Akan Me-review Tiga Buku Nutrisi Otak dan Makanan Jiwa


Akan Me-review Tiga Buku Nutrisi Otak dan Makanan Jiwa. Akan? Artinya ... belum. Betul sekali. Saya bahkan baru dalam tahap membaca salah satunya. Me-review tanpa membaca keseluruhan buku merupakan perbuatan pamali dan pengkhianatan pada diri sendiri karena yang tertangkap hanyalah keping-keping yang belum boleh dipamerkan. Tapi, dalam lini sombong, boleh donk saya pamerkan tiga buku yang dikirimkan oleh Kakak Rosalin Togo a.k.a. Mami Ocha? Bolahlah! Ini kan blog saya! Malah ngegas. Haha. Mungkin ini yang disebut, bermimpilah setinggi langit karena siapa tahu ada orang lain yang akan mewujudkan mimpi itu.


Ceritanya ...

Adalah salah seorang teman Facebook, saya lupa siapa, yang mengepos sebuah foto buku berjudul Mendaki Tangga Yang Salah. Foto buku itu mengingatkan saya pada buku lain berjudul Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat. Kok bisa? Iya, karena sampulnya mirip. Kalau Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat bersampul oranye, maka Mendaki Tangga Yang Salah bersampul merah. Sekilas, sama-sama oranye. Itulah kerja otak manusia yang suka memiripkan sesuatu. Hehe *cubit otak sendiri*.

Lalu foto dari pos Facebook itu saya keep alias simpan, dan saya pos lagi di status WA dengan caption: pengen punya buku ini. Siapa sangka, status itu justru direspon sama Mami Ocha yang menulis: Mami sudah punya. Mau? Dengan cepat saya balas: mau leeeee. Kata Mami: Jum'at meluncur Ende. Tapi Jum'at siang harus diingatkan lagi. Kawan, kalau urusannya sama buku, tidak ada kata saya lupa, harus ingat dengan berbagai cara! Tidak lama berselang, Mami Ocha malah mengirim foto sebuah buku lain berjudul Bicara Itu Ada Seninya dengan pesan: Ini sudah punya?

Bisa kalian tebak, kawan. Pada akhirnya Mami Ocha menyiapkan tiga buah buku untuk saya.

1. Mendaki Tangga Yang Salah.
2. Bicara Itu Ada Seninya.
3. Seni Hidup Minimalis.

How lucky I am!

Oh ya, Mami Ocha ini adalah dosen Uniflor yang sedang mengenyam pendidikan S2 di Kota Surabaya.

Nah, pada foto sampul pos ini kalian melihat tiga buah buku bersama kotak mangga dan kotak buku lainnya. Mangga itu dikirim sama Noviea Azizah dari Kota Mbay. Kotak buku itu adalah kotak yang sama dengan tiga buku kiriman Mami Ocha, dan buku-buku lainnya itu adalah buku-buku yang akan disumbangkan untuk Rumah Baca Sao Moko Modhe. Kami memang sedang dalam tahap pengumpulan buku untuk rumah baca yang dibangun oleh mahasiswa KKN-PPM Uniflor di Desa Ngegedhawe, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo tersebut.

Baca Juga: Pembalasan Laut

Saat ini saya baru membaca buku berjudul Seni Hidup Minimalis. Bukan karena buku itu bersampul kuning, warna kecintaan saya, tetapi karena buku itu memang harus dilahap terlebih dahulu. Tetapi, tumpukan pekerjaan tambahan memang tidak bisa diabaikan. Sehingga bacanya pun baru beberapa lembar. Seperti apa isinya? Tunggulah setiap Sabtu di #SabtuReview!

Semoga dalam minggu ini bisa menyelesaikan salah satunya. Amin.

Terima kasih Mami Ocha, Pahlawan Intelektual saya. Tidak bisa saya balas kebaikan Mami. Sungguh. Bagi saya siapa pun yang memberikan buku untuk saya adalah Pahlawan Intelektual sejati.

#SabtuReview



Cheers.

