Arsip Bulanan: Juli 2020

Air Mata Bapak

Anakku, pertama kali kau mendengar suara adalah suaraku. Pertama kali kau merasakan dekapan adalah dekapanku. Maka saat kau berduka, biar aku yang pertama kali mengobatinya."Bapak kangen kamu nak. Makanya bapak datang buat jemput. Bawa dua anakmu juga." lelaki tua itu tersenyum. Namun matanya meredup. Mungkin berkendara sendirian selama 12 jam membuat ia lelah.Nina tersenyum, "Pak, Nina nunggu

Kita Bikin Yuk Campuran Tanah Untuk Menanam Bunga


Kita Bikin Yuk Campuran Tanah Untuk Menanam Bunga. Halo kalian semua pecinta Do It Yourself (DIY). Izinkan saya bertanya: apa saja produk DIY yang kalian hasilkan selama work from home? Pasti banyak kan ya. Saya hanya bisa menghasilkan beberapa seperti mangkuk berbahan koran (dan balon) dan pipa-pipa koran bakal keranjang anyaman. Selama work from home hingga new normal, selain pekerjaan kantor, saya lebih banyak menghabiskan waktu di beranda belakang Pohon Tua. Ngapain, Teh? Ngintip tetangga? Haha. Berkebun mini doooong! Fyi, berkebun mini bukan pertama kali saya lakukan karena sudah pernah melakukannya tetapi sempat mandek. Jujur, kembali berkebun mini gara-gara pandemi Covid-19 di mana saya butuh mengajarkan kepada penghuni Pohon Tua tentang ketahanan pangan. Ketahanan pangan itu perlu dipikirkan, terutama oleh orang-orang seperti saya yang terus membayangkan suasana The Walking Dead yang mencekam *ngakak guling-guling*.

Baca Juga: Ternyata Mudah Membikin Mangkuk Berbahan Koran

Tanaman apa saja yang ada di kebun mini? I started with vegetables. Kangkung, sawi, kailan, cabe, terung, tomat, bengkoang, bawang merah dan bawang putih, mentimun, ubi tatas, daun kemangi, hingga kacang tanah dan kentang yang dikasih sama Cahyadi dari Kebun Bibit Elok. Lalu, saya mulai melirik bunga, khususnya bunga Pukul Sembilan atau Moss Rosse atau Krokot. Pertama saya mendapatkan krokot berjenis Portulaca Oleracea dari Om Agus yang mengurus taman di Universitas Flores (Uniflor). Yang kedua, alhamdulillah si Cahyadi membawa satu pollybag Krokot berjenis Portulaca Grandiflora. Portulaca Oleracea dari Om Agus itu berbunga kuning dengan sedikit helai bunga. Sedangkan Portulaca Grandiflora dari Cahyadi itu ada yang kuning dan merah dengan lebih banyak helai bunga. Kalian bisa melihat perbedaan kedua Krokot tersebut pada gambar di bawah ini:

Portulaca Oleracea.

Portulaca Grandiflora.

Gara-gara bunga-bunga yang bermekaran itu, saya lantas mulai me-replant Krokot. Ternyata sangat mudah. Patah dan tanam saja! Dalam hal perawatan, Krokot termasuk sangat mudah. Dia tidak manja seperti bunga-bunga lainnya.

Ini dia yang sudah di-replant! Ini cuma sebagian, sekarang sudah bertambah banyak.

Ketika beranda belakang Pohon Tua juga dilengkapi dengan bunga ... jadi cantik. Oke, mari kita mulai dengan bebungaan lain. Proses panjang pun dimulai dengan pertama-tama membeli pot bunga yang sedang hits itu, mencampur tanah dengan bokasi, dan menanam bunga hasil rampokan. Haha. Yang sangat saya syukuri adalah tetangga atas Pohon Tua (kompleks kami kan merupakan tanjakan) yaitu Ma Evi Betu selalu berbagi bunga dengan saya. Katanya, dia senang melihat beranda belakang yang kini ramai tanaman baik sayuran maupun bunga. Ma Evi Betu bahkan memberikan saya anakan bunga Cucak Rowo! Yuhuuuu. Kalian bisa melihatnya pada gambar berikut:




Namun, merawat bunga tidak sama dengan merawat sayuran. Sayuran sekelas sawi dan kangkung, misalnya, hanya butuh penyiraman secara rutin untuk tetap segar dan tumbuh dengan baik sampai kemudian dipanen. Bunga-bunga yang saya tanam itu mulai menunjukkan kejenuhan mereka. Ada yang daunnya menguning dan kering, ada yang tidak besar-besar alias kerdil, ada pula yang mati. Hiks. Cucak Rowo ukuran besar dari Ma Evi Betul pun tamat riwayatnya, tetapi yang kecil masih bertahan hidup. Saya bertanya-tanya dalam hati. What's wrong? Tanahnya sudah dicampur bokasi pun. Proses penyiraman juga rutin. Bahkan mereka dijemur juga di matahari pagi lantas dimasukkan kembali. Masa mereka tidak sesubur sayuran?

Dua hari yang lalu saat saya sedang menikmati kopi susu di beranda belakang rumah sambil dihibur pemandangan tanaman-tanaman cantik itu, Ma Evi Betu berdiri di pagar pembatas lantas bilang pada saya: Nona, itu bunga-bunganya tidak subur, ya. Coba Nona campur tanah dalam pot itu dengan serbuk kayu sehingga dia menjadi lebih ringan. Bisa jadi tanahnya terlalu padat jadi akarnya kesulitan bergerak. Saya mengakui pada Ma Evi Betu: Iya nih, Ma Evi, bunga-bunga tidak seperti sayuran yang tumbuh subur. Saya akan coba membongkar tanah di pot dan mencampurnya dengan serbuk kayu. Tidak menunggu lama, saya meminta Yoye untuk pergi membeli serbuk kayu di bengkel kayu. Satu tas kresek merah seharga Rp 15.000 tetapi Yoye mengaku dia menawar sehingga harganya Rp 10.000 saja. Oh wow. Haha. Anak ini boleh juga.

Serbuk kayu.

Akhirnya pada Minggu petang saya, Thika, dan Melly mulai membongkar tanah dari pot-pot bunga yang ada. Tanahnya diayak terlebih dahulu, lantas dicampur dengan serbuk kayu. Takarannya 1:1. Satu tanah, satu serbuk kayu. Betul juga, tanah campuran itu menjadi lebih ringan. Setelah itu, bunganya ditanam kembali dalam pot tapi dengan tanah campuran serbuk kayu! Sambil melakukan itu, saya bilang pada bebungaan: tumbuh subur ya, kalian punya rumah baru yang lebih ramah.


Ternyata membikin campuran tanah untuk menanam bunga cukup mudah.

Bahan-bahan:
1. Tanah.
2. Bokasi.
3. Serbuk kayu.
4. Air.

Alat:
1. Sendok semen/sekop kecil.
2. Sendok gembur.

Pertama-tama tanah diayak agar batu-batunya terpisah. Kemudian tanah yang sudah diayak itu dicampur bokasi dengan takaran 2 (dua) tanah berbanding 1 (satu) bokasi. Hasil campuran tanah dan bokasi kemudian dicampur lagi dengan serbuk kayu dengan takaran 1 (satu) tanah campuran bokasi berbanding 1 (satu) serbuk kayu. Setelah itu, silahkan menanam bunga kalian. 

Saya yakin, kalian pasti bertanya-tanya, bukankah salah satu bahan bokasi adalah serbuk kayu? Memang benar. Tetapi untuk lebih meringankan tanah saya mengikuti anjuran Ma Evi Betu yaitu mencampurnya lagi dengan serbuk kayu. Kalau dipikir-pikir, benar juga, bahwa tanah yang terlalu keras bakal menyulitkan akar untuk bergerak. Tapi tentu orang-orang yang expert di bidang pertanian lebih tahu tentang hal ini. Bagi tahu doooong. Hehe. Saya sih hanya mengikuti anjuran yang menurut saya dapat dibenarkan.

Bagaimana dengan hasilnya? Belum tahu. Kan baru dilakukan hari Minggu kemarin. Kita lihat lah nanti bakal tumbuh subur atau tidak bebungaan itu. Sementara saya sendiri masih harus membeli pot baru bakal media tanam daun mint. 


Betapa cantiknya daun mint yang ditanam di pot mini seperti gambar di atas. Sungguh amboi kalau diletakkan di meja makan atau meja ruang tamu atau meja kerja. Aroma mint-nya segar sekali. Bisa jadi pengganti pengharum ruangan.

