Wisata Imlek ‘Anti Mainstream’ Selain Petak Sembilan Di Jakarta


Biasanya setelah Imlek (Tahun Baru China), sekitar 15 hari setelahnya terdapat perayaan lain yang disebut Cap Go Meh. Singkawang, Kalimantan Barat, merupakan salah satu tempat spesial yang merayakan Cap Go Meh dengan meriah. Sayang, tahun ini tidak kesampaian ke Singkawang namun bisa merasakan momennya di Jakarta. Selain Petak Sembilan, ternyata banyak sekali tempat wisata bernuansa imlek yang anti mainstream dan biasanya sangat tersembuyi. Makanya setiap tahun biasanya saya menyempatkan diri untuk menjelajah tempat-tempat tersebut. Oh iya, selain kawasan glodok, kita bisa mampir juga ke Kota Tua, pelabuhan Sunda Kelapa, Museum Bahari dan kawasan lainnya yang jaraknya tidak terlalu jauh. 

Bagi saya, merasakan nuansa imlek itu sungguh mengangumkan. Dari kecil saya hanya melihat masjid dan gereja saja, jarang sekali mendapati vihara atau klenteng. Di Jakartalah, saya mulai mengenal tempat-tempat unik seperti Petak Sembilan. Kata orang, saya lebih tertarik dengan klenteng dibandingkan dengan masjid. Mungkin karena telat terbiasa ke masjid, saya sudah tidak penasaran dengan bentuk atau ornamennya, kecuali masjid dengan arsitektur yang sangat unik. Saya tidak menolak jika dijuluki "Pemburu Klenteng". 


"Man, mau kemana hari ini?"

Saya ditanya Halim, waktu itu saya berada di Solo.

"Aku mau jajan di pasar sekalian cari klenteng."

"Kebetulan banget di depan pasar ada klenteng pertama di Solo."

"Oke, kita janjian di klenteng itu ya."

Jadi bukan hanya satu atau dua kali saja saya selalu menyempatkan diri untuk ke klenteng, selain masjid tentunya, bahkan setiap ke kota-kota lainnya klenteng adalah hal wajib saya kunjungi. Rasa penasaran saya itu seakan bertambah ketika menemukan sebuah klenteng yang biasanya tak jauh dari sebuah pasar. Konon katanya, pasar dan klenteng itu sudah seperti alun-alun dan masjid, selalu berdampingan dan menjadi sebuah simbol karena rata-rata pedagang itu berasal dari Tionghoa. 


Selain Petak Sembilan, ternyata banyak tempat bernuansa imlek yang jarang atau bahkan sama sekali di dengar oleh masyarakat Jakarta. Yup, sebut saja Candra Naya, Gereja Santa Maria de Fatima dan Vihara Dharma Jaya Toasebio. 

Candra Naya


Rumah yang disebut Candra Naya tersebut adalah rumah terakhir Mayor China di Batavia. Zaman Hindia Belanda dulu, diangkat seseorang untuk mewakili etnisnya.

Ialah Mayor Khouw Kim An yang lahir di Batavia 5 Juni 1879. Kariernya termasuk cemerlang di pemerintahan Batavia. Pada 1905 diangkat menjadi Leutenant, 1908 dipromosikan menjadi Kapitan, dan 1910 naik pangkat lagi menjadi Mayor.

Rumah ini memang terletak diantara gedung tinggi di kawasan jalan Gajah Mada di Jakarta, sehingga tidak banyak yang tahu bahwa disinilah sejarah penting pernah terjadi dan menjadi saksi bisu banyak peristiwa pada masa Batavia. 


Gereja Santa Maria de Fatima


Gereja Santa Maria de Fatima adalah sebuah Gereja Katolik di Jakarta. Gedung ini dibangun dengan arsitektur Tionghoa. Setelah adanya tugas pelayanan dan pewartaan dari Vikaris Apostolik Jakarta, Mgr. Adrianus Djajasepoetra, SJ kepada Pater Wilhelmus Krause Van Eeden SJ, maka didirikanlah gereja, sekolah, dan asrama bagi orang-orang Hoakiau (Cina Perantau). Sebagai awal, dipilihlah Pater Antonius Loew SJ dari Austria sebagai kepala paroki dan Pater Leitenbauer sebagai pengelola sekolah yang pertama. Sekolah itu dinamakan Sekolah Ricci, berasal dari nama imam missionaries Yesuit, Matteo Ricci.

Usaha Pater Leitenbauer, yang dibantu oleh Pater Braunmandl, Pater Loew, dan Pater Tcheng, berjalan dengan lancar, dan mereka juga membuka kursus bahasa Inggris, Jerman, dan Mandarin, yang dikenal dengan sebutan Ricci Evening School, dan asrama yang dikelola oleh Pater Tcheng diberi nama Ricci Youth Center.


Kemudian tahun 1953 dibelilah sebidang tanah seluas 1 hektare, untuk digunakan sebagai kompleks gereja dan sekolah, dari seorang kapitan (lurah keturunan Tionghoa pada Zaman Penjajahan Belanda) bermarga Tjioe, dan pada tahun 1954, tanah dan bangunan itu resmi menjadi milik Gereja. Di atas tanah itu berdiri sebuah bangunan utama dengan 2 bangunan mengapit bangunan utama, yang memiliki 2 buah patung singa yang merupakan lambang kemegahan bangsawan Cina.

Vihara Dharma Jaya Toasebio


Kelenteng Toasebio adalah salah satu dari klenteng tua yang masih berdiri di Jakarta. Toasebio sendiri adalah gabungan dari dua kata yakni Toase yang berarti pesan dan Bio adalah kelenteng. Kelenteng yang dibangun di tahun 1755 ini menyembah dewa Qing Yuan Zhen Jun (Tjeng Gwan Tjeng Kun).

Kelenteng Toasebio sudah berdiri di tempatnya yang sekarang sejak semula didirikan pada sekitar menjelang pertengahan abad ke-18 oleh komunitas Tionghoa asal Kabupaten Tiothoa/Changtai di Keresidenan Ciangciu/Zhangzhou dan¯dengan sendirinya¯tidak pernah dipindahkan dari tempat lain. 


Nama resmi kelenteng ini¯sebagaimana tertera pada papan nama di gerbang kelenteng¯adalah Hong-san Bio/Fengshan Miao (`Kelenteng Gunung Burung Hong'). Akan tetapi, karena Cheng-goan Cin-kun / Qingyuan Zhenjun, dewata pelindung masyarakat Kabupaten Tio-thoa/Changtai, juga dikenal sebagai Toa-sai Kong / Dashi Gong (`Paduka Duta Besar'), maka kelenteng ini juga dikenal sebagai kelenteng Toa-sai Bio/Dashi Miao (`Kelenteng Duta Besar'). Nama Toa-sai Bio di lidah penduduk lama-kelamaan berubah lafal menjadi Toa-se Bio dan menjadi nama jalan dimana kelenteng ini berada dan juga nama lingkungan sekitarnya. Nama Toasebio ini sampai sekarang masih dipakai, dari sinilah nama paroki di lingkungan ini, Paroki Toasebio.

Menginap Di Hotel Jalan Gajahmada, Jakarta

Setelah keliling Glodok dan sekitarnya, jika berasal dari luar kota, maka yang paling tepat untuk menginap adalah hotel di jalan Gajahmada. Hotel di Jakarta ini memang sangat unik karena sangat tinggi tingkat huniannya dan lokasinya sangat beragam hingga sangat dekat dengan obyek wisata. Jadi tak perlu khawatir dengan transportasi karena dengan jalan kaki pun bisa menjangkau tempat ini. Oh iya, selain itu bagi yang tidak memiliki budget tipis tapi mengharapkan hotel bintang 5,4, atau 3, bisa saja mendapatkan harga murah atau harga promo



Bagaimana memesannya? Gampang sekali karena tinggal akses website/aplikasi pegipegi dan pesan sesuai dengan lokasi yang diinginkan misalnya Gajahmada, Jakarta. Kemudian pilih tanggal dan berapa lama akan tinggal. Setelah itu selesaikan transaksi, bayar dan hotel pun sudah siap ketika sampai di lokasi. 

Wah, memang sangat mudah banget tinggal klik, pesan, bayar dan siap digunakan deh. Ngga perlu repot telpon dan email hotelnya segala macem ya. 


Wisata Imlek ‘Anti Mainstream’ Selain Petak Sembilan Di Jakarta


Biasanya setelah Imlek (Tahun Baru China), sekitar 15 hari setelahnya terdapat perayaan lain yang disebut Cap Go Meh. Singkawang, Kalimantan Barat, merupakan salah satu tempat spesial yang merayakan Cap Go Meh dengan meriah. Sayang, tahun ini tidak kesampaian ke Singkawang namun bisa merasakan momennya di Jakarta. Selain Petak Sembilan, ternyata banyak sekali tempat wisata bernuansa imlek yang anti mainstream dan biasanya sangat tersembuyi. Makanya setiap tahun biasanya saya menyempatkan diri untuk menjelajah tempat-tempat tersebut. Oh iya, selain kawasan glodok, kita bisa mampir juga ke Kota Tua, pelabuhan Sunda Kelapa, Museum Bahari dan kawasan lainnya yang jaraknya tidak terlalu jauh. 

