Sedikit Tentang Kesenian Ujungan dan Tari Uncul di Bekasi

Kesenian Ujungan dan Tari Uncul di Bekasi

Alhamdulillah, kemarin (Sabtu, 13 April 2019) saya berkesempatan mendengarkan wawancara seorang mahasiswi UPI (Universitas Pendidikan Indonesia) Bandung yang sedang melakukan penelitian terkait Seni Tari Silat Uncul yang hanya ada saat berlangsung aksi Ujungan.

Narasumber yang diwawancarai adalah Kong Mitra, Baba Rahman, Bang Jamal dan lain-lain dari Perguruan Silat Cinong Bekasi, sedangkan yang mewawancarai adalah Chika, mahasiswi UPI yang juga aktif di Sanggar Tari Chyka di Kebalen Babelan Kabupaten Bekasi.

Kesenian Ujungan


Mengenai Kesenian Ujungan sebelumnya perlu dibahas sedikit bahwa selain di Bekasi, beberapa daerah juga mengenal Kesenian Ujungan dengan masing-masing variasinya, seperti Banyumas, Majalengka, Cirebon, Tegal, Jombang, Probolinggo dan  lainnya. Khusus untuk Banyumas dan Majalengka Kesenian Ujungan konon dikaitkan dengan ritual meminta hujan.

Dari Memoar Pangeran Aria Achmad Djajadiningrat atau Herinneringen van Pangeran aria Achmad Djajadiningrat (Balai Poestaka, Kolff-Buning, Jakarta, 1936) juga mengisahkan dirinya yang belajar Ujungan dan Pencak Silat saat ia dikirim ke pesantren di Karundang, Serang Banten sekitar tahun 1883, 136 tahun yang lalu.

Berikut catatan terjemahan dari Memoar  Pangeran Aria Achmad Djajadiningrat yang saya capture dari buku "Indonesia: Selected Documents on Colonialism and Nationalism 1830-1942", Penders, Chr.L.M. (Editor and Translator) 1977. University of Queensland Press, St Lucia. © Copyright, Dr Chris Penders, 1977, 2005.
Kesenian Ujungan dan Tari Uncul di Bekasi
Kesenian Ujungan juga tercatat dalam buku berbahasa Sunda berjudul "Rasiah Priangan" karya Mas Kartadinata, terbitan Balai Poestaka tahun 1921. Buku Rasiah Priangan ini mencatat bahwa kesenian ujungan merupakan permainan yang biasa diselenggarakan di Garoet untuk memeriahkan pesta atau hajatan daerah yang dilaksanakan di alun-alun Garoet. Tapi disebutkan pula bahwa ujungan tidak khas Garoet. Ujungan yang sama diselenggarakan pula di Soemedang dan Soekapoera, tetapi di Bandoeng dan Tjiandjoer tidak ada.

Kembali ke penuturan Kong Mitra, Baba Rahman dan lain-lain, saya simpulkan Kesenian Ujungan ini pada intinya sama, dua orang berlaga dengan menggunakan alat pemukul berupa batang rotan, sasaran pukulan adalah bagian kaki. Untuk di Bekasi khususnya Babelan, Kesenian Ujungan membatasi area anggota badan yang boleh dipukul hanya bagian dengkul ke bawah. Sedangkan daerah lain ada yang memperbolehkan daerah pusar ke bawah.

Dalam aksi Ujungan yang resmi ada yang disebut Bobotoh yang bertindak layaknya wasit dan sebagai pemimpin jalannya aksi Ujungan. Ujungan biasanya dilaksanakan malam hari saat terang cahaya bulan mencukupi dan dilakukan di lapangan terbuka atau area persawahan saat panen padi atau acara lain.

Kong Mitra sebagai salah satu pemain Ujungan di Babelan Kota, kemudian menjelaskan bahwa Kesenian Ujungan dimulai saat bobotoh sebagai wasit mempersilahkan salah satu pemain memasuki gelanggang. Pemain ini kemudian menari Uncul yang mirip ibing silat mengikuti irama musik dari alat musik perkusi yang disebut Samyong semacam Gambang sederhana yang terdiri dari 7 bilah kayu, toktok atau kentongan dari bambu dan kecrek yang terbuat dari logam.

Tari Uncul


Tari Uncul ini adalah gerakan-gerakan pemain yang mengikuti irama musik yang dimaksudkan sebagai undangan terbuka buat pemain lain untuk turun ke gelanggang untuk menjadi lawan tanding dalam seni Ujungan. Pemain yang ingin melawan akan muncul masuk ke gelanggang dan ikut menari Uncul dengan tetap menjaga jarak dan mencoba mengukur kekuatan pemain yang akan ia lawan dari gerakan dan irama tarian Uncul yang diperagakan.

Bobotoh akan memanggil kedua pemain yang sedang menari Uncul untuk mendekatinya dan menerangkan peraturan-peraturan yang berlaku. Jika kedua pemain sudah siap maka kemudian Bobotoh menyerahkan rotan atau kayu kepada masing-masing pemain dan memberi isyarat yang menyatakan Ujungan dimulai. 

Soal kesamaan kata "uncul" dan "muncul" ini juga menarik, mungkin berkaitan mungkin juga tidak, saya tidak punya referensi tapi dugaan saya kata "uncul" adalah dasar dari kata "muncul".
Tari Uncul ini seperti juga Ibing Silat, adalah gerakan-gerakan mengikuti irama musik yang menyerupai tarian tapi lebih menonjolkan sisi maskulin dan bersifat tantangan. 
Munculnya pemain lain adalah jawaban tantangan. Selama Ujungan berlangsung musik samyong terus terdengar dan para pemain Ujungan tetap mengikuti irama musik sampai terlibat adu fisik jarak dekat.

Berbeda dengan beberapa tempat yang menggunakan pengikat di ujung rotan, Kong Mitra menjelaskan kalau kesenian Ujungan di Babelan rotan dipegang sekuat-kuatnya karena kalau sampai rotan terlepas dari tangan pemain maka ia akan dinyatakan kalah, baik terlepas karena pukulan lawan atau lainnya.
Kesenian Ujungan dan Tari Uncul di Bekasi
Saat ini Kesenian Ujungan bukan lagi untuk kompetisi, unsur membahayakan tubuh yang menjadi alasan pelarangannya sudah ditiadakan. Kesenian Ujungan dilestarikan dengan kemasan atraksi hiburan yang masih terus berkembang mencari format agar dapat diterima masyarakat sekarang.

Unsur seni dalam kesenian Ujungan setidaknya ada 3, yaitu seni musik (samyong), seni tari-silat (uncul), dan seni bela diri tongkat (ujungan). Kesenian yang saat ini hanya menjadi pertunjukkan tetap dipelihara dengan mengajarkan sikap menjunjung tinggi nilai sportivitas dan ketangkasan, pelestarian seni dan budaya, persaudaraan, rasa nasionalisme, dan semangat patriotisme sebagai generasi penerus bangsa.

Sudah lama saya mendengar tentang Kesenian Ujungan, sudah melihat beberapa penampilan Ujungan dari beberapa komunitas berbeda tapi baru kali ini saya mendengar banyak langsung dari penuturan Kong Mitra dan Baba Rahman sebagai pemain Ujungan Tempoe Doeloe.

Catatan ini ditulis dari hasil mendengar wawancara dan beberapa sumber referensi, lebih dan kurangnya mohon dikoreksi.

Salam

Suara Kami Tidak Gratis, Tapi Tidak Bisa Dibeli Dengan Uang

Diskusi Pemuda Dengan Calon Wakil Rakyat
Menyambut datangnya musim kontestasi politik yang akan berujung pada pemilu 17 April 2019, TBM Rumah Pelangi sebagai ruang aspirasi pemuda kembali melakukan diskusi terbuka terkait edukasi partisipatif.

Diskusi Pemuda Dan Calon Wakil Rakyat

Sabtu, 30 Maret 2019 TBM Rumah Pelangi di Kampung Babakan Kali Bedah Desa Sukamekar Kecamatan Sukawangi Kab. Bekasi mengadakan acara "Diskusi Pemuda Dengan Calon Wakil Rakyat".

Dengan menghadirkan A. Djaelani dari Tiksa Institute dan D.A Furqon dari komunitas Bekasi Voters sebagai panelis, diskusi ini juga menghadirkan 5 orang calon anggota legislatif yaitu; 
  1. Romi Oktaviansyah Caleg DPR-RI dari partai Demokrat; 
  2. M. Nurfahroji Caleg DPRD Kab Bekasi Dapil 4 dari Partai Gerindra; 
  3. Nomir Syaputra Caleg DPRD Kab Bekasi Dapil 5 dari Partai Nasdem; 
  4. Sarodi Caleg DPRD Kab Bekasi Dapil 4 dari Partai Perindo; dan 
  5. M. Romli Caleg DPRD Kab Bekasi Dapil 5 dari PKS.