Baca Juga: Jangan Dibuang, Tutup Botol Plastik Mempunyai Banyak Manfaat 

Bebungaan di beranda belakang Pohon Tua memang belum sebanyak bebungaan di rumah kalian. Potnya pun masih pot ukuran sedang, belum pot berukuran besar karena batang/tanaman bunganya pun masih ana lo'o alias masih kecil-kecil. Namanya juga usaha, butuh proses yang panjang untuk mewujudkannya. Lagi pula, saya tidak bisa terlalu fokus pada bebungaan saja. Kembali lagi pada ketahanan pangan seperti yang saya singgung pada awal pos ini. Memangnya berhasil, Teh? Alhamdulillah berhasil. Sejak mulai panen, Thika sudah jarang membeli sayur setiap kali ke pasar karena kami tinggal mengambilnya dari kebun mini baik sawi maupun kangkung. Kalau terung memang agak lama sih berbunga dan berbuah. Yang membikin saya senang, tomat mulai berbuah sedangkan tomat cherry mulai berbunga. Nanti pasti bakal saya tunjukkan pada kalian.

Semoga pos ini bermanfaat! 

#RabuDIY



Cheers.

Inovasi Canggih dan Keren Cerita dari Serambil Uniflor


Inovasi Canggih dan Keren Cerita dari Serambil Uniflor. Menurut saya pribadi, inilah perpaduan jenius dari dua isu paling hot saat ini: Panca Windu Universitas Flores (Uniflor) dan pandemi Covid-19. Di antara puluhan kegiatan lainnya seperti lomba kebersihan antar unit, lomba taman antar gabungan unit, lomba masak nasi goreng peserta khusus laki-laki, hingga lomba video, Ketua Panitia Panca Windu Uniflor Ana Maria Gadi Djou, S.H., M.Hum. yang sering kami sapa Mama Emmi, menggagas program keren bertajuk Cerita dari Serambi Uniflor. Lucunya, saat berdiskusi atau mengobrol santai tentang program ini kami sering salah menyeletuk Serambi Mekah dan Serambi Bung Karno. Maklum, kata serambi memang selalu disandingkan dengan Mekah. Sedangkan di Kota Ende sendiri telah lama dibangun Serambi Bung Karno yang kece badai itu. 

Baca Juga: Ngoblog Soal Digital Marketing Bareng Nunik Utami di Live IG

Mari cari tahu apa itu Cerita dari Serambi Uniflor.

Tujuan Cerita dari Serambi Uniflor


Cerita dari Serambi Uniflor dilatarbelakangi dari keinginan agar Uniflor lebih dikenal oleh masyarakat luas dan lebih dekat dengan masyarakat. Otomatis tujuannya ya agar latar belakang tersebut terwujud. Kata 'serambi' dipilih sebagai analogi tempat orang duduk dan mengobrol santai sambil bercerita ngalor-ngidul tentang banyak hal. Oleh karena itu, Cerita dari Serambil Uniflor merupakan tempat lalu-lalangnya cerita-cerita tentang Uniflor. Dari A sampai Z. Ini merupakan salah satu inovasi canggih dan keren mempromosikan Uniflor di tengah pandemi Covid-19.

Apakah Ada Narasumbernya?


Tentu saja, kawan! Kalau hanya sekadar bercerita semua orang bisa. Tapi tentang Uniflor haruslah datang dari narasumber yang berkompeten sehingga informasi yang diberikan dapat dipertanggungjawabkan. Narasumber tentu tidak semerta-merta berbicara atau bercerita tetapi dipandu oleh seorang host. Jadi mirip talkshow begitu dong, Teh? Emberrrr. Hehehe.

Apakah Berkelanjutan?


Melihat begitu banyak cerita yang bisa kami bagi kepada masyarakat, diupayakan Cerita dari Serambi Uniflor berkelanjutan. Saat ini Cerita dari Serambi Uniflor direncanakan tayang setiap Sabtu, pukul 10.00 Wita, di channel Youtube: Official Universitas Flores. Tayang perdana Cerita dari Serambi Uniflor dilaksanakan pada Sabtu, 11 Juli 2020, dengan narasumber Ketua Yayasan Perguruan Tinggi Flores (Yapertif) Dr. Laurentius D. Gadi Djou, Akt. dan Rektor Uniflor Dr. Simon Sira Padji, M.A. Silahkan klik video berikut ini:



Iya, untuk edisi perdana ini saya yang menjadi host-nya. Tapi host nanti bakal berganti-ganti.

