Jangan Suka Nyablak Karena Bicara Itu Ternyata Ada Seninya


Jangan Suka Nyablak Karena Bicara Itu Ternyata Ada Seninya. Hai kalian bos-bos pembaca blog! Di rumah saja akibat penyebaran virus Corona di Indonesia memberi kesempatan pada kita untuk melakukan banyak kegiatan. Salah satunya: membaca buku. Coba kalian ingat-ingat lagi, sudah berapa banyak buku yang dibaca sepanjang tahun 2020 yang baru berjalan tiga bulan ini? Lima? Atau bahkan sudah enam belas buku? Tentu dua minggu dirumahkan bukan berarti saya semata-mata membaca buku. Banyak kegiatan lain yang juga dilakukan antara lain nge-blog dan membikin video: Blogging, BlogPacker, dan Podcastuteh untuk diunggah di Youtube. Yuhuuuuu. By the way, salah satu buku yang saya baca setelah buku berjudul The Secret of Ikigai adalah Bicara Itu Ada Seninya. Artinya, jangan suka nyablak! Haha.

Baca Juga: Fiersa Besari Memang Jagoannya Merangkai Kata-Kata

Seperti apa sih buku berjudul Bicara Itu Ada Seninya?

Cekidot!

Bicara Itu Ada Seninya


Bicara Itu Ada Seninya ditulis oleh Oh Su Hyang. Oh Su Hyang adalah seorang dosen dan pakar telekomunikasi di Korea Selatan. Jadi, kalian jangan hanya tahu K-Pop, Drama Korea, atau Tuba Entertainment yang memproduksi Larva, tetapi juga harus tahu bahwa dari negara unik itu juga ada seorang pakar telekomunikasi. Diterjemahkan oleh Asti Ningsih, buku terbitan Penerbit Bhuana Ilmu Populer (BIP) yang merupakan Kelompok Gramedia ini bersampul hitam dengan tulisan berhuruf besar berwarna putih. Tagline-nya: The Secret Habits to Master Your Art of Speaking (Rahasia Komunikasi yang Efektif)Sebanyak 238 kita akan diajarkan secara tidak langsung tentang seni berbicara. Tahukah kalian, ternyata storytelling merupakan plot yang kokoh?

Saya tertarik dengan narasi pada sambul belakang buku ini:

Ketika komunikasi menjadi hal yang penting untuk bersaing, pakar komunikasi Oh Su Hyang mengeluarkan buku yang sangat berarti. Selain berisi tentang pengalaman pengembangan diri, buku ini juga membahas tentang teknik komunikasi, persuasi, dan negosiasi.

Lalu bagaimana cara berbicara yang baik? Apakah berbicara dengan artikulasi yang jelas? Atau berbicara tanpa mengambil napas? Tidak! Sebuah ucapan yang bisa disebut baik adalah yang bisa menggetarkan hati. Ucapan seorang juara memililki daya tarik tersendiri. Ucapan pemandu acara memiliki kemampuan untuk menghidupkan suasana. Anda harus pandai berbicara untuk menunjukkan diri Anda kepada lawan bicara dalam kehidupan sosial. Orang yang berbicara dengan mahir akan menjadi lebih maju daripada yang lainnya. Untuk mencapai tujuan komunikasi, persuasi, dan negosiasi, Anda harus mengetahui metode komunikasi yang efisien.


Berisi bab-bab dengan bahasa yang ringan, pengalaman-pengalaman, ragam tips dan trik, saya pikir kalian wajib membaca buku yang satu ini.

Mengajarkan Tanpa Harus Menggurui


Saya sering menulis tentang para penulis yang mengajarkan banyak hal baik pada pembacanya tanpa terkesan menggurui. Tetapi sebenarnya kalau penulis itu memang menggurui ya tidak masalah sepanjang mereka punya kapabilitas untuk melakukannya. Di dalam Bicara Itu Ada Seninya, pembaca diajak untuk mengetahui alasan takut berbicara. Salah satunya karena trauma salah ucap. Saya sering mengalami salah ucap. Tapi untuk sampai pada tahap trauma, belum. Karena toh saya pribadi tidak mengalami kendalam saat berbicara di muka publik. Itu saya. Tapi pasti beda dengan orang lain yang bahkan untuk berdiri di muka publik saja bergetar seluruh tubuh. Intinya adalah harus membuang rasa takut tersebut. Itu yang diungkapkan oleh Oh Su Hyang.

Mengubah cara bicara, mengubah cara hidup, juga tertuang di dalam buku ini. Mengubah cara bicara tidak terjadi sekedip mata. Oh Su Hyang mengajarkan tentang latihan di balik panggung gelap, dengan contoh (alm.) Steve Jobs. Membaca bagian ini saya ingat diri sendiri. Jujur, saya seringkali berbicara dengan nada yang cukup tinggi, kecepatan cahaya, sehingga sering belepotan. Diimbuh suara yang cempreng. Oh lala, yang mendengar saya bicara pasti langsung sakit kepala. Tetapi setelah menjadi penyiar radio, saya harus bisa menjadi orang lain yang mendengarkan diri sendiri berbicara. Ah, ternyata memang benar, bicara itu ada seninya. Hahaha.

Perkara yang juga diajarkan Oh Su Hyang dalam Bicara Itu Ada Seninya adalah tentang Sepuluh Aturan Komunikasi:

1. Kata-kata yang tidak bisa diucapkan di "depan", jangan dikatakan di "belakang". Gunjingan sangatlah buruk.

2. Memonopoli pembicaraan akan memperbanyak musuh. Sedikit berbicara dan perbanyak mendengar. Semakin banyak mendengar akan semakin baik.

3.Semakin tinggi intonasi suara, makna dari ucapan akan semakin terdistorsi. Jangan menggebu-gebu. Suara yang rendah justru memiliki daya.

4. Berkata yang menyenangkan hati, buka sekadar enak didengar.

5. Katakan yang ingin didengar lawan bicara, bukan yang ingin diutarakan. Berbicara yang mudah dimengerti, bukan yang mudah diucapkan.

6. Berbicaralah dengan menutupi aib dan sering memuji.

7. Berbicara hal-hal yang menyenangkan, bukan yang menyebalkan.

8. Jangan hanya berkata dengan lidah, tetapi juga dengan mata dan ekspresi. Unsur non-verbal lebih kuat daripada unsur verbal.

9. Tiga puluh detik di bibir sama dengan tiga puluh tahun di hati. Sepatah kata yang kita ucapkan mungkin saja akan mengubah kehidupan seseorang.

10. Kita mengendalikan lidah, tapi ucapan yang keluar akan mengendalikan kita. Jangan berbicara sembarangan dan bertanggungjawablah terhadap apa yang sudah Anda ucapkan.


Sehingga, kalau kalian menyimpulkan buku ini tidak hanya menuangkan 'ilmu' berbicara di muka publik tetapi juga terhadap teman ... betul sekali. Tentunya masih banyak pelajaran lain yang bisa kalian ambil dari buku ini demi kelancaran komunikasi baik dengan orangtua, saudara, kawan, tetangga, kekasih, maupun musuh! Hehe.

Mengaplikasikannya Dalam Kehidupan Sehari-Hari


Beberapa teman-teman yang hendak mengikuti ujian skripsi sering bertanya pada saya, bagaimana bersikap di dalam ruang sidang skripsi. Saran saya pada mereka:

Pertama:
Harus menguasai penelitian yang sudah diubah dalam bentuk skripsi tersebut! Bagaimana bisa berbicara kalau materinya tidak dikuasai? Kuasai permasalahannya, kuasai undang-undang yang dipakai, kuasai pemecahan masalahnya.

Kedua:
Berbicara tanpa 'eee', tanpa 'anu'. Berbicaralah dengan tegas, lugas, tanpa keraguan sedikit pun, namun tidak berkesan sombong. Karena biarpun kalian menguasai 100% materi tetapi tidak didukung dengan kemampuan berbicara yang baik ... Wassalam. Oleh karena itu, harus berlatih berbicara dimulai dengan "Selamat pagi, nama saya Abcefg, NIM sekian, judul penelitian saya adalah Ini Itu Adalah Ini Itu".

Ketiga:
Menatap wajah dosen dengan tatapan pasti. Percaya diri.

Keempat:
Bawa selalu Tuhan dalam setiap perkataan.


Jadi, kawan, jangan pernah menganggap remeh para pewara alias master of ceremony. Apa pun acara kalian, tanpa pewara, bakal garing. Merekalah yang membawa acara kalian menjadi terarah dan meriah. Pewara bukan sekadar pewara, tetapi mereka harus menguasai pula inti acara yang dibawakan tersebut. Otak mereka harus menerima informasi-informasi baru, mengolahnya, untuk melengkapi pekerjaan membawa acara. Saya sering sedih kalau mendengar orang-orang berkata: apa eeee omong begitu saja bayar sampai jutaan. Kadang saya langsung membalas: mau yang murah? MC sendiri, jangan minta jasa MC kondang. Meskipun bukan pewara tapi saya sangat tahu persis betapa susahnya jadi pewara, terutama pewara perempuan yang selain mengandalkan otak dan seni berbicara, juga harus memerhatikan penampilan.

Semoga pos ini bermanfaat untuk kalian semua.

Selamat menikmati akhir minggu. Dan setidaknya saya cukup senang mendengar berita dari RRI Ende yang mengabarkan ODP di Ende dari 22 turun hingga 3. Dari 3 ODP, 2 sudah dirumahkan (karantina diri sendiri), 1 masih dirawat di ruang karantina RSUD Ende karena masih balita. Semoga badai ini lekas berlalu ...

#SabtuReview



Cheers.

