi, mengunggah video ke Youtube, menyebar ragam informasi secara gila-gila'an sampai memasang iklan di Facebook, mengecek statistik iklannya, menanggapi WAG Tim Promosi, sampai pertemuan melalui aplikasi Zoom Meeting. That was really really really work from home. Oh ya, awal tahun 2020 kami malah sempat promosi kampus ke beberapa SMA di Kabupaten Nagekeo area Kota Mbay dan Marapokot.


Sistem piket dimulai dimana selama seminggu saya mendapat jatah piket di ruang kerja sebanyak 2 (dua) kali. Gara-gara ada lagi pasien Covid-19, kami kembali diliburkan. Sistem piket pun bubar. Haha, bukannya tertawa di atas penderitaan orang lain, but I like it. Tapi cuma beberapa minggu. Seperti kalimat: tidak kerja, tidak makan. Maka ketika new normal diberlakukan, kami pun menjalaninya sampai hari ini. Dan yeaaa, setelah Februari ada Maret, April, Mei, Juni, Juli, Agustus, September, Oktober, November, dan Desember. Bulan-bulan dimana pesta pernikahan berlangsung meriah (di Kota Ende) dan salah satunya pesta pernikahan keponakan saya Kiki Abdullah dan Solihin. Pernikahan, terutama pesta pernikahan, di tahun 2020 sungguh menjadi sorotan publik. Jika ada pasien Covid-19 setelah pesta pernikahan, maka pesta pernikahan itu menjadi bulan-bulanan warga hahaha. Seketat apapun protokol kesehatan yang diterapkan oleh tuan pesta. Untungnya belum ada pasien Covid-19 gara-gara pesta pernikahan. 


Juli 2020, Uniflor menggelar wisuda yang tertunda. Wisuda yang seharusnya dilaksanakan pada April 2020 terpaksa mundur jauh ke Juli. Wisuda dilaksanakan secara daring melalui aplikasi Zoom Meeting. Saya sedih. Kucir mahasiswa dipindah oleh orangtua masing-masing di rumah masing-masing, bukan oleh Rektor. Kata Rektor Uniflor, hal tersebut dapat dilaksanakan oleh orangtua karena wisudawan/i sudah mengikuti yudisium sebagai momen resmi mereka meraih gelar Sarjana. Wisuda kedua di tahun 2020 agak lebih fleksibel karena 14 (empat belas) mahasiswa cum laude boleh mengikuti wisuda secara luring. Yang lainnya, tetap secara daring.


Saya tidak ingat kapan tepatnya, sekitar Juni atau Juli saya sudah dapat pergi ke kota lain terutama Kota Mbay. Pertama-tama tentu untuk urusan pekerjaan di mana saya harus merekam ucapan selamat ulang tahun Uniflor dari Bupati Nagekeo. Ada pula berbagai liputan peneltian dan pengabdian masyarakat baik di Kota Mbay maupun di wilayah Kabupaten Ende seperti Desa Randotonda. Saya juga menjadi tester (orang yang mengetes) homestay rumah adat yang dikelola oleh Pokdarwis Rendo Ate di Dusun Rada'ara. Silahkan baca postingan Rada'ara: Pesona Dusun Wisata Budaya. Iya, itu di blog sebelah. Saya masih bisa mendapat jatah di beberapa homestay. Next year, maybe.


Lalu Oktober pun datang. Bulan di mana rencana foto prewedding Kiki dan Solihin harus dilaksanakan. Di mana? Di Kota Mbay dan sekitarnya! Lagi-lagi Kota Mbay. Foto-fotonya keren, dipakai untuk undangan pernikahan baik undangan cetak maupun undangan video. Dan pernikahan dilaksanakan pada November 2020. Ada pestanya? Ya. Ada. Menjadi sorotan? Mungkin. Saya tidak tahu persis. Yang jelas kami berusaha pesta pernikahannya dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Anyhoo, untuk souvenir pernikahan itu saya membikin sabun-sabun mini. Di Kota Ende, souvenir pernikahan umumnya berbentuk kipas, gantungan kunci, pin, talenan mini, dan lain sebagainya. Ketika ada teman yang tahu saya membikin sabun mini mereka protes. Dengan sangat elegan saya menjelaskan:


Sabun mini sebagai souvenir pernikahan pada masa pandemi Covid-19 bermakna dalam. Pertama, sabun ya sabun, dapat dipakai untuk mencuci tangan. Ya souvenir sabun itu benar berfungsi layaknya sabun. Kedua, makna/filosofi sabun di masa pandemi Covid-19 ... kalian harus rajin cuci tangan huh? Ketiga, ada fakta sabun, berupa kartu mini, yang disertakan bersama sabun mini itu. Soooo what's wrong with this souvenir?


Yang salah adalah bentuknya yang super cute, warnanya yang menggoda, sehingga ada anak kecil yang memakannya.


Mati ketawa.


Pernikahan Kiki dan Solihin berjalan mulus pada 28 November 2020. Alhamdulillah.


Baca Juga: Pembagian 100 Sampel Hand Sanitizer Sampai Social Distancing


Meluncur ke Desember. Kami merayakan ulangtahun Mamatua dengan riang gembira. Kampus diliburkan sejak tanggal 23 Desember 2020 sampai 2 Januari 2021. Ya, kembali beraktivitas pada tanggal 4 Januari 2021. Masih ada seminggu hari libur, entah apa yang akan saya lakukan ke depan. Jalan-jalan ... mungkin. Tapi yang jelas usaha stik keju menjadi sangat boombastis. Itulah salah satu alasan kesibukan saya selama ini. Saya punya resep istimewanya, punya tenaga dan waku, punya orang-orang yang siap mendukung, kenapa tidak teruskan saja usaha stik keju ini? Selama semua pelanggan mengatakan rasanya enak dan ketagihan ... mari jalan terus. 


Kesimpulannya, tahun 2020 sama seperti tahun lainnya. Ada 12 (dua belas) bulan dan semuanya kita lalui, kita isi, dengan berbagai ketigatan. Kita belajar banyak hal baru di tahun 2020. Dan berterimakasihlah pada semua pengalaman baru di tahun 2020.


#SeninCerita

#CeritaTuteh


Cheers.

