Mampir di "Saung Baca Kita" Milik SI ABANG Babelan

Saung Baca Kita yang diasuh oleh Komunitas SI ABANG Silaturahim Anak Babelan Ngumpul
29 Maret 2018, Kamis malam Jumat lalu, saya akhirnya bisa berkunjung ke Saung Baca Kita yang diasuh oleh Komunitas SI ABANG (Silaturahim Anak Babelan Ngumpul). Esoknya, tanggal 30 Maret 2018 kebetulan libur bertepatan dengan Hari Wafat Isa Al Masih, jadi saya punya banyak waktu untuk ngobrol lebih jauh mengenai saung baca ini.

Kegiatan malam Jumat di Saung Baca Kita ini secara rutin adalah pembacaan Surah Yasin bersama-sama atau disebut yasinan. Setelah acara yasinan selesai, saya ngobrol lebih jauh mengenai seluk beluk SI ABANG, khususnya tentang kegiatan di Saung Baca Kita yang mereka asuh ini.
Saung Baca Kita yang diasuh oleh Komunitas SI ABANG Silaturahim Anak Babelan Ngumpul
Kongko setelah yasinan - 29 Maret 2018 (Foto Bang Saktam)
Malam itu alhamdulillah hadir beberapa orang yang menurut saya paham mengenai SI ABANG. Bang Hadi selaku ketua dari SI ABANG dengan santai bersama-sama anggota yang lain menjelaskan beberapa kegiatan yang dilaksanakan oleh komunitas SI ABANG seperti belajar Bahasa Inggris, belajar komputer, Hadroh, Sepak Bola, Pencak Silat dan lain-lain. Selain itu, SI ABANG juga kerap melakukan kegiatan sosial dan juga berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan kepemudaan.
Saung Baca Kita yang diasuh oleh Komunitas SI ABANG Silaturahim Anak Babelan Ngumpul
Memanfaatkan panggung dangdut yang sudah tidak dipakai (Foto: Fania)

Saung Baca Kita

Saung yang didirikan secara gotong royong oleh anggota komunitas SI ABANG pada Hari Minggu 3 Desember 2017 tahun lalu ini kini semakin hari makin ramai dikunjungi anak-anak dan warga sekitar. Saung ini dibangun dengan memanfaatkan rangka besi bekas panggung dangdut yang sudah tidak digunakan, ditambah kayu dan triplek sumbangan dari anggota dan warga, maka berdirilah saung baca yang dinamakan SAUNG BACA KITA. Lain waktu saya ceritakan lebih jauh tentang Komunitas SI ABANG ini yah, kali ini saya hanya mau cerita sedikit saja kegiatan di saung baca ini saat 2 kali saya mampir.

Hari Minggu 8 April 2018 pagi, alhamdulillah saya berkesempatan bermain dengan adik-adik di Saung Baca Kita. Karena yang biasa mengisi pelajaran Bahasa Inggris sedang berhalangan mengisi acara, maka saya memiliki kesempatan untuk sementara menggantikan beliau. Pengetahuan dasar saja, bernyanyi alfabet sekalian belajar penyebutan huruf-huruf dalam Bahasa Inggris. Dengan bantuan lagu alfabet saya kira adik-adik akan lebih mudah melatih pelafalan huruf dengan cara yang lebih gembira. 

Setelah sebentar bernyanyi selanjutnya adik-adik lanjut ke sesi belajar komputer di asuh oleh Bang Hadi. Sebelumnya beberapa anggota SI ABANG menelpon dan pergi mengambil laptop pinjaman, mereka kembali dengan 3 laptop yang berhasil dipinjam dari warga sekitar. Menurut Bang Hadi kalau sedang tidak digunakan oleh pemiliknya biasanya bisa terkumpul 6 sampai 7 laptop pinjaman untuk adik-adik secara bergantian belajar mengetik di microsoft word.

Para pemberi pinjaman laptop sebagian besar anggota SI ABANG selebihnya warga sekitar yang mau meminjamkan. Tentu ada faktor kepercayaan di sini bahwa laptop tersebut memang hanya digunakan untuk kegiatan belajar. Saya sempat ngobrol-ngobrol dengan adik-adik yang menunggu giliran, mereka rata-rata warga sekitar yang hanya beda RT dan RW. 
Saung Baca Kita yang diasuh oleh Komunitas SI ABANG Silaturahim Anak Babelan Ngumpul
Suasana belajar komputer Minggu, 8 April 2018
Bang Hadi yang sehari-hari tercatat sebagai tenaga pengajar di MTs Attaqwa 17 Babelan dan SMK Alam Karya Sukawangi juga sempat bercerita soal masalah UNBK yang menggunakan komputer sekolah atau laptop.
"Kasihan adik-adik yang tidak terbiasa menggunakan komputer/laptop dikhawatirkan akan terkendala secara teknis dalam mengerjakan soal-soal UNBK" ungkapnya prihatin. Karenanya ia dan kawan-kawan melakukan kegiatan belajar komputer agar adik-adik lebih akrab dan terbiasa menggunakan komputer.

Obrolan lain selanjutnya adalah mengenai agenda Milad kedua SI ABANG yang rencananya akan dilaksanakan di Halaman Kantor Desa Muarabakti Kecamatan Babelan pada hari Minggu tanggal 22 April 2018. Saya pikir pasti acara ini akan ramai. Semoga acaranya lancar kelak.
Saung Baca Kita yang diasuh oleh Komunitas SI ABANG Silaturahim Anak Babelan Ngumpul

Kalau ada teman-teman yang berkenan meluangkan waktu saat Sabtu dan Ahad silakan berkunjung ke Saung Baca Kita di Kampung Pangkalan Gang Musollah Nurul Amal, Desa Kedung Pengawas RT 08/RW 03 Kecamatan Babelan. 

Jika mau berkunjung sila klik Link Peta Google Saung Baca Kita di sini.
Facebook Group SI ABANG (Silaturahmi Anak Babelan Ngumpul).

Nara hubung Saung Baca Kita:
Hadi: 0895 3430 71134
Saktam: 0858 8828 4648


Dilan dan Milea baik-baik saja, Kamu sudah move on?


Mau saya ramal? Kita akan bertemu di novel ke-4 dan film Dilan yang selanjutnya. 3 novel tentang kisah masa lalu Dilan dan Milea karya Pidi Baiq tidak akan selesai di novel ke-3 yang berjudul "Milea, Suara Dari Dilan". Tetapi mau sampai seri berapapun juga, sepanjang memperlengkap kisah Dilan dan Milea akan tetap asik untuk dibaca, itu ramalan saya. Sambil dengar soundtrack film Dilan pasti lebih asik, bisa download di akhir postingan.

Gak tau deh kalau novel Dilan ke-4 nanti ternyata berisi kisah Dilan dan Cika, atau tentang Bunda (ibunya Dilan), apakah akan tetap gemesin dan berhasil bikin saya gak mau melepas bukunya sampai selesai baca seperti 3 novel itu. Atau bisa saja testimoni dan cerita dari tokoh-tokoh lain seperti Piyan, Wati, Susi, Rani bahkan Anhar kalau masih mau mempertajam buku Dilan, Dia Adalah Dilanku Tahun 1990 dan Tahun 1991.
Download Novel Dilan Milea
Pinjeman Novel Dilan dari Allan

Kenapa Dilan dan Milea harus putus?

Yah memang begitu, novel fiksi tanpa konflik bakalan kayak kasus rendang crispy, rasanya mungkin akan renyah dan garing sesuai selera, tapi yah bukan rendang namanya, mungkin dendeng atau fried chicken.

Kalau Dilan dan Milea gak putus, nanti Mas Herdi dan Cika bagaimana munculnya dalam cerita? Jangan-jangan Mas Herdi yang memegang tangan Cika di warung bakso sebelum kisah kerupuk dibagi dua? Gak seru atuh.

Memang sangat disayangkan kisah romantis Dilan dan Milea ini putus di tangan Pidi Baiq sang penulisnya. Padahal kan bisa saja dibuat balikan setelah dimediasi oleh Bunda di Dago Thee Huis atau Dago Tea House. Tapi, yah begitulah kisahnya, kalau mau protes yah jangan sama saya :)
"Aku tidak suka dikekang...., Tapi kalau yang mengekang Milea aku mau". Jelas itu bukan Dilan yang bilang, tapi bisot, lalu judul novelnya berubah menjadi Bisot dan Milea.... Gak yakin akan nge-hits seperti novel Dilan aslinya sih. :D

Dalam postingan blognya tertanggal 16 Juli 2015, Pidi Baiq (atau setidaknya menurut anggapan saya) memberi kode akan terbitnya buku ke-3 dengan postingan berikut:

download Novel Dilan Milea Suara dari Dilan
Milea: Suara Dilan
“Banyak Pembaca minta Dilan bicara”, kataku tiba-tiba membelokkan pokok bahasan.
“Bicara gimana?”
“Ya bicara. Menjelaskan, terutama menyangkut buku Dilan kedua. Bagaimana menurut sudut pandangnya tentang peristiwa yang dia alami terutama di bab-bab terakhir”
Milea diam, dengan sikap bagai orang berfikir. Kulihat kedua alisnya dia naikkan ke atas. 
“Aku terlalu ngontrol Dilan ya di buku kedua?”, katanya dengan wajah sedikit agak murung
“Kan sebelum diterbitkan, udah konfirmasi dulu, terus kamu setuju, ya udah”, kataku.
Dia ketawa, semua juga ketawa.
“Dilan nanti mau bicara apa?”, tanya dia dengan wajah sedikit agak cemas
“Kan dia juga berhak bicara”, kataku dan kemudian minum
“Sebelum terbit, aku baca dulu dong?”. Dia memohon dengan senyum
“Oke” ....

Buat yang belum membaca buku ke-3 yang berjudul "Milea: Suara dari Dilan", sepertinya akan kurang lengkap untuk memahami latar belakang putusnya Dilan dan Milea. Jadi kalau buku Dilan 1 dan 2 itu diceritakan dengan menggunakan sudut pandang Milea secara dominan maka di buku ke-3 inilah pembaca akan diajak menyelami kisah-kisah yang ada di buku 1 & 2 dalam sudut pandang atau perspektif Dilan. Dalam buku ke-3 "Milea, Suara Dari Dilan" inilah putusnya Dilan dan Milea juga dikaji oleh Remi Moore pada bagian akhir.

Sangat gamblang dijelaskan mengapa Dilan dan Milea putus, penyebabnya yah kolaborasi dari Dilan dan Milea sendiri. Jadi tokoh Remi Moore ini tokoh penting, selain telah menginspirasi modus ramalan yang dipakai Dilan saat PDKT, juga berjasa telah menjelaskan mengapa Dilan dan Milea putus dari sudut pandang androgini (maskulin dan feminim secara bersamaan) bahwa sudah kodratnya cowok gengsian dan cewek maluan dan hanya menunggu. Ya gitu deh... setidaknya Remi Moore sudah berperan baik meramu dua perspektif, yang mempertemukan sudut pandang feminim (Milea) dan maskulin (Dilan). *sotoy banget dah gue*

download novel dilan milea
Saya akui bahwa 3 novel dan 1 film yang sebenarnya untuk remaja ini cukup menarik, isinya cukup lengkap, mulai dari PDKT, bertengkar, hubungan dengan teman dan keluarga, putus cinta sampai bertemu lagi saat sudah memiliki pasangan baru. Pembaca bisa mengembangkan berbagai sikap yang sudah dicontohkan dalam skenario dalam film ataupun novel Dilan dan Milea ini.

Bahwa putus cinta itu gak serta merta berujung musuhan yang hanya saling menyiksa. Masing-masing antara Dilan dan Milea menempatkan kenangan itu sebagai aliran kisah hidup yang mengantar mereka pada kisah hari ini (begitu kata Bunda).
download novel Dilan Milea
Kamu sudah minta restu orang tua mau PDKT? Kalah sama Dilan dong :)

Lalu siapakah Cika? 

Dari Twitter Pidi Baiq ini saya kutipkan beberapa twit yang katanya komentar Cika atas kisah masa lalu Dilan dan Milea. Kalau buat saya ini semacam kode yang mungkin akan menjadi novel kelanjutan serial Dilan:
"Saya tidak ingin menjadikan kisah mereka sebagai tolok ukur untuk mengukur hubungan saya dengan Dilan. Saya menyukai kehidupan saya sekarang, dan insya Allah bisa toleran dengan semua kisah masa lalu mereka. Memang tidak banyak yang berhasil untuk lolos dari merasa cemburu, tapi saya tidak tertarik untuk terlibat di dalam persaingan macam itu. Hubungan saya dengan Dilan tidak harus menjadi pertempuran untuk melihat siapa, di antara saya dengan dia, yang memiliki pengalaman terbaik. Mudah-mudahan ini bisa menjadi contoh bagus bagaimana menghadapi masa lalu orang lain" Ancika Mehrunisa Rabu.

Saya sendiri lebih berharap buku serial Dilan ke-4 ini tentang Bunda. Dari semua tokoh dalam novel ini saya kagum sama tokoh Bunda. Sebagai seorang istri tentara, kepala sekolah/guru, sosok Bunda ini sangat mengayomi.

Adegan Bunda saat membela Milea di kantin sewaktu didatangi ibunya Anhar, dan saat bersama dengan Milea menjemput Dilan di rumah Burhan cukup menggambarkan ibu seperti apakah Bunda ini. Sangat logis. Sosok Ibu seperti ini umumnya didapati pada orang tua tunggal, ia bertindak sebagai ibu juga sebagai ayah. Dapat dimaklumi, karena ayah Dilan yang tentara tentunya lebih banyak berada di markasnya di Karawang daripada di Bandung.

Intinya, saya masih berharap ada lanjutan dari seri novel Dilan ini, berharap saja sesegera mungkin terbit :) Terlepas ini kisah nyata, fiksi atau campur-campur, saya merasa terhibur, banyak mengambil manfaat dan novel ini adalah bacaan yang rekomended buat remaja kalau kamu mencari bacaan yang tidak terlalu berat dan menghibur.

Oh iya, ini twit kode buku tentang Bunda juga bisa jadi akan terbit :) Amiin.


Untuk yang mau Download Album The Panasdalam Bank - Voor Dilan (EP) klik di sini aja yah.
Isi lagunya ada 5 lagu yang menjadi soundtrack film Dilan, yaitu: 1. Kamulah Mauku, 2. Dulu Kita Masih Remaja, 3. Kaulah Ahlinya Bagiku, 4. Di Mana Kamu dan 5. Kemudian Ini.


Inspirasi dari Siswa Wirausaha PKBM GINUS ITACO Bekasi


Inspirasi dari Siswa Wirauasaha PKBM GINUS ITACO Bekasi

Pemuda yang sedang mengajar itu bernama Reza Pratama (21 tahun), dia sedang mengajarkan adik-adik almamaternya mata pelajaran desain grafis. Reza bukan guru, dia adalah alumni PKBM GINUS ITACO yang kini bekerja sebagai desainer dan fotografer di sebuah perusahaan jasa pelatihan profesional dengan 40 lebih klien yang cukup ternama, selain itu Reza juga memiliki usaha lain yang ia bangun bersama teman-temannya di bidang kreasi digital bernama Reddwyn Production.

Jika kembali sekian tahun lalu, Reza adalah lulusan SMP yang terhalang oleh keadaan untuk melanjutkan sekolahnya. Selama setahun setelah lulus SMP dan tidak melanjutkan sekolah, ia membantu ekonomi keluarganya dengan bekerja sebagai penjaga rental Play Station, berpenghasilan tidak lebih dari 200 ribu per bulan. Hal itu tidak memuaskan pemuda kelahiran Bekasi awal Juni 1997 yang memiliki hobi dan minat dalam bidang desain ini. Ia ingin hidupnya dapat lebih baik, dapat membanggakan neneknya yang ia sayangi.

Singkat cerita, kemudian ia mendapat kabar dari temannya tentang PKBM GINUS ITACO di mana siswanya selain belajar juga memiliki penghasilan. Setelah ia didatangi oleh tim survey seleksi penerimaan siswa, akhirnya ia resmi tercatat sebagai siswa dan mendapat modal keterampilan sesuai dengan mimpinya serta mendapat pendidikan karakter kewirausahaan. Ia tidak perlu lagi pusing mengenai biaya sekolahnya yang gratis dan ongkos serta biaya lainnya, yang ia perlukan hanya belajar sebaik-baiknya untuk mengembangkan potensinya dan lulus menjadi pribadi yang mandiri dan kompeten.
Inspirasi dari Siswa Wirauasaha PKBM GINUS ITACO Bekasi
Reza saat masih belajar di PKBM GINUS ITACO
Saya kira banyak anak-anak usia sekolah yang memiliki kisah putus sekolah serupa dengan kisah Reza di sekitar kita, namun berapa banyak dari mereka yang akhirnya dapat mencapai impiannya?

