Numpang Ngopi di Acara Silaturahmi dan Tasyakuran Pelantikan Obon Tabroni

Tasyakuran Pelantikan Obon Tabroni sebagai anggota DPR RI 2019-2024
Silaturahmi dan Tasyakuran. (Foto: Ocha Hermawan)  
Suasana kekeluargaan yang akrab dan hangat mengisi acara Silaturahmi dan Tasyakuran atas dilantiknya Obon Tabroni sebagai anggota DPR RI 2019-2024, Sabtu 5 Oktober 2019. Banyak hadirin yang datang membawa keluarga dan anak-anak untuk sekalian menikmati suasana objek ekowisata Taman Limo yang asri. Saung-saung, spot permainan, warung-warung hingga tempat parkir penuh terisi.

Di sisi lain, Silaturahmi dan Tasyakuran ini juga menjadi ajang reuni para relawan dan Sobat Obon dari berbagai lokasi, baik dari Bekasi, Karawang dan Purwakarta. Dalam suasana santai, sebagian teman-teman relawan yang "menghilang" dan tidak bertemu lagi sejak event pilkada Bekasi Februari 2017 lalu dan juga disibukkan dengan pileg dan pilpres kemarin, kini kembali berkumpul.

Ya, bagi saya momen tasyakuran ini seperti oase yang menyejukkan dan menghidupkan kembali api harapan "Bekasi Yang Baik dan Benar" yang sempat redup. Gerakan politik rakyat dan Buruh Go Politik yang sempat patah semangat setelah menelan pil pahit kekalahan saat kontestasi pilkada, kini kembali bergairah. 

Mungkin terlalu dini kalau mau mengklaim bahwa ini adalah keberhasilan bersama gerakan buruh go politik dan gerakan partisipasi politik warga, tapi bagaimanapun keberhasil ini patut diapresiasi guna merawat semangat perjuangan buruh dan warga yang terikat dalam persaudaraan ini agar terus melanjutkan perjuangannya dalam bingkai demokrasi.

Obon Tabroni sadar akan kekuatan persaudaraan tersebut, dalam sambutannya ia menyampaikan agar semua tetap menjaga silaturahmi sebagai modal kekuatan untuk terus bergerak.

"Persaudaraan dan pertemanan kita terlalu mahal untuk disia-siakan dan diabaikan, jalinan ini jangan pernah putus. Persaudaraan dan pertemanan jangan hilang hanya karena persoalan-persoalan kecil, jika kita kuat kita dapat melakukan banyak perubahan kalau kita terus bersama-sama," ucap Bang Obon dari atas panggung.
Tasyakuran Pelantikan Obon Tabroni sebagai anggota DPR RI 2019-2024
Bang Obon dan Bunda Uun (Foto: DAF) 
Silaturahmi yang terjalin ini merupakan sinergi kekuatan relawan yang datang dengan berbagai latar belakangnya. Gotong royong dan kerjasama ini, memang idealnya mensyaratkan individu-individu yang berkualitas dalam bidangnya masing-masing sehingga mampu membuka pintu-pintu peluang dan memanfaatkan segala kesempatan yang ada dengan sebaik-baiknya. Namun Bang Obon tidak menutup pintu untuk siapapun yang ingin belajar dan bergerak bersamanya, karena pada dasarnya setiap orang memiliki potensi yang bisa dikembangkan.

Kita semua punya potensi yang luar biasa, namun karena rasa tidak percaya diri, kita bisa menjadi orang yang gagal

"Kita semua punya potensi yang luar biasa, namun karena rasa tidak percaya diri, kita bisa menjadi orang yang gagal. Mari kita jadikan keberhasilan hari ini menjadi inspirasi, kalau kita fokus, banyak belajar, memiliki keinginan yang kuat, giat bekerja keras dan terus bergerak, maka apa yang tidak mungkin akan menjadi mungkin," ucap Bang Obon Tabroni menyemangati hadirin.

Tidak ketinggalan, Uun Marpuah yang biasa disapa Bunda Uun juga menyemangati para hadirin untuk tetap berusaha dan pantang menyerah.

"Luar biasa, terima kasih teman-teman semua. Ini bukan karena saya atau suami saya (Obon Tabroni) tapi karena kerja keras teman-teman semua. Semua proses dan masalah sudah pernah kita hadapi bersama-sama, alhamdulillah hari ini kita semua berada di sini. Tidak ada yang tidak mungkin selama kita mau berusaha dan mencoba insya Allah segala sesuatu akan terjadi, amiin. Karena musuh terberat kita adalah diri kita sendiri."

Kalau dari tulisan, kutipan-kutipan dari Bang Obon dan Bunda Uun itu seperti sambutan yang serius, tapi sebenarnya sambutan ini banyak diselingi canda yang membuat suasana tetap khidmat namun santai.
Tasyakuran Pelantikan Obon Tabroni sebagai anggota DPR RI 2019-2024
Ngopi bareng Bang Obon Tabroni (Foto: Fai) 
Malam seusai tasyakuran, Bang Obon masih sempat berkeliling mendatangi dan menemui hadirin yang belum pulang. Saat mendatangi kami yang sedang menikmati suasana malam minggu di salah satu saung, ia menyampaikan kembali apa-apa yang sudah ia pernah sampaikan sebelum-sebelumnya. Isu-isu terkini tentang Bekasi mengalir lancar, masalah kekeringan di sebagian wilayah Bekasi juga ia singgung agar menjadi perhatian.

"Saya terus memantau pergerakkan teman-teman semua, yang di Jamkeswatch, yang di OTC dan lain-lain, teruslah bergerak untuk membantu masyarakat sebisa mungkin, masih banyak PR dan masih banyak yang bisa kita lakukan bersama-sama untuk Bekasi ini."

Malam semakin larut, setelah Bang Obon dengan gayanya yang non formal menyampaikan harapan-harapan dan menguatkan tekad teman-teman agar dapat berpartisipasi positif, ia pamitan, lelah jelas terlihat dari wajahnya. Saat melangkah meninggalkan kami, saya teringat kata-kata yang tertulis dalam poster di status salah satu akun halaman facebook.

"Perjalanan baru siap ditempuh. Tugas baru siap diemban. Medan berbeda, tapi untuk perjuangan yang sama. Tolong ingatkan saya jika saya lupa, tegur saya jika saya melenceng dan topang saya jika saya terseok." - Obon Tabroni

Istirahat bang, jaga kesehatan, semoga kami bisa mengimbangi semangat dan kerja keras abang untuk mengabdi, khususnya untuk Bekasi ini.

Sabtu, 5 Oktober 2019 @ Taman Limo Jatiwangi Bekasi.


Nyaman berkereta dari Semarang ke Surabaya

Nyaman berkereta dari Semarang ke Surabaya
Pramugari Kereta Api | Foto Jurnal Media Indonesia
Berbagai tujuan daerah di pulau Jawa sudah aku tempuh menggunakan kereta api. Apalagi dengan perubahan wajah kereta api seperti sekarang ini. Dari kelas ekonomi hingga eksekutif tidak ada gap yang terlalu jauh. Semua rangkaian kereta sudah menggunakan pendingin udara (AC) dan jumlah penumpangnya pun sesuai dengan jumlah kursi yang tersedia, sehingga tidak ada penumpang yang berdiri

Semua yang ada sudah sangat jauh berbeda jika kita bandingkan dengan wajah kereta api masa lalu. Maka tak heran, jika sekarang kereta api menjadi salah satu wahana transportasi yang populer dan menjadi favorit karena fasilitas dan layanannya. Meskipun sudah beberapa tahun berlalu, layanan dan fasilitas kereta api baik di stasiun maupun di dalam rangkaian tidak berkurang, justru terus meningkat. Seperti yang aku rasakan beberapa waktu lalu ketika aku bepergian dari Semarang ke Surabaya. 

