5 Kelas Blogging


Alasan kenapa dulu mau diajak Kanaz buka Kelas Blogging NTT sudah saya jelaskan panjang lebar. Diantara alasan itu adalah nge-blog untuk melatih dan mengasah kemampuan menulis, serta nge-blog untuk promosi pariwisata Provinsi Nusa Tenggara Timur. Dan ketika melihat kemajuan satuper satu pesertanya, rasanya hepi banget meloncat kegirangan sampai terkapar. Tentu kemajuan peserta Kelas Blogging NTT ini, baik Angkatan I maupun Angkatan II, tidak terlepas dari peran luar biasa para mentor seperti Om Bisot dengan kesabaran tingkat tinggi untuk urusan teknis dan lain sebagainya, Kanaz, dan saya. Ah, saya mah apalah qiqiqiq. Ilmunya tidak seberapa. Dan juga salah seorang mentor lagi yaitu Pak Martin dengan materi Menulis Profil Blogger.


Lalu, saya diminta untuk berbagi pengetahuan tentang blog dan fotografi kepada adik-adik anggota Menwa Uniflor. Why not? Tidak berhenti sampai di situ, saya juga menawarkan kepada Mapala FLOPALA Uniflor for another kelas blogging. Dua kelas blogging ini memadukan WhatsApp Group (WAG) dan tatap muka. Kelas pertama Kelas Blogging FLOPALA sudah dimulai dengan pengenalan blog. Seterusnya belum dilanjutkan karena teman-teman FLOPALA sendiri sedang banyak kegiatan diantaranya turut membantu mengumpulkan dana bersama persatuan komunitas-komunitas yang ada di Kabupaten Ende, untuk membantu para korban musibah kebakaran Kampung Adat Nggela.

Baca Juga : 5 Game Jadul Pembunuh Waktu

Baru-baru ini, Kanaz mengatakan bahwa banyak temannya yang tertarik untuk ikutan kelas blogging. Akhirnya kami pun membuka Kelas Blogging Online; kelas belajar blog di Blogger yang dilakukan melalui WAG dan pesertanya berasal dari seluruh Indonesia. Tak hanya NTT, tak hanya anggota Menwa Uniflor, tak hanya anggota Mapala FLOPALA Uniflor. Pengalaman dari Kelas Blogging NTT menguatkan kami untuk membuka Kelas Blogging Online.


Yang mendaftar membludak, tapi harus kami filter *tsah* untuk orang yang betul-betul baru hendak membikin blog. Terbatas 15 (lima belas) orang saja. Sesuai e-poster di awal pos, kalian pasti tahu apa saja yang ditawarkan oleh para mentor Kelas Blogging Online. Betul-betul basic. Yang di-filter adalah mereka-mereka yang betul-betul belum punya blog dan/atau baru bikin blog di Blogger tapi belum ngapa-ngapain.

Kalau dihitung-hitung, ternyata sudah lima kelas blogging ini. Hyuk kita cek ...

1. Kelas Blogging NTT Angkatan I.
2. Kelas Blogging NTT Angkatan II.
3. Kelas Blogging (dan Fotografi) Menwa.
4. Kelas Blogging FLOPALA.
5. Kelas Blogging Online.

Dan semuanya mengandalkan WAG untuk berlangsungnya kelas-kelas ini.

Dulu, waktu masih menjadi Ketua Komunitas Blogger NTT (Flobamora Communnity), saya dan teman-teman sering berbagi ilmu tentang dunia blog dan internet sehat kepada orang lain baik anggota komunitas-komunitas maupun murid sekolah (SMA). Dulu, harus bikin materi di Power Point, pergi ke lokasi berusaha agar tidak ketiduran, colokin laptop ke infokus, bicara panjang lebar kalau tidak ada microphone leher sampai kejang, dan seterusnya. Tapi berhenti sampai di situ. Tidak ada komunikasi lanjutan seperti pertanyaan "Bagaimana blog-nya?" dan tidak ada kemajuan yang bisa dilihat karena tidak ada satupun yang membagi tautan blog yang baru di-update, misalnya. Tapi sekarang, semuanya menjadi lebih mudah. Hanya melalui WAG, para mentor jadi tahu perkembangan blog masing-masing peserta. This is awesome.

Baca Juga : 5 Pesan Gubernur NTT

Dari lima kelas blogging di atas, untuk Kelas Blogging NTT Angkatan I dan Angkatan II sudah selesai semua materinya. WAG-nya masih berjalan, dan mentor masih siap menjawab pertanyaan dari peserta. Tapi konsistensi nge-blog tidak bisa dipaksa, kembali pada hasrat masing-masing. Sedangkan Kelas Blogging Online baru akan berjalan karena masih dalam tahap seleksi peserta. Beberapa peserta sudah ditambahkan di dalam WAG. Masih menunggu yang lain, karena Senin nanti kita sudah mulai kelas pertama dari Kelas Blogging Online ini.

Doakan sukses ya :)

Karena berbagi tidak pernah merugi.


Cheers.

5 Alasan Kenapa Harus Nge-blog


2003 - 2018, sudah 15 (limabelas) tahun saya nge-blog. Dimulai dari blog yang ini, kemudian pada tahun 2005 memutuskan untuk pindah ke blog yang ini. Sepanjang perjalanan yang cukup panjang itu, sudah banyak pula blog yang terpaksa saya bikin seperti blog foto, blog travel, blog puisi, blog cerpen, blog serial-serial, sampai blog coba-coba yang fungsinya untuk mengetes tema yang bakal dipakai di blog utama. Abaikan blog-blog di atas kecuali yang satu ini, karena banyak yang sudah lama pula tidak diperbarui. Kalau Blogger bisa bicara, mungkin sudah dia kata-katain saya, "Bikin rugi kami saja kau, Teh!"

Baca Juga : 5 Layanan Podcast

Dulu, belum ada istilah niche blog, padahal, haha, tapi saya sudah punya banyak blog ber-niche. Lha, sekarang malah lebih suka nge-blog di sini yang jelas blog campur-aduk, gado-gado, rujak cingur, es teler, sandwich classic, mozarella goreng ... jadi lapar *terus tinggalkan laptop dan pergi mencari makan*.

Begitu banyaknya blog, tentu kalian bertanya, emang apa sih alasan saya nge-blog

Haaaa? Apaaa?

Tidak ada yang bertanya?

*lanjut, pura-pura ada yang tanya*

Berkaitan dengan alasan nge-blog ini, saya pernah menulis tentang 5 Alasan Membuka Kelas Blogging NTT. Di dalam pos itu jelas tertuang perasaan penuh cinta alasan kenapa harus nge-blog. Alasan-alasan itu antara lain:

1. Nge-blog melatih dan mengasah kemampuan menulis.
2. Nge-blog untuk promosi pariwisata NTT.
3. Nge-blog lebih berfaedah ketimbang merusuh di FB.
4. Blog adalah portofolio online.
5. Nge-blog for money.

Baca Juga : 5 Yang Unik Dari Ende (Bagian 1)

Penjelasan dari setiap poin di atas, bisa langsung kalian baca pada pos yang bersangkutan. Soalnya kalau penjelasan setiap poin itu kembali saya tulis di sini, pos ini bakal jauh lebih panjang dari yang diestimasikan (bahasanya, woih!). Percayalah, kalian akan tahu mengapa saya juga bertahan nge-blog sekian lama. Yang terlihat paling signifikan adalah gaya dan pola menulis dari yang hanya sekadar curhat menjadi lebih informatif. Semua butuh proses yang panjang.



