"Mencoba Ada Perpustakaan" ala Perkabu Kaliabang


"Biarkanlah dirimu dibentuk oleh tarikan yang kuat dari sesuatu yang kamu cintai." ~ Rumi.

Tidak ada yang istimewa dari "Perpustakaan Kampung Baru" atau yang disingkat PERKABU di Kaliabang Tengah, Kecamatan Bekasi Utara, Kota Bekasi ini.
Mencoba Ada Perpustakaan ala Perkabu Kaliabang
Dalam ruangan yang dihiasi berbagai sticker itu, terdapat koleksi buku seadanya dengan beragam topik dan genre bercampur dalam susunan yang rapih di beberapa lemari buku, sepertinya semua buku adalah hasil donasi jaringan penyumbang buku di Perpustakaan Jalanan (Perpusjal) Bekasi.

Di jendela depannya tertempel stiker kontras berlatar merah dengan tulisan "MENCOBA ADA PERPUSTAKAAN". Sebuah pengumuman jujur dan sederhana untuk menjelaskan apa yang ada di PERKABU.
Mencoba Ada Perpustakaan ala Perkabu Kaliabang
Penggiat atau pengurus PERKABU ini gak lain adalah si pemilik akun Facebook: "Bayu Nggak Penting". Pria sederhana yang tidak mudah mengorek keterangan apapun darinya.

"Sedih itu bila dinilai baik, padahal belum bisa berbuat baik," ungkap Bayu menggambarkan kegelisahan dan kekhawatiran akan publikasi yang tidak proporsional pada diri dan aktivitasnya.

Selasa, 25 Desember 2018 siang, saya dan beberapa teman berkunjung ke PERKABU sekadar silaturahim dan menunaikan beberapa kepentingan. Sempat bingung juga masuk ke dalam Jalan Haji Hamdani, karena ini kali kedua saya datang, agak lupa di mana pastinya lokasi Perkabu ini.
Diaz SAJUBU
Diaz SAJUBU
Diaz mengantarkan buku donasi dari komunitas Sajubu (satu Juta Buku) yang diketuainya, Meita dan Alan hendak mengantarkan sebuah buku kompilasi di mana Bayu menjadi salah satu kontributor dalam buku terbitan Jabaraca berjudul Lentera. 

Sedangkan saya? Seperti biasa, sok sibuk motret segala macam dan sotoy mendefinisikan hal-hal yang sudah jelas dan gak perlu didefinisikan lagi, modus andalan untuk menutupi niat numpang ngopi.

Sekitar 8 anak di bawah umur kemungkinan masih usia SD berkunjung untuk mewarnai dan bermain di Perkabu. Bayu sedikit terselamatkan dan meninggalkan saya yang sudah ngerepotin dirinya demi segelas kopi pahit.
Mencoba Ada Perpustakaan ala Perkabu Kaliabang
Di pos samping rumah ini juga sudah berkumpul sekitar 7 anak usia SMP yang meminta Bayu mengajak mereka melakukan "Kuis Cerdas" seperti yang biasa mereka mainkan, semacam cerdas cermat ala Perkabu. Belakangan datang seorang perempuan bernama Tika yang membantu Bayu dalam menangani anak-anak remaja super aktif tersebut.

Datang juga Endra menambah seru obrolan  kami di siang itu, khususnya saat Diaz bertanya, "Apa kata yang sering membersamai kata selat?." Rupanya Diaz sedang mencari inspirasi untuk membuat poster kegiatan komunitasnya terkait pasca tsunami Selat Sunda.

Kata "membersamai" ini mungkin lebih tepat kalau diganti dengan "menyertai" atau "mambarengi". Tanya Ivan Lanin aja, yang pasti kata dia "membersamai" ini tidak ada di KBBI, cari aja di twitter-nya ๐Ÿ˜โ˜•.

Gak terasa sudah sekitar 4 jam saya ngerecokin aktivitas sang pemilik distro "Suckit Stuff" yang menjual berbagai merchandise "under ground" ini.
Mencoba Ada Perpustakaan ala Perkabu Kaliabang
Kuis Cerdas ala Perkabu
Tidak ada yang istimewa di sini. Anak muda yang peduli dengan pendidikan anak-anak lingkungannya melakukan hal biasa, rela menyediakan ruang rumahnya sebagai tempat beraktivitas bagi anak-anak tetangganya. Semua orang juga mungkin bisa melakukan apa yang Bayu lakukan, tapi yang pasti gak semua orang mau melakukannya.

Jangan berharap Bayu akan senang hati menjelaskan apa yang dia lakukan untuk saya publikasikan. Mendapati saya bertanya macam-macam saja dia menjadi kurang nyaman, sama kurang nyamannya jika saya dipaksa menjelaskan apa-apa yang saya lakukan.

Menuruti kata hati itu menyenangkan dan membahagiakan, sampai saat ada orang yang bertanya macam-macam tentang apa yang kita lakukan itu. Tidak semua minat dan passion bisa dijelaskan dengan kalimat yang sederhana, apalagi untuk dipahami dengan mudah. Toh selama bermanfaat dan tidak merugikan orang lain, yah biarkan saja, sepakat?.

Dalam kehidupan ini kita tidak dapat selalu melakukan hal yang besar. Tetapi kita dapat melakukan banyak hal kecil dengan cinta yang besar.

Di Perkabu tidak ada hal-hal istimewa yang bisa kita harapkan, tapi coba tanyakan pada anak-anak yang riang bermain, membaca, mewarnai, bermain kuis cerdas dst.

Mereka mungkin tidak dapat menjawab dengan sempurna apa pertanyaan kita, tapi kedatangan mereka ke PERKABU membuktikan mereka lebih memprioritaskan untuk datang ke Perkabu daripada pilihan lain untuk menghabiskan waktu mereka.

Anak-anak masih jujur dan polos, mereka datang bukan karena kepentingan macam-macam, kalau mereka mau, mereka dapat menggunakan waktu mereka bermain di tempat lain, tapi ternyata mereka memilih bermain di Perkabu bersama teman-temannya yang lain.

Hal itu cukup bagi saya untuk menjelaskan bahwa apa yang tidak istimewa dan biasa-biasa saja bagi kita, mungkin bagi orang lain merupakan sesuatu yang istimewa dan pantas untuk diprioritaskan dibanding dengan yang lain.

Jadi, lakukan saja hal-hal yang menurut kita biasa dan tidak istimewa, selama itu berguna bagi orang lain, mungkin juga itu akan menjadi istimewa buat orang lain.

Tetap semangat Perkabu  ๐Ÿ™๐Ÿ˜โ˜•






Belajar Mewarnai di Sanggar Lukis Cinong Bekasi

Belajar Mewarnai di Sanggar Lukis Cinong Bekasi
Kak Mae mendampingi adik-adik mewarnai
Melihat coretan-coretan di dalam buku pelajaran anak, saya jadi ingat waktu kecil karena sering mendapat teguran akibat suka menggambar (atau lebih tepatnya corat-coret) berbagai hal di buku tulis. Bukan karena tidak ada buku gambar, tapi karena desakan spontanitas.

Bisa jadi menggambar di buku tulis adalah pengisi waktu di sela-sela kebosanan saat pelajaran, semacam "escape" karena sudah tidak konsentrasi mengikuti pelajaran. Hal yang sama masih saya lakukan dalam rapat-rapat atau pertemuan jika sudah mulai tidak dapat menyimak atau sudah "tidak nyambung", yah "like father like son" atau "buah jatuh tidak jauh dari pohonnya". :D

Saat kecil tentu saya tidak paham bahwa kegiatan menggambar dapat membantu meningkatkan kinerja otot tangan sekaligus mengembangkan kemampuan motorik halus. Saat ini kegiatan menggambar bagi saya seperti meditasi atau semacam latihan emosi.
Belajar Mewarnai di Sanggar Lukis Cinong Bekasi
Kegiatan mewarnai bermanfaat untuk anak

Manfaat Belajar Mewarnai Bagi Anak

Manfaat mewarnai bagi anak itu saya kira tidak berbeda jauh dengan manfaat menggambar, malah lebih kaya nuansanya. Walaupun kegiatan tersebut sama-sama menggerakkan tangan dan melatih motorik halus, mewarnai memiliki dimensi yang lebih dalam karena banyak hal yang mesti diperhatikan, seperti memahami batas bidang, memahami warna serta gradasinya dan lain-lain.

Menurut Kak Mae, instruktur di Sanggar Lukis Cinong Bekasi, kegiatan mewarnai juga bertujuan untuk melatih konsentrasi anak agar dapat selalu fokus pada pekerjaannya di tengah aktivitas lain di sekelilingnya.
Mewarnai bertujuan untuk melatih konsentrasi anak agar dapat fokus pada pekerjaannya.
Kemampuan berkonsentrasi dalam berbagai gangguan di sekelilingnya inilah yang nantinya akan bermanfaat bagi anak dalam menyelesaikan apapun yang membutuhkan konsentrasi tinggi.

"Mewarnai itu merupakan wadah dan program bagi anak-anak usia dini untuk mengekspresikan diri, perasaan, ketakutan, maupun imajinasinya," ungkap Kak Mae saat ditanyakan mengenai manfaat belajar mewarnai.


"Mewarnai juga menjadi sarana yang sangat tepat untuk merangsang memori anak, melatih motorik halus dan kesabaran serta mengembangkan kreativitasnya juga melatih keterampilan, namun yang terpenting itu melatih anak untuk bisa percaya diri," lanjut Kak Mae yang menggunakan nama Mae Surahman pada Facebooknya ini.
Galeri Sanggar Lukis Cinong Bekasi
Galeri Sanggar Lukis Cinong Bekasi
Lebih jauh lagi, kita juga dapat mengenal karakter anak melalui kegiatan menggambar dan mewarnai. Seperti diketahui secara umum bahwa warna memiliki hubungan dengan emosi. Kemudian cara anak menarik garis dan menggunakan krayon untuk mewarnai juga mengekspresikan sifat dan karakter mereka.

