Flores: Adventure Trails



Banyak buku yang bercerita tentang Indonesia dari Barat ke Timur, dari Utara ke Selatan, dari adat ke bahasa, dari budaya ke pakaian, dari gunung ke pantai, dari rumah adat ke kearifan lokal. Saya punya salah satu buku semacam itu, dikasih sama Ika Soewadji, dan masih sering saya baca sampai sekarang. Banyak juga buku yang bercerita panjang lebar tentang Pulau Flores (Flores overland). Saya sendiri pernah menulis materi siaran program Backpacker, pada tahun 2017, awal tentang Flores Overland. Biasanya orang menulis Flores Overland itu dari Barat ke arah Timur, tapi materi saya itu dari Timur ke arah Barat. Qiqiqiq. Sesekali kita membaliknya kan boleh-boleh saja.

Baca Juga : 5 Cozy Songs

Tentang si Buku

Buku yang saya bahas hari ini berjudul Flores: Adventure Trails. Buku ini ditulis (sekaligus sebagai koordinator penulis) oleh Meret L. Signer. Kontributor atau penulis lain diantaranya Heinz von Holzen, Rofinus Ndau, Unipala Maumere, idGuides. Publisher Flores: Adventure Trails adalah Swisscontact dan didukung oleh SECO (Swiss State Secretariat for Economic Affairs). Tahun terbit 2012. Wow banget, saya terkejut ketika membaca nama Unipala Maumere. Itu MAPALA-nya Universitas Nusa Nipa (Unipa). Oh ya, selain sambutan dari Bapak Sapta Nirwandar, juga ada sambutan Jurg Schneider dari SECO. Flores: Adventure Trails berbahasa Inggris tapi untuk ukuran saya yang bahasa Inggrisnya pas-pasan bisa yess atau no sudah bersyukur, isinya cukup mudah dipahami/dimengerti. 


Bagaimana dengan isinya?

Isinya dimulai dari perkenalan tentang Pulau Flores. Perkenalan yang sangat lengkap, menurut saya, karena memuat tentang kondisi geografis, iklim, Flores sebagai bagian dari ring of fire, flora dan fauna, kehidupan laut, zaman sebelum dan sesudah kolonial, manusia dan adat budayanya. Traveling directory sub bahasan berikutnya adalah tentang how to get there? (pesawat dan kapal laut) termasuk informasi kantor-kantor layanan tiket, akomodasi, tempat makan, komunikasi/alat komunikasi, keuangan, isu kesehatan, sampai etika.

Woman travellers:
Even thought Flores is predominantly Christian, woman dressing modestly is a cultural thing in Indonesia, rather than a religious one. Wear t-shirts that cover your shoulders and don't reveal too much of your legs. Wearing a bikini is fine at the beaches of Labuan Bajo and in designated hotel areas in other parts of Flores. Everywhere else, put on a t-shirt and shorts for swimming. (Meret L. Signer, 2012:23).


Sub berikutnya adalah persiapan yang harus dilakukan sebelum ke Flores. Menariknya adalah, dijelaskan tentang skala kesulitan trek, level kebugaran, barang bawaan dasar or basic check list sampai how to minimize your impact. Komplit kan ya. Basic check list ini umum saja seperti yang sering kita lakukan/bawa seperti kaca mata, head lamp, sun-block, first aid kit, kompas, pisau lipat, hingga tas plastik untuk menyimpan pakaian kotor dan/atau sampah. Puhlease, ke mana pun pergi jangan pernah membuang sampah sembarangan.


Setelah itu, pembaca memasuki inti sari buku ini. Yay! Dimulai dari  Labuan Bajo: Pulau Rinca, Pulau Komodo, Gunung Mbeliling, teruuuuus ke Timur sampai ketemu Gunung Kelimutu di Ende, Maumere dengan pantai-pantai dan Gunung Egon-nya, sampai Larantuka. Informasinya tidak sekadar ini looooh Gunung Mbeliling itu, tapi juga memuat tinggi gunung, luas daratan, flora dan faunanya, sampai tentang masyarakat tradisionalnya. 


Salah satu sub yang saya sukai adalah kisah tentang Rudolf von Reding:

In 1974, the elderly Count Rudolf von Reding from Biberegg, Switzerland, disappeared on the island of Komodo. For some unknown reason he got seperated from his group. When they realized he was missing, they immediately returned to the point where had last seen him - but they were too late. All they could find was the Count's backpack, camera, sunglasses, and stains of blood on the ground. Komodo dragons eat their prey whole, and von Reding's body was never found. Although it could neve be confirmed with 100% certainty, he was believed to have been eaten.

Sedih ya ... *ambil tissu*

Jadi ingat waktu ke Pulau Rinca, dimana salah seorang teman pejalan kami sedang datang bulan, dan si komodo berjalan ke arah teman tersebut. Horor-horor bergembira gimana gitu rasanya diikuti komodo, hehe.


Setelah Baca

Saya bahagia karena jadi banyak tahu tentang pulau sendiri. Sebagai pelahap buku, sekaligus blogger yang gemar menulis tentang perjalanan ke mana pun saya pergi, buku ini menjadi semacam panduan untuk menulis. Menulis tempat wisata itu tidak sekadar menggambarkan betapa indahnya; betapa menawannya; betapa mempesonanya, tetapi harus bisa lebih detail yaitu tentang letak lokasinya, jaraknya, transportasi dan akomodasi kalau bisa bisa dengan harganya, budaya masyarakat setempat (seperti harus memperhatikan etika berpakaian dan berbicara), hingga tingkat kesulitan perjalanan untuk mencapai lokasi tersebut. Sub buku juga penting untuk memilah atau mengklasifikasi tulisan agar tidak terkesan campur-aduk.

Saya sedang belajar untuk menulis seperti itu. Belajar terus tanpa henti. Istirahat sih boleh, berhenti jangan :)

Flores: Adventure Trails adalah buku yang super informatif meskipun tidak selengkap buku yang diterbitkan oleh Lonely Planet zaman dulu itu. Bahkan juga diceritakan tentang gempa yang pernah melanda Flores terutama Maumere dan Ende. Jika kalian punya waktu luang, jangan lupa untuk membacanya. Di mana bisa diperoleh, cobalah cari di toko buku terdekat, jika tidak, maka ini edisi terbatas yang dipublis oleh Swisscontact (yang selalu konsen dengan isu wisata).

Semoga bermanfaat, enjoy your weekend!


Cheers.

#PDL Langgar Sungai Lewati Lembah


#PDL adalah Pernah DiLakukan. Tulisan ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini; jalan-jalan di sekitar Kabupaten Ende, backpacker-an ke tempat-tempt di luar Kota Ende, merusuhi acara, termasuk perbuaan iseng bin jahil bin nekat.

***


Suatu kali saya menerima tawaran membikin video inspiratif dari sebuah lembaga tentang desa siaga. Video ini merupakan kisah nyata tentang perjuangan dan peran serta masyarakat untuk membantu menangani permasalahan ibu hamil dan anak, sekaligus menekan angka kematian ibu hamil dan anak baru lahir. Bersama Martozzo Hann, Kiki Albar, dan Kakak Pacar, jadilah tim ini. Tim yang harus membikin semuanya dari nol; RAB, estimasi waktu pengambilan video, shootlist (di dalam shootlist ini termasuk ada wardrobe sekalian), mengumpulkan materi, editing dan finishing, dan lain sebagainya. Repot memang, tapi menyenangkan karena kami ditemani cemilan segitu banyaknya *halah*.


