Arsip Bulanan: Februari 2020

Menuju Bonus Demografi dan Generasi Emas Indonesia 2045

salmanbiroe - Indonesian Lifestyle Blogger - Menuju Bonus Demografi dan Generasi Emas Indonesia 2045

Bonus demografi ditandai dengan meningkatkan proporsi penduduk usia kerja. Diperkirakan, pada tahun 2045 ada sebanyak  70 persen dari total jumlah penduduk Indonesia berusia produktif (usia 15 - 64 tahun). Sisanya sebanyak 30 persen adalah penduduk tidak produktif (usia dibawah 14 tahun dan diatas 65 tahun). Dengan jumlah usia produktif mencapai 70 persen, maka beban tanggungan dari penduduk usia produktif menurun atau menjadi rendah, yakni antara 0,4 - 0,5 persen. Artinya, setiap 100 penduduk usia produktif hanya menanggung 40-50 penduduk non produktif.

Persoalannya adalah, anak-anak dan remaja yang berusia belia saat ini menyimpan potensi penyakit ya yang dapat mengganggu diusia produktifnya nanti. Berdasarkan data yang dirilis oleh Double Burden of Diseases & WHO NCD Country Profile pada 2014, menunjukkan bahwa angka kematian karena PTM meningkat drastis. Jika pada tahun 1990 angka kematian akibat PTM baru mencapai 58%, pada 2014 angka tersebut naik menjadi 71%.

Dalam Seminar Nasional yang diselenggarakan PP Aisyiyah bersama Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI), Dirjen Kesehatan Masyarakat Kemkes Dr. Kirana Pritasari MQIH mengatakan trend status gizi, prevalensi stunting dan gizi buruk menurun. “Tapi angka ini masih di atas toleransi WHO. Toleransi WHO untuk gizi buruk adalah 10% dan stunting 20%. Sementara kita masih 30%, di atas toleransi. Ini yang mengakibatkan penyelesaian masalah gizi jadi masalah nasional. Jadi jika misalnya balita kita 22 juta, kalau yang stunting 30,8 %, jumlah itu lebih besar dari penduduk Singapura," ujar Kirana. 

Pemerintah sendiri telah menyiapkan 5 strategi dalam menurunkan dan mencegah stunting. Targetnya adalah pada 2024 stunting turun menjadi 14%, salah satunya melalui prioritas penanganan stunting yang dilakukan terhadap 260 kab/ kota. Selain itu, kampanye dan edukasi kesehatan dan gizi untuk masyarakat pun perlu untuk dilakukan, sebagaimana edukasi gizi dan bijak konsumsi susu kental manis yang dilakukan oleh PP Aisyiyah. "Susu kental manis itu adalah perasa, balita tidak boleh mengkonsumsi sebagai minuman sebelum tidur, jadi bukan untuk kebutuhan pemenuhan gizi," jelas Kirana. 

Anggota komisi IX DPR RI, Intan Fauzi, SH.LLM dalam kesempatan itu juga menyampaikan pentingnya peran edukasi dan sosialisai kesehatan untuk masyarakat. Terkait persoalan susu kental manis misalnya, edukasi langsung ke masyarakat perlu terus menerus dilakukan. “Sekarang sudah jelas ada regulasinya, sehingga produsen hingga distributor wajib menerapkan. Nah konsumen juga seharusnya sudah dapat memilah bahwa susu kental manis itu bukan termasuk kategori susu,” jelas Intan. 

Agar regulasi tersebut diterapkan dengan baik, fungsi pengawasan juga harus dioptimalkan. "Kami selalu melakukan rapat kerja dan rapat kerja terbatas. Dari situ apabila ada permasalahan jadi pembahasan . Mengenai peredaran makanan akan menjadi tanggung jawab BPOM, kan ada divisi penindakan," jelas Intan. 


Sementara YAICI menilai kampanye dan sosialisasi tersebut tidak merata di terima oleh masyarakat Indonesia. Keterbatasan media informasi hingga promosi produk makanan dan minuman dari produsen yang begitu masif mengakibatkan kampanye-kampanye kesehatan kurang bergaung.  Seperti yang terjadi pada produk kental manis. 

Ketua YAICI Arif Hidayat menjelaskan, produk kental manis nyaris seabad diiklankan sebagai minuman susu yang telah mengakibatkan kesalahan persepsi pada masyarakat. Masyarakat beranggapan produk yang mengandung gula 54% tersebut dapat diberikan kepada bayi dan balita sebagai minuman susu. Puncaknya adalah saat temuan balita menderita gizi buruk akibat mengkonsumsi susu kental manis di Kendari dan Batam, dan salah satunya meninggal dunia. 

"Pemerintah melalui Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) mengeluarkan PerBPOM No 31 Tahun 2018 tentang Label Pangan Olahan pada Oktober 2018, yang telah mengatur mengenai label dan iklannya. Sayangnya, pengawasan terhadap penerapan di lapangan masih belum optimal," ujar Arif Hidayat. 

Arif menyebutkan, kampanye atau penjualan offline yang dilakukan oleh SPG produk kental manis serta penempatan produk di supermarket masih kerap dicampurkan dengan produk susu anak lainnya. "Hal-hal seperti ini yang perlu peran pengawasan dari masyarakat. Regulasinya sudah ada, namun sayang sekali penerapan di lapangan tidak tepat. Sehingga edukasi atau kampanye kesehatan yang digaungkan pemerintah juga akan rancu dimata masyarakat. Karena itulah kami meminta kesadaran produsen dan peran sertanya mengedukasi masyarakat dengan cara jujur dalam berjualan," jelas Arif. 

Ketua Majelis Kesehatan PP Aisyiyah Chairunnisa, mengungkapkan kehkawatirannya akan bonus demografi apabila pemerintah masih abai terhadap persoalan kental manis. "Pemerintah seolah-olah hanya berkewajiban mengeluarkan regulasi, namun impelementasinya tidak efektif. Jangan sampai, akibat kelalaian hari ini, kita menghadapi bonus demografi yang menjadi beban bagi negara nanti, karena ancaman diabetes ataupun obesitas yang mengganggu usia produktif," jelas Chairunnisa. 

Marilah Kita Merinding Disko Bersama Diary Misteri Sara


Marilah Kita Merinding Disko Bersama Diary Misteri Sara. Siapa di sini yang penakut tapi doyan sama ke-horor-an terhakiki? Toss dulu, yuk. Artinya saya tidak sendiri. Sesuatu yang horor itu seperti magnet. Semakin horor, semakin bikin penasaran, meskipun semakin ketakutan setengah mampus! Kalian pasti pernah mengalami juga, setiap kali mengobrol bersama kawan-kawan, topik obrolan bakal memasuki Waktu Indonesia Bagian Horor ketika jarum jam berlari menuju tengah malam. Terus mendadak aroma pandan merasuk lobang hidung yang banyak bulunya itu. Byuuuuh! Saling lihat, telan ludah, terus salah seorang nyeletuk, "Si LL kabarnya ditangkap, ya?". Manuver yang lekas, sedikit mengurangi pompaan jantung. Dan sekadar rekomendasi bagi kalian, #SabtuReview, ya hari ini, bakal ngebahas tentang Diary Misteri Sara a.k.a. #DMS. Mau menu horor? Jangan nanggung! 

