Liburan Akhir Tahun di Jogja Bikin Happy

28 November pagi saya berangkat dari Gambir dengan kereta Taksaka yang berangkat jam 08.30. Pemandangan sawah nan hijau mulai terlihat setelah melewati Bekasi, lalu kereta mampir di Cirebon, Purwokerto, Stasiun Kutoarjo (Purworejo) lalu tiba di Stasiun Tugu Yogyakarta sore sekitar jam 16:30. Ada yang bilang seharusnya Taksaka berhenti juga di Stasiun Kebumen, tapi seingat saya enggak, atau

14 Desember: Mengenang Balas Dendam 47 Ronin dari Ako

Saat Algernon Bertram Freeman- Mitford, Lord Redesdale pertama kali menerbitkan Tales of Old Japan pada tahun 1871, dia menghadirkan kepada para pembacanya salah satu cerita sejarah yang sangat dicintai di Jepang:" Insiden Ako", alias kisah 47 rōnin. Kisah yang berdasarkan kejadian nyata itu dimulai dengan kisah seorang penguasa daimyo di masa feodal Jepang, Asano Naganori/Asano Takumi no

14 Desember: Mengenang Balas Dendam 47 Ronin dari Ako

Saat Algernon Bertram Freeman- Mitford, Lord Redesdale pertama kali menerbitkan Tales of Old Japan pada tahun 1871, dia menghadirkan kepada para pembacanya salah satu cerita sejarah yang sangat dicintai di Jepang:" Insiden Ako", alias kisah 47 rōnin. Patung 47 Ronin di Ako Jepang.   Kisah yang berdasarkan kejadian nyata itu dimulai dengan kisah seorang penguasa daimyo di masa feodal Jepang,

Fajar Kristiono: Kalau Enggak Bisa Bokeh, Gue Main di Detail

Fajar Kristiono: Kalau Enggak Bisa Bokeh, Gue Main di Detail

Sabtu pagi 7 Desember 2019, saya berkesempatan menghadiri acara Marathon Workshop Fotografi yang digelar oleh Komunitas FOSE (Fotografi Secret) di Aeon Mall Cakung.  Dalam kesempatan ini saya menikmati banyak foto-foto anggota FOSE yang dipamerkan. Sayangnya saya hanya berkesempatan mengikuti workshop dari 1 pemateri dari 11 pemateri yang akan dihadirkan, yaitu materi "Lightning is easy" dari Kang Fajar Kristiono.
Pameran foto member FOSEdi Aeon Mall Cakung Desember 2019
Pameran foto member FOSE
Pada postingan sebelumnya: Marathon Workshop Fotografi Gratis Dari 11 Fotografer Kondang, saya sudah menyebutkan nama-nama ke-11 fotografer  yang menjadi pemateri dalam workshop fotografi tersebut. Beliau-beliau itu adalah Arbain Rambey, Hendra Lesmana, Ferry Ardianto, Rezki Sterneanto, Ully Zoelkarnain, Fajar Kristiono, WS Pramono, Dody S. Mawardi, Lateevhaq, Ridha Kusumabrata dan Darwis Triadi. 

Bagi yang belum kenal, Kang Fajar Kristiono ini adalah seorang fotografer profesional yang dikenal kerap mengabadikan karya fotografi portrait yang dramatis dan mengesankan. Prestasinya dalam bidang fotografi membuat salah satu merek kamera global memasukkannya dalam list "Sony Alpha Professional Photographer" bersama fotografer beken lain dari seluruh dunia. 

Pada hari kedua workshop yang akan digelar selama 3 hari ini, Kang Fajar bukan hanya memberikan workshop mengenai pencahayaan dalam fotografi, tapi juga berbagi cerita pengalaman untuk memotivasi fotografer pemula di antara para hadirin dan juga banyak berbagi tips memotret berdasarkan pengalamannya.

Kang Fajar Kristiono bercerita mengenai awal-awal ia belajar mengenal fotografi, bergabung dengan komunitas hingga akhirnya menjadi fulltime fotografer seperti sekarang ini. Awalnya ia terus mencoba memaksimalkan gear (peralatan memotret) yang dimilikinya, kemudian seiring perjalanan karir fotografinya yang makin berkembang, barulah ia meng-upgrade peralatan yang digunakan.

"Jangan terlalu terstigma dengan gear. Gue juga memulai dengan kamera dan lensa kit standar bawaan pabrik," ungkapnya memotivasi para hadirin. "kalau kamera gue enggak bisa bokeh, maka gue akan bermain detail".

Dimulailah eksplorasinya, bergabung dengan komunitas foto, mempelajari teknik-teknik fotografi secara otodidak hingga akhirnya memiliki style dan karakter yang ia rangkum dalam pelatihan-pelatihan fotografi dengan tema "Sense Of Color".

"Cari karakter foto yang berbeda lalu konsisten," ungkapnya ketika menjelaskan mengenai bagaimana ia membangun stylenya. "Harus berani egois sedikit dan berani mengajak model untuk berpose di lokasi yang berbeda, dan jangan ragu untuk mencetak hasilnya, agar kita tahu dan paham perbedaan tampilan di layar dan hasil cetaknya". Mengenai hasil cetakan itu menurutnya, juga bisa menjadi portofolio fisik yang bisa melengkapi portofolio online baik di media sosial atau di halaman-halaman internet.

