Sotoy Soal Isu Pengaturan Parkir Di Kota Bekasi

Demo Aliansi Ormas Soal Pengaturan Parkir Di Kota Bekasi
Demo Aliansi Ormas di Kota Bekasi terkait parkir  
Seminggu ini berita-berita yang hangat di Kota Bekasi salah satunya berita mengenai parkir di Minimarket. Mulai dari demo menutup jalan oleh Aliansi Ormas hingga viral video saat unjuk rasa 23 Oktober 2019 yang menghadirkan kepala Bapenda Kota Bekasi.

Pro dan kontra pastinya ada, tapi kabar yang saya baca dan saya terima dari beberapa sumber ini bisa dikatakan hampir semuanya kontra mengenai isu parkir yang akan dikelola oleh ormas. Mohon maaf, kalau mau dipetakan secara kasar, maka yang berhadapan adalah pengelola Minimarket vs Aliansi Ormas. Dari asumsi dangkal seperti itu saja saya sudah dapat memetakan siapa yang akan menguasai ruang narasi di media.

Kubu Minimarket tidak akan kesulitan menguasai kanal-kanal media yang mendukungnya untuk menyebarkan wacana yang menguntungkan pihaknya, dalam hal ini narasi yang menolak pengelolaan parkir oleh ormas. Di sisi lain justru sebaliknya, Aliansi Ormas tidak memiliki akses untuk menyuarakan narasi yang memihak, baik yang mereka produksi sendiri atau pihak lain. Membaca peta kekuatan pro dan kontra di media yang tidak seimbang seperti ini sudah barang tentu hasil akhirnya dapat diramalkan akan seperti apa.

POSISI PEMKOT SOAL PARKIR

Kabar mengenai Pemkot Bekasi yang sedang mengalami kesulitan anggaran sudah terdengar sejak tahun lalu. Dengan potensi defisit anggaran senilai Rp 300 miliar, berbagai jurus untuk memaksimalkan PAD sudah dicoba sejak awal tahun 2019, termasuk pemasukan dari pengelolaan parkir.

Tahun 2019 ini, Pemkot Bekasi sendiri dari yang terekam media mengaku menargetkan pendapatan dari sektor parkir sebesar 1 miliar. Padahal belum lama ini sebuah media online di Bekasi memperkirakan uang parkir bisa mencapai sekitar Rp1,8 miliar per bulan atau sekitar Rp 21 miliar per tahun dengan rincian perhitungannya.

Terlintas pemikiran, mungkin rencana Pemkot Bekasi ingin bergabung dengan Provinsi DKI juga sepertinya tidak lepas dari upaya Pemkot mencari sumber pendapatan untuk menambal defisit anggarannya.

Kembali ke masalah parkir, kalau saya pejabat di Pemkot, ide pengelolaan parkir oleh pihak ketiga dengan sistem bagi hasil pastinya lebih masuk akal. Sebab kalau mempertimbangkan gaji Juru Parkir di DKI, ada risiko lebih besar pengeluaran daripada pendapatan yang masuk ke kas daerah. Soal besaran gajinya saya gak tahu persis, hanya saja salah satu capres saat pilpres kemarin sempat menyatakan "...banyak dokter kita gajinya lebih kecil dari tukang jaga parkir mobil", wallahu a’lam bis-shawab.

Oleh karena itu, jika parkir Minimarket dikelola oleh pihak ketiga secara profesional seperti sistem parkir di areal parkir resmi atau manajemen parkir di mal-mal besar, tinggal diadaptasi sistemnya sehingga bisa juga mengakomodir usulan-usulan yang diajukan oleh Aliansi Ormas. Mungkin harus menggandeng Perkumpulan Pengelola Perparkiran Indonesia (PPPI) untuk mencari sistem parkir yang paling memungkinkan untuk diterapkan.

Jangan lagi sampai terulang kejadian seperti pembakaran gardu parkir di sebuah gerai makanan akibat perselisihan pengelolaan parkir di Kecamatan Medan Satria pada pertengahan tahun 2016 lalu, karena itu hanya merugikan semua pihak.

Pengaturan Parkir Di Kota Bekasi
Ilustrasi Juru Parkir -  www.wajibbaca.com  

POSISI MASYARAKAT TENTANG PARKIR

Saat parkir di mal-mal atau pasar yang memiliki manajemen parkir yang baik, saya tidak terlalu memperhatikan siapa pengelola parkirnya, selama saya yakin kendaraan yang saya titipkan itu aman, maka membayar uang parkir adalah harga yang sepadan. Tapi untuk Minimarket atau gerai makanan, yang saya ketahui parkir masih dikelola secara swadaya dan manual, tidak ada sistem tiket, kadang tukang parkir hanya muncul saat pengendara akan meninggalkan lokasi.

Belum lagi kalau kendaraan rusak atau hilang dalam areal parkir, kepada siapa masyarakat meminta pertanggungjawaban?.

Kalau kualitas pelayanan manajemen parkir masih seperti itu tanpa ada pengembangan layanan, maka saya gak heran kalau pengutipan jasa parkir akan terus menuai kontra bukan saja dari pihak pemilik lahan tapi juga dari masyarakat umum.

Sah-sah saja Pemkot mau menggenjot pendapatan mereka dari sektor jasa parkir, toh pada akhirnya itu akan digunakan untuk menjalankan pelayanan kepada masyarakat juga. Sah-sah saja Pemkot mau menggunakan jasa pihak ketiga baik swasta atau ormas, tapi bisnis parkir tetap saja merupakan bisnis jasa yang tidak bisa lepas dari hukum ekonomi. 

Tanpa kualitas layanan yang baik kepada konsumen jasa parkir, tanpa adanya manfaat yang dirasakan oleh pemilik bisnis yang lahan usahanya dijadikan areal parkir, mengutip uang parkir akan dirasakan sebagai keterpaksaan yang akan memberatkan masyarakat dan sedikit banyak akan mengganggu proses bisnis pengusaha. Inilah yang menjadi kekhawatiran pelaku bisnis di bidang ritel seperti minimarket dan lainnya untuk menerapkan sistem parkir. 

Tapi kalau sektor parkir dikelola dengan modern, saya kira masyarakat atau konsumen jasa parkir tidak akan peduli siapa pengelola parkirnya. Dan pihak pengusaha tentu tidak lagi keberatan dengan hal itu. Mengenai siapa pengelolanya, mau pihak swasta atau ormas tidak akan lagi menjadi masalah. 

Idealnya masyarakat menerima manfaat dari jasa parkir dan Pemkot menerima pemasukan untuk kas daerah. Lalu ketika semua berjalan dengan baik, semoga saja tidak ada lagi parkir sembarangan di bahu jalan akibat menghindari juru parkir dan parkir liar yang tidak jelas siapa pengelolanya.  Iya, mungkin saya sedang bermimpi, tapi mudah-mudahan saja mimpi ini bisa menjadi kenyataan demi Kota Bekasi yang lebih baik, amiin.


Kunjungan Nuge City Tour ke Rumah Pelangi Bekasi

Kunjungan Nuge City Tour ke Rumah Pelangi Bekasi
Minggu sore, 27 Oktober 2019 cuaca di sekitar TBM Rumah Pelangi Bekasi langit tampak cerah untuk aktivitas luar ruang. Kontras dengan hujan deras yang saat itu turun di beberapa wilayah Kota Bekasi. 

Diana, Pipit dan Najiah, ketiganya adalah korlas (koordinator kelas) tampak sedang mempersiapkan adik-adik Rumah Pelangi (Rungi) untuk melakukan sambutan atas kedatangan rombongan tur kota (City Tour) bertajuk "Nyok ke Bekasi".