Baca Juga: Knives Out Bukan Sekadar Filem Drama Misteri Sederhana

#DMS merupakan nama yang dipakai oleh Demian Aditya dan isterinya Sara Wijayanto beserta kru untuk konten video reality show bertema horor. Horornya level dewa! Kalau Nex Carlos menjelajah tempat makan se-Indonesia, maka #DMS menjelajah tempat-tempat yang disinyalir selalu beraroma 'amis' antara lain gedung pabrik yang ditinggalkan, mall yang ditelantarkan seperti perasaan saya pada Orlando Bloom, rumah sakit yang berubah jadi rumah hantu, villa-villa, bahkan rumah beberapa seleb. Mereka tidak memakai kata menjelajah melainkan penelusuran. Bagi saya pribadi #DMS merupakan the real reality show-nya Indonesia. Hati Adek lelah, Bang, sama reality show tipu-tipu. Kalau kalian penasaran, marilah baca pos ini sampai selesai. Bagaimana kalau kalian tidak mau membacanya sampai selesai? Artinya kalian tidak akan pernah sampai pada kata: cheers yang menutup semua pos saya di blog ini. Hahaha. Serius amaaaat, Neng!

Kru #DMS


Di atas, sudah saya jelaskan gambaran umum tentang #DMS. Kalian perlu tahu bahwa selain Demian dan Sara yang saling memanggil Ip satu sama lain, kru #DMS yang lain patut dikenali. Jelas ya, Wisnu Hardana yang merupakan adik kandung Sara itu selalu mampu membikin jantung penonton perempuan berdegup lebih kencang. Bukan karena dia bisa melihat dan menggambar makhluk-makhluk astral, melainkan karena betapa cool-nya dia. Ya ampun, saya mauuuu lah dilamar sama lelaki super kalem begitu. Haha. Masalahnya, tidak ada lelaki super kalem yang mau melamar saya. Byuuuuh *gigit dinosaurus*. Wisnu selalu membawa buku skesta, entah sudah berapa jumlahnya, dan alat tulis. Bukan pinsil. Karena, dalam situasi seperti itu, tidak akan cukup waktunya untuk menggambar sketsa super rumit menggunakan pinsil seperti sketsanya Violin Kerong. Spidol atau ballpoint merupakan senjata andalan si kalem. Setelah gambar didapat, biasanya Sara akan 'membuka' jalur komunikasi. Nanti, kalau si makhluk sudah datang, ditunjuklah gambar itu sambil bertanya: ini kamu ya?

Saya suka kalau Fadi Iskandar juga ikut dalam penelusuran, meskipun tidak semua episode #DMS. Kenapa saya suka? Karena Fadi itu komunikatif, baik sama penonton maupun sama makhluk astralnya. Ada saja pertanyaan yang dia lontarkan. Maaf, kalau boleh tahu ini siapa? Nama kamu siapa? Kamu yang tadi lemparin kami, ya? Kamu kenapa ada di sini? Kamu dibunuh? Cerita donk sama Sara. Siapa yang membunuh kamu? Dulu kamu diperkosa? Kamu dijahatin sama suami kamu? Dan seterusnya. Fadi bakal memakai jawaban sebagai peluru pertanyaan berikutnya. Dan sangat cepat otaknya bekerja agar pertanyaan serta jawaban itu mengerucut dan bisa menyimpulkan sesuatu. Karena, makhluk astral bukan story teller. Mereka harus dipancing. Terutama yang cuma mengangguk dan menggeleng, bisa jadi karena ketakutan pada makhluk astral lainnya yang ada di situ. Kalaupun bicara, sepatah dua kata saja yang terucap.

Bayangkan ... makhluk astral saja takut pada sesama makhluk astral yang lebih berkuasa. Bagaimana dengan kita yang fana ini? Haha. Kita? Lu kali aja, Teh, yang jiwa penakutnya berkuasa!

Wisnu, Fadi, selalu ada di depan kamera bersama Sara, kadang-kadang Demian turut serta. Tetapi bukan berarti kru lainnya tidak pernah tampil. Kru #DMS itu banyak yang sensitif: bisa merasa dan bisa melihat. Oleh karena itu penonton pasti tahu si Aji, si Ryan, apalagi Pak Iwan. Pak Iwan ini semacam 'pengaman' #DMS. Ya harus lah. Mana kuat Sara sendirian kalau kondisi mendadak tidak terkendali, seperti dikepung poci dan tante K? Pak Iwan tidak pernah menunjukkan wajahnya. Penampakannya selalu memakai jaket, topi, dan masker yang menutup 80% wajahnya. Saya yakin, banyak Saradict yang penasaran level-20 Kripik Mak Icih sama wajah Pak Iwan. Haha. Eits, kalian sudah jadi Saradict belum? Kru-kru yang lain ada Rendy Virgiawan sebagai asisten pribadi Sara, Aji yang pegang kamera, Deden manajer produksi, Boy di lighting, Andika yang sunting video, dan lain sebagainya.

Tapi, kalau boleh saran nih, sebaiknya 'pengaman' seperti Pak Iwan harus ditambah. Buat jaga-jaga. Ngeri kan ya kalau di sini Sara ditarik kakinya, di sana Pak Iwan harus menangani Aji yang keganggu, sementara Ryan juga kesambar. Maaaaan, I can't imagine that!

Kamera, Lampu, Senter, dan Keberanian


Peralatan kru #DMS dari yang saya lihat biasanya ada tiga sampai empat kamera, lampu-lampu sorot, ada semacam alat frekuensi apaaa gitu (kurang paham saya lah), senter, dan keberanian. Kenapa keberanian juga ada di poin ini? Karena, tanpa keberanian, tidak akan ada #DMS yang setiap minggu kita tungguin episode barunya diunggah. Saya ngeri sendiri membayangkan andai lampu sorot mendadak mati dan semua senter tidak berfungsi! Eits, jangan takut, masih ada senter telepon genggam *ngakak guling-guling*.

Serius Amat!?


#DMS itu gokil. Kalian sudah nonton opening-nya yang baru? Haha. Jadi, #DMS ini tidak melulu menampilkan segala sesuatu yang horor saja. Waktu membuka episode #DMS saja, Saradict sudah ngakak sama gaya mereka. Ada saja celetukan dan tingkah Sara, Fadi, Demian, atau kru lain, yang bakal mencairkan suasana. Suatu kesempatan, saat mereka sedang penelusuran, mendadak Sara berlari ke suatu arah begitu, semua pada teriakin si Aji supaya mengejar 'mami'. Eh waktu sudah dekat, saat ditanya, Sara malah menjawab kira-kira begini: olah raga biar sehat. Haha. Gokiiiil.  

