Bermalam Minggu di Gang 3D Pondok Soga Desa Pantai Hurip Babelan

Gang 3D Pondok Soga Desa Pantai Hurip Babelan
Gang 3D Pondok Soga Desa Pantai Hurip Babelan 
Dengan ditemani kue cucur yang masih hangat, menikmati kopi malam Minggu ini semakin seru. Di teras depan rumah sederhana yang asri dengan bermacam tanaman ini, Mas Agus Dwi Oetomo (28) dengan antusias menceritakan mengenai aksi kreativitas pemuda Kampung Pondok Soga Pantai Hurip Babelan melukis jalan lingkungan yang mereka namakan Gang 3D Pintu Air Wa Kanih.

Di sepanjang gang depan rumah berpagar bambu ini, Agus bersama pemuda dan Karang Taruna Desa Pantai Hurip sudah sejak awal Oktober 2019 telah menggambar 10 lukisan yang menghampar dan menghiasi Gang 3D Pintu Air Wa Kanih di Kampung Pondok Soga RT 005/003 Desa Pantai Hurip. Ke depan mereka akan terus menggambar dan menghias gang 3D ini agar semakin menarik.
Gang 3D Pondok Soga Desa Pantai Hurip Babelan
Mas Agus Ketua Karang Taruna Desa Pantai Hurip Kecamatan Babelan  
"Saya ingin gang yang ramai dilalui para pemancing ini memiliki ciri khas dan identitas yang berkesan kepada pengguna jalan yang melewati gang ini" kata Agus yang juga merupakan ketua Karang Taruna Desa Pantai Hurip. Sabtu malam, 19 Oktober 2019.

Sebagai tokoh pemuda di Kampung Pondok Soga dan Desa Pantai Hurip, ia dan teman-temannya ingin kampungnya memiliki citra positif dan kreatif, salah satu caranya adalah dengan mewujudkan Gang 3D.

"Kami menggunakan cat minyak kiloan, lalu bersama-sama melukis sesuai konsep yang telah ditentukan. Mengenai ide lukisannya kami cari dari hasil pencarian di internet" jelas Agus yang sehari-hari berprofesi sebagai guru honorer sekolah dasar sejak tahun 2011 lalu .

Dengan senang hati ia mengajak kami melihat lukisan-lukisan dan menjelaskan maksud dan proses pembuatannya. Karena kami berkunjung saat malam hari, gambar-gambar tersebut agak sulit diabadikan dengan kamera saya.

Ilusi optik yang dihasilkan dari lukisan 3D ini memang menarik, dan membuat saya ingin kembali lagi untuk melihat gambar-gambar tersebut di siang hari. Namun menurut Agus masih banyak kekurangan atas karya-karya tersebut. Sayangnya kekurangan itu disadarinya setelah gambar selesai mereka buat. 
Foto salah satu gambar di gang 3d saat malam hari 
Ia menunjukkan kekurangan-kekurangan dalam beberapa gambar yang masih perlu penyempurnaan, seperti bayangan permadani perlu ditambah, dan warna beberapa gambar juga masih kurang memuaskan dirinya dan berencana memperbaikinya lagi bersama rekan-rekannya jika sudah ada bahan cat.
Gang 3D Pondok Soga Desa Pantai Hurip Babelan
Mengenai pengadaan cat, pria yang akrab disapa Jackjhon ini menyebut biaya melukis gang 3D bermodalkan dana swadaya yang berasal dari patungan rekan-rekan, donasi warga dan kas karang taruna. Mereka juga terbuka jika ada komunitas, organisasi, mahasiswa atau warga yang ingin berperan serta dalam kegiatan ini, hanya saja perlu koordinasi untuk mengatasi permasalahan keterbatasan cat dan alat.
Gang 3D Pondok Soga Desa Pantai Hurip Babelan
Salah satu lukisan ketika dipotret saat siang hari 
Ketika saya tanyakan mengenai kemungkinan untuk menjadikan gang 3D sebagai destinasi wisata yang dapat menghasilkan pemasukan, ia optimis namun belum terlalu memikirkan hal itu.

"Kalo untuk menjadi destinasi wisata yang ada pemasukan dan efek ekonomi mungkin itu masih jauh, saat ini kami masih fokus untuk memperindah gang ini agar warga Pondok Soga memiliki kebanggan tambahan atas kampungnya" jelas Agus yang masih bujangan ini.

Ia kemudian menceritakan keinginan-keinginannya yang lain termasuk gagasan-gagasan pemberdayaan pemuda untuk menciptakan kreasi yang bisa menjadi sumber penghasilan, namun ia menjelaskan itu masih cita-cita jangka panjang yang memerlukan persiapan matang dan tentunya soal permodalan serta investasi.

Agus mengaku kegiatannya ini mendapat dukungan moril dari warga dan pemerintah desa setempat. Sebagai penutup, ia berharap agar ada bantuan cat dan alat lukis agar kegiatan ini dapat cepat diselesaikan sehingga Desa Pantai Hurip memiliki ikon kreativitas yang menjadi daya tarik dan kebanggaan warga Kampung Pondok Soga. Amiin.


Catatan Materi Belajar Fotografi Menggunakan Kamera Handphone

Tunas Muda Babelan Belajar Fotografi Dengan Kamera Handphone
Mengenal Literasi Digital bersama Komunitas Tunas Muda Babelan 
Jika kamu aktif dalam berbagai kegiatan, suka bepergian ke berbagai tempat, atau kamu gemar memotret tapi tidak memiliki kamera, maka kamu dapat memanfaatkan kamera handphone (ponsel) yang kamu miliki dengan sebaik mungkin untuk memaksimalkan kualitas hasil foto kamera ponsel kamu.

Dengan terus berkembangnya spesifikasi dan teknologi yang ada pada kamera ponsel, jika digunakan dengan teknik dan pemahaman yang baik akan dasar-dasar fotografi, maka saya yakin hasil foto kamera ponsel pun tidak akan mengecewakan.

MEMANFAATKAN CAHAYA

Pertama yang mesti kita pahami adalah pengertian dasar istilah fotografi yang berarti melukis dengan cahaya, maka sesuai maknanya, unsur terpenting dalam fotografi adalah cahaya. Semakin baik pencahayaan pada objek foto, maka semakin jelaslah foto yang akan dihasilkan. Memotret di ruang yang pencahayaannya kurang terang maka akan menghasilkan foto yang tidak maksimal atau gelap.

Untuk memotret di dalam ruangan maka perlu dipastikan adanya pencahayaan yang cukup, baik dari sinar matahari ataupun sumber cahaya lainnya (blitz, lampu, senter dll). Tapi perlu diperhatikan, cahaya tambahan tersebut tidak berlebihan, karena cahaya yang berlebihan bisa menyilaukan hasil foto. Jika hal itu terjadi, pertimbangkanlah untuk bereksperimen dengan white balance dalam memanipulasi jumlah cahaya yang muncul pada foto anda.

Mengenali cahaya akan melatih kita peka terhadap intensitas cahaya  apakah berlebihan atau kurang, dari mana cahaya datang, ke mana bayangan jatuh dan apakah perlu sumber cahaya pembantu, dan seterusnya.
Kemah Silaturahmi Pramuka Tunas Muda Babelan
Kemah Silaturahmi Komunitas Tunas Muda Babelan 

MANFAATKAN GARIS BANTU

Setiap handphone memiliki "Garis Bantu" yang akan membagi layar menjadi beberapa bagian, ada yang menamakannya grid, garis kisi dan lain-lain. Aktifkan fitur garis bantu melalui menu setelan (setting) kamera sesuai dengan menu bawaan kamera masing-masing. 

Garis bantu paling sederhana adalah garis bantu 3x3 dimana layar tampilan kamera akan dibagi menjadi 9 ruang, 3 vertikal dan 3 horizontal. Manfaat garis bantu adalah untuk memudahkan kita memastikan bahwa gambar yang sedang kita bidik lurus dan rata baik secara vertikal ataupun horizontal. 

