Arsip Kategori: Bekasi

Deras Hujan Memberkahi Milad 4 Cinong Bekasi di Panjibuwono Babelan

"Jangan lupa, entar jam 8 anterin si bontot lomba," kata istri saya.

"Ok cyin, tar abis ngopi dianterin," jawab saya santai mendengar peringatan yang sudah diulang-ulang sejak beberapa hari lalu.

Milad 4 Cinong Bekasi Ruko The Plaza Perumahan Panjibuwono Kedung Pengawas Babelan


Sekira jam 8;30 WIB barulah saya sampai di Ruko The Plaza Perumahan Panjibuwono di Desa Kedung Pengawas, Kec. Babelan, Bekasi. Setelah registrasi ulang saya mengantar si bontot mencari tempat yang tersedia, ternyata para peserta lomba sudah duduk rapih memenuhi tenda dengan alat gambar masing-masing. Saya sebenarnya berharap jadwal lomba ngaret, tapi ternyata kami terlambat, karena rupanya lomba benar-benar dimulai jam 8 teng.


Lomba mewarnai dalam rangka Milad Cinong Bekasi ke 4 boleh dibilang berjalan sukses. Acara yang diminati anak-anak khususnya oleh siswa TK IT Generasi Emas Cinong Bekasi ini dimulai sejak pagi hari hingga menjelang siang diakhiri dengan sesi pembagian piala kepada para pemenang setiap kategori. Lomba yang terbagi dalam 3 kategori ini dilaksanakan di pelataran Ruko The Plaza Perumahan Panjibuwono di Desa Kedung Pengawas, Kec. Babelan, Bekasi, Minggu, 6 Desember 2020. 


Walau sempat terhenti karena hujan lebat yang disertai tiupan kuat angin, Lomba mewarnai sebagai salah satu rangkaian acara peringatan Milad ke-empat Perguruan Silat Cinong Bekasi ini terselesaikan dengan baik. 


Di tengah lomba, angin dan awan mendung sempat membuat Kak Mae selaku pengasuh Sanggar Lukis Cinong Bekasi dan juga ketua panitia lomba khawatir kalau tiba-tiba akan hujan dan membuat peserta lomba terganggu. Namun sampai lomba selesai hanya rintik hujan dan angin yang membuat suasana menjadi dingin. 


Tak lama setelah lomba selesai, barulah hujan mulai turun, seakan-akan menunggu adik-adik peserta lomba menyelesaikan lombanya. 


"Alhamdulillah lomba mewarnai anak-anak sudah selesai," kata Kak Mae lega saat berteduh di Warkop DKI Panjibuwono menghindari derasnya hujan.


Hujan yang turun dengan lebat ini membuat para peserta lomba dan orangtuanya, serta hadirin berteduh di bawah kanopi ruko, ada juga yang masuk ke dalam kafe-kafe dan ruko yang ada. Kafe-kafe dan warung atau saung kuliner di Ruko The Plaza Perumahan Panjibuwono dipenuhi pengunjung yang berteduh, para pelayan menjadi sibuk melayani pesanan para pengunjung. Hujan yang membawa berkah untuk para pemilik lapak jajanan kuliner.


Saat hujan mulai reda, Bang Jamal selaku ketua Yayasan Generasi Emas Cinong Bekasi (GECB) beserta dengan para pelatih dan pembina mengumpulkan murid-murid Cinong Bekasi untuk kembali menyemangati panitia dan anggota agar acara kembali dilanjutkan walau genangan air sisa hujan membuat lokasi menjadi becek.


"Siapa kita? Cinong Bekasi!"

"Siapa kita? Cinong Bekasi!"


Terdengar keras teriakan-teriakan yang disertai yel-yel penyemangat memecah kebisuan. Tatapan semangat barisan anak-anak berpakaian silat anggota perguruan Silat Cinong Bekasi sepertinya kembali bangkit melawan sisa gerimis yang masih turun. Dan acara yang sempat terhenti karena hujan kembali berjalan. 


Dimulai dengan 4 penari cilik dari Sangar Tari Cinong Bekasi menampilkan kebolehan mereka membawakan Tari Manuk Dadali yang kemudian langsung disusul 6 penari remaja membawakan Tari Genjring Party. Tari Genjring Party yang enerjik ini sepertinya merupakan perpaduan tari tradisional yang dikreasikan dengan tarian modern. Cocok untuk menggairahkan kembali suasana yang tadinya garing karena hujan deras. Selain terhibur, tari ini juga berhasil membuat para hadirin kembali merapat ke area panggung.

Milad 4 Cinong Bekasi Ruko The Plaza Perumahan Panjibuwono Kedung Pengawas Babelan

Hari semakin siang ketika adik-adik pencak silat menampilkan seni pencak silat beregu putra, Serang-Bela anak-anak Putri, Tunggal Baku Jurus IPSI, Serang-Bela Remaja Putra dan seterusnya hingga acara kembali dihentikan karena hujan kembali turun. Selain karena alasan kesehatan, acara diberhentikan karena khawatir terjadi korsleting listrik yang membahayakan. Namun semua rangkaian acara yang disusun panitia Milad 4 Cinong sudah selesai, walaupun ada acara yang terpaksa dipindahkan ke Saung Pusat Cinong  di Babelan Kota karena situasi yang tidak mendukung di lokasi acara.


Ruko The Plaza Perumahan Panjibuwono sebagai lokasi acara bukan tempat asing buat teman-teman Cinong Bekasi. Sebelumnya mereka sudah pernah menampilkan atraksi silat dan tradisi palang pintu pada Minggu malam 11 Oktober 2020 saat menyambut  kedatangan Tim Bekatul ke Kafe TKP, salah satu kafe di  Ruko The Plaza.


Hujan hari itu tidak membuat murid-murid Cinong Bekasi yang didominasi remaja ini patah semangat, mereka tetap menampilkan performance terbaik mereka. Matras dan lantai yang licin, angin dingin dan gerimis yang terus saja turun, sepertinya justru membuat mereka tambah energik memperagakan gerakan-gerakan dan jurus-jurus silat dibandingkan jika melakukannya di bawah panas siang yang terik seandainya saja tidak hujan.


