Pulau Komodo Trip : Tips Sewa Kapal Murah dari Labuan Bajo

Pulau Komodo Trip : Tips Sewa Kapal Murah Dari Labuan Bajo

Live on Board (LOB) is one my precious moment in my life. Apalagi dimulai dari Labuan Bajo dilanjutkan dengan mengelilingi Kepulauan Komodo seperti Pulau Kelor, Pulau Rinca, Pulau Padar, Pink Beach, Gili Lawa dan Pulau KanawaThe best experience in 2017

Setelah 3 Hari 2 Malam mengarungi laut lepas di kepulauan Komodo, pengalaman ini tak akan terukir jika tidak ada transportasi yang membawa kami, 7 orang penuh kegilaan ini, ke seluruh best spot di Komodo Sailing Trip ini. Banyak sekali yang menanyakan apa yang harus dilakukan sebelum melakukan trip ke kepulauan Komodo, dan jawaban saya persiapkan Sewa Kapal selama LOB beberapa hari. Why? Kenapa harus mempersiapkan sewa kapalnya? Karena makan, tidur, mandi, dan seluruh aktivitas akan dilakukan di atas kapal. So, that's why saya menyarankan untuk mempersiapkan ini terlebih dahulu. Hal kedua adalah open trip, namun biasanya open trip ini bisa menyatu dengan sewa kapal.

Pulau Komodo Trip : Tips Sewa Kapal Murah Dari Labuan Bajo

Beruntung saya dan teman-teman bersama Be Borneo Tour dengan Kapal KM Karunia Ilahi mengarungi lautan selama beberapa hari dan saya menyatakan kepuasan lahir batin bersama tour ini. Biasanya di dalam kapal dalam waktu beberapa hari membuat saya home sick, namun tidak pernah terpikir sekalipun untuk kangen rumah atau masakan rumah, karena suasana dalam kapal memang sangat nyaman untuk bercengkrama satu sama lain bahkan untuk ngobrol ngalor-ngidul dengan teman-teman. 

Kenapa bisa akrab? Apa yang menyatukan kami dengan kru kapal? Salah satunya karena sinyal provider yang susah didapatkan sehingga dengan sendirinya kami akan membunuh waktu dengan melakukan aktivitas menyatu dengan teman dan alam. Selain aktivitas dalam kapal, banyak aktivitas lain yang menyenangkan seperti trekking, snorkeling, berburu komodo, berenang, mancing, selfie, bermain dengan unicorn dan masing banyak lainnya.



Apa saja sih tips yang dilakukan dalam memilih Sewa Kapal dari Labuan Bajo ke Kepulauan Komodo? 

Mudah Dihubungi

Biasanya banyak sekali sewa kapal yang tidak merespon dalam jangka waktu yang lama misalnya 2 minggu, sehingga sangat sulit memastikan. Oh iya biasanya jika tidak bisa dihubungi 1 atau 2 hari masih wajar karena di kepulauan Komodo terdapat beberapa wilayah yang tak terjangkau sinyal.

Memiliki Rute Dan Informasi Yang Jelas

Beberapa penyedia sewa kapal kadang tidak menjelaskan rute atau paket yang ditawarkan sehingga membingungkan bagi penyewa kapal sehingga kemungkinan terjadi miss communication sangat besar. 

Jenis Kapal Dan Jam Terbang 

Walaupun sepele namun jenis kapal dan segala fasilitas perlu diketahui oleh calon penyewa. Disamping itu jam terbang kru pun harus diperhatikan karena perjalanan di tengah lautan lepas membutuhkan pengalaman kru kapal. 

Pulau Komodo Trip : Tips Sewa Kapal Murah Dari Labuan Bajo

Pulau Komodo Trip : Tips Sewa Kapal Murah Dari Labuan Bajo

Dari banyak kategori, saya menyarankan untuk menyewa kapal di komodo.web.id  dengan pilihan dua kapal yaitu KM Komodo dan KM Karunia Ilahi. . Sedangkan   

KM Komodo

KM Komodo dengan kapasitas 5 orang cocok untuk keluarga kecil atau liburan bersama teman-teman.

Pulau Komodo Trip : Tips Sewa Kapal Murah Dari Labuan Bajo
Kapal (KM) Komodo

Pulau Komodo Trip : Tips Sewa Kapal Murah Dari Labuan Bajo
Tempat Santai dan Makan

Kamar Tidur 

KM Karunia Ilahi 

KM Karunia Ilahi merupakan kapal medium dengan kapasitas 8 orang sehingga cocok bagi keluarga cukup besar. Kapal ini merupakan kapal terbaru milik Be Borneo Tour dan beroperasi sejak Agustus 2017. 

Pulau Komodo Trip : Tips Sewa Kapal Murah Dari Labuan Bajo

Pulau Komodo Trip : Tips Sewa Kapal Murah Dari Labuan Bajo

Pulau Komodo Trip : Tips Sewa Kapal Murah Dari Labuan Bajo

Dan, setelah menemukan sewa kapal, hal keduanya adalah apakah penyedia kapal tersebut menyediakan open trip. Biasanya sewa kapal membutuhkan banyak orang, apabila hanya satu atau dua orang saja, maka sebaiknya ikut dengan open trip yang biasanya disediakan. 

Be Borneo Tour juga menyediakan open trip dengan banyak pilihan yaitu 2 Hari 1 Malam, 3 Hari 2 Malam dan 4 Hari 3 Malam.Sedangkan paket yang saya ikuti adalah 3 Hari 2 Malam. Kemudian tempat apa saja yang dikunjungi dan aktivitas apa saja yang kami lakukan selama berlanyar. Ini dia itinerary selama kami berlayar. 

Pulau Komodo Trip : Tips Sewa Kapal Murah Dari Labuan Bajo

Day 1: Labuan Bajo – Pulau Kelor – Pulau Rinca – Pulau Padar 
  • Bertemu di meeting point jam 9 pagi dan perjalanan dimulai menuju Pulau Kelor  dan menikmati view dari puncak bukit
  • Dari Pulau Kelor dilanjutkan menuju Pulau Rinca untuk bertemu dengan Komodo, trekking sesuai dengan pilihan rute.
  • Setelah Pulau Rinca perjalanan dilanjutkan menuju Pulau Padar untuk trekking ke puncak melihat pemandangan khas perbukitan ala Jurasik Park.
  • Makan malam, istirahat.

Day 2: Pulau Padar – Pink Beach – Manta Point – Gili Lawa 
  • Dari Pulau Padar  perjalanan dilanjutkan menuju ke Pulau Komodo untuk bersnorkeling ria di Pink Beach.
  • Singgah di Manta Point untuk bertemu dengan pari manta yang besar, jangan lupa bawa keberuntungan anda karena mereka tidak pasti ada.
  • Perjalanan panjang dilanjutkan menuju Gili Lawa, kalau masih ada waktu bisa langsung trekking untuk menikmari sunset.
  • Makan malam dan istirahat


Day 3: Gili Lawa – Taka Makassar – Pulau Kanawa – Labuan Bajo 
  • Setelah sarapan langsung menuju Taka Makassar, foto-foto di pulau pasir kecil di tengah laut.
  • Perjalanan dilanjutkan menuju Pulau Kanawa untuk snorkeling dan menikmati keindahan Pulau yang memiliki satu resort ini.
  • Setelah puas bermain air dan foto-foto di Pulau Kanawa kita siap untuk kembali ke Labuan Bajo.
  • Tiba di Labuan Bajo, tour selesai.

Catatan:
Jadwal ini bersifat kondisional dan dapat berubah sewaktu-waktu, tergantung keadaan saat di lapangan.


Kebahagiaan datang ketika ketakutan dan rasa benci itu terhapus oleh ketulusan yang terpancar dari sekeliling kita. Itulah tips menyewa kapal di kepulauan komodo trip, sampai jumpa di catatan perjalanan selanjutnya.

Informasi Sewa Kapal dan Open Trip Be Borneo Tour 

Whatsapp: +62 856 51 202 195
Telpon: +62 852 51 50 1009
Email: info@beborneotour.com

Berburu Sakura Musim Dingin Di Bawah Tokyo Sky Tree


Saya menyukai sakura. Saya menyukai setiap helai bunga-bunga yang jatuh dan tersapu oleh angin. Dan, saya menyukai menikmati indahnya matahari di balik bunga berwarna merah jambu ini. Namun, untuk mewujudkan wishlist ini, bukan berarti mudah dan tidak ada rintangannya. Seperti pernyataan, Manusia berencana namun Tuhan yang mengatur, benar adanya. Berarti ada dua kemungkinan, berhasil atau gagal. 

