KINGSMAN THE GOLDEN CIRCLE : AKSI KONYOL DAN HEBOH SANG AGEN RAHASIA REMAJA

Eggsy Unwin (Taron Egerton), sang agen rahasia remaja asal Inggris beraksi kembali.  Setelah sukses dengan Kingsman : The Secret Service (2015), pada edisi kedua kali ini, Eggsy berhadapan dengan musuh yang berbeda dengan episode sebelumnya.

Adegan langsung dibuka dengan tampilan kejar-kejaran mobil yang seketika memacu adrenalin penonton–seakan sebuah “janji” adegan berikutnya tak kalah serunya. Dan “janji” itu ditepati.

Markas besar Kingsman, tempat agen Eggsy bernaung bahkan rumahnya sendiri diledakkan hingga hancur berkeping-keping oleh Poppy Adams (Julianne Moore) pemimpin kartel narkoba dan obat-obatan terlarang yang psikopat dan bersembunyi di tempat terpencil.

Melalui protokol keadaan darurat, bersama sang mentor, Merlin (Mark Strong), Eggsy terbang ke Kentucky, Amerika Serikat untuk meminta bantuan pada Statesman, kolega mereka yang juga menjadi agen rahasia independen yang menyamarkan diri sebagai perusahaan produsen Minuman Keras. Pemimpin Statesman (Jeff Bridges) bergerak cepat dengan mengerahkan agen andalannya Ginger Ale (Halle Berry), Whiskey (Pedro Pascal), dan Tequila (Channing Tatum). Melalui penyelidikan intensif, lewat petunjuk lingkaran emas (golden circle), Eggsy memperoleh fakta mengejutkan bahwa Poppy memiliki rencana yang jauh lebih besar dan berbahaya. Eggsy dan kawan-kawan tentu tak akan membiarkan hal itu terjadi.

Sejak awal dibuka, film ini memang memiliki “tempo” cepat, pergantian antar adegan berlalu sekejap sehingga dalam beberapa presentasi nyaris kehilangan esensi. Latar belakang Poppy sang penjahat psikopat, misalnya, tak dieksplore lebih jauh, padahal dengan kemampuan akting seorang Julianne Moore  yang mumpuni, bukan tidak mungkin ini menjadi salah satu daya tarik film ini. Termasuk pula aksi Channing Tatum sebagai sang Cowboy Tequilla serta Halle Berry sebagai agen Ginger Ale mendapatkan porsi kurang optimal.

Elemen humor dalam film ini begitu kental, namun saya sedikit kurang nyaman dengan humor bernuansa “dewasa” ketika Eggsy bermaksud mencari informasi terkait Golden Circle pada sebuah festival musik. Pun ada adegan sadis yang meski dikemas dalam bentuk joke ringan khususnya pada awal dan akhir film di markas Poppy, cukup membuat saya merinding ngeri. Dalam beberapa adegan terlihat humor yang dilontarkan terasa klise, namun ada pula yang membuat kita bisa tertawa terpingkal-pingkal. Ya, kehadiran, Elton John menjadi salah satu “daya betot” film berdurasi 141 menit ini. Gaya Elton John yang ekspresif dan narsis menjadi elemen “penyegar” dan membuat film ini menjadi lebih menarik.

Sebagai pemeran utama, Taron Egerton berhasil membangun chemistry yang bagus dengan jajaran pemeran lainnya seperti Colin Firth dan Mark Strong. “Dikepung” dengan artis-artis film Hollywood papan atas, Taron berhasil tampil gemilang sebagai sosok agen rahasia remaja yang nekad dan labil. Adegan-adegan aksi yang spektakuler yang mengalir sepanjang film ini juga patut diapresiasi. Matthew Vaughn, sebagai sutradara terlihat memang ingin menambah porsi adegan aksi tersebut lebih banyak dibanding film Kingsman sebelumnya.

 

WARKOP DKI REBORN JANGKRIK BOSS! PART 2 : KOMEDI LUGAS YANG SUKSES MELEDAKKAN TAWA

Hari Jum’at sore (1/9) seusai merayakan Hari Raya Idul Adha 1438 H, kami sekeluarga ditambah adik perempuan dan dua keponakan saya menonton film Warkop DKI Reborn Part 2 di Studio 5 Cinemaxx Orange County Cikarang. Beruntung saya sudah memesan tiket lewat online sehingga kami tak perlu antri panjang. Apalagi saat kami memasuki gedung bioskop para penonton sudah penuh hingga tempat duduk tak jauh di depan layar.

Sebagai tontonan dengan jumlah penonton terbanyak bahkan di hari perdana penayangannya saat bagian pertamanya tampil tahun lalu, Warkop DKI Reborn memang memiliki “daya betot” kuat bagi para penontonnya. Pada bagian kedua kali ini, penonton terlihat antusias untuk menyaksikan aksi kocak Kasino (Vino.G.Bastian), Dono (Abimana Arysatya), Indro (Tora Sudiro) memerankan trio lawak legendaris pada zamannya dengan sentuhan “kekinian” itu.

Adegan dibuka dengan potongan adegan dari episode pertama Warkop DKI Reborn. Sekedar untuk mengembalikan memori penonton pada keterkaitan cerita di episode kedua nanti. Di bagian ini, trio Dono, Kasino dan Indro ditemani Sophie (Hannah Al Rashid), rekan kerja mereka dari CHIPS cabang Prancis tiba di negeri Jiran Malaysia untuk mencari Harta Karun. Mereka mencari jejak perempuan bergaun merah yang tertukar tasnya saat pengambilan bagasi di bandara Kuala Lumpur. Lewat petunjuk dari barang yang ada di tas, mereka mendapat petunjuk hingga ke Perpustakaan Pusat Malaysia kemudian ke Laboratorium Ar Ran Universitas Malaysia.

