Kereta Api Matarmaja, Teman Sempurna Buat Backpacker Ke Malang

Ketika film 5CM ngehits, nggak cuma Gunung Semeru yang mendadak ramai dikunjungi para pendaki. Kereta Api Matarmaja juga kena imbasnya, ikut mendadak populer tepatnya dan tiketnya  menjadi ramai diburu oleh para backpacker yang akan liburan ke Kota Malang, Jawa Timur.

Kereta Api Matarmaja, Teman Sempurna Buat Backpacker ke Malang
sumber:flickr.com/lukmanamukti
Dengan harga tiket yang terjangkau, naik transportasi Kereta Api Matarmaja adalah solusi terbaik buat menghemat pengeluaran untuk liburan ke Malang. Sekali jalan, kita hanya perlu mengeluarkan uang Rp 110 ribu saja untuk rute Jakarta – Malang. Risikonya hanya satu, waktu tempuh yang cukup panjang, sekitar 16 jam 36 menit, dengan jarak tempuh sekitar 881 kilometer. 

Tapi, lamanya perjalanan pada jalur ini, nggak akan terasa kok, karena transportasi ini berangkat pada pukul 15.15 petang dari Jakarta. Kita bisa tidur lelap sepanjang perjalanan, begitu bangun kita sudah sampai di Malang, sekitar pukul 07.51 pagi.

Asal nama Matarmaja

Kereta Api Matarmaja, Teman Sempurna Buat Backpacker ke Malang
sumber:rail-traveller.blogspot.co.id
Nama kereta ini merupakan satu dari sedikit nama-nama kereta yang tidak diambil dari nama sungai, gunung dan tokoh tertentu di pewayangan atau sejarah lokal. Nama ini adalah singkatan, dari Malang – Blitar – Madiun – Jakarta, yang menunjukkan rute dari rangkaian jalur yang dilaluinya.

Sejarah Matarmaja


Dulunya, kereta ini meyediakan rangkaian kereta dengan rute Madiun – Jakarta dengan nama Senja Maja. Kemudian PT KAI menambah jalur ke Blitar dan Malang, yang kemudian membuat namanya berubah menjadi Matarmaja yang secara resmi mulai beroperasi pada 28 September 1983.

Perubahan Rute


Ketika awal beroperasi, Kereta Api Matarmaja melalui rute selatan dengan melewati Yogyakarta dan Purwokerto. Namun beberapa tahun lalu, PT KAI memutuskan untuk mengubah rute menjadi jalur utara melewati Kota Solo – Semarang. 

Inilah yang kemudian membuat waktu tempuh Matarmaja menjadi lebih singkat daripada sebelumnya. Namun membuat rangkaian kereta api ekonomi ke Yogyakarta juga ikut menghilang. Akhirnya membuat PT KAI ‘melahirkan’ Kereta Api Malioboro Express untuk rute Malang – Yogyakarta.

Khusus Ekonomi

Kereta Api Matarmaja, Teman Sempurna Buat Backpacker ke Malang
sumber:beritadaerah.co.id
Dulunya, kereta api Matarmaja adalah rangkaian kelas bisnis dan ekonomi. Namun sejak beberapa tahun lalu, kereta ini berubah sepenuhnya menjadi kelas ekonomi AC dengan gerbong terbaru buatan PT KAI yang terdiri dari 8 rangkaian gerbong penumpang, satu lokomotif, satu kereta makan pembangkit dan satu kereta bagasi.

Jadwal Matarmaja

Kereta ini berangkat pada pukul 15.15 WIB dari Jakarta dan tiba pada pukul 07.51WIB di Malang. Sementara untuk jalur sebaliknya, Matarmaja berangkat pada pukul 17.30 WIB dari Malang dan sampai di Jakarta pada pukul 09.20 WIB pagi.

Titik keberangkatan dan kedatangan di Jakarta adalah Stasiun Pasar Senen. Kemudian titik keberangkatan serta kedatangan di Malang adalah Stasiun Malang atau yang juga dikenal dengan nama Stasiun Kotabaru Malang.

Sensasi Seru Lewat Terowongan

Kereta Api Matarmaja, Teman Sempurna Buat Backpacker ke Malang
sumber:rebanas.com
Ketika berada di kawasan perbatasan Malang – Blitar, sebaiknya jangan pejamkan mata. Di kawasan ini, kamu akan merasakan sensasi kereta api melewati terowongan yang cukup panjang. Sensasi gelap gulita ketika berada di terowongan akan tetap terasa walaupun kamu melewatinya pada malam hari. Seru banget!

Dengan harga tiket yang murah, Matarmaja selalu jadi favorit para penumpang kereta api di jalur Malang – Jakarta. Biar nggak kehabisan, pesanlah tiket Matarmaja sejak jauh hari sebelum keberangkatan. Kamu bisa memesan tiketnya secara online di Traveloka dengan mudah, lengkap dengan jumlah kursi yang tersedia buat perjalanan backpacker kamu ke Malang nanti. 

Happy backpacking guys!



Merayakan Warna Warni Kita Dalam Gelaran Perpusjal Bekasi 15

Perpusjal Bekasi

Lupakan bayangan tentang jajaran buku yang tersusun rapih dan suasana sepi, jangan marah juga kalau kamu sedang membaca buku lalu di sebelahmu ada yang bernyanyi, membaca puisi, meneriakkan sajak, menanyakan tentang buku yang kamu baca dan seterusnya.

Lupakan juga makna kata perpustakaan yang diisi oleh para pembaca yang khusuk tenggelam dalam bacaannya, karena di Perpustakaan Jalanan buku harus bisa berbicara melalui siapa saja yang sudah membacanya, bisa melalui kamu, bisa juga melalui saya. Diskusi yang ringan atau dalam pasti akan terjadi jika ada dua orang yang sudah membaca buku yang sama bertemu, karena insteraksi adalah kewajiban di sini.

Perpusjal Bekasi

Malam itu, Sabtu 17 Februari 2018 saya didapuk oleh pemangku hajat "Perpustakaan Jalanan 15" untuk membicarakan Citizen Journalism atau Jurnalisme Warga. Tanpa persiapan berarti, di jajaran gelaran lapak buku saya melihat buku "Hari-hari Terakhir Che Guevara" sebuah buku yang baru kali ini saya lihat, berisi tentang catatan harian tertanggal 7 November 1966 – 7 Oktober 1967. Buku inilah yang saya gunakan sebagai bahan untuk membuka materi. Kebetulan saya sempat membacanya sedikit di sela-sela obrolan dan selingan musik akustik serta lontaran puisi-puisi dari teman-teman yang hadir.

