Relikui Kematian #1


Harry Potter memang telah lama selesai. Buku terakhir seri ini, Harry Potter and The Deathly Hallows, diterbitkan tahun 2007, sedangkan filemnya dirilis tahun 2010 (Bagian 1) dan tahun 2011 (Bagian 2). Meskipun telah selesai, kisah spektakuler dari dunia sihir a la J.K. Rowling yang pernah ditolak oleh penerbit ini masih terus menyihir kehidupan saya. Ketika prekuelnya yaitu Fantastic Beast and Where to Find Them serta Fantastic Beast The Crimes of Grindelwald dirilis, otomatis memori kita tentang Harry Potter muncul ke permukaan. Bagaimana tidak? Pernah dulu waktu masih hangat-hangatnya, saya sering sekali mengucapkan mantera-mantera dari serial tersebut seperti Stupefy.

Baca Juga: Survival Movies

Kisah utama buku ke-tujuh Harry Potter, sesuai judulnya, adalah The Deathly Hallows atau Relikui Kematian. Di dalamnya kalian akan menemukan pengembaraan tiga serangkai yaitu Harry, Ron, dan Hermione dengan misi mencari dan menghancurkan horcrux-horcrux milik Voldemort agar si penyihir terhitam dan terjahat itu melemah dan mudah dikalahkan. Misi yang tidak mudah karena Albus Dumbledore hanya menyisakan sedikit petunjuk setelah kematiannya. Selain itu, misi mereka lainnya adalah mencari tahu tentang simbol Relikui Kematian yang tergambar pada lembar demi lembar buku warisan Albus Dumbledore untuk Hermione. Buku itu berjudul The Tales of Beedle and Bard. Simbol Relikui Kematian juga dipakai oleh Xenophilius Lovegood (ayah Luna Lovegood) dalam bentuk bandulan kalung. Hermione juga melihat simbol Relikui Kematian pada makam Ignotus Peverell di Godric's Hollow.

Kisah Tiga Bersaudara Peverell


Relikui kematian adalah tiga benda keramat yang diciptakan dan diberikan oleh Kematian kepada tiga bersaudara yaitu Antioch Peverell, Cadmus Peverell, dan Ignotus Peverell. Kisah ini berada dalam buku The Tales of Beedle and Bard.

Alkisah ... ada tiga orang bersaudara berjalan jauh melalui jalanan sepi dan berkelok saat senja. Dalam perjalanannya mereka sampai di sungai yang berbahaya uuntuk diseberangi. Tapi mereka mempelajari ilmu sihir. Mereka dengan mudahnya melambaikan tongkat dan membuat sebuah jembatan. Akan tetapi sebelum mereka bisa menyeberang, jalan mereka dihalangi oleh seorang yang berkerudung. Itu adalah Kematian, dan dia merasa tertipu. Tertipu karena biasanya para pengelana akan tenggelam ke dalam sungai. Tapi kematian sungguh licik. Dia berpura-pura memberi selamat pada tiga bersaudara itu atas sihir mereka dan dan berkata bahwa masing-masing dari mereka mendapatkan hadiah karena cerdas menghindarinya.

Maka saudara yang tertua, Antioch, meminta tongkat yang lebih kuat dari tongkat lain. Lalu Kematian menciptakan tongkat buatnya dari Pohon Elder yang ada di dekat situ. 

Saudara yang kedua, Cadmus, memutuskan bahwa dia ingin menghina Kematian lebih jauh lagi dan meminta kekuatan untuk menghidupkan orang-orang yang dicintai dari kematian. Lalu Kematian mengambil sebuah batu dari pinggir sungai dan berikan itu padanya. 

Akhirnya, kematian bertanya pada saudara yang ketiga dan termuda yaitu Ignotus. Seorang pria yang sederhana. Dia meminta sesuatu yang dapat membuatnya pergi dari tempat itu tanpa diikuti oleh kematian. Dan kematian dengan sangat segan menyerahkan Jubah Gaib miliknya. 

Saudara pertama bepergian ke sebuah desa yang jauh dimana dengan Tongkat Elder di tangannya dia membunuh seorang penyihir yang bertengkar dengannya. Mabuk dengan kekuatan Tongkat Elder yang diberikan kepadanya dia membual akan kehebatannya. Tetapi di malam itu penyihir lain mencuri tongkat itu dan menggorok leher saudara itu sebagai tambahan. Dan Kematian mengambil saudara pertama itu sebagai miliknya.

Saudara kedua pulang ke rumahnya dimana dia membawa batu itu dan memutarnya tiga kali di telapak tangannya. Dia sangat senang ketika gadis yang dinikahinya yang keburu meninggal muncul di depannya. Namun sang gadis itu sedih dan dingin karena dirinya tak layak di dunia manusia. Gila karena kerinduan yang sia-sia saudara kedua membunuh dirinya agar bisa menyusul gadis itu. Dan Kematian mengambil saudara kedua itu sebagai miliknya.

Sementara saudara ketiga, bertahun-tahun kematian mencarinya namun tak bisa menemukannya. Hanya ketika ia sudah tua, saudara termuda itu memberikan jubah gaib itu pada puteranya. Dia menyambut Kematian bak teman lama dan pergi bersama Kematian dengan bahagia meninggalkan kehidupan ini.

Itulah kisah tiga bersaudara Peverell dengan Relikui Kematian.

Relikui Kematian


Ada tiga benda keramat Relikui Kematian. Jika seorang penyihir memiliki ketiganya maka akan dapat menjadi penguasa kematian. Dia dapat menjadi sangat mematikan dengan Tongkat Elder, dia dapat membangkitkan kematian dengan Batu Kebangkitan, dia pun dapat bersembunyi dari Kematian serta melindungi dua benda keramat lainnya dengan Jubah Gaib.


Siapa yang pernah memegang ketiga benda ini? Albus Dumbledore dan Harry Potter. Jubah Gaib telah menjadi milik Harry sejak lama, diserahkan oleh Albus Dumbledore atas wasiat ayah Harry yaitu James Potter. Batu Kebangkitan diwasiatkan oleh Albus Dumbledore kepada Harry, yang disembunyikan di dalam snitch wasiat tersebut. Sedangkan Tongkat Elder diperoleh Harry setelah melucuti Draco Malfoy di rumah penghuni Asrama Slytherin tersebut (kesetiaan tongkat kepada pemilik baru meskipun fisik si tongkat berada di tangan orang lain). Karena tanpa Draco sadari, dialah yang melucuti Tongkat Elder dari Albus Dumbledore sebelum Kepala Sekolah itu dibunuh oleh Profesor Snape.

Tongkat Elder


Tongkat Elder atau Elder Wand merupakan tongkat kepunyaan Albus Dumbledore. Inilah tongkat yang diminta Antioch Peverell kepada Kematian. Dalam dunia sihir, setiap penyihir mempunyai tongkat mereka masing-masing. Ada dua pembuat tongkat yaitu Ollivander dan Gregorovitch (di Bulgaria). Setelah dibunuh oleh penyihir lain, maka tongkat milik Antioch itu kemudian menjadi milik Gregorovitch. Si pembuat tongkat sihir yang bangga karena memiliki Tongkat Elder dan merasa puas karena bisa lebih populer dari Ollivander. Sayangnya tongkat sakti itu kemudian menjadi milik Gellert Grindelwald. Entah bagaimana caranya. Mungkin Grindelwald mencuri setelah membikin pingsan si Gregorovitch.

Baca Juga: Sisi Lain Dunia Gulat Dalam Dangal

Karena ... menurut penuturan Ollivander ... sebuah tongkat sihir akan menjadi pemilik sah penyihir lain jika penyihir pemilik sebelumnya dilucuti, dipingsankan, atau dibunuh. 

Gambar diambil dari sini.

Pemilik Tongkat Elder selanjutnya adalah Albus Dumbledore setelah mengalahkan Gellert Grindelwald. Lalu menjadi milik Draco tanpa dia ketahui, setelah melucuti Albus Dumbledore, sebelum Kepala Sekolah bijak itu dibunuh oleh Profesor Snape. Dan ketika Harry melucuti Draco, tongkat sakti itu kemudian menjadi milik Harry.


Demikianlah perjalanan panjang Tongkat Elder sebelum kemudian dicuri oleh Voldemort dari makam Albus Dumbledore. 

The Last Duel


Pertarungan terakhir antara Voldemort dan Harry tidak dapat terelakkan. Terutama setelah semua horcrux Voldemort dihancurkan. Fyi, horcrux adalah wadah tempat penyihir hitam menyimpan sobekan/pecahan/bagian dari jiwanya untuk mencapai keabadian. Horcrux terakhir yang dihancurkan adalah Nagini saat si ular hendak menyerang Ron dan Hermione. Adalah Neville Longbottom yang melakukannya, menggunakan Pedang Gryffindor. Voldemort membagi jiwanya menjadi delapan; tujun disimpan pada horcrux dan satu pada dirinya sendiri.

Pada pertarungan terakhir itu, Voldemort menggunakan Tongkat Elder, sedangkan Harry menggunakan tongkat milik Draco Malfoy. Namun, lagi-lagi mengingat siapa kepemilikan sah Tongkat Elder, tongkat itu tentu loyal kepada pemiliknya yang sah. Maka ... Voldemort kalah total dan Tongkat Elder, fisik si tongkat, berada di tangan si pemilik yang sah yaitu Harry. Luar biasa, sungguh, penggambaran pertarungan terakhir itu.

Menariknya tentang Tongkat Elder yang loyal pada Harry ini juga bisa terlihat pada pertarungan di Hutan Terlarang. Saat itu harusnya Harry mati lah. Diserang begitu rupa sama penyihir terjahat, terhitam, terkuat. Tapi loyalnya Tongkat Elder pada Harry tidak mampu membuat si tongkat mengikuti kehendak Voldemort. Harry hanya dibikin pingsan sesaat (rohnya bertemu Albus Dumbledore serta orang-orang mati lainnya) dan kembali bernafas. Ada juga yang menyebutkan bahwa semua itu karena perlindungan Lily Potter pada sang anak ajaib ini.

Kasihan juga si Voldemort. Dia berpikir Profesor Snape lah yang menjadi pemilik Tongkat Elder karena si profesor lah yang membunuh Albus Dumbledore. Tidak dia ketahui bahwa Draco lah yang seharusnya dia bunuh, bukan Profesor Snape, karena Draco lah yang melucuti Albus Dumbledore.

