Arsip Penulis: Tuteh

Angry Birds Blues: Tontonan Baru Yang Tidak Membosankan

 

Sumber Gambar: Cartoongoodies.


Angry Birds Blues: Tontonan Baru Yang Tidak Membosankan. Mungkin Youtube merasa kasihan pada saya. Mungkin. Lingkaran setan tontonan malam masih berputar pada yang itu-itu juga. Upin-Ipin, Larva, Zig and Sharko, Oggy and the Cockroaches, Shaun the Sheep, sampai kadal gurun Oscar's Oasis. Yang herannya kalau saya ketiduran, pas bangun, tahu-tahu layar telepon genggam malah menayangkan gamers lagi streaming nge-game. Uwuuu. Beruntunglah dia. Anyhoo, rasa kasihan itu kali ya yang membikin Youtube kemudian merekomendasikan video menarik yang satu ini. Terpampang nyata di time line Youtube. Video yang sukses membikin saya terbahak-bahak pada suatu malam, dan pada malam-malam berikutnya, meskipun menonton video yang sama berulang kali. Ya, Angry Birds Blues menjadi tontonan baru yang tidak membosankan.


Baca Juga: Corona Membikin Saya Teringat Sama Filem-Filem Ini


Untuk sesuatu yang sudah menghibur, menurut saya pribadi, adalah lumrah kalau saya berbagi dengan kalian semua tentang tontonan baru yang satu ini. Jadi, mari kita cari tahu tentang Angry Birds Blues.


Angry Birds Blues


Bersumber pada Wikipedia, Angry Birds Blues adalah serial televisi animasi komputer Finlandia yang dibintangi oleh the Blues (Jay, Jake, dan Jim) dan Hatchling yang muncul di The Angry Birds Movie. Dianimasikan dengan gaya yang sama dengan filmnya, film ini diproduksi oleh Rovio Entertainment bersama dengan perusahaan afiliasinya Kaiken Entertainment, dengan Bardel Entertainment menyediakan animasinya. Serial ini ditayangkan perdana pada 10 Maret 2017 di saluran Toons.TV, sebelum melanjutkan di saluran YouTube resmi Angry Birds setelah Toons.TV ditutup.


Triplet


Karakter utama Angry Birds Blues adalah triplet atau kembar tiga anak burung. Saya menulis anak burung, karena mereka belum bisa dikatakan remaja apalagi dewasa. Mereka tidak seperti Private, Kowalski, Skipper, dan Rico dari The Madagascar Penguins. Dunia mereka adalah dunia anak-anak yang nakal, pintar, dan selalu punya rencana (entah rencananya berhasil atau tidak). Kembali lagi pada triplet itu, ketiganya benar-benar identik kayak Upin dan Ipin, dengan bulu biru menggemaskan. Jadi, apa yang menjadi pembeda? Warna mata! Jake, Jay, dan Jim dibedakan oleh warna mata mereka. Dikatakan Jay memiliki iris biru, Jake memiliki iris hijau, dan Jim memiliki iris cokelat. Jay adalah pemimpin The Blues. The Blues disuarakan oleh Heljä Heikkinen, Vilppu Uusitalo dan Vertti Uusitalo dalam seri ini. Jay adalah pemimpin blues dan akan disuarakan oleh JoJo Siwa di The Angry Birds Movie 2.


Kocak dan Konyol Tiada Batas


Ada 30 (tiga puluh) epidose berdurasi pendek dari Angry Birds Blues Season 1. Meskipun tidak nampak di setiap episode, tapi setiap kali mereka memesan barang dari katalog, maka jasa pengiriman paket bernama Mighty Eagle Express. Dikirim sekedip mata, kotak kayu jatuh dari angkasa, brung. Seperti main sulap. Hahaha. Namanya juga kartun kan ya. Semua episodenya kocak dan konyol tiada batas. Tapi ada dua yang bikin saya terbahak-bahak bahkan setelah saya berada di kantor. Judulnya Trampoline Rescue dan On Target. Coba deh kalian menonton dua episode ini. Saya sangat merekomendasikan Angry Birds Blues pada kalian, terutama ditonton setelah pulang ke rumah, sedang bersantai melepas penat.


Baca Juga: Pariwisata Nusantara


Dan kita tiba pada pertanyaan: mengapa saya sangat menyukai kartun? Orang-orang bahkan pernah melabeli saya: terlambat puber. Entahlah. Sejak dulu saya suka menonton kartun. RCTI pernah menayangkan kartun berbeda secara maraton di Minggu pagi hingga siang. Anak 90-an pasti tahu. Bagi saya kartun bukan sekadar tontonan bocah semata. Kartun, kalau kita jeli, menyelip pesan-pesan yang ditugaskan pada orangtua untuk mengurainya. Makanya kalau bocah menonton kartun bareng orangtua, saya rasa itu bagus, karena orangtua dapat menjelaskan ini itu ... apa yang sebenarnya dimaksudkan oleh kartun yang ditonton bareng itu.


Well, selamat menikmati akhir minggu :)


Have fun!


Cheers.

Kurang Bijak Membanding-Bandingkan Antara Single dan Double


Kurang Bijak Membanding-Bandingkan Antara Single dan Double. Saya percaya Tuhan mengirimkan manusia ke bumi untuk mengemban misinya masing-masing. Kerajaan Inggris selalu welcome dengan calon menantu perempuan atau menantu perempuan yang berasal dari keluarga bangsawan, dan berkulit putih. Lalu Meghan Markle pun datang. Saya pikir, dia memang ditugaskan Tuhan untuk mendobrak pintu besar bertulis 'menantu perempuan kami harus bangsawan dan berkulit putih'. Bahkan, Meghan Markle bersama-sama Pangeran Harry kemudian memutuskan untuk hidup mandiri. Keluar dari kehidupan British Royal Family. Banyak mulut ternganga; tempat lalat bertelur. Mahatma Gandhi ditugaskan Tuhan untuk menjadi pemimpin gerakan kemerdekaan India: pembangkangan sipil tanpa kekerasan. J. K. Rowling mengemban tugas menciptakan dunia sihir fiksi dengan tokoh sentral Harry Potter, menghibur dan memberi warna baru bagi para pembaca. 


Baca Juga: Jangan Mengeluh: Hidup Memang Penuh Warna dan Cerita


Misi/tugas yang diembankan Tuhan pada umatNya berbeda-beda, termasuk dalam urusan status: single atau double. Orang-orang single gerah dengan pertanyaan cukup menegangkan ini: kapan menikah? Pertanyaan itu melewati satu pertanyaan awal: sudah punya calon isteri/suami? Pertanyaan kapan menikah ibarat emak bikin lumpia tanpa proses membikin kulit lumpia. Tahu-tahu sudah jadi. Dan pertanyaan itu merupakan serial killer terparah yang ada di muka bumi. Dimulai dengan kapan menikah, dilanjutkan dengan kapan punya momongan, kapan si kakak punya adik, anak-anak disekolahkan di mana, dan seterusnya. Yang tidak pernah ditanyakan adalah kapan bercerai dan kapan meninggal dunia. Haha.


Setiap manusia mengalami banyak peristiwa dan pengalaman hidup yang menjadi fondasi mereka terus single atau kemudian double. Percaya tidak percaya, banyak manusia di muka bumi ini yang diberi tugas oleh Tuhan untuk menaiki bahtera rumah tangga. Begitu mudah dipertemukan dengan seseorang, dengan mudah dicintai dan disayangi oleh seseorang, dan kalau beruntung kemudian menikah. Hidup bahagia selamanya seperti cerita dari negeri dongeng. Ada pula yang begitu mudah dipertemukan dengan seseorang, dengan mudah dicintai dan disayangi oleh seseorang, namun kemudian memilih untuk tidak melanjutkan hubungan ke jenjang pernikahan karena alasan-alasan tertentu. Alasan-alasan ini kadang menimbulkan trauma bagi manusia, lalu memilih untuk single forever. Tuhan juga memberi tugas untuk orang-orang yang tidak semudah itu menemukan seseorang: dicintai, mencintai, disayangi, menyayangi, bahkan hingga akhir hayatnya.


Kurang bijak memang jika kita membanding-bandingkan antara single dan double. Single bukan berarti tidak laku. Bisa saja dia adalah orang yang begitu mudah bertemu seseorang. Saking mudahnya, dia belajar dari pengalamannya itu. Pengalaman mengajarkannya untuk tetap single. Tapi, ada orang yang memang sadar bahwa tugasnya di bumi masih belum sampai pada urusan men-double-kan diri dengan orang lain. Seorang pengurus panti asuhan, yang begitu menyayangi anak-anak panti tersebut, tentu akan sangat berat menikah, jika setelah menikah dia harus meninggalkan panti asuhan. Secara moral dia tidak tega meninggalkan anak-anak panti diurus oleh orang lain yang belum tentu kapasitas sayangnya sama dengan dirinya. Betapa mulianya. Alasan yang tidak diketahui khalayak ini kemudian menjadikan si pengurus panti sebagai pusat hujatan. Dasar tidak tahu untung, sudah diajak menikah, malah ditolak. Come on, it's not fair.


