Mengenal AHU Online, Mulai Legalitas Komunitas Hingga Kewarganegaraan

Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum
Saya banyak bertemu orang-orang dengan passion yang sama pada hari libur. Hari libur adalah waktu bagi saya untuk ikut terlibat dalam kegiatan yang rata-rata berupa kegiatan sosial.

Kontribusi saya dalam kegiatan-kegiatan yang dilakukan atas nama organisasi,  komunitas, perkumpulan, yayasan dan lain-lain ini biasanya dalam hal dokumentasi, reportase dan semacamnya terkait kehumasan.

Dari seringnya ikut kegiatan itu saya sering mendapat pertanyaan tentang bagaimana merancang sebuah kegiatan, acara dan semacamnya. Pertanyaan yang lebih serius adalah ketika beberapa teman menanyakan bagaimana cara mendirikan yayasan, cara mendapatkan status hukum sebuah komunitas atau perkumpulan dan sejenisnya.

Secara umum, untuk mendirikan yayasan, organisasi atau perkumpulan adalah sama-sama dengan membuat akta pendirian di hadapan notaris. Oh ya, itu khusus untuk perkumpulan/organisasi yang ingin berstatus badan hukum. Untuk perkumpulan berbadan hukum, tata cara pendiriannya tunduk pada Peraturan Menteri Hukum dan HAM Nomor 3 Tahun 2016. Sementara tata cara pendirian perkumpulan tidak berbadan hukum diatur dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 57 Tahun 2017.

Sebagai catatan, konstitusi kita menjunjung tinggi kebebasan berserikat dan berkumpul tanpa harus membuatnya dalam bentuk yang formal atau berbadan hukum. Artinya perbedaan status badan hukum tidak berpengaruh banyak dalam kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan, perbedaan itu akan berlaku jika perkumpulan melakukan perbuatan hukum seperti perjanjian kredit, jual-beli, sewa-menyewa, dan berbagai macam tindakan  dalam lingkup hukum keperdataan dan lainnya. 

Setelah adanya akta pendirian perkumpulan yang dibuat di hadapan notaris, maka langkah selanjutnya adalah melakukan registrasi sekaligus meminta status badan hukumnya kepada Kementerian Hukum dan HAM. Sedangkan perkumpulan tidak berbadan hukum melakukan registrasi kepada Kementerian Dalam Negeri. Untuk kegiatan pendaftaran dan registrasi ini dapat dilakukan dengan bantuan notaris atau dilakukan sendiri oleh masyarakat.

Nah teman-teman, untuk registrasi dan meminta status badan hukum yayasan dan perkumpulan itu adanya di Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum (Ditjen AHU) Kementerian Hukum dan HAM dan kita bisa mengurusnya melalui layanan online yang disebut AHU Online

Sekarang kita bahas sedikit tentang Ditjen AHU ini.

Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum

Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum
Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum adalah unit eselon I Kemenkumham yang sudah dibentuk sejak tahun 2000 lalu, pemekaran dari Direktorat Hukum dan Perundang-undangan. 

Direktorat Hukum dan Perundang-undangan ini tidak hanya dimekarkan menjadi Ditjen AHU, melainkan menjadi dua. Yaitu Direktorat Jenderal Peraturan Perundang-undangan yang fokus pada penyusunan peraturan perundangan-undangan. Sedangkan Ditjen AHU fokus pada tugas pelayanan hukum kepada masyarakat, layanannya mencakup hampir semua bidang hukum secara umum. 

Luasnya aspek pelayanan hukum yang dilakukan Ditjen AHU, Cahyo Rahadian Muzhar, SH, LLM, selaku Direktur Jenderal Administrasi Hukum Umum (Dirjen AHU) saat ini dibantu oleh satu orang Sekretaris Jenderal dan lima orang Direktur. 

Para direktur tersebut mengurusi pelayanan untuk bidang Pidana, Perdata, Tata Negara, Otoritas Pusat Hukum Internasional, dan Teknologi Informasi. Semua unit di Ditjen AHU ini bersinergi mewujudkan visi “masyarakat memperoleh kepastian hukum.”
Selain urusan pendaftaran dan pengesahan badan hukum yayasan dan perkumpulan, soal kewarganegaraan juga dilayani di Ditjen AHU.

Penting yah soal kewarganegaraan ini?

Masih ingat kisah Gloria Natapradja Hamel?. Gloria Natapradja Hamel adalah perempuan keturunan Indonesia-Perancis yang sangat antusias untuk menjadi salah satu pasukan pengibaran bendera pada HUT ke 71 RI. Akan tetapi dua hari sebelum peringatan kemerdekaan, ia dicoret dari daftar pasukan pengibar bendera pusaka (paskibraka) di Istana Negara karena ternyata ia masih memegang paspor Perancis. 

Gloria sangat sedih ketika dikabarkan dirinya batal menjadi anggota Paskibraka. Siswi SMA Islam Dian Didaktika itu kemudian menulis surat kepada Presiden. Di dalam surat yang disertai dengan materai Rp 6 ribu itu, Gloria secara tegas menyatakan dia mencintai Indonesia, bahkan siap untuk memilih menjadi WNI. "Bahwa saya tidak pernah memilih kewarganegaraan Perancis karena darah dan nafas saya untuk Indonesia tercinta," tulis Gloria.

Bagi kita yang memiliki ayah dan ibu WNI, masalah kewarganegaraan tentunya sudah selesai tanpa perlu naturalisasi, tapi status itu berbeda dengan mereka yang salah satu orang tuanya berkewarganegaraan asing seperti Gloria ini.

Nah, kalau menurut kalian, selain pendirian yayasan, pengesahan perkumpulan dan administrasi kewarganegaraan, apa saja administrasi hukum yang biasanya kita butuhkan? 

Kalau kita tengok layanan AHU Online situs ahu.go.id, ada beberapa pelayanan administrasi hukum yang bisa kita akses, di antaranya:

1. Administrasi Penunjang Kemudahan Berusaha

Beberapa tahun belakangan, pemerintah meningkatkan kinerja kemudahan berusaha (ease of doing business). Salah satu kontribusi Ditjen AHU dalam bidang kemudahan berusaha adalah dengan mempercepat prosedur pembentukan badan usaha. Dengan layanan AHU Online, pendirian dan pengintegrasian CV (Comanditaire Venootschap) dan Perseroan Terbatas bisa dilaksanakan secara digital. Tidak hanya mendaftarkan badan usaha, kalau mau pesan nama perusahaan juga bisa melalui web AHU Online.

2. Membangun Organisasi atau Perkumpulan 

Tak hanya membuat CV atau PT, masyarakat yang ingin membentuk organisasi baik tujuan profit maupun non-profit juga bisa mendaftarkannya secara online. AHU Online melayani semua jenis perkumpulan, mulai dari Yayasan, Koperasi, sampai Partai Politik (Parpol), kita juga bisa memesan dan memeriksa nama agar tidak ada kesamaan nama melalui AHU Online.

3. Pengurusan Wasiat 

Kalau kita punya aset atau harta yang ke depannya bisa bermanfaat untuk keturunan kita, atau justru bisa disalahgunakan pihak lain, atau mungkin memiliki potensi konflik, ada baiknya setelah kita membuat wasiat kemudian didaftarkan ke Ditjen AHU. Membuat wasiatnya tetap di hadapan Notaris, dan akan lebih afdol kalau dilengkapi dengan pelaporan  ke Ditjen AHU melalui AHU Online.

4. Fidusia

Apakah teman-teman pernah membeli kendaraan bermotor, atau barang elektronik melalui mekanisme utang piutang? Kalau ada rencana untuk membeli barang melalui mekanisme utang piutang atau kredit, ada baiknya teman-teman mempelajari cara bagaimana mendapatkan jaminan fidusia. Jangan sampai sudah banyak membayar lalu dengan mudah barangnya ditarik pihak leasing dan masalah lainnya.

5. Pelayanan Notaris

Masing–masing layanan di atas mungkin saja butuh bantuan dari notaris. Nah teman-teman, Ditjen AHU ini juga yang erat kaitannya dengan para profesi para notaris. Layanan Ditjen AHU mencakupi pendaftaran notaris dan pendaftaran ujian pengangkatan notaris.

Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum AHU Online
Secara total ada 93 jenis layanan hukum yang dilayani oleh Ditjen AHU. Sebanyak 47 layanan hukum itu sudah bisa dilayani melalui aplikasi AHU Online atau bisa diakses melalui ahu.go.id, dengan layanan berbasis online web base. Sedangkan 43 layanan lainnya masih manual.

Demikian sedikit catatan saya mengenai AHU Online. Semoga bermanfaat untuk teman-teman komunitas yang masih galau mengenai status legalitas komunitas perkumpulannya, juga buat teman-teman yang ingin membuat yayasan atau mengurus kewarganegaraan.

Salam.


Berteduh di Kedai Kopi Hainam Pondok Bambu

Kedai Kopi Hainam Pondok Bambu Jakarta
Kedai Kopi Hainam Pondok Bambu Jakarta
"Secangkir kopi bisa menjadi "jembatan rasa" yang mempertemukan, kita bisa mengenal kepribadian seseorang dari kopi yang dinikmatinya."
Lalu-lintas Kalimalang menuju Bekasi pada hari Minggu sore itu sedang tidak padat. Rintik hujan yang semakin deras memaksa para pemotor sejenak menepi untuk mengenakan jas hujan sebelum kembali melanjutkan perjalanan.

Hujan tidak juga reda, jarak pandang terganggu dan hawa dingin menyergap. Di persimpangan Jatiwaringin saya belok haluan dan mengarahkan motor ke Kedai Kopi Hainam yang terletak di Jl. Masjid Al-Wustho Pondok Bambu, Kec. Duren Sawit, Jakarta Timur. 

Aroma kopi yang khas dan menjanjikan kehangatan menyambut kedatangan saya. Yah, memutuskan untuk berteduh di sini sambil menunggu hujan reda adalah pilihan terbaik, sebelum melanjutkan perjalanan pulang.
Kedai Kopi Hainam Pondok Bambu

Kedai Kopi Hainam

Kedai yang biasanya dipenuhi oleh anak muda ini sedang lengang. Meja dan kursi di teras basah terkena tampias hujan. Di ruang depan yang diterangi lampu temaram ada dua orang sedang asik berbincang, Itonk, sang pemilik kedai dan pegawainya. Mengenakan t-shirt dan jeans belel membuat ibu dua anak ini tampak lebih muda 10 tahun dari usia sebenarnya.

Bukan kali pertama saya mampir, kali ini selain untuk berteduh, saya juga ingin kembali menikmati kopi racikan teman sekolah yang kini serius menekuni bisnis kopi. Sebuah bisnis yang berangkat dari kesukaannya menikmati kopi tanpa kenal waktu.

Semua berawal pada Mei 2015 lalu, saat ia ikut event Festival Lapangan Banteng dan mencoba menjual kopi bubuk yang didapatkan dari seorang teman. Sejak itu ia mulai sering membuka gerai dadakan di acara-acara musiman seperti bazar, reuni, dll. 

Ia juga pernah mencoba menggabungkan usahanya dengan gerai makanan, namun usahanya itu bubar di tengah jalan. Tidak berhenti di sana, dengan memanfaatkan jejaring pertemanan, ia mulai merintis penjualan produk kopi dingin botolan racikannya secara gerilya. 

Semua pengalaman yang telah ia lalui sekian tahun itu berpuncak pada bulan Agustus 2018, ia nekad memanfaatkan ruko milik orang tuanya menjadi Kedai Kopi Hainam.  Tampaknya kali ini usahanya lebih berhasil dengan semakin banyaknya permintaan produk kopi dingin botolan dari gerai-gerai makanan dan langganan tetapnya. Kedai Kopi Hainam buka setiap hari dari pukul 2 siang hingga 10 malam.

Kedai kopi yang luas ini banyak dihiasi ornamen ukiran dan pahatan khas tradisional Jawa. Penataan meja yang jauh satu sama lain menjadikan setiap meja berkesan privat dan eksklusif, berbeda dengan penataan meja yang rapat pada teras depan. Dilengkapi dengan mushola dan pojok lesehan di bagian belakang bar menjadikan kedai ini tempat yang asik untuk hangout
Berteduh di Kedai Kopi Hainam Pondok Bambu

Motif Terjun Ke Bisnis Kopi

"Keuntungannya lumayan, tapi yang lebih penting aku bisa lebih berhemat, tidak perlu lagi nongkrong di kafe meninggalkan keluarga, karena aku sekarang sudah punya kafe sendiri" ungkap ibu muda yang sedang memperjuangkan gelar master di bidang arsitektur.

Sudah sejak lama ia yakin, coffeeshop atau kedai kopi yang menjamur di mana-mana itu membuktikan bahwa bisnis kopi bukan hanya tren sementara, tapi sudah menjadi budaya bagi generasi muda dan kaum urban perkotaan. 

Di balik budaya itu, ia melihat peluang bisnis yang cukup menjanjikan terbuka lebar bagi yang paham memanfaatkan celah pasar dan berani mengambil peluang. Karenanya ia memberanikan diri terjun ke dunia persilatan eh ke dunia perkopian.

"Kalau aku yah mendirikan Kedai Kopi Hainam ini learning by doing, semua ini hasil dari pengalaman, jualan eceran, gerilya, hasil ngobrol dengan teman-teman dan belajar dari banyak orang. Cukup memakan waktu, tapi aku menikmati prosesnya" ungkapnya santai sambil memilih playlist lagu di smartphone-nya.

Dengan memanfaatkan bluetooth yang terhubung ke sistem pengeras suara, lagu-lagu slow rock 90an pilihannya kini menggantikan suara rintik hujan, mengisi ruangan kafe yang bernuansa vintage dan tradisional. 
Kedai Kopi Hainam Pondok Bambu

Sambil menikmati Kopi Robusta Bengkulu andalan kedai ini, obrolan santai malam itu melebar ke mana-mana. Kembali serius saat ia kembali bercerita tentang pengalamannya di bisnis kopi.

"Tidak ada yang instan, cara paling cepat untuk mengenal bisnis kopi yah ikut pelatihan seperti yang sudah mulai banyak digelar, atau membeli franchise" ucap Arsitektur Lansekap lulusan Universitas Tri Sakti ini.

Menurutnya pelatihan-pelatihan terkait bisnis kopi itu seperti investasi, sebagaimana ia menginvestasikan waktu yang lama untuk menjadi seperti sekarang ini.
"Menginvestasikan uang untuk mempersingkat waktu belajar aku kira itu sepadan" tegasnya.

Ia menjawab semua pertanyaan dengan santai, sambil menikmati kopi pahit dan sesekali memainkan asap rokok menthol yang ia hembuskan ke arah lampu di atas meja kami.

Di akhir perbincangan ia kembali menegaskan, bahwa pada akhirnya untuk membuka kedai kopi itu bukan masalah serius atau tidak, tapi lebih terkait kepada passion

"Dari yang aku jalani, Aku lebih percaya bahwa membuka usaha kedai kopi lebih dominan ke hasrat kesenangan kita terhadap sesuatu, skill memang diperlukan akan tetapi hasrat lebih utama, maka jika hasrat itu ada, skill akan menjadi prioritas nomor dua."

"Secangkir kopi yang diseduh dengan hati lebih mampu menjadi "jembatan rasa" menyambungkan hati dari pada yang dibuat dengan teknik-teknik trendi yang dipelajari dari pelatihan".

"Secangkir kopi bisa menjadi "jembatan rasa" yang mempertemukan, kita bisa mengenal kepribadian seseorang dari kopi yang dinikmatinya. Tapi kalau tidak dapat "klik-nya" pelanggan tidak akan kembali lagi untuk meminum kopi itu."

Menikmati segelas kopi panas saat hujan begini memang waktu yang pas, apalagi diisi dengan obrolan yang berkualitas. Jarang ada kedai kopi yang owner-nya mau menemani ngobrol tamunya. Ya memang kadang ada juga pelanggan yang hanya ingin menikmati kopinya sendirian.