Menurut situs Promkes, desa siaga adalah sebagai berikut:

Desa siaga adalah desa yang penduduknya memiliki kesiapan sumber daya dan kemampuan serta kemauan untuk mencegah dan mengatasi masalah kesehatan, bencana, dan kegawatdaruratan, kesehatan secara mandiri. Desa yang dimaksud di sini adalah kelurahan atau istilah lain bagi kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah, yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan yang diakui dan dihormati dalam Pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Setelah selesai disusun, shootlist tersebut dikirim kepada pemberi proyek yang diteruskan kepada anggota desa siaga yang berada di Desa Liselowobora, Kecamatan Wolowaru, Ende. Betul, desa siaga yang satu ini berada di Desa Liselowobora. Kepala Desa Liselowobora belum tentu menjadi Kepala Desa Siaga. Apa yang saya pikirkan pun menjadi kenyataan karena shootlist yang dikirimkan itu sudah diperbanyak dan dibagi-bagikan kepada masyarakat desa siaga di sana, malahan mereka telah memilih orang-orang yang akan memerankan si A, si B, dan si C. Tetapi kalau bidannya beneran si bidan. Hehe. Mereka benar-benar paham proses syuting video ini.
Inilah hobi yang menjadi pekerjaan sampingan kami.
 Sesuai waktu yang ditentukan, tim pun berangkat ke Desa Liselowobora. Sayangnya, KM 17 arah Barat Kota Ende sedang ditutup (dibuka pada pukul 12.00 Wita) karena ada perbaikan jalan sehingga kami memutuskan untuk memutar gunung yaitu mengikuti jalur alternatif bernama Aekipa. Aduh, jangan pernah tanya ke Orang Ende soal jalur Aekipa ini, mereka pasti bakal senyum-senyum penuh makna. Bisa kalian bayangkan? Setelah memutar gunung / Aekipa selama 2,5 (dua setengah) jam, kami bertemu jalan raya yang ternyata adalah KM 20. Jadi, dua jam putar sana sini untuk tiba di KM 20? Luar biasa. Hahaha. Perjalanan kami lanjutkan dan akhirnya tiba juga di Desa Liselowobora.

*tepuk tangan*

Baca Juga : Datang, Makan, Ngerujak, Pulang

Tiba di Desa Liselowobora kami langsung bertemu kontak lokal yaitu Om Bene Sera yang oleh kami disingkat bebas menjadi Benser. Benser adalah mantan Kepala Desa Liselowobora, kemudian menjadi Kepala Desa Siaga di desa tersebut. Sesuai perjanjian, hari itu (Jum'at) kami akan pergi mencari penginapan dan akan bertemu keesokan harinya (Sabtu) di rumah Benser. Rumah Benser yang berkamar mandi luas itu menjadi basecamp tim.

Syuting hari pertama (Sabtu) berjalan lancar karena masih prolog, dan narasumber-narasumber. Prolog ini diantaranya pertemuan kelompok-kelompok masyarakat desa siaga, hingga bagaimana langkah-langkah yang diambil apabila ada ibu hamil hendak melahirkan yaitu dengan meniup peluit. Seru juga hari pertama ini. Untuk hari kedua syuting, kami meminta mereka mengenakan baju yang sama dengan hari pertama karena ceritanya di dalam video ini semua berjalan pada hari yang sama.


Salah seorang anggota desa siaga sedang melakukan pemetaan ini itu.

Oia, selain kelompok masyarakat desa siaga, kami juga bertemu Mama Dukun. Jadi ceritanya di desa siaga ini ada kerja sama antara bidan dan dukun beranak. Dari wawancara dengan Mama Dukun kami jadi tahu bahwa masih ada kaum ibu lebih percaya dukun beranak (kebiasaan turun-temurun), dan untuk mendukung program kesehatan pemerintah, Mama Dukun sering menemani si ibu melahirkan di puskesmas. Mulianya hatimu wahai, Mama Dukun!


Mama Dukun / dukun beranak (kanan) yang selalu penuh senyum.

Syuting hari kedua (Minggu) juga lancar dan lebih seru! Karena kami harus mereka ulang semua kejadian nyata yang terjadi di desa siaga tersebut. Para pemainnya juga asli sangat natural karena mereka sendiri yang mengalami kejadian tersebut, yaitu bagaimana memindahkan seorang ibu hamil yang hendak melahirkan dari balik bukit, melewati bukit, langgar kali, lewati lembah, untuk tiba di sebuah puskesmas. Bahkan bapak-bapak juga membuat kembali tandu darurat yang terdiri dari dua potongan bambu dan satu kursi plastik sebagai tempat si ibu duduk. Jangan lupa buku pink, buku pemeriksaan ibu hamil.

Proses membuat tandu darurat.

Empat kamera kami harus standby dan ditempatkan pada titik-titik terbaik karena kasihan jika adegan menuruni bukit ini harus diulang. Hehe.

Harus hati-hati menandu ibu hamil, bisa saja tergelincir.

Proses menandu ibu hamil ini memang susah karena harus melewati / melanggar bukit, melanggar kali, dan melewati tanjakan menuju jalan desa. Di pinggir jalan desa sudah ada pick up yang bakal mengantar ibu hamil ke puskesmas yang terletak di pusat Kecamatan Wolowaru.

Gara-gara di kali ini setengah celana saya basah dan sepatu pun kuyup. Kalian tahu? Saya pulang dari Wolowaru ke Ende sekitar 2 (dua) jam perjalanan tanpa alas kaki. Hahaha.

Setelah video Desa Siaga yang berjudul: Di Dalam Dekapan Ibuku, pihak lembaga alias pemberi order mengubah cerita menjadi Paroki Siaga. Di sini, saya dan Kakak Pacar harus menempuh jalan yang lebih jauh menuju Laja yang merupakan bagian dari Kabupaten Ngada. Luar biasa kan ya? Eh tapi Paroki Siaga pun tetap arahnya ke desa siaga yang bersinergi dengan paroki setempat. Waktu itu kami mewawancarai Romo Sil Betu.

Baca Juga : #PDL Snorkeling di Perairan Pulau Tiga

Apa pelajaran yang saya petik dari proses syuting desa siaga ini? Banyak, kawan! Kerjasama tim, ramahnya orang desa, bersatunya orang desa, hingga betapa orang desa itu akan menganggap kau saudara meskipun baru bertemu sekali dua. Seperti Benser yang kemudian, berbulan-bulan kemudian, masih menghubungi kami meminta bantuan mendokumentasikan pernikahan anaknya, hahaha. Benser ini baik banget meskipun kalau ngomong kayak orang berantem. Tipikal Orang Flores memang begitu, tidak bisa bicara pelan hahaha.

Kadang-kadang saya kasihan juga sama ibu hamil di desa, apalagi desanya di balik bukit (berbukit-bukit). Mereka harus berjuang sejak kehamilan sampai melahirkan. Mereka tidak kenal produk mutakhir untuk ibu hamil dan anak baru lahir. Tidaaaak! Mereka hanya kenal penanganan dasar ibu hamil yang sesuai anjuran bidan. Maka, berbahagialan ibu-ibu yang tinggal di kota, apalagi yang jarak rumahnya sangat dekat dengan fasilitas kesehatan (faskes) dan bisa tahu soal produk-produk mutakhir untuk ibu hamil.

Pernah, saya pernah begitu ... melakukan semua itu dengan gembira karena banyak pengalaman yang saya alami dan pengalaman itu tidak bisa ditukar Rupiah. 

Baca Juga : #PDL Cerfet, Cerita Estafet

Bagaimana dengan kalian? Punya pengalaman serupa?


Cheers.