Kita dapat menggunakan garis-garis imajiner yang tertangkap layar saat membidik objek, baik itu garis pembatas jalan, tiang listrik, sudut dinding, garis-garis petak lantai dan lain-lain.

Selain itu kita akan belajar komposisi fotografi yang dikenal dengan istilah Rule Of Third di mana setiap foto akan terbagi menjadi 3 bagian yang memperjelas posisi objek.  3 bagian sesuai garis bantu itu adalah: latar depan (fore ground), tengah (middle) dan latar belakang (background). Kemudian secara horizontal garis bantu akan membagi foto menjadi 3 bagian pula, kanan, tengah dan kiri. Dengan pembagian ini kita akan lebih mudah menentukan  atau memposisikan objek foto kita saat membidik kamera.

2 point itu saja yang saya sampaikan pada saat diundang sharing dalam grup WhatsApp mengenai pengenalan dasar fotografi oleh Komunitas Pramuka Tunas Muda Kwartir Ranting Babelan. Grup yang hanya direncanakan untuk berumur seminggu ini (4 s/d 11 Oktober 2019) diikuti sekitar 30an anggota Tunas Muda dengan intensitas diskusi yang sedang.

Grup WhatsApp ini juga kelanjutan dari materi yang saya berikan sebelumnya pada saat Kemah Silaturahmi 3 pada perayaan ulang tahun ke-2 Komunitas Tunas Muda dimana saya menyampaikan materi literasi digital kepada anggota dan calon anggota Tunas Muda. Saya sempat menyinggung filterisasi konten di sosial media dan mendorong anggota Tunas Muda memproduksi konten positif berupa dokumentasi dan informasi seputar kegiatan-kegiatan yang banyak mereka lakukan.

Dalam grup WhatsApp itu, selain materi pencahayaan dan garis bantu, dari sesi tanya jawab sebenarnya sudah membahas materi dan juga tips-tips memotret dengan kamera ponsel lainnya. Diantaranya, gunakan resolusi tertinggi yang disediakan, selalu bersihkan lensa kamera sebelum dipakai, sebisa mungkin tidak menggunakan zoom, dekati objek, manfaatkan menu shutter/raya di layar ponsel agar tetap fokus dan tidak goyang saat memotret dan sebagainya. 

Tujuan sharing ini adalah memberikan wawasan kepada teman-teman di Komunitas Tunas Muda agar lebih sering lagi dalam mendokumentasikan kegiatan-kegiatan mereka melalui foto yang mereka ambil dari kamera handphone lalu membagikannya sebagai konten positif di media sosial. Semoga bermanfaat.

Salam.


Numpang Ngopi di Acara Silaturahmi dan Tasyakuran Pelantikan Obon Tabroni

Tasyakuran Pelantikan Obon Tabroni sebagai anggota DPR RI 2019-2024
Silaturahmi dan Tasyakuran. (Foto: Ocha Hermawan)  
Suasana kekeluargaan yang akrab dan hangat mengisi acara Silaturahmi dan Tasyakuran atas dilantiknya Obon Tabroni sebagai anggota DPR RI 2019-2024, Sabtu 5 Oktober 2019. Banyak hadirin yang datang membawa keluarga dan anak-anak untuk sekalian menikmati suasana objek ekowisata Taman Limo yang asri. Saung-saung, spot permainan, warung-warung hingga tempat parkir penuh terisi.

Di sisi lain, Silaturahmi dan Tasyakuran ini juga menjadi ajang reuni para relawan dan Sobat Obon dari berbagai lokasi, baik dari Bekasi, Karawang dan Purwakarta. Dalam suasana santai, sebagian teman-teman relawan yang "menghilang" dan tidak bertemu lagi sejak event pilkada Bekasi Februari 2017 lalu dan juga disibukkan dengan pileg dan pilpres kemarin, kini kembali berkumpul.

Ya, bagi saya momen tasyakuran ini seperti oase yang menyejukkan dan menghidupkan kembali api harapan "Bekasi Yang Baik dan Benar" yang sempat redup. Gerakan politik rakyat dan Buruh Go Politik yang sempat patah semangat setelah menelan pil pahit kekalahan saat kontestasi pilkada, kini kembali bergairah. 

Mungkin terlalu dini kalau mau mengklaim bahwa ini adalah keberhasilan bersama gerakan buruh go politik dan gerakan partisipasi politik warga, tapi bagaimanapun keberhasil ini patut diapresiasi guna merawat semangat perjuangan buruh dan warga yang terikat dalam persaudaraan ini agar terus melanjutkan perjuangannya dalam bingkai demokrasi.

Obon Tabroni sadar akan kekuatan persaudaraan tersebut, dalam sambutannya ia menyampaikan agar semua tetap menjaga silaturahmi sebagai modal kekuatan untuk terus bergerak.

"Persaudaraan dan pertemanan kita terlalu mahal untuk disia-siakan dan diabaikan, jalinan ini jangan pernah putus. Persaudaraan dan pertemanan jangan hilang hanya karena persoalan-persoalan kecil, jika kita kuat kita dapat melakukan banyak perubahan kalau kita terus bersama-sama," ucap Bang Obon dari atas panggung.
Tasyakuran Pelantikan Obon Tabroni sebagai anggota DPR RI 2019-2024
Bang Obon dan Bunda Uun (Foto: DAF) 
Silaturahmi yang terjalin ini merupakan sinergi kekuatan relawan yang datang dengan berbagai latar belakangnya. Gotong royong dan kerjasama ini, memang idealnya mensyaratkan individu-individu yang berkualitas dalam bidangnya masing-masing sehingga mampu membuka pintu-pintu peluang dan memanfaatkan segala kesempatan yang ada dengan sebaik-baiknya. Namun Bang Obon tidak menutup pintu untuk siapapun yang ingin belajar dan bergerak bersamanya, karena pada dasarnya setiap orang memiliki potensi yang bisa dikembangkan.

Kita semua punya potensi yang luar biasa, namun karena rasa tidak percaya diri, kita bisa menjadi orang yang gagal

"Kita semua punya potensi yang luar biasa, namun karena rasa tidak percaya diri, kita bisa menjadi orang yang gagal. Mari kita jadikan keberhasilan hari ini menjadi inspirasi, kalau kita fokus, banyak belajar, memiliki keinginan yang kuat, giat bekerja keras dan terus bergerak, maka apa yang tidak mungkin akan menjadi mungkin," ucap Bang Obon Tabroni menyemangati hadirin.

Tidak ketinggalan, Uun Marpuah yang biasa disapa Bunda Uun juga menyemangati para hadirin untuk tetap berusaha dan pantang menyerah.

"Luar biasa, terima kasih teman-teman semua. Ini bukan karena saya atau suami saya (Obon Tabroni) tapi karena kerja keras teman-teman semua. Semua proses dan masalah sudah pernah kita hadapi bersama-sama, alhamdulillah hari ini kita semua berada di sini. Tidak ada yang tidak mungkin selama kita mau berusaha dan mencoba insya Allah segala sesuatu akan terjadi, amiin. Karena musuh terberat kita adalah diri kita sendiri."

Kalau dari tulisan, kutipan-kutipan dari Bang Obon dan Bunda Uun itu seperti sambutan yang serius, tapi sebenarnya sambutan ini banyak diselingi canda yang membuat suasana tetap khidmat namun santai.
Tasyakuran Pelantikan Obon Tabroni sebagai anggota DPR RI 2019-2024
Ngopi bareng Bang Obon Tabroni (Foto: Fai) 
Malam seusai tasyakuran, Bang Obon masih sempat berkeliling mendatangi dan menemui hadirin yang belum pulang. Saat mendatangi kami yang sedang menikmati suasana malam minggu di salah satu saung, ia menyampaikan kembali apa-apa yang sudah ia pernah sampaikan sebelum-sebelumnya. Isu-isu terkini tentang Bekasi mengalir lancar, masalah kekeringan di sebagian wilayah Bekasi juga ia singgung agar menjadi perhatian.

