Arsip Kategori: #BacaBuku

Makna Kehidupan di Tengah Pandemi oleh Agustinus Tetiro

 


Makna Kehidupan di Tengah Pandemi oleh Agustinus Tetiro. Membaca buku masih menjadi kebiasaan, budaya, yang sulit lepas dari diri saya pribadi. Di tengah terjangan video-video Youtube, buku masih punya porsi besar dalam kuadran hidup saya yang penuh warna ini. Meskipun gemar menulis cerita cinta tapi sejujurnya saya bukan penggemar buku dengan cerita cinta awut-awutan. Dari buku-buku fiksi saya menggilai keruwetan Deception Point karya Dan Brown, atau hasil khayalan tingkat tingginya J. K. Rowling dalam Harry Potter. Dari buku-buku non-fiksi saya terhipnotis pada kisah nyata penuh perjuangan dalam Between a Rock and a Hard Place yang ditulis oleh petualang bernama Aron Ralston. Sedangkan buku-buku non-fiksi lainnya berjenis self improvement, tentu kalian tahu tentang Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat oleh Mark Manson atau The Secret of Ikigai yang ditulis Irukawa Elisa.


Baca Juga: 5 Buku Self Improvement yang Wajib Kalian Baca


Baru-baru ini seorang teman Facebook bernama Gusti Adi Tetiro meluncurkan sebuah buku berjudul Makna Kehidupan di Tengah Pandemi dengan tagline Meditasi Bersama Viktor Emil Frankl. Kalian pasti tahu apa yang berkecamuk di dalam pikiran saya kan? Haha. Saya harus membaca buku yang satu ini! Alhamdulillah, Rabu kemarin buku ini tiba di tangan saya melalui kakak ipar Om Gusti. Anyhoo, saya memanggilnya dengan embel-embel 'Om', bukan karena kami berhubungan darah, bukan karena dia menikah dengan Tante saya, tetapi panggilan 'Om' merupakan suatu bentuk penghormatan yang membumi dalam prinsip hidup saya meskipun yang bersangkutan mungkin jauh lebih muda usianya. Sesederhana itu.


So, let's talk about the book.


Makna Kehidupan di Tengah Pandemi


Makna Kehidupan di Tengah Pandemi ditulis oleh Agustinus Tetiro a.k.a. Gusti Adi Tetiro (Facebookers lebih mengenalnya dengan nama ini). Dengan jumlah halaman 103, buku ini diterbitkan oleh Penerbit Ikan Paus. Menarik. Penerbit Ikan Paus beralamat di Pulau Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Dengan memperkenalkan perjalanan panjang cikal bakal buku ini disusun, pembaca jadi tahu seperti apa lingkungan pergaulan si Penulis. Menurut saya Om Gusti termasuk dalam kelompok logophile yang super filosofis. Well, buku ini dijual dengan harga Rp 70.000.


Viktor Emil Frankl dan Logoterapi 


Seperti tagline-nya, pada awal buku ini pembaca diperkenalkan dengan seorang neurolog dan psikiater bernama Viktor Emil Frankl yang juga merupakan korban Holocaust. Dia adalah pendiri Logoterapi dan Analisis Eksistensial dalam psikoterapi. Buku yang ditulis olehnya berjudul Man's Search for Meaning yang memuat pengalamannya saat menjadi tahanan kamp konsentrasi di mana dia menguraikan metode psikoterapinya dalam upaya mencari makna dalam segala bentuk keberadaan, bahkan yang paling kelam sekalipun. Kita harus tetap hidup! Berapa banyak orang di dunia semacam Viktor Emil Frankl? Holocaust itu tragedi kemanusiaan paling brutal dan dia berupaya untuk bertahan dengan cara 'mencari makna hidupnya sendiri'. It's a wow. Singkatnya Logoterapi memadukan atau mendampingkan antara fisik, psikis, dan spiritual seorang manusia.


Menurut Om Gusti (2020, 38), Logoterapi mempunyai beberapa sifat khas. Pertama, logoterapi menekankan pentingnya kehendak untuk bermakna. Kedua, logoterapi menuntut kesadaran dalam penemuan makna hidup manusia. Ketiga, dalam kaitannya dengan waktu, logoterapi melihat masa lampau secara kreatif sebagai bahan pembelajaran yang inspiratif dan tidak pernah sebagai bayangan yang membelenggu. Masa sekarang dan masa depan adalah titik tolak dan tujuan logoterapi. Harapan di masa depan mesti menarik orang untuk mengisi hidup semakin baik dari demi hari. 


Kalimat Kunci


Saya membaca Makna Kehidupan di Tengah Pandemi dengan sangat antusias. Tentu tidak mungkin semua isi buku saya kutip di sini. Hahaha. Tapi sepanjang membaca buku ini saya menemukan kalimat kunci yang pasti akan membikin kalian tertarik ingin membacanya juga.


Hanya orang yang mempunyai pikiran positif bahwa hidupnya bermaknalah yang mau mengikuti protokol kesehatan. (Agustinus Tetiro, 2020:82).


We can't argue with that. Di tengah pandemi Covid-19 yang membabi-buta ini, Om Gusti mengajak kita untuk berpikir tentang makna. Makna hidup setiap orang tentu berbeda. Tapi setiap orang tentu ingin tetap bertahan di tengah pandemi Covid-19, dan kalau beruntung bisa menerobosnya dan menggapai segala cita-cita dan harapan. Badai ini begitu besar. Seperti kalimat kunci di atas, hanya orang yang mempunyai pikiran positif bahwa hidupnya bermaknalah yang mau mengikuti protokol kesehatan. Bukan, mereka bukan orang-orang yang takut mati karena kematian itu selalu mengejar umat manusia. Ini menjadi kalimat kunci saya dari buku Makna Kehidupan di Tengah Pandemi.


Jadi, di tengah pandemi Covid-19 maukah kita menyia-nyiakan hidup kita dengan meninggalkan protokol kesehatan? Masihkah kita mengata-ngatai orang yang patuh pada protokol kesehatan dengan istilah si takut mati? Masihkah kita bilang orang-orang yang patuh pada protokol kesehatan adalah orang-orang yang menderita sampai-sampai tidak lagi menikmati hidupnya? Haha. Kita keliru! 


Mungkin kalian pun bakal bertanya, memangnya ada makna dalam penderitaan? 


Pada saat penderitaan itulah seseorang sebenarnya diberi kesempatan (terakhir) untuk mengaktualisir nilai tertinggi dan mengisi makna terdalam dari eksistensinya, yaitu makna kehidupan yang ditemukan melalui penderitaan seperti Covid-19. (Agustinus Tetiro, 2020:89).


Kalau Viktor Emil Frankl bukan orang yang kemudian menemukan makna hidup di tengah ganasnya Holocaust, maka dia tidak akan melahirkan logoterapi. Jika kita bukan orang yang bisa bertahan dalam pandemi Covid-19 (dengan memperketat protokol kesehatan yang sesederhana itu), maka kelak kita tidak akan punya cerita, kelak kita tidak akan bermakna, kelak kita hanya dikenal sebagai orang-orang pasrah yang miskin harapan dan cinta.



Baca Juga: Kalau Begitu Marilah Kita Coba Mendaki Tangga Yang Benar


Akhirnya saya harus berterima kasih pada Om Gusti yang telah menulis buku ini. Sangat membuka wawasan dan salah satu self improvement yang penting untuk kita semua. Saya juga harus berterima kasih kepada Kakak Irma Pello yang telah memediasi (hayaaaaah, bahasanya, Teh) sehingga buku ini bisa tiba di tangan saya. Bagi kalian yang belum membaca buku ini, mari dibaca. Saya jamin, kalian pasti suka dengan buku ini. 


Selamat menikmati akhir pekan, kawan.


Cheers.

Menambah Wawasan Bersama Building A Ship While Sailing


Menambah Wawasan Bersama Building A Ship While Sailing. Salah satu buku yang saya baca saat work from home demi menjalankan #DiRumahSaja berjudul Building A Ship While Sailing. Sebuah buku yang dibagikan langsung oleh penulisnya usai kegiatan seminar sekaligus peluncuran buku tersebut di Auditorium H. J. Gadi Djou tanggal 25 Agustus 2017. Sudah lama diluncurkan kenapa baru dibaca sekarang? Karena saya baru saja memperolehnya dari Kakak Shinta Degor. Haha. Dan lumayan juga buku ini dibaca di masa pandemi Covid-19, mengisi waktu, sembari nge-blog dan berkebun mini di beranda belakang Pohon Tua. Dan yang namanya buku, tentu selalu baik untuk dibaca, selama buku itu memang merupakan buku yang bermanfaat.

Baca Juga: Menonton Ulang Suami-Suami Yang Masih Takut Sama Isteri

Bagi kalian yang penasaran, marilah kita kenalan sama buku ini.

Building A Ship While Sailing


Building A Ship While Sailing ditulis oleh S. D. Darmono, Chairman Jababeka Group. Buku bersampul hitam dengan foto sang penulis ini diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia. Sebanyak 222 halaman kita tidak saja disuguhi bermacam teori tetapi juga quote menarik, serta foto-foto. Menurut S. D. Darmono, judul buku ini diinspirasi oleh Prof. Dr. Emil Salim beberapa tahun lalu ketika meresmikan Botanical Garden yang dibangun Jababeka di Cikarang, Bekasi. Sambil bergurau Prof. Dr. Emil Salim mengatakan, kita ini membangun negeri seperti membangun kapal sambil berlayar.

Pengantar buku ditulis oleh Prof. Dr. Komarudin Hidayat, Ketua Tidar Heritage Foundation (THF). Menurut beliau:

Setelah membaca buku ini, kita akan semakin mengenal kesungguhan dan kedalaman berpikir Mas Darmono untuk mengabdikan diri kepada bangsanya. (Hidayat dalam Darmono, 2017:xvii).

Terhitung 10 Bab tersaji dalam Building A Ship While Sailing. Dan saya memaknainya sebagai pelajaran tentang sejarah membangun negeri dari banyak aspek. Perjuangan tidak akan pernah berhenti.

Bergerak Maju Tanpa Melupakan Sejarah


Pada bab-bab awal Building A Ship While Sailing pembaca diajak menelusuri sejarah bangsa ini. Mulai dari Indonesia di zaman purba, nusantara di era Mahapahit, kemudian Indonesia dan kesultanan, hingga meluruskan pandangan tentang pribumi. Membaca tentang keteladanan tokoh bangsa membikin jiwa patriot dalam diri saya memberontak pula. Apa yang sudah saya lakukan untuk Indonesia? Hiks. Tahunya cuma berkoar-koar di media sosial, mengeluh tentang hal-hal yang tidak penting. Sedangkan Bung Karno, Bung Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, hingga John Lie Tjeng Tjoan, alias Jahja Daniel Dharma; satu-satunya milisi Indonesia keturunan Tionghoa yang meraih pangkat Laksamana Muda dan diberikan gelar Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Indonesia.