Beli Gitar Itu Kayak Cari Calon Suami Harus Yang Nyaman

 


Beli Gitar Itu Kayak Cari Calon Suami Harus Yang Nyaman. Sejarah panjang saya dan dunia musik pada akhirnya tiba pada konklusion bahwa saya hanya bisa memainkan satu alat musik yaitu gitar. Catat: gitar akustik. Padahal dulu, waktu perangkat band keluarga (Jemiri Band) belum dijual, saya mencoba menabuh drum secara otodidak dan mencoba memainkan orgen. Kalian pun jangan berpikir ketinggian bahwa saya jago memainkan gitar kayak musisi-musisi keren Indonesia. Tidak, saya belum sampai pada tahap itu karena kunci yang dikuasai pun baru yang paling dasar. A, B, C, D, E, F, G dengan tambahan Am, Em, Bm, Dm, Fm, sedangkan Cm masih bikin saya garuk kepala. Hahaha. Setidaknya saya bisa mengiringi diri sendiri bernyanyi, dan tentu saja Mamatua! Hyess, Mamatua suka banget menyanyikan lagu Teluk Bayur.


Baca Juga: Sakit Hati Berujung Maut Yang Menggemparkan Tanah Ende


Sejarah panjang saya dengan gitar pun ngeri-ngeri sedap. Hehe. Pertama beli gitar di Toko Sahabat, bertahun-tahun lampau (saya lupa tahun berapa pokoknya sudah lama banget). Asal membeli, yang penting punya gitar. Gitarnya kemudian rusak dan lantas diperbaiki sama Noel Fernandez, dicat kuning, ditempeli stiker. Gitar yang usianya sudah bermusim-musim itu akhirnya saya ikhlaskan tidak lagi berada di Pohon Tua (nama rumah kami). Sekian lama saya hanya bisa meminjam gitar pada Akim Redu dan Violin Kerong. Gara-gara meminjam gitar itulah saya jadi tahu perbedaannya. Ha? Apanya yang beda?


Gitar yang dipinjamkan Akim itu berbodi besar, sama dengan gitar lama saya, dengan neck panjang/normal. Ingat ya, ini gitar akustik. Lanjut, sedangkan gitar yang dipinjamkan Violin itu berbodi lebih kecil dan sangat nyaman ketika memainkannya. Pelukannya mantap jiwa. Kemudian saya pergi ke Kedai Kampung Endeisme di mana gitar yang disediakan di sana, untuk dimainkan pengunjung, berbodi lebih ramping dan tingkat kenyamanannya lebih tinggi dari pada saat memainkan gitar milik Violin. Sejak saat itu saya berjanji pada diri sendiri bahwa suatu saat akan membeli gitar berbodi kecil dan ramping dengan neck pendek. Kenapa lebih suka neck pendek? Pertama, agar jangkauan tangan saya tidak perlu sampai bikin otot pegal. Kedua, tidak perlu memakai bantuan capo yang dipasang pada fret yang merupakan bagian dari neck gitar.


Malam Minggu kemarin impian saya terwujud. Sepulang dari kampus saya menuju Jalan Melati lokasi Toko Abdee Acoustic. Bersama Akim dan tiga saudaranya (gengs, beli gitar saja bawa pasukan) saya mulai memilih gitar yang dijual di sana. Sumpah, saya sampai bingung mau gitar yang mana hahaha. Berdasarkan jenis gitar yang saya mau, dan rekomendasi saudara-saudaranya Akim, saya pun membeli sebuah gitar dengan warna kayu natural berukuran sedang. Transaksi itu terjadi setelah saya mencoba tiga buah gitar. Tingkat kenyamanan memang beda-beda. Dan akhirnya saya berhasil membeli gitar yang satu ini:



Belum sempat mencabut stiker harganya pula hahaha. Oh ya, harganya Rp 950K ditambah tas gitar totalnya Rp 980K. Melihat itu, saudaranya Akim membisik: kan tinggal sedikit dapat Yamaha yang 1,5Juta, Kak! Hmmm. Beberapa ratus ribu ini bisa buat makan serumah dua mingguan. Ha ha ha. 


Baca Juga: Bertumbuh dan Berkembang Bersama Universitas Flores


Apa pelajaran dari pos hari ini? Ya itu, beli gitar itu kayak cari calon suami. Harus yang nyaman. Hahaha. Kalau tidak nyaman, mainnya tidak enak (gitarrrrr, main gitarrrrr). Saya membeli gitar memang berdasarkan pengalaman pribadi. Karena gitar yang dibeli bakal menjadi sahabat bermusik sehari-hari jadi memang harus pilih yang nyaman. Sejauh ini (baru tiga hari) saya memainkannya, rasanya nyaman-nyaman dan enak-enak saja. Demikian pula dengan calon suami, setidaknya ada kenyamanan ketika bersamanya. Uiiiihhhh bahasanya hahaha.


Selamat gitaran!


Cheers.

Bertumbuh dan Berkembang Bersama Universitas Flores


Bertumbuh dan Berkembang Bersama Universitas Flores. 19 Juli 1980 merupakan tanggal lahirnya Universitas Flores (Uniflor). Founding father-nya, H. J. Gadi Djou, Drs.Ekon. yang karib kami sapa Opa Ema, berjuang begitu keras dan gigih agar pendidikan kaum muda di Pulau Flores tetap berjalan dan berlanjut saat Universitas Nusa Cendana (Undana) Cabang Ende ditutup atas regulasi pada saat itu. Dari buku Sang Visioner, dan tulisan-tulisan dari isteri Opa Ema yaitu Oma Mia Gadi Djou dalam buku-buku seri Cerita-Bercerita, saya pribadi patut mengucapkan terima kasih atas perjuangan Opa Ema mendirikan, membangun, dan mengembangkan Uniflor. Beliaulah sejatinya seorang visioner. Apa yang menjadi visi (dan misi) beliau saat itu, kini telah terwujud. Lulusan Uniflor terserap ke masyarakat: guru/pendidik, ASN, wakil rakyat, wirausahawan, advokat, petani, penyiar radio, kontraktor, orang-orang yang bekerja di belakang layar televisi, dan lain-lain yang tidak dapat saya mention satu per satu.

Baca Juga: #PDL 38 Tahun Uniflor dan Cerita Bersamanya

19 Juli 2020, Uniflor merayakan panca windu-nya. Di usia matang ini, eksistensi Uniflor dalam kancah dunia pendidikan di Indonesia sangat diperhitungkan. Mahasiswanya tidak saja datang dari Pulau Flores, tetapi juga dari Pulau Sumba, Pulau Adonara, Pulau Alor, Pulau Solor, Pulau Lembata, dan sekitarnya. Mahasiswanya bahkan datang dari daerah 3T melalui beasiswa afirmasi; anak Papua, hingga anak Malang yang orangtuanya tinggal di perbatasan Indonesia dan Malaysia. Uniflor telah membuktikan visi-nya sebagai universitas unggul dan sebagai mediator budaya. Bagi saya, Uniflor telah menyatukan begitu banyak budaya menjadi satu budaya yaitu budaya Uniflor. Budaya Uniflor yang tetap memegang teguh budaya masing-masing individu tanpa mendiskreditkan yang lain; menyatukan semua perbedaan budaya tradisional itu bersama budaya moderen.