"Saya terus memantau pergerakkan teman-teman semua, yang di Jamkeswatch, yang di OTC dan lain-lain, teruslah bergerak untuk membantu masyarakat sebisa mungkin, masih banyak PR dan masih banyak yang bisa kita lakukan bersama-sama untuk Bekasi ini."

Malam semakin larut, setelah Bang Obon dengan gayanya yang non formal menyampaikan harapan-harapan dan menguatkan tekad teman-teman agar dapat berpartisipasi positif, ia pamitan, lelah jelas terlihat dari wajahnya. Saat melangkah meninggalkan kami, saya teringat kata-kata yang tertulis dalam poster di status salah satu akun halaman facebook.

"Perjalanan baru siap ditempuh. Tugas baru siap diemban. Medan berbeda, tapi untuk perjuangan yang sama. Tolong ingatkan saya jika saya lupa, tegur saya jika saya melenceng dan topang saya jika saya terseok." - Obon Tabroni

Istirahat bang, jaga kesehatan, semoga kami bisa mengimbangi semangat dan kerja keras abang untuk mengabdi, khususnya untuk Bekasi ini.

Sabtu, 5 Oktober 2019 @ Taman Limo Jatiwangi Bekasi.


Nyaman berkereta dari Semarang ke Surabaya

Nyaman berkereta dari Semarang ke Surabaya
Pramugari Kereta Api | Foto Jurnal Media Indonesia
Berbagai tujuan daerah di pulau Jawa sudah aku tempuh menggunakan kereta api. Apalagi dengan perubahan wajah kereta api seperti sekarang ini. Dari kelas ekonomi hingga eksekutif tidak ada gap yang terlalu jauh. Semua rangkaian kereta sudah menggunakan pendingin udara (AC) dan jumlah penumpangnya pun sesuai dengan jumlah kursi yang tersedia, sehingga tidak ada penumpang yang berdiri

Semua yang ada sudah sangat jauh berbeda jika kita bandingkan dengan wajah kereta api masa lalu. Maka tak heran, jika sekarang kereta api menjadi salah satu wahana transportasi yang populer dan menjadi favorit karena fasilitas dan layanannya. Meskipun sudah beberapa tahun berlalu, layanan dan fasilitas kereta api baik di stasiun maupun di dalam rangkaian tidak berkurang, justru terus meningkat. Seperti yang aku rasakan beberapa waktu lalu ketika aku bepergian dari Semarang ke Surabaya. 

Bepergian naik kereta saat ini sudah tidak perlu khawatir macam-macam, sekalipun jarak tempuh menggunakan kereta lebih lama, tapi aku merasa lebih aman dan nyaman dibandingkan naik pesawat terbang. Mungkin karena takut ketinggian atau mungkin juga karena sudah terbiasa setiap hari menggunakan moda transportasi KRL. Selain itu, alasan berhematlah menjadi alasan utama, karena tiket kereta lebih murah dibandingkan tiket pesawatCoba pastikan harga tiket kereta Semarang Surabaya, harganya jelas masih lebih terjangkau daripada harga tiket pesawat.

Meski aku memilih kelas ekonomi menggunakan KA Ambarawa Ekspres namun fasilitasnya serasa berada di kereta eksekutif. Betapa tidak, meski menggunakan kursi ekonomi, tetapi bisa diubah sendiri sandaran kursinya, layaknya kursi kereta eksekutif. Setidaknya, fasilitas ini membuatku nyaman menempuh perjalanan sekitar 4 jam lebih dari stasiun Semarang Poncol menuju stasiun Pasar Turi Surabaya. FYI, perjalanan dari Semarang (Poncol) hingga ke Surabaya (Pasar Turi), KA Ambarawa Ekspres akan berhenti di 8 (delapan) stasiun, yaitu Semarang Tawang, Ngrombo, Kradenan, Randublatung, Cepu, Bojonegoro, Babat, dan Lamongan.

Sejuknya udara di dalam rangkaian juga semakin menambah kenyamanan dalam melakukan berbagai aktivitas di dalam kereta. Sudah gitu, masing-masing kursi juga dilengkapi dengan colokan listrik yang umumnya digunakan untuk men-charge hp. Jadi, enggak perlu panik ketika baterai hp mulai kehabisan daya. 
Nyaman berkereta dari Semarang ke Surabaya
Charger dalam gerbong kereta | Foto: indoinspector.blogspot.com
Layanan kereta juga tidak sampai di situ sebatas fasilitas rangkaian saja, namun layanan dari para crew yang patut diacungkan jempol. Ketika aku melihat AC di atasku bocor sedikit, aku segera laporkan ke petugas yang lewat. Tak lama kemudian, petugas datang menghampiri dan langsung melakukan perbaikan. Taarrraaa.....AC ku kembali normal dan akupun kembali duduk dengan nyaman. 

Kebersihan di dalam rangkaian dan khususnya di dalam toilet selalu terjaga dengan baik. Air selalu mengalir dari keran yang tersedia, dilengkapi dengan hand wash dan tissue. Closed-nya pun dilengkapi dengan tombol flush, jadi tidak meninggalkan jejak bau yang tak sedap. Dulu...aku selalu menahan buang air kecil jika bepergian menggunakan kereta, tapi sekarang tidak lagi.

Jika perut keroncongan pun, kita tinggal memesan makanan/minuman melalui crew. Berbagai pilihan menu tersedia dan tinggal pilih. Meskipun harganya lebih tinggi dibandingkan harga di warung, tapi cukup worth it-lah dengan layanan yang didapat.

Meskipun masing-masing kelas (ekonomi, bisnis, eksekutif) ada nilai tambah dalam hal layanan, namun layanan standar yang diberikan memang jauh lebih manusiawi dibandingkan dulu. Tak ada lagi, penumpang yang berdiri, tak ada lagi WC jorok, tak ada lagi kereta yang jendelanya terbuka, tak ada lagi kereta yang berbau apek, pesing dan lain-lain. Maka tak heran jika kereta menjadi idola masyarakat sekarang. Dengan  semua fasilitas dan layanan yang ada di kereta Ambarawa Ekspres ini menjadikan penumpangnya nyaman senyaman di rumah sendiri.

Narablog: Tarini Hadi Subroto

Bagaimana Cara Mencari Modal Usaha Tanpa Pinjam di Bank? Simak Rahasianya Yuk!

Rahasia Mencari Modal Usaha Tanpa Pinjam di Bank

Usaha merupakan pekerjaan yang digemari oleh sebagian besar orang karena memiliki berbagai keuntungan yang dapat memudahkan kehidupan. Dengan membuka usaha sendiri, Anda akan memiliki banyak waktu dengan keluarga maupun orang terdekat. Anda juga dapat bekerja dengan jangka waktu sesuai keinginan karena Anda merupakan pemilik.

Selain itu, Anda juga akan membuka lapangan kerja bagi masyarakat sekitar yang sedang mencari pekerjaan. Hadinya usaha Anda dapat memberikan angin segar bagi mereka yang membutuhkan pekerjaan. Meski begitu, tentunya Anda harus memiliki produk usaha yang diterima di masyarakat.

Setelah memperoleh produk yang tepat untuk dijual, pastinya Anda membutuhkan modal sebagai penggerak utama jalannya bisnis. 

Kini berbagai jenis bank serta pinjaman online memberikan banyak kemudahan bagi Anda untuk meminjam. Sayangnya, bunga yang harus dibayarkan juga lebih banyak dan membuat Anda tertekan pula.

Bagaimana Cara Mencari Modal Usaha Tanpa Pinjam di Bank?

Bagaimana cara mencari modal usaha yang tepat tanpa meminjam uang di bank? Simak ulasannya tipsnya berikut ini (disarikan dari situs keuangan Duwitmu.com).

Sisihkan Sebagian Gaji untuk Modal Usaha

Anda dapat menyisihkan dana dari gaji yang diperoleh dalam bekerja. Ketika Anda bekerja di bidang tertentu, pasti memiliki gaji setiap periode tertentu biasanya satu bulan. Tabungkan sebagian dari gaji yang Anda peroleh untuk dijadikan modal usaha. 

Selain itu, dana lain bagi Anda yang masih kuliah Anda dapat secara rutin menyisihkan uang saku dari orang tua juga dapat ditabung sebagai modal usaha. Dalam hal ini Anda harus menyisihkan sebagian bahkan semua uang saku yang Anda miliki agar modal usaha Anda semakin cepat terkumpul dan usaha yang Anda inginkan segera berjalan.

Jual Barang yang Tidak Berguna

Jika Anda memiliki banyak barang dirumah yang tidak digunakan secara maksimal, jual saja. Saat ini terdapat fasilitas prelo atau menjual barang bekas yang dapat menjadi sumber untuk modal usaha yang Anda idamkan. Anda dapat melakukan penjualan dengan sistem online maupun offline.

Buka Usaha Jasa Sampingan Tanpa Modal

Selain itu, jika memiliki waktu luang, gunakan tenaga Anda untuk membuka jasa. Anda tentu memiliki lingkungan dengan berbagai background yang memiliki berbagai kepentingan pula. Kesibukan yang dimiliki oleh orang-orang di lingkungan Anda dapat menjadi sasaran empuk untuk mencari modal usaha. Tawarkan bantuan pada orang-orang tersebut agar Anda memperoleh upah dari mereka.

Mengikuti Lomba Sesuai Passion untuk Mendapatkan Hadiah

Berapapun usia Anda saat ini, dapat memperoleh dana dari program kreatif seperti lomba yang diadakan secara gratis namun memberikan hadiah yang fantastis. Anda dapat melihat dimana kemampuan yang paling Anda kuasai kemudian ikutilah lomba yang diadakan oleh berbagai instansi maupun perseorangan. Banyak sekali peluang jika Anda mengikuti berbagai lomba.

Saat ini banyak sekali lomba yang diadakan secara online maupun offline dalam bentuk lomba membuat blog, video, karya ilmiah, penelitian, jurnal, buku, dan lain sebagainya. Jika Anda memiliki kemampuan di bidang tulisan, Anda dapat mengikuti berbagai lomba tulisan yang tersedia. Namun jika Anda lebih menyukai bidang akademik seperti penulisan karya ilmiah dan lain sebagainya, kemudian ikutilah lomba yang disediakan dalam bidang tersebut.

Cari Partner Bisnis untuk Join Modal Usaha Bersama

Selain itu, disini Anda juga dapat mencari orang yang memiliki satu visi serta keinginan usaha yang sama untuk dijadikan sebagai rekan bisnis. Pada dasarnya setiap orang pasti memiliki keinginan untuk membuka usaha sendiri, namun tergantung dimana letak keseriusan orang tersebut dalam membuka usaha.

Dengan menemukan rekan bisnis ini, Anda akan terbantu dari segi finansial maupun dari segi menjalankan usaha. Dengan bekerjasama dengan teman, Anda juga akan memperoleh modal secara cepat untuk modal usaha.

Semoga informasi tentang bagaimana cara mencari modal usaha ini dapat menjadi upaya Anda untuk mendapatkan modal usaha sehingga dapat segera menjalankan bisnis dan memberikan manfaat bagi orang banyak. 

Semoga berhasil! 



Mengenal AHU Online, Mulai Legalitas Komunitas Hingga Kewarganegaraan

Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum
Saya banyak bertemu orang-orang dengan passion yang sama pada hari libur. Hari libur adalah waktu bagi saya untuk ikut terlibat dalam kegiatan yang rata-rata berupa kegiatan sosial.

Kontribusi saya dalam kegiatan-kegiatan yang dilakukan atas nama organisasi,  komunitas, perkumpulan, yayasan dan lain-lain ini biasanya dalam hal dokumentasi, reportase dan semacamnya terkait kehumasan.

Dari seringnya ikut kegiatan itu saya sering mendapat pertanyaan tentang bagaimana merancang sebuah kegiatan, acara dan semacamnya. Pertanyaan yang lebih serius adalah ketika beberapa teman menanyakan bagaimana cara mendirikan yayasan, cara mendapatkan status hukum sebuah komunitas atau perkumpulan dan sejenisnya.

Secara umum, untuk mendirikan yayasan, organisasi atau perkumpulan adalah sama-sama dengan membuat akta pendirian di hadapan notaris. Oh ya, itu khusus untuk perkumpulan/organisasi yang ingin berstatus badan hukum. Untuk perkumpulan berbadan hukum, tata cara pendiriannya tunduk pada Peraturan Menteri Hukum dan HAM Nomor 3 Tahun 2016. Sementara tata cara pendirian perkumpulan tidak berbadan hukum diatur dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 57 Tahun 2017.

Sebagai catatan, konstitusi kita menjunjung tinggi kebebasan berserikat dan berkumpul tanpa harus membuatnya dalam bentuk yang formal atau berbadan hukum. Artinya perbedaan status badan hukum tidak berpengaruh banyak dalam kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan, perbedaan itu akan berlaku jika perkumpulan melakukan perbuatan hukum seperti perjanjian kredit, jual-beli, sewa-menyewa, dan berbagai macam tindakan  dalam lingkup hukum keperdataan dan lainnya. 

Setelah adanya akta pendirian perkumpulan yang dibuat di hadapan notaris, maka langkah selanjutnya adalah melakukan registrasi sekaligus meminta status badan hukumnya kepada Kementerian Hukum dan HAM. Sedangkan perkumpulan tidak berbadan hukum melakukan registrasi kepada Kementerian Dalam Negeri. Untuk kegiatan pendaftaran dan registrasi ini dapat dilakukan dengan bantuan notaris atau dilakukan sendiri oleh masyarakat.

Nah teman-teman, untuk registrasi dan meminta status badan hukum yayasan dan perkumpulan itu adanya di Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum (Ditjen AHU) Kementerian Hukum dan HAM dan kita bisa mengurusnya melalui layanan online yang disebut AHU Online

Sekarang kita bahas sedikit tentang Ditjen AHU ini.

Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum

Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum
Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum adalah unit eselon I Kemenkumham yang sudah dibentuk sejak tahun 2000 lalu, pemekaran dari Direktorat Hukum dan Perundang-undangan. 

Direktorat Hukum dan Perundang-undangan ini tidak hanya dimekarkan menjadi Ditjen AHU, melainkan menjadi dua. Yaitu Direktorat Jenderal Peraturan Perundang-undangan yang fokus pada penyusunan peraturan perundangan-undangan. Sedangkan Ditjen AHU fokus pada tugas pelayanan hukum kepada masyarakat, layanannya mencakup hampir semua bidang hukum secara umum. 

Luasnya aspek pelayanan hukum yang dilakukan Ditjen AHU, Cahyo Rahadian Muzhar, SH, LLM, selaku Direktur Jenderal Administrasi Hukum Umum (Dirjen AHU) saat ini dibantu oleh satu orang Sekretaris Jenderal dan lima orang Direktur. 

Para direktur tersebut mengurusi pelayanan untuk bidang Pidana, Perdata, Tata Negara, Otoritas Pusat Hukum Internasional, dan Teknologi Informasi. Semua unit di Ditjen AHU ini bersinergi mewujudkan visi “masyarakat memperoleh kepastian hukum.”
Selain urusan pendaftaran dan pengesahan badan hukum yayasan dan perkumpulan, soal kewarganegaraan juga dilayani di Ditjen AHU.

Penting yah soal kewarganegaraan ini?

Masih ingat kisah Gloria Natapradja Hamel?. Gloria Natapradja Hamel adalah perempuan keturunan Indonesia-Perancis yang sangat antusias untuk menjadi salah satu pasukan pengibaran bendera pada HUT ke 71 RI. Akan tetapi dua hari sebelum peringatan kemerdekaan, ia dicoret dari daftar pasukan pengibar bendera pusaka (paskibraka) di Istana Negara karena ternyata ia masih memegang paspor Perancis. 