Menyambut Rombongan Nuge City Tour ke Rumah Pelangi Bekasi

Di depan gapura Rumah Pelangi, dua barisan yang masing-masing terdiri dari 10 orang adik-adik Rungi berdiri saling berhadapan dan bersahutan berbalas pantun lalu kemudian menyanyikan lagu sambutan bersama-sama. Riuh rendah suara tawa dan teriakan ceria adik-adik inilah yang mengundang beberapa warga untuk datang.

Rombongan tur kota datang dan ikut bernyanyi, lalu saling bersalaman dan berkenalan singkat untuk kemudian masuk ke Rumah Pelangi untuk memulai Fun Games yang akan dibawakan oleh kakak-kakak dari NUGE. Bunda Naomi Tobing dari Marketing Division PT Nuge Anugrah Indonesia yang memimpin rombongan tampak antusias menyalami semua adik-adik dan cepat berbaur bersama dalam sesi Fun Games dalam ruangan kelas Rumah Pelangi. Tampak pula dalam rombongan Imam Pesuwaryantoro inisiator nyanyur.id dan Mbak Nia Julpiah sekretaris PT Nuge.
Kunjungan Nuge City Tour ke Rumah Pelangi Bekasi
"Kalau pantun diadaptasi dari pantun-pantun seni Palang Pintu, tapi tidak pakai atraksi silat. Untuk lagu diadaptasi dari lagu-lagu yang biasa dinyanyikan saat kegiatan Pramuka" ungkap Diana yang sudah menjadi koordinator kelas sejak Rumah Pelangi terbentuk tahun 2016 lalu.

Sebelumnya, Diana dan rekan korlasnya beberapa kali mengubah skenario penyambutan sesuai dengan ide yang berkembang dan masukan-masukan dari adik-adik serta orangtua dan warga yang ingin melihat kegiatan di Rumah Pelangi.

Muhaidin Darma selaku inisiator TBM Rumah Pelangi mengaku tidak ada persiapan khusus buat adik-adik baik dari segi pakaian dan lain-lain, latihan penyambutan pun baru dilakukan pada saat itu.
"Untuk adik-adik kami kondisikan agar mereka berani tampil apa adanya, ini baik untuk rasa percaya diri mereka agar mereka berani tampil dengan mengedepankan kreativitas dan kebersamaan."


Bermain dan Belajar

Tidak butuh waktu lama, adik-adik Rumah Pelangi dengan cepat beradaptasi dan beraktivitas bersama rombongan wisata kota yang diselenggarakan oleh PT Nuge Anugrah Indonesia dan Dinas Pariwisata dan Budaya Kota Bekasi ini. Sesi Fun Games dan tanya jawab berlangsung cepat, 
Kunjungan Nuge City Tour ke Rumah Pelangi Bekasi
Adik-adik Rumah Pelangi sudah terbiasa menerima pihak lain yang ingin belajar dan bermain bersama mereka. Terlebih Rumah Pelangi adalah rumah mereka sendiri, sehingga saat diminta untuk bermain bersama semua mengalir dengan suasana gembira dan alami. Faktor pembeda seperti bahasa, usia dan lain-lain mencair dalam tawa canda ceria.

Baik kegiatan dalam ruang dan luar ruang sarat dengan spontanitas yang menghibur, proses belajar dan bermain lancar hingga acara selesai. belajar dan bermain bersama warga negara asing dalam keceriaan. Tentunya ini menjadi sebuah pengalaman yang berkesan buat adik-adik di Rumah Pelangi. 

Kegiatan tur kota "Nyok ke Bekasi" pada hari Minggu itu adalah rangkaian kegiatan yang mendatangi beberapa lokasi, antaranya Lagoon Avenue Bekasi, Kantor Wali Kota Bekasi, Hutan Bambu, Batik Antique Unique, TBM Rumah Pelangi Bekasi dan Mitra Pegadaian Bekasi. 

Keceraan Nuge City Tour ke Rumah Pelangi Bekasi

Menurut Fahreza Anugrah Putra, Direktur PT Nuge Anugrah Indonesia, TBM Rumah Pelangi Bekasi menjadi destinasi tur kota karena sejalan dengan salah satu misi Community Development PT Nuge Anugrah Indonesia yaitu membangun kesadaran tentang perlunya memberikan pelayanan yang tepat dalam pemenuhan kebutuhan pendidikan.

Menurutnya, Taman Baca Masyarakat Rumah Pelangi Bekasi merupakan sebuah tempat yang dapat menjadi bagian dalam pembentukan pendidikan karakteristik kepada anak usia dini, sehingga membantu pertumbuhan dan perkembangan proses belajar anak.

"Oleh karena itu, Nuge ingin menjadi bagian dari proses pendidikan karakter tersebut, sehingga dapat menyesuaikan kebutuhan dan kondisi masing-masing anak dengan menanamkan nilai-nilai intelektual, emosional dan sosial," ungkap finalis Abang Mpok Kabupaten Bekasi tahun 2011 ini.

Kunjungan Nuge City Tour ke Rumah Pelangi Bekasi

Ridwan Maliki, salah seorang relawan TBM Rumah Pelangi sebelum acara berlangsung sudah merasa yakin acara tersebut akan berjalan lancar.

"Rungi sudah sering melakukan kegiatan sosial dan kegiatan lainnya yang dikemas menarik dan kreatif, memilih Rungi sebagai salah satu destinasi tur kota pasti akan membuat pengunjungnya berkesan, interaksi dan suasananya unik, pokoknya masih Bekasi banget" ungkap Ridwan yang kini sedang merintis profesi MC profesional.

Taman Bacaan Masyarakat Rumah Pelangi (Rungi) adalah Perpustakaan Umum, Taman Bacaan Masyarakat (TBM) dan Wadah Pembelajaran Kreatif Warga terletak di Kp Babakan Kali Bedah Desa Sukamekar RT 001 / 011 , Kecamatan Sukawangi, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.

Website:  https://www.pelangibekasi.com
Instagram: https://www.instagram.com/rumahpelangibekasi
Facebook: https://www.facebook.com/rumahpelangibekasi



Bermalam Minggu di Gang 3D Pondok Soga Desa Pantai Hurip Babelan

Gang 3D Pondok Soga Desa Pantai Hurip Babelan
Gang 3D Pondok Soga Desa Pantai Hurip Babelan 
Dengan ditemani kue cucur yang masih hangat, menikmati kopi malam Minggu ini semakin seru. Di teras depan rumah sederhana yang asri dengan bermacam tanaman ini, Mas Agus Dwi Oetomo (28) dengan antusias menceritakan mengenai aksi kreativitas pemuda Kampung Pondok Soga Pantai Hurip Babelan melukis jalan lingkungan yang mereka namakan Gang 3D Pintu Air Wa Kanih.

Di sepanjang gang depan rumah berpagar bambu ini, Agus bersama pemuda dan Karang Taruna Desa Pantai Hurip sudah sejak awal Oktober 2019 telah menggambar 10 lukisan yang menghampar dan menghiasi Gang 3D Pintu Air Wa Kanih di Kampung Pondok Soga RT 005/003 Desa Pantai Hurip. Ke depan mereka akan terus menggambar dan menghias gang 3D ini agar semakin menarik.
Gang 3D Pondok Soga Desa Pantai Hurip Babelan
Mas Agus Ketua Karang Taruna Desa Pantai Hurip Kecamatan Babelan  
"Saya ingin gang yang ramai dilalui para pemancing ini memiliki ciri khas dan identitas yang berkesan kepada pengguna jalan yang melewati gang ini" kata Agus yang juga merupakan ketua Karang Taruna Desa Pantai Hurip. Sabtu malam, 19 Oktober 2019.