Saya memang tidak tumbuh bersama Uniflor, di mana Uniflor lahir ketika usia saya menginjak 7 (tujuh) bulan. Tapi saya tumbuh bersama Uniflor sejak tahun 2011 dan berkembang hingga saat ini, dan insha Allah seterusnya. Bertumbuh bersama Uniflor tidak pernah terlintas dalam benak saya sebelumnya, mengingat kebiasaan sering jenuh dengan satu pekerjaan. Nampaknya kali ini memang beda; situasi dunia kerja yang penuh rasa kekerabatan. Kali ini memang beda; saya menemukan renjana pada pekerkaan ini. Ketika menemukan renjana pada pekerjaan, semua orang pasti lebur bersamanya. Saya sudah melalui 4 (empat) kali pindah ruangan, 4 (empat) kali ganti Pimpinan UPT Publikasi dan Humas Uniflor, 5 (lima) kali ganti Kepala Tata Usaha, rekan kerja yang datang-pergi lantas meninggalkan saya dan Kakak Rossa berdua. Bekerja di satu bidang selama 9 (sembilan) tahun ternyata tidak semerta-merta bikin kenyang pengalaman, karena semakin banyak hal/ilmu baru yang saya pelajari, hingga akhirnya ditempatkan sebagai Kabag Dokumentasi dan Publikasi di UPT Publikasi dan Humas Uniflor.

Saya berkembang bersama Uniflor. Ya, itu benar. Melihat Uniflor dari tahun 2011 sampai dengan sekarang, rasanya ingin menitikkan air mata. Dosen-dosennya rata-rata Magister dan kini telah lebih banyak Doktor (dan yang sedang kuliah S3). Semua ruang kuliahnya dilengkapi komputer dan LCD termasuk ruangan micro-teaching, free Wi-Fi di mana-mana bahkan di kantin, perpustakaannya (perpustakaan utama, perpustakaan fakultas, dan perpustakaan program studi) menyediakan koleksi buku yang lengkap, klinik kesehatan dengan seorang dokter dan dua bidan, kampus ministry, fasilitas pusat komputer, fasilitas olah raga, ragam UKM yang mana prestasinya hingga ke tingkat provinsi dan nasional. Mahasiswa Uniflor juga melakukan penelitian membikin hand sanitizer dan disinfektan bersama dosennya. Tentu, mahasiswa Uniflor juga diberikan beasiswa untuk kategori-kategori tertentu antara lain mahasiswa berprestasi hingga mahasiswa kurang mampu.

Pada masa pandemi Covid-19, Uniflor bertindak sebagai orangtua yang sangat peduli pada anak-anaknya. Mahasiswa diberikan berbagai bantuan:
1. Pembagian sembako.
2. Pembagian pulsa data untuk e-learning
3. Pemotongan biaya registrasi.
4. Pembayaran SKS boleh dikredit.
5. Pemotongan biaya KKN.
dan bantuan-bantuan lainnya.
Oh ya, masih dalam masa pandemi Covid-19, Uniflor baru saja melaksanakan wisuda online pada tanggal 18 Juli 2020.

Baca Juga: Merawat Budaya Bersama Uniflor Sebagai Mediator Budaya

Di usianya yang ke-40, tidak ada yang bisa saya berikan kepada Uniflor selain ucapan dan do'a. Semoga Uniflor tetap menjadi universitas unggul, terpercaya, dan terdepan. Semoga Uniflor tetap menjadi mediator budaya. Semoga Uniflor tetap menjadi rumah bagi banyak orang; suka duka kita hadapi dan lewati bersama. Eits, tapi dalam hal lomba antar unit, kita tidak bisa bersama, hahahaha, masing-masing unit pasti berupaya untuk menang. Saya pernah membaca tulisan: usia sangat berarti bagi sepotong keju. Harapan saya: demikian pula Uniflor.

40 and still counting ...

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

Sebenarnya Istilah New Normal Bukan Sesuatu Yang New

Design on Canva.

Sebenarnya Istilah New Normal Bukan Sesuatu Yang New. Halo kalian semua; bos-bos pembaca BlogPacker. Kita masih bertemu melalui kata dalam suasana yang masih sama; masih dipeluk oleh pandemi Covid-19. Tidak ada seorang pun dari kita yang pernah membayangkan kengerian ini sebelumnya. Bahwa dunia ini bisa kacau juga akibat Covid-19. Saya pribadi hanya pernah membayangkan dunia ini kacau karena perang yang terjadi antara negara yang satu dengan negara yang lain akibat perebutan kekuasaan suatu negara, hingga saingan teknologi mutakhir dalam urusan senjata. Kekacauan akibat Covid-19? Uh lala. Mana saya, kalian, mereka, bisa membayangkannya sebelumnya? Urusan mengingat filem bertema pandemi atau zombie, itu lain perkara. 

Baca Juga: Piknik Encim and The Gank di Tengah Pandemi Covid-19

Pada akhirnya kita tidak bisa terus-terusan work from home, kita tidak bisa selamanya berada di dalam rumah terkait kehidupan diri sendiri dan orang lain. Oleh karena itu diberlakukan sesuatu yang disebut new normal. Kehidupan baru yang mengharuskan manusia sebagai makhluk berakal untuk beradaptasi. Kehidupan new normal yang kita jalani sekarang adalah protokol kesehatan masa pandemi Covid-19 yaitu memakai masker, menjaga jarak dengan orang lain, mencuci tangan dengan sabun minimal dua puluh detik dan/atau membersihkan tangan menggunakan hand sanitizer sebelum menyentuh wajah (mata, hidung, mulut), rajin menyemprot disinfektan pada benda-benda mati yang sering tersentuh berjamaah antara lain gagang pintu dan meja.

New normal bagi para pekerja kantoran misalnya kalau sakit flu sebaiknya diam di rumah, apabila satu ruangan kantor terlalu banyak orang boleh dijadwalkan piket untuk menjaga jarak aman, apabila pekerjaan bisa dilakukan dan diselesaikan dari rumah sebaiknya dilakukan dan diselesaikan di rumah, dan lain sebagainya. Saya rasa sama juga new normal ini dengan mereka-mereka yang pekerjaannya tidak di satu ruangan (kantor) alias di luar rumah. 

