Produktif di Dunia Online, Kenapa Enggak?

Produktif dari Dunia Online, Kenapa Enggak?
“Bisnis kamu sudah online?” Pertanyaan ini semacam pertanyaan retoris yang saat ini sudah tidak perlu ditanyakan, karena sudah tentu dilakukan oleh hampir semua orang, terutama masyarakat urban.

Ibarat makanan yang harus dipenuhi sehari-hari, begitulah kebutuhan manusia abad ini terhadap dunia online. Kalau "gak online, ibaratnya gak makan". Sekrusial itu.

Penggunaan internet di Indonesia memang termasuk fantastis. Menurut data dari eMarketer, jumlah pengguna Internet di Indonesia pada tahun 2018 sudah mencapai 123 juta dari jumlah penduduk Indonesia yang kurang lebih 250 juta jiwa. Artinya, ada separuh lebih dari jumlah penduduk. Tak heran, Indonesia pun masuk peringkat ke-6 dunia sebagai pengguna internet setelah Cina (termasuk Hongkong), Amerika, India, Brazil, dan Jepang.  
Produktif dari Dunia Online, Kenapa Enggak?
Fakta ini bisa jadi potensial bagi orang-orang yang ingin memanfaatkannya di ranah produktif, tidak hanya konsumtif. Gak hanya rajin menggunakan semua aplikasi itu, tapi juga memproduksi aplikasinya, misalkan. Atau yang sederhana lagi, gak cuma login dan ber-"say hello" di media sosial, tapi juga menjadikan media sosial sebagai etalase usahanya. Istilah bisnis online pun cukup populer sebagai pilihan bisnis zaman now. 

Internet yang borderless membuat semua orang bebas menjajakan apapun kepada seluruh penduduk bumi, tak hanya Indonesia. Kalau dulu, orang harus lewat di depan area toko kita, menoleh, melihat spanduk atau banner toko, atau mampir mengambil brosur dan kartu nama untuk tahu produk apa yang ditawarkan oleh si penjual, kini cara-cara semacam itu boleh dibilang sudah usang.

Jaringan internet membuka banyak sekat. Tergantung bagaimana kita sebagai pengguna menggunakannya dengan bijak dan tentunya menguntungkan. Syukur bisa menambah penghasilan.

Banyak kan sekarang slogan emak-emak berdaster dengan penghasilan jutaan rupiah dari rumah? Atau bapak-bapak yang tak lagi pergi ke kantor sebagai rutinitas, tapi diganti dengan pergi ke meja kerja dengan laptop dan jaringan wifi di sebuah sudut rumah dan kemudian menghasilkan pundi-pundi rupiah. Pun dengan mahasiswa yang menjadikan bisnis online sebagai tambahan untuk membayar uang kuliah.

Kemungkinan itu ada dimana-mana. Pertanyaannya, apakah cukup bisnis online dilakukan hanya dengan bermedia sosial?

Ternyata gak cukup. Media Sosial adalah platform di mana orang harus memiliki akun untuk bisa mengaksesnya. Sedangkan, pencarian terbesar di jagat maya saat ini masih didominasi oleh si Google atau mesin pencari lainnya. Artinya, jika sebuah bisnis online memiliki sebuah toko online berbasis web, tentu akan membuatnya mudah terdeteksi dan bisnis akan memiliki peluang lebih besar. 

Jika di dunia nyata, kita memiliki alamat rumah yang mudah dikunjungi siapa saja, begitupun di dunia maya. Memiliki sebuah alamat rumah dan “gudang” untuk menyimpan segala macam barang yang kita miliki atau pun jasa yang kita tawarkan pastinya juga mutlak diperlukan. Ya, karena kita hidup layaknya amphibi, di dua dunia :)
Produktif dari Dunia Online, Kenapa Enggak?
Bisnis online yang sudah profesional juga membutuhkan support domain dan web hosting yang mumpuni. Artinya, gak nebeng di platform web atau blog gratisan. Namanya juga usaha ya, bagian ini juga merupakan modal utama.

Niagahoster bisa menjadi pilihan. Sesuaikan kebutuhan kita dengan berbagai produk yang ditawarkan. Boleh juga berkonsultasi dengan customer service nya bila kita ragu-ragu dengan kebutuhan bisnis online kita.

Untuk membuat sebuah web yang mumpuni untuk bisnis online yang akan atau sedang dijalankan, memang diperlukan perencanaan yang tepat. Misalnya tentang nama domain yang mudah terdeteksi jagat maya, kemudian kapasitas “gudang” yang pas untuk menampung semua data, dan sebagainya. Tapi percayalah, itu semua lebih murah dan efektif dibandingkan kita harus menyewa sebuah ruko di dunia nyata. Saran saya, pilih Wordpress Hosting :)

Supaya makin mantap, berikut beberapa kelebihan toko online yang bisa kamu pertimbangkan (sumber dari sini) :
  • Tidak perlu mengeluarkan modal besar untuk sewa tempat
  • Tidak perlu menyediakan biaya untuk display mewah dengan etalase-etalase khusus
  • Tidak perlu berpindah tempat dan menghabiskan budget untuk transportasi, karena semuanya dilakukan tanpa batas ruang dan waktu. Sambil selonjoran di rumah, dan mengasuh anak buat para ibu rumah tangga juga sangat sesuai.
  • Pangsa pasar lebih luas, tidak terbatas pada pengunjung yang datang ke tempat kita, melihat spanduk atau banner toko kita secara langsung.
  • Bisa dengan mudah menambah jumlah varian barang karena kita bisa menyimpannya sendiri dan lebih mudah melakukan pencatatan. 
  • Pada awalnya, kita bisa menjalankan sendiri semuanya, hingga kita siap untuk benar-benar memiliki tenaga tambahan jika membutuhkan.    
Buat kamu yang baru memulai bisnis online, sudah punya rumah maya yang asik belum? Kalau belum, boleh memikirkannya dari sekarang dan coba tengok penawaran paket Hosting Indonesia ini. 

Bagi yang sudah melanglang buana dengan bisnis online nya, selamat menciptakan produktivitas dengan segala kemewahan jagat maya.  []


_________
*Tulisan ini adalah tulisan Mbak Prita yang sudah saya edit, tulisan lainnya dapat dibaca di alamat: https://www.pritahw.com/





Sekadar Mengingat Episode Kecil Dalam Kenangan

Sekadar Mengingat Episode Kecil Dalam Kenangan
Ibu dari 3 orang anak ini bernama Wahyu Nursanty. Sekian tahun lalu, setahun setelah dia lulus dari SMAN 1 Makassar, kami (total berjumlah 203 orang) kemudian dipersatukan dalam bendera "Eksekusi 95" di Kampus Merah Tamalanrea. Singkat cerita, sekitar tahun 2002 saya dengannya berangkat (masing-masing) ke Jakarta dan memulai karir yang berbeda dengan teman-teman "Eksekutor" lainnya.
Kemarin saat menikmati macet di jalur Tol Japek (Jakarta - Cikampek) menuju Bekasi saya iseng menulis sedikit cerita tentangnya yang kini berdomisili di Bandung. Ide yang begitu saja muncul setelah statusnya melintas di lini masa Facebook. Hanya sekadar catatan ringan tentang kesan-kesan dan sedikit ingatan yang terlintas. Alhamdulillah dia senang menerimanya dan meminta untuk ditambahkan.
Gak ada pesan sponsor, dia bilang tulis saja, tambahkan lagi, lumayan buat kenang-kenangan saat masa "revolusi fisik".

Baiklah, here we go...
---
Saya memanggilnya Yayu' kadang juga Santi, tapi tidak pernah Wahyu. Sekitar akhir tahun 2002 lalu, kami berdua berada dalam daftar 11 nama yang harus ke Jakarta untuk meneruskan proses rekrutmen pekerjaan yang dianggap "keluar" dari habitat keilmuan yang sama-sama kami pelajari di Kampus Merah Tamalanrea.
Iya, cuma 11 orang yang dinyatakan lulus setelah melewati 4 kali ujian dengan jarak sekitar sekian hari sampai seminggu untuk setiap kali test-nya. Mulai dari TPA (Test Potensi Akademik), Psikotest yang alhamdulillah ada snack dan kopinya, lalu test kesehatan dan olah raga ditambah lagi ujian terakhir: wawancara. Sebenarnya ada juga ujian yang tidak tercantum, yaitu ujian kesabaran dan harap-harap cemas menunggu pengumuman hasil dari 4 test tersebut hahaha.