Tanpa terasa kopi pahit sudah tandas dan waktu bergulir dengan cepat. Saat hujan mulai reda, saya meninggalkan kedai itu. Masih sempat memesan produk kopi dingin botolan untuk bekal di jalan.

Harganya produk kopi yang ditawarkan lebih murah dari gerai kopi terkenal yang ada di mall. Ditambah suasana kedai yang asik dan luas ini jelas kemewahan yang tidak bisa didapatkan pada gerai kopi di mall, seterkenal apapun merek kopinya.

Namun demikian saya jadi ingat kembali kata-katanya, "Berbicara tentang kopi, sama saja berbicara mengenai selera, setiap individu memiliki selera yang gak akan pernah sama setiap orangnya".


Kedai Kopi Hainam Pondok Bambu Jakarta

@ Kedai Kopi Hainam - Jumat, 19 April 2019.
Kontak: (021) 86609673 | 0817-6306-976




Cara Menghasilkan Potret Terbaik Saat Gerhana Bulan Dengan Menggunakan Smartphone

Cara Menghasilkan Potret Terbaik Saat Gerhana Bulan Dengan Menggunakan Smartphone
Memotret bulan dengan smartphone | credit: infoastronomy.org
Gerhana bulan merupakan fenomena langka yang tidak setiap hari terjadi. Jenis dari gerhana bulan pun sangat berbeda-beda tergantung pada posisi bulan, bumi dan matahari. Keindahan dari gerhana bulan dapat dinikmati di tempat-tempat tertentu. Bahkan beberapa wisatawan rela berkunjung jauh agar dapat menikmati gerhana bulan tersebut. 

Jarak antara bumi dan bulan yang tidaklah dekat, membuat siapapun yang ingin mengabadikan momen tersebut memerlukan peralatan canggih. Bagi yang mempunyai kamera DSLR atau bantuan teleskop memotret bulan bukanlah hal yang dipermasalahkan. Mereka dapat mengambil gambar bulan lengkap dengan kawah yang ada di dalamnya. Namun, siapa sangka hanya dengan smartphone ternyata juga dapat menangkap kenangan dari fenomena gerhana bulan ini.

Berikut cara Memotret Gerhana Bulan Untuk Hasil Terbaik

Pilih Lokasi Tinggi dan Gelap

Memotret gerhana bulan dengan cara yang biasa-biasa tentunya akan menjadikan gambar menjadi tidak menarik. Bahkan terlihat gambar biasa, bukan seperti gerhana bulan.

Agar smartphone berfungsi secara optimal, maka diperlukan beberapa sentuhan. Carilah tempat terbaik untuk menyaksikannya. Pemandangan sekitar sangat mendukung hasil potretan agar tidak terlihat biasa. 

Tips lain adalah mencari lokasi yang tinggi jika memungkinkan. Lokasi yang tinggi mendukung untuk mendapatkan spot terbaik karena tidak terhalang oleh sesuatu. Selain itu juga aman dari asap polusi sehingga cahaya bulan terlihat secara maksimal.

Sedangkan mencari tempat yang gelap juga berfungsi agar fokus kamera hanya pada satu cahaya saja yaitu cahaya bulan. 

Atur Kamera Smartphone

Cara memotret gerhana bulan dengan smartphone memang dapat menghasilkan gambar terbaik jika fotografer tahu cara mengatur kamera. Kamera smartphone jaman sekarang yang sudah dilengkapi dengan mode manual (pro) sehingga dapat mengatur besaran ISO, EV, lama bukaan, AWB dan lain sebagainya. 

Gunakanlah mode manula dengan settingan utama ISO sekecil mungkin supaya gambar pada malam hari tidak banyak noise. perkecil juga EV dan kompensasikan dengan bukaan lensa yang lebih lama.

Pengaturan ini berfungsi untuk mengambil kontur alam sekitar yang cukup baik dan cahaya bulan yang tidak over bright. Cobalah mengambil foto dengan shutter speed yang bervariasi agar lama bukaan yang didapatkan juga pas. Jangan lupa untuk mematikan lampu flash terlebih dahulu. 

Atur komposisi dengan baik. untuk memudahkannya gunakanlah garis grid. Komposisi yang baik akan membuat hasil jepretan gerhana bulan layak dipamerkan di media sosial.

Beberapa kamera smartphone juga sudah disupport dengan mode RAW atau gambarnya tidak terkompres secara otomatis. Tentunya hasil foto yang dihasilkan akan lebih maksimal. 

Jangan Gunakan Zoom

Jika kamera smartphone tidak memiliki pembesaran optikal, maka jangan menggunakan mode zoom. Penggunaan mode tersebut akan terlihat sangat kasar. Sama hasilnya jika foto sudah jadi lalu di-crop.

Gunakanlah standar sesuai kemampuan pada kamera smartphone. Jangan lupa juga untuk tidak menggunakan filter apapun. Penggunaan filter akan membuat tidak terlihat detail.

Jika ingin mengeditnya, silahkan mengedit belakangan untuk perubahan warna dan lain-lain.


Cara Menghasilkan Potret Terbaik Saat Gerhana Bulan Dengan Menggunakan Smartphone
Tripod dan tambahan lensa khusus smartphone 

Pakai Tripod

Selain cara memotret gerhana bulan dengan settingan smartphone, tripod juga dapat menjadi pendukung lain. Memotret pada malam hari akan sering mendapatkan hasil yang pecah. Apalagi jika menggunakan shutter speed yang lebih lama. 

Memakai tripod menjadi solusi agar kamera tetap diam karena tertempel pada benda diam. Gunakanlah mode timer agar kamera benar-benar dalam keadaan diam tanpa guncangan saat menekan tombol.


Cara Menghasilkan Potret Terbaik Saat Gerhana Bulan Dengan Menggunakan Smartphone
Jenis lain smartphone holder / stabilizer

Perhatikan Waktu

Selain menguasai berbagai cara memotret gerhana bulan, perlu diperhatikan juga waktu pengambilan foto tersebut. Jadwal atau prediksi dari waktu gerhana yang sudah banyak dikeluarkan oleh BMKG dapat menjadi acuan. Pastikan mengambil foto pada puncak gerhana.

Demikian beberapa cara agar hasil jepretan gerhana bulan dengan menggunakan smartphone terlihat secara maksimal. Selamat mencoba!


Penulis, Fajrin


Bukan Cebong dan Kampret, Kita Garuda Pancasila

Membumikan Pancasila, Merawat Keberagaman di Kalangan Milenial dan Penggiat Media Sosial
Membumikan Pancasila, Merawat Keberagaman di Kalangan Milenial dan Penggiat Media Sosial 

"Nanang" ucap lelaki paruh baya itu saat menyambut jabat tangan saya. Selanjutnya Bang Iwan Bonick (yang lebih dahulu berada di sana) memperkenalkan saya lebih jauh kepada Pak Nanang agar kehadiran saya tidak mengubah suasana yang sudah terbangun sebelumnya.

Saya yang baru kenal dan baru ikut bergabung dalam "majelis asap" di Smoking Room Lobby Aston Imperial Bekasi Hotel & Conference Center akhirnya hanya pasif mendengarkan perbincangan. 

Untuk menjalin keakraban, saya sebenarnya ingin nyeletuk saat Pak Nanang bercerita tentang pengalaman beliau di rumah pengasingan Bung Karno di Ende, NTT

Tapi pengalaman yang Pak Nanang sedang ceritakan ini frekuensinya mendekati sakral, tidak layak saya potong dengan celetukan garing "saya juga pernah ke sana loh pak". Gak nyambung dan gak penting.

Belakangan saya baru tahu, lelaki paruh baya tersebut bernama lengkap Nanang Rakhmad Hidayat, M. Sn. Beliau adalah dosen Jurusan Televisi, Fakultas Seni Media Rekam di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta yang juga merupakan mitra kerja Pusat Studi Pancasila UGM.
  