Bepergian naik kereta saat ini sudah tidak perlu khawatir macam-macam, sekalipun jarak tempuh menggunakan kereta lebih lama, tapi aku merasa lebih aman dan nyaman dibandingkan naik pesawat terbang. Mungkin karena takut ketinggian atau mungkin juga karena sudah terbiasa setiap hari menggunakan moda transportasi KRL. Selain itu, alasan berhematlah menjadi alasan utama, karena tiket kereta lebih murah dibandingkan tiket pesawatCoba pastikan harga tiket kereta Semarang Surabaya, harganya jelas masih lebih terjangkau daripada harga tiket pesawat.

Meski aku memilih kelas ekonomi menggunakan KA Ambarawa Ekspres namun fasilitasnya serasa berada di kereta eksekutif. Betapa tidak, meski menggunakan kursi ekonomi, tetapi bisa diubah sendiri sandaran kursinya, layaknya kursi kereta eksekutif. Setidaknya, fasilitas ini membuatku nyaman menempuh perjalanan sekitar 4 jam lebih dari stasiun Semarang Poncol menuju stasiun Pasar Turi Surabaya. FYI, perjalanan dari Semarang (Poncol) hingga ke Surabaya (Pasar Turi), KA Ambarawa Ekspres akan berhenti di 8 (delapan) stasiun, yaitu Semarang Tawang, Ngrombo, Kradenan, Randublatung, Cepu, Bojonegoro, Babat, dan Lamongan.

Sejuknya udara di dalam rangkaian juga semakin menambah kenyamanan dalam melakukan berbagai aktivitas di dalam kereta. Sudah gitu, masing-masing kursi juga dilengkapi dengan colokan listrik yang umumnya digunakan untuk men-charge hp. Jadi, enggak perlu panik ketika baterai hp mulai kehabisan daya. 
Nyaman berkereta dari Semarang ke Surabaya
Charger dalam gerbong kereta | Foto: indoinspector.blogspot.com
Layanan kereta juga tidak sampai di situ sebatas fasilitas rangkaian saja, namun layanan dari para crew yang patut diacungkan jempol. Ketika aku melihat AC di atasku bocor sedikit, aku segera laporkan ke petugas yang lewat. Tak lama kemudian, petugas datang menghampiri dan langsung melakukan perbaikan. Taarrraaa.....AC ku kembali normal dan akupun kembali duduk dengan nyaman. 

Kebersihan di dalam rangkaian dan khususnya di dalam toilet selalu terjaga dengan baik. Air selalu mengalir dari keran yang tersedia, dilengkapi dengan hand wash dan tissue. Closed-nya pun dilengkapi dengan tombol flush, jadi tidak meninggalkan jejak bau yang tak sedap. Dulu...aku selalu menahan buang air kecil jika bepergian menggunakan kereta, tapi sekarang tidak lagi.

Jika perut keroncongan pun, kita tinggal memesan makanan/minuman melalui crew. Berbagai pilihan menu tersedia dan tinggal pilih. Meskipun harganya lebih tinggi dibandingkan harga di warung, tapi cukup worth it-lah dengan layanan yang didapat.

Meskipun masing-masing kelas (ekonomi, bisnis, eksekutif) ada nilai tambah dalam hal layanan, namun layanan standar yang diberikan memang jauh lebih manusiawi dibandingkan dulu. Tak ada lagi, penumpang yang berdiri, tak ada lagi WC jorok, tak ada lagi kereta yang jendelanya terbuka, tak ada lagi kereta yang berbau apek, pesing dan lain-lain. Maka tak heran jika kereta menjadi idola masyarakat sekarang. Dengan  semua fasilitas dan layanan yang ada di kereta Ambarawa Ekspres ini menjadikan penumpangnya nyaman senyaman di rumah sendiri.


Bagaimana Cara Mencari Modal Usaha Tanpa Pinjam di Bank? Simak Rahasianya Yuk!

Rahasia Mencari Modal Usaha Tanpa Pinjam di Bank

Usaha merupakan pekerjaan yang digemari oleh sebagian besar orang karena memiliki berbagai keuntungan yang dapat memudahkan kehidupan. Dengan membuka usaha sendiri, Anda akan memiliki banyak waktu dengan keluarga maupun orang terdekat. Anda juga dapat bekerja dengan jangka waktu sesuai keinginan karena Anda merupakan pemilik.

Selain itu, Anda juga akan membuka lapangan kerja bagi masyarakat sekitar yang sedang mencari pekerjaan. Hadinya usaha Anda dapat memberikan angin segar bagi mereka yang membutuhkan pekerjaan. Meski begitu, tentunya Anda harus memiliki produk usaha yang diterima di masyarakat.

Setelah memperoleh produk yang tepat untuk dijual, pastinya Anda membutuhkan modal sebagai penggerak utama jalannya bisnis. 

Kini berbagai jenis bank serta pinjaman online memberikan banyak kemudahan bagi Anda untuk meminjam. Sayangnya, bunga yang harus dibayarkan juga lebih banyak dan membuat Anda tertekan pula.

Bagaimana Cara Mencari Modal Usaha Tanpa Pinjam di Bank?

Bagaimana cara mencari modal usaha yang tepat tanpa meminjam uang di bank? Simak ulasannya tipsnya berikut ini (disarikan dari situs keuangan Duwitmu.com).

Sisihkan Sebagian Gaji untuk Modal Usaha

Anda dapat menyisihkan dana dari gaji yang diperoleh dalam bekerja. Ketika Anda bekerja di bidang tertentu, pasti memiliki gaji setiap periode tertentu biasanya satu bulan. Tabungkan sebagian dari gaji yang Anda peroleh untuk dijadikan modal usaha. 

Selain itu, dana lain bagi Anda yang masih kuliah Anda dapat secara rutin menyisihkan uang saku dari orang tua juga dapat ditabung sebagai modal usaha. Dalam hal ini Anda harus menyisihkan sebagian bahkan semua uang saku yang Anda miliki agar modal usaha Anda semakin cepat terkumpul dan usaha yang Anda inginkan segera berjalan.

Jual Barang yang Tidak Berguna

Jika Anda memiliki banyak barang dirumah yang tidak digunakan secara maksimal, jual saja. Saat ini terdapat fasilitas prelo atau menjual barang bekas yang dapat menjadi sumber untuk modal usaha yang Anda idamkan. Anda dapat melakukan penjualan dengan sistem online maupun offline.

Buka Usaha Jasa Sampingan Tanpa Modal

Selain itu, jika memiliki waktu luang, gunakan tenaga Anda untuk membuka jasa. Anda tentu memiliki lingkungan dengan berbagai background yang memiliki berbagai kepentingan pula. Kesibukan yang dimiliki oleh orang-orang di lingkungan Anda dapat menjadi sasaran empuk untuk mencari modal usaha. Tawarkan bantuan pada orang-orang tersebut agar Anda memperoleh upah dari mereka.

Mengikuti Lomba Sesuai Passion untuk Mendapatkan Hadiah

Berapapun usia Anda saat ini, dapat memperoleh dana dari program kreatif seperti lomba yang diadakan secara gratis namun memberikan hadiah yang fantastis. Anda dapat melihat dimana kemampuan yang paling Anda kuasai kemudian ikutilah lomba yang diadakan oleh berbagai instansi maupun perseorangan. Banyak sekali peluang jika Anda mengikuti berbagai lomba.

Saat ini banyak sekali lomba yang diadakan secara online maupun offline dalam bentuk lomba membuat blog, video, karya ilmiah, penelitian, jurnal, buku, dan lain sebagainya. Jika Anda memiliki kemampuan di bidang tulisan, Anda dapat mengikuti berbagai lomba tulisan yang tersedia. Namun jika Anda lebih menyukai bidang akademik seperti penulisan karya ilmiah dan lain sebagainya, kemudian ikutilah lomba yang disediakan dalam bidang tersebut.

Cari Partner Bisnis untuk Join Modal Usaha Bersama

Selain itu, disini Anda juga dapat mencari orang yang memiliki satu visi serta keinginan usaha yang sama untuk dijadikan sebagai rekan bisnis. Pada dasarnya setiap orang pasti memiliki keinginan untuk membuka usaha sendiri, namun tergantung dimana letak keseriusan orang tersebut dalam membuka usaha.