Saya jelas tahu apa alasan nge-blog. Terutama, bagi saya, adalah untuk narsis dan agar Ende lebih dikenal. Padahal tidak penting juga sih orang lain tahu aktifitas saya sehari-hari. Hahaha. Kita tidak tahu kan seberapa inspiratifnya tulisan kita bagi orang lain? Siapa tahu tulisan itu sangat bermanfaat untuk mereka. Nah, kalau saya jelas-jelas tahu apa alasan saya nge-blog, bagaimana dengan alasan orang lain? Ini yang penting. Ketika saya sudah tahu alasan saya nge-blog, saya juga butuh tahu alasan orang lain nge-blog. Oleh karena itu, mirip-mirip sama pos yang satu ini, saya mewawancarai 5 (lima) blogger.

Mereka yang saya wawancarai adalah blogger-blogger yang tergabung dalam Kelas Blogging NTT. Mereka belum lama nge-blog dan blog mereka pun baru berumur bulan (kalau manusia, masih belajar bolak-balik di kasur). Tapi semangat mereka mengikuti kelas lewat sebuah WhatsApp Group (WAG) itu yang luar biasa. Mereka hebat! Karena blog mereka baru berumur bulan, masih hangat-hangatnya kan, jadi pas banget kalau diwawancarai.

Apa alasan mereka harus nge-blog?

Cekidot.


"Saya nge-blog itu karena pengen menjadikan blog sebagai diary, mau nulis semua kegiatan ke dalam blog. Supaya selalu ingat cerita-cerita saya. Itu harus, ya." Itu kata Ocha ketika saya bertanya alasannya nge-blog dan mengikuti Kelas Blogging NTT. Boleh dibilang Ocha membuat blog-nya setelah mengikuti kelas pertama Kelas Blogging NTT itu. Lebih hebatnya lagi, semua dia lakukan hanya melalui layar mini Android miliknya. Coba kalian tanya; Ocha lebih suka nge-blog lewat laptop atau smartphone, jawabannya pasti smartphone.


"Menulis, untuk lebih banyak belajar hal baru. Setelah mendapatkan hal yang baru, menulis lagi. Belajar lagi. Menulis lagi. Bayangkan pekerjaan mulia itu akan menghasilkan kecerdasan otak yang luar biasa. Cerdas dan milenial." Rian, seorang putera asal Manggarai - Flores, yang bekerja/menjadi guru di Kupang, memang punya aktivitas yang padat. Namanya juga guru kaaaan. Tapi, di sela-sela aktivitasnya itu, dia masih mau nge-blog dan berbagi cerita dengan pembacanya. Rian mengingatkan saya pada Pak Martin.


"Menceritakan pengalaman pribadi agar pembaca juga mendapatkan referensi yang tepat ketika akan berkunjung ke suatu daerah". Ini dia si anak rantau yang pekerjaannya boleh dibilang sulit sekali untuk bisa membuatnya duduk di depan laptop untuk mengetik. Sama juga, kalaupun menggunakan Android, pasti dia harus berurusan sama pekerjaan. Tapi yang saya salut, dengan penuh semangat dia mengatakan, "Kak, mau belajar juga donk ... nge-blog!"


"Di mana-mana, orang bilang si adik pasti akan meniru apa saja yang dilakukan sama si kakak, dan itu memang benar sekali. Saya nge-blog karena sering melihat si kakak memuat tulisannya di dalam blog. Sebenarnya saya tidak mempunyai bakat untuk menulis sama sekali. Tetapi, saat membaca tulisan-tulisan si kakak, dengan sendirinya saya termotivasi. Akhirnya saya mulai membuat tulisan-tulisan yang meskipun tidak serapi dan sebagus milik orang lain, kemudian saya posting di blog. Memang saat ini saya masih jarang posting tulisan di blog, tapi percayalah nge-blog itu mengasyikkan sekali, apalagi kalau banyak notifikasi yang masuk."


5. Ludger di http://ludgerbudwologai.blogspot.com

"Dasarnya sih saya suka menulis apa saja. Saya buat blog tentang budaya Wologai untuk melestarikan dan juga mewariskan budaya Wologai ke generasi berikutnya. Atau untuk putera/puteri Wologai yang berada di perantauan, biar bisa cerita ke anak cucu mereka tentang Wologai." Ludger adalah salah seorang peserta Angkatan II Kelas Blogging NTT yang saya sebut fast learner. Semangatnya yang tinggi untuk berbagi tentang budaya khususnya budaya Wologai patut diapresiasi.

Alasan kenapa harus nge-blog setiap orang itu berbeda-beda. Seperti yang telah kalian baca alasan 5 (lima) blogger pemula di atas.

Baca Juga : 5 Cara Mengundang Pengunjung Blog

Ocha ingin menjadikan blog seperti diary; kan blog memang awalnya dikenal sebagai diary online. Edwin ingin menceritakan pengalaman-pengalamannya. Rian Seong, seorang guru di Kupang punya filosofi yang dalam tentang nge-blog ini: menulis untuk belajar hal baru, menulis lagi, belajar lagi, begitu seterusnya. Hartina mengikuti jejak si kakak (namanya Tityn) yang sudah lama nge-blog. Sedangkan Ludger karena kecintaannya pada budaya. Nge-blog untuk melestarikan budaya, jadi dia harus melakukannya.




Saya senang membaca alasan kenapa mereka harus nge-blog. Saya harap mereka akan konsisten nge-blog dan berbagi lebih banyak kebaikan dengan orang lain. Menulis, menulis, menulis.


Terbentur, terbentur, terbentur, terbentuk ~ Tan Malaka.

Bagaimana dengan kalian? Yuk share.

Tulisan ini diikutkan pada #C2CreatorContest


Cheers.

Blog It! Pilihan Nge-blog Pakai Smartphone


Sumpah, saya termasuk blogger yang enggan menggunakan smartphone untuk nge-blog. Alasannya? Alasan pertama, nge-blog pakai smartphone itu rempongnya minta ampun. Rempong terkadang bikin darah tinggi, jadi saya harus menghindarinya dari pada nanti smartphone berakhir di lantai. Alasan kedua, Aplikasi Blogger yang diunduh dari Playstore ternyata tidak mampu memenuhi keinginan saya sehingga dua hari setelah diunduh, pada tahun 2013 itu, langsung hapus tanpa kompromi. Sudah bisa dipastikan saya selalu nge-blog menggunakan laptop/komputer. Nge-blog di sini artinya mengutak-atik dashboard (tulis pos, balas komen, cek statistik, ganti tema, dan lain-lain), bukan blogwalking. Kalau sekadar blogwalking sih smartphone sudah lebih dari cukup.


Sampai kemudian, baru-baru ini saya coba menggali lebih dalam informasi tentang nge-blog pakai smartphone gara-gara banyak pertanyaan tentang itu dari peserta Kelas Blogging NTT yang tidak semua nge-blog menggunakan laptop. Saya terdampar pada sebuah blog milik seorang blogger bernama Antung Apriana dengan judul pos: [Review] Aplikasi Blogger Pro untuk Ngeblog. Ternyata Antung Apriana juga sependapat dengan saya soal Aplikasi Blogger yang sangat tidak memuaskan, di luar ekspetasi:  

Di playstore sendiri ada beberapa aplikasi yang bisa digunakan untuk ngeblog. Yang pertama tentu saja aplikasi Blogger yang sayangnya sangat jelek. Lalu ada Blogit!, Blogger Pro dan Blogaway. Keempat aplikasi yang saya sebutkan di atas merupakan aplikasi untuk blog dengan platform Blogspot.

Dari kutipan di atas, kalian sudah langsung tahu bahwa ada beberapa pilihan untuk nge-blog pakai smartphone yaitu BlogIt!, Bloggr Pro dan Blogaway. Tanpa menunggu duit jatuh dari langit, saya langsung mencari BlogIt! di Playstore, mengunduh dan menginstalnya. Jadi kali ini saya hanya bisa bercerita tentang BlogIt! untuk kalian, hehe. Aplikasi lainnya silahkan dicoba sendiri. Ikon BlogIt! dapat dilihat pada gambar di awal pos ini.

