KKN di Desa Penari yang Menggemparkan Dunia Maya


KKN di Desa Penari yang Menggemparkan Dunia Maya. Jadi blogger itu enak juga. Banyak menulis, banyak membaca, banyak informasi baru yang diketahui dan diolah. Jadi orang yang suka menulis dan membantu banyak teman itu juga ada enaknya, karena dihadiahi banyak buku salah satunya buku berjudul Penari di Desa KKN yang menggemparkan dunia maya. Gemparnya mungkin sudah lama tapi saya baru tahu beberapa bulan terakhir. Maka Kahar, adik saya itu, membeli buku ini saat dia cuti ke Jakarta. Jelas, sudah dia baca duluan saat dalam perjalanan pulang ke Ende (di kapal laut). Katanya, dia membaca sampai tiga kali. Baiklah ini berat berarti.

Baca Juga: Cerita Dari Festival Literasi Nagekeo 2019 di Kota Mbay

Ternyata, setelah saya baca, ini termasuk buku ringan-ringan saja. Membacanya pukul 10.30 Wita sembari pertemuan Panitia Wisuda Uniflor 2019, terus pulang ke rumah saya maskeran dulu sama si Thika, baru lanjut membaca sekitar pukul 14.00 Wita. Selesai pukul 16.00 Wita. Sekitar itu. 

Memangnya apa dan bagaimana buku KKN di Desa Penari yang ditulis oleh Simpleman ini?

Marilah kita tengok.

Menggemparkan Dunia Maya


Itu kalimat yang saya baca di sampul belakang buku ini. Tidak ada tulisan tentang kisah nyata sama sekali. Atau saya melewatinya? Entah. Karena di bagian paling awal pun tidak ada prakata atau prolog (epilognya ada!). Mungkin kalian tahu pasti ini kisah nyata? Yuk bagi tahu di komen. Dari kisah nyata yang menggemparkan dunia maya. KKN di Desa Penari kini diceritakan lewat lembar lembar tulisan yang lebih rinci. Menuturkan kisah Widya, Nur, dan kawan-kawan, serta bagian bagian yang belum pernah dibagikan di mana pun sebelumnya. (sampul belakang buku KKN di Desa Penari).

Buku bersampul warna hitam dengan tulisan judul warna merah ini punya 253 halaman. Penulisnya, sudah saya tulis di atas: Simpleman. Diterbitkan oleh P.T. Bukune Kreatif Cipta. Secara keseluruhan buku ini terbagi dalam tiga bagian yaitu Widya, Nur, dan Epilog. Artinya buku ini ditulis dari sudut pandang Widya, sudut pandang Nur, serta rangkuman atau kesimpulan akhirnya. Fiksi atau non-fiksi, entah, tapi yang jelas banyak kejanggalan dari kisah enam mahasiswa yang melaksanakan mata kuliah KKN tersebut. Kalau mau tahu, silahkan baca sampai selesai. Hehe.

Garis Besar


Diceritakan pada tahun 2009, enam mahasiswa, tiga cewek tiga cowok, melakukan KKN secara mandiri di sebuah desa yang dikenal dengan nama Banyu Seliro atau lebih dikenal dengan nama Desa Penari. Terletak di Jawa Timur. Enam mahasiswa itu adalah Widya, Ayu, Nur, Bima, dan dua sahabat Wahyu dan Anton. Bagaimana mereka bisa sepakat melaksanakan KKN di desa mahaterpencil itu, saya juga tidak tahu, mungkin karena desakan harus selesaikan mata kuliah pengabdian pada masyarakat yang satu ini. Yang jelas, mereka mendapat bantuan dari Ilham, kakaknya Ayu. Ilham pula yang memperkenalkan Ayu dan Nur pada inisiasi awal dengan desa dan penduduknya.

Untuk sampai di desa tersebut enam mahasiswa tadi harus turun dari mobil dan menumpang sepeda motor beberapa warga yang menjemput. Kenapa? Karena akses jalan ke desa tidak bisa menggunakan mobil, terlalu parah, dan sepeda motor pun harus yang sudah berpengalaman. Selain itu, jalan ini membelah hutan dan/atau melintasi hutan yang konon lumayan angker. Saya bertanya-tanya, mungkin juga kalian, sudah tahu angker kenapa masih nekat? Entah.

Ada beberapa kisi yang harus dipahami oleh pembaca buku KKN di Desa Penari.

1. Desa 'Kembar'.

Desa Penari punya kembaran yaitu desa tak kasat mata yang dihuni lelembut super kuat. Untuk menghindari desa dari ancaman balak/bencana maka sejak dulu penduduk setempat menumbalkan anak gadis/perawan untuk desa kembar tersebut. Semakin ke sini tumbal tersebut berganti dengan sesajen. Kedatangan tiga mahasiswi/gadis ke desa tersebut seumpama kiriman tanki air ke gurun. Makanya mereka pun mulai diganggu.

2. Lagi-Lagi Cinta

Ayu menyukai Bima. Bima menyukai Widya. Widya ... entah menyukai siapa. Yang jelas, Bima yang jebolan pesantren itu pun tergoda membuat perjanjian dengan lelembut agar bisa mendapatkan hati Widya melalui selendang hijau penari (dan gelang lengan yang biasa dipakai oleh penari). Sedangkan Ayu yang dimintai Bima untuk menyerahkan selendang itu malah menghilangkannya, demikian kira-kira yang saya tangkap. Tidak tahu apa yang merasuki Bima, selain itu dia juga melakukan perbuatan terlarang yaitu melakukan hubungan suami-isteri dengan Ayu. Mengaku menyukai Widya, tapi gituan sama Ayu. Mungkin ini yang dinamakan nafsu sudah di ubun-ubun tinggal meledak.

3. Pada Akhirnya Nyawa Menjadi Taruhannya

Karena melakukan perbuatan di luar batas yang telah disampaikan oleh Pak Prabu sebagai kepala desa, maka pada akhirnya Bima dan Ayu harus menanggung semuanya. Sukma keduanya terjebak di desa 'kembar' tersebut, dan kemudian meninggal dunia setelah beberapa bulan kembali ke rumah.

Setelah membaca kisah Widya, lalu membaca kisah Nur, memang terjadi repetisi, meskipun dari sudut pandang berbeda. Bagaimana pandangan Widya terhadap Nur dan teman-temannya, bagaimana pandangan Nur terhadap Widya dan teman-temannya. Tetapi jelas, dalam cerita ini kita akan tahu bahwa Widya cenderung lebih terbuka pada apa yang dia dengar dan saksikan. Sedangkan Nur jauh lebih tertutup pada apa yang dia dengar dan saksikan, dan hanya mau menceritakannya kepada Pak Prabu dan, tentu saja, Mbah Buyut.

Kejanggalan


Mohon maaf kepada Simpleman kalau saya menulis kejanggalan dari buku ini. Namanya juga pembaca, ada saja kan yaaaa yang melintas di kepala saat membaca (imajinasi juga bermain di sini). Kejanggalan-kejanggalan itu antara lain:

1. Kenapa Nur Diam Saja?

Saat pertama kali melintasi hutan, menuju desa, bukan hanya Widya saja yang mendengar suara gamelan dan melihat siluet perempuan menari di tengah hutan. Nur juga mendengar dan melihatnya. Tetapi Nur diam saja. Padahal sebagai mahasiswi, dia harusnya juga kritis, karena hal-hal gaib itu tidak selamanya baik, ada pula yang jahat. Bagaimana kalau sebenarnya yang diincar itu Nur? Pasti bakal repot juga.

2. Perlindungan Pak Prabu

Pak Prabu ini kan kepala desa. Sebagai kepala desa yang sudah tahu sejarah desa tersebut, seharusnya dia memberikan perlindungan ekstra kepada mahasiswa yang KKN di desanya. Terutama hal itu berkaitan dengan hal-hal gaib. Bukannya sejak semula Pak Prabu bisa meminta bantuan dari Mbah Buyut untuk melindungi para mahasiswa, bukannya menunggu satu peristiwa terjadi terlebih dahulu? Karena, kan dia juga sudah tahu bahwa penduduk desa 'kembar' itu pada ganas-ganas. Hehe. Atau, setidaknya Pak Prabu sudah lebih dulu melakukan ritual tolak bala(k) sebelum mahasiswa tiba di desa, sebagai tindakan pencegahan. Pada akhirnya Pak Prabu mengatakan kalau dia akan menerima semua konsekuensi dari kejadian 'hilang'nya sukma Bima dan Ayu yang terjebak di desa 'kembar'.

3. Bima yang Kualat

Yaaa namanya juga lelaki. Andai saja Bima bisa menahan diri, mungkin semua ini tidak terjadi. Kalau boleh saya bilang, pangkal permasalahan mereka di desa tersebut adalah perasaan Bima pada Widya yang kemudian melibatkan lelembut serta Ayu sebagai perantara yang memotong jalan.

Di Mana Bumi Dipijak, Di Situ Langit Dijunjung


Pepatah ini sangat benar dan harus diaplikasikan dalam kehidupan umat manusia. Di mana pun kita berada, harus bisa menjaga - menghargai - menghormati adat dan budaya setempat. Jangan memaki, jangan menyinggung perasaan penduduk dengan sikap dan perkataan yang tidak sopan, jangan melewati batas-batas yang telah dipesankan oleh sesepuh desa. Ini penting! Kalau tidak, ya bisa lah peristiwa yang tidak bagus terjadi.

Nur, seorang mahasiswi yang diceritakan sangat taat pada agama. Rajin shalat di mana pun dia berada termasuk di Desa Penari yang tidak punya masjid/mushola/langgar/surau. Diceritakan selain rajin shalat, Nur juga punya seorang penjaga yaitu Mbah Dok. Saya yakin Mbah Dok yang selalu mengikuti Nur sebenarnya adalah nur/cahaya dari perilakunya yang tidak pernah melepas shalat. Katanya setiap kali Nur merasa tubuhnya berat, itu berarti Mbah Dok sedang bertarung melawan lelembut desa 'kembar' yang hendak mengganggu Nur.

KKN Mandiri


Entah dengan jalur mandiri ini, yang saya tahu di Uniflor tidak ada KKN jalur mandiri karena semuanya diatur oleh kampus. Jadi, mahasiswa hanya bertugas mendaftar, membayar biaya KKN, mengikuti keputusan panitia dalam pembagian kelompok dan desa tempatan, dan menjalankan KKN serta proker masing-masing dengan arahan dan bimbingan dari Dosen Pembimbing/Pendamping Lapangan. Sebagai bentuk tanggung jawab, dosen pula yang akan mengantar mahasiswa ke desa tempatan, diterimanya di kantor desa dengan acara penyambutan oleh perangkat desa, dengan dihadiri oleh calon orangtua angkat mereka di desa bersangkutan.

