Arsip Kategori: Artikel Tentang Podcasting

Survei Podcast Indonesia 2019

Dalam beberapa tahun terakhir podcast menjadi medium yang semakin diminati di Indonesia. Rasanya hampir setiap saat ada saja podcast baru yang hadir. Bahkan di grup Line Messenger Komunitas #PodcastIndonesia, tempat para podcaster dan pendengar podcast berbagi informasi, puluhan update episode-episode baru terus menerus bermunculan setiap hari, dari berbagai tema dan genre.

Nah, melihat semakin pesatnya perkembangan podcast di tahun 2019, digelarlah survei ini sepanjang bulan Desember 2019 yang diawali dengan mengumpulkan masukan dari sejumlah podcaster tentang apa saja yang ingin mereka ketahui dari para pendengar. Hasilnya terkumpul 359 responden dari berbagai kalangan dengan mayoritas Laki-laki (69.5%) dan kebanyakan di kelompok usia 21-25 tahun (39,3%) dan 26-30 tahun (18,5%). 80% lebih berdomisili di 5 provinsi di Pulau Jawa dengan maoritas di Jakarta (40,3%).

Secara keterwakilan sampel memang rasanya para survei ini belum bisa dianggap menggambarkan skena podcast di Indonesia secara luas. Memang perlu ada survei yang lebih besar dengan responden lebih besar seperti yang pernah dilakukan oleh Daily Social di tahun 2018. Namun dengan segala keterbatasannya, hasil survei ini lebih ditujukan sebagai bekal masukan kepada teman-teman podcaster di Indonesia dalam upaya meningkatkan kualitas konten mereka di tahun 2020.

Jajak pendapat ini mencoba untuk melihat beberapa hal:

A. Pola Konsumsi Podcast

  1. Mayoritas sudah sangat familiar dengan podcast, bahkan 80,1% terakhir mendengarkan podcast dalam 1 Minggu terakhir.
  2. Lebih dari 41 % responden mendengarkan podcast di atas jam 8 malam.
  3. 50,6% mendengarkan podcast di rumah
  4. Kebanyakan mereka mendapatkan informasi tentang podcast dari media sosial (36,4%)
  5. Platform media sosial yang digunakan kebanyakan adalah Instagram (52%) dan Twitter (30,5%)
  6. Hampir 50% mendengarkan podcast menggunakan Spotify diikuti oleh Anchor dan Soundcloud. Menariknya dari sisi platform, ada 5 layanan podcast lokal yang disebut yakni Inspigo, Dengar Radio, Noice, Penyu FM dan Kaskus Podcast.

B. Konten Podcast

  1. Mayoritas pendengar yang ikut dalam survei ini menilai konten durasi ideal sebuah podcast adalah antara 15-30 menit (39,2%) dan 30-45 menit (38,6%)
  2. Ada kecenderungan mereka menyukai tema podcast yang berisi obrolan-obrolan santai tentang sebuah topik, membahas peristiwa aktual, komedi, keilmuwan, dan psikologi. Topik lain yang juga menarik adalah olahraga, buku, sastra, film dan bisnis.
  3. Mayoritas menilai topik yang menarik masih menjadi daya tarik (30,5%), diikuti oleh cara membawakan (24,8%)

C. Podcast yang Sering Didengarkan

Di bagian ini responden diberikan kebebasan untuk menyebut podcast apa saja yang paling sering mereka dengarkan. Hasilnya menunjukkan beberapa trend sebagai berikut:

  1. Agaknya ada pergeseran dari pola podcast solo yang pernah sangat populer, ke podcast “keroyokan” atau multihost yang polanya adalah obrolan tentang berbagai macam topik
  2. Kemasan podcast yang muncul di 2019 ini nampak lebih profesional baik dari segi kualitas suara hingga editing. Bahkan ada yang sampai bikin jingle sendiri. Wajar agaknya, apalagi melihat banyak orang-orang radio yang juga mulai terjun ke dunia podcast.
  3. Makin banyak nama-nama yang sudah terkenal yang kini merambah podcast, mulai dari influencer media sosial hingga selebriti dan sudah pasti melesat cepat.
  4. Ada kecenderungan podcast-podcast ini tergabung dalam satu network atau jaringan podcast sehingga mereka bisa berbagi resource, teknis, kreatif dan pendengar. Sebuah kecenderungan menarik yang mirip sekali dengan pola radio-radio swasta di Indonesia dalam beberapa dekade terakhir.
  5. Namun pada saat yang bersamaan, banyak juga podcast-podcast lain yang meskipun hanya disebut oleh satu dua responden, namun menunjukkan keberagaman baik dari segi tema, konten, maupun hostnya.

