Arsip Bulanan: Maret 2021

Di Antara Union Busting dan Solidaritas Pekerja (Bagian 4)

CERITA HALU 5

PHK Sepihak Buruh Di Antara Union Busting dan Solidaritas Pekerja (Bagian 4)


Kisah ini adalah kisah sambungan dari: Di Antara Union Busting dan Solidaritas Pekerja (Bagian 3) 


Malam belum larut saat Fathur tiba di rumahnya. Seharian ini ia sudah menghadiri berbagai pertemuan dari beberapa komunitas. Sejak ia diskorsing, tak ada rutinitas yang menyita waktunya seperti yang biasa ia lakukan sehari-sehari sebelumnya. Namun akibat kasus yang ia alami malah banyak komunitas yang mengajaknya berdiskusi tentang seputaran kasusnya.

Pintu sudah terbuka sejak ia datang tadi. Sang Istri ternyata yang membukakan dan menunggu di depan pintu. 

Setelah memarkirkan mobil dan mengunci pintu gerbang, ia masuk rumah diiringi sang istri yang seperti biasa mencium punggung tangannya terlebih dahulu.

"Anak-anak?" tanyanya singkat.

"Baru lelap mereka, Dion tadi nungguin lho, Pah. Mo nanyain pelajaran matematika katanya. Soal dari belajar online ada yang belum ia ngerti. Udah makan?" jawab Nikita, nama istri kesayangannya.

"Iya ya, aku telat pulang, abis tadi banyak diskusi ama kawan-kawan lain." jawab Fatur, ada nada penyesalan.

"Ini bawa nasi goreng, tadi sengaja kubeli untuk makan di rumah, makan bareng yuk!" ajaknya pada sang istri yang langsung mengiyakan dan segera mempersiapkan alat makan.

"Gimana, Mas? Kasusmu ada perkembangan?" tanya Nikita saat mereka duduk berhadapan sambil makan sepiring nasi goreng.

"Yah, masih tahap negosiasi antara perangkat organisasi dan pihak manajemen."

"Oh, belum ketahuan kapan selesainya ya, Mas?'

"Belum ...." 

Lalu keduanya asyik menyantap penganan khas dari negara Indonesia itu dalam diam. Dalam pikirannya masing-masing.

"Mah, aku mau tanya sesuatu," kata Fatur setelah menelan sebiji cabe rawit yang tadi tercampur di acar.
Istrinya hanya menatapnya, namun dari gerakan alis matanya, ia mengiyakan.

"Apa pendapatmu tentang kasus ku? Dengan kasus ini, kecenderungan di-PHK besar sekali, dengan pesangon tentunya."

"Terus?"

"Ya, aku minta pendapat, aku lawan atau terima begitu saja pesangonnya?"

Istrinya berpikir sejenak.

"Lawan!" sahutnya mantap.

"Lawan?"

"Iya, lawan! Kalo bisa sampai dipekerjakan kembali! Jangan mau di-PHK begitu saja. Mereka jahat sekali, Mas! Kasus kecil masa konsekuensinya harus di-PHK?!" Istrinya menjawab menggebu-gebu.

Fatur malah terkesima dengan jawaban dan sikap istrinya. Tak ia sangka, ternyata istrinya itu punya sikap perlawanan juga. "Apa mungkin ketularan aku?' pikirnya bangga.

Fatur mengangguk-angguk puas. Semangatnya bertambah dengan dukungan belahan jiwanya itu.

"Ya, itu juga yang aku pikirkan. Soale, jika aku terima tawaran mereka tentang pesangon, aku malah khawatir dengan kawan-kawan lain."

"Khawatir kenapa?"

"Begini, kau kan tau, apa jabatanku di organisasi, baik di dalam pabrik atau di luar pabrik. Posisiku cukup signifikan. Cukup berpengaruh lah  di organisasi. Nah, jika aku saja yang sudah di posisi ini, dengan mudah mereka PHK tanpa perlawanan, bagaimana dengan kawan lain yang tak punya pengaruh?"

Nikita tak menjawab.

"Begini-begini, ada rasa sayangku terhadap organisasi. Terutama di perusahaan yang pernah aku ikut besarkan dari awal. Sayang sekali jika harus dibubarkan karena anggota-anggotanya dengan mudah di-PHK seperti aku."

"Iya juga sih, Mas. Tapi, mungkin pabrik juga gak semudah itu mem-PHK pekerja, kali Mas? Mungkin berlaku hanya pada dirimu saja. Karena mereka lihat kamu sangat aktif, Mas," kata Nikita sambil memasukkan suapan terakhir ke mulutnya.

"Dengan kondisi sekarang, apalagi dengan adanya undang-undang sialan, hal itu sangat mungkin terjadi."

"Undang-undang yang baru itu?"

"Iya, undang-undang SPOTAKER, berikut turunannya. Semakin mudah mereka ngerjainnya. Gak suka ama karyawan, tinggal cari kesalahan kecil saja, langsung eksekusi."

"Duh! Jahat banget, ya?"

"Yup! Memang jahat sekali. Makanya aku butuh dukunganmu menghadapi penjahat-penjahat itu."

Nikita memandang Fatur. Mata mereka saling bertautan. Nikita paham benar dengan perangai suaminya yang sudah belasan tahun ia dampingi.

PHK Sepihak Buruh Di Antara Union Busting dan Solidaritas Pekerja (Bagian 4)


"Aku, mendukung apapun langkah yang kamu ambil, Mas. Apa yang baik menurutmu, tentu baik untukku. Untuk keluarga kita. Lawan mereka, Mas!" Nikita menatap suaminya dengan tatapan penuh pengertian.

Mendengar kalimat itu. Fatur meraih tangan istrinya, ia kecup perlahan dengan bibirnya. 

Diperlakukan seperti itu, Nikita menggeser duduknya ke samping, dan menyandarkan kepala ke dada Fatur. Reflek, Fatur merengkuh kepala Nikita, dan mengecup lembut dahinya. Mata Fatur berkaca-kaca. Ia terharu dengan sikap istri yang sudah mengaruniai dua orang anak itu padanya.

Agak lama mereka berpelukan seperti itu. Sibuk dengan lamunan masing-masing. Namun yang jelas, jiwa mereka seperti kembali menyatu. 

"Mas." Nikita yang lebih dulu berkata.

"Hmm ...." Agak enggan Fatur menjawab, karena masih terbuai dengan perasaanya.

"Sebaiknya, kamu kabari orang tuamu, terutama ibumu. Minta pendapatnya, minta ridhonya," kata Nikita yang masih bersandar di dada Fatur.

"Sudah."

"Hah? Sudah? Kapan?" tanya Nikita sambil bangun dari sandarannya.

"Tadi sore. Dan kamu tau gak?"

"Apa? Kenapa?"

"Jawaban ibuku kurang lebih sama denganmu. Malah lebih tegas!" jawab Fatur sambil tersenyum.

"Tegas bagaimana?" Nikita semakin penasaran.

"Ibuku bilang, 'Lawan terus! Jangan sampe terima pesangon! Lawan sampai kau diterima kerja kembali! Berjuanglah hingga penghabisan!', begitu katanya."

"Wah, malah parahan ibu mertuaku ya!" 

"Hi hi ...." Fatur tertawa lirih.

Mereka berdua masih mengobrol hingga larut malam. Hingga akhirnya Fatur menyerah dengan kantuk yang menyerangnya. Dan akhirnya mereka berdua memutuskan untuk istirahat, karena esok pagi Fatur harus bertemu dengan perangkat organisasi untuk menyusun langkah berikutnya.

Fatur sempat menengok kedua anaknya yang sudah lelap. Mengecup dahi keduanya masing-masing, sebelum menyusul istrinya masuk ke peraduan.


++++++++++

Bersambung ke: Di Antara Union Busting dan Solidaritas Pekerja (Bagian 5)

Judul asli: CERITA HALU 5. 
Penulis; Yous Asdiyanto Siddik. Minggu, 21 maret 2021.