"Menggambar dan mewarnai dapat menjadi kegiatan yang menyenangkan dan ekspresif untuk menyalurkan kepenatan sehingga meringankan stres pada anak," lanjut Kak Mae yang juga bekerja di Sanggar Lukis Kak Ben sejak 2005.

Prestasi yang diraih Sanggar Lukis Cinong Bekasi setelah 1 tahun berjalan antara lain:

  1. Juara 1, 2, 3 lomba mewarnai Hut Desa Babelan Kota tahun 2017;
  2. Juara harapan 1 lomba mewarnai tingkat kabupaten yang diadakan oleh salah satu merek produk susu;
  3. Juara 1, 2, 3 lomba mewarnai antar sekolah yang diadakan oleh salah satu merek produk susu;
  4. Juara harapan 3 lomba mewarnai yang diadakan oleh grup ISPI Babelan;
  5. Juara 1 lomba mewarnai yang diadakan oleh salah satu gerai minimarket Wisma Asri
  6. Juara harapan 1 lomba mewarnai yang diadakan oleh BTC mall;
  7. Juara 1, 2, 3 lomba mewarnai yang diadakan oleh salah satu gerai minimarket;
  8. Juara 3 lomba mewarnai yang diadakan oleh salah satu gerai fast food di Villa Mutiara Gading 2;
  9. Juara 1 lomba mewarnai tingkat TK yang diadakan oleh SDIT Insan Mulia Tambun Utara;
  10. Juara 3 lomba mewarnai yang diadakan oleh AEON Mall Cilincing; dst.

Ketika ditanyakan apakah Kak Mae memiliki dasar pendidikan khusus di bidang mewarnai atau desain, Kak Mae menjawab halus bahwa dirinya hanya menjalankan hobi dan belajar dari Sanggar.

"Semua berawal dari hobi kemudian lanjut belajar sendiri lalu ikut Sanggar Kaben, dari situ saya mulai menekuni hobi saya terutama dalam seni mewarnai gambar," jelas Kak Mae yang tinggal di wilayah Babelan Kota ini.

"Biarkanlah anak-anak berkreasi sesuai dengan imajinasi mereka. Jangan beranggapan bahwa mewarnai tidak ada manfaatnya jika dibandingkan dengan pelajaran-pelajaran sekolah (akademis)," tutup Kak Mae berpesan kepada masyarakat dan khususnya pada orang tua yang memiliki anak.
***
Belajar Mewarnai di Sanggar Lukis Cinong Bekasi
Mewarnai dapat melatih konsentrasi
Senada dengan penjelasan Kak Mae, Bu Gina Anggraini yang kedua anaknya ikut belajar mewarnai di Sanggar Lukis Cinong Bekasi mengaku bersyukur ada kegiatan belajar mewarnai di Sanggar Lukis Cinong Bekasi yang banyak manfaatnya.

"Alhamdulillah banyak sekali manfaatnya yang saya rasakan untuk anak-anak saya, imajinasi dan kreasi anak saya terus berkembang hingga mengerti memadukan gradasi warna yang sesuai. Begitu juga adiknya sudah dapat membedakan dan memadukan warna-warna sesuai seleranya," jelas Bu Gina yang sehari-hari berprofesi sebagai pengajar di salah satu sekolah di Bekasi.

2 anak saya juga sebetulnya belajar mewarnai dan menggambar dipandu Kak Mae, Alhamdulillah sudah hampir penuh 1 sudut dinding rumah dengan hasil kreasi mereka :)

Menarik juga ngobrol soal manfaat mewarnai bersama Kak Mae yang tidak pernah menolak untuk mendampingi anak-anak untuk belajar mewarnai walaupun yang datang hanya 1 orang ini. Sanggar Lukis Cinong Bekasi ini mulai aktif sekitar bulan Juli 2017 atas permintaan Bang Jamal selaku Ketua Perguruan Silat Cinong Bekasi.

Adapun jadwal belajar di Sanggar Lukis Cinong Bekasi adalah hari Sabtu jam 14.00 sampai dengan 17:30 WIB dan hari Minggu pukul 14.00 sampai dengan 16.00 WIB di Saung Lukis Cinong atau di aula Balai Desa Babelan Kota Kecamatan Babelan, Bekasi.

Untuk informasi lebih lanjut bisa menghubungi Kak Mae: WhatsApp 0812 9528 2925 atau bisa langsung datang ke Saung Perguruan Silat Cinong Bekasi di Jalan Gelora Babelan Rt.018 RW 03 Desa Babelan Kota Kecamatan Babelan Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.





***

Buku Sejarah Bekasi, Sejak Peradaban Buni Ampe Wayah Gini

Buku Sejarah Bekasi, Sejak Peradaban Buni Ampe Wayah Gini
Judul: Buku Sejarah Bekasi, Sejak Peradaban Buni Ampe Wayah Gini.
Penulis: Endra Kusnawan
Penerbit: Herya Media Depok
Genre / Kategori: Sejarah
ISBN: 9786021032640
Tahun Terbit & Cetakan: April 2016/1
Tebal Buku: xvi + 468 hlm. Ukuran 15x23 cm. 
Harga: 110.000.

Kalau selama ini kita sering disuguhkan sejarah Bekasi hanya sekitar masa Revolusi Nasional Indonesia (1945-1949), maka buku ini merangkum banyak fakta sejarah lebih jauh lagi, yaitu sekitar 1000 SM sampai 130 M saat Peradaban Buni dipercaya hidup di daerah Bekasi. 

Setelah kata pengantar dari penulis yang menjelaskan latar belakang dan sistematika penulisan, buku tebal ini kemudian dibuka dengan pembahasan mengenai Toponimi Bekasi. Bagi saya ini pembukaan yang menarik, karena untuk mengetahui asal usul penamaan Bekasi mau tidak mau kita harus menyelami sejarahnya.

Toponimi Bekasi

Toponimi adalah pembahasan mengenai tentang nama tempat, asal-usul, arti, penggunaan, dan topologinya. Bagian pertama kata tersebut berasal dari bahasa Yunani tรณpos yang berarti tempat dan diikuti oleh รณnoma yang berarti nama.

Asal-usul penggunaan nama Bekasi dalam buku ini dirangkum dalam 5 halaman disertai foto-foto peta dan lain-lain. Versi penamaan Bekasi yang dibahas dalam buku ini adalah versi dari Prof. Dr. Raden Mas Ngabehi (Lesya) Poerbatjaraka (1884-1964) yang memang merupakan pendapat paling ilmiah dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademis. 

Poerbatjaraka adalah seorang cendekiawan tidak bertanding soal naskah kuno, seorang putra Indonesia kedua yang memperoleh gelar doktor di Universitas Leiden Belanda bidang Sastra Jawa pada tahun 1926 dengan disertasi berjudul Agastya in den Archipel (Agastya di Nusantara). Setelah masa kemerdekaan beliau menjadi profesor di sejumlah kampus ternama dan beliau mendirikan Fakultas Sastra di Universitas Udayana Bali. 

Poerbatjaraka berpendapat kata Bekasi berasal dari kata Chandrabhaga, kesimpulan ini berdasarkan apa yang tertulis di Prasasti Tugu di Cilincing. Chandrabhaga adalah nama sungai yang digali pada abad ke-5 Masehi oleh Raja Tarumanagara yang bernama Rajadhiraja Yang Mulia Purnawarman. 
Prasasti Tugu memberitakan penggalian Sungai Candrabhaga (Kali Bekasi)
Prasasti Tugu memberitakan penggalian Sungai Candrabhaga (Kali Bekasi)
Prasasti Tugu memberitakan penggalian Sungai Candrabhaga dan Sungai Gomati yang dilakukan Purnawarman pada tahun ke-22 masa pemerintahannya.

Transkrip Prasasti Tugu:
Pura rajadhirajena guruna pinabhahuna khata khyatam purin phrapya. Candrabhagarnavam yayau pravarddhamanadwavincadvatsa (re) crigunaujasa narendradhvajbhunena (bhuten). Crimata Purnnavarmmana prarabhya Phalgune(ne) mase khata krshnatashimithau Caitracukla-trayodcyam dinais siddhaikavinchakai(h). Ayata shatsahasrena dhanusha(m) sacaten ca dvavincena nadi ramya Gomati nirmalodaka pitamahasya rajarshervvidarya cibiravanim.Bhrahmanair ggo-sahasrena(na) prayati krtadakshino.

Terjemahannya:
Dahulu atas perintah rajadiraja Paduka Yang Mulia Purnawarman, yang menonjol dalam kebahagiaan dan jasanya di atas para raja, pada tahun kedua puluh dua pemerintahannya yang gemilang, dilakukan penggalian di Sungai Candrabhaga setelah sungai itu melampaui ibukota yang masyhur dan sebelum masuk ke laut. Penggalian itu dimulai pada hari kedelapan bulan genap bulan Phalguna dan selesai pada hari ketiga belas bulan terang bulan Citra, selama dua puluh satu hari. Saluran baru dengan air jernih bernama Sungai Gomati, mengalir sepanjang 6.122 busur melampaui asrama pendeta raja yang di pepundi sebagai leluhur bersama para brahmana. Para pendeta itu diberi hadiah seribu ekor sapi.