#PDL Langgar Sungai Lewati Lembah


Suatu kali saya menerima tawaran membikin video inspiratif dari sebuah lembaga tentang desa siaga. Video ini merupakan kisah nyata tentang perjuangan dan peran serta masyarakat untuk membantu menangani permasalahan ibu hamil dan anak, sekaligus menekan angka kematian ibu hamil dan anak baru lahir. Bersama Martozzo Hann, Kiki Albar, dan Kakak Pacar, jadilah tim ini. Tim yang harus membikin semuanya dari nol; RAB, estimasi waktu pengambilan video, shootlist (di dalam shootlist ini termasuk ada wardrobe sekalian), mengumpulkan materi, editing dan finishing, dan lain sebagainya. Repot memang, tapi menyenangkan karena kami ditemani cemilan segitu banyaknya *halah*.


Menurut situs Promkes, desa siaga adalah sebagai berikut:

Desa siaga adalah desa yang penduduknya memiliki kesiapan sumber daya dan kemampuan serta kemauan untuk mencegah dan mengatasi masalah kesehatan, bencana, dan kegawatdaruratan, kesehatan secara mandiri. Desa yang dimaksud di sini adalah kelurahan atau istilah lain bagi kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah, yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan yang diakui dan dihormati dalam Pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Setelah selesai disusun, shootlist tersebut dikirim kepada pemberi proyek yang diteruskan kepada anggota desa siaga yang berada di Desa Liselowobora, Kecamatan Wolowaru, Ende. Betul, desa siaga yang satu ini berada di Desa Liselowobora. Kepala Desa Liselowobora belum tentu menjadi Kepala Desa Siaga. Apa yang saya pikirkan pun menjadi kenyataan karena shootlist yang dikirimkan itu sudah diperbanyak dan dibagi-bagikan kepada masyarakat desa siaga di sana, malahan mereka telah memilih orang-orang yang akan memerankan si A, si B, dan si C. Tetapi kalau bidannya beneran si bidan. Hehe. Mereka benar-benar paham proses syuting video ini.
 
Inilah hobi yang menjadi pekerjaan sampingan kami.
 
 Sesuai waktu yang ditentukan, tim pun berangkat ke Desa Liselowobora. Sayangnya, KM 17 arah Barat Kota Ende sedang ditutup (dibuka pada pukul 12.00 Wita) karena ada perbaikan jalan sehingga kami memutuskan untuk memutar gunung yaitu mengikuti jalur alternatif bernama Aekipa. Aduh, jangan pernah tanya ke Orang Ende soal jalur Aekipa ini, mereka pasti bakal senyum-senyum penuh makna. Bisa kalian bayangkan? Setelah memutar gunung / Aekipa selama 2,5 (dua setengah) jam, kami bertemu jalan raya yang ternyata adalah KM 20. Jadi, dua jam putar sana sini untuk tiba di KM 20? Luar biasa. Hahaha. Perjalanan kami lanjutkan dan akhirnya tiba juga di Desa Liselowobora.

*tepuk tangan*

Baca Juga : Datang, Makan, Ngerujak, Pulang

Tiba di Desa Liselowobora kami langsung bertemu kontak lokal yaitu Om Bene Sera yang oleh kami disingkat bebas menjadi Benser. Benser adalah mantan Kepala Desa Liselowobora, kemudian menjadi Kepala Desa Siaga di desa tersebut. Sesuai perjanjian, hari itu (Jum'at) kami akan pergi mencari penginapan dan akan bertemu keesokan harinya (Sabtu) di rumah Benser. Rumah Benser yang berkamar mandi luas itu menjadi basecamp tim.

Syuting hari pertama (Sabtu) berjalan lancar karena masih prolog, dan narasumber-narasumber. Prolog ini diantaranya pertemuan kelompok-kelompok masyarakat desa siaga, hingga bagaimana langkah-langkah yang diambil apabila ada ibu hamil hendak melahirkan yaitu dengan meniup peluit. Seru juga hari pertama ini. Untuk hari kedua syuting, kami meminta mereka mengenakan baju yang sama dengan hari pertama karena ceritanya di dalam video ini semua berjalan pada hari yang sama.

Salah seorang anggota desa siaga sedang melakukan pemetaan ini itu.

Oia, selain kelompok masyarakat desa siaga, kami juga bertemu Mama Dukun. Jadi ceritanya di desa siaga ini ada kerja sama antara bidan dan dukun beranak. Dari wawancara dengan Mama Dukun kami jadi tahu bahwa masih ada kaum ibu lebih percaya dukun beranak (kebiasaan turun-temurun), dan untuk mendukung program kesehatan pemerintah, Mama Dukun sering menemani si ibu melahirkan di puskesmas. Mulianya hatimu wahai, Mama Dukun!

Mama Dukun / dukun beranak (kanan) yang selalu penuh senyum.
 
Syuting hari kedua (Minggu) juga lancar dan lebih seru! Karena kami harus mereka ulang semua kejadian nyata yang terjadi di desa siaga tersebut. Para pemainnya juga asli sangat natural karena mereka sendiri yang mengalami kejadian tersebut, yaitu bagaimana memindahkan seorang ibu hamil yang hendak melahirkan dari balik bukit, melewati bukit, langgar kali, lewati lembah, untuk tiba di sebuah puskesmas. Bahkan bapak-bapak juga membuat kembali tandu darurat yang terdiri dari dua potongan bambu dan satu kursi plastik sebagai tempat si ibu duduk. Jangan lupa buku pink, buku pemeriksaan ibu hamil.

Proses membuat tandu darurat.

Empat kamera kami harus standby dan ditempatkan pada titik-titik terbaik karena kasihan jika adegan menuruni bukit ini harus diulang. Hehe.

Harus hati-hati menandu ibu hamil, bisa saja tergelincir.

Proses menandu ibu hamil ini memang susah karena harus melewati / melanggar bukit, melanggar kali, dan melewati tanjakan menuju jalan desa. Di pinggir jalan desa sudah ada pick up yang bakal mengantar ibu hamil ke puskesmas yang terletak di pusat Kecamatan Wolowaru.

Gara-gara di kali ini setengah celana saya basah dan sepatu pun kuyup. Kalian tahu? Saya pulang dari Wolowaru ke Ende sekitar 2 (dua) jam perjalanan tanpa alas kaki. Hahaha.

Setelah video Desa Siaga yang berjudul: Di Dalam Dekapan Ibuku, pihak lembaga alias pemberi order mengubah cerita menjadi Paroki Siaga. Di sini, saya dan Kakak Pacar harus menempuh jalan yang lebih jauh menuju Laja yang merupakan bagian dari Kabupaten Ngada. Luar biasa kan ya? Eh tapi Paroki Siaga pun tetap arahnya ke desa siaga yang bersinergi dengan paroki setempat. Waktu itu kami mewawancarai Romo Sil Betu.

Baca Juga : #PDL Snorkeling di Perairan Pulau Tiga

Apa pelajaran yang saya petik dari proses syuting desa siaga ini? Banyak, kawan! Kerjasama tim, ramahnya orang desa, bersatunya orang desa, hingga betapa orang desa itu akan menganggap kau saudara meskipun baru bertemu sekali dua. Seperti Benser yang kemudian, berbulan-bulan kemudian, masih menghubungi kami meminta bantuan mendokumentasikan pernikahan anaknya, hahaha. Benser ini baik banget meskipun kalau ngomong kayak orang berantem. Tipikal Orang Flores memang begitu, tidak bisa bicara pelan hahaha.

Kadang-kadang saya kasihan juga sama ibu hamil di desa, apalagi desanya di balik bukit (berbukit-bukit). Mereka harus berjuang sejak kehamilan sampai melahirkan. Mereka tidak kenal produk mutakhir untuk ibu hamil dan anak baru lahir. Tidaaaak! Mereka hanya kenal penanganan dasar ibu hamil yang sesuai anjuran bidan. Maka, berbahagialan ibu-ibu yang tinggal di kota, apalagi yang jarak rumahnya sangat dekat dengan fasilitas kesehatan (faskes) dan bisa tahu soal produk-produk mutakhir untuk ibu hamil.

