Arsip Kategori: Bekasi

INFO AKSI SEDEKAH BARENG NASI BUNGKUS (SEBAR NABUNG) Pekan ke 211


INFO AKSI SEDEKAH BARENG NASI BUNGKUS (SEBAR NABUNG) Pekan ke 211


INFO AKSI SEDEKAH BARENG NASI BUNGKUS (SEBAR NABUNG)

Pekan ke 211
Jumat, tgl. 05 Maret 2021
Bismillah.
Assalamu'alaykum warohmatullohi wabarokatuh.

🎶 Aku jatuh cinta
'Tuk ke sekian kali
Baru kali ini kurasakan
Cinta sesungguhnya
Tak seperti dulu
Kali ini ada pengorbanan.. 🎶

Duhh asa kumahaa kitu sama lirik lagu ini.
Soalnya cucok meong banget sama perasaan pas berbagi di edisi kali ini.
Simak ceritanya di bawah ini ya genks.

Jadi Jumat kemarin sesuai rencana kita berbagi SEDEKAH BARENG NASI BUNGKUS (SEBAR NABUNG) di 3 lokasi.


1. Panti Asuhan Dhuafa/Yatim Piatu YAPKHIN

Pertama, ke Panti Asuhan Dhuafa/Yatim Piatu YAPKHIN, di Kampung Baru, Babelan.
Di situ ada sekitar 30an anak asuh yang berasal dari beberapa daerah di Indonesia.
Mereka tinggal, mendapat asupan makanan yang baik, disekolahkan, belajar mengaji juga dan tentunya mendapat limpahan kasih sayang.

Mereka menyambut kita dengan suka cita apalagi ketika diberikan goody bag isi camilan, buku Iqra, lekar alas mengaji (dari The Sisters) dan tentu nasi box serta susu dari kita.
Tambah lagi senangnya saat kita adakan kuis berhadiah pada pertemuan itu.

INFO AKSI SEDEKAH BARENG NASI BUNGKUS (SEBAR NABUNG) Pekan ke 211

Rizki, bocah usia 7 tahunan yang dapat menjawab pertanyaan pertama bergaya bak pemenang lomba di panggung televisi setelah tuntas membaca surah Al Fatihah sebagai jawaban dari pertanyaan kuisnya.
Kocak deh tingkahnya 😃


2. Pondok Pesantren Tahfidz Qur'an (PPTQ) AL-ULUMIYAH TAZKIRUL AMIN

Lanjut ke destinasi kedua,
kita menuju Pondok Pesantren Tahfidz Qur'an Al Ulumiyah, di Kampung Belendung, masih di Kecamatan Babelan.

Ada sekitar 80an santri dhuafa/yatim piatu yang mukim di sana.

Padahal sudah siap disambut di pondok putra oleh pengurus panti ehh rombongan kita sesuai arahan mbah Google malah ke pondok putri.

Memang lokasinya tidak berjauhan tapi lumayan sulit muternya berhubung jalannya sempit ditambah waktu yang mefet karena para bapack kudu bersiap sholat Jumat.

Dah wess ambyar pokona rencana pengurus panti 😁


3. Kampung Bagedor Desa Pantai Harapan Jaya Muaragembong

After sholat Jumat, kita menuju ke destinasi 3.
The one and only, KAMPUNG BEGEDOR Desa Pantai Harapan Jaya, Kecamatan Muaragembong.
Nama yang unik ya, pankapan kita cari info asbabul hikayat penamaannya.

Lumayan pake perjuangan untuk sampai di kampung ini dengan selamat.

Jalannya belum beraspal, tipikal khas daerah yang belum mendapat sentuhan tatih tayang ehh gelontoran dana APBD, wkwkwkk.

Berbatu kerikil campur tanah, tidak rata, ada genangan air coklat di sana sini (tapi bukan bajigur, ciyuss✌️)  plus lumpur tebal yang masih separuh kering karena air banjir memang baru 2 hari ini surut di situ.

Fyi genks, ini kampung dekat dengan Kali Ciherang yang seringkali meluap hingga air dan isi kalinya tumpah ke pemukiman warga.

Apa isi kalinya ?
Bukan hanya lumpur, ikan, sampah tapi juga aneka jenis binatang melata sejenis ular hingga buaya.
Membayangkannya saja sudah gelayyy khan ? ewww😖😖😖

Ban si Boy (salah satu nama ambulan CF yang kita gunakan) sampai slip di lumpur tebal itu.
Panas lagi mentreng, matahari sinarnya lagi gonjreng ehh mobil ga bisa jalan. Bannya terjebak di antara 2 cinta (#ahayyydehh)

Cinta pada kampung halaman dan aroma khas daerah pinggir kali maksudnya lho yaa, hahahaa.

Thank God untunglah ada Mak Sri Suharni Maks jawara Kampung Setu yang dengan kekuatan awal bulannya berhasil mendorong mobil keluar dari liatnya lumpur itu.

Yeayyy, alhamdulillah.

Berhasil..berhasil..berhasil..horree ! #alaDoraTheExplorer.

Setelah diterima kadus Acip dkk di rumahnya yang merangkap posko, baru kami bisa bernafas lega.
Sempat ngaso sebentar, maksi tipis-tipis baru deh kita bagikan nasinya.

Ada yang dikirim via perahu kayu, ada yang diambil dengan sepeda ontel, dannn.. jengjenggg ini cerita terseru dari aksi kita di edisi kali ini.

INFO AKSI SEDEKAH BARENG NASI BUNGKUS (SEBAR NABUNG) Pekan ke 211
Foto by: Idam Cholid [Potret Jabar]


Jadi pak kadus aka Kepala Dusun Acip bilang "hayuk kita ke pojokan kampung. Kita tengok warga yang sampai hari ini masih mengungsi di dekat jembatan yang putus karena banjir," katanya.

Kami sempat ragu awalnya tersebab melihat becyeknya jalan yang harus kami lalui ke sana.

Atudaa.. nanti kami yang sudah cantik begini bisa camerong dongg kalau jalan bebecekan kitu.
#mintadikeplak karena sombong, sok cantik binti malezzin 
Tetapi, akhirnya kami luluh setelah 2 armada roda dua siap mengantar kami demi menemui sang bintang.

And here we are dengan motoran kami lewat jalan selebar pematang sawah yang di kirinya banyak ilalang dan di kanannya pinggir kali Ciherang.

Dibumbui cerita kadus soal binatang melata yang sering muncul tiba-tiba dan aura mistis dari pepohonan tua di sekitarnya maka komat kamit merapal ayat-ayat cinta dari Sang Maha terus kami lantunkan berharap dapat meredam degup kencang di dada. Perjalanan penuh tantangan dan pengorbanan itu ada di sini kisanak.

Sekitar 5 menit berlalu, motor berhenti.
Kami pikir sudah sampai tujuan ehlhadalah ternyata belonan. 
Karena begitu turun dari motor, kita masih harus melewati semacam jembatan dari gedebong pisang.
Ooeemjiii, tantangan macam apalagi iniii ?

Sumpah takut kepleset terus masuk neraka 😫(arrghh..entah kenapa jadi ingat cerita ustadzah tentang titian jembatan Shirothol Mustaqim ketika jalan di atas gedebong pisang teaa, naudzu billah jangan sampe jatuh ke neraka ya kita, hiyyy..atuttt).

Lucky us, setelah melewati beberapa tantangan akhirnya bisa juga bertemu sang bintang.
Dua sejoli sepuh, mak Aki dan kong Nimin yang saat kami tiba ada dekat tenda berwarna biru lusuhnya.
Miris dan bikin speechless.

Temans bisa lihat kondisi tenda yang seadanya.
Sebulan lebih mereka berteduh, memasak, makan dll aktivitas ya di sekitar tenda itu.

Jauh dari kata layak.

INFO AKSI SEDEKAH BARENG NASI BUNGKUS (SEBAR NABUNG) Pekan ke 211

Tapi kong Nimin tetap ingin berada di tenda yang di seberangnya ada rumah mereka.

Jangan pikir "rumah" itu bertembok bata ya temans, karena istana kong Nimin dan mak Aki masih terbuat dari anyaman bambu yang sebenarnya kelihatan tak kalah rapuh.

Ada hewan piaraan mereka di situ (entog, ayam kate) yang takut pada kabur kalau mereka pindah dari tenda itu, katanya.

Dan mak Aki sang istri, setia menemani.
Ga banyak tanya apalagi protes kenapa begini ga begitu.
Dia, hanya ingin tetap menemani suami tercintanya, apapun dan bagaimanapun keadaannya.
Maa syaa Alloh, 

Kami belajar dari mak Aki tentang arti setia pada pasangan. Pasangan yang tak selamanya bisa menyuguhkan kesenangan, melimpahi dengan materi atau setidaknya buaian romantis kata-kata cinta nan indah.

Sebab setia untuk tetap berbakti pada pasangan yang berlimpah materi, sholeh dan baik hati itu lebih mudah dibanding jika ia dalam keadaan sebaliknya.

And one more thing.
Untuk jadi orang murah hati tak perlu menunggu keadaan kita berlebih.

INFO AKSI SEDEKAH BARENG NASI BUNGKUS (SEBAR NABUNG) Pekan ke 211
Foto by: Idam Cholid [Potret Jabar]

Take a look at mak Aki yang sampai nawarin motong ayam buat nyuguhi kami. Tapi kami tolak halus karena khawatir merepotkannya.

Tawaran pertama kami tolak, lalu terus gigih membujuk agar kami mau menerima oleh-oleh ikan asin buatannya dan telur dari entog piaraannya.

Ya Alloh mak, kami malu dan iri padamu.
Betapapun dalam keadaan papamu, mak tetap ingin berbagi.
Bukan karena mampu tapi karena ingin menghargai 😭
Baik mak, kami terima pemberianmu, penghargaanmu untuk kami yang justru jadi belajar darimu. 
Terimakasih banyak ya mak, semoga Alloh senantiasa merahmatimu.
Aamiin.

