Arsip Bulanan: Agustus 2020

Tips Memilih Mobil Bagi Adventurer

 


Memilih mobil bagi sebagian orang adalah hal yang mudah, namun bagi sebagian orang lainnya, memilih mobil adalah hal yang sangat menyulitkan. Apalagi bagi penyuka petualangan namun belum mengerti sama sekali spesifikasi dan mobil mana yang paling tepat untuk dirinya.

Bagi petualang, ada beberapa hal yang harus diperhatikan ketika memilih mobil yang pas dengan jiwa petualangannya. Mendaki gunung lewati lembah serta banyak medan yang tidak terduga adalah ciri khas bagi seorang petualang. Ketika mengarungi medan tersebut,  ada beberapa hal yang harus diperhatikan yaitu apakah mobil tersebut tahan dengan perubahan cuaca yang ekstrim ditambah lagi dengan medan yang cukup sulit seperti bebatuan dan terjal bahkan kondisinya bisa berlumpur atau licin.

Bayangkan,  jika pada saat ditengah medan yang ekstrim,  namun terjadi kendala pada mesin dan akhirnya malah mogok,  dalam kondisi seperti ini sangat sulit meminta pertolongan dari customer service karena berada jauh di jalan berbukit. Bukan hanya itu, sering kali memaksakan spesifikasi mobil yang bukan untuk adventure juga kurang nyaman karena pasti akan banyak masalah pada setengah perjalanan.



Lalu,  apa saja sih tips memilih mobil untuk adventurer? Ini dia beberapa hal yang wajib dilakukan sebelum membeli mobil Adventure.

Ketahui Budget

Banyak sekali yang sangat menginginkan mobil Adventure,  namun tidak mengetahui budget yang dibutuhkan untuk membelinya. Tipsnya adalah sesuaikan budget mobil yang akan dibeli, dan prioritaskan terlebih dahulu kebutuhan rumah tangga sebelum menyisihkan budget untuk membeli mobil. Setelah semua kebutuhan rumah terpenuhi,  barulah sisihkan budget yang tersisa untuk dialokasikan membeli mobil impian tersebut.

Memilih Tipe Mobil

Biasanya hal yang dilakukan oleh sebagian orang adalah hanya membeli mobil tanpa tahu kebutuhan tipe mobilnya. Misalnya kamu merupakan bagian dari keluarga besar dan akan sangat bermanfaat bila memilih mobil jenis city car,  berbeda dengan kamu yang telah memiliki mobil utama dan akan menambah jenis mobil yang lain yang mensupport hobi atau jiwa petualanganmu,  maka tipe mobil Adventurelah yang cocok bagi kamu.

Cari Referensi Sebanyak-banyaknya

Setelah sudah memiliki budget dan tahu bahwa jenis mobil adventurelah yang harus kamu miliki, kamu harus cari banyak sekali referensi yang sesuai dengan kebutuhan kamu. Sekarang ini,  selain konvensional bertanya langsung ke dealer,  kamu juga bisa mencari spesifikasi mobil melalui online. Dengan online,  kamu bisa mencari referensi sebanyak mungkin,  misalnya kamu bisa ke salah satu website auto2000.co.id untuk mencari mobil apa yang pas.

Setelah mencari referensinya, akhirnya kamu menemukan Toyota Rush sebagai mobil adventure yang kece banget. Nah,  kamu tinggal bertransaksi melalui online secara mudah dan nyaman tanpa harus keluar rumah.

Nah, itulah tips memilih mobil adventure bagi petualang yang membutuhkan mobil dengan spesifikasi tangguh di segala medan. Selamat berpetualang. 

Beli Gitar Itu Kayak Cari Calon Suami Harus Yang Nyaman

 


Beli Gitar Itu Kayak Cari Calon Suami Harus Yang Nyaman. Sejarah panjang saya dan dunia musik pada akhirnya tiba pada konklusion bahwa saya hanya bisa memainkan satu alat musik yaitu gitar. Catat: gitar akustik. Padahal dulu, waktu perangkat band keluarga (Jemiri Band) belum dijual, saya mencoba menabuh drum secara otodidak dan mencoba memainkan orgen. Kalian pun jangan berpikir ketinggian bahwa saya jago memainkan gitar kayak musisi-musisi keren Indonesia. Tidak, saya belum sampai pada tahap itu karena kunci yang dikuasai pun baru yang paling dasar. A, B, C, D, E, F, G dengan tambahan Am, Em, Bm, Dm, Fm, sedangkan Cm masih bikin saya garuk kepala. Hahaha. Setidaknya saya bisa mengiringi diri sendiri bernyanyi, dan tentu saja Mamatua! Hyess, Mamatua suka banget menyanyikan lagu Teluk Bayur.


Baca Juga: Sakit Hati Berujung Maut Yang Menggemparkan Tanah Ende


Sejarah panjang saya dengan gitar pun ngeri-ngeri sedap. Hehe. Pertama beli gitar di Toko Sahabat, bertahun-tahun lampau (saya lupa tahun berapa pokoknya sudah lama banget). Asal membeli, yang penting punya gitar. Gitarnya kemudian rusak dan lantas diperbaiki sama Noel Fernandez, dicat kuning, ditempeli stiker. Gitar yang usianya sudah bermusim-musim itu akhirnya saya ikhlaskan tidak lagi berada di Pohon Tua (nama rumah kami). Sekian lama saya hanya bisa meminjam gitar pada Akim Redu dan Violin Kerong. Gara-gara meminjam gitar itulah saya jadi tahu perbedaannya. Ha? Apanya yang beda?