Mengapa sejarah dan tokoh-tokoh besar bangsa diulas di dalam Building A Ship While Sailing? Karena tidak ada yang namanya depan tanpa belakang. Tidak ada yang namanya masa depan tanpa sejarah. Seperti ... apakah itu masih disebut putih bila tidak ada hitam? Kira-kira seperti itulah. Pembaca diajak untuk memahami tentang pembangunan bangsa ini sejak awal mula, simpang-siurnya kondisi pada zaman perjuangan dulu, hingga perjuangan tak kenal ampun para tokoh besar bangsa ketika Indonesia diproklamirkan merdeka, bagaimana Indonesia harus bergaul dan bergaung di dunia/global, bagaimana sebuah kapal yang belum sempurna harus mengarungi lautan yang ganas. Ya, bagaimana kemudian kapal ini terus bertahan di lautan ganas tersebut.

Wisata budaya merupakan poin yang paling saya soroti dari Building A Ship While Sailing. Ulasannya lengkap dan luas. Menurut Darmono, pariwisata merupakan salah satu sektor utama yang harus mulai dikembangkan dan dikelola dengan sangat serius untuk meningkatkan pendapatan regional dan nasional di Indonesia. Ada beberapa alasan mendasar kenapa pariwisata harus ditempatkan sebagai salah satu sektor penting pembangunan ekonomi. Alasan yang pertama tidak terlepas dari perubahan dunia. Dunia tengah memasuki gelombang revolusi ketiga setelah dua revolusi sebelumnya, yakni revolusi politik dan revolusi industri. Revolusi ketiga ini berlangsung pada wilayah teknologi komunikasi-informasi dan transportasi. Situasi ini memberikan pengaruh yang sangat besar pada dunia pariwisata.

Sangat setuju!

Memulai Tidak Menunggu Sempurna


Ini garis besar yang saya tangkap setelah membaca Building A Ship While Sailing. Bagaimana kita memulai tanpa menunggu sempurna. Saya contohkan diri sendiri yang dulu ketika hendak berhijab selalu punya pernyataan: kumpulkan pakaian lengan panjang dan aneka hijab dulu, baru berhijab. Sampai kapan? Entah. Oleh karena itu pada suatu pagi saya menyingkirkan pernyataan sinting itu dan mulai berhijab. Hijrah yang terasa begitu menyenangkan karena justru setelah dilakukan, justru berjalan dengan mulus. Kendalanya ada ... kalau jilbab yang hendak saya pakai ternyata masih basah. Hahaha.


Baca Juga: Inilah Bukti Bahwa Takut Tidak Butuh Penampakan Setan

Bagaimana, kawan? Tertarik untuk membaca buku Building A Ship While Sailing juga? Silahkan. Saya jamin kalian tidak akan menyesal. Wawasan pasti bertambah. Apa yang saya tulis cuma sebagian kecil dari nilai-nilai yang diperoleh usai membacanya. Berjuanglah, blended dengan kondisi sekarang, dan naikkan layar meskipun kapal kalian belum sempurna terbentuk. Percayalah, banyak pelajaran yang bisa kita peroleh selama perjalanan ini dan pengalaman itu dapat menjadi penyempurna perjalanan.

Semoga bermanfaat.

#SabtuReview



Cheers.

Jangan Suka Nyablak Karena Bicara Itu Ternyata Ada Seninya


Jangan Suka Nyablak Karena Bicara Itu Ternyata Ada Seninya. Hai kalian bos-bos pembaca blog! Di rumah saja akibat penyebaran virus Corona di Indonesia memberi kesempatan pada kita untuk melakukan banyak kegiatan. Salah satunya: membaca buku. Coba kalian ingat-ingat lagi, sudah berapa banyak buku yang dibaca sepanjang tahun 2020 yang baru berjalan tiga bulan ini? Lima? Atau bahkan sudah enam belas buku? Tentu dua minggu dirumahkan bukan berarti saya semata-mata membaca buku. Banyak kegiatan lain yang juga dilakukan antara lain nge-blog dan membikin video: Blogging, BlogPacker, dan Podcastuteh untuk diunggah di Youtube. Yuhuuuuu. By the way, salah satu buku yang saya baca setelah buku berjudul The Secret of Ikigai adalah Bicara Itu Ada Seninya. Artinya, jangan suka nyablak! Haha.

Baca Juga: Fiersa Besari Memang Jagoannya Merangkai Kata-Kata

Seperti apa sih buku berjudul Bicara Itu Ada Seninya?

Cekidot!

Bicara Itu Ada Seninya


Bicara Itu Ada Seninya ditulis oleh Oh Su Hyang. Oh Su Hyang adalah seorang dosen dan pakar telekomunikasi di Korea Selatan. Jadi, kalian jangan hanya tahu K-Pop, Drama Korea, atau Tuba Entertainment yang memproduksi Larva, tetapi juga harus tahu bahwa dari negara unik itu juga ada seorang pakar telekomunikasi. Diterjemahkan oleh Asti Ningsih, buku terbitan Penerbit Bhuana Ilmu Populer (BIP) yang merupakan Kelompok Gramedia ini bersampul hitam dengan tulisan berhuruf besar berwarna putih. Tagline-nya: The Secret Habits to Master Your Art of Speaking (Rahasia Komunikasi yang Efektif)Sebanyak 238 kita akan diajarkan secara tidak langsung tentang seni berbicara. Tahukah kalian, ternyata storytelling merupakan plot yang kokoh?

Saya tertarik dengan narasi pada sambul belakang buku ini:

Ketika komunikasi menjadi hal yang penting untuk bersaing, pakar komunikasi Oh Su Hyang mengeluarkan buku yang sangat berarti. Selain berisi tentang pengalaman pengembangan diri, buku ini juga membahas tentang teknik komunikasi, persuasi, dan negosiasi.

Lalu bagaimana cara berbicara yang baik? Apakah berbicara dengan artikulasi yang jelas? Atau berbicara tanpa mengambil napas? Tidak! Sebuah ucapan yang bisa disebut baik adalah yang bisa menggetarkan hati. Ucapan seorang juara memililki daya tarik tersendiri. Ucapan pemandu acara memiliki kemampuan untuk menghidupkan suasana. Anda harus pandai berbicara untuk menunjukkan diri Anda kepada lawan bicara dalam kehidupan sosial. Orang yang berbicara dengan mahir akan menjadi lebih maju daripada yang lainnya. Untuk mencapai tujuan komunikasi, persuasi, dan negosiasi, Anda harus mengetahui metode komunikasi yang efisien.


Berisi bab-bab dengan bahasa yang ringan, pengalaman-pengalaman, ragam tips dan trik, saya pikir kalian wajib membaca buku yang satu ini.

Mengajarkan Tanpa Harus Menggurui


Saya sering menulis tentang para penulis yang mengajarkan banyak hal baik pada pembacanya tanpa terkesan menggurui. Tetapi sebenarnya kalau penulis itu memang menggurui ya tidak masalah sepanjang mereka punya kapabilitas untuk melakukannya. Di dalam Bicara Itu Ada Seninya, pembaca diajak untuk mengetahui alasan takut berbicara. Salah satunya karena trauma salah ucap. Saya sering mengalami salah ucap. Tapi untuk sampai pada tahap trauma, belum. Karena toh saya pribadi tidak mengalami kendalam saat berbicara di muka publik. Itu saya. Tapi pasti beda dengan orang lain yang bahkan untuk berdiri di muka publik saja bergetar seluruh tubuh. Intinya adalah harus membuang rasa takut tersebut. Itu yang diungkapkan oleh Oh Su Hyang.

Mengubah cara bicara, mengubah cara hidup, juga tertuang di dalam buku ini. Mengubah cara bicara tidak terjadi sekedip mata. Oh Su Hyang mengajarkan tentang latihan di balik panggung gelap, dengan contoh (alm.) Steve Jobs. Membaca bagian ini saya ingat diri sendiri. Jujur, saya seringkali berbicara dengan nada yang cukup tinggi, kecepatan cahaya, sehingga sering belepotan. Diimbuh suara yang cempreng. Oh lala, yang mendengar saya bicara pasti langsung sakit kepala. Tetapi setelah menjadi penyiar radio, saya harus bisa menjadi orang lain yang mendengarkan diri sendiri berbicara. Ah, ternyata memang benar, bicara itu ada seninya. Hahaha.

Perkara yang juga diajarkan Oh Su Hyang dalam Bicara Itu Ada Seninya adalah tentang Sepuluh Aturan Komunikasi:

1. Kata-kata yang tidak bisa diucapkan di "depan", jangan dikatakan di "belakang". Gunjingan sangatlah buruk.

2. Memonopoli pembicaraan akan memperbanyak musuh. Sedikit berbicara dan perbanyak mendengar. Semakin banyak mendengar akan semakin baik.

3.Semakin tinggi intonasi suara, makna dari ucapan akan semakin terdistorsi. Jangan menggebu-gebu. Suara yang rendah justru memiliki daya.

4. Berkata yang menyenangkan hati, buka sekadar enak didengar.

5. Katakan yang ingin didengar lawan bicara, bukan yang ingin diutarakan. Berbicara yang mudah dimengerti, bukan yang mudah diucapkan.

6. Berbicaralah dengan menutupi aib dan sering memuji.

7. Berbicara hal-hal yang menyenangkan, bukan yang menyebalkan.

8. Jangan hanya berkata dengan lidah, tetapi juga dengan mata dan ekspresi. Unsur non-verbal lebih kuat daripada unsur verbal.

9. Tiga puluh detik di bibir sama dengan tiga puluh tahun di hati. Sepatah kata yang kita ucapkan mungkin saja akan mengubah kehidupan seseorang.

10. Kita mengendalikan lidah, tapi ucapan yang keluar akan mengendalikan kita. Jangan berbicara sembarangan dan bertanggungjawablah terhadap apa yang sudah Anda ucapkan.


Sehingga, kalau kalian menyimpulkan buku ini tidak hanya menuangkan 'ilmu' berbicara di muka publik tetapi juga terhadap teman ... betul sekali. Tentunya masih banyak pelajaran lain yang bisa kalian ambil dari buku ini demi kelancaran komunikasi baik dengan orangtua, saudara, kawan, tetangga, kekasih, maupun musuh! Hehe.

Mengaplikasikannya Dalam Kehidupan Sehari-Hari


Beberapa teman-teman yang hendak mengikuti ujian skripsi sering bertanya pada saya, bagaimana bersikap di dalam ruang sidang skripsi. Saran saya pada mereka:

Pertama:
Harus menguasai penelitian yang sudah diubah dalam bentuk skripsi tersebut! Bagaimana bisa berbicara kalau materinya tidak dikuasai? Kuasai permasalahannya, kuasai undang-undang yang dipakai, kuasai pemecahan masalahnya.

Kedua:
Berbicara tanpa 'eee', tanpa 'anu'. Berbicaralah dengan tegas, lugas, tanpa keraguan sedikit pun, namun tidak berkesan sombong. Karena biarpun kalian menguasai 100% materi tetapi tidak didukung dengan kemampuan berbicara yang baik ... Wassalam. Oleh karena itu, harus berlatih berbicara dimulai dengan "Selamat pagi, nama saya Abcefg, NIM sekian, judul penelitian saya adalah Ini Itu Adalah Ini Itu".

Ketiga:
Menatap wajah dosen dengan tatapan pasti. Percaya diri.

Keempat:
Bawa selalu Tuhan dalam setiap perkataan.