Poerbatjaraka mengurai kata Candrabhaga menjadi dua kata, yakni Chandra yang berarti โ€œbulanโ€ dan Bhaga yang bermakna; "bagian". Diterangkan juga teori bagaimana kata Chandrabhaga kemudian menjadi Bhagasasi, kata "candradalam bahasa Sansekerta berarti bulan yang dalam bahasa Jawa Kuno disebut "sasi" atau "wulan". 

Perubahan penyebutan dari Chandrabhaga menjadi Bhagasasi menurut buku ini akibat pengaruh bahasa Melayu yang tersebar luas seiring dengan kejayaan kerajaan Sriwijaya yang juga menguasai sebagian pulau Jawa termasuk Bekasi. 

Bahasa Melayu sebagaimana bahasa Indonesia saat ini bersifat DM (Diterangkan Menerangkan), berbeda dengan bahasa Sansekerta yang bersifat MD (Menerangkan Diterangkan) seperti bahasa Inggris. Kemudian juga sedikit dijelaskan bagaimana dari penyebutan Bhagasasi menjadi Bhagasi, Bekassi hingga akhirnya menjadi Bekasi
Selain itu peninggalan budaya Melayu dari Sriwijaya yang masih mengakar adalah budaya berbalas pantun berima yang masih dapat ditemui hingga sekarang.
Buku Sejarah Bekasi, Sejak Peradaban Buni Ampe Wayah Gini
Buku Sejarah Bekasi, Sejak Peradaban Buni Ampe Wayah Gini
Sistematika penulisan buku sejarah ini diurutkan berdasarkan pada masa kekuasaan para penguasa di wilayah Bekasi, baik langsung maupun tidak langsung. Sejak lengsernya kerajaan Tarumanagara, di wilayah Bekasi tidak ada lagi kekuasaan yang secara langsung memerintah sehingga menjadi wilayah semi otonom karena jauh dari pusat-pusat kekuasaan atau pun pusat pemerintahan. 

Jauh setelah itu barulah hadir kekuasaan tradisional yang kental di Bekasi dalam bentuk kekuasaan para tuan tanah partikelir melalui para mandor. Ini pun sebenarnya kekuasaan yang bermotif ekonomi, bukan kekuasaan kedaulatan seperti kekuasaan kerajaan di daerah lain di nusantara.

Secara lengkap sistematika pembahasan Buku Sejarah Bekasi, Sejak Peradaban Buni Ampe Wayah Gini menggunakan periodisasi atau garis waktu sebagai berikut:
  1. Peradaban Buni (1000 SM-130) 
  2. Kerajaan Salakanagara (130-358) 
  3. Kerajaan Tarumanagara (358-686) 
  4. Kerajaan Sriwijaya (686-932) 
  5. Kerajaan Sunda (932-1579) 
  6. Kerajaan Sumedanglarang (1579-1620) 
  7. Kesultanan Mataram (1620-1652) 
  8. VOC (1652-1799) 
  9. Kerajaan Prancis (1800-1811) 
  10. Kerajaan Inggris (1811-1816) 
  11. Kerajaan Belanda (1816-1942) 
  12. Republik Indonesia (Perang Revolusi) (1945-1948) 
  13. Negara Pasundan (1948-1949) 
  14. Republik Indonesia Serikat (1949-1950) 
  15. Republik Indonesia (Orde Lama) (1950-1966) 
  16. Republik Indonesia (Orde Baru) (1966-1998) 
  17. Republik Indonesia (Reformasi) (1998-Sekarang)

Peradaban Buni (1000 SM-130)

Salah satu fakta sejarah adalah artefak, yaitu semua benda baik secara keseluruhan atau sebagian hasil buatan tangan manusia, seperti candi, patung, perkakas dan sejenisnya. Selain itu artefak juga dapat menunjukkan fakta sosial dan ciri fakta mental, contoh kapak batu dari Peradaban Buni. 

Mata kapak dari batu adalah artefak yang merupakan fakta konkret, tetapi jika dilihat dari bentuk dan modelnya maka kapak batu dapat berfungsi juga sebagai fakta sosial peradaban masa itu, dan jika menempatkan kapak batu serta manik-manik tersebut sebagai bagian dari sistem kepercayaan masa itu, maka artefak tersebut juga disebut fakta mental.

Pembahasan Peradaban Buni dilengkapi dengan foto-foto artefak berupa gelang, kapak batu, manik-manik dan lain-lain, yang walaupun tidak berwarna setidaknya cukup menambah kuat penjelasan sehingga lebih memudahkan pembahasan. Tidak terlalu banyak pembahasan mengenai Peradaban Buni dalam buku ini, hanya 12 halaman dengan diisi gambar-gambar penjelasan.

Pembahasan Peradaban Buni ini singkat dan padat, merangkum banyak "kata kunci" dari berbagai sumber yang bisa menjadi pembuka pintu-pintu pembahasan lain sesuai minat pembaca atau penulis lainnya. 

Saya pernah mengunjungi rumah alm Kong Sakih di Kampung Pasir Mas Desa Buni Bakti Babelan saat beliau masih hidup. Saya melihat pecahan-pecahan gerabah dan berbagai benda yang ia kumpulkan dari sekitar rumahnya. 

Saat itu saya kurang begitu paham apa gunanya sisa-sisa artefak-artefak itu beliau kumpulkan. Sekarang sedikit paham, bahwa berawal dari artefak itu banyak fakta lain yang bisa terungkap dan memiliki kedudukan penting sebagai sumber dalam penelitian kesejarahan.

***

Cara penulisan Buku Sejarah Bekasi, Sejak Peradaban Buni Ampe Wayah Gini dibagi dalam sub-sub judul yang kaya akan informasi dan referensi sumber. Contoh saat pembahasan Bab Kerajaan Belanda ada sub bab tentang Lahirnya Provinsi Jawa Barat yang diatur oleh Belanda dalam Staatsblad 1924 No. 78.

Bagi kita yang tidak berkecimpung dalam kesejarahan ini merupakan informasi baru yang menarik. Saya sendiri baru mengetahui bahwa ibu kota Provinsi Jawa Barat saat itu adalah Batavia (Jakarta) diatur berdasarkan Staatsblad 14 Agustus 1925 No. 378 dan berlaku efektif mulai 1 Januari 1926. 22 tahun kemudian, setelah kemerdekaan barulah Jakarta menjadi Kotapraja yang terpisah dan kedudukan walikotanya sejajar dengan Gubernur Jawa Barat melalui UU Nomor 22 tahun 1948.

Banyak hal menarik yang diungkap oleh buku ini. Saya juga membacanya tidak teratur dari awal sampai akhir, tapi hanya membuka-buka untuk melihat-lihat gambar-gambar atau foto, membaca sub-sub judul lalu kemudian membacanya kalau sub judulnya menarik perhatian saya. 

Membaca buku ini akan lebih mudah dengan membayangkan Endra Kusnawan yang sedang bercerita sebagaimana sering saya dengar langsung baik saat dia sedang menjadi narasumber atau sedang diskusi dan ngobrol bareng. Kalau ditanyakan kepadanya tentang motivasi membuat buku ini, dia akan kembali menjelaskan betapa sulitnya mencari buku sejarah Bekasi yang bisa diperoleh secara bebas dan seterusnya seperti yang dijelaskan pada kata pengantar buku ini. 

Ada 1 hal yang cukup penting, yaitu gaya bahasa yang digunakan. Mendengarkan dia bicara dan membaca tulisannya, saya tetap menemukan kemudahan mencerna ceritanya yang menggunakan bahasa semi formal dengan banyak pengandaian atau perbandingan.

Pembahasan yang sangat luas dengan rentang waktu yang panjang wajar membuat buku ini menjadi tebal hingga 468 halaman. Itupun sebenarnya tidak banyak topik yang dikupas secara tuntas, cukup sebagai pengetahuan umum sebagai pengantar pengetahuan kesejarahan atau pengenalan mengenai sejarah Bekasi secara umum.

Pemuda zaman now bukan tidak mau mempelajari sejarah, tapi akses untuk mempelajari sejarah itu yang sulit. Jika pun ada, sumber-sumber pengetahuan sejarah terkesan eksklusif dengan narasi formal dan baku serta menyebutkan berbagai referensi yang aksesnya juga susah, dan beberapa sebab lainnya. 

Untunglah ada Majalah Historia yang tersedia secara online dan menyajikan sejarah dengan cita rasa kekinian. Buku Sejarah Bekasi, Sejak Peradaban Buni Ampe Wayah Gini dari pemilihan judulnya saja sudah menggunakan bahasa sehari-hari yang akrab dengan orang kebanyakan. Demikian juga gaya bercerita dan penggunaan gaya bahasa yang mengisi buku ini, ringan tapi padat, cepat tercerna dan dapat dipahami awam.

Mudah-mudahan jika ada cetakan berikutnya ada pula halaman tambahan berisi tanggapan atau kritik dan testimoni yang dapat memperkaya buku ini. Karena biar bagaimanapun sejarah tidak bersifat baku dan selalu terbuka untuk direvisi dengan adanya bukti baru yang terungkap atau ditemukan fakta baru.

Tentang Penulis

Buku Sejarah Bekasi, Sejak Peradaban Buni Ampe Wayah Gini
Endra Kusnawan yang saya tahu adalah seorang pendiri dan penggiat di Komunitas Historika BekasiEndra giat dalam diskusi dan kegiatan kesejarahan karena hobi dan passion. Sedangkan profesinya sepanjang yang saya tahu adalah konsultan CSR pada perusahaan swasta. 

Selain sering menjadi narasumber dalam diskusi dan seminar sejarah dia juga sering mengisi acara-acara motivasi sebagai motivator. Terakhir yang saya tahu dari status Facebooknya per Desember 2018 ia resmi memegang sertifikasi trainer/instruktur dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).

