Mampukah Rembi Menggantikan Peran Tas Belanjaan Plastik?


Mampukah Rembi Menggantikan Peran Tas Belanjaan Plastik? Jum'at, 8 September 2019, Panitia Panca Windu Universitas Flores (Uniflor) kembali menggelar kegiatan menjelang hari baik di tahun 2020 nanti. Bakti sosial yang turut mendukung program Jum’at Bersih oleh Pemerintah Kabupaten Ende tersebut dilaksanakan di empat kelurahan pada wilayah Kecamatan Ende Tengah, Kabupaten Ende, yaitu Kelurahan Potulando, Kelurahan Kelimutu, Kelurahan Paupire, dan Kelurahan Onekore. Sejumlah dua ribu peserta bakti sosial yang dibagi lima ratus peserta per kelurahan diperkuat oleh dosen, karyawan, mahasiswa, perwakilan komunitas, dan masyarakat setempat. Untuk itulah saya harus bangun sedini mungkin sehingga gayung kamar mandi pun mengerut kening dan bertanya: benarkah kau bangun jam segini? Hehe.

Baca Juga: Parade Budaya Membuktikan Uniflor Adalah Mediator Budaya

Seremoni pembukaan kegiatan tersebut dilaksanakan di Perempatan Wolowona (sisi Timur) pada pukul 07.00 Wita, dihadiri oleh Bupati Ende Drs. Djafar Achmad, Sekretaris Daerah Kabupaten Ende Dr. dr. Agustinus G. Ngasu, Rektor Uniflor Dr. Simon Sira Padji, M.A. beserta jajaran Wakil Rektor, Ketua Yayasan Perguruan Tinggi Flores (Yapertif) Dr. Laurentius D. Gadi Djou, Akt., Ketua Panitia Panca Windu Uniflor Ana Maria Gadi Djou, S.H., M.Hum., Dekan se-lingkup Uniflor, Unsur Forkompinda, perwakilan ASN, POLRI dari Polres Ende, serta tamu undangan. Pada lokasi seremoni pembukaan juga dipajang beraneka rembi (tas/keranjang anyaman) yang diperkenalkan selain sebagai hasil karya kerajinan tangan juga sebagai wadah belanjaan yang harus mampu menggantikan tas belanjaan plastik atau tas kresek alias kalau diubek-ubek tas plastik ini menimbulkan suara: kresek.

Bapak Bupati Kabupaten Ende, Bapak Djafar, membeli tikar anyaman dan sebuah rembi mini, usai seremoni pembukaan.

Bapak Bupati Kabupaten Ende, Bapak Djafar, memakai rembi mini.

Kegiatan dibuka dengan sambutan oleh Rektor Uniflor dan Bupati Ende, dilanjutkan dengan penekanan tombol sirine sebagai tanda launching. Tema yang diangkat adalah Go Clean: Reduce, Reuse, Recycle, Re-Design, Re-Imagine.

Apa itu rembi? Dan mengapa benda ini dipercaya mampu menggantikan peran tas belanjaan plastik?

Marilah ... dibaca.

Rembi


Rembi merupakan nama dari wadah anyaman berbahan alami yang merujuk pada tas/keranjang. Abang Oir Rodja pernah menulis tentang Seni Anyam Ende Lio yang khusus membahas ... ya membahas seni anyaman Ende Lio donk. Hehe. Rembi merupakan salah satu dari seni anyaman tersebut. Bahan-bahan yang dipakai untuk membikin rembi dari yang saya lihat pada Jum'at kemarin itu antara lain daun lontar dan bilah bambu tipis (khusus untuk keranjag berukuran raksasa). Tapi dari blog Abang Oir saya membaca nama bahan lain yaitu kulit bambu muda, wunu re’a/daun pandan hutan; wunu koli/daun lontar; kulit bhoka ino; ngidho; ua; taga; tali eko



Selain rembi, seni anyaman ini banyak jenisnya dan yang saya tahu sejak dulu itu bernama wati sebagai wadah yang sering dipakai para ine/mama menyimpan sirih, pinang, dan lain-lain keperluan. Bahkan saya punya donk sejenis wati, tapi tanpa tutupan, buat menyimpan barang-barang kecil. Jenis lainnya yang saya baca dari blog Abang Oir antara lain mbola-mbola, kadhengga, kidhe, kadho, kopa, mboka wati, lepo, kiko, raga, wuwu, ola bau, kata, dan lain sebagainya. Saya pernah tahu kidhe ini, ketika kidhe menjadi salah satu tema yang diangkat dalam Lomba Mural Triwarna Soccer Festival awal tahun 2019. 

Mampukah Rembi Menggantikan Peran Tas Belanjaan Pastik?


Ini pertanyaan penting karena punya tujuan majemuk. Pertama: rembi akan mengurangi sampah plastik di negeri ini. Kedua: rembi akan mendongkrak perekonomian masyarakat khususnya para pengrajin. Ketiga: rembi menjadi salah satu ikon (wisata) budaya yang diburu oleh wisatawan selain tenun ikat yang kesohor hingga penjuru dunia. Tapi, kembali ke pertanyaan awal tadi: mampukah?

Orang pesimis pasti akan bilang: tidak! Tapi orang optimis pasti akan bilang: ya, mampu!

Rembi Mengurangi Sampah Plastik


Jujur saja, sebelum kegiatan baksos dengan salah satu agenda mengangkat rembi sebagai tas/keranjang belanjaan pengganti tas belanjaan plastik, awal September 2019 saya sudah mendengar terlebih dahulu dari Bapak Bupati Nagekeo, Bapak Don, tentang kearifan lokal yaitu penggunaan tas anyaman alih-alih menggunakan tas plastik sebagai media untuk membawa barang belanjaan. Rembi, jika betul dimanfaatkan oleh masyarakat Kabupaten Ende khususnya para mama saat berbelanja di pasar, niscaya mampu mengurangi sampah plastik. Lagi pula rembi dibikin untuk dua jenis belanjaan. Ada rembi khusus belanjaan basah seperti ikan dan/atau daging, hingga sayuran. Ada rembi khusus belanjaan kering seperti aneka bumbu dapur. Tapi, tentunya para mama lebih suka membeli rembi khusus belanjaan basah karena bisa disatukan dengan belanjaan kering: bawang, cabai, lengkuas, merica, yang umumnya dibungkus ... plastik. Hiks.


Lagi, jujur saja, sebelum kegiatan baksos dengan salah satu agenda mengangkat rembi sebagai tas/keranjang belanjaan pengganti tas belanjaan plastik, menurut pengamatan saya, sudah banyak mama yang menggunakan keranjang plastik reuse yang kuat dan tahan banting sekaligus mengurangi pemborosan membeli tas belanjaan plastik. Artinya tas belanjaan plastik tidak terlalu banyak digunakan di pasar-pasar tradisional bukan? Lantas di mana? Di supermarket! Oleh karena itu, kampanye menggunakan rembi ini harus dilakukan di semua lapisan perbelanjaan baik yang tradisional maupun yang moderen. Suatu saat, pasti ada yang ke supermarket membawa rembi, dititip di tempat penitipan barang, kemudian saat selesai belanja semua belanjaan akan dimasukkan ke rembi alih-alih tas belanjaan plastik berlogo supermaret tersebut.

Salah seorang mama, baru pulang berbelanja dari Pasar Wolowona, melintas di lokasi seremoni pembukaan, menenteng keranjang belanjaan plastik.

Bisa?

Bisa donk. Saya sudah melakukannya. Bukan rembi, melainkan backpack. Kecuali belanjanya untuk keperluan satu bulan, itu memang butuh kardus. Haha.

Yang perlu diingat adalah, tas belanjaan plastik bukan satu-satunya penghasil sampah plastik di semesta raya. Masih ada botol dan gelas bekas minuman. Itu yang paling nyata terlihat saat hujan turun dan aliran air menghantar sampah hingga ke tepi pantai. Bagaimana untuk mengatasinya? Bawalah tumbler atau botol air minum sendiri dari rumah alih-alih membeli air minum kemasan. Selain keren sekaligus berhemat.

Rembi Mendongkrak Perekonomian


Keterkaitan ini jelas tidak bisa dibantah. Umumnya rembi dibikin oleh pengrajin yang tergabung dalam kelompok tertentu. Jum'at kemarin, rembi-rembi yang dipajang merupakan hasil kerajinan tangan dari Kelompok Karya Ibu. Kelompok ini juga sudah digandeng Dinas Koperasi Kabupaten Ende.


Apabila rembi betul mampu mengganti tas belanjaan plastik, otomatis perekonomian para pengrajin pun terdongkrak. Ini akan sangat bagus! Meskipun untuk mewujudkannya, memang, dibutuhkan kesadaran awal yaitu penggunaan plastik harus dikurangi meskipun plastik memang jauh lebih praktis.

Rembi Sebagai Ikon (Wisata) Budaya


Dari hasil status saya tentang rembi di Facebook, ada teman-teman yang bertanya tentang rembi, pengen punya juga. Soalnya kan selain disediakan rembi untuk belanjaan di pasar, ada pula rembi dengan model kekinian yang imut dan lucu bikin gemas siapapun yang melihatnya. Seperti yang dipakai Bapak Bupati Kabupaten Ende. Saya punya satu rembi yang dikasih sama pengungsi korban erupsi Gunung Rokatenda dari Pulau Palu'e.

Rembi hadiah dari pengungsi. Hehe.

Kalau yang ini wadah anyaman dari Pulau Sumba.

Rembi niscaya mampu menjadi ikon (wisata) budaya dari Kabupaten Ende karena siapa sih yang tidak mau punya oleh-oleh khas suatu daerah berharga murah, dapat dimanfaatkan sehari-hari, dan membikin pemakainya terlihat beda dan bergaya? Semua orang juga pasti mau! Termasuk saya. Sayangnya Jum'at kemarin saya tidak sempat membeli rembi karena sudah terlalu banyak orang berkerumun ingin membeli juga, dan saya toh sudah punya rembi sendiri hadiah dari pengungsi. Hehe. Oh ya, harga rembi bervariasi sesuai ukuran, model, dan tingkat kesulitan modifikasinya. Dipatok mulai dari Rp 50K hingga ratusan ribu.

⇜⇝

Baca Juga: Antara Saya, Trans Flores, dan Festival Daging Domba

Menjawab pertanyaan besar di tulisan ini, mampukah rembi menggantikan peran tas belanjaan plastik? Insha Allah mampu. Asalkan ada kesadaran dari kita semua, ada daya juang dari kita semua, untuk bersama-sama bertekad mengurangi sampah plastik yang secara masif sudah semakin menghancurkan bumi kita. 

Bagaimana menurut kalian, kawan?

