Universe-nya Gerard Butler Itu Bernama “Has Fallen”


Universe-nya Gerard Butler Itu Bernama "Has Fallen". Pertama tahu Gerard Butler dari sebuah filem berjudul Law Abiding Citizen. Filem itu betul-betul sedap, menurut saya, karena menghadirkan pembalasan dendam seorang laki-laki atas kematian isteri dan anaknya. Dia tidak hanya membalas dendam pada si penjahat tetapi juga pada para aparat penegak hukum yang telah bertindak tidak adil padanya. Hebatnya lagi dia membaca buku hukum, kalau di Indonesia setingkat Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, termasuk semua amandemennya. Kalau itu masih belum hebat, dia hafal dan/atau mengingat semua isi buku hukum tersebut. Dalam dunia nyata, menghafal isi sebuah buku setingkat novel bukanlah perkara sulit. Tetapi jika buku itu adalah buku hukum, pasti sulit. 

Baca Juga: Kalau Kalian Pemberani Coba Nonton Nerorrist by Nessie

Terlepas dari Law Abiding Citizen nan sedap, Gerard Butler juga dikenal lewat filem-filem lain. Tiga diantaranya merupakan fransais dari Has Fallen atau Fallen.

Tahun 2013, sepanjang dua jam kita betul-betul larut dalam kisah Olympus Has Fallen. Gedung Putih yang dikodekan dengan nama Olympus, hancur berkeping-keping karena ulah kelompok teroris dari Korea Utara. Serangan bertubi-tubi datang dari darat dan udara, jutaan peluru ditembakkan, hampir tanpa jeda untuk memberi efek kejut yang luar biasa kepada penonton. Kalau penonton sampai menahan nafas dan ngos-ngosan, filemnya sukses. Haha. Anyhoo, Olympus Has Fallen menceritakan tentang Mike Banning (Gerard Butler) yang keluar dari Secret Service gara-gara merasa bersalah atas kematian Margaret Asher (Ashley Judd), isteri Presiden Amerika Serikat Benjamin Asher (Aaron Eckhart). Pada saat Gedung Putih diserang, Mike Banning terpaksa harus 'kembali' untuk menyelamatkan Benjamin Asher dari bunker tempat si Presiden disekap bersama pejabat-pejabat penting lainnya. Pengalaman menonton Olympus Has Fallen terulang saat menonton No Escape di tahun 2015, serangan tanpa jeda, menahan nafas, dan memaki.

Olympus Has Fallen tentu bakal bikin siapa saja mengingat filem White House Down. Selain ceritanya sama, dirilis pada tahun yang sama pula! Bedanya, White House Down punya Presiden berkulit hitam bernama James Sawyer (Jamie Foxx) yang diselamatin sama anggota baru Special Agent bernama John Cale (Channing Tatum), dan kehancuran Gedung Putih dikarenakan ulah 'orang dalam' yang justru adalah Kepala Special Agent yang hendak pensiun yaitu Martin Walker (James Wood). White House Down masih diisi lagi dengan kisah anak perempuan John Cale yaitu Emily Cale (Joey King) yang saat itu sedang mengikuti tur Gedung Putih. Yang jelas, karena tidak disekap, Presiden di dalam White House Down punya usaha untuk ikut menyelamatkan keadaan bersama John Cale.

Kembali ke Has Fallen.

Olympus Has Fallen meraup keuntungan berlipat ganda dan disebut sebagai filem box office karena biaya pembuatan filem hanya 70 Juta Dollar sedangkan keuntungannya mencapai 170,3 Juta Dollar. Fantastis. Itulah sebabnya saya selalu suka menonton filem-filem yang menjadi box office. Penasaran, pengen tahu sehebat apa jalan cerita, sutradara, dan para pemerannya sampai-sampai bisa menjadi box office. Oh ya, kalian sudah tahu kan alasan sebuah filem disebut filem box office? Sebuah filem disebut box office apabila keuntungan yang diraup berlipat ganda dari biaya pembuatan filemnya hanya beberapa hari saja.

Tiga tahun setelahnya, tepatnya tahun 2016, London Has Fallen dirilis. Awal menonton London Has Fallen pikir saya sih bakal biasa saja karena sudah punya pengalaman menahan nafas saat menonton Olympus Has Fallen. Ternyata saya salah. Karena apa? Karena kedahsyatan efek kejut yang disajikan pada setiap menitnya. Tembakan peluru, ledakan bom, kejar-kejaran di darat dan di udara, sampai meninggalnya tokoh yang tidak sentral tapi penting yaitu Direktur Secret Service Lynne Jacobs (Angela Bassett) saat helikopter yang mereka tumpangi untuk menyelamatkan diri jatuh ditembak. Kematian Perdana Menteri Inggris membikin semua pemimpin negara dunia datang melayat, setidaknya kita melihat beberapanya, meninggal karena bom di jembatan, ditembaki rudal di kapal pribadi, bom di puncak menara, dan lain sebagainya. London lumpuh dalam waktu tidak sampai satu jam. Semua aparat pengamanan disusupi teroris. Semua. Kalian bisa bayangkan kelumpuhan yang dialami? Uh wow sekali menurut saya.

