Jangan Biarkan Anak-Anak Kecanduan Telepon Genggam


Jangan Biarkan Anak-Anak Kecanduan Telepon Genggam. Sudah lama, dan sudah sering, saya mengingatkan kepada semua keponakan untuk menjauhkan anak-anak mereka dari telepon genggam. Sabar dulu ... anak-anaknya keponakan. Artinya ... cucu? Iya, saya sudah punya cucu. Haha. Sudah, jangan dibahas! Tapi zaman sekarang, hiburan untuk anak-anak tidak hanya bersumber dari televisi dan majalah sekelas Bobo. Bahkan kalau boleh saya bilang sumber hiburan anak-anak justru telepon genggam: menonton kartun di Youtube dan nge-game. Tentunya telepon genggam tersebut sudah terkoneksi dengan internet. Oleh karena itu, saya menjadi biasa saja ketika melihat para bocah menonton kartun di telepon genggam. Tetapi saya menjadi sangat tidak biasa ketika melihat para bocah kecanduan telepon genggam.

Baca Juga: Membikin Konten Youtube Memang Harus Tekun dan Ulet

Di sini kita memang harus sepemahaman dulu. Bocah memegang telepon genggam, menonton kartun atau nge-game, boleh? Iya, boleh. Tapi kalau mereka kecanduan, itu tidak boleh. Saya pikir sebagai orang tua kita tidak boleh egois. Ingat zaman dulu? Kita memang bermain di luar rumah bersama teman-teman, tetapi kita juga boleh menonton televisi.

Lalu, bagaimana caranya agar anak-anak tidak kecanduan telepon genggam? Yang paling utama adalah aturan yang ketat di dalam rumah. Keponakan saya, Thika Pharmantara, memang bukan bocah lagi. Tapi mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Flores (Uniflor) itu kecanduan telepon genggam. Pagi, siang, malam, hiburan hidupnya bersumber dari telepon genggam. Tetapi kemudian saya menjadi sangat keras sehingga dipanggil Bu Renggo sama dia. Pada tahu Bu Renggo? Itu karakter ibu dalam serial zaman baheula di TVRI berjudul Kisah Serumpun Bambu. Saingan sama Bu Subangun. Ha ha ha. Pokoknya sikap apapun yang termasuk kejam dan bikin suasana tak menyenangkan bakal dibilang renggo: dasar, kelakuannya renggo banget. Renggo berubah dari nama karakter menjadi kata sifat.

Kembali ke Thika. Anak itu kemudian saya berikan tugas: membaca buku setiap hari. Jadi, selain kuliah dan memasak, Thika juga wajib membaca buku. Pada akhirnya frekuensi Thika memegang telepon genggam agak berkurang. Saya tahu, awalnya pasti sulit bagi orang-orang yang kecanduan untuk lepas dari candunya. Oleh karena itu pada hari-hari awal, saya memantau, saya bertanya sudah sampai halaman berapa, dan apa isinya. Alhamdulillah, dia bisa menceritakan bahkan dengan detail isi buku Belum Kalah yang ditulis oleh Pater Avent Saur. Kisah tentang ODGJ yang selama ini ditangani ole Pater Avent Saur dan KKI.

Dari Thika, mari bergeser ke Yoan. Yoan, bocah kelas 2 SD, adiknya Melly, anaknya Mama Len dan Om Sius. Karena setiap hari Mama Len pasti berada di rumah untuk membantu kami menjaga Mamatua, maka Yoan pun pasti ikut. Sebenarnya, sebelum Mama Len membantu kami menjaga Mamatua, Melly sudah lebih dulu bermain dan menginap di rumah kami (tetangga dekat). Dua bulan lebih saya perhatikan, setiap hari Yoan bakal ribut sama Melly perihal telepon genggam. Jadi ceritanya, setiap siang dia bakal tiduran di lantai ruang tamu yang adem itu, sambil menonton video di Youtube, dan tidak boleh ada seorang pun yang boleh mengambil telepon genggam itu darinya. Bayangkan. Haha. Awalnya saya bingung melihat tingkah bocah ini, tapi lama-lama saya paham bahwa dia sudah kecanduan telepon genggam.

Bayangkan saja bocah SD kecanduan telepon genggam. Mungkin sudah banyak bocah di dunia ini yang mengalaminya tapi yang nyata di depan mata saya ya si Yoan. Bahkan kalau disuruh, dia bersikap seakan tidak mendengar, sampai saya mengancam dengan mematikan Wi-Fi, barulah dia bergeser dan bergerak. Ugh, telepon genggam memang bikin mager kan ya *ngikik*.

Apa doooong yang harus dilakukan agar anak-anak tidak kecanduan telepon genggam? Seperti yang sudah saya tulis di atas, yang paling utama adalah aturan yang ketat di dalam rumah. Kalau untuk Thika, aturan ketat ini berjalan tanpa harus dikomando dua kali. Tapi bagaimana dengan anak-anak yang terbiasa kemauannya dipenuhi dan suka membantah orangtua? Itu sulit, karena faktor kebiasaan memang sulit diubah. Yang kedua, setelah adanya aturan yang ketat di dalam rumah, kita perlu merangsang anak-anak melakukan kegiatan lain yang bermanfaat. Ya itu tadi, kembali pada faktor kebiasaan di dalam rumah. Kegiatan bermanfaat antara lain membaca, menulis, berkebun, hingga mengobrol (tentang sekolah, tentang do and don't, tentang aturan agama, dan lain sebagainya). Yang ketiga, bikin papan tugas dengan kuadran. Bocah suka dengan hadiah, cokelat misalnya. Berikan hadiah apabila kuadran waktu tugas-dalam-rumah dikerjakan dengan baik.

Zaman dulu, waktu saya masih kecil, waktu luang harus diisi dengan kegiatan bermanfaat seperti pergi ke rumah Ustadz untuk belajar mengaji, membaca, dan menulis. Bahkan waktu masih berlangganan majalah Bobo, saya baru boleh membaca majalah yang diantar Om Tino setelah menyapu rumah dan mencuci piring. Tentu saya juga diijinkan bermain di luar rumah: bermain tanah, bermain masak-masak, bermain siput, bermain dakon, juga bermain wayang dan gundu! Pokoknya boleh bermain di luar rumah asalkan harus ingat aturan yang sudah diberlakukan. Itu namanya tanggung jawab sama diri sendiri.

Baca Juga: Menulislah Dengan Baik Meskipun Tidak Selalu Harus Benar

Well, semoga pos ini bermanfaat bagi kalian semua. Bukan hanya untuk Bapak/Ibu yang sudah dikaruniai anak, tetapi bagi semua orang karena anak adalah tanggung jawab kita bersama. Dan ingat, ini bukan menggurui tetapi berdasarkan pengalaman pribadi saja.




Cheers.