Iya, tidak adil. Karena, tahukah orang-orang bahwa di luar sana banyak single yang berdoa meminta jodoh tetapi belum juga dikabulkan oleh Tuhan? Kembali pada Tuhan dan tugas-tugas yang diembankanNya pada setiap manusia, apakah kalian berani menyalahkan Tuhan karena seseorang terus single selama hidupnya? Atau, kalian lebih suka melihat single menerobos batas, menikah hanya karena memaksa dirinya bunting duluan? No, no, no. Jangan. Biarkan single menikmati kehidupannya, sama seperti single membiarkan kalian menikmati hidup kalian. Anyhoo, saya menulis 'bunting duluan' bukan hanya berkonotasi pada perempuan, tetapi juga pada laki-lakinya. Bunting tidak hanya terjadi begitu saja seperti lumpia tanpa proses membikin kulit lumpia kan


Baca Juga: Sebuah Seni Untuk Melepaskan Sesuatu Yang Bukan Milik Kita


Maka, mari kita coba untuk berhenti membanding-bandingkan. Manusia yang memilih single itu sama-sama berdayanya dengan manusia yang kemudian menjadi double (couple). Masing-masing bertanggungjawab pada diri mereka, pada kehidupan mereka, dan mungkin pada orang-orang lain di sekitar mereka. Jangankan membandingkan single dan double, masih banyak orang yang membandingkan pasangan yang satu dengan pasangan yang lain. Pasangan A punya lima anak, pasangan B belum dikaruniai anak tapi memilih untuk memelihara banyak hewan peliharaan seperti kucing atau anjing. Masiiiih juga mereka dibanding-bandingkan. Hahaha. Kan kasihan, itu mulut atau comberan


I'm single and very happy ~ Oppie Andaresta. 


Saya tidak berharap para single bersorak-sorai merayakan tulisan ini. Karena, para single pun kurang bijak jika membanding-bandingkan dirinya dengan orang-orang yang memilih menjadi double (couple). Hidup itu seimbang.


#LifeBeginAtForty


Cheers.

Ngidam Makan Mie Goreng Basah Akhirnya Bikin Sendiri

 


Ngidam Makan Mie Goreng Basah Akhirnya Bikin Sendiri. Bagi kalian yang berada di luar Kota Ende, mungkin belum seberapa tahu geliat tempat nongkrong di kota yang salah satunya terkenal akan Situs Bung Karno ini. Sudah lama saya tidak nongkrong di kafe, misalnya, bukan berarti kehilangan informasi tentang kafe-kafe baru yang dibuka di Kota Ende. Salah satu tempat nongkrong itu bernama Morowae. Morowae terletak di tengah kota, Jalan Masjid Raya, dengan konsep setengah dinding dan menyediakan fasilitas free Wi-Fi. Menu-menunya tidak selamanya makanan ringan, contohnya kentang goreng, karena di Morowae juga tersedia makanan seperti ayam geprek, ayam tulang lunak (and I do love this menu), nasi goreng, capcay, hingga mie goreng. Dan, selain ayam tulang lunak, saya jatuh cinta pada mie goreng a la Morowae. 


Baca Juga: Kerajinan-Kerajinan Tangan Pada Level yang Lebih Tinggi


Senin kemarin, bersama Kakak Rossa dan Kakak Shinta, kami memutuskan untuk makan siang di Morowae. Sejak ide ini tercetus, otak saya sudah menyajikan sepiring mie goreng Morowae yang enak itu. Sayangnya menu mie goreng baru tersedia sore hari. Maklum, tanggal 4 Januari 2021 semua orang baru mulai benar-benar beraktifitas. Akhirnya saya memesan seporsi nasi ayam tulang lunak dan jus tomat. Sampai pulang ke rumah pun otak saya masih menyajikan pemandangan mie goreng Morowae ... dan itu sungguh menyiksa. Ditambah suasana hujan. Amboiiii. Akhirnya saya memutuskan untuk membikin sendiri, dimulai dari mie-nya! Semua gara-gara mie goreng Morowae dan tayangan video memasak mie Nex Carlos bersama ibunya.


Kita mulai dari mie. Untuk membikin mie bahan yang dibutuhkan hanyalah tepung terigu (saya pakai Kompas), sedikit bibit roti, garam dan air. Setelah adonan jadi, didiamkan, barulah mulai diolah menggunakan mol mie/molen.



Resep ini hasil menonton video di Youtube. Hahaha. Nanti baru saya tahu bahwa mie bikinan sendiri ini kurang terigu. Oh, pantas. Tapi tidak apa-apa, yang penting bisa direbus. Jangan lupa air rebusan ditambahkan sedikit minyak agar mie tidak lengket.


Untuk campuran mie goreng terpaksa hanya memakai irisan sayur kol, potongan sosis, dan telur. Rencananya memakai pentol/bakso tetapi karena sedang hujan ... terpaksa menggunakan bahan yang ada di kulkas. Bumbunya juga seadanya. Pertama, goreng potongan sosis, lalu masukkan bawang merah dan bawah putih halus, kemudian sayur dan telur. Setelah semuanya setengah matang, tambahkan mie, kecap manis, garam, dan sedikit penyedap rasa. Aduk sebentar ... boleh diangkat.



Hasilnya seperti pada penampakan di atas. Mie goreng basah bikinan sendiri. Tidak lupa sambal jeruk segar bikinan Mama Len. Sungguh menggiling lidah! Apalagi dinikmati saat hujan. 


Baca Juga: Manfaatkan Celana Jin Bekas Untuk Mempercantik Sofa


Apa yang saya pelajari dari membikin mie? Ya itu tadi, tepungnya harus banyak, karena mie yang saya bikin itu takaran airnya yang terlalu banyak. Kemudian, sebenarnya setelah mie sudah jadi, harusnya dibanting-banting agak lama di tepung terigu, baru kemudian direbus. Tidak apa-apa lah, yang penting jadi dan bisa dinikmati bersama penghuni Pohon Tua. Next, bikin lagi!



Cheers.

Teknologi Akuaponik di Kebun Percontohan Universitas Flores

 


Teknologi Akuaponik di Kebun Percontohan Universitas Flores. Kalian pasti sudah sering mendengar tentang hidroponik. Bagaimana akuaponik? Ya ampun, Tuteh, akuaponik bukan sesuatu yang baru di masyarakat. Kalau poliponik? Hahaha. Zaman kapan itu poliponik. Oke, jadi kita akan langsung meluncur pada kronologi. Pada tanggal 12 Oktober 2020 Universitas Flores (Uniflor) kedatangan tamu dari Kedutaan Besar Polandia di Indonesia. Kami memanggilnya Mr. Michael atau Pak Michael. Asli, ganteng beud! Apa urusannya? Jadi, bakal ada kerja sama tentang akuaponik. Pihak Uniflor mengajak Mr. Michael pergi ke Kebun Percontohan Uniflor yang terletak di daerah Lokoboko, Ndona. Lokasi yang sangat strategis/bagus untuk membangun akuaponik. Menurut saya. Hanya berjarak sekitar 5 kilometer dari pusat Kota Ende.


Gara-gara kesengsem sama Mr. Michael, hari itu saya mengalami kecelakaan tunggal, terjungkal dari sepeda motor yang saya kendarai sendiri gara-gara pasir dan mengelamun. Konyol.


Baca Juga: Inovasi Canggih dan Keren Cerita dari Serambil Uniflor


Lalu, apa itu Kebun Percontohan Uniflor?


Mungkin belum semua orang tahu bahwa Uniflor mempunyai area kebun yang sangat luas, saya tidak tahu berapa hektar, yang disebut Kebun Percontohan Uniflor. Kebun ini dikelola oleh Fakultas Pertanian Uniflor. Ada bapak-bapak yang bertugas menjaga ekosistemnya, para dosen dan mahasiswa juga secara berkala (terjadwal) mengunjungi kebun ini untuk mengelolanya dan terutama untuk mata kuliah praktek. Kebun Percontohan Uniflor juga menghasilkan antara lain sayur dan buah. Ada beberapa bangunan seperti gudang dan saung di dataran yang agak tinggi. Saya suka duduk-duduk di saung ini karena nyamaaaaan. Banget. Uniflor pernah menggelar acara besar di Kebun Percontohan Uniflor yaitu Pelantikan Rektor dan jajaran Wakil Rektor pada awal 2020 yang lalu. Bukan, bukan di bagian kebunnya tetapi di bukit/dataran tinggi yang belum dikelola menjadi kebun, dengan pemandangan spektakuler ke arah Kota Ende.



