TSF ‘Story


Saya pernah menulis tentang para pejuang ekonomi di pos berjudul Pejuang Ekonomi di EGDMC. Tentang sebuah event olahraga tahunan oleh organisasi Dokar (dosen dan karyawan) Universitas Flores yaitu Ema Gadi Djou Memorial Cup yang secara tidak langsung telah turut membantu para pejuang ekonomi. Para pejuang ekonomi yang saya maksudkan di sini adalah para pedagang yang menjual minuman dan makanan seperti kopi, teh, brondong, jagung rebus, telur rebus, aneka jajanan, hingga nasi limaribuan. Membaca pos Facebook Iskandar Awang Usman tentang event Triwarna Soccer Festival (TSF) membikin saya menyegerakan menulis ini. Karena, saya memang sudah merencanakan untuk menulis tentang kisah lain dari Triwarna Soccer Festival dalam TSF's Story.

Baca Juga: Es Gula Moke

Kutipan pos FB Abang Iskandar adalah sebagai berikut:


Pendapat blogger yang satu ini saya acungi jempol. Kami sama-sama melihat TSF sebagai suatu momen yang menggairahkan dan menggeliatkan, salah satunya, dunia perekonomian masyarakat Kabupaten Ende. Saya ingat, hari pertama TSF, saya dan Abang Iskandar sama-sama berkelana di tenda-tenda pameran berburu bahan bekal pos blog. Kalian juga bisa membaca salah satunya pada pos berjudul Be Art ini.

Triwarna Soccer Festival


Kembali menyegarkan ingatan kalian bahwa TSF merupakan pesta masyarakat Kabupaten Ende yang menggelar tiga mata acara sekaligus yaitu:


1. Pertandingan sepak bola yang memperebutkan Bupati Cup.
2. Pameran dengan tema Bego Ga'i Night.
3. Lomba Mural.

Pertandingan sepak bola dan pameran masih berlangsung dan akan sama-sama berakhir pada tanggal 31 Maret 2019, sedangkan Lomba Mural sudah kelar sejak tanggal 11 Maret 2019 kemarin dengan hadiah yang akan diterima saat malam final pertandingan sepak bola. Tentang para pemenang Lomba Mural ini bisa kalian baca di pos 5 Jawara Mural

Betul seperti yang ditulis Abang Iskandar bahwa TSF benar-benar telah mampu menggerakkan semua sektor, mulai dari sektor pertanian, perkebunan, peternakan, usaha kecil dan mikro, serta semua sektor jasa usaha lainnya yang mendapat imbasnya (positif). Kalian tentu bertanya-tanya, memangnya betul semua sektor itu tergerakkan hanya dari sebuah event TSF? Inilah yang akan saya bahas kali ini.

UMKM, Papa Lele, dan Pedagang Asongan


Pada dasarnya event pertandingan sepak bola apapun; baik Ema Gadi Djou Memorial Cup, El Tari Memorial Cup, Bupati Cup, Suratin Cup, dan lain-lainnya yang diselenggarakan di Stadion Marilonga membawa dampak positif kepada para pejuang ekonomi seperti para papa lele (pedagang kaki lima) dan pedagang asongan. Papa lele yang lapaknya berderet rapi di depan Stadion Marilonga merupakan pemandangan khas setiap kali event pertandingan sepak bola digelar. Pedagang asongan yang diijinkan memasuki Stadion Marilonga kala pertandingan berlangsung, atas ijin dan mendapat ID Card dari pantia, pun bukan hal yang baru. Umumnya mereka adalah masyarakat yang berdomisili di sekitar Stadion Marilonga yang mempunyai kios/warung juga di sekitar Stadion Marilonga lantas membuka lapak, dan/atau masyarakat yang dadakan berjualan karena melihat peluang mengumpulkan tambahan Rupiah.

Ini bukan brondong loh, tapi SORGUM! Dari Komunitas RMC Detusoko.

Pada event TSF, tidak hanya papa lele dan pedagang asongan saja yang terlihat di Stadion Marilonga. Dengan adanya Pameran bertema Bego Ga'i Night, panitia telah memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada para pelaku usaha baik usaha kecil maupun mikro untuk berpartisipasi, melalui pendaftaran secara gratis. Tenda-tenda pameran ini diisi oleh para pelaku usaha kecil dan mikro serta komunitas. Jadi, apabila kalian pergi ke Stadion Marilonga, di bagian depannya, parkiran, kalian akan melihat tenda-tenda pameran berderet rapi, berhadapan dengan lapak-lapak papa lele yang juga berderet rapi. Diantara mereka adalah area terbuka tempat arus manusia, pengunjung maupun penonton, hilir-mudik.