Trio DKI plus Sophie akhirnya berjumpa dengan pemilik tas mereka yang tertukar, Nadia (Nur Fazura). Dengan mempertimbangkan latar belakang profesi Nadia sebagai peneliti, Mereka kemudian mengajak Nadia untuk bersama-sama mencari Harta Karun dengan perjanjian hasilnya akan dibagi dua. Nadia setuju dan siap ikut bersama Trio DKI plus Sophie. Petualangan seru dan kocak merekapun terjadi saat mereka mendarat lalu menjelajahi di pulau seram, sepi dan tak berpenghuni.

Terus terang, sebelum menonton film ini sempat terbersit rasa cemas, apakah kelucuan yang diumbar habis pada episode perdana Warkop Reborn , bisa jauh lebih bagus dari sebelumnya. Ternyata kekhawatiran saya tak beralasan. Pada episode kedua ini ternyata menyajikan kelucuan yang lebih maksimal. Derai tawa penonton terdengar riuh sepanjang film berlangsung. Pemain Trio DKI (Vino, Abimana, Tora) berhasil mengocok perut dengan aksi-aksi mereka yang menghebohkan.

Diawali dari adegan di Toko Serba KW di Malaysia, pembicaraan dengan penjaga perpustakaan bersuara membahana, hasil eksprimen aneh di laboratorum Arran hingga petualangan kocak Trio DKI di Pulau seram dengan adegan-adegan seru serta sentuhan kreatifitas humor yang pas dan “gila”.

Salut buat Anggy Umbara beserta dua penulis skrip, Bene Dion Rajagukguk dan Andi Awwe Wijaya yang berhasil membuat “kerusuhan” tawa di bioskop. Penataan kamera ala vintage oleh Yunus Pasolang serta iringan musik gubahan Andhika Triyadi semakin “memperkaya” gemuruh film fenomenal ini.

Chemistry yang terjalin antara Vino, Abimana dan Tora juga terlihat semakin kompak dan padu. Di bagian kedua ini, mereka mampu memainkan karakter yang mumpuni serta berinteraksi aktif dengan lawan main masing-masing. Kerinduan pada trio legendaris Dono, Kasino dan Indro sungguh bisa terobati dengan akting mereka yang natural. Dukungan pemain lain seperti Indro Warkop, Babe Cabita, Hannah Al Rashid, Nur Fazura dan Nora Danish semakin menyemarakkan suasana.

Ah, jadi gak sabar mau nonton episode berikutnya!

 

Film “Surat Kecil Untuk Tuhan” : Meretas Takdir dan Keniscayaan Cinta

Sebelum menonton film “Surat Kecil Untuk Tuhan” (SKUT) bersama keluarga kecil saya di Studio-1 Cinemaxx Mall Lippo Cikarang, Rabu sore (28/6), saya sempat didera kebingungan apakah ini film kelanjutan dari film sebelumnya yang berjudul persis sama dan dirilis pada tahun 2011 yang disutradarai oleh Harris Nizam, dan dibintangi oleh Alek Komang, Dinda Hauw, Esa Sigit, Ranty Purnamasari?. Tercatat film SKUK versi 2011 ini mampu mendulang sukses dalam meraih jumlah penonton, sekitar 700 ribu penonton.

Ternyata setelah menyimak film SKUK versi 2017 secara utuh, tidak ada relevansinya sama sekali dengan film berjudul yang sama dan dirilis 6 tahun silam yang ceritanya berkisah tentang seorang anak gadis yang menderita kanker dan menulis surat untuk Tuhan. Walau alur kisahnya juga tentang ketangguhan anak-anak dalam menghadapi takdirnya yang tak mudah. Kedua film berjudul sama dan dirilis pada tahun berbeda ini, sama sekali tidak ada hubungannya.

Film SKUK kisahnya diawali tentang romantika kelam dan pilu yang dihadapi oleh 2 kakak beradik cilik yatim piatu Anton (Bima Azriel) dan Angel (Izzati Khanza). Keduanya terjebak dalam sindikat kejam yang dipimpin oleh Pak Rudi (Lukman Sardi) yang memanfaatkan anak-anak terlantar untuk menjadi pengemis jalanan. Pada usia yang masih kecil, Anton bersama bocah-bocah lainnya diperbudak menjadi mesin uang untuk Pak Rudi tanpa kenal waktu. Masa kecil nan indah hanyalah mimpi belaka. Anton bertekad menjaga sang adik dengan baik hingga maut memisahkan mereka.

Peristiwa kecelakaan yang menimpa Angel merubah segalanya. Ketika ia tengah koma di rumah sakit, sang kakak terpaksa meninggalkannya karena diminta Pak Rudi mengikuti orang tua angkat yang akan mengadopsinya.  15 tahun kemudian, Angel dewasa (diperankan oleh Bunga Citra Lestari) yang hidup bahagia dengan keluarga yang mengadopsinya di Sydney Australia berkenalan dan menjalin hubungan dengan dokter muda spesialis jantung yang tampan, Martin (Joe Taslim). Angel masih diliputi bayang-bayang sang kakak Anton. Ia bertekad pulang kembali ke Jakarta dan menguak misteri itu : mencari sang kakak tercinta, hidup atau mati.

Martin tak kuasa untuk menahan kehendak kuat sang kekasih, Angel. Dibantu oleh kawan masa kecilnya, Ningsih (Aura Kasih) dan sang suami Asep (Rifnu Wikana) serta Letnan Joko (Ben Joshua), Angel yang juga berprofesi sebagai Pengacara ini berusaha menguak tabir hilangnya sang kakak kesayangannya. Tak diduga dari hasil penyelidikan secara intensif, Angel menemukan hal yang sangat mengejutkan dan membuatnya nyaris tak percaya atas apa yang sudah terjadi.

