5 Alasan Kenapa Podcast Adalah Masa Depan Konten

0

Dalam kesempatan ngobrol di salah satu episode podcast Inspigo belum lama ini saya ditanya apakah audio khususnya podcast punya masa depan? Mantap saya jawab: YA! Walaupun secara guyon saya bilang, begitu juga dengan visual, begitu juga dengan tulisan. Ya, saya yakin setiap medium akan tetap punya masa depan, tergantung pada apakah kita mau untuk terus mengembangkannya.

Podcast sendiri bisa dibilang cukup tertinggal dalam perkembangannya, namun bukan berarti tidak berkembang apalagi tidak punya masa depan. Berikut adalah 5 alasan mengapa podcast sangat punya masa depan di Indonesia:

1. Semua Orang Bisa Bicara, Tidak Semua Bisa (dan Suka) Tampil

“Mau jadi Youtuber, Pak!” kata seorang anak kepada Presiden Jokowi ketika ditanya apa cita-citanya. Meski Pakdhe Jokowi dan orang-orang yang hadir dibuat terkekeh-kekeh mendengarnya, tapi itulah kenyataan yang terjadi. You Tube sekarang memang sedang jadi fenomena.

Masalahnya, tidak semua orang bisa atau suka tampil di depan kamera, tapi rasanya nyaris semua orang bisa bicara. Hal yang sama juga berlaku untuk medium tulisan. Tidak semua orang bisa mengungkapkan pikirannya lewat tulisan, tapi rasanya nyaris semua orang bisa mengungkapnya lewat kata-kata.

Bukan kebetulan pula bahwa ada sejumlah Youtuber di Indonesia yang kini juga memiliki channel podcast. Bisa jadi juga karena proses produksinya yang jauh lebih mudah ketimbang memproduksi video.

2. Akrab dan Personal

Medium paling akrab dengan kita itu adalah audio karena manusia kebanyakan berkomunikasi dengan berbicara dan mendengar.

Medium audio menjadi terasa lebih personal lagi ketika semakin banyak orang yang mendengarkan podcast dengan menggunakan headphone. Ini membuat seolah pesan yang disampaikan lewat audio itu ditujukan kepada kita pribadi, seolah bicara hanya dengan kita.

Yang menggembirakan, maraknya kemunculan podcast di Indonesia belakangan ini rata-rata memanfaatkan kelebihan ini. Pakem podcast yang awalnya tidak jauh dari gaya produksi radio show, kini banyak berubah menjadi layaknya sebuah acara obrolan biasa. Tidak sedikit podcaster yang sudah membuktikan kelebihan ini dilihat dari jumlah pendengar yang sangat tinggi.

Sepertinya orang memang butuh hiburan dan informasi, tapi mereka lebih butuh teman. 😊

3. “Gambarnya” Lebih Keren

Radio is the theater of the mind; television is the theater of the mindless,” begitu kata Steve Allen, seorang penyiar terkenal Amerika era 60-70 an. Konon Allen adalah orang yang pertama kali memperkenalkan istilah yang kemudian sangat akrab di kalangan orang radio, yaitu: “Theatre of Mind.” Ini adalah istilah yang mengacu pada kemampuan manusia memunculkan gambaran yang jelas di kepala hanya lewat suara, lewat kata-kata.

Lebih dari sekedar teori, sebenarnya ini sudah kita praktikkan sehari-hari. Tidak jarang mendengarkan orang cerita tentang sebuah makanan yang lezat, misalnya, akan lebih menggoda ketimbang melihat gambarnya, karena imajinasi kita jauh lebih canggih daripada kamera paling canggih manapun.

 

4. Bisa Disambi, Tidak Suka Ngatur

Masih adakah diantara kita yang bisa dan mau diatur untuk mengkonsumsi media pada waktu-waktu tertentu? Selamat kalau masih ada. Saat ini orang semakin sibuk dan pilihan media semakin beragam, sehingga media makin kesulitan menarik perhatian orang untuk mengkonsumsi di jam-jam tertentu. Maka hadirlah media yang bersifat on-demand, bisa dikonsumsi kapan saja.

Ya, kelebihan utama podcast adalah kemampuannya untuk dikonsumsi sambil mengerjakan hal lain. Kelebihan tersebut tidak ada di medium lain dan itu disadari betul oleh para podcaster dan para pendengar podcast di Indonesia. Fakta ini juga ditunjang oleh survei terbaru Daily Social di Indonesia yang menyebutkan bahwa hampir 60% responden menyukai podcast karena sifatnya yang fleksibel (on-demand).

5.Teknologi dan Masa Depan

Gambaran masa depan medium podcast sebenarnya sudah bisa terlihat dari berbagai teknologi media yang semakin mengakomodir fitur audio terutama di ponsel, benda yang saat ini sudah tidak terpisahkan dengan kita. Ini hanya beberapa diantaranya

