Pembalasan Laut

Gambar diambil dari sini.

Ada lima perkara utama yang saya petik *semacam memetik buah naga di kebunnya dinosaurus begitu* usai menonton filem berjudul Aquaman dengan bintang utama mantan pacar saya. Tentu pendapat kita terhadap filem ini berbeda. Tapi berbeda itu indah bukan? Apalagi berbeda tetapi tetap satu ... Negara Kesatuan Republik Indonesia. Haha. Lima perkara yang saya maksudkan itu adalah:

Baca Juga: Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat

1. Cinta Dua Dunia.
2. Pangeran Berdarah Campuran.
3. Perebutan Tahta.
4. Pembalasan Laut.
5. Kebaikan Selalu Menang.

Aquaman Starring By ...


Filem yang disutradarai oleh James Wan dan diproduseri oleh Peter Safran dan Rob Cowan ini diperankan oleh Jason Momoa sebagai Arthur Cury (si Aquaman), Amber Hard sebagai Mera dengan ciri khas rambut merahnya, Willem Dafoe sebagai Nuidis Vulko, Patrick Wilson sebagai Orm Marius, Yahya Abdul-Mateen II sebagai Black Manta, Temuera Morrison sebagai Thomas Cury, dan tentu saja Nicole Kidman sebagai Atlanna si Ratu Atlantis. Sampai sekarang saya masih bertanya-tanya bagaimana caranya Nicole Kidman menjaga keawetannya baik wajah maupun tubuh. Dududud.

Plot


Aquaman punya plot yang bercampur antara kronologis dengan flashback. Flashback ini terutama saat Arthur muda ditempa oleh Vulko melalui latihan-latihan fisik yang lumayan keras. Jujur, awal melihat wajah Willem Dafoe saya sudah berpikir dia adalah lawan Arthur sesungguhnya yang bersembunyi di belakang Orm, tapi ternyata ... dialah (bersama Mera) sejatinya pendukung Arthur. Karena mereka tahu Arthur adalah si Kakak, yang meskipun berdarah campuran, merupakan penguasa tahta Atlantis yang sebenarnya. Lagi pula secara watak dan perilaku, Arthur lebih unggul menjadi Raja Atlantis ketimbang Orm. Bayangkan jika sebuah kerajaan dipimpin oleh raja yang lalim, perang melulu jadinya.

Cinta Dua Dunia


Sejak awal, Aquaman sudah dibuka dengan kisah cinta dua dunia ketika Thomas Cury menyelamatkan Atlanna yang terdampar di tepi pantai pada malam badai, di dekat mercusuar tempat dia bekerja. Tak lama, hubungan mereka pun berakhir dengan kelahiran Arthur yang juga punya kemampuan hidup di laut warisan Ibunya. Demi keselamatan Thomas dan Arthur, Atlanna terpaksa kembali ke Atlantis, menikah dengan Komandan Angkatan Laut Atlantis, dan melahirkan anak bernama Tula dan Orm. Jika Arthur berdarah campuran, maka Tula dan Orm berdarah murni. Benar, kawan, kita jadi ingat sama Harry Potter. Haha. Apa yang dilakukan Atlanta merupakan bukti cinta yang sesungguhnya terhadap keluarga meskipun menyakitkan. Iya, menyakitkan melihat cara Thomas menanti Atlanna di ujung dermaga setiap harinya.

Pangeran Berdarah Campuran


Sepeninggalan Ibunya yang kembali ke Atlantis, dan kemudian dibuang di Trench (jarang ada yang selamat kalau sudah dibuang di tempat sadis ini), Arthur ditempa oleh Vulko sebagai bekalnya kelak untuk menjadi penguasan Atlantis. Si darah campuran ini juga menerima petuah-petuah bijak dari Ayahnya yang murni manusia. Dia tumbuh menjadi si ganteng yang jagoan. Sikapnya yang sering 'bermain gila' membikinnya sulit untuk menerima kenyataan bahwa dirinyalah Raja Atlantis yang harus merebut tahta dari Orm. Manapula untuk bisa menguasai lautan dia harus mencari Trisula milik Raja Atlan yang disembunyikan dengan cara misterius alias penuh teka-teki.

Perebutan Tahta


Merebut tahta bukan tujuan Arthur sejak awalnya, dia lebih suka menjadi pribadi yang bebas, bodo amat dengan kehidupan laut dan tahta yang menantinya. Tapi ketika Orm mulai mengumpulkan bala tentara serta menyerang daratan dengan hempasan tsunami yang membawa serta sampah ke daratan, mata Arthur terbuka. Bersama Mera dia sempat tertangkap dan menantang Orm yang bukan tandingannya saat itu dan kalah, lalu diselamatkan lagi oleh Mera. Lantas, bersama Mera pula dia mencari Trisula Raja Atlan.

Pembalasan Laut


Ini poin juara dari Aquaman. Pesan yang disampaikan pada poin ini sungguh membikin bulu kuduk merinding dan masuk akal, meskipun dilakukan oleh si antagonis Orm. Mungkin benar, mungkin loh ya, seseorang menjadi jahat karena sudah lebih dulu dijahatin. Hehe. Orm menjadi jahat karena lautnya sudah lebih dulu rusak dan penuh polusi sampah yang menghancurkan biota laut.

Bagaimana jika laut benar-benar marah pada manusia, penghuni daratan, yang seenaknya membuang sampah dengan laut sebagai muaranya? Ngeri! Sampah yang merusak laut dilempar kembali ke daratan pada serangan pertama Orm ini membikin saya berkata, "Rasa sudah! Kita buang sampah sembarang tuh!" hahaha. Sungguh ini poin juara dari Aquaman. Katakanlah setelah menonton filem ini kita kemudian mulai sadar; mengurangi sampah plastik, mengelola sampah, membuang sampah pada tempatnya, memilah sampah, dan lain sebagainya ... maka efek Aquaman benar-benar dahsyat terhadap para penontonnya dan dunia ini.

Kebaikan Selalu Menang


Ya, namanya juga filem superhero, kebaikan selalu menang. Apalagi kemudian Arthur dan Mera kembali bertemu dengan Atlanna di Trench.


Secara keseluruhan, Aquaman menyajikan kisah yang unik tentang seorang superhero. Biasanya kita melihat superhero di daratan. Tapi ini di dalam laut yang ... yang dalam sih ... hehe. Dan pemilihan tokohnya juga ngepas. Menurut pendapat pribadi saya: Jason Momoa melepas karakter Khal Drogo yang suram dengan mata penuh eyeshadow hitam, menjadi Arthur yang sering bercanda dan sorot mata yang lebih bersinar. Dan otot kekarnya itu membikin awwww sekali kan ya hahaha. 

Bagaimana pendapat kalian tentang filem ini, kawan? Bagi tahu yuk di papan komentar! Selamat menikmati akhir minggu yang bahagia :D



Cheers.

Timur Punya Cerita


Halo hola! Tidak terasa sudah tiga hari saya tidak nge-blog. Tidak menulis cerita. Tidak memperbarui konten blog. Pun lebih lama lagi; saya jarang blogwalking dan merusuh di blog kawan blogger sekalian. Sakau? Sedikit. Tapi lelah ini telah lebih dulu merenggut kesadaran sehingga perjalanan ke dunia mimpi menjadi begitu mulus tanpa jerawat. Saya bahkan tidak diijinkan untuk protes. Perjalanan ini, sesungguhnya, telah mengajarkan saya dan dinosaurus rasa rindu pada bantal dan guling. Haha. Maka hari ini, setelah 680an kilometer berkendara bersama Onif Harem, saya punya kesempatan yang begitu banyak untuk menulis, menulis, dan menulis.

Baca Juga: Hiasan Dinding DIY

Peringatan: pos ini akan sangat panjang tapi penuh cerita menarik terutama #JalanJalanKerja memberikan saya kesempatan untuk mencapai beberapa lokasi wisata.

Mari kita mulai cerita panjang ini.