Diskusi Pemuda Dengan Calon Wakil Rakyat

Diskusi yang berlangsung selama 3 jam ini berjalan santai dan informal, dengan dihadiri beberapa komunitas baik komunitas literasi dan komunitas kepemudaan lainnya di Bekasi. 

Acara dimulai sejak pukul 15:15 WIB dengan moderator A. Suryadi dari media Wajah Bekasi, diskusi ini disiarkan langsung dan terekam di sosial media Facebook TBM Rumah Pelangi Bekasi sehingga videonya masih bisa diikuti oleh siapapun walau acara sudah selesai.

EDUKASI POLITIK

Dibuka oleh Muhaidin Darma (26) selaku ketua panitia, Idin menyampaikan sambutan-sambutan umum yang mengajak para hadirin berdiskusi dengan mengedepankan rasa persaudaraan dalam koridor edukasi politik yang sehat agar misi pendidikan TBM Rumah Pelangi tidak ternodai politik praktis oleh siapapun.

Sistem demokrasi perwakilan yang berlaku di Indonesia saat ini, memberikan hak politik kepada warga negara Indonesia termasuk para pemudanya untuk memilih dan secara tidak langsung menyerahkan pengelolaan masa depan Bekasi ini ke pundak para anggota dewan yang dipilihnya.

Keputusan- keputusan penting, termasuk penyusunan peraturan daerah dan pengawasan penggunaan anggaran yang kelak dilakukan oleh para wakil rakyat tersebut akan sangat menentukan masa depan Bekasi nantinya. Karena itu, sudah seharusnya para wakil rakyat berasal dari tokoh-tokoh terbaik yang memiliki kapasitas dan komitmen yang sejalan dengan cita-cita pemuda di Kab. Bekasi.

Acara dimulai dengan nonton bareng Film EADC 2014 "Desainer Kampung", film pendek  berdurasi 22 menit ini mendokumentasikan pemuda di pelosok Desa Kaliabu Kecamatan Salaman Kabupaten Magelang yang berhasil mengubah pemuda-pemuda kampungnya menjadi desainer-desainer grafis otodidak yang mampu bersaing secara lokal dan global dengan penghasilan yang cukup besar.

DA Furqon kemudian menjelaskan harapan-harapan agar apa yang didokumentasikan pada film tersebut memberikan inspirasi dan menularkan semangat belajar yang lebih fokus pada pengembangan soft skill sehingga pemuda desa lebih memiliki kapasitas yang dapat menjadi modal keterampilan menghadapi era persaingan bebas.

Diskusi Pemuda Dengan Calon Wakil Rakyat

Acara dilanjutkan dengan perkenalan umum profil kelima calon anggota dewan yang menanggapi film pendek tersebut. Djaelani selaku narasumber non caleg berharap agar para caleg dan pendukungnya lebih fokus pada masalah-masalah yang terjadi di Bekasi.

"Pilpres memang penting, tapi jangan sampai membuat kita lupa bahwa pemilihan anggota dewan baik DPRD, DPRD Provinsi, DPD dan DPR-RI juga penting, bahkan akan lebih menentukan nasib Bekasi secara langsung, mari kita gunakan waktu yang tersisa ini untuk lebih kritis memilah para calon anggota dewan yang akan kita pilih untuk mewakili suara kita nantinya" kata Djaelani, pemuda yang juga salah seorang pendiri Cibarusah Center.

Pada sesi tanya jawab, pertanyaan-pertanyaan diajukan secara umum kepada para caleg, pertanyaan-pertanyaan dari peserta lebih menyoroti 3 hal, yaitu masalah pendidikan, isu kesehatan dan isu ketenagakerjaanSetiap caleg diberi kesempatan untuk menanggapi dan saling mengemukakan pendapatnya terkait ketiga isu tersebut.

Komunitas Penter dalam kesempatan tanya jawab menyoroti kinerja kontrol DPRD kabupaten Bekasi saat ini yang dinilai gagal mengawasi dan mengawal kinerja Pemkab Bekasi yang tidak profesional sehingga banyak ketimpangan pembangunan infrastruktur dan tidak akuntabel sehingga hanya bisa menyerap 80% APBD.

Untuk diketahui, Pemkab Bekasi pada tahun 2018 masih memiliki Sisa Lebih Penggunaan Anggaran (Silpa) sejumlah Rp1,03 triliun. Jumlah tersebut cukup besar karena APBD Kabupaten Bekasi 2018 sejumlah Rp5,9 triliun.

All Comunitas juga menyoroti kinerja anggota DPRD terkait pengawasan pengelolaan dan transparansi pemanfaatan dana CSR dari daerah yang konon menyandang gelar kawasan industri terbesar se-Asia Tenggara ini. Mereka berharap agar calon anggota dewan yang hadir ini jika terpilih menjadi anggota dewan dapat memiliki kinerja yang lebih baik daripada anggota DPRD Kab Bekasi yang sekarang.

Ibrahim (Boim), seorang warga Kelurahan Bahagia Kec. Babelan yang hadir dalam acara merasa puas karena dapat mengenal calon anggota dewan yang selama ini belum ia kenal sebelumnya.

"Calon anggota dewan hanya melakukan sosialisasi kepada para pendukung dan timsesnya, kemudian timses dan pendukungnya ini yang melakukan sosialisasi, padahal saya juga ingin mengenal lebih dekat dan ingin berdiskusi langsung kepada mereka," ungkap Boim yang datang bersama putranya.

Acara ditutup dengan mempersilahkan kelima para calon anggota dewan untuk menyampaikan materi kampanyenya yang disambut positif oleh para hadirin.
***

Acara diskusi pemuda dengan keempat caleg DPRD Kab Bekasi dari dapil 4 dan 5 serta hadirnya 1 orang caleg DPRRI ini bagi saya secara materi sudah cukup baik. Ini membuka kesempatan kepada swing voter untuk lebih mengenal para caleg secara efektif daripada hanya melihat spanduk-spanduk yang menurut saya lebih sering menyebabkan polusi visual dan merusak pemandangan ruang-ruang publik.
Siapapun calegnya memiliki kesempatan yang sama untuk melakukan sosialisasi kepada masyarakat luas, kampanye melalui spanduk sudah tidak relevan di era keterbukaan akses komunikasi seperti sekarang.
Jangan seperti anggota dewan yang sekarang, ketika sudah menduduki kursi legislator masih saja memandang warga kabupaten Bekasi secara parsial berdasarkan kelompok konstituen dan apa yang didukungnya pada saat pilcaleg. Mungkin secara pragmatis sah-sah saja karena tidak ada larangan soal itu, tapi praktek seperti itu sekian lama terbukti tidak membuat Bekasi menjadi lebih baik, kalau tidak mau dikatakan membuat Kabupaten Bekasi berantakan seperti sekarang.

Jika saja para anggota dewan itu selama ini dikenal memiliki kinerja yang baik dan bermanfaat bagi masyarakat, maka saat pilcaleg seperti sekarang ini mungkin akan lebih mudah baginya mencari suara sampai ke luar basis konstituennya yang lama.

Setidaknya dengan acara ini para pemuda telah menyampaikan pesan yang cukup jelas; Suara kami tidak gratis tapi juga tidak bisa dibeli dengan uang

Jalankan saja fungsi legislasi, anggaran dan pengawasan secara profesional, itu sudah cukup untuk alasan kami memilih Anda sebagai wakil kami di DPRD. Itu baru namanya pemilih yang cerdas.

Salam perubahan 


Ngidam Earphone Audio Technica Terbaik

Ngidam Earphone Audio Technica Terbaik
Alhamdulillah, Sabtu, 16 Maret 2019 akhirnya reuni alumni SMAN 54 berjalan dengan lancar. Senangnya bisa bertemu kembali teman-teman semasa sekolah dan juga beberapa guru yang sempat dihadirkan oleh panitia. Suasana "pecah" karena panitia berhasil meramu berbagai mata acara dan selingan yang menarik.

Terhitung sejak menghadiri reuni SMA di Transera Waterpark Bekasi sampai saat ini, saya sudah berkali-kali mendengarkan lagu “Paijo” yang diciptakan oleh Yogi RPH & DJ Donallize dan dinyanyikan oleh Zaskia Gotik. Ini satu-satunya lagu Zaskia Gotik yang saya dengarkan, saya tidak tahu lagi lagu-lagu lainnya yang konon beraliran Dancedhut. Yang saya tahu lagu Paijo ini lebih bernuansa Trap Hip Hop dengan kombinasi suara gamelan dan lirik berbahasa Jawa.

Lagu ini adalah salah satu lagu yang digunakan oleh teman-teman sebagai musik pengiring flashmob joget dan nge-dance bareng-bareng semua peserta reuni. Dari 3 lagu yang diputar oleh panitia, hanya lagu Paijo yang serasa unik dengan dentuman bass dan suara musik tradisional perkusi dan gamelannya, sehingga saya memutuskan untuk menanyakan judul lagu ini kepada panitia. Demikian perkenalan saya dengan lagu Paijo yang kini masuk dalam list lagu penyemangat dan moodboster.