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

5 Jenis Tenun Ikat Dari Provinsi Nusa Tenggara Timur


5 Jenis Tenun Ikat Dari Provinsi Nusa Tenggara Timur. Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak saja kaya akan suku, tetapi juga kaya akan bahasa, adat istiadat, serta budaya. Salah satu hasil kebudayaan masyarakat Provinsi NTT adalah tenun ikat. Tenun ikat dari NTT dibikin secara manual oleh tangan-tangan bersahaja para penenun, dibumbu cinta kasih, dan melalui proses panjang yang memakan waktu hingga berbulan-bulan. Alat menenunnya pun masih menggunakan alat tenun tradisional. Selain menggunakan pewarna buatan pada tenun ikat, para penenun juga masih mempertahankan pewarna alami seperti akar mengkudu dan daun taru(m). Khusus di Kabupaten Ende, tenun ikat yang masih menggunakan pewarna alami ini terutama pada tenun ikat berjenis Kembo. Tidak heran harga Kembo sangat mahal. Bisa mencapai jutaan Rupiah.

Baca Juga: 5 Perkara yang Saya Sadari Tentang Sebuah Hubungan

Sebagai masyarakat Kabupaten Ende, Pulau Flores, tentu saya wajib memiliki tenun ikat, yang masih dalam bentuk lembaran maupun sudah menjadi sarung, untuk dipakai ke acara-acara tertentu, acara keluarga maupun acara kantor. Setidaknya satu perempuan Kabupaten Ende, baik Suku Ende maupun Suku Lio, harus punya satu sarung tenun ikat jenis manapun. Kebanyakan, perempuan Kabupaten Ende mempunyai dua sarung tenun ikat dan salah satunya pasti berjenis Kembo.

Sejak satu bulan lalu Universitas Flores (Uniflor) memberlakukan tata tertib berpakaian baru. Sebagai karyawati yang patuh *uhuk*, tentu saya harus mengikuti peraturan tersebut. Saya jadi gemar mencari tahu tenun ikat selain dari Kabupaten Ende. Peraturan berpakaian itu adalah setiap Hari Selasa memakai kemeja putih dan sarung tenun ikat khas Kabupaten Ende, setiap Hari Kamis memakai kemeja rapi dan kain dari daerah manapun di Nusantara. Tidak masalah, karena setelah membongkar lemari, saya punya beberapa tenun ikat Kabupaten Ende (berbagai jenis) juga tenun ikat dari kabupaten lain di Provinsi NTT. Tidak hanya itu, saya juga punya kain batik hadiah dari teman-teman: batik Bali, batik Madura, batik Jawa.

Menulis LIMA pada judul pos ini tentu bukan berarti di Provinsi NTT cuma ada lima jenis tenun ikat. Jangankan satu provinsi, satu kabupaten saja tidak bisa diwakili dengan lima jenis tenun ikat saja. Tapi, lima merupakan angka Kamis di blog ini, sehingga kali ini saya ingin menulis tentang lima jenis tenun ikat yang sudah berhasil saya kumpulkan. Hehe. Sombong sedikit tak masalah kan ya.

Marilah kita cek.

1. Sarung Mangga


Nama tenun ikatnya adalah Mangga, kalau sudah dijahit sarung, ya jadinya sarung Mangga. Sarung Mangga identik dengan warna hitam dipadu corak putih dan merah. Coraknya kecil-kecil dengan ikatan yang rapi. 


Harga sarung Mangga berkisar Rp 500K s.d. Rp 700K. Tidak semahal sarung Kembo. Sudah saya tulis di atas, Kembo itu mahal karena pewarnanya pewarna alami serta proses membikinnya yang super lama. Bisa mencapai enam bulanan. Makanya, memakai Kembo itu selalu membikin perempuan merasa jauh lebih bangga. Hehe. Mahal coy. Beda dengan perempuan Suku Ende yang umumnya memakai sarung Kembo dan/atau sarung yang katanya: tidak bernama, perempuan Suku Lio lebih banyak pilihan jenis sarungnya seperti sarung Kelimara, sarung Jara (ada cora kuda),  sarung Lepa, sarung Pundi, sarung Luka, dan lain-lainnya.

Untuk mengumpulkan semua jenis sarung dari Kabupaten Ende saja saya harus menunggu uangnya terkumpul, haha.

2. Tenun Ikat Sikku


Kalau kalian beranggapan tenun ikat asal Pulau Sumba itu hanya seperti yang diperdebatkan dengan tenun ikat Troso - Jepara, kalian salah. Pulau Sumba terbagi atas empat kabupaten yaitu Kabupaten Sumba Timur, Kabupaten Sumba Tengah, Kabupaten Sumba Barat, dan Kabupaten Sumba Barat Daya. Setiap kabupaten punya jenis tenun ikatnya masing-masing. Yang berbentuk fauna itu umumnya dari Kabupaten Sumba Timur. Sedangkan yang satu ini berasal dari Kabupaten Sumba Barat, saya beli waktu mempromosikan Uniflor beberapa tahun lalu:


Namanya Sikku. Berasal dari Kabupaten Sumba Barat di Pulau Sumba. Informasi tentang Sikku ini saya peroleh dari sahabat saya yang asli sana dan menetap di sana, Marten Bira. Saya punya dua tenun Sikku ini, satunya sudah dibikinkan gaun saat wisuda tahun 2018 lalu. Hehe. Yang satu ini masih saya pertahankan karena memang pengen memakainya dalam bentuk lembaran begini alias tidak perlu dijahitkan baju. Tahun 2015 saya membelinya seharga ... lupa ... sekitar Rp 300K sampai Rp 400K.

3. Sarung Kewatek 


Dari deskripsi yang saya peroleh dari berbagai sumber, maka sarung yang gambarnya di bawah ini bernama Kewatek, berasal dari Pulau Adonara. Kebetulan ada teman yang menjualnya dengan harga murah, langsung angkut, hanya Rp 400K. 


Satu-satunya yang tersisa alias sudah tidak ada pilihan lagi hahaha. Kenapa saya ngotot harus memilikinya? Karena ... kapan lagi? Pertama: masih bisa saya pakai setiap Hari Kamis sesuai aturan berpakaian di kantor. Kedua: koleksi. Perlahan-lahan. Saya masih pengen punya tenun ikat dari wilayah lain di Pulau Flores dan sekitarnya.

4. Hoba Nage


Tentang Hoba Nage dan bagaimana cara saya memburunya, itu perkara yang berkaitan dengan tema wisuda Uniflor 2019. Kalian bisa membaca ulasannya pada pos berjudul: Persiapan Kegiatan Wisuda Dengan Tema Kabupaten Nagekeo


Umumnya Hoba Nage dipakai oleh kaum perempuan dari Kabupaten Nagekeo. Sedangkan untuk laki-lakinya memakai Ragi Woi. Tapi di Kota Mbay, perempuan juga menggunakan Ragi Woi, tidak hanya laki-laki.

5. Ragi Woi


Ini dia si Ragi Woi. Saya mendapatkannya dari keponakan setelah mereka menikah. Iwan (keponakan saya) menikah dengan Reni (asal Danga, Kota Mbay, Kabupaten Nagekeo).


Kuningnya itu yang sangat khas, dan rasa-rasanya sangat cocok dipakai oleh Presiden Negara Kuning (sayaaaaa hahaha).

⇜⇝

Mempunyai lima jenis tenun ikat pada daftar di atas saja sudah membikin saya senang bukan kepalang. Akhirnya punya Kewatek! Akhirnya punya Hoba Nage! Meskipun memilikinya tidak pada satu masa bersamaan, tapi yang jelas sebagai masyarakat Provinsi NTT saya boleh berbangga pada orang luar. Pun, setidaknya saya masih bisa menjelaskan pada orang luar tentang asal daerah tenun ikat bersangkutan, nama/jenisnya, serta dipakai oleh laki-laki atau perempuan(?). Kan malu kalau ditanya sama orang luar, eeeeh tidak mampu menjawabnya, padahal informasinya bisa diperoleh dari mana saja, terutama dari penduduk/orang yang memang tahu benar.

Baca Juga: 5 Alasan Kalian Harus Berkunjung ke Kabupaten Nagekeo

Apakah saya masih mau mengumpulkan tenun ikat dari daerah lain di Pulau Flores dan/atau Provinsi NTT? Oh, tentu! Saya harus punya sarung/tenun ikat dari Kabupaten Manggarai (Kabupaten Manggarai Barat atau Kabupaten Manggarai Timur, mana-mana suka), Kabupaten Sikka, Kabupaten Pulau Lembata, bahkan dari Pulau Sabu. Dulu, saya punya selendang/syal asal Pulau Sabu tapi sudah saya berikan ke teman. Nanti cari lagi. Hehe.

Bagaimana dengan kalian, kawan? Bagi saya, mengumpulkan tenun ikat aneka jenis dari berbagai daerah merupakan perbuatan kecil demi melestarikan budaya dan membantu para penenun. Cuma perbuatan kecil, tapi kalau dilakukan oleh banyak orang, akan menjadi perbuatan besar. Bukan demikian? Demikian ... hehe.

#KamisLima



Cheers.

Ini Dia Fakta Sejarah Candi Borobudur yang Harus Kalian Tahu

Foto tahun 2006, baru dipamer tahun 2019.

Ini Dia Fakta Sejarah Candi Borobudur yang Harus Kalian Tahu. Tahun 2006, dalam perjalanan panjang Ende - Surabaya - Jakarta - Yogyakarta - Surabaya - Ende, saya berkesempatan pergi ke Candi Borobudur. Waktu itu saya mengendarai sepeda motor sewaan dengan angka speedometer tinggi, haha hihi sepanjang perjalanan, tahu-tahu sudah tiba. Itu adalah salah satu cita-cita lama yang baru terwujud tahun 2006! Cita-cita lama lainnya adalah menumpang andong di Jalan Malioboro terus teriak kencang-kencang: Jogjaaaaa, saya naik andoooong! Sampai dilihatin orang-orang dan teman-teman saya menutup wajah saking malunya. Haha. Sayangnya waktu itu saya belum membikin blog Tuteh Travel sehingga cerita tentang kampungannya saya saat naik andong belum pernah dipublikasikan di blog khusus wisata itu.

Tahun 2006, kamera yang dipakai untuk foto-foto pun masih kamera saku dan negatif filemnya dicuci-cetak di tempat khusus. Saya belum pakai DSLR pun telepon genggamnya masih seperti yang dipakai Sanchai dalam Meteor Garden itu. Alhamdulillah saya termasuk orang yang menghargai perjalanan sendiri sehingga ketika membongkar album lama, tradaaaa masih ketemu foto waktu ke Candi Borobudur, seperti yang kalian lihat di awal pos (foto di atas foto, hehe). Tahun 2006, untuk masuk ke Candi Borobudur belum diberlakukan memakai kain batik yang disediakan oleh pengelola.

