Tips Merekam Podcast dengan Ponsel

Belakangan ini makin banyak saja podcast Indonesia yang bermunculan dan menariknya banyak sekali yang direkam menggunakan ponsel pintar/ smartphone. Ini jelas bukan lagi masalah karena kualitas mikrofon ponsel pintar yang semakin canggih dan sudah mendekati kualitas mikrofon biasa.

Tapi, makin banyak yang merekam podcast dengan ponsel, makin banyak pula muncul “penyakit” terkait kualitas suara hasil rekaman dari ponsel dan ini malah berpotensi menjauhkan pendengar. Beberapa diantaranya:

  • Suara terlalu kecil, bahkan sekalipun volumenya di naikkan sampai maksimal. Sebagus apapun obrolan kalian kalau suara kecil, tentu tidak nyaman didengarkan.
  • Suara terlalu “kotor.” Kotor di sini maksudnya bisa karena gangguan suara dari sekeliling yang terlalu besar, musik yang terlalu besar, suara hembusan angin dari mulut saat merekam, suara kresek mikrofon yang tergesek-gesek, suara hembusan angin saat rekaman di luar dan tertangkap oleh mikrofon dll.
  • Hasil rekaman tidak stabil. Percayalah, paling tidak nyaman mendengarkan podcast yang suaranya bisa tiba-tiba tinggi, lalu kemudian rendah dan naik lagi bahkan sampai pecah.
  • Suara podcaster yang tidak jelas, entah terlalu lambat atau terlalu cepat atau tidak jelas bicara apa. Ini bukan soal bagus tidaknya suara. Meskipun lahir dari era radio dengan penyiar-penyiar “golden voice“, gue nggak percaya ada suara yang bagus dan tidak. Suara semua orang punya keunikan. Yang ada adalah suara yang jelas dan mudah dipahami dan yang tidak. Titik!

Nah, berangkat dari itu berikut beberapa tips yang semoga berguna bagi para podcaster atau calon podcaster yang mau memanfaatkan ponsel mereka untuk merekam.

 

KENALI POSISI MIKROFON PONSEL
Tips pertama dan paling penting adalah kenalilah baik-baik mikrofon ponsel kalian.

  • Kenali di mana posisi mikrofon di ponsel.  Jangan sampai kalian justru bicara ke speaker dan bukan mikrofon. Umumnya mikrofon di ponsel sudah dirancang sedemikian rupa sehingga dekat dengan mulut yaitu di bagian ujung bawah sebelah kiri sementara pengeras suara di ujung bawah sebelah kanan. Jadi buat yang kidal, jangan sampai tertukar dan bicara di pengeras suara dan bukannya mikrofon karena sedikit banyak ini berpengaruh ke hasil rekaman.Karena itulah salah satu cara ideal jika merekam dengan ponsel adalah dengan menggunakan posisi sebagaimana layaknya sedang menelpon. Kalaupun harus menggunakan mikrofon ponsel untuk ditodongkan ke orang lain, misalnya saat wawancara, pastikan posisi ponsel tidak persis horizontal dengan mulut pembicara. Letakkan sedikit ke bawah, sekitar dagu. Mengapa? Lebih lengkap lagi dibahas di tips berikutnya dan juga tips terakhir.
  • Jaga jarak mikrofon – Jarak ini jadi penting. Kenali posisi dan jarak yang paling menghasilkan suara terbaik entah dari segi volume atau daya tangkap. Posisi ideal mikrofon adalah yang tidak horizontal dengan mulut, tetapi sedikit di bawah mulut. Dengan demikian mikrofon tidak akan terganggu suara hembusan angin atau suara mulut lain yang tidak nyaman didengar.Berapa jarak yang ideal? Tentu saja tergantung kualitas mikrofon. Ada yang sensitif walaupun jauh tapi ada yang harus dekat dengan mulut. Jadi akrabi, kenali mikrofon di ponsel kalian. Jangan malas untuk melakukan tes rekaman.

 

NOISE CANCELLING MICROPHONE
Nyaris setiap mikrofon ponsel sudah menggunakan teknologi “noise cancelling“. Ini adalah teknologi yang memungkinkan mikrofon menangkap suara yang paling dekat dengannya dan meredam suara-suara lain di sekelilingnya. Inilah yang menjelaskan kenapa ada jenis ponsel tertentu yang meskipun kita merekam di tempat yang ramai namun suara kita tetap terdengar jelas.