Menyisir Timur Pulau Flores dari Kota Ende Menuju Kota Maumere


Senin, 18 Februari 2019. Sepagi itu, pukul 04.00 Wita saya dan Thika sudah bersiap. Rencananya kami, tim sepeda motor, berangkat pukul 05.00 Wita dari Kota Ende menuju Ibu Kota Kabupaten Sikka yaitu Kota Maumere. Malam sebelumnya tim bis Uniflor sudah duluan berangkat. Tim motor ini terdiri dari: Pak Anno Kean, Pak Us Bate, Ibu Violin Kerong, Cesar Sarto, Rolland, dan saya yang ditemani Thika. Meskipun saya memanggil mereka dengan embel-embel 'Pak' dan 'Ibu' tapi sebenarnya usia mereka masih muda. Ndilalah kami malah baru ngegas pukul 05.45 Wita karena masih menunggu Pak Us yang pada WAG menulis otw tapi baru tiba  di check point satu jam setelahnya. Haha.

Sepagi itu speedometer masih bergerak normal antara 60km/jam sampai 80km/jam. Saya tahu, tiga sepeda motor yang dikendarai para lelaki itu memang sengaja menahan gas agar sepeda motor yang dikendarai dua perempuan (saya dan Viol) bisa seirama dengan mereka. Tiba di Kecamatan Wolowaru sekitar pukul 07.30 Wita kami beristirahat sejenak untuk ngopi-ngopi di sebuah warkop yang pemiliknya ramah sekali. Tidak marah meskipun kami ributnya bukan main. 


Jarak dari Kota Ende ke Kecamatan Wolowaru adalah 65 kilometer. Betul, menuju Kecamatan Wolowaru kami melewati Kecamatan Detusoko.

Kelokan Antara Kecamatan Wolowaru dan Kecamatan Watuneso yang Bikin Mabuk



Inilah titik perjalanan paling membosankan; Kecamatan Wolowaru - Kecamatan Watuneso yang berjarak 28,1 kilometer. Membelah hutan, sekali dua bertemu rumah penduduk, dan kelokan (kadang kelokan kanan-kiri itu tidak ada jedanya sama sekali) tiada akhir. Viol memimpin di depan. Kepemimpinan Viol dalam iring-iringan ini membikin para lelaki sadar bahwa tidak ada gunanya mereka menahan gas dan speedometer. Haha. Tapi kelokan jelas membikin saya pusing bukan main dan percaya bahwa menjadi seorang Valentino Rossi itu tidak mudah. Tiba di SMA pertama dalam perjalanan menyisir ini, saya dan Viol saling mengeluh pusing. Thika? Aduhai keponakan paling setia itu cuma bisa menelan lidah getir.


Sekolah pertama yang kami kunjungi, yang merupakan bagian tugas saya dan Viol adalah SMA Karitas Watuneso. Sayangnya kami tidak dapat bersosialisasi karena murid-murid sedang punya kegiatan. Hiks. Menitip pamflet setelah bertemu kepala sekolah kami pun pamit.


Setelah pamit, tim sepeda motor berpencar. Pak Anno dan Pak Us melanjutkan perjalanan ke kecamatan lain di Kabupaten Sikka, kami yang tersisa menuju Kecamatan Paga.

Kecamatan Paga dan Pantainya


Kecamatan Watuneso dan Kecamatan Paga adalah dua kecamatan yang membatasi wilayah Kabupaten Ende dan Kabupaten Sikka. Jaraknya hanya 14,6 kilometer. 


Di Kecamatan Paga, tim sepeda motor berpencar lagi. Cesar dan Rollan segera meluncur menuju sebuah SMK di Kecamatan Lela. Di Paga, saya dan Viol berhenti untuk mengunjungi SMA Alvarez Paga yang dipimpin oleh seorang Romo. Kami diberi kesempatan untuk melakukan sosialisasi di salah satu kelas dalam jeda tryout sesi satu. 


Kecamatan Paga terkenal akan garis pantainya yang memukau, berpasir putih, mempunyai pemecah ombak, serta dari kejauhan nampak ombak bergelung meskipun bukan ombak besar untuk surfing itu. Di tepi pantai juga terdapat saung dan bale-bale untuk beristirahat. Memesan kopi? Silahkan. Fotonya nanti dalam perjalanan pulang hehe.

Mencari SMA Negeri Nita


SMA Negeri Nita tidak terletak di jalan trans Pulau Flores sehingga saya dan Viol harus bertanya sana-sini terlebih dahulu. Tapi ... a-ha! Kembali Thika memainkan Google Map. Ketemu! Di SMA Negeri Nita kami diijinkan melakukan sosialisasi kepada murid-murid. Rasanya senang sekali ketika mereka sangat menghargai perjalanan jauh kami dari Kabupaten Ende hahaha.



Ke mana setelah SMA Negeri Nita? Kami meluncur ke Kota Maumere sebagai Ibu Kota Kabupaten Sikka. Masih ada tiga sekolah tujuan kami yaitu MAS Muhammadiyah, SMKN 2 Maumere, dan SMA Negeri Magepanda.

Ikan Hiu dan I Love You


Inilah sekolah yang pemandangan lautnya saya pos Senin kemarin; Laut Belakang Sekolah. MAS Muhammadiyah terletak di wilayah Nangahure (arah Utara) dari Kabupaten Sikka. Sayangnya kami tidak dapat melakukan sosialisasi di sekolah ini karena murid-murid sedang bersiap untuk Shalat Duhur. Yang lucunya, Thika malah digoda oleh seorang murid laki-laki yang dengan nekatnya datang ke ruang guru dan berkata: 

Assalamu'alaikum, Kakak. Ikan hiu (ada lanjutannya tapi tidak kedengaran jelas), I love you!

Saya dan Viol menahan ngakak. Tuhaaaaan. Thika oh Thika, masih dianggap anak SMP atau SMA saja dirimu itu. Padahal sudah tahun kedua kuliah hahaha. Gara-gara itu, akhirnya kami memanggil Thika dengan julukan IKAN HIU.



Sungguh kalau saya diijinkan sekolah lagi, saya mau sekali sekolah di MAS Muhammadiyah ini, biar tiap hari sepulang sekolah bisa nyebur dan bergabung dengan para nelayan.

Alumni Uniflor Ada Di Mana-Mana


Sebenarnya kami sudah ingin menyerah dan pergi ke hotel tempat semua anggota tim menginap di Hotel El Tari Indah. Tapi kok sayang, karena letak SMKN 2 Maumere ini sudah cukup dekat dari MAS Muhammadiyah, lebih ke arah Utara. Maka kami pun tiba di sekolah yang ternyata sekolah pelayaran ini. Meskipun tidak sempat memberikan sosialisasi, hanya menyerahkan surat dan pamflet, tapi kami beruntung bertemu alumni Uniflor yang mengajar di sana.


Sebenarnya bukan hanya di sekolah ini terdapat alumni Uniflor yang mengabdi sebagai guru, hampir di semua sekolah yang dikunjungi juga ada alumni Uniflor, hanya saja tidak bisa bertemu karena mereka sedang mengajar sedangkan kami terburu waktu.

Bertemu Ocepp Rewell


Dari SMKN 2 Maumere kami memutuskan untuk pergi ke Hotel El Tari Indah yang terletak di Jalan El Tari Kota Maumere. Hotel ini terletak tepat di pinggir jalan. Di bagian depannya terdapat restoran mini yang juga dimiliki oleh si pemiliki hotel.


Usai makan siang, soto ayam kampung, saya memutuskan untuk segera check in dan beristirahat. Saya ngorok, Viol ke rumah saudaranya, Thika pergi jalan-jalan bersama keponakan lain bernama Vil yang memang tinggal di Kota Maumere bersama orangtuanya. Sebenarnya ada banyak orang yang ingin saya temui di Kota Maumere baik sahabat maupun keluarga. Tapi ... sumpah, tubuh saya butuh dicas utuh haha. Senangnya adalah si Ocha alias Ocepp Rewell berjanji akan datang ke hotel. Hore!


Ocha datang ke hotel tak lama setelah Thika pulang dari mengunjungi rumah-rumah keluarga termasuk ke Kantor Telkom untuk bertemu keluarga yang bekerja di sana. Dari Tanta Ella (mamanya Vil) Thika membawa cumi, ikan, sambal, dan peyek kacang. Ocha membawa burger, sukun goreng, dan martabak manis. Oalaaaah ... diet saya hancur sehancur-hancurnya pada hari itu. Mengobrol bersama Ocha menuntaskan rindu pada bawelnya dia hahaha. Kami masih haha-hihi sampai selepas maghrib, saatnya kami harus ke Tobuk Gramedia untuk bisnis Triwarna Soccer Festival terutama bagian pameran dan membeli buku pesanan Meli.