Baca Juga : Proyektor Ini Tidak Butuh Layar atau Dinding

Setelah diinstal (ikuti petunjuk termasuk mengijinkan BlogIt! untuk menggunakan file yang ada di smartphone), maka tampilannya seperti berikut ini:



Tampilannya langsung seperti itu (gamblang). BlogPacker adalah nama blog-nya, disusul bagian bawah terdiri dari dua item yaitu Post dan Comments. Artinya BlogIt! memudahkan para penggunanya. Post merupakan tampilan daftar konten blog kita baik yang sudah di-publish, draft, maupun terjadwal. Sedangkan Comments adalah semua komentar dari para pembaca (tanpa menampilkan komentar balasan dari kita), seperti yang bisa dilihat di gambar berikut:




Bagaimanan untuk memulai pos baru? Silahkan klik tanda + pada item Post, sudut kanan bawah. Kalian akan langsung diantar pada form pos seperti pada gambar berikut:


Silahkan isi judul dan isi pos (Post Title dan Write Your Post Here!). Panel pos memang sedikit, seperlunya saja, seperti menebalkan, memiringkan, menggarisbawahi kata/kalimat, ada juga strikethrough, menambah tautan, menambah gambar, serta rata kanan - tengah - kiri (sayang ya tidak ada justify), juga menambah label/tag. Tapi saya pikir, inilah yang paling utama dibutuhkan untuk membuat atau menulis sebuah pos blog. Pada bagian kiri atas ada pilihan untuk mem-publish pos, menyimpannya, dan tiga titik dengan tiga pilihan yaitu Schedule (membuat jadwal pos), Delete (menghapus pos), dan Edit HTML.

Baca Juga : Foto Kreatif Untuk Pos Blog

Awal pos ini sampai satu paragraf saya menggunakan BlogIt!, yang kemudian dilanjutkan dengan laptop. Jadi, saya bisa mengatakan bahwa BlogIt! lumayan kece karena untuk menambahkan gambar, suka-suka saya memilih letak/posisi. Sedangkan waktu pakai Aplikasi Blogger, gambar tidak bisa diatur (selalu di bawah pos). Makanya dua hari saja langsung saya hapus hehe. Tapi kalau ditanya mau pakai BlogIt! atau nge-blog pakai laptop, sekarang saya pikir tergantung situasi. Apabila situasi tidak memungkinkan saya pakai laptop tetapi ide sedang melayang-layang, pasti buka BlogIt! lantas menyimpannya sebagai draft saja. Ide itu nanti bisa diedit saat sedang online menggunakan laptop.

Semakin banyak aplikasi nge-blog pakai smartphone, tentu semakin membantu para blogger memperbarui konten blog mereka. Yaaa pasti lebih semangat kan. 

Nge-blog pakai smartphone ini mungkin akan menjadi salah satu materi Kelas Blogging NTT. Mengingat, peserta sudah sering menanyakannya (dan kami menjawab soal Aplikasi Blogger yang jelek, lebih baik pakai browser saja). Semoga akan lebih banyak peserta yang rajin memperbarui konten. Se-mo-ga!

Baca Juga : Legitnya Xiaomi Redmi 5 Plus

Bagaimana dengan kalian? Lebih suka nge-blog pakai smartphone atau laptop


Cheers.

Angkatan II Kelas Blogging NTT


Setelah Kelas Blogging NTT berjalan, yang perlu saya tulis sebagai Angkatan I, banyak permintaan dari teman-teman lain untuk bergabung. Kami tentu tidak bisa langsung menambahkan mereka ke dalam WAG Kelas Blogging NTT karena kelas sudah berjalan selama lima minggu atau lima kali pertemuan (every Monday, 09.00 pm). Sudah banyak materi yang disampaikan, bertahap, mulai dari bagaimana membuat blog di Blogger, mengenal panel-panel dashboard, ide menulis, kepenulisan, niche blog, hingga terakhir tentang html dan mengganti tema baik tema bawaan Blogger dan tema yang bukan bawaan Blogger.


Karena semakin banyaknya permintaan teman-teman lain untuk mengikuti Kelas Blogging NTT maka kami memutuskan untuk memulai Angkatan II. Setelah melalui japri mereka menyetujui persyaratan untuk menjadi peserta Kelas Blogging NTT, termasuk waktu yaitu setiap Rabu malam, satuper satu peserta ditambahkan ke dalam WAG. Jumlahnya lumayan banyak: duabelas peserta. Itu pun satu pesertanya bakal ditambahkan kemudian karena kekhilafan saya. Iya, saya khilaf ... lupa menambahkannya, padahal dia adalah orang pertama yang daftar untuk Angkatan II. Haha. Untung orangnya tidak mengamuk.

Angkatan I - Senin - 21.00 Wita.
Angkatan II - Rabu - 21.00 Wita.

Kenapa beda hari? Jawabannya pasti kalian juga tahu. Karena kalau pada hari yang sama, kasihan mentornya, dan kasihan pesertanya (mungkin) bakal jengkel banget. Sedangkan waktunya kenapa harus jam sembilan malam? Perkiraan kami jam segitu orang-orang sudah tiba di rumah dari berbagai kegiatan di luar, sudah mandi, sudah lumayan santai, dan tentu bisa belajar dengan tenang.


Beberapa peserta Angkatan II sudah dapat dilihat blog-nya, sedangkan yang lainnya lagi malam itu masih terkendala dengan koneksi dan perangkat yang, ternyata, erorejing. Oh la la. Tapi tidak mengapa, buktinya satu dua hari setelah Rabu kemarin, ada yang mulai menyetor alamat blog. Mau berkenalan dengan mereka? Angkatan I maupun Angkatan II? Cek blog mereka berikut ini:

http://tinhartina.blogspot.com (Twitter @Hartinaaa_)
http://page-ummu.blogspot.com (Ummu)
http://hanashidik.blogspot.com (Hanna Sidiq)
http://kodim1602ende.blogspot.com (Bang Agung)
http://aram-smile.blogspot.com (Twitter @ISMAILHARUN203)
http://ludgerbudwologai.blogspot.com (Ludger)

Katanya ada duabelas peserta Angkatan II? Kenapa baru enam blog yang jadi? Sabar, kawan. Namanya juga melalui WAG, prosesnya tidak sekilat kelas tatap muka. Hehe. Tatap muka pun kalau tidak kontinyu tidak bisa bertahan lama blog-nya. Saya pernah diminta menjadi mentor untuk dosen-dosen muda PBSI - Uniflor, juga oleh BEM Uniflor, namun blog-nya mungkin sudah mereka lupakan. Karena tidak kontinyu atau tidak ada yang terus memberi semangat. Bedanya dengan WAG Kelas Blogging NTT, setiap hari kami saling memberi semangat, memberi masukan ini itu, sehingga silaturahmi karib terjalin dan peserta selalu bisa mengingat bahwa mereka mempunyai blog yang harus dikelola. Jika ingin maju.


Yang seperti itulah yang, menurut saya, harus dilakukan. Ketimbang sekali tatap muka - semua langsung punya blog - tapi kemudian terlupakan. Kalau begini kan enak, antara peserta dan mentor berada dalam satu grup dan bisa berinteraksi setiap hari. Lagi pula Om Bisot dan Kak Anazkia siap menjawab pertanyaan kapan pun saat ada peserta yang merasa kesulitan.

Mentor Kelas Blogging NTT patut saya apresiasi dengan sepuluh jempol. Setelah Om Bisot dan Kanaz, sekarang kami punya satu mentor lagi yang bakal menyiapkan materi tentang kepenulisan. Karena beliau adalah guru Bahasa Indonesia. Keren kan? Dia adalah pak guru atau Pak Martin! Terima kasih Pak Martin sudah bersedia menjadi mentor Kelas Blogging NTT. Kepenulisan itu penting meskipun blog lebih mengacu pada bahasa tutur/sehari-hari, bukan bahasa baku. Karena di pasar tidak ditulis dipasar kan?