Mendengarkan musik melalui earphone sudah menjadi kebiasaan saya sejak lama. Antara menonton film atau mendengarkan radio melalui smartphone, mendengarkan musik adalah pilihan utama saat menempuh perjalanan Bekasi - Jakarta PP (Pulang - Pergi) dengan bus atau kereta commuter line setiap harinya.

Dulu saya mengandalkan earphone bawaan handphone, tapi sekarang beberapa merek telpon selular terkini tidak lagi memasukkan earphone dalam paket penjualannya, sehingga kita harus membelinya secara terpisah. Kadang ada juga tawaran discount earphone saat kita membeli handphone di konter resmi. Kebetulan saya menggunakan HP yang tidak menyediakan earphone dalam paket pembelian, karenanya saya sudah beberapa kali mencoba berbagai merek earphone, dari harga puluhan ribu hingga ratusan ribu. 

Mengapa Saya Lebih Memilih Earphone?

Sebelum menjawab pertanyaan itu, mari kita sepakati dahulu istilah yang kadang membingungkan bagi sebagian orang ini. 

Headphone adalah speaker mini yang saat digunakan akan menutupi telinga. Sedangkan earphone atau earbuds digunakan dengan cara memasukkan mini speaker ke tepian lubang telinga. 

Cara kerja keduanya sama, biasanya disambungkan ke berbagai perangkat digital, seperti mp3 player, radio, komputer, dan hp dengan menggunakan kabel atau bluetooth. 

Kelebihan headphone itu ada pada kualitas suara yang dihasilkan, bagus dan jernih. Headphone cocok untuk menonton DVD ataupun untuk mendengarkan lagu dari gadget di ruangan. Selain itu sirkulasi udara di dalam kuping pun tetap lancar, karena masih adanya celah antara headphone dan kuping.
Sayangnya, ukuran headphone yang cukup besar akan merepotkan penggunanya untuk mobile. Sebagian orang juga akan merasakan panas dan kuping telinga yang memerah setelah beberapa saat menggunakan headphone.
Sedangkan kelebihan earphone itu cocok untuk digunakan mobile. Apalagi jika kita termasuk orang aktif yang selalu bergerak, earphone menjadi pilihan yang pas. Ukuran earphone yang cukup kecil mudah untuk dibawa ke mana pun kita pergi. Earphone cocok untuk digunakan mendengarkan musik dari iPod, mp3 player, dan notebook selama perjalanan.  

Dengan earphone kita bisa mendengarkan berbagai macam suara yang diinginkan dengan volume yang lebih rendah dibandingkan saat kita menggunakan headphone.

Tapi hati-hati juga, untuk sebagian telinga yang cukup sensitif, penggunaan earphone juga berisiko bisa menyebabkan timbulnya rasa sakit pada gendang telinga karena distribusi suara langsung dari earphone bisa merusak telinga.

Earphone impian

Kalau soal earphone dan headphone, saya butuh dua-duanya untuk dipakai dalam situasi yang berbeda. Kalau sedang di rumah menonton film atau mendengarkan musik tentunya headphone adalah pilihan ideal, tapi kalau sedang beraktivitas, earphone yang berukuran kecil pastinya lebih mudah dan nyaman untuk dibawa ke mana pun kita pergi.

Earphone impian saya gak muluk-muluk, spesifikasi baik dan tentunya harga yang murahSalah satu produsen headphone dan earphone terbaik versi saya adalah Audio-Technica, sebuah perusahaan audio asal Jepang yang merancang dan memproduksi banyak perangkat audio dengan harga yang cukup terjangkau.
Shopee Earphone Audio Technica Terbaik
Perhatikan deh jejeran produk headphone dan earphone Audio Technica Terbaik di atas, harganya ituloh yang ramah di kantong.

Nah lihat deh harga Earphone Audio Technica ATH-CKL220is dibandrol di harga Rp.185.000, murah kan? tenang, produk Audio Technica pastinya sudah termasuk garansi selama 12 bulan resmi dari Audio Technica Indonesia.
Shopee Earphone Audio Technica Terbaik

Audio Technica ATH-CKL220iS yang ditawarkan di Shopee seharga Rp. 185.000 ini tersedia dalam 4 warna NEON baru dan dengan bungkus kabel yang disertakan, terlihat stylish dan modern. 

Nah, yang menarik adalah, harga Rp.185.000 bisa berubah menjadi lebih murah saat ada produk Audio Technica yang masuk dalam Flash Sale harian. Lumayan banget kalau beruntung bisa dapat Earphone Audio Technica Terbaik dengan harga yang murah. 

Spesifikasi Earphone Audio Technica ATH-CKL220iS
Type: Dynamic 
Driver Diameter: 8.5mm 
Frequency Response: 20 ''" 23,000 Hz 
Sensitivity: 100 dB/mW 
Maximum Input Power: 200 mW 
Impedance: 16 
Cable: 1.2m (Y-Type) 
Connector: 3.5mm 4-Pole gold plated stereo plug 
Accessories: Cable Wrap holder, ear pieces (XS/S/M/L) 
Weight: 3.5g 

MICROPHONE 
Polar Pattern: Omni-directional 
Type: Electret Condenser 
Frequency Response: 100Hz ''" 10,000Hz 
Open Circuit Sensitivity: -44dB (0dB=1V/Pa,1kHz) 

Isi dalam Kemasan : 
  •  Earphone Audio-Technica ATH-CKL220iS in-Ear Headphones with Mic
  •  Garansi Resmi 12 Bulan Audio Technica

Yuk ah pantengin promo di Shopee di bagian electronic sale Shopee, karena akan ada promo-promo khusus dan menarik setiap harinya

Cekidot langsung gan electronic sale Shopee harian di link ini!



Ngopi Bersama Motek’r Coffe di Event AKU PONDOK GEDE


AKU PONDOK GEDE (Menyibak Gelap menggapai Terang)

Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Ataukah jiwa kami melayang untuk kemerdekaan, kemenangan dan harapan
Atau tidak untuk apa-apa
Kami tidak tahu, kami tidak bisa lagi berkata

Dengan diiringi sayup-sayup instrumental lagu "Gugur Bunga", puisi karya Chairil Anwar dikumandangkan syahdu oleh salah seorang siswi SMK Merah Putih Pondok Melati. Puisi ini mengajak puluhan hadirin yang malam itu duduk diterangi lampu temaram untuk menghadirkan kenangan suasana Bekasi saat masa revolusi. 

Puisi "Karawang Bekasi" adalah performance pembuka sesi seminar sejarah sebagai acara puncak event AKU PONDOK GEDE (Menyibak Gelap menggapai Terang) dengan menghadirkan narasumber Dr. Tri Wahyuning M. Irsyam M.Si (Dosen Sejarah FIB UI), G.J Nawi (Pegiat Sejarah & Penulis Buku "Maen Pukulan"), Kong Guntur Elmogas (Seniman Situn Bekasi), Ari Trismana (Watchdoc Documentary), dan Hasan Basri, S. Pd selaku tuan rumah dan Kepala sekolah SMK Merah Putih.
Acara AKU PONDOK GEDE (Menyibak Gelap menggapai Terang)
Dengan disimak para peserta seminar pada sambutan pembuka, Hasan Basri, S. Pd. menjelaskan tujuan dari diadakannya seminar sejarah AKU PONDOK GEDE (Menyibak Gelap menggapai Terang) ini sebagai pemantik agar para hadirin yang mayoritas adalah siswa SMK Merah Putih dan pemuda Bekasi akan lebih tergugah untuk mempelajari sejarah dan mengenal lebih jauh Pondok Gede dari masa ke masa.

Nugraha Arie Prabowo dari Komunitas Penter juga selaku ketua panitia acara menekankan pentingnya belajar sejarah sebuah kota agar ada keterikatan yang diharap dapat membuat masyarakat lebih peduli pada daerah tempat tinggalnya sendiri.

Komunitas Penter bersama Yayasan Pendidikan Al Falah Pondok Melati selaku pelaksana acara ini juga menggandeng berbagai komunitas pemuda untuk bersama-sama mengisi acara seminar sejarah ini dengan format gabungan dari kegiatan pensi (pentas seni) sekolah, event komunitas dan seminar agar lebih mengena kepada siswa dan juga masyarakat umum, itu yang saya tangkap dari acara ini.
Foto bersama crew AtmaGo
Acara AKU PONDOK GEDE (Menyibak Gelap menggapai Terang) dilaksanakan sehari penuh pada hari Sabtu 2 Maret 2019 di lingkungan sekolah SMP Al Falah/SMK Merah Putih Pondok Melati. Karena acara di lingkungan sekolah, tentunya bebas dari isu politik yang sedang hangat menjelang pemilu april nanti. Pada pagi hari acara ini diisi dengan kegiatan pentas seni SMK Merah Putih yang kemudian pada siang hari diisi dengan berbagai aksi komunitas dan lain-lain. 

