Sttt… Saya Pernah Jadi Tukang Sampah

Kata orang, hadiah terbaik dari kerja keras bukan dilihat dari apa yang didapatkan, tapi menjadi apa dia berkat kerja kerasnya. Quote di atas membuat saya ingin cerita sedikit kisah masa lalu yang mengajarkan saya apa arti kerja keras. Saat itu memang saya tidak mendapatkan apa-apa kecuali sedikit uang lelah, tapi pengalaman itu membuat saya bisa membedakan antara kemalasan dengan

Lirik, Chord dan Terjemahan Lagu Bima: Sapa Moti Malingi – La Hila Band

Intro :  Am ~ E ~ Dm ~ E ~         Am ~ E ~ Dm ~ E ~ Am        E             F        C Nahu ma lao aka rassa dou Ku kan pergi ke negeri orang Dm    Am           E        Am Lao sakolah lao ngupa ilmu Pergi sekolah pergi mencari ilmu Am               E           F       C Nggomi nde ari taka lembo ade Wahai adinda tabahkanlah hatimu Dm         Am             E          Am

Lirik, Chord dan Terjemahan Lagu Bima: Sapa Moti Malingi – La Hila Band

Intro :  Am ~ E ~ Dm ~ E ~         Am ~ E ~ Dm ~ E ~ Am        E             F        C Nahu ma lao aka rassa dou Ku kan pergi ke negeri orang Dm    Am           E        Am Lao sakolah lao ngupa ilmu Pergi sekolah pergi mencari ilmu Am               E           F       C Nggomi nde ari taka lembo ade Wahai adinda tabahkanlah hatimu Dm         Am             E          Am

THE TWO POPES: Sisi Manusiawi Dua Orang Paus

THE TWO POPES: Sisi Manusiawi Dua Orang Paus  Netflix Movie THE TWO POPES  Karena bermain petasan dan meniup terompet katanya dilarang oleh Tuhan, tahun baruan  2020 nanti malam saya habiskan dengan menonton film The Two Popes saja. Ini film bagus. Menunjukkan sisi lain 2 orang paus yang selama ini dikenal berseberangan dalam banyak hal. Sepeninggal Paus Yohanes Paulus II, 115 Kardinal

Liburan Akhir Tahun di Jogja Bikin Happy

28 November pagi saya berangkat dari Gambir dengan kereta Taksaka yang berangkat jam 08.30. Pemandangan sawah nan hijau mulai terlihat setelah melewati Bekasi, lalu kereta mampir di Cirebon, Purwokerto, Stasiun Kutoarjo (Purworejo) lalu tiba di Stasiun Tugu Yogyakarta sore sekitar jam 16:30. Ada yang bilang seharusnya Taksaka berhenti juga di Stasiun Kebumen, tapi seingat saya enggak, atau

14 Desember: Mengenang Balas Dendam 47 Ronin dari Ako

Saat Algernon Bertram Freeman- Mitford, Lord Redesdale pertama kali menerbitkan Tales of Old Japan pada tahun 1871, dia menghadirkan kepada para pembacanya salah satu cerita sejarah yang sangat dicintai di Jepang:" Insiden Ako", alias kisah 47 rōnin. Kisah yang berdasarkan kejadian nyata itu dimulai dengan kisah seorang penguasa daimyo di masa feodal Jepang, Asano Naganori/Asano Takumi no

14 Desember: Mengenang Balas Dendam 47 Ronin dari Ako

Saat Algernon Bertram Freeman- Mitford, Lord Redesdale pertama kali menerbitkan Tales of Old Japan pada tahun 1871, dia menghadirkan kepada para pembacanya salah satu cerita sejarah yang sangat dicintai di Jepang:" Insiden Ako", alias kisah 47 rōnin. Patung 47 Ronin di Ako Jepang.   Kisah yang berdasarkan kejadian nyata itu dimulai dengan kisah seorang penguasa daimyo di masa feodal Jepang,