Jadi demikan sodara-sodara ... senang sekali menulis ini. Semoga semakin banyak orang yang nge-blog dan merasakan manfaatnya ... kelak.

Bagaimana dengan kalian?


Cheers.

Kemajuan Peserta Kelas Blogging NTT


Selamat pagi semua :)

Hari ini ngepos pagi-pagi. Tumben. Memang. Tapi kebetulan bangunnya  lumayan pagi jadi masih sempat menulis yang satu ini yaitu tentang kemajuan peserta Kelas Blogging NTT. Hari ini, kelas yang berlangsung lewat sebuah WhatsApp Group (WAG) memasuki kelas kelima. Artinya sudah empat minggu kelas berjalan. Cukup lama bukan? Rentang waktu belajar tidak bisa selalu berbanding lurus dengan penyerapan ilmu. Mana pula belajarnya hanya seminggu sekali. Tapi, proses menuju ke depan alias maju sudah pasti terjadi. Dan kemajuan itu yang akan saya tulis hari ini. Perasaan resmi sekali menulis ini, haha.

Baca Juga:

Saya tidak bisa menilai atau menyatakan bahwa Kelas Blogging NTT mengakomodir semua penduduk NTT karena komunitas blogger sekelas Flobamora Community saja belum tentu mampu. Untuk Angkatan Pertama pesertanya dua belas orang saja. Itu pun tidak semua orang NTT karena masih ada Haqi asal Cilegon, dan yang betul-betul mengikuti kelas setiap minggunya hanya segelintir seperti Rian, Ocha, Thika, Novi, Edwin, dan Deni. Kadang-kadang Sony, Ibu Annissa, dan Haqi bergabung. Sedangkan mentornya masih Kak Anazkia, Om Bisot, dan saya. Apabila ada yang ingin bergabung menjadi mentor, diterima dengan senang hati.

Kelas ini ditujukan semula untuk teman-teman yang sama sekali tidak tahu tentang blog (from zero, Insha Allah, to hero), teman-teman yang sudah nge-blog tapi ingin tahu lebih dalam tentang seluk-beluk dunia per-blogger-an, dan teman-teman yang ingin berbagi pengalaman nge-blog. Bagi yang sudah nge-blog, mengikuti kelas sejak kelas pertama pasti membosankan. Bagaimana tidak bosan? Materi yang diberikan itu sudah mereka lakukan (kan sudah punya blog). Tapi di sini lah hebatnya Orang Indonesia. Toleransi harus dijunjung tinggi. Mereka bertahan mengikuti kelas dari minggu ke minggu tanpa protes.

Bagi saya, proses yang telah dilalui selama satu bulan terakhir ini benar-benar telah menunjukkan kemajuan yang membanggakan. Terutama dilihat dari sisi si awam menjadi blogger. Bayangkan saja, Ocha yang tidak terlalu peduli sama dunia tulis-menulis apalagi dunia blog seketika menjadi seorang blogger hanya melalui kelas di WAG. Itu seperti loncatan quantum (oh semoga Antman kelak dapat menyelamatkan superhero yang tewas dalam Infinity War, haha). Makanya saya tulis di atas from zero, Insha Allah, to hero. Dari buta knob (istilah Orang Ende) menjadi terang tidak buta lagi.

Lantas, apa saja kemajuan yang telah dicapai oleh para peserta Kelas Blogging NTT? Mari kita simak.

1. Membikin akun Gmail.
2. Membikin blog di Blogger.
3. Membuat tulisan/pos blog.
4. Mengenal dashboard.
5. Tata cara menggunggah foto/video.
6. Membuat halaman.
7. Mengelola komentar.
8. Mengelola side bar.
9. Menulis Kreatif (Blog).

Untuk materi Menulis Kreatif (Blog) terbagi dalam empat sub yaitu: niche blog, ide menulis, gaya menulis, dan kepenulisan. Belum masuk ke advance sih. Diperkirakan sekitar sepuluh kelas baru dibuka Angkatan Kedua.

Bagi kalian yang sudah lama nge-blog, pencapaian itu mungkin biasa-biasa saja. Tapi bagi kami yang menjadi mentor jarak jauh dengan kelas melalui WAG, itu adalah kemajuan yang luar biasa. Dari setiap materi/pelajaran mereka wajib menyetor tautan blog/pos agar kami tahu bahwa mereka paham. Selalu ada PR dengan reward-reward kecil yang kami berikan untuk para peserta. Semoga ini dapat menjadi motivasi bagi mereka lebih rajin mengelola blog.

Belajar blog memang susah-susah gampang, gampang-gampang susah. Oleh karena itu saya sendiri mengajak peserta Kelas Blogging NTT yang tinggal di Ende, apabila mengalami kesulitan, silahkan datang langsung ke rumah dan belajar bersama. Sejauh ini, ada saja peserta yang datang (Senin malam); melihat materi di WAG dan mempraktekkan langsung materi yang disampaikan. Suasananya juga jadi lebih cihuy begitu hehe. Ada perasaan bahagia melihat teman-teman serius menatap layar laptop atau layar smartphone.

***

Suka bergaul dan/atau bertemu orang baru membikin saya selalu bergairah bergabung dengan komunitas blogger. Bergabung dengan Blogger Family (Blogfam) pada tahun 2003 menghasilkan julukan 'kutu loncat' akibat seringnya saya merusuh di komentar blog atau di shoutbox (Doneeh sangat kesohor kala itu). Gara-gara Blogfam, saya dan tiga blogger lainnya lantas mendirikan Komunitas Blogger NTT yang dikenal dengan nama Flobamora Community. Dari situ, saya mengenal lebih banyak blogger melalui beragam event dan komunitas (lainnya), seperti bergabung dengan Kumpulan Emak Blogger, sempat mengikuti Asean Blogger Community dalam konferensi perdananya di Bali, Blogger Nusantara, membikin saya begitu bersemangatnya ketika Kelas Blogging NTT dimulai dan berjalan sampai saat ini.

Semoga semangat ini tetap ada.

Semoga selalu bisa bermanfaat.


Cheers.

250 Blog Untuk Desa di Flores Timur


Saya belum mengenalnya lebih dekat. Kami hanya berkenalan lewat media sosial Facebook dan membaca tulisannya di blog masing-masing. Nama Facebook-nya Simpet Soge. Nama blog pribadinya Simpet Adonara. Itu memang bukan nama akta kelahiran atau KTP tetapi ada satu hal yang pasti pada nama itu yaitu Adonara, sebuah pulau di depan Pelabuhan Larantuka, pulau eksotik yang pernah saya jelajahi dari ujung Barat ke ujung Timor menggunakan pick up.

Baca Juga:

Adalah biasa kami kadang saling membalas komentar di Facebook dari status masing-masing dan saya bertanya tentang blog-nya yang belum ada pos baru. Kemudian saya kaget membaca komentarnya yang dapat kalian lihat pada awal pos ini: ini lagi sibuk bikin blog desa untuk Flotim, ada 250 blog desa yang sudah dibuat, sedang progres posting nih. DUA RATUS LIMA PULUH BLOG UNTUK DESA-DESA YANG ADA DI FLORES TIMUR.

Sengaja caps lock. Sengaja!

Flotim (Flores Timur), kabupaten terujung Timur Pulau Flores, yang terkenal dengan perayaan Semana Santa (Paskah), yang tekenal dengan jagung titi, yang terkenal dengan dua pulau di depan Pelabuhan Larantukanya: Pulau Adonara dan Pulau Solor. Kalian sudah pernah ke sana? Kalau belum, pergi lah ke sana dan nikmati semua keindahan Flores Timur.

Kembali ke Simpet Soge.