Jadi, kawan, jangan pernah menganggap remeh para pewara alias master of ceremony. Apa pun acara kalian, tanpa pewara, bakal garing. Merekalah yang membawa acara kalian menjadi terarah dan meriah. Pewara bukan sekadar pewara, tetapi mereka harus menguasai pula inti acara yang dibawakan tersebut. Otak mereka harus menerima informasi-informasi baru, mengolahnya, untuk melengkapi pekerjaan membawa acara. Saya sering sedih kalau mendengar orang-orang berkata: apa eeee omong begitu saja bayar sampai jutaan. Kadang saya langsung membalas: mau yang murah? MC sendiri, jangan minta jasa MC kondang. Meskipun bukan pewara tapi saya sangat tahu persis betapa susahnya jadi pewara, terutama pewara perempuan yang selain mengandalkan otak dan seni berbicara, juga harus memerhatikan penampilan.

Semoga pos ini bermanfaat untuk kalian semua.

Selamat menikmati akhir minggu. Dan setidaknya saya cukup senang mendengar berita dari RRI Ende yang mengabarkan ODP di Ende dari 22 turun hingga 3. Dari 3 ODP, 2 sudah dirumahkan (karantina diri sendiri), 1 masih dirawat di ruang karantina RSUD Ende karena masih balita. Semoga badai ini lekas berlalu ...

#SabtuReview



Cheers.

Mengintip Rahasia Bahagia dan Umur Panjang dari Ikigai


Mengintip Rahasia Bahagia dan Umur Panjang dari Ikigai. Membaca judul, kalian pasti bertanya-tanya, memang ada sekolah yang mengajarkan hal itu? Ada donk. Semua tingkatan sekolah di Indonesia mengajarkan hal itu, terutama sekolah dasar, melalui cara-cara halus yang tidak disadari oleh para murid. Di sekolah, murid diajarkan untuk menghormati guru dan menyayangi teman, saling menghargai, tidak menghina apalagi melakukan kekerasan fisik terhadap orang lain, tidak mencuri, tidak berbohong, selalu bersyukur dan lain sebagainya. Murid sedapat mungkin punya simpati dan empati dan digembleng agar memiliki karakter yang baik. Tapi sekolah secara harafiah bukan satu-satunya tempat kita belajar. Buku juga merupakan sekolah. Ya, bagi saya buku juga merupakan sekolah yang mengajarkan pembacanya banyak perkara. Siapa pun yang tidak membaca buku pasti merugi. Kalau ada yang membantah, artinya dia memang jenius sejak lahir. Begitu berusia lima jam, sudah pandai bicara menggunakan lima bahasa di dunia, hafal sejarah Hagia Sohpia, serta tahu seluk-beluk kalkulus. 

Baca Juga: KKN di Desa Penari yang Menggemparkan Dunia Maya

Salah satu buku bertema self improvement yang pernah saya baca berjudul The Secret of Ikigai: Rahasia Menemukan Kebahagiaan dan Umur Panjang Ala Orang Jepang. Duh, menulis Jepang, saya punya cita-cita menghabiskan masa tua di Jepang loh. Haha. Jepang itu negara yang sangat menarik. Bukan hanya karena anime-nya, atau bunga sakura, tetapi juga gaya hidup masyarakatnya, makanannya, sampai penemuan-penemuannya yang bikin saya ternganga. Siapa sih yang tidak tahu gaya hidup minimalis Orang Jepang? Kalian pasti tahu futon, perangkat tidurnya Orang Jepang. Agung Riantiarno menulis sebagai berikut: Futon dalam satu set nya biasanya terdiri dari Shikibuton (matras) yang biasanya hanya sedikit lebih tebal dari Bed Cover, Shiitsu (seprai kasur), Kakebuton (selimut tebal), Houfu (sarung dari selimut), Makura (Bantal) dan Makura Kaba (sarung bantal). Kalau Orang Indonesia maunya kasur pegas king size! Hahaha.

Kita tinggalkan futon, mari bahas The Secret of Ikigai!

The Secret of Ikigai


The Secret of Ikigai ditulis oleh Irukawa Elisa. Buku setebal 224 halaman ini diterbitkan oleh Araska (Publisher) dengan tema/kategori self improvement. Ada lima bab, di luar kata pengantar hingga epilog, yang membawa pembaca pada semesta 'sadar dan kenal diri sendiri'. Hal semacam ini memang familiar karena buku-buku self improvement lain juga mengajarkan hal yang sama. Tapi jelas, The Secret of Ikigai yang bersampul putih dengan bunga sakura ini menjelaskan dari sudut pandang berbeda, bernuansa kehidupan Orang Jepang.

Aliran Lima Bab


Ini menarik, The Secret of Ikigai ditulis dalam bab-bab yang mengalir seperti air. Sangat runut alias tidak melompat-lompat. Seperti proses manusia: lahir - belajar berjalan - bertumbuh - menikah - menjadi orangtua - dan seterusnya. Lihat Bab 1 yang berjudul Tujuan Hidup Tidak Jelas? Kuasai 4 Konsep Filosofi Ikigai. Ini pertanyaan umum, dan memang secara umum banyak orang yang bertanya pada diri sendiri, mau di bawa ke mana hidup saya ini? Menyerah, atau belajar dan berjuang? 4 Konsep Filosofi Ikigai itu adalah

1. Apa yang kamu sukai?
2. Apa yang dibutuhkan dunia?
3. Apa timbal balik untuk Anda?
4. Apa kemampuan Anda?

Kalau pembaca bisa menjawab empat pertanyaan di atas ... luar biasa. Passion menjadi paid for.

Masih dari Bab 1 pula pembaca diajarkan membongkar 4 elemen Ikigai yaitu: Mission, Vocation, Profession, dan Passion.

Orang yang hidup memiliki passion akan hidup lebih bahagia dan memiliki usia yang lebih awet muda, seperti orang penduduk Jepang. Seperti yang kita tahu bahwa Jepang termasuk negara maju yang memiliki jam kerja yang luar biasa padat. Dengan kepadatan kerja yang luar biasa, mereka memiliki angka kematian yang kecil. Dari hasil penelitian, hal ini karena mereka mampu menemukan Ikigai mereka di tengah kesibukan yang memicu stress. Indonesia yang masih memiliki jam kerja yang cukup, harusnya lebih mudah menemukan Ikigai. (Irukawa Elisa, 2019:40).

Pada Bab 2: Lesu Menjalani Hidup? Bongkar Pembangkit Semangat Hidupmu. Poros Bab 2 ini ada pada bagaimana kita menemukan tujuan hidup, membangun emosi positif, menghindari prasangka, dan menyadari identitas diri yang sebenarnya. 

Pada prinsipnya adalah, mengetahui kesenangan, ketidaksenangan, karakter dan pribadi diri sendiri. Karena hal inilah yang akan menjadi modal utama, sekaligus sebagai pengantar untuk menuju kesuksesan. (Irukawa Elisa, 2019:60).

Bab 3: Fokus pada Hal yang Kamu Cintai. Ini mengingatkan saya pada buku berjudul Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat. Iya, kita seringkali terganggu dengan perkara-perkara kecil, seperti omongan orang dan bisik-bisik tetangga, sehingga tergeser dari fokus (apa yang kita cintai). Misalnya, kemampuan kita adalah mendaur ulang sampah, tetapi kuatir sama omongan orang "Sarjana kok daur ulang sampah!" pada akhirnya kita bergeser dari apa yang kita cintai (mencintai hobi, kesenangan, apa yang dilakukan). Pada Bab 3 ada sub berjudul: Menikmati Air Mengalir. Ini bagus, dalam pandangan saya, apa yang tidak bisa diubah oleh manusia, artinya harus dinikmati, sepahit apa pun itu. 

Bab 4: Menggali Kemampuan Tersembunyi. Iya sih, banyak orang tidak sadar bahwa mereka punya potensi. Ada potensi/bakat/kemampuan yang langsung menunjukkan diri, tapi ada pula yang bersembunyi menunggu pencarinya/penggalinya. Di sini kita belajar bahwa kreativitas tidak dimiliki oleh orang tertentu saja. 

Pertanyaannya adalah bagaimana membangun kreativitas yang mampu melahirkan inovasi? Memang tidaklah mudah, perlu yang namanya latihan, dan berpikir kritis. Tidak sekedar itu, tetapi juga peka terhadap banyak hal. Karena dengan peka terhadap banyak hal-hal kecil di sekeliling akan mengasah kreativitas dan memantik inovasi lahir. (Irukawa Elisa, 2019:108).

Bab 5: Apa Timbal Balik Ikigai? Tentu panjang umur dan bahagia merupakan timbal balik pertama yang bakal diperoleh. Berikutnya menyusul: produktif, menjadi pribadi yang lebih disiplin, menciptakan manusia berkualitas, kreatif dan inovatif, menjadi agen perubahan, memiliki kemampuan self driving, dan rasionalis.

Seseorang yang memiliki visi dan misi yang jelas, disertai dengan semangat mewujudkan. Maka secara otomatis sistem syaraf otak akan bekerja untuk berfikir rasional. Jadi secara otomatis sistem syaraf otak saling terkoneksi untuk melihat peluang di setiap celah yang ada. Orang yang memiliki pemikiran rasional, memiliki pemikiran lebih kritis setiap melihat peluang dan objek yang ada. (Irukawa Elisa, 2019:216).

Tentu, masih banyak detail-detail menarik yang bisa kalian temukan di dalam buku ini, ditulis/dikupas tuntas satu per satu oleh Penulisnya. Jangan salahkan saya jika saat kalian membaca, kepala bakal mengangguk-angguk setuju seratus persen. Hehe. 

Kita dan Ikigai


Menurut Wikipedia, Ikigai adalah istilah Jepang untuk menjelaskan kesenangan dan makna kehidupan. Kata itu secara harfiah meliputi iki, yang berarti kehidupan dan gai, yang berarti nilai. Ikigai kadang diekspresikan sebagai “alasan untuk bangun di pagi hari”. Ikigai-lah yang memberikan motivasi berkelanjutan untuk menjalani hidup, atau bisa juga dibilang bahwa ikigai-lah yang memberikan gairah hidup yang membuat semangat dalam menyambut kedatangan setiap hari baru. Irukawa Elisa menulis bahwa Ikigai di Jepang sudah akrab, dan menjadi gaya hidup mereka. Sebenarnya di Indonesia secara tidak langsung sebenarnya juga telah mempraktekkan Ikigai. Perbedaannya Ikigai di Jepang dan di Indonesia hanya pada sebutannya. Di Indonesia, tidak ada nama sebutan khusus terkait tujuan hidup. Namun, sebenarnya Orang Indonesia sudah memiliki tujuan hidup dan sudah menemukan sumber kebahagiaan.

Kalian pasti terkejut. Hehe.

Menurut Irukawa Elisa, di Indonesia khususnya kaum Muslim, kata yang lebih tepat bukan Ikigai, namun dapat disederhanakan dengan ikhlas dan bersyukur menjalani hidup. Bersyukur menjalani hidup dapat saya bilang mudah dilakukan oleh siapa saja. Tetapi ikhlas, itu perkara lain. Byuuuuh. Susahnya ikhlas itu pasti kalian juga sudah merasakan hahaha. Tapi kita harus berupaya untuk bisa ikhlas dalam setiap sendi kehidupan ini.