Fajar Kristiono: Kalau Enggak Bisa Bokeh, Gue Main di Detail

Fajar Kristiono: Kalau Enggak Bisa Bokeh, Gue Main di Detail

Sabtu pagi 7 Desember 2019, saya berkesempatan menghadiri acara Marathon Workshop Fotografi yang digelar oleh Komunitas FOSE (Fotografi Secret) di Aeon Mall Cakung.  Dalam kesempatan ini saya menikmati banyak foto-foto anggota FOSE yang dipamerkan. Sayangnya saya hanya berkesempatan mengikuti workshop dari 1 pemateri dari 11 pemateri yang akan dihadirkan, yaitu materi "Lightning is easy" dari Kang Fajar Kristiono.
Pameran foto member FOSEdi Aeon Mall Cakung Desember 2019
Pameran foto member FOSE
Pada postingan sebelumnya: Marathon Workshop Fotografi Gratis Dari 11 Fotografer Kondang, saya sudah menyebutkan nama-nama ke-11 fotografer  yang menjadi pemateri dalam workshop fotografi tersebut. Beliau-beliau itu adalah Arbain Rambey, Hendra Lesmana, Ferry Ardianto, Rezki Sterneanto, Ully Zoelkarnain, Fajar Kristiono, WS Pramono, Dody S. Mawardi, Lateevhaq, Ridha Kusumabrata dan Darwis Triadi. 

Bagi yang belum kenal, Kang Fajar Kristiono ini adalah seorang fotografer profesional yang dikenal kerap mengabadikan karya fotografi portrait yang dramatis dan mengesankan. Prestasinya dalam bidang fotografi membuat salah satu merek kamera global memasukkannya dalam list "Sony Alpha Professional Photographer" bersama fotografer beken lain dari seluruh dunia. 

Pada hari kedua workshop yang akan digelar selama 3 hari ini, Kang Fajar bukan hanya memberikan workshop mengenai pencahayaan dalam fotografi, tapi juga berbagi cerita pengalaman untuk memotivasi fotografer pemula di antara para hadirin dan juga banyak berbagi tips memotret berdasarkan pengalamannya.

Kang Fajar Kristiono bercerita mengenai awal-awal ia belajar mengenal fotografi, bergabung dengan komunitas hingga akhirnya menjadi fulltime fotografer seperti sekarang ini. Awalnya ia terus mencoba memaksimalkan gear (peralatan memotret) yang dimilikinya, kemudian seiring perjalanan karir fotografinya yang makin berkembang, barulah ia meng-upgrade peralatan yang digunakan.

"Jangan terlalu terstigma dengan gear. Gue juga memulai dengan kamera dan lensa kit standar bawaan pabrik," ungkapnya memotivasi para hadirin. "kalau kamera gue enggak bisa bokeh, maka gue akan bermain detail".

Dimulailah eksplorasinya, bergabung dengan komunitas foto, mempelajari teknik-teknik fotografi secara otodidak hingga akhirnya memiliki style dan karakter yang ia rangkum dalam pelatihan-pelatihan fotografi dengan tema "Sense Of Color".

"Cari karakter foto yang berbeda lalu konsisten," ungkapnya ketika menjelaskan mengenai bagaimana ia membangun stylenya. "Harus berani egois sedikit dan berani mengajak model untuk berpose di lokasi yang berbeda, dan jangan ragu untuk mencetak hasilnya, agar kita tahu dan paham perbedaan tampilan di layar dan hasil cetaknya". Mengenai hasil cetakan itu menurutnya, juga bisa menjadi portofolio fisik yang bisa melengkapi portofolio online baik di media sosial atau di halaman-halaman internet.

Yang menarik dalam workshop ini Kang Fajar langsung mempraktekkan teori-teori yang telah ia sampaikan dan menjelaskan workflow yang sering ia terapkan. Baik memilih angle, mengukur kekuatan cahaya, setting-an kamera hingga di mana letak flash yang baik.
Praktek memotret dengan bantuan artificial lightning (flash)
Workflow atau langkah-langkah yang Kang Fajar lakukan dalam sesi pemotretan kalau tidak salah dengar, pertama-tama ia akan memotret landscape lokasi pemotretan tanpa model. 

"Kamera di-setting dengan ISO rendah agar foto tajam, dan angka aperture atau F yang besar agar foto lebih detail. Jika ISO dan F sudah dapat maka selebihnya untuk mendapatkan ambience yang sesuai cukup mainkan di shutter speed, jangan ubah setting-an ISO dan F."

Mendengar penjelasan lisan seperti itu, saya sebenarnya kurang paham apa yang dimaksud. Saya hanya mencatat dan menuangkannya kembali menjadi tulisan sambil meraba-raba apa sebenarnya yang dimaksud oleh Kang Fajar dengan penjelasan yang sangat teknis itu :)

"Kalau ada yang kurang jelas, materi-materi ini semua sudah ada di channel youtube gue," katanya. 