Dan teknologi akuaponik itu saya temukan di Kebun Percontohan Uniflor pada tanggal 26 November 2020 saat meliput kegiatan kunjungan murid Raudhatul Athfal Al Fatih. Raudhatul Athfal itu setingkat taman kanak-kanak. Mengenal lebih dekat alam. Itu yang ditawarkan oleh pengelola Kebun Percontohan Uniflor. Sejak kecil para bocah ini diajak untuk melihat lebih dekat berbagai macam tanaman, melihat tentang akuaponik, hingga menanam benih tanaman pada bedeng yang disediakan.



Akuaponik. It's amazing.


Menurut Wikipedia:

Akuaponik adalah sistem pertanian berkelanjutan yang mengkombinasikan akuakultur dan hidroponik dalam lingkungan yang bersifat simbiotik. Dalam akuakultur yang normal, ekskresi dari hewan yang dipelihara akan terakumulasi di air dan meningkatkan toksisitas air jika tidak dibuang. Dalam akuaponik, ekskresi hewan diberikan kepada tanaman agar dipecah menjadi nitrat dan nitrit melalui proses alami, dan dimanfaatkan oleh tanaman sebagai nutrisi. Air kemudian bersirkulasi kembali ke sistem akuakultur. Karena sistem hidroponik dan akuakultur sangat beragam bentuknya maka sistem akuaponik pun menjadi sangat beragam dalam hal ukuran, kerumitan, tipe makhluk hidup yang ditumbuhkan, dan sebagainya.





Sederhananya akuaponik itu adalah memelihara dua jenis makhluk hidup sekaligus yaitu flora (biasanya sayuran) dan fauna (ikan). Jadi tanamannya tidak ditanam di tanah? Tidak. Umumnya yang sering saya lihat itu tanamannya berupa kangkung yang akarnya menjuntai ke air di bawahnya, dan di dalam air itu dipeliharalah ikan-ikan. Sama seperti hidroponik, akuaponik dapat dilakukan oleh kalian yang tidak mempunyai lahan/tanah tetapi tetap ingin berkebun. Bedanya, akuaponik ibarat sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampaui, karena air yang digunakan sebagai media tanam itu dipeliharalah ikan-ikan terutama ikan yang dapat dikonsumsi.






Setelah berkeliling kebun, melihat akuaponik, serta menanam benih, murid-murid RA Al Fatih, beristirahat sambil menikmati jagung rebus (hasil dari Kebun Percontohan Uniflor juga). 



Di luar dari konteks teknologi akuaponik, secara umum saya melihat kegiatan ini sebagai kegiatan yang sangat bermanfaat. Tidak saja bagi murid-murid RA Al Fatih, tetapi juga sangat bermanfaat bagi dosen dan pengelola kebun. Murid-murid RA Al Fatih tentu menemukan suasana lain dari keseharian mereka di kelas dan/atau saat belajar dari rumah. Ya itu tadi, lebih dekat dengan alam. Sedangkan bagi dosen, kegiatan ini merupakan salah satu wujud dari pengabdian kepada masyarakat. Karena pada kesempatan tersebut para dosen seperti Pak Alan dan Ibu Tensi juga dibantu mahasiswa menjelaskan pada murid-murid RA Al Fatih tentang tanaman hingga teknologi akuaponik.


Baca Juga: Mau Tidak Mau Covid-19 Menjadi Daya Dorong Bagi Kita


Dari pengakuan KTU Fakultas Pertanian, Om Ismail Langga, serta bapak-bapak pengelola kebun, selain RA Al Fatih juga pernah ada rombongan murid SMP berkunjung ke Kebun Percontohan Uniflor. Artinya, Kebun Percontohan Uniflor juga terbuka bagi lembaga pendidikan lain di bawah tingkatan perguruan tinggi. Dan bagi yang hendak berkunjung ke sana dapat mencari informasi terlebih dahulu di Fakultas Pertanian Uniflor untuk menyusun/menentukan jadwal. Belajar langsung di alam memang baik, menjadi imbang dengan belajar melalui text-book. Dan saya sangat menyukai kegiatan-kegiatan seperti ini.



Cheers.

Kehadiran Alfamart Merupakan Pecut Bagi Pedagang di Kota Ende

 

Suatu malam di Alfamart, Jalan El Tari, Ende.


Kehadiran Alfamart Merupakan Pecut Bagi Pedagang di Kota Ende. Suatu hari, setelah tahun 2000 dan saya tidak tahu pasti tanggal/tahun tepatnya, Kota Ende menerima kehadiran sebuah tempat belanja moderen bernama HERO Swalayan. Bukan, ini bukan HERO Supermarket dengan logo kepala prajurit itu. HERO Swalayan berlogo keranjang belanja dengan jargon: tempat belanja HEmat, Ramah, dan Oke. Iya, kalian tahu dari mana kata HERO itu berasal. HERO Swalayan menyediakan hampir semua kebutuhan sehari-hari umat manusia. Sembilan bahan pokok pasti ada, aneka mi instan berjejer, bumbu dapur instan pun komplit tinggal pilih, aneka peralatan dapur juga tersedia, termasuk alat tulis dan sejenisnya. Kalau disuruh menulis sepuluh barang yang disediakan HERO Swalayan, saya bakal menulis: tisu, pampers, sikat gigi, sabun cair, kurma, silverqueen, handuk, pisau, sapu, dan sirup. Pelataran parkir HERO Swalayan selalu penuh sesak. Saya termasuk salah seorang pelanggan HERO Swalayan dengan kartu member yang dipakai setiap kali berbelanja (menambah poin). Minimal satu kali dalam sebulan saya berbelanja kebutuhan rumah tangga di HERO Swalayan. Saya pernah beberapa kali menukar poin belanja dari kartu member sejumlah Rp 100.000. Lumayan.


Baca Juga: Beli Gitar Itu Kayak Cari Calon Suami Harus Yang Nyaman


Kehadiran HERO Swalayan memicu daya saing antara pedagang yang sebelumnya memang sudah tercipta. Toko-toko sembako yang terletak di Jalan Pasar, misalnya, pasti kehilangan satu dua pelanggan. No doubt. Saya rasa kios-kios kecil di kompleks perumahan pun demikian. Tetangga yang biasanya membeli satu sachet Kopi Flores di kios depan rumah, mendadak membeli satu renteng Kopi Flores di HERO Swalayan. Ough, nanti kalau ngutang kopi pasti balik ke kios depan rumah. Bagi saya berbelanja di HERO Swalayan bukan karena murahnya atau karena gaya-gayaan, melainkan karena nyaman dan praktis. Sekalian ngadem hemat. Soal harga, toko-toko sembako di Jalan Pasar tentu jauh lebih murah sekian ratus Rupiah bahkan sampai seribu Rupiah. 


Persaingan pun menjadi lebih ketat dengan dibukanya dua mini market yaitu Star Mart di Jalan GatotSoebroto dan Shine Mart di Jalan Diponegoro. Bagi siapa pun yang enggan mengantri di kasir HERO Swalayan, mereka berpindah ke dua mini market tersebut. Salah satunya saya. Tapi kalau urusan belanja bulanan (lengkap), saya tetap memilih HERO Swalayan.


Setelah tahun 2010, sesuatu terjadi. ROXY Swalayan pun dibuka. Jangan tanya saya kapan tanggal/tahun tepatnya. Pokoknya setelah tahun 2010. Lokasinya di Jalan Ahmad Yani, cukup dekat dengan lokasi Pohon Tua (rumah saya). Tahun 2010 saat masih bekerja di Kota Maumere, Kabupaten Sikka, saya sudah sering pula berbelanja di ROXY Swalayan Maumere. Ketika dibuka di Kota Ende, saya melihat bangunannya rata-rata sama besar dan varian barangnya pun bersaing dengan HERO Swalayan. Kebetulan pula Thika Pharmantara sudah pindah ke Pohon Tua sehingga urusan berbelanja saya serahkan padanya. Dan ya, dia lebih suka berbelanja di ROXY Swalayan dengan alasan: barang lebih lengkap. Oh, saya protes padanya karena menurut saya HERO Swalayan juga cukup lengkap. Tetapi ketika Thika membalas dengan alasan: lebih dekat. Saya hanya bisa diam. Terutama Thika juga membikin kartu member ROXY Swalayan.