Gitar yang dipinjamkan Akim itu berbodi besar, sama dengan gitar lama saya, dengan neck panjang/normal. Ingat ya, ini gitar akustik. Lanjut, sedangkan gitar yang dipinjamkan Violin itu berbodi lebih kecil dan sangat nyaman ketika memainkannya. Pelukannya mantap jiwa. Kemudian saya pergi ke Kedai Kampung Endeisme di mana gitar yang disediakan di sana, untuk dimainkan pengunjung, berbodi lebih ramping dan tingkat kenyamanannya lebih tinggi dari pada saat memainkan gitar milik Violin. Sejak saat itu saya berjanji pada diri sendiri bahwa suatu saat akan membeli gitar berbodi kecil dan ramping dengan neck pendek. Kenapa lebih suka neck pendek? Pertama, agar jangkauan tangan saya tidak perlu sampai bikin otot pegal. Kedua, tidak perlu memakai bantuan capo yang dipasang pada fret yang merupakan bagian dari neck gitar.


Malam Minggu kemarin impian saya terwujud. Sepulang dari kampus saya menuju Jalan Melati lokasi Toko Abdee Acoustic. Bersama Akim dan tiga saudaranya (gengs, beli gitar saja bawa pasukan) saya mulai memilih gitar yang dijual di sana. Sumpah, saya sampai bingung mau gitar yang mana hahaha. Berdasarkan jenis gitar yang saya mau, dan rekomendasi saudara-saudaranya Akim, saya pun membeli sebuah gitar dengan warna kayu natural berukuran sedang. Transaksi itu terjadi setelah saya mencoba tiga buah gitar. Tingkat kenyamanan memang beda-beda. Dan akhirnya saya berhasil membeli gitar yang satu ini:



Belum sempat mencabut stiker harganya pula hahaha. Oh ya, harganya Rp 950K ditambah tas gitar totalnya Rp 980K. Melihat itu, saudaranya Akim membisik: kan tinggal sedikit dapat Yamaha yang 1,5Juta, Kak! Hmmm. Beberapa ratus ribu ini bisa buat makan serumah dua mingguan. Ha ha ha. 


Baca Juga: Bertumbuh dan Berkembang Bersama Universitas Flores


Apa pelajaran dari pos hari ini? Ya itu, beli gitar itu kayak cari calon suami. Harus yang nyaman. Hahaha. Kalau tidak nyaman, mainnya tidak enak (gitarrrrr, main gitarrrrr). Saya membeli gitar memang berdasarkan pengalaman pribadi. Karena gitar yang dibeli bakal menjadi sahabat bermusik sehari-hari jadi memang harus pilih yang nyaman. Sejauh ini (baru tiga hari) saya memainkannya, rasanya nyaman-nyaman dan enak-enak saja. Demikian pula dengan calon suami, setidaknya ada kenyamanan ketika bersamanya. Uiiiihhhh bahasanya hahaha.


Selamat gitaran!


Cheers.

Saat Penglihatan ALLAH Saja Yang Menjadi Andalan

SAAT PENGLIHATAN ALLAH SAJA YANG JADI ANDALAN

 Saat Penglihatan ALLAH Saja Yang Menjadi Andalan

"Bu, anti saya amanatkan untuk jadi penanggung jawab di bagian penjualan baju-baju bekas layak pakai ,ya?" Ketua panitia Baksos itu menyerahkan map berisi catatan data barang kepadaku." 

"Kok saya lagi?" tanyaku.

"Iyalah, anti kan kemarin sukses tuh... dapat dana banyak dari jualan baju bekas?" desaknya.

"Anti kan biasa dagang..." lanjutnya.

"Iya deh, gak usah pake muji kali...." Jawabku akhirnya. Teman di sebelahku menggamit pundakku

"Emang enak jadi tukang loak lagi..." godanya.

Aku tersenyum kecil, "Insya Allah."

"Gak papa lagi, bu... penggemarnya kan banyaak...." Tambah rekanku lagi.

Aku hanya tenggelam dalam susunan data-data barang. Mulai hari itu, hari-hariku disibukkan dengan acara menyortir barang yang masuk, mengelompokkannya sesuai peruntukannya, dan melakukan taksiran harga yang pantas.

Tiba pada hari H. Aku sudah siap di tempat dengan tumpukan-tumpukan pakaian yang akan di jual. Dibantu tiga orang rekan. Seperti dugaan awal, tempat ku ini jadi tempat favorit untuk dikunjungi oleh sebagian besar warga, terutama ibu-ibu dan anak-anak penduduk sekitar Tempat Pembuangan Akhir sampah Bantar Gebang Bekasi, yang notabene dekat dengan komplek tempat tinggalku sekarang. Mereka ada yang mulai memilih-milih baju yang akan mereka beli.

"Nanti ya bu, toko belum buka...." kataku. Mereka semua tertawa.

"Takut gak kebagian bu entar mah..." jawab mereka.

"Nanti kalo milih-milihnya sekarang, saya hargai 50 ribu lho satunya...." goda saya lagi.

"Waah ibu, kalo segitu mah, beli yang baru lah..." jawab mereka lagi.

"Makanya nanti saja pilih-pilihnya, semua kebagian deh, Insya Allah... stok banyak nih.... denger ceramah dulu ya di sana..." kataku sambil mengarahkan mereka ke tenda utama.

Selesai ceramah dan acara inti, benar saja mereka menyerbu tempat ku membuka lapak. Beberapa jam aku seolah tenggelam dalam riuhnya masyarakat memilih-milih pakaian. Baju muslim, jilbab, kaos, baju anak-anak, dewasa, baju koko, celana panjang.

Dalam hitungan jam sudah nyaris ludes. Tentu saja lapak ini jadi incaran, baju-baju dengan kualitas antara 60-90% layak pakai dibanderol mulai 500-3000 perak saja. 

Lumayan sangat bagi yang membutuhkan, atau cuma ingin menambah koleksi saja. Alhamdulillah...

Menjelang dzuhur, tenda-tenda lain sudah bersih. Sebagian besar panitia berkumpul di tenda utama untuk berfoto-foto dan rehat.Aku masih harus merapikan sisa baju, mendata ulang stok, jumlah uang hasilnya... sambil ditemani satu dua ibu yang masih asyik mengaduk-aduk baju yang sudah terlipat, berharap dapat diskon lebih murah. Sampai akhirnya panitia memutuskan untuk memberikan baju sisa itu kepada yang mau. 

