Arsip Kategori: Catatan Akhir Tahun

Sebuah Catatan Akhir Tahun Untuk Saya, Kalian, Mereka


Sebuah Catatan Akhir Tahun Untuk Saya, Kalian, Mereka. Sebelumnya, ijinkan saya mengucapkan Selamat Natal untuk semua saudara/i yang merayakannya. Semoga damai Natal senantiasa memberikan kedamaian dan bersemayam pula dalam hati. Bagi teman-teman yang sudah menerima kiriman video ucapan Natal dari saya, perlu diketahui, foto kandang Natal di dalam video itu merupakan kandang Natal yang saya bikin tahun 2018 saat mengikuti Lomba Kandang Natal di Universitas Flores (Uniflor). Sayangnya tahun 2019 tidak ada lomba apapun yang diselenggarakan oleh Uniflor. Padahal sudah banyak ide berkeliaran dalam kepala saya. Haha. Gemas, pengen bisa jadi juara lagi seperti tahun 2017. Tidak adanya lomba ini dikarenakan sepanjang tahun 2019 hingga Juli 2020 nanti, Uniflor sudah mempunyai seabrek kegiatan menyongsong Panca Windu-nya.

Baca Juga: Sebuah Seni Untuk Melepaskan Sesuatu Yang Bukan Milik Kita

Sebentar lagi kita bakal say goodbye sama tahun 2019. Kalian sudah bikin resolusi? Saya sendiri belum bisa membikin resolusi karena sepertinya resolusinya tidak jauh berbeda dengan resolusi yang saya bikin tahun lalu. Terutama, masih tetap nge-blog! Ya, ya, ya, meskipun tidak banyak bolongnya, tapi saya akui aktivitas nge-blog saya di tahun 2019 ada bolongnya sehari dua. Maklumi, kesibukan itu ternyata memang terlalu banyak mengambil waktu saya dalam sehari. Terutama kesibukan mengalahkan clan Lotus, Serphent, dan Wolf, karena saya pemakai Dragon. Haha. Cuma anak Battle Realms yang paham *ngakak guling-guling*. Jangan terlalu serius membaca tulisan saya, banyak jumpscare dan twist-plot-nya.

Mari kita mulai catatan akhir tahun ini ...

Revolution


Pada tahun 2018 saya menulis resolusi. Pada tahun 2019 resolusi itu dijalankan dengan bumbu revolusi. It's like make a resolution, do revolution, then. Dalam arti yang sesungguhnya, revolusi adalah perubahan sosial dan kebudayaan yang berlangsung secara cepat dan menyangkut dasar atau pokok-pokok kehidupan masyarakat. Di dalam revolusi, perubahan yang terjadi dapat direncanakan atau tanpa direncanakan terlebih dahulu dan dapat dijalankan tanpa kekerasan atau melalui kekerasan. Dalam kehidupan saya sepanjang 2019, revolusi terjadi dengan satu cara saja yaitu tanpa kekerasan. Saya menyebutnya revolusi hidup. Saya pikir semua orang pasti punya revolusi hidup. 

Revolusi hidup yang saya maksudkan ini adalah menjadi seseorang yang bisa menerima. Apapun yang terjadi, saya harus berusaha untuk bisa menerimanya. Terima kasih, hidup. Telah mengajarkan saya untuk lebih mengenali diri sendiri, untuk lebih tahu diri, untuk lebih bisa menerima apapun yang digariskan Tuhan untuk saya. Kalau kata Sheila On 7, Terima Kasih Bijaksana.

Responsibility 


Seiring dengan bertambahnya usia (ini tulisan ikut orang-orang, biar kelihatan bijak) maka mengikuti pula tanggung jawab besar yang harus dipikul. Tanggung jawab ini tidak hanya berkaitan dengan pekerjaan utama, tetapi juga berkaitan dengan lingkungan sekitar, pergaulan, dan perasaan.

Di awal tahun saya diberikan tugas dan tanggung jawab mempromosikan Uniflor di semua SMA sedaratan Flores dan sekitarnya (ada anggota Tim Promosi Uniflor yang bahkan ke Pulau Lembata, Pulau Adonara, dan Pulau Solor). Senang? Tentu. Bekerja sekaligus jalan-jalan, pun mengumpulkan materi untuk blog travel I am BlogPacker. Menyusulinya, masih banyak tanggung jawab lain yang alhamdulillah mampu dikerjakan-diselesaikan dengan baik, baik itu tanggung jawab pekerjaan di sekitar kampus maupun pekerjaan kantor yang mengharuskan saya ke luar kota. Bagi saya pekerjaan adalah hobby. Dan, tidak ada seorang pun di dunia ini yang tidak menyukai hobby-nya sendiri kan? Saya pikir kalian juga sependapat dengan hal ini. Insha Allah masih terus bisa melakukannya di tahun-tahun yang akan datang.

Dari dunia komunitas, dimana saya sendiri sudah berjanji untuk tidak mau berkomunitas lagi, saya menyeret diri sendiri untuk turut membangun dua komunitas. Ada kata 'turut' sehingga kalian salah kalau berpikir saya sendiri yang membangunnya. Yang pertama, Stand Up Comedy Endenesia. Yang kedua, Exotic NTT Community. Keduanya punya gaya yang berbeda. Berbeda dari lini komunitas yang sebelumnya saya bangun dan/atau ikuti. Bukan komunitas blog, bukan komunitas self improvement, bukan komunitas charity, dan lain sebagainya. Stand Up Comedy Endenesia dan Exotic NTT Community mengantar warna baru dalam hidup saya yang ringih ini. Sayangnya, karena kesibukan yang lagi-lagi menyita begitu banyak waktu, saya agak abai dengan Stand Up Comedy Endenesia. Tidak mengapa, yang pasti masih tetap bersama mereka semua. Sementara itu, Exotic NTT Community yang baru seumur jagung, lebih mudah bersamanya karena base camp sementara masih di rumah saya. Haha.

Bagaimana dengan ranah asmara? Banyak yang menulis resolusi #2019GantiStatus (dari belum kawin menjadi kawin) sementara saya menulis #2019TetapNge-blog. Mungkin karena feeling saya mengatakan bahwa 2019 status KTP masih akan sama (itu KTP seumur hidup, hiks). Saya bukan tipe manusia yang suka memburai-burai kehidupan pribadi terutama asmara di muka publik. Yang jelas, saya cukup bertanggungjawab terhadap perasaan sendiri sehingga tidak perlu terjadi silang-sengketa dengan pihak manapun. Termasuk mantan. Ahaaayyy!

Lingkungan keluarga besar Pharmantara juga semakin mendewasakan saya sebagai bungsu dari pasangan kesohor *ngikik* Asmady Pharmantara dan Regina Bata. Meskipun di dalam keluarga kami harus ada yang berpisah tetapi banyak yang semakin erat. Di akhir tahun 2019, tepatnya 30 November, my Mom lost her sight. But it's okay. Believe or not, I'm much better prepared for this condition than 2009 when stroke attacked her. Kami semua mencintainya. Tentu. Dan sebagai bungsu yang masih belum mandiri, karena masih tinggal bersamanya di Pohon Tua, saya benar-benar siap melayaninya. Dia adalah ratu. Kalau dipikir-pikir, ini juga sekalian latihan. Latihan mengurus baby seandainya Allah SWT menganugerahkannya pada saya. Haha. Laki saja belum punya, malah memikirkan baby. Psssttt! Mengkhayal itu perlu kan yaaaaa.

Reborn


Tahun 2020, bagi saya pribadi, akan menjadi tahun dimana saya (merasa) terlahir kembali. Terlahir kembali setelah begitu banyak tempaan pengalaman hidup di tahun 2019. Kalau tidak ada tempaan, tidak ada cerita. Bukan begitu? Ya, begitu! Hehe. Konsep terlahir kembali merupakan konsep paling sederhana; mencerminkan aura positif. Tidak ada orang yang mau terlahir kembali sebagai penjahat. Kira-kira begitu. Sama juga, terlahir kembali tanpa harus mati terlebih dahulu, bermakna kita ingin menjadi pribadi yang jauh lebih baik. Menjadi lebih baik berarti harus mengubah apa yang selama ini dalam pandangan kita: tidak baik. Sederhana memang. Tapi, mungkin untuk mewujudkannya butuh langkah-langkah yang besar.

Terlahir kembali menjadi manusia yang sabar.
Terlahir kembali menjadi manusia yang bisa menekan ego.
Terlahir kembali menjadi manusia yang lebih penyayang.
Dan lain sebagainya.

Ah, menulis tentang ego. Saya memang masih belum sepenuhnya mampu mengendalikannya. Egobender wannabe. Hahaha. Makanya tahun 2020 harus bisa menekan ego sedapat-dapatnya. Karena apa? Karena seorang bungsu terbiasa mendapatkan apapun yang diinginkan. Kalau kalian bilang tidak, saya bilang iya. Karena saya adalah bungsu. Ingin dimanja? Iya. Ingin diperhatikan? Apalagi! Dan satu keinginan yang paling absurd dari seorang bungsu bercampur Capricorn adalah ingin orang lain tahu apa yang diinginkannya tanpa dia harus meminta atau bicara. Itu kan koplak. Hehe. Iya, saya harus mengakui bahwa saya ego dan koplak sekaligus. Padahal orang lain bukan dewa yang punya kemampuan membaca perasaan. Dududu.


Semua yang ditulis di atas semata-mata tentang saya, sedangkan judulnya adalah Sebuah Catatan Akhir Tahun Untuk Saya, Kalian, Mereka. Di mana kolerasinya? Kolerasinya terletak pada pembelajaran. Apa yang saya alami selama tahun 2019, bisa menjadi pembelajaran untuk diri saya sendiri, kalian, dan mereka. Karena, sebagai penghuni semesta kita akan terus belajar terutama dari pengalaman masing-masing, dan tentu belajar dari pengalaman orang lain. Kenapa kita harus belajar dari pengalaman? Karena pengalaman akan membikin kita melakukan revolution yang responsibility dan menjadikan kita manusian yang reborn.

Punchline-nya asyik juga. Hahahaha.

Baca Juga: Bisakah Saya Berhenti Berpikir dan Bersikap Konyol?

Terakhir, untuk kalian semua yang membaca tulisan ini. Marilah kita terus menjaga tali silaturahmi, apapun kondisinya, karena itu salah satu hal yang ingin terus saya upayakan di tahun-tahun yang akan datang. Termasuk, memperbaiki tali silaturahmi yang rusak. Ijinkan saya menutup tulisan ini dengan mengucapkan: selamat menikmati akhir tahun yang legit bersama keluarga, teman-teman, tetangga, orang-orang tersayang. Jangan lupa berdoa agar tahun depan kita masih dapat menikmati akhir tahun yang sama legitnya.

Selamat tinggal 2019.
Terima kasih 2019.

Dan ya, #2020TetapNge-blog!



Cheers.