Arsip Kategori: Berkebun

5 Tanaman Kebutuhan Dapur Ini Sangat Mudah Ditanam


5 Tanaman Kebutuhan Dapur Ini Sangat Mudah Ditanam. Halo semua. Masih #DiRumahSaja? Tentu. Sudah mulai bosan? Jangan dong. Hehe. Bosan bisa bikin stres. Stres adalah salah satu sumber penyakit. Mari kita lawan kebosanan akibat Covid-19 dengan berkebun. Rajin-rajinlah menonton video berkebun di Youtube karena itu bisa menjadi sumber inspirasi berkegiatan selama masa karantina ini. Berkebun merupakan salah satu upaya untuk ketahanan pangan setidaknya ketahanan pangan di dalam rumah sendiri. Kalau kalian menonton serial The Walking Dead, kalian pasti tahu bahwa untuk mengatasi urusan makan dan minum, para penyintas itu berkebun dan memelihara ternak (babi) demi kelangsungan hidup mereka di tengah kepungan para zombie. Mungkin kalian bahal bilang, ini terlambat! Harusnya berkebun dilakukan sejak dulu sehingga sekarang, pada masa Covid-19, kita tinggal meneruskan dan bahkan memanen. Tapi bukankah lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali?

Baca Juga: 5 Manfaat, 5 Tips, 5 Quotes, dan Pos Rangkuman Lainnya

Berkebun tidak membutuhkan lahan besar berhektar-hektar. Namanya berkebun mini. Dilakukan di rumah. Lain cerita kalau kalian mempunyai pekarangan yang luas depan, belakang, samping kanan dan kiri dari rumah, tentu bakal banyak banget tanaman yang bisa ditanam sembari mengisi waktu ketika pekerjaan yang dilakukan di dan/atau dari rumah sudah selesai. Saya sendiri juga tidak punya lahan (tanah/pekarangan) yang banyak, sehingga memanfaatkan polybag merupakan pilihan tepat. Tanah yang diisi di polybag diperoleh dari Abang Umar Hamdan dan Cahyadi. Ada juga tanah dari pekarangan samping Pohon Tua (dekat jalan). Yang penting adalah keuletan dan ketekunan merawat tanaman-tanaman tersebut, termasuk memberi pupuk dan menyemprot cairan anti hama, serta memberi kesempatan kepada tanaman disentuh sinar matahari untuk perkembangannya.

Berkebun di masa Covid-19 merajalela ini harus melihat-lihat juga tanaman mana yang lekas tumbuh dan bisa dikonsumsi. Kalau kita memilih menanam pepaya, misalnya, tentu tidak bisa lekas panen dalam tempo minggu atau tiga bulan. Pepaya setidaknya membutuhkan waktu sampai sembilan bulan untuk bisa dipanen. Oleh karena itu, pintar-pintar memilih tanamannya ya. Kali ini saya bakal menulis tentang lima tanaman kebutuhan dapur yang sangat mudah ditanam dan boleh dibilang jangka waktu panennya cukup cepat. 

Marilah kita cari tahu!

1. Sorgum


Bagaimana bisa sorgum tumbuh di tanah sisa beranda belakang Pohon Tua yang cuma sebesar 1 x 1 meter itu, kalian bisa membaca pos berjudul Panen Sorgum Untuk Pertama Kalinya Sungguh Bikin Happy. Sorgum merupakan tanaman yang sangat mudah ditanam. Gali tanah, isi bibit sorgum, biarkan saja. Dalam waktu sebulan saja sudah mulai kelihatan bibitnya tumbuh. Jangan salah, penampakan pohon sorgum ini mirip pohon jagung tapi mereka berbeda. Hehe. Dalam waktu tiga bulan, sorgum sudah bisa dipanen. Bagaimana cara memanennya, kalian bisa membaca pos di atas, atau menonton video berikut ini: 


Sorgum yang sudah dipanen itu dirontokkan bulirnya, lantas dijemur. Bisa juga dijemur baru dirontokkan bulirnya. Tinggal pilih mana yang paling gampang. Saya mencoba mengelola biji sorgum ini. Pertama-tama digoreng layaknya jagung bunga. Bisakah? Bisa! Jadinya: sorgum bunga. Karena waktu itu hanya mencoba, ya tidak banyak ... hehe.