Baca Juga: Karya Mereka Terlalu Eksklusif Untuk Tayang di Televisi

KKN di Desa Penari jelas menggambarkan tentang KKN Mandiri tanpa dampingan dosen sama sekali. Jadi, mahasiswa mengatur sendiri semuanya. Ini kan repot. Kalau terjadi apa-apa, siapa yang bertanggung jawab? Kepala desa sendiri yang bertanggung jawab? Mahasiswa yang mau dan sadar ingin KKN Mandiri bagaimana? Tidak dimintai pertanggungjawabannya? Terutama Ilham sebagai kakaknya Ayu yang memperkenalkan desa ini.

Repooootttt.

⇜⇝

Saya tidak bisa bilang ini kesimpulan akhir karena toh setelah membaca buku KKN di Desa Penari saya belum bisa menyimpulkan apa-apa selain pepatah: di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung. Yang jelas kalian harus membaca sendiri untuk bisa sampai pada kesimpulan sendiri. Buku ini betul-betul misterius dari pemahaman yang berbeda.

Selamat berakhir pekan, kawan.

#SabtuReview



Cheers.

Hari Literasi Sukacita Bersama Rumah Baca Sukacita


Hari Literasi Sukacita Bersama Rumah Baca Sukacita. Ketika saya menerima pesan WA dari Kak Ev, pendiri - pengelola - pengurus Rumah Baca Sukacita (RBS), rasanya senang sekali. Saya diminta untuk berbagi pengalaman bersama adik-adik anggota RBS tentang dunia jurnalistik dan dunia blog dalam rangka merayakan Hari Literasi Sukacita. Yang paling pertama terlintas dalam benak saya adalah bagaimana menyampaikan dunia jurnalistik dan blog kepada adik-adik RBS yang rata-rata masih usia Sekolah Dasar (kelas 1 s.d. kelas 6)? Bahasa yang digunakan harus super sederhana untuk mengatasi jurang usia ini, dan saya harus menyusun tatanan kalimat bekal berbagi pengalaman ini khusus di program catatan Android.

Baca Juga: Gotong Royong Itu Masih Hidup Dalam Tubuh Masyarakat

Setelah saya dan mungkin beberapa narasumber sudah meng-iya-kan alias setuju, maka e-pamflet di bawah ini pun diumumkan oleh RBS di laman Facebook mereka. Hwah, jadi terharu hahaha.


Sore itu Jumat, 12 Juli 2019, Taman Renungan Bung Karno Ende cukup ramai pengunjung. Banyak pula pengunjung dari luar kota yang ingin melihat lebih dekat Patung Bung Karno, Pohon Sukun bercabang lima serta prasastinya. Bagi kami, Orang Ende, Taman Renungan Bung Karno adalah kebanggaan, tempat hulu butir-butir Pancasila direnungkan oleh Proklamator dan Presiden pertama Republik Indonesia tersebut. I love you, Bung! Hehe. Empat serangkai wisata sejarah, khusus Bung Karno, di Kota Ende adalah Situs Bung Karno - Taman Renungan Bung Karno - Gedung Imaculata - Serambi Bung Karno. Yang terakhir, Serambi Bung Karno, baru tahun ini diresmikan.

Sekitar tigapuluhan anak, ditambah dan ditemani oleh para pengurus RBS, kami dudul melingkar di panggung Taman Renungan Bung Karno. Bismillah. Dalam hati saya terus mengingatkan diri, ingat Teh, bahasanya! Karena, berbicara di depan ribuan anak muda atau orangtua itu sudah biasa, tapi di hadapan anak-anak itu luar biasa. Di sini kemampuan berkomunikasi (saya) sebenarnya diuji. Mampu atau tidak. Beruntung saya selalu membawa jimat, backpack emak-emak itu haha, yang memuat semua keperluan termasuk benda-benda yang bakal saya tunjukkan kepada peserta.

Jurnalistik dan Blog


Memulai tentang dunia jurnalistik, paling sederhana, adalah berbicara tentang profesi wartawan. Kasihan, mereka masih kecil, jangan terlalu tinggi istilah yang dipakai. Tapi, mau tidak mau saya tetap harus memperkenalkan kepada mereka tentang 5W1H. Hebatnya, meskipun masih sekecil itu, mereka bahkan tahu tentang W ini loh. What, Where, When, Why, Who. Sedangkan H-nya sudah pasti How. Menjelaskan kepada anak-anak tentang pentingnya 5W1H dalam sebuah berita itu susah-susah gampang. Artinya, berita adalah fakta yang tak terbantahkan karena berdasarkan peliputan lapangan serta hasil wawancara narasumber. Sebagian peserta yang sudah duduk di bangku kelas 4 ke atas rada-rada paham, tapi yang masih kici lo'o (istilah kami Orang Ende) hanya melihat ... semoga mereka juga bisa paham.


Dari jurnalistik, saya bergeser ke dunia blog. Apa itu blog, dan apa saja yang ditulis di blog. Sederhananya, karena mereka masih anak-anak, saya berkata bahwa kalau menulis untuk koran itu harus betul-betul perhatikan 5W1H dan tata bahasa baku, kalau di blog itu boleh curhat. Di sini, saya tidak mungkin menjelaskan lebih detail bahwa blog juga bisa menjadi koran online begitu dan bahkan jika dikelola secara profesional bisa menjadi pundi Rupiah. Saya juga tidak menjelaskan tentang para blogger yang bisa membikin blog di Blogger, Wordpress, sampai Tumblr. Nanti saja kalau mereka sudah SMP atau SMA. 

Nah, pada kesempatan berbicara tentang diary online ini, saya mengeluarkan T-Journal, si Arekune, yang memuat semua tulisan saya. Termasuk semua alat tulis yang saya gunakan. Maksudnya apa? Maksudnya, agar adik-adik termotivasi untuk juga menulis, selain membaca, apa saja di buku harian. Karena tulisan adalah harta warisan paling berharga.

Membaca dan Menulis


Dua hal ini saya tekankan kepada para peserta. Hubungan keduanya adalah, ketika seseorang ingin menulis dan mempunyai tulisan yang kaya raya, dia harus banyak tahu, dan untuk banyak tahu ... ya harus membaca. Membaca dan menulis adalah dua hal yang tidak bisa dilepas bagaimanapun caranya. Sumpah. Menulis tanpa membaca itu ibarat pergi perang tanpa senjata dan amunisi. Ingat, senjata saja tidak cukup, harus siapkan amunisi. Karena, ketika peluru habis ditembak, masih ada stok amunisinya.

Kepada mereka saya katakan: makan makanan bergizi agar tubuh menjadi sehat dan kuat. Namanya menutrisi tubuh. Tapi untuk otak, harus ada nutrisi tambahan yaitu membaca.

Untuk memberikan contoh, saya mengeluarkan buku yang selalu saya bawa dalam backpack. Buku berjudul The Book of Origins karya Trevor Homer. Ternyata, beberapa peserta juga ada yang membawa buku di dalam tas mereka. Awesome! Kita sama donk. Hehe.

Berbagi Ilmu, Nasihat Ali bin Abi Thalib


Saya sangat mencintai Ali bin Abi Thalib. Dalam sebuah novel online berjudul Triplet yang pernah saya pos di blog ini, bersambung setiap hari Minggu, saya menulis sebagai berikut:

Salah satu nasihat Ali Bin Abi Thalib—termasuk dalam golongan pertama pemeluk Islam, saudara sepupu sekaligus menantu Nabi Muhammad SAW yangmana dia menikahi Fatimah az-Zahra—berbunyi: “Kekayaan seorang bakhil akan turun kepada ahli warisnya atau ke angin. Tidak ada yang lebih terpencil dari pada seorang bakhil.”

Penjelasan paling hakiki nasihat laki-laki yang pernah menjabat sebagai Khalifah pada tahun 656 – 661 tersebut tercantum di dalam Surat Ali ‘Imran 180: “Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Terima kasih, Ali bin Abi Thalib. 

Kegiatan sore itu ditutup dengan foto bersama ... salam literasi! Dan perlu diketahui ini adalah Hari Literasi Sukacita, bukan Hari Literasi Nasional maupun Hari Literasi Internasional yang diperingati setiap September, ya. Jadi, jangan protes duluan. Hehe.

⇜⇝

Terima kasih, RBS, sudah memberikan saya kesempatan untuk berbagi dengan adik-adik RBS yang kece-kece dan cerdas-cerdas. Semoga berkah untuk kita semua. Terima kasih juga untuk foto-foto kirimannya. Bisa jadi pemanis pos yang satu ini. Giliran saya juga memberikan kesempatan kepada RBS, khusus pengurus, apabila ingin tahu lebih banyak tentang blog: membikin, mengelola, menulis, dan lain sebagainya, boleh hubungi saya. Kita bikin kelas blogging (lagi) haha.

Baca Juga: Konsisten Nge-blog Setahun

Bagaimana dengan kalian, kawan? Kalau kalian juga pernah berbagi informasi dan pengalaman dari dunia jurnalistik dan blog kepada mereka-mereka yang masih ana lo'o (anak kecil), bagi tahu yuk di papan komentar.



Cheers.

Geser Dikit Halaman Hatimu dari Bara Patty Radja


Tidak bisa dipungkiri saya sangat mengagumi sosok yang satu ini. Bara Patty Radja. Nama seorang lelaki dari Pulau Adonara yang cerdas memilih dan bermain diksi. Apabila kalian melihat kue lapis, Bara berada di lapisan teratas ⇻ licin mengkilat, sedangkan saya masih berupa tepung yang belum direncanakan untuk bercampur dengan bahan-bahan kue lapis. Beruntungnya, saya boleh memiliki dua buah buku karya Bara. Buku kumpulan puisi. Membaca puisi-puisi karya Bara membikin saya dan, semoga, kalian mengalami pengalaman bak sedang traveling di sekitar Galaksi Bima Sakti. Di tangan Bara, puisi menjadi makanan kegemaran yang tidak akan pernah membosankan.

Baca Juga: Pariwisata Nusantara

Pengalaman itu ingin saya bagi pada kalian. Karena, pengalaman adalah harta paling berharga yang tidak dapat dibeli Rupiah, Dollar, maupun Euro. Karena, pengalaman adalah guru paling nyata dalam kehidupan umat manusia, tanpa harus mandi, bercemong bedak, dan duduk di bangku kayu, menghadap papan hitam berkapur tulis.

Penyair Indonesia dari Lamahala 


Lahir pada tanggal 12 April 1983 di Desa Lamahala, Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Bara Patty Radja. Sekilas, namanya mengingatkan kita pada chef beken Bara Raoul Pattiradjawane. Keduanya sama-sama hebat. Dari perbincangan kami di Pohon Tua, silahkan baca tentang Tamu Spesial di pos ini, saya tahu Bara adalah seorang guru di Pulau Adonara, yang pernah 'membawa' Najwa Sihab ke Kabupaten Pulau Lembata, dan membangkitkan dunia literasi terkhusus aktivitas membaca di pulau itu. Awesome!