Yang menarik dalam workshop ini Kang Fajar langsung mempraktekkan teori-teori yang telah ia sampaikan dan menjelaskan workflow yang sering ia terapkan. Baik memilih angle, mengukur kekuatan cahaya, setting-an kamera hingga di mana letak flash yang baik.
Praktek memotret dengan bantuan artificial lightning (flash)
Workflow atau langkah-langkah yang Kang Fajar lakukan dalam sesi pemotretan kalau tidak salah dengar, pertama-tama ia akan memotret landscape lokasi pemotretan tanpa model. 

"Kamera di-setting dengan ISO rendah agar foto tajam, dan angka aperture atau F yang besar agar foto lebih detail. Jika ISO dan F sudah dapat maka selebihnya untuk mendapatkan ambience yang sesuai cukup mainkan di shutter speed, jangan ubah setting-an ISO dan F."

Mendengar penjelasan lisan seperti itu, saya sebenarnya kurang paham apa yang dimaksud. Saya hanya mencatat dan menuangkannya kembali menjadi tulisan sambil meraba-raba apa sebenarnya yang dimaksud oleh Kang Fajar dengan penjelasan yang sangat teknis itu :)

"Kalau ada yang kurang jelas, materi-materi ini semua sudah ada di channel youtube gue," katanya. 

Ah, rupanya Kang Fajar sudah punya kunci cadangan untuk orang-orang awam yang baru belajar mengenal fotografi seperti saya.

Silakan berkunjung ke Youtube Kang Fajar, di sana ada 62 video yang bisa kita tonton untuk belajar lebih jauh mengenai materi-materi fotografi. Klik di SINI untuk berkunjung ke channel youtube beliau.

Setelah sesi materi selesai, Kang Fajar masih melayani pertanyaan-pertanyaan dari beberapa peserta yang memburunya hingga ke luar area acara. Dengan ramah beliau menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dan kembali memberikan tips-tipsnya. 

Yang sempat saya tangkap Kang Fajar bilang, "Hobi jangan terlalu pakai nafsu, musti dihitung benefitnya."  Nah, ini kena banget, saya yang baru kenal fotografi dan belajar motret rasanya mau beli ini itu, untung saja uang pas-pasan jadi gak kebeli deh gear yang mahal-mahal itu :D 
Kang Fajar Kristiono menjawab pertanyaan hadirin seusai materi
Kang Fajar Kristiono menjawab pertanyaan hadirin seusai materi
Terima kasih Kang Fajar atas pengetahuan dan tips-tipsnya. Terima kasih juga kepada Komunitas FOSE, APFI Bekasi sebagai pelaksana event dan juga para sponsor yang telah menjadikan workshop gratis ini terlaksana.

Salam


Berbagai Kemudahan Beli Tiket KAI di Traveloka

Kereta Api banyak dipilih masyarakat karena lebih aman, nyaman, dan terjangkau. Aman dalam artian memiliki jalur sendiri jadi tidak perlu ada macet atau berebut jalan dengan kendaraan lain yang bisa terjadi di alat transportasi darat lainnya. Kereta Api juga dinilai aman karena walaupun dalam kecepatan yang tinggi getaran yang ada didalamnya tidak terasa sehingga tidak mengganggu waktu

Belajar Sejarah dan Seni Budaya Mataram di Museum Ullen Sentalu Jogja

Museum Ullen Sentalu Jogja

"Dimohon untuk tidak memotret benda-benda koleksi museum."

Kata-kata dari pemandu tur saat awal memasuki Museum Ullen Sentalu ini sedikit mengganggu saya, tapi setelah tur museum selesai, saya memahami mengapa larangan memotret diberlakukan. Iya, saya memang melanggar peraturan dengan memotret beberapa obyek yang menarik saat pemandu sudah meninggalkan lokasi, seperti lukisan Dewi Rengganis yang cantik, Lukisan Tari Serimpi Sari Tunggal dan lain-lain, tapi kemudian saya menghapusnya saat meninggalkan museum :)
Jalan masuk Museum Ullen Sentalu Jogja
Pintu masuk ke Museum Ullen Sentallu Jogja
Museum Ullen Sentalu ini berada di utara kota Yogyakarta, tepatnya di Jalan Boyong KM 25, Kaliurang Barat, Sleman, Yogyakarta. Saat memasuki Ullen Sentalu, pemandu dengan lugas menerangkan bahwa nama Ullen Sentalu merupakan singkatan dari kalimat "Ullating blencong sejatine tataraning lumaku" yang bermakna "Pancaran cahaya lampu blencong menjadi petunjuk dalam melangkah dan meniti kehidupan". Kemudian ia menjelaskan bahwa lampu blencong adalah lampu untuk penerangan layar panggung saat pertunjukkan wayang kulit. 


Harga Tiket Museum Ullen Sentalu Jogja
Oh iya, tiket masuk Museum Ullen Sentalu di tahun 2019 sebesar Rp 40.000 untuk pengunjung domestik dewasa dan Rp 20.000 untuk anak. Untuk pengunjung mancanegara dewasa dikenakan biaya masuk sebesar Rp 100.000 sementara pengunjung mancanegara anak Rp 60.000. Museum Ullen Sentalu buka pada hari Selasa-Jumat pukul 08.30-16.00 WIB, Sabtu-Minggu pukul 08.30-17.00 WIB, dan tutup pada hari Senin.

