Arsip Kategori: buku

MEMBANGKITKAN POTENSI NABI – Review Buku Ada Nabi dalam Diri

Ada Nabi dalam Diri (Melesatkan Kecerdasan Batin Lewat Zikir dan Meditasi)

Judul: Ada Nabi dalam Diri (Melesatkan Kecerdasan Batin Lewat Zikir dan Meditasi)
Penulis: Soraya Susan Behbehani
Penerjemah: Cecep Ramli Bihar Anwar
Penerbit: Serambi Ilmu Semesta, Jakarta, 2003
Tebal: 280 halaman
ODOB#034


Barang siapa mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya. (Yahya bin Muadz Ar-Razi)

Setelah tren meditasi yang dimotori spiritualis Anand Krishna mulai surut gelegaknya, belakangan muncul pula tren zikir dan manajemen hati yang dimotori oleh Arifin Ilham dan Abdullah Gymnastiar.

Buku yang aslinya berjudul The Messenger Within (1990) ini mengusung semangat yang hampir serupa dengan kedua tren yang telah melanda kita itu.

Lewat pergulatan dan pencarian panjang terus-menerus selama lebih dari lima belas tahun, penulis buku ini makin percaya bahwa setelah berakhirnya dinasti kenabian di tangan Nabi Muhammad ibn Abdullah pada abad ke-6 Masehi, setiap manusia sesungguhnya sudah mampu menjadi "nabi" bagi dirinya sendiri.

Tetapi sayangnya, tidak semua orang menyadari hal ini, atau bahkan tidak pernah memiliki cukup waktu untuk berpikir dan menyadarinya.

Padahal, jika kita melihat ke belakang, akan jelas terlihat bahwa pesan semua nabi adalah sama, yakni mencapai Tuhan dengan mengenali diri sendiri, sebagaimana ucapan Socrates: kenalilah dirimu sendiri!

Semua nabi mendakwahkan penjelajahan diri. Pesan ini abadi dan tidak hanya dimiliki tradisi, sekte, atau agama tertentu saja. Setiap utusan Tuhan --Zoroaster, Buddha, Musa, Yesus, dan Muhammad SAW -- mewakili tahap-tahap yang berbeda dari penjelajahan diri tersebut.

Alasan mengapa pendapat dan interpretasi agama dan kepercayaan itu berbeda-beda adalah karena raibnya "pengalaman aktual tentang kebenaran". Sebuah pengalaman yang dikenal sebagai meditasi.

Agama pada dekade belakangan tampaknya cenderung terjebak dalam ritual formal dan simbolisasi eksklusif kelompoknya belaka. Jajak pendapat pada 1988 oleh John Naisbitt dan Patricia Aburdene menunjukkan bahwa 59% responden mengeluhkan gereja atau sinagoge mereka terlalu memperhatikan masalah organisasi ketimbang masalah-masalah teologi atau spiritual.

Teologi adalah sistem pemikiran spekulatif tentang hal-hal gaib, sedangkan spiritualitas adalah hati/jantung (heart) dari agama, yang berupa pengalaman religius. Meditasi adalah pengalaman religius yang ada dalam sejarah dan tradisi semua agama.


Penulis: Heri Winarko


MEMBANGKITKAN POTENSI NABI - Review Buku Ada Nabi dalam Diri
------------

Menurut buku ini, sekali jiwa terbebas dari berbagai perubahan yang konstan, ia akan bebas dari belenggu-belenggu duniawi dan memahami keabadian; sehingga kematian tidak lagi mengancam. Ini adalah kebangkitan jiwa yang melahirkan kekuatan. 

Kekuatan itu bukan terletak pada menghindari godaan-godaan material dunia, melainkan pada memahami dan tabah menghadapi semua itu. 

Perlindungan sejati manusia ada dalam hatinya, semestinya pada hatilah manusia mencari perlindungan. Karena itu, penyendirian (khalwat) bukan berarti bahwa kita harus memisahkan diri dari masyarakat, tetapi hidup bersama masyarakat namun tidak mengikuti kebiasaan-kebiasaan buruk mereka.

Otak kita adalah gudang terbuka yang mampu menerima dan menyimpan hampir segala sesuatu yang datang, sayangnya tak pernah dibersihkan dan disusun rapi. Kapankah kita menyempatkan diri untuk merenung?, memikirkan bagaimana membersihkan hati dan mental.

Perbedaan antara agama dan teologi adalah bahwa teologi tak lebih dari sekadar sistem pemikiran spekulatif tentang hal-hal gaib, sedangkan agama adalah pengalaman. Cita-cita seniman adalah keindahan, ilmuwan adalah kebenaran, dan moralis adalah kebaikan. Agama menggabungkan semua itu dan ia ingin menyadarkan kita akan kesatuan.

Jalan menuju ketenangan dan kebahagiaan tersimpan di dalam batin kita masing-masing. Jenis bantuan apa pun yang diperoleh dari luar, bahkan yang terbaik dan yang paling tidak berisiko sekalipun, hanyalah bersifat sementara. Luka harus mulai diobati dari dalam. Jadi, pengobatan medis diterapkan untuk menghindari infeksi, tetapi tumbuhnya kembali jaringan otot baru adalah proses penyembuahn yang terjadi dari dalam (batin).

Sumber energi paling penting dalam tubuh adalah hati. Para sufi menyebutnya "sumber kehidupan". Hati dikenal sebagai manajer yang bijak dan perkasa. Ia memiliki kecerdasan, dan yang paling penting, ia terkait dengan seluruh sumber magnetik.

Soraya juga mengajak kita untuk kembali kepada praktik meditasi yang sebenarnya. Lebih dari sekadar untuk mengencangkan otot, meraih kesaktian, melatih konsentrasi, atau menyembuhkan stres dan AIDS—sebagaimana dipraktikkan di dunia modern— meditasi bertujuan untuk mempertinggi pengalaman, menyempurnakan kesadaran, pertumbuhan, dan evolusi batin agar potensi diri dapat berfungsi sepenuhnya. Dan, menurutnya, tanpa dikembalikan ke akar religiusitasnya, meditasi akan tumpul. Bahkan, bagi kepentingan penyembuhan dan konsentrasi sekalipun, ia tak akan banyak membantu. Sebab, sumber meditasi adalah hati. Melalui sumber energi hatilah kesehatan yang utuh akan tercapai.

Sumber: lapak-buku.com


Judul buku asli: The Messenger Within: Discovering Love and Wholeness Through Meditation 
Penulis: Soraya Susan Behbehani

Menjelaskan dasar dan sifat sejati tasawuf (Sufisme) dan konsep sifat kenabian di dalam diri manusia, buku ini berusaha untuk melampaui ideologi ke arah metodologi meditasi. Buku Ada Nabi dalam Diri menekankan meditasi sufi praktis yang tujuannya adalah untuk mencapai kehidupan cinta, keindahan, dan harapan.


Buku Jejak Langkah Puan – Hidup Ini Indah, Beib – Seri Perempuan Mbolang Dirilis Virtual

“Menulislah agar kau akan selalu dikenang, karena menulis adalah prasasti.” Wina Bojonegoro, CEO dan Founder Padmedia Publisher.