Episode Terhoror


Nanti saya bakal bahas 5 Episode Terhoror #DMS pada pos terpisah di #KamisLima. Tapi ijinkan sekarang saya membocorkan episode-episode terhoror menurut saya. Silahkan buku kuduknya direbahkan dulu. Haha. Ayo bulu-bulu kuduk, rebahan manja, yuk. Sepanjang saya menonton #DMS, episode yang betul-betul membikin saya merinding itu episode Mall Terbengkalai [Part 1] yang bareng D'Masiv. Saat itu Sara ditarik oleh sosok besar kasat mata yang membuatnya terjatuh ke lantai dalam posisi tidur. Uih, serem! Ini makhluk astralnya kuat banget. Jadi ingat juga sama salah satu episode yang ada siluman ularnya: kaki Sara saling membelit begitu. Kalau saya ada di situ, sudah naik ke gendongan Pak Iwan! Kayaknya mall terbengkelai itu dihuni oleh makhluk-makhluk astral dengan kekuatan yang luar biasa. Bukan sekadar arwah tersesat saja.

Yang juga horor itu kalau Sara membuka jalur komunikasi, lantas kemasukan. Cara dia melihat dan bicara saat kemasukan itu benar-benar horor, sesuai dengan tingkah si makhluk astral. Kalian pasti sering melihat orang kesurupan sampai teriak-teriak atau bertingkah kasar banget. Beda sama Sara kalau dia kemasukan. Setiap kali Sara kemasukan saya selalu memerhatikan:

1. Cara dia melihat.
2. Cara dia tertawa.
3. Cara dia bicara dan bahasanya.
4. Urat di keningnya yang mendadak menonjol.
5. Cairan meleleh dari hidung dan mulut.

Suatu kali saya sampai memalingkan wajah dari layar telepon genggam saat melihat Sara tertawa lebar tapi tawa yang serem banget dan itu berlangsung cukup lama. Kru, tolong selalu sediakan tisu dan tisu basah doooonk, bergegas begitu, kasihan Sara pas sadar musti membersihkan cairan dari hidung dan mulutnya. Anyhoo, untuk poin nomor 3 di atas, ada kalanya saat kemasukan Sara/makhluk astral yang memasukinya tidak dapat berbicara atau berbicara sepatah dua kata saja. Ini keren, dan sangat masuk akal, karena tidak semua makhluk astral itu adalah arwah yang meninggal di atas tahun 2000. Bahkan ada makhluk astral yang memang aslinya dari sana alias iblis. Beda sama video kemasukan lain yang lancar berbicara Bahasa Indonesia. Kadang kala saat kemasukan Sara bicara bahasa Sunda atau bahasa-bahasa dari si makhluk astral tersebut. Kadang kala Sara hanya menggeram. Kadang kala meracau tidak jelas.

Kasihan banget melihat Sara menangis tersedu-sedu apabila kemasukan makhluk astral yang adalah arwah sesat yang menyesali perbuatannya dan/atau sedih atas apa yang menimpa dirinya. 

Penampakan


Kalau kalian menonton #DMS, kalian bakal tahu pasti bahwa #DMS tidak berusaha atau sengaja mencari-cari penampakan makhluk astral. Tetapi penampakan makhluk astral itu ada! Justru, dilihat oleh Saradict. Kru hanya memberitahu kalau ada bentrokan suara atau ada suara-suara dari alam lain terdengar. Dan saya sering mendengarnya: suaran perempuan tertawa, bahkan ada suara perempuan bilang "siniiiii". Perihal penampakan makhluk astral yang memang tidak pernah disampaikan oleh #DMS sendiri, dan justru dilihat oleh Saradict, saya juga melihatnya di video. Misalnya tante K berbaju merah di pohon, makhluk astral berbaju putih kotor lewat di jendela, sampai lemparan-lemparan benda. Caranya bisa lihat, Teh? Baca komentar Saradict, klik menit yang mereka maksudkan, mundurkan sepuluh sampai dua puluh detik, pelankan kecepatan video. Iiiiihhhh! Sereeeeeeem banget! Terima kasih, Saradict (lainnya) yang sudah membantu saya melihat penampakan.

Mendoakan


Terima kasih #DMS karena selalu mendoakan arwah-arwah sesat agar kembali ke jalannya. Ini sesuatu yang luar biasa, menurut saya. Karena mendoakan diri sendiri saja saya kadang alpa, apalagi mendoakan makhluk astral yang tidak ada hubungan darahnya dengan saya. Kalian orang-orang baik.


Baca Juga: Universe-nya Gerard Butler Itu Bernama Has Fallen

Akhirnya, sampailah kita di penghujung pos ini. Haha. Sedikit lagi kalian bakal ketemu sama: cheers. Well, bagi saya pribadi #DMS layak diacungi jempol dan layak di-subscribe oleh sebanyak-banyaknya penonton/penikmat video-video Youtube. Konten #DMS bukan konten asal bikin, bukan konten asal jadi, bukan konten pemburu subscriber malahan. Mereka melakukannya karena renjana. Itu keren. Meskipun ada jadwal tertentu untuk tayang, misalnya setiap malam minggu, namun mereka tidak memaksakan diri. Keren lah. Banyak yal yang membikin #DMS beda sama tayangan serupa. Selain Wisnu (ditabok dinosaurus nih saya) dan sketsanya, pun itu real reality show, adalah mendoakan arwah-arwah tersesat.

Bagaimana, kawan, setelah membaca ini jadi penasaran sama #DMS? Jangan cuma memburu video mereka di Youtube doooonk. Subscribe juga! Karena mereka memang layak mendapat ratusan juta subscriber!

Selamat berakhir pekan.

Selamat menanti episode #DMS selanjutnya.

#SabtuReview



Cheers.

Déjà Vu – Sebuah Cerita Amat Sangat Pendek

Pagi itu aku bangun dengan hati campur aduk jadi satu, alangkah aneh mimpiku. Seperti sebelum-sebelumnya.. aku kembali bermimpi bertemu dengan lelaki yang sama.. lelaki yang entah mengapa serasa sudah ku kenal dengan baik dan serasa begitu dekat di hatiku, di pikiranku.. Dan semua yang kualami dalam mimpi tadi malam seperti pernah kualami dahulu kala. Entah kapan dan di mana.. serta bersama

5 Alasan Saya Menyebut Nuabosi Adalah Tanah Surga


5 Alasan Saya Menyebut Nuabosi Adalah Tanah Surga. Baca judul pos, langsung ingat sama lagu Kolam Susu dari Koes Plus kan? Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat, kayu, dan batu jadi tanaman. Secara harafiah, adalah mustahil tongkat, kayu, dan batu jadi tanaman. Namun filosofi lirik lagu itu sangat kuat. Pertama: tongkat, kayu, dan batu jadi tanaman menunjukkan bahwa tanah di bumi Indonesia mempunyai tingkat kesuburan yang tinggi dan sangat baik dimanfaatkan untuk bercocok tanam. Kedua: kayu dan batu dapat menjadi media tempat tanaman lumut tumbuh subur. Dan siapa pun pasti tahu bahwa lumut memberikan manfaat baik bagi kehidupan umat manusia dan makhluk hidup lainnya. Salah satunya: oksigen.

Baca Juga: 5 Ranah Hukum di Indonesia yang Wajib Kalian Tahu

Tanah kita memang tanah surga. Secara pribadi saya melihatnya langsung di Pulau Flores. Persawahan di Kota Mbay, persawahan di Magepanda, persawahan unik lodok di Manggarai (yang ini sih masih baru mau pengen melihat langsung, haha), persawahan di Ekoleta dan Detusoko, kebun masyarakat di desa-desa, dan lain sebagainya. Sedangkan khusus untuk Nuabosi, ubi kayu Nuabosi merupakan salah satu komoditas andalan dari daerah tersebut. 

Orang NTT pasti tahu, setidaknya pernah mendengar, tentang Nuabosi. Nuabosi terletak di dataran Ndetundora, Kecamatan Ende, Kabupaten Ende. Ada empat desa di dataran tinggi ini yaitu Desa Ndetundora I, Desa Ndetundora II, Desa Ndetundora III, dan Desa Randotonda. Tapi, Orang Ende lebih mengenal daratan ini, dari ujung ke ujung, dengan nama Nuabosi. Kalian bisa membaca tulisan lain tentang Nuabosi pada pos berjudul Puskesmas Cantik di Tanah Ubi Roti. Nuabosi merupakan daerah asal Nenek Sisilia Dhae, Mamanya Mamatua. Sedangkan Kakek Arnoldus Bata, Bapaknya Mamatua, berasal dari Faipanda di dataran tinggi Lepembusu-Kelisoke (dari arah Ende, sebelum Moni). Dari Kota Ende menuju Nuabosi hanya sekitar sepuluh sampai lima belas menit saja menggunakan kendaraan bermotor.

Pemandangan dari jalan menuju Ndetundora/Nuabosi.

Sekarang, marilah kita cek alasan saya menyebut Nuabosi adalah tanah surga.

Ubi Kayu Nuabosi


Ubi kayu Nuabosi telah menjadi komoditas unggulan Kabupaten Ende. Informasi tersebut saya dengar langsung dari Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarat (LP2M) Universitas Flores (Uniflor) sekaligus Ketua Program Pengembangan Desa Mitra Dr. Willybrordus Lanamana, MMA. saat memberikan sambutan dalam kegiatan pembukaan Program Pengembangan Desa Mitra di Desa Randotonda. Sedangkan Wakil Rektor Bidang Kerja Sama Dr. Ernesta Leha, S.E., M.Agb. mengatakan bahwa ubi kayu Nuabosi telah menjadi legenda oleh-oleh khas Kabupaten Ende dari lini kuliner. Sepakat! Karena saat Gubernur NTT periode 1998-2008 Piet Alexander Tallo mengunjungi Kelurahan Potulando di Kabupaten Ende yang kebetulan Pohon Tua (nama rumah saya) ketempatan, selain disuguhkan kepada beliau dan tamu lain, ubi kayu Nuabosi mentah juga dibawa sebagai oleh-oleh.


Beberapa orang, termasuk saya, yang membeli ubi kayu Nuabosi di Pasar Mbongawani mungkin pernah kecewa. Karena tidak pandai memilih, saya pernah membawa pulang ubi kayu Nuabosi dengan kualitas bercampur antara yang betul-betul masih baru dengan yang sudah mengalami kepoyoan. Tapi bagi saya pribadi, kekecewaan itu bukan masalah besar. Hehe. Toh kami masih bisa menikmati ubi kayu Nuabosi yang digoreng, direbus, dan dibikin Tutela. Untuk tahu apa itu Tutela, silahkan baca pos berjudul Tutela, Bisnis Kuliner Karena Penasaran

Dari blog sebelah, waktu itu si Ovi yang masakin. Hehe.

Bagi saya, salah satu cara terbaik menikmati ubi kayu Nuabosi adalah dengan menikmatinya langsung di dataran Ndetundora. Digoreng atau direbus, sama-sama bikin lidah nge-jam. Karena banyak keluarga kami yang masih menetap di Nuabosi antara lain di Koponio saya dan teman-teman acap pergi ke sana untuk menikmati ubi kayu Nuabosi beserta menu lain seperti ikan bakar, sambal ikan, dan ngeta. Tentu sebelumnya harus diinformasikan terlebih dahulu. Biasanya sih sepupu saya si Ovi bakal berkolaborasi *tsah* bersama. Berkolaborasi rasanya kurang tepat, karena semua proses memasak dilakukan oleh Ovi seorang. Hahaha. Maafkan kakakmu ini ya, Vi.

Keramahan Penduduk


Saat Camat Ende Herman F. Teku, S.H. memberikan sambutan, dalam kegiatan pembukaan Program Pengembangan Desa Mitra di Desa Randotonda, saya mendengar beliau mengatakan bahwa warga Nuabosi merupakan warga yang bisa menerima pendatang atau hal-hal baru yang datang ke daerah mereka selama itu bertujuan positif. Memang benar. Bukan mengada-ada. Penduduk Nuabosi itu ramah sekali. Bukan karena saya juga berdarah Nuabosi dan makam moyang saya berada di Nuabosi. Tapi kalian akan mengalaminya sendiri. Datang ke Nuabosi, bertemu penduduk setempat, kalian pasti melihat senyum ramah dan anggukan-tipis. 

Jadi, kegiatan pembukaan Program Pengembangan Desa Mitra di Desa Randotonda, ketika kami selesai melakukan hela jo bersama penduduk, saya berniat untuk langsung pulang ke Kota Ende. Saya dicegat penduduk, seorang Bapak yang sedang memikul pacul, sebelumnya sama-sama di kebun lokasi hela jo. Katanya: Ibu, jangan dulu pulang, makan siang dulu, kami juga sudah siapkan ubi untuk ibu mereka bawa.

Pengen nangis. Haha. 

Aura Surga


Saya belum menemukan kata yang sepadan, tetapi aura surga rasanya cukup untuk mewakilkan perasaan saya setiap kali berada di Nuabosi. Jadi begini, saya pasti merasakan 'sesuatu' setiap pergi ke suatu daerah. Aura. Sebut saja begitu. Apakah cuma di Nuabosi saja saya merasakan aura surga? No! Di semua daerah di Pulau Flores saya merasakannya. Oleh karena itu, setiap kali hendak ke luar kota, perasaan saya diisi sesuatu yang saya sebut harapan (untuk menikmati semua yang telah dianugerahkan Tuhan termasuk alam yang indah ini).