PKBM GINUS ITACO itu apa?

Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat Global Inspirasi Nusantara - International Technology and Automotive College atau yang disingkat PKBM GINUS ITACO awalnya bernama SMK ITACO yang didirikan tahun 2012 lalu oleh Susi Sukaesih SE, kemudian tahun 2016 di bawah naungan Yayasan Bakti Peduli Mandiri, SMK ITACO berubah nama menjadi PKBM Ginus Itaco dan telah memiliki izin operasional dari Dinas Pendidikan Kota Bekasi.

Berbicara soal PKBM, tidak salah jika yang terbayang adalah program sekolah persamaan/penyetaraan atau "kejar paket". PKBM Ginus Itaco juga kurang lebih demikian, lebihnya... Ginus Itaco memiliki banyak kelebihan unik. Ginus Itaco menjadi unik dengan pengalaman dan suka duka yang cukup panjang, sejak mencari dan mengumpulkan siswa, mempertahankan agar siswa dapat tetap sekolah di bawah tekanan dan himpitan ekonomi, bernegosiasi dengan orang tua agar mengizinkan anaknya sekolah, hingga pindah sampai 5 kali karena masalah sewa kelas belajar dan lainnya. Siapin tisu yang banyak, kalau mau dengar sendiri ceritanya :)

Kalau mahasiswa kuliah sambil kerja mungkin sudah umum, tapi sekolah sambil berwirausaha itu yang masih jarang, itulah salah satu kelebihan PKBM GINUS ITACO yang tahun ini baru memulai kelas Paket B. Sebelumnya kelas Paket C GINUS ITACO telah meluluskan beberapa angkatan dengan banyak prestasi, antara lain Juara 2 Lomba Wirausaha dari Guruku Education Festival, Juara Harapan 2 Lomba Web Desain dan Juara 1 Lomba Desain Logo Developer Ilmu Berbagi dst.

Terletak di Jalan Bekasi Tengah No. 3, persis di depan Kantor Kelurahan Margahayu, Kec. Bekasi Timur, sekolah bertingkat dua ini dengan mudah saya temukan walaupun baru sekali ini berkunjung. Lokasi Google Map PKBM GINUS ITACO klik di sini. Dahulu gedung sekolah ini lebih dikenal dengan nama SMA BPI (Bhakti Pemuda Indonesia), sampai sekarang banyak orang masih menyebut gedung sekolah ini SMP/SMA BPI.

Siswa Wirausaha

Jika kita buka laman pkbmitaco.com maka kita dapat membaca 6 buah testimoni alumninya yang menggelitik rasa ingin tahu lebih banyak lagi mengenai PKBM GINUS ITACO, khususnya tentang program Siswa Wirausaha-nya, program inilah yang membuat siswa belajar sekaligus mendapatkan penghasilan.
Inspirasi dari Siswa Wirauasaha PKBM GINUS ITACO Bekasi
Booth karya Siswa Wirausaha (Foto: Suzie Icuz)
Penghasilan siswa di PKBM GINUS ITACO ini bukan sulap, karena sudah sejak awal berdirinya PKBM ini mengembangkan program usaha bernama "Siswa Wirausaha". Selain untuk membantu biaya pendidikan, tujuan dari kegiatan kewirausahaan tersebut adalah untuk memberikan pengalaman wirausaha bagi siswa sedini mungkin, sehingga setelah lulus nanti siswa mempunyai mindset wirausahawan, diharapkan karakter wirausahawan seperti kerja keras, pantang menyerah, inovatif, open mind, tidak gengsi dan lain-lain akan terus melekat pada dirinya. Siswa kelak diharapkan tidak hanya menjadi wirausahawan atau pun karyawan yang biasa-biasa saja dan minim kontribusi, tapi menjadi pribadi yang profesional dan kreatif.

Saat saya berkunjung, Minggu 18 Maret 2018, Bu Susi menjelaskan bahwa profit yang didapat dari kegiatan "Siswa Wirausaha" sebagiannya untuk siswa, uang itu dapat digunakan sebagai ongkos mereka sekolah dan membantu ekonomi keluarganya, sehingga tidak ada lagi alasan tidak bersekolah karena membantu keluarga mencari uang seperti yang pernah terjadi pada beberapa  siswa saat awal terbentuknya SMK ITACO 6 tahun silam.
Inspirasi dari Siswa Wirauasaha PKBM GINUS ITACO Bekasi
Nurhasanah, siswa GINUS ITACO dan hasil karya Siswa Wirausaha
Menurut guru yang juga seorang narablog di Suzieicus.com ini, produk yang dihasilkan dalam program "Siswa Wirausaha" dominan untuk partai besar, seperti pesanan perusahaan, memproduksi sourvenir perusahaan, sourvenir pernikahan dan sebagainya, namun tidak menutup peluang pasar retail. Hasil produknya dapat dilihat di laman: siswawirausaha.com

Bagaimana Kita Dapat Membantu PKBM GINUS ITACO?

Walaupun dengan kemampuan wirausaha, bukan berarti PKBM GINUS ITACO sudah mapan dan berkecukupan, masih ada kekurangan di sana-sini yang menuntut para pengurusnya untuk terus memutar kepala agar kebutuhan-kebutuhan operasional sekolah dapat terpenuhi tanpa membebani siswa. Sampai saat ini PKBM Ginus Itaco masih butuh bantuan banyak pihak. Jika Anda berniat membantu agar proses belajar mengajar PKBM GINUS ITACO dapat terus berjalan, antara lain yang dapat dilakukan adalah:

Menjadi Orang Tua Asuh Siswa

Saat ini PKBM Ginus Itaco masih berjuang mencari orang tua asuh bagi para siswanya. Orang tua asuh merupakan program yang bertujuan untuk mengajak masyarakat mendukung pendidikan anak-anak PKBM GINUS ITACO,  yaitu dengan memberikan donasi untuk setiap anak asuh selama minimal 1 tahun yang meliputi biaya SPP, Praktek, Kesiswaan, Sarana dan Ujian.

Terdapat dua model pilihan bagi para calon orang tua asuh. Pertama, 1 orang tua asuh mengampu 1 orang siswa secara langsung, atau 2 orang tua asuh menanggung 1 siswa. Besarannya berkisar antara 500-700 ribu/bulan.

Namun demikian, jika kita ingin berpartisipasi dengan donasi umum, sewaktu-waktu kita bisa langsung melakukan transfer ke: Rekening Bank Mandiri a.n Yayasan Bakti Peduli Mandiri No. 167-0001-3462-60, setelah itu konfirmasi melalui WA/SMS ke Bu Susi di nomor 0857-1143-3250.

Menjadi Relawan Pengajar

PKBM GINUS ITACO terbuka untuk profesional ataupun masyarakat umum yang ingin berbagi ilmu terapan terkait kewirausahaan antara lain: Ilmu  Komputer (Komputer Jaringan, Komputer Perkantoran, Pemograman, Desain Grafis dll), Wirausaha, Bahasa Asing, Menulis,  Public Speaking, MC, Penyiar dll. Bagi relawan pengajar diberikan kesempatan minimal 2 kali pertemuan pada hari Sabtu atau Ahad.

Kesempatan mengajar ini juga sangat berguna bagi teman-teman relawan pengajar yang berniat untuk menambah portofolio dan pengalaman mengajar.

Membantu Promosi Produk Siswa Wirausaha

Untuk membantu PKBM GINUS ITACO tentu saja kita dapat membeli produk-produk karya Siswa Wirausaha (mereka menerima orderan souvenir pernikahan, goodie bag untuk perusahaan, dll), atau kita juga dapat membantu mensosialisasikan program dan karya-karya mereka melalui blog dan media sosial untuk menambah eksposure dan membuat lebih banyak orang mengenal PKBM GINUS ITACO. Untuk hal seperti ini teman-teman dapat mencoba bergabung atau memantau pengumuman-pengumuman dari Komunitas Dear Blogger Net tentang review produk-produk dari Siswa Wirausaha ini.