  • Facebook Live Audio: Di penghujung 2017 Facebook memperkenalkan layanan yang disebut Live Audio yang tidak lain adalah fitur Facebook Live yang sudah lama ada tapi dengan meniadakan unsur videonya. Dalam pernyataannya Facebook mengakui orang seringkali mendengar audio sambil melakukan hal lain karenanya fitur itu mereka buat.
  • Spotify Podcast: Spotify sebagai aplikasi streaming musik yang sangat populer juga telah memperkenalkan fitur distribusi podcast dan kesempatan itu langsung disambar oleh berbagai podcaster. Survei terbaru dari Daily Social misalnya mengungkap lebih dari 50 persen responden di Indonesia mendengarkan podcast lewat Spotify. Di Indonesia maraknya kemunculan berbagai macam podcast di Spotify tidak bisa dilepaskan dari aplikasi podcast bernama Anchor.
  • AnchorAwal tahun 2016 muncul Anchor, aplikasi podcast yang sangat pantas disebut revolusioner karena memiliki fitur lengkap. Hanya dengan memasang aplikasi ini di ponsel, kita sudah bisa merekam, mengedit, memasukkan musik dan efek termasuk juga merekam obrolan jarak jauh. Sesuatu yang mungkin 5-10 tahun lalu hanya bisa dilakukan di studio rekaman. Bahkan yang lebih menarik lagi adalah Anchor secara otomatis menyebarkan podcast kita ke berbagai layanan distribusi terkenal seperti Apple Podcast, Google Podcast, Castbox, dan Spotify. Mereka yang sudah lama di dunia podcasting pastinya akan sangat mengapresiasi fitur ini karena tahu betapa repotnya masuk ke berbagai jalur distribusi podcast yang ada. Mereka harus melakukan registrasi satu persatu dan tidak jarang harus membayar. Hebatnya, semua layanan super lengkap Anchor ini disodorkan secara gratis! Salah satunya berkat suntikan dana 10 juta dolar dari Google Venture.
  • Hey Google!, Siri, Cortana, Alexa dan kawan-kawan: Meski belum populer di Indonesia, namun kini semakin banyak fitur teknologi yang mengandalkan perintah suara. Fitur ini menjadi pelengkap bagi maraknya perkembangan podcast. Bayangkan di tengah kemacetan kita memerintah Siri atau Google Voice untuk memutar acara podcast tertentu. Tunggu.. Jangan dibayangkan. Langsung dicoba saja karena fitur ini sudah ada di nyaris semua ponsel pintar di tangan-tangan Anda itu.
  • “Studio” Rekaman di Genggaman Tangan (update 24/10): Ada satu teknologi penting di dalam kebanyakan ponsel pintar saat ini yang sedianya diperuntukkan bagi kenyamanan bertelepon tapi tanpa disadari bermanfaat untuk podcasting. Teknologi itu disebut Noise Cancelling Microphone yang intinya mengurangi -kalau tidak bisa disebut menghilangkan- suara latar agar suara penelepon jelas terdengar walau di tengah keramaian sekalipun. Teknologi ini menjadi penting ketika dipadu oleh beragam aplikasi perekam suara yang sudah banyak beredar sehingga kualitas rekaman suara di ponsel menjadi semakin bagus. Banyak podcaster Indonesia yang muncul belakangan ini merekam dengan ponsel mereka dengan kualitas yang bagus. Memang kalau mau kualitas yang super “cring”, idealnya menggunakan studio rekaman dengan mikrofon professional. Sama halnya dengan membuat foto yang bagus idealnya dilakukan dengan kamera DSLR. Toh yang penting kualitasnya.

Apa Dampak Perkembangan Podcast Bagi Para Marketer

Beberapa teman di agency dan juga beberapa praktisi marketing pernah menanyakan hal seperti ini: “Oke, podcast is the future. Terus apa untungnya buat para marketer? Bagaimana kita bisa memanfaatkannya?”

Ini perlu artikel terpisah sih untuk membahasnya (Hmm.. good idea hehe). Tapi sebenarnya dari 5 poin tadi saja sudah banyak hal yang bisa diantisipasi.

Bisa saja kita langsung bereaksi cepat dengan memasang iklan di podcast-podcast populer, seperti layaknya memasang iklan di radio. Bahkan lebih bagus lagi, tidak seperti memasang iklan di radio yang sekali lewat, iklan di podcast akan terus ada secara permanen selama episode podcast itu tersedia di internet. Karena itu tentu pendekatannya harus berbeda dengan radio.

Di Amerika Serikat, beriklan di podcast sudah umum dilakukan, mulai dari pemasangan spot 15-60 detik, adlib atau penyebutan brand, hingga pemberian kode-kode diskon seperti yang belakangan dilakukan brand seperti Squarespace atau Stamp.com di sejumlah podcast populer di Amerika dan terbukti sukses.

Buat saya pribadi kalaupun ada satu kelebihan podcast yang paling layak dimanfaatkan oleh para marketer adalah sifat personal dari podcast. Cocok buat brand yang aktif main dengan gaya subtle marketing 😊

Satu hal pasti: podcast perlahan tapi pasti mulai populer di Indonesia. Survey Daily Socialyang tadi saya kutip beberapa kali menyebutkan hampir 70 persen dari lebih 2000 responden mereka di Indonesia mendengarkan podcast dan kebanyakan mereka ada di rentang usia generasi millennial yang merupakan pasar paling seksi dan menggiurkan saat ini.

Bangkok, 22 Oktober 2018

Rane.

*Penulis adalah podcaster di http://suarane.org

**Artikel ini pertama kali terbit di LinkedIn tanggal 22 Oktober 2018

Survey Podcast 2018 di Indonesia

Daily Social bikin survey yang sangat menarik soal Podcast di Indonesia. Dengan jumlah responden dari 2032 pengguna ponsel pintar, tentu ini riset yang serius dan valid. Hasilnya cukup mengagetkan buat podcaster seperti gue. Selengkapnya silahkan akses di tautan di bawah. Tapi berikut ini ada beberapa hasil yang menarik perhatian gue dan pastinya juga teman-teman podcaster lain:

Responden: Millenials Rule!

podsurvey

Yang menarik adalah usia pendengar podcast di Indonesia  40 persen lebih berasal dari usia 20-25 tahun (42,12%), diikuti oleh usia 26-29 tahun (25,52 %) dan usia 30-25 tahun (15,96%). Apa artinya? Menurut gue, persepsi bahwa generasi yang sering dijuluki millenial adalah generasi penonton daripada pendengar tidak terlalu tepat. Bisa jadi juga ini disebabkan karena kalangan usia itu sangat suka pada hal-hal yang dianggap “baru.” Menarik untuk dilihat setahun lagi apakah minat itu masih sama.

Satu lagi yang perlu diperhatikan adalah ternyata 80% lebih pendengar masih terkonsentrasi di Pulau Jawa. Ayo podcaster di daerah, ini kesempatan kalian!

Familiaritas: Siapa Bilang Podcast Nggak Dikenal?

podsurvey2

Hampir 70% responden tahu apa itu podcast dan 80% lebih diantaranya pernah dengar podcast dalam 6 bulan terakhir. So, siapa bilang podcast belum dikenal?

