Memahami Selisih 1 Hari di Kalender Saka Jawa dan Hijriyah

Sultan Agung Adi Prabu Hanyakrakusuma dan kalender saka jawa

Misteri Malam 1 Suro setelah mengikuti Kirab Agung Pusaka Tarumanagara membawa saya pada jejak Sultan Agung Adi Prabu Hanyakrakusuma yang telah ditetapkan menjadi pahlawan nasional Indonesia berdasarkan S.K. Presiden No. 106/TK/1975 tanggal 3 November 1975 sehingga menjadi Pahlawan Nasional ke-12 dari Daerah Istimewa Yogyakarta. 

Mengapa malam 1 Suro terkait dengan Sultan Agung Mataram?

Perhitungan kalender Saka Jawa adalah karya dari Sunan Agung Hanyakrakusuma. Sebelumnya kalender saka Jawa dihitung berdasarkan peredaran matahari atau mengikuti sistem syamsiyah, yaitu perhitungan perjalanan bumi mengitari matahari. Sedangkan kalender Sultan Agung mengikuti sistem qomariyah, yakni perjalanan bulan mengitari bumi seperti pada kalender Hijriah.

Walaupun tahun Saka menggunakan peredaran bulan sebagaimana kalender Hijriah, dalam kalender Jawa ini terdapat perputaran waktu khusus (siklus) yaitu Windu, Pasaran, Selapan dan Wuku.

Pada waktu itu kalender Saka sudah berjalan sampai akhir tahun 1554. Angka tahun 1554 itu diteruskan dalam kalender Sultan Agung dengan angka tahun 1555, sekalipun dasar perhitungannya sama sekali berlainan. Perubahan kalender di Jawa itu dimulai hari Jum’at Legi, tanggal 1 Sura tahun Alip 1555 bertepatan dengan tanggal 1 Muharam tahun 1043 Hijriah, atau tanggal 8 Juli 1633. Kalender ini dikenal pula dengan Kalender Jawa Sultan Agungan atau Penanggalan Jawa (Anno Javanico).

1 Muharram 1440 berbeda hari dengan 1 Suro 1952 

Menetapkan tanggal merah jelas merupakan kewenangan pemerintah yang menggunakan Kalender Gregorian Masehi. Pemerintah RI telah menetapkan hari Senin tanggal 11 September 2018 sebagai tanggal merah untuk memperingati 1 Muharram yang berarti menurut pemerintah dalam hal ini Kementerian Agama, 1 Muharram jatuh pada hari Selasa tanggal 11 September 2018. 

Sedangkan menurut penanggalan Saka/Jawa Kalender Jawa Sultan Agungan tanggal 1 Suro Tahun Be 1952 atau tahun Dal 1952 jhe adalah tanggal 12 September 2018. Karena perbedaan sistem penanggalan tersebut maka tanggal 1 Suro 1952 dan 1 Muharram 1440 H berbeda 1 hari.  Inilah penyebab ada kalender yang mencetak tanggal 12 September 2018 sebagai tanggal merah. Kemungkinan besar pencetak mengikuti penanggalan kalender Saka/Jawa dalam menentukan tanggal 1 Suro atau beranggapan bahwa tanggal 1 Suro tahun ini berbarengan dengan 1 Muharram 1440 H seperti tahun-tahun sebelumnya, atau mungkin alasan lainnya.

Untuk di Bekasi, perbedaan tanggal merah ini mungkin tidak terlalu penting, paling hanya perbedaan tanggal merah yang tercetak di kalender. Tapi untuk warga di wilayah Surakarta Solo, perbedaan waktu antara 1 Muharam dan 1 Suro terlihat pada perbedaan pelaksanaan acara menyambut malam 1 Suro di Pura Mangkunegaran dan Keraton Surakarta Solo Jawa Tengah. 

Pura Mangkunegaran Solo, Jawa Tengah menggelar kirab budaya menyambut malam satu suro pada Senin malam (10/9/2018), karena menurut kalender hijriyah 1 Muharram 1440 H atau 1 Suro jatuh pada hari Selasa tanggal 11 September 2018. 

Sedangkan Keraton Surakarta Hadiningrat mengadakan kirab 1 Suro pada Selasa malam (11/9/2018) karena berdasarkan perhitungan Kalender Jawa Sultan Agungan atau penanggalan Jawa (Anno Javanico) tanggal 1 Suro Keraton Solo tahun Dal 1952 jhe jatuh pada hari Rabu tanggal 12 September 2018.

Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat di Jogja seperti juga Keraton Surakarta Hadiningrat di Solo, mengadakan Hajad Kawula Dalem Mubeng Benteng pada Selasa malam (11/9/2018) karena Keraton Ngayogyakarta juga menggunakan Kalender Jawa Sultan Agungan sebagaimana Keraton Surakarta Hadiningrat Solo.

Penjelasan Perbedaan penetapan 1 Muharram 1440 dengan 1 Suro 1952 

Dari laporan Almira Nindya di media online Rakyat Merdeka (RMOL) Jateng, mengutip pernyataan Pangageng Parentah Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, KGPH Dipokusumo menjelaskan, selama ini Keraton Surakarta mengacu pada kalender Jawa karya Sultan Agung yang juga mengadopsi penanggalan Islam yang berbasis pada perputaran Bulan dan menetapkan tanggal 1 Suro 1952 jatuh pada tanggal 12 September 2018 sehingga kirab 1 Suro diselenggarakan pada Selasa malam tanggal 11 September 2018.

"Untuk penyelenggaraan kirab 1 Suro pada tahun ini, keraton mendasarkan pada perhitungan Kalender Sultan Agung, yang jatuh pada Selasa (11/9). Maka dengan perhitungan tersebut kadang bisa bareng dengan Masehi namun bisa juga selisih sehari," kata Gusti Dipo, menjelang kirab pusaka malam 1 Suro di Keraton Surakarta. 

Terpisah, pendapat dari Sejarahwan UNS Solo, Tundjung W. Sutirto mengatakan, perbedaan waktu 1 suro atau 1 Muharam terjadi karena Keraton Surakarta menggunakan pendekatan penanggalan Aboge, sedangkan Pura Mangkunegaran menggunakan penanggalan Asapon.

Perbedaan itu terkait adanya pendekatan penanggalan Asapon yang digunakan Mangkunegaran dan penanggalan Aboge yang digunakan Keraton Surakarta, kedua penanggalan itu ada selisih perhitungan, biasanya selisih satu hari," kata Tundjung. 

Dikutip dari Tugu Jogja pada halaman Kumparan, Pihak Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat melaksanakan tradisi Mubeng Beteng pada hari Selasa (11/9) malam. Puteri Raja Keraton Yogyakarta, Gusti Condro Kirono mengungkapkan, pelaksanaan laku Mubeng Beteng tersebut baru akan dilaksanakan pada hari Selasa (11/9). Sebab, berdasarkan kalender Sultan Agung, 1 Suro jatuh pada hari Rabu tanggal 12 September 2018.

"Keraton memang menganut Kalender Sultan Agung,"ujar Gusti Condro Kirono di Kompleks Kepatihan Yogyakarta.
Hajad Kawula Dalem Mubeng Beteng 1 Suro Jogjakarta
Hajad Kawula Dalem Mubeng Beteng 1 Suro Jogjakarta 2018
Hal tersebut mengonfirmasi infromasi dari akun Twitter Kraton Jogja @kratonjogja tanggal 6 September 2018 yang menginformasikan: "Sahabat, kami informasikan bahwa Hajad Kawula Dalem Mubeng Beteng untuk memperingati tahun baru Jawa, 1 Sura Tahun Be 1952 akan digelar Selasa (11/9) malam. Acara dimulai pukul 20.00 WIB dengan pembacaan macapat di Bangsal Pancaniti  Kraton Jogja." #kratonjogja.

Kalender Sultan Agung berbeda dengan kalender Hijriah yang awal dan akhir bulannya ditentukan dengan fenomena hilal atau penampakan bulan sedangkan Kalender jawa sistem perhitungan yang menggunakan hisab urfi (rata-rata), sehingga tak jarang di jumpai perbedaan antara kalender Jawa Islam dengan kalender Hijriyyah. Karena bersifat urfi maka kalender Jawa Islam ini tidak bisa digunakan sebagai acuan dalam kegiatan Ibadah umat Islam khususnya penentuan 1 Ramadhan.

Sistem perhitungan kalender Sultan Agung rata-rata lebih panjang sebanyak 1 hari setiap 120 tahun, agar kalender Sultan Agung tetap sesuai dengan kalender Hijriyah, maka dalam kurun 120 tahun kalender Sultan Agung selalu dihilangkan satu hari. Peristiwa menghilangkan tanggal 1 Sura pada awal permulaan kurup tahun Alip ini disebut ganti kurup atau salin kurup.

Siklus 120 tahun yang disebut dengan kurup ini baru diketahui setelah 72 tahun kalender Jawa berjalan. Sejauh ini sudah terdapat 3 kurup. Pertama, 1 Sura 1627 (Alip) jatuh pada Kamis Kliwon. Kedua, 120 tahun kemudian, 1 Sura 1747 (Alip) jatuh pada Rabu Wage atau dikenal sebagai kalender Aboge. Ketiga, kurup Aboge itu berakhir dengan datangnya kurup baru, yaitu 1 Sura 1867 (Alip) yang jatuh Selasa Pon atau disebut Asapon. Kurup Asapon itulah yang saat ini berlaku, mulai 24 Maret 1936-25 Agustus 2052 M.

