Sharing Memanfaatkan Medsos Bersama Saka Bhayangkara Babelan

Bersama Saka Bhayangkara Babelan Sharing Memanfaatkan Medsos

Minggu siang, 10 Februari 2019 saya berkesempatan berbagi dengan Sekitar 35 anggota Pramuka Saka Bhayangkara Polsek Babelan. Agendanya adalah sharing mengenai media sosial dan belajar membuat berita ringan.

"Tujuan kegiatan ini adalah agar adik-adik anggota dan calon anggota Saka Bhayangkara Polsek Babelan dapat memanfaatkan media sosial untuk berbagi informasi, baik itu kegiatan positif yang mereka lakukan ataupun informasi-informasi yang sekiranya perlu dibagikan di media sosial (medsos)," demikian menurut Mawadah Warahmah selaku Ketua Dewan Saka Bhayangkara Polsek Babelan Kwartir Ranting Kec. Babelan Kab. Bekasi.

Sesi sharing tentang medsos atau sosmed ini awalnya akan dilaksanakan di Aula Polsek Babelan yang ber-AC, tapi berhubung peserta hingga 35-an orang, maka acara dipindah ke Aula Kantor Desa Babelan Kota yang ruangannya lebih luas walau tanpa AC.
Bersama Saka Bhayangkara Babelan Sharing Memanfaatkan Medsos
Suasana awal masih agak tegang, walaupun sudah dijelaskan oleh para senior saat pembukaan acara bahwa materi ini adalah materi di luar materi kepramukaan.

Untuk mencairkan suasana saya mulai menjelaskan mengenai media informasi secara umum, lalu mengerucut pada media sosial. Saya mulai dengan menanyakan pengalaman-pengalaman adik-adik remaja ini di media sosial. Sekadar memancing feedback dan membuka dialog.

Jawabannya sudah saya duga, tidak ada satu pun hadirin yang tidak memiliki akun Facebook, sebagian adalah pengguna Instagram dan sebagian kecil pengguna Twitter walaupun secara pasif.

Setelah cair barulah saya memberikan materi mengenai berbagai konten yang bisa dibuat oleh siapapun, baik itu teks, gambar/foto, suara/musik dan video dengan menjelaskan berbagai macam media sosial yang diperuntukkan untuk berbagi berbagai konten tersebut.

Acara ini adalah hasil diskusi dengan Bang Rusli salah satu senior Saka Bhayangkara Polsek Babelan. Bang Rusli pula yang dulu pernah mengajak saya ikut memberikan materi pengenalan sosmed saat MPLS SMPN 2 Babelan seperti yang saya catat di sini.

Beda dengan acara MPLS, adik-adik Saka Bhayangkara ini jenjang sekolahnya sudah SMA, jadi lebih cepat "nyambung" saat diarahkan bagaimana membuat konten sederhana berupa teks dan foto dari kegiatan yang mereka lakukan.
Bersama Saka Bhayangkara Babelan Sharing Memanfaatkan Medsos


Membuat berita

Cara mudah membuat berita tercakup dalam rumus ADI SIKAMBA yang merupakan terjemahan rumus jurnalistik 5W+1H ( What, Where, Who, When, Why, and How).

ADI SIKAMBA (Apa, Di mana, Siapa, Kapan, Mengapa, dan Bagaimana) adalah pertanyaan panduan dalam mengumpulkan informasi yang musti terjawab dalam sebuah berita. Idealnya untuk menulis sebuah berita, pertanyaan ADI SIKAMBA sudah harus dijawab terlebih dahulu, barulah kemudian dirangkai dalam sebuah tulisan.

Tetapi dalam sharing kali ini pembahas lebih fokus pada merangkai informasi ADI SIKA (Apa, DImana, SIpa dan KApan) agar mudah diserap dan langsung dipraktekkan.

Setelah break adzan ashar kelas kemudian dibagi menjadi 7 kelompok yang ditugaskan untuk membuat status di salah satu akun facebook anggota kelompok, status tersebut minimal berisi informasi kegiatan hari itu. 

Alhamdulillah dalam waktu 30 menit semua kelompok sudah selesai melaksanakan tugasnya.
Bersama Saka Bhayangkara Babelan Sharing Memanfaatkan Medsos
Salah satu hasil praktek kelompok peserta sharing
Sebagai penutup, dibuka kembali sesi tanya jawab untuk membahas apa yang sekiranya menjadi masalah dalam menyelesaikan tugas kelompok membuat status info kegiatan. 

Dari sesi tanya jawab itu terungkap bahwa tidak ada masalah dalam penerapan rumus ADI SIKA, namun mereka mengaku kesulitan dalam menyusun redaksi tulisan agar menjadi informasi yang mudah dipahami oleh pembaca. Hal yang menurut saya akan teratasi jika kita banyak latihan dan terus belajar.

***
Bersama Saka Bhayangkara Babelan Sharing Memanfaatkan Medsos
Foto bersama peserta sharing sosial media Saka Bhayangkara Babelan
Konten yang kami bahas hari itu adalah konten teks yang berupa status di media sosial. Konten teks bisa berupa apa saja; berita, cerita, puisi, opini, informasi dan lain sebagainya. 

Intinya tujuan kelas sharing hari itu adalah agar adik-adik pramuka ini dapat membuat berita sederhana dari apa yang mereka saksikan atau yang mereka lakukan. 


Banyak sekali kegiatan adik-adik pramuka ini yang dapat dibagikan di medsos untuk memperbanyak konten positif dan wadah bagi mereka untuk mengembangkan kemampuan literasi digital mereka.

Pastinya akan perlu banyak latihan untuk mengolah konten berupa teks menjadi menarik dan informatif. Setidaknya dari pertemuan hari ini adik-adik sudah semakin paham dan bisa mengembangkan sendiri jika memang mereka berminat dalam dunia tulis menulis dan jurnalistik.


Harapan saya semoga adik-adik ini dapat memanfaatkan media sosial lebih baik lagi, baik untuk kepentingan dirinya maupun untuk lingkungannya, amiin.




Mampir di Gedung Kesenian dan Wisata Air Situ Rawa Gede Kota Bekasi

Gedung Kesenian dan Wisata Air Situ Rawa Gede Kota Bekasi
Matahari sudah jauh condong ke barat, awan mendung menjadikan suasana menjelang sore di Bojong Menteng menjadi lebih teduh.

"Saat yang tepat untuk menikmati suasana danau Situ Rawa Gede," ucap M Noer mengajak saya meninggalkan halaman Perpustakaan dan Rumah Belajar Forum Aksara.

Sesampai di Situ Rawa Gede kami lihat parkiran di gedung kesenian sudah banyak motor terparkir. Dari arah danau sesekali terdengar teriakan-teriakan penyemangat dari tepian Situ Rawa Gede terdengar saling saut menyemangati beberapa penjala ikan di tengah danau yang menggunakan anco

Dari tempat beberapa penangkap ikan berdiri itulah kedalaman danau di Bojong Menteng Rawa Lumbu Bekasi ini bisa saya prediksi. Tempat mereka berdiri walaupun berada hampir di tengah danau, kedalamannya tidak lebih dari 1,5 meter, kedalaman air hanya sedada orang dewasa. Tapi menurut teman-teman KPPL Bojong Menteng Amphibi kedalaman danau ini mencapai 6 meter di tempat tertentu.

Suasana Wisata Air Situ Rawa Gede Kota Bekasi ini sudah agak ramai, saung paling besar sudah terisi sekitar 20 pengunjung yang berkumpul dalam rangka reuni. 

Di tepian Situ Rawa Gede, saya lihat wahana air masih lengkap tertambat. Mungkin menunggu suasana lebih teduh atau ingin memastikan apakah turun hujan atau tidak. Ditemani Baba Samen dari Sanggar Melati Bojong Menteng, saya melihat-lihat ke dalam gedung kesenian, ingin tahu lebih jauh seperti apa ruangan di dalamnya.
Wisata Air Situ Rawa Gede Kota Bekasi
Plang info Situ Rawa Gede -Foto: Bang Imam

Ruang Dalam Gedung Kesenian Kota Bekasi

Ruang Dalam Gedung Kesenian Bojong Menteng Rawa Lumbu Kota Bekasi
Ruang Dalam Gedung Kesenian Bojong Menteng Kota Bekasi
Pemerintah Kota Bekasi memperlihatkan keseriusannya dalam melakukan pengembangan Seni Budaya untuk menjadi daya tarik wisata. Salah satunya dengan membuat wadah untuk para pegiat seni dan budaya di Kota Bekasi berupa Gedung Kesenian di Situ Gede yang berlokasi di Jalan Pansor RT 01/02, Kelurahan Bojong Menteng, Kecamatan Rawalumbu yang dulunya merupakan lahan pool Dinas Kebersihan Kota Bekasi.

Sebelumnya Gedung Kesenian menempati lahan sempit di bagian belakang Gelanggang Olahraga Jalan Ahmad Yani, Bekasi Selatan. Kemudian direlokasi karena adanya perubahan tata ruang di GOR Kota Bekasi yang difokuskan bagi pengadaan tambahan sejumlah venue cabang olahraga.

Gedung ini cukup luas, kira-kira 2500 meter persegi dan luas lantai bangunan kurang lebih 1700 meter persegi yang terdiri dari dua lantai. Aula di dalamnya saya perkirakan yah kurang lebih sekitar 400-800 X 50 meter. Memiliki panggung permanen dan ada balkon di lantai 2. Untuk naik ke lantai 2 saya melewati ruang ber-AC yang juga cukup luas sekitar 50 x 10 meter.

Selesai melihat-lihat ruang dalam gedung kesenian kota bekasi yang megah ini kami kembali ke danau. Kali ini situasi dan kondisi sudah pas untuk menikmati suasana Wisata Air Situ Rawa Gede Bojong Menteng.

Wisata Air Situ Rawa Gede Bojong Menteng Kota Bekasi

Ada 3 macam wahana air yang bisa kita pilih untuk menikmati suasana Wisata Air Situ Rawa Gede Kota Bekasi seluas 7 hektar ini; ada perahu, sepeda air dan "bale kambang". Kalau hanya berdua bisa mencoba wahana sepeda air, kalau 4 orang pas untuk menggunakan bale kambang, kalau lebih  dari 6 orang sebaiknya pakai perahu saja yang bisa menampung sampai 15 orang sekali jalan.

Karena kami hanya bertiga maka kami memilih bale kambang, sejenis wahana air yang terbuat dari bambu dengan memanfaatkan 4 drum plastik sebagai pengapung. 

Wahana ini dan juga perahu yang disediakan semua tidak bermesin, untuk menggerakkannya digunakan batang bambu sebagai pendorong dan penentu arah.
Wisata Air Situ Rawa Gede Kota Bekasi
M Noer dan Baba Samen pilot Bale Kambang :)
Wahana wisata air Bale Kambang bergerak lambat, tenang tanpa suara melewati para penjala ikan yang masih asik memunguti ikan mujair sebesar telapak tangan yang terjebak dalam jaring anco mereka.
Wahana air bale kambang Situ Rawa Gede Bekasi
Wahana air bale kambang Situ Rawa Gede Bekasi. Foto: Krisdayadi
Bale Kambang atau wahana air ini benar-benar nyaman, stabil dan tidak merusak suasana hening di tengah danau. Arus air yang terdorong angin mengantar kami hingga sandar ke beton penyangga pipa buangan limbah pabrik kecap yang melintang seperti jembatan. Cukup sampai di situ, karena tebaran jaring menutup jalur sehingga kami tidak sampai ke masuk ke wilayah danau yang berbatasan dengan tembok pembatas perumahan Kemang Pratama 5.
Wahana air bale kambang Situ Rawa Gede Bekasi
Wahana air bale kambang Situ Rawa Gede Bekasi. Foto: Krisdayadi
Ketika saya tanyakan tarif wahana air ini termasuk perahu dan bale Kambang, M Noer yang juga merupakan anggota KPPL Amphibi selaku pengurus Situ Rawa Gede hanya tersenyum dan menghindar untuk menjawab.

"Seikhlasnya aja bang, gak ada tarif, yah sewajarnya aja buat beli kopi yang mendorong sampan," jawabnya diplomatis.


"Ya susah bang kalo dikembalikan ke ukuran wajar karena setiap orang beda standarnya, umumnya yang orang sering kasih dan menurut teman-teman wajar rata-rata pengunjung ngasih berapa bang?," desak saya meminta angka pasti.


"Umumnya rata-rata orang memberi minimal 10 ribu rupiah untuk orang dewasa, untuk anak-anak 5 ribu, terus khusus anak-anak kecil belum sekolah gratis bang asal dijaga atau ditemani orangtuanya," jelas M Noer yang hari itu banyak bercerita bagaimana KPPL Amphibi Bojong Menteng bersama banyak pihak terus mencoba merevitalisasi Situ Rawa Gede yang tadinya tidak terawat menjadi indah seperti sekarang.

Gedung Kesenian dan Wisata Air Situ Rawa Gede Kota Bekasi
Dokumentasi KPPL Bojong Menteng Amphibi Bekasi kerja bakti

***

Berkeliling dengan wahana air bisa memakan waktu 25 menit sampai 1 jam, bisa karena permintaan pengunjung, bisa juga karena angin yang menimbulkan arus sehingga sampan akan terbawa jauh dan perlu usaha untuk merapatkan kembali sampan ke dermaga.

Saung di pinggiran Wisata Air Situ Rawa Gede ini juga berfungsi sebagai pos keamanan yang terus dijaga 24 jam untuk memonitor segala aktivitas yang ada di sekitar gedung kesenian dan danau. Selain untuk keamanan gedung juga berfungsi sebagai pengawasan agar tidak ada lagi warga yang mencari ikan dengan menggunakan setrum listrik serta menghindari penyalahgunaan lokasi ini dari hal yang tidak baik, misalnya tempat berkumpul meminum minuman keras, narkoba dan pacaran.


Kalau mau menikmati wisata air ini saya sarankan sebaiknya pagi atau sekalian sore hari, jadi kita tidak kepanasan. Kalau nekat ingin mencoba wahana air di siang hari maka gak usah khawatir di bale kambang ada payungnya yang cukup lebar, perahu juga beratap, hanya sepeda air yang tidak memiliki atap.

Di sekitar danau belum ada warung, ada 1 warung kopi letaknya di samping gedung kesenian yang juga menyediakan mie instant dan air mineral, kalau dari danau warung tersebut tidak terlihat. 

Lokasinya dapat diakses dengan kendaraan roda dua dan roda empat. Oh iya jangan lupa siapkan uang kecil untuk membayar parkir saat mau pulang. :)

______
Harpitnas, Senin 4 Februari 2019. Bojong Menteng Rawa Lumbu Kota Bekasi, Jawa Barat.


***

Kampung Peduli Pencemaran Lingkungan (KPPL) Aliansi Masyarakat Pemerhati Lingkungan Hidup dan B3 (Amphibi) Bojong Menteng Bekasi bisa dipantau di media sosial berikut:


Google Map:



Yang Terdampar dan Yang Menyambungkan


Yang Terdampar dan Yang Menyambungkan

Konon tersebutlah sebuah kerajaan yang adil makmur, kerajaan itu sedang dirundung duka karena putri kerajaan terserang penyakit kulit menular. Sekian banyak tabib tidak ada yang dapat menyembuhkan putri cantik kesayangan negeri.

Tak tega menyaksikan putrinya terkurung karena penyakit, dengan berat hati sang raja dan ratu melepas putrinya ke tanah pengasingan dengan bekal keris pusaka kerajaan dan berbagai benda pusaka sebagai bukti identitas sang putri.

Sang putri dengan senang menukar karantina istana dengan kebebasan meski jauh, ia juga tidak ingin penyakitnya menular kepada kerabat istana dan rakyat negerinya.

Berperahu dan ditemani beberapa pengawal setia kerajaan dan keluarganya akhirnya sang putri dengan berat hati pergi meninggalkan negaranya menyusuri sungai dan kemudian menetap di pinggir hutan di mana mereka terdampar. "Orang terdampar", begitulah kemudian mereka menamakan diri dan tempat tinggal mereka sekarang.

Suatu saat kala sang putri mencuci di tepi danau, tanpa disadari datang seekor kerbau albino yang menjilat kulitnya. Awalnya ia merasa terganggu dan mencoba mengusir si kerbau, tapi menyadari penyakit kulitnya berangsur sembuh dan hilang dalam sekejap ia kemudian memerintahkan pengawalnya berhenti mengusir kerbau itu.

Bersyukur atas kesembuhannya, sang putri memerintahkan para pengawalnya untuk tidak mengganggu kerbau albino (kerbau bulan/kerbau bule). "Aku minta mulai saat ini jangan menyembelih kerbau bule, karena dia adalah kiriman dewata untuk menyembuhkanku".


***

Singkat cerita, serombongan pemburu bermalam di hutan karena tidak berani pulang. pangeran kerajaan yang ikut dalam rombongan berburu hilang, ia terlalu asik memburu binantang buruan hingga terpisah dari rombongan. 

"Kita tidak boleh pulang sebelum pangeran ditemukan. Jika sampai akhir hayat tidak ditemukan, biar kita semua terkubur di sini," ucap salah satu dari pemburu itu. Menyadari hukuman yang menanti jika mereka pulang tanpa pangeran, tidak ada seorang pun dari rombongan itu yang berani menyanggah kata-kata itu.

Tersesat dalam gelap hutan bukan hal yang menakutkan bagi pangeran namun ia juga tidak ingin dirinya celaka dari sergapan binatang buas. Tidak lama si pangeran memanjat pohon besar yang ia temui dan berniat istirahat di sana. Dari ketinggian di atas pohon ia melihat ada beberapa nyala cahaya di kejauhan, ia perhatikan dan yakin itu bukan halusinasi dan tipuan mambang hutan. Ya itu cahaya lampu dari rumah penduduk.

Berharap dapat tempat istirahat yang lebih layak akhirnya sang pangeran memutuskan untuk mendatangi sumber cahaya yang ia lihat. Tibalah ia di rumah sumber cahaya yang tidak lain adalah rumah sang putri.

Tidak mudah bagi sang pangeran untuk masuk ke rumah itu, para pengawal sang putri mempertaruhkan nyawanya demi menjaga keselamatan putri dari raja yang mereka hormati.

"Aku hanya ingin istirahat, mengapa tidak boleh? Sekarang pertemukan aku dengan siapapun yang memiliki kewenangan untuk memberiku izin beristirahat di sini".

Rasa heran pangeran belum habis saat ia terpaksa melawan para pengawal sang putri yang tetap mengusir dirinya.

Lelah karena berburu dan tersesat membuat sang pangeran tidak ingin berlama-lama, ia mengungkap identitasnya dan menyampaikan maksud hanya ingin menumpang beristirahat.

Sang pangeran telah curiga sejak awal, jika rumah itu dihuni warga biasa mengapa ia tidak diizinkan memasukinya padahal ia sudah meminta izin sebaik-baiknya. Dan mengapa ada pengawal-pengawal yang sulit ia taklukkan, kalaupun prajurit pastinya mereka prajurit pilihan yang pilih tanding.

Kecurigaan itu justru mengundang rasa penasaran dan memancing emosi jiwa mudanya sehingga terjadi pertarungan yang menambah lelah dirinya.


***

Sang putri sudah sejak awal memperhatikan keributan di halaman rumah tinggalnya, namun ia memilih untuk diam memperhatikan, karena baru kali ini ada tamu yang ia tidak kenal dan berhasil memaksa para pengawalnya mencabut pedang.

Mengetahui tamunya adalah salah satu putra kerajaan tetangga ia kemudian memerintahkan pengawalnya agar mengizinkan pangeran masuk menemuinya.

Setelah meminum hidangan yang dipersilahkan si pangeran bertanya sesopan mungkin sambil menahan gejolak rasa penasaran dalam hatinya.

"Boleh aku tahu siapakah pemilik rumah yang sudah berbaik hati memperbolehkan aku yang tersesat ini masuk dan menghidangkan minuman herbal hangat penghilang lelah ini?".

Sang pangeran akhirnya tidak dapat menahan diri untuk membalas tatapan tajam dari balik kerudung. Dari cara duduk, jenis kain selendang atau kerudung penutup wajah dan jenis kain sarung yang dikenakan lawan bicaranya sang pangeran tahu yang ia hadapi adalah seorang perempuan bangsawan.

Tergagap sang pangeran tidak menduga lawan bicaranya menjawab pertanyaan dengan menyodorkan senjata pusaka yang berbalut sulaman panji bendera khas kerajaan. Sadarlah ia sedang berhadapan dengan salah satu keluarga inti kerajaan yang termasyur karena memiliki raja yang adil dan bijaksana.

Tanpa panjang basa-basi ia kemudian mengungkapkan maksud untuk bisa menumpang beristirahat dan akan segera kembali mencari rombongannya pada esok pagi.

Lawan bicaranya hanya mengangguk lalu memanggil pengawal yang berjaga di pintu untuk mengiringi pangeran ke luar.

Singkat cerita sang pangeran mendapat jamuan makan dan tempat istirahat setelah membersihkan diri dan berganti pakaian yang cukup layak untuk dirinya. Lelah membuatnya cepat tertidur malam itu.

Saat pagi hari ia segera ia berpamitan untuk kembali mencari rombongannya. Tapi apa daya, tuan rumah telah menyiapkan sarapan dan kali ini putri sendiri yang menemaninya makan pagi.

Perkenalannya dengan putri yang terdampar itu membuat pangeran meminta ayahnya melamar sang putri. Niat ini ia sampaikan sepulangnya berburu bersama rombongan.

Sang raja menyambut gembira permintaan anaknya ini akan mempererat hubungan dua kerajaan, tapi ia juga khawatir jika keinginan putranya tersebut ditolak oleh pihak kerajaan tetangga, maka akan meretakkan hubungan antar dua kerajaan.

"Maksud baik tidak selamanya diterima baik anakku, temui kembali putri pujaan hatimu dan sampaikan maksudmu, jika ia menerimanya maka mudah-mudahan semua dilancarkan." 


***

Tidak ada jawaban dari sang putri, ia tahu tidak bijak menjawab pinangan itu tanpa sepengetahuan orang tuanya. Iya atau tidak bukan jawaban sederhana, sang putri sangat sadar apapun jawabannya akan menentukan masa depan dua buah kerajaan dan rakyat yang ada di dalamnya.

Sang putri kemudian menyerahkan senjata pusaka titipan ayahnya dan berpesan.

"Sampaikan maksudmu kepada ayah ibuku dan berikan senjata pusaka ini kepada mereka, jika mereka menolak senjata ini, itu artinya kita tidak ditakdirkan bersatu, tapi jika mereka menerima dengan baik maka jemput aku untuk hidup bersamamu selamanya".

Mendengar jawaban itu sang pangeran langsung berangkat menuju pusat kerajaan di mana ayah dan ibu sang putri tinggal.

"Doakan agar alam merestui perjalananku, dan saksikan bahwa 'orang yang terdampar' akan kembali dengan sambutan cinta dari semua orang yang merindukannya, karena ia yang menyambungkan dan mengantarkan aku, orang dari seberang menuju masa depan" ucap sang pangeran.

Ternyata kedatangan sang pangeran diterima dengan baik oleh orang tua sang puteri.
Raja dan permaisuri gembira mendengar kabar putri mereka telah sembuh dan menerima senjata pusaka yang pernah mereka berikan.
"Ia mempercayakan dirimu untuk mengembalikan senjata pusaka ini kepada kami, artinya ia telah menemukan orang yang ia percaya untuk melindungi dirinya" ungkap permaisuri.

"Niat baikmu kami terima, kembalilah bersama perwakikan kami untuk menjemputnya pulang, sampaikan kepada rajamu, anaknya juga adalah anak kami" ungkap sang raja memeluk sang pangeran.

Demikianlah akhirnya mereka menikah dan merekatkan hubungan dua kerajaan. Mereka menetap dan beranak pinak di tempat mereka pertama berjumpa.

Walaupun mereka tidak menjadi raja di kerajaan masing-masing, kisah hidup mereka terus direkam dalam kenangan kolektif masyarakat dari 2 kerajaan dan dituturkan sebagai warisan dalam berbagai versi cerita.

----------------
Adaptasi dari kisah hikayat Putri We Tadampali.

"Orang Terdampar" disebut Tosora'e, nama tempat itu kemudian disebut Tosora ibukota kerajaan Wajo di Sulawesi Selatan dahulu kala.

Melawan Hoax Bersama AtmaGo

"Media sosial itu seperti dua sisi mata pisau, kalau kita bisa memanfaatkannya dengan positif maka akan bermanfaat buat pengguna dan lingkungannya, tapi kalau tidak maka media sosial bisa merugikan dan membuat kita berurusan dengan hukum," ungkap pak Jamhuri ZH selaku Kepala Sekolah MI Al-Hikmah Kp. Babakan Mustikasari, Kecamatan Mustika Jaya Kota Bekasi. Minggu, 27 Januari 2019.

Pada Minggu pagi itu ada sekitar 110 peserta dari 10 sekolah menengah atas di Bekasi yang mengikuti seminar literasi digital dengan tema "Melawan Hoax Bersama AtmaGo".
Melawan Hoax Bersama AtmaGo
Yasin menjelaskan mengenai AtmaGo
Dalam seminar kecil-kecilan ini saya mengangkat hasil survey Daily Social tahun 2018 tentang distribusi hoax. Menurut survey tersebut hanya 25 % responden yang bisa mengenali hoax, selebihnya sebesar 75% menyatakan tidak dapat mengenali dan sulit mendeteksi berita hoax di social media.

Jika media sosial yang seharusnya bisa bermanfaat bagi kehidupan sosial banyak berisi hoax dan sebagian besar dari kita tidak bisa mengenalinya maka larangan penggunaan media sosial akan saya dukung.

Lalu apakah ada cara lain agar para pengguna media sosial dapat selamat dari jebakan hoax?

Ada banyak, tapi yang saya lakukan adalah menyibukkan diri dengan konten positif dan kabar di lingkungan terdekat yang dapat dikonfirmasi lokasi dan sumbernya.

Karena itu, perlu rasanya kita mengenal 7 macam disinformasi dan bagaimana cara mengenali ciri-ciri berita hoax sambil terus membuat konten positif yang lebih bermanfaat.
Melawan Hoax Bersama AtmaGo

Selain dihadiri oleh pelajar, acara ini juga dihadiri oleh beberapa pengurus karang taruna kelurahan Mekarsari dan juga Bhabinkamtibmas kecamatan Mustika Jaya, bapak Aiptu Sarjono.

Agak sulit bagi saya mendeliver materi kepada publik yang heterogen latar belakang dan beda usia ini. Saya memilih target audience kepada hadirin dari sekolah karena mereka mayoritas.

Dengan memutar film kartun Juki tentang hoax saya kira peserta akan paham apa yang saya bahas selanjutnya.

Alhamdulillah setelah saya selesai memberikan materi, Aiptu Sarjono selaku Bhabinkamtibmas Kel. Mustikasari kembali menekankan bahayanya Hoaks dan mengapresiasi kegiatan yang dilaksanakan oleh AtmaGo dan MI Al-Hikmah.
Melawan Hoax Bersama AtmaGo
Aiptu Sarjono menyampaikan sambutan
"Kegiatan seperti ini seharusnya dilakukan bukan hanya untuk pelajar sekolah tapi juga untuk masyarakat, semoga AtmaGo bisa melakukan penyuluhan bahaya Hoax sampai ke tingkat RW dan RT."

Acara hari itu diakhiri dengan materi dari Muhammad Yasin yang memperkenalkan aplikasi AtmaGo dan bagaimana memanfaatkan AtmaGo serta media sosial lainnya agar lebih bermanfaat, baik untuk diri pengguna sendiri hingga masyarakat di lingkungannya.

AtmaGo adalah situs web dan aplikasi Android gratis yang dapat digunakan untuk melaporkan masalah, berbagi solusi, mencari pekerjaan, dan memposting berita mengenai lingkungan pengguna. 

"AtmaGo dibuat dengan ide dan semangat “warga bantu warga” untuk mewujudkan lingkungan yang lebih baik dari bawah melalui komunikasi dan informasi lokal di lingkungan penggunanya," tutur Yasin. Tentang AtmaGo saya pernah menulisnya di tulisan ini: Gotong Royong di Internet dengan AtmaGo.
Melawan Hoax Bersama AtmaGo

Kongko Bareng Blogger Bersama Siswa SMK Al Muhadjirin Bekasi

Kongkow Bareng Blogger Bersama Siswa SMK Al Muhadjirin Bekasi
Sabtu, 26 Januari 2019. Sudah larut pagi saat saya menelusuri peta google untuk mencari tahu di mana letak pasti SMK Al-Muhadjirin yang beralamat di Perumnas III, Jl. P. Jawa Raya, Aren Jaya, Bekasi Timur. Google Map mengantar saya ke gerbang sekolah yang tergembok. 