Mengintip Rahasia Bahagia dan Umur Panjang dari Ikigai


Mengintip Rahasia Bahagia dan Umur Panjang dari Ikigai. Membaca judul, kalian pasti bertanya-tanya, memang ada sekolah yang mengajarkan hal itu? Ada donk. Semua tingkatan sekolah di Indonesia mengajarkan hal itu, terutama sekolah dasar, melalui cara-cara halus yang tidak disadari oleh para murid. Di sekolah, murid diajarkan untuk menghormati guru dan menyayangi teman, saling menghargai, tidak menghina apalagi melakukan kekerasan fisik terhadap orang lain, tidak mencuri, tidak berbohong, selalu bersyukur dan lain sebagainya. Murid sedapat mungkin punya simpati dan empati dan digembleng agar memiliki karakter yang baik. Tapi sekolah secara harafiah bukan satu-satunya tempat kita belajar. Buku juga merupakan sekolah. Ya, bagi saya buku juga merupakan sekolah yang mengajarkan pembacanya banyak perkara. Siapa pun yang tidak membaca buku pasti merugi. Kalau ada yang membantah, artinya dia memang jenius sejak lahir. Begitu berusia lima jam, sudah pandai bicara menggunakan lima bahasa di dunia, hafal sejarah Hagia Sohpia, serta tahu seluk-beluk kalkulus. 

Baca Juga: KKN di Desa Penari yang Menggemparkan Dunia Maya

Salah satu buku bertema self improvement yang pernah saya baca berjudul The Secret of Ikigai: Rahasia Menemukan Kebahagiaan dan Umur Panjang Ala Orang Jepang. Duh, menulis Jepang, saya punya cita-cita menghabiskan masa tua di Jepang loh. Haha. Jepang itu negara yang sangat menarik. Bukan hanya karena anime-nya, atau bunga sakura, tetapi juga gaya hidup masyarakatnya, makanannya, sampai penemuan-penemuannya yang bikin saya ternganga. Siapa sih yang tidak tahu gaya hidup minimalis Orang Jepang? Kalian pasti tahu futon, perangkat tidurnya Orang Jepang. Agung Riantiarno menulis sebagai berikut: Futon dalam satu set nya biasanya terdiri dari Shikibuton (matras) yang biasanya hanya sedikit lebih tebal dari Bed Cover, Shiitsu (seprai kasur), Kakebuton (selimut tebal), Houfu (sarung dari selimut), Makura (Bantal) dan Makura Kaba (sarung bantal). Kalau Orang Indonesia maunya kasur pegas king size! Hahaha.

Kita tinggalkan futon, mari bahas The Secret of Ikigai!

The Secret of Ikigai


The Secret of Ikigai ditulis oleh Irukawa Elisa. Buku setebal 224 halaman ini diterbitkan oleh Araska (Publisher) dengan tema/kategori self improvement. Ada lima bab, di luar kata pengantar hingga epilog, yang membawa pembaca pada semesta 'sadar dan kenal diri sendiri'. Hal semacam ini memang familiar karena buku-buku self improvement lain juga mengajarkan hal yang sama. Tapi jelas, The Secret of Ikigai yang bersampul putih dengan bunga sakura ini menjelaskan dari sudut pandang berbeda, bernuansa kehidupan Orang Jepang.

Aliran Lima Bab


Ini menarik, The Secret of Ikigai ditulis dalam bab-bab yang mengalir seperti air. Sangat runut alias tidak melompat-lompat. Seperti proses manusia: lahir - belajar berjalan - bertumbuh - menikah - menjadi orangtua - dan seterusnya. Lihat Bab 1 yang berjudul Tujuan Hidup Tidak Jelas? Kuasai 4 Konsep Filosofi Ikigai. Ini pertanyaan umum, dan memang secara umum banyak orang yang bertanya pada diri sendiri, mau di bawa ke mana hidup saya ini? Menyerah, atau belajar dan berjuang? 4 Konsep Filosofi Ikigai itu adalah

1. Apa yang kamu sukai?
2. Apa yang dibutuhkan dunia?
3. Apa timbal balik untuk Anda?
4. Apa kemampuan Anda?

Kalau pembaca bisa menjawab empat pertanyaan di atas ... luar biasa. Passion menjadi paid for.

Masih dari Bab 1 pula pembaca diajarkan membongkar 4 elemen Ikigai yaitu: Mission, Vocation, Profession, dan Passion.

Orang yang hidup memiliki passion akan hidup lebih bahagia dan memiliki usia yang lebih awet muda, seperti orang penduduk Jepang. Seperti yang kita tahu bahwa Jepang termasuk negara maju yang memiliki jam kerja yang luar biasa padat. Dengan kepadatan kerja yang luar biasa, mereka memiliki angka kematian yang kecil. Dari hasil penelitian, hal ini karena mereka mampu menemukan Ikigai mereka di tengah kesibukan yang memicu stress. Indonesia yang masih memiliki jam kerja yang cukup, harusnya lebih mudah menemukan Ikigai. (Irukawa Elisa, 2019:40).

Pada Bab 2: Lesu Menjalani Hidup? Bongkar Pembangkit Semangat Hidupmu. Poros Bab 2 ini ada pada bagaimana kita menemukan tujuan hidup, membangun emosi positif, menghindari prasangka, dan menyadari identitas diri yang sebenarnya. 

Pada prinsipnya adalah, mengetahui kesenangan, ketidaksenangan, karakter dan pribadi diri sendiri. Karena hal inilah yang akan menjadi modal utama, sekaligus sebagai pengantar untuk menuju kesuksesan. (Irukawa Elisa, 2019:60).

Bab 3: Fokus pada Hal yang Kamu Cintai. Ini mengingatkan saya pada buku berjudul Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat. Iya, kita seringkali terganggu dengan perkara-perkara kecil, seperti omongan orang dan bisik-bisik tetangga, sehingga tergeser dari fokus (apa yang kita cintai). Misalnya, kemampuan kita adalah mendaur ulang sampah, tetapi kuatir sama omongan orang "Sarjana kok daur ulang sampah!" pada akhirnya kita bergeser dari apa yang kita cintai (mencintai hobi, kesenangan, apa yang dilakukan). Pada Bab 3 ada sub berjudul: Menikmati Air Mengalir. Ini bagus, dalam pandangan saya, apa yang tidak bisa diubah oleh manusia, artinya harus dinikmati, sepahit apa pun itu. 

Bab 4: Menggali Kemampuan Tersembunyi. Iya sih, banyak orang tidak sadar bahwa mereka punya potensi. Ada potensi/bakat/kemampuan yang langsung menunjukkan diri, tapi ada pula yang bersembunyi menunggu pencarinya/penggalinya. Di sini kita belajar bahwa kreativitas tidak dimiliki oleh orang tertentu saja. 

Pertanyaannya adalah bagaimana membangun kreativitas yang mampu melahirkan inovasi? Memang tidaklah mudah, perlu yang namanya latihan, dan berpikir kritis. Tidak sekedar itu, tetapi juga peka terhadap banyak hal. Karena dengan peka terhadap banyak hal-hal kecil di sekeliling akan mengasah kreativitas dan memantik inovasi lahir. (Irukawa Elisa, 2019:108).

Bab 5: Apa Timbal Balik Ikigai? Tentu panjang umur dan bahagia merupakan timbal balik pertama yang bakal diperoleh. Berikutnya menyusul: produktif, menjadi pribadi yang lebih disiplin, menciptakan manusia berkualitas, kreatif dan inovatif, menjadi agen perubahan, memiliki kemampuan self driving, dan rasionalis.

Seseorang yang memiliki visi dan misi yang jelas, disertai dengan semangat mewujudkan. Maka secara otomatis sistem syaraf otak akan bekerja untuk berfikir rasional. Jadi secara otomatis sistem syaraf otak saling terkoneksi untuk melihat peluang di setiap celah yang ada. Orang yang memiliki pemikiran rasional, memiliki pemikiran lebih kritis setiap melihat peluang dan objek yang ada. (Irukawa Elisa, 2019:216).

Tentu, masih banyak detail-detail menarik yang bisa kalian temukan di dalam buku ini, ditulis/dikupas tuntas satu per satu oleh Penulisnya. Jangan salahkan saya jika saat kalian membaca, kepala bakal mengangguk-angguk setuju seratus persen. Hehe. 

Kita dan Ikigai


Menurut Wikipedia, Ikigai adalah istilah Jepang untuk menjelaskan kesenangan dan makna kehidupan. Kata itu secara harfiah meliputi iki, yang berarti kehidupan dan gai, yang berarti nilai. Ikigai kadang diekspresikan sebagai “alasan untuk bangun di pagi hari”. Ikigai-lah yang memberikan motivasi berkelanjutan untuk menjalani hidup, atau bisa juga dibilang bahwa ikigai-lah yang memberikan gairah hidup yang membuat semangat dalam menyambut kedatangan setiap hari baru. Irukawa Elisa menulis bahwa Ikigai di Jepang sudah akrab, dan menjadi gaya hidup mereka. Sebenarnya di Indonesia secara tidak langsung sebenarnya juga telah mempraktekkan Ikigai. Perbedaannya Ikigai di Jepang dan di Indonesia hanya pada sebutannya. Di Indonesia, tidak ada nama sebutan khusus terkait tujuan hidup. Namun, sebenarnya Orang Indonesia sudah memiliki tujuan hidup dan sudah menemukan sumber kebahagiaan.

Kalian pasti terkejut. Hehe.

Menurut Irukawa Elisa, di Indonesia khususnya kaum Muslim, kata yang lebih tepat bukan Ikigai, namun dapat disederhanakan dengan ikhlas dan bersyukur menjalani hidup. Bersyukur menjalani hidup dapat saya bilang mudah dilakukan oleh siapa saja. Tetapi ikhlas, itu perkara lain. Byuuuuh. Susahnya ikhlas itu pasti kalian juga sudah merasakan hahaha. Tapi kita harus berupaya untuk bisa ikhlas dalam setiap sendi kehidupan ini.