Fasilitas di Museum Ullen Sentalu cukup lengkap. Berikut berbagai fasilitas Museum Ullen Sentalu:
  • Pemandu wisata yang sudah termasuk di harga tiket masuk;
  • Papan Informasi lengkap disetiap koleksi museum;
  • Denah komplek museum;
  • Toilet;
  • Ullen sentalu restaurant/Beukenhof Restaurant;
  • Toko suvenir MUSé Boutique;
Sepanjang tur museum, kata-kata ramah dan sopan terus saja mengalir menjelaskan dan menjawab pertanyaan pengunjung walau kadang pertanyaan-pertanyaan yang diajukan bernada tidak serius. Saya rasa pemandu ini mestinya seorang pemandu profesional yang benar-benar paham seluk beluk koleksi museum yang diresmikan pada 1 Maret 1997 ini. 

Pemandu tur wisata museum dapat menjelaskan dan menceritakan filosofi, sejarah dan menjawab sesuai konteks segala macam pertanyaan yang mencecarnya. Seperti saat pemandu menjawab pertanyaan, mengapa di dalam lukisan Tari Serimpi hanya dilakukan oleh satu orang penari saja, padahal Tari Serimpi selalu dimainkan oleh 4 penari?, yang kemudian dijawab bahwa lukisan Tari Serimpi Sari Tunggal itu melukiskan saat Gusti Nurul menari Tari Serimpi seorang diri (sehingga dinamai Tari Serimpi Sari Tunggal) dalam resepsi pernikahan Putri Juliana di Belanda pada tahun 1973. Pada saat itu Gusti Nurul pergi ke Belanda tanpa ditemani para pemain gamelan, sehingga beliau menari dengan diiringi musik gamelan yang dimainkan secara langsung dari istana Mangkunegaran, suara gamelan yang mengiringi Gusti Nurul menari di Belanda itu disiarkan oleh Solosche Radio Vereeniging lewat transmisi stasiun radio Malabar.

Namun kemudian pertanyaan lain muncul, mengapa dalam lukisan itu ada para pemain gamelan? Kalau tidak salah ingat, pemandu menjawab dengan jawaban diplomatis bahwa lukisan itu adalah karya seni interpretasi sang pelukis, bukan untuk memotret momen saat Gusti Nurul menari di Belanda yang diiringi suara gamelan dari Indonesia.

Saat keluar dari ruangan-ruangan museum, hawa pegunungan yang sejuk menggantikan hawa dingin dari pendingin ruangan (AC), sayup-sayup suara gamelan gending Jawa terdengar membuat suasana nyaman dan menenangkan. Berjalan menyusuri lorong sempit di antara dinding batu menuju ruangan berikutnya seperti memberi pengalaman melintas lorong rahasia dalam keraton, untuk memintas jalan biasa yang formal. 

Ruangan-ruangan lainnya berisikan koleksi batik khas keraton Yogya dan Solo, 3 ruangan dari 9 ruangan yang ada berisikan koleksi batik. Buat saya yang buta soal batik hanya mendengarkan penjelasan pemandu mengenai batik keraton Ratu Mas, batik pesisiran, peraturan penggunaannya, makna dari batik tersebut dan seterusnya. 
Museum Ullen Sentalu Jogja
Kolam teratai di dalam areal Museum Ullen Sentalu
Walaupun Museum Ullen Sentalu adalah museum khusus seni dan budaya Jawa yang menyimpan peninggalan dari zaman Kerajaan Mataram yang merupakan cikal-bakal Keraton Ngayogyakarta dan Kasunanan Surakarta, tapi ada satu ruangan yang isinya adalah surat-surat yang ditulis oleh para kerabat dan teman-teman GRAj Koes Sapariyam pada tahun 1939-1947. Ruang tersebut diberi nama Ruang Syair (Balai Sekar Kedaton). GRAj Koes Sapariyam konon dulunya lebih dikenal dengan sebutan Tineke, yang kisah cintanya tak direstui orang tua. Para kerabat serta sahabatnya banyak mengirim surat penyemangat untuknya, baik berbahasa Indonesia dan bahasa Belanda. Namun pada akhirnya, Putri Tineke ini melepas status ningratnya demi untuk mengejar cintanya. Mungkin sesuatu hal yang tidak lazim terjadi di masanya.

Ruang lainnya adalah Ruang Seni Tari dan Gamelan serta Ruang Putri Dambaan. Ruang Putri Dambaan menampilkan koleksi foto pribadi putri tunggal Mangkunegara VII, Gusti Nurul dari kecil hingga menikah. Semasa hidupnya, Gusti Nurul pernah hendak dipersunting oleh empat tokoh terkenal, yaitu Soekarno, Sultan Hamengkubuwono IX, Sutan Sjahrir dan Kolonel GPH Djatikusumo. Namun keempatnya ditolak, dan ia dengan yakin memilih sendiri jodohnya untuk menikah dengan seorang tentara berpangkat letnan kolonel yang bernama RM Soerjo Soejarso. Kisah ini juga mungkin hal yang tidak lazim di lingkungan kraton, sepertinya Gusti Nurul melawan tradisi perjodohan dan budaya nrimo seorang perempuan nigrat, entahlah...