Hari Literasi Sukacita Bersama Rumah Baca Sukacita


Hari Literasi Sukacita Bersama Rumah Baca Sukacita. Ketika saya menerima pesan WA dari Kak Ev, pendiri - pengelola - pengurus Rumah Baca Sukacita (RBS), rasanya senang sekali. Saya diminta untuk berbagi pengalaman bersama adik-adik anggota RBS tentang dunia jurnalistik dan dunia blog dalam rangka merayakan Hari Literasi Sukacita. Yang paling pertama terlintas dalam benak saya adalah bagaimana menyampaikan dunia jurnalistik dan blog kepada adik-adik RBS yang rata-rata masih usia Sekolah Dasar (kelas 1 s.d. kelas 6)? Bahasa yang digunakan harus super sederhana untuk mengatasi jurang usia ini, dan saya harus menyusun tatanan kalimat bekal berbagi pengalaman ini khusus di program catatan Android.

Baca Juga: Gotong Royong Itu Masih Hidup Dalam Tubuh Masyarakat

Setelah saya dan mungkin beberapa narasumber sudah meng-iya-kan alias setuju, maka e-pamflet di bawah ini pun diumumkan oleh RBS di laman Facebook mereka. Hwah, jadi terharu hahaha.


Sore itu Jumat, 12 Juli 2019, Taman Renungan Bung Karno Ende cukup ramai pengunjung. Banyak pula pengunjung dari luar kota yang ingin melihat lebih dekat Patung Bung Karno, Pohon Sukun bercabang lima serta prasastinya. Bagi kami, Orang Ende, Taman Renungan Bung Karno adalah kebanggaan, tempat hulu butir-butir Pancasila direnungkan oleh Proklamator dan Presiden pertama Republik Indonesia tersebut. I love you, Bung! Hehe. Empat serangkai wisata sejarah, khusus Bung Karno, di Kota Ende adalah Situs Bung Karno - Taman Renungan Bung Karno - Gedung Imaculata - Serambi Bung Karno. Yang terakhir, Serambi Bung Karno, baru tahun ini diresmikan.

Sekitar tigapuluhan anak, ditambah dan ditemani oleh para pengurus RBS, kami dudul melingkar di panggung Taman Renungan Bung Karno. Bismillah. Dalam hati saya terus mengingatkan diri, ingat Teh, bahasanya! Karena, berbicara di depan ribuan anak muda atau orangtua itu sudah biasa, tapi di hadapan anak-anak itu luar biasa. Di sini kemampuan berkomunikasi (saya) sebenarnya diuji. Mampu atau tidak. Beruntung saya selalu membawa jimat, backpack emak-emak itu haha, yang memuat semua keperluan termasuk benda-benda yang bakal saya tunjukkan kepada peserta.

Jurnalistik dan Blog


Memulai tentang dunia jurnalistik, paling sederhana, adalah berbicara tentang profesi wartawan. Kasihan, mereka masih kecil, jangan terlalu tinggi istilah yang dipakai. Tapi, mau tidak mau saya tetap harus memperkenalkan kepada mereka tentang 5W1H. Hebatnya, meskipun masih sekecil itu, mereka bahkan tahu tentang W ini loh. What, Where, When, Why, Who. Sedangkan H-nya sudah pasti How. Menjelaskan kepada anak-anak tentang pentingnya 5W1H dalam sebuah berita itu susah-susah gampang. Artinya, berita adalah fakta yang tak terbantahkan karena berdasarkan peliputan lapangan serta hasil wawancara narasumber. Sebagian peserta yang sudah duduk di bangku kelas 4 ke atas rada-rada paham, tapi yang masih kici lo'o (istilah kami Orang Ende) hanya melihat ... semoga mereka juga bisa paham.


Dari jurnalistik, saya bergeser ke dunia blog. Apa itu blog, dan apa saja yang ditulis di blog. Sederhananya, karena mereka masih anak-anak, saya berkata bahwa kalau menulis untuk koran itu harus betul-betul perhatikan 5W1H dan tata bahasa baku, kalau di blog itu boleh curhat. Di sini, saya tidak mungkin menjelaskan lebih detail bahwa blog juga bisa menjadi koran online begitu dan bahkan jika dikelola secara profesional bisa menjadi pundi Rupiah. Saya juga tidak menjelaskan tentang para blogger yang bisa membikin blog di Blogger, Wordpress, sampai Tumblr. Nanti saja kalau mereka sudah SMP atau SMA. 

Nah, pada kesempatan berbicara tentang diary online ini, saya mengeluarkan T-Journal, si Arekune, yang memuat semua tulisan saya. Termasuk semua alat tulis yang saya gunakan. Maksudnya apa? Maksudnya, agar adik-adik termotivasi untuk juga menulis, selain membaca, apa saja di buku harian. Karena tulisan adalah harta warisan paling berharga.

Membaca dan Menulis


Dua hal ini saya tekankan kepada para peserta. Hubungan keduanya adalah, ketika seseorang ingin menulis dan mempunyai tulisan yang kaya raya, dia harus banyak tahu, dan untuk banyak tahu ... ya harus membaca. Membaca dan menulis adalah dua hal yang tidak bisa dilepas bagaimanapun caranya. Sumpah. Menulis tanpa membaca itu ibarat pergi perang tanpa senjata dan amunisi. Ingat, senjata saja tidak cukup, harus siapkan amunisi. Karena, ketika peluru habis ditembak, masih ada stok amunisinya.

Kepada mereka saya katakan: makan makanan bergizi agar tubuh menjadi sehat dan kuat. Namanya menutrisi tubuh. Tapi untuk otak, harus ada nutrisi tambahan yaitu membaca.

Untuk memberikan contoh, saya mengeluarkan buku yang selalu saya bawa dalam backpack. Buku berjudul The Book of Origins karya Trevor Homer. Ternyata, beberapa peserta juga ada yang membawa buku di dalam tas mereka. Awesome! Kita sama donk. Hehe.

Berbagi Ilmu, Nasihat Ali bin Abi Thalib


Saya sangat mencintai Ali bin Abi Thalib. Dalam sebuah novel online berjudul Triplet yang pernah saya pos di blog ini, bersambung setiap hari Minggu, saya menulis sebagai berikut:

Salah satu nasihat Ali Bin Abi Thalib—termasuk dalam golongan pertama pemeluk Islam, saudara sepupu sekaligus menantu Nabi Muhammad SAW yangmana dia menikahi Fatimah az-Zahra—berbunyi: “Kekayaan seorang bakhil akan turun kepada ahli warisnya atau ke angin. Tidak ada yang lebih terpencil dari pada seorang bakhil.”

Penjelasan paling hakiki nasihat laki-laki yang pernah menjabat sebagai Khalifah pada tahun 656 – 661 tersebut tercantum di dalam Surat Ali ‘Imran 180: “Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Terima kasih, Ali bin Abi Thalib. 

Kegiatan sore itu ditutup dengan foto bersama ... salam literasi! Dan perlu diketahui ini adalah Hari Literasi Sukacita, bukan Hari Literasi Nasional maupun Hari Literasi Internasional yang diperingati setiap September, ya. Jadi, jangan protes duluan. Hehe.

⇜⇝

Terima kasih, RBS, sudah memberikan saya kesempatan untuk berbagi dengan adik-adik RBS yang kece-kece dan cerdas-cerdas. Semoga berkah untuk kita semua. Terima kasih juga untuk foto-foto kirimannya. Bisa jadi pemanis pos yang satu ini. Giliran saya juga memberikan kesempatan kepada RBS, khusus pengurus, apabila ingin tahu lebih banyak tentang blog: membikin, mengelola, menulis, dan lain sebagainya, boleh hubungi saya. Kita bikin kelas blogging (lagi) haha.

Baca Juga: Konsisten Nge-blog Setahun

Bagaimana dengan kalian, kawan? Kalau kalian juga pernah berbagi informasi dan pengalaman dari dunia jurnalistik dan blog kepada mereka-mereka yang masih ana lo'o (anak kecil), bagi tahu yuk di papan komentar.



Cheers.

Geser Dikit Halaman Hatimu dari Bara Patty Radja


Tidak bisa dipungkiri saya sangat mengagumi sosok yang satu ini. Bara Patty Radja. Nama seorang lelaki dari Pulau Adonara yang cerdas memilih dan bermain diksi. Apabila kalian melihat kue lapis, Bara berada di lapisan teratas ⇻ licin mengkilat, sedangkan saya masih berupa tepung yang belum direncanakan untuk bercampur dengan bahan-bahan kue lapis. Beruntungnya, saya boleh memiliki dua buah buku karya Bara. Buku kumpulan puisi. Membaca puisi-puisi karya Bara membikin saya dan, semoga, kalian mengalami pengalaman bak sedang traveling di sekitar Galaksi Bima Sakti. Di tangan Bara, puisi menjadi makanan kegemaran yang tidak akan pernah membosankan.