Ternyata banyak fakta sejarah Candi Borobudur yang belum diketahui masyarakat Indonesia. Kalian pasti kepo pengen tahu juga kan? Makanya, baca sampai selesai. Tapi sebelumnya, marilah kita kenalan (lagi) dengan candi yang satu ini.

Candi Borobudur


Siapa yang tidak kenal Candi Borobudur? Yuk, segarkan kembali ingatan tentang candi yang satu ini. Candi Borobudur merupakan bangunan candi Buddha yang hingga saat ini masih menjadi pusat beribadahan umat Buddha di dunia. Meskipun diperkirakan sudah berdiri sejak tahun 825 Masehi, hingga saat ini Candi Borobudur masih menjadi daya tarik yang spektakuler bagi berbagai kalangan. Mulai dari wisatawan mancanegara dan domestik, penggiat studi sejarah dan budaya, arkeolog, dan lain-lain. Hingga sekarang candi yang juga terkenal dengan stupa-nya itu tidak hanya menjadi obyek wisata saja, melainkan juga berkembang menjadi pusat budaya bagi masyarakat setempat.

Zaman itu disuruh pose begini, manut saja, hahaha.

Berapa harga tiket masuk Candi Borobudur? Murah! Hanya Rp 35.000! Saya tidak membandingkan harga tiket masuk ini dengan harga tiket masuk obyek wisata lainnya karena setiap obyek wisata tentu punya manajemennya masing-masing termasuk dalam perkara menentukan biaya tiket masuk.

7 Fakta Sejarah Candi Borobudur


Di balik keelokan Candi Borobudur, ada fakta sejarah yang mungkin belum diketahui oleh sebagian masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, hari ini ijinkan saya *tsah* menulis tentang 7 fakta sejarah Candi Borobudur. Mari kita mulai.

1. Situs Warisan Dunia UNESCO


Candi Borobudur dinobatkan sebagai salah satu dari 7 keajaiban dunia. Perlu kalian ketahui, bahwa hingga saat ini memiliki status sebagai Situs Warisan Dunia. Pengabsahan ini telah ditetapkan oleh UNESCO sejak tahun 1991. Dengan demikian diharapkan Candi Borobudur bisa mendapatkan perawatan, pengamanan, dan pelestarian, agar dapat diteruskan kepada generasi-generasi mendatang. Sebagai Orang Indonesia, saya bangga dengan pengakuan yang luar biasa ini.

2. Kuil Buddha Terbesar


Guinness World Record mencatat nama Borobudur sebagai kuil Agama Budha terbesar dunia. Dengan luas mencapai 15.129 meter persegi, catatan volume candi ini memiliki panjang 1000 meter dan tinggi 42 meter. Borobudur juga memiliki 10 tingkat serta 72 stupa. Catatan ini menjadikan Candi Borobudur sebagai pusat ibadah umat Buddha terbesar di dunia. Tidak heran ketika Hari Raya Waisak, Borobudur akan dipenuhi oleh umat Buddha dari berbagai penjuru dunia.

3. Sir Thomas Stamford Raffles


Orang Inggris yang pernah menjadi Gubernur di Hindia Belanda ini ternyata memiliki peran penting dalam menggaungkan nama Candi Borobudur. Sejak situs candi ditemukan di bawah gundukan pasir, H.C. Cornelius diutus untuk mencari kebenaran akan adanya candi tersebut. Raffles sendiri memiliki peran penting melalui bukunya “History of Java” dimana nama Bore-Budur tertulis di buku tersebut. Raffles juga menceritakan bagaimana proses-proses yang dilakukan oleh Cornelius dan para prajuritnya dalam menangani situs candi ini ketika pertama kali ditemukan. Buku legendaris ini menjadi salah satu tahap awal Borobudur dikenal oleh dunia.

4. Jam Matahari Raksasa


Ternyata bentuk melingkar di bagian atas candi, serta susunan stupa di bawah stupa induk memiliki fungsi lain selain pusat ibadah. Pada masa kerajaan dahulu, susunan stupa ini menjadi jam matahari yang berguna untuk menentukan waktu. Petunjuk waktu ini mengandalkan arah putar matahari dan bayangan dari stupa akan menunjukan waktu tertentu. Jadi, sejak zaman itu teknologi sederhana penunjuk waktu sudah dipakai. Hebat, ya.

5. Pernah Jadi Korban Terorisme


Terorisme ternyata pernah merambah situs Candi Borobudur, jauh sebelum era terorisme modern saat ini. Pada tahun 1985, situs candi Borobudur pernah diguncang bom yang merusak setidaknya 9 stupa secara permanen. Serangan ini jelas merusak peninggalan sejarah meskipun dalang kejadian ini telah mendapat hukuman. Ya namanya juga peninggalan sejarah, harus dijaga, bukan dirusak dengan cara-cara tidak terpuji seperti itu. Ini harus menjadi perhatian bersama dalam hal pelestarian situs sejarah dan budaya agar kelak menjadi bekal untuk generasi masa depan.

6. Relik Borobudur di 6 Museum Dunia


Potongan bagian atau relik dari candi Borobudur ternyata tersebar di setidaknya 6 museum besar di dunia. Sebut saja Museum Louvre di Paris, Perancis dan Museum Nasional Bangkok, di Thailand. Bagian-bagian candi ini dahulu sering dijadikan cinderamata bagi pemimpin-pemimpin dunia.

7. Arca Stupa Induk


Stupa induk Candi Borobudur yang menjadi pusat bangunan ini memiliki ukuran terbesar pada struktur candi yang tampak sepenuhnya tertutup tanpa rongga. Ternyata di dalam stupa induk ini dahulu ditemukan arca Buddha yang tertimbun material stupa induk. Patung yang saat ini dikenal sebagai “The Unfinished Buddha” karena banyak yang meyakini patung ini memang tidak diselesaikan namun memiliki bentuk Buddha yang sangat jelas. Saat ini wisatawan bisa menemukan patung ini berada di bagian luar Museum Karmawibhangga. 

⇜⇝

7 fakta sejarah Candi Borobudur di atas sebaiknya memang harus diketahui oleh lebih banyak orang, khususnya Orang Indonesia. Agar apa? Agar Orang Indonesia semakin bangga dan menanamkan rasa cinta serta memiliki. Ketika sudah tumbuh rasa cinta, apapun akan dilakukan untuk mempertahankannya. Bukan begitu? Ya begitu dooonk. Ternyata urusan cinta memang jatuhnya sama juga. Harus bisa menjaga, memelihara, melestarikan.


Kalau ditanya: apakah masih mau ke Candi Borobudur lagi? Ya, jelas donk. Tentu banyak perubahan yang terjadi sejak tahun 2006 itu. Bila kalian penasaran dengan misteri yang ada dibalik kemegahan Candi Borobudur, marilah datang ke situs Buddha yang berlokasi di Magelang, Jawa Tengah. Jangan ragu membayar harga tiket masuk candi borobudur, karena harganya yang terjangkau bisa mengantar kalian menjelajahi sudut-sudut situs bersejarah yang terkenal di dunia ini. Pun, di dalam kompleks candi ini juga kalian bisa belajar banyak hal terkait sejarah dan perkembangan adat budaya. 

Tunggu apa lagi? Yang di luar Pulau Jawa, buru tiket pesawat diskonannya mulai dari sekarang! Hehe.



Cheers.

Persiapan Kegiatan Wisuda Dengan Tema Kabupaten Nagekeo


Persiapan Kegiatan Wisuda Dengan Tema Kabupaten Nagekeo. Kabupaten Nagekeo. Lagi! Hehe. Rajin sekali menulis tentang Kabupaten Nagekeo! Ya mau bagaimana lagi. Saya memang sering ke Kabupaten Nagekeo, khususnya Ibu Kotanya yaitu Kota Mbay untuk beberapa urusan, baik urusan pribadi maupun urusan pekerjaan. Sehingga sayang sekali kalau tidak menulis tentang kabupaten tersebut terutama tempat wisata hingga ragam kegiatan yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah sana. Terakhir, saya ke Kota Mbay untuk menyaksikan sendiri Festival Literasi Nagekeo 2019. Betul juga kata anak-anak sana: Nagekeo Gaga Ngeri!


Berkaitan dengan Universitas Flores a.k.a. Uniflor. Dalam Bulan Oktober tepatnya tanggal 12 nanti bakal ada kegiatan wisuda. Dan Uniflor memang selalu punya tema berbeda setiap tahunnya. Tema ini berkaitan dengan kabupaten yang ada di Pulau Flores dan sekitarnya. Mau tahu serunya? Yuk baca sampai selesai! Hehe.

Uniflor Sebagai Mediator Budaya


Uniflor, universitas pertama di Pulau Flores yang berdiri tahun 1980, punya visi besar yaitu Menjadi Universitas Unggul dan Terpercaya Sebagai Mediator Budaya. Kenapa mediator budaya? Menurut analisa saya pribadi, hal ini dikarenakan mahasiswa Uniflor berasal dari berbagai daerah di Pulau Flores dan sekitarnya, pun dari daerah lain di luar Pulau Flores. Uniflor harus bisa menyatukan mereka semua. Ini analisa pribadi ya, hehe. Karena sepanjang yang saya lihat, toleransi di Uniflor itu sangat tinggi. Toleransi ini tidak saja dari lini lintas agama: kalian bisa melihat Suster dan muslimah bercadar jalan bersamaan sambil berdiskusi, tapi juga lintas suku: kalian bisa melihat anak Manggarai berdebat ilmiah dengan anak asal Pulau Lembata.

Salah satu wujud Uniflor sebagai mediator budaya bisa dilihat pada saat kegiatan wisuda. Panitia wisuda akan dibentuk kira-kira satu bulan sebelumnya. Pada pertemuan pembentukan panitia itu, biasanya saya paling suka menunggu penyampaian soal tema. Setiap tahun Uniflor mengusung tema berbeda/kabupaten berbeda. Maka, pada wisuda tahun 2019 ini tema yang diusung adalah Kabupaten Nagekeo. Artinya, dekorasi dan panggung harus ada unsur Kabupaten Nagekeo. Pakaian panitianya harus pakaian adat Kabupaten Nagekeo. Sua sasa/penyambutan wisudawan di pintu masuk dan tarian pun harus tarian dari daerah Nagekeo. Sedangkan wisudawan, tidak pernah dipaksakan pakaian tradisional yang mau dipakai. Bebas. Lagi pula kan tertutup jubah. Hehe.

Pakaian Tradisional/Adat Kabupaten Nagekeo


Setelah tahu tentang tema kabupaten yang diusung, maka mulailah saya sibuk mencari informasi tentang pakaian tradisional Nagekeo. Setahu saya, Kabupaten Nagekeo hanya punya satu jenis/motif tenun ikat. Dan saya salah. Kedunguan tingkat tertinggi saya adalah itu. Hahaha. Saya pernah memakai sarung itu dalam suatu video klip seperti screen shoot di bawah ini:


Kain tenun ikat di atas biasa dipakai oleh Orang Mbay. Warna hitam dengan aksen warna kuning (hyess, my colour!).