Baca Juga: Pariwisata Nusantara

Akhirnya selesai juga saya me-review buku ini setelah lama dibaca. Salah satu buku self improvement yang juga saya rekomendasikan pada kalian. Kalau kalian juga punya rekomendasi buku-buku self improvement lain, silahkan komen di bawah, siapa tahu bakal saya beli, baca dan review. Semoga bermanfat bagi kalian semua. Mulailah belajar mengenali diri sendiri, menggali kemampuan diri, memanfaatkan potensi diri, bodo amat sama perkara-perkara kecil yang tidak penting, serta jangan lupa bersyukur dan berusaha ikhlas!

#SabtuReview



Cheers.

5 Buku Self Improvement yang Wajib Kalian Baca


5 Buku Self Improvement yang Wajib Kalian Baca. Membaca buku merupakan kegiatan yang masih saya lakukan di sela-sela aktivitas lainnya seperti bekerja di kantor, nge-blog, membikin konten Youtube, berkomunitas, melancong, dan lain sebagainya. Buku, I mean the real book not e-book, masih dan akan terus menjadi bagian hidup saya. Memburu buku memang sudah saya hentikan; terakhir memburu buku Harry Potter and Deathly Hallows di Jakarta, bahkan buku itu belum diletakkan di rak Gramedia Salemba, haha. Tapi membeli buku masih terus saya lakukan. Kalian tahu bedanya kan. Memburu, artinya saya bisa berupaya sekeras mungkin untuk mendapatkan buku-buku baru dari penulis favorit. Membeli, artinya saya membeli buku yang menurut saya perlu dibeli. Dan akhir-akhir ini saya lebih sering membeli buku bertema self improvement.

Baca Juga: 5 Ranah Hukum di Indonesia yang Wajib Kalian Tahu

Apa sih self improvement itu?

Secara harafiah self improvement berarti perbaikan diri dan/atau memperbaiki diri. Lebih dalam, self improvement adalah tentang bagaimana kita mengenali diri sendiri baik kebiasaan baik, kebiasaan buruk, maupun potensi tersembunyi; untuk diperbaiki, dikelola, dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya demi peningkatan kualitas hidup. Self improvement berkaitan dengan personal development. Personal development atau pengembangan pribadi mencakup kegiatan yang meningkatkan kesadaran dan identitas, mengembangkan bakat dan potensi, membangun sumber daya manusia dan memfasilitasi kemampuan kerja, meningkatkan kualitas hidup dan berkontribusi pada perwujudan impian dan aspirasi.

Dalam salah satu video SCURD, Raditya Dika mengatakan bahwa dirinya kini menerapkan pola hidup minimalis. Teringat salah satu buku yang pernah saya baca berjudul Seni Hidup Minimalis. Buku itu mengajarkan pembacanya untuk lebih cerdas memilih dan memilah serta harus bisa tega membuang semua 'sampah' dari hidupnya. Apalah kita ini, yang bahkan punya lebih dari sepuluh tas, lebih dari sepuluh sepatu, lebih dari sepuluh botol parfum, dan merasa masih kurang? Byuuuuh! Mungkin itu memang sifat dasar manusia. Selalu merasa kurang. Telepon genggam saja harus dua. Haha. 

Membaca buku-buku bertema self improvement memang memberi pengaruh yang cukup besar bagi hidup saya. Entah dengan kalian. Dan kali ini saya akan merekomendasikan lima buku self improvement. Wajib kalian baca! Tapi kalau kalian tidak suka membacanya ... tidak apa-apa. Tergantung kesenangan dan kebiasaan saja.

Yuk tengok lima buku itu.

1. Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat


Buku ini ditulis oleh Mark Manson. Seorang blogger. Dia mengingatkan kita pada Raditya Dika, pada Kerani dari ChaosAtWork (My Stupid Boss), pada Trinity. Tulisan-tulisannya di blog didominasi dengan aneka tips dan/atau motivasi menarik tentang menjalani hidup, tanpa terkesan menggurui, dan menulisnya dari sudut pandang berbeda. Salah satu hal menarik dari buku ini adalah penjelasan tentang tetap positif. Bukankah kita sering sekali memotivasi diri sendiri untuk tetap positif? Mark Manson menulis bahwa pengingkaran terhadap emosi negatif menuntut kita untuk mengalami emosi negatif yang lebih dalam dan berkepanjang, serta disfungsi emosional. Terus menerus bersikap positif justru merupakan salah satu bentuk pengelakan terhadap masalah, dan bukan cara yang tepat untuk menyelesaikannya. Contoh yang dilampirkan Mark Manson adalah bahwa ketika kita marah pada seseorang, itu alami karena kemarahan adalah bagian dari kehidupan. Tapi ketika kita memilih untuk tidak memukul seseorang karena marah itu adalah pilihan tepat karena marah adalah alami dan memukul adalah perkara lain yang menimbulkan perkara yang lebih besar.

Hasrat untuk mengejar semakin banyak pengalaman positif sesungguhnya adalah sebuah pengalaman negatif. Sebaliknya, secara paradoksal, penerimaan seseorang terhadap pengalaman negatif justru merupakan sebuah pengalaman positif (Mark Manson, 2018:10).

Cobalah baca buku ini. Dan saya yakin kalian pasti suka.

Seni #2: Untuk bisa mengatakan "bodo amat" pada kesulitan, pertama-tama Anda harus peduli terhadap sesuatu yang jauh lebih penting dari kesulitan (Mark Manson, 2018:19).

2. Mendaki Tangga yang Salah 


Buku ini ditulis oleh Eric Barker dan diterbitkan oleh P.T. Gramedia Pustama Utama pada tahun 2019. Sebanyak 360 halaman mengajarkan pembacanya tentang banyak hal untuk lebih mengenali diri sendiri. Istilahnya: mau jadi apa kita kelak? Kenali diri sendiri! Dan, ah ya, saya tidak bisa untuk melewatkan yang satu ini: buku Mendaki Tangga Yang Salah diberikan oleh Ibu Rosalin Togo atau lebih dikenal dengan panggilan Mami Ocha yang saat ini sedang menempuh pendidikan S2 di Kota Surabaya. Terima kasih, Mami ... Pahlawan Intelektual saya! Hehe.

Eric Barker tidak berusaha menggurui. Dia lebih condong pada memberikan contoh perilaku, kesuksesan orang-orang besar dunia, hingga beragam teori, serta penelitian dan hasil penelitian para profesor dan/atau para pakar. Garis besar, benang merah, Mendaki Tangga Yang Salah adalah kenali diri sendiri. Kalau kita tidak sependapat, biarkanlah ketidaksependapatan itu menjadi nilai demokrasi dalam me-review buku. Haha. Apabila manusia mengenali diri sendiri maka dia akan tahu tangga mana yang harus dinaiki. Bukan begitu poinnya? Bayangkan saja jika kita tahu, tidak pandai, atau tidak berbakat membikin sketsa tetapi terus-terusan memaksakan diri hingga akhir hayat. Apa yang kita capai? Nothing.

Bab 1 Mendaki Tangga Yang Salah memoroskan kalimat judul Jika Ingin Sukses, Haruskah Kita Bermain Aman dan Melakukan Apa Yang Diperintahkan Kepada Kita

3. Mission Ini Possible


Misbahul Huda adalah penulis buku ini. Buku Mission Ini Possible dengan pengantar dari Dahlan Iskan ini sangat menarik di setiap lembarnya. Isinya merupakan pengalaman membangun dari si penulis; motivasi yang luar biasa. Saya mencintai buku-buku Ajahn Brahm tapi saya juga mencintai buku yang ditulis oleh Misbahul Huda ini. Bahkan pada halaman awal saya sudah terpesona:

Jika anda tidak berubah, anda akan punah. Kalimat yang sama pernah saya dengarkan saat sosialisasi oleh Telkomsel di Fakultas Ekonomi - Universitas Flores. Betul juga. Apalah kita ini jika terlalu idealis dengan dunia yang dulu. Menerima perubahan dan memanfaatkannya untuk hal-hal yang positif jauh lebih baik ketimbang membuang enerji untuk menolak perubahan yang terjadi. Setidaknya tidak perlu menolak, duduk diam-diam dan tenang-tenang saja lah ... menanti menjadi punah. Hehehe.

Ingat:
Satu-satunya bagian dari kita yang tak berubah adalah menjadi.

Buku ini sangat saya rekomendasikan kepada kalian semua. Isinya bagus. Ditulis dengan bahasa yang sangat mudah dipahami dan kadang-kadang menggunakan istilah-istilah bahasa Jawa. Kutipan-kutipan kalimat bijak yang diselipkan, selain sesuai dengan sub buku, juga sangat memotivasi pembacanya. Kadang, ketika ada orang yang tidak mau berubah, hanya dengan membaca sebuah buku niscaya dia akan berubah. Percayalah. Pendorong itu bukan hanya orangtua, pacar, suami/isteri, sahabat, tapi juga sebuah buku.

4. The Secret of Ikigai


Buku ini sudah saya baca tapi belum pernah menulis review-nya di blog ini. Buku dengan tagline: Rahasia Menemukan Kebahagiaan dan Umur Panjang Ala Orang Jepang ditulis boleh Irukawa Elisa. Setiap bab buku ini mengajarkan hal-hal yang familiar karena memang itu yang kita jalani sehari-hari. Salah satunya adalah menghindari prasangka. Kawan, susah sekali ... karena prasangka itu bagian dari hidup kita setiap harinya. Haha.

Tidak mudah menghindari prasangka dalam kehidupan bersosial. Sebagai manusia dalam keseharian, hampir setiap hari kita membangun prasangka tanpa kita sadari. Mulai dari prasangka positif maupun negatif. Prasangka ini pulalah yang menimbulkan penilaian like-dislike terhadap orang lain. Satu orang dengan orang yang lain pun akan memiliki penilaian yang berbeda, tergantung dari emosi (suasana hati) orang tersebut pada waktu itu. (Irukawa Elisa, 2019:47).

Seperti yang tertulis pada sampul belakangnya: Buku ini adalah buku yang tepat untuk Anda baca. Di sinilah Anda akan mengetahui ilmu Ikigai. Ikigai akan membantu Anda akan menemukan tujuan hidup Anda dan kebahagiaan hidup Anda. Ikigai mengajarkan cara hidup lebih mandiri, bermanfaat untuk diri sendiri dan juga untuk lingkungan. Inilah Ikigai, rahasia hidup bahagia, panjang umur dan penuh makna.

5. Berjalan di Atas Cahaya


Di luar dari perilaku atau omongannya yang disiarkan di berita, saya menyukai cara menulis Hanum Salsabiela Rais dalam buku Berjalan di Atas Cahaya; Kisah 99 Cahaya di Langit Eropa. Berjalan di Atas Cahaya merupakan buku catatan perjalanan Hanum Salsabiela Rais bersama tim ketika sedang bekerja alias melakukan peliputan untuk program Ramadhan sebuah stasiun teve swasta Indonesia. Lokasi liputannya adalah Eropa, sasaran liputannya adalah kaum Muslim yang hidup di benua itu beserta segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan berhijab (yang pasti mereka tahu hijab = Muslim). Kaum Muslimnya pun bukan semata-mata yang lahir dan besar di Eropa melainkan juga Orang Indonesia! Seperti Bunda Ikoy … misalnya. Hmm. Nampaknya stigma Muslim = teroris masih saja menghantui mereka meskipun teknologi yang mereka gunakan milyaran persen di atas teknologi manusia gua.