Pada kegiatan siang tersebut hadir pula Dr. Anhar Gonggong (Sejarawan Nasional) yang memberikan kuliah umum kesejarahan terkait Bekasi dan perlunya generasi kini banyak belajar agar memiliki keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan untuk menghadapi masa depan.
"Indonesia menjadi bangsa yang merdeka karena diperjuangkan oleh orang-orang berpendidikan. Kemerdekaan terwujud karena para pendiri bangsa menggunakan ilmunya untuk memikirkan nasib bangsanya." Kata Anhar Gonggong kepada para murid SMK Merah Putih dan hadirin.
Cukup banyak performance yang disajikan dalam gelaran event ini, ada Sorakan Oleh Kasundaan yang menampilkan atraksi ular, atraksi permainan yoyo dari komunitas Yoyo Mania, musikalisasi puisi dari Cahyo dkk dari Taman Baca Tanjung yang membawakan "Bebal" dari Sisir Tanah, dan lain-lain.
Materi 3 Kerangka Literasi Digital Indonesia dari ITC Watch
Di sisi lapangan tempat berlangsungnya acara diisi dengan berbagai gelaran booth komunitas, ada Komunitas Hobi Kayu chapter Bekasi, Komunitas Bambu, gelaran koleksi barang antik dari Asaldoe, Booth Perpustakaan Jalanan, AtmaGo, Komunitas Baca Betawi, Awi Koneng, Bekasi Community Connection, Bandeng Rorod kuliner Bekasi, Net Good People dan masih banyak lagi.
Acara AKU PONDOK GEDE (Menyibak Gelap menggapai Terang)
Komunitas PENTER dan panitia AKU PONDOK GEDE
Dalam acara ini saya bersama AtmaGo kebagian mengisi acara workshop literasi digital dan pengenalan aplikasi AtmaGo. Kegiatan ini dilaksanakan di dalam salah satu ruang kelas dengan peserta lebih dari 60 siswa. sayang suara acara di lapangan mengganggu konsentrasi para peserta sehingga saya persingkat materi agar Yasin dan Mas Alfan bisa segera membawakan materi mereka.

Kegiatan kali ini lumayan menambah beberapa pengguna AtmaGo yang semuanya siswa SMK Merah Putih. Mereka langsung praktek dengan melaporkan kegiatan "Aku Pondok Gede" yang berlangsung di sekolahnya. Semoga ke depannya mereka akan aktif menjadi warga net yang berkontribusi positif untuk lingkungannya.
Ngopi Bersama Motek;r Coffe di Gelaran AKU PONDOK GEDE
Selain mengisi acara literasi digital saya juga ikut menjaga stand jualan kopi milik Motek'r Coffe yang menyediakan kopi gratis untuk dicoba. Sukses selalu buat Motek'r Coffe yang sudah turut meramaikan gelaran acara ini :)
Lapak Kopi Motek'r Coffe
Motek'r Coffe

Yang bikin nyaman mengikuti acara di SMK Merah Putih ini;

  • sepanjang acara siswa maupun hadirin rajin memunguti sampah yang tercecer sehingga lapangan tempat acara benar-benar bersih dari sampah;
  • pihak sekolah dari guru, siswa, satpam dll sangat koperatif kepada kami yang membuka lapak, kami merasa diperlakukan sebagaimana layaknya tamu;
  • Panitia responsif saat disampaikan ada kebutuhan yang kurang saat sebelum memulai materi;
  • GRATIS... iya, acara ini gratis, termasuk kami yang jualan kopi, tinggal daftar ke panitia selama masih ada slot maka panitia akan memberikan lapak tanpa biaya, kebetulan lapak kopi Motek'r kemarin itu sebenarnya lebih ke promosi, memperkenalkan kopi beneran ke teman-teman dengan harga yang sama dengan kopi sachet, kami di Motek'r menamakannya Kopi Rakyat seharga 5 ribu rupiah per gelas :);

Terima kasih Komunitas PENTER, Yayasan Pendidikan Al Falah SMK Merah Putih dan teman-teman sekalian yang sudah membuat tanggal 2 Maret 2019 menjadi istimewa. 

Sukses selalu



AKU PONDOK GEDE (Menyibak Gelap Menggapai Terang)

PONDOK GEDE

Membicarakan Pondok Gede kepada generasi milenial bisa berarti membicarakan wilayah administratif sebuah kecamatan seluas 1.592.246 Ha yang terbagi menjadi 5 kelurahan, yaitu: Kel. Jatiwaringin, Kel. Jatimakmur, Kel. Jatibening, Kel. Jatibening Baru dan Kel. Jaticempaka, namun belum tentu demikian bagi generasi sebelumnya.

Itu karena sampai dengan sekitar tahun 1978, Pondok Gede juga mencakup wilayah-wilayah yang sekarang dikenal dengan Kecamatan Jatiasih, Jatisampurna dan Pondok Melati.

Mengingat kembali Pondok Gede dalam bingkai kesejarahan tentunya berguna bagi generasi sekarang untuk lebih mengenali kembali identitas wilayah tempat tinggalnya sebagai salah satu unsur identitas diri.

Dengan demikian membicarakan kembali sejarah Pondok Gede menjadi penting agar dapat mengisi kekosongan identitas dan menganyam kembali rasa nasionalisme pada diri generasi muda yang pada gilirannya akan menghidupkan kembali kolektivitas dan jiwa patriotisme para pemuda Pondok Gede dan pemuda Bekasi umumnya.

Dimulai dari kepercayaan diri mengaku: Aku Pondok Gede, kemudian Aku Bekasi, lalu Aku Jawa Barat hingga berujung pada Aku Indonesia, diharapkan akan menjadi karakter dan kesatuan tekad sebagai modal untuk menghadapi segala tantangan di masa depan.

Namun demikian, berbicara sejarah tidak semudah membicarakan fiksi atau cerita, diperlukan data, fakta, saksi sejarah dan berbagai sumber lainnya agar potret yang didapatkan menjadi lebih detail dan lengkap.

Sulitnya menggali berbagai sumber ini menjadi beban berat yang akhirnya menghentikan penelusuran kesejarahan di banyak tempat termasuk di Pondok Gede ini.


AKU PONDOK GEDE (Menyibak Gelap Menggapai Terang)

AKU PONDOK GEDE

Sejarah adalah masa lalu yang darinya kita dapat bercermin dan introspeksi. Belajar dari sejarah akan membuat wawasan kita lebih lengkap dan diharapkan dapat mengambil keputusan dengan lebih bijaksana.

Karenanya Yayasan Al Falah yang peduli dengan pendidikan ingin tugas berat ini bukan hanya menjadi beban sejarawan, tapi masyarakat setempat harus berperan aktif menggali dan mencari sumber-sumber sejarah yang sekiranya masih ada di sekeliling lingkungannya.

Lokasi akan bertempat di lingkungan SMK Merah Putih, Rawa Bacang, Jl. Pasar Kecapi No. 2, RT 000/14, Jatirahayu, Pondok Melati, Bekasi 17414. "AKU PONDOK GEDE (Menyibak Gelap Menggapai Terang)" digelar di lingkungan sekolah dengan menyasar para pelajar dan pendidik, event ini adalah kegiatan edukatif yang terbuka untuk umum agar masyarakat juga dapat terlibat secara positif.

Dengan menggandeng Komunitas PENTER yang giat melakukan diskusi kesejarahan dan kebudayaan, insya Allah pada hari Sabtu, 2 Maret 2019 di SMK Merah Putih (Yayasan Al Falah) akan menggelar diskusi kesejarahan dengan menghadirkan beberapa narasumber yang kompeten. Harapan dilaksanakannya diskusi ini adalah sebagai pemantik upaya panjang menggali sejarah Pondok Gede dan Bekasi pada umumnya kepada para hadirin. 

Hadir untuk meramaikan acara ini beberapa pengisi acara dan narasumber antara lain; Dr. Anhar Gonggong (Sejarawan Nasional), Dr. Tri Wahyuning M. Irsyam M.Si (Dosen Sejarah FIB UI), G.J Nawi (Pegiat Sejarah & Penulis Buku "Maen Pukulan"), Syamsuddin HS (Pegiat Sejarah dan Budaya), Kong Guntur Elmogas (Seniman Situn Bekasi), Jaya Golok (Atraksi Seni Silat), Sorakan Oray (Atraksi Ular Kasundaan), Afiat Cahyo Wiwoho (Taman Baca Tanjung), Ari Trismana (Watchdoc Documentary), dan saya sendiri bersama AtmaGo dalam workshop literasi digital. Acara ini juga didukung oleh Pemerintah Kota Bekasi khususnya Diskominfostandi dan Disparbud Kota Bekasi.