Pak Nanang ini adalah seniman yang mendirikan "Museum Rumah Garuda" di Yogyakarta, sehingga dikenal dengan nama lain "Nanang Garuda", sedangkan Iwan Bonick adalah penyair unik yang mendirikan "Rumah Garuda" di Bekasi. Setidaknya itulah yang membuat obrolan mereka menjadi begitu akrab, hampir saja saya mempermalukan Bang Iwan Bonick dengan celetukan garing :)  

Pak Nanang yang menulis buku "Mencari Telur Garuda" ini datang ke Bekasi untuk memenuhi undangan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) sebagai salah satu pembicara dalam acara "Sosialisasi Pancasila Dengan Milenial/Blogger". Acara yang dilaksanakan pada hari Sabtu, 31 Agustus 2019 ini bertemakan "Membumikan Pancasila, Merawat Keberagaman di Kalangan Milenial dan Penggiat Media Sosial". 
Sang Kartini Kembar guru pendiri Sekolah Darurat Kartini di kolong jalan tol Jakarta Sri Rossyati (Rossi) dan Sri Irianingsih (Rian)
Sang Kartini Kembar pendiri Sekolah Darurat Kartini Jakarta Sri Rossyati dan Sri Irianingsih 
Hadir sebagai narasumber lainnya adalah Bapak Aris Heru Utomo selaku Direktur Sosialisasi, Komunikasi dan Jaringan BPIP, Ibu Irene Camelyn Sinaga selaku Direktur Pembudayaan BPIP serta Sang Kartini Kembar, duo guru pendiri Sekolah Darurat Kartini di kolong jalan tol Jakarta Utara, yaitu Ibu Sri Rossyati (Ibu Rossi) dan Ibu Sri Irianingsih (Ibu Rian). Hadir pula Mbak Mira Sahid selaku tokoh blogger dari Bekasi yang bertindak sebagai MC dan moderator.

Dalam pemaparannya, Pak Nanang menyampaikan hasil perjalanannya mengumpulkan berbagai macam foto Garuda Pancasila yang memiliki bentuk dan ragam corak. Sebagai seniman ia mengapresiasi keragaman bentuk dan ragam hasil karya masyarakat, akan tetapi ia juga menyimpan kegelisahan mengenai inkonsistensi bentuk lambang negara ini. Namun demikian, yang lebih membuat Pak Nanang gelisah adalah "amputasi historis", karena tidak ada satupun pihak yang menceritakan tentang proses atau sejarah terbentuknya lambang Garuda Pancasila.
proses dan sejarah terbentuknya lambang Garuda Pancasila
Proses metamorfosis terbentuknya lambang Garuda Pancasila 
Sebagai seniman yang sensitif terhadap makna di balik tanda dan bentuk lambang (semiotika), saya kira kegelisahan Pak Nanang cukup beralasan. Ia tidak ingin lambang negara yang sudah dirumuskan oleh para pemikir dan pendiri bangsa ini dilupakan sejarah kelahirannya dan kehilangan makna-makna luhur yang disampaikan dalam bentuk Burung Garuda Pancasila.

Untuk menjawab kegelisahan itulah pada 17 Agustus 2011 ia mendirikan "Museum Rumah Garuda" sebagai ruang publik untuk berwisata sejarah dan edukasi khusus mengenai Garuda Pancasila. Museum yang lebih dikenal dengan sebutan Rumah Garuda ini berusaha mengenalkan akar jati diri bangsa yang telah tersimbolkan pada Garuda Pancasila, melalui pintu sejarah, filosofi, estetika, dan semiotika dengan pendekatan seni dan budaya. 

Rumah Garuda sudah banyak menghasilkan karya yang bertujuan untuk menyosialisasikan proses dan sejarah lahirnya Garuda Pancasila, baik berupa wayang, ragam bentuk permainan puzzle, film, buku, kamus dan lain sebagainya. 

Pak Nanang mengatakan, "Indonesia saat ini sedang mencekam, berhentilah men(jadi) ce(bong) kam(pret), bangkitlah menjadi Garuda"

Bagaimana caranya berhenti menjadi cebong dan kampret dan kembali menjadi garuda?. Dalam salah satu slide presentasinya Pak Nanang menampilkan kutipan dari Emha Ainun Najib, "Ayo belajar sejarah, supaya Anda tahu, Anda ini GARUDA"
Bukan Cebong dan Kampret, Kita Garuda Pancasila
Ayo belajar sejarah, supaya Anda tahu, Anda ini GARUDA
Kutipan itu hanya potongan kecil, lengkapnya kalimat itu berbunyi "Ayo belajar sejarah, supaya Anda tau kalau Anda ini garuda, Anda ini bangsa besar. Ndak apa-apa sampai akhir hayat Anda ndak berhasil, ndak pa-pa; anakmu yang berhasil, nek gak anakmu yo putumu, tapi kita bangun kembali paruh yang baru itu, kuku yang baru itu, dan tidak pernah putus asa." - Cak Nun

Pepatah lama mengatakan, "tidak kenal maka tak sayang", itulah salah satu solusi yang diupayakan Pak Nanang Garuda sekian lama, beliau secara aktif mengajak anak bangsa mengenal proses dan sejarah terbentuknya lambang Garuda Pancasila agar kembali dikenal dengan sebagaimana layaknya.

Lambang Garuda Pancasila sejatinya memang tergali dari nilai-nilai peri kehidupan Bangsa Indonesia. Walau saat Orde Baru Pancasila pernah disalahgunakan untuk mengontrol hingga ke ruang pikir, namun di era pasca reformasi di mana kebebasan berekspresi telah mendapatkan tempat yang lebih layak, maka mengenal Garuda Pancasila dengan segala aspeknya kembali menjadi penting. Tentunya itu bukan hanya tugas Pak Nanang dan BPIP saja.

Salam.

Belajar Fotografi Ponsel Bersama Tripod Keliling dan Saka Bhayangkara Babelan

Workshop Fotografi Ponsel Saka Bhayangkara dan Tripod Keliling
Workshop Fotografi Ponsel Saka Bhayangkara dan Tripod Keliling
"Kenapa kamera handphone?" pancing Hye Sin kepada 40-an adik-adik dan calon anggota Satuan Karya Pramuka (Saka) Bhayangkara Polsek Babelan Bekasi siang itu di Aula Kantor Kepala Desa Babelan Kota. Beberapa jawaban terdengar dari hadirin, macam-macam jawaban yang intinya mengerucut pada salah satu keunggulan kamera ponsel, yaitu praktis dan compact.

Minggu, 25 Agustus 2019, teman-teman dari Komunitas Tripod Keliling kembali melakukan kelas akhir pekan, "Belajar memotret dengan HP" seperti yang pernah dilakukan sebelumnya di Kawasan Ekowisata Sungai Rindu, 28 Juli 2019 lalu.

Mini workshop yang dibagi dalam 3 sesi ini berisi tips memotret dengan telepon seluler pribadi, praktek mengambil potret dan evaluasi. Peserta yang dibagi dalam 9 kelompok ini dengan antusias mengikuti jalannya workshop.

Dengan langsung dipandu Hye Sin dan Yusuf Prakasa, praktek memotret yang diberikan waktu selama 20 menit sepertinya kurang cukup, bahkan hingga penambahan waktu habis sekali pun adik-adik peserta masih terus asik mencoba berbagai pose dan angel serta asik mendiskusikan tentang pesan apa yang ingin mereka sampaikan dalam foto yang mereka hasilkan.
Belajar Fotografi Ponsel Bersama Tripod Keliling dan Saka Bhayangkara Babelan
Praktek memotret dengan ponsel
Saat pemaparan teori, memang dibahas beberapa teknik memotret dan bagaimana membuat potret dapat menjadi sebuah media penyampai pesan. Sayangnya keterbatasan waktu yang tersedia membuat setiap sesi harus dilaksanakan dengan ketat.

Idealnya waktu evaluasi lebih panjang dari sesi teori dan praktek, karena pada saat evaluasi inilah terjadi dialog dan kurasi mengenai hasil praktek memotret. Minimal dalam sesi evaluasi ini pemotret akan menerima feedback dan tambahan tips tentang teori-teori yang sudah disampaikan sebelumnya.