Ah, rupanya Kang Fajar sudah punya kunci cadangan untuk orang-orang awam yang baru belajar mengenal fotografi seperti saya.

Silakan berkunjung ke Youtube Kang Fajar, di sana ada 62 video yang bisa kita tonton untuk belajar lebih jauh mengenai materi-materi fotografi. Klik di SINI untuk berkunjung ke channel youtube beliau.

Setelah sesi materi selesai, Kang Fajar masih melayani pertanyaan-pertanyaan dari beberapa peserta yang memburunya hingga ke luar area acara. Dengan ramah beliau menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dan kembali memberikan tips-tipsnya. 

Yang sempat saya tangkap Kang Fajar bilang, "Hobi jangan terlalu pakai nafsu, musti dihitung benefitnya."  Nah, ini kena banget, saya yang baru kenal fotografi dan belajar motret rasanya mau beli ini itu, untung saja uang pas-pasan jadi gak kebeli deh gear yang mahal-mahal itu :D 
Kang Fajar Kristiono menjawab pertanyaan hadirin seusai materi
Kang Fajar Kristiono menjawab pertanyaan hadirin seusai materi
Terima kasih Kang Fajar atas pengetahuan dan tips-tipsnya. Terima kasih juga kepada Komunitas FOSE, APFI Bekasi sebagai pelaksana event dan juga para sponsor yang telah menjadikan workshop gratis ini terlaksana.

Salam


Berbagai Kemudahan Beli Tiket KAI di Traveloka

Kereta Api banyak dipilih masyarakat karena lebih aman, nyaman, dan terjangkau. Aman dalam artian memiliki jalur sendiri jadi tidak perlu ada macet atau berebut jalan dengan kendaraan lain yang bisa terjadi di alat transportasi darat lainnya. Kereta Api juga dinilai aman karena walaupun dalam kecepatan yang tinggi getaran yang ada didalamnya tidak terasa sehingga tidak mengganggu waktu

Belajar Sejarah dan Seni Budaya Mataram di Museum Ullen Sentalu Jogja

Museum Ullen Sentalu Jogja

"Dimohon untuk tidak memotret benda-benda koleksi museum."

Kata-kata dari pemandu tur saat awal memasuki Museum Ullen Sentalu ini sedikit mengganggu saya, tapi setelah tur museum selesai, saya memahami mengapa larangan memotret diberlakukan. Iya, saya memang melanggar peraturan dengan memotret beberapa obyek yang menarik saat pemandu sudah meninggalkan lokasi, seperti lukisan Dewi Rengganis yang cantik, Lukisan Tari Serimpi Sari Tunggal dan lain-lain, tapi kemudian saya menghapusnya saat meninggalkan museum :)
Jalan masuk Museum Ullen Sentalu Jogja
Pintu masuk ke Museum Ullen Sentallu Jogja
Museum Ullen Sentalu ini berada di utara kota Yogyakarta, tepatnya di Jalan Boyong KM 25, Kaliurang Barat, Sleman, Yogyakarta. Saat memasuki Ullen Sentalu, pemandu dengan lugas menerangkan bahwa nama Ullen Sentalu merupakan singkatan dari kalimat "Ullating blencong sejatine tataraning lumaku" yang bermakna "Pancaran cahaya lampu blencong menjadi petunjuk dalam melangkah dan meniti kehidupan". Kemudian ia menjelaskan bahwa lampu blencong adalah lampu untuk penerangan layar panggung saat pertunjukkan wayang kulit. 


Harga Tiket Museum Ullen Sentalu Jogja
Oh iya, tiket masuk Museum Ullen Sentalu di tahun 2019 sebesar Rp 40.000 untuk pengunjung domestik dewasa dan Rp 20.000 untuk anak. Untuk pengunjung mancanegara dewasa dikenakan biaya masuk sebesar Rp 100.000 sementara pengunjung mancanegara anak Rp 60.000. Museum Ullen Sentalu buka pada hari Selasa-Jumat pukul 08.30-16.00 WIB, Sabtu-Minggu pukul 08.30-17.00 WIB, dan tutup pada hari Senin.