Setelah beres urusan baju dan amplop uang hasil penjualan kepada  ketua panitia, aku membersihkan tempat jualan tadi karena memang menumpang pada teras rumah penduduk. "Biarin ajah Neng. biar ibu yang nyapu."

Aku tersenyum, bukan apa-apa,si ibu yang sudah sepuh itu menyapa ku dengan sapaan "neng" sedari tadi. Lucu saja, emak tiga orang anak berusia 35 tahun masih layak kah di panggil Neng? Subhanallah sungguh menghibur.

"Ngga apa-apa bu... terima kasih yaa, maaf sudah merepotkan..." jawabku.

Selesai urusan bersih-bersih aku sudah tidak melihat kerumunan temen-teman panitia di tenda utama. Tinggal kaum lelaki yang mulai bongkar-bongkar. Aku pun pamit pulang.

Belajar Ikhlas

Belajar Ikhlas


Seminggu sesudah acara baksos itu,aku bertemu dengan salah seorang pengurus DPC di sebuah acara. "Bu kok kemarin waktu baksos di ciketing udik gak datang? Kan dekat sama rumah anti kan?" Tanyanya

Aku tertegun sejenak.... Dan ibu DPC itupun menyebutkan satu persatu nama-nama rekan panitia yang ikut serta di acara itu, bahkan termasuk orang yang aku tahu persis dia tiba belakangan, karena sempat izin ada acara, karena si rekan ikut berfoto dengan panitia yang lain. Dalam hati aku buru-buru istighfar... Rabbi... jika bukan karenaMU...

"Yah bu.. masa segede gini saya masih ga keliatan juga yah?" Jawabku akhirnya. Di timpali tawa sang ibu DPC.

Beginilah kiranya, Allah memberikan hikmah besar dalam suatu peristiwa yang aku alami. Aku tidak mengerti, mengapa kata ikhlas begitu mudah untuk diucapkan, namun begitu berat untuk di amalkan.... sungguh bukan hal yang mudah, ketika diri ini begitu bahagianya, telah berbuat sesuatu, meluruskan niat, bersikap itqon, justru menjadi orang terbuang, tak dianggap... di-underestimate-kan.... karena amalannya kecil...

Astaghfirullah...

Saya jadi teringat seorang guru TK yang tempatnya sering dijadikan sarana kita-kita untuk berkumpul. Dia harus izin pada yang punya yayasan, menyiapkan tikar.. lalu membersihkannya lagi seusai acara... namun Ia tidak pernah memegang jabatan penting, bahkan perannya sering tidak diperhitungkan.

Atau teman yang emang gak pede-an, selalu dapat tugas mengantar undangan, dan urusan antar mengantar lainnya. Yang tidak memungkinkan dia untuk dikenal oleh "Atasan"nya.

Rabbi... dari peristiwa itulah aku merasa doaku sudah di kabulkan Allah karena kasih sayang Nya. Yaa Allah... ajari aku tentang keikhlasan.

Lalu ku ambil Hp-ku, untuk sang guru TK aku mengirim pesan, "Semoga Allah selalu memberkahi ibu sekeluarga, mempermudah ibu menuntut ilmu, menjadikan profesi ibu sebagai amal sholeh yang tak putus-putus."

Dan untuk temanku si pengantar, aku menulis... "Semoga Allah selalu memberi kemudahan, mengaruniakan ibu kesehatan, memberkahi ibu dengan anak-anak yang shalih,juga semoga bisa beli motor baru buat ibu pribadi, gak joinan lagi sama suami.."

Wahai Allah....Janganlah Kau palingkan wajahMu dari kehidupanku.... tuntunlah aku selalu yaa Rabbi.... dalam usahaku membersihkan hati dan diri, agar senantiasa mengutamakan pandanganMu sahaja....

*******

Penulis: Sri Suharni Yang Berusaha Istiqomah pada 
8 Desember 2010 pukul 23:33 ·

Makna Kehidupan di Tengah Pandemi oleh Agustinus Tetiro

 


Makna Kehidupan di Tengah Pandemi oleh Agustinus Tetiro. Membaca buku masih menjadi kebiasaan, budaya, yang sulit lepas dari diri saya pribadi. Di tengah terjangan video-video Youtube, buku masih punya porsi besar dalam kuadran hidup saya yang penuh warna ini. Meskipun gemar menulis cerita cinta tapi sejujurnya saya bukan penggemar buku dengan cerita cinta awut-awutan. Dari buku-buku fiksi saya menggilai keruwetan Deception Point karya Dan Brown, atau hasil khayalan tingkat tingginya J. K. Rowling dalam Harry Potter. Dari buku-buku non-fiksi saya terhipnotis pada kisah nyata penuh perjuangan dalam Between a Rock and a Hard Place yang ditulis oleh petualang bernama Aron Ralston. Sedangkan buku-buku non-fiksi lainnya berjenis self improvement, tentu kalian tahu tentang Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat oleh Mark Manson atau The Secret of Ikigai yang ditulis Irukawa Elisa.


Baca Juga: 5 Buku Self Improvement yang Wajib Kalian Baca


Baru-baru ini seorang teman Facebook bernama Gusti Adi Tetiro meluncurkan sebuah buku berjudul Makna Kehidupan di Tengah Pandemi dengan tagline Meditasi Bersama Viktor Emil Frankl. Kalian pasti tahu apa yang berkecamuk di dalam pikiran saya kan? Haha. Saya harus membaca buku yang satu ini! Alhamdulillah, Rabu kemarin buku ini tiba di tangan saya melalui kakak ipar Om Gusti. Anyhoo, saya memanggilnya dengan embel-embel 'Om', bukan karena kami berhubungan darah, bukan karena dia menikah dengan Tante saya, tetapi panggilan 'Om' merupakan suatu bentuk penghormatan yang membumi dalam prinsip hidup saya meskipun yang bersangkutan mungkin jauh lebih muda usianya. Sesederhana itu.