Menulis tentang new normal, menurut saya pribadi, new normal bukanlah sesuatu yang new bagi umat manusia. Sejak lahir sampai sekarang kita mengalami begitu banyak new normal. Saya hanyalah orang awam yang coba melihat new normal dari kaca mata ... kaca mata awam juga ... tentu saja.

Ambil waktu dari saat Mama berhenti memberikan ASI karena sudah saatnya. Itulah new normal bagi umat manusia. Belajar meminum susu dan air dari botol (dot) bahkan gelas. Ho ho ho. Sudah paham sekarang? Saat manusia bisa berjalan, itu new normal yang lain dari tahapan kehidupannya. Bagi anak-anak dalam masa sekolah/pendidikan, hampir setiap tahun ada anak yang beradaptasi dengan new normal yang merupakan kehidupan/dunia sekolah. Sebelumnya bangun tidur boleh kapan saja, setelah sekolah bangun tidur harus lebih awal agar bisa mempersiapkan diri dan berbagai keperluan untuk sekolah. Sumpah, saat saya mulai bersekolah di TK, rasanya malas sekali membiasakan diri untuk bangun lebih awal. Huhuhu.

Bagi mereka yang menikah, kehidupan pernikahan merupakan new normal yang harus dihadapi dan dijalani hingga maut memisahkan, insha Allah. Yang sebelumnya hanya memikirkan diri sendiri, setelah menikah harus memikirkan dan mengurus rumah tangga (suami/isteri, dan anak). Yang biasanya makan di warung karena masih single, pada akhirnya demi penghematan dan kebersamaan dengan keluarga, harus memasak.

Kita juga harus sadar bahwa dunia digital/internet telah mengubah kita dan mau tidak mau memaksa kita menjalani new normal. Buku diary 'bermutasi' pada blog. Bekerja bisa dari mana saja selama ada koneksi internet. Surat tidak perlu berperangko jika dikirim melalui e-mail. Tugas-tugas siswa/mahasiswa dapat dikumpulkan melalui e-mail, WA, maupun blog. Dulunya melepas rindu bisa melalui telepon, sekarang video call saja! Rindunya lunas tuntas! Bahkan menonton video-video di Youtube merupakan new normal bagi saya setelah saya menjalani new normal yang lain yaitu tidak menonton televisi selama bertahun-tahun! Iya, new normal adalah kebiasaan baru yang kita jalani dalam hidup ini. Sesuatu yang dulunya dianggap bukan kebiasaan kemudian menjadi kebiasaan akibat daya dorong dari hal-hal lain.

Baca Juga: Panen Sorgum Untuk Pertama Kalinya Sungguh Bikin Happy

Covid-19 memang telah mengubah kehidupan umat manusia di dunia ini. Tidak pandang bulu. Entah kapan akan berakhir, itu yang kita belum tahu, oleh karena itu untuk menghadapi kehidupan kita sendiri haruslah kita beradaptasi dengan new normal ini. Itu menurut saya. Bagaimana menurut kalian? Yang jelas, salah satu new normal bagi saya saat ini selain mengikuti protokol kesehatan adalah berkebun hahaha. Covid-19, kita hanya bisa berupaya untuk menghindarinya ... 

Semoga bermanfaat.

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

Piknik Encim and The Gank di Tengah Pandemi Covid-19


Piknik Encim and The Gank di Tengah Pandemi Covid-19. Halo semua! Sudah lama, lama, lama sekali kalian tidak bertemu tulisan baru di blog ini. So sorry, keasyikan sama Horeday jadi lupa ngasih semacam notifikasi pada kalian. Hehe. Yang jelas, saya ingin mengucapkan Selamat Merayakan Idul Fitri bagi teman-teman yang merayakannya, meskipun sudah lewat jauh, dan semoga puasanya pada Bulan Ramadan kemarin betul-betul membersihkan hati dan pikiran saya, kalian, mereka. Insha Allah. Amin.


Baca Juga: Membagi Masker dan Tetap Menjaga Protokol Kesehatan

Sebenarnya sejak tahun lalu saya sudah berencana untuk close house (lawannya open house kan ya, haha). Rencananya Idul Fitri tahun 2020 ini saya bakal mengajak semua penghuni Pohon Tua termasuk Mamasia dan Mamalen untuk pelesir ke Riung. Kalau Riung terlalu jauh, menginap di hotel di Kota Ende pun boleh lah. Intinya kami tidak membikin kue, tidak memasak masakan khas Idul Fitri, serta tidak menerima tamu. Ndilalah, Covid-19 mewujudkan rencana itu *ngakak*. Kami memang tidak ke mana-mana alias #DiRumahSaja sekaligus tidak menerima tamu. Apakah dengan demikian pengeluaran terpangkas? Terpangkas sedikit, karena kami tetap membikin kudapan dan memasak meskipun jumlahnya sangat sedikit. Sesuai jumlah penghuni Pohon Tua dan anggota keluarga besar Pharmantara dan Abdullah Achmad (the only one kakak ipar laki-laki).


Hari kedua Idul Fitri saya pergi (untuk kedua kali) bersilaturahmi ke rumah Abang Nanu Pharmantara bersama Kakak Nani Pharmantara dan suaminya Ka'e Dul. Dari situ tercetus ide untuk piknik keesokan harinya. Selasa! Amboiiii rencana mendadak ini ... apakah terlaksana? Jelas! Melalui WAG Encim and The Gank, semua orang kebagian bekal bawaan. Piknik kali ini agak berbeda karena kami juga membawa tenda. Oh ya, bagi kalian yang penasaran dengan keseruan piknik Encim and The Gank ini, silahkan  nonton video berikut:


Sudah nonton videonya? 

Seru kan?


Nah, pasti ada yang bertanya mengapa kami 'berani-beraninya' piknik di tengah pandemi Covid-19 ini? Pasti kalian betul-betul emosi dengan keluarga kami kan? Hehe. Tidak apa-apa, setiap orang berhak untuk marah pada masa seperti sekarang ini. Inilah yang saya tulis pada deskripsi video tersebut:

Setelah sekian lama akhirnya keluarga besar kami, Keluarga Pharmantara dan Keluarga Abdullah Achmad, memutuskan untuk piknik. Kali ini pikniknya di Kali Nangaba. Meskipun piknik, kami tetap berusaha menjaga protokol kesehatan ya, gengs. Jangan marah atau menyalahkan keluarga kami karena piknik di tengah pandemi Covid-19. Yang perlu diketahui adalah bahwa Kali Nangaba itu panjaaaaang, dan area kering di sekitarnya sangat luas, sehingga jarak antara keluarga kami dengan orang lain lebih dari 10 meter. Tentu kami juga tidak ingin hal-hal buruk menimpa ... Insha Allah. Amin.

