Menggapai Mimpi Di Gunung Fuji, Jepang


Saya melihat Gunung Fuji disaat puncaknya tertutup oleh es. Keindahannya memang tak tertandingi. Bahkan, menurut kepercayaan siapa yang dapat melihat Gunung Fuji secara keseluruhan tanpa tertutup awan atau kabut maka akan diliputi keberuntungan. Entahlah saya hanya percaya saja, namun salah satu alasan mengunjungi Jepang adalah untuk melihat Gunung Fuji dari dekat.  

Suhu udara di Tokyo ketika turun dari pesawat mencapai 12 derajat Celcius. Artinya, jaket tebal Winter yang telah saya siapkan memang akan sangat berguna pada kondisi udara saat ini. Sebetulnya saya sempat meremehkan bahwa kondisi cuaca tidak akan berpengaruh pada tubuh saya, namun saya menyerah. Jaket saya kenakan ditambah dengan sweater dan baju dalam yang hangat. Terhitung 4 lapisan yang saya gunakan pada udara musim dingin. 

Setelah beberapa hari puas mengelilingi Tokyo, kini saatnya berpetualang dan melihat Gunung Fuji dari dekat. 

Perjalanan Ke Gunung Fuji


Untuk mencapai Gunung Fuji diperlukan kurang lebih 2-3 jam dari Tokyo. Banyak sekali moda transportasi yang dapat digunakan, terlebih lagi menggunakan kereta express dan bus. Saya baru mencoba kedua moda tersebut karena sangat mudah digunakan dan sangat hemat. Sebetulnya masih banyak kendaraan lain yang dapat digunakan, namun saya hanya akan membahas kedua jenis ini saja. Untuk informasi transportasi lain biasanya bisa dicari melalui google.

Naik Kereta dari Shinjuku Station

Tidak semua kereta cepat merupakan Shinkansen, demikian juga kereta cepat yang digunakan ke Gunung Fuji melalui Kawaguchiko Station. Dari Shinjuku Station kemudian naik kereta express Kaiji atau Azusa menuju Kofu dan turun di Otsuki Station. Dari Otsuki Station kemudian naik Fujikyu railway atau Fujisan Express dan berhenti Kawaguchiko Station. Total biaya yang dibutuhkan adalah sekitar 3.400 Yen untuk satu kali perjalanan dengan waktu tempuh sekitar 2 jam 10 menit.

Jika mengunakan JR Pass, maka biaya dari Shinjuku Station ke Otsuki tercover JR Pass dan hanya membayar biaya dari Otuski Station ke Kawaguchiko Station untuk kereta Fujisan Express atau Fujikyu Railway sebesar 1.140 Yen. Sedangkan pemiliki Tokyo Widepass, seluruh biaya perjalanan baik Kaiji atau Azusa Train dan Fujikyu Railway atau Fujisan Express yaitu dari Shinjuku Station ke Kawaguchiko Station telah tercover sepenuhnya. 

Naik Bus dari Tokyo Station

Salah satu cara ke Gunung Fuji adalah dengan mengunakan bus dari Tokyo Station. Kenapa harus dari Tokyo Station? Karena Tokyo Station merupakan salah satu sentral dari semua jalur kereta di Tokyo sehingga memudahkan apabila janjian dengan orang lain atau untuk memudahkan titik temu saja. 

Apabila telaah sampai di Tokyo Station kemudian menuju Yaseu South Exit dan kemudian belok ke kiri. Sampailah pada pembelian tiket di loket JR. Pembelian tiket dapat dilakukan beberapa hari ataau reserved ticket dengan harga 1.800 Yen. Setelah membeli tiket, silahkan antri di line nomor 7 dengan tujuan Kawaguchiko Station.

Kawaguchiko Station

Saya turun dari Fujikyu Railway dengan menggsok-gosokan tangan tanda mulai kedinginan. Didalam kereta terdapat penghangat sehingga diperjalanan saya tidak merasakan apapun dan menikmati tidur yang cukup lama karena durasi perjalanan sekitar 2 jam lebih. Saya menengok ke arah kanan dan kiri untuk memastikan apakah benar ini Kawaguchiko Station, dan ternyata memang disinilah seharusnya saya turun. 

Saya kaget ketika di ujung rel stasiun, Gunung Fuji dengan indahnya menampakan diri menyambut saya. Selama beberapa tahun ini saya ke Jepang dan belum pernah sekalipun melihatnya, kini nampak indah dengan balutan salju putih di puncaknya. Gunung Fuji memang misterius dan penuh dengan mitos. Maka saya pun percaya bahwa pastinya ada maksud dan tujuan dari penampakan Gunung Fuji saat ini. 

Teman saya pun yang memiliki niat yang sama untuk melihat Gunung Fuji pun tak terealisasikan karena Fuji San (Sebutan untuk Gunung Fuji dalam bahasa jepang) tak mau menampakan dirinya. Bukan hanya sekali namun untuk kedua kali, dan uniknya teman saya datang selang beberapa hari dengan kedatangnya saya. Dan, terbukti ketika saya datang kembali pada saat menjelang musim gugur, Fuji San masih mau menampakan dirinya walaupun sebagian badannya tertutup awan putih yang cukup tebal.

Mendaki Gunung Fuji


Pendakian ke Gunung Fuji memang memerlukan stamina yang kuat, apalagi Gunung ini merupakan salah satu yang tertinggi di Jepang dan Asia. Pada saat musim panas dan gugur, masih memungkinkan untuk didaki, namun pada saat musim dingin, sangat jarang yang mendaki sampai puncak karena puncaknya tertutup oleh salju. 

Bagi yang bukan pendaki seperti saya, tentunya ingin tetap melihat gunung Fuji dari dekat. Nah, dari Kawaguchiko Station bisa dilanjutkan ke beberapa tempat yang dapat diakses untuk melihat lebih dekat Gunung Fuji. Salah satu tempatnya adalah Kachi-Kachi Yama Ropeway. 

Kachi-Kachi Yama ini dapat dicapai dengan mengunakan Omni Bus/Fujikyu Bus dengan warna Merah. Harga tiket bus untuk mencapai tempat tersebut 2 day pass sebesar 2.380 Yen. Kachi-kachi Yama merupakan pemberhentian nomor 11 di jalur Merah.



Sebetulnya Kachi-kachi Yama terdapat salah satu jalur pendakian yang dapat dilalui oleh siapapun. Namun, pengunjung biasanya mengunakan ropeway dengan membayar sekitar 800 Yen untuk naik dan turun ke atas bukit ini. 

Selain melihat pemandangan Gunung Fuji dari dekat, terdapat restoran, kuil, permainan dan tempat untuk melihat Fuji San dengan lebih jelas dengan teleskop. Sebetulnya, Kachi-Kachi inilah salah satu tempat yang wajib dikunjungi disekitar Gunung Fuji untuk melihat dan berfoto dengan latar belakang Gunung Fuji. 



Setelah sampai di puncak bukit, terdapat jalur menuju puncak dengan melewati beberapa anak tangga. Dari sini sudah nampak Gunung Fuji yang legendaris. Apalagi pada saat saya kesana untuk kedua kalinya, suasana sudah sangat berbeda dan sudah direnovasi. Bukit ini berada diketinggian sekitar 1.000-2.000 meter diatas permukaan laut. Sehingga udara di atas pun bercampur antara panas dan dingin secara bersama-sama. 



Pada saat musim dingin dan jalur pendakian tertutup salju, maka cara yang paling tepat adalah mendaki melalu jalur Kachi-kachi Yama. Oh iya, kadang pada saat traveling atau pendakian biasanya terserang masuk angin dan penyakit meriang karena kecapean. Jangan sampai petualangan dan pendakian yang seru terganggu karena hal tersebut. Coba sediakan Starvit yang membantu meredakan masuk angin, meriang dan gejala lainnya. 

Bagi para pendaki gunung, teman-teman yang suka naik gunung atau yang sering traveling ada quiz dari @starvitid.Caranya mudah sekali Upload instagram foto traveling kamu dengan produk starvit pakai hashtag #StarvitGo #Starvit #Kuis #pendaki dan mention @starvitid. Buruan upload karena ada hadiah 2 tiket PP ke Bali dengan undian di Bulan Oktober dan Desember. Pemenang kuis #StarvitGo akan diterbangkan dari pulau Jawa dalam periode Januari-Maret 2018. Dapatkan Starvit di Guardian, Watson, Boston, Hypermart, Carrefour dan Diamond. Silahkan cek ke Instagram Starvit di www.instagram.com/starvit .

Selamat menggapai mimpi di Gunung Fuji dan menemukan arti kehidupan karena perjuangan untuk melihat salah satu keajaban di Jepang ini dibutuhkan sebuah pengorbanan, entah itu melawan cuaca dingin, meriang, masuk angin dan lain-lainnya. 


Weekend Escape : Serunya Body Rafting Di Citumang Green Valley


Waktu kecil dahulu saya sering nyebur ke bak mandi dengan dalih ingin mengurasnya padahal saya hanya ingin bermain air. Hampir setiap minggu rutinitas itu saya lakukan, dan hasilnya bukan mendapat dukungan malah menuai cibiran dari Mba Sri, pembantu rumah tangga di keluarga saya. Ternyata hobi saya berenang dalam bak mandi itu tak lantas membuat saya pun bisa berenang dengan sempurna di sungai. Teman-teman saya yang jago berenang asyik bermain air sampai ke tengah sungai yang deras, sementara saya harus menahan diri dan menjaga pakaian mereka. Semenjak saat itu, sungai menjadi momok.