Pesannya kepada saya: "Sejarah itu bersifat dinamis. Dia akan terus bergerak selama ada temuan baru. Buku tsb melengkapi buku-buku sejarah Bekasi sebelumnya. Karena banyak temuan baru yang layak untuk dianalisis lebih lanjut."
***

Ngopi Siang Di Destinasi Ekowisata Mangrove Sungai Rindu

Destinasi Ekowisata Mangrove Sungai Rindu Sembilangan Babelan
Bangkitnya kesadaran warga masyarakat di pesisir pantai utara Kabupaten Bekasi akan pentingnya fungsi hutan mangrove sudah sangat baik. Selain itu masyarakat juga sudah jeli dan mampu memberdayakan potensi wisata di wilayahnya. Destinasi Ekowisata Mangrove Sungai Rindu di Kampung Sembilangan Desa Hurip Jaya Kecamatan Babelan adalah salah satu contohnya. 

Ekowisata Mangrove Sungai Rindu

Sungai Rindu ini terletak di tepi Kali Kaloran Kampung Sembilangan RT 006/003. Kali Kaloran adalah batas alam Desa Hurip Jaya Kecamatan Babelan dan Desa Samudrajaya Kecamatan Tarumajaya. Di kiri kanan sepanjang tepian Kali Kaloran yang relatif jernih ini kita dapat menikmati rimbunnya pepohonan mangrove yang kemudian disulap menjadi destinasi wisata. Ini adalah salah satu contoh kebangkitan pemuda lokal untuk mengelola potensi wisata di wilayahnya.

Dari keterangan warga setempat, inisiator dan eksekutor Ekowisata Sungai Rindu adalah IRTRA (Ikatan Remaja Putra Putri) Kampung Sembilangan yang sejak bulan Mei 2018 sudah mulai merintis pembangunan secara swadaya dan sekarang aktif mengelola destinasi ekowisata Sungai Rindu. Dari obrolan kami terungkap bahwa Ekowisata Sungai Rindu ini sedang diusahakan oleh BPD dan Karang Taruna Hurip Jaya agar memiliki Peraturan Desa (Perdes) tentang Ekowisata Sungai Rindu yang memberikan dasar hukum akan keberadaannya. 
Destinasi Ekowisata Mangrove Sungai Rindu Sembilangan Babelan
Menurut saya lokasi ini enaknya untuk pertemuan yang santai seperti rapat kecil atau sekadar pertemuan keluarga. Angin yang selalu berhembus sejuk walau sedang panas terik membuat suasana sangat pas untuk santai-santai menikmati kopi sambil ngobrol atau membaca buku.  Untuk informasi, sinyal sangat sulit, hanya sinyal beberapa provider tertentu yang masih bisa terhubung, wilayah ini adalah wilayah blank spot untuk beberapa provider seluler :)

Sebagai destinasi wisata baru, untuk masuk ke kawasan konservasi mangrove di Ekowisata Sungai Rindu melalui Kampung Sembilangan tidak dipungut retribusi alias gratis. Entah ke depannya apakah tetap gratis atau akan ada retribusi saya tidak tahu. Sedangkan jika melalui jalur laut maka dikenakan retribusi Rp.2000 rupiah yang itupun digunakan untuk pengembangan di Sungai Rindu.  

Panjang titian bambu yang terpasang juga belum terlalu jauh, perkiraan saya dari tepi Sungai Gentong yang bertemu dengan Sungai Kaloran, baru sekitar 100 meter mengikuti arah sungai. Namun demikian di ujung titian saya melihat pondasi-pondasi dari bambu untuk membangun titian lanjutan dan rangka bambu untuk saung berikutnya.

Dalam perjalanan menuju tempat ini melalui jalur darat Sembilangan, saya sempat melewati beberapa kelompok orang yang sedang memancing di tambak-tambak pemancingan. Pemandangan umum daerah ini adalah tambak ikan dan udang, beberapa tambak juga merupakan lahan budidaya rumput laut sebagai mata pencaharian utama masyarakat setempat.
Ngopi Siang Di Destinasi Ekowisata Mangrove Sungai Rindu

Bagaimana cara menuju ke Ekowisata Mangrove Sungai Rindu?

Ada dua rute yang bisa kita tempuh untuk mencapai Sungai Rindu. Jika kita melalui Kampung Sembilangan Babelan maka kita akan dikenakan biaya parkir penitipan motor dan juga biaya perahu 10 ribu rupiah per kepala pulang pergi, atau tergantung negosiasi dengan pemilik perahu jika kita menyewa perahu untuk berkeliling menikmati teduhnya rerimbunan mangrove di Sembilangan hingga ke Jembatan Cinta di Pal Jaya Tarumajaya. 

Jalur kedua adalah melalui area Jembatan Cinta di Pal Jaya Desa Segara Jaya Kecamatan Tarumajaya menggunakan perahu sekitar 20 menit menikmati pemandangan hutan mangrove dengan biaya sekitar 15 ribu per kepala.

Hal yang menarik di Sungai Rindu adalah saung-saung yang berjejer yang bisa kita singgahi untuk mengambil foto tanpa perlu membayar apa-apa. Jika ada saung yang kosong, kita tinggal masuk dan memesan kopi atau makanan yang ada di sana. 

Saung-saung tersebut dibangun oleh para penjual, sehingga tidak elok jika kita hanya duduk-duduk di saung tersebut tanpa membeli barang yang dijual, kecuali kalau singgah hanya sebentar untuk berfoto-foto.
Destinasi Ekowisata Mangrove Sungai Rindu
Encex, artis Huripjaya di salah satu spot foto Sungai Rindu
Ada beberapa spot yang instagramable atau pun untuk sekadar selfie atau groufie, ada bangku bambu dengan tulisan-tulisan kekinian juga bisa menjadi spot foto yang asik. Dalam jarak beberapa meter kita juga akan menemukan tong-tong sampah yang terawat baik. Fasilitas umum seperti mushola dan toilet pun tersedia.

Saat saya datang pada hari Ahad, hampir semua saung dipenuhi pengunjung dari Jembatan Cinta yang singgah untuk sekadar mampir atau pun untuk makan siang. Suasana diramaikan dengan musik karaoke dari salah satu saung, pengunjung juga dapat ikut bernyanyi jika berkenan.

Tidak afdol kalau pulang dari sana tidak membawa oleh-oleh, ada satu saung yang menjual oleh-oleh atau souvenir. Sayang belum terlalu banyak pilihan, mudah-mudahan besok saat saya kembali sudah ada yang menjual kaos t-shirt, topi atau gantungan kunci dan lain-lain sebagai souvenir khas Ekowisata Mangrove Sungai Rindu.

Saran jika mengunjungi lokasi Ekowisata Mangrove Sungai Rindu: 

  1. Mohon jaga kebersihan, tempat sampah telah disediakan pengelola di beberapa tempat, jangan buang sampah ke sungai;
  2. Sungai Rindu dikelola secara swadaya oleh warga sekitar, mohon hargai usaha mereka dalam merintis destinasi ekowisata ini dengan tetap menjaga kesopanan dan saling menghargai sesama;
  3. Jaga anak kecil jangan sampai lengah dari pengawasan karena risiko jatuh ke sungai karena tersenggol dan lain-lain, risiko tersenggol perahu juga ada jika bermain di pinggir titian bambu;
  4. Musholah masih belum sempurna dan masih dalam pembangunan, mohon berkenan menyisihkan sedikit rezekinya untuk membantu pembangunan mushola di lokasi. Untuk informasi lebih lanjut sila hubungi salah satu pengelola anggota IRTRA yang juga wakil ketua Karang Taruna setempat: Amir Mahmud WA/Telp: 0855 3649 6052;
  5. Jangan sungkan bertanya dan memberikan masukan atau ide untuk pengembangan Sungai Rindu kepada pengelola :)
  6. Jangan berenang di lokasi, karena sungai tersebut adalah jalur utama perahu warga Sembilangan. dst.
Ekowisata Mangrove Sungai Rindu
Ngopi santai di salah satu saung Sungai Rindu

Peta Lokasi Ekowisata Mangrove Sungai Rindu



Babelan, Ahad 16 Desember 2018.

Belajar Memahami Tari Bersama Sanggar Tari Cinong Bekasi

Sanggar Tari Cinong Bekasi
Sanggar Tari Cinong Bekasi | Foto: Roron Urip Pratomo
Balai Desa Babelan Kota di Kecamatan Babelan Bekasi saat Minggu sore kini tidak sepi lagi. Puluhan anak-anak berkumpul untuk berlatih kesenian dan keterampilan seperti latihan menari, seni bela diri silat dan lain-lain.

Yuni Widiasari atau yang akrab disapa Bunda Yuni sudah setahun belakangan ini memiliki kesibukan mengajarkan beberapa jenis tarian, antara lain tari Ondel-Ondel untuk anak-anak dan Sirih Kuning untuk remaja putri.

Dalam kegiatan belajar menari di balai desa ini Bunda Yuni tidak sendirian, ia dibantu putrinya Nurul Rahmadani dan beberapa gadis remaja yang sudah lebih dahulu belajar menari kepadanya.

"Kalau latihan menari di balai desa  itu hanya Minggu sore, kalau ada lomba atau mau tampil bisa latihan tambahan di rumah Bunda Yuni," jelas Miranti salah satu pengajar tari yang membantu Bunda Yuni sore itu.
Belajar Memahami Tari Bersama Sanggar Tari Cinong Bekasi
Sanggar Tari Cinong bukan bagian terpisah dari Perguruan Silat Cinong Bekasi, masih satu kesatuan sebagai wadah pelestarian budaya dan pengembangan bakat seperti juga Sanggar Lukis Cinong, Grup Palang Pintu, Ujungan, Lenong dan lainnya.