Dari hasil interogasi kepada adik-adik yang bersepeda di dekat gerbang akhirnya saya tahu kalau yang digembok adalah gerbang SMP Al-Muhadjirin, SMK yang saya tuju masih satu komplek tapi beda gerbang, saya harus melewati Masjid Al Muhadjirin baru bisa masuk ke SMA dan SMK Al-Muhadjirin.

Saat saya tiba, ternyata acara Kongko Bersama Bloger ini sudah dimulai. Pak Rijan Sania Saputra. ST selaku kepala sekolah SMK AL-Muhadjirin sedang memberikan sambutan pembukaan dan membawakan materinya. Btw Pak Rijan Sania selain kepsek ternyata juga seorang penulis loh. Keren lah ini kepsek SMK AL-Muhadjirin, beliau salah seorang penulis produktif dari Komunitas Guru Penulis Bekasi Raya :)

Sisi baiknya, saya jadi punya kesempatan menikmati kopi sambil ngobrol banyak sama Taufik dan Galing selaku panitia. Ngopi santai menunggu materi Pak Rijan selesai, gak lama Gorby yang ternyata alumni SMK Al-Muhadjirin ikut bergabung menemani saya.

Acara "Kongko Bareng Blogger & Entrepreneur di Zaman Milenial" ini terselenggara atas kerjasama civitas akademika SMK Al Muhadjirin Bekasi dan Yayasan Relawan Sedekah Indonesia.
Kongkow Bareng Blogger Bersama Siswa SMK Al Muhadjirin Bekasi

Kongko apa monolog nih?

Setelah break dan hiburan maka tibalah waktunya saya menjadi narasumber kongko bareng blogger. Judulnya kongko jadi harus lebih banyak interaksi, setidaknya saya bisa pakai 15-20 menit memberi materi supaya tuning-nya pas lalu tanya jawab sebelum lanjut ke sesi berikutnya. Btw kalau belum tahu, kongko itu artinya ngobrol atau berbincang-bincang.

Untuk menjelaskan blog dan blogger saya mengutip kisah sukses Raditya Dika dan Pidi Baiq yang keduanya menuangkan tulisan melalui blog kemudian dibukukan/novel kemudian menjadi film.

Blog adalah wadah untuk mempublikasikan tulisan-tulisan kita apapun bentuknya, bisa puisi, syair, cerita fiksi, cerpen, reportase, review, dan lain-lain. Raditya Dika awalnya menulis kisah-kisah jenaka yang ternyata mendapat respon positif dari netizen. 

Tulisan-tulisan bernada komedi di blognya sangat digemari sehingga berhasil memenangkan penghargaan Indonesian Blog Award dan penghargaan dari Indosat sebagai The Online Inspiring di tahun 2009.
Raditya Dika
Tulisan di blognya itu kemudian dibukukan dalam novel Kambing Jantan dan kemudian diangkat dalam film komedi yang berjudul sama. Tentu di balik kisah sukses ini ada kisah perjuangan tak kenal lelah, keseriusan dan semangat yang tak gampang patah, itulah yang perlu diteladani oleh siapa saja termasuk saya.

Begitu juga dengan Pidi Baiq yang awalnya menceritakan kisah Dilan dan Milea melalui blognya. Seperti yang kita ketahui, saat ini novel Dilan menjadi novel yang sangat laris dan sudah 2 novel Dilan yang dijadikan film.
novel dilan dan milea
Dari kisah ini yang ingin saya sampaikan adalah, internet juga membuka peluang bagi kita untuk kita manfaatkan sebagai wadah kreativitas seperti menulis, fotografi, lukisan, rekaman lagu hingga video. Pintu keberhasilan menunggu di sana, tentu tidak mudah, karenanya butuh banyak pengalaman dan kreativitas.

Setelah sekilas membahas mengenai blog kemudian sengaja saya bahas mengenai perkembangan evolusi web 1.0, web 2.0 dan web 3.0. Kita saat ini sudah mulai tahap awal evolusi web 3.0 yang sudah memanfaatkan AI (artificial intelligence). Bahwa smartphone yang kita gunakan saat ini sudah berisikan operating sistem yang mulai mengadopsi AI dan Learning Machine.

Asisten digital di HP akan semakin pintar, tapi sayang penggunanya jauh tertinggal karena masih kurang smart akibat sering mengonsumsi hoax. Materi 3 kerangka literasi digital Indonesia sempat pula saya sampaikan walau waktunya sudah mepet. Tentu tidak maksimal, tapi berbicara di depan kelas sampai 90 menit itu benar-benar menguras energi :D
Kongkow Bareng Blogger Bersama Siswa SMK Al Muhadjirin Bekasi
Hasil dari kongko ini saya berharap semoga dengan acara ini adik-adik SMK dan para hadirin tergugah untuk membuat konten kreatifnya sendiri. Menjadikan sosmed sebagai media promosi kegiatan positif dan informasi bermanfaat. 

Pemateri selanjutnya adalah Nana Praja, penggiat literasi dan pendiri TBM Rumah Warna Bekasi yang terletak di Kampung Penombo, Desa Pantai Harapan Jaya Kecamatan Muaragembong Kabupaten Bekasi.  Mungkin Nana yang akan membawakan materi mengenai entrepreneur dan usaha. Saya selesai materi langsung kabur untuk menambah kadar nikotin dan kafein setelah 1 jam setengah mencoba menjadi guru yang baik :D

Dari hasil ngobrol dengan Galing Gema Takbir yang mengundang saya ke acara ini mudah-mudahan mading (majalah dinding) yang ada di sekolah bisa  berfungsi maksimal. Ke depan mudah-mudahan kalau lancar akan ada ekskul jurnalistik di SMK ini.  Amiiin.




"Mencoba Ada Perpustakaan" ala Perkabu Kaliabang


"Biarkanlah dirimu dibentuk oleh tarikan yang kuat dari sesuatu yang kamu cintai." ~ Rumi.

Tidak ada yang istimewa dari "Perpustakaan Kampung Baru" atau yang disingkat PERKABU di Kaliabang Tengah, Kecamatan Bekasi Utara, Kota Bekasi ini.
Mencoba Ada Perpustakaan ala Perkabu Kaliabang
Dalam ruangan yang dihiasi berbagai sticker itu, terdapat koleksi buku seadanya dengan beragam topik dan genre bercampur dalam susunan yang rapih di beberapa lemari buku, sepertinya semua buku adalah hasil donasi jaringan penyumbang buku di Perpustakaan Jalanan (Perpusjal) Bekasi.

Di jendela depannya tertempel stiker kontras berlatar merah dengan tulisan "MENCOBA ADA PERPUSTAKAAN". Sebuah pengumuman jujur dan sederhana untuk menjelaskan apa yang ada di PERKABU.
Mencoba Ada Perpustakaan ala Perkabu Kaliabang
Penggiat atau pengurus PERKABU ini gak lain adalah si pemilik akun Facebook: "Bayu Nggak Penting". Pria sederhana yang tidak mudah mengorek keterangan apapun darinya.

"Sedih itu bila dinilai baik, padahal belum bisa berbuat baik," ungkap Bayu menggambarkan kegelisahan dan kekhawatiran akan publikasi yang tidak proporsional pada diri dan aktivitasnya.

Selasa, 25 Desember 2018 siang, saya dan beberapa teman berkunjung ke PERKABU sekadar silaturahim dan menunaikan beberapa kepentingan. Sempat bingung juga masuk ke dalam Jalan Haji Hamdani, karena ini kali kedua saya datang, agak lupa di mana pastinya lokasi Perkabu ini.
Diaz SAJUBU
Diaz SAJUBU
Diaz mengantarkan buku donasi dari komunitas Sajubu (satu Juta Buku) yang diketuainya, Meita dan Alan hendak mengantarkan sebuah buku kompilasi di mana Bayu menjadi salah satu kontributor dalam buku terbitan Jabaraca berjudul Lentera. 

Sedangkan saya? Seperti biasa, sok sibuk motret segala macam dan sotoy mendefinisikan hal-hal yang sudah jelas dan gak perlu didefinisikan lagi, modus andalan untuk menutupi niat numpang ngopi.

Sekitar 8 anak di bawah umur kemungkinan masih usia SD berkunjung untuk mewarnai dan bermain di Perkabu. Bayu sedikit terselamatkan dan meninggalkan saya yang sudah ngerepotin dirinya demi segelas kopi pahit.
Mencoba Ada Perpustakaan ala Perkabu Kaliabang
Di pos samping rumah ini juga sudah berkumpul sekitar 7 anak usia SMP yang meminta Bayu mengajak mereka melakukan "Kuis Cerdas" seperti yang biasa mereka mainkan, semacam cerdas cermat ala Perkabu. Belakangan datang seorang perempuan bernama Tika yang membantu Bayu dalam menangani anak-anak remaja super aktif tersebut.

Datang juga Endra menambah seru obrolan  kami di siang itu, khususnya saat Diaz bertanya, "Apa kata yang sering membersamai kata selat?." Rupanya Diaz sedang mencari inspirasi untuk membuat poster kegiatan komunitasnya terkait pasca tsunami Selat Sunda.

Kata "membersamai" ini mungkin lebih tepat kalau diganti dengan "menyertai" atau "mambarengi". Tanya Ivan Lanin aja, yang pasti kata dia "membersamai" ini tidak ada di KBBI, cari aja di twitter-nya 😁☕.