Hasil lengkapnya bisa dilihat di bawah ini atau diunduh di sini.

Sementara analisis lengkap dari survei ini akan diulas di Suarane Podcast dalam beberapa hari mendatang. Jangan lupa subscribe aplikasi podcast kalian untuk mendengarkan.

Semoga bermanfaat dan terima kasih banyak untuk yang sudah berpartisipasi. Beberapa responden akan diundi untuk mendapatkan sekadar kenang-kenangan sebagai bentuk apresiasi. 🙂

5 Alasan Kenapa Podcast Adalah Masa Depan Konten

0

Dalam kesempatan ngobrol di salah satu episode podcast Inspigo belum lama ini saya ditanya apakah audio khususnya podcast punya masa depan? Mantap saya jawab: YA! Walaupun secara guyon saya bilang, begitu juga dengan visual, begitu juga dengan tulisan. Ya, saya yakin setiap medium akan tetap punya masa depan, tergantung pada apakah kita mau untuk terus mengembangkannya.

Podcast sendiri bisa dibilang cukup tertinggal dalam perkembangannya, namun bukan berarti tidak berkembang apalagi tidak punya masa depan. Berikut adalah 5 alasan mengapa podcast sangat punya masa depan di Indonesia:

1. Semua Orang Bisa Bicara, Tidak Semua Bisa (dan Suka) Tampil

“Mau jadi Youtuber, Pak!” kata seorang anak kepada Presiden Jokowi ketika ditanya apa cita-citanya. Meski Pakdhe Jokowi dan orang-orang yang hadir dibuat terkekeh-kekeh mendengarnya, tapi itulah kenyataan yang terjadi. You Tube sekarang memang sedang jadi fenomena.

Masalahnya, tidak semua orang bisa atau suka tampil di depan kamera, tapi rasanya nyaris semua orang bisa bicara. Hal yang sama juga berlaku untuk medium tulisan. Tidak semua orang bisa mengungkapkan pikirannya lewat tulisan, tapi rasanya nyaris semua orang bisa mengungkapnya lewat kata-kata.

Bukan kebetulan pula bahwa ada sejumlah Youtuber di Indonesia yang kini juga memiliki channel podcast. Bisa jadi juga karena proses produksinya yang jauh lebih mudah ketimbang memproduksi video.

2. Akrab dan Personal

Medium paling akrab dengan kita itu adalah audio karena manusia kebanyakan berkomunikasi dengan berbicara dan mendengar.

Medium audio menjadi terasa lebih personal lagi ketika semakin banyak orang yang mendengarkan podcast dengan menggunakan headphone. Ini membuat seolah pesan yang disampaikan lewat audio itu ditujukan kepada kita pribadi, seolah bicara hanya dengan kita.

Yang menggembirakan, maraknya kemunculan podcast di Indonesia belakangan ini rata-rata memanfaatkan kelebihan ini. Pakem podcast yang awalnya tidak jauh dari gaya produksi radio show, kini banyak berubah menjadi layaknya sebuah acara obrolan biasa. Tidak sedikit podcaster yang sudah membuktikan kelebihan ini dilihat dari jumlah pendengar yang sangat tinggi.

Sepertinya orang memang butuh hiburan dan informasi, tapi mereka lebih butuh teman. 😊

3. “Gambarnya” Lebih Keren

Radio is the theater of the mind; television is the theater of the mindless,” begitu kata Steve Allen, seorang penyiar terkenal Amerika era 60-70 an. Konon Allen adalah orang yang pertama kali memperkenalkan istilah yang kemudian sangat akrab di kalangan orang radio, yaitu: “Theatre of Mind.” Ini adalah istilah yang mengacu pada kemampuan manusia memunculkan gambaran yang jelas di kepala hanya lewat suara, lewat kata-kata.