Disclaimer:  nama jika sama hanya kebetulan belaka, tanpa menyinggung yang bernama sama dengan di cerita, maklum namanya juga HALU.

#save_ampi

S0607: Sekali Merengkuh Dayung, 26 Podcast Terlampaui | #BajakPodcast

Jika sendiri, maka tak ada teman berbagi. Jika berdua saja, takut ada sesuatu di antara kita. Jika bertiga, sepertinya oke juga. Tapi untuk apa bertiga jika puluhan orang bisa diajak kerja sama?

Captain Rhapsody Maryana, Peni Astiti the Navigator, Qonita Aliya the Explorer, mereka yang tergabung dalam Haengbog Team berhasil membajak sebuah kapal besar untuk satu episode penuh.

Tak ingin merayakan kebahagiaan ini sendirian, Haengbog team mengundang 26 podcaster dalam pesta kemenangan yang mereka adakan. Apa yang akan mereka lakukan di kapal besar bernama Suarane Podcast di #BajakPodcast?

Catatan dari Rane: Episode ini adalah bagian dari kegiatan #BajakPodcast oleh Komunitas The Podcasters Indonesia yang menantang para anggota komunitas untuk mengambil alih tiga podcast (salah satunya podcast ini). Mereka terdiri dari sejumlah kelompok yang harus mengajukan ide untuk “membajak” podcast dan dipilih salah satu untuk mewujudkannya. Tim Haengbog ini gue pilih karena ide mereka untuk juga memperkenalkan para podcaster lain. TIdak tanggung-tanggung 26 podcast yang susah payah mereka kumpulkan dari hasilnya bisa dinikmati di sini. Jangan lupa kunjungi podcast-podcast yang direkomendasikan di sini! Salam podcast!

Hmm.. gimana kalau tiga pembajak ini gantian gue bajak ya podcastnya *evil grin* Setuju, nggak? πŸ™‚

Send in a voice message: https://anchor.fm/suarane/message

– BIDADARIKU – (Bagian 2)

- BIDADARIKU - Part 2


(Sambungan dari - Bidadariku - )

"Bangun cinta, bukan jatuh cinta, membangun cinta dalam bahtera rumah tangga, bukan jatuh cinta dalam fatamorgana"

BIDADARIKU kecup di kening


Sedikit mengulang saat sebelum pernikahan, tepatnya Hari Sabtu, tanggal 18 Agustus 2018. 


PALANG PINTU

Sehari sebelum acara, saya masih ingat betul saat itu acara sudah saya rencanakan dengan sedemikian rupa, seperti palang pintu (adat tradisi Betawi) yang seminggu sebelum acara sudah saya setting dengan Abang seperguruan supaya berjalan lancar, karena rencananya saya sendiri yang akan maju dan tampil untuk ujuk gigi bermain pencak silat melawan Abang seperguruan saya. πŸ˜‚

Kalo udah di-setting kan enak jadinya, saya kelihatan menang telak. Ya secara di depan calon mertua sendiri biar terlihat gagah wkwkwk. 

Namun apalah daya saat malam harinya sebelum acara, Abang tiba-tiba bilang tidak bisa hadir karena urusan pekerjaan.. ambyar.. dalam hati bilang dahlah ga usah tampil.. ( karena kalo ngga di-setting terlebih dahulu bisa fatal, ya kali masa manten kepukul beneran πŸ˜‚ malu lah.. ) dah lah tidur aja buat acara besok biar ijab kabulnya lancar. 

Tiba-tiba pasukan dari perguruan yang dipimpin langsung sama ketua Abang guru, nyampe ke rumah buat pastikan acara besok aman dan terkendali. "Gimana acara besok udah siap semua kan mam?" Tanya Abang guru. "πŸ˜“

Bang Ucok ngga bisa hadir bang, mana udah saya setting sama dia, udah lah saya ngga usah tampil. Spontan Abang guru tanya, "Emang settingan-nya bagaimana..? Coba sini peragain.." Langsunglah saya peragakan.

Setelah selesai dan Abang guru mau pamit dia bilang, "Besok Abang piket Mam, kalo sempet Abang usahakan abis absen dateng ya cuma ngga janji.." 

hemmmm.. ambyar bener dah niat mau terlihat beda dari nganten lain malah nihil. Udah pasrah sama Allah yang penting acara ijab besok lancar cuma itu harapan di hati saat itu.



Hari yang dinanti pun tiba. Setelah sholat subuh langsung bersiap-siap dengan penuh semangat. Maklum calon nganten πŸ˜‚. 

Sebelum berangkat bang Rusli sampai di rumah dan bertanya. "Lu naik mobil yang mana mam..?". "yang mana ajalah bang, naek motor sendiri juga gak masalah.." jawab saya. Dia langsung jawab "Lah jangan.. masa nganten naek motor, ya udah bentar.." Masyaallah saat itu juga mobilnya dihias buat bawa saya πŸ˜‚. 

Nah pas berangkat setau saya nganten paling depan, dan iringan rombongan di belakang. Kalo saya beda, ngantennya ketinggalan paling belakang sementara rombongan sampe duluan. Kocak lah, gak apa-apa yang penting nikah.

Setibanya di tempat acara, eng ing eng.. Abang guru bang Jamal yang katanya ga bisa nyampe, tiba-tiba udah stand by di depan pintu masuk bersama paket lengkap palang pintu dan golok di pinggang. Di sini saya bingung harus seneng atau was-was pasti ini lawan dia. 

tradisi palang pintu pengantin betawi cinong bekasi
Tradisi Palang Pintu - PS Cinong Bekasi

Dimulailah acara palang pintu, sampe di tengah acara tiba-tiba bang Jamal maju samperin saya .. "Plakk..." πŸ˜‚ Tamparan cinta melayang di pipi saya. Wkwkwk belum pernah liat nganten ditabok kan?. Saya juga belum, cuma rasain doang. Tamparan cinta saya sebutnya udah jadi makanan selama pelatihan jadi ngga kaget πŸ˜‚.

"Lu yang nikah orang yang berantem, enak amat.. sini lu maju, pokoknya ngantennya yang kudu maju.." dengan nada khas Betawi bang Jamal lontarkan kata-kata ke saya. 

"Dari pada ngga jadi nikah, biarin dah lebah ini mah lawan guru ge" jawab saya. πŸ˜‚

Siat.. plak.. pluk.. sampe saya kodein biar dia ngalah.. tapi ga mau ngalah-ngalah juga.. πŸ˜‚ 

Cuma liat posisi napas yang sudah mulai Senin-Kamis, akhirnya saya menang dengan cara sang guru mengalah. Mana baju nganten putih, mana mau ijab Qabul, posisi napas masih ngos-ngosan. Tapi Alhamdulillah ijab qobul lancar dan tabarokalloh kami sah sebagai suami istri. 


Pengantin Baru

Setelah ijab qobul untuk yang pertama kalinya kami menunaikan sholat juhur untuk pertama kalinya berdua. Setelah salam dan dzikir Khumairahku langsung mencium tanganku dan saat itu juga saya ucapkan doa yang diajarkan Rosululloh sambil tangan kiri memegang kepalanya. 

"Allahumma inni as’aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa β€˜alaih. Wa a’udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha β€˜alaih."

Artinya: Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya. Dan Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan yang Engkau tetapkan atas dirinya.

Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya

Setelah baca doa, kukecup keningnya untuk yang pertama kali, masyaallah rasanya dunia milik saya berdua, yang laen ngontrak lah pokoknya. 

Ba'da ashar kami kembali duduk di pelaminan untuk menyambut semua tamu undangan. Rasa bahagia dan haru berkumpul menjadi satu. 

Doa-doa dan ucapan selamat datang silih berganti dari kerabat dan sahabat. 

tabarakallah.. yaallah sungguh indah nikmat-Mu.. sampai acara selesai. 

Tibalah saat subuh pertama yang biasanya saya terbangun seorang diri kini malah dibangunkan oleh bidadari. Dengan nada lembut sambil cubit hidung dengan manja, " Aa.. bangun.. udah mau subuh.. kita siap-siap sholat yuk.." Saya pun langsung bangun dan menuju kamar mandi, cuma Khumairahku langsung tahan tangan saya sambil kode tunjuk ke dahinya dengan raut wajah penuh manja.. 

