Inilah Tempat Wisata Instagramable Di Kabupaten Kuningan

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - Tempat Wisata Instagramable Kabupaten Kuningan

Kadang kita jenuh dengan destinasi wisata (instagramable) yang itu-itu saja kayak Jakarta, Bali, Yogyakarta (Jogja), Malang, Banyuwangi, Semarang dan Bandung. Kalau ke luar negeri pun kita terpaku pada pilihan antara Singapore atau Malaysia. Sebelum ke luar negeri, kita lihat dulu deh tempat wisata yang instagramable tapi ngga terlalu jauh dari Jakarta. Dan, tempat ini bernama Kabupaten Kuningan, satu jam dari Cirebon yang merupakan gerbang pelabuhan di Jawa Barat. 

Siapa yang tidak tahu Kuningan? Sebuah tempat yang sangat penting pada saat pengukuhan Kemerdekaan Indonesia oleh Belanda. Linggarjati, namanya telah tersohor sebelum saya lahir dan hanya membacanya melalui buku sejarah di bangku sekolah. Kini, saya telah melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana perjuangan delegasi Indonesia di sana. Selain Linggarjati, Kuningan memiliki wisata alam yang tidak kalah menarik loh. Bayangkan saja curug atau air terjun sangat banyak dan telaga atau waduk pun membuat Kuningan sangat bangga dengan kesejukannya. Pun, sebuah museum tempat benda-benda purbakala di simpan pun menawarkan pilihan lainnya bagi pecinta sejarah.

Saya kira Kuningan akan sangat panas seperti Cirebon, tapi ternyata Gunung Cermai membuat kabupaten yang sangat kental dengan angklung ini sangat sejuk dan cenderung dingin. Sialnya saya tidak membawa jaket tebal, hanya sebuah sweater yang melekat di badan. Tapi, bukan malah menyiutkan nyali, malah saya menantang alam Kuningan dengan bertelanjang dada pada saat di sebuah curug. 

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - Tempat Wisata Instagramable Kabupaten Kuningan

Setelah berlangsungnya acara International Angklung Festibval Kuningan 2018, tidak lengkap rasanya tidak berkunjung ke beberapa tempat wisata yang sangat Instagramable dan sangat mudah aksesnya. Saya yakin pada penasaran tempat wisata apa saja sih yang sangat instagramable, tapi ini bukan seluruh tempat, hanya beberapa saja yang sempat saya kunjungi. Karena sangat banyak tempat wisata lainnya yang tidak kalah bagus dari list ini. 

Museum Perundingan Linggarjati

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - Tempat Wisata Instagramable Kabupaten Kuningan

Museum Perundingan Linggarjati memang sangat layak mendapatkan tempat di hati masyarakat Kuningan. Bagaimana tidak, sebuah sejarah tercipta di tempat sejuk di bawah kaki gunung Ciremai yang indah. Deligasi Indonesia dan Belanda melakukan perundingan yang akan menentukan pengakuan kedaulatan kemerdekaan Indonesia. Bukan perkara mudah untuk membuat Belanda secara yuridis atau secara hukum mengakui kemerdekaan yang telah diproklamirkan oleh Soekarna-Hatta. Beruntung, suasana sejuk dan damai di Linggarjati membuat Belanda akhirnya melunak dan mengakui kedaulatan Indonesia. 

Jas Merah, jangan sekali-kali merupakan sejarah. Bukan kah dengan belajar dari masa lalu kita akan merasakan manfaat dan membuat kuta jadi waspada sekaligus bangga dengan perjuangan pendahulu-pendahulu kita yang bersemangat dengan kemerdekaan kita. Lalu apa yang sudah kita lakukan untuk mengisi kemerdekaan ini? Jawablah dengan prestasi yang membanggakan negeri ini. 

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - Tempat Wisata Instagramable Kabupaten Kuningan

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - Tempat Wisata Instagramable Kabupaten Kuningan

Gedung bergaya Eropa membuat tempat ini sangat bagus dan instagramable. Jangan lewatkan setiap sudut gedung ini, karena gedung ini pun membuat saya terkagum-kagum karena kecantikannya. Apalagi jika kita menemukan sudut yang pas seperti di bawah kaki gunung Ceremai maka keindahan pun tak dapat disembunyikan lagi. 

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - Tempat Wisata Instagramable Kabupaten Kuningan

Rumah Hobit Di Bukit Sukageuri, Palutungan 

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - Tempat Wisata Instagramable Kabupaten Kuningan

Kalau bosan dengan pemandangan kota, tempat ini sangat cocok untuk melepas kepenatan. Pada saat pertama kali kesini, saya kira ini adalah hanya tempat biasa, namun setelah melihat banyak tempat seperti tempat selfie atau wefie. Kalau masalah viewnya jangan ditanya lagi karena banyak sekali spot-spot yang membuat foto kita makin bagus. 

Ternyata selain untuk rekreasi, tempat ini biasanya digunakan untuk camping. Area camping disediakan di sekitar parkiran dekat dengan kantin yang menjual berbagai macam makanan ringan dan juga mie instan serta lainnya. Jadi kalau misalnya laper karena kedingininan atau belum sarapan bisa sekedar melepas lapar disini. 



Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - Tempat Wisata Instagramable Kabupaten Kuningan

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - Tempat Wisata Instagramable Kabupaten Kuningan

Situ Cicerem Telaga Biru

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - Tempat Wisata Instagramable Kabupaten Kuningan

Birunya air bukan hanya dimiliki oleh laut, ternyata Cicerem pun menyimpan air yang sangat jernih sehingga kadang kala bisa berwarna hijau tosca dan biru. Tidaklah seseram namanya, situ ini memang dibuat untuk menampung aliran air dari beberapa sumber mata air. Suasana hutan yang masih lebat membuat tempat ini sangat hijau dan sangat sejuk walau matahari sangat panas kalau misalnya datang pada saat siang. 

Jika weekend, banyak sekali keluarga yang datang dan mengunjungi tempat ini. Memang sangat disayangkan fasilitas toilet dan warung makan masih sedikit karena memang belum dikelola secara maksimal. Tapi, situ ini memang sangat layak untuk dikunjungi karena sangat instagramable dan bisa menemukan banyak ikan besar seperti koi dan emas. 

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - Tempat Wisata Instagramable Kabupaten Kuningan

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - Tempat Wisata Instagramable Kabupaten Kuningan

Situs (Museum) Purbakala Cipari 

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - Tempat Wisata Instagramable Kabupaten Kuningan

Jika tidak suka dengan alam, wisata sejarah dan purbakala bisa menjadi pilhan yang menarik. Situs purbakala Cipari adalah tempat yang sangat cocok untuk sekedar menyelami masa lampau. Di tempat inilah banyak ditemukan benda-benda peninggalan yang mungkin saja sudah ada pada masa peradaban awal manusia. Alat-alat rumah tangga dan bongkahan bangunan serta menhir mendominasi koleksi yang terdapat pada gedung museumnya. 

Saya terkesan dengan tempat ini, selain bisa menambah ilmu serta belajar bagaimana manusia dahulu menjalani kehidupan, tempat ini sangat cocok dijadikan obyek foto yang menakjubkan. Kesan tua namun sangat unik dengan nuansa-nuansa bebatuan yang tersusun dengan rapi.

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - Tempat Wisata Instagramable Kabupaten Kuningan

Curug Putri Palutungan 

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - Tempat Wisata Instagramable Kabupaten Kuningan

Konon katanya Curug ini adalah pemandian para putri dari kahyangan. Banyak sekali yang percaya jika mengunjungi tempat ini maka akan mendapatkan jodoh pangeran yang tampan. Saya pun percaya bahwa ini adalah pemandian para putri karena airnya sangat segar dan sejuk sekali. Selain itu, curug ini dipercaya akan mendatangkan jodoh dan dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit. Lagi-lagi saya percaya karena sebelum ke curug ini dibutuhkan olahraga jalan sehingga akan melancarkan peredaran darah, selain itu juga pemandangan alam yang sejuk membuat kita merasakan kedamaian. Kedua hal tersebut membuat kita merasa lebih segar dan rupawan sehingga sangat mungkin jika rutin dilakukan akan membuat wajah kita semakin menarik.

Khasiat air terjun memang sangat terbukti apalagi airnya berasal dari sumber mata air sehingga tidak heran jika ketika mandi di curug ini akan membuat perasaan kita lebih baik. Sugesti baik tentu saja akan membuat kita lebih damai dan percayalah jika kita merasakan kedamaian maka segala penyakit yang ada dalam tubuh kita bisa berkurang atau bahkan sembuh.

Tidak salah jika keindahan curug ini membuat saya betah berlama-lama dan mengabadikan sebanyak mungkin foto-foto yang tentu saja sangat instagramable sekali untuk koleksi di Instagram. 

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - Tempat Wisata Instagramable Kabupaten Kuningan

Kabupaten Kuningan masih menyimpang banyak sekali tempat wisata yang sangat indah. Perlu waktu yang lebih banyak untuk dapat menikmati seluruh wisatanya. Namun saya percaya kalau Tuhan mengijinkan, saya akan kembali lagi dan merasakan sensasi wisata di Kuningan dengan tempat-tempat yang menarik lainnya. Sampai jumpa di tempat wisata lainnya di Kuningan. 


