Arsip Penulis: Tuteh

Beli Gitar Itu Kayak Cari Calon Suami Harus Yang Nyaman

 


Beli Gitar Itu Kayak Cari Calon Suami Harus Yang Nyaman. Sejarah panjang saya dan dunia musik pada akhirnya tiba pada konklusion bahwa saya hanya bisa memainkan satu alat musik yaitu gitar. Catat: gitar akustik. Padahal dulu, waktu perangkat band keluarga (Jemiri Band) belum dijual, saya mencoba menabuh drum secara otodidak dan mencoba memainkan orgen. Kalian pun jangan berpikir ketinggian bahwa saya jago memainkan gitar kayak musisi-musisi keren Indonesia. Tidak, saya belum sampai pada tahap itu karena kunci yang dikuasai pun baru yang paling dasar. A, B, C, D, E, F, G dengan tambahan Am, Em, Bm, Dm, Fm, sedangkan Cm masih bikin saya garuk kepala. Hahaha. Setidaknya saya bisa mengiringi diri sendiri bernyanyi, dan tentu saja Mamatua! Hyess, Mamatua suka banget menyanyikan lagu Teluk Bayur.


Baca Juga: Sakit Hati Berujung Maut Yang Menggemparkan Tanah Ende


Sejarah panjang saya dengan gitar pun ngeri-ngeri sedap. Hehe. Pertama beli gitar di Toko Sahabat, bertahun-tahun lampau (saya lupa tahun berapa pokoknya sudah lama banget). Asal membeli, yang penting punya gitar. Gitarnya kemudian rusak dan lantas diperbaiki sama Noel Fernandez, dicat kuning, ditempeli stiker. Gitar yang usianya sudah bermusim-musim itu akhirnya saya ikhlaskan tidak lagi berada di Pohon Tua (nama rumah kami). Sekian lama saya hanya bisa meminjam gitar pada Akim Redu dan Violin Kerong. Gara-gara meminjam gitar itulah saya jadi tahu perbedaannya. Ha? Apanya yang beda?


Gitar yang dipinjamkan Akim itu berbodi besar, sama dengan gitar lama saya, dengan neck panjang/normal. Ingat ya, ini gitar akustik. Lanjut, sedangkan gitar yang dipinjamkan Violin itu berbodi lebih kecil dan sangat nyaman ketika memainkannya. Pelukannya mantap jiwa. Kemudian saya pergi ke Kedai Kampung Endeisme di mana gitar yang disediakan di sana, untuk dimainkan pengunjung, berbodi lebih ramping dan tingkat kenyamanannya lebih tinggi dari pada saat memainkan gitar milik Violin. Sejak saat itu saya berjanji pada diri sendiri bahwa suatu saat akan membeli gitar berbodi kecil dan ramping dengan neck pendek. Kenapa lebih suka neck pendek? Pertama, agar jangkauan tangan saya tidak perlu sampai bikin otot pegal. Kedua, tidak perlu memakai bantuan capo yang dipasang pada fret yang merupakan bagian dari neck gitar.


Malam Minggu kemarin impian saya terwujud. Sepulang dari kampus saya menuju Jalan Melati lokasi Toko Abdee Acoustic. Bersama Akim dan tiga saudaranya (gengs, beli gitar saja bawa pasukan) saya mulai memilih gitar yang dijual di sana. Sumpah, saya sampai bingung mau gitar yang mana hahaha. Berdasarkan jenis gitar yang saya mau, dan rekomendasi saudara-saudaranya Akim, saya pun membeli sebuah gitar dengan warna kayu natural berukuran sedang. Transaksi itu terjadi setelah saya mencoba tiga buah gitar. Tingkat kenyamanan memang beda-beda. Dan akhirnya saya berhasil membeli gitar yang satu ini:



Belum sempat mencabut stiker harganya pula hahaha. Oh ya, harganya Rp 950K ditambah tas gitar totalnya Rp 980K. Melihat itu, saudaranya Akim membisik: kan tinggal sedikit dapat Yamaha yang 1,5Juta, Kak! Hmmm. Beberapa ratus ribu ini bisa buat makan serumah dua mingguan. Ha ha ha. 


Baca Juga: Bertumbuh dan Berkembang Bersama Universitas Flores


Apa pelajaran dari pos hari ini? Ya itu, beli gitar itu kayak cari calon suami. Harus yang nyaman. Hahaha. Kalau tidak nyaman, mainnya tidak enak (gitarrrrr, main gitarrrrr). Saya membeli gitar memang berdasarkan pengalaman pribadi. Karena gitar yang dibeli bakal menjadi sahabat bermusik sehari-hari jadi memang harus pilih yang nyaman. Sejauh ini (baru tiga hari) saya memainkannya, rasanya nyaman-nyaman dan enak-enak saja. Demikian pula dengan calon suami, setidaknya ada kenyamanan ketika bersamanya. Uiiiihhhh bahasanya hahaha.


Selamat gitaran!


Cheers.

Makna Kehidupan di Tengah Pandemi oleh Agustinus Tetiro

 


Makna Kehidupan di Tengah Pandemi oleh Agustinus Tetiro. Membaca buku masih menjadi kebiasaan, budaya, yang sulit lepas dari diri saya pribadi. Di tengah terjangan video-video Youtube, buku masih punya porsi besar dalam kuadran hidup saya yang penuh warna ini. Meskipun gemar menulis cerita cinta tapi sejujurnya saya bukan penggemar buku dengan cerita cinta awut-awutan. Dari buku-buku fiksi saya menggilai keruwetan Deception Point karya Dan Brown, atau hasil khayalan tingkat tingginya J. K. Rowling dalam Harry Potter. Dari buku-buku non-fiksi saya terhipnotis pada kisah nyata penuh perjuangan dalam Between a Rock and a Hard Place yang ditulis oleh petualang bernama Aron Ralston. Sedangkan buku-buku non-fiksi lainnya berjenis self improvement, tentu kalian tahu tentang Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat oleh Mark Manson atau The Secret of Ikigai yang ditulis Irukawa Elisa.


Baca Juga: 5 Buku Self Improvement yang Wajib Kalian Baca


Baru-baru ini seorang teman Facebook bernama Gusti Adi Tetiro meluncurkan sebuah buku berjudul Makna Kehidupan di Tengah Pandemi dengan tagline Meditasi Bersama Viktor Emil Frankl. Kalian pasti tahu apa yang berkecamuk di dalam pikiran saya kan? Haha. Saya harus membaca buku yang satu ini! Alhamdulillah, Rabu kemarin buku ini tiba di tangan saya melalui kakak ipar Om Gusti. Anyhoo, saya memanggilnya dengan embel-embel 'Om', bukan karena kami berhubungan darah, bukan karena dia menikah dengan Tante saya, tetapi panggilan 'Om' merupakan suatu bentuk penghormatan yang membumi dalam prinsip hidup saya meskipun yang bersangkutan mungkin jauh lebih muda usianya. Sesederhana itu.


So, let's talk about the book.


Makna Kehidupan di Tengah Pandemi


Makna Kehidupan di Tengah Pandemi ditulis oleh Agustinus Tetiro a.k.a. Gusti Adi Tetiro (Facebookers lebih mengenalnya dengan nama ini). Dengan jumlah halaman 103, buku ini diterbitkan oleh Penerbit Ikan Paus. Menarik. Penerbit Ikan Paus beralamat di Pulau Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Dengan memperkenalkan perjalanan panjang cikal bakal buku ini disusun, pembaca jadi tahu seperti apa lingkungan pergaulan si Penulis. Menurut saya Om Gusti termasuk dalam kelompok logophile yang super filosofis. Well, buku ini dijual dengan harga Rp 70.000.