Suatu sore tahun 2010, saya diajak sahabat saya, Ridwan untuk berenang di sebuah kompleks perumahan di Senayan. Saya lupa nama tempatnya, tapi kolam renang ini merupakan fasilitas sebuah perumahan beserta fitness. Ridwan mulanya tidak percaya saya tidak bisa berenang sama sekali. Setelah berada di kolam, barulah dia tertawa karena saya tidak bisa melakukan gerakan apapun karena berada di pinggir kolam dan begerak seadanya. 

  
Ridwan memberitahu saya bahwa sebetulnya belajar berenang sangatlah mudah. Ridwan menunjuk bocah kecil berusia tak lebih dari 5 tahun berenang kesana kemari dengan bantuan pelampung kecil. Saya pun malu dengan keadaan dimana saya tidak bisa berenang. Mulailah saya mencoba gerakan yang diajarkan. Mulanya sangat sulit menaklukan arus air, namun lama kelamaan saya bisa mengerakan kaki dan mengerakan tangan dengan leluasa. 

Gerakan kaki dan tangan saya praktekan terus menerus sampai akhirnya pada saat hari lain, saya pun mencoba gerakan yang sama dan akhirnya saya bisa berenang dengan sempurna meski dalam jarak yang tak begitu jauh. Untuk menguatkan kaki dan tangan agar bisa berenang dengan sempurna, saya pun mendaftar fitnes di sebuah hotel yang lengkap fasilitasnya terutama kolam renang. Sebulan kemudian, resmilah saya bisa berenang dengan sempurna. 


Pagi itu di HAU Citumang, setelah sarapan kami memiliki agenda yang menyenangkan, Body Rafting. Memang Citumang disebut sebagai lembah hijau yang menawan, atau bahasa kecenya "Green Valley". Jika di daerah lain terdapat Green Canyon, maka Citumang pun memiliki Green Valley yang siap menyambut kami. 

Saya dan teman-teman sudah siap dengan perlengkapan pelampung yang sudah dikenakan. Senyum dan wajah sumringah seakan tak pernah surut dari teman-teman yang berasal dari berbagai daerah seperti DKI Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Tengah serta Yogyakarta. Sepertiya tidak ada kelelahan padahal perjalanan panjang telah dilalui dari masing-masing daerah. 

Setelah lengkap, kami berkumpul di pintu masuk HAU Eco Lodge Citumang, tempat kami menginap dengan konsep unik berupa Kontainer. Dan, sepertinya di Indonesia HAU Citumanglah yang menjadi pioneer penginapan dengan konsep seperti ini. Selain kontainer, HAU Citumang juga sangat peduli dengan lingkungan terutama pepohon yang berada disekitar lodge yang dibiarkan tumbuh dan berkembang sebagai mestinya. 



Kami berjalan meninggalkan satu-satunya penginapan kontainer warna-warni di Citumang. Dari sini kami harus berjalan sekitar ratusan kilometer menuju sungai Citumang yang hijau. Sebetulnya dari penginapan kami dapat melihat sungai ini, namun karena sungai tersebut di bendung, maka kami hanya menyaksikan aliran kecil saja. 

Jalanan menuju hulu sungai Citumang cukup bagus karena sudah ditambah bebatuan sehingga tidak akan becek jika terkena hujan. Disamping kanan dan kiri terdapat pepohonan dan kebun warga sekitar sehingga tampak hijau dan tidak panas. 



Setelah ratusan meter sampailah pada pintu masuk ke Green Valley Citumang. Untuk masuk ke tempat ini dikenakan biaya sekitar Rp 19.000 pada saat weekdays dan Rp 24.000 pada saat weekend. Oh iya, selain warga lokal yang sering body rafting, ternyata banyak juga bule-bule yang mengunjungi tempat ini pada hari-hari tertentu seperti Jumat dan weekend. Bahkan setiap bulannya, akan berganti-ganti bule dari negara seperti Amerika Latin, Amerika Serikat, Eropa dan Australia. So, pilihlah hari Jumat jika ingin cuci mata dan mendapatkan jodoh bule, hahaha.

Suara aliran air sudah terdengar dari pintu masuk. Itu tandanya hulu sungai ini sudah tidak jauh. Dan, artinya kami akan bersenang-senang masuk dalam sungai dengan air yang sangat jernih. Namun, lagi-lagi kami harus menahan terlebih dahulu karena antrian yang lumayan panjang. Sambil menunggu, kami mencoba ikan yang dapat memijat kaki. Sebetulnya bukan memijat melainkan ikan pemakan sel kulit mati di kaki. Walhasil, kaki kami seperti distrum oleh ikan yang makan kulit mati. Lucu juga karena kami harus menahan antaraa geli dan sakit karena rasa tersetrum ikan tersebut. Hahaha. 



Penantian berakhir. It's time to rock. Lihat saja air hijau nan jernih itu sudah memanggil-manggil untuk direnangi. Tentu saja saya senang mencoba body rafting di sungai yang unik ini. Selama ini saya merasakan body rafting di sekitar Jawa Tengah dengan air yang kecoklatan, namun disini airnya sangat jernih dan hijau. Mungkin saja karena dikelilingi oleh pepohonan hijau sehingga sungainya pun memantulkan cahaya hijau. 

Kami tak langsung dibawa menuju sungai yang dalam, melainkan gua dengan bebatuan. Ternyata inilah yang dimaksud dengan tantangan terjun dari ketinggian 10 meter lebih dari mulut gua. Mas Nuz dan Khaerullah yang memberanikan diri naik ke atas dari akar-akar dan mencapai atas untuk kemudian terjun. Kang Geri sebetulnya ingin mencoba namun urung dan harus turun dari ketinggian 10 meter menjadi 4 meter saja. Kalau saya pastinya akan sulit naik dari akar-akar pohon untuk mencapai ke atas. Akhirnya saya hanya mencoba dari ketinggian tak lebih dari satu meter. 



Dan setelah memasuki sungai yang sebenarnya, kami ditantang untuk menjadi tarzan. Karena berat badan saya yang mencapai 100 kg, saya hanya pasrah dan mencoba sebisa saya. Belum menganyun sampai ketengah sungai, tali itu sudah tidak mampu menahan badan saya dan terjatuh ke sungai. Byuurr. 

Setelah itu kami bermain kereta-kereta dengan cara menyambungkan kaki dengan tangan orang sebelumnya. Cukup sulit awalnya, namun berkat bantuan para pemandu akhirnya kami dapat membentuk kereta-kereta dengan bagus. 



Setelah kereta, kami membentuk formasi lainnya yaitu seperti lingkaran dan berombak karena gerakan kaki kami. Setelah itu kami naik kembali ke bendungan untuk kemudian menyusuri sungaai kecil dan berakhir di parkiran dekat dengan pintu masuk HAU Citumang. 

Pengalaman body rafting kali ini memang sangat mengasyikan. Sudah saatnya untuk kembali ke rutinitas di depan laptop dan menghadapi polusi. Suatu saat, saya akan kembali lagi ke Citumang untuk menikmati alam yang masih tersembunyi.


Info mengenai tarif body rafting ini salah satunya http://www.bodyrafting-guhabau.com/2017/09/harga-paket-body-rafting-citumang-green.html .

Dan untuk informasi mengenai HAU Citumang bisa mengakses website http://haucitumang.hotel.mypangandaran.com/ atau dapat reservasi melalui nomor 0265-639380 / 081316987988 . 

Sensasi Menginap Di Kontainer HAU Citumang, Pangandaran


How Are You Citumang? Apa kabar hari ini? Sepertinya Citumang ingin menyapa kembali melalui alam yang indah dan sungai-sungainya yang jernih. Saya pun merindu dari dalam kalbu. Anggap saja saya lebay atau apapun itu, namun tak sedikitpun kerinduan ini ditutupi oleh keraguan. Dan, dari sinilah kisah HAU Citumang dimulai. 

Rencanannya dari Jakarta kami langsung naik kereta api menuju Kota Banjar, Jawa Barat. Saya dan Raisa aka Astari telah memesan tiket yang sama. Pukul 09.00 tepat kereta kami berangkat. Seharusnya kami berempat, namun dua orang dari Bogor belum memberikan kabar apapun. Tiba-tiba dari kursi sebelah kami muncul sosok seperti Khaerul. Dan, ternyata benar dia berada satu gerbong dengan kami. Sayangnya Teh Nita tidak dapat bergabung dengan kami. Saudara Teh Nita meninggal dunia, kami harus kehilangan satu travelmate


Kereta sempat berhenti beberapa kali di stasiun-stasiun yang menjadi rutenya. Saya sempat mengabadikan gerbong-gerbong kereta yang ditumpuk menjadi satu. Mungkin gerbong ini sudah tidak digunakan atau bahkan akan digunakan. Saya hanya kagum dengan keunikan tumpukan gerbong ini. 

Perjalanan ke kota Banjar ditempuh sekitar 8-9 jam dengan kereta ekonomi Serayu jurusan Purwokerto. Saya sempat membeli nasi 4 bungkus beserta gorengan, sementara Raisa membawa rendang. Maka lengkaplah piknik di kereta ini dimulai dari makan bekal bawaan kami. Pemandangan di luar sana sangat menyejukan, banyak pepohonan dan gunung disertai langit yang amat cerah. Menjelang siang, saya berusaha untuk menutup mata. Ternyata sangat susah mata ini untuk terpejam sebentar saja. Lagu-lagu dalam handphone pun sudah diputar berulang kali. 