Baca Juga: Pariwisata Nusantara

Akhirnya selesai juga saya me-review buku ini setelah lama dibaca. Salah satu buku self improvement yang juga saya rekomendasikan pada kalian. Kalau kalian juga punya rekomendasi buku-buku self improvement lain, silahkan komen di bawah, siapa tahu bakal saya beli, baca dan review. Semoga bermanfat bagi kalian semua. Mulailah belajar mengenali diri sendiri, menggali kemampuan diri, memanfaatkan potensi diri, bodo amat sama perkara-perkara kecil yang tidak penting, serta jangan lupa bersyukur dan berusaha ikhlas!

#SabtuReview



Cheers.

5 Buku Self Improvement yang Wajib Kalian Baca


5 Buku Self Improvement yang Wajib Kalian Baca. Membaca buku merupakan kegiatan yang masih saya lakukan di sela-sela aktivitas lainnya seperti bekerja di kantor, nge-blog, membikin konten Youtube, berkomunitas, melancong, dan lain sebagainya. Buku, I mean the real book not e-book, masih dan akan terus menjadi bagian hidup saya. Memburu buku memang sudah saya hentikan; terakhir memburu buku Harry Potter and Deathly Hallows di Jakarta, bahkan buku itu belum diletakkan di rak Gramedia Salemba, haha. Tapi membeli buku masih terus saya lakukan. Kalian tahu bedanya kan. Memburu, artinya saya bisa berupaya sekeras mungkin untuk mendapatkan buku-buku baru dari penulis favorit. Membeli, artinya saya membeli buku yang menurut saya perlu dibeli. Dan akhir-akhir ini saya lebih sering membeli buku bertema self improvement.

Baca Juga: 5 Ranah Hukum di Indonesia yang Wajib Kalian Tahu

Apa sih self improvement itu?

Secara harafiah self improvement berarti perbaikan diri dan/atau memperbaiki diri. Lebih dalam, self improvement adalah tentang bagaimana kita mengenali diri sendiri baik kebiasaan baik, kebiasaan buruk, maupun potensi tersembunyi; untuk diperbaiki, dikelola, dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya demi peningkatan kualitas hidup. Self improvement berkaitan dengan personal development. Personal development atau pengembangan pribadi mencakup kegiatan yang meningkatkan kesadaran dan identitas, mengembangkan bakat dan potensi, membangun sumber daya manusia dan memfasilitasi kemampuan kerja, meningkatkan kualitas hidup dan berkontribusi pada perwujudan impian dan aspirasi.

Dalam salah satu video SCURD, Raditya Dika mengatakan bahwa dirinya kini menerapkan pola hidup minimalis. Teringat salah satu buku yang pernah saya baca berjudul Seni Hidup Minimalis. Buku itu mengajarkan pembacanya untuk lebih cerdas memilih dan memilah serta harus bisa tega membuang semua 'sampah' dari hidupnya. Apalah kita ini, yang bahkan punya lebih dari sepuluh tas, lebih dari sepuluh sepatu, lebih dari sepuluh botol parfum, dan merasa masih kurang? Byuuuuh! Mungkin itu memang sifat dasar manusia. Selalu merasa kurang. Telepon genggam saja harus dua. Haha. 

Membaca buku-buku bertema self improvement memang memberi pengaruh yang cukup besar bagi hidup saya. Entah dengan kalian. Dan kali ini saya akan merekomendasikan lima buku self improvement. Wajib kalian baca! Tapi kalau kalian tidak suka membacanya ... tidak apa-apa. Tergantung kesenangan dan kebiasaan saja.

Yuk tengok lima buku itu.

1. Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat


Buku ini ditulis oleh Mark Manson. Seorang blogger. Dia mengingatkan kita pada Raditya Dika, pada Kerani dari ChaosAtWork (My Stupid Boss), pada Trinity. Tulisan-tulisannya di blog didominasi dengan aneka tips dan/atau motivasi menarik tentang menjalani hidup, tanpa terkesan menggurui, dan menulisnya dari sudut pandang berbeda. Salah satu hal menarik dari buku ini adalah penjelasan tentang tetap positif. Bukankah kita sering sekali memotivasi diri sendiri untuk tetap positif? Mark Manson menulis bahwa pengingkaran terhadap emosi negatif menuntut kita untuk mengalami emosi negatif yang lebih dalam dan berkepanjang, serta disfungsi emosional. Terus menerus bersikap positif justru merupakan salah satu bentuk pengelakan terhadap masalah, dan bukan cara yang tepat untuk menyelesaikannya. Contoh yang dilampirkan Mark Manson adalah bahwa ketika kita marah pada seseorang, itu alami karena kemarahan adalah bagian dari kehidupan. Tapi ketika kita memilih untuk tidak memukul seseorang karena marah itu adalah pilihan tepat karena marah adalah alami dan memukul adalah perkara lain yang menimbulkan perkara yang lebih besar.

Hasrat untuk mengejar semakin banyak pengalaman positif sesungguhnya adalah sebuah pengalaman negatif. Sebaliknya, secara paradoksal, penerimaan seseorang terhadap pengalaman negatif justru merupakan sebuah pengalaman positif (Mark Manson, 2018:10).

Cobalah baca buku ini. Dan saya yakin kalian pasti suka.

Seni #2: Untuk bisa mengatakan "bodo amat" pada kesulitan, pertama-tama Anda harus peduli terhadap sesuatu yang jauh lebih penting dari kesulitan (Mark Manson, 2018:19).

2. Mendaki Tangga yang Salah 


Buku ini ditulis oleh Eric Barker dan diterbitkan oleh P.T. Gramedia Pustama Utama pada tahun 2019. Sebanyak 360 halaman mengajarkan pembacanya tentang banyak hal untuk lebih mengenali diri sendiri. Istilahnya: mau jadi apa kita kelak? Kenali diri sendiri! Dan, ah ya, saya tidak bisa untuk melewatkan yang satu ini: buku Mendaki Tangga Yang Salah diberikan oleh Ibu Rosalin Togo atau lebih dikenal dengan panggilan Mami Ocha yang saat ini sedang menempuh pendidikan S2 di Kota Surabaya. Terima kasih, Mami ... Pahlawan Intelektual saya! Hehe.

Eric Barker tidak berusaha menggurui. Dia lebih condong pada memberikan contoh perilaku, kesuksesan orang-orang besar dunia, hingga beragam teori, serta penelitian dan hasil penelitian para profesor dan/atau para pakar. Garis besar, benang merah, Mendaki Tangga Yang Salah adalah kenali diri sendiri. Kalau kita tidak sependapat, biarkanlah ketidaksependapatan itu menjadi nilai demokrasi dalam me-review buku. Haha. Apabila manusia mengenali diri sendiri maka dia akan tahu tangga mana yang harus dinaiki. Bukan begitu poinnya? Bayangkan saja jika kita tahu, tidak pandai, atau tidak berbakat membikin sketsa tetapi terus-terusan memaksakan diri hingga akhir hayat. Apa yang kita capai? Nothing.

Bab 1 Mendaki Tangga Yang Salah memoroskan kalimat judul Jika Ingin Sukses, Haruskah Kita Bermain Aman dan Melakukan Apa Yang Diperintahkan Kepada Kita

3. Mission Ini Possible


Misbahul Huda adalah penulis buku ini. Buku Mission Ini Possible dengan pengantar dari Dahlan Iskan ini sangat menarik di setiap lembarnya. Isinya merupakan pengalaman membangun dari si penulis; motivasi yang luar biasa. Saya mencintai buku-buku Ajahn Brahm tapi saya juga mencintai buku yang ditulis oleh Misbahul Huda ini. Bahkan pada halaman awal saya sudah terpesona:

Jika anda tidak berubah, anda akan punah. Kalimat yang sama pernah saya dengarkan saat sosialisasi oleh Telkomsel di Fakultas Ekonomi - Universitas Flores. Betul juga. Apalah kita ini jika terlalu idealis dengan dunia yang dulu. Menerima perubahan dan memanfaatkannya untuk hal-hal yang positif jauh lebih baik ketimbang membuang enerji untuk menolak perubahan yang terjadi. Setidaknya tidak perlu menolak, duduk diam-diam dan tenang-tenang saja lah ... menanti menjadi punah. Hehehe.

Ingat:
Satu-satunya bagian dari kita yang tak berubah adalah menjadi.

Buku ini sangat saya rekomendasikan kepada kalian semua. Isinya bagus. Ditulis dengan bahasa yang sangat mudah dipahami dan kadang-kadang menggunakan istilah-istilah bahasa Jawa. Kutipan-kutipan kalimat bijak yang diselipkan, selain sesuai dengan sub buku, juga sangat memotivasi pembacanya. Kadang, ketika ada orang yang tidak mau berubah, hanya dengan membaca sebuah buku niscaya dia akan berubah. Percayalah. Pendorong itu bukan hanya orangtua, pacar, suami/isteri, sahabat, tapi juga sebuah buku.

4. The Secret of Ikigai


Buku ini sudah saya baca tapi belum pernah menulis review-nya di blog ini. Buku dengan tagline: Rahasia Menemukan Kebahagiaan dan Umur Panjang Ala Orang Jepang ditulis boleh Irukawa Elisa. Setiap bab buku ini mengajarkan hal-hal yang familiar karena memang itu yang kita jalani sehari-hari. Salah satunya adalah menghindari prasangka. Kawan, susah sekali ... karena prasangka itu bagian dari hidup kita setiap harinya. Haha.