Sebuah Karya Agung Nusantara

Menurut peneliti, pembuatan sistem kalender ini dilakukan oleh Raja Mataram Sultan Agung Anyakrakusuma saat itu bertujuan untuk menyatukan sistem penanggalan masyarakat kejawen dan santri. Saat itu, masyarakat kejawen menggunakan kalender Saka, sedangkan kaum santri menggunakan kalender Hijriah.

Kalender Saka merupakan sistem penanggalan yang didasarkan pergerakan bumi mengelilingi matahari. Kalender tersebut telah digunakan oleh masyarakat Hindu di India sejak tahun 78 masehi dan masih digunakan oleh masyarakat Hindu di Jawa dan Bali hingga kini. 

Untuk merangkum semua kepentingan masyarakat yang berbeda, maka sistem penanggalan baru dibuat dengan menggabungkan kalender Saka dengan kalender Hijriah. Nama bulan dan jumlah hari didasarkan degan sistem kalender Hijriah. Sedangkan angka tahun Saka dipertahankan. Ini membuat kalender pertama Jawa bukan 1 Sura tahun 1 Jawa, melainkan 1 Sura tahun 1555 Jawa.

Dari sini saya kira kita dapat membayangkan kearifan Sultan Agung selaku raja Mataram kala itu. Kalender Sultan Agung ini juga memiliki keistimewaan karena memadukan sistem penanggalan Islam, sistem Penanggalan Hindu, dan sedikit penanggalan Julian (perhitungan kalender Julius Caesar Romawi Kuno) yang merupakan bagian budaya Barat. Sistem penanggalan ini cukup rumit dengan perhitungan astronomi yang cukup detail dan masih digunakan oleh banyak orang hingga sekarang. 

Kesimpulan saya, jika kalender yang ada di rumah Anda mencetak tanggal 12 September 2018 sebagai tanggal merah, maka besar kemungkinan percetakan tersebut mengadopsi kalender Jawa Sultan Agungan atau Penanggalan Jawa (Anno Javanico) yang menetapkan tanggal 1 Suro jatuh pada tanggal 12 September 2018.

Salam.

*dirangkum dari berbagai sumber



Memahami Selisih 1 Hari di Kalender Saka Jawa dan Hijriyah

Sultan Agung Adi Prabu Hanyakrakusuma dan kalender saka jawa

Misteri Malam 1 Suro setelah mengikuti Kirab Agung Pusaka Tarumanagara membawa saya pada jejak Sultan Agung Adi Prabu Hanyakrakusuma yang telah ditetapkan menjadi pahlawan nasional Indonesia berdasarkan S.K. Presiden No. 106/TK/1975 tanggal 3 November 1975 sehingga menjadi Pahlawan Nasional ke-12 dari Daerah Istimewa Yogyakarta. 

Mengapa malam 1 Suro terkait dengan Sultan Agung Mataram?

Perhitungan kalender Saka Jawa adalah karya dari Sunan Agung Hanyakrakusuma. Sebelumnya kalender saka Jawa dihitung berdasarkan peredaran matahari atau mengikuti sistem syamsiyah, yaitu perhitungan perjalanan bumi mengitari matahari. Sedangkan kalender Sultan Agung mengikuti sistem qomariyah, yakni perjalanan bulan mengitari bumi seperti pada kalender Hijriah.

Walaupun tahun Saka menggunakan peredaran bulan sebagaimana kalender Hijriah, dalam kalender Jawa ini terdapat perputaran waktu khusus (siklus) yaitu Windu, Pasaran, Selapan dan Wuku.

Pada waktu itu kalender Saka sudah berjalan sampai akhir tahun 1554. Angka tahun 1554 itu diteruskan dalam kalender Sultan Agung dengan angka tahun 1555, sekalipun dasar perhitungannya sama sekali berlainan. Perubahan kalender di Jawa itu dimulai hari Jum’at Legi, tanggal 1 Sura tahun Alip 1555 bertepatan dengan tanggal 1 Muharam tahun 1043 Hijriah, atau tanggal 8 Juli 1633. Kalender ini dikenal pula dengan Kalender Jawa Sultan Agungan atau Penanggalan Jawa (Anno Javanico).

1 Muharram 1440 berbeda hari dengan 1 Suro 1952 

Menetapkan tanggal merah jelas merupakan kewenangan pemerintah yang menggunakan Kalender Gregorian Masehi. Pemerintah RI telah menetapkan hari Senin tanggal 11 September 2018 sebagai tanggal merah untuk memperingati 1 Muharram yang berarti menurut pemerintah dalam hal ini Kementerian Agama, 1 Muharram jatuh pada hari Selasa tanggal 11 September 2018. 

Sedangkan menurut penanggalan Saka/Jawa Kalender Jawa Sultan Agungan tanggal 1 Suro Tahun Be 1952 atau tahun Dal 1952 jhe adalah tanggal 12 September 2018. Karena perbedaan sistem penanggalan tersebut maka tanggal 1 Suro 1952 dan 1 Muharram 1440 H berbeda 1 hari.  Inilah penyebab ada kalender yang mencetak tanggal 12 September 2018 sebagai tanggal merah. Kemungkinan besar pencetak mengikuti penanggalan kalender Saka/Jawa dalam menentukan tanggal 1 Suro atau beranggapan bahwa tanggal 1 Suro tahun ini berbarengan dengan 1 Muharram 1440 H, atau mungkin alasan lainnya.

Untuk di Bekasi perbedaan tanggal merah ini mungkin tidak terlalu penting, paling hanya perbedaan tanggal merah yang tercetak di kalender, tapi untuk warga di wilayah Surakarta perbedaan waktu antara 1 Muharam dan 1 Suro terlihat pada acara di Pura Mangkunegaran dan Keraton Surakarta Solo Jawa Tengah. 

Pura Mangkunegaran Solo, Jawa Tengah menggelar kirab budaya menyambut malam satu suro pada Senin malam (10/9/2018), karena menurut kalender hijriyah 1 Muharram 1440 H atau 1 Suro jatuh pada hari Selasa tanggal 11 September 2018. 

Sedangkan Keraton Surakarta Hadiningrat mengadakan kirab 1 Suro pada Selasa malam (11/9/2018) karena berdasarkan perhitungan Kalender Jawa Sultan Agungan atau penanggalan Jawa (Anno Javanico) tanggal 1 Suro Keraton Solo tahun Dal 1952 jhe jatuh pada hari Rabu tanggal 12 September 2018.

Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat di Jogja seperti juga Keraton Surakarta Hadiningrat di Solo, mengadakan Hajad Kawula Dalem Mubeng Benteng pada Selasa malam (11/9/2018) karena Keraton Ngayogyakarta juga menggunakan Kalender Jawa Sultan Agungan sebagaimana Keraton Surakarta Hadiningrat Solo.

Penjelasan Perbedaan penetapan 1 Muharram 1440 dengan 1 Suro 1952 

Dari laporan Almira Nindya di media online Rakyat Merdeka (RMOL) Jateng, mengutip pernyataan Pangageng Parentah Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, KGPH Dipokusumo menjelaskan, selama ini Keraton Surakarta mengacu pada kalender Jawa karya Sultan Agung yang juga mengadopsi penanggalan Islam yang berbasis pada perputaran Bulan dan menetapkan tanggal 1 Suro 1952 jatuh pada tanggal 12 September 2018 sehingga kirab 1 Suro diselenggarakan pada Selasa malam tanggal 11 September 2018.

"Untuk penyelenggaraan kirab 1 Suro pada tahun ini, keraton mendasarkan pada perhitungan Kalender Sultan Agung, yang jatuh pada Selasa (11/9). Maka dengan perhitungan tersebut kadang bisa bareng dengan Masehi namun bisa juga selisih sehari," kata Gusti Dipo, menjelang kirab pusaka malam 1 Suro di Keraton Surakarta. 

Terpisah, pendapat dari Sejarahwan UNS Solo, Tundjung W. Sutirto mengatakan, perbedaan waktu 1 suro atau 1 Muharam terjadi karena Keraton Surakarta menggunakan pendekatan penanggalan Aboge, sedangkan Pura Mangkunegaran menggunakan penanggalan Asapon.

Perbedaan itu terkait adanya pendekatan penanggalan Asapon yang digunakan Mangkunegaran dan penanggalan Aboge yang digunakan Keraton Surakarta, kedua penanggalan itu ada selisih perhitungan, biasanya selisih satu hari," kata Tundjung. 

Dikutip dari Tugu Jogja pada halaman Kumparan, Pihak Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat melaksanakan tradisi Mubeng Beteng pada hari Selasa (11/9) malam. Puteri Raja Keraton Yogyakarta, Gusti Condro Kirono mengungkapkan, pelaksanaan laku Mubeng Beteng tersebut baru akan dilaksanakan pada hari Selasa (11/9). Sebab, berdasarkan kalender Sultan Agung, 1 Suro jatuh pada hari Rabu tanggal 12 September 2018.

"Keraton memang menganut Kalender Sultan Agung,"ujar Gusti Condro Kirono di Kompleks Kepatihan Yogyakarta.

Hajad Kawula Dalem Mubeng Beteng 1 Suro Jogjakarta
Hajad Kawula Dalem Mubeng Beteng 1 Suro Jogjakarta 2018
Hal tersebut mengonfirmasi infromasi dari akun Twitter Kraton Jogja @kratonjogja tanggal 6 September 2018 yang menginformasikan: "Sahabat, kami informasikan bahwa Hajad Kawula Dalem Mubeng Beteng untuk memperingati tahun baru Jawa, 1 Sura Tahun Be 1952 akan digelar Selasa (11/9) malam. Acara dimulai pukul 20.00 WIB dengan pembacaan macapat di Bangsal Pancaniti  Kraton Jogja." #kratonjogja.