4 Macam Ujian Yang Bikin Singit

Test pertama, TPA (Test Potensi Akademik) dilaksanakan di IKIP Petarani Makassar, atau yang sejak tahun 1999 berubah menjadi UNM (Universitas Negeri Makassar), saat itu UNM memang sering menjadi tempat berbagai ujian rekrutmen dll untuk umum.
Sepertinya sehari sebelum test, Yayu sempat datang dan ikut berkumpul sekadar "say hello" kepada saya dan teman-teman di sebuah rumah di Jalan Badak. Mungkin juga Yayu datang untuk memeriksa persiapan untuk ujian besoknya. Jadilah kami, kurang lebih sekitar 10 orang saat itu berkumpul belajar bersama membahas kira-kira soal apa yang akan keluar.
Menjelang sore kami bubar dengan alasan masing-masing. Yayu pulang atau pergi bersama sebagian teman untuk membeli perlengkapan untuk ujian, saya tidak ingat detailnya. Malamnya, saya tidur sekitar jam 3 malam di rumah itu, setelah asik bermain kartu bersama teman-teman sekadar pengisi ngobrol dan mengusir bosan. Malam itu saya tidak ke Pantai Losari untuk mengamen, bukan karena besok mau ujian, tapi karena ingin menghabiskan malam bersama teman-teman yang sudah jarang kumpul.
Rumah di Jalan Badak itu seperti "safe house" buat teman-teman dari daerah yang berkunjung ke Makassar. Saat itu saya menjadi penghuni tetap dan "care taker" sekaligus satpam di rumah tersebut. Rumah yang sering dijadikan alamat sekretariat segala macam kegiatan, rumah yang bersejarah dengan segala suka dukanya.
Pagi hari di UNM, sebelum mengikuti test TPA, saya dan teman-teman sepakat mengumpulkan uang lalu disimpan di sebuah tempat. "Siapa yang dapat menyelesaikan test terlebih dahulu dapat mengambil uang tersebut dan memilikinya." salah seorang dari kami mengajukan ide, seakan-akan ujian TPA belum cukup memacu adrenalin. Entah siapa, saya lupa pencetusnya, tapi sekarang saat mengingatnya kembali, saya suka dengan idenya itu. :D
Soal taruhan itu Yayu tidak terlibat, sepertinya pada hari itu saya tidak bertemu dengannya. Atau jangan-jangan dia datang ke Jalan Badak seusai ujian TPA? Ingatan saya tentang kedatangannya sehari sebelum ujian di Jalan Badak itu bisa jadi saya yang salah ingat jika ternyata ia datang justru setelah ujian TPA. Biar dia sendiri yang jawab, saya agak sulit menyusun ingatan lama ini :D


papan ujian clipboardKembali ke soal taruhan, siapa yang menang dan berhak mengambil semua uang yang telah kami kumpulkan? Soal ini saya juga lupa, seandainya saya yang menang mungkin saya akan mengingatnya. Yang saya ingat malahan bagaimana saya menghabiskan waktu agak lama karena tidak membawa alat pengalas kertas untuk ujian. Saat itu saya menggunakan kartu SIM untuk mengalasi kertas ujian agar tidak robek atau berlubang saat saya menghitamkan jawaban dengan pensil 2b. Gak modal banget sih, berapa sih harga papan ujian clipboard sot? -__-
Sekian hari berlalu hingga hari pengumuman hasil test TPA, saya dan teman-teman bersama-sama melihat pengumuman hasilnya di sebuah kantor di Jalan Ahmad Yani seberang kantor Walikota Makassar. Saya tidak terlalu berminat berdesakan mencari nama saya di papan pengumuman. Setelah salah seorang teman memberi tahu bahwa saya lulus, barulah kemudian saya mencoba memastikannya sendiri. Dari situ saya tahu, saya dan Yayu lulus untuk melanjutkan ujian berikutnya. Ok, gak menang taruhan, tapi lulus ujian, saya kira itu cukup menyenangkan yah :)
Dilanjut dengan psikotest, saat psikotest ada seorang peserta yang tertangkap oleh pengawas psikotes telah mengerjakan soal sebelum diperintahkan. Pengawas memberinya peringatan keras, entah kemudian memberinya lembar jawaban baru atau disuruh menghapus lembar jawabannya saya kurang tertarik karena sibuk memikirkan nasib, toh setelah insiden kecil itu ujian tetap dilanjutkan dengan beberapa kali coffe break.
Di kemudian hari saya mencoba mencarinya saat tes kesehatan, tapi sepertinya perempuan cantik yang tertangkap mengerjakan soal lebih dahulu itu tidak lulus dalam ujian psikotest beberapa hari lalu. Padahal ada yang mau saya tanyakan *ah alasan saja ini* :D
Yayu pastinya hadir dalam ujian psikotes ini, tapi entah kenapa saya gak ingat, atau mungkin otak saya sudah pingsan dihantam oleh beragam soal psikotest semacam Test Pauli, Wartegg Test, tes grafis/menggambar orang, Test Baum (menggambar pohon), DISC/Papikostik dan semacamnya.
Kemudian setelah itu, kami ikut test kesehatan dan olah raga di dalam kawasan pelabuhan. Bagaimana dengan Yayu? Saat sebelum lari keliling lapangan kontainer saya sempat dengar panitia memberi dia pesan agar tidak perlu memaksakan diri mengingat dia sedang hamil 4 bulan anak pertamanya. Sebelumnya saya sama sekali tidak tahu soal itu. Saya? Alhamdulillah masih singset, belum "hamil" seperti sekarang 😆

Beberapa hari kemudian, kami (13 orang yang tersisa) lanjut lagi mengikuti wawancara sebagai ujian terakhir. Yayu memberitahu saya apa saja yang ditanyakan saat wawancara, ia menekankan agar saya hapal dengan pasti tahun-tahun kelulusan dan menjawab dengan cepat setiap pertanyaan, jelas ia lebih siap dari saya dan tahu apa yang ia lakukan.
Hasil test wawancara tidak diumumkan secara lokal, tapi akan tercetak dalam surat kabar nasional. Saya lupa surat kabar apa, dan saya mendapatkannya sudah agak malam. Bersama partner mengamen saya, saya pergi ke penjual koran di sekitaran jalan Arief Rate, setelah meminta izin untuk sekadar membaca pengumuman dengan janji kalau ada nama saya maka surat kabar itu akan saya beli, kalau tidak ada saya akan beri uang sekadarnya untuk membaca 1 halaman. Akhirnya surat kabar itu saya beli karena saya menemukan nama saya dan Yayu dalam pengumuman itu.
Mengapa surat kabar nasional baru bisa didapatkan agak siang di Makassar? Konon saat itu hanya ada 1 penerbitan koran skala besar, dan penerbit itu akan mencetak surat kabar nasional setelah surat kabar lokal produknya, sebuah koran paling terkenal bahkan mungkin hingga sekarang di Sulawesi Selatan. Karenanya surat kabar nasional baru bisa didapatkan setelah agak siang. Mungkin itu masalah prioritas atau manajemen bisnis saja sih. Entah benar atau tidak, demikian lah yang saya percaya saat itu.
Internet memang sudah ada, tapi di tahun 2002 saya belum akrab dengan hal seperti itu. Handphone? Saya tidak punya, harganya lebih mahal dari gitar yang sering saya bawa.

