Pasar Bandeng, Merawat Warisan Wali Hingga Kemandirian Ekonomi Masyarakat Pesisir

Pasar Bandeng, Merawat Warisan Wali Hingga Kemandirian Ekonomi Masyarakat Pesisir
Setiap menjelang Idulfitri, daerah-daerah pesisir utara Kabupaten Bekasi seperti wilayah Kecamatan Tarumajaya, Babelan, Muaragembong dan sekitarnya memiliki banyak tradisi kebudayaan yang masih dilestarikan oleh penduduknya hingga saat ini.

Salah satu tradisi itu yaitu Tradisi Pasar Bandeng yang selalu hadir pada saat warga pesisir Bekasi menyambut hari raya Idulfitri. Tradisi ini juga berdampak pada kemajuan perekonomian masyarakat pesisir dan sekitarnya yang banyak terdapat tambak ikan bandeng dan lain-lain.

Ikan bandeng

Ikan bandeng (Chanos chanos) adalah ikan pangan populer di Asia Tenggara. Menurut Wikipedia, ikan ini merupakan satu-satunya spesies yang masih ada dalam suku Chanidae (bersama enam genus tambahan dilaporkan pernah ada namun sudah punah). Dalam bahasa Bugis dan Makassar dikenal sebagai Ikan Bolu, dan dalam bahasa Inggris disebut Milkfish.

Bandeng disukai karena rasanya yang gurih, rasa daging netral (tidak asin seperti ikan laut) dan tidak mudah hancur jika dimasak. Dari sisi harga, bandeng termasuk ikan kelas menengah ke atas. Dalam perayaan Tahun Baru Imlek, hidangan bandeng menjadi bagian tradisi wajib bagi warga Tionghoa asli Jakarta dan sekitarnya. Kelemahan bandeng ada dua: dagingnya 'berduri' dan kadang-kadang berbau 'lumpur'/'tanah'.

Ada Apa Dengan Bandeng?

Silvita Agmasari dalam Kompas Travel menulis sebuah artikel berjudul: "Makan Bandeng Saat Imlek, Hanya Ada di Tradisi Tionghoa Indonesia". Dalam artikel tersebut dijelaskan bahwa keterkaitan Bandeng dengan Imlek tidak sepenuhnya benar, karena "makan ikan bandeng pada Hari Imlek hanya merupakan ciri khas masyarakat etnis Tionghoa di Pulau Jawa." mengutip pernyataan Ketua Program Studi China Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Hermina Sutami saat dihubungi KompasTravel, Kamis (8/2/2018).

Dalam artikel tersebut juga disebut bahwa, dalam buku "Saudagar Baghdad dari Betawi" karya Alwi Shahab menengarai, kehadiran bandeng yang menjadi salah satu tradisi Imlek di kawasan Jabodetabek merupakan perpaduan budaya China dan Betawi. Sebab selain Tionghoa, Betawi juga memiliki tradisi yang menggunakan bandeng. Bedanya dalam tradisi Betawi, ikan bandeng mentah dan segar menjadi antaran calon mantu ke mertuanya. Di buku tersebut, dijelaskan bahwa ukuran bandeng yang dibawa calon menantu ke calon mertuanya bisa menentukan kelanjutan perjodohan.

Konon ikan bandeng juga menjadi salah satu item wajib saat tradisi nyorog. Nyorog adalah tradisi masyarakat Betawi dalam menyambut bulan Ramadan dan lebaran, dalam tradisi ini yang muda bersilaturahim sambil memberikan hantaran berupa makanan matang atau mentah kepada yang lebih tua sepeti orang tua, mertua, enkong, uwak, encang-encing, abang dan seterusnya. 

Pendapat Alwi Shahab menurut saya cukup beralasan karena selain menjadi tradisi masyarakat pesisir Jakarta dan Bekasi ternyata Pasar Bandeng juga dikenal baik oleh masyarakat pesisir di Kabupaten Gresik Jawa Timur. Tradisi Pasar Bandeng di Gresik ini dipercaya oleh masyarakat sebagai warisan tradisi dari Sunan Giri (1442-1506 M). Sunan Giri atau Raden Paku adalah nama salah seorang Walisongo dan pendiri kerajaan Giri Kedaton, yang berkedudukan di daerah Gresik, Jawa Timur. 
Pasar Bandeng, Merawat Warisan Wali Hingga Kemandirian Ekonomi Masyarakat Pesisir

Kira-kira sekitar abad ke 15 masehi, Sunan Giri membantu perekonomian masyarakat pesisir Gresik dengan cara mengolah dan memasarkan hasil bumi dan hasil laut mereka. Salah satunya dengan menciptakan pasar bandeng di pusat kota sehingga berdampak positif bagi kemandirian ekonomi masyarakat Gresik, nelayan pesisir khususnya.

Tradisi ini hingga kini masih dijaga oleh Pemerintah Kabupaten Gresik. Hampir 3 km jalan di Gresik mulai dari Jalan Samanhudi, Jalan Gubenur Suryo, Jalan Raden Santri, dan Jalan Basuki Rachmat dipenuhi oleh pedagang, Pasar Bandeng di Gresik pada momen ini menjelma menjadi pasar ikan terpanjang di Indonesia.

Kapan Waktu Pasar Bandeng?

Di Gresik, Pasar Bandeng digelar pada malam 27 dan malam 28 Ramadan (H-3 dan H-2) sedangkan di Bekasi digelar pada H-1. 

Dari catatan Bang Ali Anwar sebagaimana dikutip oleh laman Garda Nasional, dikisahkan bahwa pada Hari Selasa Tanggal 29 Ramadhan 1365 Hijriyah atau 27 Agustus 1946 Masehi telah terjadi pertempuran antara Batalyon Infanteri V KNIL atau "Batalyon Andjing NICA" melawan Kompi I Batalion II Hizbullah yang dikomandoi Marzuki Hidayat salah satu Komandan Hizbullah Front Tambelang bersama-sama dengan para pejuang dari Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia (BPRI) yang dipimpin oleh Ahmad dan Gozali.

Pertempuran terjadi pada saat Pasar Bandeng di Pasar Kampung Karang Tengah (Saat ini diperkirakan di dekat saluran Banjir Kanal Timur/BKT sekitar Kampung Karang Tengah, Desa Pusaka Rakyat, Kecamatan Tarumajaya Kabupaten Bekasi) sehari sebelum perayaan Idulfitri (lebaran saat itu jatuh pada hari Rabu 28 Agustus 1946 / 1 Syawal 1365 H) dengan menimbulkan banyak korban tewas dari pihak Batalyon Anjing NICA.

Dari catatan sejarah itu jelas bahwa di Bekasi, pelaksanaan pasar bandeng adalah H-1 sebelum Idulfitri di pasar umum atau tempat jual beli pada umumnya.

Begitupun menurut salah satu tokoh masyarakat di kampung halaman saya, Bapak Marjuki Lahimsyah, S.Pd menjelaskan bahwa Pasar bandeng itu digelar pada H-1 Idulfitri. Baik di Pasar Babelan maupun Pasar Bojong Baru di Tarumajaya pasar bandeng sama-sama digelar pada H-1 Idulfitri.
"Saya masih ingat saat kecil orang tua saya menjual ayam hanya untuk membeli bandeng, sepertinya saat lebaran ikan bandeng lebih berharga dari ayam dan tanpa bandeng lebaran di kampung serasa kurang komplit." ujar Guru Marjuki sebagaimana saya menyebut beliau.

Kekinian, ada juga masyarakat yang menamakan pagi hari pada momen Pasar Bandeng dengan istilah Pasar Senggol, mungkin karena suasana pengunjung pasar yang berdesakan menyebabkan para pengunjung sering bersenggolan (bersentuhan badan).

Tampaknya istilah Pasar Bandeng ini hanya dikenal oleh masyarakat pesisir Bekasi, salah seorang penggiat sejarah Bekasi, Agah Handoko yang juga aktif dalam komunitas Bekasi Pakidulan menyatakan belum pernah mendengar ada pasar bandeng digelar di sekitar wilayah Kabupaten Bekasi bagian selatan.

Demikian juga menurut Djaelani, seorang aktivis muda dari Cibarusah Center. Djaelani mengonfirmasi bahwa istilah pasar bandeng tidak dikenal di wilayah Kabupaten Bekasi Pakidulan.
"Tapi untuk tradisi seperti nyorog ke mertua menjelang lebaran tetap ada dengan istilah "nganteuran", ikan bandeng menjadi salah satu item yang sudah seharusnya ada" tambah Djaelani.

Untuk wilayah Muaragembong yang tidak memiliki pasar, Uci Yusuf seorang penggiat lingkungan pesisir menjelaskan bahwa ikan bandeng menjelang lebaran akan bisa didapatkan dari penjual di lapak ikan dan bandar bandeng di pinggir jalan dekat Kantor Kecamatan Muaragembong.
"Ada di bandar bandeng, tapi belanjanya harus pagi-pagi, sekitar jam 7 sampai jam 9, di atas jam itu biasanya bandeng sudah habis dibeli warga" ungkap pengasuh laman online Muaragembong Kita ini.

Kini hidangan bandeng tidak selalu tersedia mentah, banyak pilihan jika kita lebih suka ikan bandeng yang sudah masak dan siap dimakan. Produk olahan ikan bandeng yang terkenal di Bekasi salah satunya adalah Bandeng Rorod produksi Bang Afif Ridwan dan istrinya.

Bandeng Rorod adalah Bandeng Isi Tanpa Duri (Olahan Ikan Bandeng) khas Bekasi, yang mudah dan praktis disajikan Bandeng Rorod tersedia dalam beberapa pilihan, antara lain Rasa Original dan Pedas. 1 Pack isi 1 ikan bandeng dengan sambal yang terpisah, berat bersih 125 gram, halal dengan sertifikasi dari MUI, diproses tanpa bahan pengawet dan tanpa MSG. Menrut Bang Afif, kalau disimpan di Frezer maka Bandeng Rorod dapat tahan sampai 6 bulan. Mau tau lebih banyak tentang Bandeng Rorod? klik bandengrorod.co.id
Bandeng Rorod Bekasi Bang Afif Ridwan
Bandeng Rorod Bekasi Bang Afif Ridwan
Jadi... mari kita ramaikan momen Pasar Bandeng di pesisir Bekasi, jadikan sebuah event tradisi yang bergengsi demi melestarikan tradisi warisan Sunan Giri dan juga demi memajukan ekonomi masyarakat pesisir. Semoga berkah, amiin.