Kegiatan ini dirangkum dalam event "AKU PONDOK GEDE (Menyibak Gelap Menggapai Terang)" yang akan diisi dengan kreativitas kesenian dan kebudayaan serta akan diramaikan dengan pentas kreasi seni para pelajar dan pemuda dari berbagai komunitas, Bazaar dan pameran, pemutaran film dokumenter serta dialog sejarah dan budaya.

Acara ini gratis, kita hanya perlu membayar dengan mengambil manfaat sebanyak-banyaknya dari acara ini dan merasakan kembali cinta yang pernah kita punya.

Peta Lokasi Acara


Yuk ramaikan acaranya :)



Sharing Memanfaatkan Medsos Bersama Saka Bhayangkara Babelan

Bersama Saka Bhayangkara Babelan Sharing Memanfaatkan Medsos

Minggu siang, 10 Februari 2019 saya berkesempatan berbagi dengan Sekitar 35 anggota Pramuka Saka Bhayangkara Polsek Babelan. Agendanya adalah sharing mengenai media sosial dan belajar membuat berita ringan.

"Tujuan kegiatan ini adalah agar adik-adik anggota dan calon anggota Saka Bhayangkara Polsek Babelan dapat memanfaatkan media sosial untuk berbagi informasi, baik itu kegiatan positif yang mereka lakukan ataupun informasi-informasi yang sekiranya perlu dibagikan di media sosial (medsos)," demikian menurut Mawadah Warahmah selaku Ketua Dewan Saka Bhayangkara Polsek Babelan Kwartir Ranting Kec. Babelan Kab. Bekasi.

Sesi sharing tentang medsos atau sosmed ini awalnya akan dilaksanakan di Aula Polsek Babelan yang ber-AC, tapi berhubung peserta hingga 35-an orang, maka acara dipindah ke Aula Kantor Desa Babelan Kota yang ruangannya lebih luas walau tanpa AC.
Bersama Saka Bhayangkara Babelan Sharing Memanfaatkan Medsos
Suasana awal masih agak tegang, walaupun sudah dijelaskan oleh para senior saat pembukaan acara bahwa materi ini adalah materi di luar materi kepramukaan.

Untuk mencairkan suasana saya mulai menjelaskan mengenai media informasi secara umum, lalu mengerucut pada media sosial. Saya mulai dengan menanyakan pengalaman-pengalaman adik-adik remaja ini di media sosial. Sekadar memancing feedback dan membuka dialog.

Jawabannya sudah saya duga, tidak ada satu pun hadirin yang tidak memiliki akun Facebook, sebagian adalah pengguna Instagram dan sebagian kecil pengguna Twitter walaupun secara pasif.

Setelah cair barulah saya memberikan materi mengenai berbagai konten yang bisa dibuat oleh siapapun, baik itu teks, gambar/foto, suara/musik dan video dengan menjelaskan berbagai macam media sosial yang diperuntukkan untuk berbagi berbagai konten tersebut.

Acara ini adalah hasil diskusi dengan Bang Rusli salah satu senior Saka Bhayangkara Polsek Babelan. Bang Rusli pula yang dulu pernah mengajak saya ikut memberikan materi pengenalan sosmed saat MPLS SMPN 2 Babelan seperti yang saya catat di sini.

Beda dengan acara MPLS, adik-adik Saka Bhayangkara ini jenjang sekolahnya sudah SMA, jadi lebih cepat "nyambung" saat diarahkan bagaimana membuat konten sederhana berupa teks dan foto dari kegiatan yang mereka lakukan.
Bersama Saka Bhayangkara Babelan Sharing Memanfaatkan Medsos


Membuat berita

Cara mudah membuat berita tercakup dalam rumus ADI SIKAMBA yang merupakan terjemahan rumus jurnalistik 5W+1H ( What, Where, Who, When, Why, and How).

ADI SIKAMBA (Apa, Di mana, Siapa, Kapan, Mengapa, dan Bagaimana) adalah pertanyaan panduan dalam mengumpulkan informasi yang musti terjawab dalam sebuah berita. Idealnya untuk menulis sebuah berita, pertanyaan ADI SIKAMBA sudah harus dijawab terlebih dahulu, barulah kemudian dirangkai dalam sebuah tulisan.

Tetapi dalam sharing kali ini pembahas lebih fokus pada merangkai informasi ADI SIKA (Apa, DImana, SIpa dan KApan) agar mudah diserap dan langsung dipraktekkan.

Setelah break adzan ashar kelas kemudian dibagi menjadi 7 kelompok yang ditugaskan untuk membuat status di salah satu akun facebook anggota kelompok, status tersebut minimal berisi informasi kegiatan hari itu. 

Alhamdulillah dalam waktu 30 menit semua kelompok sudah selesai melaksanakan tugasnya.
Bersama Saka Bhayangkara Babelan Sharing Memanfaatkan Medsos
Salah satu hasil praktek kelompok peserta sharing
Sebagai penutup, dibuka kembali sesi tanya jawab untuk membahas apa yang sekiranya menjadi masalah dalam menyelesaikan tugas kelompok membuat status info kegiatan. 

Dari sesi tanya jawab itu terungkap bahwa tidak ada masalah dalam penerapan rumus ADI SIKA, namun mereka mengaku kesulitan dalam menyusun redaksi tulisan agar menjadi informasi yang mudah dipahami oleh pembaca. Hal yang menurut saya akan teratasi jika kita banyak latihan dan terus belajar.

***
Bersama Saka Bhayangkara Babelan Sharing Memanfaatkan Medsos
Foto bersama peserta sharing sosial media Saka Bhayangkara Babelan
Konten yang kami bahas hari itu adalah konten teks yang berupa status di media sosial. Konten teks bisa berupa apa saja; berita, cerita, puisi, opini, informasi dan lain sebagainya. 

Intinya tujuan kelas sharing hari itu adalah agar adik-adik pramuka ini dapat membuat berita sederhana dari apa yang mereka saksikan atau yang mereka lakukan. 


Banyak sekali kegiatan adik-adik pramuka ini yang dapat dibagikan di medsos untuk memperbanyak konten positif dan wadah bagi mereka untuk mengembangkan kemampuan literasi digital mereka.

Pastinya akan perlu banyak latihan untuk mengolah konten berupa teks menjadi menarik dan informatif. Setidaknya dari pertemuan hari ini adik-adik sudah semakin paham dan bisa mengembangkan sendiri jika memang mereka berminat dalam dunia tulis menulis dan jurnalistik.


Harapan saya semoga adik-adik ini dapat memanfaatkan media sosial lebih baik lagi, baik untuk kepentingan dirinya maupun untuk lingkungannya, amiin.




Mampir di Gedung Kesenian dan Wisata Air Situ Rawa Gede Kota Bekasi

Gedung Kesenian dan Wisata Air Situ Rawa Gede Kota Bekasi
Matahari sudah jauh condong ke barat, awan mendung menjadikan suasana menjelang sore di Bojong Menteng menjadi lebih teduh.

"Saat yang tepat untuk menikmati suasana danau Situ Rawa Gede," ucap M Noer mengajak saya meninggalkan halaman Perpustakaan dan Rumah Belajar Forum Aksara.

Sesampai di Situ Rawa Gede kami lihat parkiran di gedung kesenian sudah banyak motor terparkir. Dari arah danau sesekali terdengar teriakan-teriakan penyemangat dari tepian Situ Rawa Gede terdengar saling saut menyemangati beberapa penjala ikan di tengah danau yang menggunakan anco

Dari tempat beberapa penangkap ikan berdiri itulah kedalaman danau di Bojong Menteng Rawa Lumbu Bekasi ini bisa saya prediksi. Tempat mereka berdiri walaupun berada hampir di tengah danau, kedalamannya tidak lebih dari 1,5 meter, kedalaman air hanya sedada orang dewasa. Tapi menurut teman-teman KPPL Bojong Menteng Amphibi kedalaman danau ini mencapai 6 meter di tempat tertentu.

Suasana Wisata Air Situ Rawa Gede Kota Bekasi ini sudah agak ramai, saung paling besar sudah terisi sekitar 20 pengunjung yang berkumpul dalam rangka reuni. 

Di tepian Situ Rawa Gede, saya lihat wahana air masih lengkap tertambat. Mungkin menunggu suasana lebih teduh atau ingin memastikan apakah turun hujan atau tidak. Ditemani Baba Samen dari Sanggar Melati Bojong Menteng, saya melihat-lihat ke dalam gedung kesenian, ingin tahu lebih jauh seperti apa ruangan di dalamnya.
Wisata Air Situ Rawa Gede Kota Bekasi
Plang info Situ Rawa Gede -Foto: Bang Imam

Ruang Dalam Gedung Kesenian Kota Bekasi

Ruang Dalam Gedung Kesenian Bojong Menteng Rawa Lumbu Kota Bekasi
Ruang Dalam Gedung Kesenian Bojong Menteng Kota Bekasi
Pemerintah Kota Bekasi memperlihatkan keseriusannya dalam melakukan pengembangan Seni Budaya untuk menjadi daya tarik wisata. Salah satunya dengan membuat wadah untuk para pegiat seni dan budaya di Kota Bekasi berupa Gedung Kesenian di Situ Gede yang berlokasi di Jalan Pansor RT 01/02, Kelurahan Bojong Menteng, Kecamatan Rawalumbu yang dulunya merupakan lahan pool Dinas Kebersihan Kota Bekasi.