Berdasarkan informasi dari Wikipedia, terima kasih Wikipedia, ada tiga jenis tenun ikat dari Kabupaten Nagekeo yaitu Hoba Nage, Ragi Woi, dan Dawo. Orang Keo Tengah menyebut ketiga jenis kain ini dengan Dawo Nangge, Duka Wo'i, dan Dawo Ende. Tapi tentu saya akan mengikut penamaan secara umum yaitu Hoba Nage, Ragi Woi, dan Dawo.

Seperti apa penampakannya? Mari kita lihat:

1. Hoba Nage


2. Ragi Woi


3. Dawo (Dawo Ende)


Terus, laki-lakinya biasa memakai apa? Biasanya laki-laki memakai kemeja putih dan Ragi Woi.

Berdasarkan informasi yang saya peroleh dari teman-teman Orang Nagekeo, juga isteri keponakan yang asli Danga - Mbay - Nagekeo, ada dua jenis utama sarung tenun ikat yang sering dipakai oleh penduduk Kabupaten Nagekeo yaitu Hoba Nage dan Ragi Woi. Mereka menyebutnya tenun ikat Nage dan tenun ikat Mbay. Menurut sebagian orang Ragi Woi itu khusus dipakai oleh laki-laki sedangkan Hoba Nage khusus dipakai oleh perempuan. Tetapi di Kota Mbay, Ragi Woi dipakai oleh laki-laki dan perempuan. Tidak ada perbedaan. Sedangkan di daerah sekitar Kecamatan Boawae, laki-laki khusus memakai Ragi Woi dan perempuan khusus memakai Hoba Nage.

Makanya, saya sering melihat teman-teman perempuan dari Kota Mbay memakai Ragi Woi, dipadukan dengan atasan warna putih (tak selamanya warna hitam) seperti yang juga saya pakai pada foto di awal pos dan foto berikut ini:


Saya dan Deni Parera, penyanyi bersuara emas, sama-sama memakai Ragi Woi. Bagi masyarakat Kabupaten Nagekeo, itu bukan masalah. Bahkan menurut Abang yang aseli Orang Nagekeo khususnya Kecamatan Boawae, apa yang saya pakai itu sudah benar dan nanti kalau saat wisuda tinggal pakai begitu saja. Beres.

Tetapi sebenarnya atasan untuk perempuan itu seperti foto berikut ini:


Nama baju ini Kodo. Kodo ini dihiasi dengan bordiran tangan, bukan mesin loh! Keren dan sangat unik kan?

Berburu Hoba Nage


Dipikir-pikir, ketimbang menyewa lebih baik saya membeli saja Hoba Nage. Kata teman kerja, Mama Sedes, ada yang sedang jual murah dipatok tenun ikat Hoba Nage seharga Rp 550K saja. Tentu saja saya mau! Lagi pula ini bisa jadi inventaris, alias kalau nanti kembali dibutuhkan, sudah punya barangnya, tidak perlu pusing mencari. Hanya saja saya belum menerima tenun ikatnya, masih menerima fotonya saja hahaha. Nanti tenun ikat Hoba Nage dalam bentuk lembaran itu bakal saya jahitkan menjadi sarung.

Selain itu, saya juga bertanya-tanya pada teman yang bermukim di Kota Mbay yaitu Daniel Daki Disa. Nah padanya saya juga bisa meminta tolong untuk menyewakan Kodo dan Hoba Nage, dikirim ke Ende, kalau sudah selesai dipakai bisa dikembalikan. Doakan semoga tanggal 12 Oktober nanti saya sudah bisa memakai pakaian adat Kabupaten Nagekeo, ya!

⇜⇝

Pertanyaannya sekarang adalah kenapa saya sampai ngotot harus bisa memakai pakaian adat Kabupaten Nagekeo saat kegiatan wisuda nanti? Untuk menjawabnya, kita harus kembali pada Uniflor sebagai mediator budaya.

Kepanitiaan wisuda selalu terdiri atas dosen dan karyawan Uniflor. Dosen dan karyawan Uniflor datang dari berbagai daerah di Pulau Flores dan sekitarnya. Bisa kalian bayangkan, ketika tema wisuda jatuh pada Kabupaten Ende, semua dosen dan karyawan yang bukan Orang Ende harus berupaya untuk mencari dan memakai pakaian adat Kabupaten Ende. Khusus perempuan disebut Lawo Lambu / Zawo Zhambu. Khusus laki-laki memakai kemeja putih, destar (ikat kepala), dan sarung laki-laki bernama Ragi Mite.

Baca Juga: Kisah Dari Rumah Baca Sao Moko Modhe di Desa Ngegedhawe

Ketika tema jatuh pada kabupaten lain selain Kabupaten Ende, tentu kami harus menghormati dan menghargai keputusan tersebut dengan cara mengikuti ketentuan yang ditetapkan untuk panitia. Bagi saya pribadi ini adalah tantangan tersendiri: mencari pakaian tradisional/adat Kabupaten Nagekeo. Seandainya pun gagal membeli Hoba Nage, saya masih bisa memakai Ragi Woi dan atasan warna hitam (disesuaikan dengan Kodo). Lagi pula, adalah sesuatu yang sangat membahagiakan diri saya pribadi apabila bisa mengenakan pakaian tradisional/adat dari daerah lain di Pulau Flores. Sesuatu yang mengenyangkan sukma. Hehe.

Nantikan cerita dan foto-fotonya, ya!

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

Cerita Dari Festival Literasi Nagekeo 2019 di Kota Mbay


Cerita Dari Festival Literasi Nagekeo 2019 di Kota Mbay. Dua minggu yang lalu saya menerima pesan WA dari seseorang yang nomornya belum tersimpan di telepon genggam. Sumpah, mau bertanya: ini siapa(?) saya sungkan, kuatir dibilang sombong. Lagi pula profile picture-nya bukan foto diri melainkan gambar Bunda Maria yang kemudian diganti dengan gambar Yesus. So I have no idea who is he/she. Isi pesan WA itu adalah lampiran draf kegiatan Festival Literasi Nagekeo 2019. Sampai orang itu mengiriman revisi draf kegiatan dimaksud pun saya masih sungkan bertanya, lantas hanya bisa mengucapkan terima kasih serta janji bakal hadir pada malam Minggu.

Baca Juga: Semua Anak Indonesia Harus Menonton Upin Ipin (Bahagian 2)

Apa itu Festival Literasi Nagekeo 2019? Kenapa pula saya berjanji untuk hadir saat malam Minggu? Kalian kepo kah? Hahaha. Kalau kepo, hyuk dibaca sampai selesai!

Hari Literasi Internasional


Mari pukul mundur ke tahun 1965. Sumber Wikipedia menjelaskan bahwa Hari Literasi Internasional (International Literacy Day/ILD) atau Hari Aksara Internasional/Sedunia atau Hari Melek Huruf Internasional, yang diperingati setiap tanggal 8 September, merupakan hari yang diumumkan oleh UNESCO pada 17 November 1965 sebagai peringatan untuk menjaga pentingnya melek huruf bagi setiap manusia, komunitas, dan masyarakat. Setiap tahun, UNESCO mengingatkan komunitas internasional untuk selalu dalam kegiatan belajar. Hari Melek Huruf Internasional ini diperingati oleh seluruh negara di dunia.

Nagekeo, Kabupaten Literasi.

Sedangkan dari Kompas, begini informasi yang saya peroleh: Melansir dari situs resmi UNESCO, tahun 2019 ini UNESCO akan memberikan penghargaan kepada program dan individu yang berjasa terkait literasi di seluruh dunia dalam tema "Literasi dan Multilinguaisme". Sejak tahun 1967, UNESCO telah memberikan rekognisi dan bantuan bagi lebih dari 490 proyek dan program di bidang literasi yang dijalankan baik oleh pemerintah, Organisasi Non-Pemerintah (LSM), maupun individu di seluruh dunia.

Tahun ini, UNESCO International Literacy Prizes terbagi menjadi dua jenis penghargaan yang akan diberikan kepada lima penerima, yakni: UNESCO King Sejong Literacy Prize, dimana penghargan ini diberikan untuk dua pemenang dengan program yang berfokus pada pengembangan dan pengunaan pendidikan dan pelatihan literasi bahasa ibu. UNESCO Confucius Prize for Literacy, penghargaan tersebut terbentuk pada 2005 atas dukungan Pemerintah Cina. Penghargaan ini diberikan kepada tiga pemenang dengan program yang mempromosikan literasi orang dewasa terutama yang berada di daerah pedesaan dan untuk remaja putus sekolah utamanya kaum perempuan Masing-masing pemenang akan mendapatkan medali, piagam penghargaan dan uang sejumlah 20.000 dolar Amerika Serikat.

Nge-blog merupakan salah satu cara berliterasi.

Jadi kita sepemahaman ya, bahwa Hari Literasi Internasional diperingati setiap tanggal 8 September. Kita juga harus sepemahaman bahwa, also from Wikipedia, bahwa Literasi adalah istilah umum yang merujuk kepada seperangkat kemampuan dan keterampilan individu dalam membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian tertentu yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga, literasi tidak bisa dilepaskan dari kemampuan berbahasa. Sedangkan, menurut data dari Literasi Digital keluaran Internetsehat, secara umum yang dimaksud dengan literasi digital adalah kemampuan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi (TIK), untuk menemukan, mengevaluasi, memanfaatkan, membuat dan mengkomunikasikan konten/informasi, dengan kecakapan kognitif maupun teknikal. 

Jadi, kalau bisa saya simpulkan, kegiatan literasi adalah kegiatan membaca, menggali informasi, mengelola/mengolah informasi, serta menyebarkan kembali informasi tersebut. Salah satunya dengan nge-blog. Salah duanya dengan mendongeng. Sala(h)tiga-nya di Pulau Jawa. Hehe.

Hari Literasi Nagekeo 2019


Kabupaten Nagekeo, dengan Ibu Kota bernama Kota Mbay, merupakan kabupaten yang sedang sangat getol membangun diantaranya membangun di ranah literasi. Bupati Nagekeo, Bapak Don, saat meresmikan Rumah Baca Sao Moko Modhe berkata bahwa awalnya beliau kurang perhatian dengan urusan literasi ini, sampai kemudian beliau mengunjungi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia di Salemba - Jakarta, beliau menjadi sangat paham pentingnya literasi untuk pembangunan. Artinya, mencerdaskan masyarakat tidak hanya berkonsentrasi pada pendidikan akademik saja, tetapi harus diimbuh dengan berliterasi yang diperoleh/dilakukan di luar bangku sekolah/kuliah.