Podcast atau Radio: Radio, someone still love you?

podsurvey3

Sebagai (mantan) orang radio, gue selalu tertarik ingin tahu ini. Menurut survey Daily Social terjadi pergeseran yang cukup signifikan menuju trend mendengarkan audio berbasis digital. Apa artinya?

Orang radio: waktunya kalian mengadopsi teknologi audio digital. Gue nggak punya risetnya, tapi cukup bermodal streaming siaran kalian di internet saja tidak cukup. Orang semakin sibuk dan tidak mau lagi diatur harus dengar radio di jam-jam tertentu.

Podcaster: Gue percaya banget bahwa pola pikir acara podcast yang meniru style radio (baca: golden voice, heavy audio mixing dll) perlahan akan bergeser menjadi lebih personal, lebih natural, lebih ngobrol.

Platform: Spotify Rules!!

podsurvey4

Mengutip seorang teman podcaster: “Ini sih kampret banget!” haha! Meskipun aplikasi anchor ada di buntut dalam hal aplikasi untuk mendengarkan podcast, tapi sejak aplikasi itu menyediakan layanan distribusi ke Spotify, angka pendengar di Spotify melonjak gila-gilaan. Paling enggak itu yang gue rasakan di dua channel podcast gue. Ini relevan banget dengan data pendengar usia muda yang rasanya adalah pengguna Spotify.

Gue bukan buzzer Anchor, tapi kalau kalian podcaster mau tambahan pendengar, cobalah sasar pendengar Spotify, dan Anchor menyediakan itu secara gratis!

Yang tidak kalah menarik, Soundcloud sebagai basis “tradisional” pendengar podcast masih jumawa di peringkat kedua. Toh gue nyaris yakin perlahan mereka akan tergeser oleh Google Podcast.

Bicara podcast, Indonesia ini emang unik banget! Temen-temen podcaster gue di luar Indonesia sering bingung. Mereka sering “mendewakan” Apple Podcast sebagai channel utama mendengarkan podcast yang paling tob! Tapi lihat hasil survey itu. Dimana posisi Apple Podcast? Hehe..

Oya, gue acung jempol sama Inspigo, karena mereka masuk dalam daftar platform yang dipakai mendengarkan podcast, bersaing dengan penyedia layanan podcast luar negeri. Inspigo ini bisa dibilang sebagai platform podcast lokal yang paling niat dan keren. You’re well on your way, guys! 

Kapan Dengar Podcast: Eh, buset? Seriuss?

podsurvey5

Jujur ini yang paling bikin gue melongo. Asumsi bahwa pendengar podcast itu ada di drive time alias jam orang pulang pergi kantor atau sekolah ternyata terpatahkan oleh survei ini.

32,50% responden mendengarkan podcast di atas jam 9 malam. Memang yang mendengarkan di jam pulang kantor juga tinggi (27,02%), tapi di atas jam 9 itu menarik banget. Hasil ini diperkuat dengan data bahwa mayoritas mendengarkan podcast di rumah, cuy!!

 

KONTEN, KONTEN, KONTEN!

Hasil yang tidak kalah penting, terutama buat para podcaster adalah: Konten dan fleksibilitas akses itu adalah hal yang paling dianggap menarik oleh para responden survey.

Apa artinya? Fleksibilitas akses jelas sangat berpengaruh. Podcast adalah platform yang mudah dikonsumsi dan bisa disambi mengerjakan hal lain. Pas buat generasi multi tasker!

Tapi yang sangat amat tidak kalah penting kalau tidak bisa dibilang paling penting di atas segalanya adalah: KONTEN!

Cuy, lo mau pakai alat canggih yang menghasilkan kualitas audio podcast cring super bening banget pake stereo kiri kanan atas bawah, kalau konten lo kosong, percuma.

Sebaliknya, rekam podcast pakai ponsel tapi konten lo bagus, tentu akan jauh lebih menarik. Banyak contohnya!

Jadi, gue tetap pada pendapat gue setiap kali ada yang bertanya: “Bang, gue bikin podcast tentang apa ya?”

Gue akan selalu jawab:

Mulailah dari apa yang lo tau dan jangan sok tau!

Terus ketika ada yang tanya: “Bang, konten yang bagus kayak apa ya?”

Gue akan jawab:

Konten yang lo tau, dan bukan konten yang sok tau! 

hehehe!

Masih banyak data menarik lainnya soal podcast ini. Silahkan unduh aja di: https://dailysocial.id/post/laporan-dailysocial-penggunaan-layanan-podcast-2018

Angkat topi buat Daily Social yang sudah merintis survey ini.

 

Salam,

Rane

We’re on Spotify!

Jangkauan Suarane Podcast dan Kepo Buku Podcast kini semakin luas dengan kehadirannya di Spotify. Rasanya makin banyak orang yang punya aplikasi streaming musik itu di ponselnya, tapi tidak banyak yang tahu kalau di Spotify juga ada kategori podcast.

Jadi, coba buka Spotify kalian, lakukan pencarian dengan kata kunci “Suarane” atau “Kepo Buku.” Lebih mudah lagi coba akses halaman ini di ponsel, lalu klik link berikut ini:

Jangan lupa klik gambar hati di sudut kanan atas agar kedua podcast ini tersimpan di library dan diberitahu setiap ada episode baru.

now

Eh, mumpung lagi di ponsel, boleh dong bantu sebar podcast ini lewat Whatsapp ke teman, suami, istri, pacar, adik, kakak,  terutama yang hobi dengerin musik di Spotify. Kalau perlu share ke WA Group keluarga, kantor, alumni SMA, SMP, SD, TK kalau perlu hehehe.

Klik ikon di bawah untuk share ke WA ya.

sua-share-wa

kb-share-wa

 

 

 

 

Thank you,
Rane

 

[Klipping] Podcast, Masa Depan Penyiaran yang Belum Pasaran di Indonesia

Belum lama ini, tepatnya 1 April lalu, CNN Indonesia menampilkan sebuah artikel menarik tentang Podcast yang mereka sebut sebagai “Masa Depan Penyiaran yang Belum Pasaran di Indonesia.”