"Subhanallah.. Aa lupa.. ya udah sini cium dulu dahinya.." πŸ˜‚ 

Please Kalimat ini mendingan di-skip buat yang masih jomblo. Karena menyebabkan halu yang berkepanjangan. 

Setelah sholat subuh dia aminkan setiap doa yang saya ucapkan.. masyaallah ini rasanya indah betul, biasanya amin kita tak serentak karena sujud di tempat yang berbeda dan pembatasan yang hak. Tapi kali ini kita sujud di ruangan yang sama dan dia ikuti gerakan saya serta aminkan doa saya. 

Ya Allah sungguh indah ketentuan Mu.. bersatu dengan bidadariku dalam ikatan halal setelah sekian lama saling menjaga iman adalah sesuatu yang indah yang tak bisa diungkapkan oleh kata-kata.

Bersambung lagi  πŸ˜‚

Bersambung ke  BIDADARIKU - (part 3)

_____________


Penulis: KHOIRUL UMAM
Kamis, 18 Maret 2021

Di Antara Union Busting dan Solidaritas Pekerja (Bagian 3)

PHK Sepihak Di Antara Union Busting dan Solidaritas Pekerja (Bagian 3)

 CERITA HALU 3 


Kisah ini adalah kisah sambungan dari: Di Antara Union Busting dan Solidaritas Pekerja (Bagian 2) 


Ketiganya melihat layar hape, dan mendapati foto Fatur di situ. Narsih kemudian memainkan layar, menekan sana sini, menggeser atas bawah, membuka semua media sosial yang ia punya. Mulai dari Facebook, Twitter, Instagram, Tiktok, semua bergambar dan bertuliskan sama.


Inti dari gambar itu adalah mereka semua  mendukung  Fatur! 


"Apa ini? Apa maksudnya?" tanya Kurniawan tak sabar.


"Itu lho, Pak, semua medsos dan berita online penuh dengan berita tentang pemecatan Fatur di perusahaan kita! Mereka semua mendukungnya!," jawab Narsih cemas.


"Terus?"


"Ya, itu bisa menurunkan kredibilitas perusahaan kita lho, Pak! Perusahaan ini bakalan dianggap sebagai penjahatnya!."


Kurniawan terdiam. Ranto ikut diam. Hanya si Pengacara yang senyum-senyum. Bahkan ia mulai tertawa lirih.


"Hi....hi...hi..."


"Lah, kok anda malah tertawa?," tanya Ranto penasaran. Kurniawan dan Narsih ikut memandang si Pengacara, heran.


"No ... No ... No! Gak usah cemas!" kata si Pengacara sambil menggerakkan telunjuknya kanan kiri. Persis seperti guru yang melarang muridnya bandel.


"Itu memang cara mereka. Dan pasti hanya kuat sesaat saja, paling lama seminggu. Sudah itu, hilang, berganti dengan issue lain. Sudah biasa itu!," lanjutnya santai.


Narsih tertegun, tak disangkanya berita yang ia kira bakal heboh itu ternyata hanya dipandang sebelah mata.


"Lalu, a--apa yang harus kita lakukan?," tanya Narsih agak gugup.


Sebelum Benarudinawisata menjawab, tiba-tiba interkom di mejanya berbunyi.


"Ya?" Ranto yang menjawab karena ia lebih dekat dengan alat itu.


"Pak Kurniawan diharap ke ruangan Presdir, sekarang!," jawab suara wanita di seberang. Suara Lastri, sekretaris Presiden Direktur.


"Baik!" kata Kurniawan sambil berdiri, ia tahu jika Presdir yang memanggilnya, berarti ada yang penting dan ia harus segera menemuinya. Bos tertinggi perusahaan itu tak terima penundaan!.


"Saya menghadap Presdir dulu. Kalian tunggu di sini. Narsih, sediakan makanan dan minuman ringan di sini. Kita belum selesai diskusi." 


Setelah memberikan instruksi singkat, ia segera keluar ruangan menuju ruangan Presdir yang terletak di lantai 6, lantai paling atas.


Narsih segera menyiapkan makanan dan minuman ringan seperti yang diperintahkan. Lalu ia duduk di sebelah Ranto. Ikut menunggu pak Kurniawan kembali.


Sambil menunggu, ketiganya berkutat dengan gawai masing-masing. Ranto dan Narsih membuka medsos yang mereka miliki, dan mendapati bahwa trend di media sosial masih tentang Fatur.


"Huh!" keluh Ranto, ia geram sekali melihat wajah yang ia benci itu terpampang di hapenya.


Hanya si Pengacara yang santai, ia juga memainkan gawainya. Asyik bermain Mobile Legend.

----------------


Tak lama, Kurniawan kembali masuk ruangan. Wajahnya agak kemerahan. Nampaknya sangat gusar. Bibirnya yang terkatup rapat menandakan ia menahan amarah.


Ketiga orang itu memperhatikan perubahan sikap Kurniawan. Mereka serentak berhenti memainkan hape. Bersikap menunggu.


"Sialan! Presdir ternyata monitor kondisi di medsos dan berita online!," kata Kurniawan setelah duduk kembali di kursinya.


"Dan beliau marah karena itu, dianggapnya kita tak becus mengurus masalah ini. Dia tak mau masalah sepele ini sampai ke media. Dan ia ultimatum untuk segera menyelesaikan kasus ini."


Ketiga orang di depannya masih diam. Kurniawan pun diam, tampak berpikir keras.


"Baik, begini saja. Pak Benarudin, nanti atur pertemuan dengan perangkat organisasi serikat itu. Lalu ancam mereka. Katakan bahwa perusahaan tak akan bernegosiasi untuk masalah Fatur. Dia akan tetap kita buang. Apapun caranya!," lanjut Kurniawan dengan geram.


Benarudinawisata si Pengacara mengangguk-angguk, wajahnya biasa saja. 


"Bilang mereka, percuma melawan perusahaan besar ini. Kita tetap mengeluarkan Fatur, apapun caranya dan berapapun ongkosnya! Jika ia melawan terus, kita pastikan hidupnya akan sengsara!."


Ranto dan Narsih tersenyum puas. Mereka gembira dengan instruksi itu.


"Mampus kamu Fatur! Berani-beraninya lawan kami!" gumam Ranto nyaris tak terdengar.


"Tapi, Pak. Bagaimana dengan anggota FSPGB di daerah ini? Mereka pasti akan melakukan aksi besar-besaran di depan pabrik, seperti yang biasa mereka lakukan di pabrik lain," tanya Ranto bingung.


PHK sepihak Di Antara Union Busting dan Solidaritas Pekerja (Bagian 3)


"Gak usah takut, nanti saya akan menghubungi preman kawasan sini, agar mengawal pabrik, asal ada bayaran mereka akan bergerak, juga aparat, saya bisa bayar mereka untuk menjaga pabrik." Narsih menjawab dengan senyum sumringah, senang sekali dia nampaknya.


"Ha...ha...ha.... Hal itu pasti gak akan terjadi," kata si Pengacara sambil tertawa riang.


"Kenapa, Pak? Bukankan itu pasti yang akan mereka lakukan jika aksi demo?" tanya Narsih, senyumnya meredup.


"Iya, jika pun ada aksi, tak akan sebanyak dulu. Mereka, serikat-serikat itu sudah pada lemah semua. Panggilan aksi pasti akan banyak yang mengabaikan. Sudah tak ada lagi kekompakan di antara mereka. Ha ... Ha ....!" jawab si Pengacara.


"Lah, itu di medsos? Mereka ramai berteriak akan bersolidaritas ke sini!" sanggah Narti.


"Itu cuman di medsos, kenyataannya gak akan seperti itu!" 


"Tapi mereka kan terkenal dengan satu komandonya?"


