TSF ‘Story


Saya pernah menulis tentang para pejuang ekonomi di pos berjudul Pejuang Ekonomi di EGDMC. Tentang sebuah event olahraga tahunan oleh organisasi Dokar (dosen dan karyawan) Universitas Flores yaitu Ema Gadi Djou Memorial Cup yang secara tidak langsung telah turut membantu para pejuang ekonomi. Para pejuang ekonomi yang saya maksudkan di sini adalah para pedagang yang menjual minuman dan makanan seperti kopi, teh, brondong, jagung rebus, telur rebus, aneka jajanan, hingga nasi limaribuan. Membaca pos Facebook Iskandar Awang Usman tentang event Triwarna Soccer Festival (TSF) membikin saya menyegerakan menulis ini. Karena, saya memang sudah merencanakan untuk menulis tentang kisah lain dari Triwarna Soccer Festival dalam TSF's Story.

Baca Juga: Es Gula Moke

Kutipan pos FB Abang Iskandar adalah sebagai berikut:


Pendapat blogger yang satu ini saya acungi jempol. Kami sama-sama melihat TSF sebagai suatu momen yang menggairahkan dan menggeliatkan, salah satunya, dunia perekonomian masyarakat Kabupaten Ende. Saya ingat, hari pertama TSF, saya dan Abang Iskandar sama-sama berkelana di tenda-tenda pameran berburu bahan bekal pos blog. Kalian juga bisa membaca salah satunya pada pos berjudul Be Art ini.

Triwarna Soccer Festival


Kembali menyegarkan ingatan kalian bahwa TSF merupakan pesta masyarakat Kabupaten Ende yang menggelar tiga mata acara sekaligus yaitu:


1. Pertandingan sepak bola yang memperebutkan Bupati Cup.
2. Pameran dengan tema Bego Ga'i Night.
3. Lomba Mural.

Pertandingan sepak bola dan pameran masih berlangsung dan akan sama-sama berakhir pada tanggal 31 Maret 2019, sedangkan Lomba Mural sudah kelar sejak tanggal 11 Maret 2019 kemarin dengan hadiah yang akan diterima saat malam final pertandingan sepak bola. Tentang para pemenang Lomba Mural ini bisa kalian baca di pos 5 Jawara Mural

Betul seperti yang ditulis Abang Iskandar bahwa TSF benar-benar telah mampu menggerakkan semua sektor, mulai dari sektor pertanian, perkebunan, peternakan, usaha kecil dan mikro, serta semua sektor jasa usaha lainnya yang mendapat imbasnya (positif). Kalian tentu bertanya-tanya, memangnya betul semua sektor itu tergerakkan hanya dari sebuah event TSF? Inilah yang akan saya bahas kali ini.

UMKM, Papa Lele, dan Pedagang Asongan


Pada dasarnya event pertandingan sepak bola apapun; baik Ema Gadi Djou Memorial Cup, El Tari Memorial Cup, Bupati Cup, Suratin Cup, dan lain-lainnya yang diselenggarakan di Stadion Marilonga membawa dampak positif kepada para pejuang ekonomi seperti para papa lele (pedagang kaki lima) dan pedagang asongan. Papa lele yang lapaknya berderet rapi di depan Stadion Marilonga merupakan pemandangan khas setiap kali event pertandingan sepak bola digelar. Pedagang asongan yang diijinkan memasuki Stadion Marilonga kala pertandingan berlangsung, atas ijin dan mendapat ID Card dari pantia, pun bukan hal yang baru. Umumnya mereka adalah masyarakat yang berdomisili di sekitar Stadion Marilonga yang mempunyai kios/warung juga di sekitar Stadion Marilonga lantas membuka lapak, dan/atau masyarakat yang dadakan berjualan karena melihat peluang mengumpulkan tambahan Rupiah.

Ini bukan brondong loh, tapi SORGUM! Dari Komunitas RMC Detusoko.

Pada event TSF, tidak hanya papa lele dan pedagang asongan saja yang terlihat di Stadion Marilonga. Dengan adanya Pameran bertema Bego Ga'i Night, panitia telah memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada para pelaku usaha baik usaha kecil maupun mikro untuk berpartisipasi, melalui pendaftaran secara gratis. Tenda-tenda pameran ini diisi oleh para pelaku usaha kecil dan mikro serta komunitas. Jadi, apabila kalian pergi ke Stadion Marilonga, di bagian depannya, parkiran, kalian akan melihat tenda-tenda pameran berderet rapi, berhadapan dengan lapak-lapak papa lele yang juga berderet rapi. Diantara mereka adalah area terbuka tempat arus manusia, pengunjung maupun penonton, hilir-mudik.

Tim Mural sedang ngopi di depan tenda pameran Komunitas Kopi Sokoria.

Kalian bisa melihat pengunjung menikmati kopi dari tenda pameran Komunitas Kopi Sokoria, pun juga bisa melihat pengunjung memesan kopi dari para pedagang papa lele. Kalian bisa melihat pengunjung memesan gorengan dari salah satu tenda pameran, pun juga bisa melihat pengunjung berdiri di depan lapak papa lele untuk membeli sebotol air mineral atau sebutir telur rebus. Kalian bisa melihat penonton pertandindang sepak bola yang membeli sekantong brondong di lapak papa lele, pun bisa melihat pedagang asongan yang tertawa bahagia karena sekali masuk ke dalam stadion dagangannya ludes dibeli para penonton.

Rejeki tidak akan tertukar. Itulah yang saya perhatikan selama TSF berlangsung.

Pengusaha Jasa


Ada banyak pengusaha jasa yang meraih keuntungan dari TSF; jasa transportasi, jasa sablon, jasa parkir, jasa ini itu. Semuanya memperoleh dampak (positif) dari satu event TSF.

Kita mulai dari pengusaha jasa transportasi. Kabupaten Ende merupakan kabupaten dengan kecamatan-kecamatan yang letaknya tidak hanya di dalam Ibu Kota yaitu Kota Ende saja, tetapi juga kecamatan-kecamatan di luar Ibu Kota. Logisnya, jangankan luar kota, yang di dalam kota saja butuh jasa transportasi untuk mencapai Stadion Marilonga. Jalan kaki sejauh lima sampai delapan kilometer memang bisa dilakukan, tapi begitu sampai di Stadion Marilonga, klub andalan kecamatan mereka sudah kelar bertanding. Haha. Bayangkan saja jarak dari Moni (Kecamatan Kelimutu) ke Kota Ende saja bisa membutuhkan waktu tempuh sekitar dua jam. Oleh karena itu transportasi merupakan jasa yang sangat dibutuhkan; ojek, angkot, mini bis, bis, sampai truk kayu yang dimodifikasi dengan bangku-bangku untuk penumpang manusia. 

Baca Juga: Lomba Mural Lagi

Selain transportasi, pengusaha jasa lainnya adalah jasa sablon. Pengusaha jasa sablon ini sudah mulai bergerak bahkan sebelum TSF dimulai. Mereka menerima pesanan sablon kostum pemain, kostum suporter, kostum official, dan lain sebagainya. Coba kalian bayangkan, ada dua puluh satu kecamatan yang artinya ada dua puluh satu tim! Teman saya dari #EndeBisa yaitu Ampape Sablon bahkan sering mempos di FB tentang pesanan-pesanan kaos menjelang dan bahkan saat TSF berlangsung.

Bagaimana dengan jasa parkir? Panitia TSF memang menyediakan tempat parkir khusus yang dijaga oleh aparat Dishub, tetapi masih banyak pula masyarakat yang memilih parkir-cepat di seberang jalan, di depan rumah-rumah warga. Maka jasa parkir yang ini jelas menguntungkan warga meskipun tanpa karcis tapi tetap laris karena kemudahannya memarkir dan mengeluarkan sepeda motor. Saya salah seorang panitia yang pada suatu malam memilih jasa parkir warga ini.

Nah, kalau jasa yang berikut ini adalah jasa yang berkaitan dengan kreativitas. Al dari Be Art memang menjual gelang tenun ikat (barang) pada tenda pamerannya. Tapi jangan salah, Al juga menerima jasa membikin nama pada gelang tersebut. By request. Ini keren kan, jasa yang ditawarkan Al ini laris-manis. Banyak yang memesan, custom, gelang tenun ikat dibordir nama mereka atau nama pasangan mereka atau nama klub sepak bola favorit mereka.

Gelang tenun ikat dari Be Art.

Sayangnya, ada peluang usaha jasa yang terlewatkan oleh masyarakat. Hari-hari terakhir ini Kota Ende diguyur hujan (dan angin kencang). Saya belum melihat ada yang menawarkan jasa payung dan jas hujan. Hehe. Hujan dan angin kencang ini sering merobohkan beberapa tenda pameran, tetapi Seksi Perlengkapan dan Seksi Kelistrikan dengan sigap memperbaikinya. Tentu dibantu oleh anggota panitia lainnya.

Sektor Pertanian/Perkebunan dan Sektor Peternakan


Apakah sektor-sektor ini tergerakkan? Ya, kawan. Sangat. Sektor pertanian/perkebunan, misalnya, kalian bisa melihat para papa lele yang menjual buah-buahan seperti ata nona (lagi musim dan manisnya aduhai!) serta yang menjual kopi. Pada Komunitas RMC Detusoko kalian juga bisa melihat ragam hasil bumi yang dipamerkan dan dijual seperti sorgum dan olahannya, kripik ubi, nanas kering, hingga kacang-kacangan. Tapi, apabila kita mundur ke belakang, maka kita akan menemukan bahwa sektor-sektor ini jelas tergerakkan sejak semula jadi.