Oh iya, sebagai catatan, bahasan soal pasar bandeng ini tidak ada hubungannya dengan Pasar Bandeng di Karawaci Tangerang Banten.


Kopi dingin dan hujan dini hari

Kopi dingin dan hujan dini hari

Segelas kopi menemaniku menunggu Bang Tama pulang kerja malam ini. Hujan seperti sengaja menambah gelisah mengingat jalanan Babelan yang rusak dan licin saat hujan. "Semoga bapak baik-baik saja yah nak" gumamku sambil mengelus perut yang berisi buah cinta kami.

Kalau mau diceritakan tentang hal termanis yang masih terus teringat tentang Bang Tama, mungkin itu adalah saat pertama kali aku perbolehkan Bang Tama mengantarku pulang. Iya, sudah beberapa kali dia menawarkan diri untuk mengantarku, tapi entah kenapa aku tidak mengizinkannya, hingga malam itu.

Ya, malam itu, malam saat langit Babelan sepertinya sedang bersekongkol dengannya. Gerimis yang tiba-tiba datang membuat satu persatu kawan seperjalananku pulang meninggalkan aku. Tanggung jawab sebagai panitia membuatku tidak bisa meninggalkan rapat-rapat penting seperti kawan yang lain. Aku rasa semua pun demikian jika tidak memiliki agenda acara yang bentrok.

"Tau gak apa yang bikin abang suka ama rapat-rapat yang kayak tadi Ros?" tanyamu membuka obrolan.
"Apaan bang?" tanyaku.
"Bisa ketemu Rosmah lah"
"Apaan? gak kedengeran bang" balasku pura-pura tidak mendengar dan ingin memastikan apa yang barusan kudengar.

"Cuma dalam rapat abang bisa ketemu eneng, rapat semalem suntuk ge ora ngapah-ngapah abang mah asal ada Rosmah ikutan rapat" jawabmu sambil tertawa.

Kemudian perjalanan menuju rumah terasa sangat cepat sekali, aku masih ingin berboncengan ketika motornya berhenti karena sudah sampai di rumahku.

"Makasih yah bang, kapan-kapan boleh dah mampir, kalo sekarang mah udah malem, gak enak ama tetangga, dah yak, assalam mualaikum" potongku cepat dan berbalik menuju ke rumah.

Hari-hari berikutnya waktu terasa berjalan lambat, kuliah seakan hanya menghitung hari, senin, selasa, rabu, kamis, alhamdulillah sudah jumat, besok aku bisa bertemu lagi dengan Bang Tama. Walaupun hampir tiap waktu luang kami selalu bertukar sapa di WhatsApp dan Facebook, namun tidak ada yang bisa menggantikan pertemuan langsung.

-----

Sabtu malam Minggu 15 April 2017, aku kembali bertemu Bang Tama dalam rapat terakhir dan persiapan gladi bersih acara milad komunitas kami yang pertama. Semua anggota berkumpul untuk berdoa bersama. Seluruh panitia hadir dalam suasana serius tapi santai, canda penuh keakraban mengisi acara tumpengan di aula gedung Karang Taruna Desa Babelan Kota malam itu.

"Tam, Rosmah bantu-bantu bagian konsumsi juga yah? Kayaknya temen-temen bakalan kerepotan nih ngurus konsumsi tamu" kudengar bang Raihan seakan meminta izin kepada Bang Tama.

"Tanya langsung orangnya dah, dia repot gak di seksi acara, tar gua bantuin juga dah ngurusin konsumsi tamu" kudengar Bang Tama menjawab cepat dan menatapku. Aku hanya tersenyum dan mengangguk tanda setuju. Kemudian Bang Raihan dan teman-teman kembali mendiskusikan tugas-tugas panitia untuk acara besok.

Entah kenapa telinga ini sekarang lebih tajam menyimak apa saja kalau menyangkut Bang Tama. Seakan-akan telinga ini punya radar yang menyala kalau mendengar nama Bang Tama disebut.

Tapi kenapa pula Bang Raihan meminta izin ke Bang Tama?, jangan-jangan semua teman sudah tahu ada hubungan khusus antara aku dan Bang Tama. Padahal kami jarang sekali bertemu, paling hanya acara-acara tertentu dan yah acara di komunitas ini, komunitas yang telah mempertemukan kami.

----

Perhelatan Milad pertama organisasi kami berjalan lancar, ratusan tamu datang dan pergi dihibur dengan alunan musik dan suara Bang Andri Goden dan kawan-kawan dari Getah Bacang, band musik Betawi yang cukup ternama di Bekasi. 

Usai acara, rasa gembira dan bangga tentu saja kami rasakan karena acara besar pertama kami telah berjalan lancar dan sukses. Namun di balik kisah sukses selalu ada kisah kerja keras, keyakinan, keringat dan juga lelah. Kami semua belajar bersama dengan gembira, saling mengisi dan saling menumbuhkan, hal yang mungkin tidak akan aku dapatkan jika aku tidak ikut berorganisasi dalam komunitas.

Namun ada kejadian yang membuat aku kesal sebenarnya. Saat acara aku melihat Bang Tama ngobrol mesra dengan Maya yang hadir di acara. Aku gak melarang Bang Tama menemui siapa saja di acara, dan aku juga gak bisa melarang Maya untuk datang, tapi aku tidak suka saja melihat Bang Tama ngobrol dengan Maya. Apakah ini yang namanya cemburu?

Aku cerita sedikit yah tentang siapa Maya? 
Maya dulu adalah teman akrab Bang Tama, aku tahu dulu Bang Tama juga sering mengantar dan menjemput ke rumah Maya di Wates Kedung Jaya. Aku tidak tahu pasti bagaimana tapi aku dengar dari teman-teman bahwa selanjutnya mereka saling menjauh. Terakhir yang aku tahu Maya sudah keluar dari komunitas dan Bang Tama sepertinya juga sudah tidak pernah lagi ke Wates menemuinya. Dari seorang teman aku mendegar hubungan mereka tidak direstui oleh orang tua Maya, mungkin faktor itu yang membuat Maya tidak pernah lagi berkumpul dengan kami dan akhirnya keluar dari komunitas. Mungkin saja sih, aku juga tidak begitu paham masalahnya.

"Dar, gua ke toilet dulu yak, ganti'in gua jaga stand konsumsi bentaran plisss" pintaku pada Asnidar.
"Ok, jangan lama-lama Mah, romannah tamu mingkinan banyak bae" jawab Asnidar.
"Gak, bentar doang ge' balik" jawabku sambil menuju Aula tempat penyimpanan persediaan konsumsi.
Aku lirik Bang Tama masih ngobrol dengan Maya, rasanya ingin cepat-cepat sampai ke Aula dan menangis sebebasnya. Entah apa yang aku pikirkan saat itu, perasaanku kacau, tapi sengaja aku mengambil jalan yang bisa dilihat Bang Tama.

Benar saja, tidak beberapa lama Bang Tama sudah menyusul. Ah, biarkan saja dia melihat aku menangis, biar dia mengerti aku tidak suka melihatnya dekat dengan Maya lagi.

"Nah ini dia, dicari'in ke mana-mana enggak taunya ada di marih. Rosmah, dicari'in Asnidar tuh" bujuk Bang Tama.
"Oh jadi Abang ke mari cuman mau ngasih tau itu? Saya udah tau bang, bentar lagi ge' balik kalo udah tenang perasaan saya" ketusku.
"Romanah ada yang lagi purik, Abang temenin dah yak"
"Ora usah bang, bagen saya dewekan di marih, udah Abang duluan ajah tar saya nyusul"
"Ogah ah, Abang maunya di marih, nemenin eneng"
"Lah ntuh pan ada Maya di sonoh, Abang temenin Maya ajah gih" jawabku sambil pindah duduk menjauh dari Bang Tama yang duduk di sebelahku.
"Mayanya udah pulang, tadi sempet nitip salam buat Rosmah" jawab Bang Tama perlahan.
"Iya makasih, salam balik, abang ora nganterin bang? dulu kayaknya sering dah nganter jemput" jawabku sambil membersihkan air mata yang sudah mulai berhenti.
"Udah lama ora pernah lagi neng, Abang ama Maya udah temen biasa, udah yuk, nanti abang ceritain semua dah selengkap-lengkapnyah, sekarang mendingan kita ngurusin tamu aja dulu yuk" ajak Bang Tama.
"Masih ama Maya juga ora apa-apa bang saya mah, iya udah abang aja duluan, tar saya nyusul"
"Hmmm nti abang jelasin dah Mah, sekarang kita balik ke acara aja dulu, bareng ajah yuk"
"Udah Rosmah ora ngapa-ngapa, Abang duluan aja, saya belakangan"
Bang Tama akhirnya meninggalkanku sempat aku lihat dia mengangkat sekardus air mineral lalu kemudian pergi.

Aku memang pernah mendengar Bang Tama dan Maya tidak direstui oleh orang tua Maya, tapi aku masih tidak percaya Bang Tama bisa melupakan Maya secepat itu, mereka dahulu setahuku cukup akrab dan mesrah. Ah, mungkin benar, ini yang namanya rasa cemburu.

-----

Sekian waktu telah berlalu sejak acara Milad komunitas kami, kegiatan semakin banyak, aku dan Oliv dipercayakan mengelola Seksi Pendidikan, ini menarik, selain sesuai dengan jurusan kuliah, ini dapat menambah wawasan dan mengaplikasikan ilmu yang aku dapat semasa di kampus.