Baca Juga: Pariwisata Nusantara

Pengalaman itu ingin saya bagi pada kalian. Karena, pengalaman adalah harta paling berharga yang tidak dapat dibeli Rupiah, Dollar, maupun Euro. Karena, pengalaman adalah guru paling nyata dalam kehidupan umat manusia, tanpa harus mandi, bercemong bedak, dan duduk di bangku kayu, menghadap papan hitam berkapur tulis.

Penyair Indonesia dari Lamahala 


Lahir pada tanggal 12 April 1983 di Desa Lamahala, Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Bara Patty Radja. Sekilas, namanya mengingatkan kita pada chef beken Bara Raoul Pattiradjawane. Keduanya sama-sama hebat. Dari perbincangan kami di Pohon Tua, silahkan baca tentang Tamu Spesial di pos ini, saya tahu Bara adalah seorang guru di Pulau Adonara, yang pernah 'membawa' Najwa Sihab ke Kabupaten Pulau Lembata, dan membangkitkan dunia literasi terkhusus aktivitas membaca di pulau itu. Awesome!

Mengobrol bersama Bara membikin saya berada dalam dunia puisi itu sendiri karena pilihan katanya saat mengobrol pun terdengar sangat puitis. Jago dan berkualitas benar orang ini, kata saya dalam hati. Jujur, mengobrol dengannya membikin pengetahuan saya menjadi lebih dan lebih, serta otak saya yang seakan terkunci itu mendadak membuka dengan sendirinya. Semua itu menjadi lebih lengkap dengan sikapnya yang low profile

Bersama Bara dan Mukhlis di Pohon Tua.

Bara adalah penyair Indonesia yang telah menerbitkan puisi-puisinya ke dalam beberapa buku antara lain: Bermula dari Rahim Cinta (2005), Protes Cinta Republik Iblis (2006), Samudra Cinta Ikan Paus (2013) , Pacar Gelap Puisi (2016), Aku adalah Peluru (2019) sebuah buku semi biografi. Terbaru dan terhangat, sebuah buku berjudul Geser Dikit Halaman Hatimu. Geser Dikit Halaman Hatimu merupakan buku kumpulan puisi Bara yang bertengger di #SabtuReview ini.

Geser Dikit Halaman Hatimu


Geser Dikit Halaman Hatimu, buku bersampul merah muda dengan gambar wajah perempuan menengadah dan rambut tergerai. Minimalis sekaligus manis. Buku ini lantas menjadi penghuni tetap backpack saya bersama buku lain berjudul The Book of Origins karya Trevor Homer.

Bersama manajemen GDHH, Bara penerbitkan buku ini melalui Penerbit Huruf. Harga yang dilempar di pasaran adalah Rp 50.000 (Lima Puluh Ribu Rupiah) saja. Beruntung saya mendapatnya gratis langsung dari si penyair! Dilarang syirik. Hehe. Geser Dikit Halaman Hatimu bukan sekadar buku kumpulan puisi biasa. Geser Dikit Halaman Hatimu, berdasarkan kutipan dari buku itu sendiri, dilengkapi dengan QR Code Audio Version Poetry Reading sehingga pembaca dapat langsung mendengarkan puisi-puisi itu. Tidak main-main, puisinya dibacakan oleh Olivia Zallianty, pegiat sastra Azizah Zubaer, dan oleh Bara sendiri. Saya belum mendengarkan suara-suara mereka saat membaca puisi-puisi dari Geser Dikit Halaman Hatimu. Tapi waktu membacanya saya larut. Betul, di tangan Bara, puisi menjadi makanan kegemaran yang tidak akan pernah membosankan.

Ini jenius!


Seperti wajah Louis Tomlinson yang tidak akan pernah membosankan mata saya.

Ah ... haha.

kupilih mencintaimu separuhnya
dengan akal sehat
sebab sepenuhnya dengan rasa
bikin gelap mata

[Pilih Apa, Geser Dikit Halaman Hatimu]

Cuplikan dari Pilih Apa di atas menginterpretasi tentang dunia asmara. Memang betul. Cinta yang sepenuhnya dengan rasa bakal bikin gelap mata. Membabi-buta. Alpa menimbang akibat kemudian hari. Maka, cintailah seseorang separuhnya dengan akal sehat. Sadaaaaap. Jadi pengen kirimin puisi ini untuk seseorang. Haha.