Kok bisa, Teh?

Pertama, kalian sudah tahu kan bahwa banyak pedagang papa lele yang berjualan nasi limaribuan, kacang hijau dan es buah dalan cup plastik (sedih ya, plastik lagi), hingga brondong. Mari kita lihat perhitungan ekonominya:


Itu baru satu pedagang papa lele yang saya tanyai. Belum yang lainnya; baik pedagang papa lele, pedagang asongan, maupun pengusaha kecil dan mikro. Perbedaan yang sangat signifikan antara hari biasa dan hari-hari TSF. Dari situ, kalian juga pasti bisa menghitung bahan baku yang dibutuhkan bukan? Mulai dari beras, sayur-mayur, ikan/daging, telur, jagung, kacang hijau, buah-buahan, kopi, gula, dan lain sebagainya. Meningkatnya permintaan 'pasar' dari event TSF sebagai konsumen, menyebabkan meningkat pula pembelanjaan yang dilakukan oleh produsen.

Ma Otu, salah seorang tetangga saya yang turut berjualan, dadakan, di depan Stadion Marilonga, mengaku TSF telah turut membantu perekonomian keluarganya. Berjualan pada event TSF terutama saat klub-klub dari luar kota berlaga, membikin nasi limaribuannya laris-manis terjual dalam sekali angkot menurunkan penumpang luar kota! Astaga! Oleh karena itu, untuk sementara ia memilih berjualan di depan Stadion Marilonga saat TSF dan berhenti membantu mengelola kantin di Kampus 3 Uniflor. Nah!

Memperkenalkan Komunitas


Di Kabupaten Ende ini banyak sekali komunitas. Ada komunitas yang sudah sangat dikenal, ada pula yang masih baru. Beberapa komunitas yang turut meramaikan tenda-tenda pameran TSF antara lain KaFE yaitu komunitas fotografer Ende, Komunitas Literasi Milenial FTI, Komunitas RMC Detusoko, Komunitas Kopi Sokoria, Komunitas Be Art, Komunitas Rumah Baca Suka Cita, dan lain sebagainya. Saya sendiri, misalnya, melalui TSF jadi tahu ada Komunitas Kopi Sokoria dan Komunitas Rumah Baca Suka Cita.






Awesome!

Sarana Bermain dan Belajar Para Bocah


TSF tidak saja menjadi daya tarik orang dewasa, para bocah pun demikian. Bukan, bukan saja para bocah yang merupakan anak-anak dari para pengisi tenda pameran maupun anak-anak papa lele dan pedagang asongan. Ini adalah para bocah pengunjung yang secara sengaja memang diajak orangtuanya untuk turut menikmati euforia TSF terkhusus di sebuah tenda pameran milik Komunitas Ruman Baca Suka Cita. Rumah Baca ini bahkan menempati dua tenda pameran; menyediakan buku-buku untuk dibaca di tempat oleh para bocah yang berkunjung, pun menyediakan kertas-kertas bergambar yang siap diwarnai.



Berbahagialah kalian, para bocah! Hehe. Kalian jadi punya sarana bermain dan belajar. Bahkan Rumah Baca Suka Cita juga menggelar perlombaan mewarnai dengan peserta yang sangat banyak. Meskipun pernah ditunda karena cuaca yang sangat buruk, perlombaan ini tetap digelar pun di tengah cuaca buruk, tetapi dipindah lokasinya ke Kantor PDAM yang terletak di samping Stadion Marilonga.

Baca Juga: Arekune

Luar biasa. Menunduk hormat untuk para pengelola Rumah Baca Suka Cita dan panitia TSF Seksi Pameran.

Hiburan


Tidak bisa dipungkiri TSF adalah hiburan untuk masyarakat Ende. Karena pada malam minggu diselenggarakan panggung hiburan yang menghadirkan musisi-musisi lokal. Dua malam minggu yang lalu, panggung mini di depan Stadion Marilonga, menampilkan sekelompok musisi asal Moni (Kecamatan Kelimutu) yang membawakan lagu-lagu bernuansa reggae. A-yeee! Ramai sangat! Penonton yang usai menonton pertandingan sepak bola pun berjubel di depan panggung.

Bagi saya, hiburan lainnya adalah cuci mata hehehe. Senang sekali begitu melihat orang-orang hilir-mudik, kayak menonton fashion show. Ini memang pertandingan sepak bola, tapi penontonnya harus modis doooonk.

Yang Terlewatkan


Dari apa yang sudah saya ulas panjang-lebar di atas, kalian jadi paham bahwa apa yang dipos Abang Iskandar di FB-nya itu memang benar. TSF adalah pesta masyarakat Kabupaten Ende! Tapi, selain yang betul-betul tertangkap mata, hasil mengamati, serta wawancara, ada hal-hal yang terlewatkan. Masih, dari lini ekonomi. Yang pertama adalah supporter.


Suppoter cilik yang gembira karena tim andalannya menang.

Supporter tentu turut meningkatkan perekonomian dengan memesan kaos supporter kan. Tapi perlu kalian ketahui bahwa wajah dan, kadang, tubuh yang di-cat itu membikin para pemilik toko cat tersenyum senang hahaha. Belum lagi tenore (alat drumband) yang pasti disewa. Amboi ... betul-betul semua lini lah ini TSF membawa dampak positif.

Apresiasi


Saya, pribadi, sangat mengapresiasi Triwarna Soccer Festival. Hanya dari satu event, begitu banyak lini yang merasakan imbasnya, baik langsung maupun tidak langsung. Saya sangat mengapresiasi semua anggota panitia yang betul-betul memerhatikan masalah sampah. Sampah di dalam Stadion Marilonga maupun sampah di luar Stadion Marilonga. Seksi Perlengkapan sigap menyediakan karung-karung sampah yang setiap pagi langsung diangkut ke tempang pembuangan sampah. Sampah yang bisa dibakar, pasti langsung dibakar. Jika ada yang protes: ah, masa sih? Itu sampahnya setiap hari ada. Ya kan karena event ini masih berlangsung dan mungkin saat melintas di depan Stadion Marilonga pada saat panitia belum membersihkannya. Tapi percayalah, urusan sampah ini selalu dibahas setiap briefing malam usai pertandingan terakhir sebelum kami pulang.

Saya berharap event tahunan dengan menu utama pertandingan sepak bola ini bakal lebih baik dari tahun ke tahun, dengan menambahkan mata acara baru. Tak hanya Pameran dan Lomba Mural, dan hiburan, bisa pula ditambah dengan Lomba Fashion Show Tenun Ikat, atau lomba-lomba lainnya.

Baca Juga: Laut Belakang Sekolah

Demikianlah TSF's Story. Kisah yang luar biasa dari Triwarna Soccer Festival. Kami, masyarakat Ende bangga punya event sekeren ini. Karena ... Ende jadi lebih ramai! Hehe.

Semangat Senin, kawan, dan semoga hari-hari kalian menyenangkan.



Cheers.

Es Gula Moke


"Kakak Ibu Tuteh, mau minum kopi?" tawar Ferdianus Rega, founder Komunitas Sokoria Kopi, semalam, saat saya sedang duduk di mejanya mengecek T-Journal dan daftar peserta Lomba Mural di meja depan tenda pamerannya. Iya, ceritanya ini masih dari Triwarna Soccer Festival

"Sudah dua gelas kopi susu. Cukup kopi untuk hari ini. Kalau ada yang dingin, boleh," jawab saya sambil membayangkan sedikit informasi tentang Komunitas Sokoria Kopi pada pos tentang Be Art ini.

"Ada es gula moke," tawarnya dengan wajah ramah. "Gratis untuk Kakak Ibu."

"Boleh!"

Baca Juga: Arekune

Tampang gratisan saya langsung menyala begitu mendengar kata gratis. Hahaha. 

Apa Itu Moke?


Untuk tahu tentang moke, silahkan baca pos Aimere, Tak Hanya Moke atau pos Moke, Aimere. Tapi sekadar informasi, moke merupakan minuman keras tradisional khas Provinsi Nusa Tenggara Timur yang diolah dari nira pohon lontar. Moke juga disebut minuman yang menyehatkan, sebenarnya, apabila diminum secukupnya, terutama bila telah direndam dengan ginseng. Dari lini adat-istiadat, moke merupakan minuman wajib dari Suku Lio (menulis dari sudut Kabupaten Ende). Membangun rumah, upacara adat, pernikahan, dan lain sebagainya, moke selalu ada. Satu atau dua sloki itu wajar, berlebihan bakal bikin mabuk dan lupa diri.

Es Gula Moke


Secangkir es gula moke hadir di hadapan saya. Wah, harus segera saya coba. Yakin ini bukan kopi-moke yang pernah diminum teman. Bagaimana rasanya? Dingin ... haha. Ada rasa gula merah cair atau seperti rasa gula Sabu, dan sedikit sekali rasa moke-nya. Great! Ini minuman segar yang pasti dicari kalau siang hari. Betul, sangat cocok diminum siang hari saat tubuh sedang letih. Karena kandungan gula cair itu baik untuk tubuh, kata Mamatua.