Seharusnya sekitar pukul 5 sore kereta kami sudah sampai di Kota Banjar, namun karena terdapat kendala teknis, barulah sekitar jam 6 kurang, kami semuanya sampai di Banjar. Sambil menunggu rombongan dari Yogyakarta, kami pun rehat sebentar. Tak berapa lama kemudian, rombongan Yogyakarta pun sampai. Satu Elf dan mobil city car telah berada di luar. Kami pun langsung menuju HAU Citumang

Sesampainya di Citumang, sinyal mulai meredup. Bahkan di dalam kontainer pun, tidak ada satupun balok sinyal yang ditemukan. Jika ingin sinyal, kami harus ke area parkiran yang berada di depan pintu masuk. Tidak ada sinyal, artinya kami harus menikmati setiap hari disini dengan aktivitas yang menantang seperti body rafting dan berenang di sungai yang jernih. 



Malam tadi setelah mandi, saya sudah tidak bisa menahan kantuk sehingga pulas tertidur. Beruntung saya tidak mimpi yang aneh-aneh. Suasana malam memang agak sunyi karena pinggir penginapan ini adalah sungai dan hutan. Lain halnya ketika pagi sudah datang. Warna-warni kontainer cukup menghidupkan suasana disini. Saya segera mandi dan mencharge batere kamera. Tadi malam, saya lupa untuk mengcharge batere kamera kesayangan. 

Sebelum beraktivitas di siang nanti, saya sempat mengelilingi penginapan dengan konsep ECO Friendly. Saya cukup terkejut karena pohon-pohon yang berada di setiap sudut penginapan ini cukup terawat, bahkan terkesan pohon-pohon ini tidak ditebang pada saat perakitan kontainer tersebut dimulai. Terbukti dengan jalan menuju kontainer yang dibuat mengikuti pepohonan. Selain itu, pengolahan air limbah pun sangat diperhatikan sehingga pada saat pembuangan ke sungai tidak menimbulkan dampak yang merugikan. 


Saat perut memanggil, ternyata sudah masuk waktu sarapan. Saya bergegas menuju ke kontainer di depan yang merupakan restoran. Letaknya persis berdampingan dengan resepsionis yang berada di depan setelah pintu masuk. Teman-teman lain sudah berada di restoran. Saya bergegas mengambil paket sarapan yang telah disediakan. Nasi kuning dengan telur mata sapi serta sayuran dan krupuk. Bagi saya, menu ini pas untuk perut saya yang lapar tapi tidak terlalu ingin penuh perut ini. 


Setelah kenyang, saya menuju ke tempat kumpul yang berada di tengah-tengah penginapan. Saya menyebutnya sebagai tempat bermalas-malasan hehehe. Disitu terdapat bantal-bantal manja yang bisa membuat siapa saja tersihir dan tertidur sesaat setelah sarapan. Setiap saat, ada saja yang berada ditempat ini. Karena memang tempatnya yang teduh dibawah pohon-pohon dan sering dijadikan sebagai tempat santai dan membawa inspirasi.  

Tempat favorite saya yang lain adalah Instagram-able spot. Oh iya, selain menyediakan penginapan, HAU Citumang juga menyediakan tempat foto dengan membayar tiket sekitar 50 ribu rupiah. Terdapat sungai dengan balon-balon pelampung yang unik dan spot untuk foto yang terdapat di atas. Biasanya memang setelah body rafting di sungai Citumang, orang-orang akan melintas di depan penginapan. Bagi yang penasaran di dalam, maka akan bertanya apa saja yang menarik dari HAU Citumang. 



Wanna escape from daily routine? HAU Eco Lodge Citumang is your answer. Setidaknya dibutuhkan waktu 3 hari 2 malam untuk menikmati penginapan, body rafting di sungai dan mengelilingi hutan yang masih sangat segar udaranya. Bisa jadi inilah petualangan terseru yang bisa didapatkan dari menginap disini.

So, tunggu apalagi. Yuk menginap dan berpetualang di Citumang yang sungainya sejernih hatiku. Hehehe. 



Fasilitas 

HAU Citumang menyediakan kamar dengan kapasitas sekitar 3 orang dengan harga kamar weekdays Rp 750.000 dan weekend Rp 1.000.000. Harganya lumayan mahal, namun jika dibagi dengan penghuni kamar maka tidak lebih dari Rp 333.333 setiap orangnya. Selain itu terdapat Coffee Shop dan restoran sehingga tidak perlu khawatir jika malam-malam kelaparan. Pada saat saya kesana belum terdapat Wifi, namun ternyata sekarang sudah di pasang wifi di dalam kamar. Oh iya harga kamar termasuk sarapan ya.

Catatan Penting
  • Dari Jakarta dapat ditempuh melalui kereta dari Stasiun Pasar Senen dengan mengunakan KA Serayu tujuan Purwokerto kemudian turun di Stasiun Banjar dengan harga Rp 67.000. Kemudian dengan mobil carteran sekitar Rp 500.000 akan diantar menuju ke HAU Citumang. 
  • Sangat disarankan untuk ke sana beramai-ramai karena akses yang membutuhkan mobil carteran 
  • Body rafting dapat ditanyakan kepada pihak HAU Citumang, terdapat paket lengkap dengan body rafting
  • Dari pangandaran dapat ditempuh dengan kendaraan pribadi sekitar 1 jam kurang
Credit foto to Astari www.ivegotago.com 

Informasi HAU Eco Lodge Citumang 

Alamat 

Sukamanah RT 1/Rw 6, Bojong, Parigi, Pangandaran, Jawa Barat 46393

Website 


Reservasi 

0265-639380 / 081316987988

Rate 

Weekdays : Rp 750.000
Weekend : Rp 1.000.000 

Instagram 

Maps 

Siniawan Old Town Night Market, Kuching


Sebetulnya malam ini malam terakhir di Kuching. Namun, saya tidak mau berakhir begitu saja tanpa merasakan suasana Siniawan. Julukan Kota Tua atau Old Town yang melekat membuat saya terpikat. Menurut banyak orang yang telah bertandang ke sana, Siniawan sangat mempesona. Kesan oriental memang sangat terasa, karena lampion bertebaran di setiap sudut sehingga mempercantik malam di Siniawan.

Perjalanan dari Kota Kuching ditempuh sekitar kurang lebih satu jam. Datanglah pada saat Weekend karena Siniawan memang hanya buka pada saat Jumat, Sabtu dan Minggu. Sebelum sampai, saya sebetulnya membayangkan seperti apakah Siniawan tersebut, karena memang saya tidak mencari informasi apapun dari Mbah google. Setelah siang hari beradu panas dan jalan-jalan mengelilingi Bako National Park, sore ini kami diajak Aunty Ana, guide kami, mengunjungi Siniawan. 


Sesampai di Siniawan, awan pun masih putih disertai matahari yang enggan muncul karena tertutup awan. Cuaca memang agak gerimis dan mendung. Namun, kami tetap mengunjungi tempat terbuka ini. Layaknya pasar malam, memang sepanjang jalan disediakan meja dan kursi untuk menikmati setiap kuliner yang dijajakan.

Sebagian besar bangunan terbuat dari kayu. Entah berapa usia kayu yang kami lihat, namun yang pasti Siniawan merupakan Kota Tua yang didirikan oleh saudagar asal Tiongkok yang melarikan diri dari kejaran James Brooke pada tahun 1921. Jadi bisa jadi usia kayu yang masih terlihat kuat tersebut hampir mendekati 100 tahun. 

Mata saya tertuju pada bambu-bambu yang dibakar. Di dalam bambu biasanya berisi beras ketan atau beras lainnya. Saya mengenal makanan ini di Pontianak dengan nama Nasi Lemang. Mungkin karena masih satu pulau dan satu tradisi, nasi ini pun masih bisa kita jumpai di Siniawan. 



Segala jenis makanan tersedia disini. Mulai dari rasa lokal sampai internasional seperti Jepang dan India. Harga makanan pun terbilang sama dengan Indonesia sekitar 5-20 Ringgit tergantung porsi dan jenis makanan yang dibeli. Kalau dikurskan ke Indonesia, harga makananya berkisar dibawah 100 ribu rupiah. So, masih masuk di budget apabila makan di pasar malam ini. 


Takoyaki pun menjadi jajanan yang patut di coba disini. Antrian untuk mencoba takoyaki pun jadi tantangan tersendiri, karena ternyata banyak juga yang mencoba makanan asal Jepang yang telah mendunia. Saya sebetulnya pengen mencoba, namun karena teman-teman sudah memanggil untuk berburu makanan lain. Akhirnya saya harus gigit jari. 

Beruntung di ujung jalan, kami menemukan makanan yang lumayan untuk menganjal perut kami yang agak kelaparan. Coba tebak makanan apa ini? 


Di dalam bungkusan kantung semar terdapat ketan dicampur dengan kacang merah. Namanya Cong Thien Ang, cukup khas di Borneo karena di Singkawang dan Pontianak pun terdapat jajanan seperti ini. Setelah digigit campuran antara ketan dan kacang merah sangat terasa namun belum cukup membuat perut saya terisi secara penuh. 


Kami pun kembali berkeliling mencari makanan apa yang cocok bagi kami. Saya sebetulnya tidak terlalu mempermasalahkan makanan apa, namun memang karena kami harus mencari makanan halal. So, sebagian kami harus ekstra hati-hati dengan makanan yang mengandung babi. Untungnya beberapa restoran memang menyajikan makanan halal seperti sate ayam dan kambing serta ikan. 



Hujan rupanya turun juga. Kami yang tadinya duduk di luar pun segera berpindah tempat ke dalam sebuah restoran yang tutup. Sembari hujan kami menanti pesanan yaitu nasi lemak, sate ayam, sate kambing dan ikan masak. Saya dan Ero memesan sate ayam dan kambing, sementara Mba Evi dan Indra memesan ikan masak serta cah kangkung. Sementrara sisanya memesan nasi lemak. 