Saya lupa dalam acara apa, tapi sebelum keberangkatan Yayu ke Jakarta saya dan teman-teman berkunjung ke rumah orangtuanya di Jalan Tinumbu memenuhi undangan. Samar dalam ingatan saat berkumpul di sana, ibunya Yayu memberi motivasi tentang merantau. Saya menghargai perhatian beliau sebagai perhatian seorang ibu kepada anaknya, sampai saat saya mengaku bahwa Jakarta bukan kota asing bagi saya, ke Jakarta saat itu bagi saya bukan merantau tapi pulang. Doa terbaik untuk beliau.
Yayu menanyakan banyak hal soal bagaimana nanti kehidupan di Jakarta, persiapan apa dan lain sebagainya. Tapi saya lebih sibuk dengan pikiran-pikiran seperti apa Jakarta setelah saya tinggal pergi sejak lulus SMA. Membayangkan kembali tinggal di Bekasi tempat kelahiran saya dan semacamnya.
---
Setelah di Jakarta kami ternyata langsung terpisah karena beda "sawah ladang" sehingga jarang sekali bertemu. Hingga terakhir Yayu bersama keluarganya datang ke rumah saya di Bekasi sekitar tahun 2016. Seingat saya, total hanya sekitar 2 atau 3 kali kami bertemu dalam jangka waktu 14-15 tahunan di Jakarta.
Cerita panjang mengalir, entah kenapa saya menangkap kesan seperti ada kesamaan pola. Yayu resign dan memilih jalan hidupnya bersama sang suami, meninggalkan begitu saja karir yang telah ia bangun sekitar 12 tahun di Jakarta. Begitu juga saya, sekitar tahun 2012 saya juga resign dari profesi yang menjadi jalan "kepulangan" saya ke Pulau Jawa ini 16 tahun lalu. Setelah sebelumnya mengira tidak akan pernah kembali lagi.
Langkah yang kami tempuh ini tampak seperti bunuh diri karir dalam pandangan orang lain. Masuk akal, karena saya dan Yayu saat itu sudah mencapai posisi "middle manager" dengan pendapatan yang lumayan. Buat kami? ada alasan yang kuat di balik keputusan itu.
Dalam percakapan kami, selain mengenang banyak hal juga terungkap prioritas-prioritas hidup yang sudah berubah, dan pada akhirnya mengantar kami berdua memilih jalan yang sama; resign dan memulai profesi baru yang lebih banyak memiliki waktu luang untuk keluarga.
Demikianlah, saat usia semakin dewasa, prioritas hidup akan berubah seiring perubahan situasi dan kondisi, semua memiliki alasan dan tujuan. Kami, (saya dan Yayu) sedikit beruntung karena memiliki kesempatan atau peluang untuk mengubah jalan cerita hidup kami, dan kami tidak ragu untuk mengambil peluang itu, walau mungkin dalam skala ekonomi apa yang kami lakukan sangat berpengaruh pada penurunan penghasilan, tapi bukan kah rezeki sudah ada yang mengatur?. :)
Memiliki waktu lebih banyak untuk berkumpul bersama keluarga bagi kami sebuah kemewahan, itulah alasan utama yang membuat kami mengambil keputusan untuk sedikit mengubah jalan cerita hidup ini. Semoga itu lah yang terbaik, setidaknya untuk keluarga kami masing-masing.

Salam :)

*Tulisan ini jadi panjang. Aslinya hanya 5 paragraf pendek yang saya tulis lalu saya kirim melalui WhatsApp Mesenger kepada Yayu, tapi dia meminta untuk diperpanjang semampu ingatan saya*

Berakhir Pekan Di Villa Griya Siliwangi Bogor

Villa Griya Siliwangi Bogor
Sabtu kemarin, 7 Juli 2018 saya sekeluarga liburan di Villa Griya Siliwangi Bogor bersama teman-teman keluarga besar Cahaya Foundation, pokoknya judulnya piknik lah biar kayak orang-orang :). Villa Griya Siliwangi ini tepatnya terletak di Kp.Babakan Banten Desa Sukawangi Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor bagian timur. 

Gak perlu heran kalau masih ada orang yang menyebut daerah tersebut masih daerah Jonggol karena Kecamatan Sukamakmur ini adalah kecamatan pemekaran dari Kecamatan Jonggol pada tahun 1999.

Soal jarak, kalau ditarik garis lurus di Google Maps dari Babelan ke Villa Griya Siliwangi jaraknya hanya sekitar 50KM. Tapi jarak rute aslinya bisa sampai 3-4 kali lipat, ditempuh sekitar 3-4 jam, agak lama karena tahu sendiri padatnya lalu lintas Bekasi plus selepas Jonggol jalannya berkelok mendaki perbukitan menanjak naik hingga ke 1200 MDPL. Saya gak ngukur sih :)

Pemandangan pedesaan dan perbukitan yang hijau menyejukkan cukup menyegarkan mata akan bisa dinikmati selepas Jonggol dan memasuki Sukamakmur. Ada beberapa spot wisata yang akan kita lewati, di antaranya wisata air terjun Curug Ciherang, Curug Cipamingkis, Wisata Danau Rawa Gede, Curug Cidulang, Wisata Alam Bukit Batu, Hutan Pinus, Batu Tapak yang dipercaya sebagai peninggalan Prabu Siliwangi dan lain-lain. Selepas hutan pinus dan beberapa wisata air terjun itu perjalanan mulai menanjak panjang sehingga diperlukan kendaraan yang prima.

Setelah sampai di Villa Griya Siliwangi kita akan disambut dengan pemandangan rumah panggung dari kayu ala Sulawesi khas rumah kayu Woloan Manado. Menurut pengurus Villa Griya Siliwangi, rumah kayu Woloan ini sengaja didatangkan dari Desa Woloan Kabupaten Tomohon, Manado Sulawesi Utara. Total ada 10 villa dengan 3 type, Type Anggrek, Bakung dan Cempaka, 1 bangunan musholah dan 1 bangunan aula tengah yang kami gunakan untuk makan bersama.
Sewa Vila Murah Villa Griya Siliwangi Bogor
Villa Cempaka
Type Anggrek adalah villa paling besar, terdiri dari 2 lantai yang cukup luas dengan 3 kamar dan ruangan tengah yang lebar. Kemarin kami menggunakannya untuk menonton bersama, karaokean dan lain-lain. Semua rombongan menginap di Villa Anggrek kecuali saya dan keluarga yang menginap di Villa Cempaka dan beberapa yang tidur di luar semi kemping.
Sewa Vila murah lengkap Griya Siliwangi Bogor puncak
Villa Cempaka
Villa Cempaka yang saya tempati menginap ini hanya terdiri dari 1 kamar tidur (tempat tidur size 200×160) dan 1 ruang tamu yang kami isi dengan 1 extra bed. Di bagian belakang ada dapur dan kamar mandi, cukuplah untuk keluarga dengan 3 anak seperti keluarga saya. 

Untuk lebih detail kita bisa lihat di web http://griyasiliwangi.com di web ini juga sudah ada nomor kontak, harga-harga sewa villa yang relatif murah dan terjangkau, fasilitas dan lain-lain. Untuk mencari suasana yang lebih eksklusif guna mendapatkan suasana akrab kekeluargaan maka Villa Griya Siliwangi cukup pas, karena letaknya di pedesaan yang sepi dan sinyal agak susah :D
Sewa vila murah Griya Siliwangi Bogor nyaman bersih
Villa Bakung
Spot favorit saya untuk foto dan menikmati kopi ada di anjungan pohon dengan view ke arah Jakarta-Cikampek dengan ketinggian 1200 mdpl. Dari sini tampak puncak Gunung Batu sangat menonjol dengan latar belakang hijau serta pegunungan lainnya.
Villa Griya Siliwangi Bogor
Spot Foto Villa Cempaka Griya Siliwangi Bogor
Pemandangan di depan Villa Anggrek juga bagus untuk area mengambil foto, tampak kejauhan bayangan Gunung Pangrango dan Gunung Salak serta perkebunan hijau membentang sepanjang horizon sebagai latar belakangnya.
Spot Foto Villa Cempaka Griya Siliwangi Bogor
Suhu di ketinggian 1200 MDPL jelas lumayan dingin, apalagi saat malam. Saya karena lelah dan memang gak kuat udara dingin hanya bisa bertahan sampai sekitar jam 10 malam. Padahal ada acara api unggun di halaman mini camping ground, saya musti rela melepas kesempatan menikmati kebersamaan api unggun bersama teman-teman dan tidur nyenyak di villa yang berjarak sekitar 200 meter dengan jalan menurun melewati lapangan futsal dan area flying fox yang juga merupakan fasilitas Villa Griya Siliwangi. 

Efek dari suhu dingin ini juga sangat berpengaruh pada nafsu makan hahaha. Porsi makan jadi lebih banyak dan jadi sering lapar. Untunglah stok konsumsi yang dibawa memang berlebih. Setelah pagi sarapan nasi goreng, belum sampai siang saya sudah mindo seporsi besar nasi dengan sayur asem dan ikan asin lengkap dengan sambel terasinya. Kopi dan wedang jahe sudah tidak bisa dihitung berapa gelas selama 2 hari 1 malam di sana.

Sayangnya selama di sana saya kurang banyak beraktivitas, selain udara dingin juga sakit pinggang yang kambuh. Jadilah saya hanya hunting-hunting foto dan lebih banyak nongkrong menikmati kopi dan ngobrol tentang rencana-rencana ke depan.

Tips:
  • Kalau ke sana usahakan banyak orang, makin banyak makin seru, soalnya lokasinya eksklusif banget. Jauh dari mana-mana, di ujung bukit jadi sepi;
  • Bawa jaket, selimut dll, suhunya susah diatur pakai remote control, sekalinya dingin yah dingin banget;
  • Bawa konsumsi berlebih, nafsu makan akan meningkat tajam;
  • Ada beberapa spot di mana sinyal bagus, mencari spot sinyal bisa jadi tantangan tersendiri :D
  • Anjungan foto Max hanya untuk 4 orang, mohon dipatuhi demi keselamatan;
  • Saat malam sebaiknya hanya berkegiatan di dalam komplek vila;
  • Jangan lupa beli kopi dari pekebun kopi di sekeliling vila :)
  • Sudah lah itu ajah, selebihnya ngobrol di form komentar ajah.


Komplek Villa Griya Siliwangi
Kp. Babakan Banten, Ds. Sukawangi, Kec. Sukamakmur, Kab. Bogor
S06’38’04.” E107’03’04.4″

Semua foto diambil dengan menggunakan Kamera Xiaomi MiA1.

Pasar Bandeng, Merawat Warisan Wali Hingga Kemandirian Ekonomi Masyarakat Pesisir

Pasar Bandeng, Merawat Warisan Wali Hingga Kemandirian Ekonomi Masyarakat Pesisir
Setiap menjelang Idulfitri, daerah-daerah pesisir utara Kabupaten Bekasi seperti wilayah Kecamatan Tarumajaya, Babelan, Muaragembong dan sekitarnya memiliki banyak tradisi kebudayaan yang masih dilestarikan oleh penduduknya hingga saat ini.

Salah satu tradisi itu yaitu Tradisi Pasar Bandeng yang selalu hadir pada saat warga pesisir Bekasi menyambut hari raya Idulfitri. Tradisi ini juga berdampak pada kemajuan perekonomian masyarakat pesisir dan sekitarnya yang banyak terdapat tambak ikan bandeng dan lain-lain.

Ikan bandeng

Ikan bandeng (Chanos chanos) adalah ikan pangan populer di Asia Tenggara. Menurut Wikipedia, ikan ini merupakan satu-satunya spesies yang masih ada dalam suku Chanidae (bersama enam genus tambahan dilaporkan pernah ada namun sudah punah). Dalam bahasa Bugis dan Makassar dikenal sebagai Ikan Bolu, dan dalam bahasa Inggris disebut Milkfish.

Bandeng disukai karena rasanya yang gurih, rasa daging netral (tidak asin seperti ikan laut) dan tidak mudah hancur jika dimasak. Dari sisi harga, bandeng termasuk ikan kelas menengah ke atas. Dalam perayaan Tahun Baru Imlek, hidangan bandeng menjadi bagian tradisi wajib bagi warga Tionghoa asli Jakarta dan sekitarnya. Kelemahan bandeng ada dua: dagingnya 'berduri' dan kadang-kadang berbau 'lumpur'/'tanah'.

Ada Apa Dengan Bandeng?

Silvita Agmasari dalam Kompas Travel menulis sebuah artikel berjudul: "Makan Bandeng Saat Imlek, Hanya Ada di Tradisi Tionghoa Indonesia". Dalam artikel tersebut dijelaskan bahwa keterkaitan Bandeng dengan Imlek tidak sepenuhnya benar, karena "makan ikan bandeng pada Hari Imlek hanya merupakan ciri khas masyarakat etnis Tionghoa di Pulau Jawa." mengutip pernyataan Ketua Program Studi China Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Hermina Sutami saat dihubungi KompasTravel, Kamis (8/2/2018).

Dalam artikel tersebut juga disebut bahwa, dalam buku "Saudagar Baghdad dari Betawi" karya Alwi Shahab menengarai, kehadiran bandeng yang menjadi salah satu tradisi Imlek di kawasan Jabodetabek merupakan perpaduan budaya China dan Betawi. Sebab selain Tionghoa, Betawi juga memiliki tradisi yang menggunakan bandeng. Bedanya dalam tradisi Betawi, ikan bandeng mentah dan segar menjadi antaran calon mantu ke mertuanya. Di buku tersebut, dijelaskan bahwa ukuran bandeng yang dibawa calon menantu ke calon mertuanya bisa menentukan kelanjutan perjodohan.

Konon ikan bandeng juga menjadi salah satu item wajib saat tradisi nyorog. Nyorog adalah tradisi masyarakat Betawi dalam menyambut bulan Ramadan dan lebaran, dalam tradisi ini yang muda bersilaturahim sambil memberikan hantaran berupa makanan matang atau mentah kepada yang lebih tua sepeti orang tua, mertua, enkong, uwak, encang-encing, abang dan seterusnya. 

Pendapat Alwi Shahab menurut saya cukup beralasan karena selain menjadi tradisi masyarakat pesisir Jakarta dan Bekasi ternyata Pasar Bandeng juga dikenal baik oleh masyarakat pesisir di Kabupaten Gresik Jawa Timur. Tradisi Pasar Bandeng di Gresik ini dipercaya oleh masyarakat sebagai warisan tradisi dari Sunan Giri (1442-1506 M). Sunan Giri atau Raden Paku adalah nama salah seorang Walisongo dan pendiri kerajaan Giri Kedaton, yang berkedudukan di daerah Gresik, Jawa Timur. 
Pasar Bandeng, Merawat Warisan Wali Hingga Kemandirian Ekonomi Masyarakat Pesisir

Kira-kira sekitar abad ke 15 masehi, Sunan Giri membantu perekonomian masyarakat pesisir Gresik dengan cara mengolah dan memasarkan hasil bumi dan hasil laut mereka. Salah satunya dengan menciptakan pasar bandeng di pusat kota sehingga berdampak positif bagi kemandirian ekonomi masyarakat Gresik, nelayan pesisir khususnya.

Tradisi ini hingga kini masih dijaga oleh Pemerintah Kabupaten Gresik. Hampir 3 km jalan di Gresik mulai dari Jalan Samanhudi, Jalan Gubenur Suryo, Jalan Raden Santri, dan Jalan Basuki Rachmat dipenuhi oleh pedagang, Pasar Bandeng di Gresik pada momen ini menjelma menjadi pasar ikan terpanjang di Indonesia.

Kapan Waktu Pasar Bandeng?

Di Gresik, Pasar Bandeng digelar pada malam 27 dan malam 28 Ramadan (H-3 dan H-2) sedangkan di Bekasi digelar pada H-1. 

Dari catatan Bang Ali Anwar sebagaimana dikutip oleh laman Garda Nasional, dikisahkan bahwa pada Hari Selasa Tanggal 29 Ramadhan 1365 Hijriyah atau 27 Agustus 1946 Masehi telah terjadi pertempuran antara Batalyon Infanteri V KNIL atau "Batalyon Andjing NICA" melawan Kompi I Batalion II Hizbullah yang dikomandoi Marzuki Hidayat salah satu Komandan Hizbullah Front Tambelang bersama-sama dengan para pejuang dari Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia (BPRI) yang dipimpin oleh Ahmad dan Gozali.

Pertempuran terjadi pada saat Pasar Bandeng di Pasar Kampung Karang Tengah (Saat ini diperkirakan di dekat saluran Banjir Kanal Timur/BKT sekitar Kampung Karang Tengah, Desa Pusaka Rakyat, Kecamatan Tarumajaya Kabupaten Bekasi) sehari sebelum perayaan Idulfitri (lebaran saat itu jatuh pada hari Rabu 28 Agustus 1946 / 1 Syawal 1365 H) dengan menimbulkan banyak korban tewas dari pihak Batalyon Anjing NICA.

Dari catatan sejarah itu jelas bahwa di Bekasi, pelaksanaan pasar bandeng adalah H-1 sebelum Idulfitri di pasar umum atau tempat jual beli pada umumnya.