Fasilitas di Museum Ullen Sentalu cukup lengkap. Berikut berbagai fasilitas Museum Ullen Sentalu:
  • Pemandu wisata yang sudah termasuk di harga tiket masuk;
  • Papan Informasi lengkap disetiap koleksi museum;
  • Denah komplek museum;
  • Toilet;
  • Ullen sentalu restaurant/Beukenhof Restaurant;
  • Toko suvenir MUSé Boutique;
Sepanjang tur museum, kata-kata ramah dan sopan terus saja mengalir menjelaskan dan menjawab pertanyaan pengunjung walau kadang pertanyaan-pertanyaan yang diajukan bernada tidak serius. Saya rasa pemandu ini mestinya seorang pemandu profesional yang benar-benar paham seluk beluk koleksi museum yang diresmikan pada 1 Maret 1997 ini. 

Pemandu tur wisata museum dapat menjelaskan dan menceritakan filosofi, sejarah dan menjawab sesuai konteks segala macam pertanyaan yang mencecarnya. Seperti saat pemandu menjawab pertanyaan, mengapa di dalam lukisan Tari Serimpi hanya dilakukan oleh satu orang penari saja, padahal Tari Serimpi selalu dimainkan oleh 4 penari?, yang kemudian dijawab bahwa lukisan Tari Serimpi Sari Tunggal itu melukiskan saat Gusti Nurul menari Tari Serimpi seorang diri (sehingga dinamai Tari Serimpi Sari Tunggal) dalam resepsi pernikahan Putri Juliana di Belanda pada tahun 1973. Pada saat itu Gusti Nurul pergi ke Belanda tanpa ditemani para pemain gamelan, sehingga beliau menari dengan diiringi musik gamelan yang dimainkan secara langsung dari istana Mangkunegaran, suara gamelan yang mengiringi Gusti Nurul menari di Belanda itu disiarkan oleh Solosche Radio Vereeniging lewat transmisi stasiun radio Malabar.

Namun kemudian pertanyaan lain muncul, mengapa dalam lukisan itu ada para pemain gamelan? Kalau tidak salah ingat, pemandu menjawab dengan jawaban diplomatis bahwa lukisan itu adalah karya seni interpretasi sang pelukis, bukan untuk memotret momen saat Gusti Nurul menari di Belanda yang diiringi suara gamelan dari Indonesia.

Saat keluar dari ruangan-ruangan museum, hawa pegunungan yang sejuk menggantikan hawa dingin dari pendingin ruangan (AC), sayup-sayup suara gamelan gending Jawa terdengar membuat suasana nyaman dan menenangkan. Berjalan menyusuri lorong sempit di antara dinding batu menuju ruangan berikutnya seperti memberi pengalaman melintas lorong rahasia dalam keraton, untuk memintas jalan biasa yang formal. 

Ruangan-ruangan lainnya berisikan koleksi batik khas keraton Yogya dan Solo, 3 ruangan dari 9 ruangan yang ada berisikan koleksi batik. Buat saya yang buta soal batik hanya mendengarkan penjelasan pemandu mengenai batik keraton Ratu Mas, batik pesisiran, peraturan penggunaannya, makna dari batik tersebut dan seterusnya. 
Museum Ullen Sentalu Jogja
Kolam teratai di dalam areal Museum Ullen Sentalu
Walaupun Museum Ullen Sentalu adalah museum khusus seni dan budaya Jawa yang menyimpan peninggalan dari zaman Kerajaan Mataram yang merupakan cikal-bakal Keraton Ngayogyakarta dan Kasunanan Surakarta, tapi ada satu ruangan yang isinya adalah surat-surat yang ditulis oleh para kerabat dan teman-teman GRAj Koes Sapariyam pada tahun 1939-1947. Ruang tersebut diberi nama Ruang Syair (Balai Sekar Kedaton). GRAj Koes Sapariyam konon dulunya lebih dikenal dengan sebutan Tineke, yang kisah cintanya tak direstui orang tua. Para kerabat serta sahabatnya banyak mengirim surat penyemangat untuknya, baik berbahasa Indonesia dan bahasa Belanda. Namun pada akhirnya, Putri Tineke ini melepas status ningratnya demi untuk mengejar cintanya. Mungkin sesuatu hal yang tidak lazim terjadi di masanya.