Hubunganku dengan Bang Tama juga semakin baik, kami sudah saling mengenal keluarga masing-masing. Bang Tama juga sudah semakin sering mampir ke rumahku.
"Bang, Seksi Pendidikan enaknya ngapain yak?" pancingku suatu waktu saat Bang Tama mampir sepulang kerja.
"Ngajar bocah SD ajah, sekalian praktek, biar kepake ituh ilmu PGSD di kampus" jawab Bang Tama bersemangat.
"Tapi di sekitar rumah susah ngumpulin bocah SD Bang, mau dikumpulin di rumah juga tempatnya sempit" kali ini aku utarakan sekalian niatku.
"Ya udah, nti abang coba kumpulin bocah deket rumah abang, kebanyakan sih masih keponakan" jawab Bang Tama seperti merencanakan sesuatu.

Aku tahu di sekeliling rumah Bang Tama memang suasana kekeluargaaannya masih kental, namun aku masih ragu soal tempat. Anak-anak pasti akan kurang leluasa kalau teras rumah Bang Tama yang digunakan untuk berkumpul dan belajar. Ah semoga ada solusi mengenai tempat belajar yang menumbuhkan dan membuat anak-anak leluasa berekspresi.

Tidak beberapa lama aku dengar kawan-kawan menggagas sebuah Taman Baca yang didirikan persis di depan rumah Bang Tama. Aku menduga ini pasti ada hubungannya dengan pembicaraan kami waktu itu. Tapi aku tidak dapat memastikannya, lagi pula itu adalah usul dari beberapa kawan yang terinspirasi dari TBM Rumah Pelangi Bekasi di Sukawangi.

Kopi dingin dan hujan dini hari

Saung itu juga hasil kerja bersama teman-teman komunitas dan warga sekitar, malu jika aku mengaggap itu adalah jawaban dari persoalan tempat belajar yang Bang Tama persembahkan kepadaku. Namun demikian bolehkah aku menamakan saung ini "Taman Baca Kita"? Iya, kita... kita semua, tapi kalau kamu mau mengartikan  kata "kita" sebagai aku dan kamu... yah aku juga tidak keberatan kok.

Dengan bantuan banyak pihak akhirnya komunitas kami memiliki sebuah saung yang salah satu fungsinya digunakan sebagai taman baca. Buku-buku dan alat-alat belajar sedikit demi sedikit mulai terkumpul, kekompakan dan solidaritas kawan-kawan semakin tampak, mimpi yang sepertinya mustahil kini sediki mulai mewujud dan membuatku harus menyambutnya dengan dedikasi dan keseriusan. Bukankah dari keterbatasan itulah lahir kreativitas? 

Aku jadi ingat potongan kalimat Tere Liye di buku – Negeri Di Ujung Tanduk [2003].
“Kau tahu, Nak, sepotong intan terbaik dihasilkan dari dua hal, yaitu, suhu dan tekanan yang tinggi di perut bumi. Semakin tinggi suhu yang diterimanya, semakin tinggi tekanan yang diperolehnya, maka jika dia bisa bertahan, tidak hancur, dia justeru berubah menjadi intan yang berkilau tiada tara. Keras. Kokoh. Mahal harganya.
“Sama halnya dengan kehidupan, seluruh kejadian menyakitkan yang kita alami, semakin dalam dan menyedihkan rasanya, jika kita bisa bertahan, tidak hancur, maka kita akan tumbuh menjadi seseorang berkarakter laksana intan. Keras. Kokoh.”
Kalimat itulah yang aku tanamkan saat melihat anak-anak yang belajar di taman baca semakin banyak. Dari pelajaran sekolah, Bahasa Inggris dan belajar komputer mulai rutin kami laksanakan. Semoga anak-anak ini kelak akan menjadi intan-intan yang bertaburan, indah menghias kampungnya, Kampung Pangkalan, Desa Kedung Pengawas Kecamatan Babelan Kabupaten Bekasi.

---------------

Sabtu, 28 April 2018 dini hari. Gerimis masih belum mau reda. Masih menunggumu pulang sambil menikmati kopi dingin. "Yah semoga bapak baik-baik saja di jalan yah nak, amiin". []


Mampir di "Saung Baca Kita" Milik SI ABANG Babelan

Saung Baca Kita yang diasuh oleh Komunitas SI ABANG Silaturahim Anak Babelan Ngumpul
29 Maret 2018, Kamis malam Jumat lalu, saya akhirnya bisa berkunjung ke Saung Baca Kita yang diasuh oleh Komunitas SI ABANG (Silaturahim Anak Babelan Ngumpul). Esoknya, tanggal 30 Maret 2018 kebetulan libur bertepatan dengan Hari Wafat Isa Al Masih, jadi saya punya banyak waktu untuk ngobrol lebih jauh mengenai saung baca ini.

Kegiatan malam Jumat di Saung Baca Kita ini secara rutin adalah pembacaan Surah Yasin bersama-sama atau disebut yasinan. Setelah acara yasinan selesai, saya ngobrol lebih jauh mengenai seluk beluk SI ABANG, khususnya tentang kegiatan di Saung Baca Kita yang mereka asuh ini.
Saung Baca Kita yang diasuh oleh Komunitas SI ABANG Silaturahim Anak Babelan Ngumpul
Kongko setelah yasinan - 29 Maret 2018 (Foto Bang Saktam)
Malam itu alhamdulillah hadir beberapa orang yang menurut saya paham mengenai SI ABANG. Bang Hadi selaku ketua dari SI ABANG dengan santai bersama-sama anggota yang lain menjelaskan beberapa kegiatan yang dilaksanakan oleh komunitas SI ABANG seperti belajar Bahasa Inggris, belajar komputer, Hadroh, Sepak Bola, Pencak Silat dan lain-lain. Selain itu, SI ABANG juga kerap melakukan kegiatan sosial dan juga berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan kepemudaan.
Saung Baca Kita yang diasuh oleh Komunitas SI ABANG Silaturahim Anak Babelan Ngumpul
Memanfaatkan panggung dangdut yang sudah tidak dipakai (Foto: Fania)

Saung Baca Kita

Saung yang didirikan secara gotong royong oleh anggota komunitas SI ABANG pada Hari Minggu 3 Desember 2017 tahun lalu ini kini semakin hari makin ramai dikunjungi anak-anak dan warga sekitar. Saung ini dibangun dengan memanfaatkan rangka besi bekas panggung dangdut yang sudah tidak digunakan, ditambah kayu dan triplek sumbangan dari anggota dan warga, maka berdirilah saung baca yang dinamakan SAUNG BACA KITA. Lain waktu saya ceritakan lebih jauh tentang Komunitas SI ABANG ini yah, kali ini saya hanya mau cerita sedikit saja kegiatan di saung baca ini saat 2 kali saya mampir.

Hari Minggu 8 April 2018 pagi, alhamdulillah saya berkesempatan bermain dengan adik-adik di Saung Baca Kita. Karena yang biasa mengisi pelajaran Bahasa Inggris sedang berhalangan mengisi acara, maka saya memiliki kesempatan untuk sementara menggantikan beliau. Pengetahuan dasar saja, bernyanyi alfabet sekalian belajar penyebutan huruf-huruf dalam Bahasa Inggris. Dengan bantuan lagu alfabet saya kira adik-adik akan lebih mudah melatih pelafalan huruf dengan cara yang lebih gembira. 

Setelah sebentar bernyanyi selanjutnya adik-adik lanjut ke sesi belajar komputer di asuh oleh Bang Hadi. Sebelumnya beberapa anggota SI ABANG menelpon dan pergi mengambil laptop pinjaman, mereka kembali dengan 3 laptop yang berhasil dipinjam dari warga sekitar. Menurut Bang Hadi kalau sedang tidak digunakan oleh pemiliknya biasanya bisa terkumpul 6 sampai 7 laptop pinjaman untuk adik-adik secara bergantian belajar mengetik di microsoft word.

Para pemberi pinjaman laptop sebagian besar anggota SI ABANG selebihnya warga sekitar yang mau meminjamkan. Tentu ada faktor kepercayaan di sini bahwa laptop tersebut memang hanya digunakan untuk kegiatan belajar. Saya sempat ngobrol-ngobrol dengan adik-adik yang menunggu giliran, mereka rata-rata warga sekitar yang hanya beda RT dan RW. 
Saung Baca Kita yang diasuh oleh Komunitas SI ABANG Silaturahim Anak Babelan Ngumpul
Suasana belajar komputer Minggu, 8 April 2018
Bang Hadi yang sehari-hari tercatat sebagai tenaga pengajar di MTs Attaqwa 17 Babelan dan SMK Alam Karya Sukawangi juga sempat bercerita soal masalah UNBK yang menggunakan komputer sekolah atau laptop.
"Kasihan adik-adik yang tidak terbiasa menggunakan komputer/laptop dikhawatirkan akan terkendala secara teknis dalam mengerjakan soal-soal UNBK" ungkapnya prihatin. Karenanya ia dan kawan-kawan melakukan kegiatan belajar komputer agar adik-adik lebih akrab dan terbiasa menggunakan komputer.

Obrolan lain selanjutnya adalah mengenai agenda Milad kedua SI ABANG yang rencananya akan dilaksanakan di Halaman Kantor Desa Muarabakti Kecamatan Babelan pada hari Minggu tanggal 22 April 2018. Saya pikir pasti acara ini akan ramai. Semoga acaranya lancar kelak.
Saung Baca Kita yang diasuh oleh Komunitas SI ABANG Silaturahim Anak Babelan Ngumpul

Kalau ada teman-teman yang berkenan meluangkan waktu saat Sabtu dan Ahad silakan berkunjung ke Saung Baca Kita di Kampung Pangkalan Gang Musollah Nurul Amal, Desa Kedung Pengawas RT 08/RW 03 Kecamatan Babelan. 

Jika mau berkunjung sila klik Link Peta Google Saung Baca Kita di sini.
Facebook Group SI ABANG (Silaturahmi Anak Babelan Ngumpul).