Oleh karena itu, kesimpulan saya, sampailah pada titik Kabupaten Nagekeo kemudian menggelar kegiatan akbar Festival Literasi Nagekeo 2019 selama empat hari, dimulai Jum'at (27 September 2019) sampai dengan Senin (30 September 2019. Dan saya, menyesuaikan dengan waktu kerja, baru bisa dan hanya bisa hadir pada malam Minggu (Sabtu, 28 September 2019).


Meskipun tiba di Kota Mbay pukul 12.00-an Wita, tapi saya baru bisa menuju Lapangan Berdikari, tempat kegiatan ini digelar, pukul 20.30 Wita. Alasannya karena masih menunggu keponakan saya, si Iwan. Tiba di depan Lapangan Berdikari, kendaraan baik roda empat maupun roda dua penuh di sisi kanan dan kiri jalan. Sementara itu dari panggung di dalam lapangan terdengar bunyi-bunyian dari alat musik tradisional, ada sekelompok penari sedang pentas. Bergegaslah kami berlima: saya, Iwan, Reni (isterinya Iwan), Andika dan Rayhan (anaknya mereka berdua).


Suasana di dalam Lapangan Berdikari mengingatkan saya pada Pameran Pembangunan yang dulu rajin banget dilaksanakan di Stadion Marilonga, Kota Ende. Itu, saat saya masih SD lah. Ada panggung hiburan/pentas seni sekaligus panggung perlombaan, ada stan-stan dari berbagai kecamatan di Kabupaten Nagekeo juga stan dari kabupaten lainnya termasuk Kabupaten Ende, ada banyak pedagang mainan anak-anak dan balon hias, ada pula warung-warung dadakan dengan menu khusus daging domba, dan lain sebagainya. Pada stan-stan itu juga ada yang memamerkan sekaligus menjual tenun ikat khas Kabupaten Nagekeo baik lembaran besar maupun selendang mini/syal serta hasil kerajinan tangan lainnya.

Banyak Hal Menarik dan Tidak Terduga


Sangat tidak terduga karena saya bertemu mereka. Siapakah mereka?

Penggemar


Penggemar nih ye! Haha. Sampai disenyum-senyumin sama Iwan dan Reni. Kami memulai senang-senang malam itu dengan berkeliling stan yang ada di tepi Lapangan Berdikari. Saat kami tiba di stan Pariwisata Nagekeo, mendadak seorang ibu yang juga berdiri di situ meminta foto bareng saya.



Terima kasih, ibu, sudah mau foto bareng saya. Siapa pun ibu, saya tidak bermaksud apa-apa menulis penggemar, hanya bercanda. Hehe.

Mer Mola Neu


Ini keren. Tidak terduga, bisa bertemu Mer Mola Neu. Mer Mola Neu adalah young (woman) entrepreneur asal Kabupaten Nagekeo, Pulau Flores, Provinsi NTT, dengan brand Sehelai & Renjana. Produknya banyak, antara lain tas berbahan tenun ikat, buku/notes dengan cover bergaya kedaerahan dari beberapa daerah di Pulau Flores, gantungan kunci, stiker, bahkan ada pula kripik. Stan mereka sangat menarik dengan baliho warna kuning bertulis Sehelai & Renjana. Tapi, dari semua produknya, saya paling demen sama buku/notes tersebut.


Sebagai Presiden Negara Kuning, sudah lama saya memesan buku / notes bersampul kuning dengan empat kosa kata bahasa daerah Nagekeo ini. Sudah dikirim ke Ende dan saya tinggal mengambil (dan bayar) di tempat drop. Tapi saya lupa alias kelupaan terus! Sampai-sampai saya memarahi diri sendiri yang terlalu sering lupa. Saat keliling stan di Festival Literasi Nagekeo 2019, bertemulah saya dengan stan milik anak muda kreatif ini. Meskipun Insha Allah saya akan kembali ke Kabupaten Nagekeo (Kota Mbay) untuk beberapa urusan, tapi saya tidak mau kehilangan kesempatan lagi untuk memiliki buku ini. Harus beli! Dibanderol Rp 40K sudah dapat tambahan satu gantungan kunci. Aye!

Tidak mungkin pula melewatkan kesempatan untuk berfoto bersamanya. Adalah kebanggaan bagi saya pribadi bisa bertemu dengan orang-orang muda hebat yang kreatif dan terus berkarya, menemukan inovasi-inovasi baru dengan menyertakan budaya dan kearifan lokal. Dari mereka pula budaya kita tetap lestari. Keren benar Mer dan Wilfrid ini. Tasnya juga keren, Mer *muka memelas, hahaha*.

Kalau kalian tanya, apa yang paling memuaskan saya sebagai si tukang jalan, jelas human interest-nya. Karena dari penduduk lokal kita pun BERLITERASI (membaca, mencari informasi, mengolah informasi, dan membagi informasi). Informasi yang kadang tidak terlampir di buku pariwisata paketan. Sama juga, kalau kalian membaca blog saya, seperti itulah informasi yang kalian dapat *sombong sikit sekalian promosi*. Jangan lupa kalian bertanya dengan nada sinis, emang penting saya ngegas dari Ende ke Mbay untuk bersileweran di Festival Literasi Nagekeo 2019? Tidak penting untuk kalian, tidak penting untuk saya. Tapi ... bermakna dan menambah khasanah hidup saya pribadi. Sesuatu yang tidak bisa ditukar dengan Rupiah (kecuali Euro boleh lah) hahaha.

Abang Umar Hamdan dan Abang Iskandar Awang Usman


Waktu saya melihat pos Abang Umar Hamdan di Facebook bahwa dia sedang berada di lokasi Festival Literasi Nagekeo 2019, siang-siang begitu, pengen ngegas dari Towak ke Lapangan Berdikari, tapi masih pengen menikmati obrolan bersama keponakan. Janji ketemu malam saja sekalian.



Kami anak kembar yang kalau sedang berdiskusi macam orang sedang berantem. Sering pula kami bentrok. Tapi kami tidak pernah musuhan. Hahaha. Dewasa sekali dua orang ini kan? Oh ya, Abang Umar Hamdan bersama tim dari Anak Cinta Lingkungan (ACIL) tergabung dalam Forum Giat Literasi Kabupaten Ende (FGL). FGL digandeng oleh Perpusda Ende untuk bersama-sama mengisi stand mereka. Oleh karena itu tidak heran stan ini termasuk yang paling ramai terutama saat Kakak Ev dari Rumah Baca Sukacita berdongeng. Uh wow sekali. Sayang saya tidak sempat mengabadikan aksi Kakak Ev mendongeng.


Anak-anak adalah masa depan negeri ini. Sejak dini mereka sudah harus mengenal literasi itu seperti apa. Jauhkan mereka dari gadget, berikan kesempatan pada mereka menikmati dunia anak-anak yang sesungguhnya. Terima kasih teman-teman FGL Kabupaten Ende, terima kasih Perpusda Kabupaten Ende, kalian semua hebat dan bergaya!

Rossa


Di dalam WAG Alumni Smansa Ende, saya sempat bilang kalau ada teman yang sedang berada di Kota Mbay, ketemuan yuk di Lapangan Berdikari. Ndilalah saat sedang berkeliling saya dicolek seseorang. Haaaah???? Rossa!


Sahabat masa SMA. Tidak disangka ya, setelah haha hihi di WAG, malah ketemuan di Festival Literasi Nagekeo 2019.

Kegiatan Bermanfaat Yang Harus Berkelanjutan


Kita sering terbawa euforia pada suatu kegiatan, tapi kemudian kegiatan itu selesai. Tidak ada lanjutannya. Tapi saya berharap agar festival semacam ini harus terus berkelanjutan karena selama manusia berkembang biak, selama itu pula tunas-tunas muda manusia ada di muka bumi. Festival Literasi Nagekeo 2019 harus jadi entrance untuk kegiatan serupa di masa datang.

Kegiatan ini bermanfaat karena tidak saja berfokus pada dunia literasi itu sendiri tetapi banyak lini yang terlibat. Lihat saja, pada stan Kecamatan Boawae saya melihat ragam kerajinan tangan dipamerkan:



Kerajinan tangan ini salah satu dari kerajinan tangan jenis lain seperti tenun ikat, selendang, gantungan kunci tenun ikat, dan lain sebagainya. Selain itu, di dalam stan ini juga ada yang jualan minuman semacam kacang hijau dan es buah begitu.

Di atas saya sudah menulis bahwa ada para pedagang mainan anak-anak dan balon hias dan kuliner atau makanan lokal khas Kabupaten Nagekeo yang paling sering diburu yaitu daging domba. Dalam bahasa Nagekeo daging domba disebut nake lebu. Nake itu bahasa daerah untuk daging. Lebu ya domba. Ternyata sama juga dengan Orang Ende yang menyebut daging dengan nake.


Sayangnya, akibat trauma sama aroma daging domba beberapa saat lalu, saya tidak jadi makan malam di warung dadakan daging domba ini. Tapi tetaplah saya mau menyaksikan Festival Daging Domba pada Bulan November nanti!

⇜⇝

Jadi jelas, Festival Literasi Nagekeo 2019 telah mampu mengangkat dan mendukung banyak lini. Tidak hanya dunia literasi, tetapi juga menggeliatkan perekonomian masyarakat. Ada buku, ada dongeng, ada mewarnai, ada informasi tentang pengelolaan sampah dan hasilnya, ada hasil kerajinan tangan, ada yang jualan kopi Bajawa (dari Kabupaten Ngada), ada pula pedagang kaki lima, dan tentu saja warung dengan menu utama daging domba. Sekali lagi, kegiatan ini harus berkelanjutan.

Baca Juga: Pola Timbal Balik

Malam itu kami menikmati makan malam di warung ayam lalapan, berdampingan sama tempat sablonnya Raiz Muhammad. Malam itu, saya juga tidak bertemu teman-teman lain seperti Novi Azizah dan Jane Wa'u (MC-nya). Tidak masalah. Yang jelas saya sudah menyaksikan sendiri Festival Literasi Nagekeo 2019. Saya sudah bersenang-senang dan menambah ilmu. Saya sudah bertemu banyak orang dan hal-hal yang tidak terduga. Saya sudah sayang kamu. Eh, saya sudah menambah khasanah untuk diri pribadi.

Sampai jumpa di festival-festival berikutnya!

Info:
Stan - berasal dari bahasa Inggris stand, tempat pamer/menjual barang.
Renjana - passion, hasrat.