Kalender Sultan Agung berbeda dengan kalender Hijriah yang awal dan akhir bulannya ditentukan dengan fenomena hilal atau penampakan bulan sedangkan Kalender jawa sistem perhitungan yang menggunakan hisab urfi (rata-rata), sehingga tak jarang di jumpai perbedaan antara kalender Jawa Islam dengan kalender Hijriyyah. Karena bersifat urfi maka kalender Jawa Islam ini tidak bisa digunakan sebagai acuan dalam kegiatan Ibadah umat Islam khususnya penentuan 1 Ramadhan.

Sistem perhitungan kalender Sultan Agung rata-rata lebih panjang sebanyak 1 hari setiap 120 tahun, agar kalender Sultan Agung tetap sesuai dengan kalender Hijriyah, maka dalam kurun 120 tahun kalender Sultan Agung selalu dihilangkan satu hari. Peristiwa menghilangkan tanggal 1 Sura pada awal permulaan kurup tahun Alip ini disebut ganti kurup atau salin kurup.

Siklus 120 tahun yang disebut dengan kurup ini baru diketahui setelah 72 tahun kalender Jawa berjalan. Sejauh ini sudah terdapat 3 kurup. Pertama, 1 Sura 1627 (Alip) jatuh pada Kamis Kliwon. Kedua, 120 tahun kemudian, 1 Sura 1747 (Alip) jatuh pada Rabu Wage atau dikenal sebagai kalender Aboge. Ketiga, kurup Aboge itu berakhir dengan datangnya kurup baru, yaitu 1 Sura 1867 (Alip) yang jatuh Selasa Pon atau disebut Asapon. Kurup Asapon itulah yang saat ini berlaku, mulai 24 Maret 1936-25 Agustus 2052 M.

Sebuah Karya Agung Nusantara

Menurut peneliti, pembuatan sistem kalender ini dilakukan oleh Raja Mataram Sultan Agung Anyakrakusuma saat itu bertujuan untuk menyatukan sistem penanggalan masyarakat kejawen dan santri. Saat itu, masyarakat kejawen menggunakan kalender Saka, sedangkan kaum santri menggunakan kalender Hijriah.

Kalender Saka merupakan sistem penanggalan yang didasarkan pergerakan bumi mengelilingi matahari. Kalender tersebut telah digunakan oleh masyarakat Hindu di India sejak tahun 78 masehi dan masih digunakan oleh masyarakat Hindu di Jawa dan Bali hingga kini. 

Untuk merangkum semua kepentingan masyarakat yang berbeda, maka sistem penanggalan baru dibuat dengan menggabungkan kalender Saka dengan kalender Hijriah. Nama bulan dan jumlah hari didasarkan degan sistem kalender Hijriah. Sedangkan angka tahun Saka dipertahankan. Ini membuat kalender pertama Jawa bukan 1 Sura tahun 1 Jawa, melainkan 1 Sura tahun 1555 Jawa.

Dari sini saya kira kita dapat membayangkan kearifan Sultan Agung selaku raja Mataram kala itu. Kalender Sultan Agung ini juga memiliki keistimewaan karena memadukan sistem penanggalan Islam, sistem Penanggalan Hindu, dan sedikit penanggalan Julian (perhitungan kalender lunar Julius Caesar Romawi Kuno) yang merupakan bagian budaya Barat. Sistem penanggalan ini cukup rumit dengan perhitungan astronomi yang cukup detail dan masih digunakan oleh banyak orang hingga sekarang. 

Jika kalender yang ada di rumah Anda mencetak tanggal 12 September 2018 sebagai merah, maka besar kemungkinan percetakan tersebut mengadopsi kalender Jawa Sultan Agungan atau Penanggalan Jawa (Anno Javanico).

Salam.

*dirangkum dari berbagai sumber



Numpang Ngopi di Acara Kirab Agung Pusaka Tarumanagara

Numpang Ngopi di Acara Kirab Agung Pusaka Tarumanagara
Seumur hidup, baru kali ini saya menghadiri acara budaya yang lebih dikenal dengan istilah "Malam 1 Suro". Kepada ketua panitia yang mengundang saya sudah menyampaikan sebelumnya kemungkinan saya tidak bisa hadir karena dilaksanakan pada hari kerja, yaitu Senin 10 September 2018. Soal lokasi acara di kawasan wisata Rumah Joglo Puri Wedari Mutiara Gading City, Desa Babelan Kota, Kec Babelan Kab Bekasi ini tidak masalah karena tidak terlalu jauh dari rumah saya. 

Setelah melihat kembali undangannya, ternyata acara Kirab Agung Pusaka Tarumanagara diselenggarakan pada malam hari, dan hari Senin saya ambil cuti karena selain harpitnas, rasa-rasanya sakit pinggang saya belum sembuh benar. Sepertinya saya memang harus hadir, karena acara ini secara waktu dan tempat memungkinkan untuk didatangi, akhirnya bersama teman-teman dari Cinong Bekasi saya berangkat ke lokasi, selain menjaga silaturahim, kiranya mudah-mudahan akan ada hikmah yang dapat saya ambil dari acara ini.

Tadi malam saat berlangsungnya Kirab Agung Pusaka Tarumanagara di kawasan wisata Rumah Joglo Puri Wedari Mutiara Gading City salah seorang pembicara menyampaikan, malam 1 Suro itu bertepatan dengan 1 Muharram, diperingati sebagai peringatan hijrahnya Nabi Muhammad SAW.

Peristiwa sejarah hijrah meninggalkan Mekah menuju Madinah ini banyak memiliki arti yang sudah digali oleh pendahulu kita, salah satunya hijrah menuju keselamatan. Doa-doa keselamatan dan syukur kemudian dibacakan dalam bahasa Arab, Indonesia dan Sunda. Semoga ke depan semua akan menjadi lebih baik dengan memasuki tahun 1440 H, 1952 Saka/Jawa, Pabaru Sunda 1955 Caka.

Sebelum ditutup dengan pemotongan tumpeng, acara diisi dengan pencucian benda-benda pusaka dengan air "Tirta Kencana" yang menurut panitia bersumber dari 7 sumber mata air se-nusantara. Saya baru paham, dalam pandangan budaya, keris ataupun benda pusaka itu adalah perlambang diri pribadi pemiliknya, karenanya pencucian keris dengan segala prosesi puasa, 7 sumber mata air hingga pencuciannya adalah perlambang membersihkan jiwa raga agar kembali bersih dan menjadi lebih baik dari waktu sebelumnya


Semangat yang diwariskan oleh para orang tua dalam memperingati peristiwa hijrah ataupun tahun baru ternyata lebih filosofis dari sekadar memasang petasan yang buang-buang uang. Sayangnya prosesi pencucian benda pusaka saat malam 1 Suro lebih diperkenalkan pada generasi sekarang sebagai hal yang mistis ataupun klenik. Saya kira ini menjadi "PR" buat para penggiat budaya untuk memperkenalkan dan mengemas acara seperti ini agar lebih menarik buat kalangan umum, setidaknya agar generasi sekarang dapat mengenal makna filofofis dan melestarikannya dalam kehidupan sesuai pemahamannya. 

Soal mistis dan klenik itu menurut saya tergantung pribadi masing-masing pelakunya, saya tidak paham soal itu dan tidak mau berkomentar mengenai itu... tapi secara umum, setidaknya saya jadi tahu kalau prosesi pencucian benda pusaka juga memiliki semangat yang baik dan makna yang lebih masuk akal (buat saya). 

Nuansa acara ini menurut saya pribadi lebih kental dengan unsur-unsur budaya Sunda, bukan hal yang aneh buat saya dan mungkin juga warga Bekasi pada umumnya. Bekasi secara keseluruhan selain masih termasuk wilayah Provinsi Jawa Barat, Bekasi secara kultural juga memang dipengaruhi dua budaya dominan yaitu Betawi dan Sunda. Sesuatu yang dengan indah menyatu di Bekasi dan tidak perlu dijadikan bahan perdebatan.
Sambut 1 Suro, Komunitas Budaya Bekasi Gelar Kirab Agung Pusaka Tarumanagara
Foto Bang Iwan Bonick
Semoga acara ini dan juga acara kebudayaan lainnya dapat terus dilaksanakan oleh semua pihak agar terus memperkaya wawasan kebudayaan dan dapat menarik bagi para generasi muda Bekasi khususnya. Soal Tarumanagara saya kira memang sudah seharusnya digali terus dan disosialisasikan 

Terima kasih kepada Padepokan Pusaka Parahyangan, ISPI Group, MGC, Karang Taruna Babelan Kota, dan seluruh pihak panitia penyelenggara yang saya tidak tahu sehingga tidak saya sebutkan.

Duduk bersila menikmati hidangan kopi, ubi dan kacang rebus serta suasana lokasi yang jauh dari keramaian membuat saya dapat lebih akrab dengan para hadirin lainnya. Sayang tidak bisa memotret lebih banyak karena terhalang tembok dan saya juga tidak mau menginjak rumput untuk sekadar mencari posisi yang bagus di belakang para fotografer dan wartawan yang sedang bekerja.