Kalau kalian belum tahu, gula Sabu merupakan gula khas yang diproduksi di Pulau Sabu. Bagaimana pembuatannya? Belum saya tahu pasti karena belum lengkap informasi tentang gula Sabu ini, harus bertanya lebih lanjut kepada teman-teman Orang Sabu. Semoga saya bisa menulis tentang gula Sabu ini ya, kawan. Karena gula Sabu yang diseduh dengan air panas itu dulu pernah menjadi minuman saya setiap pagi sebelum berangkat ke sekolah.


By the way, saya menulis pos ini pagi buta setelah balik dari Stadion Marilonga. Jadi, saya belum bisa menulis keputusan siapakah pemenang Lomba Mural yang harusnya berakhir kemarin. Ya, atas pertimbangan dewan juri, pengumuman akan dilaksanakan Senin, 11 Maret 2019, pukul 14.00 Wita. Nantilah saya bakal pos tentang para pemenang Lomba Mural. Tapi, boleh donk saya foto duluan di salah satu bidang yang dilombakan:


Berlatar hasil mural salah seorang peserta bernama Anggi, bertema burung Gerugiwa. Gerugiwa merupakan burung khas yang ada di Taman Nasional Kelimutu. Dan, termasuk satwa yang dilindungi. Inilah burung kebanggaan kami.

Baca Juga: Laut Belakang Sekolah

Bagaimana dengan cerita kalian, kawan?



Cheers.

Lomba Mural Lagi

Hasil Mural yang dibikin oleh Christian Lamatokan saat Lomba Mural Tahun 2014 di dinding pagar Stadion Marilonga sebelum kemudian tahun 2017 Stadion Marilonga direnovasi total dan menghasilkan dinding baru yang bakal dilombakan lagi tahun 2019.


Mural adalah cara menggambar atau melukis di atas media dinding, tembok atau permukaan luas yang bersifat permanen lainnya. Itu kata Wikipedia. Bagi saya, mural adalah karya seni yang luar biasa mempesona. Tahun 2014 Dokar (Dosen dan Karyawan) Uniflor, sebuah organisasi intra kampus, pernah menyelenggarakan Lomba Mural yang pernah saya pos di Lomba Mural. Silahkan dibaca siapa tahu terpesona sama hasil muralnya hehe. Salah satu hasilnya saya kopas lagi dan bisa dilihat pada gambar di atas (awal pos).

Baca Juga: Arekune

Kenapa menampilkan gambar dari pos lama / kegiatan lama? Karena Lomba Mural Triwarna Soccer Festival 2019 baru dimulai hari ini, Senin 4 Maret 2019. Ya, betul, lomba ini merupakan salah satu mata acara dari rangkaian Triwarna Soccer Festival. Ada tiga acara besarnya yaitu pertandingan sepak bola yang memperebutkan Piala Bupati, Pameran dengan tema Bego Ga'i Night, dan Lomba Mural. Nanti saya bakal mengulas tentang Bego Ga'i Night ini. Yang jelas, sangat menarik. Oia, selain ditempatkan di Seksi Lomba Mural, saya juga diperbantukan di bagian Publikasi dan Dokumentasi terkhusus untuk Bego Ga'i Night dan Lomba Mural.


Awal diumumkan, Lomba Mural ini menerima pro dan kontra. Sejauh yang saya ingat, kontranya cuma dari satu akun Facebook. Yang lainnya mendukung. Saya sadari yang namanya lomba semacam ini, terutama yang berkaitan dengan publik, pasti ada pro dan kontranya bukan? Justru yang kontra ini menjadi semacam peringatan bagi penyelenggara untuk tahu seberapa jauh pendapat masyarakat tentang lomba semacam ini.

Peserta


Peserta Lomba Mural tahun 2019 adalah 15 (limabelas) peserta yang terdiri atas kelompok atau tim. Satu tim maksimal 5 (lima) orang dengan minimal batas usia 17 (tujuhbelas) tahun. Mengapa ada batasan usia? Untuk mengurangi ketimpangan hasil lomba nanti. Itu maksudnya. Meskipun didominasi dari Kabupaten Ende, pesertanya tidak hanya berasal dari Kabupaten Ende. Ada pula dari Kabupaten Sikka seperti PMI Kabupaten Sikka. 

Jumlah peserta ini jelas tidak dapat menutup 23 (duapuluh tiga) bidang dinding/tembok yang ada di pagar Stadion Marilonga. Tapi jangan kuatir, Komunitas Mural bakal membantu meletakkan karya mereka di bidang-bidang kosong yang ada.

Juri


Ada dua juri yang bakal menilai hasil Lomba Mural ini. Yang pertama Om Benny Laka yang dikenal sebagai seniman Kabupaten Ende. Nama besar Benny Laka tidak perlu diragukan lagi, kawan. Beliau itu semacam the one and only seniman segala lini. Yang kedua Om Johanes Konk dari Komunitas Mural Ende. Yang satu ini juga jangan ditanya lagi karya-karya muralnya ada di mana-mana. Seharusnya ada tiga juri, satunya Violin Kerong dari pihak panitia sekaligus seniman sketsa Ende. Tetapi musibah yang baru-baru ini menimpa keluarganya (rumahnya terbakar) menyebabkan beberapa bagian tubuhnya juga ikut terbakar, menyebabkan ia harus istirahat total.

Tema


Tema Lomba Mural berasal dari panitia yang bakal di-lot bersamaan dengan pemilihan bidang. Ini yang repot karena kami kekurangan personil (Viol) sehingga harus maksimal menentukan tema. Dibantu oleh Om Benny Laka, akhirnya kami memilih tema-tema besar seperti: rumah adat, tarian daerah, hasil bumi dan hasil laut, simbol adat, alat musik, tokoh, barang adat, hingga asesoris tradisional yang biasa dipakai kaum perempuan. Tema-tema besar itu menghasilkan tema kecil yang terdiri atas 15 (limabelas) tema sesuai jumlah peserta antara lain: burung gerugiwa sebagai hewan khas Danau Kelimutu, feko dan lamba sebagai alat musik tradisional, perempuan menenun sebagai aktivitas harian, Marilonga sebagai tokoh pahlawan lokal, hingga Gawi Eko Wawi dan Wanda Pa'u sebagai tarian khas Ende-Lio.

Waktu Pelaksanaan


Menulis ini seperti menyusun laporan koordinator ya hahaha. Mural dilaksanakan selama 7 (tujuh) hari dari tanggal 4 Maret 2019 s.d. 10 Maret 2019. Selama tujuh hari itu peserta diberikan waktu pukul 14.00 s.d. 18.00 Wita. Waktu yang cukup, menurut saya, karena dulu toh lomba ini diselenggarakan selama dua hari saja.


Lomba Mural sudah dimulai tadi siang, dibuka dan ditandai dengan tanda besar oleh Ketua Panitia Triwarna Soccer Festival Bapak Lori Gadi Djou. Saya bagian pegang ember cat saja ya haha.


Dan meskipun diberi waktu tujuh hari tadi sudah ada yang nampak gambaran besarnya:


Kami berharap para peserta dapat semaksimal mungkin berkarya dan berkreatifitas di bidang-bidang yang ada sesuai dengan tema yang telah dipilih/ditentukan. Ini bakal jadi salah satu ikon Kota Ende dari pintu masuk bagian Timur. Semoga! Demi Kabupaten Ende tercinta.

Menang dan kalah adalah perkara biasa dari sebuah perlombaan. Bukan begitu?

Begitu ... Hehe.


Cheers.

Arekune


Ketika Tim Promosi Uniflor 2019 tiba di Kota Maumere, perasaan saya jadi berbunga sedap malam, karena siapa sih yang tidak senang berada di kota tempat Toko Buku Gramedia berdiri gagah? Pasti senang lah. Akhirnya niat untuk mencari dan membeli agenda bekal (lanjutan) T-Journal terlaksana, dan alat tulis warna-warni. Tinggal di Kota Maumere selama satu tahun pada tahun 2010, dan sering masuk-keluar Toko Buku Gramedia yang jaraknya sangat dekat dari rumah, sudah membikin benak saya dipenuhi rak-rak agenda di bagian dalam toko buku itu.

Baca Juga: Konsisten Nge-blog Setahun

T-Journal


Apaan sih T-Journal? Tuteh Journal. Sederhana. Sejak dulu saya memang sudah karib dengan diary bersampul gambar boneka. Kenapa sampul bergambar boneka? Ya karena di tokonya cuma jual yang sampul boneka sih. Belum ada yang bersampul dinosaurus atau Gunung Everest, misalnya. Melihat kegemaran saya menulis; puisi, curhatan ngalor-ngidul, dan bahkan bikin scrapbook sederhana berbahan buku tulis tebal bareng teman SMP (scrapbook itu memang milik berdua saya dan Ida Laila Enga), maka orangtua mulai membelikan saya agenda. Agendanya luar biasa dewasa hahaha. Gaya agenda orang kantoran begitu, dengan sampul kulit berwarna hitam, ada juga yang sampulnya berwarna merah.

Agenda dari zaman purbakala masih tersimpan rapi.

Agenda yang ini yang paling saya suka ... waktu itu.