Baca Juga: Bodo Amat

Bagaimana dengan Batu Kebangkitan? Bukankah kalau Harry mati saat di Hutan Terlarang, toh dia bisa bangkit lagi? Bukankah Albus Dumbledore pasti punya tujuan tertentu memberikan Batu Kebangkitan pada Harry? Ada dua teori tentang hal ini yang akan saya tulis minggu depan. Haha. Nantikan, ya!


Tongkat Elder pada akhirnya tidak menjadi milik siapa-siapa. Karena Harry mematahkannya dan membuang ke jurang. Maka satu-satunya benda keramat Relikui Kematian yang masih berada di tangan Harry adalah Jubah Gaib. Bagaimana kisah dua benda keramat lainnya? Nanti ya, kita lanjut di pos #SabtuReview minggu depan!

Selamat berakhir pekan, selamat menonton ulang Harry Potter.



Cheers.

Relikui Kematian #1


Harry Potter memang telah lama selesai. Buku terakhir seri ini, Harry Potter and The Deathly Hallows, diterbitkan tahun 2007, sedangkan filemnya dirilis tahun 2010 (Bagian 1) dan tahun 2011 (Bagian 2). Meskipun telah selesai, kisah spektakuler dari dunia sihir a la J.K. Rowling yang pernah ditolak oleh penerbit ini masih terus menyihir kehidupan saya. Ketika prekuelnya yaitu Fantastic Beast and Where to Find Them serta Fantastic Beast The Crimes of Grindelwald dirilis, otomatis memori kita tentang Harry Potter muncul ke permukaan. Bagaimana tidak? Pernah dulu waktu masih hangat-hangatnya, saya sering sekali mengucapkan mantera-mantera dari serial tersebut seperti Stupefy.

Baca Juga: Survival Movies

Kisah utama buku ke-tujuh Harry Potter, sesuai judulnya, adalah The Deathly Hallows atau Relikui Kematian. Di dalamnya kalian akan menemukan pengembaraan tiga serangkai yaitu Harry, Ron, dan Hermione dengan misi mencari dan menghancurkan horcrux-horcrux milik Voldemort agar si penyihir terhitam dan terjahat itu melemah dan mudah dikalahkan. Misi yang tidak mudah karena Albus Dumbledore hanya menyisakan sedikit petunjuk setelah kematiannya. Selain itu, misi mereka lainnya adalah mencari tahu tentang simbol Relikui Kematian yang tergambar pada lembar demi lembar buku warisan Albus Dumbledore untuk Hermione. Buku itu berjudul The Tales of Beedle and Bard. Simbol Relikui Kematian juga dipakai oleh Xenophilius Lovegood (ayah Luna Lovegood) dalam bentuk bandulan kalung. Hermione juga melihat simbol Relikui Kematian pada makam Ignotus Peverell di Godric's Hollow.

Kisah Tiga Bersaudara Peverell


Relikui kematian adalah tiga benda keramat yang diciptakan dan diberikan oleh Kematian kepada tiga bersaudara yaitu Antioch Peverell, Cadmus Peverell, dan Ignotus Peverell. Kisah ini berada dalam buku The Tales of Beedle and Bard.

Alkisah ... ada tiga orang bersaudara berjalan jauh melalui jalanan sepi dan berkelok saat senja. Dalam perjalanannya mereka sampai di sungai yang berbahaya uuntuk diseberangi. Tapi mereka mempelajari ilmu sihir. Mereka dengan mudahnya melambaikan tongkat dan membuat sebuah jembatan. Akan tetapi sebelum mereka bisa menyeberang, jalan mereka dihalangi oleh seorang yang berkerudung. Itu adalah Kematian, dan dia merasa tertipu. Tertipu karena biasanya para pengelana akan tenggelam ke dalam sungai. Tapi kematian sungguh licik. Dia berpura-pura memberi selamat pada tiga bersaudara itu atas sihir mereka dan dan berkata bahwa masing-masing dari mereka mendapatkan hadiah karena cerdas menghindarinya.

Maka saudara yang tertua, Antioch, meminta tongkat yang lebih kuat dari tongkat lain. Lalu Kematian menciptakan tongkat buatnya dari Pohon Elder yang ada di dekat situ. 

Saudara yang kedua, Cadmus, memutuskan bahwa dia ingin menghina Kematian lebih jauh lagi dan meminta kekuatan untuk menghidupkan orang-orang yang dicintai dari kematian. Lalu Kematian mengambil sebuah batu dari pinggir sungai dan berikan itu padanya. 

Akhirnya, kematian bertanya pada saudara yang ketiga dan termuda yaitu Ignotus. Seorang pria yang sederhana. Dia meminta sesuatu yang dapat membuatnya pergi dari tempat itu tanpa diikuti oleh kematian. Dan kematian dengan sangat segan menyerahkan Jubah Gaib miliknya. 

Saudara pertama bepergian ke sebuah desa yang jauh dimana dengan Tongkat Elder di tangannya dia membunuh seorang penyihir yang bertengkar dengannya. Mabuk dengan kekuatan Tongkat Elder yang diberikan kepadanya dia membual akan kehebatannya. Tetapi di malam itu penyihir lain mencuri tongkat itu dan menggorok leher saudara itu sebagai tambahan. Dan Kematian mengambil saudara pertama itu sebagai miliknya.

Saudara kedua pulang ke rumahnya dimana dia membawa batu itu dan memutarnya tiga kali di telapak tangannya. Dia sangat senang ketika gadis yang dinikahinya yang keburu meninggal muncul di depannya. Namun sang gadis itu sedih dan dingin karena dirinya tak layak di dunia manusia. Gila karena kerinduan yang sia-sia saudara kedua membunuh dirinya agar bisa menyusul gadis itu. Dan Kematian mengambil saudara kedua itu sebagai miliknya.

Sementara saudara ketiga, bertahun-tahun kematian mencarinya namun tak bisa menemukannya. Hanya ketika ia sudah tua, saudara termuda itu memberikan jubah gaib itu pada puteranya. Dia menyambut Kematian bak teman lama dan pergi bersama Kematian dengan bahagia meninggalkan kehidupan ini.

Itulah kisah tiga bersaudara Peverell dengan Relikui Kematian.

Relikui Kematian


Ada tiga benda keramat Relikui Kematian. Jika seorang penyihir memiliki ketiganya maka akan dapat menjadi penguasa kematian. Dia dapat menjadi sangat mematikan dengan Tongkat Elder, dia dapat membangkitkan kematian dengan Batu Kebangkitan, dia pun dapat bersembunyi dari Kematian serta melindungi dua benda keramat lainnya dengan Jubah Gaib.


Siapa yang pernah memegang ketiga benda ini? Albus Dumbledore dan Harry Potter. Jubah Gaib telah menjadi milik Harry sejak lama, diserahkan oleh Albus Dumbledore atas wasiat ayah Harry yaitu James Potter. Batu Kebangkitan diwasiatkan oleh Albus Dumbledore kepada Harry, yang disembunyikan di dalam snitch wasiat tersebut. Sedangkan Tongkat Elder diperoleh Harry setelah melucuti Draco Malfoy di rumah penghuni Asrama Slytherin tersebut (kesetiaan tongkat kepada pemilik baru meskipun fisik si tongkat berada di tangan orang lain). Karena tanpa Draco sadari, dialah yang melucuti Tongkat Elder dari Albus Dumbledore sebelum Kepala Sekolah itu dibunuh oleh Profesor Snape.

Tongkat Elder


Tongkat Elder atau Elder Wand merupakan tongkat kepunyaan Albus Dumbledore. Inilah tongkat yang diminta Antioch Peverell kepada Kematian. Dalam dunia sihir, setiap penyihir mempunyai tongkat mereka masing-masing. Ada dua pembuat tongkat yaitu Ollivander dan Gregorovitch (di Bulgaria). Setelah dibunuh oleh penyihir lain, maka tongkat milik Antioch itu kemudian menjadi milik Gregorovitch. Si pembuat tongkat sihir yang bangga karena memiliki Tongkat Elder dan merasa puas karena bisa lebih populer dari Ollivander. Sayangnya tongkat sakti itu kemudian menjadi milik Gellert Grindelwald. Entah bagaimana caranya. Mungkin Grindelwald mencuri setelah membikin pingsan si Gregorovitch.

Baca Juga: Sisi Lain Dunia Gulat Dalam Dangal

Karena ... menurut penuturan Ollivander ... sebuah tongkat sihir akan menjadi pemilik sah penyihir lain jika penyihir pemilik sebelumnya dilucuti, dipingsankan, atau dibunuh. 

Gambar diambil dari sini.

Pemilik Tongkat Elder selanjutnya adalah Albus Dumbledore setelah mengalahkan Gellert Grindelwald. Lalu menjadi milik Draco tanpa dia ketahui, setelah melucuti Albus Dumbledore, sebelum Kepala Sekolah bijak itu dibunuh oleh Profesor Snape. Dan ketika Harry melucuti Draco, tongkat sakti itu kemudian menjadi milik Harry.


Demikianlah perjalanan panjang Tongkat Elder sebelum kemudian dicuri oleh Voldemort dari makam Albus Dumbledore. 

The Last Duel


Pertarungan terakhir antara Voldemort dan Harry tidak dapat terelakkan. Terutama setelah semua horcrux Voldemort dihancurkan. Fyi, horcrux adalah wadah tempat penyihir hitam menyimpan sobekan/pecahan/bagian dari jiwanya untuk mencapai keabadian. Horcrux terakhir yang dihancurkan adalah Nagini saat si ular hendak menyerang Ron dan Hermione. Adalah Neville Longbottom yang melakukannya, menggunakan Pedang Gryffindor. Voldemort membagi jiwanya menjadi delapan; tujun disimpan pada horcrux dan satu pada dirinya sendiri.

Pada pertarungan terakhir itu, Voldemort menggunakan Tongkat Elder, sedangkan Harry menggunakan tongkat milik Draco Malfoy. Namun, lagi-lagi mengingat siapa kepemilikan sah Tongkat Elder, tongkat itu tentu loyal kepada pemiliknya yang sah. Maka ... Voldemort kalah total dan Tongkat Elder, fisik si tongkat, berada di tangan si pemilik yang sah yaitu Harry. Luar biasa, sungguh, penggambaran pertarungan terakhir itu.