Soal letak Rumah Joglo Puri Wedari secara administrasi masuk ke dalam wilayah Desa Babelan Kota atau Desa Kedung Jaya Kecamatan Babelan atau Desa Setia Asih Kecamatan Tarumajaya saya  belum tahu pastinya karena memang letaknya yang berada di perbatasan Kecamatan Babelan dan Kecamatan Tarumajaya. Pada acara Kirab Agung Pusaka Tarumanagara ini hadir Sekretaris Desa Babelan Kota, Anggota Karang Taruna dan Destana Babelan Kota sehingga membuat saya berasumsi bahwa lokasi Rumah Joglo Puri Wedari ini masuk ke dalam wilayah administrasi Desa Babelan Kota. Kalau salah yah nanti saya perbaiki :)

Lebih dan kurangnya atas opini saya di atas mohon dimaafkan. Salam.


Sharing tentang media sosial di MPLS SMPN 2 Babelan

Sharing tentang media sosial di MPLS SMPN 2 Babelan
Penyalahgunaan media sosial di kalangan remaja sudah bukan hal yang perlu ditutup-tutupi lagi seakan-akan semua baik-baik saja, ini hanya akan memperburuk keadaan. Kalo menurut saya sih begitu, terserah kalau menurut kamu bagaimana :)

Teman saya bilang: "Salah satu cara untuk mengurangi berbagai kenakalan remaja di dunia maya adalah dengan memperkenalkan media sosial dan internet dengan pendekatan yang lebih positif," saya setuju dengan pendapatnya. Pendekatan positif memperkenalkan media sosial dan internet ini oleh sebagian orang disebut literasi digital.

Masa remaja adalah dunia di mana adik-adik kita ini memasuki dunia yang baru. Mereka menanggung banyak tuntutan, diantaranya adik-adik yang baru lulus sekolah dasar ini dituntut untuk bisa belajar bertoleransi sekaligus menumbuhkan karakter dirinya, berbagi versus menegaskan identitas, mempraktekkan tanggung jawab sekaligus memenuhi rasa ingin tahu yang sangat besar. 

Masih banyak pertentangan-pertentangan yang terjadi dalam kehidupan mereka, karenanya bimbingan yang positif amat dibutuhkan, namun juga perlu pendekatan yang lebih arif agar tidak meredupkan gejolak darah muda yang haus akan pengetahuan dan pengalaman.
Sharing tentang media sosial di MPLS SMPN 2 Babelan
Sementara itu, media sosial berkembang dengan begitu cepat, adik-adik generasi milenial ini mengalami apa yang tidak kita alami semasa kita remaja. Internet dengan segala manfaat positif dan kutukan negatifnya sudah ada di hadapan mereka sejak mereka lahir. 

Sialnya, orang tua dan kita yang seharusnya memberi rambu-rambu keselamatan juga kadang gagal mengadaptasi perubahan, tidak jarang justru sang anak yang lebih menguasai tekhnologi dan belantara media sosial.

Setelah "bermain" dan mengajak adik-adik kelas 7 SMPN 2 Babelan berdialog sedikit dalam rangka Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) ini, saya menemukan bahwa mereka sudah mengenal Facebook, Twitter, WhatsApp, Line, SnapChat, Instagram, Path, TikTok, WattPAd dan berbagai platform media sosial terkenal lainnya.

Maaf saja, tapi saya yakin 80%... tidak semua orang tua dari anak-anak ini mengenal semua platform media sosial yang mereka sebutkan dengan agak ragu-ragu seperti menunggu teman-temannya yang lain menyebutkan. Saya tidak heran kalau sebagian orang tua melarang penggunaan medsos sehingga adik-adik ini menjawab dengan ragu, apakah dirinya aman menjawab pertanyaan saya dengan jujur :) Sebagian orang tua mengambil jalan singkat dengan melarang penggunaan media sosial, saya memaklumi langkah itu tapi saya khawatir kalau larangan itu justru akan menjadi penghalang dialog kekeluargaan antara sang anak dengan orangtuanya.

Sore itu, tanpa persiapan saya menyebutkan beberapa fungsi atau manfaat dari media sosial sesuai interaksi yang berkembang, saya memancing adik-adik ini mengenai manfaat dari sosial media kemudian mengurutkannya sesuai jawaban dari sebagian besar peserta.

Kami merumuskan ada 4 manfaat dari media sosial dan saya kebagian sedikit memaparkan baik dan buruknya. Manfaat media sosial versi kami saat itu adalah; 1. Jaringan Pertemanan (networking) 2. Hiburan, 3. Berbagi Informasi, dan 4. Sebagai Alat Komunikasi. Untuk nomor 5 dan seterusnya, biarkan mereka yang mencari sendiri jawabannya dengan mengikuti pola sebelumnya. Semoga mereka paham bahwa fungsi dan manfaat yang saya sebutkan secara numerik itu bukan sebuah teori mati dan bisa mereka perbanyak sesuai pengetahuan mereka lengkap dengan manfaat positif dan efek negatifnya :)

Sharing tentang media sosial di MPLS SMPN 2 Babelan

Salah satu senior mereka bertanya, mengapa banyak terjadi penyalahgunaan media sosial?
Pertanyaan yang sederhana, pertanyaan yang butuh jawaban praktis dengan kemasan yang bisa dipahami adik-adik dengan rentang umur 13-16 tahun. Pertanyaan inilah yang kadang membuat kebijakan-kebijakan kementerian komunikasi dan informasi menjadi bahan cibiran netizen.

Lalu siapa yang bisa menjawab pertanyaan tersebut? Entahlah...
Saya menjawab dengan jawaban diplomatis, ada 2 sebab yang menurut saya menyebabkan terjadinya penyalahgunaan media sosial. Pertama mereka tidak tahu apa fungsi dan manfaat positif media sosial, dan yang kedua belum ada yang memberi tahu mereka apa manfaat positif media sosial. 

Saya kira kita (saya dan Anda) termasuk di kategori kedua; tidak atau belum memberi tahu apa fungsi dan manfaat positif media sosial kepada mereka. Karenanya sadar atau tidak, kita (saya dan Anda pembaca blog ini) turut bersalah jika terjadi penyalahgunaan media sosial di lingkungan kita. 

Bukankah kita lebih suka menghukum tanpa mau melihat peranan dan keterlibatan kita sehingga sesuatu terjadi?, sudahkah kita memberi rambu-rambu keselamatan sebelum menyalahkan korban? yah, adik-adik yang menyalahgunakan media sosial itu bagi saya adalah korban. Korban dari ketidaktahuan mereka atau korban dari abainya kita mempersiapkan generasi yang melek tekhnologi.

Salam :)

@ Southlake Adventure Park - Babelan Kota, 1 Sept 2018.



Lamunan Kopi Sore Dan Mata Indah Bola Pingpong

Lamunan Kopi Sore Dan Mata Indah Bola Pingpong

Mungkin kelak orang akan paham betapa mewahnya memiliki waktu untuk diri sendiri, dan kesendirian pun tidak selamanya berarti kesepian. Seperti sore ini, saat matahari mulai dipeluk langit jingga di ufuk barat. Surya semakin tenggelam menyisakan gelap di atas langit Tarumajaya Bekasi.
Entah berapa lama kesendirian ini bisa kunikmati, rona temaram lampu yang selalu menyala kini semakin  jelas, pertanda magrib akan segera tiba.

Sengaja aku datang lebih awal dari waktu yang disepakati agar bisa menikmati suasana sore lebih pribadi. Ternyata tidak selama yang kuduga. Seorang tukang pos dengan senyum ramah mendatangiku lalu duduk berhadapan di kursi besi kafe, dibuka tasnya lalu memberikan sebuah surat , "surat dari pujangga" katanya berusaha menjelaskan. Penjelasan yang tidak berarti, karena aku malah tambah bingung mendengar penjelasannya itu. Baiklah, sebut saja pujangga yang tidak kukenal.

"Aku tak lagi menemukan ibu-ibu yang mencari kutu di kepala" ujarnya putus asa. Kemudian ia memberikan pula 2 buah kantong plastik. Tatapan matanya begitu lekat dan tampak akrab, tapi aku gagal mengenali wajah tukang pos yang jelas lebih muda dari aku ini.

Aku tak tahu musti berkata apa, senyum ramah dari wajah lelah yang putus asa itu jelas telah berhasil mengunci logika untuk sekadar bertanya, siapa pengirim semua ini?. Kemudian tukang pos itu meninggalkanku tenggelam dalam banyak pertanyaan yang menggantung. Bergegas langkahnya pergi, postur tubuhnya tegap seperti seorang olahragawan itu berjalan menjauh dan hilang di keramaian sore.

Setelah kubuka, tas plastik kresek hitam berisikan kotak-kotak nasihat dan satu plastik lagi yang transparan berisikan naskah adegan-adegan sebuah drama atau sandiwara, setidaknya demikian yang aku duga. Dan telah berkali-kali aku baca surat berisi puisi itu tanpa paham apa yang dimaksudkannya. Mungkin aku sudah terlalu tua untuk dapat memecahkan rangkaian kode-kode berbentuk kalimat sastra yang pastinya berisikan makna, entah apapun itu. 
"Atau mungkin belum saatnya" batinku, seperti mewakili suara dari surat yang misterius ini.

"....Kalau kau sudah siap, kepakkan sayapmu
Aku menunggu di balik beribu awan itu
Meski tak sempat bicara rindu pada angin 
yang mungkin bisikkan cinta hanya sampai pada daun telingamu
Tak apa!
Belum saatnya kau tahu sayang."

Aku tersenyum kecil, "Yah antara belum saatnya atau sudah kadaluarsa" batinku. Kulipat kembali surat itu dan kumasukkan ke dalam tas. Dua plastik lusuh dan misterius itu kusimpan di bawah meja kafe agar tidak mengganggu pemandangan. Matahari sudah terbenam, lampu-lampu penerang jalan yang menghias berjajar mulai menyala mewarnai kanvas kehidupan yang tidak pernah beristirahat. Di lain sisi, lampu-lampu kendaraan dan sesekali bunyi klakson melontarkan berbagai cerita yang meramaikan sepiku. Yah aku sendirian, tapi bukankah semua juga sendirian?.