Ketika memasuki dunia kerja, saya malah suka sama agenda-agenda sejenis itu hahaha, terus mulai memanfaatkan agenda itu bukan untuk sekadar menulis yang tidak penting meskipun curhat itu penting. Halaaah. Dimulai dengan  menulis tentang perencanaan tentang apa yang akan saya lakukan keesokan hari. Ya hal-hal penting begitu deh. Salah satu contoh halamannya di bawah ini:


Kalian bisa melihat ada tulisan Pelatihan Blog, ada pula tulisan Akber Ende, ada juga Fanga. Ada tanda silang dan tulisan NO!, ada tanda centang dan tulisan OK, ada pula tanda tanya. Itu penanda bahwa task belum terlaksana, sudah terlaksana, atau masih jadi tanda tanya. Dan tentu saja tulisan saya tidak mengikuti tanggal yang ditetapkan di dalam agenda. Kebiasaan. Sedangkan tulisan Partikel itu ... kalau tidak salah nih ya - kalau salah ya maafkan haha ... saat saya membeli novel Partikel karya Dee Lestari. Iya, saya tergila-gila sama tulisan-tulisannya.

Agenda-agenda itu menjadi benda kesayangan jika ingin bernostalgia. Karena hampir semua kegiatan, bagian super inti, saya tulis di situ, sedangkan cerita panjang-lebar lebih suka saya tulis di blog. Saya bukan Mamatua yang masih rajin menulis pengertian Al Baqarah dalam buku khusus. Dan, kemudian, saya mulai rajin membeli buku-buku cantik, unik, dengan cara khilaf. Jadi, maksud ke toko untuk membeli yang lain, eh pulangnya pasti bawa buku atau notes imut warna-warni, terutama kuning, yang enak dilihat dan sayang kalau diisi tulisan.

Sampai sekarang keponakan saya pun masih memberi kado buku yang lebih cocok untuk diary, tentu warna kuning, meskipun buku atau agenda atau diary lainnya masih menumpuk alias masih baru belum tersentuh. Dududud.

Gara-Gara Mak Bowgel


Adalah Mak Bowgel, Evvafebri, yang membikin semangat saya meletup-letup lewat tulisan tentang Bullet Journal di blog-nya. Terima kasih, Mak Bowgel, dirimu sangat menginspirasi. Meskipun tidak bisa membikin BuJo tapi saya yakin pasti bisa terus dan terus dan terus dengan jurnal-jurnal saya pribadi terkhusus tentang task on a next day. Makanya saya mulai merapikan yang tercecer, mencari agenda kosong tapi berakhir di sebuah binder, dan kemudian membeli sebuah agenda khusus di Toko Buku Gramedia.


Harga agenda kuning yang langsung melekat di hati ini murah saja, tapi saya suka sama warna kuningnya, jenis sampulnya yang separuh kulit, dan kertas dalamnya yang tidak licin sehingga asyik sekali proses tulis-menulisnya. Sebenarnya, hanya saya atau kalian juga sih, lebih suka menulis pada halaman kosong yang sisi lainnya sudah ada tulisan? Hehe.

Arekune


Apa sih Arekune ituuuuu? Saya harus kembali pada kebiasaan sejak zaman megalitikum. Kembali pada kebiasaan memberi julukan untuk manusia, dan memberi nama pada benda mati. Sahabat saya Yudin, dengan seenaknya saya panggil Abah. Atau Bang Indobrad yang saya panggil Babang. Atau Cici Mawar yang saya panggil Cungkring. Suka-suka saya lah selama julukan itu tidak bersifat menghina atau kurang ajar. Porsi terbanyak saya membaptis ada pada benda mati, termasuk agenda. Saya punya agenda bernama LeBlanc karena sedang tergila-gila sama Matt LeBlanc dari serial Friends. Agenda merah hadiah dari orangtua saya beri nama Narita karena saat itu sedang sangat suka sama Oshin. Fanga yang kalian lihat pada foto isi agenda di atas adalah nama laptop yang pernah digondol maling tapi masih kembali ke pangkuan. Nama laptop lainnya adalah Fungi.

Baca Juga: Hello East, Nantikan Kedatangan Kami

Urusan nama benda mati ini tidak akan selesai ... jadi mari kita lanjut soal Arekune.

Arekune sebenarnya terdiri dari dua suku kata dalam bahasa Ende yaitu are dan kune. Are berarti beras/nasi sedangkan kune berarti kuning. Arekune, saya menulisnya tidak terpisah, adalah nasi kuning. Arekune adalah nama T-Journal baru yang bukunya saya beli di Toko Buku Gramedia yang penampakannya bisa kalian lihat pada sub Gara-Gara Mak Bowgel di atas. Sebelumnya T-Journal mengisi sebuah binder bernama Yellow Academy. Kenapa memberinya nama Arekune? Karena suka saja. Kadang, tidak perlu alasan khusus untuk memberi nama pada benda mati hehehe.


Bagi saya, menulis jurnal itu penting, setidaknya membikin task untuk keesokan harinya sebagai panduan berkegiatan. Saya suka melakukannya. Suka membaca-baca lagi. Apalagi jika dilengkapi dengan overview pada satu halaman khusus di akhir bulan. Saya jadi tahu apa-apa saja yang telah dilakukan, apa saja yang telah dicapai, dan apa saja yang gagal (PR). T-Journal membantu merapikan hidup saya sendiri. Sebenarnya. Jadi saya membutuhkannya untuk diri saya sendiri. Apabila kalian juga ingin melakukannya ... silahkan. Tidak ada ruginya, hehehe.

Semangat Senin :)



Cheers.

Arekune


Ketika Tim Promosi Uniflor 2019 tiba di Kota Maumere, perasaan saya jadi berbunga sedap malam, karena siapa sih yang tidak senang berada di kota tempat Toko Buku Gramedia berdiri gagah? Pasti senang lah. Akhirnya niat untuk mencari dan membeli agenda bekal (lanjutan) T-Journal terlaksana, dan alat tulis warna-warni. Tinggal di Kota Maumere selama satu tahun pada tahun 2010, dan sering masuk-keluar Toko Buku Gramedia yang jaraknya sangat dekat dari rumah, sudah membikin benak saya dipenuhi rak-rak agenda di bagian dalam toko buku itu.

Baca Juga: Konsisten Nge-blog Setahun

T-Journal


Apaan sih T-Journal? Tuteh Journal. Sederhana. Sejak dulu saya memang sudah karib dengan diary bersampul gambar boneka. Kenapa sampul bergambar boneka? Ya karena di tokonya cuma jual yang sampul boneka sih. Belum ada yang bersampul dinosaurus atau Gunung Everest, misalnya. Melihat kegemaran saya menulis; puisi, curhatan ngalor-ngidul, dan bahkan bikin scrapbook sederhana berbahan buku tulis tebal bareng teman SMP (scrapbook itu memang milik berdua saya dan Ida Laila Enga), maka orangtua mulai membelikan saya agenda. Agendanya luar biasa dewasa hahaha. Gaya agenda orang kantoran begitu, dengan sampul kulit berwarna hitam, ada juga yang sampulnya berwarna merah.

Agenda dari zaman purbakala masih tersimpan rapi.

Agenda yang ini yang paling saya suka ... waktu itu.

Ketika memasuki dunia kerja, saya malah suka sama agenda-agenda sejenis itu hahaha, terus mulai memanfaatkan agenda itu bukan untuk sekadar menulis yang tidak penting meskipun curhat itu penting. Halaaah. Dimulai dengan  menulis tentang perencanaan tentang apa yang akan saya lakukan keesokan hari. Ya hal-hal penting begitu deh. Salah satu contoh halamannya di bawah ini:


Kalian bisa melihat ada tulisan Pelatihan Blog, ada pula tulisan Akber Ende, ada juga Fanga. Ada tanda silang dan tulisan NO!, ada tanda centang dan tulisan OK, ada pula tanda tanya. Itu penanda bahwa task belum terlaksana, sudah terlaksana, atau masih jadi tanda tanya. Dan tentu saja tulisan saya tidak mengikuti tanggal yang ditetapkan di dalam agenda. Kebiasaan. Sedangkan tulisan Partikel itu ... kalau tidak salah nih ya - kalau salah ya maafkan haha ... saat saya membeli novel Partikel karya Dee Lestari. Iya, saya tergila-gila sama tulisan-tulisannya.

Agenda-agenda itu menjadi benda kesayangan jika ingin bernostalgia. Karena hampir semua kegiatan, bagian super inti, saya tulis di situ, sedangkan cerita panjang-lebar lebih suka saya tulis di blog. Saya bukan Mamatua yang masih rajin menulis pengertian Al Baqarah dalam buku khusus. Dan, kemudian, saya mulai rajin membeli buku-buku cantik, unik, dengan cara khilaf. Jadi, maksud ke toko untuk membeli yang lain, eh pulangnya pasti bawa buku atau notes imut warna-warni, terutama kuning, yang enak dilihat dan sayang kalau diisi tulisan.

Sampai sekarang keponakan saya pun masih memberi kado buku yang lebih cocok untuk diary, tentu warna kuning, meskipun buku atau agenda atau diary lainnya masih menumpuk alias masih baru belum tersentuh. Dududud.

Gara-Gara Mak Bowgel


Adalah Mak Bowgel, Evvafebri, yang membikin semangat saya meletup-letup lewat tulisan tentang Bullet Journal di blog-nya. Terima kasih, Mak Bowgel, dirimu sangat menginspirasi. Meskipun tidak bisa membikin BuJo tapi saya yakin pasti bisa terus dan terus dan terus dengan jurnal-jurnal saya pribadi terkhusus tentang task on a next day. Makanya saya mulai merapikan yang tercecer, mencari agenda kosong tapi berakhir di sebuah binder, dan kemudian membeli sebuah agenda khusus di Toko Buku Gramedia.


