Arsip Kategori: BLOG

5 Peserta Favorit Kelas Blogging

Membuka kelas blogging, gratis, baik bersama Kanaz dan Om Bisot maupun sendirian membenturkan saya dengan banyak karakter (peserta kelas). Ada yang semangat belajarnya luar biasa membikin para mentornya jadi lebih bersemangat berbagi ilmu, ada pula yang duduk termenung di WAG sampai-sampai terpaksa dikeluarkan oleh Kanaz. No hard feeling. Karena aturan kelas blogging kita, termasuk yang terakhir yaitu Kelas Blogging Online, merupakan kelas tempat saling belajar dan berinteraksi. Harus ada proses yang bisa terlihat nyata lewat tampilan blog masing-masing. Jika tidak, terpaksa dikeluarkan. Saya rasa ini cukup adil. Bukan begitu? Begitu bukan?

Baca Juga : 5 Workshop Blogging & Social Media

Dari kelas-kelas blogging yang sudah berjalan melalui WAG, saya punya peserta favorit; kaitannya ya sama kalimat 'membenturkan saya dengan banyak karakter' seperti pada paragraf awal di atas. Yang menjadi favorit saya belum tentu menjadi favorit Om Bisot dan Kanaz. Vice versa. Apa syarat, haaaa? Syarat?, atau indikasi sehingga mereka berlima saya jadikan peserta terfavorit? Tentu saya tidak sembarang menentukan lah hehe. Setidaknya ada hal-hal yang membuat mereka terlihat lebih unggul dari yang lain. Thika Pharmantara dan Ocha, misalnya, tidak mungkin mereka menjadi favorit saya karena menulis saja masih celup-celupan. Mereka harus memotivasi diri sendiri kan, karena tugas kami sebagai mentor untuk kelas mereka yaitu Kelas Blogging NTT sudah selesai.

Baiklah ... jadi, selalu saya menulis jadi padahal tidak ada angin, dinosaurus, dan hujan siapa saja kah peserta favorit saya dari semua kelas blogging yang sudah berjalan dan/bahkan ada yang sudah selesai itu?

Mari kita cek.


Awal mengenal Om Ludger ini via Twitter. Saling sahut-sahutan dan akhirnya saya mengajaknya mengikuti Kelas Blogging NTT Angkatan II. Semangatnya mengikuti kelas dengan kondisi sinyal celup-celupan naik-turun bikin nelangsa patut diacungi jempol dinosaurus. Maklum, meskipun berasal dari Wologai namun lokasi kerjanya berada di Lepembusu. Iya, Puskesmas Lepembusu namanya. Tentang puskesmas ini bakal saya bahas di lain pos dan di lain blog haha.

Om Ludger waktu kami kunjungi hahaha.

Yang menarik adalah konten blog-nya selalu membahas tentang budaya Wologai, daerah yang terkenal dengan kampung adatnya itu. Konten-konten orisinil seperti itu, apalagi tentang budaya, sudah jarang kita temui. Kebanyakan sih hasil kopas sana-sini yang bahkan tanpa merujuk penulis aslinya.

Terakhir PR/tantangan dari Kelas Blogging NTT yang diikuti oleh Om Ludger, berhadiah kaos. Demi penyerahan kaos ini saya pergi ke tempatnya bekerja hahaha.

Terakhir setelah saya, Mila, dan Santy mengunjungi Om Ludger di Puskesmas Peibenga dan berhasil mengacau di sana, saya baru tahu kalau dia sudah memakai domain sendiri. Selamat ya, Om. Semakin serius nampaknya. Insha Allah dapat menjadi blogger yang amanah demi terkenalnya daerah kita khususnya Wologai. Huhuy!


Saat menulis ini saya baru tahu kalau Aram, Kelas Blogging NTT Angkatan II, sudah memakai domain sendiri. Mentor macam apa saya ini hahaha. Selamat, selamat, selamat.


Mengenal Aram sudah lama saat dia masih menjadi mahasiswa Uniflor. Yang saya tahu dia adalah aktivis dengan segudang kegiatan. Kegiatannya yang padat jaya itu selalu bermanfaat bagi orang lain. Kenapa dia menjadi peserta favorit saya adalah semangat belajarnya yang sama tinggi seperti Om Ludger dan memang punya passion di dunia blog. Tinggal lebih rajin menulis konten, mantap jiwa.


Abang Iskandar saya memanggilnya. Orang baru di kelas blogging yang masuk dalam Kelas Blogging Online. Tapi kalau dalam dunia aktivis sampah, jangan ditanya lagi, dia sudah kesohor bareng Abang Umar Hamdan dalam komunitas bernama ACIL. ACIL adalah Anak Cinta Lingkungan yang sudah melakukan seabrek kegiatan demi pelestarian lingkungan termasuk salah satunya mendaur ulang sampah dan pembibitan ribuan tanaman. Kegiatan lainnya silahkan baca blog Abang Iskandar.


Paling senang baca WAG Kelas Blogging Online setiap Senin malam menjelang pukul 21.00 Wita. Pasti Abang Iskandar ini sudah mulai menulis: sebentar lagi kelas mulai. Hahaha. Semangatnya belajar nge-blog itu bikin saya terkejut-kejut. Kan sama sekali tidak menyangka dia bakal sesemangat itu. Abang Iskandar ini, saya jamin, setelah lebih dari lima kali pertemuan kelas, bakal jago banget nge-blog-nya. Ayo, Abang, harus bisa!


Tidak semua yang saya favoritkan datang dari Kabupaten Ende haha. Betul, tiga nama di atas memang Orang Ende. Mari cek yang berikutnya ... eng ing eng ini nggak perlu kan ya soalnya namanya sudah tertera di poin empat di atas ...


Seorang guru yang mulai nge-blog. Keberadaannya membikin saya teringat pada Pak Martin. Adalah pencapaian yang luar biasa apabila guru juga nge-blog dan memanfaatkan blog dalam pengajaran. Kakak Maya baru mulai, dan di tengah padatnya aktivitas beliau sebagai guru, semoga suatu saat nanti bakal lebih mengembangkan dunia ajar-mengajar melalui blog. Maju terus, Kak!


Kak Dian adalah peserta Kelas Blogging Online yang ternyata sudah lama nge-blog. Tujuannya untuk mengikuti kelas ini adalah agar semangat untuk nge-blog tetap terjaga. Kan asyik punya banyak teman, saling berbagi ilmu, saling bercanda ... jadi lebih semangat nge-blog kan? Sama juga, ketika saya dan kalian saling berinteraksi lewat komentar baik komentar di blog saya maupun di blog kalian, kita jadi lebih semangat nge-blog. Percaya lah.

Sayang, saya tidak menemukan foto Kak Dian. Nanti deh.

Karena ini #KamisLima, jadi itulah dia lima peserta favorit kelas blogging versi saya. Kayak On The Spot gitu haha.

Masih banyak peserta lain dari kelas-kelas blogging loh. Mari kita kenal, setidaknya, mengunjungi blog mereka satuper satu. Siapa saja kah mereka?


Tentu termasuk Thika dan Ocha yang sudah saya tulis di atas dan lima favoritnya.


Baca Juga : 5 Yang Unik dari Ende (Bagian 2)

Saya kaum sama semangat mereka belajar nge-blog, berkecimpung di dunia blog, hingga suatu saat nanti mereka tahu nikmatnya mengelola blog hingga ke tahap pro. Wuih. Artinya adalah mereka tidak saja belajar tentang blog tapi juga belajar tentang bagaimana menulis yang baik; setidaknya tanda baca dan preposisi bisa ditulis dengan baik. Kalau tulisannya enak dibaca seperti pos Om Bisot yang membahas bagaimana membuat tulisan artikel atau konten yang enak dibaca, kan asyik kalau tulisan kita enak dibaca dan scannable. Orang bakal betah banget berlama-lama di blog kita untuk mengulik satu pos ke pos lainnya.

Semoga teman-teman yang baru belajar nge-blog ini dapat memicu lebih banyak semangat pada kita, saya, kalian, mereka, yang mengaku telah lama nge-blog.


Cheers.

5 Alasan Kenapa Podcast Adalah Masa Depan Konten

0

Dalam kesempatan ngobrol di salah satu episode podcast Inspigo belum lama ini saya ditanya apakah audio khususnya podcast punya masa depan? Mantap saya jawab: YA! Walaupun secara guyon saya bilang, begitu juga dengan visual, begitu juga dengan tulisan. Ya, saya yakin setiap medium akan tetap punya masa depan, tergantung pada apakah kita mau untuk terus mengembangkannya.