Menariknya tentang Tongkat Elder yang loyal pada Harry ini juga bisa terlihat pada pertarungan di Hutan Terlarang. Saat itu harusnya Harry mati lah. Diserang begitu rupa sama penyihir terjahat, terhitam, terkuat. Tapi loyalnya Tongkat Elder pada Harry tidak mampu membuat si tongkat mengikuti kehendak Voldemort. Harry hanya dibikin pingsan sesaat (rohnya bertemu Albus Dumbledore serta orang-orang mati lainnya) dan kembali bernafas. Ada juga yang menyebutkan bahwa semua itu karena perlindungan Lily Potter pada sang anak ajaib ini.

Kasihan juga si Voldemort. Dia berpikir Profesor Snape lah yang menjadi pemilik Tongkat Elder karena si profesor lah yang membunuh Albus Dumbledore. Tidak dia ketahui bahwa Draco lah yang seharusnya dia bunuh, bukan Profesor Snape, karena Draco lah yang melucuti Albus Dumbledore.

Baca Juga: Bodo Amat

Bagaimana dengan Batu Kebangkitan? Bukankah kalau Harry mati saat di Hutan Terlarang, toh dia bisa bangkit lagi? Bukankah Albus Dumbledore pasti punya tujuan tertentu memberikan Batu Kebangkitan pada Harry? Ada dua teori tentang hal ini yang akan saya tulis minggu depan. Haha. Nantikan, ya!


Tongkat Elder pada akhirnya tidak menjadi milik siapa-siapa. Karena Harry mematahkannya dan membuang ke jurang. Maka satu-satunya benda keramat Relikui Kematian yang masih berada di tangan Harry adalah Jubah Gaib. Bagaimana kisah dua benda keramat lainnya? Nanti ya, kita lanjut di pos #SabtuReview minggu depan!

Selamat berakhir pekan, selamat menonton ulang Harry Potter.



Cheers.

Bodo Amat


Masih ingat pos berjudul Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat? Pos #SabtuReview yang belum sempurna karena saya belum selesai membacanya tapi pengen banget menulis proses memperoleh buku keren yang satu ini, yang diberikan oleh sahabat saya Ferdinandus Setu. Hyess, the story behind the book. Pada akhirnya saya menyempatkan membaca buku ini setiap ada waktu luang-pendek misalnya jeda selama perjalanan, nongkrong di kantin, atau sebelum tidur malam. Bisa menyelesaikan buku yang ditulis oleh Mark Manson ini merupakan pengalaman mental yang ausam. Menurut saya. 

Baca Juga: The Book of Origins

Jadi, apa saja yang bisa saya tulis dari hasil membaca tuntas Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat? Mari kita cek ...

About Mark Manson


Seorang blogger. Yang akan mengingatkan kita pada Raditya Dika, pada Kerani dari ChaosAtWork (My Stupid Boss), pada Trinity. Tulisan-tulisannya di blog didominasi dengan aneka tips dan/atau motivasi menarik tentang menjalani hidup, tanpa terkesan menggurui, dan menulisnya dari sudut pandang berbeda. Silahkan cek sendiri di sini.

Diambil dari blog Mark Manson.

Tulisan-tulisan di blog itu kemudian dijadikan buku dengan judul The Subtle Art of Not Giving a F*ck. Yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia menjadi Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat. 

Diambil dari blog Mark Manson.

Life is not about getting rid of problems, it's about finding better problems. It's not about avoiding failuer, it's about getting better at failure. Terjemahan bebasnya: bodo amat! Hahaha. Sampai sekarang Mark Manson masih terus menulis blog-nya dengan konten-konten menarik. Silahkan dibaca. Kalau kesulitan sama bahasa Inggris, buka kamus.

Di Atas Langit Masih Ada Langit


Kalian pasti sering mendengar istilah: (janganlah terlalu dipikirkan) di atas langit, masih ada langit. Itu kesan pertama saya membaca buku ini. Kita cenderung terlalu fokus pada satu masalah. Terlalu fokus dari satu sudut pandang saja. Dan, dan tanpa sadar alam bawah sadar kita menolak untuk berpikir dari sudut pandang berbeda. Sudut pandang berbeda akan menunjukkan pada kita, sebenarnya, bahwa masalah yang sedang dihadapi itu ternyata tidak seberapa dibanding masalah lainnya yang jauh lebih besar/sulit.

Contohnya: empat bungkus nasi kuning bekal perjalanan yang dititip di sepeda motor saya jatuh di daerah Desa Moni, sementara para pengendara sepeda motor lainnya pasti berharap nanti sarapan dengan nasi kuning itu saat istirahat di daerah Wolowaru. Apakah nasi kuning yang jatuh itu masalah besar? Tidak, ketimbang memikirkan nasi kuning yang jatuh dan terlindas sepeda motor itu, kami lebih memikirkan tentang kehati-hatian berkendara lintas Pulau Flores dan berharap tidak ada seorang pun yang mengalami nasib buruk dalam perjalanan jauh dari Kota Ende ke Kota Maumere. Karena kecelakaan lalu lintas, apalagi berakibat pada kematian, merupakan masalah yang sangat besar jika dibanding empat bungkus nasi kuning.

Jadi, masih ada masalah yang, ke depannya bisa jadi, lebih besar dari sekadar jatuhnya nasi kuning di Desa Moni. 

Seni #2: Untuk bisa mengatakan "bodo amat" pada kesulitan, pertama-tama Anda harus peduli terhadap sesuatu yang jauh lebih penting dari kesulitan (Mark Manson, 2018:19).

Hidup memang sulit. Lantas, apakah kita hanya akan memikirkan tentang kesulitan hidup saja? Bangkitlah, masih ada yang lebih sulit dari kesulitan kita, misalnya orang-orang yang negaranya masih berperang. Mereka belum bisa memikirkan tentang tabungan emas Pegadaian, misalnya, mereka masih memikirkan tentang rumah ... apakah keesokan hari rumah mereka masih berdiri atau malah rata dengan tanah akibat dihantam granat atau bom. Atau, apakah besok mereka masih hidup?

Kira-kira hal-hal semacam itulah.

Menghadapi Masalah Adalah Jalan Menuju Bahagia


Ketika kita dihadapkan pada masalah, rasanya dunia runtuh, marah, kesal, tak henti-hentinya mengomel. Beberapa orang cenderung untuk lari dari masalah alias membiarkannya saja tanpa upaya untuk menyelesaikannya. Mereka berpikir bahwa lebih bahagia dengan tidak menyelesaikan masalah itu. Lupakan. Tapi justru itu letak masalahnya ... karena kita tidak akan bahagia hanya dengan membiarkan suatu masalah. Karena menyelesaikan masalah merupakan pengalaman positif yang baik untuk diri kita.

Nilai-Nilai Sampah


Dalam menjalani hidup tidak disadari kita dibendungi oleh nilai-nilai sampah. Apakah nilai-nilai sampah itu? Ada empat nilai sampah yang ditulis oleh Mark Manson yaitu:

1. Kenikmatan.
2. Kesuksesan material.
3. Selalu benar.
4. Tetap positif.

Menariknya adalah penjelasan tentang tetap positif. Bukankah kita sering sekali memotivasi diri sendiri untuk tetap positif? Mark Manson menulis bahwa pengingkaran terhadap emosi negatif menuntut kita untuk mengalami emosi negatif yang lebih dalam dan berkepanjang, serta disfungsi emosional. Terus menerus bersikap positif justru merupakan salah satu bentuk pengelakan terhadap masalah, dan bukan cara yang tepat untuk menyelesaikannya. Contoh yang dilampirkan Mark Manson adalah bahwa ketika kita marah pada seseorang, itu alami karena kemarahan adalah bagian dari kehidupan. Tapi ketika kita memilih untuk tidak memukul seseorang karena marah itu adalah pilihan tepat karena marah adalah alami dan memukul adalah perkara lain yang menimbulkan perkara yang lebih besar.

Hasrat untuk mengejar semakin banyak pengalaman positif sesungguhnya adalah sebuah pengalaman negatif. Sebaliknya, secara paradoksal, penerimaan seseorang terhadap pengalaman negatif justru merupakan sebuah pengalaman positif (Mark Manson, 2018:10).

Perihal poin selalu benar, saya pikir ini memang nilai sampah terhakiki hahaha. Karena ketika merasa selalu benar atau memposisikan diri sebagai pihak yang selalu benar maka kita tidak belajar apa-apa dari sesuatupun. Percayalah, saya pun juga sudah mengalaminya. Kita pernah benar, tapi tidak selalu benar kan? Artinya sebagai manusia kita pun tidak luput dari salah. Belajar banyak dari hal ini tentu bagus. Jangan menjadi orang yang merasa selalu benar.

Contoh Kisah


Di dalam buku ini juga termuat contoh-contoh kisah dari orang-orang yang pasti kalian tahu seperti David Mustain yang didepak dari Metallica dan kemudian membentuk Megadeth. Atau tentang Pete Best yang didepak dari The Beattles lantas menemukan 'arti hidupnya' dari pernikahan dan kehidupan rumah tangga. Atau kisah tentang Hiro Onoda, seorang Letnan Dua dari Angkatan Darat Kekaisaran Jepang (1944). Semuanya terangkum dalam sub Nilai Penderitaan. Kalau saya menceritakan semuanya, tentu bakal diprotes sama Mark Manson. Yang jelas kita akan banyak belajar dari contoh kisah-kisah di dalam buku ini.

Yakin.

Si Panda Nyinyir


Saya tergelak membaca tentang Si Panda Nyinyir ini. 

Jika saya dapat menciptakan satu pahlawan super, saya akan menciptakan pahlawan yang disebut Panda Nyinyir. Dia akan memakai sebuah topeng mata murahan dan kaos (dengan huruf kapital T di atasnya) yang terlalu kecil untuk perut pandanya yang besar, dan kekuatan supernya adalah mengatakan kepada orang-orang, kebenaran yang menyakitkan dan tergolong pedas tentang diri mereka sendiri yang perlu mereka dengar namun tidak ingin mereka terima (Mark Manson, 2018:31).

Hahaha ... Dia akan membuat orang yang mendengarnya menjadi menderita.

Tapi alasan sederhana mengapa kita mengalami penderitaan adalah bahwa secara biologis penderitaan bermanfaat. Ini adalah agen alami yang diperlukan untuk perubahan yang menginspirasi (Mark Manson, 2018:32).