Melalui layanan obrolan Facebook saya jadi tahu bahwa 250 blog itu idenya sederhana; hanya meminta ijin repost konten teks maupun foto dari medsos tentang desa-desa yang ada di Flores Timur. Juga nanti mereka akan mengajak teman-teman untuk bergabung mengisi kontennya. Untuk sementara, sedang pos informasi-informasi dasar tentang desa yang bersangkutan saja dulu, untuk konten foto dan teks nanti menyusul. Yang jelas, blog dari seluruh desa di Flores Timur sudah dibuat dengan semangat 45. Boleh saya curi semangat 45-nya?

Dari itu, muncul lah status ini di akun Facebook saya:

Nama FB-nya Simpet Soge sedangkan nama blognya Simpet Adonara. Simpet, bukan Sampeth ūüėā Saya suka tulisan di blog-nya tentang Adonara. Lama tidak update blog, ternyata dia sedang bikin blog desa, sebanyak 250 blog desa! Maaakkk! Luar biasaaaa! Dan sekarang sedang dalam proses posting-posting. Bangga melihatnya. Bangga dan senang! Ini salah satu cara promosi daerah gratis, cara mengajar / mengajak menulis, cara yang sederhana membangun daerah.

Jadi ingat dalam filem Linimassa ada desa internet, ada juga desa yang menggunakan website untuk informasi perkembangan petani, panen, harga hasil panen, dan lain sebagainya. Saya jadi ingat pernah mengisi materi blog untuk bapak-bapak petani di Hotel Silvia Maumere gara-gara Bang @Antonemus.

Keren kan, Om Bisot?

Jika kalian mengeluh ini itu hanya karena tidak bisa FBan, atau komplain tentang hidup kalian di media sosial, maka lihatlah Om Simpet dengan 250 blog untuk desa-desa di sana! Salut maksimal! Apabila penduduk desa bisa ngeblog, mereka seribu langkah lebih maju!

Yang di Hotel Silvia Maumere, dari status di atas, saya mengajar para petani Se-Flores-Lembata yang berada di bawah naungan VECO untuk membuat akun e-mail di Gmail, membuat blog, dan membuat akun sosial media seperti Twitter dan Facebook.

Bahwa sekarang blog-blog desa itu masih memuat informasi dasar, tidak masalah. Yang penting adalah semangatnya yang inspiratif. Karena, dengan sendirinya nanti anak-anak di setiap desa dan kecamatan dapat membantu mengisi konten. Kembali lagi ke persoalan menulis untuk dibaca banyak orang kan? Ih saya jadi gemas hehehe. Salah satu blog desa yang bisa kalian lihat adalah blog desa Watobaya. Kontennya sudah lumayan banyak dan dikelola dengan sangat baik oleh Simpet. 

Yang menyenangkan dari 250 blog desa dari Kabupaten Flores Timur ini adalah setiap blog bisa saling terkoneksi. Ini kan motivasi, menurut saya. Ketika 'yang pegang' atau pengelola (setelah/selain Simpet) blog desa A melihat pos blog desa B lebih baik, dia akan berusaha untuk lebih baik juga. Dan jelas, tujuan utama mereka saat ini adalah bagaimana desa mereka dikenal dengan segala macam kegiatan serta permasalahan yang ada. Tahu langsung dari sumbernya itu jauh lebih baik.

Mereka belum memikirkan tentang pengunjung.
Mereka belum memikirkan tentang monetize.
Mereka bahkan tidak terpikirkan tentang review produk.

Yang mereka tahu adalah membangun desa / daerah mereka, salah satunya lewat blog.

Lagi; apabila penduduk desa bisa nge-blog (sedangkan penduduk kota sibuk di media sosial nyetatus ini-itu tentang hal-hal yang mungkin mereka sendiri tidak paham), maka penduduk desa seribu langkah lebih maju. Ini pendapat pribadi saya, kalau kalian tidak setuju, bikin opini kalian sendiri dan tulis di blog. Haha.

Impian saya untuk memasyarakatkan blog di tahun 2003-an, kerja keras mengajak orang lain nge-blog, dari satu workshop ke workshop lain, kelimpungan cari proyektor agar kegiatan belajar nge-blog lebih asyik, membujuk orang-orang untuk hadir, bikin materi dan tutorial, ngomong sampai mulut berbusa ... memang pelan-pelan telah terwujud. Dan kini, Simpet Soge mewujudkan, mungkin, mimpinya, di ujung Timur Pulau Flores sana, di Kabupaten Flores Timur.

Bangga dan salut.


Cheers.

5 Cara Mengundang Pengunjung Blog



Dalam Kelas Blogging NTT, sebagai penambah materi, saya sering menulis di grup WA tersebut tentang kekayaan konten dan blogwalking. Apabila kalian ingin blog kalian dikunjungi, maka jadilah pengunjung blog orang lain terlebih dahulu. Apabila blog kalian sudah dikunjungi dan dikomentari, lakukan kunjungan balik ke blog si pengunjung! Karena, hei, kita bukan artis yang kehidupannya setiap saat di-kepo-in penggemar. Kata orang: emang lu sapeeee, hah? Hehehe.

Baca Juga:


Awalnya blog memang hanya sekadar menjadi diary online, tempat blogger mencurahkan keluh-kesahnya atau menceritakan aktifitas sehari-hari. Pada blog lama saya, kalian akan membaca aktifitas berebutan tempat wudhu setiap Adzan Maghrib. Hehe. Blog menjadi tempat para blogger berbagi pengalaman. Tentu, setiap blogger mengharapkan blog-nya dikunjungi oleh banyak orang, terutama blogger yang telah me-monetize blog-nya tersebut.

Karena, kalau hanya ingin menulis tanpa dibaca dan diapresiasi oleh orang lain, beli buku diary tema Frozen - tulis - simpan di lemari.

Bagi yang blog-nya sudah di monetize seperti Google Adsense, misalnya, pasti tahu bahwa pengunjung blog merupakan salah satu kunci untuk mengalirkan Rupiah ke pundi-pundi yang sudah disiapkan. Perhitungan dari sekian banyak pengunjung blog, pasti ada satu atau dua yang meng-klik iklan dari Google Adsense tersebut untuk Rupiah yang lebih besar. Kesempatannya juga sama jika bermain afiliasi atau menjadi influencer.

Tapi bagaimana agar blog kita dikunjungi orang lain? Berikut saya coba merangkum lima cara mengundang pengunjung blog. Cekidoooot!

1. Konten Orisinil

Apalah artinya sebuah blog tanpa konten? Apalah artinya jika kontennya semata-mata mengkopi-paste bulat-bulat artikel dari situs lain? Bikinlah konten kalian sendiri dan paling baik dari pengalaman kalian sendiri. Percayalah, konten dari situs-situs ternama rata-rata sama, tapi konten dari blog pribadi itu unik karena menceritakan pengalaman personal dari si pemilik blog. Dan tentu saja tidak asal-asalan, asal jadi satu pos, begitu saja.

Contohnya:
Pengalaman mendaki Rinjani.
Pengalaman menjahit totebag pertama kali.
Pengalaman mengajar.
Pengalaman menjadi influencer.
Pengalaman menjadi EO.
Pengalaman berkebun.
Pengalaman nge-craft.
Pengalaman mengedit video.
Pengalaman fotografi.
Pengalaman merantau/bekerja di tanah orang.
Pengalaman memasak.

Dan lain sebagainya. See? Banyak kan yang bisa kalian tulis dan menjadikannya konten blog? Ingat, konten yang orisinil jauh lebih 'mahal' nilainya ketimbang kopi paste sana sini. Apakah kopi paste tidak boleh? Boleh, asalkan tulis sumber artikel tersebut. Itu jauh lebih terhormat.