Podcast sendiri bisa dibilang cukup tertinggal dalam perkembangannya, namun bukan berarti tidak berkembang apalagi tidak punya masa depan. Berikut adalah 5 alasan mengapa podcast sangat punya masa depan di Indonesia:

1. Semua Orang Bisa Bicara, Tidak Semua Bisa (dan Suka) Tampil

“Mau jadi Youtuber, Pak!” kata seorang anak kepada Presiden Jokowi ketika ditanya apa cita-citanya. Meski Pakdhe Jokowi dan orang-orang yang hadir dibuat terkekeh-kekeh mendengarnya, tapi itulah kenyataan yang terjadi. You Tube sekarang memang sedang jadi fenomena.

Masalahnya, tidak semua orang bisa atau suka tampil di depan kamera, tapi rasanya nyaris semua orang bisa bicara. Hal yang sama juga berlaku untuk medium tulisan. Tidak semua orang bisa mengungkapkan pikirannya lewat tulisan, tapi rasanya nyaris semua orang bisa mengungkapnya lewat kata-kata.

Bukan kebetulan pula bahwa ada sejumlah Youtuber di Indonesia yang kini juga memiliki channel podcast. Bisa jadi juga karena proses produksinya yang jauh lebih mudah ketimbang memproduksi video.

2. Akrab dan Personal

Medium paling akrab dengan kita itu adalah audio karena manusia kebanyakan berkomunikasi dengan berbicara dan mendengar.

Medium audio menjadi terasa lebih personal lagi ketika semakin banyak orang yang mendengarkan podcast dengan menggunakan headphone. Ini membuat seolah pesan yang disampaikan lewat audio itu ditujukan kepada kita pribadi, seolah bicara hanya dengan kita.

Yang menggembirakan, maraknya kemunculan podcast di Indonesia belakangan ini rata-rata memanfaatkan kelebihan ini. Pakem podcast yang awalnya tidak jauh dari gaya produksi radio show, kini banyak berubah menjadi layaknya sebuah acara obrolan biasa. Tidak sedikit podcaster yang sudah membuktikan kelebihan ini dilihat dari jumlah pendengar yang sangat tinggi.

Sepertinya orang memang butuh hiburan dan informasi, tapi mereka lebih butuh teman. 😊

3. “Gambarnya” Lebih Keren

Radio is the theater of the mind; television is the theater of the mindless,” begitu kata Steve Allen, seorang penyiar terkenal Amerika era 60-70 an. Konon Allen adalah orang yang pertama kali memperkenalkan istilah yang kemudian sangat akrab di kalangan orang radio, yaitu: “Theatre of Mind.” Ini adalah istilah yang mengacu pada kemampuan manusia memunculkan gambaran yang jelas di kepala hanya lewat suara, lewat kata-kata.

Lebih dari sekedar teori, sebenarnya ini sudah kita praktikkan sehari-hari. Tidak jarang mendengarkan orang cerita tentang sebuah makanan yang lezat, misalnya, akan lebih menggoda ketimbang melihat gambarnya, karena imajinasi kita jauh lebih canggih daripada kamera paling canggih manapun.

 

4. Bisa Disambi, Tidak Suka Ngatur

Masih adakah diantara kita yang bisa dan mau diatur untuk mengkonsumsi media pada waktu-waktu tertentu? Selamat kalau masih ada. Saat ini orang semakin sibuk dan pilihan media semakin beragam, sehingga media makin kesulitan menarik perhatian orang untuk mengkonsumsi di jam-jam tertentu. Maka hadirlah media yang bersifat on-demand, bisa dikonsumsi kapan saja.

Ya, kelebihan utama podcast adalah kemampuannya untuk dikonsumsi sambil mengerjakan hal lain. Kelebihan tersebut tidak ada di medium lain dan itu disadari betul oleh para podcaster dan para pendengar podcast di Indonesia. Fakta ini juga ditunjang oleh survei terbaru Daily Social di Indonesia yang menyebutkan bahwa hampir 60% responden menyukai podcast karena sifatnya yang fleksibel (on-demand).

5.Teknologi dan Masa Depan

Gambaran masa depan medium podcast sebenarnya sudah bisa terlihat dari berbagai teknologi media yang semakin mengakomodir fitur audio terutama di ponsel, benda yang saat ini sudah tidak terpisahkan dengan kita. Ini hanya beberapa diantaranya

  • Facebook Live Audio: Di penghujung 2017 Facebook memperkenalkan layanan yang disebut Live Audio yang tidak lain adalah fitur Facebook Live yang sudah lama ada tapi dengan meniadakan unsur videonya. Dalam pernyataannya Facebook mengakui orang seringkali mendengar audio sambil melakukan hal lain karenanya fitur itu mereka buat.
  • Spotify Podcast: Spotify sebagai aplikasi streaming musik yang sangat populer juga telah memperkenalkan fitur distribusi podcast dan kesempatan itu langsung disambar oleh berbagai podcaster. Survei terbaru dari Daily Social misalnya mengungkap lebih dari 50 persen responden di Indonesia mendengarkan podcast lewat Spotify. Di Indonesia maraknya kemunculan berbagai macam podcast di Spotify tidak bisa dilepaskan dari aplikasi podcast bernama Anchor.
  • AnchorAwal tahun 2016 muncul Anchor, aplikasi podcast yang sangat pantas disebut revolusioner karena memiliki fitur lengkap. Hanya dengan memasang aplikasi ini di ponsel, kita sudah bisa merekam, mengedit, memasukkan musik dan efek termasuk juga merekam obrolan jarak jauh. Sesuatu yang mungkin 5-10 tahun lalu hanya bisa dilakukan di studio rekaman. Bahkan yang lebih menarik lagi adalah Anchor secara otomatis menyebarkan podcast kita ke berbagai layanan distribusi terkenal seperti Apple Podcast, Google Podcast, Castbox, dan Spotify. Mereka yang sudah lama di dunia podcasting pastinya akan sangat mengapresiasi fitur ini karena tahu betapa repotnya masuk ke berbagai jalur distribusi podcast yang ada. Mereka harus melakukan registrasi satu persatu dan tidak jarang harus membayar. Hebatnya, semua layanan super lengkap Anchor ini disodorkan secara gratis! Salah satunya berkat suntikan dana 10 juta dolar dari Google Venture.
  • Hey Google!, Siri, Cortana, Alexa dan kawan-kawan: Meski belum populer di Indonesia, namun kini semakin banyak fitur teknologi yang mengandalkan perintah suara. Fitur ini menjadi pelengkap bagi maraknya perkembangan podcast. Bayangkan di tengah kemacetan kita memerintah Siri atau Google Voice untuk memutar acara podcast tertentu. Tunggu.. Jangan dibayangkan. Langsung dicoba saja karena fitur ini sudah ada di nyaris semua ponsel pintar di tangan-tangan Anda itu.
  • “Studio” Rekaman di Genggaman Tangan (update 24/10): Ada satu teknologi penting di dalam kebanyakan ponsel pintar saat ini yang sedianya diperuntukkan bagi kenyamanan bertelepon tapi tanpa disadari bermanfaat untuk podcasting. Teknologi itu disebut Noise Cancelling Microphone yang intinya mengurangi -kalau tidak bisa disebut menghilangkan- suara latar agar suara penelepon jelas terdengar walau di tengah keramaian sekalipun. Teknologi ini menjadi penting ketika dipadu oleh beragam aplikasi perekam suara yang sudah banyak beredar sehingga kualitas rekaman suara di ponsel menjadi semakin bagus. Banyak podcaster Indonesia yang muncul belakangan ini merekam dengan ponsel mereka dengan kualitas yang bagus. Memang kalau mau kualitas yang super “cring”, idealnya menggunakan studio rekaman dengan mikrofon professional. Sama halnya dengan membuat foto yang bagus idealnya dilakukan dengan kamera DSLR. Toh yang penting kualitasnya.

Apa Dampak Perkembangan Podcast Bagi Para Marketer

Beberapa teman di agency dan juga beberapa praktisi marketing pernah menanyakan hal seperti ini: “Oke, podcast is the future. Terus apa untungnya buat para marketer? Bagaimana kita bisa memanfaatkannya?”

Ini perlu artikel terpisah sih untuk membahasnya (Hmm.. good idea hehe). Tapi sebenarnya dari 5 poin tadi saja sudah banyak hal yang bisa diantisipasi.

Bisa saja kita langsung bereaksi cepat dengan memasang iklan di podcast-podcast populer, seperti layaknya memasang iklan di radio. Bahkan lebih bagus lagi, tidak seperti memasang iklan di radio yang sekali lewat, iklan di podcast akan terus ada secara permanen selama episode podcast itu tersedia di internet. Karena itu tentu pendekatannya harus berbeda dengan radio.