Tempat Wisata Unik Dan Anti Mainstream Di Jakarta


Jakarta itu ibarat jantungnya Indonesia yang berdenyut setiap detiknya. Bahkan sangkin dinamisnya, Jakarta itu banyak sekali tempat-tempat yang memiliki keunikan dan anti mainstream. Kebayang donk kayak apa sih padat dan stresnya warga Jakarta karena setiap hari harus berjibaku dengan kemacetan dan kepadatan transportasi massal seperti KRL dan Busway. 

Coba saya mau tanya, seberapa sering kamu jalan-jalan di area Jakarta dan menemukan tempat yang unik dan jarang di jumpai oleh orang lain? Pasti dengan lamanya akan berpikir dan berakhir dengan jawaban yang sangat mengecewakan.

"Saya ngga tahu tempat yang unik."

Atau jawaban paling mentok adalah ini.

"Paling saya ke mall."

Memang betul sih, mall itu banyak hiburannya, tapi kan bukan hanya mall saja yang bisa bikin kita bahagia. Kadang sesuatu yang sederhana dan tempatnya terpencil serta luput dari jangkuan orang bisa bikin kita menyadari arti dari tempat tersebut.


Candra Naya

Rumah yang disebut Candra Naya tersebut adalah rumah terakhir Mayor China di Batavia. Zaman Hindia Belanda dulu, diangkat seseorang untuk mewakili etnisnya.

Ialah Mayor Khouw Kim An yang lahir di Batavia 5 Juni 1879. Kariernya termasuk cemerlang di pemerintahan Batavia. Pada 1905 diangkat menjadi Leutenant, 1908 dipromosikan menjadi Kapitan, dan 1910 naik pangkat lagi menjadi Mayor.


Rumah ini memang terletak diantara gedung tinggi di kawasan jalan Gajah Mada di Jakarta, sehingga tidak banyak yang tahu bahwa disinilah sejarah penting pernah terjadi dan menjadi saksi bisu banyak peristiwa pada masa Batavia. 

Gereja Santa Maria de Fatima


Gereja Santa Maria de Fatima adalah sebuah Gereja Katolik di Jakarta. Gedung ini dibangun dengan arsitektur Tionghoa. Setelah adanya tugas pelayanan dan pewartaan dari Vikaris Apostolik Jakarta, Mgr. Adrianus Djajasepoetra, SJ kepada Pater Wilhelmus Krause Van Eeden SJ, maka didirikanlah gereja, sekolah, dan asrama bagi orang-orang Hoakiau (Cina Perantau). Sebagai awal, dipilihlah Pater Antonius Loew SJ dari Austria sebagai kepala paroki dan Pater Leitenbauer sebagai pengelola sekolah yang pertama. Sekolah itu dinamakan Sekolah Ricci, berasal dari nama imam missionaries Yesuit, Matteo Ricci.

Usaha Pater Leitenbauer, yang dibantu oleh Pater Braunmandl, Pater Loew, dan Pater Tcheng, berjalan dengan lancar, dan mereka juga membuka kursus bahasa Inggris, Jerman, dan Mandarin, yang dikenal dengan sebutan Ricci Evening School, dan asrama yang dikelola oleh Pater Tcheng diberi nama Ricci Youth Center.


Kemudian tahun 1953 dibelilah sebidang tanah seluas 1 hektare, untuk digunakan sebagai kompleks gereja dan sekolah, dari seorang kapitan (lurah keturunan Tionghoa pada Zaman Penjajahan Belanda) bermarga Tjioe, dan pada tahun 1954, tanah dan bangunan itu resmi menjadi milik Gereja. Di atas tanah itu berdiri sebuah bangunan utama dengan 2 bangunan mengapit bangunan utama, yang memiliki 2 buah patung singa yang merupakan lambang kemegahan bangsawan Cina.

Vihara Dharma Jaya Toasebio


Kelenteng Toasebio adalah salah satu dari klenteng tua yang masih berdiri di Jakarta. Toasebio sendiri adalah gabungan dari dua kata yakni Toase yang berarti pesan dan Bio adalah kelenteng. Kelenteng yang dibangun di tahun 1755 ini menyembah dewa Qing Yuan Zhen Jun (Tjeng Gwan Tjeng Kun).

Gedung Kementrian Pertanian


Menteri Pertanian sebelumnya, telah meresmikan penggunaan gedung Pusat Informasi Agribisnis (PIA). Menteri Pertanian mengatakan bahwa PIA dapat dipandang sebagai salah satu pintu masuk (entry point) bagi masyarakat pertanian maupun masyarakat umum untuk mengenal secara mendalam dunia pertanian, sekaligus dapat menjadi sarana edukasi bagi dunia pendidikan, serta sarana hiburan dan rekreasi bagi masyarakat.

Gedung PIA diharapkan dapat menjadi land-mark bagi kawasan perkantoran Departemen Pertanian dan menjadi pemicu kreatifitas dan daya inovasi insan pertanian. Gedung PIA adalah gedung milik publik, dimana seluruh lapisan masyarakat dapat memanfaatkannya semaksimal mungkin.

Lapangan Banteng


Lapangan Banteng, dulu bernama Waterlooplein (bahasa Belanda: plein = lapangan) yaitu suatu lapangan yang terletak di Weltevreden, Batavia; tidak jauh dari Gereja Katedral Jakarta. Pada masa itu, Lapangan Banteng dikenal dengan sebutan Lapangan Singa[1] karena di tengahnya terpancang tugu peringatan kemenangan pertempuran di Waterloo, dengan patung singa di atasnya. Pertempuran Waterloo tersebut terjadi tanggal 18 Juni 1815 di dekat kota Waterloo, yaitu sekitar 15 km ke arah selatan dari ibukota Belgia, Brussels. Pertempuran itu merupakan pertempuran terakhir Napoleon melawan pasukan gabungan Inggris-Belanda-Jerman. Pertempuran ini juga dicatat dalam sejarah sebagai penutup dari seratus hari sejak larinya Napoleon dari pengasingannya di pulau Elba.

Kini wajah Lapangan Banteng menjadi sangat berbeda dan sangat cantik dengan tambahan taman dan atraksi lampu warna-warni serta air mancur yang sangat menghibur warga. Kita bisa menyaksikan semua pada saat weekend atau sabtu dan minggu. 


Tempat wisata yang unik dan anti mainstream memang bukan saja memberikan efek hiburan, namun bagi yang tidak menyukai hal tersebut bisa memilih banyak tempat wisata yang dekat dengan Jakarta, tanpa harus keluar duit lebih banyak. 

Nah, kalau pesan tempat-tempat wisata yang paling populer di Jakarta, jangan lupa pesan melalui www.traveloka.com karena disini ada lebih dari 90 tempat wisata terpopuler yang ada di Jakarta. Dan, yang lebih baiknya lagi, saat ini sedang ada diskon besar-besar selama masa promo ya. 

Jangan sampaoi ketinggalan pesan tempat wisata yang terpopuler di Jakarta di traveloka ya.

Angklung Kini Mendunia Di International Angklung Festival Kuningan 2018

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - International Angklung Festival Kuningan 2018

"Kalau mau ke curug harus ke Kabupaten Cirebon atau Kuningan yang banyak."

Kata-kata ini masih terngiang di telinga ketika memasuki pintu tol Cipali. Awal tahun ini saya sempat berkeinginan keliling Kabupaten Kuningan, bukan karena kuliner yang selalu berada salam pikiran saya selama ini,  melainkan pesona curugnya.

Konon,  Curug itu erat kaitannya dengan khayangan dan putri serta dayang-dayangnya. Impian kecil yang membawa saya ke Kuningan setelah lama   berucap dalam hati. Selain curug,  ternyata Angklunglah yang membawa saya betul-betul ke Kuningan untuk saat ini.

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - International Angklung Festival Kuningan 2018

"Angklung itu dari Kuningan?"

Antara tanya dan pernyataan, saya pun terkaget-kaget. Selama ini saya menganggap bahwa Angklung berasal dari Bandung. Dan, yang lebih membuka mata saya lebar-lebar adalah sosok Daeng Soetigna yang berguru pada Dad Jaya dari Kuningan sehingga Angklung menjelma menjadi alat musik yang bisa memainkan seluruh jenis musik baik itu dangdut,  pop,  rock dan musik populer di seluruh Dunia.

Ternyata kejutan tidak berhenti sampai disini. Kuningan dinobatkan sebagai Kabupaten Angklung di Indonesia. Sungguh luar biasa pencapaian Kuningan ini,  tak heran jika banyak sekali nuansa Angklung yang menyambut saya ketika memasuki Kuningan.

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - International Angklung Festival Kuningan 2018

Perjalanan dari Jakarta sebetulnya bisa ditempuh dalam waktu sekitar 4-5 jam. Namun ternyata banyak pembangunan LRT/MRT sehingga waktu tempuh lebih lama dari seharusnya. Walaupun seperti itu, rasa senang akhirnya bisa ke Kuningan menepis semuanya. Coba bayangkan saja ketika anak kecil dikasih es krim maka dia akan ceria, begitu juga dengan saya,  seorang traveller pasti sangat senang menemukan destinasi baru.