Katalog produk-produk Siswa Wirausaha dan harganya dapat dilihat di akun Instagram mereka di @siswawirausaha.katalogselebihnya ada semua pada gambar di bawah ini:
Inspirasi dari Siswa Wirauasaha PKBM GINUS ITACO Bekasi
Kontak Siswa Wirausaha Bekasi
----------------------------

Melihat Reza yang di sela kesibukan masih mau kembali ke almamaternya untuk mengajar adik-adik kelasnya, saya makin percaya, bahwa bibit kebaikan yang ditanam dan dirawat dengan baik akan selalu kembali menghasilkan bibit kebaikan baru di masa yang akan datang, begitu seterusnya.

Apakah akan ada Reza yang lain? 
Kitalah yang akan menentukan itu kawan, partisipasi dan bantuan kita yang sedikit banyak akan menentukan itu.

Salam.
Terima kasih pada Dear Blogger Net, C2Live dkk rombongan #DBNCharityVisit.

KEPALA BEKAKAK JIMAT JUDI

KEPALA BEKAKAK JIMAT JUDI

Kampung Pekuning/Pakuning (saya dulu menyebutnya Pulo Kuning), terletak di Desa Sukarapih Kecamatan Tambelang Kabupaten Bekasi. Dahulu saat saya kecil desa ini adalah sebuah desa dengan hamparan sawah dan ladang yang subur membentang. Keseharian saya hanya mencari ikan (ngebak) dan memancing saat siang. Sesekali ikut ngobor lindung dengan Lampu Petromax saat malam seusai bubar pengajian mengisi ingatan saya kalau mendengar nama kampung ini disebut.

Suasana malam yang sepi akan berubah menjadi ceria kalau ada keriyaan (keramaian hiburan hajatan), layar tancap bisa menjadi alasan untuk berkumpul bersama teman-teman dan menginap di mana saja, pulang pagi sudah pasti. Setelah hampir 30 tahun, samar-samar hanya beberapa nama yang masih mampu saya ingat.

Soal kenangan masa kecil saya di sana banyak sekali, salah satunya, yang masih sering diceritakan keluarga besar yaitu... Saat Nyak Aji (demikian saya memanggilnya sejak kecil) mengadakan keriyaan besar-besaran sunatan anak bungsunya. Kerabat saudara dari mana-mana datang berkumpul, menginap dan ngobrol sampai larut malam. Saya suka mencuri dengar kalau orang-orang tua sedang berbincang bebas, kisah-kisah apa saja saya dengar termasuk cerita soal bekakak. Entah dari siapa saya mendengar cerita bahwa kepala bekakak ayam adalah jimat menang judi. Saat itu saya sedang suka-sukanya main koplok (dadu koprok), biasanya lapak judi dadu koplok ini di bagian belakang layar tancap.

Dari cerita yang saya dengar tentang jimat judi itulah kehebohan saat sunatan adik sepupu saya ini berawal, saya tahu benar seluk beluk rumah Nyak Aji dan di mana bekakak ayam bakar akan disimpan. Kehebohan terjadi karena ayam bekakak hilang dari pendaringan, saya sebenarnya hanya mengincar kepalanya saja, tapi membayangkan rasa lezat bekakak ayam bakar menggoda saya, akhirnya bekakak tersebut saya ambil seluruhnya dan saya makan di kolong tempat tidur di mana saya biasa menginap. Saya gak sendirian bersama saudara-saudara yang sebaya saya menikmati ayam bakar yang gak bisa setiap hari ditemukan.
Ayam Bekakak
Ayam Bekakak (ilustrasi)
Banyak yang marah kepada saya, tapi ada juga yang mendukung saya, termasuk nenek saya dan Nyak Aji yang merupakan kakak ibu saya ini. Mereka membela saya karena pada dasarnya mereka tidak setuju dengan hal-hal klenik seperti itu. Sebagian hanya bisa memaklumi kenakalan saya sebagai kenakalan anak kecil yang belum tau apa-apa.

Apakah saya menang saat main judi dadu koplok malamnya? Ternyata enggak, malah kepala ayam yang saya simpan di kantong celana dikerubuti semut dan bikin gatal, akhirnya saya buang jimat yang sudah dikerubuti semut itu.

Sehat selalu Nyak Aji.
Alfatiha buat Baba Aji, Uwak, Engkong, Ende dan kerabat yang sudah almarhum.

Dari Kumpul Komunitas Pecinta Hewan Bekasi Menuju Patriot Fauna

Dari Kumpul Komunitas Pecinta Hewan Bekasi Menuju Patriot Fauna

Perhelatan Anniversary Komunitas Landak Mini (Kolam) Bekasi di Lapangan Alun-alun Kota Bekasi pada Minggu 26 Februari 2018 lalu berlangsung sukses. Acara yang dimeriahkan oleh beberapa komunitas pencinta hewan di Bekasi Raya ini sempat menjadi perhatian warga dan berhasil mengajak warga untuk memberikan donasi kepada warga di Brebes yang terkena bencana banjir dan longsor.

"Alhamdulillah acara berjalan lancar berkat kekompakan dan bantuan dari semua pihak, donasi yang terkumpul sudah kami sampaikan, terima kasih atas kerjasamanya teman-teman semua" ungkap Daffa Khairan (19) selaku Ketua Komunitas Landak Mini (Kolam) Bekasi.

Dari banyaknya komunitas pecinta hewan yang hadir, mungkin ada yang terlewat, antara lain Komunitas Otter Indonesia Reg. Bekasi (KOI), Bekasi Reptile Elite (Barelite), Pecinta Sugar Glider Bekasi (PSGB), Djaringan Musang lover (Djamal), Pasukan Pecinta Musang Area Bekasi, Keluarga Musang Bekasi Utara (KAMUBU), Awan Free Fly, Mamalia Reptile Bekasi (Mr. B), Team Hore, Keep Animal Bekasi (KAB), Sahabat Reptil Bekasi (SRB), Pemelihara Musang dan Kerabat wilayah Bekasi (Panksi), Tarantula Keeper Bekasi (Takesi) dan seterusnya.

"Acaranya lancar, dibuka dengan sambutan-sambutan dan perkenalan dari pengurus serta dari perwakilan masing-masing komunitas yang hadir, lalu dilanjut dengan acara potong tumpeng perayaan HUT Kolam Bekasi" Ungkap Usup Sahroni (38) yang hadir bersama keluarganya dan membawa berbagai koleksi hewan milik Sahabat Reptil Bekasi.
Dari Kumpul Komunitas Pecinta Hewan Bekasi Menuju Patriot Fauna
Sebagian dari para Ketua Komunitas Pecinta Hewan Bekasi
Dengan ditemani hewan-hewan peliharannya, komunitas para pencinta hewan ini berkeliling Alun-alun Kota Bekasi sambil menawarkan warga yang lewat untuk berfoto bersama dengan hewan yang lucu-lucu dan unik. Tidak ada tarif khusus untuk berfoto bersama musang, ular, landak, sugar glider, burung dan lain-lain.

Dana sukarela yang diberikan oleh warga selanjutnya dikumpulkan sebagai penambah sumbangan dari hasil penggalangan dana antar komunitas pecinta hewan ini. Selain penggalangan dana, acara ini juga bertujuan untuk menjadi ajang edukasi bagi para komunitas kepada masyarakat akan hewan-hewan yang menjadi peliharaan mereka.
Patriot Fauna Komunitas Pecinta Hewan Bekasi
Komunitas Pecinta Hewan Bekasi - Patriot Fauna
Selain dari Bekasi, rupanya acara ini juga kedatangan seorang sesepuh pencinta reptil dari Tangerang, Pakde Sukma yang datang untuk mengapresiasi kekompakan komunitas pecinta hewan di Bekasi. Hadir pula para pengurus Saung Musang Depok yang turut berpartisipasi meramaikan acara. Kedatangan mereka disambut baik dan menjadi penyemangat para hadirin yang didominasi anak muda ini untuk lebih banyak berkarya.