"Itu dulu! Dulu sekali! Sekarang mereka gak akan pernah satu komando lagi! Apa lagi yang memberi komandonya sekarang sudah tak bernyali lagi!"


"Kok bisa begitu? Pak Benarudin tau dari mana?" Narsih penasaran.


"Hi..hi... Saya kenal dengan para petinggi serikat itu. Mereka sekarang itu pecah, hanya ribut sendiri. Bertengkar sendiri. Saling curiga. Apalagi kita bisa kondisikan para pimpinan perangkat. Ha...ha.... Mudah sekali!"


"Betul! Betul! Betul! kata Ranto menirukan gaya Upin Ipin sambil nyengir.Tapi ia segera menghentikan cengiran saat melihat Kurniawan melotot padanya.


"Tapi mereka militan sekali, lho pak!" Narsih masih keukeuh dengan asumsinya.


"Di tingkatan bawah, anggota, mungkin iya, mereka bisa militan, agresif, bahkan bisa anarkis. Tapi itu kalo ada instruksinya. Nah, kalo instruksi gak ada? Mereka hanya bisa koar-koar saja," jawab Benarudinawisata kalem.


"Kok bisa gak ada instruksi? Bagaimana caranya? Kan Fatur anggota mereka juga?"


"Mudah sekali. Instruksi turun dari para pimpinan di cabang organisasi. Nah jika para pimpinan itu bisa kita rayu, kita iming-imingi imbalan, kita intimidasi, kalo perlu kita ancam, bisa apa mereka? Mereka pasti pada ketakutan!" 


"Betul, Pak. Lagipula adanya undang-undang yang baru yaitu UU SPOTAKER, kita bisa melakukan apapun terhadap mereka," kata Ranto ikut nimbrung.


"Benar sekali! Undang-undang baru itu memihak kita. Bahkan turunannya semakin memudahkan kita jika ingin membuang pekerja model Fatur ini, yang susah kita atur." Pengacara itu mengiyakan.


Narsih mulai manggut-manggut. Tapi ia lalu berkata, "Lalu, bagaimana dengan kawan Fatur yang lain, yang orang penting bahkan?"


"Siapa?" tanya Kurniawan menyela.


"Kabarnya, Fatur ini didukung hingga para senator, di pusat atau daerah, lho Pak!" jawab Narsih, wajahnya kembali cemas.


"Senator? Ha...ha... Jangan khawatir! Mereka tak akan bisa berbuat apa-apa. Mereka kan harus ikut regulasi di senat. Kalo mereka aneh-aneh kan sayang jabatannya itu lho! Hi hi ...!" Geli sekali si pengacara saat mengatakan itu.


"Tapi kalo mereka mengadakan sidak ke perusahaan? Kan dibolehkan?" Narsih masih penasaran.


"Gak akan berani mereka sidak! Orang-orang di pusat organisasinya juga pasti melarang itu! Bisa hilang setoran kalo sampai orang mereka hilang jabatan!"


"Oh, begitu ya, Pak?"


"Iya pasti begitu, mereka pasti berpikir buat apa susah-susah pikirin kasus Fatur? Toh, kehilangan seorang anggota tak masalah bagi mereka yang masih punya ribuan anggota lagi di seluruh negeri!"


"Tapi, kalo mereka nekad? Tetap aksi besar-besaran?" kata Narsih pelan seperti berkata pada dirinya sendiri.


"Jika itu terjadi, gampang saja, kita bisa pake aturan kesehatan, kan lagi pandemi! Hubungi saja aparat untuk mengancam mereka akan ditangkap! Pasti langsung ciut nyalinya. Ha ha ha....!" 


Kali ini mereka semua tertawa terbahak-bahak. Saking geli, Ranto hampir terjungkal dari kursinya. Hanya Kurniawan yang hanya tersenyum mendengar diskusi barusan. 


Hanya pikirannya saja yang melayang. Pikirnya, rasakan kau sekarang Fatur! Berani melawan saya, saya bikin sengsara hidupmu!


Lalu ia mulai tertawa. Semakin lama semakin keras. Matanya berkilat. Semakin lama tawanya semakin mengerikan. 


Iblis menari-nari di ruangan itu 


++++++++++


Bersambung ke: Di Antara Union Busting dan Solidaritas Pekerja (Bagian 4)

Judul asli: CERITA HALU
Penulis; Yous Asdiyanto Siddik

Disclaimer:  nama jika sama hanya kebetulan belaka, tanpa menyinggung yang bernama sama dengan di cerita, maklum namanya juga HALU.

#save_ampi

Hantu dan Kuburan Yang Tidak Lagi Menyeramkan

Kuburan, makam, atau kober kalau bahasa Betawinya, dulu bisa jadi memiliki status menakutkan, angker atau menyeramkan. Tapi kini status itu sudah ex-comunicado, yang ngak paham ex-comunicado berarti belum pernah nonton John Wick wkwkwk.


Mengapa status hantu dan kuburan tidak menyeramkan lagi? 


Karena sejak negara api menyerang, dan kemajuan teknologi yang semakin pesat, sehingga membuat generasi milenials, zilenials mulai suka bermain TikTok, Youtube, dan layanan video semacamnya. Banyak konten-konten yang dapat dikatakan telah merendahkan status hantu, setan, atau memedi ke level "tidak seram lagi". 

Hantu dan Kuburan Yang Tidak Lagi Menyeramkan
 Hantu di Kota Tua Jakarta 
 Foto: jalanbarengriky.blogspot.com 


Kalau kita ke Kota Tua (Kotu) Jakarta, tidak sedikit kita temukan orang-orang yang berprofesi menjadi "hantu" untuk menghasilkan uang, tidak sedikit penduduk setempat yang menjadikan profesi itu sebagai mata pencaharian. 

Para wisatawan atau pengunjung KOTU sudah merasa tidak aneh dan takut lagi dengan berbagaia karakter hantu yang ada di Indonesia berkeliaran di Kotu, bahkan para pengunjung bisa berswafoto dengan tokoh-tokoh hantu yang ada di Kota Tua tersebut.

Di tempat lain, jangan heran jika ada TPU (Tempat Pemakaman Umum) yang disulap menjadi wisata digital alias menjadi taman rekreasi instagramable hingga hilang unsur menyeramkannya, seperti yang terjadi di propinsi Jawa timur baru-baru ini, TPU yang dicat warna-warni macam taman kanak-kanak menjadi spot yang cukup mengundang para jiwa muda untuk berpose. 

Kuburan Yang Tidak Lagi menyeramkan
 TPU Nguwot Tawangrejo, Kecamatan Kartoharjo, Madiun 
Foto: pawartanusantara.com


TPU Nguwot di Kelurahan Tawangrejo, Kecamatan Kartoharjo, Kota Madiun yang menghabiskan 50 liter cat ini banyak menarik perhatian pengunjung untuk melihat serta menikmati pemandangan kuburan yang dulunya itu menyeramkan tapi sekarang berubah menjadi tempat yang menyegarkan mata dan unik

Bahkan tidak sedikit pengunjung yang berswafoto di makam tersebut yang akan mereka upload ke kanal media sosial mereka untuk menambah konten foto yang ciamik agar menambah "like" dan follow dari pengunjung media sosial yang melihat foto tersebut.

Kita pikir saja, jika itu sebuah role model untuk masa yang akan datang, maka sosok hantu bisa saja jadi bahan perundungan (bullying) para manusia yang kurang membaca sejarah tentang perhantuan nantinya. Akan sangat mungkin terjadi, jika anak kecil keluar malam-malam dan melihat hantu bisa saja, ia akan mengintimidasi si hantu tersebut yang berpotensi banyak hantu akan merasa insecure dengan eksistensinya. 

Hal-hal seperti itu akan mengakibatkan banyak hantu yang mengalami gangguan jiwa, maka dibutuhkan peran praktisi psikiater dan psikolog untuk meredam gangguan psikologi tersebut, dan saya pun sebagai calon psikolog insyaallah wkwkwkwk, akan  bertambah kerjaan, jobs desc yang tadinya hanya menangani pasien dari jenis manusia, kemungkinan besar akan menangani pasien dari jenis hantu yang mulai mengalami gangguan kejiwaan, atau mental illness

Wah wah wah ngak kebayang yaa rasanya jadi seorang psikiater atau psikolog bagi mahluk halus, pasti melelahkan karena harus buka jam operasional menjadi 24 jam. 