Tim Mural sedang ngopi di depan tenda pameran Komunitas Kopi Sokoria.

Kalian bisa melihat pengunjung menikmati kopi dari tenda pameran Komunitas Kopi Sokoria, pun juga bisa melihat pengunjung memesan kopi dari para pedagang papa lele. Kalian bisa melihat pengunjung memesan gorengan dari salah satu tenda pameran, pun juga bisa melihat pengunjung berdiri di depan lapak papa lele untuk membeli sebotol air mineral atau sebutir telur rebus. Kalian bisa melihat penonton pertandindang sepak bola yang membeli sekantong brondong di lapak papa lele, pun bisa melihat pedagang asongan yang tertawa bahagia karena sekali masuk ke dalam stadion dagangannya ludes dibeli para penonton.

Rejeki tidak akan tertukar. Itulah yang saya perhatikan selama TSF berlangsung.

Pengusaha Jasa


Ada banyak pengusaha jasa yang meraih keuntungan dari TSF; jasa transportasi, jasa sablon, jasa parkir, jasa ini itu. Semuanya memperoleh dampak (positif) dari satu event TSF.

Kita mulai dari pengusaha jasa transportasi. Kabupaten Ende merupakan kabupaten dengan kecamatan-kecamatan yang letaknya tidak hanya di dalam Ibu Kota yaitu Kota Ende saja, tetapi juga kecamatan-kecamatan di luar Ibu Kota. Logisnya, jangankan luar kota, yang di dalam kota saja butuh jasa transportasi untuk mencapai Stadion Marilonga. Jalan kaki sejauh lima sampai delapan kilometer memang bisa dilakukan, tapi begitu sampai di Stadion Marilonga, klub andalan kecamatan mereka sudah kelar bertanding. Haha. Bayangkan saja jarak dari Moni (Kecamatan Kelimutu) ke Kota Ende saja bisa membutuhkan waktu tempuh sekitar dua jam. Oleh karena itu transportasi merupakan jasa yang sangat dibutuhkan; ojek, angkot, mini bis, bis, sampai truk kayu yang dimodifikasi dengan bangku-bangku untuk penumpang manusia. 

Baca Juga: Lomba Mural Lagi

Selain transportasi, pengusaha jasa lainnya adalah jasa sablon. Pengusaha jasa sablon ini sudah mulai bergerak bahkan sebelum TSF dimulai. Mereka menerima pesanan sablon kostum pemain, kostum suporter, kostum official, dan lain sebagainya. Coba kalian bayangkan, ada dua puluh satu kecamatan yang artinya ada dua puluh satu tim! Teman saya dari #EndeBisa yaitu Ampape Sablon bahkan sering mempos di FB tentang pesanan-pesanan kaos menjelang dan bahkan saat TSF berlangsung.

Bagaimana dengan jasa parkir? Panitia TSF memang menyediakan tempat parkir khusus yang dijaga oleh aparat Dishub, tetapi masih banyak pula masyarakat yang memilih parkir-cepat di seberang jalan, di depan rumah-rumah warga. Maka jasa parkir yang ini jelas menguntungkan warga meskipun tanpa karcis tapi tetap laris karena kemudahannya memarkir dan mengeluarkan sepeda motor. Saya salah seorang panitia yang pada suatu malam memilih jasa parkir warga ini.

Nah, kalau jasa yang berikut ini adalah jasa yang berkaitan dengan kreativitas. Al dari Be Art memang menjual gelang tenun ikat (barang) pada tenda pamerannya. Tapi jangan salah, Al juga menerima jasa membikin nama pada gelang tersebut. By request. Ini keren kan, jasa yang ditawarkan Al ini laris-manis. Banyak yang memesan, custom, gelang tenun ikat dibordir nama mereka atau nama pasangan mereka atau nama klub sepak bola favorit mereka.

Gelang tenun ikat dari Be Art.

Sayangnya, ada peluang usaha jasa yang terlewatkan oleh masyarakat. Hari-hari terakhir ini Kota Ende diguyur hujan (dan angin kencang). Saya belum melihat ada yang menawarkan jasa payung dan jas hujan. Hehe. Hujan dan angin kencang ini sering merobohkan beberapa tenda pameran, tetapi Seksi Perlengkapan dan Seksi Kelistrikan dengan sigap memperbaikinya. Tentu dibantu oleh anggota panitia lainnya.