Sebagian pengurus komunitas pecinta hewan ini beberapa sudah bersepakat untuk menggagas wadah pemersatu bernama Patriot Fauna dengan harapan agar dapat saling mendukung kegiatan dan memudahkan komunikasi lintas komunitas pecinta hewan baik dari Kabupaten Bekasi dan Kota Bekasi. Beberapa hal positif telah disampaikan oleh para perwakilan komunitas yang hadir dalam kesan dan pesan saat acara penutupan menjadi tugas bersama untuk mewujudkannya.

"Harapannya jika ada wadah yang merupakan gabungan komunitas hewan ini kita bisa bekerjasama untuk melakukan banyak hal ke depannya" ungkap Usup sambil menceritakan kesulitan-kesulitan yang ia alami untuk tetap menghidupkan komunitas reptil yang ia bina.
Dari Kumpul Komunitas Pecinta Hewan Bekasi Menuju Patriot Fauna
Usup Sahroni dan keluarga Komunitas Sahabat Reptil Bekasi
Hal yang sama diamini oleh Daffa, ia berharap agar ada pihak yang dapat merangkul dan membina mereka khususnya dari pemda yang menangani urusan kepemudaan dan pariwisata.
"Kami ingin juga berbuat apa yang kami bisa, saya dan teman-teman pastinya siap berpartisipasi dalam acara-acara yang mempromosikan Bekasi" ungkap Daffa.

Pemuda-pemuda yang sepertinya asik sendiri dengan hobi atau kesenangannya masing-masing ternyata memiliki juga kepedulian kepada sesama dan kepada Bekasi sebagai tempat tinggalnya. Saya sih berharap kepedulian dan kecintaan mereka tidak diabaikan, potensi positif yang mereka gagas mustinya mendapat apresiasi yang layak. Kenapa tidak kita berikan mereka kesempatan untuk berkarya, kesempatan untuk mencintai Bekasi dengan caranya yang positif.

[Narsum: Daffa Kolam & Usup SRB]

GORGAR Rungi, Sambal Goreng Garam Kekinian Penyokong Kegiatan Literasi

Kalau Googling "Goreng Garam" maka kita akan banyak temukan tawaran produk Goreng Garam Betawi di berbagai market place dll. Ini berarti secara umum tidak perlu lagi susah-susah memperkenalkan apa itu Goreng Garam yang konon adalah makanan legendaris orang Betawi belah wetan alias Bekasi. Goreng Garem sendiri punya banyak nama, menurut teman di Jakarta namanya "Sambel Terbang", ada juga yang menyebutnya Sambel Siwang alias Terasi Bawang dan lain sebagainya.

Goreng Garam Kekinian Penyokong Kegiatan Literasi

Sabtu tanggal 24 Februari 2018 sore saya berkunjung ke TBM Rumah Pelangi Bekasi (Rungi), salah satu produsen GorGar atau Goreng Garam kemasan yang dipasarkan secara retail sebagai salah satu usaha penunjang kegiatan literasi dan operasional perpustakaan di pelosok Kampung Babakan Kali Bedah Desa Sukamekar Kecamatan Sukawangi Kabupaten Bekasi Jawa Barat ini.

Lauk atau sambal yang berbahan utama bawang merah dan cabai ini saat pembuatannya juga melibatkan terasi, bawang putih, kemiri, garam dan gula untuk rasa Original, sedangkan untuk varian Jengkol dan Teri masing-masing ditambahkan irisan jengkol goreng dan teri goreng pada saat finishing sebagai penguat rasa. GorGar Rungi, atau Goreng Garam Rumah Pelangi saat ini dijual dengan 3 rasa varian, GorGar Rasa Original (bawang pedas), Rasa Jengkol dan Rasa Teri.

Goreng Garam Kekinian Penyokong Kegiatan Literasi

Muhaidin Darma (25), salah satu penggiat Rumah Pelangi bersama teman-temannya yang sedang mengemas GorGar Rungi menjelaskan bahwa GorGar ini adalah makanan yang sudah dikenalnya sejak kecil. Satu-persatu rekan-rekan yang membantunya juga menjelaskan hal yang sama.

"Dulu kalau ibu saya tidak sempat masak sarapan sebelum berangkat sekolah, ia akan membuat GorGar untuk kami sekeluarga, sebagian dibawa bapak ke sawah sebagai bekal makannya" ungkap Jamaludin menerawang. "Itu (GorGar) dicampur saja dengan nasi putih sudah langsung siap dikonsumsi, rasanya seperti makan nasi goreng saja" sambung Jamal menceritakan masa kecilnya dengan ceria.
"Seperti bumbu nasi goreng sachet gitu lah" sambung Jamal.

Goreng Garam Kekinian Penyokong Kegiatan Literasi

GorGar ini masih ada sampai sekarang salah satunya karena penduduk di Desa Sukamekar dan wilayah pertanian lainnya mayoritas adalah petani dan peladang, ada pantangan dalam membawa bekal ke sawah.
"Ada pantangan untuk membawa nasi yang digoreng ke sawah, para orang tua kami tidak berani membawa nasi yang telah digoreng ke sawah sebagai bekal, maka GorGar ini adalah jalan tengahnya karena yang digoreng bukan nasinya tapi bumbunya" Jelas Muhaidin.

Konon jika membawa bekal berupa nasi yang telah digoreng maka hasil sawahnya akan gagal panen karena banyak hal, padi yang kering ataupun hangus terserang wabah dll.

Diceritakannya pula tentang kenangannya dahulu saat kakek neneknya menunaikan ibadah haji yang masih berbulan-bulan perjalanan karena menggunakan kapal laut, GorGar adalah bekal utama masyarakat waktu itu, karena praktis dan awet. Selama disimpan dalam wadah tertutup dan kedap udara, GorGar akan awet berbulan-bulan, tapi kalau dibiarkan terkena angin dalam sehari saja bawang gorengnya jadi melempam, tidak gurih dan lama-lama tengik.

Goreng Garam Kekinian Penyokong Kegiatan Literasi

Dipasarkan dengan harga promo Rp. 15.000 per kemasan 200 gr, GorGar bukan jenis cemilan yang murah meriah bagi anak-anak, kecuali diperkecil kemasan dan disesuaikan dengan daya beli anak-anak. Tapi seperti penuturan teman-teman di Rumah Pelangi Bekasi, usaha GorGar lebih kepada membuat oleh-oleh atau sourvenir kuliner khas lokal yang dapat dikonsumsi dan awet, walaupun dapat langsung dikonsumsi menjadi cemilan, GorGar idealnya adalah lauk nasi, untuk cemilan Tim Usaha Rumah Pelangi sudah menggagas produk camilan lain yang masih dalam tahap perencanaan.

Ke depannya GorGar akan dipasarkan dengan harga normal Rp. 20.000 per bungkus, tapi ada diskon kalau beli 3 bungkus menjadi seharga Rp. 50.000. Untuk 1 bungkusnya bisa untuk porsi 6 kali makan (kalau porsi makan saya sih). Untuk saat ini peminat belum banyak, sehari biasanya produk hanya 20-30 bungkus, produksi akan dimulai kembali kalau stok sudah habis. Produksi GorGar rupanya sangat rentan terhadap harga Cabai, Teri dan Jengkol.... padahal jarang ada orang yang memperhatikan harga komoditas itu :) Soal pemasaran juga masih direct selling dan hanya sedikit promosi melalui Facebook.
"Produksi masih sedikit, masih dipasarkan terbatas sambil mempersiapkan adik-adik Rungi untuk menguasai semua proses hingga penjualannya" tutup Muhaidin sambil mempersilahkan saya mencicipi GorGar Rungi.

Goreng Garam Kekinian Penyokong Kegiatan Literasi

Yang berminat untuk membeli, kerja sama reseller atau dropship dapat langsung menghubungi Tim Usaha TBM Rumah Pelangi Bekasi di WhatsApp 0857 1065 6966 (Muhaidin Darma), atau bisa belanja online di Tokopedia, klik aja DI SINI.

Terima kasih.

-----
Buat yang belum tahu tentang TBM Rumah Pelangi Bekasi sila kunjungi blognya di www.pelangibekasi.com atau Sosmednya: Facebook Rumah Pelangi Bekasi dan Instagram Rumah Pelangi Bekasi.


Kereta Api Matarmaja, Teman Sempurna Buat Backpacker Ke Malang

Ketika film 5CM ngehits, nggak cuma Gunung Semeru yang mendadak ramai dikunjungi para pendaki. Kereta Api Matarmaja juga kena imbasnya, ikut mendadak populer tepatnya dan tiketnya  menjadi ramai diburu oleh para backpacker yang akan liburan ke Kota Malang, Jawa Timur.