Tidak mudah menghindari prasangka dalam kehidupan bersosial. Sebagai manusia dalam keseharian, hampir setiap hari kita membangun prasangka tanpa kita sadari. Mulai dari prasangka positif maupun negatif. Prasangka ini pulalah yang menimbulkan penilaian like-dislike terhadap orang lain. Satu orang dengan orang yang lain pun akan memiliki penilaian yang berbeda, tergantung dari emosi (suasana hati) orang tersebut pada waktu itu. (Irukawa Elisa, 2019:47).

Seperti yang tertulis pada sampul belakangnya: Buku ini adalah buku yang tepat untuk Anda baca. Di sinilah Anda akan mengetahui ilmu Ikigai. Ikigai akan membantu Anda akan menemukan tujuan hidup Anda dan kebahagiaan hidup Anda. Ikigai mengajarkan cara hidup lebih mandiri, bermanfaat untuk diri sendiri dan juga untuk lingkungan. Inilah Ikigai, rahasia hidup bahagia, panjang umur dan penuh makna.

5. Berjalan di Atas Cahaya


Di luar dari perilaku atau omongannya yang disiarkan di berita, saya menyukai cara menulis Hanum Salsabiela Rais dalam buku Berjalan di Atas Cahaya; Kisah 99 Cahaya di Langit Eropa. Berjalan di Atas Cahaya merupakan buku catatan perjalanan Hanum Salsabiela Rais bersama tim ketika sedang bekerja alias melakukan peliputan untuk program Ramadhan sebuah stasiun teve swasta Indonesia. Lokasi liputannya adalah Eropa, sasaran liputannya adalah kaum Muslim yang hidup di benua itu beserta segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan berhijab (yang pasti mereka tahu hijab = Muslim). Kaum Muslimnya pun bukan semata-mata yang lahir dan besar di Eropa melainkan juga Orang Indonesia! Seperti Bunda Ikoy … misalnya. Hmm. Nampaknya stigma Muslim = teroris masih saja menghantui mereka meskipun teknologi yang mereka gunakan milyaran persen di atas teknologi manusia gua.

Berjalan di Atas Cahaya melibatkan dua kontributor lain yaitu Tutie Amaliah dan Wardatul Ula meskipun Hanum masih mendominasi dengan kisah-kisah ajaibnya. Saya jamin kalian akan sangat kaya pengetahuan setelah membaca Berjalan di Atas Cahaya. Salah satu yang paling saya gemari adalah Fenomena Gajah Terbang. Bagaimana kita, manusia yang berdosa ini, paling sering terkena sindrom fenomena gajah terbang. Meskipun kita tahu tidak ada gajah yang bisa terbang tapi begitu dengar kalimat, “lihat, gajah terbang!” pasti kepala langsung mendongak ke langit. Hehe. Artinya, janganlah langsung berpendapat pada sesuatu berdasarkan pendapat orang lain. Ah, keren sekali deh.

Kisah lain yang juga tak kalah seru adalah tentang Nur Dann. Si cantik ini berdakwah dengan cara nge-rap! Yoo-hoo. Karena Hanum juga melampirkan foto si Nur Dann, saya ternganga. Amboy, cantik sekali lah dia. Kisah lainnya adalah tentang Bunda Ikoy; Orang Indonesia yang sukses bekerja di perusahaan jam kelas dunia. Ya, mereka berjuang untuk bekerja dan hidup baik di tanah sekuler tersebut tanpa harus melepaskan hijab sebagai jati diri ke-Islam-annya. Taruhannya adalah iman. Sanggupkah kita menjaga iman ini tetap seperti yang kita inginkan?


Lima buku di atas betul-betul membikin otak saya seakan dibelah, pecah, membuka, untuk menampung lebih banyak hal-hal positif. Apakah dengan membaca buku-buku itu membawa perubahan dalam hidup saya? Ya, tentu. Lebih pandai memilah dan memilih, itu salah satunya. Tapi bukan berarti saya terbebas dari segala hal manusiawi lainnya. Tidak dooong. Namanya juga manusia, kesalahan masih tetap terjadi/ada. Kalau hanya karena membaca buku-buku self improvement saya kemudian tidak melakukan satu pun kesalahan, itu luar biasa hahaha. Tapi yang jelas, ada perubahan baik dalam hidup saya.

Baca Juga: 5 Perilaku Sederhana Untuk Mengurangi Sampah Plastik

Semoga kalian juga punya kesempatan membaca buku-buku di atas. Amin. Tidak harus sekarang. Kapan saja kalian punya waktu/kesempatan. Karena, membaca tidak akan pernah membikin kita merugi.

Semoga bermanfaat!

#KamisLima



Cheers.

A Child Called ‘It’, Kisah Pahit Seorang Anak

Maraknya pemberitaan soal korban dan aksi perisakan (bully) ini menurut saya sebenarnya bukan karena aksi perisakan baru ada sekarang, tapi karena meningkatnya kesadaran masyarakat (termasuk media) atas buruknya efek akibat aksi perisakan ini.  Saya kira tinggal menunggu waktu saja aturan-aturan hukum terkait aksi perisakan ini akan ditegakkan dengan tegas. Tanpa hukuman yang tegas, saya kira

A Child Called ‘It’, Kisah Pahit Seorang Anak

Maraknya pemberitaan soal korban dan aksi perisakan (bully) ini menurut saya sebenarnya bukan karena aksi perisakan baru ada sekarang, tapi karena meningkatnya kesadaran masyarakat (termasuk media) atas buruknya efek akibat aksi perisakan ini.  Saya kira tinggal menunggu waktu saja aturan-aturan hukum terkait aksi perisakan ini akan ditegakkan dengan tegas. Tanpa hukuman yang tegas, saya kira

Fiersa Besari Memang Jagoannya Merangkai Kata-Kata


Fiersa Besari Memang Jagoannya Merangkai Kata-Kata. Saya terpesona pada lagu-lagu ciptaannya. Liriknya sederhana tetapi setiap kata digandeng dengan kata yang tepat sehingga menghasilkan kalimat yang membikin kita senyum-senyum sendiri terus bilang, "Benar banget!". Kalian tentu hafal lirik lagu Celengan Rindu bukan? Atau yang paling baru, yang jadi soundtrack-nya Imperfect: Karir, Cinta, & Timbangan yang berjudul Pelukku Untuk Pelikmu. Sumpah, saat mendengarkan lagu ini perasaan saya jadi nyaman. Tsaaah. Haha. Betul! Apalagi pas ketemu lirik: Jangan pernah kau merasa sendiri, tengoklah aku yang tak pernah pergi, bagiku engkau tetap yang terbaik, entah beratmu turun atau naik. O-le!
Kemarin saya diberipinjam sebuah buku berjudul Garis Waktu dengan tagline: Sebuah Perjalanan Menghapus Luka. Betul, buku ini ditulis oleh Fiersa Besari. Buku ini dipinjamkan oleh teman kerja Ibu Happy Diana. Ya, kami memang sering saling meminjamkan buku. Jadi, ada semacam suatu penghematan di sini tanpa harus kehilangan kesempatan membaca buku-buku kece. Haha. Kalian harus maklum, di Kota Ende belum ada toko buku sekaliber Gramedia atau Gunung Agung dan lain sebagainya. Untuk buku-buku populer kami harus memasoknya dari luar jika ingin segera membacanya.

Garis Waktu bukan buku berat seperti salah satu buku Supernova: Gelombang. Tapi buku ini justru langsung melekat karena bukan hanya isinya tetapi quote-quote-nya! Jujur, saya belum khatam membaca Garis Waktu tapi sudah khatam membaca quote-quote-nya. Tapi saya sudah tidak tahan untuk menulis tentang buku ini untuk #SabtuReview karena hampir sepuluh hari saya tidak menulis konten bekal pos blog ini. Ke mana kah saya? Ke hatimu. Hahaha. Maklum, begitu banyak pekerjaan yang membutuhkan waktu dan konsentrasi penuh, dan penelitian yang sungguh, sehingga untuk melihat berapa banyak pembaca dalam sehari pun saya tidak melakukannya. Ditambah begitu banyak pula persiapan yang harus dilakukan untuk pelantikan Rektor Uniflor tanggal 30 Januari 2020 kemarin.

Mari berbicara tentang Garis Waktu.

Buku ini bersampul putih dengan sedikit gambar terkesan simple. Diterbitkan oleh Media Kata, buku setebal 211 halaman ini berisi perjalanan cerita yang dikemas apik. Setiap cerita tidak akan membikin kalian terlalu lama terbuai karena pendek saja. Tetapi jangan salah, justru karena kemasannya seperti itu justru membikin penasaran dan pengen baca lagi. Iya, itu yang terjadi ketika saya membaca cerita berjudul Dimensi Tentangmu (Pada aebuah garis waktu), Perjumpaan yang Sederhana (April, tahun pertama), Sesuatu yang Tumbuh Diam-diam (Mei, tahun pertama), dan Untukmu yang Berjubah Api (Mei, tahun pertama). Baru empat. Hehe. Sudah dibaca ulang dua kali setiap cerita. Dan kemudian saya terpesona dengan quote-quote-nya.

Setiap cerita di dalam Garis Waktu diakhiri dengan quote menarik. Sekali lagi, kata-katanya sederhana, tapi perkawinan kata-kata itu yang bakal membikin kita termangu saking kagumnya sama Fiersa Besari. Seterusnya saya membaca semua quote yang ada sedangkan ceritanya belum semua. Makanya saya tulis di atas, belum khatam. Salah satu quote bahkan saya pakai untuk status WA dan Facebook:

Seseorang yang tepat tak selalu datang tepat waktu.
Kadang ia datang setelah kau lelah disakiti oleh seseorang yang tidak tahu cara menghargaimu.