Sektor Pertanian/Perkebunan dan Sektor Peternakan


Apakah sektor-sektor ini tergerakkan? Ya, kawan. Sangat. Sektor pertanian/perkebunan, misalnya, kalian bisa melihat para papa lele yang menjual buah-buahan seperti ata nona (lagi musim dan manisnya aduhai!) serta yang menjual kopi. Pada Komunitas RMC Detusoko kalian juga bisa melihat ragam hasil bumi yang dipamerkan dan dijual seperti sorgum dan olahannya, kripik ubi, nanas kering, hingga kacang-kacangan. Tapi, apabila kita mundur ke belakang, maka kita akan menemukan bahwa sektor-sektor ini jelas tergerakkan sejak semula jadi.

Kok bisa, Teh?

Pertama, kalian sudah tahu kan bahwa banyak pedagang papa lele yang berjualan nasi limaribuan, kacang hijau dan es buah dalan cup plastik (sedih ya, plastik lagi), hingga brondong. Mari kita lihat perhitungan ekonominya:


Itu baru satu pedagang papa lele yang saya tanyai. Belum yang lainnya; baik pedagang papa lele, pedagang asongan, maupun pengusaha kecil dan mikro. Perbedaan yang sangat signifikan antara hari biasa dan hari-hari TSF. Dari situ, kalian juga pasti bisa menghitung bahan baku yang dibutuhkan bukan? Mulai dari beras, sayur-mayur, ikan/daging, telur, jagung, kacang hijau, buah-buahan, kopi, gula, dan lain sebagainya. Meningkatnya permintaan 'pasar' dari event TSF sebagai konsumen, menyebabkan meningkat pula pembelanjaan yang dilakukan oleh produsen.

Ma Otu, salah seorang tetangga saya yang turut berjualan, dadakan, di depan Stadion Marilonga, mengaku TSF telah turut membantu perekonomian keluarganya. Berjualan pada event TSF terutama saat klub-klub dari luar kota berlaga, membikin nasi limaribuannya laris-manis terjual dalam sekali angkot menurunkan penumpang luar kota! Astaga! Oleh karena itu, untuk sementara ia memilih berjualan di depan Stadion Marilonga saat TSF dan berhenti membantu mengelola kantin di Kampus 3 Uniflor. Nah!

Memperkenalkan Komunitas


Di Kabupaten Ende ini banyak sekali komunitas. Ada komunitas yang sudah sangat dikenal, ada pula yang masih baru. Beberapa komunitas yang turut meramaikan tenda-tenda pameran TSF antara lain KaFE yaitu komunitas fotografer Ende, Komunitas Literasi Milenial FTI, Komunitas RMC Detusoko, Komunitas Kopi Sokoria, Komunitas Be Art, Komunitas Rumah Baca Suka Cita, dan lain sebagainya. Saya sendiri, misalnya, melalui TSF jadi tahu ada Komunitas Kopi Sokoria dan Komunitas Rumah Baca Suka Cita.






Awesome!

Sarana Bermain dan Belajar Para Bocah


TSF tidak saja menjadi daya tarik orang dewasa, para bocah pun demikian. Bukan, bukan saja para bocah yang merupakan anak-anak dari para pengisi tenda pameran maupun anak-anak papa lele dan pedagang asongan. Ini adalah para bocah pengunjung yang secara sengaja memang diajak orangtuanya untuk turut menikmati euforia TSF terkhusus di sebuah tenda pameran milik Komunitas Ruman Baca Suka Cita. Rumah Baca ini bahkan menempati dua tenda pameran; menyediakan buku-buku untuk dibaca di tempat oleh para bocah yang berkunjung, pun menyediakan kertas-kertas bergambar yang siap diwarnai.



Berbahagialah kalian, para bocah! Hehe. Kalian jadi punya sarana bermain dan belajar. Bahkan Rumah Baca Suka Cita juga menggelar perlombaan mewarnai dengan peserta yang sangat banyak. Meskipun pernah ditunda karena cuaca yang sangat buruk, perlombaan ini tetap digelar pun di tengah cuaca buruk, tetapi dipindah lokasinya ke Kantor PDAM yang terletak di samping Stadion Marilonga.