Gak terasa sudah sekitar 4 jam saya ngerecokin aktivitas sang pemilik distro "Suckit Stuff" yang menjual berbagai merchandise "under ground" ini.
Mencoba Ada Perpustakaan ala Perkabu Kaliabang
Kuis Cerdas ala Perkabu
Tidak ada yang istimewa di sini. Anak muda yang peduli dengan pendidikan anak-anak lingkungannya melakukan hal biasa, rela menyediakan ruang rumahnya sebagai tempat beraktivitas bagi anak-anak tetangganya. Semua orang juga mungkin bisa melakukan apa yang Bayu lakukan, tapi yang pasti gak semua orang mau melakukannya.

Jangan berharap Bayu akan senang hati menjelaskan apa yang dia lakukan untuk saya publikasikan. Mendapati saya bertanya macam-macam saja dia menjadi kurang nyaman, sama kurang nyamannya jika saya dipaksa menjelaskan apa-apa yang saya lakukan.

Menuruti kata hati itu menyenangkan dan membahagiakan, sampai saat ada orang yang bertanya macam-macam tentang apa yang kita lakukan itu. Tidak semua minat dan passion bisa dijelaskan dengan kalimat yang sederhana, apalagi untuk dipahami dengan mudah. Toh selama bermanfaat dan tidak merugikan orang lain, yah biarkan saja, sepakat?.

Dalam kehidupan ini kita tidak dapat selalu melakukan hal yang besar. Tetapi kita dapat melakukan banyak hal kecil dengan cinta yang besar.

Di Perkabu tidak ada hal-hal istimewa yang bisa kita harapkan, tapi coba tanyakan pada anak-anak yang riang bermain, membaca, mewarnai, bermain kuis cerdas dst.

Mereka mungkin tidak dapat menjawab dengan sempurna apa pertanyaan kita, tapi kedatangan mereka ke PERKABU membuktikan mereka lebih memprioritaskan untuk datang ke Perkabu daripada pilihan lain untuk menghabiskan waktu mereka.

Anak-anak masih jujur dan polos, mereka datang bukan karena kepentingan macam-macam, kalau mereka mau, mereka dapat menggunakan waktu mereka bermain di tempat lain, tapi ternyata mereka memilih bermain di Perkabu bersama teman-temannya yang lain.

Hal itu cukup bagi saya untuk menjelaskan bahwa apa yang tidak istimewa dan biasa-biasa saja bagi kita, mungkin bagi orang lain merupakan sesuatu yang istimewa dan pantas untuk diprioritaskan dibanding dengan yang lain.

Jadi, lakukan saja hal-hal yang menurut kita biasa dan tidak istimewa, selama itu berguna bagi orang lain, mungkin juga itu akan menjadi istimewa buat orang lain.

Tetap semangat Perkabu  🙏😁☕






Belajar Mewarnai di Sanggar Lukis Cinong Bekasi

Belajar Mewarnai di Sanggar Lukis Cinong Bekasi
Kak Mae mendampingi adik-adik mewarnai
Melihat coretan-coretan di dalam buku pelajaran anak, saya jadi ingat waktu kecil karena sering mendapat teguran akibat suka menggambar (atau lebih tepatnya corat-coret) berbagai hal di buku tulis. Bukan karena tidak ada buku gambar, tapi karena desakan spontanitas.

Bisa jadi menggambar di buku tulis adalah pengisi waktu di sela-sela kebosanan saat pelajaran, semacam "escape" karena sudah tidak konsentrasi mengikuti pelajaran. Hal yang sama masih saya lakukan dalam rapat-rapat atau pertemuan jika sudah mulai tidak dapat menyimak atau sudah "tidak nyambung", yah "like father like son" atau "buah jatuh tidak jauh dari pohonnya". :D

Saat kecil tentu saya tidak paham bahwa kegiatan menggambar dapat membantu meningkatkan kinerja otot tangan sekaligus mengembangkan kemampuan motorik halus. Saat ini kegiatan menggambar bagi saya seperti meditasi atau semacam latihan emosi.
Belajar Mewarnai di Sanggar Lukis Cinong Bekasi
Kegiatan mewarnai bermanfaat untuk anak

Manfaat Belajar Mewarnai Bagi Anak

Manfaat mewarnai bagi anak itu saya kira tidak berbeda jauh dengan manfaat menggambar, malah lebih kaya nuansanya. Walaupun kegiatan tersebut sama-sama menggerakkan tangan dan melatih motorik halus, mewarnai memiliki dimensi yang lebih dalam karena banyak hal yang mesti diperhatikan, seperti memahami batas bidang, memahami warna serta gradasinya dan lain-lain.

Menurut Kak Mae, instruktur di Sanggar Lukis Cinong Bekasi, kegiatan mewarnai juga bertujuan untuk melatih konsentrasi anak agar dapat selalu fokus pada pekerjaannya di tengah aktivitas lain di sekelilingnya.
Mewarnai bertujuan untuk melatih konsentrasi anak agar dapat fokus pada pekerjaannya.
Kemampuan berkonsentrasi dalam berbagai gangguan di sekelilingnya inilah yang nantinya akan bermanfaat bagi anak dalam menyelesaikan apapun yang membutuhkan konsentrasi tinggi.

"Mewarnai itu merupakan wadah dan program bagi anak-anak usia dini untuk mengekspresikan diri, perasaan, ketakutan, maupun imajinasinya," ungkap Kak Mae saat ditanyakan mengenai manfaat belajar mewarnai.

"Mewarnai juga menjadi sarana yang sangat tepat untuk merangsang memori anak, melatih motorik halus dan kesabaran serta mengembangkan kreativitasnya juga melatih keterampilan, namun yang terpenting itu melatih anak untuk bisa percaya diri," lanjut Kak Mae yang menggunakan nama Mae Surahman pada Facebooknya ini.
Galeri Sanggar Lukis Cinong Bekasi
Galeri Sanggar Lukis Cinong Bekasi
Lebih jauh lagi, kita juga dapat mengenal karakter anak melalui kegiatan menggambar dan mewarnai. Seperti diketahui secara umum bahwa memiliki hubungan dengan emosi. Kemudian cara anak menarik garis dan menggunakan krayon untuk mewarnai mengekspresikan sifat mereka.

"Menggambar dan mewarnai dapat menjadi kegiatan yang menyenangkan dan ekspresif untuk menyalurkan kepenatan sehingga meringankan stres pada anak," tegas Kak Mae yang juga bekerja di Sanggar Lukis Kak Ben sejak 2005.

Prestasi yang diraih Sanggar Lukis Cinong Bekasi setelah 1 tahun berjalan antara lain:

  1. Juara 1, 2, 3 lomba mewarnai Hut Desa Babelan Kota tahun 2017;
  2. Juara harapan 1 lomba mewarnai tingkat kabupaten yang diadakan oleh salah satu merek produk susu;
  3. Juara 1, 2, 3 lomba mewarnai antar sekolah yang diadakan oleh salah satu merek produk susu;
  4. Juara harapan 3 lomba mewarnai yang diadakan oleh grup ISPI Babelan;
  5. Juara 1 lomba mewarnai yang diadakan oleh salah satu gerai minimarket Wisma Asri
  6. Juara harapan 1 lomba mewarnai yang diadakan oleh BTC mall;
  7. Juara 1, 2, 3 lomba mewarnai yang diadakan oleh salah satu gerai minimarket;
  8. Juara 3 lomba mewarnai yang diadakan oleh salah satu gerai fast food di Villa Mutiara Gading 2;
  9. Juara 1 lomba mewarnai tingkat TK yang diadakan oleh SDIT Insan Mulia Tambun Utara;
  10. Juara 3 lomba mewarnai yang diadakan oleh AEON Mall Cilincing; dst.

Ketika ditanyakan apakah Kak Mae memiliki dasar pendidikan khusus di bidang mewarnai atau desain, Kak Mae menjawab halus bahwa dirinya hanya menjalankan hobi dan belajar dari Sanggar.

"Semua berawal dari hobi kemudian lanjut belajar sendiri lalu ikut Sanggar Kaben, dari situ saya mulai menekuni hobi saya terutama dalam seni mewarnai gambar," jelas Kak Mae yang tinggal di wilayah Babelan Kota ini.

"Biarkanlah anak-anak berkreasi sesuai dengan imajinasi mereka. Jangan beranggapan bahwa mewarnai tidak ada manfaatnya jika dibandingkan dengan pelajaran-pelajaran sekolah (akademis)," tutup Kak Mae berpesan kepada masyarakat dan khususnya pada orang tua yang memiliki anak.
***
Belajar Mewarnai di Sanggar Lukis Cinong Bekasi
Mewarnai dapat melatih konsentrasi
Senada dengan penjelasan Kak Mae, Bu Gina Anggraini yang kedua anaknya ikut belajar mewarnai di Sanggar Lukis Cinong Bekasi mengaku bersyukur ada kegiatan belajar mewarnai di Sanggar Lukis Cinong Bekasi yang banyak manfaatnya.

"Alhamdulillah banyak sekali manfaatnya yang saya rasakan untuk anak-anak saya, imajinasi dan kreasi anak saya terus berkembang hingga mengerti memadukan gradasi warna yang sesuai. Begitu juga adiknya sudah dapat membedakan dan memadukan warna-warna sesuai seleranya," jelas Bu Gina yang sehari-hari berprofesi sebagai pengajar di salah satu sekolah di Bekasi.

2 anak saya juga sebetulnya belajar mewarnai dan menggambar dipandu Kak Mae, Alhamdulillah sudah hampir penuh 1 sudut dinding rumah dengan hasil kreasi mereka :)

Menarik juga ngobrol soal manfaat mewarnai bersama Kak Mae yang tidak pernah menolak untuk mendampingi anak-anak untuk belajar mewarnai walaupun yang datang hanya 1 orang ini. Sanggar Lukis Cinong Bekasi ini mulai aktif sekitar bulan Juli 2017 atas permintaan Bang Jamal selaku Ketua Perguruan Silat Cinong Bekasi.