Sebelum mengakhiri tur, di ruang terakhir setiap pengunjung akan disuguhkan wedang hangat khas keraton bernama Wedang Ratu Mas. Nama Ratu Mas diambil dari nama permaisuri Pakubuwono X yang dikenal cantik. Minuman ini mirip wedang jahe pada umumnya tapi dengan aroma pandan, konon wedang ini terbuat dari bahan-bahan seperti jahe, kayu manis, sereh, hingga pandan. Cukup untuk menghangatkan tubuh di tengah kesejukan hawa dataran tinggi Jogja.
Kalau generasi kini masih terus mengabaikan budaya, maka kelak relief Candi Borobudur itu bukan hanya miring... tapi ambruk.
Relief Candi Borobudur di Museum Ullen Sentalu Jogja
Relief miring Candi Borobudur simbol keprihatinan
Setelah mengakhiri tur yang kurang lebih memakan waktu 1 jam setengah, maka pengunjung akan tiba di sebuah area lapang yang pas untuk foto bersama dengan latar belakang replika relief candi Borobudur yang sengaja dipasang miring sebagai perlambang keprihatinan terhadap generasi sekarang yang abai terhadap budaya bangsanya. Pemandu menegaskan, kalau generasi kini masih terus mengabaikan budaya, maka kelak relief Candi Borobudur itu bukan hanya miring, tapi ambruk. Bagi saya itu lelucon satir yang menohok, entah kalau bagi Anda.

Ullen Sentalu benar-benar membuat saya "merasakan dan mengalami", pengalaman ini tidak akan bisa disampaikan melalui foto-foto yang secara sembunyi-sembunyi saya ambil. Akan lebih baik jika foto-foto itu saya hapus dan orang-orang melihat serta mendengarkan langsung penjelasan dari pemandu tur, sehingga pesan-pesan yang ingin disampaikan oleh pengelola museum ini akan tersampaikan dengan lebih lengkap. 

Overall, dengan "pengalaman" seperti itu, maka kalau saya tidak menghapus foto-foto koleksi  Museum Ullen Sentalu lalu kemudian memamerkannya di sosial media, maka saya telah menyabotase tujuan mulia berdirinya museum ini, dan telah berperan serta merubuhkan replika relief Candi Borobudur yang sekarang sudah miringSaya tidak mau seperti itu, saya yakin Anda pun demikian jika benar-benar mencintai seni budaya negeri ini :)

Datanglah dan upgrade wawasan serta pengetahuan Anda secara langsung, jangan dari foto-foto yang tersebar di sosial media. Mungkin itulah tujuan pihak pengelola museum melarang pengunjung untuk merekam penjelasan pemandu dan alasan pelarangan memotret koleksi museum.
Patung di Museum Ullen Sentalu Jogja
Patung di pintu keluar Museum Ullen Sentalu Jogja
Dari museum ini saya belajar sedikit sejarah Mataram, perjanjian Giyanti yang membagi Mataram menjadi Keraton Solo dan Keraton Jogja saat ini, serta tokoh-tokoh dan kehidupan pribadinya. 

IMO, museum ini sepertinya lebih fokus pada tokoh-tokoh perempuan dari kedua keraton itu. Enggak heran kalau ada yang beranggapan museum ini seperti museum yang mengabadikan pergerakkan perempuan keraton. Tapi itu hanya opini pribadi saja, bisa jadi kesan yang Anda dapatkan akan berbeda saat mengunjungi museum yang dikelola oleh Yayasan Ulating Blencong ini. ☺️ 

Salam dari Jogja yang selalu istimewa.


PAK JI


PAK JI
Kebayang enggak sih, saat kita merasa enggak punya salah, lalu tiba-tiba kita dijebloskan ke penjara selama puluhan tahun tanpa proses pengadilan selayaknya (untuk mendedahkan pembelaan), padahal tuduhannya sangat serius, dan tidak berdasarkan bukti akurat?

Pak Ji mengalaminya. Tak hanya menghuni Pulau Buru sebagai tahanan politik bersama Pak Pramoedya Ananta, tetapi hingga akhir hayatnya harus menanggung stigma PKI. Bayangkan, 54 tahun!

Pak Ji meninggal tanggal 4 Agustus, dan baru pada tanggal 15 Agustus 2019 datang Surat dari Komnas HAM yang menyatakan beliau tidak terlibat G30S/PKI! 
Sungguh ironi yang pahit...

Tetapi hidup memang penuh ironi, dan selalu begitu.

Dulu, kami meminta tolong Pak Ji menjadi tukang kebon kami. Gajinya Rp200.000,00 per bulan. Minimalis sekali. Makanya kami hanya memintanya "ngrumat" kebon kami seminggu dua kali.

Tetapi Pak Ji datang hampir tiap hari. Katanya enggak apa-apa, karena di rumah pun tidak banyak yang bisa dikerjakan. Dan kantor kami kebetulan mengontrak rumah di Nitikan Baru yang memiliki halaman belakang seluas 1.000 meter persegi. Kami membangun saung bambu beratap jerami, kandang kelinci, dan bercocok tanam aneka rupa.