Sebagai tokoh pemuda di Kampung Pondok Soga dan Desa Pantai Hurip, ia dan teman-temannya ingin kampungnya memiliki citra positif dan kreatif, salah satu caranya adalah dengan mewujudkan Gang 3D.

"Kami menggunakan cat minyak kiloan, lalu bersama-sama melukis sesuai konsep yang telah ditentukan. Mengenai ide lukisannya kami cari dari hasil pencarian di internet" jelas Agus yang sehari-hari berprofesi sebagai guru honorer sekolah dasar sejak tahun 2011 lalu .

Dengan senang hati ia mengajak kami melihat lukisan-lukisan dan menjelaskan maksud dan proses pembuatannya. Karena kami berkunjung saat malam hari, gambar-gambar tersebut agak sulit diabadikan dengan kamera saya.

Ilusi optik yang dihasilkan dari lukisan 3D ini memang menarik, dan membuat saya ingin kembali lagi untuk melihat gambar-gambar tersebut di siang hari. Namun menurut Agus masih banyak kekurangan atas karya-karya tersebut. Sayangnya kekurangan itu disadarinya setelah gambar selesai mereka buat. 
Foto salah satu gambar di gang 3d saat malam hari 
Ia menunjukkan kekurangan-kekurangan dalam beberapa gambar yang masih perlu penyempurnaan, seperti bayangan permadani perlu ditambah, dan warna beberapa gambar juga masih kurang memuaskan dirinya dan berencana memperbaikinya lagi bersama rekan-rekannya jika sudah ada bahan cat.
Gang 3D Pondok Soga Desa Pantai Hurip Babelan
Mengenai pengadaan cat, pria yang akrab disapa Jackjhon ini menyebut biaya melukis gang 3D bermodalkan dana swadaya yang berasal dari patungan rekan-rekan, donasi warga dan kas karang taruna. Mereka juga terbuka jika ada komunitas, organisasi, mahasiswa atau warga yang ingin berperan serta dalam kegiatan ini, hanya saja perlu koordinasi untuk mengatasi permasalahan keterbatasan cat dan alat.
Gang 3D Pondok Soga Desa Pantai Hurip Babelan
Salah satu lukisan ketika dipotret saat siang hari 
Ketika saya tanyakan mengenai kemungkinan untuk menjadikan gang 3D sebagai destinasi wisata yang dapat menghasilkan pemasukan, ia optimis namun belum terlalu memikirkan hal itu.

"Kalo untuk menjadi destinasi wisata yang ada pemasukan dan efek ekonomi mungkin itu masih jauh, saat ini kami masih fokus untuk memperindah gang ini agar warga Pondok Soga memiliki kebanggan tambahan atas kampungnya" jelas Agus yang masih bujangan ini.

Ia kemudian menceritakan keinginan-keinginannya yang lain termasuk gagasan-gagasan pemberdayaan pemuda untuk menciptakan kreasi yang bisa menjadi sumber penghasilan, namun ia menjelaskan itu masih cita-cita jangka panjang yang memerlukan persiapan matang dan tentunya soal permodalan serta investasi.

Agus mengaku kegiatannya ini mendapat dukungan moril dari warga dan pemerintah desa setempat. Sebagai penutup, ia berharap agar ada bantuan cat dan alat lukis agar kegiatan ini dapat cepat diselesaikan sehingga Desa Pantai Hurip memiliki ikon kreativitas yang menjadi daya tarik dan kebanggaan warga Kampung Pondok Soga. Amiin.


Catatan Materi Belajar Fotografi Menggunakan Kamera Handphone

Tunas Muda Babelan Belajar Fotografi Dengan Kamera Handphone
Mengenal Literasi Digital bersama Komunitas Tunas Muda Babelan 
Jika kamu aktif dalam berbagai kegiatan, suka bepergian ke berbagai tempat, atau kamu gemar memotret tapi tidak memiliki kamera, maka kamu dapat memanfaatkan kamera handphone (ponsel) yang kamu miliki dengan sebaik mungkin untuk memaksimalkan kualitas hasil foto kamera ponsel kamu.

Dengan terus berkembangnya spesifikasi dan teknologi yang ada pada kamera ponsel, jika digunakan dengan teknik dan pemahaman yang baik akan dasar-dasar fotografi, maka saya yakin hasil foto kamera ponsel pun tidak akan mengecewakan.

MEMANFAATKAN CAHAYA

Pertama yang mesti kita pahami adalah pengertian dasar istilah fotografi yang berarti melukis dengan cahaya, maka sesuai maknanya, unsur terpenting dalam fotografi adalah cahaya. Semakin baik pencahayaan pada objek foto, maka semakin jelaslah foto yang akan dihasilkan. Memotret di ruang yang pencahayaannya kurang terang maka akan menghasilkan foto yang tidak maksimal atau gelap.

Untuk memotret di dalam ruangan maka perlu dipastikan adanya pencahayaan yang cukup, baik dari sinar matahari ataupun sumber cahaya lainnya (blitz, lampu, senter dll). Tapi perlu diperhatikan, cahaya tambahan tersebut tidak berlebihan, karena cahaya yang berlebihan bisa menyilaukan hasil foto. Jika hal itu terjadi, pertimbangkanlah untuk bereksperimen dengan white balance dalam memanipulasi jumlah cahaya yang muncul pada foto anda.

Mengenali cahaya akan melatih kita peka terhadap intensitas cahaya  apakah berlebihan atau kurang, dari mana cahaya datang, ke mana bayangan jatuh dan apakah perlu sumber cahaya pembantu, dan seterusnya.
Kemah Silaturahmi Pramuka Tunas Muda Babelan
Kemah Silaturahmi Komunitas Tunas Muda Babelan 

MANFAATKAN GARIS BANTU

Setiap handphone memiliki "Garis Bantu" yang akan membagi layar menjadi beberapa bagian, ada yang menamakannya grid, garis kisi dan lain-lain. Aktifkan fitur garis bantu melalui menu setelan (setting) kamera sesuai dengan menu bawaan kamera masing-masing. 

Garis bantu paling sederhana adalah garis bantu 3x3 dimana layar tampilan kamera akan dibagi menjadi 9 ruang, 3 vertikal dan 3 horizontal. Manfaat garis bantu adalah untuk memudahkan kita memastikan bahwa gambar yang sedang kita bidik lurus dan rata baik secara vertikal ataupun horizontal. 

Kita dapat menggunakan garis-garis imajiner yang tertangkap layar saat membidik objek, baik itu garis pembatas jalan, tiang listrik, sudut dinding, garis-garis petak lantai dan lain-lain.

Selain itu kita akan belajar komposisi fotografi yang dikenal dengan istilah Rule Of Third di mana setiap foto akan terbagi menjadi 3 bagian yang memperjelas posisi objek.  3 bagian sesuai garis bantu itu adalah: latar depan (fore ground), tengah (middle) dan latar belakang (background). Kemudian secara horizontal garis bantu akan membagi foto menjadi 3 bagian pula, kanan, tengah dan kiri. Dengan pembagian ini kita akan lebih mudah menentukan  atau memposisikan objek foto kita saat membidik kamera.

2 point itu saja yang saya sampaikan pada saat diundang sharing dalam grup WhatsApp mengenai pengenalan dasar fotografi oleh Komunitas Pramuka Tunas Muda Kwartir Ranting Babelan. Grup yang hanya direncanakan untuk berumur seminggu ini (4 s/d 11 Oktober 2019) diikuti sekitar 30an anggota Tunas Muda dengan intensitas diskusi yang sedang.

Grup WhatsApp ini juga kelanjutan dari materi yang saya berikan sebelumnya pada saat Kemah Silaturahmi 3 pada perayaan ulang tahun ke-2 Komunitas Tunas Muda dimana saya menyampaikan materi literasi digital kepada anggota dan calon anggota Tunas Muda. Saya sempat menyinggung filterisasi konten di sosial media dan mendorong anggota Tunas Muda memproduksi konten positif berupa dokumentasi dan informasi seputar kegiatan-kegiatan yang banyak mereka lakukan.