Buku Jejak Langkah Puan - Hidup Ini Indah, Beib - Seri Perempuan Mbolang Dirilis Virtual
Sisca Maya, penulis "Fright to Fly, but Fly Aniway" dalam buku 'Jejak Langkah Puan'.  Foto: Facebook Sisca Maya

Pandemi bukan sebuah alasan untuk menghentikan kreativitas. Setidaknya 20 perempuan dalam Buku Kumpulan Cerpen berjudul 'Jejak Langkah Puan' bagian dari buku HIIB (Hidup Ini Indah, Beib) ke-5, Perempuan Mbolang membuktikan hal itu. Buku yang pada September 2020 lalu telah dipesan hingga mencapai 1000 eksemplar ini menceritakan pengalaman pribadi dari 20 penulis perempuan. 

Mempertimbangkan situasi pandemi Covid-19 yang belum juga mereda, akhirnya buku Jejak Langkah Puan - Hidup Ini Indah, Beib - Seri Perempuan Mbolang dirilis oleh Padmedia Publisher secara virtual di hotel Singgasana Surabaya, Sabtu, 10 Oktober 2020.

"Suatu hal yang sangat disyukuri, mengingat saat ini adalah masa pandemi yang membuat gerak langkah kami, Padmedia Publisher, sangat terbatas. Suatu ironi, mengingat ini adalah buku tentang jalan-jalan tetapi saat peluncuran bukunya para penulis yang terdiri atas 20 perempuan ini malah berada di rumah masing-masing. Tapi ini justru melahirkan kreativitas kami untuk menyelenggarakan peluncuran buku meski secara virtual," jelas Wina Bojonegoro, Founder dan CEO Padmedia Publisher.

"Jejak Langkah Puan" tidak hanya bercerita tentang destinasi, kisah bagaimana cara menuju sana, atau menu khas yang harus dicoba di sana, melainkan catatan tentang "petualangan rasa" yang dialami oleh penulisnya. 

Bagaimana rasanya jika seorang yang memiliki phobia pesawat terbang harus berjuang setiap akan memulai perjalanannya?, kisah ini ada dalam tulisan Sisca Maya, "Fright to Fly, but Fly Aniway".

Bagaimana piknik yang seharusnya santai akan tetapi ternyata harus berurusan dengan 8 ekor ayam hidup seperti dalam cerita Endang P. Uban dalam "Perjalanan ala Ninja Hatori". Atau bagaimana repotnya jika seorang guide harus menata sekolah yang sedang libur seolah-olah sedang ada kegiatan belajar karena ada serombongan turis Rusia yang ingin mengetahui kehidupan masyarakat Tengger seperti yang ditulis oleh Yoni Astuti dalam "Bromo Tidak Selalu Sun Rise".

Tidak hanya itu, masih ada sekitar 17 kisah perjalanan lainnya yang dapat dinikmati pada buku "Jejak Langkah Puan" ini. Menariknya, tidak semua kisah dalam buku ini adalah karya penulis atau traveller, ada juga mantan wartawan dan guide profesional yang ikut berbagi cerita. Meski demikian, Padmedia Publisher sebagai penerbit tetap memegang komitmen untuk menerbitkan tulisan dengan kualitas setara penulis profesional.

Dari sekitar 50 tulisan yang masuk dilakukan kurasi untuk penentuan layak muat atau tidak, dilanjutkan dengan proses editing dan coaching kepada mereka yang tulisannya lolos. Di tahap ini pun beberapa tulisan berguguran sehingga akhirnya tersaring 20 tulisan yang masuk dalam buku Jejak Langkah Puan.

Buku Serial Hidup Ini Indah, Beib HIIB
Buku Serial Hidup Ini Indah, Beib HIIB - Sumber Foto: writravelicious.com

Serial HIIB (Hidup Ini Indah Beib) juga tidak berhenti sampai di sini. Setelah ini akan terbit HIIB edisi para dokter yang akan bercerita tentang suka duka mereka dalam menjalani profesinya, dilanjutkan dengan HIIB versi lelaki dalam Hidup Ini Indah, Brow yang akan bercerita tentang Patah Hati ala Lelaki.

Itulah cara Padmedia Publisher untuk konsisten menerbitkan buku yang berkualitas, bagi mereka yang belum pernah menulis sekalipun. Menerbitkan buku bukan lagi impian di awang-awang bagi mereka yang ingin mempunyai buku karya sendiri, minimal sekali dalam hidupnya.

Ini juga diwujudkan oleh Padmedia Publisher dalam bentuk pelatihan-pelatihan menulis, baik cerpen maupun esai, yang sebagai wujud kelulusan para siswanya adalah karya berupa buku.

Sesuai visi dan misinya, Padmedia Publisher akan terus menggaungkan semangat literasi seperti yang selalu disampaikan oleh Wina Bojonegoro, CEO dan Founder Padmedia Publisher, "Menulislah agar kau akan selalu dikenang, karena menulis adalah prasasti".

Sumber: Press Release Padmedia Publisher, Kumparan Basra.


PERJALANAN MENCARI OBAT KEHIDUPAN – Review Buku The Little Paris Bookshop

Jean Perdu, sang apoteker literatur, pemilik toko buku terapung di Sungai Seine, Paris, terkenal karena keahliannya meresepkan buku demi meringankan hidup para pelanggannya. Tiap buku sesungguhnya mirip dengan obat. Mereka dapat menyembuhkan penyakit Tiap buku sesungguhnya mirip dengan obat. Mereka dapat menyembuhkan penyakit, sekaligus mengandung efek samping. Dan Monsieur Perdu

Menambah Wawasan Bersama Building A Ship While Sailing


Menambah Wawasan Bersama Building A Ship While Sailing. Salah satu buku yang saya baca saat work from home demi menjalankan #DiRumahSaja berjudul Building A Ship While Sailing. Sebuah buku yang dibagikan langsung oleh penulisnya usai kegiatan seminar sekaligus peluncuran buku tersebut di Auditorium H. J. Gadi Djou tanggal 25 Agustus 2017. Sudah lama diluncurkan kenapa baru dibaca sekarang? Karena saya baru saja memperolehnya dari Kakak Shinta Degor. Haha. Dan lumayan juga buku ini dibaca di masa pandemi Covid-19, mengisi waktu, sembari nge-blog dan berkebun mini di beranda belakang Pohon Tua. Dan yang namanya buku, tentu selalu baik untuk dibaca, selama buku itu memang merupakan buku yang bermanfaat.

Baca Juga: Menonton Ulang Suami-Suami Yang Masih Takut Sama Isteri

Bagi kalian yang penasaran, marilah kita kenalan sama buku ini.

Building A Ship While Sailing


Building A Ship While Sailing ditulis oleh S. D. Darmono, Chairman Jababeka Group. Buku bersampul hitam dengan foto sang penulis ini diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia. Sebanyak 222 halaman kita tidak saja disuguhi bermacam teori tetapi juga quote menarik, serta foto-foto. Menurut S. D. Darmono, judul buku ini diinspirasi oleh Prof. Dr. Emil Salim beberapa tahun lalu ketika meresmikan Botanical Garden yang dibangun Jababeka di Cikarang, Bekasi. Sambil bergurau Prof. Dr. Emil Salim mengatakan, kita ini membangun negeri seperti membangun kapal sambil berlayar.

Pengantar buku ditulis oleh Prof. Dr. Komarudin Hidayat, Ketua Tidar Heritage Foundation (THF). Menurut beliau:

Setelah membaca buku ini, kita akan semakin mengenal kesungguhan dan kedalaman berpikir Mas Darmono untuk mengabdikan diri kepada bangsanya. (Hidayat dalam Darmono, 2017:xvii).