Dengan menemukan rekan bisnis ini, Anda akan terbantu dari segi finansial maupun dari segi menjalankan usaha. Dengan bekerjasama dengan teman, Anda juga akan memperoleh modal secara cepat untuk modal usaha.

Semoga informasi tentang bagaimana cara mencari modal usaha ini dapat menjadi upaya Anda untuk mendapatkan modal usaha sehingga dapat segera menjalankan bisnis dan memberikan manfaat bagi orang banyak. 

Semoga berhasil! 



Mengenal AHU Online, Mulai Legalitas Komunitas Hingga Kewarganegaraan

Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum
Saya banyak bertemu orang-orang dengan passion yang sama pada hari libur. Hari libur adalah waktu bagi saya untuk ikut terlibat dalam kegiatan yang rata-rata berupa kegiatan sosial.

Kontribusi saya dalam kegiatan-kegiatan yang dilakukan atas nama organisasi,  komunitas, perkumpulan, yayasan dan lain-lain ini biasanya dalam hal dokumentasi, reportase dan semacamnya terkait kehumasan.

Dari seringnya ikut kegiatan itu saya sering mendapat pertanyaan tentang bagaimana merancang sebuah kegiatan, acara dan semacamnya. Pertanyaan yang lebih serius adalah ketika beberapa teman menanyakan bagaimana cara mendirikan yayasan, cara mendapatkan status hukum sebuah komunitas atau perkumpulan dan sejenisnya.

Secara umum, untuk mendirikan yayasan, organisasi atau perkumpulan adalah sama-sama dengan membuat akta pendirian di hadapan notaris. Oh ya, itu khusus untuk perkumpulan/organisasi yang ingin berstatus badan hukum. Untuk perkumpulan berbadan hukum, tata cara pendiriannya tunduk pada Peraturan Menteri Hukum dan HAM Nomor 3 Tahun 2016. Sementara tata cara pendirian perkumpulan tidak berbadan hukum diatur dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 57 Tahun 2017.

Sebagai catatan, konstitusi kita menjunjung tinggi kebebasan berserikat dan berkumpul tanpa harus membuatnya dalam bentuk yang formal atau berbadan hukum. Artinya perbedaan status badan hukum tidak berpengaruh banyak dalam kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan, perbedaan itu akan berlaku jika perkumpulan melakukan perbuatan hukum seperti perjanjian kredit, jual-beli, sewa-menyewa, dan berbagai macam tindakan  dalam lingkup hukum keperdataan dan lainnya. 

Setelah adanya akta pendirian perkumpulan yang dibuat di hadapan notaris, maka langkah selanjutnya adalah melakukan registrasi sekaligus meminta status badan hukumnya kepada Kementerian Hukum dan HAM. Sedangkan perkumpulan tidak berbadan hukum melakukan registrasi kepada Kementerian Dalam Negeri. Untuk kegiatan pendaftaran dan registrasi ini dapat dilakukan dengan bantuan notaris atau dilakukan sendiri oleh masyarakat.

Nah teman-teman, untuk registrasi dan meminta status badan hukum yayasan dan perkumpulan itu adanya di Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum (Ditjen AHU) Kementerian Hukum dan HAM dan kita bisa mengurusnya melalui layanan online yang disebut AHU Online

Sekarang kita bahas sedikit tentang Ditjen AHU ini.

Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum

Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum
Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum adalah unit eselon I Kemenkumham yang sudah dibentuk sejak tahun 2000 lalu, pemekaran dari Direktorat Hukum dan Perundang-undangan. 

Direktorat Hukum dan Perundang-undangan ini tidak hanya dimekarkan menjadi Ditjen AHU, melainkan menjadi dua. Yaitu Direktorat Jenderal Peraturan Perundang-undangan yang fokus pada penyusunan peraturan perundangan-undangan. Sedangkan Ditjen AHU fokus pada tugas pelayanan hukum kepada masyarakat, layanannya mencakup hampir semua bidang hukum secara umum. 

Luasnya aspek pelayanan hukum yang dilakukan Ditjen AHU, Cahyo Rahadian Muzhar, SH, LLM, selaku Direktur Jenderal Administrasi Hukum Umum (Dirjen AHU) saat ini dibantu oleh satu orang Sekretaris Jenderal dan lima orang Direktur. 

Para direktur tersebut mengurusi pelayanan untuk bidang Pidana, Perdata, Tata Negara, Otoritas Pusat Hukum Internasional, dan Teknologi Informasi. Semua unit di Ditjen AHU ini bersinergi mewujudkan visi “masyarakat memperoleh kepastian hukum.”
Selain urusan pendaftaran dan pengesahan badan hukum yayasan dan perkumpulan, soal kewarganegaraan juga dilayani di Ditjen AHU.

Penting yah soal kewarganegaraan ini?

Masih ingat kisah Gloria Natapradja Hamel?. Gloria Natapradja Hamel adalah perempuan keturunan Indonesia-Perancis yang sangat antusias untuk menjadi salah satu pasukan pengibaran bendera pada HUT ke 71 RI. Akan tetapi dua hari sebelum peringatan kemerdekaan, ia dicoret dari daftar pasukan pengibar bendera pusaka (paskibraka) di Istana Negara karena ternyata ia masih memegang paspor Perancis. 

Gloria sangat sedih ketika dikabarkan dirinya batal menjadi anggota Paskibraka. Siswi SMA Islam Dian Didaktika itu kemudian menulis surat kepada Presiden. Di dalam surat yang disertai dengan materai Rp 6 ribu itu, Gloria secara tegas menyatakan dia mencintai Indonesia, bahkan siap untuk memilih menjadi WNI. "Bahwa saya tidak pernah memilih kewarganegaraan Perancis karena darah dan nafas saya untuk Indonesia tercinta," tulis Gloria.

Bagi kita yang memiliki ayah dan ibu WNI, masalah kewarganegaraan tentunya sudah selesai tanpa perlu naturalisasi, tapi status itu berbeda dengan mereka yang salah satu orang tuanya berkewarganegaraan asing seperti Gloria ini.

Nah, kalau menurut kalian, selain pendirian yayasan, pengesahan perkumpulan dan administrasi kewarganegaraan, apa saja administrasi hukum yang biasanya kita butuhkan? 

Kalau kita tengok layanan AHU Online situs ahu.go.id, ada beberapa pelayanan administrasi hukum yang bisa kita akses, di antaranya:

1. Administrasi Penunjang Kemudahan Berusaha

Beberapa tahun belakangan, pemerintah meningkatkan kinerja kemudahan berusaha (ease of doing business). Salah satu kontribusi Ditjen AHU dalam bidang kemudahan berusaha adalah dengan mempercepat prosedur pembentukan badan usaha. Dengan layanan AHU Online, pendirian dan pengintegrasian CV (Comanditaire Venootschap) dan Perseroan Terbatas bisa dilaksanakan secara digital. Tidak hanya mendaftarkan badan usaha, kalau mau pesan nama perusahaan juga bisa melalui web AHU Online.

2. Membangun Organisasi atau Perkumpulan 

Tak hanya membuat CV atau PT, masyarakat yang ingin membentuk organisasi baik tujuan profit maupun non-profit juga bisa mendaftarkannya secara online. AHU Online melayani semua jenis perkumpulan, mulai dari Yayasan, Koperasi, sampai Partai Politik (Parpol), kita juga bisa memesan dan memeriksa nama agar tidak ada kesamaan nama melalui AHU Online.

3. Pengurusan Wasiat 

Kalau kita punya aset atau harta yang ke depannya bisa bermanfaat untuk keturunan kita, atau justru bisa disalahgunakan pihak lain, atau mungkin memiliki potensi konflik, ada baiknya setelah kita membuat wasiat kemudian didaftarkan ke Ditjen AHU. Membuat wasiatnya tetap di hadapan Notaris, dan akan lebih afdol kalau dilengkapi dengan pelaporan  ke Ditjen AHU melalui AHU Online.