"Awalnya saya diminta Bang Jamal (ketua perguruan silat Cinong Bekasi) dan Bang Rusli untuk mengajarkan tarian untuk anak-anak dalam rangka mengisi acara milad Cinong," ungkap Bunda Yuni.

"Selanjutnya saya mulai fokus mengajarkan tari-tarian untuk keperluan mengisi acara waktu itu. Alhamdulillah saat tampil cukup memuaskan," lanjut Bunda Yuni yang berprofesi sebagai guru di salah satu sekolah swasta di Bekasi.
Belajar Memahami Tari Bersama Sanggar Tari Cinong Bekasi
Para Penari Sanggar Tari Cinong Bekasi Babelan
Menurut Bunda Yuni, setelah acara milad ternyata antusiasme anak-anak untuk belajar menari tidak surut, bukan saja anak-anak dari Kecamatan Babelan yang ingin belajar menari, bahkan ada beberapa anak dari Kecamatan Tarumajaya dan Kecamatan Sukawangi yang datang untuk belajar.

Penampilan anak-anak yang mempersembahkan tarian tradisional ternyata menjadi perhatian karena jarang ada penampilan tari tradisional kecuali dalam acara berskala besar. Saat itu dibawakan 3 tarian yaitu Tari Ondel-Ondel, Tari Sirih Kuning dan Tari Bajidor Kahot.
"Mungkin image bahwa tari tradisional itu susah dan jarang yang bisa, karenanya untuk penampilan tari tradisional butuh biaya mahal. Padahal kalau mau ayo kita belajar sekaligus melestarikan tari tradisional" ungkap Bunda Yuni.
Belajar Memahami Tari Bersama Sanggar Tari Cinong Bekasi
Bunda Yuni
Untuk kostum saat ada acara atau memenuhi undangan menari, Bunda Yuni mengaku dirinya masih menyewa kostum karena masih belum terlalu sering digunakan. Sedangkan untuk make up atau merias penari ia dibantu oleh keluarga besar Cinong.

Selain tari Sirih Kuning untuk hiburan saat acara, untuk remaja putri juga diajarkan tari Lenggang Nyai untuk keperluan lomba. Walau pun belum ada prestasi dalam kompetisi, Bunda Yuni mengaku sudah bahagia dapat berperan serta melestarikan dan mengajarkan tari tradisional kepada generasi muda.

Dalam kegiatan mengajar tari Bunda Yuni juga dibantu oleh Nurul Rahmadani, Miranti Dwi Putri, Dinna Yulianti, Adinda Khumairoh, Diana Nurita dan Nada Nirmala. Sanggar Tari Cinong Bekasi rutin berkegiatan pada hari Sabtu sore di aula kantor kepala desa Babelan Kota, Kecamatan Babelan Kabupaten Bekasi dengan materi Tari Tradisional dan Tari Modern. Adapun untuk pembagian kelas dibagi berdasarkan usia penari.

Kelas Menari Sanggar Tari Cinong Bekasi:
Kelas A - Usia 5-10 tahun;
Kelas B - Usia 10-15 tahun;
Kelas C - Usia 15 tahun ke atas.

Bagi teman-teman yang berminat bergabung atau ingin informasi lebih lanjut dapat menghubungi Sanggar Tari Cinong Bekasi melalui telepon: 0852 1690 3519 / 0812 1165 2566 atau chat melalui WA: 0812 839 21080.

Belajar Memahami Tari Bersama Sanggar Tari Cinong Bekasi
Seni tari jelas berbeda dengan olahraga, jika olahraga memiliki jiwa kompetisi dengan motto Citius, Altius, Fortius (lebih cepat, lebih tinggi, lebih kuat) maka seni tari menghadirkan pengalaman estetik dalam bentuk olah gerak sebagai ekspresi, kreasi, serta apresiasi. Bahasa mudahnya; tari lebih mengutamakan keindahan dan keseimbangan gerak yang menyatu dengan musik pengiringnya.

Sama seperti olahraga, pada akhirnya seni tari memiliki peranan dalam pembentukan karakter sang penari secara fisik maupun psikologis untuk mencapai Kecerdasan Gerak atau Kecerdasan Kinestetik.  

Kecerdasan Gerak adalah kemampuan mengontrol gerakan, keseimbangan, ketangkasan, dan keanggunan dalam bergerak.  Untuk anak-anak seni tari dan olah raga sama-sama mengasah keterampilan motorik halus dan kasarnya dengan lebih baik.

Lebih dari itu, seni tari juga mengembangkan sikap estetis sehingga dapat membentuk manusia Indonesia dengan karakter yang seimbang, baik dalam perkembangan pribadi, lingkungan sosial, budaya dan alam sekitar, serta hubungan pribadinya dengan Sang Pencipta.

Hari sudah semakin petang dan sebentar lagi sore. Saya tinggalkan keceriaan dan keakraban dalam gerakan tari serta canda tawa yang mengisi aula salah satu gedung di dalam komplek balai desa Babelan Kota itu. Suara musik Gambang Kromong yang mengiringi latihan tari semakin jauh terdengar. Dalam perjalanan pulang saya berdoa, semoga semangat itu terus terjaga demi mengenal, mencintai, melestarikan kekayaan seni budaya Indonesia yang kaya ragamnya ini. Amiin.

Belajar Memahami Tari Bersama Sanggar Tari Cinong Bekasi

Sanggar Tari Cinong Bekasi
Sanggar Tari Cinong Bekasi | Foto: Roron Urip Pratomo
Balai Desa Babelan Kota di Kecamatan Babelan Bekasi saat Minggu sore kini tidak sepi lagi. Puluhan anak-anak berkumpul untuk berlatih kesenian dan keterampilan. Mulai dari latihan menari, seni bela diri silat hingga menari.

Yuni Widiasari atau yang akrab disapa Bunda Yuni sudah setahun belakangan ini memiliki kesibukan mengajarkan beberapa jenis tarian, antara lain tari Ondel-Ondel untuk anak-anak dan Sirih Kuning untuk remaja putri.

Dalam kegiatan belajar menari di balai desa ini Bunda Yuni tidak sendirian, ia dibantu putrinya Nurul Rahmadani dan beberapa gadis remaja yang sudah lebih dahulu belajar menari kepadanya.

"Kalau latihan menari di balai desa  itu hanya Minggu sore, kalau ada lomba atau mau tampil bisa latihan tambahan di rumah" jelas Miranti salah satu pengajar tari yang membantu Bunda Yuni sore itu.
Belajar Memahami Tari Bersama Sanggar Tari Cinong Bekasi
Sanggar Tari Cinong bukan bagian terpisah dari Perguruan Silat Cinong Bekasi, masih satu kesatuan sebagai wadah pelestarian budaya dan pengembangan bakat seperti juga Sanggar Lukis Cinong, Grup Palang Pintu, Ujungan, Lenong dan lainnya.

"Awalnya saya diminta Bang Jamal (ketua perguruan silat Cinong Bekasi) dan Bang Rusli untuk mengajarkan tarian untuk anak-anak dalam rangka mengisi acara milad Cinong" ungkap Bunda Yuni.

"Selanjutnya saya mulai fokus mengajarkan tari-tarian untuk keperluan mengisi acara waktu itu, Alhamdulillah saat tampil cukup memuaskan" lanjut Bunda Yuni yang berprofesi sebagai guru di salah satu sekolah swasta di Bekasi.
Belajar Memahami Tari Bersama Sanggar Tari Cinong Bekasi
Para Penari Sanggar Tari Cinong Bekasi Babelan
Menurut Bunda Yuni, setelah acara milad ternyata antusiasme anak-anak untuk belajar menari tidak surut bahkan ada beberapa anak dari Kecamatan Tarumajaya dan Kecamatan Sukawangi yang datang untuk belajar.

Penampilan anak-anak yang mempersembahkan tarian tradisional ternyata menjadi perhatian karena jarang ada penampilan tari tradisional kecuali dalam acara berskala besar. Saat itu dibawakan 3 tarian yaitu Tari Ondel-Ondel, Tari Sirih Kuning dan Tari Bajidor Kahot.

"Mungkin image bahwa tari tradisional itu susah dan jarang yang bisa, karenanya untuk penampilan tari tradisional butuh biaya mahal. Padahal kalau mau ayo kita belajar sekaligus melestarikan tari tradisional" ungkap Bunda Yuni.
Belajar Memahami Tari Bersama Sanggar Tari Cinong Bekasi
Bunda Yuni
Untuk kostum saat ada acara atau memenuhi undangan menari, Bunda Yuni mengaku dirinya masih menyewa kostum karena masih belum terlalu sering digunakan. Sedangkan untuk make up atau merias penari ia dibantu oleh keluarga besar Cinong.

Selain tari Sirih Kuning untuk hiburan saat acara, untuk remaja putri juga diajarkan tari Lenggang Nyai untuk keperluan lomba. Walau pun belum ada prestasi dalam kompetisi, Bunda Yuni mengaku sudah bahagia dapat berperan serta melestarikan dan mengajarkan tari tradisional kepada generasi muda.

Keceriaan dan keakraban dalam gerakan tari dan canda tawa mengisi aula salah satu gedung di dalam komplek balai desa Babelan Kota sore itu. Semoga semangat itu terus terjaga demi mengenal, mencintai, melestarikan kekayaan seni budaya Indonesia yang kaya.