Di Amerika Serikat, beriklan di podcast sudah umum dilakukan, mulai dari pemasangan spot 15-60 detik, adlib atau penyebutan brand, hingga pemberian kode-kode diskon seperti yang belakangan dilakukan brand seperti Squarespace atau Stamp.com di sejumlah podcast populer di Amerika dan terbukti sukses.

Buat saya pribadi kalaupun ada satu kelebihan podcast yang paling layak dimanfaatkan oleh para marketer adalah sifat personal dari podcast. Cocok buat brand yang aktif main dengan gaya subtle marketing 😊

Satu hal pasti: podcast perlahan tapi pasti mulai populer di Indonesia. Survey Daily Socialyang tadi saya kutip beberapa kali menyebutkan hampir 70 persen dari lebih 2000 responden mereka di Indonesia mendengarkan podcast dan kebanyakan mereka ada di rentang usia generasi millennial yang merupakan pasar paling seksi dan menggiurkan saat ini.

Bangkok, 22 Oktober 2018

Rane.

*Penulis adalah podcaster di http://suarane.org

**Artikel ini pertama kali terbit di LinkedIn tanggal 22 Oktober 2018

5 Workshop Blogging & Social Media


Ketika undangan itu mampir di pesan WA, terutama saat membaca lokasi kegiatan, jantung saya berdegup lebih kencang. Berdegup lebih kencang karena perasaan ini begitu bahagia ketika diajak berbagi informasi dengan orang lain, terutama anak muda, lagi dan lagi. Plus, karena untuk tiba di lokasi itu, saya harus mellintasi Jembatan gantung kuning yang sama, yang pernah bikin jantung saya dan jantung para dinosaurus nyut-nyutan hehe. 

Baca Juga : 5 Yang Unik dari Ende (Bagian 2)

Sabtu, 17 November 2018 kemarin, BEM Fakultas Teknologi Informasi (FTI) Universitas Flores (Uniflor) menyelenggarakan kegiatan sarasehan tentang teknologi informasi. Tiga narasumber yang diundang adalah Wakil Dekan FTI Maria Adelvin Londa, S.Kom., M.T. dengan materi Manfaat Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Dunia PendidikanPerwakilan dari Komunitas SocMed Ende Ihsan Dato, S.Sos., menyampaikan materi tentang Etika Penggunaan Media Sosial dengan slogan "Piki Ne Ote Timba Ne Ate" (berpikir dengan akal dan pertimbangkan dengan hati), dan saya yang menyampaikan materi Literasi Digital.

Cerita tentang kegiatan tersebut akan saya pos lain kesempatan.

Gara-gara kegiatan tersebut, pikiran saya melambung jauh terbang tinggi melayang pada kegiatan serupa yang sudah mulai saya gulati sejak mengenal blog pada tahun 2003. Sejak saya merasakan manfaat nge-blog yang luar biasa dan ingin orang lain juga turut merasakan hal yang sama. Apa pun namanya itu; workshop, seminar, sarasehan, baik tentang blog, media sosial, maupun dunia internet pada umumnya, saya tidak kehilangan semangat untuk ikut serta. Jadi penyelenggara, boleh. Jadi Peserta, boleh. Jadi pemateri pun boleh. Bareng komunitas  maupun solo player *hualah* come on lets go

Dari sekian banyak kegiatan, ijinkan saya mengklasifiksinya menjadi lima (saja) workshop tentang blogging & social media.

Cekidot.

1. Workshop SocMed4SocGood

Workshop yang satu ini terselenggara berkat kerjasama Greeneration Foundation dan US Embassy dengan local partner Komunitas Blogger NTT a.k.a. Flobamora Community. Dua pembicara utamanya waktu itu dari Good News from Indonesia dan Relawan Bung Karno Ende. Tentu pembicara pembuka datang dari US Embassy dan Greeneration Foundation. Cerita lengkapnya silahkan klik tautan ini: SocMed4SocGood.

2. Pelatihan Internet, Blog, Socmed LSM VECO

LSM Veco adalah penyelenggara kegiatan yang satu ini. Waktu itu saya dihubungi oleh mas Antonemus untuk menjadi pematerinya. Why not? Jadi, berangkatlah saya ke Kota Maumere setelah selesai mengantar bantuan untuk korban erupsi Gunung Rokatenda. Memberikan pelatihan tentang internet, blog, dan media sosial untuk bapak-bapak petani sangat menyenangkan. Kegiatannya berlangsung di ruang pertemuan Hotel Silvia, Kota Maumere. Cerita lengkapnya silahkan klik tautan ini: Pelatihan Internet, Blog, SocMed Untuk LSM dan Petani.

Yang ini, solo player.

3. Seminar Remaja dan Internet

Lagi, solo player, saat itu sebagai mahasiswi Fakultas Hukum saya diminta oleh BEM Fakultas Hukum untuk mengisi materi tentang Remaja dan Internet di SMK St. Clements Boawae (Kabupaten Nagekeo). Seru? Sangat! Ceritanya dapat dibaca di tautan ini: Study Tour.

4. Pelatihan Blog, Nobar, dan Diskusi

Akademi Merdeka Ende menggandeng Komunitas Blogger NTT untuk menggelar pelatihan blog, nobar #Linimassa, dan diskusi terbuka. Filem dokumenter Linimassa sangat populer pada masanya, sampai sekarang dooonk, karena benar-benar 'membumi'; mengajak masyarakat untuk berperan aktif dalam melawan hoaks melalui jurnalisme warga dan bagaimana masyarakat dapat memanfaatkan media sosial dengan lebih positif dari sekadar menyerang orang lain. Cerita lengkap silahkan klik tautan ini: Pelatihan Blog, Nobar, dan Diskusi.

5. Blog untuk GMIT

Bersama Flobamora Community, saya memberikan materi tentang blog di Aula Gereja Syalom - Ende. Silahkan baca cerita lengkapnya di tautan ini: Kembali ke Fitrah, Kembali ke Blogsphere.

Karena berbagi tidak pernah merugi.

Apa yang saya peroleh dari semua itu? Persahabatan, semakin luasnya pergaulan, menambah wawasan diri, dan seterusnya, dan sebagainya. Saya dan teman-teman Komunitas Blogger NTT tidak mengejar materi dari kegiatan-kegiatan tersebut. Gratis. Bahkan kalau tidak ada yang meminta kami memberikan materi tentang hal-hal di atas, kami lah yang menawarkannya. Sekali lagi: gratis.

Baca Juga : 5 Kelas Blogging

Kapan tidak gratis? Ketika saya menjadi solo player hahaha. Tapi tidak selamanya sih, tergantung pada penyelenggara saja. Kalau saya sendiri tidak bisa menyebutkan angka. Begitu diminta, tanpa bayaran pun, ayo saja. Tentang angka ini juga sama kalau saya diminta mendokumentasikan kegiatan pemakaman, misalnya, tabu untuk menyebut angka kalau urusannya sama keluarga dari orang yang sudah meninggal dunia. Kalau pernikahan, Teh? Oh itu lumayan bisa buat beli laptop baru hahaha.

Intinya begini, kawan, jangan sampai proses mentransfer ilmu dan informasi terhambat hanya karena Rupiah.

Bagaimana dengan kalian? Bagi tahu donk pengalaman kalian tentang kegiatan workshop, seminar, atau sarasehan tentang internet, blog, dan media sosial. Yuk ...



Cheers.

5 Kelas Blogging


Alasan kenapa dulu mau diajak Kanaz buka Kelas Blogging NTT sudah saya jelaskan panjang lebar. Diantara alasan itu adalah nge-blog untuk melatih dan mengasah kemampuan menulis, serta nge-blog untuk promosi pariwisata Provinsi Nusa Tenggara Timur. Dan ketika melihat kemajuan satuper satu pesertanya, rasanya hepi banget meloncat kegirangan sampai terkapar. Tentu kemajuan peserta Kelas Blogging NTT ini, baik Angkatan I maupun Angkatan II, tidak terlepas dari peran luar biasa para mentor seperti Om Bisot dengan kesabaran tingkat tinggi untuk urusan teknis dan lain sebagainya, Kanaz, dan saya. Ah, saya mah apalah qiqiqiq. Ilmunya tidak seberapa. Dan juga salah seorang mentor lagi yaitu Pak Martin dengan materi Menulis Profil Blogger.


Lalu, saya diminta untuk berbagi pengetahuan tentang blog dan fotografi kepada adik-adik anggota Menwa Uniflor. Why not? Tidak berhenti sampai di situ, saya juga menawarkan kepada Mapala FLOPALA Uniflor for another kelas blogging. Dua kelas blogging ini memadukan WhatsApp Group (WAG) dan tatap muka. Kelas pertama Kelas Blogging FLOPALA sudah dimulai dengan pengenalan blog. Seterusnya belum dilanjutkan karena teman-teman FLOPALA sendiri sedang banyak kegiatan diantaranya turut membantu mengumpulkan dana bersama persatuan komunitas-komunitas yang ada di Kabupaten Ende, untuk membantu para korban musibah kebakaran Kampung Adat Nggela.