Kereta Api Matarmaja, Teman Sempurna Buat Backpacker ke Malang
sumber:flickr.com/lukmanamukti
Dengan harga tiket yang terjangkau, naik transportasi Kereta Api Matarmaja adalah solusi terbaik buat menghemat pengeluaran untuk liburan ke Malang. Sekali jalan, kita hanya perlu mengeluarkan uang Rp 110 ribu saja untuk rute Jakarta – Malang. Risikonya hanya satu, waktu tempuh yang cukup panjang, sekitar 16 jam 36 menit, dengan jarak tempuh sekitar 881 kilometer. 

Tapi, lamanya perjalanan pada jalur ini, nggak akan terasa kok, karena transportasi ini berangkat pada pukul 15.15 petang dari Jakarta. Kita bisa tidur lelap sepanjang perjalanan, begitu bangun kita sudah sampai di Malang, sekitar pukul 07.51 pagi.

Asal nama Matarmaja

Kereta Api Matarmaja, Teman Sempurna Buat Backpacker ke Malang
sumber:rail-traveller.blogspot.co.id
Nama kereta ini merupakan satu dari sedikit nama-nama kereta yang tidak diambil dari nama sungai, gunung dan tokoh tertentu di pewayangan atau sejarah lokal. Nama ini adalah singkatan, dari Malang – Blitar – Madiun – Jakarta, yang menunjukkan rute dari rangkaian jalur yang dilaluinya.

Sejarah Matarmaja


Dulunya, kereta ini meyediakan rangkaian kereta dengan rute Madiun – Jakarta dengan nama Senja Maja. Kemudian PT KAI menambah jalur ke Blitar dan Malang, yang kemudian membuat namanya berubah menjadi Matarmaja yang secara resmi mulai beroperasi pada 28 September 1983.

Perubahan Rute


Ketika awal beroperasi, Kereta Api Matarmaja melalui rute selatan dengan melewati Yogyakarta dan Purwokerto. Namun beberapa tahun lalu, PT KAI memutuskan untuk mengubah rute menjadi jalur utara melewati Kota Solo – Semarang. 

Inilah yang kemudian membuat waktu tempuh Matarmaja menjadi lebih singkat daripada sebelumnya. Namun membuat rangkaian kereta api ekonomi ke Yogyakarta juga ikut menghilang. Akhirnya membuat PT KAI ‘melahirkan’ Kereta Api Malioboro Express untuk rute Malang – Yogyakarta.

Khusus Ekonomi

Kereta Api Matarmaja, Teman Sempurna Buat Backpacker ke Malang
sumber:beritadaerah.co.id
Dulunya, kereta api Matarmaja adalah rangkaian kelas bisnis dan ekonomi. Namun sejak beberapa tahun lalu, kereta ini berubah sepenuhnya menjadi kelas ekonomi AC dengan gerbong terbaru buatan PT KAI yang terdiri dari 8 rangkaian gerbong penumpang, satu lokomotif, satu kereta makan pembangkit dan satu kereta bagasi.

Jadwal Matarmaja

Kereta ini berangkat pada pukul 15.15 WIB dari Jakarta dan tiba pada pukul 07.51WIB di Malang. Sementara untuk jalur sebaliknya, Matarmaja berangkat pada pukul 17.30 WIB dari Malang dan sampai di Jakarta pada pukul 09.20 WIB pagi.

Titik keberangkatan dan kedatangan di Jakarta adalah Stasiun Pasar Senen. Kemudian titik keberangkatan serta kedatangan di Malang adalah Stasiun Malang atau yang juga dikenal dengan nama Stasiun Kotabaru Malang.

Sensasi Seru Lewat Terowongan

Kereta Api Matarmaja, Teman Sempurna Buat Backpacker ke Malang
sumber:rebanas.com
Ketika berada di kawasan perbatasan Malang – Blitar, sebaiknya jangan pejamkan mata. Di kawasan ini, kamu akan merasakan sensasi kereta api melewati terowongan yang cukup panjang. Sensasi gelap gulita ketika berada di terowongan akan tetap terasa walaupun kamu melewatinya pada malam hari. Seru banget!

Dengan harga tiket yang murah, Matarmaja selalu jadi favorit para penumpang kereta api di jalur Malang – Jakarta. Biar nggak kehabisan, pesanlah tiket Matarmaja sejak jauh hari sebelum keberangkatan. Kamu bisa memesan tiketnya secara online di Traveloka dengan mudah, lengkap dengan jumlah kursi yang tersedia buat perjalanan backpacker kamu ke Malang nanti. 

Happy backpacking guys!



Merayakan Warna Warni Kita Dalam Gelaran Perpusjal Bekasi 15

Perpusjal Bekasi

Lupakan bayangan tentang jajaran buku yang tersusun rapih dan suasana sepi, jangan marah juga kalau kamu sedang membaca buku lalu di sebelahmu ada yang bernyanyi, membaca puisi, meneriakkan sajak, menanyakan tentang buku yang kamu baca dan seterusnya.

Lupakan juga makna kata perpustakaan yang diisi oleh para pembaca yang khusuk tenggelam dalam bacaannya, karena di Perpustakaan Jalanan buku harus bisa berbicara melalui siapa saja yang sudah membacanya, bisa melalui kamu, bisa juga melalui saya. Diskusi yang ringan atau dalam pasti akan terjadi jika ada dua orang yang sudah membaca buku yang sama bertemu, karena interaksi adalah kewajiban di sini.

Perpusjal Bekasi

Malam itu, Sabtu 17 Februari 2018 saya didapuk oleh pemangku hajat "Perpustakaan Jalanan 15" untuk membicarakan Citizen Journalism atau Jurnalisme Warga. Tanpa persiapan berarti, di jajaran gelaran lapak buku saya melihat buku "Hari-hari Terakhir Che Guevara" sebuah buku yang baru kali ini saya lihat, berisi tentang catatan harian tertanggal 7 November 1966 – 7 Oktober 1967. Buku inilah yang saya gunakan sebagai bahan untuk membuka materi. Kebetulan saya sempat membacanya sedikit di sela-sela obrolan dan selingan musik akustik serta lontaran puisi-puisi dari teman-teman yang hadir.

Kali ini puisi “Kau Ini Bagaimana Atau Aku Harus Bagaimana” karya Gus Mus dibawakan dengan sangat menyentuh oleh Iwan Bonick, seorang ontelis dan salah satu pelopor Perpustakaan Jalanan Bekasi. Dilanjut dengan sebuah sajak berjudul "Gadis Bekasi Berapi-api" yang menghidupkan imaji Gedung Juang 45 Tambun sebagai pencetus inspirasi, dibacakan secara lantang namun malu-malu oleh Cahyo dari Taman Baca Tanjung. Begitu juga sajak dari Vrandes, pemuda penggiat literasi dari Langit Tjerah Cikarang ini melontarkan kritiknya dalam bentuk puisi, entah apa judulnya, saya hanya mengingat bait-baitnya secara samar, setelah saya susun kembali kurang lebih bunyinya menjadi seperti ini:
"Bagaimana mungkin kamu bilang semua baik-baik saja?
Di jalanan aku lihat gerobak berisi anak-anak negeri tertidur memeluk mimpinya".

Hadir pula para relawan TBM Rumah Pelangi Bekasi, Jabaraca, Saung Baca Cinong Bekasi, Komunitas Historika Bekasi, beberapa penggiat musik indie seperti Eky Birdman, Zaly Brur, Restu Kids Rebel, Suckit Stuff dan beragam komunitas lainnya yang saya belum kenal. Berkumpul menjadi satu seperti reff dari lagu Navicula yang didendangkan bersama malam itu... "Warna-warni kita menjadi satu".

Gelaran Perpustakaan Jalanan Ke 15 ini adalah kegiatan yang kedua bagi saya, kali ini saya lihat rekan-rekan penggiat Perpusjal Bekasi sudah lebih siap. Gelaran tenda biru sebagai alas duduk, penerangan dan lapak buku yang lebih tertata, juga ada sound system sederhana yang digunakan untuk keperluan musik akustik, puisi dan pengeras suara bagi nara sumber. Sepertinya Angkringan Maz Berto di Pasar Modern Harapan Indah inilah yang menyediakan listriknya.