Pada film berdurasi 107 menit ini, Bunga Citra Lestari (BCL) dan Joe Taslim beradu peran dengan apik dan natural. Keduanya menunjukkan kelasnya sebagai artis profesional yang secara ekspresif dan dramatis tampil sebagai sosok adik yang mencari keberadaan sang kakak tercinta. Sementara itu, meski lekat citranya sebagai bintang laga, Joe Taslim mampu mengimbangi akting BCL pada adegan-adegan bernuansa melankolis. Tampaknya, pengalaman Joe sebelumnya yang berperan di film drama “La Tahzan” (2013) saat bermain bersama Atikah Hasiloan sangat membantu menghayati perannya sebagai Martin.

Para pemeran pendukung juga tak kalah memukau menampilkan kemampuan akting terbaiknya. Bima Azriel dan Izzati Khanza, dua artis cilik pemeran Anton dan Angel layak diberikan apresiasi dengan menyajikan parade akting nan cemerlang. Demikian pula Lukman Sardi yang tampil prima sebagai Pak Rudi yang dingin, kejam dan licik.

Sebagai sutradara, tak urung, Fajar Bustomi terasa menanggung beban berat menampilkan film SKUT setelah pada 2016, tiga film Komedi yang diproduseri oleh Falcon Pictures meraup untung besar sebagai film Box Office Indonesia (Comic 8, My Stupid Boss dan Warkop DKI-Reborn). Namun, didukung oleh skenario yang ditulis apik oleh Upi Avianto berdasarkan novel karya Agnes Davonar ini, saya meyakini, film SKUK yang bergenre drama mampu meraih sukses.

Dari sisi sinematografi, Yudi Datau begitu piawai menyajikan gambar-gambar indah dan impresif didukung oleh penataan musik dari Khikmawan Santosa dan Mogammad Ikhsan Sungka. Mereka mampu memberikan “nyawa” pada film ini, mulai dari kerasnya kehidupan anak-anak jalanan di ibukota hingga keindahan monumental kota Sydney di Australia. Yang paling meninggalkan kesan mendalam buat saya adalah lagu-lagu anak seperti “Nina Bobo”, “Ambilkan Bulan” dan “Bintang Kecil” ikut hadir di film ini dengan aransemen baru dan sangat memikat.

Salut dan sukses untuk film Surat Kecil Untuk Tuhan.. 

 

FILM PIRATES OF CARIBBEAN 5 : AKSI BALAS DENDAM KAPTEN SALAZAR DAN ULAH SI BAJAK LAUT SABLENG

Jack Sparrow, si bajak laut sableng yang selalu beruntung nasibnya itu kembali beraksi. Ya, enam tahun silam pasca film Pirates of the Caribbean: On Stranger Tides rilis, episode petualangan Jack Sparrow kali ini memang mengundang perhatian khalayak penonton, terutama para penggemar fanatiknya.  Saya yang sudah mengikuti perjalanan sejak episode awal Pirates of the Caribbean: The Curse of the Black Pearl (Verbinski, 2003) tentu memiliki ekspektasi tersendiri, terutama apakah episode kali ini dapat mengobati kekecewaan saya pada episode 6 tahun lalu.  Duet sutradara Joachim Rønning dan Espen Sandberg (Kon-Tiki, 2012) yang mengarahkan film Pirates of the Caribbean: Salazar’s Revenge kali ini setidaknya cukup membuat hati yang bahagia.

Film ini diawali dengan adegan heboh pertemuan pertama kali ketiga tokoh utama : Jack Sparrow (Johny Deep), Henry Turner (Brandon Thwaites) dan Carina Smyth (Kaya Scodelario).  Henry mencari Jack untuk meminta bantuannya menemukan Trisula Poseidon yang mampu merontokkan kutukan terhadap ayahnya, Will Turner (Orlando Bloom) disaat yang sama Henry juga memperingatkan Jack akan ancaman hantu Captain Salazar (Javier Bardem) yang akan memburunya untuk menuntaskan dendam. Sementara itu Carina, yang jago dalam soal astronomi membantu mereka menemukan jejak Trisula Poseidon yang terkubur di dasar samudera melalui peta navigasi bintang berupa catatan harian sang ayah.

Melalui naskah cerita yang ditulis oleh Jeff Nathanson (Tower Heist, 2011), adegan demi adegan film ini mengalir lancar dengan gaya yang khas : romantisme yang membuai, humor yang mampu meledakkan tawa, juga adegan aksi yang spektakuler.  Saya seperti merasakan kembali aura ketika rangkaian episode film ini dirilis pertama kali 14 tahun silam. Dari sisi sinematografis, film ini menampilkan adegan-adegan pertempuran laut yang seru dan memikat dibantu dengan tata suara nan megah serta efek spesial yang menakjubkan.

Johny Deep sebagai sang kapten bajak laut, kembali menampilkan “kelas”-nya dengan menyajikan karakter Jack Sparrow yang bergaya edan, berani, menjengkelkan dan nekad.  Chemistry yang dibangunnya bersama Kaya Scodelario dan Brandon Thwaites berjalan apik dan natural. Sementara itu Javier Bardem juga dengan gemilang menampilkan sosok antagonis Kapten Salazar yang kejam dan dibalut dendam kesumat pada Jack, sang kapten kapal Black Pearl ini.

Yang cukup membetot perhatian juga adalah, pada film ini digambarkan sosok Jack Sparrow muda yang berhasil mengalahkan kapten Salazar dan menjadi bagian integral dari keseluruhan cerita. Kehadiran Will Turner (Orlando Bloom) dan isterinya Elizabeth Swann (Keira Knightley) juga ikut membangkitkan nostalgia penonton setia film ini pada keempat episode sebelumnya.