Tapi di sisi lain, inilah yang menyebabkan kenapa sangat tidak disarankan untuk meletakkan ponsel di meja saat rekaman, terutama saat rekaman ngobrol beramai-ramai atau saat wawancara. Kenapa? Karena bisa jadi suara akan terdengar sangat jauh atau malah apesnya, mikrofon akan lebih menangkap suara sekitar daripada suara kita.

 

KENALI LOKASI REKAMAN
Lokasi menentukan kualitas. Perhatikan hal berikut dari segi lokasi:

  • Kebisingan – Dengan ponsel yang rata-rata mikrofonnya sudah memiliki teknologi noise cancelling, merekam di tengah pasar atau di atas angkot sekalipun, misalnya, bukan lagi masalah. Tapi hindari sumber suara yang sangat keras karena bisa jadi akan lebih ditangkap oleh mikrofon. Contoh: suara mesin motor atau mobil yang terlalu keras.
  • Angin – Mau ponsel kalian dilengkapi dengan teknologi noise cancelling secanggih apapun, angin adalah musuh besar. Suara angin yang terarah ke mikrofon jelas akan menimbulkan suara yang mengganggu, misalnya merekam di tengah angin kencang atau merekam di pinggir pantai. Coba saja tiup mikrofon ponsel. Seperti itulah suaranya. Karena itu cari lokasi yang tidak terlalu berangin, atau kalau terpaksa benar coba lindungi mikrofon dengan telapak tangan agar angin tidak berhembus langsung ke mikrofon. Bayangkan kalian lagi ngobrol di ponsel tapi tidak mau didengar orang lain. Nah seperti itu posisinya. Cuma jangan bisik-bisik juga kali.. :p
  • Ruangan – Merekam di dalam ruangan bukan berarti masalah terselesaikan. Seringkali hasil rekaman malah menggema atau malah seperti ngobrol di dalam kaleng. Kadang ini tidak nyaman bagi yang mendengarkan, Pastikan kondisi ruangan tidak mengeluarkan gema saat kita bicara.

 

JANGAN CHARGE PONSEL SAAT REKAMAN
Nah, ini juga seringkali mengganggu karena ada ponsel yang mengeluarkan suara listrik statis saat dipakai rekaman sambil dicharge. Kenali penyakit ini di ponsel masing-masing dengan merekam dalam posisi dicolok dan tidak. Kalau tidak ada beda kualitas suara, alhamdulillah. Ponsel mahal ya? Hehe..

 

PAKAI KONDOM!
Serius! Kondom adalah istilah becandaan untuk pelapis mikrofon yang berfungsi menyaring suara-suara luar, termasuk angin. Ini biasa dikenal dengan muffler, windscreen atau pop filter. Ada trik lain yaitu menggunakan sapu tangan atau handuk kecil yang tidak terlalu tebal. Tapi pastikan untuk mengecek kualitas suaranya, karena kadang-kadang malah membuat suara kita “mendem.”

 

PAKAI MIKROFON TAMBAHAN/ EKSTERNAL
Oke, buat yang mau selangkah lebih serius ke podcasting dengan ponsel, cobalah cari mikrofon tambahan. Ada beberapa macam mikrofon tambahan yang bisa gue rekomendasikan mulai dari yang sederhana sampai yang agak tidak sederhana hehe.

  • Handsfree – Handsfree adalah mikrofon tambahan paling terjangkau. Setiap ponsel rasanya punya handsfree, kan? Itu tuh kabel headphone dan microphone yang dipasang ke colokan audio.  Jadi kalian juga tidak repot-repot nempel ponsel ke kuping. Tapi pastikan kalian mengenali di mana posisi mikrofonnya. Jangan terbalik.
  • Mikrofon Jepit – Itu istilah gue buat lavalier atau lapel microphone. Ini mikrofon kecil yang dijepit di kerah baju kayak penyiar-penyiar di televisi itu loh. Ada banyak model dan harga. Produsen mikrofon terkenal Rhode misalnya punya SmartLav yang khusus dibuat untuk ponsel pintar. Ada lagi yang lebih terjangkau dari merek Aputure. (Disclaimer: bukan buzzer pedagang Glodok apalagi olshop, tapi pssstt. yang terakhir disebut ini murmer lho untuk kualitas yang bagus..)
  • Microphone Splitter – Nah, ini menarik nih buat yang mau podcasting berdua. Ketimbang bolak-balik todong ponsel ke arah yang bicara, ada alat yang namanya microphone splitter yang dijual di pasaran. Ini gunanya untuk memecah jalur mikrofon menjadi dua. Satu buat elo, satu buat co-host atau nara sumber. Jadi wawancara bisa lebih natural, lebih santai bisa sambil ngopi-ngopi juga kan. Tapi pastikan jenis splitter yang digunakan untuk mikrofon dan bukan untuk headphone. Salah satu cirinya adalah pada ujung jack mikrofon splitter terdapat tiga garis hitam. Adaptor seperti ini agak jarang. Salah satunya adalah merek RODE SC6 Adapter. Lihat video reviewnya di sini. Saya juga pernah pesan mikrofon lavalier ini yang dibuat khusus (custom) dengan satu colokan dan dua mikrofon.
  • Mikrofon Biasa – Selain mikrofon jepit, ada juga mikrofon biasa yang ujung colokannya sudah model 3.5mm atau sesuai dengan colokan yang ada di ponsel. Modelnya pun beragam, ada yang dilengkapi kabel panjang ada yang langsung menempel di body ponsel.
    Dipilih.. dipiliihh.. Kakaaaa…. Mikrofonnya kakaaa.. :p