Bagaimana Mekanismenya?


Ini dia yang menjadi poin utama pos #SelasaTekno.

Saya tidak pernah membayangkan sebelumnya bahwa Uniflor dapat menghasilkan satu program keren yang tayang di Youtube. Seperti yang sudah saya tulis di atas, digagas oleh Mama Emmi, kemudian dipilihlah produser, dan dibentuklah dua tim. Produser Cerita dari Serambi Uniflor adalah Bapak Yohanes P. Luciany, S.E., M.Si. atau Pak Yance. Dua tim yang dibentuk adalah Tim Perumus dan Tim Kreatif. Tim Perumus bekerja merumuskan materi, narasumber, hingga term of reference, dan melapor kepada produser. Tim Kreatif bekerja untuk mewujudkan tayangan yang sesuai konsep/terarah sekaligus keren. Dipimpin oleh Bapak Harry Ndb, kalian sudah bisa melihat hasilnya pada video di atas.

Mekanismenya:
1. Setting lokasi.
2. Pemasangan perangkat.
3. Live Streaming.
4. Selesai.


Tapi tentu tidak sesederhana itu. Untuk tayangan live dibutuhkan insert video/gambar sebagai pendukung. Data pendukung ini dikumpulkan bersama dan diatur oleh Tim Kreatif. Karena sudah ada term of reference, Tim Kreatif lebih mudah mendata/menyusun list-nya untuk di-insert pada tayangan live di channel Youtube tersebut.


Apa saja perangkatnya? Banyak sekali perangkat yang dibutuhkan untuk durasi satu jam! Tapi memang seperti itulah pola kerjanya.
1. Komputer.
2. Laptop.
3. Dua televisi/monitor panduan.
4. Clip-on dan kawan-kawannya.
5. Mixer audio dan kawan-kawannya.
6. Program (ini yang saya kurang tahu namanya, haha).
7. Kamera/camcorder.
8. Whiteboard.
9. Koneksi internet yang mumpuni.
Dan printilan lain yang tidak dapat saya sebutkan satu per satu termasuk kabel-kabel haha.


Foto-foto tersebut di atas sudah cukup mewakili bahwa dibutuhkan teknologi yang tinggi dan sumber daya manusia yang mumpuni untuk bisa menayangkan program Cerita dari Serambi Uniflor kepada masyarakat. Agar apa? Agar Uniflor lebih dikenal oleh masyarakat luas, dan lebih dekat dengan masyarakat.

Baca Juga: Mengenal PhotoScape Untuk Keperluan Sunting Foto

Setelah selesai tayangan perdana live Cerita dari Serambi Uniflor itu, saya sangat terharu sekaligus bangga. Ada begitu banyak orang hebat di Uniflor. Hebat pada bidangnya masing-masing. Dan ketika semua disatukan dalam kerabat kerja yang kompak dan insha Allah solid, hasilnya luar biasa. Kesalahan ini itu saat live merupakan hal yang lumrah. Jangankan yang live, yang melalui proses taping saja masih ada banyak salahnya (makanya dibutuhkan penyuntingan). Jika pada tayangan live bisa 90% sukses, itu sangat berarti. Artinya antara Tim Perumus, Tim Kreatif, dan Produser, bekerjasama dengan sangat sangat sangat baik. Ya kan? Kan ya!

Bagi kalian semua, jangan lewatkan Cerita dari Serambi Uniflor setiap Sabtu, pukul 10.00 Wita, di channel Youtube: Official Universitas Flores. Ada giveaway yang siap dibagikan loh.

#SelasaTekno



Cheers.