Pada akhirnya faktor hujan lebat dan angin kencang yang merubuhkan salah satu tenda acara menjadi sarana langsung ujian mental, gak perlu visualisasi & imagery karena sudah terjadi di depan mata. Tinggal bagaimana soal memilih respon positif yang terbaik untuk menjawab keadaan yang ada. 


Selesai acara, beberapa adik-adik murid Cinong Bekasi tampak bermain di genangan air hujan. Wajah-anak-anak yang tidak bisa berbohong itu memancarkan kepuasan dan kebahagiaan, menghapus lelah para panitia penyelenggara acara Milad 4 Cinong Bekasi. 


Saya rasa wajah-wajah mereka tidak akan segembira itu jika saja mereka gagal menampilkan performance yang sudah sekian lama mereka latih. Ya, memang semangat di balik perhelatan acara ini sebagian besar adalah guna menyediakan wadah kepada kalian para generasi emas Cinong Bekasi, memberikan panggung atau kesempatan kepada adik-adik dan generasi muda untuk tampil menunjukkan ekspresi dan prestasi. 

Milad 4 Cinong Bekasi Ruko The Plaza Perumahan Panjibuwono Kedung Pengawas Babelan


Baca Juga: Sejarah Cinong Bekasi


Seminggu kemudian, (Sabtu 12 Desember 2020) di Saung Pusat Cinong Bekasi, saat rapat evaluasi sekaligus pembubaran panitia, saya sampaikan bahwa acara Milad 4 Cinong di Panjibuwono juga adalah tolok ukur kemampuan dan pelajaran untuk semua anggota dalam merencanakan, melaksanakan kegiatan atau event di luar. Kegiatan ini akan menjadi modal pengalaman untuk kegiatan-kegiatan selanjutnya, terlebih jika kegiatan tersebut merupakan event berskala lebih besar, maka para anggota Cinong Bekasi sudah memiliki pengalaman sebagai event organizer atau penyelenggara acaranya sendiri.


Selamat Milad Ke-4 Cinong Bekasi, selamat naik kelas, semoga semakin bermanfaat untuk masyarakat, amiin.


Milad 4 Perguruan Silat Cinong Bekasi sukses terselenggara dengan didukung oleh: Panjibuwono Residence, Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kabupaten Bekasi, Pemdes Kedungjaya, Babinsa Kedungjaya, Komunitas Anak Betawi Bujug Buneng, Crew Dikadalin TV, Warkop DKI, Prasbhara Polsek Babelan, Komunitas Onthel Babelan Klasik (KOBAK), Saung Asyila, Obon Tabroni Center, Komunitas Fotografi Babe'lens, Persatuan Pencak Silat Indonesia (PPSI) Kabupaten Bekasi, Perguruan dan Padepokan Silat di Babelan dan sekitarnya, serta pihak-pihak yang tidak tercantum di sini karena kealpaan saya. (mohon diingatkan)


-----------

Pada saat yang sama (Minggu, 6 Desember 2020) hujan lebat dan angin kencang menyebabkan Greenlab di Sekolah Alam Prasasti rubuh tertiup angin, juga terjadi kecelakaan perahu wisata yang terbalik di pesisir Tarumajaya Kabupaten Bekasi.


TELISIK NAMA KAMPUNG MUARA BLACAN

Kali Blacan Muaragembong  TELISIK NAMA KAMPUNG MUARA BLACAN
Kali Blacan Muaragembong 


TELISIK NAMA KAMPUNG MUARA BLACAN

Kampung Muara Blacan (disingkat Kp. Muara Blacan) adalah kampung yang kini sudah tidak lagi menjadi lahan pemukiman. Kampung ini berada dalam wilayah desa Pantai Mekar di sebelah utara dan wilayah desa Pantai Harapan Jaya di sebelah selatan yang dibatasi dengan Sungai Blacan berada di wilayah kecamatan Muaragembong kabupaten Bekasi.


Ada yang unik tentang kampung ini, karena sulitnya mencari informasi terkait asal usul nama kampung, seolah-olah kampung Muara Blacan ini tak pernah ada. Saya mencoba membuka tabir kegelapan ini dengan menelusuri tempat, mencari peninggalan, peta arsip maupun berita koran kuno. 


Pernah juga ditemani Komarudin Ibnu Mikam (seorang pegiat budaya), Yusuf Maulana (pegiat sosial lingkungan) dan Junaedi / Didi (mantan kepala dusun I desa Pantai Sederhana). Dan ternyata, di Kp. Muara Blacan ini pernah ada peradaban yang tidak kalah dengan peradaban yang ada di kampung lain pada zamannya.


MUARA BLACAN Secara Etimologi

Secara etimologi, kata MUARA menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah tempat berakhirnya aliran sungai di laut, danau, atau sungai lain; sungai yang dekat dengan laut. Sedangkan kata BLACAN menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dari bahasa Jawa adalah Kucing Hutan atau dalam sebutan orang di Muaragembong adalah Macan Memeng.


TELISIK NAMA KAMPUNG MUARA BLACAN Blacan Kucing Hutan /Macan Memeng
Blacan Kucing Hutan /Macan Memeng


Jadi, MUARA BLACAN adalah Muara sungai yang banyak Kucing Hutannya.


Hal ini menjadi sesuatu yang logis jika sebelumnya wilayah yang menjadi perkampungan Muara Blacan sebelumnya adalah hutan belantara yang banyak Kucing Hutannya sezaman dengan Kp. Muara Gembong di sebelahnya yang awalnya banyak dihuni Harimau Loreng. 


MUARA BLACAN Secara Histori

Kp. Muara Blacan ini adalah nama kampung yang dibuka dan didirikan oleh eks tentara Mataram yang tidak kembali ke Mataram karena khawatir atas konsekwensi yang akan diterima dari Sultan Agung Hanyokrokusumo atas kegagalannya menyerang VOC di Batavia pada tahun 1628 dan 1629 M.


Seiring waktu yang terus berjalan, Kampung Muara Blacan pun hilang. Hilangnya perkampungan ini karena ditinggalkan penghuninya karena akses transportasi ke kampung Muaragembong sulit. Sungai Blacan yang berhulu di Citarum mengalami pendangkalan akibat sedimentasi lumpur banjir musiman. 