Asyik. Hehe.

Itu baru salah satu quote. Yang lainnya ... silahkan kalian baca sendiri Garis Waktu, ya! Tidak etis kalau semuanya saya tulis di sini. Yang jelas, ini memang merupakan sebuah perjalanan menghapus luka oleh seorang Fiersa Besari yang ternyata anak sastra. Iri saya padanya. Hiks. Dia begitu lihai mengawinkan kata.

Baca Juga: Inilah Akibat Paling Fatal Dari Perkara Yang Dianggap Remeh

Saat ini saya masih terus membaca Garis Waktu di sela-sela memikirkan kamu *plaaaaak*. Masih larut menikmati lihainya seorang Fiersa Besari bercanda dengan kata. Dan semoga lekas selesai membacanya karena Filosofi Teras juga sedang menunggu untuk dilanjutkan.

Selamat menikmati akhir minggu, kawan!

#SabtuReview



Cheers.

Kalau Begitu Marilah Kita Coba Mendaki Tangga Yang Benar


Kalau Begitu Marilah Kita Coba Mendaki Tangga Yang Benar. Pada pos Sabtu berjudul Akan Me-review Tiga Buku Nutrisi Otak dan Makanan Jiwa saya sudah berjanji untuk menyelesaikan proses membaca buku-buku itu. Belum semuanya tuntas terbaca, pasal pekerjaan bertubi-tubi tidak dapat ditunda, datang lagi satu buku berjudul Filosofi Teras. Demi tekad menuntaskan tiga buku self improvement, para nutrisi otak dan makanan jiwa, saya tidak berani menyobek plastik pelindung Filosofi Teras meskipun hasrat terus meronta. Buka! Ayo, buka! Saya harus patuh pada komitmen sendiri. Alhamdulillah, salah satu buku self improvement itu selesai dibaca, then. Meskipun tulisan tentang Firebender sudah siap dipublis lebih dahulu, saya justru mempublis salah satu buku itu terlebih dahulu. Hari ini.

Baca Juga: KKN di Desa Penari yang Menggemparkan Dunia Maya

Tiga buku self improvement itu berjudul: 

1. Mendaki Tangga Yang Salah.
2. Bicara Itu Ada Seninya.
3. Seni Hidup Minimalis.

Saya memulai dari Seni Hidup Minimalis, tetapi justru menyelesaikan Mendaki Tangga Yang Salah. Seni Hidup Minimalis lantas dipinjam teman. Mendaki Tangga Yang Salah merupakan buku yang membikin saya tidak bisa berhenti sejak halaman pertama. Berbeda dari buku self improvement lainnya, buku ini tidak menggurui secara langsung, tetapi mendidik secara tidak langsung melalui kisah-kisah inspiratif lainnya hingga beragam teori, penelitian dan hasil penelitian tersebut. Bahkan banyak hal-hal konyol pula di dalamnya.

Mendaki Tangga Yang Salah


Sekilas, sampul buku ini mirip dengan Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat. Mirip, tapi tidak sama. Mendaki Tangga Yang Salah bersampul merah dengan tulisan besar warna hitam dan siluet/gambar tangga sederhana dan tagline(?) Barking Up The Wrong Tree. Correct me if I'm wrong. Atau tulisan di atas judul yang jadi tagline-nya? Oh ya, tulisan lain di atas judul itu adalah Sebagian Besar Hal yang anda Ketahui tentang Kesuksesan Adalah Salah Besar. Tulisan itu seperti bom yang meledak di dalam kepala orang-orang patuh seperti Chatur 'Silencer' Ramalingam (Omi Waidya) ketika tahu bahwa big boss-nya adalah Rancho (Aamir Khan) alias Phunsuk Wangdu. Dalam filem 3 Idiots kita tahu Chatur adalah si cerdas yang mengikuti sistem sekaligus penjilat yang selalu membenci Rancho saat masih kuliah.

Di dalam buku Mendaki Tangga Yang Salah pun kalian akan membaca kata 'penjilat' dalam lingkungan pekerjaan. Kita memang tidak bisa terlepas dari para penjilat, di manapun berada, termasuk di lingkungan pekerjaan. Mereka itu seperti makhluk astral. Tidak terlihat mata tetapi ada.


Well, buku ini ditulis oleh Eric Barker dan diterbitkan oleh P.T. Gramedia Pustama Utama pada tahun 2019. Sebanyak 360 halaman mengajarkan pembacanya tentang banyak hal untuk lebih mengenali diri sendiri. Istilahnya: mau jadi apa kita kelak? Kenali diri sendiri! Dan, ah ya, saya tidak bisa untuk melewatkan yang satu ini: buku Mendaki Tangga Yang Salah diberikan oleh Ibu Rosalin Togo atau lebih dikenal dengan panggilan Mami Ocha yang saat ini sedang menempuh pendidikan S2 di Kota Surabaya. Terima kasih, Mami ... Pahlawan Intelektual saya! Hehe.

Inspirasi Dalam Balutan Konyol


Eric Barker tidak berusaha menggurui, sudah saya tulis di atas, dia lebih condong pada memberikan contoh perilaku, kesuksesan orang-orang besar dunia, hingga beragam teori, serta penelitian dan hasil penelitian para profesor dan/atau para pakar. Garis besar, benang merah, Mendaki Tangga Yang Salah adalah kenali diri sendiri. Kalau kita tidak sependapat, biarkanlah ketidaksependapatan itu menjadi nilai demokrasi dalam me-review buku. Haha. Apabila manusia mengenali diri sendiri maka dia akan tahu tangga mana yang harus dinaiki. Bukan begitu poinnya? Bayangkan saja jika kita tahu, tidak pandai, atau tidak berbakat membikin sketsa tetapi terus-terusan memaksakan diri hingga akhir hayat. Apa yang kita capai? Nothing.

Sebanyak 6 bab disuguhkan oleh Mendaki Tangga Yang Salah. Setiap bab mempunyai keunikannya masing-masing tentang bagaimana cara orang-orang bisa sukses. Ambil contoh pada bab 1.

Bab 1 Mendaki Tangga Yang Salah memoroskan kalimat judul Jika Ingin Sukses, Haruskah Kita Bermain Aman dan Melakukan Apa Yang Diperintahkan Kepada Kita? Dalam ranah agama, ya harus donk. Hehe. Eric menulis tentang orang-orang tersaring dan orang-orang yang tidak tersaring. Orang-orang tersaring selalu mengikuti sistem, juara kelas atau setidaknya punya nilai akademis di atas rata-rata, dan kemudian masuk pada jaringan birokrasi atau bekerja mengikuti sistem yang ada, mungkin juga menjadi pemimpin. Orang-orang tidak tersaring cenderung eksentrik dan melakukan segalanya sekehendak hati, kadang pula dikenal bodoh, tapi mereka sangat terkenal di dunia ini. Eric Barker mengambil contoh William Churchill yang eksentrik dan selalu beranggapan Hitler sebagai ancaman. Dan paranoid Churchill dan sikapnya yang nyaris menghancurkan karirnya pada awal mula telah 'menyelamatkan' rakyat Inggris.

Kalau boleh saya tulis, pembangkang sangat tidak disukai dalam lingkungan kerja, tapi atasan yang bijak harus mampu merangkul si pembangkang dan memanfaatkan enerji berlimpahnya untuk kemajuan perusahaan. Pembangkang identik dengan orang-orang kreatif yang tidak puas pada sistem dan memandang sistem sebagai borgol kreativitas. Apabila kalian adalah atasan, janganlah mendepak para pembangkang begitu saja. Mungkin saja pembangkang itu berada pada unit yang salah sehingga dia merasa bosan dan terus-terusan membikin Anda emosi jiwa. Hehe.

Churchill memang telah menyelamatkan Inggris dari NAZI, tapi sikap eksentrik dan fanatisme Churchill tidak bisa diaplikasikan pada perkara-perkara lain bukan? Oleh karena itu Eric Barker tidak saja menulis tentang keberhasilan atau sisi positif segala sesuatu tetapi juga sisi negatifnya. Seperti sisi negatifnya manusia dengan gen SCN9A.

Semua orang tentu ingin menjadi seperti Ashlyn Blocker yang tidak pernah merasa nyeri. Ashlyn memiliki gen SCN9A dimana sinyal-sinyal nyeri tidak bisa mencapai otaknya. Super hero! Tentu. Siapa sih yang tidak mau seperti Ashlyn? Dane Inouye menulis bahwa pasien Congenital Insensitivity to Pain with Anhidrosis (CIPA) bisa dianggap Superman karena mereka tidak merasakan nyeri ragawi, tetapi ironisnya, apa yang memberi 'kekuatan super' kepada mereka juga merupakan kryptonite mereka. Pasti kalian bertanya: kok bisa? Ya bisa. Tidak merasakan nyeri dapat menghancurkan karena bayangkan saja kalau tulang kaki atau tulang tangannya patah tanpa dia rasakan dan kerusakan tulang itu kemudian merusak ke jaringan sehat lainnya? 

It's like ... BHOOOMMM!

Ternyata Ashlyn tidak baik-baik saja bukan?

Salah satu orang hebat yang sangat menarik perhatian saya dari Mendaki Tangga Yang Salah adalah tentang pidato Steve Jobs. Inti pidatonya adalah apa yang ingin kita capai dalam hidup ini bisa dilakukan dengan memikirkan kematian. Apakah saat mati nanti kita ingin dikenang sebagai pecundang, pemenang, orang baik, atau tukang fitnah? Kita yang pilih. Apabila menginginkan kematian kita menjadi momen bertemunya banyak manusia hidup yang mengenang kebaikan, jasa, perbuatan kita selama hidup, maka jalanilah hidup yang seperti itu. Seperti yang kita inginkan yaitu dikenang orang (tentang kebaikan) saat kita mati. Saya terbahak-bahak membacanya. Logika yang luar biasa nancap dalam kepala.