4. Fidusia

Apakah teman-teman pernah membeli kendaraan bermotor, atau barang elektronik melalui mekanisme utang piutang? Kalau ada rencana untuk membeli barang melalui mekanisme utang piutang atau kredit, ada baiknya teman-teman mempelajari cara bagaimana mendapatkan jaminan fidusia. Jangan sampai sudah banyak membayar lalu dengan mudah barangnya ditarik pihak leasing dan masalah lainnya.

5. Pelayanan Notaris

Masing–masing layanan di atas mungkin saja butuh bantuan dari notaris. Nah teman-teman, Ditjen AHU ini juga yang erat kaitannya dengan para profesi para notaris. Layanan Ditjen AHU mencakupi pendaftaran notaris dan pendaftaran ujian pengangkatan notaris.

Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum AHU Online
Secara total ada 93 jenis layanan hukum yang dilayani oleh Ditjen AHU. Sebanyak 47 layanan hukum itu sudah bisa dilayani melalui aplikasi AHU Online atau bisa diakses melalui ahu.go.id, dengan layanan berbasis online web base. Sedangkan 43 layanan lainnya masih manual.

Demikian sedikit catatan saya mengenai AHU Online. Semoga bermanfaat untuk teman-teman komunitas yang masih galau mengenai status legalitas komunitas perkumpulannya, juga buat teman-teman yang ingin membuat yayasan atau mengurus kewarganegaraan.

Salam.


Berteduh di Kedai Kopi Hainam Pondok Bambu

Kedai Kopi Hainam Pondok Bambu Jakarta
Kedai Kopi Hainam Pondok Bambu Jakarta
"Secangkir kopi bisa menjadi "jembatan rasa" yang mempertemukan, kita bisa mengenal kepribadian seseorang dari kopi yang dinikmatinya."
Lalu-lintas Kalimalang menuju Bekasi pada hari Minggu sore itu sedang tidak padat. Rintik hujan yang semakin deras memaksa para pemotor sejenak menepi untuk mengenakan jas hujan sebelum kembali melanjutkan perjalanan.

Hujan tidak juga reda, jarak pandang terganggu dan hawa dingin menyergap. Di persimpangan Jatiwaringin saya belok haluan dan mengarahkan motor ke Kedai Kopi Hainam yang terletak di Jl. Masjid Al-Wustho Pondok Bambu, Kec. Duren Sawit, Jakarta Timur. 

Aroma kopi yang khas dan menjanjikan kehangatan menyambut kedatangan saya. Yah, memutuskan untuk berteduh di sini sambil menunggu hujan reda adalah pilihan terbaik, sebelum melanjutkan perjalanan pulang.
Kedai Kopi Hainam Pondok Bambu

Kedai Kopi Hainam

Kedai yang biasanya dipenuhi oleh anak muda ini sedang lengang. Meja dan kursi di teras basah terkena tampias hujan. Di ruang depan yang diterangi lampu temaram ada dua orang sedang asik berbincang, Itonk, sang pemilik kedai dan pegawainya. Mengenakan t-shirt dan jeans belel membuat ibu dua anak ini tampak lebih muda 10 tahun dari usia sebenarnya.

Bukan kali pertama saya mampir, kali ini selain untuk berteduh, saya juga ingin kembali menikmati kopi racikan teman sekolah yang kini serius menekuni bisnis kopi. Sebuah bisnis yang berangkat dari kesukaannya menikmati kopi tanpa kenal waktu.

Semua berawal pada Mei 2015 lalu, saat ia ikut event Festival Lapangan Banteng dan mencoba menjual kopi bubuk yang didapatkan dari seorang teman. Sejak itu ia mulai sering membuka gerai dadakan di acara-acara musiman seperti bazar, reuni, dll. 

Ia juga pernah mencoba menggabungkan usahanya dengan gerai makanan, namun usahanya itu bubar di tengah jalan. Tidak berhenti di sana, dengan memanfaatkan jejaring pertemanan, ia mulai merintis penjualan produk kopi dingin botolan racikannya secara gerilya. 

Semua pengalaman yang telah ia lalui sekian tahun itu berpuncak pada bulan Agustus 2018, ia nekad memanfaatkan ruko milik orang tuanya menjadi Kedai Kopi Hainam.  Tampaknya kali ini usahanya lebih berhasil dengan semakin banyaknya permintaan produk kopi dingin botolan dari gerai-gerai makanan dan langganan tetapnya. Kedai Kopi Hainam buka setiap hari dari pukul 2 siang hingga 10 malam.

Kedai kopi yang luas ini banyak dihiasi ornamen ukiran dan pahatan khas tradisional Jawa. Penataan meja yang jauh satu sama lain menjadikan setiap meja berkesan privat dan eksklusif, berbeda dengan penataan meja yang rapat pada teras depan. Dilengkapi dengan mushola dan pojok lesehan di bagian belakang bar menjadikan kedai ini tempat yang asik untuk hangout
Berteduh di Kedai Kopi Hainam Pondok Bambu

Motif Terjun Ke Bisnis Kopi

"Keuntungannya lumayan, tapi yang lebih penting aku bisa lebih berhemat, tidak perlu lagi nongkrong di kafe meninggalkan keluarga, karena aku sekarang sudah punya kafe sendiri" ungkap ibu muda yang sedang memperjuangkan gelar master di bidang arsitektur.

Sudah sejak lama ia yakin, coffeeshop atau kedai kopi yang menjamur di mana-mana itu membuktikan bahwa bisnis kopi bukan hanya tren sementara, tapi sudah menjadi budaya bagi generasi muda dan kaum urban perkotaan. 

Di balik budaya itu, ia melihat peluang bisnis yang cukup menjanjikan terbuka lebar bagi yang paham memanfaatkan celah pasar dan berani mengambil peluang. Karenanya ia memberanikan diri terjun ke dunia persilatan eh ke dunia perkopian.

"Kalau aku yah mendirikan Kedai Kopi Hainam ini learning by doing, semua ini hasil dari pengalaman, jualan eceran, gerilya, hasil ngobrol dengan teman-teman dan belajar dari banyak orang. Cukup memakan waktu, tapi aku menikmati prosesnya" ungkapnya santai sambil memilih playlist lagu di smartphone-nya.

Dengan memanfaatkan bluetooth yang terhubung ke sistem pengeras suara, lagu-lagu slow rock 90an pilihannya kini menggantikan suara rintik hujan, mengisi ruangan kafe yang bernuansa vintage dan tradisional. 
Kedai Kopi Hainam Pondok Bambu

Sambil menikmati Kopi Robusta Bengkulu andalan kedai ini, obrolan santai malam itu melebar ke mana-mana. Kembali serius saat ia kembali bercerita tentang pengalamannya di bisnis kopi.

"Tidak ada yang instan, cara paling cepat untuk mengenal bisnis kopi yah ikut pelatihan seperti yang sudah mulai banyak digelar, atau membeli franchise" ucap Arsitektur Lansekap lulusan Universitas Tri Sakti ini.

Menurutnya pelatihan-pelatihan terkait bisnis kopi itu seperti investasi, sebagaimana ia menginvestasikan waktu yang lama untuk menjadi seperti sekarang ini.
"Menginvestasikan uang untuk mempersingkat waktu belajar aku kira itu sepadan" tegasnya.

Ia menjawab semua pertanyaan dengan santai, sambil menikmati kopi pahit dan sesekali memainkan asap rokok menthol yang ia hembuskan ke arah lampu di atas meja kami.

Di akhir perbincangan ia kembali menegaskan, bahwa pada akhirnya untuk membuka kedai kopi itu bukan masalah serius atau tidak, tapi lebih terkait kepada passion

"Dari yang aku jalani, Aku lebih percaya bahwa membuka usaha kedai kopi lebih dominan ke hasrat kesenangan kita terhadap sesuatu, skill memang diperlukan akan tetapi hasrat lebih utama, maka jika hasrat itu ada, skill akan menjadi prioritas nomor dua."