Berjalan di Atas Cahaya melibatkan dua kontributor lain yaitu Tutie Amaliah dan Wardatul Ula meskipun Hanum masih mendominasi dengan kisah-kisah ajaibnya. Saya jamin kalian akan sangat kaya pengetahuan setelah membaca Berjalan di Atas Cahaya. Salah satu yang paling saya gemari adalah Fenomena Gajah Terbang. Bagaimana kita, manusia yang berdosa ini, paling sering terkena sindrom fenomena gajah terbang. Meskipun kita tahu tidak ada gajah yang bisa terbang tapi begitu dengar kalimat, “lihat, gajah terbang!” pasti kepala langsung mendongak ke langit. Hehe. Artinya, janganlah langsung berpendapat pada sesuatu berdasarkan pendapat orang lain. Ah, keren sekali deh.

Kisah lain yang juga tak kalah seru adalah tentang Nur Dann. Si cantik ini berdakwah dengan cara nge-rap! Yoo-hoo. Karena Hanum juga melampirkan foto si Nur Dann, saya ternganga. Amboy, cantik sekali lah dia. Kisah lainnya adalah tentang Bunda Ikoy; Orang Indonesia yang sukses bekerja di perusahaan jam kelas dunia. Ya, mereka berjuang untuk bekerja dan hidup baik di tanah sekuler tersebut tanpa harus melepaskan hijab sebagai jati diri ke-Islam-annya. Taruhannya adalah iman. Sanggupkah kita menjaga iman ini tetap seperti yang kita inginkan?


Lima buku di atas betul-betul membikin otak saya seakan dibelah, pecah, membuka, untuk menampung lebih banyak hal-hal positif. Apakah dengan membaca buku-buku itu membawa perubahan dalam hidup saya? Ya, tentu. Lebih pandai memilah dan memilih, itu salah satunya. Tapi bukan berarti saya terbebas dari segala hal manusiawi lainnya. Tidak dooong. Namanya juga manusia, kesalahan masih tetap terjadi/ada. Kalau hanya karena membaca buku-buku self improvement saya kemudian tidak melakukan satu pun kesalahan, itu luar biasa hahaha. Tapi yang jelas, ada perubahan baik dalam hidup saya.

Baca Juga: 5 Perilaku Sederhana Untuk Mengurangi Sampah Plastik

Semoga kalian juga punya kesempatan membaca buku-buku di atas. Amin. Tidak harus sekarang. Kapan saja kalian punya waktu/kesempatan. Karena, membaca tidak akan pernah membikin kita merugi.

Semoga bermanfaat!

#KamisLima



Cheers.

Fiersa Besari Memang Jagoannya Merangkai Kata-Kata


Fiersa Besari Memang Jagoannya Merangkai Kata-Kata. Saya terpesona pada lagu-lagu ciptaannya. Liriknya sederhana tetapi setiap kata digandeng dengan kata yang tepat sehingga menghasilkan kalimat yang membikin kita senyum-senyum sendiri terus bilang, "Benar banget!". Kalian tentu hafal lirik lagu Celengan Rindu bukan? Atau yang paling baru, yang jadi soundtrack-nya Imperfect: Karir, Cinta, & Timbangan yang berjudul Pelukku Untuk Pelikmu. Sumpah, saat mendengarkan lagu ini perasaan saya jadi nyaman. Tsaaah. Haha. Betul! Apalagi pas ketemu lirik: Jangan pernah kau merasa sendiri, tengoklah aku yang tak pernah pergi, bagiku engkau tetap yang terbaik, entah beratmu turun atau naik. O-le!
Kemarin saya diberipinjam sebuah buku berjudul Garis Waktu dengan tagline: Sebuah Perjalanan Menghapus Luka. Betul, buku ini ditulis oleh Fiersa Besari. Buku ini dipinjamkan oleh teman kerja Ibu Happy Diana. Ya, kami memang sering saling meminjamkan buku. Jadi, ada semacam suatu penghematan di sini tanpa harus kehilangan kesempatan membaca buku-buku kece. Haha. Kalian harus maklum, di Kota Ende belum ada toko buku sekaliber Gramedia atau Gunung Agung dan lain sebagainya. Untuk buku-buku populer kami harus memasoknya dari luar jika ingin segera membacanya.

Garis Waktu bukan buku berat seperti salah satu buku Supernova: Gelombang. Tapi buku ini justru langsung melekat karena bukan hanya isinya tetapi quote-quote-nya! Jujur, saya belum khatam membaca Garis Waktu tapi sudah khatam membaca quote-quote-nya. Tapi saya sudah tidak tahan untuk menulis tentang buku ini untuk #SabtuReview karena hampir sepuluh hari saya tidak menulis konten bekal pos blog ini. Ke mana kah saya? Ke hatimu. Hahaha. Maklum, begitu banyak pekerjaan yang membutuhkan waktu dan konsentrasi penuh, dan penelitian yang sungguh, sehingga untuk melihat berapa banyak pembaca dalam sehari pun saya tidak melakukannya. Ditambah begitu banyak pula persiapan yang harus dilakukan untuk pelantikan Rektor Uniflor tanggal 30 Januari 2020 kemarin.

Mari berbicara tentang Garis Waktu.

Buku ini bersampul putih dengan sedikit gambar terkesan simple. Diterbitkan oleh Media Kata, buku setebal 211 halaman ini berisi perjalanan cerita yang dikemas apik. Setiap cerita tidak akan membikin kalian terlalu lama terbuai karena pendek saja. Tetapi jangan salah, justru karena kemasannya seperti itu justru membikin penasaran dan pengen baca lagi. Iya, itu yang terjadi ketika saya membaca cerita berjudul Dimensi Tentangmu (Pada aebuah garis waktu), Perjumpaan yang Sederhana (April, tahun pertama), Sesuatu yang Tumbuh Diam-diam (Mei, tahun pertama), dan Untukmu yang Berjubah Api (Mei, tahun pertama). Baru empat. Hehe. Sudah dibaca ulang dua kali setiap cerita. Dan kemudian saya terpesona dengan quote-quote-nya.

Setiap cerita di dalam Garis Waktu diakhiri dengan quote menarik. Sekali lagi, kata-katanya sederhana, tapi perkawinan kata-kata itu yang bakal membikin kita termangu saking kagumnya sama Fiersa Besari. Seterusnya saya membaca semua quote yang ada sedangkan ceritanya belum semua. Makanya saya tulis di atas, belum khatam. Salah satu quote bahkan saya pakai untuk status WA dan Facebook:

Seseorang yang tepat tak selalu datang tepat waktu.
Kadang ia datang setelah kau lelah disakiti oleh seseorang yang tidak tahu cara menghargaimu.

Asyik. Hehe.

Itu baru salah satu quote. Yang lainnya ... silahkan kalian baca sendiri Garis Waktu, ya! Tidak etis kalau semuanya saya tulis di sini. Yang jelas, ini memang merupakan sebuah perjalanan menghapus luka oleh seorang Fiersa Besari yang ternyata anak sastra. Iri saya padanya. Hiks. Dia begitu lihai mengawinkan kata.

Baca Juga: Inilah Akibat Paling Fatal Dari Perkara Yang Dianggap Remeh

Saat ini saya masih terus membaca Garis Waktu di sela-sela memikirkan kamu *plaaaaak*. Masih larut menikmati lihainya seorang Fiersa Besari bercanda dengan kata. Dan semoga lekas selesai membacanya karena Filosofi Teras juga sedang menunggu untuk dilanjutkan.

Selamat menikmati akhir minggu, kawan!

#SabtuReview



Cheers.

Kalau Begitu Marilah Kita Coba Mendaki Tangga Yang Benar


Kalau Begitu Marilah Kita Coba Mendaki Tangga Yang Benar. Pada pos Sabtu berjudul Akan Me-review Tiga Buku Nutrisi Otak dan Makanan Jiwa saya sudah berjanji untuk menyelesaikan proses membaca buku-buku itu. Belum semuanya tuntas terbaca, pasal pekerjaan bertubi-tubi tidak dapat ditunda, datang lagi satu buku berjudul Filosofi Teras. Demi tekad menuntaskan tiga buku self improvement, para nutrisi otak dan makanan jiwa, saya tidak berani menyobek plastik pelindung Filosofi Teras meskipun hasrat terus meronta. Buka! Ayo, buka! Saya harus patuh pada komitmen sendiri. Alhamdulillah, salah satu buku self improvement itu selesai dibaca, then. Meskipun tulisan tentang Firebender sudah siap dipublis lebih dahulu, saya justru mempublis salah satu buku itu terlebih dahulu. Hari ini.

Baca Juga: KKN di Desa Penari yang Menggemparkan Dunia Maya

Tiga buku self improvement itu berjudul: 

1. Mendaki Tangga Yang Salah.
2. Bicara Itu Ada Seninya.
3. Seni Hidup Minimalis.

Saya memulai dari Seni Hidup Minimalis, tetapi justru menyelesaikan Mendaki Tangga Yang Salah. Seni Hidup Minimalis lantas dipinjam teman. Mendaki Tangga Yang Salah merupakan buku yang membikin saya tidak bisa berhenti sejak halaman pertama. Berbeda dari buku self improvement lainnya, buku ini tidak menggurui secara langsung, tetapi mendidik secara tidak langsung melalui kisah-kisah inspiratif lainnya hingga beragam teori, penelitian dan hasil penelitian tersebut. Bahkan banyak hal-hal konyol pula di dalamnya.

Mendaki Tangga Yang Salah


Sekilas, sampul buku ini mirip dengan Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat. Mirip, tapi tidak sama. Mendaki Tangga Yang Salah bersampul merah dengan tulisan besar warna hitam dan siluet/gambar tangga sederhana dan tagline(?) Barking Up The Wrong Tree. Correct me if I'm wrong. Atau tulisan di atas judul yang jadi tagline-nya? Oh ya, tulisan lain di atas judul itu adalah Sebagian Besar Hal yang anda Ketahui tentang Kesuksesan Adalah Salah Besar. Tulisan itu seperti bom yang meledak di dalam kepala orang-orang patuh seperti Chatur 'Silencer' Ramalingam (Omi Waidya) ketika tahu bahwa big boss-nya adalah Rancho (Aamir Khan) alias Phunsuk Wangdu. Dalam filem 3 Idiots kita tahu Chatur adalah si cerdas yang mengikuti sistem sekaligus penjilat yang selalu membenci Rancho saat masih kuliah.

Di dalam buku Mendaki Tangga Yang Salah pun kalian akan membaca kata 'penjilat' dalam lingkungan pekerjaan. Kita memang tidak bisa terlepas dari para penjilat, di manapun berada, termasuk di lingkungan pekerjaan. Mereka itu seperti makhluk astral. Tidak terlihat mata tetapi ada.


Well, buku ini ditulis oleh Eric Barker dan diterbitkan oleh P.T. Gramedia Pustama Utama pada tahun 2019. Sebanyak 360 halaman mengajarkan pembacanya tentang banyak hal untuk lebih mengenali diri sendiri. Istilahnya: mau jadi apa kita kelak? Kenali diri sendiri! Dan, ah ya, saya tidak bisa untuk melewatkan yang satu ini: buku Mendaki Tangga Yang Salah diberikan oleh Ibu Rosalin Togo atau lebih dikenal dengan panggilan Mami Ocha yang saat ini sedang menempuh pendidikan S2 di Kota Surabaya. Terima kasih, Mami ... Pahlawan Intelektual saya! Hehe.