Ternyata Pak Ji hobby membaca, setiap kali jam istirahat, atau saat kami tinggal untuk salat Jumat, beliau pasti memanfaatkan waktunya untuk melahap buku-buku di perpustakaan kami. Perpustakaan kecil saja, tapi koleksinya lumayan.

Yang membuat saya senang adalah karena Pak Ji tidak rewel masalah uang. Dikasih kerjaan tambahan tidak pernah menolak. Pokoknya enggak bikin bangkrut kantor lah... Maklum saya yang tugasnya jadi bendahara.

Selain di kantor, Pak Ji juga menjadi andalan saya saat membuka toko buku, salon konseling, butik batik, kaos sablon, hingga warung gado-gado. Saat kostan pacar saya bocor, Pak Ji juga yang mbenerin.

"Itu mbak Nova tadi berani naik ke atap, engga seperti mas Heri yang biasanya hanya berani megangin tangga di bawah..."

Sssttt... jaga sebagai rahasia ya, Pak Ji!

Lima tahun kemudian ketika kami menikah dan bisa mencicil rumah mungil di Bekasi, Pak Ji sempat bertandang ke rumah kami. Menginspeksi dan memberi masukan agar aliran udara lebih lancar.

Saat itu, kantor lama kami sudah bubar. Saya memutuskan jadi PNS. Dua orang teman mengambil S2 lanjut S3 di Inggris. Satu orang ambil S2 ke Belanda. Ada juga yang ambil S2 ke Malaysia. Dan beberapa orang memilih terjun ke politik praktis.

Setelah sekian lama, pertemuan dengan Pak Ji terasa canggung. Pak Ji sepertinya belum sepenuhnya mengerti mengapa anak muda idealis seperti saya kok bisa-bisanya mengabdikan diri menjadi PNS. Yang citranya tidak begitu baik. Dan, berseragam (yang ini tentu subjektif beliau, karena seragam mungkin diasosiasikan dengan kesewenangan).

Tapi Pak Ji memahami setelah saya sampaikan 2 alasan. Satu alasan tidak mungkin saya ungkap di sini, dan satu alasan lainnya, karena instansi yang saya masuki ini adalah instansi istimewa yang sepertinya serius dengan reformasi birokrasinya. Justru di sini saya punya kesempatan membuktikan bahwa stigma yang selama ini melekat bahwa PNS itu malas, berintegritas rendah, dan sifat negatif lainnya adalah keliru.

Pak Ji senang dan percaya bahwa saya akan berjuang untuk alasan kedua itu.

Dan itu adalah saat terakhir kami bertemu beliau.

PAK JI

Sebelum kabar duka itu, sebenarnya pernah pula saya dengar 2 kabar gembira. Bahwa beliau akan mengucapkan syahadat dan akan menikah.

Kabar pertama memang terjadi, tetapi kabar yang kedua sepertinya batal karena suatu alasan.

Hari ini tepat 3 bulan beliau berpulang. Semoga jiwamu tenang di sana, Pak Ji. Semoga di sana ada jawaban atas semua ketidakadilan yang terjadi di dunia ini...

Dan ya, meskipun hanya sebentar mengenalmu, kisahmu telah menguatkanku. Seperti saat ini, saat aku merasa dunia tak adil kepadaku.

Pak Ji sudah membuktikan bahwa guncangan luar biasa kaleng Khong Guan tidak menghancurkan rengginang di dalamnya.

Yang aku hadapi hanya guncangan kecil semata. Yang hanya akan merontokkan beberapa butir rengginang.

Dan aku akan menjadi rengginang yang kuat. Bukan rengginang rapuh, apalagi remah-remahnya.

Terima kasih, Pak Ji!
I love you full!

-----------
Penulis: Heri Winarko. 
Selasa, 4 November 2019.


Marathon Workshop Fotografi Gratis Dari 11 Fotografer Kondang

Marathon Workshop Fotografi Gratis Dari 12 Fotografer Kondang

Siap-siap, Ada Marathon Workshop Fotografi Gratis Dari 12 Fotografer Kondang

Komunitas FOSE (Fotografi Secret) kembali menggelar event fotografi terbesar di penghujung tahun 2019 ini. Tidak tanggung-tanggung, Marathon Workshop Fotografi Gratis Dari 12 Fotografer Kondang, Talkshow 12 tokoh Fotografer nasional, Pameran Foto, Lelang & Charity, Karnaval Budaya, Lomba Foto Model Pro, Lomba Foto Instagram dan sebagainya ini akan dihelat selama 3 hari, 6-8 Desember 2019 di Main Atrium AEON Mall Cakung, Jakarta Timur.

Komunitas FOSE (Fotografi Secret)

Sebelum lanjut, yuk kita kenalan dulu dengan FOSE. Komunitas FOSE (Fotografi Secret) adalah sebuah komunitas fotografi online di Telegram Group dengan nama akun @fotografisecrets dan memiliki galeri karya di Instagram @fotografisecret. Fose dibentuk pada tanggal 2 Juli 2017 oleh beberapa pemuda pecinta fotografi antara lain Bang Yan, Mbak Tarini dan kawan-kawan, saat ini anggota grup Telegram FOSE mencapai 1600 member aktif dari seluruh Indonesia.

Mengenai pameran foto hasil karya anggotanya, event ini adalah event ke-2 setelah pada tahun sebelumnya FOSE melaksanakan pameran foto dan workshop terkait fotografi dengan narasumber Roy Genggam pada 21-23 September 2018 di Mangga Dua Square, Jakarta Utara.