Baca Juga : 5 Game Jadul Pembunuh Waktu

Baru-baru ini, Kanaz mengatakan bahwa banyak temannya yang tertarik untuk ikutan kelas blogging. Akhirnya kami pun membuka Kelas Blogging Online; kelas belajar blog di Blogger yang dilakukan melalui WAG dan pesertanya berasal dari seluruh Indonesia. Tak hanya NTT, tak hanya anggota Menwa Uniflor, tak hanya anggota Mapala FLOPALA Uniflor. Pengalaman dari Kelas Blogging NTT menguatkan kami untuk membuka Kelas Blogging Online.


Yang mendaftar membludak, tapi harus kami filter *tsah* untuk orang yang betul-betul baru hendak membikin blog. Terbatas 15 (lima belas) orang saja. Sesuai e-poster di awal pos, kalian pasti tahu apa saja yang ditawarkan oleh para mentor Kelas Blogging Online. Betul-betul basic. Yang di-filter adalah mereka-mereka yang betul-betul belum punya blog dan/atau baru bikin blog di Blogger tapi belum ngapa-ngapain.

Kalau dihitung-hitung, ternyata sudah lima kelas blogging ini. Hyuk kita cek ...

1. Kelas Blogging NTT Angkatan I.
2. Kelas Blogging NTT Angkatan II.
3. Kelas Blogging (dan Fotografi) Menwa.
4. Kelas Blogging FLOPALA.
5. Kelas Blogging Online.

Dan semuanya mengandalkan WAG untuk berlangsungnya kelas-kelas ini.

Dulu, waktu masih menjadi Ketua Komunitas Blogger NTT (Flobamora Communnity), saya dan teman-teman sering berbagi ilmu tentang dunia blog dan internet sehat kepada orang lain baik anggota komunitas-komunitas maupun murid sekolah (SMA). Dulu, harus bikin materi di Power Point, pergi ke lokasi berusaha agar tidak ketiduran, colokin laptop ke infokus, bicara panjang lebar kalau tidak ada microphone leher sampai kejang, dan seterusnya. Tapi berhenti sampai di situ. Tidak ada komunikasi lanjutan seperti pertanyaan "Bagaimana blog-nya?" dan tidak ada kemajuan yang bisa dilihat karena tidak ada satupun yang membagi tautan blog yang baru di-update, misalnya. Tapi sekarang, semuanya menjadi lebih mudah. Hanya melalui WAG, para mentor jadi tahu perkembangan blog masing-masing peserta. This is awesome.

Baca Juga : 5 Pesan Gubernur NTT

Dari lima kelas blogging di atas, untuk Kelas Blogging NTT Angkatan I dan Angkatan II sudah selesai semua materinya. WAG-nya masih berjalan, dan mentor masih siap menjawab pertanyaan dari peserta. Tapi konsistensi nge-blog tidak bisa dipaksa, kembali pada hasrat masing-masing. Sedangkan Kelas Blogging Online baru akan berjalan karena masih dalam tahap seleksi peserta. Beberapa peserta sudah ditambahkan di dalam WAG. Masih menunggu yang lain, karena Senin nanti kita sudah mulai kelas pertama dari Kelas Blogging Online ini.

Doakan sukses ya :)

Karena berbagi tidak pernah merugi.


Cheers.

5 Alasan Kenapa Harus Nge-blog


2003 - 2018, sudah 15 (limabelas) tahun saya nge-blog. Dimulai dari blog yang ini, kemudian pada tahun 2005 memutuskan untuk pindah ke blog yang ini. Sepanjang perjalanan yang cukup panjang itu, sudah banyak pula blog yang terpaksa saya bikin seperti blog foto, blog travel, blog puisi, blog cerpen, blog serial-serial, sampai blog coba-coba yang fungsinya untuk mengetes tema yang bakal dipakai di blog utama. Abaikan blog-blog di atas kecuali yang satu ini, karena banyak yang sudah lama pula tidak diperbarui. Kalau Blogger bisa bicara, mungkin sudah dia kata-katain saya, "Bikin rugi kami saja kau, Teh!"

Baca Juga : 5 Layanan Podcast

Dulu, belum ada istilah niche blog, padahal, haha, tapi saya sudah punya banyak blog ber-niche. Lha, sekarang malah lebih suka nge-blog di sini yang jelas blog campur-aduk, gado-gado, rujak cingur, es teler, sandwich classic, mozarella goreng ... jadi lapar *terus tinggalkan laptop dan pergi mencari makan*.

Begitu banyaknya blog, tentu kalian bertanya, emang apa sih alasan saya nge-blog

Haaaa? Apaaa?

Tidak ada yang bertanya?

*lanjut, pura-pura ada yang tanya*

Berkaitan dengan alasan nge-blog ini, saya pernah menulis tentang 5 Alasan Membuka Kelas Blogging NTT. Di dalam pos itu jelas tertuang perasaan penuh cinta alasan kenapa harus nge-blog. Alasan-alasan itu antara lain:

1. Nge-blog melatih dan mengasah kemampuan menulis.
2. Nge-blog untuk promosi pariwisata NTT.
3. Nge-blog lebih berfaedah ketimbang merusuh di FB.
4. Blog adalah portofolio online.
5. Nge-blog for money.

Baca Juga : 5 Yang Unik Dari Ende (Bagian 1)

Penjelasan dari setiap poin di atas, bisa langsung kalian baca pada pos yang bersangkutan. Soalnya kalau penjelasan setiap poin itu kembali saya tulis di sini, pos ini bakal jauh lebih panjang dari yang diestimasikan (bahasanya, woih!). Percayalah, kalian akan tahu mengapa saya juga bertahan nge-blog sekian lama. Yang terlihat paling signifikan adalah gaya dan pola menulis dari yang hanya sekadar curhat menjadi lebih informatif. Semua butuh proses yang panjang.



Saya jelas tahu apa alasan nge-blog. Terutama, bagi saya, adalah untuk narsis dan agar Ende lebih dikenal. Padahal tidak penting juga sih orang lain tahu aktifitas saya sehari-hari. Hahaha. Kita tidak tahu kan seberapa inspiratifnya tulisan kita bagi orang lain? Siapa tahu tulisan itu sangat bermanfaat untuk mereka. Nah, kalau saya jelas-jelas tahu apa alasan saya nge-blog, bagaimana dengan alasan orang lain? Ini yang penting. Ketika saya sudah tahu alasan saya nge-blog, saya juga butuh tahu alasan orang lain nge-blog. Oleh karena itu, mirip-mirip sama pos yang satu ini, saya mewawancarai 5 (lima) blogger.

Mereka yang saya wawancarai adalah blogger-blogger yang tergabung dalam Kelas Blogging NTT. Mereka belum lama nge-blog dan blog mereka pun baru berumur bulan (kalau manusia, masih belajar bolak-balik di kasur). Tapi semangat mereka mengikuti kelas lewat sebuah WhatsApp Group (WAG) itu yang luar biasa. Mereka hebat! Karena blog mereka baru berumur bulan, masih hangat-hangatnya kan, jadi pas banget kalau diwawancarai.

Apa alasan mereka harus nge-blog?

Cekidot.


"Saya nge-blog itu karena pengen menjadikan blog sebagai diary, mau nulis semua kegiatan ke dalam blog. Supaya selalu ingat cerita-cerita saya. Itu harus, ya." Itu kata Ocha ketika saya bertanya alasannya nge-blog dan mengikuti Kelas Blogging NTT. Boleh dibilang Ocha membuat blog-nya setelah mengikuti kelas pertama Kelas Blogging NTT itu. Lebih hebatnya lagi, semua dia lakukan hanya melalui layar mini Android miliknya. Coba kalian tanya; Ocha lebih suka nge-blog lewat laptop atau smartphone, jawabannya pasti smartphone.


"Menulis, untuk lebih banyak belajar hal baru. Setelah mendapatkan hal yang baru, menulis lagi. Belajar lagi. Menulis lagi. Bayangkan pekerjaan mulia itu akan menghasilkan kecerdasan otak yang luar biasa. Cerdas dan milenial." Rian, seorang putera asal Manggarai - Flores, yang bekerja/menjadi guru di Kupang, memang punya aktivitas yang padat. Namanya juga guru kaaaan. Tapi, di sela-sela aktivitasnya itu, dia masih mau nge-blog dan berbagi cerita dengan pembacanya. Rian mengingatkan saya pada Pak Martin.