Kali ini puisi “Kau Ini Bagaimana Atau Aku Harus Bagaimana” karya Gus Mus dibawakan dengan sangat menyentuh oleh Iwan Bonick, seorang ontelis dan salah satu pelopor Perpustakaan Jalanan Bekasi. Dilanjut dengan sebuah sajak berjudul "Gadis Bekasi Berapi-api" yang menghidupkan imaji Gedung Juang 45 Tambun sebagai pencetus inspirasi, dibacakan secara lantang namun malu-malu oleh Cahyo dari Taman Baca Tanjung. Begitu juga sajak dari Vrandes, pemuda penggiat literasi dari Langit Tjerah Cikarang ini melontarkan kritiknya dalam bentuk puisi, entah apa judulnya, saya hanya mengingat bait-baitnya secara samar, setelah saya susun kembali kurang lebih bunyinya menjadi seperti ini:
"Bagaimana mungkin kamu bilang semua baik-baik saja?
Di jalanan aku lihat gerobak berisi anak-anak negeri tertidur memeluk mimpinya".

Hadir pula para relawan TBM Rumah Pelangi Bekasi, Jabaraca, Saung Baca Cinong Bekasi, Komunitas Historika Bekasi, beberapa penggiat musik indie seperti Eky Birdman, Zaly Brur, Restu Kids Rebel, Suckit Stuff dan beragam komunitas lainnya yang saya belum kenal. Berkumpul menjadi satu seperti reff dari lagu Navicula yang didendangkan bersama malam itu... "Warna-warni kita menjadi satu".

Gelaran Perpustakaan Jalanan Ke 15 ini adalah kegiatan yang kedua bagi saya, kali ini saya lihat rekan-rekan penggiat Perpusjal Bekasi sudah lebih siap. Gelaran tenda biru sebagai alas duduk, penerangan dan lapak buku yang lebih tertata, juga ada sound system sederhana yang digunakan untuk keperluan musik akustik, puisi dan pengeras suara bagi nara sumber. Sepertinya Angkringan Maz Berto di Pasar Modern Harapan Indah inilah yang menyediakan listriknya.

Karena tidak diberikan tema yang lebih spesifik maka saya justru memanfaatkan moment ini untuk mengkritik teman-teman Perpusjal Bekasi yang menurut pengamatan saya secara sekilas tidak rapih dalam mengarsipkan dokumentasi kegiatannya  (benar atau tidak itu urusan belakang, salah sendiri kenapa menjadikan saya nara sumber).

Secara umum kritik itu juga ditujukan untuk teman-teman yang hadir malam itu. Kegiatan yang dilakukan oleh para pemuda ini sudah berjalan sekian lama di segala bidang melalui komunitasnya, alangkah baiknya jika semua kegiatan sosial itu terdokumentasikan dengan baik. Entah didokumentasikan melalui platform blog atau pun media sosial yang dapat dimanfaatkan untuk tujuan-tujuan yang baik pula.

Dokumentasi kegiatan Perpusjal Bekasi menurut saya masih sangat minim, sehingga banyak orang hanya menganggap Perpusjal Bekasi sebatas gelaran buku-buku tua. Padahal setiap gelaran selalu ada kegiatan positif seperti belajar menggambar, mewarnai buat anak-anak, wadah pembacaan puisi, musik akustik terbuka dan bincang-bincang atau diskusi bebas dengan tema beragam. Sebuah kegiatan yang mungkin biasa saja bagi sebagian orang namun sangat istimewa untuk teman-teman yang tidak pernah menyandang titel mahasiswa.

Dalam sesi ini saya hanya ingin menekankan bahwa media adalah senjata, termasuk media sosial, pelurunya adalah konten!, seandainya saja pemuda-pemuda yang malam ini berkumpul memproduksi berbagai konten positif dari hasil kegiatannya, maka saya yakin konten negatif seperti hoax dan sampah informasi lainnya akan sulit mendapatkan tempat.

Itulah gunanya jurnalisme warga, berperan serta mengisi konten positif, minimal mengabarkan hal-hal positif yang telah mereka lakukan agar menginspirasi khalayak muda lainnya.

Perpusjal Bekasi

Pada sesi berikutnya, Endra Kusnawan sebagai nara sumber selain bercerita mengenai Bekasi Tempoe Doeloe juga mengkritisi pembangunan yang tidak memperhatikan gedung-gedung tua dan tempat-tempat bersejarah. Dia bercerita bagaimana Stasiun Tambun yang memiliki kaitan dengan kejadian-kejadian bersejarah kini telah diubah menjadi stasiun yang modern tanpa meninggalkan jejak sejarahnya sedikitpun. Seakan tidak ada tempat bagi sejarah masa lalu yang telah membentuk Bekasi seperti saat ini.

Dari materi Endra Kusnawan ini, saya mulai menerawang tentang generasi-generasi yang terputus dengan sejarah kotanya, mengidap krisis identitas dan mencarinya di tempat-tempat yang mungkin tidak diinginkan oleh siapapun... tawuran, narkoba?

Semoga gelaran Perpusjal Bekasi berikutnya akan lebih mendobrak dan bermanfaat, amiin.

Sejenak Menyegarkan Mata di Rumah Pohon Sukamekar Sukawangi

Sejenak Menyegarkan Mata di Rumah Pohon Sukamekar
Rumah Pohon, Desa Sukamekar Kecamatan Sukawangi Bekasi
Menguasai teori grafting atau menyambung pohon cukup mudah, dengan memanfaatkan mesin pencari Google maka ribuan artikel di internet dengan kata kunci "sambung pucuk" atau "sambung samping" siap untuk kita baca.

Membaca artikel-artikel itu ingatan saya melayang kembali ke pelajaran biologi saat SMA mengenai reproduksi vegetatif buatan, dan juga saat mencoba hasil enten jeruk besar dan manis yang dilakukan transmigran dari Pulau Bali di sekitaran wilayah Tobadak Mamuju Sulawesi Barat. 