Tentu kami semua mengikuti protokol kesehatan yang dianjurkan. Semua kendaraan yang dipakai baik sepeda motor maupun mobil disemprot dengan disinfektan terlebih dahulu. Semua orang, sebelum berangkat, wajib mencuci tangan dengan sabun minimal dua puluh detik dan wajib memakai masker. Di Kali Nangaba (kami jarang menyebut sungai), jarak antara rombongan kami dengan orang-orang lainnya lebih dari sepuluh meter, bahkan lebiiiiiih lagi. Setiap orang tentu tidak mau terinfeksi Covid-19 bukan? 


Saya berharap kalian juga demikian ... masih bisa menikmati kebersamaan dengan keluarga di tengah pandemi Covid-19. Amin.

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

Satu Minggu Yang Diam dan Senyap di Blog dan Youtube


Satu Minggu Yang Diam dan Senyap di Blog dan Youtube. Minggu kemarin saya sama sekali tidak menulis blog dan hanya satu kali mengunggah video di Youtube. Benar-benar satu minggu yang diam dan senyap. Tetapi tentu saya ada alasannya. Meskipun diam dan senyap di blog dan Youtube, dalam kehidupan nyata justru sebaliknya. Terlalu banyak hal yang dilakukan sehingga untuk menengok blog pun sulit. Fokus, fokus, fokus. Kalau fokus terpecah, maka hari ini saya belum tentu bisa menulis blog. Haha. Tapi tentu saya

Baca Juga: Membagi Masker dan Tetap Menjaga Protokol Kesehatan

Di Kota Ende selain marak berita tentang satu orang yang dinyatakan positif Covid-19, warga juga dikejutkan dengan berita penyiraman air keras terhadap seorang perempuan bernama Adi Nona hingga meninggal dunia (karena cairan tersebut katanya memasuki jalan nafas). Berita ini sungguh membikin perasaan saya hancur. Bagaimana mungkin ada orang setega itu terhadap orang lainnya? Di bulan suci Ramadan pula! Dan yang lebih sadis adalah netizen yang kemudian memosting foto jenazah bersangkutan saat masih di IGD. Ini kan nganu ... pengen marah-marah jadinya.

Saya menulis begini di Facebook:

Arogansinya Netizen +62

Bulan Agustus 2017 Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Universitas Flores (Uniflor) menggelar kegiatan bertajuk "Secangkir Kopi bersama Abang Frans Padak Demon". Abang Frans dari VoA Indonesia di Jakarta melempar quiz/pertanyaan. Kira-kira begini pertanyaannya: lebih mudah mana, pekerjaan wartawan zaman sekarang atau zaman dulu ketika belum ada internet? Saya sebagai orang yang menjawab dengan benar mendapat hadiah dompet VoA dan satu barang lagi yang saya lupa barang apa.

Jawaban saya waktu itu: lebih mudah pekerjaan wartawan zaman dulu karena saat sekarang wartawan bersaing dengan netizen yang selalu ingin lebih dulu menyiarkan segala sesuatunya tanpa memerhatikan akurasi data dan fakta.

Sejak mengenal Internetsehat (ICT Watch) dan kalimat "Jurnalis Warga" saya tahu bahwa netizen juga berhak untuk memosting apa pun, tetapi harus tetap memerhatikan kode etik online. Sayangnya arogansi netizen +62 jauh lebih besar menguasai besarnya bentuk otak di dalam tempurung kepala.

Pasal 4 PERATURAN DEWAN PERS Nomor: 6/Peraturan-DP/V/2008 Tentang Pengesahan SURAT KEPUTUSAN DEWAN PERS Nomor: 03/SK-DP/III/2006 Tentang KODE ETIK JURNALISTIK SEBAGAI PERATURAN DEWAN PERS berbunyi sebagai berikut:

"Wartawan Indonesia tidak membuat berita bohong, fitnah, sadis, dan cabul."

Penafsirannya adalah sebagai berikut:

"Sadis berarti kejam dan tidak mengenal belas kasihan."

Tidak mengenal belas kasihan merupakan wujud dari arogan. Arogan berarti sombong, congkak, pongah, serta mempunyai perasaan superioritas yang dimanifestasikan dalam sikap suka memaksa.

Wartawan tentu mematuhi aturan yang diberlakukan untuk mereka. Tapi netizen ...?

Netizen +62 itu arogan. Meskipun tidak semua. Kenapa arogan? Karena dengan penuh rasa percaya diri memosting foto jenazah/mayat di media sosial. Salah satu media sosial itu bernama Facebook. Karena apa mereka arogan? Karena ingin menjadi yang pertama menyiarkan berita dan foto tanpa menggunakan otak yang dilindungi tempurung kepala itu. Lebih sadis, foto jenazah yang diposting bukan keluarga mereka sendiri. Padahal, meskipun keluarga, sebaiknya menghindari melakukannya karena itu merupakan bentuk tidak punya rasa hormat terhadap jenazah.

Ini baru melihat dari peraturan Dewan Pers, belum lagi peraturan lain seperti Undang-Undang Nomor 19 tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Apakah memosting foto jenazah bisa terjerat hukum? Ya, bisa. Jangankan jenazah. Sebenarnya memosting foto orang lain tanpa izin yang bersangkutan pun bisa terjerat hukum. Pihak keluarga dari si jenazah bisa melakukan penuntutan terhadap netizen yang memosting foto korban yang bersangkutan. Bisa dengan pasal perbuatan tidak menyenangkan. Siapa sih yang senang foto jenazah keluarganya diposting orang lain yang tidak ada sangkut-pautnya? Keluarga bukan, pihak berwajib juga bukan, tapi berani melakukannya.

Netizen yang berani memosting foto jenazah di media sosial itu:

TIDAK PUNYA NURANI.

Sebenarnya saya mau menulis BUTA HUKUM tapi toh zaman sekarang setiap orang bisa mengakses segala macam peraturan yang ada. Jadi lebih tepatnya tidak punya nurani karena AROGAN.

Menjadi yang pertama itu baik, tapi menjadi yang pertama tanpa memikirkan hak orang lain untuk dihormati adalah bo ...

#LifeIsGood

Tahan-tahan emosi. Postingannya jauh lebih sopan. Hehe.