Viktor Emil Frankl dan Logoterapi 


Seperti tagline-nya, pada awal buku ini pembaca diperkenalkan dengan seorang neurolog dan psikiater bernama Viktor Emil Frankl yang juga merupakan korban Holocaust. Dia adalah pendiri Logoterapi dan Analisis Eksistensial dalam psikoterapi. Buku yang ditulis olehnya berjudul Man's Search for Meaning yang memuat pengalamannya saat menjadi tahanan kamp konsentrasi di mana dia menguraikan metode psikoterapinya dalam upaya mencari makna dalam segala bentuk keberadaan, bahkan yang paling kelam sekalipun. Kita harus tetap hidup! Berapa banyak orang di dunia semacam Viktor Emil Frankl? Holocaust itu tragedi kemanusiaan paling brutal dan dia berupaya untuk bertahan dengan cara 'mencari makna hidupnya sendiri'. It's a wow. Singkatnya Logoterapi memadukan atau mendampingkan antara fisik, psikis, dan spiritual seorang manusia.


Menurut Om Gusti (2020, 38), Logoterapi mempunyai beberapa sifat khas. Pertama, logoterapi menekankan pentingnya kehendak untuk bermakna. Kedua, logoterapi menuntut kesadaran dalam penemuan makna hidup manusia. Ketiga, dalam kaitannya dengan waktu, logoterapi melihat masa lampau secara kreatif sebagai bahan pembelajaran yang inspiratif dan tidak pernah sebagai bayangan yang membelenggu. Masa sekarang dan masa depan adalah titik tolak dan tujuan logoterapi. Harapan di masa depan mesti menarik orang untuk mengisi hidup semakin baik dari demi hari. 


Kalimat Kunci


Saya membaca Makna Kehidupan di Tengah Pandemi dengan sangat antusias. Tentu tidak mungkin semua isi buku saya kutip di sini. Hahaha. Tapi sepanjang membaca buku ini saya menemukan kalimat kunci yang pasti akan membikin kalian tertarik ingin membacanya juga.


Hanya orang yang mempunyai pikiran positif bahwa hidupnya bermaknalah yang mau mengikuti protokol kesehatan. (Agustinus Tetiro, 2020:82).


We can't argue with that. Di tengah pandemi Covid-19 yang membabi-buta ini, Om Gusti mengajak kita untuk berpikir tentang makna. Makna hidup setiap orang tentu berbeda. Tapi setiap orang tentu ingin tetap bertahan di tengah pandemi Covid-19, dan kalau beruntung bisa menerobosnya dan menggapai segala cita-cita dan harapan. Badai ini begitu besar. Seperti kalimat kunci di atas, hanya orang yang mempunyai pikiran positif bahwa hidupnya bermaknalah yang mau mengikuti protokol kesehatan. Bukan, mereka bukan orang-orang yang takut mati karena kematian itu selalu mengejar umat manusia. Ini menjadi kalimat kunci saya dari buku Makna Kehidupan di Tengah Pandemi.


Jadi, di tengah pandemi Covid-19 maukah kita menyia-nyiakan hidup kita dengan meninggalkan protokol kesehatan? Masihkah kita mengata-ngatai orang yang patuh pada protokol kesehatan dengan istilah si takut mati? Masihkah kita bilang orang-orang yang patuh pada protokol kesehatan adalah orang-orang yang menderita sampai-sampai tidak lagi menikmati hidupnya? Haha. Kita keliru! 


Mungkin kalian pun bakal bertanya, memangnya ada makna dalam penderitaan? 


Pada saat penderitaan itulah seseorang sebenarnya diberi kesempatan (terakhir) untuk mengaktualisir nilai tertinggi dan mengisi makna terdalam dari eksistensinya, yaitu makna kehidupan yang ditemukan melalui penderitaan seperti Covid-19. (Agustinus Tetiro, 2020:89).


Kalau Viktor Emil Frankl bukan orang yang kemudian menemukan makna hidup di tengah ganasnya Holocaust, maka dia tidak akan melahirkan logoterapi. Jika kita bukan orang yang bisa bertahan dalam pandemi Covid-19 (dengan memperketat protokol kesehatan yang sesederhana itu), maka kelak kita tidak akan punya cerita, kelak kita tidak akan bermakna, kelak kita hanya dikenal sebagai orang-orang pasrah yang miskin harapan dan cinta.



Baca Juga: Kalau Begitu Marilah Kita Coba Mendaki Tangga Yang Benar


Akhirnya saya harus berterima kasih pada Om Gusti yang telah menulis buku ini. Sangat membuka wawasan dan salah satu self improvement yang penting untuk kita semua. Saya juga harus berterima kasih kepada Kakak Irma Pello yang telah memediasi (hayaaaaah, bahasanya, Teh) sehingga buku ini bisa tiba di tangan saya. Bagi kalian yang belum membaca buku ini, mari dibaca. Saya jamin, kalian pasti suka dengan buku ini. 


Selamat menikmati akhir pekan, kawan.


Cheers.

Bagi Kami Tanaman Itu Ibarat Anak, Janganlah Kalian Curi



Bagi Kami Tanaman Itu Ibarat Anak, Janganlah Kalian Curi. Tanaman? Tanaman yang dicuri saja dibahas, Teh? Iya, saya merasa penting menulis ini karena ternyata di dunia ini ada banyak orang-orang malas yang tega mencuri tanaman milik orang lain. Tanaman itu bisa sayuran, buah-buahan, bisa pula bunga. Dan, kebanyakan bunga. Hahaha. Bukan sekali dua saya membaca status Facebook teman-teman yang mengeluh bunga-bunga mereka dicuri tanpa perasaan. Namanya juga pencuri, mana punya perasaan dianya. Bahkan pernah dalam sehari ada tiga status Facebook lewat di beranda dengan isi serupa. Bunga mereka dicuri! Amboiiii. Saya tahu rasanya ketika bunga dicuri. Betul. Saya pernah mengalaminya. Padahal apa sih bunga yang dicuri itu bukan sejenis Aglonema yang harganya ratusan ribu bahkan jutaan, hanya kaktus biasa. Tapi biar bagaimanapun perasaan saya hancur berkeping-keping.


Apa sebab orang-orang begitu sewotnya ketika tanaman mereka, sayur mereka, bunga mereka, dicuri? Kalian ingin tahu? Sini saya kasih tahu. 

1. Uang


Kok uang? Lha iya. Kita sedang berbicara tentang dunia fana yang mana untuk memperoleh sesuatu yang dijual oleh orang lain, dilakukan dengan cara membeli. Membeli, menurut hemat saya, pasti pakai uang. Lain ceritanya kalau kalian berada di pasar dengan sistem barter. Memangnya apa saja sih yang dibeli oleh orang-orang yang menggemari tanaman (sayuran, buah-buahan, bebungaan) ini?


a. Bibit/Anakan Tanaman

Bibit dalam kemasan plastik-klip atau dikenal dengan plastik obat dipatok Rp 2.000 sampai Rp 5.000 per bungkus. Tapi bibit, khususnya bibit sayuran yang kemasan pabrik, dipatok antara Rp 20.000 sampai Rp 30.000 per bungkus. Sedangkan anakan tanaman bervariasi. Anakan daun kemangi dipatok Rp 5.000 per pollybag. Anakan mangga dipatok Rp 30.000 per pollybag. Bagaimana dengan Aglonema? Nah, silahkan kalian cari harganya karena ... wuih ... mahal. 

b. Bokasi

Bokasi adalah pupuk yang dibuat dari kotoran hewan, sekam, dedak, dan lain sebagainya. Setelah proses fermentasi, bokasi dikemas dan dijual. Saya membeli bokasi seharga Rp 15.000 per ... nah saya lupa ini berapa beratnya. Haha. Ukuran karung setengah buat beras itu lah pokoknya. Bokasi saya manfaatkan sebagai penyeimbang tanah. Karena tidak semua tanah bersifat sama (bagus) maka ada tanah yang harus saya campur bokasi sebelum diletakkan di dalam pollybag atau pot.