Gloria sangat sedih ketika dikabarkan dirinya batal menjadi anggota Paskibraka. Siswi SMA Islam Dian Didaktika itu kemudian menulis surat kepada Presiden. Di dalam surat yang disertai dengan materai Rp 6 ribu itu, Gloria secara tegas menyatakan dia mencintai Indonesia, bahkan siap untuk memilih menjadi WNI. "Bahwa saya tidak pernah memilih kewarganegaraan Perancis karena darah dan nafas saya untuk Indonesia tercinta," tulis Gloria.

Bagi kita yang memiliki ayah dan ibu WNI, masalah kewarganegaraan tentunya sudah selesai tanpa perlu naturalisasi, tapi status itu berbeda dengan mereka yang salah satu orang tuanya berkewarganegaraan asing seperti Gloria ini.

Nah, kalau menurut kalian, selain pendirian yayasan, pengesahan perkumpulan dan administrasi kewarganegaraan, apa saja administrasi hukum yang biasanya kita butuhkan? 

Kalau kita tengok layanan AHU Online situs ahu.go.id, ada beberapa pelayanan administrasi hukum yang bisa kita akses, di antaranya:

1. Administrasi Penunjang Kemudahan Berusaha

Beberapa tahun belakangan, pemerintah meningkatkan kinerja kemudahan berusaha (ease of doing business). Salah satu kontribusi Ditjen AHU dalam bidang kemudahan berusaha adalah dengan mempercepat prosedur pembentukan badan usaha. Dengan layanan AHU Online, pendirian dan pengintegrasian CV (Comanditaire Venootschap) dan Perseroan Terbatas bisa dilaksanakan secara digital. Tidak hanya mendaftarkan badan usaha, kalau mau pesan nama perusahaan juga bisa melalui web AHU Online.

2. Membangun Organisasi atau Perkumpulan 

Tak hanya membuat CV atau PT, masyarakat yang ingin membentuk organisasi baik tujuan profit maupun non-profit juga bisa mendaftarkannya secara online. AHU Online melayani semua jenis perkumpulan, mulai dari Yayasan, Koperasi, sampai Partai Politik (Parpol), kita juga bisa memesan dan memeriksa nama agar tidak ada kesamaan nama melalui AHU Online.

3. Pengurusan Wasiat 

Kalau kita punya aset atau harta yang ke depannya bisa bermanfaat untuk keturunan kita, atau justru bisa disalahgunakan pihak lain, atau mungkin memiliki potensi konflik, ada baiknya setelah kita membuat wasiat kemudian didaftarkan ke Ditjen AHU. Membuat wasiatnya tetap di hadapan Notaris, dan akan lebih afdol kalau dilengkapi dengan pelaporan  ke Ditjen AHU melalui AHU Online.

4. Fidusia

Apakah teman-teman pernah membeli kendaraan bermotor, atau barang elektronik melalui mekanisme utang piutang? Kalau ada rencana untuk membeli barang melalui mekanisme utang piutang atau kredit, ada baiknya teman-teman mempelajari cara bagaimana mendapatkan jaminan fidusia. Jangan sampai sudah banyak membayar lalu dengan mudah barangnya ditarik pihak leasing dan masalah lainnya.

5. Pelayanan Notaris

Masing–masing layanan di atas mungkin saja butuh bantuan dari notaris. Nah teman-teman, Ditjen AHU ini juga yang erat kaitannya dengan para profesi para notaris. Layanan Ditjen AHU mencakupi pendaftaran notaris dan pendaftaran ujian pengangkatan notaris.

Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum AHU Online
Secara total ada 93 jenis layanan hukum yang dilayani oleh Ditjen AHU. Sebanyak 47 layanan hukum itu sudah bisa dilayani melalui aplikasi AHU Online atau bisa diakses melalui ahu.go.id, dengan layanan berbasis online web base. Sedangkan 43 layanan lainnya masih manual.

Demikian sedikit catatan saya mengenai AHU Online. Semoga bermanfaat untuk teman-teman komunitas yang masih galau mengenai status legalitas komunitas perkumpulannya, juga buat teman-teman yang ingin membuat yayasan atau mengurus kewarganegaraan.

Salam.


Berteduh di Kedai Kopi Hainam Pondok Bambu

Kedai Kopi Hainam Pondok Bambu Jakarta
Kedai Kopi Hainam Pondok Bambu Jakarta
"Secangkir kopi bisa menjadi "jembatan rasa" yang mempertemukan, kita bisa mengenal kepribadian seseorang dari kopi yang dinikmatinya."
Lalu-lintas Kalimalang menuju Bekasi pada hari Minggu sore itu sedang tidak padat. Rintik hujan yang semakin deras memaksa para pemotor sejenak menepi untuk mengenakan jas hujan sebelum kembali melanjutkan perjalanan.

Hujan tidak juga reda, jarak pandang terganggu dan hawa dingin menyergap. Di persimpangan Jatiwaringin saya belok haluan dan mengarahkan motor ke Kedai Kopi Hainam yang terletak di Jl. Masjid Al-Wustho Pondok Bambu, Kec. Duren Sawit, Jakarta Timur. 

Aroma kopi yang khas dan menjanjikan kehangatan menyambut kedatangan saya. Yah, memutuskan untuk berteduh di sini sambil menunggu hujan reda adalah pilihan terbaik, sebelum melanjutkan perjalanan pulang.
Kedai Kopi Hainam Pondok Bambu

Kedai Kopi Hainam

Kedai yang biasanya dipenuhi oleh anak muda ini sedang lengang. Meja dan kursi di teras basah terkena tampias hujan. Di ruang depan yang diterangi lampu temaram ada dua orang sedang asik berbincang, Itonk, sang pemilik kedai dan pegawainya. Mengenakan t-shirt dan jeans belel membuat ibu dua anak ini tampak lebih muda 10 tahun dari usia sebenarnya.

Bukan kali pertama saya mampir, kali ini selain untuk berteduh, saya juga ingin kembali menikmati kopi racikan teman sekolah yang kini serius menekuni bisnis kopi. Sebuah bisnis yang berangkat dari kesukaannya menikmati kopi tanpa kenal waktu.

Semua berawal pada Mei 2015 lalu, saat ia ikut event Festival Lapangan Banteng dan mencoba menjual kopi bubuk yang didapatkan dari seorang teman. Sejak itu ia mulai sering membuka gerai dadakan di acara-acara musiman seperti bazar, reuni, dll. 

Ia juga pernah mencoba menggabungkan usahanya dengan gerai makanan, namun usahanya itu bubar di tengah jalan. Tidak berhenti di sana, dengan memanfaatkan jejaring pertemanan, ia mulai merintis penjualan produk kopi dingin botolan racikannya secara gerilya. 

Semua pengalaman yang telah ia lalui sekian tahun itu berpuncak pada bulan Agustus 2018, ia nekad memanfaatkan ruko milik orang tuanya menjadi Kedai Kopi Hainam.  Tampaknya kali ini usahanya lebih berhasil dengan semakin banyaknya permintaan produk kopi dingin botolan dari gerai-gerai makanan dan langganan tetapnya. Kedai Kopi Hainam buka setiap hari dari pukul 2 siang hingga 10 malam.

Kedai kopi yang luas ini banyak dihiasi ornamen ukiran dan pahatan khas tradisional Jawa. Penataan meja yang jauh satu sama lain menjadikan setiap meja berkesan privat dan eksklusif, berbeda dengan penataan meja yang rapat pada teras depan. Dilengkapi dengan mushola dan pojok lesehan di bagian belakang bar menjadikan kedai ini tempat yang asik untuk hangout
Berteduh di Kedai Kopi Hainam Pondok Bambu

Motif Terjun Ke Bisnis Kopi

"Keuntungannya lumayan, tapi yang lebih penting aku bisa lebih berhemat, tidak perlu lagi nongkrong di kafe meninggalkan keluarga, karena aku sekarang sudah punya kafe sendiri" ungkap ibu muda yang sedang memperjuangkan gelar master di bidang arsitektur.

