Blusukan Di Negeri Kincir Angin

Blusukan Di Negeri Kincir Angin buku film Negeri Van Oranje

Novel Negeri Van Oranje

Judul: Negeri Van Oranje
Penulis: 
Wahyuningrat, Adept Widiarsa, 
Annisa Rijadi, Rizki Pandu Permana
Penerbit: Bentang Pustaka
Kota Terbit: Bandung
Tahun Terbit: Cetakan 6, 2015
Deskripsi Fisik: 576 halaman
ISBN: 97860229100367

Setiap manusia tidak pernah tahu takdir yang membawa mereka ke tempat yang baru. Kemudahan di tengah kesulitan terkadang hadir tanpa disangka. Banjar, Wicak, Daus, Geri
dan Lintang adalah lima mahasiswa Indonesia yang ditakdirkan bertemu saat cuaca dingin menghampiri Amersfoort, sebuah kota di provinsi Utrecht, Belanda.

Latar belakang mereka untuk bersekolah di negeri Belanda penuh dengan kontroversi. Banjar adalah seorang lulusan institut teknik ternama di Bandung yang meninggalkan kemapanan hidup sosialita Jakarta. Wicak merupakan sang aktivis Illegal Logging karena penelitiannya ‘diekstradisi’ ke kantor pusat di Belanda. Daus adalah seorang pegawai negeri sipil golongan III/a Kementerian Agama yang memilih sekolah ke Belanda mengambil program Human Rights Law. Lintang, dengan bekal polis asuransi atas namanya, bertekad mengambil program di bidang European Studies. Kemudian, Geri adalah seorang anak juragan bus antar kota dengan saldo tabungan Euronya menyaingi pemenang “Who Wants to be a Millionaire” yang menetap di Belanda sejak kuliah Strata 1.

Alur cerita dalam buku ini sangat sederhana dan mudah ditebak. Penulis lebih menitikberatkan setting tempat dari setiap adegan dalam cerita. Merangkum kemegahan dan keindahan di setiap sudut kota Belanda menjadi ciri khas yang wajib dimiliki oleh setiap penulis. 

Raden Wahyuningrat, Adept Widiarsa, Annisa Rijadi, dan Rizki Pandu Permana, yang merupakan penulis buku ini, berhasil menggambarkan apa yang ada di bayangan pembaca tentang negeri Belanda. Pembaca akan terkesima dengan kehidupan mahasiswa di negeri kincir angin tersebut. 

Novel Negeri Van Oranje ditulis dengan alur cerita yang mengalir apik dan bahasa yang ringan. Pembaca juga akan dibuat tergelak beberapa kali dengan bumbu humor yang disisipkan penulis. Penyelipan bahasa Belanda dalam setiap percakapan para tokohnya menjadi nilai tambah sekaligus pengetahuan dalam buku ini. Kehadiran footnote dirasa bermanfaat dengan tips dan trik menarik dalam kemasan yang sederhana.

Membaca buku ini juga seperti sedang bernostalgia di era chattingVoice Over Internet Protocol (VOIP), dan blog yang digunakan oleh sesama mahasiswa Indonesia untuk saling berkomunikasi lewat internet di era tahun 2000-an. Biasanya mahasiswa Indonesia akan takjub dengan kecepatan akses internet di Belanda. Saat komputer baru saja dinyalakan dan tersambung dengan internet, mereka tidak perlu menunggu lama untuk mengunggah dokumen atau berkomunikasi seharian penuh. 

Novel ini memuat banyak informasi dan panduan bagi mahasiswa atau calon mahasiswa yang akan melanjutkan studinya di Belanda. Penulis dengan jelas menuliskan tentang pengurusan administrasi kampus, cara menggunakan transportasi umum, hingga rekomendasi tempat berlibur di sela kesibukan kuliah. 

Negeri Van Oranje juga telah hadir dalam versi layar lebar yang telah rilis dari tanggal 23 Desember 2015 lalu. 

Peresensi Krishna Pandu Pradana 
MK Edisi Januari 2016 Volume XI / NO. 100

Blusukan Di Negeri Kincir Angin buku film Negeri Van Oranje

***

Film Negeri Van Oranje

Film Negeri Van Oranje mendapat rating 7,4/10 dalam halaman IMDb. IMDb (Internet Movie Database) adalah sebuah basis data daring informasi yang berkaitan dengan film, acara televisi, video rumahan, dan permainan video, dan acara internet, termasuk daftar pemeran, biografi kru produksi dan personil, ringkasan plot, trivia, dan ulasan serta penilaian oleh penggemar. 

Mengenai film yang disutradarai oleh Endri Pelita ini banyak menerima review positif terutama soal tampilan visual film yang indah, pujian ini tentunya tertuju kepada Yoyok Budi Santoso yang bertindak sebagai Sinematografer / Cinematographer atau DoP atau DP (Director of Photography)  dalam film Negeri Van Oranje. Yoyok Budi Santoso sudah terlibat dalam banyak film dengan hasil visual yang indah.

Alur cerita film Negeri Van Oranje bergerak mundur (flashback), gaya penceritaan ini membuatnya seru dan menarik. Menyenangkan melihat bagaimana film ini menggambarkan persahabatan mereka yang dipermanis dengan hadirnya seorang Lintang.

Kualitas akting kelima tokoh bersinergi dalam chemistry yang baik. Para aktor berhasil mendalami kepribadian peran, merekalah nyawa yang menghidupkan film ini sehingga tidak mudah ditebak. Dengan sentuhan jokes dan twists yang natural dan pas.

Soal musik yang asik dalam film ini menjadi tanggung jawab Yarriya Bahriah Safara dan performance Wizzy Wiliana. Film ini juga banyak diisi dengan denting piano dan alunan biola yang manis. 

Kesimpulannya, baik novel dan filmnya cukup baik untuk dinikmati.

Salam


Geser Dikit Halaman Hatimu dari Bara Patty Radja


Tidak bisa dipungkiri saya sangat mengagumi sosok yang satu ini. Bara Patty Radja. Nama seorang lelaki dari Pulau Adonara yang cerdas memilih dan bermain diksi. Apabila kalian melihat kue lapis, Bara berada di lapisan teratas ⇻ licin mengkilat, sedangkan saya masih berupa tepung yang belum direncanakan untuk bercampur dengan bahan-bahan kue lapis. Beruntungnya, saya boleh memiliki dua buah buku karya Bara. Buku kumpulan puisi. Membaca puisi-puisi karya Bara membikin saya dan, semoga, kalian mengalami pengalaman bak sedang traveling di sekitar Galaksi Bima Sakti. Di tangan Bara, puisi menjadi makanan kegemaran yang tidak akan pernah membosankan.

Baca Juga: Pariwisata Nusantara

Pengalaman itu ingin saya bagi pada kalian. Karena, pengalaman adalah harta paling berharga yang tidak dapat dibeli Rupiah, Dollar, maupun Euro. Karena, pengalaman adalah guru paling nyata dalam kehidupan umat manusia, tanpa harus mandi, bercemong bedak, dan duduk di bangku kayu, menghadap papan hitam berkapur tulis.

Penyair Indonesia dari Lamahala 


Lahir pada tanggal 12 April 1983 di Desa Lamahala, Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Bara Patty Radja. Sekilas, namanya mengingatkan kita pada chef beken Bara Raoul Pattiradjawane. Keduanya sama-sama hebat. Dari perbincangan kami di Pohon Tua, silahkan baca tentang Tamu Spesial di pos ini, saya tahu Bara adalah seorang guru di Pulau Adonara, yang pernah 'membawa' Najwa Sihab ke Kabupaten Pulau Lembata, dan membangkitkan dunia literasi terkhusus aktivitas membaca di pulau itu. Awesome!

Mengobrol bersama Bara membikin saya berada dalam dunia puisi itu sendiri karena pilihan katanya saat mengobrol pun terdengar sangat puitis. Jago dan berkualitas benar orang ini, kata saya dalam hati. Jujur, mengobrol dengannya membikin pengetahuan saya menjadi lebih dan lebih, serta otak saya yang seakan terkunci itu mendadak membuka dengan sendirinya. Semua itu menjadi lebih lengkap dengan sikapnya yang low profile

Bersama Bara dan Mukhlis di Pohon Tua.

Bara adalah penyair Indonesia yang telah menerbitkan puisi-puisinya ke dalam beberapa buku antara lain: Bermula dari Rahim Cinta (2005), Protes Cinta Republik Iblis (2006), Samudra Cinta Ikan Paus (2013) , Pacar Gelap Puisi (2016), Aku adalah Peluru (2019) sebuah buku semi biografi. Terbaru dan terhangat, sebuah buku berjudul Geser Dikit Halaman Hatimu. Geser Dikit Halaman Hatimu merupakan buku kumpulan puisi Bara yang bertengger di #SabtuReview ini.

Geser Dikit Halaman Hatimu


Geser Dikit Halaman Hatimu, buku bersampul merah muda dengan gambar wajah perempuan menengadah dan rambut tergerai. Minimalis sekaligus manis. Buku ini lantas menjadi penghuni tetap backpack saya bersama buku lain berjudul The Book of Origins karya Trevor Homer.