Kita sering mendengar; kebenaran itu menyakitkan. Tapi itu adalah hal yang harus didengar dan/atau dihadapi untuk kemudian diselesaikan. Si Panda Nyinyir ini bisa jadi sisi lain dari diri kita; mungkin dalam kehidupan bisa jadi dia adalah sahabat karib kita.

Lucu juga saat saya membayangkan si Panda Nyinyir ini. 

Apa Yang Harus Dilakukan Dengan "Bodo Amat"?


Bodo amat merupakan kalimat yang berkonotasi negatif. Bodo amat identik dengan masa bodoh. Menurut saya. Sehingga kalau membaca bodo amat, pastilah pikiran kita terbawa pada perilaku masa bodoh, acuh, dan sekelasnya. Tapi jika bodo amat dilakukan dengan seni, seperti yang ditulis Mark Manson, justru menjadi positif. Seni itu ada di mana? Ada di buku Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat.

Bodo amat putus cinta, ketimbang terus-terusan menerima perlakuan buruk dari dia.

Bodo amatlah terlambat datang di pertemuan, ketimbang tidak Shalat Jum'at.

Bodo amat ...

Bodo amat ...

Bodo amat ...


Pengalaman mental yang saya peroleh usai membaca buku Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat memberi peluang pada otak saya untuk berpikir lebih jauh. Contoh: baru-baru ini di Facebook ada sebuah akun yang mengatakan Lomba Mural itu tidak berfaedah karena hanya mencoret-coret dinding saja. Ketika saya membalasnya dengan penjelasan yang baik, akun tersebut malah membias pada hal-hal lainnya. Terakhir dalam hati saya bilang: bodo amat! Kalau dulu, akun semacam itu bakal saya ladeni sampai ke akar-akarnya!

Haha.

Baca Juga: Menghargai Perbedaan Dalam The Help

Bagaimana dengan kalian? Apakah sudah membaca buku ini? Kalau sudah, bagi tahu yuk di komentar pendapat kalian!



Cheers.

Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat



Kalian pasti tahu matrix glitch, tapi apakah kalian mempercayainya? Dari yang saya baca tentang matrix glitch ini, sederhananya, matrix glitch adalah kondisi terhubungnya benang merah dengan cara tidak terduga atau tanpa disadari. Contohnya saat kalian pergi ke suatu acara, ada enam perempuan memakai gaun yang sama, dan keenamnya tidak pernah janjian untuk memakai gaun yang sama (warna, corak, model). Bisa jadi enam perempuan itu sahabatan, bisa juga mereka bahkan tidak saling kenal. Itu matrix glitch.

Baca Juga: The Mentalist

Matrix glitch juga bisa diistilahkan pada suatu keadaan kebetulan yang menyambung atau menghubungkan beberapa hal sekaligus. Dan, baru-baru ini saya mengalami matrix glitch.

The Story Behind The Book


29 Januari 2019 saya mengepos di Facebook sebuah buku berjudul Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat. Foto buku ini dikirim oleh Stanis More, yang waktu ke Jakarta cuma sempat memotret si buku dan menunggu konfirmasi saya apakah mau atau tidak sementara saya sendiri KETIDURAN sehingga tidak membalas pesan WA si Stanis, dan akhirnya Stanis pulang ke Ende tanpa membawa si buku. Huhuhu. Okay, saya mengeposnya di Facebook ditambah tulisan yang hampir sama dengan yang kalian baca barusan. Ini dia penampakan bukunya: 


Yang tidak saya sangka adalah, sahabat saya Ferdinandus Setu, sahabat masa SMP saya yang saat ini menjabat Plt. Kepala Biro Humas Kementrian Komunikasi dan Informasi RI, menyambar alias langsung mengomentari status Facebook tersebut. Anyhoo, iya, wajahnya sering wara-wiri di televisi untuk diwawancarai terkait isu-isu tentang hoax dan lain sebagainya.



Haha. Betul, kawan! Saya menunggunya di bandara, dan kisah matrix glitch kami ternyata panjang. Luar biasa ...


Ini matrix glitch banget, karena saya dan Pak Advent sama-sama menjadi anggota panitia Tim Promosi Uniflor 2019!

About The Book


Saya belum tamat membacanya. 

GUBRAK!!!!

Tapi jangan kuatir, saya bisa kok menulis sedikit ulasan tentang buku Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat karena sudah membaca puluhan halaman-halaman pertama. Lumayan, sambil mengisi waktu di kantor kalau lagi menunggu anggota meeting lainnya, dan menyeruput kopi susu, hehe. Sungguh, saya suka sekali kata 'bodo amat' untuk dipakai pada situasi tertentu, hihi. Maafkan. 

Buku Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat, dengan tagline Pendekatan Yang Waras Demi Menjalani Hidup Yang Baik, yang ditulis oleh Mark Manson. Berwarna oranye, kenapa bukan kuning ya, dengan tulisan besar-besar berwarna hitam. Banyak kalimat menarik dan quotes yang patut digarisbawahi di dalam buku ini, yang bahkan sudah digarisbawahi oleh si pemilik pertama yaitu Ferdin. Salah satunya adalah yang tertera pada halaman 19 Seni #2: Untuk bisa mengatakan "bodo amat" pada kesulitan, pertama-tama Anda harus peduli terhadap sesuatu yang jauh lebih penting dari kesulitan.

Pada rangkaian awal paragraf demi paragraf buku ini saya jadi paham bahwa kadang kita selalu meributkan hal-hal sepele yang menyita waktu dan tenaga padahal hal-hal itu sebenarnya bisa saja kita maafkan. Halaman 21 menegaskannya: Jadi menemukan sesuatu yang penting dan bermakna dalam kehidupan Anda, mungkin menjadi cara yang paling produktif untuk memanfaatkan waktu dan tenaga Anda. Karena jika Anda tidak menemukan sesuatu yang penuh arti, perhatian Anda akan tercurah untuk hal-hal yang tanpa makna.

Baca Juga: Buku Saku: Ende

Mark Manson 'mengajarkan' kita untuk tidak menjadi pribadi yang lebih baik melainkan menjadi pribadi yang 'tahu tentang diri sendiri' dan mengenyampingkan apa-apa yang sebenarnya tidak penting dalam hidup kita. Coba pikirkan lagi, kesulitan terbesar di atas kesulitan yang kita pikir sudah cukup sulit.

Tentu saya harus membacanya sampai selesai untuk bisa menulis lanjutan review dari buku ini. Tapi tidak sekarang ... karena Senin nanti saya harus berangkat ke kabupaten tentangga untuk melaksanakan tugas kantor haha. Cihuy! Bakal banyak cerita kelak :D

Selamat berakhir pekan, kawan.


Cheers.

Kepo Buku #1: Buku Pertama di tahun 2019

Apa buku pertama kalian di tahun 2019? Di episode perdana tahun 2019 ini kita akan awali dengan ngobrolin bacaan pertama kita di awal tahun ini. Ada macam-macam buku yang dipilih oleh para hostnya dan kalian pun bisa ikut berpartisipasi dengan cara mengirim rekaman cerita buku kalian. Selengkapnya ada di bawah. Oya Kepo Buku Season 2 masih bareng Rane, Steven, Toto, namun sekarang juga ditambah satu host baru. Namanya Opat. Jadi episode ini sekalian memperkenalkan teman-teman dengan Opat!

Selamat menikmati.



Di mana dengar podcast Kepo Buku?

Apple Podcast | SoundcloudGoogle Podcast | Spotify | Anchor | Breaker | Sticher | Pocketcast | Radio Public

Buku yang Dibahas di Episode ini:

  • Principles: Work and Life (Ray Dalio)
  • Mind Platter (Najwa Zebian)
  • The Silkworm (Robert Galbraith)
  • Men Without Women (Haruki Murakami)
  • Ikigai (Hector Garcia & Francesc Miralles)
  • Filosofi Teras (Henry Manampiring)
  • Smile (Raina Telgemeier).

 

AYO CERITAKAN BUKU YANG LAGI KALIAN BACA LEWAT AUDIO:

Yoi cuy, kita mau ngajak kalian buat ikutan di Kepo Buku. Intinya kita mau tahu kalian lagi baca buku apa? Kirim dalam bentuk rekaman suara (maksimal 5 menit). Jangan lupa sebut nama, lokasi dan ceritakan buku yang kalian lagi baca atau mau kalian rekomendasikan. Ada dua cara yang bisa dilakukan:

  1. ANCHOR: Untuk pengguna aplikasi Anchor, klik “Message” dan mulai rekam review kalian. (Durasi maksimal 1 menit tapi kalau masih kurang, silahkan rekam lagi)
  2. WHATSAPP:  Gunakan fasilitas Voice Note di Whatsapp. Klik/ ketik link ini di HP kalian: http://bit.ly/ikutkepobuku
  3. EMAIL: Rekam di voice note di hp dan kirim lewat email ke suarane@gmail.com

Rekaman yang kita terima akan kita sertakan dalam episode-episode Kepo Buku berikutnya.

 

Credits & Disclaimer:

  • Kepo Buku tidak berafiliasi dengan penerbit ataupun penulis buku yang diulas di episode ini.
  • Musik: “Rainbows” oleh Kevin MacLeod (incompetech.com). Licensed under Creative Commons: By Attribution 3.0 License
  • Cover: pixabay.com

 

-rh-

Buku Saku: Ende



Saya menyebutnya buku saku Ende. Sebuah buku mini berisi informasi tentang atraksi wisata di Kabupaten Ende serta budaya dan masyarakatnya. Buku ini diberikan oleh teman siaran Iwan Aditya yang bekerja di Swisscontact. Jadi kangen sama Iwan. Teringat masa-masa siaran dulu, terutama saat bibir dan otak Iwan jarang kompak, sampai-sampai saya dan Yoyok bilang begini, "Wan, orang itu yang typo jari, bukan bibir."

Haha!

Baca Juga: Corn Island

Flores Pocket Book for Tour Guides ENDE (FPBFTG ENDE). Demikian yang tertulis di sampul mukanya dengan gambar latar salah satu danau dari Danau Kelimutu dan dua orang wisatawan. Buku ini diterbitkan oleh DMO Flores dan didukung oleh HPI DPC Kabupaten Ende & Swisscontact WISATA (Copy Right) DMO Flores. Beberapa logo terpeta di buku ini diantaranya Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia, Wonderful Indonesia, Swisscontact, dan HPI. Anyhoo, sebelum lanjut, sekadar informasi saja bahwa Danau Kelimutu kini telah berubah warna lagi. Sayang saya belum sempat ke sana untuk sekadar ... selfie(?) haha.