Suasana panas menyambut saya dan beberapa teman dari Genpi dan wartawan senior. Saat itu entah berapa suhunya,  yang jelas badan saya sudah memberikan tanda dehidrasi. Walaupun panas, namun hati saya tetap sejuk, karena Kuningan tetap mempesona saya dengan gunung Ceremai yang saat itu sudah terlihat dari tol cipali tadi.


Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - International Angklung Festival Kuningan 2018

Kami menginap di Grand Purnama hotel,  tak jauh dari taman dan alun-alun kabupaten Kuningan. Malamnya, kami mencari kuliner khas Kuningan yang mampu melepas rasa lapar. Memang dari senja tadi, perut saya sudah meronta-ronta membutuhkan asupan yang lezat. Rombongan kami sampai di sebuah warung nasi Kasreng. Kasreng ini sebetulnya mirip angkringan di Yogyakarta,  hanya yang membedakan hanya lauk-pauknya yang banyak menyajikan pepes dan rebon atau udang, selain itu banyak menu yang serupa dengan angkringan. Jujur saya pengemar sate usus angkringan,  rasanya memang tiada duanyan. Nah,  kebetulan di warung ini terdapat sate usus, bedanya dengan sate usus Yogyakarta hanya kering atau basahnya saja,  selain itu rasanya hampir sama, mirip tahu tempe bacem kalo di Yogya.

Paginya, kami langsung menuju Museum Linggarjati. Kebetulan tempat pelaksanaan acara adalah museum perumusan naskah perjanjian Linggarjati. Nama Linggarjati ini telah tersohor semenjak kemerdekaan, bahkan berkat Linggarjati inilah kita dapat menikmati kemerdekaan seperti sekarang ini. Konon pada saat perundingan, angklung merupakan hiburan di sela-sela acara sehingga hiburan inilah yang membuat relaks dan menghasilkan kesepakatan yang menguntungkan pihak Indonesia dengan percepatan peralihan kekuasan pada saat itu.


Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - International Angklung Festival Kuningan 2018

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - International Angklung Festival Kuningan 2018

Kini angklung pun kembali membanggakan kita semua,  masyarakat Indonesia,  khususnya kabupaten Kuningan yang menggelar International Angklung Festival Kuningan 2018. Selain itu Kuningan juga telah dinobatkan sebagai Kabupaten Angklung sehingga sangat tepat sekali apabila festival ini berada di Kuningan.

Angklung itu bukan hanya alat musik semata,  melainkan sudah menyatu dengan kehidupan masyarakat Kuningan. Mulai dari usia dini semenjak taman kanak-kanak sampai usia senja semuanya tahu cara memainkannya dengan baik. Bahkan pelajar SMP dan SMA pun membanggakan Kuningan dengan memenangkan lomba angklung tingkat Nasional.

Suasana Linggarjati cukup ramai walau acara masih belum mulai, anak-anak sampai orang dewasa sangat antusias dengan festival ini. Acara ini adalah agenda resmi dari Kementerian Pariwisata yang dicantumkan dalam calender of event. Dari seratus event yang menjadi prioritas,  festival Angklung inilah salah satu yang menarik untuk diikuti. Oh iya,  selain menjadi daya tarik wisatawan dalam negeri, Angklung juga memiliki daya tarik bagi wisatawan asing karena telah diakui sebagai warisan dunia oleh UNESCO. Wah, saya tak habis-habisnya berdecak kagum kepada angklung. Memang sudah saatnya kita menjaga dan melestarikan warisan ini agar generasi mendatang tidak kehilangan identitas bangsanya yang kaya akan warisan budaya.


Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - International Angklung Festival Kuningan 2018

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - International Angklung Festival Kuningan 2018

Bapak Acep Purnama, Bupati Kuningan beserta perwakilan dari Kemenpar, Ibu Esthy Reko Astuti,  Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwsata Nusantara beserta rombongan telah hadir disambut dengan bunyi angklung dari ratusan anak-anak. Setelah itu, acara seremonial dan sambutan bergulir diakhiri dengan pemberian penghargaan kepada Kabupaten Kuningan yang diwakili oleh Bapak Acep Purnama.

Penampilan memukau datang dari SMP dan SMA yang memaikan Angklung dan menyajikan berbagai macam lagu mulai dari lagu sunda,  lagu populer Indonesia dan luar negeri yang dinyanyikan dengan apik oleh vokalis.


Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - International Angklung Festival Kuningan 2018

Layaknya orkresta,  angklung berbagai ukuran dan nada menciptakan harmoni yang sangat indah ditelinga. Jarang sekali saya dimanjakan oleh angklung dengan sedekat ini. Biasanya saya hanya mendengarkan angklung di rumah makan sunda,  itupun bukan suara asli melainkan suara rekaman saja. Kini, saya merasakan betapa kayaknya alat musik tradisional kita ini,  sudah saatnya kita bersama mengembangkan dan tetap melestarikan angklung agar tidak hilang oleh alat musik modern.

Bukan Angklung namanya kalau tidak memikat masyarakat Indonesia, namun ternyata bukan hanya orang Indonesia saja yang perkiat melain warga Jepang pun ikut menyumbang beberapa lagu. Bukan hanya dari Jepang saja, namun banyak dari negara lain seperti Algeria. Warga Jepang pun usianya bukan tergolong belia namun sudah memasuki usia senja. Namun semangat mereka untuk mempelajari alat musik Angklung ini patut diapresiasi.


Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - International Angklung Festival Kuningan 2018

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - International Angklung Festival Kuningan 2018

Tahu lagu Kokoronotomo ? Iya pada sekitar tahun 80-90an, lagu ini sangat terkenal di masyarakat Indonesia karena lagunya yang sangat mudah dihafalkan dan bernada sangat bagus. Warga Jepang pun melantunkan lagu ini dengan sangat bagus dan berhasil memukau masyarakat Kuningan yang menyaksikan dari pagi.

Bukan hanya Jepang, lagu Korea seperti Du du du dari Blackpink pun dinyanyikan oleh musisi Kuningan dengan alunan angklung yang sangat merdu. Ternyata K Pop rasa Kuningan ini pun mampu membuat saya berdendang pada saat cuaca terik mulai berhasil membuat saya berkeringat.


Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - International Angklung Festival Kuningan 2018

Nah, kebanggaan kita bukan hanya sementara dan dibibirkan saja. Sudah saatnya kita menjaga angklung dengan ikut menjadi dutanya. Bagaimana caranya? Cukup membagikan blogpost ini pun kamu sudah menyebarkan kebanggaanmu terhadap angklung.

Kini, saatnya menjelajah wisata alam yang indah di Kuningan. Dan,  mari kita menuju ke destinasi selanjutnya. Nantikan di tulisan saya selanjutnya.

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - International Angklung Festival Kuningan 2018

Nonton MotoGP Sepang Sekarang, Bayarnya Nanti Aja


Siapa yang menolak jika diajakin nonton MotoGP di Sepang, Malaysia? Termasuk saya pun akan menerima ajakan tersebut dengan senang hati. Malaysia memiliki arti dari sekedar negara kedua setelah Singapura yang pernah saya jejaki sebagai salah satu syarat menjadi seorang traveler sejati. Mungkin terlalu klise, tapi memang teman-teman traveler lain sangat menyarankan Malaysia sebagai negara yang perlu dikunjungi. 

2012, tepatnya untuk pertama kali saya menerima stempel kedatangan di bandara LCCT (Low Cost Carrier Terminal). Saya masih takjub dan tak percaya akhirnya saya bisa menikmati nasi lemak dan berfoto-foto di menara kembar yang sangat tersohor. Saat itu masih sangat jarang informasi mengenai SIM Card atau online maps karenanya saya hanya mengandalkan buku panduan dan maps yang selalu saya kumpulkan dari berbagai tempat seperti Tourism Information. Nyasar it sudah menjadi hal yang wajar dan sejata saya hanya bertanya dan bertanya kepada petugas dan penduduk sekitar. 


Selama di Kuala Lumpur, saya mencari informasi dan akhirnya memutuskan untuk ke Penang. Alasan saya adalah kota lama atau bangunan kunonya yang sangat terawat sama seperti di Malaka. Dan Penang adalah jalan menuju ke Hatyai, sebagai pintu gerbang menuju ke Thailand. Pengalaman yang selalu menyenangkan dan makanan yang sama dengan Indonesia membuat selera makan saya sama bahkan lebih. Kata teman, salah satu hal yang perlu diperhatikan pada saat traveling adalah makanan. Dan, menurut teman saya, sebelum menerima culure shock yang lebih extreme, saya harus menyesuaikan dengan negara tetangga terlebih dahulu. 

Beberapa kali ke Malaysia, saya sangat kangen dengan nasi lemaknya yang sangat enak. Nasi lemak kalau di Jakarta bisa disamakan dengan nasi uduk yang luar biasa sedapnya. Terakhir saya mengunjungi Sabah dan Sarawak di ujung utara Provinsi Kalimantan Barat dan Kalimantan Utara. Sedangkan edisi sebelumnya, saya mengunjungi Kuala Lumpur dengan segala keunikannya karena saya sempat menikmati kota dari atas city tour bus. 