Bagi saya, merasakan nuansa imlek itu sungguh mengangumkan. Dari kecil saya hanya melihat masjid dan gereja saja, jarang sekali mendapati vihara atau klenteng. Di Jakartalah, saya mulai mengenal tempat-tempat unik seperti Petak Sembilan. Kata orang, saya lebih tertarik dengan klenteng dibandingkan dengan masjid. Mungkin karena telat terbiasa ke masjid, saya sudah tidak penasaran dengan bentuk atau ornamennya, kecuali masjid dengan arsitektur yang sangat unik. Saya tidak menolak jika dijuluki "Pemburu Klenteng". 


"Man, mau kemana hari ini?"

Saya ditanya Halim, waktu itu saya berada di Solo.

"Aku mau jajan di pasar sekalian cari klenteng."

"Kebetulan banget di depan pasar ada klenteng pertama di Solo."

"Oke, kita janjian di klenteng itu ya."

Jadi bukan hanya satu atau dua kali saja saya selalu menyempatkan diri untuk ke klenteng, selain masjid tentunya, bahkan setiap ke kota-kota lainnya klenteng adalah hal wajib saya kunjungi. Rasa penasaran saya itu seakan bertambah ketika menemukan sebuah klenteng yang biasanya tak jauh dari sebuah pasar. Konon katanya, pasar dan klenteng itu sudah seperti alun-alun dan masjid, selalu berdampingan dan menjadi sebuah simbol karena rata-rata pedagang itu berasal dari Tionghoa. 


Selain Petak Sembilan, ternyata banyak tempat bernuansa imlek yang jarang atau bahkan sama sekali di dengar oleh masyarakat Jakarta. Yup, sebut saja Candra Naya, Gereja Santa Maria de Fatima dan Vihara Dharma Jaya Toasebio. 

Candra Naya


Rumah yang disebut Candra Naya tersebut adalah rumah terakhir Mayor China di Batavia. Zaman Hindia Belanda dulu, diangkat seseorang untuk mewakili etnisnya.

Ialah Mayor Khouw Kim An yang lahir di Batavia 5 Juni 1879. Kariernya termasuk cemerlang di pemerintahan Batavia. Pada 1905 diangkat menjadi Leutenant, 1908 dipromosikan menjadi Kapitan, dan 1910 naik pangkat lagi menjadi Mayor.

Rumah ini memang terletak diantara gedung tinggi di kawasan jalan Gajah Mada di Jakarta, sehingga tidak banyak yang tahu bahwa disinilah sejarah penting pernah terjadi dan menjadi saksi bisu banyak peristiwa pada masa Batavia. 


Gereja Santa Maria de Fatima


Gereja Santa Maria de Fatima adalah sebuah Gereja Katolik di Jakarta. Gedung ini dibangun dengan arsitektur Tionghoa. Setelah adanya tugas pelayanan dan pewartaan dari Vikaris Apostolik Jakarta, Mgr. Adrianus Djajasepoetra, SJ kepada Pater Wilhelmus Krause Van Eeden SJ, maka didirikanlah gereja, sekolah, dan asrama bagi orang-orang Hoakiau (Cina Perantau). Sebagai awal, dipilihlah Pater Antonius Loew SJ dari Austria sebagai kepala paroki dan Pater Leitenbauer sebagai pengelola sekolah yang pertama. Sekolah itu dinamakan Sekolah Ricci, berasal dari nama imam missionaries Yesuit, Matteo Ricci.

Usaha Pater Leitenbauer, yang dibantu oleh Pater Braunmandl, Pater Loew, dan Pater Tcheng, berjalan dengan lancar, dan mereka juga membuka kursus bahasa Inggris, Jerman, dan Mandarin, yang dikenal dengan sebutan Ricci Evening School, dan asrama yang dikelola oleh Pater Tcheng diberi nama Ricci Youth Center.


Kemudian tahun 1953 dibelilah sebidang tanah seluas 1 hektare, untuk digunakan sebagai kompleks gereja dan sekolah, dari seorang kapitan (lurah keturunan Tionghoa pada Zaman Penjajahan Belanda) bermarga Tjioe, dan pada tahun 1954, tanah dan bangunan itu resmi menjadi milik Gereja. Di atas tanah itu berdiri sebuah bangunan utama dengan 2 bangunan mengapit bangunan utama, yang memiliki 2 buah patung singa yang merupakan lambang kemegahan bangsawan Cina.

Vihara Dharma Jaya Toasebio


Kelenteng Toasebio adalah salah satu dari klenteng tua yang masih berdiri di Jakarta. Toasebio sendiri adalah gabungan dari dua kata yakni Toase yang berarti pesan dan Bio adalah kelenteng. Kelenteng yang dibangun di tahun 1755 ini menyembah dewa Qing Yuan Zhen Jun (Tjeng Gwan Tjeng Kun).

Kelenteng Toasebio sudah berdiri di tempatnya yang sekarang sejak semula didirikan pada sekitar menjelang pertengahan abad ke-18 oleh komunitas Tionghoa asal Kabupaten Tiothoa/Changtai di Keresidenan Ciangciu/Zhangzhou dan¯dengan sendirinya¯tidak pernah dipindahkan dari tempat lain. 


Nama resmi kelenteng ini¯sebagaimana tertera pada papan nama di gerbang kelenteng¯adalah Hong-san Bio/Fengshan Miao (`Kelenteng Gunung Burung Hong'). Akan tetapi, karena Cheng-goan Cin-kun / Qingyuan Zhenjun, dewata pelindung masyarakat Kabupaten Tio-thoa/Changtai, juga dikenal sebagai Toa-sai Kong / Dashi Gong (`Paduka Duta Besar'), maka kelenteng ini juga dikenal sebagai kelenteng Toa-sai Bio/Dashi Miao (`Kelenteng Duta Besar'). Nama Toa-sai Bio di lidah penduduk lama-kelamaan berubah lafal menjadi Toa-se Bio dan menjadi nama jalan dimana kelenteng ini berada dan juga nama lingkungan sekitarnya. Nama Toasebio ini sampai sekarang masih dipakai, dari sinilah nama paroki di lingkungan ini, Paroki Toasebio.

Menginap Di Hotel Jalan Gajahmada, Jakarta

Setelah keliling Glodok dan sekitarnya, jika berasal dari luar kota, maka yang paling tepat untuk menginap adalah hotel di jalan Gajahmada. Hotel di Jakarta ini memang sangat unik karena sangat tinggi tingkat huniannya dan lokasinya sangat beragam hingga sangat dekat dengan obyek wisata. Jadi tak perlu khawatir dengan transportasi karena dengan jalan kaki pun bisa menjangkau tempat ini. Oh iya, selain itu bagi yang tidak memiliki budget tipis tapi mengharapkan hotel bintang 5,4, atau 3, bisa saja mendapatkan harga murah atau harga promo



Bagaimana memesannya? Gampang sekali karena tinggal akses website/aplikasi pegipegi dan pesan sesuai dengan lokasi yang diinginkan misalnya Gajahmada, Jakarta. Kemudian pilih tanggal dan berapa lama akan tinggal. Setelah itu selesaikan transaksi, bayar dan hotel pun sudah siap ketika sampai di lokasi. 

Wah, memang sangat mudah banget tinggal klik, pesan, bayar dan siap digunakan deh. Ngga perlu repot telpon dan email hotelnya segala macem ya. 


5 Tempat Rekreasi di Malang Ini Jadi Pilihan Generasi Milenial


Malang adalah destinasi andalan liburan akhir pekan warga Surabaya. Bosan dengan cuaca panas dan lalu lintas padat, jalan-jalan ke kota terbesar kedua di Jawa Timur ini memang bisa menyegarkan kembali pikiran dan tubuh yang penat.  

Menyandang gelar Kota Pendidikan, membuat Malang populer di kalangan generasi milenial. Tak hanya sebagai tempat menimba ilmu, tetapi juga sebagai destinasi wisata. Oh iya, saya selalu ingat kalau Malang sangatlah identik dengan Gunung Bromo dan Semeru, padahal selain itu masih banyak wisata lain yang tidak kalah menarik dan memang harus dikunjungi bersama pacar, gebetan, keluarga atau teman segenk.

"Wisata di Malang selain Bromo apa?"

Kadang saya selalu di tanya dengan pertanyaan ini karena saya sudah pernah ke Malang beberapa kali. Dan, saya pun bingung harus menjawab apa hehehe. Namun, setelah menelusuri Malang tepatnya di Kota Batu, Malang, inilah 5 tempat rekreasi di Malang yang jadi pilihan generasi milenial. 

Museum Angkut

Museum dengan luas 3,7 hektar ini menampilkan lebih dari 300 koleksi kendaraan dari berbagai zaman dan negara. Museum bertema kendaraan terbesar di Asia Tenggara ini punya 8 zona eksibisi yang unik. Di Main Hall kamu akan menjumpai mobil-mobil kuno. Sementara di Educational Hall, kamu bisa mempelajari sejarah transportasi dunia. Lalu, Euro Zone membawa kamu pada deretan mobil keluaran Eropa yang mewah.