"Menceritakan pengalaman pribadi agar pembaca juga mendapatkan referensi yang tepat ketika akan berkunjung ke suatu daerah". Ini dia si anak rantau yang pekerjaannya boleh dibilang sulit sekali untuk bisa membuatnya duduk di depan laptop untuk mengetik. Sama juga, kalaupun menggunakan Android, pasti dia harus berurusan sama pekerjaan. Tapi yang saya salut, dengan penuh semangat dia mengatakan, "Kak, mau belajar juga donk ... nge-blog!"


"Di mana-mana, orang bilang si adik pasti akan meniru apa saja yang dilakukan sama si kakak, dan itu memang benar sekali. Saya nge-blog karena sering melihat si kakak memuat tulisannya di dalam blog. Sebenarnya saya tidak mempunyai bakat untuk menulis sama sekali. Tetapi, saat membaca tulisan-tulisan si kakak, dengan sendirinya saya termotivasi. Akhirnya saya mulai membuat tulisan-tulisan yang meskipun tidak serapi dan sebagus milik orang lain, kemudian saya posting di blog. Memang saat ini saya masih jarang posting tulisan di blog, tapi percayalah nge-blog itu mengasyikkan sekali, apalagi kalau banyak notifikasi yang masuk."


5. Ludger di http://ludgerbudwologai.blogspot.com

"Dasarnya sih saya suka menulis apa saja. Saya buat blog tentang budaya Wologai untuk melestarikan dan juga mewariskan budaya Wologai ke generasi berikutnya. Atau untuk putera/puteri Wologai yang berada di perantauan, biar bisa cerita ke anak cucu mereka tentang Wologai." Ludger adalah salah seorang peserta Angkatan II Kelas Blogging NTT yang saya sebut fast learner. Semangatnya yang tinggi untuk berbagi tentang budaya khususnya budaya Wologai patut diapresiasi.

Alasan kenapa harus nge-blog setiap orang itu berbeda-beda. Seperti yang telah kalian baca alasan 5 (lima) blogger pemula di atas.

Baca Juga : 5 Cara Mengundang Pengunjung Blog

Ocha ingin menjadikan blog seperti diary; kan blog memang awalnya dikenal sebagai diary online. Edwin ingin menceritakan pengalaman-pengalamannya. Rian Seong, seorang guru di Kupang punya filosofi yang dalam tentang nge-blog ini: menulis untuk belajar hal baru, menulis lagi, belajar lagi, begitu seterusnya. Hartina mengikuti jejak si kakak (namanya Tityn) yang sudah lama nge-blog. Sedangkan Ludger karena kecintaannya pada budaya. Nge-blog untuk melestarikan budaya, jadi dia harus melakukannya.




Saya senang membaca alasan kenapa mereka harus nge-blog. Saya harap mereka akan konsisten nge-blog dan berbagi lebih banyak kebaikan dengan orang lain. Menulis, menulis, menulis.


Terbentur, terbentur, terbentur, terbentuk ~ Tan Malaka.

Bagaimana dengan kalian? Yuk share.

Tulisan ini diikutkan pada #C2CreatorContest


Cheers.

Blog It! Pilihan Nge-blog Pakai Smartphone


Sumpah, saya termasuk blogger yang enggan menggunakan smartphone untuk nge-blog. Alasannya? Alasan pertama, nge-blog pakai smartphone itu rempongnya minta ampun. Rempong terkadang bikin darah tinggi, jadi saya harus menghindarinya dari pada nanti smartphone berakhir di lantai. Alasan kedua, Aplikasi Blogger yang diunduh dari Playstore ternyata tidak mampu memenuhi keinginan saya sehingga dua hari setelah diunduh, pada tahun 2013 itu, langsung hapus tanpa kompromi. Sudah bisa dipastikan saya selalu nge-blog menggunakan laptop/komputer. Nge-blog di sini artinya mengutak-atik dashboard (tulis pos, balas komen, cek statistik, ganti tema, dan lain-lain), bukan blogwalking. Kalau sekadar blogwalking sih smartphone sudah lebih dari cukup.


Sampai kemudian, baru-baru ini saya coba menggali lebih dalam informasi tentang nge-blog pakai smartphone gara-gara banyak pertanyaan tentang itu dari peserta Kelas Blogging NTT yang tidak semua nge-blog menggunakan laptop. Saya terdampar pada sebuah blog milik seorang blogger bernama Antung Apriana dengan judul pos: [Review] Aplikasi Blogger Pro untuk Ngeblog. Ternyata Antung Apriana juga sependapat dengan saya soal Aplikasi Blogger yang sangat tidak memuaskan, di luar ekspetasi:  

Di playstore sendiri ada beberapa aplikasi yang bisa digunakan untuk ngeblog. Yang pertama tentu saja aplikasi Blogger yang sayangnya sangat jelek. Lalu ada Blogit!, Blogger Pro dan Blogaway. Keempat aplikasi yang saya sebutkan di atas merupakan aplikasi untuk blog dengan platform Blogspot.

Dari kutipan di atas, kalian sudah langsung tahu bahwa ada beberapa pilihan untuk nge-blog pakai smartphone yaitu BlogIt!, Bloggr Pro dan Blogaway. Tanpa menunggu duit jatuh dari langit, saya langsung mencari BlogIt! di Playstore, mengunduh dan menginstalnya. Jadi kali ini saya hanya bisa bercerita tentang BlogIt! untuk kalian, hehe. Aplikasi lainnya silahkan dicoba sendiri. Ikon BlogIt! dapat dilihat pada gambar di awal pos ini.

Baca Juga : Proyektor Ini Tidak Butuh Layar atau Dinding

Setelah diinstal (ikuti petunjuk termasuk mengijinkan BlogIt! untuk menggunakan file yang ada di smartphone), maka tampilannya seperti berikut ini:



Tampilannya langsung seperti itu (gamblang). BlogPacker adalah nama blog-nya, disusul bagian bawah terdiri dari dua item yaitu Post dan Comments. Artinya BlogIt! memudahkan para penggunanya. Post merupakan tampilan daftar konten blog kita baik yang sudah di-publish, draft, maupun terjadwal. Sedangkan Comments adalah semua komentar dari para pembaca (tanpa menampilkan komentar balasan dari kita), seperti yang bisa dilihat di gambar berikut:




Bagaimanan untuk memulai pos baru? Silahkan klik tanda + pada item Post, sudut kanan bawah. Kalian akan langsung diantar pada form pos seperti pada gambar berikut:


Silahkan isi judul dan isi pos (Post Title dan Write Your Post Here!). Panel pos memang sedikit, seperlunya saja, seperti menebalkan, memiringkan, menggarisbawahi kata/kalimat, ada juga strikethrough, menambah tautan, menambah gambar, serta rata kanan - tengah - kiri (sayang ya tidak ada justify), juga menambah label/tag. Tapi saya pikir, inilah yang paling utama dibutuhkan untuk membuat atau menulis sebuah pos blog. Pada bagian kiri atas ada pilihan untuk mem-publish pos, menyimpannya, dan tiga titik dengan tiga pilihan yaitu Schedule (membuat jadwal pos), Delete (menghapus pos), dan Edit HTML.

Baca Juga : Foto Kreatif Untuk Pos Blog

Awal pos ini sampai satu paragraf saya menggunakan BlogIt!, yang kemudian dilanjutkan dengan laptop. Jadi, saya bisa mengatakan bahwa BlogIt! lumayan kece karena untuk menambahkan gambar, suka-suka saya memilih letak/posisi. Sedangkan waktu pakai Aplikasi Blogger, gambar tidak bisa diatur (selalu di bawah pos). Makanya dua hari saja langsung saya hapus hehe. Tapi kalau ditanya mau pakai BlogIt! atau nge-blog pakai laptop, sekarang saya pikir tergantung situasi. Apabila situasi tidak memungkinkan saya pakai laptop tetapi ide sedang melayang-layang, pasti buka BlogIt! lantas menyimpannya sebagai draft saja. Ide itu nanti bisa diedit saat sedang online menggunakan laptop.

Semakin banyak aplikasi nge-blog pakai smartphone, tentu semakin membantu para blogger memperbarui konten blog mereka. Yaaa pasti lebih semangat kan. 

Nge-blog pakai smartphone ini mungkin akan menjadi salah satu materi Kelas Blogging NTT. Mengingat, peserta sudah sering menanyakannya (dan kami menjawab soal Aplikasi Blogger yang jelek, lebih baik pakai browser saja). Semoga akan lebih banyak peserta yang rajin memperbarui konten. Se-mo-ga!

Baca Juga : Legitnya Xiaomi Redmi 5 Plus

Bagaimana dengan kalian? Lebih suka nge-blog pakai smartphone atau laptop


Cheers.