 

FILM WONDER WOMAN : KISAH WANITA PERKASA DARI THEMYSCIRA

Semua memang berawal dari sebuah kota mungil yang terletak di sebuah pulau terpencil yang ditutupi kabut bernama Themyscira. Disanalah Diana (Gal Gadot), putri Ratu Hippolyta (Connie Nielsen) hidup bersama dengan penuh kedamaian bersama seluruh rakyatnya. Sang bibi, Jendral Antiope (Robin Wright), menggembleng sang keponakan dengan kemampuan bela diri agar Diana dapat melindungi diri dan tampil sebagai sosok yang tangguh penuh percaya diri.

Suatu hari, Diana menyelamatkan Steve Trevor (Chris Pine), seorang agen mata-mata sekutu pada masa Perang Dunia Pertama yang dikejar oleh pasukan Jerman. Pertempuran di pesisir pantai pun tak terelakkan antara pasukan Jerman dan prajurit wanita Amazon yang dipimpin oleh Jendral Antiope.  Pasca pertempuran, Diana memutuskan untuk ikut Steve mencari sosok Dewa Perang Ares yang dipercayainya sebagai biang kerok meletusnya pertempuran besar seperti yang diceritakan Steve. Dengan membawa pedang sakti, tali laso api dan perisai, Diana bersiap menyongsong takdirnya di dunia luar.

Diana dan Steve akhirnya tiba di kota London. Setelah itu, bersama beberapa kawan Steve, mereka berangkat ke garis depan peperangan di No Man’s Land Belgia. Steve dan kawan-kawannya, Sameer (Saïd Taghmaoui), Charlie (Ewen B remmer) dan Chief (Eugene Brave Rock), dibantu Diana bermaksud menghalau niat jahat dari Jenderal Erich Ludendorff (Danny Huston) dan sang dokter racun Isabel Maru (Elena Anaya) meramu gas berbahaya untuk membinasakan lawan mereka secara keji.

Sosok Wonder Woman sudah mencuri perhatian saya sejak hadir pertama kali pada film Batman vs Superman: Dawn of Justice (2016). Dengan wajah rupawan serta penampilan tinggi nan menawan, tak salah jika sosok Gal Gadot yang memerankan sosok perempuan perkasa Amazon ini sekejap menjadi buah bibir khususnya para penggemar layar perak.

Patty Jenkins (Monsters), yang bertindak sebagai sutradara. berhasil meramu adegan demi adegan tokoh andalan DC Comics ini dalam rangkaian kisah yang menarik. Visualisasi perang dunia pertama yang ditampilkan menurut saya, jauh lebih natural dan seru dibanding film Captain America: The First Avenger (2011).  Intensitas adegan laga dipadu efek spesial serta latar setting suasana perang era 1940-an ditampilkan dalam proporsi yang sesuai dan impresif.

Tak bisa dipungkiri Gal Gadot mampu menghayati peran dan karakternya sebagai Puteri Diana yang perkasa sekaligus nggemesin karena sikap lugunya ketika menghadapi perkembangan dunia luar yang jauh melampaui dunianya di Themyscira.  Artis asal Israel ini dengan sigap dan lincah mempertontonkan kemampuannya beradegan aksi yang berbahaya melawan musuh yang banyak dan jauh lebih kuat. Tak hanya itu, Chris Pine yang berperan sebagai Kapten Steve Trevor mampu melepas bayang-bayangnya sebagai Captain Jim Kirk di film fenomenal Star Trek dan berhasil membangun chemistry yang memikat bersama Gal Gadot. Para pemeran pendukung juga memperlihatkan kualitas akting yang prima, salah satunya sekretaris Steve yang lucu dan centil Etta Candy (Lucy Davis).

Dari sisi sinematografis dan penceritaan, film ini tak sekedar menyampaikan pesan feminisme dan pemberdayaan perempuan (women empowerment) yang kental lewat sosok Wonder Woman, namun lebih jauh lagi, film ini menyajikan sisi humanis sekaligus ironi tingkah manusia menghadapi peperangan yang oleh Puteri Diana kerapkali membingungkannya karena berfikir pragmatis bahwa penyebab peperangan tak lain dari ulah Dewa Ares. Diskusinya (sekaligus konflik) bersama Steve tentang fenomena yang dialaminya, semakin membuka mata Puteri Diana tentang apa sesungguhnya yang terjadi. Penulis skenario Allan Heinberg cukup teliti dan cermat menatanya dalam rangkaian adegan yang memukau.

 

FILM KING ARTHUR LEGEND OF THE SWORD : LEGENDA PEDANG SAKTI DAN KISAH KOLOSAL SANG PAHLAWAN

Ada begitu banyak film yang mengangkat tema Raja Arthur bersama pedang sakti Excaliburnya ini. Pada film King Arthur : Legend of the Sword, saya menyaksikan sebuah”cita rasa” yang berbeda. Pakem konvensional yang selama ini muncul dalam film-film King Arthur sebelumnya, mendapatkan sebuah sentuhan spesial dari Guy Ritchie (sutradara film The Man from U.N.C.L.E., 2015) dengan tafsir lebih “gaul”. Ya, Guy Ritchie membuat kisah mitologi Britania Raya dalam presentasi yang lebih progresif.

Dikisahkan King Arthur ( (Charlie Hunnam) yang dibesarkan di kompleks prostitusi mendadak mendapatkan perhatian besar setelah berhasil menarik pedang Excalibur yang tertancap diatas batu. Banyak pemuda sebayanya tak berhasil menarik keluar pedang fenomenal tersebut. Arthur sempat kebingungan karena selama ini yang ia tahu adalah ia dibesarkan dalam atmosfer keberingasan di sekitar lingkungan dan jalanan kota Londonium.