Sebelumnya Gedung Kesenian menempati lahan sempit di bagian belakang Gelanggang Olahraga Jalan Ahmad Yani, Bekasi Selatan. Kemudian direlokasi karena adanya perubahan tata ruang di GOR Kota Bekasi yang difokuskan bagi pengadaan tambahan sejumlah venue cabang olahraga.

Gedung ini cukup luas, kira-kira 2500 meter persegi dan luas lantai bangunan kurang lebih 1700 meter persegi yang terdiri dari dua lantai. Aula di dalamnya saya perkirakan yah kurang lebih sekitar 400-800 X 50 meter. Memiliki panggung permanen dan ada balkon di lantai 2. Untuk naik ke lantai 2 saya melewati ruang ber-AC yang juga cukup luas sekitar 50 x 10 meter.

Selesai melihat-lihat ruang dalam gedung kesenian kota bekasi yang megah ini kami kembali ke danau. Kali ini situasi dan kondisi sudah pas untuk menikmati suasana Wisata Air Situ Rawa Gede Bojong Menteng.

Wisata Air Situ Rawa Gede Bojong Menteng Kota Bekasi

Ada 3 macam wahana air yang bisa kita pilih untuk menikmati suasana Wisata Air Situ Rawa Gede Kota Bekasi seluas 7 hektar ini; ada perahu, sepeda air dan "bale kambang". Kalau hanya berdua bisa mencoba wahana sepeda air, kalau 4 orang pas untuk menggunakan bale kambang, kalau lebih  dari 6 orang sebaiknya pakai perahu saja yang bisa menampung sampai 15 orang sekali jalan.

Karena kami hanya bertiga maka kami memilih bale kambang, sejenis wahana air yang terbuat dari bambu dengan memanfaatkan 4 drum plastik sebagai pengapung. 

Wahana ini dan juga perahu yang disediakan semua tidak bermesin, untuk menggerakkannya digunakan batang bambu sebagai pendorong dan penentu arah.
Wisata Air Situ Rawa Gede Kota Bekasi
M Noer dan Baba Samen pilot Bale Kambang :)
Wahana wisata air Bale Kambang bergerak lambat, tenang tanpa suara melewati para penjala ikan yang masih asik memunguti ikan mujair sebesar telapak tangan yang terjebak dalam jaring anco mereka.
Wahana air bale kambang Situ Rawa Gede Bekasi
Wahana air bale kambang Situ Rawa Gede Bekasi. Foto: Krisdayadi
Bale Kambang atau wahana air ini benar-benar nyaman, stabil dan tidak merusak suasana hening di tengah danau. Arus air yang terdorong angin mengantar kami hingga sandar ke beton penyangga pipa buangan limbah pabrik kecap yang melintang seperti jembatan. Cukup sampai di situ, karena tebaran jaring menutup jalur sehingga kami tidak sampai ke masuk ke wilayah danau yang berbatasan dengan tembok pembatas perumahan Kemang Pratama 5.
Wahana air bale kambang Situ Rawa Gede Bekasi
Wahana air bale kambang Situ Rawa Gede Bekasi. Foto: Krisdayadi
Ketika saya tanyakan tarif wahana air ini termasuk perahu dan bale Kambang, M Noer yang juga merupakan anggota KPPL Amphibi selaku pengurus Situ Rawa Gede hanya tersenyum dan menghindar untuk menjawab.

"Seikhlasnya aja bang, gak ada tarif, yah sewajarnya aja buat beli kopi yang mendorong sampan," jawabnya diplomatis.


"Ya susah bang kalo dikembalikan ke ukuran wajar karena setiap orang beda standarnya, umumnya yang orang sering kasih dan menurut teman-teman wajar rata-rata pengunjung ngasih berapa bang?," desak saya meminta angka pasti.


"Umumnya rata-rata orang memberi minimal 10 ribu rupiah untuk orang dewasa, untuk anak-anak 5 ribu, terus khusus anak-anak kecil belum sekolah gratis bang asal dijaga atau ditemani orangtuanya," jelas M Noer yang hari itu banyak bercerita bagaimana KPPL Amphibi Bojong Menteng bersama banyak pihak terus mencoba merevitalisasi Situ Rawa Gede yang tadinya tidak terawat menjadi indah seperti sekarang.

Gedung Kesenian dan Wisata Air Situ Rawa Gede Kota Bekasi
Dokumentasi KPPL Bojong Menteng Amphibi Bekasi kerja bakti

***

Berkeliling dengan wahana air bisa memakan waktu 25 menit sampai 1 jam, bisa karena permintaan pengunjung, bisa juga karena angin yang menimbulkan arus sehingga sampan akan terbawa jauh dan perlu usaha untuk merapatkan kembali sampan ke dermaga.

Saung di pinggiran Wisata Air Situ Rawa Gede ini juga berfungsi sebagai pos keamanan yang terus dijaga 24 jam untuk memonitor segala aktivitas yang ada di sekitar gedung kesenian dan danau. Selain untuk keamanan gedung juga berfungsi sebagai pengawasan agar tidak ada lagi warga yang mencari ikan dengan menggunakan setrum listrik serta menghindari penyalahgunaan lokasi ini dari hal yang tidak baik, misalnya tempat berkumpul meminum minuman keras, narkoba dan pacaran.


Kalau mau menikmati wisata air ini saya sarankan sebaiknya pagi atau sekalian sore hari, jadi kita tidak kepanasan. Kalau nekat ingin mencoba wahana air di siang hari maka gak usah khawatir di bale kambang ada payungnya yang cukup lebar, perahu juga beratap, hanya sepeda air yang tidak memiliki atap.

Di sekitar danau belum ada warung, ada 1 warung kopi letaknya di samping gedung kesenian yang juga menyediakan mie instant dan air mineral, kalau dari danau warung tersebut tidak terlihat. 

Lokasinya dapat diakses dengan kendaraan roda dua dan roda empat. Oh iya jangan lupa siapkan uang kecil untuk membayar parkir saat mau pulang. :)

______
Harpitnas, Senin 4 Februari 2019. Bojong Menteng Rawa Lumbu Kota Bekasi, Jawa Barat.


***

Kampung Peduli Pencemaran Lingkungan (KPPL) Aliansi Masyarakat Pemerhati Lingkungan Hidup dan B3 (Amphibi) Bojong Menteng Bekasi bisa dipantau di media sosial berikut:


Google Map:



Yang Terdampar dan Yang Menyambungkan


Yang Terdampar dan Yang Menyambungkan

Konon tersebutlah sebuah kerajaan yang adil makmur, kerajaan itu sedang dirundung duka karena putri kerajaan terserang penyakit kulit menular. Sekian banyak tabib tidak ada yang dapat menyembuhkan putri cantik kesayangan negeri.

Tak tega menyaksikan putrinya terkurung karena penyakit, dengan berat hati sang raja dan ratu melepas putrinya ke tanah pengasingan dengan bekal keris pusaka kerajaan dan berbagai benda pusaka sebagai bukti identitas sang putri.

Sang putri dengan senang menukar karantina istana dengan kebebasan meski jauh, ia juga tidak ingin penyakitnya menular kepada kerabat istana dan rakyat negerinya.

Berperahu dan ditemani beberapa pengawal setia kerajaan dan keluarganya akhirnya sang putri dengan berat hati pergi meninggalkan negaranya menyusuri sungai dan kemudian menetap di pinggir hutan di mana mereka terdampar. "Orang terdampar", begitulah kemudian mereka menamakan diri dan tempat tinggal mereka sekarang.

Suatu saat kala sang putri mencuci di tepi danau, tanpa disadari datang seekor kerbau albino yang menjilat kulitnya. Awalnya ia merasa terganggu dan mencoba mengusir si kerbau, tapi menyadari penyakit kulitnya berangsur sembuh dan hilang dalam sekejap ia kemudian memerintahkan pengawalnya berhenti mengusir kerbau itu.

Bersyukur atas kesembuhannya, sang putri memerintahkan para pengawalnya untuk tidak mengganggu kerbau albino (kerbau bulan/kerbau bule). "Aku minta mulai saat ini jangan menyembelih kerbau bule, karena dia adalah kiriman dewata untuk menyembuhkanku".


***

Singkat cerita, serombongan pemburu bermalam di hutan karena tidak berani pulang. pangeran kerajaan yang ikut dalam rombongan berburu hilang, ia terlalu asik memburu binantang buruan hingga terpisah dari rombongan. 