"Secangkir kopi yang diseduh dengan hati lebih mampu menjadi "jembatan rasa" menyambungkan hati dari pada yang dibuat dengan teknik-teknik trendi yang dipelajari dari pelatihan".

"Secangkir kopi bisa menjadi "jembatan rasa" yang mempertemukan, kita bisa mengenal kepribadian seseorang dari kopi yang dinikmatinya. Tapi kalau tidak dapat "klik-nya" pelanggan tidak akan kembali lagi untuk meminum kopi itu."

Menikmati segelas kopi panas saat hujan begini memang waktu yang pas, apalagi diisi dengan obrolan yang berkualitas. Jarang ada kedai kopi yang owner-nya mau menemani ngobrol tamunya. Ya memang kadang ada juga pelanggan yang hanya ingin menikmati kopinya sendirian.

Tanpa terasa kopi pahit sudah tandas dan waktu bergulir dengan cepat. Saat hujan mulai reda, saya meninggalkan kedai itu. Masih sempat memesan produk kopi dingin botolan untuk bekal di jalan.

Harganya produk kopi yang ditawarkan lebih murah dari gerai kopi terkenal yang ada di mall. Ditambah suasana kedai yang asik dan luas ini jelas kemewahan yang tidak bisa didapatkan pada gerai kopi di mall, seterkenal apapun merek kopinya.

Namun demikian saya jadi ingat kembali kata-katanya, "Berbicara tentang kopi, sama saja berbicara mengenai selera, setiap individu memiliki selera yang gak akan pernah sama setiap orangnya".


Kedai Kopi Hainam Pondok Bambu Jakarta

@ Kedai Kopi Hainam - Jumat, 19 April 2019.
Kontak: (021) 86609673 | 0817-6306-976




Bukan Cebong dan Kampret, Kita Garuda Pancasila

Membumikan Pancasila, Merawat Keberagaman di Kalangan Milenial dan Penggiat Media Sosial
Membumikan Pancasila, Merawat Keberagaman di Kalangan Milenial dan Penggiat Media Sosial 

"Nanang" ucap lelaki paruh baya itu saat menyambut jabat tangan saya. Selanjutnya Bang Iwan Bonick (yang lebih dahulu berada di sana) memperkenalkan saya lebih jauh kepada Pak Nanang agar kehadiran saya tidak mengubah suasana yang sudah terbangun sebelumnya.

Saya yang baru kenal dan baru ikut bergabung dalam "majelis asap" di Smoking Room Lobby Aston Imperial Bekasi Hotel & Conference Center akhirnya hanya pasif mendengarkan perbincangan. 

Untuk menjalin keakraban, saya sebenarnya ingin nyeletuk saat Pak Nanang bercerita tentang pengalaman beliau di rumah pengasingan Bung Karno di Ende, NTT

Tapi pengalaman yang Pak Nanang sedang ceritakan ini frekuensinya mendekati sakral, tidak layak saya potong dengan celetukan garing "saya juga pernah ke sana loh pak". Gak nyambung dan gak penting.

Belakangan saya baru tahu, lelaki paruh baya tersebut bernama lengkap Nanang Rakhmad Hidayat, M. Sn. Beliau adalah dosen Jurusan Televisi, Fakultas Seni Media Rekam di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta yang juga merupakan mitra kerja Pusat Studi Pancasila UGM.
  
Pak Nanang ini adalah seniman yang mendirikan "Museum Rumah Garuda" di Yogyakarta, sehingga dikenal dengan nama lain "Nanang Garuda", sedangkan Iwan Bonick adalah penyair unik yang mendirikan "Rumah Garuda" di Bekasi. Setidaknya itulah yang membuat obrolan mereka menjadi begitu akrab, hampir saja saya mempermalukan Bang Iwan Bonick dengan celetukan garing :)  

Pak Nanang yang menulis buku "Mencari Telur Garuda" ini datang ke Bekasi untuk memenuhi undangan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) sebagai salah satu pembicara dalam acara "Sosialisasi Pancasila Dengan Milenial/Blogger". Acara yang dilaksanakan pada hari Sabtu, 31 Agustus 2019 ini bertemakan "Membumikan Pancasila, Merawat Keberagaman di Kalangan Milenial dan Penggiat Media Sosial". 
Sang Kartini Kembar guru pendiri Sekolah Darurat Kartini di kolong jalan tol Jakarta Sri Rossyati (Rossi) dan Sri Irianingsih (Rian)
Sang Kartini Kembar pendiri Sekolah Darurat Kartini Jakarta Sri Rossyati dan Sri Irianingsih 
Hadir sebagai narasumber lainnya adalah Bapak Aris Heru Utomo selaku Direktur Sosialisasi, Komunikasi dan Jaringan BPIP, Ibu Irene Camelyn Sinaga selaku Direktur Pembudayaan BPIP serta Sang Kartini Kembar, duo guru pendiri Sekolah Darurat Kartini di kolong jalan tol Jakarta Utara, yaitu Ibu Sri Rossyati (Ibu Rossi) dan Ibu Sri Irianingsih (Ibu Rian). Hadir pula Mbak Mira Sahid selaku tokoh blogger dari Bekasi yang bertindak sebagai MC dan moderator.

Dalam pemaparannya, Pak Nanang menyampaikan hasil perjalanannya mengumpulkan berbagai macam foto Garuda Pancasila yang memiliki bentuk dan ragam corak. Sebagai seniman ia mengapresiasi keragaman bentuk dan ragam hasil karya masyarakat, akan tetapi ia juga menyimpan kegelisahan mengenai inkonsistensi bentuk lambang negara ini. Namun demikian, yang lebih membuat Pak Nanang gelisah adalah "amputasi historis", karena tidak ada satupun pihak yang menceritakan tentang proses atau sejarah terbentuknya lambang Garuda Pancasila.
proses dan sejarah terbentuknya lambang Garuda Pancasila
Proses metamorfosis terbentuknya lambang Garuda Pancasila 
Sebagai seniman yang sensitif terhadap makna di balik tanda dan bentuk lambang (semiotika), saya kira kegelisahan Pak Nanang cukup beralasan. Ia tidak ingin lambang negara yang sudah dirumuskan oleh para pemikir dan pendiri bangsa ini dilupakan sejarah kelahirannya dan kehilangan makna-makna luhur yang disampaikan dalam bentuk Burung Garuda Pancasila.

Untuk menjawab kegelisahan itulah pada 17 Agustus 2011 ia mendirikan "Museum Rumah Garuda" sebagai ruang publik untuk berwisata sejarah dan edukasi khusus mengenai Garuda Pancasila. Museum yang lebih dikenal dengan sebutan Rumah Garuda ini berusaha mengenalkan akar jati diri bangsa yang telah tersimbolkan pada Garuda Pancasila, melalui pintu sejarah, filosofi, estetika, dan semiotika dengan pendekatan seni dan budaya. 

Rumah Garuda sudah banyak menghasilkan karya yang bertujuan untuk menyosialisasikan proses dan sejarah lahirnya Garuda Pancasila, baik berupa wayang, ragam bentuk permainan puzzle, film, buku, kamus dan lain sebagainya. 

Pak Nanang mengatakan, "Indonesia saat ini sedang mencekam, berhentilah men(jadi) ce(bong) kam(pret), bangkitlah menjadi Garuda"

Bagaimana caranya berhenti menjadi cebong dan kampret dan kembali menjadi garuda?. Dalam salah satu slide presentasinya Pak Nanang menampilkan kutipan dari Emha Ainun Najib, "Ayo belajar sejarah, supaya Anda tahu, Anda ini GARUDA"
Bukan Cebong dan Kampret, Kita Garuda Pancasila
Ayo belajar sejarah, supaya Anda tahu, Anda ini GARUDA
Kutipan itu hanya potongan kecil, lengkapnya kalimat itu berbunyi "Ayo belajar sejarah, supaya Anda tau kalau Anda ini garuda, Anda ini bangsa besar. Ndak apa-apa sampai akhir hayat Anda ndak berhasil, ndak pa-pa; anakmu yang berhasil, nek gak anakmu yo putumu, tapi kita bangun kembali paruh yang baru itu, kuku yang baru itu, dan tidak pernah putus asa." - Cak Nun

Pepatah lama mengatakan, "tidak kenal maka tak sayang", itulah salah satu solusi yang diupayakan Pak Nanang Garuda sekian lama, beliau secara aktif mengajak anak bangsa mengenal proses dan sejarah terbentuknya lambang Garuda Pancasila agar kembali dikenal dengan sebagaimana layaknya.