Tulisan ini sepertinya adalah bagian dari serial tulisan tentang radio di Indonesia, namun mengajak melihat radio dari sudut pandang lain yaitu podcast. Menarik sekali karena jarang sekali podcast menjadi sorotan media di Indonesia. Karena itu layaklah diklipping di sini (dengan menyertakan sumber aslinya, tentunya).

Namun demikian ada satu saja komentar dari sekian banyak komentar gue lainnya dari artikel ini. Satu saja dulu lah.

Kenapa harus pakai rujukan Amerika, sih?

Okelah, bisa jadi ini adalah bukti saking belum populernya podcast di Indonesia sampai wartawan media sebesar CNN Indonesia saja tidak tahu (untuk tidak disebut kurang mendalam risetnya lah, atau malah kurang gaul? hehe..).

Artikel ini memang menyinggung soal podcast yang kini kembali bangkit, tapi sayang sekali yang dijadikan rujukan kebangkitan itu adalah Amerika. Kalaupun ada satu pelajaran yang gue petik selama ini dari kemajuan teknologi digital adalah bahwa setiap negara punya keunikan yang semakin sulit untuk dibandingkan. Di Amerika podcast sudah sangat mature karena sudah melewati perjalanan yang teramat panjang sejak tahun 90-an bahkan ada yang menduga sejak tahun 80-an. Karena itu gue menyebutnya sebagai “The Land of Podcast“. Memang sempat ada naik turunnya, tapi jelas sangat beda konteksnya dengan Indonesia.

Kalau saja si wartawan mau sedikit riset ekstra, misalnya cukup dengan mencari kata kunci “Podcast Indonesia” di Google, atau melakukan pencarian di iTunes (yang bisa jadi merupakan rujukan podcast terbesar di dunia), makan sudah akan muncul podcast-podcast asal Indonesia. Mau lebih dalam lagi risetnya, maka si wartawan akan menemukan fakta menarik bahwa podcast di Indonesia itu sejarahnya jauh berbeda dengan Amerika.

Oke, mohon maaf, Tidak adil gue mengadili si wartawan dengan cara ini. Mungkin justru dia ingin menunjukkan bahwa podcast belum dikenal di Indonesia. Mungkin gue gemes aja karena setelah sekian lama -sejak awal 2000 pastinya- gue merasa ngoceh sendiri di Podcast, tiba-tiba di awal tahun ini gue menemukan satu persatu podcast Indonesia bermunculan bak jamur di musim hujan.

 

Masih banyak sih komentar yang langsung membludak di kepala gara-gara baca artikel ini. Komentar yang memancing gue untuk mulai menulis lebih banyak tentang fenomena podcast di Indonesia zaman now yang asli, menarik bangettt!

Jadi memang sepertinya gue harus berterima kasih pada artikel ini. Silahkan baca selengkapnya di bawah ini atau langsung lah main ke laman aslinya di CNN Indonesia di sini: https://www.cnnindonesia.com/hiburan/20180401031240-241-287315/podcast-masa-depan-penyiaran-yang-belum-pasaran-di-indonesia