Harga agenda kuning yang langsung melekat di hati ini murah saja, tapi saya suka sama warna kuningnya, jenis sampulnya yang separuh kulit, dan kertas dalamnya yang tidak licin sehingga asyik sekali proses tulis-menulisnya. Sebenarnya, hanya saya atau kalian juga sih, lebih suka menulis pada halaman kosong yang sisi lainnya sudah ada tulisan? Hehe.

Arekune


Apa sih Arekune ituuuuu? Saya harus kembali pada kebiasaan sejak zaman megalitikum. Kembali pada kebiasaan memberi julukan untuk manusia, dan memberi nama pada benda mati. Sahabat saya Yudin, dengan seenaknya saya panggil Abah. Atau Bang Indobrad yang saya panggil Babang. Atau Cici Mawar yang saya panggil Cungkring. Suka-suka saya lah selama julukan itu tidak bersifat menghina atau kurang ajar. Porsi terbanyak saya membaptis ada pada benda mati, termasuk agenda. Saya punya agenda bernama LeBlanc karena sedang tergila-gila sama Matt LeBlanc dari serial Friends. Agenda merah hadiah dari orangtua saya beri nama Narita karena saat itu sedang sangat suka sama Oshin. Fanga yang kalian lihat pada foto isi agenda di atas adalah nama laptop yang pernah digondol maling tapi masih kembali ke pangkuan. Nama laptop lainnya adalah Fungi.

Baca Juga: Hello East, Nantikan Kedatangan Kami

Urusan nama benda mati ini tidak akan selesai ... jadi mari kita lanjut soal Arekune.

Arekune sebenarnya terdiri dari dua suku kata dalam bahasa Ende yaitu are dan kune. Are berarti beras/nasi sedangkan kune berarti kuning. Arekune, saya menulisnya tidak terpisah, adalah nasi kuning. Arekune adalah nama T-Journal baru yang bukunya saya beli di Toko Buku Gramedia yang penampakannya bisa kalian lihat pada sub Gara-Gara Mak Bowgel di atas. Sebelumnya T-Journal mengisi sebuah binder bernama Yellow Academy. Kenapa memberinya nama Arekune? Karena suka saja. Kadang, tidak perlu alasan khusus untuk memberi nama pada benda mati hehehe.


Bagi saya, menulis jurnal itu penting, setidaknya membikin task untuk keesokan harinya sebagai panduan berkegiatan. Saya suka melakukannya. Suka membaca-baca lagi. Apalagi jika dilengkapi dengan overview pada satu halaman khusus di akhir bulan. Saya jadi tahu apa-apa saja yang telah dilakukan, apa saja yang telah dicapai, dan apa saja yang gagal (PR). T-Journal membantu merapikan hidup saya sendiri. Sebenarnya. Jadi saya membutuhkannya untuk diri saya sendiri. Apabila kalian juga ingin melakukannya ... silahkan. Tidak ada ruginya, hehehe.

Semangat Senin :)



Cheers.

Timur Punya Cerita


Halo hola! Tidak terasa sudah tiga hari saya tidak nge-blog. Tidak menulis cerita. Tidak memperbarui konten blog. Pun lebih lama lagi; saya jarang blogwalking dan merusuh di blog kawan blogger sekalian. Sakau? Sedikit. Tapi lelah ini telah lebih dulu merenggut kesadaran sehingga perjalanan ke dunia mimpi menjadi begitu mulus tanpa jerawat. Saya bahkan tidak diijinkan untuk protes. Perjalanan ini, sesungguhnya, telah mengajarkan saya dan dinosaurus rasa rindu pada bantal dan guling. Haha. Maka hari ini, setelah 680an kilometer berkendara bersama Onif Harem, saya punya kesempatan yang begitu banyak untuk menulis, menulis, dan menulis.

Baca Juga: Hiasan Dinding DIY

Peringatan: pos ini akan sangat panjang tapi penuh cerita menarik terutama #JalanJalanKerja memberikan saya kesempatan untuk mencapai beberapa lokasi wisata.

Mari kita mulai cerita panjang ini.

Menyisir Timur Pulau Flores dari Kota Ende Menuju Kota Maumere


Senin, 18 Februari 2019. Sepagi itu, pukul 04.00 Wita saya dan Thika sudah bersiap. Rencananya kami, tim sepeda motor, berangkat pukul 05.00 Wita dari Kota Ende menuju Ibu Kota Kabupaten Sikka yaitu Kota Maumere. Malam sebelumnya tim bis Uniflor sudah duluan berangkat. Tim motor ini terdiri dari: Pak Anno Kean, Pak Us Bate, Ibu Violin Kerong, Cesar Sarto, Rolland, dan saya yang ditemani Thika. Meskipun saya memanggil mereka dengan embel-embel 'Pak' dan 'Ibu' tapi sebenarnya usia mereka masih muda. Ndilalah kami malah baru ngegas pukul 05.45 Wita karena masih menunggu Pak Us yang pada WAG menulis otw tapi baru tiba  di check point satu jam setelahnya. Haha.

Sepagi itu speedometer masih bergerak normal antara 60km/jam sampai 80km/jam. Saya tahu, tiga sepeda motor yang dikendarai para lelaki itu memang sengaja menahan gas agar sepeda motor yang dikendarai dua perempuan (saya dan Viol) bisa seirama dengan mereka. Tiba di Kecamatan Wolowaru sekitar pukul 07.30 Wita kami beristirahat sejenak untuk ngopi-ngopi di sebuah warkop yang pemiliknya ramah sekali. Tidak marah meskipun kami ributnya bukan main. 


Jarak dari Kota Ende ke Kecamatan Wolowaru adalah 65 kilometer. Betul, menuju Kecamatan Wolowaru kami melewati Kecamatan Detusoko.

Kelokan Antara Kecamatan Wolowaru dan Kecamatan Watuneso yang Bikin Mabuk



Inilah titik perjalanan paling membosankan; Kecamatan Wolowaru - Kecamatan Watuneso yang berjarak 28,1 kilometer. Membelah hutan, sekali dua bertemu rumah penduduk, dan kelokan (kadang kelokan kanan-kiri itu tidak ada jedanya sama sekali) tiada akhir. Viol memimpin di depan. Kepemimpinan Viol dalam iring-iringan ini membikin para lelaki sadar bahwa tidak ada gunanya mereka menahan gas dan speedometer. Haha. Tapi kelokan jelas membikin saya pusing bukan main dan percaya bahwa menjadi seorang Valentino Rossi itu tidak mudah. Tiba di SMA pertama dalam perjalanan menyisir ini, saya dan Viol saling mengeluh pusing. Thika? Aduhai keponakan paling setia itu cuma bisa menelan lidah getir.


Sekolah pertama yang kami kunjungi, yang merupakan bagian tugas saya dan Viol adalah SMA Karitas Watuneso. Sayangnya kami tidak dapat bersosialisasi karena murid-murid sedang punya kegiatan. Hiks. Menitip pamflet setelah bertemu kepala sekolah kami pun pamit.


Setelah pamit, tim sepeda motor berpencar. Pak Anno dan Pak Us melanjutkan perjalanan ke kecamatan lain di Kabupaten Sikka, kami yang tersisa menuju Kecamatan Paga.

Kecamatan Paga dan Pantainya


Kecamatan Watuneso dan Kecamatan Paga adalah dua kecamatan yang membatasi wilayah Kabupaten Ende dan Kabupaten Sikka. Jaraknya hanya 14,6 kilometer. 


Di Kecamatan Paga, tim sepeda motor berpencar lagi. Cesar dan Rollan segera meluncur menuju sebuah SMK di Kecamatan Lela. Di Paga, saya dan Viol berhenti untuk mengunjungi SMA Alvarez Paga yang dipimpin oleh seorang Romo. Kami diberi kesempatan untuk melakukan sosialisasi di salah satu kelas dalam jeda tryout sesi satu. 


Kecamatan Paga terkenal akan garis pantainya yang memukau, berpasir putih, mempunyai pemecah ombak, serta dari kejauhan nampak ombak bergelung meskipun bukan ombak besar untuk surfing itu. Di tepi pantai juga terdapat saung dan bale-bale untuk beristirahat. Memesan kopi? Silahkan. Fotonya nanti dalam perjalanan pulang hehe.

Mencari SMA Negeri Nita


SMA Negeri Nita tidak terletak di jalan trans Pulau Flores sehingga saya dan Viol harus bertanya sana-sini terlebih dahulu. Tapi ... a-ha! Kembali Thika memainkan Google Map. Ketemu! Di SMA Negeri Nita kami diijinkan melakukan sosialisasi kepada murid-murid. Rasanya senang sekali ketika mereka sangat menghargai perjalanan jauh kami dari Kabupaten Ende hahaha.



Ke mana setelah SMA Negeri Nita? Kami meluncur ke Kota Maumere sebagai Ibu Kota Kabupaten Sikka. Masih ada tiga sekolah tujuan kami yaitu MAS Muhammadiyah, SMKN 2 Maumere, dan SMA Negeri Magepanda.

Ikan Hiu dan I Love You


Inilah sekolah yang pemandangan lautnya saya pos Senin kemarin; Laut Belakang Sekolah. MAS Muhammadiyah terletak di wilayah Nangahure (arah Utara) dari Kabupaten Sikka. Sayangnya kami tidak dapat melakukan sosialisasi di sekolah ini karena murid-murid sedang bersiap untuk Shalat Duhur. Yang lucunya, Thika malah digoda oleh seorang murid laki-laki yang dengan nekatnya datang ke ruang guru dan berkata: 

Assalamu'alaikum, Kakak. Ikan hiu (ada lanjutannya tapi tidak kedengaran jelas), I love you!

