Arsip Kategori: Belajar Berbasis Digital

Guru TK Pun Harus Menyiapkan Materi Pembelajaran Online


Guru TK Pun Harus Menyiapkan Materi Pembelajaran Online. Selain Universitas Flores (Uniflor), Yayasan Perguruan Tinggi Flores (Yapertif) juga menaungi dua lembaga pendidikan anak yaitu TK Uniflor dan Kober Yapertif. Lembaga pendidikan anak itu tidak hanya Taman Kanak-Kanak (TK) saja. Ada yang disebut Kelompok Bermain (Kober). Keduanya sama-sama lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Bedanya, ada pada regulasi yang mengatur tentang TK dan Kober ini. Pasal 28 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional berbunyi sebagai berikut:

Ayat (1):
Pendidikan anak usia dini diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar.

Ayat (2):
Pendidikan anak usia dini dapat diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal, nonformal, dan/atau informal.

Ayat (3):
Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal berbentuk Taman Kanak-kanak (TK), Raudatul Athfal (RA), atau bentuk lain yang sederajat.

Ayat (4):
Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan nonformal berbentuk Kelompok Bermain (KB), Taman Penitipan Anak (TPA), atau bentuk lain yang sederajat.

Ayat (5):
Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan informal berbentuk pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan.

Ayat (6):
Ketentuan mengenai pendidikan anak usia dini sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.

Baca Juga: Ternyata Bisa Juga Saya Membikin Video Tutorial Blogging

Rentang usia anak untuk Kober antara 2 s.d. 4 tahun. Rentang usia anak untuk TK antara 4 s.d. 6 tahun (sampai cukup usia memasuki bangku Sekolah Dasar). Sedangkan Taman Pendidikan Anak (TPA) biasanya untuk anak berusia 0 s.d. 2 tahun. Adanya TPA sangat membantu orangtua yang baik Bapak maupun Mama bekerja di luar rumah karena anak tidak saja mempunyai teman bermain tetapi juga diberikan pendidikan-pendidikan dasar oleh para pengelola TPA. Kalau begini saya jadi ingat dua buku yang ditulis oleh Mas Bukik Setiawan yang berjudul Anak Bukan Kertas Kosong dan Bakat Bukan Takdir.

Fast forward, saya dan Om Ihsan Dato ditugaskan untuk membikin video profil TK Uniflor dan Kober Yapertif. Tentu dalam masa pandemi Covid-19 akan sangat sulit mengumpulkan anak-anak, manapula anak-anak (dan lansia) kan sangat rentan. Alhamdulillah banyak footage video lama yang masih kami simpan dan bisa dipakai; anaknya Om Ihsan kan juga bersekolah di TK Uniflor. Selain itu kami juga ditugaskan untuk membikin video materi pembelajaran online. Ini yang asyik, karena inilah inti tulisan saya hari ini.

Senin kemarin, kebetulan jadwal piket saya menjaga gawang di kantor (Senin dan Selasa), saya bertugas merekam video pembelajaran online untuk murid TK Uniflor. Ketika sampai di lokasi, dua guru yang sudah siap direkam adalah Ibu Efi dan Ibu Gin. Maka, kami bertiga ditemani Kepala Sekolah Ibu Ross pergi ke ruang kelas untuk keperluan ini. Tentu menjaga protokol kesehatan yaitu menjaga jarak dan memakai masker. Tetapi ketika saya merekam, guru yang bersangkutan tidak memakai masker karena jarak antara saya (dan kamera) dengan guru yang sedang mengajar lebih dari satu meter. Lebih jauh dari jarak protokol kesehatan pencegahan Covid-19. Sedangkan saya sendiri tetap memakai masker dan beberapa kali membasuh tangan dengan hand sanitizer. Hahaha.