Uther Pendragon (Eric Bana), ayah Arthur memang memiliki ekspektasi tinggi pada sang anak yang dihanyutkannya ke sungai menjelang ajalnya tiba, saat kekuasaannya dirampas & dikhianati secara brutal oleh adik kandungnya sendiri, Vortigern (Jude Law). Ketika mengetahui kehadiran sosok Arthur, Vortigern tak tinggal diam dan berusaha menghalangi niat sang keponakan yang didukung oleh masyarakat luas untuk meraih kembali kekuasaan sang ayah.

Adegan-adegan dengan ritme cepat disertai parade efek spesial yang menawan mewarnai sepanjang film berdurasi 126 menit ini. Saya terkesan pada penggambaran karakter Arthur dari masa kecil hingga dewasa yang ditampilkan dengan peralihan dari gambar ke gambar secara memukau tanpa mengurangi esensi pesan yang disampaikan. Musik modern dengan sentuhan klasik serta humor ikut memperkaya film yang naskah ceritanya ditulis Ritchie bersama dengan Joby Harold (Awake, 2007) dan Lionel Wigram (The Man from U.N.C.L.E.) ini.

Eric Bana dan Jude Law tampil berkilau sebagai kakak beradik yang kharismatik namun salah satu dari mereka menyimpan nafsu kekuasaan yang tinggi. Pemeran Arthur, Charlie Hunnam, juga berusaha menghayati perannya dengan baik namun sayangnya saya melihat kurang optimal dan relatif kaku dalam memainkan emosinya termasuk menanggapi humor yang dilontarkan. Meskipun begitu, dengan sosok yang kekar dan tegap, Charlie memang sesuai memerankan karakter King Arthur yang fenomenal. Beruntung, para pemeran pendukung seperti Djimon Hounsou, Àstrid Bergès-Frisbey dan Aidan Gillen tampil tak mengecewakan.

Nuansa musik yang ditata oleh Hans Zimmer membuat film ini kian “bernyawa” terlebih ditambah dengan visualisasi kolosal efek 3 dimensi yang megah serta mengagumkan. Ya,film King Arthur Legend of the Sword memang salah satu pilihan film terbaik yang menghibur anda.

 

FILM MULTIVERSE : THE 13TH STEP : TENTANG DUNIA LAIN DAN MISTERI YANG MENYERTAINYA

Hari Rabu sore (24/5) saya bersama sejumlah rekan-rekan blogger Bekasi mendapat kesempatan berharga menonton film Multiverse:The 13th Step di XXI Mega Bekasi.  Senang sekali bisa berjumpa kembali dengan mbak Mira Sahid, mbak Irma Senja, mbak Winda Krisnadafela, mbak Susi, mbak Lidya Fitrian dan tentu saja mbak Driana”Simbok Venus” yang mengajak kami semua berkumpul dalam moment tersebut.

Pukul 16.45 kami serentak memasuki studio 9 XXI Mega Bekasi. Adegan film Multiverse dibuka dengan awal yang menegangkan. Tentang sosok Diana (Olivia Jensen) yang mengalami halusinasi mengerikan di rumah yang ditinggalinya. Bayangan-bayangan bernuansa mistis membuatnya ketakutan. Kejadian tersebut bermuara pada hilangnya Diana secara misterius di gudang rumah. Sang ayah (Ari Wibowo) dan ibu (Olga Lidya) panik dan mencari si putri bungsu yang tiba-tiba raib seakan ditelan bumi,

Beberapa tahun berselang, rumah yang dulu ditempati oleh keluarga Diana, akhirnya dihuni oleh keluarga Farel (Rendy Kjaernett). Dalam beberapa saat kemudian, Farel mengalami sejumlah kejadian aneh. Dia bahkan dapat berkomunikasi dengan sosok misterius bernama Nadia (juga diperankan oleh Olivia Jensen) melalui telepon genggamnya.  Bersama kawan-kawan barunya di SMA, Farel berusaha menguak jejak misteri di rumah yang baru dihuninya itu. Dan mereka menemukan sesuatu yang sangat mengejutkan!

Patut diapresiasi ide mengangkat “dunia lain” yang oleh sebagian besar orang masih dianggap sebagai mitos lewat film yang diproduseri oleh Amarta Pictures ini. Menyajikan film bergenre horor-fantasi memang sebuah tantangan tersendiri, tidak hanya dari sisi cerita namun juga kemampuan memainkan karakter para pemainnya.

“Film ini akan membuat kita sedikit berpikir akan keberadaan dunia selain dunia kita berada saat ini,” ujar Alfrits J Robert, sang sutradara, dalam sebuah konferensi media, seperti dikutip dari sini. Dibawah arahannya, film ini mampu membangkitkan rasa penasaran penonton dengan nuansa suspense menegangkan. Rendy Kjaernett berhasil menghidupkan sosok Farel dengan gerak tubuh dan mimik natural. Olivia Jensen yang memerankan 2 karakter sekaligus: Nadia dan Diana juga menampilkan parade akting yang lumayan menawan. Dan tentu saja, aktor lawas tampan awet muda, Ari Wibowo secara gemilang mampu menghidupkan sosok ayah Diana.

Dari sisi sinematografi, perpindahan antar adegan diatur begitu mulus dan dinamis. Meski sempat terasa agak mengganggu ketika muncul adegan aksi perkelahian di sebuah padang rumput dengan adegan sebelumnya yang kebanyakan diambil secara indoor. Penonton juga seakan dibawa rasa bingung dan penasaran yang tak terlampiaskan pada relasi antara pencairan ksatria ketigabelas dengan hilangnya Diana. Elemen ini yang sepertinya kurang tuntas dijelaskan, khususnya mulai pada pertengahan film yang diproduseri oleh Gerry Resuka dan Indra Pasaribu ini.