Bertumbuh dan Berkembang Bersama Universitas Flores


Bertumbuh dan Berkembang Bersama Universitas Flores. 19 Juli 1980 merupakan tanggal lahirnya Universitas Flores (Uniflor). Founding father-nya, H. J. Gadi Djou, Drs.Ekon. yang karib kami sapa Opa Ema, berjuang begitu keras dan gigih agar pendidikan kaum muda di Pulau Flores tetap berjalan dan berlanjut saat Universitas Nusa Cendana (Undana) Cabang Ende ditutup atas regulasi pada saat itu. Dari buku Sang Visioner, dan tulisan-tulisan dari isteri Opa Ema yaitu Oma Mia Gadi Djou dalam buku-buku seri Cerita-Bercerita, saya pribadi patut mengucapkan terima kasih atas perjuangan Opa Ema mendirikan, membangun, dan mengembangkan Uniflor. Beliaulah sejatinya seorang visioner. Apa yang menjadi visi (dan misi) beliau saat itu, kini telah terwujud. Lulusan Uniflor terserap ke masyarakat: guru/pendidik, ASN, wakil rakyat, wirausahawan, advokat, petani, penyiar radio, kontraktor, orang-orang yang bekerja di belakang layar televisi, dan lain-lain yang tidak dapat saya mention satu per satu.

Baca Juga: #PDL 38 Tahun Uniflor dan Cerita Bersamanya

19 Juli 2020, Uniflor merayakan panca windu-nya. Di usia matang ini, eksistensi Uniflor dalam kancah dunia pendidikan di Indonesia sangat diperhitungkan. Mahasiswanya tidak saja datang dari Pulau Flores, tetapi juga dari Pulau Sumba, Pulau Adonara, Pulau Alor, Pulau Solor, Pulau Lembata, dan sekitarnya. Mahasiswanya bahkan datang dari daerah 3T melalui beasiswa afirmasi; anak Papua, hingga anak Malang yang orangtuanya tinggal di perbatasan Indonesia dan Malaysia. Uniflor telah membuktikan visi-nya sebagai universitas unggul dan sebagai mediator budaya. Bagi saya, Uniflor telah menyatukan begitu banyak budaya menjadi satu budaya yaitu budaya Uniflor. Budaya Uniflor yang tetap memegang teguh budaya masing-masing individu tanpa mendiskreditkan yang lain; menyatukan semua perbedaan budaya tradisional itu bersama budaya moderen.

Saya memang tidak tumbuh bersama Uniflor, di mana Uniflor lahir ketika usia saya menginjak 7 (tujuh) bulan. Tapi saya tumbuh bersama Uniflor sejak tahun 2011 dan berkembang hingga saat ini, dan insha Allah seterusnya. Bertumbuh bersama Uniflor tidak pernah terlintas dalam benak saya sebelumnya, mengingat kebiasaan sering jenuh dengan satu pekerjaan. Nampaknya kali ini memang beda; situasi dunia kerja yang penuh rasa kekerabatan. Kali ini memang beda; saya menemukan renjana pada pekerkaan ini. Ketika menemukan renjana pada pekerjaan, semua orang pasti lebur bersamanya. Saya sudah melalui 4 (empat) kali pindah ruangan, 4 (empat) kali ganti Pimpinan UPT Publikasi dan Humas Uniflor, 5 (lima) kali ganti Kepala Tata Usaha, rekan kerja yang datang-pergi lantas meninggalkan saya dan Kakak Rossa berdua. Bekerja di satu bidang selama 9 (sembilan) tahun ternyata tidak semerta-merta bikin kenyang pengalaman, karena semakin banyak hal/ilmu baru yang saya pelajari, hingga akhirnya ditempatkan sebagai Kabag Dokumentasi dan Publikasi di UPT Publikasi dan Humas Uniflor.

Saya berkembang bersama Uniflor. Ya, itu benar. Melihat Uniflor dari tahun 2011 sampai dengan sekarang, rasanya ingin menitikkan air mata. Dosen-dosennya rata-rata Magister dan kini telah lebih banyak Doktor (dan yang sedang kuliah S3). Semua ruang kuliahnya dilengkapi komputer dan LCD termasuk ruangan micro-teaching, free Wi-Fi di mana-mana bahkan di kantin, perpustakaannya (perpustakaan utama, perpustakaan fakultas, dan perpustakaan program studi) menyediakan koleksi buku yang lengkap, klinik kesehatan dengan seorang dokter dan dua bidan, kampus ministry, fasilitas pusat komputer, fasilitas olah raga, ragam UKM yang mana prestasinya hingga ke tingkat provinsi dan nasional. Mahasiswa Uniflor juga melakukan penelitian membikin hand sanitizer dan disinfektan bersama dosennya. Tentu, mahasiswa Uniflor juga diberikan beasiswa untuk kategori-kategori tertentu antara lain mahasiswa berprestasi hingga mahasiswa kurang mampu.