Nara hubung Saung Baca Kita:
Hadi: 0895 3430 71134
Saktam: 0858 8828 4648


Inspirasi dari Siswa Wirausaha PKBM GINUS ITACO Bekasi


Inspirasi dari Siswa Wirauasaha PKBM GINUS ITACO Bekasi

Pemuda yang sedang mengajar itu bernama Reza Pratama (21 tahun), dia sedang mengajarkan adik-adik almamaternya mata pelajaran desain grafis. Reza bukan guru, dia adalah alumni PKBM GINUS ITACO yang kini bekerja sebagai desainer dan fotografer di sebuah perusahaan jasa pelatihan profesional dengan 40 lebih klien yang cukup ternama, selain itu Reza juga memiliki usaha lain yang ia bangun bersama teman-temannya di bidang kreasi digital bernama Reddwyn Production.

Jika kembali sekian tahun lalu, Reza adalah lulusan SMP yang terhalang oleh keadaan untuk melanjutkan sekolahnya. Selama setahun setelah lulus SMP dan tidak melanjutkan sekolah, ia membantu ekonomi keluarganya dengan bekerja sebagai penjaga rental Play Station, berpenghasilan tidak lebih dari 200 ribu per bulan. Hal itu tidak memuaskan pemuda kelahiran Bekasi awal Juni 1997 yang memiliki hobi dan minat dalam bidang desain ini. Ia ingin hidupnya dapat lebih baik, dapat membanggakan neneknya yang ia sayangi.

Singkat cerita, kemudian ia mendapat kabar dari temannya tentang PKBM GINUS ITACO di mana siswanya selain belajar juga memiliki penghasilan. Setelah ia didatangi oleh tim survey seleksi penerimaan siswa, akhirnya ia resmi tercatat sebagai siswa dan mendapat modal keterampilan sesuai dengan mimpinya serta mendapat pendidikan karakter kewirausahaan. Ia tidak perlu lagi pusing mengenai biaya sekolahnya yang gratis dan ongkos serta biaya lainnya, yang ia perlukan hanya belajar sebaik-baiknya untuk mengembangkan potensinya dan lulus menjadi pribadi yang mandiri dan kompeten.
Inspirasi dari Siswa Wirauasaha PKBM GINUS ITACO Bekasi
Reza saat masih belajar di PKBM GINUS ITACO
Saya kira banyak anak-anak usia sekolah yang memiliki kisah putus sekolah serupa dengan kisah Reza di sekitar kita, namun berapa banyak dari mereka yang akhirnya dapat mencapai impiannya?

PKBM GINUS ITACO itu apa?

Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat Global Inspirasi Nusantara - International Technology and Automotive College atau yang disingkat PKBM GINUS ITACO awalnya bernama SMK ITACO yang didirikan tahun 2012 lalu oleh Susi Sukaesih SE, kemudian tahun 2016 di bawah naungan Yayasan Bakti Peduli Mandiri, SMK ITACO berubah nama menjadi PKBM Ginus Itaco dan telah memiliki izin operasional dari Dinas Pendidikan Kota Bekasi.

Berbicara soal PKBM, tidak salah jika yang terbayang adalah program sekolah persamaan/penyetaraan atau "kejar paket". PKBM Ginus Itaco juga kurang lebih demikian, lebihnya... Ginus Itaco memiliki banyak kelebihan unik. Ginus Itaco menjadi unik dengan pengalaman dan suka duka yang cukup panjang, sejak mencari dan mengumpulkan siswa, mempertahankan agar siswa dapat tetap sekolah di bawah tekanan dan himpitan ekonomi, bernegosiasi dengan orang tua agar mengizinkan anaknya sekolah, hingga pindah sampai 5 kali karena masalah sewa kelas belajar dan lainnya. Siapin tisu yang banyak, kalau mau dengar sendiri ceritanya :)

Kalau mahasiswa kuliah sambil kerja mungkin sudah umum, tapi sekolah sambil berwirausaha itu yang masih jarang, itulah salah satu kelebihan PKBM GINUS ITACO yang tahun ini baru memulai kelas Paket B. Sebelumnya kelas Paket C GINUS ITACO telah meluluskan beberapa angkatan dengan banyak prestasi, antara lain Juara 2 Lomba Wirausaha dari Guruku Education Festival, Juara Harapan 2 Lomba Web Desain dan Juara 1 Lomba Desain Logo Developer Ilmu Berbagi dst.

Terletak di Jalan Bekasi Tengah No. 3, persis di depan Kantor Kelurahan Margahayu, Kec. Bekasi Timur, sekolah bertingkat dua ini dengan mudah saya temukan walaupun baru sekali ini berkunjung. Lokasi Google Map PKBM GINUS ITACO klik di sini. Dahulu gedung sekolah ini lebih dikenal dengan nama SMA BPI (Bhakti Pemuda Indonesia), sampai sekarang banyak orang masih menyebut gedung sekolah ini SMP/SMA BPI.

Siswa Wirausaha

Jika kita buka laman pkbmitaco.com maka kita dapat membaca 6 buah testimoni alumninya yang menggelitik rasa ingin tahu lebih banyak lagi mengenai PKBM GINUS ITACO, khususnya tentang program Siswa Wirausaha-nya, program inilah yang membuat siswa belajar sekaligus mendapatkan penghasilan.
Inspirasi dari Siswa Wirauasaha PKBM GINUS ITACO Bekasi
Booth karya Siswa Wirausaha (Foto: Suzie Icuz)
Penghasilan siswa di PKBM GINUS ITACO ini bukan sulap, karena sudah sejak awal berdirinya PKBM ini mengembangkan program usaha bernama "Siswa Wirausaha". Selain untuk membantu biaya pendidikan, tujuan dari kegiatan kewirausahaan tersebut adalah untuk memberikan pengalaman wirausaha bagi siswa sedini mungkin, sehingga setelah lulus nanti siswa mempunyai mindset wirausahawan, diharapkan karakter wirausahawan seperti kerja keras, pantang menyerah, inovatif, open mind, tidak gengsi dan lain-lain akan terus melekat pada dirinya. Siswa kelak diharapkan tidak hanya menjadi wirausahawan atau pun karyawan yang biasa-biasa saja dan minim kontribusi, tapi menjadi pribadi yang profesional dan kreatif.

Saat saya berkunjung, Minggu 18 Maret 2018, Bu Susi menjelaskan bahwa profit yang didapat dari kegiatan "Siswa Wirausaha" sebagiannya untuk siswa, uang itu dapat digunakan sebagai ongkos mereka sekolah dan membantu ekonomi keluarganya, sehingga tidak ada lagi alasan tidak bersekolah karena membantu keluarga mencari uang seperti yang pernah terjadi pada beberapa  siswa saat awal terbentuknya SMK ITACO 6 tahun silam.
Inspirasi dari Siswa Wirauasaha PKBM GINUS ITACO Bekasi
Nurhasanah, siswa GINUS ITACO dan hasil karya Siswa Wirausaha
Menurut guru yang juga seorang narablog di Suzieicus.com ini, produk yang dihasilkan dalam program "Siswa Wirausaha" dominan untuk partai besar, seperti pesanan perusahaan, memproduksi sourvenir perusahaan, sourvenir pernikahan dan sebagainya, namun tidak menutup peluang pasar retail. Hasil produknya dapat dilihat di laman: siswawirausaha.com

Bagaimana Kita Dapat Membantu PKBM GINUS ITACO?

Walaupun dengan kemampuan wirausaha, bukan berarti PKBM GINUS ITACO sudah mapan dan berkecukupan, masih ada kekurangan di sana-sini yang menuntut para pengurusnya untuk terus memutar kepala agar kebutuhan-kebutuhan operasional sekolah dapat terpenuhi tanpa membebani siswa. Sampai saat ini PKBM Ginus Itaco masih butuh bantuan banyak pihak. Jika Anda berniat membantu agar proses belajar mengajar PKBM GINUS ITACO dapat terus berjalan, antara lain yang dapat dilakukan adalah:

Menjadi Orang Tua Asuh Siswa

Saat ini PKBM Ginus Itaco masih berjuang mencari orang tua asuh bagi para siswanya. Orang tua asuh merupakan program yang bertujuan untuk mengajak masyarakat mendukung pendidikan anak-anak PKBM GINUS ITACO,  yaitu dengan memberikan donasi untuk setiap anak asuh selama minimal 1 tahun yang meliputi biaya SPP, Praktek, Kesiswaan, Sarana dan Ujian.

Terdapat dua model pilihan bagi para calon orang tua asuh. Pertama, 1 orang tua asuh mengampu 1 orang siswa secara langsung, atau 2 orang tua asuh menanggung 1 siswa. Besarannya berkisar antara 500-700 ribu/bulan.

Namun demikian, jika kita ingin berpartisipasi dengan donasi umum, sewaktu-waktu kita bisa langsung melakukan transfer ke: Rekening Bank Mandiri a.n Yayasan Bakti Peduli Mandiri No. 167-0001-3462-60, setelah itu konfirmasi melalui WA/SMS ke Bu Susi di nomor 0857-1143-3250.

Menjadi Relawan Pengajar

PKBM GINUS ITACO terbuka untuk profesional ataupun masyarakat umum yang ingin berbagi ilmu terapan terkait kewirausahaan antara lain: Ilmu  Komputer (Komputer Jaringan, Komputer Perkantoran, Pemograman, Desain Grafis dll), Wirausaha, Bahasa Asing, Menulis,  Public Speaking, MC, Penyiar dll. Bagi relawan pengajar diberikan kesempatan minimal 2 kali pertemuan pada hari Sabtu atau Ahad.

Kesempatan mengajar ini juga sangat berguna bagi teman-teman relawan pengajar yang berniat untuk menambah portofolio dan pengalaman mengajar.

Membantu Promosi Produk Siswa Wirausaha

Untuk membantu PKBM GINUS ITACO tentu saja kita dapat membeli produk-produk karya Siswa Wirausaha (mereka menerima orderan souvenir pernikahan, goodie bag untuk perusahaan, dll), atau kita juga dapat membantu mensosialisasikan program dan karya-karya mereka melalui blog dan media sosial untuk menambah eksposure dan membuat lebih banyak orang mengenal PKBM GINUS ITACO. Untuk hal seperti ini teman-teman dapat mencoba bergabung atau memantau pengumuman-pengumuman dari Komunitas Dear Blogger Net tentang review produk-produk dari Siswa Wirausaha ini.