"Pesan saya, rajinlah berlatih, rajinlah memotret dan jangan cepat puas dengan hasilnya" pesan Hye Sin kepada semua hadirin saat mengakhiri sesi evaluasi.

"Dokumentasikan kegiatan positif yang adik-adik lakukan baik saat kegiatan pramuka ataupun kegiatan positif lainnya, gunakan kamera ponsel kita untuk hal-hal yang bermanfaat bagi masyarakat, minimal bermanfaat bagi diri sendiri" tutup Hye Sin.
Belajar Fotografi Ponsel Bersama Tripod Keliling dan Saka Bhayangkara Babelan
Evaluasi hasil memotret dengan ponsel
Secara garis besar acara workshop belajar memotret dengan menggunakan ponsel ini berjalan lancar dan baik. Interaksi dari peserta menunjukkan beberapa peserta yang memiliki passion dan kesenangan dalam fotografi, setidaknya workshop ini bisa menjadi langkah awal baginya untuk mengembangkan hobi fotografi ke arah yang lebih jauh.

"Terima kasih kepada Komunitas Tripod Keliling yang sudah berbagi ilmu kepada kami, mungkin lain waktu kita dapat bekerjasama lagi untuk materi yang lebih dalam mengenai fotografi ponsel" kata Mawadah Warahmah selaku Ketua Dewan Saka Bhayangkara Polsek Babelan Kwartir Ranting Kec. Babelan Kab. Bekasi.
Belajar Fotografi Ponsel Bersama Tripod Keliling dan Saka Bhayangkara Babelan
Foto bersama seusai acara workshop fotografi ponsel

Fotografi dan industri kreatif

Fotografi adalah salah satu komponen dari 15 jenis industri kreatif yang diperhitungkan di Indonesia. Sebagai sebuah industri yang mengandalkan kreativitas dalam menghasilkan produk/jasa, fotografi saat ini menjadi semakin beragam dan semakin banyak penggiatnya seiring dengan kemajuan teknologi. 

Oleh karenanya, memperkenalkan fotografi kepada masyarakat harusnya bisa lebih dini lagi dan dengan menggunakan berbagai pendekatan. Salah satunya dengan pendekatan kelas-kelas pengenalan fotografi seperti memaksimalkan fungsi kamera ponsel sebagaimana yang dilakukan oleh Saka Bhayangkara Polsek Babelan dan Komunitas Tripod Keliling ini.

Lomba-lomba terkait fotografi dalam skala kecil juga mestinya bisa menjadi wadah untuk menggairahkan para fotografer pemula untuk terus berkarya dan berkompetisi. Contoh kegiatan lomba terkait fotografi salah satunya; sekolah bisa saja menggelar lomba foto dokumentasi bagi murid-muridnya untuk meliput sebuah kegiatan, di sisi lain dengan memanfaatkan media sosial maka lomba tersebut juga dapat menjadi media amplifikasi kegiatan tersebut.

Lomba tersebut bisa diperluas menjadi lomba liputan jurnalistik, lomba dokumentasi video baik dalam bentuk vlog atau lainnya. Masih banyak macam lomba-lomba kreatif yang dapat digagas dengan mengedepankan kompetisi bakat, minat, kemampuan teknis dan semacamnya. 

Dalam pandangan saya, sekolah sebagai lembaga pendidikan mestinya tidak lagi menggelar lomba-lomba hiburan ala masyarakat seperti lomba makan kerupuk. Jika lomba fotografi dll tadi diperlombakan secara tim atau grup, maka gak perlu lagi sekolah menggelar lomba tarik tambang dan panjat pinang, karena nilai teamwork sudah tercakup dalam lomba beregu tadi.

Bagaimana? tidak sulit kan? Kalau tidak dimulai dari yang kecil, bagaimana mau memulai yang besar?


Belajar Fotografi Ponsel Bersama Tripod Keliling dan Saka Bhayangkara Babelan

Workshop Fotografi Ponsel Saka Bhayangkara dan Tripod Keliling
Workshop Fotografi Ponsel Saka Bhayangkara dan Tripod Keliling
"Kenapa kamera handphone?" pancing Hye Sin kepada 40-an adik-adik dan calon anggota Satuan Karya Pramuka (Saka) Bhayangkara Polsek Babelan Bekasi siang itu di Aula Kantor Kepala Desa Babelan Kota. Beberapa jawaban terdengar dari hadirin, macam-macam jawaban yang intinya mengerucut pada salah satu keunggulan kamera ponsel, yaitu praktis dan compact.

Minggu, 25 Agustus 2019, teman-teman dari Komunitas Tripod Keliling kembali melakukan kelas akhir pekan, "Belajar memotret dengan HP" seperti yang pernah dilakukan sebelumnya di Kawasan Ekowisata Sungai Rindu, 28 Juli 2019 lalu.

Mini workshop yang dibagi dalam 3 sesi ini berisi tips memotret dengan telepon seluler pribadi, praktek mengambil potret dan evaluasi. Peserta yang dibagi dalam 9 kelompok ini dengan antusias mengikuti jalannya workshop.

Praktek memotret yang diberikan waktu selama 20 menit sepertinya kurang cukup, bahkan hingga penambahan waktu habis sekali pun adik-adik peserta masih terus asik mencoba berbagai pose dan angel serta asik mendiskusikan tentang pesan apa yang ingin mereka sampaikan dalam foto yang mereka hasilkan.
Belajar Fotografi Ponsel Bersama Tripod Keliling dan Saka Bhayangkara Babelan
Praktek memotret dengan ponsel
Saat pemaparan teori, memang dibahas beberapa teknik memotret dan bagaimana membuat potret dapat menjadi sebuah media penyampai pesan. Sayangnya keterbatasan waktu yang tersedia membuat setiap sesi harus dilaksanakan dengan ketat.

Idealnya waktu evaluasi lebih panjang dari sesi teori dan praktek, karena pada saat evaluasi inilah terjadi dialog dan kurasi mengenai hasil praktek memotret. Minimal dalam sesi evaluasi ini pemotret akan menerima feedback dan tambahan tips tentang teori-teori yang sudah disampaikan sebelumnya.

"Pesan saya, rajinlah berlatih, rajinlah memotret dan jangan cepat puas dengan hasilnya" pesan Hye Sin kepada semua hadirin saat mengakhiri sesi evaluasi.

"Dokumentasikan kegiatan positif yang adik-adik lakukan baik saat kegiatan pramuka ataupun kegiatan positif lainnya, gunakan kamera ponsel kita untuk hal-hal yang bermanfaat bagi masyarakat, minimal bermanfaat bagi diri sendiri" tutup Hye Sin.
Belajar Fotografi Ponsel Bersama Tripod Keliling dan Saka Bhayangkara Babelan
Evaluasi hasil memotret dengan ponsel
Secara garis besar acara workshop belajar memotret dengan menggunakan ponsel ini berjalan lancar dan baik. Interaksi dari peserta menunjukkan beberapa peserta yang memiliki passion dan kesenangan dalam fotografi, setidaknya workshop ini bisa menjadi langkah awal baginya untuk mengembangkan hobi fotografi ke arah yang lebih jauh.

"Terima kasih kepada Komunitas Tripod Keliling yang sudah berbagi ilmu kepada kami, mungkin lain waktu kita dapat bekerjasama lagi untuk materi yang lebih dalam mengenai fotografi ponsel" kata Mawadah Warahmah selaku Ketua Dewan Saka Bhayangkara Polsek Babelan Kwartir Ranting Kec. Babelan Kab. Bekasi.
Belajar Fotografi Ponsel Bersama Tripod Keliling dan Saka Bhayangkara Babelan
Foto bersama seusai acara workshop fotografi ponsel

Fotografi dan industri kreatif

Fotografi adalah salah satu komponen dari 15 jenis industri kreatif yang diperhitungkan di Indonesia. Sebagai sebuah industri yang mengandalkan kreativitas dalam menghasilkan produk/jasa, fotografi saat ini menjadi semakin beragam dan semakin banyak penggiatnya seiring dengan kemajuan teknologi. 