Baca Juga: Arekune

Luar biasa. Menunduk hormat untuk para pengelola Rumah Baca Suka Cita dan panitia TSF Seksi Pameran.

Hiburan


Tidak bisa dipungkiri TSF adalah hiburan untuk masyarakat Ende. Karena pada malam minggu diselenggarakan panggung hiburan yang menghadirkan musisi-musisi lokal. Dua malam minggu yang lalu, panggung mini di depan Stadion Marilonga, menampilkan sekelompok musisi asal Moni (Kecamatan Kelimutu) yang membawakan lagu-lagu bernuansa reggae. A-yeee! Ramai sangat! Penonton yang usai menonton pertandingan sepak bola pun berjubel di depan panggung.

Bagi saya, hiburan lainnya adalah cuci mata hehehe. Senang sekali begitu melihat orang-orang hilir-mudik, kayak menonton fashion show. Ini memang pertandingan sepak bola, tapi penontonnya harus modis doooonk.

Yang Terlewatkan


Dari apa yang sudah saya ulas panjang-lebar di atas, kalian jadi paham bahwa apa yang dipos Abang Iskandar di FB-nya itu memang benar. TSF adalah pesta masyarakat Kabupaten Ende! Tapi, selain yang betul-betul tertangkap mata, hasil mengamati, serta wawancara, ada hal-hal yang terlewatkan. Masih, dari lini ekonomi. Yang pertama adalah supporter.


Suppoter cilik yang gembira karena tim andalannya menang.

Supporter tentu turut meningkatkan perekonomian dengan memesan kaos supporter kan. Tapi perlu kalian ketahui bahwa wajah dan, kadang, tubuh yang di-cat itu membikin para pemilik toko cat tersenyum senang hahaha. Belum lagi tenore (alat drumband) yang pasti disewa. Amboi ... betul-betul semua lini lah ini TSF membawa dampak positif.

Apresiasi


Saya, pribadi, sangat mengapresiasi Triwarna Soccer Festival. Hanya dari satu event, begitu banyak lini yang merasakan imbasnya, baik langsung maupun tidak langsung. Saya sangat mengapresiasi semua anggota panitia yang betul-betul memerhatikan masalah sampah. Sampah di dalam Stadion Marilonga maupun sampah di luar Stadion Marilonga. Seksi Perlengkapan sigap menyediakan karung-karung sampah yang setiap pagi langsung diangkut ke tempang pembuangan sampah. Sampah yang bisa dibakar, pasti langsung dibakar. Jika ada yang protes: ah, masa sih? Itu sampahnya setiap hari ada. Ya kan karena event ini masih berlangsung dan mungkin saat melintas di depan Stadion Marilonga pada saat panitia belum membersihkannya. Tapi percayalah, urusan sampah ini selalu dibahas setiap briefing malam usai pertandingan terakhir sebelum kami pulang.

Saya berharap event tahunan dengan menu utama pertandingan sepak bola ini bakal lebih baik dari tahun ke tahun, dengan menambahkan mata acara baru. Tak hanya Pameran dan Lomba Mural, dan hiburan, bisa pula ditambah dengan Lomba Fashion Show Tenun Ikat, atau lomba-lomba lainnya.

Baca Juga: Laut Belakang Sekolah

Demikianlah TSF's Story. Kisah yang luar biasa dari Triwarna Soccer Festival. Kami, masyarakat Ende bangga punya event sekeren ini. Karena ... Ende jadi lebih ramai! Hehe.

Semangat Senin, kawan, dan semoga hari-hari kalian menyenangkan.



Cheers.

5 Mural Favorit


Lomba Mural yang merupakan salah satu mata acara dari Triwarna Soccer Festival telah dibuka dengan resmi oleh Ketua Panitia yaitu Bapak Lori Gadi Djou pada Senin, 4 Maret 2019. Sejumlah limabelas peserta/kelompok mulai berkreasi di bidang pagar tembok stadion kebanggan kami Orang Ende, Stadion Marilonga. Terhitung telah empat hari lomba berjalan dan masih tersisa tiga hari lagi sebelum penjurian final dan pengumuman pemenang. Siapakah yang akan menjadi pemenang? Itu masih tanda tanya seperti pada gambar awal pos ini. Hehe.