Menguasai teori dengan mempraktekkannya itu jauh berbeda, memahami hanya dengan membaca jauh berbeda dengan tahu karena mengalami atau mempraktekkannya. Dengan melihat sendiri bagaimana adik-adik penggiat Rumah Pohon sedang melakukan praktek menyambung beberapa pohon, saya rasa gak semua orang bisa melakukannya dengan baik. Saat ditawarkan untuk mencoba saya pun menolak, saya belum cukup berpengetahuan untuk langsung mencoba menyambung pohon. Sayang kalau sampai batang pohon dan pucuk yang ada menjadi sia-sia di tangan saya :)

Menurut Marjuki Lahimsyah, S.Pd, MM. (55) yang akrab dipanggil Guru Marjuki, praktek pembelajaran menyambung pohon ini adalah bagian dari pendidikan karakter dan pengenalan filosofi hukum alam.

"Manusia dan tumbuhan memiliki banyak kesamaan, karenanya praktek menyambung pohon ini juga adalah salah satu cara sederhana untuk pembangunan karakter (character building) para peserta" ungkapnya.

"Selain itu, semoga para peserta pelatihan juga dapat memiliki keterampilan yang akan memperluas wawasan sehingga mampu menghargai alam serta menjaga kelestariannya, minimal lebih menghargai pepohonan yang ada di lingkungannya" sambung pendiri dan pembina Rumah Pohon ini. 
Sejenak Menyegarkan Mata di Rumah Pohon Sukamekar
Proses penyambungan pucuk. Foto: Imron Maulana
Beberapa pohon hias yang mengisi Rumah Pohon ini antara lain dari jenis Puring, Anting Putri, Jalitri, Melati Korea, Batavia (Jatropha pandurifolia), Dolar (Zamioculcas Zamiifolia), beberapa jenis palem dan lain-lain yang telah berhasil disambung dengan berbagai jenis batang pohon kayu. Sedangkan untuk pohon buah seperti ubi, cabai, tomat, terong dan lain sebagainya masih dalam tahap pengembangan.
Sejenak Menyegarkan Mata di Rumah Pohon Sukamekar
Saung Perubahan Rumah Pohon Desa Sukamekar Kecamatan Sukawangi
Bagi penggiat dan peserta pelatihan, Rumah Pohon juga disebut sebagai Saung Perubahan. Di antara rimbun pepohonan terdapat saung berkonstruksi baja ringan yang cukup untuk menampung hingga 30-40 orang sebagai tempat penyampaian berbagai macam materi pelatihan. Di saung ini saya duduk bersama dengan para peserta pelatihan dan sesekali terlibat dalam diskusi mengenai berbagai hal terkait agenda Rumah Pohon.

"Saung ini adalah tempat kita bertukar pikiran dan berdialog melakukan musyawarah berbagai hal terkait kegiatan di Rumah Pohon, konsultasi, pelaporan perkembangan tanaman dari proyek yang sedang dilakukan peserta pelatihan dan macam-macam" jelas Imron Maulana (22) salah seorang penggiat Rumah Pohon yang juga sedang belajar menyambung beberapa jenis tanaman.

Ke depannya Guru Marjuki ingin Rumah Pohon bukan hanya sebagai tempat belajar reproduksi vegetatif, tetapi juga bisa menjadi tempat budidaya, penghasil tanaman hias, produksi jamur kamboja, buah-buahan, kompos dan ragam produk organik lain yang nantinya akan dipasarkan secara online. Selain itu semua, Guru Marjuki juga berharap Rumah Pohon  ke depannya menjadi layak sebagai  salah satu destinasi wisata alam di Bekasi.

Sejenak Menyegarkan Mata di Rumah Pohon Sukamekar
Guru Marjuki menjelaskan penyambungan pucuk
Sayangnya, menurut penglihatan saya, areal yang dijadikan laboraturium hidup untuk mencoba berbagai kombinasi tanaman ini tidak memiliki lahan yang cukup luas. Dengan dibatasi jalan utama desa dan bibir Kali Bekasi, Rumah Pohon kurang lebih hanya seluas 6 sampai 7 meter dan memanjang mengikuti bibir kali Bekasi sekitar 10-15 meter. Semoga kelak areal laboratorium hidup Rumah Pohon dapat meluas hingga layak menjadi destinasi wisata alam seperti yang diharapkan.

Gak terlalu lama singgah sudah cukup untuk menyegarkan mata melihat berbagai pohon hias dan tunas-tunas pohon yang hijau merekah. Setelah dari Senin hingga Jumat hanya bertemu mesin dan beton, setidaknya hari ini saya merasakan sensasi kembali menyatu dengan alam. Selain menyegarkan mata, menikmati kopi dan berbincang-bincang membuat long weekend menjadi lebih bermakna. Yah, bahagia itu sederhana kok. :)

Tersembunyi di balik rimbun pepohonan, keberadaan Rumah Pohon tidak mencolok sekalipun terletak di pinggir jalan utama, sehingga mudah terlewati bagi yang baru pertama kali ingin berkunjung. Kalau mau berkunjung, info-info saja, nanti saya pandu :). 

Rumah Pohon berada di Kampung Pangkalan Nurul Iman RT. 02/03 Desa Sukamekar, Kec. Sukawangi, Kab. Bekasi 17655. Nurul Iman adalah nama masjid yang namanya digunakan oleh warga sebagai patokan lokasi, kebetulan masjid tersebut berjarak cukup dekat dengan Rumah Pohon. Sila kunjungi Halaman Facebook Rumah Pohon untuk informasi lebih lanjut di Facebook Rumah Pohon Bekasi atau Instagram  Rumah Pohon Bekasi.

Semoga masih ada kesempatan buat saya untuk mampir dan mencoba sendiri menyambung pohon :)

Salam.

KERINGAN (KEripik RIndu kesayaNGAN) Ala Komunitas Mabes Home Bekasi


Soal kreativitas merangkai kata rupanya saya harus banyak belajar dari generasi milenial. Bahasa Indonesia yang sepertinya diharamkan oleh para pengembang perumahan dengan menempelkan istilah asing pada produknya agar lebih komersil justru tidak berlaku. Kata "keringan" yang makna umumnya adalah penganan kue kering bisa bermakna berbeda oleh Komunitas Mabes Home di Kampung Pangkalan Poncol Desa Sukamekar Kecamatan Sukawangi. KERINGAN bagi mereka adalah: KEripik RIndu kesayaNGAN.