Sekalipun demikian, namun dari artefak yang ditemui, di Kp. Muara Blacan ini pernah ada pengolahan Kerang Putih skala perumahan, tentunya untuk dijual ke Batavia dilihat dari jumlah kulitnya yang sudah ratusan karung dimanfaatkan para petambak untuk menguruk tepi Pintu Air sebagai pencegah ikan Sembelang bersarang di sisi pintu air yang dapat mempercepat kebocoran tambak. 


Dan terhadap yang menyebut BELACAN yang berarti TERASI, bisa juga benar, seiring perkampungan yang berpotensi membuat terasi. Tapi tentunya penamaan Belacan yang berarti Terasi setelah banyaknya penduduk dan didahului Blacan yang awal dihuni. 


Dan jika kata Belacan mengacu kepada kulit Kerang Putih yang banyak ditemukan, maka sebenarnya tidak ada kaitannya, sebab bahan baku terasi bukan dari Kerang Putih tapi udang rebon atau ikan kecil (untuk jenis terasi ikan).


Di Kp. Muara Belacan ini disinyalir dulu dihuni oleh orang-orang yang secara ekonomi sudah mapan, dilihat dari temuan alat Rumah Tangga yang digunakan berbahan Keramik buatan China, Belanda dan bahkan buatan Jepang. Jepang dalam hal ini bukan Jepang yang menjajah Indonesia 1942-1945, karena perkampungan Muara Blacan sudah hilang di tahun 1915. Ditemukan juga gerabah jenis periuk, paso, jambangan, bata tegel dan lain-lain.


Di kampung ini berdasarkan artefak diyakini pernah berdiri Masjid Alam (peta 1902) dan yang berdiri sekarang, posisinya telah bergeser sekitar 700 m dari posisi awalnya. Secara usia tidak berjauhan dengan Masjid Alam Al Mutaqoddimin yang ada di Kp. Gaga desa Pantai Sederhana kecamatan Muaragembong Kabupaten Bekasi Jawa Barat.. 


Disebut Masjid Alam Blacan karena awal ditemukan tidak ada plang nama atau bukti lain yang mengisyaratkan nama masjid tersebut.


Baca juga: Ekowisata Mangrove ke Masjid Alam Blacan Muaragembong


Penulis: Syakiran. 09092019
Facebook Grup Wisata Sejarah Bekasi




"Setiap Pramuka Adalah Pewarta", Ngopi Bareng Pramuka Ambalan Dewakarni SMKN 1 Babelan

Setiap Pramuka Adalah Pewarta
Infografis Setiap Pramuka Adalah Pewarta 



Visi: Mewujudkan anggota Gerakan Pramuka yang relevan sesuai kebutuhan zaman mereka untuk melakukan perubahan yang lebih baik lagi dalam kehidupannya.

Misi: Mengarahkan dan menjadikan kaum muda agent of change (pelopor pembaharu) yang lebih inovatif, relevan, dan berguna bagi bangsa, Negara, masyarakat Indonesia sesuai marwah Gerakan Pramuka yang berkarakter, berkebangsaan dan memiliki kecakapan hidup.

Demikian visi dan misi Kepengurusan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka masa bakti 2018-2023 yang dipimpin oleh Komjen Pol (Purn) Drs. H. Budi Waseso yang resmi terpilih sebagai Ketua Kwarnas dalam Musyawarah Nasional (Munas) X Gerakan Pramuka tahun 2018 di Kendari, Sulawesi Tenggara, 25-29 September 2018 lalu.

Selanjutnya, salah satu dari tujuh Program Prioritas Kwarnas Gerakan Pramuka Masa Bakti 2018-2023 adalah: 

Membangun citra positif Gerakan Pramuka dengan mewujudkan kapasitas informatika, integritas dan kompetensi komunikasi publik di era digital.

Dalam Rakernas yang dilaksanakan pada 19-21 Februari 2020, Program Prioritas Kwarnas nomor 6 ini diterjemahkan menjadi dua sasaran strategis oleh Komisi Kehumasan & Informatika Kwarnas, yaitu;  Membangun citra positif Gerakan Pramuka dan Re-branding Gerakan Pramuka. Dalam paparan Komisi Kehumasan & Informatika ini dilaporkan pula kegiatan mempopulerkan tanda pagar (tagar) atau hashtag  #SetiapPramukaAdalahPewarta di media sosial.

Tagar "Setiap Pramuka Adalah Pewarta" tidak bermakna berbeda dengan semboyan “Setiap Pramuka Adalah Kantor Berita” yang menjadi semboyan Kwarnas Gerakan Pramuka dalam kepemimpinan Dr. H. Adhyaksa Dault masa bakti tahun 2013 - 2018.

Kata Setiap Pramuka Adalah Pewarta ini juga saya baca pada e-flyer Pelantikan Kenaikan Tingkat Pramuka Penegak Bantara Ambalan Ki Hajar Dewantara - R.A. Kartini (Dewakarni), SMKN 1 Babelan Gudep 02117-02118 yang dilaksanakan di Rumah Pelangi Bekasi pada tanggal 21-22 Desember 2020.

Setiap Pramuka Adalah Pewarta, Ngopi Bareng Pramuka Ambalan Dewakarni SMKN1 Babelan
E-flyer Pelantikan Kenaikan Tingkat Pramuka Penegak Bantara
Ambalan Ki Hajar Dewantara - R.A. Kartini (Dewakarni), SMKN 1 Babelan

Mengutip dari salah satu tulisan di laman kumparan.com (2017/05/03), semboyan "Setiap Pramuka Adalah Pewarta" tujuannya adalah supaya setiap anggota gerakan Pramuka memiliki kesadaran sebagai pemilik, pemimpin redaksi, sekaligus wartawan bagi akun media sosialnya. Tanggung jawab yang tinggi terhadap suci dalam pikiran, perkataan dan perbuatan.

Lebih lanjut besar harapan dari semboyan Setiap Pramuka Adalah Pewarta adalah agar setiap anggota gerakan Pramuka mempunyai kemampuan menulis tentang aktivitas Pramuka, produk lokal spesifik lokalita, kegiatan pemuda, destinasi pariwisata, berbagai kuliner, informasi tentang budaya, eksplore potensi daerah, dan banyak hal positif lainnya.