Lebih dari sekedar teori, sebenarnya ini sudah kita praktikkan sehari-hari. Tidak jarang mendengarkan orang cerita tentang sebuah makanan yang lezat, misalnya, akan lebih menggoda ketimbang melihat gambarnya, karena imajinasi kita jauh lebih canggih daripada kamera paling canggih manapun.

 

4. Bisa Disambi, Tidak Suka Ngatur

Masih adakah diantara kita yang bisa dan mau diatur untuk mengkonsumsi media pada waktu-waktu tertentu? Selamat kalau masih ada. Saat ini orang semakin sibuk dan pilihan media semakin beragam, sehingga media makin kesulitan menarik perhatian orang untuk mengkonsumsi di jam-jam tertentu. Maka hadirlah media yang bersifat on-demand, bisa dikonsumsi kapan saja.

Ya, kelebihan utama podcast adalah kemampuannya untuk dikonsumsi sambil mengerjakan hal lain. Kelebihan tersebut tidak ada di medium lain dan itu disadari betul oleh para podcaster dan para pendengar podcast di Indonesia. Fakta ini juga ditunjang oleh survei terbaru Daily Social di Indonesia yang menyebutkan bahwa hampir 60% responden menyukai podcast karena sifatnya yang fleksibel (on-demand).

5.Teknologi dan Masa Depan

Gambaran masa depan medium podcast sebenarnya sudah bisa terlihat dari berbagai teknologi media yang semakin mengakomodir fitur audio terutama di ponsel, benda yang saat ini sudah tidak terpisahkan dengan kita. Ini hanya beberapa diantaranya

  • Facebook Live Audio: Di penghujung 2017 Facebook memperkenalkan layanan yang disebut Live Audio yang tidak lain adalah fitur Facebook Live yang sudah lama ada tapi dengan meniadakan unsur videonya. Dalam pernyataannya Facebook mengakui orang seringkali mendengar audio sambil melakukan hal lain karenanya fitur itu mereka buat.
  • Spotify Podcast: Spotify sebagai aplikasi streaming musik yang sangat populer juga telah memperkenalkan fitur distribusi podcast dan kesempatan itu langsung disambar oleh berbagai podcaster. Survei terbaru dari Daily Social misalnya mengungkap lebih dari 50 persen responden di Indonesia mendengarkan podcast lewat Spotify. Di Indonesia maraknya kemunculan berbagai macam podcast di Spotify tidak bisa dilepaskan dari aplikasi podcast bernama Anchor.
  • AnchorAwal tahun 2016 muncul Anchor, aplikasi podcast yang sangat pantas disebut revolusioner karena memiliki fitur lengkap. Hanya dengan memasang aplikasi ini di ponsel, kita sudah bisa merekam, mengedit, memasukkan musik dan efek termasuk juga merekam obrolan jarak jauh. Sesuatu yang mungkin 5-10 tahun lalu hanya bisa dilakukan di studio rekaman. Bahkan yang lebih menarik lagi adalah Anchor secara otomatis menyebarkan podcast kita ke berbagai layanan distribusi terkenal seperti Apple Podcast, Google Podcast, Castbox, dan Spotify. Mereka yang sudah lama di dunia podcasting pastinya akan sangat mengapresiasi fitur ini karena tahu betapa repotnya masuk ke berbagai jalur distribusi podcast yang ada. Mereka harus melakukan registrasi satu persatu dan tidak jarang harus membayar. Hebatnya, semua layanan super lengkap Anchor ini disodorkan secara gratis! Salah satunya berkat suntikan dana 10 juta dolar dari Google Venture.
  • Hey Google!, Siri, Cortana, Alexa dan kawan-kawan: Meski belum populer di Indonesia, namun kini semakin banyak fitur teknologi yang mengandalkan perintah suara. Fitur ini menjadi pelengkap bagi maraknya perkembangan podcast. Bayangkan di tengah kemacetan kita memerintah Siri atau Google Voice untuk memutar acara podcast tertentu. Tunggu.. Jangan dibayangkan. Langsung dicoba saja karena fitur ini sudah ada di nyaris semua ponsel pintar di tangan-tangan Anda itu.
  • “Studio” Rekaman di Genggaman Tangan (update 24/10): Ada satu teknologi penting di dalam kebanyakan ponsel pintar saat ini yang sedianya diperuntukkan bagi kenyamanan bertelepon tapi tanpa disadari bermanfaat untuk podcasting. Teknologi itu disebut Noise Cancelling Microphone yang intinya mengurangi -kalau tidak bisa disebut menghilangkan- suara latar agar suara penelepon jelas terdengar walau di tengah keramaian sekalipun. Teknologi ini menjadi penting ketika dipadu oleh beragam aplikasi perekam suara yang sudah banyak beredar sehingga kualitas rekaman suara di ponsel menjadi semakin bagus. Banyak podcaster Indonesia yang muncul belakangan ini merekam dengan ponsel mereka dengan kualitas yang bagus. Memang kalau mau kualitas yang super “cring”, idealnya menggunakan studio rekaman dengan mikrofon professional. Sama halnya dengan membuat foto yang bagus idealnya dilakukan dengan kamera DSLR. Toh yang penting kualitasnya.