Sudah sejak lama ia yakin, coffeeshop atau kedai kopi yang menjamur di mana-mana itu membuktikan bahwa bisnis kopi bukan hanya tren sementara, tapi sudah menjadi budaya bagi generasi muda dan kaum urban perkotaan. 

Di balik budaya itu, ia melihat peluang bisnis yang cukup menjanjikan terbuka lebar bagi yang paham memanfaatkan celah pasar dan berani mengambil peluang. Karenanya ia memberanikan diri terjun ke dunia persilatan eh ke dunia perkopian.

"Kalau aku yah mendirikan Kedai Kopi Hainam ini learning by doing, semua ini hasil dari pengalaman, jualan eceran, gerilya, hasil ngobrol dengan teman-teman dan belajar dari banyak orang. Cukup memakan waktu, tapi aku menikmati prosesnya" ungkapnya santai sambil memilih playlist lagu di smartphone-nya.

Dengan memanfaatkan bluetooth yang terhubung ke sistem pengeras suara, lagu-lagu slow rock 90an pilihannya kini menggantikan suara rintik hujan, mengisi ruangan kafe yang bernuansa vintage dan tradisional. 
Kedai Kopi Hainam Pondok Bambu

Sambil menikmati Kopi Robusta Bengkulu andalan kedai ini, obrolan santai malam itu melebar ke mana-mana. Kembali serius saat ia kembali bercerita tentang pengalamannya di bisnis kopi.

"Tidak ada yang instan, cara paling cepat untuk mengenal bisnis kopi yah ikut pelatihan seperti yang sudah mulai banyak digelar, atau membeli franchise" ucap Arsitektur Lansekap lulusan Universitas Tri Sakti ini.

Menurutnya pelatihan-pelatihan terkait bisnis kopi itu seperti investasi, sebagaimana ia menginvestasikan waktu yang lama untuk menjadi seperti sekarang ini.
"Menginvestasikan uang untuk mempersingkat waktu belajar aku kira itu sepadan" tegasnya.

Ia menjawab semua pertanyaan dengan santai, sambil menikmati kopi pahit dan sesekali memainkan asap rokok menthol yang ia hembuskan ke arah lampu di atas meja kami.

Di akhir perbincangan ia kembali menegaskan, bahwa pada akhirnya untuk membuka kedai kopi itu bukan masalah serius atau tidak, tapi lebih terkait kepada passion

"Dari yang aku jalani, Aku lebih percaya bahwa membuka usaha kedai kopi lebih dominan ke hasrat kesenangan kita terhadap sesuatu, skill memang diperlukan akan tetapi hasrat lebih utama, maka jika hasrat itu ada, skill akan menjadi prioritas nomor dua."

"Secangkir kopi yang diseduh dengan hati lebih mampu menjadi "jembatan rasa" menyambungkan hati dari pada yang dibuat dengan teknik-teknik trendi yang dipelajari dari pelatihan".

"Secangkir kopi bisa menjadi "jembatan rasa" yang mempertemukan, kita bisa mengenal kepribadian seseorang dari kopi yang dinikmatinya. Tapi kalau tidak dapat "klik-nya" pelanggan tidak akan kembali lagi untuk meminum kopi itu."

Menikmati segelas kopi panas saat hujan begini memang waktu yang pas, apalagi diisi dengan obrolan yang berkualitas. Jarang ada kedai kopi yang owner-nya mau menemani ngobrol tamunya. Ya memang kadang ada juga pelanggan yang hanya ingin menikmati kopinya sendirian.

Tanpa terasa kopi pahit sudah tandas dan waktu bergulir dengan cepat. Saat hujan mulai reda, saya meninggalkan kedai itu. Masih sempat memesan produk kopi dingin botolan untuk bekal di jalan.

Harganya produk kopi yang ditawarkan lebih murah dari gerai kopi terkenal yang ada di mall. Ditambah suasana kedai yang asik dan luas ini jelas kemewahan yang tidak bisa didapatkan pada gerai kopi di mall, seterkenal apapun merek kopinya.

Namun demikian saya jadi ingat kembali kata-katanya, "Berbicara tentang kopi, sama saja berbicara mengenai selera, setiap individu memiliki selera yang gak akan pernah sama setiap orangnya".


Kedai Kopi Hainam Pondok Bambu Jakarta

@ Kedai Kopi Hainam - Jumat, 19 April 2019.
Kontak: (021) 86609673 | 0817-6306-976




Bukan Cebong dan Kampret, Kita Garuda Pancasila

Membumikan Pancasila, Merawat Keberagaman di Kalangan Milenial dan Penggiat Media Sosial
Membumikan Pancasila, Merawat Keberagaman di Kalangan Milenial dan Penggiat Media Sosial 

"Nanang" ucap lelaki paruh baya itu saat menyambut jabat tangan saya. Selanjutnya Bang Iwan Bonick (yang lebih dahulu berada di sana) memperkenalkan saya lebih jauh kepada Pak Nanang agar kehadiran saya tidak mengubah suasana yang sudah terbangun sebelumnya.

Saya yang baru kenal dan baru ikut bergabung dalam "majelis asap" di Smoking Room Lobby Aston Imperial Bekasi Hotel & Conference Center akhirnya hanya pasif mendengarkan perbincangan. 

Untuk menjalin keakraban, saya sebenarnya ingin nyeletuk saat Pak Nanang bercerita tentang pengalaman beliau di rumah pengasingan Bung Karno di Ende, NTT

Tapi pengalaman yang Pak Nanang sedang ceritakan ini frekuensinya mendekati sakral, tidak layak saya potong dengan celetukan garing "saya juga pernah ke sana loh pak". Gak nyambung dan gak penting.

Belakangan saya baru tahu, lelaki paruh baya tersebut bernama lengkap Nanang Rakhmad Hidayat, M. Sn. Beliau adalah dosen Jurusan Televisi, Fakultas Seni Media Rekam di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta yang juga merupakan mitra kerja Pusat Studi Pancasila UGM.
  
Pak Nanang ini adalah seniman yang mendirikan "Museum Rumah Garuda" di Yogyakarta, sehingga dikenal dengan nama lain "Nanang Garuda", sedangkan Iwan Bonick adalah penyair unik yang mendirikan "Rumah Garuda" di Bekasi. Setidaknya itulah yang membuat obrolan mereka menjadi begitu akrab, hampir saja saya mempermalukan Bang Iwan Bonick dengan celetukan garing :)  

Pak Nanang yang menulis buku "Mencari Telur Garuda" ini datang ke Bekasi untuk memenuhi undangan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) sebagai salah satu pembicara dalam acara "Sosialisasi Pancasila Dengan Milenial/Blogger". Acara yang dilaksanakan pada hari Sabtu, 31 Agustus 2019 ini bertemakan "Membumikan Pancasila, Merawat Keberagaman di Kalangan Milenial dan Penggiat Media Sosial". 
Sang Kartini Kembar guru pendiri Sekolah Darurat Kartini di kolong jalan tol Jakarta Sri Rossyati (Rossi) dan Sri Irianingsih (Rian)
Sang Kartini Kembar pendiri Sekolah Darurat Kartini Jakarta Sri Rossyati dan Sri Irianingsih 
Hadir sebagai narasumber lainnya adalah Bapak Aris Heru Utomo selaku Direktur Sosialisasi, Komunikasi dan Jaringan BPIP, Ibu Irene Camelyn Sinaga selaku Direktur Pembudayaan BPIP serta Sang Kartini Kembar, duo guru pendiri Sekolah Darurat Kartini di kolong jalan tol Jakarta Utara, yaitu Ibu Sri Rossyati (Ibu Rossi) dan Ibu Sri Irianingsih (Ibu Rian). Hadir pula Mbak Mira Sahid selaku tokoh blogger dari Bekasi yang bertindak sebagai MC dan moderator.