Terhitung 10 Bab tersaji dalam Building A Ship While Sailing. Dan saya memaknainya sebagai pelajaran tentang sejarah membangun negeri dari banyak aspek. Perjuangan tidak akan pernah berhenti.

Bergerak Maju Tanpa Melupakan Sejarah


Pada bab-bab awal Building A Ship While Sailing pembaca diajak menelusuri sejarah bangsa ini. Mulai dari Indonesia di zaman purba, nusantara di era Mahapahit, kemudian Indonesia dan kesultanan, hingga meluruskan pandangan tentang pribumi. Membaca tentang keteladanan tokoh bangsa membikin jiwa patriot dalam diri saya memberontak pula. Apa yang sudah saya lakukan untuk Indonesia? Hiks. Tahunya cuma berkoar-koar di media sosial, mengeluh tentang hal-hal yang tidak penting. Sedangkan Bung Karno, Bung Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, hingga John Lie Tjeng Tjoan, alias Jahja Daniel Dharma; satu-satunya milisi Indonesia keturunan Tionghoa yang meraih pangkat Laksamana Muda dan diberikan gelar Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Indonesia.

Mengapa sejarah dan tokoh-tokoh besar bangsa diulas di dalam Building A Ship While Sailing? Karena tidak ada yang namanya depan tanpa belakang. Tidak ada yang namanya masa depan tanpa sejarah. Seperti ... apakah itu masih disebut putih bila tidak ada hitam? Kira-kira seperti itulah. Pembaca diajak untuk memahami tentang pembangunan bangsa ini sejak awal mula, simpang-siurnya kondisi pada zaman perjuangan dulu, hingga perjuangan tak kenal ampun para tokoh besar bangsa ketika Indonesia diproklamirkan merdeka, bagaimana Indonesia harus bergaul dan bergaung di dunia/global, bagaimana sebuah kapal yang belum sempurna harus mengarungi lautan yang ganas. Ya, bagaimana kemudian kapal ini terus bertahan di lautan ganas tersebut.

Wisata budaya merupakan poin yang paling saya soroti dari Building A Ship While Sailing. Ulasannya lengkap dan luas. Menurut Darmono, pariwisata merupakan salah satu sektor utama yang harus mulai dikembangkan dan dikelola dengan sangat serius untuk meningkatkan pendapatan regional dan nasional di Indonesia. Ada beberapa alasan mendasar kenapa pariwisata harus ditempatkan sebagai salah satu sektor penting pembangunan ekonomi. Alasan yang pertama tidak terlepas dari perubahan dunia. Dunia tengah memasuki gelombang revolusi ketiga setelah dua revolusi sebelumnya, yakni revolusi politik dan revolusi industri. Revolusi ketiga ini berlangsung pada wilayah teknologi komunikasi-informasi dan transportasi. Situasi ini memberikan pengaruh yang sangat besar pada dunia pariwisata.

Sangat setuju!

Memulai Tidak Menunggu Sempurna


Ini garis besar yang saya tangkap setelah membaca Building A Ship While Sailing. Bagaimana kita memulai tanpa menunggu sempurna. Saya contohkan diri sendiri yang dulu ketika hendak berhijab selalu punya pernyataan: kumpulkan pakaian lengan panjang dan aneka hijab dulu, baru berhijab. Sampai kapan? Entah. Oleh karena itu pada suatu pagi saya menyingkirkan pernyataan sinting itu dan mulai berhijab. Hijrah yang terasa begitu menyenangkan karena justru setelah dilakukan, justru berjalan dengan mulus. Kendalanya ada ... kalau jilbab yang hendak saya pakai ternyata masih basah. Hahaha.


Baca Juga: Inilah Bukti Bahwa Takut Tidak Butuh Penampakan Setan

Bagaimana, kawan? Tertarik untuk membaca buku Building A Ship While Sailing juga? Silahkan. Saya jamin kalian tidak akan menyesal. Wawasan pasti bertambah. Apa yang saya tulis cuma sebagian kecil dari nilai-nilai yang diperoleh usai membacanya. Berjuanglah, blended dengan kondisi sekarang, dan naikkan layar meskipun kapal kalian belum sempurna terbentuk. Percayalah, banyak pelajaran yang bisa kita peroleh selama perjalanan ini dan pengalaman itu dapat menjadi penyempurna perjalanan.

Semoga bermanfaat.

#SabtuReview



Cheers.

GALAPAGOS DAN KEPUNAHAN PARA RAKSASA

Judul Buku: Sapiens, Riwayat Singkat Umat Manusia Penulis: Yuval Noah Harari Genre: Nonfiksi, Ilmu Pengetahuan, Sejarah, Antropologi, Filsafat Bahasa: Indonesia Dimensi Buku: 23x15 cm/534 halaman Penerbit: Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia ISBN: 978-602-4244-16-3 Di Kepulauan Galapagos, pada abad ke-16, orang Spanyol menemukan kura-kura raksasa. Kepulauan vulkanik itu

Jangan Suka Nyablak Karena Bicara Itu Ternyata Ada Seninya


Jangan Suka Nyablak Karena Bicara Itu Ternyata Ada Seninya. Hai kalian bos-bos pembaca blog! Di rumah saja akibat penyebaran virus Corona di Indonesia memberi kesempatan pada kita untuk melakukan banyak kegiatan. Salah satunya: membaca buku. Coba kalian ingat-ingat lagi, sudah berapa banyak buku yang dibaca sepanjang tahun 2020 yang baru berjalan tiga bulan ini? Lima? Atau bahkan sudah enam belas buku? Tentu dua minggu dirumahkan bukan berarti saya semata-mata membaca buku. Banyak kegiatan lain yang juga dilakukan antara lain nge-blog dan membikin video: Blogging, BlogPacker, dan Podcastuteh untuk diunggah di Youtube. Yuhuuuuu. By the way, salah satu buku yang saya baca setelah buku berjudul The Secret of Ikigai adalah Bicara Itu Ada Seninya. Artinya, jangan suka nyablak! Haha.

Baca Juga: Fiersa Besari Memang Jagoannya Merangkai Kata-Kata

Seperti apa sih buku berjudul Bicara Itu Ada Seninya?

Cekidot!

Bicara Itu Ada Seninya


Bicara Itu Ada Seninya ditulis oleh Oh Su Hyang. Oh Su Hyang adalah seorang dosen dan pakar telekomunikasi di Korea Selatan. Jadi, kalian jangan hanya tahu K-Pop, Drama Korea, atau Tuba Entertainment yang memproduksi Larva, tetapi juga harus tahu bahwa dari negara unik itu juga ada seorang pakar telekomunikasi. Diterjemahkan oleh Asti Ningsih, buku terbitan Penerbit Bhuana Ilmu Populer (BIP) yang merupakan Kelompok Gramedia ini bersampul hitam dengan tulisan berhuruf besar berwarna putih. Tagline-nya: The Secret Habits to Master Your Art of Speaking (Rahasia Komunikasi yang Efektif)Sebanyak 238 kita akan diajarkan secara tidak langsung tentang seni berbicara. Tahukah kalian, ternyata storytelling merupakan plot yang kokoh?

Saya tertarik dengan narasi pada sambul belakang buku ini:

Ketika komunikasi menjadi hal yang penting untuk bersaing, pakar komunikasi Oh Su Hyang mengeluarkan buku yang sangat berarti. Selain berisi tentang pengalaman pengembangan diri, buku ini juga membahas tentang teknik komunikasi, persuasi, dan negosiasi.