Welehh..ternyata udah puanjang emen ini cerita.
Sekali-kali kita tutup dengan pantun ahh.

💙 Mbak yuyu maen tanjidor.
Ai lap yu Kampung Begedor💙

Hihihi..pantunnya praktis dan minimalis ajah.

Wokeh, terimakasih banyak untuk doa dan supportnya temans.

Tetap bahagia dan jaga kesehatan di masa pandemi ini ya.

See you Jumat depan dan titip salam dari konfirmasi transferan, upss maappp keceplosan

#PanjangUmurKebaikan
#SEdekahBARengNAsiBUNGkus
#AyoBerbagi
#JumatBerkah
#KeepIstiqomah
#JanganKasihKendor
#KitaBisaKarenaBersama
#WA087782777930

Penulis: Bu Mutia Farida
Sabtu, 6 Maret 2021.


JOIN AKSI SEDEKAH BARENG NASI BUNGKUS

Untuk yang mau berpartisipasi dalam aksi Sedekah Bareng Nasi Bungkus (SEBAR NABUNG), silakan hubungi Bu Mutia Farida di nomor WA 087782777930 atau klik gambar WhatsApp di atas.



Roller Coaster Kehidupan Bikin Lupa Piknik

Roller Coaster Kehidupan Bikin Lupa Piknik

"Maaf ya Mak. Pasiennya sudah dibawa ke Sukabumi. Berobat alternatif." 

Gue kaget. Ada penyesalan yang tiba-tiba merangsek nonjok batin gue. Kesibukan gue yang gak bisa gue tolerir, bahkan menyisakan dua jam waktu saja menempuh perjalanan Taman Rahayu - Rawa Banteng Cikarang pun gak bisa gue lakukan. Terlebih pas inget motor butut gue yang sebulan ini mogok total minta jajan. Hih...! 

"Anaknya ada gak?," ujar gue akhirnya, getir. Nginget gue sebelom ke mari sengaja belanja sekadar jajan. Susu kotak, snack, roti isi yang semuanya berjumlah 5, sebab menurut info, target pasien kali ini punya anak 5 orang. Pikiran gue simpel, bocah gak ada yang gak doyan jajan.

" Anaknya dibawa semua ke Sukabumi, Mak." 

"Lah, emang gak pada sekolah?."

"Ntu die Mak, anaknya gak ada yang sekolah." 

"Heh!, Kok bisa?." 

"Nah emang gitu Mak." 

"Rumahnya kosong berarti?." 

"Ada suaminya. Sendiri, kan die kerja."

"Waduh, jadi istrinya sakit, katanya suruh berobat tapi tetap sambil bawa anak 5?," tensi gue mulai naek. 

"Anaknya 6 Mak."

"Grrrr......"

Roller Coaster Kehidupan Bikin Lupa Piknik
Pening pala gue. Asli. Lambe julid gue gak nahan banget buat berkomentar, "Suami, alesannya kerja buat anak-bini, tapi pas bininya sakit parah begitu ampe gak keurusan. Nanggung separuh beban saja kagak. Mending kalau hasil dari kerjanya lebih?, nyukupin aja engga, boro-boro nyenengin." 

Tambah lagi info kalau di sekitar rumah pasien ini ternyata bertebaran saudara-saudara dari pihak suami. Tambah panjang lagi kejulidan gue, "Lah sodara ampar-amparan tapi ketitipan ponakan aja gak mau, biar emaknya fokus berobat. Ntar kalau tuh emak-emak "lewat", ketitipan bocah 6 seumur-umur, lu!." 
Asli gemes.

Manusia, banyak yang menjalani hidupnya kayak lagi duduk di atas roller coaster. 

Tau roller coaster? Ntu, kereta luncur amat sangat cepat yang ada di taman-taman hiburan. Melesat, meliuk-liuk sesuai settingan rel. Yang naik? Kerjaannya pegangan kenceng sambil terus teriak-teriak. Gak ada di pikiran selain ketegangan. Muka pucat tapi tetawaan, jantung berdegup kencang bahkan melorot ke bawah permukaan tanah, lalu seketika meloncat ke atas kepala. 

Makanya buat orang-orang tua, dan penderita "sakit istimewa" dilarang keras naek ini wahana. Bisa semaput bahkan modar saat itu juga. 

Roller Coaster Kehidupan Bikin Lupa Piknik

Bayangin kalau seperti itu cara hidup kita. Pergi pagi pulang petang bahkan larut malam. Banyak pula yang tetap kerja saat harusnya badan terpenuhi haknya untuk beristirahat.  

Demi apa? Sesuap nasi, atau bayar cicilan atau bayar deretan panjang tanggungan. Belum lagi kalau ada keperluan dadakan. Jungkir balik jumpalitan pun seringnya yang didapat masih saja kurang. 

Yang di rumah juga tak kalah menegangkan. Dari melek mata sampai pengen merem lagi itu kerjaan gak kelar-kelar. Seolah beranak pinak gak putus sepanjang zaman. Urusan dapur, cucian, beres-beres, anak-anak dengan segala polahnya yang rupa-rupa. 

Belum lagi urusan kreditan panci, cicilan jilbab, arisan, sumbangan maulid RT-RW sampai kelurahan, silih berganti dengan ulah tetangga usil nan menjengkelkan.

Tahu gak?, efek gak bisa "nikmatin hidup" dan lupa piknik ini yang menjadi pemicu aneka kanker, jantung, ginjal, paru-paru sampai radang selaput otak kalau gak buru-buru sadar untuk kembali bersandar pada Allah Sang Penguasa Kehidupan. 

Rasa sedih, kecewa, kesal, lelah dengan segala rupa kehidupan membuat kita jadi hanya terfokus pada yang ada di depan mata. Persis seperti lagi naik roller coaster. 

Dalam satu materinya Ust. Nashrullah Magnet Rezeki mengutip ayat Al Quran Surat Al Baqarah ayat 35, "Dan Kami berfirman: "Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai..." 

Dalam ayat itu, Ustadz Nashrullah mengatakan bahwa Allah SWT menciptakan manusia itu untuk bersenang-senang. Allah SWT sudah memberi fasilitasnya. Istri (bahkan boleh lebih dari 1, #uhhuk), makanan yang banyak rupa dan jenisnya di tempat yang indah-indah dan menyenangkan yang kita sukai. 

Lah enak orang kaya yang banyak duit dan bisa piknik, dong?. 

Pala lu. Piknik gak perlu nunggu kaya! orang missqueen juga bisa. Jalan-jalan pagi di sekitar rumah kalau libur, beli gorengan ceban (10 ribu rupiah) di tempat layar tancep, atau ikut gue lah jadi relawan ke tempat orang gak waras. Itu piknik luar biasa yang bikin kita bersyukur menyadari masih terlalu banyak orang di luar sana yang hidupnya jauh lebih susah dari pada kita!. #ngos-ngosan.

Cobalah turun dari roller coaster, naiklah kereta kelinci kayak bocah balita. Saksikan di kanan kiri kita. Ada bunga beserta kupu-kupunya, kolam ikan yang penuh anak cebong #ehh, ada nenek tua yang ngarep dikasih air minum karena tinggal seorang diri lagi lumpuh dan buta. 

Nikmati hidup. Allah gak nyuruh kita sedekah banyak. Peduli. Karena sungai gak cuman berisi tokay kanyut. Tapi ada ikan betik lucu yang gurih banget karena dia tinggal di air asin, otomatis terbumbui. 

Ahh, ayolah. Jangan kira orang kaya yang kita pikir banyak harta bisa sepenuhnya bahagia seperti perkiraan kita. Mereka juga kalau hidupnya di roller coaster, akan dibuat sibuk pusing memikirkan bagaimana menjaga dan menambah hartanya. 

Padahal sunatullahnya harta yang bermanfaat bagi pemiliknya adalah harta yang dihabiskan untuk menolong agama-Nya dan menolong sesama. Bahagia dengan berbagi kepada sesama.

Roller Coaster Kehidupan Bikin Lupa Piknik

"Kenapa siy udah parah gitu masih weh gak mau ke dokter?." 

"Iya Mak, katanya trauma kalau ke dokter, di IGD disuruh buka baju biar dokter bisa liat benjolan-benjolan yang ada di seluruh badannya."

"Lah aneh. Kalau dokter menyuruh buka bajunya di lobi atau salasar rumah sakit mah dia boleh marah dan gak terima. Lah ini dokter nyuruhnya kan di dalam ruang IGD?." 
Sewot lagi! 
#ceritaRelawan
#KamisSoreKemaren


Penulis: Sri Suharni Maks
Sabtu, 30 November 2019


Singgah di Rumah Baca Cah Angon Belter Bekasi

Singgah di Rumah Baca Cah Angon Belter Bekasi
 Crew The Sisters di Rumah Baca Cah Angon Belter Bekasi 

Awalnya, saya kagak percaya waktu Hye Shin bilang kalau rumah baca yang dia kasih nama Rumah Baca Cah Angon itu tidak punya tempat khusus, cuma di emperan halte, lebih tepatnya pos ronda belakang terminal (belter). Saya pikir dia cuman gimmick doang. 

Soalnya banyak tuh yang ngakunya "bubuk rengginang" taunya bubuk berlian. "Gubuk derita" taunya rumah mewah berlantai dua dengan Motor Harley Davidson parkir di teras buat jemur keset. Atau oom-oom presiden Perpustakaan Jalanan Bekasi yang punya nama Bayu Nggak Penting, tahunya orangnya penting pake banget. 

Makanya saya langsung datangi saja lokasi rumah baca tempat beraktivitas pak guru lulusan PAI, tapi mengajar matpel Penjaskes, terus seringnya memberi materi filosofi kehidupan yang nyaris enggak pernah diajarin para orangtua ke anak-anaknya, saking mereka sibuk urusan beuteung

Ehh, benar saja, Rumah Baca Bocah Angon itu memang pos kongkow para bapak-bapak dan pemuda belter di pinggir jalan! Lengkep dengan tukang kopi, tukang gorengan dan kang rokok. Amazing ! 