Setelah beberapa tahun ROXY Swalayan dibuka, sebuah pusat perbelanjaan baru pun dibuka. Namanya Sinar Mas Toserba. Ya, masih dengan gaya swalayan. Beralamat di Jalan Gatot Soebroto, Sinar Mas Toserba berkonsep dua lantai, tanpa ekskalator. Hahaha. Ngapain juga ekskalator kalau cuma dua lantai. Padahal menurut saya pribadi, kalau ada ekskalator, tamat lah pusat perbelanjaan swalayan lain di Kota Ende. Ha ha ha. Sampai di sini saya memikirkan nasib HERO Swalayan, swalayan pertama di Kota Ende, yang tentunya lebih sepi dari masa kejayaannya. Bayangkan saja, dari arah Barat dia dikepung ROXY Swalayan, dari arah Timur dia dikepung Sinar Mas Toserba. Belum lagi StarMart yang masih berdiri kokoh sampai sekarang. Shine Mart sudah berganti menjadi Jessie Bakery. Benar saja. Dalam beberapa kali kesempatan, terutama menjelang hari raya, saya melintas di depan HERO Swalayan, parkirannya tidak sepadat ROXY Swalayan dan Sinar Mas Toserba. Bahkan pernah ... hanya dua sepeda motor diparkir di situ.


Tahun 2020 menjadi tahun yang paling menyakitkan untuk kita semua. Dunia perdagangan pun demikian. Diisukan Alfamart telah siap dibuka di Kota Ende. Tidak tanggung-tanggung, tiga lokasi sekaligus! Oh wow. Akhir tahun 2020, beberapa hari menjelang Hari Raya Natal, Alfamart pertama dibuka. Lokasinya di Jalan El Tari. HERO Swalayan dikepung dari arah ... Utara. Saat ini Aflamart di Jalan Ahmad Yani, dengan bangunan yang lebih besar, sudah siap dibuka pula karena saat melintas di situ saya melihat barang-barang sudah mulai dipajang di rak-rak pajangan. Saya mendengar banyak sekali pendapat. Ada yang bilang Alfamart bakal mematikan perekonomian para pedagang kecil, seperti kios-kios di kompleks perumahan. Ada yang suka Alfamart dibuka di Kota Ende, agar kota ini lebih terlihat kekinian, dan lain sebagainya.


Bagi saya, kehadiran Alfamart merupakan pecut bagi pedagang, juga pebisnis, di Kota Ende. Serius. 


Berkaca dari HERO Swalayan yang sampai saat ini masih berdiri kokoh meskipun dikepung dari tiga penjuru mata angin. Kalau berkaca dari HERO Swalayan terlalu tinggi, cobalah berkaca pada para pedagang papa lele di Pasar Mbongawani, Pasar Potulando, maupun Pasar Wolowona. Mama-mama pedagang cabe/lombok berjejer, tapi mereka tetap riang gembira saling mengobrol satu sama lain sambil menunggu pembeli. Ini hari saya pulang cepat ko. Kenapa? Saya punya anak lolos PNS nih, NIP sudah keluar, saya mau pergi belanja baju Korpri, kain keki, kemeja putih. Oiiih, selamat e! Sama halnya juga kios-kios dalam kompleks perumahan. Selama dunia perhutangan masih sah di Indonesia, selama itu pula kios-kios ini akan tetap berdiri gagah. Sebutir telur masih bisa dihutang di kios depan rumah loh. Bagaimana dengan toko-toko sembako di Jalan Pasar? Toko-toko itu merupakan toko dengan penjualan dalam hitungan partai besar maupun eceran. Mereka tidak akan pernah mati ... sampai kapan pun. Selama ... selama dunia perhutangan masih sah di Indonesia.


Kehadiran Alfamart harus menjadi pecut pagi pedagang/pebisnis lain/serupa. Misalnya HERO Swalayan; menurut saya pengelolanya harus lebih waspada akan stok barang yang dipajang di rak-rak pajangan. Suatu kali saya bertanya pada ponakan tentang bisnis bakery-nya. Di mana biasanya dia membeli bahan? Dia mengaku: biasa di ROXY atau Sinar Mas sih, Ncim. Itu yang saya herankan, karena antara dua swalayan itu, masih ada HERO. Kenapa tidak di HERO Swalayan? Dia membalas: beberapa bahan tidak tersedia di situ, Ncim, jadinya malas kalau harus bolak-balik ke toko lain. Jadi sekalian belanjanya di ROXY, atau di Sinar Mas. Komplit. Mungkin itu poinnya. Ketersediaan barang yang tidak lengkap. Menitik alasan utama saya dulu berbelanja bulanan di HERO Swalayan adalah karena nyaman dan praktis (karena semua kebutuhan tersedia di satu tempat belanja). Zaman sekarang orang-orang memang lebih suka sesuatu yang praktis. Berbelanja bahan cake, misalnya, tidak lucu kalau Blueband dibeli di HERO Swalayan sementara cokelat batangan Alfa terpaksa dibeli di ROXY Swalayan. Kalau ternyata Alfamart kemudian lebih lengkap menyediakan semua bahan cake, maka pilihan bisa jadi jatuh ke Alfamart.


Tapi sejauh ini saya melihat Alfamart, yang di Jalan El Tari, masih menyediakan barang-barang kebutuhan sehari-hari yang umum saja. Urusan bahan cake, entahlah. Sehingga, kalau saya mau mengambil kesimpulan dari tulisan hari ini, kehadiran Alfamart bukan menjadi ancaman bagi pedagang maupun pebisnis lain di Kota Ende.


Yang pertama: kebutuhan setiap orang itu berbeda-beda. Seiring dengan berjalannya waktu, masyarakat tentu tahu bahwa tidak semua kebutuhan hidupnya tersedia di Alfamart. Hutangan sebungkus gula, misalnya, tidak mungkin tersedia di Alfamart selain kios-kios kompleks perumahan. Ikan segar, misalnya, hanya tersedia di pasar tradisional dan pinggir jalan wilayah Ndao. Terakhir ke Alfamart di Jalan El Tari, toh saya tidak menemukan pampers khusus orangtua (untuk Mamatua) di sana. Jadi, balik lagi ke ROXY Swalayan. Hehe. Entah dengan Alfamart di lokasi lain. Nanti deh saya coba ke sana dan mencari kebutuhan khusus Mamatua. Melalui kebutuhan yang berbeda-beda ini, setiap pedagang/pebisnis harus mulai berbenah. 


Yang kedua: tingkat kenyamanan setiap orang itu berbeda-beda. Ada orang yang nyaman banget berbelanja di swalayan karena super sejuk, tinggal dorong kereta, mengambil barang, dan membayar di kasir. Tetapi ada orang yang lebih nyaman berbelanja di toko sembako, bersesakan dengan orang lain, menatap wajah Koko yang jarinya sibuk memencet tombol kalkulator, dengan keringat menetes di kening. Terlihat seksi, huh? Ada kenyamanan ketika harga yang keluar dari bibir Koko jauh lebih murah dari harga yang tercantum pada barcode barang di swalayan. Saya mengalaminya. Tepung Kompas itu ternyata jauh lebih murah di toko sembako ketimbang di swalayan. 


Yang ketiga: jalinan atau hubungan emosional itu juga berbeda-beda, misalnya hubungan emosional antara tetangga dengan pemilik kios dalam kompleks dan hubungan emosional antara pemilik kios dengan pemilik toko sembako di Jalan Pasar. Hanya dengan melihat tatapan mata kita yang kosong, pemilik kios tahu bahwa kita bakal ngutang sekotak teh Sari Wangi. Apalagi jika sebelumnya sudah dimulai dengan keluhan tentang biaya sekolah yang tinggi atau sepeda motor rusak sehingga uang simpanan terpaksa dibobol demi memperbaiki sepeda motor. Meskipun sering mengalami terlambat bayar oleh tetangganya, pemiliki kios di kompleks jauh lebih sabar menghadapi cobaan ini. Hahaha. Hubungan emosional itu mengalahkan segalanya.


Yang keempat: jaringan. Ya, jaringan pertemanan, jaringan komunitas, itu bisa menjadi sesuatu yang mempertahankan sesuatu pula. Oe, kau ni su tir pernah belanja di saya punya toko e! Aeeee tidak e, Ci, saya kemarin masih di luar kota jadi belum belanja untuk isi kios lagi. Kalian tentu tidak tahu bukan kalau pemilik toko sembako di Jalan Pasar bisa jadi dulunya teman kelas pemilik kios di kompleks perumahan.



Ngalor-ngidul menulis tentang dunia swalayan ini ... apa kesimpulannya, Teh?