Dan bukan tidak mungkin di masa yang akan datang, banyak undang-undang yang mengatur hak asasi hantu (HAH), kelak akan ada tokoh hantu yang menyuarakan keadilan atas eksistensinya di dunia ini, hantu juga memiliki hak sebagai penduduk bumi yang memiliki peranan dalam meramaikan ragam budaya multikultural yang ada di Indonesia, wkwkwk apesih?.

Yahhh begitulah sedikit bentuk empati saya terhadap nasib para hantu dan kuburan pada saat ini, yang mulai tidak di perhitungkan lagi eksistensinya dan sudah tidak seram lagi. 


-------------------

Semoga tulisan saya ini  bisa menjadi tulisan yang revolusioner serta visioner dan bisa menyadarkan manusia agar saling menghormati dan menghargai, bukan hanya pada sesama manusia, tapi melainkan juga kepada seluruh makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa khususnya mahluk halus yang bersemayam di antara kita. 

Agar kita bisa hidup damai didunia ini, dengan menjalin hubungan erat antar sesama makhluk, sehingga tercapainya nilai nilai keluhuran yang ada di Indonesia bahkan dunia. 

Sekian terima kasih atas perhatian bapak ibu sanak saudara dan teman teman yang berkenan memberi jempol atas tulisan gabut saya ini. Tulisan saat menunggu antrian bank yang cukup panjang, yang membuat saya lelah karena menunggu, bapak ibu tahukan bagaimana lelahnya menunggu hal yang tidak pasti?, yaah saat ini saya sedang mengalami hal tersebut, karena saya tahu kepastian hanya ada di tangan Tuhan.

Saya akhir tanpa basa basi, semoga kita selalu diberikan kesehatan yang sempurna oleh Allah SWT, agar kita bisa melakukan aktivitas dengan baik, serta menjadi manusia yang bermanfaat bagi lingkungan hidup sekitar kita, dan ikut andil dalam meningkatkan kualitas hidup di masyarakat. Aamiin Allahuma aamiin.

#makamunik #indonesiaku #viral #milenials #duniahiburan #duniatiputipu

Penulis: Zhukie Chand
Rabu, 17 Maret 2021


____________________

Catatan:

Di satu sisi, mewarnai kuburan semacam ini dilakukan dalam rangka lomba kebersihan. Itu bagus, setidaknya menjaga areal kuburan bersih dan menghilangkan aura klenik, seram dan angker namun di sisi lain kuburan akan kehilangan maknanya sebagai pengingat kematian.

Karena, kuburan yang dicat warna-warni seperti itu akan menghilangkan tujuan dan esensi ziarah kubur. Makam atau kuburan adalah tempat yang mengingatkan kita pada kematian dan kefanaan hidup manusia di dunia. Karena itu Nabi Muhammad S.A.W. menganjurkan umatnya untuk ziarah kubur untuk mengingat mati..

Jangan sampai tujuan untuk mengingat kematian ini hilang dan berganti dengan hitung-hitungan ekonomi  keduniawian.


Di Antara Union Busting dan Solidaritas Pekerja (Bagian 2)

Di Antara Union Busting dan Solidaritas Pekerja


Kisah ini adalah kisah sambungan dari: Di Antara Union Busting dan Solidaritas Pekerja (Bagian 1) 


Kurniawan, sang direktur, dengan agak kikuk mempersilahkan pengacara itu duduk di depannya. Dari sikapnya, terlihat ia agak segan, karena ia tahu kepiawaian orang di depannya ini.

Sang Pengacara duduk perlahan, terlihat bersahaja dan percaya diri. Wajahnya datar saja, namun sinar matanya yang tajam menunjukkan bahwa ia adalah seorang yang pandai bersiasat.

Beberapa saat ruangan kantor itu hening, seakan terbius oleh keberadaan pengacara itu. 

"Pak ...." Ranto memecahkan keheningan ruangan, memanggil atasannya yang malah terdiam.

Kurniawan sedikit terhenyak. Namun ia segera memulihkan kesadarannya. Sikapnya menjadi biasa lagi, sebagai seorang direktur di sebuah perusahaan besar multinasional.

"Bagaimana perkembangan kasusnya, Pak? Apa hasil pertemuan kemaren dengan perangkat organisasi FSPGB?," tanyanya sopan.

"Ya, kemaren sudah saya sampaikan keberatan kita dengan sikap mereka." Pengacara itu menjawab santai.

"Lalu, bagaimana dengan somasi yang mereka berikan?."

"Ha ... Ha ... Somasi receh itu mudah saja. Kita somasi balik dengan isu pembohongan publik."

"Oh, begitu. Lalu bagaimana sikap perangkat organisasinya?. Bisakah mereka kita ajak kerjasama?."

"Sangat bisa!," jawab Pengacara itu sambil tersenyum. Kali ini senyumnya agak berbeda, ada kelicikan di sana.

"Bisa bagaimana?. Mereka kan serikat yang sangat militan!. Mana mungkin mereka bisa diajak kongkalikong dengan kita."

"Dah, itu urusan saya nanti. Yang penting adalah kondisi di dalam. Bagaimana sikap anggota mereka?. Bisakah dikondisikan?"

"Itu malah lebih gampang, Pak!," jawab Kurniawan sambil tersenyum lebar.

"Gampang bagaimana?." Pak Benarudinawisata, si Pengacara penasaran.

Kurniawan memandang  Ranto sambil mengisyaratkan dengan kepalanya agar Ranto yang berbicara.

"Begini, Pak Benarudin, kami sudah punya beberapa orang yang sudah kami brainwash, dan mempunyai pengaruh besar di kalangan karyawan. Kita bisa memanfaatkan mereka, untuk mempengaruhi anggota serikat itu," kata Ranto dengan lancar.

Benarudinawisata manggut-manggut sambil mengelus jenggotnya yang panjang hingga mencapai perut dengan tangannya yang besar-besar. 

Ranto yang memperhatikan sikap Pengacara itu dan tak berkata apapun melanjutkan.

"Kami gak begitu khawatir kondisi dalam perusahaan, yang kami khawatirkan hanya kawan-kawan mereka diluar. Serikat FSPGB ini kan salah satu serikat besar yang radikal!. Mereka militan, beberapa tahun lalu mereka sering menggempur pabrik-pabrik sekitar sini dengan massanya yang banyak." Ranto berhenti sebentar, mengambil nafas panjang, terlihat sekali ia sangat geram.

"Ha ... Ha ... Ha ...!." Pengacara itu tertawa terbahak-bahak. Saking gelinya, seluruh tubuhnya yang besar itu berguncang, jenggotnya ikut meliuk kanan kiri mengikuti guncangan tubuhnya.

Kurniawan dan Ranto yang sekarang heran dengan sikap si Pengacara. Benarudin malah semakin geli, suara tawanya semakin keras, memenuhi ruangan itu, mungkin mengalahkan suara musik ajep-ajep di diskotik.

Setelah puas tertawa, Pengacara itu kembali biasa lagi. Wajahnya kembali datar, hanya senyumnya yang berubah menjadi senyum mengejek.

"Itu dulu!. Dulu sekali. Sekarang mereka sudah gak ada apa-apanya, ha ... ha ....!" 

Kurniawan dan Ranto saling berpandangan. "Gak ada apa-apanya bagaimana?." Hampir serempak mereka berkata itu.

Pengacara itu tersenyum. Namun sebelum ia menjawab pertanyaan kompak itu, tiba-tiba pintu ruangan terbuka. Narsih tergopoh-gopoh memasuki ruangan.

"Pak, maaf Pak, ini gawat!," serunya dengan nafas tersengal. Ia menghampiri meja pak Kurniawan, di mana ketiga orang tadi berkumpul.