Pelayan kafe mendatangiku, kupesan kopi Arabika Java Preanger untuk menemaniku menyambut malam yang masih muda.
"Masih ada waktu menikmati kesendirian sebelum Ratna datang" gumamku sambil memeriksa jam di ponsel.

Sayup petikan gitar lagu Now and Forever - Richard Marx terdengar, seperti menambah kekuatan bagi kenangan-kenangan itu untuk mencoba menerobos pikiranku. Ini pasti konspirasi alam, lagu itu seperti sengaja diputar untuk menemaniku menunggunya.

Berbagai kenangan-kenangan mulai hadir, beberapa yang masih melekat kuat langsung hadir lengkap dengan senyum manis dan tatapan berbinar dari mata indah bola pingpongnya. Apalah dayaku, kenangan-kenangan itu adalah bagian kecil dari masa lalu yang paling menyenangkan untuk diingat kembali dari sebagian besar kenangan yang kurang menyenangkan.

"Sudah lama?" tanyanya membubarkan lamunanku.
"Eh, yah, baru, ini kopiku saja masih penuh" jawabku gugup.
"Maksudku sudah lama melamunkan aku?" tanyamu kembali.
"Hahahahaha" hanya tawa yang keluar setelah sempat sekian detik tertegun mendengarnya menanyakan itu. 
"Kamu sendiri sudah lama duduk di situ?" tanyaku berusaha mengendalikan perasaan.
"Yah, lumayan, gak tega merusak lamunanmu hehehe" jawabnya sambil memanggil pelayan dan kemudian memesan Thai Tea untuk menggantikan teh melati kesukaannya.

Aku lebih banyak diam mendengarkan, cerita-ceritanya yang mengalir tenang tanpa henti seperti ombak Pantai Indrayanti dan sebagian besar Pantai Utara Jawa lainnya. Ceritanya mulai dari bisnis rumah makan seafood yang ia rintis, penginapan, percetakan hingga rencana-rencana ke depan lancar terucap. Semua terencana dan tertata dengan rapih. Aku menyimak, hanya memberi komentar saat ditanyakan saja.

Teringat cerita dari adiknya tentang keinginannya untuk tinggal di pantai atau danau, di mana pun yang ada unsur air. Kini impian itu sudah mewujud menjadi kenyataan, hidup memang akan sangat baik pada beberapa orang namun juga dapat sangat kejam. Untuk Anna aku tidak bisa memberikan opini tentang jalan hidupnya, lebih 20 tahun kami terpisah dan kini skenario kehidupan kembali mempertemukan kami sebagaimana adanya saat ini. 

"Suamimu mana?" tanyaku ketika ia mulai bertanya tentangku.
"Sedang bertemu suplier onderdil jetski di Ancol, kalau cepat selesai dia akan menyusul kita" jawabnya sambil menikmati Thai Tea beraroma rempah.
"Kalau begitu aku akan pulang sebelum dia sampai hahaha" sahutku cepat.
"Loh kenapa? aku sudah sering kok cerita tentang kamu, gapapa kok".
"Aku gak akan bisa menyembunyikan cemburuku kalau bertemu suamimu, hahaha".
"Ah kamu itu, biasa saja kenapa sih" ketus  tanggapannya tapi tidak ada intonasi marah. 

Lalu aku ceritakan tentang apa yang terjadi sebelum ia datang. Mengenai puisi dan 2 kantong plastik misterius dari tukang pos yang juga tak kalah misteriusnya. Aku tahu, Anna bukanlah tipe kutu buku yang gemar membaca, tapi ia cukup akrab dengan berbagai jenis bacaan dan sepanjang yang kutahu, ia lebih suka film.
"Aku suka nasihat-nasihat ini, sudah ada gambaran tentang siapa yang membuatnya?" tanyanya sambil membaca satu-persatu kertas nasihat yang tersimpan dalam kotak-kotak terbuat dari triplek sebesar tempat tisu.
"Entahlah, aku belum mau memikirkannya saat ini". Jawabanku membuatnya mengangguk dan tersenyum simpul.
"Boleh buatku saja? Kamu sepertinya tidak butuh nasihat-nasihat ini deh" ucapnya tanpa mengalihkan pandangan ke kertas-kertas yang dengan cepat ia lihat sekilas satu per satu. 
"Hmmm boleh, tapi aku masih butuh nasihat kok, bagaimana kalau kamu yang membacanya lalu nanti kalau aku butuh nasihat aku akan menghubungi kamu dan kamu membacakannya untuk aku"
"Kok terdengar seperti modus yah? hehehe, yo wis ini buat aku saja" jawabnya lirih tanpa mengalihkan pandangan.

Malam semakin larut, kopiku yang sudah mulai dingin masih enggan kutuntaskan. Aroma kopi dan semua kenangan itu masih tersimpan rapih walau sudah sekian tahun berlalu. Lagu Doping dari Garux Band yang kerap kunyanyikan di ujung gang dekat rumahnya saat kami remaja sudah berganti lagu Selamat Tinggal Masa Lalu dari Five Minutes.

"Anna aku sedang butuh nasihat" tulisku melalui aplikasi perpesanan WhatsApp.
"Kalau butuh nasihat dari kotak nasihat aku akan fotokan, kalau mau dengar suaraku aku rekam voice chat, kalau ingin ngobrol nanti saja, aku masih sibuk urus catering, ba'da zuhur saja kita ngobrol :)"
"Siap ndan :) abis zuhur aku WA lagi yah".
"Ok, ttyl*".
Sejenak kupandangi foto profil WhatsApp-nya. Anna yang ayu dan suaminya yang gagah. Aku pernah melihat wajah itu... senyum ramah itu... aku tidak akan lupa tatapan akrab si tukang pos pengantar surat misterius itu. []

---

*ttyl - talk to you later
Inspired by: belantarakoma.blogspot.com
Foto: kak-dean.blogspot.com


6 Tips PDKT Ke Gebetan Bertipe ENFP

6 Tips PDKT Ke Gebetan Bertipe ENFP
Soal ini sebenarnya soal yang menyangkut ilmu psikologi, hanya saja berdasarkan pengalaman hidup sebagai orang bertipe ENFP (katanya test ini itu) sedikit banyak ini menyangkut narsisitas, karenanya saya perlu untuk menerjemahkan artikel berbahasa Inggris tulisan dari Mpok Heidi Priebe yang berjudul 7 Things You Should Know Before You Date An ENFP untuk membantu adik-adik saya berhadapan dengan tipe-tipe manusia ENFP yang hidup sesukanya, ngeselin dan susah diatur. Yah seperti saya yang ENFP juga sih 😊.

Tapi saya hanya menerjemahkan versi suka-suka hanya 6 saja, kalau mau tahu tips ke-7 yah baca saja artikel aslinya hehehe. Woles saja, saya juga menggunakan Google Translate saat membacanya kok.

Jadi menurut Mpok Heidi Priebe, orang-orang ENFPs adalah tipe orang yang menggunakan prinsip "semua-atau-tidak sama sekali" dalam kehidupannya, termasuk dalam hal urusan asmara. Mereka membangun hubungan romantis yang serius, dengan pendekatan yang melibatkan antusiasme dan kehangatan. Mereka yang berkepribadian ENFP mendambakan hubungan yang bermakna dengan pasangannya dan cenderung untuk memutuskan hubungan sejak awal jika ia tidak merasakan adanya hubungan yang bermakna itu. Konon katanya tipe ENFP ini paling cocok dengan INFJ atau INTJ - mereka menawarkan alasan, analisa yang kontras dan kreatif bagi seseorang berkepribadian ENFP.

6 Tips PDKT Ke Gebetan Bertipe ENFP

Jadi apa trik atau tips untuk menundukkan orang-orang bertipe ENFP yang eksentrik dan kadang bikin gondok? Ini 6 Tipsnya:

1. Tantang mereka.

Diskusi yang berkualitas adalah foreplay utama untuk ENFP. Mereka akan sangat bersemangat dalam mengeksplorasi ide-ide baru dan menghargai siapa pun yang dengan cerdas dapat menantang cara berpikir mereka. Pokoknya, diskusi yang baik adalah kencan pertama yang tepat. Semakin banyak ide-ide yang Anda bawa, Anda akan semakin seksi bagi orang-orang ENFP. Rayuan bagi mereka, dimulai dalam pikiran. Soal tempat bisa di mana saja yang sekiranya kondusif dan bisa membuat nyaman.

2. Konsisten

Kepribadian orang-orang ENFP adalah "Semua atau Tidak Sama Sekali", itulah mengapa mereka kadang lebih dikenal sebagai orang yang pendiam/pasif dan sensi serta mengutamakan intuisi dalam menilai. Tipe INTJ dan INFJ akan menjadi pasangan romantis yang terbaik untuk sifat-sifat seperti itu. Sahabat yang secara konsisten dapat berperan introspektif adalah Ying untuk seorang ENFP yang sangat pencemburu dan posesif (Yang). Seperti anak-anak, ketertarikan alaminya akan lebih nyaman dengan pemikiran-pemikiran yang terstruktur dan bermakna.