Pernah, saya pernah begitu ... melakukan semua itu dengan gembira karena banyak pengalaman yang saya alami dan pengalaman itu tidak bisa ditukar Rupiah. 

Baca Juga : #PDL Cerfet, Cerita Estafet

Bagaimana dengan kalian? Punya pengalaman serupa?


Cheers.

5 Alasan Kenapa Harus Nge-blog


2003 - 2018, sudah 15 (limabelas) tahun saya nge-blog. Dimulai dari blog yang ini, kemudian pada tahun 2005 memutuskan untuk pindah ke blog yang ini. Sepanjang perjalanan yang cukup panjang itu, sudah banyak pula blog yang terpaksa saya bikin seperti blog foto, blog travel, blog puisi, blog cerpen, blog serial-serial, sampai blog coba-coba yang fungsinya untuk mengetes tema yang bakal dipakai di blog utama. Abaikan blog-blog di atas kecuali yang satu ini, karena banyak yang sudah lama pula tidak diperbarui. Kalau Blogger bisa bicara, mungkin sudah dia kata-katain saya, "Bikin rugi kami saja kau, Teh!"

Baca Juga : 5 Layanan Podcast

Dulu, belum ada istilah niche blog, padahal, haha, tapi saya sudah punya banyak blog ber-niche. Lha, sekarang malah lebih suka nge-blog di sini yang jelas blog campur-aduk, gado-gado, rujak cingur, es teler, sandwich classic, mozarella goreng ... jadi lapar *terus tinggalkan laptop dan pergi mencari makan*.

Begitu banyaknya blog, tentu kalian bertanya, emang apa sih alasan saya nge-blog

Haaaa? Apaaa?

Tidak ada yang bertanya?

*lanjut, pura-pura ada yang tanya*

Berkaitan dengan alasan nge-blog ini, saya pernah menulis tentang 5 Alasan Membuka Kelas Blogging NTT. Di dalam pos itu jelas tertuang perasaan penuh cinta alasan kenapa harus nge-blog. Alasan-alasan itu antara lain:

1. Nge-blog melatih dan mengasah kemampuan menulis.
2. Nge-blog untuk promosi pariwisata NTT.
3. Nge-blog lebih berfaedah ketimbang merusuh di FB.
4. Blog adalah portofolio online.
5. Nge-blog for money.

Baca Juga : 5 Yang Unik Dari Ende (Bagian 1)

Penjelasan dari setiap poin di atas, bisa langsung kalian baca pada pos yang bersangkutan. Soalnya kalau penjelasan setiap poin itu kembali saya tulis di sini, pos ini bakal jauh lebih panjang dari yang diestimasikan (bahasanya, woih!). Percayalah, kalian akan tahu mengapa saya juga bertahan nge-blog sekian lama. Yang terlihat paling signifikan adalah gaya dan pola menulis dari yang hanya sekadar curhat menjadi lebih informatif. Semua butuh proses yang panjang.



Saya jelas tahu apa alasan nge-blog. Terutama, bagi saya, adalah untuk narsis dan agar Ende lebih dikenal. Padahal tidak penting juga sih orang lain tahu aktifitas saya sehari-hari. Hahaha. Kita tidak tahu kan seberapa inspiratifnya tulisan kita bagi orang lain? Siapa tahu tulisan itu sangat bermanfaat untuk mereka. Nah, kalau saya jelas-jelas tahu apa alasan saya nge-blog, bagaimana dengan alasan orang lain? Ini yang penting. Ketika saya sudah tahu alasan saya nge-blog, saya juga butuh tahu alasan orang lain nge-blog. Oleh karena itu, mirip-mirip sama pos yang satu ini, saya mewawancarai 5 (lima) blogger.

Mereka yang saya wawancarai adalah blogger-blogger yang tergabung dalam Kelas Blogging NTT. Mereka belum lama nge-blog dan blog mereka pun baru berumur bulan (kalau manusia, masih belajar bolak-balik di kasur). Tapi semangat mereka mengikuti kelas lewat sebuah WhatsApp Group (WAG) itu yang luar biasa. Mereka hebat! Karena blog mereka baru berumur bulan, masih hangat-hangatnya kan, jadi pas banget kalau diwawancarai.

Apa alasan mereka harus nge-blog?

Cekidot.


"Saya nge-blog itu karena pengen menjadikan blog sebagai diary, mau nulis semua kegiatan ke dalam blog. Supaya selalu ingat cerita-cerita saya. Itu harus, ya." Itu kata Ocha ketika saya bertanya alasannya nge-blog dan mengikuti Kelas Blogging NTT. Boleh dibilang Ocha membuat blog-nya setelah mengikuti kelas pertama Kelas Blogging NTT itu. Lebih hebatnya lagi, semua dia lakukan hanya melalui layar mini Android miliknya. Coba kalian tanya; Ocha lebih suka nge-blog lewat laptop atau smartphone, jawabannya pasti smartphone.


"Menulis, untuk lebih banyak belajar hal baru. Setelah mendapatkan hal yang baru, menulis lagi. Belajar lagi. Menulis lagi. Bayangkan pekerjaan mulia itu akan menghasilkan kecerdasan otak yang luar biasa. Cerdas dan milenial." Rian, seorang putera asal Manggarai - Flores, yang bekerja/menjadi guru di Kupang, memang punya aktivitas yang padat. Namanya juga guru kaaaan. Tapi, di sela-sela aktivitasnya itu, dia masih mau nge-blog dan berbagi cerita dengan pembacanya. Rian mengingatkan saya pada Pak Martin.


"Menceritakan pengalaman pribadi agar pembaca juga mendapatkan referensi yang tepat ketika akan berkunjung ke suatu daerah". Ini dia si anak rantau yang pekerjaannya boleh dibilang sulit sekali untuk bisa membuatnya duduk di depan laptop untuk mengetik. Sama juga, kalaupun menggunakan Android, pasti dia harus berurusan sama pekerjaan. Tapi yang saya salut, dengan penuh semangat dia mengatakan, "Kak, mau belajar juga donk ... nge-blog!"


"Di mana-mana, orang bilang si adik pasti akan meniru apa saja yang dilakukan sama si kakak, dan itu memang benar sekali. Saya nge-blog karena sering melihat si kakak memuat tulisannya di dalam blog. Sebenarnya saya tidak mempunyai bakat untuk menulis sama sekali. Tetapi, saat membaca tulisan-tulisan si kakak, dengan sendirinya saya termotivasi. Akhirnya saya mulai membuat tulisan-tulisan yang meskipun tidak serapi dan sebagus milik orang lain, kemudian saya posting di blog. Memang saat ini saya masih jarang posting tulisan di blog, tapi percayalah nge-blog itu mengasyikkan sekali, apalagi kalau banyak notifikasi yang masuk."


5. Ludger di http://ludgerbudwologai.blogspot.com

"Dasarnya sih saya suka menulis apa saja. Saya buat blog tentang budaya Wologai untuk melestarikan dan juga mewariskan budaya Wologai ke generasi berikutnya. Atau untuk putera/puteri Wologai yang berada di perantauan, biar bisa cerita ke anak cucu mereka tentang Wologai." Ludger adalah salah seorang peserta Angkatan II Kelas Blogging NTT yang saya sebut fast learner. Semangatnya yang tinggi untuk berbagi tentang budaya khususnya budaya Wologai patut diapresiasi.

Alasan kenapa harus nge-blog setiap orang itu berbeda-beda. Seperti yang telah kalian baca alasan 5 (lima) blogger pemula di atas.