 

TES.. 1.. 2.. 3.. 4..
Meskipun ini tips terakhir, tapi biasakan untuk melakukannya di awal sebelum rekaman. Jangan pernah memulai rekaman tanpa memeriksa terlebih dahulu apakah kualitasnya bagus atau tidak. Rekamlah beberapa detik dengan posisi yang senyaman mungkin dan dengarkan dengan headphone. Periksa apakah suaranya nyaman didengar? Apakah suara sekeliling mengganggu? Apakah ada suara kresek atau hembusan nafas kalian? Setel volume di posisi pertengahan dan dengarkan apakah sudah cukup baik? Kalau sudah, ingat dan pertahankan posisi itu saat rekaman.

Kalian pernah dengar orang tes mikrofon dengan “Tes.. satu, dua tiga..” Kalau gue hitungnya sampai empat. Kenapa? Cara itu bukan iseng. Saat kita bilang “tes” atau “satu” tujuannya untuk mengecek apakah ada suara “hissing” atau semburan udara yang tertangkap mikrofon. Bahkan ada yang memakainya untuk mengecek level suara treble. “Dua” biasanya untuk mengukur “bas” dan gue tambahkan dengan menyebut angka “empat” untuk memastikan tidak ada suara “popping”. Ini adalah suara “pop” yang muncul saat menyebut huruf P atau B. Ini juga sangat berlaku untuk rekaman dengan ponsel.

~~~

Begitulah. Semoga tips ini bermanfaat buat para podcaster yang ingin memastikan kualitas suaranya bagus. Ada satu tips lagi dengan menggunakan software sederhana di komputer untuk membuat suara lebih stabil, lebih level. Bisa disimak di sini tipsnya.

Paling akhir sekali. Ada satu masalah yang sering muncul di kalangan calon podcaster, terutama saat mendengar hasil rekaman suara sendiri: mereka merasa suaranya terdengar aneh. Mengapa bisa begitu? Ada dua penyebabnya:

  • Pertama, kalian terlalu banyak berpatokan pada suara yang kalian anggap ideal dari para penyiar radio dan televisi.
  • Kedua, jelas aneh karena kita jarang mendengarkan rekaman suara sendiri. Coba pikir. Melihat wajah sendiri di foto saja kita sudah sering tapi kadang masih tidak puas, kan? Nah berapa sering kalian mendengar suara sendiri? Padahal biasa saja. Setiap orang punya suara khas.

Nah, buat yang tertarik, di posting berikutnya gue akan berbagi tentang teknik sederhana untuk bersuara yang ideal. Ini tidak akan menjamin suara kalian jadi seperti penyiar idola kalian itu. Mereka butuh bertahun-tahun untuk bisa bersuara seperti itu. Terlebih lagi, suara ideal menurut gue adalah suara yang bisa dipahami.

So stay tuned!

 

Salam,

Rane

Blog: Review Singkat Spreaker Studio buat Podcasting

Spreaker adalah salah satu alternatif untuk hosting podcast yang ada di luar sana selain Soundcloud, Mixcloud, Libsyn dll. Saya pernah coba Spreaker beberapa kali namun akhirnya masih memilih ke Soundcloud karena melihat lebih banyak teman-teman penyuka podcast dan juga podcaster di sana. Reaksi dari pendengar podcast saya juga lebih banyak di Soundcloud.

Namun saya baru tahu (telat tahu tepatnya) kalau Spreaker punya aplikasi keren yang dikenal dengan Spreaker Studio. Dengan aplikasi ini kita bisa mixing podcast secara langsung tanpa harus susah payah pakai software editing suara. Semuanya juga bisa dilakukan dengan mudah dari ponsel. Lebih hebat lagi, kita bahkan bisa live podcast dengan aplikasi ini.

Saya menemukan Spreaker Studio ini gara-gara mencari padanan aplikasi BossJock yang hanya tersedia di iOS. Saat mencari di Playstore, memang tidak ketemu, tapi Spreaker Studio ini malah muncul di pilihan pertama. Di bawah ini video ulasan singkat dari pengalaman memakai aplikasi keren ini yang saya install di ponsel Xiaomi Redmi Note 4 saya (Kalau layar video tidak muncul di bawah, tautannya ada di akhir artikel ini). Kesimpulan ada di bagian akhir artikel

 