Lalu bagaimana cara berbicara yang baik? Apakah berbicara dengan artikulasi yang jelas? Atau berbicara tanpa mengambil napas? Tidak! Sebuah ucapan yang bisa disebut baik adalah yang bisa menggetarkan hati. Ucapan seorang juara memililki daya tarik tersendiri. Ucapan pemandu acara memiliki kemampuan untuk menghidupkan suasana. Anda harus pandai berbicara untuk menunjukkan diri Anda kepada lawan bicara dalam kehidupan sosial. Orang yang berbicara dengan mahir akan menjadi lebih maju daripada yang lainnya. Untuk mencapai tujuan komunikasi, persuasi, dan negosiasi, Anda harus mengetahui metode komunikasi yang efisien.


Berisi bab-bab dengan bahasa yang ringan, pengalaman-pengalaman, ragam tips dan trik, saya pikir kalian wajib membaca buku yang satu ini.

Mengajarkan Tanpa Harus Menggurui


Saya sering menulis tentang para penulis yang mengajarkan banyak hal baik pada pembacanya tanpa terkesan menggurui. Tetapi sebenarnya kalau penulis itu memang menggurui ya tidak masalah sepanjang mereka punya kapabilitas untuk melakukannya. Di dalam Bicara Itu Ada Seninya, pembaca diajak untuk mengetahui alasan takut berbicara. Salah satunya karena trauma salah ucap. Saya sering mengalami salah ucap. Tapi untuk sampai pada tahap trauma, belum. Karena toh saya pribadi tidak mengalami kendalam saat berbicara di muka publik. Itu saya. Tapi pasti beda dengan orang lain yang bahkan untuk berdiri di muka publik saja bergetar seluruh tubuh. Intinya adalah harus membuang rasa takut tersebut. Itu yang diungkapkan oleh Oh Su Hyang.

Mengubah cara bicara, mengubah cara hidup, juga tertuang di dalam buku ini. Mengubah cara bicara tidak terjadi sekedip mata. Oh Su Hyang mengajarkan tentang latihan di balik panggung gelap, dengan contoh (alm.) Steve Jobs. Membaca bagian ini saya ingat diri sendiri. Jujur, saya seringkali berbicara dengan nada yang cukup tinggi, kecepatan cahaya, sehingga sering belepotan. Diimbuh suara yang cempreng. Oh lala, yang mendengar saya bicara pasti langsung sakit kepala. Tetapi setelah menjadi penyiar radio, saya harus bisa menjadi orang lain yang mendengarkan diri sendiri berbicara. Ah, ternyata memang benar, bicara itu ada seninya. Hahaha.

Perkara yang juga diajarkan Oh Su Hyang dalam Bicara Itu Ada Seninya adalah tentang Sepuluh Aturan Komunikasi:

1. Kata-kata yang tidak bisa diucapkan di "depan", jangan dikatakan di "belakang". Gunjingan sangatlah buruk.

2. Memonopoli pembicaraan akan memperbanyak musuh. Sedikit berbicara dan perbanyak mendengar. Semakin banyak mendengar akan semakin baik.

3.Semakin tinggi intonasi suara, makna dari ucapan akan semakin terdistorsi. Jangan menggebu-gebu. Suara yang rendah justru memiliki daya.

4. Berkata yang menyenangkan hati, buka sekadar enak didengar.

5. Katakan yang ingin didengar lawan bicara, bukan yang ingin diutarakan. Berbicara yang mudah dimengerti, bukan yang mudah diucapkan.

6. Berbicaralah dengan menutupi aib dan sering memuji.

7. Berbicara hal-hal yang menyenangkan, bukan yang menyebalkan.

8. Jangan hanya berkata dengan lidah, tetapi juga dengan mata dan ekspresi. Unsur non-verbal lebih kuat daripada unsur verbal.

9. Tiga puluh detik di bibir sama dengan tiga puluh tahun di hati. Sepatah kata yang kita ucapkan mungkin saja akan mengubah kehidupan seseorang.

10. Kita mengendalikan lidah, tapi ucapan yang keluar akan mengendalikan kita. Jangan berbicara sembarangan dan bertanggungjawablah terhadap apa yang sudah Anda ucapkan.


Sehingga, kalau kalian menyimpulkan buku ini tidak hanya menuangkan 'ilmu' berbicara di muka publik tetapi juga terhadap teman ... betul sekali. Tentunya masih banyak pelajaran lain yang bisa kalian ambil dari buku ini demi kelancaran komunikasi baik dengan orangtua, saudara, kawan, tetangga, kekasih, maupun musuh! Hehe.

Mengaplikasikannya Dalam Kehidupan Sehari-Hari


Beberapa teman-teman yang hendak mengikuti ujian skripsi sering bertanya pada saya, bagaimana bersikap di dalam ruang sidang skripsi. Saran saya pada mereka:

Pertama:
Harus menguasai penelitian yang sudah diubah dalam bentuk skripsi tersebut! Bagaimana bisa berbicara kalau materinya tidak dikuasai? Kuasai permasalahannya, kuasai undang-undang yang dipakai, kuasai pemecahan masalahnya.

Kedua:
Berbicara tanpa 'eee', tanpa 'anu'. Berbicaralah dengan tegas, lugas, tanpa keraguan sedikit pun, namun tidak berkesan sombong. Karena biarpun kalian menguasai 100% materi tetapi tidak didukung dengan kemampuan berbicara yang baik ... Wassalam. Oleh karena itu, harus berlatih berbicara dimulai dengan "Selamat pagi, nama saya Abcefg, NIM sekian, judul penelitian saya adalah Ini Itu Adalah Ini Itu".

Ketiga:
Menatap wajah dosen dengan tatapan pasti. Percaya diri.

Keempat:
Bawa selalu Tuhan dalam setiap perkataan.


Jadi, kawan, jangan pernah menganggap remeh para pewara alias master of ceremony. Apa pun acara kalian, tanpa pewara, bakal garing. Merekalah yang membawa acara kalian menjadi terarah dan meriah. Pewara bukan sekadar pewara, tetapi mereka harus menguasai pula inti acara yang dibawakan tersebut. Otak mereka harus menerima informasi-informasi baru, mengolahnya, untuk melengkapi pekerjaan membawa acara. Saya sering sedih kalau mendengar orang-orang berkata: apa eeee omong begitu saja bayar sampai jutaan. Kadang saya langsung membalas: mau yang murah? MC sendiri, jangan minta jasa MC kondang. Meskipun bukan pewara tapi saya sangat tahu persis betapa susahnya jadi pewara, terutama pewara perempuan yang selain mengandalkan otak dan seni berbicara, juga harus memerhatikan penampilan.

Semoga pos ini bermanfaat untuk kalian semua.

Selamat menikmati akhir minggu. Dan setidaknya saya cukup senang mendengar berita dari RRI Ende yang mengabarkan ODP di Ende dari 22 turun hingga 3. Dari 3 ODP, 2 sudah dirumahkan (karantina diri sendiri), 1 masih dirawat di ruang karantina RSUD Ende karena masih balita. Semoga badai ini lekas berlalu ...

#SabtuReview



Cheers.