Keesokan harinya tiga genggam sorgum kami coba tanak layaknya menanak nasi menggunakan panci (bukan di magicom). Ternyata ... bisa! Amboi, bahagianya saya melihat sorgum itu di piring. Langsung saya tata, untuk keperluan foto, dengan bahan apa pun yang ada di meja karena saat itu si Thika masih memasak lauk-pauk bekal makan malam. Hehe. 


Tak ada daun sop, cabe ijo pun jadi *ngakak guling-guling*.

2. Cabe


Cabe termasuk tanaman kebutuhan dapur yang dimanfaatkan sehari-hari untuk membikin sambal. Tanpa tomat pun, cabe yang diulek bercampur garam dan bawang sudah bisa menemani nasi yang kita makan. Sejak ditanam, cabe mulai berbuah dan bisa dipanen/dipetik dalam jangka waktu yang lumayan singkat sekitar satu sampai dua bulan, dan seterusnya selama dia terus berbunga maka insha Allah berbuah.


Menanam cabe bukan baru pertama kali bagi saya. Dulu saya juga menanamnya dan setelah tumbuh besar hampir setiap hari kami menikmati cabe hasil tanam sendiri ini. Bibit cabe dibeli di Toko Sabatani. Saya suka sekali sama toko ini karena semua kebutuhan berkebun tersedia. Yang jelas, harus bawa duit! Haha. Pada foto di atas ada pohon cabe rawit dan pohon cabe keriting yang juga sudah berbuah. Dua anakan cabe ini saya peroleh dari Cahyadi.

3. Kangkung


Kangkung merupakan tanaman yang paling mudah tumbuh dan paling cepat dipanen. Bahkan, kalian tidak perlu membeli bibit kangkung, cukup memanfaatkan batang-batang kangkung yang daunnya sudah dipakai/dimasak. Tidak percaya? Kangkung yang kalian lihat pada gambar berikut ini merupakan hasil dari menanam kembali batang kangkung yang daunnya sudah kami konsumsi loh.


Dari saat menanam sampai dipanen hanya membutuhkan waktu sekitar dua sampai tiga minggu. Lumayan cepat kan? Saat ini saya juga sedang menanam kangkung tapi bukan batangnya melainkan bibitnya. Dari video di Youtube ada bermacam cara menanam bibit kangkung. Katanya bibit harus direndam terlebih dahulu dengan air sebelum ditanam. Oleh karena itu kami mencoba dua cara. Pertama: bibit langsung ditanam pada media tanam di polybag. Kedua: bibit direndam terlebih dahulu dengan air sebelum ditanam pada media tanam di polybag. Nanti kita lihat hasilnya. Mana yang duluan tumbuh. Soalnya baru dilakukan/ditanam kemarin.

4. Bawang Merah


Menanam bawang merah saya lakukan hanya karena ikut-ikut, gara-gara melihat video di Youtube. Cara menanamnya atau membudidayakannya pun bermacam-macam. Saya lantas mencoba menanam beberapa bawang di polybag yang ukurannya agak besar. Saya menanamnya pada tanggal 17 April kalau tidak salah. Saya pikir, sepertinya bawang ini tidak bakal tumbuh karena naga-naganya bakal tamat. Eh, tetapi suatu pagi saya dikejutkan dengan pertumbuhan daun bawangnya! Amboiiii ... bahagia hati saya melihatnya.


Gara-gara itu, saya kembali mencoba menanam bawang dengan teknik lain yaitu semacam hidroponik tapi ini yang super sederhana saja. Awalnya juga saya pikir bakal tamat generasi penanaman kedua ini. Tetapi ternyata ... tumbuh. Bawang ini saya tanam sekitar awal Mei.