Baca Juga: Panen Sorgum Untuk Pertama Kalinya Sungguh Bikin Happy

Saya harap netizen berhenti memosting foto jenazah dan/atau foto-foto bersifat sadis lainnya. Terutama foto jenazah, postinglah foto ketika beliau masih hidup dalam kondisi sehat dan penuh senyum. Biarkan semua orang mengenangnya dalam kondisi itu, bukan dalam kondisi yang buruk (setelah meninggal). Come on, kita orang-orang yang cerdas kan? I guess.

Semoga bermanfaat!

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

Membagi Masker dan Tetap Menjaga Protokol Kesehatan

Wakil Rektor Bidang Kerja Sama Dr. Ernesta Leha, S.E., M.Agb. sedang membagi masker, tetap mengikuti protokol kesehatan yaitu menjaga jarak dan mencuci tangan usai kegiatan.

Membagi Masker dan Tetap Menjaga Protokol Kesehatan. Sabtu kemarin saya meliput kegiatan yang dilakukan oleh Universitas Flores (Uniflor) dalam hal ini pihak Rektorat. Kegiatannya sangat keren yaitu membagi (ratusan) masker kepada masyarakat sekaligus mengedukasi masyarakat tentang pentingnya memakai masker. Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardikas) yang jatuh pada tanggal 2 Mei, saya pikir kegiatan ini sangat tepat dengan kondisi sekarang di mana Covid-19 sedang merajalela. Membagi sekaligus mengedukasi masyarakat tentang pentingnya memakai masker merupakan salah satu upaya penting memutus penyebaran Covid-19.

Baca Juga: Panen Sorgum Untuk Pertama Kalinya Sungguh Bikin Happy

Karena saya yang membikin beritanya, maka bolehlah saya mengkopi-tempel berita tersebut di sini. Cekidot.

PERINGATI HARDIKNAS UNIFLOR MEMBAGI RATUSAN MASKER KEPADA MASYARAKAT

Peringati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang jatuh pada tanggal 2 Mei, Universitas Flores (Uniflor) membagi ratusan masker kepada masyarakat. Dalam sambutannya sebelum pembagian masker dimulai Rektor Uniflor Dr. Simon Sira Padji, M.A. mengatakan bahwa kegiatan ini menunjukkan Uniflor peduli dengan pendidikan yang mana suasana Hardiknas pada tahun ini masih belum kondusif akibat pandemi Covid-19. Oleh karena itu selain pembagian masker juga dilakukan edukasi kepada masyarakat yang menerima masker tersebut tentang betapa pentingnya memakai masker dalam situasi sekarang. Pada masa yang akan datang Uniflor akan mengupayakan pembagian masker dalam skala yang lebih besar yaitu dengan melibatkan setiap program studi.

Sekretaris Yayasan Perguruan Tinggi Flores (Yapertif) Ana Maria Gadi Djou, S.H., M.Hum. mengucapkan terima kasih kepada Uniflor atas kegiatan ini. Lebih lanjut Ana Maria mengungkapkan bahwa murid lebih takut kepada guru ketimbang orangtua, atas pemikiran ini mudah-mudahan dapat membuat masyarakat lebih peduli, karena Covid-19 sangat berbahaya dan paling utama selain mencuci tangan adalah harus menggunakan masker.

Pembagian masker dilakukan di persimpangan Jalan Wirajaya, Jalan Melati, Jalan Uniflor, dan Jalan Prof. Dr. W. Z. Yohanes. Kegiatan pembagian masker dihadiri dan dilakukan oleh Rektor Uniflor, Wakil Rektor Bidang Akademik Uniflor Ferdinandus Lidang Witi, S.E., M.Kom., Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum dan Keuangan Uniflor Falentina Lucia Banda, S.E., M.Sc., Wakil Rektor Bidang Kerja Sama Uniflor Dr. Ernesta Leha, S.E., M.Agb., Sekretaris Eksekutif Uniflor Yohanes Laka Suku, S.T., M.T., Sekretaris Yapertif, Kepala Biro Administrasi Akademik (BAA) Uniflor Christina Gabriela, S.Sos., Kepala Biro Administrasi Umum dan Keuangan Emilia Contessa Sero, A.Md., dan dibantu sebagian dosen dan karyawan Uniflor. Selain masker untuk orang dewasa juga dibagi masker untuk anak-anak.(2teh).

Sebelumnya, Uniflor yaitu Prodi Akuntansi juga telah membagi masker kepada masyarakat terutama di daerah Pasar Wolowona, Pasar Mbongawani, dan Pasar Potulando. Sedangkan Prodi Pendidikan Fisika telah melakukan penelitian dan membikin hand sanitizer dan disinfektan serta dibagikan pula kepada masyarakat dan pihak Kelurahan Paupire tempat Uniflor berdomisili.

Baca Juga: Belajar Blog Sambil Donasi di Kelas Blogging Online

Sebagai lembaga pendidikan tinggi, Uniflor telah berupaya dan membuktikan kepeduliannya terhadap lingkungan yang sehat sebagai idealnya manusia tinggal. Tugas kita semua adalah mengikuti protokol kesehatan yang diberlakukan oleh pemerintah antara lain mencuci tangan minimal dua puluh detik sebelum menyentuh wajah (mata, hidung, dan mulut), memakai masker, menjaga jarak, dan kalau bisa membersihkan rumah dan lingkungan dengan menyemprot cairan disinfektan. Disinfektan sangat mudah dibikin. Kakak Nani Pharmantara yang pada masa pensiunnya bersama suami membuka kios sembako juga menyediakan kran dan sabun untuk cuci tangan para pembeli serta menyemprot uang yang diserahkan menggunakan cairan disinfektan (lalu dijemur) hahaha.

Semoga bermanfaat.

Mari, saling menjaga!

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

Panen Sorgum Untuk Pertama Kalinya Sungguh Bikin Happy


Panen Sorgum Untuk Pertama Kalinya Sungguh Bikin Happy. Hola! Ketemu lagi di Hari Senin. Harinya saya bertugas alias piket di kantor. Iya, sejak minggu kemarin, saya kebagian piket di kantor setiap Senin dan Selasa, tetapi karena peraturan piket baru diberitahu pada Selasa dan saya membaca pesan itu Selasa siang, jadinya baru minggu ini saya memulai piket. Urusan piket ini sebenarnya sudah diberlakukan pada masa awal #DiRumahSaja di mana saya kebagian jaga kandang setiap Senin dan Rabu, tetapi sempat terhenti sejak keluarnya surat edaran kedua perpanjangan masa #DiRumahSaja, dan ketika surat edaran ketiga perpanjangan masa #DiRumahSaja kembali dikeluarkan, piket pun kembali diberlakukan. Senang? Tentu!