Sementara itu, buat yang penasaran ingin tahu apa saja podcast asal Indonesia, silahkan coba cari di Soundcloud.com atau di direktori podcast Indonesia yang gue lagi kembangkan. Sejauh ini gue sudah mendata paling tidak 50 podcast Indonesia yang aktif dan satu persatu akan gue tambahkan di direktori Podcast Indonesia yang ada di sini.

~~~

Podcast, Masa Depan Penyiaran yang Belum Pasaran di Indonesia

Resty Armenia, CNN Indonesia | Minggu, 01/04/2018

Jakarta, CNN Indonesia — Format siaran terus berkembang seiring dengan pesatnya kemajuan teknologi dan kompleksitas kebutuhan manusia. Beberapa tahun belakangan, muncul siaran audio melalui internet yang biasa disebut podcast.

Merujuk artikel Guardian pada 2004 silam, jurnalis Ben Hammersley menyebut bahwa poddatang dari pemutar media digital ciptaan Apple, iPod. Sedangkan cast adalah kependekan dari broadcast atau siaran. Namun, kini podcast bisa diputar dari pemutar media apapun.

Sepintas podcast terdengar seperti radio. Pendengar akan disuguhi serial audio berisi obrolan penyiar akan suatu topik dan diselingi musik-musik pilihan. Namun, sebenarnya keduanya lumayan berbeda.

Tak seperti radio yang memiliki jadwal untuk program-programnya, pendengar bebas mendengarkan podcast kapan saja mereka mau dan topik apa yang mereka ingin dengarkan. Sederhananya, podcast seperti vlog di saluran Youtube, namun tanpa visual.

Selain itu, jika enggan streaming, pendengar bisa mengunduh audio podcast terlebih dahulu, menyimpannya, dan memutarnya jika diinginkan layaknya saat mengunduh lagu. Sebagian besar podcast ini bisa diunduh secara gratis.

Beberapa bulan belakangan ini podcast kembali ramai didengarkan, terutama di Amerika Serikat dan Inggris. Konten yang disiarkan semakin unik, kreatif dan mengerucut, sehingga pendengar bisa dengan mudah mencari saluran yang paling sesuai dengan minat dan hobi mereka.

Podcast semakin menjadi pilihan lantaran tingginya intensitas perjalanan orang-orang masa kini. Mereka yang menghabiskan banyak waktu di jalan, baik di mobil maupun transportasi publik, memilih untuk mendengarkan podcast agar tetap mendapat wawasan baru dan, di saat yang sama, terhibur.

Listening to podcasts on your HomePod can easily become part of your daily routine. Here are some of the perfect shows for every part of your day.https://t.co/CcJE4JB9bbpic.twitter.com/IUG80Y7Xg3
— Apple Podcasts (@ApplePodcasts) March 25, 2018

 
Podcast Kembali Jadi Pilihan

Sempat meledak di awal kemunculannya lebih dari satu dekade silam, podcast kini kembali menjadi pilihan, terutama di Amerika dan Inggris. Tren ini tampaknya juga akan mewabah hingga ke regional lain, termasuk negara-negara Asia.

Nic Newman baru-baru ini merilis hasil studi Journalism, Media, and Technology Trends and Predictions 2018 gagasan Reuters Institute for the Study of Journalism dan University of Oxford.

Di sana tercatat bahwa berdasarkan survei terhadap 194 editor, bos, dan pejabat perusahaan media digital dunia, diperkirakan pada 2018 media dengan format audio akan mengalami peningkatan.

“Sebanyak 58 persen penerbit [media] mengaku akan fokus pada podcast, dengan proporsi yang sama menilik pada konten untuk speaker [pengeras suara] yang diaktivasi menggunakan suara,” tulis Newman dalam hasil risetnya.

Selain itu, Newman juga menyebut konsumen media digital juga mengalami perubahan tingkah laku. Laporan The Smart Audio dari Edison Research menunjukkan bahwa 65 persen pemilik gawai mendengarkan lebih banyak musik, dengan peningkatan signifikan untuk berita, podcast, dan buku audio.

Berdasarkan laporan The Smart Audio dari Edison Research, 65 persen pemilik gawai menggunakan pengeras suara pintar untuk mendengarkan musik, 29 persen untuk berita, 20 persen untuk podcast dan 18 persen untuk buku audio.

“Ini semua akan menambah ganggan jadwal radio dan mendorong lebih banyak penggunaan audio on-demand,” tulis Newman.

“Merespons tren ini, perusahaan media yang masuk survei kami mengatakan bahwa mereka akan berinvestasi lebih banyak tahun ini untuk media berbasis audio seperti podcast [58 persen] dan eksperimen konten pendek [58 persen] yang asli bagi platform baru. Inisiatif ini dianggap lebih penting bagi penerbit dibanding bentuk video [47 persen] dan dua kali lebih penting dari realita virtual [25 persen].”

“If your character shifts depending on who is in power, then was it your character to begin with?”@TheDailyShow host @Trevornoah joins @Oprah at the Apollo Theater for a captivating conversation. Listen to the full interview on #SuperSoulConversations.https://t.co/oBMcs9biY0 pic.twitter.com/qFjhgv2OM3
— Apple Podcasts (@ApplePodcasts) March 19, 2018

 

Bukan Ancaman Bagi Radio

Kembalinya podcast sebagai salah satu pilihan ternyata tidak dianggap sebagai ancaman bagi para praktisi siaran radio. Alih-alih, platform ini disebut bisa menjadi pelengkap yang bagus.

Eks penyiar 96,7 Hitz FM Adit ‘Insomnia’ berpandangan bahwa kemunculan format digital apapun sebenarnya sudah menjadi ancaman bagu radio. Namun, podcast sendiri, menurutnya, dibuat oleh orang-orang yang mungkin tidak punya keahlian dasar penyiaran, sehingga para praktisi radio tidak usah khawatir ‘lapaknya’ direbut oleh penyiar podcast.

“Selagi kita masih bisa memberikan siaran yang lebih variatif dan informatif, sepertinya podcast bukan menjadi ancaman. Justru kita bisa saling membagi informasi dan saling melengkapi. Misalnya, ‘Oh si podcast itu sudah ngomong ini lho.’ Jadi bukan menjadi ancaman,” ujarnya kala menyambangi kantor CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.