Baca Juga : 5 Cara Mengundang Pengunjung Blog

Ocha ingin menjadikan blog seperti diary; kan blog memang awalnya dikenal sebagai diary online. Edwin ingin menceritakan pengalaman-pengalamannya. Rian Seong, seorang guru di Kupang punya filosofi yang dalam tentang nge-blog ini: menulis untuk belajar hal baru, menulis lagi, belajar lagi, begitu seterusnya. Hartina mengikuti jejak si kakak (namanya Tityn) yang sudah lama nge-blog. Sedangkan Ludger karena kecintaannya pada budaya. Nge-blog untuk melestarikan budaya, jadi dia harus melakukannya.




Saya senang membaca alasan kenapa mereka harus nge-blog. Saya harap mereka akan konsisten nge-blog dan berbagi lebih banyak kebaikan dengan orang lain. Menulis, menulis, menulis.


Terbentur, terbentur, terbentur, terbentuk ~ Tan Malaka.

Bagaimana dengan kalian? Yuk share.

Tulisan ini diikutkan pada #C2CreatorContest


Cheers.

5 Manfaat Buah Sirsak


Kalau menulis sirsak, saya pasti ingat es sirup + sobekan buah sirsak, dinikmati siang hari saat udara panas. Kalau ada yang minta, kasih senyum manis, jangan kasih es sirsaknya. Ah, ingatan yang bakal merusak kadar gula dalam darah. Etapi kalau tidak setiap hari dikonsumsi kan boleh. Boleh kan? Ya boleh donk! Penderita diabetes juga boleh! Pokoknya!

Loh ... kok marah :p

Baca Juga : 5 Manfaat Bekam

Sirsak, dari Wikipedia, disebut juga nangka belanda atau durian belanda dengan nama latin annona muricata. Herannya, nama annona ini identik dengan buah nona atau di Ende disebut buah ata nona. Sirsak ini berasal dari Karibia, Amerika Tengah dan Amerika Selatan dan dapat tumbuh di sembarang tempat termasuk di hatiku. Nama sirsak sendiri berasal dari bahasa Belanda yaitu zuurzak yang berarti: kantung yang asam. Hmmm, banyak sekali kata dalam bahasa Belanda yang masih digunakan di Indonesia sampai sekarang ini. Salah satu warisan Belanda untuk Indonesia adalah Burgerlijk Wetboek atau KUHPerdata.

Jenis-jenis sirsak yang ada di Indonesia antara lain: sirsak ratu, sirsak irian, sirsak asam, sirsak bali, sirsak mandalika, sirsak ido, hingga sirsak sabun. Entah bagaimana pula bentuk sirsak sabun ini, yang jelas rasanya tetap rasa sirsak. Kalau rasanya stroberi berbusa itu baru dipertanyakan.

Baca Juga : 5 Manfaat Minyak Ikan (Paus)

Setelah mencari sana-sini, ternyata manfaat sirsak ini sangat banyak, kawan. Di perpustakaan mini milik Pusar Pariwisata Uniflor, saya dipertemukan dengan sebuah buku berjudul Dahsyatnya Sirsak Tumpas Penyakit. Tetapi karena pos ini bukan review, maka buku itu akan dibahas di lain kesempatan. Isi buku itulah yang cocok dengan semua temuan dari pencarian saya tentang manfaat sirsak. Dan ternyata ada puluhan manfaat sirsak untuk kesehatan umat manusia *muka serius*.

Jadi, sekarang mari kita simak apa saja manfaat yang dapat kalian peroleh jika mengkonsumsi sirsak (baik buah maupun daunnya).

1. Diabetes Melitus

Ini dia manfaat pertama yang harus kalian tahu, eh maksudnya harus saya tahu. Makanya di awal pos saya ngotot penderita diabetes juga harus boleh mengkonsumsi sirsak (tanpa es sirup atau pemanis tentunya). Haha. Ternyata ada maksudnya. Buah dan daun sirsak dapat mengobati diabetes melitus (ekstraknya) untuk memperbaiki produksi insulin.

Baca Juga : 5 Manfaat Lidah Buaya Ini Perlu Kalian Tahu

2. Infeksi Virus

Ekstrak etanol daun sirsak memiliki aktivitas sebagai anti virus herpes simplek. Senyawa aktif dari sirsak dan tanaman dari genus Annona, menurut NIH berdasarkan skrining yang dilakukan oleh Universitas Purdue Amerika Serikat, ternyata juga memiliki khasiat anti-AIDS.

3. Hipertensi

Buah sirsak dapat menurunkan hipertensi karena mengandung vasodilator yaitu zat yang bersifat melebarkan pembuluh darah.

4. Pencegah Kanker

Mengkonsumsi sirsak secara rutin juga berkhasiat mencegah timbulnya penyakit kanker (bersifat sebagai kemoterapi alami). Konsumsi rebusan daun sirsak daj jus sirsak secara rutin.

5. Obat Diare

Jus buah sirsak dapat memulihkan kondisi akibat diare dalam waktu 48 (empat puluh delapan jam). Seng yang terkandung di dalam sirsak berperan menurunkan kehilangan cairan usus.

Terimakasih Tuhan, obat semua penyakit sebenarnya sudah Engkau kirimkan ke bumi ini. Enak pula :D

Begitu banyak manfaat dari buah sirsak, sebenarnya apa saja kah kandungan yang ada di dalamnya? Banyak sekali! Diantaranya pestisida (zat yang dapat mengendalikan, menolak, memikat, atau membasmi organisme pengganggu tanaman), sedatif (zat yang bersifat menenangkan), emetik (zat yang merangsang muntah), nervin (menguatkan saraf/tonik saraf), hipoglikemik (zat yang bersifat menurunkan kadar gula dalam darah), antiparasit (menghambat perkembangan parasit), antikonvulsan (anti kejang), dan masih banyak lagi kandungan di dalam buah sirsak yang bermanfaat bagi tubuh manusia.

Baca Juga : 5 Manfaat Bawang Putih

Bagaimana, kawan? Setelah membaca pos ini, masihkah menolak mengkonsumsi buah sirsak dan/atau ramuan dari buah serta daunnya? Jangan, doooonk. Kalau sudah tahu manfaatnya, kenapa tidak dicoba? Lagipula tidak ada ruginya mengkonsumsi buah sirsak ... enak iniiiiiy.

Semoga bermanfaat.

Sumber: Dahsyatnya Sirsak Tumpas Penyakit oleh Dr. Adji Suranto, Sp.A.


Cheers.

#KepoBuku Cara Lain Nge-review Buku


Sejak awal nge-blog sekitar tahun 2003-an, saya sudah kenal yang namanya podcast. Dari mana saya tahu? Dari blog seorang lelaki kece blogger dan dedengkot Blogfam bernama Rane Hafied atau lebih sering dipanggil Pak Jaf. Daftar podcast-nya dulu kalau saya tidak salah terdiri dari potongan-potongan rekaman siaran radionya. Pak Jaf adalah produser sekaligus penyiar Radio Singapura Internasional (RSI). Busyet, saya masih simpan kartu Lebaran dari Pak Jaf dengan gambar orang-orang RSI. Dari beliau saya banyak belajar tentang dunia radio. Yuhuuu. Beliau ini baik banget dan tidak pelit ilmu. Bersama Pak Jaf, Uyet, dan Mbak Sa, cerita estafet kami pernah diterbitkan oleh Gramedia.


Pak Jaf dan dunia podcast tidak bisa dipisahkan. Kalau ingat Pak Jaf, pasti saya langsung ingat podcast. Seperti kalau ingat Deadpool pasti ingat Ryan Reynolds. Banyak sudah podcast yang bisa kalian dengarkan di blog-nya, dengan banyak bahasan. Diantaranya: Nyeduh Kopi Bareng Riyogarta, [Klipping] Podcast, Masa Depan Penyiaran yang Belum Pasaran di Indonesia, Episode Anchor: Cover-Coveran Ukulele Lagi, Tips Merekam Podcast Dengan Ponsel, dan yang satu ini Blog: Review Singkat Speaker Studio Buat Podcasting. Masih banyak podcast lainnya, silahkan meluncur ke blog beliau. Asyik banget dengerin podcast di sana. Nge-blog lewat suara! Kalian harus coba nge-blog lewat suara ini.