3. Berpikiran Terbuka

ENFP adalah tipikal "orang aneh". Semakin cepat Anda menerima kenyataan itu maka ke depannya akan lebih mudah bagi Anda. ENFP cenderung tidak konsisten, mereka selalu memiliki rencana dan agenda baru "setiap detik", kadang pemikirannya dapat bertentangan satu sama lain dan berujung pada kesimpulan yang tidak ada hubungannya dengan topik masalah. Sifat tertutup mereka lah yang secara alami telah melatihnya mahir untuk mengubah sebuah topik. Mereka berpikir jauh dan dapat mengubah pemikirannya dalam waktu singkat, namun mereka dapat menyenangkan jika Anda tetap terbuka untuk topik-topik baru, aktivitas baru dan keputusan baru untuk meraih sebuah tujuan. Karakter ENFP cukup menyenangkan dan jarang mengecewakan.

4. Pertahankan Pendapat Anda Ketika Itu Penting

Para ENFP adalah kombinasi antara berpikiran terbuka dan keras kepala. Mereka akan dengan gigih mempertahankan pendapatnya jika itu ia anggap penting sekaligus dapat menghargai orang yang gigih mempertahankan pendapatnya. Itulah mengapa orang-orang ENFP dapat memahami jika Anda menjelaskan skala prioritas Anda dan gigih mempertahankannya. Pribadi ENFP bukan tipe pemaksa dan karenanya mereka juga tidak suka dipaksa. Mereka dapat memahami dan mengubah cara berpikirnya jika Anda dapat mengajaknya berdiri di sudut pandang Anda, dengan intuisinya para ENFP mampu melihat dari sudut pandang Anda (walau dalam versi mereka sendiri) jika mereka mau.

5. Berikan Umpan Balik

Orang-orang berkepribadian ENFP mengembangkan hubungannya dengan komunikasi. Mereka akan berusaha untuk membuat pasangan mereka bahagia, namun demikian hal tersebut tidak selalu berjalan dengan mulus. Contohnya jika ia sangat bersemangat membuat semacam pesta kejutan namun berjalan tidak sesuai dengan yang diharapkan. Hal terbaik yang dapat dilakukan adalah tetap mengapresiasi niatnya dan menjelaskan bahwa ada cara lain untuk melakukannya dan hasilnya mungkin akan sesuai dengan harapan. Orang-orang ENFP memang perasa dan mudah tersinggung dengan kritik langsung, namun sangat menghargai hubungan, Jika mereka melakukan kesalahan, mereka jelas ingin mengetahui di mana letak kesalahan itu untuk memperbaikinya di lain waktu.

6. Buat Mereka Merasakan Kebebasan

Hal yang paling dibenci oleh para ENFP adalah dikekang. Sementara mereka mudah terlibat dalam hubungan persahabatan yang akrab namun mereka bukan tipe pribadi yang mudah mengesampingkan perkembangan dirinya sendiri. Hubungan yang sehat bagi pribadi ENFP adalah sama-sama tumbuh dengan saling asah, asih, asuh dan tidak stagnan tanpa perkembangan.

Cukup itu saja, walau di artikel aslinya ada 7 tips tapi karena tips ke-7 itu menggunakan bahasa perumpamaan, maka sebaiknya Anda membaca sendiri artikel aslinya dan meraba-raba apa maksudnya. :)

Oh iya, hanya dengan membaca ini saja tidak akan cukup untuk modal menundukkan seorang bertipe ENFP, lagi pula mereka bukan tipe yang perlu untuk ditundukkan kok. Artikel ini setidaknya dapat menjadi wawasan awal jika ingin menjalin hubungan yang lebih serius dengan kenalan atau sahabat berkarakter ENFP. Kalau kamu sudah membaca artikel ini sampai habis dan belum mengerti apa itu ENFP yah baca juga artikel ini: ENFP: Giving life an extra squeeze!, judulnya saja yang berbahasa Inggris, artikelnya sih Bahasa Indonesia :)

Happy weekend :)


Apalah Arti Sebuah Nama (Kampung)

Disadari ataupun tidak pembangunan perumahan yang masif oleh para pengembang di Bekasi ataupun di tempat lain akan menghadirkan sebuah nama baru untuk pemukiman tersebut. Penamaan-penamaan pemukiman yang populer kadang sama sekali tidak menyisakan ruang bagi pertimbangan ingatan kolektif, sejarah wilayah dan kearifan lokal setempat.

Nama kampung yang mungkin tidak "layak jual" untuk dilekatkan pada sebuah pemukiman baru hilang dari ingatan warga dan diganti dengan nama yang baru. Padahal seperti apapun nama wilayah sebuah kampung dahulunya menyimpan kearifan lokal penamaan lokasi atau setidaknya menjadi penunjuk sebuah kejadian penting di masa lalu.

Apalah Arti Sebuah Nama (Kampung)
Dalam sejarah, khususnya dalam perjalanan perkembangan Islam, terdapat sejarah yang cukup populer mengenai perubahan nama sebuah tempat. Tidak lain adalah nama Kota Madinah. Kota Madinah yang sekarang ini kita kenal dahulunya bernama Kota Yastrib, setelah Nabi Muhammad SAW hijrah kota tersebut diganti namanya menjadi Kota Madinah.

Apa maksud Nabi mengubah nama Kota Yastrib menjadi Kota Madinah? 

Perubahan nama ini tidak terjadi ujug-ujug, yang sering saya baca adalah karena Nabi Muhammad SAW sedang membangun sebuah sistem peradaban baru (tamadun). Istilah tamadun dalam bahasa Indonesia berarti kebudayaan. Tapi apa sampai sebatas itu? Tidak, sejarah mencatat kelak Madinah menjadi pusat pemerintahan selama lebih 30 tahun hingga sampai pusat pemerintahan pindah ke Damaskus (Suriah) saat Dinasti Umayyah.

Kembali pada topik perubahan nama Yastrib menjadi Madinah, banyak pendapat soal ini, salah satunya adalah pendapat yang menyatakan bahwa perubahan nama itu adalah proses "upgrade" dari desa menjadi kota, "upgrade" kekuatan masyarakat dari yang awalnya berbasis suku menjadi umat yang satu. Dari yang tadinya dikenal ada suku Anshar (pribumi) dan suku Muhajirin (pendatang) kemudian menjadi satu umat yang bersaudara di bawah kepemimpinan Nabi Muhammad SAW.

Apa yang kini bisa kita petik dari perubahan nama Madinah? 

Bahwa perubahan nama menjadi pemersatu antara suku Anshar (pribumi) agar rela melepas ikatan batin terhadap nama Kota Yastrib untuk menerima saudaranya yang pendatang, dan agar suku Muhajirin (pendatang) juga memiliki rasa cinta pada Kota Madinah yang baru berdiri ini sebagai tanah air mereka sama seperti pribumi. Semua perbedaan ini disatukan menjadi satu kekuatan baru yang berhasil mengubah wajah peradaban dunia.

Mirisnya, hal yang terbalik justru sedang dan telah terjadi di Bekasi ini. Ujug-ujug nama-nama kampung dan desa diubah dengan nama-nama "bagus secara komersial" dan menjual. Ditambah lagi kaum pribumi dan pendatangnya seperti dipisahkan dengan sekat-sekat yang kelihatan maupun tidak.

Dengan berkaca pada sejarah Madinah, kira-kira masa depan seperti apa yang sedang dituju oleh Bekasi kelak?

Menamakan atau mengubah nama sebuah lokasi idealnya memperhatikan banyak aspek, terutama nama asli daerah tersebut yang tentunya memiliki sejarah dan memiliki keterkaitan emosional karena terkait identitas warga di sekitar lokasi tersebut. Jika tidak, maka identitas generasi selanjutnya akan diputus dengan identitas pendahulunya yang bisa berakibat dengan apatisnya pada kearifan lokal orang tuanya dan buta sejarah dan budaya daerahnya.


______________________
Posted on FB. 22 Juli 2017
Foto dari: http://yangpentingnyoba.blogspot.co.id

Protopia dan Masa Depan Media Sosial

Protopia dan Masa Depan Media Sosial

Ini postingan gak serius kok, jadi santai ajah kalau gak paham ke mana arahnya, saya juga cuma nulis ajah sih. :D
Jadi ceritanya ada yang bertanya tentang masa depan Media Sosial (Socmed), ini nanti arahnya mau ke mana? Seakan-akan saya tau jawabnya, tapi biang sotoy (bi-sot) bisa lah mencoba memprediksi sedikit berdasarkan contekan kanan-kiri :)
Untuk menjawab pertanyaan ini yang perlu diperhatikan itu kata "ke mana", apakah yang dimaksud tujuan jangka pendek atau tujuan jangka panjang? (itu jawaban ngeles hahaha).

So berdasarkan Sotoylogi masa depan sosial media yah gak beda jauh dengan perkembangan teknologi secara umum, beberapa saya coba list sebebasnya ajah.

Virtual Reality (VR)

Jangka pendeknya, kalo ngomongin sosial media (sosmed) kayaknya cukup mewakilli kalau kita ambil contoh Facebook ajah. Nah sesuai visi Facebook "Connecting People", Mark Zuckerberg awal tahun 2017 lalu sudah menjelaskan bahwa Facebook akan mengembangkan teknologi VR (Virtual Reality). Semua orang bisa terhubung dengan "nyata secara virtual" dengan perangkat yang disediakan oleh Facebook bernama "Oculus Rift", kalau kamu belom tahu, Oculus Rift ini dagangannya Facebook.

Facebook gak main-main mengembangkan Oculus Rift, 2014 Facebook mengakuisisi Oculus, tahun 2017 Facebook "membajak" Hugo Barra dari Xiaomi untuk menjadi pemimpin Pengembangan VR di Facebook.