Lagi-lagi karena Negeri Matahari Terbit ini selalu mempesona, saya tidak akan menyerah begitu saja untuk mewujudkan mimpi ini. Oh iya, sebetulnya saya sudah pasti berangkat ke Jepang pada bulan Februari awal tahun ini. Dan, menurut informasi yang saya dapat di beberapa wilayah sebelah selatan seperti Okinawa, Nagasaki dan Fukouka diprediksi akan mekar pada bulan Februari, sedangkan Tokyo diprediksi akan mekar pada Maret akhir. Namun, berawal dari iseng-iseng melihat instagram, ternyata di Tokyo pun telah mekar sakura. Saya tidak mendapatkan petunjuk yang jelas, hanya di bawah Tokyo Sky Tree. Dan, perburuan ini pun di mulai. 

Dee, blog www.heydeerahma.com
Dee, salah satu teman saya ternyata juga di Jepang. Entah suatu kebetulan yang sangat jarang terjadi. Kami bertemu di Asakusa pada suatu sore. Padahal, kami tidak pernah merencanakan untuk traveling bersama, untuk bertemu di Jakarta saja sudah sangat jarang. Saya sangat senang dapat bertemu dengan teman dari Indonesia. Setidaknya saya bisa berbahasa Indonesia dan meluapkan kata-kata yang sudah tertahan beberapa hari di Tokyo

Lagi pula, selama berada di Tokyo saya hanya beberapa kali menjumpai orang Indonesia dan ngobrol hanya terbatas pada kalimat pendek saja. Rasanya ingin sekali meluapkan kata 'Lo, Gue', bahasa yang biasa dilontarkan antar teman dan dengan jarak usia yang tak terlalu jauh. 


Jam 5 sore saya sudah berada di Sensoji Temple, Asakusa. Alasan kami bertemu di Asakusa adalah karena sangat dekat dengan hostel saya, dan Dee pun sedang berada tak jauh dari daerah ini. Beberapa menit kemudian, Dee muncul di depan pos Polisi di depan kuil berwarna merah dengan ikon Kaminarimon atau Dewa Petir

"Akhirnya ketemu juga, di Jakarta kita ngga pernah ketemu, eh kita ketemunya malah di Jepang."

Begitulah kira-kira ungkapan kami berdua, serasa tak percaya bisa bertemu di Asakusa, sore ini. Karena kami berdua lapar, akhirnya mampir di salah satu fast food di sudut Asakusa. Makanan apapun bisa di dapatkan di Asakusa, apalagi seperti makanan fast food seperti ini.

Sayang, Dee harus segera pulang karena ada sesuatu hal yang harus dikerjakan. 

"Oke, nanti kita ketemu lagi. Masih banyak hari di Tokyo ini."

Kami berpisah di ujung jalan Asakusa, tepatnya di jembatan sungai Sumida River menuju ke arah Tokyo Sky Tree


" Dee, kita berburu sakura yuk," Saya melemparkan ajakan untuk melihat sakura dari dekat. Walaupun tidak ada petunjuk jelas dimana pohon sakura itu berada. 

"Yuk, sambil piknik juga nih. Gue bawain lo roti ya." 

Suhu udara di Tokyo bisa mencapai 4 derajat bahkan bisa menyentuh titik nol. Saya memastikan seluruh jaket winter dan sweater tidak tertinggal. Tak lupa penutup kepala dan sarung tangan pun saya bawa untuk menahan dingin. Meskipun matahari bersinar dan menghantarkan panas, namun hembusan udara dingin seakan membekukan tangan, kaki dan kepala. Apalagi setelah matahari tenggelam, maka udara akan menuju titik terdingin di hari itu. 

Saya dan Dee seperti biasa di depan Sensoji Temple. Dan kami langsung menuju sungai Sumida yang berada tak jauh dari Asakusa. Biasanya kalau di Jakarta, saya terbiasa dengan ojek online, maka disini saya membiasakan untuk jalan kaki dari satu tujuan ke tujuan lain atau naik sepeda keliling kota. Dan, metode jalan kaki ini bisa menurunkan berat badan sampai beberapa kilogram, hahaha. 



Sepanjang bantaran sungai Sumida, terdapat pohon-pohon sakura yang belum mekar. Selain terdapat pohon, terdapat taman bermain dan trek jalan kaki maupun sepeda. Tempat duduk dan toilet pun tersedia di sepanjang jalan menuju jembatan. Saya tak melewatkan satupun spot untuk dijadikan background foto. Apalagi selagi matahari masih menampakan diri dan langit masih biru. 

Kami melanjutkan perjalanan menuju jembatan dan terus menyusuri jalan menuju Tokyo Sky Tree. Kami sempat berhenti pada satu kuil kecil. Pada awalnya saya dan Dee hanya ingin mengambil gambar pohon yang mirip sakura. Pohon ini adalah 'Uma' atau aprikot dalam bahasa Indonesia. 


Seorang perempuan berusia hampir 50 tahun mendekati kami dan menyuruh kami untuk mampir sebentar. Setelah berada di dalam, kami berdua beradu pandang karena merasakan ada yang aneh. Dengan segera kami pamit dan meninggalkan kuil ini. 

Tulisan SAKURA dalam huruf Jepang
Saya sebetulnya hampir menyerah, tapi setelah melihat instagram dan ternyata terdapat balasan dari orang yang mengambil foto. Menurutnya, pohon ini berada persis di bawah Tokyo Sky Tree dan dekat dengan sungai. Saya kembali bersemangat dan menyalakan GPS dan menuju sungai yang di maksud. Sebelum sampai ke sungai, kami harus melewati Tokyo Solamachi, sebuah mall yang persis berada di bawah Tokyo Sky Tree


Kami sempat terkecoh dengan pohon Uma yang berada di dekat Tokyo Solamachi. Memang bentuk Uma dan Sakura hampir mirip, namun sakura lebih merah jambu sedangkan Uma atau Aprikot lebih terlihat merah dan kecil. 

Tak menyerah, saya pun menyebrang ke arah sungai melalui Jembatan. dari jauh terlihat beberapa pohon berwarna merah jambu. Mata saya langsung berbinar-binar. Setidaknya sudah lebih 3 jam kami menyusuri jalan dari Sumida River dan berakhir di sungai dibawah Tokyo Sky Tree. Bahagia rasanya menemukan Sakura di musim dingin. Terdapat 3 pohon yang persis berada di ujung jembatan arah menuju ke Tokyo Solamachi.  



From dream to reality. My dream comes true with this winter sakura. So, kalau punya mimpi yang ingin diwujudkan di 2018, mulailah dari hal-hal kecil dan lakukan dengan baik. Siapa tahu kamu akan mendapatkan durian runtuh atau bahkan emas dan berlian di negeri orang sekali pun. 

Tips Melakukan Perjalanan Backpacker Ke Jepang


Traveling ke Jepang saat ini bisa dilakukan oleh siapapun bahkan untuk solo traveler atau backpacker. Jepang terkenal sebagai destinasi favorite di Asia selain Korea Selatan, menjadi magnet apalagi semenjak adanya Visa Waiver. Visa Waiver merupakan visa kunjungan ke Jepang dengan durasi lama tinggal dalam waktu 15 hari selama 3 tahun. Visa ini bisa didapatkan bagi pemegang E-passport. Dan, visa ini gratis-tis dengan durasi pembuatan 1 hari di Kedutaan Besar Jepang di Jakarta. 

Jurus kedua untuk menghemat budget adalah pesan tiket pesawat beberapa bulan sebelumnya. Nah, kalau yang ini saya punya cara spesial dan mudah, yaitu Price Alert atau Notifikasi Harga dari Traveloka. Price Alert bisa diseting sesuai dengan kemauan kita, misalnya tujuan dari Jakarta ke Tokyo dengan budget 3 juta. Dapat di-setting tanggal keberangkatan dan dimana notifikasi akan muncul melalui email, layar ponsel atau keduanya. Jika terdapat harga tiket yang sama dengan budget atau lebih rendah, kita akan diberitahu secara langsung secara harian atau mingguan sesuai selera.





Hotel merupakan hal yang bisa dihemat dengan menginap di kapsul. Yes, di Tokyo banyak sekali pilihan hotel mulai dari bintang 5 sampai hostel yang beramai-ramai di dalam satu kamar namun sangat aman dan nyaman. Saya biasanya menginap di hostel dengan kisaran harga diatas 100 ribu rupiah per malam.

Urusan makanan, bisa disiasati dengan membeli nasi siap dihangatkan di oven dengan harga sekitar 120 yen per bungkus, atau sekitar 250 per 3 bungkus. Selain itu terdapat nasi bento mulai dari 250 yen. Atau bisa juga makan di Yoshinoya dengan paket makanan mulai dari sekitar 300-400 yen per porsi. 