Begitupun menurut salah satu tokoh masyarakat di kampung halaman saya, Bapak Marjuki Lahimsyah, S.Pd menjelaskan bahwa Pasar bandeng itu digelar pada H-1 Idulfitri. Baik di Pasar Babelan maupun Pasar Bojong Baru di Tarumajaya pasar bandeng sama-sama digelar pada H-1 Idulfitri.
"Saya masih ingat saat kecil orang tua saya menjual ayam hanya untuk membeli bandeng, sepertinya saat lebaran ikan bandeng lebih berharga dari ayam dan tanpa bandeng lebaran di kampung serasa kurang komplit." ujar Guru Marjuki sebagaimana saya menyebut beliau.

Kekinian, ada juga masyarakat yang menamakan pagi hari pada momen Pasar Bandeng dengan istilah Pasar Senggol, mungkin karena suasana pengunjung pasar yang berdesakan menyebabkan para pengunjung sering bersenggolan (bersentuhan badan).

Tampaknya istilah Pasar Bandeng ini hanya dikenal oleh masyarakat pesisir Bekasi, salah seorang penggiat sejarah Bekasi, Agah Handoko yang juga aktif dalam komunitas Bekasi Pakidulan menyatakan belum pernah mendengar ada pasar bandeng digelar di sekitar wilayah Kabupaten Bekasi bagian selatan.

Demikian juga menurut Djaelani, seorang aktivis muda dari Cibarusah Center. Djaelani mengonfirmasi bahwa istilah pasar bandeng tidak dikenal di wilayah Kabupaten Bekasi Pakidulan.
"Tapi untuk tradisi seperti nyorog ke mertua menjelang lebaran tetap ada dengan istilah "nganteuran", ikan bandeng menjadi salah satu item yang sudah seharusnya ada" tambah Djaelani.

Untuk wilayah Muaragembong yang tidak memiliki pasar, Uci Yusuf seorang penggiat lingkungan pesisir menjelaskan bahwa ikan bandeng menjelang lebaran akan bisa didapatkan dari penjual di lapak ikan dan bandar bandeng di pinggir jalan dekat Kantor Kecamatan Muaragembong.
"Ada di bandar bandeng, tapi belanjanya harus pagi-pagi, sekitar jam 7 sampai jam 9, di atas jam itu biasanya bandeng sudah habis dibeli warga" ungkap pengasuh laman online Muaragembong Kita ini.

Kini hidangan bandeng tidak selalu tersedia mentah, banyak pilihan jika kita lebih suka ikan bandeng yang sudah masak dan siap dimakan. Produk olahan ikan bandeng yang terkenal di Bekasi salah satunya adalah Bandeng Rorod produksi Bang Afif Ridwan dan istrinya.

Bandeng Rorod adalah Bandeng Isi Tanpa Duri (Olahan Ikan Bandeng) khas Bekasi, yang mudah dan praktis disajikan Bandeng Rorod tersedia dalam beberapa pilihan, antara lain Rasa Original dan Pedas. 1 Pack isi 1 ikan bandeng dengan sambal yang terpisah, berat bersih 125 gram, halal dengan sertifikasi dari MUI, diproses tanpa bahan pengawet dan tanpa MSG. Menrut Bang Afif, kalau disimpan di Frezer maka Bandeng Rorod dapat tahan sampai 6 bulan. Mau tau lebih banyak tentang Bandeng Rorod? klik bandengrorod.co.id
Bandeng Rorod Bekasi Bang Afif Ridwan
Bandeng Rorod Bekasi Bang Afif Ridwan
Jadi... mari kita ramaikan momen Pasar Bandeng di pesisir Bekasi, jadikan sebuah event tradisi yang bergengsi demi melestarikan tradisi warisan Sunan Giri dan juga demi memajukan ekonomi masyarakat pesisir. Semoga berkah, amiin.

Oh iya, sebagai catatan, bahasan soal pasar bandeng ini tidak ada hubungannya dengan Pasar Bandeng di Karawaci Tangerang Banten.


Arti Kode Tara Pangan Dan Kode Daur Ulang Kemasan Plastik Wadah Makanan Dan Minuman

Arti Kode Tara Pangan Dan Kode Daur Ulang Kemasan Plastik Wadah Makanan Dan Minuman
Contoh Logo Tara Pangan dan Kode Daur Ulang Kemasan Plastik
Saat ini plastik sudah menjadi benda yang tidak bisa lepas dari keseharian kita, termasuk untuk wadah makanan dan minuman. Sejak 1970-an perkembangan wadah dari plastik bisa dibilang pesat dan memiliki banyak peminat. Saat ini orang-orang lebih menyukai wadah dari plastik karena ringan, mudah dibawa, tidak mudah pecah, fleksibel dan memiliki berbagai pilihan warna dan ukuran sesuai kebutuhan.

Selain kelebihan-kelebihan tersebut ternyata plastik juga memiliki kekurangan, kekurangannya adalah bahaya yang terkandung dari wadah-wadah platik tersebut. Hal ini tentu membuat khawatir  siapapun  yang  sering menggunakan piring dan gelas plastik. Mereka tidak ingin mengorbankan  kesehatan diri dan anggota keluarganya. Karenanya kita perlu memahami kode plastik yang aman digunakan sebagai kemasan pangan.

Sesuai  dengan  Peraturan  Menteri Perindustrian Nomor 24/M-IND/PER/2010 Pasal 2, setiap  kemasan  pangan  yang  diperdagangkan  di dalam negeri atau impor wajib mencantumkan logo tara pangan atau pernyataan yang menunjukkan kemasan dimaksud aman untuk mengemas pangan dan kode daur ulang. Kode ini bisa dilihat di bagian bawah  piring,  botol, wadah pembungkus dan lain-lain.  Logo  tara pangan  adalah  penandaan  yang  menunjukkan bahwa  suatu  kemasan  pangan  aman untuk  digunakan.

Berikut jenis kode logo tara pangan dan kode daur ulang beserta maksudnya:

Arti Kode Tara Pangan Dan Kode Daur Ulang Kemasan Plastik Wadah Makanan Dan Minuman
Logo Tara Pangan dan Kode Daur Ulang Kemasan Plastik

Kode  01,  PET,  memiliki  sifat  jernih,  kuat, tahan  pelarut,  kedap  gas  dan  air,  serta  melunak pada  suhu 80 °C.  Jenis  kemasan  ini  relatif  aman untuk sekali pakai sebagai kemasan pangan. 

Kode 02, HDPE, merupakan polimer yang sifatnya keras hingga semi fleksibel, tahan terhadap bahan  kimia  dan  kelembapan,  mudah  diwarnai, diproses, dan dibentuk, serta melunak pada suhu 75 °C. Relatif aman sebagai kemasan pangan.

Kode 03, Kemasan dari PVC, bersifat kuat, keras,  jernih,  dan  melunak  pada  suhu 80 °C. Sebaiknya  kita  menggunakan  alternatif pembungkus makanan lain karena kandungan yang ada  di  dalamnya  dapat  bocor  dan  masuk  ke makanan berminyak jika dipanaskan. 

Kode 04, jenis plastik LDPE, memiliki sifat mudah  diproses,  kuat,  fleksibel,  kedap  air,  tidak jernih  tetapi  tidak  tembus  cahaya,  dan  melunak pada suhu 70 °C. Jenis ini juga relatif aman sebagai kemasan pangan.

Kode  05,  polimer  PP,  bersifat  keras  tapi fleksibel,  kuat,  tidak  jernih  tapi  tembus  cahaya, tahan terhadap bahan kimia, panas, dan minyak, serta melunak pada suhu 140 °C. Kemasan pangan  yang aman digunakan pada suhu panas.

Kode 06, PS, memiliki sifat getas, ada yang jernih seperti kaca, ada yang berwarna putih, serta terpengaruh lemak dan pelarut. Perlu diwaspadai adanya  residu  monomer  stirena  yang  bersifat karsinogenik.

Terakhir,  kemasan  plastik  lain  (salah satunya Polikarbonat) dengan kode 07 yang bersifat keras, jernih, dan secara termal sangat stabil. Perlu diwaspadai  adanya  sisa  bahan  dasar  bisfenol-A (BPA) pada polimer ini yang dapat menyebabkan gangguan pada sistem endokrin.

Mungkin  akan  merepotkan  jika  kita memperhatikan  bagian  bawah  peralatan  makan saat berbelanja, tetapi ini dapat melindungi keluarga kita dari keracunan plastik.