Baca Juga: Sebenarnya Istilah New Normal Bukan Sesuatu Yang New


Kesimpulannya: welcome, Alfamart. Saya menyambut dengan sangat baik kehadiran Alfamart di Kota Ende, sama seperti saya menyambut baik kehadiran swalayan pertama: HERO Swalayan. Jika kita ingin bergerak maju, harus ada pesaing. Jika tidak, kita tidak bergerak maju melainkan jalan di tempat. Pecut adalah motivasi untuk melakukan inovasi agar dagangan kita juga laku, agar tempat belanja kita juga dikunjungi lebih banyak orang, agar roda perekonomian berputar tanpa macet. Jika ibu-ibu pedagang makanan online berlomba-lomba berinovasi menjual dagangannya di Facebook, masa iya kita 'kalah' hanya dengan hadirnya tiga Alfamart di Kota Ende? Harus tetap semangat dan optimis! Soal rejeki, pemilik semesta sudah mengaturnya. Tidak akan tertukar.


Cheers. 

Resolusi Sederhana Tahun 2021: Reduce, Reuse, dan Recycle

 


Resolusi Sederhana Tahun 2021: Reduce, Reuse, dan Recycle. Resolusi, kata yang paling sering ditemui saat pergantian tahun; sebelum maupun sesudah. Kata ini lebih sering ditulis atau disebut, melebihi jumlah rumah makan masakan Padang dan warung bakso di Kota Ende. Menurut KBBI, Resolusi adalah: resolusi/re·so·lu·si/ /résolusi/ n putusan atau kebulatan pendapat berupa permintaan atau tuntutan yang ditetapkan oleh rapat (musyawarah, sidang); pernyataan tertulis, biasanya berisi tuntutan tentang suatu hal: rapat akhirnya mengeluarkan suatu -- yang akan diajukan kepada pemerintah. Tapi itu defenisi resolusi menurut kamus. 


Baca Juga: Sebuah Catatan Akhir Tahun Untuk Saya, Kalian, Mereka


Didefenisikan secara lebih umum, resolusi merupakan suatu tindakan perubahan yang kita lakukan. Semua orang ingin mengubah apa pun dari yang kurang baik menjadi lebih baik. Pada tulisan saya berjudul Sebuah Catatan Akhir Tahun Untuk Saya, Kalian, Mereka, silahkan klik link di atas, dengan gamblang saya menulis tentang 3R. Revolution, Responsibility, Reborn. Mengutip tulisan tersebut,


It's like make a resolution, do revolution, then. Dalam arti yang sesungguhnya, revolusi adalah perubahan sosial dan kebudayaan yang berlangsung secara cepat dan menyangkut dasar atau pokok-pokok kehidupan masyarakat. Di dalam revolusi, perubahan yang terjadi dapat direncanakan atau tanpa direncanakan terlebih dahulu dan dapat dijalankan tanpa kekerasan atau melalui kekerasan. Dalam kehidupan saya sepanjang 2019, revolusi terjadi dengan satu cara saja yaitu tanpa kekerasan. Saya menyebutnya revolusi hidup. Saya pikir semua orang pasti punya revolusi hidup. 


Pertanyaan besarnya adalah sekeras apa kita berjuang untuk mewujudkan resolusi tersebut? Mungkinkah saya, kalian, mereka, hanya ikut-ikutan membikin daftar panjang tentang resolusi untuk kemudian melupakannya sepanjang tahun berjalan? Nanti, saat menjelang akhir tahun, kita baru akan kembali mengingat resolusi tersebut. Ah, ternyata semua resolusi saya tidak berjalan tahun ini. Ah, sepanjang tahun ini saya terlalu membuang waktu. Ah, ternyata resolusi untuk mengurangi makanan berlemak dan lebih rajin mengunjungi panti asuhan hanya coretan di atas kertas. I do. Haha. Maksud saya, resolusi seabrek bukan jaminan akan dilaksanakan. Tapi, resolusi tetaplah resolusi yang dibikin oleh hampir semua orang karena resolusi merupakan motivasi.


Tahun 2020 saya menulis resolusi 3R: Revolution, Responsibility, dan Reborn. Tahun 2021 resolusi saya masih 3R juga: Reduce, Reuse, Recycle. Resolusi yang sederhana.


Reduce


Reduce dikenal dalam dunia persampahan sebagai aksi mengurangi sampah. Secara umum, reduce berarti mengurangi. Apa yang harus saya kurangi? Seperti garis besar resolusi: mengurangi yang buruk, memperbanyak yang baik. Tentu dalam semua aspek kehidupan. Sebagai seorang alien manusia, sama seperti kalian, Kebiasaan hidup saya tidak pada ranah baik semata. Ada tidak baiknya juga. I mean, kebiasaan menunda pekerjaan bukanlah kebiasaan yang baik bukan? Oleh karena itu pada tahun 2021 saya harus mengurangi kebiasaan menunda pekerjaan. Kalian mungkin kaget membacanya. Iya, jujur saja, saya memang sering menunda pekerjaan gara-gara keseringan nge-game. Hahaha. Selain itu saya juga harus mengurangi kebiasaan: terlalu ngebut saat mengendarai sepeda motor, dan terlalu sering 'lapar malam'. Berat, memang, tapi harus berusaha. 


Reuse


Reuse dikenal dalam dunia persampahan sebagai aksi menggunakan kembali sesuatu barang untuk menekan jumlah sampah. Mantan juga di-reuse? Hahaha. Anyhoo, reuse dalam resolusi saya lebih bermakna pada sesuatu yang digunakan kembali dalam perspektif positif. Sesuatu itu tidak selamanya berbentuk barang, bisa juga peristiwa. Untuk barang, misalnya, saya akan lebih memilih memakai pakaian yang lama ketimbang membeli yang baru. Kalian tahu ... industri pakaian termasuk penyumbang sampah terbesar di dunia dan termasuk industri yang menyedot begitu banyak air bersih. Sedangkan untuk peristiwa, salah satunya tentu saya akan menggunakan kembali kalimat-kalimat nasihat baik yang sama untuk Indra, Thika, dan Melly. Kebaikan harus berulang.


Recycle


Recycle dikenal dalam dunia persampahan sebagai aksi mendaur ulang sesuatu yang dianggap sampah agar dapat dipakai kembali. Mantan mungkin bisa didaur-ulang. Hahaha. 



Tahun 2021 saya tidak berani menulis resolusi: rajin nge-blog. Saya hanya berani menulis: tetap nge-blog. Karena menulis merupakan remedy. Kuantiti-nya tergantung kondisi. Bagaimana dengan tema harian nge-blog? Saya akan berusaha untuk tetap bisa melakukannya meskipun seperti yang sudah saya bilang, pekerjaan semakin membludak ditambah usaha @tuteh Stik Keju hahaha. Insha Allah.


Baca Juga: 5 Buku Self Improvement yang Wajib Kalian Baca


Ya ya ya, resolusi sederhana saya di tahun 2021. Semoga terwujud. Pada hakekatnya semua orang yang hidup di muka bumi ini ingin selalu bisa melakukan yang terbaik baik bagi dirinya maupun bagi orang lain. Dan itu dilakukan setiap hari. Tidak dilihat dalam skala tahun (resolusi). Masa iya untuk berbuat baik kita menunggu atau tergantung resolusi? Berbuat baik atau melakukan sesuatu yang lebih baik merupakan kewajiban umat manusia.


Semoga!


Cheers.

Benarkah Hanya Ada 4 (Empat) Bulan Sepanjang Tahun 2020?

 


Benarkah Hanya Ada 4 (Empat) Bulan Sepanjang Tahun 2020? A-ha. Ouwyess baby, orang-orang menulisnya demikian. This is 2020, the year where you only meet January, February, Covid-19, and December. Akhir Desember 2019 Covid-19 datang. Januari dan Februari 2020 Covid-19 menyebar dan menyerang penjuru dunia. Dan ... blep. Lebih tepatnya ceklik. Pintu ditutup. Jangankan orang-orang yang berada di zona merah, saya yang berada di zona hijau (pernah menjadi zona merah tapi lantas kembali hijau) pun ketar-ketir setengah mampus. My God, is this end of the world? Proteksi diri lebih ketat. Bahkan kalau hand sanitizer dan disinfektan boleh diminum, sekalian saja saya minum. Kemudian, kita bertemu Desember. Bulan terakhir, bulan penuh harapan, bulan dimana secara pribadi saya ingin percaya bahwa Covid-19 benar-benar telah enyah dari muka bumi.


Baca Juga: Beli Gitar Itu Kayak Cari Calon Suami Harus Yang Nyaman


Desember datang. Semua orang bergembira. Dan Covid-19 masih ada. Ini seperti suami nge-prank isteri.


Suami: Mam, mulai bulan depan duit belanja Papa naikin seratus persen!