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

Gotong Royong Itu Masih Hidup dalam Tubuh Masyarakat


Gotong Royong Itu Masih Hidup dalam Tubuh Masyarakat. Sabtu kemarin, 13 Juli 2019, saya kembali pergi ke Towak di Kabupaten Nagekeo. Ceritanya saya diundang oleh keponakan, Iwan dan Reni, untuk menghadiri ritual pembangunan fondasi rumah pribadi mereka yang lokasinya masih terbilang dekat dengan rumah dinas Pustu Towak. Berangkat dari Ende pukul 08.00 Wita. Saya sendirian, seperti biasa, dududud. Thika membonceng Enu. Perjalanan pagi itu adalah perjalanan saling kejar dengan bis antar kabupaten, truk ikan (kalau kami sebut oto ikan), mobil pribadi, mobil travel, hingga pegawai koperasi *auto ngakak*. Sabtu pagi, meskipun banyak yang libur, tapi masih banyak juga orang yang punya kepentingan di jalan raya dan/atau jalan trans-Flores.

Baca Juga: Belum Musim Liburan Tapi Jalan-Jalan Terus

Kami beristirahat cukup lama di Aigela untuk menikmati jagung rebus dan kopi panas. Sekitar tigapuluh menitan begitu. Pokoknya setelah bibir kepedisan gara-gara sambal maknyus a la salah satu lapak (langganan) jagung di Aigela, barulah kami tancap gas ke arah Kota Mbay

Fondasi Sudah Dibangun


Tiba di lokasi rumah Iwan dan Reni, sudah banyak orang di sana yang sedang beristirahat. Ternyata alat molen (untuk mengaduk campuran semen) sedang eror dan sedang diperbaiki sama yang punya (si pemilik akat). Tapi, fondasi sudah dibangun. Pengerjaan tertunda karena si molen eror. Kata Kakak Nani Pharmantara, orang-orang baru selesai sarapan dan mengajak kami sarapan. Tapi perut kami sudah penuh! Tidak bisa menampung apa-apa lagi.


Sekilas fondasi yang sudah dibangun, lalu molennya eror. Lokasi rumah ini menempati kaki bukit sehingga kaki bukit itu dikeruk dulu/diratakan. Tetapi tetap saja fondasi bagian depan lebih tinggi dari bagian belakang.

Gotong Royong Itu Masih Hidup


Di Kabupaten Ende, ketika ada yang hendak membangun rumah, pekerjaan kepala tukang dan tukang bangunan akan sangat ringan pada hari-hari pertama (terutama membangun fondasi) karena pasti dibantu oleh banyak orang, khususnya laki-laki. Hari membangun fondasi merupakan hari spesial karena ada sedikit ritual yang dilakukan: do'a pada malam sebelumnya, peletakan batu pertama, hingga elemen apa yang mau turut ditanam bersama fondasi tersebut (biasanya di empat sudut). Karena spesial, semua orang baik keluarga, teman, hingga tetangga, pasti turut membantu. Kadang-kadang, meskipun pada hari-hari berikut pengerjaan rumah sudah menjadi tugas si tukang bangunan dan anak buahnya, tetap saja masih ada yang datang untuk membantu.


Saya memperhatikan para lelaki yang bekerja. Mereka rata-rata keluarga (Reni, Orang Mbay), teman, dan tetangga. Bahu-membahu mereka mengikuti arahan kepala tukang bangunan. Mulai dari campuran semen, mengangkut campuran, mengakut batu, dan lain sebagainya. Yang letih, istirahat. Tidak ada paksaan. Yang haus, silahkan minum. Yang lapar, silahkan makan lagi (nasi maupun kudapan) karena meja makan tidak boleh dikosongkan. Luar biasa, menurut saya. Yang seperti ini yang harus terus dipelihara dan diwariskan pada anak cucu.

Menariknya, saya melihat ada dua laki-laki yang mengangkut batu menggunakan kayu yang dibikin mirip tangga. Penampakannya pada gambar berikut ini:


Teknologi sederhana yang mempermudah pekerjaan bukan? Hehehe. Bisa juga sih diangkut pakai karung, tapi mereka memilih memakai alat sederhana itu. Tidak bisa menggunakan gerobak sorong karena medannya tidak memungkinkan. Ada juga yang mengangkut batu menggunkan tangan. 

Kalau melihat foto-foto di atas, kalian pasti tahu bahwa cuaca memang sangat terik! Saya hanya bisa berdoa semoga para lelaki yang bekerja ini terus diberi kekuatan dan kebahagiaan untuk membantu keponakan saya hahaha. Orang lain mungkin tidak akan mau membantu dalam pekerjaan berat seperti itu. Mengangkut campuran semen, mengangkut batu, langsung di bawah sengatan sinar matahari. Tapi inilah yang menjadi kekayaan kita rakyat Indonesia. Gotong royong! Hidup dalam nuansa kekeluargaan yang kental.

Tidak hanya dalam urusan pekerjaan. Apabila ada keluarga yang membangun rumah, sekaya apapun keluarga itu, tetap saja ada saja yang datang membawa ini itu seperti kudapan, teh - kopi - gula, kambing, semen, dan tentu saja ada pula yang menyelip amplop berisi uang. Yang membangun rumah tidak meminta, tapi hukum tidak tertulis di dalam masyarakat memang seperti itu. Biar sedikit, yang penting ada. Demikianlah.


Gotong royong tidak saja berlaku untuk kaum lelaki, tetap juga kaum perempuan. Di halaman samping bakal tetangga Iwan dan Reni (masih keluarga juga sih) banyak kaum perempuan yang sedang memasak ini itu. Hebatnya adalah semua daging tersedia ... kecuali bebek dan domba ... hiks. Ikan, ayam, kambing, sapi ... harus ada! Uh wow sekali qiqiqiq.

Moke Putih


Moke/tuak merupakan minuma tradisional. Kalian bisa membaca tulisan saya tentang moke di sini. Moke adalah minuman tradisional yang wajib ada dalam upacara atau acara tertentu terkhusus yang berkaitan dengan adat. Makanya saya juga menyebutnya minuman adat. Moke adalah minuman persahabatan, katanya. Asalkan tidak diminum berlebihan karena bakal mabu dan efek mabuk sangat menjengkelkan orang lain.

Moke putih merupakan moke asli dari pohon lontar/nira yang belum disuling menjadi moke 'keras'. Rasanya enak sekali terutama dicampur es manis haha. Dulu ada yang menjual moke putih keliling kampung dengan memanggul dua tabung bambu gede-gede. Saya girang bukan main kalau melihat si penjual, langsung lari ke luar rumah, sambil teriak ... OM, BELI MOKE! Haha. 

Kemarin juga ada moke putih.


Saya mencobanya segelas. Warnanya tidak putih mirip susu, tapi ada kuning-kuningnya. Pasti sudah dicampur 'sesuatu'.

Saya:
Enak e, Om, moke putih ni. Campur apa?

Om:
Campur obat.

Saya:
*tampang nganu*

Om:
Obat bagus itu.

Saya:
ENAK!


Hahaha. Terus, setelah itu saya berkeliling lokasi rumah hingga ke atas bukit. Pemandangannya bagus sekali apalagi kalau terus sampai ke puncaknya. Rumah ini bakal keren sekali. Terutama kalau sore-sore menikmati kopi dari puncak bukit (bagian belakang rumah). Semoga ... suatu saat nanti.

⇜⇝

Gotong royong yang saya perhatikan hari Sabtu kemarin merupakan cerminan masyarakat Indonesia itu sendiri. Kita berbeda agama dan suku tapi akan tetap bersatu dalam gotong royong, dalam contoh paling sederhana: membangun rumah. Saya pasti akan kembali ke Towak, Nagekeo, karena pembangunan rumah ini akan memakan waktu beberapa minggu/bulan, sehingga masih ada waktu untuk melihat proses demi prosesnya. Doakan semoga lancar, ya, kawan!

Baca Juga: Berburu Spot Foto Instagenic di Dapur Jadul di Raba

Terus ... kalian kapan ke Flores? Hehe.



Cheers.

Buku Pelulu



Di Kabupaten Ende hidup dua suku besar yaitu Suku Ende dan Suku Lio. Suku Ende umumnya bermukim di daerah pesisir. Kedatangan para pelaut dari daerah luar ke daerah pesisir Ende menyebabkan terjadinya akulturasi budaya (serta agama). Sama halnya dengan Suku Lio yang umumnya bermukim di daerah pegunungan. Akulturasi terjadi dengan kebudayaan (serta agama) yang dibawa oleh Pastor-Pastor asal Portugis dari Flores bagian Timur (Kota Larantuka).

Baca Juga: Mengetik 10 Jari Itu Biasa

Dari pihak (alm.) Bapa, mbah putri saya yaitu Mbah Suma berasal dari Pamekasan - Madura, sedangkan kakek saya yaitu Kakek Pua Ndawa saya berasal dari Pulau Ende. Karena kami penganut patrillineal, otomatis kami sekeluarga Pharmantara merupakan Suku Ende yang berakar kuat dari Pulau Ende. Penting untuk diketahui: Pulau Ende bukan Pulau Flores. Pulau Ende merupakan satu kecamatan yang terletak di depan Pantai Ende.


Hal apa yang paling asyik dibahas dari Suku Ende? Banyak! Salah satunya adalah tentang pernikahannya. Minggu, 16 Desember 2018, kami sekeluarga baru saja melewati satu tahap menuju pernikahan keponakan saya yang bernama Angga dengan perempuan bernama Titin. Oleh karena itu saya ingin sekali bercerita tentang buku pelulu.

Di dalam adat masyarakat Suku Ende, baik pacaran maupun ta'aruf harus melewati tahap yang sama. Karena Angga dan Titin ini berta'aruf, maka tahapan yang telah dilewati adalah temba zaza, nai ono, dan buku pelulu.

Temba Zaza


Temba zaza atau timba rasa adalah proses ketika perwakilan pihak laki-laki mendatangi rumah perempuan untuk menyampaikan maksud. Maksud si anak laki-laki untuk menjadikan si anak perempuan sebagai istri. Apabila si anak perempuan serta keluarganya setuju, maka akan dilanjutkan dengan tahap selanjutnya yaitu nai ono dan buku pelulu.

Nai Ono


Nai ono atau masuk minta merupakan proses lamaran. Lamaran di sini, berdasarkan apa yang saya ikuti hari Minggu kemarin, dilakukan oleh kaum perempuan dari kedua belah pihak. Tentu saja kaum perempuan (sanak keluarga) dari pihak perempuan yang menunggu di rumah si perempuan. Biasanya nai ono dibarengi dengan buku pelulu.

Buku Pelulu


Buku pelulu (sekatu uwi jawa) merupakan proses pihak laki-laki yang diwakili oleh kaum perempuan mengantarkan barang-barang berupa cincin, dulang utama (kemarin kami mengisi dulang utama dengan nasi tumpeng serta lauk-pauknya), uang jajan dari calon mertua pada calon anak mantu, hingga aneka kue-kue dan buah (yang disumbangkan oleh keluarga pihak laki-laki ini). Selain uang jajan dari calon mertua pada calon anak mantu, Abang Nanu dan Mbak Wati juga memberikan sejumlah hadiah lain kepada Titin seperti sarung, baju, daleman, alas kaki, dan lain sebagainya. Dua pick up penuh dan bertumpuk dengan aneka barang hantaran.



