Kepo Buku #1: Buku Pertama di tahun 2019

Apa buku pertama kalian di tahun 2019? Di episode perdana tahun 2019 ini kita akan awali dengan ngobrolin bacaan pertama kita di awal tahun ini. Ada macam-macam buku yang dipilih oleh para hostnya dan kalian pun bisa ikut berpartisipasi dengan cara mengirim rekaman cerita buku kalian. Selengkapnya ada di bawah. Oya Kepo Buku Season 2 masih bareng Rane, Steven, Toto, namun sekarang juga ditambah satu host baru. Namanya Opat. Jadi episode ini sekalian memperkenalkan teman-teman dengan Opat!

Selamat menikmati.



Di mana dengar podcast Kepo Buku?

Apple Podcast | SoundcloudGoogle Podcast | Spotify | Anchor | Breaker | Sticher | Pocketcast | Radio Public

Buku yang Dibahas di Episode ini:

  • Principles: Work and Life (Ray Dalio)
  • Mind Platter (Najwa Zebian)
  • The Silkworm (Robert Galbraith)
  • Men Without Women (Haruki Murakami)
  • Ikigai (Hector Garcia & Francesc Miralles)
  • Filosofi Teras (Henry Manampiring)
  • Smile (Raina Telgemeier).

 

AYO CERITAKAN BUKU YANG LAGI KALIAN BACA LEWAT AUDIO:

Yoi cuy, kita mau ngajak kalian buat ikutan di Kepo Buku. Intinya kita mau tahu kalian lagi baca buku apa? Kirim dalam bentuk rekaman suara (maksimal 5 menit). Jangan lupa sebut nama, lokasi dan ceritakan buku yang kalian lagi baca atau mau kalian rekomendasikan. Ada dua cara yang bisa dilakukan:

  1. ANCHOR: Untuk pengguna aplikasi Anchor, klik “Message” dan mulai rekam review kalian. (Durasi maksimal 1 menit tapi kalau masih kurang, silahkan rekam lagi)
  2. WHATSAPP:  Gunakan fasilitas Voice Note di Whatsapp. Klik/ ketik link ini di HP kalian: http://bit.ly/ikutkepobuku
  3. EMAIL: Rekam di voice note di hp dan kirim lewat email ke suarane@gmail.com

Rekaman yang kita terima akan kita sertakan dalam episode-episode Kepo Buku berikutnya.

 

Credits & Disclaimer:

  • Kepo Buku tidak berafiliasi dengan penerbit ataupun penulis buku yang diulas di episode ini.
  • Musik: “Rainbows” oleh Kevin MacLeod (incompetech.com). Licensed under Creative Commons: By Attribution 3.0 License
  • Cover: pixabay.com

 

-rh-

Buku Saku: Ende



Saya menyebutnya buku saku Ende. Sebuah buku mini berisi informasi tentang atraksi wisata di Kabupaten Ende serta budaya dan masyarakatnya. Buku ini diberikan oleh teman siaran Iwan Aditya yang bekerja di Swisscontact. Jadi kangen sama Iwan. Teringat masa-masa siaran dulu, terutama saat bibir dan otak Iwan jarang kompak, sampai-sampai saya dan Yoyok bilang begini, "Wan, orang itu yang typo jari, bukan bibir."

Haha!

Baca Juga: Corn Island

Flores Pocket Book for Tour Guides ENDE (FPBFTG ENDE). Demikian yang tertulis di sampul mukanya dengan gambar latar salah satu danau dari Danau Kelimutu dan dua orang wisatawan. Buku ini diterbitkan oleh DMO Flores dan didukung oleh HPI DPC Kabupaten Ende & Swisscontact WISATA (Copy Right) DMO Flores. Beberapa logo terpeta di buku ini diantaranya Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia, Wonderful Indonesia, Swisscontact, dan HPI. Anyhoo, sebelum lanjut, sekadar informasi saja bahwa Danau Kelimutu kini telah berubah warna lagi. Sayang saya belum sempat ke sana untuk sekadar ... selfie(?) haha.

Ada dua informasi utama di dalam FPBFTG ENDE. Yang pertama informasi tentang Pulau Flores. Yang kedua informasi tentang Ende.

Meskipun kecil namun FPBFTG ENDE sarat informasi. Informasi tentang Pulau Flores tidak saja memuat Letak dan Kondisi Geografis, Iklim, Flora dan Fauna, Sejarah, Masyarakat dan Kebudayaan, hingga kabupaten-kabupaten di Pulau Flores saja. Menggali lebih dalam, terdapat penjelasan tentang Sirih Pinang atau disebut Chewing Betel Nut

Wanita tua Flores biasanya mempersiapkan sirih saat mengobrol dengan teman-temannya. Kebiasaan ini sudah dikenal selama 2000 tahun, dan juga dikenal di bagian lain di Asia Tenggara seperti di Malaysia, Myanmar, India, Vietnam, Bhutan, Thailand, Papua Nugini dan Afrika Timur. Hal ini terutama terlihat di daerah pedesaan. Tiga bahan dasarnya antara lain sirih (Piper Betel Linn), dimana orang menggunakan buah dan daunnya, pinang (Areca Catechu Linn) dan kapur yang didapat dari batu kapur, kerang atau karang. Kapur juga dapat membuat gigi menjadi merah dan jika seseorang terlalu banyak menggunakannya, ini akan berakibat buruk pada gigi.

Bagi yang tidak terbiasa, jangan dipaksakan. Saya pernah mencoba sekali untuk mengunyah sirih ini, tetapi tidak kuat dan mabok *senyum nista*. Gara-gara mabok menyirih itu saya tidak berani mengulang percobaan itu. Mungkin suatu saat kalau sudah siap mabok lagi.

Bagaimana dengan informasi tentang Ende?

Diisi dengan lima poin penting yaitu:

1. About Ende.
2. Tourist Attraction.
3. Culture in Ende.
4. Useful Phrase.
5. Peta Flores dan Ende.

Kalau tentang atraksi wisatanya saya pikir kalian juga sudah tahu. Beberapa bisa dibaca di Blog Travel saya yang satu ini. Diantaranya Danau Kelimutu, Kampung Adat Wologai, Kampung Adat Nggela, Air Panas Liasembe, Air Terjun Murundao, Mata Air Panas Ae Oka Detusoko, Pantai Penggajawa, Pantai Enabhara, dan lain sebagainya. Di FPBFTG ENDE tidak tercantum atraksi wisata buatan.

Dua poin yang paling menarik minat saya dari lima poin di atas adalah tentang Culture in Ende dan Peta. Pada sub Budaya di Ende saya menggarisbawahi dua kalimat yang digunakan oleh Suku Lio (suku lainnya bernama Suku Ende) untuk kebesaran dan keagungan Tuhan:

Du'a Gheta Lulu Wula, Kai Eo Mbe'o Mera Gheta Longgo Leja.
(Tuhan di balik bulan, Dialah yang menatap di balik matahari).

dan

Ngga'e Ghale Wena Tana, Kai Eo Bewa Sa Ela Meta.
(Tuhan adalah penguasa bumi, Dialah pencipta alam semesta).

Baca Juga: Ngelawak Bersama Mamatua

Sedangkan pada sub Seni Bahasa, saya sangat tertarik dengan ulasan-ulasan tentang Sara Waga, Sua seru, Bhea, Sodha, Sua Sasa. Selama ini saya hanya pernah mendengar orang-orang ber-sodha dan sua sasa saja (lisan). Tidak menyangka bahwa puisi dalam bahasa Lio disebut sara waga dan sua seru itu. Mungkin kalian bakal bilang, masa iya Orang Ende tapi tidak paham betul tentang seni bahasa dari Suku Lio? Maklum, saya kan Suku Ende campuran ha ha ha. Bahasa Ende saja masih harus terus saya pelajari ... soalnya sejak lahir sampai sebesar dinosaurus komunikasi di dalam rumah selalu menggunakan Bahasa Indonesia.

Menurut saya, buku FPBFTG ENDE boleh dimilliki oleh siapa pun yang hendak berkunjung ke Pulau Flores dan Kabupaten Ende karena di dalamnya memuat hampir semua informasi yang dibutuhkan oleh para wisatawan. Saya pikir itu cukup, karena informasi tambahan bisa ditanyakan langsung ke agen perjalanan yang dipakai, teman yang tinggal di Pulau Flores dan Kabupaten Ende, atau penduduk setempat. Ingat, malu bertanya sesat di jalan, malu menjawab sesatkan orang lain.

Di mana bisa membeli FPBFTG ENDE? Entahlah. Saya memperolehnya dari Iwan. Saya tidak tahu apakah buku ini dijual bebas di toko buku atau tidak. Secara toko buku Gramedia juga jauh dari Kota Ende ... haha ... jadi silahkan coba cari sendiri kalau sempat main ke toko buku.