Bersama manajemen GDHH, Bara penerbitkan buku ini melalui Penerbit Huruf. Harga yang dilempar di pasaran adalah Rp 50.000 (Lima Puluh Ribu Rupiah) saja. Beruntung saya mendapatnya gratis langsung dari si penyair! Dilarang syirik. Hehe. Geser Dikit Halaman Hatimu bukan sekadar buku kumpulan puisi biasa. Geser Dikit Halaman Hatimu, berdasarkan kutipan dari buku itu sendiri, dilengkapi dengan QR Code Audio Version Poetry Reading sehingga pembaca dapat langsung mendengarkan puisi-puisi itu. Tidak main-main, puisinya dibacakan oleh Olivia Zallianty, pegiat sastra Azizah Zubaer, dan oleh Bara sendiri. Saya belum mendengarkan suara-suara mereka saat membaca puisi-puisi dari Geser Dikit Halaman Hatimu. Tapi waktu membacanya saya larut. Betul, di tangan Bara, puisi menjadi makanan kegemaran yang tidak akan pernah membosankan.

Ini jenius!


Seperti wajah Louis Tomlinson yang tidak akan pernah membosankan mata saya.

Ah ... haha.

kupilih mencintaimu separuhnya
dengan akal sehat
sebab sepenuhnya dengan rasa
bikin gelap mata

[Pilih Apa, Geser Dikit Halaman Hatimu]

Cuplikan dari Pilih Apa di atas menginterpretasi tentang dunia asmara. Memang betul. Cinta yang sepenuhnya dengan rasa bakal bikin gelap mata. Membabi-buta. Alpa menimbang akibat kemudian hari. Maka, cintailah seseorang separuhnya dengan akal sehat. Sadaaaaap. Jadi pengen kirimin puisi ini untuk seseorang. Haha.

Kalau kalian belum punya bukunya, baik yang gemar puisi maupun tidak, saya sarankan untuk segera membeli Geser Dikit Halaman Hatimu. Karena, pengalaman yang akan kalian rasakan akan membikin kalian rela membolak-balik, berkali-kali membaca, hingga seperti saya bertanya sendiri: dari mana seorang Bara menemukan ilham mempertemukan diksi-diksi ini? Tidak hanya mempertemukan, tapi kemudian mengawinkan mereka sehingga pertemuan itu berakhir di pelaminan dan terlihat sempurna!

Kritik Dalam Diksi


Dulu, saat saya membaca buku Samudera Cinta Ikan Paus karya Bara, sungguh bergetar sendi-sendi tubuh dan labirin otak. Salah satunya berjudul Di Bawah Rok Payungmu. Puisi ini menghantarkan kritik pedas tentang betapa pedihnya nasib para guru honorer di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Kalau kalian rajin membaca berita, bertebaran berita tentang kondisi yang satu ini.

berjalanlah dengan diam, ea
akan kueja warna takdir
di bawah kibaran rok payungmu

dan takdir seperti kamus matematika
yang buntu. seperti hatimu
yang patah dikhianati
angka-angka ganjil
saat menggenggam honor

kau tau?
sekolah memang tak mengenal cinta
dan ampun
sekolah tak mengajarkan
harga hati manusia

ada hanya sepotong angan
yang bunting
dihamili kering cuaca

[Di Bawah Rok Payungmu, Samudera Cinta Ikan Paus]

Menurut tuturan Bara, Geser Dikit Halaman Hatimu ditulis dengan sedikit lebih ringan ketimbang puisi di dalam buku-buku sebelumnya. Tapi tetap saja diksi yang disajikan, meskipun sederhana sungguh menikam. 

Puisi Bara, unik dan sederhana, tetapi 'menikam'.

Dan selalu, muatan kritik melalui diksi dalam puisi-puisinya itu membikin kalian tersenyum, kemudian merasa 'ini kok saya banget ya', mengangguk sependapat, dan bertepuk tangan. Iya, saya bertepuk tangan usai setiap kali membaca beberapa puisi, sampai teman yang ada di dekat situ terperanjat. Ibarat melepas angin setelah menahan nafas cukup lama. Membaca puisi-puisi Bara itu rasanya memang seperti menahan nafas yang nikmat: teknik nafas 4 - 7- 8.


Android adalah salah satu judul puisi di dalam Geser Dikit Halaman Hatimu. Kritik bermata tombak super tajam dan juga terpedas ada di puisi yang satu ini. 

betapa berat mencintaimu
di masa android
handphone mengubahmu menjadi paranoid
baru semenit lalu aku meninggalkan rumah
engkau sudah vicall

dengan layar sentuh
engkau sibuk memindai dunia
ketimbang menyentuh hatiku

betapa lain mencintaimu
di masa online
hari harimu kini tak lagi milikku sepenuhnya
tetapi milik facebook, twitter
whattsapp atau instagram

belati hatiku mencintaimu
di masa instant
untuk membeli tomat di warung sebelah saja
mesti engkau unggah

kau autis aku tak lagi puitis
benda mati mengubah kita
menjadi orang asing

kita bicara
tapi tak lagi beradu pandang
aku kehilangan tatapanmu
sebab yang kau tuju
bukan sorot mataku
tapi layar gadgetmu

betapa candu mencintaimu
tanpa kuota dan sinyal

[Android, Geser Dikit Halaman Hatimu]

Kalian setuju dengan saya kalau puisi ini bermata tombak super tajam dan memuat kritik terpedas? Harus donk! Fenomena zaman sekarang memang seperti itu, kawan. Engkau sibuk memindai dunia ketimbang menyentuh hatiku. Sebuah fakta yang sulit kita elak. Teknologi internet telah menjadikan saya, kalian, mereka, pengabdi gawai yang kaku seperti zombie di dunia fana, namun ingin terlihat lincah dan penuh perhatian di dunia maya. 

Tidak salah bukan jika saya mengajak kalian turut menggeluti dan menikmati Geser Dikit Halaman Hatimu? 

Baca Juga: The Book of Origins

Terima kasih, Bara. Untuk puisi-puisi yang indah ini. Untuk kesederhanaan yang menikam ini. Untuk membikin saya larut dalam dunia Geser Dikit Halaman Hatimu.

Terus berkarya!



Cheers.

Pariwisata Nusantara


Sudah lama saya tidak me-review buku di #SabtuReview. Buku terakhir yang saya baca berjudul Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat karya Mark Manson dan sudah saya review di pos berjudul Bodo Amat. Banyak pelajaran berharga yang bisa dipetik dari buku bersampul oranye itu. Sementara buku yang selalu berada di dalam tas, yang bisa saya baca kapan saja, berjudul The Book of Origins karya Trevor Homer juga sudah saya review di pos berjudul The Book of Origins. Tentu, pengetahuan tentang segala sesuatu paling pertama di dunia ini kian bertambah. Saya pikir, sekarang saatnya me-review satu buku menarik terutama bagi kalian para traveler atau siapapun yang berencana keliling Indonesia. 

Baca Juga: Are They Dead?

Menulis tentang buku yang satu ini membikin saya teringat seorang sahabat traveler perempuan bernama Ika Soewadji. Kalau kalian belum mengenal Ika Soewadji, silahkan kenalan dulu melalui akun IG-nya:


Memangnya, apa hubungan antara buku yang bakal saya review dengan Ika? Karena buku tersebut adalah pemberian Ika berikut satu paket buku lainnya tentang Indonesia. Sama seperti buku Travel Writer yang juga diberikan oleh Ika. Meskipun tidak berhubungan darah tapi kami adalah kaka-ade, saudara, yang dipertemukan oleh dunia blog dan traveling. Percayalah, mengenal Ika merupakan salah satu anugerah terbaik dari Allah SWT untuk saya.

Jadi, mari kita kenalan dengan buku yang satu ini.

Tentang Informasi Pariwisata Nusantara


Informasi Pariwisata Nusantara, sebuah buku bersampul cokelat dengan aksen wayang kulit di depannya, diterbitkan oleh Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia bekerjasama dengan Garuda Indonesia, dan ASEAN (Southeast Asia). Pada sampul belakang jelas-jelas tertulis: tidak untuk diperjualbelikan. Ya Alhamdulillah saya bisa mendapatkannya dari Ika. Mungkin waktu itu Ika mengikuti kegiatan yang digelar kementrian, secara dia kan travel blogger kesohor, dan mendapatkan paket buku-buku gratis dari acara itu, kemudian dikirimkan pada saya.

Buku ini tidak punya kata pengantar atau sekapur sirih. Dibuka dengan halaman Peta Kepulauan Indonesia dan halaman Sekilas Sejarah Pariwisata Indonesia. Sudah, itu saja. Selanjutnya 'petualangan' dimulai dari Sumatera hingga Papua.

Isi Informasi Pariwisata Nusantara


Namanya juga buku tentang pariwisata, isinya ya pasti tentang atraksi pariwisata dari seluruh Indonesia yang dimulai dari Sumatera sampai Papua. Ada pengaturan sub pada setiap provinsi dan daerah istimewanya. Sub-sub itu antara lain Profil singkat provinsi dan/atau daerah istimewa yang bersangkutan, Wisata Alam, Wisata Pantai, Wisata Gunung, Wisata Petualangan, Wisata Sejarah, Wisata Budaya, Wisata Museum, Wisata Kerajinan, Wisata Taman Nasional, hingga informasi penting seperti Transportasi, Akomodasi, Travel Agent, dan informasi alamat kantor dinas yang berkaitan dari provinsi dimaksud.