Setiap zona tematik memiliki penataan yang rapi, sehingga kamu tak bisa berhenti untuk mengabadikan diri dengan berbagai latar yang menarik. Siap-siap bingung memilih foto mana yang hendak diunggah ke media sosial karena semua foto terlihat sama keren! 

Source : Traveloka

Jatim Park 2 (Batu Secret Zoo dan Museum Satwa)

Bagi pencinta hewan, main ke Malang belum lengkap jika tidak mampir ke Jatim Park 2. Di Museum Satwa kamu akan mempelajari bagaimana sejarah keilmuan dalam dunia fauna. Terdapat beberapa replika hewan dengan ukuran menyerupai aslinya. Tiga yang paling menarik adalah replika dinosaurus, jerapah, dan gajah. 

Pada area Batu Secret Zoo, kamu bisa melihat-lihat koleksi satwa yang ditata dengan konsep modern. Ragam jenis hewan yang ada terbilang luar biasa lengkap, dari burung-burung cantik hingga hewan langka yang terancam punah. Bahkan, habitat buatan hewan ini dibuat semirip mungkin dengan habitat aslinya. Dijamin, kamu bakal terpukau dengan keragaman koleksi satwa di Batu Secret Zoo.  

Goa Pinus

Terletak di daerah Gunungsari, Bumiaji, Batu, Goa Pinus menawarkan pesona indah Malang dengan latar perbukitan hijau dan udara sejuk. Deretan pohon pinus yang apik menyambut kamu. Rasanya, siapapun ingin berlama-lama tinggal di sini. 

Ada banyak spot foto instagramable di Goa Pinus, seperti gerbang masuk yang membentuk bingkai dari cabang-cabang pohon, gardu pandang dengan latar perbukitan, hingga pondokan yang terbuat dari rangkaian akar dan batang pohon. Pasti memori smartphone segera penuh karena kamu nyaris tak mungkin berhenti foto-foto saat mengunjungi tempat ini. 

Kampung Wisata Jodipan

Berada di pusat kota, kelir warna-warni Kampung Wisata Jodipan selalu sukses menarik perhatian wisatawan. Bertransformasi dari kawasan kumuh menjadi pemukiman cantik dan fotogenik, ini adalah tempat sempurna bagi penggemar fotografi untuk mengabadikan berbagai momen. 

Beberapa tempat terbaik untuk merekam area ini adalah Jembatan Embong Brantas, Jembatan Kaca yang menghubungkan Kampung Tridi dan Kampung Jodipan, dan Balai Payung. Telusuri pula mural-mural indah di beberapa titik dalam kawasan pemukiman ini. Jika kamu hanya mampir sebentar di Malang, tempat ini harus masuk dalam daftar teratas kunjungan.

Source : Traveloka
Jatim Park 3

Berbeda dengan Jatim Park 1 dan 2, Jatim Park 3 mengusung Dino Park dan The Legend Star sebagai destinasi unggulan. Penggemar dinosaurus pasti takjub saat memasuki ruang fosil yang menampilkan fosil dinosaurus dengan ukuran menyerupai aslinya. kamu juga dapat menjelajahi zaman ketika dinosaurus hidup dengan kereta terbuka.

Sementara di The Legend Star, ada 19 zona yang dapat ditelusuri. Masing-masing zona memiliki replika destinasi wisata tersohor atau patung lilin tokoh-tokoh terkenal dunia, seperti Joko Widodo dan Lionel Messi. Tempat tepat untuk mewujudkan mimpi masa kecil kamu, bukan? 

Ternyata 5 tempat rekreasi di Malang pilihan generasi milenial ini seru dan menyenangkan! Buat liburan kamu lebih praktis dengan membeli tiket masuk ke berbagai tempat wisata di Malang melalui situs online, seperti Traveloka. Jadi, kamu bisa langsung masuk tanpa repot antre. 

Inilah Tempat Wisata Instagramable Di Kabupaten Kuningan

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - Tempat Wisata Instagramable Kabupaten Kuningan

Kadang kita jenuh dengan destinasi wisata (instagramable) yang itu-itu saja kayak Jakarta, Bali, Yogyakarta (Jogja), Malang, Banyuwangi, Semarang dan Bandung. Kalau ke luar negeri pun kita terpaku pada pilihan antara Singapore atau Malaysia. Sebelum ke luar negeri, kita lihat dulu deh tempat wisata yang instagramable tapi ngga terlalu jauh dari Jakarta. Dan, tempat ini bernama Kabupaten Kuningan, satu jam dari Cirebon yang merupakan gerbang pelabuhan di Jawa Barat. 

Siapa yang tidak tahu Kuningan? Sebuah tempat yang sangat penting pada saat pengukuhan Kemerdekaan Indonesia oleh Belanda. Linggarjati, namanya telah tersohor sebelum saya lahir dan hanya membacanya melalui buku sejarah di bangku sekolah. Kini, saya telah melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana perjuangan delegasi Indonesia di sana. Selain Linggarjati, Kuningan memiliki wisata alam yang tidak kalah menarik loh. Bayangkan saja curug atau air terjun sangat banyak dan telaga atau waduk pun membuat Kuningan sangat bangga dengan kesejukannya. Pun, sebuah museum tempat benda-benda purbakala di simpan pun menawarkan pilihan lainnya bagi pecinta sejarah.

Saya kira Kuningan akan sangat panas seperti Cirebon, tapi ternyata Gunung Cermai membuat kabupaten yang sangat kental dengan angklung ini sangat sejuk dan cenderung dingin. Sialnya saya tidak membawa jaket tebal, hanya sebuah sweater yang melekat di badan. Tapi, bukan malah menyiutkan nyali, malah saya menantang alam Kuningan dengan bertelanjang dada pada saat di sebuah curug. 

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - Tempat Wisata Instagramable Kabupaten Kuningan

Setelah berlangsungnya acara International Angklung Festibval Kuningan 2018, tidak lengkap rasanya tidak berkunjung ke beberapa tempat wisata yang sangat Instagramable dan sangat mudah aksesnya. Saya yakin pada penasaran tempat wisata apa saja sih yang sangat instagramable, tapi ini bukan seluruh tempat, hanya beberapa saja yang sempat saya kunjungi. Karena sangat banyak tempat wisata lainnya yang tidak kalah bagus dari list ini. 

Museum Perundingan Linggarjati

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - Tempat Wisata Instagramable Kabupaten Kuningan

Museum Perundingan Linggarjati memang sangat layak mendapatkan tempat di hati masyarakat Kuningan. Bagaimana tidak, sebuah sejarah tercipta di tempat sejuk di bawah kaki gunung Ciremai yang indah. Deligasi Indonesia dan Belanda melakukan perundingan yang akan menentukan pengakuan kedaulatan kemerdekaan Indonesia. Bukan perkara mudah untuk membuat Belanda secara yuridis atau secara hukum mengakui kemerdekaan yang telah diproklamirkan oleh Soekarna-Hatta. Beruntung, suasana sejuk dan damai di Linggarjati membuat Belanda akhirnya melunak dan mengakui kedaulatan Indonesia. 

Jas Merah, jangan sekali-kali merupakan sejarah. Bukan kah dengan belajar dari masa lalu kita akan merasakan manfaat dan membuat kuta jadi waspada sekaligus bangga dengan perjuangan pendahulu-pendahulu kita yang bersemangat dengan kemerdekaan kita. Lalu apa yang sudah kita lakukan untuk mengisi kemerdekaan ini? Jawablah dengan prestasi yang membanggakan negeri ini. 

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - Tempat Wisata Instagramable Kabupaten Kuningan

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - Tempat Wisata Instagramable Kabupaten Kuningan

Gedung bergaya Eropa membuat tempat ini sangat bagus dan instagramable. Jangan lewatkan setiap sudut gedung ini, karena gedung ini pun membuat saya terkagum-kagum karena kecantikannya. Apalagi jika kita menemukan sudut yang pas seperti di bawah kaki gunung Ceremai maka keindahan pun tak dapat disembunyikan lagi. 

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - Tempat Wisata Instagramable Kabupaten Kuningan

Rumah Hobit Di Bukit Sukageuri, Palutungan 

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - Tempat Wisata Instagramable Kabupaten Kuningan

Kalau bosan dengan pemandangan kota, tempat ini sangat cocok untuk melepas kepenatan. Pada saat pertama kali kesini, saya kira ini adalah hanya tempat biasa, namun setelah melihat banyak tempat seperti tempat selfie atau wefie. Kalau masalah viewnya jangan ditanya lagi karena banyak sekali spot-spot yang membuat foto kita makin bagus. 

Ternyata selain untuk rekreasi, tempat ini biasanya digunakan untuk camping. Area camping disediakan di sekitar parkiran dekat dengan kantin yang menjual berbagai macam makanan ringan dan juga mie instan serta lainnya. Jadi kalau misalnya laper karena kedingininan atau belum sarapan bisa sekedar melepas lapar disini. 



Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - Tempat Wisata Instagramable Kabupaten Kuningan

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - Tempat Wisata Instagramable Kabupaten Kuningan

Situ Cicerem Telaga Biru

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - Tempat Wisata Instagramable Kabupaten Kuningan

Birunya air bukan hanya dimiliki oleh laut, ternyata Cicerem pun menyimpan air yang sangat jernih sehingga kadang kala bisa berwarna hijau tosca dan biru. Tidaklah seseram namanya, situ ini memang dibuat untuk menampung aliran air dari beberapa sumber mata air. Suasana hutan yang masih lebat membuat tempat ini sangat hijau dan sangat sejuk walau matahari sangat panas kalau misalnya datang pada saat siang. 

Jika weekend, banyak sekali keluarga yang datang dan mengunjungi tempat ini. Memang sangat disayangkan fasilitas toilet dan warung makan masih sedikit karena memang belum dikelola secara maksimal. Tapi, situ ini memang sangat layak untuk dikunjungi karena sangat instagramable dan bisa menemukan banyak ikan besar seperti koi dan emas. 

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - Tempat Wisata Instagramable Kabupaten Kuningan

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - Tempat Wisata Instagramable Kabupaten Kuningan

Situs (Museum) Purbakala Cipari 

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - Tempat Wisata Instagramable Kabupaten Kuningan

Jika tidak suka dengan alam, wisata sejarah dan purbakala bisa menjadi pilhan yang menarik. Situs purbakala Cipari adalah tempat yang sangat cocok untuk sekedar menyelami masa lampau. Di tempat inilah banyak ditemukan benda-benda peninggalan yang mungkin saja sudah ada pada masa peradaban awal manusia. Alat-alat rumah tangga dan bongkahan bangunan serta menhir mendominasi koleksi yang terdapat pada gedung museumnya. 

Saya terkesan dengan tempat ini, selain bisa menambah ilmu serta belajar bagaimana manusia dahulu menjalani kehidupan, tempat ini sangat cocok dijadikan obyek foto yang menakjubkan. Kesan tua namun sangat unik dengan nuansa-nuansa bebatuan yang tersusun dengan rapi.

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - Tempat Wisata Instagramable Kabupaten Kuningan

Curug Putri Palutungan 

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - Tempat Wisata Instagramable Kabupaten Kuningan

Konon katanya Curug ini adalah pemandian para putri dari kahyangan. Banyak sekali yang percaya jika mengunjungi tempat ini maka akan mendapatkan jodoh pangeran yang tampan. Saya pun percaya bahwa ini adalah pemandian para putri karena airnya sangat segar dan sejuk sekali. Selain itu, curug ini dipercaya akan mendatangkan jodoh dan dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit. Lagi-lagi saya percaya karena sebelum ke curug ini dibutuhkan olahraga jalan sehingga akan melancarkan peredaran darah, selain itu juga pemandangan alam yang sejuk membuat kita merasakan kedamaian. Kedua hal tersebut membuat kita merasa lebih segar dan rupawan sehingga sangat mungkin jika rutin dilakukan akan membuat wajah kita semakin menarik.

Khasiat air terjun memang sangat terbukti apalagi airnya berasal dari sumber mata air sehingga tidak heran jika ketika mandi di curug ini akan membuat perasaan kita lebih baik. Sugesti baik tentu saja akan membuat kita lebih damai dan percayalah jika kita merasakan kedamaian maka segala penyakit yang ada dalam tubuh kita bisa berkurang atau bahkan sembuh.

Tidak salah jika keindahan curug ini membuat saya betah berlama-lama dan mengabadikan sebanyak mungkin foto-foto yang tentu saja sangat instagramable sekali untuk koleksi di Instagram. 

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - Tempat Wisata Instagramable Kabupaten Kuningan

Kabupaten Kuningan masih menyimpang banyak sekali tempat wisata yang sangat indah. Perlu waktu yang lebih banyak untuk dapat menikmati seluruh wisatanya. Namun saya percaya kalau Tuhan mengijinkan, saya akan kembali lagi dan merasakan sensasi wisata di Kuningan dengan tempat-tempat yang menarik lainnya. Sampai jumpa di tempat wisata lainnya di Kuningan. 


Tempat Wisata Unik Dan Anti Mainstream Di Jakarta


Jakarta itu ibarat jantungnya Indonesia yang berdenyut setiap detiknya. Bahkan sangkin dinamisnya, Jakarta itu banyak sekali tempat-tempat yang memiliki keunikan dan anti mainstream. Kebayang donk kayak apa sih padat dan stresnya warga Jakarta karena setiap hari harus berjibaku dengan kemacetan dan kepadatan transportasi massal seperti KRL dan Busway. 

Coba saya mau tanya, seberapa sering kamu jalan-jalan di area Jakarta dan menemukan tempat yang unik dan jarang di jumpai oleh orang lain? Pasti dengan lamanya akan berpikir dan berakhir dengan jawaban yang sangat mengecewakan.

"Saya ngga tahu tempat yang unik."

Atau jawaban paling mentok adalah ini.

"Paling saya ke mall."

Memang betul sih, mall itu banyak hiburannya, tapi kan bukan hanya mall saja yang bisa bikin kita bahagia. Kadang sesuatu yang sederhana dan tempatnya terpencil serta luput dari jangkuan orang bisa bikin kita menyadari arti dari tempat tersebut.


Candra Naya

Rumah yang disebut Candra Naya tersebut adalah rumah terakhir Mayor China di Batavia. Zaman Hindia Belanda dulu, diangkat seseorang untuk mewakili etnisnya.

Ialah Mayor Khouw Kim An yang lahir di Batavia 5 Juni 1879. Kariernya termasuk cemerlang di pemerintahan Batavia. Pada 1905 diangkat menjadi Leutenant, 1908 dipromosikan menjadi Kapitan, dan 1910 naik pangkat lagi menjadi Mayor.


Rumah ini memang terletak diantara gedung tinggi di kawasan jalan Gajah Mada di Jakarta, sehingga tidak banyak yang tahu bahwa disinilah sejarah penting pernah terjadi dan menjadi saksi bisu banyak peristiwa pada masa Batavia. 

Gereja Santa Maria de Fatima


Gereja Santa Maria de Fatima adalah sebuah Gereja Katolik di Jakarta. Gedung ini dibangun dengan arsitektur Tionghoa. Setelah adanya tugas pelayanan dan pewartaan dari Vikaris Apostolik Jakarta, Mgr. Adrianus Djajasepoetra, SJ kepada Pater Wilhelmus Krause Van Eeden SJ, maka didirikanlah gereja, sekolah, dan asrama bagi orang-orang Hoakiau (Cina Perantau). Sebagai awal, dipilihlah Pater Antonius Loew SJ dari Austria sebagai kepala paroki dan Pater Leitenbauer sebagai pengelola sekolah yang pertama. Sekolah itu dinamakan Sekolah Ricci, berasal dari nama imam missionaries Yesuit, Matteo Ricci.

Usaha Pater Leitenbauer, yang dibantu oleh Pater Braunmandl, Pater Loew, dan Pater Tcheng, berjalan dengan lancar, dan mereka juga membuka kursus bahasa Inggris, Jerman, dan Mandarin, yang dikenal dengan sebutan Ricci Evening School, dan asrama yang dikelola oleh Pater Tcheng diberi nama Ricci Youth Center.


Kemudian tahun 1953 dibelilah sebidang tanah seluas 1 hektare, untuk digunakan sebagai kompleks gereja dan sekolah, dari seorang kapitan (lurah keturunan Tionghoa pada Zaman Penjajahan Belanda) bermarga Tjioe, dan pada tahun 1954, tanah dan bangunan itu resmi menjadi milik Gereja. Di atas tanah itu berdiri sebuah bangunan utama dengan 2 bangunan mengapit bangunan utama, yang memiliki 2 buah patung singa yang merupakan lambang kemegahan bangsawan Cina.

Vihara Dharma Jaya Toasebio


Kelenteng Toasebio adalah salah satu dari klenteng tua yang masih berdiri di Jakarta. Toasebio sendiri adalah gabungan dari dua kata yakni Toase yang berarti pesan dan Bio adalah kelenteng. Kelenteng yang dibangun di tahun 1755 ini menyembah dewa Qing Yuan Zhen Jun (Tjeng Gwan Tjeng Kun).

Gedung Kementrian Pertanian


Menteri Pertanian sebelumnya, telah meresmikan penggunaan gedung Pusat Informasi Agribisnis (PIA). Menteri Pertanian mengatakan bahwa PIA dapat dipandang sebagai salah satu pintu masuk (entry point) bagi masyarakat pertanian maupun masyarakat umum untuk mengenal secara mendalam dunia pertanian, sekaligus dapat menjadi sarana edukasi bagi dunia pendidikan, serta sarana hiburan dan rekreasi bagi masyarakat.

Gedung PIA diharapkan dapat menjadi land-mark bagi kawasan perkantoran Departemen Pertanian dan menjadi pemicu kreatifitas dan daya inovasi insan pertanian. Gedung PIA adalah gedung milik publik, dimana seluruh lapisan masyarakat dapat memanfaatkannya semaksimal mungkin.