Dari 2 poin tersebut saya merangkum 4 poin sebagai sasaran dari semboyan Setiap Pramuka Adalah Pewarta dalam sebuah infografis sederhana seperti gambar paling atas.

Intinya, Pramuka masa kini harus bisa mengkolaborasikan kegiatan Pramuka konvensional dengan penguasaan teknologi informatika. Aksi sosial tetap menjadi kegiatan utama dengan merevitalisasi nilai budaya bangsa yakni gotong royong yang kemudian didokumentasikan dan dikemas dalam publikasi konten yang positif dan inspiratif.

Isu demikian sudah diakomodasi oleh Kwarnas tentunya juga Kwarda hingga ke bawahnya cukup sadar akan pentingnya isu Re-branding Gerakan Pramuka yang berhubungan erat dengan kehumasan dan publikasi-publikasi yang dihasilkan oleh setiap anggota Pramuka di akun media sosialnya masing-masing.

Menimbang hal di atas, maka dalam infografis sederhana yang saya buat itu, saya masukkan 4 poin sasaran yang hendak saya sampaikan pada adik-adik Pramuka dalam sesi sharing saya.

4 sasaran dalam infografis Setiap Pramuka Adalah Pewarta itu adalah:


1. Aksi

Aksi di sini adalah kegiatan Pramuka secara umum, kegiatan sosial kemasyarakatan dan semacamnya. Hal ini sudah biasa dilakukan dan tidak diragukan lagi peran aktifnya dalam kegiatan sosial baik dalam situasi bencana maupun kegiatan-kegiatan rutin yang menjadi aksi Pramuka.

2. Dokumentasi

Dalam setiap aksinya, hendaknya kegiatan tersebut didokumentasikan dengan baik, sehingga tersedia  lengkap bahan untuk laporan dan evaluasi kegiatan. 

3. Konten Kreatif

Hasil dokumentasi yang baik juga dapat menjadi bahan untuk membuat ragam konten kreatif yang berisikan pesan-pesan positif dan inspiratif. Ketersediaan bahan dapat menentukan kualitas sebuah konten yang akan dibuat. Konten juga dibuat dengan berbagai macam bentuk agar dapat menyesuaikan dengan wadah publikasi dan sasaran yang hendak dicapai.

4. Publikasi

Konten hasil kreasi dari dokumentasi pada akhirnya dipublikasikan dengan menggunakan banyak wadah saluran. Baik itu tulisan, poster, video dan lain sebagainya. Jejaring media sosial dan internet memudahkan publikasi konten, sehingga kita dapat memanfaatkannya dengan sebaik mungkin. 


Sasaran nomor 1 dan 2 saya kira adik-adik Pramuka sudah paham maksudnya, sehingga saya langsung lompat membahas sedikit ke sasaran nomor 2 dan 3.

Pada saat sesi sharing, saya sudah jelaskan makna kata pewarta yang lebih saya arahkan ke pengertian "konten kreator", sehingga adik-adik Pramuka ini sadar bahwa dirinya adalah seorang pembuat konten yang memiliki tanggung jawab sosial terhadap isi dari media sosial mereka.

konten kreator
konten kreator


Semua yang hadir, kurang lebih 20 siswa ini mengaku memiliki akun media sosial baik akun Facebook, Youtube, TikTok, Instagram dan seterusnya. Beberapa mengaku aktif menggunakan media sosial tersebut namun belum menggunakannya sebagai media publikasi hasil konten kreasinya yang penyampaian pesan atau informasi sebagaimana diharapkan dalam slogan "Setiap Pramuka Adalah Pewarta".

Wajar saja, karena untuk menjadi konten kreator dan memenuhi misi seperti itu dibutuhkan lebih dari sekadar kesadaran, tapi pelatihan-pelatihan agar mereka memiliki kemampuan dasar memproduksi konten yang baik. Khususnya konten seputar kegaitan kepramukaan yang mereka lakukan.

"Setiap Pramuka Adalah Pewarta", Ngopi Bareng Pramuka Ambalan Dewakarni SMKN1 Babelan
Sharing "Setiap Pramuka Adalah Pewarta" di Rumah Pelangi
Foto by: Adit Rungi

Mengenai konten, sebelumnya juga saya sudah berbagi dengan Adik-adik SMA Sekolah Rakyat Babelan saat acara LDKS di Sekolah Alam Prasasti pada hari Sabtu tanggal 28 November 2020. Materi yang hampir sama juga saya sampaikan, mengenai konten dan mendorong mereka agar menjadi kreator konten, minimal untuk publikasi kegiatan mereka di sekolah. 

Para generasi muda ini sebagian besar akrab dengan media sosial, walau sebagian besar masih menjadi konsumen setidaknya mereka perlu didorong terus untuk berani dan mampu memproduksi konten-konten yang bermanfaat. Beberapa orang memang sudah mulai memproduksi konten, baik itu tugas dari sekolah atau inisiatif pribadi, saya berharap ke depannya sekolah-sekolah bisa mendorong dan mengapresiasi murid-murid yang berprestasi dalam pembuatan konten kreatif.

Semoga setelah sharing ini mereka paham mengenai bentuk-bentuk konten, mulai berani membuat konten untuk memperbanyak konten positif di dunia maya, berkreasi sesuai minat mereka dan dapat memanfaatkan media sosial dengan tepat untuk kebaikan dirinya dan masyarakat.

Dari bahan ini hanya sedikit yang sempat saya sampaikan pada adik-adik Pramuka Penegak Bantara  Ambalan Ki Hajar Dewantara - R.A. Kartini (Dewakarni), SMKN 1 Babelan, mudah-mudahan tulisan ini dapat mengisi apa yang belum dapat saya sampaikan pada saat pertemuan sore yang menyenangkan itu. []


Rumah Pelangi Bekasi
Senin, 21 Desember 2020.




Ngopi Santuy di Keseruan Acara 1st Anniversary Instanusantara Karawang Bekasi

1st Anniversary Instanusantara Karawang Bekasi
1st Anniversary Instanusantara Karawang Bekasi


Cuaca Minggu siang agak mendung ketika saya tiba dan memarkirkan motor di halaman Starbucks Drive Thru Lippo Cikarang. Awalnya saya sudah masuk ke areal halaman Hotel Harper dan bertanya kepada salah satu Satpam yang bertugas mengenai lokasi parkir untuk kendaraan roda dua. Satpam dengan sopan meminta agar saya memarkirkan motor di area Starbuck disertai alasan-alasannya. 