Ibu Efi memulai terlebih dahulu. Pura-puranya di dalam kelas juga ada murid, sebenarnya tidak ada. Haha. Ini akting tapi based on true story. Kenapa harus pura-pura ada muridnya? Supaya Ibu Efi mengajarnya lebih rileks seperti hari-hari normal. Dimulai dari menyapa anak-anak, bernyanyi memuji dan berterima kasih pada Tuhan, dan berdo'a. Lalu Ibu Efi mulai mengajarkan materi/tema yaitu tentang angka, warna, dan bendera. Pindah ke kelas selanjutnya saya merekam Ibu Gin. Dengan pembuka yang hampir sama dan materi/tema yaitu tentang rumah adat, membikin mozaik rumah adat, bendera, Presiden dan Wakil Presiden, hingga daerah Ende. Meskipun perkiraan saya hasilnya nanti setiap video materi pembelajaran hanya berdurasi sekitar lima sampai delapan menit, tapi proses syutingnya memakan waktu lebih dari dua jam. Iya, karena selain ada yang harus diulang, beberapa hal juga harus dipersiapkan terlebih dahulu.

Footage video pembelajaran itu sedang saya persiapkan untuk disunting dan nantinya akan diunggah di akun Youtube TK Uniflor dan Kober Yapertif untuk dipelajari oleh murid dari rumah mereka masing-masing.

Kawan, saya pernah membikin pernyataan: NGEMSI DI ACARA ULTAH ANAK-ANAK 1000 KALI LEBIH SULIT KETIMBANG NGEMSI DI ACARA ORANG DEWASA. Karena apa? Karena saya harus punya banyak trik agar anak-anak patuh dan mengikuti acara hingga selesai. Mereka dapat bersenang-senang bersama saya sebagai pembawa acara. Itulah sebabnya saya kagum sekali pada guru-guru TK dan Kober di mana pun mereka berada karena merekalah tumpuan awal pendidikan dan akhlak seorang anak! Memposisikan diri sebagai murid TK Uniflor saat merekam aksi dua guru tersebut di atas mengajar, saya terharu sekali. Membayangkan Mamatua dulu juga mengajar murid SD ... tentu harus punya trik, pun harus banyak gaya. Terberkatilah kalian wahai para guru. Saya sayang kalian semua.

Baca Juga: Ternyata Ada Teknologi Self-Sanitizing Door Handle Loh

Mau tidak mau, Covid-19 mengubah banyak hal di dunia ini, termasuk belajar anak-anak. Bagi anak-anak yang orangtuanya mempunyai akses yang baik untuk internet, tentu ini perkara mudah, karena mereka dapat menonton materi pembelajaran online di Youtube bersama anak. Tetapi bagaimana dengan orangtua yang sulit dengan akses internet dan bahkan listrik di daerahnya pun belum tersedia? Apakah mereka juga menjalankan sistem pembelajaran online atau e-learning ini? Tentu tidak. Lantas, bagaimana caranya? Ini yang saya tidak tahu karena belum pernah berkomunikasi atau bertanya-tanya pada guru-guru di desa/kampung. Semoga ada kesempatan melakukannya.

Bagaimana dengan di daerah kalian, kawan? Bagi tahu yuk di komen.

#SelasaTekno



Cheers.

Sudah Saatnya Proses Belajar-Mengajar Lebih Mudah


Saya masih ingat. Sangat-sangat ingat *sambil ngelus kuku dinosaurus*. Dulu, Kakak Toto Pharmantara (alm.) berkata: Non, nanti itu anak sekolah jarang pakai buku tulis karena semua catatan disimpan di komputer dan tugas dikumpulkan lewat e-mail. Kakak Toto bilang begitu pada saat menghadiahkan saya seperangkat komputer yang masih menggunakan DOS. Kalian yang pernah berada pada zaman itu pasti tahu bentuk disket. Waktu itu saya cuma angguk-angguk sambil membuka game Prince of Persia dan menghafal dua tiga jurus pedangnya. Hahaha! Djafar sungguh jahat di situ.

Baca Juga: Tungku Kemping Mini yang Praktis dan Keren

Saya tahu, hingga lulus SMA Negeri 1 Ende (zaman saya SMU), menyimpan catatan di komputer apalagi mengirim tugas melalui e-mail tidak terjadi. Zaman itu, bisa mencetak tugas makalah yang diketik di Lotus123 menggunakan printer pita yang gede saja sudah girang bukan main! Senangnya adalah saya boleh bersombong-ria karena sudah punya komputer sendiri sehingga tidak kesulitan mengetik tugas berbentuk makalah. Dududu, sombong! Haha. Masih juga saya ingat makalah pertama yang saya ketik menggunakan Lotus123 itu tentang pembedahan novel Siti Nurbaya (Kelas 3 Bahasa sih).