Foshare Day Marathon Workshop Fotografi

Foshare Day Marathon Workshop Fotografi ini akan menghadirkan 12 tokoh Fotografer nasional yang akan mengisi workshop dan talkshow, nah siapakah mereka?. Berikut 12 pemateri Marathon Workshop Fotografi, yaitu Arbain Rambey, Hendra Lesmana, Ferry Ardianto, Rezki Sterneanto, Ully Zoelkarnain, Fajar Kristiono, WS Pramono, Dody S. Mawardi, Lateevhaq, Ridha Kusumabrata dan Darwis Triadi. 

Pastinya masing-masing pemateri akan berinteraksi dengan pengunjung membahas berbagai isu tentang fotografi sesuai dengan keilmuan serta pengalaman narasumber yang tidak diragukan lagi kapasitasnya ini.

Lomba Foto Konsep Top Model Indonesia

Lomba Foto Konsep

3 Konsep berbeda;
Lomba foto ini akan mengambil 3 tema berbeda, yaitu;
1. Star Wars
2. Jumanji
3. Charlie's Angels

Acara juga akan dimeriahkan dengan lomba foto yang akan diadakan selama 2 hari pada tanggal 6 - 7 Desember bersama 9 Top Models Indonesia.

Jumat, 6 Desember 2019
1. Baby Margaretha @babymargaretha1
2. Karlin @karlin.h
3. Regita Kremer @regitakremer
4. Sandra Yunita @sandrayunita_
5. ⁨Novilia Annisa @noviliaannisaa

Sabtu, 7 Desember 2019
1. Jessica Wongso @jessysilanawong
2. Indri Mohana @yujinmohana
3. Adelia Zizi @adeliazizi9
4. Mira Persia @mirapersia
5. Sandra Yunita @sandrayunita_

Lomba Foto ini akan memperebutkan Hadiah dengan total nilai 12 juta rupiah;

Juara I
1 paket Visico VL 400, Terdiri dari :
2 pc Visico VL 400.
2 pc softbox 50x70cm.
2 pc light stand LS 8005.
1 pc trigger 816.
1 pc travel bag.

Juara II = 1 pc Visico speedlight VS 765 for Canon.

Juara III = 1 pc Digitec flashbot DBF-001 asesoris flash diffuser.

More BONUS by Focus Nusantara:
> Thinktank my 2nd brain Tablet.
> Thinktank my 2nd brain Laptop 15".

Registration 275K / day
Via Cheers App 250K / day
On the spot 300K / day
Kuota terbatas untuk 100 peserta.

Info lebih lanjut mengenai lomba foto, teman-teman dapat menghubungi: Hye Sin 0857 7539 3211 atau Tita 0878 8003 2090.

karnaval parade budaya kostum nusantara foto model MUA

Hal menarik lainnya adalah sesi Parade dan Karnaval Budaya yang dipersembahkan oleh Rumah Photo MUA Model (RPM) yang akan menampilkan sekitar 20 model dengan memakai kostum berwarna-warni ala Karnaval Jember. Semua model akan bergaya dan melintas di catwalk serta berinteraksi dengan pengunjung selama acara. Sesi pemotretan para model berbusana karnaval akan dilaksanakan pada akhir acara. 

Tentunya ini akan menjadi kesempatan hunting foto yang sangat menarik bagi para penggemar fotografi.

Jangan sampai terlewat yah :)


JODOHKU

Kulihat kalender... hhhmm... "Besok gue ultah, pas 30 tahun. Tapi kenapa gue belum ketemu jodoh yang pas ya?," kata gue dalam hati.

"Bukan ga ada yang mau, tapi setiap wanita yang mendekat, belum ada yang bisa membuat hati gue berdesir dan jantung berdegup kencang...."

"Rud... Rudi... ntar malem nongkrong yuk,!" teriak Tony yang seketika membuyarkan lamunan gue.

"Males aah Ton… loe aja deh sana!."

"Aaahh... besok weekend ini! Ayolah… siapa tahu ketemu jodoh di sana," cibirnya.

Jam tangan menunjukkan pukul 18.00, kami pun bersiap pulang.

"Rud... buruan ya, gue tunggu di bawah!," teriak Tony.

"Seep...," jawab gue singkat.

Pretetetetet... pretetetetet... aaaahhhh, suara knalpot ini yang gue benci sebenarnya, salah satu alasan kenapa gue males pergi dengan Tony.

"Ruuddiiii... buruan ooiiii, lelet bener seeh loe Rud!," teriak Tony.

"Weew... teriakan Tony secempreng knalpot motornya," bisikku dalam hati setengah tertawa. Ga lama, duo cempreng inipun membawa gue entah ke mana... pretetetet... bbllaaarrr!

Ga berapa lama motor Tony parkir di sebuah tempat yang entah apa namanya ini... pretetetet… pretetetet.

"Ton...ini tempat apaan sih, parkirannya luas kek lapangan bola."

"Loe liat aja ntar Rud... ini tempat tongkrongan gue yang baru, parkir di sini juga gratis, yuk masuk."


kopi kafe jodohku
Foto by: Salman Faris 
"Hai Mas Tony!," sapa seorang wanita yang diapit 2 wanita keren lainnya, ketika kami membuka pintu. Weeww… hebat juga Tony, disapa wanita sekeren itu.