Salah besar kalau masih ada anggapan pemuda desa kurang kreatif, nih buktinya hanya dengan modal awal sebesar 150 ribu rupiah yang disisihkan dari uang kas komunitas dalam hitungan hari Komunitas Mabes Home sudah mampu memberdayakan anggotanya terjun ke bisnis kuliner dengan omset kotor sekitar 600 ribu hingga 800 ribu rupiah per hari.
KERINGAN (KEripik RIndu kesayaNGAN) Ala Komunitas Mabes Home Bekasi
Amay anggota Mabes Home
Menurut Amay (19) salah satu anggota komunitas Mabes Home, produksi keringan (keripik rindu kesayangan) ini tidak lepas dari pelatihan dan pendampingan yang dilakukan oleh Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Islam 45 (Unisma) Bekasi yang sedang melakukan kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Kegiatan KKN selama 1 bulan yang dimulai dari tanggal 22 Januari hingga 23 Februari 2018 ini telah mematangkan ide Komunitas Mabes Home untuk mencari kegiatan yang dapat memberdayakan anggotanya dan bernilai ekonomi.

Gadis kelahiran Februari 1999 ini juga menjelaskan mengenai varian keringan yang mereka produksi, saat ini Mabes Home sudah memproduksi 5 varian rasa yaitu: 1. Pasrah - Original; 2. Sayang - Rasa Jagung Manis; 3. Sakit Hati - Pedas; 4. Sabar - BBQ; dan 5. Kejujuran - Keju. Dijual per kemasan (150gr) Rp. 8000 rupiah, jika membeli 2 kemasan ada diskon menjadi Rp. 15.000, Keripik Rindu Kesayangan dapat dipesan melalui WA di 0858 8613 3793 atas nama Dita Yuliani dan melayani COD.

Yang menarik bagi saya adalah bagaimana Mabes Home mampu menghabiskan keringan produksinya ini dalam sehari. Produksi mereka sebenarnya masih terbilang sedikit, dengan hanya 1 penggorengan mereka memproduksi sekitar 100 kantong keripik dalam sehari. Untuk usaha yang baru dirintis dalam hitungan hari ini, prestasi itu sudah merupakan awal yang baik kalo menurut saya :).
Masih menurut Amay, pemasaran dilakukan dengan cara pemasaran langsung "Direct Marketing" secara offline di lingkungan sekitar dan online memanfaatkan internet. Alat pemasaran mereka yang utama adalah WhatsApp Messenger, Facebook dan Instagram. Namun setelah saya telusuri hanya ada beberapa promosi di Facebook pribadi anggota Mabes Home, sedangkan di Instagram lebih sedikit lagi.
KERINGAN (KEripik RIndu kesayaNGAN) Ala Komunitas Mabes Home Bekasi
Bapak Mantan RW Sanan di Saung Komunitas Mabes Home Pangkalan Poncol Sukamekar
Dalam kaitan marketing dan hubungannya dengan komunitas kita mengenal istilah "community marketing", dalam teori community marketing ada dua jenis atau tipe dari community marketing, yaitu: Organic dan Sponsored. Tipe Organic ini dibentuk oleh user/pelanggan tanpa ada intervensi dari perusahaan/brand. Sedangkan tipe Sponsored sengaja dibentuk dan dikembangkan oleh perusahaan/brand. Dalam bingkai teori ini maka pemasaran yang dilakukan oleh Mabes Home ini kalau dipaksa untuk sesuai dengan teori maka akan lebih cocok masuk ke tipe Sponsored, karena produk kripik ini masih dalam tahap menentukan posisi (positioning) dengan target yang luas, menyasar semua segmen pasar. 

Target pemasaran pertama tentunya internal lingkaran komunitasnya yang heterogen, dari sini produk kripik akan banyak mendapatkan masukan dan kritik (feedback) terpercaya, khususnya mengenai rasa dan kualitas kripik itu sendiri seperti: kurang gurih, rasanya terlalu kuat dan berbagai feedback yang bertujuan untuk menyempurnakan produk. Jika anggota atau lingkaran internal komunitas telah puas baik terhadap rasa hingga kemasan maka dengan mengandalkan loyalitas dan solidaritas setiap anggota akan "percaya diri" untuk ikut memasarkan produk ini tanpa merasa dipaksa oleh organisasi. Ini yang Mabes Home lakukan sebelum mereka berani memasarkan lebih jauh produknya dengan rasa dan kemasan yang sekarang, ke depannya masih akan terus disempurnakan dan dikembangkan.
KERINGAN (KEripik RIndu kesayaNGAN) Ala Komunitas Mabes Home Bekasi
Aryo Band Ketua Komunitas Mabes Home
Dari salah satu anggota saya juga mendengar bahwa salah satu alasan adanya usaha kripik ini adalah untuk menambah uang kas komunitas dalam rangka memeriahkan acara milad Mabes Home. Baiklah itu sangat membanggakan, target jangka pendek ini (milad) akan dibiayai secara swadaya melalui usaha menjual kripik keringan ini. Namun dari berbincang-bincang dengan sesepuh komunitas yang disebut sebagai "Surya Paloh" saya menangkap sebuah tujuan jangka panjang yang perlu juga untuk dipertimbangkan.
KERINGAN (KEripik RIndu kesayaNGAN) Ala Komunitas Mabes Home Bekasi
Bapak Tari Karna Bewok bersama Relawan Baja Bopas
Menurut Bapak Tari Karna Bewok mantan ketua RT setempat, anggota komunitas ini tidak semuanya berpenghasilan tetap, karenanya dengan adanya usaha keripik keringan ini ia berharap dapat memberdayakan anggota yang masih belum bekerja ataupun yang banyak memiliki waktu luang. Bukan hanya produksi kripik, dia berharap usaha ini akan berkembang dan akan ada usaha-usaha lain yang akan memberi manfaat, baik itu pengalaman, pengetahuan dan finansial.