Kalau kalian lihat ada penampakan kulit telur, iya, saya menghancurkan kulit-kulit telur dan menyiramnya di tanah tempat tanaman tumbuh. Apa manfaat kulit telur bagi tanaman ... nanti bakal saya ulas haha.

5. Toge


Toge (tauge) merupakan sayuran yang tidak perlu ditanam, sebenarnya, tetapi kalau kalian mau bolehlah menanam bibit kacang ijo (hijau). Hanya bermodalkan kacang ijo kemasan 5K kami bisa menikmati toge selama dua hari (dibagi dua).


Membikin toge sangat mudah. Tinggal direndam, lantas dibiarkan saja di wadah dengan ditutup kain. Hasilnya seperti yang kalian lihat di atas.


Selain lima tanaman di atas, ada juga bibit sawi yang kami tanam. Tetapi karena salah menanam, di mana saya menanam dalam jumlah banyak per polybag, sebagiannya mati, sebagiannya hidup. 


Katanya sawi sudah bisa dipanen setelah usia satu sampai dua bulan. Mungkin karena media tanam waktu itu belum dicampur bokasi, dan cara menanam yang salah, makanya sudah sebulanan lebih sawinya tetap begitu-begitu saja, alias pertumbuhannya sangat lambat. Tapi tidak mengapa. Ini menjadi pembelajaran bagi saya untuk ke depannya. Setidaknya sawinya tetap tumbuh meskipun sangat lambat.

Baca Juga: 5 Kegiatan Yang Saya Lakukan Saat Di Rumah Saja

Berkebun memang sangat menyenangkan terutama pada saat sekarang di mana kita lebih banyak berada di rumah. Setiap pagi saya selalu dikejutkan dengan perubahan tanaman-tanaman ini (saat mereka mulai tumbuh besar). Tanaman-tanaman yang sudah besar saya letakkan di luar beranda yang tidak beratap sedangkan yang masih kecil dikeluarkan setiap pagi dan dimasukkan kembali setiap sore. Tidak lupa untuk menyiramnya pagi dan sore, tapi tidak sama takaran air untuk setiap tanaman. Dikira-kira saja lah. 

Semoga bermanfaat!

#KamisLima



Cheers.

Panen Sorgum Untuk Pertama Kalinya Sungguh Bikin Happy


Panen Sorgum Untuk Pertama Kalinya Sungguh Bikin Happy. Hola! Ketemu lagi di Hari Senin. Harinya saya bertugas alias piket di kantor. Iya, sejak minggu kemarin, saya kebagian piket di kantor setiap Senin dan Selasa, tetapi karena peraturan piket baru diberitahu pada Selasa dan saya membaca pesan itu Selasa siang, jadinya baru minggu ini saya memulai piket. Urusan piket ini sebenarnya sudah diberlakukan pada masa awal #DiRumahSaja di mana saya kebagian jaga kandang setiap Senin dan Rabu, tetapi sempat terhenti sejak keluarnya surat edaran kedua perpanjangan masa #DiRumahSaja, dan ketika surat edaran ketiga perpanjangan masa #DiRumahSaja kembali dikeluarkan, piket pun kembali diberlakukan. Senang? Tentu!

Baca Juga: Belajar Blog Sambil Donasi di Kelas Blogging Online

Saya sudah pernah menulis bahwa selama berada di rumah (saja) banyak kegiatan yang telah dilakukan. Salah satunya adalah berkebun mini di beranda belakang Pohon Tua. Nah, hari Minggu kemarin ada sesuatu yang bikin saya happy. Akhirnya saya memanen sorgum yang tumbuh di petak tanah sisa 1 x 1 meter itu! Sebagai orang yang belum akrab dengan sorgum, saya harus bertanya terlebih dulu pada Cahyadi tentang kondisi sorgum, apakah sudah boleh dipanen atau belum? Ternyata kata Cahyadi, sorgum itu sudah boleh dipanen. Ayolah! Eits, tapi sebelumnya, Minggu pagi sekitar jam sepuluh kami berangkat ke kebun sorgum milik Cahyadi di daerah Woloare untuk mengambil tanah sekarung. Tanah ini bakal saya tanami anakan ubi tatas yang sudah mulai bertunas dari beberapa ubi tatas yang saya tanam sekitar dua minggu lalu. Selain membawa tanah sekarung, saya juga membawa pulang satu polybag anakan cabe dan satu polybag anakan cabe rawit.