"Ada apa Narsih?. Panik amat?," tanya Kurniawan heran dengan sikap bawahannya yang biasa santai.

"Ini, Boss! Lihat ini!." Narsih menyodorkan hapenya ke meja pak Kurniawan.

Kurniawan, Ranto dan si Pengacara serempak melihat ke arah layar hape.

++++++++

Bersambung ke: Di Antara Union Busting dan Solidaritas Pekerja (Bagian 3)

Judul asli: CERITA HALU
Penulis; Yous Asdiyanto Siddik

Disclaimer:  nama jika sama hanya kebetulan belaka, tanpa menyinggung yang bernama sama dengan di cerita, maklum namanya juga HALU.

#save_ampi


– BIDADARIKU –


" Takdir, sesuatu yang tidak bisa untuk dihindari dan tak bisa untuk dipungkiri "


 - BIDADARIKU -


Berkenalan dengan Bidadariku

Maret 2016 masih segar dalam ingatan, Berawal dari pertemuan yang tidak disengaja antara konsumen dan pelayanan minimarket. Waktu itu saya bekerja seperti biasanya di sebuah toko minimarket yang terdapat di sebuah perumahan, hari-hari sama seperti biasanya bekerja dan bercanda dengan rekan-rekan kerja, sampai suatu hari saat saya sedang ngobrol berdua dengan rekan saya ( sebut saja si Amang πŸ˜‚)  tiba-tiba ada suara lembut yang memanggil.. "Permisi mas,.. " 


Seketika kami menoleh ke arah sumber suara tersebut sambil menjawab dengan serentak "Iya mba."


"Masyaallah manis emen ini cewe.." dalam hati bicara,  lalu disambung lagi tanya dia. "Mas ada popok bayi merk m*m*po*ko ukuran L ngga?.." dengan serentak lagi saya dan si Amang jawab "Ada mba.. sebentar saya ambilin di gudang." 


Seketika kami berdua berlari sambil saling dorong berlomba untuk ambilkan pesanan gadis manis itu. Beruntung sekali saya, karena popok itu saya yang menemukan πŸ˜‚. Saya tinggalkan si Amang dan langsung berlari ke arah gadis itu, "Ini mba popoknya, ada lagi yang dicari ngga mba biar saya ambilin lagi?." 


Sambil senyum gadis itu bilang,  "Alhamdulillah.. gak ada, terima kasih yah mas.." 


Masyaallah adem bener senyumnya, rasanya mata nggak mau berkedip melihat gadis itu sampai dia pergi dengan sepeda motornya.

Si Amang langsung bertanya "Bang, namanya siapa, kenalan ngga tadi..?" dengan rasa penasaran. 

"Subhanallah.. lupa gue πŸ˜‚" padahal emang ngga berani buat tanya nama. 

"Yah payah lah.." kata si si Amang. 

Entah dari mana rasa yakin itu tiba-tiba dalam hati berbisik, "Jodoh gue ini cewe." 


Keesokan harinya gadis itu mulai sering kelihatan di toko untuk membeli roti sandwich dan susu TPK, sampe semua anak toko hapal dia pasti beli itu. Dengan rasa yakin saya bilang ke kasir. "Neng kalo ada cewe yang sering beli roti ama susu yang sering digodain ama si Amang, tanyain namanya siapa dan pintain ya nomor Hp-nya.." 


Ah payahlah emang saya ngga berani buat kenalan apalagi minta nomor πŸ˜‚. kasir langsung bilang, "Gampang bang, namanya gue udah tau.. namanya LIA  dia anak blok H, nanti gue pintain nomornya cuma upahin ya..", dengan rasa senang langsung jawab.. "Bereess pokoknya.."


20 Maret 2016 saat masuk shift 2 tiba-tiba kasir samperin saya sambil senyam-senyum "Jadi ini mah di teraktir.. nih bang nomornya.. cuma dia pesen nomornya buat mas-mas yang pake motor Jupiter merah aja".  


Boomm.. pecah rasanya rasa senang di hati.. ternyata gadis itu juga penasaran dengan saya, senang campur nggak percaya. Si Amang dan rekan yang lain langsung nyeletuk.


"Buset pake pelet ini dia.." πŸ˜‚ wkwkwk ga ada akhlak emang pada masa di bilang pake pelet, emang saya jelek bangat apa?. 


Dengan mengucap bismillah mulai chat dengan SMS, maklum hp masih jadul πŸ˜‚. Dengan gaya chat yang sudah pasaran, ".. assalamualaikum mba, ini saya mas-mas ind*ma**ret.." ternyata langsung di bales, "wa'alaikumussalam mas iya mas, ada yang bisa dibantu.." 


Mulai saat itu kami mulai dekat dengan SMS, sekitar 3 bulan saling chat, singkat cerita saya mulai minder dengan dalih dia anak rumahan kayanya ngga pantes sama saya, dan puncaknya saat saya liat dia berbocengan dengan lelaki seumuran saya dengan motor trail, padahal usut punya usut itu adalah kakak kandungnya. Jadi perlahan saya mulai menjauh sampai kami bener-bener lost kontak. Dan tidak lama kemudian,saya dimutasi untuk pindah toko.



Perempuan Lain

Sampai saat saya mengenal perempuan lain dan mulai mengenalnya lebih jauh. Dua tahun kurang lebih saya menjalin hubungan dan berkomitmen untuk menikah. Ketika rencana itu sudah matang dan sudah diperkirakan tahun untuk menikah. 


Saat itu yang ada di pikiran saya ternyata ini jodoh saya. Saat itu saya lupa takdir Allah itu rahasia Allah segala kemungkinan bisa saja terjadi. Benar saja saat tinggal selangkah lagi menikah ternyata gagal karena ada satu dua hal. 


Pelajaran yang saya ambil. Sungguh Allah itu maha tahu apa-apa yang terbaik untuk hambanya dan sedetik ke depan sekalipun kita tidak bisa menjamin apa yang akan terjadi.


Saat rasa hampa dan kosongnya hati setelah kejadian itu, males rasanya kenal perempuan jika cuma hanya pacaran atau saling kenal saja. Berasa jagain jodoh orang lain.πŸ˜‚



CLBK

Maret 2018, Saat itu tiba-tiba ada konsumen yang sepertinya saya kenal cuma ragu takut salah orang. Namun sepontan saya hampiri sambil bilang " mba ada yang bisa saya bantu.." saat dia menoleh ke arah saya.. kaget, seneng, campur aduk. " Lia..? " 


Dia langsung pergi tanpa sepatah kata pun. Seketika ambyar hati rasanya. 


Keesokan harinya ada DM yang berisikan " Assalamualaikum mas, ini aku Lia.. maaf ganggu mas, selamat ya mas udah mau nikah.." seketika GEGANA (gelisah, galau, merana) pun musnah. 


"Wa'alaikumussalam de, siapa yang nikah de, mas ngga jadi nikah.. " 


Singkat cerita setelah saling berbalas DM sampai minta nomor WA-nya kami mulai saling berbagi cerita lagi dan mulai dekat lagi. Dan saat itu saya kaget bukan kepalang. Gadis manja yang dulu saya kenal sekarang masyaallah berubah drastis menjadi lebih dewasa dan cara berpakaiannya yang saya lihat di IG nya masyaallah syar'i banget. 


Sambil bilang dalam hati.. Alhamdulillah.. padahal belum tau perasaan dia gimana ke saya πŸ˜‚. 


Juni 2018 setelah istikharah, minta pendapat orang tua, guru-guru dan sahabat saya mulai beranikan diri untuk mengutarakan perasaan saya kepada dia, jawaban dia simpel.. 


"kalo mas suka saya, ke rumah aja bilang ayah sama ibu terus minta ijin buat lamar terus nikahin saya.." tanpa pikir lagi.. langsung bilang akhir "bulan ini saya ke rumah kamu..", "okey mas aku tunggu.."