Mengintip Rahasia Bahagia dan Umur Panjang dari Ikigai


Mengintip Rahasia Bahagia dan Umur Panjang dari Ikigai. Membaca judul, kalian pasti bertanya-tanya, memang ada sekolah yang mengajarkan hal itu? Ada donk. Semua tingkatan sekolah di Indonesia mengajarkan hal itu, terutama sekolah dasar, melalui cara-cara halus yang tidak disadari oleh para murid. Di sekolah, murid diajarkan untuk menghormati guru dan menyayangi teman, saling menghargai, tidak menghina apalagi melakukan kekerasan fisik terhadap orang lain, tidak mencuri, tidak berbohong, selalu bersyukur dan lain sebagainya. Murid sedapat mungkin punya simpati dan empati dan digembleng agar memiliki karakter yang baik. Tapi sekolah secara harafiah bukan satu-satunya tempat kita belajar. Buku juga merupakan sekolah. Ya, bagi saya buku juga merupakan sekolah yang mengajarkan pembacanya banyak perkara. Siapa pun yang tidak membaca buku pasti merugi. Kalau ada yang membantah, artinya dia memang jenius sejak lahir. Begitu berusia lima jam, sudah pandai bicara menggunakan lima bahasa di dunia, hafal sejarah Hagia Sohpia, serta tahu seluk-beluk kalkulus. 

Baca Juga: KKN di Desa Penari yang Menggemparkan Dunia Maya

Salah satu buku bertema self improvement yang pernah saya baca berjudul The Secret of Ikigai: Rahasia Menemukan Kebahagiaan dan Umur Panjang Ala Orang Jepang. Duh, menulis Jepang, saya punya cita-cita menghabiskan masa tua di Jepang loh. Haha. Jepang itu negara yang sangat menarik. Bukan hanya karena anime-nya, atau bunga sakura, tetapi juga gaya hidup masyarakatnya, makanannya, sampai penemuan-penemuannya yang bikin saya ternganga. Siapa sih yang tidak tahu gaya hidup minimalis Orang Jepang? Kalian pasti tahu futon, perangkat tidurnya Orang Jepang. Agung Riantiarno menulis sebagai berikut: Futon dalam satu set nya biasanya terdiri dari Shikibuton (matras) yang biasanya hanya sedikit lebih tebal dari Bed Cover, Shiitsu (seprai kasur), Kakebuton (selimut tebal), Houfu (sarung dari selimut), Makura (Bantal) dan Makura Kaba (sarung bantal). Kalau Orang Indonesia maunya kasur pegas king size! Hahaha.

Kita tinggalkan futon, mari bahas The Secret of Ikigai!

The Secret of Ikigai


The Secret of Ikigai ditulis oleh Irukawa Elisa. Buku setebal 224 halaman ini diterbitkan oleh Araska (Publisher) dengan tema/kategori self improvement. Ada lima bab, di luar kata pengantar hingga epilog, yang membawa pembaca pada semesta 'sadar dan kenal diri sendiri'. Hal semacam ini memang familiar karena buku-buku self improvement lain juga mengajarkan hal yang sama. Tapi jelas, The Secret of Ikigai yang bersampul putih dengan bunga sakura ini menjelaskan dari sudut pandang berbeda, bernuansa kehidupan Orang Jepang.

Aliran Lima Bab


Ini menarik, The Secret of Ikigai ditulis dalam bab-bab yang mengalir seperti air. Sangat runut alias tidak melompat-lompat. Seperti proses manusia: lahir - belajar berjalan - bertumbuh - menikah - menjadi orangtua - dan seterusnya. Lihat Bab 1 yang berjudul Tujuan Hidup Tidak Jelas? Kuasai 4 Konsep Filosofi Ikigai. Ini pertanyaan umum, dan memang secara umum banyak orang yang bertanya pada diri sendiri, mau di bawa ke mana hidup saya ini? Menyerah, atau belajar dan berjuang? 4 Konsep Filosofi Ikigai itu adalah

1. Apa yang kamu sukai?
2. Apa yang dibutuhkan dunia?
3. Apa timbal balik untuk Anda?
4. Apa kemampuan Anda?

Kalau pembaca bisa menjawab empat pertanyaan di atas ... luar biasa. Passion menjadi paid for.

Masih dari Bab 1 pula pembaca diajarkan membongkar 4 elemen Ikigai yaitu: Mission, Vocation, Profession, dan Passion.

Orang yang hidup memiliki passion akan hidup lebih bahagia dan memiliki usia yang lebih awet muda, seperti orang penduduk Jepang. Seperti yang kita tahu bahwa Jepang termasuk negara maju yang memiliki jam kerja yang luar biasa padat. Dengan kepadatan kerja yang luar biasa, mereka memiliki angka kematian yang kecil. Dari hasil penelitian, hal ini karena mereka mampu menemukan Ikigai mereka di tengah kesibukan yang memicu stress. Indonesia yang masih memiliki jam kerja yang cukup, harusnya lebih mudah menemukan Ikigai. (Irukawa Elisa, 2019:40).

Pada Bab 2: Lesu Menjalani Hidup? Bongkar Pembangkit Semangat Hidupmu. Poros Bab 2 ini ada pada bagaimana kita menemukan tujuan hidup, membangun emosi positif, menghindari prasangka, dan menyadari identitas diri yang sebenarnya. 

Pada prinsipnya adalah, mengetahui kesenangan, ketidaksenangan, karakter dan pribadi diri sendiri. Karena hal inilah yang akan menjadi modal utama, sekaligus sebagai pengantar untuk menuju kesuksesan. (Irukawa Elisa, 2019:60).

Bab 3: Fokus pada Hal yang Kamu Cintai. Ini mengingatkan saya pada buku berjudul Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat. Iya, kita seringkali terganggu dengan perkara-perkara kecil, seperti omongan orang dan bisik-bisik tetangga, sehingga tergeser dari fokus (apa yang kita cintai). Misalnya, kemampuan kita adalah mendaur ulang sampah, tetapi kuatir sama omongan orang "Sarjana kok daur ulang sampah!" pada akhirnya kita bergeser dari apa yang kita cintai (mencintai hobi, kesenangan, apa yang dilakukan). Pada Bab 3 ada sub berjudul: Menikmati Air Mengalir. Ini bagus, dalam pandangan saya, apa yang tidak bisa diubah oleh manusia, artinya harus dinikmati, sepahit apa pun itu. 

Bab 4: Menggali Kemampuan Tersembunyi. Iya sih, banyak orang tidak sadar bahwa mereka punya potensi. Ada potensi/bakat/kemampuan yang langsung menunjukkan diri, tapi ada pula yang bersembunyi menunggu pencarinya/penggalinya. Di sini kita belajar bahwa kreativitas tidak dimiliki oleh orang tertentu saja. 

Pertanyaannya adalah bagaimana membangun kreativitas yang mampu melahirkan inovasi? Memang tidaklah mudah, perlu yang namanya latihan, dan berpikir kritis. Tidak sekedar itu, tetapi juga peka terhadap banyak hal. Karena dengan peka terhadap banyak hal-hal kecil di sekeliling akan mengasah kreativitas dan memantik inovasi lahir. (Irukawa Elisa, 2019:108).

Bab 5: Apa Timbal Balik Ikigai? Tentu panjang umur dan bahagia merupakan timbal balik pertama yang bakal diperoleh. Berikutnya menyusul: produktif, menjadi pribadi yang lebih disiplin, menciptakan manusia berkualitas, kreatif dan inovatif, menjadi agen perubahan, memiliki kemampuan self driving, dan rasionalis.