MoF Art Gallery (and Cafe)


Urusan bisnis di Tobuk Gramedia Maumere, dengan supervisor-nya karena manajer sedang tidak di tempat, belanja-belenji termasuk membeli agenda cover kuning bekal lanjutan T-Journal, kami merapat ke MoF Art Gallery (and Cafe) yang terletak di Pasar Senja.




Usai makan malam, kembali ke hotel, dan saya pun tidur. Tidur kesorean, karena toh Ocha dan Thika masih kembali ke Tobuk Gramedia untuk membeli novel dan Viol masih kembali ke rumah saudaranya. Pokoknya saya butuh tidur!

Sekolah Di Negeri Dongeng


Selasa, 19 Februari 2019, masih satu sekolah yang harus saya dan Viol kunjungi yaitu SMA Negeri Magepanda. Perjalanan menuju Magepanda sekitar 34,4 kilometer (pergi-pulang 68 kilometer) dengan bertemu dua kali jalan putus yang tentu tidak akan bisa dilewati saat hujan. Untung ... cuaca cerah! Google Map membantu kami menemukan sekolah ini karena memang tidak terletak di pinggir jalan utama.


Inilah sekolah di negeri dongeng, terletak di kaki bukit-bukit hijau yang mirip Bukit Teletubbies. Saya juga mau ah sekolah lagi di SMA ini hahaha. Manapula Kepseknya ramah sekali, suka guyon, dan banyak bercerita ini itu. Kami juga bertemu alumni Uniflor yang sudah lamaaaaa sekali lulus, dan dua alumni lainnya yang lulus di atas tahun 2000.


Kata Kepsek, "Ibu ... kalau sekarang mendung, saya terpaksa ibu pulang ke Maumere karena kalau mulai hujan, saya jamin ibu terpaksa menginap di sini! Hahaha!"

Dan inilah kondisi salah satu ruas jalan yang putus (sangat dalam) sehingga kalau hujan, dialiri air yang meluap:


Harus hati-hati dan pelan-pelan jika tidak ingin mencium tanah kering berdebu serta bebatuannya. Tapi pemandangan jalan putus ini ibarat secuil halangan karena pemandangan sepanjang jalan dari Kota Maumere ke Magepanda itu ausam sekali! 





Menuju Kabupaten Flores Timur


Pulang dari SMA Negeri Magepanda kami kembali ke hotel untuk makan siang dan melanjutkan perjalanan ke arah Timur (lagi) yaitu ke Kabupaten Flores Timur dengan jarak 128 kilometer. Ada banyak sekali SMA yang menanti kami di sana hahaha. Gayanya menulis ini.


Perjalanannya jauh. Memang. Kami lebih dulu berangkat dari tim bis. Sempat istirahat di Boru dan Puncak Konga di Titihena sebelum menuju Kota Larantuka sebagai Ibu Kota Kabupaten Flores Timur.




Pokoknya, nanti ya akan saya ulas satu-satu lebih detail. Pos ini secara garis besar saja ... garis besar yang lumayan panjang *senyum malu*.

Papi Mami di Puumbao


Sayangnya kami tidak berlama-lama di rumah Pak Anno di Waibalun karena Papi Mami sudah menunggu di Puumbao, di Kota Larantuka-nya. Saya, Viol, dan Thika memang tidak menginap di Hotel Lestari Larantuka karena memang ingin menginap di rumah Papi Nani Resi dan Mami Dete yang dulunya tinggal di Kota Ende. Kedua orangtua yang baik ini sudah menunggu kami dan menyiapkan makan malam. Tak lupa kopi! Yuhuuuu. Kisah tentang Papi Mami di lain pos ya.

Ini fotonya waktu mau pulang. Wajah si Mami sedih begitu karena rumahnya kembali sepi.

Malam itu, Cesar dan Rolland bergabung, kami mengobrol ramai di rumah Papi Mami yang sejuk dan nyaman itu. Papi mendengarkan dan terbahak-bahak mendengar celoteh kami. Mami lebih memilih duduk di teras sambil mengunyah sirih-pinang. Sepulang Cesar dan Rolland pun, kami masih mengobrol di teras sambil Mami memijit Viol dan Saya. Ikan Hiu? Eh, Thika? Ngorok!

3 SMA di Larantuka

Rabu, 20 Februari 2019, ada tiga SMA yang wajib kami kunjungi sementara tim bis menuju Tanjung Bunga. Cesar dan Rolland pun mendapat jatah tiga SMA. Okay, mari jalan! Setelah menegak kopi yang dibikin Mami, kami pun berangkat.

"Jalan bae-bae, Oa eeee. Jangan makan di luar, pulang makan di rumah!" pesan Mami.







Dan tentu saja kami pulang makan siang di rumah karena Mami sudah memasak ... ikan goreng segar yang manis dan sambalnya itu cihuy banget! Aduhai Papi Mami, kalian begitu luar biasa, hati kalian lapangnya luar biasa. Saya belajar banyak dari kalian. Sungguh ... saya pengen nangis. Terima kasih Papi Mami; kami datang, kami ribut, kami kotorkan rumah, kami pulang. Hehe.

Kembali ke Kota Maumere


Ya, setelah makan siang dan dibekali pula pisang goreng dan sambal maknyus a la Mami, kami pun pamit pulang ke Kota Maumere, pamitan sama tim bus dan sebagian tim motor yang masih menginap semalam di Waibalun, di rumah orangtuanya Pak Anno. Perjalanan siang itu mengantar kami tiba di daerah Kabupaten Sikka pada senja hari. Tentu, kami mampir sebentar di Boru untuk ngopi dan menikmati pisang goreng serta sambal maknyus itu.




Kaki saya sungguh lelah karena mengendarai Onif Harem yang matic, kaki jarang diluruskan.

Tiba di Kota Maumere sudah gelap. Kami langsung ke rumah kakaknya Viol. Saya sudah tidak bisa bergerak lagi. Langsung tepat setelah mandi dan keramas (aduh ini kepala guatalnya tak tahan hahaha). Sampai keesokan harinya, pagi-pagi hari, saya dan Thika pergi ke rumah Tanta Ella di daerah Misir Kota Maumere, yang disusul Cesar dan Rolland.

Keluarga Adalah Segalanya


Kamis, 21 Februari 2019, di rumah Tanta Ella kami disuguhi kopi dan tentu ditahan untuk makan terlebih dahulu sebelum ngegas ke Kota Ende.


Sungguh, keluarga adalah segalanya. Berhubungan darah atau tidak, mereka akan selalu menanti kedatangan keluarga lainnya dengan wajah berseri-seri dan kelapangan hati yang luar biasa. Mereka tidak akan rela keluarga lainnya terkena hujan apalagi lapar! Tidak akan pernah terjadi hal semacam itu. Mereka, bahkan, akan mengomelimu kalau tidak mampir. Sungguh ... keluarga adalah segalanya.

Terimakasih Tanta Ella, Bapatua, dan Vil. Terima kasih.

Ngopi di Paga dan Persawahan di Detusoko


Mari pulang kampung. Perjalanan pulang ini berformasi: saya, Thika, Cesar, Rolland, dan Rudi. Viol masih bertahan di Kota Maumere mengurusi pekerjaannya sehingga sepeda motornya dibawa pulang oleh Rudi. Dalam perjalanan pulang ini, mungkin karena setelah makan siang, saya didera kantuk yang luar biasa hebat. Akhirnya menyerah dan berhenti di saung pinggir jalan di Paga (dan pinggir pantai) untuk ngopi sejenak.


Anak pemilik saung, namanya Cici. Dia begitu cantik dan membikin saya harus memotretnya saat itu juga hehe. Sedangkan Thika memilih pergi ke pantai untuk foto-foto di sana. Nanti deh hasilnya saya pamerkan di lain pos. Kuatir kalian iri hahahah.