Lapangan Banteng


Lapangan Banteng, dulu bernama Waterlooplein (bahasa Belanda: plein = lapangan) yaitu suatu lapangan yang terletak di Weltevreden, Batavia; tidak jauh dari Gereja Katedral Jakarta. Pada masa itu, Lapangan Banteng dikenal dengan sebutan Lapangan Singa[1] karena di tengahnya terpancang tugu peringatan kemenangan pertempuran di Waterloo, dengan patung singa di atasnya. Pertempuran Waterloo tersebut terjadi tanggal 18 Juni 1815 di dekat kota Waterloo, yaitu sekitar 15 km ke arah selatan dari ibukota Belgia, Brussels. Pertempuran itu merupakan pertempuran terakhir Napoleon melawan pasukan gabungan Inggris-Belanda-Jerman. Pertempuran ini juga dicatat dalam sejarah sebagai penutup dari seratus hari sejak larinya Napoleon dari pengasingannya di pulau Elba.

Kini wajah Lapangan Banteng menjadi sangat berbeda dan sangat cantik dengan tambahan taman dan atraksi lampu warna-warni serta air mancur yang sangat menghibur warga. Kita bisa menyaksikan semua pada saat weekend atau sabtu dan minggu. 


Tempat wisata yang unik dan anti mainstream memang bukan saja memberikan efek hiburan, namun bagi yang tidak menyukai hal tersebut bisa memilih banyak tempat wisata yang dekat dengan Jakarta, tanpa harus keluar duit lebih banyak. 

Nah, kalau pesan tempat-tempat wisata yang paling populer di Jakarta, jangan lupa pesan melalui www.traveloka.com karena disini ada lebih dari 90 tempat wisata terpopuler yang ada di Jakarta. Dan, yang lebih baiknya lagi, saat ini sedang ada diskon besar-besar selama masa promo ya. 

Jangan sampaoi ketinggalan pesan tempat wisata yang terpopuler di Jakarta di traveloka ya.

Angklung Kini Mendunia Di International Angklung Festival Kuningan 2018

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - International Angklung Festival Kuningan 2018

"Kalau mau ke curug harus ke Kabupaten Cirebon atau Kuningan yang banyak."

Kata-kata ini masih terngiang di telinga ketika memasuki pintu tol Cipali. Awal tahun ini saya sempat berkeinginan keliling Kabupaten Kuningan, bukan karena kuliner yang selalu berada salam pikiran saya selama ini,  melainkan pesona curugnya.

Konon,  Curug itu erat kaitannya dengan khayangan dan putri serta dayang-dayangnya. Impian kecil yang membawa saya ke Kuningan setelah lama   berucap dalam hati. Selain curug,  ternyata Angklunglah yang membawa saya betul-betul ke Kuningan untuk saat ini.

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - International Angklung Festival Kuningan 2018

"Angklung itu dari Kuningan?"

Antara tanya dan pernyataan, saya pun terkaget-kaget. Selama ini saya menganggap bahwa Angklung berasal dari Bandung. Dan, yang lebih membuka mata saya lebar-lebar adalah sosok Daeng Soetigna yang berguru pada Dad Jaya dari Kuningan sehingga Angklung menjelma menjadi alat musik yang bisa memainkan seluruh jenis musik baik itu dangdut,  pop,  rock dan musik populer di seluruh Dunia.

Ternyata kejutan tidak berhenti sampai disini. Kuningan dinobatkan sebagai Kabupaten Angklung di Indonesia. Sungguh luar biasa pencapaian Kuningan ini,  tak heran jika banyak sekali nuansa Angklung yang menyambut saya ketika memasuki Kuningan.

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - International Angklung Festival Kuningan 2018

Perjalanan dari Jakarta sebetulnya bisa ditempuh dalam waktu sekitar 4-5 jam. Namun ternyata banyak pembangunan LRT/MRT sehingga waktu tempuh lebih lama dari seharusnya. Walaupun seperti itu, rasa senang akhirnya bisa ke Kuningan menepis semuanya. Coba bayangkan saja ketika anak kecil dikasih es krim maka dia akan ceria, begitu juga dengan saya,  seorang traveller pasti sangat senang menemukan destinasi baru.

Suasana panas menyambut saya dan beberapa teman dari Genpi dan wartawan senior. Saat itu entah berapa suhunya,  yang jelas badan saya sudah memberikan tanda dehidrasi. Walaupun panas, namun hati saya tetap sejuk, karena Kuningan tetap mempesona saya dengan gunung Ceremai yang saat itu sudah terlihat dari tol cipali tadi.


Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - International Angklung Festival Kuningan 2018

Kami menginap di Grand Purnama hotel,  tak jauh dari taman dan alun-alun kabupaten Kuningan. Malamnya, kami mencari kuliner khas Kuningan yang mampu melepas rasa lapar. Memang dari senja tadi, perut saya sudah meronta-ronta membutuhkan asupan yang lezat. Rombongan kami sampai di sebuah warung nasi Kasreng. Kasreng ini sebetulnya mirip angkringan di Yogyakarta,  hanya yang membedakan hanya lauk-pauknya yang banyak menyajikan pepes dan rebon atau udang, selain itu banyak menu yang serupa dengan angkringan. Jujur saya pengemar sate usus angkringan,  rasanya memang tiada duanyan. Nah,  kebetulan di warung ini terdapat sate usus, bedanya dengan sate usus Yogyakarta hanya kering atau basahnya saja,  selain itu rasanya hampir sama, mirip tahu tempe bacem kalo di Yogya.

Paginya, kami langsung menuju Museum Linggarjati. Kebetulan tempat pelaksanaan acara adalah museum perumusan naskah perjanjian Linggarjati. Nama Linggarjati ini telah tersohor semenjak kemerdekaan, bahkan berkat Linggarjati inilah kita dapat menikmati kemerdekaan seperti sekarang ini. Konon pada saat perundingan, angklung merupakan hiburan di sela-sela acara sehingga hiburan inilah yang membuat relaks dan menghasilkan kesepakatan yang menguntungkan pihak Indonesia dengan percepatan peralihan kekuasan pada saat itu.


Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - International Angklung Festival Kuningan 2018

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - International Angklung Festival Kuningan 2018

Kini angklung pun kembali membanggakan kita semua,  masyarakat Indonesia,  khususnya kabupaten Kuningan yang menggelar International Angklung Festival Kuningan 2018. Selain itu Kuningan juga telah dinobatkan sebagai Kabupaten Angklung sehingga sangat tepat sekali apabila festival ini berada di Kuningan.

Angklung itu bukan hanya alat musik semata,  melainkan sudah menyatu dengan kehidupan masyarakat Kuningan. Mulai dari usia dini semenjak taman kanak-kanak sampai usia senja semuanya tahu cara memainkannya dengan baik. Bahkan pelajar SMP dan SMA pun membanggakan Kuningan dengan memenangkan lomba angklung tingkat Nasional.

Suasana Linggarjati cukup ramai walau acara masih belum mulai, anak-anak sampai orang dewasa sangat antusias dengan festival ini. Acara ini adalah agenda resmi dari Kementerian Pariwisata yang dicantumkan dalam calender of event. Dari seratus event yang menjadi prioritas,  festival Angklung inilah salah satu yang menarik untuk diikuti. Oh iya,  selain menjadi daya tarik wisatawan dalam negeri, Angklung juga memiliki daya tarik bagi wisatawan asing karena telah diakui sebagai warisan dunia oleh UNESCO. Wah, saya tak habis-habisnya berdecak kagum kepada angklung. Memang sudah saatnya kita menjaga dan melestarikan warisan ini agar generasi mendatang tidak kehilangan identitas bangsanya yang kaya akan warisan budaya.


Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - International Angklung Festival Kuningan 2018

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - International Angklung Festival Kuningan 2018

Bapak Acep Purnama, Bupati Kuningan beserta perwakilan dari Kemenpar, Ibu Esthy Reko Astuti,  Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwsata Nusantara beserta rombongan telah hadir disambut dengan bunyi angklung dari ratusan anak-anak. Setelah itu, acara seremonial dan sambutan bergulir diakhiri dengan pemberian penghargaan kepada Kabupaten Kuningan yang diwakili oleh Bapak Acep Purnama.

Penampilan memukau datang dari SMP dan SMA yang memaikan Angklung dan menyajikan berbagai macam lagu mulai dari lagu sunda,  lagu populer Indonesia dan luar negeri yang dinyanyikan dengan apik oleh vokalis.


Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - International Angklung Festival Kuningan 2018

Layaknya orkresta,  angklung berbagai ukuran dan nada menciptakan harmoni yang sangat indah ditelinga. Jarang sekali saya dimanjakan oleh angklung dengan sedekat ini. Biasanya saya hanya mendengarkan angklung di rumah makan sunda,  itupun bukan suara asli melainkan suara rekaman saja. Kini, saya merasakan betapa kayaknya alat musik tradisional kita ini,  sudah saatnya kita bersama mengembangkan dan tetap melestarikan angklung agar tidak hilang oleh alat musik modern.

Bukan Angklung namanya kalau tidak memikat masyarakat Indonesia, namun ternyata bukan hanya orang Indonesia saja yang perkiat melain warga Jepang pun ikut menyumbang beberapa lagu. Bukan hanya dari Jepang saja, namun banyak dari negara lain seperti Algeria. Warga Jepang pun usianya bukan tergolong belia namun sudah memasuki usia senja. Namun semangat mereka untuk mempelajari alat musik Angklung ini patut diapresiasi.


Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - International Angklung Festival Kuningan 2018

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - International Angklung Festival Kuningan 2018

Tahu lagu Kokoronotomo ? Iya pada sekitar tahun 80-90an, lagu ini sangat terkenal di masyarakat Indonesia karena lagunya yang sangat mudah dihafalkan dan bernada sangat bagus. Warga Jepang pun melantunkan lagu ini dengan sangat bagus dan berhasil memukau masyarakat Kuningan yang menyaksikan dari pagi.

Bukan hanya Jepang, lagu Korea seperti Du du du dari Blackpink pun dinyanyikan oleh musisi Kuningan dengan alunan angklung yang sangat merdu. Ternyata K Pop rasa Kuningan ini pun mampu membuat saya berdendang pada saat cuaca terik mulai berhasil membuat saya berkeringat.


Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - International Angklung Festival Kuningan 2018

Nah, kebanggaan kita bukan hanya sementara dan dibibirkan saja. Sudah saatnya kita menjaga angklung dengan ikut menjadi dutanya. Bagaimana caranya? Cukup membagikan blogpost ini pun kamu sudah menyebarkan kebanggaanmu terhadap angklung.

Kini, saatnya menjelajah wisata alam yang indah di Kuningan. Dan,  mari kita menuju ke destinasi selanjutnya. Nantikan di tulisan saya selanjutnya.

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - International Angklung Festival Kuningan 2018

Nonton MotoGP Sepang Sekarang, Bayarnya Nanti Aja


Siapa yang menolak jika diajakin nonton MotoGP di Sepang, Malaysia? Termasuk saya pun akan menerima ajakan tersebut dengan senang hati. Malaysia memiliki arti dari sekedar negara kedua setelah Singapura yang pernah saya jejaki sebagai salah satu syarat menjadi seorang traveler sejati. Mungkin terlalu klise, tapi memang teman-teman traveler lain sangat menyarankan Malaysia sebagai negara yang perlu dikunjungi. 

2012, tepatnya untuk pertama kali saya menerima stempel kedatangan di bandara LCCT (Low Cost Carrier Terminal). Saya masih takjub dan tak percaya akhirnya saya bisa menikmati nasi lemak dan berfoto-foto di menara kembar yang sangat tersohor. Saat itu masih sangat jarang informasi mengenai SIM Card atau online maps karenanya saya hanya mengandalkan buku panduan dan maps yang selalu saya kumpulkan dari berbagai tempat seperti Tourism Information. Nyasar it sudah menjadi hal yang wajar dan sejata saya hanya bertanya dan bertanya kepada petugas dan penduduk sekitar. 


Selama di Kuala Lumpur, saya mencari informasi dan akhirnya memutuskan untuk ke Penang. Alasan saya adalah kota lama atau bangunan kunonya yang sangat terawat sama seperti di Malaka. Dan Penang adalah jalan menuju ke Hatyai, sebagai pintu gerbang menuju ke Thailand. Pengalaman yang selalu menyenangkan dan makanan yang sama dengan Indonesia membuat selera makan saya sama bahkan lebih. Kata teman, salah satu hal yang perlu diperhatikan pada saat traveling adalah makanan. Dan, menurut teman saya, sebelum menerima culure shock yang lebih extreme, saya harus menyesuaikan dengan negara tetangga terlebih dahulu. 

Beberapa kali ke Malaysia, saya sangat kangen dengan nasi lemaknya yang sangat enak. Nasi lemak kalau di Jakarta bisa disamakan dengan nasi uduk yang luar biasa sedapnya. Terakhir saya mengunjungi Sabah dan Sarawak di ujung utara Provinsi Kalimantan Barat dan Kalimantan Utara. Sedangkan edisi sebelumnya, saya mengunjungi Kuala Lumpur dengan segala keunikannya karena saya sempat menikmati kota dari atas city tour bus. 



Menyaksikan MotoGP di Sepang adalah impian yang belum tercapai dalam beberapa tahun belakangan ini. Salah satu yang membuat saya ingin menyaksikannya adalah karena Erlangga. Sahabat saya dari SMA yang kini juga sama-sama menetap di Jakarta. Dia pernah menonton F1 di Sepang. Saya sebetulnya iri, namun secara positif saya menjadikannya sebagai motivasi agar dapat menonton secara langsung. Bahkan, beberapa destinasi seperti Hongkong pun saya termotivasi dari foto-fotonya. Kami memang jarang bertemu, namun sekali bertemu banyak sekali cerita yang kita sharing dan mengalir seperti kita bertemu setiap harinya. 


MotoGP itu sebuah seni pertunjukan yang memukau seluruh indra termasuk mata. Bagi saya menyaksikan perlombaan itu memacu adrenaline dan membuat hidup menjadi lebih menyenangkan karena pengalaman ini bisa dibilang sekali seumur hidup. Mungkin lain waktu kita dapat ulang lagi, namun setiap masa merupakan sebuah kenangan yang manis dan tidak akan terulang lagi. Apalagi jika ini adalah momen pertama kali, mungkin saya tidak akan melupakannya seperti pertama kali ke Malaysia pada tahun 2012. 

Alasan lainnya adalah karena bisa dibayar nanti melalui cicilan. Loh, memangnya bisa ya traveling sekarang tapi bayarnya nanti aja? Bisa bangetlah karena ada program menarik berupa Maxi Travel dari Adira Finance. Dan, kebetulan juga MotoGP ini juga termasuk dalam Maxi Travel yang akan di laksanakan oleh Tx Travel sebagai salah satu tour travel terbaik di Indonesia. 


Maxi Travel ini memudahkan bagi siapa saja yang ingin traveling sekarang namun pengen menunda pengeluran karena banyak yang kebutuhan yang harus dipenuhi dalam beberapa bulan belakangan. Zaman now, memang banyak sekali alternatif yang dapat kita lakukan untuk traveling dan salah satu solusi bagi tidak memiliki dana lebih bisa melalui Maxi Travel. Program ini menawarkan bukan hanya paket perjalanan domestik baik dalam maupun luar negeri saja namun perjalanan Umroh, pemesanan tiket dan pemesanan hotel.

Lalu apa saja yang harus disiapkan untuk mendapatkan program Maxi Travel ini? Syaratnya hanya fotocopy KTP, Fotocopy STNK, BPKB Mobil atau Motor, KK dan NPWP. Nah, untuk paket wisata  bisa ditentukan sendiri oleh kita tanpa harus sesuai dengan brosur atau paketan yang telah ditentukan sebelumnya. 


Nah, yang ingin menyaksikan MotoGP di Sepang dapat mengakses Tx Travel secara langsung karena tour ini merupakan salah satu yang terpercaya menyelenggarakan paket Moto GP dengan banyak pilihan seperti tour 3D2N dan 4D3N. Sebagai informasi, program Moto GP Sepang ini akan diselenggarakan pada tanggal 3-5 November 2018 untuk paket tour 3D2N sedangkan paket 4D3N akan diberangkatkan pada 2-5 November 2018. Pemberangkatan bisa melalui 7 kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar dan Makassar. So, tidak ada lagi masalah bukan kalau berasal dari luar dari Jakarta. 

Nah yang penasaran dengan Itinerary, ini dia kegiatan selama 4 hari 3 malam yang akan dilakukan di Kuala Lumpur dan Sepang. 

Jum’at/02 : Penerbangan ke Kuala Lumpur

Kumpul di bandara 3 jam sebelum keberangkatan, bertemu Tour Leader untuk proses absen, bagasi dan boarding pass, lalu penerbangan ke Kuala Lumpur. Setiba di bandara KLIA-1, bertemu Local Guide, untuk group KLM langsung menuju ke hotel sedangkan group GA berkunjung ke Istana Merdeka, Tugu Negara, Mesjid Negara, Dataran Merdeka, City Gallery dan makan malam bersama lalu check-in hotel, istirahat.

Sabtu/03 > Qualifying

Sarapan pagi, mampir ke Twin Tower dan Berly’s Chocolate House, menuju sirkuit guna menyaksikan babak latihan dan kualifikasi dari Moto3 (12.35-13.15), MotoGP (14.10-14.50), Moto2 (15.05-15.50), makan malam dengan buffet menu “all u can eat” di restoran Kuala Lumpur, kembali ke hotel, istirahat.


Minggu/04 > Final Race Day

Sarapan pagi, menuju sirkuit guna menyaksikan babak pemanasan dan balapan final Moto3 (12.00-13.00), Moto2 (13.20-14.20), MotoGP (15.00-16.00), kembali ke bus semula di parkiran, mampir ke Mitsui Outlet Park KLIA Sepang untuk menghindari kemacetan di tol arah pusat kota, baru kemudian kembali ke hotel.

Hari-4/Senin/05 > City Tour

Sarapan pagi, check-out hotel, untuk group GA langsung menuju ke bandara sedangkan group KLM berkunjung ke Istana Merdeka, Tugu Negara, Mesjid Negara, Dataran Merdeka, City Gallery dan makan siang, kemudian menuju ke bandara KLIA-1 untuk proses bagasi dan boarding pass, lalu penerbangan ke Jakarta. Usailah sudah tur Nonton Bareng MotoGP Sepang bersama TX Travel, sampai jumpa di musim balap 2019.