"Mereka harus belajar mandiri, salah satunya dengan usaha seperti ini. Orang yang benar-benar membantu akan memberikan kail bukan langsung ikannya". Sedikit saja kata-kata beliau tapi saya paham maksudnya. Tentu Anda juga paham kan?.

Komunitas Mabes Home
Kampung Pangkalan Poncol RT.01/06
Desa Sukamekar Kec. Sukawangi
Kabupaten Bekasi 17655

Berburu Hadiah di Bekasi Wedding Exhibition Yuk

"Lu kapan Nikah?" tanya saya.
"Lu kenapa nanya-nanya, emangnya kalo gue mau nikah elo mau biayain?" jawab teman saya sewot.
"Gak kok gue cuma mau ngajak elo berburu diskon banyak vendor di 4th BEKASI WEDDING EXHIBITION".

Kira-kira begitu dialog imajinatif yang mungkin aja pernah terjadi di kehidupan entah siapa, tapi soal 4th Bekasi Wedding Exhibition (#BWE4) itu bukan fiksi kok, beneran akan diselenggarakan di Grand Galaxy Convention Hall, Jakasetia, Bekasi Selatan tanggal 26 sampai 28 Januari 2018. Kalau mau tau selengkapnya tinggal klik aja nih -->> 4th Bekasi Wedding Exhibition.

4th Bekasi Wedding Exhibition

Sesuai namanya, acara ini sudah yang ke-4 kali diselenggarakan di Bekasi, sejak Bekasi Wedding Exhibition pertama di tahun 2015. Acara yang mempertemukan industri kreatif di dunia wedding ini selalu saja memenuhi target pengunjung. Dari jejak digital yang bisa saya telusuri, event ini banyak dihadiri muda-mudi yang ingin menambah wawasan dan pengetahuannya dalam bisnis wedding. Pastinya bakalan seru dan... yah, bagi saya dan mungkin sebagian pengunjung event ini adalah ajang mencari diskon dan hadiah hehehe :)

Kalau saya ajak kalian berburu diskon, voucher, doorprize kamu emangnya gak mau? Saya yang sudah beristri dan gak punya niat poligami ajah mau kok, masa' kamu yang jomblo gak mau? #eh...

Soal hadiahnya kalau sudah dapat, yah terserah kita dong mau diapakan. Buat hadiah teman yang baru mau atau baru saja menikah kayaknya keren deh. Hadiah wedding ring dan lain-lain itu buat apaan coba kalo saya yang dapat? Atau hadiah-hadiah lain yang terkait resepsi seperti voucher dan diskonan gedung, foto, catering dll. Kalau give away yang umum-umum aja sih yah mungkin lah buat dipakai sendiri. Kalau misalnya saya beruntung mendapatkan kamera mirrorless yang harganya masih lumayan itu, kan lumayan daripada lu manyun :D.

Nih, saya list daftar hadiah yang saya baca di Kumparan
  1. DOORPRIZE harian seperti kamera mirrorless, wedding ring, dan lain sebagainya untuk setiap transaksi.
  2. GRANDPRIZE satu set perlengkapan ruang tidur lengkap (tempat tidur, spring bed, lemari, nakas 2 buah dan meja rias)
  3. PROMO vendor pernikahan dengan nilai ratusan juta rupiah
  4. LIONTIN untuk para pengunjung dengan postingan IG terpilih pada saat di Venue #BWE (Pop Up Backdrop)
  5. RATUSAN koleksi WEDDING RING terbaru
  6. HARGA PROMO sepasang WEDDING RING berlian hanya dengan Rp 3 juta-an
  7. HADIAH TAMBAHAN & GIVE AWAY MOMENT menarik lainnya untuk setiap social media activity re-post IG (follow dan re-post Instagram @bekasiweddingexhibition)
Lumayan banyak kan, masa' sih gak ada 1 pun yang nyangkut? :)


Beberapa acara yang disiapkan oleh pihak penyelenggara antara lain; Music Performance, Fashion Show dari para vendor, Talkshow bersama Meyda Sefira (Pemain Film Ketika Cinta Bertasbih), juga dari Aksi Cepat Tanggap (ACT), dan Rika Pertiwi Zulfi (Direktur Utama Jakarta Event Enterprise) tentang #JEEMovement.

Oki Setiana Dewi Bekasi Wedding Exhibition Oh iyah, buat yang pernah ngefans sama Mbak Anna Althafunnisa eh maksud saya Oki Setiana Dewi juga kali aja bisa melepas rindu dengan sang pemeran utama film Ketika Cinta Bertasbih 1 ini. Mbak Oki kan juga punya bisnis bridal house dan boutique jadi pas banget kalo acara Bridal Fashion Show di acara BWE4 ini menampilkan koleksi-koleksi dari butiknya Mbak Oki.

Lain dari itu setidaknya saya bisa nge-list vendor-vendor yang menyediakan jasa dan barang terkait resepsi pernikahan, mulai dari vendor percetakan undangan, jasa fotografi, catering, dekorasi, entertainment sampai jasa travel honeymoon :)

Refererensi seperti ini perlu buat jadi gambaran supaya gak perlu merasakan repotnya merencanakan prosesi pernikahan jika ada teman atau saudara lagi butuh, atau barangkali ada teman yang mau buka usaha Wedding Organizer (WO) atau apalah, mumpung para penyedia jasa dan barang ini sedang berkumpul di sebuah pameran yang katanya “The Biggest Wedding Exhibition In The City”.

Infonya nih, selain akan mendapatkan banyak informasi dari beragam vendor, kita-kita sebagai pengunjung juga akan disuguhkan dengan bermacam pengalaman menarik saat masuk ke dalam venue acara. Konsep yang ditawarkan pada 4th Bekasi Wedding Exhibition kali ini sangat intimate, experimental dan instagram-able. Plus jangan lupa nyicipin menu cateringnya hehehe.

Setiap sisi venue acara akan didekorasi menarik dan kekinian sehingga pengunjung tertarik untuk mengabadikan momen dan mengunggahnnya di akun media sosial mereka dan jika beruntung akan mendapatkan hadiah. Akan ada dua orang pemenang yang berhak mendapatkan hadiah liontin bagi pengunjung yang mengupload foto pada akun Instagramnya pada Pop Up Backdrop yang sudah disediakan di BWE.