Hugo Barra ini siapa?
Hugo Barra adalah mantan wakil presiden manajemen produk Android di Google (Vice President of Android Product Management) tahun 2013 lalu. Ia kemudian "pindah kerja" ke Xiaomi untuk menjadi Wakil Presiden Internasional di Xiaomi. Pengguna Xiaomi selalu menantikan kabar darinya jika ingin mengetahui apa yang akan dilakukan Xiaomi ke depan dan fitur-fitur serta produk-produk terbaru Xiaomi.

Hanya saja untuk sampai ke situasi di mana kita bisa membuat toko atau kafe kita dapat dikunjungi secara virtual saya rasa masih jauh, alat-alatnya masih mahal dan apakah memang dapatnya tempat bisnis kita dikunjungi secara virtual itu penting? untuk saat ini rasanya belum.


Apakah VR benar-benar akan menjadi teknologi masa depan?

CEO Apple Tim Cook nampaknya berseberangan dengan Zuckerberg, di sebuah wawancara ia pernah menyampaikan bahwa Augmented Reality (AR) akan lebih berkembang di banding VR. Belakangan ia malah menyatakan bahwa masa depan internet akan dipengaruhi oleh artificial intelligent (AI) seperti prediksi banyak para tokoh ICT lainnya.

Disney juga percaya AR lebih ideal ketimbang VR dalam konteks taman hiburan. Untuk hal ini bersama Lenovo, Disney telah mengembangkan AR headset khusus yang dirancang untuk para pencinta Star Wars, lengkap dengan motion controller berwujud Lightsaber.

Teknologi VR terkini sudah "dipamerkan" oleh Zuckerberg di status-status Facebook-nya, kepoin aja facebook-nya langsung biar lebih jelas sudah sampai mana dan mau kemana perkembangan teknologi VR ini.




Augmented Reality (AR)

Augmented Reality (AR) ini sulit dijelaskan, Salah satu Game terkenal yang memanfaatkan AR adalah Pokemon Go yang menggunakan tekhnologi AR dalam aplikasinya. Pengguna bisa menjelajah lingkungan sekitarnya dengan menggunakan map khusus dalam apps dan menemukan monster-monster lucu seperti Pikachu, Bulbasaur, dan lainnya. Monster-monster lucu ini hanya ada dalam dunia Augmented Reality.

Lalu selain untuk game seperti itu kira-kira apa manfaatnya buat masyarakat? Teknologi ini juga masih terus dalam tahap pengembangan dan butuh banyak terobosan kreatif agar teknologi AR ini bermanfaat luas dan merakyat. Kata teman saya, game seperti Pokemon Go ini juga bisa menjadi peluang, kita dapat memanfaatkannya dengan mengubah tempat usaha kita menjadi PokeStop atau arena gym Pokemon Go sehingga banyak para pemain game/trainer akan betah berlama-lama di lokasi usaha kita.


Artificial Intelligent (AI)

Artificial Intelligent (AI) atau Kecerdasan Buatan ini sebenarnya sudah banyak diaplikasikan pada banyak teknologi, Digital Asistant pada smartphone dapat berjalan baik dengan menggunakan AI. Siri di iPhone, Google Asistant di Android dan seterusnya.

Di Facebook Messenger AI sudah mulai sering ditemukan, kalau kita chat dengan halaman bisnis di FB, jangan langsung menganggap yang kita ajak bicara adalah manusia, karena beberapa jawaban standar bisa di-seting oleh para pemilik halaman tsb. Untuk pertanyaan-pertanyaan standar AI di Facebook Mesengger sudah sangat baik.

Untuk memenuhi rasa penasaran saya sudah pernah mencoba berkomunikasi dengan Facebook Messenger Bot, pertanyaan yang tepat akan menghasilan jawaban-jawaban yang menampilkan beberapa pilihan yang semuanya informatif. Ini akan bermanfaat bagi kita yang memiliki usaha online namun di lain sisi teknologi ini menjadi ancaman untuk profesi CS (Customer Services) toko online dll.

Internet of Thing (IoT) 

Berdasarkan contekan, Internet of Thing (IoT) adalah sebuah konsep di mana suatu objek yang memiliki kemampuan untuk mentransfer data melalui jaringan tanpa memerlukan interaksi manusia ke manusia atau manusia ke komputer. IoT telah berkembang dari konvergensi teknologi nirkabel, micro-electromechanical systems (MEMS), dan Internet.

“A Things” pada Internet of Things dapat didefinisikan sebagai subjek misalkan orang dengan monitor implant jantung, hewan peternakan dengan transponder biochip, sebuah mobil yang telah dilengkapi built-in sensor untuk memperingatkan pengemudi ketika tekanan ban rendah. Sejauh ini, IoT paling erat hubungannya dengan komunikasi machine-to-machine (M2M) di bidang manufaktur dan listrik, perminyakkan, dan gas. Produk dibangun dengan kemampuan komunikasi M2M yang sering disebut dengan sistem cerdas atau “smart”. Sebagai contoh yaitu smart kabel, smart meter, smart grid sensor.

Kalo yang ini sudah banyak digembar-gemborkan banyak media, kita tunggu saja, apakah dengan kemudahan yang diciptakan teknologi ini akan menambah mahal sebuah barang atau tidak :)

Protopia

Menjawab kemanakah arah masa depan tekhnologi maka yang jelas akan menuju perubahan yang lebih baik, disebut protopia. Protopia adalah sebuah situasi atau keadaan yang terus menerus berubah dan terus menerus berproses. Di buku berjudul The Inevitable, Kevin Kelly mengatakan bahwa pesatnya perkembangan tekhnologi membuat kita tak bisa terhindar dari protopia.

Menurut Kevin Kelly dalam blognya, Protopia bukanlah Utopia apalagi Dystopia, tapi sebuah kondisi yang lebih baik namun sulit sekali diprediksi karena perubahan yang begitu cepat, tantangan dan masalah-masalah baru serta kelebihan dan peluang-peluang baru.

"I think our destination is neither utopia nor dystopia nor status quo, but protopia. Protopia is a state that is better than today than yesterday, although it might be only a little better. Protopia is much much harder to visualize. Because a protopia contains as many new problems as new benefits, this complex interaction of working and broken is very hard to predict." - Kevin Kelly 
Demikianlah catatan sotoy saya tentang masa depan yang katanya lebih sulit untuk diprediksi karena semakin cepat perubahan yang terjadi. Kalau Kevin Kelly dan lain-lain itu ngomong seperti itu karena mereka tahu apa yang mereka bicarakan, jelas beda dengan saya yang hanya modal sotoy :)

 Selamat Tahun Baru 2018.

Mau Dibawa Ke Mana Peradaban Buni Bekasi?

Alhamdulillah, malam Minggu kemarin (16/12/2017) saya bisa ikutan numpang ngopi bareng dengan saudara-saudara yang aktif dalam estafet diskusi bertajuk Purnama Bekasi (purba). Dalam diskusi purba ke-10 ini saya tertarik untuk mengikutinya karena lokasi diskusi berada di Kp. Buni Pasar Emas Desa Muarabakti Babelan, tidak terlalu jauh dari TBM Rumah Pelangi Bekasi tempat saya biasa melalui malam minggu.
Mau Dibawa Ke Mana Peradaban Buni? Purba Purnama Bekasi
Flyer Purba 10
Hadir sebagai nara sumber dan undangan dalam diskusi ini, Bang Karyo, ketua Karang Taruna Desa Muarabakti, Bang Kamal Hamzah (Kopiah Baba - Kranji), Bang Jasan Supratman (Akademisi), Bang Sanusi Nasihun (Presiden Aliansi Utara - ALU). Nyai Atikah selaku tuan rumah hanya bisa menemani sebentar lalu kembali masuk ke dalam rumahnya, selanjutnya diskusi dimulai jam 9 malam diiringi sisa-sisa hujan di wilayah Babelan ini. Cak Sudi dari FLP (Forum Lingkar Pena) bertindak sebagai moderator dalam diskusi santai di pelataran samping Masjid Jami Nurul Yaqin Desa Muarabakti Kecamatan Babelan Kabupaten Bekasi ini.

Menurut Wikipedia, Kebudayaan Buni adalah sebutan bagi suatu kebudayaan protosejarah di pesisir utara Banten dan Jawa Barat yang muncul pada masa akhir pra-Masehi hingga sekitar abad ke-5 Masehi. Kebudayaan ini dinamai berdasarkan lokasi penemuan pertamanya di Buni, Babelan, Bekasi di sebelah timur Jakarta [sumber]. Hal ini yang dijelaskan secara singkat oleh Cak Sudi sebagai pembuka diskusi.
"Mengenai Kebudayaan atau Peradaban Buni (demikian disebut dalam diskusi) sudah diakui secara nasional dengan ditemukannya bukti-bukti artefak, gerabah dan lain-lain" ungkapnya dalam sambutan pembukaan diskusi.