So, ini beberapa tips yang bisa saya bagikan. So, mau kan traveling ke Jepang?

Notes : sebagain besar foto dari Dee, blog www.heydeerahma.com 

Starmeal : Warunk Gaul Buat Nongkrong Di Jakarta Selatan


Salah satu hal yang membuat saya betah nongkrong lama adalah karena dua hal, murah dan banyak pilihan makanan. Urusan wifi memang menjadi hal penting, tapi kalau makanannya ngga terlalu enak, wifi pun akan terasa hambar. 

Jadi, urusan tempat makan memang tak muluk-muluk harus yang mewah dan berkelas, kalau yang ini untuk kencan kali ya, kalau untuk ketemu sama teman-teman dan ngobrol ngalor ngidul ya pilihannya jatuh pada tempat ini. 

Warunk Starmeal inilah yang memikat hati saya baru-baru ini. Alasanya hanya karena pilihan makanannya yang buaaanyaak dan harganya juga terjangkau bagi kantong-kantong yang kempes ini. Lokasinya juga dekat dengan beberapa stasiun kereta serta dekat dengan kampung Betwai Setu Babakan di Jakarta Selatan. 



Kalau dibilang warunk ini merupakan konsep makanan praktis seperti mie, nasi goreng dan lain-lain, memang benar adanya. Bahkan dibilang konsepnya adalah warung yang pindah tempat menjadi lebih modern dan sangat terjaga kualitasnya. Mengenai harga dari awal saya bilang, Starmeal sangat terjangkau bagi anak sekolah dan kuliahan, bahkan orang kerja yang bokek atau akhir bulan. 

Lalu menu apa saja sih yang jadi andalan di Warunk Starmeal ini? Yuk kita lihat satu per satu. 

Nasi Ayam Pecak Seribu - Rp 24.000


One of my favorite. Ayamnya lumayan dengan sambal pecak yang pedas memang mengairahkan untuk makan bersama keluarga. Kalau bisa dibawa pulang dan dimakan rame-rame dengan nasi hangat tambahan akan sangat memuaskan. Pedasnya memang bukan malah membikin kapok tapi malah membuat ketagihan. 

Paket Nasi R'Chick - Rp16.000


Inilah menu favorite anak sekolahan dan kuliah yang sedang dalam masa injure time atau bokek. Ayam crispy dengan nasi memang bikin kenyang tanpa takut kehabisan ongkos pulang. Bagi saya yang suka dengan ayam maka akan menjadi pilihan selain nasi ayam pecak pedas tadi. 

Roti Bakar Special Starmeal - Rp 16.000


Salah satu yang saya suka adalah roti bakarnya. Harganya Rp 16.000 membuat saya pengen pesan lagi dan lagi. Cokelat dan kejunya itu bikin meleleh deh. Rasanya enak dan ngga bikin eneg. Sebagai cemilan atau makanan utama pun tidak masalah, yang menjadi masalah adalah seberapa kuatkah kamu menghabiskan roti bakar ini? hehehe. 

Nasi Goreng Special Starmeal - Rp 24.000


Makanan unik lainnya adalah nasi goreng ini. Rasanya memang sedikit berbeda karena mendapat sentuhan kari atau khas india dan timur tengah. Rasanya mirip dengan nasi briyani atau nasi kari yang di campur dengan telur, sosis dan ayam. So fresh juga ditambah dengan pedasnya cabai irisan serta sayuran. 

Mie Goreng Cah Kangkung Mbo Galak plus Telor Ceplok - Rp14.0000


Makan mie dengan cah kangkung memang sesuatu yang baru. Mie yang karbo ditambah dengan sayuran menjadi mie ini lebih sehat dari biasanya. Apalagi penggemar mie pasti tidak akan jauh-jauh dari menu satu ini. Nice choice karena ada tambahan telor ceplok. 

Cappucino - Rp 18.000


Dan, inilah salah satu minuman yang bikin saya merem melek menikmati rasanya, cappucino. Harganya yang tidak terlalu mahal memang membuat saya bisa beberapa kali pesan Cappucino ini. 

Warunk Gaul Jakarta Selatan 


Saya sangat menrekomendasikan Warunk ini untuk anak nongrong di Jakarta Selatan terutama daerah Setu Babakan, Universitas Pancasila, Pasar Minggu dan lainnya. temoatnya sangat besar dengan harga yang terjangkau. 


Oh iya pengen tahu suasana starmealnya. Ini dia videonya.


Informasi warunk Starmeal 

Alamat 
Jl. Moh Kahfi 2 (Seberang SPBU Warung Silah)
Jagakarsa, Jakarta Selatan

Maps 

Starmeal : Warunk Gaul Buat Nongkrong Di Jakarta Selatan


Salah satu hal yang membuat saya betah nongkrong lama adalah karena dua hal, murah dan banyak pilihan makanan. Urusan wifi memang menjadi hal penting, tapi kalau makanannya ngga terlalu enak, wifi pun akan terasa hambar. 

Jadi, urusan tempat makan memang tak muluk-muluk harus yang mewah dan berkelas, kalau yang ini untuk kencan kali ya, kalau untuk ketemu sama teman-teman dan ngobrol ngalor ngidul ya pilihannya jatuh pada tempat ini. 

Warunk Starmeal inilah yang memikat hati saya baru-baru ini. Alasanya hanya karena pilihan makanannya yang buaaanyaak dan harganya juga terjangkau bagi kantong-kantong yang kempes ini. Lokasinya juga dekat dengan beberapa stasiun kereta serta dekat dengan kampung Betwai Setu Babakan di Jakarta Selatan. 



Kalau dibilang warunk ini merupakan konsep makanan praktis seperti mie, nasi goreng dan lain-lain, memang benar adanya. Bahkan dibilang konsepnya adalah warung yang pindah tempat menjadi lebih modern dan sangat terjaga kualitasnya. Mengenai harga dari awal saya bilang, Starmeal sangat terjangkau bagi anak sekolah dan kuliahan, bahkan orang kerja yang bokek atau akhir bulan. 

Lalu menu apa saja sih yang jadi andalan di Warunk Starmeal ini? Yuk kita lihat satu per satu. 

Nasi Ayam Pecak Seribu - Rp 24.000


One of my favorite. Ayamnya lumayan dengan sambal pecak yang pedas memang mengairahkan untuk makan bersama keluarga. Kalau bisa dibawa pulang dan dimakan rame-rame dengan nasi hangat tambahan akan sangat memuaskan. Pedasnya memang bukan malah membikin kapok tapi malah membuat ketagihan. 

Paket Nasi R'Chick - Rp16.000


Inilah menu favorite anak sekolahan dan kuliah yang sedang dalam masa injure time atau bokek. Ayam crispy dengan nasi memang bikin kenyang tanpa takut kehabisan ongkos pulang. Bagi saya yang suka dengan ayam maka akan menjadi pilihan selain nasi ayam pecak pedas tadi. 

Roti Bakar Special Starmeal - Rp 16.000


Salah satu yang saya suka adalah roti bakarnya. Harganya Rp 16.000 membuat saya pengen pesan lagi dan lagi. Cokelat dan kejunya itu bikin meleleh deh. Rasanya enak dan ngga bikin eneg. Sebagai cemilan atau makanan utama pun tidak masalah, yang menjadi masalah adalah seberapa kuatkah kamu menghabiskan roti bakar ini? hehehe. 

Nasi Goreng Special Starmeal - Rp 24.000


Makanan unik lainnya adalah nasi goreng ini. Rasanya memang sedikit berbeda karena mendapat sentuhan kari atau khas india dan timur tengah. Rasanya mirip dengan nasi briyani atau nasi kari yang di campur dengan telur, sosis dan ayam. So fresh juga ditambah dengan pedasnya cabai irisan serta sayuran. 

Mie Goreng Cah Kangkung Mbo Galak plus Telor Ceplok - Rp14.0000


Makan mie dengan cah kangkung memang sesuatu yang baru. Mie yang karbo ditambah dengan sayuran menjadi mie ini lebih sehat dari biasanya. Apalagi penggemar mie pasti tidak akan jauh-jauh dari menu satu ini. Nice choice karena ada tambahan telor ceplok. 

Cappucino - Rp 18.000


Dan, inilah salah satu minuman yang bikin saya merem melek menikmati rasanya, cappucino. Harganya yang tidak terlalu mahal memang membuat saya bisa beberapa kali pesan Cappucino ini. 

Warunk Gaul Jakarta Selatan 


Saya sangat menrekomendasikan Warunk ini untuk anak nongrong di Jakarta Selatan terutama daerah Setu Babakan, Universitas Pancasila, Pasar Minggu dan lainnya. temoatnya sangat besar dengan harga yang terjangkau. 


Oh iya pengen tahu suasana starmealnya. Ini dia videonya.