Katalog produk-produk Siswa Wirausaha dan harganya dapat dilihat di akun Instagram mereka di @siswawirausaha.katalogselebihnya ada semua pada gambar di bawah ini:
Inspirasi dari Siswa Wirauasaha PKBM GINUS ITACO Bekasi
Kontak Siswa Wirausaha Bekasi
----------------------------

Melihat Reza yang di sela kesibukan masih mau kembali ke almamaternya untuk mengajar adik-adik kelasnya, saya makin percaya, bahwa bibit kebaikan yang ditanam dan dirawat dengan baik akan selalu kembali menghasilkan bibit kebaikan baru di masa yang akan datang, begitu seterusnya.

Apakah akan ada Reza yang lain? 
Kitalah yang akan menentukan itu kawan, partisipasi dan bantuan kita yang sedikit banyak akan menentukan itu.

Salam.
Terima kasih pada Dear Blogger Net, C2Live dkk rombongan #DBNCharityVisit.

Dari Kumpul Komunitas Pecinta Hewan Bekasi Menuju Patriot Fauna

Dari Kumpul Komunitas Pecinta Hewan Bekasi Menuju Patriot Fauna

Perhelatan Anniversary Komunitas Landak Mini (Kolam) Bekasi di Lapangan Alun-alun Kota Bekasi pada Minggu 26 Februari 2018 lalu berlangsung sukses. Acara yang dimeriahkan oleh beberapa komunitas pencinta hewan di Bekasi Raya ini sempat menjadi perhatian warga dan berhasil mengajak warga untuk memberikan donasi kepada warga di Brebes yang terkena bencana banjir dan longsor.

"Alhamdulillah acara berjalan lancar berkat kekompakan dan bantuan dari semua pihak, donasi yang terkumpul sudah kami sampaikan, terima kasih atas kerjasamanya teman-teman semua" ungkap Daffa Khairan (19) selaku Ketua Komunitas Landak Mini (Kolam) Bekasi.

Dari banyaknya komunitas pecinta hewan yang hadir, mungkin ada yang terlewat, antara lain Komunitas Otter Indonesia Reg. Bekasi (KOI), Bekasi Reptile Elite (Barelite), Pecinta Sugar Glider Bekasi (PSGB), Djaringan Musang lover (Djamal), Pasukan Pecinta Musang Area Bekasi, Keluarga Musang Bekasi Utara (KAMUBU), Awan Free Fly, Mamalia Reptile Bekasi (Mr. B), Team Hore, Keep Animal Bekasi (KAB), Sahabat Reptil Bekasi (SRB), Pemelihara Musang dan Kerabat wilayah Bekasi (Panksi), Tarantula Keeper Bekasi (Takesi) dan seterusnya.

"Acaranya lancar, dibuka dengan sambutan-sambutan dan perkenalan dari pengurus serta dari perwakilan masing-masing komunitas yang hadir, lalu dilanjut dengan acara potong tumpeng perayaan HUT Kolam Bekasi" Ungkap Usup Sahroni (38) yang hadir bersama keluarganya dan membawa berbagai koleksi hewan milik Sahabat Reptil Bekasi.
Dari Kumpul Komunitas Pecinta Hewan Bekasi Menuju Patriot Fauna
Sebagian dari para Ketua Komunitas Pecinta Hewan Bekasi
Dengan ditemani hewan-hewan peliharannya, komunitas para pencinta hewan ini berkeliling Alun-alun Kota Bekasi sambil menawarkan warga yang lewat untuk berfoto bersama dengan hewan yang lucu-lucu dan unik. Tidak ada tarif khusus untuk berfoto bersama musang, ular, landak, sugar glider, burung dan lain-lain.

Dana sukarela yang diberikan oleh warga selanjutnya dikumpulkan sebagai penambah sumbangan dari hasil penggalangan dana antar komunitas pecinta hewan ini. Selain penggalangan dana, acara ini juga bertujuan untuk menjadi ajang edukasi bagi para komunitas kepada masyarakat akan hewan-hewan yang menjadi peliharaan mereka.
Patriot Fauna Komunitas Pecinta Hewan Bekasi
Komunitas Pecinta Hewan Bekasi - Patriot Fauna
Selain dari Bekasi, rupanya acara ini juga kedatangan seorang sesepuh pencinta reptil dari Tangerang, Pakde Sukma yang datang untuk mengapresiasi kekompakan komunitas pecinta hewan di Bekasi. Hadir pula para pengurus Saung Musang Depok yang turut berpartisipasi meramaikan acara. Kedatangan mereka disambut baik dan menjadi penyemangat para hadirin yang didominasi anak muda ini untuk lebih banyak berkarya.

Sebagian pengurus komunitas pecinta hewan ini beberapa sudah bersepakat untuk menggagas wadah pemersatu bernama Patriot Fauna dengan harapan agar dapat saling mendukung kegiatan dan memudahkan komunikasi lintas komunitas pecinta hewan baik dari Kabupaten Bekasi dan Kota Bekasi. Beberapa hal positif telah disampaikan oleh para perwakilan komunitas yang hadir dalam kesan dan pesan saat acara penutupan menjadi tugas bersama untuk mewujudkannya.

"Harapannya jika ada wadah yang merupakan gabungan komunitas hewan ini kita bisa bekerjasama untuk melakukan banyak hal ke depannya" ungkap Usup sambil menceritakan kesulitan-kesulitan yang ia alami untuk tetap menghidupkan komunitas reptil yang ia bina.
Dari Kumpul Komunitas Pecinta Hewan Bekasi Menuju Patriot Fauna
Usup Sahroni dan keluarga Komunitas Sahabat Reptil Bekasi
Hal yang sama diamini oleh Daffa, ia berharap agar ada pihak yang dapat merangkul dan membina mereka khususnya dari pemda yang menangani urusan kepemudaan dan pariwisata.
"Kami ingin juga berbuat apa yang kami bisa, saya dan teman-teman pastinya siap berpartisipasi dalam acara-acara yang mempromosikan Bekasi" ungkap Daffa.

Pemuda-pemuda yang sepertinya asik sendiri dengan hobi atau kesenangannya masing-masing ternyata memiliki juga kepedulian kepada sesama dan kepada Bekasi sebagai tempat tinggalnya. Saya sih berharap kepedulian dan kecintaan mereka tidak diabaikan, potensi positif yang mereka gagas mustinya mendapat apresiasi yang layak. Kenapa tidak kita berikan mereka kesempatan untuk berkarya, kesempatan untuk mencintai Bekasi dengan caranya yang positif.

[Narsum: Daffa Kolam & Usup SRB]

GORGAR Rungi, Sambal Goreng Garam Kekinian Penyokong Kegiatan Literasi

Kalau Googling "Goreng Garam" maka kita akan banyak temukan tawaran produk Goreng Garam Betawi di berbagai market place dll. Ini berarti secara umum tidak perlu lagi susah-susah memperkenalkan apa itu Goreng Garam yang konon adalah makanan legendaris orang Betawi belah wetan alias Bekasi. Goreng Garem sendiri punya banyak nama, menurut teman di Jakarta namanya "Sambel Terbang", ada juga yang menyebutnya Sambel Siwang alias Terasi Bawang dan lain sebagainya.

Goreng Garam Kekinian Penyokong Kegiatan Literasi

Sabtu tanggal 24 Februari 2018 sore saya berkunjung ke TBM Rumah Pelangi Bekasi (Rungi), salah satu produsen GorGar atau Goreng Garam kemasan yang dipasarkan secara retail sebagai salah satu usaha penunjang kegiatan literasi dan operasional perpustakaan di pelosok Kampung Babakan Kali Bedah Desa Sukamekar Kecamatan Sukawangi Kabupaten Bekasi Jawa Barat ini.

Lauk atau sambal yang berbahan utama bawang merah dan cabai ini saat pembuatannya juga melibatkan terasi, bawang putih, kemiri, garam dan gula untuk rasa Original, sedangkan untuk varian Jengkol dan Teri masing-masing ditambahkan irisan jengkol goreng dan teri goreng pada saat finishing sebagai penguat rasa. GorGar Rungi, atau Goreng Garam Rumah Pelangi saat ini dijual dengan 3 rasa varian, GorGar Rasa Original (bawang pedas), Rasa Jengkol dan Rasa Teri.

Goreng Garam Kekinian Penyokong Kegiatan Literasi

Muhaidin Darma (25), salah satu penggiat Rumah Pelangi bersama teman-temannya yang sedang mengemas GorGar Rungi menjelaskan bahwa GorGar ini adalah makanan yang sudah dikenalnya sejak kecil. Satu-persatu rekan-rekan yang membantunya juga menjelaskan hal yang sama.

"Dulu kalau ibu saya tidak sempat masak sarapan sebelum berangkat sekolah, ia akan membuat GorGar untuk kami sekeluarga, sebagian dibawa bapak ke sawah sebagai bekal makannya" ungkap Jamaludin menerawang. "Itu (GorGar) dicampur saja dengan nasi putih sudah langsung siap dikonsumsi, rasanya seperti makan nasi goreng saja" sambung Jamal menceritakan masa kecilnya dengan ceria.
"Seperti bumbu nasi goreng sachet gitu lah" sambung Jamal.

Goreng Garam Kekinian Penyokong Kegiatan Literasi

GorGar ini masih ada sampai sekarang salah satunya karena penduduk di Desa Sukamekar dan wilayah pertanian lainnya mayoritas adalah petani dan peladang, ada pantangan dalam membawa bekal ke sawah.
"Ada pantangan untuk membawa nasi yang digoreng ke sawah, para orang tua kami tidak berani membawa nasi yang telah digoreng ke sawah sebagai bekal, maka GorGar ini adalah jalan tengahnya karena yang digoreng bukan nasinya tapi bumbunya" Jelas Muhaidin.

Konon jika membawa bekal berupa nasi yang telah digoreng maka hasil sawahnya akan gagal panen karena banyak hal, padi yang kering ataupun hangus terserang wabah dll.