Lambang Garuda Pancasila sejatinya memang tergali dari nilai-nilai peri kehidupan Bangsa Indonesia. Walau saat Orde Baru Pancasila pernah disalahgunakan untuk mengontrol hingga ke ruang pikir, namun di era pasca reformasi di mana kebebasan berekspresi telah mendapatkan tempat yang lebih layak, maka mengenal Garuda Pancasila dengan segala aspeknya kembali menjadi penting. Tentunya itu bukan hanya tugas Pak Nanang dan BPIP saja.

Salam.

Belajar Fotografi Ponsel Bersama Tripod Keliling dan Saka Bhayangkara Babelan

Workshop Fotografi Ponsel Saka Bhayangkara dan Tripod Keliling
Workshop Fotografi Ponsel Saka Bhayangkara dan Tripod Keliling
"Kenapa kamera handphone?" pancing Hye Sin kepada 40-an adik-adik dan calon anggota Satuan Karya Pramuka (Saka) Bhayangkara Polsek Babelan Bekasi siang itu di Aula Kantor Kepala Desa Babelan Kota. Beberapa jawaban terdengar dari hadirin, macam-macam jawaban yang intinya mengerucut pada salah satu keunggulan kamera ponsel, yaitu praktis dan compact.

Minggu, 25 Agustus 2019, teman-teman dari Komunitas Tripod Keliling kembali melakukan kelas akhir pekan, "Belajar memotret dengan HP" seperti yang pernah dilakukan sebelumnya di Kawasan Ekowisata Sungai Rindu, 28 Juli 2019 lalu.

Mini workshop yang dibagi dalam 3 sesi ini berisi tips memotret dengan telepon seluler pribadi, praktek mengambil potret dan evaluasi. Peserta yang dibagi dalam 9 kelompok ini dengan antusias mengikuti jalannya workshop.

Praktek memotret yang diberikan waktu selama 20 menit sepertinya kurang cukup, bahkan hingga penambahan waktu habis sekali pun adik-adik peserta masih terus asik mencoba berbagai pose dan angel serta asik mendiskusikan tentang pesan apa yang ingin mereka sampaikan dalam foto yang mereka hasilkan.
Belajar Fotografi Ponsel Bersama Tripod Keliling dan Saka Bhayangkara Babelan
Praktek memotret dengan ponsel
Saat pemaparan teori, memang dibahas beberapa teknik memotret dan bagaimana membuat potret dapat menjadi sebuah media penyampai pesan. Sayangnya keterbatasan waktu yang tersedia membuat setiap sesi harus dilaksanakan dengan ketat.

Idealnya waktu evaluasi lebih panjang dari sesi teori dan praktek, karena pada saat evaluasi inilah terjadi dialog dan kurasi mengenai hasil praktek memotret. Minimal dalam sesi evaluasi ini pemotret akan menerima feedback dan tambahan tips tentang teori-teori yang sudah disampaikan sebelumnya.

"Pesan saya, rajinlah berlatih, rajinlah memotret dan jangan cepat puas dengan hasilnya" pesan Hye Sin kepada semua hadirin saat mengakhiri sesi evaluasi.

"Dokumentasikan kegiatan positif yang adik-adik lakukan baik saat kegiatan pramuka ataupun kegiatan positif lainnya, gunakan kamera ponsel kita untuk hal-hal yang bermanfaat bagi masyarakat, minimal bermanfaat bagi diri sendiri" tutup Hye Sin.
Belajar Fotografi Ponsel Bersama Tripod Keliling dan Saka Bhayangkara Babelan
Evaluasi hasil memotret dengan ponsel
Secara garis besar acara workshop belajar memotret dengan menggunakan ponsel ini berjalan lancar dan baik. Interaksi dari peserta menunjukkan beberapa peserta yang memiliki passion dan kesenangan dalam fotografi, setidaknya workshop ini bisa menjadi langkah awal baginya untuk mengembangkan hobi fotografi ke arah yang lebih jauh.

"Terima kasih kepada Komunitas Tripod Keliling yang sudah berbagi ilmu kepada kami, mungkin lain waktu kita dapat bekerjasama lagi untuk materi yang lebih dalam mengenai fotografi ponsel" kata Mawadah Warahmah selaku Ketua Dewan Saka Bhayangkara Polsek Babelan Kwartir Ranting Kec. Babelan Kab. Bekasi.
Belajar Fotografi Ponsel Bersama Tripod Keliling dan Saka Bhayangkara Babelan
Foto bersama seusai acara workshop fotografi ponsel

Fotografi dan industri kreatif

Fotografi adalah salah satu komponen dari 15 jenis industri kreatif yang diperhitungkan di Indonesia. Sebagai sebuah industri yang mengandalkan kreativitas dalam menghasilkan produk/jasa, fotografi saat ini menjadi semakin beragam dan semakin banyak penggiatnya seiring dengan kemajuan teknologi. 

Oleh karenanya, memperkenalkan fotografi kepada masyarakat harusnya bisa lebih dini lagi dan dengan menggunakan berbagai pendekatan. Salah satunya dengan pendekatan kelas-kelas pengenalan fotografi seperti memaksimalkan fungsi kamera ponsel sebagaimana yang dilakukan oleh Saka Bhayangkara Polsek Babelan dan Komunitas Tripod Keliling ini.

Lomba-lomba terkait fotografi dalam skala kecil juga mestinya bisa menjadi wadah untuk menggairahkan para fotografer pemula untuk terus berkarya dan berkompetisi. Contoh kegiatan lomba terkait fotografi salah satunya; sekolah bisa saja menggelar lomba foto dokumentasi bagi murid-muridnya untuk meliput sebuah kegiatan, di sisi lain dengan memanfaatkan media sosial maka lomba tersebut juga dapat menjadi media amplifikasi kegiatan tersebut.

Lomba tersebut bisa diperluas menjadi lomba liputan jurnalistik, lomba dokumentasi video baik dalam bentuk vlog atau lainnya. Masih banyak macam lomba-lomba kreatif yang dapat digagas dengan mengedepankan kompetisi bakat, minat, kemampuan teknis dan semacamnya. 

Dalam pandangan saya, sekolah sebagai lembaga pendidikan mestinya tidak lagi menggelar lomba-lomba hiburan ala masyarakat seperti lomba makan kerupuk. Jika lomba fotografi dll tadi diperlombakan secara tim atau grup, maka gak perlu lagi sekolah menggelar lomba tarik tambang dan panjat pinang, karena nilai teamwork sudah tercakup dalam lomba beregu tadi.

Bagaimana? tidak sulit kan? Kalau tidak dimulai dari yang kecil, bagaimana mau memulai yang besar?


Belajar Fotografi Ponsel Bersama Tripod Keliling dan Saka Bhayangkara Babelan

Workshop Fotografi Ponsel Saka Bhayangkara dan Tripod Keliling
Workshop Fotografi Ponsel Saka Bhayangkara dan Tripod Keliling
"Kenapa kamera handphone?" pancing Hye Sin kepada 40-an adik-adik dan calon anggota Satuan Karya Pramuka (Saka) Bhayangkara Polsek Babelan Bekasi siang itu di Aula Kantor Kepala Desa Babelan Kota. Beberapa jawaban terdengar dari hadirin, macam-macam jawaban yang intinya mengerucut pada salah satu keunggulan kamera ponsel, yaitu praktis dan compact.

Minggu, 25 Agustus 2019, teman-teman dari Komunitas Tripod Keliling kembali melakukan kelas akhir pekan, "Belajar memotret dengan HP" seperti yang pernah dilakukan sebelumnya di Kawasan Ekowisata Sungai Rindu, 28 Juli 2019 lalu.