Menjelang film berakhir, salah satu artis pemeran film ini, Ari Wibowo berkenan hadir dan menyapa para penonton. Alhamdulillah, saya masih berkesempatan berfoto bersama artis yang mudanya masih awet ini, di salah satu sudut yang disiapkan.

Selamat dan sukses untuk film Multiverse : The 13th Step!

 

FILM “KARTINI” : TENTANG PENGABDIAN DAN MELEPAS BELENGGU TRADISI

kartini1
Bila pekan lalu saya memenuhi janji anak sulung saya menonton film FF8 (sudah saya review filmnya disini), maka hari Minggu (23/4) siang, di bioskop yang sama, namun film yang berbeda, saya memenuhi janji putri bungsu saya Alya menonton film “Kartini” di Studio 3 Cinemaxx Theatre Orange County Cikarang.

Film biopik karya sutradara Hanung Bramantyo bekerjasama dengan produser Robert Ronny memang sejak awal “menjanjikan” tontonan yang memikat lewat trailer film yang ditampilkan. Kisah fenomenal perempuan yang “harum namanya” ini mengangkat tema tentang upaya melepas belenggu tradisi wanita jawa di era 1900-an melalui pendidikan dan mengembangkan wawasan serta pergaulan lewat menulis atau membaca buku.

Kisah ini diawali dengan pergulatan batin sang Kartini kecil yang harus merelakan tidur terpisah dari sang ibunda Ngasirah (Nova Eliza) karena perbedaan strata sosial yang dimilikinya. Himpitan tradisi adat Jawa kuno yang mengharuskan perempuan saat melewati masa haid pertama harus dipingit sampai datangnya lelaki yang melamarnya untuk menjadikannya istri pertama, kedua bahkan ketiga membuat Kartini (Dian Sastrowardoyo) berontak dan berusaha melepaskan belenggu itu dengan caranya sendiri.

Sang kakak, RM.Sosrokartono (Reza Rahadian) yang bersekolah di Belanda membekali sang adik dengan buku serta literatur yang membuka wawasannya lebih luas. Perspektifnya dalam memahami kehidupan dan dunia di luar tembok pingitan berkelana jauh. “Tubuhmu boleh saja terkungkung, tapi fikiranmu harus tetap terbang sebebas-bebasnya,” ujar sang kakak Kartono sembari menyerahkan kunci lemari bukunya kepada sang adik sebelum berangkat ke negeri Kincir Angin.

Inspirasi dari sang kakak membuat Kartini bersemangat. Tidak hanya membaca, ia juga menulis artikel berbahasa Belanda bahkan salah satu diantaranya diterbitkan dalam jurnal berbahasa Belanda dengan menggunakan nama sang ayah, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat (Dedy Sutomo). Kartini kemudian menjadi penulis handal dan kerap mengirimkan tulisannya kepada majalah wanita yang terbit di Belanda, yaitu De Hollandsche Lelie.

kartini5

Kartini pun “menularkan” hobinya membaca dan menulis itu kepada kedua adiknya, Roekmini (Acha Septiarasa) dan Kardinah (Ayushita Nugraha). Ia bahkan membolehkan kedua adiknya memanggil namanya saja tanpa harus embel-embel gelar priyayi didepannya. Dengan gayanya yang santai, Kartini mendobrak tradisi feodal di “penjara” pingitan, tidak hanya dengan menulis artikel dan menulis surat kepada sahabat penanya Stella Zeehandelaar di Belanda, bahkan berani memanjat ke atas tembok keraton sambil ngemil kacang mede bersama kedua adiknya.

Kartini terlibat konflik dengan istri kedua ayahnya, Radeng Adjeng Moerjam (Djenar Maesa Ayu), terutama ketika sang adik Kardinah akan dinikahkan oleh seorang bangsawan Jawa yang sudah beristri. Hal serupa juga terjadi kembali ketika Kartini harus menjemput “takdir”-nya dengan menerima pinangan Bupati Rembang, Raden Adipati Joyodiningrat  (Dwi Sasono) sementara disaat yang sama ia menyaksikan kepedihan hati sang kakak, Sulastri (Adinia Wirasati) pulang ke rumah mereka karena kecewa sang suami menikah lagi. Kepada sang ibu, Ngasirah (Christine Hakim), ia mengungkapkan kegalauan hatinya, juga pemberontakannya.

kartini3

Karakter Kartini begitu hidup ditampilkan oleh Dian Sastrowardoyo dalam film yang rilis pertama kali 19 April 2017, dua hari sebelum peringatan hari kelahiran tokoh kebangkitan perempuan Indonesia tersebut. Gerak tubuh dan penghayatan bintang “Ada Apa Dengan Cinta” ini disajikan secara memikat, natural termasuk ketika berdialog lancar dalam bahasa Belanda maupun Jawa, pun ketika ia mengekspresikan “pemberontakan”-nya pada adat pingitan yang mengekang kemerdekaannya . Penampilan yang tak kalah menarik adalah sosok ibu Kartini, Ngasirah yang diperankan oleh bintang kawakan Christine Hakim.  Di film ini, Christine secara gemilang menghadirkan sosok ibu yang tangguh  dan tegar melindungi sang anak, sekaligus rapuh dan ringkih menghadapi tembok tradisi yang mengungkung.