Seseorang yang memiliki visi dan misi yang jelas, disertai dengan semangat mewujudkan. Maka secara otomatis sistem syaraf otak akan bekerja untuk berfikir rasional. Jadi secara otomatis sistem syaraf otak saling terkoneksi untuk melihat peluang di setiap celah yang ada. Orang yang memiliki pemikiran rasional, memiliki pemikiran lebih kritis setiap melihat peluang dan objek yang ada. (Irukawa Elisa, 2019:216).

Tentu, masih banyak detail-detail menarik yang bisa kalian temukan di dalam buku ini, ditulis/dikupas tuntas satu per satu oleh Penulisnya. Jangan salahkan saya jika saat kalian membaca, kepala bakal mengangguk-angguk setuju seratus persen. Hehe. 

Kita dan Ikigai


Menurut Wikipedia, Ikigai adalah istilah Jepang untuk menjelaskan kesenangan dan makna kehidupan. Kata itu secara harfiah meliputi iki, yang berarti kehidupan dan gai, yang berarti nilai. Ikigai kadang diekspresikan sebagai “alasan untuk bangun di pagi hari”. Ikigai-lah yang memberikan motivasi berkelanjutan untuk menjalani hidup, atau bisa juga dibilang bahwa ikigai-lah yang memberikan gairah hidup yang membuat semangat dalam menyambut kedatangan setiap hari baru. Irukawa Elisa menulis bahwa Ikigai di Jepang sudah akrab, dan menjadi gaya hidup mereka. Sebenarnya di Indonesia secara tidak langsung sebenarnya juga telah mempraktekkan Ikigai. Perbedaannya Ikigai di Jepang dan di Indonesia hanya pada sebutannya. Di Indonesia, tidak ada nama sebutan khusus terkait tujuan hidup. Namun, sebenarnya Orang Indonesia sudah memiliki tujuan hidup dan sudah menemukan sumber kebahagiaan.

Kalian pasti terkejut. Hehe.

Menurut Irukawa Elisa, di Indonesia khususnya kaum Muslim, kata yang lebih tepat bukan Ikigai, namun dapat disederhanakan dengan ikhlas dan bersyukur menjalani hidup. Bersyukur menjalani hidup dapat saya bilang mudah dilakukan oleh siapa saja. Tetapi ikhlas, itu perkara lain. Byuuuuh. Susahnya ikhlas itu pasti kalian juga sudah merasakan hahaha. Tapi kita harus berupaya untuk bisa ikhlas dalam setiap sendi kehidupan ini.

Baca Juga: Pariwisata Nusantara

Akhirnya selesai juga saya me-review buku ini setelah lama dibaca. Salah satu buku self improvement yang juga saya rekomendasikan pada kalian. Kalau kalian juga punya rekomendasi buku-buku self improvement lain, silahkan komen di bawah, siapa tahu bakal saya beli, baca dan review. Semoga bermanfat bagi kalian semua. Mulailah belajar mengenali diri sendiri, menggali kemampuan diri, memanfaatkan potensi diri, bodo amat sama perkara-perkara kecil yang tidak penting, serta jangan lupa bersyukur dan berusaha ikhlas!

#SabtuReview



Cheers.

5 Buku Self Improvement yang Wajib Kalian Baca


5 Buku Self Improvement yang Wajib Kalian Baca. Membaca buku merupakan kegiatan yang masih saya lakukan di sela-sela aktivitas lainnya seperti bekerja di kantor, nge-blog, membikin konten Youtube, berkomunitas, melancong, dan lain sebagainya. Buku, I mean the real book not e-book, masih dan akan terus menjadi bagian hidup saya. Memburu buku memang sudah saya hentikan; terakhir memburu buku Harry Potter and Deathly Hallows di Jakarta, bahkan buku itu belum diletakkan di rak Gramedia Salemba, haha. Tapi membeli buku masih terus saya lakukan. Kalian tahu bedanya kan. Memburu, artinya saya bisa berupaya sekeras mungkin untuk mendapatkan buku-buku baru dari penulis favorit. Membeli, artinya saya membeli buku yang menurut saya perlu dibeli. Dan akhir-akhir ini saya lebih sering membeli buku bertema self improvement.

Baca Juga: 5 Ranah Hukum di Indonesia yang Wajib Kalian Tahu

Apa sih self improvement itu?

Secara harafiah self improvement berarti perbaikan diri dan/atau memperbaiki diri. Lebih dalam, self improvement adalah tentang bagaimana kita mengenali diri sendiri baik kebiasaan baik, kebiasaan buruk, maupun potensi tersembunyi; untuk diperbaiki, dikelola, dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya demi peningkatan kualitas hidup. Self improvement berkaitan dengan personal development. Personal development atau pengembangan pribadi mencakup kegiatan yang meningkatkan kesadaran dan identitas, mengembangkan bakat dan potensi, membangun sumber daya manusia dan memfasilitasi kemampuan kerja, meningkatkan kualitas hidup dan berkontribusi pada perwujudan impian dan aspirasi.

Dalam salah satu video SCURD, Raditya Dika mengatakan bahwa dirinya kini menerapkan pola hidup minimalis. Teringat salah satu buku yang pernah saya baca berjudul Seni Hidup Minimalis. Buku itu mengajarkan pembacanya untuk lebih cerdas memilih dan memilah serta harus bisa tega membuang semua 'sampah' dari hidupnya. Apalah kita ini, yang bahkan punya lebih dari sepuluh tas, lebih dari sepuluh sepatu, lebih dari sepuluh botol parfum, dan merasa masih kurang? Byuuuuh! Mungkin itu memang sifat dasar manusia. Selalu merasa kurang. Telepon genggam saja harus dua. Haha. 

Membaca buku-buku bertema self improvement memang memberi pengaruh yang cukup besar bagi hidup saya. Entah dengan kalian. Dan kali ini saya akan merekomendasikan lima buku self improvement. Wajib kalian baca! Tapi kalau kalian tidak suka membacanya ... tidak apa-apa. Tergantung kesenangan dan kebiasaan saja.

Yuk tengok lima buku itu.

1. Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat


Buku ini ditulis oleh Mark Manson. Seorang blogger. Dia mengingatkan kita pada Raditya Dika, pada Kerani dari ChaosAtWork (My Stupid Boss), pada Trinity. Tulisan-tulisannya di blog didominasi dengan aneka tips dan/atau motivasi menarik tentang menjalani hidup, tanpa terkesan menggurui, dan menulisnya dari sudut pandang berbeda. Salah satu hal menarik dari buku ini adalah penjelasan tentang tetap positif. Bukankah kita sering sekali memotivasi diri sendiri untuk tetap positif? Mark Manson menulis bahwa pengingkaran terhadap emosi negatif menuntut kita untuk mengalami emosi negatif yang lebih dalam dan berkepanjang, serta disfungsi emosional. Terus menerus bersikap positif justru merupakan salah satu bentuk pengelakan terhadap masalah, dan bukan cara yang tepat untuk menyelesaikannya. Contoh yang dilampirkan Mark Manson adalah bahwa ketika kita marah pada seseorang, itu alami karena kemarahan adalah bagian dari kehidupan. Tapi ketika kita memilih untuk tidak memukul seseorang karena marah itu adalah pilihan tepat karena marah adalah alami dan memukul adalah perkara lain yang menimbulkan perkara yang lebih besar.