c. Pupuk/Booster

Memangnya kamu juga memakai pupuk, Teh? Iya dong. Hehe. Ada pupuk yang saya beli di Toko Sabatani atau Toko Mitra Tani, namanya Pocnasa, botol paling besar seharga Rp 45.000. Kadang-kadang saya diberi booster buatan sendiri sama Cahyadi. Bagi saya pribadi, pupuk ini penting, karena semua tanaman tidak langsung ditanam di tanah. Maklum, beranda belakang Pohon Tua itu 95% sudah disemen. Nah, tanah di dalam pollybag tentu akan mengalami masa jenuh. Oleh karena itu, pupuk sangat penting untuk semua tanaman saya.

d. Wadah (Pollybag/Pot)

Untuk tanaman sayuran saya memakai pollybag, untuk bebungaan saya memakai pot. Pollybag semua ukuran dipatok Rp 30.000 per kilogram. Sedangkan pot harganya tergantung ukuran, jenis, dan warna. Paling murah Rp 2.500 per pot dan paling mahal yang pernah saya beli itu Rp 30.000 per pot.


e. Peralatan

Ada peralatan juga? Iya. Ada. Karena tidak menemukan sekop kecil untuk berkebun mini, saya membeli sendok semen. Atas sarannya Cahyadi sih. Hahaha. Selain itu saya juga membeli alat penyemprot tanaman hingga pisau khusus kebun mini. Saya lupa harganya, soalnya yang membeli si Thika dan Melly. 

Bertolak dari pengalaman pribadi, saya memang harus menghemat pengeluaran yang tidak perlu such as jajan demi bisa membeli bibit sayuran, bokasi, pupuk, peralatan, pollybag, hingga pot cantik! Untungnya sekam saya peroleh melalui jalur gratisan. Hehe. Jadi kalau ada yang bilang berkebun itu hobi yang murah dibandingkan hobi fotografi. Itu keliru. Karena hobi yang satu ini juga membutuhkan uang yang tidak sedikit. Lima poin di atas belum saya tambahkan dengan rak tanaman (rak kayu maupun rak besi).


2. Waktu


Menjalankan semua hobi pasti membutuhkan waktu; lebih tepatnya meluangkan waktu. Mempunyai tanaman membikin kita digelayuti rasa tanggung jawab yang besar akan kehidupan makhluk hidup lainnya. Setiap pagi dan sore ada Mama Sia, Melly, atau Yoan, yang membantu saya menyiapkan airnya. Setiap pagi dan sore sudah ada jadwal khusus untuk menyiram semua tanaman. Kalau sore hari tidak sempat, maka malam hari saya pasti berada di beranda belakang untuk menuntaskan tanggung jawab harian ini. Sampai-sampai saya bilang: lebih baik saya tidak mandi ketimbang tanaman tidak disiram. Ha ha ha. Maklum, semakin banyak tanaman, kebutuhan air juga semakin meningkat!

3. Tenaga


Pastilah. Tanpa tenaga, mana bisa melakukan itu semua? Ada lelah. Tapi lelah terbayarkan ketika melihat tanaman tomat dan terung berbuah, bisa memanen sawi dan kangung hampir setiap minggu, melihat bunga mawar mekar dengan indahnya, setiap pagi melihat bunga pukul sembilan warna-warni bermekaran. Inilah surga. Ada perasaan yang dag-dig-dug setiap harinya. Dag-dig-dug menunggu bibit atau anakan tumbuh, dag-dig-dug menunggu dia berbunga, dag-dig-dug menunggu dia berbuah, dag-dig-dug menunggu waktu panen.

Oleh karena itu, bagi kami tanaman itu ibarat anak, janganlah kalian curi.



Kami mengandungnya, kami melahirkannya, kami merawatnya, membesarkannya. Kalau kalian curi, hancurlah perasaan kami. Sewot? Sudah pasti! Mamak mana yang tidak sewot ketika anaknya dicuri?


Menulis ini karena saya turut merasakan betapa hancurnya perasaan ketika satu pot bunga dicuri oleh ... oleh pencuri. Bagaimana perasaan Mami Lina Doke ketika belasan Aglonema-nya dicuri dalam semalam? Sulit melupakannya. Mungkin si pencuri harus diajarkan untuk memulai menanam tanaman apa pun, agar dia tahu rasanya ketika apa yang ditanamnya dicuri orang. Ibarat kita mengikuti suatu kompetisi tetapi yang menang adalah orang yang tidak mengikuti kompetisi tersebut.

Bagaimana dengan kalian, kawan?


Cheers.

Bikin Sendiri Masker Kopi Campur Susu Agar Wajah Cerah

 


Bikin Sendiri Masker Kopi Campur Susu Agar Wajah Cerah. Byuuuuuuh! Tuteh menulis soal kecantikan? Apa tidak salah? Ha ha ha. Saat hendak menulis ini pun saya harus berdebat dengan diri sendiri dan tertawa terbahak-bahak. Tapi arguing with myself itu menghasilkan tulisan ini. 


Me: Are you sure?


The Other Me: you only write other people's experiences! And, it's not a crime.


Me: Okay ... well ...


The Other Me: Go go go!


Baca Juga: Kita Bikin Yuk Campuran Tanah Untuk Menanam Bunga


Kalian tentu sudah tahu Melly. Bagi yang belum tahu, Melly adalah anak sulungnya Mama Len. Saat ini Melly duduk di bangku SMP. Lalu, siapa Mama Len? Mama Len adalah asisten kedua Mamatua. Kemudian saya meminta Melly untuk tinggal bersama kami meskipun rumahnya hanya berjarak lima langkah dari Pohon Tua (nama rumah kami). Jadilah setiap hari saya bergaul dengan perempuan ayu bernama Thika Pharmantara, dan ABG bernama Melly. Haha. Melihat tingkah laku mereka sehari-hari, jujur, merupakan hiburan tersendiri bagi saya. Bagaimana mereka kompak mengoleksi bermacam-macam produk kecantikan, bagaimana mereka saling mendukung soal masker, bagaimana mereka berpenampilan saat keluar rumah.


Thika: Ncim, sudah pas belum pakaiannya?


Melly: Hmmmm.


Bergaul dengan Thika, ditambah usianya yang ABG, membikin Melly semakin serius memperhatikan penampilannya. Sudah hampir dua bulan belakangan saya melihatnya selalu memakai masker berwarna hitam keabu-abuan, bukan Naturgo yang kalau diaplikasikan di wajah menjadi hitam mengkilap. Saya lantas bertanya pada Melly.


Me: Apa itu, Mel?


Melly: Masker, Ncim.


Me: Ya, tahulah itu masker. Tapi masker apa?


Melly: Kopi susu.


Saya tertegun. Bukan, bukan karena anak-anak ini sangat memperhatikan penampilan yang dimulai dari wajah, tetapi karena konon masker ini dapat MEMUTIHKAN kulit wajah. Saya tertegun dan perasaan saya memberontak. Bagi saya, warna kulit bukanlah sesuatu yang harus diubah. Misalnya kalau memang berkulit hitam, janganlah diubah ke putih. Kalau berkulit putih, janganlah diubah ke hitam. Saya akan sangat marah jika ada orang yang membenci kulitnya yang hitam dan rambutnya yang keriting. Apa yang salah dengan semua ciptaan Tuhan itu? Kulit hitam adalah anugerah. Rambut keriting adalah anugerah. Jangan pernah mengidentikkan kecantikan dengan kulit putih dan rambut yang lurus. Karena cantik itu bukan fisik. Cantik itu dari hati. Pada Melly saya mulai 'ceramah' soal ini. Saya katakan bahwa masker kopi susu itu fungsinya untuk membersihkan kulit wajah, agar wajah menjadi lebih cerah. Bukan berarti kulit wajah mendadak jadi putih! Melly mengangguk, tersenyum, ngakak, lantas kabuuuuuur.