Mengobrol bersama Bara membikin saya berada dalam dunia puisi itu sendiri karena pilihan katanya saat mengobrol pun terdengar sangat puitis. Jago dan berkualitas benar orang ini, kata saya dalam hati. Jujur, mengobrol dengannya membikin pengetahuan saya menjadi lebih dan lebih, serta otak saya yang seakan terkunci itu mendadak membuka dengan sendirinya. Semua itu menjadi lebih lengkap dengan sikapnya yang low profile

Bersama Bara dan Mukhlis di Pohon Tua.

Bara adalah penyair Indonesia yang telah menerbitkan puisi-puisinya ke dalam beberapa buku antara lain: Bermula dari Rahim Cinta (2005), Protes Cinta Republik Iblis (2006), Samudra Cinta Ikan Paus (2013) , Pacar Gelap Puisi (2016), Aku adalah Peluru (2019) sebuah buku semi biografi. Terbaru dan terhangat, sebuah buku berjudul Geser Dikit Halaman Hatimu. Geser Dikit Halaman Hatimu merupakan buku kumpulan puisi Bara yang bertengger di #SabtuReview ini.

Geser Dikit Halaman Hatimu


Geser Dikit Halaman Hatimu, buku bersampul merah muda dengan gambar wajah perempuan menengadah dan rambut tergerai. Minimalis sekaligus manis. Buku ini lantas menjadi penghuni tetap backpack saya bersama buku lain berjudul The Book of Origins karya Trevor Homer.

Bersama manajemen GDHH, Bara penerbitkan buku ini melalui Penerbit Huruf. Harga yang dilempar di pasaran adalah Rp 50.000 (Lima Puluh Ribu Rupiah) saja. Beruntung saya mendapatnya gratis langsung dari si penyair! Dilarang syirik. Hehe. Geser Dikit Halaman Hatimu bukan sekadar buku kumpulan puisi biasa. Geser Dikit Halaman Hatimu, berdasarkan kutipan dari buku itu sendiri, dilengkapi dengan QR Code Audio Version Poetry Reading sehingga pembaca dapat langsung mendengarkan puisi-puisi itu. Tidak main-main, puisinya dibacakan oleh Olivia Zallianty, pegiat sastra Azizah Zubaer, dan oleh Bara sendiri. Saya belum mendengarkan suara-suara mereka saat membaca puisi-puisi dari Geser Dikit Halaman Hatimu. Tapi waktu membacanya saya larut. Betul, di tangan Bara, puisi menjadi makanan kegemaran yang tidak akan pernah membosankan.

Ini jenius!


Seperti wajah Louis Tomlinson yang tidak akan pernah membosankan mata saya.

Ah ... haha.

kupilih mencintaimu separuhnya
dengan akal sehat
sebab sepenuhnya dengan rasa
bikin gelap mata

[Pilih Apa, Geser Dikit Halaman Hatimu]

Cuplikan dari Pilih Apa di atas menginterpretasi tentang dunia asmara. Memang betul. Cinta yang sepenuhnya dengan rasa bakal bikin gelap mata. Membabi-buta. Alpa menimbang akibat kemudian hari. Maka, cintailah seseorang separuhnya dengan akal sehat. Sadaaaaap. Jadi pengen kirimin puisi ini untuk seseorang. Haha.

Kalau kalian belum punya bukunya, baik yang gemar puisi maupun tidak, saya sarankan untuk segera membeli Geser Dikit Halaman Hatimu. Karena, pengalaman yang akan kalian rasakan akan membikin kalian rela membolak-balik, berkali-kali membaca, hingga seperti saya bertanya sendiri: dari mana seorang Bara menemukan ilham mempertemukan diksi-diksi ini? Tidak hanya mempertemukan, tapi kemudian mengawinkan mereka sehingga pertemuan itu berakhir di pelaminan dan terlihat sempurna!

Kritik Dalam Diksi


Dulu, saat saya membaca buku Samudera Cinta Ikan Paus karya Bara, sungguh bergetar sendi-sendi tubuh dan labirin otak. Salah satunya berjudul Di Bawah Rok Payungmu. Puisi ini menghantarkan kritik pedas tentang betapa pedihnya nasib para guru honorer di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Kalau kalian rajin membaca berita, bertebaran berita tentang kondisi yang satu ini.

berjalanlah dengan diam, ea
akan kueja warna takdir
di bawah kibaran rok payungmu

dan takdir seperti kamus matematika
yang buntu. seperti hatimu
yang patah dikhianati
angka-angka ganjil
saat menggenggam honor

kau tau?
sekolah memang tak mengenal cinta
dan ampun
sekolah tak mengajarkan
harga hati manusia

ada hanya sepotong angan
yang bunting
dihamili kering cuaca

[Di Bawah Rok Payungmu, Samudera Cinta Ikan Paus]

Menurut tuturan Bara, Geser Dikit Halaman Hatimu ditulis dengan sedikit lebih ringan ketimbang puisi di dalam buku-buku sebelumnya. Tapi tetap saja diksi yang disajikan, meskipun sederhana sungguh menikam. 

Puisi Bara, unik dan sederhana, tetapi 'menikam'.

Dan selalu, muatan kritik melalui diksi dalam puisi-puisinya itu membikin kalian tersenyum, kemudian merasa 'ini kok saya banget ya', mengangguk sependapat, dan bertepuk tangan. Iya, saya bertepuk tangan usai setiap kali membaca beberapa puisi, sampai teman yang ada di dekat situ terperanjat. Ibarat melepas angin setelah menahan nafas cukup lama. Membaca puisi-puisi Bara itu rasanya memang seperti menahan nafas yang nikmat: teknik nafas 4 - 7- 8.


Android adalah salah satu judul puisi di dalam Geser Dikit Halaman Hatimu. Kritik bermata tombak super tajam dan juga terpedas ada di puisi yang satu ini. 

betapa berat mencintaimu
di masa android
handphone mengubahmu menjadi paranoid
baru semenit lalu aku meninggalkan rumah
engkau sudah vicall

dengan layar sentuh
engkau sibuk memindai dunia
ketimbang menyentuh hatiku

betapa lain mencintaimu
di masa online
hari harimu kini tak lagi milikku sepenuhnya
tetapi milik facebook, twitter
whattsapp atau instagram

belati hatiku mencintaimu
di masa instant
untuk membeli tomat di warung sebelah saja
mesti engkau unggah

kau autis aku tak lagi puitis
benda mati mengubah kita
menjadi orang asing

kita bicara
tapi tak lagi beradu pandang
aku kehilangan tatapanmu
sebab yang kau tuju
bukan sorot mataku
tapi layar gadgetmu

betapa candu mencintaimu
tanpa kuota dan sinyal

[Android, Geser Dikit Halaman Hatimu]

Kalian setuju dengan saya kalau puisi ini bermata tombak super tajam dan memuat kritik terpedas? Harus donk! Fenomena zaman sekarang memang seperti itu, kawan. Engkau sibuk memindai dunia ketimbang menyentuh hatiku. Sebuah fakta yang sulit kita elak. Teknologi internet telah menjadikan saya, kalian, mereka, pengabdi gawai yang kaku seperti zombie di dunia fana, namun ingin terlihat lincah dan penuh perhatian di dunia maya. 

Tidak salah bukan jika saya mengajak kalian turut menggeluti dan menikmati Geser Dikit Halaman Hatimu? 

Baca Juga: The Book of Origins

Terima kasih, Bara. Untuk puisi-puisi yang indah ini. Untuk kesederhanaan yang menikam ini. Untuk membikin saya larut dalam dunia Geser Dikit Halaman Hatimu.

Terus berkarya!



Cheers.

Pariwisata Nusantara


Sudah lama saya tidak me-review buku di #SabtuReview. Buku terakhir yang saya baca berjudul Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat karya Mark Manson dan sudah saya review di pos berjudul Bodo Amat. Banyak pelajaran berharga yang bisa dipetik dari buku bersampul oranye itu. Sementara buku yang selalu berada di dalam tas, yang bisa saya baca kapan saja, berjudul The Book of Origins karya Trevor Homer juga sudah saya review di pos berjudul The Book of Origins. Tentu, pengetahuan tentang segala sesuatu paling pertama di dunia ini kian bertambah. Saya pikir, sekarang saatnya me-review satu buku menarik terutama bagi kalian para traveler atau siapapun yang berencana keliling Indonesia. 

Baca Juga: Are They Dead?

Menulis tentang buku yang satu ini membikin saya teringat seorang sahabat traveler perempuan bernama Ika Soewadji. Kalau kalian belum mengenal Ika Soewadji, silahkan kenalan dulu melalui akun IG-nya:


Memangnya, apa hubungan antara buku yang bakal saya review dengan Ika? Karena buku tersebut adalah pemberian Ika berikut satu paket buku lainnya tentang Indonesia. Sama seperti buku Travel Writer yang juga diberikan oleh Ika. Meskipun tidak berhubungan darah tapi kami adalah kaka-ade, saudara, yang dipertemukan oleh dunia blog dan traveling. Percayalah, mengenal Ika merupakan salah satu anugerah terbaik dari Allah SWT untuk saya.

Jadi, mari kita kenalan dengan buku yang satu ini.

Tentang Informasi Pariwisata Nusantara


Informasi Pariwisata Nusantara, sebuah buku bersampul cokelat dengan aksen wayang kulit di depannya, diterbitkan oleh Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia bekerjasama dengan Garuda Indonesia, dan ASEAN (Southeast Asia). Pada sampul belakang jelas-jelas tertulis: tidak untuk diperjualbelikan. Ya Alhamdulillah saya bisa mendapatkannya dari Ika. Mungkin waktu itu Ika mengikuti kegiatan yang digelar kementrian, secara dia kan travel blogger kesohor, dan mendapatkan paket buku-buku gratis dari acara itu, kemudian dikirimkan pada saya.

Buku ini tidak punya kata pengantar atau sekapur sirih. Dibuka dengan halaman Peta Kepulauan Indonesia dan halaman Sekilas Sejarah Pariwisata Indonesia. Sudah, itu saja. Selanjutnya 'petualangan' dimulai dari Sumatera hingga Papua.