Masih banyak hal lainnya yang perlu kalian ketahui dari Mendaki Tangga Yang Salah tetapi tentu saya tidak boleh menulis semuanya di pos ini. Ketahuilah, Churchill, Ashlyn, dan Steve Jobs hanyalah tiga contoh kecil dari contoh lain, kisah inspiratif lain, di dalam buku Mendaki Tangga Yang Salah. Contoh-contoh itu, kisah orang-orang di dalam buku itu, tidak saja mendidik pembacanya tetapi secara tidak langsung sekaligus menghibur. Kapan lagi kita tahu sejarah orang-orang hebat, atau kisah inspiratif orang-orang yang tidak pernah menyerah?

Kalau begitu ... apakah kita harus mendaki tangga yang benar?

Mendaki Tangga Yang Benar


Membaca buku Mendaki Tangga Yang Salah mengarahkan pikiran saya pada mendaki tangga yang benar tetapi tidak selamanya harus selalu tangga yang benar dari awal. Kita bisa berpindah tangga apabila tahu bahwa tangga pertama itu salah. Oleh karena itu sampul buku Mendaki Tangga Yang Salah disertai gambar/siluet dua tangga kayak tangga lapangannya karyawan PLN atau P.T. Telkom. Tangga dua kaki, tangga teleskopik, atau apapun namanya. Kalau bukan tangga yang kanan, berarti tangga yang kiri. Kira-kira seperti itulah yang ingin disampaikan Eric Barker. Jangan terus-terusan memaksakan diri pada sesuatu pekerjaan yang tidak akan membawa kita pada kesuksesan.


Saya mencerna tentang tangga yang benar ini.

Pertama, jangan sampai salah memilih tangga. Tetapi, apabila tangga itu salah, kita masih bisa bermanuver mengganti tangga yang lain. Ini berkaitan dengan bakat dan hasrat. Apakah ada yang mau selamanya berada dalam lingkaran setan yang membosankan? Tentu tidak. Kenali tangga yang sedang kalian, atau saya, naiki saat ini. Kalau tangganya sudah benar, berusahalah semaksimal mungkin mencurahkan segala daya upaya untuk menaiki tangga itu hingga puncak. Mencapai puncak, tidak harus menjadi penjilat, tetapi jadilah yang paling bersinar.

Kedua, kenali diri sendiri untuk mencapai sesuatu. Jangan sampai kita menjadi orang yang tidak mengenali siapa dan apa diri kita sendiri sehingga sulit untuk menentukan arah. Kalau kata Bapa saya, maju satu langkah mundur dua kali. Itu filosofinya sangat dalam. Dan saya sadari, filosofi itu mirip dengan apa yang disampaikan Eric Barker dalam Mendaki Tangga Yang Salah. Hal serupa juga pernah diaktakan oleh Esty Durahsanty dari Konsulat Jenderal AS di Talkshow Pameran Wirausaha Berkelanjutan oleh E.thical yaitu Jatuh tujuh kali, bangkit delapan kali. Orang-orang yang mendengarnya dan menangkapnya secara lurus akan menertawai. Maklumi saja, mereka tidak membiarkan logika bekerja.

Ketiga, bekerja keras itu wajib. Tidak ada kesuksesan tanpa kerja keras. Bahkan seorang ahli matematika pun bekerja keras sepanjang hidupnya meskipun telah meraih begitu banyak penghargaan dan menghasilkan ahli matematika lainnya. Bekerja keras harus dibarengi dengan optimisme yang kuat. Perpaduan keduanya akan membikin kalian terkejut.

Satu pesan yang juga menarik dari Mendaki Tangga Yang Salah, untuk kita bisa mendaki tangga yang benar adalah tentang kemampuan mengelola. Mengelola sesuatu yang membosankan menjadi permainan yang menyenangkan. Mengelola sesuatu yang kita benci menjadi, tetap, permainan yang menyenangkan. Kita yang pilih, seperti yang dikatakan oleh Steve Jobs bukan? Dengan menjadikan segala sesuatu sebagai permainan yang menyenangkan kita akan membikin target dan berupaya memenuhi target dimaksud. Bukankah permainan adalah tentang target dan pencapaian (kemenangan)? Bukankah permainan dipenuhi tantangan yang membikin kita geregetan kalau tidak bisa melewatinya dengan gemilang? Cobain deh mengubah sesuatu yang menjengkelkan menjadi permainan (otak) yang menyenangkan.

⇜⇝

Alhamdulillah sudah menyelesaikan Mendaki Tangga Yang Salah dan sudah berbagi dengan kalian. Semoga bermanfaat.

Baca Juga: Setelah Upin Ipin Yang Mengedukasi Terbitlah Larva

Saya yakin kita semua ingin mendaki tangga yang benar untuk mencapai tujuan (hidup). Tapi jangan pernah merasa menjadi orang yang kalah ketika kalian (atau saya) sadar bahwa ternyata kita sudah mendaki tangga yang salah. Gantilah segera tangga itu secepatnya setelah tersadar. Karena, bukankah lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali? Yang setuju, komen di bawah. Hehe.

#SabtuReview



Cheers.

Kalau Begitu Marilah Kita Coba Mendaki Tangga Yang Benar


Kalau Begitu Marilah Kita Coba Mendaki Tangga Yang Benar. Pada pos Sabtu berjudul Akan Me-review Tiga Buku Nutrisi Otak dan Makanan Jiwa saya sudah berjanji untuk menyelesaikan proses membaca buku-buku itu. Belum semuanya tuntas terbaca, pasal pekerjaan bertubi-tubi tidak dapat ditunda, datang lagi satu buku berjudul Filosofi Teras. Demi tekad menuntaskan tiga buku self improvement, para nutrisi otak dan makanan jiwa, saya tidak berani menyobek plastik pelindung Filosofi Teras meskipun hasrat terus meronta. Buka! Ayo, buka! Saya harus patuh pada komitmen sendiri. Alhamdulillah, salah satu buku self improvement itu selesai dibaca, then. Meskipun tulisan tentang Firebender sudah siap dipublis lebih dahulu, saya justru mempublis salah satu buku itu terlebih dahulu. Hari ini.

Baca Juga: KKN di Desa Penari yang Menggemparkan Dunia Maya

Tiga buku self improvement itu berjudul: 

1. Mendaki Tangga Yang Salah.
2. Bicara Itu Ada Seninya.
3. Seni Hidup Minimalis.

Saya memulai dari Seni Hidup Minimalis, tetapi justru menyelesaikan Mendaki Tangga Yang Salah. Seni Hidup Minimalis lantas dipinjam teman. Mendaki Tangga Yang Salah merupakan buku yang membikin saya tidak bisa berhenti sejak halaman pertama. Berbeda dari buku self improvement lainnya, buku ini tidak menggurui secara langsung, tetapi mendidik secara tidak langsung melalui kisah-kisah inspiratif lainnya hingga beragam teori, penelitian dan hasil penelitian tersebut. Bahkan banyak hal-hal konyol pula di dalamnya.

Mendaki Tangga Yang Salah


Sekilas, sampul buku ini mirip dengan Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat. Mirip, tapi tidak sama. Mendaki Tangga Yang Salah bersampul merah dengan tulisan besar warna hitam dan siluet/gambar tangga sederhana dan tagline(?) Barking Up The Wrong Tree. Correct me if I'm wrong. Atau tulisan di atas judul yang jadi tagline-nya? Oh ya, tulisan lain di atas judul itu adalah Sebagian Besar Hal yang anda Ketahui tentang Kesuksesan Adalah Salah Besar. Tulisan itu seperti bom yang meledak di dalam kepala orang-orang patuh seperti Chatur 'Silencer' Ramalingam (Omi Waidya) ketika tahu bahwa big boss-nya adalah Rancho (Aamir Khan) alias Phunsuk Wangdu. Dalam filem 3 Idiots kita tahu Chatur adalah si cerdas yang mengikuti sistem sekaligus penjilat yang selalu membenci Rancho saat masih kuliah.

Di dalam buku Mendaki Tangga Yang Salah pun kalian akan membaca kata 'penjilat' dalam lingkungan pekerjaan. Kita memang tidak bisa terlepas dari para penjilat, di manapun berada, termasuk di lingkungan pekerjaan. Mereka itu seperti makhluk astral. Tidak terlihat mata tetapi ada.


Well, buku ini ditulis oleh Eric Barker dan diterbitkan oleh P.T. Gramedia Pustama Utama pada tahun 2019. Sebanyak 360 halaman mengajarkan pembacanya tentang banyak hal untuk lebih mengenali diri sendiri. Istilahnya: mau jadi apa kita kelak? Kenali diri sendiri! Dan, ah ya, saya tidak bisa untuk melewatkan yang satu ini: buku Mendaki Tangga Yang Salah diberikan oleh Ibu Rosalin Togo atau lebih dikenal dengan panggilan Mami Ocha yang saat ini sedang menempuh pendidikan S2 di Kota Surabaya. Terima kasih, Mami ... Pahlawan Intelektual saya! Hehe.