Dalam grup WhatsApp itu, selain materi pencahayaan dan garis bantu, dari sesi tanya jawab sebenarnya sudah membahas materi dan juga tips-tips memotret dengan kamera ponsel lainnya. Diantaranya, gunakan resolusi tertinggi yang disediakan, selalu bersihkan lensa kamera sebelum dipakai, sebisa mungkin tidak menggunakan zoom, dekati objek, manfaatkan menu shutter/raya di layar ponsel agar tetap fokus dan tidak goyang saat memotret dan sebagainya. 

Tujuan sharing ini adalah memberikan wawasan kepada teman-teman di Komunitas Tunas Muda agar lebih sering lagi dalam mendokumentasikan kegiatan-kegiatan mereka melalui foto yang mereka ambil dari kamera handphone lalu membagikannya sebagai konten positif di media sosial. Semoga bermanfaat.

Salam.


Numpang Ngopi di Acara Silaturahmi dan Tasyakuran Pelantikan Obon Tabroni

Tasyakuran Pelantikan Obon Tabroni sebagai anggota DPR RI 2019-2024
Silaturahmi dan Tasyakuran. (Foto: Ocha Hermawan)  
Suasana kekeluargaan yang akrab dan hangat mengisi acara Silaturahmi dan Tasyakuran atas dilantiknya Obon Tabroni sebagai anggota DPR RI 2019-2024, Sabtu 5 Oktober 2019. Banyak hadirin yang datang membawa keluarga dan anak-anak untuk sekalian menikmati suasana objek ekowisata Taman Limo yang asri. Saung-saung, spot permainan, warung-warung hingga tempat parkir penuh terisi.

Di sisi lain, Silaturahmi dan Tasyakuran ini juga menjadi ajang reuni para relawan dan Sobat Obon dari berbagai lokasi, baik dari Bekasi, Karawang dan Purwakarta. Dalam suasana santai, sebagian teman-teman relawan yang "menghilang" dan tidak bertemu lagi sejak event pilkada Bekasi Februari 2017 lalu dan juga disibukkan dengan pileg dan pilpres kemarin, kini kembali berkumpul.

Ya, bagi saya momen tasyakuran ini seperti oase yang menyejukkan dan menghidupkan kembali api harapan "Bekasi Yang Baik dan Benar" yang sempat redup. Gerakan politik rakyat dan Buruh Go Politik yang sempat patah semangat setelah menelan pil pahit kekalahan saat kontestasi pilkada, kini kembali bergairah. 

Mungkin terlalu dini kalau mau mengklaim bahwa ini adalah keberhasilan bersama gerakan buruh go politik dan gerakan partisipasi politik warga, tapi bagaimanapun keberhasil ini patut diapresiasi guna merawat semangat perjuangan buruh dan warga yang terikat dalam persaudaraan ini agar terus melanjutkan perjuangannya dalam bingkai demokrasi.

Obon Tabroni sadar akan kekuatan persaudaraan tersebut, dalam sambutannya ia menyampaikan agar semua tetap menjaga silaturahmi sebagai modal kekuatan untuk terus bergerak.

"Persaudaraan dan pertemanan kita terlalu mahal untuk disia-siakan dan diabaikan, jalinan ini jangan pernah putus. Persaudaraan dan pertemanan jangan hilang hanya karena persoalan-persoalan kecil, jika kita kuat kita dapat melakukan banyak perubahan kalau kita terus bersama-sama," ucap Bang Obon dari atas panggung.
Tasyakuran Pelantikan Obon Tabroni sebagai anggota DPR RI 2019-2024
Bang Obon dan Bunda Uun (Foto: DAF) 
Silaturahmi yang terjalin ini merupakan sinergi kekuatan relawan yang datang dengan berbagai latar belakangnya. Gotong royong dan kerjasama ini, memang idealnya mensyaratkan individu-individu yang berkualitas dalam bidangnya masing-masing sehingga mampu membuka pintu-pintu peluang dan memanfaatkan segala kesempatan yang ada dengan sebaik-baiknya. Namun Bang Obon tidak menutup pintu untuk siapapun yang ingin belajar dan bergerak bersamanya, karena pada dasarnya setiap orang memiliki potensi yang bisa dikembangkan.

Kita semua punya potensi yang luar biasa, namun karena rasa tidak percaya diri, kita bisa menjadi orang yang gagal

"Kita semua punya potensi yang luar biasa, namun karena rasa tidak percaya diri, kita bisa menjadi orang yang gagal. Mari kita jadikan keberhasilan hari ini menjadi inspirasi, kalau kita fokus, banyak belajar, memiliki keinginan yang kuat, giat bekerja keras dan terus bergerak, maka apa yang tidak mungkin akan menjadi mungkin," ucap Bang Obon Tabroni menyemangati hadirin.

Tidak ketinggalan, Uun Marpuah yang biasa disapa Bunda Uun juga menyemangati para hadirin untuk tetap berusaha dan pantang menyerah.

"Luar biasa, terima kasih teman-teman semua. Ini bukan karena saya atau suami saya (Obon Tabroni) tapi karena kerja keras teman-teman semua. Semua proses dan masalah sudah pernah kita hadapi bersama-sama, alhamdulillah hari ini kita semua berada di sini. Tidak ada yang tidak mungkin selama kita mau berusaha dan mencoba insya Allah segala sesuatu akan terjadi, amiin. Karena musuh terberat kita adalah diri kita sendiri."

Kalau dari tulisan, kutipan-kutipan dari Bang Obon dan Bunda Uun itu seperti sambutan yang serius, tapi sebenarnya sambutan ini banyak diselingi canda yang membuat suasana tetap khidmat namun santai.
Tasyakuran Pelantikan Obon Tabroni sebagai anggota DPR RI 2019-2024
Ngopi bareng Bang Obon Tabroni (Foto: Fai) 
Malam seusai tasyakuran, Bang Obon masih sempat berkeliling mendatangi dan menemui hadirin yang belum pulang. Saat mendatangi kami yang sedang menikmati suasana malam minggu di salah satu saung, ia menyampaikan kembali apa-apa yang sudah ia pernah sampaikan sebelum-sebelumnya. Isu-isu terkini tentang Bekasi mengalir lancar, masalah kekeringan di sebagian wilayah Bekasi juga ia singgung agar menjadi perhatian.

"Saya terus memantau pergerakkan teman-teman semua, yang di Jamkeswatch, yang di OTC dan lain-lain, teruslah bergerak untuk membantu masyarakat sebisa mungkin, masih banyak PR dan masih banyak yang bisa kita lakukan bersama-sama untuk Bekasi ini."

Malam semakin larut, setelah Bang Obon dengan gayanya yang non formal menyampaikan harapan-harapan dan menguatkan tekad teman-teman agar dapat berpartisipasi positif, ia pamitan, lelah jelas terlihat dari wajahnya. Saat melangkah meninggalkan kami, saya teringat kata-kata yang tertulis dalam poster di status salah satu akun halaman facebook.

"Perjalanan baru siap ditempuh. Tugas baru siap diemban. Medan berbeda, tapi untuk perjuangan yang sama. Tolong ingatkan saya jika saya lupa, tegur saya jika saya melenceng dan topang saya jika saya terseok." - Obon Tabroni

Istirahat bang, jaga kesehatan, semoga kami bisa mengimbangi semangat dan kerja keras abang untuk mengabdi, khususnya untuk Bekasi ini.

Sabtu, 5 Oktober 2019 @ Taman Limo Jatiwangi Bekasi.