Informasi warunk Starmeal 

Alamat 
Jl. Moh Kahfi 2 (Seberang SPBU Warung Silah)
Jagakarsa, Jakarta Selatan

Maps 

Menaklukan 4 Puncak Tertinggi Di Komodo Sailing Trip


What is your destiny? What is your purpose of your life? What is your big dreams? Kadang saya terbangun di tengah malam dengan 3 pertanyaan ini. Sepertinya terus menghantui, namun dengan senyum dan semangat saya melanjutkan tidur kembali. Kalau ditanya impian terbesar saya apa? Saya ingin sekali menaklukan puncak-puncak tertinggi di Indonesia. Memang impian ini terasa muluk kalau harus sampai ke Puncak Jaya Wijaya. Yang terpikir adalah menaklukan puncak-puncak tertinggi seperti Anak Gunung Krakatau, Lampung, yang sudah daya taklukan. Dan, ternyata perjalanan Komodo kali ini pun menguji seberapa besar kemauan saya ini. 

4 orang Indonesia dan 3 orang Malaysia berada dalam 1 kapal dalam perjalanan 3 hari 2 malam menyusuri pulau demi pulau di Kepulauan Komodo. Lagi-lagi saya berpikir, tidak mungkin kita bertemu tanpa ada tujuan dan takdir. Dan, kemudian bertambah pula 4 teman baru yaitu Bang Indra, Be Borneo Tour serta 3 anak buah kapal.  Semuanya terjadi bukan tanpa sebuah kebetulan. It is sound cliches, but I realized that I am happy in this boat. And, Living On Boat (LOB) stories begin. 


Sebelum sampai di Labuan Bajo, kota pelabuhan gerbang menuju Kepulauan Komodo, saya sempat mengalami kondisi keuangan yang kurang. Dua hari sebelum keberangkatan, saya belum membeli tiket sama sekali. Beruntung Rani dengan baik hatinya mau membelikan tiket terlebih dahulu. Tiket ke Labuan Bajo memang lumayan menguras pundi-pundi karena harus mengeluarkan uang setidaknya 2-3 Juta untuk perjalanan pulang pergi, namun jika beruntung dan memesan jauh-jauh hari bisa dikisaran harga dibawah 2 juta PP. So, it is your choice. 

Apakah memungkinkan untuk backpacker untuk Sailing Komodo Trip ini? Yes, karena sewa kapal dan paket open trip telah tersedia oleh Be Borneo Tour dengan harga 1,950 Juta untuk 3 Hari 2 Malam. Informasi lebih lengkap mengenai open trip murah ini bisa langsung ke websitenya disini.


Apa yang membuat saya jatuh cinta pada Trip kali ini? Banyak, terutama laut, ikan hias, pasir putih, bintang laut, komodo, makanannya, renang, snorkling dan yang paling berkesan adalah dapat menaklukan 4 puncak tertinggi di Trip ini. Pulau Gili Lawa, Pink Beach, Pulau Padar dan Pulau Kelor. 

Puncak Gili Lawa 


Bagi saya yang lumayan gemuk ini, menaklukan puncak dengan ketinggian sekitar 800 meter itu tidak mudah. Setidaknya membutuhkan waktu cukup lama dibanding lainnya untuk mencapai puncak. Sejak menaklukan puncak Anak Gunung Krakatau, Lampung dengan ketinggian sekitar 1.000 meter di atas permukaan laut, saya jadi termotivasi untuk naik puncak lainnya. Meski tidak bisa disebut sebagai pendaki gunung profesional, namun motivasi ini saya terus tanam. Siapa tahu beberapa tahun kedepan, saya bisa naik Gunung Slamet di kampung halaman saya, Pemalang

Bang Sham, Nazirul, Mba Donna dan Alma telah sampai terlebih dahulu. Tinggal saya dan Rani yang berada beberapa meter di bawah. Nafas saya masih terengah-engah karena semakin tinggi permukaan tanah, semakin tipis kadar oksigennya. Itulah mengapa saya harus pandai mengatur nafas agar mampu mencapai puncak. 


Mba Donna terus menerus memanggil saya dan Rani. Naz pun demikian, dengan suara sedikit menantang kami berdua, tujuannya agar kami cepat sampai. Naz sudah sampai terlebih dahulu. Maklum dia adalah salah satu yang tersehat diantara kami bertujuh. Yes, setelah beberapa langkah akhirnya saya sampai di puncak. Seperti mendapat kejutan dari pacar pada waktu ulang tahun, seperti itulah perasaan saya setelah sampai puncak Gili Lawa. Nothing better than this places, so wonderful. I love this landscape.  

Puncak Pink Beach 


Puncak kedua ini tidak seterjal atau setinggi yang lain. Namun, puncak ini adalah puncak terindah. Dari atas sinilah, pink beach dapat terlihat dengan sempurna. Sebelum melakukan snorkling di pantai, memang paling enak melakukan trekking menuju puncak yang tidak terlalu tinggi. Mungkin tingginya tidak sampai 500 meter karena hanya dibutuhkan waktu 15 menit untuk sampai di puncaknya. 

Puncak mana yang tidak membuat saya berdecak kagum. Dua dari 4 puncak ini membuat saya menikmati setiap lukisan alam yang ada. Lalu lalang kapal yang menurut orang biasa saja, bagi saya adalah mahakarya yang sangat indah jika dilihat dari puncak ini. 

Puncak Pulau Padar


Sebetulnya matahari mulai tenggelam ketika kami melakukan trekking menuju puncak Padar. Namun, kami masih memiliki banyak waktu karena jarum jam menujukkan pukul 4 sore lebih. Kami bisa menikmati puncak sambil foto-foto dan menikmati senja di gugusan pulau Komodo. 

Dari bibir pantai, tangga menuju ke atas terlihat dengan jelas. Sebelum ada tangga ini, untuk mencapai puncak harus trekking dan mendaki. Kontur Padar memang tidak seterjal Gili Lawa, namun cukup tinggi sehingga dibutuhkan waktu yang lebih lama. Taksiran saya, tinggi puncak ini bisa mencapai lebih 1.000 meter di atas permukaan laut. 

Dengan berbekal semangat menaklukan puncak ketiga ini, saya terus menaiki tangga. Pada puluhan meter sebelum puncak tertinggi, tangga terputus dan berganti dengan tanah berbatu yang sangat licin. Saya mencoba mengatur nafas agar bisa naik melalui celah-celah bebatuan. Dan, setelah beberapa menit istirahat akhirnya saya bisa menyusul yang lain yang telah dulu sampai. 

Puncak Kelor


Terik siang tidak mematahkan semangat saya untuk naik ke atas pulau kelor. Kalau bukan saat ini kapan lagi saya bisa sampai ke puncak sana dan mengabadikan salah satu signature dari Komodo Trip ini. 

Entah berapa kemiringan puncak ini, namun saya dan teman-teman harus berjuang dulu melawan panas dan tanah yang kering serta sedikitnya batu dan rumput yang biasanya bisa dijadian pijakan. Namun, lagi-lagi seperti ada suara penyemangat dari teman-teman diatas sana yang sudah terlebih dahulu sampai. 

Puncak Kelor akhirnya bisa ditaklukan dengan waktu lumayan singkat karena memang tidak terlalu tinggi, hampir mirip dengan puncak pink beach. Setelah foto-foto dan bermain-main sebentar, akhirnya kami turun. Karena begitu licin dengan sepatu, satu per satu sepatu pun akhirnya saya lepas. Alhamdulillah, akhirnya kami sampai dengan selamat walau sempat hampir jatuh. 


Inilah cerita siangkat pertama yang bisa saya bagikan. Ditunggu untuk cerita-cerita lainnya ya. Selamat berlibur di akhir tahun ini. Stay safe and happy holiday.

Menggapai Mimpi Di Gunung Fuji, Jepang


Saya melihat Gunung Fuji disaat puncaknya tertutup oleh es. Keindahannya memang tak tertandingi. Bahkan, menurut kepercayaan siapa yang dapat melihat Gunung Fuji secara keseluruhan tanpa tertutup awan atau kabut maka akan diliputi keberuntungan. Entahlah saya hanya percaya saja, namun salah satu alasan mengunjungi Jepang adalah untuk melihat Gunung Fuji dari dekat.  

Suhu udara di Tokyo ketika turun dari pesawat mencapai 12 derajat Celcius. Artinya, jaket tebal Winter yang telah saya siapkan memang akan sangat berguna pada kondisi udara saat ini. Sebetulnya saya sempat meremehkan bahwa kondisi cuaca tidak akan berpengaruh pada tubuh saya, namun saya menyerah. Jaket saya kenakan ditambah dengan sweater dan baju dalam yang hangat. Terhitung 4 lapisan yang saya gunakan pada udara musim dingin. 