Paket komplit!

Jadi, kalau saya bilang sudah tahu banyak tentang Yogyakarta, belum tentu juga haha. Saya baru tahu soal Upacara Cing-Cing Goling dari buku ini.

Pada ritual ini, ratusan ayam panggang, lauk pauk dan nasi dibagikan kepada para pengunjung serta masyarakat di dekat bendungan. Selain itu juga ditampilkan cerita rakyat yang disajikan dalam bentuk fragmen. Upacara ini dilakukan sebagai wujud ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas keberhasilan panen.
Lokasi:
Digelar di Dusun Gedangan, Desa Gedangang, Kec. Karangmojo, Kab. Gunungkidul. Bisa ditempuh dengan kendaraan bermotor ke lokasi. (Informasi Pariwisata Nusantara,tt, 201).

Sebagai Orang NTT, tentu saya suka membaca bagian Provinsi Nusa Tenggara Timur. Ternyata, banyak sekali atraksi wisata yang juga baru saya ketahui setelah membaca buku Informasi Pariwisata Nusantara ini.


Yang membikin buku ini lebih menarik, selain informasi lengkap tentang Indonesia ada di dalamnya, adalah foto-foto yang melengkapi setiap artikel/informasi singkatnya. Foto-foto itu begitu memukau, penuh warna alam yang cerah dan indah, yang membikin para pembaca tertarik untuk menyiapkan waktu keliling Indonesia. Duuuuh niat keliling Indonesia tertunda melulu *halaaaah, ditabok dinosaurus*.

Kritik


Baru kali ini saya mengkritik buku hahaha. Eh, atau sudah pernah ya? Pokoknya begini ... untuk buku sebagus ini sayang sekali apabila diterbitkan terbatas dan tidak untuk diperjualbelikan. Tidak hanya para traveler, kita sebagai Orang Indonesia tentu tergila-gila dengan buku semacam ini. Banyak informasi yang mungkin baru kita tahu, yang bisa jadi magnet penarik jiwa untuk pergi ke sana, baik diri kita sendiri maupun wisatawan mancanegara (apagila diterbitkan dalam bahasa Inggris pula). Semua orang pasti tahu Raja Ampat di Papua Barat sana, tapi belum semua orang tahu tentang Pantai Pulau Jefman dan Pantai Pulau Rumberfon yang indah itu, misalnya.


Demikian tentang buku Informasi Pariwisata Nusantara yang sayangnya tidak dijual bebas di toko buku. Beruntunglah saya bisa mendapatkannya sebuah, hehe. Bagaimana dengan kalian, kawan? Yang belum pernah membacanya maupun yang sudah pernah membacanya, apa tanggapan kalian tentang buku keren ini? Bagi tahu yuk di komen!

Baca Juga: The Kings

Selamat dua minggu puasa :*



Cheers.

Buku Lagu


#PDL adalah Pernah Dilakukan. Pos #PDL setiap Jum'at ini merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

***

Sejak masih SD saya sudah suka mengoleksi buku lagu yang dibeli di tempat orang menjual Teka-Teki Silang. Ukurannya sedikit lebih kecil dari buku TTS dan rada tipis karena paling memuat sepuluh lirik lagu. Buku-buku itu sebagai pendukung apabila menonton acara Album Minggu Kita di TVRI. Jujur, Album Minggu Ini merupakan salah satu acara favorit zaman doeloe! Saya mengenal Slank itu bukan dari RCTI atau ANTV melainkan dari TVRI. Ketahuan kan usia saya berapa ... 27. Haha. Amboiii saya jadi ingat lagu favorit saya zaman duluuuuu judulnya Kau Tercipta Dari Tulang Rusukku, dinyanyikan sama Muchlas Adi Putra dan Maya Angela. 


Untunglah ada yang mengunggah video musiknya di Youtube ... LOL!

Baca Juga: Belajar Ngelawak

Kebiasaan mengoleksi buku yang dibeli di tempat orang jualan TTS sempat tamat setelah mulai kenal MTV dimana tidak ada buku lagu dengan lirik lagu-lagu yang disuguhi MTV. Tetapi sebagai gantinya saya menulis sendiri  lirik-lirik lagu tersebut. Bayangkan, di zaman itu belum ada internet, bagaimana caranya bisa tahu lirik lagunya Alanis Morissette? Saya punya kertas buraman, minta di Bapa, terus mencatat satu per satu bait. Kalau belum selesai hari ini, besok lihat video musik yang sama, baru dilanjutkan ke bait berikutnya. Sampai selesai dan dipindah ke buku lagu bikinan sendiri. Jelaaasssss banyak vocab yang salah. Yang penting bisa nyanyikan lagu favorit lah, sudah cukup. Urusan lirik benar atau salah biar saya dan pencipta lagu yang tahu ha ha ha.

Setelah saya mengenal dunia ini *tsah* saya mulai suka membikin lagu sendiri. Modalnya cuma kunci yang itu-itu saja di gitar andalan. Kunci G, C, D, F, Am, E, Em, Fm, Dm, tanpa kunci B. Lagu pertama yang saya bikin itu untuk Cendaga Band, dimana saya menjadi vokalisnya, berjudul Jangan Paksa Aku. Terima kasih untuk diri saya yang sempat mengunggah video hancur-hancuran tentang profil Cendaga Band di Youtube!!!!! Silahkan dengarkan lagunya di video berikut ini:


Kalau mau ngetawain juga boleh. Tidak akan saya tersinggung. Karena waktu itu proses rekamannya live di studio Cendaga Band, tanpa polesan ini itu, dan suara saya mentahnya ampun-ampunan. Ya, ini lagu pertama yang saya bikin, kemudian teman-teman Cendaga Band membantu membikin musiknya, sehingga bisa kalian dengarkan. Semoga gendang telinga kalian tidak bocor ya gara-gara mendengar suara saya ... LOL! Bersama Cendaga Band saya punya buku lagu yang jadi song bank-nya band ini. Selain memuat lirik lagu dan kuncinya, saya juga mencatat kunci-kunci gitar yang diajarkan oleh Alimin.


Lepas dari Cendaga Band yang pernah beberapa kali konser itu, karena kesibukan masing-masing personilnya, saya dan Noel pun akhirnya membentuk Notes. Notes itu Noel and Tuteh Saja, tapi kemudian menjadi Noel and Tuteh SideProject. Mungkin karena waktu itu saya tidak bisa berhenti membikin lagu, dan Noel juga tidak bisa berhenti bermusik begitu saja, sehingga kami memutuskan untuk tetap sering ngumpul di rumah saya atau di rumah dia untuk bermusik. Kadang kami hanya gitaran dan nyanyi-nyanyi saja, kadang kami menggarap serius lagu yang sudah saya bikin atau dia bikin. Pokoknya waktu itu kamar saya penuh sama gitar listrik *ngakak*.

Oleh karena itu saya tidak bisa berhenti dengan yang namanya buku lagu. Titik. 

Bagaimana dengan sekarang? 

Buku lagu sih masih ada tapi tidak perlu di-update lirik-lirik lagunya karena sudah ada internet. Begitu butuh tinggal buka Google Chrome. Betul-betul yaaa zaman berubah sangat jauh. Paperless banget sih tidak, tapi kemudahannya itu yang jelas terasa. 

Baru-baru ini saya dihubungi Noel dan kami berencana untuk membikin ulang lagu-lagu Notes di album pertama. Artinya saya perlu siapkan lagi suara *tes tes*. Dan, kami juga berencana membikin ulang semua video musiknya. Bayangkan saja zaman itu bikin video musik pakai fasilitas video dari kamera pocket, dengan aplikasi sunting video yang uh wow bikin gelagapan. Makanya karena sekarang semua sudah serba mudah, kami mau mencoba lagi. Doakan yaaaaa semoga proyek ini bisa terlaksana setidaknya setelah Idul Fitri.

Baca Juga: Hijrah

Bagaimana dengan kalian kawan? Pernah tergila-gila sama lagu-lagu dan mengoleksi buku lagu? Bagi tahu yuk di komen :)



Cheers.

Relikui Kematian #2


Bagi pecinta Harry Potter yang sampai sekarang masih tersihir oleh kisah spektakuler dari dunia sihir a la J. K. Rowling, membicarakan perkara apa pun tentang dunia sihir itu, kapan pun waktunya, tentu selalu menyenangkan. Saya, sebagai pecinta kisah Harry Potter, masih bisa mengingat banyak hal dari novel maupun filemnya. Betapa tingkah sepupu Harry, Dudley Dursley, sama mengesalkannya dengan tawa Bellatrix Lestrange, misalnya. Atau, tentang timbulnya rasa bersalah di dalam diri kita ketika tahu bahwa Profesor Snape, si 'agen ganda' itu justru patuh pada Albus Dumbledore dan sangat menyayangi Harry. Atau tentang horcrux-horcrux yang harus dihancurkan.