 

kartini4Harus diakui, membuat film biopik kerapkali dianggap membosankan, namun berkat kemampuan akting jajaran pemeran yang cemerlang serta “tangan dingin” sang sutradara Hanung Bramantyo, film tentang perempuan inspiratif dari Jepara ini jauh melampaui ekspektasi. Salah satu adegan yang menurut saya cukup “cerdas” dan memukau adalah ketika Kartini membaca novel dan disaat yang sama sang penulis novel itu berada disampingnya menjelaskan suasana pengadilan Belanda dimana pengacaranya adalah seorang perempuan. Sebuah terobosan imajinatif yang patut diapresiasi. Hanung pun secara konsisten menjaga ritme otensitas budaya lokal Jawa sepanjang filmnya dan memadukannya secara apik dengan ornamen masa kolonial Belanda.

kartini2

Suasana Jepara pada era tahun 1900-an nampak nyata seakan kita diajak “bertamasya” mengarungi mesin waktu ke masa itu.

Secara sinematografis, film “Kartini” menampilkan gambar-gambar indah nan mempesona, angkat jempol buat penata artistik Faozan Rizal yang sukses menyajikan atmosfer nuansa wilayah Jepara tempo doeloe. Dari sisi tata musik & suara, Andi Rianto dan Charlie Meliala berhasil membawa penonton pada suasana eksotisme dan romantisme budaya jawa masa silam.

Seusai menonton film ini, saya melihat ekspresi puas wajah putri saya, Alya yang katanya sangat terinspirasi pada film ini. Tiba-tiba saya membayangkan, ada sosok ibu Kartini tersenyum di depan sembari membaca salah satu tulisan pada suratnya pada Mevrouw Van Kol pada bulan Agustus 1901: “”…Our idea is open, as soon as we have the means, an institute for the daughter of native officials, where they will be fitted for practical life and will be taught as well the things which elevate the spirit, and ennoble the mind…”

 

FAST & FURIOUS 8 : KEJUTAN SPEKTAKULER DAN MENEGANGKAN!

furious8Seru. Megah, Luar Biasa.
Setidaknya 3 kata itulah yang mewakili perasaan saya seusai menonton film ini di Studio 5 Bioskop Cinemaxx Orange County, Sabtu sore (15/4) bersama putra sulung saya, Rizky. Ekspektasi awal saya untuk menonton film yang tak sekedar menghibur namun juga menyajikan aksi spektakuler yang memukau seakan terjawab sudah.

Dibuka dengan adegan balapan seru di Havana Cuba, film franchise ini langsung menggugah dan membetot nyali penonton dengan menyajikan suguhan aksi laga serta seakan “menjanjikan” akan ada aksi yang jauh lebih mendebarkan lagi pada menit-menit berikutnya. Dan itu terbukti.

Setelah 16 tahun sejak film franchise ini pertama kali ditayangkan, kian terasa bobot dan kualitas adegan aksi yang ditampilkan meningkat signifikan. Makin dashyat dan Gila!. Pada episode kedelapan ini (yang juga berjudul “The Fate of The Furious) diceritakan Dominic Toretto (Vin Diesel) mendadak menjadi tokoh antagonis dan bergabung dengan penjahat wanita kelas kakap yang berwajah rupawan, Chiper (Charlize Theron). Sikap Dom tersebut menimbulkan tanda tanya besar pada rekan-rekannya, seperti sang kekasih Letty (Michelle Rodriguez), Ramsey (Nathalie Emmanuel), Ludacris (Tej Parker) dan Roman (Tyresse Gibson) juga Hobbs (Dwayne Johnson).

MV5BZDEzZTk3MmItOGY4MC00ZDljLTkxMmEtMGE3MTg5OTM1MjA5XkEyXkFqcGdeQXVyMjQ1NjM4OTE@._V1_Kehadiran Mr.Nobody (Kurt Russel) dan Mr.Little Nobody (Scott Eastwood) yang mengajak rekan-rekan Dom untuk bergabung dalam operasi pencarian alat canggih EMP (electromagnetic Pulse) dan “Mata Tuhan” membuat mereka makin antusias, terlebih saat diketahui dalangnya tak lain adalah Cipher dan Dom sendiri. Kejutan muncul ketika Deckard (Jason Statham), musuh mereka di episode sebelumnya, ikut bergabung dalam misi yang sama.

Pada film berdurasi 136 menit ini, sang sutradara F. Gary Gray (The Italian Job,Straight Outta Compton) meracik ramuan drama dan laga secara proporsional. Sejak menit-menit awal, penonton telah dibuat takjub oleh adegan balapan mobil, keributan & perkelahian dalam penjara, kemudian ada bola pejal raksasa penghancur, kebut-kebutan di jalan kota New York yang melibatkan mobil super mewah serta mobil yang dikendalikan secara otomatis dari jarak jauh hingga kejar-kejaran tank, mobil bahkan kapal selam diatas kepingan es di Rusia. Semuanya ditampilkan secara megah dan spektakuler.
Trailer-Fate-of-the-Furious-HobbsSecara sinematografis. film ini menyajikan sudut pandang yang memukau dari adegan-adegan seru yang ditampilkan. Penonton seakan diajak berada dalam situasi aktual yang dihadapi para pemerannya. Saya sampai beberapa kali menahan nafas ketika menyaksikan aksi mendebarkan penuh keberanian (juga kenekadan) sepanjang film diputar. Eksekusi peralihan antar adegan berlangsung mulus. Nampaknya, atau mungkin memang begitu faktanya, Fast Furious 8 telah bertransformasi dari sekedar film tentang balapan mobil menjadi sebuah ramuan film “mata-mata” ala James Bond dan “super hero” ala “Avenger”. Angkat jempol buat kreator film ini yang senantiasa menyuguhkan “kegilaan” yang berbeda dan tidak membosankan dari setiap episode.