Oleh karenanya, memperkenalkan fotografi kepada masyarakat harusnya bisa lebih dini lagi dan dengan menggunakan berbagai pendekatan. Salah satunya dengan pendekatan kelas-kelas pengenalan fotografi seperti memaksimalkan fungsi kamera ponsel sebagaimana yang dilakukan oleh Saka Bhayangkara Polsek Babelan dan Komunitas Tripod Keliling ini.

Lomba-lomba terkait fotografi dalam skala kecil juga mestinya bisa menjadi wadah untuk menggairahkan para fotografer pemula untuk terus berkarya dan berkompetisi. Contoh kegiatan lomba terkait fotografi salah satunya; sekolah bisa saja menggelar lomba foto dokumentasi bagi murid-muridnya untuk meliput sebuah kegiatan, di sisi lain dengan memanfaatkan media sosial maka lomba tersebut juga dapat menjadi media amplifikasi kegiatan tersebut.

Lomba tersebut bisa diperluas menjadi lomba liputan jurnalistik, lomba dokumentasi video baik dalam bentuk vlog atau lainnya. Masih banyak macam lomba-lomba kreatif yang dapat digagas dengan mengedepankan kompetisi bakat, minat, kemampuan teknis dan semacamnya. 

Dalam pandangan saya, sekolah sebagai lembaga pendidikan mestinya tidak lagi menggelar lomba-lomba hiburan ala masyarakat seperti lomba makan kerupuk. Jika lomba fotografi dll tadi diperlombakan secara tim atau grup, maka gak perlu lagi sekolah menggelar lomba tarik tambang dan panjat pinang, karena nilai teamwork sudah tercakup dalam lomba beregu tadi.

Bagaimana? tidak sulit kan? Kalau tidak dimulai dari yang kecil, bagaimana mau memulai yang besar?


Ada Gerai Uis Gara di Sentra Seni Budaya Bekasi De’ Bhagasasi

Ada Gerai Uis Gara di Sentra Seni Budaya Bekasi De' Bhagasasi
Wawali Bekasi, Tri Adhianto meresmikan De'Bhagasasi di Pasar Proyek Trade Center Bekasi [Dakta.com]
Hari Jumat lalu, 23 Agustus 2019, Wakil Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto telah meresmikan Sentra Seni Budaya Bekasi bernama "De' Bhagasasi" di lantai upper ground Pasar Proyek Trade Center, Bekasi Timur. 

De' Bhagasasi adalah pusat penjualan aneka souvenir, karya seni, dan kuliner khas Bekasi, namun begitu Wawali juga berharap De Bhagasasi dapat menjadi pusat edukasi seni dan budaya bagi warga Kota Bekasi termasuk pelajar.

"Tidak saja menjual, tapi juga melatih. Bagi mereka yang memiliki passion, bisa kami arahkan. Tidak saja hasilnya yang ada, tapi juga para pelaku dan komunitas bisa berkumpul di sini. Ada seni tari, lukis, mereka bisa saling berinteraksi," kata Tri sebagaimana dikutip Kompas.com.

Menurut Benny Tunggul, Ketua Bidang Pengembangan Kehidupan Perkotaan, Tim Walikota untuk Percepatan Penyelenggaraan Pemerintah dan Pembangunan (TWUP4), De' Bhagasasi saat peresmian telah mengakomodir 40 pengrajin batik yang ada di Kota Bekasi.

Dari 40 gerai UMKM yang ada itu, terdapat salah satu gerai berbeda yang melengkapi keragaman sentra budaya De' Bhagasasi. Gerai tersebut adalah Gerai Kembang Wisata Handicraft yang menggelar koleksi kain Uis Gara, pakaian adat dari budaya Suku Karo Sumatera Utara. 
Ada Gerai Uis Gara di Sentra Seni Budaya Bekasi De' Bhagasasi
Wawali Kota Bekasi Tri Adhianto di Gerai Gerai Kembang Wisata Handicraft [independensi.com]
Ada Gerai Uis Gara di Sentra Seni Budaya Bekasi De' Bhagasasi
Selain menjual Uis Gara (Ulos), sesuai namanya, Gerai Kembang Wisata Handicraft juga menyediakan kerajinan tangan lainnya seperti miniatur rumah adat, produk batu, gelang, cincin dan semacamnya.

"Sebetulnya untuk souvenir saya mengutamakan cinderamata khas Bekasi, tapi belum kesampaian, oleh karenanya saya membuka peluang kerjasama bagi pengrajin lokal yang serius, mungkin Bang Bisot bisa bantu?" ungkap Hairani Tarigan selaku pemilik Kembang Wisata Handicraft yang juga Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah Kabupaten Bekasi saat saya hubungi.

"Saat ini masih penyusunan katalog. Baru ada aneka tenun khas Karo, ada Ulos Batak Toba dan batu perhiasan. Sementara yang baru saya posting dan masih asli banget ada di Instagram @kembangwisatahandicraft" lanjutnya.

Setelah saya check di Instagram  https://www.instagram.com/kembangwisatahandicraft/ ternyata memang baru sedikit, sehingga kalau ingin melihat koleksi Kembang Wisata Handicraft secara lengkap sepertinya kita harus mendatanginya langsung di Upper Ground #130, Pasar Proyek Trade Center, Bekasi Timur.
Ada Gerai Uis Gara di Sentra Seni Budaya Bekasi De' Bhagasasi
Ibu Hairani Tarigan di Gerai Kembang Wisata Handicraft

Mengenal Sepintas Uis Gara Batak Karo

Kata Uis Gara dalam bahasa Batak Karo berasal dari kata Uis yang berarti kain dan Gara yang berarti merah. Disebut Uis Gara atau "kain merah" karena warna yang dominan adalah merah, hitam, dan putih, dengan dihiasi ragam motif tenunan dari benang emas dan perak.

Uis Gara pada umumnya terbuat dari bahan kapas yang dipintal dan ditenun secara manual dengan alat tenun bukan mesin (ATBM) dan diwarnai menggunakan zat pewarna alami. Proses pembuatannya secara garis besar sama dengan pembuatan Songket.

Uis Gara pada awalnya digunakan untuk pakaian sehari-hari oleh kalangan perempuan Karo. Namun saat ini Uis Gara hanya digunakan di upacara adat dan budaya. Baik yang dilaksanakan di daerah Karo sendiri, maupun di luar daerah Karo, selebihnya kerap juga ditemukan dalam bentuk souvenir berupa tas, dasi, gorden, ikat pinggang, sarung bantal, dan lain sebagainya.

Keunikan Uis gara juga karena memiliki ragam jenis dengan fungsinya masing-masing, sebagian jenis sudah langka karena tidak digunakan lagi dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa jenis uis gara diantaranya adalah sebagai berikut: Uis Beka Buluh, Uis Gatip Jongkit, Uis Gatip, Uis Nipes Padang Rusak, Uis Nipes Benang Iring, Uis Ragi Barat, Uis Jujung-Jujungen, Uis Nipes Mangiring, Uis Teba, Uis Pementing, Uis Julu Diberu, Uis Arinteneng, Perembah dan Uis Kelam-kelam.

***

Gula-Gula Batavia En Ommelanden

Gula-Gula Batavia En Ommelanden
"Pengalaman adalah sesuatu yang tidak akan pernah Anda dapatkan, sampai Anda benar-benar membutuhkannya" kata seorang komedian. 

Berbicara soal pengalaman sama saja dengan membicarakan apa-apa yang sudah kita lalui di masa lalu. Ketika pengalaman pribadi saja sering dikunci dalam kotak masa lalu dan diabaikan, apalagi pengalaman sosial dalam ingatan kolektif. Karena ingatan kolektif lebih sering diabaikan, disadari atau tidak kita seperti orang-orang yang menderita amnesia sejarah. 

Ibarat pohon kita lupa siapa yang menanam, di mana kita tumbuh, akar tidak menyentuh tanah dan seperti tumbuhan air yang ikut ke mana arus diarahkan.