Karena tidak diberikan tema yang lebih spesifik maka saya justru memanfaatkan moment ini untuk mengkritik teman-teman Perpusjal Bekasi yang menurut pengamatan saya secara sekilas tidak rapih dalam mengarsipkan dokumentasi kegiatannya  (benar atau tidak itu urusan belakang, salah sendiri kenapa menjadikan saya sebagai nara sumber). 😆

Secara umum kritik itu juga ditujukan untuk teman-teman yang hadir malam itu. Kegiatan yang dilakukan oleh para pemuda ini sudah berjalan sekian lama di segala bidang melalui komunitasnya, alangkah baiknya jika semua kegiatan sosial itu terdokumentasikan dengan baik. Entah didokumentasikan melalui platform blog atau pun media sosial yang dapat dimanfaatkan untuk tujuan-tujuan yang baik pula.

Dokumentasi kegiatan Perpusjal Bekasi menurut saya masih sangat minim, sehingga banyak orang hanya menganggap Perpusjal Bekasi sebatas gelaran buku-buku tua. Padahal setiap gelaran selalu ada kegiatan positif seperti belajar menggambar, mewarnai buat anak-anak, wadah pembacaan puisi, musik akustik terbuka dan bincang-bincang atau diskusi bebas dengan tema beragam. Sebuah kegiatan yang mungkin biasa saja bagi sebagian orang namun sangat istimewa untuk teman-teman yang tidak pernah menyandang titel mahasiswa.

Dalam sesi ini saya hanya ingin menekankan bahwa media adalah senjata, termasuk media sosial, pelurunya adalah konten!, seandainya saja pemuda-pemuda yang malam ini berkumpul memproduksi berbagai konten positif dari hasil kegiatannya, maka saya yakin konten negatif seperti hoax dan sampah informasi lainnya akan sulit mendapatkan tempat.

Itulah gunanya jurnalisme warga, berperan serta mengisi konten positif, minimal mengabarkan hal-hal positif yang telah mereka lakukan agar menginspirasi khalayak muda lainnya.

Perpusjal Bekasi

Pada sesi berikutnya, Endra Kusnawan sebagai nara sumber selain bercerita mengenai Bekasi Tempoe Doeloe juga mengkritisi pembangunan yang tidak memperhatikan gedung-gedung tua dan tempat-tempat bersejarah. Dia bercerita bagaimana Stasiun Tambun yang memiliki kaitan dengan kejadian-kejadian bersejarah kini telah diubah menjadi stasiun yang modern tanpa meninggalkan jejak sejarahnya sedikitpun. Seakan tidak ada tempat bagi sejarah masa lalu yang telah membentuk Bekasi seperti saat ini.

Dari materi Endra Kusnawan ini, saya mulai menerawang tentang generasi-generasi yang terputus dengan sejarah kotanya, mengidap krisis identitas dan mencarinya di tempat-tempat yang mungkin tidak diinginkan oleh siapapun... tawuran, narkoba?

Semoga gelaran Perpusjal Bekasi berikutnya akan lebih mendobrak dan bermanfaat, amiin.

Sejenak Menyegarkan Mata di Rumah Pohon Sukamekar Sukawangi

Sejenak Menyegarkan Mata di Rumah Pohon Sukamekar
Rumah Pohon, Desa Sukamekar Kecamatan Sukawangi Bekasi
Menguasai teori grafting atau menyambung pohon cukup mudah, dengan memanfaatkan mesin pencari Google maka ribuan artikel di internet dengan kata kunci "sambung pucuk" atau "sambung samping" siap untuk kita baca.

Membaca artikel-artikel itu ingatan saya melayang kembali ke pelajaran biologi saat SMA mengenai reproduksi vegetatif buatan, dan juga saat mencoba hasil enten jeruk besar dan manis yang dilakukan transmigran dari Pulau Bali di sekitaran wilayah Tobadak Mamuju Sulawesi Barat. 

Menguasai teori dengan mempraktekkannya itu jauh berbeda, memahami hanya dengan membaca jauh berbeda dengan tahu karena mengalami atau mempraktekkannya. Dengan melihat sendiri bagaimana adik-adik penggiat Rumah Pohon sedang melakukan praktek menyambung beberapa pohon, saya rasa gak semua orang bisa melakukannya dengan baik. Saat ditawarkan untuk mencoba saya pun menolak, saya belum cukup berpengetahuan untuk langsung mencoba menyambung pohon. Sayang kalau sampai batang pohon dan pucuk yang ada menjadi sia-sia di tangan saya :)

Menurut Marjuki Lahimsyah, S.Pd, MM. (55) yang akrab dipanggil Guru Marjuki, praktek pembelajaran menyambung pohon ini adalah bagian dari pendidikan karakter dan pengenalan filosofi hukum alam.

"Manusia dan tumbuhan memiliki banyak kesamaan, karenanya praktek menyambung pohon ini juga adalah salah satu cara sederhana untuk pembangunan karakter (character building) para peserta" ungkapnya.

"Selain itu, semoga para peserta pelatihan juga dapat memiliki keterampilan yang akan memperluas wawasan sehingga mampu menghargai alam serta menjaga kelestariannya, minimal lebih menghargai pepohonan yang ada di lingkungannya" sambung pendiri dan pembina Rumah Pohon ini. 
Sejenak Menyegarkan Mata di Rumah Pohon Sukamekar
Proses penyambungan pucuk. Foto: Imron Maulana
Beberapa pohon hias yang mengisi Rumah Pohon ini antara lain dari jenis Puring, Anting Putri, Jalitri, Melati Korea, Batavia (Jatropha pandurifolia), Dolar (Zamioculcas Zamiifolia), beberapa jenis palem dan lain-lain yang telah berhasil disambung dengan berbagai jenis batang pohon kayu. Sedangkan untuk pohon buah seperti ubi, cabai, tomat, terong dan lain sebagainya masih dalam tahap pengembangan.
Sejenak Menyegarkan Mata di Rumah Pohon Sukamekar
Saung Perubahan Rumah Pohon Desa Sukamekar Kecamatan Sukawangi
Bagi penggiat dan peserta pelatihan, Rumah Pohon juga disebut sebagai Saung Perubahan. Di antara rimbun pepohonan terdapat saung berkonstruksi baja ringan yang cukup untuk menampung hingga 30-40 orang sebagai tempat penyampaian berbagai macam materi pelatihan. Di saung ini saya duduk bersama dengan para peserta pelatihan dan sesekali terlibat dalam diskusi mengenai berbagai hal terkait agenda Rumah Pohon.

"Saung ini adalah tempat kita bertukar pikiran dan berdialog melakukan musyawarah berbagai hal terkait kegiatan di Rumah Pohon, konsultasi, pelaporan perkembangan tanaman dari proyek yang sedang dilakukan peserta pelatihan dan macam-macam" jelas Imron Maulana (22) salah seorang penggiat Rumah Pohon yang juga sedang belajar menyambung beberapa jenis tanaman.

Ke depannya Guru Marjuki ingin Rumah Pohon bukan hanya sebagai tempat belajar reproduksi vegetatif, tetapi juga bisa menjadi tempat budidaya, penghasil tanaman hias, produksi jamur kamboja, buah-buahan, kompos dan ragam produk organik lain yang nantinya akan dipasarkan secara online. Selain itu semua, Guru Marjuki juga berharap Rumah Pohon  ke depannya menjadi layak sebagai  salah satu destinasi wisata alam di Bekasi.

Sejenak Menyegarkan Mata di Rumah Pohon Sukamekar
Guru Marjuki menjelaskan penyambungan pucuk
Sayangnya, menurut penglihatan saya, areal yang dijadikan laboraturium hidup untuk mencoba berbagai kombinasi tanaman ini tidak memiliki lahan yang cukup luas. Dengan dibatasi jalan utama desa dan bibir Kali Bekasi, Rumah Pohon kurang lebih hanya seluas 6 sampai 7 meter dan memanjang mengikuti bibir kali Bekasi sekitar 10-15 meter. Semoga kelak areal laboratorium hidup Rumah Pohon dapat meluas hingga layak menjadi destinasi wisata alam seperti yang diharapkan.