So, let's talk about the book.


Makna Kehidupan di Tengah Pandemi


Makna Kehidupan di Tengah Pandemi ditulis oleh Agustinus Tetiro a.k.a. Gusti Adi Tetiro (Facebookers lebih mengenalnya dengan nama ini). Dengan jumlah halaman 103, buku ini diterbitkan oleh Penerbit Ikan Paus. Menarik. Penerbit Ikan Paus beralamat di Pulau Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Dengan memperkenalkan perjalanan panjang cikal bakal buku ini disusun, pembaca jadi tahu seperti apa lingkungan pergaulan si Penulis. Menurut saya Om Gusti termasuk dalam kelompok logophile yang super filosofis. Well, buku ini dijual dengan harga Rp 70.000.


Viktor Emil Frankl dan Logoterapi 


Seperti tagline-nya, pada awal buku ini pembaca diperkenalkan dengan seorang neurolog dan psikiater bernama Viktor Emil Frankl yang juga merupakan korban Holocaust. Dia adalah pendiri Logoterapi dan Analisis Eksistensial dalam psikoterapi. Buku yang ditulis olehnya berjudul Man's Search for Meaning yang memuat pengalamannya saat menjadi tahanan kamp konsentrasi di mana dia menguraikan metode psikoterapinya dalam upaya mencari makna dalam segala bentuk keberadaan, bahkan yang paling kelam sekalipun. Kita harus tetap hidup! Berapa banyak orang di dunia semacam Viktor Emil Frankl? Holocaust itu tragedi kemanusiaan paling brutal dan dia berupaya untuk bertahan dengan cara 'mencari makna hidupnya sendiri'. It's a wow. Singkatnya Logoterapi memadukan atau mendampingkan antara fisik, psikis, dan spiritual seorang manusia.


Menurut Om Gusti (2020, 38), Logoterapi mempunyai beberapa sifat khas. Pertama, logoterapi menekankan pentingnya kehendak untuk bermakna. Kedua, logoterapi menuntut kesadaran dalam penemuan makna hidup manusia. Ketiga, dalam kaitannya dengan waktu, logoterapi melihat masa lampau secara kreatif sebagai bahan pembelajaran yang inspiratif dan tidak pernah sebagai bayangan yang membelenggu. Masa sekarang dan masa depan adalah titik tolak dan tujuan logoterapi. Harapan di masa depan mesti menarik orang untuk mengisi hidup semakin baik dari demi hari. 


Kalimat Kunci


Saya membaca Makna Kehidupan di Tengah Pandemi dengan sangat antusias. Tentu tidak mungkin semua isi buku saya kutip di sini. Hahaha. Tapi sepanjang membaca buku ini saya menemukan kalimat kunci yang pasti akan membikin kalian tertarik ingin membacanya juga.


Hanya orang yang mempunyai pikiran positif bahwa hidupnya bermaknalah yang mau mengikuti protokol kesehatan. (Agustinus Tetiro, 2020:82).


We can't argue with that. Di tengah pandemi Covid-19 yang membabi-buta ini, Om Gusti mengajak kita untuk berpikir tentang makna. Makna hidup setiap orang tentu berbeda. Tapi setiap orang tentu ingin tetap bertahan di tengah pandemi Covid-19, dan kalau beruntung bisa menerobosnya dan menggapai segala cita-cita dan harapan. Badai ini begitu besar. Seperti kalimat kunci di atas, hanya orang yang mempunyai pikiran positif bahwa hidupnya bermaknalah yang mau mengikuti protokol kesehatan. Bukan, mereka bukan orang-orang yang takut mati karena kematian itu selalu mengejar umat manusia. Ini menjadi kalimat kunci saya dari buku Makna Kehidupan di Tengah Pandemi.


Jadi, di tengah pandemi Covid-19 maukah kita menyia-nyiakan hidup kita dengan meninggalkan protokol kesehatan? Masihkah kita mengata-ngatai orang yang patuh pada protokol kesehatan dengan istilah si takut mati? Masihkah kita bilang orang-orang yang patuh pada protokol kesehatan adalah orang-orang yang menderita sampai-sampai tidak lagi menikmati hidupnya? Haha. Kita keliru! 


Mungkin kalian pun bakal bertanya, memangnya ada makna dalam penderitaan? 


Pada saat penderitaan itulah seseorang sebenarnya diberi kesempatan (terakhir) untuk mengaktualisir nilai tertinggi dan mengisi makna terdalam dari eksistensinya, yaitu makna kehidupan yang ditemukan melalui penderitaan seperti Covid-19. (Agustinus Tetiro, 2020:89).


Kalau Viktor Emil Frankl bukan orang yang kemudian menemukan makna hidup di tengah ganasnya Holocaust, maka dia tidak akan melahirkan logoterapi. Jika kita bukan orang yang bisa bertahan dalam pandemi Covid-19 (dengan memperketat protokol kesehatan yang sesederhana itu), maka kelak kita tidak akan punya cerita, kelak kita tidak akan bermakna, kelak kita hanya dikenal sebagai orang-orang pasrah yang miskin harapan dan cinta.



Baca Juga: Kalau Begitu Marilah Kita Coba Mendaki Tangga Yang Benar


Akhirnya saya harus berterima kasih pada Om Gusti yang telah menulis buku ini. Sangat membuka wawasan dan salah satu self improvement yang penting untuk kita semua. Saya juga harus berterima kasih kepada Kakak Irma Pello yang telah memediasi (hayaaaaah, bahasanya, Teh) sehingga buku ini bisa tiba di tangan saya. Bagi kalian yang belum membaca buku ini, mari dibaca. Saya jamin, kalian pasti suka dengan buku ini. 


Selamat menikmati akhir pekan, kawan.


Cheers.