Memasuki loby hotel, satpam yang tadi mengarahkan saya parkir kini dengan sigap mengucapkan selamat siang dan membukakan pintu kaca. "Terima kasih pak," ucap saya yang terkesan dengan kesigapan mereka. Sepertinya mereka sudah dibekali berbagai SOP pelayanan sehingga dari parkir sampai etika yang lazim berlaku di dunia perhotelan dilaksanakan dengan cukup baik.


Di belakang resto, area luar tampak 2 penari berpakaian dan bertopeng merah dengan energik dan bersemangat menampilkan Tari Topeng Kelana dari Cirebon. Tari yang konon awalnya menggambarkan tokoh Rahwana dalam pewayangan ini memang ada dalam agenda untuk dipentaskan sebagai salah satu rangkaian acara dalam peringatan ulang tahun pertama Komunitas Instanusantara Karawang Bekasi. Tanpa pikir panjang saya langsung bergabung dengan teman-teman yang sedang asik memotret 2 penari tersebut.


Oh iya, Komunitas Instanusantara Karawang Bekasi (Inkarasi) adalah salah satu region dari Instanusantara, sebuah komunitas fotografi yang bertujuan untuk mempromosikan Indonesia melalui foto dan video pendek di media sosial Instagram.


Mengambil lokasi di Hotel Harper Cikarang, Minggu (13/12/2020), Komunitas Inkarasi menghelat kegiatan peringatan anniversary pertamanya dengan tajuk “Tumbuh Bersama” (Sisi Lain Pesona Bekasi dan Budaya Bekasi) yang berisi rangkaian kegiatan sesi foto hunting dalam dan luar ruang. Sayangnya hujan membuat sesi hunting foto luar ruangan menjadi lebih cepat selesai sebelum waktunya.


Keseruan Acara 1st Anniversary Instanusantara Karawang Bekasi
Sesi hunting foto luar ruangan menampilkan Tari Topeng Kelana
Foto by: @tukangfotogadungan


Lanjut ke acara dalam ruang yang beraroma handsanitizer. Salut untuk panitia yang dengan tegas tetap mewajibkan peserta untuk mengenakan masker selama acara dan menata ruang dengan menerapkan aturan menjaga jarak. Meskipun aturan itu membuat suasana awalnya agak kaku tapi itu sebentar saja, keceriaan mencairkan suasana hingga acara selesai. Slide show foto-foto karya anggota dan game-game kecil berhadiah berhasil menyatukan perhatian dan menjalin engagement semua yang hadir hari itu.


Dalam sambutannya, Monika selaku ketua Inkarasi sempat menceritakan sedikit sejarah Inkarasi sebelum mendatangi dan menyapa beberapa anggota Inkarasi dari sekitar 100 hadirin di dalam ruang meeting Hotel Harper Cikarang. Untuk saya yang baru kali ini bisa ikut dalam acara Inkarasi, dapat merasakan sambutan hangat dari anggota lainnya, kekeluargaan bukan hanya kata pemanis atau sekadar slogan di sini.



Sejarah Komunitas Instanusantara Karawang Bekasi


Menyambung soal sejarah, ide membuat wadah komunitas berawal dari kesepakatan para pencinta fotografi di Kota Karawang Bekasi. Mereka ada yang berlatar belakang pelajar, mahasiswa hingga pekerja yang pada awalnya membentuk komunitas Cika Ranger dengan berbasis fotografi landscape dan bermaksud untuk melakukan hunting bareng.


Para pendiri dan anggota awal Inkarasi memiliki keyakinan bahwa masih banyak hal yang dapat dieksplorasi di wilayah Karawang Bekasi agar dapat lebih dikenal lagi seperti kota-kota lain di Indonesia. Dari keyakinan itulah tercetus ide untuk membuat wadah komunitas yang lebih spesifik mengusung tema tentang Alam dan Budaya Karawang Bekasi


Berangkat dari ide tersebut dan dari hasil diskusi, akhirnya disepakati keinginan untuk menggabungkan diri dengan Komunitas Instanusantara yang memiliki visi dan semangat yang sama, terlebih  di Kota Karawang Bekasi belum ada regional Instanusantara.


Semangat yang menyatukan komunitas ini adalah; semangat untuk memperkenalkan keindahan alam dan keanekaragaman budaya Karawang Bekasi kepada masyarakat Karawang dan Bekasi, nasional maupun international melalui fotografi di media sosial Instagram.


Keseruan Acara 1st Anniversary Instanusantara Karawang Bekasi
1st Anniversary Instanusantara Karawang Bekasi
Foto by: @voteforfirman


Akhirnya pada hari Selasa tanggal 25 November 2019, Instanusantara Karawang Bekasi resmi menjadi official Region ke-21 dari 22 region Instanusantara saat ini. Sampai dengan tulisan ini dibuat, jumlah anggota Instanusantara Regional Karawang Bekasi berjumlah 89 anggota aktif. Adapun Area yang dicakup Instanusantara Regional Karawang Bekasi meliputi Bekasi, Karawang, Subang, Purwakarta dan Jonggol.


Dalam kurun kurang dari 1 tahun, Instanusantara Regional Karawang Bekasi (Inkarasi) telah sukses melaksanakan beberapa kegiatan. Beberapa yang patut dicatat antara lain:

  • Hunting Foto Model dan Light Painting pada 6 Juni 2020;
  • Hunting Foto Toy’s pada 21 Juni 2020;
  • Hunting Foto Landscape pada 31 Mei 2020;
  • Hunting Konsep Fun Camping pada 30 Agustus 2020;
  • Hunting Foto Landscape Cukul pada 18 September 2020;
  • Charity Fotografi di SMK Yapik Cirebon pada 7 November 2020;
  • Hunting Konsep Tari Topeng Instanusantara Karawang Bekasi & Instanusantara Cirebon pada 8 November 2020;
  • Instanusantara Karawang Bekasi goes to Cukul Pangalengan pada 19 September 2020;
  • Instanusantara Karawang Bekasi goes to Wonosobo pada 16 Oktober 2020;
  • Instanusantara Karawang Bekasi Explore Subang pada 21 November 2020;
  • Instanusantara Karawang Bekasi Anniversary di Hotel Harper Cikarang pada 13 Desember 2020.