Toleransi


Masyarakat di dataran Ndetundora sangat mengamalkan nilai-nilai toleransi. Sangat tinggi. Kalau keluarga saya, tentulah. Saat mengikuti kegiatan pembukaan Program Pengembangan Desa Mitra di Desa Randotonda, kami disuguhi ubi kayu Nuabosi yang digoreng dan direbus, serta sambal ikan teri. Ini baru makanan pembuka. Istilah kami: geli-geli perut. Hehe. Nah, saat sedang menikmati suguhan khas tersebut, salah seorang ibu datang pada saya dan berbisik. Tahu apa yang dibisik olehnya?

Ibu, adakah yang bisa kami minta tolong untuk potong ayam?

Sepersekian detik saya ternganga. Lantas menunjuk Om Ade.

Artinya, penduduk setempat amat sangat paham bahwa bagi kaum Muslim, jika hendak menikmati daging ayam, maka ayam tersebut dipotong/disembelih dengan tata cara Islam. Harus ada yang memegang bagian sayap dan kaki. Dan yang menyembelih harus menggunakan doa khusus. Sebagai umat Muslim, sebelumnya saya sudah berkata dalam hati, apabila disuguhkan menu daging ayam untuk makan siang, dan saya tidak tahu siapa yang menyembelih ayam tersebut, otomatis saya tidak memakannya. Pada kesempatan lain di desa-desa, apabila tahu-tahu menu daging ayam sudah tersaji, saya tidak tahu siapa yang menyembelih, dan dipaksa memakan, saya langsung saja bilang: jang marah, tadi ayamnya siapa yang potong? Miu mbe'o si, kami tazo ka ayam kalo potong bukan yang Muslim na. Apakah tuan rumah marah? Tidak, gengs. Mereka malah ngakak sambil menepuk jidad. Mereka lupa.

Merawat Budaya


Salah satunya yang saya saksikan dan alami sendiri adalah tentang hela jo. Saya harus menulis Correct Me If I'm Wrong (CMIIW). Siapa tahu waktu itu saya salah mendengar. Hela jo itu merupakan budaya/tradisi membajak sawah yang dilakukan bersama-sama oleh sekelompok petani. Membajak sawahnya tidak menggunakan traktor melainkan pacul! Sekelompok orang ini bakal membentuk barisan, lalu salah seorang mulai memberi komando, lantas mereka pun beraksi. Saling sahut dalam irama hela jo membikin hentakan pacul ke tanah semakin semangat dilakukan oleh kelompok petani ini. Saya juga coba melakukannya. Duh, jadi petani itu tidak mudah, gengs. Hehe.

Ini peletakan batu pertama rumah kompos yang dilaksanakan dengan ritual/adat. 

Hela jo.

Terberkatilah mereka semua.


Baca Juga: 5 Hal Yang Menghambat Saya Menulis dan Menyelesaikan Novel

Asyik kan ya. Hehe. 

Jadi itu dia lima alasan saya menyebut Nuabosi (Ndetundora) adalah tanah surga. Apakah saya masih ingin pergi ke sana lagi? Ya tentu donk. Itu tanah nenek moyang. Jaraknya juga dekat dari Kota Ende. Tidak sejauh jarak perasaan kita. Selain karena tanah nenek moyang, kegiatan Program Pengembangan Desa Mitra di Desa Randotonda baru dibuka sedangkan kegiatan itu akan berjalan selama tiga tahun. Horeeeee. Masih banyak waktu dan akan sering pergi ke Nuabosi. Masih ingin mengeksplor desa-desa lainnya. Doakan.

Bagi kalian yang berada di luar Kota Ende, mari yuk ke Ndetundora atau ke tempat yang lebih dikenal dengan nama Nuabosi!

#KamisLima



Cheers. 

S0506: Alat Podcast Paling Standar (Tapi Bagus)

Episode singkat yang direkam secara spontan untuk menjawab pertanyaan alat apa yang paling standar untuk memulai Podcasting. Semoga berguna. Insya Allah hari Senin sudah ada episode baru lagi. 😊

Send in a voice message: https://anchor.fm/suarane/message

Membikin Pot Pembibitan Menggunakan Botol Plastik Bekas


Membikin Pot Pembibitan Menggunakan Botol Plastik Bekas. Sampah lagi, sampah lagi, plastik lagi, plastik lagi. Saya tidak akan pernah bosan menulis tentang sampah plastik. Saya juga tidak akan pernah berhenti berusaha agar sampah plastik ini bisa dikreasikan agar punya nilai tambah. Salah satu sampah plastik yang paling sering kita temui sehari-hari adalah bekas kemasan minuman baik bentuk gelas maupun bentuk botol. Di musim hujan, sampah plastik yang terbawa arus air sungguh menyesakkan got, jalan, dan perasaan. Setidaknya kami sekeluarga sudah mengurangi sampah plastik terutama botol, dengan cara selalu membawa tumblr. Khusus saya pribadi, membawa tiga botol yaitu dua tumblr dan satu termos kopi susu.

Baca Juga: Ini Dia Produk Do It Yourself Pertama yang Saya Bikin

Banyak produk Do It Yourself (DIY) yang bisa kalian bikin dengan memanfaatkan botol plastik bekas. Salah satunya membikin pot pembibitan! Saya pernah melakukannya, membibit daun sop di botol plastik bekas. Tidak percaya? Ini dia buktinya:


Memanfaatkan botol plastik bekas untuk pot pembibitan bisa dilakukan dengan langsung menanam seperti gambar kedua atau gambar jejeran botol plastik pembibitan daun sop di atas. Bisa juga dengan cara seperti pada gambar pertama di pos ini. Botol plastiknya dibelah, bagian atas dibalik menutup bagian bawah (bagian dasar), terus pada tutupan dibikin lubang tali sekaligus diisi tanah dan bibit. Nantinya tidak perlu rutin disiram, karena air bakal terserap melalui tali tersebut. Sebagai pemanis, botolnya bisa dicat warna-warni.

Karena daun sop itu batangnya juga kecil-kecil, ada juga sih yang besar, maka waktu itu saya tidak perlu memindahkan lagi bibit daun sop yang sudah tumbuh ke wadah lain yang lebih besar. Karena wadah yang lebih besar saya manfaatkan untuk menanam cabe dan tomat. Cabenya sukses, tomatnya diserang hama dan hancur kehidupan si tomat sebelum dewasa. Byuuuh!