"Kita tidak boleh pulang sebelum pangeran ditemukan. Jika sampai akhir hayat tidak ditemukan, biar kita semua terkubur di sini," ucap salah satu dari pemburu itu. Menyadari hukuman yang menanti jika mereka pulang tanpa pangeran, tidak ada seorang pun dari rombongan itu yang berani menyanggah kata-kata itu.

Tersesat dalam gelap hutan bukan hal yang menakutkan bagi pangeran namun ia juga tidak ingin dirinya celaka dari sergapan binatang buas. Tidak lama si pangeran memanjat pohon besar yang ia temui dan berniat istirahat di sana. Dari ketinggian di atas pohon ia melihat ada beberapa nyala cahaya di kejauhan, ia perhatikan dan yakin itu bukan halusinasi dan tipuan mambang hutan. Ya itu cahaya lampu dari rumah penduduk.

Berharap dapat tempat istirahat yang lebih layak akhirnya sang pangeran memutuskan untuk mendatangi sumber cahaya yang ia lihat. Tibalah ia di rumah sumber cahaya yang tidak lain adalah rumah sang putri.

Tidak mudah bagi sang pangeran untuk masuk ke rumah itu, para pengawal sang putri mempertaruhkan nyawanya demi menjaga keselamatan putri dari raja yang mereka hormati.

"Aku hanya ingin istirahat, mengapa tidak boleh? Sekarang pertemukan aku dengan siapapun yang memiliki kewenangan untuk memberiku izin beristirahat di sini".

Rasa heran pangeran belum habis saat ia terpaksa melawan para pengawal sang putri yang tetap mengusir dirinya.

Lelah karena berburu dan tersesat membuat sang pangeran tidak ingin berlama-lama, ia mengungkap identitasnya dan menyampaikan maksud hanya ingin menumpang beristirahat.

Sang pangeran telah curiga sejak awal, jika rumah itu dihuni warga biasa mengapa ia tidak diizinkan memasukinya padahal ia sudah meminta izin sebaik-baiknya. Dan mengapa ada pengawal-pengawal yang sulit ia taklukkan, kalaupun prajurit pastinya mereka prajurit pilihan yang pilih tanding.

Kecurigaan itu justru mengundang rasa penasaran dan memancing emosi jiwa mudanya sehingga terjadi pertarungan yang menambah lelah dirinya.


***

Sang putri sudah sejak awal memperhatikan keributan di halaman rumah tinggalnya, namun ia memilih untuk diam memperhatikan, karena baru kali ini ada tamu yang ia tidak kenal dan berhasil memaksa para pengawalnya mencabut pedang.

Mengetahui tamunya adalah salah satu putra kerajaan tetangga ia kemudian memerintahkan pengawalnya agar mengizinkan pangeran masuk menemuinya.

Setelah meminum hidangan yang dipersilahkan si pangeran bertanya sesopan mungkin sambil menahan gejolak rasa penasaran dalam hatinya.

"Boleh aku tahu siapakah pemilik rumah yang sudah berbaik hati memperbolehkan aku yang tersesat ini masuk dan menghidangkan minuman herbal hangat penghilang lelah ini?".

Sang pangeran akhirnya tidak dapat menahan diri untuk membalas tatapan tajam dari balik kerudung. Dari cara duduk, jenis kain selendang atau kerudung penutup wajah dan jenis kain sarung yang dikenakan lawan bicaranya sang pangeran tahu yang ia hadapi adalah seorang perempuan bangsawan.

Tergagap sang pangeran tidak menduga lawan bicaranya menjawab pertanyaan dengan menyodorkan senjata pusaka yang berbalut sulaman panji bendera khas kerajaan. Sadarlah ia sedang berhadapan dengan salah satu keluarga inti kerajaan yang termasyur karena memiliki raja yang adil dan bijaksana.

Tanpa panjang basa-basi ia kemudian mengungkapkan maksud untuk bisa menumpang beristirahat dan akan segera kembali mencari rombongannya pada esok pagi.

Lawan bicaranya hanya mengangguk lalu memanggil pengawal yang berjaga di pintu untuk mengiringi pangeran ke luar.

Singkat cerita sang pangeran mendapat jamuan makan dan tempat istirahat setelah membersihkan diri dan berganti pakaian yang cukup layak untuk dirinya. Lelah membuatnya cepat tertidur malam itu.

Saat pagi hari ia segera ia berpamitan untuk kembali mencari rombongannya. Tapi apa daya, tuan rumah telah menyiapkan sarapan dan kali ini putri sendiri yang menemaninya makan pagi.

Perkenalannya dengan putri yang terdampar itu membuat pangeran meminta ayahnya melamar sang putri. Niat ini ia sampaikan sepulangnya berburu bersama rombongan.

Sang raja menyambut gembira permintaan anaknya ini akan mempererat hubungan dua kerajaan, tapi ia juga khawatir jika keinginan putranya tersebut ditolak oleh pihak kerajaan tetangga, maka akan meretakkan hubungan antar dua kerajaan.

"Maksud baik tidak selamanya diterima baik anakku, temui kembali putri pujaan hatimu dan sampaikan maksudmu, jika ia menerimanya maka mudah-mudahan semua dilancarkan." 


***

Tidak ada jawaban dari sang putri, ia tahu tidak bijak menjawab pinangan itu tanpa sepengetahuan orang tuanya. Iya atau tidak bukan jawaban sederhana, sang putri sangat sadar apapun jawabannya akan menentukan masa depan dua buah kerajaan dan rakyat yang ada di dalamnya.

Sang putri kemudian menyerahkan senjata pusaka titipan ayahnya dan berpesan.

"Sampaikan maksudmu kepada ayah ibuku dan berikan senjata pusaka ini kepada mereka, jika mereka menolak senjata ini, itu artinya kita tidak ditakdirkan bersatu, tapi jika mereka menerima dengan baik maka jemput aku untuk hidup bersamamu selamanya".

Mendengar jawaban itu sang pangeran langsung berangkat menuju pusat kerajaan di mana ayah dan ibu sang putri tinggal.

"Doakan agar alam merestui perjalananku, dan saksikan bahwa 'orang yang terdampar' akan kembali dengan sambutan cinta dari semua orang yang merindukannya, karena ia yang menyambungkan dan mengantarkan aku, orang dari seberang menuju masa depan" ucap sang pangeran.

Ternyata kedatangan sang pangeran diterima dengan baik oleh orang tua sang puteri.
Raja dan permaisuri gembira mendengar kabar putri mereka telah sembuh dan menerima senjata pusaka yang pernah mereka berikan.
"Ia mempercayakan dirimu untuk mengembalikan senjata pusaka ini kepada kami, artinya ia telah menemukan orang yang ia percaya untuk melindungi dirinya" ungkap permaisuri.

"Niat baikmu kami terima, kembalilah bersama perwakikan kami untuk menjemputnya pulang, sampaikan kepada rajamu, anaknya juga adalah anak kami" ungkap sang raja memeluk sang pangeran.

Demikianlah akhirnya mereka menikah dan merekatkan hubungan dua kerajaan. Mereka menetap dan beranak pinak di tempat mereka pertama berjumpa.

Walaupun mereka tidak menjadi raja di kerajaan masing-masing, kisah hidup mereka terus direkam dalam kenangan kolektif masyarakat dari 2 kerajaan dan dituturkan sebagai warisan dalam berbagai versi cerita.

----------------
Adaptasi dari kisah hikayat Putri We Tadampali.

"Orang Terdampar" disebut Tosora'e, nama tempat itu kemudian disebut Tosora ibukota kerajaan Wajo di Sulawesi Selatan dahulu kala.

Melawan Hoax Bersama AtmaGo

"Media sosial itu seperti dua sisi mata pisau, kalau kita bisa memanfaatkannya dengan positif maka akan bermanfaat buat pengguna dan lingkungannya, tapi kalau tidak maka media sosial bisa merugikan dan membuat kita berurusan dengan hukum," ungkap pak Jamhuri ZH selaku Kepala Sekolah MI Al-Hikmah Kp. Babakan Mustikasari, Kecamatan Mustika Jaya Kota Bekasi. Minggu, 27 Januari 2019.

Pada Minggu pagi itu ada sekitar 110 peserta dari 10 sekolah menengah atas di Bekasi yang mengikuti seminar literasi digital dengan tema "Melawan Hoax Bersama AtmaGo".
Melawan Hoax Bersama AtmaGo
Yasin menjelaskan mengenai AtmaGo
Dalam seminar kecil-kecilan ini saya mengangkat hasil survey Daily Social tahun 2018 tentang distribusi hoax. Menurut survey tersebut hanya 25 % responden yang bisa mengenali hoax, selebihnya sebesar 75% menyatakan tidak dapat mengenali dan sulit mendeteksi berita hoax di social media.

Jika media sosial yang seharusnya bisa bermanfaat bagi kehidupan sosial banyak berisi hoax dan sebagian besar dari kita tidak bisa mengenalinya maka larangan penggunaan media sosial akan saya dukung.