Singgah di Rumah Baca Cah Angon Belter Bekasi

Tapi jujur, saya baru pertama kali melihatnya. Sungguh di luar ekpektasi banget. Soalnya bapak guru yang lebih saya kenal sebagai salah satu fotografer di Komunitas Tukang Tripod Keliling itu rapi banget ngurusin rumah bacanya. 

Mulai dari mengajar, mencari donasi plus jagain aset berharganya itu dari jarahan pemulung. Mengajarnya juga tidak asal. Ada konsepnya, selain menggambar, mewarnai atau bercerita, bahkan mendidik agar bagaimana anak-anak di belakang terminal ini mencintai bumi dengan bertanam pohon. 

Dan the most of all, dia juga mengajarkan anak-anak tentang nilai-nilai berharga dalam hidup yang menurut saya justru akan menjadi bekal terbaik mereka di masa depan. Yaitu agar anak-anak ini pintar merasa, bukan merasa pintar. 

Saya iri. Jelas inilah cita-cita saya dahulu,  memiliki rumah penuh buku di mana anak-anak bisa bermain dan belajar. Bukan belajar tentang. Makanya saya merasa bersyukur kenal dua sosok pemuda yang langka, yang punya visi jelas tentang cinta ibu pertiwi itu bagaimana. 

Mereka tidak bertanya apa yang akan mereka bisa dapatkan dengan melakoni semuanya ini, mereka hanya berfikir apa yang bisa mereka lakukan demi masa depan lebih baik. Langsung aksi, enggak cuman ngemeng berbusa-busa di atas mimbar, bergoyang jempol penuh teori dan retorika di sosial media dan grup-grup WhatsApp padahal gak ada yang baca. #plakk

Singgah di Rumah Baca Cah Angon Belter Bekasi

Mereka berdua tidak memikirkan hal yang besar-besar. Tidak menunggu punya tempat nyaman untuk mewujudkan cita-citanya di bidang literasi. Dari jalanan bahkan pos ronda mereka memulainya. Dan itu semua mereka sudah buktikan, Perpustakaan Jalanan Bekasi (Perpusjal Bekasi) sudah penuh dengan aneka buku bermutu. Berkat ketekunan dan kerja keras mereka, Allah SWT telah menunjukkan hasilnya. 

Kerja ikhlas, kerja cerdas bukan sekedar jargon semata. 

Alhamdulillah, Allah SWT telah mempertemukan saya dengan mereka.  Satu jjam lebih ngobrol ngalor ngidul yang luar biasa. 

Terima kasih banyak buat kalian berdua. Insyaa Allah Bekasi akan lebih baik untuk Indonesia yang lebih baik. Generasi Unta Rohilah* pilihan Allah SWT. Aamiin. 

#ceritamaks
#ceritarelawan

Rumah Baca Bocah Angon / Rumah Baca Cah Angon
Jl.Sersan Hamzah Rt. 01/09 Kel. Margahayu Kec. Bekasi Timur, Kota Bekasi.
Menerima donasi berupa buku, alat tulis, rak buku dan kursi kecil.

Penulis: Sri Suharni Maks - Kamis 28 Januari 2021.
Foto by The Sisters & Hye Sin.


________________

Rumah Baca Bocah Angon / Rumah Baca Cah Angon Kampung Rawa Baru (Belter - Belakang Terminal) Bekasi berdiri sekitar bulan November 2020 dengan kegiatan sebagai berikut: Hari Senin - Membaca, Selasa - Menggambar, Rabu - Libur, Kamis - Menghitung, Jumat - Bebas, Sabtu & Minggu - Diskusi / Menyesuaikan 

Buat teman-teman yang mau donasi baik berupa buku, majalah, komik, pensil warna, alat tulis, papan tulis, atau mengisi diskusi dan pembelajaran. Bisa menghubungi 085775393211 (Sarul / Hye Shin).

*Unta rohilah adalah unta yang kuat menempuh perjalanan sangat jauh bahkan sampai ribuan kilo meter dengan membawa sarat beban berupa barang yang penuh di punggungnya. Rasulullah telah memberikan isyarat melalui sabdanya sebagai berikut,

“Dari Abdullah bin ‘Umar radhiallahu ‘anhuma berkata, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam berkata: Sesungguhnya manusia seperti unta sebanyak seratus, hampir-hampir tidaklah engkau dapatkan di antara unta-unta tersebut, seekor pun yang layak untuk ditunggangi” (Muttafaqun ‘alaih). [Hadits Ahmad No.5776 | Musnad Abdullah bin Umar bin Al Khatthab Radliyallahu ta'ala 'anhuma]

Kalau ada seratus unta di hadapan kita, maka tak bisa didapatkan dari unta itu yang siap digunakan menjadi unta tunggangan (untuk safar, memikul barang, dll). Memang jumlahnya seratus, namun yang berkualitas, yang bisa digunakan safar, hanya 1 dari 100. Manusia kurang lebih begitu juga, dari seratus orang, mungkin cuma satu yang bisa diandalkan.” 

Makna dari hadits di atas adalah betapa sulitnya menemukan unta rohilah, perbandingannya satu berbanding seratus. Rasulullah mengibaratkan seorang calon pemimpin itu seperti unta rohilah. Ia mampu dibawa menempuh perjalanan jauh ke depan, ia mampu menghadapi segala rintangan dan masalah yang dilewatinya, bersamaan itu ia mampu dibebani tanggung jawab dan amanah yang besar di punggungnya.


Salam.



AKSI SEDEKAH BARENG NASI BUNGKUS (SEBAR NABUNG) Pekan Ke 209

AKSI SEDEKAH BARENG NASI BUNGKUS (SEBAR NABUNG) Pekan Ke 209

Jumat, 19 Februari 2021 saya berkesempatan ikut dalam rombongan Sedekah Bareng Nasi Bungkus (SeBarNaBung) yang dimotori oleh Ibu Mutia Farida. Sejarah gerakan atau aksi Sebar Nabung (Sedekah Bareng Nasi Bungkus) ini awalnya dari ide di grup WhatsApp Sisters Smandel (WhatsApp Group untuk muslimah Alumni SMAN 8 Jakarta). 

Ide untuk bersedekah ini panjang ceritanya hingga akhirnya saat ini terwujud dalam bentuk aksi membagikan nasi dan lauknya dalam kemasan (nasi bungkus/nasi kotak) pada setiap hari Jumat untuk makan siang untuk mereka yang membutuhkan.

Aksi yang saya ikuti ini ternyata adalah aksi Sebar Nabung yang ke 209, udah banyak kali ternyata, itulah mengapa saya merasa beruntung bisa ikut dalam rombongan ini. 

Aksi Sedekah Bareng Nasi Bungkus kali ini menyasar warga terdampak banjir di sekitaran Kampung Solokan Pondok Dua dan Kampung Gedongjaya, kedua Kampung tersebut secara administratif masuk dalam wilayah Kecamatan Muaragembong Kabupaten Bekasi. Letaknya pas di perbatasan antara Kecamatan Babelan dan Kecamatan Muaragembong, keduanya dipisah dengan batas alam berupa sungai yang bermuara di Muara Nawan dan akhirnya ke laut. 

Fotobaper ala-ala

Artikel ini adalah copy - paste - edit -posting dari status facebook Ibu Mutia Farida, mungkin lain kali akan kita bahas lebih jauh soal gerakan Sedekah Bareng Nasi Bungkus (SeBarNaBung) ini. Anggap aja ini baru intro, sebagai perkenalan dengan gerakan Sedekah Bareng Nasi Bungkus (SeBarNaBung).

---------------

AKSI SEDEKAH BARENG NASI BUNGKUS (SEBAR NABUNG)

Pekan ke 209
Jumat, 19 Pebruari 2021
Bismillah.
Assalamu'alaykum warohmatullohi wabarokatuh.
Haii semuaa !

Mohon maaf sebelumnya karena info pasca aksi baru kami release hari ini berhubung sejak Sabtu pagi hingga Senin malam kemarin kami langsung beraksi lagi bagi-bagi nasi dan lain-lain bagi para penyintas banjir di Kota dan Kabupaten Bekasi.


Cerita perjalanan aksi ke 209 ini sungguh penuh kehaluan temans


Bukan hanya karena jauhnya perjalanan dan lamanya waktu tempuh, namun juga karena indahnya pemandangan sepanjang perjalanan itu.

Hamparan sawah yang menghijau (sebagiannya ada yang terendam banjir), pohon ilalang tinggi di kiri kanan jalan serta burung-burung beterbangan yang kicaunya jadi seperti alunan symphoni yang membuai indera kita.

Ditambah lagi cuaca yang cenderung mendung, hawa yang sejuk plus hembusan angin lembut yang rasanya bikin pingin selonjoran lalu rebahan.

Coba yaa, kaum rebahan angkat tangannya.

Ciyus deh, saking indah dan jauhnya perjalanan itu ada yang nyeletuk, "Ini kayak di Lembang yaa."
Terus ga lama ada yang bilang, "Duhh kayak jalan mudik arah ke Jawa deh inii." (maksudnya Jawa Tengah/Timur; red.)


Ketika jam 2 siang belum juga sampai di tempat tujuan, malah ada yang ngomong begini : "Jangan-jangan ini udah ga di Indonesia tapi di Ostralih."
Eettt dahh..ga sejauh itu juga kalik Malihhh.

Ketika naik perahu lihat tiang sutet, katanya itu menara Eifel. Ada tulisan Texas di tembok rumah, dikata kita sudah sampai Amerika.