Apa Dampak Perkembangan Podcast Bagi Para Marketer

Beberapa teman di agency dan juga beberapa praktisi marketing pernah menanyakan hal seperti ini: “Oke, podcast is the future. Terus apa untungnya buat para marketer? Bagaimana kita bisa memanfaatkannya?”

Ini perlu artikel terpisah sih untuk membahasnya (Hmm.. good idea hehe). Tapi sebenarnya dari 5 poin tadi saja sudah banyak hal yang bisa diantisipasi.

Bisa saja kita langsung bereaksi cepat dengan memasang iklan di podcast-podcast populer, seperti layaknya memasang iklan di radio. Bahkan lebih bagus lagi, tidak seperti memasang iklan di radio yang sekali lewat, iklan di podcast akan terus ada secara permanen selama episode podcast itu tersedia di internet. Karena itu tentu pendekatannya harus berbeda dengan radio.

Di Amerika Serikat, beriklan di podcast sudah umum dilakukan, mulai dari pemasangan spot 15-60 detik, adlib atau penyebutan brand, hingga pemberian kode-kode diskon seperti yang belakangan dilakukan brand seperti Squarespace atau Stamp.com di sejumlah podcast populer di Amerika dan terbukti sukses.

Buat saya pribadi kalaupun ada satu kelebihan podcast yang paling layak dimanfaatkan oleh para marketer adalah sifat personal dari podcast. Cocok buat brand yang aktif main dengan gaya subtle marketing 😊

Satu hal pasti: podcast perlahan tapi pasti mulai populer di Indonesia. Survey Daily Socialyang tadi saya kutip beberapa kali menyebutkan hampir 70 persen dari lebih 2000 responden mereka di Indonesia mendengarkan podcast dan kebanyakan mereka ada di rentang usia generasi millennial yang merupakan pasar paling seksi dan menggiurkan saat ini.

Bangkok, 22 Oktober 2018

Rane.

*Penulis adalah podcaster di http://suarane.org

**Artikel ini pertama kali terbit di LinkedIn tanggal 22 Oktober 2018

Survey Podcast 2018 di Indonesia

Daily Social bikin survey yang sangat menarik soal Podcast di Indonesia. Dengan jumlah responden dari 2032 pengguna ponsel pintar, tentu ini riset yang serius dan valid. Hasilnya cukup mengagetkan buat podcaster seperti gue. Selengkapnya silahkan akses di tautan di bawah. Tapi berikut ini ada beberapa hasil yang menarik perhatian gue dan pastinya juga teman-teman podcaster lain:

Responden: Millenials Rule!

podsurvey

Yang menarik adalah usia pendengar podcast di Indonesia  40 persen lebih berasal dari usia 20-25 tahun (42,12%), diikuti oleh usia 26-29 tahun (25,52 %) dan usia 30-25 tahun (15,96%). Apa artinya? Menurut gue, persepsi bahwa generasi yang sering dijuluki millenial adalah generasi penonton daripada pendengar tidak terlalu tepat. Bisa jadi juga ini disebabkan karena kalangan usia itu sangat suka pada hal-hal yang dianggap “baru.” Menarik untuk dilihat setahun lagi apakah minat itu masih sama.