Belajar Memahami Tari Bersama Sanggar Tari Cinong Bekasi
Seni tari jelas berbeda dengan olahraga, jika olahraga memiliki jiwa kompetisi dengan motto Citius, Altius, Fortius (lebih cepat, lebih tinggi, lebih kuat) maka seni tari menghadirkan pengalaman estetik dalam bentuk olah gerak sebagai ekspresi, kreasi, serta apresiasi. Bahasa mudahnya tari lebih mengutamakan keindahan dan keseimbangan gerak yang menyatu dengan musik pengiringnya.

Sama seperti olahraga, pada akhirnya seni tari memiliki peranan dalam pembentukan karakter sang penari secara fisik maupun psikologis untuk mencapai Kecerdasan Gerak atau Kecerdasan Kinestetik.  

Kecerdasan Gerak adalah kemampuan mengontrol gerakan, keseimbangan, ketangkasan, dan keanggunan dalam bergerak.  Untuk anak-anak seni tari dan olah raga sama-sama mengasah keterampilan motorik halus dan kasarnya dengan lebih baik.

Lebih dari itu, seni tari juga mengembangkan sikap estetis sehingga dapat membentuk manusia Indonesia dengan karakter yang seimbang, baik dalam perkembangan pribadi, lingkungan sosial, budaya dan alam sekitar, serta hubungan dengan Tuhan. Amiin.


Faktor U: Tiket Parkir Tertinggal Dalam Dompet

Faktor U: Tiket Parkir Tertinggal Dalam Dompet... Dompetnya Tertinggal Di Meja Komputer Kantor

Tiket Parkir Summarecon Bekasi Tertinggal Dalam Dompet
Tiket Parkir 
Karena hari Sabtu dan Minggu merupakan hari libur, maka saya termasuk orang yang menyambut datangnya hari Jumat dengan ceria. TGIF, Thanks God It's Friday kata orang sana, atau ALIF - Alhamdulillah It's Friday

Lalu saat Jumat sore sepulang dari kantor pusat, dengan menumpang bus yang melintas dari Jakarta Pusat menuju Bekasi maka pasti akan bertemu dengan yang namanya macet, itu sudah pasti!. Apalagi jika turun hujan... kalau tidak macet maka anggap saja bonus :) 

Tapi walaupun semua jalanan menuju Bekasi macet, setidaknya ada satu jalanan yang tidak pernah macet, yaitu "jalanan menuju kenangan" yang selalu lancar jaya :D. Tinggal pasang headset lalu pilih lagu kesukaan dari koleksi HP, duduk bersandar cari posisi wuenak sambil menyaksikan melalui jendela bus kelakuan pengendara mobil dan motor yang selap-selip berebut jalan.

Gerimis hujan yang mengalir di kaca bis tersapu angin membuat jalur-jalur  aliran yang memantulkan bias cahaya lampu kendaraan dan lampu jalan. Membuat saya membayangkan tubuh yang akan basah saat melanjutkan perjalanan pulang dengan motor yang saya titip di parkiran mall.

Mengingat motor di parkiran mall membuat saya gelisah. Segera saya periksa tas, dan dugaan saya benar, dompet TIDAK ADA. Artinya, saya akan melewati hari Sabtu dan Minggu tanpa KTP, SIM, STNK Motor, Kartu ATM dan lain-lain karena semua berada di dalam dompet.

Terbayang repotnya nanti saat mau ambil motor di parkiran, karena tiket parkir ada juga dalam dompet. Biasanya kalau tiket parkir hilang kita masih bisa mengambil motor kita dengan menunjukkan STNK, paling akan terkena denda karena menghilangkan tiket atau struk parkir. Lah ini, STNK motor juga ada dalam dompet yang tertinggal. -___-

Alhamdulillah saat saya telpon ke kantor masih ada Ridwan yang lembur. Saya kemudian memintanya untuk memeriksa laci meja komputer di mana saya biasa duduk. Apakah benar dompet saya tertinggal di sana, atau jangan-jangan tercecer entah di mana.

Tidak lama kemudian, Ridwan Kamil, sang Gubernur Jawa Barat menjawab chat saya. Kabar baiknya ternyata dompet saya memang tertinggal di sana. Setidaknya tidak hilang entah di mana. Saya minta rekan tersebut untuk memotret STNK dan tiket parkir dan mengirimkannya kepada saya melalui WhatsApp
Tiket Parkir Summarecon Bekasi Tertinggal Dalam Dompet
Tiket Parkir dan STNK Motor
Khusus foto tiket parkir saya minta foto dengan kualitas terbaik dengan harapan foto tiket itu nantinya bisa di-scan oleh penjaga gerbang parkir.

Saya gak mungkin juga kembali lagi ke kantor untuk mengambil dompet, akhirnya dengan bermodal foto STNK dan foto tiket parkir itu saya membesarkan hati dan berdoa agar semua dimudahkan.

Singkat cerita di lokasi parkiran motor hujannya hanya rintik-rintik, saya kemudian mengambil motor dan menuju gerbang parkir. Saat petugas pos di gerbang parkir meminta karcis dengan segera saya sodorkan HP yang menunjukkan foto tiket parkir dalam riwayat chat di Whatsapp.

Biasanya setelah menerima struk parkir, petugas parkir akan memindai (scan) barcode struk tiket itu dan otomatis muncul data berapa harga yang harus dibayar. Tapi karena yang saya serahkan foto tiket ia mulai mengetik setelah menerima HP saya.

Saya perhatikan dia mengetik manual kode yang hampir 20 digit random kombinasi angka dan huruf yang tertera dalam foto itu lalu mengisi kolom-kolom lainnya. Tidak lama muncul tarif parkir seperti biasanya, lalu sang petugas menyerahkan HP saya. Saya bayar dengan uang lebih dan menolak kembaliannya. Ini asli bukan sok dermawan atau bagaimana sih.

"Gapapa bang, ambil aja, saya kira saya kena denda. Terima kasih yah" ucap saya sambil berlalu setelah portal parkir terbuka.

Saya dengar pemuda berkemeja oranye alias petugas loket parkir itu membalas dengan ucapan terima kasih juga. Sikap yang baik, sayang saya tidak tahu nama petugas parkir itu, kapan-kapan saya cari tahu deh.

Oke, alhamdulillah masalah pengambilan motor di parkiran sudah selesai tanpa drama sama sekali. Masalah selanjutnya adalah saya gak akan berani kemana-mana dalam dua hari (Sabtu-Minggu) karena semua surat dan dokumen penting kartu identitas semua ada di dompet yang tertinggal.

Dan ini bukanlah kejadian yang pertama kali, saya sudah beberapa kali meninggalkan dompet lusuh itu nginap di mana-mana... faktor U kata orang mah ๐Ÿ˜โ˜•

Happy nice weekend.



Lagu Losquin Makassar Minasa Riboritta – Iwan Tompo (lirik dan maknanya)

Lagu tradisional Makassar lirik losquin

Lagu Minasa Riboritta adalah sebuah lagu berbahasa Makassar yang walaupun saya tidak hafal seluruh liriknya tapi cukup sering saya nyanyikan. Minasa Riboritta pertama yang saya dengar adalah versi yang dinyanyikan oleh Ridwan Sau, salah satu penyanyi lagu-lagu Bugis Makassar.

Lama kemudian barulah saya mendengar lagu Minasa Riboritta versi Losquin dari Iwan Tompo, salah satu maestro lagu Makassar.

Lirik lagu ini saya terjemahkan secara bebas, bukan terjemahan langsung per kata dan disesuaikan dengan mengikuti nada lagu sehingga bisa dinyanyikan dalam bahasa Indonesia walaupun jadi kurang enak didengar karena liriknya masih dipaksakan. Setidaknya ini membantu para pendengar yang tidak mengerti bahasa Makassar mengenai makna lagu ini. 

Saya juga tidak terlalu paham bahasa Makassar, dan terjemahan lirik ini saya ambil dari beberapa terjemahan yang memang sudah ada di internet lalu kemudian saya sandingkan. Dengan cara seperti itu jika ada masukkan dari yang paham bahasa Makassar pasti akan saya pertimbangkan.

Berikut lagu Minasa Riboritta - Iwan Tompo versi Losquin.


Minasa Riboritta (Harapan untuk Negeri Kita)

_________________

Mangku mamo mabella
Walaupun aku jauh 

Nia ma' ri se'reang bori
Merantau di negeri lain

Ma'sombalangi sare kamaseku
Melayari laut nasib hidupku 

Passare Batara
Jalani takdir-Nya

Manna monjo nakamma
Walaupun demikian

Pangngu'rangingku ri kau tonji
Ingatanku hanyalah padamu

Kabutta la'biri passolongang ceratta
Ke kampung tercinta di tanah kelahiran

Ri Bawa Karaeng
Di Bawa Karaeng 

Se'reji kupala rijulu boritta
Satu yang kuminta, dari saudaraku

Sirikaji tojeng
Utamakan Siri' 

Sollanna na nia areng mabajitta
Agar selalu terjaga nama baik kita 

Ri bori maraeng
Di negeri lain

Nakima' minasa te'ne ki masunggu
Dan kita berharap raih kesuksesan 

Nanacini todong 
Sehingga terpandang

Bori maraengang
Di negeri lain

Sarroa mangngakkali rikamajuanta
Yang sering meragukan kemajuan kita
________

Sedikit mengenai Iwan Tompo sang pelantun lagu ini. Iwan Tompo Dg. Liwang adalah salah satu maestro lagu Makassar, sayangnya beliau sudah wafat pada hari Kamis, 23 Mei 2013 di Makassar.
Iwan Tompo Dg. Liwang wafat

Iwan Tompo Dg. Liwang lahir di Kota Makassar tanggal 6 September 1952. Gelar maestro yang disematkan pada dirinya karena almarhum adalah penyanyi sekaligus pencipta lagu yang telah membuat sedikitnya 50-an album lagu Makassar dalam rentang 40-an tahun Iwan Tompo berkesenian.