Hampir 1 jam keliling kampung dengan perahu, ngaku-ngaku sudah sampai kota Timbuktu (yang belum paham Timbuktu ada di mana, sila tanya mbah Bogel ehh Google)
Tobat..tobattt. Kehaluan yang HQQ juga sungguh terlele yaa 

Ya begitulah. Padahal ini masih wilayah Kabupaten Bekasi lho.
Tapi jaraknya kurang lebih sama dengan Jakarta - Brebes.
Dan karena akses jalan yang tidak beraspal plus tergenang disana sini jadi kita ga bisa ngebut malahan kudu lebih waspada. Lumayan sih hanya genangan, bisa cepat hilang dibanding kenangan yang pasti terus membekas dan terbayang (uhuyyy)


Kampung Gedong Jaya SEDEKAH BARENG NASI BUNGKUS (SEBAR NABUNG)
  Kampung Gedong Jaya  


Kampung Gedong Jaya


Tiba di tujuan pertama Kampung Gedong Jaya di Pantai Harapan Jaya Kecamatan Muaragembong, kami disambut pasukan mbeee yang nampaknya juga pingin ikut antri nasi. Tapi setelah diberi tahu kalau itu bukan makanan mereka, untunglah mereka lekas paham lalu segera pergi. Legaaa.. slamet.. slamettt bawaan kita.Nah setelah para mbeee pergi, baru deh warga mengerumuni kami.


2 ambulan yang membawa logistik full, disambut dengan antusias dan gembira. Mereka hingga terkagum karena biasanya kan ambulan itu sosok mobil menakutkan, apalagi di masa pandemi begini. 
Yang ini ambulannya beda, karena sama sekali tidak membawa pasien atau jenazah. Tapi bawa makanan banyak dan enak-enak pula. Wowww..emejing kata mereka.

Seneng deh bisa lihat senyum bahagia mereka apalagi anak-anaknya.
You know kenapa ? 


Karena ada cake keju plus goody bag juga untuk mereka yang berisi susu, roti, snack, vitamin dan madu, bawaan dari rekan sinergi kita, The Sisters.
Mereka juga bawa pampers, obat gatal dll.
Bikin happy deh pokona mahh 


Kampung Solokan Pondok Dua SEDEKAH BARENG NASI BUNGKUS (SEBAR NABUNG)
 Sungai Pondok Dua 


Kampung Solokan Pondok Dua


Lanjut ke Kampung Solokan Pondok Dua, makin seru perjalanannya. Setelah bolak belok jalan yang tidak lega di Desa Huripjaya, masih tergenang air ditambah harus lewat jembatan pas seukuran 1 mobil di atas kali yang nanjaknya lebih dari 1 meter. 


Bikin deg-degan cuyyy.. bisi ambulan ga kuat nanjak, terus mundur. Belum lagi kalau sampai jatuh ke kali, hiyyyy naudzubillahi min dzalik jangan sampaiiii celaka. Tapi seruuu deh bagi-bagi nasinya karena kita sambil naik perahu. Itu karena jalan daratnya masih banyak genangan jadi lebih mudah jika dibagikan sambil naik perahu. Rasanya jadi kek piknik tipis-tipis gituu..feel so bahagyakkk akutuu 


Menjadi bahagia


Beneran lho,
Menjadi bahagia bukan berarti semuanya sempurna.
Punya apapun, segalanya yang kita mau dan inginkan supaya dapat stempel eksis untuk urusan dunia.

Tapi apa iya itu bikin bahagia ?
Ternyata sama sekali bukan itu temans.

Berapa banyak orang yang punya rumah wevvah tapi malah sering pergi karena tidak betah?
Berapa banyak mereka yang punya uang dan bisa beli makanan enak tapi justru dilarang dokter menikmati?


Yang intinya adalah, bahagia yang sebenarnya tidak terletak dari kesempurnaan yang terlihat oleh mata, terdengar oleh telinga, atau dirasakan melalui panca indera tapi sempurnanya hati untuk dapat menerima segala kekurangan ataupun kelebihan yang ada pada diri kita.


Jadi bahagia itu letaknya di hati, ia tidak selalu terikat dengan kebutuhan jasad dan syahwat. Kebahagiaan juga tidak terikat dengan durasi waktu dan tempat tertentu. Di manapun dan kapan pun, kita tetap bisa merasakan bahagia walaupun hanya memiliki fasilitas hidup yang sederhana.

Perhatikan deh senyum anak-anak yang tengah main air di kali atau di air banjir. Meski bermain di tempat seadanya yang bak water park ala-ala, mereka tetap kelihatan bahagia.


Okeyyaa,
Terimakasih banyak atas doa, support juga partisipasinya para pecandu sedekah.
Semoga rezekinya makin berlimpah lagi berkah.
Aamiin.


Nantikan cerita kami berikutnya yang non stop sejak Sabtu hingga Senin ini berbagi untuk penyintas banjir di beberapa wilayah di Kota juga Kabupaten Bekasi.


Dan hingga Jumat lusa pun rencana kita masih akan berbagi di daerah yang terdampak banjir akibat jebolnya tanggul sungai Citarum.


Kamu penasaran dan mau tahu ?
transfer duluuu ehhh

Ihhh..maafkan yaa kalau jempolnya suka nakalll 


#PanjangUmurKebaikan
#SEdekahBARengNAsiBUNGkus
#AyoBerbagi
#JumatBerkah
#KeepIstiqomah
#JanganKasihKendor
#KitaBisaKarenaBersama


Penulis: Bu Mutia Farida
Selasa, 23 Februari 2021.


JOIN AKSI SEDEKAH BARENG NASI BUNGKUS

Untuk yang mau berpartisipasi dalam aksi Sedekah Bareng Nasi Bungkus (SEBAR NABUNG), silakan hubungi Bu Mutia Farida di nomor WA 087782777930 atau klik gambar WhatsApp di atas.


Sharing Fotografi Ponsel bersama Komunitas Pramuka Tunas Muda Kwartir Ranting Babelan

Sharing Fotografi Ponsel bersama Komunitas Pramuka Tunas Muda Kwartir Ranting Babelan

Sharing Fotografi Ponsel bersama Komunitas Pramuka Tunas Muda Kwartir Ranting Babelan
 Komunitas Pramuka Tunas Muda Kwartir Ranting Babelan 

Gerimis tipis masih turun saat saya tiba di Posko Banjir dan Dapur Umum Komunitas Pramuka Tunas Muda Kwartir Ranting Babelan Bekasi dan Rumah Kebaikan Yang terletak di Kampung Blendung Tugu, Desa Muarabakti, kecamatan Babelan. Ahad sore, 14 Februari 2021.

Agenda kali ini, sambil beristirahat setelah mendistribusikan bantuan dan donasi ke wilayah terdampak banjir di Kp Tanjung Air Desa Pantai Hurip Kecamatan Babelan, Kami melaksanakan kembali kelas sharing yang telah sekian lama terhenti akibat pandemi.

Sharing kali ini digagas oleh bidang Infokom Tunas Muda sebagai salah satu agenda kerja mereka. Kelas Sharing dengan tema lain sudah berjalan sebelumnya, kali ini saya diajak ikutan sharing seputar tema fotografi dasar dengan dihadiri 15 orang anggota Tunas Muda.

Sharing Fotografi Ponsel bersama Komunitas Pramuka Tunas Muda Kwartir Ranting Babelan
 Sharing Fotografi Ponsel 

Sebelum mulai acara saya sudah mempersilahkan untuk mereka yang pakaiannya basah untuk berganti pakaian lebih dahulu. Saya yang masih flu dengan pakaian kering saja kadang masih menggigil terkena angin lembab yang masuk ke ruangan posko.

DEFINISI FOTOGRAFI

Sharing tentang fotografi saya mulai dengan kembali ke definisi fotografi itu sendiri. Fotografi (photography) berasal dari kata Yunani yaitu "photos": cahaya dan "grafo": melukis/menulis) adalah proses melukis/menulis dengan menggunakan cahaya. Karenanya, tanpa cahaya (baik cahaya alami atau cahaya buatan), tidak ada foto yang bisa dibuat.

Sebagai pemahaman umum, fotografi berarti proses untuk menghasilkan gambar dari suatu objek dengan merekam pantulan cahaya yang mengenai objek tersebut pada media yang peka cahaya. Alat untuk menangkap pantulan cahaya ini adalah kamera. 

Sedikit membahas mengenai cahaya dan lensa maka terucap nama Cendikiawan Muslim Ibnu Khaitam yang penelitiannya terhadap cahaya menjadi dasar perkembangan dunia optik termasuk kamera dan fotografi.


KOMPOSISI RULE OF THIRD (ROT)

KOMPOSISI RULE OF THIRD

Mempertimbangkan kamera yang digunakan peserta sesi sharing lebih banyak menggunakan kamera ponsel, maka pembahasan selanjutnya langsung lompat ke komposisi rule of third atau ROT

Pembahasan komposisi Rule of Thirds langsung ke penjelasan garis bantu di kamera yang terdiri dari dua garis sejajar pada horizon dan dua garis sejajar pada vertikal. Garis-garis tersebut membagi area foto menjadi sembilan bagian yang sama besar. Para peserta saya minta mengaktifkan fitur "garis kisi" tersebut di kamera handphonenya. Istilah "garis kisi" ini bisa berbeda di setiap handphone, di HP saya Xiaomi MiA1 disebut "Garis Bantu", di HP lain ada juga yang menyebut "grid - 3x3" dst.

Komposisi Rule of Thirds sudah sejak lama diterapkan dalam seni lukis yang kemudian diadaptasi ke dalam dunia fotografi. Pada intinya tujuan Rule of Third adalah menempatkan point of interest di persinggungan garis vertikal & horizontal tersebut. 

Garis-garis ini adalah garis bantu yang akan kita gunakan untuk mengatur posisi objek, foreground dan background. Juga membantu kita dalam meluruskan garis horizon atau garis vertikal hingga gambar yang dihasilkan menjadi lebih proporsional dan lebih menarik. Namun demikian Rule of Thirds bukan aturan wajib yang musti diterapkan setiap kali memotret, ini hanya panduan untuk menghasilkan foto yang ‘lebih enak dilihat’ komposisinya. 