Gak terlalu lama singgah sudah cukup untuk menyegarkan mata melihat berbagai pohon hias dan tunas-tunas pohon yang hijau merekah. Setelah dari Senin hingga Jumat hanya bertemu mesin dan beton, setidaknya hari ini saya merasakan sensasi kembali menyatu dengan alam. Selain menyegarkan mata, menikmati kopi dan berbincang-bincang membuat long weekend menjadi lebih bermakna. Yah, bahagia itu sederhana kok. :)

Tersembunyi di balik rimbun pepohonan, keberadaan Rumah Pohon tidak mencolok sekalipun terletak di pinggir jalan utama, sehingga mudah terlewati bagi yang baru pertama kali ingin berkunjung. Kalau mau berkunjung, info-info saja, nanti saya pandu :). 


Rumah Pohon berada di Kampung Pangkalan Nurul Iman RT. 02/03 Desa Sukamekar, Kec. Sukawangi, Kab. Bekasi 17655. Nurul Iman adalah nama masjid yang namanya digunakan oleh warga sebagai patokan lokasi, kebetulan masjid tersebut berjarak cukup dekat dengan Rumah Pohon. Sila kunjungi Halaman Facebook Rumah Pohon untuk informasi lebih lanjut di Facebook Rumah Pohon Bekasi atau Instagram  Rumah Pohon BekasiLokasi Rumah Pohon Sukamekar di Google Map klik di sini.


Semoga masih ada kesempatan buat saya untuk mampir dan mencoba sendiri menyambung pohon :)

Salam.

KERINGAN (KEripik RIndu kesayaNGAN) Ala Komunitas Mabes Home Bekasi


Soal kreativitas merangkai kata rupanya saya harus banyak belajar dari generasi milenial. Bahasa Indonesia yang sepertinya diharamkan oleh para pengembang perumahan dengan menempelkan istilah asing pada produknya agar lebih komersil justru tidak berlaku. Kata "keringan" yang makna umumnya adalah penganan kue kering bisa bermakna berbeda oleh Komunitas Mabes Home di Kampung Pangkalan Poncol Desa Sukamekar Kecamatan Sukawangi. KERINGAN bagi mereka adalah: KEripik RIndu kesayaNGAN.

Salah besar kalau masih ada anggapan pemuda desa kurang kreatif, nih buktinya hanya dengan modal awal sebesar 150 ribu rupiah yang disisihkan dari uang kas komunitas dalam hitungan hari Komunitas Mabes Home sudah mampu memberdayakan anggotanya terjun ke bisnis kuliner dengan omset kotor sekitar 600 ribu hingga 800 ribu rupiah per hari.
KERINGAN (KEripik RIndu kesayaNGAN) Ala Komunitas Mabes Home Bekasi
Amay anggota Mabes Home
Menurut Amay (19) salah satu anggota komunitas Mabes Home, produksi keringan (keripik rindu kesayangan) ini tidak lepas dari pelatihan dan pendampingan yang dilakukan oleh Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Islam 45 (Unisma) Bekasi yang sedang melakukan kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Kegiatan KKN selama 1 bulan yang dimulai dari tanggal 22 Januari hingga 23 Februari 2018 ini telah mematangkan ide Komunitas Mabes Home untuk mencari kegiatan yang dapat memberdayakan anggotanya dan bernilai ekonomi.

Gadis kelahiran Februari 1999 ini juga menjelaskan mengenai varian keringan yang mereka produksi, saat ini Mabes Home sudah memproduksi 5 varian rasa yaitu: 1. Pasrah - Original; 2. Sayang - Rasa Jagung Manis; 3. Sakit Hati - Pedas; 4. Sabar - BBQ; dan 5. Kejujuran - Keju. Dijual per kemasan (150gr) Rp. 8000 rupiah, jika membeli 2 kemasan ada diskon menjadi Rp. 15.000, Keripik Rindu Kesayangan dapat dipesan melalui WA di 0858 8613 3793 atas nama Dita Yuliani dan melayani COD.

Yang menarik bagi saya adalah bagaimana Mabes Home mampu menghabiskan keringan produksinya ini dalam sehari. Produksi mereka sebenarnya masih terbilang sedikit, dengan hanya 1 penggorengan mereka memproduksi sekitar 100 kantong keripik dalam sehari. Untuk usaha yang baru dirintis dalam hitungan hari ini, prestasi itu sudah merupakan awal yang baik kalo menurut saya :).
Masih menurut Amay, pemasaran dilakukan dengan cara pemasaran langsung "Direct Marketing" secara offline di lingkungan sekitar dan online memanfaatkan internet. Alat pemasaran mereka yang utama adalah WhatsApp Messenger, Facebook dan Instagram. Namun setelah saya telusuri hanya ada beberapa promosi di Facebook pribadi anggota Mabes Home, sedangkan di Instagram lebih sedikit lagi.
KERINGAN (KEripik RIndu kesayaNGAN) Ala Komunitas Mabes Home Bekasi
Bapak Mantan RW Sanan di Saung Komunitas Mabes Home Pangkalan Poncol Sukamekar
Dalam kaitan marketing dan hubungannya dengan komunitas kita mengenal istilah "community marketing", dalam teori community marketing ada dua jenis atau tipe dari community marketing, yaitu: Organic dan Sponsored. Tipe Organic ini dibentuk oleh user/pelanggan tanpa ada intervensi dari perusahaan/brand. Sedangkan tipe Sponsored sengaja dibentuk dan dikembangkan oleh perusahaan/brand. Dalam bingkai teori ini maka pemasaran yang dilakukan oleh Mabes Home ini kalau dipaksa untuk sesuai dengan teori maka akan lebih cocok masuk ke tipe Sponsored, karena produk kripik ini masih dalam tahap menentukan posisi (positioning) dengan target yang luas, menyasar semua segmen pasar. 

Target pemasaran pertama tentunya internal lingkaran komunitasnya yang heterogen, dari sini produk kripik akan banyak mendapatkan masukan dan kritik (feedback) terpercaya, khususnya mengenai rasa dan kualitas kripik itu sendiri seperti: kurang gurih, rasanya terlalu kuat dan berbagai feedback yang bertujuan untuk menyempurnakan produk. Jika anggota atau lingkaran internal komunitas telah puas baik terhadap rasa hingga kemasan maka dengan mengandalkan loyalitas dan solidaritas setiap anggota akan "percaya diri" untuk ikut memasarkan produk ini tanpa merasa dipaksa oleh organisasi. Ini yang Mabes Home lakukan sebelum mereka berani memasarkan lebih jauh produknya dengan rasa dan kemasan yang sekarang, ke depannya masih akan terus disempurnakan dan dikembangkan.
KERINGAN (KEripik RIndu kesayaNGAN) Ala Komunitas Mabes Home Bekasi
Aryo Band Ketua Komunitas Mabes Home
Dari salah satu anggota saya juga mendengar bahwa salah satu alasan adanya usaha kripik ini adalah untuk menambah uang kas komunitas dalam rangka memeriahkan acara milad Mabes Home. Baiklah itu sangat membanggakan, target jangka pendek ini (milad) akan dibiayai secara swadaya melalui usaha menjual kripik keringan ini. Namun dari berbincang-bincang dengan sesepuh komunitas yang disebut sebagai "Surya Paloh" saya menangkap sebuah tujuan jangka panjang yang perlu juga untuk dipertimbangkan.
KERINGAN (KEripik RIndu kesayaNGAN) Ala Komunitas Mabes Home Bekasi
Bapak Tari Karna Bewok bersama Relawan Baja Bopas
Menurut Bapak Tari Karna Bewok mantan ketua RT setempat, anggota komunitas ini tidak semuanya berpenghasilan tetap, karenanya dengan adanya usaha keripik keringan ini ia berharap dapat memberdayakan anggota yang masih belum bekerja ataupun yang banyak memiliki waktu luang. Bukan hanya produksi kripik, dia berharap usaha ini akan berkembang dan akan ada usaha-usaha lain yang akan memberi manfaat, baik itu pengalaman, pengetahuan dan finansial.

"Mereka harus belajar mandiri, salah satunya dengan usaha seperti ini. Orang yang benar-benar membantu akan memberikan kail bukan langsung ikannya". Sedikit saja kata-kata beliau tapi saya paham maksudnya. Tentu Anda juga paham kan?.

Komunitas Mabes Home
Kampung Pangkalan Poncol RT.01/06
Desa Sukamekar Kec. Sukawangi
Kabupaten Bekasi 17655