Bagi Kami Tanaman Itu Ibarat Anak, Janganlah Kalian Curi



Bagi Kami Tanaman Itu Ibarat Anak, Janganlah Kalian Curi. Tanaman? Tanaman yang dicuri saja dibahas, Teh? Iya, saya merasa penting menulis ini karena ternyata di dunia ini ada banyak orang-orang malas yang tega mencuri tanaman milik orang lain. Tanaman itu bisa sayuran, buah-buahan, bisa pula bunga. Dan, kebanyakan bunga. Hahaha. Bukan sekali dua saya membaca status Facebook teman-teman yang mengeluh bunga-bunga mereka dicuri tanpa perasaan. Namanya juga pencuri, mana punya perasaan dianya. Bahkan pernah dalam sehari ada tiga status Facebook lewat di beranda dengan isi serupa. Bunga mereka dicuri! Amboiiii. Saya tahu rasanya ketika bunga dicuri. Betul. Saya pernah mengalaminya. Padahal apa sih bunga yang dicuri itu bukan sejenis Aglonema yang harganya ratusan ribu bahkan jutaan, hanya kaktus biasa. Tapi biar bagaimanapun perasaan saya hancur berkeping-keping.


Apa sebab orang-orang begitu sewotnya ketika tanaman mereka, sayur mereka, bunga mereka, dicuri? Kalian ingin tahu? Sini saya kasih tahu. 

1. Uang


Kok uang? Lha iya. Kita sedang berbicara tentang dunia fana yang mana untuk memperoleh sesuatu yang dijual oleh orang lain, dilakukan dengan cara membeli. Membeli, menurut hemat saya, pasti pakai uang. Lain ceritanya kalau kalian berada di pasar dengan sistem barter. Memangnya apa saja sih yang dibeli oleh orang-orang yang menggemari tanaman (sayuran, buah-buahan, bebungaan) ini?


a. Bibit/Anakan Tanaman

Bibit dalam kemasan plastik-klip atau dikenal dengan plastik obat dipatok Rp 2.000 sampai Rp 5.000 per bungkus. Tapi bibit, khususnya bibit sayuran yang kemasan pabrik, dipatok antara Rp 20.000 sampai Rp 30.000 per bungkus. Sedangkan anakan tanaman bervariasi. Anakan daun kemangi dipatok Rp 5.000 per pollybag. Anakan mangga dipatok Rp 30.000 per pollybag. Bagaimana dengan Aglonema? Nah, silahkan kalian cari harganya karena ... wuih ... mahal. 

b. Bokasi

Bokasi adalah pupuk yang dibuat dari kotoran hewan, sekam, dedak, dan lain sebagainya. Setelah proses fermentasi, bokasi dikemas dan dijual. Saya membeli bokasi seharga Rp 15.000 per ... nah saya lupa ini berapa beratnya. Haha. Ukuran karung setengah buat beras itu lah pokoknya. Bokasi saya manfaatkan sebagai penyeimbang tanah. Karena tidak semua tanah bersifat sama (bagus) maka ada tanah yang harus saya campur bokasi sebelum diletakkan di dalam pollybag atau pot.

c. Pupuk/Booster

Memangnya kamu juga memakai pupuk, Teh? Iya dong. Hehe. Ada pupuk yang saya beli di Toko Sabatani atau Toko Mitra Tani, namanya Pocnasa, botol paling besar seharga Rp 45.000. Kadang-kadang saya diberi booster buatan sendiri sama Cahyadi. Bagi saya pribadi, pupuk ini penting, karena semua tanaman tidak langsung ditanam di tanah. Maklum, beranda belakang Pohon Tua itu 95% sudah disemen. Nah, tanah di dalam pollybag tentu akan mengalami masa jenuh. Oleh karena itu, pupuk sangat penting untuk semua tanaman saya.

d. Wadah (Pollybag/Pot)

Untuk tanaman sayuran saya memakai pollybag, untuk bebungaan saya memakai pot. Pollybag semua ukuran dipatok Rp 30.000 per kilogram. Sedangkan pot harganya tergantung ukuran, jenis, dan warna. Paling murah Rp 2.500 per pot dan paling mahal yang pernah saya beli itu Rp 30.000 per pot.


e. Peralatan

Ada peralatan juga? Iya. Ada. Karena tidak menemukan sekop kecil untuk berkebun mini, saya membeli sendok semen. Atas sarannya Cahyadi sih. Hahaha. Selain itu saya juga membeli alat penyemprot tanaman hingga pisau khusus kebun mini. Saya lupa harganya, soalnya yang membeli si Thika dan Melly. 

Bertolak dari pengalaman pribadi, saya memang harus menghemat pengeluaran yang tidak perlu such as jajan demi bisa membeli bibit sayuran, bokasi, pupuk, peralatan, pollybag, hingga pot cantik! Untungnya sekam saya peroleh melalui jalur gratisan. Hehe. Jadi kalau ada yang bilang berkebun itu hobi yang murah dibandingkan hobi fotografi. Itu keliru. Karena hobi yang satu ini juga membutuhkan uang yang tidak sedikit. Lima poin di atas belum saya tambahkan dengan rak tanaman (rak kayu maupun rak besi).


2. Waktu


Menjalankan semua hobi pasti membutuhkan waktu; lebih tepatnya meluangkan waktu. Mempunyai tanaman membikin kita digelayuti rasa tanggung jawab yang besar akan kehidupan makhluk hidup lainnya. Setiap pagi dan sore ada Mama Sia, Melly, atau Yoan, yang membantu saya menyiapkan airnya. Setiap pagi dan sore sudah ada jadwal khusus untuk menyiram semua tanaman. Kalau sore hari tidak sempat, maka malam hari saya pasti berada di beranda belakang untuk menuntaskan tanggung jawab harian ini. Sampai-sampai saya bilang: lebih baik saya tidak mandi ketimbang tanaman tidak disiram. Ha ha ha. Maklum, semakin banyak tanaman, kebutuhan air juga semakin meningkat!