Dalam pemaparannya, Pak Nanang menyampaikan hasil perjalanannya mengumpulkan berbagai macam foto Garuda Pancasila yang memiliki bentuk dan ragam corak. Sebagai seniman ia mengapresiasi keragaman bentuk dan ragam hasil karya masyarakat, akan tetapi ia juga menyimpan kegelisahan mengenai inkonsistensi bentuk lambang negara ini. Namun demikian, yang lebih membuat Pak Nanang gelisah adalah "amputasi historis", karena tidak ada satupun pihak yang menceritakan tentang proses atau sejarah terbentuknya lambang Garuda Pancasila.
proses dan sejarah terbentuknya lambang Garuda Pancasila
Proses metamorfosis terbentuknya lambang Garuda Pancasila 
Sebagai seniman yang sensitif terhadap makna di balik tanda dan bentuk lambang (semiotika), saya kira kegelisahan Pak Nanang cukup beralasan. Ia tidak ingin lambang negara yang sudah dirumuskan oleh para pemikir dan pendiri bangsa ini dilupakan sejarah kelahirannya dan kehilangan makna-makna luhur yang disampaikan dalam bentuk Burung Garuda Pancasila.

Untuk menjawab kegelisahan itulah pada 17 Agustus 2011 ia mendirikan "Museum Rumah Garuda" sebagai ruang publik untuk berwisata sejarah dan edukasi khusus mengenai Garuda Pancasila. Museum yang lebih dikenal dengan sebutan Rumah Garuda ini berusaha mengenalkan akar jati diri bangsa yang telah tersimbolkan pada Garuda Pancasila, melalui pintu sejarah, filosofi, estetika, dan semiotika dengan pendekatan seni dan budaya. 

Rumah Garuda sudah banyak menghasilkan karya yang bertujuan untuk menyosialisasikan proses dan sejarah lahirnya Garuda Pancasila, baik berupa wayang, ragam bentuk permainan puzzle, film, buku, kamus dan lain sebagainya. 

Pak Nanang mengatakan, "Indonesia saat ini sedang mencekam, berhentilah men(jadi) ce(bong) kam(pret), bangkitlah menjadi Garuda"

Bagaimana caranya berhenti menjadi cebong dan kampret dan kembali menjadi garuda?. Dalam salah satu slide presentasinya Pak Nanang menampilkan kutipan dari Emha Ainun Najib, "Ayo belajar sejarah, supaya Anda tahu, Anda ini GARUDA"
Bukan Cebong dan Kampret, Kita Garuda Pancasila
Ayo belajar sejarah, supaya Anda tahu, Anda ini GARUDA
Kutipan itu hanya potongan kecil, lengkapnya kalimat itu berbunyi "Ayo belajar sejarah, supaya Anda tau kalau Anda ini garuda, Anda ini bangsa besar. Ndak apa-apa sampai akhir hayat Anda ndak berhasil, ndak pa-pa; anakmu yang berhasil, nek gak anakmu yo putumu, tapi kita bangun kembali paruh yang baru itu, kuku yang baru itu, dan tidak pernah putus asa." - Cak Nun

Pepatah lama mengatakan, "tidak kenal maka tak sayang", itulah salah satu solusi yang diupayakan Pak Nanang Garuda sekian lama, beliau secara aktif mengajak anak bangsa mengenal proses dan sejarah terbentuknya lambang Garuda Pancasila agar kembali dikenal dengan sebagaimana layaknya.

Lambang Garuda Pancasila sejatinya memang tergali dari nilai-nilai peri kehidupan Bangsa Indonesia. Walau saat Orde Baru Pancasila pernah disalahgunakan untuk mengontrol hingga ke ruang pikir, namun di era pasca reformasi di mana kebebasan berekspresi telah mendapatkan tempat yang lebih layak, maka mengenal Garuda Pancasila dengan segala aspeknya kembali menjadi penting. Tentunya itu bukan hanya tugas Pak Nanang dan BPIP saja.

Salam.

Belajar Fotografi Ponsel Bersama Tripod Keliling dan Saka Bhayangkara Babelan

Workshop Fotografi Ponsel Saka Bhayangkara dan Tripod Keliling
Workshop Fotografi Ponsel Saka Bhayangkara dan Tripod Keliling
"Kenapa kamera handphone?" pancing Hye Sin kepada 40-an adik-adik dan calon anggota Satuan Karya Pramuka (Saka) Bhayangkara Polsek Babelan Bekasi siang itu di Aula Kantor Kepala Desa Babelan Kota. Beberapa jawaban terdengar dari hadirin, macam-macam jawaban yang intinya mengerucut pada salah satu keunggulan kamera ponsel, yaitu praktis dan compact.

Minggu, 25 Agustus 2019, teman-teman dari Komunitas Tripod Keliling kembali melakukan kelas akhir pekan, "Belajar memotret dengan HP" seperti yang pernah dilakukan sebelumnya di Kawasan Ekowisata Sungai Rindu, 28 Juli 2019 lalu.

Mini workshop yang dibagi dalam 3 sesi ini berisi tips memotret dengan telepon seluler pribadi, praktek mengambil potret dan evaluasi. Peserta yang dibagi dalam 9 kelompok ini dengan antusias mengikuti jalannya workshop.

Praktek memotret yang diberikan waktu selama 20 menit sepertinya kurang cukup, bahkan hingga penambahan waktu habis sekali pun adik-adik peserta masih terus asik mencoba berbagai pose dan angel serta asik mendiskusikan tentang pesan apa yang ingin mereka sampaikan dalam foto yang mereka hasilkan.
Belajar Fotografi Ponsel Bersama Tripod Keliling dan Saka Bhayangkara Babelan
Praktek memotret dengan ponsel
Saat pemaparan teori, memang dibahas beberapa teknik memotret dan bagaimana membuat potret dapat menjadi sebuah media penyampai pesan. Sayangnya keterbatasan waktu yang tersedia membuat setiap sesi harus dilaksanakan dengan ketat.

Idealnya waktu evaluasi lebih panjang dari sesi teori dan praktek, karena pada saat evaluasi inilah terjadi dialog dan kurasi mengenai hasil praktek memotret. Minimal dalam sesi evaluasi ini pemotret akan menerima feedback dan tambahan tips tentang teori-teori yang sudah disampaikan sebelumnya.

"Pesan saya, rajinlah berlatih, rajinlah memotret dan jangan cepat puas dengan hasilnya" pesan Hye Sin kepada semua hadirin saat mengakhiri sesi evaluasi.

"Dokumentasikan kegiatan positif yang adik-adik lakukan baik saat kegiatan pramuka ataupun kegiatan positif lainnya, gunakan kamera ponsel kita untuk hal-hal yang bermanfaat bagi masyarakat, minimal bermanfaat bagi diri sendiri" tutup Hye Sin.
Belajar Fotografi Ponsel Bersama Tripod Keliling dan Saka Bhayangkara Babelan
Evaluasi hasil memotret dengan ponsel
Secara garis besar acara workshop belajar memotret dengan menggunakan ponsel ini berjalan lancar dan baik. Interaksi dari peserta menunjukkan beberapa peserta yang memiliki passion dan kesenangan dalam fotografi, setidaknya workshop ini bisa menjadi langkah awal baginya untuk mengembangkan hobi fotografi ke arah yang lebih jauh.

"Terima kasih kepada Komunitas Tripod Keliling yang sudah berbagi ilmu kepada kami, mungkin lain waktu kita dapat bekerjasama lagi untuk materi yang lebih dalam mengenai fotografi ponsel" kata Mawadah Warahmah selaku Ketua Dewan Saka Bhayangkara Polsek Babelan Kwartir Ranting Kec. Babelan Kab. Bekasi.
Belajar Fotografi Ponsel Bersama Tripod Keliling dan Saka Bhayangkara Babelan
Foto bersama seusai acara workshop fotografi ponsel

Fotografi dan industri kreatif

Fotografi adalah salah satu komponen dari 15 jenis industri kreatif yang diperhitungkan di Indonesia. Sebagai sebuah industri yang mengandalkan kreativitas dalam menghasilkan produk/jasa, fotografi saat ini menjadi semakin beragam dan semakin banyak penggiatnya seiring dengan kemajuan teknologi. 