Bukan Cebong dan Kampret, Kita Garuda Pancasila

Membumikan Pancasila, Merawat Keberagaman di Kalangan Milenial dan Penggiat Media Sosial
Membumikan Pancasila, Merawat Keberagaman di Kalangan Milenial dan Penggiat Media Sosial 

"Nanang" ucap lelaki paruh baya itu saat menyambut jabat tangan saya. Selanjutnya Bang Iwan Bonick (yang lebih dahulu berada di sana) memperkenalkan saya lebih jauh kepada Pak Nanang agar kehadiran saya tidak mengubah suasana yang sudah terbangun sebelumnya.

Saya yang baru kenal dan baru ikut bergabung dalam "majelis asap" di Smoking Room Lobby Aston Imperial Bekasi Hotel & Conference Center akhirnya hanya pasif mendengarkan perbincangan. 

Untuk menjalin keakraban, saya sebenarnya ingin nyeletuk saat Pak Nanang bercerita tentang pengalaman beliau di rumah pengasingan Bung Karno di Ende, NTT

Tapi pengalaman yang Pak Nanang sedang ceritakan ini frekuensinya mendekati sakral, tidak layak saya potong dengan celetukan garing "saya juga pernah ke sana loh pak". Gak nyambung dan gak penting.

Belakangan saya baru tahu, lelaki paruh baya tersebut bernama lengkap Nanang Rakhmad Hidayat, M. Sn. Beliau adalah dosen Jurusan Televisi, Fakultas Seni Media Rekam di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta yang juga merupakan mitra kerja Pusat Studi Pancasila UGM.
  
Pak Nanang ini adalah seniman yang mendirikan "Museum Rumah Garuda" di Yogyakarta, sehingga dikenal dengan nama lain "Nanang Garuda", sedangkan Iwan Bonick adalah penyair unik yang mendirikan "Rumah Garuda" di Bekasi. Setidaknya itulah yang membuat obrolan mereka menjadi begitu akrab, hampir saja saya mempermalukan Bang Iwan Bonick dengan celetukan garing :)  

Pak Nanang yang menulis buku "Mencari Telur Garuda" ini datang ke Bekasi untuk memenuhi undangan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) sebagai salah satu pembicara dalam acara "Sosialisasi Pancasila Dengan Milenial/Blogger". Acara yang dilaksanakan pada hari Sabtu, 31 Agustus 2019 ini bertemakan "Membumikan Pancasila, Merawat Keberagaman di Kalangan Milenial dan Penggiat Media Sosial". 
Sang Kartini Kembar guru pendiri Sekolah Darurat Kartini di kolong jalan tol Jakarta Sri Rossyati (Rossi) dan Sri Irianingsih (Rian)
Sang Kartini Kembar pendiri Sekolah Darurat Kartini Jakarta Sri Rossyati dan Sri Irianingsih 
Hadir sebagai narasumber lainnya adalah Bapak Aris Heru Utomo selaku Direktur Sosialisasi, Komunikasi dan Jaringan BPIP, Ibu Irene Camelyn Sinaga selaku Direktur Pembudayaan BPIP serta Sang Kartini Kembar, duo guru pendiri Sekolah Darurat Kartini di kolong jalan tol Jakarta Utara, yaitu Ibu Sri Rossyati (Ibu Rossi) dan Ibu Sri Irianingsih (Ibu Rian). Hadir pula Mbak Mira Sahid selaku tokoh blogger dari Bekasi yang bertindak sebagai MC dan moderator.

Dalam pemaparannya, Pak Nanang menyampaikan hasil perjalanannya mengumpulkan berbagai macam foto Garuda Pancasila yang memiliki bentuk dan ragam corak. Sebagai seniman ia mengapresiasi keragaman bentuk dan ragam hasil karya masyarakat, akan tetapi ia juga menyimpan kegelisahan mengenai inkonsistensi bentuk lambang negara ini. Namun demikian, yang lebih membuat Pak Nanang gelisah adalah "amputasi historis", karena tidak ada satupun pihak yang menceritakan tentang proses atau sejarah terbentuknya lambang Garuda Pancasila.
proses dan sejarah terbentuknya lambang Garuda Pancasila
Proses metamorfosis terbentuknya lambang Garuda Pancasila 
Sebagai seniman yang sensitif terhadap makna di balik tanda dan bentuk lambang (semiotika), saya kira kegelisahan Pak Nanang cukup beralasan. Ia tidak ingin lambang negara yang sudah dirumuskan oleh para pemikir dan pendiri bangsa ini dilupakan sejarah kelahirannya dan kehilangan makna-makna luhur yang disampaikan dalam bentuk Burung Garuda Pancasila.

Untuk menjawab kegelisahan itulah pada 17 Agustus 2011 ia mendirikan "Museum Rumah Garuda" sebagai ruang publik untuk berwisata sejarah dan edukasi khusus mengenai Garuda Pancasila. Museum yang lebih dikenal dengan sebutan Rumah Garuda ini berusaha mengenalkan akar jati diri bangsa yang telah tersimbolkan pada Garuda Pancasila, melalui pintu sejarah, filosofi, estetika, dan semiotika dengan pendekatan seni dan budaya. 

Rumah Garuda sudah banyak menghasilkan karya yang bertujuan untuk menyosialisasikan proses dan sejarah lahirnya Garuda Pancasila, baik berupa wayang, ragam bentuk permainan puzzle, film, buku, kamus dan lain sebagainya. 

Pak Nanang mengatakan, "Indonesia saat ini sedang mencekam, berhentilah men(jadi) ce(bong) kam(pret), bangkitlah menjadi Garuda"

Bagaimana caranya berhenti menjadi cebong dan kampret dan kembali menjadi garuda?. Dalam salah satu slide presentasinya Pak Nanang menampilkan kutipan dari Emha Ainun Najib, "Ayo belajar sejarah, supaya Anda tahu, Anda ini GARUDA"
Bukan Cebong dan Kampret, Kita Garuda Pancasila
Ayo belajar sejarah, supaya Anda tahu, Anda ini GARUDA
Kutipan itu hanya potongan kecil, lengkapnya kalimat itu berbunyi "Ayo belajar sejarah, supaya Anda tau kalau Anda ini garuda, Anda ini bangsa besar. Ndak apa-apa sampai akhir hayat Anda ndak berhasil, ndak pa-pa; anakmu yang berhasil, nek gak anakmu yo putumu, tapi kita bangun kembali paruh yang baru itu, kuku yang baru itu, dan tidak pernah putus asa." - Cak Nun

Pepatah lama mengatakan, "tidak kenal maka tak sayang", itulah salah satu solusi yang diupayakan Pak Nanang Garuda sekian lama, beliau secara aktif mengajak anak bangsa mengenal proses dan sejarah terbentuknya lambang Garuda Pancasila agar kembali dikenal dengan sebagaimana layaknya.

Lambang Garuda Pancasila sejatinya memang tergali dari nilai-nilai peri kehidupan Bangsa Indonesia. Walau saat Orde Baru Pancasila pernah disalahgunakan untuk mengontrol hingga ke ruang pikir, namun di era pasca reformasi di mana kebebasan berekspresi telah mendapatkan tempat yang lebih layak, maka mengenal Garuda Pancasila dengan segala aspeknya kembali menjadi penting. Tentunya itu bukan hanya tugas Pak Nanang dan BPIP saja.

Salam.