Pada masa pandemi Covid-19, Uniflor bertindak sebagai orangtua yang sangat peduli pada anak-anaknya. Mahasiswa diberikan berbagai bantuan:
1. Pembagian sembako.
2. Pembagian pulsa data untuk e-learning
3. Pemotongan biaya registrasi.
4. Pembayaran SKS boleh dikredit.
5. Pemotongan biaya KKN.
dan bantuan-bantuan lainnya.
Oh ya, masih dalam masa pandemi Covid-19, Uniflor baru saja melaksanakan wisuda online pada tanggal 18 Juli 2020.

Baca Juga: Merawat Budaya Bersama Uniflor Sebagai Mediator Budaya

Di usianya yang ke-40, tidak ada yang bisa saya berikan kepada Uniflor selain ucapan dan do'a. Semoga Uniflor tetap menjadi universitas unggul, terpercaya, dan terdepan. Semoga Uniflor tetap menjadi mediator budaya. Semoga Uniflor tetap menjadi rumah bagi banyak orang; suka duka kita hadapi dan lewati bersama. Eits, tapi dalam hal lomba antar unit, kita tidak bisa bersama, hahahaha, masing-masing unit pasti berupaya untuk menang. Saya pernah membaca tulisan: usia sangat berarti bagi sepotong keju. Harapan saya: demikian pula Uniflor.

40 and still counting ...

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

Crafting dan Berkreasi Kain Flanel Bersama Kak Murni Ambar Lestari

Puluhan anak-anak usia sekolah memenuhi ruang baca Perpustakaan Kampung Baru (Perkabu) yang terletak di Gg. Baru Jl. H. Hamdani Kaliabang Tengah, Bekasi Utara, Kota Bekasi. Mereka sedang asyik berkarya dengan bahan-bahan kain flanel yang sudah tercetak berbagai figur karakter kartun.Dengan peralatan seperti lem, gunting, benang dan berbagai perlengkapan hasta karya lainnya itu terciptalah kreasi

Geliat Ekowisata Sunge Jingkem di Tengah Era New Normal

Ekowisata Sunge Jingkem berlokasi di tengah-tengah kampung SEMBILANGAN Desa Samudrajaya kecamatan Tarumajaya kab. Bekasi.Kampung SEMBILANGAN adalah Kampung Bahari yang terletak di pelosok Kab.Bekasi, yah boleh dibilang kampung yang memang terpencil jauh dari kota, kampung yang boleh dibilang sedikit orang tahu, namun sekarang keberadaan kampung SEMBILANGAN sudah menjadi satu nama yang tidak asing

Catatan Lama Terkait KDRT dan Kekerasan Pada Perempuan

Dalam acara Penutupan Roadshow buku “Good lawyer” yang telah berlangsung pada 13 Juni 2009 lalu di TGA Kelapa Gading, dalam sesi tanya jawab seorang tamu menanyakan bagaimana gugatan KDRT itu bisa diajukan ?  Pengacara Dwiyanto Prihartono menjelaskan, “Sebenarnya gugatan KDRT bisa diajukan bila perlakukan anggota keluarga terdekat seperti suami, istri, anak, dan lainnya dirasa sudah

Orang Tua Juga Perlu Tahu Gizi Buruk Dan Stunting


Generasi emas, itulah harapan orang tua se-Indonesia untuk anaknya saat ini, namun apa jadinya jika stunting mendera dan memupuskan harapan semua orang tua? Banyak yang mengira stunting adalah gizi buruk, padahal stunting memiliki arti yang sangat berbeda. 

"Anak kamu stunting ya?"

"Nggak."

"Itu anakmu kok kayak gizi buruk gitu, itu tanda stunting loh."

"Bu, beda loh antara stunting dengan gizi buruk."

"Oh beda toh keduanya?"

"Iya beda loh bu. Gizi buruk sebenarnya terjadi dalam waktu singkat dan hanya pada periode tertentu sedangkan stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada tubuh dan otak akibat kekurangan gizi dalam waktu yang lama."

"Oh jadi berbeda toh."


