Yuk Naik Bus Dan Transportasi Publik Di Jakarta


Saya itu orangnya ngga mau ribet, pengennya praktis dan simple. Tapi, kalau misalnya dikasih opsi untuk dua hal misalnya mau naik bus atau ojek online, untuk saat ini saya masih akan memakai ojek online. That's the reality. Namun, tahu ngga kalau BPTJ atau Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek ini melakukan pembenahan di segala hal dan dimulai beberapa tahun ini. 

Saya baru tahu kalau BPTJ inilah yang melakukan pengelolaan termasuk TransJakarta, KRL dan Bus. Tak semudah yang dibayangkan untuk mengatasi kemacetan di Jakarta, diperlukan pengelolaan dan membangun kebiasaan masyarakat di Jakarta dan sekitarnya yang sering menggunakan kendaraan pribadi untuk melakukan aktivitasnya sehari-hari. 

Bayangkan saja, jika setiap rumah memiliki kendaraan roda empat lebih dari dua dan setiap harinya melakukan aktivitas dengan kendaraan tersebut, berapa banyak kendaraan yang memenuhi jalan-jalan di Jakarta? Coba hitung dengan seksama ada berapa kendaraan? Tentunya sangat banyak. Saya tak bisa membayangkan betapa penuhnya jalanan di Jakarta. 


Gaya hidup adalah kebiasaan yang harus dijangkau oleh pengelola transportasi publik, namun memang sebaiknya pembuat kebijakanlah yang mengatur secara tegas, agar kendaraan pribadi lebih sedikit digunakan dan beralih ke transportasi publik. Namun, masalah transportasi publik belum menunjukan titik terang. Masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, namun saya optimis jika dalam beberapa tahun mendatang transportasi publik akan menjadi primadona, asal pengelola mampu melaksanakan tugas dengan kerja keras.

Jepang, menurut saya adalah role model untuk transportasi publik. Orang Jepang menyukai transportasi publik karena sangat tepat waktu dan sudah sejak dini menggunakan transportasi publik. Selain Jepang, negara tetangga seperti Singapura pun perlu kita jadikan contoh dalam mengelola transportasi publiknya yang bagus. Memang penduduk Jakarta sangatlah banyak dibandingkan Tokyo ataupun Singapura, namun dengan perbaikan, Jakarta akan menjadi kota dengan transportasi publik yang nyaman. 


Nah, bagi yang mau naik bus atau KRL dengan nyaman, saya punya tipsnya untuk kamu nih.

Naik Lebih Pagi atau Lebih Malam

Jika ingin naik transportasi publik, pastikan lebih pagi atau lebih malam atau menghindari jam sibuk seperti berangkat kantor dan pulang kantor.

Siapkan Electronic Card

Siapkan electronic card untuk pembayaran pada saat di halte atau stasiun. Jangan sampai tertinggal dan menjadikan hari-harimu berantakan. 

Maps is the key

Peta rute atau maps sangat penting karena pada saat di halte atau stasiun atau di kendaraan, keadaan akan sangat padat dan bisa jadi kamu akan tersesat. 

Ikuti Peraturan Di Transportasi Publik

Jangan makan dan minum di transportasi publik karena sudah ada aturan dan akan ada sanksi. Jangan sampai aturan tersebut malah kamu langgar dan mendapat sanksi yang berat dari petugas. 

Hati-hati

Transportasi publik ini memang digunakan segala strata sosial, maka berhati-hatilah dengan semua orang yang belum dikenal. Jangan sampai kamu jadi korban pencopetan atau pelecehan seksual yang sering kita dengar melalui berita. 


Dan, akhirnya memang pada akhirnya transportasi publik adalah pekerjaan bersama mulai dari pengelola dan pengguna. Tidak akan berhasil jika kerja yang dilakukan pengelola tidak dilakukan oleh pengguna dengan baik. 

Jika sangat berat melakukan perpindahan dari kendaraan pribadi ke transportasi publik, mulailah dengan 1 hari dalam seminggu menggunakan bus atau KRL. Atau minimal sekali dalam 1 bulan, cobalah dan nikmati betapa enaknya melihat kehidupan disekitar kita yang semakin menarik. Siapa tahu dengan naik kendaraan umum, kita dapat relasi, jodoh atau kesenangan yang tidak bisa di beli oleh uang.


Terima kasih Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) yang telah berdiskusi dengan kami, pengguna transportasi publik. Sebuah sarana yang hebat untuk membuat transportasi publik di Jabodetabek makin bagus dan dicintai penggunanya. Yuk kita naik bus dn transportasi publik di Jabodetabek. Kalau bukan kita siapa lagi? Kalau bukan sekarang kapan lagi?