Yes, pesanan kami pun tiba. Tidak perlu menunggu lama, kemudian saya melahapnya dengan penuh nafsu karena perut telah lama merontak-ronta. Hanya 10 menit kemudian, lontong pun telah raib sementara satenya masih tersisa. Saya dan Ero kemudian menambah lontong untuk menghabiskan sate yang masih tersisa. 


Sebetulnya kalau kami tidak memberikan informasi sedikitpun tentang tempat ini, maka tidak akan pernah menyangka bahwa ini Siniawan. Orang-orang pasti mengira ini adalah Hongkong atau Macau. Benar-benar sangat terasa sekali orientalnya karena lampion. Makin malam, lampu-lampu lampion yang berwarna merah pun makin cantik. Apalagi dengan berhias langit yang telah hujan dan segera berganti menjadi langit terang, semakin menambah hasrat untuk berfoto-foto disini. Dan, hasilnya sangat kece loh, ini dia beberapa foto saya. Jangan ngiri ya.


Malam makin larut. Sudah saatnya kami pulang membawa kenangan yang tidak akan pernah dilupakan selama beberapa hari di Kuching. Terima kasih kepada Sarawak Tourism Board dan Air Asia yang telah mewujudkan destinasi yang menarik di Sawarak ini. 


One Day Trip Itinerary In Kuching, Sarawak


Kuching, kali ini perjumpaan pertama. Bukan sebuah kebetulan, saya sangat suka kucing. Namun, apakah Kuching ini memang benar memiliki arti yang sama. Saya cukup penasaran. Apalagi ini kali pertama mengunjungi sebuah negara bagian Malaysia yang berbatasan langsung dengan Provinsi Kalimantan Barat, Indonesia. Jika ditempuh dengan jalur darat, maka Kuching ini menghabiskan sepanjang siang dan akan sampai pada malam hari. Namun dengan Air Asia, segalanya menjadi mudah dan tak sampai satu jam kami sudah sampai di Kuching International Airport dari Supadio International Airport.

Setelah dari Sabah, perjalanan kami berlanjut ke Sarawak. Kedua Negara Bagian ini merupakan wilayah Malaysia yang berada di Borneo atau Pulau Kalimantan. Kalau di Sabah ada Kota Kinabalu, di Sarawak inilah Kota Kuching berada. 


Siniawan Old Town Night Market 


Pecinta Kuliner, datanglah ke Siniawan Night Market. Pasar malam ini dapat ditempuh sekitar 45 menit sampai satu jam dari pusat Kota Kuching. Siniawan sering disebut sebagai Pecinanan Kuching, namun sebetulnya Siniawan merupakan bagian dari kota Bau. Ratusan tahun lalu, Siniawan sudah terbentuk dari harmoni suku Bidayuh, China dan Melayu. Oranamen oriental sangat kental dengan hiasan lampion dan rumah-rumah tradisional yang masih mengunakan kayu. Pasar ini dibuka pada saat weekend yaitu Jumat, Sabtu dan Minggu. Kuliner yang disajikan mulai dari lokal sampai mancanegara seperti Jepang, India dan lainnya. 


Bako National Park


Bako merupakan sebutan untuk Bakau di Indonesia. Sarawak memiliki taman nasional bakau yang sangat terawat dengan sebutan Bako National Park. Untuk menempuh, Bako National Park diperlukan waktu kurang lebih 1 jam jalur darat dan 30 menit jalur laut. Iya, kami harus menempuh dua jalur transportasi sekaligus. Apa yang unik dari Bako National Park? Ragam Flora dan Fauna sangat banyak. Disamping itu, udara segar dan alam yang indah pun sudah sangat cukup untuk menghibur kegalauan jika ditinggal pacar atau putus cinta.

Orang Belanda dan Babi Berjenggot merupakan dua hewan yang cukup menyita perhatian seluruh orang. Orang Belanda bukanlah sebutan untuk orang yang berasal dari Belanda melainkan sejenis primata yang hidup di hutan seperti monyet dan sejenisnya. Sedangkan babi berjenggot merupakan babi hutan namun memiliki bulu-bulu lebat pada bagian bawah mulut.


Kuching WaterFront 


Setiap sore, Kuching Waterfront ramai orang-orang yang bercengkrama dengan teman maupun keluarga. Warung tenda berjejer sepanjang pinggiran sungai dan live music menambah kemeriahan sepanjang malam. Malam minggu pun menjadi puncak karena sampai dini hari, keramaian masih terasa. Waterfront sebetulnya merupakan kawasan terbuka dan taman umum yang dapat dinikmati siapa saja. Bagi pecinta nongkrong, maka tempat inilah yang saya rekomendasikan selama di Kuching. Mau makan dan minum? Harga makanan dan minuman pun cukup terjangkau sekitar 3-10 Ringgit, jadi tidak semahal yang dibayangkan. 

Kampung Melayu Boyan 


Jakarta memiliki daerah Kampung Melayu, begitu pula dengan Kuching. Kampung Boyan, begitulah Kampung Melayu ini disebut dalam peta. Kampung Melayu ini berada tak jauh dari Kuching Waterfront. Cukup menyebrang dengan mengunakan kapal kecil dan membayar 1 Ringgit.  Seperti halnya Waterfront yang banyak kuliner khas, Kampung Boyan pun tak kalah unik bahkan kuliner yang disajikan lebih menarik berupa jajanan dan oleh-oleh seperti ikan, kue dan jajanan yang nikmat jika dimakan ditempat. 


Kota Sejuta Klenteng 


Sepanjang perjalanan dari Kuching International Airport, saya melihat betapa banyaknya Klenteng. Pantas saja sebutan Kota Sejuta Klenteng melekat erat di Kuching. Setidaknya lebih dari satu klenteng yang terlihat di sekitar jalan Wayang yaitu Klenteng Hong San Si dan Klenteng China Jalan Wayang. 


Makan Malam Di Top Spot 


Tak lengkap rasanya jika berkunjung ke Kuching tidak ke Top Spot. Top Spot bukanlah sebutan bagi sebuah tempat yang kece, tapi lebih dari itu karena menyajikan banyak sekali makanan yang nikmat dan sangat lezat. Setidaknya puluhan restoran berjajar memanjang dengan kursi dan meja yang sangat banyak. Sebetulnya mirip dengan food court jika di Indonesia, namun Top Spot berbeda karena sangat luas dan sangat banyak pengunjungnya. Pada saat kesana, banyak sekali pengunjung, padahal bukan weekend, apalagi pada saat weekend ya. Coba bayangkan betapa membludaknya pemburu kuliner di Kuching ini.


Begitulah One Day Trip Itinerary yang bisa dishare pada postingan kali ini. Sebetulnya masih banyak tempat-tempat lain yang bisa di kunjungi di Kuching, namun setidaknya bisa menjadi referensi yang menarik untuk dikunjungi selama di Kuching.  

Dinner Mewah dan Sunset Indah Di North Borneo Cruises, Sabah


Makan malam biasanya di warteg atau tukang bakso keliling di depan kosan. Tidak pernah melebihi mewahnya itu, kecuali kalau di undang ke hotel atau dinner bersama petinggi dari perusahaan, namun tidak pernah terbayangkan untuk Dinner di Cruises yang mewah dan penuh dengan hiburan. 

Pagi hari, sesuai dengan jadwal kami mengunjungi Pasar Nabalu, Cattle Farm dan Kinabalu Park yang berjarak kurang dari satu jam dari Kota Kinabalu, Ibukota Sabah. Keceriaan pagi dan siang hari rupanya berlanjut ke sore harinya. Semangat masih membara karena kami akan melihat sunset sekaligus menikmati Dinner di kapal pesiar mewah seharga kurang lebih 800 ribu jika di kurskan ke Rupiah (RM 235). Tentu saja makan malam ini akan sangat menarik karena saya baru pertama kali Dinner di Cruises. Kalau Dinner di hotel sudah pasti pernah, namun tentu saja sensasinya akan sangat berbeda.

Tidaklah cukup dengan berdiam saja ketika kami sampai lebih cepat dari yang diperkirakan. Ada-ada saja tingkah yang dilakukan oleh kesepuluh teman saya. Ada yang mengambil foto, ada yang bersantai, ada yang berjoget dan ada yang merekam kehebohan kami berjoget. Musik yang entah dari mana sumbernya membuat kami bergoyang tanpa disadari, apalagi musiknya sangat familiar dan up beat. 

Dimulai dengan Kak Irene dan saya, kemudian mereka beramai-ramai mengikuti kami berdua. Malu, tentu saja kami mengubur dalam kata-kata itu. Malahan ada bule yang mengambil video ata kehebohan kami di bibir pantai dan dermaga, tempat bersadar kapal pesiar kami. Kami tak berhenti pada satu lagu saja, bahkan kami bergoyang sampai berganti genre dari up beat ke mellow. Semuanya kami babat dengan keriaan. Setelah selesai, rupanya pak Jun, guide kami, belum memanggil untuk masuk. Kami pun pindah lokasi beberapa meter untuk kembali berjoget bersama. 


Hanya Multi dan Mba Levi yang malu-malu dan tidak bergabung dengan kami. Jadilah 9 orang yang tidak tahu malu ini merekam semua kehebohan dan tarian tak bergaya apapun di dalam kamera saya. Setelah memutar ulang pun, saya masih tertawa terpingkal-pingkal dibuatnya. Next, akan saya upload keseruan joget ini di youtube channel saya di www.youtube.com/user/salmanbiroe

Sebelum pak Jun memanggil, tak lupa kami berfoto-foto di bawah temaran sinar matahari yang kian merudep karena memang sudah sore. Rupanya awan tebal masih mewarnai sore ini, bahkan ketika saya berfoto pun awan itu masih menghias dan membentuk foto yang eksotis karan awan dan matahari saling menutupi satu sama lain.