Semua anggota Inkarasi sebelum diterima menjadi anggota akan diminta kesediaannya untuk mengeksplor lebih jauh mengenai Karawang Bekasi, baik itu dari sisi pesona alam, budaya, kuliner, kesenian dan hal-hal menarik lainnya. Setiap anggota juga didorong untuk dapat membangun jaringan antar sesama penghobi fotografi dan traveller di Karawang Bekasi.



Bagaimana Cara Bergabung Menjadi Anggota Inkarasi?


Berdasarkan pengalaman, untuk bergabung menjadi anggota Inkarasi syaratnya mudah kok. Kita cukup mengirim pesan berisi keinginan bergabung ke akun Instagram Inkarasi dengan menyertakan nomor WhatsApp yang aktif. 


Calon anggota yang sudah mengirimkan pesan, akan diundang bergabung dalam grup sementara untuk mengenal lebih jauh Inkarasi juga aturan-aturan yang berlaku. Aturan-aturan itu di antaranya seperti kewajiban setiap calon anggota untuk mengikuti kegiatan Upload Bersama (INUB) harian sebanyak 3 kali, tentu saja foto yang diupload harus merupakan hasil foto sendiri.


Di balik layar, sebenarnya pada saat menjadi calon anggota, profil dan foto-foto yang kita upload sebelumnya di Instagram juga diperiksa dan akan menjadi pertimbangan. Setidaknya 75% foto-foto yang diupload adalah konten yang memiliki semangat memperkenalkan keindahan alam, keanekaragaman seni budaya, kehidupan masyarakat dan semacamnya, baik dalam bentuk fotografi landscape, food, potrait, human interest, nature, dan lain-lain.


Tertarik untuk menjadi anggota Inkarasi? 

Silakan follow dan kirim pesan ke akun Instagram Inkarasi di https://www.instagram.com/instanusantara_karawangbekasi/


Keseruan Acara 1st Anniversary Instanusantara Karawang Bekasi
Bersama owner Rumah Puspa, salah satu sponsor acara


Ok, segitu aja yah, catatannya. Saya ucapkan selamat ulang tahun kepada Instanusantara Karawang Bekasi (Inkarasi). Terima kasih untuk kopi, doorprize dan keseruan acaranya. Semoga misi untuk bisa mengenalkan Karawang Bekasi dan sekitarnya ke kancah nasional bahkan internasional lekas tercapai, amiin.


BERBEDA KITA BERSATU,  BERSAMA KITA BERSAUDARA


Abu Tebel Ampe Endebel [Kenangan Bocah 80an]

Abu Tebel Ampe Endebel 

Abu Tebel Ampe Endebel
Gambar dari: seputarberitakecantikan.blogspot.com 

Angin bertiup dari sebeleh timur.., geburan ombak di kaki gili-gili empang membahu membuat buih-buih berterbangan di angkasa, alunan suara dari pita kaset tape yang rusak yang dipasang saling melintang menambah cerianya suasana sore di Kampung Sembilangan pesisir Kabupaten Bekasi tahun 80-an.

Suara adzan ashar menunjukan waktu jam 3 petang, suara riuh latap-latap terdengar dari sekelompok anak-anak yang mulai berdatangan. Mereka terlihat membawa mobil-mobilan yang terbuat dari bekas botol air mineral dengan ban terbuat dari sandal emaknye yang udah putus alias gak kepake.

mobil-mobilan bambu anak tahun 80
ilustrasi 

Ade juga yang membawa motor-motoran trail yang terbuat dari sebatang bambu yang di ujung bambunya dipakaikan roda yang terbuat dari papan berbentuk lingkaran dengan stang di tengah-tengah bambu. Cara menggunakannya cukup sederhana, batang bambu diletakan di pundak dengan kedua tangan memegang setang yang terletak di tengah-tengah batang bambu, didorong sambil mulut membunyikan suara knalpot motor sebagai imitasi suara mesinnya, lucu juga sih!!!

Suasana hari itu semakin seru tak kala ada seorang anak yang rajin mendusur abu yang tebal dengan papan membuat jalur yang  katanya sirkuit untuk arena balap mobil-mobilan dan motor-motoran. Abu yang didusur terlihat seperti sirkuit lengkap dengan bendera-bendera kecil yang terbuat dari bungkus-bungkus permen yang menambah warna tepian sirkuit abu. 

Suasana semakin ramai dengan bunyi-bunyian mesin yang keluar dari mulut si joki.

Nampak di sebelah sisi lainnya ada beberapa anak sedang membuat gunung yang  terbuat dari abu, mereka membuat gunung sebesar yang mereka inginkan, selah gunung itu jadi mereka hancurkan dengan menendang gunung abu agar abu melayang ke udara dan terlihat seperti hujan salju, hmmm ada-ada aja yah..!! 

Terkadang ada yang jail gunung itu diisi dengan air kencing mereka dan menyuruh temannya untuk menendangnya dan akhirnya pecahlah suasana menjadi tawa yang gembira.

Hari semakin sore matahari yang mulai tenggelam seakan menjadi Alarm sudah waktunya untuk pulang, mulailah mencari kantong-kantong plastik yang akan digunakan menjadi wadah untuk mengambil air di empang dan mulailah menyiram sirkuit dan sisa hancuran gunung abu dengan air  seketika ABU yang  tebel menjadi ENDEBEL.


Penulis: Heriyansyah (Mandor)

Kenangan Masa Kecil Yang Lekat Dalam Ingatan

Yayasan Pendidikan Islam Al-Mahmudiyah Sembilangan

Kalo lagi bengong di pinggir empang inget Sembilangan taon sono-sonoan (zaman dulu sekitar tahun 80 sampai awal 90-an).

Bangun tidur langsung telanjang bulet lari ke jerambe (tempat mencuci pinggir kali) nible (terjun) ke kali depan rumeh, emeng-emeng (awal pagi) udah ngebak di kali. Biar kate aernye asin badan kerase seger, naek dari ngebak gak pake bilasan, campur bau bau lumpur dikit, cepet-cepet pake baju berangkat ngaji pagi, pake peci item, kaos oblong celane pendek.