Arti Kode Tara Pangan Dan Kode Daur Ulang Kemasan Plastik Wadah Makanan Dan Minuman
Kode tara pangan dan contoh jenis kemasan

Sedikit Catatan Tentang PUASA

Sedikit Catatan Tentang PUASA
Menurut beberapa sumber, kata puasa dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Pali dan Sansekerta yaitu Upawasa (Upavasa) atau Uposatha (Upavasatha). Upawasa atau  terdiri dari 2 kata, yaitu Upa dan Wasa (Vasa). Upa artinya dekat atau mendekat dan Wasa (Vasa) artinya Tuhan atau Yang Maha Kuasa. Jadi puasa atau Upawasa dalam pengertian bahasa bermakna mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Saudara-saudara kita yang memeluk agama Hindu masih menyebut puasa dengan upawasa hingga saat ini. Ok, sedikit saya bahas tentang upawasa dalam agama Hindu berdasarkan beberapa referensi. Kalau ada yang salah mohon dikoreksi :)

Dalam pemahaman pemeluk Hindu, upawasa bukan sekadar menahan rasa haus dan lapar, tidak hanya untuk merasakan miskin dan kelaparan, menurut yang saya baca juga bukan untuk mencari pahala dan janji surga. Tujuan utama upawasa adalah untuk mengendalikan nafsu indrawi, mengendalikan keinginan dan kebutuhan fisik. Panca indra harus berada di bawah kesempurnaan pikiran, dan pikiran berada di bawah kesadaran budi. Jika Panca indra terkendali dan pikiran terkendali maka hal itu dipercaya akan dekat dengan kesucian, mendekat dengan Tuhan.

Jika dalam Islam mengenal puasa sunah seperti puasa Senin Kamis dll, demikian pula dalam kepercayaan Hindu, upawasa juga ada yang tidak bersifat wajib. Menurut yang saya baca, upawasa yang tidak wajib ini diserahkan kepada masing-masing individu apakah akan ia lakukan pada siang hari saja ataukah sehari penuh.

Sedikit Catatan Tentang PUASA
Sedikit obrolan saya dengan teman mengenai puasa

Jika saat bulan Ramadan ini ada saudara-saudara kita umat Hindu ada juga yang berpuasa, kemungkinan besar mereka sedang melakukan upawasa bebas tidak wajib seperti yang disebut di atas. Mereka akan memulai upawasa sejak fajar sama seperti kita kaum muslimin, namun bisa jadi upawasa mereka hingga fajar keesokan harinya, karena menurut kepercayaan Hindu pergantian hari adalah fajar, namun bisa juga mereka melakukan ibadah upawasa setengah hari saja dan berbuka pada saat senja.

Jika ada teman yang menganut agama Hindu tanyalah mereka soal upawasa, mereka seringkali melakukannya. Begitu juga dengan teman Kristiani, mereka juga kerap melakukan puasa, mulai dari puasa 8 jam, 1 hari, 1 hari 1 malam, 3 hari puasa total dan seterusnya, ada yang tidak berpantang dengan air putih, ada pula yang tidak makan dan minum. Tujuan puasa bagi kristiani mungkin dapat dijelaskan dalam potongan ayat "... kamu harus merendahkan diri dengan berpuasa." Imamat 16:29.

Agama Buddha juga mengenal puasa, mereka menyebutnya Uposatha (Upavasatha). Rangkaian pelaksanaan ibadah uposatha dimulai pada pagi hari dengan berniat akan melatih diri dengan menjalankan praktik atthasila (delapan sila) baik dalam bimbingan seorang bhiksu atau tidak. Sebelum memasuki tengah hari (jam 12 siang) masih diperbolehkan untuk makan dan minum, kemudian mulai tidak makan dan minum sejak dari jam 12 siang sampai fajar di esok harinya.

Puasa Ramadan dalam pandangan Islam sebagaimana dipahami adalah sebuah kewajiban kecuali bagi yang sakit, sedang berpergian jauh dan suci dari nifas dan haid (bagi perempuan). Di balik kewajiban ini tentu banyak hal yang patut kita pelajari, baik dari Al Quran dan hadis-hadis untuk dapat lebih memahami apa tujuan puasa. Sedikit tentang tujuan puasa sependek yang saya pahami pernah saya catat di postingan di bawah ini berjudul: Lapar mengajarmu rendah hati selalu.

Baca juga: Lapar mengajarmu rendah hati selalu 

Dari catatan ini kita sama-sama pahami bahwa puasa bukanlah sesuatu yang asing bagi masyarakat Indonesia. Lebih jauh lagi merunut asal muasal agama-agama yang dianutnya maka baik agama-agama dari timur dan barat mengenal puasa sebagai salah satu syariat atau ajarannya. Meski berbeda dalam pelaksanaannya, jika diselidiki lebih jauh tujuannya tidak jauh berbeda, yaitu untuk mendekatkan diri kepada Sang Maha Pencipta. []

“Setiap amalan manusia adalah untuknya kecuali puasa, sebab ia hanyalah untukku dan Akulah yang akan memberikan ganjaran padanya secara langsung”. [HR Bukhari dalam Shahihnya: 7/226 dari hadis Abu Hurairah radhiyallahu’anhu].

7 Ramadan 1439 H
23 Mei 2018


Belajar Puasa Dari Pemburu Yang Kemalaman Di Hutan

Belajar Puasa Dari Pemburu Yang Kemalaman Di Hutan

Konon ada seorang pemburu yang sedang kurang beruntung. Sejak pagi benar ia meninggalkan rumah, namun demikian ia tak berhasil mendapatkan hewan buruan hingga sore saat matahari terbenam. Menyadari hari akan gelap, secepatnya ia berbalik mencoba pulang ke kampungnya. Namun sayang ia terlalu jauh masuk ke dalam hutan. Tanpa perbekalan yang memadai ia terus mencoba menyusuri jalan yang ia yakini menuju kampungnya dengan penerangan yang semakin redup. 

Putus asa melanjutkan perjalanan akhirnya ia berhenti, ingatannya tertuju pada pohon besar yang memiliki batang menjorok ke telaga, pohon yang sering ia gunakan untuk mengintai hewan buruan dan juga memancing ikan. Berdasarkan ingatan, lokasinya tidak jauh dari ia berada kini. Ia yakin akan dapat berada di atas pohon itu sebelum obor darurat yang ia buat padam dan gelap benar-benar akan membutakan pandangannya. 

"Tak ada waktu lagi, aku harus cepat naik ke atas pohon itu dan bermalam di sana." Tekadnya sudah bulat, pohon besar itu hanya satu-satunya solusi terbaik yang dapat ia pikirkan di antara suara-suara hewan malam yang semakin ramai mengisi gelap. Dengan nafas teesengal-sengal akhirnya ia berhasil memanjat pohon dan mencoba mencari dahan yang nyaman untuk beristirahat. Malam semakin rapat menyelimuti  hutan, pantulan bulan di permukaan telaga yang tenang sedikit bisa menghiburnya.

Kesiagaannya tidak menurun, ia sadar mungkin saja akan ada ular yang dapat mengganggunya, atau jika ia sampai tertidur ia dapat terjatuh lalu menjadi mangsa hewan-hewan buas. Mengingat itu dia mencoba mencari dahan yang lebih menjorok ke telaga, agar jika ia terjatuh setidaknya ia akan terjatuh ke air.

Gendewa panahnya dikaitkan ke dahan pohon, pedang tetap ia sandang, endong anak panah dan pisau ia atur agar selalu dalam jangkauan. Jika ini malam terakhir ia hidup, maka ia akan pastikan perlawanan yang sengit akan ia lakukan demi bertahan hidup.

Sebagai seorang pemburu, ia merasa kali ini dialah yang menjadi obyek buruan, di balik gelap pepohonan dan semak di bawah pohon yang ia tempati, ia menduga sekian pasang mata hewan buas tengah mengintai. Ia tidak boleh lengah atau tertidur walau sekejap. 

Dari tempatnya berlindung, dengan kewaspadaan tinggi ia merasakan dedaunan yang tua berguguran, jatuh ke telaga dan menimbulkan riak gelombang. Gelombang-gelombang kecil yang mengingatkannya pada anak istrinya di rumah.

"Maafkan aku yang pasti telah membuat kalian gelisah karena tidak pulang malam ini" gumamnya dalam hati.