Tapi ... perubahan itu memang nyata terlihat. Bukan, bukan kulit wajah Melly menjadi putih, tetapi kulit wajahnya menjadi lebih cerah. Wah, ABG yang satu ini telaten sekali. Saya mengakuinya. Dia mengangguk, tersenyum, ngakak, lantas kabuuuuuuur. Haha. Jadi, bagaimana membikin sendiri masker kopi campur susu agar wajah cerah? Caranya sangat mudah. Cukup campurkan bubuk kopi dan bubuk susu (Dancow), tambah sedikit air, aduk-aduk hingga menjadi pasta, lantas diaplikasikan pada wajah yang sudah dicuci bersih. Diamkan selama beberapa jam, lantas wajah dicuci dengan air bersih. Yang perlu diingat adalah harus rutin dilakukan. Kalau hanya dilakukan satu kali dan berharap memperoleh hasil, silahkan main sulap saja. Hehe.


Baca Juga: Mangkuk Serbaguna Berbahan Celana Jin Bekas


Jadi, apa pelajaran yang kita petik hari ini? Pertama: harus bangga pada diri sendiri, pada semua yang diberikan Tuhan pada diri kita. Kedua: menerapkan apapun untuk memperoleh hasil yang maksimal tidak dapat dilakukan dalam sekejap mata, karena butuh proses untuk melakukannya. Ketiga: jangan percaya iklan, karena standar kecantikan itu bukan berkulit putih dan berambut lurus, tetapi kecantikan itu sejatinya datang dari hati. Keempat: bahagianya saya karena sehari-hari bergaul dengan si ayu Thika dan ABG Melly. Hidup menjadi sangat berwarna!



Cheers.

Mau Tidak Mau Covid-19 Menjadi Daya Dorong Bagi Kita

 


Mau Tidak Mau Covid-19 Menjadi Daya Dorong Bagi Kita. Dulu kita (kalau kalian tidak, ya sudah saya saja) pernah berkhayal tentang kehidupan masa depan layaknya di filem-filem sci-fi? Anak-anak belajar menggunakan komputer dan/atau gadget, kelas-kelas konvensional tidak menjadi satu-satunya kelas tempat proses belajar-mengajar terjadi karena sudah tersedia kelas online, mobil melayang sekian inchi di atas tanah, perjalanan antar pulau tidak perlu memakan waktu lama karena adanya transportasi super cepat baik pesawat maupun kapal laut. Lalu semua khayalan itu pun terwujud. Khayalan semakin tinggi. Semakin tidak masuk akal. Tapi, lagi-lagi khayalan itu kemudian terwujud. Meskipun bukan saya yang semata-mata mewujudkannya. Haha. Saya, kalian, mereka, semua orang, sama-sama mewujudkannya.


Baca Juga: Inovasi Canggih dan Keren Cerita dari Serambil Uniflor


Tapi, biar bagaimanapun kita tidak pernah berkhayal apalagi berpikir bahwa akan ada perubahan yang terjadi dalam kehidupan terfana ini akibat dari suatu penyakit. Padahal, dalam sendi-sendi kehidupan, sesuatu yang bertolak belakang dari yang diharapkan, seringkali menjadi motivasi dan/atau daya dorong untuk kita melakukan sesuatu yang berkaitan dengan perubahan. Contohnya, terlalu banyak mengkonsumsi kabrohidrat tanpa diimbangi dengan olah raga teratur dapat memicu diabetes. Mengatasinya, pasti dilakukan serangkaian cara seperti mengurangi asupan karbohidrat, berolahraga, hingga meminum obat. Supaya apa? Ya supaya sembuh dan tubuh bisa dikatakan kembali sehat. Contoh lainnya, kita dimarahi seseorang karena menggosipkannya. Mengatasinya, selain mengakui kesalahan dan meminta maaf, ya harus berani berubah, dengan tidak lagi menggosipkan siapapun.


Melihat judul, mau tidak mau Covid-19 menjadi daya dorong bagi kita. Daya dorong? Iya, pandemi yang mencekam sejak akhir 2019 dan sepanjang tahun 2020 ini (semoga tidak tembus ke 2021) telah menjadi daya dorong bagi semua orang untuk melakukan perubahan. Perubahan itu dimulai dengan rajin mencuci tangan dengan sabut minila tiga puluh detik dan/atau memakai hand sanitizer, rajin menyemprot disinfektan, tidak menyentuh area wajah (mata, hidung, mulut) sebelum mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak aman (minimal satu meter). Masih ada tambahan, langsung mandi dan mengganti pakaian setiap pulang ke rumah terutama jika terlalu lama di luar rumah dan berkomunikasi dengan lebih banyak orang. Protokol kesehatan seperti itu mau tak mau dilakukan oleh semua orang tidak kenal batasan usia.


Tapi saya tidak fokus pada perubahan pola hidup yang mengedepankan protokol kesehatan itu. Saya fokus pada orang-orang yang berusia tua, yang terpaksa harus beradaptasi dengan dunia digital. Sumpah, melihat perubahan ini, dalam hati saya berkata: terima kasih, Covid-19, semua orang ingin melakukan yang terbaik. Di rumah, tersebutlah Mama Len (asisten kedua Mamatua) dan kedua anaknya yaitu Meli dan Yoan. Meli, gadis remaja, sudah terbiasa dengan gadget dan ketika harus belajar melalui aplikasi WhatsApp, bukan masalah. Tapi bagaimana dengan Yoan yang masih SD itu? Mau tak mau, Mama Len harus belajar menggunakan WhatsApp. Covid-19 menjadi daya dorong. Haha. Memang sih, tidak 100% Yoan belajar menggunakan WhatsApp (melalui WAG bersama guru) karena dalam seminggu beberapa kali si guru bakal datang untuk bertemu sekitar lima sampai tujuh murid untuk belajar bersama.


Pandemi ini menjadi daya dorong bagi kami serumah untuk kembali mengingat pelajaran masa SD. Yang murid SD memang cuma Yoan seorang, tapi tugasnya bisa berpuluh-puluh nomor dan dia mengalami kejenuhan. Hahaha. Sumpah, menulis ini saya ngakak sendiri. Bagaimana tidak ngakak? Mama Len membaca dengan keras pertanyaannya, sementara saya, Thika, dan Melly berusaha menjawabnya. Duh, Melly sih mending, belum terlalu lama meninggalkan bangku SD, tapi Thika ... apalagi saya ... duh. Pusing.


Balik lagi pada fokus saya terhadap orang-orang yang berusia tua, yang terpaksa harus beradaptasi dengan dunia digital. Bukan hanya orangtua, seperti Mama Len, karena pendidik pun harus mengalaminya; melakukan perubahan itu. Misalnya, ada pendidik yang selama ini tidak berurusan dengan e-mail, kini harus belajar tentang e-mail terutama melampirkan dokumen. Di Universitas Flores (Uniflor) ragam webinar diikuti oleh dosen maupun mahasiswa. Kita butuh seminar, apalagi yang tingkat nasional, kita butuh kuliah tamu, kita butuh ini. Makanya webinar merupakan salah satu solusi terbaik. Seperti baru-baru ini di Uniflor, diselenggarakan kuliah tamu dengan tiga pemateri. Satu pemateri menyampaikan materinya melalui video online, dua pemateri secara offline. Apakah yang semacam ini pernah terpikirkan sebelumnya? Tentu tidak. Hehe. Inilah salah satu hasil daya dorong Covid-19.


Baca Juga: Mengenal PhotoScape Untuk Keperluan Sunting Foto


Bagaimana dengan kalian, kawan? Saya yakin sudah puluhan bahkan ratusan webinar yang kalian ikuti. Karena mau tak mau memang harus seperti itu caya mainnya. Pilih aman tapi tidak tertinggal. Pilih sehat, tapi tidak ketinggalan. Itulah perubahan yang saat ini kita lakoni. Dan, ya, betul sekali, mau tak mau Covid-19 menjadi daya dorong bagi kita (semua).