Hasrat untuk mengejar semakin banyak pengalaman positif sesungguhnya adalah sebuah pengalaman negatif. Sebaliknya, secara paradoksal, penerimaan seseorang terhadap pengalaman negatif justru merupakan sebuah pengalaman positif (Mark Manson, 2018:10).

Cobalah baca buku ini. Dan saya yakin kalian pasti suka.

Seni #2: Untuk bisa mengatakan "bodo amat" pada kesulitan, pertama-tama Anda harus peduli terhadap sesuatu yang jauh lebih penting dari kesulitan (Mark Manson, 2018:19).

2. Mendaki Tangga yang Salah 


Buku ini ditulis oleh Eric Barker dan diterbitkan oleh P.T. Gramedia Pustama Utama pada tahun 2019. Sebanyak 360 halaman mengajarkan pembacanya tentang banyak hal untuk lebih mengenali diri sendiri. Istilahnya: mau jadi apa kita kelak? Kenali diri sendiri! Dan, ah ya, saya tidak bisa untuk melewatkan yang satu ini: buku Mendaki Tangga Yang Salah diberikan oleh Ibu Rosalin Togo atau lebih dikenal dengan panggilan Mami Ocha yang saat ini sedang menempuh pendidikan S2 di Kota Surabaya. Terima kasih, Mami ... Pahlawan Intelektual saya! Hehe.

Eric Barker tidak berusaha menggurui. Dia lebih condong pada memberikan contoh perilaku, kesuksesan orang-orang besar dunia, hingga beragam teori, serta penelitian dan hasil penelitian para profesor dan/atau para pakar. Garis besar, benang merah, Mendaki Tangga Yang Salah adalah kenali diri sendiri. Kalau kita tidak sependapat, biarkanlah ketidaksependapatan itu menjadi nilai demokrasi dalam me-review buku. Haha. Apabila manusia mengenali diri sendiri maka dia akan tahu tangga mana yang harus dinaiki. Bukan begitu poinnya? Bayangkan saja jika kita tahu, tidak pandai, atau tidak berbakat membikin sketsa tetapi terus-terusan memaksakan diri hingga akhir hayat. Apa yang kita capai? Nothing.

Bab 1 Mendaki Tangga Yang Salah memoroskan kalimat judul Jika Ingin Sukses, Haruskah Kita Bermain Aman dan Melakukan Apa Yang Diperintahkan Kepada Kita

3. Mission Ini Possible


Misbahul Huda adalah penulis buku ini. Buku Mission Ini Possible dengan pengantar dari Dahlan Iskan ini sangat menarik di setiap lembarnya. Isinya merupakan pengalaman membangun dari si penulis; motivasi yang luar biasa. Saya mencintai buku-buku Ajahn Brahm tapi saya juga mencintai buku yang ditulis oleh Misbahul Huda ini. Bahkan pada halaman awal saya sudah terpesona:

Jika anda tidak berubah, anda akan punah. Kalimat yang sama pernah saya dengarkan saat sosialisasi oleh Telkomsel di Fakultas Ekonomi - Universitas Flores. Betul juga. Apalah kita ini jika terlalu idealis dengan dunia yang dulu. Menerima perubahan dan memanfaatkannya untuk hal-hal yang positif jauh lebih baik ketimbang membuang enerji untuk menolak perubahan yang terjadi. Setidaknya tidak perlu menolak, duduk diam-diam dan tenang-tenang saja lah ... menanti menjadi punah. Hehehe.

Ingat:
Satu-satunya bagian dari kita yang tak berubah adalah menjadi.

Buku ini sangat saya rekomendasikan kepada kalian semua. Isinya bagus. Ditulis dengan bahasa yang sangat mudah dipahami dan kadang-kadang menggunakan istilah-istilah bahasa Jawa. Kutipan-kutipan kalimat bijak yang diselipkan, selain sesuai dengan sub buku, juga sangat memotivasi pembacanya. Kadang, ketika ada orang yang tidak mau berubah, hanya dengan membaca sebuah buku niscaya dia akan berubah. Percayalah. Pendorong itu bukan hanya orangtua, pacar, suami/isteri, sahabat, tapi juga sebuah buku.

4. The Secret of Ikigai


Buku ini sudah saya baca tapi belum pernah menulis review-nya di blog ini. Buku dengan tagline: Rahasia Menemukan Kebahagiaan dan Umur Panjang Ala Orang Jepang ditulis boleh Irukawa Elisa. Setiap bab buku ini mengajarkan hal-hal yang familiar karena memang itu yang kita jalani sehari-hari. Salah satunya adalah menghindari prasangka. Kawan, susah sekali ... karena prasangka itu bagian dari hidup kita setiap harinya. Haha.

Tidak mudah menghindari prasangka dalam kehidupan bersosial. Sebagai manusia dalam keseharian, hampir setiap hari kita membangun prasangka tanpa kita sadari. Mulai dari prasangka positif maupun negatif. Prasangka ini pulalah yang menimbulkan penilaian like-dislike terhadap orang lain. Satu orang dengan orang yang lain pun akan memiliki penilaian yang berbeda, tergantung dari emosi (suasana hati) orang tersebut pada waktu itu. (Irukawa Elisa, 2019:47).

Seperti yang tertulis pada sampul belakangnya: Buku ini adalah buku yang tepat untuk Anda baca. Di sinilah Anda akan mengetahui ilmu Ikigai. Ikigai akan membantu Anda akan menemukan tujuan hidup Anda dan kebahagiaan hidup Anda. Ikigai mengajarkan cara hidup lebih mandiri, bermanfaat untuk diri sendiri dan juga untuk lingkungan. Inilah Ikigai, rahasia hidup bahagia, panjang umur dan penuh makna.

5. Berjalan di Atas Cahaya


Di luar dari perilaku atau omongannya yang disiarkan di berita, saya menyukai cara menulis Hanum Salsabiela Rais dalam buku Berjalan di Atas Cahaya; Kisah 99 Cahaya di Langit Eropa. Berjalan di Atas Cahaya merupakan buku catatan perjalanan Hanum Salsabiela Rais bersama tim ketika sedang bekerja alias melakukan peliputan untuk program Ramadhan sebuah stasiun teve swasta Indonesia. Lokasi liputannya adalah Eropa, sasaran liputannya adalah kaum Muslim yang hidup di benua itu beserta segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan berhijab (yang pasti mereka tahu hijab = Muslim). Kaum Muslimnya pun bukan semata-mata yang lahir dan besar di Eropa melainkan juga Orang Indonesia! Seperti Bunda Ikoy … misalnya. Hmm. Nampaknya stigma Muslim = teroris masih saja menghantui mereka meskipun teknologi yang mereka gunakan milyaran persen di atas teknologi manusia gua.

Berjalan di Atas Cahaya melibatkan dua kontributor lain yaitu Tutie Amaliah dan Wardatul Ula meskipun Hanum masih mendominasi dengan kisah-kisah ajaibnya. Saya jamin kalian akan sangat kaya pengetahuan setelah membaca Berjalan di Atas Cahaya. Salah satu yang paling saya gemari adalah Fenomena Gajah Terbang. Bagaimana kita, manusia yang berdosa ini, paling sering terkena sindrom fenomena gajah terbang. Meskipun kita tahu tidak ada gajah yang bisa terbang tapi begitu dengar kalimat, “lihat, gajah terbang!” pasti kepala langsung mendongak ke langit. Hehe. Artinya, janganlah langsung berpendapat pada sesuatu berdasarkan pendapat orang lain. Ah, keren sekali deh.