Adapun jadwal belajar di Sanggar Lukis Cinong Bekasi adalah hari Sabtu jam 14.00 sampai dengan 17:30 WIB dan hari Minggu pukul 14.00 sampai dengan 16.00 WIB di Saung Lukis Cinong atau di aula Balai Desa Babelan Kota Kecamatan Babelan, Bekasi.

Untuk informasi lebih lanjut bisa menghubungi Kak Mae: WhatsApp 0812 9528 2925 atau bisa langsung datang ke Saung Perguruan Silat Cinong Bekasi di Jalan Gelora Babelan Rt.018 RW 03 Desa Babelan Kota Kecamatan Babelan Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.





***

Buku Sejarah Bekasi, Sejak Peradaban Buni Ampe Wayah Gini

Buku Sejarah Bekasi, Sejak Peradaban Buni Ampe Wayah Gini
Judul: Buku Sejarah Bekasi, Sejak Peradaban Buni Ampe Wayah Gini.
Penulis: Endra Kusnawan
Penerbit: Herya Media Depok
Genre / Kategori: Sejarah
ISBN: 9786021032640
Tahun Terbit & Cetakan: April 2016/1
Tebal Buku: xvi + 468 hlm. Ukuran 15x23 cm. 
Harga: 110.000.

Kalau selama ini kita sering disuguhkan sejarah Bekasi hanya sekitar masa Revolusi Nasional Indonesia (1945-1949), maka buku ini merangkum banyak fakta sejarah lebih jauh lagi, yaitu sekitar 1000 SM sampai 130 M saat Peradaban Buni dipercaya hidup di daerah Bekasi. 

Setelah kata pengantar dari penulis yang menjelaskan latar belakang dan sistematika penulisan, buku tebal ini kemudian dibuka dengan pembahasan mengenai Toponimi Bekasi. Bagi saya ini pembukaan yang menarik, karena untuk mengetahui asal usul penamaan Bekasi mau tidak mau kita harus menyelami sejarahnya.

Toponimi Bekasi

Toponimi adalah pembahasan mengenai tentang nama tempat, asal-usul, arti, penggunaan, dan topologinya. Bagian pertama kata tersebut berasal dari bahasa Yunani tópos yang berarti tempat dan diikuti oleh ónoma yang berarti nama.

Asal-usul penggunaan nama Bekasi dalam buku ini dirangkum dalam 5 halaman disertai foto-foto peta dan lain-lain. Versi penamaan Bekasi yang dibahas dalam buku ini adalah versi dari Prof. Dr. Raden Mas Ngabehi (Lesya) Poerbatjaraka (1884-1964) yang memang merupakan pendapat paling ilmiah dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademis. 

Poerbatjaraka adalah seorang cendekiawan tidak bertanding soal naskah kuno, seorang putra Indonesia kedua yang memperoleh gelar doktor di Universitas Leiden Belanda bidang Sastra Jawa pada tahun 1926 dengan disertasi berjudul Agastya in den Archipel (Agastya di Nusantara). Setelah masa kemerdekaan beliau menjadi profesor di sejumlah kampus ternama dan beliau mendirikan Fakultas Sastra di Universitas Udayana Bali. 

Poerbatjaraka berpendapat kata Bekasi berasal dari kata Chandrabhaga, kesimpulan ini berdasarkan apa yang tertulis di Prasasti Tugu di Cilincing. Chandrabhaga adalah nama sungai yang digali pada abad ke-5 Masehi oleh Raja Tarumanagara yang bernama Rajadhiraja Yang Mulia Purnawarman. 
Prasasti Tugu memberitakan penggalian Sungai Candrabhaga (Kali Bekasi)
Prasasti Tugu memberitakan penggalian Sungai Candrabhaga (Kali Bekasi)
Prasasti Tugu memberitakan penggalian Sungai Candrabhaga dan Sungai Gomati yang dilakukan Purnawarman pada tahun ke-22 masa pemerintahannya.

Transkrip Prasasti Tugu:
Pura rajadhirajena guruna pinabhahuna khata khyatam purin phrapya. Candrabhagarnavam yayau pravarddhamanadwavincadvatsa (re) crigunaujasa narendradhvajbhunena (bhuten). Crimata Purnnavarmmana prarabhya Phalgune(ne) mase khata krshnatashimithau Caitracukla-trayodcyam dinais siddhaikavinchakai(h). Ayata shatsahasrena dhanusha(m) sacaten ca dvavincena nadi ramya Gomati nirmalodaka pitamahasya rajarshervvidarya cibiravanim.Bhrahmanair ggo-sahasrena(na) prayati krtadakshino.

Terjemahannya:
Dahulu atas perintah rajadiraja Paduka Yang Mulia Purnawarman, yang menonjol dalam kebahagiaan dan jasanya di atas para raja, pada tahun kedua puluh dua pemerintahannya yang gemilang, dilakukan penggalian di Sungai Candrabhaga setelah sungai itu melampaui ibukota yang masyhur dan sebelum masuk ke laut. Penggalian itu dimulai pada hari kedelapan bulan genap bulan Phalguna dan selesai pada hari ketiga belas bulan terang bulan Citra, selama dua puluh satu hari. Saluran baru dengan air jernih bernama Sungai Gomati, mengalir sepanjang 6.122 busur melampaui asrama pendeta raja yang di pepundi sebagai leluhur bersama para brahmana. Para pendeta itu diberi hadiah seribu ekor sapi.

Poerbatjaraka mengurai kata Candrabhaga menjadi dua kata, yakni Chandra yang berarti “bulan” dan Bhaga yang bermakna; "bagian". Diterangkan juga teori bagaimana kata Chandrabhaga kemudian menjadi Bhagasasi, kata "candradalam bahasa Sansekerta berarti bulan yang dalam bahasa Jawa Kuno disebut "sasi" atau "wulan". 

Perubahan penyebutan dari Chandrabhaga menjadi Bhagasasi menurut buku ini akibat pengaruh bahasa Melayu yang tersebar luas seiring dengan kejayaan kerajaan Sriwijaya yang juga menguasai sebagian pulau Jawa termasuk Bekasi. 

Bahasa Melayu sebagaimana bahasa Indonesia saat ini bersifat DM (Diterangkan Menerangkan), berbeda dengan bahasa Sansekerta yang bersifat MD (Menerangkan Diterangkan) seperti bahasa Inggris. Kemudian juga sedikit dijelaskan bagaimana dari penyebutan Bhagasasi menjadi Bhagasi, Bekassi hingga akhirnya menjadi Bekasi
Selain itu peninggalan budaya Melayu dari Sriwijaya yang masih mengakar adalah budaya berbalas pantun berima yang masih dapat ditemui hingga sekarang.
Buku Sejarah Bekasi, Sejak Peradaban Buni Ampe Wayah Gini
Buku Sejarah Bekasi, Sejak Peradaban Buni Ampe Wayah Gini
Sistematika penulisan buku sejarah ini diurutkan berdasarkan pada masa kekuasaan para penguasa di wilayah Bekasi, baik langsung maupun tidak langsung. Sejak lengsernya kerajaan Tarumanagara, di wilayah Bekasi tidak ada lagi kekuasaan yang secara langsung memerintah sehingga menjadi wilayah semi otonom karena jauh dari pusat-pusat kekuasaan atau pun pusat pemerintahan. 

Jauh setelah itu barulah hadir kekuasaan tradisional yang kental di Bekasi dalam bentuk kekuasaan para tuan tanah partikelir melalui para mandor. Ini pun sebenarnya kekuasaan yang bermotif ekonomi, bukan kekuasaan kedaulatan seperti kekuasaan kerajaan di daerah lain di nusantara.

Secara lengkap sistematika pembahasan Buku Sejarah Bekasi, Sejak Peradaban Buni Ampe Wayah Gini menggunakan periodisasi atau garis waktu sebagai berikut:
  1. Peradaban Buni (1000 SM-130) 
  2. Kerajaan Salakanagara (130-358) 
  3. Kerajaan Tarumanagara (358-686) 
  4. Kerajaan Sriwijaya (686-932) 
  5. Kerajaan Sunda (932-1579) 
  6. Kerajaan Sumedanglarang (1579-1620) 
  7. Kesultanan Mataram (1620-1652) 
  8. VOC (1652-1799) 
  9. Kerajaan Prancis (1800-1811) 
  10. Kerajaan Inggris (1811-1816) 
  11. Kerajaan Belanda (1816-1942) 
  12. Republik Indonesia (Perang Revolusi) (1945-1948) 
  13. Negara Pasundan (1948-1949) 
  14. Republik Indonesia Serikat (1949-1950) 
  15. Republik Indonesia (Orde Lama) (1950-1966) 
  16. Republik Indonesia (Orde Baru) (1966-1998) 
  17. Republik Indonesia (Reformasi) (1998-Sekarang)

Peradaban Buni (1000 SM-130)

Salah satu fakta sejarah adalah artefak, yaitu semua benda baik secara keseluruhan atau sebagian hasil buatan tangan manusia, seperti candi, patung, perkakas dan sejenisnya. Selain itu artefak juga dapat menunjukkan fakta sosial dan ciri fakta mental, contoh kapak batu dari Peradaban Buni. 

Mata kapak dari batu adalah artefak yang merupakan fakta konkret, tetapi jika dilihat dari bentuk dan modelnya maka kapak batu dapat berfungsi juga sebagai fakta sosial peradaban masa itu, dan jika menempatkan kapak batu serta manik-manik tersebut sebagai bagian dari sistem kepercayaan masa itu, maka artefak tersebut juga disebut fakta mental.