2. Memperbanyak Konten

Katanya konten yang sedikit belum tentu bikin orang tidak mengunjungi blog kita. Betulkah demikian? Menurut saya, konten yang banyak bakal bikin arus pengunjung blog lebih meningkat dari hari ke hari. Minimal dua sampai tiga konten per minggu. Karena, ketika orang datang ke blog kita dan belum menemukan konten baru, ada kemungkinan dia akan absen selama satu dua minggu. Kecuali kalian melakukan interaksi yang intens melalui komentar (akan dibahas pada poin ketiga di bawah).

Bagaimana caranya memperbanyak konten, apalagi yang orisinil? Mudah!

Ambil contoh teman-teman dari EndeTV yang datang ke rumah untuk meminta bantuan saya menulis narasi perjalanan dan liputan mereka ke Kecamatan Maurole. Pada pertemuan itu, saya menyarankan pada Alan, Udin, dan David Mozzar tentang pemecahan materi.

"Dari perjalanan ke Maurole, kalian bisa bikin tiga video untuk EndeTV. Sesuai temanya. Pertama video tentang pariwisatanya. Kedua tentang kearifan lokal dan para pengrajin. Ketiga tentang pendidikan. Tinggal nanti melihat mata acaranya ..."

Jujur, para pejalan itu paling mudah bikin konten blog karena mereka bisa memecah cerita perjalanan itu menjadi tiga bahkan lima konten berbeda. Ada contohnya, Teh? Ada donk. Hehe. 

Contoh: perjalanan saya dan teman-teman ke Danau Kelimutu. 

Perjalanan itu dapat menjadi tiga tulisan berjudul:

1. Danau Kelimutu dari Masa ke Masa.
2. Sensasi Mengunjungi Arboterum di TNK.
3. Kisa Para Penjaja Kopi Panas di Tugu Danau Kelimutu.

Bahkan, bisa saya tambah:
4. Waturaka, Desa Agrowisata Entrance Menuju Danau Kelimutu.
5. Beni, Penjual Bensin Eceran Penyelamat Perjalanan.
6. Trekking ke Puncak Kelimutu Lewat Jalur Alternatif.

Dan lain sebagainya he he he.

Kalau kalian bukan tipe pejalan? Mudah! Bukankan dari poin nomor satu di atas sudah saya tulis tentang contoh konten blog? Bahkan aktifitas memasak pun bisa dipecah menjadi beberapa judul, seperti:
1. Resep Cumi Kuah Hitam.
2. Manfaat Tinta Cumi.
3. Kandungan Nutrisi dalam Cumi.
Mudah :)

3. Blogwalking


Di awal pos saya sudah menulis tentang blogwalking ini. Ingin mengundang pengunjung blog, berikan umpan terlebih dahulu dengan cara menjadi pengunjung blog orang lain. Kalau saya Jenifer Lopez, tentu saya tidak perlu repot mengunjungi blog orang lain karena toh penggemar sudah pasti bakal senang membaca semua tulisan kegiatan saya di blog tanpa diundang. Kebanyakan, kita enggan mengunjungi blog orang lain, tapi berharap blog kita banyak pengunjung.
Paling parah adalah saya, pada jaman dulu, karena pernah merasa sudah lama nge-blog, jadi malas mengunjungi blog orang lain. Ngerasa seniioooor. Senior gundulmu, Teh! Hasilnya? Trafik pengunjung blog saya turun drastis. Alasan lainnya selain tidak blogwalking adalah konten pada blog jaman dulu itu sangat tidak berfaedah hahaha.
Ingat, blogwalking itu: tidak hanya kunjung tapi juga memberi komentar. 

4. Promosi Blog

Mempromosikan blog itu wajib. Banyak media, GRATIS, yang bisa kalian gunakan untuk mempromosikan blog sendiri. Media tersebut adalah media sosial, aplikasi chatting, dan forum. Media sosial yang paling sering saya gunakan untuk mempromosikan blog adalah Twitter dan Facebook. Baru-baru ini gara-gara Idris dari Ngayap[Dot]Com saya juga mempromosikan blog di Instagram.

Selain itu saya menggunakan aplikasi chatting yaitu WhatsApp (WA) untuk promosi blog. Semakin banyak grup, semakin baik, hahaha. Kalau forum sih karena Forum Blogfam sudah tidak tahu alamatnya jadi tidak pernah promosi di forum lagi.

5. Menggunakan Hotspot Pribadi

Silahkan baca pos saya yang satu ini.

Jadi begini, mengaktifkan hotspot pribadi dengan nama hotspot yang merujuk pada blog atau situs kita, akan membantu menambah pengunjung blog. Dengan sendirinya itu akan terjadi karena orang-orang bakal penasaran. Apalagi jika kalian ikutan pesta / resepsi pernikahan begitu, hidupkan saja hotspot pribadi yang tentunya harus di-password. Percayalah, semakin ke sini, orang-orang ke pesta hanya sekadar hadir, tapi pikiran dan tangan mereka ada di smartphone.

Mengaktifkan hotspot pribadi di tempat umum (password pasti) dengan nama hotspot merujuk pada blog atau situs bakal bermanfaat untuk meningkatkan pengunjung blog. Efektif atau tidak, bukan masalah, yang jelas pasti ada yang penasaran, terkhusus anak-anak pengguna smartphone yang selalu mencari wi-fi gratis di mana pun mereka berada.

Untuk hotspot pribadi dengan nama hotspot merujuk pada blog atau situs, bukan ide saya, saya membacanya dari pos seorang anggota Kumpulan Emak Blogger di grup Facebook. Nah, saya lupa nama emaknya. Nanti kalau sudah ketemu nama si emak saya bakal perbarui pos ini.

***

Ternyata tidak hanya Roma saja yang dapat dicapai melalui banyak jalan, mengundang pengunjung blog juga dapat dilakukan dengan banyak cara. Tergantung cara mana yang mau kita pakai. Mau pakai semuanya justru lebih bagus lagi kan? He he he.

Semoga pos ini bermanfaat dan bakal lebih erat tali silaturahmi antara kita, yess.


Cheers.

Tips Merekam Podcast dengan Ponsel

Belakangan ini makin banyak saja podcast Indonesia yang bermunculan dan menariknya banyak sekali yang direkam menggunakan ponsel pintar/ smartphone. Ini jelas bukan lagi masalah karena kualitas mikrofon ponsel pintar yang semakin canggih dan sudah mendekati kualitas mikrofon biasa.

Tapi, makin banyak yang merekam podcast dengan ponsel, makin banyak pula muncul “penyakit” terkait kualitas suara hasil rekaman dari ponsel dan ini malah berpotensi menjauhkan pendengar. Beberapa diantaranya:

  • Suara terlalu kecil, bahkan sekalipun volumenya di naikkan sampai maksimal. Sebagus apapun obrolan kalian kalau suara kecil, tentu tidak nyaman didengarkan.
  • Suara terlalu “kotor.” Kotor di sini maksudnya bisa karena gangguan suara dari sekeliling yang terlalu besar, musik yang terlalu besar, suara hembusan angin dari mulut saat merekam, suara kresek mikrofon yang tergesek-gesek, suara hembusan angin saat rekaman di luar dan tertangkap oleh mikrofon dll.
  • Hasil rekaman tidak stabil. Percayalah, paling tidak nyaman mendengarkan podcast yang suaranya bisa tiba-tiba tinggi, lalu kemudian rendah dan naik lagi bahkan sampai pecah.
  • Suara podcaster yang tidak jelas, entah terlalu lambat atau terlalu cepat atau tidak jelas bicara apa. Ini bukan soal bagus tidaknya suara. Meskipun lahir dari era radio dengan penyiar-penyiar “golden voice“, gue nggak percaya ada suara yang bagus dan tidak. Suara semua orang punya keunikan. Yang ada adalah suara yang jelas dan mudah dipahami dan yang tidak. Titik!