Baca Juga: Survival Movies

Kembali menulis tentang Harry Potter, khusus Relikui Kematian, kisah tentang tiga benda keramat ini hadir dalam seri terakhir yang berjudul Harry Potter and The Deathly Hallows. Untuk tahu tentang Tongkat Elder, silahkan baca Relikui Kematian #1. Kenapa harus membacanya? Agar kalian, yang sama sekali tidak tahu tentang Harry Potter, punya petunjuk tentang tiga benda keramat peninggalan Paverell bersaudara. Hari ini saya akan melanjutkan tentang dua benda keramat dari Relikui Kematian yang lain yaitu Batu Kebangkitan dan Jubah Gaib

Batu Kebangkitan


Batu Kebangkitan merupakan salah satu benda keramat yang diberikan Kematian kepada Cadmus Paverell. Batu Kebangkitan diwariskan oleh Albus Dumbledore kepada Harry yang diletakkan di dalam snitch pertama yang ditangkap Harry saat pertandingan Quidditch. Apakah batu ini yang menyelamatkan Harry dari kutukan Voldemort di Hutan Terlarang? Ada dua teori, seperti yang saya janjikan sebelumnya, teori pertama sudah saya tulis tapi tidak ada salahnya mengulang agar tidak tercerai-berai.

Teori Pertama: 
Harry selamat dari kutukan Voldemort di Hutan Terlarang karena Tongkat Elder setia pada pemiliknya. Tongkat Elder, meskipun fisiknya berada di tangan Voldemort, sebenarnya merupakan milik Harry dari hasil Harry melucuti si tongkat dari Draco Malfoy. Ingat kata Ollivander, tongkatlah yang memilih tuannya. Kesetiaan Tongkat Elder menyebabkan serangan itu tidak 100% meskipun Voldemort yakin percaya itulah kekuatan paling imba darinya terhadap Harry.

Teori Kedua:
Batu Kebangkitan yang berhasil dikeluarkan Harry dari snitch lah yang menyelamatkan Harry dari kutukan Voldemort di Hutan Terlarang. Albus Dumbledore tahu bahwa Harry adalah salah satu horcrux; benda yang menyimpan potongan jiwa Voldemort. Untuk bisa melumpuhkan Voldemort atau melemahkannya, semua horcrux harus dihancurkan. Termasuk Harry. Tujuan Albus Dumbledore memberikan Batu Kebangkitan kepada Harry adalah agar setelah horcrux (Harry) mati, Harry dapat bangkit untuk melawan, kembali, Voldemort.

Teori pertama dan teori kedua ini sama-sama masuk akal. Karena, dalam dunia sihir, tongkat sihir loyal/setia pada pemiliknya yang sah. Karena, Batu Kebangkitan hanya membangkitkan satu orang, dan itu Harry, bukan James, Lily, Albus Dumbledore, dan lain sebagainya. Arwah-arwah orang mati yang ditemui Harry dalam 'alam antara' itu hanya sebagai penyemangat untuk Harry kembali dan melakukan pertarungan kedua dengan Voldemort.

Baca Juga: Sel-Sel Kelabu Hercule Poirot

Setelah digunakan, batu tersebut jatuh di Hutan Terlarang dan memang tidak ada niat Harry, kemudian, untuk mencarinya. Dia tidak ingin memiliki si batu, sama juga dengan dia tidak ingin memiliki si tongkat.

Jubah Gaib


Inilah benda keramat terakhir yang diberikan oleh Kematian kepada Ignotus Paverell, si bungsu dari Paverell bersaudara. Jubah Gaib ini sejak semula jadi sudah kita ketahui diberikan oleh Albus Dumbledore kepada Harry dari wasiatnya James Potter. Berbeda dengan proses kepemilikan Tongkat Elder dan Batu Kebangkitan, Jubah Gaib merupakan satu-satunya benda yang menjadi konektor antara Harry dan Ignotus. Bahwa, Harry merupakan turunan Ignotus. Artinya, Harry dan Voldemort pun masih punya hubungan darah (jauh).

Jubah Gaib merupakan satu-satunya benda dari Relikui Kematian yang disimpan Harry. Tidak ada kisah lanjutan dari Jubah Gaib, bahkan dalam Harry Potter and The Deathly Hallows pun, Jubah Gaib hanya memainkan sedikit peran (disebut-sebut).

Harry Potter adalah Kisah Tentang Paverell dan Horcrux


Itu memang kesimpulan yang dangkal. Tapi sejak dulu, setelah selesai membaca Harry Potter and The Deathly Hallows, saya sudah berpikir demikian. Pada akhirnya, enam seri Harry Potter, tercerahkan di buku ke-tujuh. Kebaikan melawan kejahatan; Harry melawan Voldemort. Voldemort bisa kalah apabila semua horcrux-nya hancur; termasuk Harry - yang kemudian bangkit kembali. Dan ambisi Voldemort adalah menguasai Relikui Kematian warisan Paverell bersaudara; hanya satu Relikui Kematian yang sempat dipegangnya, Tongkat Elder, itu pun si tongkat justru setia kepada pemiliknya yang sah.

Horcrux


Dari tadi menulis horcrux. Apa saja kah horcrux itu?

1. Diary milik Tom Riddle.
2. Cincin Gaunt.
3. Liontin Slytherin.
4. Piala Hufflecup.
5. Diadem Ravenclaw.
6. Nagini.
7. Harry Potter.

Dan yang terakhir adalah jiwa yang masih melekat pada Voldemort sendiri.


Setelah membaca Relikui Kematian #1 dan #2, bagaimana tanggapan kalian? Siapa tahu pendapat kita berbeda tentang hal ini. Feel free to write your mind on comment!

Baca Juga: Samudera Cinta Ikan Paus

Selamat berakhir pekan, selamat bernostalgia bersama Harry Potter.


Cheers.

Relikui Kematian #1


Harry Potter memang telah lama selesai. Buku terakhir seri ini, Harry Potter and The Deathly Hallows, diterbitkan tahun 2007, sedangkan filemnya dirilis tahun 2010 (Bagian 1) dan tahun 2011 (Bagian 2). Meskipun telah selesai, kisah spektakuler dari dunia sihir a la J.K. Rowling yang pernah ditolak oleh penerbit ini masih terus menyihir kehidupan saya. Ketika prekuelnya yaitu Fantastic Beast and Where to Find Them serta Fantastic Beast The Crimes of Grindelwald dirilis, otomatis memori kita tentang Harry Potter muncul ke permukaan. Bagaimana tidak? Pernah dulu waktu masih hangat-hangatnya, saya sering sekali mengucapkan mantera-mantera dari serial tersebut seperti Stupefy.

Baca Juga: Survival Movies

Kisah utama buku ke-tujuh Harry Potter, sesuai judulnya, adalah The Deathly Hallows atau Relikui Kematian. Di dalamnya kalian akan menemukan pengembaraan tiga serangkai yaitu Harry, Ron, dan Hermione dengan misi mencari dan menghancurkan horcrux-horcrux milik Voldemort agar si penyihir terhitam dan terjahat itu melemah dan mudah dikalahkan. Misi yang tidak mudah karena Albus Dumbledore hanya menyisakan sedikit petunjuk setelah kematiannya. Selain itu, misi mereka lainnya adalah mencari tahu tentang simbol Relikui Kematian yang tergambar pada lembar demi lembar buku warisan Albus Dumbledore untuk Hermione. Buku itu berjudul The Tales of Beedle and Bard. Simbol Relikui Kematian juga dipakai oleh Xenophilius Lovegood (ayah Luna Lovegood) dalam bentuk bandulan kalung. Hermione juga melihat simbol Relikui Kematian pada makam Ignotus Peverell di Godric's Hollow.

Kisah Tiga Bersaudara Peverell


Relikui kematian adalah tiga benda keramat yang diciptakan dan diberikan oleh Kematian kepada tiga bersaudara yaitu Antioch Peverell, Cadmus Peverell, dan Ignotus Peverell. Kisah ini berada dalam buku The Tales of Beedle and Bard.

Alkisah ... ada tiga orang bersaudara berjalan jauh melalui jalanan sepi dan berkelok saat senja. Dalam perjalanannya mereka sampai di sungai yang berbahaya uuntuk diseberangi. Tapi mereka mempelajari ilmu sihir. Mereka dengan mudahnya melambaikan tongkat dan membuat sebuah jembatan. Akan tetapi sebelum mereka bisa menyeberang, jalan mereka dihalangi oleh seorang yang berkerudung. Itu adalah Kematian, dan dia merasa tertipu. Tertipu karena biasanya para pengelana akan tenggelam ke dalam sungai. Tapi kematian sungguh licik. Dia berpura-pura memberi selamat pada tiga bersaudara itu atas sihir mereka dan dan berkata bahwa masing-masing dari mereka mendapatkan hadiah karena cerdas menghindarinya.

Maka saudara yang tertua, Antioch, meminta tongkat yang lebih kuat dari tongkat lain. Lalu Kematian menciptakan tongkat buatnya dari Pohon Elder yang ada di dekat situ. 

Saudara yang kedua, Cadmus, memutuskan bahwa dia ingin menghina Kematian lebih jauh lagi dan meminta kekuatan untuk menghidupkan orang-orang yang dicintai dari kematian. Lalu Kematian mengambil sebuah batu dari pinggir sungai dan berikan itu padanya. 