Satu lagi yang perlu diperhatikan adalah ternyata 80% lebih pendengar masih terkonsentrasi di Pulau Jawa. Ayo podcaster di daerah, ini kesempatan kalian!

Familiaritas: Siapa Bilang Podcast Nggak Dikenal?

podsurvey2

Hampir 70% responden tahu apa itu podcast dan 80% lebih diantaranya pernah dengar podcast dalam 6 bulan terakhir. So, siapa bilang podcast belum dikenal?

Podcast atau Radio: Radio, someone still love you?

podsurvey3

Sebagai (mantan) orang radio, gue selalu tertarik ingin tahu ini. Menurut survey Daily Social terjadi pergeseran yang cukup signifikan menuju trend mendengarkan audio berbasis digital. Apa artinya?

Orang radio: waktunya kalian mengadopsi teknologi audio digital. Gue nggak punya risetnya, tapi cukup bermodal streaming siaran kalian di internet saja tidak cukup. Orang semakin sibuk dan tidak mau lagi diatur harus dengar radio di jam-jam tertentu.

Podcaster: Gue percaya banget bahwa pola pikir acara podcast yang meniru style radio (baca: golden voice, heavy audio mixing dll) perlahan akan bergeser menjadi lebih personal, lebih natural, lebih ngobrol.

Platform: Spotify Rules!!

podsurvey4

Mengutip seorang teman podcaster: “Ini sih kampret banget!” haha! Meskipun aplikasi anchor ada di buntut dalam hal aplikasi untuk mendengarkan podcast, tapi sejak aplikasi itu menyediakan layanan distribusi ke Spotify, angka pendengar di Spotify melonjak gila-gilaan. Paling enggak itu yang gue rasakan di dua channel podcast gue. Ini relevan banget dengan data pendengar usia muda yang rasanya adalah pengguna Spotify.

Gue bukan buzzer Anchor, tapi kalau kalian podcaster mau tambahan pendengar, cobalah sasar pendengar Spotify, dan Anchor menyediakan itu secara gratis!

Yang tidak kalah menarik, Soundcloud sebagai basis “tradisional” pendengar podcast masih jumawa di peringkat kedua. Toh gue nyaris yakin perlahan mereka akan tergeser oleh Google Podcast.

Bicara podcast, Indonesia ini emang unik banget! Temen-temen podcaster gue di luar Indonesia sering bingung. Mereka sering “mendewakan” Apple Podcast sebagai channel utama mendengarkan podcast yang paling tob! Tapi lihat hasil survey itu. Dimana posisi Apple Podcast? Hehe..

Oya, gue acung jempol sama Inspigo, karena mereka masuk dalam daftar platform yang dipakai mendengarkan podcast, bersaing dengan penyedia layanan podcast luar negeri. Inspigo ini bisa dibilang sebagai platform podcast lokal yang paling niat dan keren. You’re well on your way, guys! 

Kapan Dengar Podcast: Eh, buset? Seriuss?

podsurvey5

Jujur ini yang paling bikin gue melongo. Asumsi bahwa pendengar podcast itu ada di drive time alias jam orang pulang pergi kantor atau sekolah ternyata terpatahkan oleh survei ini.

32,50% responden mendengarkan podcast di atas jam 9 malam. Memang yang mendengarkan di jam pulang kantor juga tinggi (27,02%), tapi di atas jam 9 itu menarik banget. Hasil ini diperkuat dengan data bahwa mayoritas mendengarkan podcast di rumah, cuy!!

 

KONTEN, KONTEN, KONTEN!