Apa sih keunggulan dari Maxi Travel dibandingankan dengan program cicilan lainnya? Nah, ini dia beberapa keunggulannya. 

Prosesnya Mudah 

Customer datang langsung ke perusahaa tour & travel dan memilih paket yang telah ditentukan. Apabila perusahaan tour & travel bekerjasama dengan Adira Finance maka akan menghubungi petugas di cabang Adira Finance terdekat. Namun, apabila perusahaan tour & travel tersebut belum bekerjasama dengan Adira Finance maka customerlah yang mengajukan tour & travel tersebut. 

Syaratnya Mudah 

Syaratnya hanya fotocopy KTP, Fotocopy STNK, BPKB Mobil atau Motor, KK dan NPWP.

Jaminan Hanya BPKB 

Selain proses dan syaratnya yang mudah, jaminan yang disyaratkan oleh Adira Finance hanya berupaka BPKB saja tanpa embel-embel yang lain. 

Traveling Sekarang Bayarnya Nanti

Kaum milenial termasuk saya memang sangat menginginkan kebebasan financial dan ingin menikmati serta menjelajah negara lain tanpa khawatir dengan dana yang kurang mencukupi, oleh karenanya membutuhkan program Maxi Travel yang dapat jalan-jalan tanpa risau dan membayarnya nanti setelah liburan selesai. 


So tunggu apa lagi, jangan sampai kamu keburu kerepotan dengan urusan anak atau sudah keburu tua untuk menikmati seluruh hal yang harusnya bisa kamu lakukan pada saat muda. Yuk, angkat telepon dan hubungi Dering Adira di 1500511 atau bisa menghubungi email customercare@adira.co,id dan website adira di www.adira.co.id. Sampai jumpa di MotoGP Sepang. 

Pengalaman Pertama Uji Coba Naik LRT (Light Rail Transit) Velodrome – Kelapa Gading, Jakarta


Senang bercampur bangga, karena sebentar lagi Jakarta akan memiliki sarana transportasi yang berbeda dan sangat modern. LRT atau Light Rail Transit ini akan beroperasi kira-kira di akhir tahun 2018 atau paling lambat di awal 2019. Jika sebelumnya di negara tetangga terdekat seperti Singapore, Malaysia, Thailand dan Filipina sudah memiliki LRT dan MRT, maka harapan selama beberapa puluh tahun silam itu akhirnya bisa terwujud. Momen bersejarah ini bisa menjadi harapan baru bagi daerah-daerah lain untuk lebih maju dan lebih modern dari Jakarta. 

Palembang merupakan kota pertama yang telah melakukan uji coba dengan rute Bandara menuju Kompleks Olahraga Jaka Baring, Palembang. Seperti halnya Palembang, Jakarta pun melakukan uji coba serupa mulai tanggal 21 Agustus - 20 September lalu. Antusias masyarakat Jakarta ternyata tidak kalah dengan warga Palembang, buktinya banyak sekali warga yang ikut merasakan LRT dari Velodrome hingga Kelapa Gading.



Tak afdol rasanya sebagai warga Jakarta yang sudah 11 tahun tinggal di Ibukota ini kalau tidak merasakan sensasi naik LRT, apalagi bersama banyak orang yang membludak ini makin menambah keseruannya. Mungkin dari puluhan juta penduduk Jakarta, hanya beberapa ribu saja yang bisa menikmati LRT untuk pertama kalinya. Saya telah naik lebih dari puluhan kali rute di Jepang dan Korea Selatan, dan memiliki pengalaman yang sangat menyenangkan karena sangat tepat waktu dan membuat saya lebih langsing karena berjalan dari satu stasiun ke stasiun lainnya tanpa menggunakan bantuan transportasi lain. 

Bagi sebagian orang, naik LRT itu sebuah kemewahan tersendiri dan mungkin sekali seumur hidup tidak pernah mencobanya di negara lain. So, inilah momen yang ditunggu oleh seluruh warga Jakarta. Bukan hanya dari kalangan aparatur negara, warga dan anak-anak sekolah pun sangat antusias pada hari tersebut.



Uji coba dimulai tepat pukul 14.00 WIB sampai dengan sore hari sekitar pukul 16.00 WIB. Rute pertama atau tempat berkumpulnya adalah Stasiun Velodrome. Stasiun ini terletak persis di depan Jakarta International Velodrome, arena balapan sepeda pada saat Asian Games lalu. Saya sempat kaget karena di beberapa bagian stasiun masih terdapat banyak orang yang masih mengerjakan proyek tersebut, namun ternyata di dalam stasiun sudah sekitar 80-90 persen sudah rampung hanya tinggal beberapa bagian kecil saja yang membutuhkan waktu beberapa bulan ke depan.

Pada saat saya masuk, ternyata antusias warga Jakarta memang tidak main-main. Berbondong-bondong mulai dari ibu-ibu arisan, RT, RW, kelurahan, sampai seluruh aparat serta orang tersohor semuanya berbaur dan ingin menyaksikan secara langsung LRT pertama di Jakarta ini. Saya sangat senang sekaligus bingung karena akan sangat ramai di dalam LRT nantinya.



Setelah masuk ke koridor atau tempat tunggu, saya tidak langsung masuk ke LRT karena harus mengambil gambar dan momen terlebih dahulu. Sekilas, stasiun LRT ini sangatlah luas dan lebar, diluar dari imajinasi saya sebelum masuk ke koridor. Fasilitas seperti toilet umum dan mushola sangat lengkap bahkan nantinya akan tersedia vending mechine dan beberapa fasiltas penunjang lainnya. 

Setelah beberapa lama menunggu, akhirnya LRT pun datang juga. Bukannya tambah surut, makin lama antrian dan rombongan makin banyak dan memadati koridor. Petugas dengan sigap mengatur antrian agar tidak terjadi saling srobot antara yang keluar dan yang masuk LRT. Dan, didalam pun sangatlah padat karena memang warga yang sangat senang dengan kehadiran LRT ini.



Saya sangat senang juga dengan kepadatan dalam LRT, artinya warga Jakarta menyambut dengan penuh antusias keberadaan transportasi pendukung di masa depan ini. Apalagi banyak juga anak sekolahan dan anak-anak kecil yang sangat senang memperhatikan perjalanan dari Velodrome hingga ke Kelapa Gading. 

Panjang rute ini hanyalah 4,7 KM dengan waktu tempuh tak sampai 20 menit, sehingga sangatlah nyaman dan cepat serta praktis jika menggunakan LRT ini ditengah kemacetan di Jakarta pada saat jam-jam berangkat dan pulang kantor. 



Sebagai warga Jakarta, saya tentu saja sangat bangga dan ikut senang dengan kehadiran LRT. Tugas kita adalah menjaga dan merawatnya dengan cara kita seperti tidak melakukan coret-mencoret di fasilitas umum dan stasiun, membuang sampah pada tempatnya dan lain-lainnya. 

Jika LRT ini terjaga, maka tentu saja bukan hanya kita saja yang akan menikmatinya, namun kelak anak cucu kita pun akan tersenyum bangga karena di jaman sebelumnya telah tertanam jiwa sosial tinggi dan menjaga LRT dengan penuh perhatian. 

Pengalaman yang tidak terlupakan sekali uji coba naik LRT dari Velodrome ke Kelapa Gading. Next, semoga bisa merasakan MRT dan LRT di wilayah lainnya seperti di Palembang, Aamiin.


Menikmati Sedapnya Masakan ‘Rumahan’ Nusantara Di Bakoel Ussy, Cawang

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - Kuliner Bakoel Ussy

"Mau makan apa Mas?"

"Masakan rumahan kayak Jengkol ada ngga Mba?"

Sontak saja pramusaji itu tersenyum sambil menunjukan menu yang ada dan ternyata Jengkol pun tidak ada di menu tersebut. Terpaksa saya pesan ayam goreng tepung dengan nasi tanpa sambal olahan rumah yang sedap. Mungkin inilah yang sering terjadi ketika berpergian ke sebuah mall atau mampir ke sebuah restoran yang tidak menyajikan masakan rumahan yang sebetulnya terasa sangat familiar dilidah kita. Bahkan, ketika makan masakan rumahan, maka nafsu makan saya bertambah hingga dua atau tiga kali lipat dari seharusnya. 

Saya orang kampung dan sangat rumahan, walaupun sering jalan-jalan keluar kota bahkan luar negeri, saya sering kangen dengan masakan rumahan seperti paru bacem, empal, tempe mendoan, sop dan masakan lainnya. Masakan rumahan ini sebetulnya sangat sederhana, namun bagi saya rasanya luar biasa enak. 

Saya ingat ketika traveling ke Hongkong beberapa tahun silam, saya dan dua orang teman rela mencari sebuah warung atau restoran asli Indonesia disana. Hasilnya, saya menemukan bakwan jagung dan sop ayam dengan nasi. Langsung selera makan saya berubah menjadi ganas dan terasa nikmat sekali karena terbebas dari fast food.