Juru bicara saat buku pelulu adalah perempuan yang dituakan. Kemarin kami mendaulat Bibi Hawa sebagai jubir. Yang dibicarakan oleh jubir kami kepada jubir pihak perempuan adalah sebagai berikut:

  • Jangka panjang atau jangka pendek. Maksudnya adalah jarak setelah buku pelulu ke waktu pernikahan itu lama atau cepat. Kemarin kami mengutarakan maksud: jangka pendek.
  • Isi kumba isi ae nio yang disepakati bersama.
  • Dan tidak perlu adanya bhaze duza atau balik dulang. Maksudnya pihak perempuan tidak perlu mengembalikan dulang, piring, dan lain sebagainya yang menjadi wadah ragam hantaran saat nai ono dan buku pelulu itu. Meskipun adatnya biasanya ada bhaze duza tapi pihak kami berpikir kalau bhaze duza akan terlihat seperti bolak-balik saja hantaran lamaran tersebut haha. Dan disepakati pula oleh pihak perempuan, namun pihak perempuan tetap akan datang ke rumah pihak laki-laki.


Setelah itu?

Kami pun pulang dan foto-foto hahaha.

Sebagian kecil squad Pua Ndawa, Pua Djombu, dan kawin-mawinnya haha. Eh, yang ini mah yang masih muda-muda, yang tidak muda lagi enggan bergabung LOL.


Proses yang akan ditempuh dalam beberapa bulan ke depan (karena jangka pendek nih) adalah mendi belanja atau biasa disebut dengan antar belanja atau antar belis. Meskipun mendi belanja ini belum dilakukan tapi kami sekeluarga sudah melakukan rembug kecil-kecilan tentang apa saja yang akan diantarkan kepada pihak perempuan nanti seperti perlengkapan kamar, baju pengantin (yang sebenarnya sudah ditanggung oleh pihak om dari si perempuan yang disebut isi kumba isi ae nio tadi), perlengkapan lainnya, uang-uang (pihak perempuan kemarin tidak mau menerima uang air susu ibu), sapi, mahar, hingga hadiah lainnya.

Masih ada beberapa tahap yang perlu dilewati sebelum tiba pada hari H, tapi tidak saya ceritakan sekarang hehe.

Baca Juga: Pejuang Ekonomi di EGDMC

Yang juga keren dari acara-acara adat dan budaya ini adalah sodho sambu-nya atau undang-mengundangnya. Di Suku Ende apabila ada hajatan seperti nai ono dan buku pelulu, atau juga hajatan seperti khitanan dan do'a, sebelumnya kami mengundang keluarga dan tetangga (untuk nai ono dan buku pelulu khususnya perempuan) untuk turut hadir. Karena keluarga kami ini banyak, maka sodho sambu dilakukan oleh empat perempuan yaitu saya, Aida, Kak Nani Pharmantara, dan Ida. Saya dan Aida bertugas sodho sambu keluarga dari pihak Mamatua. Kak Nani dan Ida bertugas sodho sambu keluarga dari pihak (alm) Bapa.

Apabila kegiatannya mengharuskan laki-laki yang hadir maka yang bertugas sodho sambu adalah laki-laki. Tetapi karena nai ono dan buku pelulu dilakukan oleh perempuan, maka yang bertugas sodho sambu adalah perepuan.

Sodho sambu tidak bisa sembarang datang mengundang seperti: heeei, kami datang mau sampaikan nih bla bla bla. Ada syarat yang harus dipenuhi:

  • Mengenakan zawo zambu. Tapi kami boleh memakai atasan/baju lain, tidak perlu zambu.
  • Menggunakan bahasa Ende serta kata-kata khusus. Kata-kata khusus ini bisa bercampur bahasa Indonesia apabila kita tidak fasih benar.


Meskipun zawo yang saya pakai jatuh dua kali, hahaha, serta kehujanan, tapi saya menikmati kegiatan sodho sambu ini.

Sarung tenun ikat yang kami pakai itu disebut zawo. Zawo ini macam-macam jenisnya. Yang saya pakai berjenis mangga.


Saat datang ke rumah saudara, setelah kita dipersilahkan duduk, apabila tuan rumah tidak bertanya: "Miu mai zatu perlu apa nde?" (Kalian datang ada perlu apa nih?), maka kami yang harus minta pada mereka: "Miu are kami si." (Kalian tanya sudah tujuan kedatangan kami). Kalau kami sudah minta mereka bertanya, barulah mereka bertanya, dan tentu saja kami menjawab. Mana mungkin dinosaurus yang menjawab kan.

Undangan atau jawaban itu kira-kira seperti ini: "Kami mai sodho sambu mai Bapa Abang ne Mbak Wati, Hari Minggu jam empat zatu acara buku pelulu ko Angga. Ma'e kezo kue se-bha." (Kami datang menyampaikan pesan dari Bapa Abang dan Mbak Wati, Hari Minggu jam empat ada acara buku pelulu / lamarannya Angga. Jangan lupa bawa kue sepiring).

Encim dan keponakannya. Hahha.


Yang paling saya ingat ini adalah kue sepiring. Kalau kalian membaca tentang minu ae petu dari pos soal yang unik dari Ende, kalian bakal tahu bahwa adat yang melekat tidak memandang kaya atau miskin. Jadi, meskipun kakak perempuan saya, kakak ipar perempuan saya, sampai keponakan perempuan saya, punya usaha cake and bakery begitu, tapi yang namanya kue se-bha atau kue sepiring merupakan kewajiban yang tidak boleh tidak kami sampaikan. Unik ya hahaha.

Menurut saya hukum adat adalah hukum terkuat. Karena, meskipun tidak tertulis, masyarakat sangat patuh pada hukum adat ini, terutama masyarakat wilayah adat yang dalam Suku Ende disebut fai wazu ana azo. Hukum adat juga merupakan hukum yang paling fleksibel. Karena, hukum adat dapat disesuaikan dengan perkembangan zaman, tanpa menanggalkan nilai-nilai dasar adatnya.

Fleksibelnya hukum adat ini menyebabkan kami boleh bertugas untuk sodho sambu mengenakan zawo saja dan kemeja. Fleksibelnya hukum adat ini menyebabkan kami boleh mencampur bahasa Ende dengan Bahasa Indonesia apabila tidak fasih betul bahasa Ende-nya. Fleksibelnya hukum adat ini menyebabkan keluarga kami boleh menolak bazhe duza dari pihak perempuan.

Baca Juga: Kita, Orang Indonesia

Alhamdulillah kegiatan nai ono dan buku pelulu kemarin berjalan dengan sangat lancar sehingga sebelum Adzan Maghrib pun sudah selesai.

Sampai jumpa di mendi belanja! Hehe.



Cheers.

#PDL Harmonisasi Di Saung Angklung Udjo

Nemu foto ini di situs travelnya detik(dot)com.


#PDL adalah Pernah DiLakukan. Tulisan ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini; termasuk tentang perjalanan ke tempat-tempat di luar Kota Ende.

***

Rabu kemarin saya membaca komentar dari Himawan pada pos Sanggar Tari Topeng Mimi Rasinah tentang penduduk lokal yang kebingungan waktu kami bertanya lokasi sanggar dimaksud. Himawan (or Hino) mengandaikan penduduk lokal sekitar sanggar juga dilibatkan di dalam kegiatan-kegiatan sanggar sehingga bisa sespektakuler Saung Angklung Mang Udjo atau Saung Angklung Udjo. Penduduk memang terlibat, namun anak-anaknya saja yang dilibatkan ikutan sanggar tersebut, berlatih Tari Topeng bersama cucu Miras yaitu Aerli.


Bicara soal Saung Angklung Udjo artinya bicara soal wisata budaya yang dijaga dan dilestarikan dengan kemasan sangat menarik. Saung Angklung Udjo terletak di Jalan Padasuka 118, Bandung, Jawa Barat. Lokasi ini dibagi-bagi menjadi tempat pertunjukan, toko souvenir, tempat makan, dan lain-lain yang tentu sekarang sudah jauh lebih berkembang. Tahun 2010 waktu ke Saung Angklung Udjo saya sangat menikmati cuci mata di toko souvenir-nya itu. Sebagai wanita imut dan beperasaan halus saya juga gemas donk melihat ragam benda mini-mini menggemaskan salah satunya gantungan kunci berbentuk angklung.


Hari itu saya dan Acie berkesempatan menonton Pertunjukan Bambu Petang. Seperti foto di awal pos ini kalian bisa melihat seorang perempuan berkebaya biru dan anak-anak kecil bermain angklung. Di sini lah proses pengenalan dan pelestariannya terjadi karena secara tidak langsung penonton dengan latar belakang beragam itu diedukasi tentang angklung; cara memegang, cara memainkannya, dan betapa angklung tidak dapat berdiri sendiri-sendiri alias memang harus dimainkan dalam kelompok, dengan anggota yang sudah tahu nada dasar yang mereka 'pegang'. Kira-kira begitulah.


Kemudian panitia/pengelola membagikan kami angklung masing-masing satu. Sudah tahu cara memegang dan memainkan alat musik ini, lantas perempuan berkebaya biru mengetes nada masing-masing kelompok, kira-kira sepuluh sampai limabelas orang per kelompok. Dia memberi instruksi pada kami. Kami, yang belum saling mengenal dan kebetulan sama-sama terdampar di suatu pertunjukan petang ini, hanya dengan melihat arah tangan si instruktur, bisa memainkan satu lagu dengan utuh yaitu lagu Ibu Kartini.


Aweeeesomeeee! Harmonisasi yang tercipta menggenapi kepuasan kami mengunjungi Saung Angklung Udjo. Terima kasih untuk pengalaman yang luar biasa ini.

Usai bermain angklung, kami menyaksikan pertunjukan wayang golek. Tapi saya lupa kisah tentang apakah yang ditampilkan hari itu.


Usai pertunjukan wayang golek, saya dan Acie masih sempat berlama-lama di toko souvenir, melihat sana-sini, cuci mata, gemas-gemasan sama penjaga lelaki, terus membeli beberapa souvenir, dan memutuskan untuk pulang. Kami masih punya tugas mencari lokasi pembuatan / pengrajin wayang golek. Untungnya saya masih menyimpan foto si bapak di bawah ini:


Situs yang memuat artikel tentang Golek; Bukan Boneka Biasa yang saya tulis untuk Detik, memang belum bisa dibuka, untungnya Om Bisot pernah membuat status tentangnya di Facebook. Hahaha. Sumpah, ngakak tiarap saya melihat foto yang satu ini:


Terima kasih, Om *jempol paling gede* berkat ini, tidak hilang jejak digitalnya *tsaaaah*.