"Ton… bisa aje loe dikenal sama mereka?."

"Rud… pemilik café ini adalah Drupadi-nya kopi, ini yang bikin gue betah nongkrong di sini, pemiliknya anggap tamunya sebagai temen… keren, kan?."

Gue manggut-manggut dan berusaha mencari posisi duduk ga jauh dari pintu masuk supaya bisa menyapu setiap sudut bangku. Siapa tahu ada mahkluk manis yang menggetarkan hati gue dan ketemu jodoh.

"Aah siiaaallll! Kemakan omongan Tony gue," senyum kecutku dalam hati.

"Rud… udah gue order ya minumannya," suara cempreng Tony membuyarkan angan gue.

"Thanks, Ton…"

Ga berapa lama, minuman kami datang… hhhmm aroma karamel membuat lidah gue menari-nari berebut dengan ludah.

"Tony… minuman apa ini? Aromanya….beeuugggh…sekksssiiihhh!."

"Hot Crème Brulle," jawab Tony singkat.

Saking penasaran dengan aroma yang begitu menggoda, ssllruuppp... Creme Brulle yang masih hot ini gue seruput.

"Aauuww… panas," pekik gue dalam hati, sambil kipasin tangan di depan lidah… daaamnnn, malu gue. Tanpa gue sadar di ujung sana ada mahkluk manis yang sedang ngeliatin gue, makin tengsin lah gue.

"Hati-hati, Mas… masih panas," ujarnya di antara senyuman manisnya.

Beeuugghhh, baru kali ini gue ngerasa kikuk… jantung gue deg-degan, aaahh apakah ini pertanda? Tapi gue terlanjur malu... daammmnn. Sedangkan Tony, hanya bisa nahan ketawa di depan gue.

Tapi aaah sudahlah… bodo amat deh, godaan hot crème brulle ini lebih besar dibandingkan rasa malu. Karena masih penasaran, sedikit demi sedikit gue suap Hot Crème Brulle menggunakan sendok ke ujung lidah.

Hhhmm, rasa crème-nya yang lembut berpadu dengan karamel di atasnya memang memanjakan lidah. Sendok demi sendok gue nikmati walau tanpa gue sadari wanita itu sesekali mencuri pandang.

"Rud… Rudi, yang di pojok itu Rud… ngeliatin loe terus… kesempatan Rud," kata Tony.

"Hhhmm… apa sih Ton, biarin aja… lha wong dia punya mata kok," bibir gue pun terus-terusan monyong niupin Crème Brulle supaya ga terlalu panas masuk mulut. Gue beneran ga mau lepasin Crème Brulle dari lidah, gue ga rela kalau Crème Brulle ini dingin sebelum menyentuh lidah gue.

"Rud… dia ngajak senyum Rud."

"Aahh… bawel loe Ton, balesin aja senyumnya, gitu aja kok repot."

Aahh tinggal dikit lagi nih, sayang dilewatkan dan gue harus buru-buru habisin sebelum Crème Brulle ini dingin. Slrruuppp… sisa diujung gelas pun gue tenggak… glek…glek… beeuugghhh… drruuaaarr bener rasanya!.

"Ton…. mana cewek yang tadi, yang ngajak senyum gue? Ke mana dia?."

"Pertanyaan loe basi, Rud. Baru aja dia pergi."

"Aaarrrgghhhhhh... Ton! Besok malem ajak gue ke sini lagi ya? 
Gantian gue yang traktir, siapa tau ketemu sama Mba yang tadi lagi..."

____________
Narablog: Tarie
Editor: Rizky Nur Zamzamy

#Just DruIt #DruKopi


Kunjungan Nuge City Tour ke Rumah Pelangi Bekasi

Kunjungan Nuge City Tour ke Rumah Pelangi Bekasi
Minggu sore, 27 Oktober 2019 cuaca di sekitar TBM Rumah Pelangi Bekasi langit tampak cerah untuk aktivitas luar ruang. Kontras dengan hujan deras yang saat itu turun di beberapa wilayah Kota Bekasi. 

Diana, Pipit dan Najiah, ketiganya adalah korlas (koordinator kelas) tampak sedang mempersiapkan adik-adik Rumah Pelangi (Rungi) untuk melakukan sambutan atas kedatangan rombongan tur kota (City Tour) bertajuk "Nyok ke Bekasi".

Menyambut Rombongan Nuge City Tour ke Rumah Pelangi Bekasi

Di depan gapura Rumah Pelangi, dua barisan yang masing-masing terdiri dari 10 orang adik-adik Rungi berdiri saling berhadapan dan bersahutan berbalas pantun lalu kemudian menyanyikan lagu sambutan bersama-sama. Riuh rendah suara tawa dan teriakan ceria adik-adik inilah yang mengundang beberapa warga untuk datang.