Waktu kuliah, belasan tahun kemudian, baru saya rasakan yang namanya belajar, katanya, berbasis digital. Meskipun yang dilakukan belum seratus persen digital. Contohnya, bahan kuliah dari dosen bisa dikopi menggunakan flashdisk. Kalau pun saya tidak membawa flashdisk, dosen memperbolehkan (setidaknya waktu itu tidak melarang) saya memotret tampilan slide di layar. Loh, kenapa difoto? Karena saya bisa melakukan proses belajar dua kali. Pertama: saat mendengar pemaparan dosen, sambil memotret materinya. Kedua: saat mengetik ulang materi kuliah di dokumen Word. Sip kan?

Zaman sekarang ... proses belajar-mengajar menjadi jauh lebih mudah. Waktu saya menjadi pemateri blog yang diselenggarakan oleh PBSI Uniflor kemarin, nyata-nyata saya tahu bahwa ternyata ada dosen yang menggunakan WAG untuk proses belajar-mengajar tambahan selain di kelas. Uh wow sekali itu menurut saya. Bapak Yohanes Sehandi menjelaskan bahwa mahasiswa di kelasnya itu mengumpulkan tugas melalui WAG yang dibikin khusus untuk menyetor tugas-tugas kuliah. Jadi, pertemuannya di kelas, kemudian mahasiswa diberi tugas, tugasnya dikumpulkan via WAG tersebut. Senang sekali mendengarnya. Ternyata kami tidak ketinggalan kan? Proses pengumpulan tugas via WAG itu membikin proses belajar-mengajar jauh lebih mudah. Dan tentu saja, menghemat waktu.

Menurut saya, apa yang dilakukan oleh Pak Yohanes Sehandi, atau oleh dosen lain yang menggunakan Google Classroom sudah sangat bagus. Google Classroom terutama apabila dosen yang bersangkutan berhalangan hadir. Tetapi ada satu hal yang juga akan sangat mendukung proses belajar-mengajar ini ... salah satunya menggunakan media blog.

1. Pertemuan di kelas.
2. Dosen memberikan tugas.
3. Tugas dikumpulkan menggunakan tautan blog.

Seandainya saya menjadi dosen atau pengajar, saya bakal mengoptimalkan blog untuk mempermudah proses belajar-mengajar.

Pertama: materi kuliah atau bahan ajar secara umum bakal saya pos di blog. Tugas mahasiswa adalah membacanya dengan teliti dan menyiapkan pertanyaan untuk bahan diskusi saat pertemuan berikutnya.

Kedua: waktu pertemuan di kelas, rata-rata dua jam, tidak digunakan untuk pemaparan materi lagi, melainkan untuk tanya-jawab dan diskusi. Mahasiswa boleh bertanya sebanyak-banyaknya. Atau, mahasiswa dibentuk beberapa kelompok untuk berdiskusi kemudian mereka dipersilahkan berdebat. Hwah, terbayang asyiknya. Hahaha.

Ketiga: tugas yang diberikan pun harus dikumpulkan melalui pos blog. Mahasiswa silahkan mengirimkan tautan tugas yang disetorkan dan dosen menilainya dari situ. Tentu dalam hal ini, tugas-tugas yang membutuhkan analisa ... misalnya anak hukum menganalisa tentang undang-undang atau bagaimana implementasi undang-undang tersebut di masyarakat.

Menghayal boleh kan hahaha.

Pertanyaannya sekarang adalah: kenapa harus blog yang menjadi pilihan saya?

1. Mahasiswa senang punya blog. Artinya mereka tidak ketinggalan zaman.
2. Sekalian belajar menulis dengan baik dan benar/menulis tulisan kreatif.
3. Sekalian belajar tentang monetize.

Baca Juga: Gate: Rak Serbaguna

Yang jelas, ketika orang-orang berkata sudah saatnya proses belajar-mengajar lebih mudah dengan dunia digital, dosen-dosen di Uniflor sudah ada yang melakukannya. Ada yang menggunakan WAG, ada pula yang menggunakan Google Classroom, dan sebagian menggunakan blog. Kami di Ende sudah maju juga. Sama seperti kalian.

Bagaimana dengan di daerah kalian? Bagi tahu yuk di komen!



Cheers.