Saat ini Pak Jaf, yang konsisten dengan dunia podcast, punya seri podcast berjudul #KepoBuku. #KepoBuku ini merupakan review buku tapi dalam bentuk audio alias suara. Dalam #KepoBuku Pak Jaf tidak sendiri, ada temannya yang bernama Hertoto Eko, dan Steven Sitongan yang punya Ksatria Buku (silahkan cari di IG). Pak Jaf dan Om Totok sama-sama luwes, mungkin karena mereka sahabatan. Sedangkan Steven jauh lebih muda dari mereka berdua ... eh. Ampun Pak Jaf hahaha

Baca Juga : Proyektor Ini Tidak Perlu Layar Atau Dinding

Podcast #KepoBuku yang sudah sampai pada Epidose #11 itu bakal memuaskan kalian para pecinta buku, hanya dengan mendengarkan sambil tidur-tiduran atau sambil bajak sawah. Bahkan bisa jadi pilihan bagi kalian yang pengen nge-review tapi malas banget menulis.

Oh, really?

Yess, darling!

Karena, kalian juga bisa mengirimkan review singkat kalian tentang buku yang sedang dibaca ke mereka! Via WA voice salah satunya. Jadi, selain review buku bisa kalian pos di blog pribadi, juga bisa dikirim ke mereka dalam bentuk audio. Saya sendiri sudah mengirimkan buku yang sedang saya baca, kebetulan juga cocok sama tema mereka tentang buku sastra. Silahkan dengarkan suara saya yang cempreng hahaha.


Silahkan submit review kalian. Caranya? Lihat gambar di bawah ini *tunjuk-tunjuk*


Atau langsung saja ke blog-nya.

Baca Juga : Dine Tools That Can Be Folded

Berkaitan dengan podcast ini adalah layanan yang dipakai yaitu Anchor. Saya pernah membahasnya di sini. Namanya layanan podcast, semua hal yang berkaitan dengan audio bakal diterima dengan senang hati. Silahkan unggah audio pilihan kalian. 


Tapi, bagaimana caranya punya akun di Anchor?

Mudah, kawan. Buka browser, ketik alamat Anchor, lalu daftar seperti biasa / membuat akun. Silahkan memulai podcast kalian: rekam audio dan unggah. Enaknya di Anchor adalah kalian bisa memilih podcast kalian bakal di-publish di mana saja, termasuk Spotify, Apple Podcasts, dan Google Podcasts!


Apa saja yang bisa diunggah di Anchor? Rekaman seperti #KepoBuku, musik yang kalian buat sendiri, atau lagu yang kalian cover dari lagu orang lain. Dengarkan remakan saya dan Mas Yoyok Purnomor dalam episode susahnya merekam lagu (akustik) live berikut ini:



Atau lagu Terukir di Bintang milik Yuna yang saya cover dengan musik oleh Luis Thomas Ire berikut ini :



Jangan ragu untuk mulai membikin podcast. Karena apa, wahai sodara-sodara? Karena, dulu orang juga ragu nge-vlog kan? Tapi lihat sekarang ... begitu banyak vlogger di dunia ini. Bahkan yang kelasnya sudah pro! Mereka sukses bukan dalam sekedip mata tetapi karena ada proses panjang yang dilalui. Artinya adalah kita harus optimis. Segala sesuatu itu tidak langsung besar, kecuali planet-planet dan dinosaurus :p, semua dimulai dari yang kecil atau dari nol.

Lagi pula, #KepoBuku dapat menjadi inspirasi kita untuk membuat rekaman review buku sendiri. Why not?

Baca Juga : Instructables, How to Make Anything

Berani coba?

Harus!


Cheers.

Kita, Orang Indonesia


Indonesia, negara kita tercinta ini, merupakan negara kepulauan. Karena kepulauan, sulit untuk menyamaratakan pembangunan. Karena, biaya untuk membangun satu gedung sekolah di Jakarta, misalnya, tidak sama dengan membangun satu gedung sekolah di Ende. Biaya material tentu berbeda, biaya transportasi berbeda, dan biaya jasa tukang bangunan juga berbeda. Berbeda yang saya maksudkan di sini adalah bisa saja harga semen di Jakarta lebih murah Rp 5.000 ketimbang di Ende. Atau bisa saja biaya jasa tukang bangunan di Ende jauh lebih murah ketimbang di Jakarta. Iya, karena di Ende kan seringnya pakai jasa keluarga atau saudara. Hehe.


Biaya dua gedung sekolah di Jakarta mungkin bisa sama dengan biaya satu setengah gedung sekolah di Ende.

Kita, Orang Indonesia yang terpisah pulau dan berbeda adat budayanya ini, disatukan oleh Bhineka Tunggal Ika. Tapi semboyan itu tidak selamanya dapat menyatukan kita karena perbedaan pandangan politik, misalnya. Yang lebih parah, perbedaan pandangan politik ini dapat berkembang menjadi dasar penilaian keberhasilan dan kemajuan negara ini. Kelompok A akan berkata kelompok B (yang sedang berkuasa) tidak baik dan menyengsarakan rakyat. Kelompok B juga bisa mengatakan sebaliknya terhadap kelompok A dan/atau kelompok C (apabila ada kelompok C). Harusnya setiap kelompok tunjukkan dan buktikan saja pada masyarakat keberhasilan masing-masing. Salah satu kalimat yang pernah saya baca di internet berbunyi : balas dengan karya untuk semua omongan jelek tentang kita.

Kita, Orang Indonesia yang terpisah pulau dan berbeda adat budayanya ini, selain disatukan oleh Bhineka Tunggal Ika, juga dapat disatukan melalui olahraga. Hari ini kita musuhan, tapi apabila tim jagoan kita ternyata sama, besok kita adalah sahabat dan harus saling mendukung. Bila perlu, hancurkan mereka yang tidak sepaham dengan kita. Kadang, nyawa bukan lah sesuatu yang patut dihormati. Harusnya kita bisa menghargai perbedaan tim jagoan karena kalau semuanya sama, tidak seru.


Kita, Orang Indonesia yang terpisah pulau dan berbeda adat budaya ini, selain disatukan oleh Bhineka Tunggal Ika dan olahraga, juga disatukan oleh bencana alam. Tidak ada seorangpun di dunia ini yang menginginkan bencana alam terjadi. Akan tetapi, kehendakNya tidak bisa kita tolak. Tapi apabila terjadi bencana alam, Orang Indonesia termasuk yang paling kompak, bahu-membahu, memberikan pertolongan kepada saudara-saudara yang menjadi korban bencana alam. Lewat kampanye di media sosial, #PrayForLombok dan #PlayForPalu, misalnya. Bisa juga dengan menjadi relawan dan menyumbangkan dana dan/atau barang. 


Kita, Orang Indonesia yang terpisah pulau dan berbeda adat budayanya ini, selain bisa disatukan oleh Bhineka Tunggal Ika, olahraga, dan kejadian (yang tidak kita inginkan) bencana alam, juga dapat disatukan lewat musik. Konser Sheila On 7 misalnya, kaum muda berdesakan dengan yang sudah lewat 40 tahun karena kesamaan selera. Lagi pula, siapa sih yang tidak cinta Sheila On 7? Mereka salah satu legenda Indonesia yang tidak akan pernah pudar. Buktinya, sahabat saya Effie dan si Kakak Pacar masih suka menyanyikan lagu-lagu mereka.


Kita, Orang Indonesia, juga kadang menjadi bahan lelucon satu sama lain. Tapi saya pikir, tidak perlu merasa terhina apabila kita juga sering membuat lelucon tentang orang lain. Karena, Life Is Fun and Life Is Funny :) Selalu ada timbal-balik bukan?