Menyaksikan MotoGP di Sepang adalah impian yang belum tercapai dalam beberapa tahun belakangan ini. Salah satu yang membuat saya ingin menyaksikannya adalah karena Erlangga. Sahabat saya dari SMA yang kini juga sama-sama menetap di Jakarta. Dia pernah menonton F1 di Sepang. Saya sebetulnya iri, namun secara positif saya menjadikannya sebagai motivasi agar dapat menonton secara langsung. Bahkan, beberapa destinasi seperti Hongkong pun saya termotivasi dari foto-fotonya. Kami memang jarang bertemu, namun sekali bertemu banyak sekali cerita yang kita sharing dan mengalir seperti kita bertemu setiap harinya. 


MotoGP itu sebuah seni pertunjukan yang memukau seluruh indra termasuk mata. Bagi saya menyaksikan perlombaan itu memacu adrenaline dan membuat hidup menjadi lebih menyenangkan karena pengalaman ini bisa dibilang sekali seumur hidup. Mungkin lain waktu kita dapat ulang lagi, namun setiap masa merupakan sebuah kenangan yang manis dan tidak akan terulang lagi. Apalagi jika ini adalah momen pertama kali, mungkin saya tidak akan melupakannya seperti pertama kali ke Malaysia pada tahun 2012. 

Alasan lainnya adalah karena bisa dibayar nanti melalui cicilan. Loh, memangnya bisa ya traveling sekarang tapi bayarnya nanti aja? Bisa bangetlah karena ada program menarik berupa Maxi Travel dari Adira Finance. Dan, kebetulan juga MotoGP ini juga termasuk dalam Maxi Travel yang akan di laksanakan oleh Tx Travel sebagai salah satu tour travel terbaik di Indonesia. 


Maxi Travel ini memudahkan bagi siapa saja yang ingin traveling sekarang namun pengen menunda pengeluran karena banyak yang kebutuhan yang harus dipenuhi dalam beberapa bulan belakangan. Zaman now, memang banyak sekali alternatif yang dapat kita lakukan untuk traveling dan salah satu solusi bagi tidak memiliki dana lebih bisa melalui Maxi Travel. Program ini menawarkan bukan hanya paket perjalanan domestik baik dalam maupun luar negeri saja namun perjalanan Umroh, pemesanan tiket dan pemesanan hotel.

Lalu apa saja yang harus disiapkan untuk mendapatkan program Maxi Travel ini? Syaratnya hanya fotocopy KTP, Fotocopy STNK, BPKB Mobil atau Motor, KK dan NPWP. Nah, untuk paket wisata  bisa ditentukan sendiri oleh kita tanpa harus sesuai dengan brosur atau paketan yang telah ditentukan sebelumnya. 


Nah, yang ingin menyaksikan MotoGP di Sepang dapat mengakses Tx Travel secara langsung karena tour ini merupakan salah satu yang terpercaya menyelenggarakan paket Moto GP dengan banyak pilihan seperti tour 3D2N dan 4D3N. Sebagai informasi, program Moto GP Sepang ini akan diselenggarakan pada tanggal 3-5 November 2018 untuk paket tour 3D2N sedangkan paket 4D3N akan diberangkatkan pada 2-5 November 2018. Pemberangkatan bisa melalui 7 kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar dan Makassar. So, tidak ada lagi masalah bukan kalau berasal dari luar dari Jakarta. 

Nah yang penasaran dengan Itinerary, ini dia kegiatan selama 4 hari 3 malam yang akan dilakukan di Kuala Lumpur dan Sepang. 

Jum’at/02 : Penerbangan ke Kuala Lumpur

Kumpul di bandara 3 jam sebelum keberangkatan, bertemu Tour Leader untuk proses absen, bagasi dan boarding pass, lalu penerbangan ke Kuala Lumpur. Setiba di bandara KLIA-1, bertemu Local Guide, untuk group KLM langsung menuju ke hotel sedangkan group GA berkunjung ke Istana Merdeka, Tugu Negara, Mesjid Negara, Dataran Merdeka, City Gallery dan makan malam bersama lalu check-in hotel, istirahat.

Sabtu/03 > Qualifying

Sarapan pagi, mampir ke Twin Tower dan Berly’s Chocolate House, menuju sirkuit guna menyaksikan babak latihan dan kualifikasi dari Moto3 (12.35-13.15), MotoGP (14.10-14.50), Moto2 (15.05-15.50), makan malam dengan buffet menu “all u can eat” di restoran Kuala Lumpur, kembali ke hotel, istirahat.


Minggu/04 > Final Race Day

Sarapan pagi, menuju sirkuit guna menyaksikan babak pemanasan dan balapan final Moto3 (12.00-13.00), Moto2 (13.20-14.20), MotoGP (15.00-16.00), kembali ke bus semula di parkiran, mampir ke Mitsui Outlet Park KLIA Sepang untuk menghindari kemacetan di tol arah pusat kota, baru kemudian kembali ke hotel.

Hari-4/Senin/05 > City Tour

Sarapan pagi, check-out hotel, untuk group GA langsung menuju ke bandara sedangkan group KLM berkunjung ke Istana Merdeka, Tugu Negara, Mesjid Negara, Dataran Merdeka, City Gallery dan makan siang, kemudian menuju ke bandara KLIA-1 untuk proses bagasi dan boarding pass, lalu penerbangan ke Jakarta. Usailah sudah tur Nonton Bareng MotoGP Sepang bersama TX Travel, sampai jumpa di musim balap 2019.


Apa sih keunggulan dari Maxi Travel dibandingankan dengan program cicilan lainnya? Nah, ini dia beberapa keunggulannya. 

Prosesnya Mudah 

Customer datang langsung ke perusahaa tour & travel dan memilih paket yang telah ditentukan. Apabila perusahaan tour & travel bekerjasama dengan Adira Finance maka akan menghubungi petugas di cabang Adira Finance terdekat. Namun, apabila perusahaan tour & travel tersebut belum bekerjasama dengan Adira Finance maka customerlah yang mengajukan tour & travel tersebut. 

Syaratnya Mudah 

Syaratnya hanya fotocopy KTP, Fotocopy STNK, BPKB Mobil atau Motor, KK dan NPWP.

Jaminan Hanya BPKB 

Selain proses dan syaratnya yang mudah, jaminan yang disyaratkan oleh Adira Finance hanya berupaka BPKB saja tanpa embel-embel yang lain. 

Traveling Sekarang Bayarnya Nanti

Kaum milenial termasuk saya memang sangat menginginkan kebebasan financial dan ingin menikmati serta menjelajah negara lain tanpa khawatir dengan dana yang kurang mencukupi, oleh karenanya membutuhkan program Maxi Travel yang dapat jalan-jalan tanpa risau dan membayarnya nanti setelah liburan selesai. 


So tunggu apa lagi, jangan sampai kamu keburu kerepotan dengan urusan anak atau sudah keburu tua untuk menikmati seluruh hal yang harusnya bisa kamu lakukan pada saat muda. Yuk, angkat telepon dan hubungi Dering Adira di 1500511 atau bisa menghubungi email customercare@adira.co,id dan website adira di www.adira.co.id. Sampai jumpa di MotoGP Sepang. 

Pengalaman Pertama Uji Coba Naik LRT (Light Rail Transit) Velodrome – Kelapa Gading, Jakarta


Senang bercampur bangga, karena sebentar lagi Jakarta akan memiliki sarana transportasi yang berbeda dan sangat modern. LRT atau Light Rail Transit ini akan beroperasi kira-kira di akhir tahun 2018 atau paling lambat di awal 2019. Jika sebelumnya di negara tetangga terdekat seperti Singapore, Malaysia, Thailand dan Filipina sudah memiliki LRT dan MRT, maka harapan selama beberapa puluh tahun silam itu akhirnya bisa terwujud. Momen bersejarah ini bisa menjadi harapan baru bagi daerah-daerah lain untuk lebih maju dan lebih modern dari Jakarta. 

Palembang merupakan kota pertama yang telah melakukan uji coba dengan rute Bandara menuju Kompleks Olahraga Jaka Baring, Palembang. Seperti halnya Palembang, Jakarta pun melakukan uji coba serupa mulai tanggal 21 Agustus - 20 September lalu. Antusias masyarakat Jakarta ternyata tidak kalah dengan warga Palembang, buktinya banyak sekali warga yang ikut merasakan LRT dari Velodrome hingga Kelapa Gading.



Tak afdol rasanya sebagai warga Jakarta yang sudah 11 tahun tinggal di Ibukota ini kalau tidak merasakan sensasi naik LRT, apalagi bersama banyak orang yang membludak ini makin menambah keseruannya. Mungkin dari puluhan juta penduduk Jakarta, hanya beberapa ribu saja yang bisa menikmati LRT untuk pertama kalinya. Saya telah naik lebih dari puluhan kali rute di Jepang dan Korea Selatan, dan memiliki pengalaman yang sangat menyenangkan karena sangat tepat waktu dan membuat saya lebih langsing karena berjalan dari satu stasiun ke stasiun lainnya tanpa menggunakan bantuan transportasi lain. 