Tiap kali kantuk menyerang ia mengusap wajahnya yang lembab terkena embun. Setelah yakin suasana aman ia memetik daun dan menjatuhkannya ke telaga. Daun itu meluncur perlahan, kadang tertiup angin sebelum jatuh ke telaga dan menimbulkan riak gelombang kecil. Setiap daun yang ia jatuhkan seakan melucuti berbagai pikiran-pikiran yang membelenggunya saat itu.

Tidak ada bekal makanan, tak ada teman bicara, sendirian dalam hutan gelap, tidak dapat tertidur walau lelah musti ia tahan. Ketakutan-ketakutan sedikit demi sedikit berhasil ia tundukkan, walau secara pasti ia tidak dapat menjamin keamanan dan keselamatan dirinya entah sampai kapan. Lapar haus, lelah ia tanggung dalam diam, terjaga ia semalaman menundukkan semua kebutuhan lahiriah demi sebuah kesadaran dalam kewaspadaan yang tinggi.

Beberapa daun kembali ia petik dan ia lepaskan perlahan. Air telaga menyambut dedaunan yang jatuh dengan lembut, gelombang-gelombang air yang diciptakan dengan cepat tersapu riak akibat angin atau hewan air. Seperti gelombang kehidupan yang fana, hilang tidak berbekas di permukaan zaman yang terus berubah.

"Daun-daun yang gugur sebelum waktunya" ucapnya dalam hati. Setiap helai daun mengantarnya pada perenungan akan jalan hidup. Paradoks hidup yang kurang lebih sama dengan jalan hidupnya. Seorang pemburu yang hidup dengan membunuh binatang buruan, yang sebenarnya adalah makhluk hidup lain, namun terpaksa ia lakukan untuk menyambung hidup keluarganya.

Ia petik lagi beberapa daun, ia remas dedaunan itu menjadi satu kemudian ia lempar ke telaga di bawahnya. . 
"Mungkinkah daun-daun yang lain saat ini sedang ketakutan sepertiku? Takut untuk dipetik? Seperti hewan buruan yang masih mencoba berlari walau beberapa anak panah sudah melukainya? Mungkin daun-daun inipun merasakan sakit saat aku petik dan kuremas... Aku seharusnya tidak boleh menebar ketakutan, sehingga aku disiksa oleh ketakutan yang sama seperti saat ini". 

Malam semakin tua saat ia menggigil kedinginan karena angin berkabut lembab telah membasahi pakaiannya. Ufuk timur telah merona merah, tanda matahari yang telah semalaman ia nanti akhirnya datang.

"Istriku, jika aku pulang dengan selamat, maaf aku tidak membawa hasil buruan, hari ini adalah hari terakhir aku menjadi pemburu. Daun-daun dan pohon ini telah melindungi nyawaku malam ini. Aku ingin menjadi petani saja" kerinduannya mengusir segala kantuk dan penat yang tersisa. 

Seiring matahari terbit, ia telah menjadi pribadi baru yang terlahirkan kembali, setelah berhasil mengalahkan semua rasa takutnya. Ia pulang dengan membawa endong panah yang masih penuh. Hewan-hewan yang biasanya berlari melihatnya kini seakan mengucapkan selamat dan mengantarnya pulang ke kampung di mana anak istrinya bahkan kerabat desanya telah gelisah menanti kepulangannya.

4 Ramadan 1439 H
20 Mei 2018


Keutamaan Sahur, Walaupun Hanya Dengan Seteguk Air Putih

Keutamaan Sahur, Walaupun Hanya Dengan Seteguk Air Putih

“Sahur adalah makanan berkah, maka jangan kalian tinggalkan walaupun hanya minum seteguk air...” (HR. Ahmad dan dihasankan Syaikh Al-Albani dalam Shahih al-Jami’, no. 3683).

Hadis di atas sudah cukup menjelaskan betapa Nabi Muhammad SAW sangat menganjurkan umatnya untuk melakukan sahur. Ya, walaupun hanya dengan seteguk air, terpenuhi sudah syarat minimal bagi kita untuk melaksanakan sunah sahur sebelum puasa. 

Kita tak pernah tahu berapa banyak orang yang memang hanya sahur dengan seteguk air. Entah karena kefakiran hingga hanya seteguk air yang ia miliki, atau hanya segelas air yang ia butuhkan untuk memenuhi anjuran sunah dari Nabi yang ia cintai, ia tidak punya kebutuhan dan alasan lain dari sahur kecuali memenuhi anjuran dari Nabi Muhammad SAW.

Teman saya pernah bilang, bangun sahur itu juga berarti sebagai penguat niat berpuasa Ramadan. Bagi yang belum sempat niat berpuasa sebelumnya maka saat sahur itulah kesempatan dia untuk menyatakan niatnya serta memantapkannya. Karena menurutnya tidak sah puasa Ramadan jika tidak diniatkan pada malam hari sebelum puasa.

Dari 4 imam mazhab, hanya Mazhab Hanafiyah yang menyatakan tetap sah puasa Ramadan seseorang jika niatnya diucapkan walau setelah matahari terbit, tapi maksimal sebelum zuhur (tergelincirnya matahari) selama ia belum melakukan  hal-hal  yang  membatalkan puasa. 

Selain itu, Mazhab Syafi'i, sebagai mazhab utama yang dijadikan rujukan bagi kebanyakan warga Indonesia juga menetapkan bahwa niat puasa sebulan penuh hanya berlaku untuk puasa hari pertama, seseorang harus meniatkan kembali setiap malamnya sebagai salah satu syarat sahnya puasa.

Nah, jika malam hari setelah berbuka atau tarawih belum meniatkan puasa, untuk amannya bisa dilakukan saat sahur. Mengingat kedudukan penting dari sebuah niat dalam ibadah, maka mungkin ini pula yang membuat kegiatan sahur menjadi begitu dianjurkan.

Kalau dari sudut pandang ilmu kesehatan, soal sahur dengan seteguk air putih ada khasiatnya atau tidak saya belum tau. Mungkin teman-teman yang paham ilmu gizi dan kedokteran nanti yang akan jelaskan :)  Intinya sih secara awam, makan sahur pastinya berguna untuk memberikan energi yang cukup bagi tubuh saat menunaikan ibadah puasa Ramadan pada siang harinya. 

Air jelas merupakan salah satu elemen yang sangat penting bagi tubuh manusia. Air berperan besar dalam menjaga semua fungsi di dalam tubuh agar tetap berjalan dengan semestinya. Karenanya untuk mencegah dehidrasi tubuh saat puasa saya kira sahur minimal seteguk air putih adalah anjuran atau sunah yang sangat baik untuk dilaksanakan.

Wallahu a’lam bish-shawabi
3 Ramadan 1439 H
Sabtu 19 Mei 2018






Bahas Santai Soal Istilah Ifthor dan Takjil

Bahas Santai Soal Istilah Ifthor dan Takjil

Istilah ifthor atau ifthar dan takjil atau ta'jil sudah terasa umum di telinga, padahal seingat saya sekitar akhir 90an zaman saya SMA istilah ini belum pernah saya dengar. Dari pemahaman umum yang saya tangkap makna ifthor dan takjil ini ada yang menganggapnya sama, ada yang menjelaskan bahwa keduanya berbeda makna tapi berhubungan.
Nah bagaimana sih sebenarnya makna istilah ifthor dan takjil ini? Saya hanya membatasi pembahasan ini hanya soal makna dan artinya dari segi bahasa saja yah bukan soal lainnya.

Ifthor / Ifthar


Mari sejenak perhatikan salah satu varian doa berbuka puasa yang cukup populer ini: "Allahumma laka shumtu,... wa ‘ala rizqika AFTHORTU" ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa ...dan dengan rezeki-Mu aku BERBUKA.

Kata afthortu dalam doa di atas diterjemahkan sebagai "aku berbuka puasa", kata Afthor(tu) dan ifthor memiliki makna yang sama yaitu berbuka puasa dengan makan atau minum yang merupakan rezeki dari-Nya. Jadi ifthor itu kegiatan membatalkan puasa, dalam hal ini berbuka puasa. Jika ditelusuri lebih jauh kata afthor(tu) dan ifthor berasal dari kata yang sama dengan fitri dalam kata IdulFitri. (Saya sudah pernah bahas soal sila baca di Perbedaan Fitri dan Fitrah ).