Setelah ngopi-ngopi di sini, kami terus ngegas ke Ende tanpa berhenti karena saya sudah sangat merindukan Mamatua. Satu kali berhenti di daerah Detusoko untuk memotret pemandangan ini:


Terima kasih Allah SWT atas alam yang indah ini.


Senin - Kamis. Perjalanan panjang ke arah Timur Pulau Flores di dua kabupaten. Lelah tapi menyenangkan. Saya selalu suka #JalanJalanKerja begini. Karena ketika urusan pekerjaan sudah selesai, bisa sekalian jalan-jalan kan hehe. Pos yang panjang ini pun belum sempurna. Masih banyak yang ingin saya ceritakan terpisah ... karena memang harus dipisah. Semoga mata kalian tidak eror setelah membaca pos yang panjang ini hahaha *cubit dinosaurus*.

Perjalanan setotal 680an kilometer. Done!

Well, selamat berakhir pekan, kawan! 



Cheers.

Konsisten Nge-blog Setahun


Mulai nge-blog sejak tahun 2003, klaim nama blog di banyak platform, melayang-layang antara rajin dan sering hiatus, gonta-ganti template, ditolak GA berkali-kali, dan tetap tidak bisa menentukan niche blog sendiri makanya pada tagline header tertulis I Write My All, akhirnya saya memutuskan untuk konsisten nge-blog pada Februari 2018. Alasannya? Sudah terlalu lama saya mengabaikan blog ini dan sesungguhnya perasaan terabaikan itu sangat tidak menyenangkan. Bukan begitu, din ... dinosaurus? Lagi pula saya sangat menyayangkan apabila ada artikel bagus hanya dipos di media sosial seperti Facebook, yang kemudian tenggelam, karena tidak terarsip dengan baik. Blog memang jawaban jitu kalau kita ingin tulisan-tulisan terarsip. Oke sip.

Baca Juga: Di SMK Tarbiyah Kami Berdoa Bersama

Dihitung-hitung sudah setahun saya konsisten nge-blog alias sudah setahun blog ini selalu dirawat; mengisinya dengan konten-konten baru (hampir) setiap hari. Pos pertama Februari 2018 berjudul Februari, Halo! setelah pos terakhir sebelumnya pada Februari 2017 yang berjudul Seword. Saya memutuskan untuk melanjutkan tali silaturahmi antara saya dengan blog pribadi ini. Pos-pos selanjutnya masih bertema random, mana-mana suka, tanpa tema. Seperti pos Korupsi Karena Miskin dan The Power of Cium Tangan. Mungkin bagi orang lain pos-pos itu tidak bermanfaat, tapi bagi saya pemikiran harus bisa diungkapkan dan pengalaman positif harus bisa diceritakan pada orang lain. Siapa tahu berfaedah bagi yang membacanya. Lebih penting lagi, saya ini narsis, jadi pengen orang lain tahu juga apa yang saya lakukan. Halaaaah.

Mulai Menentukan Tema


Sebenarnya sejak lama setiap Sabtu blog ini punya tema yaitu Review. Antara filem dan buku. Lalu pada 13 Februari 2018 saya mulai membikin satu tema baru yaitu #PDL alias Pernah Dilakukan. Awalnya #PDL hanya bertujuan untuk pos tentang foto-foto jadul yang berkaitan dengan dunia traveling kala masih muda dan bergaya dulu. Tidak melulu harus traveling ke luar daerah, karena jalan-jalan sekitar Kota Ende, bagi saya, adalah traveling. Haha. Pos #PDL pertama berjudul #PDL Has Just Begun. Lama-kelamaan satuper satu tema mulai bermunculan.

Pos Hobi Fotografi Berpotensi Dollar dan Merawat Laptop Itu Sederhana adalah cikal bakal tema #SelasaTekno. Tulisan saya tentang Diet Enak Bahagia Menyenangkan dan Manfaat Telur Bagi Tubuh adalah cikal bakal tema #RabuLima. Dari situ saya mulai berpikir tentang melengkapi satu minggu dengan tema-tema harian sehingga blog ini terkesan sebagai BLOG PRIBADI YANG MAGAZINE BANGET. Hahaha *ditimpuk dinosaurus*. Maka setiap Senin saya memberi tema #SeninOpini atau #SeninThought yang lantas berganti menjadi #SeninCerita, dan Kamis menjadi #KamisLima. Memangnya yakin punya waktu untuk itu semua? Yakin, apabila waktu nge-game dipangkas, saya bisa menghasilkan begitu banyak artikel / tulisan bekal pos blog. Slot Minggu pernah juga saya isi dengan novel berjudul Triplet.

Februari 2019, masih dalam masa sibuk mempromosikan Uniflor dan mulai sibuk dengan Lomba Mural dari Triwarna Soccer Festival, saya berpikir untuk mengganti tema harian menjadi:

#SeninCerita
#SelasaTekno
#RabuDIY
#KamisLima
#PDL
#SabtuReview

#RabuDIY? Hyess. Saya siap mengepos tentang dunia DIY baik yang saya bikin sendiri maupun yang dibikin oleh orang lain. Yang sudah lama saya bikin dan diberi sentuhan ulang, maupun yang baru saja saya bikin. Nantikan saja ketika tema harian kembali memulai rodanya di blog ini.

Kemenangan Melawan Rasa Malas


Musuh terbesar umat manusia adalah rasa malas. Malas bekerja, malas mencari tahu, malas meminta maaf dan malas memaafkan, malas berdoa pun juga terjadi, malas menyiram bunga, malas menulis blog termasuk di dalamnya. Setahun kemarin, 2018, saya berjuang melawan rasa malas untuk menulis konten blog. Setiap menghidupkan laptop saya berusaha mengalihkan dulu perhatian mata pada ikon Age of Empires. Langsung daring, membuka Chrome, dan mengetik alamat Blogger. Mau menulis apa hari ini? Oh, sudah ada tema. Let's do it! Merangkai kata yang isi posnya di-blender antara tema utama pos dengan guyonan khas dinosaurus haha.

Baca Juga: Uniflor Goes to School

Sepanjang tahun 2018 saya telah menang melawan rasa malas ... tahun 2019 ... semoga demikian pula. Karena, salah satu resolusinya adalah tetap nge-blog! Hyess, #2019TetapNgeblog meskipun GA kembali hilang/ditolak gara-gara mengganti domain blog menjati http://tuteh.web.id hahaha.


Meskipun sempat berpikir dimusuhi oleh GA ketika GA hilang dari blog, tidak masalah lah. Rejeki masih bisa dikais di lini lainnya. Yang penting semangat menulis dan mengisi (konten) blog setiap hari tidak sirna. Karena, percayakah kalian?, hanya dengan menulis dan menulis blog, kemampuan menulis terasah dari hari ke hari. Saya pikir ini tidak perlu dijelaskan, kalian pasti sudah merasakannya. Bukan begitu?

Kalau saya bisa melawan rasa malas, Insha Allah kalian juga bisa.

Draf dan Jadwal


Kadang-kadang tubuh saya terasa fully charged; otak mendadak cemerlang padahal aslinya kalah sama Matematika; mata sepet jadi bersahabat dengan layar laptop. Pada saat-saat seperti itu saya bisa menulis lebih dari satu konten/pos per hari. Percayalah, saya sendiri heran dengan konten yang dihasilkan dalam sehari itu. Konten-konten yang bisa saya tulis tanpa memikirkan waktu itu seperti konten untuk #SelasaTekno, #RabuLima yang bakal berganti dengan #RabuDIY, Kamis Lima, #PDL, hingga #SabtuReview. Senin, harus disesuaikan dengan kejadian apa yang paling unggul pada minggu sebelumnya yang ingin saya jadikan #SeninCerita sehingga tidak bisa didraf atau dijadwalkan. Konten yang sudah saya tulis itu ada yang tersimpan sebagai draf, ada pula yang terjadwal. Inilah manfaat platform Blogger, atau platform blog lainnya, menyediakan fasilitas draf dan jadwal. Manfaatkan itu! Agar apa? Agar ide tidak menguap. Hehe.

Draf jika konten belum lengkap alias masih ada yang harus ditambal-sulam.
Jadwalkan jika konten sudah oke dan siap dipublikasikan pada hari penentuan.

Apakah ini bukan kebohongan publik?

What?