Ruang lainnya adalah Ruang Seni Tari dan Gamelan serta Ruang Putri Dambaan. Ruang Putri Dambaan menampilkan koleksi foto pribadi putri tunggal Mangkunegara VII, Gusti Nurul dari kecil hingga menikah. Semasa hidupnya, Gusti Nurul pernah hendak dipersunting oleh empat tokoh terkenal, yaitu Soekarno, Sultan Hamengkubuwono IX, Sutan Sjahrir dan Kolonel GPH Djatikusumo. Namun keempatnya ditolak, dan ia dengan yakin memilih sendiri jodohnya untuk menikah dengan seorang tentara berpangkat letnan kolonel yang bernama RM Soerjo Soejarso. Kisah ini juga mungkin hal yang tidak lazim di lingkungan kraton, sepertinya Gusti Nurul melawan tradisi perjodohan dan budaya nrimo seorang perempuan nigrat, entahlah...

Sebelum mengakhiri tur, di ruang terakhir setiap pengunjung akan disuguhkan wedang hangat khas keraton bernama Wedang Ratu Mas. Nama Ratu Mas diambil dari nama permaisuri Pakubuwono X yang dikenal cantik. Minuman ini mirip wedang jahe pada umumnya tapi dengan aroma pandan, konon wedang ini terbuat dari bahan-bahan seperti jahe, kayu manis, sereh, hingga pandan. Cukup untuk menghangatkan tubuh di tengah kesejukan hawa dataran tinggi Jogja.
Kalau generasi kini masih terus mengabaikan budaya, maka kelak relief Candi Borobudur itu bukan hanya miring... tapi ambruk.
Relief Candi Borobudur di Museum Ullen Sentalu Jogja
Relief miring Candi Borobudur simbol keprihatinan
Setelah mengakhiri tur yang kurang lebih memakan waktu 1 jam setengah, maka pengunjung akan tiba di sebuah area lapang yang pas untuk foto bersama dengan latar belakang replika relief candi Borobudur yang sengaja dipasang miring sebagai perlambang keprihatinan terhadap generasi sekarang yang abai terhadap budaya bangsanya. Pemandu menegaskan, kalau generasi kini masih terus mengabaikan budaya, maka kelak relief Candi Borobudur itu bukan hanya miring, tapi ambruk. Bagi saya itu lelucon satir yang menohok, entah kalau bagi Anda.

Ullen Sentalu benar-benar membuat saya "merasakan dan mengalami", pengalaman ini tidak akan bisa disampaikan melalui foto-foto yang secara sembunyi-sembunyi saya ambil. Akan lebih baik jika foto-foto itu saya hapus dan orang-orang melihat serta mendengarkan langsung penjelasan dari pemandu tur, sehingga pesan-pesan yang ingin disampaikan oleh pengelola museum ini akan tersampaikan dengan lebih lengkap. 

Overall, dengan "pengalaman" seperti itu, maka kalau saya tidak menghapus foto-foto koleksi  Museum Ullen Sentalu lalu kemudian memamerkannya di sosial media, maka saya telah menyabotase tujuan mulia berdirinya museum ini, dan telah berperan serta merubuhkan replika relief Candi Borobudur yang sekarang sudah miringSaya tidak mau seperti itu, saya yakin Anda pun demikian jika benar-benar mencintai seni budaya negeri ini :)

Datanglah dan upgrade wawasan serta pengetahuan Anda secara langsung, jangan dari foto-foto yang tersebar di sosial media. Mungkin itulah tujuan pihak pengelola museum melarang pengunjung untuk merekam penjelasan pemandu dan alasan pelarangan memotret koleksi museum.
Patung di Museum Ullen Sentalu Jogja
Patung di pintu keluar Museum Ullen Sentalu Jogja
Dari museum ini saya belajar sedikit sejarah Mataram, perjanjian Giyanti yang membagi Mataram menjadi Keraton Solo dan Keraton Jogja saat ini, serta tokoh-tokoh dan kehidupan pribadinya. 

IMO, museum ini sepertinya lebih fokus pada tokoh-tokoh perempuan dari kedua keraton itu. Enggak heran kalau ada yang beranggapan museum ini seperti museum yang mengabadikan pergerakkan perempuan keraton. Tapi itu hanya opini pribadi saja, bisa jadi kesan yang Anda dapatkan akan berbeda saat mengunjungi museum yang dikelola oleh Yayasan Ulating Blencong ini. ☺️ 

Salam dari Jogja yang selalu istimewa.