Isi Informasi Pariwisata Nusantara


Namanya juga buku tentang pariwisata, isinya ya pasti tentang atraksi pariwisata dari seluruh Indonesia yang dimulai dari Sumatera sampai Papua. Ada pengaturan sub pada setiap provinsi dan daerah istimewanya. Sub-sub itu antara lain Profil singkat provinsi dan/atau daerah istimewa yang bersangkutan, Wisata Alam, Wisata Pantai, Wisata Gunung, Wisata Petualangan, Wisata Sejarah, Wisata Budaya, Wisata Museum, Wisata Kerajinan, Wisata Taman Nasional, hingga informasi penting seperti Transportasi, Akomodasi, Travel Agent, dan informasi alamat kantor dinas yang berkaitan dari provinsi dimaksud.

Paket komplit!

Jadi, kalau saya bilang sudah tahu banyak tentang Yogyakarta, belum tentu juga haha. Saya baru tahu soal Upacara Cing-Cing Goling dari buku ini.

Pada ritual ini, ratusan ayam panggang, lauk pauk dan nasi dibagikan kepada para pengunjung serta masyarakat di dekat bendungan. Selain itu juga ditampilkan cerita rakyat yang disajikan dalam bentuk fragmen. Upacara ini dilakukan sebagai wujud ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas keberhasilan panen.
Lokasi:
Digelar di Dusun Gedangan, Desa Gedangang, Kec. Karangmojo, Kab. Gunungkidul. Bisa ditempuh dengan kendaraan bermotor ke lokasi. (Informasi Pariwisata Nusantara,tt, 201).

Sebagai Orang NTT, tentu saya suka membaca bagian Provinsi Nusa Tenggara Timur. Ternyata, banyak sekali atraksi wisata yang juga baru saya ketahui setelah membaca buku Informasi Pariwisata Nusantara ini.


Yang membikin buku ini lebih menarik, selain informasi lengkap tentang Indonesia ada di dalamnya, adalah foto-foto yang melengkapi setiap artikel/informasi singkatnya. Foto-foto itu begitu memukau, penuh warna alam yang cerah dan indah, yang membikin para pembaca tertarik untuk menyiapkan waktu keliling Indonesia. Duuuuh niat keliling Indonesia tertunda melulu *halaaaah, ditabok dinosaurus*.

Kritik


Baru kali ini saya mengkritik buku hahaha. Eh, atau sudah pernah ya? Pokoknya begini ... untuk buku sebagus ini sayang sekali apabila diterbitkan terbatas dan tidak untuk diperjualbelikan. Tidak hanya para traveler, kita sebagai Orang Indonesia tentu tergila-gila dengan buku semacam ini. Banyak informasi yang mungkin baru kita tahu, yang bisa jadi magnet penarik jiwa untuk pergi ke sana, baik diri kita sendiri maupun wisatawan mancanegara (apagila diterbitkan dalam bahasa Inggris pula). Semua orang pasti tahu Raja Ampat di Papua Barat sana, tapi belum semua orang tahu tentang Pantai Pulau Jefman dan Pantai Pulau Rumberfon yang indah itu, misalnya.


Demikian tentang buku Informasi Pariwisata Nusantara yang sayangnya tidak dijual bebas di toko buku. Beruntunglah saya bisa mendapatkannya sebuah, hehe. Bagaimana dengan kalian, kawan? Yang belum pernah membacanya maupun yang sudah pernah membacanya, apa tanggapan kalian tentang buku keren ini? Bagi tahu yuk di komen!

Baca Juga: The Kings

Selamat dua minggu puasa :*



Cheers.

Relikui Kematian #2


Bagi pecinta Harry Potter yang sampai sekarang masih tersihir oleh kisah spektakuler dari dunia sihir a la J. K. Rowling, membicarakan perkara apa pun tentang dunia sihir itu, kapan pun waktunya, tentu selalu menyenangkan. Saya, sebagai pecinta kisah Harry Potter, masih bisa mengingat banyak hal dari novel maupun filemnya. Betapa tingkah sepupu Harry, Dudley Dursley, sama mengesalkannya dengan tawa Bellatrix Lestrange, misalnya. Atau, tentang timbulnya rasa bersalah di dalam diri kita ketika tahu bahwa Profesor Snape, si 'agen ganda' itu justru patuh pada Albus Dumbledore dan sangat menyayangi Harry. Atau tentang horcrux-horcrux yang harus dihancurkan.

Baca Juga: Survival Movies

Kembali menulis tentang Harry Potter, khusus Relikui Kematian, kisah tentang tiga benda keramat ini hadir dalam seri terakhir yang berjudul Harry Potter and The Deathly Hallows. Untuk tahu tentang Tongkat Elder, silahkan baca Relikui Kematian #1. Kenapa harus membacanya? Agar kalian, yang sama sekali tidak tahu tentang Harry Potter, punya petunjuk tentang tiga benda keramat peninggalan Paverell bersaudara. Hari ini saya akan melanjutkan tentang dua benda keramat dari Relikui Kematian yang lain yaitu Batu Kebangkitan dan Jubah Gaib

Batu Kebangkitan


Batu Kebangkitan merupakan salah satu benda keramat yang diberikan Kematian kepada Cadmus Paverell. Batu Kebangkitan diwariskan oleh Albus Dumbledore kepada Harry yang diletakkan di dalam snitch pertama yang ditangkap Harry saat pertandingan Quidditch. Apakah batu ini yang menyelamatkan Harry dari kutukan Voldemort di Hutan Terlarang? Ada dua teori, seperti yang saya janjikan sebelumnya, teori pertama sudah saya tulis tapi tidak ada salahnya mengulang agar tidak tercerai-berai.

Teori Pertama: 
Harry selamat dari kutukan Voldemort di Hutan Terlarang karena Tongkat Elder setia pada pemiliknya. Tongkat Elder, meskipun fisiknya berada di tangan Voldemort, sebenarnya merupakan milik Harry dari hasil Harry melucuti si tongkat dari Draco Malfoy. Ingat kata Ollivander, tongkatlah yang memilih tuannya. Kesetiaan Tongkat Elder menyebabkan serangan itu tidak 100% meskipun Voldemort yakin percaya itulah kekuatan paling imba darinya terhadap Harry.

Teori Kedua:
Batu Kebangkitan yang berhasil dikeluarkan Harry dari snitch lah yang menyelamatkan Harry dari kutukan Voldemort di Hutan Terlarang. Albus Dumbledore tahu bahwa Harry adalah salah satu horcrux; benda yang menyimpan potongan jiwa Voldemort. Untuk bisa melumpuhkan Voldemort atau melemahkannya, semua horcrux harus dihancurkan. Termasuk Harry. Tujuan Albus Dumbledore memberikan Batu Kebangkitan kepada Harry adalah agar setelah horcrux (Harry) mati, Harry dapat bangkit untuk melawan, kembali, Voldemort.

Teori pertama dan teori kedua ini sama-sama masuk akal. Karena, dalam dunia sihir, tongkat sihir loyal/setia pada pemiliknya yang sah. Karena, Batu Kebangkitan hanya membangkitkan satu orang, dan itu Harry, bukan James, Lily, Albus Dumbledore, dan lain sebagainya. Arwah-arwah orang mati yang ditemui Harry dalam 'alam antara' itu hanya sebagai penyemangat untuk Harry kembali dan melakukan pertarungan kedua dengan Voldemort.

Baca Juga: Sel-Sel Kelabu Hercule Poirot

Setelah digunakan, batu tersebut jatuh di Hutan Terlarang dan memang tidak ada niat Harry, kemudian, untuk mencarinya. Dia tidak ingin memiliki si batu, sama juga dengan dia tidak ingin memiliki si tongkat.

Jubah Gaib


Inilah benda keramat terakhir yang diberikan oleh Kematian kepada Ignotus Paverell, si bungsu dari Paverell bersaudara. Jubah Gaib ini sejak semula jadi sudah kita ketahui diberikan oleh Albus Dumbledore kepada Harry dari wasiatnya James Potter. Berbeda dengan proses kepemilikan Tongkat Elder dan Batu Kebangkitan, Jubah Gaib merupakan satu-satunya benda yang menjadi konektor antara Harry dan Ignotus. Bahwa, Harry merupakan turunan Ignotus. Artinya, Harry dan Voldemort pun masih punya hubungan darah (jauh).

Jubah Gaib merupakan satu-satunya benda dari Relikui Kematian yang disimpan Harry. Tidak ada kisah lanjutan dari Jubah Gaib, bahkan dalam Harry Potter and The Deathly Hallows pun, Jubah Gaib hanya memainkan sedikit peran (disebut-sebut).

Harry Potter adalah Kisah Tentang Paverell dan Horcrux


Itu memang kesimpulan yang dangkal. Tapi sejak dulu, setelah selesai membaca Harry Potter and The Deathly Hallows, saya sudah berpikir demikian. Pada akhirnya, enam seri Harry Potter, tercerahkan di buku ke-tujuh. Kebaikan melawan kejahatan; Harry melawan Voldemort. Voldemort bisa kalah apabila semua horcrux-nya hancur; termasuk Harry - yang kemudian bangkit kembali. Dan ambisi Voldemort adalah menguasai Relikui Kematian warisan Paverell bersaudara; hanya satu Relikui Kematian yang sempat dipegangnya, Tongkat Elder, itu pun si tongkat justru setia kepada pemiliknya yang sah.

Horcrux


Dari tadi menulis horcrux. Apa saja kah horcrux itu?

1. Diary milik Tom Riddle.
2. Cincin Gaunt.
3. Liontin Slytherin.
4. Piala Hufflecup.
5. Diadem Ravenclaw.
6. Nagini.
7. Harry Potter.

Dan yang terakhir adalah jiwa yang masih melekat pada Voldemort sendiri.


Setelah membaca Relikui Kematian #1 dan #2, bagaimana tanggapan kalian? Siapa tahu pendapat kita berbeda tentang hal ini. Feel free to write your mind on comment!

Baca Juga: Samudera Cinta Ikan Paus

Selamat berakhir pekan, selamat bernostalgia bersama Harry Potter.


Cheers.

Relikui Kematian #1


Harry Potter memang telah lama selesai. Buku terakhir seri ini, Harry Potter and The Deathly Hallows, diterbitkan tahun 2007, sedangkan filemnya dirilis tahun 2010 (Bagian 1) dan tahun 2011 (Bagian 2). Meskipun telah selesai, kisah spektakuler dari dunia sihir a la J.K. Rowling yang pernah ditolak oleh penerbit ini masih terus menyihir kehidupan saya. Ketika prekuelnya yaitu Fantastic Beast and Where to Find Them serta Fantastic Beast The Crimes of Grindelwald dirilis, otomatis memori kita tentang Harry Potter muncul ke permukaan. Bagaimana tidak? Pernah dulu waktu masih hangat-hangatnya, saya sering sekali mengucapkan mantera-mantera dari serial tersebut seperti Stupefy.