Baca Juga: Travel Writer

Demikian ... semoga bermanfaat.

Oia, dan karena liburan telah usai, tidak ada kalimat yang lebih indah selain: selamat kembali ke belantara rutinitas, kawan!



Cheers.

Buku Sejarah Bekasi, Sejak Peradaban Buni Ampe Wayah Gini

Buku Sejarah Bekasi, Sejak Peradaban Buni Ampe Wayah Gini
Judul: Buku Sejarah Bekasi, Sejak Peradaban Buni Ampe Wayah Gini.
Penulis: Endra Kusnawan
Penerbit: Herya Media Depok
Genre / Kategori: Sejarah
ISBN: 9786021032640
Tahun Terbit & Cetakan: April 2016/1
Tebal Buku: xvi + 468 hlm. Ukuran 15x23 cm. 
Harga: 110.000.

Kalau selama ini kita sering disuguhkan sejarah Bekasi hanya sekitar masa Revolusi Nasional Indonesia (1945-1949), maka buku ini merangkum banyak fakta sejarah lebih jauh lagi, yaitu sekitar 1000 SM sampai 130 M saat Peradaban Buni dipercaya hidup di daerah Bekasi. 

Setelah kata pengantar dari penulis yang menjelaskan latar belakang dan sistematika penulisan, buku tebal ini kemudian dibuka dengan pembahasan mengenai Toponimi Bekasi. Bagi saya ini pembukaan yang menarik, karena untuk mengetahui asal usul penamaan Bekasi mau tidak mau kita harus menyelami sejarahnya.

Toponimi Bekasi

Toponimi adalah pembahasan mengenai tentang nama tempat, asal-usul, arti, penggunaan, dan topologinya. Bagian pertama kata tersebut berasal dari bahasa Yunani tópos yang berarti tempat dan diikuti oleh ónoma yang berarti nama.

Asal-usul penggunaan nama Bekasi dalam buku ini dirangkum dalam 5 halaman disertai foto-foto peta dan lain-lain. Versi penamaan Bekasi yang dibahas dalam buku ini adalah versi dari Prof. Dr. Raden Mas Ngabehi (Lesya) Poerbatjaraka (1884-1964) yang memang merupakan pendapat paling ilmiah dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademis. 

Poerbatjaraka adalah seorang cendekiawan tidak bertanding soal naskah kuno, seorang putra Indonesia kedua yang memperoleh gelar doktor di Universitas Leiden Belanda bidang Sastra Jawa pada tahun 1926 dengan disertasi berjudul Agastya in den Archipel (Agastya di Nusantara). Setelah masa kemerdekaan beliau menjadi profesor di sejumlah kampus ternama dan beliau mendirikan Fakultas Sastra di Universitas Udayana Bali. 

Poerbatjaraka berpendapat kata Bekasi berasal dari kata Chandrabhaga, kesimpulan ini berdasarkan apa yang tertulis di Prasasti Tugu di Cilincing. Chandrabhaga adalah nama sungai yang digali pada abad ke-5 Masehi oleh Raja Tarumanagara yang bernama Rajadhiraja Yang Mulia Purnawarman. 
Prasasti Tugu memberitakan penggalian Sungai Candrabhaga (Kali Bekasi)
Prasasti Tugu memberitakan penggalian Sungai Candrabhaga (Kali Bekasi)
Prasasti Tugu memberitakan penggalian Sungai Candrabhaga dan Sungai Gomati yang dilakukan Purnawarman pada tahun ke-22 masa pemerintahannya.

Transkrip Prasasti Tugu:
Pura rajadhirajena guruna pinabhahuna khata khyatam purin phrapya. Candrabhagarnavam yayau pravarddhamanadwavincadvatsa (re) crigunaujasa narendradhvajbhunena (bhuten). Crimata Purnnavarmmana prarabhya Phalgune(ne) mase khata krshnatashimithau Caitracukla-trayodcyam dinais siddhaikavinchakai(h). Ayata shatsahasrena dhanusha(m) sacaten ca dvavincena nadi ramya Gomati nirmalodaka pitamahasya rajarshervvidarya cibiravanim.Bhrahmanair ggo-sahasrena(na) prayati krtadakshino.

Terjemahannya:
Dahulu atas perintah rajadiraja Paduka Yang Mulia Purnawarman, yang menonjol dalam kebahagiaan dan jasanya di atas para raja, pada tahun kedua puluh dua pemerintahannya yang gemilang, dilakukan penggalian di Sungai Candrabhaga setelah sungai itu melampaui ibukota yang masyhur dan sebelum masuk ke laut. Penggalian itu dimulai pada hari kedelapan bulan genap bulan Phalguna dan selesai pada hari ketiga belas bulan terang bulan Citra, selama dua puluh satu hari. Saluran baru dengan air jernih bernama Sungai Gomati, mengalir sepanjang 6.122 busur melampaui asrama pendeta raja yang di pepundi sebagai leluhur bersama para brahmana. Para pendeta itu diberi hadiah seribu ekor sapi.

Poerbatjaraka mengurai kata Candrabhaga menjadi dua kata, yakni Chandra yang berarti “bulan” dan Bhaga yang bermakna; "bagian". Diterangkan juga teori bagaimana kata Chandrabhaga kemudian menjadi Bhagasasi, kata "candradalam bahasa Sansekerta berarti bulan yang dalam bahasa Jawa Kuno disebut "sasi" atau "wulan". 

Perubahan penyebutan dari Chandrabhaga menjadi Bhagasasi menurut buku ini akibat pengaruh bahasa Melayu yang tersebar luas seiring dengan kejayaan kerajaan Sriwijaya yang juga menguasai sebagian pulau Jawa termasuk Bekasi. 

Bahasa Melayu sebagaimana bahasa Indonesia saat ini bersifat DM (Diterangkan Menerangkan), berbeda dengan bahasa Sansekerta yang bersifat MD (Menerangkan Diterangkan) seperti bahasa Inggris. Kemudian juga sedikit dijelaskan bagaimana dari penyebutan Bhagasasi menjadi Bhagasi, Bekassi hingga akhirnya menjadi Bekasi
Selain itu peninggalan budaya Melayu dari Sriwijaya yang masih mengakar adalah budaya berbalas pantun berima yang masih dapat ditemui hingga sekarang.
Buku Sejarah Bekasi, Sejak Peradaban Buni Ampe Wayah Gini
Buku Sejarah Bekasi, Sejak Peradaban Buni Ampe Wayah Gini
Sistematika penulisan buku sejarah ini diurutkan berdasarkan pada masa kekuasaan para penguasa di wilayah Bekasi, baik langsung maupun tidak langsung. Sejak lengsernya kerajaan Tarumanagara, di wilayah Bekasi tidak ada lagi kekuasaan yang secara langsung memerintah sehingga menjadi wilayah semi otonom karena jauh dari pusat-pusat kekuasaan atau pun pusat pemerintahan. 

Jauh setelah itu barulah hadir kekuasaan tradisional yang kental di Bekasi dalam bentuk kekuasaan para tuan tanah partikelir melalui para mandor. Ini pun sebenarnya kekuasaan yang bermotif ekonomi, bukan kekuasaan kedaulatan seperti kekuasaan kerajaan di daerah lain di nusantara.

Secara lengkap sistematika pembahasan Buku Sejarah Bekasi, Sejak Peradaban Buni Ampe Wayah Gini menggunakan periodisasi atau garis waktu sebagai berikut:
  1. Peradaban Buni (1000 SM-130) 
  2. Kerajaan Salakanagara (130-358) 
  3. Kerajaan Tarumanagara (358-686) 
  4. Kerajaan Sriwijaya (686-932) 
  5. Kerajaan Sunda (932-1579) 
  6. Kerajaan Sumedanglarang (1579-1620) 
  7. Kesultanan Mataram (1620-1652) 
  8. VOC (1652-1799) 
  9. Kerajaan Prancis (1800-1811) 
  10. Kerajaan Inggris (1811-1816) 
  11. Kerajaan Belanda (1816-1942) 
  12. Republik Indonesia (Perang Revolusi) (1945-1948) 
  13. Negara Pasundan (1948-1949) 
  14. Republik Indonesia Serikat (1949-1950) 
  15. Republik Indonesia (Orde Lama) (1950-1966) 
  16. Republik Indonesia (Orde Baru) (1966-1998) 
  17. Republik Indonesia (Reformasi) (1998-Sekarang)

Peradaban Buni (1000 SM-130)

Salah satu fakta sejarah adalah artefak, yaitu semua benda baik secara keseluruhan atau sebagian hasil buatan tangan manusia, seperti candi, patung, perkakas dan sejenisnya. Selain itu artefak juga dapat menunjukkan fakta sosial dan ciri fakta mental, contoh kapak batu dari Peradaban Buni. 