Senada dengan Adit, penyiar OZ Radio Rizky Danto menganggap podcast sebagai pelengkap. Karenanya, stasiun radio tempatnya bekerja kini mulai akan membuat acara-acara spesial yang memuat genre musik khusus dengan format podcast.

“Menurut saya [podcast] itu bisa menjadi komplementer untuk siaran,” katanya.

“Mungkin orang sini lebih suka visual, seperti Youtube kan, orang lebih suka vlog. Kalau audio ya orang lebih suka radio karena sudah menjadi kebiasaan,” ujar Adit.Sementara, penyiar Trax FM Jakarta Davy Andry menilai podcast masih belum terlalu menjadi pilihan di kalangan masyarakat Indonesia. Ia menduga konten podcast selama ini masih belum ada konten yang cocok dengan keinginan pendengar.

“Sepertinya masih kesulitan untuk kontennya ya. Dan apakah orang-orang Indonesia sama dengan orang luar yang suka mendengar podcast? Bisa jadi tidak suka, karena berbeda,” ujarnya.

Ia menambahkan, “Di luar sana itu kontennya gila sekali. Ketika saya melihat judulnya itu bisa semangat 45, sambil berpikir, ‘Ini orang kok bisa begini ya? Dia mikir apa ya?’ Lalu mendengarkan mereka. Tantangannya justru bisa tidak saya catch up dengan dia? Dan apakah pendengar di Indonesia juga senang? Bisa jadi tidak senang.”

Sedikit berbeda dengan Davy, Adit dan Danto menganggap bahwa orang Indonesia masih belum memiliki kebiasaan mendengarkan podcast.

Adit menyebut selama ini orang Indonesia lebih senang visual. Karenanya, vlog lebih populer daripada media berbasis audio seperti radio atau podcast.

Sepakat dengan Adit, Danto menuturkan, “Itu sepertinya karena kebiasaan. Jadi harus dibentuk kebiasaan orang Indonesia untuk mendengarkan podcast yang berbobot, jangan yang santai-santai saja.” (res)

Sumber: https://www.cnnindonesia.com/hiburan/20180401031240-241-287315/podcast-masa-depan-penyiaran-yang-belum-pasaran-di-indonesia

Tips Merekam Podcast dengan Ponsel

Belakangan ini makin banyak saja podcast Indonesia yang bermunculan dan menariknya banyak sekali yang direkam menggunakan ponsel pintar/ smartphone. Ini jelas bukan lagi masalah karena kualitas mikrofon ponsel pintar yang semakin canggih dan sudah mendekati kualitas mikrofon biasa.

Tapi, makin banyak yang merekam podcast dengan ponsel, makin banyak pula muncul “penyakit” terkait kualitas suara hasil rekaman dari ponsel dan ini malah berpotensi menjauhkan pendengar. Beberapa diantaranya:

  • Suara terlalu kecil, bahkan sekalipun volumenya di naikkan sampai maksimal. Sebagus apapun obrolan kalian kalau suara kecil, tentu tidak nyaman didengarkan.
  • Suara terlalu “kotor.” Kotor di sini maksudnya bisa karena gangguan suara dari sekeliling yang terlalu besar, musik yang terlalu besar, suara hembusan angin dari mulut saat merekam, suara kresek mikrofon yang tergesek-gesek, suara hembusan angin saat rekaman di luar dan tertangkap oleh mikrofon dll.
  • Hasil rekaman tidak stabil. Percayalah, paling tidak nyaman mendengarkan podcast yang suaranya bisa tiba-tiba tinggi, lalu kemudian rendah dan naik lagi bahkan sampai pecah.
  • Suara podcaster yang tidak jelas, entah terlalu lambat atau terlalu cepat atau tidak jelas bicara apa. Ini bukan soal bagus tidaknya suara. Meskipun lahir dari era radio dengan penyiar-penyiar “golden voice“, gue nggak percaya ada suara yang bagus dan tidak. Suara semua orang punya keunikan. Yang ada adalah suara yang jelas dan mudah dipahami dan yang tidak. Titik!

Nah, berangkat dari itu berikut beberapa tips yang semoga berguna bagi para podcaster atau calon podcaster yang mau memanfaatkan ponsel mereka untuk merekam.

 

KENALI POSISI MIKROFON PONSEL
Tips pertama dan paling penting adalah kenalilah baik-baik mikrofon ponsel kalian.

  • Kenali di mana posisi mikrofon di ponsel.  Jangan sampai kalian justru bicara ke speaker dan bukan mikrofon. Umumnya mikrofon di ponsel sudah dirancang sedemikian rupa sehingga dekat dengan mulut yaitu di bagian ujung bawah sebelah kiri sementara pengeras suara di ujung bawah sebelah kanan. Jadi buat yang kidal, jangan sampai tertukar dan bicara di pengeras suara dan bukannya mikrofon karena sedikit banyak ini berpengaruh ke hasil rekaman.Karena itulah salah satu cara ideal jika merekam dengan ponsel adalah dengan menggunakan posisi sebagaimana layaknya sedang menelpon. Kalaupun harus menggunakan mikrofon ponsel untuk ditodongkan ke orang lain, misalnya saat wawancara, pastikan posisi ponsel tidak persis horizontal dengan mulut pembicara. Letakkan sedikit ke bawah, sekitar dagu. Mengapa? Lebih lengkap lagi dibahas di tips berikutnya dan juga tips terakhir.
  • Jaga jarak mikrofon – Jarak ini jadi penting. Kenali posisi dan jarak yang paling menghasilkan suara terbaik entah dari segi volume atau daya tangkap. Posisi ideal mikrofon adalah yang tidak horizontal dengan mulut, tetapi sedikit di bawah mulut. Dengan demikian mikrofon tidak akan terganggu suara hembusan angin atau suara mulut lain yang tidak nyaman didengar.Berapa jarak yang ideal? Tentu saja tergantung kualitas mikrofon. Ada yang sensitif walaupun jauh tapi ada yang harus dekat dengan mulut. Jadi akrabi, kenali mikrofon di ponsel kalian. Jangan malas untuk melakukan tes rekaman.

 

NOISE CANCELLING MICROPHONE
Nyaris setiap mikrofon ponsel sudah menggunakan teknologi “noise cancelling“. Ini adalah teknologi yang memungkinkan mikrofon menangkap suara yang paling dekat dengannya dan meredam suara-suara lain di sekelilingnya. Inilah yang menjelaskan kenapa ada jenis ponsel tertentu yang meskipun kita merekam di tempat yang ramai namun suara kita tetap terdengar jelas.