Kalau kalian belum punya bukunya, baik yang gemar puisi maupun tidak, saya sarankan untuk segera membeli Geser Dikit Halaman Hatimu. Karena, pengalaman yang akan kalian rasakan akan membikin kalian rela membolak-balik, berkali-kali membaca, hingga seperti saya bertanya sendiri: dari mana seorang Bara menemukan ilham mempertemukan diksi-diksi ini? Tidak hanya mempertemukan, tapi kemudian mengawinkan mereka sehingga pertemuan itu berakhir di pelaminan dan terlihat sempurna!

Kritik Dalam Diksi


Dulu, saat saya membaca buku Samudera Cinta Ikan Paus karya Bara, sungguh bergetar sendi-sendi tubuh dan labirin otak. Salah satunya berjudul Di Bawah Rok Payungmu. Puisi ini menghantarkan kritik pedas tentang betapa pedihnya nasib para guru honorer di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Kalau kalian rajin membaca berita, bertebaran berita tentang kondisi yang satu ini.

berjalanlah dengan diam, ea
akan kueja warna takdir
di bawah kibaran rok payungmu

dan takdir seperti kamus matematika
yang buntu. seperti hatimu
yang patah dikhianati
angka-angka ganjil
saat menggenggam honor

kau tau?
sekolah memang tak mengenal cinta
dan ampun
sekolah tak mengajarkan
harga hati manusia

ada hanya sepotong angan
yang bunting
dihamili kering cuaca

[Di Bawah Rok Payungmu, Samudera Cinta Ikan Paus]

Menurut tuturan Bara, Geser Dikit Halaman Hatimu ditulis dengan sedikit lebih ringan ketimbang puisi di dalam buku-buku sebelumnya. Tapi tetap saja diksi yang disajikan, meskipun sederhana sungguh menikam. 

Puisi Bara, unik dan sederhana, tetapi 'menikam'.

Dan selalu, muatan kritik melalui diksi dalam puisi-puisinya itu membikin kalian tersenyum, kemudian merasa 'ini kok saya banget ya', mengangguk sependapat, dan bertepuk tangan. Iya, saya bertepuk tangan usai setiap kali membaca beberapa puisi, sampai teman yang ada di dekat situ terperanjat. Ibarat melepas angin setelah menahan nafas cukup lama. Membaca puisi-puisi Bara itu rasanya memang seperti menahan nafas yang nikmat: teknik nafas 4 - 7- 8.


Android adalah salah satu judul puisi di dalam Geser Dikit Halaman Hatimu. Kritik bermata tombak super tajam dan juga terpedas ada di puisi yang satu ini. 

betapa berat mencintaimu
di masa android
handphone mengubahmu menjadi paranoid
baru semenit lalu aku meninggalkan rumah
engkau sudah vicall

dengan layar sentuh
engkau sibuk memindai dunia
ketimbang menyentuh hatiku

betapa lain mencintaimu
di masa online
hari harimu kini tak lagi milikku sepenuhnya
tetapi milik facebook, twitter
whattsapp atau instagram

belati hatiku mencintaimu
di masa instant
untuk membeli tomat di warung sebelah saja
mesti engkau unggah

kau autis aku tak lagi puitis
benda mati mengubah kita
menjadi orang asing

kita bicara
tapi tak lagi beradu pandang
aku kehilangan tatapanmu
sebab yang kau tuju
bukan sorot mataku
tapi layar gadgetmu

betapa candu mencintaimu
tanpa kuota dan sinyal

[Android, Geser Dikit Halaman Hatimu]

Kalian setuju dengan saya kalau puisi ini bermata tombak super tajam dan memuat kritik terpedas? Harus donk! Fenomena zaman sekarang memang seperti itu, kawan. Engkau sibuk memindai dunia ketimbang menyentuh hatiku. Sebuah fakta yang sulit kita elak. Teknologi internet telah menjadikan saya, kalian, mereka, pengabdi gawai yang kaku seperti zombie di dunia fana, namun ingin terlihat lincah dan penuh perhatian di dunia maya. 

Tidak salah bukan jika saya mengajak kalian turut menggeluti dan menikmati Geser Dikit Halaman Hatimu? 

Baca Juga: The Book of Origins

Terima kasih, Bara. Untuk puisi-puisi yang indah ini. Untuk kesederhanaan yang menikam ini. Untuk membikin saya larut dalam dunia Geser Dikit Halaman Hatimu.

Terus berkarya!



Cheers.