Mini workshop yang dibagi dalam 3 sesi ini berisi tips memotret dengan telepon seluler pribadi, praktek mengambil potret dan evaluasi. Peserta yang dibagi dalam 9 kelompok ini dengan antusias mengikuti jalannya workshop.

Dengan langsung dipandu Hye Sin dan Yusuf Prakasa, praktek memotret yang diberikan waktu selama 20 menit sepertinya kurang cukup, bahkan hingga penambahan waktu habis sekali pun adik-adik peserta masih terus asik mencoba berbagai pose dan angel serta asik mendiskusikan tentang pesan apa yang ingin mereka sampaikan dalam foto yang mereka hasilkan.
Belajar Fotografi Ponsel Bersama Tripod Keliling dan Saka Bhayangkara Babelan
Praktek memotret dengan ponsel
Saat pemaparan teori, memang dibahas beberapa teknik memotret dan bagaimana membuat potret dapat menjadi sebuah media penyampai pesan. Sayangnya keterbatasan waktu yang tersedia membuat setiap sesi harus dilaksanakan dengan ketat.

Idealnya waktu evaluasi lebih panjang dari sesi teori dan praktek, karena pada saat evaluasi inilah terjadi dialog dan kurasi mengenai hasil praktek memotret. Minimal dalam sesi evaluasi ini pemotret akan menerima feedback dan tambahan tips tentang teori-teori yang sudah disampaikan sebelumnya.

"Pesan saya, rajinlah berlatih, rajinlah memotret dan jangan cepat puas dengan hasilnya" pesan Hye Sin kepada semua hadirin saat mengakhiri sesi evaluasi.

"Dokumentasikan kegiatan positif yang adik-adik lakukan baik saat kegiatan pramuka ataupun kegiatan positif lainnya, gunakan kamera ponsel kita untuk hal-hal yang bermanfaat bagi masyarakat, minimal bermanfaat bagi diri sendiri" tutup Hye Sin.
Belajar Fotografi Ponsel Bersama Tripod Keliling dan Saka Bhayangkara Babelan
Evaluasi hasil memotret dengan ponsel
Secara garis besar acara workshop belajar memotret dengan menggunakan ponsel ini berjalan lancar dan baik. Interaksi dari peserta menunjukkan beberapa peserta yang memiliki passion dan kesenangan dalam fotografi, setidaknya workshop ini bisa menjadi langkah awal baginya untuk mengembangkan hobi fotografi ke arah yang lebih jauh.

"Terima kasih kepada Komunitas Tripod Keliling yang sudah berbagi ilmu kepada kami, mungkin lain waktu kita dapat bekerjasama lagi untuk materi yang lebih dalam mengenai fotografi ponsel" kata Mawadah Warahmah selaku Ketua Dewan Saka Bhayangkara Polsek Babelan Kwartir Ranting Kec. Babelan Kab. Bekasi.
Belajar Fotografi Ponsel Bersama Tripod Keliling dan Saka Bhayangkara Babelan
Foto bersama seusai acara workshop fotografi ponsel

Fotografi dan industri kreatif

Fotografi adalah salah satu komponen dari 15 jenis industri kreatif yang diperhitungkan di Indonesia. Sebagai sebuah industri yang mengandalkan kreativitas dalam menghasilkan produk/jasa, fotografi saat ini menjadi semakin beragam dan semakin banyak penggiatnya seiring dengan kemajuan teknologi. 

Oleh karenanya, memperkenalkan fotografi kepada masyarakat harusnya bisa lebih dini lagi dan dengan menggunakan berbagai pendekatan. Salah satunya dengan pendekatan kelas-kelas pengenalan fotografi seperti memaksimalkan fungsi kamera ponsel sebagaimana yang dilakukan oleh Saka Bhayangkara Polsek Babelan dan Komunitas Tripod Keliling ini.

Lomba-lomba terkait fotografi dalam skala kecil juga mestinya bisa menjadi wadah untuk menggairahkan para fotografer pemula untuk terus berkarya dan berkompetisi. Contoh kegiatan lomba terkait fotografi salah satunya; sekolah bisa saja menggelar lomba foto dokumentasi bagi murid-muridnya untuk meliput sebuah kegiatan, di sisi lain dengan memanfaatkan media sosial maka lomba tersebut juga dapat menjadi media amplifikasi kegiatan tersebut.

Lomba tersebut bisa diperluas menjadi lomba liputan jurnalistik, lomba dokumentasi video baik dalam bentuk vlog atau lainnya. Masih banyak macam lomba-lomba kreatif yang dapat digagas dengan mengedepankan kompetisi bakat, minat, kemampuan teknis dan semacamnya. 

Dalam pandangan saya, sekolah sebagai lembaga pendidikan mestinya tidak lagi menggelar lomba-lomba hiburan ala masyarakat seperti lomba makan kerupuk. Jika lomba fotografi dll tadi diperlombakan secara tim atau grup, maka gak perlu lagi sekolah menggelar lomba tarik tambang dan panjat pinang, karena nilai teamwork sudah tercakup dalam lomba beregu tadi.

Bagaimana? tidak sulit kan? Kalau tidak dimulai dari yang kecil, bagaimana mau memulai yang besar?


Ada Gerai Uis Gara di Sentra Seni Budaya Bekasi De’ Bhagasasi

Ada Gerai Uis Gara di Sentra Seni Budaya Bekasi De' Bhagasasi
Wawali Bekasi, Tri Adhianto meresmikan De'Bhagasasi di Pasar Proyek Trade Center Bekasi [Dakta.com]
Hari Jumat lalu, 23 Agustus 2019, Wakil Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto telah meresmikan Sentra Seni Budaya Bekasi bernama "De' Bhagasasi" di lantai upper ground Pasar Proyek Trade Center, Bekasi Timur. 

De' Bhagasasi adalah pusat penjualan aneka souvenir, karya seni, dan kuliner khas Bekasi, namun begitu Wawali juga berharap De Bhagasasi dapat menjadi pusat edukasi seni dan budaya bagi warga Kota Bekasi termasuk pelajar.

"Tidak saja menjual, tapi juga melatih. Bagi mereka yang memiliki passion, bisa kami arahkan. Tidak saja hasilnya yang ada, tapi juga para pelaku dan komunitas bisa berkumpul di sini. Ada seni tari, lukis, mereka bisa saling berinteraksi," kata Tri sebagaimana dikutip Kompas.com.

Menurut Benny Tunggul, Ketua Bidang Pengembangan Kehidupan Perkotaan, Tim Walikota untuk Percepatan Penyelenggaraan Pemerintah dan Pembangunan (TWUP4), De' Bhagasasi saat peresmian telah mengakomodir 40 pengrajin batik yang ada di Kota Bekasi.

Dari 40 gerai UMKM yang ada itu, terdapat salah satu gerai berbeda yang melengkapi keragaman sentra budaya De' Bhagasasi. Gerai tersebut adalah Gerai Kembang Wisata Handicraft yang menggelar koleksi kain Uis Gara, pakaian adat dari budaya Suku Karo Sumatera Utara. 
Ada Gerai Uis Gara di Sentra Seni Budaya Bekasi De' Bhagasasi
Wawali Kota Bekasi Tri Adhianto di Gerai Gerai Kembang Wisata Handicraft [independensi.com]
Ada Gerai Uis Gara di Sentra Seni Budaya Bekasi De' Bhagasasi
Selain menjual Uis Gara (Ulos), sesuai namanya, Gerai Kembang Wisata Handicraft juga menyediakan kerajinan tangan lainnya seperti miniatur rumah adat, produk batu, gelang, cincin dan semacamnya.

"Sebetulnya untuk souvenir saya mengutamakan cinderamata khas Bekasi, tapi belum kesampaian, oleh karenanya saya membuka peluang kerjasama bagi pengrajin lokal yang serius, mungkin Bang Bisot bisa bantu?" ungkap Hairani Tarigan selaku pemilik Kembang Wisata Handicraft yang juga Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah Kabupaten Bekasi saat saya hubungi.