Kebohongan publik itu kalau kalian menulis Tuteh Pharmantara itu perempuan cantik yang akhirnya disunting oleh Brad Pitt. Nah, itu kebohongan publik yang terhakiki. Perlu kalian ketahui juga bahwa konten/pos yang ini pun saya tulis bukan pada hari Senin, 18 Februari 2019, melainkan pada 17 Februari 2019. Haha.

Insha Allah


Insha Allah akan terus berlanjut. Pada akhirnya jika kelas blogging online kembali dibuka untuk angkatan berikutnya, saya dengan bangga bakal bilang bahwa menulis konten blog itu mudah! Mulailah dari menggali potesi kehidupan sendiri dan pengalaman pribadi, membikin tema harian, dan melawan rasa malas. Buktinya, tahun 2018 saya sudah melakukannya dan Insha Allah berlanjut tahun 2019 dan seterusnya.

Baca Juga: Mamatua Project

Terakhir, perlu saya ucapkan pada diri sendiri: selamat satu tahun konsisten nge-blog, Tuteh.



Cheers.

Harinya Meeting


Hari ini, Sabtu, setelah kemarin seharian penuh ngecas bodi, saya berencana untuk bisa datang ke ruang kerja untuk mengambil kaos UPT Publikasi dan Humas Uniflor yang dipesankan oleh Kakak Rossa Budiarti. Tapi rencana tinggal rencana karena saya diminta oleh Koordinator Lomba Mural yaitu Violin Kerong dari ajang Triwarna Soccer Festival untuk mewakilinya mengikuti meeting yang dilaksanakan di ruang kerja Ketua Yayasan Perguruan Tinggi Flores (Yapertif) Bapak Lori Gadi Djou. Wajib membawa serta RAB yang bakal dipersentasikan dan dieksekusi bersama. Selain itu, sore harinya saya juga wajib mengikuti meeting Tim Promosi Uniflor 2019 yang bakal berangkat ke arah Timur. What a day!

Baca Juga: English Day di SMAK Tarvid

Mari mulai dari meeting Triwarna Soccer Festival.

RAB Lomba Mural TFS


Meeting di ruang Ketua Yapertif berlangsung cukup lama dari pukul 10.00 Wita hingga 14.00 Wita. Semua Koordinator atau yang mewakili wajib mempersentasikan RAB masing-masing. Rada ketar-ketir juga karena RAB dari Tim Lomba Mural ini cukup besar biayanya, karena kami berpikir bahwa peserta Lomba Mural tidak sama dengan peserta Lomba Menari, misalnya, karena banyak yang harus disiapkan terutama cat. Kami berusaha agar panitia bisa menyiapkan dua warna cat dasar yaitu putih dan hitam untuk meringankan pengeluaran para peserta. Untungnya, untuk urusan skafolding (scaffolding) kami dibantu oleh Seksi Perlengkapan.


Ya, betul, ke depannya hari-hari saya akan diisi dengan kegiatan Lomba Mural yang merupakan bagian dari Triwarna Soccer Festival. Hari-hari saya akan lebih banyak di Stadion Marilonga. Semoga kalian tidak bosan membaca cerita saya dari hari haha. Tema harian blog ini? Lewatkan dulu! Ketimbang semua ide cerita/tulisan menguap.

Tim Promosi Uniflor ke Timur


Pukul 16.00 Wita saya sudah harus kembali ke kampus tepatnya di Kantin Gedung Rektorat untuk mengikuti meeting selanjutnya bersama Tim Promosi Uniflor. Asyiknya adalah Ketua Panitia Pak Yance sudah memesan pada Ibu Kantin untuk menyiapkan kudapan yang ... Oh My God ... bisa dibawa pulang karena saking berlimpahnya hahaha. Yang jelas, saya juga ikut ke arah Timur ini dan mendapat jatah sekolah-sekolah di daerah Watuneso, Paga, Nita, dan beberapa di daerah sekitar Kota Maumere. Ke Larantuka? Hmmmm bakal dipikirkan haha.

Kebanyakan sih memang yang berangkat ke Timur ini sebagian besar tim yang berangkat ke Barat. Luar biasa semangat mereka semua. Karena ini betul-betul perjalanan lintas Flores. Satu hal yang kami selalu ingat: yang terbaik untuk Uniflor, apa sih yang tidak dijabanin. Hehe.


Timur; Maumere dan Larantuka, selalu mengingatkan saya pada masa-masa dulu waktu masih bekerja di Kota Maumere selama setahun di tahun 2010. Banyak hal yang saya pelajari di sana, banyak teman, banyak tempat wisata, dan banyak-banyak yang lainnya. Yang jelas, saya akan selalu senang pergi ke sana dan tentunya bersama Onif Harem. Jangan harap saya mau naik bis, karena bakal bikin isi perut meronta dan usus meloi (mengintip) dari lobang hidung haha *ditimpuk dinosaurus*. Akan ada banyak cerita dari perjalanan ke Timur ini ... doakan selalu ya :)



Cheers.

Harinya Meeting


Hari ini, Sabtu, setelah kemarin seharian penuh ngecas bodi, saya berencana untuk bisa datang ke ruang kerja untuk mengambil kaos UPT Publikasi dan Humas Uniflor yang dipesankan oleh Kakak Rossa Budiarti. Tapi rencana tinggal rencana karena saya diminta oleh Koordinator Lomba Mural yaitu Violin Kerong dari ajang Triwarna Soccer Festival untuk mewakilinya mengikuti meeting yang dilaksanakan di ruang kerja Ketua Yayasan Perguruan Tinggi Flores (Yapertif) Bapak Lori Gadi Djou. Wajib membawa serta RAB yang bakal dipersentasikan dan dieksekusi bersama. Selain itu, sore harinya saya juga wajib mengikuti meeting Tim Promosi Uniflor 2019 yang bakal berangkat ke arah Timur. What a day!

Baca Juga: English Day di SMAK Tarvid

Mari mulai dari meeting Triwarna Soccer Festival.

RAB Lomba Mural TFS


Meeting di ruang Ketua Yapertif berlangsung cukup lama dari pukul 10.00 Wita hingga 14.00 Wita. Semua Koordinator atau yang mewakili wajib mempersentasikan RAB masing-masing. Rada ketar-ketir juga karena RAB dari Tim Lomba Mural ini cukup besar biayanya, karena kami berpikir bahwa peserta Lomba Mural tidak sama dengan peserta Lomba Menari, misalnya, karena banyak yang harus disiapkan terutama cat. Kami berusaha agar panitia bisa menyiapkan dua warna cat dasar yaitu putih dan hitam untuk meringankan pengeluaran para peserta. Untungnya, untuk urusan skafolding (scaffolding) kami dibantu oleh Seksi Perlengkapan.


Ya, betul, ke depannya hari-hari saya akan diisi dengan kegiatan Lomba Mural yang merupakan bagian dari Triwarna Soccer Festival. Hari-hari saya akan lebih banyak di Stadion Marilonga. Semoga kalian tidak bosan membaca cerita saya dari hari haha. Tema harian blog ini? Lewatkan dulu! Ketimbang semua ide cerita/tulisan menguap.

Tim Promosi Uniflor ke Timur


Pukul 16.00 Wita saya sudah harus kembali ke kampus tepatnya di Kantin Gedung Rektorat untuk mengikuti meeting selanjutnya bersama Tim Promosi Uniflor. Asyiknya adalah Ketua Panitia Pak Yance sudah memesan pada Ibu Kantin untuk menyiapkan kudapan yang ... Oh My God ... bisa dibawa pulang karena saking berlimpahnya hahaha. Yang jelas, saya juga ikut ke arah Timur ini dan mendapat jatah sekolah-sekolah di daerah Watuneso, Paga, Nita, dan beberapa di daerah sekitar Kota Maumere. Ke Larantuka? Hmmmm bakal dipikirkan haha.

Kebanyakan sih memang yang berangkat ke Timur ini sebagian besar tim yang berangkat ke Barat. Luar biasa semangat mereka semua. Karena ini betul-betul perjalanan lintas Flores. Satu hal yang kami selalu ingat: yang terbaik untuk Uniflor, apa sih yang tidak dijabanin. Hehe.