Baca Juga: Survival Movies

Kisah utama buku ke-tujuh Harry Potter, sesuai judulnya, adalah The Deathly Hallows atau Relikui Kematian. Di dalamnya kalian akan menemukan pengembaraan tiga serangkai yaitu Harry, Ron, dan Hermione dengan misi mencari dan menghancurkan horcrux-horcrux milik Voldemort agar si penyihir terhitam dan terjahat itu melemah dan mudah dikalahkan. Misi yang tidak mudah karena Albus Dumbledore hanya menyisakan sedikit petunjuk setelah kematiannya. Selain itu, misi mereka lainnya adalah mencari tahu tentang simbol Relikui Kematian yang tergambar pada lembar demi lembar buku warisan Albus Dumbledore untuk Hermione. Buku itu berjudul The Tales of Beedle and Bard. Simbol Relikui Kematian juga dipakai oleh Xenophilius Lovegood (ayah Luna Lovegood) dalam bentuk bandulan kalung. Hermione juga melihat simbol Relikui Kematian pada makam Ignotus Peverell di Godric's Hollow.

Kisah Tiga Bersaudara Peverell


Relikui kematian adalah tiga benda keramat yang diciptakan dan diberikan oleh Kematian kepada tiga bersaudara yaitu Antioch Peverell, Cadmus Peverell, dan Ignotus Peverell. Kisah ini berada dalam buku The Tales of Beedle and Bard.

Alkisah ... ada tiga orang bersaudara berjalan jauh melalui jalanan sepi dan berkelok saat senja. Dalam perjalanannya mereka sampai di sungai yang berbahaya uuntuk diseberangi. Tapi mereka mempelajari ilmu sihir. Mereka dengan mudahnya melambaikan tongkat dan membuat sebuah jembatan. Akan tetapi sebelum mereka bisa menyeberang, jalan mereka dihalangi oleh seorang yang berkerudung. Itu adalah Kematian, dan dia merasa tertipu. Tertipu karena biasanya para pengelana akan tenggelam ke dalam sungai. Tapi kematian sungguh licik. Dia berpura-pura memberi selamat pada tiga bersaudara itu atas sihir mereka dan dan berkata bahwa masing-masing dari mereka mendapatkan hadiah karena cerdas menghindarinya.

Maka saudara yang tertua, Antioch, meminta tongkat yang lebih kuat dari tongkat lain. Lalu Kematian menciptakan tongkat buatnya dari Pohon Elder yang ada di dekat situ. 

Saudara yang kedua, Cadmus, memutuskan bahwa dia ingin menghina Kematian lebih jauh lagi dan meminta kekuatan untuk menghidupkan orang-orang yang dicintai dari kematian. Lalu Kematian mengambil sebuah batu dari pinggir sungai dan berikan itu padanya. 

Akhirnya, kematian bertanya pada saudara yang ketiga dan termuda yaitu Ignotus. Seorang pria yang sederhana. Dia meminta sesuatu yang dapat membuatnya pergi dari tempat itu tanpa diikuti oleh kematian. Dan kematian dengan sangat segan menyerahkan Jubah Gaib miliknya. 

Saudara pertama bepergian ke sebuah desa yang jauh dimana dengan Tongkat Elder di tangannya dia membunuh seorang penyihir yang bertengkar dengannya. Mabuk dengan kekuatan Tongkat Elder yang diberikan kepadanya dia membual akan kehebatannya. Tetapi di malam itu penyihir lain mencuri tongkat itu dan menggorok leher saudara itu sebagai tambahan. Dan Kematian mengambil saudara pertama itu sebagai miliknya.

Saudara kedua pulang ke rumahnya dimana dia membawa batu itu dan memutarnya tiga kali di telapak tangannya. Dia sangat senang ketika gadis yang dinikahinya yang keburu meninggal muncul di depannya. Namun sang gadis itu sedih dan dingin karena dirinya tak layak di dunia manusia. Gila karena kerinduan yang sia-sia saudara kedua membunuh dirinya agar bisa menyusul gadis itu. Dan Kematian mengambil saudara kedua itu sebagai miliknya.

Sementara saudara ketiga, bertahun-tahun kematian mencarinya namun tak bisa menemukannya. Hanya ketika ia sudah tua, saudara termuda itu memberikan jubah gaib itu pada puteranya. Dia menyambut Kematian bak teman lama dan pergi bersama Kematian dengan bahagia meninggalkan kehidupan ini.

Itulah kisah tiga bersaudara Peverell dengan Relikui Kematian.

Relikui Kematian


Ada tiga benda keramat Relikui Kematian. Jika seorang penyihir memiliki ketiganya maka akan dapat menjadi penguasa kematian. Dia dapat menjadi sangat mematikan dengan Tongkat Elder, dia dapat membangkitkan kematian dengan Batu Kebangkitan, dia pun dapat bersembunyi dari Kematian serta melindungi dua benda keramat lainnya dengan Jubah Gaib.


Siapa yang pernah memegang ketiga benda ini? Albus Dumbledore dan Harry Potter. Jubah Gaib telah menjadi milik Harry sejak lama, diserahkan oleh Albus Dumbledore atas wasiat ayah Harry yaitu James Potter. Batu Kebangkitan diwasiatkan oleh Albus Dumbledore kepada Harry, yang disembunyikan di dalam snitch wasiat tersebut. Sedangkan Tongkat Elder diperoleh Harry setelah melucuti Draco Malfoy di rumah penghuni Asrama Slytherin tersebut (kesetiaan tongkat kepada pemilik baru meskipun fisik si tongkat berada di tangan orang lain). Karena tanpa Draco sadari, dialah yang melucuti Tongkat Elder dari Albus Dumbledore sebelum Kepala Sekolah itu dibunuh oleh Profesor Snape.

Tongkat Elder


Tongkat Elder atau Elder Wand merupakan tongkat kepunyaan Albus Dumbledore. Inilah tongkat yang diminta Antioch Peverell kepada Kematian. Dalam dunia sihir, setiap penyihir mempunyai tongkat mereka masing-masing. Ada dua pembuat tongkat yaitu Ollivander dan Gregorovitch (di Bulgaria). Setelah dibunuh oleh penyihir lain, maka tongkat milik Antioch itu kemudian menjadi milik Gregorovitch. Si pembuat tongkat sihir yang bangga karena memiliki Tongkat Elder dan merasa puas karena bisa lebih populer dari Ollivander. Sayangnya tongkat sakti itu kemudian menjadi milik Gellert Grindelwald. Entah bagaimana caranya. Mungkin Grindelwald mencuri setelah membikin pingsan si Gregorovitch.

Baca Juga: Sisi Lain Dunia Gulat Dalam Dangal

Karena ... menurut penuturan Ollivander ... sebuah tongkat sihir akan menjadi pemilik sah penyihir lain jika penyihir pemilik sebelumnya dilucuti, dipingsankan, atau dibunuh. 

Gambar diambil dari sini.

Pemilik Tongkat Elder selanjutnya adalah Albus Dumbledore setelah mengalahkan Gellert Grindelwald. Lalu menjadi milik Draco tanpa dia ketahui, setelah melucuti Albus Dumbledore, sebelum Kepala Sekolah bijak itu dibunuh oleh Profesor Snape. Dan ketika Harry melucuti Draco, tongkat sakti itu kemudian menjadi milik Harry.


Demikianlah perjalanan panjang Tongkat Elder sebelum kemudian dicuri oleh Voldemort dari makam Albus Dumbledore. 

The Last Duel


Pertarungan terakhir antara Voldemort dan Harry tidak dapat terelakkan. Terutama setelah semua horcrux Voldemort dihancurkan. Fyi, horcrux adalah wadah tempat penyihir hitam menyimpan sobekan/pecahan/bagian dari jiwanya untuk mencapai keabadian. Horcrux terakhir yang dihancurkan adalah Nagini saat si ular hendak menyerang Ron dan Hermione. Adalah Neville Longbottom yang melakukannya, menggunakan Pedang Gryffindor. Voldemort membagi jiwanya menjadi delapan; tujun disimpan pada horcrux dan satu pada dirinya sendiri.

Pada pertarungan terakhir itu, Voldemort menggunakan Tongkat Elder, sedangkan Harry menggunakan tongkat milik Draco Malfoy. Namun, lagi-lagi mengingat siapa kepemilikan sah Tongkat Elder, tongkat itu tentu loyal kepada pemiliknya yang sah. Maka ... Voldemort kalah total dan Tongkat Elder, fisik si tongkat, berada di tangan si pemilik yang sah yaitu Harry. Luar biasa, sungguh, penggambaran pertarungan terakhir itu.

Menariknya tentang Tongkat Elder yang loyal pada Harry ini juga bisa terlihat pada pertarungan di Hutan Terlarang. Saat itu harusnya Harry mati lah. Diserang begitu rupa sama penyihir terjahat, terhitam, terkuat. Tapi loyalnya Tongkat Elder pada Harry tidak mampu membuat si tongkat mengikuti kehendak Voldemort. Harry hanya dibikin pingsan sesaat (rohnya bertemu Albus Dumbledore serta orang-orang mati lainnya) dan kembali bernafas. Ada juga yang menyebutkan bahwa semua itu karena perlindungan Lily Potter pada sang anak ajaib ini.

Kasihan juga si Voldemort. Dia berpikir Profesor Snape lah yang menjadi pemilik Tongkat Elder karena si profesor lah yang membunuh Albus Dumbledore. Tidak dia ketahui bahwa Draco lah yang seharusnya dia bunuh, bukan Profesor Snape, karena Draco lah yang melucuti Albus Dumbledore.

Baca Juga: Bodo Amat

Bagaimana dengan Batu Kebangkitan? Bukankah kalau Harry mati saat di Hutan Terlarang, toh dia bisa bangkit lagi? Bukankah Albus Dumbledore pasti punya tujuan tertentu memberikan Batu Kebangkitan pada Harry? Ada dua teori tentang hal ini yang akan saya tulis minggu depan. Haha. Nantikan, ya!


Tongkat Elder pada akhirnya tidak menjadi milik siapa-siapa. Karena Harry mematahkannya dan membuang ke jurang. Maka satu-satunya benda keramat Relikui Kematian yang masih berada di tangan Harry adalah Jubah Gaib. Bagaimana kisah dua benda keramat lainnya? Nanti ya, kita lanjut di pos #SabtuReview minggu depan!

Selamat berakhir pekan, selamat menonton ulang Harry Potter.



Cheers.

Relikui Kematian #1


Harry Potter memang telah lama selesai. Buku terakhir seri ini, Harry Potter and The Deathly Hallows, diterbitkan tahun 2007, sedangkan filemnya dirilis tahun 2010 (Bagian 1) dan tahun 2011 (Bagian 2). Meskipun telah selesai, kisah spektakuler dari dunia sihir a la J.K. Rowling yang pernah ditolak oleh penerbit ini masih terus menyihir kehidupan saya. Ketika prekuelnya yaitu Fantastic Beast and Where to Find Them serta Fantastic Beast The Crimes of Grindelwald dirilis, otomatis memori kita tentang Harry Potter muncul ke permukaan. Bagaimana tidak? Pernah dulu waktu masih hangat-hangatnya, saya sering sekali mengucapkan mantera-mantera dari serial tersebut seperti Stupefy.