Inspirasi Dalam Balutan Konyol


Eric Barker tidak berusaha menggurui, sudah saya tulis di atas, dia lebih condong pada memberikan contoh perilaku, kesuksesan orang-orang besar dunia, hingga beragam teori, serta penelitian dan hasil penelitian para profesor dan/atau para pakar. Garis besar, benang merah, Mendaki Tangga Yang Salah adalah kenali diri sendiri. Kalau kita tidak sependapat, biarkanlah ketidaksependapatan itu menjadi nilai demokrasi dalam me-review buku. Haha. Apabila manusia mengenali diri sendiri maka dia akan tahu tangga mana yang harus dinaiki. Bukan begitu poinnya? Bayangkan saja jika kita tahu, tidak pandai, atau tidak berbakat membikin sketsa tetapi terus-terusan memaksakan diri hingga akhir hayat. Apa yang kita capai? Nothing.

Sebanyak 6 bab disuguhkan oleh Mendaki Tangga Yang Salah. Setiap bab mempunyai keunikannya masing-masing tentang bagaimana cara orang-orang bisa sukses. Ambil contoh pada bab 1.

Bab 1 Mendaki Tangga Yang Salah memoroskan kalimat judul Jika Ingin Sukses, Haruskah Kita Bermain Aman dan Melakukan Apa Yang Diperintahkan Kepada Kita? Dalam ranah agama, ya harus donk. Hehe. Eric menulis tentang orang-orang tersaring dan orang-orang yang tidak tersaring. Orang-orang tersaring selalu mengikuti sistem, juara kelas atau setidaknya punya nilai akademis di atas rata-rata, dan kemudian masuk pada jaringan birokrasi atau bekerja mengikuti sistem yang ada, mungkin juga menjadi pemimpin. Orang-orang tidak tersaring cenderung eksentrik dan melakukan segalanya sekehendak hati, kadang pula dikenal bodoh, tapi mereka sangat terkenal di dunia ini. Eric Barker mengambil contoh William Churchill yang eksentrik dan selalu beranggapan Hitler sebagai ancaman. Dan paranoid Churchill dan sikapnya yang nyaris menghancurkan karirnya pada awal mula telah 'menyelamatkan' rakyat Inggris.

Kalau boleh saya tulis, pembangkang sangat tidak disukai dalam lingkungan kerja, tapi atasan yang bijak harus mampu merangkul si pembangkang dan memanfaatkan enerji berlimpahnya untuk kemajuan perusahaan. Pembangkang identik dengan orang-orang kreatif yang tidak puas pada sistem dan memandang sistem sebagai borgol kreativitas. Apabila kalian adalah atasan, janganlah mendepak para pembangkang begitu saja. Mungkin saja pembangkang itu berada pada unit yang salah sehingga dia merasa bosan dan terus-terusan membikin Anda emosi jiwa. Hehe.

Churchill memang telah menyelamatkan Inggris dari NAZI, tapi sikap eksentrik dan fanatisme Churchill tidak bisa diaplikasikan pada perkara-perkara lain bukan? Oleh karena itu Eric Barker tidak saja menulis tentang keberhasilan atau sisi positif segala sesuatu tetapi juga sisi negatifnya. Seperti sisi negatifnya manusia dengan gen SCN9A.

Semua orang tentu ingin menjadi seperti Ashlyn Blocker yang tidak pernah merasa nyeri. Ashlyn memiliki gen SCN9A dimana sinyal-sinyal nyeri tidak bisa mencapai otaknya. Super hero! Tentu. Siapa sih yang tidak mau seperti Ashlyn? Dane Inouye menulis bahwa pasien Congenital Insensitivity to Pain with Anhidrosis (CIPA) bisa dianggap Superman karena mereka tidak merasakan nyeri ragawi, tetapi ironisnya, apa yang memberi 'kekuatan super' kepada mereka juga merupakan kryptonite mereka. Pasti kalian bertanya: kok bisa? Ya bisa. Tidak merasakan nyeri dapat menghancurkan karena bayangkan saja kalau tulang kaki atau tulang tangannya patah tanpa dia rasakan dan kerusakan tulang itu kemudian merusak ke jaringan sehat lainnya? 

It's like ... BHOOOMMM!

Ternyata Ashlyn tidak baik-baik saja bukan?

Salah satu orang hebat yang sangat menarik perhatian saya dari Mendaki Tangga Yang Salah adalah tentang pidato Steve Jobs. Inti pidatonya adalah apa yang ingin kita capai dalam hidup ini bisa dilakukan dengan memikirkan kematian. Apakah saat mati nanti kita ingin dikenang sebagai pecundang, pemenang, orang baik, atau tukang fitnah? Kita yang pilih. Apabila menginginkan kematian kita menjadi momen bertemunya banyak manusia hidup yang mengenang kebaikan, jasa, perbuatan kita selama hidup, maka jalanilah hidup yang seperti itu. Seperti yang kita inginkan yaitu dikenang orang (tentang kebaikan) saat kita mati. Saya terbahak-bahak membacanya. Logika yang luar biasa nancap dalam kepala.

Masih banyak hal lainnya yang perlu kalian ketahui dari Mendaki Tangga Yang Salah tetapi tentu saya tidak boleh menulis semuanya di pos ini. Ketahuilah, Churchill, Ashlyn, dan Steve Jobs hanyalah tiga contoh kecil dari contoh lain, kisah inspiratif lain, di dalam buku Mendaki Tangga Yang Salah. Contoh-contoh itu, kisah orang-orang di dalam buku itu, tidak saja mendidik pembacanya tetapi secara tidak langsung sekaligus menghibur. Kapan lagi kita tahu sejarah orang-orang hebat, atau kisah inspiratif orang-orang yang tidak pernah menyerah?

Kalau begitu ... apakah kita harus mendaki tangga yang benar?

Mendaki Tangga Yang Benar


Membaca buku Mendaki Tangga Yang Salah mengarahkan pikiran saya pada mendaki tangga yang benar tetapi tidak selamanya harus selalu tangga yang benar dari awal. Kita bisa berpindah tangga apabila tahu bahwa tangga pertama itu salah. Oleh karena itu sampul buku Mendaki Tangga Yang Salah disertai gambar/siluet dua tangga kayak tangga lapangannya karyawan PLN atau P.T. Telkom. Tangga dua kaki, tangga teleskopik, atau apapun namanya. Kalau bukan tangga yang kanan, berarti tangga yang kiri. Kira-kira seperti itulah yang ingin disampaikan Eric Barker. Jangan terus-terusan memaksakan diri pada sesuatu pekerjaan yang tidak akan membawa kita pada kesuksesan.


Saya mencerna tentang tangga yang benar ini.

Pertama, jangan sampai salah memilih tangga. Tetapi, apabila tangga itu salah, kita masih bisa bermanuver mengganti tangga yang lain. Ini berkaitan dengan bakat dan hasrat. Apakah ada yang mau selamanya berada dalam lingkaran setan yang membosankan? Tentu tidak. Kenali tangga yang sedang kalian, atau saya, naiki saat ini. Kalau tangganya sudah benar, berusahalah semaksimal mungkin mencurahkan segala daya upaya untuk menaiki tangga itu hingga puncak. Mencapai puncak, tidak harus menjadi penjilat, tetapi jadilah yang paling bersinar.

Kedua, kenali diri sendiri untuk mencapai sesuatu. Jangan sampai kita menjadi orang yang tidak mengenali siapa dan apa diri kita sendiri sehingga sulit untuk menentukan arah. Kalau kata Bapa saya, maju satu langkah mundur dua kali. Itu filosofinya sangat dalam. Dan saya sadari, filosofi itu mirip dengan apa yang disampaikan Eric Barker dalam Mendaki Tangga Yang Salah. Hal serupa juga pernah diaktakan oleh Esty Durahsanty dari Konsulat Jenderal AS di Talkshow Pameran Wirausaha Berkelanjutan oleh E.thical yaitu Jatuh tujuh kali, bangkit delapan kali. Orang-orang yang mendengarnya dan menangkapnya secara lurus akan menertawai. Maklumi saja, mereka tidak membiarkan logika bekerja.

Ketiga, bekerja keras itu wajib. Tidak ada kesuksesan tanpa kerja keras. Bahkan seorang ahli matematika pun bekerja keras sepanjang hidupnya meskipun telah meraih begitu banyak penghargaan dan menghasilkan ahli matematika lainnya. Bekerja keras harus dibarengi dengan optimisme yang kuat. Perpaduan keduanya akan membikin kalian terkejut.

Satu pesan yang juga menarik dari Mendaki Tangga Yang Salah, untuk kita bisa mendaki tangga yang benar adalah tentang kemampuan mengelola. Mengelola sesuatu yang membosankan menjadi permainan yang menyenangkan. Mengelola sesuatu yang kita benci menjadi, tetap, permainan yang menyenangkan. Kita yang pilih, seperti yang dikatakan oleh Steve Jobs bukan? Dengan menjadikan segala sesuatu sebagai permainan yang menyenangkan kita akan membikin target dan berupaya memenuhi target dimaksud. Bukankah permainan adalah tentang target dan pencapaian (kemenangan)? Bukankah permainan dipenuhi tantangan yang membikin kita geregetan kalau tidak bisa melewatinya dengan gemilang? Cobain deh mengubah sesuatu yang menjengkelkan menjadi permainan (otak) yang menyenangkan.

⇜⇝

Alhamdulillah sudah menyelesaikan Mendaki Tangga Yang Salah dan sudah berbagi dengan kalian. Semoga bermanfaat.

Baca Juga: Setelah Upin Ipin Yang Mengedukasi Terbitlah Larva

Saya yakin kita semua ingin mendaki tangga yang benar untuk mencapai tujuan (hidup). Tapi jangan pernah merasa menjadi orang yang kalah ketika kalian (atau saya) sadar bahwa ternyata kita sudah mendaki tangga yang salah. Gantilah segera tangga itu secepatnya setelah tersadar. Karena, bukankah lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali? Yang setuju, komen di bawah. Hehe.

#SabtuReview



Cheers.

Akan Me-review Tiga Buku Nutrisi Otak dan Makanan Jiwa


Akan Me-review Tiga Buku Nutrisi Otak dan Makanan Jiwa. Akan? Artinya ... belum. Betul sekali. Saya bahkan baru dalam tahap membaca salah satunya. Me-review tanpa membaca keseluruhan buku merupakan perbuatan pamali dan pengkhianatan pada diri sendiri karena yang tertangkap hanyalah keping-keping yang belum boleh dipamerkan. Tapi, dalam lini sombong, boleh donk saya pamerkan tiga buku yang dikirimkan oleh Kakak Rosalin Togo a.k.a. Mami Ocha? Bolahlah! Ini kan blog saya! Malah ngegas. Haha. Mungkin ini yang disebut, bermimpilah setinggi langit karena siapa tahu ada orang lain yang akan mewujudkan mimpi itu.


Ceritanya ...

Adalah salah seorang teman Facebook, saya lupa siapa, yang mengepos sebuah foto buku berjudul Mendaki Tangga Yang Salah. Foto buku itu mengingatkan saya pada buku lain berjudul Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat. Kok bisa? Iya, karena sampulnya mirip. Kalau Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat bersampul oranye, maka Mendaki Tangga Yang Salah bersampul merah. Sekilas, sama-sama oranye. Itulah kerja otak manusia yang suka memiripkan sesuatu. Hehe *cubit otak sendiri*.