Ya, tanpa kita sadari masih banyak ibu-ibu atau orang tua yang minim informasi mengenai perbedaan yang mendalam mengenai gizi buruk dan stunting. Padahal secara definisi sudah sangat jelas dan berbeda sekali. Selain minimnya informasi, orang tua juga sangat kurang menggali lebih dalam tentang anaknya terutama pada saat balita, padahal dalam usia dibawah lima tahun inilah kana menentukan perkembangan diusia selanjutnya. 

Survei terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan masalah gizi dan tumbuh kembang anak masih menjadi hambatan besar bagi pemerintah Indonesia untuk mendongkrak kualitas sumber daya manusia. Sayangnya, prevalensi stunting Indonesia hingga akhir 2019 kemarin masih berada di angka 27,7%. Walau angka tersebut turun sekitar tiga persen dibanding tahun sebelumnya, tapi jumlah tersebut tetap tinggi karena WHO menetapkan batas atasnya 20%. 

Meningkatkan status gizi calon ibu dan anak adalah langkah efektif untuk mencegah stunting. Karena itu, edukasi untuk para calon orang tua menjadi penting untuk mempersiapkan ibu melahirkan calon generasi emas 2045 yang sehat dan berkualitas.


Beberapa waktu lalu, saya mengikuti webinar mengenai "Siap Menjadi Ibu Pencetak Generasi Emas Bebas Stunting" dengan pembicara antara lain :

1.     Dokter anak Dr. dr. Tubagus Rachmat Sentika, Sp.A, MARS
2. Dr. Tria Astika Endah permatasari, SKM, M.Kes PP Aisyiyah
3. Psikolog Anak & Remaja - Vera Itabiliana Hadiwidjojo, S.Psi.,
4. Presenter/ Parenting Influencer – Ratu Anandita

Dan moderator: Maman Suherman.

Dokter anak Dr. dr. Tubagus Rachmat Sentika, Sp.A, MARS menjelaskan bahwa sebelumnya pada masa kandungan, calon Ibu harus memenuhi semua gizi janinnya terutama :
1. Karbohidrat sebagai sumber energi dan bisa diperoleh melalui nasi, roti, gandum dan lainnya.
2. Protein sebagai pengganti jaringan dan pengganti bagian tubuh yang rusak serta sumber metabolisme tubuh dan dapat diperoleh dari telur, ikan, daging, susu dan lainnya.
3. Lemak berfungsi sebagai bantalan organ dan dapat diperoleh dari buah dan makanan yang mengandung lemak.
Selain itu dibutuhkan juga mineral, vitamin dan juga air putih sehingga ginjal sehat serta membantu menghidrasi tubuh calon ibu. Gizi tersebut sangat penting bagi calon ibu sehingga bayi nantinya akan lahir dengan tubuh yang sehat serta nantinya akan lebih mudah terpenuhi gizinya pada masa balita. 

Sedangkan Dr. Tria Astika Endah permatasari, SKM, M.Kes PP Aisyiyah mengatakan Indonesia masih tinggi angka stuntingnya bahkan menepati posisi 5 besar di Dunia. Angka ini cukup mengkhawatirkan mengingat orang tua memiliki perananan sangat penting bagi anak-anaknya sehingga dapat memenuhi gizi seimbang serta tidak stunting. 

Sedangkan Psikolog Anak & Remaja, Vera Itabiliana Hadiwidjojo, S.Psi. menyebutkan bahwa lingkungan anak juga mempengaruhi anak untuk lebih sadar akan dirinya. Jika memiliki orang tua dan lingkungan yang sangat mementingkan asupan gizi yang baik, maka anak pun akan memiliki pola makan dan hidup yang baik karena anak sangat mudah terpengaruh dalam lingkungannnya. 


Presenter sekaligus Parenting Influencer, Ratu Anandita mejelaskan bagaimana perjuangannya melahirkan pada saat pandemi saat ini serta peranan orang tua yang harus memiliki ilmu atau pengetahuan tentang anak dan gizi seimbang sehingga tumbuh kembang anak dapat berjalan dengan normal nantinya. 

Generasi emas dapat terwujud apabila seluruh masyarakat sadar mengenai pentingnya menjaga gizi seimbang untuk anak dan orang tua sehingga nantinya daya saing Indonesia akan meningkat serta menjadi bangsa yang bukan hanya besar secara jumlah saja namun berkualitas generasi mudanya. 