Bagi sebagian orang, naik LRT itu sebuah kemewahan tersendiri dan mungkin sekali seumur hidup tidak pernah mencobanya di negara lain. So, inilah momen yang ditunggu oleh seluruh warga Jakarta. Bukan hanya dari kalangan aparatur negara, warga dan anak-anak sekolah pun sangat antusias pada hari tersebut.



Uji coba dimulai tepat pukul 14.00 WIB sampai dengan sore hari sekitar pukul 16.00 WIB. Rute pertama atau tempat berkumpulnya adalah Stasiun Velodrome. Stasiun ini terletak persis di depan Jakarta International Velodrome, arena balapan sepeda pada saat Asian Games lalu. Saya sempat kaget karena di beberapa bagian stasiun masih terdapat banyak orang yang masih mengerjakan proyek tersebut, namun ternyata di dalam stasiun sudah sekitar 80-90 persen sudah rampung hanya tinggal beberapa bagian kecil saja yang membutuhkan waktu beberapa bulan ke depan.

Pada saat saya masuk, ternyata antusias warga Jakarta memang tidak main-main. Berbondong-bondong mulai dari ibu-ibu arisan, RT, RW, kelurahan, sampai seluruh aparat serta orang tersohor semuanya berbaur dan ingin menyaksikan secara langsung LRT pertama di Jakarta ini. Saya sangat senang sekaligus bingung karena akan sangat ramai di dalam LRT nantinya.



Setelah masuk ke koridor atau tempat tunggu, saya tidak langsung masuk ke LRT karena harus mengambil gambar dan momen terlebih dahulu. Sekilas, stasiun LRT ini sangatlah luas dan lebar, diluar dari imajinasi saya sebelum masuk ke koridor. Fasilitas seperti toilet umum dan mushola sangat lengkap bahkan nantinya akan tersedia vending mechine dan beberapa fasiltas penunjang lainnya. 

Setelah beberapa lama menunggu, akhirnya LRT pun datang juga. Bukannya tambah surut, makin lama antrian dan rombongan makin banyak dan memadati koridor. Petugas dengan sigap mengatur antrian agar tidak terjadi saling srobot antara yang keluar dan yang masuk LRT. Dan, didalam pun sangatlah padat karena memang warga yang sangat senang dengan kehadiran LRT ini.



Saya sangat senang juga dengan kepadatan dalam LRT, artinya warga Jakarta menyambut dengan penuh antusias keberadaan transportasi pendukung di masa depan ini. Apalagi banyak juga anak sekolahan dan anak-anak kecil yang sangat senang memperhatikan perjalanan dari Velodrome hingga ke Kelapa Gading. 

Panjang rute ini hanyalah 4,7 KM dengan waktu tempuh tak sampai 20 menit, sehingga sangatlah nyaman dan cepat serta praktis jika menggunakan LRT ini ditengah kemacetan di Jakarta pada saat jam-jam berangkat dan pulang kantor. 



Sebagai warga Jakarta, saya tentu saja sangat bangga dan ikut senang dengan kehadiran LRT. Tugas kita adalah menjaga dan merawatnya dengan cara kita seperti tidak melakukan coret-mencoret di fasilitas umum dan stasiun, membuang sampah pada tempatnya dan lain-lainnya. 

Jika LRT ini terjaga, maka tentu saja bukan hanya kita saja yang akan menikmatinya, namun kelak anak cucu kita pun akan tersenyum bangga karena di jaman sebelumnya telah tertanam jiwa sosial tinggi dan menjaga LRT dengan penuh perhatian. 

Pengalaman yang tidak terlupakan sekali uji coba naik LRT dari Velodrome ke Kelapa Gading. Next, semoga bisa merasakan MRT dan LRT di wilayah lainnya seperti di Palembang, Aamiin.


Menikmati Sedapnya Masakan ‘Rumahan’ Nusantara Di Bakoel Ussy, Cawang

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - Kuliner Bakoel Ussy

"Mau makan apa Mas?"

"Masakan rumahan kayak Jengkol ada ngga Mba?"

Sontak saja pramusaji itu tersenyum sambil menunjukan menu yang ada dan ternyata Jengkol pun tidak ada di menu tersebut. Terpaksa saya pesan ayam goreng tepung dengan nasi tanpa sambal olahan rumah yang sedap. Mungkin inilah yang sering terjadi ketika berpergian ke sebuah mall atau mampir ke sebuah restoran yang tidak menyajikan masakan rumahan yang sebetulnya terasa sangat familiar dilidah kita. Bahkan, ketika makan masakan rumahan, maka nafsu makan saya bertambah hingga dua atau tiga kali lipat dari seharusnya. 

Saya orang kampung dan sangat rumahan, walaupun sering jalan-jalan keluar kota bahkan luar negeri, saya sering kangen dengan masakan rumahan seperti paru bacem, empal, tempe mendoan, sop dan masakan lainnya. Masakan rumahan ini sebetulnya sangat sederhana, namun bagi saya rasanya luar biasa enak. 

Saya ingat ketika traveling ke Hongkong beberapa tahun silam, saya dan dua orang teman rela mencari sebuah warung atau restoran asli Indonesia disana. Hasilnya, saya menemukan bakwan jagung dan sop ayam dengan nasi. Langsung selera makan saya berubah menjadi ganas dan terasa nikmat sekali karena terbebas dari fast food.

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - Kuliner Bakoel Ussy

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - Kuliner Bakoel Ussy

Di Jakarta, dengan beragam penduduknya dan banyaknya restoran cepat saji membuat pilihan makanan sangat terbatas. Sebetulnya saya bosan dengan makanan yang itu-itu saja dan sangat kangen dengan masakan rumahan. Apalagi semenjak merantau di Jakarta, saya sangat jarang menikmati makanan rumahan buatan rumah. 

Sebagai penawar rasa rindu, di Cawang, Jakarta Timur, hadir sebuah restoran 'Bakoel Ussy'. Restoran ini adalah milik artis ternama Indonesia, Ussy Pratama dan Andika Pratama yang sebelumnya membuka Lurik Coffee and Kitchen

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - Kuliner Bakoel Ussy

Jujur saya sangat surprise dengan pembukaan Bakoel Ussy ini, karena sangat jarang yang membidik pasar masakan nusantara ditengah banyaknya makanan luar negeri yang banyak penggemarnya. Namun, kembali lagi karena Ussy dekat dengan masakan nusantara terutama pada saat ada pengajian dan ternyata masakannya sangat digemari, maka muncullah ide untuk membuat restoran ini. 

Masakan rumah itu sangat jarang ditemui di Jakartaa, apalagi yang menyajikan banyak pilihan seperti Daging Kecombrang, Ati Ampela Pedes Gurih, Paru Bacem, Jengkol Balado, Gabus Pete Jelolotan, Bakwan Jagung, Tumis Kangkung, Sambel Kencur, Empal Gepuk, Pepes Tahu Jamur, dan masih banyak lainnya. 

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - Kuliner Bakoel Ussy

Masalah harga, ternyata sangatlah terjangkau dari kisaran 10.000 - 30.000 an, sehingga kalau mau makan ramai-ramai atau sendiri pun rasanya tidak akan menguras kantong kita, apalagi saya yang masih kos ini, hehehe.

Masakan Bakoel Ussy Favorite 

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - Kuliner Bakoel Ussy

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - Kuliner Bakoel Ussy

Setelah mengicip-icip seluruh masakan yang ada dan sesuai dengan selera saya, maka saya memutuskan untuk memberikan jempol bahkan empat jempol kepada "Paru Bacem" sebagai makanan yang paling saya suka di Bakoel Ussy. Semua masakannya enak sekali, namun memang paru bacemnya bikin ketagihan dan membuat nambah lagi dan lagi.

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - Kuliner Bakoel Ussy

Sedangkan masakan lainnya yang membuat saya jatuh cinta adalah Jengkol Balado. Jengkol memang sangat lezat, namun ketika jengkol tersebut diracik dengan bumbu balado, waaaah, benar-benar luar biasa nikmatnya. Saya biasanya hanya suka jengkol ketika disemur, namun kali ini sangat ketagihan dengan Jengkol Balado.

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - Kuliner Bakoel Ussy

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - Kuliner Bakoel Ussy

Masakan lainnya banyak sekali sampai-sampai sayur asem yang dibuat pun memiliki kuah yang sangat segar bahkan racikannya pun sangat pas. Biasanya sayur asem yang dibuat oleh lainnya sangat asem dan bumbu lainnya tidak berasa, namun di Bakoel Ussy semuanya memang sangat enak.

Selain masakan rumahan, Bakoel Ussy juga menyajikan beragai macam kopi. Jadi jika sudah kenyang dan hanya ingin duduk manja atau bersantai, maka ragam pilihan kopi di sudut Cofeeshop Tingwe Bakoel Ussy, tepatnya persis di depan pada saat masuk dari jalan raya.

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - Kuliner Bakoel Ussy

So, selamat menikmati masakan 'Rumahan Nusantara' di Bakoel Ussy Cawang ya. Salam kenyang selalu dari saya, hehehe.

Informasi Bakoel Ussy Cawang, Jakarta Timur 

Alamat Lengkap :

Jalan Dewi Sartika 192
Cawang, Jakarta Timur 

Instagram : 
www.instagram.com/bakoelussy

Website :
www.bakoelussy.com

Telepon Delivery :
+6282261005757

Maps : 

Menikmati Sedapnya Masakan ‘Rumahan’ Nusantara Di Bakoel Ussy, Cawang


"Mau makan apa Mas?"