Pak Jun memanggil kami, sementara kami sudah setengah siap tinggal membawa tas-tas yang kami bawa. Dinner kali ini memang semi formal, namun pakaian yang saya kenakan hanya kaos dan jeans dengan sepatu kesukaan berwarna biru. Setelah dilihat memang Dinner kali ini tak seformal yang dirasakan, hanya saja memang kesan mewah yang menjadikan permasalahan pakaian pun serasa harus mengikutinya. Namun, yang lain pun ada yang sangat formal dan berpakaian seperti saya. Jadi, saya tidak salah kostum kali ini.


Kami memasuki pintu yang dijaga beberapa petugas. Sebelum masuk, tangan kami digelangkan tanda masuk berwarna ungu seperti tanda masuk ke Dufan atau wahana permainan. Langkah saya bergerak menuju ke sebuah kapal pesiar berwarna putih. Dari luar tampak tidak ada yang istimewa, namun setelah saya masuk, rasanya berada di Surga karena disambut banyak orang. Selain itu, makanan sudah rapi dan tersedia untuk kami semua. Tak lama setelah duduk, kami pun mengintari meja saji yang berada di tengah. 

Terus terang saya tak cukup lapar sore itu, karena sempat makan banyak dengan komposisi yang cukup mengenyangkan. Namun, untuk sekedar mengisi perut, saya mengambil makanan yang ringan-ringan saja seperti sayuran dan mie serta buah. Tidak ada nasi ataupun daging yang biasa selalu lahap saya makan. Saya sebetulnya sedang menghindari nasi, karena sudah lama mengidamkan berat badan dibawah 100 kg (Mohon untuk percaya saja dengan pernyataan saya ini), hahaha.

Lagu-lagu dari pengeras suara menghanyutkan suasana karena beberapa lagu memang sangat romantis. Dua sejoli atau suami istri pasti akan terhanyut dan menikmati makan malam yang mewah ini. Lagu romantis memang everlasting, apalagi rata-rata yang datang sudah berusia 20 tahun ke atas, jadi telah tahu lagu-lagu dari tahun 1990-an. Seperti lagu my valentine atau lagu Titanic yang sangat fenomenal pada tahun 1997. 

Sementara lagu terus berputar dan menikmati makanan, dari luar pun sunset memanggil kami dengan penuh kehangatan. Saya dan kawan-kawan pun akhirnya menuju ke atas kapal. Dan, ternyata sunset yang kami tunggu-tunggu pun muncul dengan sangat jelas meski agak tertutup oleh awan, namun masih tetap terlihat dengan jelas.


Setelah naik keatas kapal, saatnya kini bergaya ala-ala foto model. Kami tak menyia-yiakan kesempatan untuk berfoto dengan latar lautan di atas kapal. Hasilnya memang sungguh mengagumkan karena benar-benar terlihat seperti foto model. Foto diatas adalah salah satu yang bisa saya banggakan. 

Setelah puas dengan berfoto-foto, kami pun mengikuti live music yang berada dibawah. Suara live muc bisa terdengar sampai dek kapal yang paling atas, sehingga kami masih bisa bernyanyi-nyanyi dan berjoget bersama. Seperti biasa, kalau ada satu yang mengawali maka selanjutnya akan ada orang yang mengikuti jogetan ini. Kak Irene yang biasanya mengawalinya kali ini berjoget bersama dengan lagu-lagu dari live music.Dan, inilah keseruan kami pada sore itu. Walaupun banyak sekali yang melihat kearah kami, tapi kami tetap berjoget bersama dan tidak menghiraukan apapun disekliling kami. We have fun.


Setelah kami berada diatas cukup lama, kemudian kami masuk kembali karena sunset sudah breganti malam dan Dinner masih kami lanjutkan. Di dalam, live music sepertinya mampu menyihir kam dengan lagu-lagu yang danceable sehingga kami pun tetap berdiri dan mengikuti irama setiap lagu. Seperti layaknya pemadu sorak, kami berjingkrak-jingkrak setiap ada lagu yang menarik. Selain kami, terdapat Pak Joshua dan Bu Nur dari Air Asia, sayang sekali Pak Bobby dari Sabah Tourism Board tidak dapat hadir karena ada event yang harus dihadiri.

Indra menyanyikan dua buah lagu. Tentu saja semua orang terpana melihat pancaran aura sang MC dan Penyanyi yang sering menghibur masyarakat di Lampung ini. Setelah penampilan selesai, lagu Gangnam Style pun menghipnotis kami dan membuat kami harus tampil di depan para tamu lain. Jadilah pertunjukan ini milik kami, Blogger Indonesia yang menjelajah Sabah beberapa hari ini. 

Keseruan kami belum berakhir karena ada sebuah lagu berjudul Sayang Kinabalu yang dinyanyiakan oleh penyanyi dati North Borneo Cruises sebagai penutupnya. Semua tamu pun diajak untuk berjoget bersama sebagai penutup keriaan malam itu. Sungguh pengalaman yang tak terlupakan menikmati dinner mewah dan sunset indah di North Borneo Cruises, Sabah.

Serunya Rafting Berlatar Pemandangan Gunung Kinabalu, Sabah


Belud, seperti nama binatang yang ada di Indonesia, tapi sebetulnya nama itu juga merupakan salah satu kota di Sabah, Malaysia. Butuh sekitar satu jam lebih dari Kota Kinabalu untuk menjelajah kota ini. Kesan pertama ketika sampai di tengah kotanya adalah kota kecil dengan kesan klasik namun sangat bersih dan nyaman. Belud mengingatkan Jakarta pada tahun 1990-an dengan pasar dan toko-toko klasik, yang membedakan adalah terdapat huruf kanji atau aksara mandarin, etnis Tionghoa. 

Sejauh mata memandang dari dalam Bas Pesiar (Bus Pariwisata), hanya sedikit saja masyarakat yang lalu lalang. Dan setiap pinggir jalan, tidak terlihat tumpukan sampah ataupun pedagang yang menjajakan dagangannya seperti di Indonesia. Itulah perbedaan yang sangat mendasar tentang membuang sampah di manapun.

Duo Desah kembali menghibur kami dengan suara nyanyian ala mereka. Entah kapan Duo Desah ini di resmikan, namun kehadiran Indra dan Teguh mampu menghapus keletihan kami di beberapa hari perjalanan kemanapun. Sampai-sampai Pak Bobby (Sabah Tourism Board) dan Pak Joshua (Air Asia), pun merasa terhibur dengan kelucuannya. Sebetulnya lagu yang dibawakan adalah lagu biasa, hanya saja terdapat sentuhan desahan yang tak dimiliki oleh penyanyi papan atas manapun.

Inilah Pemandangan Kinabalu yang Legendaris
Kami ke Belud bukan menepi atau mencari kedamaian, kami datang untuk bersenang-senang dan melakukan olahraga air yang sangat saya gemari selain berenang tentunya. Namun, rafting jauh menyenangkan dibandingkan dengan hanya sekedar berenang saja, inilah yang dinamakan memacu adrenaline. Rafting bagi saya bukan hal yang baru, saya mulai mengenalnya beberapa tahun silam. Pada outbound kantor lama, saya sering diajak untuk mencoba rafting, dan Alhamdulillah ketagihan, hehehe.

Bagi Indra dan Kak Irene, rafting merupakan hal baru. Wah, untuk pertama kali rafting saja harus jauh-jauh ke Sabah ya. Sebenarnya saya tidak percaya, tapi karena Indra menceritakan dengan sangat meyakinkan, jadi saya mengangguk-angguk saja, tanda percaya. Lain hal dengan Kak Irene, ia tak pernah sekalipun mencoba rafting karena tidak pernah diberi kesempatan. So, inilah rafting pertama mereka berdua. Dan, tak disangka-sangka, inilah Rafting paling berkesan karena sesuatu hal terjadi. Saya harus berhenti dulu untuk menahan gejolak antara rasa jengkel dan tertawa yang beradu dalam diri saya.

Tak terasa bus kami berhenti pada sebuah pinggiran sungai. Setelah pintu dibuka barisan depan dan kedua langsung turun tanpa menunggu aba-aba. Sementara yang lain terlihat melepaskan celana dan kaos serta berganti dengan baju untuk rafting. Saya yang berada di bangku paling belakang harus menunggu beberapa waktu, dan yes akhirnya saya bisa berjalan menuju tempat ganti. Saya terpaksa melepas jeans panjang dan baju yang masih bersih dengan baju dan celana pendek. And, I am ready to rafting in Kelud.

Sebelum rafting, seperti biasa harus dibrief terlebih dahulu apa yang harus dilakukan seperti pakaian pengaman, dayung dan pengaman kepala atau helm. Sebelum itu pula kami dijelaksan instruksi apa saja yang harus dilakukan dalam berbagai situasi. Dan, jangan sampai lupa semuanya karena akan fatal jadinya. Trust me, it is important while you in the river.

Forward adalah kata yang akan sering di dengar karena berarti kita akan harus mengayuhkan dayung ke depan secepat mungkin untuk maju dan melawan arus. Sedangkan sebaliknya, maka mengayuhlah ke belakang dan mengahalau arus.


Saya sebetulnya kurang memperhatikan seluruh penjelasan karena saya sibuk merekam dan mengambil gambar setiap momennya. Entah apa momennya yang penting dapat membuat dokumentasi saya lengkap terutama video. Dan, yang lain saya dengan meyakinkan mengangguk-angguk sebagai tanda bahwa mereka mengerti yang di jelaskan. Saya benar-benar tenang. 