Jadi kalau ditanya, pernahkah saya ke Saung Angklung Udjo? Pernah, saya pernah ke sana. Saya pernah bermain angklung dalam kelompok penonton dan kerja sama tim ini menghasilkan harmonisasi yang mengagumkan. Kita harus banyak belajar dari (filosofi) angklung ini. Dan pernah, saya juga pernah mengunjungi pengrajin wayang golek dan pura-pura memainkannya supaya difoto sama Acie. Ternyata saya pernah juga PERNAH SEBESAR ITU. Hahaha ...

Bagaimana dengan pengalaman kalian?


Cheers.

Yuk Ke art Jakarta, Pameran Seni Instagramable dan Terbesar Di Indonesia


Kemanakah akhir pekan kalian dihabis di Ibukota yang semakin macet dan tidak menentu? Pastinya mall lagi, mall lagi dan berakhir di mall lagi. Memang mall menawarkan banyak hal seperti belanja semua barang dan kuliner. Pastinya kalau yang ditawarkan itu-itu saja maka akan membosankan. Setelah bosan akhirnya di rumah dan weekend berlalu begitu saja tanpa adanya kesan. 

Nah, saya punya rekomendasi yang menarik untuk weekend yang akan menjadi menyenangkan dengan mengunjungi art JAKARTA di Ballroom Ritz Carlton, Pasific Place, Jakarta. Sebuah pameran seni terbesar di Indonesia yang mempertemukan pelaku seni, art dealer, kolektor dan penikmat seni. Bagi yang suka foto-foto, disini banyak banget karya seni yang sangat instagramable banget, seharian berkeliling di pameran ini akan memuaskan hasrat berfoto-foto.




Saya cukup takjub karena dari awal masuk banyak sekali karya seni yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Bahkan seperti UFO dan Kulkas yang dibalut dengan lukisan bertemakan asbtrak namun sangat memiliki karya seni yang tinggi. Semakin menuju ke arah dalam, sepertinya lukisan dan benda seni lainnya semakin memanggil-manggil saya untuk terus menyusuri lorong demi lorong. Biasanya saya akan cepat bosan dengan sebuah pameran seni, namun kali ini sangatlah berbeda, saya seperti terpenjara namun saya menikmati penjara seni ini dengan segenap hati.

Sebelum art JAKARTA ini dibuka, sebelumnya dilakukan acara seremonial dengan menghadirkan pihak yang terkait seperti penyelenggara, sponsor, panitia dan media partner serta pihak lain yang terkait.




art JAKARTA yang ke 10 ini sangatlah berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya dengan menghadirkan banyak art dealer, seniman dan pecinta seni yang melahirkan banyak karya seni yang senantisa menghibur sekaligus layak untuk mendapatkan apresiasi dari pihak manapun. Karya seni yang mereka lahirkan bukanlah karya yang abal-abal atau tidak berkelas, melainkan memiliki kelas dan pamornya dihati para kolektor dan penikmat seni.

Bukan hanya seniman lokal, pameran kali ini menghadirkan seniman dari luar negeri yang memiliki karya bertaraf internasional. Mereka juga melakukan kolaborasi untuk menghasilkan karya seni yang sangat unik. Lalu ada, Creative Art Class oleh Ganara Art Space, sebuah workshop untuk memberikan wawasan terhadap dunia senirupa.   Segmen ini dapat diikuti oleh pengunjung mulai dari anak-anak hingga dewasa. Kemudian, ada Creative Art Talk dengan topik pilihan: ‘Korean Art Now’, ‘How to collect Art Photography’, ‘Art in Music Composition’, ‘Art in Music Video’, dan ‘How to become a collector".




Bukan hanya untuk orang dewasa saja, melainkan anak-anak pun dapat menikmati karya seni yang ada di art JAKARTA ini. Mulai dari seni yang mudah dipahami seperti lukisan yang terbuat dari crayon sampai karya seni mengunakan cat atau benda lainnya. Anak-anak akan sangat terhibur dengan bentuk karya seni yang tidak biasa dan bahkan banyak diantaranya sangat tidak umum dan sangat unik.

Selain hiburan, industri kreatif seperti ini akan mendatangkan benefit secara ekonomi karena banyak transaksi yang dilakukan selama pameran berlangsung. Selain itu, untuk skala Internasional, transaksi tersebut dapat mendatangkan devisa dengan skala ekspor. BEKRAF sangat mendukung dan bangga dapat berpartisipasi pameran ini




Saya sebagai penikmat seni sangat senang sekali dengan hadirnya pameran ini. Selain sebagai ajang refreshing, tapi juga menjadi tambahan pengetahuan tentang seni. Bahkan kadang karya seni ini bisa menjadi inspirasi dan imajinasi tentang keunikannya sehingga pikiran menjadi sangat fresh ketika menghadapi weekdays esok harinya. Hari senin pun akan menjadi menyenangkan dan tidak ada lagi kata "I Hate Monday"





Art JAKARTA 2018 dibuka untuk umum pada 3-5 Agustus 2018 dengan jadwal pameran hari Jumat 3 Agustus 2018 pukul 12.00-22.00, Sabtu 4 Agustus 2018 pukul 10.00–22.00, dan Minggu 5 Agustus 2018 pukul 10.00–21.00. Para pengunjung art JAKARTA 2018 dapat menikmati lebih dari 1.000 karya seni oleh lebih dari 300 seniman dan 51 galeri dengan tiket masuk Rp 50.000.

Flashmob Tarian Daerah Membuat Bangga Menjadi Indonesia (Indonesia Is Me 2017)


Hari minggu pagi yang biasanya ramai dengan orang berolahraga kali ini mendadak berubah. Setidaknya dua ribuan orang memadati jalan di depan FX Sudirman. Mereka bukanlah orang yang mau menuntut kenaikan upah atau pun demo lainnya. Mereka akan melakukan flashmob tarian dari berbagai daerah di Indonesia. Momen Car Free Day memang membuat aksi flashmob ini semarak dan penuh dengan orang-orang yang penasaran dengan anak-anak yang berpakaian ala-ala penari. 

Tak berapa lama, segerombolan laki-laki berbaju seperti suku indian di Amerika berteriak-teriak dan melompat. Langkah kaki tak berirama dan suara teriakannya pun bersahut-sahutan melengking tinggi. Iya, inilah tarian Cakalele atau Kabasaran dari Suku Minahasa, Sulawesi Utara. Memang tarian ini adalah tarian masyarakat yang telah pulang dari medan peperangan dan meraih kemenangan. Parang dan kayu penangkis digerak-gerakan mengikuti irama yang tak mereka ucapkan. Sungguh menarik mengikuti aksi mereka. 


Menari merupakan seni yang menarik. Setiap orang suka menari tanpa disadari. Dan, Indonesia memiliki ragam tarian yang sangat banyak. Maka tak heran, tarian dari Indonesia sangat menarik untuk diikuti oleh wisatawan baik dalam maupun luar negeri. Bahkan, sering mendengar orang asing yang sangat senang belajar tarian terutama di pulau Dewata. Duh, bangganya menjadi Indonesia. Apaalagi momen HUT Kemerdekaan seperti ini membuat semakin cinta terhadap negeri kita ini. 


Selanjutnya adalah Tari Piring dari Sumatera Barat. Tarian ini berasal dari Suku Minangkabau, Solok, Sumatera Barat. Piring dalam bahasa Minangkabau disebut Piriang. Bukan sulap bukan sihir, inilah tarian yang membuat kita berdecak kagum. Pasalnya butuh keahlian khusus agar piring tidak jatuh dan pecah. Selain mengengam dengan benar, gerakan yang serba cepat pun membuat lebih ekstra hati-hati. Inilah salah satu tarian yang membuat sport jantung. 


Wajah anak-anak yang polos dan penuh keceriaan membuat minggu pagi ini berwarna. Selendang dengan kain tradisional membalut tubuh kecil. Kepala disanggul kecil dengan hiasan bunga dan pernak-pernik berwarna-warni. Dua ribu anak telah siap dengan beragam tarian diantaranya Tari Puspanjali dari Bali, Tari Maumere dari NTT, Tari Siri Kuning dan Ondel-ondel dari Betawi, Tari Tor-tor dari Sumatera Utara, Giring-giring dari Kalimantan, dan terakhir Tari Yamko dari Papua



Sebelumnya dibuka dengan Tarian kabasaran dan Tari Piring, kali ini 7 tarian nonstop ditarikan oleh dua ribu anak-anak. Program ini merupakan rangkaian dari program PESTA MERDEKA dari Synthesis Development bekerjasama dengan Belantara Budaya. Belantara Budaya merupakan sanggar bagi ribuan anak-anak yang mempelajari tarian tradisional dan gratis tidak dipunggut biaya sepeser pun. Dan, Synthesis Development merupakan salah satu developer terbaik di Indonesia dengan membangun diantaranya yaitu Samara Suites, Prajawangsa City dan Synthesis Residence dengan ciri khas Indonesia sebagai bagian yang tak terpisahkan. 


Dan, spesial dalam beberapa hari ini ada Pesta Merdeka. Apa itu Pesta Merdeka? Promo apartemen beli 1 gratis 1 dan menangkan hadianya iphone 7, Macbook Air, paket liburan ke Bali dan voucher MAP. Oh iya, selain itu akan mendapatkan bebas service charge selama 3 bulan dan bebas biaya peralihan. Jangan ketinggalan ya hanya di Grand Atrium, Kota Kasablanka. 


Selain diskon dan promo ini, terdapat rangkaian acara sampai tanggal 20 Agustus 2017 di Kota Kasablanka. Berikut rangkaian acaranya :

11 Agustus 2017 Press Conference Indonesia Is Me
13 Agustus 2017 Tunjukan Indonesiamu, dengan flashmob tarian berbagai daerah
15 Agustus 2017 Pesona Kopi dan Cokelat Indonesia 
16 Agustus 2017 Rumahku Budayaku
17 Agustus 2017 Pagelaran Wayang Kulit dan Tembang Jawa Kuno Dalang Cilik Bayu Ananta
18 Agustus 2017 Bincang Sore "Jelita Nagri"
19 Agustus 2017 TIRAKAT by Lulu Lutfi Labibi
20 Agustus 2017 Bincang Minggu Pagi : INVESTASI MASA KINI, InspirAksi bersama Maman Suherman (Kang Maman) dan rekan, Penampilan dari Orkesta Negeri "The Brother"

Wah, banyak banget ya acara-acara menarik di Grand Atrium, Kota Kasablanka. Yuk ikutin promo menarik dan ikuti acaranya.