Kisah lain yang juga tak kalah seru adalah tentang Nur Dann. Si cantik ini berdakwah dengan cara nge-rap! Yoo-hoo. Karena Hanum juga melampirkan foto si Nur Dann, saya ternganga. Amboy, cantik sekali lah dia. Kisah lainnya adalah tentang Bunda Ikoy; Orang Indonesia yang sukses bekerja di perusahaan jam kelas dunia. Ya, mereka berjuang untuk bekerja dan hidup baik di tanah sekuler tersebut tanpa harus melepaskan hijab sebagai jati diri ke-Islam-annya. Taruhannya adalah iman. Sanggupkah kita menjaga iman ini tetap seperti yang kita inginkan?


Lima buku di atas betul-betul membikin otak saya seakan dibelah, pecah, membuka, untuk menampung lebih banyak hal-hal positif. Apakah dengan membaca buku-buku itu membawa perubahan dalam hidup saya? Ya, tentu. Lebih pandai memilah dan memilih, itu salah satunya. Tapi bukan berarti saya terbebas dari segala hal manusiawi lainnya. Tidak dooong. Namanya juga manusia, kesalahan masih tetap terjadi/ada. Kalau hanya karena membaca buku-buku self improvement saya kemudian tidak melakukan satu pun kesalahan, itu luar biasa hahaha. Tapi yang jelas, ada perubahan baik dalam hidup saya.

Baca Juga: 5 Perilaku Sederhana Untuk Mengurangi Sampah Plastik

Semoga kalian juga punya kesempatan membaca buku-buku di atas. Amin. Tidak harus sekarang. Kapan saja kalian punya waktu/kesempatan. Karena, membaca tidak akan pernah membikin kita merugi.

Semoga bermanfaat!

#KamisLima



Cheers.

A Child Called ‘It’, Kisah Pahit Seorang Anak

Maraknya pemberitaan soal korban dan aksi perisakan (bully) ini menurut saya sebenarnya bukan karena aksi perisakan baru ada sekarang, tapi karena meningkatnya kesadaran masyarakat (termasuk media) atas buruknya efek akibat aksi perisakan ini.  Saya kira tinggal menunggu waktu saja aturan-aturan hukum terkait aksi perisakan ini akan ditegakkan dengan tegas. Tanpa hukuman yang tegas, saya kira

Fiersa Besari Memang Jagoannya Merangkai Kata-Kata


Fiersa Besari Memang Jagoannya Merangkai Kata-Kata. Saya terpesona pada lagu-lagu ciptaannya. Liriknya sederhana tetapi setiap kata digandeng dengan kata yang tepat sehingga menghasilkan kalimat yang membikin kita senyum-senyum sendiri terus bilang, "Benar banget!". Kalian tentu hafal lirik lagu Celengan Rindu bukan? Atau yang paling baru, yang jadi soundtrack-nya Imperfect: Karir, Cinta, & Timbangan yang berjudul Pelukku Untuk Pelikmu. Sumpah, saat mendengarkan lagu ini perasaan saya jadi nyaman. Tsaaah. Haha. Betul! Apalagi pas ketemu lirik: Jangan pernah kau merasa sendiri, tengoklah aku yang tak pernah pergi, bagiku engkau tetap yang terbaik, entah beratmu turun atau naik. O-le!
Kemarin saya diberipinjam sebuah buku berjudul Garis Waktu dengan tagline: Sebuah Perjalanan Menghapus Luka. Betul, buku ini ditulis oleh Fiersa Besari. Buku ini dipinjamkan oleh teman kerja Ibu Happy Diana. Ya, kami memang sering saling meminjamkan buku. Jadi, ada semacam suatu penghematan di sini tanpa harus kehilangan kesempatan membaca buku-buku kece. Haha. Kalian harus maklum, di Kota Ende belum ada toko buku sekaliber Gramedia atau Gunung Agung dan lain sebagainya. Untuk buku-buku populer kami harus memasoknya dari luar jika ingin segera membacanya.

Garis Waktu bukan buku berat seperti salah satu buku Supernova: Gelombang. Tapi buku ini justru langsung melekat karena bukan hanya isinya tetapi quote-quote-nya! Jujur, saya belum khatam membaca Garis Waktu tapi sudah khatam membaca quote-quote-nya. Tapi saya sudah tidak tahan untuk menulis tentang buku ini untuk #SabtuReview karena hampir sepuluh hari saya tidak menulis konten bekal pos blog ini. Ke mana kah saya? Ke hatimu. Hahaha. Maklum, begitu banyak pekerjaan yang membutuhkan waktu dan konsentrasi penuh, dan penelitian yang sungguh, sehingga untuk melihat berapa banyak pembaca dalam sehari pun saya tidak melakukannya. Ditambah begitu banyak pula persiapan yang harus dilakukan untuk pelantikan Rektor Uniflor tanggal 30 Januari 2020 kemarin.

Mari berbicara tentang Garis Waktu.

Buku ini bersampul putih dengan sedikit gambar terkesan simple. Diterbitkan oleh Media Kata, buku setebal 211 halaman ini berisi perjalanan cerita yang dikemas apik. Setiap cerita tidak akan membikin kalian terlalu lama terbuai karena pendek saja. Tetapi jangan salah, justru karena kemasannya seperti itu justru membikin penasaran dan pengen baca lagi. Iya, itu yang terjadi ketika saya membaca cerita berjudul Dimensi Tentangmu (Pada aebuah garis waktu), Perjumpaan yang Sederhana (April, tahun pertama), Sesuatu yang Tumbuh Diam-diam (Mei, tahun pertama), dan Untukmu yang Berjubah Api (Mei, tahun pertama). Baru empat. Hehe. Sudah dibaca ulang dua kali setiap cerita. Dan kemudian saya terpesona dengan quote-quote-nya.

Setiap cerita di dalam Garis Waktu diakhiri dengan quote menarik. Sekali lagi, kata-katanya sederhana, tapi perkawinan kata-kata itu yang bakal membikin kita termangu saking kagumnya sama Fiersa Besari. Seterusnya saya membaca semua quote yang ada sedangkan ceritanya belum semua. Makanya saya tulis di atas, belum khatam. Salah satu quote bahkan saya pakai untuk status WA dan Facebook:

Seseorang yang tepat tak selalu datang tepat waktu.
Kadang ia datang setelah kau lelah disakiti oleh seseorang yang tidak tahu cara menghargaimu.

Asyik. Hehe.

Itu baru salah satu quote. Yang lainnya ... silahkan kalian baca sendiri Garis Waktu, ya! Tidak etis kalau semuanya saya tulis di sini. Yang jelas, ini memang merupakan sebuah perjalanan menghapus luka oleh seorang Fiersa Besari yang ternyata anak sastra. Iri saya padanya. Hiks. Dia begitu lihai mengawinkan kata.

Baca Juga: Inilah Akibat Paling Fatal Dari Perkara Yang Dianggap Remeh

Saat ini saya masih terus membaca Garis Waktu di sela-sela memikirkan kamu *plaaaaak*. Masih larut menikmati lihainya seorang Fiersa Besari bercanda dengan kata. Dan semoga lekas selesai membacanya karena Filosofi Teras juga sedang menunggu untuk dilanjutkan.

Selamat menikmati akhir minggu, kawan!

#SabtuReview



Cheers.