Seperti remaja tanpa pengalaman yang disodorkan narasi-narasi indah, tanpa perlu paksaan, secara sukarela kita akan melakukan apa saja atas nama "pengalaman". Peringatan dari yang sudah paham dianggap angin, kalaupun terdengar, lebih seperti larangan seorang ibu ketika anaknya membeli permen. Walau dengan penuh cinta dan logika sudah diperingatkan permen itu tidak baik untuk gigi dan lain-lain, si anak tetap saja membeli dan memakannya. Orang tua mana paham enaknya gula-gula masa kini?.

"Gula-gula" itu sekarang bentuknya bermacam-macam. Dikemas dengan narasi mutakhir dan imajinasi yang dapat menyelesaikan semua masalah dengan instan. Ditawarkan 24 jam melalui semua indera, selama otak bisa bekerja, selama itu pula plasebo yang bisa menyembuhkan segala jenis penyakit itu disodorkan. Kunci surga yang sedang menanti untuk diambil.

Gula-Gula Batavia En Ommelanden

15 Agustus 1950 itu belum lama, masih ada orang-orang yang paham mengapa Bekasi memisahkan diri dari Kabupaten Jatinegara, yang berarti lepas dari Jakarta dan masuk ke Provinsi Jawa Barat sebagai kabupaten yang setara dengan Kabupaten Jatinegara walau beda provinsi. 

Latar belakang perpisahan ini juga bukan hanya persoalan administratif naiknya status dari kewedanan menjadi kabupaten dan kotamadya (Kota) seperti sekarang, tapi soal pernyataan sikap dan semangat kemandirian para pejuang di Bekasi yang bertekad untuk menentukan nasib daerahnya sendiri sebagaimana dikenal sebagai Resolusi Rakyat Bekasi yang disampaikan dalam rapat raksasa sekitar 25.000 rakyat Bekasi pada tanggal 17 Januari 1950 di alun-alun Bekasi.  [Buku Sejarah Bekasi, Sejak Peradaban Buni Ampe Wayah Gini hal. 403]
Resolusi Rakyat Bekasi yang disampaikan dalam rapat raksasa sekitar 25.000 rakyat Bekasi pada tanggal 17 Januari 1950 di alun-alun Bekasi
Harian umum Pemandangan 1 Februari 1950, memuat berita peristiwa di alun-alun Bekasi tentang rapat raksasa
Semangat kemandirian yang harusnya terpatri dalam jiwa para pemimpin dan masyarakat Bekasi sampai kapan pun. Tapi kalau pengalaman dan sejarah itu tidak bermanfaat, silakan masukkan ke dalam kotak masa lalu dan abaikan.

Kalau sekarang Bekasi dianggap tertinggal dari daerah tetangga-tetangganya, menurut saya itu lebih karena faktor pengelolaan yang belum profesional yang bisa disebabkan banyak faktor, mungkin salah satunya masalah anggaran yang sering dijadikan alasan pamungkas, tapi apapun itu, saya kira bergabung kembali ke DKI bukan solusinya

Ya tentu saja kalau Bekasi bergabung dengan Jakarta maka Bekasi menjadi tidak relevan lagi dibandingkan-bandingkan dengan Jakarta. Bekasi tidak bisa lagi dikatakan lebih tertinggal dari Jakarta karena Bekasi sudah bagian dari Jakarta itu sendiri, tapi apa gunanya status itu untuk kesejahteraan warganya?.

Perbincangan mengenai perpindahan Kota Bekasi menjadi Jakarta Tenggara ini pada akhirnya menjadi kewenangan penuh pemerintah pusat untuk menentukan, namun narasi yang berkembang di masyarakat rupanya tidak selesai sampai di situ. 

Polarisasi setuju dan tidak bukan hanya sebatas pro dan kontra, tapi sudah berkembang ke mana-mana. Pro dan kontra pada dasarnya bagus selama masih dalam koridor konstruktif, lain daripada itu sebaiknya dikembalikan ke forum silaturahmi dan persaudaraan.

Bekasi sudah mengalami banyak macam perpindahan administrasi daerah, kalau tidak ada nilai lebihnya bagi masyarakat lalu untuk apa pengalaman seperti itu diulangi lagi? jangan sampai menjadi petualangan yang buang-buang waktu dan biaya. 

Saya saat ini masih melihat-lihat saja, tidak mendukung dan cenderung menolak, tapi apalah gunanya? saya hanya warga kabupaten Bekasi yang keadaanya tidak sebaik Kota Bekasi. Jelas saya tidak akan pernah setuju kalau Kabupaten Bekasi ikut-ikutan latah ingin menjadi bagian dari DKI :)

Terlepas dari itu semua, diskusi kita sebagai masyarakat tentang perpindahan administrasi Kota Bekasi yang akan kembali menjadi Batavia En Ommelanden ini cukupkan di "setuju atau tidak saja". Apapun alasannya patut dihargai. Selebihnya serahkan hal seperti ini kepada para wakil rakyat dan pimpinan daerah, mereka memang digaji untuk memikirkan hal-hal seperti ini, ya kan?.


Menjawab Pertanyaan "Penting Atau Tidak Penting?"

Kopi Hainam Jakarta
 Kopi Hainam Jakarta 
Perbincangan santai saat ngopi sore ini seperti biasa, mengalir tanpa pola, sambung menyambung sampai akhirnya waktu menjelang magrib datang.

Istilah "zaman susah" atau "zaman sulit" sudah lama saya tidak dengar. Kembali terdengar ketika salah satu kawan sedang flashback masa lalunya dengan kalimat "dulu saat di zaman susah".

Saya paham istilah itu dimaksudkan atau hanya ungkapan saat-saat ybs sedang menjalani masa-masa mudanya yang tampaknya tidak lebih buruk dari yang saya alami. 

Siklusnya mirip, lulus sekolah (SMA), menganggur, kuliah, menganggur lagi lalu keluar masuk pekerjaan hingga akhirnya bertahan pada profesi yang sampai sekarang masih dijalani.

Saya sendiri saat flashback masa-masa itu lebih suka menyebut dengan istilah "masa revolusi fisik" atau "zaman perjuangan", karena keadaan situasi dan kondisi saat itu mengharuskan saya menjalani hidup dengan sederhana dan prihatin.

Tapi apakah tepat menyebut masa-masa itu adalah "zaman susah?". Bagi saya tidak ada zaman susah atau zaman senang, semua sama saja dan punya tantangannya sendiri.

Dulu kita berjuang melamar pekerjaan sana-sini, keluar masuk dan mencoba berbagai profesi hingga akhirnya bisa kredit rumah, kredit kendaraan dan lain sebagainya. 

Sekarang pun belum selesai perjuangan, anak-anak semakin besar sehingga semakin banyak kebutuhannya. Kesehatan sudah semakin menurun sehingga mulai sering bolak-balik klinik atau rumah sakit dan seterusnya.

Kalau mau berpikir tentang zaman susah, yah menurut saya baik dulu maupun sekarang tidak ada bedanya, sama-sama zaman susah, hanya beda tantangan yang dihadapi. Begitu juga kalau kita bicara "zaman senang", baik dulu dan sekarang kita bisa menikmati semua dan bersenang-senang.

Berbicara soal kesenangan hidup itu benar-benar sulit mencari standar bakunya. Semua berpulang kepada pribadi masing-masing, kepada standar kebutuhan, gaya hidup, persepsi masing-masing dll.

Ada yang memiliki standar hidup sederhana dengan kebutuhan hidup yang sederhana pula, mereka akan senang jika kebutuhan mereka yang sederhana itu sudah terpenuhi, lebih dan kurangnya itu sudah menjadi rahasia Ilahi. 

Demikian juga ada yang punya standar hidup yang tinggi, dia akan senang jika keinginannya tersebut terpenuhi. Selama dia bisa mengukur kemampuan diri sendiri dan dapat memenuhinya sah-sah saja memiliki target-target hidup yang mungkin bagi orang lain berlebihan.

Buat saya semua kembali ke prioritas, dulu waktu belum paham teori SWOT, 4 Kuadran waktu Penting dan genting hidup saya mengalir bukan dengan tanpa beban. Prioritas-prioritas tetap ada sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan ekonomi.

4 Kuadran waktu Penting dan genting

Menjadi pengamen dan tukang bangunan saya lakukan karena pada saat itu, situasi dan kondisi yang memungkinkan hanya itu. Pastinya mau kerja kantoran atau jualan, tapi belum ada kesempatan seperti itu.