SUDUT PENGAMBILAN GAMBAR (ANGEL CAMERA)

Sharing Fotografi Ponsel bersama Komunitas Pramuka Tunas Muda Kwartir Ranting Babelan
 Sudut pengambilan foto Low Angle 

Setiap angle kamera menciptakan persepsi yang menguatkan pesan yang ingin disampaikan. Angle adalah posisi sudut pandang kamera. Angle kamera ini berguna untuk menciptakan persepsi sebuah foto, dari sudut mana foto itu ditampilkan lebih baik, lebih menguatkan pesan dan mempertegas objek. 

Dalam sharing fotografi ponsel bersama Komunitas Pramuka Tunas Muda Kwartir Ranting Babelan kali ini saya hanya berbagi 3 angle dasar sebagai pengenalan, yaitu:

1.  Sudut Pengambilan Foto Eye Level

Sudut pandang Eye Level adalah sudut pandang atau angle paling umum digunakan. Pada angle ini lensa kamera dibidik sejajar dengan tinggi objek. Posisi dan arah kamera memandang objek yang akan dipotret seperti pandangan mata kita saat melihat objek secara biasa. Pengambilan angle ini kebanyakan untuk memotret atau mendokumentasikan manusia dan kegiatannya (Human interest).

2.  Sudut Pengambilan Foto Low Angle

Pada sudut pengambilan foto Low Angle, kamera diposisikan lebih rendah dari objek. Secara psikologis, low angle akan menghasilkan obyek foto yang terlihat kuat, elegan, mewah, atau kesan dominan. Biasanya fotografer akan memilih angle ini untuk mengambil gambar bangunan seperti gedung bertingkat. Sudut pandang pemotretan ini sering juga diterapkan pada fotografi cityscape, contohnya pada foto gedung-gedung pencakar langit.

Sharing Fotografi Ponsel bersama Komunitas Pramuka Tunas Muda Kwartir Ranting Babelan
 Sudut pengambilan foto High Angle 

3.  Sudut Pengambilan Foto High Angle 

Posisi High Angle digunakan untuk menangkap kesan luas dari objek yang difoto. Kamera diposisikan lebih tinggi dari objek, sehingga memberi kesan kecil pada objek yang dipotret. Dengan angle ini kita bisa memasukkan elemen-elemen pendukung komposisi ke dalam foto. Penerapan high angle bisa juga diterapkan pada foto pemandangan (landscape).



Sudah cukup banyak teorinya, kegiatan dilanjutkan dengan 10 menit praktek memotret dan membahas hasil memotret. Setiap peserta diberikan kesempatan untuk menjelaskan obyek dan pesan apa yang ingin disampaikan dalam foto yang ia hasilkan. Rekan-rekan peserta yang lain mengomentari dan berdiskusi mengenai teknik memotret dan apakah pesan tersebut ada dalam foto yang dibahas.

Acara ditutup oleh moderator dan dilanjutkan dengan ngobrol santai seputar materi komposisi dan angle. Acara yang santai, menyenangkan dan bermanfaat bagi saya yang masih belajar fotografi. Berinteraksi dengan pemuda yang antusias dalam menggali potensi mereka juga menjadi penyemangat, agar saya tetap belajar dan belajar. “Stay Hungry. Stay Foolish”, kata Steve Jobs.


@ Kp. Blendung Tugu - 14 Februari 2021. Babelan - Bekasi.


Deras Hujan Memberkahi Milad 4 Cinong Bekasi di Panjibuwono Babelan

"Jangan lupa, entar jam 8 anterin si bontot lomba," kata istri saya.

"Ok cyin, tar abis ngopi dianterin," jawab saya santai mendengar peringatan yang sudah diulang-ulang sejak beberapa hari lalu.

Milad 4 Cinong Bekasi Ruko The Plaza Perumahan Panjibuwono Kedung Pengawas Babelan


Sekira jam 8;30 WIB barulah saya sampai di Ruko The Plaza Perumahan Panjibuwono di Desa Kedung Pengawas, Kec. Babelan, Bekasi. Setelah registrasi ulang saya mengantar si bontot mencari tempat yang tersedia, ternyata para peserta lomba sudah duduk rapih memenuhi tenda dengan alat gambar masing-masing. Saya sebenarnya berharap jadwal lomba ngaret, tapi ternyata kami terlambat, karena rupanya lomba benar-benar dimulai jam 8 teng.


Lomba mewarnai dalam rangka Milad Cinong Bekasi ke 4 boleh dibilang berjalan sukses. Acara yang diminati anak-anak khususnya oleh siswa TK IT Generasi Emas Cinong Bekasi ini dimulai sejak pagi hari hingga menjelang siang diakhiri dengan sesi pembagian piala kepada para pemenang setiap kategori. Lomba yang terbagi dalam 3 kategori ini dilaksanakan di pelataran Ruko The Plaza Perumahan Panjibuwono di Desa Kedung Pengawas, Kec. Babelan, Bekasi, Minggu, 6 Desember 2020. 


Walau sempat terhenti karena hujan lebat yang disertai tiupan kuat angin, Lomba mewarnai sebagai salah satu rangkaian acara peringatan Milad ke-empat Perguruan Silat Cinong Bekasi ini terselesaikan dengan baik. 


Di tengah lomba, angin dan awan mendung sempat membuat Kak Mae selaku pengasuh Sanggar Lukis Cinong Bekasi dan juga ketua panitia lomba khawatir kalau tiba-tiba akan hujan dan membuat peserta lomba terganggu. Namun sampai lomba selesai hanya rintik hujan dan angin yang membuat suasana menjadi dingin. 


Tak lama setelah lomba selesai, barulah hujan mulai turun, seakan-akan menunggu adik-adik peserta lomba menyelesaikan lombanya. 


"Alhamdulillah lomba mewarnai anak-anak sudah selesai," kata Kak Mae lega saat berteduh di Warkop DKI Panjibuwono menghindari derasnya hujan.


Hujan yang turun dengan lebat ini membuat para peserta lomba dan orangtuanya, serta hadirin berteduh di bawah kanopi ruko, ada juga yang masuk ke dalam kafe-kafe dan ruko yang ada. Kafe-kafe dan warung atau saung kuliner di Ruko The Plaza Perumahan Panjibuwono dipenuhi pengunjung yang berteduh, para pelayan menjadi sibuk melayani pesanan para pengunjung. Hujan yang membawa berkah untuk para pemilik lapak jajanan kuliner.


Saat hujan mulai reda, Bang Jamal selaku ketua Yayasan Generasi Emas Cinong Bekasi (GECB) beserta dengan para pelatih dan pembina mengumpulkan murid-murid Cinong Bekasi untuk kembali menyemangati panitia dan anggota agar acara kembali dilanjutkan walau genangan air sisa hujan membuat lokasi menjadi becek.


"Siapa kita? Cinong Bekasi!"

"Siapa kita? Cinong Bekasi!"


Terdengar keras teriakan-teriakan yang disertai yel-yel penyemangat memecah kebisuan. Tatapan semangat barisan anak-anak berpakaian silat anggota perguruan Silat Cinong Bekasi sepertinya kembali bangkit melawan sisa gerimis yang masih turun. Dan acara yang sempat terhenti karena hujan kembali berjalan. 


Dimulai dengan 4 penari cilik dari Sangar Tari Cinong Bekasi menampilkan kebolehan mereka membawakan Tari Manuk Dadali yang kemudian langsung disusul 6 penari remaja membawakan Tari Genjring Party. Tari Genjring Party yang enerjik ini sepertinya merupakan perpaduan tari tradisional yang dikreasikan dengan tarian modern. Cocok untuk menggairahkan kembali suasana yang tadinya garing karena hujan deras. Selain terhibur, tari ini juga berhasil membuat para hadirin kembali merapat ke area panggung.

Milad 4 Cinong Bekasi Ruko The Plaza Perumahan Panjibuwono Kedung Pengawas Babelan

Hari semakin siang ketika adik-adik pencak silat menampilkan seni pencak silat beregu putra, Serang-Bela anak-anak Putri, Tunggal Baku Jurus IPSI, Serang-Bela Remaja Putra dan seterusnya hingga acara kembali dihentikan karena hujan kembali turun. Selain karena alasan kesehatan, acara diberhentikan karena khawatir terjadi korsleting listrik yang membahayakan. Namun semua rangkaian acara yang disusun panitia Milad 4 Cinong sudah selesai, walaupun ada acara yang terpaksa dipindahkan ke Saung Pusat Cinong  di Babelan Kota karena situasi yang tidak mendukung di lokasi acara.


Ruko The Plaza Perumahan Panjibuwono sebagai lokasi acara bukan tempat asing buat teman-teman Cinong Bekasi. Sebelumnya mereka sudah pernah menampilkan atraksi silat dan tradisi palang pintu pada Minggu malam 11 Oktober 2020 saat menyambut  kedatangan Tim Bekatul ke Kafe TKP, salah satu kafe di  Ruko The Plaza.


Hujan hari itu tidak membuat murid-murid Cinong Bekasi yang didominasi remaja ini patah semangat, mereka tetap menampilkan performance terbaik mereka. Matras dan lantai yang licin, angin dingin dan gerimis yang terus saja turun, sepertinya justru membuat mereka tambah energik memperagakan gerakan-gerakan dan jurus-jurus silat dibandingkan jika melakukannya di bawah panas siang yang terik seandainya saja tidak hujan.


Pada akhirnya faktor hujan lebat dan angin kencang yang merubuhkan salah satu tenda acara menjadi sarana langsung ujian mental, gak perlu visualisasi & imagery karena sudah terjadi di depan mata. Tinggal bagaimana soal memilih respon positif yang terbaik untuk menjawab keadaan yang ada. 


Selesai acara, beberapa adik-adik murid Cinong Bekasi tampak bermain di genangan air hujan. Wajah-anak-anak yang tidak bisa berbohong itu memancarkan kepuasan dan kebahagiaan, menghapus lelah para panitia penyelenggara acara Milad 4 Cinong Bekasi. 


Saya rasa wajah-wajah mereka tidak akan segembira itu jika saja mereka gagal menampilkan performance yang sudah sekian lama mereka latih. Ya, memang semangat di balik perhelatan acara ini sebagian besar adalah guna menyediakan wadah kepada kalian para generasi emas Cinong Bekasi, memberikan panggung atau kesempatan kepada adik-adik dan generasi muda untuk tampil menunjukkan ekspresi dan prestasi. 

Milad 4 Cinong Bekasi Ruko The Plaza Perumahan Panjibuwono Kedung Pengawas Babelan


Baca Juga: Sejarah Cinong Bekasi


Seminggu kemudian, (Sabtu 12 Desember 2020) di Saung Pusat Cinong Bekasi, saat rapat evaluasi sekaligus pembubaran panitia, saya sampaikan bahwa acara Milad 4 Cinong di Panjibuwono juga adalah tolok ukur kemampuan dan pelajaran untuk semua anggota dalam merencanakan, melaksanakan kegiatan atau event di luar. Kegiatan ini akan menjadi modal pengalaman untuk kegiatan-kegiatan selanjutnya, terlebih jika kegiatan tersebut merupakan event berskala lebih besar, maka para anggota Cinong Bekasi sudah memiliki pengalaman sebagai event organizer atau penyelenggara acaranya sendiri.


Selamat Milad Ke-4 Cinong Bekasi, selamat naik kelas, semoga semakin bermanfaat untuk masyarakat, amiin.


Milad 4 Perguruan Silat Cinong Bekasi sukses terselenggara dengan didukung oleh: Panjibuwono Residence, Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kabupaten Bekasi, Pemdes Kedungjaya, Babinsa Kedungjaya, Komunitas Anak Betawi Bujug Buneng, Crew Dikadalin TV, Warkop DKI, Prasbhara Polsek Babelan, Komunitas Onthel Babelan Klasik (KOBAK), Saung Asyila, Obon Tabroni Center, Komunitas Fotografi Babe'lens, Persatuan Pencak Silat Indonesia (PPSI) Kabupaten Bekasi, Perguruan dan Padepokan Silat di Babelan dan sekitarnya, serta pihak-pihak yang tidak tercantum di sini karena kealpaan saya. (mohon diingatkan)


-----------

Pada saat yang sama (Minggu, 6 Desember 2020) hujan lebat dan angin kencang menyebabkan Greenlab di Sekolah Alam Prasasti rubuh tertiup angin, juga terjadi kecelakaan perahu wisata yang terbalik di pesisir Tarumajaya Kabupaten Bekasi.


TELISIK NAMA KAMPUNG MUARA BLACAN

Kali Blacan Muaragembong  TELISIK NAMA KAMPUNG MUARA BLACAN
Kali Blacan Muaragembong 


TELISIK NAMA KAMPUNG MUARA BLACAN

Kampung Muara Blacan (disingkat Kp. Muara Blacan) adalah kampung yang kini sudah tidak lagi menjadi lahan pemukiman. Kampung ini berada dalam wilayah desa Pantai Mekar di sebelah utara dan wilayah desa Pantai Harapan Jaya di sebelah selatan yang dibatasi dengan Sungai Blacan berada di wilayah kecamatan Muaragembong kabupaten Bekasi.


Ada yang unik tentang kampung ini, karena sulitnya mencari informasi terkait asal usul nama kampung, seolah-olah kampung Muara Blacan ini tak pernah ada. Saya mencoba membuka tabir kegelapan ini dengan menelusuri tempat, mencari peninggalan, peta arsip maupun berita koran kuno. 


Pernah juga ditemani Komarudin Ibnu Mikam (seorang pegiat budaya), Yusuf Maulana (pegiat sosial lingkungan) dan Junaedi / Didi (mantan kepala dusun I desa Pantai Sederhana). Dan ternyata, di Kp. Muara Blacan ini pernah ada peradaban yang tidak kalah dengan peradaban yang ada di kampung lain pada zamannya.


MUARA BLACAN Secara Etimologi

Secara etimologi, kata MUARA menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah tempat berakhirnya aliran sungai di laut, danau, atau sungai lain; sungai yang dekat dengan laut. Sedangkan kata BLACAN menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dari bahasa Jawa adalah Kucing Hutan atau dalam sebutan orang di Muaragembong adalah Macan Memeng.


TELISIK NAMA KAMPUNG MUARA BLACAN Blacan Kucing Hutan /Macan Memeng
Blacan Kucing Hutan /Macan Memeng


Jadi, MUARA BLACAN adalah Muara sungai yang banyak Kucing Hutannya.


Hal ini menjadi sesuatu yang logis jika sebelumnya wilayah yang menjadi perkampungan Muara Blacan sebelumnya adalah hutan belantara yang banyak Kucing Hutannya sezaman dengan Kp. Muara Gembong di sebelahnya yang awalnya banyak dihuni Harimau Loreng. 


MUARA BLACAN Secara Histori

Kp. Muara Blacan ini adalah nama kampung yang dibuka dan didirikan oleh eks tentara Mataram yang tidak kembali ke Mataram karena khawatir atas konsekwensi yang akan diterima dari Sultan Agung Hanyokrokusumo atas kegagalannya menyerang VOC di Batavia pada tahun 1628 dan 1629 M.


Seiring waktu yang terus berjalan, Kampung Muara Blacan pun hilang. Hilangnya perkampungan ini karena ditinggalkan penghuninya karena akses transportasi ke kampung Muaragembong sulit. Sungai Blacan yang berhulu di Citarum mengalami pendangkalan akibat sedimentasi lumpur banjir musiman. 


Sekalipun demikian, namun dari artefak yang ditemui, di Kp. Muara Blacan ini pernah ada pengolahan Kerang Putih skala perumahan, tentunya untuk dijual ke Batavia dilihat dari jumlah kulitnya yang sudah ratusan karung dimanfaatkan para petambak untuk menguruk tepi Pintu Air sebagai pencegah ikan Sembelang bersarang di sisi pintu air yang dapat mempercepat kebocoran tambak. 


Dan terhadap yang menyebut BELACAN yang berarti TERASI, bisa juga benar, seiring perkampungan yang berpotensi membuat terasi. Tapi tentunya penamaan Belacan yang berarti Terasi setelah banyaknya penduduk dan didahului Blacan yang awal dihuni. 


Dan jika kata Belacan mengacu kepada kulit Kerang Putih yang banyak ditemukan, maka sebenarnya tidak ada kaitannya, sebab bahan baku terasi bukan dari Kerang Putih tapi udang rebon atau ikan kecil (untuk jenis terasi ikan).


Di Kp. Muara Belacan ini disinyalir dulu dihuni oleh orang-orang yang secara ekonomi sudah mapan, dilihat dari temuan alat Rumah Tangga yang digunakan berbahan Keramik buatan China, Belanda dan bahkan buatan Jepang. Jepang dalam hal ini bukan Jepang yang menjajah Indonesia 1942-1945, karena perkampungan Muara Blacan sudah hilang di tahun 1915. Ditemukan juga gerabah jenis periuk, paso, jambangan, bata tegel dan lain-lain.


Di kampung ini berdasarkan artefak diyakini pernah berdiri Masjid Alam (peta 1902) dan yang berdiri sekarang, posisinya telah bergeser sekitar 700 m dari posisi awalnya. Secara usia tidak berjauhan dengan Masjid Alam Al Mutaqoddimin yang ada di Kp. Gaga desa Pantai Sederhana kecamatan Muaragembong Kabupaten Bekasi Jawa Barat.. 


Disebut Masjid Alam Blacan karena awal ditemukan tidak ada plang nama atau bukti lain yang mengisyaratkan nama masjid tersebut.


Baca juga: Ekowisata Mangrove ke Masjid Alam Blacan Muaragembong


Penulis: Syakiran. 09092019
Facebook Grup Wisata Sejarah Bekasi




"Setiap Pramuka Adalah Pewarta", Ngopi Bareng Pramuka Ambalan Dewakarni SMKN 1 Babelan

Setiap Pramuka Adalah Pewarta
Infografis Setiap Pramuka Adalah Pewarta 



Visi: Mewujudkan anggota Gerakan Pramuka yang relevan sesuai kebutuhan zaman mereka untuk melakukan perubahan yang lebih baik lagi dalam kehidupannya.

Misi: Mengarahkan dan menjadikan kaum muda agent of change (pelopor pembaharu) yang lebih inovatif, relevan, dan berguna bagi bangsa, Negara, masyarakat Indonesia sesuai marwah Gerakan Pramuka yang berkarakter, berkebangsaan dan memiliki kecakapan hidup.

Demikian visi dan misi Kepengurusan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka masa bakti 2018-2023 yang dipimpin oleh Komjen Pol (Purn) Drs. H. Budi Waseso yang resmi terpilih sebagai Ketua Kwarnas dalam Musyawarah Nasional (Munas) X Gerakan Pramuka tahun 2018 di Kendari, Sulawesi Tenggara, 25-29 September 2018 lalu.

Selanjutnya, salah satu dari tujuh Program Prioritas Kwarnas Gerakan Pramuka Masa Bakti 2018-2023 adalah: 

Membangun citra positif Gerakan Pramuka dengan mewujudkan kapasitas informatika, integritas dan kompetensi komunikasi publik di era digital.

Dalam Rakernas yang dilaksanakan pada 19-21 Februari 2020, Program Prioritas Kwarnas nomor 6 ini diterjemahkan menjadi dua sasaran strategis oleh Komisi Kehumasan & Informatika Kwarnas, yaitu;  Membangun citra positif Gerakan Pramuka dan Re-branding Gerakan Pramuka. Dalam paparan Komisi Kehumasan & Informatika ini dilaporkan pula kegiatan mempopulerkan tanda pagar (tagar) atau hashtag  #SetiapPramukaAdalahPewarta di media sosial.