Isteri: *Syok*

Suami: Tapi bo'ong.

Isteri: *Pingsan* 


Awal Maret 2020 saya masih bisa bergembira bersama semua teman karyawan/i di Uniflor, terutama saat menerima SK naik jabatan menjadi Kabag Publikasi dan Dokumentasi dari UPT Publikasi dan Humas Uniflor. Kakak Rossa diangkat menjadi Kabag Humas dari  UPT Publikasi dan Humas Uniflor. Naik jabatan, naik gaji, naik pula tanggungjawab pekerjaan. Insha Allah dapat mengemban amanat yang besar tersebut. 


Actually, tidak ada yang betul-betul berbeda di tahun 2020 selain kampus sempat diliburkan selama sekitar 3 (tiga) bulan dimulai pertengahan Maret 2020. Yeeeaaayyy. Tapi dosen dan karyawan menjalankan work form home. Batal yeeeaaayyy. Karena waktu libur itu berkaitan dengan masa-masa promosi kampus, masa-masa dimana kami harus mampu menjaring sebanyaknya mahasiswa sesuai rasio jumlah dosen, maka work from home adalah real work from home. Bangun pagi-agak-kesiangan langsung menyalakan laptop, membikin video promosi program studi, mengunggah video ke Youtube, menyebar ragam informasi secara gila-gila'an sampai memasang iklan di Facebook, mengecek statistik iklannya, menanggapi WAG Tim Promosi, sampai pertemuan melalui aplikasi Zoom Meeting. That was really really really work from home. Oh ya, awal tahun 2020 kami malah sempat promosi kampus ke beberapa SMA di Kabupaten Nagekeo area Kota Mbay dan Marapokot.


Sistem piket dimulai dimana selama seminggu saya mendapat jatah piket di ruang kerja sebanyak 2 (dua) kali. Gara-gara ada lagi pasien Covid-19, kami kembali diliburkan. Sistem piket pun bubar. Haha, bukannya tertawa di atas penderitaan orang lain, but I like it. Tapi cuma beberapa minggu. Seperti kalimat: tidak kerja, tidak makan. Maka ketika new normal diberlakukan, kami pun menjalaninya sampai hari ini. Dan yeaaa, setelah Februari ada Maret, April, Mei, Juni, Juli, Agustus, September, Oktober, November, dan Desember. Bulan-bulan dimana pesta pernikahan berlangsung meriah (di Kota Ende) dan salah satunya pesta pernikahan keponakan saya Kiki Abdullah dan Solihin. Pernikahan, terutama pesta pernikahan, di tahun 2020 sungguh menjadi sorotan publik. Jika ada pasien Covid-19 setelah pesta pernikahan, maka pesta pernikahan itu menjadi bulan-bulanan warga hahaha. Seketat apapun protokol kesehatan yang diterapkan oleh tuan pesta. Untungnya belum ada pasien Covid-19 gara-gara pesta pernikahan. 


Juli 2020, Uniflor menggelar wisuda yang tertunda. Wisuda yang seharusnya dilaksanakan pada April 2020 terpaksa mundur jauh ke Juli. Wisuda dilaksanakan secara daring melalui aplikasi Zoom Meeting. Saya sedih. Kucir mahasiswa dipindah oleh orangtua masing-masing di rumah masing-masing, bukan oleh Rektor. Kata Rektor Uniflor, hal tersebut dapat dilaksanakan oleh orangtua karena wisudawan/i sudah mengikuti yudisium sebagai momen resmi mereka meraih gelar Sarjana. Wisuda kedua di tahun 2020 agak lebih fleksibel karena 14 (empat belas) mahasiswa cum laude boleh mengikuti wisuda secara luring. Yang lainnya, tetap secara daring.


Saya tidak ingat kapan tepatnya, sekitar Juni atau Juli saya sudah dapat pergi ke kota lain terutama Kota Mbay. Pertama-tama tentu untuk urusan pekerjaan di mana saya harus merekam ucapan selamat ulang tahun Uniflor dari Bupati Nagekeo. Ada pula berbagai liputan peneltian dan pengabdian masyarakat baik di Kota Mbay maupun di wilayah Kabupaten Ende seperti Desa Randotonda. Saya juga menjadi tester (orang yang mengetes) homestay rumah adat yang dikelola oleh Pokdarwis Rendo Ate di Dusun Rada'ara. Silahkan baca postingan Rada'ara: Pesona Dusun Wisata Budaya. Iya, itu di blog sebelah. Saya masih bisa mendapat jatah di beberapa homestay. Next year, maybe.


Lalu Oktober pun datang. Bulan di mana rencana foto prewedding Kiki dan Solihin harus dilaksanakan. Di mana? Di Kota Mbay dan sekitarnya! Lagi-lagi Kota Mbay. Foto-fotonya keren, dipakai untuk undangan pernikahan baik undangan cetak maupun undangan video. Dan pernikahan dilaksanakan pada November 2020. Ada pestanya? Ya. Ada. Menjadi sorotan? Mungkin. Saya tidak tahu persis. Yang jelas kami berusaha pesta pernikahannya dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Anyhoo, untuk souvenir pernikahan itu saya membikin sabun-sabun mini. Di Kota Ende, souvenir pernikahan umumnya berbentuk kipas, gantungan kunci, pin, talenan mini, dan lain sebagainya. Ketika ada teman yang tahu saya membikin sabun mini mereka protes. Dengan sangat elegan saya menjelaskan:


Sabun mini sebagai souvenir pernikahan pada masa pandemi Covid-19 bermakna dalam. Pertama, sabun ya sabun, dapat dipakai untuk mencuci tangan. Ya souvenir sabun itu benar berfungsi layaknya sabun. Kedua, makna/filosofi sabun di masa pandemi Covid-19 ... kalian harus rajin cuci tangan huh? Ketiga, ada fakta sabun, berupa kartu mini, yang disertakan bersama sabun mini itu. Soooo what's wrong with this souvenir?


Yang salah adalah bentuknya yang super cute, warnanya yang menggoda, sehingga ada anak kecil yang memakannya.


Mati ketawa.


Pernikahan Kiki dan Solihin berjalan mulus pada 28 November 2020. Alhamdulillah.


Baca Juga: Pembagian 100 Sampel Hand Sanitizer Sampai Social Distancing


Meluncur ke Desember. Kami merayakan ulangtahun Mamatua dengan riang gembira. Kampus diliburkan sejak tanggal 23 Desember 2020 sampai 2 Januari 2021. Ya, kembali beraktivitas pada tanggal 4 Januari 2021. Masih ada seminggu hari libur, entah apa yang akan saya lakukan ke depan. Jalan-jalan ... mungkin. Tapi yang jelas usaha stik keju menjadi sangat boombastis. Itulah salah satu alasan kesibukan saya selama ini. Saya punya resep istimewanya, punya tenaga dan waku, punya orang-orang yang siap mendukung, kenapa tidak teruskan saja usaha stik keju ini? Selama semua pelanggan mengatakan rasanya enak dan ketagihan ... mari jalan terus. 


Kesimpulannya, tahun 2020 sama seperti tahun lainnya. Ada 12 (dua belas) bulan dan semuanya kita lalui, kita isi, dengan berbagai ketigatan. Kita belajar banyak hal baru di tahun 2020. Dan berterimakasihlah pada semua pengalaman baru di tahun 2020.


#SeninCerita

#CeritaTuteh


Cheers.

Trevor Noah Si Komedian Yang Mencuri Semua Perhatian Saya

 

Sumber foto: Press.Cc.Com

Trevor Noah Si Komedian Yang Mencuri Semua Perhatian Saya. Sudah lama sekali saya tidak memperbarui tulisan di blog ini. Rasanya basi kalau lagi-lagi alasannya karena kesibukan meskipun yaaaa memang itulah alasannya. Melihat statistik pengunjung/pembaca blog ini, saya mengucapkan terima kasih. Kalian baik. Masih mau datang ke sini, masih mau membaca pos demi pos, terutama yang berkaitan dengan pos rangkuman seperti 5 manfaat, 5 tips, 5 ini-itu, dan sejenisnya, yang selalu berdasarkan pengalaman pribadi. Ada banyak peristiwa yang terjadi baik dalam lingkungan keluarga maupun lingkungan pekerjaan (kampus) seperti membikin sabun untuk souvenir di pernikahan keponakan dan peresmian patung Sang Visioner. Tapi hari ini izinkan saya menulis tentang seorang komedian bernama Trevor Noah.


Baca Juga: Eko Poceratu Nyong Maluku Yang Mendunia Melalui Puisi


Siapa Trevor Noah? Dan kenapa dia mencuri semua perhatian saya? Yuk dibaca.