Lalu foto dari pos Facebook itu saya keep alias simpan, dan saya pos lagi di status WA dengan caption: pengen punya buku ini. Siapa sangka, status itu justru direspon sama Mami Ocha yang menulis: Mami sudah punya. Mau? Dengan cepat saya balas: mau leeeee. Kata Mami: Jum'at meluncur Ende. Tapi Jum'at siang harus diingatkan lagi. Kawan, kalau urusannya sama buku, tidak ada kata saya lupa, harus ingat dengan berbagai cara! Tidak lama berselang, Mami Ocha malah mengirim foto sebuah buku lain berjudul Bicara Itu Ada Seninya dengan pesan: Ini sudah punya?

Bisa kalian tebak, kawan. Pada akhirnya Mami Ocha menyiapkan tiga buah buku untuk saya.

1. Mendaki Tangga Yang Salah.
2. Bicara Itu Ada Seninya.
3. Seni Hidup Minimalis.

How lucky I am!

Oh ya, Mami Ocha ini adalah dosen Uniflor yang sedang mengenyam pendidikan S2 di Kota Surabaya.

Nah, pada foto sampul pos ini kalian melihat tiga buah buku bersama kotak mangga dan kotak buku lainnya. Mangga itu dikirim sama Noviea Azizah dari Kota Mbay. Kotak buku itu adalah kotak yang sama dengan tiga buku kiriman Mami Ocha, dan buku-buku lainnya itu adalah buku-buku yang akan disumbangkan untuk Rumah Baca Sao Moko Modhe. Kami memang sedang dalam tahap pengumpulan buku untuk rumah baca yang dibangun oleh mahasiswa KKN-PPM Uniflor di Desa Ngegedhawe, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo tersebut.

Baca Juga: Pembalasan Laut

Saat ini saya baru membaca buku berjudul Seni Hidup Minimalis. Bukan karena buku itu bersampul kuning, warna kecintaan saya, tetapi karena buku itu memang harus dilahap terlebih dahulu. Tetapi, tumpukan pekerjaan tambahan memang tidak bisa diabaikan. Sehingga bacanya pun baru beberapa lembar. Seperti apa isinya? Tunggulah setiap Sabtu di #SabtuReview!

Semoga dalam minggu ini bisa menyelesaikan salah satunya. Amin.

Terima kasih Mami Ocha, Pahlawan Intelektual saya. Tidak bisa saya balas kebaikan Mami. Sungguh. Bagi saya siapa pun yang memberikan buku untuk saya adalah Pahlawan Intelektual sejati.

#SabtuReview



Cheers.

KKN di Desa Penari yang Menggemparkan Dunia Maya


KKN di Desa Penari yang Menggemparkan Dunia Maya. Jadi blogger itu enak juga. Banyak menulis, banyak membaca, banyak informasi baru yang diketahui dan diolah. Jadi orang yang suka menulis dan membantu banyak teman itu juga ada enaknya, karena dihadiahi banyak buku salah satunya buku berjudul Penari di Desa KKN yang menggemparkan dunia maya. Gemparnya mungkin sudah lama tapi saya baru tahu beberapa bulan terakhir. Maka Kahar, adik saya itu, membeli buku ini saat dia cuti ke Jakarta. Jelas, sudah dia baca duluan saat dalam perjalanan pulang ke Ende (di kapal laut). Katanya, dia membaca sampai tiga kali. Baiklah ini berat berarti.

Baca Juga: Cerita Dari Festival Literasi Nagekeo 2019 di Kota Mbay

Ternyata, setelah saya baca, ini termasuk buku ringan-ringan saja. Membacanya pukul 10.30 Wita sembari pertemuan Panitia Wisuda Uniflor 2019, terus pulang ke rumah saya maskeran dulu sama si Thika, baru lanjut membaca sekitar pukul 14.00 Wita. Selesai pukul 16.00 Wita. Sekitar itu. 

Memangnya apa dan bagaimana buku KKN di Desa Penari yang ditulis oleh Simpleman ini?

Marilah kita tengok.

Menggemparkan Dunia Maya


Itu kalimat yang saya baca di sampul belakang buku ini. Tidak ada tulisan tentang kisah nyata sama sekali. Atau saya melewatinya? Entah. Karena di bagian paling awal pun tidak ada prakata atau prolog (epilognya ada!). Mungkin kalian tahu pasti ini kisah nyata? Yuk bagi tahu di komen. Dari kisah nyata yang menggemparkan dunia maya. KKN di Desa Penari kini diceritakan lewat lembar lembar tulisan yang lebih rinci. Menuturkan kisah Widya, Nur, dan kawan-kawan, serta bagian bagian yang belum pernah dibagikan di mana pun sebelumnya. (sampul belakang buku KKN di Desa Penari).

Buku bersampul warna hitam dengan tulisan judul warna merah ini punya 253 halaman. Penulisnya, sudah saya tulis di atas: Simpleman. Diterbitkan oleh P.T. Bukune Kreatif Cipta. Secara keseluruhan buku ini terbagi dalam tiga bagian yaitu Widya, Nur, dan Epilog. Artinya buku ini ditulis dari sudut pandang Widya, sudut pandang Nur, serta rangkuman atau kesimpulan akhirnya. Fiksi atau non-fiksi, entah, tapi yang jelas banyak kejanggalan dari kisah enam mahasiswa yang melaksanakan mata kuliah KKN tersebut. Kalau mau tahu, silahkan baca sampai selesai. Hehe.

Garis Besar


Diceritakan pada tahun 2009, enam mahasiswa, tiga cewek tiga cowok, melakukan KKN secara mandiri di sebuah desa yang dikenal dengan nama Banyu Seliro atau lebih dikenal dengan nama Desa Penari. Terletak di Jawa Timur. Enam mahasiswa itu adalah Widya, Ayu, Nur, Bima, dan dua sahabat Wahyu dan Anton. Bagaimana mereka bisa sepakat melaksanakan KKN di desa mahaterpencil itu, saya juga tidak tahu, mungkin karena desakan harus selesaikan mata kuliah pengabdian pada masyarakat yang satu ini. Yang jelas, mereka mendapat bantuan dari Ilham, kakaknya Ayu. Ilham pula yang memperkenalkan Ayu dan Nur pada inisiasi awal dengan desa dan penduduknya.

Untuk sampai di desa tersebut enam mahasiswa tadi harus turun dari mobil dan menumpang sepeda motor beberapa warga yang menjemput. Kenapa? Karena akses jalan ke desa tidak bisa menggunakan mobil, terlalu parah, dan sepeda motor pun harus yang sudah berpengalaman. Selain itu, jalan ini membelah hutan dan/atau melintasi hutan yang konon lumayan angker. Saya bertanya-tanya, mungkin juga kalian, sudah tahu angker kenapa masih nekat? Entah.

Ada beberapa kisi yang harus dipahami oleh pembaca buku KKN di Desa Penari.

1. Desa 'Kembar'.

Desa Penari punya kembaran yaitu desa tak kasat mata yang dihuni lelembut super kuat. Untuk menghindari desa dari ancaman balak/bencana maka sejak dulu penduduk setempat menumbalkan anak gadis/perawan untuk desa kembar tersebut. Semakin ke sini tumbal tersebut berganti dengan sesajen. Kedatangan tiga mahasiswi/gadis ke desa tersebut seumpama kiriman tanki air ke gurun. Makanya mereka pun mulai diganggu.

2. Lagi-Lagi Cinta

Ayu menyukai Bima. Bima menyukai Widya. Widya ... entah menyukai siapa. Yang jelas, Bima yang jebolan pesantren itu pun tergoda membuat perjanjian dengan lelembut agar bisa mendapatkan hati Widya melalui selendang hijau penari (dan gelang lengan yang biasa dipakai oleh penari). Sedangkan Ayu yang dimintai Bima untuk menyerahkan selendang itu malah menghilangkannya, demikian kira-kira yang saya tangkap. Tidak tahu apa yang merasuki Bima, selain itu dia juga melakukan perbuatan terlarang yaitu melakukan hubungan suami-isteri dengan Ayu. Mengaku menyukai Widya, tapi gituan sama Ayu. Mungkin ini yang dinamakan nafsu sudah di ubun-ubun tinggal meledak.

3. Pada Akhirnya Nyawa Menjadi Taruhannya

Karena melakukan perbuatan di luar batas yang telah disampaikan oleh Pak Prabu sebagai kepala desa, maka pada akhirnya Bima dan Ayu harus menanggung semuanya. Sukma keduanya terjebak di desa 'kembar' tersebut, dan kemudian meninggal dunia setelah beberapa bulan kembali ke rumah.

Setelah membaca kisah Widya, lalu membaca kisah Nur, memang terjadi repetisi, meskipun dari sudut pandang berbeda. Bagaimana pandangan Widya terhadap Nur dan teman-temannya, bagaimana pandangan Nur terhadap Widya dan teman-temannya. Tetapi jelas, dalam cerita ini kita akan tahu bahwa Widya cenderung lebih terbuka pada apa yang dia dengar dan saksikan. Sedangkan Nur jauh lebih tertutup pada apa yang dia dengar dan saksikan, dan hanya mau menceritakannya kepada Pak Prabu dan, tentu saja, Mbah Buyut.

Kejanggalan


Mohon maaf kepada Simpleman kalau saya menulis kejanggalan dari buku ini. Namanya juga pembaca, ada saja kan yaaaa yang melintas di kepala saat membaca (imajinasi juga bermain di sini). Kejanggalan-kejanggalan itu antara lain:

1. Kenapa Nur Diam Saja?

Saat pertama kali melintasi hutan, menuju desa, bukan hanya Widya saja yang mendengar suara gamelan dan melihat siluet perempuan menari di tengah hutan. Nur juga mendengar dan melihatnya. Tetapi Nur diam saja. Padahal sebagai mahasiswi, dia harusnya juga kritis, karena hal-hal gaib itu tidak selamanya baik, ada pula yang jahat. Bagaimana kalau sebenarnya yang diincar itu Nur? Pasti bakal repot juga.

2. Perlindungan Pak Prabu

Pak Prabu ini kan kepala desa. Sebagai kepala desa yang sudah tahu sejarah desa tersebut, seharusnya dia memberikan perlindungan ekstra kepada mahasiswa yang KKN di desanya. Terutama hal itu berkaitan dengan hal-hal gaib. Bukannya sejak semula Pak Prabu bisa meminta bantuan dari Mbah Buyut untuk melindungi para mahasiswa, bukannya menunggu satu peristiwa terjadi terlebih dahulu? Karena, kan dia juga sudah tahu bahwa penduduk desa 'kembar' itu pada ganas-ganas. Hehe. Atau, setidaknya Pak Prabu sudah lebih dulu melakukan ritual tolak bala(k) sebelum mahasiswa tiba di desa, sebagai tindakan pencegahan. Pada akhirnya Pak Prabu mengatakan kalau dia akan menerima semua konsekuensi dari kejadian 'hilang'nya sukma Bima dan Ayu yang terjebak di desa 'kembar'.