Belajar Fotografi Ponsel Bersama Tripod Keliling dan Saka Bhayangkara Babelan

Workshop Fotografi Ponsel Saka Bhayangkara dan Tripod Keliling
Workshop Fotografi Ponsel Saka Bhayangkara dan Tripod Keliling
"Kenapa kamera handphone?" pancing Hye Sin kepada 40-an adik-adik dan calon anggota Satuan Karya Pramuka (Saka) Bhayangkara Polsek Babelan Bekasi siang itu di Aula Kantor Kepala Desa Babelan Kota. Beberapa jawaban terdengar dari hadirin, macam-macam jawaban yang intinya mengerucut pada salah satu keunggulan kamera ponsel, yaitu praktis dan compact.

Minggu, 25 Agustus 2019, teman-teman dari Komunitas Tripod Keliling kembali melakukan kelas akhir pekan, "Belajar memotret dengan HP" seperti yang pernah dilakukan sebelumnya di Kawasan Ekowisata Sungai Rindu, 28 Juli 2019 lalu.

Mini workshop yang dibagi dalam 3 sesi ini berisi tips memotret dengan telepon seluler pribadi, praktek mengambil potret dan evaluasi. Peserta yang dibagi dalam 9 kelompok ini dengan antusias mengikuti jalannya workshop.

Praktek memotret yang diberikan waktu selama 20 menit sepertinya kurang cukup, bahkan hingga penambahan waktu habis sekali pun adik-adik peserta masih terus asik mencoba berbagai pose dan angel serta asik mendiskusikan tentang pesan apa yang ingin mereka sampaikan dalam foto yang mereka hasilkan.
Belajar Fotografi Ponsel Bersama Tripod Keliling dan Saka Bhayangkara Babelan
Praktek memotret dengan ponsel
Saat pemaparan teori, memang dibahas beberapa teknik memotret dan bagaimana membuat potret dapat menjadi sebuah media penyampai pesan. Sayangnya keterbatasan waktu yang tersedia membuat setiap sesi harus dilaksanakan dengan ketat.

Idealnya waktu evaluasi lebih panjang dari sesi teori dan praktek, karena pada saat evaluasi inilah terjadi dialog dan kurasi mengenai hasil praktek memotret. Minimal dalam sesi evaluasi ini pemotret akan menerima feedback dan tambahan tips tentang teori-teori yang sudah disampaikan sebelumnya.

"Pesan saya, rajinlah berlatih, rajinlah memotret dan jangan cepat puas dengan hasilnya" pesan Hye Sin kepada semua hadirin saat mengakhiri sesi evaluasi.

"Dokumentasikan kegiatan positif yang adik-adik lakukan baik saat kegiatan pramuka ataupun kegiatan positif lainnya, gunakan kamera ponsel kita untuk hal-hal yang bermanfaat bagi masyarakat, minimal bermanfaat bagi diri sendiri" tutup Hye Sin.
Belajar Fotografi Ponsel Bersama Tripod Keliling dan Saka Bhayangkara Babelan
Evaluasi hasil memotret dengan ponsel
Secara garis besar acara workshop belajar memotret dengan menggunakan ponsel ini berjalan lancar dan baik. Interaksi dari peserta menunjukkan beberapa peserta yang memiliki passion dan kesenangan dalam fotografi, setidaknya workshop ini bisa menjadi langkah awal baginya untuk mengembangkan hobi fotografi ke arah yang lebih jauh.

"Terima kasih kepada Komunitas Tripod Keliling yang sudah berbagi ilmu kepada kami, mungkin lain waktu kita dapat bekerjasama lagi untuk materi yang lebih dalam mengenai fotografi ponsel" kata Mawadah Warahmah selaku Ketua Dewan Saka Bhayangkara Polsek Babelan Kwartir Ranting Kec. Babelan Kab. Bekasi.
Belajar Fotografi Ponsel Bersama Tripod Keliling dan Saka Bhayangkara Babelan
Foto bersama seusai acara workshop fotografi ponsel

Fotografi dan industri kreatif

Fotografi adalah salah satu komponen dari 15 jenis industri kreatif yang diperhitungkan di Indonesia. Sebagai sebuah industri yang mengandalkan kreativitas dalam menghasilkan produk/jasa, fotografi saat ini menjadi semakin beragam dan semakin banyak penggiatnya seiring dengan kemajuan teknologi. 

Oleh karenanya, memperkenalkan fotografi kepada masyarakat harusnya bisa lebih dini lagi dan dengan menggunakan berbagai pendekatan. Salah satunya dengan pendekatan kelas-kelas pengenalan fotografi seperti memaksimalkan fungsi kamera ponsel sebagaimana yang dilakukan oleh Saka Bhayangkara Polsek Babelan dan Komunitas Tripod Keliling ini.

Lomba-lomba terkait fotografi dalam skala kecil juga mestinya bisa menjadi wadah untuk menggairahkan para fotografer pemula untuk terus berkarya dan berkompetisi. Contoh kegiatan lomba terkait fotografi salah satunya; sekolah bisa saja menggelar lomba foto dokumentasi bagi murid-muridnya untuk meliput sebuah kegiatan, di sisi lain dengan memanfaatkan media sosial maka lomba tersebut juga dapat menjadi media amplifikasi kegiatan tersebut.

Lomba tersebut bisa diperluas menjadi lomba liputan jurnalistik, lomba dokumentasi video baik dalam bentuk vlog atau lainnya. Masih banyak macam lomba-lomba kreatif yang dapat digagas dengan mengedepankan kompetisi bakat, minat, kemampuan teknis dan semacamnya. 

Dalam pandangan saya, sekolah sebagai lembaga pendidikan mestinya tidak lagi menggelar lomba-lomba hiburan ala masyarakat seperti lomba makan kerupuk. Jika lomba fotografi dll tadi diperlombakan secara tim atau grup, maka gak perlu lagi sekolah menggelar lomba tarik tambang dan panjat pinang, karena nilai teamwork sudah tercakup dalam lomba beregu tadi.

Bagaimana? tidak sulit kan? Kalau tidak dimulai dari yang kecil, bagaimana mau memulai yang besar?


Belajar Fotografi Ponsel Bersama Tripod Keliling dan Saka Bhayangkara Babelan

Workshop Fotografi Ponsel Saka Bhayangkara dan Tripod Keliling
Workshop Fotografi Ponsel Saka Bhayangkara dan Tripod Keliling
"Kenapa kamera handphone?" pancing Hye Sin kepada 40-an adik-adik dan calon anggota Satuan Karya Pramuka (Saka) Bhayangkara Polsek Babelan Bekasi siang itu di Aula Kantor Kepala Desa Babelan Kota. Beberapa jawaban terdengar dari hadirin, macam-macam jawaban yang intinya mengerucut pada salah satu keunggulan kamera ponsel, yaitu praktis dan compact.

Minggu, 25 Agustus 2019, teman-teman dari Komunitas Tripod Keliling kembali melakukan kelas akhir pekan, "Belajar memotret dengan HP" seperti yang pernah dilakukan sebelumnya di Kawasan Ekowisata Sungai Rindu, 28 Juli 2019 lalu.

Mini workshop yang dibagi dalam 3 sesi ini berisi tips memotret dengan telepon seluler pribadi, praktek mengambil potret dan evaluasi. Peserta yang dibagi dalam 9 kelompok ini dengan antusias mengikuti jalannya workshop.

Dengan langsung dipandu Hye Sin dan Yusuf Prakasa, praktek memotret yang diberikan waktu selama 20 menit sepertinya kurang cukup, bahkan hingga penambahan waktu habis sekali pun adik-adik peserta masih terus asik mencoba berbagai pose dan angel serta asik mendiskusikan tentang pesan apa yang ingin mereka sampaikan dalam foto yang mereka hasilkan.
Belajar Fotografi Ponsel Bersama Tripod Keliling dan Saka Bhayangkara Babelan
Praktek memotret dengan ponsel
Saat pemaparan teori, memang dibahas beberapa teknik memotret dan bagaimana membuat potret dapat menjadi sebuah media penyampai pesan. Sayangnya keterbatasan waktu yang tersedia membuat setiap sesi harus dilaksanakan dengan ketat.