Rangkaian kegiatan 4th Bekasi Wedding Exhibition yang akan diselenggarakan selama 3 hari berturut-turut dari tanggal 26 sampai 28 Januari 2018 ini rencananya akan dimulai sejak jam 10.00 hingga 21.00 WIB. Beberapa acara yang disiapkan oleh pihak penyelenggara antara lain; Music Performance, Fashion Show dari para vendor, Talkshow bersama Meyda Sefira (Pemain Film Ketika Cinta Bertasbih), juga dari Aksi Cepat Tanggap (ACT), dan Rika Pertiwi Zulfi (Direktur Utama Jakarta Event Enterprise) tentang #JEEMovement.
-----

"Jadi elo tuh ngajak apa maksa Sot?" tanya temen saya.

"Pengen nyari tumpangan ajah kalo seandainya elo mau, gue beliin bensin deh" jawab saya diplomatif.

"Gak bisa kayaknya, tanggal tua kayak gitu gue biasanya meriang" kata temen saya males-malesan.

"Oh gitu, yah baiklah, setidaknya saingan gue dapet doorprize dan lain-lain berkurang, hehehe".
Berburu Hadiah di Bekasi Wedding Exhibition Yuk
Doorprize harian Wedding Ring

Dari Rumah Pelangi Ke Seminar

Hari Minggu 14 Januari 2018 kemarin, civitas akademika STIM Budi Bakti Bekasi melaksanakan Dies Natalisnya yang ke-16. Acara yang dilaksanakan di Gedung Islamic Center Bekasi ini juga diisi dengan seminar kewirausahaan creativepreneur yang bertema "Keep Your Mind Wide Open" dengan menghadirkan pembicara yaitu saya dan Endra Kusnawan.


Kesan pertama saat mengetahui akan disandingkan dengan Endra Kusnawan mungkin karena latar belakang saya blogger dan Endra adalah penulis buku. Mungkin kegiatan itu yang akan dipaparkan. Saya dan Endra sendiri sudah saling mengenal karena kami berdua sering sama-sama bertukar pikiran di Rumah Pelangi Bekasi.

Namun setelah kami (saya dan Endra) bertemu langsung dengan ketua panitia pelaksanaan di Rumah Pelangi Bekasi saya dan Endra sudah punya gambaran apa yang kelak akan kami sampaikan di dalam seminar creativepreneur ini.

Saya mendapat kesempatan sebagai pemateri pertama dengan topik mengupas creativepreneur dengan prinsip-prinsip POAC (Planning, Organizing, Actuating, dan Controlling) karena hadirin adalah mahasiswa manajemen yang pastinya sudah sangat akrab dengan prinsip POAC. Endra bertugas mengurai mental block dan motivasi sesuai dengan isi buku yang pernah ditulis dan diterbitkan Gramedia: Breaking Your Mental Block.

Dalam materi POAC yang saya bawakan, antusiasme hadirin mulai tampak saat sesi tanya jawab, hal ini membuat saya dapat bernafas lega setelah sekian menit merasa hanya mendeliver 1 arah tanpa feedback, suatu hal yang kurang saya suka. Pertanyaan-pertanyaan seperti seberapa penting visi misi ada dalam BRM (business road map), masalah HAKI dalam penerapan teori ATM (Amati Tiru Modifikasi),  hingga yang teknis tentang bagaimana memperlebar jangkauan bisnis.

Endra Kusnawan
Saya lihat Endra tidak banyak mengalami kesulitan dalam menguasai forum, berbeda dengan saya yang memang tidak sebagus Endra dalam mendeliver dan menjaga fokus audience. Banyak catatan untuk diri saya pribadi tentang bagaimana menjaga "focus span" dan menjaga engagement dengan audience.

Soal materi Alhamdulillah, saya tidak mendapat kesulitan dalam menjawab dan menyampaikan kembali materi-materi yang belum sempat saya sampaikan saat presentasi. Dan kesempatan menjadi pembicara pertama juga sebenarnya menguntungkan saya karena peserta masih segar (belum bosan) dan memang masih suasana pemanasan hingga kegiatan berjalan seperti slow motion. Dari sini saya kira saya perlu memperbanyak bahan "ice breaking" untuk menjaga engagement.

Soal materi nanti saya jabarkan di post selanjutnya yah 😁☕

Mau Dibawa Ke Mana Peradaban Buni Bekasi?

Alhamdulillah, malam Minggu kemarin (16/12/2017) saya bisa ikutan numpang ngopi bareng dengan saudara-saudara yang aktif dalam estafet diskusi bertajuk Purnama Bekasi (purba). Dalam diskusi purba ke-10 ini saya tertarik untuk mengikutinya karena lokasi diskusi berada di Kp. Buni Pasar Emas Desa Muarabakti Babelan, tidak terlalu jauh dari TBM Rumah Pelangi Bekasi tempat saya biasa melalui malam minggu.
Mau Dibawa Ke Mana Peradaban Buni? Purba Purnama Bekasi
Flyer Purba 10
Hadir sebagai nara sumber dan undangan dalam diskusi ini, Bang Karyo, ketua Karang Taruna Desa Muarabakti, Bang Kamal Hamzah (Kopiah Baba - Kranji), Bang Jasan Supratman (Akademisi), Bang Sanusi Nasihun (Presiden Aliansi Utara - ALU). Nyai Atikah selaku tuan rumah hanya bisa menemani sebentar lalu kembali masuk ke dalam rumahnya, selanjutnya diskusi dimulai jam 9 malam diiringi sisa-sisa hujan di wilayah Babelan ini. Cak Sudi dari FLP (Forum Lingkar Pena) bertindak sebagai moderator dalam diskusi santai di pelataran samping Masjid Jami Nurul Yaqin Desa Muarabakti Kecamatan Babelan Kabupaten Bekasi ini.

Menurut Wikipedia, Kebudayaan Buni adalah sebutan bagi suatu kebudayaan protosejarah di pesisir utara Banten dan Jawa Barat yang muncul pada masa akhir pra-Masehi hingga sekitar abad ke-5 Masehi. Kebudayaan ini dinamai berdasarkan lokasi penemuan pertamanya di Buni, Babelan, Bekasi di sebelah timur Jakarta [sumber]. Hal ini yang dijelaskan secara singkat oleh Cak Sudi sebagai pembuka diskusi.
"Mengenai Kebudayaan atau Peradaban Buni (demikian disebut dalam diskusi) sudah diakui secara nasional dengan ditemukannya bukti-bukti artefak, gerabah dan lain-lain" ungkapnya dalam sambutan pembukaan diskusi.