Ada dua informasi utama di dalam FPBFTG ENDE. Yang pertama informasi tentang Pulau Flores. Yang kedua informasi tentang Ende.

Meskipun kecil namun FPBFTG ENDE sarat informasi. Informasi tentang Pulau Flores tidak saja memuat Letak dan Kondisi Geografis, Iklim, Flora dan Fauna, Sejarah, Masyarakat dan Kebudayaan, hingga kabupaten-kabupaten di Pulau Flores saja. Menggali lebih dalam, terdapat penjelasan tentang Sirih Pinang atau disebut Chewing Betel Nut

Wanita tua Flores biasanya mempersiapkan sirih saat mengobrol dengan teman-temannya. Kebiasaan ini sudah dikenal selama 2000 tahun, dan juga dikenal di bagian lain di Asia Tenggara seperti di Malaysia, Myanmar, India, Vietnam, Bhutan, Thailand, Papua Nugini dan Afrika Timur. Hal ini terutama terlihat di daerah pedesaan. Tiga bahan dasarnya antara lain sirih (Piper Betel Linn), dimana orang menggunakan buah dan daunnya, pinang (Areca Catechu Linn) dan kapur yang didapat dari batu kapur, kerang atau karang. Kapur juga dapat membuat gigi menjadi merah dan jika seseorang terlalu banyak menggunakannya, ini akan berakibat buruk pada gigi.

Bagi yang tidak terbiasa, jangan dipaksakan. Saya pernah mencoba sekali untuk mengunyah sirih ini, tetapi tidak kuat dan mabok *senyum nista*. Gara-gara mabok menyirih itu saya tidak berani mengulang percobaan itu. Mungkin suatu saat kalau sudah siap mabok lagi.

Bagaimana dengan informasi tentang Ende?

Diisi dengan lima poin penting yaitu:

1. About Ende.
2. Tourist Attraction.
3. Culture in Ende.
4. Useful Phrase.
5. Peta Flores dan Ende.

Kalau tentang atraksi wisatanya saya pikir kalian juga sudah tahu. Beberapa bisa dibaca di Blog Travel saya yang satu ini. Diantaranya Danau Kelimutu, Kampung Adat Wologai, Kampung Adat Nggela, Air Panas Liasembe, Air Terjun Murundao, Mata Air Panas Ae Oka Detusoko, Pantai Penggajawa, Pantai Enabhara, dan lain sebagainya. Di FPBFTG ENDE tidak tercantum atraksi wisata buatan.

Dua poin yang paling menarik minat saya dari lima poin di atas adalah tentang Culture in Ende dan Peta. Pada sub Budaya di Ende saya menggarisbawahi dua kalimat yang digunakan oleh Suku Lio (suku lainnya bernama Suku Ende) untuk kebesaran dan keagungan Tuhan:

Du'a Gheta Lulu Wula, Kai Eo Mbe'o Mera Gheta Longgo Leja.
(Tuhan di balik bulan, Dialah yang menatap di balik matahari).

dan

Ngga'e Ghale Wena Tana, Kai Eo Bewa Sa Ela Meta.
(Tuhan adalah penguasa bumi, Dialah pencipta alam semesta).

Baca Juga: Ngelawak Bersama Mamatua

Sedangkan pada sub Seni Bahasa, saya sangat tertarik dengan ulasan-ulasan tentang Sara Waga, Sua seru, Bhea, Sodha, Sua Sasa. Selama ini saya hanya pernah mendengar orang-orang ber-sodha dan sua sasa saja (lisan). Tidak menyangka bahwa puisi dalam bahasa Lio disebut sara waga dan sua seru itu. Mungkin kalian bakal bilang, masa iya Orang Ende tapi tidak paham betul tentang seni bahasa dari Suku Lio? Maklum, saya kan Suku Ende campuran ha ha ha. Bahasa Ende saja masih harus terus saya pelajari ... soalnya sejak lahir sampai sebesar dinosaurus komunikasi di dalam rumah selalu menggunakan Bahasa Indonesia.

Menurut saya, buku FPBFTG ENDE boleh dimilliki oleh siapa pun yang hendak berkunjung ke Pulau Flores dan Kabupaten Ende karena di dalamnya memuat hampir semua informasi yang dibutuhkan oleh para wisatawan. Saya pikir itu cukup, karena informasi tambahan bisa ditanyakan langsung ke agen perjalanan yang dipakai, teman yang tinggal di Pulau Flores dan Kabupaten Ende, atau penduduk setempat. Ingat, malu bertanya sesat di jalan, malu menjawab sesatkan orang lain.

Di mana bisa membeli FPBFTG ENDE? Entahlah. Saya memperolehnya dari Iwan. Saya tidak tahu apakah buku ini dijual bebas di toko buku atau tidak. Secara toko buku Gramedia juga jauh dari Kota Ende ... haha ... jadi silahkan coba cari sendiri kalau sempat main ke toko buku.

Baca Juga: Travel Writer

Demikian ... semoga bermanfaat.

Oia, dan karena liburan telah usai, tidak ada kalimat yang lebih indah selain: selamat kembali ke belantara rutinitas, kawan!



Cheers.

Buku Sejarah Bekasi, Sejak Peradaban Buni Ampe Wayah Gini

Buku Sejarah Bekasi, Sejak Peradaban Buni Ampe Wayah Gini
Judul: Buku Sejarah Bekasi, Sejak Peradaban Buni Ampe Wayah Gini.
Penulis: Endra Kusnawan
Penerbit: Herya Media Depok
Genre / Kategori: Sejarah
ISBN: 9786021032640
Tahun Terbit & Cetakan: April 2016/1
Tebal Buku: xvi + 468 hlm. Ukuran 15x23 cm. 
Harga: 110.000.

Kalau selama ini kita sering disuguhkan sejarah Bekasi hanya sekitar masa Revolusi Nasional Indonesia (1945-1949), maka buku ini merangkum banyak fakta sejarah lebih jauh lagi, yaitu sekitar 1000 SM sampai 130 M saat Peradaban Buni dipercaya hidup di daerah Bekasi. 

Setelah kata pengantar dari penulis yang menjelaskan latar belakang dan sistematika penulisan, buku tebal ini kemudian dibuka dengan pembahasan mengenai Toponimi Bekasi. Bagi saya ini pembukaan yang menarik, karena untuk mengetahui asal usul penamaan Bekasi mau tidak mau kita harus menyelami sejarahnya.

Toponimi Bekasi

Toponimi adalah pembahasan mengenai tentang nama tempat, asal-usul, arti, penggunaan, dan topologinya. Bagian pertama kata tersebut berasal dari bahasa Yunani tópos yang berarti tempat dan diikuti oleh ónoma yang berarti nama.

Asal-usul penggunaan nama Bekasi dalam buku ini dirangkum dalam 5 halaman disertai foto-foto peta dan lain-lain. Versi penamaan Bekasi yang dibahas dalam buku ini adalah versi dari Prof. Dr. Raden Mas Ngabehi (Lesya) Poerbatjaraka (1884-1964) yang memang merupakan pendapat paling ilmiah dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademis. 

Poerbatjaraka adalah seorang cendekiawan tidak bertanding soal naskah kuno, seorang putra Indonesia kedua yang memperoleh gelar doktor di Universitas Leiden Belanda bidang Sastra Jawa pada tahun 1926 dengan disertasi berjudul Agastya in den Archipel (Agastya di Nusantara). Setelah masa kemerdekaan beliau menjadi profesor di sejumlah kampus ternama dan beliau mendirikan Fakultas Sastra di Universitas Udayana Bali. 

Poerbatjaraka berpendapat kata Bekasi berasal dari kata Chandrabhaga, kesimpulan ini berdasarkan apa yang tertulis di Prasasti Tugu di Cilincing. Chandrabhaga adalah nama sungai yang digali pada abad ke-5 Masehi oleh Raja Tarumanagara yang bernama Rajadhiraja Yang Mulia Purnawarman. 
Prasasti Tugu memberitakan penggalian Sungai Candrabhaga (Kali Bekasi)
Prasasti Tugu memberitakan penggalian Sungai Candrabhaga (Kali Bekasi)
Prasasti Tugu memberitakan penggalian Sungai Candrabhaga dan Sungai Gomati yang dilakukan Purnawarman pada tahun ke-22 masa pemerintahannya.

Transkrip Prasasti Tugu:
Pura rajadhirajena guruna pinabhahuna khata khyatam purin phrapya. Candrabhagarnavam yayau pravarddhamanadwavincadvatsa (re) crigunaujasa narendradhvajbhunena (bhuten). Crimata Purnnavarmmana prarabhya Phalgune(ne) mase khata krshnatashimithau Caitracukla-trayodcyam dinais siddhaikavinchakai(h). Ayata shatsahasrena dhanusha(m) sacaten ca dvavincena nadi ramya Gomati nirmalodaka pitamahasya rajarshervvidarya cibiravanim.Bhrahmanair ggo-sahasrena(na) prayati krtadakshino.

Terjemahannya:
Dahulu atas perintah rajadiraja Paduka Yang Mulia Purnawarman, yang menonjol dalam kebahagiaan dan jasanya di atas para raja, pada tahun kedua puluh dua pemerintahannya yang gemilang, dilakukan penggalian di Sungai Candrabhaga setelah sungai itu melampaui ibukota yang masyhur dan sebelum masuk ke laut. Penggalian itu dimulai pada hari kedelapan bulan genap bulan Phalguna dan selesai pada hari ketiga belas bulan terang bulan Citra, selama dua puluh satu hari. Saluran baru dengan air jernih bernama Sungai Gomati, mengalir sepanjang 6.122 busur melampaui asrama pendeta raja yang di pepundi sebagai leluhur bersama para brahmana. Para pendeta itu diberi hadiah seribu ekor sapi.

Poerbatjaraka mengurai kata Candrabhaga menjadi dua kata, yakni Chandra yang berarti “bulan” dan Bhaga yang bermakna; "bagian". Diterangkan juga teori bagaimana kata Chandrabhaga kemudian menjadi Bhagasasi, kata "candradalam bahasa Sansekerta berarti bulan yang dalam bahasa Jawa Kuno disebut "sasi" atau "wulan". 

Perubahan penyebutan dari Chandrabhaga menjadi Bhagasasi menurut buku ini akibat pengaruh bahasa Melayu yang tersebar luas seiring dengan kejayaan kerajaan Sriwijaya yang juga menguasai sebagian pulau Jawa termasuk Bekasi. 