Diceritakannya pula tentang kenangannya dahulu saat kakek neneknya menunaikan ibadah haji yang masih berbulan-bulan perjalanan karena menggunakan kapal laut, GorGar adalah bekal utama masyarakat waktu itu, karena praktis dan awet. Selama disimpan dalam wadah tertutup dan kedap udara, GorGar akan awet berbulan-bulan, tapi kalau dibiarkan terkena angin dalam sehari saja bawang gorengnya jadi melempam, tidak gurih dan lama-lama tengik.

Goreng Garam Kekinian Penyokong Kegiatan Literasi

Dipasarkan dengan harga promo Rp. 15.000 per kemasan 200 gr, GorGar bukan jenis cemilan yang murah meriah bagi anak-anak, kecuali diperkecil kemasan dan disesuaikan dengan daya beli anak-anak. Tapi seperti penuturan teman-teman di Rumah Pelangi Bekasi, usaha GorGar lebih kepada membuat oleh-oleh atau sourvenir kuliner khas lokal yang dapat dikonsumsi dan awet, walaupun dapat langsung dikonsumsi menjadi cemilan, GorGar idealnya adalah lauk nasi, untuk cemilan Tim Usaha Rumah Pelangi sudah menggagas produk camilan lain yang masih dalam tahap perencanaan.

Ke depannya GorGar akan dipasarkan dengan harga normal Rp. 20.000 per bungkus, tapi ada diskon kalau beli 3 bungkus menjadi seharga Rp. 50.000. Untuk 1 bungkusnya bisa untuk porsi 6 kali makan (kalau porsi makan saya sih). Untuk saat ini peminat belum banyak, sehari biasanya produk hanya 20-30 bungkus, produksi akan dimulai kembali kalau stok sudah habis. Produksi GorGar rupanya sangat rentan terhadap harga Cabai, Teri dan Jengkol.... padahal jarang ada orang yang memperhatikan harga komoditas itu :) Soal pemasaran juga masih direct selling dan hanya sedikit promosi melalui Facebook.
"Produksi masih sedikit, masih dipasarkan terbatas sambil mempersiapkan adik-adik Rungi untuk menguasai semua proses hingga penjualannya" tutup Muhaidin sambil mempersilahkan saya mencicipi GorGar Rungi.

Goreng Garam Kekinian Penyokong Kegiatan Literasi

Yang berminat untuk membeli, kerja sama reseller atau dropship dapat langsung menghubungi Tim Usaha TBM Rumah Pelangi Bekasi di WhatsApp 0857 1065 6966 (Muhaidin Darma), atau bisa belanja online di Tokopedia, klik aja DI SINI.

Terima kasih.

-----
Buat yang belum tahu tentang TBM Rumah Pelangi Bekasi sila kunjungi blognya di www.pelangibekasi.com atau Sosmednya: Facebook Rumah Pelangi Bekasi dan Instagram Rumah Pelangi Bekasi.


Merayakan Warna Warni Kita Dalam Gelaran Perpusjal Bekasi 15

Perpustakaan jalanan Bekasi

Lupakan bayangan tentang jajaran buku yang tersusun rapih dan suasana sepi, jangan marah juga kalau kamu sedang membaca buku lalu di sebelahmu ada yang bernyanyi, membaca puisi, meneriakkan sajak, menanyakan tentang buku yang kamu baca dan seterusnya.

Lupakan juga makna kata perpustakaan yang diisi oleh para pembaca yang khusuk tenggelam dalam bacaannya, karena di Perpustakaan Jalanan buku harus bisa berbicara melalui siapa saja yang sudah membacanya, bisa melalui kamu, bisa juga melalui saya. Diskusi yang ringan atau dalam pasti akan terjadi jika ada dua orang yang sudah membaca buku yang sama bertemu, karena interaksi adalah kewajiban di sini.
Perpustakaan Jalanan Bekasi Danau Duta Harapan Bekasi
Perpusjal Bekasi di Danau Duta Harapan Bekasi Utara
Malam itu, Sabtu 17 Februari 2018 saya didapuk oleh pemangku hajat "Perpustakaan Jalanan 15" untuk membicarakan Citizen Journalism atau Jurnalisme Warga. Tanpa persiapan berarti, di jajaran gelaran lapak buku saya melihat buku "Hari-hari Terakhir Che Guevara" sebuah buku yang baru kali ini saya lihat, berisi tentang catatan harian tertanggal 7 November 1966 – 7 Oktober 1967. Buku inilah yang saya gunakan sebagai bahan untuk membuka materi. Kebetulan saya sempat membacanya sedikit di sela-sela obrolan dan selingan musik akustik serta lontaran puisi-puisi dari teman-teman yang hadir.

Kali ini puisi “Kau Ini Bagaimana Atau Aku Harus Bagaimana” karya Gus Mus dibawakan dengan sangat menyentuh oleh Iwan Bonick, seorang ontelis dan salah satu pelopor Perpustakaan Jalanan Bekasi. Dilanjut dengan sebuah sajak berjudul "Gadis Bekasi Berapi-api" yang menghidupkan imaji Gedung Juang 45 Tambun sebagai pencetus inspirasi, dibacakan secara lantang namun malu-malu oleh Cahyo dari Taman Baca Tanjung. Begitu juga sajak dari Vrandes, pemuda penggiat literasi dari Langit Tjerah Cikarang ini melontarkan kritiknya dalam bentuk puisi, entah apa judulnya, saya hanya mengingat bait-baitnya secara samar, setelah saya susun kembali kurang lebih bunyinya menjadi seperti ini:
"Bagaimana mungkin kamu bilang semua baik-baik saja?
Di jalanan aku lihat gerobak berisi anak-anak negeri tertidur memeluk mimpinya".

Hadir pula para relawan TBM Rumah Pelangi Bekasi, Jabaraca, Saung Baca Cinong Bekasi, Komunitas Historika Bekasi, beberapa penggiat musik indie seperti Eky Birdman, Zaly Brur, Restu Kids Rebel, Suckit Stuff dan beragam komunitas lainnya yang saya belum kenal. Berkumpul menjadi satu seperti reff dari lagu Navicula yang didendangkan bersama malam itu... "Warna-warni kita menjadi satu".

Gelaran Perpustakaan Jalanan Ke 15 ini adalah kegiatan yang kedua bagi saya, kali ini saya lihat rekan-rekan penggiat Perpusjal Bekasi sudah lebih siap. Gelaran tenda biru sebagai alas duduk, penerangan dan lapak buku yang lebih tertata, juga ada sound system sederhana yang digunakan untuk keperluan musik akustik, puisi dan pengeras suara bagi nara sumber. Sepertinya Angkringan Maz Berto di Pasar Modern Harapan Indah inilah yang menyediakan listriknya.

Karena tidak diberikan tema yang lebih spesifik maka saya justru memanfaatkan moment ini untuk mengkritik teman-teman Perpusjal Bekasi yang menurut pengamatan saya secara sekilas tidak rapih dalam mengarsipkan dokumentasi kegiatannya  (benar atau tidak itu urusan belakang, salah sendiri kenapa menjadikan saya sebagai nara sumber).

Secara umum kritik itu juga ditujukan untuk teman-teman yang hadir malam itu. Kegiatan yang dilakukan oleh para pemuda ini sudah berjalan sekian lama di segala bidang melalui komunitasnya, alangkah baiknya jika semua kegiatan sosial itu terdokumentasikan dengan baik. Entah didokumentasikan melalui platform blog atau pun media sosial yang dapat dimanfaatkan untuk tujuan-tujuan yang baik pula.

Dokumentasi kegiatan Perpusjal Bekasi menurut saya masih sangat minim, sehingga banyak orang hanya menganggap Perpusjal Bekasi sebatas gelaran buku-buku tua. Padahal setiap gelaran selalu ada kegiatan positif seperti belajar menggambar, mewarnai buat anak-anak, wadah pembacaan puisi, musik akustik terbuka dan bincang-bincang atau diskusi bebas dengan tema beragam. Sebuah kegiatan yang mungkin biasa saja bagi sebagian orang namun sangat istimewa untuk teman-teman yang tidak pernah menyandang titel mahasiswa.

Dalam sesi ini saya hanya ingin menekankan bahwa media adalah senjata, termasuk media sosial, pelurunya adalah konten!, seandainya saja pemuda-pemuda yang malam ini berkumpul memproduksi berbagai konten positif dari hasil kegiatannya, maka saya yakin konten negatif seperti hoax dan sampah informasi lainnya akan sulit mendapatkan tempat.

Itulah gunanya jurnalisme warga, berperan serta mengisi konten positif, minimal mengabarkan hal-hal positif yang telah mereka lakukan agar menginspirasi khalayak muda lainnya.

Perpusjal Bekasi
Sharing tentang media sosial dan blog citizen journalism
Pada sesi berikutnya, Endra Kusnawan sebagai nara sumber selain bercerita mengenai Bekasi Tempoe Doeloe juga mengkritisi pembangunan yang tidak memperhatikan gedung-gedung tua dan tempat-tempat bersejarah. Dia bercerita bagaimana Stasiun Tambun yang memiliki kaitan dengan kejadian-kejadian bersejarah kini telah diubah menjadi stasiun yang modern tanpa meninggalkan jejak sejarahnya sedikitpun. Seakan tidak ada tempat bagi sejarah masa lalu yang telah membentuk Bekasi seperti saat ini.

Dari materi Endra Kusnawan ini, saya mulai menerawang tentang generasi-generasi yang terputus dengan sejarah kotanya, mengidap krisis identitas dan mencarinya di tempat-tempat yang mungkin tidak diinginkan oleh siapapun... tawuran, narkoba?

Semoga gelaran Perpusjal Bekasi berikutnya akan lebih mendobrak dan bermanfaat, amiin.

Merayakan Warna Warni Kita Dalam Gelaran Perpusjal Bekasi 15
Saya dan Bayu, salah satu motor penggerak Perpustakaan Jalanan Bekasi

Sejenak Menyegarkan Mata di Rumah Pohon Sukamekar Sukawangi

Sejenak Menyegarkan Mata di Rumah Pohon Sukamekar
Rumah Pohon, Desa Sukamekar Kecamatan Sukawangi Bekasi
Menguasai teori grafting atau menyambung pohon cukup mudah, dengan memanfaatkan mesin pencari Google maka ribuan artikel di internet dengan kata kunci "sambung pucuk" atau "sambung samping" siap untuk kita baca.