Tagar "Setiap Pramuka Adalah Pewarta" tidak bermakna berbeda dengan semboyan “Setiap Pramuka Adalah Kantor Berita” yang menjadi semboyan Kwarnas Gerakan Pramuka dalam kepemimpinan Dr. H. Adhyaksa Dault masa bakti tahun 2013 - 2018.

Kata Setiap Pramuka Adalah Pewarta ini juga saya baca pada e-flyer Pelantikan Kenaikan Tingkat Pramuka Penegak Bantara Ambalan Ki Hajar Dewantara - R.A. Kartini (Dewakarni), SMKN 1 Babelan Gudep 02117-02118 yang dilaksanakan di Rumah Pelangi Bekasi pada tanggal 21-22 Desember 2020.

Setiap Pramuka Adalah Pewarta, Ngopi Bareng Pramuka Ambalan Dewakarni SMKN1 Babelan
E-flyer Pelantikan Kenaikan Tingkat Pramuka Penegak Bantara
Ambalan Ki Hajar Dewantara - R.A. Kartini (Dewakarni), SMKN 1 Babelan

Mengutip dari salah satu tulisan di laman kumparan.com (2017/05/03), semboyan "Setiap Pramuka Adalah Pewarta" tujuannya adalah supaya setiap anggota gerakan Pramuka memiliki kesadaran sebagai pemilik, pemimpin redaksi, sekaligus wartawan bagi akun media sosialnya. Tanggung jawab yang tinggi terhadap suci dalam pikiran, perkataan dan perbuatan.

Lebih lanjut besar harapan dari semboyan Setiap Pramuka Adalah Pewarta adalah agar setiap anggota gerakan Pramuka mempunyai kemampuan menulis tentang aktivitas Pramuka, produk lokal spesifik lokalita, kegiatan pemuda, destinasi pariwisata, berbagai kuliner, informasi tentang budaya, eksplore potensi daerah, dan banyak hal positif lainnya.

Dari 2 poin tersebut saya merangkum 4 poin sebagai sasaran dari semboyan Setiap Pramuka Adalah Pewarta dalam sebuah infografis sederhana seperti gambar paling atas.

Intinya, Pramuka masa kini harus bisa mengkolaborasikan kegiatan Pramuka konvensional dengan penguasaan teknologi informatika. Aksi sosial tetap menjadi kegiatan utama dengan merevitalisasi nilai budaya bangsa yakni gotong royong yang kemudian didokumentasikan dan dikemas dalam publikasi konten yang positif dan inspiratif.

Isu demikian sudah diakomodasi oleh Kwarnas tentunya juga Kwarda hingga ke bawahnya cukup sadar akan pentingnya isu Re-branding Gerakan Pramuka yang berhubungan erat dengan kehumasan dan publikasi-publikasi yang dihasilkan oleh setiap anggota Pramuka di akun media sosialnya masing-masing.

Menimbang hal di atas, maka dalam infografis sederhana yang saya buat itu, saya masukkan 4 poin sasaran yang hendak saya sampaikan pada adik-adik Pramuka dalam sesi sharing saya.

4 sasaran dalam infografis Setiap Pramuka Adalah Pewarta itu adalah:


1. Aksi

Aksi di sini adalah kegiatan Pramuka secara umum, kegiatan sosial kemasyarakatan dan semacamnya. Hal ini sudah biasa dilakukan dan tidak diragukan lagi peran aktifnya dalam kegiatan sosial baik dalam situasi bencana maupun kegiatan-kegiatan rutin yang menjadi aksi Pramuka.

2. Dokumentasi

Dalam setiap aksinya, hendaknya kegiatan tersebut didokumentasikan dengan baik, sehingga tersedia  lengkap bahan untuk laporan dan evaluasi kegiatan. 

3. Konten Kreatif

Hasil dokumentasi yang baik juga dapat menjadi bahan untuk membuat ragam konten kreatif yang berisikan pesan-pesan positif dan inspiratif. Ketersediaan bahan dapat menentukan kualitas sebuah konten yang akan dibuat. Konten juga dibuat dengan berbagai macam bentuk agar dapat menyesuaikan dengan wadah publikasi dan sasaran yang hendak dicapai.

4. Publikasi

Konten hasil kreasi dari dokumentasi pada akhirnya dipublikasikan dengan menggunakan banyak wadah saluran. Baik itu tulisan, poster, video dan lain sebagainya. Jejaring media sosial dan internet memudahkan publikasi konten, sehingga kita dapat memanfaatkannya dengan sebaik mungkin. 


Sasaran nomor 1 dan 2 saya kira adik-adik Pramuka sudah paham maksudnya, sehingga saya langsung lompat membahas sedikit ke sasaran nomor 2 dan 3.

Pada saat sesi sharing, saya sudah jelaskan makna kata pewarta yang lebih saya arahkan ke pengertian "konten kreator", sehingga adik-adik Pramuka ini sadar bahwa dirinya adalah seorang pembuat konten yang memiliki tanggung jawab sosial terhadap isi dari media sosial mereka.

konten kreator
konten kreator


Semua yang hadir, kurang lebih 20 siswa ini mengaku memiliki akun media sosial baik akun Facebook, Youtube, TikTok, Instagram dan seterusnya. Beberapa mengaku aktif menggunakan media sosial tersebut namun belum menggunakannya sebagai media publikasi hasil konten kreasinya yang penyampaian pesan atau informasi sebagaimana diharapkan dalam slogan "Setiap Pramuka Adalah Pewarta".

Wajar saja, karena untuk menjadi konten kreator dan memenuhi misi seperti itu dibutuhkan lebih dari sekadar kesadaran, tapi pelatihan-pelatihan agar mereka memiliki kemampuan dasar memproduksi konten yang baik. Khususnya konten seputar kegaitan kepramukaan yang mereka lakukan.

"Setiap Pramuka Adalah Pewarta", Ngopi Bareng Pramuka Ambalan Dewakarni SMKN1 Babelan
Sharing "Setiap Pramuka Adalah Pewarta" di Rumah Pelangi
Foto by: Adit Rungi

Mengenai konten, sebelumnya juga saya sudah berbagi dengan Adik-adik SMA Sekolah Rakyat Babelan saat acara LDKS di Sekolah Alam Prasasti pada hari Sabtu tanggal 28 November 2020. Materi yang hampir sama juga saya sampaikan, mengenai konten dan mendorong mereka agar menjadi kreator konten, minimal untuk publikasi kegiatan mereka di sekolah. 

Para generasi muda ini sebagian besar akrab dengan media sosial, walau sebagian besar masih menjadi konsumen setidaknya mereka perlu didorong terus untuk berani dan mampu memproduksi konten-konten yang bermanfaat. Beberapa orang memang sudah mulai memproduksi konten, baik itu tugas dari sekolah atau inisiatif pribadi, saya berharap ke depannya sekolah-sekolah bisa mendorong dan mengapresiasi murid-murid yang berprestasi dalam pembuatan konten kreatif.

Semoga setelah sharing ini mereka paham mengenai bentuk-bentuk konten, mulai berani membuat konten untuk memperbanyak konten positif di dunia maya, berkreasi sesuai minat mereka dan dapat memanfaatkan media sosial dengan tepat untuk kebaikan dirinya dan masyarakat.

Dari bahan ini hanya sedikit yang sempat saya sampaikan pada adik-adik Pramuka Penegak Bantara  Ambalan Ki Hajar Dewantara - R.A. Kartini (Dewakarni), SMKN 1 Babelan, mudah-mudahan tulisan ini dapat mengisi apa yang belum dapat saya sampaikan pada saat pertemuan sore yang menyenangkan itu. []


Rumah Pelangi Bekasi
Senin, 21 Desember 2020.




Ngopi Santuy di Keseruan Acara 1st Anniversary Instanusantara Karawang Bekasi

1st Anniversary Instanusantara Karawang Bekasi
1st Anniversary Instanusantara Karawang Bekasi


Cuaca Minggu siang agak mendung ketika saya tiba dan memarkirkan motor di halaman Starbucks Drive Thru Lippo Cikarang. Awalnya saya sudah masuk ke areal halaman Hotel Harper dan bertanya kepada salah satu Satpam yang bertugas mengenai lokasi parkir untuk kendaraan roda dua. Satpam dengan sopan meminta agar saya memarkirkan motor di area Starbuck disertai alasan-alasannya. 


Memasuki loby hotel, satpam yang tadi mengarahkan saya parkir kini dengan sigap mengucapkan selamat siang dan membukakan pintu kaca. "Terima kasih pak," ucap saya yang terkesan dengan kesigapan mereka. Sepertinya mereka sudah dibekali berbagai SOP pelayanan sehingga dari parkir sampai etika yang lazim berlaku di dunia perhotelan dilaksanakan dengan cukup baik.


Di belakang resto, area luar tampak 2 penari berpakaian dan bertopeng merah dengan energik dan bersemangat menampilkan Tari Topeng Kelana dari Cirebon. Tari yang konon awalnya menggambarkan tokoh Rahwana dalam pewayangan ini memang ada dalam agenda untuk dipentaskan sebagai salah satu rangkaian acara dalam peringatan ulang tahun pertama Komunitas Instanusantara Karawang Bekasi. Tanpa pikir panjang saya langsung bergabung dengan teman-teman yang sedang asik memotret 2 penari tersebut.


Oh iya, Komunitas Instanusantara Karawang Bekasi (Inkarasi) adalah salah satu region dari Instanusantara, sebuah komunitas fotografi yang bertujuan untuk mempromosikan Indonesia melalui foto dan video pendek di media sosial Instagram.


Mengambil lokasi di Hotel Harper Cikarang, Minggu (13/12/2020), Komunitas Inkarasi menghelat kegiatan peringatan anniversary pertamanya dengan tajuk “Tumbuh Bersama” (Sisi Lain Pesona Bekasi dan Budaya Bekasi) yang berisi rangkaian kegiatan sesi foto hunting dalam dan luar ruang. Sayangnya hujan membuat sesi hunting foto luar ruangan menjadi lebih cepat selesai sebelum waktunya.