Bahasa Melayu sebagaimana bahasa Indonesia saat ini bersifat DM (Diterangkan Menerangkan), berbeda dengan bahasa Sansekerta yang bersifat MD (Menerangkan Diterangkan) seperti bahasa Inggris. Kemudian juga sedikit dijelaskan bagaimana dari penyebutan Bhagasasi menjadi Bhagasi, Bekassi hingga akhirnya menjadi Bekasi
Selain itu peninggalan budaya Melayu dari Sriwijaya yang masih mengakar adalah budaya berbalas pantun berima yang masih dapat ditemui hingga sekarang.
Buku Sejarah Bekasi, Sejak Peradaban Buni Ampe Wayah Gini
Buku Sejarah Bekasi, Sejak Peradaban Buni Ampe Wayah Gini
Sistematika penulisan buku sejarah ini diurutkan berdasarkan pada masa kekuasaan para penguasa di wilayah Bekasi, baik langsung maupun tidak langsung. Sejak lengsernya kerajaan Tarumanagara, di wilayah Bekasi tidak ada lagi kekuasaan yang secara langsung memerintah sehingga menjadi wilayah semi otonom karena jauh dari pusat-pusat kekuasaan atau pun pusat pemerintahan. 

Jauh setelah itu barulah hadir kekuasaan tradisional yang kental di Bekasi dalam bentuk kekuasaan para tuan tanah partikelir melalui para mandor. Ini pun sebenarnya kekuasaan yang bermotif ekonomi, bukan kekuasaan kedaulatan seperti kekuasaan kerajaan di daerah lain di nusantara.

Secara lengkap sistematika pembahasan Buku Sejarah Bekasi, Sejak Peradaban Buni Ampe Wayah Gini menggunakan periodisasi atau garis waktu sebagai berikut:
  1. Peradaban Buni (1000 SM-130) 
  2. Kerajaan Salakanagara (130-358) 
  3. Kerajaan Tarumanagara (358-686) 
  4. Kerajaan Sriwijaya (686-932) 
  5. Kerajaan Sunda (932-1579) 
  6. Kerajaan Sumedanglarang (1579-1620) 
  7. Kesultanan Mataram (1620-1652) 
  8. VOC (1652-1799) 
  9. Kerajaan Prancis (1800-1811) 
  10. Kerajaan Inggris (1811-1816) 
  11. Kerajaan Belanda (1816-1942) 
  12. Republik Indonesia (Perang Revolusi) (1945-1948) 
  13. Negara Pasundan (1948-1949) 
  14. Republik Indonesia Serikat (1949-1950) 
  15. Republik Indonesia (Orde Lama) (1950-1966) 
  16. Republik Indonesia (Orde Baru) (1966-1998) 
  17. Republik Indonesia (Reformasi) (1998-Sekarang)

Peradaban Buni (1000 SM-130)

Salah satu fakta sejarah adalah artefak, yaitu semua benda baik secara keseluruhan atau sebagian hasil buatan tangan manusia, seperti candi, patung, perkakas dan sejenisnya. Selain itu artefak juga dapat menunjukkan fakta sosial dan ciri fakta mental, contoh kapak batu dari Peradaban Buni. 

Mata kapak dari batu adalah artefak yang merupakan fakta konkret, tetapi jika dilihat dari bentuk dan modelnya maka kapak batu dapat berfungsi juga sebagai fakta sosial peradaban masa itu, dan jika menempatkan kapak batu serta manik-manik tersebut sebagai bagian dari sistem kepercayaan masa itu, maka artefak tersebut juga disebut fakta mental.

Pembahasan Peradaban Buni dilengkapi dengan foto-foto artefak berupa gelang, kapak batu, manik-manik dan lain-lain, yang walaupun tidak berwarna setidaknya cukup menambah kuat penjelasan sehingga lebih memudahkan pembahasan. Tidak terlalu banyak pembahasan mengenai Peradaban Buni dalam buku ini, hanya 12 halaman dengan diisi gambar-gambar penjelasan.

Pembahasan Peradaban Buni ini singkat dan padat, merangkum banyak "kata kunci" dari berbagai sumber yang bisa menjadi pembuka pintu-pintu pembahasan lain sesuai minat pembaca atau penulis lainnya. 

Saya pernah mengunjungi rumah alm Kong Sakih di Kampung Pasir Mas Desa Buni Bakti Babelan saat beliau masih hidup. Saya melihat pecahan-pecahan gerabah dan berbagai benda yang ia kumpulkan dari sekitar rumahnya. 

Saat itu saya kurang begitu paham apa gunanya sisa-sisa artefak-artefak itu beliau kumpulkan. Sekarang sedikit paham, bahwa berawal dari artefak itu banyak fakta lain yang bisa terungkap dan memiliki kedudukan penting sebagai sumber dalam penelitian kesejarahan.

***

Cara penulisan Buku Sejarah Bekasi, Sejak Peradaban Buni Ampe Wayah Gini dibagi dalam sub-sub judul yang kaya akan informasi dan referensi sumber. Contoh saat pembahasan Bab Kerajaan Belanda ada sub bab tentang Lahirnya Provinsi Jawa Barat yang diatur oleh Belanda dalam Staatsblad 1924 No. 78.

Bagi kita yang tidak berkecimpung dalam kesejarahan ini merupakan informasi baru yang menarik. Saya sendiri baru mengetahui bahwa ibu kota Provinsi Jawa Barat saat itu adalah Batavia (Jakarta) diatur berdasarkan Staatsblad 14 Agustus 1925 No. 378 dan berlaku efektif mulai 1 Januari 1926. 22 tahun kemudian, setelah kemerdekaan barulah Jakarta menjadi Kotapraja yang terpisah dan kedudukan walikotanya sejajar dengan Gubernur Jawa Barat melalui UU Nomor 22 tahun 1948.

Banyak hal menarik yang diungkap oleh buku ini. Saya juga membacanya tidak teratur dari awal sampai akhir, tapi hanya membuka-buka untuk melihat-lihat gambar-gambar atau foto, membaca sub-sub judul lalu kemudian membacanya kalau sub judulnya menarik perhatian saya. 

Membaca buku ini akan lebih mudah dengan membayangkan Endra Kusnawan yang sedang bercerita sebagaimana sering saya dengar langsung baik saat dia sedang menjadi narasumber atau sedang diskusi dan ngobrol bareng. Kalau ditanyakan kepadanya tentang motivasi membuat buku ini, dia akan kembali menjelaskan betapa sulitnya mencari buku sejarah Bekasi yang bisa diperoleh secara bebas dan seterusnya seperti yang dijelaskan pada kata pengantar buku ini. 

Ada 1 hal yang cukup penting, yaitu gaya bahasa yang digunakan. Mendengarkan dia bicara dan membaca tulisannya, saya tetap menemukan kemudahan mencerna ceritanya yang menggunakan bahasa semi formal dengan banyak pengandaian atau perbandingan.

Pembahasan yang sangat luas dengan rentang waktu yang panjang wajar membuat buku ini menjadi tebal hingga 468 halaman. Itupun sebenarnya tidak banyak topik yang dikupas secara tuntas, cukup sebagai pengetahuan umum sebagai pengantar pengetahuan kesejarahan atau pengenalan mengenai sejarah Bekasi secara umum.

Pemuda zaman now bukan tidak mau mempelajari sejarah, tapi akses untuk mempelajari sejarah itu yang sulit. Jika pun ada, sumber-sumber pengetahuan sejarah terkesan eksklusif dengan narasi formal dan baku serta menyebutkan berbagai referensi yang aksesnya juga susah, dan beberapa sebab lainnya. 

Untunglah ada Majalah Historia yang tersedia secara online dan menyajikan sejarah dengan cita rasa kekinian. Buku Sejarah Bekasi, Sejak Peradaban Buni Ampe Wayah Gini dari pemilihan judulnya saja sudah menggunakan bahasa sehari-hari yang akrab dengan orang kebanyakan. Demikian juga gaya bercerita dan penggunaan gaya bahasa yang mengisi buku ini, ringan tapi padat, cepat tercerna dan dapat dipahami awam.

Mudah-mudahan jika ada cetakan berikutnya ada pula halaman tambahan berisi tanggapan atau kritik dan testimoni yang dapat memperkaya buku ini. Karena biar bagaimanapun sejarah tidak bersifat baku dan selalu terbuka untuk direvisi dengan adanya bukti baru yang terungkap atau ditemukan fakta baru.

Tentang Penulis

Buku Sejarah Bekasi, Sejak Peradaban Buni Ampe Wayah Gini
Endra Kusnawan yang saya tahu adalah seorang pendiri dan penggiat di Komunitas Historika BekasiEndra giat dalam diskusi dan kegiatan kesejarahan karena hobi dan passion. Sedangkan profesinya sepanjang yang saya tahu adalah konsultan CSR pada perusahaan swasta. 

Selain sering menjadi narasumber dalam diskusi dan seminar sejarah dia juga sering mengisi acara-acara motivasi sebagai motivator. Terakhir yang saya tahu dari status Facebooknya per Desember 2018 ia resmi memegang sertifikasi trainer/instruktur dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).

Pesannya kepada saya: "Sejarah itu bersifat dinamis. Dia akan terus bergerak selama ada temuan baru. Buku tsb melengkapi buku-buku sejarah Bekasi sebelumnya. Karena banyak temuan baru yang layak untuk dianalisis lebih lanjut."
***

Travel Writer


Trinity, nama kesohor dalam dunia travel writer. Karena dia juga punya blog, tidak salah juga kalau disebut travel blogger. Kalau orang bilang Trinity adalah traveler yang sudah kenyang asam garamnya dunia, maka saya bilang Trinity adalah traveler yang sudah kenyang dengan semua bumbu dapurnya. Sebut saja, jahe, pala, ketumbar, serai, daun bawang, dan sederet bumbu di rak. Tidak bisa dipungkiri saya juga ingin bisa seperti Trinity. Tapi tentu saja semua yang sudah dia raih tidak terjadi dalam semalam sim salabim. Dan saya masih bermain gundu dalam dunia mimpi untuk bisa menjadi seperti Trinity.