Sampai saatnya saya datang ke rumahnya menghadap orang tuanya untuk utarakan maksud dan tujuan saya, " sebelumnya mohon maaf pak, Bu.. saya KHOIRUL UMAM, saya suka sama anak bapak ibu, saya ingin menikahi anak bapak ibu, cuma begini lah saya apa adanya,"  


Tabarokalloh.. ternyata ayahnya paham tentang agama dan tau betul tentang hadis nabi yang menganjurkan untuk cepat menikahkan anak gadisnya untuk menghindari zinah dan segala fitnah.. ayahnya langsung bilang.


 "Kapan nak Umam mau bawa rombongan ke rumah..? ".. 


Alhamdulillah dalam hati rasanya ingin loncat-loncat karena saking senangnya.. "Insyaallah bulan Juli saya ke sini bawa rombongan untuk melamar anak bapak.."


"Baik nak Umam kami tunggu kedatangan nya.." jawab ayahnya. Singkat cerita 1 Juli 2018 kami lamaran dan sampai pada 19 AGUSTUS 2018. Saya jabat tangan ayahnya dengan penuh yakin mengucapkan kalimat paling romantis "Saya terima nikahnya dan kawinnya Lia Amalia Muchlisa binti Rahmat abadi Sahati dengan mas kawinnya tersebut di bayar tunai.." 


Sah.. Alhamdulillah.. Saat paling membahagiakan dalam hidup saya setelah perjalanan berliku ternyata sampai di pelaminan juga.


Bersambung.. πŸ˜‚


Bersambung ke  - BIDADARIKU - (part 2)


_____________


Penulis: KHOIRUL UMAM
Rabu, 17 Maret 2021



NYEPI – catatan kecil, kenangan dan refleksi saat Nyepi di Bali

NYEPI

Sebuah catatan kecil, kenangan dan refleksi pribadi saya saat Nyepi di Bali.


NYEPI - catatan kecil, kenangan dan refleksi saat Nyepi di Bali


Om Swastiyastu πŸ™πŸ™πŸ™

Tahun 1998, waktu itu saya diajak oleh beberapa sahabat Bali untuk ikut menjadi Pecalang di Banjar Gemeh, Jl. Mayjend Sutoyo Denpasar. Saya menikmati betul keheningan Nyepi. 

Sebelumnya saya gabung di malam Pengerupukan mengangkat Ogoh Ogoh mengelilingi lapangan Puputan Badung di depan Kodam Udayana. Saya dan teman teman seperti Wayan Panca, Osta, Wayan Bero, Gung Was, Gung De, Oli dan masih banyak lagi yang tak bisa saya sebutkan satu per satu) berbaring di jalanan menghadap langit cerah penuh bintang sambil bercerita (tentunya setengah berbisik) tentang hidup kami dan hal hal lucu. 

Beberapa orang mengantar Chawi, drummer Siluet Band ke Rumah Sakit karena malam itulah anak keduanya, seorang puteri, lahir dan di beri nama Anugerah Saka Puteri. Saya berterima kasih atas moment itu. 

NYEPI - catatan kecil, kenangan dan refleksi saat Nyepi di Bali


Tahun 1999, saya diajak lagi untuk ikut Pecalang di Banjar Wijaya Kusuma, Jalan Wijaya Kusuma Denpasar. Waktu itu saya di rumah musisi Bali "Triple XXX". (Rah Ming, Rahtut, Rahde, Rahtu, Rah Man). Mereka memang sudah seperti keluarga saya dan sahabat seperjuangan. Saya berjalan bersama teman-teman di sana seperti Rah De, Rahtut dan beberapa orang lainnya sampai di Jl. WR. Supratman lalu kembali. Saya berterima kasih untuk semua itu. 

Kecuali saya ada job di luar negeri, di luar daerah, atau ada schedule di Hard Rock Hotel (Di Hard Rock Hotel kami disediakan kamar di hari Nyepi jika on schedule ) saya di rumah saja melewati Nyepi. 

Saya suka sekali Nyepi. Nyepi itu sehat dan moment satu-satunya di dunia. Di moment itu saya beristirahat lahir bathin sambil baca buku koleksi saya (buku koleksi saya ada 6 kardus ukuran jumbo hehehhee). 

Saya mengenangnya dan merindukan Nyepi dengan segala totalitas riuh rendahnya, macetnya, kesibukannya, kecepatan mempersiapkan hal-hal sebelum, dan waktu heningnya tiba, dan Pagelaran Ogoh-Ogoh yang euphoria-nya begitu powerful dan sensasional, beberapa jam sebelum akhirnya semua hening di waktu Nyepi yang telah ditentukan. 

Sebuah prosesi religius yang ber 'Taksu', dinamis dan kuat. Kuat dalam eksplorasi energi luar: Angkat ogoh-ogoh dan berjalan kiloan kilometer, teriakan lepas membahana khas masyarakat Bali di saat Ogoh-Ogoh diputar di persimpangan jalan dan sebagainya; maupun eksplorasi energi dalam: Menahan diri untuk hening dan diam!.

Selamat melaksanakan Catur Brata Penyepian buat semua sahabat di Bali. Selamat memperjuangkan Dharma dari Adharma. Selamat melebur jiwa dengan spirit murni bumi selama 24 jam. Selamat menikmati indahnya kolaborasi keheningan alam dan manusianya yang cuma sekali dalam setahun dan di dunia ini hanya ada di Pulau Bali.

Teruntuk Pulau Bali dan seisi alamnya, TERIMA KASIH sebesar besarnya atas pemberianmu. 
Terima kasih atas cinta dan rejekimu. Terima kasih atas apapun yang pernah kulalui di sana; pahit, manis, hitam dan putih, suka duka, persahabatan, seni dan cinta kasih; yang menjadi salah satu bagian kehidupan yang indah dan besar dalam perjalanan waktuku.

Sekali lagi, Terima kasih!.

Om Chanti Chanti Chanti Om... πŸ™πŸ™πŸ™ ❀❀❀


_________________
Penulis: Zul Saja

Sabtu, 13 Maret 2021.


S0606: Usai Bumi Berguncang

Episode ini sebenarnya dibuat untuk memperingati 10 tahun peristiwa salah satu gempa terbesar di dunia yang terjadi tanggal 11 Maret 2011 di Timur Laut Jepang, sebuah peristiwa tak terlupakan bagi gue dan keluarga yang saat itu tinggal di Tokyo, Jepang. Namun karena sesuatu dan banyak hal, baru sempat gue upload sekarang.

Episode ini adalah salah satu contoh bagaimana Podcast atau rekaman suara bisa menjadi catatan sejarah penting bukan hanya sejarha hidup kita, tapi juga bagian dari sejarah di masa kita hidup dulu, karena gue dari dulu terbiasa membuat macam-macam rekaman suara dari keseharian gue dan menjadikannya materi podcast. Semua insert-insert suara di episode ini (kecuali musik background) gue ambil dari rekaman-rekaman podcast gue 10 tahun lalu.

* Music used in this episode: Ishikari LoreΒ by Kevin MacLeod is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 license. https://creativecommons.org/licenses/by/4.0/ – Source:Β http://incompetech.com/music/royalty-free/index.html?isrc=USUAN1100192

Send in a voice message: https://anchor.fm/suarane/message

Di Antara Union Busting dan Solidaritas Pekerja (Bagian 1)

Di Antara Union Busting dan Solidaritas Pekerja


"Sial! Anak itu semakin menjadi-jadi saja!," kata seorang pria di sebuah ruangan kantor berpendingin. Di hadapannya ada dua orang staff kepercayaannya. 

"Maklum, Pak. Dia kan aktif di luar pabrik. Lumayan terkenal, sih!," kata Ranto, salah satu staff HRD di depannya.

"Tapi, Boss pengennya serikat yang satu ini dibelenggu! Kalo perlu dihancurkan! Kemarin, Ketua mereka sudah kita habisin! Dan dia kooperatif tuh, mau nerima duit pesangon. Kenapa yang ini bebal sekali?."

Kedua orang di hadapannya hanya terdiam menunduk. Narsih, staff wanitanya sibuk memilin ujung baju kerjanya. Dia mahfum, karena kenal baik dengan Fatur, karyawan yang dimaksud oleh atasannya itu.