Iwan Tompo mulai aktif berkesenian sejak duduk di bangku SMP pada tahun 1966. Karir Iwan Tompo dalam dunia kesenian dimulai dengan menjadi gitaris. Iwan Tompo sudah dari masa kanak-kanak mempunyai bakat bernyanyi, hingga akhirnya dia mulai bernyanyi secara profesional pada tahun 1970an. 

Dalam karirnya sebagai penyanyi, Iwan Tompo belajar mengikuti bakat yang ada pada dirinya. Pengetahuan yang dimiliki tersebut didapat secara otodidak melalui tradisi lisan bukan tradisi tulisan dan tidak dibentuk oleh pendidikan formal. Bakat tersebut semakin berkembang ketika Iwan Tompo bergabung menjadi penyanyi pada tahun 1970-an di Orkes Melayu Rasela.

Pada tahun 1975 Iwan Tompo bergabung di Irama Baru Record yang merupakan bagian dari kunci sukses perjalanan hidup Iwan Tompo dalam mempertahankan eksistensi lagu pop daerah Makassar. 

Iwan Tompo pernah diundang ke Jakarta karena lagunya pernah membooming yang berjudul Bunting Berua. Lagu-lagu Iwan Tompo yang paling terkenal antara lain PammarisinnuBangkenga AcciniAmmakku BapakkuTeako Palla, Sura Tappu SingaintaPakeke Appasisala dan masih banyak lagi.

_______________

Sumber: ARYA SAMUDRA, 2012. Studi Biografi Iwan Tompo Sebagai Pencipta Lagu Populer Makassar. 
Skripsi: Program Studi Pendidikan Sendratasik Fakultas Seni dan Desain Universitas Negeri Makassar.  (eprints UNM).



Lagu Losquin Makassar Minasa Riboritta – Iwan Tompo (lirik dan maknanya)

Lagu Minasa Riboritta adalah sebuah lagu berbahasa Makassar yang walaupun saya tidak hafal seluruh liriknya tapi cukup sering saya nyanyikan. Minasa Riboritta pertama yang saya dengar adalah versi yang dinyanyikan oleh Ridwan Sau, salah satu penyanyi lagu-lagu Bugis Makassar.

Lama kemudian barulah saya mendengar lagu Minasa Riboritta versi Losquin dari Iwan Tompo, salah satu maestro lagu Makassar.

Lirik lagu ini saya terjemahkan secara bebas, bukan terjemahan langsung per kata dan mengikuti nada lagu sehingga bisa dinyanyikan dalam bahasa Indonesia walaupun jadi kurang enak didengar karena liriknya masih dipaksakan. Setidaknya ini membantu para pendengar yang tidak mengerti bahasa Makassar mengenai makna lagu ini. 

Saya juga tidak terlalu paham bahasa Makassar, dan terjemahan lirik ini saya ambil dari beberapa terjemahan yang memang sudah ada di internet lalu kemudian saya sandingkan. Dengan cara seperti itu jika ada masukkan dari yang paham bahasa Makassar pasti akan saya pertimbangkan.

Berikut lagu Minasa Riboritta - Iwan Tompo versi Losquin.


Minasa Riboritta (Harapan untuk Negeri Kita)

_________________

Mangku mamo mabella
Walaupun aku jauh 

Nia ma' ri se'reang bori
Merantau di negeri lain

Ma'sombalangi sare kamaseku
Melayari laut nasib hidupku 

Passare Batara
Jalani takdir-Nya

Manna monjo nakamma
Walaupun demikian

Pangngu'rangingku ri kau tonji
Ingatanku hanyalah padamu

Kabutta la'biri passolongang ceratta
Ke kampung tercinta di tanah kelahiran

Ri Bawa Karaeng
Di Bawa Karaeng 

Se'reji kupala rijulu boritta
Satu yang kuminta, dari saudaraku

Sirikaji tojeng
Utamakan Siri' 

Sollanna na nia areng mabajitta
Agar selalu terjaga nama baik kita 

Ri bori maraeng
Di negeri lain

Nakima' minasa te'ne ki masunggu
Dan kita berharap raih kesuksesan 

Nanacini todong 
Sehingga terpandang

Bori maraengang
Di negeri lain

Sarroa mangngakkali rikamajuanta
Yang sering meragukan kemajuan kita
________

Sedikit mengenai Iwan Tompo sang pelantun lagu ini. Iwan Tompo Dg. Liwang adalah salah satu maestro lagu Makassar, sayangnya beliau sudah wafat pada hari Kamis, 23 Mei 2013 di Makassar.
Iwan Tompo Dg. Liwang wafat

Iwan Tompo Dg. Liwang kelahiran Kota Makassar 6 September 1952. Gelar maestro yang disematkan pada dirinya karena almarhum adalah penyanyi sekaligus pencipta lagu yang telah membuat sedikitnya 50-an album lagu Makassar dalam rentang 40-an tahun Iwan Tompo berkesenian.

Iwan Tompo mulai aktif berkesenian sejak duduk dibangku SMP pada tahun 1966. Karir Iwan Tompo dalam dunia kesenian dimulai dengan menjadi gitaris. Iwan Tompo sudah dari masa kanak-kanak mempunyai bakat bernyanyi, hingga akhirnya dia mulai bernyanyi secara profesional pada tahun 1970an. 

Dalam karirnya sebagai penyanyi Iwan Tompo belajar mengikuti bakat yang ada pada dirinya. Pengetahuan yang dimiliki tersebut didapat secara otodidak melalui tradisi lisan bukan tradisi tulisan dan tidak dibentuk oleh pendidikan formal. Bakat tersebut semakin berkembang ketika Iwan Tompo bergabung menjadi penyanyi pada tahun 1970-an di Orkes Melayu Rasela.

Pada tahun 1975 Iwan Tompo bergabung di Irama Baru Record yang merupakan bagian dari kunci sukses perjalanan hidup Iwan Tompo dalam mempertahankan eksistensi lagu pop daerah Makassar. Iwan Tompo pernah diundang ke Jakarta karena lagunya pernah membooming yang berjudul Bunting Berua. Lagu-lagu Iwan Tompo yang paling terkenal PammarisinnuBangkenga AcciniAmmakku BapakkuTeako Palla, Sura Tappu SingaintaPakeke Appasisala dan lain-lain.

_______________

Sumber: ARYA SAMUDRA, 2012. Studi Biografi Iwan Tompo Sebagai Pencipta Lagu Populer Makassar. 
Skripsi: Program Studi Pendidikan Sendratasik Fakultas Seni dan Desain Universitas Negeri Makassar.  (eprints UNM).



Jika Ingin Pelangi, Kau Harus Menerima Hujan

Jika Ingin Pelangi, Kau Harus Menerima Hujan
Orang memanggilku  Dean, lengkapnya Deandrea. Aku selalu takjub dengan proses terjadinya hujan. Bagaimana air pada jemuran yang terkena terik matahari berubah menjadi uap sehingga dapat terbang mengangkasa. Berkumpul dan menyatu dalam awan di langit lalu kemudian menjadi tetes air dan tercurah turun membasahi bumi kembali.

"Kalau nanti sore hujan, jangan pulang dulu sebelum aku datang menjemput kamu," ucapku sambil menatap matanya sungguh-sungguh.

Ia membalas tatapanku seperti biasa, lembut dan damai. Ia mengangguk sambil memberiku senyum tertahan, tanpa kata berbalik dan berjalan masuk ke gerbang sekolah, melewati lapangan basket lalu hilang di koridor kelas yang berjejer. 

Aku pun meninggalkan tempat itu setelah puas memandangi rambut hitam panjang kepang dua yang berjalan cepat tanpa pernah menengok. Satu-dua kali membalas sapaan dari teman-temannya yang kukenal, melewati tukang-tukang dagang dan obrolan anak-anak tongkrongan langkahku semakin menjauhi lokasi sekolahnya.


Aku suka dengan istilah "September Ceria" yang diambil dari judul lagu Vina Panduwinata, meski September sudah berlalu dan hampir setiap hari hujan datang, tapi hujan juga berarti ceria, yah Oktober, November, Desember kapan pun itu, hujan selalu berarti ceria

Ceria karena hujan adalah saat menjemput pujaan hati pulang sekolah dengan hanya berbekal payung seadanya, lalu menyusuri aspal basah bersamanya.

"Kamu tahu apa yang aku suka dari hujan?" tanyanya waktu itu.

"Suasana jadi gak panas?" jawabku.
"Bukan, kalau gak hujan pasti kamu gak menjemput aku kan?"
"Iya, kalau tidak hujan kamu kan bisa pulang bersama teman-teman kamu, gak perlu aku jemput kan?"
"Iya juga sih, tapi kenapa kalau hujan kamu menjemput aku?"
"......"
Pertanyaan yang tidak pernah aku jawab.

Ya benar, jika sedang tidak hujan, baik saat sedang sendirian atau sedang bersama teman, aku memilih mengawasinya dari jauh, menjadi secret admirer yang cukup merasa puas saat ia tahu aku ada, mengawasinya, mencoba hadir.. walau jauhEntah siapa yang memberi ide menjemputnya setiap hujan datang. 

Ada tatapan heran kala pertama, bukan tatapan marah sepertinya, ia seperti enggan menerima payungku. Atau mungkin ia ingin berbasah-basahan bersama?, kubuang kesimpulan prematur itu jauh-jauh.