Jem 8 jem 9 pagi ngaji kelar, langsung balik lempar songkok lempar kantong alip-alipan (Buku Juz Amma metode Bagdadiyah) buka baju buka celane lanjutin lagi ngebak di kali ampe pade berkumis lumpur ame bejenggot. Jem setengeh 12 siang naek lagi sama kaye pagi, langsung pake baju ambil songkok kantongin buku di kantong celane belakang berangkat ke sekoleh, kite kan sekolenye siang di madroseh (madrasah).

Buku Juz Amma metode Bagdadiyah
Buku Juz Amma (Alip-alipan) metode Bagdadiyah

Sampe di sekolaan jajanannye kojek (Jajanan dari sagu berbentuk bulat ditusuk lidi dengan bumbu dan sambel kacang), mureh uman  Rp. 25 - 50 (jigo - gocap). Abis jajan sembahyang johor, pas jem 12.30 siang mulain pade masuk kelas.

Rp 25 rupiah jigo emisi tahun 1971
Uang Rp. 25 emisi tahun 1971

Ooooops jangan mikir kelasnye kaye sekolaan sekarang ye, yang kelasnye miseh-miseh, dulu sekolaan dari kelas 1 sampe kelas 6 ya uman satu ruangan dan uman 1 guru, yang bedain cuma barisan bangku ame mejenye dan papan tulisnye.

Kebayanng bangat deh gimane sabarnye guru ngajar sendirian nanganin 6 kelas, ratusan anak dalem satu ruangan, padahal itu ruangan umresnye (berisik) kaye hamuk (tak terkendali). Anak-anak memanggil guru itu Kong MAMU, nama lengkapnya Al Maghfurullah. Ust Mahmud.

Balik sekoleh  jem 3 sore, naro buku maen bentaran sambil pake songkok ider-ideran di lataran. Jem setengeh 4 balik ke rumeh ambil kantong alip-alipan dari kantong terigu yang boleh dijaitin ame enyak, langsung berangkat ngaji sore. 

Sampe pengajian enderes (melancarkan bacaan) deh yang udah nalar bace Qur'an yang masih alip-alipan juga enderes, nah yang ngajar ngaji juga kong MAMU  yang tadi siang udah ngajar 6 kelas.

Kalo gue, kebanyakan enderes doang karena pas embace (membaca) ngadep ke guru dapet tugas dari guru angkutin aer mbari nyari kayu rencekan (ranting kayu bakar) ampe waktu ngaji kelar balik sekitaran jam 5 lewat dah.

Sampe di rumeh kaye ari-ari biase, kalo sore nyiapin lampu lampu dari patromak, pelite tempel, pelite gembreng sampe pelite konteng, sosotin (mengelap) kaca-kaca lampu yang item arengan sise di pasang malem kemaren, nambain minyak taneh sampe beresin sumbu-sumbunye, maklum belum masuk listrik PLN kampung Sembilangan waktu itu. (Listrtik masuk diperkirakan sekitar tahun 1993)

Penulis: Ahmad Sahil Ibrohim (Warga Sembilangan, Desa Huripjaya, Babelan, Bekasi)
Edited dan kata atau kalimat dalam kurung dari saya.

Saat Penglihatan ALLAH Saja Yang Menjadi Andalan

SAAT PENGLIHATAN ALLAH SAJA YANG JADI ANDALAN

 Saat Penglihatan ALLAH Saja Yang Menjadi Andalan

"Bu, anti saya amanatkan untuk jadi penanggung jawab di bagian penjualan baju-baju bekas layak pakai ,ya?" Ketua panitia Baksos itu menyerahkan map berisi catatan data barang kepadaku." 

"Kok saya lagi?" tanyaku.

"Iyalah, anti kan kemarin sukses tuh... dapat dana banyak dari jualan baju bekas?" desaknya.

"Anti kan biasa dagang..." lanjutnya.

"Iya deh, gak usah pake muji kali...." Jawabku akhirnya. Teman di sebelahku menggamit pundakku

"Emang enak jadi tukang loak lagi..." godanya.

Aku tersenyum kecil, "Insya Allah."

"Gak papa lagi, bu... penggemarnya kan banyaak...." Tambah rekanku lagi.

Aku hanya tenggelam dalam susunan data-data barang. Mulai hari itu, hari-hariku disibukkan dengan acara menyortir barang yang masuk, mengelompokkannya sesuai peruntukannya, dan melakukan taksiran harga yang pantas.

Tiba pada hari H. Aku sudah siap di tempat dengan tumpukan-tumpukan pakaian yang akan di jual. Dibantu tiga orang rekan. Seperti dugaan awal, tempat ku ini jadi tempat favorit untuk dikunjungi oleh sebagian besar warga, terutama ibu-ibu dan anak-anak penduduk sekitar Tempat Pembuangan Akhir sampah Bantar Gebang Bekasi, yang notabene dekat dengan komplek tempat tinggalku sekarang. Mereka ada yang mulai memilih-milih baju yang akan mereka beli.

"Nanti ya bu, toko belum buka...." kataku. Mereka semua tertawa.

"Takut gak kebagian bu entar mah..." jawab mereka.

"Nanti kalo milih-milihnya sekarang, saya hargai 50 ribu lho satunya...." goda saya lagi.

"Waah ibu, kalo segitu mah, beli yang baru lah..." jawab mereka lagi.

"Makanya nanti saja pilih-pilihnya, semua kebagian deh, Insya Allah... stok banyak nih.... denger ceramah dulu ya di sana..." kataku sambil mengarahkan mereka ke tenda utama.

Selesai ceramah dan acara inti, benar saja mereka menyerbu tempat ku membuka lapak. Beberapa jam aku seolah tenggelam dalam riuhnya masyarakat memilih-milih pakaian. Baju muslim, jilbab, kaos, baju anak-anak, dewasa, baju koko, celana panjang.

Dalam hitungan jam sudah nyaris ludes. Tentu saja lapak ini jadi incaran, baju-baju dengan kualitas antara 60-90% layak pakai dibanderol mulai 500-3000 perak saja. 