Rombongan tur kota datang dan ikut bernyanyi, lalu saling bersalaman dan berkenalan singkat untuk kemudian masuk ke Rumah Pelangi untuk memulai Fun Games yang akan dibawakan oleh kakak-kakak dari NUGE. Bunda Naomi Tobing dari Marketing Division PT Nuge Anugrah Indonesia yang memimpin rombongan tampak antusias menyalami semua adik-adik dan cepat berbaur bersama dalam sesi Fun Games dalam ruangan kelas Rumah Pelangi. Tampak pula dalam rombongan Imam Pesuwaryantoro inisiator nyanyur.id dan Mbak Nia Julpiah sekretaris PT Nuge.
Kunjungan Nuge City Tour ke Rumah Pelangi Bekasi
"Kalau pantun diadaptasi dari pantun-pantun seni Palang Pintu, tapi tidak pakai atraksi silat. Untuk lagu diadaptasi dari lagu-lagu yang biasa dinyanyikan saat kegiatan Pramuka" ungkap Diana yang sudah menjadi koordinator kelas sejak Rumah Pelangi terbentuk tahun 2016 lalu.

Sebelumnya, Diana dan rekan korlasnya beberapa kali mengubah skenario penyambutan sesuai dengan ide yang berkembang dan masukan-masukan dari adik-adik serta orangtua dan warga yang ingin melihat kegiatan di Rumah Pelangi.

Muhaidin Darma selaku inisiator TBM Rumah Pelangi mengaku tidak ada persiapan khusus buat adik-adik baik dari segi pakaian dan lain-lain, latihan penyambutan pun baru dilakukan pada saat itu.
"Untuk adik-adik kami kondisikan agar mereka berani tampil apa adanya, ini baik untuk rasa percaya diri mereka agar mereka berani tampil dengan mengedepankan kreativitas dan kebersamaan."


Bermain dan Belajar

Tidak butuh waktu lama, adik-adik Rumah Pelangi dengan cepat beradaptasi dan beraktivitas bersama rombongan wisata kota yang diselenggarakan oleh PT Nuge Anugrah Indonesia dan Dinas Pariwisata dan Budaya Kota Bekasi ini. Sesi Fun Games dan tanya jawab berlangsung cepat, 
Kunjungan Nuge City Tour ke Rumah Pelangi Bekasi
Adik-adik Rumah Pelangi sudah terbiasa menerima pihak lain yang ingin belajar dan bermain bersama mereka. Terlebih Rumah Pelangi adalah rumah mereka sendiri, sehingga saat diminta untuk bermain bersama semua mengalir dengan suasana gembira dan alami. Faktor pembeda seperti bahasa, usia dan lain-lain mencair dalam tawa canda ceria.

Baik kegiatan dalam ruang dan luar ruang sarat dengan spontanitas yang menghibur, proses belajar dan bermain lancar hingga acara selesai. belajar dan bermain bersama warga negara asing dalam keceriaan. Tentunya ini menjadi sebuah pengalaman yang berkesan buat adik-adik di Rumah Pelangi. 

Kegiatan tur kota "Nyok ke Bekasi" pada hari Minggu itu adalah rangkaian kegiatan yang mendatangi beberapa lokasi, antaranya Lagoon Avenue Bekasi, Kantor Wali Kota Bekasi, Hutan Bambu, Batik Antique Unique, TBM Rumah Pelangi Bekasi dan Mitra Pegadaian Bekasi. 

Keceraan Nuge City Tour ke Rumah Pelangi Bekasi

Menurut Fahreza Anugrah Putra, Direktur PT Nuge Anugrah Indonesia, TBM Rumah Pelangi Bekasi menjadi destinasi tur kota karena sejalan dengan salah satu misi Community Development PT Nuge Anugrah Indonesia yaitu membangun kesadaran tentang perlunya memberikan pelayanan yang tepat dalam pemenuhan kebutuhan pendidikan.

Menurutnya, Taman Baca Masyarakat Rumah Pelangi Bekasi merupakan sebuah tempat yang dapat menjadi bagian dalam pembentukan pendidikan karakteristik kepada anak usia dini, sehingga membantu pertumbuhan dan perkembangan proses belajar anak.

"Oleh karena itu, Nuge ingin menjadi bagian dari proses pendidikan karakter tersebut, sehingga dapat menyesuaikan kebutuhan dan kondisi masing-masing anak dengan menanamkan nilai-nilai intelektual, emosional dan sosial," ungkap finalis Abang Mpok Kabupaten Bekasi tahun 2011 ini.

Kunjungan Nuge City Tour ke Rumah Pelangi Bekasi

Ridwan Maliki, salah seorang relawan TBM Rumah Pelangi sebelum acara berlangsung sudah merasa yakin acara tersebut akan berjalan lancar.

"Rungi sudah sering melakukan kegiatan sosial dan kegiatan lainnya yang dikemas menarik dan kreatif, memilih Rungi sebagai salah satu destinasi tur kota pasti akan membuat pengunjungnya berkesan, interaksi dan suasananya unik, pokoknya masih Bekasi banget" ungkap Ridwan yang kini sedang merintis profesi MC profesional.

Taman Bacaan Masyarakat Rumah Pelangi (Rungi) adalah Perpustakaan Umum, Taman Bacaan Masyarakat (TBM) dan Wadah Pembelajaran Kreatif Warga terletak di Kp Babakan Kali Bedah Desa Sukamekar RT 001 / 011 , Kecamatan Sukawangi, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.

Website:  https://www.pelangibekasi.com
Instagram: https://www.instagram.com/rumahpelangibekasi
Facebook: https://www.facebook.com/rumahpelangibekasi