Nah, berangkat dari itu berikut beberapa tips yang semoga berguna bagi para podcaster atau calon podcaster yang mau memanfaatkan ponsel mereka untuk merekam.

 

KENALI POSISI MIKROFON PONSEL
Tips pertama dan paling penting adalah kenalilah baik-baik mikrofon ponsel kalian.

  • Kenali di mana posisi mikrofon di ponsel.¬† Jangan sampai kalian justru bicara ke speaker dan bukan mikrofon. Umumnya mikrofon di ponsel sudah dirancang sedemikian rupa sehingga dekat dengan mulut yaitu di bagian ujung bawah sebelah kiri sementara pengeras suara di ujung bawah sebelah kanan. Jadi buat yang kidal, jangan sampai tertukar dan bicara di¬†pengeras suara dan bukannya mikrofon karena sedikit banyak ini berpengaruh ke hasil rekaman.Karena itulah salah satu cara ideal jika merekam dengan ponsel adalah dengan menggunakan posisi sebagaimana layaknya sedang menelpon. Kalaupun harus menggunakan mikrofon¬†ponsel untuk ditodongkan ke orang lain, misalnya saat wawancara, pastikan posisi¬†ponsel tidak persis¬†horizontal dengan mulut pembicara. Letakkan sedikit ke bawah, sekitar dagu. Mengapa? Lebih lengkap lagi dibahas di tips berikutnya dan juga tips terakhir.
  • Jaga jarak mikrofon –¬†Jarak ini jadi penting. Kenali posisi dan jarak yang paling menghasilkan suara terbaik entah dari segi volume atau daya tangkap. Posisi ideal mikrofon adalah yang tidak¬†horizontal dengan mulut, tetapi sedikit di bawah mulut. Dengan demikian mikrofon tidak akan terganggu suara hembusan angin atau suara mulut lain yang tidak nyaman didengar.Berapa jarak yang ideal? Tentu saja tergantung kualitas mikrofon. Ada yang sensitif walaupun jauh tapi ada yang harus dekat dengan mulut. Jadi akrabi, kenali mikrofon di ponsel kalian. Jangan malas untuk melakukan tes rekaman.

 

NOISE CANCELLING MICROPHONE
Nyaris setiap mikrofon ponsel sudah menggunakan teknologi “noise cancelling“. Ini adalah teknologi yang memungkinkan mikrofon menangkap suara yang paling dekat dengannya dan meredam suara-suara lain di sekelilingnya. Inilah yang menjelaskan kenapa ada jenis ponsel tertentu yang meskipun kita merekam di tempat yang ramai namun suara kita tetap terdengar jelas.

Tapi di sisi lain, inilah yang menyebabkan kenapa sangat tidak disarankan untuk meletakkan ponsel di meja saat rekaman, terutama saat rekaman ngobrol beramai-ramai atau saat wawancara. Kenapa? Karena bisa jadi suara akan terdengar sangat jauh atau malah apesnya, mikrofon akan lebih menangkap suara sekitar daripada suara kita.

 

KENALI LOKASI REKAMAN
Lokasi menentukan kualitas. Perhatikan hal berikut dari segi lokasi:

  • Kebisingan¬†–¬†Dengan ponsel yang rata-rata mikrofonnya sudah memiliki teknologi noise cancelling, merekam di tengah pasar atau di atas angkot sekalipun, misalnya, bukan lagi masalah. Tapi hindari sumber suara yang sangat keras karena bisa jadi akan lebih ditangkap oleh mikrofon. Contoh: suara mesin motor atau mobil yang terlalu keras.
  • Angin –¬†Mau ponsel kalian dilengkapi dengan teknologi noise cancelling secanggih apapun, angin adalah musuh besar. Suara angin yang terarah ke mikrofon jelas akan menimbulkan suara yang mengganggu, misalnya merekam di tengah angin kencang atau merekam di pinggir pantai. Coba saja tiup mikrofon ponsel. Seperti itulah suaranya. Karena itu cari lokasi yang tidak terlalu berangin, atau kalau terpaksa benar coba lindungi mikrofon dengan telapak tangan agar angin tidak berhembus langsung ke mikrofon. Bayangkan kalian lagi ngobrol di ponsel tapi tidak mau didengar orang lain. Nah seperti itu posisinya. Cuma jangan bisik-bisik juga kali.. :p
  • Ruangan –¬†Merekam di dalam ruangan bukan berarti masalah terselesaikan. Seringkali hasil rekaman malah menggema atau malah seperti ngobrol di dalam kaleng. Kadang ini tidak nyaman bagi yang mendengarkan, Pastikan kondisi ruangan tidak mengeluarkan gema saat kita bicara.

 

JANGAN CHARGE PONSEL SAAT REKAMAN
Nah, ini juga seringkali mengganggu karena ada ponsel yang mengeluarkan suara listrik statis saat dipakai rekaman sambil dicharge. Kenali penyakit ini di ponsel masing-masing dengan merekam dalam posisi dicolok dan tidak. Kalau tidak ada beda kualitas suara, alhamdulillah. Ponsel mahal ya? Hehe..

 

PAKAI KONDOM!
Serius! Kondom adalah istilah becandaan untuk pelapis mikrofon yang berfungsi menyaring suara-suara luar, termasuk angin. Ini biasa dikenal dengan muffler, windscreen atau pop filter. Ada trik lain yaitu menggunakan sapu tangan atau handuk kecil yang tidak terlalu tebal. Tapi pastikan untuk mengecek kualitas suaranya, karena kadang-kadang malah membuat suara kita “mendem.”

 

PAKAI MIKROFON TAMBAHAN/ EKSTERNAL
Oke, buat yang mau selangkah lebih serius ke podcasting dengan ponsel, cobalah cari mikrofon tambahan. Ada beberapa macam mikrofon tambahan yang bisa gue rekomendasikan mulai dari yang sederhana sampai yang agak tidak sederhana hehe.

  • Handsfree – Handsfree adalah mikrofon tambahan paling terjangkau. Setiap ponsel rasanya punya handsfree, kan? Itu tuh kabel headphone dan microphone yang dipasang ke colokan audio.¬† Jadi kalian juga tidak repot-repot nempel ponsel ke kuping. Tapi pastikan¬†kalian mengenali di mana posisi mikrofonnya. Jangan terbalik.
  • Mikrofon Jepit –¬†Itu istilah gue buat lavalier atau lapel microphone. Ini mikrofon kecil yang dijepit di kerah baju kayak penyiar-penyiar di televisi itu loh. Ada banyak model dan harga. Produsen mikrofon terkenal Rhode misalnya punya SmartLav¬†yang khusus dibuat untuk ponsel pintar. Ada lagi yang lebih terjangkau dari merek Aputure. (Disclaimer: bukan buzzer pedagang Glodok apalagi olshop, tapi pssstt. yang terakhir disebut ini murmer lho untuk kualitas yang bagus..)
  • Microphone Splitter – Nah, ini menarik nih buat yang mau podcasting berdua. Ketimbang bolak-balik todong ponsel ke arah yang bicara, ada alat yang namanya microphone splitter yang dijual di pasaran. Ini gunanya untuk memecah jalur mikrofon menjadi dua. Satu buat elo, satu buat co-host atau nara sumber. Jadi wawancara bisa lebih natural, lebih santai bisa sambil ngopi-ngopi juga kan. Tapi pastikan jenis splitter yang digunakan untuk mikrofon dan bukan untuk headphone. Salah satu cirinya adalah pada ujung jack mikrofon splitter terdapat tiga garis hitam. Adaptor seperti ini agak jarang. Salah satunya adalah merek RODE SC6 Adapter. Lihat video reviewnya di sini.¬†Saya juga pernah pesan mikrofon lavalier ini yang dibuat khusus (custom) dengan satu colokan dan dua mikrofon.
  • Mikrofon Biasa –¬†Selain mikrofon jepit, ada juga mikrofon biasa yang ujung colokannya sudah model 3.5mm atau sesuai dengan colokan yang ada di ponsel. Modelnya pun beragam, ada yang dilengkapi kabel panjang ada yang langsung menempel di body ponsel.
    Dipilih.. dipiliihh.. Kakaaaa…. Mikrofonnya kakaaa.. :p

 

TES.. 1.. 2.. 3.. 4..
Meskipun ini tips terakhir, tapi biasakan untuk melakukannya di awal sebelum rekaman. Jangan pernah memulai rekaman tanpa memeriksa terlebih dahulu apakah kualitasnya bagus atau tidak. Rekamlah beberapa detik dengan posisi yang senyaman mungkin dan dengarkan dengan headphone. Periksa apakah suaranya nyaman didengar? Apakah suara sekeliling mengganggu? Apakah ada suara kresek atau hembusan nafas kalian? Setel volume di posisi pertengahan dan dengarkan apakah sudah cukup baik? Kalau sudah, ingat dan pertahankan posisi itu saat rekaman.