Fatur, yang ia tahu, punya idealisme tinggi terhadap organisasinya. Bahkan ia sering mendengar jika Fatur sering berbeda pandangan dengan kawan-kawannya di dalam pabrik, meski mereka masih satu wadah organisasi.

"Kok, kalian diam saja?. Bantu saya memecahkan masalah orang satu ini, dong!," kata pria itu lagi.

"Kita main di absensi saja, pak! Kan kemarin dia keluar pabrik dengan teman-teman serikatnya. Kita tuduh saja dia sebagai pembohong! Berbohong pada perusahaan kan termasuk dosa besar lho pak! Bisa masuk neraka!," kata Ranto menggebu-gebu.

"Hah!? Masuk neraka?." Terheran pria itu dengernya. Penulis juga ikut heran.

"Iya, Pak!. Masuk neraka!. Makanya daripada merugikan perusahaan, mending langsung saja dikeluarin surat PHK-nya!." Ranto semakin bersemangat. 

"Bagus!. Kamu benar-benar jenius!. Kita pakai saja cara itu!." Pria itu ikut semangat, matanya berbinar-binar mendengar ide cemerlang dari staffnya.

"Narsih! Langsung kamu buat surat PHKnya, panggil si Fatur, minta tanda tangan!. Kalo dia gak mau, kirim saja lewat email!." Perintah si Pria dengan gagah.

Giliran Narsih yang bingung. Neraka?. Absen?. Apa hubungannya?. Cuman karena ia hanya bawahan, ia hanya mengangguk,. " Baik, Pak. Saya bikin sekarang."

Kemudian Narsih meninggalkan ruangan itu dan segera mengerjakan tugasnya.

"Dan kamu Ranto, segera hubungin pengacara kita, bikin statement di media massa, bahwa si Fatur itu membuat berita palsu!. Bikin somasi!. Kalo perlu sebelum di kirim ke neraka, kita kirim dulu ke penjara!," dengan geram si Pria membuat instruksi.

"Dan kamu coba cari tahu, kawan-kawan pengurus serikat di pabrik, ada yang bisa kita ajak kerjasama, gak? Kalo perlu kita iming-imingi mereka dengan bonus tambahan, bagi yang mau bekerja sama dengan kita!," lanjutnya.

Ranto mengangguk, lalu dengan tergopoh-gopoh ia meninggalkan ruangan. Di luar, ia membayangkan kenaikkan jabatan jika berhasil dalam misi ini. Tak sadar, lidahnya menjulur keluar, liurnya menetes, bayangan bonus besar yang bakal ia dapatkan nanti terbayang di matanya.

--------------------

 "Tuk ... Tuk ... Tuk ...!" Ranto tergesa mengetuk pintu kantor atasannya.

"Masuk!." Terdengar suara dari dalam.

Bergegas Ranto memasuki ruangan, senyumnya mengembang, matanya berbinar-binar.

"Ada apa, To? Seneng banget nampaknya?," tanya Pria atasannya heran.

Dengan gesit, Ranto mengambil posisi duduk berhadapan dengan atasannya.

"Ternyata gampang sekali, Pak!," katanya dengan senyum yang belum hilang dari wajahnya, sehingga suaranya terdengar sengau.

"Gampang apanya?."

"Untuk mengeliminasi si Fatur itu lho!."

"Eliminasi?."

"Iya, Pak. Eliminasi!."

"Lah, emang si Fatur ikut Indonesia Idol?."

Duh! Ranto garuk-garuk kepala. Tak ia sangka, atasannya yang berperawakan seperti Ladusing di serial kartun tv itu ternyata tololnya bukan main.

"Bukan Indonesia Idol, Pak!. Di-eliminasi dari perusahaan, gitu lho!. Dikeluarkan!. Di-PHK!. Ngarti?"

"Lho, kok kamu marah-marah ke saya?." 

"Abis, bapaknya ngeseβ€”". Tak ia selesaikan ucapannya, saat melihat mata pak Ladus... Eh, atasannya melotot sangar.

"Begini, Pak." Akhirnya Ranto mulai berbicara dengan tenang.

"Ternyata, kondisi serikat di sini gak solid-solid amat, lho!."

Atasannya hanya diam, menyimak. Melihat sikap atasannya, Ranto melanjutkan.

"Para pengurus serikat yang lain, banyak yang ragu-ragu. Demikian juga anggota mereka. Mereka gamang. Lagian, rata-rata sudah pada berumur, dengan masa kerja belasan tahun. Pasti mereka akan berpikir untuk diri sendiri, dong!."

"Hmm, kamu tahu dari mana kalo pengurus yang lain gak solid?."

"Tau lah, Pak! Kan, saya banyak punya mata-mata!," kata Ranto sambil nyengir nyebelin.

"Apa mata-matamu bilang?."

"Info mereka, tempo hari saat ada rapat pengurus, dari sebelas hanya setengahnya yang hadir, itu menunjukkan tanda-tanda ke-tidak solid-an mereka."

"Ya, belum tentu! Siapa tau yang lain ada acara lain."

"Wah, Pak, sepenting-pentingnya acara mereka, jika solid, pasti mengusahakan untuk datang, tapi ini enggak, jadi bisa dipastikan mereka gak solid!."

Pria atasan Ranto itu manggut-manggut. "Kemungkinan itu masuk akal, terus apalagi infonya?"

"Lalu, jumlah anggota mereka juga tak terlalu banyak, dibandingkan seluruh karyawan yang kita punya, belum lagi Serikat Pekerja yang kita bina sendiri juga tak merespon apapun atas kasus si Fatur ini."

"Memangnya, apa nama serikat pekerja si Fatur ini?"

"Bapak gimana, sih! Masa lupa!." Ranto menggerutu.

"Lah!. Mana ingat aku!. Saking banyaknya serikat pekerja aneh-aneh!. Dan kamu jangan menggerutu seperti itu!. Ingat! Aku ini Kurniawan!. Atasanmu!." Teriak Pria yang ternyata bernama Kurniawan itu, marah dia.

Ranto membenarkan sikapnya, lalu ia berkata dengan hati-hati.
"Di perusahaan kita ada dua kubu, Pak. Yang satu namanya FSPGB, tempat si Fatur bernaung. Satu lagi SPBP, gitu Pak."

"FSPGB? Apaan tuh?."

"Federasi Serikat Pekerja Gokil Banget, cukup terkenal kok, mereka kabarnya sangat militan, solidaritas tinggi, dan reaksioner. Cuman di perusahaan kita, hal itu gak terlalu pengaruh."

"Hmm... Agak aneh juga nama serikatnya ... Terus, SPBP?. Apaan lagi?."

"Serikat Pekerja Binaan Pengusaha, di kita jumlah mereka lumayan banyak lho pak, lebih banyak dari FSPGB, dan anggota mereka itu hanya anak-anak manis semua, lho!."

Kurniawan kembali manggut-manggut, puas nampaknya.

"Terus, gimana kabar lawyer kita?. Apa sarannya?." tanyanya setelah berdiam beberapa saat.

"Oh, pak Benarudinawisata? Beliau ada di luar pak, menunggu giliran ketemu bapak," jawab Ranto santai.

"Oh, ada di luar? Suruh masuk saja, kita diskusi sekarang untuk kelanjutan kasus ini," kata Kurniawan sambil memberi isyarat ke arah pintu dengan tangannya.

"Baik, Pak." Ratno dengan sigap langsung ke luar ruangan. Beberapa saat kemudian ia kembali masuk. Di belakangnya mengikuti seseorang, yang berperawakan besar seperti binaragawan Ade Rai, dengan jenggot panjang melambai mencapai perut.

Sang Pengacara!


----------


Judul asli: CERITA HALU
Penulis: Yous Asdiyanto Siddik

Disclaimer:  nama jika sama hanya kebetulan belaka, tanpa menyinggung yang bernama sama dengan di cerita, maklum namanya juga HALU.

#save_ampi