Mata kapak dari batu adalah artefak yang merupakan fakta konkret, tetapi jika dilihat dari bentuk dan modelnya maka kapak batu dapat berfungsi juga sebagai fakta sosial peradaban masa itu, dan jika menempatkan kapak batu serta manik-manik tersebut sebagai bagian dari sistem kepercayaan masa itu, maka artefak tersebut juga disebut fakta mental.

Pembahasan Peradaban Buni dilengkapi dengan foto-foto artefak berupa gelang, kapak batu, manik-manik dan lain-lain, yang walaupun tidak berwarna setidaknya cukup menambah kuat penjelasan sehingga lebih memudahkan pembahasan. Tidak terlalu banyak pembahasan mengenai Peradaban Buni dalam buku ini, hanya 12 halaman dengan diisi gambar-gambar penjelasan.

Pembahasan Peradaban Buni ini singkat dan padat, merangkum banyak "kata kunci" dari berbagai sumber yang bisa menjadi pembuka pintu-pintu pembahasan lain sesuai minat pembaca atau penulis lainnya. 

Saya pernah mengunjungi rumah alm Kong Sakih di Kampung Pasir Mas Desa Buni Bakti Babelan saat beliau masih hidup. Saya melihat pecahan-pecahan gerabah dan berbagai benda yang ia kumpulkan dari sekitar rumahnya. 

Saat itu saya kurang begitu paham apa gunanya sisa-sisa artefak-artefak itu beliau kumpulkan. Sekarang sedikit paham, bahwa berawal dari artefak itu banyak fakta lain yang bisa terungkap dan memiliki kedudukan penting sebagai sumber dalam penelitian kesejarahan.

***

Cara penulisan Buku Sejarah Bekasi, Sejak Peradaban Buni Ampe Wayah Gini dibagi dalam sub-sub judul yang kaya akan informasi dan referensi sumber. Contoh saat pembahasan Bab Kerajaan Belanda ada sub bab tentang Lahirnya Provinsi Jawa Barat yang diatur oleh Belanda dalam Staatsblad 1924 No. 78.

Bagi kita yang tidak berkecimpung dalam kesejarahan ini merupakan informasi baru yang menarik. Saya sendiri baru mengetahui bahwa ibu kota Provinsi Jawa Barat saat itu adalah Batavia (Jakarta) diatur berdasarkan Staatsblad 14 Agustus 1925 No. 378 dan berlaku efektif mulai 1 Januari 1926. 22 tahun kemudian, setelah kemerdekaan barulah Jakarta menjadi Kotapraja yang terpisah dan kedudukan walikotanya sejajar dengan Gubernur Jawa Barat melalui UU Nomor 22 tahun 1948.

Banyak hal menarik yang diungkap oleh buku ini. Saya juga membacanya tidak teratur dari awal sampai akhir, tapi hanya membuka-buka untuk melihat-lihat gambar-gambar atau foto, membaca sub-sub judul lalu kemudian membacanya kalau sub judulnya menarik perhatian saya. 

Membaca buku ini akan lebih mudah dengan membayangkan Endra Kusnawan yang sedang bercerita sebagaimana sering saya dengar langsung baik saat dia sedang menjadi narasumber atau sedang diskusi dan ngobrol bareng. Kalau ditanyakan kepadanya tentang motivasi membuat buku ini, dia akan kembali menjelaskan betapa sulitnya mencari buku sejarah Bekasi yang bisa diperoleh secara bebas dan seterusnya seperti yang dijelaskan pada kata pengantar buku ini. 

Ada 1 hal yang cukup penting, yaitu gaya bahasa yang digunakan. Mendengarkan dia bicara dan membaca tulisannya, saya tetap menemukan kemudahan mencerna ceritanya yang menggunakan bahasa semi formal dengan banyak pengandaian atau perbandingan.

Pembahasan yang sangat luas dengan rentang waktu yang panjang wajar membuat buku ini menjadi tebal hingga 468 halaman. Itupun sebenarnya tidak banyak topik yang dikupas secara tuntas, cukup sebagai pengetahuan umum sebagai pengantar pengetahuan kesejarahan atau pengenalan mengenai sejarah Bekasi secara umum.

Pemuda zaman now bukan tidak mau mempelajari sejarah, tapi akses untuk mempelajari sejarah itu yang sulit. Jika pun ada, sumber-sumber pengetahuan sejarah terkesan eksklusif dengan narasi formal dan baku serta menyebutkan berbagai referensi yang aksesnya juga susah, dan beberapa sebab lainnya. 

Untunglah ada Majalah Historia yang tersedia secara online dan menyajikan sejarah dengan cita rasa kekinian. Buku Sejarah Bekasi, Sejak Peradaban Buni Ampe Wayah Gini dari pemilihan judulnya saja sudah menggunakan bahasa sehari-hari yang akrab dengan orang kebanyakan. Demikian juga gaya bercerita dan penggunaan gaya bahasa yang mengisi buku ini, ringan tapi padat, cepat tercerna dan dapat dipahami awam.

Mudah-mudahan jika ada cetakan berikutnya ada pula halaman tambahan berisi tanggapan atau kritik dan testimoni yang dapat memperkaya buku ini. Karena biar bagaimanapun sejarah tidak bersifat baku dan selalu terbuka untuk direvisi dengan adanya bukti baru yang terungkap atau ditemukan fakta baru.

Tentang Penulis

Buku Sejarah Bekasi, Sejak Peradaban Buni Ampe Wayah Gini
Endra Kusnawan yang saya tahu adalah seorang pendiri dan penggiat di Komunitas Historika BekasiEndra giat dalam diskusi dan kegiatan kesejarahan karena hobi dan passion. Sedangkan profesinya sepanjang yang saya tahu adalah konsultan CSR pada perusahaan swasta. 

Selain sering menjadi narasumber dalam diskusi dan seminar sejarah dia juga sering mengisi acara-acara motivasi sebagai motivator. Terakhir yang saya tahu dari status Facebooknya per Desember 2018 ia resmi memegang sertifikasi trainer/instruktur dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).

Pesannya kepada saya: "Sejarah itu bersifat dinamis. Dia akan terus bergerak selama ada temuan baru. Buku tsb melengkapi buku-buku sejarah Bekasi sebelumnya. Karena banyak temuan baru yang layak untuk dianalisis lebih lanjut."
***

Travel Writer


Trinity, nama kesohor dalam dunia travel writer. Karena dia juga punya blog, tidak salah juga kalau disebut travel blogger. Kalau orang bilang Trinity adalah traveler yang sudah kenyang asam garamnya dunia, maka saya bilang Trinity adalah traveler yang sudah kenyang dengan semua bumbu dapurnya. Sebut saja, jahe, pala, ketumbar, serai, daun bawang, dan sederet bumbu di rak. Tidak bisa dipungkiri saya juga ingin bisa seperti Trinity. Tapi tentu saja semua yang sudah dia raih tidak terjadi dalam semalam sim salabim. Dan saya masih bermain gundu dalam dunia mimpi untuk bisa menjadi seperti Trinity.

Baca Juga: The Nun

Menjadi travel writer ngeri-ngeri sedap. Ngeri kalau dikritik habis-habisan sama pembaca yang, misalnya, punya pengalaman di tempat yang sama. Sedap kalau pembaca menikmatinya. Lebih sedap lagi kalau dibukukan dan bukunya laku keras. Kalau kalian sama seperti saya yang juga ingin bisa seperti Trinity, ada sebuah buku keren yang bisa dibaca. Judulnya Travel Writer. Buku ini ditulis oleh seorang traveler kesohor lainnya bernama Yudasmoro.

Siapa Yudasmoro?


Yudasmoro: travel writer untuk Garuda Inflight, Jalan-Jalan, Aplaus the Lifestyle, serta Getaway.

Sayangnya situs Yudasmoro[Dot]Net tidak dapat diakses karena menampilkan huruf-huruf yang tidak saya kenal haha. Tapi dari blog lamanya di Wordpress serta dari biodata di buku Travel Writer, tertulis nama lengkapnya yaitu Raden Yudasmoro Minasiani. Dia tidak punya latar belakang jurnalistik sama sekali. Dia pernah menjadi manajer sebuah restoran cepat saji selama delapan tahun, lantas memutuskan untuk banting setir menjadi seorang freelance travel writer.

Perkenalannya pada dunia travel writing membawanya pada dunia jurnalistik yang dipelajarinya sendiri melalui buku-buku dan internet. Setelah menerbitkan novel pertamanya, Fast Food United pada tahun 2008, dia sibuk menulis artikel travel untuk beberapa media cetak.

Singkat kata singkat cerita, hari berganti hari, lantas Yudasmoro menetaskan buku ini. Travel Writer. Kalau kalian membaca paragraf di atas, maka kalian tahu bahwa dia mempelajari dunia jurnalistik melalui buku-buku dan internet. Luar biasa. Makanya tulisan-tulisan Yudasmoro selalu enak dibaca dan tidak bikin sakit mata. Yaaa kalau sakit mata coba dicek ke dokter siapa tahu ada dinosaurus bertamu di mata. Hehe.