Cerita tentang kebun sorgum milik Cahyadi dan panen sorgum di beranda belakang Pohon Tua silahkan kalian nonton pada video berikut:



Sebenarnya, apa sih sorgum itu?

Menurut Wikipedia, Sorgum (Sorghum spp.) adalah tanaman serbaguna yang dapat digunakan sebagai sumber pangan, pakan ternak dan bahan baku industri. Sebagai bahan pangan, sorgum berada pada urutan ke-5 setelah gandum, jagung, padi, dan jelai. Sorgum merupakan makanan pokok penting di Asia Selatan dan Afrika sub-sahara. Sorgum juga mengandung serat tidak larut air atau serat kasar dan serat pangan, masing-masing sebesar 6,5% - 7,9% dan 1,1% - 1,23%. Kandungan proteinpun seimbang dengan jagung sebesar 10,11% sedangkan jagung 11,02%. Begitu pula dengan kandungan patinya sebesar 80,42% sedangkan kandungan pada jagung 79,95%. Hanya saja, yang membuat tepung sorgum sedikit peminat adalah karena tidak adanya gluten seperti pada tepung terigu. Masyarakat indonesia sudah tenggelam dalam nikmatnya elasitisitas terigu, karena tingginya gluten, dan inilah yang membuat adonan mie, dan roti menjadi elastis.

Terlalu banyak makan dari bahan pangan ber-gluten tidaklah terlalu baik untuk kesehatan, karena dapat menyebabkan celiac desease. Ini merupakan salah satu titik tolak bahwa alternatif tepung yang sehat dapat dikonsumsi adalah tepung sorgum. Selain itu Sorgum dikenal memiliki manfaat yang lebih baik daripada tepung terigu karena gluten free serta memiliki angka glikemik index yang rendah sehingga turut mendukung tren gerakan konsumen gluten free diet seperti di negara-negara maju.

Ceritanya sampai Cahyadi berkebun sorgum dan merembet ke saya adalah pada suatu hari, saya lupa tahun berapa (2017, 2018, atau 2019?), Cahyadi mengantar tamu yang hendak pergi ke Dusun Likotuden, Desa Kawalelo, Kecamatan Demon Pagong, Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Ada apa di sana? Ada Mama Sorgum Indonesia yaitu Maria Loretha. Dari perjalanan itu Cahyadi membawakan saya kue sorgum dan butir-butir sorgum siap pakai. Dari situlah Cahyadi mulai kepikiran untuk ikut menanam sorgum, melihat manfaatnya yang sangat baik bagi kehidupan umat manusia. Pada tahun 2019 Cahyadi kembali pergi ke sana dan membawakan saya sebungkus bubuk sorgum; bubuk ini dapat dicampur air panas untuk diminum, boleh dicampur gula, boleh tidak dicampur gula, mana-mana suka.

Sampai sorgum kemudian tumbuh di petak tanah sisa 1 x 1 meter di beranda melakang Pohon Tua, silahkan baca pos berjudul Membikin Kebun Mini di Beranda Belakang Pohon Tua. Kalian akan tahu bahwa sorgum merupakan tanaman yang tidak sombong dan tidak repot untuk tumbuh. Dia bisa tumbuh di mana saja selama ada sinar matahari dan air. Saya sudah membuktikannya, saya sudah memanennya!