Lalu apakah ada cara lain agar para pengguna media sosial dapat selamat dari jebakan hoax?

Ada banyak, tapi yang saya lakukan adalah menyibukkan diri dengan konten positif dan kabar di lingkungan terdekat yang dapat dikonfirmasi lokasi dan sumbernya.

Karena itu, perlu rasanya kita mengenal 7 macam disinformasi dan bagaimana cara mengenali ciri-ciri berita hoax sambil terus membuat konten positif yang lebih bermanfaat.
Melawan Hoax Bersama AtmaGo

Selain dihadiri oleh pelajar, acara ini juga dihadiri oleh beberapa pengurus karang taruna kelurahan Mekarsari dan juga Bhabinkamtibmas kecamatan Mustika Jaya, bapak Aiptu Sarjono.

Agak sulit bagi saya mendeliver materi kepada publik yang heterogen latar belakang dan beda usia ini. Saya memilih target audience kepada hadirin dari sekolah karena mereka mayoritas.

Dengan memutar film kartun Juki tentang hoax saya kira peserta akan paham apa yang saya bahas selanjutnya.

Alhamdulillah setelah saya selesai memberikan materi, Aiptu Sarjono selaku Bhabinkamtibmas Kel. Mustikasari kembali menekankan bahayanya Hoaks dan mengapresiasi kegiatan yang dilaksanakan oleh AtmaGo dan MI Al-Hikmah.
Melawan Hoax Bersama AtmaGo
Aiptu Sarjono menyampaikan sambutan
"Kegiatan seperti ini seharusnya dilakukan bukan hanya untuk pelajar sekolah tapi juga untuk masyarakat, semoga AtmaGo bisa melakukan penyuluhan bahaya Hoax sampai ke tingkat RW dan RT."

Acara hari itu diakhiri dengan materi dari Muhammad Yasin yang memperkenalkan aplikasi AtmaGo dan bagaimana memanfaatkan AtmaGo serta media sosial lainnya agar lebih bermanfaat, baik untuk diri pengguna sendiri hingga masyarakat di lingkungannya.

AtmaGo adalah situs web dan aplikasi Android gratis yang dapat digunakan untuk melaporkan masalah, berbagi solusi, mencari pekerjaan, dan memposting berita mengenai lingkungan pengguna. 

"AtmaGo dibuat dengan ide dan semangat “warga bantu warga” untuk mewujudkan lingkungan yang lebih baik dari bawah melalui komunikasi dan informasi lokal di lingkungan penggunanya," tutur Yasin. Tentang AtmaGo saya pernah menulisnya di tulisan ini: Gotong Royong di Internet dengan AtmaGo.
Melawan Hoax Bersama AtmaGo

Kongko Bareng Blogger Bersama Siswa SMK Al Muhadjirin Bekasi

Kongkow Bareng Blogger Bersama Siswa SMK Al Muhadjirin Bekasi
Sabtu, 26 Januari 2019. Sudah larut pagi saat saya menelusuri peta google untuk mencari tahu di mana letak pasti SMK Al-Muhadjirin yang beralamat di Perumnas III, Jl. P. Jawa Raya, Aren Jaya, Bekasi Timur. Google Map mengantar saya ke gerbang sekolah yang tergembok. 

Dari hasil interogasi kepada adik-adik yang bersepeda di dekat gerbang akhirnya saya tahu kalau yang digembok adalah gerbang SMP Al-Muhadjirin, SMK yang saya tuju masih satu komplek tapi beda gerbang, saya harus melewati Masjid Al Muhadjirin baru bisa masuk ke SMA dan SMK Al-Muhadjirin.

Saat saya tiba, ternyata acara Kongko Bersama Bloger ini sudah dimulai. Pak Rijan Sania Saputra. ST selaku kepala sekolah SMK AL-Muhadjirin sedang memberikan sambutan pembukaan dan membawakan materinya. Btw Pak Rijan Sania selain kepsek ternyata juga seorang penulis loh. Keren lah ini kepsek SMK AL-Muhadjirin, beliau salah seorang penulis produktif dari Komunitas Guru Penulis Bekasi Raya :)

Sisi baiknya, saya jadi punya kesempatan menikmati kopi sambil ngobrol banyak sama Taufik dan Galing selaku panitia. Ngopi santai menunggu materi Pak Rijan selesai, gak lama Gorby yang ternyata alumni SMK Al-Muhadjirin ikut bergabung menemani saya.

Acara "Kongko Bareng Blogger & Entrepreneur di Zaman Milenial" ini terselenggara atas kerjasama civitas akademika SMK Al Muhadjirin Bekasi dan Yayasan Relawan Sedekah Indonesia.
Kongkow Bareng Blogger Bersama Siswa SMK Al Muhadjirin Bekasi

Kongko apa monolog nih?

Setelah break dan hiburan maka tibalah waktunya saya menjadi narasumber kongko bareng blogger. Judulnya kongko jadi harus lebih banyak interaksi, setidaknya saya bisa pakai 15-20 menit memberi materi supaya tuning-nya pas lalu tanya jawab sebelum lanjut ke sesi berikutnya. Btw kalau belum tahu, kongko itu artinya ngobrol atau berbincang-bincang.

Untuk menjelaskan blog dan blogger saya mengutip kisah sukses Raditya Dika dan Pidi Baiq yang keduanya menuangkan tulisan melalui blog kemudian dibukukan/novel kemudian menjadi film.

Blog adalah wadah untuk mempublikasikan tulisan-tulisan kita apapun bentuknya, bisa puisi, syair, cerita fiksi, cerpen, reportase, review, dan lain-lain. Raditya Dika awalnya menulis kisah-kisah jenaka yang ternyata mendapat respon positif dari netizen. 

Tulisan-tulisan bernada komedi di blognya sangat digemari sehingga berhasil memenangkan penghargaan Indonesian Blog Award dan penghargaan dari Indosat sebagai The Online Inspiring di tahun 2009.
Raditya Dika
Tulisan di blognya itu kemudian dibukukan dalam novel Kambing Jantan dan kemudian diangkat dalam film komedi yang berjudul sama. Tentu di balik kisah sukses ini ada kisah perjuangan tak kenal lelah, keseriusan dan semangat yang tak gampang patah, itulah yang perlu diteladani oleh siapa saja termasuk saya.

Begitu juga dengan Pidi Baiq yang awalnya menceritakan kisah Dilan dan Milea melalui blognya. Seperti yang kita ketahui, saat ini novel Dilan menjadi novel yang sangat laris dan sudah 2 novel Dilan yang dijadikan film.
novel dilan dan milea
Dari kisah ini yang ingin saya sampaikan adalah, internet juga membuka peluang bagi kita untuk kita manfaatkan sebagai wadah kreativitas seperti menulis, fotografi, lukisan, rekaman lagu hingga video. Pintu keberhasilan menunggu di sana, tentu tidak mudah, karenanya butuh banyak pengalaman dan kreativitas.

Setelah sekilas membahas mengenai blog kemudian sengaja saya bahas mengenai perkembangan evolusi web 1.0, web 2.0 dan web 3.0. Kita saat ini sudah mulai tahap awal evolusi web 3.0 yang sudah memanfaatkan AI (artificial intelligence). Bahwa smartphone yang kita gunakan saat ini sudah berisikan operating sistem yang mulai mengadopsi AI dan Learning Machine.

Asisten digital di HP akan semakin pintar, tapi sayang penggunanya jauh tertinggal karena masih kurang smart akibat sering mengonsumsi hoax. Materi 3 kerangka literasi digital Indonesia sempat pula saya sampaikan walau waktunya sudah mepet. Tentu tidak maksimal, tapi berbicara di depan kelas sampai 90 menit itu benar-benar menguras energi :D
Kongkow Bareng Blogger Bersama Siswa SMK Al Muhadjirin Bekasi
Hasil dari kongko ini saya berharap semoga dengan acara ini adik-adik SMK dan para hadirin tergugah untuk membuat konten kreatifnya sendiri. Menjadikan sosmed sebagai media promosi kegiatan positif dan informasi bermanfaat. 

Pemateri selanjutnya adalah Nana Praja, penggiat literasi dan pendiri TBM Rumah Warna Bekasi yang terletak di Kampung Penombo, Desa Pantai Harapan Jaya Kecamatan Muaragembong Kabupaten Bekasi.  Mungkin Nana yang akan membawakan materi mengenai entrepreneur dan usaha. Saya selesai materi langsung kabur untuk menambah kadar nikotin dan kafein setelah 1 jam setengah mencoba menjadi guru yang baik :D

Dari hasil ngobrol dengan Galing Gema Takbir yang mengundang saya ke acara ini mudah-mudahan mading (majalah dinding) yang ada di sekolah bisa  berfungsi maksimal. Ke depan mudah-mudahan kalau lancar akan ada ekskul jurnalistik di SMK ini.  Amiiin.