Travel Writer


Buku Travel Writer diterbitkan oleh Metagraf, Creative Imprint of Tiga Serangkai. Buku setebal 203 halaman ini memuat banyak panduan untuk para travel writer. Seperti tagline di bawah judul:

Panduan menjalani profesi paling mengasyikkan: penulis merangkap fotografer yang bisa keliling dunia gratis, bahkan dibayar!

Menggoda iman sekali kan?

"THE WORLD IS A BOOK AND THOSE WHO DO NOT TRAVEL READ ONLY ONE PAGE" ~ St. Augustine.
(Yudasmoro, 2012:1)

Dalam pembukanya Yudasmoro menulis: Saya sendiri heran, kenapa ya, kok sekarang seolah-olah travel writer menjadi booming dan menjelma jadi sesuatu yang diidam-idamkan? Apa mungkin karena faktor "traveling"-nya? Beberapa situs di luar negeri bahkan sudah melegalisasi travel writer sebagai the best job in the world.

Baca Juga: Blogger Perempuan

Tentu saja, the best job in the world. Jalan-jalan yang kadang dibayarin, menulis, eh dari hasil tulisan dapat bayaran pula. Kelihatannya mudah sekali kan. Jalan, menulis, kalau beruntung bisa menghasilkan uang. Tapi, sesuai dengan yang tertulis di dalam buku Travel Writer, jangan pernah lupakan tentang jurnalistik. Semua penulis, sama seperti blogger, punya DNA gaya menulisnya masing-masing. Seperti apa pun gaya menulisnya, jangan pernah lupakan jurnalistik. Seperti tulisan Yudasmoro: prinsip-prinsip jurnalistik yang membangun suatu travel writing itu sendiri.

Pada sub Destinasi 6, kalian akan membaca tentang Memulai Travel Writing. Prosesnya panjang loh. Bagaimana memulai penulisan, menentukan judul, bagian pembuka, gunakan EYD, kisah yang runut, sisipkan humor, membuat panduan, sampai terakhir mengirimkan artikel. Tidak hanya memberi panduannya, pada sub Destinasi 7, kalian akan membaca contoh-contoh artikel. Wah, kurang lengkap apa lagi buku ini?

Selain panduan menulis, Travel Writer juga dilengkapi dengan panduan fotografi, bahwa tidak perlu harus DSLR. Bahkan, dilengkapi dengan contoh foto-foto berwarna pada bagian tengah buku. Bagaimana sudut pengambilan, bagaimana foto bisa bercerita, dan lain sebagainya. Sedikit cerita, saya pernah dikoreksi oleh seorang teman yang katanya: pemandangannya bagus, coba kalau kamu tidak ada di situ, Teh, jadi orang bisa melihatnya secara keseluruhan. Nantilah foto yang ada kamunya. Dududu. Makanya sekarang saya suka memotret suatu obyek dengan dua versi, yang ada saya dan yang tidak ada saya di dalamnya. Haha. Win-win solution! Tapi itu versi saya loh ya, jangan langsung ditiru, karena setiap orang punya gayanya masing-masing.

Selain itu, pada sub Destinasi 8 tertera masalah-masalah yang dihadapi oleh seorang travel writer. Mulai dari alasan "Capek, Besok Sajalah!", "Diacuhkan Editor", "Honornya Kecil", "I Need to Relax!", "Aku vs Calo Terminal!", dan lain sebagainya.

Masih banyak isi Travel Writer yang akan sangat membantu para travel writer/blogger apabila memang ingin serius menjadi travel writer. Termasuk tentang sisipan humor, imajinasi, bahasa yang tidak kaku tapi tetap berprinsip pada jurnalistik, dan lain sebagainya.

Dari Saya


Sepanjang saya membaca buku ini, berulang kali, saya paham bahwa menulis perjalanan itu bukan sekadar menulis tentang rute sampai kuliner daerah tujuan. Tapi bagaimana kita bisa menulis dengan baik, tak perlu harus menulis dengan sangat benar menggunakan PUEBI. Saya, kalian, mereka, mungkin pernah menulis dengan cara yang tidak baik seperti:

Di dano kelimutu,,,ternyata sunrise elok loh.kapan kalian ke sana? ( dano kelimutu ).

Kalau saya membaca tulisan di atas, meskipun saya bukan penyunting pun, pasti bakal sakit mata. Koma tiga, kalimat baru tanpa spasi dan tanpa huruf besar di awal kata pertama, Danau Kelimutu yang ditulis dano kelimutu, belum lagi kalimat dalam kurung dengan tanda kurung yang dikasih spasi. Aduh, pusing eykeeeee. Kalau begitu, bagaimana tulisan yang baik?

Apabila kalian pergi ke Danau Kelimutu pada pukul 04.30 Wita, kalian dapat menunggu dan menikmat sunrise dari puncak Tugu Kelimutu. Warna emasnya memukau! Kapan kalian ke sana (Danau Kelimutu)?

Kira-kira seperti itu (di atas) tulisan yang baik. Tidak perlu harus paling benar sesuai PUEBI tetapi menulislah dengan baik. Karena di mana? adalah salah jika ditulis dimana?. Karena mengubah adalah salah jika ditulis merubah. Karena merapikan adalah salah jika ditulis merapihkan. Karena dimakan adalah salah jika ditulis di makan. Semua adalah hal-hal dasar kepenulisan yang seharusnya sudah diketahui oleh para penulis. Termasuk penulis perjalanan atau travel writer.

Baca Juga: Lagu-Lagu Ini Punya Kembaran

Demikian #SabtuReview kali ini. Tidak bermaksud menggurui. Apabila ada salah, mohon dimaafkan haha.

Semoga bermanfaat untuk saya, kalian, mereka, dan dinosaurus. Amin. Haha.


Cheers.

TIKIL: Kami Antar, Kami Nyasar


Kalian pasti tidak asing dengan TIKI; Titipan Kilat. Kalian juga pasti tidak asing dengan perusahaan jasa pengiriman barang serupa seperti JNE, KGP, hingga Lion Parcel. Meskipun biaya pengiriman barangnya tergolong cukup mahal (dihitung per kilogram) tapi jasa pengiriman barang swasta ini cukup ramai. Apalagi ditambah pengirim dan penerima barang dapat mengecek sendiri, secara online, status barang kiriman tersebut. Apakah masih menunggu di bandara kota asal pengiriman, apakah sudah sampai di kota singgahan, apakah sudah sampai di kota tujuan, dan lain sebagainya. Biasanya kalau sudah sampai di kota tujuan dan belum diantar ke rumah, barang tersebut belum dibongkar alias belum siap antar. Waktu menunggu pun paling hanya sehari.

Baca Juga : 

Tapi apakah kalian pernah mendengar TIKIL? Perusahaan jasa pengiriman barang dengan jargon: kami antar, kami nyasar

Memang ada?

Ada! TIKIL ini berbentuk buku setebal 203 halaman.

Iwok Abqary

Adalah teman Blogfam yang saya dan semua anggota Blogfam memanggilnya dengan Kang Iwok. Ya, kalau kalian mengeklik tautan blog-nya, memang jarang di-update, mungkin karena sibuk menulis. Soalnya beliau ini produktif sekali sama urusan menulis dan menerbitkan buku. Kang Iwok adalah pemilik perusahaan TIKIL penulis buku berjudul TIKIL itu. Selain TIKIL, ratusan buku lainnya pernah ditulis oleh Kang Iwok. Diantaranya Duo Tulalit dengan jargon Jalan-Jalan Nyasar, Dog's Love, Gokil Dad (saya diberi kaos Gokil Dad sama Kang Iwok loh), hingga Pengabdi Cilok. Kang Iwok ini jagoannya buku komedi! Saya jamin kalian bakal sangat terhibur dan terpingkal-pingkal kalau membaca karya-karyanya yang diterbitkan oleh diantaranya Gagas Media dan Gramedia.

Bertemu dengan Kang Iwok saat saya pergi ke Tasikmalaya pada tahun 2010. Malam itu, kami nongkrong di sebuah resto waralaba, mengobrol banyak perkara, padahal baru pertama kali itu bertemu. Mungkin karena kami sudah lama haha hihi dan merusuh bareng di Blogfam. Malam itu Kang Iwok berbaik hati mengantar saya dan Acie pergi membeli beberapa keperluan di toko maret-maret yang entah saya lupa namanya. Tahun 2011 kami kembali bertemu dalam perhelatan Asean Blogger di Bali. Tentu, masih dengan haha hihi yang menyenangkan.

Bagi saya, Kang Iwok adalah sosok penulis inspirasi yang baik hati dan sangat cerdas dengan ide-ide briliannya. Selain menulis, Kang Iwok juga gemar menanam bunga dan memelihara kucing! Mulia sekali hatimu, Kang. Hahaha.