Setelah dipanen sorgum harus dijemur terlebih dahulu, kemudian digiling/ditumbuk untuk memisahkan isi dan kulit, baru deh diolah untuk dikonsumsi. Karena mesin penggiling sorgum tidak ada di Kota Ende (kabarnya ada di Kecamatan Detusoko, di tempatnya Nando Watu yang sudah terlebih dahulu menanam sorgum), kayaknya saya bakal menumbuknya menggunakan lesung kayu. Sama seperti menumbuk kopi yang sudah disangrai! Hehe. Kayaknya kegiatan menumbuk sorgum bakal seru dan bakal jadi pengalaman bagi kami serumah.


Baca Juga: Seni Lukis dan Seni Kata di Kedai Kampung Endeisme

Bagaimana, kawan? Ternyata tidak sulit kan memperoleh bahan pangan pengganti nasi? Jujur, gara-gara Covid-19 pun saya kepikiran menanam bahan pangan yang bisa dimakan sebagai pengganti nasi. Bahan pangan itu antara lain ubi tatas dan kentang. Ubi tatas sudah selesai disemai; dari dua sampai tiga biji ubi tatas yang saya tanam, menghasilkan belasan anakan yang ditanam di polybag terpisah setiap anakannya. Mungkin yang paling sulit itu kentang, karena sudah dua kali percobaan ini masih belum membuahkan hasil, hanya saja kentang yang waktu tanamnya bersama-sama ubi tatas saya bongkar dari polybag dan ternyata ... muncul tunas-tunas keciiiil banget dari mata kentang. Makanya kentang itu langsung saya potong dan tanam dengan bagian tunas ngintip dari balik tanah. Semoga tumbuh juga. Setidaknya ubi tatas dan kentang bisa bikin kenyang. Ha ha ha.

Semoga bermanfaat!

Mari berkebun!

#SeninCerita
#Ceritatuteh



Cheers.

Membikin Kebun Mini di Beranda Belakang Pohon Tua


Membikin Kebun Mini di Beranda Belakang Pohon Tua. Salah satu cara memutus rantai penyebaran Covid-19 bagi para pekerja kantoran adalah work from home. Sedapat mungkin pekerjaan dilakukan di rumah dan dari rumah. Namun, apabila terpaksa harus keluar rumah, maka harus dilakukan dengan mematuhi protokol perlindungan diri, yang dilakukan juga demi perlindungan orang lain, yaitu dengan memakai masker, menjaga jarak, dan tidak boleh menyentuh wajah sebelum mencuci tangan minimal dua puluh detik dan/atau membasuh tangan dengan hand sanitizer. Protokol perlindungan diri ini insha Allah selalu kami lakukan, termasuk untuk siapa saja yang masuk ke dalam Pohon Tua, rumah kami, mereka wajib membersihkan tangan dengan sabun atau hand sanitizer.


Kembali lagi pada work from home. Apakah asyik? Ya, asyik! Tidak perlu harus mandi terlebih dulu, bisa dilakukan dengan mengenakan pakaian rumah, dan seringnya dilakukan di kamar karena laptop (dan meja kerja) berada di kamar. Asyik lainnya adalah bisa mengisi waktu kosong karena durasi pekerjaan tidak memakan waktu sampai delapan jam sehari seperti kehadiran kita di kantor pada hari-hari normal. Waktu kosong itu saya manfaatkan dengan melakukan berbagai kegiatan. Salah satunya adalah berkebun (mini) di beranda belakang Pohon Tua. Kenapa saya sebut beranda, bukan halaman? Karena halaman Pohon Tua itu letaknya di samping-belakang, berdekatan dengan jalan, sedangkan bagian belakang Pohon Tua itu betul-betul seperti beranda di mana ada bekas dapur anak kos zaman dulu, bak penampung air, hingga tempat menjemur pakaian yang tanahnya dilapisi semen. Tanah yang tersisa hanya sekitar 1 x 1 meter saja (yang tidak dilapisi semen), serta di bagian pojok/sudut atas.