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - Kuliner Bakoel Ussy

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - Kuliner Bakoel Ussy

Di Jakarta, dengan beragam penduduknya dan banyaknya restoran cepat saji membuat pilihan makanan sangat terbatas. Sebetulnya saya bosan dengan makanan yang itu-itu saja dan sangat kangen dengan masakan rumahan. Apalagi semenjak merantau di Jakarta, saya sangat jarang menikmati makanan rumahan buatan rumah. 

Sebagai penawar rasa rindu, di Cawang, Jakarta Timur, hadir sebuah restoran 'Bakoel Ussy'. Restoran ini adalah milik artis ternama Indonesia, Ussy Pratama dan Andika Pratama yang sebelumnya membuka Lurik Coffee and Kitchen

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - Kuliner Bakoel Ussy

Jujur saya sangat surprise dengan pembukaan Bakoel Ussy ini, karena sangat jarang yang membidik pasar masakan nusantara ditengah banyaknya makanan luar negeri yang banyak penggemarnya. Namun, kembali lagi karena Ussy dekat dengan masakan nusantara terutama pada saat ada pengajian dan ternyata masakannya sangat digemari, maka muncullah ide untuk membuat restoran ini. 

Masakan rumah itu sangat jarang ditemui di Jakartaa, apalagi yang menyajikan banyak pilihan seperti Daging Kecombrang, Ati Ampela Pedes Gurih, Paru Bacem, Jengkol Balado, Gabus Pete Jelolotan, Bakwan Jagung, Tumis Kangkung, Sambel Kencur, Empal Gepuk, Pepes Tahu Jamur, dan masih banyak lainnya. 

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - Kuliner Bakoel Ussy

Masalah harga, ternyata sangatlah terjangkau dari kisaran 10.000 - 30.000 an, sehingga kalau mau makan ramai-ramai atau sendiri pun rasanya tidak akan menguras kantong kita, apalagi saya yang masih kos ini, hehehe.

Masakan Bakoel Ussy Favorite 

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - Kuliner Bakoel Ussy

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - Kuliner Bakoel Ussy

Setelah mengicip-icip seluruh masakan yang ada dan sesuai dengan selera saya, maka saya memutuskan untuk memberikan jempol bahkan empat jempol kepada "Paru Bacem" sebagai makanan yang paling saya suka di Bakoel Ussy. Semua masakannya enak sekali, namun memang paru bacemnya bikin ketagihan dan membuat nambah lagi dan lagi.

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - Kuliner Bakoel Ussy

Sedangkan masakan lainnya yang membuat saya jatuh cinta adalah Jengkol Balado. Jengkol memang sangat lezat, namun ketika jengkol tersebut diracik dengan bumbu balado, waaaah, benar-benar luar biasa nikmatnya. Saya biasanya hanya suka jengkol ketika disemur, namun kali ini sangat ketagihan dengan Jengkol Balado.

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - Kuliner Bakoel Ussy

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - Kuliner Bakoel Ussy

Masakan lainnya banyak sekali sampai-sampai sayur asem yang dibuat pun memiliki kuah yang sangat segar bahkan racikannya pun sangat pas. Biasanya sayur asem yang dibuat oleh lainnya sangat asem dan bumbu lainnya tidak berasa, namun di Bakoel Ussy semuanya memang sangat enak.

Selain masakan rumahan, Bakoel Ussy juga menyajikan beragai macam kopi. Jadi jika sudah kenyang dan hanya ingin duduk manja atau bersantai, maka ragam pilihan kopi di sudut Cofeeshop Tingwe Bakoel Ussy, tepatnya persis di depan pada saat masuk dari jalan raya.

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - Kuliner Bakoel Ussy

So, selamat menikmati masakan 'Rumahan Nusantara' di Bakoel Ussy Cawang ya. Salam kenyang selalu dari saya, hehehe.

Informasi Bakoel Ussy Cawang, Jakarta Timur 

Alamat Lengkap :

Jalan Dewi Sartika 192
Cawang, Jakarta Timur 

Instagram : 
www.instagram.com/bakoelussy

Website :
www.bakoelussy.com

Telepon Delivery :
+6282261005757

Maps : 

Menikmati Sedapnya Masakan ‘Rumahan’ Nusantara Di Bakoel Ussy, Cawang


"Mau makan apa Mas?"

"Masakan rumahan kayak Jengkol ada ngga Mba?"

Sontak saja pramusaji itu tersenyum sambil menunjukan menu yang ada dan ternyata Jengkol pun tidak ada di menu tersebut. Terpaksa saya pesan ayam goreng tepung dengan nasi tanpa sambal olahan rumah yang sedap. Mungkin inilah yang sering terjadi ketika berpergian ke sebuah mall atau mampir ke sebuah restoran yang tidak menyajikan masakan rumahan yang sebetulnya terasa sangat familiar dilidah kita. Bahkan, ketika makan masakan rumahan, maka nafsu makan saya bertambah hingga dua atau tiga kali lipat dari seharusnya. 

Saya orang kampung dan sangat rumahan, walaupun sering jalan-jalan keluar kota bahkan luar negeri, saya sering kangen dengan masakan rumahan seperti paru bacem, empal, tempe mendoan, sop dan masakan lainnya. Masakan rumahan ini sebetulnya sangat sederhana, namun bagi saya rasanya luar biasa enak. 

Saya ingat ketika traveling ke Hongkong beberapa tahun silam, saya dan dua orang teman rela mencari sebuah warung atau restoran asli Indonesia disana. Hasilnya, saya menemukan bakwan jagung dan sop ayam dengan nasi. Langsung selera makan saya berubah menjadi ganas dan terasa nikmat sekali karena terbebas dari fast food.



Di Jakarta, dengan beragam penduduknya dan banyaknya restoran cepat saji membuat pilihan makanan sangat terbatas. Sebetulnya saya bosan dengan makanan yang itu-itu saja dan sangat kangen dengan masakan rumahan. Apalagi semenjak merantau di Jakarta, saya sangat jarang menikmati makanan rumahan buatan rumah. 

Sebagai penawar rasa rindu, di Cawang, Jakarta Timur, hadir sebuah restoran 'Bakoel Ussy'. Restoran ini adalah milik artis ternama Indonesia, Ussy Pratama dan Andika Pratama yang sebelumnya membuka Lurik Coffee and Kitchen


Jujur saya sangat surprise dengan pembukaan Bakoel Ussy ini, karena sangat jarang yang membidik pasar masakan nusantara ditengah banyaknya makanan luar negeri yang banyak penggemarnya. Namun, kembali lagi karena Ussy dekat dengan masakan nusantara terutama pada saat ada pengajian dan ternyata masakannya sangat digemari, maka muncullah ide untuk membuat restoran ini. 

Masakan rumah itu sangat jarang ditemui di Jakartaa, apalagi yang menyajikan banyak pilihan seperti Daging Kecombrang, Ati Ampela Pedes Gurih, Paru Bacem, Jengkol Balado, Gabus Pete Jelolotan, Bakwan Jagung, Tumis Kangkung, Sambel Kencur, Empal Gepuk, Pepes Tahu Jamur, dan masih banyak lainnya. 


Masalah harga, ternyata sangatlah terjangkau dari kisaran 10.000 - 30.000 an, sehingga kalau mau makan ramai-ramai atau sendiri pun rasanya tidak akan menguras kantong kita, apalagi saya yang masih kos ini, hehehe.

Masakan Bakoel Ussy Favorite 



Setelah mengicip-icip seluruh masakan yang ada dan sesuai dengan selera saya, maka saya memutuskan untuk memberikan jempol bahkan empat jempol kepada "Paru Bacem" sebagai makanan yang paling saya suka di Bakoel Ussy. Semua masakannya enak sekali, namun memang paru bacemnya bikin ketagihan dan membuat nambah lagi dan lagi.


Sedangkan masakan lainnya yang membuat saya jatuh cinta adalah Jengkol Balado. Jengkol memang sangat lezat, namun ketika jengkol tersebut diracik dengan bumbu balado, waaaah, benar-benar luar biasa nikmatnya. Saya biasanya hanya suka jengkol ketika disemur, namun kali ini sangat ketagihan dengan Jengkol Balado.



Masakan lainnya banyak sekali sampai-sampai sayur asem yang dibuat pun memiliki kuah yang sangat segar bahkan racikannya pun sangat pas. Biasanya sayur asem yang dibuat oleh lainnya sangat asem dan bumbu lainnya tidak berasa, namun di Bakoel Ussy semuanya memang sangat enak.

Selain masakan rumahan, Bakoel Ussy juga menyajikan beragai macam kopi. Jadi jika sudah kenyang dan hanya ingin duduk manja atau bersantai, maka ragam pilihan kopi di sudut Cofeeshop Tingwe Bakoel Ussy, tepatnya persis di depan pada saat masuk dari jalan raya.


So, selamat menikmati masakan 'Rumahan Nusantara' di Bakoel Ussy Cawang ya. Salam kenyang selalu dari saya, hehehe.

Informasi Bakoel Ussy Cawang, Jakarta Timur 

Alamat Lengkap :

Jalan Dewi Sartika 192
Cawang, Jakarta Timur 

Instagram : 
www.instagram.com/bakoelussy

Website :
www.bakoelussy.com

Telepon Delivery :
+6282261005757

Maps :