TIKIL

TIKIL adalah buku yang ditulis oleh lelaki yang saya tulis di atas, hehe. Diterbitkan oleh Gagas Media, buku ini dibuka dengan sub: Bos Baru. Bos baru, Pak Pri, pada perusahaan jasa pengiriman barang ini ternyata punya hobi memasak yang pada awalnya hasil masakan ini bakal bikin orang satu kantor sakit perut! Tapi dari semua karakter di dalam TIKIL, yang paling nancap di benak saya hingga saat ini adalah Kusmin. Salah seorang tukang bersih-bersih yang punya pekerjaan sampingan di damkar.

Kusmin paling doyan membanggakan piagam penghargaannya.


PIAGAM PENGHARGAAN
Denga ini penghargaan diberikan kepada:
KUSMIN BIN SARMIN
Atas jasa-jasanya sebagai sukarelawan yang sudah
mau membantu menyelamatkan
tanpa memedulikan keselamatan dirinya pada
saat terjadi kebakaran
di rumah Bapak Dadang, Kampung Mancogeh,
Tasikmalaya, 17 Agustus 2005
Pada saat itu, Kusmin sedang mengikuti lomba
panjat pinang acara Agustusan.
Dari atas pinang yang dipanjatnya
dengan susah payah,
dia melihat api yang mulai berkobar
dari rumah Bapak Dadang.
Kalo saja Kusmin tidak berteriak-teriak
dan mengabarkan berita kebakaran itu
kepada seluruh warga, sudah dipastikan
rumah Bapak Dadang tidak bisa diselamatkan.
Tanpa memedulikan hadiah yang bergelantungan
Kusmin memilih untuk memerosotkan diri
dari batang pinang dan lari menelepon
Dinas Dam-Kar (Pemadam Kebakaran).
Rumah Bapak Dadang pun akhirnya terselamatkan
Sehubungan dengan hal tersebut,
Kami memberikan penghargaan ini
dan mengangkat Sdr. Kusmin
sebagai Tenaga Sukarela Dinas
Dam-Kar.

A.n. Dinas Pemadam Kebakaran Tasikmalaya
Dadang Herdiana
Kepala
(sekaligus korban kebakaran pada kejadian tersebut)


Piagam penghargaan terkoplak dan sukses membikin saya terbahak-bahak, bahkan saat membacanya berkali-kali. Lucunya masih sama. Belum lagi kisah Lilis dan Bowo; Lilis pernah menyangka Bowo sebagai Adji Massaid. Itu bikin Bowo lebih sering mematut diri di depan cermin, qiqiqiq. 

Kisah TIKIL adalah bagaimana perusahaan yang di ambang bangkrut ini dapat kembali bangkit. Bagaimana cara bangkitnya itu yang membikin pembaca terpingkal-pingkal sampai lupa tanggal lahir. Empat karyawannya rada-rada begitu. Lilis, resepsionis, yang mengidolakan Adjie Massaid. Ada Dasep, kurir yang selalu sial dan menabrak sana-sini. Mang Dirman, kurir lainnya yang sayang banget sama sepeda bututnya (nganter barang pakai sepeda!? :p). Dan si OB penerima piagam penghargaan, Kusmin, yang yah begitulah dirinya.

Ini memang buku lama dengan cetakan pertama tahun 2008. Tapi buku ini jangan sampai lolos dari kehidupan kalian. Rugi bandar hehehe. Wajib baca. Karena, selain kisah konyol tentang sebuah perusahaan jasa pengiriman barang yang hampir bangkrut beserta bos dan karyawan yang rada-rada sinting, banyak pelajaran yang bisa dipetik dari buku komedi ini. Salah satunya adalah lakukan sesuatu yang benar-benar kalian minati. Seperti Pak Pri, contohnya, yang pada akhirnya membuka Pri's Bakery. Pelajaran lainnya ... silahkan baca sendiri bukunya. Qiqiqiq.

Happy weekend!


Cheers.

Flores: Adventure Trails



Banyak buku yang bercerita tentang Indonesia dari Barat ke Timur, dari Utara ke Selatan, dari adat ke bahasa, dari budaya ke pakaian, dari gunung ke pantai, dari rumah adat ke kearifan lokal. Saya punya salah satu buku semacam itu, dikasih sama Ika Soewadji, dan masih sering saya baca sampai sekarang. Banyak juga buku yang bercerita panjang lebar tentang Pulau Flores (Flores overland). Saya sendiri pernah menulis materi siaran program Backpacker, pada tahun 2017, awal tentang Flores Overland. Biasanya orang menulis Flores Overland itu dari Barat ke arah Timur, tapi materi saya itu dari Timur ke arah Barat. Qiqiqiq. Sesekali kita membaliknya kan boleh-boleh saja.

Baca Juga : 5 Cozy Songs

Tentang si Buku

Buku yang saya bahas hari ini berjudul Flores: Adventure Trails. Buku ini ditulis (sekaligus sebagai koordinator penulis) oleh Meret L. Signer. Kontributor atau penulis lain diantaranya Heinz von Holzen, Rofinus Ndau, Unipala Maumere, idGuides. Publisher Flores: Adventure Trails adalah Swisscontact dan didukung oleh SECO (Swiss State Secretariat for Economic Affairs). Tahun terbit 2012. Wow banget, saya terkejut ketika membaca nama Unipala Maumere. Itu MAPALA-nya Universitas Nusa Nipa (Unipa). Oh ya, selain sambutan dari Bapak Sapta Nirwandar, juga ada sambutan Jurg Schneider dari SECO. Flores: Adventure Trails berbahasa Inggris tapi untuk ukuran saya yang bahasa Inggrisnya pas-pasan bisa yess atau no sudah bersyukur, isinya cukup mudah dipahami/dimengerti. 


Bagaimana dengan isinya?

Isinya dimulai dari perkenalan tentang Pulau Flores. Perkenalan yang sangat lengkap, menurut saya, karena memuat tentang kondisi geografis, iklim, Flores sebagai bagian dari ring of fire, flora dan fauna, kehidupan laut, zaman sebelum dan sesudah kolonial, manusia dan adat budayanya. Traveling directory sub bahasan berikutnya adalah tentang how to get there? (pesawat dan kapal laut) termasuk informasi kantor-kantor layanan tiket, akomodasi, tempat makan, komunikasi/alat komunikasi, keuangan, isu kesehatan, sampai etika.

Woman travellers:
Even thought Flores is predominantly Christian, woman dressing modestly is a cultural thing in Indonesia, rather than a religious one. Wear t-shirts that cover your shoulders and don't reveal too much of your legs. Wearing a bikini is fine at the beaches of Labuan Bajo and in designated hotel areas in other parts of Flores. Everywhere else, put on a t-shirt and shorts for swimming. (Meret L. Signer, 2012:23).


Sub berikutnya adalah persiapan yang harus dilakukan sebelum ke Flores. Menariknya adalah, dijelaskan tentang skala kesulitan trek, level kebugaran, barang bawaan dasar or basic check list sampai how to minimize your impact. Komplit kan ya. Basic check list ini umum saja seperti yang sering kita lakukan/bawa seperti kaca mata, head lamp, sun-block, first aid kit, kompas, pisau lipat, hingga tas plastik untuk menyimpan pakaian kotor dan/atau sampah. Puhlease, ke mana pun pergi jangan pernah membuang sampah sembarangan.


Setelah itu, pembaca memasuki inti sari buku ini. Yay! Dimulai dari  Labuan Bajo: Pulau Rinca, Pulau Komodo, Gunung Mbeliling, teruuuuus ke Timur sampai ketemu Gunung Kelimutu di Ende, Maumere dengan pantai-pantai dan Gunung Egon-nya, sampai Larantuka. Informasinya tidak sekadar ini looooh Gunung Mbeliling itu, tapi juga memuat tinggi gunung, luas daratan, flora dan faunanya, sampai tentang masyarakat tradisionalnya. 


Salah satu sub yang saya sukai adalah kisah tentang Rudolf von Reding:

In 1974, the elderly Count Rudolf von Reding from Biberegg, Switzerland, disappeared on the island of Komodo. For some unknown reason he got seperated from his group. When they realized he was missing, they immediately returned to the point where had last seen him - but they were too late. All they could find was the Count's backpack, camera, sunglasses, and stains of blood on the ground. Komodo dragons eat their prey whole, and von Reding's body was never found. Although it could neve be confirmed with 100% certainty, he was believed to have been eaten.

Sedih ya ... *ambil tissu*

Jadi ingat waktu ke Pulau Rinca, dimana salah seorang teman pejalan kami sedang datang bulan, dan si komodo berjalan ke arah teman tersebut. Horor-horor bergembira gimana gitu rasanya diikuti komodo, hehe.