"Masakan rumahan kayak Jengkol ada ngga Mba?"

Sontak saja pramusaji itu tersenyum sambil menunjukan menu yang ada dan ternyata Jengkol pun tidak ada di menu tersebut. Terpaksa saya pesan ayam goreng tepung dengan nasi tanpa sambal olahan rumah yang sedap. Mungkin inilah yang sering terjadi ketika berpergian ke sebuah mall atau mampir ke sebuah restoran yang tidak menyajikan masakan rumahan yang sebetulnya terasa sangat familiar dilidah kita. Bahkan, ketika makan masakan rumahan, maka nafsu makan saya bertambah hingga dua atau tiga kali lipat dari seharusnya. 

Saya orang kampung dan sangat rumahan, walaupun sering jalan-jalan keluar kota bahkan luar negeri, saya sering kangen dengan masakan rumahan seperti paru bacem, empal, tempe mendoan, sop dan masakan lainnya. Masakan rumahan ini sebetulnya sangat sederhana, namun bagi saya rasanya luar biasa enak. 

Saya ingat ketika traveling ke Hongkong beberapa tahun silam, saya dan dua orang teman rela mencari sebuah warung atau restoran asli Indonesia disana. Hasilnya, saya menemukan bakwan jagung dan sop ayam dengan nasi. Langsung selera makan saya berubah menjadi ganas dan terasa nikmat sekali karena terbebas dari fast food.



Di Jakarta, dengan beragam penduduknya dan banyaknya restoran cepat saji membuat pilihan makanan sangat terbatas. Sebetulnya saya bosan dengan makanan yang itu-itu saja dan sangat kangen dengan masakan rumahan. Apalagi semenjak merantau di Jakarta, saya sangat jarang menikmati makanan rumahan buatan rumah. 

Sebagai penawar rasa rindu, di Cawang, Jakarta Timur, hadir sebuah restoran 'Bakoel Ussy'. Restoran ini adalah milik artis ternama Indonesia, Ussy Pratama dan Andika Pratama yang sebelumnya membuka Lurik Coffee and Kitchen


Jujur saya sangat surprise dengan pembukaan Bakoel Ussy ini, karena sangat jarang yang membidik pasar masakan nusantara ditengah banyaknya makanan luar negeri yang banyak penggemarnya. Namun, kembali lagi karena Ussy dekat dengan masakan nusantara terutama pada saat ada pengajian dan ternyata masakannya sangat digemari, maka muncullah ide untuk membuat restoran ini. 

Masakan rumah itu sangat jarang ditemui di Jakartaa, apalagi yang menyajikan banyak pilihan seperti Daging Kecombrang, Ati Ampela Pedes Gurih, Paru Bacem, Jengkol Balado, Gabus Pete Jelolotan, Bakwan Jagung, Tumis Kangkung, Sambel Kencur, Empal Gepuk, Pepes Tahu Jamur, dan masih banyak lainnya. 


Masalah harga, ternyata sangatlah terjangkau dari kisaran 10.000 - 30.000 an, sehingga kalau mau makan ramai-ramai atau sendiri pun rasanya tidak akan menguras kantong kita, apalagi saya yang masih kos ini, hehehe.

Masakan Bakoel Ussy Favorite 



Setelah mengicip-icip seluruh masakan yang ada dan sesuai dengan selera saya, maka saya memutuskan untuk memberikan jempol bahkan empat jempol kepada "Paru Bacem" sebagai makanan yang paling saya suka di Bakoel Ussy. Semua masakannya enak sekali, namun memang paru bacemnya bikin ketagihan dan membuat nambah lagi dan lagi.


Sedangkan masakan lainnya yang membuat saya jatuh cinta adalah Jengkol Balado. Jengkol memang sangat lezat, namun ketika jengkol tersebut diracik dengan bumbu balado, waaaah, benar-benar luar biasa nikmatnya. Saya biasanya hanya suka jengkol ketika disemur, namun kali ini sangat ketagihan dengan Jengkol Balado.



Masakan lainnya banyak sekali sampai-sampai sayur asem yang dibuat pun memiliki kuah yang sangat segar bahkan racikannya pun sangat pas. Biasanya sayur asem yang dibuat oleh lainnya sangat asem dan bumbu lainnya tidak berasa, namun di Bakoel Ussy semuanya memang sangat enak.

Selain masakan rumahan, Bakoel Ussy juga menyajikan beragai macam kopi. Jadi jika sudah kenyang dan hanya ingin duduk manja atau bersantai, maka ragam pilihan kopi di sudut Cofeeshop Tingwe Bakoel Ussy, tepatnya persis di depan pada saat masuk dari jalan raya.


So, selamat menikmati masakan 'Rumahan Nusantara' di Bakoel Ussy Cawang ya. Salam kenyang selalu dari saya, hehehe.

Informasi Bakoel Ussy Cawang, Jakarta Timur 

Alamat Lengkap :

Jalan Dewi Sartika 192
Cawang, Jakarta Timur 

Instagram : 
www.instagram.com/bakoelussy

Website :
www.bakoelussy.com

Telepon Delivery :
+6282261005757

Maps : 

Pengalaman Menginap Di Hotel Instagramable, The Journey Yogyakarta Dan Mencari Pengrajin Wayang Di Taman Sari

Blupacker - Indonesian Travel Blogger - The Jurney Hotel Yogyakarta

Gudeg selalu manis dilidah saya, begitu pula dengan kenangan yang selalu terjadi pada kota ini, Yogyakarta, selalu manis dan menyenangkan termasuk perjalanan, destinasi, warga dan hotelnya. Sampai sekarang, saya ngga ngerti kenapa Yogyakarta selalu memberikan kenangan termanis meskipun saya sering traveling ke sini untuk beberapa waktu yang tidak terpaut lama jaraknya. Dan, inilah cerita saya yang berbeda tentang Yogyakarta.

Saya berhitung dengan jari dan bertanya sudah berapa kali saya menginjakan kaki di Yogyakarta. Stasiun Pasar Senen pagi itu masih lumayan ramai walaupun masih pukul 5.30. Saya menggunakan Kereta GajahWong dengan perjalanan sekitar 8 jam dan akan sampai sekitar pukul 3 sore. Rencananya saya akan mengurusi sebuah event selama beberapa hari dan pada akhir minggu, saya merencanakan untuk mengunjungi pasar Beringharjo dan Taman Sari. 

Mulanya Aji (lagilibur.com) akan menemani saya, namun karena kesibukannya, maka Haniflah yang akhirnya bersedia menemani saya mencari yang selama ini saya inginkan. Oh iya, Hanif memiliki blog di www.insanwisata.com, jangan lupa juga baca ya. 

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - The Jurney Hotel Yogyakarta

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - The Jurney Hotel Yogyakarta

"Kalau ke Jogja pengennnya ketempat yang ngga bisa atau anti mainstream."

Saya akhirnya mengucapkan kata-kata yang selama ini saya ingini. Kebetulan Hanif adalah orang dari Sleman, dan kos di daerah Yogyakarta, sehingga tahu betul dimana tempat yang tak biasa dan bisa dijangkau oleh saya. Asal jangan manjat-manjat gunung atau mendaki bukit yang tinggi, akan saya sanggupi deh. 

"Saya pengen cari pengrajin wayang."

"Di Taman Sari ada Mas"

Bagaikan mendapat durian runtuh, mata saya pun langsung berbinar dan segera memesan mobil online. Sebelum ke Taman Sari, saya menyempatkan mampir ke Pasar Beringharjo untuk membeli batik. Setelah semuanya selesai, saya dan Hanif bergegas ke Taman Sari. 

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - The Jurney Hotel Yogyakarta

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - The Jurney Hotel Yogyakarta

Ternyata jalan yang saya lalui bukannya dari depan namun harus melalui rumah warga terlebih dahulu. Hanif sangat tahu jalan bahkan sampai gang di dalamnya pun dia tahu. Cuaca panas tidak mengendurkan semangat saya sekalipun untuk mencari pengrajin tersebut. Dan, akhirnya setelah beberapa puluh menit saya bisa melihat beliau sedang membuat sebuah tokoh wayang.

"Bisa tiga bulan mengerjakan satu wayang."

Saya cukup terperangah mendengar beliau mengerjakannya dalam bilangan bulan untuk sebuah tokoh wayang. Memang setiap detail dan guratan tersebut harus dikerjakan dengan sangat teliti. Tak heran jika harga sebuah wayang dari kulit kerbau, sapi atau kambing. Saya pun puas setelah bertemu dengan pengrajin wayang tersebut. Suatu saat, saya akan kembali ke Yogyakarta dan menemui beberapa pengrajin lainnya. Satu hal lagi, hargai setiap jerih paya pengrajin atau pembatik.

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - The Jurney Hotel Yogyakarta

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - The Jurney Hotel Yogyakarta

Dan, setelah akhirnya mengelilingi Taman Sari dan berfoto-foto, akhirnya saya kembali ke Hotel The Journey di jalan Sorosutan, Yogyakarta. Lokasi hotelnya tidak jauh dari Taman Sari.