Cheers.


Covid-




 di mana manusia dapat melakukan segala sesuatunya dari rumah saja? 


sdf


asdf


asdf


asdf

Sakit Hati Berujung Maut Yang Menggemparkan Tanah Ende


Sakit Hati Berujung Maut Yang Menggemparkan Tanah Ende. Sabtu, 16 Mei 2020, merupakan hari paling kelam bagi keluarga Adi Nona. Adi Nona, yang sehari-hari berdagang di Pasar Mbongawani, Kota Ende, meregang nyawa setelah disiram air keras oleh dua orang yang tidak dikenal. Perempuan yang saya kenal dengan sangat baik karena kami masih mempunyai hubungan kekerabatan akibat kawin-mawin itu, menurut berita, meregang nyawa tidak lama setelah tiba di IGD RSUD Ende. Ada sesuatu yang menghantam perasaan saya dengan sangat dahsyat waktu itu, di tengah simpang-siurnya berita. Pertama, dalang pelakunya adalah perempuan. Kedua, tindak pidana itu dilakukan pada bulan suci Ramadhan. Beraninya mereka! Di saat orang-orang pusing mencari solusi agar tetap bisa 'mengisi perut' di tengah pandemi Covid-19, mereka malah berpikir merampas kehidupan orang lainnya. Sadis? Super. Super sadis.


Baca Juga: Seni Lukis dan Seni Kata di Kedai Kampung Endeisme


Kepolisian Resor Ende bekerja sangat keras untuk dapat mengungkapkan kasus ini. Hukum harus ditegakkan. Waktu itu saya berpikir tentang hukuman/pidana penjara seumur hidup sesuai muatan Pasal 12 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Seumur hidup bermakna selama-lamanya dia diberi umur oleh Allah SWT. Bukannya seumur hidup itu bermakna banyaknya umur saat si pelaku melakukan tindak pidana? Dari pada saya harus menjelaskan lagi, silahkan baca artikel Pidana Seumur Hidup dari Hukum Online ini. Kurang lebih penjelasannya sama dengan yang ingin saya jelaskan pada kalian. Haha. Cari gampang ini mah. Kenapa waktu itu saya langsung berpikir tentang pidana penjara seumur hidup? Karena, merujuk pada Pasal 340 KUHP yaitu "Barang siapa dengan sengaja dan dengan rencana terlebih dahulu merampas nyawa orang lain, diancam karena pembunuhan dengan rencana, dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama dua puluh tahun"


Pada akhirnya segalanya terungkap.


Dalam kasus ini, polisi telah menetapkan tiga tersangka yakni TN alias Neo (36), HK alias King (28) dan ZP (40). Ketiga tersangka saat ini ditahan di Polres Ende. Ini berita yang dilansir VoxNTT. Dikatakan bahwa motif si pelaku melakukan tindak pidana penyiraman air keras pada Adi Nona yang mengakibatkan matinya orang (bahasa hukum) adalah sakit hati. Si TN dan Adi Nona, di dalam berita, mempunyai hubungan layaknya suami isteri meskipun keduanya sesama jenis (perempuan). Tetapi dalam perjalanan, Adi Nona terpikat dengan seorang lelaki dan itu membikin TN sakit hati. TN kemudian merencanakan segala sesuatunya, bahkan melibatkan dua orang laki-laki untuk menjalankan aksi ini. Sungguh terlalu.


Menurut berita VoxVTT yang satu ini, pelaku diancam hukuman mati karena dikenakan pasal berlapis. Ada dua suara di dalam kepala saya. Satunya bersorak, satunya tidak. Hukuman mati memang pantas dikenakan terhadap para pembunuh terutama untuk kasus pembunuhan berencana. Tetapi hukuman mati tidak memberikan efek jera karena ya tek-dung-mati. Si pelaku tidak akan merasakan nestapa dan tidak ada pembelajaran. Seperti kata Mahatma Gandhi, an eye for an eye only ends up making the whole world blind. Tapi tentunya ancaman hukuman mati tidak semerta-merta langsung dikenakan terhadap pelaku karena masih ada banyak proses yang harus dilalui yaitu persidangan. Biasanya di persidangan ada fakta-fakta atau hal-hal yang memberatkan dan meringankan. Kita lihat saja nanti bagaimana hasil akhirnya atau putusan finalnya.


Baca Juga: Ngobrol-Ngobrol Santai Tema Konten Youtube Milik Oe Din


Apa yang kita pelajari hari ini? Berbuat baik tidak pernah merugi, berbuat tidak baik pasti akan membikin kita merugi. Itu betul, kawan. I mean, ketika kita berbuat baik, jangan pernah mengharapkan akan dibalas dengan kebaikan juga, tetapi yakinlah meskipun balasannya di luar ekspetasi kita, tapi itulah balasan yang terbaik untuk sebuah kebaikan. Tetapi berbuat jahat, sebaik apapun tujuan kita, atau meskipun tujuannya menyenangkan, percayalah bahwa balasannya pasti akan datang; sooner or later.


Cheers.

Cara Cerdas Refly Harun Membahas Sesuatu Bikin Kagum



Cara Cerdas Refly Harun Membahas Sesuatu Bikin Kagum. 26 Oktober 2019 lalu saat Refly Harun datang ke Kota Ende, khususnya menerima undangan Universitas Flores (Uniflor) untuk memberikan kuliah umum bertajuk Membangun Potensi Diri sebagai Mediator Budaya: Mengawal Ideologi, Melawan Radikalisme saya tidak sempat meliputnya. Iya, pada hari yang sama saya mendokumentasikan pernikahan sahabat baik, Mila Wolo dan Aram Ismail. Dalam hati saya berkata, pernikahan sahabat saya merupakan momen terpenting dalam hidupnya, mendengarkan kuliah umum Refly Harun, insha Allah, dapat saya lakukan di lain waktu. Siapa sangka kemudian saya menemukan channel Youtube milik Refly Harun. Channel ini ibarat oase yang memuaskan banyak orang, I guess, tentang banyak hal yang berkaitan dengan Indonesia, dalam perspektif hukum. 


Baca Juga: Eko Poceratu Nyong Maluku Yang Mendunia Melalui Puisi


Pada akhirnya saya dapat menjadi 'peserta kuliah umum' dengan pemateri tunggal Refly Harun, Pakar Tata Negara. Hehe. Di mana di setiap videonya ia tampil mengenakan kaos dengan kerah a la preman zaman dulu, selalu dinaikkan. Barangkali ini bakal jadi gaya memakai kaos (berkerah) yang bakal ditiru banyak lelaki *ngikik*. But I like his style.


Deskripsi pada channel Refly Harun super unik. Saya kopas langsung:


Di Channel ini, Anda akan di-RAYU, DICECAR, di-TiPU, di-BAPERIN, dan di-UBER di JALUR khusus. Karena channel ini adalah channel yang MENGANCAM, MEMERAS, dan MEMBENCI. 


#RAYU - Refly Answers You Understand

#DICECAR - Dialog Cerdas Cara Refly

#TiPU - Tiga Pertanyaan Utama 

#BAPERIN - Bahan Perbincangan Hari Ini

#UBER - Ulas Berita

#JALUR - Jalan Lurus 


MENGANCAM = MEmbahas PerbincaNGAN maCAM-macam

MEMERAS = MEMberi Edukasi secaRA bernaS

MEMBENCI = MEMBangkitkan Energi daN CInta


Cadas!