Pembahasan Peradaban Buni dilengkapi dengan foto-foto artefak berupa gelang, kapak batu, manik-manik dan lain-lain, yang walaupun tidak berwarna setidaknya cukup menambah kuat penjelasan sehingga lebih memudahkan pembahasan. Tidak terlalu banyak pembahasan mengenai Peradaban Buni dalam buku ini, hanya 12 halaman dengan diisi gambar-gambar penjelasan.

Pembahasan Peradaban Buni ini singkat dan padat, merangkum banyak "kata kunci" dari berbagai sumber yang bisa menjadi pembuka pintu-pintu pembahasan lain sesuai minat pembaca atau penulis lainnya. 

Saya pernah mengunjungi rumah alm Kong Sakih di Kampung Pasir Mas Desa Buni Bakti Babelan saat beliau masih hidup. Saya melihat pecahan-pecahan gerabah dan berbagai benda yang ia kumpulkan dari sekitar rumahnya. 

Saat itu saya kurang begitu paham apa gunanya sisa-sisa artefak-artefak itu beliau kumpulkan. Sekarang sedikit paham, bahwa berawal dari artefak itu banyak fakta lain yang bisa terungkap dan memiliki kedudukan penting sebagai sumber dalam penelitian kesejarahan.

***

Cara penulisan Buku Sejarah Bekasi, Sejak Peradaban Buni Ampe Wayah Gini dibagi dalam sub-sub judul yang kaya akan informasi dan referensi sumber. Contoh saat pembahasan Bab Kerajaan Belanda ada sub bab tentang Lahirnya Provinsi Jawa Barat yang diatur oleh Belanda dalam Staatsblad 1924 No. 78.

Bagi kita yang tidak berkecimpung dalam kesejarahan ini merupakan informasi baru yang menarik. Saya sendiri baru mengetahui bahwa ibu kota Provinsi Jawa Barat saat itu adalah Batavia (Jakarta) diatur berdasarkan Staatsblad 14 Agustus 1925 No. 378 dan berlaku efektif mulai 1 Januari 1926. 22 tahun kemudian, setelah kemerdekaan barulah Jakarta menjadi Kotapraja yang terpisah dan kedudukan walikotanya sejajar dengan Gubernur Jawa Barat melalui UU Nomor 22 tahun 1948.

Banyak hal menarik yang diungkap oleh buku ini. Saya juga membacanya tidak teratur dari awal sampai akhir, tapi hanya membuka-buka untuk melihat-lihat gambar-gambar atau foto, membaca sub-sub judul lalu kemudian membacanya kalau sub judulnya menarik perhatian saya. 

Membaca buku ini akan lebih mudah dengan membayangkan Endra Kusnawan yang sedang bercerita sebagaimana sering saya dengar langsung baik saat dia sedang menjadi narasumber atau sedang diskusi dan ngobrol bareng. Kalau ditanyakan kepadanya tentang motivasi membuat buku ini, dia akan kembali menjelaskan betapa sulitnya mencari buku sejarah Bekasi yang bisa diperoleh secara bebas dan seterusnya seperti yang dijelaskan pada kata pengantar buku ini. 

Ada 1 hal yang cukup penting, yaitu gaya bahasa yang digunakan. Mendengarkan dia bicara dan membaca tulisannya, saya tetap menemukan kemudahan mencerna ceritanya yang menggunakan bahasa semi formal dengan banyak pengandaian atau perbandingan.

Pembahasan yang sangat luas dengan rentang waktu yang panjang wajar membuat buku ini menjadi tebal hingga 468 halaman. Itupun sebenarnya tidak banyak topik yang dikupas secara tuntas, cukup sebagai pengetahuan umum sebagai pengantar pengetahuan kesejarahan atau pengenalan mengenai sejarah Bekasi secara umum.

Pemuda zaman now bukan tidak mau mempelajari sejarah, tapi akses untuk mempelajari sejarah itu yang sulit. Jika pun ada, sumber-sumber pengetahuan sejarah terkesan eksklusif dengan narasi formal dan baku serta menyebutkan berbagai referensi yang aksesnya juga susah, dan beberapa sebab lainnya. 

Untunglah ada Majalah Historia yang tersedia secara online dan menyajikan sejarah dengan cita rasa kekinian. Buku Sejarah Bekasi, Sejak Peradaban Buni Ampe Wayah Gini dari pemilihan judulnya saja sudah menggunakan bahasa sehari-hari yang akrab dengan orang kebanyakan. Demikian juga gaya bercerita dan penggunaan gaya bahasa yang mengisi buku ini, ringan tapi padat, cepat tercerna dan dapat dipahami awam.

Mudah-mudahan jika ada cetakan berikutnya ada pula halaman tambahan berisi tanggapan atau kritik dan testimoni yang dapat memperkaya buku ini. Karena biar bagaimanapun sejarah tidak bersifat baku dan selalu terbuka untuk direvisi dengan adanya bukti baru yang terungkap atau ditemukan fakta baru.

Tentang Penulis

Buku Sejarah Bekasi, Sejak Peradaban Buni Ampe Wayah Gini
Endra Kusnawan yang saya tahu adalah seorang pendiri dan penggiat di Komunitas Historika BekasiEndra giat dalam diskusi dan kegiatan kesejarahan karena hobi dan passion. Sedangkan profesinya sepanjang yang saya tahu adalah konsultan CSR pada perusahaan swasta. 

Selain sering menjadi narasumber dalam diskusi dan seminar sejarah dia juga sering mengisi acara-acara motivasi sebagai motivator. Terakhir yang saya tahu dari status Facebooknya per Desember 2018 ia resmi memegang sertifikasi trainer/instruktur dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).

Pesannya kepada saya: "Sejarah itu bersifat dinamis. Dia akan terus bergerak selama ada temuan baru. Buku tsb melengkapi buku-buku sejarah Bekasi sebelumnya. Karena banyak temuan baru yang layak untuk dianalisis lebih lanjut."
***

Ngopi Siang Di Destinasi Ekowisata Mangrove Sungai Rindu

Destinasi Ekowisata Mangrove Sungai Rindu Sembilangan Babelan
Bangkitnya kesadaran warga masyarakat di pesisir pantai utara Kabupaten Bekasi akan pentingnya fungsi hutan mangrove sudah sangat baik. Selain itu masyarakat juga sudah jeli dan mampu memberdayakan potensi wisata di wilayahnya. Destinasi Ekowisata Mangrove Sungai Rindu di Kampung Sembilangan Desa Hurip Jaya Kecamatan Babelan adalah salah satu contohnya. 

Ekowisata Mangrove Sungai Rindu

Sungai Rindu ini terletak di tepi Kali Kaloran Kampung Sembilangan RT 006/003. Kali Kaloran adalah batas alam Desa Hurip Jaya Kecamatan Babelan dan Desa Samudrajaya Kecamatan Tarumajaya. Di kiri kanan sepanjang tepian Kali Kaloran yang relatif jernih ini kita dapat menikmati rimbunnya pepohonan mangrove yang kemudian disulap menjadi destinasi wisata. Ini adalah salah satu contoh kebangkitan pemuda lokal untuk mengelola potensi wisata di wilayahnya.

Dari keterangan warga setempat, inisiator dan eksekutor Ekowisata Sungai Rindu adalah IRTRA (Ikatan Remaja Putra Putri) Kampung Sembilangan yang sejak bulan Mei 2018 sudah mulai merintis pembangunan secara swadaya dan sekarang aktif mengelola destinasi ekowisata Sungai Rindu. Dari obrolan kami terungkap bahwa Ekowisata Sungai Rindu ini sedang diusahakan oleh BPD dan Karang Taruna Hurip Jaya agar memiliki Peraturan Desa (Perdes) tentang Ekowisata Sungai Rindu yang memberikan dasar hukum akan keberadaannya. 
Destinasi Ekowisata Mangrove Sungai Rindu Sembilangan Babelan
Menurut saya lokasi ini enaknya untuk pertemuan yang santai seperti rapat kecil atau sekadar pertemuan keluarga. Angin yang selalu berhembus sejuk walau sedang panas terik membuat suasana sangat pas untuk santai-santai menikmati kopi sambil ngobrol atau membaca buku.  Untuk informasi, sinyal sangat sulit, hanya sinyal beberapa provider tertentu yang masih bisa terhubung, wilayah ini adalah wilayah blank spot untuk beberapa provider seluler :)

Sebagai destinasi wisata baru, untuk masuk ke kawasan konservasi mangrove di Ekowisata Sungai Rindu melalui Kampung Sembilangan tidak dipungut retribusi alias gratis. Entah ke depannya apakah tetap gratis atau akan ada retribusi saya tidak tahu. Sedangkan jika melalui jalur laut maka dikenakan retribusi Rp.2000 rupiah yang itupun digunakan untuk pengembangan di Sungai Rindu.  

Panjang titian bambu yang terpasang juga belum terlalu jauh, perkiraan saya dari tepi Sungai Gentong yang bertemu dengan Sungai Kaloran, baru sekitar 100 meter mengikuti arah sungai. Namun demikian di ujung titian saya melihat pondasi-pondasi dari bambu untuk membangun titian lanjutan dan rangka bambu untuk saung berikutnya.

Dalam perjalanan menuju tempat ini melalui jalur darat Sembilangan, saya sempat melewati beberapa kelompok orang yang sedang memancing di tambak-tambak pemancingan. Pemandangan umum daerah ini adalah tambak ikan dan udang, beberapa tambak juga merupakan lahan budidaya rumput laut sebagai mata pencaharian utama masyarakat setempat.
Ngopi Siang Di Destinasi Ekowisata Mangrove Sungai Rindu

Bagaimana cara menuju ke Ekowisata Mangrove Sungai Rindu?