Baca Juga: The Nun

Menjadi travel writer ngeri-ngeri sedap. Ngeri kalau dikritik habis-habisan sama pembaca yang, misalnya, punya pengalaman di tempat yang sama. Sedap kalau pembaca menikmatinya. Lebih sedap lagi kalau dibukukan dan bukunya laku keras. Kalau kalian sama seperti saya yang juga ingin bisa seperti Trinity, ada sebuah buku keren yang bisa dibaca. Judulnya Travel Writer. Buku ini ditulis oleh seorang traveler kesohor lainnya bernama Yudasmoro.

Siapa Yudasmoro?


Yudasmoro: travel writer untuk Garuda Inflight, Jalan-Jalan, Aplaus the Lifestyle, serta Getaway.

Sayangnya situs Yudasmoro[Dot]Net tidak dapat diakses karena menampilkan huruf-huruf yang tidak saya kenal haha. Tapi dari blog lamanya di Wordpress serta dari biodata di buku Travel Writer, tertulis nama lengkapnya yaitu Raden Yudasmoro Minasiani. Dia tidak punya latar belakang jurnalistik sama sekali. Dia pernah menjadi manajer sebuah restoran cepat saji selama delapan tahun, lantas memutuskan untuk banting setir menjadi seorang freelance travel writer.

Perkenalannya pada dunia travel writing membawanya pada dunia jurnalistik yang dipelajarinya sendiri melalui buku-buku dan internet. Setelah menerbitkan novel pertamanya, Fast Food United pada tahun 2008, dia sibuk menulis artikel travel untuk beberapa media cetak.

Singkat kata singkat cerita, hari berganti hari, lantas Yudasmoro menetaskan buku ini. Travel Writer. Kalau kalian membaca paragraf di atas, maka kalian tahu bahwa dia mempelajari dunia jurnalistik melalui buku-buku dan internet. Luar biasa. Makanya tulisan-tulisan Yudasmoro selalu enak dibaca dan tidak bikin sakit mata. Yaaa kalau sakit mata coba dicek ke dokter siapa tahu ada dinosaurus bertamu di mata. Hehe.

Travel Writer


Buku Travel Writer diterbitkan oleh Metagraf, Creative Imprint of Tiga Serangkai. Buku setebal 203 halaman ini memuat banyak panduan untuk para travel writer. Seperti tagline di bawah judul:

Panduan menjalani profesi paling mengasyikkan: penulis merangkap fotografer yang bisa keliling dunia gratis, bahkan dibayar!

Menggoda iman sekali kan?

"THE WORLD IS A BOOK AND THOSE WHO DO NOT TRAVEL READ ONLY ONE PAGE" ~ St. Augustine.
(Yudasmoro, 2012:1)

Dalam pembukanya Yudasmoro menulis: Saya sendiri heran, kenapa ya, kok sekarang seolah-olah travel writer menjadi booming dan menjelma jadi sesuatu yang diidam-idamkan? Apa mungkin karena faktor "traveling"-nya? Beberapa situs di luar negeri bahkan sudah melegalisasi travel writer sebagai the best job in the world.

Baca Juga: Blogger Perempuan

Tentu saja, the best job in the world. Jalan-jalan yang kadang dibayarin, menulis, eh dari hasil tulisan dapat bayaran pula. Kelihatannya mudah sekali kan. Jalan, menulis, kalau beruntung bisa menghasilkan uang. Tapi, sesuai dengan yang tertulis di dalam buku Travel Writer, jangan pernah lupakan tentang jurnalistik. Semua penulis, sama seperti blogger, punya DNA gaya menulisnya masing-masing. Seperti apa pun gaya menulisnya, jangan pernah lupakan jurnalistik. Seperti tulisan Yudasmoro: prinsip-prinsip jurnalistik yang membangun suatu travel writing itu sendiri.

Pada sub Destinasi 6, kalian akan membaca tentang Memulai Travel Writing. Prosesnya panjang loh. Bagaimana memulai penulisan, menentukan judul, bagian pembuka, gunakan EYD, kisah yang runut, sisipkan humor, membuat panduan, sampai terakhir mengirimkan artikel. Tidak hanya memberi panduannya, pada sub Destinasi 7, kalian akan membaca contoh-contoh artikel. Wah, kurang lengkap apa lagi buku ini?

Selain panduan menulis, Travel Writer juga dilengkapi dengan panduan fotografi, bahwa tidak perlu harus DSLR. Bahkan, dilengkapi dengan contoh foto-foto berwarna pada bagian tengah buku. Bagaimana sudut pengambilan, bagaimana foto bisa bercerita, dan lain sebagainya. Sedikit cerita, saya pernah dikoreksi oleh seorang teman yang katanya: pemandangannya bagus, coba kalau kamu tidak ada di situ, Teh, jadi orang bisa melihatnya secara keseluruhan. Nantilah foto yang ada kamunya. Dududu. Makanya sekarang saya suka memotret suatu obyek dengan dua versi, yang ada saya dan yang tidak ada saya di dalamnya. Haha. Win-win solution! Tapi itu versi saya loh ya, jangan langsung ditiru, karena setiap orang punya gayanya masing-masing.

Selain itu, pada sub Destinasi 8 tertera masalah-masalah yang dihadapi oleh seorang travel writer. Mulai dari alasan "Capek, Besok Sajalah!", "Diacuhkan Editor", "Honornya Kecil", "I Need to Relax!", "Aku vs Calo Terminal!", dan lain sebagainya.

Masih banyak isi Travel Writer yang akan sangat membantu para travel writer/blogger apabila memang ingin serius menjadi travel writer. Termasuk tentang sisipan humor, imajinasi, bahasa yang tidak kaku tapi tetap berprinsip pada jurnalistik, dan lain sebagainya.

Dari Saya


Sepanjang saya membaca buku ini, berulang kali, saya paham bahwa menulis perjalanan itu bukan sekadar menulis tentang rute sampai kuliner daerah tujuan. Tapi bagaimana kita bisa menulis dengan baik, tak perlu harus menulis dengan sangat benar menggunakan PUEBI. Saya, kalian, mereka, mungkin pernah menulis dengan cara yang tidak baik seperti:

Di dano kelimutu,,,ternyata sunrise elok loh.kapan kalian ke sana? ( dano kelimutu ).

Kalau saya membaca tulisan di atas, meskipun saya bukan penyunting pun, pasti bakal sakit mata. Koma tiga, kalimat baru tanpa spasi dan tanpa huruf besar di awal kata pertama, Danau Kelimutu yang ditulis dano kelimutu, belum lagi kalimat dalam kurung dengan tanda kurung yang dikasih spasi. Aduh, pusing eykeeeee. Kalau begitu, bagaimana tulisan yang baik?

Apabila kalian pergi ke Danau Kelimutu pada pukul 04.30 Wita, kalian dapat menunggu dan menikmat sunrise dari puncak Tugu Kelimutu. Warna emasnya memukau! Kapan kalian ke sana (Danau Kelimutu)?

Kira-kira seperti itu (di atas) tulisan yang baik. Tidak perlu harus paling benar sesuai PUEBI tetapi menulislah dengan baik. Karena di mana? adalah salah jika ditulis dimana?. Karena mengubah adalah salah jika ditulis merubah. Karena merapikan adalah salah jika ditulis merapihkan. Karena dimakan adalah salah jika ditulis di makan. Semua adalah hal-hal dasar kepenulisan yang seharusnya sudah diketahui oleh para penulis. Termasuk penulis perjalanan atau travel writer.

Baca Juga: Lagu-Lagu Ini Punya Kembaran

Demikian #SabtuReview kali ini. Tidak bermaksud menggurui. Apabila ada salah, mohon dimaafkan haha.

Semoga bermanfaat untuk saya, kalian, mereka, dan dinosaurus. Amin. Haha.


Cheers.

TIKIL: Kami Antar, Kami Nyasar


Kalian pasti tidak asing dengan TIKI; Titipan Kilat. Kalian juga pasti tidak asing dengan perusahaan jasa pengiriman barang serupa seperti JNE, KGP, hingga Lion Parcel. Meskipun biaya pengiriman barangnya tergolong cukup mahal (dihitung per kilogram) tapi jasa pengiriman barang swasta ini cukup ramai. Apalagi ditambah pengirim dan penerima barang dapat mengecek sendiri, secara online, status barang kiriman tersebut. Apakah masih menunggu di bandara kota asal pengiriman, apakah sudah sampai di kota singgahan, apakah sudah sampai di kota tujuan, dan lain sebagainya. Biasanya kalau sudah sampai di kota tujuan dan belum diantar ke rumah, barang tersebut belum dibongkar alias belum siap antar. Waktu menunggu pun paling hanya sehari.

Baca Juga : 

Tapi apakah kalian pernah mendengar TIKIL? Perusahaan jasa pengiriman barang dengan jargon: kami antar, kami nyasar

Memang ada?

Ada! TIKIL ini berbentuk buku setebal 203 halaman.

Iwok Abqary

Adalah teman Blogfam yang saya dan semua anggota Blogfam memanggilnya dengan Kang Iwok. Ya, kalau kalian mengeklik tautan blog-nya, memang jarang di-update, mungkin karena sibuk menulis. Soalnya beliau ini produktif sekali sama urusan menulis dan menerbitkan buku. Kang Iwok adalah pemilik perusahaan TIKIL penulis buku berjudul TIKIL itu. Selain TIKIL, ratusan buku lainnya pernah ditulis oleh Kang Iwok. Diantaranya Duo Tulalit dengan jargon Jalan-Jalan Nyasar, Dog's Love, Gokil Dad (saya diberi kaos Gokil Dad sama Kang Iwok loh), hingga Pengabdi Cilok. Kang Iwok ini jagoannya buku komedi! Saya jamin kalian bakal sangat terhibur dan terpingkal-pingkal kalau membaca karya-karyanya yang diterbitkan oleh diantaranya Gagas Media dan Gramedia.

Bertemu dengan Kang Iwok saat saya pergi ke Tasikmalaya pada tahun 2010. Malam itu, kami nongkrong di sebuah resto waralaba, mengobrol banyak perkara, padahal baru pertama kali itu bertemu. Mungkin karena kami sudah lama haha hihi dan merusuh bareng di Blogfam. Malam itu Kang Iwok berbaik hati mengantar saya dan Acie pergi membeli beberapa keperluan di toko maret-maret yang entah saya lupa namanya. Tahun 2011 kami kembali bertemu dalam perhelatan Asean Blogger di Bali. Tentu, masih dengan haha hihi yang menyenangkan.