Baca Juga: Belajar Blog Sambil Donasi di Kelas Blogging Online

Saya sudah pernah menulis bahwa selama berada di rumah (saja) banyak kegiatan yang telah dilakukan. Salah satunya adalah berkebun mini di beranda belakang Pohon Tua. Nah, hari Minggu kemarin ada sesuatu yang bikin saya happy. Akhirnya saya memanen sorgum yang tumbuh di petak tanah sisa 1 x 1 meter itu! Sebagai orang yang belum akrab dengan sorgum, saya harus bertanya terlebih dulu pada Cahyadi tentang kondisi sorgum, apakah sudah boleh dipanen atau belum? Ternyata kata Cahyadi, sorgum itu sudah boleh dipanen. Ayolah! Eits, tapi sebelumnya, Minggu pagi sekitar jam sepuluh kami berangkat ke kebun sorgum milik Cahyadi di daerah Woloare untuk mengambil tanah sekarung. Tanah ini bakal saya tanami anakan ubi tatas yang sudah mulai bertunas dari beberapa ubi tatas yang saya tanam sekitar dua minggu lalu. Selain membawa tanah sekarung, saya juga membawa pulang satu polybag anakan cabe dan satu polybag anakan cabe rawit.

Cerita tentang kebun sorgum milik Cahyadi dan panen sorgum di beranda belakang Pohon Tua silahkan kalian nonton pada video berikut:



Sebenarnya, apa sih sorgum itu?

Menurut Wikipedia, Sorgum (Sorghum spp.) adalah tanaman serbaguna yang dapat digunakan sebagai sumber pangan, pakan ternak dan bahan baku industri. Sebagai bahan pangan, sorgum berada pada urutan ke-5 setelah gandum, jagung, padi, dan jelai. Sorgum merupakan makanan pokok penting di Asia Selatan dan Afrika sub-sahara. Sorgum juga mengandung serat tidak larut air atau serat kasar dan serat pangan, masing-masing sebesar 6,5% - 7,9% dan 1,1% - 1,23%. Kandungan proteinpun seimbang dengan jagung sebesar 10,11% sedangkan jagung 11,02%. Begitu pula dengan kandungan patinya sebesar 80,42% sedangkan kandungan pada jagung 79,95%. Hanya saja, yang membuat tepung sorgum sedikit peminat adalah karena tidak adanya gluten seperti pada tepung terigu. Masyarakat indonesia sudah tenggelam dalam nikmatnya elasitisitas terigu, karena tingginya gluten, dan inilah yang membuat adonan mie, dan roti menjadi elastis.

Terlalu banyak makan dari bahan pangan ber-gluten tidaklah terlalu baik untuk kesehatan, karena dapat menyebabkan celiac desease. Ini merupakan salah satu titik tolak bahwa alternatif tepung yang sehat dapat dikonsumsi adalah tepung sorgum. Selain itu Sorgum dikenal memiliki manfaat yang lebih baik daripada tepung terigu karena gluten free serta memiliki angka glikemik index yang rendah sehingga turut mendukung tren gerakan konsumen gluten free diet seperti di negara-negara maju.

Ceritanya sampai Cahyadi berkebun sorgum dan merembet ke saya adalah pada suatu hari, saya lupa tahun berapa (2017, 2018, atau 2019?), Cahyadi mengantar tamu yang hendak pergi ke Dusun Likotuden, Desa Kawalelo, Kecamatan Demon Pagong, Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Ada apa di sana? Ada Mama Sorgum Indonesia yaitu Maria Loretha. Dari perjalanan itu Cahyadi membawakan saya kue sorgum dan butir-butir sorgum siap pakai. Dari situlah Cahyadi mulai kepikiran untuk ikut menanam sorgum, melihat manfaatnya yang sangat baik bagi kehidupan umat manusia. Pada tahun 2019 Cahyadi kembali pergi ke sana dan membawakan saya sebungkus bubuk sorgum; bubuk ini dapat dicampur air panas untuk diminum, boleh dicampur gula, boleh tidak dicampur gula, mana-mana suka.

Sampai sorgum kemudian tumbuh di petak tanah sisa 1 x 1 meter di beranda melakang Pohon Tua, silahkan baca pos berjudul Membikin Kebun Mini di Beranda Belakang Pohon Tua. Kalian akan tahu bahwa sorgum merupakan tanaman yang tidak sombong dan tidak repot untuk tumbuh. Dia bisa tumbuh di mana saja selama ada sinar matahari dan air. Saya sudah membuktikannya, saya sudah memanennya!







Setelah dipanen sorgum harus dijemur terlebih dahulu, kemudian digiling/ditumbuk untuk memisahkan isi dan kulit, baru deh diolah untuk dikonsumsi. Karena mesin penggiling sorgum tidak ada di Kota Ende (kabarnya ada di Kecamatan Detusoko, di tempatnya Nando Watu yang sudah terlebih dahulu menanam sorgum), kayaknya saya bakal menumbuknya menggunakan lesung kayu. Sama seperti menumbuk kopi yang sudah disangrai! Hehe. Kayaknya kegiatan menumbuk sorgum bakal seru dan bakal jadi pengalaman bagi kami serumah.


Baca Juga: Seni Lukis dan Seni Kata di Kedai Kampung Endeisme

Bagaimana, kawan? Ternyata tidak sulit kan memperoleh bahan pangan pengganti nasi? Jujur, gara-gara Covid-19 pun saya kepikiran menanam bahan pangan yang bisa dimakan sebagai pengganti nasi. Bahan pangan itu antara lain ubi tatas dan kentang. Ubi tatas sudah selesai disemai; dari dua sampai tiga biji ubi tatas yang saya tanam, menghasilkan belasan anakan yang ditanam di polybag terpisah setiap anakannya. Mungkin yang paling sulit itu kentang, karena sudah dua kali percobaan ini masih belum membuahkan hasil, hanya saja kentang yang waktu tanamnya bersama-sama ubi tatas saya bongkar dari polybag dan ternyata ... muncul tunas-tunas keciiiil banget dari mata kentang. Makanya kentang itu langsung saya potong dan tanam dengan bagian tunas ngintip dari balik tanah. Semoga tumbuh juga. Setidaknya ubi tatas dan kentang bisa bikin kenyang. Ha ha ha.

Semoga bermanfaat!

Mari berkebun!

#SeninCerita
#Ceritatuteh



Cheers.