"Bilang aja ojek payung" memberinya alibi agar ia tidak canggung menerima payung yang aku tawarkan.
"Maksudmu?" kudengar tanyanya di antara suara gemericik hujan.
"Ya bilang aja ojek payung langganan, kalau ada yang nanyain"
"Emang akan ada yang nanyain?"
"Kan aku bilang kalau ada yang nanyain hahaha" sambutku dengan tetap mengambil posisi di belakangnya.

Selanjutnya tidak ada lagi pertanyaan, aku hanya memantau cuaca. Jika mendung dan hujan maka aku hanya tahu untuk membawakannya payung. Apakah perlu alasan untuk hal sesederhana itu?.
_____

"Kamu lucu, basah-basahan padahal membawa payung," katamu suatu ketika sambil menerima payung yang aku sodorkan. 

Kata-katanya memecah hening saat aku tak bisa berbicara banyak, hanya mematung yang bisa aku lakukan menyadari ia sedang menatapi sekujur tubuhku yang basah dengan sedikit senyum simpul.

Aku pikir dia marah waktu itu, sepertinya dia perlu memikirkan beberapa saat skenario dadakan yang aku tawarkan tanpa pemberitahuan sebelumnya. Jika yang dia bayangkan kami akan satu payung berdua di tengah hujan dan disaksikan puluhan pasang mata yang berteduh saat itu... terlalu manis untuk menjadi kenyataan

Dengan cepat ia mengembangkan payung dan mulai melangkah anggun menerobos hujan yang tidak terlalu deras lagi.

Tak banyak kenangan yang tersimpan dari aksi konyol spontanitas seperti itu, situasi dan kondisi yang menentukan, waktu merupakan barang mahal. Terlambat mengambil tindakan karena terlalu lama berpikir hanya memberi angin kepada keraguan untuk mengambil alih keadaan. Lalu semua segera akan menjadi serba terlambat dan berubah menjadi prasasti penyesalan. Aku tidak akan izinkan itu terjadi, setiap detik bersamanya terlalu berharga.

Benar kata orang, hujan bukan hanya menyebabkan genangan tapi juga bisa menghadirkan kembali kenangan. Semua akan baik-baik saja asal kita tidak terlalu lama berendam dalam genangan kenangan itu ๐Ÿ˜Š
Terlambat mengambil tindakan karena terlalu lama berpikir hanya memberi angin kepada keraguan untuk mengambil alih keadaan. Lalu semua segera akan menjadi serba terlambat dan berubah menjadi prasasti penyesalan. Aku tidak akan izinkan itu terjadi, setiap detik bersamanya terlalu berharga.
____________

Namaku Anandra, teman-teman memanggilku Ana. Aku tidak terlalu suka hujan tapi aku percaya hujan selalu membawa kebaikan, bukankah kita diajarkan membaca doa untuk menyambut turunnya hujan?.


Memasuki awal November hujan tidak terlalu sering, namun setelah pertengahan November hujan deras hampir setiap hari mengguyur. 


Aku selalu siap payung dan jas hujan serta kantung plastik untuk melindungi isi tas, tapi setiap kali bertemu Dean dengan payungnya aku dengan senang hati menerima payung yang ia sodorkan. Kadang ia mandi hujan, kadang juga kami berdua dalam satu payung ,walau akhirnya ia selalu basah kuyup karena mengalah untukku.


Dean yang kutahu hanya lulusan SMA dan tidak mempunyai pekerjaan tetap, banyak yang tidak ku tahu tentangnya selain kelakuannya yang aneh: selalu muncul membawa payung saat hujan
Kalau tidak hujan ia tidak tampak, tapi pernah kupergoki ia mengawasi dari jauh. Berbaur dengan geng yang sebagian besar berasal dari sekolah yang sama denganku.

"Na, tadi itu siapa yang nganterin elo?" tanya Wati memecah lamunan.
"Biasa ojek payung, ada apa yah?" jawabku mencoba tenang.
"Ojek payung khusus buat elo kali? soalnya gue lihat setelah ngantar elo dia langsung pulang kok, gak seperti ojek payung lain, lagi pula kayaknya gue kenal deh"
"Elo kenal di mana?"
Sebuah pertanyaan percuma setelah aku tak dapat menjawab rentetan pertanyaan teman sekelasku ini. Wati pasti tau aku sedang mengelak.
"Hei, udah ngelamunnya!, disambung nanti saja, tuh Bu Guru sudah masuk kelas" ujar Wati mengagetkanku.

Tidak mengherankan sebenarnya kalau Wati dan beberapa teman mengenalnya. Selain adiknya juga bersekolah di sekolah ini, beberapa teman juga berasal dari wilayah yang sama. Paling tidak rumah kami masih 1 kelurahan walau beda RW apalagi dia cukup luas pergaulannya dengan banyak orang.

Ah aku masih saja melamunkannya walau setelah beberapa mata pelajaran silih berganti.

_____________

"Ana, ngapain lo ngeliat-ngeliatin mereka Na? Itu anak-anak bandel, cuekin aja!" kata Yeni menyadari aku yang agak tertinggal.

"Ah enggak tadi kayaknya ada yang manggil, gue kira mereka" jawabku menghindar.
"Ya mungkin aja sih, mereka emang suka usil, di sekolah juga suka bikin masalah, udah yuk ah, cuekin aja" timpal Sofi sambil menarik lengan Yeni. Kami bertiga kembali berjalan bersama sambil bercerita apa saja.

"Itu di sana ada Ivan, dulu waktu SD gak nakal kayak sekarang, suka bolos dan gak pernah rangking kelas lagi" Sofi mulai bercerita.

"Kok elo tau si Ivan suka bolos? Kalian kan gak sekelas, yang sekelas sama Ivan kan Ana" tanya Yeni.
"Rumahnya Ivan kan dekat rumah gue, ibunya suka nanya-nanya kalau gue lewat depan rumahnya" jelas Sofi dengan santai.

"Oh kirain elo suka sama Ivan hehehe" ledek Yeni, aku juga ikut tersenyum.
"Dulu sih iya, sekarang sih enggak lah" jawab Sofi sambil tersenyum. Kami bertiga masih terus bercanda.

"Ivan di kelas baik-baik aja kok, nanti gue salamin deh" godaku.

"Ih Ana jangan dong, gue kan malu" jawab Sofi dengan memasang mimik muka memelas yang disengaja sehingga mengundang tawa.

Saat kami tertawa bertiga Ivan dengan sepeda motornya menghampiri kami.

"Hai Sofi, hai Yeni, hai Ana, oh iya Ana elu dapet salam dari Dean". Setelah mengucapkan itu Ivan meninggalkan kami yang bingung.

"Idih apaan sih? Gue kirain mau nawarin gue pulang bareng" ucap Sofi ketus. Yeni dan aku tertawa mendengar ucapan Sofi. Sepertinya Sofi tidak serius, karena ia kemudian tertawa juga.


"Tumben banget tuh si Ivan lewat paket negor kita-kita, biasanya nyelonong aja kayak gak kenal" ucap Yeni. 

"Terus Dean itu siapa Na?" tanya Yeni.
"Gak tau" jawabku sambil tertawa, kemudian Yeni dan Sofi juga tertawa mendapat jawaban seadanya.

Kelak aku tahu Ivan ternyata memang mendapat pesan untuk menyampaikan salam kepadaku. Entah maksudnya apa tapi saat itu aku senang, tapi juga grogi menjawab pertanyaan Yeni.

_________

Bel istirahat berbunyi, aku keluar kelas bukan mau ke kantin atau lainnya, hanya ingin menghanti suasana saja agar tidak jenuh. 

"Hai Ana, salam dari Dean" ucap Ivan yang baru keluar dari ruang kelas.
"Terima kasih" jawabku.
"Elo emang udah jadian yah sama Dean?" tanya Ivan datar.
"Kalo iya emang kenapa?" jawabku memancing
"Yah gapapa sih, cuman heran ajah"
"Heran kenapa?" cecarku.
"Eh enggak deh, udah yah aku mau ke kantin dulu" jawab ivan meninggalkan aku yang kesal. 
Bagaimana tidak kesal, dia yang memulai pembicaraan lalu sekarang pergi begitu saja.

"Tumben elo ngobrol sama Ivan" tanya Wati mendekatiku.
"Elo gak apa-apa kan?" lanjutnya.
"Eh gapapa kok, gak tau, iseng aja kali" jawabku.
"Iya sih dia emang suka iseng, ayo bareng kalau mau ke kantin" ajak Wati.
"Gak deh, makasih, gue cuma mau cari angin aja kok" jawabku.
"Ok deh" jawab Wati sambil berlalu.


sunset di pantai indrayanti jogja

Hujan mulai reda, seiring kesadaran yang mulai hadir dan mengusir kenangan dalam lamunan.

"Asik bener ngelamunnya Na" sapa Mas Iwan yang kemudian duduk di dekatku.
"Hujan yang tidak terlalu deras, angin yang sejuk ini bikin lamunan kemana-mana mas." jawabku meraih gelas kopi yang sudah dingin.
"Kopi sudah dingin begitu kok diminum, ini masih hangat" Mas Iwan mengambil gelas kopiku dan menyodorkan kopi hangatnya. 

Aku terima mug putih bertuliskan "Jika Ingin Pelangi, Kau Harus Menerima Hujan" berisi kopi hangat yang menebar aroma bunga. Kesegaran mengalir mengusir suasana dingin dan menggantikan kenangan yang dingin dengan obrolan hangat kami. Mataku menangkap kilatan sisa sinar matahari senja memantul dari ombak yang berkejaran menepi di pantai. Semakin redup hingga benar-benar hilang tenggelam tanpa jejak.