Baca Juga: 5 Yang Cantik

Selama empat hari berjalan, sambil nongkrong dan ngopi di tenda pameran Komunitas Kopi Detusoko, tugas saya adalah memotret prosesnya. Karena ada dua skafolding yang ditumpuk agar peserta dapat mencapai bidang paling atas, saya kesulitan bisa memotret semuanya. Tapi setidaknya ada lima mural-sedang-proses yang menjadi favorit saya. Yuk kita cek ...

1. Perempuan Menenun


Salah satu tema mural adalah perempuan sedang menenun. Tema ini dipilih oleh panitia karena menenun merupakan salah satu aktivitas perempuan di Kabupaten Ende baik pada Suku Ende maupun pada Suku Lio. Tentang proses pembuatan tenun ikat dapat dilihat pada pos Proses Pembuatan Tenun Ikat. Salah satu pos kebanggaan saya hahaha.


Gambarannya seperti pada gambar di atas. Proses kelompok ini termasuk cepat karena pada hari pertama bidang ini masih kosong. Saya suka melihatnya.

2. Tokek


Tokek merupakan salah satu simbol yang melekat pada rumah-rumah adat dalam bentuk ukiran pada kayu-kayunya. Selain tokek saya pernah melihat simbol hewan seperti ayam. 


Peserta ini datang dari kelompok/komunitas difabel. Menariknya, mereka mengikuti arahan juri dimana tokek dapat dipasangkan pada benda-benda lain yang memang dapat dilekatkan. Jadi, di mana kah gambar tokeknya? Ada pada perisai yang dipegang oleh si pahlawan saat pulang berperang. Wah, mendengar penjelasan singkat dari pesertanya saja saya sudah bisa membayangkan bagaimana nanti hasilnya.

3. Feko dan Lamba


Feko dan lamba merupakan alat musik tradisional. Sama dengan penggambaran tokek di atas, feko dan lamba merupakan tema utama yang didukung oleh unsur-unsur lain yang mengikat seperti para pemainnya yang menggunakan pakaian adat.


Wajah salah seorang pemainnya realistis sekali ya. Hehehe. Duh kok saya jadi dagdigdug ya? Para peserta ini hebat-hebat semuanya. Mereka paham betul pengarahan dari dewan juri dan mereka sangat kreatif!

4. Marilonga


Marilonga adalah nama pahlawan lokal yang sangat kami banggakan dan patungnya dapat dilihat di daerah Wolowona sebagai pintu masuk Kota Ende bagian Timur. Stadionnya saja bernama Stadion Marilonga hehehe.


Gambaran umum Marilonga sudah bisa kalian lihat juga kan. Saya suka penambahan pahlawan lokal di bagian kanan atas sosok Marilonga.

5. Tarian Wanda Pa'u


Ini dia tarian kebanggaan kami. Tarian ini pasti ada di setiap acara baik tradisional maupun moderen. Sama seperti tarian Gawi. Tarian yang pasti menggunakan selendang ini sudah terlihat penarinya di bidang yang ditentukan.


Terima kasih yaaaa kalian semua kece badai!

Memang banyak yang realistik, tidak abstrak, tapi setidaknya lomba ini telah menjadi wadah dan alat penambang. Bahwa buktinya di Kabupaten Ende (serta peserta kabupaten sekitar yang juga ikutan), ada begitu banyak anak muda yang berbakat di dunia seni khususnya mural ini. 


Sebagai 'ibunya anak-anak' saya harus bisa untuk selalu ada untuk mereka, para peserta. Harus bisa mendengar dan memenuhi kebutuhan mereka. Tentu bukan saya pribadi, tapi oleh sub panitia lain. Misalnya ketersediaan skafolding hingga urusan tempat sampah setiap kelompok dipenuhi oleh Seksi Perlengkapan. Ketersediaan listrik untuk yang menggunakan teknik airbrush dipenuhi oleh Seksi Listrik dan Soundsystem. Ketersediaan air minum dipenuhi oleh Seksi Konsumsi. Saya dan teman-teman seperti Om Konk, Cesar, dan Rolland, hanya mengkoordinir saja.

Jadi, selama Lomba Mural ini panggilan saya macam-macam. Ada yang memanggil Kakak, ada yang memanggil Kakak Ibu, ada yang memanggil Ibu Negara, ada yang memanggil Ibu Yang Baik, dan lain sebagainya. Mana-mana suka. Saya asyik saja. Hahaha. Manapula bergaul sama seniman itu memang bikin hepi berlapis. 