Setelah beberapa hari puas mengelilingi Tokyo, kini saatnya berpetualang dan melihat Gunung Fuji dari dekat. 

Perjalanan Ke Gunung Fuji


Untuk mencapai Gunung Fuji diperlukan kurang lebih 2-3 jam dari Tokyo. Banyak sekali moda transportasi yang dapat digunakan, terlebih lagi menggunakan kereta express dan bus. Saya baru mencoba kedua moda tersebut karena sangat mudah digunakan dan sangat hemat. Sebetulnya masih banyak kendaraan lain yang dapat digunakan, namun saya hanya akan membahas kedua jenis ini saja. Untuk informasi transportasi lain biasanya bisa dicari melalui google.

Naik Kereta dari Shinjuku Station

Tidak semua kereta cepat merupakan Shinkansen, demikian juga kereta cepat yang digunakan ke Gunung Fuji melalui Kawaguchiko Station. Dari Shinjuku Station kemudian naik kereta express Kaiji atau Azusa menuju Kofu dan turun di Otsuki Station. Dari Otsuki Station kemudian naik Fujikyu railway atau Fujisan Express dan berhenti Kawaguchiko Station. Total biaya yang dibutuhkan adalah sekitar 3.400 Yen untuk satu kali perjalanan dengan waktu tempuh sekitar 2 jam 10 menit.

Jika mengunakan JR Pass, maka biaya dari Shinjuku Station ke Otsuki tercover JR Pass dan hanya membayar biaya dari Otuski Station ke Kawaguchiko Station untuk kereta Fujisan Express atau Fujikyu Railway sebesar 1.140 Yen. Sedangkan pemiliki Tokyo Widepass, seluruh biaya perjalanan baik Kaiji atau Azusa Train dan Fujikyu Railway atau Fujisan Express yaitu dari Shinjuku Station ke Kawaguchiko Station telah tercover sepenuhnya. 

Naik Bus dari Tokyo Station

Salah satu cara ke Gunung Fuji adalah dengan mengunakan bus dari Tokyo Station. Kenapa harus dari Tokyo Station? Karena Tokyo Station merupakan salah satu sentral dari semua jalur kereta di Tokyo sehingga memudahkan apabila janjian dengan orang lain atau untuk memudahkan titik temu saja. 

Apabila telaah sampai di Tokyo Station kemudian menuju Yaseu South Exit dan kemudian belok ke kiri. Sampailah pada pembelian tiket di loket JR. Pembelian tiket dapat dilakukan beberapa hari ataau reserved ticket dengan harga 1.800 Yen. Setelah membeli tiket, silahkan antri di line nomor 7 dengan tujuan Kawaguchiko Station.

Kawaguchiko Station

Saya turun dari Fujikyu Railway dengan menggsok-gosokan tangan tanda mulai kedinginan. Didalam kereta terdapat penghangat sehingga diperjalanan saya tidak merasakan apapun dan menikmati tidur yang cukup lama karena durasi perjalanan sekitar 2 jam lebih. Saya menengok ke arah kanan dan kiri untuk memastikan apakah benar ini Kawaguchiko Station, dan ternyata memang disinilah seharusnya saya turun. 

Saya kaget ketika di ujung rel stasiun, Gunung Fuji dengan indahnya menampakan diri menyambut saya. Selama beberapa tahun ini saya ke Jepang dan belum pernah sekalipun melihatnya, kini nampak indah dengan balutan salju putih di puncaknya. Gunung Fuji memang misterius dan penuh dengan mitos. Maka saya pun percaya bahwa pastinya ada maksud dan tujuan dari penampakan Gunung Fuji saat ini. 

Teman saya pun yang memiliki niat yang sama untuk melihat Gunung Fuji pun tak terealisasikan karena Fuji San (Sebutan untuk Gunung Fuji dalam bahasa jepang) tak mau menampakan dirinya. Bukan hanya sekali namun untuk kedua kali, dan uniknya teman saya datang selang beberapa hari dengan kedatangnya saya. Dan, terbukti ketika saya datang kembali pada saat menjelang musim gugur, Fuji San masih mau menampakan dirinya walaupun sebagian badannya tertutup awan putih yang cukup tebal.

Mendaki Gunung Fuji


Pendakian ke Gunung Fuji memang memerlukan stamina yang kuat, apalagi Gunung ini merupakan salah satu yang tertinggi di Jepang dan Asia. Pada saat musim panas dan gugur, masih memungkinkan untuk didaki, namun pada saat musim dingin, sangat jarang yang mendaki sampai puncak karena puncaknya tertutup oleh salju. 

Bagi yang bukan pendaki seperti saya, tentunya ingin tetap melihat gunung Fuji dari dekat. Nah, dari Kawaguchiko Station bisa dilanjutkan ke beberapa tempat yang dapat diakses untuk melihat lebih dekat Gunung Fuji. Salah satu tempatnya adalah Kachi-Kachi Yama Ropeway. 

Kachi-Kachi Yama ini dapat dicapai dengan mengunakan Omni Bus/Fujikyu Bus dengan warna Merah. Harga tiket bus untuk mencapai tempat tersebut 2 day pass sebesar 2.380 Yen. Kachi-kachi Yama merupakan pemberhentian nomor 11 di jalur Merah.



Sebetulnya Kachi-kachi Yama terdapat salah satu jalur pendakian yang dapat dilalui oleh siapapun. Namun, pengunjung biasanya mengunakan ropeway dengan membayar sekitar 800 Yen untuk naik dan turun ke atas bukit ini. 

Selain melihat pemandangan Gunung Fuji dari dekat, terdapat restoran, kuil, permainan dan tempat untuk melihat Fuji San dengan lebih jelas dengan teleskop. Sebetulnya, Kachi-Kachi inilah salah satu tempat yang wajib dikunjungi disekitar Gunung Fuji untuk melihat dan berfoto dengan latar belakang Gunung Fuji. 



Setelah sampai di puncak bukit, terdapat jalur menuju puncak dengan melewati beberapa anak tangga. Dari sini sudah nampak Gunung Fuji yang legendaris. Apalagi pada saat saya kesana untuk kedua kalinya, suasana sudah sangat berbeda dan sudah direnovasi. Bukit ini berada diketinggian sekitar 1.000-2.000 meter diatas permukaan laut. Sehingga udara di atas pun bercampur antara panas dan dingin secara bersama-sama. 



Pada saat musim dingin dan jalur pendakian tertutup salju, maka cara yang paling tepat adalah mendaki melalu jalur Kachi-kachi Yama. Oh iya, kadang pada saat traveling atau pendakian biasanya terserang masuk angin dan penyakit meriang karena kecapean. Jangan sampai petualangan dan pendakian yang seru terganggu karena hal tersebut. Coba sediakan Starvit yang membantu meredakan masuk angin, meriang dan gejala lainnya. 

Bagi para pendaki gunung, teman-teman yang suka naik gunung atau yang sering traveling ada quiz dari @starvitid.Caranya mudah sekali Upload instagram foto traveling kamu dengan produk starvit pakai hashtag #StarvitGo #Starvit #Kuis #pendaki dan mention @starvitid. Buruan upload karena ada hadiah 2 tiket PP ke Bali dengan undian di Bulan Oktober dan Desember. Pemenang kuis #StarvitGo akan diterbangkan dari pulau Jawa dalam periode Januari-Maret 2018. Dapatkan Starvit di Guardian, Watson, Boston, Hypermart, Carrefour dan Diamond. Silahkan cek ke Instagram Starvit di www.instagram.com/starvit .

Selamat menggapai mimpi di Gunung Fuji dan menemukan arti kehidupan karena perjuangan untuk melihat salah satu keajaban di Jepang ini dibutuhkan sebuah pengorbanan, entah itu melawan cuaca dingin, meriang, masuk angin dan lain-lainnya. 


Weekend Escape : Serunya Body Rafting Di Citumang Green Valley


Waktu kecil dahulu saya sering nyebur ke bak mandi dengan dalih ingin mengurasnya padahal saya hanya ingin bermain air. Hampir setiap minggu rutinitas itu saya lakukan, dan hasilnya bukan mendapat dukungan malah menuai cibiran dari Mba Sri, pembantu rumah tangga di keluarga saya. Ternyata hobi saya berenang dalam bak mandi itu tak lantas membuat saya pun bisa berenang dengan sempurna di sungai. Teman-teman saya yang jago berenang asyik bermain air sampai ke tengah sungai yang deras, sementara saya harus menahan diri dan menjaga pakaian mereka. Semenjak saat itu, sungai menjadi momok.