Keterangan dari Cak Sudi tersebut sejalan dengan apa yang saya baca dari Web Arkeologi Nasional.
"Penelitian arkeologis di Situs Buni dilakukan oleh Lembaga Purbakala pada tahun 1960, 1964, 1969, dan 1970. Pada awalnya situs Kompleks Gerabah Buni hanya ditemukan di daerah Buni (Bekasi), namun kemudian penyebarannya semakin meluas di sepanjang pantai utara Jawa Barat di daerah Kedungringin, Wangkal, Utanringin sampai di wilayah Karawang (Batujaya, Puloglatik, Kertajaya, Dongkal, Karangjati, serta di Cikuntul dan Tanjungsari). Hasil penelitian tersebut umumnya berupa rangka-rangka manusia yang dikuburkan secara langsung (primer) dan berbagai bekal kubur antara lain: gerabah (tempayan, periuk, pedupaan, cawan, dan kendi), beliung dan gelang batu, benda-benda perhiasan dari emas, benda-benda logam dari perunggu-besi, dan manik-manik. Pertanggalan Situs Buni diperkirakan dari sekitar abad ke- 2 - 5 Masehi. [Sumber]

Diskusi semakin asik ketika Bang Sanusi Nasihun menceritakan apa yang kini sedang terjadi di wilayah pesisir utara Kabupaten Bekasi. Sebagai wilayah yang kaya akan sumber daya alam, masyarakat pesisir seperti Tarumajaya, Babelan, Cabangbungin dan Muaragembong justru merasakan pembangunan telah memangkas sendi-sendi kehidupannya. Sawah, ladang, tambak dan laut semakin sulit untuk memenuhi kebutuhan dasar penghidupan.
"Kesadaran sejarah dan budaya pasti dapat memberi manfaat kepada masyarakat, tapi konkritnya seperti apa? multiplier efeknya khususnya efek ekonominya bagaimana buat masyarakat?, itu yang perlu kita diskusikan agar ada "tapak" sejarah, jangan sampai kawasan Buni "hilang" dengan pesatnya pembangunan industri dan eksploitasi SDA di pesisir utara yang kaya ini".

Baba Kamal Hamzah selaku penggiat Komunitas Pencinta Sejarah dan Budaya Bekasi (Kopiah Baba) pada kesempatan ini menceritakan banyak tentang suka duka yang dialami Kopiah Baba dalam perjalanannya menelusuri, menginventarisir sejarah dan budaya. Baba Kamal (demikian beliau dipanggil) menekankan perlunya menggali sejarah dan budaya agar masyarakat tidak kehilangan jati diri. Selain itu Baba Kamal juga menekankan pentingnya menentukan ciri khas yang mewakili Bekasi, sebuah icon yang disepakati bersama oleh masyarakat sebagai icon kebanggaan warga.
"Ini penting, agar saat saudara-saudara saya yang dari Kalimantan atau Papua datang, saya bisa menunjukkan, ini loh khas Bekasi" ungkapnya dalam diskusi.

Beberapa nara sumber dan rekan-rekan yang hadir malam itu seperti Karang Taruna Desa Muarabakti, Cinong Bekasi, Rumah Pelangi Bekasi, Komunitas Pencinta Batu Akik Pandan Bekasi, Mahasiswa Ubhara, komunitas motor, Kosti dll juga banyak mengungkapkan pendapat dan ide-idenya mengenai Situs Buni dan kebudayaan atau sejarah Bekasi pada umumnya. Diskusi yang terus berlanjut hingga dini hari mengerucut pada ide-ide bagaimana cara menggukuhkan Situs Buni agar masyarakat Bekasi sadar akan sejarahnya dan bagaimana pula agar ada multiplier efek bagi ekonomi dan kesejahteraan masyarakat dengan pendekatan sejarah dan budaya secara nyata.

Tidak ada perselisihan mengenai pengakuan Peradaban Buni, berbagai museum dan literatur sejarah juga sudah mengungkapkan eksistensi Peradaban Buni di Bekasi. Namun demikian, jika kita ingin mencari di mana lokasi peradaban Buni maka kita akan menemukan kesulitan, karena Peradaban Buni yang penyebarannya meluas sepanjang pesisir pantai utara Bekasi tidak memiliki sebuah situs ataupun tugu sebagai penandanya, karenanya peserta diskusi sepakat agar ada sebuah lokasi yang menjadi simbol, menjadi wakil dari luasnya sebaran Peradaban Buni yang harus diresmikan oleh pemerintah, apapun bentuknya masih merupakan usulan-usulan. Peserta diskusi juga menyadari sebelum ke arah tersebut, masih banyak "PR" yang musti dibenahi, termasuk "PR" yang dipaparkan oleh Bang Jasan Supratman saat memaparkan teori manajemen pembangunan masyarakat.

Dengan hadir dalam diskusi ini, selain wawasan saya tentang kebekasian semakin bertambah, saya juga bisa ngopi bareng dengan orang-orang yang selama ini hanya saya kenal secara online di grup WA ataupun FB. Buat saya, mempererat silaturahim kurang afdol kalau belum ngopi bareng dan saling beradu gagasan dan berargumen dalam diskusi yang hangat dan guyub :)

Banyak yang hanya menjadi catatan pribadi, hanya sedikit yang bisa saya share di sini. 
Malam minggu yang bermanfaat.

7 Browser Android Terbaik Untuk Berselayar Di Ponsel

Setiap orang memiliki kebutuhan berbeda dalam menggunakan peramban internet atau browser. Ada yang membutuhkan browser dengan kemudahan download, ada orang yang membutuhkan browser dengan ukuran kecil untuk menghemat memori HP android, ada yang suka dengan tampilannya, ada yang butuh browser yang seudah terintegrasi feeds berita, notifikasi sosial media dan lain-lain. Tapi saya kira semua orang akan meninggalkan browser yang berat atau lama dan lemot serta banyak iklan saat digunakan.