Jadi arti kata atau istilah ifthor atau iftar atau ifthar itu adalah lebih dimaksudkan pada kegiatan berbuka seperti dalam doa berbuka puasa di atas, bukan istilah pengganti pada jenis makanan seperti pemahaman saya sebelum mencoba memahami lebih jauh istilah ini.

Untuk lebih mudahnya ada istilah yang juga sudah populer di kalangan teman-teman pengajian yang disebut "Ifthor jama'i".  Ifthor jama'i sama artinya dengan "berbuka puasa bersama" atau yang sering disingkat "bukber". Penggunaan kata ifthor di sini sudah tepat karena berarti "kegiatan berbuka puasa" di tambah kata "jamai" yang berarti "berjamaah atau bersama-sama" sehingga dapat memperjelas pemahaman kita akan makna kata ifthor dengan lebih mudah.

Buka Puasa Ramadan Bahas Santai Soal Istilah Ifthor dan Takjil
Buka Bersama KABASA Ramadhan 1435/2014


Takjil / Ta'jil

Kata takjil atau ta'jil ini agak lebih sulit bagi saya untuk menjelaskannya dengan mudah. Alhamdulillah kata Takjil atau Ta'jil sudah masuk dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Kata Takjil dalam KBBI dijelaskan sebagai sebuah kata kerja yang berarti mempercepat (dalam berbuka puasa) silakan cek di https://kbbi.web.id/takjil

Penjelasan KBBI ini juga sesuai dengan hadis masyhur tentang menyegerakan berbuka puasa yang di riwayatkan oleh beberapa ulama hadis seperti Bukhari, Muslim, Ad Darimi Hadis No 1637, Hadits Malik No.562 dst dengan redaksi yang kurang lebih sama: “Laa yazaalu an-naasu bikhairin maa ‘ajjaluu al-fithra”, yang artinya “Terus-menerus manusia berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka puasa.” Kata di akhir hadis itu berbunyi ‘ajjaluu al-fithra yang diartikan menyegerakan atau memprioritaskan berbuka puasa.

Kata ‘ajjaluu dalam hadis itu bermakna sama dengan takjil yang berarti menyegerakan, kata al-fithra sudah kita bahas sebelumnya bahwa maknanya sama dengan ifthor, ifthar yaitu berbuka puasa, semakna dengan maksud kata fitri/fithri dalam kata aidulfithri yang ditulis dalam Bahasa Indonesia menjadi IdulFitri.

Jadi sudah jelas yah? Makna dari kata Takjil adalah menyegerakan atau memprioritaskan sedangkan arti kata ifthor adalah berbuka puasa. Dua kata ini akan sering ditemui bergandengan dalam banyak hadis karena merupakan keutamaan yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Arti Istilah Ifthor dan Takjil sesungguhnya

Apapun istilahnya selama kita paham maksudnya saya kira tridak ada masalah dalam komunikasi :)
Selamat berbuka puasa dan berbagi kebahagian dengan berbagi makanan untuk berbuka puasa.

Wallahu a’lam bish-shawabi
2 Ramadan 1439 H
18 Mei 2018

Soal Ziarah Atau Nyekar Sebelum Ramadan

Soal Nyekar alias Ziarah Sebelum Ramadan
Makam Kakek Nenek di Bila Ugi Sabbang Paru Wajo Sulsel
Kenapa para orang tua dahulu menganjurkan kita sebelum berpuasa untuk ziarah atau nyekar ke makam keluarga?

Sependek yang saya pahami, kegiatan ziarah sebelum memasuki bulan Ramadan itu bukan untuk mengistimewakan waktu berziarah, tapi adalah bagian tidak terpisahkan dari rangkaian persiapan menyambut ramadannya. Nabi Muhammad SAW tidak mengatur secara khusus kapan waktu ziarah. Karenanya kita bebas mengatur sesuai kebutuhan, misalnya hari sabtu berziarah maka hari minggunya dapat digunakan untuk bersilaturahim kepada kerabat yang masih hidup. Demikian menurut saya hikmah mengapa tidak ada pengaturan kapan waktu yang dianjurkan untuk berziarah.

Tujuan dari ziarah utamanya adalah untuk mengingatkan kita bahwa dunia ini hanya sementara, segalanya akan ditinggalkan pada waktunya. Tegasnya "untuk mengingatkan pada akhirat" seperti dijelaskan dalam sebuah hadis tentang tujuan dari ziarah kubur. 

Ziarah itu selain bisa kapan saja dilakukan juga dapat dilakukan ke makam siapa saja,  namun jika dilakukan kepada makam keluarga atau orang-orang yang kita kenal saat hidupnya diharap akan dapat mengingatkan kita bagaimana saat almarhum hidup dan bagaimana saat ini, setelah akhirnya dikuburkan. Dengan begitu pelajaran yang kita dapatkan akan lebih mengenai sasaran. 

Sebagian orang tua juga menjelaskan tujuan berziarah juga untuk memohon maaf atas kesalahan-kesalahan kita dan mendoakan ahli kubur. Idealnya, sebelum memasuki bulan puasa kita disarankan untuk saling berma'afan, baik kepada keluarga yg masih hidup ataupun yang sudah tiada. Jika kepada yang masih hidup kita dapat saling meminta ma'af atau berma'af-ma'afan, namun jika kerabat tersebut sudah meninggal, menurut saya kita hanya bisa mengakui kesalahan-kesalahan kita dan mengikhlaskan segala apa yang telah terjadi antara kita dengan almarhum.

Berziarah seperti itu sebelum puasa, selain bertujuan membersihkan kuburan, mencabuti rumput liar dll,  idealnya diharapkan juga dapat membersihkan dan meluruskan niat kita sebelum benar-benar memasuki bulan Ramadan. Amiin.
Soal Nyekar alias Ziarah Sebelum Ramadan
Makam Kakek Nenek di Bila Ugi Sabbang Paru Wajo Sulsel
Soal istilah nyekar sendiri katanya berasal dari kata Bahasa Jawa "Sekar" yang berarti bunga. Tradisi nyekar ini dari kebiasaan menabur bunga (jenis bunga yang biasa digunakan kanthil, kenanga, dan mawar atau melati) ke kuburan kerabat yang didatangi. Tradisi ini terkait dengan tradisi dan budaya masyarakat yang tujuannya adalah semacam penghormatan dengan memberikan bunga dan agar ada aroma wewangian  untuk mengisi suasana. Soal tradisi ini saya kurang paham, selama tradisi ini tidak dimaknai macam-macam dan bermanfaat saya kira boleh-boleh saja dilakukan.

Mengenai adab saat berziarah sudah banyak yang mengulasnya, saya hanya sedikit mengulangnya agar saya sendiri ingat kembali. Antara lain:

Niat yang benar: Semua hadits tentang ziarah kubur menjelaskan hikmah dari ziarah kubur, yakni untuk mengambil pelajaran seperti di dalam hadits Ibnu Mas’ud : “Karena di dalam ziarah terdapat pelajaran dan peringatan terhadap akhirat dan membuat zuhud terhadap dunia”.

Untuk itu, berziarah kubur idealnya membuat kita dapat mengambil pelajaran bahwa terbatasnya usia atau umur manusia dan saat dikuburkan tidak ada harta ataupun apa yang dimiliki di dunia ini yang dibawa ke dalam kubur. Semuanya akan kembali sebagaimana terlahir tidak membawa apa-pun. Jasad terurai dan ruh akan dimintai pertanggungjawaban. Segala amalan ibadah sudah terputus kecuali 3 hal yang masih dapat terus mengalirkan pahala.

Mengucapkan salam dan doa sebagaimana diajarkan: “Salam keselamatan pada kalian para ahli kubur kaum mu’minin dan muslimin, mudah-mudahan Allah merahmati orang-orang yang mendahului kita dan orang-orang yang belakangan, dan kami Insya Allah akan menyusul kalian, kami memohon kepada Allah keselamatan bagi kami dan bagi kalian”. [HR. Muslim 2301].

Tidak menginjak atau duduk-duduk di atas kuburan: “Sungguh, sekiranya salah seorang diantara kalian duduk di atas bara api hingga membakar pakaiannya lalu sampai ke kulitnya, adalah lebih baik baginya daripada ia duduk di atas kuburan.” [HR. Abu Dawud nomor 2809 dan dishahihkan oleh Syeikh Muhammad Nashiruddin al Albani dalam shahih Abu Dawud].

Wallahu a’lam bish-shawabi
1 Ramadhan 1439 H (2018)