Saya dan Viol menahan ngakak. Tuhaaaaan. Thika oh Thika, masih dianggap anak SMP atau SMA saja dirimu itu. Padahal sudah tahun kedua kuliah hahaha. Gara-gara itu, akhirnya kami memanggil Thika dengan julukan IKAN HIU.



Sungguh kalau saya diijinkan sekolah lagi, saya mau sekali sekolah di MAS Muhammadiyah ini, biar tiap hari sepulang sekolah bisa nyebur dan bergabung dengan para nelayan.

Alumni Uniflor Ada Di Mana-Mana


Sebenarnya kami sudah ingin menyerah dan pergi ke hotel tempat semua anggota tim menginap di Hotel El Tari Indah. Tapi kok sayang, karena letak SMKN 2 Maumere ini sudah cukup dekat dari MAS Muhammadiyah, lebih ke arah Utara. Maka kami pun tiba di sekolah yang ternyata sekolah pelayaran ini. Meskipun tidak sempat memberikan sosialisasi, hanya menyerahkan surat dan pamflet, tapi kami beruntung bertemu alumni Uniflor yang mengajar di sana.


Sebenarnya bukan hanya di sekolah ini terdapat alumni Uniflor yang mengabdi sebagai guru, hampir di semua sekolah yang dikunjungi juga ada alumni Uniflor, hanya saja tidak bisa bertemu karena mereka sedang mengajar sedangkan kami terburu waktu.

Bertemu Ocepp Rewell


Dari SMKN 2 Maumere kami memutuskan untuk pergi ke Hotel El Tari Indah yang terletak di Jalan El Tari Kota Maumere. Hotel ini terletak tepat di pinggir jalan. Di bagian depannya terdapat restoran mini yang juga dimiliki oleh si pemiliki hotel.


Usai makan siang, soto ayam kampung, saya memutuskan untuk segera check in dan beristirahat. Saya ngorok, Viol ke rumah saudaranya, Thika pergi jalan-jalan bersama keponakan lain bernama Vil yang memang tinggal di Kota Maumere bersama orangtuanya. Sebenarnya ada banyak orang yang ingin saya temui di Kota Maumere baik sahabat maupun keluarga. Tapi ... sumpah, tubuh saya butuh dicas utuh haha. Senangnya adalah si Ocha alias Ocepp Rewell berjanji akan datang ke hotel. Hore!


Ocha datang ke hotel tak lama setelah Thika pulang dari mengunjungi rumah-rumah keluarga termasuk ke Kantor Telkom untuk bertemu keluarga yang bekerja di sana. Dari Tanta Ella (mamanya Vil) Thika membawa cumi, ikan, sambal, dan peyek kacang. Ocha membawa burger, sukun goreng, dan martabak manis. Oalaaaah ... diet saya hancur sehancur-hancurnya pada hari itu. Mengobrol bersama Ocha menuntaskan rindu pada bawelnya dia hahaha. Kami masih haha-hihi sampai selepas maghrib, saatnya kami harus ke Tobuk Gramedia untuk bisnis Triwarna Soccer Festival terutama bagian pameran dan membeli buku pesanan Meli.

MoF Art Gallery (and Cafe)


Urusan bisnis di Tobuk Gramedia Maumere, dengan supervisor-nya karena manajer sedang tidak di tempat, belanja-belenji termasuk membeli agenda cover kuning bekal lanjutan T-Journal, kami merapat ke MoF Art Gallery (and Cafe) yang terletak di Pasar Senja.




Usai makan malam, kembali ke hotel, dan saya pun tidur. Tidur kesorean, karena toh Ocha dan Thika masih kembali ke Tobuk Gramedia untuk membeli novel dan Viol masih kembali ke rumah saudaranya. Pokoknya saya butuh tidur!

Sekolah Di Negeri Dongeng


Selasa, 19 Februari 2019, masih satu sekolah yang harus saya dan Viol kunjungi yaitu SMA Negeri Magepanda. Perjalanan menuju Magepanda sekitar 34,4 kilometer (pergi-pulang 68 kilometer) dengan bertemu dua kali jalan putus yang tentu tidak akan bisa dilewati saat hujan. Untung ... cuaca cerah! Google Map membantu kami menemukan sekolah ini karena memang tidak terletak di pinggir jalan utama.


Inilah sekolah di negeri dongeng, terletak di kaki bukit-bukit hijau yang mirip Bukit Teletubbies. Saya juga mau ah sekolah lagi di SMA ini hahaha. Manapula Kepseknya ramah sekali, suka guyon, dan banyak bercerita ini itu. Kami juga bertemu alumni Uniflor yang sudah lamaaaaa sekali lulus, dan dua alumni lainnya yang lulus di atas tahun 2000.


Kata Kepsek, "Ibu ... kalau sekarang mendung, saya terpaksa ibu pulang ke Maumere karena kalau mulai hujan, saya jamin ibu terpaksa menginap di sini! Hahaha!"

Dan inilah kondisi salah satu ruas jalan yang putus (sangat dalam) sehingga kalau hujan, dialiri air yang meluap:


Harus hati-hati dan pelan-pelan jika tidak ingin mencium tanah kering berdebu serta bebatuannya. Tapi pemandangan jalan putus ini ibarat secuil halangan karena pemandangan sepanjang jalan dari Kota Maumere ke Magepanda itu ausam sekali! 





Menuju Kabupaten Flores Timur


Pulang dari SMA Negeri Magepanda kami kembali ke hotel untuk makan siang dan melanjutkan perjalanan ke arah Timur (lagi) yaitu ke Kabupaten Flores Timur dengan jarak 128 kilometer. Ada banyak sekali SMA yang menanti kami di sana hahaha. Gayanya menulis ini.


Perjalanannya jauh. Memang. Kami lebih dulu berangkat dari tim bis. Sempat istirahat di Boru dan Puncak Konga di Titihena sebelum menuju Kota Larantuka sebagai Ibu Kota Kabupaten Flores Timur.




Pokoknya, nanti ya akan saya ulas satu-satu lebih detail. Pos ini secara garis besar saja ... garis besar yang lumayan panjang *senyum malu*.

Papi Mami di Puumbao


Sayangnya kami tidak berlama-lama di rumah Pak Anno di Waibalun karena Papi Mami sudah menunggu di Puumbao, di Kota Larantuka-nya. Saya, Viol, dan Thika memang tidak menginap di Hotel Lestari Larantuka karena memang ingin menginap di rumah Papi Nani Resi dan Mami Dete yang dulunya tinggal di Kota Ende. Kedua orangtua yang baik ini sudah menunggu kami dan menyiapkan makan malam. Tak lupa kopi! Yuhuuuu. Kisah tentang Papi Mami di lain pos ya.

Ini fotonya waktu mau pulang. Wajah si Mami sedih begitu karena rumahnya kembali sepi.

Malam itu, Cesar dan Rolland bergabung, kami mengobrol ramai di rumah Papi Mami yang sejuk dan nyaman itu. Papi mendengarkan dan terbahak-bahak mendengar celoteh kami. Mami lebih memilih duduk di teras sambil mengunyah sirih-pinang. Sepulang Cesar dan Rolland pun, kami masih mengobrol di teras sambil Mami memijit Viol dan Saya. Ikan Hiu? Eh, Thika? Ngorok!

3 SMA di Larantuka

Rabu, 20 Februari 2019, ada tiga SMA yang wajib kami kunjungi sementara tim bis menuju Tanjung Bunga. Cesar dan Rolland pun mendapat jatah tiga SMA. Okay, mari jalan! Setelah menegak kopi yang dibikin Mami, kami pun berangkat.

"Jalan bae-bae, Oa eeee. Jangan makan di luar, pulang makan di rumah!" pesan Mami.







Dan tentu saja kami pulang makan siang di rumah karena Mami sudah memasak ... ikan goreng segar yang manis dan sambalnya itu cihuy banget! Aduhai Papi Mami, kalian begitu luar biasa, hati kalian lapangnya luar biasa. Saya belajar banyak dari kalian. Sungguh ... saya pengen nangis. Terima kasih Papi Mami; kami datang, kami ribut, kami kotorkan rumah, kami pulang. Hehe.

Kembali ke Kota Maumere


Ya, setelah makan siang dan dibekali pula pisang goreng dan sambal maknyus a la Mami, kami pun pamit pulang ke Kota Maumere, pamitan sama tim bus dan sebagian tim motor yang masih menginap semalam di Waibalun, di rumah orangtuanya Pak Anno. Perjalanan siang itu mengantar kami tiba di daerah Kabupaten Sikka pada senja hari. Tentu, kami mampir sebentar di Boru untuk ngopi dan menikmati pisang goreng serta sambal maknyus itu.




Kaki saya sungguh lelah karena mengendarai Onif Harem yang matic, kaki jarang diluruskan.

Tiba di Kota Maumere sudah gelap. Kami langsung ke rumah kakaknya Viol. Saya sudah tidak bisa bergerak lagi. Langsung tepat setelah mandi dan keramas (aduh ini kepala guatalnya tak tahan hahaha). Sampai keesokan harinya, pagi-pagi hari, saya dan Thika pergi ke rumah Tanta Ella di daerah Misir Kota Maumere, yang disusul Cesar dan Rolland.

Keluarga Adalah Segalanya


Kamis, 21 Februari 2019, di rumah Tanta Ella kami disuguhi kopi dan tentu ditahan untuk makan terlebih dahulu sebelum ngegas ke Kota Ende.


Sungguh, keluarga adalah segalanya. Berhubungan darah atau tidak, mereka akan selalu menanti kedatangan keluarga lainnya dengan wajah berseri-seri dan kelapangan hati yang luar biasa. Mereka tidak akan rela keluarga lainnya terkena hujan apalagi lapar! Tidak akan pernah terjadi hal semacam itu. Mereka, bahkan, akan mengomelimu kalau tidak mampir. Sungguh ... keluarga adalah segalanya.

Terimakasih Tanta Ella, Bapatua, dan Vil. Terima kasih.

Ngopi di Paga dan Persawahan di Detusoko


Mari pulang kampung. Perjalanan pulang ini berformasi: saya, Thika, Cesar, Rolland, dan Rudi. Viol masih bertahan di Kota Maumere mengurusi pekerjaannya sehingga sepeda motornya dibawa pulang oleh Rudi. Dalam perjalanan pulang ini, mungkin karena setelah makan siang, saya didera kantuk yang luar biasa hebat. Akhirnya menyerah dan berhenti di saung pinggir jalan di Paga (dan pinggir pantai) untuk ngopi sejenak.


Anak pemilik saung, namanya Cici. Dia begitu cantik dan membikin saya harus memotretnya saat itu juga hehe. Sedangkan Thika memilih pergi ke pantai untuk foto-foto di sana. Nanti deh hasilnya saya pamerkan di lain pos. Kuatir kalian iri hahahah.

Setelah ngopi-ngopi di sini, kami terus ngegas ke Ende tanpa berhenti karena saya sudah sangat merindukan Mamatua. Satu kali berhenti di daerah Detusoko untuk memotret pemandangan ini:


Terima kasih Allah SWT atas alam yang indah ini.


Senin - Kamis. Perjalanan panjang ke arah Timur Pulau Flores di dua kabupaten. Lelah tapi menyenangkan. Saya selalu suka #JalanJalanKerja begini. Karena ketika urusan pekerjaan sudah selesai, bisa sekalian jalan-jalan kan hehe. Pos yang panjang ini pun belum sempurna. Masih banyak yang ingin saya ceritakan terpisah ... karena memang harus dipisah. Semoga mata kalian tidak eror setelah membaca pos yang panjang ini hahaha *cubit dinosaurus*.

Perjalanan setotal 680an kilometer. Done!

Well, selamat berakhir pekan, kawan! 



Cheers.

Konsisten Nge-blog Setahun


Mulai nge-blog sejak tahun 2003, klaim nama blog di banyak platform, melayang-layang antara rajin dan sering hiatus, gonta-ganti template, ditolak GA berkali-kali, dan tetap tidak bisa menentukan niche blog sendiri makanya pada tagline header tertulis I Write My All, akhirnya saya memutuskan untuk konsisten nge-blog pada Februari 2018. Alasannya? Sudah terlalu lama saya mengabaikan blog ini dan sesungguhnya perasaan terabaikan itu sangat tidak menyenangkan. Bukan begitu, din ... dinosaurus? Lagi pula saya sangat menyayangkan apabila ada artikel bagus hanya dipos di media sosial seperti Facebook, yang kemudian tenggelam, karena tidak terarsip dengan baik. Blog memang jawaban jitu kalau kita ingin tulisan-tulisan terarsip. Oke sip.

Baca Juga: Di SMK Tarbiyah Kami Berdoa Bersama

Dihitung-hitung sudah setahun saya konsisten nge-blog alias sudah setahun blog ini selalu dirawat; mengisinya dengan konten-konten baru (hampir) setiap hari. Pos pertama Februari 2018 berjudul Februari, Halo! setelah pos terakhir sebelumnya pada Februari 2017 yang berjudul Seword. Saya memutuskan untuk melanjutkan tali silaturahmi antara saya dengan blog pribadi ini. Pos-pos selanjutnya masih bertema random, mana-mana suka, tanpa tema. Seperti pos Korupsi Karena Miskin dan The Power of Cium Tangan. Mungkin bagi orang lain pos-pos itu tidak bermanfaat, tapi bagi saya pemikiran harus bisa diungkapkan dan pengalaman positif harus bisa diceritakan pada orang lain. Siapa tahu berfaedah bagi yang membacanya. Lebih penting lagi, saya ini narsis, jadi pengen orang lain tahu juga apa yang saya lakukan. Halaaaah.

Mulai Menentukan Tema


Sebenarnya sejak lama setiap Sabtu blog ini punya tema yaitu Review. Antara filem dan buku. Lalu pada 13 Februari 2018 saya mulai membikin satu tema baru yaitu #PDL alias Pernah Dilakukan. Awalnya #PDL hanya bertujuan untuk pos tentang foto-foto jadul yang berkaitan dengan dunia traveling kala masih muda dan bergaya dulu. Tidak melulu harus traveling ke luar daerah, karena jalan-jalan sekitar Kota Ende, bagi saya, adalah traveling. Haha. Pos #PDL pertama berjudul #PDL Has Just Begun. Lama-kelamaan satuper satu tema mulai bermunculan.

Pos Hobi Fotografi Berpotensi Dollar dan Merawat Laptop Itu Sederhana adalah cikal bakal tema #SelasaTekno. Tulisan saya tentang Diet Enak Bahagia Menyenangkan dan Manfaat Telur Bagi Tubuh adalah cikal bakal tema #RabuLima. Dari situ saya mulai berpikir tentang melengkapi satu minggu dengan tema-tema harian sehingga blog ini terkesan sebagai BLOG PRIBADI YANG MAGAZINE BANGET. Hahaha *ditimpuk dinosaurus*. Maka setiap Senin saya memberi tema #SeninOpini atau #SeninThought yang lantas berganti menjadi #SeninCerita, dan Kamis menjadi #KamisLima. Memangnya yakin punya waktu untuk itu semua? Yakin, apabila waktu nge-game dipangkas, saya bisa menghasilkan begitu banyak artikel / tulisan bekal pos blog. Slot Minggu pernah juga saya isi dengan novel berjudul Triplet.

Februari 2019, masih dalam masa sibuk mempromosikan Uniflor dan mulai sibuk dengan Lomba Mural dari Triwarna Soccer Festival, saya berpikir untuk mengganti tema harian menjadi:

#SeninCerita
#SelasaTekno
#RabuDIY
#KamisLima
#PDL
#SabtuReview

#RabuDIY? Hyess. Saya siap mengepos tentang dunia DIY baik yang saya bikin sendiri maupun yang dibikin oleh orang lain. Yang sudah lama saya bikin dan diberi sentuhan ulang, maupun yang baru saja saya bikin. Nantikan saja ketika tema harian kembali memulai rodanya di blog ini.

Kemenangan Melawan Rasa Malas


Musuh terbesar umat manusia adalah rasa malas. Malas bekerja, malas mencari tahu, malas meminta maaf dan malas memaafkan, malas berdoa pun juga terjadi, malas menyiram bunga, malas menulis blog termasuk di dalamnya. Setahun kemarin, 2018, saya berjuang melawan rasa malas untuk menulis konten blog. Setiap menghidupkan laptop saya berusaha mengalihkan dulu perhatian mata pada ikon Age of Empires. Langsung daring, membuka Chrome, dan mengetik alamat Blogger. Mau menulis apa hari ini? Oh, sudah ada tema. Let's do it! Merangkai kata yang isi posnya di-blender antara tema utama pos dengan guyonan khas dinosaurus haha.

Baca Juga: Uniflor Goes to School

Sepanjang tahun 2018 saya telah menang melawan rasa malas ... tahun 2019 ... semoga demikian pula. Karena, salah satu resolusinya adalah tetap nge-blog! Hyess, #2019TetapNgeblog meskipun GA kembali hilang/ditolak gara-gara mengganti domain blog menjati http://tuteh.web.id hahaha.


Meskipun sempat berpikir dimusuhi oleh GA ketika GA hilang dari blog, tidak masalah lah. Rejeki masih bisa dikais di lini lainnya. Yang penting semangat menulis dan mengisi (konten) blog setiap hari tidak sirna. Karena, percayakah kalian?, hanya dengan menulis dan menulis blog, kemampuan menulis terasah dari hari ke hari. Saya pikir ini tidak perlu dijelaskan, kalian pasti sudah merasakannya. Bukan begitu?

Kalau saya bisa melawan rasa malas, Insha Allah kalian juga bisa.

Draf dan Jadwal


Kadang-kadang tubuh saya terasa fully charged; otak mendadak cemerlang padahal aslinya kalah sama Matematika; mata sepet jadi bersahabat dengan layar laptop. Pada saat-saat seperti itu saya bisa menulis lebih dari satu konten/pos per hari. Percayalah, saya sendiri heran dengan konten yang dihasilkan dalam sehari itu. Konten-konten yang bisa saya tulis tanpa memikirkan waktu itu seperti konten untuk #SelasaTekno, #RabuLima yang bakal berganti dengan #RabuDIY, Kamis Lima, #PDL, hingga #SabtuReview. Senin, harus disesuaikan dengan kejadian apa yang paling unggul pada minggu sebelumnya yang ingin saya jadikan #SeninCerita sehingga tidak bisa didraf atau dijadwalkan. Konten yang sudah saya tulis itu ada yang tersimpan sebagai draf, ada pula yang terjadwal. Inilah manfaat platform Blogger, atau platform blog lainnya, menyediakan fasilitas draf dan jadwal. Manfaatkan itu! Agar apa? Agar ide tidak menguap. Hehe.