Trevor Noah


Trevor Noah lahir di Johannesburg, Afrika Selatan, pada tanggal 20 Februari 1984. Selain sebagai seorang komedian dia juga dikenal sebagai pembawa acara televisi, produser, penulis, komentator politik, dan aktor. Dia adalah pembawa acara The Daily Show, program berita satir Amerika di Comedy Central. Sejak tahun 2002 dia menjadi pembawa acara (Perusahaan Penyiaran Afrika Selatan|SABC) dan menjadi runner-up di musim keempat Iterasi Strictly Come Dancing di Afrika Selatan pada tahun 2008. Dari tahun 2010 hingga 2011, ia bertindak sebagai pencipta dan pembawa acara talk show larut malam Tonight with Trevor Noah, yang disiarkan di M-Net dan DStv. Setelah karir stand up comedy-nya mencapai kesuksesan internasional, Trevor mulai muncul di acara bincang-bincang larut malam Amerika dan acara panel bahasa Inggris. Pada tahun 2014, Trevor menjadi Koresponden Internasional Senior untuk The Daily Show, dan tahun berikutnya, ia menggantikan pembawa acara lama Jon Stewart, dan ditetapkan untuk tetap di posisi ini hingga 2022. Buku komedi otobiografinya Born a Crime diterbitkan pada tahun 2016 dan mendapat pujian kritis. 


Noah telah menerima berbagai penghargaan, termasuk kemenangan Primetime Emmy Award dari sembilan nominasi. Dia dinobatkan sebagai salah satu dari "35 Orang Paling Kuat di New York Media" oleh The Hollywood Reporter pada tahun 2017 dan 2018. Pada tahun 2018, majalah Time menobatkannya sebagai salah satu dari 100 orang paling berpengaruh di dunia


Dan ya, itu yang diinformasikan oleh Wikipedia. Hehe. Informasi lengkap soal lelaki cerdas yang satu ini dapat kalian peroleh juga di situs resminya Trevor Noah.


Komedi Cerdas


Saya pernah membahas seorang komedian bernama James Veitch yang menurut saya sangat cerdas. Tidak dapat membandingkan antara komedian yang satu dengan yang lain, tapi Trevor merupakan komedian cerdas lainnya yang saya temukan di Youtube. Seperti saya menemukan James Veitch dan Gabriel Iglesias. Trevor membicarakan semua hal. Politik? Itu pasti. Bagaimana dia berbicara tentang Donald Trump, Jacob Zuma, dan Kim Jong-un, membikin penontonnya meledak dalam tawa, termasuk saya. Isu-isu di dunia politik itu dibalut kehidupan percintaan misalnya antara Melania dan Donald Trump. Haha. Atau tentang pandangan Kim Jong-un terhadap Donald Trump yang you know lah. Atau tentang rasisme yang terjadi hampir di semua negara. Dia mengkaitkan antara satu isu dengan isu lainnya melalui kabel konektor yang sangat halus.


Trevor juga seorang impressionist andal. Tidak saja dalam perilaku tetapi juga mampu meniru berbagai aksen dari seluruh dunia. Lagi-lagi saya terbahak-bahak mendengar dia menirukan aksen orang Rusia. Katanya, aksen orang Rusia itu begitu mengintimidasi dan terdengar sangat berbahaya meskipun mereka hanya berbicara hal-hal biasa atau romantis. Dan ya, dia mencontohkannya dengan sangat sempurna. Bagaimana dia menggambarkan skenario percakapan antara Barack Obama dengan Nelson Mandela, itu sungguh luar biasa. Bagaimana dia menggambarkan skenario percakapan antara Melania dan Donald Trump, itu sungguh bakal bikin otak kalian juga ikutan ngakak di dalam sana. Bagaimana dia membandingkan antara announcer bandara di negara lain dengan di Afrika Selatan, duuuuh ... sudahlah, jangan sampai saya terhibur dan tertawa sendiri. 


Kalian juga harus menonton Trevor Noah. Banyak videonya di Youtube. Atau, sekalian saja subscribe akun Youtube-nya.


⇜⇝


Beberapa hari terakhir saya sejenak absen dari Upin Ipin, Larva, Shaun the Sheep, Zig and Sharko, hingga Oggy and the Cockroaches. Semua gara-gara Trevor Noah. Saya melahap habis semua videonya di Youtube, terbahak-bahak, bahkan sampai heboh bercerita pada Indra Pharmantara tentang gaya dia mencontohkan annoucer bandara. Karena bagi saya hal bagus harus diceritakan pada orang lain. Energi positif itu harus tertularkan pada orang lain. Termasuk kalian yang hari ini membaca pos tentang Trevor Noah. Come on, hiburlah diri sendiri karena kita sudah cukup lama dihantui oleh Covid-19. Hehe.


Hope you enjoy, it!


#SabtuReview


Cheers.

Beli Gitar Itu Kayak Cari Calon Suami Harus Yang Nyaman

 


Beli Gitar Itu Kayak Cari Calon Suami Harus Yang Nyaman. Sejarah panjang saya dan dunia musik pada akhirnya tiba pada konklusion bahwa saya hanya bisa memainkan satu alat musik yaitu gitar. Catat: gitar akustik. Padahal dulu, waktu perangkat band keluarga (Jemiri Band) belum dijual, saya mencoba menabuh drum secara otodidak dan mencoba memainkan orgen. Kalian pun jangan berpikir ketinggian bahwa saya jago memainkan gitar kayak musisi-musisi keren Indonesia. Tidak, saya belum sampai pada tahap itu karena kunci yang dikuasai pun baru yang paling dasar. A, B, C, D, E, F, G dengan tambahan Am, Em, Bm, Dm, Fm, sedangkan Cm masih bikin saya garuk kepala. Hahaha. Setidaknya saya bisa mengiringi diri sendiri bernyanyi, dan tentu saja Mamatua! Hyess, Mamatua suka banget menyanyikan lagu Teluk Bayur.


Baca Juga: Sakit Hati Berujung Maut Yang Menggemparkan Tanah Ende


Sejarah panjang saya dengan gitar pun ngeri-ngeri sedap. Hehe. Pertama beli gitar di Toko Sahabat, bertahun-tahun lampau (saya lupa tahun berapa pokoknya sudah lama banget). Asal membeli, yang penting punya gitar. Gitarnya kemudian rusak dan lantas diperbaiki sama Noel Fernandez, dicat kuning, ditempeli stiker. Gitar yang usianya sudah bermusim-musim itu akhirnya saya ikhlaskan tidak lagi berada di Pohon Tua (nama rumah kami). Sekian lama saya hanya bisa meminjam gitar pada Akim Redu dan Violin Kerong. Gara-gara meminjam gitar itulah saya jadi tahu perbedaannya. Ha? Apanya yang beda?


Gitar yang dipinjamkan Akim itu berbodi besar, sama dengan gitar lama saya, dengan neck panjang/normal. Ingat ya, ini gitar akustik. Lanjut, sedangkan gitar yang dipinjamkan Violin itu berbodi lebih kecil dan sangat nyaman ketika memainkannya. Pelukannya mantap jiwa. Kemudian saya pergi ke Kedai Kampung Endeisme di mana gitar yang disediakan di sana, untuk dimainkan pengunjung, berbodi lebih ramping dan tingkat kenyamanannya lebih tinggi dari pada saat memainkan gitar milik Violin. Sejak saat itu saya berjanji pada diri sendiri bahwa suatu saat akan membeli gitar berbodi kecil dan ramping dengan neck pendek. Kenapa lebih suka neck pendek? Pertama, agar jangkauan tangan saya tidak perlu sampai bikin otot pegal. Kedua, tidak perlu memakai bantuan capo yang dipasang pada fret yang merupakan bagian dari neck gitar.


Malam Minggu kemarin impian saya terwujud. Sepulang dari kampus saya menuju Jalan Melati lokasi Toko Abdee Acoustic. Bersama Akim dan tiga saudaranya (gengs, beli gitar saja bawa pasukan) saya mulai memilih gitar yang dijual di sana. Sumpah, saya sampai bingung mau gitar yang mana hahaha. Berdasarkan jenis gitar yang saya mau, dan rekomendasi saudara-saudaranya Akim, saya pun membeli sebuah gitar dengan warna kayu natural berukuran sedang. Transaksi itu terjadi setelah saya mencoba tiga buah gitar. Tingkat kenyamanan memang beda-beda. Dan akhirnya saya berhasil membeli gitar yang satu ini:



Belum sempat mencabut stiker harganya pula hahaha. Oh ya, harganya Rp 950K ditambah tas gitar totalnya Rp 980K. Melihat itu, saudaranya Akim membisik: kan tinggal sedikit dapat Yamaha yang 1,5Juta, Kak! Hmmm. Beberapa ratus ribu ini bisa buat makan serumah dua mingguan. Ha ha ha. 