Lumayan sangat bagi yang membutuhkan, atau cuma ingin menambah koleksi saja. Alhamdulillah...

Menjelang dzuhur, tenda-tenda lain sudah bersih. Sebagian besar panitia berkumpul di tenda utama untuk berfoto-foto dan rehat.Aku masih harus merapikan sisa baju, mendata ulang stok, jumlah uang hasilnya... sambil ditemani satu dua ibu yang masih asyik mengaduk-aduk baju yang sudah terlipat, berharap dapat diskon lebih murah. Sampai akhirnya panitia memutuskan untuk memberikan baju sisa itu kepada yang mau. 

Setelah beres urusan baju dan amplop uang hasil penjualan kepada  ketua panitia, aku membersihkan tempat jualan tadi karena memang menumpang pada teras rumah penduduk. "Biarin ajah Neng. biar ibu yang nyapu."

Aku tersenyum, bukan apa-apa,si ibu yang sudah sepuh itu menyapa ku dengan sapaan "neng" sedari tadi. Lucu saja, emak tiga orang anak berusia 35 tahun masih layak kah di panggil Neng? Subhanallah sungguh menghibur.

"Ngga apa-apa bu... terima kasih yaa, maaf sudah merepotkan..." jawabku.

Selesai urusan bersih-bersih aku sudah tidak melihat kerumunan temen-teman panitia di tenda utama. Tinggal kaum lelaki yang mulai bongkar-bongkar. Aku pun pamit pulang.

Belajar Ikhlas

Belajar Ikhlas


Seminggu sesudah acara baksos itu,aku bertemu dengan salah seorang pengurus DPC di sebuah acara. "Bu kok kemarin waktu baksos di ciketing udik gak datang? Kan dekat sama rumah anti kan?" Tanyanya

Aku tertegun sejenak.... Dan ibu DPC itupun menyebutkan satu persatu nama-nama rekan panitia yang ikut serta di acara itu, bahkan termasuk orang yang aku tahu persis dia tiba belakangan, karena sempat izin ada acara, karena si rekan ikut berfoto dengan panitia yang lain. Dalam hati aku buru-buru istighfar... Rabbi... jika bukan karenaMU...

"Yah bu.. masa segede gini saya masih ga keliatan juga yah?" Jawabku akhirnya. Di timpali tawa sang ibu DPC.

Beginilah kiranya, Allah memberikan hikmah besar dalam suatu peristiwa yang aku alami. Aku tidak mengerti, mengapa kata ikhlas begitu mudah untuk diucapkan, namun begitu berat untuk di amalkan.... sungguh bukan hal yang mudah, ketika diri ini begitu bahagianya, telah berbuat sesuatu, meluruskan niat, bersikap itqon, justru menjadi orang terbuang, tak dianggap... di-underestimate-kan.... karena amalannya kecil...

Astaghfirullah...

Saya jadi teringat seorang guru TK yang tempatnya sering dijadikan sarana kita-kita untuk berkumpul. Dia harus izin pada yang punya yayasan, menyiapkan tikar.. lalu membersihkannya lagi seusai acara... namun Ia tidak pernah memegang jabatan penting, bahkan perannya sering tidak diperhitungkan.

Atau teman yang emang gak pede-an, selalu dapat tugas mengantar undangan, dan urusan antar mengantar lainnya. Yang tidak memungkinkan dia untuk dikenal oleh "Atasan"nya.

Rabbi... dari peristiwa itulah aku merasa doaku sudah di kabulkan Allah karena kasih sayang Nya. Yaa Allah... ajari aku tentang keikhlasan.

Lalu ku ambil Hp-ku, untuk sang guru TK aku mengirim pesan, "Semoga Allah selalu memberkahi ibu sekeluarga, mempermudah ibu menuntut ilmu, menjadikan profesi ibu sebagai amal sholeh yang tak putus-putus."

Dan untuk temanku si pengantar, aku menulis... "Semoga Allah selalu memberi kemudahan, mengaruniakan ibu kesehatan, memberkahi ibu dengan anak-anak yang shalih,juga semoga bisa beli motor baru buat ibu pribadi, gak joinan lagi sama suami.."

Wahai Allah....Janganlah Kau palingkan wajahMu dari kehidupanku.... tuntunlah aku selalu yaa Rabbi.... dalam usahaku membersihkan hati dan diri, agar senantiasa mengutamakan pandanganMu sahaja....

*******

Penulis: Sri Suharni Yang Berusaha Istiqomah pada 
8 Desember 2010 pukul 23:33 ·

Crafting dan Berkreasi Kain Flanel Bersama Kak Murni Ambar Lestari

Puluhan anak-anak usia sekolah memenuhi ruang baca Perpustakaan Kampung Baru (Perkabu) yang terletak di Gg. Baru Jl. H. Hamdani Kaliabang Tengah, Bekasi Utara, Kota Bekasi. Mereka sedang asyik berkarya dengan bahan-bahan kain flanel yang sudah tercetak berbagai figur karakter kartun.Dengan peralatan seperti lem, gunting, benang dan berbagai perlengkapan hasta karya lainnya itu terciptalah kreasi

Geliat Ekowisata Sunge Jingkem di Tengah Era New Normal

Ekowisata Sunge Jingkem berlokasi di tengah-tengah kampung SEMBILANGAN Desa Samudrajaya kecamatan Tarumajaya kab. Bekasi.Kampung SEMBILANGAN adalah Kampung Bahari yang terletak di pelosok Kab.Bekasi, yah boleh dibilang kampung yang memang terpencil jauh dari kota, kampung yang boleh dibilang sedikit orang tahu, namun sekarang keberadaan kampung SEMBILANGAN sudah menjadi satu nama yang tidak asing

Menengok Komunitas Save Kali Cikarang di Segarnya Hutan Bambu Warung Bongkok Sukadanau

Kawasan Industri Kota CikarangJika mendengar nama Kota Cikarang disebutkan, tidak salah jika yang terlintas dalam pikiran adalah pusat kawasan industri yang tidak pernah berhenti berproduksi. Sebagai warga Bekasi, saya tahu kuatnya citra tersebut adalah hasil branding puluhan tahun dari para public relation berbagai perusahaan yang berkepentingan di Cikarang, namun citra tersebut juga tidak 100%