Menulislah Dengan Baik Meskipun Tidak Selalu Harus Benar


Menulislah Dengan Baik Meskipun Tidak Selalu Harus Benar. Awal tahun 2020 saya menulis status di media sosial Facebook sebagai berikut:


Intinya adalah, marilah menulis dengan baik meskipun tidak selalu harus benar. Karena, menulis dengan baik bukan berarti menulis dengan benar. Kalian bingung? Sama, saya juga. Haha. Oleh karena itu, mari baca tulisan ini sampai selesai. Perlu diingat, ini bukan menggurui siapa pun, hanya berbagi informasi saja. Seperti yang saya tulis di status Facebook tersebut, saya bukan pakar, ini hanya berdasarkan pengalaman menulis saja.

Baca Juga: Sarasehan di SMPN Satap Koawena

Saya bulan penulis yang jago menulis naskah dengan baik. Para penulis; penulis fiksi dan penulis non-fiksi, penulis artikel maupun opini, sudah pasti mahir di bidang tulis-menulis ini. Kalau ditanya memangnya saya ini penulis apa? Anggap saja saya, dan kalian, adalah penulis blog yang gemar menulis kreatif. Karena, tulisan-tulisan di blog bisa dibilang separuh opini, separuh curhatan, separuh kritik, separuh khayalan (fiksi), separuh cita-cita, separuh main gila (becanda), dan separuh fakta karena ada pos blog yang ditulis setelah riset yang cukup dalam serta dilengkapi dengan ragam literasi atau sumber yang kompeten.

Tapi pun seorang penulis masih membutuhkan penyunting. Bukan begitu? Setiap buku yang kita baca rata-rata punya penyunting; bisa seorang, bisa lebih dari seorang. Saya memang bukan penyunting perusahaan penerbitan buku atau penyunting majalah yang pasti dapat menyunting naskah dengan sangat baik. Menulis saja masih belepotan. Para penyunting itu memang sudah expert di dunia tulis-menulis sehingga kemampuannya jangan diragukan lagi. Kalau kita ragu sama kemampuan seorang penyunting, jangan lupa, kadang-kadang penyunting dapat lebih dari seorang. Penyunting menyunting penyunting. Haha. Apaan ini bahasanya kacau.

Menulis tentang penulis dan/atau penyunting ini berawal dari rasa gemas saya membaca tulisan orang lain. Kekeliruan atau kesalahan kecil dari ilmu menulis paling dasar. Guru Bahasa Indonesia tentu lebih fasih soal kepenulisan baik dasar maupun mahir (kayak belajar komputer ada tingkat dasar dan mahir hahaha). Kalau pos teman Facebook, akan saya beritahu kalau ada kata yang salah. Kalau pos blog ... biasanya saya simpan rindu ini dalam hati saja diam karena kuatir yang punya blog tersinggung lantas menurunkan seribu bala tentara untuk melempari saya dengan kapuk. 

Lantas kita kembali pada hak setiap blogger untuk menulis di blog-nya. Mau pakai EYD, mau pakai bahasa sehari-hari, mau pakai kecap dan saos tomat, ya terrrrrserah. Memang betul blogger punya hak untuk itu, tapi kalau tulisannya selalu bikin gemas, pengunjung juga jadi malas membacanya kan? Om Bisot sudah menulis panjang lebar tentang Bagaimana Membuat Tulisan Yang Enak Dibaca. Tulisan Om Bisot itu adalah ilmu yang kalau tidak kalian baca bakal rugi sendiri hehe. Kali ini saya hanya menulis tentang perkara-perkara paling dasar saja seperti preposisi dan penggunaan kurung.

Mari kita mulai dengan:

Di Mataram dan dimakan.

Kalian pernah menulis di makan? Sedih sekali hahaha *digigit dinosaurus*. Meskipun tulisan saya di blog ini bukan tulisan yang mengedepankan EYD dan banyak bercandanya tapi saya pasti menulis dimakan, bukan di makan. Itulah yang saya maksudkan menulis dengan baik. Sama juga dengan kalimat berikut ini:

Tuteh Pharmantara itu cantik,baik, rajin,,, maka nya Leonardo Di Caprio tergila2 sama dia.Itu fakta!

