2019 Tetap Nge-blog



Seperti yang sudah saya jelaskan pada pos tentang gara-gara blogwalking akhirnya gabung sama komunitas Blogger Perempuan, atau tentang aktivitas blogwalking dapat menghadirkan gagasan ide menulis konten blog, maka lagi-lagi akibat menikah muda blogwalking saya tergagaslah ide menulis konten yang satu ini. Sesuai judul: 2019 Tetap Nge-blog. Gara-gara blogwalking ke blog-nya Mas Doddy Purwanto. See? (Terjemahan Indonesia: apa kan saya bilang?). Blogwalking itu banyak manfaatnya!

Baca Juga: Perjalanan Rock'N'Rain

Pos Mas Doddy itu adalah tentang, kira-kira, resolusi tahun 2019. Setiap orang pasti punya resolusi meskipun banyak yang menyangkalnya. Tapi setidaknya ada satu harapan yang ingin diwujudkan di tahun mendatang. Sama. Saya juga punya resolusi di tahun mendatang yaitu melakukan ritus membangkitkan dinosaurus tetap diberi kesehatan dan kewarasan, serta selalu bersyukur atas nikmat kehidupan yang dianugerahi oleh Allah SWT.

Untuk mempermudah, hashtag yang saya baca dari komentar Admin 007 di blog Mas Doddy kita pakai. 

#2019TetapNgeblog

Lantas, apa alasan saya pada tahun 2019 nanti tetap nge-blog

  • Nge-blog membikin otak saya lebih fresh dan membikin saya lebih produktif dari hari ke hari. Karena, (sering) menulis merupakan proses memindahkan isi otak. Kalau sudah menulis, ide-ide yang berterbangan di otak itu satuper satu dikeluarkan. Ini menurut saya. Semacam piknik online lah haha.
  • Nge-blog membikin saya kaya raya. Kaya teman. Tentu saja. Kaya pengetahuan, tentu saja. Karena, setiap blog yang saya baca dari kegiatan blogwalking pasti ada yang membikin saya jadi tahu ini itu. Membaca, apalagi yang bermanfaat, tidak pernah bikin kita gulung tikar.
  • Nge-blog membikin saya punya warisan yang kelak bisa dibaca oleh siapa saja. Misalnya, kalau anak saya bertanya sudah ke mana kah saya semasa masih muda dan enerjik, tinggal saya suruh: baca blog ine (mama) yang soal travel.


Haha ...

Insha Allah, apabila tidak ada aral melintang, saya akan tetap nge-blog. Ya, #2019TetapNgeblog.

Bagaimana dengan kalian? Bagi tahu yuk di komen.


Cheers.

2019 Tetap Nge-blog



Seperti yang sudah saya jelaskan pada pos tentang gara-gara blogwalking akhirnya gabung sama komunitas Blogger Perempuan, atau tentang aktivitas blogwalking dapat menghadirkan gagasan ide menulis konten blog, maka lagi-lagi akibat menikah muda blogwalking saya tergagaslah ide menulis konten yang satu ini. Sesuai judul: 2019 Tetap Nge-blog. Gara-gara blogwalking ke blog-nya Mas Doddy Purwanto. See? (Terjemahan Indonesia: apa kan saya bilang?). Blogwalking itu banyak manfaatnya!

Baca Juga: Perjalanan Rock'N'Rain

Pos Mas Doddy itu adalah tentang, kira-kira, resolusi tahun 2019. Setiap orang pasti punya resolusi meskipun banyak yang menyangkalnya. Tapi setidaknya ada satu harapan yang ingin diwujudkan di tahun mendatang. Sama. Saya juga punya resolusi di tahun mendatang yaitu melakukan ritus membangkitkan dinosaurus tetap diberi kesehatan dan kewarasan, serta selalu bersyukur atas nikmat kehidupan yang dianugerahi oleh Allah SWT.

Untuk mempermudah, hashtag yang saya baca dari komentar Admin 007 di blog Mas Doddy kita pakai. 

#2019TetapNgeblog

Lantas, apa alasan saya pada tahun 2019 nanti tetap nge-blog

  • Nge-blog membikin otak saya lebih fresh dan membikin saya lebih produktif dari hari ke hari. Karena, (sering) menulis merupakan proses memindahkan isi otak. Kalau sudah menulis, ide-ide yang berterbangan di otak itu satuper satu dikeluarkan. Ini menurut saya. Semacam piknik online lah haha.
  • Nge-blog membikin saya kaya raya. Kaya teman. Tentu saja. Kaya pengetahuan, tentu saja. Karena, setiap blog yang saya baca dari kegiatan blogwalking pasti ada yang membikin saya jadi tahu ini itu. Membaca, apalagi yang bermanfaat, tidak pernah bikin kita gulung tikar.
  • Nge-blog membikin saya punya warisan yang kelak bisa dibaca oleh siapa saja. Misalnya, kalau anak saya bertanya sudah ke mana kah saya semasa masih muda dan enerjik, tinggal saya suruh: baca blog ine (mama) yang soal travel.


Haha ...

Insha Allah, apabila tidak ada aral melintang, saya akan tetap nge-blog. Ya, #2019TetapNgeblog.

Bagaimana dengan kalian? Bagi tahu yuk di komen.


Cheers.

Perjalanan Rock’N’Rain


Sebagai kuli saya harus berupaya memenuhi panggilan tugas. Tugas meliput kegiatan kampus ini macam-macam. Kadang lokasi kegiatan hanya di sekitar areal kampus: Kampus I, Kampus II, Kampus III. Kadang lokasi kegiatan berada di luar kampus seperti di Planet Mars dan Cybertron liputan kegiatan mahasiswa KKN di SMPN Satap Koawena. Kadang waktunya pun tidak melulu pagi atau antara waktu kerja (pukul 08.00 sampai 14.00 Wita) seperti ketika harus meliput kegiatan mahasiswa KKN pada pukul dua pagi nan horor suatu sore di sebuah sekolah dasar di daerah Ndao. Ya, tidak tentu waktu dan lokasinya.

Baca Juga: Nggela Bangkit dan Membangun Kembali

Baru-baru ini, tempatnya Jum'at (23 November 2018) saya memenuhi panggilan tugas meliput kegiatan Prodi Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Flores. Kegiatan pengabdian masyarakat oleh dosen dan mahasiswa tersebut dilaksanakan di Kelurahan Bokasape, Kecamatan Wolowaru, Kabupaten Ende. Jarak antara Ende menuju Kelurahan Bokasape ini sekitar 65 kilometer. Kelurahan Bokasape sendiri terletak tepat di jantung Kecamatan Wolowaru, terletak di pinggir jalan trans-Flores, tempat kendaraan lalu-lalang dan ngetem untuk beristirahat di warung-warung makan yang ada. Istilah saya: check point.

Perjalanan Rock'N'Rain


Baru kali ini saya mengalami perjalanan yang luar biasa kuyup. Sejak hendak meninggalkan Ende, saya dan dua pejalan tangguh, Mila dan Santy, harus melakukan persiapan ekstra. Kami harus memakai mantel sejak belum keluar rumah (dari rumahnya Mila). Saling pandang, saling mengejek, lantas terbahak-bahak melihat penampakan masing-masing dengan mantel hujan super lengkap begitu. Mirip astronot kesasar. Biasanya kan hanya memakai jas hujan. Kali ini saya dan Mila memakai jas + celana hujan sedangkan Santy memakai mantel hujan yang dipadukan dengan celana hujan. Sayangnya saya tidak memakai sandal-sepatu karet (Crocs) melainkan memakai sepatu kanvas.

Langit sebelah Barat agak cerah. Demikian batin saya. Artinya masih ada harapan kami bisa melepas mantel dalam perjalanan nanti. Maka, berangkatlah kami bertiga menuju arah Barat Kota Ende. Saya sendirian mengendarai Onif Harem, sedangkan Santy membonceng Mila.

Semakin jauh dari Kota Ende tidak sedikit pun pertanda hujan bakal berhenti, bahkan semakin deras, sedangkan kami harus berpacu dengan waktu karena rombongan tujuh bis kayu dan satu mini bis Uniflor sudah berangkat duluan. Melihat kondisi alam yang separuh bersahabat, karena untungnya tidak ada petir yang saling sambar, saya berniat untuk membeli kresek bakal membungkus kaki yang memakai sepatu kanvas itu! Haha. Sekitar sepuluh kilometer memasuki Kecamatan Detusoko, Mila dan Santy berhenti di sebuah kios pinggir jalan. Kesempatan itu memberi waktu pada saya untuk memakai kresek membungkus kaki.

Baca Juga : Mengetik 10 Jari Itu Biasa

Santy histeris melihatnya dan ngotot ingin memotret tapi karena cuaca tidak memungkinkan kami tetap melanjutkan perjalanan hingga tiba di Lepa Lio Cafe di Kecamatan Detusoko.


Impian Santy akhirnya terwujud. Haha. Bergaya di depan Lepa Lio Cafe bikin orang-orang yang lalu-lalang pada melongo. Mereka melongo melihat cover sepatunya. Termasuk Nando Watu dan Eka Raja Kopo, dua pentolan RMC Detusoko yang mengelola Lepa Lio Cafe. Haha. 

Mengobrol sambil ngopi di Lepa Lio Cafe sangat menyenangkan. Banyak hal yang kami dapatkan dari hasil mengobrol bersama Nando dan Eka. Mereka sangat luar biasa. Ngopi di kala hujan itu memang tjakep sekali. Waktu yang sangat pas. Kisah tentang Lepa Lio Cafe dan RMC Detusoko dapat dibaca di blog travel saya.


Sayangnya kami tidak bisa berlama-lama di Lepa Lio Cafe. Perjalanan harus dilanjutkan. Ratusan orang menunggu kami di sana. Terimakasih Nando, Eka, dan Aram. Kalian baik.


Kabut Yang Turun


Lepas dari Kecamatan Detusoko, hingga memasuki daerah Ndu'aria, suasana menjadi sangat gelap. Kabut turun hingga ke aspal dan menyebabkan jarak pandang hanya sekitar lima sampai sepuluh meter saja. Lampu kendaraan dan lampu sein langsung kami nyalakan untuk memberi peringatan pada kendaraan dari depan bahwa kami latu, haha. Kecepatan pun dikurangi. Kendaraan jadi kayak merayap meraba dalam gulita begitu. Salah satu tebing sedang dalam tahap pengerjaan sehingga tanah-tanah yang memenuhi aspal ditambah air hujan bikin jalanan menjadi super licin. Tuhan, derita pejalan yang mabuk kendaraan roda empat ya begini. Harus siap segala cuaca.

Tiba di Kelurahan Bokasape


Tiba di Kelurahan Bokasape, kegiatan sudah dimulai, yaitu penyambutan oleh pihak Kelurahan Bokasape di halaman samping kantor. Segera lepaskan mantel, meskipun cuaca masih gerimis, lantas meliput. Untung yaaa masih sempat haha. Kegiatan di Kelurahan Bokasape diselenggarakan hingga Sabtu, dan Minggunya peserta pengabdian masyarakat pun pulang ke Kota Ende.



Salah satu bangunan di samping Kantor Kelurahan Bokasape yang bikin hati tidak tahan untuk dipotret! Tentang kegiatan-kegiatan lainnya di Kelurahan Bokasape, bakal saya tulis terpisah.

Pulang Pun Kami Rock'N'Rain


Kami bertiga pulang ke Kota Ende pada Minggu pagi yang lumayan cerah. Yakin cuaca akan sangat bersahabat. Dari Kelurahan Bokasape kami mampir dulu ke Lepembusu tepatnya di Puskesmas Peibenga untuk bertemu Om Ludger. Niatnya untuk menyerahkan hadiah dari lomba/PR di Kelas Blogging NTT, eh kami justru terpikat sama pemandangannya. Dududu itu bukit-bukit di belakang puskesmas konon bakal mirip bukit dalam Teletubbies! Makanya disebut juga dengan nama itu. Mila bahkan mendapat bibit/anakan bunga bakung dari Om Ludger. Terima kasih, Om.


Semoga suatu saat kami dapat kembali ke sini, dan Om Ludger bakal memenuhi janjinya untuk mengantar kami ke puncak tertinggi Lepembusu. Huhuy!



Dalam perjalanan pulang dari Puskesmas Peibenga menuju Kota Ende inilah hujan kembali mengguyur. Fiuh. Berhenti sesaat di lapak di Detukeli untuk memakai mantel/jas hujan, dan kebut ke arah Kota Ende. 

Baca Juga : Sarasehan di SMPN Satap Koawena

Perjalanan ini memang perjalanan yang Rock'N'Rain karena perjalanan kami melintasi trans-Flores 65 kilometer pergi-pulang itu ditemani hujan, hujan, dan hujan. Bagi kalian mungkin 65 kilometer itu tidak seberapa, tapi bagi kami itu luar biasa terutama saat hujan. Jalanan berliku penuh kelokan khas trans-Flores itu licin, ditambah kubangan air yang terciprat jika berpapasan dengan kendaraan lain yang sama-sama tidak mau pelan (kami juga tidak mau pelan donk haha), serta lokasi proyek yang penuh tanah basah, dus kabut yang turun ke aspal menyebabkan jarak pandang menjadi lebih pendek ... amazing kami masih bisa terbahak-bahak sepanjang jalan.