3. Tenaga


Pastilah. Tanpa tenaga, mana bisa melakukan itu semua? Ada lelah. Tapi lelah terbayarkan ketika melihat tanaman tomat dan terung berbuah, bisa memanen sawi dan kangung hampir setiap minggu, melihat bunga mawar mekar dengan indahnya, setiap pagi melihat bunga pukul sembilan warna-warni bermekaran. Inilah surga. Ada perasaan yang dag-dig-dug setiap harinya. Dag-dig-dug menunggu bibit atau anakan tumbuh, dag-dig-dug menunggu dia berbunga, dag-dig-dug menunggu dia berbuah, dag-dig-dug menunggu waktu panen.

Oleh karena itu, bagi kami tanaman itu ibarat anak, janganlah kalian curi.



Kami mengandungnya, kami melahirkannya, kami merawatnya, membesarkannya. Kalau kalian curi, hancurlah perasaan kami. Sewot? Sudah pasti! Mamak mana yang tidak sewot ketika anaknya dicuri?


Menulis ini karena saya turut merasakan betapa hancurnya perasaan ketika satu pot bunga dicuri oleh ... oleh pencuri. Bagaimana perasaan Mami Lina Doke ketika belasan Aglonema-nya dicuri dalam semalam? Sulit melupakannya. Mungkin si pencuri harus diajarkan untuk memulai menanam tanaman apa pun, agar dia tahu rasanya ketika apa yang ditanamnya dicuri orang. Ibarat kita mengikuti suatu kompetisi tetapi yang menang adalah orang yang tidak mengikuti kompetisi tersebut.

Bagaimana dengan kalian, kawan?


Cheers.

Bikin Sendiri Masker Kopi Campur Susu Agar Wajah Cerah

 


Bikin Sendiri Masker Kopi Campur Susu Agar Wajah Cerah. Byuuuuuuh! Tuteh menulis soal kecantikan? Apa tidak salah? Ha ha ha. Saat hendak menulis ini pun saya harus berdebat dengan diri sendiri dan tertawa terbahak-bahak. Tapi arguing with myself itu menghasilkan tulisan ini. 


Me: Are you sure?


The Other Me: you only write other people's experiences! And, it's not a crime.


Me: Okay ... well ...


The Other Me: Go go go!


Baca Juga: Kita Bikin Yuk Campuran Tanah Untuk Menanam Bunga


Kalian tentu sudah tahu Melly. Bagi yang belum tahu, Melly adalah anak sulungnya Mama Len. Saat ini Melly duduk di bangku SMP. Lalu, siapa Mama Len? Mama Len adalah asisten kedua Mamatua. Kemudian saya meminta Melly untuk tinggal bersama kami meskipun rumahnya hanya berjarak lima langkah dari Pohon Tua (nama rumah kami). Jadilah setiap hari saya bergaul dengan perempuan ayu bernama Thika Pharmantara, dan ABG bernama Melly. Haha. Melihat tingkah laku mereka sehari-hari, jujur, merupakan hiburan tersendiri bagi saya. Bagaimana mereka kompak mengoleksi bermacam-macam produk kecantikan, bagaimana mereka saling mendukung soal masker, bagaimana mereka berpenampilan saat keluar rumah.


Thika: Ncim, sudah pas belum pakaiannya?


Melly: Hmmmm.


Bergaul dengan Thika, ditambah usianya yang ABG, membikin Melly semakin serius memperhatikan penampilannya. Sudah hampir dua bulan belakangan saya melihatnya selalu memakai masker berwarna hitam keabu-abuan, bukan Naturgo yang kalau diaplikasikan di wajah menjadi hitam mengkilap. Saya lantas bertanya pada Melly.


Me: Apa itu, Mel?


Melly: Masker, Ncim.


Me: Ya, tahulah itu masker. Tapi masker apa?


Melly: Kopi susu.


Saya tertegun. Bukan, bukan karena anak-anak ini sangat memperhatikan penampilan yang dimulai dari wajah, tetapi karena konon masker ini dapat MEMUTIHKAN kulit wajah. Saya tertegun dan perasaan saya memberontak. Bagi saya, warna kulit bukanlah sesuatu yang harus diubah. Misalnya kalau memang berkulit hitam, janganlah diubah ke putih. Kalau berkulit putih, janganlah diubah ke hitam. Saya akan sangat marah jika ada orang yang membenci kulitnya yang hitam dan rambutnya yang keriting. Apa yang salah dengan semua ciptaan Tuhan itu? Kulit hitam adalah anugerah. Rambut keriting adalah anugerah. Jangan pernah mengidentikkan kecantikan dengan kulit putih dan rambut yang lurus. Karena cantik itu bukan fisik. Cantik itu dari hati. Pada Melly saya mulai 'ceramah' soal ini. Saya katakan bahwa masker kopi susu itu fungsinya untuk membersihkan kulit wajah, agar wajah menjadi lebih cerah. Bukan berarti kulit wajah mendadak jadi putih! Melly mengangguk, tersenyum, ngakak, lantas kabuuuuuur.


Tapi ... perubahan itu memang nyata terlihat. Bukan, bukan kulit wajah Melly menjadi putih, tetapi kulit wajahnya menjadi lebih cerah. Wah, ABG yang satu ini telaten sekali. Saya mengakuinya. Dia mengangguk, tersenyum, ngakak, lantas kabuuuuuuur. Haha. Jadi, bagaimana membikin sendiri masker kopi campur susu agar wajah cerah? Caranya sangat mudah. Cukup campurkan bubuk kopi dan bubuk susu (Dancow), tambah sedikit air, aduk-aduk hingga menjadi pasta, lantas diaplikasikan pada wajah yang sudah dicuci bersih. Diamkan selama beberapa jam, lantas wajah dicuci dengan air bersih. Yang perlu diingat adalah harus rutin dilakukan. Kalau hanya dilakukan satu kali dan berharap memperoleh hasil, silahkan main sulap saja. Hehe.