Membaca kalimat di atas jadinya gigi asam! Istilah Orang Ende. Hehe. Pertama: setelah tanda baca koma atau (,) harus diisi dengan spasi baru dilanjutkan dengan kata berikutnya. Kedua: tidak memakai koma-koma karena tidak ada istilah koma-koma tapi titik-titik (biasanya untuk kalimat yang menggantung). Ketiga: makanya bukan maka nya. Keempat: tergila-gila bukan tergila2 karena ini bukan SMS yang butuh penghematan huruf. Kelima: setelah tanda baca titik atau (.) harus diikuti dengan spasi baru dimulai kalimat baru dengan huruf depan kata pertama adalah huruf besar.

Baca Juga: Mengetik 10 Jari Itu Biasa

Kenapa saya tulis kedua, ketiga, keempat, kelima, bukan ke dua, ke tiga, ke empat, ke lima? Karena awalan ke- yang diikuti bilangan berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat seperti contoh kedua, atau kumpulan seperti contoh keduapuluh dinosaurus itu sedang main kartu di rumah Tuteh.

Dinosaurus ( diantaranya brontosaurus dan kecoaksaurus ).

Pernah menulis tanda kurung menggunakan spasi? Tanda kurung digunakan untuk mengapit tambahan atau keterangan dari sebuah kalimat atau kata. Ditulis tanpa spasi. Jadi yang baik ditulis seperti ini:

Pada hari ini mahasiswa Universitas Flores (Uniflor)

Menerangkan bahwa nama beken yang sering digaungkan adalah Uniflor. Atau:

Sarung itu dibuat menggunakan bahan alami salah satunya kembo (buah mengkudu).

Kenapa kata kembo ditulis miring? Karena kembo bukan Bahasa Indonesia. Menurut ilmu yang saya dapatkan dari Pak Yohanes Sehandi, kata dalam bahasa daerah dan bahasa Inggris ditulis miring kecuali merujuk pada judul, misalnya. Tapi, toh kadang saya sendiri juga mengabaikan tentang huruf miring pada bahasa Inggris/asing atau bahasa daerah ini.

Menulis blog tidak perlu harus menggunakan tata bahasa yang paling benar, tetapi setidaknya menulislah dengan baik.

Bagaimana dengan saya sendiri? Hahaha. Jangan ditanya, tulisan saya di blog tidak bisa dibilang benar dan enak dibaca, tapi saya sendiri harus berupaya untuk menulis dengan baik. Menulis dengan baik sesuai isi pos ini, versi saya, adalah menulis dengan memperhatikan (harusnya memerhatikan loh) kaidah paling sederhana dari dunia menulis diantaranya: yang benar dimakan bukan di makan, atau yang benar benar-benar bukan benar2, atau yang benar (menuju nirwana) bukan ( menuju nirwana ), atau yang benar di Surabaya bukan disurabaya, atau yang benar ke masjid bukan kemasjid, atau yang benar can you imagine that? bukan can you imagine that?. Untuk yang tingkat mahir, saya tidak punya kapasitas. Haha. Setidaknya tulisan itu enak dibaca. Menurut saya, bukan menurut kalian. Kalian pasti punya pendapat sendiri kan?

Lalu, bagaimana dengan gaya menulis? Gaya menulis adalah hak terhakiki setiap blogger yang alangkah baiknya jangan terlalu dikritik karena gaya menulis itu seperti manusia yang terlahir unik antara satu dengan lainnya. Gaya menulis adalah DNA masing-masing blog. Oleh karena itu saya tidak pernah bermasalah dengan gaya menulis siapa pun asalkan tetap enak dibaca alias kembali lagi pada bagaimana penempatan preposisi dan kurung tadi. Supaya jangan terlalu gemas-gemas bergembira.

Mau menulis ibuk ini cantik beud, atau kalok suatu hari nanti gua bisa ke Yerusalem, atau hellowwww emang daku pembokatnya situ?, atau aku ndak sukak kalok disuruh make up sampek muka rasanya ditindih pohon oak, terseraaaah. Hehe. Itu gaya menulis kalian! Itu DNA blog kalian! Lanjutkan!

Asal jangan menulis:

Ibuk ini cantik beud,sampek aku ter kesima.Kalok kalian ,,, ya kelen semua ...

Baca Juga: Belajar Literasi Digital

Pada akhirnya, janganlah terlalu dipikirkan apa yang saya tulis di pos ini. Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan menulis, terutama diri saya sendiri. Tapi, pada akhirnya setiap orang tentu mau memperbaiki demi kebaikan tulisannya sendiri. Dan, jangan pernah mempermasalahkan gaya menulis para blogger, karena gaya menulis adalah DNA setiap blog. Wokeh? Hehe.

Semoga berguna :D

#SeninCerita
#CeritaTuteh




Cheers.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *