Buruh Migran


Jarang menulis tentang ragam kegiatan Universitas Flores (Uniflor) bukan berarti tidak pernah menulis tentang tempat saya menambang batu bara tersebut. Sekali dua menulis tentang Uniflor di blog pribadi ini. Seringnya, sesuai tupoksi pekerjaan, saya menulisnya untuk berita/informasi yang dipublikasikan di ragam media sosial dan website Uniflor. Kalau memilih untuk menulis kegiatan Uniflor di blog pribadi, maka blog ini sangat kaya konten, bisa menjadi tambang konten. Mungkin sehari bisa tiga atau empat tulisan berbeda yang dipos. Dan itu boros. Haha. Yeeee padahal pernah juga menulis dua pos dalam satu hari. Dan hari ini pun mengepos dua tulisan pula *dijitak*.

Baca Juga: Lomba SUC Endenesia

Belum lama berselang, tepatnya Kamis tanggal 2 Mei 2019 kemarin, Fakultas Hukum Uniflor bekerja sama dengan Perkumpulan Pengajar dan Praktisi Hukum Ketenagakerjaan (P3HKI) menggelar Konferensi Ke-3 P3HKI dengan Seminar Nasional bertema Perlindungan Hukum Bagi Buruh Migran Indonesia. Seminar tersebut menghadirkan empat pemateri utama yaitu: RD Eduardus Raja Para (LSM) dengan tema Gereja dalam Menyelamatkan Masalah Buruh Migran, Ketua P3HKI Dr. Asri Wijayanti, S.H., M.H., dengan tema Advokasi Serikat Pekerja/LSM Buruh dalam Sengketa Hubungan Industri, Ketua Migrant Care Centre Anis Hidayah dengan tema Pembangunan Standar Minimal Perlindungan Hukum Bagi Pekerja Migran di Tingkat Nasional/Regional, dan Ketua KSPI Kalimantan Timur Kornelis Wiriyawan Gatu dengan tema Permasalahan Ketenagakerjaan di Perkebunan Kepala Sawit di Kaltim.

Foto bersama wartawan usai konferensi pers pada Rabu (1/5/2019).

Yay! Kembali bertemu dengan Ibu Anis dari Migrant Care Centre Indonesia. Memangnya dulu pernah bertemu? Iya, tahun 2013 saya bertemu beliau di kantor ICT Watch Indonesia / Internetsehat, saat berkecimpung dalam proyek filem dokumenter Linimassa 3. Kalian belum nonton videonya di Youtube? Nonton doooonk. Kalau kalian menonton Sexy Killers, maka isu tentang tambang batu bara ini juga diangkat dalam Linimassa 3, oleh Bang Yus asal Kalimantan. By the way, awalnya saya berpikir keras, kayaknya pernah bertemu Ibu Anis tapi di mana ya? Kemudian memberanikan diri bertanya dan beliau mengingatnya ... ternyata.

Dalam paparan materinya pada seminar tersebut, Ibu Anis bercerita tentang awal mula berkecimpung di dunia advokasi pekerja migran. 22 tahun sudah beliau mengurusi buruh migran ini, sejak tahun 1996, hingga Migrant Care Centre didirikan pada tahun 2004. Menurutnya diskusi terkait buruh migran yang diselenggarakan di Uniflor penting dilakukan, selain masih dalam kerangka Hari Buruh Internasional yang jatuh pada tanggal 1 Mei, juga dikarenakan sampai saat ini Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) masih menempati urutan pertama penyumbang korban trafficking di seluruh Indonesia. Moratorium yang diberlakukan di Provinsi NTT bukan solusi terbaik karena arus buruh migran tetap ada/terjadi dengan berbagai modus seperti umroh atau jalinan persahabatan.


Langkah jitu yang bisa dilakukan adalah mengubah undang-undang yang sudah ada terkait buruh migran, agar pasal-pasalnya mampu melindungi para buruh migran. Namun, kesulitannya adalah politik buruh migran (mafia migran) ini dipegang oleh perusahaan-perusahaan besar dengan tokoh-tokoh besar dibaliknya. Oh ... menulis ini saya merinding, sama merindingnya saat mendengar paparan Ibu Anis di Auditorium H. J. Gadi Djou. Well, terima kasih Ibu Anis, sudah menolak hadir kegiatan di Doha demi hadir di Uniflor.

Kornelis Wiriyawan Gatu membeberkan fakta-fakta tentang buruh migran di kebun kelapa sawit. Ini menjadi permasalahan yang serius karena pernah terjadi buruh migran yang meninggal dimakamkan di perkebunan kelapa sawit tersebut. Saat fakta ini dibawa ke kancah internasional, peserta diskusi internasional itu murka sejadi-jadinya. Oleh karena itu Pak Kornelis yang berasal dari Kecamatan Watuneso - Ende ini ingin mengajak Uniflor bekerjasama untuk bisa sama-sama memecahkan begitu banyak permasalahan buruh migran ini. Mulai dari regulasi di semua tingkat (perdes, perda, UU), hingga penanganan langsung di lapangan.

Baca Juga: Politik Itu Abu-Abu

Saya pribadi setuju dengan apa yang disampaikan oleh Rektor Uniflor Dr. Simon Sira Padji, M.A., tentang kondisi dulu dimana Malaysia sangat konsekuen/baik dengan kondisi buruh migran, berdasarkan pengalaman pribadi kakek beliau yang dijemput di Sabah bertahun-tahun lampau. Tapi semakin ke sini, permasalahan semakin kompleks, buruh migran 'gelap' salah satunya.


Migrasi merupakan kebutuhan manusia. Ini dilakukan dengan alasan ingin mendapat pekerjaan, kalau boleh, yang baik, agar mendapat upah yang baik/besar. Kenapa harus menjadi buruh migran? Karena mungkin mereka menyerah untuk mencari pekerjaan di daerah sendiri. Ini berarti banyak lini yang memang harus dibereskan/dibenahi.

Permasalahan buruh migran ini berada di dalam satu roda yang sama dengan permasalahan lain di Indonesia. Tidak selamanya buruh migran bekerja di luar negeri untuk meringankan masalah ekonomi saja. Banyak alasan: ekonomi keluarga, kesehatan, pendidikan, dan lain sebagainya. Pendidikan dan kesehatan harus terdepan. Tapi, kalau pendidikan mahal, orangtua lebih suka anaknya ikut bekerja membantu perekonomian keluarga. Jika perekonomian keluarga semata-mata yang diutamakan, jelas pendidikan, kesehatan, bisa jadi kehidupan bersosial, menjadi terbelakang. Hal ini mirip dengan seminar tentang moke yang dilakukan Fakultas Hukum Uniflor di Kecamatan Aimere, Kabupaten Ngada. Salah seorang peserta bertanya: jika moke sebagai minuman keras lokal dilarang, bagaimana dengan sekolah kami? Orangtua kami menjadi petani moke salah satunya untuk menyekolahkan kami. Jadi, apa yang harus dilakukan?

Ketua P3HKI Ibu Asri mengatakan bahwa dalam pesawat yang membawanya ke Kupang, beliau duduk di samping seorang pemuda NTT yang bercerita tentang usahanya. Kurang jelas saya mendengar nama si  pemuda. Tapi yang jelas, hasil kebun-kebun itu dijual dari kantor ke kantor (tidak di-supply ke pasar moderen) dan mereka toh kewalahan dengan permintaan tomat misalnya. Kenapa hal ini tidak menjadi perhatian pemerintah setempat? Ibu Asri berencana akan membicarakan hal ini dengan Gubernur NTT, karena pemuda tersebut niscaya dapat menjadi contoh untuk menekan jumlah buruh migran asal Provinsi NTT.


Dalam skala Kabupaten Ende, kami punya Nando Watu asal Kecamatan Detusoko, yang mendirikan Remaja Mandiri Community (RMC) Detusoko. Kisah lengkapnya dapat kalian baca di pos Cerita Dari Lepa Lio Cafe. Kembali ke desa, membangun dari desa. Konsep RMC Detusoko telah memberdayakan masyarakat Kecamatan Detusoko untuk dapat menggali potensi daerah, mengelolanya, memanfaatkannya, dan mempromosikannya ke tingkat internasional. Mereka sudah melakukannya, mereka boleh saya bilang ... sukses. Nando Watu adalah contoh paling baik yang bisa saya lihat saat ini. Bayangkan jika pangan lokal dikelola, dikemas eksklusif, dipasarkan, oleh masyarakat lokal itu sendiri. Bayangkan jika semua daerah di Provinsi NTT banyak yang melakukan hal ini, maka angka buruh migran dapat ditekan. Karena, siapa sih yang ingin bekerja di luar negeri jika bisa menghasilkan Rupiah di daerah sendiri dan dekat dengan keluarga?

Menulis pos ini memang mudah karena saya bukan seseorang yang dirongrong kebutuhan hidup sementara tidak punya skill dan terpaksa harus menjadi buruh migran. Bagi mereka yang mengalaminya, menjadi buruh migran satu-satunya solusi, karena skill yang terbatas. Mungkin pula iming-iming kerja di luar negeri bergaji bukan Rupiah sehingga selalu menarik minat. Seperti yang sudah saya tulis di atas, permasalahan buruh migran ini berada di dalam satu roda yang sama dengan permasalahan lain di Indonesia. Terus berputar. Untuk mengatasinya, tidak bisa secara masive, tapi harus perlahan alias satuper satu.

Agen-agen perubahan, seperti Nando Watu misalnya, menyusup ke masyarakat, mengajak masyarakat berdiskusi tentang potensi daerahnya dan apa yang bisa dilakukan untuk menghasilkan Rupiah yang lebih banyak. Masyarakat diberikan pelatihan gratis atau berbiaya rendah untuk menambah/meningkatkan skill mereka. Di Ende, Deth Radja membuka kursus kecantikan. Ini kan menarik. Peserta kursus kelak dapat membuka salonnya sendiri dengan keahlian make up dan hair do. Ada pula Abang Umar Hamdan dari ACIL (Anak Pecinta Lingkungan) yang selain mengurusi masalah sampah, juga mendaur ulang sampah menjadi barang bernilai ekonomis. Dan masih banyak agen perubahan lainnya yang sudah berjuang baik untuk diri sendiri maupun orang lain, hanya saja jarang terekspos sehingga tidak banyak yang tahu (kalau tahu kan bisa jadi inspirasi dan enggan menjadi buruh migran).

Regulagisi tentang buruh migran di berbagai tingkat harus disusun/diubah agar tidak merugikan buruh migran termasuk perlindungan hukumnya. 

Dan tentu upah pekerja harus diperhatikan ha ha ha ... 

Demikian secuil oleh-oleh dari kegiatan seminar nasional tersebut. Menurut kalian sendiri, apa yang harus dilakukan oleh kita semua untuk mengatasi permasalahan buruh migran ini? Silahkan berbagi ide di papan komentar.

Baca Juga: Jaga Waka Nua

Terima kasih ...



Cheers.