Refly Harun selalu membahas isu-isu terkini di negara ini. Secara obyektif. Ingat, obyektif memang menyakitkan bagi sebagian orang, tapi saya sendiri juga lebih suka segala sesuatu yang dipandang secara obyektif. Ada keberimbangan dalam obyektifitas. Kadang ia membahas berita, membahas artikel opini, atau membahas buku. Tapi yang jelas, tidak jauh-jauh dari isu terkini di negara ini. Seperti salah satu video yang membahas tentang artikel opini yang ditulis oleh Ubedilah Badrun seorang Analis Sosial Politik Universitas Negeri Jakarta (UNJ) di kolom opini Tempo.Com. Judulnya: 75 Tahun Indonesia Maju, Anak Maju Menantu Maju. Karenanya, 75 tahun Indonesia merdeka, yang merdeka itu dinasti politik. Menarik! Menarik! Menarik! Tapi blog saya tidak pernah membahas politik, haha, jadi yaaaa ...


Ada satu video yang juga sangat menarik minat saya yaitu tentang sebuah buku yang diberitakan di CNN. Buku itu ditulis oleh seorang peneliti asal Lowy Institute bernama Benjamin "Ben" Bland. Di buku itu Presiden Jokowi dikritik habis-habisan oleh Ben. Buku itu akan dirilis 1 September 2020 mendatang. Menurut Refly Harun ada empat kata kunci yang cukup jelas terpapar di sini yaitu terburuk, aneh, otoriter, dan kacau. Sayangnya di pemerintahan terakhir-terakhir ini, rasanya situasi demokrasi kita sangat mencekam dengan ancaman undang-undang ITE misalnya, dengan ancaman dari pintu belakang, misalnya remove from the office. Jadi, kita tidak siap berbeda pendapat.


Baca Juga: Jangan Suka Nyablak Karena Bicara Itu Ternyata Ada Seninya


Saya tentu tidak akan menceritakan satu per satu video yang telah tayang di channel kece Refly Harun tersebut. Kalian silahkan nonton sendiri. Hehe.


Well, 75 tahun Indonesia merdeka. Doa saya tetap cuma satu: Covid-19 segera berlalu! Supaya kita bisa jalan-jalan lagi mengeksplor Pulau Flores. Ha ha ha. Itu poinnya. Semoga akhir minggu kalian menyenangkan, kawan.



Cheers.

Kerajinan-Kerajinan Tangan Pada Level yang Lebih Tinggi


Kerajinan-Kerajinan Tangan Pada Level yang Lebih Tinggi. I know, I know, I know. Please don't judge me. Begitu lama tidak upldate BlogPakcer. Lebih lama lagi tidak update I am BlogPacker. Kenyataannya, meskipun berusaha mengatur waktu tapi ada saja perkara-perkara yang membikin saya tidak dapat memperbarui konten blog. Tapi itu tidak membikin saya lantas berhenti. Hahaha *ketawa mengejek* mana bisa saya berhenti nge-blog! Pekerjaan harus diutamakan. Hobby harus dijalankan. Kamu harus dikesampingkan. Begitulah. Bagi kalian, bos-bos pembaca blog ini, saya ucapkan terima kasih. Dan bagi kalian yang baru datang ke blog ini, welcome. Biasanya saya menulis blog Senin sampai Sabtu dengan beragam tema. 


#RabuDIY kali ini saya akan membahas kerajinan-kerajinan tangan, atau produk-produk Do It Yourself (DIY), yang boleh dibilang ber-level tinggi. 

Setiap orang tentu senang jika bisa menghasilkan sesuatu. Mulai dari menghasilkan gaji bulanan, menghasilkan kehidupan yang baik bagi diri sendiri maupun orang lain, hingga menghasilkan barang-barang yang bisa dipakai sendiri dan bisa dijual dan/atau dipakai orang lain. So do I. Menghasilkan barang baru dari barang bekas, membikin ini itu, sudah saya lakoni sejak lama. Ada yang dipakai sendiri, ada yang diberikan gratis ke teman, ada pula yang dijual. Keuntungannya jangan ditanya. Kalau tekun, kalau rajin promosi, kalau pandai menjaga lingkungan pergaulan, niscaya keuntungannya sangat banyak (bahkan tidak terduga). Tetapi selama ini saya hanya menghasilkan produk DIY yang level-nya masih di bawah alias standar saja. Menurut saya pribadi. Ya biasa saja sih membikin keranjang berbahan koran bekas, membikin tas berbahan celana jin bekas, atau membikin lilin berbentuk telur.

Saya melihat begitu banyak produk kerajinan tangan atau produk DIY pada level yang lebih tinggi. Mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar di Universitas Flores (Uniflor) menghasilkan produk berbahan bambu, kayu, kertas, kerang, yang kesemuanya terlihat sangat profesional. Mahasiswa Pendidikan Ekonomi membikin bangku (bench) yang juga terlihat profesional, tidak kalah dengan hasil bikinan orang bengkel. Apakah barang-barang tersebut dijual? Iya, dijual. Harganya sepadan dengan produk. Siapapun yang membeli pasti puas.



Artinya, keseriusan terhadap apapun akan membawa kita pada level yang lebih tinggi. Coba bayangkan, seorang baker bakal bikin roti yang bantet kalau tidak serius. Tapi, ada baker lain yang bisa membikin roti yang boleh disebut sebagai maha karya.

Level yang lebih tinggi ini dapat kalian lihat pada produk-produk DIY-nya Thomas Dambo. Aktivis seniman daur ulang yang satu ini benar-benar membikin saya kagum! Dia adalah sebagai seniman yang berasal dan tinggal di Copenhagen, Denmark. Bersama dua orang teman/kru, dia membikin proyek yang indah dan menyenangkan terbuat dari sampah atau barang daur ulang. Barang-barang ini mereka temukan di sekitar kota: tempat pembuangan sampah umum atau tempat sampah pinggir jalan. Mengumpulkan sampah pun unik: pakai gerobak besi dengan boks kayu yang dipasang ke sepeda. Thomas Dambo tidak pakai mobil meskipun pasti bisa membelinya dengan mudah. Mengantar barang daur ulang pesanan pun dilakukan memakai gerobak, kadang ditarik kalau barangnya terlalu besar. Hwah. Ausam lah.

Dengan melakukan ini Thomas Dambo berharap dapat menginspirasi orang untuk bersenang-senang dan menganggap sampah sebagai sumber daya. Untuk itu dia punya bengkel kerja yang super besar dan halaman luas tempat dia bisa memamerkan pula hasil karya lainnya.

Semua foto berikut ini berasal dari situs Thomas Dambo.





Jadi, apa yang sebenarnya ingin saya sampaikan pada kalian hari ini?

Jangan pandang remeh dunia DIY, dunia daur ulang, dunia kerajinan tangan, dunia life hack! Karena, dari dunia itu (kayak dunia lain, haha) kalian dapat menemukan kesenangan, kepuasan, hingga ketenangan batin. Lebih dari itu, jika dilakukan dengan sungguh-sungguh, digeluti dengan kental, maka akan menghasilkan lebih banyak lagi keuntungan. Pada level biasa saja, level bawah seperti saya, keuntungan yang diraup berlipat ganda. Apalagi level di atasnya. Dan perlu diingat, ketika ada orang lain yang bisa menghasilkan sesuatu yang lebih tinggi dari kita, jangan pernah meracuni diri dengan dengki atau iri hati, jadikan itu sebagai motivasi. Jika dia bisa lebih tinggi, artinya dia punya usaha yang lebih dari kita. Betul? Betul doooong.

Sekian saja untuk hari ini di mana awalnya saya pengen membahas tentang tampilan dashboard Blogger yang baru (baru bagi saya) tapi nanti lah baru dibahas.

#RabuDIY



Cheers.