Akhirnya, kematian bertanya pada saudara yang ketiga dan termuda yaitu Ignotus. Seorang pria yang sederhana. Dia meminta sesuatu yang dapat membuatnya pergi dari tempat itu tanpa diikuti oleh kematian. Dan kematian dengan sangat segan menyerahkan Jubah Gaib miliknya. 

Saudara pertama bepergian ke sebuah desa yang jauh dimana dengan Tongkat Elder di tangannya dia membunuh seorang penyihir yang bertengkar dengannya. Mabuk dengan kekuatan Tongkat Elder yang diberikan kepadanya dia membual akan kehebatannya. Tetapi di malam itu penyihir lain mencuri tongkat itu dan menggorok leher saudara itu sebagai tambahan. Dan Kematian mengambil saudara pertama itu sebagai miliknya.

Saudara kedua pulang ke rumahnya dimana dia membawa batu itu dan memutarnya tiga kali di telapak tangannya. Dia sangat senang ketika gadis yang dinikahinya yang keburu meninggal muncul di depannya. Namun sang gadis itu sedih dan dingin karena dirinya tak layak di dunia manusia. Gila karena kerinduan yang sia-sia saudara kedua membunuh dirinya agar bisa menyusul gadis itu. Dan Kematian mengambil saudara kedua itu sebagai miliknya.

Sementara saudara ketiga, bertahun-tahun kematian mencarinya namun tak bisa menemukannya. Hanya ketika ia sudah tua, saudara termuda itu memberikan jubah gaib itu pada puteranya. Dia menyambut Kematian bak teman lama dan pergi bersama Kematian dengan bahagia meninggalkan kehidupan ini.

Itulah kisah tiga bersaudara Peverell dengan Relikui Kematian.

Relikui Kematian


Ada tiga benda keramat Relikui Kematian. Jika seorang penyihir memiliki ketiganya maka akan dapat menjadi penguasa kematian. Dia dapat menjadi sangat mematikan dengan Tongkat Elder, dia dapat membangkitkan kematian dengan Batu Kebangkitan, dia pun dapat bersembunyi dari Kematian serta melindungi dua benda keramat lainnya dengan Jubah Gaib.


Siapa yang pernah memegang ketiga benda ini? Albus Dumbledore dan Harry Potter. Jubah Gaib telah menjadi milik Harry sejak lama, diserahkan oleh Albus Dumbledore atas wasiat ayah Harry yaitu James Potter. Batu Kebangkitan diwasiatkan oleh Albus Dumbledore kepada Harry, yang disembunyikan di dalam snitch wasiat tersebut. Sedangkan Tongkat Elder diperoleh Harry setelah melucuti Draco Malfoy di rumah penghuni Asrama Slytherin tersebut (kesetiaan tongkat kepada pemilik baru meskipun fisik si tongkat berada di tangan orang lain). Karena tanpa Draco sadari, dialah yang melucuti Tongkat Elder dari Albus Dumbledore sebelum Kepala Sekolah itu dibunuh oleh Profesor Snape.

Tongkat Elder


Tongkat Elder atau Elder Wand merupakan tongkat kepunyaan Albus Dumbledore. Inilah tongkat yang diminta Antioch Peverell kepada Kematian. Dalam dunia sihir, setiap penyihir mempunyai tongkat mereka masing-masing. Ada dua pembuat tongkat yaitu Ollivander dan Gregorovitch (di Bulgaria). Setelah dibunuh oleh penyihir lain, maka tongkat milik Antioch itu kemudian menjadi milik Gregorovitch. Si pembuat tongkat sihir yang bangga karena memiliki Tongkat Elder dan merasa puas karena bisa lebih populer dari Ollivander. Sayangnya tongkat sakti itu kemudian menjadi milik Gellert Grindelwald. Entah bagaimana caranya. Mungkin Grindelwald mencuri setelah membikin pingsan si Gregorovitch.

Baca Juga: Sisi Lain Dunia Gulat Dalam Dangal

Karena ... menurut penuturan Ollivander ... sebuah tongkat sihir akan menjadi pemilik sah penyihir lain jika penyihir pemilik sebelumnya dilucuti, dipingsankan, atau dibunuh. 

Gambar diambil dari sini.

Pemilik Tongkat Elder selanjutnya adalah Albus Dumbledore setelah mengalahkan Gellert Grindelwald. Lalu menjadi milik Draco tanpa dia ketahui, setelah melucuti Albus Dumbledore, sebelum Kepala Sekolah bijak itu dibunuh oleh Profesor Snape. Dan ketika Harry melucuti Draco, tongkat sakti itu kemudian menjadi milik Harry.


Demikianlah perjalanan panjang Tongkat Elder sebelum kemudian dicuri oleh Voldemort dari makam Albus Dumbledore. 

The Last Duel


Pertarungan terakhir antara Voldemort dan Harry tidak dapat terelakkan. Terutama setelah semua horcrux Voldemort dihancurkan. Fyi, horcrux adalah wadah tempat penyihir hitam menyimpan sobekan/pecahan/bagian dari jiwanya untuk mencapai keabadian. Horcrux terakhir yang dihancurkan adalah Nagini saat si ular hendak menyerang Ron dan Hermione. Adalah Neville Longbottom yang melakukannya, menggunakan Pedang Gryffindor. Voldemort membagi jiwanya menjadi delapan; tujun disimpan pada horcrux dan satu pada dirinya sendiri.

Pada pertarungan terakhir itu, Voldemort menggunakan Tongkat Elder, sedangkan Harry menggunakan tongkat milik Draco Malfoy. Namun, lagi-lagi mengingat siapa kepemilikan sah Tongkat Elder, tongkat itu tentu loyal kepada pemiliknya yang sah. Maka ... Voldemort kalah total dan Tongkat Elder, fisik si tongkat, berada di tangan si pemilik yang sah yaitu Harry. Luar biasa, sungguh, penggambaran pertarungan terakhir itu.

Menariknya tentang Tongkat Elder yang loyal pada Harry ini juga bisa terlihat pada pertarungan di Hutan Terlarang. Saat itu harusnya Harry mati lah. Diserang begitu rupa sama penyihir terjahat, terhitam, terkuat. Tapi loyalnya Tongkat Elder pada Harry tidak mampu membuat si tongkat mengikuti kehendak Voldemort. Harry hanya dibikin pingsan sesaat (rohnya bertemu Albus Dumbledore serta orang-orang mati lainnya) dan kembali bernafas. Ada juga yang menyebutkan bahwa semua itu karena perlindungan Lily Potter pada sang anak ajaib ini.

Kasihan juga si Voldemort. Dia berpikir Profesor Snape lah yang menjadi pemilik Tongkat Elder karena si profesor lah yang membunuh Albus Dumbledore. Tidak dia ketahui bahwa Draco lah yang seharusnya dia bunuh, bukan Profesor Snape, karena Draco lah yang melucuti Albus Dumbledore.

Baca Juga: Bodo Amat

Bagaimana dengan Batu Kebangkitan? Bukankah kalau Harry mati saat di Hutan Terlarang, toh dia bisa bangkit lagi? Bukankah Albus Dumbledore pasti punya tujuan tertentu memberikan Batu Kebangkitan pada Harry? Ada dua teori tentang hal ini yang akan saya tulis minggu depan. Haha. Nantikan, ya!


Tongkat Elder pada akhirnya tidak menjadi milik siapa-siapa. Karena Harry mematahkannya dan membuang ke jurang. Maka satu-satunya benda keramat Relikui Kematian yang masih berada di tangan Harry adalah Jubah Gaib. Bagaimana kisah dua benda keramat lainnya? Nanti ya, kita lanjut di pos #SabtuReview minggu depan!

Selamat berakhir pekan, selamat menonton ulang Harry Potter.



Cheers.

Relikui Kematian #1


Harry Potter memang telah lama selesai. Buku terakhir seri ini, Harry Potter and The Deathly Hallows, diterbitkan tahun 2007, sedangkan filemnya dirilis tahun 2010 (Bagian 1) dan tahun 2011 (Bagian 2). Meskipun telah selesai, kisah spektakuler dari dunia sihir a la J.K. Rowling yang pernah ditolak oleh penerbit ini masih terus menyihir kehidupan saya. Ketika prekuelnya yaitu Fantastic Beast and Where to Find Them serta Fantastic Beast The Crimes of Grindelwald dirilis, otomatis memori kita tentang Harry Potter muncul ke permukaan. Bagaimana tidak? Pernah dulu waktu masih hangat-hangatnya, saya sering sekali mengucapkan mantera-mantera dari serial tersebut seperti Stupefy.

Baca Juga: Survival Movies

Kisah utama buku ke-tujuh Harry Potter, sesuai judulnya, adalah The Deathly Hallows atau Relikui Kematian. Di dalamnya kalian akan menemukan pengembaraan tiga serangkai yaitu Harry, Ron, dan Hermione dengan misi mencari dan menghancurkan horcrux-horcrux milik Voldemort agar si penyihir terhitam dan terjahat itu melemah dan mudah dikalahkan. Misi yang tidak mudah karena Albus Dumbledore hanya menyisakan sedikit petunjuk setelah kematiannya. Selain itu, misi mereka lainnya adalah mencari tahu tentang simbol Relikui Kematian yang tergambar pada lembar demi lembar buku warisan Albus Dumbledore untuk Hermione. Buku itu berjudul The Tales of Beedle and Bard. Simbol Relikui Kematian juga dipakai oleh Xenophilius Lovegood (ayah Luna Lovegood) dalam bentuk bandulan kalung. Hermione juga melihat simbol Relikui Kematian pada makam Ignotus Peverell di Godric's Hollow.