Angkatan II Kelas Blogging NTT


Setelah Kelas Blogging NTT berjalan, yang perlu saya tulis sebagai Angkatan I, banyak permintaan dari teman-teman lain untuk bergabung. Kami tentu tidak bisa langsung menambahkan mereka ke dalam WAG Kelas Blogging NTT karena kelas sudah berjalan selama lima minggu atau lima kali pertemuan (every Monday, 09.00 pm). Sudah banyak materi yang disampaikan, bertahap, mulai dari bagaimana membuat blog di Blogger, mengenal panel-panel dashboard, ide menulis, kepenulisan, niche blog, hingga terakhir tentang html dan mengganti tema baik tema bawaan Blogger dan tema yang bukan bawaan Blogger.


Karena semakin banyaknya permintaan teman-teman lain untuk mengikuti Kelas Blogging NTT maka kami memutuskan untuk memulai Angkatan II. Setelah melalui japri mereka menyetujui persyaratan untuk menjadi peserta Kelas Blogging NTT, termasuk waktu yaitu setiap Rabu malam, satuper satu peserta ditambahkan ke dalam WAG. Jumlahnya lumayan banyak: duabelas peserta. Itu pun satu pesertanya bakal ditambahkan kemudian karena kekhilafan saya. Iya, saya khilaf ... lupa menambahkannya, padahal dia adalah orang pertama yang daftar untuk Angkatan II. Haha. Untung orangnya tidak mengamuk.

Angkatan I - Senin - 21.00 Wita.
Angkatan II - Rabu - 21.00 Wita.

Kenapa beda hari? Jawabannya pasti kalian juga tahu. Karena kalau pada hari yang sama, kasihan mentornya, dan kasihan pesertanya (mungkin) bakal jengkel banget. Sedangkan waktunya kenapa harus jam sembilan malam? Perkiraan kami jam segitu orang-orang sudah tiba di rumah dari berbagai kegiatan di luar, sudah mandi, sudah lumayan santai, dan tentu bisa belajar dengan tenang.


Beberapa peserta Angkatan II sudah dapat dilihat blog-nya, sedangkan yang lainnya lagi malam itu masih terkendala dengan koneksi dan perangkat yang, ternyata, erorejing. Oh la la. Tapi tidak mengapa, buktinya satu dua hari setelah Rabu kemarin, ada yang mulai menyetor alamat blog. Mau berkenalan dengan mereka? Angkatan I maupun Angkatan II? Cek blog mereka berikut ini:

http://tinhartina.blogspot.com (Twitter @Hartinaaa_)
http://page-ummu.blogspot.com (Ummu)
http://hanashidik.blogspot.com (Hanna Sidiq)
http://kodim1602ende.blogspot.com (Bang Agung)
http://aram-smile.blogspot.com (Twitter @ISMAILHARUN203)
http://ludgerbudwologai.blogspot.com (Ludger)

Katanya ada duabelas peserta Angkatan II? Kenapa baru enam blog yang jadi? Sabar, kawan. Namanya juga melalui WAG, prosesnya tidak sekilat kelas tatap muka. Hehe. Tatap muka pun kalau tidak kontinyu tidak bisa bertahan lama blog-nya. Saya pernah diminta menjadi mentor untuk dosen-dosen muda PBSI - Uniflor, juga oleh BEM Uniflor, namun blog-nya mungkin sudah mereka lupakan. Karena tidak kontinyu atau tidak ada yang terus memberi semangat. Bedanya dengan WAG Kelas Blogging NTT, setiap hari kami saling memberi semangat, memberi masukan ini itu, sehingga silaturahmi karib terjalin dan peserta selalu bisa mengingat bahwa mereka mempunyai blog yang harus dikelola. Jika ingin maju.


Yang seperti itulah yang, menurut saya, harus dilakukan. Ketimbang sekali tatap muka - semua langsung punya blog - tapi kemudian terlupakan. Kalau begini kan enak, antara peserta dan mentor berada dalam satu grup dan bisa berinteraksi setiap hari. Lagi pula Om Bisot dan Kak Anazkia siap menjawab pertanyaan kapan pun saat ada peserta yang merasa kesulitan.

Mentor Kelas Blogging NTT patut saya apresiasi dengan sepuluh jempol. Setelah Om Bisot dan Kanaz, sekarang kami punya satu mentor lagi yang bakal menyiapkan materi tentang kepenulisan. Karena beliau adalah guru Bahasa Indonesia. Keren kan? Dia adalah pak guru atau Pak Martin! Terima kasih Pak Martin sudah bersedia menjadi mentor Kelas Blogging NTT. Kepenulisan itu penting meskipun blog lebih mengacu pada bahasa tutur/sehari-hari, bukan bahasa baku. Karena di pasar tidak ditulis dipasar kan?


Jadi demikan sodara-sodara ... senang sekali menulis ini. Semoga semakin banyak orang yang nge-blog dan merasakan manfaatnya ... kelak.

Bagaimana dengan kalian?


Cheers.

Kemajuan Peserta Kelas Blogging NTT


Selamat pagi semua :)

Hari ini ngepos pagi-pagi. Tumben. Memang. Tapi kebetulan bangunnya  lumayan pagi jadi masih sempat menulis yang satu ini yaitu tentang kemajuan peserta Kelas Blogging NTT. Hari ini, kelas yang berlangsung lewat sebuah WhatsApp Group (WAG) memasuki kelas kelima. Artinya sudah empat minggu kelas berjalan. Cukup lama bukan? Rentang waktu belajar tidak bisa selalu berbanding lurus dengan penyerapan ilmu. Mana pula belajarnya hanya seminggu sekali. Tapi, proses menuju ke depan alias maju sudah pasti terjadi. Dan kemajuan itu yang akan saya tulis hari ini. Perasaan resmi sekali menulis ini, haha.

Baca Juga:

Saya tidak bisa menilai atau menyatakan bahwa Kelas Blogging NTT mengakomodir semua penduduk NTT karena komunitas blogger sekelas Flobamora Community saja belum tentu mampu. Untuk Angkatan Pertama pesertanya dua belas orang saja. Itu pun tidak semua orang NTT karena masih ada Haqi asal Cilegon, dan yang betul-betul mengikuti kelas setiap minggunya hanya segelintir seperti Rian, Ocha, Thika, Novi, Edwin, dan Deni. Kadang-kadang Sony, Ibu Annissa, dan Haqi bergabung. Sedangkan mentornya masih Kak Anazkia, Om Bisot, dan saya. Apabila ada yang ingin bergabung menjadi mentor, diterima dengan senang hati.

Kelas ini ditujukan semula untuk teman-teman yang sama sekali tidak tahu tentang blog (from zero, Insha Allah, to hero), teman-teman yang sudah nge-blog tapi ingin tahu lebih dalam tentang seluk-beluk dunia per-blogger-an, dan teman-teman yang ingin berbagi pengalaman nge-blog. Bagi yang sudah nge-blog, mengikuti kelas sejak kelas pertama pasti membosankan. Bagaimana tidak bosan? Materi yang diberikan itu sudah mereka lakukan (kan sudah punya blog). Tapi di sini lah hebatnya Orang Indonesia. Toleransi harus dijunjung tinggi. Mereka bertahan mengikuti kelas dari minggu ke minggu tanpa protes.

Bagi saya, proses yang telah dilalui selama satu bulan terakhir ini benar-benar telah menunjukkan kemajuan yang membanggakan. Terutama dilihat dari sisi si awam menjadi blogger. Bayangkan saja, Ocha yang tidak terlalu peduli sama dunia tulis-menulis apalagi dunia blog seketika menjadi seorang blogger hanya melalui kelas di WAG. Itu seperti loncatan quantum (oh semoga Antman kelak dapat menyelamatkan superhero yang tewas dalam Infinity War, haha). Makanya saya tulis di atas from zero, Insha Allah, to hero. Dari buta knob (istilah Orang Ende) menjadi terang tidak buta lagi.

Lantas, apa saja kemajuan yang telah dicapai oleh para peserta Kelas Blogging NTT? Mari kita simak.

1. Membikin akun Gmail.
2. Membikin blog di Blogger.
3. Membuat tulisan/pos blog.
4. Mengenal dashboard.
5. Tata cara menggunggah foto/video.
6. Membuat halaman.
7. Mengelola komentar.
8. Mengelola side bar.
9. Menulis Kreatif (Blog).

Untuk materi Menulis Kreatif (Blog) terbagi dalam empat sub yaitu: niche blog, ide menulis, gaya menulis, dan kepenulisan. Belum masuk ke advance sih. Diperkirakan sekitar sepuluh kelas baru dibuka Angkatan Kedua.