Kita Bikin Yuk Campuran Tanah Untuk Menanam Bunga


Kita Bikin Yuk Campuran Tanah Untuk Menanam Bunga. Halo kalian semua pecinta Do It Yourself (DIY). Izinkan saya bertanya: apa saja produk DIY yang kalian hasilkan selama work from home? Pasti banyak kan ya. Saya hanya bisa menghasilkan beberapa seperti mangkuk berbahan koran (dan balon) dan pipa-pipa koran bakal keranjang anyaman. Selama work from home hingga new normal, selain pekerjaan kantor, saya lebih banyak menghabiskan waktu di beranda belakang Pohon Tua. Ngapain, Teh? Ngintip tetangga? Haha. Berkebun mini doooong! Fyi, berkebun mini bukan pertama kali saya lakukan karena sudah pernah melakukannya tetapi sempat mandek. Jujur, kembali berkebun mini gara-gara pandemi Covid-19 di mana saya butuh mengajarkan kepada penghuni Pohon Tua tentang ketahanan pangan. Ketahanan pangan itu perlu dipikirkan, terutama oleh orang-orang seperti saya yang terus membayangkan suasana The Walking Dead yang mencekam *ngakak guling-guling*.

Baca Juga: Ternyata Mudah Membikin Mangkuk Berbahan Koran

Tanaman apa saja yang ada di kebun mini? I started with vegetables. Kangkung, sawi, kailan, cabe, terung, tomat, bengkoang, bawang merah dan bawang putih, mentimun, ubi tatas, daun kemangi, hingga kacang tanah dan kentang yang dikasih sama Cahyadi dari Kebun Bibit Elok. Lalu, saya mulai melirik bunga, khususnya bunga Pukul Sembilan atau Moss Rosse atau Krokot. Pertama saya mendapatkan krokot berjenis Portulaca Oleracea dari Om Agus yang mengurus taman di Universitas Flores (Uniflor). Yang kedua, alhamdulillah si Cahyadi membawa satu pollybag Krokot berjenis Portulaca Grandiflora. Portulaca Oleracea dari Om Agus itu berbunga kuning dengan sedikit helai bunga. Sedangkan Portulaca Grandiflora dari Cahyadi itu ada yang kuning dan merah dengan lebih banyak helai bunga. Kalian bisa melihat perbedaan kedua Krokot tersebut pada gambar di bawah ini:

Portulaca Oleracea.

Portulaca Grandiflora.

Gara-gara bunga-bunga yang bermekaran itu, saya lantas mulai me-replant Krokot. Ternyata sangat mudah. Patah dan tanam saja! Dalam hal perawatan, Krokot termasuk sangat mudah. Dia tidak manja seperti bunga-bunga lainnya.

Ini dia yang sudah di-replant! Ini cuma sebagian, sekarang sudah bertambah banyak.

Ketika beranda belakang Pohon Tua juga dilengkapi dengan bunga ... jadi cantik. Oke, mari kita mulai dengan bebungaan lain. Proses panjang pun dimulai dengan pertama-tama membeli pot bunga yang sedang hits itu, mencampur tanah dengan bokasi, dan menanam bunga hasil rampokan. Haha. Yang sangat saya syukuri adalah tetangga atas Pohon Tua (kompleks kami kan merupakan tanjakan) yaitu Ma Evi Betu selalu berbagi bunga dengan saya. Katanya, dia senang melihat beranda belakang yang kini ramai tanaman baik sayuran maupun bunga. Ma Evi Betu bahkan memberikan saya anakan bunga Cucak Rowo! Yuhuuuu. Kalian bisa melihatnya pada gambar berikut:




Namun, merawat bunga tidak sama dengan merawat sayuran. Sayuran sekelas sawi dan kangkung, misalnya, hanya butuh penyiraman secara rutin untuk tetap segar dan tumbuh dengan baik sampai kemudian dipanen. Bunga-bunga yang saya tanam itu mulai menunjukkan kejenuhan mereka. Ada yang daunnya menguning dan kering, ada yang tidak besar-besar alias kerdil, ada pula yang mati. Hiks. Cucak Rowo ukuran besar dari Ma Evi Betul pun tamat riwayatnya, tetapi yang kecil masih bertahan hidup. Saya bertanya-tanya dalam hati. What's wrong? Tanahnya sudah dicampur bokasi pun. Proses penyiraman juga rutin. Bahkan mereka dijemur juga di matahari pagi lantas dimasukkan kembali. Masa mereka tidak sesubur sayuran?

Dua hari yang lalu saat saya sedang menikmati kopi susu di beranda belakang rumah sambil dihibur pemandangan tanaman-tanaman cantik itu, Ma Evi Betu berdiri di pagar pembatas lantas bilang pada saya: Nona, itu bunga-bunganya tidak subur, ya. Coba Nona campur tanah dalam pot itu dengan serbuk kayu sehingga dia menjadi lebih ringan. Bisa jadi tanahnya terlalu padat jadi akarnya kesulitan bergerak. Saya mengakui pada Ma Evi Betu: Iya nih, Ma Evi, bunga-bunga tidak seperti sayuran yang tumbuh subur. Saya akan coba membongkar tanah di pot dan mencampurnya dengan serbuk kayu. Tidak menunggu lama, saya meminta Yoye untuk pergi membeli serbuk kayu di bengkel kayu. Satu tas kresek merah seharga Rp 15.000 tetapi Yoye mengaku dia menawar sehingga harganya Rp 10.000 saja. Oh wow. Haha. Anak ini boleh juga.

Serbuk kayu.

Akhirnya pada Minggu petang saya, Thika, dan Melly mulai membongkar tanah dari pot-pot bunga yang ada. Tanahnya diayak terlebih dahulu, lantas dicampur dengan serbuk kayu. Takarannya 1:1. Satu tanah, satu serbuk kayu. Betul juga, tanah campuran itu menjadi lebih ringan. Setelah itu, bunganya ditanam kembali dalam pot tapi dengan tanah campuran serbuk kayu! Sambil melakukan itu, saya bilang pada bebungaan: tumbuh subur ya, kalian punya rumah baru yang lebih ramah.


Ternyata membikin campuran tanah untuk menanam bunga cukup mudah.

Bahan-bahan:
1. Tanah.
2. Bokasi.
3. Serbuk kayu.
4. Air.

Alat:
1. Sendok semen/sekop kecil.
2. Sendok gembur.

Pertama-tama tanah diayak agar batu-batunya terpisah. Kemudian tanah yang sudah diayak itu dicampur bokasi dengan takaran 2 (dua) tanah berbanding 1 (satu) bokasi. Hasil campuran tanah dan bokasi kemudian dicampur lagi dengan serbuk kayu dengan takaran 1 (satu) tanah campuran bokasi berbanding 1 (satu) serbuk kayu. Setelah itu, silahkan menanam bunga kalian. 

Saya yakin, kalian pasti bertanya-tanya, bukankah salah satu bahan bokasi adalah serbuk kayu? Memang benar. Tetapi untuk lebih meringankan tanah saya mengikuti anjuran Ma Evi Betu yaitu mencampurnya lagi dengan serbuk kayu. Kalau dipikir-pikir, benar juga, bahwa tanah yang terlalu keras bakal menyulitkan akar untuk bergerak. Tapi tentu orang-orang yang expert di bidang pertanian lebih tahu tentang hal ini. Bagi tahu doooong. Hehe. Saya sih hanya mengikuti anjuran yang menurut saya dapat dibenarkan.

Bagaimana dengan hasilnya? Belum tahu. Kan baru dilakukan hari Minggu kemarin. Kita lihat lah nanti bakal tumbuh subur atau tidak bebungaan itu. Sementara saya sendiri masih harus membeli pot baru bakal media tanam daun mint. 


Betapa cantiknya daun mint yang ditanam di pot mini seperti gambar di atas. Sungguh amboi kalau diletakkan di meja makan atau meja ruang tamu atau meja kerja. Aroma mint-nya segar sekali. Bisa jadi pengganti pengharum ruangan.