Kisah Tiga Bersaudara Peverell


Relikui kematian adalah tiga benda keramat yang diciptakan dan diberikan oleh Kematian kepada tiga bersaudara yaitu Antioch Peverell, Cadmus Peverell, dan Ignotus Peverell. Kisah ini berada dalam buku The Tales of Beedle and Bard.

Alkisah ... ada tiga orang bersaudara berjalan jauh melalui jalanan sepi dan berkelok saat senja. Dalam perjalanannya mereka sampai di sungai yang berbahaya uuntuk diseberangi. Tapi mereka mempelajari ilmu sihir. Mereka dengan mudahnya melambaikan tongkat dan membuat sebuah jembatan. Akan tetapi sebelum mereka bisa menyeberang, jalan mereka dihalangi oleh seorang yang berkerudung. Itu adalah Kematian, dan dia merasa tertipu. Tertipu karena biasanya para pengelana akan tenggelam ke dalam sungai. Tapi kematian sungguh licik. Dia berpura-pura memberi selamat pada tiga bersaudara itu atas sihir mereka dan dan berkata bahwa masing-masing dari mereka mendapatkan hadiah karena cerdas menghindarinya.

Maka saudara yang tertua, Antioch, meminta tongkat yang lebih kuat dari tongkat lain. Lalu Kematian menciptakan tongkat buatnya dari Pohon Elder yang ada di dekat situ. 

Saudara yang kedua, Cadmus, memutuskan bahwa dia ingin menghina Kematian lebih jauh lagi dan meminta kekuatan untuk menghidupkan orang-orang yang dicintai dari kematian. Lalu Kematian mengambil sebuah batu dari pinggir sungai dan berikan itu padanya. 

Akhirnya, kematian bertanya pada saudara yang ketiga dan termuda yaitu Ignotus. Seorang pria yang sederhana. Dia meminta sesuatu yang dapat membuatnya pergi dari tempat itu tanpa diikuti oleh kematian. Dan kematian dengan sangat segan menyerahkan Jubah Gaib miliknya. 

Saudara pertama bepergian ke sebuah desa yang jauh dimana dengan Tongkat Elder di tangannya dia membunuh seorang penyihir yang bertengkar dengannya. Mabuk dengan kekuatan Tongkat Elder yang diberikan kepadanya dia membual akan kehebatannya. Tetapi di malam itu penyihir lain mencuri tongkat itu dan menggorok leher saudara itu sebagai tambahan. Dan Kematian mengambil saudara pertama itu sebagai miliknya.

Saudara kedua pulang ke rumahnya dimana dia membawa batu itu dan memutarnya tiga kali di telapak tangannya. Dia sangat senang ketika gadis yang dinikahinya yang keburu meninggal muncul di depannya. Namun sang gadis itu sedih dan dingin karena dirinya tak layak di dunia manusia. Gila karena kerinduan yang sia-sia saudara kedua membunuh dirinya agar bisa menyusul gadis itu. Dan Kematian mengambil saudara kedua itu sebagai miliknya.

Sementara saudara ketiga, bertahun-tahun kematian mencarinya namun tak bisa menemukannya. Hanya ketika ia sudah tua, saudara termuda itu memberikan jubah gaib itu pada puteranya. Dia menyambut Kematian bak teman lama dan pergi bersama Kematian dengan bahagia meninggalkan kehidupan ini.

Itulah kisah tiga bersaudara Peverell dengan Relikui Kematian.

Relikui Kematian


Ada tiga benda keramat Relikui Kematian. Jika seorang penyihir memiliki ketiganya maka akan dapat menjadi penguasa kematian. Dia dapat menjadi sangat mematikan dengan Tongkat Elder, dia dapat membangkitkan kematian dengan Batu Kebangkitan, dia pun dapat bersembunyi dari Kematian serta melindungi dua benda keramat lainnya dengan Jubah Gaib.


Siapa yang pernah memegang ketiga benda ini? Albus Dumbledore dan Harry Potter. Jubah Gaib telah menjadi milik Harry sejak lama, diserahkan oleh Albus Dumbledore atas wasiat ayah Harry yaitu James Potter. Batu Kebangkitan diwasiatkan oleh Albus Dumbledore kepada Harry, yang disembunyikan di dalam snitch wasiat tersebut. Sedangkan Tongkat Elder diperoleh Harry setelah melucuti Draco Malfoy di rumah penghuni Asrama Slytherin tersebut (kesetiaan tongkat kepada pemilik baru meskipun fisik si tongkat berada di tangan orang lain). Karena tanpa Draco sadari, dialah yang melucuti Tongkat Elder dari Albus Dumbledore sebelum Kepala Sekolah itu dibunuh oleh Profesor Snape.

Tongkat Elder


Tongkat Elder atau Elder Wand merupakan tongkat kepunyaan Albus Dumbledore. Inilah tongkat yang diminta Antioch Peverell kepada Kematian. Dalam dunia sihir, setiap penyihir mempunyai tongkat mereka masing-masing. Ada dua pembuat tongkat yaitu Ollivander dan Gregorovitch (di Bulgaria). Setelah dibunuh oleh penyihir lain, maka tongkat milik Antioch itu kemudian menjadi milik Gregorovitch. Si pembuat tongkat sihir yang bangga karena memiliki Tongkat Elder dan merasa puas karena bisa lebih populer dari Ollivander. Sayangnya tongkat sakti itu kemudian menjadi milik Gellert Grindelwald. Entah bagaimana caranya. Mungkin Grindelwald mencuri setelah membikin pingsan si Gregorovitch.

Baca Juga: Sisi Lain Dunia Gulat Dalam Dangal

Karena ... menurut penuturan Ollivander ... sebuah tongkat sihir akan menjadi pemilik sah penyihir lain jika penyihir pemilik sebelumnya dilucuti, dipingsankan, atau dibunuh. 

Gambar diambil dari sini.

Pemilik Tongkat Elder selanjutnya adalah Albus Dumbledore setelah mengalahkan Gellert Grindelwald. Lalu menjadi milik Draco tanpa dia ketahui, setelah melucuti Albus Dumbledore, sebelum Kepala Sekolah bijak itu dibunuh oleh Profesor Snape. Dan ketika Harry melucuti Draco, tongkat sakti itu kemudian menjadi milik Harry.


Demikianlah perjalanan panjang Tongkat Elder sebelum kemudian dicuri oleh Voldemort dari makam Albus Dumbledore. 

The Last Duel


Pertarungan terakhir antara Voldemort dan Harry tidak dapat terelakkan. Terutama setelah semua horcrux Voldemort dihancurkan. Fyi, horcrux adalah wadah tempat penyihir hitam menyimpan sobekan/pecahan/bagian dari jiwanya untuk mencapai keabadian. Horcrux terakhir yang dihancurkan adalah Nagini saat si ular hendak menyerang Ron dan Hermione. Adalah Neville Longbottom yang melakukannya, menggunakan Pedang Gryffindor. Voldemort membagi jiwanya menjadi delapan; tujun disimpan pada horcrux dan satu pada dirinya sendiri.

Pada pertarungan terakhir itu, Voldemort menggunakan Tongkat Elder, sedangkan Harry menggunakan tongkat milik Draco Malfoy. Namun, lagi-lagi mengingat siapa kepemilikan sah Tongkat Elder, tongkat itu tentu loyal kepada pemiliknya yang sah. Maka ... Voldemort kalah total dan Tongkat Elder, fisik si tongkat, berada di tangan si pemilik yang sah yaitu Harry. Luar biasa, sungguh, penggambaran pertarungan terakhir itu.

Menariknya tentang Tongkat Elder yang loyal pada Harry ini juga bisa terlihat pada pertarungan di Hutan Terlarang. Saat itu harusnya Harry mati lah. Diserang begitu rupa sama penyihir terjahat, terhitam, terkuat. Tapi loyalnya Tongkat Elder pada Harry tidak mampu membuat si tongkat mengikuti kehendak Voldemort. Harry hanya dibikin pingsan sesaat (rohnya bertemu Albus Dumbledore serta orang-orang mati lainnya) dan kembali bernafas. Ada juga yang menyebutkan bahwa semua itu karena perlindungan Lily Potter pada sang anak ajaib ini.

Kasihan juga si Voldemort. Dia berpikir Profesor Snape lah yang menjadi pemilik Tongkat Elder karena si profesor lah yang membunuh Albus Dumbledore. Tidak dia ketahui bahwa Draco lah yang seharusnya dia bunuh, bukan Profesor Snape, karena Draco lah yang melucuti Albus Dumbledore.

Baca Juga: Bodo Amat

Bagaimana dengan Batu Kebangkitan? Bukankah kalau Harry mati saat di Hutan Terlarang, toh dia bisa bangkit lagi? Bukankah Albus Dumbledore pasti punya tujuan tertentu memberikan Batu Kebangkitan pada Harry? Ada dua teori tentang hal ini yang akan saya tulis minggu depan. Haha. Nantikan, ya!