Menariknya dari Triwarna Soccer Festival dengan pertandingan yang memperebutkan Bupati Cup, Bego Ga'i Night, hingga Lomba Mural, adalah diskusi demi diskusi. Setiap hari saya berdiskusi dengan banyak orang; sesama panitia, bareng peserta Lomba Mural, sama para pengisi tenda pameran, hingga pengunjung. Diskusi ini melahirkn ide-ide baru hingga memperbaiki beberapa hal. Kemarin malam misalnya, bersama Bapa Harry, Mas Chandra, dan Om Konk, kami berdiskusi tentang penambahan Aksara Lotta yang merupakan aksaranya Orang Ende pada mural yang dilombakan. Bersama Ferdianus Rega, misalnya, kami berdiskusi tentang kopi sebagai komoditas unggulan kami Orang Ende, Orang Flores, serta pengelolaannya. Jadi diskusi ini yang, menurut saya, semakin membuka wawasan.

Kembali pada Lomba Mural. 5 Mural Favorit bukan berarti mereka sudah pasti menang. Tidak, kawan. Saya tidak punya hak untuk menentukan, karena itu hak dewan juri yang mutlak, nanti, dan tidak bisa diganggu oleh siapapun. Bisa jadi yang favorit hari ini dapat berubah hehehe. Karena kan ini masih sedang dalam proses, bukan hasil akhir.

Baca Juga: Di Nagekeo Hati Saya Tertambat

Oh ya, di setiap bidang diwajibkan untuk dilengkapi dengan bingkai. Bingkai ini haruslah motif daerah. Motif tenun ikat. Kece lah.

Bagaimana dengan kalian? Apa cerita kalian hari ini, kawan?



Cheers.

Be Art


Bego Ga'i Night merupakan konsep: duduk-duduk sambil mengobrol. Tentu mengobrol ditemani minuman seperti kopi dan teh, serta kudapan seperti lemet atau onde yang terbuat dari ubi/singkong. Itulah konsep dari Pameran Triwarna Soccer Festival yang sudah berlangsung sejak tanggal 27 Februari 2019 kemarin bertepatan dengan launching atribut Triwarna Soccer Festival. Pada pameran ini tenda-tenda besi khas pameran berdiri di depan pagar tembok Stadion Marilonga, menghadirkan hasil karya UKM dan Komunitas. Jadi di Bego Ga'i Night, masyarakat tidak hanya dapat melihat barang-barang yang dipamerkan oleh komunitas, termasuk ada Komunitas Fotografi, tapi juga dapat membeli ragam minuman dan makanan yang rasanya aduhai menggiling lidah.

Baca Juga: Monotuteh

Salah satu komunitas yang mengisi tenda pameran adalah Komunitas Be Art. Nur Ali atau Al adalah salah seorang mahasiswa Prodi Arsitek Universitas Flores yang turut mengisi tenda Be Art ini. Sudah lama Al dikenal sebagai pembuat gelang berbahan tenun ikat. Salah satu penampakannya, yang dipesan khusus oleh Violin Kerong, seperti pada gambar berikut ini:


Penjelasan gambar di atas:

1. Sukun goreng itu, sukunnya dibawa sama Bapa Sam alias Kakak Pacar.
2. Sambalnya itu Koro Degelai dari RMC Detusoko.
3. Nah, yang dikasih panah itu gelangnya.

Hahaha ... dan gelang itu menjadi milik saya.

Be Art


Be Art ini sebenarnya merupakan komunitas yang terdiri dari banyak orang. Ada Violin Kerong, ada Nur Ali, ada saya. Violin, karena musibah kebakaran rumahnya, otomatis tidak bisa mengisi tenda Be Art. Semua hasil kerajinan tangannya dan sketsa hasil goresan tangannya hangus terbakar, termasuk sketsa wajah saya yang rencananya juga bakal dipajang di tenda Be Art. Karya-karya Violin, saya ambil dari Facebook, dapat dilihat di bawah ini:



Lalu ada Al. Al ini mahasiswanya Violin (Kaprodi Arsitektur). Karya-karyanya sangat banyak. Salah satunya bisa dilihat pada awal pos; tas bambu yang saya pakai itu. Karya-karyanya yang lain ada agenda dengan sampul terbuat dari kayu, lampu dinding, tas botol, hingga aneka gelang:




Pada malam pertama pameran saja, Al telah menjual puluhan gelang tenun ikat, ditambah yang dipesan oleh pengunjung. Anak ini memang luar biasa. Pada akhirnya dia memberikan saya sebuah buku tentang pengelolaan sampah desa. Masih saya baca beberapa lembar hehe. Nanti bakal saya ulas buku dari Rumah Intaran Bali ini.