Timur; Maumere dan Larantuka, selalu mengingatkan saya pada masa-masa dulu waktu masih bekerja di Kota Maumere selama setahun di tahun 2010. Banyak hal yang saya pelajari di sana, banyak teman, banyak tempat wisata, dan banyak-banyak yang lainnya. Yang jelas, saya akan selalu senang pergi ke sana dan tentunya bersama Onif Harem. Jangan harap saya mau naik bis, karena bakal bikin isi perut meronta dan usus meloi (mengintip) dari lobang hidung haha *ditimpuk dinosaurus*. Akan ada banyak cerita dari perjalanan ke Timur ini ... doakan selalu ya :)



Cheers.

Utara Punya Cerita

Pemandangan pantai di puncak bukit sebelum Desa Niranusa di Kecamatan Maurole.

Sesuai jadwal dari Panitia Tim Promosi Uniflor 2019, hari ini saya dan tiga teman lainnya yaitu Kakak Sinta Degor (Sindeg), Deni Wolo (Dewo), dan Rudi, berangkat ke wilayah Utara Kabupaten Ende. Sebelumnya, tepatnya kemarin malam, kami kaget menerima kiriman video dari teman yang tahu jadwal keberangkatan kami ini tentang putusnya jalan di daerah Fataatu akibat hujan deras. Tapi kami berempat tetap harus berangkat agar dapat melihat langsung kondisi jalan, dan bisa memutuskan apakah nanti perjalanan dapat dilanjutkan atau tidak.

Baca Juga: 5 Keistimewaan Canva

Terhitung ada lima SMA yang wajib kami kunjungi yaitu:

1. SMA Negeri Detusoko.
2. SMA Negeri Welamosa.
3. SMK Negeri 3 Ende di Ekoae.
4. SMK Negeri 5 Ende di Maukaro.
5. SMA Negeri Maurole.
6. SMA Dharma Bakti di Maurole.

Keberangkatan Yang Delay


Bukan cuma penumpang pesawat terbang saja yang mengalami delay. Tadi pagi pun kami delay satu jam gara-gara menunggu Dewo yang terlambat bangun. Haha. Saya dan Rudi kemudian menikmati kopi panas dan kudapan di rumah Kakak Sindeg sembari menunggu Dewo. Keberangkatan yang seharusnya pukul 06.30 Wita, delay sampai pukul 07.30 Wita. Untuk tahu rute perjalanan kami, silahkan perhatikan peta berikut ini:


Rute-nya cukup ngeri kan. Oia, di peta ini tidak ada daerah Welamosa. Welamosa terletak antara Detusoko dan Ekoae.

Bertemu Mantan Guru Olah Raga di SMA Negeri Detusoko


SMA Negeri Detusoko, SMA pertama yang kami kunjungi, terletak di puncak bukit. Coba kalian perhatikan fotonya:


Jalan masuk menuju SMA Negeri Detusoko sungguh ekstrim tanjakannya (pun turunannya). Oleh karena itu saya dan Dewo terpaksa ke sekolah itu berdua saja, tanpa boncengan, sedangkan Kakak Sindeg dan Rudi menunggu di jalan besar. Harus begitu, ketimbang mereka berdua terpaksa turun di tengah perjalanan yang mendaki ke puncak gunung itu.

Di SMA Negeri Detusoko kami disambut seorang guru yang kemudian memberikan buku tamu. Urusan lapor-melapor selesai, kami dipersilahkan memasuki ruang Kepala Sekolah. Ketika saya dan Dewo masuk ke ruang Kepala Sekolah itu lah saya terkejut bukan main karena ternyata Kepala Sekolah SMA Negeri Detusoko adalah ...

"Pak Tobi?!"

"Hah? Tuty?"

Ah, kesal juga kenapa dipanggil Tuty bukan Tuteh hahaha. Bapak Tobias Dawi adalah guru olah raga saya dulu waktu di SMA Negeri 1 Ende. Saya lihat, di tangan beliau, SMA Negeri Detusoko menjadi sangat bagus. Terlihat dari baliho di tempat penerimaan tamu; yang memajang kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler murid-muridnya. Bahkan dari cerita Pak Tobi, SMA Negeri Detusoko bakal dijadikan SMA unggulan, selain telah menjadi sekolah induk untuk SMA lainnya karena di sekolah ini telah dibangun laboratorium komputer tempat murid kelas XII kelak mengikuti Ujian Nasional. Pak Tobi, semoga Allah SWT senantiasa merahmatinya demi kemajuan pendidikan di daerah kami.


Oleh Pak Tobi kami diberikan waktu sebanyak-banyaknya, semampu kami, untuk mempromosikan Universitas Flores kepada para murid kelas XII. Terima kasih ... kami harus melanjutkan perjalanan setelah selesai menyampaikan materi unggulan Uniflor kepada murid-murid.

Dua Kali Melintasi Jalan Putus


Tujuan kami berikutnya adalah SMA Negeri Welamosa (yang tidak saya cantumkan di peta di atas). Sepanjang perjalanan di daerah persawahan betapa senangnya hati melihat para petani sedang menanam padi.


Menuju ke SMA Negeri Welamosa ini, kami harus melewati satu jalan yang putus, seperti video yang dikirimkan teman pada malam sebelumnya. Jalan yang putus itu ternyata masih bisa dilalui meskipun harus berjuang sampai sepatu saya basah kuyup. Foto berikut ini adalah foto saat perjalanan pulang dimana saya sudah memakai sandal biru dengan sepatu digantung di belakang Onif Harem.


Sungguh, apabila berani tidak menurunkan kaki, maka terjatuh itu pasti. Karena apa? Karena di dasarnya itu selain bebatuan besar digenapkan dengan pasir. Hilang keseimbangan sedikit saja, sudah pasti gubrak manja. Nah dari jalan putus pertama di Fataatu ini kami langsung menuju ke SMA Negeri Welamosa yang ternyata ... masih harus melewati jalanan yang kerikil jalanannya lepas begitu menuju bukit. Ngeri-ngeri sedap. Tapi, bukankah saya bisa memakai mantel sepatu? Sebenarnya! Tapi mantel sepatu belum tuntas saya kerjakan, baru sampai tahap menggunting pola saja. Sedangkan di sekitar lokasi ini tidak ada kios/warung tempat saya bisa membeli kresek merah andalan qiqiqiq.


Ya sudah ... mari melanjutkan perjalanan. Dari sekolah ini kami harus melintasi satu lagi jalan putus yang harus dilintasi dengan MENURUNKAN KAKI. Demi keselamatan saya dan si bayi Onif Harem.

Tim Yang Dipecah


Mengingat waktu yang tidak mencukupi apabila kami berempat harus terus bersama, maka tim ini harus dipecah. Karena Ekoae + Maukaro - Maurole itu berpisah jalan. Dewo dan Rudi mendapat jatah ke SMK Negeri 3 Ende di Ekoae dan SMK Negeri 5 Ende di Maukaro. Saya dan Kakak Sindeg langsung ke Maurole yaitu SMA Negeri Maurole dan SMA Dharma Bakti. Janji ketemu makan siang di Maurole.

Alumni Uniflor Ada Di Mana-Mana!


Kami tiba di SMA Negeri Maurole saat para guru sedang pertemuan dan murid kelas XII sedang berkumpul di halaman dan sekitarnya, menunggu para guru selesai pertemuan. Apabila menunggu, belum tentu kami dapat melakukan sosialisasi dan bisa jadi kami kehilangan kesempatan di SMA Dharma Bakti. Ya sudah, lanjut ke SMA Dharma Bakti, yuk! Di SMA Dharma Bakti kami disambut oleh Wakil Kepala Sekolah yang ternyata ...

"Saya ini alumni Uniflor juga, Ibu. Rata-rata guru di sini juga alumni Uniflor. Dulu saya di Prodi Matematika. Oh iya, sudah ke SMA Negeri? Itu Kepala Sekolah SMA Negeri Maurole juga alumni Uniflor!"

Sungguh alumni Uniflor ada di mana-mana. Dan, tentu, terima kasih karena sudah mengijinkan saya dan Kakak Sindeg mempromosikan Uniflor ke para murid meskipun siang sudah semakin membikin perut menagih janji makan siang. Oh iya, sekadar catatan, akhirnya teman saya Diwan Paka Pega yang mengajar di SMA Negeri Maurole protes karena saya tidak kembali mampir ke sekolahnya hhahaha. Next time ya.