Kalian pernah dengar orang tes mikrofon dengan “Tes.. satu, dua tiga..” Kalau gue hitungnya sampai empat. Kenapa? Cara itu bukan iseng. Saat kita bilang “tes” atau “satu” tujuannya untuk mengecek apakah ada suara “hissing” atau semburan udara yang tertangkap mikrofon. Bahkan ada yang memakainya untuk mengecek level suara treble. “Dua” biasanya untuk mengukur “bas” dan gue tambahkan dengan menyebut angka “empat” untuk memastikan tidak ada suara “popping”. Ini adalah suara “pop” yang muncul saat menyebut huruf P atau B. Ini juga sangat berlaku untuk rekaman dengan ponsel.

~~~

Begitulah. Semoga tips ini bermanfaat buat para podcaster yang ingin memastikan kualitas suaranya bagus. Ada satu tips lagi dengan menggunakan software sederhana di komputer untuk membuat suara lebih stabil, lebih level. Bisa disimak di sini tipsnya.

Paling akhir sekali. Ada satu masalah yang sering muncul di kalangan calon podcaster, terutama saat mendengar hasil rekaman suara sendiri: mereka merasa suaranya terdengar aneh. Mengapa bisa begitu? Ada dua penyebabnya:

  • Pertama, kalian terlalu banyak berpatokan pada suara yang kalian anggap ideal dari para penyiar radio dan televisi.
  • Kedua, jelas aneh karena kita jarang mendengarkan rekaman suara sendiri. Coba pikir. Melihat wajah sendiri di foto saja kita sudah sering tapi kadang masih tidak puas, kan? Nah berapa sering kalian mendengar suara sendiri? Padahal biasa saja. Setiap orang punya suara khas.

Nah, buat yang tertarik, di posting berikutnya gue akan berbagi tentang teknik sederhana untuk bersuara yang ideal. Ini tidak akan menjamin suara kalian jadi seperti penyiar idola kalian itu. Mereka butuh bertahun-tahun untuk bisa bersuara seperti itu. Terlebih lagi, suara ideal menurut gue adalah suara yang bisa dipahami.

So stay tuned!

 

Salam,

Rane

Blog: Review Singkat Spreaker Studio buat Podcasting

Spreaker adalah salah satu alternatif untuk hosting podcast yang ada di luar sana selain Soundcloud, Mixcloud, Libsyn dll. Saya pernah coba Spreaker beberapa kali namun akhirnya masih memilih ke Soundcloud karena melihat lebih banyak teman-teman penyuka podcast dan juga podcaster di sana. Reaksi dari pendengar podcast saya juga lebih banyak di Soundcloud.

Namun saya baru tahu (telat tahu tepatnya) kalau Spreaker punya aplikasi keren yang dikenal dengan Spreaker Studio. Dengan aplikasi ini kita bisa mixing podcast secara langsung tanpa harus susah payah pakai software editing suara. Semuanya juga bisa dilakukan dengan mudah dari ponsel. Lebih hebat lagi, kita bahkan bisa live podcast dengan aplikasi ini.

Saya menemukan Spreaker Studio ini gara-gara mencari padanan aplikasi BossJock yang hanya tersedia di iOS. Saat mencari di Playstore, memang tidak ketemu, tapi Spreaker Studio ini malah muncul di pilihan pertama. Di bawah ini video ulasan singkat dari pengalaman memakai aplikasi keren ini yang saya install di ponsel Xiaomi Redmi Note 4 saya (Kalau layar video tidak muncul di bawah, tautannya ada di akhir artikel ini). Kesimpulan ada di bagian akhir artikel

 

KESAN MENGGUNAKAN APLIKASI SPREAKER STUDIO:

YANG OKE:

  • Keren dan sangat praktis! Apa sih yang sekarang nggak bisa dilakukan di ponsel?¬†Aplikasi ini jelas¬†sangat mempermudah produksi podcast di ponsel.
  • Bisa langsung diunggah ke website yang sudah disediakan oleh Spreaker tentu dengan pilihan versi gratis dan versi berbayar.
  • Cocok buat yang banyak menggunakan sound effect, musik dll. Ini mengingatkan saya pada soundpad.
  • Lebih oke lagi kalau menggunakan handsfree atau lebih baik lagi mikrofon tambahan.

YANG NGGAK OKE:

  • Hal pertama jelas dari segi biaya.¬†Aplikasi ini¬†hanya mengizinkan produksi podcast selama 15 menit per hari dan maksimum 5 jam, sementara versi berbayarnya ada beberapa alternatif yang bisa dilihat di sini. Ini saya sebut nggak oke walau hak Spreaker untuk melakukannya. Wong ini bisnis mereka hehe
  • Hasil rekaman tidak bisa disimpan¬†ke ponsel. Hanya ada pilihan untuk menggunggah ke website Spreaker.com, walaupun kemudian bisa di share ke layanan lain seperti media sosial dan juga Soundcloud. Andai saja Spreaker menyediakan versi premium untuk aplikasi ini yang bisa di save ke ponsel. Pasti keren.
  • Entah kenapa aplikasi ini hasil rekamannya agak kecil, sehingga kita perlu agak lebih keras bersuara. Selain itu entah kenapa suara latar terekam dengan sangat keras. Jadi kalau merekam di luar ruangan, akan lebih bagus kalau pakai handsfree atau mikrofon tambahan sekalian. Kalau tidak suara kita akan kalah dengan latar. Awalnya saya pikir ini karena faktor ponsel. Tapi saya sudah coba di beberapa jenis ponsel dan hasilnya sama.

TAUTAN TERKAIT:

 

Salam,

Rane

Blog: Levelling Suara dengan Levelator

Suara yang tidak level pastinya sangat mengganggu orang untuk menyimak podcast kita. Baru-baru ini saya dapat tips keren dari seorang teman podcaster untuk levelling suara hasil rekaman. Software ini begitu sederhana tapi terbukti sangat ampuh, daripada melakukan levelling secara manual. Bisa diunduh gratis di http://conversationsnetwork.org/levelator (Windows, OS dan Linux)

Video berikut ini mencoba menjelaskan proses menggunakan levelator yang sebenarnya sangat amat sederhana. Hanya drag and drop saja kok. Di paruh kedua ada sedikit tips untuk memaksimalkan hasil levelling dengan levelator ini. Semoga bermanfaat untuk teman-teman podcaster. Punya tips lain? Ayo dong bagi-bagi dengan podcaster lainnya.

(Jika video di bawah tidak muncul bisa dilihat langsung di Youtube) -rh-

Catatan Teknis:

  • Video ini direkam dengan Xiaomi Note 4
  • Diedit dengan aplikasi QUIK di Android. Mohon maaf jika tidak stabil gambarnya. Idealnya sih memang pakai screen recorder. ?
  • Foto ilustrasi dan wallpaper di komputer dari Pixabay.com