Tapi di sisi lain, inilah yang menyebabkan kenapa sangat tidak disarankan untuk meletakkan ponsel di meja saat rekaman, terutama saat rekaman ngobrol beramai-ramai atau saat wawancara. Kenapa? Karena bisa jadi suara akan terdengar sangat jauh atau malah apesnya, mikrofon akan lebih menangkap suara sekitar daripada suara kita.

 

KENALI LOKASI REKAMAN
Lokasi menentukan kualitas. Perhatikan hal berikut dari segi lokasi:

  • Kebisingan – Dengan ponsel yang rata-rata mikrofonnya sudah memiliki teknologi noise cancelling, merekam di tengah pasar atau di atas angkot sekalipun, misalnya, bukan lagi masalah. Tapi hindari sumber suara yang sangat keras karena bisa jadi akan lebih ditangkap oleh mikrofon. Contoh: suara mesin motor atau mobil yang terlalu keras.
  • Angin – Mau ponsel kalian dilengkapi dengan teknologi noise cancelling secanggih apapun, angin adalah musuh besar. Suara angin yang terarah ke mikrofon jelas akan menimbulkan suara yang mengganggu, misalnya merekam di tengah angin kencang atau merekam di pinggir pantai. Coba saja tiup mikrofon ponsel. Seperti itulah suaranya. Karena itu cari lokasi yang tidak terlalu berangin, atau kalau terpaksa benar coba lindungi mikrofon dengan telapak tangan agar angin tidak berhembus langsung ke mikrofon. Bayangkan kalian lagi ngobrol di ponsel tapi tidak mau didengar orang lain. Nah seperti itu posisinya. Cuma jangan bisik-bisik juga kali.. :p
  • Ruangan – Merekam di dalam ruangan bukan berarti masalah terselesaikan. Seringkali hasil rekaman malah menggema atau malah seperti ngobrol di dalam kaleng. Kadang ini tidak nyaman bagi yang mendengarkan, Pastikan kondisi ruangan tidak mengeluarkan gema saat kita bicara.

 

JANGAN CHARGE PONSEL SAAT REKAMAN
Nah, ini juga seringkali mengganggu karena ada ponsel yang mengeluarkan suara listrik statis saat dipakai rekaman sambil dicharge. Kenali penyakit ini di ponsel masing-masing dengan merekam dalam posisi dicolok dan tidak. Kalau tidak ada beda kualitas suara, alhamdulillah. Ponsel mahal ya? Hehe..

 

PAKAI KONDOM!
Serius! Kondom adalah istilah becandaan untuk pelapis mikrofon yang berfungsi menyaring suara-suara luar, termasuk angin. Ini biasa dikenal dengan muffler, windscreen atau pop filter. Ada trik lain yaitu menggunakan sapu tangan atau handuk kecil yang tidak terlalu tebal. Tapi pastikan untuk mengecek kualitas suaranya, karena kadang-kadang malah membuat suara kita “mendem.”

 

PAKAI MIKROFON TAMBAHAN/ EKSTERNAL
Oke, buat yang mau selangkah lebih serius ke podcasting dengan ponsel, cobalah cari mikrofon tambahan. Ada beberapa macam mikrofon tambahan yang bisa gue rekomendasikan mulai dari yang sederhana sampai yang agak tidak sederhana hehe.

  • Handsfree – Handsfree adalah mikrofon tambahan paling terjangkau. Setiap ponsel rasanya punya handsfree, kan? Itu tuh kabel headphone dan microphone yang dipasang ke colokan audio.  Jadi kalian juga tidak repot-repot nempel ponsel ke kuping. Tapi pastikan kalian mengenali di mana posisi mikrofonnya. Jangan terbalik.
  • Mikrofon Jepit – Itu istilah gue buat lavalier atau lapel microphone. Ini mikrofon kecil yang dijepit di kerah baju kayak penyiar-penyiar di televisi itu loh. Ada banyak model dan harga. Produsen mikrofon terkenal Rhode misalnya punya SmartLav yang khusus dibuat untuk ponsel pintar. Ada lagi yang lebih terjangkau dari merek Aputure. (Disclaimer: bukan buzzer pedagang Glodok apalagi olshop, tapi pssstt. yang terakhir disebut ini murmer lho untuk kualitas yang bagus..)
  • Microphone Splitter – Nah, ini menarik nih buat yang mau podcasting berdua. Ketimbang bolak-balik todong ponsel ke arah yang bicara, ada alat yang namanya microphone splitter yang dijual di pasaran. Ini gunanya untuk memecah jalur mikrofon menjadi dua. Satu buat elo, satu buat co-host atau nara sumber. Jadi wawancara bisa lebih natural, lebih santai bisa sambil ngopi-ngopi juga kan. Tapi pastikan jenis splitter yang digunakan untuk mikrofon dan bukan untuk headphone. Salah satu cirinya adalah pada ujung jack mikrofon splitter terdapat tiga garis hitam. Adaptor seperti ini agak jarang. Salah satunya adalah merek RODE SC6 Adapter. Lihat video reviewnya di sini. Saya juga pernah pesan mikrofon lavalier ini yang dibuat khusus (custom) dengan satu colokan dan dua mikrofon.
  • Mikrofon Biasa – Selain mikrofon jepit, ada juga mikrofon biasa yang ujung colokannya sudah model 3.5mm atau sesuai dengan colokan yang ada di ponsel. Modelnya pun beragam, ada yang dilengkapi kabel panjang ada yang langsung menempel di body ponsel.
    Dipilih.. dipiliihh.. Kakaaaa…. Mikrofonnya kakaaa.. :p

 

TES.. 1.. 2.. 3.. 4..
Meskipun ini tips terakhir, tapi biasakan untuk melakukannya di awal sebelum rekaman. Jangan pernah memulai rekaman tanpa memeriksa terlebih dahulu apakah kualitasnya bagus atau tidak. Rekamlah beberapa detik dengan posisi yang senyaman mungkin dan dengarkan dengan headphone. Periksa apakah suaranya nyaman didengar? Apakah suara sekeliling mengganggu? Apakah ada suara kresek atau hembusan nafas kalian? Setel volume di posisi pertengahan dan dengarkan apakah sudah cukup baik? Kalau sudah, ingat dan pertahankan posisi itu saat rekaman.

Kalian pernah dengar orang tes mikrofon dengan “Tes.. satu, dua tiga..” Kalau gue hitungnya sampai empat. Kenapa? Cara itu bukan iseng. Saat kita bilang “tes” atau “satu” tujuannya untuk mengecek apakah ada suara “hissing” atau semburan udara yang tertangkap mikrofon. Bahkan ada yang memakainya untuk mengecek level suara treble. “Dua” biasanya untuk mengukur “bas” dan gue tambahkan dengan menyebut angka “empat” untuk memastikan tidak ada suara “popping”. Ini adalah suara “pop” yang muncul saat menyebut huruf P atau B. Ini juga sangat berlaku untuk rekaman dengan ponsel.