Berkebun bukan baru pertama kali ini saya lakukan. Dulu juga sudah saya lakukan dan telah membuahkan hasil yang dinikmati oleh banyak orang. Tanaman daun sop sudah dibagi-bagi kepada siapa pun yang memintanya, cabe sudah dinikmati hampir setiap hari, cocor bebek dan daun mengkudu diminta sama yang membutuhkan untuk obat, dan lidah buaya telah saya pergunakan untuk dikonsumsi sebagai penurun kadar gula dalam darah. Selain itu lidah buaya saya oleskan pada bekas-bekas luka yang menghitam. Haha. Gini hareeee masih ada bekas luka, main di parit lu, Teh? Sayangnya waktu itu tomat tidak bisa dinikmati karena hama dari Negara Api menyerang. Sayur sawi yang mulai mekar hancur ... entah akibat perbuatan siapa. Dududud.




Tahun 2020 saya kembali membakar semangat. Hahahaha.

Berawal dari suatu hari saat saya kembali menyalakan api asmara ingin bercengkerama dengan aneka tanaman. Maka saya mengisi lima polybag dengan tanah setelah meminta bibit tanaman pada Cahyadi. Tanahnya diambil dari samping-belakang Pohon Tua. Cahyadi datang membawa bibit-bibit untuk ditanam antara lain terong, cabe, dan sawi. Tetapi dua minggu berlalu, tidak ada satu pun tanda-tanda kehidupan dari polybag tersebut. Miris. Artinya tanah itu tidak mampu menopang pertumbuhan bibit. Apa yang tidak saya ketahui adalah bahwa pada hari itu juga, selain menanam bibit terong, cabe, dan sawi, diam-diam Cahyadi pergi ke beranda belakang Pohon Tua untuk menanam sorgum dan marungge (kelor) pada sekitar 1 x 1 meter tanah sisa itu. Inilah sumber segala sumber kegilaan saya ... kemudian. Sorgum dan marungge tumbuh menjulang tanpa kami sadari! Amboiiiiii.


Bibit terong, cabe, dan sawi itu memang tidak tumbuh. Tapi saya tidak menyerah. Saya harus bisa menumbuhkan tanaman di tahun ini! Tahun pandemi Covid-19! Melihat itu, Cahyadi (mungkin) merasa kasihan, maka dia membawakan saya tujuh polybag kecil anakan tanaman. Dua anakan terong, satu anakan cabe, dan empat anakan marungge. Duh, tujuh polybag itu saya sayang-sayang seperti pacar sendiri.

Bermodal tujuh polybag dan semangat yang menggila, saya mengajak Thika Pharmantara dan Melly untuk membenahi beranda belakang. Rak pot bunga berbahan kayu yang berada di teras Pohon Tua dipindah ke beranda belakang, berdekatan dengan bak air yang sudah tidak terpakai itu. Polybag sudah disiapkan. Tanahnya? Saya pun meminta tanah pada Abang Umar Hamdan, pentolannya Anak Cinta Lingkungan (ACIL). Dapat satu karung! Horeeee. Abang Umar sampai terkekeh mendengar permintaan tanah (subur). Orang lain minta tanah berhektar-hektar, saya minta tanah sekarung buat tanaman. Ya mau bagaimana lagi? Semangat ada, bibit ada, lahan tidak ada. Tapi selama masih ada polybag dan tanah, mari lanjutkan.


Cahyadi datang membawa tas berkebunnya yang berisi: aneka bibit dan dua sendok semen. Sore yang hangat itu kami menanam bibit terong, bibit cabe, bibit tomat. Ketiganya kami beli bibitnya di Toko Sabatani (yang murah, per bungkus hanya 2K saja). Lantas, Cahyadi menanam bawang putih di dua  polybag, dan bibit bengkoang di tanah sisa sebelah sudut atas. Kemudian, kami membeli lagi bibit sawi, kali ini yang dalam kemasan pabrik, agak mahalan sih harganya. Dan ... tentu saja kembali mendapat hibah sekarung tanah dari Abang Umar Hamdan. Mari, lanjut menanam.