MV5BZDBlMzViZGYtOWRlZi00ODNkLWFhMDktODUxN2VhNjFjNTIyXkEyXkFqcGdeQXVyMjQ1NjM4OTE@._V1_Dari sisi karakter, menyaksikan Vin Diesel yang bertubuh kekar itu menangis, sungguh sebuah pengalaman berbeda. Mimik wajahnya begitu natural dan menampilkan kesedihan sekaligus kegeraman yang tertahan sangat ekspresif. Charlize Theron, juga menampilkan parade akting yang tak kalah menawan. Sebagai bandit perempuan dan hacker handal, Charlize menjelma menjadi sosok yang cerdas, dingin, licik serta berbahaya. Disisi lain, penampilan Dwayne Johnson dan Jason Statham juga cukup menggelitik dengan gaya saling sindir mereka sebagai mantan pasangan duel mematikan dalam episode sebelumnya namun kemudian dalam film ini mesti bekerjasama dalam satu tim yang solid. Tak kalah menariknya pula aksi “slenge’an” Tyresse Gibson yang kerapkali meletupkan tawa penonton disela-sela adegan menegangkan.

 

FILM JOHN WICK-2 : SANG “BABA YAGA” YANG BRUTAL DAN BERBAHAYA

jw2-1“Consider this a profesional courtesy!”

Demikian tegas John Wick (diperankan oleh Keanu Reeves) pada Cassian, sang lawan tangguh dan juga mantan koleganya sesama “hitman”, yang terduduk kaku diatas kursi kereta sembari meregang nyawa dengan belati tertancap di dada. John, lelaki yang dijuluki musuh-musuhnya sebagai “Baba Yaga” sang hantu mengerikan legenda negeri Slavia itu, berjalan tenang, keluar dari kabin kereta tanpa senyum sedikitpun. Dingin. Brutal. Taktis.

Itu adalah salah satu petikan adegan film John Wick-2 yang mengisahkan kelanjutan cerita sebelumnya yang berjudul sama dan ditayangkan 3 tahun lalu. Pada sekuel ini, John Wick kembali beraksi menghabisi musuh-musuhnya dengan cara yang cepat dan efiesien. Tembakan jitu ke arah kepala lawan menjadi ciri utama John dalam setiap pertempuran bersenjata.

Film ini diawali dengan aksi John mengambil kembali mobilnya, setelah pada film perdana, seorang anak muda putra mafia Rusia mencuri mobil sang “Baba Yaga” tersebut dari rumahnya.  Tak lama setelah itu, datang seorang mafia Italia, Santino D’Antonio (Ricardo Scamarcio) memintanya bantuan untuk menjalankan misi pembunuhan dengan mengeksekusi adik perempuannya sendiri, Gianna (Claudia Gerini), agar bisa meraih tampuk kepemimpinan bergengsi di wilayah kekuasaan mafia. John mencoba mengelak dan menyatakan telah pensiun dari dunia hitam pembunuh bayaran. Santino berdalih John memiliki utang jasa darinya. Atas nama kesepakatan masa lalu, John akhirnya setuju melaksanakan tugas tersebut. Seusai tugas dilaksanakan, kondisi justru menjadi kian runyam karena melibatkan berbagai pihak dengan beragam konspirasi pelik. Termasuk ambisi Santino yang juga ingin menghabisi nyawa sang “Baba Yaga”.

jw2-6

jw2-4

Sejak film dibuka, adrenalin penonton langsung dipacu dengan adegan laga ciamik yang dihadirkan John Wick melumpuhkan lawan-lawannya. Sebagai pemeran John, Keanu Reeves tampil memukau dan natural. Berbeda saat aksinya di serial film fenomenal “The Matrix” dulu yang terkesan flamboyan dan serius, di film ini karakter Keanu terlihat begitu kuat, tangguh dan temperamental. Berbeda dengan episode pertama, pada episode kedua ini kadar kekerasannya jauh lebih “tebal”, bertempo cepat dan sensasional. Bersiaplah menerima berbagai kejutan, kebut-kebutan mobil, aksi perkelahian mematikan jarak dekat,  termasuk cipratan-cipratan darah ke tembok yang berasal dari kepala yang tertembus peluru John.

jw2-5Tak sekedar melanjutkan bagian pertama serta menambahkan kadar kekerasannya saja, pada film kedua ini muncul karakter-karakter baru yang ikut mewarnai aksi John.  Salah satunya yang mencuri perhatian adalah sosok Ares (diperankan oleh Ruby Rose) pengawal perempuan bergaya tomboi Santino. Atau ada juga Laurence Fishburne yang memerankan sosok Bowery King. Film John Wick-2 ini seakan menjadi reuni bagi keduanya yang telah menjadi ikon fenomenal di film The Matrix.

Sutradara film ini , Chad Stahelski, yang juga pernah menjadi stunt double Keanu dalam  film The Matrix, mengeksplorasi peran dan karakter John sebagai daya tarik utama dengan menampilkan koreografi aksi laga yang memukau serta adegan tembak menembak yang seru dan menegangkan dengan tingkat akselerasi tinggi.  Semua diramu secara baik dan logis dalam alur kisah yang mengalir. Saya terpukau pada gaya Keanu yang dengan lincah dan tangkas mengganti senjatanya dari pistol ke senapan serbu atau sebaliknya–sesuai kebutuhan, saat menghadapi rombongan musuh didepan mata. Pun ketika aktor berusia 52 tahun ini berkelahi gesit dengan jurus beladiri gun-fu andalannya.

jw2-3Film berdurasi 122 menit ini memang menampilkan sosok jagoan yang humanis dan membumi. Ekspresi letih John Wick nampak begitu meyakinkan namun tetap penuh kewaspadaan mengantisipasi bahaya yang mengancam. Saya cukup puas menonton film dan tak sabar menanti hadirnya bagian ketiga aksi sang Jagoan“Baba Yaga”.