Pengalaman Menginap Di Hotel The Journey

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - The Jurney Hotel Yogyakarta

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - The Jurney Hotel Yogyakarta

Bagi saya, Yogyakarta itu memiliki keunikan terutama dari hotel-hotel yang memiliki keistimewaan, apalagi hotel boutique. Bagi penggemar foto-foto seperti saya, maka satu hal yang dilakukan sebelum menginap di sebuah hotel adalah kepo tentang social media mulai dari Instagram, Twitter, Website dan review-review dari blog termasuk blog saya kan hehehe. Apabila hotelnya sangat instagramable, maka bisa dipastikan saya akan menginap di hotel tersebut.

Selain instagramable, hal lain yang biasa saya lakukan adalah mengecek lokasi hotel tersebut. Apakah hotelnya sangat dekat dari stasiun dan tempat wisata. Selain itu, apakah disekitaran hotel terdapat kuliner yang dapat kita coba selama menginap di hotel tersebut. Dan, The Journey Yogyakarta ini menjawab segala kegundahan saya selama ini.


Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - The Jurney Hotel Yogyakarta

Memasuki lobby hotel, saya terkesan dengan lingkungannya yang sangat hijau. Banyak pohon dan tanaman hias yang menyambut saya. Selain di luar, ternyata di dalam pun banyak tanaman hias. Lobbynya tidak terlalu besar, namun sangat nyaman dengan banyak kursi yang unik dengan banyak warna. Nuansa unik dan antik sudah tercermin pada saat saya memandang sekeliling lobby. Tembok yang sengaja tidak dibuat halus dan cat putih serta ornamen lain menambah kesan cantik. Pintu-pintu pada lobby dibuat dengan kayu dan akses antik juga sangat mengagumkan.

Setelah saya naik ke lantai 2, saya terpukau dengan graviti yang sengaja diciptakan oleh seorang seniman dari luar Yogyakarta. Saya penyuka graviti yang out of the box, nah graviti ini memang sangat out of the box. Dan, akhirnya saya sampai di dalam kamar.

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - The Jurney Hotel Yogyakarta

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - The Jurney Hotel Yogyakarta

Ternyata bukan hanya di luar dan di lobby, akses keramik lantai yang unik juga terdapat di dalam kamar terutama di bagian lantai dekat jendela dan kamar mandi. Jarang banget hotel lain memiliki konsep kamar mandi yang antik dan unik seperti ini. Saya senang berada di dalam ruangan, betah banget malah menikmati malam di Yogyakarta.

Selain menikmati malam di dalam kamar, sebetulnya bisa banget eksplore sepanjang jalan di sekitaran hotel. Banyak sekali kuliner seperti angkringan dengan nasi kucing, satu usus, tempe dan tahu bacem dan gorengan. Percaya atau ngga untuk beberapa nasi kucing, dan gorengan saya hanya mengeluarkan uang 10 ribu saja, dan masih ada kembalian. Kenyang dan murah banget. Misalnya tidak suka dengan nasi, masih banyak pilihan lain seperti oseng mercon dan bakmi Jawa.

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - The Jurney Hotel Yogyakarta

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - The Jurney Hotel Yogyakarta

Sarapan merupakan hal yang paling menyenangkan bagi saya. Untungnya di Hotel The Journey disediakan pula Sarapan on the spot, jadi kita tinggal menelpon resepsionis dan memesan makanan yang telah disediakan oleh chef biasanya ada nasi goreng, nasi omelete dan nasi gudeg. Seperti halnya angkringan dan bakmi Jawa, saya pun ingin merasakan kembali kenangan manis yang ada di gudeg. Mungkin agak terlalu berlebihan, namun saya memang menikmati setiap manis dan gurihnya gudeg. Rasanya setiap saya menikmati gudeg, saya merasakan memori dan kenangan lama di Yogyakarta.

The Journey ini memang baru beberapa lantai dan rencananya akan dibuat restoran dan co working space dengan konsep yang unik dan antik. Dan memang baru terdapat beberapa kamar saja sehingga harus cepat-cepat memesan melalui websitenya di www.thejourneyyogya.com atau melalui telpon di +62274-4547985, dan informasi lengkap akan saya taruh di bawah termasuk mapsnya.

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - The Jurney Hotel Yogyakarta

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - The Jurney Hotel Yogyakarta

Menginap di sebuah hotel dengan konsep yang unik dan antik membuat memori saya di Yogyakarta menjadi menyenangkan. Ada keinginan untuk selalu kembali lagi dan lagi ke Yogyakarta. Semoga dalam beberapa bulan mendatang, saya bisa kembali lagi dan menginap di hotel yang memiliki konsep yang sangat unik kembali.

Jarak Ke Bandara dan Stasiun :

Bandara Adisucipto berjarak 7 km dari hotel sedangkan Stasiun Lempuyangan berjarak kurang lebih 2 km dari hotel.

Beberapa Obyek Wisata Terdekat : 

  • Keraton Yogyakarta
  • Alun-Alun Kidul 
  • Taman Sari
  • De Mata Trick Eye Museum Jogja
  • Balong Waterpark
  • Bukit Bintang 
  • Pinus Pengger
  • Benteng Vredebrug
  • Museum Sonobudoyo
  • Istana Kepresidenan Yogyakarta
Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - The Jurney Hotel Yogyakarta

Informasi The Journey Hotel Yogyakarta 

Alamat :
Jl. Sorosutan No.2e, Sorosutan, Umbulharjo, 55162
Umbulharjo
55162 Yogyakarta
Indonesia

Website :
https://www.thejourneyyogya.com/

Telepon : 
+62274-4547985

Maps :

Pantai Papuma Memanggilku Kembali Ke Jember


Saya ingat betul ketika saya harus menjadwal ulang pesawat yang harusnya akan saya naiki sore itu. Masalahnya saya harus menempuh perjalanan yang tidak bisa diprediksi kapan sampai di bandara Juanda, Sidoarjo. Kalaupun nekat dengan menggunakan kendaraan apapun, maka tidak akan terkejar. Untung saja pesawat bisa dijadwalkan besok siang. Ituplah sepenggal kisah ketika saya dan teman kerja yang mengunjungi Gunung Bromo dari Malang dan sebelumnya dari Jember. Peristiwa ini memang menjadi pelajaran bagi saya untuk betul-betul mempersiapkan diri jauh-jauh hari segala hal yang berhubungan dengan traveling atau jalan-jalan. 

Ada bagian pahit yang saya alami setelah manis yang sebelumnya dicicipi. Hidup memang berputar dan itulah yang menjadi keseruan tersendiri. Namun, ternyata bagian manis itu selalu terjadi di Jember, sebelah barat dari Malang. Beruntung saya selalu kembali ke Jember dalam beberapa kali tugas kerja dengan beberapa orang yang berbeda. 


"Kita 2 kali ke Jember bareng ya Bang."

Kata Bom-Bom, panggilan rekan kerja, ketika sudah berada di mobil travel yang membawa kami dari Bandara Juanda. Saya tersenyum, dan mulai ngobrol ngalor ngidul tentang rencana yang akan kami lakukan di hotel ataupun kulineran di sekitar Jember. 

Saya selalu senang berada di Jember karena satu hal, yaitu harga makanan yang selalu membuat saya bertanya-tanya. Memang benar ya harganya segini? Sambil bertanya dan terheran-heran ketika saya dan Bom-bom menghabiskan 2 mangkok dengan harga 6 ribu saja. Selain makanan, saya menyukai wisata alamnya yang begitu indah. Kami pernah diajak keliling ke Rembangan dengan pemandangan bukit yang sangat indah dan banyak produk pertanian yang dijual salah satunya susu murni segar. 


Setahun berlalu, saya berganti partner. Kali ini saya bersama bos, namun masih sangat muda. Sama dengan Bom-bom, dia pun berencana untuk mengexplore Surabaya setelah dari Jember. Dan, pada tahun inilah saya berkesempatan mengunjungi pantai dengan pasir putih di Jember, Pantai Papuma. 

"Saya kira pantainya berpasir hitam."

Saya sedikit terperangah melihat pasirnya yang begitu putih. Saya membandingkan dengan pantai Parangtritis di Yogyakarta yang pasirnya hitam dan kecokelatan. 

Beberapa tahun berlalu, kini saya kembali lagi ke Jember. Sepertinya ada panggilan yang mengharuskan saya ke Jember. Sepertinya Papuma ingin memperlihatkan kembali kecantikannya setelah lama tak bersua. Pantai Papuma memanggilku kembali ke Jember. Disinilah perjalanan menyenangkan dimulai. 



Kami bertiga, saya bersama Aris dan Doel harus menempuh perjalanan 12 jam dari Jakarta menuju Surabaya sebelum ke Jember. Di Stasiun Gubeng inilah akhirnya kami rombongan blogger berkumpul setelah melakukan perjalanan dari daerah masing-masing. Bukan hanya dari Jakarta, beberapa diantaranya dari Surabaya, Bojonegoro, Pemalang, Bandung, dan daerah lainnya. Rasanya sangat lama kami tidak bersua, senang sekali dapat melepas rindu pada saat yang lain sedang terlelap pada dini hari. Dan, pukul 4 lebih kami harus masuk ke Peron dan melanjutkan kembali perjalanan ke Jember.