"Saat ini masih penyusunan katalog. Baru ada aneka tenun khas Karo, ada Ulos Batak Toba dan batu perhiasan. Sementara yang baru saya posting dan masih asli banget ada di Instagram @kembangwisatahandicraft" lanjutnya.

Setelah saya check di Instagram  https://www.instagram.com/kembangwisatahandicraft/ ternyata memang baru sedikit, sehingga kalau ingin melihat koleksi Kembang Wisata Handicraft secara lengkap sepertinya kita harus mendatanginya langsung di Upper Ground #130, Pasar Proyek Trade Center, Bekasi Timur.
Ada Gerai Uis Gara di Sentra Seni Budaya Bekasi De' Bhagasasi
Ibu Hairani Tarigan di Gerai Kembang Wisata Handicraft

Mengenal Sepintas Uis Gara Batak Karo

Kata Uis Gara dalam bahasa Batak Karo berasal dari kata Uis yang berarti kain dan Gara yang berarti merah. Disebut Uis Gara atau "kain merah" karena warna yang dominan adalah merah, hitam, dan putih, dengan dihiasi ragam motif tenunan dari benang emas dan perak.

Uis Gara pada umumnya terbuat dari bahan kapas yang dipintal dan ditenun secara manual dengan alat tenun bukan mesin (ATBM) dan diwarnai menggunakan zat pewarna alami. Proses pembuatannya secara garis besar sama dengan pembuatan Songket.

Uis Gara pada awalnya digunakan untuk pakaian sehari-hari oleh kalangan perempuan Karo. Namun saat ini Uis Gara hanya digunakan di upacara adat dan budaya. Baik yang dilaksanakan di daerah Karo sendiri, maupun di luar daerah Karo, selebihnya kerap juga ditemukan dalam bentuk souvenir berupa tas, dasi, gorden, ikat pinggang, sarung bantal, dan lain sebagainya.

Keunikan Uis gara juga karena memiliki ragam jenis dengan fungsinya masing-masing, sebagian jenis sudah langka karena tidak digunakan lagi dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa jenis uis gara diantaranya adalah sebagai berikut: Uis Beka Buluh, Uis Gatip Jongkit, Uis Gatip, Uis Nipes Padang Rusak, Uis Nipes Benang Iring, Uis Ragi Barat, Uis Jujung-Jujungen, Uis Nipes Mangiring, Uis Teba, Uis Pementing, Uis Julu Diberu, Uis Arinteneng, Perembah dan Uis Kelam-kelam.

***

Menjawab Pertanyaan "Penting Atau Tidak Penting?"

Kopi Hainam Jakarta
 Kopi Hainam Jakarta 
Perbincangan santai saat ngopi sore ini seperti biasa, mengalir tanpa pola, sambung menyambung sampai akhirnya waktu menjelang magrib datang.

Istilah "zaman susah" atau "zaman sulit" sudah lama saya tidak dengar. Kembali terdengar ketika salah satu kawan sedang flashback masa lalunya dengan kalimat "dulu saat di zaman susah".

Saya paham istilah itu dimaksudkan atau hanya ungkapan saat-saat ybs sedang menjalani masa-masa mudanya yang tampaknya tidak lebih buruk dari yang saya alami. 

Siklusnya mirip, lulus sekolah (SMA), menganggur, kuliah, menganggur lagi lalu keluar masuk pekerjaan hingga akhirnya bertahan pada profesi yang sampai sekarang masih dijalani.

Saya sendiri saat flashback masa-masa itu lebih suka menyebut dengan istilah "masa revolusi fisik" atau "zaman perjuangan", karena keadaan situasi dan kondisi saat itu mengharuskan saya menjalani hidup dengan sederhana dan prihatin.

Tapi apakah tepat menyebut masa-masa itu adalah "zaman susah?". Bagi saya tidak ada zaman susah atau zaman senang, semua sama saja dan punya tantangannya sendiri.

Dulu kita berjuang melamar pekerjaan sana-sini, keluar masuk dan mencoba berbagai profesi hingga akhirnya bisa kredit rumah, kredit kendaraan dan lain sebagainya. 

Sekarang pun belum selesai perjuangan, anak-anak semakin besar sehingga semakin banyak kebutuhannya. Kesehatan sudah semakin menurun sehingga mulai sering bolak-balik klinik atau rumah sakit dan seterusnya.

Kalau mau berpikir tentang zaman susah, yah menurut saya baik dulu maupun sekarang tidak ada bedanya, sama-sama zaman susah, hanya beda tantangan yang dihadapi. Begitu juga kalau kita bicara "zaman senang", baik dulu dan sekarang kita bisa menikmati semua dan bersenang-senang.

Berbicara soal kesenangan hidup itu benar-benar sulit mencari standar bakunya. Semua berpulang kepada pribadi masing-masing, kepada standar kebutuhan, gaya hidup, persepsi masing-masing dll.

Ada yang memiliki standar hidup sederhana dengan kebutuhan hidup yang sederhana pula, mereka akan senang jika kebutuhan mereka yang sederhana itu sudah terpenuhi, lebih dan kurangnya itu sudah menjadi rahasia Ilahi. 

Demikian juga ada yang punya standar hidup yang tinggi, dia akan senang jika keinginannya tersebut terpenuhi. Selama dia bisa mengukur kemampuan diri sendiri dan dapat memenuhinya sah-sah saja memiliki target-target hidup yang mungkin bagi orang lain berlebihan.

Buat saya semua kembali ke prioritas, dulu waktu belum paham teori SWOT, 4 Kuadran waktu Penting dan genting hidup saya mengalir bukan dengan tanpa beban. Prioritas-prioritas tetap ada sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan ekonomi.

4 Kuadran waktu Penting dan genting

Menjadi pengamen dan tukang bangunan saya lakukan karena pada saat itu, situasi dan kondisi yang memungkinkan hanya itu. Pastinya mau kerja kantoran atau jualan, tapi belum ada kesempatan seperti itu.

Tapi ternyata setelah dijalani, mengamen itu membuka peluang saya untuk mengenal banyak karakter orang, belajar membaca bahasa tubuh dan yang lebih penting belajar mengenal dunia entertainment kecil-kecilan.

Dari pengalaman sebagai tukang bangunan juga saya belajar yang namanya teamwork, sedikit teknik sipil, jadi tau pentingnya profesi arsitek dst.
Penting nggak penting, buat saya pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman seperti itu membuat saya lebih tertarik lagi untuk mengembangkan wawasan dan pengetahuan tentang segala hal. Tapi kalau ditanya, apa semua itu penting? 
Kalau menurut saya, pertanyaan "penting atau tidak" adalah pertanyaan relatif yang akan berpulang ke prioritas, nilai-nilai, situasi dan kondisi masing-masing, sehingga jawabannya bisa berubah seiring berubahnya prioritas hidup seseorang.

Soal prioritas ada baiknya kita mengenal tentang Teori Hierarki Kebutuhan dari Abraham Maslow seperti yang saya bahas di tulisan puasa sebagai vaksinasi virus akal budi.
Teori Hierarki Kebutuhan Abraham Maslow
Namun begitu kalau pertanyaan "penting atau tidak" perlu di jawab maka jawaban saya adalan PENTING tapi TIDAK GENTING. Penting tapi tidak genting berarti masuk ke kuadran 2. 

Aktivitas di kuadran 2 memiliki ciri: pencegahan, aktivitas kapasitas produksi, pengembangan hubungan, pengenalan peluang baru, perencanaan, rekreasi dst. Hasil dari kegiatan di kuadran dua antara lain: visi, perspektif, keseimbangan, disiplin, kontrol, beberapa krisis. Demikian menurut teorinya, prakteknya silakan resapi masing-masing.

Kalau orang lain menganggap itu tidak penting, maka anggapan seperti itu boleh dipertimbangkan tapi bukan untuk diperdebatkan. :)

Begitu saja dulu catatan akhir pekan ini.

Salam