Keseruan Acara 1st Anniversary Instanusantara Karawang Bekasi
Sesi hunting foto luar ruangan menampilkan Tari Topeng Kelana
Foto by: @tukangfotogadungan


Lanjut ke acara dalam ruang yang beraroma handsanitizer. Salut untuk panitia yang dengan tegas tetap mewajibkan peserta untuk mengenakan masker selama acara dan menata ruang dengan menerapkan aturan menjaga jarak. Meskipun aturan itu membuat suasana awalnya agak kaku tapi itu sebentar saja, keceriaan mencairkan suasana hingga acara selesai. Slide show foto-foto karya anggota dan game-game kecil berhadiah berhasil menyatukan perhatian dan menjalin engagement semua yang hadir hari itu.


Dalam sambutannya, Monika selaku ketua Inkarasi sempat menceritakan sedikit sejarah Inkarasi sebelum mendatangi dan menyapa beberapa anggota Inkarasi dari sekitar 100 hadirin di dalam ruang meeting Hotel Harper Cikarang. Untuk saya yang baru kali ini bisa ikut dalam acara Inkarasi, dapat merasakan sambutan hangat dari anggota lainnya, kekeluargaan bukan hanya kata pemanis atau sekadar slogan di sini.



Sejarah Komunitas Instanusantara Karawang Bekasi


Menyambung soal sejarah, ide membuat wadah komunitas berawal dari kesepakatan para pencinta fotografi di Kota Karawang Bekasi. Mereka ada yang berlatar belakang pelajar, mahasiswa hingga pekerja yang pada awalnya membentuk komunitas Cika Ranger dengan berbasis fotografi landscape dan bermaksud untuk melakukan hunting bareng.


Para pendiri dan anggota awal Inkarasi memiliki keyakinan bahwa masih banyak hal yang dapat dieksplorasi di wilayah Karawang Bekasi agar dapat lebih dikenal lagi seperti kota-kota lain di Indonesia. Dari keyakinan itulah tercetus ide untuk membuat wadah komunitas yang lebih spesifik mengusung tema tentang Alam dan Budaya Karawang Bekasi


Berangkat dari ide tersebut dan dari hasil diskusi, akhirnya disepakati keinginan untuk menggabungkan diri dengan Komunitas Instanusantara yang memiliki visi dan semangat yang sama, terlebih  di Kota Karawang Bekasi belum ada regional Instanusantara.


Semangat yang menyatukan komunitas ini adalah; semangat untuk memperkenalkan keindahan alam dan keanekaragaman budaya Karawang Bekasi kepada masyarakat Karawang dan Bekasi, nasional maupun international melalui fotografi di media sosial Instagram.


Keseruan Acara 1st Anniversary Instanusantara Karawang Bekasi
1st Anniversary Instanusantara Karawang Bekasi
Foto by: @voteforfirman


Akhirnya pada hari Selasa tanggal 25 November 2019, Instanusantara Karawang Bekasi resmi menjadi official Region ke-21 dari 22 region Instanusantara saat ini. Sampai dengan tulisan ini dibuat, jumlah anggota Instanusantara Regional Karawang Bekasi berjumlah 89 anggota aktif. Adapun Area yang dicakup Instanusantara Regional Karawang Bekasi meliputi Bekasi, Karawang, Subang, Purwakarta dan Jonggol.


Dalam kurun kurang dari 1 tahun, Instanusantara Regional Karawang Bekasi (Inkarasi) telah sukses melaksanakan beberapa kegiatan. Beberapa yang patut dicatat antara lain:

  • Hunting Foto Model dan Light Painting pada 6 Juni 2020;
  • Hunting Foto Toy’s pada 21 Juni 2020;
  • Hunting Foto Landscape pada 31 Mei 2020;
  • Hunting Konsep Fun Camping pada 30 Agustus 2020;
  • Hunting Foto Landscape Cukul pada 18 September 2020;
  • Charity Fotografi di SMK Yapik Cirebon pada 7 November 2020;
  • Hunting Konsep Tari Topeng Instanusantara Karawang Bekasi & Instanusantara Cirebon pada 8 November 2020;
  • Instanusantara Karawang Bekasi goes to Cukul Pangalengan pada 19 September 2020;
  • Instanusantara Karawang Bekasi goes to Wonosobo pada 16 Oktober 2020;
  • Instanusantara Karawang Bekasi Explore Subang pada 21 November 2020;
  • Instanusantara Karawang Bekasi Anniversary di Hotel Harper Cikarang pada 13 Desember 2020.

Semua anggota Inkarasi sebelum diterima menjadi anggota akan diminta kesediaannya untuk mengeksplor lebih jauh mengenai Karawang Bekasi, baik itu dari sisi pesona alam, budaya, kuliner, kesenian dan hal-hal menarik lainnya. Setiap anggota juga didorong untuk dapat membangun jaringan antar sesama penghobi fotografi dan traveller di Karawang Bekasi.



Bagaimana Cara Bergabung Menjadi Anggota Inkarasi?


Berdasarkan pengalaman, untuk bergabung menjadi anggota Inkarasi syaratnya mudah kok. Kita cukup mengirim pesan berisi keinginan bergabung ke akun Instagram Inkarasi dengan menyertakan nomor WhatsApp yang aktif. 


Calon anggota yang sudah mengirimkan pesan, akan diundang bergabung dalam grup sementara untuk mengenal lebih jauh Inkarasi juga aturan-aturan yang berlaku. Aturan-aturan itu di antaranya seperti kewajiban setiap calon anggota untuk mengikuti kegiatan Upload Bersama (INUB) harian sebanyak 3 kali, tentu saja foto yang diupload harus merupakan hasil foto sendiri.


Di balik layar, sebenarnya pada saat menjadi calon anggota, profil dan foto-foto yang kita upload sebelumnya di Instagram juga diperiksa dan akan menjadi pertimbangan. Setidaknya 75% foto-foto yang diupload adalah konten yang memiliki semangat memperkenalkan keindahan alam, keanekaragaman seni budaya, kehidupan masyarakat dan semacamnya, baik dalam bentuk fotografi landscape, food, potrait, human interest, nature, dan lain-lain.


Tertarik untuk menjadi anggota Inkarasi? 

Silakan follow dan kirim pesan ke akun Instagram Inkarasi di https://www.instagram.com/instanusantara_karawangbekasi/


Keseruan Acara 1st Anniversary Instanusantara Karawang Bekasi
Bersama owner Rumah Puspa, salah satu sponsor acara


Ok, segitu aja yah, catatannya. Saya ucapkan selamat ulang tahun kepada Instanusantara Karawang Bekasi (Inkarasi). Terima kasih untuk kopi, doorprize dan keseruan acaranya. Semoga misi untuk bisa mengenalkan Karawang Bekasi dan sekitarnya ke kancah nasional bahkan internasional lekas tercapai, amiin.


BERBEDA KITA BERSATU,  BERSAMA KITA BERSAUDARA


Abu Tebel Ampe Endebel [Kenangan Bocah 80an]

Abu Tebel Ampe Endebel 

Abu Tebel Ampe Endebel
Gambar dari: seputarberitakecantikan.blogspot.com 

Angin bertiup dari sebeleh timur.., geburan ombak di kaki gili-gili empang membahu membuat buih-buih berterbangan di angkasa, alunan suara dari pita kaset tape yang rusak yang dipasang saling melintang menambah cerianya suasana sore di Kampung Sembilangan pesisir Kabupaten Bekasi tahun 80-an.

Suara adzan ashar menunjukan waktu jam 3 petang, suara riuh latap-latap terdengar dari sekelompok anak-anak yang mulai berdatangan. Mereka terlihat membawa mobil-mobilan yang terbuat dari bekas botol air mineral dengan ban terbuat dari sandal emaknye yang udah putus alias gak kepake.

mobil-mobilan bambu anak tahun 80
ilustrasi 

Ade juga yang membawa motor-motoran trail yang terbuat dari sebatang bambu yang di ujung bambunya dipakaikan roda yang terbuat dari papan berbentuk lingkaran dengan stang di tengah-tengah bambu. Cara menggunakannya cukup sederhana, batang bambu diletakan di pundak dengan kedua tangan memegang setang yang terletak di tengah-tengah batang bambu, didorong sambil mulut membunyikan suara knalpot motor sebagai imitasi suara mesinnya, lucu juga sih!!!

Suasana hari itu semakin seru tak kala ada seorang anak yang rajin mendusur abu yang tebal dengan papan membuat jalur yang  katanya sirkuit untuk arena balap mobil-mobilan dan motor-motoran. Abu yang didusur terlihat seperti sirkuit lengkap dengan bendera-bendera kecil yang terbuat dari bungkus-bungkus permen yang menambah warna tepian sirkuit abu. 

Suasana semakin ramai dengan bunyi-bunyian mesin yang keluar dari mulut si joki.

Nampak di sebelah sisi lainnya ada beberapa anak sedang membuat gunung yang  terbuat dari abu, mereka membuat gunung sebesar yang mereka inginkan, selah gunung itu jadi mereka hancurkan dengan menendang gunung abu agar abu melayang ke udara dan terlihat seperti hujan salju, hmmm ada-ada aja yah..!! 

Terkadang ada yang jail gunung itu diisi dengan air kencing mereka dan menyuruh temannya untuk menendangnya dan akhirnya pecahlah suasana menjadi tawa yang gembira.

Hari semakin sore matahari yang mulai tenggelam seakan menjadi Alarm sudah waktunya untuk pulang, mulailah mencari kantong-kantong plastik yang akan digunakan menjadi wadah untuk mengambil air di empang dan mulailah menyiram sirkuit dan sisa hancuran gunung abu dengan air  seketika ABU yang  tebel menjadi ENDEBEL.


Penulis: Heriyansyah (Mandor)