Suatu sore tahun 2010, saya diajak sahabat saya, Ridwan untuk berenang di sebuah kompleks perumahan di Senayan. Saya lupa nama tempatnya, tapi kolam renang ini merupakan fasilitas sebuah perumahan beserta fitness. Ridwan mulanya tidak percaya saya tidak bisa berenang sama sekali. Setelah berada di kolam, barulah dia tertawa karena saya tidak bisa melakukan gerakan apapun karena berada di pinggir kolam dan begerak seadanya. 

  
Ridwan memberitahu saya bahwa sebetulnya belajar berenang sangatlah mudah. Ridwan menunjuk bocah kecil berusia tak lebih dari 5 tahun berenang kesana kemari dengan bantuan pelampung kecil. Saya pun malu dengan keadaan dimana saya tidak bisa berenang. Mulailah saya mencoba gerakan yang diajarkan. Mulanya sangat sulit menaklukan arus air, namun lama kelamaan saya bisa mengerakan kaki dan mengerakan tangan dengan leluasa. 

Gerakan kaki dan tangan saya praktekan terus menerus sampai akhirnya pada saat hari lain, saya pun mencoba gerakan yang sama dan akhirnya saya bisa berenang dengan sempurna meski dalam jarak yang tak begitu jauh. Untuk menguatkan kaki dan tangan agar bisa berenang dengan sempurna, saya pun mendaftar fitnes di sebuah hotel yang lengkap fasilitasnya terutama kolam renang. Sebulan kemudian, resmilah saya bisa berenang dengan sempurna. 


Pagi itu di HAU Citumang, setelah sarapan kami memiliki agenda yang menyenangkan, Body Rafting. Memang Citumang disebut sebagai lembah hijau yang menawan, atau bahasa kecenya "Green Valley". Jika di daerah lain terdapat Green Canyon, maka Citumang pun memiliki Green Valley yang siap menyambut kami. 

Saya dan teman-teman sudah siap dengan perlengkapan pelampung yang sudah dikenakan. Senyum dan wajah sumringah seakan tak pernah surut dari teman-teman yang berasal dari berbagai daerah seperti DKI Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Tengah serta Yogyakarta. Sepertiya tidak ada kelelahan padahal perjalanan panjang telah dilalui dari masing-masing daerah. 

Setelah lengkap, kami berkumpul di pintu masuk HAU Eco Lodge Citumang, tempat kami menginap dengan konsep unik berupa Kontainer. Dan, sepertinya di Indonesia HAU Citumanglah yang menjadi pioneer penginapan dengan konsep seperti ini. Selain kontainer, HAU Citumang juga sangat peduli dengan lingkungan terutama pepohon yang berada disekitar lodge yang dibiarkan tumbuh dan berkembang sebagai mestinya. 



Kami berjalan meninggalkan satu-satunya penginapan kontainer warna-warni di Citumang. Dari sini kami harus berjalan sekitar ratusan kilometer menuju sungai Citumang yang hijau. Sebetulnya dari penginapan kami dapat melihat sungai ini, namun karena sungai tersebut di bendung, maka kami hanya menyaksikan aliran kecil saja. 

Jalanan menuju hulu sungai Citumang cukup bagus karena sudah ditambah bebatuan sehingga tidak akan becek jika terkena hujan. Disamping kanan dan kiri terdapat pepohonan dan kebun warga sekitar sehingga tampak hijau dan tidak panas. 



Setelah ratusan meter sampailah pada pintu masuk ke Green Valley Citumang. Untuk masuk ke tempat ini dikenakan biaya sekitar Rp 19.000 pada saat weekdays dan Rp 24.000 pada saat weekend. Oh iya, selain warga lokal yang sering body rafting, ternyata banyak juga bule-bule yang mengunjungi tempat ini pada hari-hari tertentu seperti Jumat dan weekend. Bahkan setiap bulannya, akan berganti-ganti bule dari negara seperti Amerika Latin, Amerika Serikat, Eropa dan Australia. So, pilihlah hari Jumat jika ingin cuci mata dan mendapatkan jodoh bule, hahaha.

Suara aliran air sudah terdengar dari pintu masuk. Itu tandanya hulu sungai ini sudah tidak jauh. Dan, artinya kami akan bersenang-senang masuk dalam sungai dengan air yang sangat jernih. Namun, lagi-lagi kami harus menahan terlebih dahulu karena antrian yang lumayan panjang. Sambil menunggu, kami mencoba ikan yang dapat memijat kaki. Sebetulnya bukan memijat melainkan ikan pemakan sel kulit mati di kaki. Walhasil, kaki kami seperti distrum oleh ikan yang makan kulit mati. Lucu juga karena kami harus menahan antaraa geli dan sakit karena rasa tersetrum ikan tersebut. Hahaha. 



Penantian berakhir. It's time to rock. Lihat saja air hijau nan jernih itu sudah memanggil-manggil untuk direnangi. Tentu saja saya senang mencoba body rafting di sungai yang unik ini. Selama ini saya merasakan body rafting di sekitar Jawa Tengah dengan air yang kecoklatan, namun disini airnya sangat jernih dan hijau. Mungkin saja karena dikelilingi oleh pepohonan hijau sehingga sungainya pun memantulkan cahaya hijau. 

Kami tak langsung dibawa menuju sungai yang dalam, melainkan gua dengan bebatuan. Ternyata inilah yang dimaksud dengan tantangan terjun dari ketinggian 10 meter lebih dari mulut gua. Mas Nuz dan Khaerullah yang memberanikan diri naik ke atas dari akar-akar dan mencapai atas untuk kemudian terjun. Kang Geri sebetulnya ingin mencoba namun urung dan harus turun dari ketinggian 10 meter menjadi 4 meter saja. Kalau saya pastinya akan sulit naik dari akar-akar pohon untuk mencapai ke atas. Akhirnya saya hanya mencoba dari ketinggian tak lebih dari satu meter. 



Dan setelah memasuki sungai yang sebenarnya, kami ditantang untuk menjadi tarzan. Karena berat badan saya yang mencapai 100 kg, saya hanya pasrah dan mencoba sebisa saya. Belum menganyun sampai ketengah sungai, tali itu sudah tidak mampu menahan badan saya dan terjatuh ke sungai. Byuurr. 

Setelah itu kami bermain kereta-kereta dengan cara menyambungkan kaki dengan tangan orang sebelumnya. Cukup sulit awalnya, namun berkat bantuan para pemandu akhirnya kami dapat membentuk kereta-kereta dengan bagus. 



Setelah kereta, kami membentuk formasi lainnya yaitu seperti lingkaran dan berombak karena gerakan kaki kami. Setelah itu kami naik kembali ke bendungan untuk kemudian menyusuri sungaai kecil dan berakhir di parkiran dekat dengan pintu masuk HAU Citumang. 

Pengalaman body rafting kali ini memang sangat mengasyikan. Sudah saatnya untuk kembali ke rutinitas di depan laptop dan menghadapi polusi. Suatu saat, saya akan kembali lagi ke Citumang untuk menikmati alam yang masih tersembunyi.


Info mengenai tarif body rafting ini salah satunya http://www.bodyrafting-guhabau.com/2017/09/harga-paket-body-rafting-citumang-green.html .

Dan untuk informasi mengenai HAU Citumang bisa mengakses website http://haucitumang.hotel.mypangandaran.com/ atau dapat reservasi melalui nomor 0265-639380 / 081316987988 . 

Sensasi Menginap Di Kontainer HAU Citumang, Pangandaran


How Are You Citumang? Apa kabar hari ini? Sepertinya Citumang ingin menyapa kembali melalui alam yang indah dan sungai-sungainya yang jernih. Saya pun merindu dari dalam kalbu. Anggap saja saya lebay atau apapun itu, namun tak sedikitpun kerinduan ini ditutupi oleh keraguan. Dan, dari sinilah kisah HAU Citumang dimulai. 

Rencanannya dari Jakarta kami langsung naik kereta api menuju Kota Banjar, Jawa Barat. Saya dan Raisa aka Astari telah memesan tiket yang sama. Pukul 09.00 tepat kereta kami berangkat. Seharusnya kami berempat, namun dua orang dari Bogor belum memberikan kabar apapun. Tiba-tiba dari kursi sebelah kami muncul sosok seperti Khaerul. Dan, ternyata benar dia berada satu gerbong dengan kami. Sayangnya Teh Nita tidak dapat bergabung dengan kami. Saudara Teh Nita meninggal dunia, kami harus kehilangan satu travelmate


Kereta sempat berhenti beberapa kali di stasiun-stasiun yang menjadi rutenya. Saya sempat mengabadikan gerbong-gerbong kereta yang ditumpuk menjadi satu. Mungkin gerbong ini sudah tidak digunakan atau bahkan akan digunakan. Saya hanya kagum dengan keunikan tumpukan gerbong ini. 