Inspirasi Dalam Balutan Konyol


Eric Barker tidak berusaha menggurui, sudah saya tulis di atas, dia lebih condong pada memberikan contoh perilaku, kesuksesan orang-orang besar dunia, hingga beragam teori, serta penelitian dan hasil penelitian para profesor dan/atau para pakar. Garis besar, benang merah, Mendaki Tangga Yang Salah adalah kenali diri sendiri. Kalau kita tidak sependapat, biarkanlah ketidaksependapatan itu menjadi nilai demokrasi dalam me-review buku. Haha. Apabila manusia mengenali diri sendiri maka dia akan tahu tangga mana yang harus dinaiki. Bukan begitu poinnya? Bayangkan saja jika kita tahu, tidak pandai, atau tidak berbakat membikin sketsa tetapi terus-terusan memaksakan diri hingga akhir hayat. Apa yang kita capai? Nothing.

Sebanyak 6 bab disuguhkan oleh Mendaki Tangga Yang Salah. Setiap bab mempunyai keunikannya masing-masing tentang bagaimana cara orang-orang bisa sukses. Ambil contoh pada bab 1.

Bab 1 Mendaki Tangga Yang Salah memoroskan kalimat judul Jika Ingin Sukses, Haruskah Kita Bermain Aman dan Melakukan Apa Yang Diperintahkan Kepada Kita? Dalam ranah agama, ya harus donk. Hehe. Eric menulis tentang orang-orang tersaring dan orang-orang yang tidak tersaring. Orang-orang tersaring selalu mengikuti sistem, juara kelas atau setidaknya punya nilai akademis di atas rata-rata, dan kemudian masuk pada jaringan birokrasi atau bekerja mengikuti sistem yang ada, mungkin juga menjadi pemimpin. Orang-orang tidak tersaring cenderung eksentrik dan melakukan segalanya sekehendak hati, kadang pula dikenal bodoh, tapi mereka sangat terkenal di dunia ini. Eric Barker mengambil contoh William Churchill yang eksentrik dan selalu beranggapan Hitler sebagai ancaman. Dan paranoid Churchill dan sikapnya yang nyaris menghancurkan karirnya pada awal mula telah 'menyelamatkan' rakyat Inggris.

Kalau boleh saya tulis, pembangkang sangat tidak disukai dalam lingkungan kerja, tapi atasan yang bijak harus mampu merangkul si pembangkang dan memanfaatkan enerji berlimpahnya untuk kemajuan perusahaan. Pembangkang identik dengan orang-orang kreatif yang tidak puas pada sistem dan memandang sistem sebagai borgol kreativitas. Apabila kalian adalah atasan, janganlah mendepak para pembangkang begitu saja. Mungkin saja pembangkang itu berada pada unit yang salah sehingga dia merasa bosan dan terus-terusan membikin Anda emosi jiwa. Hehe.

Churchill memang telah menyelamatkan Inggris dari NAZI, tapi sikap eksentrik dan fanatisme Churchill tidak bisa diaplikasikan pada perkara-perkara lain bukan? Oleh karena itu Eric Barker tidak saja menulis tentang keberhasilan atau sisi positif segala sesuatu tetapi juga sisi negatifnya. Seperti sisi negatifnya manusia dengan gen SCN9A.

Semua orang tentu ingin menjadi seperti Ashlyn Blocker yang tidak pernah merasa nyeri. Ashlyn memiliki gen SCN9A dimana sinyal-sinyal nyeri tidak bisa mencapai otaknya. Super hero! Tentu. Siapa sih yang tidak mau seperti Ashlyn? Dane Inouye menulis bahwa pasien Congenital Insensitivity to Pain with Anhidrosis (CIPA) bisa dianggap Superman karena mereka tidak merasakan nyeri ragawi, tetapi ironisnya, apa yang memberi 'kekuatan super' kepada mereka juga merupakan kryptonite mereka. Pasti kalian bertanya: kok bisa? Ya bisa. Tidak merasakan nyeri dapat menghancurkan karena bayangkan saja kalau tulang kaki atau tulang tangannya patah tanpa dia rasakan dan kerusakan tulang itu kemudian merusak ke jaringan sehat lainnya? 

It's like ... BHOOOMMM!

Ternyata Ashlyn tidak baik-baik saja bukan?

Salah satu orang hebat yang sangat menarik perhatian saya dari Mendaki Tangga Yang Salah adalah tentang pidato Steve Jobs. Inti pidatonya adalah apa yang ingin kita capai dalam hidup ini bisa dilakukan dengan memikirkan kematian. Apakah saat mati nanti kita ingin dikenang sebagai pecundang, pemenang, orang baik, atau tukang fitnah? Kita yang pilih. Apabila menginginkan kematian kita menjadi momen bertemunya banyak manusia hidup yang mengenang kebaikan, jasa, perbuatan kita selama hidup, maka jalanilah hidup yang seperti itu. Seperti yang kita inginkan yaitu dikenang orang (tentang kebaikan) saat kita mati. Saya terbahak-bahak membacanya. Logika yang luar biasa nancap dalam kepala.

Masih banyak hal lainnya yang perlu kalian ketahui dari Mendaki Tangga Yang Salah tetapi tentu saya tidak boleh menulis semuanya di pos ini. Ketahuilah, Churchill, Ashlyn, dan Steve Jobs hanyalah tiga contoh kecil dari contoh lain, kisah inspiratif lain, di dalam buku Mendaki Tangga Yang Salah. Contoh-contoh itu, kisah orang-orang di dalam buku itu, tidak saja mendidik pembacanya tetapi secara tidak langsung sekaligus menghibur. Kapan lagi kita tahu sejarah orang-orang hebat, atau kisah inspiratif orang-orang yang tidak pernah menyerah?

Kalau begitu ... apakah kita harus mendaki tangga yang benar?

Mendaki Tangga Yang Benar


Membaca buku Mendaki Tangga Yang Salah mengarahkan pikiran saya pada mendaki tangga yang benar tetapi tidak selamanya harus selalu tangga yang benar dari awal. Kita bisa berpindah tangga apabila tahu bahwa tangga pertama itu salah. Oleh karena itu sampul buku Mendaki Tangga Yang Salah disertai gambar/siluet dua tangga kayak tangga lapangannya karyawan PLN atau P.T. Telkom. Tangga dua kaki, tangga teleskopik, atau apapun namanya. Kalau bukan tangga yang kanan, berarti tangga yang kiri. Kira-kira seperti itulah yang ingin disampaikan Eric Barker. Jangan terus-terusan memaksakan diri pada sesuatu pekerjaan yang tidak akan membawa kita pada kesuksesan.


Saya mencerna tentang tangga yang benar ini.

Pertama, jangan sampai salah memilih tangga. Tetapi, apabila tangga itu salah, kita masih bisa bermanuver mengganti tangga yang lain. Ini berkaitan dengan bakat dan hasrat. Apakah ada yang mau selamanya berada dalam lingkaran setan yang membosankan? Tentu tidak. Kenali tangga yang sedang kalian, atau saya, naiki saat ini. Kalau tangganya sudah benar, berusahalah semaksimal mungkin mencurahkan segala daya upaya untuk menaiki tangga itu hingga puncak. Mencapai puncak, tidak harus menjadi penjilat, tetapi jadilah yang paling bersinar.

Kedua, kenali diri sendiri untuk mencapai sesuatu. Jangan sampai kita menjadi orang yang tidak mengenali siapa dan apa diri kita sendiri sehingga sulit untuk menentukan arah. Kalau kata Bapa saya, maju satu langkah mundur dua kali. Itu filosofinya sangat dalam. Dan saya sadari, filosofi itu mirip dengan apa yang disampaikan Eric Barker dalam Mendaki Tangga Yang Salah. Hal serupa juga pernah diaktakan oleh Esty Durahsanty dari Konsulat Jenderal AS di Talkshow Pameran Wirausaha Berkelanjutan oleh E.thical yaitu Jatuh tujuh kali, bangkit delapan kali. Orang-orang yang mendengarnya dan menangkapnya secara lurus akan menertawai. Maklumi saja, mereka tidak membiarkan logika bekerja.

Ketiga, bekerja keras itu wajib. Tidak ada kesuksesan tanpa kerja keras. Bahkan seorang ahli matematika pun bekerja keras sepanjang hidupnya meskipun telah meraih begitu banyak penghargaan dan menghasilkan ahli matematika lainnya. Bekerja keras harus dibarengi dengan optimisme yang kuat. Perpaduan keduanya akan membikin kalian terkejut.

Satu pesan yang juga menarik dari Mendaki Tangga Yang Salah, untuk kita bisa mendaki tangga yang benar adalah tentang kemampuan mengelola. Mengelola sesuatu yang membosankan menjadi permainan yang menyenangkan. Mengelola sesuatu yang kita benci menjadi, tetap, permainan yang menyenangkan. Kita yang pilih, seperti yang dikatakan oleh Steve Jobs bukan? Dengan menjadikan segala sesuatu sebagai permainan yang menyenangkan kita akan membikin target dan berupaya memenuhi target dimaksud. Bukankah permainan adalah tentang target dan pencapaian (kemenangan)? Bukankah permainan dipenuhi tantangan yang membikin kita geregetan kalau tidak bisa melewatinya dengan gemilang? Cobain deh mengubah sesuatu yang menjengkelkan menjadi permainan (otak) yang menyenangkan.

⇜⇝

Alhamdulillah sudah menyelesaikan Mendaki Tangga Yang Salah dan sudah berbagi dengan kalian. Semoga bermanfaat.

Baca Juga: Setelah Upin Ipin Yang Mengedukasi Terbitlah Larva

Saya yakin kita semua ingin mendaki tangga yang benar untuk mencapai tujuan (hidup). Tapi jangan pernah merasa menjadi orang yang kalah ketika kalian (atau saya) sadar bahwa ternyata kita sudah mendaki tangga yang salah. Gantilah segera tangga itu secepatnya setelah tersadar. Karena, bukankah lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali? Yang setuju, komen di bawah. Hehe.

#SabtuReview



Cheers.