Idealnya waktu evaluasi lebih panjang dari sesi teori dan praktek, karena pada saat evaluasi inilah terjadi dialog dan kurasi mengenai hasil praktek memotret. Minimal dalam sesi evaluasi ini pemotret akan menerima feedback dan tambahan tips tentang teori-teori yang sudah disampaikan sebelumnya.

"Pesan saya, rajinlah berlatih, rajinlah memotret dan jangan cepat puas dengan hasilnya" pesan Hye Sin kepada semua hadirin saat mengakhiri sesi evaluasi.

"Dokumentasikan kegiatan positif yang adik-adik lakukan baik saat kegiatan pramuka ataupun kegiatan positif lainnya, gunakan kamera ponsel kita untuk hal-hal yang bermanfaat bagi masyarakat, minimal bermanfaat bagi diri sendiri" tutup Hye Sin.
Belajar Fotografi Ponsel Bersama Tripod Keliling dan Saka Bhayangkara Babelan
Evaluasi hasil memotret dengan ponsel
Secara garis besar acara workshop belajar memotret dengan menggunakan ponsel ini berjalan lancar dan baik. Interaksi dari peserta menunjukkan beberapa peserta yang memiliki passion dan kesenangan dalam fotografi, setidaknya workshop ini bisa menjadi langkah awal baginya untuk mengembangkan hobi fotografi ke arah yang lebih jauh.

"Terima kasih kepada Komunitas Tripod Keliling yang sudah berbagi ilmu kepada kami, mungkin lain waktu kita dapat bekerjasama lagi untuk materi yang lebih dalam mengenai fotografi ponsel" kata Mawadah Warahmah selaku Ketua Dewan Saka Bhayangkara Polsek Babelan Kwartir Ranting Kec. Babelan Kab. Bekasi.
Belajar Fotografi Ponsel Bersama Tripod Keliling dan Saka Bhayangkara Babelan
Foto bersama seusai acara workshop fotografi ponsel

Fotografi dan industri kreatif

Fotografi adalah salah satu komponen dari 15 jenis industri kreatif yang diperhitungkan di Indonesia. Sebagai sebuah industri yang mengandalkan kreativitas dalam menghasilkan produk/jasa, fotografi saat ini menjadi semakin beragam dan semakin banyak penggiatnya seiring dengan kemajuan teknologi. 

Oleh karenanya, memperkenalkan fotografi kepada masyarakat harusnya bisa lebih dini lagi dan dengan menggunakan berbagai pendekatan. Salah satunya dengan pendekatan kelas-kelas pengenalan fotografi seperti memaksimalkan fungsi kamera ponsel sebagaimana yang dilakukan oleh Saka Bhayangkara Polsek Babelan dan Komunitas Tripod Keliling ini.

Lomba-lomba terkait fotografi dalam skala kecil juga mestinya bisa menjadi wadah untuk menggairahkan para fotografer pemula untuk terus berkarya dan berkompetisi. Contoh kegiatan lomba terkait fotografi salah satunya; sekolah bisa saja menggelar lomba foto dokumentasi bagi murid-muridnya untuk meliput sebuah kegiatan, di sisi lain dengan memanfaatkan media sosial maka lomba tersebut juga dapat menjadi media amplifikasi kegiatan tersebut.

Lomba tersebut bisa diperluas menjadi lomba liputan jurnalistik, lomba dokumentasi video baik dalam bentuk vlog atau lainnya. Masih banyak macam lomba-lomba kreatif yang dapat digagas dengan mengedepankan kompetisi bakat, minat, kemampuan teknis dan semacamnya. 

Dalam pandangan saya, sekolah sebagai lembaga pendidikan mestinya tidak lagi menggelar lomba-lomba hiburan ala masyarakat seperti lomba makan kerupuk. Jika lomba fotografi dll tadi diperlombakan secara tim atau grup, maka gak perlu lagi sekolah menggelar lomba tarik tambang dan panjat pinang, karena nilai teamwork sudah tercakup dalam lomba beregu tadi.

Bagaimana? tidak sulit kan? Kalau tidak dimulai dari yang kecil, bagaimana mau memulai yang besar?


Ada Gerai Uis Gara di Sentra Seni Budaya Bekasi De’ Bhagasasi

Ada Gerai Uis Gara di Sentra Seni Budaya Bekasi De' Bhagasasi
Wawali Bekasi, Tri Adhianto meresmikan De'Bhagasasi di Pasar Proyek Trade Center Bekasi [Dakta.com]
Hari Jumat lalu, 23 Agustus 2019, Wakil Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto telah meresmikan Sentra Seni Budaya Bekasi bernama "De' Bhagasasi" di lantai upper ground Pasar Proyek Trade Center, Bekasi Timur. 

De' Bhagasasi adalah pusat penjualan aneka souvenir, karya seni, dan kuliner khas Bekasi, namun begitu Wawali juga berharap De Bhagasasi dapat menjadi pusat edukasi seni dan budaya bagi warga Kota Bekasi termasuk pelajar.

"Tidak saja menjual, tapi juga melatih. Bagi mereka yang memiliki passion, bisa kami arahkan. Tidak saja hasilnya yang ada, tapi juga para pelaku dan komunitas bisa berkumpul di sini. Ada seni tari, lukis, mereka bisa saling berinteraksi," kata Tri sebagaimana dikutip Kompas.com.

Menurut Benny Tunggul, Ketua Bidang Pengembangan Kehidupan Perkotaan, Tim Walikota untuk Percepatan Penyelenggaraan Pemerintah dan Pembangunan (TWUP4), De' Bhagasasi saat peresmian telah mengakomodir 40 pengrajin batik yang ada di Kota Bekasi.

Dari 40 gerai UMKM yang ada itu, terdapat salah satu gerai berbeda yang melengkapi keragaman sentra budaya De' Bhagasasi. Gerai tersebut adalah Gerai Kembang Wisata Handicraft yang menggelar koleksi kain Uis Gara, pakaian adat dari budaya Suku Karo Sumatera Utara. 
Ada Gerai Uis Gara di Sentra Seni Budaya Bekasi De' Bhagasasi
Wawali Kota Bekasi Tri Adhianto di Gerai Gerai Kembang Wisata Handicraft [independensi.com]
Ada Gerai Uis Gara di Sentra Seni Budaya Bekasi De' Bhagasasi
Selain menjual Uis Gara (Ulos), sesuai namanya, Gerai Kembang Wisata Handicraft juga menyediakan kerajinan tangan lainnya seperti miniatur rumah adat, produk batu, gelang, cincin dan semacamnya.

"Sebetulnya untuk souvenir saya mengutamakan cinderamata khas Bekasi, tapi belum kesampaian, oleh karenanya saya membuka peluang kerjasama bagi pengrajin lokal yang serius, mungkin Bang Bisot bisa bantu?" ungkap Hairani Tarigan selaku pemilik Kembang Wisata Handicraft yang juga Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah Kabupaten Bekasi saat saya hubungi.

"Saat ini masih penyusunan katalog. Baru ada aneka tenun khas Karo, ada Ulos Batak Toba dan batu perhiasan. Sementara yang baru saya posting dan masih asli banget ada di Instagram @kembangwisatahandicraft" lanjutnya.