Perjalanan ke kota Banjar ditempuh sekitar 8-9 jam dengan kereta ekonomi Serayu jurusan Purwokerto. Saya sempat membeli nasi 4 bungkus beserta gorengan, sementara Raisa membawa rendang. Maka lengkaplah piknik di kereta ini dimulai dari makan bekal bawaan kami. Pemandangan di luar sana sangat menyejukan, banyak pepohonan dan gunung disertai langit yang amat cerah. Menjelang siang, saya berusaha untuk menutup mata. Ternyata sangat susah mata ini untuk terpejam sebentar saja. Lagu-lagu dalam handphone pun sudah diputar berulang kali. 

Seharusnya sekitar pukul 5 sore kereta kami sudah sampai di Kota Banjar, namun karena terdapat kendala teknis, barulah sekitar jam 6 kurang, kami semuanya sampai di Banjar. Sambil menunggu rombongan dari Yogyakarta, kami pun rehat sebentar. Tak berapa lama kemudian, rombongan Yogyakarta pun sampai. Satu Elf dan mobil city car telah berada di luar. Kami pun langsung menuju HAU Citumang

Sesampainya di Citumang, sinyal mulai meredup. Bahkan di dalam kontainer pun, tidak ada satupun balok sinyal yang ditemukan. Jika ingin sinyal, kami harus ke area parkiran yang berada di depan pintu masuk. Tidak ada sinyal, artinya kami harus menikmati setiap hari disini dengan aktivitas yang menantang seperti body rafting dan berenang di sungai yang jernih. 



Malam tadi setelah mandi, saya sudah tidak bisa menahan kantuk sehingga pulas tertidur. Beruntung saya tidak mimpi yang aneh-aneh. Suasana malam memang agak sunyi karena pinggir penginapan ini adalah sungai dan hutan. Lain halnya ketika pagi sudah datang. Warna-warni kontainer cukup menghidupkan suasana disini. Saya segera mandi dan mencharge batere kamera. Tadi malam, saya lupa untuk mengcharge batere kamera kesayangan. 

Sebelum beraktivitas di siang nanti, saya sempat mengelilingi penginapan dengan konsep ECO Friendly. Saya cukup terkejut karena pohon-pohon yang berada di setiap sudut penginapan ini cukup terawat, bahkan terkesan pohon-pohon ini tidak ditebang pada saat perakitan kontainer tersebut dimulai. Terbukti dengan jalan menuju kontainer yang dibuat mengikuti pepohonan. Selain itu, pengolahan air limbah pun sangat diperhatikan sehingga pada saat pembuangan ke sungai tidak menimbulkan dampak yang merugikan. 


Saat perut memanggil, ternyata sudah masuk waktu sarapan. Saya bergegas menuju ke kontainer di depan yang merupakan restoran. Letaknya persis berdampingan dengan resepsionis yang berada di depan setelah pintu masuk. Teman-teman lain sudah berada di restoran. Saya bergegas mengambil paket sarapan yang telah disediakan. Nasi kuning dengan telur mata sapi serta sayuran dan krupuk. Bagi saya, menu ini pas untuk perut saya yang lapar tapi tidak terlalu ingin penuh perut ini. 


Setelah kenyang, saya menuju ke tempat kumpul yang berada di tengah-tengah penginapan. Saya menyebutnya sebagai tempat bermalas-malasan hehehe. Disitu terdapat bantal-bantal manja yang bisa membuat siapa saja tersihir dan tertidur sesaat setelah sarapan. Setiap saat, ada saja yang berada ditempat ini. Karena memang tempatnya yang teduh dibawah pohon-pohon dan sering dijadikan sebagai tempat santai dan membawa inspirasi.  

Tempat favorite saya yang lain adalah Instagram-able spot. Oh iya, selain menyediakan penginapan, HAU Citumang juga menyediakan tempat foto dengan membayar tiket sekitar 50 ribu rupiah. Terdapat sungai dengan balon-balon pelampung yang unik dan spot untuk foto yang terdapat di atas. Biasanya memang setelah body rafting di sungai Citumang, orang-orang akan melintas di depan penginapan. Bagi yang penasaran di dalam, maka akan bertanya apa saja yang menarik dari HAU Citumang. 



Wanna escape from daily routine? HAU Eco Lodge Citumang is your answer. Setidaknya dibutuhkan waktu 3 hari 2 malam untuk menikmati penginapan, body rafting di sungai dan mengelilingi hutan yang masih sangat segar udaranya. Bisa jadi inilah petualangan terseru yang bisa didapatkan dari menginap disini.

So, tunggu apalagi. Yuk menginap dan berpetualang di Citumang yang sungainya sejernih hatiku. Hehehe. 



Fasilitas 

HAU Citumang menyediakan kamar dengan kapasitas sekitar 3 orang dengan harga kamar weekdays Rp 750.000 dan weekend Rp 1.000.000. Harganya lumayan mahal, namun jika dibagi dengan penghuni kamar maka tidak lebih dari Rp 333.333 setiap orangnya. Selain itu terdapat Coffee Shop dan restoran sehingga tidak perlu khawatir jika malam-malam kelaparan. Pada saat saya kesana belum terdapat Wifi, namun ternyata sekarang sudah di pasang wifi di dalam kamar. Oh iya harga kamar termasuk sarapan ya.

Catatan Penting
  • Dari Jakarta dapat ditempuh melalui kereta dari Stasiun Pasar Senen dengan mengunakan KA Serayu tujuan Purwokerto kemudian turun di Stasiun Banjar dengan harga Rp 67.000. Kemudian dengan mobil carteran sekitar Rp 500.000 akan diantar menuju ke HAU Citumang. 
  • Sangat disarankan untuk ke sana beramai-ramai karena akses yang membutuhkan mobil carteran 
  • Body rafting dapat ditanyakan kepada pihak HAU Citumang, terdapat paket lengkap dengan body rafting
  • Dari pangandaran dapat ditempuh dengan kendaraan pribadi sekitar 1 jam kurang
Credit foto to Astari www.ivegotago.com 

Informasi HAU Eco Lodge Citumang 

Alamat 

Sukamanah RT 1/Rw 6, Bojong, Parigi, Pangandaran, Jawa Barat 46393

Website 


Reservasi 

0265-639380 / 081316987988

Rate 

Weekdays : Rp 750.000
Weekend : Rp 1.000.000 

Instagram 

Maps 

Siniawan Old Town Night Market, Kuching


Sebetulnya malam ini malam terakhir di Kuching. Namun, saya tidak mau berakhir begitu saja tanpa merasakan suasana Siniawan. Julukan Kota Tua atau Old Town yang melekat membuat saya terpikat. Menurut banyak orang yang telah bertandang ke sana, Siniawan sangat mempesona. Kesan oriental memang sangat terasa, karena lampion bertebaran di setiap sudut sehingga mempercantik malam di Siniawan.

Perjalanan dari Kota Kuching ditempuh sekitar kurang lebih satu jam. Datanglah pada saat Weekend karena Siniawan memang hanya buka pada saat Jumat, Sabtu dan Minggu. Sebelum sampai, saya sebetulnya membayangkan seperti apakah Siniawan tersebut, karena memang saya tidak mencari informasi apapun dari Mbah google. Setelah siang hari beradu panas dan jalan-jalan mengelilingi Bako National Park, sore ini kami diajak Aunty Ana, guide kami, mengunjungi Siniawan. 


Sesampai di Siniawan, awan pun masih putih disertai matahari yang enggan muncul karena tertutup awan. Cuaca memang agak gerimis dan mendung. Namun, kami tetap mengunjungi tempat terbuka ini. Layaknya pasar malam, memang sepanjang jalan disediakan meja dan kursi untuk menikmati setiap kuliner yang dijajakan.

Sebagian besar bangunan terbuat dari kayu. Entah berapa usia kayu yang kami lihat, namun yang pasti Siniawan merupakan Kota Tua yang didirikan oleh saudagar asal Tiongkok yang melarikan diri dari kejaran James Brooke pada tahun 1921. Jadi bisa jadi usia kayu yang masih terlihat kuat tersebut hampir mendekati 100 tahun. 

Mata saya tertuju pada bambu-bambu yang dibakar. Di dalam bambu biasanya berisi beras ketan atau beras lainnya. Saya mengenal makanan ini di Pontianak dengan nama Nasi Lemang. Mungkin karena masih satu pulau dan satu tradisi, nasi ini pun masih bisa kita jumpai di Siniawan. 



Segala jenis makanan tersedia disini. Mulai dari rasa lokal sampai internasional seperti Jepang dan India. Harga makanan pun terbilang sama dengan Indonesia sekitar 5-20 Ringgit tergantung porsi dan jenis makanan yang dibeli. Kalau dikurskan ke Indonesia, harga makananya berkisar dibawah 100 ribu rupiah. So, masih masuk di budget apabila makan di pasar malam ini. 