Tiba di Jember, Pritha dan Kang Nana serta beberapa orang dari Blogger Jember menyambut kami dan tak lupa sarapan di sebuah warung gudeg pecel yang ternama di Jember. Setelah puas makan, akhirnya kami melepas penat dan lelah di Hotel Lestari, salah satu hotel pertama di Jember.



Keesokan harinya, kami mengunjungi kebun Tembakau. Disinilah kami belajar mengenai Tembakau mulai dari menanam, merawat, memupuk, dan memanen. Setelah memanen, kemudian masuk ke tahap selanjutnya mulai dari dipilih daunya, dirangkai dan dikeringkan. Ternyata tidak cukup sampai pengeringan saja, masih banyak tah selanjutnya di Pabrik pengolahan dan penyimpanan. Dan, akhirnya siap untuk diracik menjadi cerutu atau Cigar terbaik di BIN (Boss Image Nusantara).

Selain ke kebun dan pabrik tembakau, kami juga mengunjungi Museum Tembakau satu-satunya di Jawa Timur, bahkan di Indonesia. Setelah berlelah dengan Tembakau berakhir di Taman Botani Sukorambi. Dihari berikutnya, selain ke pantai papuma, kami juga mengunjungi Pusat Penelitian Kopi dan Kakao, satu-satunya di Indonesia. Bagian ini akan saya tulis terpisah nantinya. 



Melepas rindu dengan pasir putih Papuma, saya makin takjub dengan perubahan yang terjadi disini. Selepas kami turun dari Bus, kami berjalan menyusuri sepanjang pantai. Dulu, tidak seramai ini dan sedikit sekali bangunan permanen seperti villa atau penginapan seperti yang saya lihat saat ini.  

Tak hanya pantai yang menarik perhatian saya, deretan perahu yang bersandar itu sempat menarik perhatian saya sebelum berlalu menjadi pasir putih kembali. Sepanjang jalan menuju Sitihingil memang sudah beraspal. Dulu, saya tidak terlalu jelas melihatnya hanya saja setiap mobil atau motor yang melintas selalu berbenturan dengan batu. 

Jalan menuju Sitihinggil memang tidak terlalu menanjak, namun cukup menguras keringat karena cuaca Jember sedang sangat panas dan teriknya. Tidak ada yang tidak mungkin, iya saya selalu menyemangati diri ketika bertemu dengan medan yang menanjak naik atau beranak tangga seperti jalan menuju bukit tinggi di kawasan pantai Papuma. 


"Ayo Man, kamu bisa. Ayo Man!" 

Ternyata tidak ada orang lain yang tersisa selain saya yang masih menaiki anak tangga. Saya mengatur nafas agar dapat naik dengan cepat. Sebelum anak tangga terakhir, saya sempat mengambil foto dan hasilnya memang sangat bagus. 

Bagai mendapat durian runtuh, saya terpesona dengan pemandangan dari atas bukit Sitihinggil. Seluruh pantai dan kawasan sekitar pantai cukup mengobati perjuangan menuju ke atas tadi. Selain menikmati pemdangan, kami juga disugguhkan es kelapa muda yang sangat segar. Inilah kombinasi yang sangat menyenangkan pemandangan indah dan es kelapa muda. Seperti surga dan kenikmatan dunia, itulah yang bisa saya gambarkan dari balik penglihatan saya. 


Rasanya saya ingin berlama-lama di Tanjung Papuma ini, namun ternyata kami harus kembali melanjutkan perjalanan guna mengakhiri perjalanan selama 3 hari di Jember. Rasanya sangat kurang sekali untuk menikmati wisata unik di Jember. Semoga Tuhan mengabulkan permintaan saya untuk kembali lagi ke Jember suatu hari nanti. Namun, tenang saja, tulisan tentang keindahan dan keunikan Jember akan saya sharing beberapa minggu kedepan. 

Terima kasih kepada Blogger Jember dan Taman Botani Sukorambi serta pihak-pihak sponsor seperti BIN Cigar, Bedhag Kopi, Fondre - Oleh-oleh Jember, Repri (Penyewaan alat camping), Nyonya Ama Catering, Hotel Lestari, Pengelola Tanjung Papuma, dan Warung Kembang.



Cara Baru, Mudah, Murah Dan Praktis Pergi Umroh Tanpa Travel Agent


Setiap manusia memiliki sisi religius yang ingin dipuaskan. Setiap hari kita disibukan dengan urusan pekerjaan, rumah tangga dan duniawi lainnya, ada rasa kosong yang perlu dipenuhi. Salah satu yang kosong adalah hati yang selalu menyebut nama Allah (Tuhan). Saya bukan ustadz namun saya juga bukan penjahat yang memiliki sisi putih dan hitam, saya adalah abu-abu yang ingin menjadi putih. Begitulah kira-kira gambaran kebutuhan manusia yang ingin menyelami hati dan menuju jalan lurus, meski kadang tidak mulus dan harus berbelok-belok. 

Dengan perjalanan religus, sesorang akan terus mengenang dan berubah kearah yang lebih baik setiap harinya. Jika seorang muslim, maka Haji pun menjadi tujuan yang sangat diimpikan selama ini. Namun, karena antrian jamaah sudah sangat lama, maka Umrohlah yang dapat mengobati kerinduan kita untuk berkunjung ke rumah Allah. 


Saya pun sangat beruntung ketika tahun lalu dapat melaksanakan ibadah Umroh bersama keluarga selama beberapa hari. Saya sebetulnya sudah lama ingin berkunjung ke Mekkah dan Madinah karena beberapa negara Asia lainnya seperti Jepang dan Korea Selatan telah saya kunjungi beberapa kali. Tidak afdol rasanya tidak menginjakan kaki di kota suci ini. Entah dalam beberapa doa saya meminta agar dapat melaksanakan Umroh bahkan ingin berhaji sehingga saya bisa menyempurnakan ibadah selama ini. 

Berbeda dengan traveling ke negara lain, kali ini rasanya sangat berbeda. Ini pertama kalinya saya mengenakan pakaian ikram yang serba putih tanpa adanya celana dalam. Mulanya agak risih, namun karena semua orang pun mengenakan pakaian yang sama, maka saya menepis rasa malu dan mulai terbiasa pada saat mengelilingi Ka'bah di Mekkah

Selamat datang di kota suci, kota dengan niat yang suci tanpa ada rasa benci dan selalu mengjarkan untuk berniat baik bahkan tidak untuk membunuh hewan sekecil apapun termasuk semut. Saya belajar untuk selalu bersabar meski kadang selalu ada rasa emosi dan dendam yang masih terngiang. Namun saya tepis demi sebuah ibadah yang hakiki. 



Kota Mekkah rasanya seperti hidup selama 24 jam sehari, tidak pernah sekali pun orang melewatkan untuk beribadah sebanyak-banyak karena pahala yang akan didapatkan lebih dari 1000 kali pahala sholat di Masjid manapun di Dunia ini. Masjidil Haram, orang yang pernah merasakan kesejukan beribadah disini pasti akan selalu kurang dan akan selalu rindu untuk kembali lagi. 

Itulah pengalaman saya ketika berumroh dengan salah satu travel Agent. Memang sangat menyenangkan karena diatur segalanya oleh travel agent, namun memang kurang fleksibel karena tidak bisa di custom sesuai dengan kebutuhan atau keperluan kita. Karena kita memiliki banyak permintaan yang mungkin tidak bisa dipenuhi oleh travel agent. Bagaimana caranya kita bisa Umroh namun bisa sesuai dengan keperluan dan style kita, apalagi kita memiliki kebutuhan seperti hotel dengan bintang berapa, request maskapai dan harus stay berapa lama, hal ini masih tidak bisa dipenuhi oleh travel agent. 



Kini ada www.pergiumroh.com yang bisa mengabulkan semua permintaan kita dengan cara kita sendiri. Salah satunya adalah kita bisa memilih sendiri hotel bintang berapa, tujuan kita kemana saja, kemudian maskapai apa saja yang bisa kita gunakan dalam perjalanan umroh ini. Memang dibutuhkan kuota beberapa orang untuk bisa custom. 

Selain itu karena online, jadi sangat praktis dan bisa dilakukan dimana saja. Selain itu banyak sekali metode pembayaran yang dapat digunakan salah satunya adalah kerja sama dengan DOKU dengan berbagai channel terutama PermataNet, Internet Banking Muamalat, Danamon, dan CIMB Clicks. 



Salah satu yang menarik adalah program cicilan yang dapat digunakan bagi yang ingin mempersiapkan diri dari jauh-jauh hari namun dananya belom memcukupi. Oh iya ada promo menarik nih untuk jamaah memilih paket Umroh plus ke Turki selama 12 hari, silahkan cek ke www.pergiumroh.com. 

Nah, kapan lagi bisa Pergi Umroh dengan cara online dan bisa juga custom dengan membawa serta rombongan besar keluarga sehingga ibadah bisa menjadi ajang silaturahmi yang selama ini terbengkalai karena urusan dunia yang tidak akan pernah usai. Selamat beribadah dengan tenang, semoga kita bisa menjalankan Umroh kembali karena Allah memanggil kita kembali ke Ka'bah, Amin.