Baca Juga: Survival Movies

Kisah utama buku ke-tujuh Harry Potter, sesuai judulnya, adalah The Deathly Hallows atau Relikui Kematian. Di dalamnya kalian akan menemukan pengembaraan tiga serangkai yaitu Harry, Ron, dan Hermione dengan misi mencari dan menghancurkan horcrux-horcrux milik Voldemort agar si penyihir terhitam dan terjahat itu melemah dan mudah dikalahkan. Misi yang tidak mudah karena Albus Dumbledore hanya menyisakan sedikit petunjuk setelah kematiannya. Selain itu, misi mereka lainnya adalah mencari tahu tentang simbol Relikui Kematian yang tergambar pada lembar demi lembar buku warisan Albus Dumbledore untuk Hermione. Buku itu berjudul The Tales of Beedle and Bard. Simbol Relikui Kematian juga dipakai oleh Xenophilius Lovegood (ayah Luna Lovegood) dalam bentuk bandulan kalung. Hermione juga melihat simbol Relikui Kematian pada makam Ignotus Peverell di Godric's Hollow.

Kisah Tiga Bersaudara Peverell


Relikui kematian adalah tiga benda keramat yang diciptakan dan diberikan oleh Kematian kepada tiga bersaudara yaitu Antioch Peverell, Cadmus Peverell, dan Ignotus Peverell. Kisah ini berada dalam buku The Tales of Beedle and Bard.

Alkisah ... ada tiga orang bersaudara berjalan jauh melalui jalanan sepi dan berkelok saat senja. Dalam perjalanannya mereka sampai di sungai yang berbahaya uuntuk diseberangi. Tapi mereka mempelajari ilmu sihir. Mereka dengan mudahnya melambaikan tongkat dan membuat sebuah jembatan. Akan tetapi sebelum mereka bisa menyeberang, jalan mereka dihalangi oleh seorang yang berkerudung. Itu adalah Kematian, dan dia merasa tertipu. Tertipu karena biasanya para pengelana akan tenggelam ke dalam sungai. Tapi kematian sungguh licik. Dia berpura-pura memberi selamat pada tiga bersaudara itu atas sihir mereka dan dan berkata bahwa masing-masing dari mereka mendapatkan hadiah karena cerdas menghindarinya.

Maka saudara yang tertua, Antioch, meminta tongkat yang lebih kuat dari tongkat lain. Lalu Kematian menciptakan tongkat buatnya dari Pohon Elder yang ada di dekat situ. 

Saudara yang kedua, Cadmus, memutuskan bahwa dia ingin menghina Kematian lebih jauh lagi dan meminta kekuatan untuk menghidupkan orang-orang yang dicintai dari kematian. Lalu Kematian mengambil sebuah batu dari pinggir sungai dan berikan itu padanya. 

Akhirnya, kematian bertanya pada saudara yang ketiga dan termuda yaitu Ignotus. Seorang pria yang sederhana. Dia meminta sesuatu yang dapat membuatnya pergi dari tempat itu tanpa diikuti oleh kematian. Dan kematian dengan sangat segan menyerahkan Jubah Gaib miliknya. 

Saudara pertama bepergian ke sebuah desa yang jauh dimana dengan Tongkat Elder di tangannya dia membunuh seorang penyihir yang bertengkar dengannya. Mabuk dengan kekuatan Tongkat Elder yang diberikan kepadanya dia membual akan kehebatannya. Tetapi di malam itu penyihir lain mencuri tongkat itu dan menggorok leher saudara itu sebagai tambahan. Dan Kematian mengambil saudara pertama itu sebagai miliknya.

Saudara kedua pulang ke rumahnya dimana dia membawa batu itu dan memutarnya tiga kali di telapak tangannya. Dia sangat senang ketika gadis yang dinikahinya yang keburu meninggal muncul di depannya. Namun sang gadis itu sedih dan dingin karena dirinya tak layak di dunia manusia. Gila karena kerinduan yang sia-sia saudara kedua membunuh dirinya agar bisa menyusul gadis itu. Dan Kematian mengambil saudara kedua itu sebagai miliknya.

Sementara saudara ketiga, bertahun-tahun kematian mencarinya namun tak bisa menemukannya. Hanya ketika ia sudah tua, saudara termuda itu memberikan jubah gaib itu pada puteranya. Dia menyambut Kematian bak teman lama dan pergi bersama Kematian dengan bahagia meninggalkan kehidupan ini.

Itulah kisah tiga bersaudara Peverell dengan Relikui Kematian.

Relikui Kematian


Ada tiga benda keramat Relikui Kematian. Jika seorang penyihir memiliki ketiganya maka akan dapat menjadi penguasa kematian. Dia dapat menjadi sangat mematikan dengan Tongkat Elder, dia dapat membangkitkan kematian dengan Batu Kebangkitan, dia pun dapat bersembunyi dari Kematian serta melindungi dua benda keramat lainnya dengan Jubah Gaib.


Siapa yang pernah memegang ketiga benda ini? Albus Dumbledore dan Harry Potter. Jubah Gaib telah menjadi milik Harry sejak lama, diserahkan oleh Albus Dumbledore atas wasiat ayah Harry yaitu James Potter. Batu Kebangkitan diwasiatkan oleh Albus Dumbledore kepada Harry, yang disembunyikan di dalam snitch wasiat tersebut. Sedangkan Tongkat Elder diperoleh Harry setelah melucuti Draco Malfoy di rumah penghuni Asrama Slytherin tersebut (kesetiaan tongkat kepada pemilik baru meskipun fisik si tongkat berada di tangan orang lain). Karena tanpa Draco sadari, dialah yang melucuti Tongkat Elder dari Albus Dumbledore sebelum Kepala Sekolah itu dibunuh oleh Profesor Snape.

Tongkat Elder


Tongkat Elder atau Elder Wand merupakan tongkat kepunyaan Albus Dumbledore. Inilah tongkat yang diminta Antioch Peverell kepada Kematian. Dalam dunia sihir, setiap penyihir mempunyai tongkat mereka masing-masing. Ada dua pembuat tongkat yaitu Ollivander dan Gregorovitch (di Bulgaria). Setelah dibunuh oleh penyihir lain, maka tongkat milik Antioch itu kemudian menjadi milik Gregorovitch. Si pembuat tongkat sihir yang bangga karena memiliki Tongkat Elder dan merasa puas karena bisa lebih populer dari Ollivander. Sayangnya tongkat sakti itu kemudian menjadi milik Gellert Grindelwald. Entah bagaimana caranya. Mungkin Grindelwald mencuri setelah membikin pingsan si Gregorovitch.

Baca Juga: Sisi Lain Dunia Gulat Dalam Dangal

Karena ... menurut penuturan Ollivander ... sebuah tongkat sihir akan menjadi pemilik sah penyihir lain jika penyihir pemilik sebelumnya dilucuti, dipingsankan, atau dibunuh. 

Gambar diambil dari sini.

Pemilik Tongkat Elder selanjutnya adalah Albus Dumbledore setelah mengalahkan Gellert Grindelwald. Lalu menjadi milik Draco tanpa dia ketahui, setelah melucuti Albus Dumbledore, sebelum Kepala Sekolah bijak itu dibunuh oleh Profesor Snape. Dan ketika Harry melucuti Draco, tongkat sakti itu kemudian menjadi milik Harry.


Demikianlah perjalanan panjang Tongkat Elder sebelum kemudian dicuri oleh Voldemort dari makam Albus Dumbledore. 

The Last Duel


Pertarungan terakhir antara Voldemort dan Harry tidak dapat terelakkan. Terutama setelah semua horcrux Voldemort dihancurkan. Fyi, horcrux adalah wadah tempat penyihir hitam menyimpan sobekan/pecahan/bagian dari jiwanya untuk mencapai keabadian. Horcrux terakhir yang dihancurkan adalah Nagini saat si ular hendak menyerang Ron dan Hermione. Adalah Neville Longbottom yang melakukannya, menggunakan Pedang Gryffindor. Voldemort membagi jiwanya menjadi delapan; tujun disimpan pada horcrux dan satu pada dirinya sendiri.

Pada pertarungan terakhir itu, Voldemort menggunakan Tongkat Elder, sedangkan Harry menggunakan tongkat milik Draco Malfoy. Namun, lagi-lagi mengingat siapa kepemilikan sah Tongkat Elder, tongkat itu tentu loyal kepada pemiliknya yang sah. Maka ... Voldemort kalah total dan Tongkat Elder, fisik si tongkat, berada di tangan si pemilik yang sah yaitu Harry. Luar biasa, sungguh, penggambaran pertarungan terakhir itu.

Menariknya tentang Tongkat Elder yang loyal pada Harry ini juga bisa terlihat pada pertarungan di Hutan Terlarang. Saat itu harusnya Harry mati lah. Diserang begitu rupa sama penyihir terjahat, terhitam, terkuat. Tapi loyalnya Tongkat Elder pada Harry tidak mampu membuat si tongkat mengikuti kehendak Voldemort. Harry hanya dibikin pingsan sesaat (rohnya bertemu Albus Dumbledore serta orang-orang mati lainnya) dan kembali bernafas. Ada juga yang menyebutkan bahwa semua itu karena perlindungan Lily Potter pada sang anak ajaib ini.

Kasihan juga si Voldemort. Dia berpikir Profesor Snape lah yang menjadi pemilik Tongkat Elder karena si profesor lah yang membunuh Albus Dumbledore. Tidak dia ketahui bahwa Draco lah yang seharusnya dia bunuh, bukan Profesor Snape, karena Draco lah yang melucuti Albus Dumbledore.

Baca Juga: Bodo Amat

Bagaimana dengan Batu Kebangkitan? Bukankah kalau Harry mati saat di Hutan Terlarang, toh dia bisa bangkit lagi? Bukankah Albus Dumbledore pasti punya tujuan tertentu memberikan Batu Kebangkitan pada Harry? Ada dua teori tentang hal ini yang akan saya tulis minggu depan. Haha. Nantikan, ya!


Tongkat Elder pada akhirnya tidak menjadi milik siapa-siapa. Karena Harry mematahkannya dan membuang ke jurang. Maka satu-satunya benda keramat Relikui Kematian yang masih berada di tangan Harry adalah Jubah Gaib. Bagaimana kisah dua benda keramat lainnya? Nanti ya, kita lanjut di pos #SabtuReview minggu depan!

Selamat berakhir pekan, selamat menonton ulang Harry Potter.