Baca Juga: Bertumbuh dan Berkembang Bersama Universitas Flores


Apa pelajaran dari pos hari ini? Ya itu, beli gitar itu kayak cari calon suami. Harus yang nyaman. Hahaha. Kalau tidak nyaman, mainnya tidak enak (gitarrrrr, main gitarrrrr). Saya membeli gitar memang berdasarkan pengalaman pribadi. Karena gitar yang dibeli bakal menjadi sahabat bermusik sehari-hari jadi memang harus pilih yang nyaman. Sejauh ini (baru tiga hari) saya memainkannya, rasanya nyaman-nyaman dan enak-enak saja. Demikian pula dengan calon suami, setidaknya ada kenyamanan ketika bersamanya. Uiiiihhhh bahasanya hahaha.


Selamat gitaran!


Cheers.

Makna Kehidupan di Tengah Pandemi oleh Agustinus Tetiro

 


Makna Kehidupan di Tengah Pandemi oleh Agustinus Tetiro. Membaca buku masih menjadi kebiasaan, budaya, yang sulit lepas dari diri saya pribadi. Di tengah terjangan video-video Youtube, buku masih punya porsi besar dalam kuadran hidup saya yang penuh warna ini. Meskipun gemar menulis cerita cinta tapi sejujurnya saya bukan penggemar buku dengan cerita cinta awut-awutan. Dari buku-buku fiksi saya menggilai keruwetan Deception Point karya Dan Brown, atau hasil khayalan tingkat tingginya J. K. Rowling dalam Harry Potter. Dari buku-buku non-fiksi saya terhipnotis pada kisah nyata penuh perjuangan dalam Between a Rock and a Hard Place yang ditulis oleh petualang bernama Aron Ralston. Sedangkan buku-buku non-fiksi lainnya berjenis self improvement, tentu kalian tahu tentang Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat oleh Mark Manson atau The Secret of Ikigai yang ditulis Irukawa Elisa.


Baca Juga: 5 Buku Self Improvement yang Wajib Kalian Baca


Baru-baru ini seorang teman Facebook bernama Gusti Adi Tetiro meluncurkan sebuah buku berjudul Makna Kehidupan di Tengah Pandemi dengan tagline Meditasi Bersama Viktor Emil Frankl. Kalian pasti tahu apa yang berkecamuk di dalam pikiran saya kan? Haha. Saya harus membaca buku yang satu ini! Alhamdulillah, Rabu kemarin buku ini tiba di tangan saya melalui kakak ipar Om Gusti. Anyhoo, saya memanggilnya dengan embel-embel 'Om', bukan karena kami berhubungan darah, bukan karena dia menikah dengan Tante saya, tetapi panggilan 'Om' merupakan suatu bentuk penghormatan yang membumi dalam prinsip hidup saya meskipun yang bersangkutan mungkin jauh lebih muda usianya. Sesederhana itu.


So, let's talk about the book.


Makna Kehidupan di Tengah Pandemi


Makna Kehidupan di Tengah Pandemi ditulis oleh Agustinus Tetiro a.k.a. Gusti Adi Tetiro (Facebookers lebih mengenalnya dengan nama ini). Dengan jumlah halaman 103, buku ini diterbitkan oleh Penerbit Ikan Paus. Menarik. Penerbit Ikan Paus beralamat di Pulau Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Dengan memperkenalkan perjalanan panjang cikal bakal buku ini disusun, pembaca jadi tahu seperti apa lingkungan pergaulan si Penulis. Menurut saya Om Gusti termasuk dalam kelompok logophile yang super filosofis. Well, buku ini dijual dengan harga Rp 70.000.


Viktor Emil Frankl dan Logoterapi 


Seperti tagline-nya, pada awal buku ini pembaca diperkenalkan dengan seorang neurolog dan psikiater bernama Viktor Emil Frankl yang juga merupakan korban Holocaust. Dia adalah pendiri Logoterapi dan Analisis Eksistensial dalam psikoterapi. Buku yang ditulis olehnya berjudul Man's Search for Meaning yang memuat pengalamannya saat menjadi tahanan kamp konsentrasi di mana dia menguraikan metode psikoterapinya dalam upaya mencari makna dalam segala bentuk keberadaan, bahkan yang paling kelam sekalipun. Kita harus tetap hidup! Berapa banyak orang di dunia semacam Viktor Emil Frankl? Holocaust itu tragedi kemanusiaan paling brutal dan dia berupaya untuk bertahan dengan cara 'mencari makna hidupnya sendiri'. It's a wow. Singkatnya Logoterapi memadukan atau mendampingkan antara fisik, psikis, dan spiritual seorang manusia.


Menurut Om Gusti (2020, 38), Logoterapi mempunyai beberapa sifat khas. Pertama, logoterapi menekankan pentingnya kehendak untuk bermakna. Kedua, logoterapi menuntut kesadaran dalam penemuan makna hidup manusia. Ketiga, dalam kaitannya dengan waktu, logoterapi melihat masa lampau secara kreatif sebagai bahan pembelajaran yang inspiratif dan tidak pernah sebagai bayangan yang membelenggu. Masa sekarang dan masa depan adalah titik tolak dan tujuan logoterapi. Harapan di masa depan mesti menarik orang untuk mengisi hidup semakin baik dari demi hari. 


Kalimat Kunci


Saya membaca Makna Kehidupan di Tengah Pandemi dengan sangat antusias. Tentu tidak mungkin semua isi buku saya kutip di sini. Hahaha. Tapi sepanjang membaca buku ini saya menemukan kalimat kunci yang pasti akan membikin kalian tertarik ingin membacanya juga.


Hanya orang yang mempunyai pikiran positif bahwa hidupnya bermaknalah yang mau mengikuti protokol kesehatan. (Agustinus Tetiro, 2020:82).


We can't argue with that. Di tengah pandemi Covid-19 yang membabi-buta ini, Om Gusti mengajak kita untuk berpikir tentang makna. Makna hidup setiap orang tentu berbeda. Tapi setiap orang tentu ingin tetap bertahan di tengah pandemi Covid-19, dan kalau beruntung bisa menerobosnya dan menggapai segala cita-cita dan harapan. Badai ini begitu besar. Seperti kalimat kunci di atas, hanya orang yang mempunyai pikiran positif bahwa hidupnya bermaknalah yang mau mengikuti protokol kesehatan. Bukan, mereka bukan orang-orang yang takut mati karena kematian itu selalu mengejar umat manusia. Ini menjadi kalimat kunci saya dari buku Makna Kehidupan di Tengah Pandemi.


Jadi, di tengah pandemi Covid-19 maukah kita menyia-nyiakan hidup kita dengan meninggalkan protokol kesehatan? Masihkah kita mengata-ngatai orang yang patuh pada protokol kesehatan dengan istilah si takut mati? Masihkah kita bilang orang-orang yang patuh pada protokol kesehatan adalah orang-orang yang menderita sampai-sampai tidak lagi menikmati hidupnya? Haha. Kita keliru! 


Mungkin kalian pun bakal bertanya, memangnya ada makna dalam penderitaan? 


Pada saat penderitaan itulah seseorang sebenarnya diberi kesempatan (terakhir) untuk mengaktualisir nilai tertinggi dan mengisi makna terdalam dari eksistensinya, yaitu makna kehidupan yang ditemukan melalui penderitaan seperti Covid-19. (Agustinus Tetiro, 2020:89).


Kalau Viktor Emil Frankl bukan orang yang kemudian menemukan makna hidup di tengah ganasnya Holocaust, maka dia tidak akan melahirkan logoterapi. Jika kita bukan orang yang bisa bertahan dalam pandemi Covid-19 (dengan memperketat protokol kesehatan yang sesederhana itu), maka kelak kita tidak akan punya cerita, kelak kita tidak akan bermakna, kelak kita hanya dikenal sebagai orang-orang pasrah yang miskin harapan dan cinta.



Baca Juga: Kalau Begitu Marilah Kita Coba Mendaki Tangga Yang Benar


Akhirnya saya harus berterima kasih pada Om Gusti yang telah menulis buku ini. Sangat membuka wawasan dan salah satu self improvement yang penting untuk kita semua. Saya juga harus berterima kasih kepada Kakak Irma Pello yang telah memediasi (hayaaaaah, bahasanya, Teh) sehingga buku ini bisa tiba di tangan saya. Bagi kalian yang belum membaca buku ini, mari dibaca. Saya jamin, kalian pasti suka dengan buku ini. 


Selamat menikmati akhir pekan, kawan.


Cheers.