Baca Juga: Membikin Pajangan Cantik Berbahan Beras dan Kulit Kerang

Anyhoo, karena membikinnya mudah, sangat mudah malahan, maka saya tidak perlu menulis tutorialnya ya. Dengan melihatnya saja saya pikir kalian pasti sudah tahu. Yang jelas, apabila sampah plastik botol bekas ini sudah dikreasikan, usahakan jangan kalap membeli air mineral dalam kemasan botol, karena bakal 50:50 lagi. Bakal ada sampah plastik lagi. Salah satu cara paling sederhana mengurangi sampah botol plastik adalah dengan membeli tumblr. Percaya deh, membawa tumblr ke mana-mana itu keren dan juga bikin kita lebih berhemat. Hehe.

Semoga bermanfaat!

#RabuDIY



Cheers.

Jual Mobil Honda: Intip Yuk 4 Varian Mobil Honda Terlaris di Awal Tahun 2020 Ini!

Honda BR-V  Merk memang masih menjadi salah satu pertimbangan penting bagi konsumen sebelum memutuskan untuk membeli kendaraan, khususnya adalah mobil. Karena memang tidak dapat dipungkiri, jika seandainya brand ini sendiri juga mempengaruhi kualitas dari kendaraan tersebut. Apalagi di pasaran Indonesia sendiri jika dilihat ada banyak sekali di antara produsen-produsen kendaraan yang

I Really Need a Screen Recorder for My Blogging Videos


I Really Need a Screen Recorder for My Blogging Videos. Hai! Siapa yang masih aktif nge-blog? Angkat tangan! Cukup angkat tangan, jangan angkat kaki, nanti kalian malah hengkang dari sini. Jangan doooonk. Baca dulu sampai selesai. Hehe. Boleh cerita sedikit? Boleh, ya. Bukan sekali dua teman-teman blogger bertanya tentang dunia blogging. Noviea Azizah, Ny Sargaling, James Bisara, Intan, dan lain-lain, sering bertanya ini itu terkait aktivitas blogging. Apa saja yang ditanyakan oleh mereka? Masih yang dasar-dasar saja, belum sampai advance level. Karena pengetahuan saya tentang blogging pun masih di tingkat dasar *ngakak guling-guling*. Gara-gara itu saya kepikiran untuk membikin video blogging! Siapa tahu bisa membantu lebih banyak blogger atau siapa pun yang baru mau belajar nge-blog.

Baca Juga: Pen Fan yang Asyik Dikantongi oleh Para Bullet Journalist

Awalnya saya berpikir untuk merekam kegiatan nge-blog menggunakan camcorder. Tapi pasti rempong. Karena saya harus menyesuaikan pencahayaan dan/atau pantulan cahaya dari laptop ke kamera, memantapkan posisi atau point of view agar videonya asyik ditonton, dan lain sebagainya. Belum lagi tangan saya yang kanga-ranga ini salah menyenggol tripod atau mug kopi susu di meja! Amboiiiii. Rempong memang. Karena, membikin video terutama yang pengen diunggah ke Youtube, memang susah. Tidak semudah membalik telapak tangan, gengs. 

Lantas saya ingat sama aplikasi Free Screen Video Recorder yang sudah lama terpasang di laptop. Tapi, aplikasi itu gratisan dan tanda airnya masih mejeng dengan riang gembira. Anyhoo, kenapa saya teringat sama aplikasi screen recorder? Karena dengan aplikasi itu proses membikin video tutorial blogging menjadi lebih mudah. Seperti yang saat ini saya lakukan. Kalian bisa menonton videonya di bawah:


Karena latar entri ini putih, maka tanda airnya tidak kelihatan.

Jadi semangat *senyum manis*.

Oleh karena itu saya pengen bisa memasang aplikasi screen recorder yang bagus. Kalau bisa tanpa tanda air. Tetapi kalau tanda airnya tidak mengganggu ya tidak apa-apa. Hahaha. Apakah kalian punya rekomendasi aplikasi dimaksud? Di internet tersebar banyak informasi, mulai dari Camtasia yang direkomendasikan oleh Oedin, DU Recorder, AZ Screen Recorder, Mobizen, Super Screen Recorder, dan lain sebagainya. I really need a screen recorder for my blogging videos, so saya meminta rekomendasi terbaik dari kalian. Boleh komen di bawah, boleh sampaikan via WA. 

Nah, hari ini saya bakal coba membikin video blogging pertama menggunakan Free Screen Recorder. Nanti bakal saya unggah ke Youtube dan silahkan berkomentar. Komentar apa pun, terutama yang memberikan solusi bakal saya terima dengan tangan terbuka. Hehe.

Baca Juga: Filmora Aplikasi Sunting Video Android yang Juga Mengasyikan

Apa yang saya harapkan dengan screen recorder ini? Banyak teman blogger, terutama yang sama-sama masih di tingkat dasar dengan saya, bisa memanfaatkannya. Dan tentunya channel Youtube saya tidak hanya berisi konten-konten saya bernyanyi dengan suara-setengah-nada itu. Hhahaha. Tetapi setidaknya ada konten yang bisa memberi manfaat untuk banyak orang.

#SelasaTekno



Cheers.

Empat Band SMAK Regina Pacis Bajawa Layak Jadi Juara


Empat Band SMAK Regina Pacis Bajawa Layak Jadi Juara. Sejak kecil saya sudah terbiasa dengan dunia band. Jemiri Band, nama band keluarga kami. Gila kan? Bapa (alm.) lebih suka beli perangkat band dan soundsystem ketimbang beli tanah! Hahaha. Keluarga kami memang kocak sejak zaman prakambrium. Anyhoo, jadwal Jemiri Band nge-jam itu setiap Sabtu malam. Karena waktu itu saya masih SD, masih suka main tanah, tidak pernah eksis bersama Jemiri Band. Kalau Jemiri Band nge-jam, saya cuma bisa menonton Om Hans Boleng di lead guitar, Om Yolis Fernandez di bass, Om Takari di keyboard, Nanu Pharmantara di rythm, dan Toto Pharmantara (alm.) di drum beraksi. Apabila ada jadwal tampil maka nge-jam bisa setiap malam. Gara-gara Toto Pharmantara, saya berlatih otodidak menabuh drum sampai bisa. Jadi, saya bernyanyi sendiri, nabuh drum sendiri.

Baca Juga: Jangan Biarkan Anak-Anak Kecanduan Telepon Genggam

Tapi Bapa saya memang keren. Keren karena tidak membeli tanah bekal warisan anak cucu melainkan membeli perangkat band, termasuk keyboard yang selalu mengiringi saya bernyanyi. Satu lagu yang Bapa ciptakan dan sering saya nyanyikan berjudul Hompila Hompimpa. Yea, love him to the moon and back.