Hasil yang tidak kalah penting, terutama buat para podcaster adalah: Konten dan fleksibilitas akses itu adalah hal yang paling dianggap menarik oleh para responden survey.

Apa artinya? Fleksibilitas akses jelas sangat berpengaruh. Podcast adalah platform yang mudah dikonsumsi dan bisa disambi mengerjakan hal lain. Pas buat generasi multi tasker!

Tapi yang sangat amat tidak kalah penting kalau tidak bisa dibilang paling penting di atas segalanya adalah: KONTEN!

Cuy, lo mau pakai alat canggih yang menghasilkan kualitas audio podcast cring super bening banget pake stereo kiri kanan atas bawah, kalau konten lo kosong, percuma.

Sebaliknya, rekam podcast pakai ponsel tapi konten lo bagus, tentu akan jauh lebih menarik. Banyak contohnya!

Jadi, gue tetap pada pendapat gue setiap kali ada yang bertanya: “Bang, gue bikin podcast tentang apa ya?”

Gue akan selalu jawab:

Mulailah dari apa yang lo tau dan jangan sok tau!

Terus ketika ada yang tanya: “Bang, konten yang bagus kayak apa ya?”

Gue akan jawab:

Konten yang lo tau, dan bukan konten yang sok tau! 

hehehe!

Masih banyak data menarik lainnya soal podcast ini. Silahkan unduh aja di: https://dailysocial.id/post/laporan-dailysocial-penggunaan-layanan-podcast-2018

Angkat topi buat Daily Social yang sudah merintis survey ini.

 

Salam,

Rane

We’re on Spotify!

Jangkauan Suarane Podcast dan Kepo Buku Podcast kini semakin luas dengan kehadirannya di Spotify. Rasanya makin banyak orang yang punya aplikasi streaming musik itu di ponselnya, tapi tidak banyak yang tahu kalau di Spotify juga ada kategori podcast.

Jadi, coba buka Spotify kalian, lakukan pencarian dengan kata kunci “Suarane” atau “Kepo Buku.” Lebih mudah lagi coba akses halaman ini di ponsel, lalu klik link berikut ini:

Jangan lupa klik gambar hati di sudut kanan atas agar kedua podcast ini tersimpan di library dan diberitahu setiap ada episode baru.

now

Eh, mumpung lagi di ponsel, boleh dong bantu sebar podcast ini lewat Whatsapp ke teman, suami, istri, pacar, adik, kakak,  terutama yang hobi dengerin musik di Spotify. Kalau perlu share ke WA Group keluarga, kantor, alumni SMA, SMP, SD, TK kalau perlu hehehe.

Klik ikon di bawah untuk share ke WA ya.

sua-share-wa

kb-share-wa

 

 

 

 

Thank you,
Rane

 

Blog: Review Singkat Spreaker Studio buat Podcasting

Spreaker adalah salah satu alternatif untuk hosting podcast yang ada di luar sana selain Soundcloud, Mixcloud, Libsyn dll. Saya pernah coba Spreaker beberapa kali namun akhirnya masih memilih ke Soundcloud karena melihat lebih banyak teman-teman penyuka podcast dan juga podcaster di sana. Reaksi dari pendengar podcast saya juga lebih banyak di Soundcloud.

Namun saya baru tahu (telat tahu tepatnya) kalau Spreaker punya aplikasi keren yang dikenal dengan Spreaker Studio. Dengan aplikasi ini kita bisa mixing podcast secara langsung tanpa harus susah payah pakai software editing suara. Semuanya juga bisa dilakukan dengan mudah dari ponsel. Lebih hebat lagi, kita bahkan bisa live podcast dengan aplikasi ini.