Baca Juga: Mangkuk Serbaguna Berbahan Celana Jin Bekas


Jadi, apa pelajaran yang kita petik hari ini? Pertama: harus bangga pada diri sendiri, pada semua yang diberikan Tuhan pada diri kita. Kedua: menerapkan apapun untuk memperoleh hasil yang maksimal tidak dapat dilakukan dalam sekejap mata, karena butuh proses untuk melakukannya. Ketiga: jangan percaya iklan, karena standar kecantikan itu bukan berkulit putih dan berambut lurus, tetapi kecantikan itu sejatinya datang dari hati. Keempat: bahagianya saya karena sehari-hari bergaul dengan si ayu Thika dan ABG Melly. Hidup menjadi sangat berwarna!



Cheers.

Mau Tidak Mau Covid-19 Menjadi Daya Dorong Bagi Kita

 


Mau Tidak Mau Covid-19 Menjadi Daya Dorong Bagi Kita. Dulu kita (kalau kalian tidak, ya sudah saya saja) pernah berkhayal tentang kehidupan masa depan layaknya di filem-filem sci-fi? Anak-anak belajar menggunakan komputer dan/atau gadget, kelas-kelas konvensional tidak menjadi satu-satunya kelas tempat proses belajar-mengajar terjadi karena sudah tersedia kelas online, mobil melayang sekian inchi di atas tanah, perjalanan antar pulau tidak perlu memakan waktu lama karena adanya transportasi super cepat baik pesawat maupun kapal laut. Lalu semua khayalan itu pun terwujud. Khayalan semakin tinggi. Semakin tidak masuk akal. Tapi, lagi-lagi khayalan itu kemudian terwujud. Meskipun bukan saya yang semata-mata mewujudkannya. Haha. Saya, kalian, mereka, semua orang, sama-sama mewujudkannya.


Baca Juga: Inovasi Canggih dan Keren Cerita dari Serambil Uniflor


Tapi, biar bagaimanapun kita tidak pernah berkhayal apalagi berpikir bahwa akan ada perubahan yang terjadi dalam kehidupan terfana ini akibat dari suatu penyakit. Padahal, dalam sendi-sendi kehidupan, sesuatu yang bertolak belakang dari yang diharapkan, seringkali menjadi motivasi dan/atau daya dorong untuk kita melakukan sesuatu yang berkaitan dengan perubahan. Contohnya, terlalu banyak mengkonsumsi kabrohidrat tanpa diimbangi dengan olah raga teratur dapat memicu diabetes. Mengatasinya, pasti dilakukan serangkaian cara seperti mengurangi asupan karbohidrat, berolahraga, hingga meminum obat. Supaya apa? Ya supaya sembuh dan tubuh bisa dikatakan kembali sehat. Contoh lainnya, kita dimarahi seseorang karena menggosipkannya. Mengatasinya, selain mengakui kesalahan dan meminta maaf, ya harus berani berubah, dengan tidak lagi menggosipkan siapapun.


Melihat judul, mau tidak mau Covid-19 menjadi daya dorong bagi kita. Daya dorong? Iya, pandemi yang mencekam sejak akhir 2019 dan sepanjang tahun 2020 ini (semoga tidak tembus ke 2021) telah menjadi daya dorong bagi semua orang untuk melakukan perubahan. Perubahan itu dimulai dengan rajin mencuci tangan dengan sabut minila tiga puluh detik dan/atau memakai hand sanitizer, rajin menyemprot disinfektan, tidak menyentuh area wajah (mata, hidung, mulut) sebelum mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak aman (minimal satu meter). Masih ada tambahan, langsung mandi dan mengganti pakaian setiap pulang ke rumah terutama jika terlalu lama di luar rumah dan berkomunikasi dengan lebih banyak orang. Protokol kesehatan seperti itu mau tak mau dilakukan oleh semua orang tidak kenal batasan usia.


Tapi saya tidak fokus pada perubahan pola hidup yang mengedepankan protokol kesehatan itu. Saya fokus pada orang-orang yang berusia tua, yang terpaksa harus beradaptasi dengan dunia digital. Sumpah, melihat perubahan ini, dalam hati saya berkata: terima kasih, Covid-19, semua orang ingin melakukan yang terbaik. Di rumah, tersebutlah Mama Len (asisten kedua Mamatua) dan kedua anaknya yaitu Meli dan Yoan. Meli, gadis remaja, sudah terbiasa dengan gadget dan ketika harus belajar melalui aplikasi WhatsApp, bukan masalah. Tapi bagaimana dengan Yoan yang masih SD itu? Mau tak mau, Mama Len harus belajar menggunakan WhatsApp. Covid-19 menjadi daya dorong. Haha. Memang sih, tidak 100% Yoan belajar menggunakan WhatsApp (melalui WAG bersama guru) karena dalam seminggu beberapa kali si guru bakal datang untuk bertemu sekitar lima sampai tujuh murid untuk belajar bersama.


Pandemi ini menjadi daya dorong bagi kami serumah untuk kembali mengingat pelajaran masa SD. Yang murid SD memang cuma Yoan seorang, tapi tugasnya bisa berpuluh-puluh nomor dan dia mengalami kejenuhan. Hahaha. Sumpah, menulis ini saya ngakak sendiri. Bagaimana tidak ngakak? Mama Len membaca dengan keras pertanyaannya, sementara saya, Thika, dan Melly berusaha menjawabnya. Duh, Melly sih mending, belum terlalu lama meninggalkan bangku SD, tapi Thika ... apalagi saya ... duh. Pusing.


Balik lagi pada fokus saya terhadap orang-orang yang berusia tua, yang terpaksa harus beradaptasi dengan dunia digital. Bukan hanya orangtua, seperti Mama Len, karena pendidik pun harus mengalaminya; melakukan perubahan itu. Misalnya, ada pendidik yang selama ini tidak berurusan dengan e-mail, kini harus belajar tentang e-mail terutama melampirkan dokumen. Di Universitas Flores (Uniflor) ragam webinar diikuti oleh dosen maupun mahasiswa. Kita butuh seminar, apalagi yang tingkat nasional, kita butuh kuliah tamu, kita butuh ini. Makanya webinar merupakan salah satu solusi terbaik. Seperti baru-baru ini di Uniflor, diselenggarakan kuliah tamu dengan tiga pemateri. Satu pemateri menyampaikan materinya melalui video online, dua pemateri secara offline. Apakah yang semacam ini pernah terpikirkan sebelumnya? Tentu tidak. Hehe. Inilah salah satu hasil daya dorong Covid-19.