Membaca artikel-artikel itu ingatan saya melayang kembali ke pelajaran biologi saat SMA mengenai reproduksi vegetatif buatan, dan juga saat mencoba hasil enten jeruk besar dan manis yang dilakukan transmigran dari Pulau Bali di sekitaran wilayah Tobadak Mamuju Sulawesi Barat. 

Menguasai teori dengan mempraktekkannya itu jauh berbeda, memahami hanya dengan membaca jauh berbeda dengan tahu karena mengalami atau mempraktekkannya. Dengan melihat sendiri bagaimana adik-adik penggiat Rumah Pohon sedang melakukan praktek menyambung beberapa pohon, saya rasa gak semua orang bisa melakukannya dengan baik. Saat ditawarkan untuk mencoba saya pun menolak, saya belum cukup berpengetahuan untuk langsung mencoba menyambung pohon. Sayang kalau sampai batang pohon dan pucuk yang ada menjadi sia-sia di tangan saya :)

Menurut Marjuki Lahimsyah, S.Pd, MM. (55) yang akrab dipanggil Guru Marjuki, praktek pembelajaran menyambung pohon ini adalah bagian dari pendidikan karakter dan pengenalan filosofi hukum alam.

"Manusia dan tumbuhan memiliki banyak kesamaan, karenanya praktek menyambung pohon ini juga adalah salah satu cara sederhana untuk pembangunan karakter (character building) para peserta" ungkapnya.

"Selain itu, semoga para peserta pelatihan juga dapat memiliki keterampilan yang akan memperluas wawasan sehingga mampu menghargai alam serta menjaga kelestariannya, minimal lebih menghargai pepohonan yang ada di lingkungannya" sambung pendiri dan pembina Rumah Pohon ini. 
Sejenak Menyegarkan Mata di Rumah Pohon Sukamekar
Proses penyambungan pucuk. Foto: Imron Maulana
Beberapa pohon hias yang mengisi Rumah Pohon ini antara lain dari jenis Puring, Anting Putri, Jalitri, Melati Korea, Batavia (Jatropha pandurifolia), Dolar (Zamioculcas Zamiifolia), beberapa jenis palem dan lain-lain yang telah berhasil disambung dengan berbagai jenis batang pohon kayu. Sedangkan untuk pohon buah seperti ubi, cabai, tomat, terong dan lain sebagainya masih dalam tahap pengembangan.
Sejenak Menyegarkan Mata di Rumah Pohon Sukamekar
Saung Perubahan Rumah Pohon Desa Sukamekar Kecamatan Sukawangi
Bagi penggiat dan peserta pelatihan, Rumah Pohon juga disebut sebagai Saung Perubahan. Di antara rimbun pepohonan terdapat saung berkonstruksi baja ringan yang cukup untuk menampung hingga 30-40 orang sebagai tempat penyampaian berbagai macam materi pelatihan. Di saung ini saya duduk bersama dengan para peserta pelatihan dan sesekali terlibat dalam diskusi mengenai berbagai hal terkait agenda Rumah Pohon.

"Saung ini adalah tempat kita bertukar pikiran dan berdialog melakukan musyawarah berbagai hal terkait kegiatan di Rumah Pohon, konsultasi, pelaporan perkembangan tanaman dari proyek yang sedang dilakukan peserta pelatihan dan macam-macam" jelas Imron Maulana (22) salah seorang penggiat Rumah Pohon yang juga sedang belajar menyambung beberapa jenis tanaman.

Ke depannya Guru Marjuki ingin Rumah Pohon bukan hanya sebagai tempat belajar reproduksi vegetatif, tetapi juga bisa menjadi tempat budidaya, penghasil tanaman hias, produksi jamur kamboja, buah-buahan, kompos dan ragam produk organik lain yang nantinya akan dipasarkan secara online. Selain itu semua, Guru Marjuki juga berharap Rumah Pohon  ke depannya menjadi layak sebagai  salah satu destinasi wisata alam di Bekasi.

Sejenak Menyegarkan Mata di Rumah Pohon Sukamekar
Guru Marjuki menjelaskan penyambungan pucuk
Sayangnya, menurut penglihatan saya, areal yang dijadikan laboraturium hidup untuk mencoba berbagai kombinasi tanaman ini tidak memiliki lahan yang cukup luas. Dengan dibatasi jalan utama desa dan bibir Kali Bekasi, Rumah Pohon kurang lebih hanya seluas 6 sampai 7 meter dan memanjang mengikuti bibir kali Bekasi sekitar 10-15 meter. Semoga kelak areal laboratorium hidup Rumah Pohon dapat meluas hingga layak menjadi destinasi wisata alam seperti yang diharapkan.

Gak terlalu lama singgah sudah cukup untuk menyegarkan mata melihat berbagai pohon hias dan tunas-tunas pohon yang hijau merekah. Setelah dari Senin hingga Jumat hanya bertemu mesin dan beton, setidaknya hari ini saya merasakan sensasi kembali menyatu dengan alam. Selain menyegarkan mata, menikmati kopi dan berbincang-bincang membuat long weekend menjadi lebih bermakna. Yah, bahagia itu sederhana kok. :)

Tersembunyi di balik rimbun pepohonan, keberadaan Rumah Pohon tidak mencolok sekalipun terletak di pinggir jalan utama, sehingga mudah terlewati bagi yang baru pertama kali ingin berkunjung. Kalau mau berkunjung, info-info saja, nanti saya pandu :). 


Rumah Pohon berada di Kampung Pangkalan Nurul Iman RT. 02/03 Desa Sukamekar, Kec. Sukawangi, Kab. Bekasi 17655. Nurul Iman adalah nama masjid yang namanya digunakan oleh warga sebagai patokan lokasi, kebetulan masjid tersebut berjarak cukup dekat dengan Rumah Pohon. Sila kunjungi Halaman Facebook Rumah Pohon untuk informasi lebih lanjut di Facebook Rumah Pohon Bekasi atau Instagram  Rumah Pohon BekasiLokasi Rumah Pohon Sukamekar di Google Map klik di sini.


Semoga masih ada kesempatan buat saya untuk mampir dan mencoba sendiri menyambung pohon :)

Salam.

KERINGAN (KEripik RIndu kesayaNGAN) Ala Komunitas Mabes Home Bekasi


Soal kreativitas merangkai kata rupanya saya harus banyak belajar dari generasi milenial. Bahasa Indonesia yang sepertinya diharamkan oleh para pengembang perumahan dengan menempelkan istilah asing pada produknya agar lebih komersil justru tidak berlaku. Kata "keringan" yang makna umumnya adalah penganan kue kering bisa bermakna berbeda oleh Komunitas Mabes Home di Kampung Pangkalan Poncol Desa Sukamekar Kecamatan Sukawangi. KERINGAN bagi mereka adalah: KEripik RIndu kesayaNGAN.

Salah besar kalau masih ada anggapan pemuda desa kurang kreatif, nih buktinya hanya dengan modal awal sebesar 150 ribu rupiah yang disisihkan dari uang kas komunitas dalam hitungan hari Komunitas Mabes Home sudah mampu memberdayakan anggotanya terjun ke bisnis kuliner dengan omset kotor sekitar 600 ribu hingga 800 ribu rupiah per hari.
KERINGAN (KEripik RIndu kesayaNGAN) Ala Komunitas Mabes Home Bekasi
Amay anggota Mabes Home
Menurut Amay (19) salah satu anggota komunitas Mabes Home, produksi keringan (keripik rindu kesayangan) ini tidak lepas dari pelatihan dan pendampingan yang dilakukan oleh Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Islam 45 (Unisma) Bekasi yang sedang melakukan kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Kegiatan KKN selama 1 bulan yang dimulai dari tanggal 22 Januari hingga 23 Februari 2018 ini telah mematangkan ide Komunitas Mabes Home untuk mencari kegiatan yang dapat memberdayakan anggotanya dan bernilai ekonomi.

Gadis kelahiran Februari 1999 ini juga menjelaskan mengenai varian keringan yang mereka produksi, saat ini Mabes Home sudah memproduksi 5 varian rasa yaitu: 1. Pasrah - Original; 2. Sayang - Rasa Jagung Manis; 3. Sakit Hati - Pedas; 4. Sabar - BBQ; dan 5. Kejujuran - Keju. Dijual per kemasan (150gr) Rp. 8000 rupiah, jika membeli 2 kemasan ada diskon menjadi Rp. 15.000, Keripik Rindu Kesayangan dapat dipesan melalui WA di 0858 8613 3793 atas nama Dita Yuliani dan melayani COD.

Yang menarik bagi saya adalah bagaimana Mabes Home mampu menghabiskan keringan produksinya ini dalam sehari. Produksi mereka sebenarnya masih terbilang sedikit, dengan hanya 1 penggorengan mereka memproduksi sekitar 100 kantong keripik dalam sehari. Untuk usaha yang baru dirintis dalam hitungan hari ini, prestasi itu sudah merupakan awal yang baik kalo menurut saya :).
Masih menurut Amay, pemasaran dilakukan dengan cara pemasaran langsung "Direct Marketing" secara offline di lingkungan sekitar dan online memanfaatkan internet. Alat pemasaran mereka yang utama adalah WhatsApp Messenger, Facebook dan Instagram. Namun setelah saya telusuri hanya ada beberapa promosi di Facebook pribadi anggota Mabes Home, sedangkan di Instagram lebih sedikit lagi.
KERINGAN (KEripik RIndu kesayaNGAN) Ala Komunitas Mabes Home Bekasi
Bapak Mantan RW Sanan di Saung Komunitas Mabes Home Pangkalan Poncol Sukamekar
Dalam kaitan marketing dan hubungannya dengan komunitas kita mengenal istilah "community marketing", dalam teori community marketing ada dua jenis atau tipe dari community marketing, yaitu: Organic dan Sponsored. Tipe Organic ini dibentuk oleh user/pelanggan tanpa ada intervensi dari perusahaan/brand. Sedangkan tipe Sponsored sengaja dibentuk dan dikembangkan oleh perusahaan/brand. Dalam bingkai teori ini maka pemasaran yang dilakukan oleh Mabes Home ini kalau dipaksa untuk sesuai dengan teori maka akan lebih cocok masuk ke tipe Sponsored, karena produk kripik ini masih dalam tahap menentukan posisi (positioning) dengan target yang luas, menyasar semua segmen pasar. 