7 Browser Terbaik Untuk Berselayar Internet Di Ponsel
Ilustrasi dari risalahku.com
Saat kegiatan kita berselancar di dunia maya dengan browser atau peramban tertentu dan terasa agak "lalod" alias lambat loading, jangan buru-buru salahkan jaringan internet. Banyak hal yang membuat peramban menjadi lalod di luar buruknya jaringan atau sinyal, antara lain adalah iklan, tracker, script pemantau dan lain-lain, tapi yang paling sering dikambinghitamkan adalah iklan. Untuk mengatasi iklan kemudian kita mengenal istilah "Adblocker".

Istilah adblocker yang berfungsi menyaring atau memblokir iklan ini sudah lama dikenal. Adblock, salah satu ekstensi peramban yang terkenal sudah ada sejak tahun 2009.

Untuk kita sebagai pengguna, keuntungan dari memblokir iklan pada web adalah isi web akan lebih cepat dan lebih bersih karena bebas dari iklan, manfaat lain juga menurunkan hal-hal yang memperlambat kinerja gawai (menghemat bandwidth, menurunkan kerja CPU, menghemat memori, dan lain-lain) karenanya, memblokir iklan juga dipercaya dapat menghemat penggunaan energi yang berefek pada penghematan sumber daya dan bikin batre awet.

Sebagai pengguna Android banyak peramban yang sudah memiliki pemblokir iklannya masing-masing, bahkan beberapa peramban adalah pengembangan dari aplikasi pemblokiran iklan, seperti Free Adblocker Browser buatan Rocketshield, Adblock Browser for Android buatan Eyeo GmbH dan banyak lagi.

Untuk kecepatan loading dan pemblokiran iklan, peramban yang saya andalkan Brave browser baru kemudian Firefox Rocket dan VIA. Untuk sinkronisasi antara browser di PC/Laptop dan HP saya mempercayakan pada Chrome, yah kecepatannya juga lumayan tapi masih di bawah 2 browser yang saya sebut pertama. Tapi untuk keperluan ngutak-ngatik desain blog di PC saya selalu menggunakan Mozilla Fire Fox, entah karena sudah terbiasa atau banyaknya dukungan addon yang cukup memudahkan seperti Web Developer, Firebug, Measureit, ColorZilla dlsb, namun sekarang addon ini sebagian besar juga sudah tersedia untuk peramban Chrome di PC/Laptop. 

Dari ocehan di atas sudah ada berapa browser saya sebut?

1. Free Adblocker Browser
Untuk pengalaman browsing bebas iklan, AdBlocker Browser adalah salah satu alternatif terbaik untuk Chrome, Dolphin dan Firefox. Beberapa fitur-fiturnya antara lain: blok semua jenis iklan dan cookie, notifikasi ketika ada malware dan adware, tidak diperlukan pendaftaran  untuk menggunakannya.

Browser Android Terbaik Untuk Berselayar Di Ponsel

2. Adblock Browser for Android
Adblock Browser for Android banyak memiliki fitur berguna yang kurang lebih sama saja dengan Free Adblocker Browser, ada beberapa menu lebih yaitua antara lain dapat menonaktifkan cookie untuk meningkatkan privasi dari script-script yang melacak gerakan online Anda. Adblock Browser for Android juga mampu memblokir domain malware dan menonaktifkan tombol berbagi media sosial sehingga diyakini dapat memuat konten web secara lebih cepat.

3. Brave Browser
Brave dikembangkan oleh Brendan Eich guna memberi kenyamanan bsaat browsing agar tidak terganggu oleh banyaknya iklan yang muncul. Brave tidak serta merta menghilangkan semua jenis iklan. Iklan yang tidak berusaha "mencuri" data pengguna tetap akan ditayangkan. Yang perlu dicatat adalah Brave berusaha menggantikan iklan yang mereka blok dengan iklan mereka sendiri.

4. Firefox Rocket
Mozilla berinisiatif mengembangkan Firefox Rocket, browser Android cepat dan ringan yang disesuaikan untuk pengguna Indonesia. Dengan Ukuran APK hanya sekitar 2 MB fitur utama Firefox Rocket antara lain Turbo Mode, Screenshot, Clear Cache, Storage Control, dan Block Images. Pengguna bisa melakukan browsing lebih cepat dengan Turbo Mode yang memblokir iklan untuk menyimpan data.

Browser Android Terbaik Untuk Berselayar Di Ponsel

5. Opera (Mini)
Untuk beberapa ponsel, browser mobile ini menjadi default browser untuk berinternet, terutama untuk ponsel yang tidak memiliki OS. Bahkan, fasilitas Opera Mini sudah menjadi salah satu senjata promosi dalam menjual ponsel menengah. Selain itu, seperti yang dijelaskan oleh Opera, browser mini mereka punya keunggulan di kecepatan dan performa, dan teknologi kompresinya.

6. Chrome
update terbaru Google Chrome versi 64 Android, salah satu browser terpopuler ini akhirnya menghadirkan fitur untuk memblokir iklan pop-up dan redirecting yang sangat menggangu dalam aktifitas berselancar di dunia maya.

7. VIA Browser
Via Browser ini hanya memiliki ukuran 378KB. Browser yang kecil tidak banyak "memakan" memory internal tapi powerful, saya suka dengan fitur adblocknya, internetan lebih hemat kuota.
VIA Browser Browser Android Terbaik Untuk Berselayar Di Ponsel
VIA browser by Lakor
Saya menggunakan Xiaomi MI A1 yang lumayan "lega" dengan RAM 4GB dan memory internal/ROM 64GB, tapi untuk urusan browser saya menggunakan  Firefox Rocket dan VIA Browser yang ringan dan cepat. Saya suka dengan Mozilla Firefox Rocket untuk kecepatannya tapi dengan hanya tampilan 1 tab dan bookmark pada halaman home yang belum saya tahu bagaimana cara kustomasinya maka untuk 7 browser ini saya memilih VIA Browser sebagai browser terbaik untuk HP Android.


Untuk ukuran yang kecil masih ada "Slimperience Browser" tapi saya belum pernah coba, dan tentu saja browser terbaik versi Anda boleh berbeda dengan versi saya. :)

Semua aplikasi browser tersebut ada di Google Play market.
Happy Weekend.