Warung Family


Dari SMA Dharma Bakti, saya dan Kakak Sindeg masih mampir di sebuah toko besar tempat saya dulu sering berbelanja kebutuhan pengungsi erupsinya Gunung Rokatenda. Namanya Haldes, kalau agak keliru namanya - maafkan ya. Rencananya pengen beli sepatu boot karet yang dipakai petani buat ke sawah itu. Tapi tidak ada. Ya sudah terima apa yang ada:

1. Membuka sepatu dan kaos kaki yang basah kuyup.
2. Mencuci kaki dengan Aqua (kaki saya sombong hari ini).
3. Membeli sandal.
4. Mengikat sepatu di bagian belakang Onif Harem.


Usai urusan bersih-bersih dan mengisi bensin, kami meluncur ke sebuah warung makan bernama Family. Uh wow sekali namanya. Di samping warung makan ini ada warung bakso tapi kami tentu lebih memilih nasi. Sekalian juga memesankan untuk Dewo dan Rudi yang sudah berangkat menuju Maurole dimana mereka tidak bisa pergi ke SMK Negeri 5 di Maukaro karena kondisi jalan yang super hancur akibat hujan.


Kembali ke Warung Family, saya menikmati makan siangnya yang menggiling lidah terutama sambelnya itu loh. Segar warhaha sekali. Dan kopi susunya ... wuih!



Saat sedang makan di warung itulah, saya teringat Yoan Ameraya, sahabat - adik - yang bertugas di Polsek Maurole. Susah memang sinyal, tidak semulus di Ende, haha, tapi pada akhirnya Yoan menelepon saya dan meminta saya menunggu. Tapi menunggu adalah hal yang sudah saya sadari sejak kenal Yoan ... bisa-bisa saya menginap di Maurole haha. Saya dan Kakak Sindeg pun bergegas menuju Polsek Maurole sedangkan Dewo dan Rudi sudah duluan ngegas ke arah Ende.

Yoan, Wisudawan Yang Terselip


Yoan adalah adik - sahabat yang sama-sama diwisuda tahun lalu. Lucunya, si tukang tidur ini ketiduran pada hari wisuda. Mama Emmi Gadi Djou meminta saya harus bisa 'mendatangkan' Yoan ke Auditorium H. J. Gadi Djou. Saya menghubungi semua orang yang menurut saya tetangganya, juga saudara-saudaranya. Fiuh. Jadi, meskipun mahasiswa Fakultas Hukum sudah selesai dipindah kucirnya, Yoan diselip di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), tepat wisudawan terakhir setelah FKIP.


Meskipun bertugas sebagai Polisi tapi Yoan punya kemampuan lain yang luar biasa yaitu pandai bermain alat musik terutama orgen dan gitar, serta bernyanyi! Satu keluarganya semua memang punya bakat seperti Enol dan Nick yang dikenal sebagai fotografer. Yoan juga idolanya Mamatua karena dialah satu-satunya sahabat saya yang sering mengiringi Mamatua bernyanyi Teluk Bayur. Aduhaaaaiii mereka berdua kompak sekali *ngakak guling-guling*.


Terima kasih Yoan, dari foto di atas saya jadi tahu ternyata kalau tampak belakang itu foto saya menjadi jauh lebih bagus dari tampak depan wakakakaka.

Rumah Para Pengungsi


Kalau kalian membaca Pos #PDL Piknik Setiap Minggu, pasti tahu kedekatan hubungan emosional saya dengan para pengungsi akibat erupsinya Gunung Rokatenda kan. Perjalanan tadi itu, saya melihat rumah-rumah pengungsi sudah lama dibangun (terakhir kabarnya tahun 2014 Mama Muna bercerita tentang bantuan rumah).


Itulah bentuk rumah mereka, para pengungsi, dengan ladang jagung di sekitarnya/halaman. Mereka, benar-benar telah bangkit dan membangun kembali. Semoga kehidupan mereka sejahtera. Hanya doa yang bisa saya panjatkan pada Tuhan untuk mereka.

Pemandangan Dari Ketinggian


Maurole terkenal akan pantainya yang luar biasa kece. Salah satu pemandangan pantai ini dari ketinggian/bukit sebelum memasuki Desa Niranusa. Akhirnya saya dan Kakak Sindeg foto-foto dulu di tempat ini sebelum melanjutkan perjalanan pulang.



Kalau ada yang bikin kafe di ketinggian ini ... pasti ramai! Karena ini merupakan jalur Pantura (Pantai Utara) antara Kabupaten Ende dan Kabupaten Sikka.


Fiuh ... akhirnya selesai juga cerita perjalanan hari ini. Kalian tentu ngeri juga membacanya. Super panjang! Tapi percayalah, bacalah semuanya, sudah saya bagi per sub, jadi lebih mudah untuk dibaca. Halaaaaah. Hahahah *ditimpuk dinosaurus*.

Baca Juga: 5 Desa 5 Potensi

Semua catatan perjalanan dalam rangka mempromosikan Uniflor ini banyak yang belum semua saya pilah, terutama untuk dipos di blog travel. Proses memilah per cerita masih berlanjut, dan proses menulis satu per satu ... belum sama sekali. Haha. Nantilah, mungkin kesibukan akan semakin bertambah dengan masuknya saya sebagai Tim Lomba Mural dalam perhelatan Triwarna Soccer Festival. Tapi saya yakin, segala sesuatu akan selesai juga jika dikerjakan perlahan-lahan. Bukan begitu? Begitu bukan?

Selamat menyambut akhir pekan, kawan. 


Cheers.

Istana Negara Kuning


Sebagai Presiden Negara Kuning, yang beranggotakan dua petinggi, saya memang belum punya istana. Mencari istana, karena kalau bisa mencari kenapa harus membangun(?), memang tidak mudah. Banyak perkara yang harus saya pertimbangkan, selain warna yang dipilih sebagai identitas istana, seperti kerelaan pemilik bangunan untuk bangunannya saya jadikan istana. Dinosaurus saja sampai pusing tujuh keliling menunggu saya menemukan istana. Siapa sangka, Istana Negara Kuning itu tidak saya temukan di Kota Ende melainkan di sebuah kota yang sangat jauh bernama Mbay di Kabupaten Nagekeo?

Baca Juga: Di Nagekeo Hati Saya Tertambat

Anyhoo, kedua petinggi Negara Kuning itu adalah Wakil Presiden bernama Indi dan Duta Besar bernama Syiva. Meskipun Wakil Presiden telah berkhianat dan memilih untuk mengabdi pada Negara Merah, tapi saya masih tetap menganggapnya Wakil Presiden karena belum menemukan pengganti yang pas (otaknya).

 Wakil Presiden yang berkhianat ke Negara Merah.

Duta Besar yang bergaya Don Yuan.

Penemuan Istana Negara Kuning ini sangat tidak disengaja. Dalam perjalanan dinas di Kabupaten Nagekeo, tepatnya setelah melaksanakan tugas di Aesesa dan Marpokot - dalam perjalanan kembali ke Kota Mbay, saya menemukan si istana. Penampakannya bisa kalian lihat di awal pos. Berdiri gagah dan sangat mencolok. Nama istana itu adalah Masjid Baiturahman Alorongga. Ketika melihatnya, saya harus turun dari Onif Harem untuk memungut hati saya yang jatuh ke aspal. Sungguh, bangunan ini sangat pantas menjadi Istana Negara Kuning bentukan saya itu. Saya langsung ingat bahwa semua yang kita lakukan telah ditetapkan oleh Allah SWT dan menemukan istana ini pun sudah rencanaNya. Ada yang batuk? Hahaha.

Saya jadi ingat. Pada tahun 2010, saya dan seorang sahabat yang super baik yaitu Ilham Himawan pernah punya proyek impian memotret semua masjid yang kami temui di Pulau Flores. Apakah proyek itu terlaksana? Iya! Tapi sayang, foto-foto itu ada yang terhapus seiring bergantinya gawai pintar sebelum disimpan di Google Foto. Entah bagaimana dengan foto-foto yang dikumpulkan Ilham. Saya bahkan pernah menulis di Kompasiana, jangan dicari akun itu mungkin sudah terhapus, tentang Kota 1000 Masjid (Ende). Kalian mau tahu? Daerah Kota Ende bagian pesisir itu saya juluki daerah LIMA METER MASJID. Lima meter memang hiperbola, tapi kalau kalian melihat sendiri, pasti bakal angguk-angguk juga kenapa saya juluki seperti itu. Suara adzan-nya sahut-sahutan.