Tahun 2005 saya bergabung bersama Cendaga Band sebagai vokalis yang kemudian turut menciptakan lagu-lagu untuk band tersebut. Kami pernah tampil beberapa kali di Lapangan Pancasila Ende, lapangan serbaguna di Jalan Gatot Soebroto Ende, dan event-event yang diselenggarakan oleh pihak-pihak tertentu antara lain Malam Nostalgia di Lapangan Akper Ende. Lagu-lagu yang dibawakan waktu itu random alias bermacam genre. Pop, ska, reggae, blues, rock, rock'n'roll, bahkan dangdut. Sebut saja Come On Eileen dari Save Ferris, Call Me When You're Sober dari Evanescence, Terlalu Manis-nya Slank, Lelaki Buaya Darat dari Ratu, Terajana oleh Rhoma Irama, bahkan Ingin Marah Silahkah oleh Is Haryanto. Kami punya banyak buku yang disebut song bank.

Kesimpulannya saya harus bisa menyanyikan semua jenis lagu yang ditawarkan oleh setiap personil Cendaga Band dan/atau daftar lagu yang diminta oleh pemberi order. Menyenangkan sekali bergabung sama band karena punya teman-teman yang sudah seperti saudara sendiri. Cendaga Band waktu itu digawangi oleh Noel Fernandez (guitarist - melody), Thamrin a.k.a. bu Tham (guitarist - rhythm), Handri Baru (bassist), Alimin (drummer), dan Chonz Odja (keyboardist). Oh ya, tidak lupa saya sebagai vokalis. Untuk event tertentu ada beberapa vokalis tambahan. Cendaga Band kemudian bubar karena pemilik perangkat band dan soundsystem pindah kota. Entah, saya kurang tahu pasti informasi dari manajer kami waktu itu: Om Husni. Karena saya sendiri juga sibuk bekerja kantoran dan siaran di Radio Gomezone FM.

Setelah Cendaga Band bubar, saya dan Noel Fernandez masih sering ngumpul di rumah dan membikin begitu banyak lagu. Proyek kami itu kemudian bermuara pada nama Notes (Noel and Tuteh Sideproject). Notes bahkan telah mengeluarkan satu album. Haha. Kalian pasti tidak percaya kan kalau Notes punya album? Percaya deh. Album itu laku. Tetapi memang tidak diproduksi banyak. Setidaknya banyak teman dari luar daerah yang juga membelinya *kedip-kedip*. Karena lagu-lagu itu memang berbahasa Indonesia dan nge-pop.

Cukup nostalgianya.

Sekarang mari kita lanjut pada SMAK Regina Pacis yang berlokasi di Kota Bajawa, Ibu Kota Kabupaten Ngada. Sekolah keren dengan band-band keren. Tentu juga tentang festival band yang membikin saya bernostalgia di awal pos ini.

Festival Band Pelajar oleh Endemic


Adalah sekelompok anak muda Kota Ende membentuk komunitas bernama Ende Music Community (Endemic). Endemic kemudian menggelar Festival Band Pelajar 2020. Kegiatan berlangsung selama dua hari: Jum'at dan Sabtu, 21 dan 22 Februari 2020, berlokasi di Aula STIPAR Ende di Jalan Gatot Soebroto. Dalam festival ini, ada tiga lagu wajib yaitu Indonesia Tanah Air Beta, Gebyar-Gebyar, dan Bendera. Sedangkan lagu pilihannya adalah sebagai berikut:

Kau yang Terindah - Java Jive.
Belahan Jiwa - Kla Project.
Jalanmu Bukan Jalanku - Andra & The Backbone.
Selayang Pandang - Gugun Blues Shelter.
Film Favorit - Sheila on 7.
Eternal Love - Michael Learns To Rock.
Hotel California - Eagles.
Breakeven - The Script.
Hysteria - The Muse.
Three Little Birds - Bob Marley.

Skala festival ini adalah se-Pulau Flores. Jumlah peserta sebanyak sembilan yang berasal dari tiga kabupaten yaitu Kabupaten Ende, Kabupaten Ngada, dan Kabupaten Nagekeo.

Peserta dari Kabupaten Ende berasal dari dua sekolah: dua band dari SMAK Syuradikara Ende yang menurunkan dua band. Correct me if I'm wrong, nama dua band itu Syuradikara 1 dan Syuradikara 2. Satu band dari SMA Negeri 1 Ende yaitu The Seven Brothers.

Peserta dari Kabupaten Nagekeo berasal dari satu sekolah yaitu SMAK St. Fransiskus Xaverius Boawae. Nama band-nya Smafix.

Peserta dari Kabupaten Ngada berasal dari satu sekolah, SMAK Regina Pacis Bajawa, tapi menurunkan empat band sekaligus yaitu Unidade, Bumble Bee, The Project, dan Queen of Piece.

Festival yang diselenggarakan oleh Endemic ini seperti oase yang dirindukan para musafir. Terakhir festival band pelajar itu berlangsung di Lapangan SMAK Syuradikara Ende di mana saya turut menjadi juri. Diminta sama seniman Ende: Om Benny Laka. Kalau ada Orang Ende yang tidak tahu Om Benny Laka, sungguh terlalu, dan bisa dipastikan kehidupannya hanya berkutat di bawah tempurung. Haha. Ketika diminta untuk turut menjadi juri dalam festival oleh Endemic ini, saya mengiyakan sambil membayangkan seperti apa penampilan band-band yang akan berkompetisi. Paling begitu-begitu saja: bermusik di zona aman dan nyaman. Ekspetasi saya runtuh seketika saat peserta pertama tampil. Mereka dari SMAK Regina Pacis Bajawa; Queen of Piece.

Bukan Sekadar Band SMA


Dua peserta pertama berasal dari SMAK Regina Pacis Bajawa. Penampilan keduanya sudah bikin saya merinding. Manapula salah satu band itu, Bumble Bee dengan vokalis cewek, memainkan lagu pilihan dari The Muse, Hysteria. Setelah mereka, masih diselingi dengan peserta dari Ende, kembali ke Bajawa, Boawae, dan Ende. Pokoknya sembilan peserta berusaha tampil dengan sebaik-baiknya. Tetapi kemudian saya menjadi sadar bahwa ada yang jomplang antara empat band asal SMAK Regina Pacis Bajawa dengan band-band lainnya. Mereka terlalu bagus untuk band sekolah. Apanya yang bagus, Teh? Pasti kalian bertanya-tanya.

1. Skill dan Teknik


Secara keseluruhan, masing-masing personil empat band itu punya skill yang mumpuni, baik kemampuan teknis maupun feel (rasa). Teknik mereka setiap kali over tempo pun bikin kagum. Kalau kalian sering makan karipap atau Orang Ende biasa menyebutnya pastel, isian pastel ini sangat terasa/lengkap. Fill-nya sangat terdengar. Itulah yang saya dapat simpulkan ketika empat band dari SMAK Regina Pacis Bajawa ini tampil di panggung. Hal yang sama juga bisa dilihat dari teknik mic-ing. Improvisasinya pas, tidak berlebihan. Di luar dari itu, sesekali terdengar tabuhan drum keteteran, itu pasti. Tapi secara keseluruhan, mereka supa amazing.