Setelah semua penjelasan yang panjang dan dengan peragaan yang cukup jelas, akhirnya kami akan memulai rafting hari itu. Waktu menunjukan pukul 4 sore lebih, sedangkan saya tidak tahu berapa lama yang dibutuhkan sampai ke finish nantinya. Saya pasarh saja.

"Ayo kita berempat saja yuk."

Indra merangkul saya, mba Evi dan Kak Irene. Dan dengan ini terbentuklah, kwartet rafting untuk beberapa waktu kedepan. Saya dengan senyum puas mengatakan inilah Dream Team. Kami memiliki penyanyi, vlogger, pemilik Go Pro dan Pengayuh dengan tenaga kuat seperti saya, hahaha. Dengan dalih merekam semua aktivitas rafting ini, malah menjadikan boomerang nantinya. 

Dengan alat dayung, kami sudah siap dan naik ke boat. Sebetulnya kami dibantu dengan 3 orang penjaga kami yang berada di belakang Mba Evi dan Kak Irene. Dua orang bule dan satu orang Malaysia. Saya tambah makin lega dengan komposisi ini. Sementara boat lainnya diisi oleh tim Cewek dan Cowok, sementara kami Mix. 

Mulanya bule berteriak semangat dan mengatakan "Forward" yang merupakan tanda kami harus maju ke depan. Dan, inilah pertaruhan antara drama dan lawak dimulai.   


Sungai ini merupakan salah satu tempat tercantik dengan pemandangan Gunung Kinbalu yang anggun disepanjang jalur rafting. Seperti layaknya film Cowboy dengan sungai yang landai dan hutan-hutan seperti pinus dan pohon lain yang menyebar rata hampir disetiap jalur rafting membuat saya menikmatinya.

Mulanya kapal boat berpenumpang 7 orang itu tak mengalami gangguan, namun ketika memasuki arus yang seikit deras, Indra terhempas. Sementara dayung yang kami pakai ada satu yang terlepas. Si Bule berusaha menolong kami dengan ocehan yang tiada henti tanpa saya dan lainnya mengerti. Indra berhasil naik ke boat. Drama babak pertama dimulai. Bule yang tadinya kalem berubah sedikit tempramen. Setiap perintah yang ia tunjukan kepada saya dan 3 orang lainnya di keraskan dengan volume yang tak biasa.

Saya terus terang kaget dengan perubahan volume suaranya. Sementara boat lain terlihat begitu bersemangat dan menikmati setiap kayuhan, tidak demikan dengan kami, bagai daun kecil diatas sungai, kami siap untuk hanyut dan tenggelam. Padahal kayuhan saya sudah benar dan sekuat tenaga, namun tak berdampak apapun juga. What should I do?

Saya dan Indra saling pandang, dan kami tertawa. Dan diarus berikutnya, saya, Indra dan Mba Evi bukannya mengayuh, kami membentuk satu formasi saling berpelukan seperti teletubis di depan. Saya kembali tertawa. Sementara Bule sudah menyerah dan memelankan suaranya. Seperti tidak ada gairah dalam boat yang kami tumpangi.

Entah berapa kilometer lagi kami harus tempuh untuk sampai di finish. Seperti sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk mengayuhkan alat dayung ini. Dan, air semakin deras, arus pun kembali mengombang-ambing boat. Saya sudah pasrah, sementara suara bule sudah memerintahkan apapun yang bisa diperintah.

Boat kami akhirnya terhempas dan terbalik. Bule tetap meracau dengan kata-kata yang kami tidak ketahui lagi. Yang ada dalam pikiran saya adalah meyelamatkan diri sendiri dan boat. Alhamdulillah, boat dan seluruh penumpang tidak mengalami apapun.


Mba Evi sempat berfikir untuk menyelamatkan Indra terlebih dahulu dan membiarkan saja Go Pronya, namun Mba Evi merekam semua kejadian yang melanda kami. Hahaha, kami sudah tidak tahu lagi apa yang terjadi.

Sebagai hiburan, Indra sempat bermain Drama dengan berperan sebagai Jack, sementara saya harus berperan sebagai Rose dalam Film Titanic.

"I Told you Rose to go to school, Rose. Because you stupid, Rose."

Saya, Mba Evi dan Kak Irene sontak saja tertawa mendengar perkataan Indra yang spontan itu. Tak hanya sampai disini saja, Indra kemudian bernyanyi lagu Contry Road yang sama sekali tidak saya ketahui. Untungnya, si Bule tahu lagu ini dan bernyanyi bersama-sama dengan kami. Jadilah boat kami dipenuhi nyanyian dan bercandaan yang melepaskan ketegangan diantara kami.

Baru setelah kami berhenti di Finish, belakangan kami tahu bahwa cewek bule yang bersama kami di boat bernama Rose juga, hahaha, saya dan Indra sontak saja tertawa.

Iniliah keseruan kami menikmati rafting berlatar Gunung Kinabalu di Kota Belud, Sabah. Sampai jumpa di putalangan selanjutnya.

Welcome To Sabah, Borneo


Saya percaya pada kekuatan doa dan keinginan serta mimpi. Dan, salah satunya dengan mitos di Pontianak,  Kalimantan Barat. Barang siapa yang meneguk atau minum air sungai Kapuas,  maka dia akan kembali lagi ke Pontianak. Saya memegang teguh doa-doa dari masa lalu yang ingin agar Pontianak di kunjungi oleh pendatang yang memiliki niat mulia.

Percaya tidak percaya,  setelah 2014 terakhir ke Pontianak, akhirnya tahun ini saya kembali menjejakan kaki di Bumi Khatulistiwa. Dan,  perjalanan panjang menjelajah beberapa negeri di pulau Borneo pun harus di mulai di kota yang memiliki keberagaman yang telah dibukti bukan isapan jempol atau teks book semata.

Supadio Internatinal Airport membuka mata saya lebar-lebar ketika saya mendarat sekitar pukul 09.00. Dahulu,  Supadio sangat kecil dengan satu bangunan lawas,  kini sangat luas dan sudah menjadi International Airport. Bahkan,  Supadio lebih bagus dari Bandara Ahmad Yani di Pulau Jawa. Sungguh luar biasa perkembangan bandara ini, sehingga maskapai dari dalam maupun luar pun memperbanyak rute dari dan ke Pontianak,  salah satunya Air Asia yang memiliki rute Pontianak - Kuching -Kota Kinabalu.

Cerita dibalik ini adalah bagai mendapat durian runtuh,  saya berjodoh dengan Doni Prayudi dan Blogger dari berbagai daerah Kalimantan,  Sumatera dan Jawa. Saya dan teman-teman menjelajah Sabah selama beberapa hari yang tak terlupakan. What a lucky me. Saya juga tak menyangka karena proses seleksi dan pengumuman pun berlangsung dalam waktu beberapa bulan lalu. Namun,  memang kalau sudah rejeki tidak akan kemana-mana.


Saya dan Mba Evi berangkat dari Jakarta pagi itu berangkat bersama, sementara sang artis seantero Lampung harus naik beberapa jam setelah kami karena malam harinya harus ngamen terlebih dahulu. Andre yang berdomisili di Jakarta telah berada di Pontianak dari kemarin,  jadi saya dan mba Evi hanya menunggu Indra.

Karena boarding masih beberapa jam lagi,  kami berjalan sangat santai dan berhenti di tempat duduk yang telah disediakan di luar gedung terminal keberangkatan. Kami memilih bangku tersebut karena dekat dengan toilet dan charger station. Setengah jam kemudian,  satu per satu teman dari Kalimantan pun datang,  Ada Ero,  Dyah,  Teguh dan Multi. Tak lama kemudian Andre pun datang. Sementara Mba Levi telah berada di Pintu Keberangkatan. Sementara Dodon,  Kak Irene dan Indra masih dalam perjalanan masing-masing.


Tepat setelah kami masuk ke pintu keberangkatan,  Dodon,  Kak Irene dan Indra pun telah berada di Imigrasi. Artinya sebentar lagi kami akan lengkap bersebelas dan akan melakukan penerbangan ke Kuching sebelum melanjutkan perjalanan ke Kinabalu.

Mari kita memulai perjalanan yang menyenangkan dengan senyuman. Kinabalu , we coming to you. This is the truly Happiness. Kalau bisa di ungkapkan dengan kata-kata bisa dikasih judul "Petualangan 11 orang kocak di Kinabalu".


Pertama kali melihat masing-masing karakter memang tidak ada yang bocor atau melenceng dari garis-garis ketentuan, namun judgement saya haruslah salah,  tentunya makin hari kebocoran dan kekocakan pasti akan terjadi,  apalagi ada Raja Dangdut yang siap menghibur seantero jagat raya,  Dunia Indra. Kalau Indra, Mba Evi dan Andre,  saya pernah bertemu sebelumnya,  sehingga tahu karakter masing-masing. Nah,  sisa 7 orang inilah yang masih misterius adanya. Tapi yakinlah,  beberapa jam kemudian atau sehari berikutnya,  perjalanan ini akan sangat menyenangkan.

Berhubung pastinya penasaran dengan mereka dan saya maka saya akan perkenalkan satu per satu.

1. Doni Prayudi

Postur tubuh yang hampir mirip dengan saya ini membuat hobi makannya memang tak bisa dihindari,  apalagi blognya berisi tentang traveling dan makanan turut andil dalam membentuk postur seperti sekarang. Blognya dapat dijumpai di www.tukangjalanjajan.com

2. Evi Indrawanto

Siapa yang tak kenal dengan Mba Evi yang merupakan co founder Indonesia Corners. Hobinya jelas jalan-jalan baik dalam negeri maupun luar negeri. Sebelum perjalanan ini,  saya bertemu dengan Mba Evi di Festival Krakatau di Lampung. Blognya dapat dijumpai di www.eviindrawanto.com.