Kita, Orang Indonesia, berbeda itu sudah menjadi hal dasar kehidupan kita. Tapi jangan jadikan perbedaan sebagai alasan untuk bertindak semena-mena atau sesuka hati. Mari membangun. Mari memajukan bangsa ini. Mari mendidik penerus bangsa. Mari menjadi Orang Indonesia yang berbudi dan punya tanggungjawab moral terhadap diri sendiri serta orang lain.

Saya, Orang Indonesia ... entah kenapa menulis ini ...


Cheers.

5 Cozy Songs


Setiap orang pasti punya lagu favorit, lagu kegemaran, lagu kebangsaan, lagu kebesaran, dengan frekuensi dengar tinggi. Sama juga dengan saya kan saya masih orang/manusia juga. Jenis lagu apa yang saya sukai? Semua. Dangdut juga? Tentu saja! Apalagi Mendadak Dangdut-nya Titi Kamal. Heiiii saya masih mendengarkan lagu itu sampai sekarang. Qiqiqiqi. Bagi saya musik/lagu harus diapresiasi sama. Karena, bukan hal mudah untuk bisa menciptakan lagu, bahkan satu lagu pun. Dan saya baru bisa menciptakan belasan lagu baik bersama Cendaga Band, bersama Notes (Noel & Tuteh SideProject), maupun sendirian (dengan kunci C, D, F, G, dan lainnya yang saya hafal minus B dan Bm haha). Mood bikin lagu sedang mengembara, jadi belum produktif ke urusan lagu.


Kembali pada lagu favorit. Saya boleh mengatakan lima lagu yang bakal diulas ini merupakan lagu favorit. Lima lagu ini sangat-sangat nyaman didengar terutama saat malam sebelum eru (tidur dalam bahasa Ende). Setiap kali mendengar lagu-lagu ini rasanya seperti sedang berada di kafe, membaca Peyempuan 2, sambil menikmati sepiring mix sampler, secangkir mochacinno. O-le! Sayangnya jarang sekali saya membaca saat sedang di kafe, adanya malah mengobrol juga tertawa bareng keluarga atau teman, foto-foto, dan kadang-kadang diskusi serius. Haha.

Saya jamin, kalian juga bakal setuju sama lima lagu yang saya rekomendasikan sebagai cozy songs. Wajib dengarkan berulang-ulang sih tidak, tapi mencoba mendengarkannya itu wajib! Siapa tahu bakal masuk dalam list music player kalian.

Mari kita simak ...

1. Homesick by Kings of Convenience

Kings of Convenience adalah duo folk-pop indie dari Bergen, Norwegia. Duo ini beranggotakan Erlen Øye dan Eirik Glambek Bøe. Musik mereka; melodi gitar yang rumit dan halus, serta suara mereka sangat lembut dan menenangkan. Ini yang membuat saya jatuh cinta pada Kings of Convenience saat pertama kali diperkenalkan oleh Ilham. Tidak banyak musisi dunia yang mirip-mirip Kings of Convenience. Kita harus menggali lebih dalam pada masing-masing negara karena mungkin mereka tidak sepopuler Sia, Beyonce, atau Cardi B. Tapi percayalah, mereka termasuk musisi yang sulit hengkang dari hati penggemarnya.


Homesick merupakan salah satu lagu mereka yang sangat saya cintai. Dibuka dengan melodi yang lembut serta menyusul suara mereka yang tak kalah lembutnya! Awwww. Kalau kalian termasuk anak rantau, bisa paber keras kalau dengar lagu ini.


2. Out of My Head by Fastball

Kalau Out of My Head punya mulut, mungkin dia sudah bilang ke saya, "Kau tidak bosan kah, Teh?" haha. Tentu tidak. Siapa yang bisa bosan mendengarkan lagu milik Fastball ini? Fastball sendiri merupakan band rock asal Austin, Texas, Amerika yang dibentuk pada tahun 1995. Beranggotakan Tony Scalzo, Miles Zuniga, dan Joey Shuffield, awalnya nama mereka Magneto U.S.A. tapi berganti setelah tanda tangan kontrak dengan Hollywood Records.


Meskipun single pertama mereka adalah The Way, tapi saya menyukai Out of My Head yang merupakan single ketiga. Dulu banget kalau siaran Segelas Air Putih saya pasti memperdengarkan lagu ini juga, haha.

3. What Am I To You? by Norah Jones

Oh yess! Siapa sih yang tidak jatuh cinta pada perempuan cantik yang satu ini? Rata-rata semua lagunya selalu bikin terbuaiiii. Norah Jones adalah seorang penyanyi, penulis lagu, dan pianis Amerika. Dari semua prestasinya, tidak heran jika Billboard menobatkan si cantik ini sebagai penyanyi jazz top pada dekade 2000 - 2009. Lama juga ya. Kalau saya dinobatkan sebagai penyanyi gagal sepanjang masa.



Salah satu lagunya yang menjadi pilihan saya adalah What Am I To You? Meskipun, saya juga suka mendengarkan Come Away With Me dan Sunrise. Top lah pokoknya kalau dengar suara si Norah Jones. Sampai-sampai saya pernah ngetwit begini: Dear Norah Jones, may I hack your voice?



4. Who You Love by John Mayer & Katy Perry
  
Sudah pernah dengarkan lagu ini? Sudah pastinya ya. Kalau belum, siapa sih yang tidak suka? Katy Perry (John Mayer akan dibahas pada poin 5) merupakan penyanyi yang luar biasa apalagi pada lagu Firework; sangat memotivasi dan menginspirasi. Katy dikenal sebagai penyanyi Amerika dan penulis lagu. Lagu-lagunya banyak yang ngehits sejagad.


Bersama John Mayer, Katy menyanyikan lagu berjudul Who You Love. Dan saya mencintai lagu ini setiap melodinya. Kalian harus dengarkan juga :)

5. Waiting On The World To Change by John Mayer

Awwwww. John Mayer! Ye ye ye. Selain sebagai produser rekaman dan penulis lagu, John Mayer lebih dikenal sebagai penyanyi Amerika yang mendulang kesuksesan di setiap lagu-lagunya. Pada tahun 2005, dia pindah dari musik akustik yang dikenal sebagai jenis musik pada awal karirnya, dan mulai bermusik dalam ranah blues dan rock yang dulu mempengaruhinya (sebagai musisi).


Waiting On The World To Change merupakan lagu yang paling saya sukai sekaligus paling sulit saya mainkan kunci gitarnya, haha.  Percayalah, kalian akan sangat menyukai lagu yang satu ini. Liriknya itu penuh perdamaian perdamaiaaan *malah kasidahan*.


Saat menulis ini saya sedang mendengarkan lagu-lagu terebut di atas. Meskipun nulisnya di kamar, tapi rasanya sedang berada di kafe, ditemani secangkir kopi susu racikan Mamasia ... sadap!

Setiap orang punya lagu favoritnya masing-masing. Kita tidak dapat menilai, ah si dia seleranya jelek, hanya karena selera orang itu berbeda dari kita. Karena, yang namanya seni itu relatif, dinilai sejauh perspektif orang yang menikmatinya. Tidak baku! Jadi, jangan pernah ragu untuk membeberkan pada orang lain apa saja yang menjadi favorit kita. Justru apa yang menjadi favorit orang lain dapat menjadi inspirasi untuk kita (baca: saya) dengan mencobanya juga ...

Baiklah kengkawan semua, selamat menikmati akhir pekan dan jangan lupa berkebun :p


Cheers.

#PDL Jalan Malam Keliling Kota

Simpang Lima Ende.