Draf jika konten belum lengkap alias masih ada yang harus ditambal-sulam.
Jadwalkan jika konten sudah oke dan siap dipublikasikan pada hari penentuan.

Apakah ini bukan kebohongan publik?

What?

Kebohongan publik itu kalau kalian menulis Tuteh Pharmantara itu perempuan cantik yang akhirnya disunting oleh Brad Pitt. Nah, itu kebohongan publik yang terhakiki. Perlu kalian ketahui juga bahwa konten/pos yang ini pun saya tulis bukan pada hari Senin, 18 Februari 2019, melainkan pada 17 Februari 2019. Haha.

Insha Allah


Insha Allah akan terus berlanjut. Pada akhirnya jika kelas blogging online kembali dibuka untuk angkatan berikutnya, saya dengan bangga bakal bilang bahwa menulis konten blog itu mudah! Mulailah dari menggali potesi kehidupan sendiri dan pengalaman pribadi, membikin tema harian, dan melawan rasa malas. Buktinya, tahun 2018 saya sudah melakukannya dan Insha Allah berlanjut tahun 2019 dan seterusnya.

Baca Juga: Mamatua Project

Terakhir, perlu saya ucapkan pada diri sendiri: selamat satu tahun konsisten nge-blog, Tuteh.



Cheers.

Harinya Meeting


Hari ini, Sabtu, setelah kemarin seharian penuh ngecas bodi, saya berencana untuk bisa datang ke ruang kerja untuk mengambil kaos UPT Publikasi dan Humas Uniflor yang dipesankan oleh Kakak Rossa Budiarti. Tapi rencana tinggal rencana karena saya diminta oleh Koordinator Lomba Mural yaitu Violin Kerong dari ajang Triwarna Soccer Festival untuk mewakilinya mengikuti meeting yang dilaksanakan di ruang kerja Ketua Yayasan Perguruan Tinggi Flores (Yapertif) Bapak Lori Gadi Djou. Wajib membawa serta RAB yang bakal dipersentasikan dan dieksekusi bersama. Selain itu, sore harinya saya juga wajib mengikuti meeting Tim Promosi Uniflor 2019 yang bakal berangkat ke arah Timur. What a day!

Baca Juga: English Day di SMAK Tarvid

Mari mulai dari meeting Triwarna Soccer Festival.

RAB Lomba Mural TFS


Meeting di ruang Ketua Yapertif berlangsung cukup lama dari pukul 10.00 Wita hingga 14.00 Wita. Semua Koordinator atau yang mewakili wajib mempersentasikan RAB masing-masing. Rada ketar-ketir juga karena RAB dari Tim Lomba Mural ini cukup besar biayanya, karena kami berpikir bahwa peserta Lomba Mural tidak sama dengan peserta Lomba Menari, misalnya, karena banyak yang harus disiapkan terutama cat. Kami berusaha agar panitia bisa menyiapkan dua warna cat dasar yaitu putih dan hitam untuk meringankan pengeluaran para peserta. Untungnya, untuk urusan skafolding (scaffolding) kami dibantu oleh Seksi Perlengkapan.


Ya, betul, ke depannya hari-hari saya akan diisi dengan kegiatan Lomba Mural yang merupakan bagian dari Triwarna Soccer Festival. Hari-hari saya akan lebih banyak di Stadion Marilonga. Semoga kalian tidak bosan membaca cerita saya dari hari haha. Tema harian blog ini? Lewatkan dulu! Ketimbang semua ide cerita/tulisan menguap.

Tim Promosi Uniflor ke Timur


Pukul 16.00 Wita saya sudah harus kembali ke kampus tepatnya di Kantin Gedung Rektorat untuk mengikuti meeting selanjutnya bersama Tim Promosi Uniflor. Asyiknya adalah Ketua Panitia Pak Yance sudah memesan pada Ibu Kantin untuk menyiapkan kudapan yang ... Oh My God ... bisa dibawa pulang karena saking berlimpahnya hahaha. Yang jelas, saya juga ikut ke arah Timur ini dan mendapat jatah sekolah-sekolah di daerah Watuneso, Paga, Nita, dan beberapa di daerah sekitar Kota Maumere. Ke Larantuka? Hmmmm bakal dipikirkan haha.

Kebanyakan sih memang yang berangkat ke Timur ini sebagian besar tim yang berangkat ke Barat. Luar biasa semangat mereka semua. Karena ini betul-betul perjalanan lintas Flores. Satu hal yang kami selalu ingat: yang terbaik untuk Uniflor, apa sih yang tidak dijabanin. Hehe.


Timur; Maumere dan Larantuka, selalu mengingatkan saya pada masa-masa dulu waktu masih bekerja di Kota Maumere selama setahun di tahun 2010. Banyak hal yang saya pelajari di sana, banyak teman, banyak tempat wisata, dan banyak-banyak yang lainnya. Yang jelas, saya akan selalu senang pergi ke sana dan tentunya bersama Onif Harem. Jangan harap saya mau naik bis, karena bakal bikin isi perut meronta dan usus meloi (mengintip) dari lobang hidung haha *ditimpuk dinosaurus*. Akan ada banyak cerita dari perjalanan ke Timur ini ... doakan selalu ya :)



Cheers.

Harinya Meeting


Hari ini, Sabtu, setelah kemarin seharian penuh ngecas bodi, saya berencana untuk bisa datang ke ruang kerja untuk mengambil kaos UPT Publikasi dan Humas Uniflor yang dipesankan oleh Kakak Rossa Budiarti. Tapi rencana tinggal rencana karena saya diminta oleh Koordinator Lomba Mural yaitu Violin Kerong dari ajang Triwarna Soccer Festival untuk mewakilinya mengikuti meeting yang dilaksanakan di ruang kerja Ketua Yayasan Perguruan Tinggi Flores (Yapertif) Bapak Lori Gadi Djou. Wajib membawa serta RAB yang bakal dipersentasikan dan dieksekusi bersama. Selain itu, sore harinya saya juga wajib mengikuti meeting Tim Promosi Uniflor 2019 yang bakal berangkat ke arah Timur. What a day!

Baca Juga: English Day di SMAK Tarvid

Mari mulai dari meeting Triwarna Soccer Festival.

RAB Lomba Mural TFS


Meeting di ruang Ketua Yapertif berlangsung cukup lama dari pukul 10.00 Wita hingga 14.00 Wita. Semua Koordinator atau yang mewakili wajib mempersentasikan RAB masing-masing. Rada ketar-ketir juga karena RAB dari Tim Lomba Mural ini cukup besar biayanya, karena kami berpikir bahwa peserta Lomba Mural tidak sama dengan peserta Lomba Menari, misalnya, karena banyak yang harus disiapkan terutama cat. Kami berusaha agar panitia bisa menyiapkan dua warna cat dasar yaitu putih dan hitam untuk meringankan pengeluaran para peserta. Untungnya, untuk urusan skafolding (scaffolding) kami dibantu oleh Seksi Perlengkapan.


Ya, betul, ke depannya hari-hari saya akan diisi dengan kegiatan Lomba Mural yang merupakan bagian dari Triwarna Soccer Festival. Hari-hari saya akan lebih banyak di Stadion Marilonga. Semoga kalian tidak bosan membaca cerita saya dari hari haha. Tema harian blog ini? Lewatkan dulu! Ketimbang semua ide cerita/tulisan menguap.

Tim Promosi Uniflor ke Timur


Pukul 16.00 Wita saya sudah harus kembali ke kampus tepatnya di Kantin Gedung Rektorat untuk mengikuti meeting selanjutnya bersama Tim Promosi Uniflor. Asyiknya adalah Ketua Panitia Pak Yance sudah memesan pada Ibu Kantin untuk menyiapkan kudapan yang ... Oh My God ... bisa dibawa pulang karena saking berlimpahnya hahaha. Yang jelas, saya juga ikut ke arah Timur ini dan mendapat jatah sekolah-sekolah di daerah Watuneso, Paga, Nita, dan beberapa di daerah sekitar Kota Maumere. Ke Larantuka? Hmmmm bakal dipikirkan haha.

Kebanyakan sih memang yang berangkat ke Timur ini sebagian besar tim yang berangkat ke Barat. Luar biasa semangat mereka semua. Karena ini betul-betul perjalanan lintas Flores. Satu hal yang kami selalu ingat: yang terbaik untuk Uniflor, apa sih yang tidak dijabanin. Hehe.


Timur; Maumere dan Larantuka, selalu mengingatkan saya pada masa-masa dulu waktu masih bekerja di Kota Maumere selama setahun di tahun 2010. Banyak hal yang saya pelajari di sana, banyak teman, banyak tempat wisata, dan banyak-banyak yang lainnya. Yang jelas, saya akan selalu senang pergi ke sana dan tentunya bersama Onif Harem. Jangan harap saya mau naik bis, karena bakal bikin isi perut meronta dan usus meloi (mengintip) dari lobang hidung haha *ditimpuk dinosaurus*. Akan ada banyak cerita dari perjalanan ke Timur ini ... doakan selalu ya :)



Cheers.