Baca Juga: Membikin Sendiri Lilin Berbentuk Telur Untuk Paskah

Apa saja yang kami tanam? Bibit sawi, wortel, bawang merah, kentang, ubi tatas, hingga batang kangkung yang daunnya sudah dipakai memasak! Haha. Eits jangan salah ... tumbuh bagus loh kangkungnya. Saat saya menulis ini, bibit-bibit sudah tumbuh baik, dan saya sudah memindahkan terong pemberian Cahyadi ke wadah yang lebih besar karena si terong memang tumbuh besar!

 Terong dan cabe yang sudah dipindah ke polybag besar.

Terong dan cabe waktu masih di polybag kecil. 

Bengkoang yang mulai disentuh sinar matahari. 

Kangkungnya tumbuh, gengs. Padahal cuma dari batang sisa. 

Bibit sawi yang bermunculan ini bikin bahagia. 

Dan ini anakan terung dari bibit 2K, yang ternyata ... tumbuh.

Kalau yang dipanah itu, bawang putih.

Yang belum bisa saya foto karena memang belum nampak hasilnya. Hehe. Tapi, asli, saya bahagia melihat tanaman-tanaman ini tumbuh.

Berbekal pengalaman sebelum-sebelumnya, serta melihat cuaca (saat ini sering turun hujan), maka saya menerapkan pola yang berbeda untuk tanaman-tanaman yang masih mini ini. Setiap tanaman tentu membutuhkan sinar matahari untuk berfotosintesis dan membuat makanan. Tanpa cahaya matahari, susah sekali tanaman bisa tumbuh. Sinar buatan dari cahaya lampu tidak akan sama dengan sinar matahari yang alami dan gratis. Haha. Tanaman juga membutuhkan air, tetapi kalau kebanyakan air, bisa rusak pula tanaman itu. Apalagi yang basi baby begitu! Jadi, polanya adalah setiap pagi semua polybag akan dikeluarkan dari bagian beratap agar mereka terpapar sinar matahari. Kecuali kangkung yang memang kami biarkan saja di rak kayu butut itu. Setiap sore, semua polybag bakal kami simpan kembali ke bagian beratap untuk menghindari hujan di malam hari. Pola ini akan terus dilakukan sampai semua tanaman besar dan cukup kuat untuk menahan air hujan.

Capek donk? Memang! Tapi di dunia ini tidak ada pekerjaan yang tidak membikin capek. Dan percayalah, capek itu nantinya akan dibalas dengan hasil yang insha Allah baik.

Baca Juga: Tiga Desk Organizer Mini Ini Benar-Benar Menggemaskan

Gara-gara kebun mini di beranda belakang Pohon Tua saya jadi punya aktivitas yang betul-betul baru dan rutin. Setiap pagi, bergantian dengan Thika dan Melly, memindahkan polybag agar tanaman terpapar sinar matahari. Setiap dua jam sekali saya kembali ke sana untuk memercik semua polybag dengan air. Sore hari, setelah disiram air, semua polybag dimasukkan lagi ke bagian beranda yang beratap. Ini aktivitas rutin yang menyenangkan karena setiap pagi selalu ada kejutan baru dari setiap tanaman. Ada yang tumbuh besar, ada pula yang mengintip malu-malu dari tanah. Sebagai 'orangtua' tentu saya senang (bahagia lebih tepatnya) melihat pertumbuhan mereka.

Berikutnya kami akan coba menanam jahe, kunyit, dan kawan-kawan se-geng-nya.

Bagaimana dengan kalian, kawan? Di rumah saja jadi punya banyak waktu kan? Ayo berkebun. Jangan bilang kalian tidak punya lahan. Berkebun tidak selamanya harus punya lahan. Selama masih ada polybag/wadah dan tanah yang bisa diminta (tanah subur), tentu kita bisa berkebun mini. Kalau saya yang lebih suka nge-game ini bisa ... kalian juga bisa. Kebun mini mungkin tidak bisa menghidupi kita setiap hari, tetapi suatu saat dia pasti akan menjadi kebanggaan. Iya, bangga ... ketika sayur yang ada di piring itu berasal dari kebun mini sendiri.

Semoga bermanfaat!

#RabuDIY



Cheers.