Tapi ternyata setelah dijalani, mengamen itu membuka peluang saya untuk mengenal banyak karakter orang, belajar membaca bahasa tubuh dan yang lebih penting belajar mengenal dunia entertainment kecil-kecilan.

Dari pengalaman sebagai tukang bangunan juga saya belajar yang namanya teamwork, sedikit teknik sipil, jadi tau pentingnya profesi arsitek dst.
Penting nggak penting, buat saya pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman seperti itu membuat saya lebih tertarik lagi untuk mengembangkan wawasan dan pengetahuan tentang segala hal. Tapi kalau ditanya, apa semua itu penting? 
Kalau menurut saya, pertanyaan "penting atau tidak" adalah pertanyaan relatif yang akan berpulang ke prioritas, nilai-nilai, situasi dan kondisi masing-masing, sehingga jawabannya bisa berubah seiring berubahnya prioritas hidup seseorang.

Soal prioritas ada baiknya kita mengenal tentang Teori Hierarki Kebutuhan dari Abraham Maslow seperti yang saya bahas di tulisan puasa sebagai vaksinasi virus akal budi.
Teori Hierarki Kebutuhan Abraham Maslow
Namun begitu kalau pertanyaan "penting atau tidak" perlu di jawab maka jawaban saya adalan PENTING tapi TIDAK GENTING. Penting tapi tidak genting berarti masuk ke kuadran 2. 

Aktivitas di kuadran 2 memiliki ciri: pencegahan, aktivitas kapasitas produksi, pengembangan hubungan, pengenalan peluang baru, perencanaan, rekreasi dst. Hasil dari kegiatan di kuadran dua antara lain: visi, perspektif, keseimbangan, disiplin, kontrol, beberapa krisis. Demikian menurut teorinya, prakteknya silakan resapi masing-masing.

Kalau orang lain menganggap itu tidak penting, maka anggapan seperti itu boleh dipertimbangkan tapi bukan untuk diperdebatkan. :)

Begitu saja dulu catatan akhir pekan ini.

Salam



Hanya Lulusan SD, Tapi Nabungnya Rp100 Juta per Bulan

Udang Galah Hanya Lulusan SD, Tapi Nabungnya Rp100 Juta per Bulan

Karena hanya lulusan SD, Si Bapak tidak paham cara menghitung omzet. Tapi ia mengaku dapat menabung minimal Rp 100 juta per bulan dari usahanya. 

Saya baca informasi itu di Tabloid Kontan, tak lama setelah saya memutuskan tidak bergabung dengan Si Bapak pada tahun 2002 lalu, dan kemudian memilih menjadi pegawai negeri dengan gaji pokok pertama sebesar Rp 608 ribu per bulan.

Dengan gaji Rp 608 ribu per bulan, bisa menabung Rp 100 juta setelah kerja berapa bulan? Ratusan bulan! Hahaha...

Sebagai perantau dari Tasikmalaya, si Bapak orangnya ulet. Saat saya hendak bergabung di bisnis budidaya udang galahnya, beliau sudah beberapa tahun memulai usaha itu. 

Kolamnya ada beberapa. Jika tidak salah ingat, dalam satu hamparan terdapat 5 kolam ukuran besar dan beberapa kolam kecil-kecil. Bersama keluarganya, beliau mengontrak rumah sederhana tidak jauh dari kolamnya itu.

Skenarionya, dengan bimbingannya, saya akan mencari lokasi lain untuk membudidayakan udang galah. Setelah mensurvei beberapa lokasi, akhirnya dapat juga kolam seluas 1 hektar yang bisa disewa selama 5 tahun. 

Tempatnya di kiri jalan arah Gunung Kidul dari Kota Jogjakarta.

Uang sewa sudah ada. Bahkan modal buat 5 kali menebar benur pun sudah tersedia. Kebetulan ada penyandang dana yang bersedia memodali saya. Tetapi akhirnya, saya memutuskan mundur.

Si Bapak tentu saja kecewa. Karena dia bermaksud menjadikan saya konsumen benur pertama dari hatchery yang tengah dia rintis bersama partner bisnisnya yang lain, yaitu Pak Pur.

Pemodal saya, yang berhubungan baik dengan si Bapak, tetapi lebih mempercayai saya sepenuhnya untuk bisnis ini, juga penasaran. Saya sampaikan kepadanya, bahwa bisnis ini tidak cukup layak, bukan karena tingkat kesulitannya.

Bahkan saya mungkin bisa menghasilkan panen lebih besar, karena calon istri saya lulusan Biologi Lingkungan, yang mungkin akan menemukan inovasi enteng-entengan setelah beberapa kali penanaman benih.

Masalah terbesarnya justru pada pasar yang terbatas. Jika saya bergabung, niscaya hasil produksi akan bertambah signifikan dan berpengaruh buruk pada harga komoditas.

Permintaan pasar terbesar saat itu dari Pulau Bali. Dan sepertinya sedikit sulit mengembangkan pasar di luar pulau itu, karena harga udang galah pada saat itu yang relatif lebih tinggi dibandingkan udang jenis lainnya.

"Informasi intelijen" juga membenarkan bahwa Si Bapak sudah berutang ke supplier pakan selama berbulan-bulan. Jadi wajar banget kalo saya memutuskan mundur dan mengembalikan modal yang sudah sempat berpindah ke tangan saya.

Lalu Bom Bali jilid I meledak menjelang akhir tahun 2002. Pada waktu itu saya sedang mempersiapkan diri melepas beberapa usaha di Jogjakarta karena harus hijrah ke Jakarta pada bulan November.

Yang langsung terbayang di benak saya saat bom jahanam itu meledak adalah Si Bapak yang telah kehilangan pasar terbesarnya. Sungguh tidak terbayangkan kesulitan yang harus dihadapi Si Bapak dan usaha udang galahnya. Sedih banget rasanya hati ini. 

Meskipun tidak pernah lagi berbalas sapa secara langsung (pada 2003-an saya masih bolak-balik Jakarta-Jogjakarta), saya mendapat kabar bahwa ternyata Si Bapak berinovasi out of the box.

Alih-alih mencari pasar alternatif sebagai pengganti Pulau Bali, ia menciptakan pasarnya sendiri. Pasarnya yang hancur diterjang bom memberinya ide untuk menjual sendiri hasil budidayanya.

Di atas kolam-kolamnya dia bangun dangau-dangau yang dia sebut sebagai Gubug Makan. Menu utamanya, tentu saja udang galah yang ditangkap langsung dari kolam. Udang galah yang segar dipadu dengan keahlian istrinya memasak melengkapi keunikan Gubug Makan tersebut.

Orang-orang mulai berdatangan. Tertarik mencicipi, lalu mengajak orang-orang yang lain, sehingga dalam waktu yang tidak terlalu lama, Si Bapak tidak lagi dipusingkan tentang ke mana dia harus menjual udang-udangnya.

Puncaknya, tentu saja saat Si Bapak mulai terkenal dan diwawancara media massa. Tabloid Kontan yang saya baca salah satunya.


Gubug Makan Danau UI

Menabung Rp 100 juta per bulan? Woouw....

Saya sendiri ikut bersenang hati membaca kesuksesan Si Bapak. Terbukti sudah, saya yang lulusan UGM kalah kreatif dengan Si Bapak yang hanya lulusan SD.

Dan, percaya atau tidak. Cabang pertama Gubug Makan Si Bapak di bagian barat pulau Jawa (sebelum puluhan cabangnya kemudian), dibuka di daerah yang disebut Danau UI. Iyaaa... Danaunya Universitas Indonesia.

Dari fakta ini saya bersyukur karena UGM tidak memiliki danau. Coba kalau UGM punya danau dan Si Bapak buka cabangnya di situ, waduh... 

Saya yang lulusan UGM, yang akhirnya “cuma” jadi pegawai negeri, pasti hanya bisa tersenyum pahit. 
Sepahit... pahit... pahit.. empedu!

Jakarta, 29 Juli 2019
Penulis: HERI WINARKO