Saya menemukan Spreaker Studio ini gara-gara mencari padanan aplikasi BossJock yang hanya tersedia di iOS. Saat mencari di Playstore, memang tidak ketemu, tapi Spreaker Studio ini malah muncul di pilihan pertama. Di bawah ini video ulasan singkat dari pengalaman memakai aplikasi keren ini yang saya install di ponsel Xiaomi Redmi Note 4 saya (Kalau layar video tidak muncul di bawah, tautannya ada di akhir artikel ini). Kesimpulan ada di bagian akhir artikel

 

KESAN MENGGUNAKAN APLIKASI SPREAKER STUDIO:

YANG OKE:

  • Keren dan sangat praktis! Apa sih yang sekarang nggak bisa dilakukan di ponsel? Aplikasi ini jelas sangat mempermudah produksi podcast di ponsel.
  • Bisa langsung diunggah ke website yang sudah disediakan oleh Spreaker tentu dengan pilihan versi gratis dan versi berbayar.
  • Cocok buat yang banyak menggunakan sound effect, musik dll. Ini mengingatkan saya pada soundpad.
  • Lebih oke lagi kalau menggunakan handsfree atau lebih baik lagi mikrofon tambahan.

YANG NGGAK OKE:

  • Hal pertama jelas dari segi biaya. Aplikasi ini hanya mengizinkan produksi podcast selama 15 menit per hari dan maksimum 5 jam, sementara versi berbayarnya ada beberapa alternatif yang bisa dilihat di sini. Ini saya sebut nggak oke walau hak Spreaker untuk melakukannya. Wong ini bisnis mereka hehe
  • Hasil rekaman tidak bisa disimpan ke ponsel. Hanya ada pilihan untuk menggunggah ke website Spreaker.com, walaupun kemudian bisa di share ke layanan lain seperti media sosial dan juga Soundcloud. Andai saja Spreaker menyediakan versi premium untuk aplikasi ini yang bisa di save ke ponsel. Pasti keren.
  • Entah kenapa aplikasi ini hasil rekamannya agak kecil, sehingga kita perlu agak lebih keras bersuara. Selain itu entah kenapa suara latar terekam dengan sangat keras. Jadi kalau merekam di luar ruangan, akan lebih bagus kalau pakai handsfree atau mikrofon tambahan sekalian. Kalau tidak suara kita akan kalah dengan latar. Awalnya saya pikir ini karena faktor ponsel. Tapi saya sudah coba di beberapa jenis ponsel dan hasilnya sama.

TAUTAN TERKAIT:

 

Salam,

Rane

Blog: Levelling Suara dengan Levelator

Suara yang tidak level pastinya sangat mengganggu orang untuk menyimak podcast kita. Baru-baru ini saya dapat tips keren dari seorang teman podcaster untuk levelling suara hasil rekaman. Software ini begitu sederhana tapi terbukti sangat ampuh, daripada melakukan levelling secara manual. Bisa diunduh gratis di http://conversationsnetwork.org/levelator (Windows, OS dan Linux)

Video berikut ini mencoba menjelaskan proses menggunakan levelator yang sebenarnya sangat amat sederhana. Hanya drag and drop saja kok. Di paruh kedua ada sedikit tips untuk memaksimalkan hasil levelling dengan levelator ini. Semoga bermanfaat untuk teman-teman podcaster. Punya tips lain? Ayo dong bagi-bagi dengan podcaster lainnya.

(Jika video di bawah tidak muncul bisa dilihat langsung di Youtube) -rh-

Catatan Teknis:

  • Video ini direkam dengan Xiaomi Note 4
  • Diedit dengan aplikasi QUIK di Android. Mohon maaf jika tidak stabil gambarnya. Idealnya sih memang pakai screen recorder. ?
  • Foto ilustrasi dan wallpaper di komputer dari Pixabay.com

Blog: Perabotan Podcast

Hola! Banyak yang tanya memangnya podcast Suarane itu pakai alat apa saja sih? Oke, saya memang pernah bilang bahwa alat podcast terbaik itu adalah apa yang ada di tangan kita, dan itu saya sendiri sudah membuktikan. Namun sejak kerja di radio dan juga memulai podcasting, saya juga mencoba investasi beberapa alat, mulai dari yang paling sederhana sampai ke yang -agak- canggih, mulai dari ponsel sampai digital recorder, mulai dari software gratisan sampai berbayar. Bisa dilihat di video di bawah ini atau nonton langsung di Youtube. Enjoy!