Lirik Chord Kunci Gitar Lagu Bunga Terakhir dari Bebi Romeo

Lagu Bunga Terakhir merupakan lagu ke 8 dalam album perdana Romeo yang dirilis pada tahun 1998. Pada saat rilis di bawah label Aquarius Musikindo, personil Romeo adalah Virdi Megananda alias Bebi Romeo (vokal/piano) · Bimo Netral (bas/dram) · Willy Romeo (gitar)  · Epoy Romeo (bas). Setahun kemudian, pada 1999 hit single yang berjudul Bunga Terakhir membuat pencipta sekaligus vokalis kelahiran 6 September 1974 ini yaitu Bebi Romeo menjadi terkenal.

Suami dari selebritis Meisya Siregar ini mengakui bahwa hampir semua lagunya terinspirasi dari Meisya, lagu "Bunga Terakhir" Bebi ciptakan pada saat Meisya masih bersama orang lain., begitu juga lagu lain seperti "Mencintaimu" yang dipopulerkan Krisdayanti dan "Selamat Jalan Kekasih" yang dinyanyikan oleh Rita Effendi. 
Beberapa lagu juga demikian, diakui oleh Bebi Romeo terinspirasi dari Meisya istrinya termasuk lagu "Tiada Kata Berpisah" yang dinyanyikan Rio Febrian dan beberapa lagu Afgan seperti "Sadis", "Bukan Cinta Biasa", "Bawalah Cintaku", "Sabar" dan lain-lain.

Lirik Chord Kunci Gitar Lagu Bunga Terakhir dari Bebi Romeo


Berikut ini lirik chord kunci gitar lagu Bunga Terakhir dari Bebi Romeo

INTRO: 
F#m  Bm  G#m7-5 C7

     F#m        F#m/E     D      C#7
  Kaulah yang pertama menjadi cinta
         Bm       E       A    G#m7-5  C#7
  Tinggallah kenangan

               F#m       F#m/E
  Berakhir lewat bunga
      D         C#m      Bm         E
  Seluruh cintaku untuknya

REFF:

  A                      G#m7-5
  Bunga terakhir ku persembahkan
  C#7               F#m
  kepada yang terindah
  Em                A    
  S'bagai satu tanda
           D            C#m-Bm  D  E
  cinta untuknya

       A               G#m7-5
  Bunga terakhir menjadi satu
        C#7                  F#m
  kenangan yang tersimpan
  Em                    A     
  Takkan pernah hilang
           D         C#m-Bm  D   E
  tuk selamanya

     A    G#m7-5   C#7
Oh ho...

          F#m   F#m/E       D         C#m
Betapa cinta ini… sungguh berarti
   Bm       E     A   G#m7-5   C#7
Tetaplah terjaga

    F#m               F#m/E
Selamat tinggal kasih
        D        C#m   Bm            E
Kau telah pergi selamanya

INTRO: F#m  Bm  G#m7-5 - C#7
     F#  Bm  C#


CODA (3x, fade out):
  A  G#m7-5  C#7  F#m  Em  A  
  D  C#m-Bm  D  E

Dalam soal chord lagu ini menggunakan chord progression yang agak sulit dimainkan. Dalam lagu ini juga ada kunci gitar / chord yang tidak umum digunakan yaitu  G#m7-5. Untuk memudahkan, berikut ilustrasi  dari chord G#m7-5 atau G Sharp Minor 7 Flat 5

G#m7-5 Lirik Chord Kunci Gitar Lagu Bunga Terakhir dari Bebi Romeo
G#m7-5 Lirik Chord Kunci Gitar Lagu Bunga Terakhir dari Bebi Romeo

Walau tidak terlalu hafal liriknya, pada tahun 1999 sampai 2000 lagu ini sering saya nyanyikan saat mengamen di Pantai Losari Makassar hingga ke Pasar Senggol pinggir pantai Kota Pare-Pare Sulawesi Selatan. Beberapa waktu lalu saya merekamnya walau saya tahu vokal saya pas-pasan :D

Berikut cover lagu  Bunga Terakhir dari Bebi Romeo yang di-publish di channel youtube teman saya, Iyan Oktavian.

Salam musik Indonesia :)