3. Indra Pradya (Dunia Indra)

Kocak dan cair, itulah kesan yang pertama saat saya bertemu dengan Indra pada saat perjalanan ke Pulau Pisang, Lampung,  beberapa bulan lalu. Sangat aktif dalam berbagai bidang terutama pariwisata dan kebudayaan serta kepemudaan, bahkan diluar pekerjaan utamanya,  dia sering didaulat sebagai master ceremony (MC). Blognya dapat dijumpai di www.duniaindra.com.

4. Andre

Pertama kali bertemu pada saat di Bandung dalam sebuah acara bank. Kami mengexplore bandung sambil diberikan tantangan. Acara yang sangat menarik pada saat itu. Kedua kalinya pun kami bertemu di Bandung.

5. Aseanty Palevi

Dari namanya tersimpan kata Asean karena lahir di salah satu negaranya,  Indonesia. Mungkin dibalik nama tersebut tersimpan doa untuk selalu ingat dengan Asean dan menjelajahi setiap negaranya suatu saat. Mba Levi,  panggilan saya kepadanya,  seorang jurnalis dengan segenap ilmunya.

6. Irene

Bagi Kak Irene,  setiap momen merupakan hal yang harus di masukan kedalam channel youtubenya. Iya,  Kak Irene ini adalah youtuber yang sering merekam kejadian setiap hari dan pada saat traveling ke manapun, termasuk perjalanan 3 negara yaitu Indonesia,  Malaysia dan Brunai Darusaalam beberapa waktu yang lalu.

7. Dyah

Dare Pontianak atau Gadis Pontianak ini pengemar EXO dan Drama Korea. Jadi maklum kalau setiap melihat orang yang mirip Opa Korea,  dia tidak segan untuk berfoto bersama dan menirukan gaya-gaya khas Korea.

8. Ero

Design,  Video dan Foto. 3 hal ini yang tak lepas dari dirinya. Dalam setiap waktu,  kamera tidak lepas darinya. Bahkan momen-momen yang langka sekalipun dapat tertangkap olehnya. Video yang dibuatnya tak kalah indahnya, apalagi memang selama ini ia bergelut dengan pembuatan produksi wedding video sehingga sangat tahu angel mana yang sangat bagus.

9. Multi

Sesuai namanya,  Multi,  ia memiliki beberapa keahlian antara lain youtuber dan blogger. Video yang diunggah ke youtube tak jarang memiliki view lebih dari ribuan. Video yang diunggah sering mengambil sudut kota Singkawang sebagai kota asalnya.

10. Teguh

Fotogenik. Begitu kira-kira yang pertama kali saya lihat dalam dirinya. Dalam Instagram, parasnya sangat apik dan sangat menjiwai sebagai model. Namun kenyataanya sangat jauh berbeda,  ia tidak bisa diam dan selalu mengolah kata agar kami tidak lupa untuk tersenyum hari itu.


Sebagai bocoran,  kami memiliki waktu yang sangat panjang di Kota Kinabalu, Sabah. Tidak hanya darat saja, tapi kami akan menjelajahi lautnya karena disini terdapat Island Hoping seperti Manukan dan Sapi. Selain aktivitas laut seperti snorkling, kami juga melakukan Scuba Walk dan Coral Flyers Zipline. Sedangkan malamnya kami di ajak ke Mari-mari Cultural Village.


Besoknya, kami diajak ke Pasar Nabalu dengan view Gunung Kinabalu. Setelah itu kami ketemu dengan Sapi dan Kambing di cattle farm. Dan,  makan siang serta jalan-jalan di Kinabalu Park. Hari ketiga kami akan ke Medical Tourism di KJP Specialist dan Gleneagles.

Berikutnya kami mengunjungi Jesselton Medical Centre kemudian Rafting di Kota Belud dan Dinner di The Crab House. Besoknya kami diajak untuk makan siang di Imago Mall yang terkenal di KK,  Sabah.


Anak Gunung Krakatau Yang Legendaris



Rakata, Danan dan Perbuatan membentuk sebuah gugusan pada sebelum 1883 dan berdiri kokoh di perairan antara pulau Jawa dan Sumatra. Debu membumbung tinggi hingga menutupi sebagian Bumi, Ombak pun takalah ganas hingga memporak porandakan garis pantai Jawa dan Sumatra yang berbatasan langsung dengan Gugusan Krakatau. Dahsyatnya letusan membuat seluruh penerbangan di tunda dan mengacaukan jaringan radio di belahan Bumi lain.

Kini, hanya tinggal Rakata saja yang masih berdiri. Namun, berjalannya waktu, Gunung Krakatau mewariskan kedahsyatannya kepada sang penerus, Anak Gunung Krakatau.

____

Saya dan Hanum beserta Rombongan dari Badan Penghubung Provinsi Lampung berada dalam satu kapal. Suhu udara masih terlalu dingin untuk bersentuhan. Suara Ayam pun belum terdengar sepenuhnya. Malam kemarin, kami masih sempat menyaksikan perdebatan apakaha Anak Gunung Krakatau ini layak kami singgahi? Dan, dini hari inilah kami akan menjejakan kaki di sana. 

Saya masih menahan kantuk ketika beberapa orang masih lalu lalang mencari posisi yang enak untuk berada dengan mimpi kembali. Saya memilihi posisi di bagian belakang, menghadap mesin yang keras dan meraung-raung nanti. Nantinya keras suara akan berada dengan ombak dan mesin, jadi bicaralah melalui bahasa isyarat atau whatsapp jika menemukan sinyal. Dan, sinyal pun di sini bak permata yang sulit ditemukan.

Mesin menderu, tanda perjalanan selama beberapa jam ke depan dimulai. Saya tak dapat menahan kantuk dan langsung terlelap meski suara mesin lebih keras dari suara macam yang meraung. Dari Pulau Sebesi, Anak Gunung Krakatau dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih 3 jam. Sedangkan dari Pelabuhan Bom, Pulau Sebesi berjarak 3-4 jam. Anak Gunung Krakatau memang sudah tampak dari pulau Sebesi walaupun hanya siluet saja. 

Sang Legenda memang menawan, mampu menarik ratusan bahkan ribuan orang untuk menatap keindahannya dari dekat. Namun, sudah layaknya sebagai pejalan yang baik, untuk terus menjaga dan melestarikan keberlangsungan Anak Gunung Krakatau. Saya pun termasuk satu di dalam keriaan, namun memang tak boleh terlalu berlebihan agar tidak terjadi hal-hal yang akan mendatangkan malapetaka. Alam akan merespon setiap perbuatan yang kita lakukan, sehingga sangat disarankan berbuat baik terhadap alam. Sebelum sampai, banyak sekali yang menyarankan untuk tidak membuang sampah sembarangan dan merusak pohon. 

Saya jadi ingat kutipan "Jangan mengambil apapun selain gambar, jangan meninggalkan sesuatu selain jejak kaki dan ..... ". Kata-kata ini masih terngiang-ngiang dan akan terus tertanam di hati ini.

Suara teriakan membangungkan saya. Tubuh masih memerintahkan untuk tetap berada di kapal sampai kapal ini benar-benar berlabuh di bibir pantai Anak Gunung Krakatau. Saya menengok ke samping, matahari masih merah dan muncul perlahan-lahan. Nampaknya matahari tertahan oleh sekawanan awan yang dari kemarin gemar berbondong-bondong menutup langit.

" Mas, ayo naik, " Rupanya Hanum sudah berada diatas kapal dan siap untuk turun. Saya masih memegang kamera dan merekam setiap kejadian yang ada. Saya bilang untuk turun duluan dan saya akan menyusul kemudian. Ombak pantai pagi itu tak terlalu tinggi. Pasir berwarna hitam menyambut kami. Beberapa pantai di Lampung memang memiliki pasir putih, namun tidak dengan Anak Gunung Krakatau yang masih sering erupsi dan meluapkan lava sehingga pasirnya berwarna hitam. 

Untuk mendaki Anak Gunung Krakatau memang dibutuhkan waktu sekitar 1 jam, tergantung siapa yang naik dan seberapa sering melakukan aktivitas di Gunung. Dan, sayalah orang yang paling newbie dalam urus pendakian. Mungkin dari postur saja bisa ditebak bahwa saya bukanlah orang yang sanggup naik ke atas sana. Namun, pagi itu dengan bekal semangat dan tekat, saya pun mengusir semua keraguan. Yes, saya bisa. 

Sebelum melakukan aktivitas, kami telah disuguhkan sarapan. Dengan segera kami makan untuk menambah tenaga dan agar tak terjadi sesuatu apapun diatas sana. Setelah selesai, bungkus dan box makanan kami kumpulkan agar petugas mudah membereskannya. 

----

Satu per satu membentuk barisan mengikuti petugas yang berada di depan. Jalur pendakian memang tak serumit yang dibayangkan. Pohon-pohon rambat dan pinus sangat mendominasi saat melewati rute pertama. Jalannya masih landai dan belum menanjak. Barulah pada saat kami menemukan pohon pinus yang besar dan sudah mulai jarang tumbuhan, jalannya pun mulai terjal, menanjak dan berpasir. Kontur tanahnya memang hanya pasir yang tak padat sehingga memang harus berhati-hati untuk memanjat sampai di atas. 

Sebetulnya terdapat 2 jalur yaitu jalur kanan dan jalur kiri. Jalur kanan sangat menanjak namun tak begitu jauh sedangkan jalur kiri lebih landai dan lumayan jauh. 