Bagaimana dengan saya sendiri? Iya, saya juga mengisi, sekadar untuk memenuhi quota, karena saya toh sudah lama libur ber-DIY. Jadi, hasil DIY yang saya sertakan itu sebenarnya yang tersisa dari pesanan kemarin-kemarin tapi belum saya kasih ke orangnya. Sayang ya, padahal banyak yang tertarik dengan keranjang berbahan koran itu. Sampai ada yang tidak percaya bahannya koran. Makanya saya sertakan juga keranjang yang belum di-cat.


Cuma segitu, yang lainnya kan sudah diambil sama yang memesan hehehe. Beberapa hari ini saya sudah kembali membikin keranjang, tempat pinsil, dan kreasi dari semen. Cuma ya itu ... waktunya tidak bisa saya paksakan harus jadi dalam waktu dekat, karena pekerjaan utama dan pekerjaan menjadi panitia ini juga membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Tapi yang jelas, banyak yang bertanya-tanya tentang keranjang-keranjang ini. Padahal saya tidak khusus membikin keranjang saja. Kalian pasti sudah tahu, tempat tisu adalah mega proyek hahaha.

Komunitas Lain


Banyak komunitas yang mengisi tenda pameran Bego Ga'i Night. Tapi ada dua yang betul-betul saya sukai yaitu RMC Detusoko dengan Lepa Lio-nya, dan Komunitas Kopi Sokoria yang dipimpin oleh Ferdianus Rega. Salah seorang putera daerah yang kembali ke desa untuk mengangkat kopi daerahnya agar dikenal khalayak. Ada dua desa yang saat ini memasok kopi untuk komunitas ini yaitu Desa Sokoria dan Desa Demulaka. Ke depannya mereka bakal mengajak lebih banyak desa untuk bergabung.


Inilah cara kami menumbuk kopi sebelum mesin penggiling kopi masuk ke Kabupaten Ende. Pakai lesung kayu dan alu. Menumbuk kopi jangan sampai sehalus saat menggiling pakai mesin. Karena di situ letak seninya ... cieee ... hahaha. Proses seduhnya masih memakai V60.



Kopinya arabika. Yang robusta habis stok. Okay. Rasanya enak, menurut saya, ada sedikit citarasa brown sugar begitu. Menurut saya, lagi, semua yang ada di komunitas ini dikemas dengan sangat profesional. Sayangnya mereka tidak buka kafe di Kota Ende. Mungkin mereka buka kafe di Sokoria? Semoga. Supaya saya bisa mainnya agak jauh begitu kalau pengen ngopi hehehe. Abang Ferdianus Rega ini juga sangat ramah dan komunikatif. Saat mengobrol bersamanya, saya tahu inilah orang yang akan membangun desanya dan desa-desa sekitar, yang mengenal betul keunggulan desanya, dan mengangkatnya, termasuk remaja-remajanya. Dia luar biasa. Sama seperti pendapat saya tentang Nando Watu dengan RMC Detusokonya. 

Kalau di Lepa Lio, dari RMC Detusoko, ada juga proses menggiling kopi hingga pembuatannya. Selain itu berbagai olahan seperti sorgum, kacang, nanas kering, aneka kopi, hingga Koro Degelai pun tersedia di tenda pameran mereka. Jadi, kira-kira samalah dengan Komunitas Kopi Sokoria ini, bahwa ada edukasi ke pengunjung tentang kopi, jenis-jenis, cita rasa, pengolahan, sampai penyajian kepada pengunjung. Kan tumben di Kota Ende ada sedotan a la kopi Starbucks begitu. Katrok ya saya hihihi.


Kalau kalian sedang berada di Kota Ende, jangan lupa untuk mampir di Stadion Marilonga. Karena, selain ajang sepak bola yang memperebutkan Piala Bupati, juga ada Bego Ga'i Night, dan Lomba Mural. Oh ya, Lomba Mural hari kedua ini beberapa bidang/peserta sudah nampak hasilnya meskipun masih gambaran umum belum sampai pada pendetailan. Insha Allah besok saya bakal hadirkan lima peserta Lomba Mural yang hasilnya sudah mulai terlihat. I promise.



Cheers.