Setiap kali keluar kota, meski kadang ingat kadang lupa, saya masih sempat memotret masjid yang berdiri di pinggir jalan (masjid/surau). Ada perasaan bemana gitu yang tidak bisa saya jelaskan di sini setiap kali melihat masjid dalam perjalanan ke tempat yang jauh dari rumah. Seperti melihat rumah sendiri; tempat saya bisa tidur apabila mengantuk selama perjalanan, tempat saya melaksanakan shalat, tempat saya merasa nyaman level galaksi. Saya pikir, mungkin itu jugalah yang dirasakan oleh para musafir atau para pejalan lainnya jika pergi jauh dari rumah.

Urusan mengantuk ini, dalam suatu perjalanan spektakuler yang bisa kalian baca di pos #PDL Laja dan Toleransi yang Tinggi, saya dan Kakak Pacar pernah keluar rumah usai Subuh. Selama perjalanan dari Kota Ende menuju Laja, kantuk menyerang saya tanpa ampun. Pada akhirnya kami, yang memang malam sebelumnya kurang tidur, memutuskan untuk tidur di teras masjid yang ada di Kota Boawae (masih Kabupaten Nagekeo tapi jalurnya ke arah Barat terus ke Kabupaten Ngada, kalau Kota Mbay jalurnya ke arah Utara). Luar biasa. Dua jam kami tidur pulas. Bahkan saat marbot menyarankan Kakak Pacar (saat itu terjaga) agar saya pindah saja tidur di dalam masjid bagian shaf perempuan, Kakak Pacar menolak dengan halus karena konon saya bisa jadi Sea Nettle kalau sedang pulas dipaksa bangun. Hahaha.

Baca Juga: 5 Manfaat Teh Rosella

Kembali pada Istana Negara Kuning. Saya berpikir, memang susah juga kalau istananya jauh begitu. Tapi mungkin ini pertanda bahwa saya harus sering-sering datang ke Kota Mbay sebagai bentuk tanggungjawab seorang Presiden terhadap istananya. Okay, sampai di sini saya hentikan dulu ketimbang kalian merutuk hahaha. 

Jadi, itu dia oleh-oleh lain yang bisa saya ceritakan di sini dari perjalanan ke Kabupaten Nagekeo selain Bukit Weworowet, Embung Waekokak, menikmati bebek panggang di rumah keponakan, SPBU yang dijual, menginap di Hotel Pepita yang bakal saya bahas nanti, sampai tentang SMA-SMA yang saya kunjungi di Aesesa dan Marpokot. Sayangnya saya tidak sempat pergi ke Pelabuhan Marpokot, padahal sudah 'di depan mata'. Maklum, hari itu gerimisnya cukup kencang cenderung hujan sehingga kami harus ngegas pulang sebelum kamera-kamera yang dibawa Cesar dan Rolland menjadi kebasahan terus demam, flu, pilek. Kasihan kan ... pekerjaan yang menanti masih seabrek.

Hyuk kawan, jalan-jalan ke Pulau Flores. Salah satunya ke Kabupaten Nagekeo. Dijamin, tidak bakal menyesal dan malah ketagihan ingin selalu kembali hahaha.



Cheers.

Triwarna Soccer Festival


Mumpung ada sedikit jeda waktu, boleh kan ya hari ini saya lebih giat menulis, salah satunya tentang Triwarna Soccer Festival. Ini adalah sebuah event keren yang bakal diselenggarakan di Kota Ende sebagai Ibu Kota Kabupaten Ende. Sebenarnya, apa itu Triwarna Soccer Festival? Mari, saya coba jelaskan satu-satu.

Triwarna


Triwarna. Tiga warna. Kalau kalian jeli, tanpa membaca penjelasan lebih lanjut pun pasti sudah tahu apa maksud atau makna dari Triwarna ini. Triwarna atau tiga warna merupakan ikon Kabupaten Ende yang kesohor hingga ke Riomaggiore. Kata Bupati Ende Bapak Marsel Petu, hewan komodo (dan dinosaurus) masih mungkin bisa dipindah dari satu tempat ke tempat lain tetapi Danau Kelimutu dengan tiga kawan dan tiga warna berbedanya itu, tidak mungkin dapat dipindah dari Kabupaten Ende ke ... ke Riomaggiore ... misalnya.

Baca Juga: Di SMK Tarbiyah Kami Berdoa Bersama

Betul sekali! Triwarna merupakan istilah lain dari Danau Kelimutu.

Soccer


Sepak bola. Jadi, sebenarnya di Kota Ende bakal digelar Bupati Cup, perhelatan olah raga sepak bola yang melibatkan klub sepak bola dari semua kecamatan di Kabupaten Ende. Akan tetapi dikarenakan perhelatan sepak bola tanpa embel-embel festival bakal berjalan begitu-begitu saja cenderung membosankan bagi yang kurang suka sepak bola tapi pengen merasakan keriuhannya, maka kata festival harus ditambahkan. Bukan hanya kata ... wujudkan suasana festival itu!

Festival


Selama kurang lebih sebulan, Stadion Marilonga kebanggaan kami itu bakal ramai sangat dengan bermacam kegiatan dalam embel-embel festival ini. Kegiatan itu antara lain:

1. Pameran.
2. Lomba Mural.
3. Panggung Komunitas.

Yang nomor tiga saya belum tahu nanti bakal seperti apa. Yang jelas sudah ada dalam benak saya betapa ramainya hari-hari Triwarna Soccer Festival kelak. Eh, sudah di depan mata dink! Maret!

Lalu, Apa Hubungan Saya Dengan TFS?


Universitas Flores, di bawah naungan Yayasan Perguruan Tinggi Flores (Yapertif) merupakan nama penyelenggara kegiatan sepak bola yang tidak perlu diragukan lagi manajemen dan personilnya. Oleh karena itu, sama halnya dengan El Tari Memorial Cup yang melibatkan semuah kabupaten se-Provinsi Nusa Tenggara Timur, Triwarna Soccer Festival pun melibatkan dua pihak sebagai panitianya yaitu Pemda Ende dan Uniflor. Ya, tebakan kalian benar, saya juga dipilih sebagai Panitia TFS bagian Lomba Mural. Horeeee akhirnya saya tidak ditempatkan di bagian Publikasi dan Dokumentasi. Yuhu sekali kaaaan. Dapat pengalaman baru.

Tim Lomba Mural


Di dalam tim Lomba Mural ini ada lima orang yang dilibatkan:

1. Violin Kerong.
2. Om Yonk (Komunitas Mural Ende).
3. Cesar Sarto.
4. Rolland.

Dan kelima adalah saya sendiri. Kami sudah selesai menyusun RAB dan sudah di-ACC untuk pembiayaan hadiah dan lain-lainnya dan bakal pertemuan lanjutan untuk pemantapan termasuk pendaftaran hehe. Duh, harus sesegera mungkin bikin pamflet. Saya malah bantuin tim Pameran bikin pamflet buat pendaftaran:


Bikinnya pakai apa, saudara-saudara? Pakai Canva, donk hehe. Terima kasih Canva, sudah sangat menolong saya selama ini.


Bagaimana Lomba Mural itu, sejauh mana persiapan, apa-apa saja yang harus kami persiapkan sebagai panitia, akan saya pos di lain kesempatan. Karena saya masih punya tugas ke Timur Pulau Flores, jadi harus bisa membagi waktu antara Tim Promosi Uniflor 2019 dengan Triwarna Soccer Festival. Hanya bisa berdoa semoga Allah SWT selalu melimpahkan kesehatan agar saya dapat menyelesaikan semua urusan/kegiatan dengan baik.

Baca Juga: Ponpes Walisanga Yang Penuh Warna

Oia, saya ganti template nih ... bagaimana pendapat kalian? Hehe.



Cheers.