Setelah Baca

Saya bahagia karena jadi banyak tahu tentang pulau sendiri. Sebagai pelahap buku, sekaligus blogger yang gemar menulis tentang perjalanan ke mana pun saya pergi, buku ini menjadi semacam panduan untuk menulis. Menulis tempat wisata itu tidak sekadar menggambarkan betapa indahnya; betapa menawannya; betapa mempesonanya, tetapi harus bisa lebih detail yaitu tentang letak lokasinya, jaraknya, transportasi dan akomodasi kalau bisa bisa dengan harganya, budaya masyarakat setempat (seperti harus memperhatikan etika berpakaian dan berbicara), hingga tingkat kesulitan perjalanan untuk mencapai lokasi tersebut. Sub buku juga penting untuk memilah atau mengklasifikasi tulisan agar tidak terkesan campur-aduk.

Saya sedang belajar untuk menulis seperti itu. Belajar terus tanpa henti. Istirahat sih boleh, berhenti jangan :)

Flores: Adventure Trails adalah buku yang super informatif meskipun tidak selengkap buku yang diterbitkan oleh Lonely Planet zaman dulu itu. Bahkan juga diceritakan tentang gempa yang pernah melanda Flores terutama Maumere dan Ende. Jika kalian punya waktu luang, jangan lupa untuk membacanya. Di mana bisa diperoleh, cobalah cari di toko buku terdekat, jika tidak, maka ini edisi terbatas yang dipublis oleh Swisscontact (yang selalu konsen dengan isu wisata).

Semoga bermanfaat, enjoy your weekend!


Cheers.

Rasulullah is my Doctor


Suka menulis tentang tanaman herbal mengantar saya pada pencarian sebuah buku yang ditulis oleh (alm.) Profesor Hembing Wijayakusuma. Lemari buku saya memang tidak serapi lemari buku kalian, bahkan lemari buku ini terpaksa dijadikan satu dengan lemari pakaian setelah lemari buku utama sudah sesak, haha. Iya, saya memang harus mencari rak buku atau lemari buku, lagi, untuk merapikan buku-buku yang menumpuk ini. Pencarian buku yang ditulis oleh sang profesor gagal, entah di mana buku itu, saya justru menemukan buku yang lain.


Buku yang lain itu berjudul Rasulullah is my Doctor, ditulis oleh Jerry D. Gray. Jerry adalah mualaf asal Amerika. Saya tidak menulis soal pilihan hidupnya, atau isi tentang industri kesehatan, saya menulis soal bukunya saja. Saya bukan pakar soalnya ha ha ha. Mari kita simak saja isi buku yang sangat bermanfaat ini.

Rasulullah is my Doctor memuat pengobatan yang disarankan oleh Nabi Muhammad SAW. Pada sampul buku kalian akan menemukan kutipan yang sangat menyentuh:

Allah tidak menurunkan suatu penyakit, kecuali Dia juga menurunkan obatnya ~ HR Bukhari.

Isi buku ini sebenarnya sederhana, tentang apa saja yang dapat digunakan manusia untuk menyembuhkan penyakitnya. Segalanya telah disediakan oleh Allah SWT melalui alam ini. Kecuali, ada satu pengobatan yang memang khusus di dalam Islam yaitu ruqyah. Tiga tema besar yang diangkat adalah Kedokteran Nabi, Ramuan Alami, dan yang terakhir Berbahaya Bagi Kesehatan Anda. Membaca ulang buku ini menghadirkan kebahagiaan tak terkira bagi saya ... seorang pecinta tanaman herbal. Qiqiqi.

Baca Juga : Still Love: To Love Somebody

Selain ruqyah yang pasti diketahui oleh semua Umat Muslim, pengobatan herbal yang disarankan di sini adalah melalui: madu, jintan hitam, bawang merah dan bawang putih, jahe, garam, buah-buahan seperti jambu biji - kiwi - lemon - pepaya - jeruk - mangga (mangga yang konon bagus untuk stamina itu-yang-tidak-saya-tulis-di-sini :p), kayu manis, cengkeh, cabai merah, singkong, bahkan lidah buaya. Lidah buaya! Yuhuuuu. Tidak disangka ternyata lidah buaya yang pernah saya tulis itu juga tertulis di sini.

Bawang putih misalnya, bawang putih telah terbukti efektif dalam mengendalikan beberapa infeksi sekunder yang berhubungan dengan AIDS dan menurut Duke, "dapat menangkal penyebaran HIV I dalam tubuh". Saran bagi penderita HIV positif, memakan 3-5 siung bawang putih setiap hari datang dari direktur Immune Enhancement Project of Portland, Oregon, Amerika Serikat (Jerry D. Gray, 2010:183). Selain itu, bagi yang keracunan darah atau gigitan serangga, rendam bagian luka dengan air bawang putih dan juga konsumsi bawang putih (Jerry D. Gray, 2010:183).

Bagaimana? Bagus bukan isinya? Saran saya, beli dan baca, pasti tercerahkan.

Apakah dengan demikian saya tidak mau berhubungan dengan dokter atau obat-obatan (kimia)? Ah tidak lah. Di dalam keluarga saya, satu ponakan saya adalah apoteker, satunya lagi adalah bidan. Kalau sakit yang menimpa langsung parah pun kami harus langsung ke IGD RSUD Ende untuk mendapatkan pertolongan pertama. Tetapi untuk pencegahan dan pengobatan yang dapat menggunakan tanaman herbal ini. Kenapa tidak? Hehehe.

Segala sesuatu dalam hidup ini harus bersisian, menurut saya. Kita tidak dapat 'hidup sendiri', misalnya karena suka herbal lantas menutup diri dari obat resep dokter. Itu salah. Buktinya saya. Mengobati luka dengan lidah buaya, mengurangi kadar gula dalam darah dengan diet dan lidah buaya (Insha Allah bakal mengkonsumsinya), sedangkan saat flunya sudah tidak bisa diatasi dengan minyak Varash karena terlambat, saya meminum Trifed untuk mensegerakan flu ini lewat dari tubuh. Harus bersisian, harus seimbang.

Baca Juga : Sastra Indonesia dalam Kritik dan Esai

Seperti kata HR Bukhari di atas tadi: Tuhan menurunkan penyakit, juga obatnya :)

Bagaimana dengan kalian?

Yuk, share.


Cheers.

Sastra Indonesia di NTT Dalam Kritik dan Esai



Menjadi penulis bukan perkara mengedip mata atau melempar Thika dan Ocha ke kolong tempat tidur. Butuh proses yaitu berlatih terus-menerus tanpa henti. Menjadi penulis memang tidak mudah, apalagi menjadi penulis yang 'nyastra' seperti penulis-penulis favorit kalian. Saya masih belajar menuju.

Baca Juga:

Hari ini saya mengajak kalian mengenal sebuah buku, sekaligus penulisnya, yang mengangkat nama-nama sastrawan di Provinsi NTT, yang berjudul: Sastra Indonesia di NTT Dalam Kritik dan Esai. Kalau boleh saya bilang, ini adalah buku kedua setelah buku sebelumnya Mengenal Sastra dan Sastrawan NTT. Siapakah yang telah begitu gigih menulis tentang sastrawan dari NTT ini?

Beliau adalah Drs. Yohanes Sehandi, M.Si. atau lebih akrab disapa Pak Yan. Nama Pak Yan bukanlah nama yang terkenal se-lingkup Universitas Flores. Sebagai dosen Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia, Pak Yan terkenal dalam skala nasional terutama di dunia literasi. Sudah banyak tulisan beliau yang dibukukan, telah banyak pula artikel tentang sastra yang beliau pos di blog pribadinya. Bagi saya beliau adalah mentor dalam dunia tulis-menulis dan berita. Beliau langganan kegiatan-kegiatan sastra dan literasi baik di NTT maupun di luar NTT.

Sastra Indonesia di NTT Dalam Kritik dan Esai diterbitkan pada tahun 2017. Pengantar buku ini adalah Maman S. Mahayana dengan pembuka yang super menarik:

Kritikus yang besar ialah kritikus yang berjiwa besar dan sudah bisa melepaskan diri dari nafsu dengki, iri hati, benci, dan ria dalam hubungan seorang terhadap seorang. Ada pula kritikus yang suara dasarnya: "Aku lebih tahu!" memukul, menerjang kiri-kanan lalu datang dengan: "Mestinya begini, begini, begini" dan ia menjadi badut apabila pembaca yang kritis dan teliti pula mendapatkan bahwa yang "begini, begini, begini" itu tidak tepat, kurang benar atau sama sekali tidak benar. (H. B. Jassin, Tifa Penyair dan Daerahnya, Jakarta: Gunung Agung, 1952, halaman 44-45).
[Yohanes Sehandi, 2017: vii]

Apabila kalian membaca daftar isi-nya, kalian akan tahu bahwa buku ini disusun dengan sangat terstruktur dan hati-hati agar pembaca mudah memahami 'apa' dan 'bagaimana' yang sebenarnya terjadi. Dimulai dari Bagian Pertama: Sastra Indonesia di NTT, Sejarah Sastra Indonesia di NTT, Kiprah dan Karya Sastrawan ~ NTT, hingga Perempuan NTT di Panggung Sastra. Pada Bagian Pertama ini, terkhusus judul terakhir, saya boleh sedikit sombong kan yaaaa ...