~~~

Begitulah. Semoga tips ini bermanfaat buat para podcaster yang ingin memastikan kualitas suaranya bagus. Ada satu tips lagi dengan menggunakan software sederhana di komputer untuk membuat suara lebih stabil, lebih level. Bisa disimak di sini tipsnya.

Paling akhir sekali. Ada satu masalah yang sering muncul di kalangan calon podcaster, terutama saat mendengar hasil rekaman suara sendiri: mereka merasa suaranya terdengar aneh. Mengapa bisa begitu? Ada dua penyebabnya:

  • Pertama, kalian terlalu banyak berpatokan pada suara yang kalian anggap ideal dari para penyiar radio dan televisi.
  • Kedua, jelas aneh karena kita jarang mendengarkan rekaman suara sendiri. Coba pikir. Melihat wajah sendiri di foto saja kita sudah sering tapi kadang masih tidak puas, kan? Nah berapa sering kalian mendengar suara sendiri? Padahal biasa saja. Setiap orang punya suara khas.

Nah, buat yang tertarik, di posting berikutnya gue akan berbagi tentang teknik sederhana untuk bersuara yang ideal. Ini tidak akan menjamin suara kalian jadi seperti penyiar idola kalian itu. Mereka butuh bertahun-tahun untuk bisa bersuara seperti itu. Terlebih lagi, suara ideal menurut gue adalah suara yang bisa dipahami.

So stay tuned!

 

Salam,

Rane

Blog: Review Singkat Spreaker Studio buat Podcasting

Spreaker adalah salah satu alternatif untuk hosting podcast yang ada di luar sana selain Soundcloud, Mixcloud, Libsyn dll. Saya pernah coba Spreaker beberapa kali namun akhirnya masih memilih ke Soundcloud karena melihat lebih banyak teman-teman penyuka podcast dan juga podcaster di sana. Reaksi dari pendengar podcast saya juga lebih banyak di Soundcloud.

Namun saya baru tahu (telat tahu tepatnya) kalau Spreaker punya aplikasi keren yang dikenal dengan Spreaker Studio. Dengan aplikasi ini kita bisa mixing podcast secara langsung tanpa harus susah payah pakai software editing suara. Semuanya juga bisa dilakukan dengan mudah dari ponsel. Lebih hebat lagi, kita bahkan bisa live podcast dengan aplikasi ini.

Saya menemukan Spreaker Studio ini gara-gara mencari padanan aplikasi BossJock yang hanya tersedia di iOS. Saat mencari di Playstore, memang tidak ketemu, tapi Spreaker Studio ini malah muncul di pilihan pertama. Di bawah ini video ulasan singkat dari pengalaman memakai aplikasi keren ini yang saya install di ponsel Xiaomi Redmi Note 4 saya (Kalau layar video tidak muncul di bawah, tautannya ada di akhir artikel ini). Kesimpulan ada di bagian akhir artikel

 

KESAN MENGGUNAKAN APLIKASI SPREAKER STUDIO:

YANG OKE:

  • Keren dan sangat praktis! Apa sih yang sekarang nggak bisa dilakukan di ponsel? Aplikasi ini jelas sangat mempermudah produksi podcast di ponsel.
  • Bisa langsung diunggah ke website yang sudah disediakan oleh Spreaker tentu dengan pilihan versi gratis dan versi berbayar.
  • Cocok buat yang banyak menggunakan sound effect, musik dll. Ini mengingatkan saya pada soundpad.
  • Lebih oke lagi kalau menggunakan handsfree atau lebih baik lagi mikrofon tambahan.

YANG NGGAK OKE:

  • Hal pertama jelas dari segi biaya. Aplikasi ini hanya mengizinkan produksi podcast selama 15 menit per hari dan maksimum 5 jam, sementara versi berbayarnya ada beberapa alternatif yang bisa dilihat di sini. Ini saya sebut nggak oke walau hak Spreaker untuk melakukannya. Wong ini bisnis mereka hehe
  • Hasil rekaman tidak bisa disimpan ke ponsel. Hanya ada pilihan untuk menggunggah ke website Spreaker.com, walaupun kemudian bisa di share ke layanan lain seperti media sosial dan juga Soundcloud. Andai saja Spreaker menyediakan versi premium untuk aplikasi ini yang bisa di save ke ponsel. Pasti keren.
  • Entah kenapa aplikasi ini hasil rekamannya agak kecil, sehingga kita perlu agak lebih keras bersuara. Selain itu entah kenapa suara latar terekam dengan sangat keras. Jadi kalau merekam di luar ruangan, akan lebih bagus kalau pakai handsfree atau mikrofon tambahan sekalian. Kalau tidak suara kita akan kalah dengan latar. Awalnya saya pikir ini karena faktor ponsel. Tapi saya sudah coba di beberapa jenis ponsel dan hasilnya sama.

TAUTAN TERKAIT:

 

Salam,

Rane

Blog: Levelling Suara dengan Levelator

Suara yang tidak level pastinya sangat mengganggu orang untuk menyimak podcast kita. Baru-baru ini saya dapat tips keren dari seorang teman podcaster untuk levelling suara hasil rekaman. Software ini begitu sederhana tapi terbukti sangat ampuh, daripada melakukan levelling secara manual. Bisa diunduh gratis di http://conversationsnetwork.org/levelator (Windows, OS dan Linux)

Video berikut ini mencoba menjelaskan proses menggunakan levelator yang sebenarnya sangat amat sederhana. Hanya drag and drop saja kok. Di paruh kedua ada sedikit tips untuk memaksimalkan hasil levelling dengan levelator ini. Semoga bermanfaat untuk teman-teman podcaster. Punya tips lain? Ayo dong bagi-bagi dengan podcaster lainnya.

(Jika video di bawah tidak muncul bisa dilihat langsung di Youtube) -rh-

Catatan Teknis:

  • Video ini direkam dengan Xiaomi Note 4
  • Diedit dengan aplikasi QUIK di Android. Mohon maaf jika tidak stabil gambarnya. Idealnya sih memang pakai screen recorder. ?
  • Foto ilustrasi dan wallpaper di komputer dari Pixabay.com

Blog: Perabotan Podcast

Hola! Banyak yang tanya memangnya podcast Suarane itu pakai alat apa saja sih? Oke, saya memang pernah bilang bahwa alat podcast terbaik itu adalah apa yang ada di tangan kita, dan itu saya sendiri sudah membuktikan. Namun sejak kerja di radio dan juga memulai podcasting, saya juga mencoba investasi beberapa alat, mulai dari yang paling sederhana sampai ke yang -agak- canggih, mulai dari ponsel sampai digital recorder, mulai dari software gratisan sampai berbayar. Bisa dilihat di video di bawah ini atau nonton langsung di Youtube. Enjoy!