Belajar Blog Sambil Donasi di Kelas Blogging Online


Belajar Blog Sambil Donasi di Kelas Blogging Online. Hola! Minggu kemarin merupakan minggu paling tidak produktif. Tapi bohong. Hehe. Tidak produktif di blog, tapi sangat produktif di belakang rumah, bercengkerama dengan tanah, polybag, bibit, tunas, dan anakan. Pagi ini, saya sangat gembira melihat bibit sawi yang bertumbuh, mengintip dari celah tanah, mencari sesuatu yang disebut sinar (matahari). Horeee! Kekuatiran saya, bahwa mereka bakal gagal tumbuh, pun sirna. Saya pernah menanam bibit sawi, pernah melihatnya bertumbuh hingga remaja, kemudian dihancurkan oleh ... entah ... manusia atau ayam. Jahat. Kali ini tidak boleh terjadi lagi pengrusakan itu, Ferguso! Haha. Oalah ... intro-nya kepanjangan. Mari lanjut dengan Kelas Blogging Online.

Baca Juga: Mengenang Pak De yang Humoris, Murah Hati, dan Merakyat

Tahun 2018 saya bersama Om Bisot dan Kanaz membuka kelas blogging. Cerita tentang kelas blogging tersebut bisa kalian baca pada pos berjudul: 5 Alasan Membuka Kelas Blogging NTT, Angkatan II Kelas Blogging NTT, 5 Kelas Blogging, 5 Peserta Favorit Kelas Blogging#PDL BAT Dan Kelas-Kelas Blogging Yang Mereka Bangun. Alasan membangun kelas blogging adalah agar teman-teman di luar sana yang belum punya blog bisa belajar membikin dan membangun blog, serta teman-teman yang sudah punya blog bisa belajar mengelola blog dengan baik. Kami bertiga murni hanya ingin berbagi informasi dan sedikit pengetahuan. Tidak sepeser pun bayaran dipungut. Iya, berdasarkan kesenangan saja. Kelas blogging tersebut berjalan di WhatsApp Group (WAG).

Tahun 2020, kami kembali membuka kelas blogging, tapi agak berbeda.


Berbeda apanya sih?

Pertama: Kami bekerja sama dengan Sekolah Relawan.
Kedua: Kali ini berbayar!


Setiap orang yang ingin menjadi peserta Kelas Blogging Online 2020, wajib membayar biaya pendaftaran sejumlah Rp 100.000. Biaya pendaftaran langsung dikirimkan pada rekening Sekolah Relawan, lantas mengirimkan bukti transfer pada nomor WA Kanaz, dan nanti akan di-add pada WAG Kelas Blogging Online 2020.


Biaya pendaftaran yang dikirimkan pada rekening Sekolah Relawan tersebut akan dimanfaatkan untuk membantu masyarakat terdampak Covid-19. Makanya kami menulis Belajar Blog Sambil Donasi. Kapan lagi? Ya sekarang lah.

Waktu (kembali) diajak Kanaz untuk membuka kelas blogging saya langsung semangat. Karena, setiap orang punya caranya masing-masing untuk membantu. Apalagi saat kondisi seperti sekarang di mana virus Corona a.k.a. Covid-19 merajai dunia. Kami yang work from home, tentu sangat senang bisa melakukan ini, di sela-sela pekerjaan yang juga tak kalah banyak. Ini ibarat oase di padang pasir. Kerinduan untuk bercengkerama dengan lebih banyak orang (baru) meskipun hanya melalui WAG. Doakan semoga banyak pesertanya. Karena, semakin banyak peserta, semakin banyak masyarakat terdampak Covid-19 yang bisa terbantu.

Insha Allah.

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

Suasana Kota Ende Setelah 14 Hari Saya Di Rumah Saja


Suasana Kota Ende Setelah 14 Hari Saya Di Rumah Saja. Empat belas hari telah berlalu sejak dosen, karyawan, dan mahasiswa Universitas Flores (Uniflor) dirumahkan. Iya, kami #DiRumahSaja. Taat pada aturan, dosen dan mahasiswa Uniflor melaksanakan pembelajaran menggunakan metode e-learning. Layanan yang digunakan bermacam-macam. Ada e-learning yang bisa diakses melalui situs Uniflor, ada MOODLE, Edmodo, hingga Google Classroom. Karyawan Uniflor wajib standby. Apabila sewaktu-waktu dipanggil oleh pimpinan, wajib datang ke kampus, tidak boleh beralasan sedang berada di kampung halaman. Saya sendiri benar-benar di rumah saja karena kebutuhan keluar rumah dilakukan oleh Thika Pharmantara dan Melly seperti berbelanja kebutuhan pokok hingga kebutuhan Mamatua.

Baca Juga: Penjelasan Paling Masuk Akal Dari Kematian Elisa Lam

Sabtu, 4 April 2020, untuk pertama kali setelah empat belas hari saya pun pecah telur alias keluar kandang. Haha. Sabtu kemarin saya harus meliput kegiatan tahunan Uniflor setiap tanggal 4 April yaitu ritual Pati Ka Embu Kajo di Tubu Nabe. Kegiatan tersebut dilaksanakan pagi hari pukul 07.00 Wita dan berakhir pukul 08.30 Wita dengan peserta yang sangat terbatas. Mumpung sedang berada di luar rumah, usai kegiatan di kampus saya mengajak Thika jalan-jalan berkeliling Kota Ende. Penasaran juga ... saya yang #KakiKereta ini begitu lama berada di dalam Pohon Tua, apa yang terjadi dengan Kota Ende? Hahaha. Gaya banget lu, Teh. Anyhoo, ternyata Kota Ende masih lengang. Masyarakat patuh pada aturan yang ditetapkan pemerintah. Beberapa orang yang berada di jalanan adalah mereka-mereka yang memang bekerja di luar rumah. 

Berikut videonya. Cekidot!



Baca Juga: Pembagian 100 Sampel Hand Sanitizer Sampai Social Distancing

Pada video di atas, kalian bisa melihat suasana Kota Ende. Jalanan memang masih lengang. Kami mampir di lapak nasi kuning langganannya si Thika. Si Kakak penjual nasi kuning mengaku nasi kuning yang dijualnya masih laris manis serta belum sampai pada penurunan omzet harian. Entah dengan hari-hari beriktunya karena kami semua menerima surat edaran baru dari Rektor yang memperpanjang waktu #DiRumahSaja hingga tanggal 18 April 2020. Work from home memang menyenangkan juga, tapi lebih menyenangkan kerja di kantor seperti hari-hari biasa karena bisa bertatap muka dengan teman-teman dan bergibah hahaha.

Bagaimana dengan kalian, kawan? Bagi tahu yuk di komen.

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.