I will always remember ...

Bagaimana dengan kalian? Pernahkah punya pengalaman seperti ini juga? 

***

Tulisan serupa juga bisa dibaca di Rock'N'Rain Sepanjang Ende Menuju Wolowaru.



Cheers.

Perjalanan Rock’N’Rain


Sebagai kuli saya harus berupaya memenuhi panggilan tugas. Tugas meliput kegiatan kampus ini macam-macam. Kadang lokasi kegiatan hanya di sekitar areal kampus: Kampus I, Kampus II, Kampus III. Kadang lokasi kegiatan berada di luar kampus seperti di Planet Mars dan Cybertron liputan kegiatan mahasiswa KKN di SMPN Satap Koawena. Kadang waktunya pun tidak melulu pagi atau antara waktu kerja (pukul 08.00 sampai 14.00 Wita) seperti ketika harus meliput kegiatan mahasiswa KKN pada pukul dua pagi nan horor suatu sore di sebuah sekolah dasar di daerah Ndao. Ya, tidak tentu waktu dan lokasinya.

Baca Juga: Nggela Bangkit dan Membangun Kembali

Baru-baru ini, tempatnya Jum'at (23 November 2018) saya memenuhi panggilan tugas meliput kegiatan Prodi Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Flores. Kegiatan pengabdian masyarakat oleh dosen dan mahasiswa tersebut dilaksanakan di Kelurahan Bokasape, Kecamatan Wolowaru, Kabupaten Ende. Jarak antara Ende menuju Kelurahan Bokasape ini sekitar 65 kilometer. Kelurahan Bokasape sendiri terletak tepat di jantung Kecamatan Wolowaru, terletak di pinggir jalan trans-Flores, tempat kendaraan lalu-lalang dan ngetem untuk beristirahat di warung-warung makan yang ada. Istilah saya: check point.

Perjalanan Rock'N'Rain


Baru kali ini saya mengalami perjalanan yang luar biasa kuyup. Sejak hendak meninggalkan Ende, saya dan dua pejalan tangguh, Mila dan Santy, harus melakukan persiapan ekstra. Kami harus memakai mantel sejak belum keluar rumah (dari rumahnya Mila). Saling pandang, saling mengejek, lantas terbahak-bahak melihat penampakan masing-masing dengan mantel hujan super lengkap begitu. Mirip astronot kesasar. Biasanya kan hanya memakai jas hujan. Kali ini saya dan Mila memakai jas + celana hujan sedangkan Santy memakai mantel hujan yang dipadukan dengan celana hujan. Sayangnya saya tidak memakai sandal-sepatu karet (Crocs) melainkan memakai sepatu kanvas.

Langit sebelah Barat agak cerah. Demikian batin saya. Artinya masih ada harapan kami bisa melepas mantel dalam perjalanan nanti. Maka, berangkatlah kami bertiga menuju arah Barat Kota Ende. Saya sendirian mengendarai Onif Harem, sedangkan Santy membonceng Mila.

Semakin jauh dari Kota Ende tidak sedikit pun pertanda hujan bakal berhenti, bahkan semakin deras, sedangkan kami harus berpacu dengan waktu karena rombongan tujuh bis kayu dan satu mini bis Uniflor sudah berangkat duluan. Melihat kondisi alam yang separuh bersahabat, karena untungnya tidak ada petir yang saling sambar, saya berniat untuk membeli kresek bakal membungkus kaki yang memakai sepatu kanvas itu! Haha. Sekitar sepuluh kilometer memasuki Kecamatan Detusoko, Mila dan Santy berhenti di sebuah kios pinggir jalan. Kesempatan itu memberi waktu pada saya untuk memakai kresek membungkus kaki.

Baca Juga : Mengetik 10 Jari Itu Biasa

Santy histeris melihatnya dan ngotot ingin memotret tapi karena cuaca tidak memungkinkan kami tetap melanjutkan perjalanan hingga tiba di Lepa Lio Cafe di Kecamatan Detusoko.


Impian Santy akhirnya terwujud. Haha. Bergaya di depan Lepa Lio Cafe bikin orang-orang yang lalu-lalang pada melongo. Mereka melongo melihat cover sepatunya. Termasuk Nando Watu dan Eka Raja Kopo, dua pentolan RMC Detusoko yang mengelola Lepa Lio Cafe. Haha. 