Target pemasaran pertama tentunya internal lingkaran komunitasnya yang heterogen, dari sini produk kripik akan banyak mendapatkan masukan dan kritik (feedback) terpercaya, khususnya mengenai rasa dan kualitas kripik itu sendiri seperti: kurang gurih, rasanya terlalu kuat dan berbagai feedback yang bertujuan untuk menyempurnakan produk. Jika anggota atau lingkaran internal komunitas telah puas baik terhadap rasa hingga kemasan maka dengan mengandalkan loyalitas dan solidaritas setiap anggota akan "percaya diri" untuk ikut memasarkan produk ini tanpa merasa dipaksa oleh organisasi. Ini yang Mabes Home lakukan sebelum mereka berani memasarkan lebih jauh produknya dengan rasa dan kemasan yang sekarang, ke depannya masih akan terus disempurnakan dan dikembangkan.
KERINGAN (KEripik RIndu kesayaNGAN) Ala Komunitas Mabes Home Bekasi
Aryo Band Ketua Komunitas Mabes Home
Dari salah satu anggota saya juga mendengar bahwa salah satu alasan adanya usaha kripik ini adalah untuk menambah uang kas komunitas dalam rangka memeriahkan acara milad Mabes Home. Baiklah itu sangat membanggakan, target jangka pendek ini (milad) akan dibiayai secara swadaya melalui usaha menjual kripik keringan ini. Namun dari berbincang-bincang dengan sesepuh komunitas yang disebut sebagai "Surya Paloh" saya menangkap sebuah tujuan jangka panjang yang perlu juga untuk dipertimbangkan.
KERINGAN (KEripik RIndu kesayaNGAN) Ala Komunitas Mabes Home Bekasi
Bapak Tari Karna Bewok bersama Relawan Baja Bopas
Menurut Bapak Tari Karna Bewok mantan ketua RT setempat, anggota komunitas ini tidak semuanya berpenghasilan tetap, karenanya dengan adanya usaha keripik keringan ini ia berharap dapat memberdayakan anggota yang masih belum bekerja ataupun yang banyak memiliki waktu luang. Bukan hanya produksi kripik, dia berharap usaha ini akan berkembang dan akan ada usaha-usaha lain yang akan memberi manfaat, baik itu pengalaman, pengetahuan dan finansial.

"Mereka harus belajar mandiri, salah satunya dengan usaha seperti ini. Orang yang benar-benar membantu akan memberikan kail bukan langsung ikannya". Sedikit saja kata-kata beliau tapi saya paham maksudnya. Tentu Anda juga paham kan?.

Komunitas Mabes Home
Kampung Pangkalan Poncol RT.01/06
Desa Sukamekar Kec. Sukawangi
Kabupaten Bekasi 17655

Berburu Hadiah di Bekasi Wedding Exhibition Yuk

"Lu kapan Nikah?" tanya saya.
"Lu kenapa nanya-nanya, emangnya kalo gue mau nikah elo mau biayain?" jawab teman saya sewot.
"Gak kok gue cuma mau ngajak elo berburu diskon banyak vendor di 4th BEKASI WEDDING EXHIBITION".

Kira-kira begitu dialog imajinatif yang mungkin aja pernah terjadi di kehidupan entah siapa, tapi soal 4th Bekasi Wedding Exhibition (#BWE4) itu bukan fiksi kok, beneran akan diselenggarakan di Grand Galaxy Convention Hall, Jakasetia, Bekasi Selatan tanggal 26 sampai 28 Januari 2018. Kalau mau tau selengkapnya tinggal klik aja nih -->> 4th Bekasi Wedding Exhibition.

4th Bekasi Wedding Exhibition

Sesuai namanya, acara ini sudah yang ke-4 kali diselenggarakan di Bekasi, sejak Bekasi Wedding Exhibition pertama di tahun 2015. Acara yang mempertemukan industri kreatif di dunia wedding ini selalu saja memenuhi target pengunjung. Dari jejak digital yang bisa saya telusuri, event ini banyak dihadiri muda-mudi yang ingin menambah wawasan dan pengetahuannya dalam bisnis wedding. Pastinya bakalan seru dan... yah, bagi saya dan mungkin sebagian pengunjung event ini adalah ajang mencari diskon dan hadiah hehehe :)

Kalau saya ajak kalian berburu diskon, voucher, doorprize kamu emangnya gak mau? Saya yang sudah beristri dan gak punya niat poligami ajah mau kok, masa' kamu yang jomblo gak mau? #eh...

Soal hadiahnya kalau sudah dapat, yah terserah kita dong mau diapakan. Buat hadiah teman yang baru mau atau baru saja menikah kayaknya keren deh. Hadiah wedding ring dan lain-lain itu buat apaan coba kalo saya yang dapat? Atau hadiah-hadiah lain yang terkait resepsi seperti voucher dan diskonan gedung, foto, catering dll. Kalau give away yang umum-umum aja sih yah mungkin lah buat dipakai sendiri. Kalau misalnya saya beruntung mendapatkan kamera mirrorless yang harganya masih lumayan itu, kan lumayan daripada lu manyun :D.

Nih, saya list daftar hadiah yang saya baca di Kumparan
  1. DOORPRIZE harian seperti kamera mirrorless, wedding ring, dan lain sebagainya untuk setiap transaksi.
  2. GRANDPRIZE satu set perlengkapan ruang tidur lengkap (tempat tidur, spring bed, lemari, nakas 2 buah dan meja rias)
  3. PROMO vendor pernikahan dengan nilai ratusan juta rupiah
  4. LIONTIN untuk para pengunjung dengan postingan IG terpilih pada saat di Venue #BWE (Pop Up Backdrop)
  5. RATUSAN koleksi WEDDING RING terbaru
  6. HARGA PROMO sepasang WEDDING RING berlian hanya dengan Rp 3 juta-an
  7. HADIAH TAMBAHAN & GIVE AWAY MOMENT menarik lainnya untuk setiap social media activity re-post IG (follow dan re-post Instagram @bekasiweddingexhibition)
Lumayan banyak kan, masa' sih gak ada 1 pun yang nyangkut? :)


Beberapa acara yang disiapkan oleh pihak penyelenggara antara lain; Music Performance, Fashion Show dari para vendor, Talkshow bersama Meyda Sefira (Pemain Film Ketika Cinta Bertasbih), juga dari Aksi Cepat Tanggap (ACT), dan Rika Pertiwi Zulfi (Direktur Utama Jakarta Event Enterprise) tentang #JEEMovement.

Oki Setiana Dewi Bekasi Wedding Exhibition Oh iyah, buat yang pernah ngefans sama Mbak Anna Althafunnisa eh maksud saya Oki Setiana Dewi juga kali aja bisa melepas rindu dengan sang pemeran utama film Ketika Cinta Bertasbih 1 ini. Mbak Oki kan juga punya bisnis bridal house dan boutique jadi pas banget kalo acara Bridal Fashion Show di acara BWE4 ini menampilkan koleksi-koleksi dari butiknya Mbak Oki.

Lain dari itu setidaknya saya bisa nge-list vendor-vendor yang menyediakan jasa dan barang terkait resepsi pernikahan, mulai dari vendor percetakan undangan, jasa fotografi, catering, dekorasi, entertainment sampai jasa travel honeymoon :)

Refererensi seperti ini perlu buat jadi gambaran supaya gak perlu merasakan repotnya merencanakan prosesi pernikahan jika ada teman atau saudara lagi butuh, atau barangkali ada teman yang mau buka usaha Wedding Organizer (WO) atau apalah, mumpung para penyedia jasa dan barang ini sedang berkumpul di sebuah pameran yang katanya “The Biggest Wedding Exhibition In The City”.

Infonya nih, selain akan mendapatkan banyak informasi dari beragam vendor, kita-kita sebagai pengunjung juga akan disuguhkan dengan bermacam pengalaman menarik saat masuk ke dalam venue acara. Konsep yang ditawarkan pada 4th Bekasi Wedding Exhibition kali ini sangat intimate, experimental dan instagram-able. Plus jangan lupa nyicipin menu cateringnya hehehe.

Setiap sisi venue acara akan didekorasi menarik dan kekinian sehingga pengunjung tertarik untuk mengabadikan momen dan mengunggahnnya di akun media sosial mereka dan jika beruntung akan mendapatkan hadiah. Akan ada dua orang pemenang yang berhak mendapatkan hadiah liontin bagi pengunjung yang mengupload foto pada akun Instagramnya pada Pop Up Backdrop yang sudah disediakan di BWE.

Rangkaian kegiatan 4th Bekasi Wedding Exhibition yang akan diselenggarakan selama 3 hari berturut-turut dari tanggal 26 sampai 28 Januari 2018 ini rencananya akan dimulai sejak jam 10.00 hingga 21.00 WIB. Beberapa acara yang disiapkan oleh pihak penyelenggara antara lain; Music Performance, Fashion Show dari para vendor, Talkshow bersama Meyda Sefira (Pemain Film Ketika Cinta Bertasbih), juga dari Aksi Cepat Tanggap (ACT), dan Rika Pertiwi Zulfi (Direktur Utama Jakarta Event Enterprise) tentang #JEEMovement.
-----

"Jadi elo tuh ngajak apa maksa Sot?" tanya temen saya.

"Pengen nyari tumpangan ajah kalo seandainya elo mau, gue beliin bensin deh" jawab saya diplomatif.

"Gak bisa kayaknya, tanggal tua kayak gitu gue biasanya meriang" kata temen saya males-malesan.

"Oh gitu, yah baiklah, setidaknya saingan gue dapet doorprize dan lain-lain berkurang, hehehe".
Berburu Hadiah di Bekasi Wedding Exhibition Yuk
Doorprize harian Wedding Ring