Cheers.

Bodo Amat


Masih ingat pos berjudul Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat? Pos #SabtuReview yang belum sempurna karena saya belum selesai membacanya tapi pengen banget menulis proses memperoleh buku keren yang satu ini, yang diberikan oleh sahabat saya Ferdinandus Setu. Hyess, the story behind the book. Pada akhirnya saya menyempatkan membaca buku ini setiap ada waktu luang-pendek misalnya jeda selama perjalanan, nongkrong di kantin, atau sebelum tidur malam. Bisa menyelesaikan buku yang ditulis oleh Mark Manson ini merupakan pengalaman mental yang ausam. Menurut saya. 

Baca Juga: The Book of Origins

Jadi, apa saja yang bisa saya tulis dari hasil membaca tuntas Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat? Mari kita cek ...

About Mark Manson


Seorang blogger. Yang akan mengingatkan kita pada Raditya Dika, pada Kerani dari ChaosAtWork (My Stupid Boss), pada Trinity. Tulisan-tulisannya di blog didominasi dengan aneka tips dan/atau motivasi menarik tentang menjalani hidup, tanpa terkesan menggurui, dan menulisnya dari sudut pandang berbeda. Silahkan cek sendiri di sini.

Diambil dari blog Mark Manson.

Tulisan-tulisan di blog itu kemudian dijadikan buku dengan judul The Subtle Art of Not Giving a F*ck. Yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia menjadi Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat. 

Diambil dari blog Mark Manson.

Life is not about getting rid of problems, it's about finding better problems. It's not about avoiding failuer, it's about getting better at failure. Terjemahan bebasnya: bodo amat! Hahaha. Sampai sekarang Mark Manson masih terus menulis blog-nya dengan konten-konten menarik. Silahkan dibaca. Kalau kesulitan sama bahasa Inggris, buka kamus.

Di Atas Langit Masih Ada Langit


Kalian pasti sering mendengar istilah: (janganlah terlalu dipikirkan) di atas langit, masih ada langit. Itu kesan pertama saya membaca buku ini. Kita cenderung terlalu fokus pada satu masalah. Terlalu fokus dari satu sudut pandang saja. Dan, dan tanpa sadar alam bawah sadar kita menolak untuk berpikir dari sudut pandang berbeda. Sudut pandang berbeda akan menunjukkan pada kita, sebenarnya, bahwa masalah yang sedang dihadapi itu ternyata tidak seberapa dibanding masalah lainnya yang jauh lebih besar/sulit.

Contohnya: empat bungkus nasi kuning bekal perjalanan yang dititip di sepeda motor saya jatuh di daerah Desa Moni, sementara para pengendara sepeda motor lainnya pasti berharap nanti sarapan dengan nasi kuning itu saat istirahat di daerah Wolowaru. Apakah nasi kuning yang jatuh itu masalah besar? Tidak, ketimbang memikirkan nasi kuning yang jatuh dan terlindas sepeda motor itu, kami lebih memikirkan tentang kehati-hatian berkendara lintas Pulau Flores dan berharap tidak ada seorang pun yang mengalami nasib buruk dalam perjalanan jauh dari Kota Ende ke Kota Maumere. Karena kecelakaan lalu lintas, apalagi berakibat pada kematian, merupakan masalah yang sangat besar jika dibanding empat bungkus nasi kuning.

Jadi, masih ada masalah yang, ke depannya bisa jadi, lebih besar dari sekadar jatuhnya nasi kuning di Desa Moni. 

Seni #2: Untuk bisa mengatakan "bodo amat" pada kesulitan, pertama-tama Anda harus peduli terhadap sesuatu yang jauh lebih penting dari kesulitan (Mark Manson, 2018:19).

Hidup memang sulit. Lantas, apakah kita hanya akan memikirkan tentang kesulitan hidup saja? Bangkitlah, masih ada yang lebih sulit dari kesulitan kita, misalnya orang-orang yang negaranya masih berperang. Mereka belum bisa memikirkan tentang tabungan emas Pegadaian, misalnya, mereka masih memikirkan tentang rumah ... apakah keesokan hari rumah mereka masih berdiri atau malah rata dengan tanah akibat dihantam granat atau bom. Atau, apakah besok mereka masih hidup?

Kira-kira hal-hal semacam itulah.

Menghadapi Masalah Adalah Jalan Menuju Bahagia


Ketika kita dihadapkan pada masalah, rasanya dunia runtuh, marah, kesal, tak henti-hentinya mengomel. Beberapa orang cenderung untuk lari dari masalah alias membiarkannya saja tanpa upaya untuk menyelesaikannya. Mereka berpikir bahwa lebih bahagia dengan tidak menyelesaikan masalah itu. Lupakan. Tapi justru itu letak masalahnya ... karena kita tidak akan bahagia hanya dengan membiarkan suatu masalah. Karena menyelesaikan masalah merupakan pengalaman positif yang baik untuk diri kita.

Nilai-Nilai Sampah


Dalam menjalani hidup tidak disadari kita dibendungi oleh nilai-nilai sampah. Apakah nilai-nilai sampah itu? Ada empat nilai sampah yang ditulis oleh Mark Manson yaitu:

1. Kenikmatan.
2. Kesuksesan material.
3. Selalu benar.
4. Tetap positif.

Menariknya adalah penjelasan tentang tetap positif. Bukankah kita sering sekali memotivasi diri sendiri untuk tetap positif? Mark Manson menulis bahwa pengingkaran terhadap emosi negatif menuntut kita untuk mengalami emosi negatif yang lebih dalam dan berkepanjang, serta disfungsi emosional. Terus menerus bersikap positif justru merupakan salah satu bentuk pengelakan terhadap masalah, dan bukan cara yang tepat untuk menyelesaikannya. Contoh yang dilampirkan Mark Manson adalah bahwa ketika kita marah pada seseorang, itu alami karena kemarahan adalah bagian dari kehidupan. Tapi ketika kita memilih untuk tidak memukul seseorang karena marah itu adalah pilihan tepat karena marah adalah alami dan memukul adalah perkara lain yang menimbulkan perkara yang lebih besar.

Hasrat untuk mengejar semakin banyak pengalaman positif sesungguhnya adalah sebuah pengalaman negatif. Sebaliknya, secara paradoksal, penerimaan seseorang terhadap pengalaman negatif justru merupakan sebuah pengalaman positif (Mark Manson, 2018:10).

Perihal poin selalu benar, saya pikir ini memang nilai sampah terhakiki hahaha. Karena ketika merasa selalu benar atau memposisikan diri sebagai pihak yang selalu benar maka kita tidak belajar apa-apa dari sesuatupun. Percayalah, saya pun juga sudah mengalaminya. Kita pernah benar, tapi tidak selalu benar kan? Artinya sebagai manusia kita pun tidak luput dari salah. Belajar banyak dari hal ini tentu bagus. Jangan menjadi orang yang merasa selalu benar.

Contoh Kisah


Di dalam buku ini juga termuat contoh-contoh kisah dari orang-orang yang pasti kalian tahu seperti David Mustain yang didepak dari Metallica dan kemudian membentuk Megadeth. Atau tentang Pete Best yang didepak dari The Beattles lantas menemukan 'arti hidupnya' dari pernikahan dan kehidupan rumah tangga. Atau kisah tentang Hiro Onoda, seorang Letnan Dua dari Angkatan Darat Kekaisaran Jepang (1944). Semuanya terangkum dalam sub Nilai Penderitaan. Kalau saya menceritakan semuanya, tentu bakal diprotes sama Mark Manson. Yang jelas kita akan banyak belajar dari contoh kisah-kisah di dalam buku ini.

Yakin.

Si Panda Nyinyir


Saya tergelak membaca tentang Si Panda Nyinyir ini. 

Jika saya dapat menciptakan satu pahlawan super, saya akan menciptakan pahlawan yang disebut Panda Nyinyir. Dia akan memakai sebuah topeng mata murahan dan kaos (dengan huruf kapital T di atasnya) yang terlalu kecil untuk perut pandanya yang besar, dan kekuatan supernya adalah mengatakan kepada orang-orang, kebenaran yang menyakitkan dan tergolong pedas tentang diri mereka sendiri yang perlu mereka dengar namun tidak ingin mereka terima (Mark Manson, 2018:31).

Hahaha ... Dia akan membuat orang yang mendengarnya menjadi menderita.

Tapi alasan sederhana mengapa kita mengalami penderitaan adalah bahwa secara biologis penderitaan bermanfaat. Ini adalah agen alami yang diperlukan untuk perubahan yang menginspirasi (Mark Manson, 2018:32).

Kita sering mendengar; kebenaran itu menyakitkan. Tapi itu adalah hal yang harus didengar dan/atau dihadapi untuk kemudian diselesaikan. Si Panda Nyinyir ini bisa jadi sisi lain dari diri kita; mungkin dalam kehidupan bisa jadi dia adalah sahabat karib kita.

Lucu juga saat saya membayangkan si Panda Nyinyir ini. 

Apa Yang Harus Dilakukan Dengan "Bodo Amat"?


Bodo amat merupakan kalimat yang berkonotasi negatif. Bodo amat identik dengan masa bodoh. Menurut saya. Sehingga kalau membaca bodo amat, pastilah pikiran kita terbawa pada perilaku masa bodoh, acuh, dan sekelasnya. Tapi jika bodo amat dilakukan dengan seni, seperti yang ditulis Mark Manson, justru menjadi positif. Seni itu ada di mana? Ada di buku Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat.

Bodo amat putus cinta, ketimbang terus-terusan menerima perlakuan buruk dari dia.

Bodo amatlah terlambat datang di pertemuan, ketimbang tidak Shalat Jum'at.

Bodo amat ...

Bodo amat ...

Bodo amat ...


Pengalaman mental yang saya peroleh usai membaca buku Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat memberi peluang pada otak saya untuk berpikir lebih jauh. Contoh: baru-baru ini di Facebook ada sebuah akun yang mengatakan Lomba Mural itu tidak berfaedah karena hanya mencoret-coret dinding saja. Ketika saya membalasnya dengan penjelasan yang baik, akun tersebut malah membias pada hal-hal lainnya. Terakhir dalam hati saya bilang: bodo amat! Kalau dulu, akun semacam itu bakal saya ladeni sampai ke akar-akarnya!

Haha.

Baca Juga: Menghargai Perbedaan Dalam The Help

Bagaimana dengan kalian? Apakah sudah membaca buku ini? Kalau sudah, bagi tahu yuk di komentar pendapat kalian!



Cheers.

Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat



Kalian pasti tahu matrix glitch, tapi apakah kalian mempercayainya? Dari yang saya baca tentang matrix glitch ini, sederhananya, matrix glitch adalah kondisi terhubungnya benang merah dengan cara tidak terduga atau tanpa disadari. Contohnya saat kalian pergi ke suatu acara, ada enam perempuan memakai gaun yang sama, dan keenamnya tidak pernah janjian untuk memakai gaun yang sama (warna, corak, model). Bisa jadi enam perempuan itu sahabatan, bisa juga mereka bahkan tidak saling kenal. Itu matrix glitch.

Baca Juga: The Mentalist

Matrix glitch juga bisa diistilahkan pada suatu keadaan kebetulan yang menyambung atau menghubungkan beberapa hal sekaligus. Dan, baru-baru ini saya mengalami matrix glitch.

The Story Behind The Book


29 Januari 2019 saya mengepos di Facebook sebuah buku berjudul Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat. Foto buku ini dikirim oleh Stanis More, yang waktu ke Jakarta cuma sempat memotret si buku dan menunggu konfirmasi saya apakah mau atau tidak sementara saya sendiri KETIDURAN sehingga tidak membalas pesan WA si Stanis, dan akhirnya Stanis pulang ke Ende tanpa membawa si buku. Huhuhu. Okay, saya mengeposnya di Facebook ditambah tulisan yang hampir sama dengan yang kalian baca barusan. Ini dia penampakan bukunya: 


Yang tidak saya sangka adalah, sahabat saya Ferdinandus Setu, sahabat masa SMP saya yang saat ini menjabat Plt. Kepala Biro Humas Kementrian Komunikasi dan Informasi RI, menyambar alias langsung mengomentari status Facebook tersebut. Anyhoo, iya, wajahnya sering wara-wiri di televisi untuk diwawancarai terkait isu-isu tentang hoax dan lain sebagainya.



Haha. Betul, kawan! Saya menunggunya di bandara, dan kisah matrix glitch kami ternyata panjang. Luar biasa ...


Ini matrix glitch banget, karena saya dan Pak Advent sama-sama menjadi anggota panitia Tim Promosi Uniflor 2019!

About The Book


Saya belum tamat membacanya. 

GUBRAK!!!!

Tapi jangan kuatir, saya bisa kok menulis sedikit ulasan tentang buku Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat karena sudah membaca puluhan halaman-halaman pertama. Lumayan, sambil mengisi waktu di kantor kalau lagi menunggu anggota meeting lainnya, dan menyeruput kopi susu, hehe. Sungguh, saya suka sekali kata 'bodo amat' untuk dipakai pada situasi tertentu, hihi. Maafkan. 

Buku Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat, dengan tagline Pendekatan Yang Waras Demi Menjalani Hidup Yang Baik, yang ditulis oleh Mark Manson. Berwarna oranye, kenapa bukan kuning ya, dengan tulisan besar-besar berwarna hitam. Banyak kalimat menarik dan quotes yang patut digarisbawahi di dalam buku ini, yang bahkan sudah digarisbawahi oleh si pemilik pertama yaitu Ferdin. Salah satunya adalah yang tertera pada halaman 19 Seni #2: Untuk bisa mengatakan "bodo amat" pada kesulitan, pertama-tama Anda harus peduli terhadap sesuatu yang jauh lebih penting dari kesulitan.

Pada rangkaian awal paragraf demi paragraf buku ini saya jadi paham bahwa kadang kita selalu meributkan hal-hal sepele yang menyita waktu dan tenaga padahal hal-hal itu sebenarnya bisa saja kita maafkan. Halaman 21 menegaskannya: Jadi menemukan sesuatu yang penting dan bermakna dalam kehidupan Anda, mungkin menjadi cara yang paling produktif untuk memanfaatkan waktu dan tenaga Anda. Karena jika Anda tidak menemukan sesuatu yang penuh arti, perhatian Anda akan tercurah untuk hal-hal yang tanpa makna.

Baca Juga: Buku Saku: Ende

Mark Manson 'mengajarkan' kita untuk tidak menjadi pribadi yang lebih baik melainkan menjadi pribadi yang 'tahu tentang diri sendiri' dan mengenyampingkan apa-apa yang sebenarnya tidak penting dalam hidup kita. Coba pikirkan lagi, kesulitan terbesar di atas kesulitan yang kita pikir sudah cukup sulit.

Tentu saya harus membacanya sampai selesai untuk bisa menulis lanjutan review dari buku ini. Tapi tidak sekarang ... karena Senin nanti saya harus berangkat ke kabupaten tentangga untuk melaksanakan tugas kantor haha. Cihuy! Bakal banyak cerita kelak :D

Selamat berakhir pekan, kawan.


Cheers.

Buku Saku: Ende



Saya menyebutnya buku saku Ende. Sebuah buku mini berisi informasi tentang atraksi wisata di Kabupaten Ende serta budaya dan masyarakatnya. Buku ini diberikan oleh teman siaran Iwan Aditya yang bekerja di Swisscontact. Jadi kangen sama Iwan. Teringat masa-masa siaran dulu, terutama saat bibir dan otak Iwan jarang kompak, sampai-sampai saya dan Yoyok bilang begini, "Wan, orang itu yang typo jari, bukan bibir."

Haha!

Baca Juga: Corn Island

Flores Pocket Book for Tour Guides ENDE (FPBFTG ENDE). Demikian yang tertulis di sampul mukanya dengan gambar latar salah satu danau dari Danau Kelimutu dan dua orang wisatawan. Buku ini diterbitkan oleh DMO Flores dan didukung oleh HPI DPC Kabupaten Ende & Swisscontact WISATA (Copy Right) DMO Flores. Beberapa logo terpeta di buku ini diantaranya Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia, Wonderful Indonesia, Swisscontact, dan HPI. Anyhoo, sebelum lanjut, sekadar informasi saja bahwa Danau Kelimutu kini telah berubah warna lagi. Sayang saya belum sempat ke sana untuk sekadar ... selfie(?) haha.

Ada dua informasi utama di dalam FPBFTG ENDE. Yang pertama informasi tentang Pulau Flores. Yang kedua informasi tentang Ende.

Meskipun kecil namun FPBFTG ENDE sarat informasi. Informasi tentang Pulau Flores tidak saja memuat Letak dan Kondisi Geografis, Iklim, Flora dan Fauna, Sejarah, Masyarakat dan Kebudayaan, hingga kabupaten-kabupaten di Pulau Flores saja. Menggali lebih dalam, terdapat penjelasan tentang Sirih Pinang atau disebut Chewing Betel Nut

Wanita tua Flores biasanya mempersiapkan sirih saat mengobrol dengan teman-temannya. Kebiasaan ini sudah dikenal selama 2000 tahun, dan juga dikenal di bagian lain di Asia Tenggara seperti di Malaysia, Myanmar, India, Vietnam, Bhutan, Thailand, Papua Nugini dan Afrika Timur. Hal ini terutama terlihat di daerah pedesaan. Tiga bahan dasarnya antara lain sirih (Piper Betel Linn), dimana orang menggunakan buah dan daunnya, pinang (Areca Catechu Linn) dan kapur yang didapat dari batu kapur, kerang atau karang. Kapur juga dapat membuat gigi menjadi merah dan jika seseorang terlalu banyak menggunakannya, ini akan berakibat buruk pada gigi.

Bagi yang tidak terbiasa, jangan dipaksakan. Saya pernah mencoba sekali untuk mengunyah sirih ini, tetapi tidak kuat dan mabok *senyum nista*. Gara-gara mabok menyirih itu saya tidak berani mengulang percobaan itu. Mungkin suatu saat kalau sudah siap mabok lagi.

Bagaimana dengan informasi tentang Ende?

Diisi dengan lima poin penting yaitu:

1. About Ende.
2. Tourist Attraction.
3. Culture in Ende.
4. Useful Phrase.
5. Peta Flores dan Ende.

Kalau tentang atraksi wisatanya saya pikir kalian juga sudah tahu. Beberapa bisa dibaca di Blog Travel saya yang satu ini. Diantaranya Danau Kelimutu, Kampung Adat Wologai, Kampung Adat Nggela, Air Panas Liasembe, Air Terjun Murundao, Mata Air Panas Ae Oka Detusoko, Pantai Penggajawa, Pantai Enabhara, dan lain sebagainya. Di FPBFTG ENDE tidak tercantum atraksi wisata buatan.

Dua poin yang paling menarik minat saya dari lima poin di atas adalah tentang Culture in Ende dan Peta. Pada sub Budaya di Ende saya menggarisbawahi dua kalimat yang digunakan oleh Suku Lio (suku lainnya bernama Suku Ende) untuk kebesaran dan keagungan Tuhan:

Du'a Gheta Lulu Wula, Kai Eo Mbe'o Mera Gheta Longgo Leja.
(Tuhan di balik bulan, Dialah yang menatap di balik matahari).

dan

Ngga'e Ghale Wena Tana, Kai Eo Bewa Sa Ela Meta.
(Tuhan adalah penguasa bumi, Dialah pencipta alam semesta).

Baca Juga: Ngelawak Bersama Mamatua

Sedangkan pada sub Seni Bahasa, saya sangat tertarik dengan ulasan-ulasan tentang Sara Waga, Sua seru, Bhea, Sodha, Sua Sasa. Selama ini saya hanya pernah mendengar orang-orang ber-sodha dan sua sasa saja (lisan). Tidak menyangka bahwa puisi dalam bahasa Lio disebut sara waga dan sua seru itu. Mungkin kalian bakal bilang, masa iya Orang Ende tapi tidak paham betul tentang seni bahasa dari Suku Lio? Maklum, saya kan Suku Ende campuran ha ha ha. Bahasa Ende saja masih harus terus saya pelajari ... soalnya sejak lahir sampai sebesar dinosaurus komunikasi di dalam rumah selalu menggunakan Bahasa Indonesia.

Menurut saya, buku FPBFTG ENDE boleh dimilliki oleh siapa pun yang hendak berkunjung ke Pulau Flores dan Kabupaten Ende karena di dalamnya memuat hampir semua informasi yang dibutuhkan oleh para wisatawan. Saya pikir itu cukup, karena informasi tambahan bisa ditanyakan langsung ke agen perjalanan yang dipakai, teman yang tinggal di Pulau Flores dan Kabupaten Ende, atau penduduk setempat. Ingat, malu bertanya sesat di jalan, malu menjawab sesatkan orang lain.

Di mana bisa membeli FPBFTG ENDE? Entahlah. Saya memperolehnya dari Iwan. Saya tidak tahu apakah buku ini dijual bebas di toko buku atau tidak. Secara toko buku Gramedia juga jauh dari Kota Ende ... haha ... jadi silahkan coba cari sendiri kalau sempat main ke toko buku.

Baca Juga: Travel Writer

Demikian ... semoga bermanfaat.

Oia, dan karena liburan telah usai, tidak ada kalimat yang lebih indah selain: selamat kembali ke belantara rutinitas, kawan!



Cheers.