Tongkat Elder pada akhirnya tidak menjadi milik siapa-siapa. Karena Harry mematahkannya dan membuang ke jurang. Maka satu-satunya benda keramat Relikui Kematian yang masih berada di tangan Harry adalah Jubah Gaib. Bagaimana kisah dua benda keramat lainnya? Nanti ya, kita lanjut di pos #SabtuReview minggu depan!

Selamat berakhir pekan, selamat menonton ulang Harry Potter.



Cheers.

Bodo Amat


Masih ingat pos berjudul Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat? Pos #SabtuReview yang belum sempurna karena saya belum selesai membacanya tapi pengen banget menulis proses memperoleh buku keren yang satu ini, yang diberikan oleh sahabat saya Ferdinandus Setu. Hyess, the story behind the book. Pada akhirnya saya menyempatkan membaca buku ini setiap ada waktu luang-pendek misalnya jeda selama perjalanan, nongkrong di kantin, atau sebelum tidur malam. Bisa menyelesaikan buku yang ditulis oleh Mark Manson ini merupakan pengalaman mental yang ausam. Menurut saya. 

Baca Juga: The Book of Origins

Jadi, apa saja yang bisa saya tulis dari hasil membaca tuntas Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat? Mari kita cek ...

About Mark Manson


Seorang blogger. Yang akan mengingatkan kita pada Raditya Dika, pada Kerani dari ChaosAtWork (My Stupid Boss), pada Trinity. Tulisan-tulisannya di blog didominasi dengan aneka tips dan/atau motivasi menarik tentang menjalani hidup, tanpa terkesan menggurui, dan menulisnya dari sudut pandang berbeda. Silahkan cek sendiri di sini.

Diambil dari blog Mark Manson.

Tulisan-tulisan di blog itu kemudian dijadikan buku dengan judul The Subtle Art of Not Giving a F*ck. Yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia menjadi Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat. 

Diambil dari blog Mark Manson.

Life is not about getting rid of problems, it's about finding better problems. It's not about avoiding failuer, it's about getting better at failure. Terjemahan bebasnya: bodo amat! Hahaha. Sampai sekarang Mark Manson masih terus menulis blog-nya dengan konten-konten menarik. Silahkan dibaca. Kalau kesulitan sama bahasa Inggris, buka kamus.

Di Atas Langit Masih Ada Langit


Kalian pasti sering mendengar istilah: (janganlah terlalu dipikirkan) di atas langit, masih ada langit. Itu kesan pertama saya membaca buku ini. Kita cenderung terlalu fokus pada satu masalah. Terlalu fokus dari satu sudut pandang saja. Dan, dan tanpa sadar alam bawah sadar kita menolak untuk berpikir dari sudut pandang berbeda. Sudut pandang berbeda akan menunjukkan pada kita, sebenarnya, bahwa masalah yang sedang dihadapi itu ternyata tidak seberapa dibanding masalah lainnya yang jauh lebih besar/sulit.

Contohnya: empat bungkus nasi kuning bekal perjalanan yang dititip di sepeda motor saya jatuh di daerah Desa Moni, sementara para pengendara sepeda motor lainnya pasti berharap nanti sarapan dengan nasi kuning itu saat istirahat di daerah Wolowaru. Apakah nasi kuning yang jatuh itu masalah besar? Tidak, ketimbang memikirkan nasi kuning yang jatuh dan terlindas sepeda motor itu, kami lebih memikirkan tentang kehati-hatian berkendara lintas Pulau Flores dan berharap tidak ada seorang pun yang mengalami nasib buruk dalam perjalanan jauh dari Kota Ende ke Kota Maumere. Karena kecelakaan lalu lintas, apalagi berakibat pada kematian, merupakan masalah yang sangat besar jika dibanding empat bungkus nasi kuning.

Jadi, masih ada masalah yang, ke depannya bisa jadi, lebih besar dari sekadar jatuhnya nasi kuning di Desa Moni. 

Seni #2: Untuk bisa mengatakan "bodo amat" pada kesulitan, pertama-tama Anda harus peduli terhadap sesuatu yang jauh lebih penting dari kesulitan (Mark Manson, 2018:19).

Hidup memang sulit. Lantas, apakah kita hanya akan memikirkan tentang kesulitan hidup saja? Bangkitlah, masih ada yang lebih sulit dari kesulitan kita, misalnya orang-orang yang negaranya masih berperang. Mereka belum bisa memikirkan tentang tabungan emas Pegadaian, misalnya, mereka masih memikirkan tentang rumah ... apakah keesokan hari rumah mereka masih berdiri atau malah rata dengan tanah akibat dihantam granat atau bom. Atau, apakah besok mereka masih hidup?

Kira-kira hal-hal semacam itulah.

Menghadapi Masalah Adalah Jalan Menuju Bahagia


Ketika kita dihadapkan pada masalah, rasanya dunia runtuh, marah, kesal, tak henti-hentinya mengomel. Beberapa orang cenderung untuk lari dari masalah alias membiarkannya saja tanpa upaya untuk menyelesaikannya. Mereka berpikir bahwa lebih bahagia dengan tidak menyelesaikan masalah itu. Lupakan. Tapi justru itu letak masalahnya ... karena kita tidak akan bahagia hanya dengan membiarkan suatu masalah. Karena menyelesaikan masalah merupakan pengalaman positif yang baik untuk diri kita.

Nilai-Nilai Sampah


Dalam menjalani hidup tidak disadari kita dibendungi oleh nilai-nilai sampah. Apakah nilai-nilai sampah itu? Ada empat nilai sampah yang ditulis oleh Mark Manson yaitu:

1. Kenikmatan.
2. Kesuksesan material.
3. Selalu benar.
4. Tetap positif.

Menariknya adalah penjelasan tentang tetap positif. Bukankah kita sering sekali memotivasi diri sendiri untuk tetap positif? Mark Manson menulis bahwa pengingkaran terhadap emosi negatif menuntut kita untuk mengalami emosi negatif yang lebih dalam dan berkepanjang, serta disfungsi emosional. Terus menerus bersikap positif justru merupakan salah satu bentuk pengelakan terhadap masalah, dan bukan cara yang tepat untuk menyelesaikannya. Contoh yang dilampirkan Mark Manson adalah bahwa ketika kita marah pada seseorang, itu alami karena kemarahan adalah bagian dari kehidupan. Tapi ketika kita memilih untuk tidak memukul seseorang karena marah itu adalah pilihan tepat karena marah adalah alami dan memukul adalah perkara lain yang menimbulkan perkara yang lebih besar.

Hasrat untuk mengejar semakin banyak pengalaman positif sesungguhnya adalah sebuah pengalaman negatif. Sebaliknya, secara paradoksal, penerimaan seseorang terhadap pengalaman negatif justru merupakan sebuah pengalaman positif (Mark Manson, 2018:10).

Perihal poin selalu benar, saya pikir ini memang nilai sampah terhakiki hahaha. Karena ketika merasa selalu benar atau memposisikan diri sebagai pihak yang selalu benar maka kita tidak belajar apa-apa dari sesuatupun. Percayalah, saya pun juga sudah mengalaminya. Kita pernah benar, tapi tidak selalu benar kan? Artinya sebagai manusia kita pun tidak luput dari salah. Belajar banyak dari hal ini tentu bagus. Jangan menjadi orang yang merasa selalu benar.

Contoh Kisah


Di dalam buku ini juga termuat contoh-contoh kisah dari orang-orang yang pasti kalian tahu seperti David Mustain yang didepak dari Metallica dan kemudian membentuk Megadeth. Atau tentang Pete Best yang didepak dari The Beattles lantas menemukan 'arti hidupnya' dari pernikahan dan kehidupan rumah tangga. Atau kisah tentang Hiro Onoda, seorang Letnan Dua dari Angkatan Darat Kekaisaran Jepang (1944). Semuanya terangkum dalam sub Nilai Penderitaan. Kalau saya menceritakan semuanya, tentu bakal diprotes sama Mark Manson. Yang jelas kita akan banyak belajar dari contoh kisah-kisah di dalam buku ini.

Yakin.

Si Panda Nyinyir


Saya tergelak membaca tentang Si Panda Nyinyir ini. 

Jika saya dapat menciptakan satu pahlawan super, saya akan menciptakan pahlawan yang disebut Panda Nyinyir. Dia akan memakai sebuah topeng mata murahan dan kaos (dengan huruf kapital T di atasnya) yang terlalu kecil untuk perut pandanya yang besar, dan kekuatan supernya adalah mengatakan kepada orang-orang, kebenaran yang menyakitkan dan tergolong pedas tentang diri mereka sendiri yang perlu mereka dengar namun tidak ingin mereka terima (Mark Manson, 2018:31).

Hahaha ... Dia akan membuat orang yang mendengarnya menjadi menderita.

Tapi alasan sederhana mengapa kita mengalami penderitaan adalah bahwa secara biologis penderitaan bermanfaat. Ini adalah agen alami yang diperlukan untuk perubahan yang menginspirasi (Mark Manson, 2018:32).