Mengobrol sambil ngopi di Lepa Lio Cafe sangat menyenangkan. Banyak hal yang kami dapatkan dari hasil mengobrol bersama Nando dan Eka. Mereka sangat luar biasa. Ngopi di kala hujan itu memang tjakep sekali. Waktu yang sangat pas. Kisah tentang Lepa Lio Cafe dan RMC Detusoko dapat dibaca di blog travel saya.


Sayangnya kami tidak bisa berlama-lama di Lepa Lio Cafe. Perjalanan harus dilanjutkan. Ratusan orang menunggu kami di sana. Terimakasih Nando, Eka, dan Aram. Kalian baik.


Kabut Yang Turun


Lepas dari Kecamatan Detusoko, hingga memasuki daerah Ndu'aria, suasana menjadi sangat gelap. Kabut turun hingga ke aspal dan menyebabkan jarak pandang hanya sekitar lima sampai sepuluh meter saja. Lampu kendaraan dan lampu sein langsung kami nyalakan untuk memberi peringatan pada kendaraan dari depan bahwa kami latu, haha. Kecepatan pun dikurangi. Kendaraan jadi kayak merayap meraba dalam gulita begitu. Salah satu tebing sedang dalam tahap pengerjaan sehingga tanah-tanah yang memenuhi aspal ditambah air hujan bikin jalanan menjadi super licin. Tuhan, derita pejalan yang mabuk kendaraan roda empat ya begini. Harus siap segala cuaca.

Tiba di Kelurahan Bokasape


Tiba di Kelurahan Bokasape, kegiatan sudah dimulai, yaitu penyambutan oleh pihak Kelurahan Bokasape di halaman samping kantor. Segera lepaskan mantel, meskipun cuaca masih gerimis, lantas meliput. Untung yaaa masih sempat haha. Kegiatan di Kelurahan Bokasape diselenggarakan hingga Sabtu, dan Minggunya peserta pengabdian masyarakat pun pulang ke Kota Ende.



Salah satu bangunan di samping Kantor Kelurahan Bokasape yang bikin hati tidak tahan untuk dipotret! Tentang kegiatan-kegiatan lainnya di Kelurahan Bokasape, bakal saya tulis terpisah.

Pulang Pun Kami Rock'N'Rain


Kami bertiga pulang ke Kota Ende pada Minggu pagi yang lumayan cerah. Yakin cuaca akan sangat bersahabat. Dari Kelurahan Bokasape kami mampir dulu ke Lepembusu tepatnya di Puskesmas Peibenga untuk bertemu Om Ludger. Niatnya untuk menyerahkan hadiah dari lomba/PR di Kelas Blogging NTT, eh kami justru terpikat sama pemandangannya. Dududu itu bukit-bukit di belakang puskesmas konon bakal mirip bukit dalam Teletubbies! Makanya disebut juga dengan nama itu. Mila bahkan mendapat bibit/anakan bunga bakung dari Om Ludger. Terima kasih, Om.


Semoga suatu saat kami dapat kembali ke sini, dan Om Ludger bakal memenuhi janjinya untuk mengantar kami ke puncak tertinggi Lepembusu. Huhuy!



Dalam perjalanan pulang dari Puskesmas Peibenga menuju Kota Ende inilah hujan kembali mengguyur. Fiuh. Berhenti sesaat di lapak di Detukeli untuk memakai mantel/jas hujan, dan kebut ke arah Kota Ende. 

Baca Juga : Sarasehan di SMPN Satap Koawena

Perjalanan ini memang perjalanan yang Rock'N'Rain karena perjalanan kami melintasi trans-Flores 65 kilometer pergi-pulang itu ditemani hujan, hujan, dan hujan. Bagi kalian mungkin 65 kilometer itu tidak seberapa, tapi bagi kami itu luar biasa terutama saat hujan. Jalanan berliku penuh kelokan khas trans-Flores itu licin, ditambah kubangan air yang terciprat jika berpapasan dengan kendaraan lain yang sama-sama tidak mau pelan (kami juga tidak mau pelan donk haha), serta lokasi proyek yang penuh tanah basah, dus kabut yang turun ke aspal menyebabkan jarak pandang menjadi lebih pendek ... amazing kami masih bisa terbahak-bahak sepanjang jalan.

I will always remember ...

Bagaimana dengan kalian? Pernahkah punya pengalaman seperti ini juga? 

***

Tulisan serupa juga bisa dibaca di Rock'N'Rain Sepanjang Ende Menuju Wolowaru.



Cheers.