Takoyaki pun menjadi jajanan yang patut di coba disini. Antrian untuk mencoba takoyaki pun jadi tantangan tersendiri, karena ternyata banyak juga yang mencoba makanan asal Jepang yang telah mendunia. Saya sebetulnya pengen mencoba, namun karena teman-teman sudah memanggil untuk berburu makanan lain. Akhirnya saya harus gigit jari. 

Beruntung di ujung jalan, kami menemukan makanan yang lumayan untuk menganjal perut kami yang agak kelaparan. Coba tebak makanan apa ini? 


Di dalam bungkusan kantung semar terdapat ketan dicampur dengan kacang merah. Namanya Cong Thien Ang, cukup khas di Borneo karena di Singkawang dan Pontianak pun terdapat jajanan seperti ini. Setelah digigit campuran antara ketan dan kacang merah sangat terasa namun belum cukup membuat perut saya terisi secara penuh. 


Kami pun kembali berkeliling mencari makanan apa yang cocok bagi kami. Saya sebetulnya tidak terlalu mempermasalahkan makanan apa, namun memang karena kami harus mencari makanan halal. So, sebagian kami harus ekstra hati-hati dengan makanan yang mengandung babi. Untungnya beberapa restoran memang menyajikan makanan halal seperti sate ayam dan kambing serta ikan. 



Hujan rupanya turun juga. Kami yang tadinya duduk di luar pun segera berpindah tempat ke dalam sebuah restoran yang tutup. Sembari hujan kami menanti pesanan yaitu nasi lemak, sate ayam, sate kambing dan ikan masak. Saya dan Ero memesan sate ayam dan kambing, sementara Mba Evi dan Indra memesan ikan masak serta cah kangkung. Sementrara sisanya memesan nasi lemak. 

Yes, pesanan kami pun tiba. Tidak perlu menunggu lama, kemudian saya melahapnya dengan penuh nafsu karena perut telah lama merontak-ronta. Hanya 10 menit kemudian, lontong pun telah raib sementara satenya masih tersisa. Saya dan Ero kemudian menambah lontong untuk menghabiskan sate yang masih tersisa. 


Sebetulnya kalau kami tidak memberikan informasi sedikitpun tentang tempat ini, maka tidak akan pernah menyangka bahwa ini Siniawan. Orang-orang pasti mengira ini adalah Hongkong atau Macau. Benar-benar sangat terasa sekali orientalnya karena lampion. Makin malam, lampu-lampu lampion yang berwarna merah pun makin cantik. Apalagi dengan berhias langit yang telah hujan dan segera berganti menjadi langit terang, semakin menambah hasrat untuk berfoto-foto disini. Dan, hasilnya sangat kece loh, ini dia beberapa foto saya. Jangan ngiri ya.


Malam makin larut. Sudah saatnya kami pulang membawa kenangan yang tidak akan pernah dilupakan selama beberapa hari di Kuching. Terima kasih kepada Sarawak Tourism Board dan Air Asia yang telah mewujudkan destinasi yang menarik di Sawarak ini. 


One Day Trip Itinerary In Kuching, Sarawak


Kuching, kali ini perjumpaan pertama. Bukan sebuah kebetulan, saya sangat suka kucing. Namun, apakah Kuching ini memang benar memiliki arti yang sama. Saya cukup penasaran. Apalagi ini kali pertama mengunjungi sebuah negara bagian Malaysia yang berbatasan langsung dengan Provinsi Kalimantan Barat, Indonesia. Jika ditempuh dengan jalur darat, maka Kuching ini menghabiskan sepanjang siang dan akan sampai pada malam hari. Namun dengan Air Asia, segalanya menjadi mudah dan tak sampai satu jam kami sudah sampai di Kuching International Airport dari Supadio International Airport.

Setelah dari Sabah, perjalanan kami berlanjut ke Sarawak. Kedua Negara Bagian ini merupakan wilayah Malaysia yang berada di Borneo atau Pulau Kalimantan. Kalau di Sabah ada Kota Kinabalu, di Sarawak inilah Kota Kuching berada. 


Siniawan Old Town Night Market 


Pecinta Kuliner, datanglah ke Siniawan Night Market. Pasar malam ini dapat ditempuh sekitar 45 menit sampai satu jam dari pusat Kota Kuching. Siniawan sering disebut sebagai Pecinanan Kuching, namun sebetulnya Siniawan merupakan bagian dari kota Bau. Ratusan tahun lalu, Siniawan sudah terbentuk dari harmoni suku Bidayuh, China dan Melayu. Oranamen oriental sangat kental dengan hiasan lampion dan rumah-rumah tradisional yang masih mengunakan kayu. Pasar ini dibuka pada saat weekend yaitu Jumat, Sabtu dan Minggu. Kuliner yang disajikan mulai dari lokal sampai mancanegara seperti Jepang, India dan lainnya. 


Bako National Park


Bako merupakan sebutan untuk Bakau di Indonesia. Sarawak memiliki taman nasional bakau yang sangat terawat dengan sebutan Bako National Park. Untuk menempuh, Bako National Park diperlukan waktu kurang lebih 1 jam jalur darat dan 30 menit jalur laut. Iya, kami harus menempuh dua jalur transportasi sekaligus. Apa yang unik dari Bako National Park? Ragam Flora dan Fauna sangat banyak. Disamping itu, udara segar dan alam yang indah pun sudah sangat cukup untuk menghibur kegalauan jika ditinggal pacar atau putus cinta.

Orang Belanda dan Babi Berjenggot merupakan dua hewan yang cukup menyita perhatian seluruh orang. Orang Belanda bukanlah sebutan untuk orang yang berasal dari Belanda melainkan sejenis primata yang hidup di hutan seperti monyet dan sejenisnya. Sedangkan babi berjenggot merupakan babi hutan namun memiliki bulu-bulu lebat pada bagian bawah mulut.


Kuching WaterFront 


Setiap sore, Kuching Waterfront ramai orang-orang yang bercengkrama dengan teman maupun keluarga. Warung tenda berjejer sepanjang pinggiran sungai dan live music menambah kemeriahan sepanjang malam. Malam minggu pun menjadi puncak karena sampai dini hari, keramaian masih terasa. Waterfront sebetulnya merupakan kawasan terbuka dan taman umum yang dapat dinikmati siapa saja. Bagi pecinta nongkrong, maka tempat inilah yang saya rekomendasikan selama di Kuching. Mau makan dan minum? Harga makanan dan minuman pun cukup terjangkau sekitar 3-10 Ringgit, jadi tidak semahal yang dibayangkan. 

Kampung Melayu Boyan 


Jakarta memiliki daerah Kampung Melayu, begitu pula dengan Kuching. Kampung Boyan, begitulah Kampung Melayu ini disebut dalam peta. Kampung Melayu ini berada tak jauh dari Kuching Waterfront. Cukup menyebrang dengan mengunakan kapal kecil dan membayar 1 Ringgit.  Seperti halnya Waterfront yang banyak kuliner khas, Kampung Boyan pun tak kalah unik bahkan kuliner yang disajikan lebih menarik berupa jajanan dan oleh-oleh seperti ikan, kue dan jajanan yang nikmat jika dimakan ditempat. 


Kota Sejuta Klenteng 


Sepanjang perjalanan dari Kuching International Airport, saya melihat betapa banyaknya Klenteng. Pantas saja sebutan Kota Sejuta Klenteng melekat erat di Kuching. Setidaknya lebih dari satu klenteng yang terlihat di sekitar jalan Wayang yaitu Klenteng Hong San Si dan Klenteng China Jalan Wayang. 


Makan Malam Di Top Spot 


Tak lengkap rasanya jika berkunjung ke Kuching tidak ke Top Spot. Top Spot bukanlah sebutan bagi sebuah tempat yang kece, tapi lebih dari itu karena menyajikan banyak sekali makanan yang nikmat dan sangat lezat. Setidaknya puluhan restoran berjajar memanjang dengan kursi dan meja yang sangat banyak. Sebetulnya mirip dengan food court jika di Indonesia, namun Top Spot berbeda karena sangat luas dan sangat banyak pengunjungnya. Pada saat kesana, banyak sekali pengunjung, padahal bukan weekend, apalagi pada saat weekend ya. Coba bayangkan betapa membludaknya pemburu kuliner di Kuching ini.


Begitulah One Day Trip Itinerary yang bisa dishare pada postingan kali ini. Sebetulnya masih banyak tempat-tempat lain yang bisa di kunjungi di Kuching, namun setidaknya bisa menjadi referensi yang menarik untuk dikunjungi selama di Kuching.