Kita sering mendengar; kebenaran itu menyakitkan. Tapi itu adalah hal yang harus didengar dan/atau dihadapi untuk kemudian diselesaikan. Si Panda Nyinyir ini bisa jadi sisi lain dari diri kita; mungkin dalam kehidupan bisa jadi dia adalah sahabat karib kita.

Lucu juga saat saya membayangkan si Panda Nyinyir ini. 

Apa Yang Harus Dilakukan Dengan "Bodo Amat"?


Bodo amat merupakan kalimat yang berkonotasi negatif. Bodo amat identik dengan masa bodoh. Menurut saya. Sehingga kalau membaca bodo amat, pastilah pikiran kita terbawa pada perilaku masa bodoh, acuh, dan sekelasnya. Tapi jika bodo amat dilakukan dengan seni, seperti yang ditulis Mark Manson, justru menjadi positif. Seni itu ada di mana? Ada di buku Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat.

Bodo amat putus cinta, ketimbang terus-terusan menerima perlakuan buruk dari dia.

Bodo amatlah terlambat datang di pertemuan, ketimbang tidak Shalat Jum'at.

Bodo amat ...

Bodo amat ...

Bodo amat ...


Pengalaman mental yang saya peroleh usai membaca buku Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat memberi peluang pada otak saya untuk berpikir lebih jauh. Contoh: baru-baru ini di Facebook ada sebuah akun yang mengatakan Lomba Mural itu tidak berfaedah karena hanya mencoret-coret dinding saja. Ketika saya membalasnya dengan penjelasan yang baik, akun tersebut malah membias pada hal-hal lainnya. Terakhir dalam hati saya bilang: bodo amat! Kalau dulu, akun semacam itu bakal saya ladeni sampai ke akar-akarnya!

Haha.

Baca Juga: Menghargai Perbedaan Dalam The Help

Bagaimana dengan kalian? Apakah sudah membaca buku ini? Kalau sudah, bagi tahu yuk di komentar pendapat kalian!



Cheers.

Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat



Kalian pasti tahu matrix glitch, tapi apakah kalian mempercayainya? Dari yang saya baca tentang matrix glitch ini, sederhananya, matrix glitch adalah kondisi terhubungnya benang merah dengan cara tidak terduga atau tanpa disadari. Contohnya saat kalian pergi ke suatu acara, ada enam perempuan memakai gaun yang sama, dan keenamnya tidak pernah janjian untuk memakai gaun yang sama (warna, corak, model). Bisa jadi enam perempuan itu sahabatan, bisa juga mereka bahkan tidak saling kenal. Itu matrix glitch.

Baca Juga: The Mentalist

Matrix glitch juga bisa diistilahkan pada suatu keadaan kebetulan yang menyambung atau menghubungkan beberapa hal sekaligus. Dan, baru-baru ini saya mengalami matrix glitch.

The Story Behind The Book


29 Januari 2019 saya mengepos di Facebook sebuah buku berjudul Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat. Foto buku ini dikirim oleh Stanis More, yang waktu ke Jakarta cuma sempat memotret si buku dan menunggu konfirmasi saya apakah mau atau tidak sementara saya sendiri KETIDURAN sehingga tidak membalas pesan WA si Stanis, dan akhirnya Stanis pulang ke Ende tanpa membawa si buku. Huhuhu. Okay, saya mengeposnya di Facebook ditambah tulisan yang hampir sama dengan yang kalian baca barusan. Ini dia penampakan bukunya: 


Yang tidak saya sangka adalah, sahabat saya Ferdinandus Setu, sahabat masa SMP saya yang saat ini menjabat Plt. Kepala Biro Humas Kementrian Komunikasi dan Informasi RI, menyambar alias langsung mengomentari status Facebook tersebut. Anyhoo, iya, wajahnya sering wara-wiri di televisi untuk diwawancarai terkait isu-isu tentang hoax dan lain sebagainya.



Haha. Betul, kawan! Saya menunggunya di bandara, dan kisah matrix glitch kami ternyata panjang. Luar biasa ...


Ini matrix glitch banget, karena saya dan Pak Advent sama-sama menjadi anggota panitia Tim Promosi Uniflor 2019!

About The Book


Saya belum tamat membacanya. 

GUBRAK!!!!

Tapi jangan kuatir, saya bisa kok menulis sedikit ulasan tentang buku Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat karena sudah membaca puluhan halaman-halaman pertama. Lumayan, sambil mengisi waktu di kantor kalau lagi menunggu anggota meeting lainnya, dan menyeruput kopi susu, hehe. Sungguh, saya suka sekali kata 'bodo amat' untuk dipakai pada situasi tertentu, hihi. Maafkan. 

Buku Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat, dengan tagline Pendekatan Yang Waras Demi Menjalani Hidup Yang Baik, yang ditulis oleh Mark Manson. Berwarna oranye, kenapa bukan kuning ya, dengan tulisan besar-besar berwarna hitam. Banyak kalimat menarik dan quotes yang patut digarisbawahi di dalam buku ini, yang bahkan sudah digarisbawahi oleh si pemilik pertama yaitu Ferdin. Salah satunya adalah yang tertera pada halaman 19 Seni #2: Untuk bisa mengatakan "bodo amat" pada kesulitan, pertama-tama Anda harus peduli terhadap sesuatu yang jauh lebih penting dari kesulitan.

Pada rangkaian awal paragraf demi paragraf buku ini saya jadi paham bahwa kadang kita selalu meributkan hal-hal sepele yang menyita waktu dan tenaga padahal hal-hal itu sebenarnya bisa saja kita maafkan. Halaman 21 menegaskannya: Jadi menemukan sesuatu yang penting dan bermakna dalam kehidupan Anda, mungkin menjadi cara yang paling produktif untuk memanfaatkan waktu dan tenaga Anda. Karena jika Anda tidak menemukan sesuatu yang penuh arti, perhatian Anda akan tercurah untuk hal-hal yang tanpa makna.

Baca Juga: Buku Saku: Ende

Mark Manson 'mengajarkan' kita untuk tidak menjadi pribadi yang lebih baik melainkan menjadi pribadi yang 'tahu tentang diri sendiri' dan mengenyampingkan apa-apa yang sebenarnya tidak penting dalam hidup kita. Coba pikirkan lagi, kesulitan terbesar di atas kesulitan yang kita pikir sudah cukup sulit.

Tentu saya harus membacanya sampai selesai untuk bisa menulis lanjutan review dari buku ini. Tapi tidak sekarang ... karena Senin nanti saya harus berangkat ke kabupaten tentangga untuk melaksanakan tugas kantor haha. Cihuy! Bakal banyak cerita kelak :D

Selamat berakhir pekan, kawan.


Cheers.

Kepo Buku #1: Buku Pertama di tahun 2019

Apa buku pertama kalian di tahun 2019? Di episode perdana tahun 2019 ini kita akan awali dengan ngobrolin bacaan pertama kita di awal tahun ini. Ada macam-macam buku yang dipilih oleh para hostnya dan kalian pun bisa ikut berpartisipasi dengan cara mengirim rekaman cerita buku kalian. Selengkapnya ada di bawah. Oya Kepo Buku Season 2 masih bareng Rane, Steven, Toto, namun sekarang juga ditambah satu host baru. Namanya Opat. Jadi episode ini sekalian memperkenalkan teman-teman dengan Opat!

Selamat menikmati.



Di mana dengar podcast Kepo Buku?

Apple Podcast | SoundcloudGoogle Podcast | Spotify | Anchor | Breaker | Sticher | Pocketcast | Radio Public

Buku yang Dibahas di Episode ini:

  • Principles: Work and Life (Ray Dalio)
  • Mind Platter (Najwa Zebian)
  • The Silkworm (Robert Galbraith)
  • Men Without Women (Haruki Murakami)
  • Ikigai (Hector Garcia & Francesc Miralles)
  • Filosofi Teras (Henry Manampiring)
  • Smile (Raina Telgemeier).

 

AYO CERITAKAN BUKU YANG LAGI KALIAN BACA LEWAT AUDIO:

Yoi cuy, kita mau ngajak kalian buat ikutan di Kepo Buku. Intinya kita mau tahu kalian lagi baca buku apa? Kirim dalam bentuk rekaman suara (maksimal 5 menit). Jangan lupa sebut nama, lokasi dan ceritakan buku yang kalian lagi baca atau mau kalian rekomendasikan. Ada dua cara yang bisa dilakukan:

  1. ANCHOR: Untuk pengguna aplikasi Anchor, klik “Message” dan mulai rekam review kalian. (Durasi maksimal 1 menit tapi kalau masih kurang, silahkan rekam lagi)
  2. WHATSAPP:  Gunakan fasilitas Voice Note di Whatsapp. Klik/ ketik link ini di HP kalian: http://bit.ly/ikutkepobuku
  3. EMAIL: Rekam di voice note di hp dan kirim lewat email ke suarane@gmail.com

Rekaman yang kita terima akan kita sertakan dalam episode-episode Kepo Buku berikutnya.

 

Credits & Disclaimer:

  • Kepo Buku tidak berafiliasi dengan penerbit ataupun penulis buku yang diulas di episode ini.
  • Musik: “Rainbows” oleh Kevin MacLeod (incompetech.com). Licensed under Creative Commons: By Attribution 3.0 License
  • Cover: pixabay.com

 

-rh-