Bagi kalian yang sudah lama nge-blog, pencapaian itu mungkin biasa-biasa saja. Tapi bagi kami yang menjadi mentor jarak jauh dengan kelas melalui WAG, itu adalah kemajuan yang luar biasa. Dari setiap materi/pelajaran mereka wajib menyetor tautan blog/pos agar kami tahu bahwa mereka paham. Selalu ada PR dengan reward-reward kecil yang kami berikan untuk para peserta. Semoga ini dapat menjadi motivasi bagi mereka lebih rajin mengelola blog.

Belajar blog memang susah-susah gampang, gampang-gampang susah. Oleh karena itu saya sendiri mengajak peserta Kelas Blogging NTT yang tinggal di Ende, apabila mengalami kesulitan, silahkan datang langsung ke rumah dan belajar bersama. Sejauh ini, ada saja peserta yang datang (Senin malam); melihat materi di WAG dan mempraktekkan langsung materi yang disampaikan. Suasananya juga jadi lebih cihuy begitu hehe. Ada perasaan bahagia melihat teman-teman serius menatap layar laptop atau layar smartphone.

***

Suka bergaul dan/atau bertemu orang baru membikin saya selalu bergairah bergabung dengan komunitas blogger. Bergabung dengan Blogger Family (Blogfam) pada tahun 2003 menghasilkan julukan 'kutu loncat' akibat seringnya saya merusuh di komentar blog atau di shoutbox (Doneeh sangat kesohor kala itu). Gara-gara Blogfam, saya dan tiga blogger lainnya lantas mendirikan Komunitas Blogger NTT yang dikenal dengan nama Flobamora Community. Dari situ, saya mengenal lebih banyak blogger melalui beragam event dan komunitas (lainnya), seperti bergabung dengan Kumpulan Emak Blogger, sempat mengikuti Asean Blogger Community dalam konferensi perdananya di Bali, Blogger Nusantara, membikin saya begitu bersemangatnya ketika Kelas Blogging NTT dimulai dan berjalan sampai saat ini.

Semoga semangat ini tetap ada.

Semoga selalu bisa bermanfaat.


Cheers.

250 Blog Untuk Desa di Flores Timur


Saya belum mengenalnya lebih dekat. Kami hanya berkenalan lewat media sosial Facebook dan membaca tulisannya di blog masing-masing. Nama Facebook-nya Simpet Soge. Nama blog pribadinya Simpet Adonara. Itu memang bukan nama akta kelahiran atau KTP tetapi ada satu hal yang pasti pada nama itu yaitu Adonara, sebuah pulau di depan Pelabuhan Larantuka, pulau eksotik yang pernah saya jelajahi dari ujung Barat ke ujung Timor menggunakan pick up.

Baca Juga:

Adalah biasa kami kadang saling membalas komentar di Facebook dari status masing-masing dan saya bertanya tentang blog-nya yang belum ada pos baru. Kemudian saya kaget membaca komentarnya yang dapat kalian lihat pada awal pos ini: ini lagi sibuk bikin blog desa untuk Flotim, ada 250 blog desa yang sudah dibuat, sedang progres posting nih. DUA RATUS LIMA PULUH BLOG UNTUK DESA-DESA YANG ADA DI FLORES TIMUR.

Sengaja caps lock. Sengaja!

Flotim (Flores Timur), kabupaten terujung Timur Pulau Flores, yang terkenal dengan perayaan Semana Santa (Paskah), yang tekenal dengan jagung titi, yang terkenal dengan dua pulau di depan Pelabuhan Larantukanya: Pulau Adonara dan Pulau Solor. Kalian sudah pernah ke sana? Kalau belum, pergi lah ke sana dan nikmati semua keindahan Flores Timur.

Kembali ke Simpet Soge.

Melalui layanan obrolan Facebook saya jadi tahu bahwa 250 blog itu idenya sederhana; hanya meminta ijin repost konten teks maupun foto dari medsos tentang desa-desa yang ada di Flores Timur. Juga nanti mereka akan mengajak teman-teman untuk bergabung mengisi kontennya. Untuk sementara, sedang pos informasi-informasi dasar tentang desa yang bersangkutan saja dulu, untuk konten foto dan teks nanti menyusul. Yang jelas, blog dari seluruh desa di Flores Timur sudah dibuat dengan semangat 45. Boleh saya curi semangat 45-nya?

Dari itu, muncul lah status ini di akun Facebook saya:

Nama FB-nya Simpet Soge sedangkan nama blognya Simpet Adonara. Simpet, bukan Sampeth 😂 Saya suka tulisan di blog-nya tentang Adonara. Lama tidak update blog, ternyata dia sedang bikin blog desa, sebanyak 250 blog desa! Maaakkk! Luar biasaaaa! Dan sekarang sedang dalam proses posting-posting. Bangga melihatnya. Bangga dan senang! Ini salah satu cara promosi daerah gratis, cara mengajar / mengajak menulis, cara yang sederhana membangun daerah.

Jadi ingat dalam filem Linimassa ada desa internet, ada juga desa yang menggunakan website untuk informasi perkembangan petani, panen, harga hasil panen, dan lain sebagainya. Saya jadi ingat pernah mengisi materi blog untuk bapak-bapak petani di Hotel Silvia Maumere gara-gara Bang @Antonemus.

Keren kan, Om Bisot?

Jika kalian mengeluh ini itu hanya karena tidak bisa FBan, atau komplain tentang hidup kalian di media sosial, maka lihatlah Om Simpet dengan 250 blog untuk desa-desa di sana! Salut maksimal! Apabila penduduk desa bisa ngeblog, mereka seribu langkah lebih maju!

Yang di Hotel Silvia Maumere, dari status di atas, saya mengajar para petani Se-Flores-Lembata yang berada di bawah naungan VECO untuk membuat akun e-mail di Gmail, membuat blog, dan membuat akun sosial media seperti Twitter dan Facebook.

Bahwa sekarang blog-blog desa itu masih memuat informasi dasar, tidak masalah. Yang penting adalah semangatnya yang inspiratif. Karena, dengan sendirinya nanti anak-anak di setiap desa dan kecamatan dapat membantu mengisi konten. Kembali lagi ke persoalan menulis untuk dibaca banyak orang kan? Ih saya jadi gemas hehehe. Salah satu blog desa yang bisa kalian lihat adalah blog desa Watobaya. Kontennya sudah lumayan banyak dan dikelola dengan sangat baik oleh Simpet. 

Yang menyenangkan dari 250 blog desa dari Kabupaten Flores Timur ini adalah setiap blog bisa saling terkoneksi. Ini kan motivasi, menurut saya. Ketika 'yang pegang' atau pengelola (setelah/selain Simpet) blog desa A melihat pos blog desa B lebih baik, dia akan berusaha untuk lebih baik juga. Dan jelas, tujuan utama mereka saat ini adalah bagaimana desa mereka dikenal dengan segala macam kegiatan serta permasalahan yang ada. Tahu langsung dari sumbernya itu jauh lebih baik.

Mereka belum memikirkan tentang pengunjung.
Mereka belum memikirkan tentang monetize.
Mereka bahkan tidak terpikirkan tentang review produk.

Yang mereka tahu adalah membangun desa / daerah mereka, salah satunya lewat blog.

Lagi; apabila penduduk desa bisa nge-blog (sedangkan penduduk kota sibuk di media sosial nyetatus ini-itu tentang hal-hal yang mungkin mereka sendiri tidak paham), maka penduduk desa seribu langkah lebih maju. Ini pendapat pribadi saya, kalau kalian tidak setuju, bikin opini kalian sendiri dan tulis di blog. Haha.

Impian saya untuk memasyarakatkan blog di tahun 2003-an, kerja keras mengajak orang lain nge-blog, dari satu workshop ke workshop lain, kelimpungan cari proyektor agar kegiatan belajar nge-blog lebih asyik, membujuk orang-orang untuk hadir, bikin materi dan tutorial, ngomong sampai mulut berbusa ... memang pelan-pelan telah terwujud. Dan kini, Simpet Soge mewujudkan, mungkin, mimpinya, di ujung Timur Pulau Flores sana, di Kabupaten Flores Timur.

Bangga dan salut.


Cheers.

5 Cara Mengundang Pengunjung Blog



Dalam Kelas Blogging NTT, sebagai penambah materi, saya sering menulis di grup WA tersebut tentang kekayaan konten dan blogwalking. Apabila kalian ingin blog kalian dikunjungi, maka jadilah pengunjung blog orang lain terlebih dahulu. Apabila blog kalian sudah dikunjungi dan dikomentari, lakukan kunjungan balik ke blog si pengunjung! Karena, hei, kita bukan artis yang kehidupannya setiap saat di-kepo-in penggemar. Kata orang: emang lu sapeeee, hah? Hehehe.