Oleh karenanya, memperkenalkan fotografi kepada masyarakat harusnya bisa lebih dini lagi dan dengan menggunakan berbagai pendekatan. Salah satunya dengan pendekatan kelas-kelas pengenalan fotografi seperti memaksimalkan fungsi kamera ponsel sebagaimana yang dilakukan oleh Saka Bhayangkara Polsek Babelan dan Komunitas Tripod Keliling ini.

Lomba-lomba terkait fotografi dalam skala kecil juga mestinya bisa menjadi wadah untuk menggairahkan para fotografer pemula untuk terus berkarya dan berkompetisi. Contoh kegiatan lomba terkait fotografi salah satunya; sekolah bisa saja menggelar lomba foto dokumentasi bagi murid-muridnya untuk meliput sebuah kegiatan, di sisi lain dengan memanfaatkan media sosial maka lomba tersebut juga dapat menjadi media amplifikasi kegiatan tersebut.

Lomba tersebut bisa diperluas menjadi lomba liputan jurnalistik, lomba dokumentasi video baik dalam bentuk vlog atau lainnya. Masih banyak macam lomba-lomba kreatif yang dapat digagas dengan mengedepankan kompetisi bakat, minat, kemampuan teknis dan semacamnya. 

Dalam pandangan saya, sekolah sebagai lembaga pendidikan mestinya tidak lagi menggelar lomba-lomba hiburan ala masyarakat seperti lomba makan kerupuk. Jika lomba fotografi dll tadi diperlombakan secara tim atau grup, maka gak perlu lagi sekolah menggelar lomba tarik tambang dan panjat pinang, karena nilai teamwork sudah tercakup dalam lomba beregu tadi.

Bagaimana? tidak sulit kan? Kalau tidak dimulai dari yang kecil, bagaimana mau memulai yang besar?


Belajar Fotografi Ponsel Bersama Tripod Keliling dan Saka Bhayangkara Babelan

Workshop Fotografi Ponsel Saka Bhayangkara dan Tripod Keliling
Workshop Fotografi Ponsel Saka Bhayangkara dan Tripod Keliling
"Kenapa kamera handphone?" pancing Hye Sin kepada 40-an adik-adik dan calon anggota Satuan Karya Pramuka (Saka) Bhayangkara Polsek Babelan Bekasi siang itu di Aula Kantor Kepala Desa Babelan Kota. Beberapa jawaban terdengar dari hadirin, macam-macam jawaban yang intinya mengerucut pada salah satu keunggulan kamera ponsel, yaitu praktis dan compact.

Minggu, 25 Agustus 2019, teman-teman dari Komunitas Tripod Keliling kembali melakukan kelas akhir pekan, "Belajar memotret dengan HP" seperti yang pernah dilakukan sebelumnya di Kawasan Ekowisata Sungai Rindu, 28 Juli 2019 lalu.

Mini workshop yang dibagi dalam 3 sesi ini berisi tips memotret dengan telepon seluler pribadi, praktek mengambil potret dan evaluasi. Peserta yang dibagi dalam 9 kelompok ini dengan antusias mengikuti jalannya workshop.

Dengan langsung dipandu Hye Sin dan Yusuf Prakasa, praktek memotret yang diberikan waktu selama 20 menit sepertinya kurang cukup, bahkan hingga penambahan waktu habis sekali pun adik-adik peserta masih terus asik mencoba berbagai pose dan angel serta asik mendiskusikan tentang pesan apa yang ingin mereka sampaikan dalam foto yang mereka hasilkan.
Belajar Fotografi Ponsel Bersama Tripod Keliling dan Saka Bhayangkara Babelan
Praktek memotret dengan ponsel
Saat pemaparan teori, memang dibahas beberapa teknik memotret dan bagaimana membuat potret dapat menjadi sebuah media penyampai pesan. Sayangnya keterbatasan waktu yang tersedia membuat setiap sesi harus dilaksanakan dengan ketat.

Idealnya waktu evaluasi lebih panjang dari sesi teori dan praktek, karena pada saat evaluasi inilah terjadi dialog dan kurasi mengenai hasil praktek memotret. Minimal dalam sesi evaluasi ini pemotret akan menerima feedback dan tambahan tips tentang teori-teori yang sudah disampaikan sebelumnya.

"Pesan saya, rajinlah berlatih, rajinlah memotret dan jangan cepat puas dengan hasilnya" pesan Hye Sin kepada semua hadirin saat mengakhiri sesi evaluasi.

"Dokumentasikan kegiatan positif yang adik-adik lakukan baik saat kegiatan pramuka ataupun kegiatan positif lainnya, gunakan kamera ponsel kita untuk hal-hal yang bermanfaat bagi masyarakat, minimal bermanfaat bagi diri sendiri" tutup Hye Sin.
Belajar Fotografi Ponsel Bersama Tripod Keliling dan Saka Bhayangkara Babelan
Evaluasi hasil memotret dengan ponsel
Secara garis besar acara workshop belajar memotret dengan menggunakan ponsel ini berjalan lancar dan baik. Interaksi dari peserta menunjukkan beberapa peserta yang memiliki passion dan kesenangan dalam fotografi, setidaknya workshop ini bisa menjadi langkah awal baginya untuk mengembangkan hobi fotografi ke arah yang lebih jauh.

"Terima kasih kepada Komunitas Tripod Keliling yang sudah berbagi ilmu kepada kami, mungkin lain waktu kita dapat bekerjasama lagi untuk materi yang lebih dalam mengenai fotografi ponsel" kata Mawadah Warahmah selaku Ketua Dewan Saka Bhayangkara Polsek Babelan Kwartir Ranting Kec. Babelan Kab. Bekasi.
Belajar Fotografi Ponsel Bersama Tripod Keliling dan Saka Bhayangkara Babelan
Foto bersama seusai acara workshop fotografi ponsel

Fotografi dan industri kreatif

Fotografi adalah salah satu komponen dari 15 jenis industri kreatif yang diperhitungkan di Indonesia. Sebagai sebuah industri yang mengandalkan kreativitas dalam menghasilkan produk/jasa, fotografi saat ini menjadi semakin beragam dan semakin banyak penggiatnya seiring dengan kemajuan teknologi. 

Oleh karenanya, memperkenalkan fotografi kepada masyarakat harusnya bisa lebih dini lagi dan dengan menggunakan berbagai pendekatan. Salah satunya dengan pendekatan kelas-kelas pengenalan fotografi seperti memaksimalkan fungsi kamera ponsel sebagaimana yang dilakukan oleh Saka Bhayangkara Polsek Babelan dan Komunitas Tripod Keliling ini.

Lomba-lomba terkait fotografi dalam skala kecil juga mestinya bisa menjadi wadah untuk menggairahkan para fotografer pemula untuk terus berkarya dan berkompetisi. Contoh kegiatan lomba terkait fotografi salah satunya; sekolah bisa saja menggelar lomba foto dokumentasi bagi murid-muridnya untuk meliput sebuah kegiatan, di sisi lain dengan memanfaatkan media sosial maka lomba tersebut juga dapat menjadi media amplifikasi kegiatan tersebut.

Lomba tersebut bisa diperluas menjadi lomba liputan jurnalistik, lomba dokumentasi video baik dalam bentuk vlog atau lainnya. Masih banyak macam lomba-lomba kreatif yang dapat digagas dengan mengedepankan kompetisi bakat, minat, kemampuan teknis dan semacamnya. 

Dalam pandangan saya, sekolah sebagai lembaga pendidikan mestinya tidak lagi menggelar lomba-lomba hiburan ala masyarakat seperti lomba makan kerupuk. Jika lomba fotografi dll tadi diperlombakan secara tim atau grup, maka gak perlu lagi sekolah menggelar lomba tarik tambang dan panjat pinang, karena nilai teamwork sudah tercakup dalam lomba beregu tadi.

Bagaimana? tidak sulit kan? Kalau tidak dimulai dari yang kecil, bagaimana mau memulai yang besar?