Sastra Indonesia di NTT Dalam Kritik dan Esai



Menjadi penulis bukan perkara mengedip mata atau melempar Thika dan Ocha ke kolong tempat tidur. Butuh proses yaitu berlatih terus-menerus tanpa henti. Menjadi penulis memang tidak mudah, apalagi menjadi penulis yang 'nyastra' seperti penulis-penulis favorit kalian. Saya masih belajar menuju.

Baca Juga:

Hari ini saya mengajak kalian mengenal sebuah buku, sekaligus penulisnya, yang mengangkat nama-nama sastrawan di Provinsi NTT, yang berjudul: Sastra Indonesia di NTT Dalam Kritik dan Esai. Kalau boleh saya bilang, ini adalah buku kedua setelah buku sebelumnya Mengenal Sastra dan Sastrawan NTT. Siapakah yang telah begitu gigih menulis tentang sastrawan dari NTT ini?

Beliau adalah Drs. Yohanes Sehandi, M.Si. atau lebih akrab disapa Pak Yan. Nama Pak Yan bukanlah nama yang terkenal se-lingkup Universitas Flores. Sebagai dosen Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia, Pak Yan terkenal dalam skala nasional terutama di dunia literasi. Sudah banyak tulisan beliau yang dibukukan, telah banyak pula artikel tentang sastra yang beliau pos di blog pribadinya. Bagi saya beliau adalah mentor dalam dunia tulis-menulis dan berita. Beliau langganan kegiatan-kegiatan sastra dan literasi baik di NTT maupun di luar NTT.

Sastra Indonesia di NTT Dalam Kritik dan Esai diterbitkan pada tahun 2017. Pengantar buku ini adalah Maman S. Mahayana dengan pembuka yang super menarik:

Kritikus yang besar ialah kritikus yang berjiwa besar dan sudah bisa melepaskan diri dari nafsu dengki, iri hati, benci, dan ria dalam hubungan seorang terhadap seorang. Ada pula kritikus yang suara dasarnya: "Aku lebih tahu!" memukul, menerjang kiri-kanan lalu datang dengan: "Mestinya begini, begini, begini" dan ia menjadi badut apabila pembaca yang kritis dan teliti pula mendapatkan bahwa yang "begini, begini, begini" itu tidak tepat, kurang benar atau sama sekali tidak benar. (H. B. Jassin, Tifa Penyair dan Daerahnya, Jakarta: Gunung Agung, 1952, halaman 44-45).
[Yohanes Sehandi, 2017: vii]

Apabila kalian membaca daftar isi-nya, kalian akan tahu bahwa buku ini disusun dengan sangat terstruktur dan hati-hati agar pembaca mudah memahami 'apa' dan 'bagaimana' yang sebenarnya terjadi. Dimulai dari Bagian Pertama: Sastra Indonesia di NTT, Sejarah Sastra Indonesia di NTT, Kiprah dan Karya Sastrawan ~ NTT, hingga Perempuan NTT di Panggung Sastra. Pada Bagian Pertama ini, terkhusus judul terakhir, saya boleh sedikit sombong kan yaaaa ...


(Yohanes Sehandi, 2017 : 39)

(Yohanes Sehandi, 2017 : 40)


Disusul Bagian Kedua dengan tema umum Kritik dan Esai Sastra, serta Bagian Ketiga dengan tema umum Sastra NTT dalam Kritik dan Esai. Pada Bagian Ketiga ini muncul judul-judul seperti Menyelamatkan Tradisi Lisan Flores, 3 Juli Hari Sastra Indonesia, hingga G 30 S dan Pramoedya Ananta Toer.

Membaca buku Sastra Indonesia di NTT Dalam Kritik dan Esai menjadikan saya tahu dunia sastra di NTT sejak awal hingga sekarang. Bahkan, membaca bagian tentang perempuan NTT di panggung sastra, saya terkenang akan semua buku-buku yang pernah memuat tulisan saya baik buku sendiri maupun antologi bersama penulis lain. Bagi saya ini adalah pencapaian yang luar biasa. Proses, proses, dan proses. Tidak ada yang instan di dunia ini.

Buku Sastra Indonesia di NTT Dalam Kritik dan Esai dapat menjadi buku pilihan kalian di akhir pekan ini, apalagi bagi kalian para sastrawan NTT. Karena, meskipun kita tidak 'nyastra' dalam menulis tetapi setidaknya menulis dan hasil tulisan dibaca banyak orang merupakan pencapaian tersendiri. Itu menurut saya. Bagaimana menurut kalian?

Selamat menikmati akhir pekan, kawan.


Cheers.