KESAN MENGGUNAKAN APLIKASI SPREAKER STUDIO:

YANG OKE:

  • Keren dan sangat praktis! Apa sih yang sekarang nggak bisa dilakukan di ponsel? Aplikasi ini jelas sangat mempermudah produksi podcast di ponsel.
  • Bisa langsung diunggah ke website yang sudah disediakan oleh Spreaker tentu dengan pilihan versi gratis dan versi berbayar.
  • Cocok buat yang banyak menggunakan sound effect, musik dll. Ini mengingatkan saya pada soundpad.
  • Lebih oke lagi kalau menggunakan handsfree atau lebih baik lagi mikrofon tambahan.

YANG NGGAK OKE:

  • Hal pertama jelas dari segi biaya. Aplikasi ini hanya mengizinkan produksi podcast selama 15 menit per hari dan maksimum 5 jam, sementara versi berbayarnya ada beberapa alternatif yang bisa dilihat di sini. Ini saya sebut nggak oke walau hak Spreaker untuk melakukannya. Wong ini bisnis mereka hehe
  • Hasil rekaman tidak bisa disimpan ke ponsel. Hanya ada pilihan untuk menggunggah ke website Spreaker.com, walaupun kemudian bisa di share ke layanan lain seperti media sosial dan juga Soundcloud. Andai saja Spreaker menyediakan versi premium untuk aplikasi ini yang bisa di save ke ponsel. Pasti keren.
  • Entah kenapa aplikasi ini hasil rekamannya agak kecil, sehingga kita perlu agak lebih keras bersuara. Selain itu entah kenapa suara latar terekam dengan sangat keras. Jadi kalau merekam di luar ruangan, akan lebih bagus kalau pakai handsfree atau mikrofon tambahan sekalian. Kalau tidak suara kita akan kalah dengan latar. Awalnya saya pikir ini karena faktor ponsel. Tapi saya sudah coba di beberapa jenis ponsel dan hasilnya sama.

TAUTAN TERKAIT:

 

Salam,

Rane

Blog: Levelling Suara dengan Levelator

Suara yang tidak level pastinya sangat mengganggu orang untuk menyimak podcast kita. Baru-baru ini saya dapat tips keren dari seorang teman podcaster untuk levelling suara hasil rekaman. Software ini begitu sederhana tapi terbukti sangat ampuh, daripada melakukan levelling secara manual. Bisa diunduh gratis di http://conversationsnetwork.org/levelator (Windows, OS dan Linux)

Video berikut ini mencoba menjelaskan proses menggunakan levelator yang sebenarnya sangat amat sederhana. Hanya drag and drop saja kok. Di paruh kedua ada sedikit tips untuk memaksimalkan hasil levelling dengan levelator ini. Semoga bermanfaat untuk teman-teman podcaster. Punya tips lain? Ayo dong bagi-bagi dengan podcaster lainnya.

(Jika video di bawah tidak muncul bisa dilihat langsung di Youtube) -rh-

Catatan Teknis:

  • Video ini direkam dengan Xiaomi Note 4
  • Diedit dengan aplikasi QUIK di Android. Mohon maaf jika tidak stabil gambarnya. Idealnya sih memang pakai screen recorder. ?
  • Foto ilustrasi dan wallpaper di komputer dari Pixabay.com

Blog: Perabotan Podcast

Hola! Banyak yang tanya memangnya podcast Suarane itu pakai alat apa saja sih? Oke, saya memang pernah bilang bahwa alat podcast terbaik itu adalah apa yang ada di tangan kita, dan itu saya sendiri sudah membuktikan. Namun sejak kerja di radio dan juga memulai podcasting, saya juga mencoba investasi beberapa alat, mulai dari yang paling sederhana sampai ke yang -agak- canggih, mulai dari ponsel sampai digital recorder, mulai dari software gratisan sampai berbayar. Bisa dilihat di video di bawah ini atau nonton langsung di Youtube. Enjoy!