Baca Juga:


Awalnya blog memang hanya sekadar menjadi diary online, tempat blogger mencurahkan keluh-kesahnya atau menceritakan aktifitas sehari-hari. Pada blog lama saya, kalian akan membaca aktifitas berebutan tempat wudhu setiap Adzan Maghrib. Hehe. Blog menjadi tempat para blogger berbagi pengalaman. Tentu, setiap blogger mengharapkan blog-nya dikunjungi oleh banyak orang, terutama blogger yang telah me-monetize blog-nya tersebut.

Karena, kalau hanya ingin menulis tanpa dibaca dan diapresiasi oleh orang lain, beli buku diary tema Frozen - tulis - simpan di lemari.

Bagi yang blog-nya sudah di monetize seperti Google Adsense, misalnya, pasti tahu bahwa pengunjung blog merupakan salah satu kunci untuk mengalirkan Rupiah ke pundi-pundi yang sudah disiapkan. Perhitungan dari sekian banyak pengunjung blog, pasti ada satu atau dua yang meng-klik iklan dari Google Adsense tersebut untuk Rupiah yang lebih besar. Kesempatannya juga sama jika bermain afiliasi atau menjadi influencer.

Tapi bagaimana agar blog kita dikunjungi orang lain? Berikut saya coba merangkum lima cara mengundang pengunjung blog. Cekidoooot!

1. Konten Orisinil

Apalah artinya sebuah blog tanpa konten? Apalah artinya jika kontennya semata-mata mengkopi-paste bulat-bulat artikel dari situs lain? Bikinlah konten kalian sendiri dan paling baik dari pengalaman kalian sendiri. Percayalah, konten dari situs-situs ternama rata-rata sama, tapi konten dari blog pribadi itu unik karena menceritakan pengalaman personal dari si pemilik blog. Dan tentu saja tidak asal-asalan, asal jadi satu pos, begitu saja.

Contohnya:
Pengalaman mendaki Rinjani.
Pengalaman menjahit totebag pertama kali.
Pengalaman mengajar.
Pengalaman menjadi influencer.
Pengalaman menjadi EO.
Pengalaman berkebun.
Pengalaman nge-craft.
Pengalaman mengedit video.
Pengalaman fotografi.
Pengalaman merantau/bekerja di tanah orang.
Pengalaman memasak.

Dan lain sebagainya. See? Banyak kan yang bisa kalian tulis dan menjadikannya konten blog? Ingat, konten yang orisinil jauh lebih 'mahal' nilainya ketimbang kopi paste sana sini. Apakah kopi paste tidak boleh? Boleh, asalkan tulis sumber artikel tersebut. Itu jauh lebih terhormat.

2. Memperbanyak Konten

Katanya konten yang sedikit belum tentu bikin orang tidak mengunjungi blog kita. Betulkah demikian? Menurut saya, konten yang banyak bakal bikin arus pengunjung blog lebih meningkat dari hari ke hari. Minimal dua sampai tiga konten per minggu. Karena, ketika orang datang ke blog kita dan belum menemukan konten baru, ada kemungkinan dia akan absen selama satu dua minggu. Kecuali kalian melakukan interaksi yang intens melalui komentar (akan dibahas pada poin ketiga di bawah).

Bagaimana caranya memperbanyak konten, apalagi yang orisinil? Mudah!

Ambil contoh teman-teman dari EndeTV yang datang ke rumah untuk meminta bantuan saya menulis narasi perjalanan dan liputan mereka ke Kecamatan Maurole. Pada pertemuan itu, saya menyarankan pada Alan, Udin, dan David Mozzar tentang pemecahan materi.

"Dari perjalanan ke Maurole, kalian bisa bikin tiga video untuk EndeTV. Sesuai temanya. Pertama video tentang pariwisatanya. Kedua tentang kearifan lokal dan para pengrajin. Ketiga tentang pendidikan. Tinggal nanti melihat mata acaranya ..."

Jujur, para pejalan itu paling mudah bikin konten blog karena mereka bisa memecah cerita perjalanan itu menjadi tiga bahkan lima konten berbeda. Ada contohnya, Teh? Ada donk. Hehe. 

Contoh: perjalanan saya dan teman-teman ke Danau Kelimutu. 

Perjalanan itu dapat menjadi tiga tulisan berjudul:

1. Danau Kelimutu dari Masa ke Masa.
2. Sensasi Mengunjungi Arboterum di TNK.
3. Kisa Para Penjaja Kopi Panas di Tugu Danau Kelimutu.

Bahkan, bisa saya tambah:
4. Waturaka, Desa Agrowisata Entrance Menuju Danau Kelimutu.
5. Beni, Penjual Bensin Eceran Penyelamat Perjalanan.
6. Trekking ke Puncak Kelimutu Lewat Jalur Alternatif.

Dan lain sebagainya he he he.

Kalau kalian bukan tipe pejalan? Mudah! Bukankan dari poin nomor satu di atas sudah saya tulis tentang contoh konten blog? Bahkan aktifitas memasak pun bisa dipecah menjadi beberapa judul, seperti:
1. Resep Cumi Kuah Hitam.
2. Manfaat Tinta Cumi.
3. Kandungan Nutrisi dalam Cumi.
Mudah :)

3. Blogwalking


Di awal pos saya sudah menulis tentang blogwalking ini. Ingin mengundang pengunjung blog, berikan umpan terlebih dahulu dengan cara menjadi pengunjung blog orang lain. Kalau saya Jenifer Lopez, tentu saya tidak perlu repot mengunjungi blog orang lain karena toh penggemar sudah pasti bakal senang membaca semua tulisan kegiatan saya di blog tanpa diundang. Kebanyakan, kita enggan mengunjungi blog orang lain, tapi berharap blog kita banyak pengunjung.
Paling parah adalah saya, pada jaman dulu, karena pernah merasa sudah lama nge-blog, jadi malas mengunjungi blog orang lain. Ngerasa seniioooor. Senior gundulmu, Teh! Hasilnya? Trafik pengunjung blog saya turun drastis. Alasan lainnya selain tidak blogwalking adalah konten pada blog jaman dulu itu sangat tidak berfaedah hahaha.
Ingat, blogwalking itu: tidak hanya kunjung tapi juga memberi komentar. 

4. Promosi Blog

Mempromosikan blog itu wajib. Banyak media, GRATIS, yang bisa kalian gunakan untuk mempromosikan blog sendiri. Media tersebut adalah media sosial, aplikasi chatting, dan forum. Media sosial yang paling sering saya gunakan untuk mempromosikan blog adalah Twitter dan Facebook. Baru-baru ini gara-gara Idris dari Ngayap[Dot]Com saya juga mempromosikan blog di Instagram.

Selain itu saya menggunakan aplikasi chatting yaitu WhatsApp (WA) untuk promosi blog. Semakin banyak grup, semakin baik, hahaha. Kalau forum sih karena Forum Blogfam sudah tidak tahu alamatnya jadi tidak pernah promosi di forum lagi.

5. Menggunakan Hotspot Pribadi

Silahkan baca pos saya yang satu ini.

Jadi begini, mengaktifkan hotspot pribadi dengan nama hotspot yang merujuk pada blog atau situs kita, akan membantu menambah pengunjung blog. Dengan sendirinya itu akan terjadi karena orang-orang bakal penasaran. Apalagi jika kalian ikutan pesta / resepsi pernikahan begitu, hidupkan saja hotspot pribadi yang tentunya harus di-password. Percayalah, semakin ke sini, orang-orang ke pesta hanya sekadar hadir, tapi pikiran dan tangan mereka ada di smartphone.

Mengaktifkan hotspot pribadi di tempat umum (password pasti) dengan nama hotspot merujuk pada blog atau situs bakal bermanfaat untuk meningkatkan pengunjung blog. Efektif atau tidak, bukan masalah, yang jelas pasti ada yang penasaran, terkhusus anak-anak pengguna smartphone yang selalu mencari wi-fi gratis di mana pun mereka berada.

Untuk hotspot pribadi dengan nama hotspot merujuk pada blog atau situs, bukan ide saya, saya membacanya dari pos seorang anggota Kumpulan Emak Blogger di grup Facebook. Nah, saya lupa nama emaknya. Nanti kalau sudah ketemu nama si emak saya bakal perbarui pos ini.

***

Ternyata tidak hanya Roma saja yang dapat dicapai melalui banyak jalan, mengundang pengunjung blog juga dapat dilakukan dengan banyak cara. Tergantung cara mana yang mau kita pakai. Mau pakai semuanya justru lebih bagus lagi kan? He he he.

Semoga pos ini bermanfaat dan bakal lebih erat tali silaturahmi antara kita, yess.


Cheers.