Baca Juga: Jangan Dibuang, Tutup Botol Plastik Mempunyai Banyak Manfaat 

Bebungaan di beranda belakang Pohon Tua memang belum sebanyak bebungaan di rumah kalian. Potnya pun masih pot ukuran sedang, belum pot berukuran besar karena batang/tanaman bunganya pun masih ana lo'o alias masih kecil-kecil. Namanya juga usaha, butuh proses yang panjang untuk mewujudkannya. Lagi pula, saya tidak bisa terlalu fokus pada bebungaan saja. Kembali lagi pada ketahanan pangan seperti yang saya singgung pada awal pos ini. Memangnya berhasil, Teh? Alhamdulillah berhasil. Sejak mulai panen, Thika sudah jarang membeli sayur setiap kali ke pasar karena kami tinggal mengambilnya dari kebun mini baik sawi maupun kangkung. Kalau terung memang agak lama sih berbunga dan berbuah. Yang membikin saya senang, tomat mulai berbuah sedangkan tomat cherry mulai berbunga. Nanti pasti bakal saya tunjukkan pada kalian.

Semoga pos ini bermanfaat! 

#RabuDIY



Cheers.

Inovasi Canggih dan Keren Cerita dari Serambil Uniflor


Inovasi Canggih dan Keren Cerita dari Serambil Uniflor. Menurut saya pribadi, inilah perpaduan jenius dari dua isu paling hot saat ini: Panca Windu Universitas Flores (Uniflor) dan pandemi Covid-19. Di antara puluhan kegiatan lainnya seperti lomba kebersihan antar unit, lomba taman antar gabungan unit, lomba masak nasi goreng peserta khusus laki-laki, hingga lomba video, Ketua Panitia Panca Windu Uniflor Ana Maria Gadi Djou, S.H., M.Hum. yang sering kami sapa Mama Emmi, menggagas program keren bertajuk Cerita dari Serambi Uniflor. Lucunya, saat berdiskusi atau mengobrol santai tentang program ini kami sering salah menyeletuk Serambi Mekah dan Serambi Bung Karno. Maklum, kata serambi memang selalu disandingkan dengan Mekah. Sedangkan di Kota Ende sendiri telah lama dibangun Serambi Bung Karno yang kece badai itu. 

Baca Juga: Ngoblog Soal Digital Marketing Bareng Nunik Utami di Live IG

Mari cari tahu apa itu Cerita dari Serambi Uniflor.

Tujuan Cerita dari Serambi Uniflor


Cerita dari Serambi Uniflor dilatarbelakangi dari keinginan agar Uniflor lebih dikenal oleh masyarakat luas dan lebih dekat dengan masyarakat. Otomatis tujuannya ya agar latar belakang tersebut terwujud. Kata 'serambi' dipilih sebagai analogi tempat orang duduk dan mengobrol santai sambil bercerita ngalor-ngidul tentang banyak hal. Oleh karena itu, Cerita dari Serambil Uniflor merupakan tempat lalu-lalangnya cerita-cerita tentang Uniflor. Dari A sampai Z. Ini merupakan salah satu inovasi canggih dan keren mempromosikan Uniflor di tengah pandemi Covid-19.

Apakah Ada Narasumbernya?


Tentu saja, kawan! Kalau hanya sekadar bercerita semua orang bisa. Tapi tentang Uniflor haruslah datang dari narasumber yang berkompeten sehingga informasi yang diberikan dapat dipertanggungjawabkan. Narasumber tentu tidak semerta-merta berbicara atau bercerita tetapi dipandu oleh seorang host. Jadi mirip talkshow begitu dong, Teh? Emberrrr. Hehehe.

Apakah Berkelanjutan?


Melihat begitu banyak cerita yang bisa kami bagi kepada masyarakat, diupayakan Cerita dari Serambi Uniflor berkelanjutan. Saat ini Cerita dari Serambi Uniflor direncanakan tayang setiap Sabtu, pukul 10.00 Wita, di channel Youtube: Official Universitas Flores. Tayang perdana Cerita dari Serambi Uniflor dilaksanakan pada Sabtu, 11 Juli 2020, dengan narasumber Ketua Yayasan Perguruan Tinggi Flores (Yapertif) Dr. Laurentius D. Gadi Djou, Akt. dan Rektor Uniflor Dr. Simon Sira Padji, M.A. Silahkan klik video berikut ini:



Iya, untuk edisi perdana ini saya yang menjadi host-nya. Tapi host nanti bakal berganti-ganti.

Bagaimana Mekanismenya?


Ini dia yang menjadi poin utama pos #SelasaTekno.

Saya tidak pernah membayangkan sebelumnya bahwa Uniflor dapat menghasilkan satu program keren yang tayang di Youtube. Seperti yang sudah saya tulis di atas, digagas oleh Mama Emmi, kemudian dipilihlah produser, dan dibentuklah dua tim. Produser Cerita dari Serambi Uniflor adalah Bapak Yohanes P. Luciany, S.E., M.Si. atau Pak Yance. Dua tim yang dibentuk adalah Tim Perumus dan Tim Kreatif. Tim Perumus bekerja merumuskan materi, narasumber, hingga term of reference, dan melapor kepada produser. Tim Kreatif bekerja untuk mewujudkan tayangan yang sesuai konsep/terarah sekaligus keren. Dipimpin oleh Bapak Harry Ndb, kalian sudah bisa melihat hasilnya pada video di atas.

Mekanismenya:
1. Setting lokasi.
2. Pemasangan perangkat.
3. Live Streaming.
4. Selesai.


Tapi tentu tidak sesederhana itu. Untuk tayangan live dibutuhkan insert video/gambar sebagai pendukung. Data pendukung ini dikumpulkan bersama dan diatur oleh Tim Kreatif. Karena sudah ada term of reference, Tim Kreatif lebih mudah mendata/menyusun list-nya untuk di-insert pada tayangan live di channel Youtube tersebut.


Apa saja perangkatnya? Banyak sekali perangkat yang dibutuhkan untuk durasi satu jam! Tapi memang seperti itulah pola kerjanya.
1. Komputer.
2. Laptop.
3. Dua televisi/monitor panduan.
4. Clip-on dan kawan-kawannya.
5. Mixer audio dan kawan-kawannya.
6. Program (ini yang saya kurang tahu namanya, haha).
7. Kamera/camcorder.
8. Whiteboard.
9. Koneksi internet yang mumpuni.
Dan printilan lain yang tidak dapat saya sebutkan satu per satu termasuk kabel-kabel haha.


Foto-foto tersebut di atas sudah cukup mewakili bahwa dibutuhkan teknologi yang tinggi dan sumber daya manusia yang mumpuni untuk bisa menayangkan program Cerita dari Serambi Uniflor kepada masyarakat. Agar apa? Agar Uniflor lebih dikenal oleh masyarakat luas, dan lebih dekat dengan masyarakat.

Baca Juga: Mengenal PhotoScape Untuk Keperluan Sunting Foto

Setelah selesai tayangan perdana live Cerita dari Serambi Uniflor itu, saya sangat terharu sekaligus bangga. Ada begitu banyak orang hebat di Uniflor. Hebat pada bidangnya masing-masing. Dan ketika semua disatukan dalam kerabat kerja yang kompak dan insha Allah solid, hasilnya luar biasa. Kesalahan ini itu saat live merupakan hal yang lumrah. Jangankan yang live, yang melalui proses taping saja masih ada banyak salahnya (makanya dibutuhkan penyuntingan). Jika pada tayangan live bisa 90% sukses, itu sangat berarti. Artinya antara Tim Perumus, Tim Kreatif, dan Produser, bekerjasama dengan sangat sangat sangat baik. Ya kan? Kan ya!

Bagi kalian semua, jangan lewatkan Cerita dari Serambi Uniflor setiap Sabtu, pukul 10.00 Wita, di channel Youtube: Official Universitas Flores. Ada giveaway yang siap dibagikan loh.

#SelasaTekno



Cheers.