2. Percaya Diri


Percaya diri memang mampu mengalahkan segalanya. Baru kali ini saya melihat vokalis yang menatap penonton dan juri dengan tatapan yang menunjukkan saya-percaya-diri tingkat tinggi. Vokalisnya tidak menoleh kanan kiri, tidak grogi (biasanya orang grogi di atas panggung itu mulai merapikan rambut, gulung ujung baju, dan lain sebagainya), tetap fokus pada apa yang harus disajikan kepada penonton. Percaya diri ini kemudian menjadikan aksi panggung mereka sangat menarik dan memukau. Jingkrak di panggung pun dijabanin tanpa ragu sedikit pun. Percayalah, ketika tampil dengan penuh percaya diri, siapa pun dapat memberikan yang terbaik. 

3. Kostum


Banyak orang bilang: yang penting skill, teknik, atau musikalitasnya. Kostum mah urusan ke-sekian. Itu pandangan yang keliru, kawan. Kostum merupakan ciri khas. Kostum pun dapat menimbulkan atau mendongkrak percaya diri. Empat band dari SMAK Regina Pacis Bajawa ini tampil dengan kostum kekinian. Misalnya pemain alat musik memakai jas, vokalisnya (kebetulan cewek) memakai jumpsuit putih berbunga merah. Pokoknya, menurut saya, penampilan mereka a la anak band kekinian banget lah. Top.

Yang Lain Juga Bagus


Band lain yang tampil juga bagus. Tetapi memang tetap terlihat dan terdengar jomplangnya dengan band dari SMAK Regina Pacis Bajawa. Saya pikir semua orang yang menonton malam itu juga setuju. Artinya, band-band yang belum beruntung menjadi juara harus lebih giat berlatih dan tampil sebanyak-banyaknya mewakili sekolah mengingat jangka waktu di SMA hanya tiga tahun. Jam terbang itu juga punya peranan yang penting. Menurut teman-teman kerja saya, band-band dari SMAK Regina Pacis Bajawa memang terbiasa tampil di acara-acara atau pesta-pesta. Artinya, band sekolah di sana memang diberi ruang gerak untuk menunjukkan kemampuan mereka sekaligus mereka memperoleh pengalaman atau jam terbang di dunia panggung. Ada sih band yang tidak pernah latihan tahu-tahu tampil, tapi itu personilnya kalau dicampur terdiri atas Ariel, Andra, Yuke, Thomas, dan lainnya. Hahaha. Byuuuuh.


Enam Band Lolos ke Babak Final


Malam babak penyisihan, setelah diskusi dan penghitungan nilai, maka terjaring enam band melaju ke babak final. Empat band berasal dari SMAK Regina Pacis Bajawa, satu band dari SMAK St. Fransiskus Xaverius Boawae, dan satu band dari SMA Negeri 1 Ende. Menjadi obyektif memang tidak bisa menyenangkan apalagi membahagiakan semua orang. Obyektif cenderung menyakitkan dan mengecewakan. Tetapi percayalah, obyektif membikin kita bisa tidur pulas. Hehe. Nada protes memang belum sampai ke telinga saya, tapi saya yakin nada protes itu pasti ada. Terutama, yang meragukan kemampuan saya menjuri dan menilai.

Lantas, siapakah yang menjadi juaranya?

Mari kita lihat.

Juara I - Unidade dari SMAK Regina Pacis Bajawa.
Juara II - Queen of Piece dari SMAK Regina Pacis Bajawa.
Juara III - Bumble Bee dari SMAK Regina Pacis Bajawa.
Juara Harapan I - The Project dari SMAK Regina Pacis Bajawa.
Juara Harapan II - Smafix dari SMAK St. Fransiskus Xaverius Boawae.
Juara Harapan III - The Seven Brothers dari SMA Negeri 1 Ende.


Sesuai dengan judul pos ini, empat band dari dari SMAK Regina Pacis Bajawa memang layak jadi juara. Mereka memenuhi semua kriteria yang ditetapkan untuk penjurian. Termasuk, best player pun banyak disabet oleh mereka. Bermusik itu, menurut saya pribadi, adalah tentang kenikmatan rasa. Feel dan fill imbang. Skill dan soul imbang. Kalau semuanya imbang, sudah pasti harmoni. Kalau harmoni tercipta, maka mereka memang nyaman sekali dalam bermusik. 

I Hope


Harapan saya, Endemic maupun komunitas lain dapat menggelar festival-festival serupa. Karena, masyarakat di Timur Indonesia itu selain terkenal eksotis juga punya kemampuan bermusik yang mumpuni. Bakat kaula muda di dunia musik harus ada wadahnya. Salah satunya dengan festival band pelajar. Hidup ini harus adil. Menurut saya. Kita tidak bisa fokus pada satu lini saja, misalnya literasi saja. Tetapi juga harus memerhatikan lini lainnya seperti musik, wisata, sampai kuliner. Itu baru namanya hidup yang seimbang (banyak menulis kata imbang di sini ya hahaha).

Baca Juga: Membikin Konten Youtube Memang Harus Tekun dan Ulet

Menulis ini bukan berarti saya mengabaikan band lainnya. Tidak. Seperti yang saya tulis di atas bahwa band lainnya juga bagus. Tetapi harus bisa belajar dan termotivasi dari kehebatan band lain. Di atas langit masih ada langit. Bukan begitu? Begitu bukan? Hehe. Kalau kalah saat masih SMA, siapa tahu kelak kalau sudah kuliah, bisa mewakili kampus mengikuti festival band kampus. Pokoknya harus tetap menjaga semangat dan terus menumbuhkan rasa percaya diri. Segala sesuatunya bisa diraih asal dilakukan dengan kemantapan hati. Ambil contoh: dulu saya ragu kekuatan pikiran dan sugesti mampu membikin saya lebih menikmati hidup. Ternyata kekuatan pikiran dan sugesti mampu membikin saya lebih menikmati hidup, salah satunya dengan tidak terlalu memikirkan kadar gula dalam darah. Haha haha haha *dikeplak dinosaurus*.

Terima kasih Om Benny Laka. Terima kasih Anggy Wonasoba. Terima kasih Endemic.

Sudah ah ...

Selamat Senin!

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

Lirik Chord Kunci Gitar Lagu Iksan Skuter “Kukira Jakarta”

Karena ada yang meminta dituliskan lirik, chord atau kunci gitar lagunya Iksan Skuter yang berjudul "Kukira Jakarta", berikut chord gitar berdasarkan yang saya dengar :) Ya  berikut Lirik Chord Kunci Gitar Lagu Iksan Skuter "Kukira Jakarta". Kukira Jakarta - Iksan Skuter Intro:   G     Em/G#m#5  Am  C         D             G G     Em/G#m#5  Am Hening       di      desaku C