3. Bima yang Kualat

Yaaa namanya juga lelaki. Andai saja Bima bisa menahan diri, mungkin semua ini tidak terjadi. Kalau boleh saya bilang, pangkal permasalahan mereka di desa tersebut adalah perasaan Bima pada Widya yang kemudian melibatkan lelembut serta Ayu sebagai perantara yang memotong jalan.

Di Mana Bumi Dipijak, Di Situ Langit Dijunjung


Pepatah ini sangat benar dan harus diaplikasikan dalam kehidupan umat manusia. Di mana pun kita berada, harus bisa menjaga - menghargai - menghormati adat dan budaya setempat. Jangan memaki, jangan menyinggung perasaan penduduk dengan sikap dan perkataan yang tidak sopan, jangan melewati batas-batas yang telah dipesankan oleh sesepuh desa. Ini penting! Kalau tidak, ya bisa lah peristiwa yang tidak bagus terjadi.

Nur, seorang mahasiswi yang diceritakan sangat taat pada agama. Rajin shalat di mana pun dia berada termasuk di Desa Penari yang tidak punya masjid/mushola/langgar/surau. Diceritakan selain rajin shalat, Nur juga punya seorang penjaga yaitu Mbah Dok. Saya yakin Mbah Dok yang selalu mengikuti Nur sebenarnya adalah nur/cahaya dari perilakunya yang tidak pernah melepas shalat. Katanya setiap kali Nur merasa tubuhnya berat, itu berarti Mbah Dok sedang bertarung melawan lelembut desa 'kembar' yang hendak mengganggu Nur.

KKN Mandiri


Entah dengan jalur mandiri ini, yang saya tahu di Uniflor tidak ada KKN jalur mandiri karena semuanya diatur oleh kampus. Jadi, mahasiswa hanya bertugas mendaftar, membayar biaya KKN, mengikuti keputusan panitia dalam pembagian kelompok dan desa tempatan, dan menjalankan KKN serta proker masing-masing dengan arahan dan bimbingan dari Dosen Pembimbing/Pendamping Lapangan. Sebagai bentuk tanggung jawab, dosen pula yang akan mengantar mahasiswa ke desa tempatan, diterimanya di kantor desa dengan acara penyambutan oleh perangkat desa, dengan dihadiri oleh calon orangtua angkat mereka di desa bersangkutan.

Baca Juga: Karya Mereka Terlalu Eksklusif Untuk Tayang di Televisi

KKN di Desa Penari jelas menggambarkan tentang KKN Mandiri tanpa dampingan dosen sama sekali. Jadi, mahasiswa mengatur sendiri semuanya. Ini kan repot. Kalau terjadi apa-apa, siapa yang bertanggung jawab? Kepala desa sendiri yang bertanggung jawab? Mahasiswa yang mau dan sadar ingin KKN Mandiri bagaimana? Tidak dimintai pertanggungjawabannya? Terutama Ilham sebagai kakaknya Ayu yang memperkenalkan desa ini.

Repooootttt.

⇜⇝

Saya tidak bisa bilang ini kesimpulan akhir karena toh setelah membaca buku KKN di Desa Penari saya belum bisa menyimpulkan apa-apa selain pepatah: di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung. Yang jelas kalian harus membaca sendiri untuk bisa sampai pada kesimpulan sendiri. Buku ini betul-betul misterius dari pemahaman yang berbeda.

Selamat berakhir pekan, kawan.

#SabtuReview



Cheers.

Hari Literasi Sukacita Bersama Rumah Baca Sukacita


Hari Literasi Sukacita Bersama Rumah Baca Sukacita. Ketika saya menerima pesan WA dari Kak Ev, pendiri - pengelola - pengurus Rumah Baca Sukacita (RBS), rasanya senang sekali. Saya diminta untuk berbagi pengalaman bersama adik-adik anggota RBS tentang dunia jurnalistik dan dunia blog dalam rangka merayakan Hari Literasi Sukacita. Yang paling pertama terlintas dalam benak saya adalah bagaimana menyampaikan dunia jurnalistik dan blog kepada adik-adik RBS yang rata-rata masih usia Sekolah Dasar (kelas 1 s.d. kelas 6)? Bahasa yang digunakan harus super sederhana untuk mengatasi jurang usia ini, dan saya harus menyusun tatanan kalimat bekal berbagi pengalaman ini khusus di program catatan Android.

Baca Juga: Gotong Royong Itu Masih Hidup Dalam Tubuh Masyarakat

Setelah saya dan mungkin beberapa narasumber sudah meng-iya-kan alias setuju, maka e-pamflet di bawah ini pun diumumkan oleh RBS di laman Facebook mereka. Hwah, jadi terharu hahaha.


Sore itu Jumat, 12 Juli 2019, Taman Renungan Bung Karno Ende cukup ramai pengunjung. Banyak pula pengunjung dari luar kota yang ingin melihat lebih dekat Patung Bung Karno, Pohon Sukun bercabang lima serta prasastinya. Bagi kami, Orang Ende, Taman Renungan Bung Karno adalah kebanggaan, tempat hulu butir-butir Pancasila direnungkan oleh Proklamator dan Presiden pertama Republik Indonesia tersebut. I love you, Bung! Hehe. Empat serangkai wisata sejarah, khusus Bung Karno, di Kota Ende adalah Situs Bung Karno - Taman Renungan Bung Karno - Gedung Imaculata - Serambi Bung Karno. Yang terakhir, Serambi Bung Karno, baru tahun ini diresmikan.

Sekitar tigapuluhan anak, ditambah dan ditemani oleh para pengurus RBS, kami dudul melingkar di panggung Taman Renungan Bung Karno. Bismillah. Dalam hati saya terus mengingatkan diri, ingat Teh, bahasanya! Karena, berbicara di depan ribuan anak muda atau orangtua itu sudah biasa, tapi di hadapan anak-anak itu luar biasa. Di sini kemampuan berkomunikasi (saya) sebenarnya diuji. Mampu atau tidak. Beruntung saya selalu membawa jimat, backpack emak-emak itu haha, yang memuat semua keperluan termasuk benda-benda yang bakal saya tunjukkan kepada peserta.

Jurnalistik dan Blog


Memulai tentang dunia jurnalistik, paling sederhana, adalah berbicara tentang profesi wartawan. Kasihan, mereka masih kecil, jangan terlalu tinggi istilah yang dipakai. Tapi, mau tidak mau saya tetap harus memperkenalkan kepada mereka tentang 5W1H. Hebatnya, meskipun masih sekecil itu, mereka bahkan tahu tentang W ini loh. What, Where, When, Why, Who. Sedangkan H-nya sudah pasti How. Menjelaskan kepada anak-anak tentang pentingnya 5W1H dalam sebuah berita itu susah-susah gampang. Artinya, berita adalah fakta yang tak terbantahkan karena berdasarkan peliputan lapangan serta hasil wawancara narasumber. Sebagian peserta yang sudah duduk di bangku kelas 4 ke atas rada-rada paham, tapi yang masih kici lo'o (istilah kami Orang Ende) hanya melihat ... semoga mereka juga bisa paham.


Dari jurnalistik, saya bergeser ke dunia blog. Apa itu blog, dan apa saja yang ditulis di blog. Sederhananya, karena mereka masih anak-anak, saya berkata bahwa kalau menulis untuk koran itu harus betul-betul perhatikan 5W1H dan tata bahasa baku, kalau di blog itu boleh curhat. Di sini, saya tidak mungkin menjelaskan lebih detail bahwa blog juga bisa menjadi koran online begitu dan bahkan jika dikelola secara profesional bisa menjadi pundi Rupiah. Saya juga tidak menjelaskan tentang para blogger yang bisa membikin blog di Blogger, Wordpress, sampai Tumblr. Nanti saja kalau mereka sudah SMP atau SMA. 

Nah, pada kesempatan berbicara tentang diary online ini, saya mengeluarkan T-Journal, si Arekune, yang memuat semua tulisan saya. Termasuk semua alat tulis yang saya gunakan. Maksudnya apa? Maksudnya, agar adik-adik termotivasi untuk juga menulis, selain membaca, apa saja di buku harian. Karena tulisan adalah harta warisan paling berharga.

Membaca dan Menulis


Dua hal ini saya tekankan kepada para peserta. Hubungan keduanya adalah, ketika seseorang ingin menulis dan mempunyai tulisan yang kaya raya, dia harus banyak tahu, dan untuk banyak tahu ... ya harus membaca. Membaca dan menulis adalah dua hal yang tidak bisa dilepas bagaimanapun caranya. Sumpah. Menulis tanpa membaca itu ibarat pergi perang tanpa senjata dan amunisi. Ingat, senjata saja tidak cukup, harus siapkan amunisi. Karena, ketika peluru habis ditembak, masih ada stok amunisinya.

Kepada mereka saya katakan: makan makanan bergizi agar tubuh menjadi sehat dan kuat. Namanya menutrisi tubuh. Tapi untuk otak, harus ada nutrisi tambahan yaitu membaca.

Untuk memberikan contoh, saya mengeluarkan buku yang selalu saya bawa dalam backpack. Buku berjudul The Book of Origins karya Trevor Homer. Ternyata, beberapa peserta juga ada yang membawa buku di dalam tas mereka. Awesome! Kita sama donk. Hehe.

Berbagi Ilmu, Nasihat Ali bin Abi Thalib


Saya sangat mencintai Ali bin Abi Thalib. Dalam sebuah novel online berjudul Triplet yang pernah saya pos di blog ini, bersambung setiap hari Minggu, saya menulis sebagai berikut:

Salah satu nasihat Ali Bin Abi Thalib—termasuk dalam golongan pertama pemeluk Islam, saudara sepupu sekaligus menantu Nabi Muhammad SAW yangmana dia menikahi Fatimah az-Zahra—berbunyi: “Kekayaan seorang bakhil akan turun kepada ahli warisnya atau ke angin. Tidak ada yang lebih terpencil dari pada seorang bakhil.”

Penjelasan paling hakiki nasihat laki-laki yang pernah menjabat sebagai Khalifah pada tahun 656 – 661 tersebut tercantum di dalam Surat Ali ‘Imran 180: “Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Terima kasih, Ali bin Abi Thalib. 

Kegiatan sore itu ditutup dengan foto bersama ... salam literasi! Dan perlu diketahui ini adalah Hari Literasi Sukacita, bukan Hari Literasi Nasional maupun Hari Literasi Internasional yang diperingati setiap September, ya. Jadi, jangan protes duluan. Hehe.

⇜⇝

Terima kasih, RBS, sudah memberikan saya kesempatan untuk berbagi dengan adik-adik RBS yang kece-kece dan cerdas-cerdas. Semoga berkah untuk kita semua. Terima kasih juga untuk foto-foto kirimannya. Bisa jadi pemanis pos yang satu ini. Giliran saya juga memberikan kesempatan kepada RBS, khusus pengurus, apabila ingin tahu lebih banyak tentang blog: membikin, mengelola, menulis, dan lain sebagainya, boleh hubungi saya. Kita bikin kelas blogging (lagi) haha.

Baca Juga: Konsisten Nge-blog Setahun

Bagaimana dengan kalian, kawan? Kalau kalian juga pernah berbagi informasi dan pengalaman dari dunia jurnalistik dan blog kepada mereka-mereka yang masih ana lo'o (anak kecil), bagi tahu yuk di papan komentar.



Cheers.