(Yohanes Sehandi, 2017 : 39)

(Yohanes Sehandi, 2017 : 40)


Disusul Bagian Kedua dengan tema umum Kritik dan Esai Sastra, serta Bagian Ketiga dengan tema umum Sastra NTT dalam Kritik dan Esai. Pada Bagian Ketiga ini muncul judul-judul seperti Menyelamatkan Tradisi Lisan Flores, 3 Juli Hari Sastra Indonesia, hingga G 30 S dan Pramoedya Ananta Toer.

Membaca buku Sastra Indonesia di NTT Dalam Kritik dan Esai menjadikan saya tahu dunia sastra di NTT sejak awal hingga sekarang. Bahkan, membaca bagian tentang perempuan NTT di panggung sastra, saya terkenang akan semua buku-buku yang pernah memuat tulisan saya baik buku sendiri maupun antologi bersama penulis lain. Bagi saya ini adalah pencapaian yang luar biasa. Proses, proses, dan proses. Tidak ada yang instan di dunia ini.

Buku Sastra Indonesia di NTT Dalam Kritik dan Esai dapat menjadi buku pilihan kalian di akhir pekan ini, apalagi bagi kalian para sastrawan NTT. Karena, meskipun kita tidak 'nyastra' dalam menulis tetapi setidaknya menulis dan hasil tulisan dibaca banyak orang merupakan pencapaian tersendiri. Itu menurut saya. Bagaimana menurut kalian?

Selamat menikmati akhir pekan, kawan.


Cheers.

Dilan dan Milea baik-baik saja, Kamu sudah move on?


Mau saya ramal? Kita akan bertemu di novel ke-4 dan film Dilan yang selanjutnya. 3 novel tentang kisah masa lalu Dilan dan Milea karya Pidi Baiq tidak akan selesai di novel ke-3 yang berjudul "Milea, Suara Dari Dilan". Tetapi mau sampai seri berapapun juga, sepanjang memperlengkap kisah Dilan dan Milea akan tetap asik untuk dibaca, itu ramalan saya. Sambil dengar soundtrack film Dilan pasti lebih asik, bisa download di akhir postingan.

Gak tau deh kalau novel Dilan ke-4 nanti ternyata berisi kisah Dilan dan Cika, atau tentang Bunda (ibunya Dilan), apakah akan tetap gemesin dan berhasil bikin saya gak mau melepas bukunya sampai selesai baca seperti 3 novel itu. Atau bisa saja testimoni dan cerita dari tokoh-tokoh lain seperti Piyan, Wati, Susi, Rani bahkan Anhar kalau masih mau mempertajam buku Dilan, Dia Adalah Dilanku Tahun 1990 dan Tahun 1991.
Download Novel Dilan Milea
Pinjeman Novel Dilan dari Allan

Kenapa Dilan dan Milea harus putus?

Yah memang begitu, novel fiksi tanpa konflik bakalan kayak kasus rendang crispy, rasanya mungkin akan renyah dan garing sesuai selera, tapi yah bukan rendang namanya, mungkin dendeng atau fried chicken.

Kalau Dilan dan Milea gak putus, nanti Mas Herdi dan Cika bagaimana munculnya dalam cerita? Jangan-jangan Mas Herdi yang memegang tangan Cika di warung bakso sebelum kisah kerupuk dibagi dua? Gak seru atuh.

Memang sangat disayangkan kisah romantis Dilan dan Milea ini putus di tangan Pidi Baiq sang penulisnya. Padahal kan bisa saja dibuat balikan setelah dimediasi oleh Bunda di Dago Thee Huis atau Dago Tea House. Tapi, yah begitulah kisahnya, kalau mau protes yah jangan sama saya :)
"Aku tidak suka dikekang...., Tapi kalau yang mengekang Milea aku mau". Jelas itu bukan Dilan yang bilang, tapi bisot, lalu judul novelnya berubah menjadi Bisot dan Milea.... Gak yakin akan nge-hits seperti novel Dilan aslinya sih. :D

Dalam postingan blognya tertanggal 16 Juli 2015, Pidi Baiq (atau setidaknya menurut anggapan saya) memberi kode akan terbitnya buku ke-3 dengan postingan berikut:

download Novel Dilan Milea Suara dari Dilan
Milea: Suara Dilan
“Banyak Pembaca minta Dilan bicara”, kataku tiba-tiba membelokkan pokok bahasan.
“Bicara gimana?”
“Ya bicara. Menjelaskan, terutama menyangkut buku Dilan kedua. Bagaimana menurut sudut pandangnya tentang peristiwa yang dia alami terutama di bab-bab terakhir”
Milea diam, dengan sikap bagai orang berfikir. Kulihat kedua alisnya dia naikkan ke atas. 
“Aku terlalu ngontrol Dilan ya di buku kedua?”, katanya dengan wajah sedikit agak murung
“Kan sebelum diterbitkan, udah konfirmasi dulu, terus kamu setuju, ya udah”, kataku.
Dia ketawa, semua juga ketawa.
“Dilan nanti mau bicara apa?”, tanya dia dengan wajah sedikit agak cemas
“Kan dia juga berhak bicara”, kataku dan kemudian minum
“Sebelum terbit, aku baca dulu dong?”. Dia memohon dengan senyum
“Oke” ....

Buat yang belum membaca buku ke-3 yang berjudul "Milea: Suara dari Dilan", sepertinya akan kurang lengkap untuk memahami latar belakang putusnya Dilan dan Milea. Jadi kalau buku Dilan 1 dan 2 itu diceritakan dengan menggunakan sudut pandang Milea secara dominan maka di buku ke-3 inilah pembaca akan diajak menyelami kisah-kisah yang ada di buku 1 & 2 dalam sudut pandang atau perspektif Dilan. Dalam buku ke-3 "Milea, Suara Dari Dilan" inilah putusnya Dilan dan Milea juga dikaji oleh Remi Moore pada bagian akhir.

Sangat gamblang dijelaskan mengapa Dilan dan Milea putus, penyebabnya yah kolaborasi dari Dilan dan Milea sendiri. Jadi tokoh Remi Moore ini tokoh penting, selain telah menginspirasi modus ramalan yang dipakai Dilan saat PDKT, juga berjasa telah menjelaskan mengapa Dilan dan Milea putus dari sudut pandang androgini (maskulin dan feminim secara bersamaan) bahwa sudah kodratnya cowok gengsian dan cewek maluan dan hanya menunggu. Ya gitu deh... setidaknya Remi Moore sudah berperan baik meramu dua perspektif, yang mempertemukan sudut pandang feminim (Milea) dan maskulin (Dilan). *sotoy banget dah gue*

download novel dilan milea
Saya akui bahwa 3 novel dan 1 film yang sebenarnya untuk remaja ini cukup menarik, isinya cukup lengkap, mulai dari PDKT, bertengkar, hubungan dengan teman dan keluarga, putus cinta sampai bertemu lagi saat sudah memiliki pasangan baru. Pembaca bisa mengembangkan berbagai sikap yang sudah dicontohkan dalam skenario dalam film ataupun novel Dilan dan Milea ini.

Bahwa putus cinta itu gak serta merta berujung musuhan yang hanya saling menyiksa. Masing-masing antara Dilan dan Milea menempatkan kenangan itu sebagai aliran kisah hidup yang mengantar mereka pada kisah hari ini (begitu kata Bunda).
download novel Dilan Milea
Kamu sudah minta restu orang tua mau PDKT? Kalah sama Dilan dong :)

Lalu siapakah Cika? 

Dari Twitter Pidi Baiq ini saya kutipkan beberapa twit yang katanya komentar Cika atas kisah masa lalu Dilan dan Milea. Kalau buat saya ini semacam kode yang mungkin akan menjadi novel kelanjutan serial Dilan:
"Saya tidak ingin menjadikan kisah mereka sebagai tolok ukur untuk mengukur hubungan saya dengan Dilan. Saya menyukai kehidupan saya sekarang, dan insya Allah bisa toleran dengan semua kisah masa lalu mereka. Memang tidak banyak yang berhasil untuk lolos dari merasa cemburu, tapi saya tidak tertarik untuk terlibat di dalam persaingan macam itu. Hubungan saya dengan Dilan tidak harus menjadi pertempuran untuk melihat siapa, di antara saya dengan dia, yang memiliki pengalaman terbaik. Mudah-mudahan ini bisa menjadi contoh bagus bagaimana menghadapi masa lalu orang lain" Ancika Mehrunisa Rabu.