Ada dua rute yang bisa kita tempuh untuk mencapai Sungai Rindu. Jika kita melalui Kampung Sembilangan Babelan maka kita akan dikenakan biaya parkir penitipan motor dan juga biaya perahu 10 ribu rupiah per kepala pulang pergi, atau tergantung negosiasi dengan pemilik perahu jika kita menyewa perahu untuk berkeliling menikmati teduhnya rerimbunan mangrove di Sembilangan hingga ke Jembatan Cinta di Pal Jaya Tarumajaya. 

Jalur kedua adalah melalui area Jembatan Cinta di Pal Jaya Desa Segara Jaya Kecamatan Tarumajaya menggunakan perahu sekitar 20 menit menikmati pemandangan hutan mangrove dengan biaya sekitar 15 ribu per kepala.

Hal yang menarik di Sungai Rindu adalah saung-saung yang berjejer yang bisa kita singgahi untuk mengambil foto tanpa perlu membayar apa-apa. Jika ada saung yang kosong, kita tinggal masuk dan memesan kopi atau makanan yang ada di sana. 

Saung-saung tersebut dibangun oleh para penjual, sehingga tidak elok jika kita hanya duduk-duduk di saung tersebut tanpa membeli barang yang dijual, kecuali kalau singgah hanya sebentar untuk berfoto-foto.
Destinasi Ekowisata Mangrove Sungai Rindu
Encex, artis Huripjaya di salah satu spot foto Sungai Rindu
Ada beberapa spot yang instagramable atau pun untuk sekadar selfie atau groufie, ada bangku bambu dengan tulisan-tulisan kekinian juga bisa menjadi spot foto yang asik. Dalam jarak beberapa meter kita juga akan menemukan tong-tong sampah yang terawat baik. Fasilitas umum seperti mushola dan toilet pun tersedia.

Saat saya datang pada hari Ahad, hampir semua saung dipenuhi pengunjung dari Jembatan Cinta yang singgah untuk sekadar mampir atau pun untuk makan siang. Suasana diramaikan dengan musik karaoke dari salah satu saung, pengunjung juga dapat ikut bernyanyi jika berkenan.

Tidak afdol kalau pulang dari sana tidak membawa oleh-oleh, ada satu saung yang menjual oleh-oleh atau souvenir. Sayang belum terlalu banyak pilihan, mudah-mudahan besok saat saya kembali sudah ada yang menjual kaos t-shirt, topi atau gantungan kunci dan lain-lain sebagai souvenir khas Ekowisata Mangrove Sungai Rindu.

Saran jika mengunjungi lokasi Ekowisata Mangrove Sungai Rindu: 

  1. Mohon jaga kebersihan, tempat sampah telah disediakan pengelola di beberapa tempat, jangan buang sampah ke sungai;
  2. Sungai Rindu dikelola secara swadaya oleh warga sekitar, mohon hargai usaha mereka dalam merintis destinasi ekowisata ini dengan tetap menjaga kesopanan dan saling menghargai sesama;
  3. Jaga anak kecil jangan sampai lengah dari pengawasan karena risiko jatuh ke sungai karena tersenggol dan lain-lain, risiko tersenggol perahu juga ada jika bermain di pinggir titian bambu;
  4. Musholah masih belum sempurna dan masih dalam pembangunan, mohon berkenan menyisihkan sedikit rezekinya untuk membantu pembangunan mushola di lokasi. Untuk informasi lebih lanjut sila hubungi salah satu pengelola anggota IRTRA yang juga wakil ketua Karang Taruna setempat: Amir Mahmud WA/Telp: 0855 3649 6052;
  5. Jangan sungkan bertanya dan memberikan masukan atau ide untuk pengembangan Sungai Rindu kepada pengelola :)
  6. Jangan berenang di lokasi, karena sungai tersebut adalah jalur utama perahu warga Sembilangan. dst.
Ekowisata Mangrove Sungai Rindu
Ngopi santai di salah satu saung Sungai Rindu

Peta Lokasi Ekowisata Mangrove Sungai Rindu



Babelan, Ahad 16 Desember 2018.

Belajar Memahami Tari Bersama Sanggar Tari Cinong Bekasi

Sanggar Tari Cinong Bekasi
Sanggar Tari Cinong Bekasi | Foto: Roron Urip Pratomo
Balai Desa Babelan Kota di Kecamatan Babelan Bekasi saat Minggu sore kini tidak sepi lagi. Puluhan anak-anak berkumpul untuk berlatih kesenian dan keterampilan. Mulai dari latihan menari, seni bela diri silat hingga menari.

Yuni Widiasari atau yang akrab disapa Bunda Yuni sudah setahun belakangan ini memiliki kesibukan mengajarkan beberapa jenis tarian, antara lain tari Ondel-Ondel untuk anak-anak dan Sirih Kuning untuk remaja putri.

Dalam kegiatan belajar menari di balai desa ini Bunda Yuni tidak sendirian, ia dibantu putrinya Nurul Rahmadani dan beberapa gadis remaja yang sudah lebih dahulu belajar menari kepadanya.

"Kalau latihan menari di balai desa  itu hanya Minggu sore, kalau ada lomba atau mau tampil bisa latihan tambahan di rumah" jelas Miranti salah satu pengajar tari yang membantu Bunda Yuni sore itu.
Belajar Memahami Tari Bersama Sanggar Tari Cinong Bekasi
Sanggar Tari Cinong bukan bagian terpisah dari Perguruan Silat Cinong Bekasi, masih satu kesatuan sebagai wadah pelestarian budaya dan pengembangan bakat seperti juga Sanggar Lukis Cinong, Grup Palang Pintu, Ujungan, Lenong dan lainnya.

"Awalnya saya diminta Bang Jamal (ketua perguruan silat Cinong Bekasi) dan Bang Rusli untuk mengajarkan tarian untuk anak-anak dalam rangka mengisi acara milad Cinong" ungkap Bunda Yuni.

"Selanjutnya saya mulai fokus mengajarkan tari-tarian untuk keperluan mengisi acara waktu itu, Alhamdulillah saat tampil cukup memuaskan" lanjut Bunda Yuni yang berprofesi sebagai guru di salah satu sekolah swasta di Bekasi.
Belajar Memahami Tari Bersama Sanggar Tari Cinong Bekasi
Para Penari Sanggar Tari Cinong Bekasi Babelan
Menurut Bunda Yuni, setelah acara milad ternyata antusiasme anak-anak untuk belajar menari tidak surut bahkan ada beberapa anak dari Kecamatan Tarumajaya dan Kecamatan Sukawangi yang datang untuk belajar.

Penampilan anak-anak yang mempersembahkan tarian tradisional ternyata menjadi perhatian karena jarang ada penampilan tari tradisional kecuali dalam acara berskala besar. Saat itu dibawakan 3 tarian yaitu Tari Ondel-Ondel, Tari Sirih Kuning dan Tari Bajidor Kahot.

"Mungkin image bahwa tari tradisional itu susah dan jarang yang bisa, karenanya untuk penampilan tari tradisional butuh biaya mahal. Padahal kalau mau ayo kita belajar sekaligus melestarikan tari tradisional" ungkap Bunda Yuni.
Belajar Memahami Tari Bersama Sanggar Tari Cinong Bekasi
Bunda Yuni
Untuk kostum saat ada acara atau memenuhi undangan menari, Bunda Yuni mengaku dirinya masih menyewa kostum karena masih belum terlalu sering digunakan. Sedangkan untuk make up atau merias penari ia dibantu oleh keluarga besar Cinong.

Selain tari Sirih Kuning untuk hiburan saat acara, untuk remaja putri juga diajarkan tari Lenggang Nyai untuk keperluan lomba. Walau pun belum ada prestasi dalam kompetisi, Bunda Yuni mengaku sudah bahagia dapat berperan serta melestarikan dan mengajarkan tari tradisional kepada generasi muda.

Keceriaan dan keakraban dalam gerakan tari dan canda tawa mengisi aula salah satu gedung di dalam komplek balai desa Babelan Kota sore itu. Semoga semangat itu terus terjaga demi mengenal, mencintai, melestarikan kekayaan seni budaya Indonesia yang kaya.

Belajar Memahami Tari Bersama Sanggar Tari Cinong Bekasi
Seni tari jelas berbeda dengan olahraga, jika olahraga memiliki jiwa kompetisi dengan motto Citius, Altius, Fortius (lebih cepat, lebih tinggi, lebih kuat) maka seni tari menghadirkan pengalaman estetik dalam bentuk olah gerak sebagai ekspresi, kreasi, serta apresiasi. Bahasa mudahnya tari lebih mengutamakan keindahan dan keseimbangan gerak yang menyatu dengan musik pengiringnya.

Sama seperti olahraga, pada akhirnya seni tari memiliki peranan dalam pembentukan karakter sang penari secara fisik maupun psikologis untuk mencapai Kecerdasan Gerak atau Kecerdasan Kinestetik.  

Kecerdasan Gerak adalah kemampuan mengontrol gerakan, keseimbangan, ketangkasan, dan keanggunan dalam bergerak.  Untuk anak-anak seni tari dan olah raga sama-sama mengasah keterampilan motorik halus dan kasarnya dengan lebih baik.

Lebih dari itu, seni tari juga mengembangkan sikap estetis sehingga dapat membentuk manusia Indonesia dengan karakter yang seimbang, baik dalam perkembangan pribadi, lingkungan sosial, budaya dan alam sekitar, serta hubungan dengan Tuhan. Amiin.