Setelah saya check di Instagram  https://www.instagram.com/kembangwisatahandicraft/ ternyata memang baru sedikit, sehingga kalau ingin melihat koleksi Kembang Wisata Handicraft secara lengkap sepertinya kita harus mendatanginya langsung di Upper Ground #130, Pasar Proyek Trade Center, Bekasi Timur.
Ada Gerai Uis Gara di Sentra Seni Budaya Bekasi De' Bhagasasi
Ibu Hairani Tarigan di Gerai Kembang Wisata Handicraft

Mengenal Sepintas Uis Gara Batak Karo

Kata Uis Gara dalam bahasa Batak Karo berasal dari kata Uis yang berarti kain dan Gara yang berarti merah. Disebut Uis Gara atau "kain merah" karena warna yang dominan adalah merah, hitam, dan putih, dengan dihiasi ragam motif tenunan dari benang emas dan perak.

Uis Gara pada umumnya terbuat dari bahan kapas yang dipintal dan ditenun secara manual dengan alat tenun bukan mesin (ATBM) dan diwarnai menggunakan zat pewarna alami. Proses pembuatannya secara garis besar sama dengan pembuatan Songket.

Uis Gara pada awalnya digunakan untuk pakaian sehari-hari oleh kalangan perempuan Karo. Namun saat ini Uis Gara hanya digunakan di upacara adat dan budaya. Baik yang dilaksanakan di daerah Karo sendiri, maupun di luar daerah Karo, selebihnya kerap juga ditemukan dalam bentuk souvenir berupa tas, dasi, gorden, ikat pinggang, sarung bantal, dan lain sebagainya.

Keunikan Uis gara juga karena memiliki ragam jenis dengan fungsinya masing-masing, sebagian jenis sudah langka karena tidak digunakan lagi dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa jenis uis gara diantaranya adalah sebagai berikut: Uis Beka Buluh, Uis Gatip Jongkit, Uis Gatip, Uis Nipes Padang Rusak, Uis Nipes Benang Iring, Uis Ragi Barat, Uis Jujung-Jujungen, Uis Nipes Mangiring, Uis Teba, Uis Pementing, Uis Julu Diberu, Uis Arinteneng, Perembah dan Uis Kelam-kelam.

***

Gula-Gula Batavia En Ommelanden

Gula-Gula Batavia En Ommelanden
"Pengalaman adalah sesuatu yang tidak akan pernah Anda dapatkan, sampai Anda benar-benar membutuhkannya" kata seorang komedian. 

Berbicara soal pengalaman sama saja dengan membicarakan apa-apa yang sudah kita lalui di masa lalu. Ketika pengalaman pribadi saja sering dikunci dalam kotak masa lalu dan diabaikan, apalagi pengalaman sosial dalam ingatan kolektif. Karena ingatan kolektif lebih sering diabaikan, disadari atau tidak kita seperti orang-orang yang menderita amnesia sejarah. 

Ibarat pohon kita lupa siapa yang menanam, di mana kita tumbuh, akar tidak menyentuh tanah dan seperti tumbuhan air yang ikut ke mana arus diarahkan.

Seperti remaja tanpa pengalaman yang disodorkan narasi-narasi indah, tanpa perlu paksaan, secara sukarela kita akan melakukan apa saja atas nama "pengalaman". Peringatan dari yang sudah paham dianggap angin, kalaupun terdengar, lebih seperti larangan seorang ibu ketika anaknya membeli permen. Walau dengan penuh cinta dan logika sudah diperingatkan permen itu tidak baik untuk gigi dan lain-lain, si anak tetap saja membeli dan memakannya. Orang tua mana paham enaknya gula-gula masa kini?.

"Gula-gula" itu sekarang bentuknya bermacam-macam. Dikemas dengan narasi mutakhir dan imajinasi yang dapat menyelesaikan semua masalah dengan instan. Ditawarkan 24 jam melalui semua indera, selama otak bisa bekerja, selama itu pula plasebo yang bisa menyembuhkan segala jenis penyakit itu disodorkan. Kunci surga yang sedang menanti untuk diambil.

Gula-Gula Batavia En Ommelanden

15 Agustus 1950 itu belum lama, masih ada orang-orang yang paham mengapa Bekasi memisahkan diri dari Kabupaten Jatinegara, yang berarti lepas dari Jakarta dan masuk ke Provinsi Jawa Barat sebagai kabupaten yang setara dengan Kabupaten Jatinegara walau beda provinsi. 

Latar belakang perpisahan ini juga bukan hanya persoalan administratif naiknya status dari kewedanan menjadi kabupaten dan kotamadya (Kota) seperti sekarang, tapi soal pernyataan sikap dan semangat kemandirian para pejuang di Bekasi yang bertekad untuk menentukan nasib daerahnya sendiri sebagaimana dikenal sebagai Resolusi Rakyat Bekasi yang disampaikan dalam rapat raksasa sekitar 25.000 rakyat Bekasi pada tanggal 17 Januari 1950 di alun-alun Bekasi.  [Buku Sejarah Bekasi, Sejak Peradaban Buni Ampe Wayah Gini hal. 403]
Resolusi Rakyat Bekasi yang disampaikan dalam rapat raksasa sekitar 25.000 rakyat Bekasi pada tanggal 17 Januari 1950 di alun-alun Bekasi
Harian umum Pemandangan 1 Februari 1950, memuat berita peristiwa di alun-alun Bekasi tentang rapat raksasa
Semangat kemandirian yang harusnya terpatri dalam jiwa para pemimpin dan masyarakat Bekasi sampai kapan pun. Tapi kalau pengalaman dan sejarah itu tidak bermanfaat, silakan masukkan ke dalam kotak masa lalu dan abaikan.

Kalau sekarang Bekasi dianggap tertinggal dari daerah tetangga-tetangganya, menurut saya itu lebih karena faktor pengelolaan yang belum profesional yang bisa disebabkan banyak faktor, mungkin salah satunya masalah anggaran yang sering dijadikan alasan pamungkas, tapi apapun itu, saya kira bergabung kembali ke DKI bukan solusinya

Ya tentu saja kalau Bekasi bergabung dengan Jakarta maka Bekasi menjadi tidak relevan lagi dibandingkan-bandingkan dengan Jakarta. Bekasi tidak bisa lagi dikatakan lebih tertinggal dari Jakarta karena Bekasi sudah bagian dari Jakarta itu sendiri, tapi apa gunanya status itu untuk kesejahteraan warganya?.

Perbincangan mengenai perpindahan Kota Bekasi menjadi Jakarta Tenggara ini pada akhirnya menjadi kewenangan penuh pemerintah pusat untuk menentukan, namun narasi yang berkembang di masyarakat rupanya tidak selesai sampai di situ. 

Polarisasi setuju dan tidak bukan hanya sebatas pro dan kontra, tapi sudah berkembang ke mana-mana. Pro dan kontra pada dasarnya bagus selama masih dalam koridor konstruktif, lain daripada itu sebaiknya dikembalikan ke forum silaturahmi dan persaudaraan.

Bekasi sudah mengalami banyak macam perpindahan administrasi daerah, kalau tidak ada nilai lebihnya bagi masyarakat lalu untuk apa pengalaman seperti itu diulangi lagi? jangan sampai menjadi petualangan yang buang-buang waktu dan biaya. 

Saya saat ini masih melihat-lihat saja, tidak mendukung dan cenderung menolak, tapi apalah gunanya? saya hanya warga kabupaten Bekasi yang keadaanya tidak sebaik Kota Bekasi. Jelas saya tidak akan pernah setuju kalau Kabupaten Bekasi ikut-ikutan latah ingin menjadi bagian dari DKI :)

Terlepas dari itu semua, diskusi kita sebagai masyarakat tentang perpindahan administrasi Kota Bekasi yang akan kembali menjadi Batavia En Ommelanden ini cukupkan di "setuju atau tidak saja". Apapun alasannya patut dihargai. Selebihnya serahkan hal seperti ini kepada para wakil rakyat dan pimpinan daerah, mereka memang digaji untuk memikirkan hal-hal seperti ini, ya kan?.