Karena ketidaktahuan, saya hanya mengikuti rombongan lain yang telah sampai di puncak dengan begitu cepat. Saya dan Mba Evi masih menapaki satu per satu bebatuan yang membantu kami berpijak. Bisa di bayangkan betapa terengah-engahnya nafas ketika baru setengah perjalanan. Namun, pemandangan dibawah serta laut yang indah membantu saya cooling down dan melanjutkan langkah demi langkah.

Saya salut dengan pendaki Gunung. Mereka memiliki endurance dan semangat yang kuat untuk melewati ribuan kilometer untuk mencapai puncak Gunung. Mungkin, suatu saat saya pun akan mendaki Gunung apapun termasuk Gunung yang tak terduga sebelumnya seperti Puncak Jaya Wijaya, Amin.

Arief Pokto dan rombongan lain telah menyisakan saya dan Mba Evi saja yang masih berkutat dengan langkah menuju puncak. Sambil bergaya dan difoto, itulah yang membuat nafas kami menjadi kuat. Sementara rombongan blogger telah mengabadikan keindahan Anak Gunung Krakatau, kami pun terpacu untuk sampai sesegera mungkin. Satu langkah, dua langkah, tiga langkah, dan langkah terakhir sebelum mencapai puncak. 

Yes, Alhamdulillah akhirnya saya telah menaklukan Anak Gunung Krakatau. Walau tingginya tak mencapai 1.000 mdpl, namun pencapaian ini merupakan sesuatu yang luar biasa. Setidaknya ceklist saya sudah berkurang dan ceklist lain telah menanti.

 ---

Sambil memegang Merah Putih dengan background puncak Anak Gunung Krakatau, nasionalisme saya seolah bertambah tebal. Alam dan budaya kita yang tak ternilai harganya harus di jaga dan dilestarikan. Kalau bukan oleh kita, lalu siapa lagi? 

Bunga Bangkai dan Rafflesia Arnoldi, Sebuah Perjumpaan Pertama Di Bengkulu


Saya belum pernah berjumpa dengan Rafflesia ataupun Bunga Bangkai. Sambil selalu melihat-lihat foto dan video kiriman dari teman yang telah menyaksikan secara langsung Puspa Langka yang habitatnya tersebar di Sumatera terutama Bengkulu. Dan, tak terpikir oleh saya bahwa saya akan menyaksikan bukan hanya satu melainkan dua puspa sekaligus yaitu Bunga Bangkai dan Bunga Rafflesia Arnoldi. 

Rafflesia, nama ini tidak asing ditelinga, bahkan seantero Indonesia dahulu pun sangat mengenal beliau. Dialah Sir Thomas Stamford Raffles yang menemukan bunga unik dan besar seperti bokor atau cawan penampung air. Sebetulnya seorang pemandu dari Indonesialah yang menemukan dalam rombongan ekspedisi bersama Dr. Joseph Arnold. Perpaduan dari dua Tokoh tersebut sehingga  salah satu puspa langka ini dijuluki Rafflesia Arnoldi. Bunga berdiameter sampai 100 cm ini dapat ditemukan di semenanjung Malaya, Sumatra, Kalimantan dan Filipina.

Indonesia patut berbangga. Setidaknya 27 jenis Rafflesia, Sumatera memiliki 11 jenis dan 4 diantaranya terdapat di Bengkulu. Tak heran jika Bengkulu menasbihkan sebagai "Bumi Rafflesia" di Indonesia bahkan di Dunia. Bak cendawan di musim hujan, Rafflesia pun masih sering ditemukan tak jauh dari jalan raya diantara hutan. Bahkan jika masuk ke dalam hutan yang berjarak beberapa kilometer, sering ditemukan Rafflesia berdampingan antara jantan dan betina. What a wonderful Rafflesia.

Antri Melihat Rafflesia Arnoldi
Selain Rafflesia Arnoldi, Bengkulu memiliki 3 jenis lainnya yaitu Rafflesia Gatutensis Meijer, Rafflesia Hasseltii Suringar dan Rafflesia Bengkuluensis. Gatutensis Meijer dapat ditemukan di Bengkulu Utara dengan diameter 40-60 cm dan ditemukan oleh Meijer pada tahun 1984. Hasseltii Suringar merupakan Rafflesia paling cantik seperti cendawan merah-putih atau cendawan harimau. Spesies ini ditemukan oleh Suringar pada tahun 1979 dan dapat ditemukan di Kabupaten Lebong. Sedangkan Bengkuluensis, sesuai dengan namanya merupakan spesies yang ditemukan di tanah Bengkulu dengan diameter 50-55 cm. Bengkuluensis dapat ditemukan di daerah Taman Nasional Bukit Barisan, Bengkulu.

Bibit Rafflesia Arnoldi
Seperti mendapat durian runtuh, pada saat bus melaju dan kantuk yang mendera, sayup-sayup terdengar bahwa kami mendapatkan 2 bunga bangkai mekar sekaligus. Rafflesia Arnoldi dan Amorphophallus Titanum adalah nama latin kedua Bunga Bangkai tersebut. Masyarakat sering salah kaprah dengan kedua jenis bunga bangkai, bahkan sering menyamakan keduanya sebagai satu jenis. Kenyataannya sangat berbeda dan bahkan bentuknya pun berbeda. Rafflesia cenderung seperti bentuk bunga dengan 5 putiknya sedangkan bunga bangkai sangat tinggi sekitar 3 meter lebih. 

Saat laju bis makin pelan, saya menyiapkan kamera di dalam tas. Sementara teman-teman lain masih terlelap dalam mimpi masing-masing. Bis berhenti tepat di tengah hutan sekitar 2 jam dari kota Bengkulu. Kawasan ini masih termasuk dalam Taman Nasional Bukit Barisan sehingga untuk mencapai hutan ini pun mesti berkelok-kelok mengikuti bentuk jalan dan kontur tanahnya.


Kami turun dar Bis menuju hutan yang tak jauh sekitar 10 meter. Pada saat berada jalan menuju hutan, saya mendengar bahwa kami harus melewati 30 meter untuk sampai dan melihat Rafflesia. Wajah saya dan teman-teman berubah mengerut, tanda tidak percaya 100 persen apa yang dikatakan oleh pemandu kami. Namun, anggap saja betul bahwa jalan yang kami lewati nanti berjarak 30 meter.

Hutan tidak terlalu basah. Dan matahari memang dari tadi bersinar tak henti-hentinya. Cuaca memang mendukung kami untuk menyusuri hutan tanpa terkena lumpur yang basah akibat hujan. Berbeda dengan beberapa hari lalu yang sempat diguyur hujan dan membasahi permukaan tanah.

Bagai antri beras dan sembako, kami berbaris rapi berbanjar mengikuti jalur yang telah dibuat dua hari lalu ketika pertama kali Rafflesia mekar. Bunga ini hanya bertahan paling lama 5-7 hari saja. Semakin hari bunga akan layu dan kecantikannya pun turut lenyap. Beruntung, ini masih hari ketiga, bunga masih dalam keadaan segar.

Bunga Rafflesia sebetulnya tanaman parasit yang sangat bergantung pada tumbuhan inangnya. Dan tumbuhan inang Rafflesia adalah tumbuhan Liana yang digunakan untuk tempat membelit. Setelah itu kemudian dari tanah akan tumbuh tunas dan berubah menjadi bunga Rafflesia.


Setelah saya berjalan menurun mengikuti jalurnya, akhirnya terlihat juga bunga Rafflesia. Dan, ini pertama kalinya saya melihat dengan mata kepala sendiri Bunga Rafflesia yang selama ini saya idamkan. Diameter perut saya yang lebar ternyata masih lebih lebar diameter Bunganya, dan ini yang membuat saya merasa bahagia. Rafflesia ternyata masih lebih gemuk dibandingkan saya ya. Mohon diabaikan saja ya, hahaha.


What a lucky day for me. Sangat beruntung sekali karena dalam satu hari, saya bisa melihat langsung Bunga Bangkai atau Amorphophallus Titanum. Sebelumnya rombongan kami berhenti terlebih dahulu di danau Mas Harun Bestari sebelum mengunjungi habitat bunga bangkai.

Sama dengan Rafflesia Arnoldi, Bunga Bangkai termasuk Puspa Langka dan sangat dilindungi, bahkan telah masuk dalam konservasi sehingga keberlangsungan bunga bangkai ini bisa di jaga. Berbeda dengan Rafflesia yang harus melewati beberapa puluh meter, saya hanya turun beberapa anak tangga dan bunga bangkai terlihat dengan jelas.


Dari atas tunas bunga sudah terlihat dengan jelas dan terlihat tidak begitu besar. Namun, ketika saya berdampingan dengan bunga, saya tak dapat menandingi tinggi yang mencapai sekitar 3 meter lebih. Bunga Bangkai selain di Sumatra, juga terdapat di Istana Bogor, namun saya belum pernah menemukan Bunga Bangkainya secara langsung.

   
Setelah layu, Bunga Bangkai akan tumbuh tunas-tunas atau bibit kecil sebagai cikal bakal tumbuh bunga bangkai kembali. Secara detail bisa dilihat di bagan berikut ini.

Siklus hidup Bunga Bangkai memang sangat lambat bahkan bisa ber tahun-tahun untuk mendapatkan bunga kembali. Oleh karenanya, kita wajib bersyukur dapat melihat bunga langka dalam waktu satu hari. Orang lain pun belum tentu seberuntung dengan yang saya lihat. Dan, kita patut berbangga dan melestarikan puspa langka yang menjadi identitas sebuah bangsa.


Bak seorang artis, Puspa ini menjadi serbuan blogger dan influencer dari beberapa daerah di Indonesia. Inilah Bengkulu, Inilah kebanggaan kita semua sebagai "Bumi Rafflesia".