Akan Me-review Tiga Buku Nutrisi Otak dan Makanan Jiwa


Akan Me-review Tiga Buku Nutrisi Otak dan Makanan Jiwa. Akan? Artinya ... belum. Betul sekali. Saya bahkan baru dalam tahap membaca salah satunya. Me-review tanpa membaca keseluruhan buku merupakan perbuatan pamali dan pengkhianatan pada diri sendiri karena yang tertangkap hanyalah keping-keping yang belum boleh dipamerkan. Tapi, dalam lini sombong, boleh donk saya pamerkan tiga buku yang dikirimkan oleh Kakak Rosalin Togo a.k.a. Mami Ocha? Bolahlah! Ini kan blog saya! Malah ngegas. Haha. Mungkin ini yang disebut, bermimpilah setinggi langit karena siapa tahu ada orang lain yang akan mewujudkan mimpi itu.


Ceritanya ...

Adalah salah seorang teman Facebook, saya lupa siapa, yang mengepos sebuah foto buku berjudul Mendaki Tangga Yang Salah. Foto buku itu mengingatkan saya pada buku lain berjudul Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat. Kok bisa? Iya, karena sampulnya mirip. Kalau Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat bersampul oranye, maka Mendaki Tangga Yang Salah bersampul merah. Sekilas, sama-sama oranye. Itulah kerja otak manusia yang suka memiripkan sesuatu. Hehe *cubit otak sendiri*.

Lalu foto dari pos Facebook itu saya keep alias simpan, dan saya pos lagi di status WA dengan caption: pengen punya buku ini. Siapa sangka, status itu justru direspon sama Mami Ocha yang menulis: Mami sudah punya. Mau? Dengan cepat saya balas: mau leeeee. Kata Mami: Jum'at meluncur Ende. Tapi Jum'at siang harus diingatkan lagi. Kawan, kalau urusannya sama buku, tidak ada kata saya lupa, harus ingat dengan berbagai cara! Tidak lama berselang, Mami Ocha malah mengirim foto sebuah buku lain berjudul Bicara Itu Ada Seninya dengan pesan: Ini sudah punya?

Bisa kalian tebak, kawan. Pada akhirnya Mami Ocha menyiapkan tiga buah buku untuk saya.

1. Mendaki Tangga Yang Salah.
2. Bicara Itu Ada Seninya.
3. Seni Hidup Minimalis.

How lucky I am!

Oh ya, Mami Ocha ini adalah dosen Uniflor yang sedang mengenyam pendidikan S2 di Kota Surabaya.

Nah, pada foto sampul pos ini kalian melihat tiga buah buku bersama kotak mangga dan kotak buku lainnya. Mangga itu dikirim sama Noviea Azizah dari Kota Mbay. Kotak buku itu adalah kotak yang sama dengan tiga buku kiriman Mami Ocha, dan buku-buku lainnya itu adalah buku-buku yang akan disumbangkan untuk Rumah Baca Sao Moko Modhe. Kami memang sedang dalam tahap pengumpulan buku untuk rumah baca yang dibangun oleh mahasiswa KKN-PPM Uniflor di Desa Ngegedhawe, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo tersebut.

Baca Juga: Pembalasan Laut

Saat ini saya baru membaca buku berjudul Seni Hidup Minimalis. Bukan karena buku itu bersampul kuning, warna kecintaan saya, tetapi karena buku itu memang harus dilahap terlebih dahulu. Tetapi, tumpukan pekerjaan tambahan memang tidak bisa diabaikan. Sehingga bacanya pun baru beberapa lembar. Seperti apa isinya? Tunggulah setiap Sabtu di #SabtuReview!

Semoga dalam minggu ini bisa menyelesaikan salah satunya. Amin.

Terima kasih Mami Ocha, Pahlawan Intelektual saya. Tidak bisa saya balas kebaikan Mami. Sungguh. Bagi saya siapa pun yang memberikan buku untuk saya adalah Pahlawan Intelektual sejati.

#SabtuReview



Cheers.

Blusukan Di Negeri Kincir Angin

Blusukan Di Negeri Kincir Angin buku film Negeri Van Oranje

Novel Negeri Van Oranje

Judul: Negeri Van Oranje
Penulis: 
Wahyuningrat, Adept Widiarsa, 
Annisa Rijadi, Rizki Pandu Permana
Penerbit: Bentang Pustaka
Kota Terbit: Bandung
Tahun Terbit: Cetakan 6, 2015
Deskripsi Fisik: 576 halaman
ISBN: 97860229100367

Setiap manusia tidak pernah tahu takdir yang membawa mereka ke tempat yang baru. Kemudahan di tengah kesulitan terkadang hadir tanpa disangka. Banjar, Wicak, Daus, Geri
dan Lintang adalah lima mahasiswa Indonesia yang ditakdirkan bertemu saat cuaca dingin menghampiri Amersfoort, sebuah kota di provinsi Utrecht, Belanda.

Latar belakang mereka untuk bersekolah di negeri Belanda penuh dengan kontroversi. Banjar adalah seorang lulusan institut teknik ternama di Bandung yang meninggalkan kemapanan hidup sosialita Jakarta. Wicak merupakan sang aktivis Illegal Logging karena penelitiannya ‘diekstradisi’ ke kantor pusat di Belanda. Daus adalah seorang pegawai negeri sipil golongan III/a Kementerian Agama yang memilih sekolah ke Belanda mengambil program Human Rights Law. Lintang, dengan bekal polis asuransi atas namanya, bertekad mengambil program di bidang European Studies. Kemudian, Geri adalah seorang anak juragan bus antar kota dengan saldo tabungan Euronya menyaingi pemenang “Who Wants to be a Millionaire” yang menetap di Belanda sejak kuliah Strata 1.

Alur cerita dalam buku ini sangat sederhana dan mudah ditebak. Penulis lebih menitikberatkan setting tempat dari setiap adegan dalam cerita. Merangkum kemegahan dan keindahan di setiap sudut kota Belanda menjadi ciri khas yang wajib dimiliki oleh setiap penulis. 

Raden Wahyuningrat, Adept Widiarsa, Annisa Rijadi, dan Rizki Pandu Permana, yang merupakan penulis buku ini, berhasil menggambarkan apa yang ada di bayangan pembaca tentang negeri Belanda. Pembaca akan terkesima dengan kehidupan mahasiswa di negeri kincir angin tersebut. 

Novel Negeri Van Oranje ditulis dengan alur cerita yang mengalir apik dan bahasa yang ringan. Pembaca juga akan dibuat tergelak beberapa kali dengan bumbu humor yang disisipkan penulis. Penyelipan bahasa Belanda dalam setiap percakapan para tokohnya menjadi nilai tambah sekaligus pengetahuan dalam buku ini. Kehadiran footnote dirasa bermanfaat dengan tips dan trik menarik dalam kemasan yang sederhana.

Membaca buku ini juga seperti sedang bernostalgia di era chattingVoice Over Internet Protocol (VOIP), dan blog yang digunakan oleh sesama mahasiswa Indonesia untuk saling berkomunikasi lewat internet di era tahun 2000-an. Biasanya mahasiswa Indonesia akan takjub dengan kecepatan akses internet di Belanda. Saat komputer baru saja dinyalakan dan tersambung dengan internet, mereka tidak perlu menunggu lama untuk mengunggah dokumen atau berkomunikasi seharian penuh. 

Novel ini memuat banyak informasi dan panduan bagi mahasiswa atau calon mahasiswa yang akan melanjutkan studinya di Belanda. Penulis dengan jelas menuliskan tentang pengurusan administrasi kampus, cara menggunakan transportasi umum, hingga rekomendasi tempat berlibur di sela kesibukan kuliah. 

Negeri Van Oranje juga telah hadir dalam versi layar lebar yang telah rilis dari tanggal 23 Desember 2015 lalu. 

Peresensi Krishna Pandu Pradana 
MK Edisi Januari 2016 Volume XI / NO. 100

Blusukan Di Negeri Kincir Angin buku film Negeri Van Oranje

***

Film Negeri Van Oranje

Film Negeri Van Oranje mendapat rating 7,4/10 dalam halaman IMDb. IMDb (Internet Movie Database) adalah sebuah basis data daring informasi yang berkaitan dengan film, acara televisi, video rumahan, dan permainan video, dan acara internet, termasuk daftar pemeran, biografi kru produksi dan personil, ringkasan plot, trivia, dan ulasan serta penilaian oleh penggemar. 

Mengenai film yang disutradarai oleh Endri Pelita ini banyak menerima review positif terutama soal tampilan visual film yang indah, pujian ini tentunya tertuju kepada Yoyok Budi Santoso yang bertindak sebagai Sinematografer / Cinematographer atau DoP atau DP (Director of Photography)  dalam film Negeri Van Oranje. Yoyok Budi Santoso sudah terlibat dalam banyak film dengan hasil visual yang indah.

Alur cerita film Negeri Van Oranje bergerak mundur (flashback), gaya penceritaan ini membuatnya seru dan menarik. Menyenangkan melihat bagaimana film ini menggambarkan persahabatan mereka yang dipermanis dengan hadirnya seorang Lintang.

Kualitas akting kelima tokoh bersinergi dalam chemistry yang baik. Para aktor berhasil mendalami kepribadian peran, merekalah nyawa yang menghidupkan film ini sehingga tidak mudah ditebak. Dengan sentuhan jokes dan twists yang natural dan pas.

Soal musik yang asik dalam film ini menjadi tanggung jawab Yarriya Bahriah Safara dan performance Wizzy Wiliana. Film ini juga banyak diisi dengan denting piano dan alunan biola yang manis. 

Kesimpulannya, baik novel dan filmnya cukup baik untuk dinikmati.

Salam