Saya sendiri lebih berharap buku serial Dilan ke-4 ini tentang Bunda. Dari semua tokoh dalam novel ini saya kagum sama tokoh Bunda. Sebagai seorang istri tentara, kepala sekolah/guru, sosok Bunda ini sangat mengayomi.

Adegan Bunda saat membela Milea di kantin sewaktu didatangi ibunya Anhar, dan saat bersama dengan Milea menjemput Dilan di rumah Burhan cukup menggambarkan ibu seperti apakah Bunda ini. Sangat logis. Sosok Ibu seperti ini umumnya didapati pada orang tua tunggal, ia bertindak sebagai ibu juga sebagai ayah. Dapat dimaklumi, karena ayah Dilan yang tentara tentunya lebih banyak berada di markasnya di Karawang daripada di Bandung.

Intinya, saya masih berharap ada lanjutan dari seri novel Dilan ini, berharap saja sesegera mungkin terbit :) Terlepas ini kisah nyata, fiksi atau campur-campur, saya merasa terhibur, banyak mengambil manfaat dan novel ini adalah bacaan yang rekomended buat remaja kalau kamu mencari bacaan yang tidak terlalu berat dan menghibur.

Oh iya, ini twit kode buku tentang Bunda juga bisa jadi akan terbit :) Amiin.


Untuk yang mau Download Album The Panasdalam Bank - Voor Dilan (EP) klik di sini aja yah.
Isi lagunya ada 5 lagu yang menjadi soundtrack film Dilan, yaitu: 1. Kamulah Mauku, 2. Dulu Kita Masih Remaja, 3. Kaulah Ahlinya Bagiku, 4. Di Mana Kamu dan 5. Kemudian Ini.


Merayakan Warna Warni Kita Dalam Gelaran Perpusjal Bekasi 15

Perpustakaan jalanan Bekasi

Lupakan bayangan tentang jajaran buku yang tersusun rapih dan suasana sepi, jangan marah juga kalau kamu sedang membaca buku lalu di sebelahmu ada yang bernyanyi, membaca puisi, meneriakkan sajak, menanyakan tentang buku yang kamu baca dan seterusnya.

Lupakan juga makna kata perpustakaan yang diisi oleh para pembaca yang khusuk tenggelam dalam bacaannya, karena di Perpustakaan Jalanan buku harus bisa berbicara melalui siapa saja yang sudah membacanya, bisa melalui kamu, bisa juga melalui saya. Diskusi yang ringan atau dalam pasti akan terjadi jika ada dua orang yang sudah membaca buku yang sama bertemu, karena interaksi adalah kewajiban di sini.
Perpustakaan Jalanan Bekasi Danau Duta Harapan Bekasi
Perpusjal Bekasi di Danau Duta Harapan Bekasi Utara
Malam itu, Sabtu 17 Februari 2018 saya didapuk oleh pemangku hajat "Perpustakaan Jalanan 15" untuk membicarakan Citizen Journalism atau Jurnalisme Warga. Tanpa persiapan berarti, di jajaran gelaran lapak buku saya melihat buku "Hari-hari Terakhir Che Guevara" sebuah buku yang baru kali ini saya lihat, berisi tentang catatan harian tertanggal 7 November 1966 – 7 Oktober 1967. Buku inilah yang saya gunakan sebagai bahan untuk membuka materi. Kebetulan saya sempat membacanya sedikit di sela-sela obrolan dan selingan musik akustik serta lontaran puisi-puisi dari teman-teman yang hadir.

Kali ini puisi “Kau Ini Bagaimana Atau Aku Harus Bagaimana” karya Gus Mus dibawakan dengan sangat menyentuh oleh Iwan Bonick, seorang ontelis dan salah satu pelopor Perpustakaan Jalanan Bekasi. Dilanjut dengan sebuah sajak berjudul "Gadis Bekasi Berapi-api" yang menghidupkan imaji Gedung Juang 45 Tambun sebagai pencetus inspirasi, dibacakan secara lantang namun malu-malu oleh Cahyo dari Taman Baca Tanjung. Begitu juga sajak dari Vrandes, pemuda penggiat literasi dari Langit Tjerah Cikarang ini melontarkan kritiknya dalam bentuk puisi, entah apa judulnya, saya hanya mengingat bait-baitnya secara samar, setelah saya susun kembali kurang lebih bunyinya menjadi seperti ini:
"Bagaimana mungkin kamu bilang semua baik-baik saja?
Di jalanan aku lihat gerobak berisi anak-anak negeri tertidur memeluk mimpinya".

Hadir pula para relawan TBM Rumah Pelangi Bekasi, Jabaraca, Saung Baca Cinong Bekasi, Komunitas Historika Bekasi, beberapa penggiat musik indie seperti Eky Birdman, Zaly Brur, Restu Kids Rebel, Suckit Stuff dan beragam komunitas lainnya yang saya belum kenal. Berkumpul menjadi satu seperti reff dari lagu Navicula yang didendangkan bersama malam itu... "Warna-warni kita menjadi satu".

Gelaran Perpustakaan Jalanan Ke 15 ini adalah kegiatan yang kedua bagi saya, kali ini saya lihat rekan-rekan penggiat Perpusjal Bekasi sudah lebih siap. Gelaran tenda biru sebagai alas duduk, penerangan dan lapak buku yang lebih tertata, juga ada sound system sederhana yang digunakan untuk keperluan musik akustik, puisi dan pengeras suara bagi nara sumber. Sepertinya Angkringan Maz Berto di Pasar Modern Harapan Indah inilah yang menyediakan listriknya.

Karena tidak diberikan tema yang lebih spesifik maka saya justru memanfaatkan moment ini untuk mengkritik teman-teman Perpusjal Bekasi yang menurut pengamatan saya secara sekilas tidak rapih dalam mengarsipkan dokumentasi kegiatannya  (benar atau tidak itu urusan belakang, salah sendiri kenapa menjadikan saya sebagai nara sumber).
Perpustakaan jalanan Bekasi 15
Secara umum kritik itu juga ditujukan untuk teman-teman yang hadir malam itu. Kegiatan yang dilakukan oleh para pemuda ini sudah berjalan sekian lama di segala bidang melalui komunitasnya, alangkah baiknya jika semua kegiatan sosial itu terdokumentasikan dengan baik. Entah didokumentasikan melalui platform blog atau pun media sosial yang dapat dimanfaatkan untuk tujuan-tujuan yang baik pula.

Dokumentasi kegiatan Perpusjal Bekasi menurut saya masih sangat minim, sehingga banyak orang hanya menganggap Perpusjal Bekasi sebatas gelaran buku-buku tua. Padahal setiap gelaran selalu ada kegiatan positif seperti belajar menggambar, mewarnai buat anak-anak, wadah pembacaan puisi, musik akustik terbuka dan bincang-bincang atau diskusi bebas dengan tema beragam. Sebuah kegiatan yang mungkin biasa saja bagi sebagian orang namun sangat istimewa untuk teman-teman yang tidak pernah menyandang titel mahasiswa.

Dalam sesi ini saya hanya ingin menekankan bahwa media adalah senjata, termasuk media sosial, pelurunya adalah konten!, seandainya saja pemuda-pemuda yang malam ini berkumpul memproduksi berbagai konten positif dari hasil kegiatannya, maka saya yakin konten negatif seperti hoax dan sampah informasi lainnya akan sulit mendapatkan tempat.

Itulah gunanya jurnalisme warga, berperan serta mengisi konten positif, minimal mengabarkan hal-hal positif yang telah mereka lakukan agar menginspirasi khalayak muda lainnya.

Pada sesi berikutnya, Endra Kusnawan sebagai nara sumber selain bercerita mengenai Bekasi Tempoe Doeloe juga mengkritisi pembangunan yang tidak memperhatikan gedung-gedung tua dan tempat-tempat bersejarah. Dia bercerita bagaimana Stasiun Tambun yang memiliki kaitan dengan kejadian-kejadian bersejarah kini telah diubah menjadi stasiun yang modern tanpa meninggalkan jejak sejarahnya sedikitpun. Seakan tidak ada tempat bagi sejarah masa lalu yang telah membentuk Bekasi seperti saat ini.

Dari materi Endra Kusnawan ini, saya mulai menerawang tentang generasi-generasi yang terputus dengan sejarah kotanya, mengidap krisis identitas dan mencarinya di tempat-tempat yang mungkin tidak diinginkan oleh siapapun... tawuran, narkoba?

Semoga gelaran Perpusjal Bekasi berikutnya akan lebih mendobrak dan bermanfaat, amiin.

Merayakan Warna Warni Kita Dalam Gelaran Perpusjal Bekasi 15
Saya dan Bayu, salah satu motor penggerak Perpustakaan Jalanan Bekasi