Baca Juga: Mengenal PhotoScape Untuk Keperluan Sunting Foto


Bagaimana dengan kalian, kawan? Saya yakin sudah puluhan bahkan ratusan webinar yang kalian ikuti. Karena mau tak mau memang harus seperti itu caya mainnya. Pilih aman tapi tidak tertinggal. Pilih sehat, tapi tidak ketinggalan. Itulah perubahan yang saat ini kita lakoni. Dan, ya, betul sekali, mau tak mau Covid-19 menjadi daya dorong bagi kita (semua).



Cheers.


Covid-




 di mana manusia dapat melakukan segala sesuatunya dari rumah saja? 


sdf


asdf


asdf


asdf

Sakit Hati Berujung Maut Yang Menggemparkan Tanah Ende


Sakit Hati Berujung Maut Yang Menggemparkan Tanah Ende. Sabtu, 16 Mei 2020, merupakan hari paling kelam bagi keluarga Adi Nona. Adi Nona, yang sehari-hari berdagang di Pasar Mbongawani, Kota Ende, meregang nyawa setelah disiram air keras oleh dua orang yang tidak dikenal. Perempuan yang saya kenal dengan sangat baik karena kami masih mempunyai hubungan kekerabatan akibat kawin-mawin itu, menurut berita, meregang nyawa tidak lama setelah tiba di IGD RSUD Ende. Ada sesuatu yang menghantam perasaan saya dengan sangat dahsyat waktu itu, di tengah simpang-siurnya berita. Pertama, dalang pelakunya adalah perempuan. Kedua, tindak pidana itu dilakukan pada bulan suci Ramadhan. Beraninya mereka! Di saat orang-orang pusing mencari solusi agar tetap bisa 'mengisi perut' di tengah pandemi Covid-19, mereka malah berpikir merampas kehidupan orang lainnya. Sadis? Super. Super sadis.


Baca Juga: Seni Lukis dan Seni Kata di Kedai Kampung Endeisme


Kepolisian Resor Ende bekerja sangat keras untuk dapat mengungkapkan kasus ini. Hukum harus ditegakkan. Waktu itu saya berpikir tentang hukuman/pidana penjara seumur hidup sesuai muatan Pasal 12 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Seumur hidup bermakna selama-lamanya dia diberi umur oleh Allah SWT. Bukannya seumur hidup itu bermakna banyaknya umur saat si pelaku melakukan tindak pidana? Dari pada saya harus menjelaskan lagi, silahkan baca artikel Pidana Seumur Hidup dari Hukum Online ini. Kurang lebih penjelasannya sama dengan yang ingin saya jelaskan pada kalian. Haha. Cari gampang ini mah. Kenapa waktu itu saya langsung berpikir tentang pidana penjara seumur hidup? Karena, merujuk pada Pasal 340 KUHP yaitu "Barang siapa dengan sengaja dan dengan rencana terlebih dahulu merampas nyawa orang lain, diancam karena pembunuhan dengan rencana, dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama dua puluh tahun"


Pada akhirnya segalanya terungkap.


Dalam kasus ini, polisi telah menetapkan tiga tersangka yakni TN alias Neo (36), HK alias King (28) dan ZP (40). Ketiga tersangka saat ini ditahan di Polres Ende. Ini berita yang dilansir VoxNTT. Dikatakan bahwa motif si pelaku melakukan tindak pidana penyiraman air keras pada Adi Nona yang mengakibatkan matinya orang (bahasa hukum) adalah sakit hati. Si TN dan Adi Nona, di dalam berita, mempunyai hubungan layaknya suami isteri meskipun keduanya sesama jenis (perempuan). Tetapi dalam perjalanan, Adi Nona terpikat dengan seorang lelaki dan itu membikin TN sakit hati. TN kemudian merencanakan segala sesuatunya, bahkan melibatkan dua orang laki-laki untuk menjalankan aksi ini. Sungguh terlalu.


Menurut berita VoxVTT yang satu ini, pelaku diancam hukuman mati karena dikenakan pasal berlapis. Ada dua suara di dalam kepala saya. Satunya bersorak, satunya tidak. Hukuman mati memang pantas dikenakan terhadap para pembunuh terutama untuk kasus pembunuhan berencana. Tetapi hukuman mati tidak memberikan efek jera karena ya tek-dung-mati. Si pelaku tidak akan merasakan nestapa dan tidak ada pembelajaran. Seperti kata Mahatma Gandhi, an eye for an eye only ends up making the whole world blind. Tapi tentunya ancaman hukuman mati tidak semerta-merta langsung dikenakan terhadap pelaku karena masih ada banyak proses yang harus dilalui yaitu persidangan. Biasanya di persidangan ada fakta-fakta atau hal-hal yang memberatkan dan meringankan. Kita lihat saja nanti bagaimana hasil akhirnya atau putusan finalnya.


Baca Juga: Ngobrol-Ngobrol Santai Tema Konten Youtube Milik Oe Din


Apa yang kita pelajari hari ini? Berbuat baik tidak pernah merugi, berbuat tidak baik pasti akan membikin kita merugi. Itu betul, kawan. I mean, ketika kita berbuat baik, jangan pernah mengharapkan akan dibalas dengan kebaikan juga, tetapi yakinlah meskipun balasannya di luar ekspetasi kita, tapi itulah balasan yang terbaik untuk sebuah kebaikan. Tetapi berbuat jahat, sebaik apapun tujuan kita, atau meskipun tujuannya menyenangkan, percayalah bahwa balasannya pasti akan datang; sooner or later.


Cheers.