Bagi saya, Kang Iwok adalah sosok penulis inspirasi yang baik hati dan sangat cerdas dengan ide-ide briliannya. Selain menulis, Kang Iwok juga gemar menanam bunga dan memelihara kucing! Mulia sekali hatimu, Kang. Hahaha.

TIKIL

TIKIL adalah buku yang ditulis oleh lelaki yang saya tulis di atas, hehe. Diterbitkan oleh Gagas Media, buku ini dibuka dengan sub: Bos Baru. Bos baru, Pak Pri, pada perusahaan jasa pengiriman barang ini ternyata punya hobi memasak yang pada awalnya hasil masakan ini bakal bikin orang satu kantor sakit perut! Tapi dari semua karakter di dalam TIKIL, yang paling nancap di benak saya hingga saat ini adalah Kusmin. Salah seorang tukang bersih-bersih yang punya pekerjaan sampingan di damkar.

Kusmin paling doyan membanggakan piagam penghargaannya.


PIAGAM PENGHARGAAN
Denga ini penghargaan diberikan kepada:
KUSMIN BIN SARMIN
Atas jasa-jasanya sebagai sukarelawan yang sudah
mau membantu menyelamatkan
tanpa memedulikan keselamatan dirinya pada
saat terjadi kebakaran
di rumah Bapak Dadang, Kampung Mancogeh,
Tasikmalaya, 17 Agustus 2005
Pada saat itu, Kusmin sedang mengikuti lomba
panjat pinang acara Agustusan.
Dari atas pinang yang dipanjatnya
dengan susah payah,
dia melihat api yang mulai berkobar
dari rumah Bapak Dadang.
Kalo saja Kusmin tidak berteriak-teriak
dan mengabarkan berita kebakaran itu
kepada seluruh warga, sudah dipastikan
rumah Bapak Dadang tidak bisa diselamatkan.
Tanpa memedulikan hadiah yang bergelantungan
Kusmin memilih untuk memerosotkan diri
dari batang pinang dan lari menelepon
Dinas Dam-Kar (Pemadam Kebakaran).
Rumah Bapak Dadang pun akhirnya terselamatkan
Sehubungan dengan hal tersebut,
Kami memberikan penghargaan ini
dan mengangkat Sdr. Kusmin
sebagai Tenaga Sukarela Dinas
Dam-Kar.

A.n. Dinas Pemadam Kebakaran Tasikmalaya
Dadang Herdiana
Kepala
(sekaligus korban kebakaran pada kejadian tersebut)


Piagam penghargaan terkoplak dan sukses membikin saya terbahak-bahak, bahkan saat membacanya berkali-kali. Lucunya masih sama. Belum lagi kisah Lilis dan Bowo; Lilis pernah menyangka Bowo sebagai Adji Massaid. Itu bikin Bowo lebih sering mematut diri di depan cermin, qiqiqiq. 

Kisah TIKIL adalah bagaimana perusahaan yang di ambang bangkrut ini dapat kembali bangkit. Bagaimana cara bangkitnya itu yang membikin pembaca terpingkal-pingkal sampai lupa tanggal lahir. Empat karyawannya rada-rada begitu. Lilis, resepsionis, yang mengidolakan Adjie Massaid. Ada Dasep, kurir yang selalu sial dan menabrak sana-sini. Mang Dirman, kurir lainnya yang sayang banget sama sepeda bututnya (nganter barang pakai sepeda!? :p). Dan si OB penerima piagam penghargaan, Kusmin, yang yah begitulah dirinya.

Ini memang buku lama dengan cetakan pertama tahun 2008. Tapi buku ini jangan sampai lolos dari kehidupan kalian. Rugi bandar hehehe. Wajib baca. Karena, selain kisah konyol tentang sebuah perusahaan jasa pengiriman barang yang hampir bangkrut beserta bos dan karyawan yang rada-rada sinting, banyak pelajaran yang bisa dipetik dari buku komedi ini. Salah satunya adalah lakukan sesuatu yang benar-benar kalian minati. Seperti Pak Pri, contohnya, yang pada akhirnya membuka Pri's Bakery. Pelajaran lainnya ... silahkan baca sendiri bukunya. Qiqiqiq.

Happy weekend!


Cheers.

Flores: Adventure Trails



Banyak buku yang bercerita tentang Indonesia dari Barat ke Timur, dari Utara ke Selatan, dari adat ke bahasa, dari budaya ke pakaian, dari gunung ke pantai, dari rumah adat ke kearifan lokal. Saya punya salah satu buku semacam itu, dikasih sama Ika Soewadji, dan masih sering saya baca sampai sekarang. Banyak juga buku yang bercerita panjang lebar tentang Pulau Flores (Flores overland). Saya sendiri pernah menulis materi siaran program Backpacker, pada tahun 2017, awal tentang Flores Overland. Biasanya orang menulis Flores Overland itu dari Barat ke arah Timur, tapi materi saya itu dari Timur ke arah Barat. Qiqiqiq. Sesekali kita membaliknya kan boleh-boleh saja.

Baca Juga : 5 Cozy Songs

Tentang si Buku

Buku yang saya bahas hari ini berjudul Flores: Adventure Trails. Buku ini ditulis (sekaligus sebagai koordinator penulis) oleh Meret L. Signer. Kontributor atau penulis lain diantaranya Heinz von Holzen, Rofinus Ndau, Unipala Maumere, idGuides. Publisher Flores: Adventure Trails adalah Swisscontact dan didukung oleh SECO (Swiss State Secretariat for Economic Affairs). Tahun terbit 2012. Wow banget, saya terkejut ketika membaca nama Unipala Maumere. Itu MAPALA-nya Universitas Nusa Nipa (Unipa). Oh ya, selain sambutan dari Bapak Sapta Nirwandar, juga ada sambutan Jurg Schneider dari SECO. Flores: Adventure Trails berbahasa Inggris tapi untuk ukuran saya yang bahasa Inggrisnya pas-pasan bisa yess atau no sudah bersyukur, isinya cukup mudah dipahami/dimengerti. 


Bagaimana dengan isinya?

Isinya dimulai dari perkenalan tentang Pulau Flores. Perkenalan yang sangat lengkap, menurut saya, karena memuat tentang kondisi geografis, iklim, Flores sebagai bagian dari ring of fire, flora dan fauna, kehidupan laut, zaman sebelum dan sesudah kolonial, manusia dan adat budayanya. Traveling directory sub bahasan berikutnya adalah tentang how to get there? (pesawat dan kapal laut) termasuk informasi kantor-kantor layanan tiket, akomodasi, tempat makan, komunikasi/alat komunikasi, keuangan, isu kesehatan, sampai etika.

Woman travellers:
Even thought Flores is predominantly Christian, woman dressing modestly is a cultural thing in Indonesia, rather than a religious one. Wear t-shirts that cover your shoulders and don't reveal too much of your legs. Wearing a bikini is fine at the beaches of Labuan Bajo and in designated hotel areas in other parts of Flores. Everywhere else, put on a t-shirt and shorts for swimming. (Meret L. Signer, 2012:23).


Sub berikutnya adalah persiapan yang harus dilakukan sebelum ke Flores. Menariknya adalah, dijelaskan tentang skala kesulitan trek, level kebugaran, barang bawaan dasar or basic check list sampai how to minimize your impact. Komplit kan ya. Basic check list ini umum saja seperti yang sering kita lakukan/bawa seperti kaca mata, head lamp, sun-block, first aid kit, kompas, pisau lipat, hingga tas plastik untuk menyimpan pakaian kotor dan/atau sampah. Puhlease, ke mana pun pergi jangan pernah membuang sampah sembarangan.


Setelah itu, pembaca memasuki inti sari buku ini. Yay! Dimulai dari  Labuan Bajo: Pulau Rinca, Pulau Komodo, Gunung Mbeliling, teruuuuus ke Timur sampai ketemu Gunung Kelimutu di Ende, Maumere dengan pantai-pantai dan Gunung Egon-nya, sampai Larantuka. Informasinya tidak sekadar ini looooh Gunung Mbeliling itu, tapi juga memuat tinggi gunung, luas daratan, flora dan faunanya, sampai tentang masyarakat tradisionalnya. 


Salah satu sub yang saya sukai adalah kisah tentang Rudolf von Reding:

In 1974, the elderly Count Rudolf von Reding from Biberegg, Switzerland, disappeared on the island of Komodo. For some unknown reason he got seperated from his group. When they realized he was missing, they immediately returned to the point where had last seen him - but they were too late. All they could find was the Count's backpack, camera, sunglasses, and stains of blood on the ground. Komodo dragons eat their prey whole, and von Reding's body was never found. Although it could neve be confirmed with 100% certainty, he was believed to have been eaten.

Sedih ya ... *ambil tissu*

Jadi ingat waktu ke Pulau Rinca, dimana salah seorang teman pejalan kami sedang datang bulan, dan si komodo berjalan ke arah teman tersebut. Horor-horor bergembira gimana gitu rasanya diikuti komodo, hehe.


Setelah Baca

Saya bahagia karena jadi banyak tahu tentang pulau sendiri. Sebagai pelahap buku, sekaligus blogger yang gemar menulis tentang perjalanan ke mana pun saya pergi, buku ini menjadi semacam panduan untuk menulis. Menulis tempat wisata itu tidak sekadar menggambarkan betapa indahnya; betapa menawannya; betapa mempesonanya, tetapi harus bisa lebih detail yaitu tentang letak lokasinya, jaraknya, transportasi dan akomodasi kalau bisa bisa dengan harganya, budaya masyarakat setempat (seperti harus memperhatikan etika berpakaian dan berbicara), hingga tingkat kesulitan perjalanan untuk mencapai lokasi tersebut. Sub buku juga penting untuk memilah atau mengklasifikasi tulisan agar tidak terkesan campur-aduk.

Saya sedang belajar untuk menulis seperti itu. Belajar terus tanpa henti. Istirahat sih boleh, berhenti jangan :)

Flores: Adventure Trails adalah buku yang super informatif meskipun tidak selengkap buku yang diterbitkan oleh Lonely Planet zaman dulu itu. Bahkan juga diceritakan tentang gempa yang pernah melanda Flores terutama Maumere dan Ende. Jika kalian punya waktu luang, jangan lupa untuk membacanya. Di mana bisa diperoleh, cobalah cari di toko buku terdekat, jika tidak, maka ini edisi terbatas yang dipublis oleh Swisscontact (yang selalu konsen dengan isu wisata).

Semoga bermanfaat, enjoy your weekend!


Cheers.