Keterangan dari Cak Sudi tersebut sejalan dengan apa yang saya baca dari Web Arkeologi Nasional.
"Penelitian arkeologis di Situs Buni dilakukan oleh Lembaga Purbakala pada tahun 1960, 1964, 1969, dan 1970. Pada awalnya situs Kompleks Gerabah Buni hanya ditemukan di daerah Buni (Bekasi), namun kemudian penyebarannya semakin meluas di sepanjang pantai utara Jawa Barat di daerah Kedungringin, Wangkal, Utanringin sampai di wilayah Karawang (Batujaya, Puloglatik, Kertajaya, Dongkal, Karangjati, serta di Cikuntul dan Tanjungsari). Hasil penelitian tersebut umumnya berupa rangka-rangka manusia yang dikuburkan secara langsung (primer) dan berbagai bekal kubur antara lain: gerabah (tempayan, periuk, pedupaan, cawan, dan kendi), beliung dan gelang batu, benda-benda perhiasan dari emas, benda-benda logam dari perunggu-besi, dan manik-manik. Pertanggalan Situs Buni diperkirakan dari sekitar abad ke- 2 - 5 Masehi. [Sumber]

Diskusi semakin asik ketika Bang Sanusi Nasihun menceritakan apa yang kini sedang terjadi di wilayah pesisir utara Kabupaten Bekasi. Sebagai wilayah yang kaya akan sumber daya alam, masyarakat pesisir seperti Tarumajaya, Babelan, Cabangbungin dan Muaragembong justru merasakan pembangunan telah memangkas sendi-sendi kehidupannya. Sawah, ladang, tambak dan laut semakin sulit untuk memenuhi kebutuhan dasar penghidupan.
"Kesadaran sejarah dan budaya pasti dapat memberi manfaat kepada masyarakat, tapi konkritnya seperti apa? multiplier efeknya khususnya efek ekonominya bagaimana buat masyarakat?, itu yang perlu kita diskusikan agar ada "tapak" sejarah, jangan sampai kawasan Buni "hilang" dengan pesatnya pembangunan industri dan eksploitasi SDA di pesisir utara yang kaya ini".

Baba Kamal Hamzah selaku penggiat Komunitas Pencinta Sejarah dan Budaya Bekasi (Kopiah Baba) pada kesempatan ini menceritakan banyak tentang suka duka yang dialami Kopiah Baba dalam perjalanannya menelusuri, menginventarisir sejarah dan budaya. Baba Kamal (demikian beliau dipanggil) menekankan perlunya menggali sejarah dan budaya agar masyarakat tidak kehilangan jati diri. Selain itu Baba Kamal juga menekankan pentingnya menentukan ciri khas yang mewakili Bekasi, sebuah icon yang disepakati bersama oleh masyarakat sebagai icon kebanggaan warga.
"Ini penting, agar saat saudara-saudara saya yang dari Kalimantan atau Papua datang, saya bisa menunjukkan, ini loh khas Bekasi" ungkapnya dalam diskusi.

Beberapa nara sumber dan rekan-rekan yang hadir malam itu seperti Karang Taruna Desa Muarabakti, Cinong Bekasi, Rumah Pelangi Bekasi, Komunitas Pencinta Batu Akik Pandan Bekasi, Mahasiswa Ubhara, komunitas motor, Kosti dll juga banyak mengungkapkan pendapat dan ide-idenya mengenai Situs Buni dan kebudayaan atau sejarah Bekasi pada umumnya. Diskusi yang terus berlanjut hingga dini hari mengerucut pada ide-ide bagaimana cara menggukuhkan Situs Buni agar masyarakat Bekasi sadar akan sejarahnya dan bagaimana pula agar ada multiplier efek bagi ekonomi dan kesejahteraan masyarakat dengan pendekatan sejarah dan budaya secara nyata.

Tidak ada perselisihan mengenai pengakuan Peradaban Buni, berbagai museum dan literatur sejarah juga sudah mengungkapkan eksistensi Peradaban Buni di Bekasi. Namun demikian, jika kita ingin mencari di mana lokasi peradaban Buni maka kita akan menemukan kesulitan, karena Peradaban Buni yang penyebarannya meluas sepanjang pesisir pantai utara Bekasi tidak memiliki sebuah situs ataupun tugu sebagai penandanya, karenanya peserta diskusi sepakat agar ada sebuah lokasi yang menjadi simbol, menjadi wakil dari luasnya sebaran Peradaban Buni yang harus diresmikan oleh pemerintah, apapun bentuknya masih merupakan usulan-usulan. Peserta diskusi juga menyadari sebelum ke arah tersebut, masih banyak "PR" yang musti dibenahi, termasuk "PR" yang dipaparkan oleh Bang Jasan Supratman saat memaparkan teori manajemen pembangunan masyarakat.

Dengan hadir dalam diskusi ini, selain wawasan saya tentang kebekasian semakin bertambah, saya juga bisa ngopi bareng dengan orang-orang yang selama ini hanya saya kenal secara online di grup WA ataupun FB. Buat saya, mempererat silaturahim kurang afdol kalau belum ngopi bareng dan saling beradu gagasan dan berargumen dalam diskusi yang hangat dan guyub :)

Banyak yang hanya menjadi catatan pribadi, hanya sedikit yang bisa saya share di sini. 
Malam minggu yang bermanfaat.

Sedikit Tentang Mappacci

Upacara Adat Korongtigi Mappacci
Mappacci
Kalau saya sebut ritual budaya "siraman" sebelum "midodareni" itu sebagai "ritual menghias badan mempelai dengan mengguyur air ke seluruh badan"  kamu yang berasal dari Jawa akan menganggap saya lucu atau sotoy?

Jadi tadi saya membaca di sebuah website lumayan terkenal, tertulis "...Mappacci, ritual menghias tangan calon mempelai wanita dengan memberi daun pacar tumbuk atau daun inai ke tangan calon pengantin wanita...". Hah....? kalimat itu bikin saya bengong.

Buat saya yang sedikit paham apa arti Mappacci jadi merasa lucu membacanya. Asumsi saya ini penulisnya mungkin rancu dengan adat "Malam Berinai" dari budaya Melayu yang memang pada malam sebelum akad nikah akan ada ritual menghias kuku tangan dan kaki dengan inai/pacar.

Mappacci ini mirip maknanya dengan "siraman" yang bermakna membersihkan diri. Benar juga pada acara itu digunakan inai/pacar yang dalam bahasa Bugis Makassar disebut pacci. Pacci sendiri secara makna selain berarti daun pacar/inai juga bisa bermakna bersih, karenanya malam sebelum akad nikah bagi keturunan Suku Bugis Makassar akan melaksanakan upacara "mapacci" yang bisa diartikan membersihkan diri.

Mappacci ini akan berlangsung hikmat dan haru sebab di acara ini orang tua, keluarga dan sanak saudara sang mempelai sedang mempersiapkan si mempelai untuk mandiri, membina rumah tangganya sendiri, jadi jangan heran kalau di acara ini akan sering berisi isak tangis dari pihak keluarga, tangis haru dan bahagia tentunya.

Upacara Adat Korongtigi Mappacci
Mempelai pria memohon restu saat mappacci
Prosesi mappacci juga kental dengan nuansa Islami dan sarat dengan pemberian doa restu segenap anggota keluarga dan handai taulan kepada mempelai. Rangkaian acara adat calon mempelai diwajibkan mengikuti prosesi menamatkan Al Quran atau mappatamma', selanjutnya dilakukan prosesi siraman atau mappasili yang dilakukan oleh sanak keluarga yang telah menikah dengan mengguyurkan air ke calon pengantin. Semua ini adalah rangkaian prosesi adat menjelang pernikahan ala adat Bugis/Makassar.

Dalam pelaksanaan mappacci sendiri disiapkan perlengkapan yang kesemuanya mengandung arti makna simbolis seperti:
  • Bantal atau pengalas kepala yang diletakkan di depan calon pengantin, yang memiliki makna kesejahteraan, penghormatan, martabat, atau kemuliaan. Dalam bahasa bugis berarti mappakalebbi.
  • Sarung sutera yang tersusun di atas bantal yang mengandung arti harga diri dll.
  • Di atas bantal diletakkan juga pucuk pisang muda (pucuk pisang) yang melambangkan kehidupan yang berkesinambungan dan lestari.
  • Di atas pucuk daun pisang diletakkan pula daun nangka (biasanya 7 atau 9 lembar) sebagai permakna harapan atau menasa.
  • Sebuah wadah yang berisi wenno yaitu beras yang disangrai hingga mengembang sebagai simbol harapan perkembangan yang baik.
  • Patti atau lilin, yang bermakna sebagai suluh penerang. Juga diartikan sebagai simbol kehidupan lebah yang senantiasa rukun dan tidak saling menganggu.
  • Daun pacar atau pacci, sebagai simbol dari kebersihan dan kesucian.
Penggunaan pacci ini menandakan bahwa calon mempelai telah bersih dan suci hatinya untuk menempuh akad nikah keesokan harinya dan kehidupan selanjutnya sebagai sepasang suami istri hingga ajal menjemput. Daun pacar atau pacci yang telah dihaluskan ini disimpan dalam wadah bekkeng sebagai permaknaan dari kesatuan jiwa atau kerukunan dalam kehidupan keluarga dan kehidupan masyarakat.

Kalau bukan karena membaca artikel online itu mungkin saya gak akan menulis soal ini, karena banyak makna-makna yang tersirat yang saya sendiri belum tentu mampu memahami dan menjelaskannya. Seperti susunan sarung, lokasi atau tempat yang berjenjang antara keluarga inti, sanak keluarga, saudara jauh dan tamu undangan, lokasi acara mappacci digelar dalam rumah juga tidak sembarang tempat, semua itu memiliki makna simbolis yang tersembunyi dan juga halus sehingga sulit untuk dipahami bagi orang awam. Pendeknya, mappacci itu jelas bukan ritual menghias tangan pengantin, dan mappacci bukan hanya acara untuk mempelai wanita tapi juga berlaku untuk mempelai pria.

Salam

----

Foto dari  blog
http://zatagirlythings.blogspot.co.id 
http://syafri-alaskah.blogspot.co.id