#PDL adalah Pernah DiLakukan. Tulisan ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini; jalan-jalan di sekitar Kabupaten Ende, backpacker-an ke tempat-tempat di luar Kota Ende, merusuhi acara, termasuk perbuatan iseng bin jahil bin nekat.

***

Saya ini orangnya tidak tentu. Kadang spontan, kadang penuh rencana. Ketika saya menjadi begitu spontan (halah, bahasanya) biasanya orang lain yang keki setengah mampus sampai ingin mengeluarkan isi otak saya. Tapi kalau sedang berencana dan orang lain melanggar rencana itu, suasana hati saya langsung memburuk penuh mendung hitam menggantung, tinggal tunggu petir dan guntur mengamuk. Jadi kalau ditanya saya ini tipe seperti apa ... bingung juga hahaha. Sulit mendeskripsikan diri sendiri. Yang jelas saya tidak suka makan orang, tidak suka lelaki, tidak suka tipu-tipu. Tipu itu ... apa ya ... sekali menipu nanti akan terus menipu. Itu menurut saya.


Omong-omong ... eh, nulis-nulis soal spontan dan penuh rencana ini, berkaitan dengan kegiatan jalan malam keliling kota yang seterusnya disebut JMKK (ini istilah dari sahabat saya si Sisi; namanya Sisi). Iya, pernah. Saya pernah jalan malam keliling kota. Demi apa, anak-anaaaak? Demi mengurangi kadar gula dalam darah. Soal bobot yang berkurang banyak, itu super bonus. Sebenarnya, ide awal JMKK ini datang dari Sisi. Tapi dia jalannya siang bolong. What? I can't! Pekerjaan tidak memungkinkan saya jalan siang bolong keliling kota yang kalau disingkat menjadi JSBKK. Soal singkatan ini, jangan pernah menyingkat nama saya karena jadinya PDIP.

Adalah Inggi alias Mei Ing, ya - dia lagi, yang menyarankan saya untuk JMKK. Syaratnya: setelah mandi dan Shalat Subuh Maghrib, JMKK, setelahnya tidak boleh mandi lagi thanks God, dan tidur. Apakah saya melakukannya? Belum. Saat Inggi menyarankan itu, saya masih uring-uringan dan lebih sering menghabiskan waktu di depan teve menonton serial ini itu yang tayang di Fox, AXN, StarWorld, NatGeo. Syukurlah sekarang teve telah tidak dinyalakan di rumah kami.

Lantas ...

Spontanitas itu pun datang ...


Tanpa persiapan, tanpa aba-aba, sore itu (yang saya ingat tahun 2012) saya mengajak asisten Mamatua yang lama yang dipanggil Mamasin (bukan Mamasia) JJMK! Belum selesai wajah melongo Mamasin, belum selesai otaknya mencerna ajakan JMKK yang sangat tiba-tiba itu, saya sudah menyeretnya menuju jalan raya. Tanpa sepatu. Mamasin meringis ingin menangis tapi karena saya mengajaknya mengobrol, sakit pada telapak kaki pun hilang atau dia pura-pura kakinya tidak sakit lagi. Waktu itu memang tidak pakai sepatu karena konon katanya bagusan tidak pakai sepatu.

Mural di Polres Ende. Ende Lio Sare Pawe.

JMKK bersama Mamasin waktu itu dilakukan kontinyu, setiap malam usai Shalat Maghrib, dengan rute yang berganti-ganti. Hari pertama rute-nya yang singkat-singkat saja. Hari berganti hari seolah waktu akaaan malah nyanyi lagunya sinetron Tersanjung haha. Hari-hari berikutnya rute kami menjadi lebih jauh. Yang biasanya hanya satu kilometer JMKK, menjadi enam kilometer. Pokoknya semakin banyak keringat yang keluar, semakin bahagia perasaan saya. Sebahagian kalian yang akhirnya dilamar :p

Apa efeknya?

Efek JMKK sangat luar biasa. 

Efek pertama adalah mengantuk. Setiap kali kadar gula dalam darah meningkat atau berkurang, beberapa penderita diabetes merasa sangat mengantuk + sekali. Parahnya kantuk ini menyerang kapan pun dia mau. Pernah saat sedang mengendarai Oim Hitup (my matic) dari luar kota menuju Kota Ende, saya nyaris keluar dari badan jalan. Tuhan, tolong ... kalian tahu kan kondisi jalan antar kabupaten di Pulau Flores? Kanan jurang, kiri tebing. Kanan tebing, kiri sawahnya orang. Alhamdulillah setelah berhenti sejenak, loncat-loncat, membayangkan wajah Ryan Gosling, saya bisa melanjutkan perjalanan dan tiba di rumah dengan selamat.


Enam bulan JMKK kontinyu, dengan sesekali absen, efek yang lebih kentara di mata orang lain adalah bobot. Haaa? Suara ndenga/sengau antara tidak percaya tapi senang banget sama penilaian orang.

Are you sure?

Really?

Iyess. Bobot saya berkurang ternyata dan itu saya sadari ketika berusaha memerhatikan pakaian di tubuh. Oh, iya agak longgar di sana, di sana, dan di sana. Lemak pipi pada ke mana ya? Artinya, JMKK benar-benar menyukseskan saya mengurangi kadar gula dalam darah. Bonus: bobot berkurang banyak!

Bunga di halaman orang haha.

Lanjutannya ini berhubungan dengan manusia sebagai makhluk lemah ciptaan Tuhan. Sebagai manusia lemah iman, yang suka lekas puas sama hasil, saya kemudian berhenti JMKK. Efeknya? Kadar gula dalam darah kembali naik gara-gara sedikit keringat yang dikeluarkan sejak berhenti JMKK itu. Payah lu Teh. Tentu, ketika kadar gula meningkat saya jadi sering mengantuk juga hahaha. Tapi kengerian sebenarnya bukan pada kadar gula dalam darah, melainkan neuropathy yang kemudian menyerang kedua kaki saya. Awalnya hanya satu jari yaitu jari manis di kaki kiri, akhirnya merambat ke seluruh kaki.

Dan saya masih menertawai betapa bodohnya saya berhenti JMKK waktu itu. Saya tertawa karena untung kaki saya yang mati rasa dan menjadi menjengkelkan kala tidur malam. Bagaimana kalau perasaan saya yang mati rasa?

Bueh.

Setelah itu saya masih saja dengan kebiasaan buruk yakni jarang olahraga. Sering melewatkan jalan sehat mingguan bersama teman-teman kantor. Sering melewatkan ajakan olahraga dari teman-teman lain. Hingga saya mulai diet DEBM pada tahun 2018 kemarin, yang menyebabkan kadar gula dalam darah saya kembali berhasil dirosotkan (APA PULA BAHASA INI) dari 400-an menjadi 50-an. Dan itu tidak boleh. Maka saya kembali mengkonsumsi karbo meski tidak banyak. Efeknya juga ke bobot tubuh. Itu pasti.


Pikir punya pikir, kalau DEBM utuh kadar gula dalam darah saya merosot terlalu jauh, sedangkan saya kembali mengkonsumsi sedikit karbo ... maka saya harus punya solusi lain.

A-ha!

*tring!*

JMKK!

Again.

Spontanitas JMKK kali ini melibatkan Ocha yang mana dia juga senang karena ingin membesarkan betis. Itu katanya Ochaaaa, bukan kata saya hehe. Sudah semingguan JMKK dan efeknya terasa sekali di kaki.

Kalau dulu JMKKnya hanya sambil mengobrol dengan Mamasin, maka sekarang JMKKnya sambil foto sana sini terutama kalau melihat tanaman di rumah orang. Gemas-gemas bergembira lah kita. Beberapa foto JJMK bisa kalian lihat sepanjang membaca pos ini.

Bagaimana dengan kalian? Pernah JMKK juga?


Cheers.