Dan tentu saja, London Has Fallen lagi-lagi menjadi box office. Dengan biaya hanya 60 Juta Dollar (lebih sedikit dari Olympus Has Fallen), dan meraup keuntungan 205,8 Juta Dollar. 

Lagi-lagi tiga tahun setelahnya, yaitu tahun 2019, Angel Has Fallen dirilis. Apakah Angel Has Fallen mampu menjadi box office? Tentu saja. Biaya pembuatannya hanya 40 Juta Dollar dengan keuntungan 147,5 Juta Dollar. Bedanya di dalam Angel Has Fallen, Presidennya adalah Allan Trumbull (Morgan Freeman) yang pada dua filem sebelumnya menjadi juru bicara. Kalau boleh saya bilang sisi manusiawi seorang pahlawan lebih ditonjolkan di dalam filem ini. Mau tahu? Mari simak.

Mike Banning tidak kuasa melawan apalagi memerintah trauma fisik yang dideritanya untuk berhenti. Stop, saya masih pengen jadi pengawal presiden nih! Pada akhirnya seorang 'pahlawan' harus pensiun juga. Ini yang rasa-rasanya tidak saya temui dalam filem misi-tidak-mungkin yang 'pahlawan'nya selalu fine-fine saja. Haha. Mike Banning diposisikan lebih manusiawi: sebagai manusia dia juga merasakan trauma fisik yang luar biasa dan fokus yang mendadak nge-blur. Oleh karena itu dia memang ingin mengundurkan diri. Tetapi lagi-lagi negara api teroris menyerang. Dibuka dengan waktu bersantai Presiden di sebuah sungai: memancing. Serangan ini jauh lebih dahsyat karena menggunakan teknologi super canggih yaitu ribuan drone. Lepaskan drone-nya, cari mangsanya, tembak-mati. Sayangnya, Mike Banning harus menjadi korban. Dia justru menjadi tersangka utama yang dicurigai berniat membunuh Presiden Allan Trumbull. 

Benarkah? 

Tentu saja tidak. Ada bumbu persahabatan, kepentingan, dan pengkhianatan di dalam Angel Has Fallen. Ketiga bumbu itu yang menyebabkan Mike Banning menjadi buronan, harus pandai mencari tempat aman dari kejaran orang-orang, dan lain sebagainya usaha dia untuk mengembalikan nama baiknya. Jadi ingat waktu Tony Stark terdampar di sebuah kota. Hehe. Satu-satunya benang merah dari filem ini adalah Mike Banning harus bertemu Allan Trumbull saat si Presiden sudah siuman agar tahu jalan cerita yang sebenarnya. Bahwa bukan Mike Banning yang berniat membunuh si Presiden. Itu memang terjadi di akhir cerita. Saya bahkan harus memutar ulang beberapa kali untuk melihat muslihat ruangan jadi-jadian yang menyembunyikan Presiden Allan Trumbull di gedung sebelah rumah sakit itu. Deg-degan sekali.

Kalian deg-degan juga? Kalau begitu toss. Kita sama. Haha.

Baca Juga: Fiersa Besari Memang Jagoannya Merangkai Kata-Kata

Melihat fransais Has Fallen yang kerap dirilis setiap tiga tahun sekali, saya jadi bertanya-tanya apakah tahun 2022 bakal ada filem ke-empat? Indonesia Has Fallen, misalnya, dengan cerita Presiden Amerika Serikat berlibur ke Indonesia terus diserang teroris lagi, terus chaos. Lebih seru lagi kalau lokasi penyerangan itu adalah Kabupaten Ende saat si Presiden sedang mengunjungi Danau Kelimutu. Pasti legit. Andaaaaai. Haha. Berandai-andai kan boleh. Uih, itu saya yakin bakal jadi box office hanya dalam satu hari. Bioskop penuh. Terutama bioskop di Indonesia. Tapi yang jelas pemerannya harus tetap Gerard Butler, karena Has Fallen bakal jadi Has Falling kalau pemerannya diganti *ngakak guling-guling*.

Sudah ah.

Weekend ini ... selamat menikmati akhir pekan, ya. Kalau akhir pekan kalian hanya di rumah saja, cobalah menonton kembali tiga Has Fallen yang sudah saya bahas di atas. Kalau mau menonton ulang Law Abiding Citizen juga oke-oke aja *gaya Yuvi Phan* haha.

#SabtuReview



Cheers.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *